Akumulasi Adalah: Fungsi, Jenis, dan Contohnya

Jika sering menabung pada bank dan menggunakan sistem deposito, maka kamu pasti sudah tidak asing lagi dengan yang namanya akumulasi. Istilah gampangnya akumulasi adalah penambahan nilai. Namun, bagi kamu yang belum begitu memahami, tenang saja. Yuk, simak ulasan ini untuk memahaminya lebih dalam!

Pengertian Akumulasi 

Akumulasi adalah penambahan atas modal dan simpanan yang ditambahkan secara berkala, tidak dalam satu waktu tertentu. Sehingga, hasil yang kamu dapatkan pada kemudian hari akan lebih besar. 

Selain itu, Tesaurus Tematis Bahasa Indonesia Kemdikbud mendefinisikan akumulasi sebagai proses penambahan, pelebaran, perluasan nilai tertentu dalam berbagai macam konteks, salah satunya konteks ekonomi. 

Meskipun terkait dengan penambahan, tidak selalu berkaitan dengan penambahan nilai karena keuntungan saja. Melainkan juga penambahan nilai yang turun atau mengalami penyusutan. Dalam akuntansi, ini biasa kamu sebut dengan akumulasi penyusutan. 

Banyak investasi atau benda yang dapat mengalami penyusutan, seperti peralatan kantor, kendaraan bermotor, dan aset-aset lainnya. Meskipun mengalami penyusutan, kamu akan tetap mendapatkan nilai guna pemakaiannya. Sehingga kamu tidak mengalami kerugian yang cukup besar.. 

Fungsi Akumulasi 

Akumulasi memiliki fungsi penting dalam menghitung nilai investasi. Berdasarkan jurnal yang membahas anuitas tingkat bunga efektif, fungsi akumulasi adalah sebagai bunga yang akan kamu terima selama waktu tertentu dari aset atau investasi awal. 

Investasi awal tersebut kemudian akan ditambahkan dengan bunga yang akan kamu terima dalam periode waktu tertentu.

Jenis Akumulasi 

Setelah mengetahui pengertiannya, kamu tentu perlu mengetahui apa saja jenis-jenis akumulasi. Berikut beberapa di antaranya: 

1. Akumulasi Biaya 

Ilustrasi Uang
Ilustrasi Uang | Sumber Gambar: Pexels

Jenis pertama, yaitu biaya. Ini adalah metode perhitungan yang bertujuan untuk mengetahui biaya yang dikeluarkan untuk produk dan jasa. Hal tersebut bergantung dengan kebutuhan masing-masing perusahaan. Penambahan biaya terbagi menjadi 2, yaitu biaya pesanan dan proses. 

Pesanan merupakan merupakan penambahan biaya untuk setiap produk. Cara ini dapat kamu gunakan pada sektor usaha catering, mebel, bengkel, dan lain sebagainya. 

Sedangkan proses adalah penggabungan biaya produk dengan biaya terhadap suatu waktu tertentu. Akumulasi jenis ini dapat kamu terapkan pada perusahaan yang menjalankan proses produksi secara berkelanjutan, seperti rumah sakit, penerbangan, dan lainnya. 

2. Akumulasi Modal 

Ilustrasi Modal
Ilustrasi Modal | Sumber Gambar: Lifepal

Jenis kedua dari akumulasi adalah modal. Ini merupakan proses penyimpanan sebagian persen pendapatan untuk investasi dan dipergunakan pada kemudian hari. Akumulasi modal memiliki tujuan untuk meningkatkan pendapatan atau output. 

Investasi yang dilakukan pada jenis penambahan ini tidak hanya berfokus pada sektor yang spesifik, melainkan bisa kamu lakukan pada seluruh sektor perekonomian. Jenis ini mempunyai beberapa keuntungan, di antaranya adalah keuntungan sewa, bunga, royalti, dan lain sebagainya. 

