Category: General

  • Pengertian No Show Hotel Beserta Dampak dan Cara Penanganan

    Pengertian No Show Hotel Beserta Dampak dan Cara Penanganan

    Istilah no show hotel sering kali muncul dalam bisnis perhotelan untuk menunjukkan kondisi tamu yang tidak datang meski sudah melakukan reservasi kamar.

    Sebabnya sendiri bisa beragam, tetapi kondisi ini akan memberikan dampak yang cenderung merugikan, baik bagi hotel maupun tamu.

    Untuk mengetahui lebih lanjut, artikel kali ini akan membahas tentang pengertian no show hotel beserta dampak dan cara penanganan yang umumnya diambil pihak hotel.

    Pengertian No Show Hotel

    No show hotel adalah istilah yang merujuk pada kondisi di mana tamu yang sudah memesan kamar tidak datang sesuai tanggal booking tanpa ada pemberitahuan kepada pihak hotel.

    Kondisi ini memang cukup umum terjadi dalam bisnis hospitality meski sebelumnya petugas front office sudah meminta konfirmasi Estimated Time Arrival (ETA).

    Namun, pada jadwal yang sudah disepakati dan dikonfirmasi, tamu justru tidak datang dan tidak memberikan informasi perubahan rencana apa pun pada staf hotel terkait.

    Dalam situasi semacam ini, biasanya staf hotel yang bertugas akan memberikan status “no show” pada tabel kedatangan tamu.

    Faktor yang Mempengaruhi

    Kemungkinan faktor yang mempengaruhi peningkatan no show hotel sering kali berkaitan dengan kebijakan hotel, berikut beberapa di antaranya.

    1. Kebijakan Menginap

    Faktor utama yang mempengaruhi peningkatan no show hotel sering kali berkaitan dengan kebijakan menginap di mana hotel memberlakukan aturan minimum stay.

    Kebijakan Minimum Length of Stay atau MLOS biasanya diberlakukan pada periode high season saat permintaan kamar sedang tinggi-tingginya.

    Meski strategi MLOS memungkinkan stabilitas pendapatan hotel, tetapi bisa cukup menyulitkan tamu yang ingin mengubah rencana menginap di detik-detik terakhir.

    2. Kebijakan Tarif Pembatalan

    Umumnya, hotel akan memberlakukan kebijakan tarif pembatalan reservasi yang sayangnya justru menjadi faktor penyebab meningkatnya no show hotel.

    Saat denda pembatalan terlalu tinggi, tamu akan memilih untuk tidak datang sesuai jadwal reservasi demi meminimalisir kerugian.

    Namun, ternyata denda pembatalan yang terlalu rendah juga berpotensi menimbulkan ketidakhadiran tamu hotel karena biayanya dianggap cukup ringan.

    Dampak No Show Hotel

    Dampak no show hotel sendiri bisa menimbulkan beberapa kerugian, baik bagi hotel maupun tamu, yang antara lain sebagai berikut.

    1. Pengurangan Pendapatan

    Ketika sudah ada reservasi tetapi tidak diisi oleh tamu sesuai jadwal booking, hotel dapat kehilangan pendapatan dari kamar tersebut.

    Meski ada denda pembatalan, tetapi potensi berkurangnya pendapatan tetap terjadi mengingat ada fasilitas berbayar lain yang seharusnya bisa menambah pemasukan hotel.

    2. Gangguan Perencanaan Operasional

    No show hotel juga cukup berdampak pada gangguan perencanaan operasional hotel di mana pengaturan staf, layanan, dan fasilitas sudah disesuaikan dengan tamu yang akan datang.

    Saat tamu tidak datang, alokasi sumber daya yang dipersiapkan akan mengalami ketidakseimbangan hingga hotel akan menanggung kerugian operasional.

    3. Peningkatan Biaya Operasional

    Di sisi lain, dampak dari no show hotel juga akan meningkatkan biaya operasional yang ditanggung pihak hotel tanpa pemasukan sepadan.

    Di antaranya, biaya untuk persiapan kamar hingga tenaga kerja yang ditugaskan demi memberikan pelayanan terbaik untuk tamu tersebut.

    4. Penurunan Reputasi Hotel

    Penurunan reputasi hotel juga menjadi dampak lain dimana publik akan membangun persepsi negatif terkait layanan dan keandalan hotel.

    Meski tidak sepenuhnya benar, tetapi anggapan jika hotel tidak profesional bisa saja muncul saat sering terjadi kasus no show.

    5. Denda Pembatalan

    Tamu juga bisa menanggung dampak berupa kerugian finansial atas kebijakan denda pembatalan dari hotel.

    Sudah menjadi rahasia umum jika tamu akan menanggung biaya pinalti jika melakukan pembatalan reservasi dengan tarif yang disesuaikan kebijakan hotel masing-masing.

    Cara Penanganan No Show Hotel

    Cara penanganan no show hotel bisa dilakukan dengan pemberlakuan beberapa kebijakan yang jelas hingga strategi optimalisasi kamar.

    1. Buat Kebijakan Pembatalan yang Jelas

    Hotel bisa menerapkan cara mengatasi no show hotel melalui pemberlakuan kebijakan pembatalan yang jelas.

    Misalnya, ada pasal terkait batas waktu pembatalan hingga persentase biaya pembatalan yang disesuaikan waktu dan diinformasikan kepada tamu sejak awal.

    2. Pembayaran di Muka

    Cara penanganan kondisi no show hotel selanjutnya melalui kebijakan deposit atau pembayaran di muka untuk memastikan komitmen kedatangan tamu.

    Dengan adanya aturan ini, diharapkan tamu akan mempertimbangkan ulang pembatalan reservasi atau ketidakhadiran sesuai jadwal.

    3. Kerja Sama dengan Pihak Ketiha

    Membangun kerja sama dengan pihak ketiga, seperti agen perjalanan atau platform booking online, dinilai menjadi cara ampuh penanganan no show hotel.

    Nantinya, pihak ketiga akan membantu hotel dalam menyampaikan informasi dan kebijakan yang berlaku terkait pembatalan reservasi.

    4. Strategi Optimalisasi Kamar

    Hotel juga bisa menerapkan cara menangani no show hotel dengan merencanakan strategi optimalisasi kamar yang tidak terisi akibat pembatalan.

    Salah satunya dengan mengadopsi strategi overbooking atau menawarkan kamar yang tidak terjual tadi melalui pemberian diskon atau promo khusus.

    Demikianlah rangkuman tentang pengertian no show hotel beserta dampak dan cara penanganan yang umumnya diambil pihak hotel.

