Category: Accounting

  • Purchasing Staff Hotel: Apa Saja Tugas dan Berapa Gajinya?

    Purchasing Staff Hotel: Apa Saja Tugas dan Berapa Gajinya?

    Purchasing adalah salah satu bagian dari departement Finance dan Accounting yang ada di setiap perusahaan termasuk bisnis perhotelan.

    Sebuah company dalam menjalankan usaha dan bisnisnya pasti akan membutuhkan pihak ketiga dalam hal ini supplier untuk kelancaran usahanya. 

    Nah inilah tugas dari seorang purchasing team yang paling krusial, menjadi representatif dari pihak hotel untuk membangun relasi dengan pihak ketiga dalam hal pengadaan barang atau amenities di hotel

    Pengertian Purchasing

    Purchasing adalah kata yang berasal dari bahasa Inggris. Kata ini kerap dipakai dalam Industri-industri luar negeri. Bila diterjemahkan langsung, Purchasing dalam bahasa Indonesia berarti pembelian. 

    Jadi, purchasing adalah kegiatan yang berhubungan dengan pembelian atau pengadaan barang di sebuah company atau perusahaan. 

    Di hotel sendiri, purchasing masuk ke dalam departement Finance dan Accounting dalam struktur organisasinya.

    Purchasing di hotel bertugas dalam mencari supplier-supplier yang mendukung operational kerja hotel setiap harinya.

    Baca juga:  Bocoran Gaji Kerja di Hotel Terbaru, Lengkap Semua Posisi

    Tak hanya itu, diharapkan nantinya supplier tersebut dapat bekerja sama untuk memasok kebutuhan logistik untuk setiap departement yang ada di hotel.

    Sebelum melakukan pembelian, purchasing staff harus sudah menerima Purchase Request atau Market List dari department – department yang lain sudah ditandatangani oleh manajer masing-masing department yang bersangkutan dan di check oleh Cost Control. 

    Setelah Purchase Request atau Market List datang, purchasing harus memilih yang mana harus di order dan yang mana tidak, di karenakan supaya tidak ada pemborosan pembelian atau Double Order. Purchase Order akan dicetak jika barang telah dikirimkan dan diterima oleh pihak Receiving.

    Vendor akan mengantarkan barang pesanan itu pada pihak hotel dan barang itu diterima langsung Receiving di bawah naungan Purchasing Deparment sebagai bukti jika barang itu telah diterima oleh pihak hotel.

    Setelah  receiving menerima, maka segera di posting untuk diserahkan ke Purchasing Department. Receiving memberi semua invoice dari beberapa vendor sebagai bukti pesan barang yang di order. 

    Skill Menjadi Seorang Purchasing

    Untuk menjalankan tugas sebagai seorang purchasing, ada beberapa skill yang wajib kamu miliki seperti :

    1. Komunikasi

    Tidak hanya purchasing, sepertinya semua profesi wajib memiliki skill komunikasi yang bagus. Staf purchasing harus berbicara dengan departemen-departemen lain dalam perusahaan entah itu internal departement ataupun eksternal. 

    Tidak hanya itu saja, bagian purchasing harus juga mengetahui keperluan semua departemen, dan menjaga hubungan baik dengan supplier dan vendor. Maka ketrampilan dalam berbicara penting untuk staf purchasing.

    2. Negosiasi

    Karena purchasing adalah berhubungan dengan pembelian otomatis kemampuan bernegosiasi harus dikuasai. Saat menerima penawaran dari supplier dan vendor, tentu saja angka-angka yang ada dalam list tersebut harus direview dan dicari juga perbandingan denga supplier lain. 

    Di momen seperti inilah skill negosisasi dari staff purchasing sangat diperlukan. Mampu menekan biaya dari sisi pembelian barang tentu akan membantu perusahaan dari sisi costing bukan?

    3. Networking yang Luas

    Kita tahu bersama dihotel sendiri ada beberapa divisi didalamnya. Tentunya setiap divisi mempunyai kebutuhan akan barang – barang yang berbeda. Misalnya, departemen food and beverage akan lebih sering membutuhkan bahan-bahan makanan dan minuman.

    Back office seperti sales dan marketing akan lebih sering membutuhkan alat-alat tulis. Sebagai seorang purchasing staff kamu harus punya banyak kenalan supplier dan vendor untuk memenuhi semua kebutuhan divisi yang ada.

    4. Document Filling

    Skill administrasi ini wajib dimiliki oleh purchasing staff karena akan banyak sekali dokumen-dokumen penting yang harus diarsipkan. Filling dan administrasi yang tidak rapi tentu akan mempengaruhi produktvitas pekerjaan dari team purchasing ini.

    Contoh Jobdesk Purchasing Manager Hotel

    Berikut ini adalah contoh jobdesk purchasing manager di hotel :

    Jobdesk Purchasing manager di hotel
    • Bertanggung jawab atas pembelian dan pembelian ulang atas persediaan, makanan dan minuman serta  permintaan secara umum untuk hotel
    • Menemukan vendor atau supplier  yang tepat dan paling ekonomis, serta tepat waktu
    • Mengumpulkan data untuk system permintaan pembelian yang paling effisien, meyakinkan total pembelian dan waktu pengiriman barang
    • Bertanggung jawab terhadap system pelaksanaan penerimaan dan penyimpanan barang sesuai dengan standard mangemen yang berlaku
    • Mengumpulkan penawaran untuk semua barang yang ada di persediaan maupun tidak seperti yang diminta, setelah menyeleksi pemasok (minimal tiga pemasok untuk perbandingan)
    • Mengkoordinasikan dan menyelesaikan semua permintaan pembelian, mendapatkan harga dan syarat-syarat pembelian, menyerahkannya kepada financial controller atau accounting manager dan general manager untuk persetujuan
    • Mendistribusikan surat perintah pembelian barang, menghubungi pemasok dan diberikan surat perintah pembelian, dengan tanggal pengiriman yang akan dibicarakan lebih rinci dan setujui
    • Mengarsip semua surat perintah pembelian barang dan korespondensi lainnya
    • Menjawab dan memberikan dokumen pendukung kepada bagian accounting yang sehubungan dengan surat tagihan, pembelian dan urusan lainnya secara umum
    • Menetapkan harga berdasarkan penawaran, catalog, daftar harga penjualan, permintaan pelelangan etc
    • Mengembangkan dan mengimplementasikan anggaran pembelian tahunan
    • Mendukung dalam mencapai GOP yang diinginkan melalui pembatasan biaya yang telah ditetapkan oleh manajemen
    • Memformulasikan dan mengarahkan penerapan kebijakan dan strategi pembelian
    • Bertanggung jawab secara sistematis atas penggunaan formulir yang berhubungan dengan pembelian yaitu: Purchase Request, Purchase Order, Store Requisition, Bin Card dll dalam pelaksanaannya sesuai dengan standard peraturan dan prosedur sesuai dengan yang telah ditetapkan.

    Contoh Jobdesk Purchasing Staff Hotel

    • Membantu Purchasing Manager dalam tugas-tugas pembelian dan pembelian ulang atas persediaan, makanan dan minuman dan permintaan secara umum untuk hotel
    • Membantu dalam mengumpulkan data untuk system permintaan pembelian yang paling effisien, meyakinkan total pembelian dan waktu pengiriman barang.
    • Membantu dalam mengumpulkan penawaran untuk semua barang yang ada di persediaan maupun tidak seperti yang diminta, setelah menyeleksi pemasok (minimal tiga pemasok untuk perbandingan)
    • Menjalankan kegiatan sehari-hari yang berhubungan dengan tugas-tugas administrasi / kesekretariatan seperti : pengetikan, pengarsipan, melengkapi formulir dan meminta tanda tangan autorisasi dari manajemen.
    • Membatu Manager Pembelian untuk mengarsip semua surat perintah pembelian barang dan korespondensi lainnya berdasarkan perintah dari Manager Pembelian
    • Menjaga kebersihan lokasi kantor dan seluruh area hotel sesuai dengan standard kebersihan dan kesehatan.
    • Berhubungan dengan pemasok dan memastikan agar tetap menjadi nama baik hotel dalam setiap perbuatan

    Berapa Gaji Purchasing Manager Hotel?