Sebagai contoh, kamu sedang merintis perusahaan dan ingin mempunyai alat agar produksi dapat berjalan dalam jangka pendek terlebih dahulu. Agar bisa mendapatkannya, kamu dapat memanfaatkan jasa pinjaman melalui bank, koperasi, maupun sumber pendanaan lainnya.  

3. Akumulasi Parkir

Ilustrasi Parkir
Ilustrasi Parkir | Sumber Gambar: Pexels

Sebagaimana parkir pada umumnya yang berkaitan dengan kendaraan pada suatu area tertentu, begitu juga dengan akumulasi parkir. Penambahan parkir merupakan jumlah semua kendaraan yang terdapat dalam suatu wilayah. Karena itulah, merencanakan atau mengatur ruang parkir sesuai kebutuhan sangat diperlukan.

Agar mendapatkan data yang akurat, maka penting bagi kamu untuk melakukan survei terlebih dahulu agar dapat memastikan kendaraan yang parkir pada areal tersebut. Jenis ini bergantung pada arealnya, seperti pelataran gedung, apartemen, mall, dan lain sebagainya. 

Selain itu, besar dan kecilnya ruangan yang akan kamu gunakan untuk parkir juga sangat bergantung dengan letak lokasi parkir. 

4. Akumulasi Penyusutan 

Ilustrasi Laptop Rusak
Ilustrasi Laptop Rusak | Sumber Gambar: Eraspace

Jenis yang terakhir adalah penyusutan. Sebagaimana penjelasan singkat dalam definisi akumulasi adalah hal yang tidak hanya berkaitan dengan penambahan. Maka, jenis penyusutan ini untuk mengetahui penurunan nilai akibat pemakaian baik dalam jangka waktu pendek maupun jangka waktu panjang. 

Dalam jenis penyusutan terdapat 3 variabel yang nantinya akan kamu gunakan untuk menghitung beban penyusutan. Adapun 3 variabel tersebut adalah sebagai berikut:

  • Harga Beli 

Harga beli atau harga perolehan merupakan manfaat yang kamu peroleh dari aset yang dibeli. Harga beli ini mencakup harga barang, ongkos kirim jika menggunakan, biaya perakitan, dan lain sebagainya. 

  • Nilai Residu 

Ini merupakan perkiraan nilai yang yang tersisa apabila waktu atau umur pemakaian aset telah berakhir. Biasanya, pemilik aset akan dengan mudahnya dapat menaksir nilai residu atau juga dapat menggunakan bantuan profesional untuk mengetahui sisa nilainya.

  • Umur Ekonomis

Umur ekonomis ini berbanding terbalik dengan nilai residu. Jika nilai residu dapat kamu ketahui saat masanya habis, umur ekonomis justru diketahui saat awal pembelian. Umur ekonomis merupakan taksiran jangka waktu pemakaian suatu aset tetap.

Jadi, umur ekonomis yang ada pada aset A tentu akan berbeda dengan umur ekonomis aset B. Semakin lama umur ekonomis, biasanya barang akan memiliki nilai pembelian yang tinggi dan aset dapat kamu gunakan dalam waktu cukup lama.

Tak berhenti pada artian tersebut, penyusutan juga terbagi dalam beberapa jenis, di antaranya:

a. Depresiasi

Depresiasi merupakan cara perhitungan penyusutan yang dapat kamu gunakan dengan melakukan penjumlahan sistematis. Kemudian, kamu harus membaginya dengan lama masa pakai aset. 

Penyusutan jenis ini dapat kamu terapkan pada aset yang berbentuk fisik. Seperti laptop, komputer, printer, mesin fotokopi, mesin press, dan lain sebagainya. 

b. Deplesi 

Deplesi merupakan jenis penyusutan yang terjadi karena pengelolaan sumber daya alam yang ada. Ini merupakan penyusutan yang terjadi secara alami. 

