{"id":1705,"date":"2024-09-24T12:49:53","date_gmt":"2024-09-24T05:49:53","guid":{"rendered":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/?p=1705"},"modified":"2024-09-24T12:49:53","modified_gmt":"2024-09-24T05:49:53","slug":"puisi-chairil-anwar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/","title":{"rendered":"25 Puisi Chairil Anwar yang Populer, Inspiratif dan Bermakna"},"content":{"rendered":"\n<p>Semasa hidupnya, Chairil Anwar telah banyak menulis puisi. Karya puisi Chairil Anwar tersebut telah melegenda dan menjadi inspirasi para penyair setelahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Artikel ini akan menjelaskan 25 puisi karya Chairil Anwar yang populer, inspiratif, dan bermakna. Selain itu, tentu saja dilengkapi dengan penjelasan makna setiap puisinya. Yuk, simak selengkapnya sekarang!<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">25 Puisi Chairil Anwar Beserta Penjelasan Maknanya<\/h2>\n\n\n\n<p>Berikut 25 puisi karya Chairil Anwar beserta penjelasan makna atau arti setiap puisinya, yaitu:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Puisi Aku<\/h3>\n\n\n\n<p>Kalau sampai waktuku<\/p>\n\n\n\n<p>\u2018Ku mau tak seorang \u2018kan merayu<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak juga kau<\/p>\n\n\n\n<p>Tak perlu sedu sedan itu<\/p>\n\n\n\n<p>Aku ini binatang jalang<\/p>\n\n\n\n<p>Dari kumpulannya terbuang<\/p>\n\n\n\n<p>Biar peluru menembus kulitku<\/p>\n\n\n\n<p>Aku tetap meradang menerjang<\/p>\n\n\n\n<p>Luka dan bisa kubawa berlari<\/p>\n\n\n\n<p>Berlari<\/p>\n\n\n\n<p>Hingga hilang pedih peri<\/p>\n\n\n\n<p>Dan aku akan lebih tidak peduli<\/p>\n\n\n\n<p>Aku mau hidup seribu tahun lagi.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Puisi yang berjudul Aku ini adalah salah satu puisi Chairil Anwar yang legendaris dan populer di kalangan masyarakat Indonesia, tidak hanya bagi para penikmat karya sastra.<\/p>\n\n\n\n<p>Puisi tersebut mengandung tema perjuangan. Si Aku Lirik mengibaratkan dirinya sebagai \u201cbinatang jalang\u201d. Binatang jalang dimaknai sebagai orang yang keras serta tidak mudah dikekang apalagi diperintah.<\/p>\n\n\n\n<p>Selanjutnya, pada larik \u201cdari kumpulannya terbuang\u201d menjelaskan bahwa Si Aku menganggap dirinya berbeda dan terbuang atau tidak diakui kehadirannya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Meski demikian, Si Aku tetap berjuang dan tidak peduli dengan pendapat orang lain mengenai dirinya. Si Aku mengatakan, dia akan terus berjuang walau mengalami penderitaan dalam prosesnya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Puisi Penghidupan<\/h3>\n\n\n\n<p>Penghidupan<\/p>\n\n\n\n<p>Lautan maha dalam<\/p>\n\n\n\n<p>Mukul dentur selama<\/p>\n\n\n\n<p>Nguji tenaga pematang kita<\/p>\n\n\n\n<p>Mukul dentur selama<\/p>\n\n\n\n<p>Hingga hancur remuk redam Kurnia Bahagia<\/p>\n\n\n\n<p>Kecil setumpuk<\/p>\n\n\n\n<p>Sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Puisi yang berjudul Penghidupan menggambarkan bahwa kehidupan yang dialami oleh manusia itu lebih dari cukup. Maksudnya, segala sesuatu yang manusia butuhkan sudah tersedia. Hal ini termuat dalam larik \u201clautan maha dalam\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, ternyata kondisi itu tidak lantas membuat manusia bahagia. Selalu muncul \u201cdentur\u201d yang bisa dimaknai sebagai tiruan bunyi letusan kecil. Dalam hal ini, bunyi letusan kecil itu bisa berupa sifat iri, serakah, sombong, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<p>Penyakit hati tersebut telah merusak kebahagian yang sebenarnya bisa dirasakan oleh manusia, yaitu bisa dilihat dalam larik \u201cHingga hancur remuk redam Kurnia Bahagia\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun rupanya, kesombongan dan keserakahan tersebut hanya membawa malapetaka. Harta, jabatan, dan kekuasaan misalnya, yang manusia lindungi mati-matian ternyata tidak memberikan banyak kebahagiaan. Hanya sia-sia belaka.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Puisi Sia-Sia&nbsp;<\/h3>\n\n\n\n<p>Penghabisan kali itu kau datang<\/p>\n\n\n\n<p>Membawaku karangan kembang<\/p>\n\n\n\n<p>Mawar merah dan melati putih:<\/p>\n\n\n\n<p>Darah dan suci<\/p>\n\n\n\n<p>Kau tebarkan depanku<\/p>\n\n\n\n<p>Serta pandang yang memastikan: Untukmu.<\/p>\n\n\n\n<p>Sudah itu kita sama termangu<\/p>\n\n\n\n<p>Saling bertanya: Apakah ini?<\/p>\n\n\n\n<p>Cinta? Keduanya tak mengerti.<\/p>\n\n\n\n<p>Sehari itu kita bersama.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Tak hampir-menghampiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Ah! Hatiku yang tak mau memberi<\/p>\n\n\n\n<p>Mampus kau dikoyak-koyak sepi.