Teori Konflik Menurut Para Ahli: Jenis, Faktor Penyebab, dan Dampaknya

Singkatnya, teori konflik adalah kerangka kerja analitis yang dapat kamu gunakan untuk memahami dan menjelaskan berbagai aspek konflik dalam masyarakat. Namun, apa definisi teori konflik menurut para ahli?

Dalam artikel ini, kita akan membahas teori konflik menurut beberapa ahli terkemuka serta menguraikan jenis, faktor penyebab, dan dampaknya terhadap individu dan masyarakat. Yuk, cari tahu sekarang!

Definisi Konflik

Secara etimologis, kata konflik berasal dari bahasa Latin, yaitu “con” yang artinya bersamaan atau bersatu dan “fligere” yang artinya benturan atau tumbukan. 

Dengan demikian, secara umum konflik sosial merujuk pada serangkaian peristiwa pertentangan dan perselisihan antara individu atau kelompok.

Gir dalam Al-Hakim mengemukakan beberapa kriteria untuk mengidentifikasi konflik. Diantaranya yaitu melibatkan dua pihak atau lebih, adanya tindakan saling bermusuhan, kecenderungan untuk menggunakan perilaku paksa, dan pengamat sosial yang tidak terlibat dapat melihat interaksi konflik tersebut dengan mudah.

Teori Konflik Menurut Para Ahli

Para ahli di bidang sosiolog telah mengemukakan berbagai teori mengenai konflik. Adapun teori konflik menurut para ahli adalah sebagai berikut.

1. Teori Konflik Karl Marx

Karl Marx
Karl Marx | Sumber gambar: viva.co.id

Karl Marx menerjemahkan konflik sebagai bentuk pertentangan kelas dalam masyarakat. Dia memperkenalkan konsep struktur kelas. Marx melihat masyarakat adalah tempat ketidaksetaraan yang dapat memicu konflik dan perubahan sosial.

Konflik kelas dapat terpantik oleh pertentangan kepentingan ekonomi. Teori Marx mencakup beberapa konsep dasar sebagai berikut.

  • Struktur kelas dalam masyarakat.
  • Pertentangan kepentingan ekonomi di antara berbagai kelas.
  • Pengaruh besar kelas ekonomi terhadap gaya hidup individu.
  • Pengaruh konflik kelas terhadap perubahan struktur sosial.

Menurut Marx, pemicu timbulnya konflik berasal dari perbedaan akses terhadap sumber kekuasaan, yaitu modal. Akibatnya, akan menghasilkan pertentangan antara kelas borjuis dan proletar dalam masyarakat kapitalis.

2. Teori Konflik Lewis A. Coser

Lewis A. Coser
Lewis A. Coser | Sumber gambar: alumni.brandeis.edu

Coser memiliki pandangan, konflik dalam masyarakat muncul karena kelompok lapisan bawah yang mulai meragukan legitimasi distribusi sumber daya yang langka. Dalam hal ini, Coser meyakini konflik tidak selalu bersifat negatif.

Justru sebaliknya, konflik dapat mempererat dan memperkuat hubungan dalam kelompok. Ada tiga faktor yang memengaruhi durasi konflik di masyarakat menurutnya, yakni:

  • Tujuan konflik sosial yang spesifik.
  • Pengetahuan atau kekalahan dalam konflik.
  • Peran pemimpin dalam memahami biaya konflik dan mengoordinasikan pengikutnya.

Menurut Coser, konflik dapat berperan sebagai media komunikasi, memperkuat solidaritas kelompok, menciptakan solidaritas dalam kelompok dan mendorong aliansi dengan kelompok lain.

Selain itu, Coser mengklasifikasikan konflik sosial menjadi dua jenis, yaitu konflik realistis dan konflik non-realistis.

  • Konflik Realistis: Timbul dari kekecewaan individu atau kelompok terhadap tuntutan atau perkiraan keuntungan dalam hubungan sosial.
  • Konflik Non-Realistis: Terjadi karena kebutuhan untuk meredakan ketegangan.

3. Teori Konflik Ralf Dahrendorf

Ralf Dahrendorf
Ralf Dahrendorf | Sumber gambar: sihamak.com

Teori konflik menurut para ahli berikutnya bisa kamu pahami dari pendapat Ralf Dahrendorf. Ia menekankan, konflik muncul sebagai hasil dari relasi-relasi sosial dalam suatu sistem.