    Melalui informasi yang sudah disampaikan tadi, kamu akan lebih mudah memahami no show hotel dengan lebih jelas.

    Selain itu, kamu juga bisa mengetahui berbagai istilah di dunia perhotelan lainnya untuk menambah wawasan.

  • Apa itu Lead Time di Perhotelan dan Faktor yang Mempengaruhi

    Apa itu Lead Time di Perhotelan dan Faktor yang Mempengaruhi

    Apa itu lead time di perhotelan? Istilah dalam bisnis hospitality yang cukup berpengaruh dalam rencana operasional dan optimalisasi pendapatan hotel.

    Pada dasarnya, istilah tersebut menjelaskan kondisi adanya jeda waktu antara waktu resevasi kamar dengan waktu kedatangan tamu ke hotel.

    Untuk lebih jelasnya lagi, simak pembahasan tentang pengertian booking lead time di perhotelan dan faktor yang mempengaruhi berikut ini.

    Apa Itu Lead Time di Perhotelan?

    Apa Itu Lead Time? Booking lead time atau lead time di Perhotelan adalah periode waktu tunggu antara tamu membuat reservasi kamar dengan waktu tiba di hotel untuk menginap.

    Sebagai contoh, tamu memesan kamar hotel pada tanggal 10 Oktober dan tiba di hotel pada 25 Oktober memiliki booking lead time selama 15 hari.

    Namun, selama jeda waktu tersebut ada banyak kemungkinan kondisi yang terjadi, seperti pembatalan reservasi, pengeluaran tambahan, modifikasi, atau permintaan lainnya.

    Mengapa Lead Time Hotel Penting?

    Lalu, mengapa lead time hotel penting? Hal ini berkaitan dengan beberapa situasi yang nantinya akan berdampak pada kinerja dan perencanaan operasional hotel.

    Lead time hotel ini menjadi penting untuk diketahui dan diantisipasi oleh hotel karena bisa membantu dalam perkiraan dan perencanaan strategis operasional hotel.

    Pihak hotel juga bisa melakukan penyesuaian untuk memaksimalkan pendapatan dari kamar yang belum terjual dan membuat rencana peningkatan pendapatan melalui promo tertentu.

    Selain itu, jeda waktu reservasi dan kedatangan tamu akan memungkinkan pelayanan hotel dipersonalisasi agar tamu mendapatkan pengalaman terbaik.

    Faktor yang Mempengaruhi Lead Time Hotel

    Ada beberapa faktor yang mempengaruhi lead time hotel, mulai dari jenis tamu, musim liburan, hingga promosi dan diskon yang ditawarkan.

    1. Jenis Tamu

    Faktor utama yang mempengaruhi lead time hotel yaitu jenis tamu yang memiliki tujuan staycation ke hotel yang berbeda-beda.

    Perbedaan ini membuat periode lead time setiap tamu yang melakukan reservasi kamar tidak sama sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

    Biasnya, tamu untuk tujuan bisnis cenderung memiliki booking lead time yang relatif pendek yang menyesuaikan jadwal keberangkatan dinasnya.

    Sedangkan tamu wisatawan dengan tujuan rekreasi dan liburan justru sebaliknya, booking lead time-nya lebih panjang karena memang sudah merencanakan perjalanan jauh-jauh hari.

    2. Musim Liburan

    Musim liburan juga menjadi faktor lainnya yang mempengaruhi booking lead time tamu hotel, apakah reservasi kamar saat high season atau low season.

    Umumnya, periode high season atau puncak liburan akan meningkatkan lead time yang dipengaruhi tingginya permintaan booking kamar.

    Hal ini membuat calon tamu hotel memilih untuk memesan kamar lebih awal agar mendapatkan hotel atau akomodasi lain sesuai keinginan.

    3. Promosi dan Diskon

    Faktor penting lain yang mempengaruhi lead time hotel berkaitan dengan promosi dan diskon yang ditawarkan hotel untuk calon tamunya.

    Penawaran ini biasanya bersifat khusus atau musiman, seperti diskon untuk pemesanan awal agar tamu memilih booking kamar jauh-jauh hari.

    Sedangkan lead time hotel yang relatif pendek sering kali terjadi saat ada promosi last-minute dari hotel untuk menarik minat calon tamu dan meningkatkan okupansi.

    Strategi Optimalisasi Lead Time Hotel

    Umumnya, pihak manajemen akan menerapkan berbagai strategi optimalisasi lead time hotel melalui beberapa cara berikut ini.

    1. Analisis Data

    Strategi untuk mengoptimalkan lead time hotel bisa dilakukan dengan melakukan analisis data secara lebih akurat.

    Pihak hotel bisa menggunakan data historis sebagai upaya identifikasi pola booking lead time agar bisa merencanakan strategi promosi harga yang efektif.

    2. Promosi Tepat Waktu

    Dalam melakukan optimalisasi lead time hotel, strategi promosi berupa diskon early bird akan cukup efektif dalam mendorong pemesanan lebih awal.

    Namun, pihak hotel juga bisa menggunakan promosi last-minute jika masih ada ketersediaan kamar untuk dijual.

    3. Komunikasi dengan Tamu

    Upaya strategi lead time hotel yang optimal juga bisa dilakukan melalui komunikasi dengan tamu pasca proses reservasi kamr.

    Hal ini dilakukan untuk memastikan pengalaman personalisasi yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing tamu.

    4. Fleksibilitas Kebijakan

    Menyediakan fleksibilitas kebijakan juga mampu menjadi strategi efektif optimalisasi lead time hotel.

    Misalnya, dengan membuat kebijakan pembatalan pemesanan dengan booking lead time yang lebih panjang agar tamu bisa mengubah jadwal menginapnya.

    Demikianlah rangkuman yang kami buat tentang pembahasan tentang apa itu lead time di perhotelan dan faktor yang mempengaruhi sebagai gambaran umum.

    Berdasar informasi di atas, kamu akan lebih bisa memahami apa itu lead time di perhotelan dan menambah wawasan istilah di dunia perhotelan.

  • Apa Itu FIT dalam Perhotelan dan Bedanya dengan GIT

    Apa Itu FIT dalam Perhotelan dan Bedanya dengan GIT

    Buat kamu yang masih awam dengan beberapa istilah di dunia hospitality, ada baiknya untuk mengenal apa itu FIT dalam perhotelan.

    Istilah yang berkaitan dengan jenis-jenis tamu hotel ini juga menjadi kunci dalam memberikan pelayanan memuaskan melalui pendekatan profesional kepada setiap tamu.

    Sebagai gambaran umum, berikut penjelasan tentang apa itu FIT dalam perhotelan dan bedanya dengan GIT untuk memudahkan pemahaman.

