Teori Struktural Fungsional serta Penerapannya

Pernah mendengar teori struktural fungsional ? Pembahasan seputar sosiologi memang menjadi hal yang sangat menarik. Pasalnya, topik tersebut sangat beragam dan masih banyak hal yang perlu digali secara lebih mendalam.

Terdapat teori yang hingga sekarang masih menjadi pembahasan yaitu seputar struktural fungsional. Sebuah teori yang berkeyakinan bahwa pembentukan dunia ini bukan berdasarkan perilaku dari individu melainkan sudah ada strukturnya sendiri. Berikut pembahasan selengkapnya.

Apa Itu Teori Struktural Fungsional?

Apa itu teori struktural fungsional
Apa itu teori struktural fungsional | sumber gambar: pixabay.com

Pada dasarnya teori struktural mempunyai beberapa turunannya dan salah satunya yaitu struktural fungsional. Banyak tokoh sosiolog terus melakukan penelitian dan pembuktian mengenai teori tersebut, khususnya pada lingkup perkembangan sosial yang ada di masyarakat.

Misalnya Auguste Comte yang mempunyai teori hukum 3 tahap. Kemudian ada Herbert Spencer yang mempunyai teori Darwinisme sosial serta Emile Durkheim yang mempunyai teori fakta sosial. Ada juga Karl Marx yang mempunyai teori pertentangan kelas.

Masih ada Antonio Gramsci dengan Neo Marxis Theory serta teori hegemoni. Lalu Jeffrey Alexander serta Paul Colony dengan neo fungsional. Masih ada beberapa tokoh terkenal lainnya yang mempunyai teorinya sendiri seputar struktural fungsional tersebut.

Teori struktural fungsional merupakan teori di bidang sosiologi yang fokusnya pada peran dari struktur sosial di dalam menentukan serta mempertahankan tatanan sosial atau kohesi di dalam masyarakat. Teori tersebut berpandangan bahwa masyarakat merupakan organisme biologis dari organ-organ yang saling ketergantungan.

Organ-organ tersebut berfungsi menjaga keseimbangan serta kelangsungan hidup sistem. Selain itu, teori ini menekankan pada guna atau fungsi elemen-elemen konstituen dari masyarakat. Misalnya nilai, norma, lembaga, serta kelompok sosial.

Teori Struktural Fungsional Menurut Ahli

Berikut beberapa pandangan seputar struktural fungsional menurut keterangan para ahli.

1. Talcott Parsons

Talcott Parsons berpendapat bahwa teori ini termasuk bagian keseimbangan di dalam institusi sosial. Keseimbangan tersebut dikatakan berhasil ketika mampu menjalankan fungsinya secara baik tanpa harus memberikan perbedaan sedikit pun.

Di dalam merumuskan teorinya, Talcott Parsons menggunakan kerangka alat yang bertujuan agar orang-orang lebih mudah memahami teorinya. Untuk kerangka alat tersebut yaitu:

  • Tindakan sosial diarahkan pada tujuan atau sudah memiliki tujuan.
  • Tindakan sosial bisa terjadi karena disebabkan beberapa elemen yang memang sudah pasti ada. Lalu elemen lain hanya berperan sebagai alat di dalam mencapai tujuan yang hendak dicapai.
  • Secara normal, sebuah tindakan sosial bisa dilakukan dengan mempertimbangkan pemilihan alat serta tujuan.

Melalui kerangka tujuan dari Talcott Parsons tersebut, Anda dapat menyimpulkan bahwa seluruh tindakan sosial manusia merupakan manifestasi dari kenyataan sosial terkecil serta paling fundamental. Kemudian untuk elemen-elemen dasar terkait tindakan sosial dari Talcott Parsons yaitu kondisi, tujuan, norma, dan alat.

Lebih jauh lagi, teori struktur fungsional dari Parsons bukan sekadar lewat tindakan sosial. Namun, ia juga menjelaskan bahwa ada 4 syarat sehingga fungsional pada sistem sosial mampu berjalan secara baik, di antaranya:

  • Goal Attainment: tindakan sosial yang harus berdasarkan tujuan tertentu
  • Adaptation: sistem sosial di dalam masyarakat harus mampu menghadapi dan beradaptasi terhadap lingkungan yang transformasi aktif
  • Latent Pattern Maintenance: manusia telah berhenti berinteraksi dengan individu/kelompok lain yang bisa terjadi karena beberapa faktor. Misalnya malas, letih, maupun harus patuh pada sistem sosial yang ada
  • Integration: integritas anggota di dalam sistem sosial harus benar-benar diperhatikan. Artinya, ketika terdapat anggota masyarakat mempunyai sikap tidak toleran, akibatnya bisa dikucilkan atau dikeluarkan dari sistem sosial tersebut

2. Emile Durkheim

Seorang ahli sosiologi (1858-1817) berpandangan bahwa struktural fungsional merupakan susunan masyarakat yang berperan sebagai bagian tatanan sosial. Susunan tersebut juga mengindikasikan adanya kehidupan yang harmonis.

Adapun maksud fungsionalisme di sini yaitu fokusnya terhadap struktur sosial dengan tingkatan makro di dalam masyarakat. Emile juga menegaskan bahwa masyarakat adalah kenyataan objektif yang terdiri dari individu-individu.

Menurutnya, pembagian tugas di dalam masyarakat tradisional cenderung sangat sederhana dan tak begitu banyak. Masyarakat juga tak begitu menginginkan untuk mengetahui dunia secara lebih luas karena kehidupan yang sedang mereka jalani tak begitu variatif serta menjalankan hidupnya hanya sesuai aturan masyarakat.