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Selain puisi Chairil Anwar berjudul Aku yang melegenda, larik dalam puisi Sia-Sia juga cukup populer, yaitu \u201cMampus kau dikoyak-koyak sepi\u201d. Kutipan tersebut sering digunakan untuk mengejek para jomblo yang kesepian.<\/p>\n\n\n\n<p>Ya, jika diamati puisi dengan judul Sia-Sia tersebut memiliki tema cinta. Puisi tersebut menggambarkan dua orang yang saling ragu dan tidak yakin atas apa yang dilakukannya. Apakah itu berdasarkan rasa cinta atau perasaan lainnya?<\/p>\n\n\n\n<p>Pada awal puisi disebutkan bahwa keduanya sedang bersama menghabiskan hari itu. \u201cKau\u201d membawa banyak hal seperti karangan kembang: mawar merah dan melati putih. Apa yang si Kau bawa tersebut bisa dimaknai sebagai bentuk keutuhan cinta yang diberikan kepada si Aku.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun ternyata, meski keduanya bersama seharian, mereka tetap ragu apakah itu cinta atau bukan. Rupanya, walau bersama tidak ada rasa cinta yang tumbuh. Oleh karena itu, si Kau tidak pernah menemui si Aku lagi. Sehingga, si Aku merasa kesepian seperti yang tertulis pada larik terakhir.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Puisi Di Mesjid<\/h3>\n\n\n\n<p>Kuseru saja Dia<\/p>\n\n\n\n<p>Sehingga datang juga<\/p>\n\n\n\n<p>Kami pun bermuka-muka.<\/p>\n\n\n\n<p>Seterusnya ia bernyala-nyala dalam dada.<\/p>\n\n\n\n<p>Segala daya memadamkannya<\/p>\n\n\n\n<p>Bersimbah peluh diri yang tak bisa diperkuda<\/p>\n\n\n\n<p>Ini ruang<\/p>\n\n\n\n<p>Gelanggang kami berperang.<\/p>\n\n\n\n<p>Binasa-membinasa<\/p>\n\n\n\n<p>Satu menista lain gila<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Puisi yang berjudul Di Mesjid mengandung tema religiusitas. Secara singkat, puisi tersebut menceritakan sebuah upaya untuk beribadah dan berdoa kepada Tuhan, walaupun banyak gangguan dan berbagai halangan yang menghalanginya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kata \u201cDia\u201d dalam puisi tersebut memiliki arti Tuhan. Si Aku terus berdoa dan menumpahkan segala keluh kesah serta permohonannya. Kemudian, ia merasakan kehadiran Tuhan. Selain itu, Tuhan dengan belas kasih mengabulkan doa-doanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sehingga, ia yakin bahwa Tuhan memiliki rasa kasih sayang yang tidak terbatas. Di samping itu, ia juga percaya kalau rasa sayang Tuhan itulah yang senantiasa menolongnya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">5. Puisi Sendiri<\/h3>\n\n\n\n<p>Hidupnya tambah sepi, tambah hampa<\/p>\n\n\n\n<p>Malam apa lagi<\/p>\n\n\n\n<p>Ia memekik ngeri<\/p>\n\n\n\n<p>Dicekik kesunyian kamarnya<\/p>\n\n\n\n<p>Ia membenci.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dirinya dari segala<\/p>\n\n\n\n<p>Yang minta perempuan untuk kawannya<\/p>\n\n\n\n<p>Bahaya dari tiap sudut.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Mendekat juga<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama<\/p>\n\n\n\n<p>Terkejut ia terduduk.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Siapa memanggil itu?<\/p>\n\n\n\n<p>Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!<\/p>\n\n\n\n<p>Penjelasan:<\/p>\n\n\n\n<p>Puisi Chairil Anwar yang berjudul Sendiri tersebut mengisahkan sosok yang merasa kesepian karena hidup seorang diri. Kondisi tersebut terjadi karena kesalahannya sendiri di masa lalu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Akibatnya, ia menua dengan penuh kesepian. Dalam masa-masa sepi dan kesedihan tersebut, ia merindukan sosok Ibu. Namun, ia hanya bisa membenci dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Nah, dalam kesakitannya ia terus memanggil sosok ibu yang dirindukan tersebut. Tetapi, ibu yang ia rindukan tidak datang.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">6. Puisi Chairil Anwar Tak Sepadan&nbsp;<\/h3>\n\n\n\n<p>Aku kira,<\/p>\n\n\n\n<p>Beginilah nanti jadinya<\/p>\n\n\n\n<p>Kau kawin, beranak dan berbahagia<\/p>\n\n\n\n<p>Sedang aku mengembara serupa Ahasv\u00e9ros.<\/p>\n\n\n\n<p>Dikutuk sumpahi Eros<\/p>\n\n\n\n<p>Aku merangkaki dinding buta<\/p>\n\n\n\n<p>Tak satu juga pintu terbuka.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi baik juga kita padami<\/p>\n\n\n\n<p>Unggunan api ini<\/p>\n\n\n\n<p>Karena kau tidak \u2018kan apa apa<\/p>\n\n\n\n<p>Aku terpanggang tinggal rangka.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Puisi dengan judul Tak Sepadan mengandung tema tentang cinta. Dari judulnya saja, sudah menggambarkan bahwa ada situasi dimana hanya pihak satu yang bahagia. Sedangkan, pihak yang lain merasa tidak seberuntung pihak tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Kisah yang diceritakan dalam puisi tersebut sangat mengenaskan. Si Aku terus menderita karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Orang yang dicintai Si Aku tersebut telah menikah dan memiliki anak serta hidup bahagia.