Pengertian Disosiatif dalam Interaksi Sosial: Bentuk dan Contohnya

Pengertian disosiatif berbanding terbalik dengan asosiatif. Jika kita memahami asosiatif adalah interaksi sosial yang bisa membawa manfaat dan persatuan, maka disosiatif merupakan hubungan yang justru membawa dampak negatif berupa perpecahan.

Bagaimana bisa interaksi ini  membawa perpecahan? Apa saja bentuk dan contohnya? Untuk dapat jawaban lengkapnya, baca artikel ini sampai habis!

Pengertian Disosiatif dalam Interaksi Sosial

Manusia sangat membutuhkan interaksi dengan orang lain. Adanya interaksi ini menandakan bahwa manusia saling bergantung dan saling membutuhkan satu sama lain untuk tetap bisa bertahan hidup serta mendapatkan informasi.

Interaksi yang dilakukan manusia terbagi menjadi dua, asosiatif dan disosiatif. Masing-masing interaksi tersebut memiliki dampak berbeda, ada yang memberikan dampak positif yang kemudian disebut asosiatif, ada juga yang berdampak negatif yakni disosiatif.

Lalu, apa pengertian disosiatif? Disosiatif adalah hubungan yang mengarahkan manusia pada perpecahan dan perselisihan. Hubungan seperti ini membuat rasa persaudaraan dan rasa solidaritas antar sesama menjadi lemah sehingga bisa menyebabkan konflik.

Meski kesannya negatif, namun ini merupakan salah satu cara manusia untuk bisa bertahan hidup. Pasalnya ada sebuah teori dari para ahli yang menyatakan manusia memiliki tiga perjuangan pokok untuk mempertahankan hidupnya.

Tiga hal itu mencakup perjuangan melawan sesama, melawan alam, dan melawan makhluk lain. Dalam proses melawan tersebut, manusia mengalami yang namanya persaingan, kontravensi, dan pertentangan untuk mempertahankan hidupnya.

Hubungan ini memang bisa menghambat pertumbuhan dan perkembangan masyarakat, tapi di sisi lain ada juga manfaatnya. Pada persaingan contohnya, persaingan membuat masyarakat memiliki keinginan kuat untuk lebih unggul dari lainnya sehingga lama-lama bisa membawa kemajuan.

Namun tetap saja, jika kita tidak bisa mengontrol atau melakukannya dengan baik akan menimbulkan perselisihan bahkan perpecahan.

Bentuk-Bentuk Interaksi Disosiatif

Pengertian disosiatif ini memiliki bentuk-bentuk yang mengarah pada konflik. Semua bentuk-bentuknya jika tidak dilakukan atau selesai dengan baik, maka lama kelamaan akan menyebabkan perpecahan dan permusuhan. Apa saja bentuk-bentuknya?

1. Kompetisi atau Persaingan

Lomba Lari
Lomba Lari | Sumber: pixabay.com

Dari pengertian disosiatif menunjukkan bahwa persaingan bisa membawa dampak negatif. Kompetisi atau persaingan merupakan interaksi sosial ketika seseorang atau kelompok ingin mengalahkan pihak lain demi mendapatkan keuntungan tanpa adanya ancaman atau kekerasan.

Bentuk pengertian disosiatif ini seringkali kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saat ada perlombaan maka seluruh pesertanya pasti bersaing untuk jadi yang terbaik dan jadi juara.

Mereka berlomba-lomba untuk memaksimalkan kemampuannya dan punya keinginan untuk mengalahkan peserta lain demi mendapatkan keuntungan, berupa hadiah atau penghargaan tertentu.

Ada lagi persaingan saat mencari kerja. Para kandidat atau lulusan baru saling bersaing untuk merebutkan posisi di sebuah perusahaan demi mendapatkan pekerjaan yang layak.

Mereka memaksimalkan kemampuannya untuk ditunjukkan kepada perusahaan. Semua itu demi mendapatkan keuntungan pribadi maupun kelompok tanpa adanya kekerasan atau ancaman.