    Apa Itu FIT dalam Perhotelan?

    Apa Itu FIT? FIT dalam perhotelan adalah Free Independent Travellers yang merujuk pada jenis tamu hotel dengan preferensi berlibur sendiri tanpa mengikuti susunan paket tour tertentu.

    Biasanya, tamu hotel yang masuk kategori FIT lebih sering melakukan perjalanan wisata secara mandiri, termasuk saat merencanakan staycation di hotel.

    Hal ini berbeda dengan tamu GIT (Group Inclusive Tours) yang cenderung bepergian dan menginap secara berkelompok dan memesan paket wisata melalui agen perjalanan.

    Selain itu, tamu FIT di hotel juga cenderung lebih fleksibel dan bisa menyesuaikan dengan preferensi pribadi saat memilih kamar serta fasilitas lain yang diinginkan.

    Oleh sebab itu, pelaku bisnis perhotelan menggunakan istilah FIT pada tamu yang melakukan reservasi mandiri tanpa agen perjalanan agar bisa memberikan pelayanan yang sesuai.

    Keuntungan Tamu FIT di Hotel

    Ada beberapa keuntungan tamu FIT di hotel yang bisa didapatkan, mulai dari fleksibilitas hingga kebebasan jadwal.

    1. Fleksibilitas

    Kamu akan mendapatkan keuntungan berupa fleksibilitas saat menjadi tamu hotel FIT karena bisa merencanakan akomodasi dan membuat perubahan sesuai keinginan.

    Pasalnya, tamu FIT tidak harus menyesuaikan kebutuhan akomodasi dengan paket wisata yang dibuat oleh agen perjalanan karena bisa melakukan semua sendiri.

    Fleksibilitas ini juga berkaitan dengan memilih tipe kamar dan waktu menginap sesuai anggaran maupun kebutuhan.

    2. Kebebasan Jadwal

    Tamu FIT akan diuntungkan dengan adanya kebebasan jadwal menginap di hotel tanpa ada batasan tur grup seperti jika memesan kamar lewat agen perjalanan.

    Kamu jadi lebih leluasa mengatur jadwal menginap dan liburan serta bisa mengubah jangka waktu menginap saat merasa ingin lebih lama atau bahkan lebih cepat.

    Hal yang Perlu Diperhatikan dari FIT di Hotel

    Hal yang perlu diperhatikan dari FIT di hotel juga penting untuk diketahui agar momen menginap bisa nyaman dan berkesan, berikut beberapa di antaranya.

    1. Pilih Hotel di Kawasan Ramai dan Strategis

    Hal pertama yang perlu diperhatikan dari FIT di hotel yaitu memilih hotel di kawasan ramai dan strategis untuk mempermudah akses.

    Bukannya tanpa alasan, hal ini penting karena kamu bepergian sendiri hingga hotel yang letaknya strategis akan lebih menguntungkan saat harus mengakses fasilitas umum.

    2. Bawa Barang Seperlunya

    Membawa barang seperlunya juga wajib diperhatikan saat menjadi tamu FIT hotel mengingat kamu harus mengangkut sendiri selama perjalanan.

    Pastikan untuk memprioritaskan kebutuhan esensial, mulai dari outfit yang sesuai, dokumen identitas, kebutuhan pribadi, obat-obatan, dan sebagainya.

    3. Kondisi Kesehatan

    Kondisi kesehatan menjadi modal utama yang harus diperhatikan oleh tamu hotel FIT hingga kamu harus bernar-benar fit dan sehat sebelum memulai perjalanan liburan.

    Selain itu, pastikan juga kondisi mental dalam keadaan stabil karena keseimbangan emosi akan mempengaruhi momen staycation.

    4. Pastikan Memiliki Dana Darurat

    Hal terakhir yang tak kalah penting saat menjadi tamu FIT adalah memiliki persiapan dana darurat yang cukup untuk berjaga-jaga.

    Tidak menutup kemungkinan jika nantinya ada alokasi dana di luar anggaran saat menginap di hotel atau muncul kebutuhan mendesak tertentu.

    Dengan ketersediaan dana darurat, kamu akan lebih percaya diri saat staycation di hotel hingga bisa menikmati liburan dengan tenang.

    Perbedaan FIT dan GIT dalam Perhotelan

    Perbedaan FIT dan GIT dalam perhotelan bisa diketahui melalui beberapa aspek pembeda yang antara lain sebagai berikut.

    1. Jumlah Tamu

    Perbedaan utama FIT dan GIT dalam perhotelan terletak dari jumlah tamu di mana FIT umumnya sendiri dan GIT berada dalam kelompok.

    Jadi, bisa dikatakan jika tamu FIT hotel lebih mengarah pada solo traveler, sedangkan tamu GIT merupakan tamu grup yang biasanya datang bersamaan dalam tur tertentu.

    2. Cara Reservasi

    Cara reservasi tamu FIT dan GIT dalam perhotelan juga menjadi faktor pembeda selanjutnya yang cukup mudah dikenali.

    Umumnya, tamu FIT hotel memesan kamar secara mandiri dan tamu GIT memesan kamar hotel melalui agen perjalanan.

    3. Fleksibilitas

    Perbedaan fleksibilitas memungkinkan tamu FIT mengatur jadwal dan pilihan kamar secara lebih leluasa dibanding tamu GIT hotel.

    Sedangkan dari sisi kenyamanan, tamu GIT lebih fleksibel dalam hal menikmati momen staycation karena tidak perlu merencanakan sendiri seperti tamu FIT.

    Demikianlah penjelasan tentang apa itu FIT dalam perhotelan dan bedanya dengan GIT yang sudah kami rangkum untuk memudahkan pemahaman.

    Berdasar informasi di atas, kamu akan bisa menjelaskan sendiri apa itu FIT dalam perhotelan dan memiliki pertimbangan untuk menjadi jenis tamu hotel yang mana.

  • Direct Booking: Pengertian, Manfaat Penerapan, dan Prosesnya

    Dalam proses reservasi kamar hotel, ada istilah direct booking yang diperkenalkan sebagai cara memesan langsung tanpa perantara atau pihak ketiga.

    Cara pemesanan kamar yang mempertahankan konsep konvensional ini ditawarkan pihak hotel sebagai alternatif di tengah maraknya penawaran sistem booking melalui agen.

    Nah, untuk mengetahui lebih lanjut, simak penjelasan tentang direct booking hotel yang meliputi pengertian, manfaat penerapan, dan prosesnya berikut ini.

    Pengertian Direct Booking

    Direct booking adalah sistem pemesanan kamar yang dilakukan calon tamu secara langsung tanpa melalui agen perjalanan atau Online Travel Agent (OTA).

