7 Upacara Adat Aceh yang Masih Dilestarikan dan Tradisinya

Pelestarian upacara adat Aceh termasuk dalam salah satu upaya yang cukup berhasil dalam melanggengkan warisan budaya. Hal tersebut terbukti dari banyaknya gelaran upacara-upacara adat dari Bumi Serambi Mekkah tersebut.

Apa dan bagaimana tradisi peringatan-peringatan sesuai dengan budaya Aceh itu? Seperti apa pula tujuan dan makna di balik penyelenggaraannya? Ulasan selengkapnya bisa kamu dapatkan hingga akhir artikel!

Ragam Upacara Adat Aceh yang Masih Lestari

Meskipun tidak semua dapat bertahan melawan era modernisasi, namun masih ada beberapa upacara tradisional khas Nanggroe Aceh Darussalam yang bertahan. Upacara-upacara tersebut antara lain:

1. Mak Meugang

 Mak Meugang
(Mak Meugang I Sumber Foto: Good News from Indonesia)

Upacara pertama, yaitu Mak Meugang atau menyembelih hewan kurban pada bulan Ramadhan atau sehari dua hari sebelum Hari Raya Idul Adha. Masyarakat Aceh secara rutin menggelarnya selama tiga tahun sekali sebagai perwujudan rasa syukur terhadap rezeki melimpah dari Allah SWT.

Adapun hewan-hewan yang disembelih adalah sapi, kambing, ayam, atau bebek. Warga akan melakukan penyembelihan di areal terbuka secara bersama-sama. Setelah penyembelihan, daging dapat diolah untuk kemudian dinikmati bersama di masjid atau mentah sebagai buah tangan warga yang meminta mengolah sendiri.

2. Peusijuek

 Peusijuek
(Peusijuek I Sumber Foto: Zona Kepri)

Upacara adat Aceh berikutnya adalah Peusijeuk alias upacara gelar doa yang dalam adat Melayu disebut Tepung Mawar. Gelaran acara ini berdasarkan syariat Islam, sehingga wajib untuk ustadz / ustadzah yang memiliki pemahaman mumpuni sebagai pemimpinnya.

Tradisi Peusijuek biasanya akan digelar untuk merayakan sesuatu secara sederhana seperti pembelian rumah atau kendaraan baru. Tujuannya untuk meminta doa keselamatan dan berkah dari Allah SWT. Boleh juga melakukannya saat terjadi sengketa dengan orang lain untuk mendapatkan solusi perdamaian terbaik.

3. Kenduri Blang

 Kenduri Blang
(Kenduri Blang I Sumber Foto: Sumberpost.com)

Selanjutnya adalah Kenduri Blang atau treun ublang yang berarti turun ke sawah. Upacara adat Aceh ini berlaku sebagai permohonan doa sebelum memulai aktivitas bertani agar hasil panen melimpah ruah dengan kualitas baik.

Dalam pelaksanaannya, upacara digelar di rumah pemilik hajat. Pada upacara ini, pemuka agama yang telah ditunjuk akan melakukan pemimpinan doa untuk kemudahan serta kelancaran rezeki. Setelah itu, hidangan yang ada boleh kamu nikmati bersama.

4. Kenduri Beureueh

 Kenduri Beureueh
(Kenduri Beureueh I Sumber Foto: Posaceh.com)

Beureueh asalnya dari kata beureukat yang dalam bahasa daerah Aceh artinya berkat atau rahmat. Tujuan dari upacara adat yang satu ini memang untuk memohon rahmat Allah SWT pada malam nisfu Sya’ban (15 Sya’ban). Sebab, malam itu merupakan salah satu malam istimewa dalam kalender Hijriyah.

Dalam menjalankan upacara adat ini, masyarakat akan membawa idang atau talam besar berisi nasi dan lauk pauk ke tempat acara berlangsung. Doa bersama akan dilaksanakan terlebih dahulu sebelum kemudian menikmati idang bersama-sama.

5. Reuhab

 Reuhab
(Reuhab I Sumber Foto: modus-aceh.co)

Tradisi adat yang masih dilaksanakan sampai saat ini di Aceh salah satunya adalah Reuhab. Upacara ini masih berlangsung turun temurun di tengah masyarakat Alue Tuho daerah Nagan Raya. Reuhab sendiri berarti barang peninggalan orang yang sudah wafat.

Dalam pelaksanaan tradisi ini, barang-barang dari orang yang meninggal tersebut akan dibiarkan berada dalam kamar sakral selama 40 hari. Gelaran pengajian akan berlangsung selama jangka waktu tersebut di rumah duka.

6. Uroe Tolak Bala (Hari Tolak Musibah)

 Uroe Tolak Bala
(Uroe Tolak Bala I Sumber Foto: detik.net)

Upacara tradisional adat berikutnya yang masih berlangsung saat ini di Bumi Serambi Mekkah adalah uroe tolak bala alias hari tolak musibah. Pelaksanaannya tepat pada Rabu terakhir di bulan Safar kalender Hijriyah.

Tujuan dari pelaksanaan upacara adat Aceh tersebut adalah untuk menolak musibah – khususnya bencana yang berakibat fatal. Pelaksanaannya berupa doa bersama seluruh masyarakat desa yang dilangsungkan di tepi pantai.