    Mungkin inilah yang sering ditanyakan oleh banyak orang. Berapa sih rata-rata gaji seorang Purchasing Manager di sebuah perusahaan?

    Berdasarkan indeed.com gaji pokok seorang purchasing manager adalah sekitar Rp 6 jutaan untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sementara di Surabaya mulai dari Rp 5 jutaan.

    Tentu saja angka di atas bukan angka pasti, kembali lagi ke aturan perusahaan, pengalaman kerja dan kemampuan negosiasi gaji ketika proses interview. Jadi gimana siap berkarir di purchasing?

    Baca Juga: Apa Saja Tugas Storekeeper di Hotel? Simak Yuk!

  • Pencatatan Akuntansi Hotel, Accrual Basis atau Cash Basis?

    Pencatatan Akuntansi Hotel, Accrual Basis atau Cash Basis?

    Dalam pengelolaan manajemen perhotelan, penting untuk melakukan pencatatan akuntansi hotel dengan metode atau teknik yang tepat.

    Di industri perhotelan sendiri mengenal dua teknik pencatatan, yaitu accrual basis atau cash basis yang memiliki metode berbeda dalam penerapannya.

    Jika membahas teknik mana yang paling sesuai di industri perhotelan, tentu akan lebih baik untuk mengenal dan memahami masing-masing teknik pencatatan akuntansi tersebut.

    Nah, pembahasan kali ini akan menjelaskan tentang teknik mana yang lebih cocok. Pencatatan akuntansi hotel, accrual basis atau cash basis?

    Apa Itu Accrual Basis?

    Accrual basis adalah teknik pencatatan akuntansi yang pencatatannya dilakukan saat transaksi terjadi meski kas belum diterima atau dikeluarkan.

    Jadi, pencatatan pendapatan dan biaya diakui saat periode terjadinya transaksi tanpa menunggu penerimaan kas atau pengeluaran kas terlebih dahulu.

    Dalam bisnis perhotelan, munculnya hak untuk menagih transaksi sudah diakui sebagai pendapatan meskipun kas belum diterima.

    Sedangkan kewajiban membayar oleh perusahaan yang sudah jatuh tempo dicatat sebagai biaya meskipun kas belum mengeluarkan pembayaran.

    Pencatatan dengan teknik accrual basis dapat memberikan informasi posisi keuangan manajemen yang akurat dan jelas.

    Metode ini juga memudahkan tim manajemen untuk melakukan pengukuran aset, kewajiban, dan ekuitas property serta mengurangi risiko kerugian jangka pendek dan jangka panjang.

    Namun, pencatatan akuntansi dengan teknik ini juga bukannya tanpa cela sebab akan ada risiko pendapatan tak tertagih yang muncul nantinya.

    Ada potensi pendapatan berkurang karena biaya yang belum dibayarkan sudah dicatat serta penurunan ekuitas akibat  penyusutan dan amortisasi.

    Meski begitu, metode accrual basis justru banyak digunakan di beberapa hotel bintang 5 dan villa untuk mencatat transaksi akuntansi.

    Hal ini dikarenakan kegiatan operasional villa hingga hotel bintang 5 jauh lebih kompleks jika dibandingkan dengan guest house dan homestay.

    Ada kebutuhan pencatatan kas masuk dan keluar, jumlah utang dan piutang yang dimiliki, serta penyusutan dan amortisasi.

    Teknik accrual basis juga lebih menguntungkan hotel dalam mencatat pembayaran produk atau layanan tertentu yang belum bisa diterima atau diberi.

    Apa itu Cash Basis?

    Sedangkan cash basis adalah teknik pencatatan akuntansi saat ada penerimaan atau pengeluaran kas, bukan berdasarkan kapan transaksi benar-benar terjadi atau diperoleh.

    Semua transaksi, baik itu hutang maupun piutang, tidak akan diakui selama belum ada kas masuk atau kas keluar.

    Artinya, pendapatan perusahaan baru diakui saat ada kas masuk dan biaya untuk pembayaran akan diakui saat sudah ada kas keluar.

    Dalam penerapannya di dunia bisnis, cukup banyak perusahaan dan manajemen hotel berbintang yang mulai meninggalkan metode ini.

    Namun, beberapa jenis usaha masih menggunakannya, seperti guest house, homestay, toko, dan praktik dokter.

    Alasannya karena pencatatan transaksi yang dibutuhkan masih sangat sederhana dan SDM yang mengelola pun belum memadai untuk teknik pencatatan yang lebih canggih.

    Faktor Pembeda Accrual Basis dan Cash Basis

    Untuk memudahkan pemahaman, berikut penjabaran singkat mengenai faktor pembeda accrual basis dan cash basis.

    1. Jangka Waktu

    Faktor pembeda yang cukup mendasar antara accrual basis dan cash basis adalah waktu pencatatan transaksi.

    Pencatatan dengan accrual basis dilakukan setelah transaksi terjadi, sedangkan cash basis dilakukan setelah kas diterima.

    2. Ketepatan

    Menilik pada ketepatan penggunaannya, cash basis cenderung kurang efektif jika digunakan untuk jangka panjang.

    Hal ini dikarenakan ada kemungkinan penerimaan dana penjualan berlangsung cukup lama dan berpotensi kehilangan kontrol pada transaksi non-tunai.

    Sedangkan accrual basis dianggap lebih akurat dan dapat memberikan gambaran real-time tentang posisi bisnis.

    3. Arus Kas

    Dari aspek arus kas, cukup sulit bagi teknik accrual basis untuk mempresentasikan laporan kas dengan tepat karena ada beberapa laporan yang dibuat secara terpisah.

    Berbeda dengan cash basis, gambaran arus kas masuk dan keluar jauh lebih akurat karena dicatat sesuai pemasukan dan pengeluaran.

    4. Penerapan di Industri

    Accrual basis lebih umum diterapkan dalam bisnis dengan modal besar dan tingkat perputaran produksi yang cepat, seperti manufaktur dan konstruksi.

    Sedangkan cash basis lebih cocok diterapkan untuk usaha kecil atau usaha yang sedang berkembang.

    5. Kemudahan Penggunaan

    Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, pencatatan akuntansi dengan teknik accrual basis lebih kompleks dan rumit dengan banyak entri jurnal.

    Namun, pencatatan dengan cash basis justru lebih mudah karena tidak membutuhkan entri jurnal di setiap transaksi.

    Metode Mana yang Lebih Cocok untuk Pencatatan Akuntansi Hotel?

    Setelah memahami pengertian masing-masing dan analisis faktor pembedanya, metode mana yang lebih cocok untuk pencatatan akuntansi hotel?

    Metode accrual basis dinilai lebih cocok sebagai teknik pencatatan akuntansi laporan di industri perhotelan, terutama hotel berbintang.

    Alasannya, accrual basis memiliki akurasi untuk mengukur aset yang lebih baik karena ada pencatatan piutang dan hutang yang detail.

  • 3 Laporan Harian Untuk Pemilik Hotel

    3 Laporan Harian Untuk Pemilik Hotel

    Dalam menjalankan bisnis perhotelan, ada beberapa laporan harian untuk pemilik hotel yang wajib diserahkan oleh tim manajemen hotel.

    Laporan-laporan ini sangat penting untuk diinformasikan kepada owner setiap hari untuk mengontrol, mengawasi, serta memantau perkembangan bisnisnya.

    Semua laporan yang dihasilkan dari operasional hotel juga bisa menjadi rujukan bagi pemilik hotel untuk mengetahui pencapaian target okupansi hingga pengambilan keputusan penting.