    Serupa dengan konsep booking konvensional yang memesan langsung, calon tamu akan difasilitasi akses reservasi dengan beberapa pilihan.

    Mulai dari sistem pemesanan melalui telepon, via aplikasi atau website resmi hotel, atau bahkan check-in langsung di tempat.

    Jadi, dapat disimpulkan jika pemesanan langsung bisa menjadi solusi bagi pelanggan agar bisa memesan kamar hotel tanpa harus dibebani biaya komisi untuk pihak ketiga.

    Selain itu, pihak hotel juga bisa meminimalisir ketergantungan terhadap pihak ketiga untuk meningkatkan okupansi.

    Manfaat Penerapan

    Berikut beberapa manfaat penerapan direct booking yang lebih banyak dirasakan oleh pihak hotel meski juga berdampak positif untuk calon tamu.

    1. Mengurangi Ketergantungan dengan OTA

    Manfaat utama direct booking bagi pihak hotel sendiri mengarah pada cara efektif untuk mengurangi ketergantungan dengan OTA.

    Keberadaan OTA memang mampu membantu hotel dalam menjaga stabilitas penjualan dan tingkat okupansi kamar di berbagai musim.

    Meski menguntungkan, tetapi hotel seolah menjadi semakin tergantung kepada OTA untuk mendapatkan pelanggan.

    2. Menjaga Keuntungan Finansial

    Penggunaan sistem direct booking hotel juga mendatangkan manfaat positif di mana hotel dapat menjaga keuntungan finansial.

    Dalam hal ini hotel akan mampu menghasilkan keuntungan yang lebih banyak karena tidak perlu membayar komisi untuk pihak ketiga.

    Tidak dimungkiri jika kerja sama dengan OTA juga akan membebankan biaya komisi yang cukup tinggi sebagai kompensasi kesepakatan dalam kontrak yang dibuat.

    Dengan tetap menyediakan sistem direct booking, pengeluaran biaya komisi untuk OTA bisa diminimalisir dan akan memaksimalkan pendapatan per kamar bagi hotel.

    3. Memiliki Kendali Lebih Besar

    Manfaat penerapan sistem direct booking hotel juga memungkinkan pihak hotel untuk memiliki kendali lebih besar dalam beberapa hal.

    Di antaranya kendali atas kebijakan harga dan penawaran khusus tanpa harus membuat kesepakatan tertentu dengan pihak ketiga.

    Kendali yang dimiliki hotel ini juga memungkinkan untuk penyesuaian harga yang fleksibel berdasar strategi pemasaran dan kondisi pasar.

    4. Alternatif Pilihan Sistem Booking

    Sistem pesan langsung juga mendatangkan manfaat bagi calon tamu karena memiliki alternatif pilihan saat akan melakukan reservasi kamar.

    OTA memang memberikan kemudahan dan kepraktisan di tengah pembaruan teknologi dan perkembangan zaman.

    Namun, tidak semua orang merasa nyaman memesan kamar melalui OTA dan lebih menyukai sistem direct booking, baik via telepon, website resmi hotel, maupun melalui front desk.

    Proses Direct Booking

    Proses direct booking biasanya dikelola langsung oleh pihak hotel melalu beberapa saluran utama yang memberikan pelayanan sesuai preferensi dan situasi tamu.

    1. Booking Online di Tempat

    Proses direct booking hotel yang bisa dilakukan tamu umumnya melalui sistem konvensional dengan pemesanan kamar langsung di tempat.

    Tamu akan datang ke hotel dan menuju front desk untuk memesan kamar dan melalui tahapan check-in.

    Proses reservasi ini juga melibatkan pembayaran langsung antara tamu dan pihak hotel dengan segera.

    2. Booking via Telepon dan Email

    Beberapa hotel juga menerapkan sistem booking kamar langsung melalui telepon dan email untuk memudahkan calon tamu ingin memesan jauh-jauh hari.

    Biasanya, staf hotel terkait akan memasukkan reservasi secara manual ke Property Management System (PMS) lalu memproses pembayarannya.

    3. Booking Online via Website Resmi Hotel

    Kemajuan teknologi juga memungkinkan hotel untuk menawarkan direct booking online melalui website resmi hotel.

    Nantinya, calon tamu tinggal mengakses web hotel dan melakukan reservasi kamar dengan memilih tanggal dan tipe kamar sesuai keinginan.

    Sistem pembayaran kamar pun langsung terintegrasi melalui sinkronisasi data ke PMS hingga tamu tidak perlu khawatir dengan keamanannya.

    Itulah tadi penjelasan tentang direct booking hotel yang meliputi pengertian, manfaat penerapan, dan prosesnya yang sudah kami rangkum sebagai gambaran umum.

    Dengan informasi tersebut, kamu bisa memahami direct booking dan menjadikan sistem ini sebagai alternatif cara reservasi kamar hotel.

    Selain itu, kamu juga bisa mengenal berbagai istilah dalam dunia perhotelan lainnya untuk menambah wawasan.

  • Mengenal Istilah High Season dan Low Season Hotel

    Mengenal Istilah High Season dan Low Season Hotel

    High season dan low season merupakan istilah yang cukup familiar dalam bisnis perhotelan dan sudah banyak dipahami oleh masyarakat umum.

    Istilah yang erat kaitannya dengan musim liburan ini menjadi indikator yang menandakan pola musiman atau tingkat kepadatan pengunjung, termasuk untuk tamu hotel.

    Sebagai gambaran umum, berikut pembahasan untuk mengenal istilah high season dan low season hotel, mulai dari pengertian hingga perbedaannya.

    Pengertian High Season dan Low Season Hotel

    Untuk memudahkan pemahaman awal, tidak ada salahnya jika mulai membahas pengertian high season dan low season hotel terlebih dahulu.

    High season adalah istilah untuk musim ramai yang umumnya terjadi selama liburan sekolah di mana banyak tamu berdatangan untuk menikmati staycation di hotel.

    Biasanya, hotel akan mendapat banyak permintaan reservasi kamar bahkan ada tamu yang memesan sejak jauh-jauh hari mengingat tingkat okupansi dan tarif sewa semakin tinggi.

    Periode high season hotel sendiri berkisar antara bulan Juni sampai pertengahan September dan klimaksnya terjadi pada bulan Agustus.

    Sedangkan low season adalah musim sepi pengunjung di mana hotel umumnya mengalami penurunan okupansi kamar.

    Beberapa hotel biasanya mengalami musim ini mulai bulan September sampai Desember dan pertengahan Januari sampai April.

