Category: Sejarah

  • Mengupas Sistem Demokrasi Terpimpin Era Soekarno: Sejarah hingga Ciri

    Mengupas Sistem Demokrasi Terpimpin Era Soekarno: Sejarah hingga Ciri

    Mungkin sudah banyak yang lupa bahkan tidak tahu bahwa Indonesia pernah menerapkan sistem pemerintahan demokrasi terpimpin di era kepemimpinan Bung Karno. Walaupun sudah tak digunakan lagi, namun sistem ini memiliki nilai tersendiri dalam perjalanan pemerintahan Indonesia. Penasaran? Yuk, simak artikel ini!

    Apa itu Demokrasi Terpimpin?

    Masa pemerintahan Presiden Soekarno sering disebut sebagai demokrasi terpimpin. Arti masa pemerintahan tersebut adalah sebuah konsep politik yang unik dan berbeda dari demokrasi liberal. 

    Demokrasi satu ini diperkenalkan oleh Soekarno pada tahun 1959 melalui berbagai perubahan konstitusi dan sistem politik dan dapat Anda sebut sebagai demokrasi terkelola. 

    Dalam demokrasi terkelola versi Soekarno, beliau mengusulkan sistem politik yang berfokus pada konsep Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme). Konsep ini diwakili oleh PNI, PKI, dan NU. Soekarno berpendapat bahwa kekuasaan politik harus dipegang oleh negara, bukan oleh partai politik. 

    Partai-partai politik yang ada saat itu diberi peran yang lebih kecil dalam pengambilan keputusan politik. Sedangkan presiden Soekarno sebagai pemimpin tertinggi, memiliki kekuasaan yang sangat besar dalam pengambilan keputusan politik. 

    Soekarno juga menggambarkan dirinya sebagai “Pemimpin Besar Revolusi” dan mengklaim mewakili kehendak rakyat Indonesia. Beliau sering menggunakan retorika nasionalis, anti-imperialisme, dan anti-kolonialisme untuk memperkuat otoritasnya.

    Selama periode demokrasi terkelola, Soekarno juga mendorong konsep “Manipol-USDEK” (Manusia Indonesia – Politik, Ekonomi, Sosial, dan Kebudayaan). Tujuannya sendiri adalah untuk mengendalikan dan mengarahkan semua aspek kehidupan di Indonesia sesuai dengan visi politiknya. 

    Pada masa pemerintahannya, Soekarno juga mengambil langkah-langkah nasionalisasi terhadap perusahaan asing dan mengembangkan sentralisasi ekonomi. Di sisi lain, demokrasi terkelola Soekarno juga diwarnai oleh ketegangan politik dan ekonomi yang meningkat. 

    Misalnya saja konflik para elite TNI sepanjang tahun 1959 – 1962. Lalu, ada kampanye Irian Barat, kebijakan-kebijakan yang kontroversial, pemberontakan Tentara Islam Indonesia (TII), dan puncaknya adalah G 30 S/PKI.

    Konflik yang terus meningkat, baik dari internal maupun eksternal, akhirnya berujung pada situasi krisis pada tahun 1965. Hingga berakhir dengan penggulingan Soekarno pada tahun 1966.

    Sejarah Tercetusnya Demokrasi Terpimpin di Era Soekarno

    Tercetusnya demokrasi terpimpin pada era Soekarno berawal dari perkembangan politik di Indonesia pasca-kemerdekaan pada tahun 1945. Pada tahun 1950 – 1959, awalnya Indonesia mengadopsi sistem demokrasi parlementer atau liberal yang mengikuti pola politik negara-negara Barat. 

    Akan tetapi, tidak stabilnya politik pada masa demokrasi parlementer akhirnya membuat Soekarno merasakan kekecewaan yang mendalam. Beliau berpendapat bahwa sebenarnya rakyat Indonesia memiliki konsep tersendiri yang berbeda dengan konsep politik dan budaya masyarakat Barat. 

    Sangat tidak relevan menurutnya jika sistem politik dan budaya masyarakat Barat diterapkan dalam kehidupan sosial politik di Indonesia. 

    Dalam sistem parlementer, yang menjalankan roda pemerintahan sepenuhnya berada di tangan Perdana Menteri dengan para Menteri Kabinetnya. Sedangkan jabatan Kepala Negara tidak lebih sekedar simbol pemersatu bangsa saja.