    Nah, untuk mengetahui lebih detail, artikel berikut ini akan membahas tentang apa saja laporan harian yang dibutuhkan pemilik hotel.

    Laporan Harian Untuk Pemilik Hotel

    Saat membutuhkan acuan untuk mengambil keputusan penting dalam menjalankan bisnisnya, pemilik hotel juga akan membutuhkan laporan harian.

    Beberapa laporan harian yang penting memang wajib diinformasikan kepada pemilik hotel karena sifatnya yang mampu mempengaruhi operasional hotel.

    Berikut ini laporan harian untuk pemilik hotel yang dibutuhkan secara rutin dari tim manajemen yang bertanggung jawab di bidang masing-masing.

    1. Laporan Pendapatan

    Laporan harian yang wajib diinformasikan kepada pemilik hotel adalah laporan pendapatan dari masing-masing departemen.

    Pendapatan hotel seperti pendapatan dari penjualan kamar, pendapatan restoran atau F&B, pendapatan Housekeeping, hingga pendapatan extracharge harus dibuat laporan hariannya.

    Laporan-laporan harian dari masing-masing departemen tersebut akan memudahkan pemantauan pemilik hotel untuk mengetahui cash flow bisnis hotelnya.

    Nantinya, laporan pendapatan harian ini juga menjadi dasar pengawasan atas laporan pendapatan bulanan dan laporan pendapatan tahunan hotel apakah sudah sesuai harapan atau belum.

    2. Laporan Statistik

    Dalam operasional hotel, ada statistik data terkait jumlah kamar yang terisi, okupansi, dan tarif kamar setiap harinya.

    Laporan statistik inilah yang juga wajib diinformasikan kepada pemilik hotel secara rutin dan menyeluruh.

    Dalam laporan statistik yang diberikan kepadda owner, terdiri dari laporan jumlah kamar yang terisi atau Room Occupied, jumlah kamar yang terjual atau Room Sold, persentase tingkat hunian atau Occupancy.

    Selain itu, laporan statistik harian juga meliputi ARR (Average Room Rate) atau rata-rata harga per kamar dan RevPAR (Revenue Per Available Rate) atau tarif rata-rata dari semua kamar yang tersedia.

    Laporan ARR digunakan sebagai indikator kinerja keuangan hotel serta perencanaan dan pengambilan keputusan bisnis selanjutnya.

    Untuk menghitung ARR sendiri terbilang ukup sederhana, yaitu dengan menjumlahkan total pendapatan dari penjualan kamar dibagi jumlah kamar yang terjual dalam suatu periode waktu tertentu.

    Sedangkan RevPar akan memberikan informasi tentang penjualan yang dihasilkan untuk setiap kamar hotel dan mengukur secara efektif pendapatan harian hotel.

    RevPar dihitung dengan cara membagi pendapatan kamar dengan jumlah kamar yang tersedia.

    Laporan statistik ini bisa digunakan sebagai acuan pengambilan keputusan harga, baik itu menggunakan ARR atau RevPAR sebagai acuannya.

    3. Laporan Forecasting

    Laporan harian untuk owner hotel selanjutnya yang tidak kalah penting untuk diinformasikan adalah laporan forecasting.

    Forecasting adalah perkiraan jumlah tamu yang akan menginap atau tingkat okupansi di sebuah hotel dan pendapatan pada periode yang akan datang.

    Laporan ini sangat penting bagi tim manajemen hotel, terutama pemilik hotel, untuk menentukan strategi bisnis terkait perencanaan kapasitas, pembelian peralatan, dan pengelolaan biaya.

    Untuk menghitung forecast hotel sendiri ada dua metode, yaitu peramalan secara kualitatif dan peramalan secara kuantitatif.

    Peramalan secara kualitatif maksudnya prediksi forecast yang menggunakan pendapat dan analisis deskriptif.

    Namun, metode kualitatif ini sifatnya subjektif karena dipengaruhi pendidikan, emosi, intuisi, hingga pengalaman pribadi yang membuat hasilnya bisa berbeda-beda.

    Adapun metode forecast kualitatif yang banyak ditemui antara lain survei pasar, opini eksekutif dari tim manajer, gabungan tim penjualan, dan Metode Delphi yang serupa kuesioner.

    Sedangkan peramalan kuantitatif lebih mengarah pada prediksi yang berkaitan dengan hitungan matematis.

    Beberapa metode forecast kualitatif yang sering diterapkan oleh hotel, di antaranya sebagai berikut.

    Time Series Method

    Metode penghitungan forecast hotel Time Series Method mengandalkan data historis dari jumlah tamu hotel pada periode waktu tertentu.

    Data yang dihasilkan dari penghitungan dengan metode ini akan digunakan untuk memprediksi jumlah tamu hotel di masa yang akan datang.

    Regression Method

    Regression Method merupakan metode penghitungan forecast yang menggunakan analisis regresi untuk menentukan hubungan antara variabel independen dan dependen dalam data historis.

    Variabel independen sendiri digunakan untuk memprediksi variabel dependen, dalam hal ini jumlah tamu hotel di masa yang akan datang.

    Moving Average Method

    Moving Average Method yaitu cara penghitungan rata-rata jumlah tamu hotel dalam periode tertentu sebagai dasar untuk memprediksi jumlah tamu di masa yang akan datang.

    Ratio Comparison Method

    Metode ini menggunakan perbandingan rasio antara jumlah tamu hotel pada periode tertentu dan digunakan untuk memprediksi jumlah tamu di masa yang akan datang.

    Nah, itulah tadi pembahasan mengenai beberapa laporan harian yang dibutuhkan pemilik hotel yang meliputi laporan pendapatan, statistik, dan forecasting.

    Melalui laporan harian untuk pemilik hotel di atas, owner bersama tim manajemen akan mampu membuat keputusan penting terkait operasional hotel yang lebih tepat.

  • Cara Menghitung RevPAR Hotel Beserta Contohnya

    Cara Menghitung RevPAR Hotel Beserta Contohnya

    Dalam pengukuran inventaris kamar yang terjual dan pendapatan operasional, penting untuk mengetahui cara menghitung RevPAR hotel.

    Saat terjadi peningkatan RevPAR, artinya rata-rata tarif kamar dan tingkat hunian sedang berada dalam tren positif.

    Oleh karena itu, artikel kali ini akan membahas tentang rumus dan cara menghitung RevPAR hotel beserta contohnya.

    Apa Itu RevPAR Hotel?

    RevPAR hotel atau Revenue Per Available Room adalah matriks yang digunakan untuk mengukur pendapatan dari hasil penjualan kamar yang tersedia di sebuah hhotel.

    Dalam penghitungannya, RevPAR menggabungkan dua aspek penting, yaitu tingkat hunian kamar dan tarif rata-rata yang dikenakan untuk kamar tersebut.

    Umumnya,  RevPAR dihitung dalam suatu periode waktu tertentu untuk mengetahui gambaran optimalisasi pendapatan dari kamar yang tersedia tanpa membedakan tipe maupun tarifnya.

    Dalam menjalankan bisnis perhotelan, RevPar menjadi rumus yang cukup penting selain Average Room Rate (ARR).

    Tujuan Penghitungan RevPAR

    Tujuan penghitungan RevPAR tidak lepas dari alasan untuk mengetahui kondisi finansial hotel dan efektivitas penjualan kamar dalam menghasilkan pendapatan maksimal.

    Selain itu, dengan menghitung RevPAR pelaku bisnis perhotelan akan mampu mengidentifikasi tren pasar, dampak musiman, dan perilaku tamu dalam memesan kamar.

    Misalnya, saat terjadi penurunan pendapatan kamar, kemungkinan besar ada indikasi peningkatan persaingan atau bahkan pergeseran permintaan pasar.

    Sebaliknya, peningkatan RevPAR menandakan keberhasilan strategi pemasaran tertentu yang meningkatkan minat pelanggan untuk melakukan reservasi.