    Reservasi kamar yang menurun ini disebabkan karena musim liburan utama sudah berakhir dan bisa jadi ada pengaruh kondisi cuaca yang relatif buruk.

    Perbedaan High Season dan Low Season Hotel

    Perbedaan high season dan low season hotel dikenali melalui beberapa aspek pembeda, yaitu waktu, tarif menginap, dan tingkat okupansi kamar.

    1. Waktu

    Perbedaan utama dari high season dan low season hotel terlihat dari waktu yang dipilih untuk menikmati staycation dengan menginap di hotel.

    Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, high season di hotel berlangsung pada pertengahan tahun.

    Biasanya dimulai bulan Juni sampai pertengahan September dan bulan Agustus akan menjadi momen klimaksnya.

    Sedangkan waktu berlangsungnya low season terjadi pada bulan September sampai Desember dan pertengahan Januari sampai April.

    2. Tarif Menginap

    Tarif menginap juga menjadi faktor pembeda antara high season dan low season hotel hingga calon tamu harus lebih mempersiapkan anggaran.

    Terlebih untuk staycation di hotel pada high season mengingat tarif menginap per malam relatif lebih mahal karena beberapa hotel umumnya kompak menaikkan harga.

    Sementara room rate kamar hotel pada low season justru menjadi lebih murah banyak karena sering berlaku promo atau diskon khusus.

    3. Tingkat Okupansi Kamar

    Perbedaan dari high season dan low season hotel selanjutnya bisa dilihat dari tingkat okupansi kamar.

    Saat high season, biasanya hotel mengalami lonjakan di mana ketersediaan kamar semakin berkurang karena musim liburan panjang membuat tamu banyak melakukan reservasi.

    Sebaliknya, low season membuat tingkat okupansi menurun dan kamar hotel relatif sepi hingga tamu bisa lebih leluasa memilih tipe kamar sesuai keinginan.

    Strategi Penanganan High Season dan Low Season

    Ada beberapa strategi penanganan high season dan low season yang bisa diterapkan pihak hotel sesuai kondisi di lapangan.

    Jika terjadi peningkatan permintaan reservasi kamar saat high season, hotel bisa menerapkan langkah-langkah berikut ini.

    • Peningkatan kapasitas dengan menambah jumlah kamar selama high season sebagai langkah antisipasi adanya peningkatan reservasi kamar.
    • Memberikan penawaran spesial jika tamu melakukan pemesanan kamar lebih awal, seperti diskon khusus untuk reservasi jauh-jauh hari.

    Sedangkan strategi penanganan low season bisa dilakukan melalui cara-cara berikut demi meningkatkan okupansi dan pendapatan hotel.

    • Buat harga kamar yang fleksibel agar lebih terjangkau untuk menarik minat reservasi selama low season.
    • Tawarkan promosi dan paket menginap khusus, seperti diskon jika menginap lebih lama atau paket menginap dengan dukungan fasilitas tertentu yang menarik.
    • Targetkan jangkauan atau tujuan pasar baru selama low season dan berfokus pada strategi pemasaran yang lebih terstruktur.

    Demikianlah pembahasan untuk mengenal istilah high season dan low season hotel, mulai dari pengertian hingga perbedaannya yang sudah kami rangkum.

    Berdasar informasi tersebut, kamu akan lebih mudah memahami apa itu high season dan low season sebagai pertimbangan pilihan waktu staycation di hotel.

    Selain itu, kamu juga bisa mencari tahu berbagai istilah di dunia perhotelan lainnya untuk memperluas wawasan di bidang hospitality.

  • Connecting Room: Pengertian dan Perbedaan dengan Adjoining Room

    Connecting Room: Pengertian dan Perbedaan dengan Adjoining Room

    Momen menginap di hotel bersama keluarga akan semakin nyaman jika kamu memilih kamar dengan fasilitas connecting room.

    Fasilitas ini memungkinkan tamu keluarga yang ingin menyewa kamar hotel dengan kemudahan untuk saling terhubung antara dua kamar.

    Nah, jika ingin mengetahui lebih lanjut, simak pembahasan yang meliputi pengertian, cara memesa, dan perbedaan dengan adjoining room.

    Pengertian Connecting Room Hotel

    Connecting room adalah fasilitas untuk dua kamar hotel yang letaknya bersebelahan dan dihubungkan oleh pintu dalam yang akan memudahkan aktivitas tamu antar kamar.

    Dengan adanya fasilitas ini, tamu yang menyewa dua kamar tersebut bisa memiliki akses yang lebih leluasa tanpa harus keluar masuk pintu utama.

    Konsep connecting room hotel sendiri pertama kali muncul saat industri perhotelan modern semakin berkembang di London dan New York pada awal abad ke-20.

    Awalnya, fasilitas ini hanya diperuntukkan sebagai layanan premium yang biasanya ditawarkan untuk tamu-tamu khusus.

    Namun, seiring perkembangan zaman, fasilitas dua kamar di hotel mulai disediakan untuk tamu umum sesuai kebutuhan dan permintaan.

    Alasan Memesan Connecting Room Hotel

    Alasan memesan connecting room hotel umumnya berkaitan dengan kenyamanan yang akan didapat dari akses pintu dalam yang menjadi penghubung dua kamar.

    Permintaan fasilitas ini banyak diajukan oleh tamu keluarga maupun rombongan yang menginginkan keleluasaan dan pergerakan lebih bebas antar kamar.

    Selain itu, keberadaan pintu juga memudahkan komunikasi antar kamar hingga lebih hemat waktu dan tenaga.

    Meski memiliki fleksibilitas dalam menghubungkan dua kamar, tetapi privasi antar kamar tetap bisa terjaga karena pintu penghubung bisa ditutup dan dikunci saat dibutuhkan.

    Cara Memesan Connecting Room Hotel

    Terkait cara memesan connecting room hotel sendiri sebenarnya tidak terlalu sulit karena kamu hanya perlu mengikuti langkah-langkah berikut ini.

    1. Cari Hotel yang Menyediakan Fasilitas Connecting Room

    Cara pertama untuk memesan connecting room hotel yaitu mencari hotel yang menyediakan kamar dengan fasilitas ini.

    Kamu bisa menemukan informasi ketersediaan fasilitas dua kamar di situs resmi hotel atau menghubungi front desk hotel secara langsung.

    2. Menyebutkan Kebutuhan Kamar

    Jika sudah menemukan hotel untuk menginap, lanjutkan langkah memesan kamar dan pastikan untuk menyebutkan pilihan ini saat reservasi.

    Sampaikan pada pihak hotel atau OTA terkait kebutuhan jumlah kamar dan konfirmasi kembali bahwa kamar-kamar yang dipesan bisa saling terhubung.