Artinya, konflik tidak mungkin terjadi di antara individu atau kelompok yang tidak terhubung dalam sistem tersebut.

Dalam pandangannya, kekuasaan akan menentukan relasi dalam struktur sosial. Terutama kekuasaan yang berkaitan dengan kontrol dan sanksi yang memungkinkan pemegang kekuasaan memberikan perintah dan memperoleh keuntungan dari yang tidak memiliki kekuasaan.

Dahrendorf menganggap, konflik kepentingan sebagai hal yang tak terhindarkan dalam relasi antara pemegang kekuasaan dan yang tidak memiliki kekuasaan.

Ia pada awalnya mengembangkan teori konflik sebagai alat analisis parsial untuk menganalisis fenomena sosial. Namun, Dahrendorf melihat masyarakat memiliki dua sisi yang berbeda, yaitu kerja sama dan konflik.

Itulah mengapa, Dahrendorf mengintegrasikan pandangan sosiologi fungsionalisme struktural dalam analisis konflik sosialnya. Ia turut mengadopsi teori perjuangan kelas ala Marx untuk mengembangkan teori tentang kelas dan pertentangan kelas dalam masyarakat industri.

Dahrendorf menjembatani konsep struktur dan fungsi masyarakat dari sudut pandang fungsionalisme dengan teori konflik antarkelas sosial. 

Selain itu, ia juga menekankan bahwa masyarakat bukanlah entitas statis. Masyarakat dapat mengalami perubahan sebagai hasil dari konflik sosial yang terjadi.

4. Teori Konflik George Simmel

George Simmel
George Simmel | Sumber gambar: seputarsastra.wordpress.com

George Simmel memiliki pandangan, terjadinya konflik di masyarakat merupakan bagian dari dampak interaksi sosial. 

Dari interaksi tersebut dapat menghasilkan integrasi sosial melalui kompromi maupun menghasilkan disintegrasi sosial jikalau tidak menemui titik temu.

Contoh konkret teori konflik dapat kamu temukan dalam situasi, seperti konflik budaya yang terjadi ketika dalam suatu masyarakat terdapat beberapa kebudayaan yang sangat eksklusif.

Kebudayaan ini sering kali dianggap aneh oleh sebagian masyarakat. Pada gilirannya, akan membuat masyarakat memiliki keyakinan apa yang diwakili oleh kebudayaan tersebut merupakan tanda ketidaksetujuan terhadap perubahan sosial.

Namun, jika masyarakat memiliki pikiran yang lebih inklusif atau terbuka, kebudayaan yang semula terlihat tertutup mungkin sebenarnya merupakan bagian yang berharga dari warisan lokal atau kearifan budaya.

Pandangan masyarakat dapat berubah dari sikap menolak menjadi pemahaman yang lebih mendalam. Hal ini dapat mengurangi potensi konflik budaya.

Jenis-Jenis Konflik

Setelah mengetahui pengertian teori konflik menurut para ahli, kamu juga harus memahami jenis-jenisnya. Adapun jenis-jenis konflik dalam masyarakat dapat dikategorikan dalam berbagai bentuk sebagai berikut.

1. Berdasarkan Sifatnya

  • Konflik Destruktif: Ini adalah jenis konflik yang terjadi karena adanya perasaan tidak senang, dendam, atau benci dari individu atau kelompok terhadap pihak lain.
  • Konflik Konstruktif: Jenis konflik ini memiliki sifat fungsional. Konflik ini dapat menghasilkan konsensus dari berbagai pandangan dan membawa perbaikan, seperti dalam perbedaan pendapat dalam sebuah organisasi.

2. Berdasarkan Posisi Pelaku yang Terlibat

  • Konflik Verbal: Pada konflik ini terjadi antara anggota masyarakat dalam struktur hirarkis yang tersusun, seperti konflik antara atasan dan bawahan di tempat kerja.
  • Konflik Horizontal: Jenis konflik horizontal melibatkan individu atau kelompok yang memiliki posisi relatif setara, seperti konflik antara kelompok massa.
  • Konflik Diagonal: Selanjutnya, ada konflik diagonal yang muncul karena ketidakadilan dalam alokasi sumber daya di seluruh organisasi. Jenis ini dapat menyebabkan pertentangan ekstrim.