    Itu artinya, posisi Soekarno berada pada posisi kepala negara yang hanya bersifat simbolik lantaran tidak memiliki otoritas politik. Berbeda dengan posisi Perdana Menteri yang menjadi titik sentral dari segala kebijakan pemerintah. 

    Selain itu, kegagalan dewan konstituante dalam menyusun UUD baru juga telah mengecewakan Presiden Soekarno. Hingga akhirnya, beliau kembali mengusulkan untuk memberlakukan UUD 1945 yang kemudian menuai pro kontra dari sejumlah pihak yang tergabung di konstituante.

    Karena reaksinya demikian, Soekarno mengadakan pemungutan suara dengan mengatasi konflik yang sedang terjadi. Lalu, hasil votingnya menunjukkan bahwa usulan untuk kembali menggunakan UUD 1945 tidak bisa segera direalisasikan. 

    Hal tersebut kemudian mendorong Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang sekaligus menandakan dimulainya sistem demokrasi terkelola. Isinya adalah sebagai berikut:

    • UUD 1950 tidak akan berlaku lagi.
    • Dimulainya pemberlakuan UUD 1945.
    • Konstituante dibubarkan.
    • Pembentukan MPRS dan DPAS.

    Ciri-Ciri Demokrasi Terpimpin Era Soekarno

    Terdapat beberapa karakteristik atau ciri-ciri yang membedakan demokrasi terkelola dari sistem politik demokrasi lainnya yang pernah diterapkan di Indonesia, yaitu:

    1. Terbentuknya DPR-GR

    Berdasarkan UUD 1945 yang kembali diberlakukan, makna “terpimpin” sendiri berarti bahwa pusat kepemimpinan negara terletak di tangan presiden selaku pemimpin besar revolusi. Akibatnya, lembaga-lembaga negara, salah satunya DPR, hanya memiliki proporsi yang kecil.

    Soekarno pun kemudian membubarkan DPR pada tahun 1960 lantaran tidak menyetujui RAPBN yang diajukan. Kemudian, dibentuklah DPR-GR atau DPR Gotong Royong melalui Penetapan Presiden Nomor 4 Tahun 1960. 

    Hal tersebut menuai banyak pro kontra. Sebab, menurut UUD 1945, terdapat aturan bahwa presiden tidak membubarkan DPR lantaran kedudukan DPR adalah kuat.

    2. Melemahnya Peranan Lembaga Legislatif

    Dalam sistem ini, peran legislatif mengalami penurunan signifikan dibandingkan dengan sistem demokrasi liberal. Lembaga negara seperti DPR, MPR, MA, DPA, dan BPK tidak lagi menjadi badan yang memegang kendali legislatif yang kuat. 

    Pengambilan keputusan politik yang penting dan kebijakan nasional ditentukan oleh presiden. Sedangkan lembaga legislatif berperan lebih sebagai forum konsultatif dan mendukung kebijakan pemerintah. 

    Meskipun DPR-GR sudah terbentuk, tapi mereka sangat kurang dalam memakai hak inisiatifnya untuk mengajukan rancangan undang-undang. 

    3. Anti Kebebasan Pers

    Dalam demokrasi terpimpin di Indonesia pada era Soekarno, salah satu karakteristik utama adalah kecenderungan untuk menekan kebebasan pers dan mengendalikan media. Pemerintahan Soekarno mengambil tindakan untuk membatasi kebebasan pers dan mengontrol informasi yang disampaikan kepada masyarakat.

    Media lebih banyak berfungsi sebagai alat untuk mendukung narasi politik pemerintah dan mempromosikan kebijakan yang diinginkan oleh pemerintah. Beberapa tindakan yang dilakukan antara lain: 

    • Pemerintah melakukan sensor terhadap berita yang dapat dianggap sebagai ancaman terhadap kekuasaan atau kebijakan pemerintah.
    • Menutup sejumlah surat kabar dan majalah seperti Harian Abad dari Masyumi dan Harian Pdoman dari PSI.

    4. Kekuasaan Politik yang Terpusat

    Demokrasi terkelola di Indonesia ditandai oleh kekuasaan politik yang terpusat di tangan presiden. Presiden Soekarno memiliki kekuasaan yang sangat besar dalam pengambilan keputusan politik dan menentukan arah kebijakan negara. 