    Perhitungan RevPAR juga berfungsi sebagai laporan kinerja yang menyoroti bidang-bidang yang unggul dan sektor-sektor yang mungkin memerlukan perhatian atau inovasi.

    Dengan memantau dan menganalisis matriks ini secara berkala, pelaku bisnis perhotelan bisa membuat keputusan proaktif dan strategis yang lebih optimal.

    Rumus Menghitung RevPAR Hotel

    Rumus RevPAR hotel didapatkan dari penghitungan total pendapatan kamar hotel dibagi total kamar yang tersedia dengan formula berikut ini.

    RevPAR = Room Revenue / Available Room

    Keterangan:

    Revenue Per Available Room (RevPAR): Rata-rata pendapatan dari total kamar tersedia.

    Room Revenue: Total pendapatan kamar pada waktu periode tertentu.

    Available Room: Total jumlah yang tersedia untuk dijual pada waktu periode tertentu.

    Konteks RevPAR yang merujuk pada istilah “kamar yang tersedia” sendiri berkaitan dengan pendapatan kamar yang terjual dibanding total inventaris kamar yang tersedia.

    Dalam hal ini termasuk jumlah seluruh tipe kamar, baik itu tipe standar, suite, vila, dan lain sebagainya dengan jumlah tetap berdasarkan jumlah kamar terjual pada periode tertentu.

    Cara Menghitung RevPAR Hotel dan Contohnya

    Sesuai rumus yang sudah disinggung sebelumnya, umumnya cara menghitung RevPAR hotel menggunakan formula pembagian total pendapatan dengan jumlah total kamar tersedia.

    Untuk memudahkan pemahaman, penerapan rumus tersebut akan lebih mudah dan jelas melalui penerapan dalam contoh kasus.

    Contoh Kasus Selama bulan November, Hotel “X” memiliki total 100 kamar yang tersedia untuk dijual. Diketahui total revenue pada bulan tersebut sebesar Rp 100.000.000. Berapa RevPAR Hotel “X” tersebut?   Penyelesaian Diketahui: Room Revenue = Rp 100.000.000 Available Room = 100 kamar   Maka, cara menghitung RevPAR hotel: RevPAR = Room Revenue / Available Room = Rp 100.000.000 / 100 = Rp 1.000.000   Kesimpulan: Jadi, nilai RevPAR atau rata-rata pendapatan hotel dari total kamar yang tersedia di Hotel “X” sebesar Rp 1.000.000.

    Kesalahan Umum dalam RevPAR

    Meski begitu, tidak jarang hotel melakukan kesalahan umum dalam RevPAR yang membuat indeksnya menjadi rendah, berikut beberapa di antaranya.

    1. Memberi Jatah OTA Terlalu Banyak

    Kesalahan utama dalam indeks RevPAR yang rendah terjadi karena hotel terlalu banyak memberikan jatah kamar ke Online Travel Agent (OTA).

    OTA  yang menjalin kerja sama dengan hotel sering kali menawarkan diskon hingga berperan aktif dalam meningkatkan okupansi.

    Sayangnya, keuntungan tersebut juga berpotensi membuat hotel mengalami penurunan pendapatan jangka panjang karena biaya pelayanan yang tinggi dan komisi untuk OTA.

    2. Menetapkan Room Rate yang Rendah

    Langkah promosi dengan penetapan room rate yang kompetitif memang menarik minat calon tamu demi memaksimalkan tingkat hunian.

    Namun, risiko total pendapatan yang rendah bisa saja dialami hotel meski jumlah kamar terjual meningkat jika tidak diimbangi upsale penawaran fasilitas tambahan.

    3. Pengeluaran yang Berlebihan

    Pengeluaran hotel yang berlebihan juga kerap menjadi kesalahan umum yang wajib dihindari untuk meningkatkan indeks RevPAR.

    Pengeluaran ini meliputi penggunaan listrik, stok sarapan yang terlalu banyak, dan pengeluaran lainnya yang berpotensi menimbulkan pemborosan hotel.

    Demikianlah pembahasan tentang rumus dan cara menghitung RevPAR hotel beserta contohnya yang sudah kami rangkum untuk memudahkan pemahaman.

    Melalui informasi tersebut, kamu akan lebih mudah mengetahui cara menghitung RevPAR hotel dalam periode waktu tertentu.

    Selain itu, kamu juga bisa memaksimalkan indeks RevPAR dengan menghindari kesalahan umum yang sering dilakukan hotel demi meningkatkan pendapatan dari kamar yang terjual.

  • 15 Metode Pembayaran di Hotel yang Perlu Diketahui

    15 Metode Pembayaran di Hotel yang Perlu Diketahui

    Metode pembayaran hotel merupakan cara bagaimana kita membayar uang sewa hotel selama menginap. Pembayaran ini sudah termasuk sewa kamar, makanan, dan semua biaya lainnya.

    Banyak dari kita yang hanya mengetahui beberapa metode pembayaran hotel saja, seperti metode pembayaran tunai, kartu kredit, dan e-wallet.

    Namun, ternyata ada banyak metode pembayaran lainnya yang bisa kita gunakan, terlebih jika kita menginap cukup lama di hotel tujuan kita.

    Metode Pembayaran di Hotel

    Simak berikut ini 15 metode pembayaran di hotel yang perlu diketahui.

    1. Front Office Cashier

    Front office cashier merupakan pegawai hotel yang bertugas di bagian kasir. Fungsinya adalah untuk menerima pembayaran dari para tamu baik itu pembayaran kamar maupun restoran secara langsung.

    Dengan membayar secara langsung di bagian Front Office Cashier, para tamu bisa menggunakan metode pembayaran apapun mulai dari tunai maupun non-tunai.

    2. Cash Deposit

    Cash Deposit adalah metode pembayaran di hotel yang memungkinkan tamu membayar sejumlah uang sebagai uang deposit ketika memesan maupun saat menginap di hotel.

    3. Cash Settlement

    Cash Settlement merupakan metode pembayaran di mana tamu membayar semua tagihan secara tunai saat check out. Atau tamu akan membayar semua tagihan termasuk sewa kamar, makanan dan biaya lainnya di kasir.

    Metode pembayaran ini termasuk metode pembayaran paling umum dan merupakan cara pembayaran lama yang digunakan oleh hotel-hotel.

    4. Cash Deposit Refund

    Cash Deposit Refund adalah metode pembayaran pengembalian uang yang berasal dari kelebihan pembayaran. Sumber kelebihan pembayaran biasanya dari Cash Deposit.

    Metode ini memerlukan proses mulai dari kasir yang memasukkan nominal pembayaran dari total tagihan dan saat checkout ternyata ada sisa dari cash deposit yang sebelumnya disetor.

    Sisa uang inilah yang menjadi Cash Deposit Refund dan kemudian dikembalikan kepada tamu tersebut.

    5. Pre-Payment

    Pre-Payment adalah metode pembayaran di hotel yang dilakukan tamu sebelum menempati kamar atau menggunakan fasilitas yang dipesan.

    Pembayaran tersebut diproses saat melakukan pemesanan kamar atau saat check in.

    6. Debit Card

    Debit Card merupakan metode pembayaran di hotel menggunakan kartu debit milik tamu dengan syarat memiliki saldo yang cukup. Saldo harus mencukupi sesuai dengan jumlah tagihan selama menginap di hotel.

    Pembayaran Debit Card akan diproses menggunakan mesin EDC dan diperlukan proses verifikasi langsung dengan memasukkan PIN.

    7. Credit Card

    Credit Card merupakan metode pembayaran hotel menggunakan kartu kredit milih tamu dengan syarat memiliki saldo kartu kredit yang cukup.

    Cara ini sebenarnya mirip dengan Debit Card, diperlukan proses verifikasi langsung dengan memasukkan PIN.

    8. Travel Agent Ledger

    Travel Agent Ledger merupakan pembayaran kamar oleh agen perjalanan yang bekerja sama dengan hotel.