    3. Konfirmasi Ketersediaan dan Harga

    Langkah selanjutnya, kamu bisa memesan kamar melalui tahapan konfirmasi ketersediaan dan harga sewa per malamnya.

    Konfirmasi ini penting mengingat beberapa hotel memberlakukan biaya tambahan untuk fasilitas dua kamar.

    Kamu juga perlu mengidentifikasi jumlah kamar yang disediakan hotel pada tanggal reservasi yang dipilih apakah sudah sesuai kebutuhan atau belum.

    4. Menyelesaikan Pemesanan

    Jika semua identifikasi dan konfirmasi sudah sesuai, pastikan untuk mengikuti langkah selanjutnya dengan menyelesaikan pesanan kamar.

    Kamu bisa melakukan booking online dengan pembayaran instan sebagai bukti pemesanan kamar sudah terselesaikan.

    5. Konfirmasi Kembali Sebelum Kedatangan

    Langkah terakhir untuk memesan yaitu menghubungi hotel untuk konfirmasi kembali sebelum kedatangan.

    Hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan kamar yang dipesan tidak tersedia saat kamu tiba di hotel mengingat proses reservasi terjadi jauh-jauh hari.

    Perbedaan Connecting Room dengan Adjoining Room

    Perbedaan connecting room dengan adjoining room wajib diperhatikan mengingat keduanya sama-sama menyediakan dua kamar bersebelahan untuk tamu.

    Layanan khusus untuk meminta reservasi kamar bersebelahan ini memang bisa mengacu pada connecting room dengan adjoining room.

    Namun, ada perbedaan mendasar di mana fasilitas dua kamar hotel memiliki pintu dalam penghubung sedangkan adjoining room tidak ada.

    Jadi, tamu juga harus memastikan kepada pihak hotel melalui front desk terkait kebutuhan spesifik dari kamar bersebelahan yang ingin dipesan.

    Itulah tadi pembahasan tentang connecting room hotel yang meliputi pengertian, cara memesa, dan perbedaan dengan adjoining room yang sudah kami rangkum.

    Melalui informasi tersebut, kamu bisa semakin paham dengan fasilitas connecting room dan bisa memesan dengan lebih detail saat membutuhkannya.

    Selain itu, kamu juga bisa menemukan dan mencari tahu istilah-istilah dunia perhotelan lainnya untuk menambah wawasan, baik sebagai tamu maupun pelaku bisnis hospitality.

  • Contract Rate: Pengertian dan Perbedaan dengan Publish Rate

    Contract Rate: Pengertian dan Perbedaan dengan Publish Rate

    Bagi kamu yang berkecimpung dalam bisnis hospitality, pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah contract rate yang merupakan jenis tarif penjualan kamar hotel.

    Secara umum, tarif ini mengacu pada penawaran harga yang diperuntukkan bagi pihak ketiga dan bukan harga langsung untuk tamu yang akan menginap.

    Nah, jika ingin mengetahui lebih lanjut, berikut pembahasan tentang contract rate hotel yang meliputi pengertian dan perbedaan dengan publish rate untuk memudahkan pemahaman.

    Pengertian Contract Rate

    Contract rate adalah tarif khusus untuk pihak ketiga yang ditawarkan oleh hotel dalam bentuk perjanjian kontrak yang akan disepakati bersama.

    Berbeda dengan tarif yang dipublikasikan untuk pelanggan atau tamu hotel, contract rate hotel bersifat eksklusif dan umumnya lebih rendah dari tarif standar untuk umum.

    Pihak ketiga yang mendapat penawaran harga khusus ini mengarah pada travel agent atau perusahaan dan organisasi tertentu.

    Biasanya, kontrak kerja sama ini dibuat karena adanya pemesanan kamar dalam jangka waktu tertentu yang terjadi secara reguler.

    Dalam kontrak tersebut, aspek harga, jumlah kamar yang disediakan, jangka waktu kontrak, dan persyaratan pembayaran disepakati secara khusus sesuai kebutuhan pihak terkait.

    Tujuan Penawaran Contract Rate Hotel

    Tujuan penawaran contract rate hotel sendiri mencakup beberapa hal yang ingin diraih oleh pihak terkait, antara lain sebagai berikut.

    1. Mendapat Kepuasan Pelanggan Tetap

    Tujuan utama penawaran contract rate hotel yaitu mendapat kepuasan pelanggan tetap yang melakukan reservasi kamar untuk menginap.

    Dalam hal ini pihak ketiga yang sudah menjalin bekerja sama dengan hotel untuk memesan kamar dengan penawaran harga khusus sesuai kontrak yang sudah disepakati.

    Adanya penawaran tarif khusus tersebut diharapkan bisa membangun hubungan kerja sama yang kuat secara tetap hingga akan meningkatkan kepuasan serta loyalitas.

    2. Memperoleh Pendapatan yang Lebih Stabil

    Tidak dimungkiri jika memperoleh pendapatan yang lebih stabil juga menjadi tujuan penawaran dari contract rate hotel lainnya.

    Adanya kontrak kesepakatan ini, hotel akan mendapat order tetap dari pihak ketiga hingga aliran pendapatan menjadi lebih stabil.

    Dengan kata lain, pihak ketiga yang diajak kerja sama telah membantu pemasaran kamar hotel tanpa harus melakukan promosi mandiri.

    3. Meningkatkan Okupansi

    Hasil dari penawaran contract rate hotel pada akhirnya akan memenuhi tujuan lainnya, yaitu meningkatkan okupansi atau pemakaian unit kamar hotel.

    Kontrak yang dibuat bersama pihak ketiga menjadi jaminan adanya kepastian bahwa kamar hotel akan direservasi secara konsisten dan mengurangi potensi kekosongan kamar.

    4. Membangun Hubungan Bisnis Berkelanjutan

    Tujuan dari penawaran contract rate hotel dengan pihak ketiga selanjutnya tidak lepas dari harapan untuk membangun hubungan bisnis berkelanjutan.

    Kesepakatan bersama melalui kontrak rate hotel akan menciptakan kemitraan yang kuat antara hotel dan pihak ketiga terkait.

    Bahkan hubungan bisnis yang terjalin baik ini tidak menutup kemungkinan akan berujung pada kerja sama di masa depan yang lebih luas.

    Perbedaan Contract Rate dengan Publish Rate

    Perbedaan contract rate dengan publish rate meliputi beberapa aspek yang mengindikasi, yaitu pengaturan harga, tujuan penawaran, serta fleksibilitas dan jangka waktu.

