Perilaku Menyimpang: Penyebab, Bentuk, dan Contohnya

Istilah perilaku menyimpang pasti cukup familiar di telinga masyarakat awam. Label menyimpang sendiri berarti ketidakbenaran karena bertentangan dengan adat istiadat, norma, atau aturan dalam masyarakat.

Namun, seperti apa sebetulnya penjelasan lengkap tentang perilaku yang menyimpang itu? Apa saja yang memicu hal tersebut terjadi, hingga bentuk dan contoh dari perbuatan-perbuatan tersebut? Silakan simak penjabarannya sampai akhir artikel!

Pengertian Mendalam dari Perilaku Menyimpang

Ilustrasi Perilaku Menyimpang
Ilustrasi Perilaku Menyimpang | Sumber Gambar: BBC

Banyak sekali ahli yang membahas secara mendalam tentang perbuatan menyimpang. Pada dasarnya, perilaku seseorang akan mendapatkan label tersebut ketika melanggar beberapa aspek dalam masyarakat, meliputi:

  • Nilai sosial.
  • Norma budaya.
  • Ajaran agama.
  • Adat istiadat.
  • Hukum.

Namun, hal-hal tersebut kemudian menghasilkan suatu penilaian yang subjektif dan relatif, alias tidak mutlak. Bisa saja di suatu daerah, berdasarkan adat istiadat masyarakat setempat, tindakan seseorang dianggap sebagai perilaku menyimpang. Namun, di wilayah lain, merupakan suatu perbuatan yang wajar atau normal.

Jadi, untuk menentukan apakah suatu perbuatan benar termasuk menyimpang atau tidak, ada kesepakatan terkait standar penilaian. Ini akan berdasarkan kesepakatan para ahli, seperti:

  • Berbagai macam tindakan yang menimbulkan kerugian terhadap pihak lain.
  • Segala perilaku yang memicu reaksi penolakan keras dari berbagai lapisan.
  • Memberikan dampak negatif terhadap perkembangan kehidupan sosial di tengah masyarakat.

Bila memenuhi kriteria tersebut, maka tindakan individu maupun kelompok terkait masuk dalam kategori penyimpangan.

Faktor Pemicu Perilaku Menyimpang

Lantas, apa saja yang membuat seseorang kemudian sampai melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan norma, hukum, dan aturan umum masyarakat? Berikut ini adalah beberapa faktor yang menjadi penyebab tindakan tersebut sampai terjadi:

1. Ketidaksempurnaan Proses Sosialisasi Individu

Seseorang akan mendapatkan pendidikan tentang norma, adat, budaya, serta hukum sejak kecil. Baik dari orang tua, keluarga, lingkungan, maupun pendidikan formal di sekolah. Hal tersebut akan membantu membentuk karakter seseorang dalam kehidupan sosial.

Namun, tidak jarang terjadi ketidakmatangan dalam proses tersebut. Contohnya ketika sejak kecil melihat kedua orang tuanya sering bertengkar hebat. Secara mental, dia akan terbangun dengan pemikiran bahwa pertengkaran merupakan solusi dari setiap masalah.

2. Perubahan Nilai dan Norma Sosial

Perubahan zaman selalu mempengaruhi nilai dan norma sosial untuk ikut beradaptasi alias berubah. Contohnya terkait emansipasi wanita di mana kaum hawa semakin bebas dalam berkarir dan beraspirasi dalam berbagai bidang.

Dulu, keberanian dan independensi perempuan semacam itu dianggap sebagai suatu perilaku yang menyimpang. Namun, perubahan zaman mengubah segalanya. Justru yang menentang termasuk dalam kelompok yang menyimpang.

3. Gangguan Psikologis

Ada orang-orang yang terlahir dengan masalah psikologis, namun ada pula yang terbentuk akibat lingkungan sekitar. Gangguan kejiwaan sendiri bukan berarti gila, karena ada banyak macamnya. Akibat gangguan psikologis, tidak sedikit individu yang kemudian melakukan penyimpangan.

