Resensi Novel Sunda Budak Teuneung, Unsur Intrinsik dan Pesannya

Budak Teuneung (Anak Pemberani) merupakan novel bahasa Sunda karya Samsoedi yang cukup populer. Bukan tanpa alasan, novel ini mengandung pesan moral yang begitu kuat dan mengena ke hati pembacanya. Terbukti, buku ini sudah 5 kali dicetak. Seperti apa ulasannya? Yuk, simak resensi novel Sunda Budak Teuneung di bawah ini!

Identitas Novel Budak Teuneung

Judul novel: Budak Teuneung

Penulis: Samsoedi

Jumlah halaman: 56 halaman

Ukuran buku: 17×12 cm

Penerbit: Girimukti Pustaka

Kategori: Fiksi

Tahun Terbit: Cetakan pertama tahun 1930, kedua tahun 1982, ketiga tahun 2002, keempat tahun 2008, kelima tahun 2010.

Harga Buku: Rp25.000,00.

Sinopsis

Berikut adalah resensi novel Sunda Budak bagian sinopsis:

Novel Budak Teuneun menceritakan tentang anak bernama Warji. Warji adalah seorang anak miskin yang tinggal di gubuk reyot di desa Babakan Simpang.  Selain itu, ia merupakan seorang anak yatim berumur 11 tahun. 

Ia ditinggalkan oleh ayah kandungnya ketika berumur 2 tahun dan harus tinggal bersama ibunya yang bekerja serabutan.

Kondisi Warji sangat memprihatinkan. Sebab, ia sering dirundung oleh teman-teman sebayanya, yakni Asep Onon, Utun, dan Begu.  Terkadang, ia mendapatkan perlakukan tidak mengenakan dari teman-temannya, seperti dilempar tanah atau kekerasan fisik.

Meski demikian, ia selalu sabar dalam menjalani hidup, karena petuah yang selalu diberikan ibunya. Ibunya selalu memberikan nasihat-nasihat agar Warji menjadi anak yang baik, jujur, penyabar, dan tidak gengsi untuk mengalah demi kebaikan.

Pada suatu waktu, Warji tanpa pikir panjang menolong Asep Onon, seorang anak Pak Lurah yang jatuh ke dalam sumur kosong di kebun bambu. Sejak saat itu, Asep Onon berteman dengan Warji dan mempekerjakannya sebagai seorang pengembala kerbau.

Malamnya, Warji belajar membaca dan menulis bersama dengan Asep Onon. Sampai pada akhirnya, Warji diangkat menjadi sekretaris Pak Lurah.

Sebaliknya, Utun dan Begu yang beranjak dewasa malah semakin nakal. Mereka menjadi pencuri, bahkan kerbau milik Pak Lurah tidak luput dari sasarannya. Ketika mereka sedang asyik membagi uang hasil curian, Warji memergoki mereka.

Kelebihan

Dari resensi novel Sunda Budak Teuneung, ditemukan beberapa kelebihan. Pertama, novel ini memberikan sebuah ilustrasi nyata dan sempurna melalui peristiwa-peristiwa dalam novel, sehingga cocok dibaca untuk anak-anak. Kedua, terdapat gambar-gambar yang membuat novel semakin menarik.

Gambar-gambar tersebut membantu penulis dalam membangun cerita dan bisa menjadi penyemangat anak-anak dalam membaca. Novel ini juga memberikan nilai moral yang perlu dijadikan pembelajaran bagi kita semua. Banyak sekali sikap positif yang bisa dicontoh oleh pembaca, terutama anak-anak.

Kekurangan

Sayangnya, buku ini hanya berisi 56 halaman, sehingga ceritanya kurang panjang. Selain itu, terdapat bahasa Sunda yang susah dimengerti oleh anak kecil, sehingga mereka kesulitan untuk membaca novel ini.

Pada resensi novel Sunda ini, ditemukan beberapa gambar yang tidak begitu jelas. Untungnya, terdapat keterangan di bawahnya yang membantu pembaca untuk mengartikan gambar tersebut.

Rangkuman

Novel Budak Teuneung merupakan bacaan yang sarat akan pembelajaran dalam hidup. Bisa dibilang, terdapat pesan moral yang terdapat dalam novel ini. Misalnya untuk menjadi seorang yang sabar dalam mendapatkan cobaan, berbuat baik kepada siapa saja, dan berani dalam menegakkan keadilan.

