Pidato atau berbicara di depan umum adalah sebuah kegiatan publik yang sering masyarakat kita hadiri. Seorang juru pidato sebaiknya memperhatikan adab berbicara sebelum tampil di hadapan umum. Hal ini sangat penting agar acara pidatonya dapat berjalan tanpa hambatan.
9 Adab Berbicara di Depan Umum yang Agama Islam Ajarkan
Kita tentu memiliki kebebasan dalam berpendapat, namun tetap saja ada beberapa hal yang tidak boleh kita langgar. Baik itu cara mengutarakan pendapat yang tepat maupun norma kesusilaan di masyarakat. Oleh sebab itu, bacalah 9 adab bicara di depan umum di bawah ini supaya kamu mengerti.
1. Berbicara dengan Jelas, Bukan Sekadar Keras
Mari kita mulai dari tata cara berbicara di hadapan umum yang pertama, yaitu berkata-kata yang jelas, lancar, dan tegas tanpa terbata-bata. Dalam situasi ini, kamu bisa mengikuti teladan Rasulullah SAW yang suka mengulang poin-poin penting hingga tiga kali supaya audiens mengerti.
Volume suara yang keras belum tentu dapat membuat audiens lebih tertarik untuk mendengarkan pidato kamu. Maka daripada itu, utamakan pengucapan yang jelas dan lancar serta intonasi suara yang tegas. Hal ini akan memudahkan kamu dalam menyampaikan isi pidato hingga tuntas.
2. Isi Pidato Sebaiknya Ringkas
Adab berbicara di depan umum yang kedua adalah menyampaikan pidato secara ringkas, tetapi penuh makna. Pidato yang sifatnya singkat tetapi padat akan mampu membantu audiens dalam memahami inti dari pembicaraan tersebut. Selain itu, pidato yang seperti ini juga dapat menghemat waktu.
Jika ada seorang juru pidato yang suka bicara panjang lebar, bahkan sampai keluar dari topik pembicaraannya, maka dia hanya membuang-buang waktu saja. Pidato yang panjang lebar akan membuat orang-orang yang mendengarnya merasa bosan dan susah fokus kepada topik.
3. Tatap Wajah Audiens
Selanjutnya di nomor tiga, ada adab berbicara yang tergolong penting, yaitu menatap wajah audiens kamu. Biasanya seorang juru pidato akan berusaha untuk menatap mata para pendengarnya. Apabila cara ini sulit untuk kamu lakukan, maka cukuplah kamu tatap wajah mereka.
Dengan menatap wajah dan mata para audiens, kamu menandakan bahwa kamu sebagai juru pidato sedang berkomunikasi secara langsung kepada mereka. Tidak hanya itu saja, tetapi juga kamu secara tidak langsung telah menghargai kehadiran audiens kamu di acara pidato kamu.
4. Hindari Debat Kusir
Debat kusir ialah perilaku bertengkar karena sedang membahas suatu topik tanpa menggunakan akal sehat. Mau itu benar atau salah, mau itu relevan dengan topik utama pidato atau tidak, debat kusir sangat dilarang dalam Islam.
Allah SWT tidak suka kepada debat kusir dan kepada siapapun yang melakukan debat kusir karena hal ini hanya akan mengundang dosa. Kamu bisa menemukan larangan ini pada Surah Al-Ankabut ayat 46 yang bunyinya di bawah ini:
وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
(Janganlah kalian mendebat seorang ahli kitab kecuali dengan cara yang baik)
Selain itu, ada pula hadits mengenai debat kusir yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah. Isi hadits tersebut kurang lebih seperti di bawah ini:
“Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah kecuali yang suka berdebat, kemudian beliau membaca (ayat): ’Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja.’”
5. Berpenampilan yang Rapi dan Bersih
Di nomor lima, ada adab berbicara di depan publik yang sering kita anggap remeh, yaitu mengenakan pakaian yang rapi dan bersih. Ingat, ketika kamu berpidato, kamu sedang dilihat dan dinilai oleh ratusan hingga ribuan orang, sehingga kamu tak boleh berpenampilan yang aneh-aneh.