4. Stigma atau Teori Labelling

Faktor pemicu berikutnya dari perilaku menyimpang adalah stigma atau teori yang terlanjur dipercaya sebagai kebenaran oleh masyarakat luas. Di mana sesuatu otomatis berkaitan dengan hal-hal negatif.

Contohnya tato yang dianggap sebagai simbol hal yang tidak baik. Sehingga, seseorang yang memiliki tato secara otomatis merupakan sosok yang jahat. Individu tersebut kemudian melakukan berbagai pelanggaran karena terlanjur dilabeli sebagai orang yang buruk.

5. Asosiasi Diferensial

Penyebab dari perbuatan menyimpang lainnya adalah asosiasi diferensial atau pemahaman baru yang terbentuk akibat tindakan sekitar yang bertolak belakang dengan prinsip pribadi.

Contohnya, seorang murid teladan yang tidak pernah telat masuk kelas, selalu melihat tindakan sebaliknya dari teman sekolahnya. Hal tersebut memicu pemikiran baru bahwa, tidak ada yang salah datang terlambat dan konsekuensinya juga tidak terlalu buruk.

6. Teori Anomie

Penyebab terakhir adalah teori anomie atau situasi ketika seseorang tidak memiliki landasan norma dan hukum tertentu sebagai pedoman menetap di suatu daerah. Akhirnya, hal itu memunculkan pemikiran bahwa melakukan tindakan menyimpang bukan suatu kesalahan.

Ragam Bentuk Perilaku Menyimpang

Setelah memahami tentang penyebab dari tindakan penyimpangan, kamu perlu mengetahui tentang bentuk dari perilaku itu sendiri. Secara teknis, perbuatan pelanggaran terbagi menjadi dua bentuk yang kemudian memiliki klasifikasi lebih jauh lagi. Berikut uraiannya:

1. Penyimpangan Berdasarkan Sifat

Bentuk pertama terbagi berdasarkan sifat dari perilaku itu sendiri, yaitu:

1. Penyimpangan Positif

Tindakan yang dilakukan memberikan dampak positif terhadap kelompok maupun masyarakat luas. Hal tersebut menjadikan perilaku yang menyimpang bersifat positif. Biasanya, perbuatan ini bisa terjadi berkat perubahan zaman dan proses adaptasi masyarakat.

Penyimpangan yang positif terpenuhi jika memiliki kriteria inovatif, kreatif, serta menambah wawasan. Ciri-ciri tersebut dapat membawa dampak baik dalam peningkatan taraf dan kualitas hidup masyarakat.

2. Penyimpangan Negatif

Perilaku menyimpang negatif akan tercermin dari dampak buruk sebagai hasilnya – khususnya terhadap masyarakat. Tindakan menyimpang yang negatif ini sendiri terbagi lagi menjadi dua kategori, yaitu:

  • Primer: Perilaku negatif yang seseorang lakukan, namun hanya bersifat sementara. Serta tidak mengakibatkan kerugian besar terhadap masyarakat.
  • Sekunder: Perilaku negatif secara terus menerus sehingga menyebabkan kerugian fatal dan tidak dapat ditoleransi.

2. Penyimpangan Berdasarkan Jumlah Pelaku

Klasifikasi selanjutnya berdasarkan pada jumlah pelaku yang melakukan perbuatan tersebut. Bentuk penyimpangan ini pun kembali dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu:

1. Penyimpangan Individu

Tindak pelanggaran yang dilakukan oleh seseorang dan biasanya tergolong dalam penyimpangan ringan. Bisa berupa ketidakpatuhan kecil terhadap sistem, aturan, maupun norma sosial di suatu lingkungan.

2. Penyimpangan Kelompok

Klasifikasi perilaku menyimpang selanjutnya berdasarkan jumlah adalah penyimpangan kelompok. Pelakunya tentu sekelompok individu yang melakukan pelanggaran berdasarkan dorongan emosional secara kolektif.

3. Penyimpangan Campuran

Terakhir adalah penyimpangan campuran. Ini merupakan pelanggaran yang dilakukan oleh individu, namun tengah tergabung dalam suatu kelompok tertentu. Jadi, tindakan yang dilakukan otomatis mewakili dari pandangan kelompok tersebut juga.