    1. Pengaturan Harga

    Perbedaan pertama contract rate dan publish rate berkaitan dengan pengaturan harga yang diterapkan oleh hotel.

    Kontrak rate hotel dibuat melalui perjanjian khusus dengan pihak ketiga yang umumnya menawarkan harga lebih rendah dibanding publish rate.

    Sedangkan, publish rate sendiri merupakan harga yang dipublikasi atau ditawarkan secara publik dan tersedia untuk pelanggan umum.

    2. Target Pelanggan

    Target pelanggan yang diberi penawaran juga menjadi aspek pembeda antara contract rate dan publish rate yang cukup mudah dikenali.

    Dalam praktiknya, kontrak rate hotel memberikan penawaran khusus kepada pelanggan tertentu sebagai pihak ketiga seperti agen perjalanan atau perusahaan.

    Sementara publish rate langsung menargetkan pelanggan umum saat reservasi kamar secara mandiri di mana hotel terkadang juga akan memberikan penawaran promo menarik tertentu.

    3. Fleksibilitas dan Jangka Waktu

    Jika merujuk pada aspek fleksibilitas dan jangka waktu, perbedaan yang kentara juga terlihat dari contract rate dan publish rate hotel.

    Kontrak rate hotel memiliki pada fleksibilitas pada perubahan harga, sedangkan publish rate hotel lebih fleksibel dalam hal penyesuaian harga yang dipublikasikan pada tamu umum.

    Untuk aspek jangka waktu, penawaran harga dalam kesepakatan contract rate hotel biasanya memiliki jangka waktu tertentu saat membuat kontrak.

    Sementara, publish rate tidak menerapkan jangka waktu tertentu terkait tarif kamar. Meski ada, kemungkinan besar hanya promo yang sifatnya musiman untuk menarik minat tamu.

    Demikianlah pembahasan tentang contract rate hotel yang meliputi pengertian dan perbedaan dengan publish rate yang sudah kami rangkum untuk memudahkan pemahaman.

    Berdasarkan informasi di atas, kamu akan semakin paham dengan kontrak rate dan bisa membedakannya dengan berbagai jenis tarif hotel yang ada.

    Selain itu, kamu juga bisa mengetahui berbagai istilah di dunia perhotelan lainnya untuk menambah wawasan dan bisa menerapkan langsung saat terlibat dalam bisnis hospitality.

  • Rate Plan: Pengertian dan Perbedaan dengan Room Rate

    Rate Plan: Pengertian dan Perbedaan dengan Room Rate

    Ketika membahas tentang rate plan dalam bisnis hospitality, orang awam mungkin akan menganggap sama dengan tarif kamar hotel yang ditawarkan pada tamu.

    Meski sama-sama berkaitan dengan harga sewa kamar hotel, tetapi ada perbedaan yang cukup mendasar di antara keduanya terkait penetapan tarif tersebut.

    Nah, untuk mengetahui lebih lanjut, berikut pembahasan mengenai rate plan hotel yang meliputi pengertian, faktor penentu, dan perbedaan dengan room rate.

    Pengertian Rate Plan

    Rate plan adalah serangkaian harga yang dibuat oleh pihak hotel untuk tipe kamar tertentu yang diatur berdasarkan dengan strategi berbeda.

    Namun, rate plan hotel sendiri bukan merupakan harga sewa yang dipublikasikan kepada pelanggan hingga akan berbeda dengan tarif per malam atau room rate.

    Artinya, pihak manajemen hotel akan menentukan rate terlebih dahulu sebelum kemudian mengatur harga kamar untuk tamu.

    Perencanaan skema harga ini umumnya diatur dengan mempertimbangkan opsi paket breakfast, kebijakan pembatalan, pembatasan tertentu, dan lain sebagainya.

    Nantinya, dari rate plan hotel yang sudah dibuat akan dapat menjadi acuan untuk menentukan tarif kamar per malam yang ditawarkan untuk tamu.

    Faktor Penentu Rate Plan Hotel

    Dalam bisnis perhotelan, ada beberapa faktor penentu rate plan hotel dalam perencanaan skema harga yang dibuat manajemen, antara lain sebagai berikut

    1. Paket Sewa

    Faktor penentu dalam pembuatan rate plan yang pertama yaitu paket sewa yang akan ditawarkan kepada tamu hotel.

    Misalnya, penawaran harga kamar dengan breakfast, kebijakan refundable atau pengembalian dana penuh maupun sebagian, hingga aturan pembatalan reservasi.

    2. Cara Pemesanan

    Cara pemesanan yang dipilih oleh tamu juga menjadi faktor penentu yang dipertimbangkan oleh pihak manajemen hotel.

    Sebagai contoh, tarif sewa kamar jika proses reservasi oleh tamu dilakukan secara langsung di front desk akan berbeda jika melalui Online Travel Agent (OTA).

    Pasalnya, OTA yang memiliki kerja sama dengan pihak hotel biasanya sudah membuat kesepakatan tertentu terkait harga yang nantinya dilempar ke pasar.

    3. Kategori Tamu Hotel

    Kategori tamu hotel juga ikut menjadi faktor penentu penetapan rencana tarif karena pada umumnya ada penawaran yang berbeda-beda untuk konsumen.

    Contohnya, skema harga kamar untuk tamu walk-in akan berbeda dengan tamu online yang biasanya mendapat penawaran promo tertentu.

    Atau bahkan status tamu umum juga bisa saja mendapat penawaran room rate yang tidak sama dengan pegawai pemerintah maupun tamu bisnis dari perusahaan.

    Selain itu, tidak jarang pihak hotel juga mempertimbangkan kemungkinan lain untuk tamu khusus seperti member atau tamu elite.

    4. Musim

    Dalam pembuatan rate plan hotel, faktor musim juga menjadi salah satu penentu mengingat tingkat okupansi bisa sangat fluktuatif.

    Pasalnya, dalam bisnis perhotelan, tingkat kedatangan tamu yang tinggi sering terjadi pada musim liburan yang sering disebut dengan istilah high season.

    Di luar high season, penurunan tingkat okupansi yang dialami hotel dikenal dengan istilah peak atau low season di mana reservasi kamar relatif sepi.

    Kemungkinan tersebut harus diantisipasi oleh manajemen hotel dengan membuat skema harga kamar sesuai kondisi yang diprediksi.

    Misalnya, dengan melakukan penawaran harga melalui promo paket liburan atau diskon di hari-hari tertentu untuk menjaga stabilitas okupansi kamar hotel.

    Perbedaan Rate Plan dan Room Rate

    Sering kali, orang awam mengira jika tidak ada perbedaan rate plan dan room rate karena dari sudut pandang pelanggan memang hanya mengenal harga sewa per malam.