Sementara itu, kehidupan masyarakat modern cenderung lebih kompleks. Ini memunculkan pembagian kerja di masyarakat lebih kompleks juga. Peran untuk setiap individu pun cenderung beragam. Misalnya perempuan bukan sekadar membersihkan rumah, melainkan juga bekerja, mengasuh serta mendidik anak, dan lain-lain.

Kondisi tersebut juga membuat kehidupan masyarakat modern cukup individualistis. Durkheim pun sangat berharap agar masyarakat modern menurunkan atau bahkan menghilangkan sifat individualismenya. 

Masyarakat modern dapat menjalankan tugasnya dengan memperoleh bantuan orang lain. Ketika mampu menyelesaikan tugas secara bersama-sama, akan muncul solidaritas sosial dan pada akhirnya kehidupan masyarakat pun menjadi lebih teratur dan harmonis.

Tokoh-tokoh Penting dalam Teori Struktural Fungsional

Selain kedua ahli di atas, masih ada beberapa ahli sosiologi lainnya yang juga mempunyai pandangan dan analogi masing-masing terkait teori tersebut.

1. Herbert Spencer

Tokoh yang mengembangkan sebuah analogi organismik serta mengajukan konsep bernama requisite functionalism. Sebuah panduan di dalam melakukan analisis fungsi pada masing-masing struktur, fitur, maupun praktik di dalam masyarakat.

2. Auguste Comte

Ia terkenal sebagai bapak sosiologi dan berjasa di dalam menghadirkan istilah analogi organismik. Analogi tersebut berperan di dalam membandingkan masyarakat terhadap organisme biologis.

3. Robert K. Merton

Seorang murid Parsons yang terkenal, yaitu Merton, memberikan kritik terhadap teori struktural fungsional. Menurut Merton, teori tersebut cenderung terlalu fokus terhadap keseimbangan maupun konsensus sosial.

Lalu ia memberikan usulan melalui konsep manifest functions serta latent functions. Kedua konsep tersebut berusaha menjelaskan seperti fungsi-fungsi yang tak disengaja maupun disengaja berdasarkan fenomena sosial. Selain itu, Merton juga membedakan struktur fungsional dan struktur sosial serta fungsi negatif dengan fungsi positif.

Baca Juga : Pengertian Teori Kebutuhan Maslow: Konsep Serta Pembagiannya

Penerapan Teori Struktural Fungsional

Penerapan teori struktural fungsional di dalam kehidupan sehari-hari
Penerapan teori struktural fungsional di dalam kehidupan sehari-hari | sumber gambar: pixabay.com

Agar lebih memahami seperti apa struktural fungsional secara lebih jelas, Anda perlu melihat bagaimana cara penerapannya. Berikut beberapa contoh penerapan teori tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.

1. Membayar Pajak

Dokumen pembayaran pajak
Dokumen pembayaran pajak | Sumber gambar: Pexels

Bagian yang tak dapat terpisahkan dari kehidupan adalah membayar pajak. Sebenarnya, pajak yang Anda keluarkan tersebut memiliki tujuan untuk kepentingan bersama. Misalnya untuk pembangunan infrastruktur maupun kebutuhan ekonomi.

Ketika Anda membayar pajak, Anda sudah berkontribusi di dalam melakukan pembiayaan terhadap pelayanan publik. Anda memiliki andil di dalam bidang keamanan, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Dengan begitu, pajak mempunyai fungsi positif untuk masyarakat dan negara.

2. Pendidikan

Kegiatan belajar mengajar di kampus
Kegiatan belajar mengajar di kampus | Sumber gambar: Pexels.com

Aktivitas yang berlangsung di jenjang sekolah juga menjadi bentuk dari pengaplikasian teori struktural fungsional. Kehadiran lembaga pendidikan, khususnya yang disediakan pemerintah membantu masyarakat untuk terus berkembang di dalam menghadapi perubahan sosial.

Seseorang yang mampu bertahan dari berbagai gempuran perubahan zaman, salah satunya harus mempunyai pendidikan tinggi. Melalui pendidikan, masyarakat bisa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.

Selain itu, pendidikan juga mampu meningkatkan nilai-nilai yang sangat berguna untuk dirinya sendiri maupun lingkungannya. Pada akhirnya, pendidikan mempunyai fungsi manifest serta latent bagi individu dan masyarakat.

3. Lowongan Kerja

Tanda lowongan kerja
Tanda lowongan kerja | Sumber gambar: Pexels

Masih tentang contoh penerapan struktural fungsional. Kali ini berkaitan dengan lowongan atau lapangan kerja. Setelah Anda selesai menyelesaikan sekolah pada jenjang tertentu, kemudian Anda masih harus masuk ke babak baru yaitu dunia kerja.

Melalui bekerja, Anda bisa memenuhi apa yang menjadi kebutuhan hidup. Anda juga bisa berpartisipasi di dalam pembangunan ekonomi. Itu artinya, pekerjaan yang Anda lakukan tersebut mempunyai fungsi negatif serta positif bagi kehidupan individu maupun masyarakat.

Baca Juga : Pengertian Asosiatif: Bentuk, Jenis, Manfaat, dan Contohnya

Sudah Paham tentang Teori Struktural Fungsional?

Jadi, kehidupan masyarakat akan selalu berkembang dan kompleks. Struktural yang baik mampu menghadirkan lingkungan masyarakat yang kondusif, humoris, serta teratur. Sebaliknya, ketika strukturnya berantakan berpotensi menjadi penyebab timbulnya konflik di masyarakat.

Share:

Leave a Comment

You cannot copy content of this page