{"id":23160,"date":"2023-11-20T09:41:50","date_gmt":"2023-11-20T02:41:50","guid":{"rendered":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/?p=23160"},"modified":"2023-11-20T09:41:50","modified_gmt":"2023-11-20T02:41:50","slug":"hubungan-rempah-rempah-dan-penjajah-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/hubungan-rempah-rempah-dan-penjajah-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Apa Hubungan Rempah-Rempah dan Penjajah di Indonesia?"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pernahkah kamu terbesit tentang hubungan rempah-rempah dan penjajah di Indonesia? Jawaban singkat, karena Indonesia kaya akan sumber daya alam, dan selanjutnya akan kita jabarkan pada pembahasan berikut!&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Latar Belakang&nbsp;<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rempah-rempah adalah bagian tumbuhan yang beraroma dan berasa kuat. Biasanya kerap digunakan sebagai bumbu masak, menghangatkan tubuh, dan obat-obatan herbal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tak ayal, rempah-rempah menjadi komoditas yang berharga sejak zaman dahulu. Bahkan orang Mesir Kuno telah menggunakan rempah-rempah untuk membumbui makanan hingga mengawetkan orang mati. Pasokan komoditas tersebut sejatinya mereka dapatkan dari Cina, India, dan Ceylon (sekarang bernama Sri Lanka).&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena khasiatnya, rempah-rempah mulai menjadi barang komersial hingga meluas masuk sampai peradaban Timur Tengah dan Eropa. Selama hampir 5.000 tahun, bangsa Arab memiliki andil dalam mengelola perdagangan rempah-rempah, mulai dari Jazirah Arab, Persia, hingga Eropa.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Akan tetapi, permasalahan muncul tatkala Kesultanan Utsmaniyah menguasai Konstantinopel pada 1453 yang menjadi pusat perdagangan komoditas tersebut. Gerbang perdagangan rempah-rempah ke Eropa pun otomatis tutup sehingga memicu bangsa Eropa untuk melakukan penjelajahan samudra.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Portugis dan Spanyol merupakan dua negara yang menjadi pelopor penjelajahan samudra. Keduanya sempat berseteru terkait pembagian wilayah sehingga lahirlah Perjanjian Tordesillas pada 7 Juni 1494.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari perjanjian itu, Spanyol akhirnya melakukan pelayaran ke arah barat dari kepulauan Cape Verde yang mencakup daerah Benua Amerika hingga mencapai Filipina pada 1521.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sementara itu, Portugis melakukan pelayaran ke arah timur, yang mana mereka sampai ke Nusantara, tepatnya di daerah Maluku pada tahun yang sama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nah, setelah kamu mengetahui latar belakangnya, penjelasan berikutnya mengenai hubungan rempah-rempah dan penjajah di Indonesia secara lebih detail.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Ekspedisi Nusantara<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Indonesia dahulu terkenal dengan sebutan \u2018Nusantara\u2019 karena terdiri dari banyaknya pulau. Selain itu, rempah-rempah menjadi hasil alam yang melimpah sejak zaman dahulu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah peristiwa jatuhnya Konstantinopel, persediaan rempah-rempah di sejumlah negara Eropa tidak dapat mengakomodir permintaan pasar. Maka tak heran, bangsa Barat mulai mencari rempah-rempah ke sejumlah daerah yang beriklim tropis, termasuk Nusantara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebelum kedatangan bangsa Eropa, telah beredar kabar mengenai suatu kepulauan sebagai \u201csurganya rempah-rempah&#8221;. Kabar tersebut berasal dari buku catatan Marco Polo yang menggambarkan kekayaan rempah-rempah yang melimpah di kepulauan tersebut.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Inilah yang menjadi cikal bakal keinginan mereka untuk melakukan ekspedisi ke Nusantara demi rempah-rempah yang sangat berharga dan pada akhirnya memicu timbulnya hubungan rempah-rempah dengan penjajah di Indonesia<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Portugis dan Spanyol Datang ke Nusantara<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Portugis menjadi bangsa Eropa pertama yang berhasil mendarat di Nusantara. Kemudian diikuti oleh bangsa Spanyol dan Belanda yang awalnya datang sebagai pedagang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sayangnya, kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara menjadi awal malapetaka terjadinya kolonialisme dan imperialisme.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada 1511, kedatangan Portugis bermula setelah mereka berhasil menaklukkan Malaka dibawah kepemimpinan Afonso de Albuquerque.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"700\" height=\"465\" src=\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Afonso-de-Albuquerque.jpg\" alt=\"Afonso de Albuquerque \" class=\"wp-image-23162\" srcset=\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Afonso-de-Albuquerque.jpg 700w, https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Afonso-de-Albuquerque-300x199.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Afonso de Albuquerque | Sumber: Twitter X @thepatriotsasia<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Portugis menyadari bahwa Nusantara memiliki rempah-rempah bernilai tinggi sehingga mereka menjalin kerja sama dengan kerajaan Ternate di Maluku untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah dari Nusantara ke Eropa.