    Para tamu biasanya sudah membayar biaya keseluruhan mulai dari perjalanan hingga sewa kamar hotel ke Travel Agent. Maka dari itu, para tamu yang menggunakan jasa travel agent tidak perlu repot booking kamar hotel lagi.

    Travel Agent yang memiliki kerja sama dengan pihak hotel akan mendapatkan komisi untuk setiap tamu yang dibawanya.

    9. City Ledger

    City Ledger merupakan metode pembayaran hotel yang melibatkan mitra hotel. Pembayaran melalui mitra hotel inilah yang disebut City Ledger.

    Contoh city ledger adalah Agoda, Traveloka, Tiket.com, dan sejenisnya. Biasanya tamu akan membayar terlebih dahulu melalui web atau aplikasi saat proses pemesanan kamar.

    Tugas city ledger adalah membuat invoice tamu untuk dikirimkan kepada mitra hotel dengan memeriksa pendapatan kredit terlebih dahulu.

    10. Government Ledger

    Government Ledger merupakan metode pembayaran hotel yang dibebankan kepada instansi pemerintah terkait.

    Hal ini berlaku saat ada tamu yang menginap di hotel yang ditunjuk atau dibiayai oleh instansi pemerintah.

    11. Company Ledger

    Company Ledger adalah metode pembayaran hotel yang dibebankan kepada sebuah perusahaan.

    Biasanya tamu yang menginap merupakan tamu dengan atas nama perusahaan tertentu. Sehingga semua biaya penginapan termasuk fasilitasnya ditanggung oleh pihak perusahaan.

    12. Guest Ledger

    Guest Ledger adalah metode pembayaran hotel yang dikhususkan untuk tamu yang menginap dalam jangka waktu yang lama, bukan menginap hanya semalam atau 2 malam.

    13. Paid Out Procedure

    Paid Out Procedure merupakan pembayaran yang dibebankan kepada tamu karena adanya tambahan lain. Misalnya, biaya taksi atau biaya mendesak lainnya selama tamu masih menginap di hotel tersebut.

    Biaya-biaya ini nantinya dimasukkan ke dalam invoice dan menjadi total tagihan tamu tersebut.

    14. Bank Cheque

    Bank Cheque merupakan metode pembayaran hotel dengan menggunakan cek dari Bank. Cek ini adalah secarik kertas yang digunakan sebagai surat perintah pembayaran dari nasabah yang merupakan tamu hotel.

    Cek akan dibawa petugas hotel menuju ke bank terkait dan melakukan pencairan uang agar uang tersebut dibayarkan kepada hotel sesuai dengan nominal yang tertera pada cek.

    15. Traveller’s Cheque

    Traveller’s Cheque merupakan metode pembayaran hotel menggunakan cek khusus perjalanan yang dibawa oleh tamu hotel.

    Cek ini hanya dibuat untuk mereka yang melakukan perjalanan melalui perantara bank yang sudah ditunjuk sebelumnya.

    Itulah 15 metode pembayaran di hotel yang perlu diketahui oleh kamu selain metode pembayaran menggunakan tunai dan non-tunai secara langsung kepada kasir hotel.

    Dengan mengetahui metode pembayaran hotel ini, semoga bisa lebih memudahkan kamu dalam memproses pembayaran hotel saat kamu sedang menginap dalam rangka berlibur untuk jangka waktu yang singkat maupun lama.

    Metode pembayaran ini berlaku hampir di semua hotel di seluruh dunia.

  • Accounting Department Hotel: Pengertian, Struktur, Tugas dan Tanggung Jawab

    Accounting Department Hotel: Pengertian, Struktur, Tugas dan Tanggung Jawab

    Untuk mengelola pelaporan keuangan dalam bisnis perhotelan, Accounting Department Hotel memegang peranan yang krusial.

    Sistem akuntansi perhotelan melakukan pencatatan menyeluruh atas semua jurnal transaksi keuangan, baik harian maupun dalam periode tertentu yang dibutuhkan.

    Oleh karena itu, artikel kali ini akan membahas tentang Accounting Department Hotel yang meliputi pengertian, struktur, tugas dan tanggung jawab.

    Pengertian Accounting Department Hotel

    Accounting Department Hotel adalah departemen yang berkaitan dengan bagian keuangan hotel dan menjalankan tugas untuk mencatat transaksi keuangan secara menyeluruh.

    Kewenangan departemen ini juga mencakup pembuatan laporan keuangan hotel, mulai dari pemasukan hingga pengeluaran.

    Baca juga: Departemen yang Ada di Hotel dan Tugasnya

    Seluruh divisi dari departemen juga bertanggung jawab dalam pembuatan jurnal transaksi keuangan dalam periode tertentu yang dibutuhkan, baik harian, bulanan, maupun tahunan.

    Struktur Accounting Department Hotel

    Dalam sebuah departemen keuangan yang ada di hotel, terbagi menjadi beberapa divisi yang saling berkesinambungan dalam menjalankan tugas spesifiknya masing-masing.

    Terlebih untuk hotel berbintang kelas atas, ada struktur Accounting Department Hotel tertentu yang penting untuk dikenali, yang antara lain sebagai berikut.

    Tugas dan Tanggung Jawab Accounting Department Hotel

    Melihat dari struktur organisasi dari Departemen Accounting yang ada di hotel, masing-masing divisi memiliki peranannya masing-masing terkait tugas kerja.

    Berikut ini tugas dan tanggung jawab Accounting Department Hotel baik secara umum maupun dari setiap divisi dalam sistem operasional hotel.

    A. Tugas dan Tanggung Jawab Umum

    Tugas Umum Accounting Department Hotel

    • Menerima dan melakukan pembayaran, baik melalui cash payment maupun cek.
    • Membuat pembukuan terkait pencatatan uang dan barang.
    • Mencatat semua pembelian barang untuk operasional hotel, termasuk yang tidak dibayar secara cash atau tunai.
    • Melakukan pencatatan terkait penyimpanan dan pengeluaran barang.
    • Mencatat semua hasil penjualan hotel.

    Tanggung Jawab Umum Accounting Department Hotel

    • Mengawasi aliran uang dalam hotel.
    • Mengontrol serta mengawasi bagian pendapatan dan pengeluaran hotel.
    • Membuat pembukuan semua transaksi pembelian barang di hotel.
    • Membuat laporan keuangan hotel, mulai dari pendapatan hingga pengeluaran.

    B. Tugas dan Tanggung Jawab Accounting Department Hotel di Tiap Divisi

    Sedangkan untuk tugas dan tanggung jawab Accounting Department Hotel di tiap divisi yaitu sebagai berikut.

    1. Finance Manager

    • Mengesahkan laporan keuangan, termasuk neraca dan laba/rugi, untuk dipertanggungjawabkan kepada General Manager dan diserahkan kepada Direktur.
    • Memberikan persetujuan terkait pengelolaan anggaran, baik pemasukan maupun pengeluaran uang.
    • Mengawasi dan menyetujui permintaan barang dari tiap departemen di hotel dan pengeluaran barang dari gudang.
    • Mengelola operasional sehari-hari Departemen Accounting dan memimpin seluruh staf di bawahnya sesuai struktur organisasi.
    • Bertanggung jawab langsung kepada General Manager.

    2. Accounting Supervisor

    • Membuat laporan keuangan, baik neraca maupun laba rugi, untuk disetujui Financial Administrative Manager.
    • Mengawasi pekerjaan Accountant dan staf di bawahannya.
    • Bertanggung jawab langsung kepada Financial Administrative Manager.

    3. Night Audit

    • Mengumpulkan pekerjaan semua kasir operation dalam satu hari.
    • Membuat summary revenue atau ringkasan pendapatan pada malam hari.
    • Menyerahkan summary beserta lampiran bills dan uang pada keesokan hari kepada Accounting Back Office setelah ditandatangani Chief Cashier.
    • Bertanggung jawab langsung kepada Financial Administrative Manager.