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, Si Aku terus mengembara layaknya Ahasveros. Menurut beberapa sumber, Ahasveros adalah seorang Yahudi dalam cerita Injil yang dikutuk oleh Tuhan menjadi pengembara karena menolak Yesus datang ke rumahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan mengumpamakan dirinya sebagai Ahasveros, Si Aku menganggap dirinya terus berkelana dan mengembara mencari cinta sejatinya. Tetapi, pengembaraan tersebut tidak pernah berakhir.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Larik yang berbunyi \u201cDikutuk sumpahi Eros\u201d menggambarkan bahwa dia layaknya Ahasveros, tetapi bukan dikutuk oleh Tuhan, melainkan Eros yang merupakan dewa cinta. Oleh karena itu, dia tidak kunjung bertemu dengan kekasih sejatinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah sadar situasi yang menimpanya, Si Aku memilih untuk menyudahi rasa cintanya kepada seseorang yang sudah menikah tersebut. Hal ini termuat dalam kutipan \u201cJadi baik juga kita padami. Unggunan api ini\u201d. Unggunan api bisa dimaknai sebagai cintanya kepada sang gadis yang membara.<\/p>\n\n\n\n<p>Nah, Si Aku tahu betul bahwa situasi tersebut tidak sepadan. Ia menderita, sedangkan si gadis berbahagia bersama keluarganya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">7. Puisi Suara Malam<\/h3>\n\n\n\n<p>Dunia badai dan topan<\/p>\n\n\n\n<p>Manusia mengingatkan \u201cKebakaran di Hutan\u201d*<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi ke mana<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk damai dan reda?<\/p>\n\n\n\n<p>Mati.<\/p>\n\n\n\n<p>Barang kali ini diam kaku saja<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan ketenangan selama bersatu<\/p>\n\n\n\n<p>Mengatasi suka dan duka<\/p>\n\n\n\n<p>Kekebalan terhadap debu dan nafsu.<\/p>\n\n\n\n<p>Berbaring tak sadar<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti kapal pecah di dasar lautan<\/p>\n\n\n\n<p>Jemu dipukul ombak besar.<\/p>\n\n\n\n<p>Atau ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Peleburan dalam Tiada<\/p>\n\n\n\n<p>Dan sekali akan menghadap cahaya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ya Allah! Badanku terbakar \u2013 segala samar.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku sudah melewati batas.<\/p>\n\n\n\n<p>Kembali? Pintu tertutup dengan keras.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Puisi berjudul Suara Malam menggambarkan seseorang yang ingin kembali ke jalan yang benar, tetapi sudah tidak ada kesempatan. Jalan yang benar maksudnya adalah menaati perintah Tuhan dan meninggalkan segala sesuatu yang dilarangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia baru menyadari perbuatan dosanya karena telah memperoleh akibatnya. Sehingga, ia ingin bertobat, tetapi sudah tidak ada harapan lagi.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">8. Puisi Selamat Tinggal<\/h3>\n\n\n\n<p>Ini muka penuh luka<\/p>\n\n\n\n<p>Siapa punya?<\/p>\n\n\n\n<p>Kudengar seru menderu<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam hatiku<\/p>\n\n\n\n<p>Apa hanya angin lalu?<\/p>\n\n\n\n<p>Lagi lain pula<\/p>\n\n\n\n<p>Menggelepar tengah malam buta<\/p>\n\n\n\n<p>Ah..!!!<\/p>\n\n\n\n<p>Segala menebal, segala mengental<\/p>\n\n\n\n<p>Segala tak kukenal..!!!<\/p>\n\n\n\n<p>Selamat tinggal\u2026!!<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Puisi Chairil Anwar Selamat Tinggal menggambarkan seseorang yang ingin pergi. Sebelum memutuskan pergi, ia sempat menimbang-nimbang segala sesuatu yang dipikirkannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, pertanyaan tersebut tetap menjadi pertanyaan. Ia merasa bahwa segala sesuatu yang ada tidak dikenalnya. Sehingga, ia memutuskan untuk segera pergi.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">9. Puisi Ajakan<\/h3>\n\n\n\n<p>Ida<\/p>\n\n\n\n<p>Menembus sudah caya<\/p>\n\n\n\n<p>Udara tebal kabut<\/p>\n\n\n\n<p>Kaca hitam lumut<\/p>\n\n\n\n<p>Pecah pencar sekarang<\/p>\n\n\n\n<p>Di ruang legah lapang<\/p>\n\n\n\n<p>Mari ria lagi<\/p>\n\n\n\n<p>Tujuh belas tahun kembali<\/p>\n\n\n\n<p>Bersepeda sama gandengan<\/p>\n\n\n\n<p>Kita jalani ini jalan<\/p>\n\n\n\n<p>Ria bahagia<\/p>\n\n\n\n<p>Tak acuh apa-apa<\/p>\n\n\n\n<p>Gembira girang<\/p>\n\n\n\n<p>Biar hujan datang<\/p>\n\n\n\n<p>Kita mandi-basahkan diri<\/p>\n\n\n\n<p>Tahu pasti sebentar kering lagi.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Puisi di atas menggambarkan seseorang yang ingin mengenang masa-masa romantisnya. Ia mengajak kekasihnya yang bernama Ida untuk kembali ke masa saat mereka berusia 17 tahun yang sedang penuh cinta.