Memahami Agnostik: Pengertian, Sejarah, dan 5 Cirinya

Dari sekian banyak agama yang tersebar di seluruh dunia, ada juga paham yang meragukan kehadiran Tuhan. Paham inilah bernama agnostik, di mana para pengikutnya masih meragukan keberadaan Tuhan dan hal-hal ghaib lainnya.

Menariknya, banyak orang yang seringkali menyamakan paham ini dengan atheis. Apakah benar keduanya adalah paham yang sama, ataukah berbeda? Untuk dapat penjelasan lengkapnya, simak artikel ini sampai habis.

Apa Itu Agnostik?

Definisi agnostik
Definisi agnostik | Sumber: istockphoto.com

Pernah dengar pelawak sekaligus presenter bernama Coki Pardede? Coki adalah pelawak yang tegas mengakui bahwa ia seorang agnostik. Coki mengaku bahwa ia belum cukup mendapatkan bukti empiris mengenai keberadaan Tuhan sehingga ia memilih tidak menganut agama apapun.

Setelah mendeklarasikan hal itu pada publik, banyak orang yang bertanya-tanya apa sebenarnya paham agnostisisme itu? Apakah Coki adalah seorang yang tidak percaya akan adanya Tuhan, ataukah hanya meragukan bahwa Tuhan benar-benar ada?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), paham agnostik berpandangan bahwa keberadaan Tuhan tidak bisa diketahui bahkan mungkin tidak akan pernah bisa.

Orang yang menganut paham ini berada di  antara atheisme dan theisme sehingga mereka merasa tidak tahu tentang keberadaan Tuhan. Mereka tidak bisa menetapkan dengan jelas bahwa Tuhan itu ada atau tidak seperti pemahaman penganut atheisme dan theisme.

Ada semacam pergolakan batin dalam diri mereka tentang konsep agama dan Tuhan. Setiap kali mempertanyakan tentang hal tersebut, mereka selalu merasa tidak puas dengan jawaban-jawaban agama yang ada, terlebih pada fenomena-fenomena yang terjadi dalam realitas.

Selain itu, ada juga penganutnya yang tidak percaya pada institusi agama sebagai alat pengontrol masyarakat di kehidupan sehari-hari. Karena faktor inilah mereka memilih untuk tidak menganut agama apapun termasuk agama-agama besar yang sudah tersebar di seluruh dunia.

Apakah Agnostik Sama dengan Atheis?

atheis
atheis | Sumber: istockphoto.com

Lantas, apakah penganut agnostisisme seperti Coki bisa disamakan dengan atheis? Masih banyak orang yang mengira kedua istilah ini sama, karena pengikutnya sama-sama tidak menganut agama apapun. Namun nyatanya keduanya adalah berbeda.

Penganut paham agnostisisme ini meragukan tentang keberadaan Tuhan. Dengan kata lain, bukan berarti mereka tidak percaya, hanya saja mereka belum mendapatkan kepuasan atas jawaban-jawaban agama yang ada secara empiris.

Golongan ini kerap dianggap sebagai orang-orang yang tidak tahu dan skeptis. Bagi mereka, manusia tidak mengetahui apapun selain dari pengalaman mereka sendiri.

Sementara itu, atheis sebaliknya. Penganut atheis ini tidak percaya dengan adanya Tuhan. Penganut atheisme sama sekali tidak percaya akan adanya Tuhan dan dewa sehingga ketika mereka ditanya apakah Tuhan itu ada, maka jawabannya adalah “Tidak”.

Penganut paham atheis menolak kepercayaan theisme disertai klaim. Jadi apa yang mereka percaya bertentangan dengan agama, yakni tidak percaya akan adanya Tuhan sebagai penguasa alam semesta, agama, dan  fenomena paranormal lainnya.

Mereka percaya bahwa kehidupan hanya sebatas pada dunia saja. Alam setelah kematian dan kehidupan rohani lainnya tidak terbukti kebenarannya sehingga mereka menolak paham tersebut.

Para pengikut paham ini percaya bahwa tidak ada yang bisa mengetahui secara pasti keberadaan Tuhan, karena sifat dan pengalaman manusia yang subjektif. Paham ini memiliki filosofi bahwa sifat-sifat Tuhan itu berada di luar jangkauan manusia yang sangat terbatas.

Karena keterbatasan kemampuan itulah bagi mereka tidak mungkin ada manusia yang punya pengetahuan pasti tentang keberadaan Tuhan. Alhasil, mereka memosisikan diri sebagai orang yang tidak tahu akan keberadaan Tuhan.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa agnostisisme dengan atheisme berbeda. Meskipun kedua penganutnya berujung tidak memeluk agama manapun.

Sejarah dan Filosofi Agnostik

Thomas Henry Huxley
Thomas Henry Huxley | Sumber:todayinsci.com

Istilah agnostisisme muncul pertama kali secara terbuka pada tahun 1869. Istilah tersebut dikemukakan pada pertemuan Masyarakat Metafisika di London oleh T.H Huxley, seorang ahli biologi asal Inggris yang juga pendukung teori evolusi Darwin.