    4. Internal Auditor

    • Memeriksa semua data akuntansi sesudah transaksi.
    • Bekerja sama dengan Accounting Supervisor untuk membuat laporan keuangan.
    • Melaporkan semua temuan penyimpangan keuangan kepada Finance Manager.
    • Bertanggung jawab langsung kepada Financial Administrative Manager.

    5. Cost Controller

    • Mengerjakan pekerjaan akuntansi yang berhubungan dengan keuangan sebelum terjadi transaksi.
    • Meneliti, memeriksa, dan menyetujui goods request dari departemen ke Finance Manager.
    • Memeriksa semua invoice atau tagihan dari supplier sebelum dibayar.
    • Memeriksa permintaan maintenance atau pemeliharaan dan pembuatan barang oleh ME sebelum disetujui Finance Manager.
    • Melakukan update atas semua tarif produk hotel yang berlaku sebelum dipublikasi.
    • Bertanggung jawab langsung kepada Finance Manager.

    6. Purchasing Supervisor

    • Memeriksa good request yang sudah disetujui dan mencarikan barang ke supplier.
    • Mengetahui semua harga barang kebutuhan hotel di pasar untuk membuat purchase order.
    • Membuat summary purchase bulanan sebagai laporan kepada Finance Manager.
    • Bertanggung jawab langsung kepada Finance Manager.

    7. Store Room Supervisor

    • Menjaga semua barang yang ada di store room atau gudang.
    • Mengatur alur keluar masuk barang di gudang.
    • Membuat summary bulanan (inventory) barang untuk dilaporakan kepada Finance Manager.
    • Bertanggung jawab langsung kepada Finance Manager.

    8. Chief Cashier

    • Memimpin semua outlet cashier yang ada di hotel.
    • Bekerja sama dengan staf Night Audit.
    • Membuat summary harian dan bulanan untuk diberikan kepada Finance Manager.
    • Bertanggung jawab langsung kepada Finance Manager.

    9. Accountant

    • Membantu pekerjaan Accounting Supervisor
    • Melakukan koordinasi pekerjaan bawahan, mulai dari City Ledger, Account Receivable, Account Payable, General Cashier, hingga Book Keeper.
    • Menyusun laporan keuangan dengan Accounting Supervisor.
    • Bertanggung jawab langsung kepada Accounting Supervisor.

    10. City Ledger

    • Memeriksa semua bentuk pendapatan credit untuk pembuatan invoice kepada customer.
    • Menagih customer (pemakai jasa hotel) yang membayar secara non tunai untuk diserahkan kepada General Cashier.
    • Membuat daftar piutang untuk Accountant.
    • Bertanggung jawab langsung kepada Accountant.

    11. Account Receivable

    • Memeriksa data uang masuk/bill/outlet yang diterima dari Night Audit.
    • Membuat summery revenue.
    • Memberikan data bill cash atau pembayaran tunai kepada Book Keeper dan menyerahkan uang kontan kepada General Cashier.
    • Menyerahkan bill credit kepada City Ledger untuk proses penagihan.
    • Bertanggung jawab langsung kepada Accountant.

    12. General Cashier

    • Menyimpan uang kontan, cek, dan giro bilyet untuk pembayaran.
    • Mengerjakan sejumlah buku harian kas dan bank.
    • Menyimpan semua bukti kas dan bank yang keluar masuk untuk diserahkan kepada Book Keeper
    • Menyetor dan mengambil uang di bank sesuai perintah atasan.
    • Bertanggung jawab langsung kepada Accountant.

    13. Account Payable

    • Mengerjakan purchase ledger day book atau buku harian pembelian.
    • Membuat summary atau ringkasan pembelian bulanan.
    • Memproses pengeluaran uang hotel.
    • Mengerjakan seluruh masalah teknis akuntansi dari awal sampai akhir.
    • Bertanggung jawab langsung kepada Accountant.

    14. Book Keeper

    • Mengerjakan seluruh masalah teknis akuntansi dari awal sampai akhir
    • Bertanggung jawab langsung kepada Accountant.

    Berdasar rincian tugas dan tanggung jawab dari masing-masing divisi di atas, muncul pengelompokan bagian yang mencatat penerimaan dan pengeluaran serta memprosesnya.

    Untuk bagian yang mencatat penerimaan, antara lain Night Audit, Internal Auditor, Account Receivable, Chief Cashier, dan General Cashier.

    Bagian yang menangani pengeluaran dan pengendalian biaya yaitu Cost Controller, Purchasing Supervisor, Store Room Supervisor, Account Payable, dan General Cashier.

    Sedangkan bagian yang memproses data akuntansi menjadi laporan keuangan adalah Book Keeper.

    Nah, itulah tadi penjelasan detail tentang Accounting Department Hotel, pengertian, struktur, tugas dan tanggung jawab yang kami berhasil kami rangkum.

    Melalui informasi Accounting Department Hotel di atas, kamu mudah untuk memahami job desc masing-masing sesuai dalam struktur organisasinya.

  • Apa itu Hotel Occupancy? Pengertian dan Cara Menghitungnya

    Apa itu Hotel Occupancy? Pengertian dan Cara Menghitungnya

    Apa itu hotel occupancy? Biasanya istilah ini kerap muncul untuk mendefinisikan tingkat hunian kamar dalam bisnis perhotelan.

    Hotel occupancy sendiri juga menjadi indikator utama dalam pengukuran kemampuan hotel untuk mengisi kamar-kamar yang disediakan dalam periode waktu tertentu.

    Semakin tinggi persentasenya, maka bisa diartikan jika kinerja hotel semakin baik karena banyak tamu yang menginap dan merasa puas hingga selalu ramai dihuni.

    Nah, untuk pemahaman lebih lanjut, berikut penjelasan tentang apa itu hotel occupancy, pengertian dan cara menghitungnya.

    Apa itu Hotel Occupancy?

    Apa itu hotel Occupancy? Hotel occupancy adalah tingkat hunian kamar hotel yang ditempati oleh tamu selama periode waktu tertentu untuk mengukur efisiensi operasional hotel.

    Artinya, occupancy ini merujuk pada perbandingan jumlah kamar hotel yang terjual atau disewa dengan jumlah ketersediaan kamar yang belum terisi.

    Tinggi atau rendahnya persentase hunian kamar menjadi indikasi keberhasilan hotel di mana semakin tinggi occupancy rate yang dimiliki maka kinerja hotel dianggap semakin baik.

    Umumnya, penghitungan ini dilakukan secara berkala, baik harian, mingguan, bulanan, atau bahkan tahunan sesuai kebutuhan tim manajemen.

    Tujuan Menghitung Hotel Occupancy

    Dengan mengetahui occupancy rate, pengelola hotel akan bisa memprediksi hal-hal tertentu yang menjadi kebutuhan informasi untuk operasional hotel.

    Berikut ini beberapa tujuan menghitung hotel occupancy yang sering diterapkan dalam pengelolaan bisnis hospitality.

    • Optimasi pendapatan dengan melakukan penyesuaian harga kamar, penawaran promo, dan pengelolaan stok kamar untuk meningkatkan pemasukan hotel.
    • Evaluasi kinerja untuk menilai seberapa baik properti dan staf bekerja dalam memberikan kepuasan kepada tamu.
    • Membuat persiapan room supplies atau stok kebutuhan kamar di waktu tertentu.
    • Penyediaan stok makanan dan minuman untuk dilanjutkan ke departemen Food Anda Beverage.
    • Membandingkan tingkat keberhasilan hotel untuk kebutuhan persaingan bisnis dengan kompetitor.
    • Memperhitungkan kebutuhan pegawai dengan menambah atau mengurangi staf hotel sesuai dengan kebutuhan.