Deplesi hanya dapat terjadi pada benda yang memiliki sifat alami, seperti tambang, perhutanan, dan lainnya. Umumnya, sumber daya alamnya bersifat tidak dapat diperbaharui dalam waktu singkat.

c. Amortisasi

Amortisasi merupakan penyusutan yang terjadi pada aset yang tidak berwujud. Sebagaimana yang kamu ketahui bahwasanya aset tidak hanya berupa aset berwujud saja melainkan juga aset tak berwujud. Contohnya seperti hak paten, merek dagang, waralaba, dan lain sebagainya. 

Cara Menghitung Akumulasi 

Terdapat beberapa cara yang dapat kamu gunakan untuk menghitung penyusutan. Berikut merupakan 3 di antaranya: 

1. Metode Garis Lurus 

Metode pertama ini dapat kamu gunakan untuk mengetahui nilai penyusutan dari aset atau aktiva yang ada. Nah, rumus menghitungnya adalah sebagai berikut:

Beban penyusutan = (harga beli/harga perolehan- nilai residu) : umur ekonomis.

Jika menggunakan cara ini, kamu perlu memastikan bahwa hasil akhir dari nilai buku haruslah berada pada angka 0. 

2. Metode Saldo Menurun 

Cara kedua menghitung akumulasi adalah menggunakan metode saldo menurun. Metode ini berlandaskan pada setiap aset yang akan mengalami penurunan seiring dengan berkurangnya umur ekonomis yang mengakibatkan penurunan fungsi juga. 

Contohnya pada penggunaan mesin giling. Awalnya, mesin akan memiliki gerigi yang kuat dan runcing. Namun, seiring waktu dan intensitas penggunaan yang tinggi, fungsinya juga ikut menurun. Sehingga tak jarang membutuhkan servis dan lainnya. 

Adapun rumus untuk melakukan perhitungan metode saldo menurun, yaitu:

D = d% x BV

D merupakan simbol dari penyusutan dengan perhitungan d% yang merupakan tingkat penyusutan dikalikan dengan harga buku sebelumnya. Lalu, dari mana d% dihasilkan? d% dihasilkan dari perhitungan berikut:

d% = 1 – n√SV/AC

Tingkat penyusutan dapat kamu peroleh dari 1 dikurangi n akar dari nilai residu dibagi dengan harga beli atau harga perolehan.

3. Metode Hasil Produksi

Terakhir, yaitu metode hasil produksi. Ini berguna untuk menghitung beban penyusutan pada setiap unit atau produk yang telah perusahaan hasilkan. Kamu dapat hitung beban dengan mengalikan biaya penyusutan. Setelah mengetahui biaya penyusutan, kamu bisa menjumlahkan beban dari tahun ke tahun secara urut.

Contoh Akumulasi

Contoh sederhana dari akumulasi adalah saat kamu belanja dan mendapat poin reward. Nah, poin tersebut dapat kamu akumulasikan atau tukar dengan produk tertentu.

Contoh lainnya adalah pemerintah yang ingin menambah produksi pangan dengan meningkatkan produksi sayuran. Maka, pemerintah melakukan investasi pada infrastruktur jalan raya. Selanjutnya, investasi alat pertanian seperti traktor.

Nah, dua investasi tersebut merupakan akumulasi modal pemerintah agar hasil produksi pertanian semakin melimpah. 

Baca Juga : Dampak Labeling pada Diri Sendiri, Makna Hingga Contohnya

Sudah Tahu Apa Itu Akumulasi?

Akumulasi tidak hanya terjadi pada perhitungan skor sepak bola saja, melainkan pada sektor ekonomi juga. Dari penjelasan tersebut dapat kita simpulkan bahwa akumulasi adalah kegiatan atau proses mengumpulkan dana maupun data untuk mendapatkan keuntungan pada kemudian hari. 

Sedikit tips jika akan melakukan perhitungannya, kamu dapat memilih metode yang kiranya sesuai dengan jenis aset yang ada. Bagaimana, kamu sudah bisa menghitung akumulasi sendiri?

Share:

Leave a Comment

You cannot copy content of this page