7. Sawah Suku Kluet

 Sawah Suku Kluet
(Sawah Suku Kluet I Sumber Foto: Dimensi-Indonesia)

Tradisi terakhir di Aceh yang tetap berlangsung hingga kini adalah Sawah Suku Kluet alias upacara khusus Suku Keluwet. Upacara ini khusus untuk para petani dari Suku Keluwet saat hendak menggarap sawah dengan komoditas yang baru (setelah panen komoditas lain).

Menariknya, upacara yang satu ini memiliki beberapa tahapan kenduri mulai dari awal penanaman hingga panen, yaitu:

  • Babah Lueng saat pertama kali turun sawah.
  • Kenduri Kani ketika komoditas sudah berusia dua bulan.
  • Kenduri Sawah ketika tanaman sudah mulai berbunga, berbuah, atau berisi.
  • Pade Baro yaitu kenduri di rumah masing-masing setelah panen.

Dari empat tahapan tersebut, hanya Babah Lueng yang berlangsung besar-besaran dengan menyembelih kerbau untuk berbagi pada seluruh masyarakat.

Baca Juga : 7 Upacara Adat Jawa Barat, Fungsi dan Pelaksanaannya

Cara Melestarikan Upacara Adat Aceh

Meskipun gelaran upacara-upacara di atas masih ada di Aceh, faktanya tingkat pelaksanaannya semakin berkurang dari tahun ke tahun. Tradisi tersebut terancam punah bila tidak ada upaya nyata dalam mewariskan ke generasi berikutnya. Di bawah ini merupakan cara sederhana namun efektif dalam upaya pelestarian upacara adat:

1. Memasukkan Upacara Adat Aceh dalam Kurikulum Seni Budaya

Cara pertama, yaitu dengan memasukkan tradisi-tradisi budaya Aceh dalam kurikulum seni budaya untuk muatan lokal. Jadi, generasi muda secara otomatis mempelajari, merasa bangga, serta mensugesti mereka untuk turut melestarikan.

2. Memberikan Edukasi Terhadap Orang-Orang Sekitar

Selain melalui pendidikan formal, upacara adat Aceh juga bisa diwariskan melalui edukasi terhadap orang-orang sekitar. Seperti keluarga, teman, rekan kerja, dan semacamnya. Ajak mereka untuk bergabung saat gelaran acara dan berikan alasan untuk melestarikannya kepada generasi berikutnya.

3. Memperkenalkan Upacara Adat Aceh Pada Wisatawan

Tidak ada yang salah dengan memperkenalkan tradisi budaya kepada wisatawan domestik maupun internasional. Justru, hal itu dapat menjadi salah satu upaya nyata dalam melestarikan pelaksanaan adat tersebut.

4. Berperan Aktif dalam Setiap Upacara Adat

Terakhir, kamu bisa berperan dalam melestarikan warisan budaya berupa adat tradisional tersebut dengan turut serta dalam acara. Jadi, setiap ada upacara yang hendak digelar, kamu bisa mengambil bagian dalam tim untuk menyukseskan gelarannya.

Mengapa Upacara Adat Aceh Perlu Dilestarikan?

 Peusijuek
(Peusijuek I Sumber Foto: Puspomad)

Mungkin pertanyaan tersebut juga terlintas di benak kamu. Mengapa harus melestarikan upacara-upacara adat di atas? Ada beberapa alasan yang mendasarinya, meliputi:

1. Menjadi Identitas

Upacara tradisional adat satu dengan yang lain berbeda. Ini menjadikan tradisi tersebut sebagai salah satu identitas yang membedakan satu daerah dengan daerah yang lain. 

2. Menghidupkan Sektor Pariwisata

Keunikan yang ditawarkan melalui tradisi warisan seperti itu dapat membantu menghidupkan sektor pariwisata. Sebab, upacara adat merupakan ciri khas yang tidak bisa wisatawan temukan di wilayah lain meskipun masih sama-sama berada di Indonesia.

3. Membentuk Rasa Cinta dan Bangga Anak Muda pada Adat Daerah

Sekarang ini, Indonesia mulai mengalami krisis rasa cinta dan kebanggaan dari generasi muda terhadap adat maupun seni budaya negeri sendiri. Dengan mempertahankan serta melestarikan tradisi seperti upacara adat, maka hal itu dapat membantu memupuk cinta dan bangga terhadap warisan budaya sendiri.

Baca Juga : Rumah Adat Aceh: Jenis, Fungsi, Filosofi, dan Ciri Khasnya

Sudah Tahu Apa Saja Upacara Adat Aceh?

Sebenarnya, ada banyak sekali jenis upacara adat Aceh yang sudah punah seperti Peumeukleh dan Khanduri Apam. Penyebabnya cukup banyak, meliputi tergerus oleh perubahan zaman dan kemajuan teknologi, tidak ada penerus, ketidakpedulian masyarakat terhadap warisan budaya, dan kurangnya keterlibatan pemerintah.

Tentu saja, hal tersebut cukup disayangkan karena sebenarnya banyak sekali manfaat dari mewariskan adat budaya kepada generasi berikutnya. Namun, untuk melakukan hal tersebut memang memerlukan partisipasi dari semua lapisan masyarakat termasuk pemerintah, komunitas, dan individu.

Terlebih, upacara-upacara tradisional di Aceh sarat akan makna dan kebaikan. Oleh sebab itu, wajib untuk terus dipertahankan. Sebagaimana penjabaran di atas, upacara adat bisa menjadi identitas hingga menarik sektor pariwisata. Yuk, saatnya berkontribusi secara sederhana namun nyata untuk bangsa!

Share:

Leave a Comment

You cannot copy content of this page