Maka dari itu, dari hasil resensi novel Sunda ini, bisa disimpulkan bahwa Budak Teuneung karya Samsoedi ini layak dibaca oleh siapa saja. Mulai dari anak-anak (dalam bimbingan orang tua) hingga dewasa.

Resensi Novel Sunda Budak Teuneung (Unsur Intrinsik)

Sebuah novel, terutama dalam buku Budak Teuneung, memiliki unsur-unsur intrinsik. Unsur ini merupakan bagian yang membentuk sebuah novel secara utuh. Unsur intrinsik sendiri adalah susunan-susunan pembentuk sebuah karya berupa tema, alur, tokoh, penokohan, sudut pandang, dan amanat.

Semua unsur tersebut bersumber dari dalam sebuah novel. Jika novel tidak memiliki unsur intrinsik, maka bisa dikatakan bahwa karya tersebut tidak sempurna, bahkan tidak akan terbentuk. Adapun unsur intrinsik pada novel Budak Teuneung adalah sebagai berikut:

1. Tema

Tema yang diangkat dalam resensi novel Sunda Budak Teuneung adalah tentang keberanian seorang anak yatim yang bernama Warji untuk menegakkan kebenaran dan melawan perundungan. Tema tersebut bisa terlihat dari dalam novel Budak Teuneung itu sendiri. Berikut adalah 6 permasalahan yang ada di dalam novel Budak Teuneung:

  • Menjadi anak yatim di usia yang menginjak dua tahun.
  • Mendapatkan perlakukan kasar atau perundungan dari teman-teman sebaya, terutama dari Utun dan Begu.
  • Warji hidup dalam keluarga miskin, setelah kematian ayahnya.
  • Memiliki sifat yang selalu membela diri dan menegakkan kebenaran, ketika diganggu atau dibully.
  • Mendapatkan fitnah dari teman-temannya, karena status sosial dan keadaan ekonomi yang rendah.
  • Tidak ragu menolong teman-temannya yang dalam kesulitan dan tidak menghiraukan diri sendiri.

2. Tokoh

Dari resensi novel Sunda Budak Teuneung, ditemukan beberapa tokoh. Adapun tokoh dalam novel Budak Teuneung adalah sebagai berikut:

  • Protagonis: Warji, Asep Onon, dan Ibu Warji.
  • Antagonis: Utun, Begu, dan Ambu Ijem.
  • Figuran: Juragan Lurah, Tua Kampung, dan Adun.

3. Penokohan

Berikut resensi novel Sunda dalam unsur intrinsik pada bagian penokohan:

  • Warji: Anak yang penyabar, baik, selalu mendengar perkataan ibunya, pemberani, suka menolong, dan cerdas.
  • Ibu Warji: Orang yang sabar, tidak pernah terpancing emosi, dan pekerja keras.
  • Asep Onon: Baik kepada Warji, suka menolong, dermawan, dan pemberani.
  • Utun: Anak yang mudah terpengaruh, nakal, suka berbohong, suka mencuri, dan berjudi.
  • Begu: Selalu membuat onar, memiliki tabiat jahat, manipulatif, dan tidak segan untuk adu jotos dengan Warji.
  • Ambu Ijem: Pelit, tidak mau menolong orang, dan hanya menginginkan keuntungan sendiri.
  • Juragan Lurah: Seorang yang bijaksana, tegas, mendidik anaknya dengan baik, dan menyayangi Warji seperti anaknya sendiri.

4. Alur

Dari resensi novel Sunda Budak Teuneung, ditemukan bahwa cerita ini menggunakan alur maju dalam menceritakan kisah Warji. Cerita tersebut disajikan dengan runtut dan berurutan dari awal hingga akhir. Selain itu, novel ini tidak menceritakan masa lalu tokoh-tokohnya.

Hal tersebut bisa terlihat, dimana novel ini menceritakan tokoh Warji dari ia berusia 11 tahun hingga beranjak dewasa dan menjadi salah satu pegawai desa.

Terdapat 8 bab yang ditandai dengan sub judul yang berbeda-beda. Dari mulai bab 1 berjudul “Jadi Yatim” yang menceritakan kondisi awal kehidupan Warji setelah ditinggalkan ayahnya. Kemudian, ada bab 2 berjudul “Nandonkeun Baju” yang bercerita tentang Warji yang menggadaikan bajunya untuk membayar beras.