Baca Juga : 5 Contoh Interaksi Sosial Antar Individu dan Penjelasannya

Contoh Perilaku Menyimpang yang Sering Ditemui

Pada dasarnya, perbuatan ini merupakan sesuatu yang sering kamu jumpai dalam aktivitas sehari-hari. Hanya saja, skala tindakan hingga dampaknya berbeda. Jadi, kadang sebagian masyarakat akan memaklumi tindakan tersebut. Berikut adalah contoh tindakan yang menyimpang dari norma, adat, dan lainnya:

1. Pertukaran Peran Pasutri

Bapak Rumah Tangga
(Bapak Rumah Tangga I Sumber Foto: winnsservices)

Contoh pertama adalah pertukaran peran antara pasangan suami istri. Di mana istri menjadi tulang punggung sedangkan suami mengurus rumah tangga. Meski bukan hal yang sepenuhnya buruk, hal ini masih dianggap tabu oleh sebagian besar masyarakat. Terutama cap sebagai kepala rumah tangga yang tidak bertanggung jawab.

2. Perundungan

Contoh perilaku menyimpang selanjutnya adalah tindakan bullying atau perundungan. Pelakunya bisa perorangan maupun kelompok terhadap individu maupun golongan lainnya yang lebih lemah. Tindakan ini sering terjadi di lingkungan sekitar dan tidak mengenal batas usia.

Aksi perundungan bisa berupa serangan verbal melalui kata-kata kasar, maupun serangan fisik. Sekarang ini, perilaku perundungan di Indonesia sudah masuk dalam ranah yang serius, terlebih pelakunya pun mulai dari anak-anak di bawah umur.

3. Penyalahgunaan Obat-Obatan Terlarang

Ilustrasi Narkotika
(Ilustrasi Narkotika I Sumber Foto: Pexels)

Penggunaan narkoba juga termasuk dalam perbuatan yang menyimpang. Tidak hanya merusak diri sendiri, efek narkoba juga dapat memengaruhi pelakunya untuk melakukan tindak kriminal lain – baik secara sadar maupun tidak.

4. Pelecehan Seksual dan Pemerkosaan

Contoh lain dari perilaku menyimpang yang sangat merugikan adalah tindakan pelecehan seksual dan pemerkosaan. Kasus semacam ini mencatatkan angka kriminalitas yang tinggi di Indonesia. Ironisnya, justru banyak korban yang tidak berani melaporkan pelaku karena merasa kondisinya merupakan sebuah aib.

5. Berjudi

Ilustrasi Berjudi
(Ilustrasi Berjudi I Sumber Foto: Detik.net)

Judi sangat bertentangan dengan norma sosial, agama, maupun hukum di Indonesia. Tidak ada pembenaran bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas perjudian – baik skala kecil maupun besar karena berpotensi menimbulkan kerugian finansial yang fatal.

Sayangnya, justru saat ini telah marak judi online yang bisa dilakukan melalui gawai. Telah banyak kasus pelaku judi online yang terlilit utang puluhan hingga ratusan juta akibat kekalahan dan akhirnya kehilangan seluruh aset yang ada.

Baca Juga : Pengertian Kompromi: Jenis, Tujuan, Kelebihan, dan Contohnya

Sudah Tahu Apa Saja Bentuk Perilaku Menyimpang?

Perilaku menyimpang dapat bersifat subjektif dan relatif tergantung pandangan yang ada di suatu daerah. Jadi, tidak salah jika beberapa perbuatannya justru menghasilkan dampak positif. Perilaku ini sendiri bisa berhenti tergantung dari pemicunya, jika karena kesehatan mental, maka penanganan dari profesional akan menjadi solusi terbaik. 

Selain itu, kita tidak serta merta bisa menghakimi suatu sikap yang tidak lazim atau umum dari seseorang. Ini merupakan cara terbaik untuk menghindari konflik lebih jauh. Sebagai individu, bersikap netral dan memandang suatu tindakan dari banyak sisi merupakan solusi terbaik untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat.

Share:

Leave a Comment

You cannot copy content of this page