    Cara Menghitung Hotel Occupancy

    Cara menghitung hotel occupancy bisa dilakukan dengan beberapa rumus yang mudah dan cepat, antara lain sebagai berikut.

    1. Single Occupancy

    Single occupancy menjadi rumus menghitung hotel occupancy yang digunakan untuk melihat persentase penjualan kamar dari total kamar yang tersedia.

    Rumus untuk single occupancy yaitu:

      Single Occupancy = Room Sold / Room Available x 100 %

    Melalui rumus ini, persentase tingkat hunian kamar dihitung dengan membandingkan jumlah kamar yang terjual dengan jumlah kamar available atau tersedia.

    2. Double Occupancy

    Sedangkan melalui doucble occupancy, cara penghitungan hotel occupancy dilakukan dengan melihat persentase kamar terjual yang dihuni lebih dari satu orang.

      Double Occupancy = (Number of Guests – Room Sold)  / Room Sold x 100 %

    Lewat penggunaan rumus ini, tingkat hunian kamar hotel dihitung berdasar pengurangan jumlah tamu dan jumlah kamar terjual dengan pembanding total kamar yang laku disewa.

    Contoh Kasus Penghitungan Hotel Occupancy

    Untuk lebih jelas dalam memahami penjelasan tadi, berikut ada beberapa contoh kasus penghitungan hotel occupancy.

    Contoh 1

    Hotel Palapa dikenal sebagai salah satu hotel terkemuka di pusat kota yang menyediakan total 75 kamar untuk disewakan. Pada hari Minggu, hotel tersebut berhasil menjual 60 kamar. Hitung occupancy rate pada hari tersebut.

      Diketahui : Nama Hotel      = Hotel Palapa Total Kamar      = 75 kamar Kamar Terjual   = 60 kamar Maka : Occupancy rate = 60/75 x 100% = 80%

    Contoh 2

    Hotel Sultan yang memiliki total 80 kamar sudah terisi 35 room di pagi hari. Sedangkan saat siang, ada kedatangan tamu baru yang melakukan reservasi tambahan 15 kamar. Berapakah occupancy rate dari Hotel Sultan pada hari tersebut?

      Diketahui : Nama Hotel      = Hotel Sultan Total Kamar      = 80 kamar Kamar Terjual   = 35 kamar (pagi) + 15 kamar (siang) = 50 kamar Maka : Occupancy rate = 50/80 x 100% = 62,5%

    Contoh 3

    Hotel Surya memiliki total 100 kamar dan pada hari minggu dilaporkan terdapat 3 kamar yang membutuhkan perbaikan serta 7 kamar yang tidak siap digunakan. Jika pada hari tersebut terjual 40 kamar saat pagi hari dan ada tambahan reservasi 5 kamar, berapa occupancy rate hotel dari total kamar tersedia di hari tersebut?

      Diketahui : Nama Hotel      = Hotel Surya Total Kamar      = 100 kamar Kamar yang tidak bisa digunakan = 3 + 7 = 10 Kamar Terjual   = 40 kamar (pagi) + 5 kamar (siang) = 45 kamar Maka : Total Kamar Tersedia = Total kamar keseluruhan – Total kamar not available Total Kamar Tersedia = 100 – 10 = 90 kamar   Occupancy rate = 45/90 x 100% = 50%

    Contoh 4

    Pada hari Sabtu, Hotel Merdeka memiliki data total jumlah tamu yang menginap sebanyak 90 orang dan kamar yang terjual ada 60 kamar dari jumlah total 80 kamar yang ada. Hitung persentase tingkat hunian kamar menggunakan cara double occupancy rate pada hari tersebut?

      Diketahui : Nama Hotel      = Hotel Merdeka Total Kamar      = 80 kamar Kamar Terjual   = 60 kamar Jumlah tamu      = 90 tamu Maka : Occupancy rate = (90 – 60)/60  x 100% = 50%  

    Demikianlah penjelasan tentang apa itu hotel occupancy, pengertian dan cara menghitungnya serta contoh kasus yang memudahkan pemahaman terkait proses penghitungan.

    Setelah mengetahui apa itu hotel occupancy, kamu akan semakin mudah menerapkan cara penghitungan dan mencapai tujuan bisnis perhotelan yang diinginkan.

  • Apa Itu ARR Hotel? Pengertian dan Cara Menghitungnya

    Apa Itu ARR Hotel? Pengertian dan Cara Menghitungnya

    Setelah sebelumnya membahas tentang occupancy hotel, kini giliran penjelasan mengenai apa itu ARR hotel.

    Bagi kamu yang berkecimpung dalam bisnis perhotelan, pasti sudah sudah tidak asing lagi dengan ARR atau Average Room Rate.

    Secara garis besar, ARR sendiri merupakan metriks hotel untuk mengetahui berapa rata-rata harga kamar yang terjual pada periode tertentu.

    Nah, untuk mempelajari lebih lanjut, simak pembahasan tentang apa itu ARR hotel, pengertian dan cara menghitungnya berikut ini.

    Pengertian ARR Hotel

    ARR hotel adalah nilai terukur dari pendapatan hotel berdasar harga rata-rata jumlah kamar yang disewa dalam jangka waktu tertentu.

    Nilai ARR menjadi salah satu metrik terpenting bagi manajemen hotel untuk memantau dan mengelola pendapatan yang diterima.

    Selain itu, informasi dari nilai ARR akan membantu manajer dalam mengambil keputusan penting demi kemajuan bisnisnya.

    Bahkan pengukuran ARR juga dapat menjadi gambaran umum terkait ide-ide perencanaan dan perkembangan bisnis hotel di masa mendatang.

    Tidak heran jika langkah penghitungannya menjadi nilai yang cukup penting untuk diketahui dalam periode waktu tertentu yang ditetapkan.

    Pentingnya Pengukuran ARR Hotel

    Bagi pelaku bisnis hospitality dalam industri perhotelan, pentingnya pengukuran ARR akan memberikan banyak informasi.

    Bisa dibilang ARR menjadi salah satu indikator krusial yang akan menilai tingkat keberhasilan bisnis perhotelan.

    Semakin tinggi ARR hotel, maka semakin baik pula performa hotel karena mampu menjual kamar dengan harga tinggi dengan level okupansi yang juga tinggi.

    Tujuan Menghitung ARR Hotel

    Melihat pentingnya pengukuran ARR, tentu tidak lepas dari tujuan yang ingin dicapai setelah mengetahui hasil penghitungannya.

    Berikut ini beberapa tujuan menghitung ARR hotel yang penting untuk diketahui, terutama bagi pelaku bisnis perhotelan.

    1. Memperjelas Company Health

    Tujuan utama menghitung ARR hotel yaitu untuk mengetahui kejelasan company health yang mampu mengukur kinerja dan menunjukkan pendapatan hotel.

    Dengan mengetahui ARR, manajemen akan dapat membuat keputusan yang lebih baik mengenai perencanaan operasional dan pembiayaan untuk meningkatkan keuntungan.

    2. Meningkatkan Pendapatan

    Dengan melacak perubahan ARR, hotel akan mengetahui keinginan dan kebutuhan pelanggan hingga dapat mendorong penjualan untuk meningkatkan pendapatan.

    3. Perkiraan Pendapatan

    Kemampuan untuk memperkirakan pendapatan pelanggan juga menjadi tujuan dari penghitungan ARR.

    Hotel akan dapat melihat hal ini berdasar durasi dan biaya yang dikeluarkan tamu, melacak nilai perpanjangan, serta biaya kehilangan pelanggan yang dikenal dengan istilah ‘churn’.

    4. Pertahankan Kinerja Terbaik

    Pemantauan ARR mendorong bisnis perhotelan agar fokus pada individual sales untuk menentukan apa yang berhasil dan apa yang perlu diubah.

    Dengan langkah penghitungan ARR, hotel akan dapat mempertahankan kinerja terbaik dan memberikan kompensasi alih-alih pengeluaran biaya untuk rekrutmen baru.