Usahakan untuk selalu berpakaian yang formal, bersih, dan sopan setiap kali kamu hendak mengadakan kegiatan pidato di lingkungan masyarakat umum. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa Allah menyukai segala sesuatu yang bersih dan indah.
6. Jangan Menyebarkan Berita Bohong
Kegiatan pidato bertujuan untuk membagikan ilmu pengetahuan kepada khalayak luas, bukan berita bohong atau hoaks yang membodohi rakyat. Isi dari pidato kamu wajib memuat hal-hal yang benar adanya serta memiliki bukti, bukan cerita yang dibuat-buat.
Adab berbicara yang satu ini jangan sampai kamu permainkan hanya demi mendapat ketenaran semata. Bukan hanya reputasi kamu saja yang menjadi taruhannya, tetapi juga risiko mencemari diri dengan dosa. Perhatikan Surah Al-Ahzab ayat 60 berikut ini:
لَىِٕنْ لَّمْ يَنْتَهِ الْمُنٰفِقُوْنَ وَالَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ وَّالْمُرْجِفُوْنَ فِى الْمَدِيْنَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُوْنَكَ فِيْهَآ اِلَّا قَلِيْلًا
(Sungguh, jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan engkau (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak lagi menjadi tetanggamu (di Madinah) kecuali sebentar saja).
7. Terima Kritik dengan Lapang Dada
Tidak ada satu pun manusia yang seratus persen sempurna, dan itu termasuk juru pidato. Terkadang kita salah mengucapkan suatu istilah, atau kita mendadak terbata-bata saat sedang berbicara Jika sudah begini, maka audiens akan mengkritik cara kita berpidato.
Adab berbicara di hadapan umum yang ketujuh yaitu menerima kritik dengan lapang dada, tidak perlu sampai menuduh atau mengumpat. Jadikan saja kritik tersebut sebagai motivasi untuk memperbaiki diri agar kamu dapat berpidato dengan lebih baik di kemudian hari.
8. Berkata-Kata yang Sesuai dengan Topik Pidato
Pernahkah kamu mendapati seorang juru pidato yang suka banyak berbicara, sampai kemudian dia keluar dari topiknya? Hal ini sebetulnya tidak disukai oleh Rasulullah SAW karena pembicaraan yang tidak ada gunanya dapat mengundang dosa.
Adab berbicara yang selanjutnya yaitu menjaga agar pidato kamu tetap lurus pada topik dan tidak melenceng kemana-mana. Menurut hadits riwayat Tabrani, Rasulullah sempat menyampaikan peringatan terkait bahayanya berkata-kata yang panjang lebar seperti berikut ini:
“Siapapun yang banyak bicara, maka dia akan banyak keliru. Orang yang banyak keliru, maka dosanya akan berlimpah. Orang yang dosanya berlimpah, akan masuk neraka.”
9. Jaga Perdamaian di Antara Audiens
Tata cara berbicara di hadapan publik yang terakhir ialah menjaga perdamaian dan persatuan di antara para pendengarmu. Acara yang sifatnya terbuka seperti pidato sangat rentan menjadi ajang saling tuduh dan saling fitnah di masyarakat, yang lalu menimbulkan perpecahan.
Berusahalah sekuat mungkin untuk mencegah aksi fitnah dan ujaran kebencian selama kamu sedang berpidato di hadapan masyarakat. Dengan begini, kamu akan mempunyai reputasi sebagai seorang juru pidato yang cerdas, terpercaya, dan sanggup menjaga perdamaian.
Siap Menerapkan Adab Berbicara di Depan Umum?
Demikianlah artikel yang membahas mengenai tata cara melakukan pidato yang sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam. Karena pidato itu bersifat terbuka kepada seluruh masyarakat, kamu dituntut agar selalu memperhatikan norma kesusilaan demi menjaga persatuan umat.