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">10. Puisi yang Terampas dan yang Terputus<\/h3>\n\n\n\n<p>Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,<\/p>\n\n\n\n<p>Menggigil juga ruang di mana dia yang kuingin,<\/p>\n\n\n\n<p>Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu<\/p>\n\n\n\n<p>Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin<\/p>\n\n\n\n<p>Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang<\/p>\n\n\n\n<p>Dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang<\/p>\n\n\n\n<p>Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Puisi di atas mengandung tema cinta. Si Aku merasa kesepian tanpa kehadiran kekasihnya. Kemudian dia memilih untuk menunggunya di kamar, barangkali kekasihnya kembali. Sebab, banyak hal yang ingin ia ceritakan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi, dia tetap kesepian dan semua yang hal yang ingin disampaikan kepada kekasihnya berlalu begitu saja.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">11. Puisi Chairil Anwar Lagu Biasa&nbsp;<\/h3>\n\n\n\n<p>Di teras rumah makan kami kini berhadapan<\/p>\n\n\n\n<p>Baru berkenalan. Cuma berpandangan<\/p>\n\n\n\n<p>Sungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam<\/p>\n\n\n\n<p>Masih saja berpandangan<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam lakon pertama<\/p>\n\n\n\n<p>Orkes meningkah dengan \u201cCarmen\u201d pula.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia mengerling. Ia ketawa<\/p>\n\n\n\n<p>Dan rumput kering terus menyala<\/p>\n\n\n\n<p>Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi<\/p>\n\n\n\n<p>Darahku terhenti berlari<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika orkes memulai \u201cAve Maria\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Kuseret ia ke sana.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Puisi Chairil Anwar berjudul Lagu Biasa menggambarkan kisahnya saat berkenalan dengan seseorang. Berdasarkan situasi yang dilukiskan di atas, seperti berhadapan, berpandangan, dan tertawa. Seolah keduanya saling tertarik satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">12. Puisi Dendam<\/h3>\n\n\n\n<p>Berdiri tersentak<\/p>\n\n\n\n<p>Dari mimpi aku bengis dielak<\/p>\n\n\n\n<p>Aku tegak<\/p>\n\n\n\n<p>Bulan bersinar sedikit tak nampak<\/p>\n\n\n\n<p>Tangan meraba ke bawah bantalku<\/p>\n\n\n\n<p>Keris berkarat kugenggam di hulu<\/p>\n\n\n\n<p>Bulan bersinar sedikit tak nampak<\/p>\n\n\n\n<p>Aku mencari<\/p>\n\n\n\n<p>Mendadak mati ku hendak berbekas di jari<\/p>\n\n\n\n<p>Aku mencari<\/p>\n\n\n\n<p>Diri tercerai dari hati<\/p>\n\n\n\n<p>Bulan bersinar sedikit tak tampak.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Puisi di atas menggambarkan pembalasan dendam Si Aku. Ia menggunakan keris berkarat sebagai bentuk waspada. Situasi yang dilukiskan adalah suasana yang suram, seperti termuat dalam larik \u201cBulan bersinar sedikit tak tampak\u201d.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">13. Puisi Taman&nbsp;<\/h3>\n\n\n\n<p>Taman punya kita berdua<\/p>\n\n\n\n<p>Tak lebar luas, kecil saja<\/p>\n\n\n\n<p>Satu tak kehilangan lain dalamnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi kau dan aku cukuplah<\/p>\n\n\n\n<p>Taman kembangnya tak berpuluh warna<\/p>\n\n\n\n<p>Padang rumputnya tak berbanding permadani<\/p>\n\n\n\n<p>Halus lembut dipijak kaki.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi kita bukan halangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam taman punya berdua<\/p>\n\n\n\n<p>Kau kembang, aku kumbang<\/p>\n\n\n\n<p>Aku kumbang, kau kembang.<\/p>\n\n\n\n<p>Kecil, penuh surya taman kita<\/p>\n\n\n\n<p>Tempat merenggut dari dunia dan \u2018nusia.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Puisi Chairil Anwar di atas mengandung tema cinta. Pasangan tersebut tidak masalah dengan taman yang sempit, karena mereka bisa bersama. Sehingga, taman yang berukuran kecil tersebut seperti penuh \u201csurya\u201d dalam artian kebahagiaan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">14. Puisi Sajak Putih<\/h3>\n\n\n\n<p>Bersandar pada tari warna pelangi<\/p>\n\n\n\n<p>Kau depanku bertudung sutra senja<\/p>\n\n\n\n<p>Di hitam matamu kembang mawar dan melati<\/p>\n\n\n\n<p>Harum rambutmu mengalun bergelut senda<\/p>\n\n\n\n<p>Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba<\/p>\n\n\n\n<p>Meriak muka air kolam jiwa<\/p>\n\n\n\n<p>Dan dalam dadaku memerdu lagu<\/p>\n\n\n\n<p>Menarik menari seluruh aku<\/p>\n\n\n\n<p>Hidup dari hidupku, pintu terbuka<\/p>\n\n\n\n<p>Selama matamu bagiku menengadah<\/p>\n\n\n\n<p>Selama kau darah mengalir dari luka<\/p>\n\n\n\n<p>Antara kita Mati datang tidak membelah.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Puisi di atas menggambarkan cinta yang suci. Bahkan, puisi tersebut menyebutkan tidak ada yang bisa memisahkan keduanya kecuali maut. Sehingga, sudah jelas bahwa puisi berjudul Sajak Putih tersebut mengandung tema cinta.