Pada saat itu, Huxley menciptakan istilah tersebut untuk memberikan label kepada dirinya sendiri. Pasalnya, ia mengaku tidak tahu apa-apa tentang berbagai hal termasuk soal keberadaan Tuhan.

Nah, dari situlah kemudian ia memakai kata tersebut pada orang-orang yang sama dengannya, yakni orang-orang yang tidak tahu apakah Tuhan itu ada atau tidak. Agnostisisme bagi Huxley bukanlah semacam kredo, tetapi memiliki makna lebih luas dan abstrak sebagai metode penyelidikan skeptik berbasis bukti.

Ia juga memiliki prinsip bahwa seseorang yang percaya suatu proposisi (dalam hal ini keberadaan Tuhan) itu benar tanpa adanya bukti yang memuaskan secara logis adalah salah. Meski begitu, penerapan prinsip ini pada akhirnya mempunyai pengaruh besar terhadap makna dari istilah tersebut.

Huxley bahkan mengeluarkan argumen bahwa tak ada satupun bukti yang cukup mendukung kepercayaan tersebut. Karenanya, perlu menangguhkan penilaian tentang masalah keberadaan Tuhan.

Ciri-ciri Penganut Agnostik

Penganut agnostik
Penganut agnostik | Sumber: insuriponorogo.ac.id

Ada beberapa karakteristik dari penganut agnostik yang bisa kamu ketahui. Misalnya saja:

1. Penganutnya Sulit Percaya tentang Keberadaan Tuhan

Penganut kepercayaan ini menganggap keberadaan Tuhan itu sulit dibuktikan. Inilah yang membuat mereka memilih berada di tengah-tengah, alias tidak menolak namun tidak juga mudah percaya dengan jawaban agama tentang keberadaan Tuhan.

2. Percaya Manusia Bertanggung Jawab atas Dirinya Sendiri

Mereka juga percaya manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Dengan kata lain, apa yang manusia lakukan itu tidak ada campur tangan dari entitas Yang Maha Kuasa.

3. Lebih Fleksibel

Penganut agnostik cenderung lebih fleksibel, akan tetapi mereka tidak mudah peduli. Dengan kata lain, mereka lebih terbuka daripada atheisme yang cenderung menentang keberadaan Tuhan.

4. Lebih Mengedepankan Sains dan Logika

Sama seperti pelawak Coki Pardede, penganut kepercayaan ini lebih mengedepankan logika dan sains dalam memahami sesuatu.

Setelah mengalami kegelisahan tentang keberadaan Tuhan, mereka berusaha menemukan jawaban. Namun, dari sekian banyak jawaban pun tidak ada yang bisa memuaskan kegelisahan mereka. Sebab bagi mereka, jawaban-jawaban yang ada tidak masuk logika bahkan  menggunakan kacamata sains pun tetap sulit untuk memahaminya.

Cara pandang ini berlaku juga dalam memahami keberadaan Tuhan dan hal-hal rohani lainnya. Mereka juga percaya bahwa orang-orang tidak bisa mengakui hal-hal rohani secara pasti.

5. Sebagian Penganutnya Percaya pada Agama

Menariknya, sebagian penganut paham agnostisisme percaya pada agama. Namun jika soal keberadaan Tuhan, mereka belum benar-benar percaya. Selain itu, ada sebagian lainnya yang tidak percaya dengan ritual keagamaan.

Dari ciri-ciri tersebut, ada lagi ciri-ciri lainnya dari kepercayaan agnostik yang terbagi menjadi beberapa macam, yakni:

  • Agnostik atheisme: orang yang tidak percaya adanya Tuhan tapi juga tidak berpura-pura tahu apakah Tuhan ada atau tidak.
  • Agnostik teisme: orang yang tidak tahu di mana keberadaan Tuhan, namun mereka tetap meyakini keberadaannya.
  • Agnostisisme pragmatis: orang yang berpandangan bahwa tidak ada bukti tentang adanya Tuhan. Bagi mereka, Tuhan itu mungkin tidak peduli dengan alam semesta dan kesejahteraan penghuninya.
  • Agnostisisme kuat: mereka tidak tahu apakah Tuhan itu ada atau tidak, dan merasa orang lain juga tidak tahu akan keberadaan Tuhan.
  • Agnostisisme lemah: orang yang merasa tidak tahu apakah Tuhan ada atau tidak, tapi masih terbuka dengan kemungkinan yang akan datang.

Baca Juga : Akumulasi Adalah: Fungsi, Jenis, dan Contohnya

Sudah Paham Apa Itu Agnostik?

Istilah agnostik memang kurang familiar di telinga masyarakat Indonesia. Mengingat sebagian besar masyarakatnya adalah teisme alias memeluk suatu agama.

Namun, setelah membaca artikel ini sampai habis, kamu jadi tahu tentang kepercayaan penganut agnostisisme. Kamu juga telah mendapatkan jawaban apakah agnostisisme dan atheisme itu sama atau tidak.

Terlepas dari kepercayaan yang berbeda-beda itu, ada baiknya perlu untuk bersikap saling menghormati dan menghargai. Dari situ bisa tumbuh rasa persaudaraan dan persatuan yang bisa mempererat bangsa Indonesia.

Share:

Leave a Comment

You cannot copy content of this page