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bersamaan dengan itu, Spanyol yang juga tiba di Maluku bekerja sama dengan Kerajaan Tidore untuk melakukan perdagangan rempah-rempah. Namun, Spanyol pada akhirnya harus meninggalkan Nusantara usai Perjanjian Zaragoza pada 1529 untuk mengatur pembagian wilayah bagi Portugis dan Spanyol.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Belanda Datang ke Nusantara<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah itu, Belanda mulai datang ke Nusantara pada 1596 dan berhasil berlabuh di Banten. Cornelis de Houtman memimpin armada kapal sekaligus membuka pelayaran untuk pertama kalinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semula kedatangannya disambut baik oleh kerajaan Banten. Namun, karena perilakunya yang buruk mengharuskan de Houtman dan rombongannya terusir untuk kembali ke negara asalnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meski begitu, de Houtman berhasil kembali dengan membawa banyak peti berisi rempah-rempah. Dengan demikian, pelayaran pertama Belanda untuk mencari rempah-rempah ke Nusantara terbilang sukses.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selang beberapa waktu kemudian, Belanda kembali datang pada 1598. Kali ini Jacob van Neck datang ketika Banten sedang memiliki hubungan yang buruk dengan Portugis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berbeda dengan de Houtman, van Neck lebih berhati-hati dalam menjaga hubungan&nbsp; dan tidak mencoba melawan para penguasa lokal. Dari situlah, van Neck berhasil mencuri hati Kerajaan Banten dan membuat perdagangan rempah-rempah menjadi lebih mulus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Puncaknya pada 1599, rombongan van Neck berhasil mencapai Maluku yang kala itu merupakan penghasil utama rempah-rempah, serta berhasil meraup untung dalam jumlah yang sangat besar.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kesuksesan van Neck membuat orang-orang Belanda mulai melakukan rangkaian pelayaran ke Nusantara pada 1601. Ini juga yang membuat adanya hubungan rempah-rempah dan penjajah di Indonesia karena Belanda mulai melakukan ekspansi kekuasaannya di Nusantara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Belanda ingin menguasai perdagangan rempah-rempah di sejumlah daerah Nusantara lantaran mereka tidak puas dengan monopoli yang dilakukan oleh&nbsp; Portugis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Atas asas itu, mereka mendirikan kongsi dagang bernama <em>Vereenigde Oostindische Compagnie<\/em> (Perserikatan Perusahaan Hindia Timur) atau VOC pada 1602.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"700\" height=\"465\" src=\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/VOC.jpg\" alt=\"Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) \" class=\"wp-image-23163\" srcset=\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/VOC.jpg 700w, https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/VOC-300x199.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) | Sumber: Twitter X @taugakid\u00a0<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terbentuknya <a href=\"https:\/\/sejarah-nusantara.anri.go.id\/media\/userdefined\/pdf\/brillvocinventaris_gaastraid.pdf\">VOC<\/a> menjadi permulaan Belanda dalam melakukan tindakan kolonialisme dan imperialisme demi mendapatkan rempah-rempah seutuhnya selama berabad-abad. Ini juga yang memperkuat hubungan rempah-rempah dan penjajah di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">VOC tercatat menjadi perusahaan swasta terkaya dalam sejarah, serta mempunyai pengaruh dalam perdagangan dunia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mereka menerapkan kebijakan monopoli yang mengubah dinamika perdagangan global bahwasanya rempah-rempah Nusantara merupakan komoditi yang sangat bernilai di pasar internasional.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Jenis Rempah-Rempah<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Istilah \u2018rempah-rempah\u2019 beberapa kali kita sebut sepanjang pembahasan karena memang terdapat hubungan rempah-rempah dan penjajah di Indonesia. Lantas apa saja jenis rempah-rempah yang dicari oleh bangsa Eropa selama ini sehingga menimbulkan terjadinya penjajahan?<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Lada<\/h3>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"700\" height=\"465\" src=\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/lada.jpg\" alt=\"Lada \" class=\"wp-image-23164\" srcset=\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/lada.jpg 700w, https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/lada-300x199.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Lada | Sumber: Unsplash.com<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lada atau merica menjadi rempah-rempah di urutan pertama yang populer oleh bangsa Eropa. Sebab, jenis rempah ini dapat memberikan efek hangat pada tubuh sehingga cocok untuk mereka yang tinggal pada daerah dingin.