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">15. Puisi Doa<\/h3>\n\n\n\n<p>Kepada pemeluk teguh<\/p>\n\n\n\n<p>Tuhanku<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam termangu<\/p>\n\n\n\n<p>Aku masih menyebut nama-Mu<\/p>\n\n\n\n<p>Biar susah sungguh<\/p>\n\n\n\n<p>Mengingat Kau penuh seluruh<\/p>\n\n\n\n<p>Caya-Mu panas suci<\/p>\n\n\n\n<p>Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi<\/p>\n\n\n\n<p>Tuhanku<\/p>\n\n\n\n<p>Aku hilang bentuk<\/p>\n\n\n\n<p>Remuk<\/p>\n\n\n\n<p>Tuhanku<\/p>\n\n\n\n<p>Aku mengembara di negeri asing<\/p>\n\n\n\n<p>Tuhanku<\/p>\n\n\n\n<p>Di Pintu-Mu aku mengetuk<\/p>\n\n\n\n<p>Aku tidak bisa berpaling.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Puisi Chairil Anwar dengan judul Doa tersebut jelas memiliki tema ketuhanan. Si Aku berdoa dan terus mengingat perintahNya saat berada di negeri asing. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak bisa berpaling terhadap kebaikan dan kasih sayang Tuhan kepadanya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">16. Puisi Cintaku Jauh di Pulau&nbsp;<\/h3>\n\n\n\n<p>Cintaku jauh di pulau,<\/p>\n\n\n\n<p>Gadis manis, sekarang iseng sendiri<\/p>\n\n\n\n<p>Perahu melancar, bulan memancar,<\/p>\n\n\n\n<p>Di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.<\/p>\n\n\n\n<p>Angin membantu, laut tenang, tapi terasa<\/p>\n\n\n\n<p>Aku tidak akan sampai padanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Di air yang tenang, di angin mendayu,<\/p>\n\n\n\n<p>Di perasaan penghabisan segala melaju<\/p>\n\n\n\n<p>Ajal bertakhta, sambil berkata:<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTujukan perahu ke pangkuanku saja.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!<\/p>\n\n\n\n<p>Perahu yang bersama kan merapuh!<\/p>\n\n\n\n<p>Mengapa ajal memanggil dulu<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!<\/p>\n\n\n\n<p>Manisku jauh di pulau,<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau kumati, dia mati iseng sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sudah jelas puisi di atas mengandung tema cinta yang menggambarkan kekasihnya berada di seberang pulau. Dalam bahasa gaul, kita sering menyebutnya sebagai LDR. Namun sayangnya, penantiannya tersebut sia-sia, karena kekasihnya meninggal lebih dulu.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">17. Puisi Kesabaran<\/h3>\n\n\n\n<p>Aku tak bisa tidur<\/p>\n\n\n\n<p>Orang ngomong, anjing nggonggong<\/p>\n\n\n\n<p>Dunia jauh mengabur<\/p>\n\n\n\n<p>Kelam mendinding batu<\/p>\n\n\n\n<p>Dihantam suara bertalu-talu<\/p>\n\n\n\n<p>Di sebelahnya api dan abu<\/p>\n\n\n\n<p>Aku hendak berbicara<\/p>\n\n\n\n<p>Suaraku hilang, tenaga terbang<\/p>\n\n\n\n<p>Sudah! Tidak jadi apa-apa!<\/p>\n\n\n\n<p>Ini dunia enggan disapa, ambil peduli<\/p>\n\n\n\n<p>Keras membeku air kali<\/p>\n\n\n\n<p>Dan hidup bukan hidup lagi<\/p>\n\n\n\n<p>Kuulangi yang dulu kembali<\/p>\n\n\n\n<p>Sambil bertutup telinga, berpicing mata<\/p>\n\n\n\n<p>Menunggu reda yang mesti tiba<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Puisi Chairil Anwar di atas menggambarkan bahwa kehidupan memang harus dihadapi dengan sabar. Setiap saat selalu ada orang yang menyebalkan. Oleh karena itu, dia memilih \u201csambil bertutup telinga\u201d dan \u201cmenunggu reda yang mesti tiba\u201d, yang maksudnya adalah menunggu dengan penuh kesabaran.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">18. Puisi Nisan&nbsp;<\/h3>\n\n\n\n<p>Untuk nenekanda,<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan kematian benar menusuk kalbu<\/p>\n\n\n\n<p>Keridhaanmu menerima segala tiba<\/p>\n\n\n\n<p>Tak kutahu setinggi itu atas debu<\/p>\n\n\n\n<p>Dan duka maha tuan bertahta.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Puisi Nisan mengandung tema kesedihan. Si Aku kehilangan sosok nenek yang dicintainya. Sebenarnya, bukan kematian yang membuatnya teramat sedih, tetapi keridhoan dan keikhlasan sang nenek menerima hidupnya itulah yang membuatnya berduka, sebab ia merasa kagum.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">19. Puisi Chairil Anwar Kawanku dan Aku&nbsp;<\/h3>\n\n\n\n<p>Kepada L.K. Bohang,<\/p>\n\n\n\n<p>Kami jalan sama. Sudah larut<\/p>\n\n\n\n<p>Menembus kabut.<\/p>\n\n\n\n<p>Hujan mengucur badan.<\/p>\n\n\n\n<p>Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan.<\/p>\n\n\n\n<p>Darahku mengental-pekat. Aku tumpat-pedat.<\/p>\n\n\n\n<p>Siapa berkata?<\/p>\n\n\n\n<p>Kawanku hanya rangka saja<\/p>\n\n\n\n<p>Karena dera mengelucak tenaga.<\/p>\n\n\n\n<p>Dia bertanya jam berapa!<\/p>\n\n\n\n<p>Sudah larut sekali<\/p>\n\n\n\n<p>Hingga hilang segala makna<\/p>\n\n\n\n<p>Dan gerak tak punya arti.