3. Menurut Soerjono Soekanto

  • Konflik Pribadi: Terjadi antara dua individu atau lebih karena perbedaan pandangan dan lainnya.
  • Konflik Rasial: Timbul akibat perbedaan ras.
  • Konflik Antarkelas Sosial: Terjadi akibat perbedaan kepentingan antar kelas sosial.
  • Konflik Politik: Muncul karena kepentingan atau tujuan politik individu atau kelompok.
  • Konflik Internasional: Berhubungan dengan perbedaan kepentingan yang dapat memengaruhi kedaulatan negara.

4. Menurut Ralf Dahrendorf

  • Konflik Peran: Terjadi ketika individu menghadapi harapan yang bertentangan dari berbagai peran yang dimilikinya.
  • Konflik antara Kelompok-Kelompok Sosial.
  • Konflik antara Kelompok Terorganisir dan Tidak Terorganisir.
  • Konflik antara Satuan Nasional, misalnya saja seperti antar negara, antar organisasi internasional, atau bahkan antar partai politik.

Faktor Penyebab Terjadinya Konflik

Menurut para sosiolog, akar dari konflik berasal dari persaingan untuk sumber daya kepemilikan, kekuasaan, dan status sosial dalam hubungan sosial, politik, dan ekonomi. Penyebab konflik dapat terbagi menjadi dua kelompok sebagai berikut.

1. Kemajemukan Horizontal

Faktor yang satu ini mengacu pada keragaman budaya dalam masyarakat. Misalnya perbedaan suku, agama, ras, serta perbedaan sosial berdasarkan pekerjaan dan profesi, seperti petani, buruh, pedagang, pengusaha, dan intelektual.

Kemajemukan horizontal kultural dapat menciptakan konflik karena setiap unsur kultural memiliki karakteristik unik dan ingin mempertahankan identitas budayanya. 

Konflik semacam ini bisa memicu konflik internal dalam masyarakat, apabila tidak memiliki kesepakatan nilai bersama.

2.    Kemajemukan Vertikal

Faktor kemajemukan vertikal mengacu pada struktur sosial yang terbagi berdasarkan kekayaan, pendidikan, dan kekuasaan. Terdapat kelompok kecil yang memiliki kekayaan, pendidikan tinggi, dan kekuasaan yang signifikan.

Sementara itu, ada juga yang memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki kekayaan, pendidikan rendah, serta sedikit atau tidak ada kekuasaan. Pembagian masyarakat seperti ini menjadi pemicu konflik sosial.

Akan tetapi, beberapa sosiolog mengklasifikasikan faktor penyebab konflik sebagai berikut:

  • Perbedaan pendapat dan keyakinan.
  • Perbedaan kebudayaan.
  • Perbedaan kepentingan.

Dampak Konflik

Konflik membawa perubahan dinamis dalam kehidupan sosial masyarakat. Dampak dari konflik tidak selalu bersifat negatif, loh. Berikut ini adalah dampak positif dan negatif dari adanya konflik.

1.    Dampak Positif

  • Mendorong masyarakat yang sebelumnya pasif untuk aktif terlibat dalam lingkungannya.
  • Meningkatkan solidaritas dalam suatu kelompok saat menghadapi konflik.

2.    Dampak Negatif

  • Dapat menghancurkan kesatuan kelompok karena seringkali konflik tidak menemukan solusi yang memadai.
  • Merusak nilai-nilai dan norma sosial karena anggota masyarakat yang terlibat dalam konflik mungkin melanggar norma-norma yang berlaku.
  • Dapat mengubah kepribadian individu yang tadinya tenang dan sabar menjadi lebih agresif, mudah marah, dan beringas.

Baca Juga : Apa itu Aksi Vandalisme? Contoh di Kehidupan Bermasyarakat

Sudah Paham Beberapa Teori Konflik Menurut Para Ahli?

Setelah membaca ulasan lengkap terkait teori konflik menurut para ahli di atas, sudahkah kamu memahaminya secara keseluruhan? Berbagai jenis konflik dapat muncul dari berbagai faktor.

Meskipun seringkali memiliki dampak negatif, konflik dapat menjadi faktor terjadinya perubahan sosial serta mempengaruhi identitas dan solidaritas kelompok. Memahami teori konflik dan faktor penyebabnya menjadi langkah pertama untuk mengelola serta mengatasi konflik dalam masyarakat.

Share:

Leave a Comment

You cannot copy content of this page