    Jika rate plan lebih pada harga yang ditetapkan oleh pihak hotel dengan mempertimbangkan strategi tertentu, maka room rate sudah menjadi tarif yang dipublikasikan kepada tamu.

    Melihat dari definisinya saja, bisa disimpulkan jika perbedaan antara rate plan dan room rate sudah cukup jelas terlihat dari harga yang ditetapkan maupun disampaikan.

    Jika kamu sebagai tamu hotel mendapatkan penawaran tarif tertentu, artinya harga yang harus dibayar tersebut merupakan room rate yang sudah ditetapkan berdasar skema harga tertentu.

    Dengan memahami perbedaan ini, baik pelaku bisnis perhotelan maupun tamu hotel bisa memastikan penawaran harga kamar dan harapan hotel dengan lebih jelas.

    Itulah pembahasan mengenai rate plan hotel yang meliputi pengertian, faktor penentu, dan perbedaan dengan room rate yang sudah kami rangkum.

    Melalui informasi tersebut, kamu akan semakin mudah memahami apa itu rate plan yang dijadikan dasar penentuan tarif kepada pelanggan.

    Selain itu, kamu juga bisa menemukan dan mencari tahu istilah perhotelan lainnya untuk menambah wawasan, terutama jika ingin terjun di dunia hospitality.

  • Extra Bed: Pengertian, Tipe, Biaya, dan Ketentuan Lainnya

    Extra Bed: Pengertian, Tipe, Biaya, dan Ketentuan Lainnya

    Fasilitas extra bed sering kali dianggap sebagai solusi ketika membutuhkan kasur tambahan tanpa harus menyewa kamar lain lagi.

    Biasanya, tamu rombongan akan memanfaatkan ketersediaan layanan ini dan meminta Resepsionis untuk menyediakan kasur ekstra.

    Nah, untuk mengetahui lebih lanjut, berikut ini penjelasan tentang extra bed hotel yang meliputi pengertian, tipe, biaya, dan ketentuan lainnya yang diberlakukan.

    Pengertian Extra Bed

    Extra bed adalah layanan dari hotel berupa kasur tambahan yang bisa dipesan oleh tamu jika kasur yang sudah ada di kamar dirasa masih kurang.

    Biasanya, layanan ini diberikan sesuai kebutuhan atau permintaan tamu untuk menyelesaikan masalah space tempat tidur agar nyaman selama menginap.

    Kamar hotel yang menyediakan bed ekstra lebih sering direkomendasikan untuk tamu rombongan yang datang bersama teman atau keluarga.

    Permintaan kasur ekstra pun dianggap sebagai solusi menginap dengan nyaman dengan biaya yang jauh lebih terjangkau dibanding memesan kamar tambahan.

    Hanya saja, bed ekstra yang diberikan pihak hotel umumnya tidak dilengkapi dengan fasilitas ranjang hingga tamu hanya akan tidur di atas kasur yang diletakkan langsung di lantai.

    Tipe Extra Bed

    Tipe extra bed yang biasanya tersedia di hotel bisa berupa single bed maupun folding bed sesuai kebijakan hotel atau permintaan tamu.

    1. Tipe Single Bed

    Secara umum, tipe single bed size memang paling sering ditawarkan sebagai kasur tambahan mengingat ruangan hotel yang sudah diatur dengan desain dan furnitur yang tertata.

    Selain alasan tata letak, kasur utama sendiri sudah cukup luas untuk kapasitas maksimal dua orang dewasa hingga tambahan bed dirasa cukup menggunakan ukuran single bed.

    Meski relatif kecil dibandung bed utama, tetapi kasur ekstra ini dianggap sudah bisa menjadi solusi yang cukup nyaman.

    2. Tipe Folding Bed

    Beberapa hotel mungkin juga akan menawarkan tipe folding bed atau tempat tidur lipat untuk bed extra yang secara bentuk akan lebih efisien.

    Pasalnya, tamu bisa mengatur space di dalam kamar dan menghemat ruang agar leboh leluasa beraktivitas saat kasur tambahan sedang tidak digunakan.

    Jika memilih folding bed, tamu tidak hanya merasa nyaman saat beristirahat karena sudah ada kasur tambahan tetapi juga tetap bisa bergerak lebih bebas saat kasur dilipat.

    Biaya Extra Bed

    Biaya extra bed sendiri sebenarnya menjadi biaya tambahan atau masuk extra charge dalam tagihan hotel saat tamu check-out nanti.

    Terkait tarif, pada umumnya tidak ada ketentuan pasti yang dijadikan aturan baku dan hanya mengikuti kebijakan masing-masing hotel.

    Namun, bisa dipastikan jika tarif sewa extra bed tidak akan lebih mahal dari room rate per malam hingga tamu bisa lebih berhemat.

    Ketentuan Extra Bed Lainnya

    Ketentuan lainnya yang penting untuk diketahui tamu hotel berkaitan dengan kapasitas maksimal dan cara pemesanan.

    1. Kapasitas Maksimal

    Kapasitas maksimal untuk kasur tambahan ini sebenarnya tidak ada ketentuan detail dari pihak hotel sebab semua dikembalikan pada pengguna.

    Hanya saja, jika ingin tidur dengan nyaman bisa memaksimalkan penggunaan bed ekstra untuk 1- 2 orang saja.

    2. Cara Memesan

    Sedangkan untuk cara memesan extra bed bisa melalui front desk dengan meminta disediakan kasur tambahan pada Reseptionis.

    Atau, jika melakukan reservasi secara online, kamu bisa menyertakan permintaan extra bed hotel pada proses pemesanan sebagai permintaan khusus.

    Meski begitu, disarankan untuk tetap menghubungi staf hotel terkait untuk memastikan jika permintaan bed ekstra bisa ditambahkan.

    Pasalnya, pihak hotel juga perlu membuat pengaturan kamar oleh tim Housekeeping agar dapat menyesuaikan tata letak bed tambahan tersebut.

    Selain itu, kamu juga harus memastikan biaya yang muncul dari permintaan extra bed hotel untuk meminimalisir kesalahpahaman dalam billing atau tagihan saat check-out.

    Itulah tadi penjelasan tentang extra bed hotel yang meliputi pengertian, tipe, biaya, dan ketentuan lainnya yang diberlakukan sebagai gambaran umum.

    Melalui rangkuman yang kami buat tersebut, kamu bisa mempertimbangkan permintaan fasilitas extra bed dan biaya tambahan yang muncul.

    Selain itu, kamu juga bisa meminta fasilitas hotel lainnya sesuai kebutuhan dengan melakukan konfirmasi ke bagian front desk.