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Puisi di atas mengisahkan persahabatan yang saling membantu satu sama lain. Amanat yang ingin disampaikan dalam puisi tersebut adalah carilah teman sebanyak-banyaknya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">20. Puisi Hukum<\/h3>\n\n\n\n<p>Saban sore ia lalu depan rumahku<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam baju tebal abu-abu<\/p>\n\n\n\n<p>Seorang jerih memikul.<\/p>\n\n\n\n<p>Banyak menangkis pukul.<\/p>\n\n\n\n<p>Bungkuk jalannya \u2013 Lesu<\/p>\n\n\n\n<p>Pucat mukanya \u2013 Lesu<\/p>\n\n\n\n<p>Orang menyebut satu nama jaya<\/p>\n\n\n\n<p>Mengingat kerjanya dan jasa<\/p>\n\n\n\n<p>Melecut supaya terus ini padanya<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi mereka memaling. Ia begitu kurang tenaga<\/p>\n\n\n\n<p>Pekik di angkasa: Perwira muda<\/p>\n\n\n\n<p>Pagi ini menyinar lain masa<\/p>\n\n\n\n<p>Nanti, kau dinanti-dimengerti!<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Bisa dibilang puisi Hukum di atas memiliki tema kritik sosial. Pasalnya, penyair menggambarkan hukum sebagai petugas yang memaksakan prosedur dan norma-norma.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, karena hukum yang diposisikan sebagai subjek tersebut, kemudian memunculkan kekerasan dan berbagai kepentingan politik yang mengatasnamakan hukum.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">21. Puisi Cerita&nbsp;<\/h3>\n\n\n\n<p>Kepada Darmawidjaja,<\/p>\n\n\n\n<p>Di pasar baru mereka<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu mengada-menggaya.<\/p>\n\n\n\n<p>Mengikat sudah kesal<\/p>\n\n\n\n<p>Tak tahu apa dibuat<\/p>\n\n\n\n<p>Jiwa satu teman lucu<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam hidup, dalam tuju.<\/p>\n\n\n\n<p>Gundul diselimuti tebal<\/p>\n\n\n\n<p>Sama segala berbuat-buat.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi kadang pula dapat<\/p>\n\n\n\n<p>Ini renggang terus terapat.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Puisi di atas melukiskan seseorang yang sedang bercerita kepada Darmawidjaja. Dia menceritakan kejadian yang baru saja dilihatnya di pasar tersebut. Ia merasa kesal dengan yang dilihatnya, karena seseorang yang banyak gaya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">22. Puisi Rumahku&nbsp;<\/h3>\n\n\n\n<p>Rumahku dari unggun-timbun sajak<\/p>\n\n\n\n<p>Kaca jernih dari luar segala nampak<\/p>\n\n\n\n<p>Kulari dari gedong lebar halaman<\/p>\n\n\n\n<p>Aku tersesat tak dapat jalan<\/p>\n\n\n\n<p>Kemah kudirikan ketika senjakala<\/p>\n\n\n\n<p>Di pagi terbang entah ke mana<\/p>\n\n\n\n<p>Rumahku dari unggun-timbun sajak<\/p>\n\n\n\n<p>Di sini aku berbini dan beranak<\/p>\n\n\n\n<p>Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang<\/p>\n\n\n\n<p>Aku tidak lagi meraih petang<\/p>\n\n\n\n<p>Biar berleleran kata manis madu<\/p>\n\n\n\n<p>Jika menagih yang satu.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Puisi Chairil Anwar yang berjudul Rumahku tersebut menggambarkan dirinya yang ingin mencoba keluar dari kebiasaan, yaitu menulis puisi, tetapi tidak bisa. Rumah yang dimaksud dalam puisi di atas adalah sajak-sajak yang telah ia tulis.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">23. Puisi Merdeka<\/h3>\n\n\n\n<p>Aku mau bebas dari segala<\/p>\n\n\n\n<p>Merdeka<\/p>\n\n\n\n<p>Juga dari Ida<\/p>\n\n\n\n<p>Pernah<\/p>\n\n\n\n<p>Aku percaya pada sumpah dan cinta<\/p>\n\n\n\n<p>Menjadi sumsum dan darah<\/p>\n\n\n\n<p>Seharian kukunyah kumamah<\/p>\n\n\n\n<p>Sedang meradang<\/p>\n\n\n\n<p>Segala kurenggut<\/p>\n\n\n\n<p>Ikut bayang<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi kini<\/p>\n\n\n\n<p>Hidupku terlalu tenang<\/p>\n\n\n\n<p>Selama tidak antara badai<\/p>\n\n\n\n<p>Kalah menang<\/p>\n\n\n\n<p>Ah! Jiwa yang menggapai-gapai<\/p>\n\n\n\n<p>Mengapa kalau beranjak dari sini<\/p>\n\n\n\n<p>Kucoba dalam mati.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Puisi di atas menggambarkan sosok Chairil yang ingin merdeka. Arti merdeka dalam puisi tersebut bukan sekadar bebas dari penjajahan, tetapi juga mandiri serta tidak tergantung dengan orang lain.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">24. Puisi Pelarian<\/h3>\n\n\n\n<p>Pelarian<\/p>\n\n\n\n<p>I<\/p>\n\n\n\n<p>Tak tertahan lagi<\/p>\n\n\n\n<p>Remang miang sengketa di sini<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam lari<\/p>\n\n\n\n<p>Dihempaskannya pintu keras tak berhingga.<\/p>\n\n\n\n<p>Hancur-luluh sepi seketika<\/p>\n\n\n\n<p>Dan paduan dua jiwa.<\/p>\n\n\n\n<p>II<\/p>\n\n\n\n<p>Dari kelam ke malam<\/p>\n\n\n\n<p>Tertawa-meringis malam menerimanya<\/p>\n\n\n\n<p>Ini batu baru tercampung dalam gelita<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMau apa? Rayu dan pelupa,<\/p>\n\n\n\n<p>Aku ada! Pilih saja!<\/p>\n\n\n\n<p>Bujuk dibeli?