    5. Menarik Investor

    Umumnya, investor akan menjalin kontrak bisnis dengan penjualan yang dapat diprediksi, dan perkiraan pendapatan yang akurat.

    Poin inilah yang menjadi tujuan dari menghitung ARR hotel di mana kestabilan bisnis akan menjadi proposal terbaik dalam menarik investor

    Cara Menghitung ARR Hotel

    Cara menghitung ARR Hotel yaitu dengan membagi total pendapatan yang dihasilkan dan jumlah kamar yang ditempati selama periode waktu yang sama.

    Penghitungan ARR hotel umumnya menggunakan rumus berikut ini.

      ARR = Room Revenue ÷ Room Sold  

    Keterangan:

    Average Room Rate (ARR)    = Rata-rata harga per kamar

    Room Revenue                       = Total pendapatan kamar pada periode waktu tertentu.

    Room Sold                              = Total kamar yang terjual pada periode waktu tertentu.

    Contoh Kasus Penghitungan ARR Hotel

    Untuk memudahkan pemahaman, kamu bisa menyimak contoh kasus opnghitungan ARR hotel berikut ini.

    Contoh Kasus 1

    Selama bulan Januari, Hotel Asia telah berhasil menjual 120 kamar dari total 150 kamar yang disediakan. Bila diketahui total revenue selama bulan tersebut adalah Rp 180.000.000, maka tentukan berapa nilai average room rate pada hotel tersebut?

      Penyelesaian Diketahui : Room Revenue   = Rp 180.000.000 Room Sold          = 120 kamar Maka, dapat dihitung: Average Room Rate = Rp 180.000.000 ÷ 120  = Rp 1.500.000   Jadi, dapat disimpulkan jika rata-rata harga per kamar di Hotel Asia sebesar Rp 1.500.000 selama bulan Januari.  

    Contoh Kasus 2

    Pada bulan Maret, Hotel Asia telah menjual 90% kamar dari total 150 kamar yang tersedia. Bila total revenue selama bulan tersebut adalah Rp 249.750.000, hitung berapa rata-rata harga per kamar di hotel tersebut.

      Penyelesaian Diketahui : Room Revenue   = Rp 249.750.000 Room Sold          = 90% x 150 kamar = 135 kamar Maka, dapat dihitung: Average Room Rate = Rp 249.750.000 ÷ 135  = Rp 1.850.000   Jadi, dapat disimpulkan jika rata-rata harga per kamar di Hotel Asia selama bulan Maret adalah Rp 1.850.000.  

    Cara Meningkatkan ARR Hotel

    Sebenarnya, ada cukup banyak faktor yang dapat memengaruhi nilai ARR hotel, seperti tingkat okupansi kamar, waktu atau musim, fasilitas hotel, lokasi hotel, dan lain-lain.

    Namun, cara meningkatkan ARR hotel juga bukan hal yang awam dilakukan karena banyak hotel sudah menerapkannya.

    Di antaranya, dengan menawarkan paket menginap yang menarik, melakukan promosi spesial, meningkatkan kualitas dari fasilitas hotel dan pelayanan untuk tamu.

    Dengan memaksimalkan cara-cara tersebut, reservasi hotel kemungkinan besar akan meningkat dan level okupansi juga semakin tinggi.

    Dampaknya, harga rata-rata kamar hotel juga meningkat, baik dalam periode waktu harian, mingguan, maupun bulanan.

    Demikianlah informasi tentang apa itu ARR hotel, pengertian dan cara menghitungnya lengkap dengan tujuan dan cara meningkatkan nilai ARR.

    Melalui pemahaman yang tepat terkait apa itu ARR hotel, pelaku bisnis perhotelan akan mampu membuat perencanaan terbaik untuk perkembangan bisnisnya.

  • Apa Tugas Store Keeper di Hotel? Lengkap & Mudah Dipahami

    Apa Tugas Store Keeper di Hotel? Lengkap & Mudah Dipahami

    Store keeper adalah salah satu bagian dari divisi akunting yang secara umum tugas dan tanggung jawabnya adalah berkaitan dengan stok barang dan persediaan yang ada di general store.

    Storekeeper bertanggung jawab atas penyimpanan semua pembelian dan mengeluarkan permintaan penyimpanan kepada department yang meminta sesuai dengan system standard yang berlaku. 

    Peran store keeper dalam lancarnya operasional hotel sangat penting. Karena disini store keeper harus benar-benar memastikan item-item yang di perlukan setiap departemen tetap ada dan tidak boleh sampai kosong.

    Disinilah seorang store keeper dituntut untuk memiliki skill manajemen persediaan yang kuat.

    Apa itu Manajemen Persediaan?

    Manajemen persediaan adalah bagaimana strategi untuk menjaga dan mengatur persediaan atau stok yang dimiliki perusahaan.

    Jadi dari mulai memperoleh persediaan, menyimpan sampai persediaan tersebut diolah atau di manfaatkan.

    Persediaan atau stok yang di maksud bisa beraneka ragam seperti bahan baku, bahan pembantu, barang dalam proses, barang jadi dan sebagainya.

    Jika stok terlalu banyak, maka biaya penyimpanan semakin tinggi, jika kurang bisa menghambat kelancaran operasional hotel.

    Ditambah lagi perusahaan harus menghadapi kemungkinan ketidakpastian yang biasa terjadi. Contoh, ketidakpastian demand, waktu pemesanan sampai pasokan dari supplier.

    Jadi inilah yang dimaksudkan penting sekali kenapa seorang store keeper adalah orang yang mampu menguasai manajemen persediaan / inventory ini.

    Baca Juga: Purchasing Staff , Apa Saja Tugas dan Berapa Gajinya?

    Tugas Store Keeper Di Hotel

    Jadi berdasarkan uraian di atas secara umum ini dia beberapa tugas seorang store keeper di industri perhotelan :

    • Memastikan bahwa kualitas dari barang yang diterima sesuai dengan standard yang diminta sebelum disimpan
    • Mengecek bahwa tidak adanya kerusakan atau cacat atas barang yang diterima sebelum disimpan
    • Memeriksa jumlah barang segar dan barang mudah rusak sebelum disimpan
    • Memeriksa jumlah semua barang yang diterima sesuai dengan surat perintah pembelian, surat jalan sebelum disimpan
    • Menyimpan barang-barang sesuai dengan standard prosedur yang diberikan
    • Mengisi kartu persediaan  untuk barang yang diterima dan dikeluarkan  sesuai dengan prosedur
    • Membuat permintaan pembelian untuk pemesanan ulang terhadap barang-barang sesuai dengan prosedur persediaan cadangan  dan minimum level prosedur.
    • Menjaga masa berlakunya barang yang ada pada standard level persediaan (masa berlaku)
    • Tetap memelihara kebersihan gudang sesuai dengan standard dan prosedur.
    • Menjaga gudang barang-barang sesuai dengan standard prosedur yang berlaku.
    • Secara berkala melakukan perhitungan  ulang terhadap barang-barang sesuai dengan kartu persediaan / penyimpanan yang lengkap
    • Melakukan perhitungan fisik persediaan barang sesuai dengan prosedur yang berlaku
    • Membantu tugas-tugas bagian penerimaan dan perhitungan persediaan bulanan 
    • Bekerjasama dengan bagian penerimaan dan pembelian dalam menindak lanjuti pemesanan
    • Tegas dan konsisten dalam mengimplementasikan system accounting dan procedure penyimpanan di gudang
    • Menjaga kebersihan lokasi gudang dan  seluruh area hotel sesuai dengan standard kebersihan dan kesehatan.
    • Harus selalu berhubungan dengan supervisor dalam pelaksaan kordinasi dan hubungan kerja yang lancar
    • Berhubungan dengan pemasok atau supplier dan memastikan agar tetap menjadi nama baik hotel dalam setiap perbuatan

    Baca Juga: Pengertian dan Cara Menghitung RevPar