Bab 3 “Maradukeun” menceritakan Warji yang difitnah maling baju di rumah Juragan Lurah. Dilanjut dengan bab 4 berjudul “Telenges” yang menceritakan tentang kelakukan jahil Utun dan Begu, sehingga membuat Adun terluka karena tandukan kerbau.

Dilanjut di bab 5 berjudul “Gelut” yang merupakan efek akibat hal-hal yang terjadi di bab sebelumnya. Dimana Warji, dibantu oleh Asep yang terlibat pertengkaran dengan Utun dan Begu.

Setelah persoalan dianggap selesai, bab 6 berjudul “Diajar Maca” menceritakan kehidupan Warji setelah lebih akrab dengan Asep. Ia menjadi penggembala kerbau sekaligus diajarkan Asep membaca.

Di bab 7 “Sasar Pikir”, menceritakan kehidupan Utun yang semrawut ketika beranjak dewasa. Sampai-sampai ia harus menjadi pencuri untuk mendapatkan uang. Bab 8 menceritakan kejadian penangkapan buronan pencuri oleh tokoh utama, yakni Warji yang sudah dewasa.

5. Latar

Ada beberapa jenis latar yang ditemukan dalam resensi novel Sunda Budak Teuneung, yakni latar tempat,  waktu, dan sosial budaya. Pada latar tempat, lokasi yang digunakan adalah di daerah pedesaan. Seperti, rumah Warji, kebun kayu, warung Ambu Ijem, samping rumah, sawah, area gembala, dan balai desa.

Pada latar waktu, novel ini selalu menyebutkan kapan saja peristiwa terjadi, seperti pada sore hari, pagi-pagi, sehabis magrib, dan malam. Sedangkan latar sosial budaya berkaitan dengan pekerjaan yang dilakukan, seperti menggembala kerbau, sekretaris desa, dan lurah.

6. Sudut Pandang

Sudut pandang yang digunakan berdasarkan resensi novel Sunda Budak Teuneung adalah sudut pandang orang ketiga yang serba tahu. Hal tersebut bisa terlihat dari beberapa narasi, dimana dalam novel bisa membaca niat, pikiran, dan perasaan dari tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita.

7. Gaya Bahasa

Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini adalah menggunakan bahasa Sunda loma. Artinya, setiap dialog yang diucapkan oleh para pemeran, terutama Warji dan teman-temannya menggunakan bahasa akrab atau kasar. Bahasa ini digunakan ketika berbicara dengan lawan bicara yang sebaya, seperti teman atau kolega.

8. Amanat

Banyak sekali amanat yang diberikan dari novel ini. Namun, menjadi fokus utama adalah agar pembaca menjadi seorang yang penyabar dan selalu berbuat baik kepada siapapaun, meskipun telah diperlakukan jahat atau semena-mena. Sebab, nanti akan ada balasan yang baik untuk orang-orang penyabar.

Resensi Novel Sunda Budak Teuneung (Kandungan)

Kandungan yang ada dalam novel Budak Teuneung ada dua, yakni sebagai berikut:

1. Nilai Sosial

Nilai sosial yang terdapat pada novel Budak Teuneung adalah membantu sesama tanpa membeda-bedakan kasta. Selain itu, menolong dilakukan tanpa melihat orang tersebut jahat kepada kita atau tidak. Kemudian, nilai sosial juga dicerminkan oleh ibu Warji yang mengajarkan anaknya untuk bersikap positif, seperti sabar.

2. Nilai Moral

Nilai moral tercermin dari Warji yang berbuat kebaikan dengan menolong Asep Onon, meskipun Asep pernah melakukan keburukan kepadanya. Justru hal tersebutlah yang mengantarakan nasib baik kepada Warji.

Warji pun tidak pernah berbohong dan selalu jujur kepada orang tuanya. Berbeda dengan Utun yang berbohong telah dipukuli oleh Warji hingga wajahnya penuh dengan darah.

Bagaimana Resensi Novel Sunda di Atas?

Demikian resensi dari novel berjudul Budak Teuneung. Dari resensi di atas, semoga pembaca dapat gambaran dan tertarik untuk membaca novel ini. Alasan lain, novel ini memiliki pesan moral dan pembelajaran yang patut diteladani bagi kita semua. Apalagi buku ini cocok untuk menjadi bahan bacaan semua umur.

Share:

Leave a Comment

You cannot copy content of this page