<\/p>\n\n\n\n<p>Atau sungai sunyi?<\/p>\n\n\n\n<p>Mari! Mari!<\/p>\n\n\n\n<p>Turut saja!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Tak kuasa \u2026terengkam<\/p>\n\n\n\n<p>Ia dicengkam malam.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Seperti judulnya, puisi Chairil Anwar di atas menggambarkan seseorang yang ingin lari dari situasi yang sedang dialaminya. Namun, kemudian ia mencoba menerimanya, meski tak kuasa dan merasa terdesak di cengkam malam.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">25. Puisi Prajurit Jaga Malam<\/h3>\n\n\n\n<p>Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu?<\/p>\n\n\n\n<p>Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,<\/p>\n\n\n\n<p>Bermata tajam<\/p>\n\n\n\n<p>Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya<\/p>\n\n\n\n<p>Kepastian<\/p>\n\n\n\n<p>Ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini<\/p>\n\n\n\n<p>Aku suka pada mereka yang berani hidup<\/p>\n\n\n\n<p>Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam<\/p>\n\n\n\n<p>Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu\u2026<\/p>\n\n\n\n<p>Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penjelasan:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Puisi di atas menggambarkan sosok prajurit yang selalu bertugas menjalankan kewajibannya. Amanat puisi di atas adalah kita harus senantiasa rela berkorban demi menjaga keutuhan bangsa dan negara.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Mana Puisi Karya Chairil Anwar Favoritmu?<\/h2>\n\n\n\n<p>Itulah 25 puisi karya Chairil Anwar yang populer, inspiratif, dan bermakna disertai dengan penjelasannya. Dari puisi-puisi tersebut, mana nih yang menjadi favoritmu? Atau kamu tertarik untuk menulis puisi sendiri dan menjadi penyair terkenal seperti Chairil Anwar?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Semasa hidupnya, Chairil Anwar telah banyak menulis puisi. Karya puisi Chairil Anwar tersebut telah melegenda dan menjadi inspirasi para penyair<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1706,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[413],"class_list":["post-1705","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bahasa-indonesia","tag-puisi-chairil-anwar","infinite-scroll-item","generate-columns","tablet-grid-50","mobile-grid-100","grid-parent","grid-50","no-featured-image-padding"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.0 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>25 Puisi Chairil Anwar yang Populer, Inspiratif dan Bermakna - Hotelier Studi<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"25 Puisi Chairil Anwar yang Populer, Inspiratif dan Bermakna - Hotelier Studi\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Semasa hidupnya, Chairil Anwar telah banyak menulis puisi. Karya puisi Chairil Anwar tersebut telah melegenda dan menjadi inspirasi para penyair\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Hotelier Studi\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-09-24T05:49:53+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/unnamed-4-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"512\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"288\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Linda Yulita\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Linda Yulita\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"14 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/\"},\"author\":{\"name\":\"Linda Yulita\",\"@id\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/#\/schema\/person\/8b00debc255b2b67a22d845cf6521ae5\"},\"headline\":\"25 Puisi Chairil Anwar yang Populer, Inspiratif dan Bermakna\",\"datePublished\":\"2024-09-24T05:49:53+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/\"},\"wordCount\":2898,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/unnamed-4-1.jpg\",\"keywords\":[\"puisi chairil anwar\"],\"articleSection\":[\"Bahasa Indonesia\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/\",\"url\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/\",\"name\":\"25 Puisi Chairil Anwar yang Populer, Inspiratif dan Bermakna - Hotelier Studi\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/unnamed-4-1.jpg\",\"datePublished\":\"2024-09-24T05:49:53+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/unnamed-4-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/unnamed-4-1.jpg\",\"width\":512,\"height\":288,\"caption\":\"25 Puisi Chairil Anwar yang Populer, Inspiratif dan Bermakna\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"25 Puisi Chairil Anwar yang Populer, Inspiratif dan Bermakna\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/#website\",\"url\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/\",\"name\":\"Hotelier Studi\",\"description\":\"Media Digital Pendidikan Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/#organization\",\"name\":\"Hotelier Studi\",\"url\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/cropped-Logo-Hotelier-PNG.