Persaingan bisa mencakup lebih luas lagi. Contohnya persaingan ekonomi, persaingan budaya, persaingan kedudukan, persaingan peran, dan lain-lain. Kompetisi bisa juga sebagai alat seleksi sosial sehingga menghasilkan sesuatu yang berkualitas, asalkan persaingannya berjalan dengan baik dan sehat.

Berbeda halnya jika persaingan berjalan secara tidak sehat, justru akan dapat menimbulkan perselisihan dan perpecahan antar sesama. 

Di antara manfaat dari persaingan adalah:

  • Menyalurkan kepentingan dan nilai-nilai dalam masyarakat, terutama kepentingan dan nilai yang menyebabkan konflik.
  • Menyeleksi individu yang cocok untuk mendapatkan kedudukan dan peran sesuai kemampuannya.
  • Menyalurkan keinginan individu atau kelompok yang menuntut untuk dipenuhi, padahal semua sulit terpenuhi secara serentak.

Sementara itu, ada juga hasil dari sebuah persaingan. Misalnya perubahan baik pada individu maupun kelompok, kemajuan, dan solidaritas.

2. Kontravensi

Kontraversi pria dan wanita
Kontraversi pria dan wanita | Sumber: pixabay.com

Kontravensi merupakan proses sosial yang letaknya di antara pertentangan dan persaingan. Jika mengingat pengertian disosiatif, kontravensi masih tergolong interaksi yang merugikan karena ada perasaan tidak suka yang tersembunyi terhadap pihak lain.

Perasaan ini bisa berupa kebencian, keraguan, iri dengki, dan lain-lain. Kontravensi ini sikap menentang yang tidak ditunjukkan secara terang-terangan alias tersembunyi supaya tidak menimbulkan perselisihan maupun konflik terbuka.

Oleh karena itu, sebenarnya kontravensi ini tidak menunjukkan tanda yang pasti. Sebab cara menunjukkannya tidak terang-terangan, melainkan terpendam sebagai  perasaan tidak suka.

Kontravensi seperti ini tentu saja sangat mudah kita temui. Misalnya ada kelompok yang tidak suka dengan kelompok lain. Perasaan tersebut terpendam dalam hati mereka alias tidak tampak secara langsung. Karena jika itu terjadi, keduanya akan rentan berselisih bahkan mengalami pertengkaran.

Ada juga bentuk dari kontravensi ini yang lebih merugikan, seperti:

  • Umum: kontravensi umum ini seperti penolakan, perlawanan, dan ancaman pihak lain.
  • Sederhana: contohnya seperti menyangkal omongan orang lain di depan umum.
  • Intensif: penyebaran hoax dan penghasutan.
  • Rahasia: seseorang membocorkan rahasia satu pihak ke pihak lain.
  • Taktis: contohnya seseorang melakukan intimidasi dan provokasi pada pihak lain yang menyebabkan perselisihan hingga perpecahan.

Interaksi seperti ini banyak terjadi di sekitar kita. Sebagai contoh ada tetangga atau teman kita yang menyebarkan berita hoax sampai menimbulkan kegaduhan. Bisa juga suatu kelompok melakukan pengancaman pada kelompok lain. Ini semua tentu saja berdampak tidak baik bagi keharmonisan lingkungan masyarakat sekitar.

3. Konflik Sosial

Konflik Sosial
Demonstrasi | Sumber: pixabay.com

Konflik juga masuk dalam pengertian disosiatif yang merugikan. Ini bisa kita sebut juga dengan pertikaian akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan antar individu maupun kelompok.

Konflik sosial ini bisa sangat merugikan masyarakat. Karena biasanya terjadi bersamaan dengan kekerasan maupun ancaman dengan pihak-pihak terkait yang saling bertentangan. Tentu saja ini sangat mengganggu interaksi sosial yang harmonis pada masyarakat, terlebih jika saling menjatuhkan.

Pertentangan ini terjadi karena ada beberapa faktor, misalnya:

  • Ada perbedaan antar individu.
  • Perbedaan kebudayaan.
  • Ada perbedaan kepentingan.
  • Perubahan sosial.