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bentuk mentahan lada yaitu bulat-bulat kecil dan bertekstur keras, jadi harus menumbuknya terlebih dahulu sebelum mengosumsinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lada tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia seperti Aceh, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Lampung, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Kayu Manis&nbsp;<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kayu manis menjadi jenis rempah terpenting kedua setelah lada. Rempah ini berbentuk batangan yang tipis dan menggulung, serta memiliki corak warna yang kecoklatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan ciri khas aromatiknya dan memiliki cita rasa manis sekaligus pahit, membuat rempah-rempah ini cocok sebagai bahan tambahan masakan. Tidak hanya itu, kayu manis juga bermanfaat untuk kesehatan, salah satunya mencegah diabetes.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kayu manis banyak ditemukan di banyak daerah, termasuk Jambi, Sumatera Barat, dan DI Yogyakarta.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Pala&nbsp;<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika kamu pernah melihat minyak atsiri, pala menjadi salah satu jenis rempah yang menjadi bahan bakunya. Sifat antiinflamasi dan antispasmodik sangat bagus untuk kesehatan, seperti membantu meredakan gangguan pencernaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Daerah Maluku merupakan sumber melimpahnya pala sehingga bangsa Eropa menargetkan pulau tersebut untuk singgah dan menjadi salah satu alasan adanya hubungan rempah-rempah dan penjajah di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Akan tetapi, kini persebarannya sudah merambah ke Bengkulu, Papua, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Cengkeh<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cengkeh merupakan jenis rempah yang berasal dari bunga tanaman jambu-jambuan yang aromanya begitu harum.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada awal kedatangan bangsa Portugis, cengkeh merupakan komoditi yang kala itu paling banyak dicari. Biasanya kerap digunakan untuk rokok dan bahan utama obat-obatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak hanya di Maluku, persebaran cengkeh kini terdapat pada daerah Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Riau.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">5. Kunyit&nbsp;<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kunyit merupakan jenis rempah yang multifungsi, serta telah dibudidaya sejak 4.000 tahun yang lalu. Kegunaanya yaitu sebagai bumbu masakan yang memberikan efek kuning untuk pewarna.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak hanya untuk bahan masakan, kunyit juga biasa untuk obat-obatan dan komponen kecantikan lantaran dapat mencerahkan dan menghaluskan kulit.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">6. Jahe&nbsp;<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jahe merupakan tumbuhan yang rimpangnya bermanfaat sebagai rempah dan bahan dasar pengobatan tradisional. Ciri khas jahe yakni memiliki aroma menyengat dan rasa dominan pedas. Karena itu jahe mempunyai manfaat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">7. Kapulaga<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika kamu mengalami stres, kapulaga tentu menjadi solusi lantaran memberikan efek tenang. Karena manfaatnya yang beragam, kapulaga menjadi salah satu dari tiga rempah-rempah termahal di dunia serta menjadi alasan timbulnya hubungan rempah-rempah dan penjajah di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/hotelier.id\/studi\/romusha\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Apa itu Romusha? Pengertian, Tujuan, Motif, dan Dampaknya<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Sudah Paham Hubungan Rempah-Rempah dan Penjajah di Indonesia?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Itulah penjelasan mengenai hubungan rempah-rempah dan penjajah di Indonesia yang perlu kamu ketahui.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi, kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara atau Indonesia erat kaitannya dengan hasrat mereka untuk menguasai perdagangan rempah-rempah yang melimpah di wilayah tersebut sehingga pada gilirannya menjadi salah satu faktor utama dalam perkembangan penjajahan Indonesia selama berabad-abad lamanya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebenarnya apa sih hubungan rempah-rempah dan penjajah di Indonesia? Bagaimana bisa terjadi? Simak penjelasan selengkapnya di sini!<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":23161,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-23160","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sejarah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23160","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=23160"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23160\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":23167,"href":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23160\/revisions\/23167"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/23161"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=23160"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=23160"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/hotelier.id\/studi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=23160"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}