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/cropped-Logo-Hotelier-PNG.png\",\"width\":285,\"height\":70,\"caption\":\"Hotelier Studi\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/#\/schema\/person\/8b00debc255b2b67a22d845cf6521ae5\",\"name\":\"Linda Yulita\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc2d42f7dcc39baf1f053b7ebcd7105e797581b24faee33da4849f37e889b56a?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc2d42f7dcc39baf1f053b7ebcd7105e797581b24faee33da4849f37e889b56a?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Linda Yulita\"},\"url\":\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/author\/linda\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"25 Puisi Chairil Anwar yang Populer, Inspiratif dan Bermakna - Hotelier Studi","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"25 Puisi Chairil Anwar yang Populer, Inspiratif dan Bermakna - Hotelier Studi","og_description":"Semasa hidupnya, Chairil Anwar telah banyak menulis puisi. Karya puisi Chairil Anwar tersebut telah melegenda dan menjadi inspirasi para penyair","og_url":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/","og_site_name":"Hotelier Studi","article_published_time":"2024-09-24T05:49:53+00:00","og_image":[{"width":512,"height":288,"url":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/unnamed-4-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Linda Yulita","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Linda Yulita","Est. reading time":"14 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/"},"author":{"name":"Linda Yulita","@id":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/#\/schema\/person\/8b00debc255b2b67a22d845cf6521ae5"},"headline":"25 Puisi Chairil Anwar yang Populer, Inspiratif dan Bermakna","datePublished":"2024-09-24T05:49:53+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/"},"wordCount":2898,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/unnamed-4-1.jpg","keywords":["puisi chairil anwar"],"articleSection":["Bahasa Indonesia"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/","url":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/","name":"25 Puisi Chairil Anwar yang Populer, Inspiratif dan Bermakna - Hotelier Studi","isPartOf":{"@id":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/unnamed-4-1.jpg","datePublished":"2024-09-24T05:49:53+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/#primaryimage","url":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/unnamed-4-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/unnamed-4-1.jpg","width":512,"height":288,"caption":"25 Puisi Chairil Anwar yang Populer, Inspiratif dan Bermakna"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/puisi-chairil-anwar\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"25 Puisi Chairil Anwar yang Populer, Inspiratif dan Bermakna"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/#website","url":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/","name":"Hotelier Studi","description":"Media Digital Pendidikan Terpercaya","publisher":{"@id":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/#organization","name":"Hotelier Studi","url":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/cropped-Logo-Hotelier-PNG.png","contentUrl":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/cropped-Logo-Hotelier-PNG.png","width":285,"height":70,"caption":"Hotelier Studi"},"image":{"@id":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/#\/schema\/person\/8b00debc255b2b67a22d845cf6521ae5","name":"Linda Yulita","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc2d42f7dcc39baf1f053b7ebcd7105e797581b24faee33da4849f37e889b56a?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/bc2d42f7dcc39baf1f053b7ebcd7105e797581b24faee33da4849f37e889b56a?s=96&d=mm&r=g","caption":"Linda Yulita"},"url":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/author\/linda\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1705","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1705"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1705\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1707,"href":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1705\/revisions\/1707"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1706"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1705"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1705"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1705"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}