Ini semua bisa menyebabkan berbagai masalah sosial, seperti:

  • Retaknya persatuan dan kesatuan antar kelompok.
  • Adanya perubahan kepribadian.
  • Terjadinya dominasi, akomodasi, dan takluknya pihak tertentu.
  • Mengganggu keharmonisan hubungan masyarakat.
  • Terjadinya perselisihan.

4. Pertikaian

Pertikaian
Pertikaian pria dan wanita | Sumber: pixabay.com

Terakhir, ada pengertian disosiatif pertikaian. Kalau kontravensi tadi terjadi secara sembunyi-sembunyi, maka pertikaian ini terjadi secara terbuka. Dengan kata lain, perselisihan yang terjadi sudah secara terang-terangan karena perbedaan semakin tajam.

Pertikaian seperti ini bisa saja disertai ancaman atau kekerasan yang membahayakan. Bahaya dari pertikaian terang-terangan ini tidak hanya pada fisik secara langsung, tapi juga mental yang mendalam. Oleh karena itu, perlu ada penyelesaian untuk mengatasi pertikaian ini supaya tidak memakan korban.

Pertikaian ini terdiri dari dua jenis, yakni individu dan kelompok. Berikut penjelasannya:

  • Individu: pertikaian yang terjadi dalam lingkup kecil. Contohnya ada masalah personal dalam keluarga yang sampai terjadi kekerasan dan ancaman.
  • Kelompok: pertikaian yang lingkupnya cukup besar, dan bisa menyebabkan perpecahan. Biasanya terjadi karena faktor SARA, yaitu agama, budaya, ras, hingga adat istiadat yang menyebabkan konflik pada masyarakat.

Kedua jenis pertikaian tersebut tentu saja merusak keharmonisan manusia. Selain itu, bentuk pengertian disosiatif kali ini juga bisa merugikan kedua belah pihak, baik secara material maupun non material. Cara menyelesaikan pertikaian ini biasanya melalui jalur hukum ataupun mediasi.

Contoh Interaksi Disosiatif dalam Kehidupan Sehari-Hari

Ada banyak contoh dari interaksi sosial ini di sekitar kita, misalnya:

1. Melakukan Pengkhianatan

Pengkhianatan bisa menimbulkan konflik antar sesama. Ini biasa terjadi pada individu dengan individu lain maupun antar kelompok, dan semua sama-sama memberikan dampak negatif bagi keharmonisan hubungan.

2. Demonstrasi

Demonstrasi yang sering kita lihat juga termasuk bagian dari pengertian disosatif. Pasalnya demonstrasi adalah bentuk perlawanan maupun penentangan. Misalnya demo penurunan harga makanan pokok, demo penurunan presiden, dan lain-lain.

3. Penyebaran Berita Hoax

Berita palsu atau hoax sangat merugikan banyak pihak. Ini karena berita tersebut mengandung unsur fitnah yang bisa mencoreng nama baik personal maupun kelompok sehingga bisa menimbulkan perselisihan, pertengkaran, dan perpecahan.

4. Adanya Kecurangan Saat Berkompetisi

Berbuat curang saat berkompetisi juga merugikan. Kompetisi yang sehat adalah semua pihak yang terlibat menggunakan cara-cara baik sehingga hasil yang keluar lebih adil dan bijak.

5. Terjadi Bentrok dan Tawuran

Bentrok dan tawuran seringkali terjadi pada anak-anak muda. Ini tentu saja sangat mengganggu kenyamanan dan keamanan masyarakat karena tak jarang bisa menyakiti fisik bahkan menimbulkan korban jiwa.

Baca Juga : Teori Konflik Menurut Para Ahli: Jenis, Faktor Penyebab, dan Dampaknya

Sudah Mengerti Apa Pengertian Disosiatif?

Pengertian disosiatif mengarah pada tindakan merugikan masyarakat. Hubungan seperti ini jika tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan dampak negatif lebih besar bahkan bisa membahayakan keselamatan masyarakat.

Oleh karena itu. perlu adanya kesadaran diri dalam setiap individu untuk mencegah terjadinya interaksi negatif antar sesama. Contohnya dengan cara menjaga kerukunan, saling menghormati, menghargai, dan mengedepankan persatuan.

Share:

Leave a Comment

You cannot copy content of this page