    5. Retorika Nasionalis dan Anti-Imperialism

    Soekarno menggunakan retorika nasionalis dan anti-imperialis untuk memperkuat otoritasnya. Beliau menekankan pentingnya kedaulatan nasional dan kebebasan dari dominasi asing dalam kehidupan politik dan ekonomi Indonesia.

    6. Sentralisasi Kebijakan Politik

    Dalam demokrasi terpimpin, kebijakan politik ditetapkan secara sentralistik oleh pemerintah pusat di bawah arahan presiden. 

    Pemerintah pusat lebih berkuasa dalam menentukan arah pembangunan dan mengendalikan berbagai aspek kehidupan politik, ekonomi, dan sosial. Sedangkan kekuasaan otonomi pemerintah daerah sangat terbatas.

    7. Kurangnya Persaingan Politik yang Signifikan

    Selama diterapkannya sistem demokrasi terkelola di Indonesia, persaingan politik yang signifikan antar partai jarang terjadi. Partai politik yang ada cenderung bekerja sama dengan pemerintah dan mendukung kebijakan-kebijakan presiden.

    8. Menguatnya Peranan Militer

    Pemerintah Soekarno mengandalkan militer sebagai salah satu pilar penting dalam menjaga stabilitas politik dan melaksanakan kebijakan negara. Buktinya, sebagian besar kursi DPR-GR pada saat itu dikuasai oleh kaum militer. 

    Selama masa pemerintahan Soekarno, anggota militer atau perwira tinggi militer sering kali terlibat dalam proses pengambilan keputusan politik. Mereka juga memiliki pengaruh yang kuat dalam penetapan kebijakan negara.

    Tujuan Diterapkannya Demokrasi Terpimpin

    Diberlakukannya sistem demokrasi terkelola pada era Soekarno di Indonesia memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai, di antaranya:

    1. Mencapai Kestabilan Politik

    Salah satu tujuan utama dari demokrasi terkelola adalah mengembalikan stabilitas politik di tengah situasi politik yang tidak stabil saat menerapkan demokrasi parlementer atau liberal. Dalam konteks Indonesia pada masa itu, Soekarno berusaha menciptakan stabilitas politik yang kuat dan mengatasi perpecahan yang ada dalam masyarakat.

    Salah satu perwujudan upayanya adalah dengan menjadikan dirinya sebagai pusat dalam penyelenggaraan negara. Dengan begitu, beliau yakin bisa menggantikan sistem multipartai yang membuat politik Indonesia terpecah belah menjadi bersatu kembali lantaran kekuasaan penuh berada di tangan presiden.

    2. Menciptakan Kebijakan Nasional yang Lebih Terkoordinasi

    Melalui demokrasi terpimpin, Soekarno berusaha menciptakan kebijakan nasional yang lebih terkoordinasi dan terpadu. Presiden memiliki peran sentral dalam menentukan arah kebijakan negara. Sistem ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembangunan nasional.

    3. Meningkatkan Kekuasaan Presiden

    Pada saat masih diterapkannya sistem demokrasi parlementer, peran presiden seolah hanya sebatas sebagai kepala negara saja tanpa memiliki otoritas politik yang kuat. Otorisasi politik justru lebih besar dimiliki oleh partai-partai politik yang saat itu sangat berorientasi pada kepentingan ideologinya masing-masing.

    Jadi, dengan diberlakukannya demokrasi terkelola, Indonesia seolah mendapat ‘angin segar’ untuk kembali bersatu. Sebab, melalui sistem demokrasi ini, kekuasaan presiden akan lebih dominan dalam mengambil keputusan politik. 

    Dengan begitu, diharapkan ini dapat menciptakan kepemimpinan yang kuat, efektif, dan cepat dalam menghadapi tantangan politik dan sosial yang dihadapi oleh negara.

    Kelebihan Demokrasi Terpimpin

    Sistem ini memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dipahami untuk menggambarkan pengaruhnya terhadap perkembangan bangsa. Beberapa kelebihan dari sistem demokrasi terkelola era Soekarno adalah sebagai berikut:

    1. Terbentuknya Kabinet Kerja

    Salah satu kelebihan demokrasi terpimpin di era Soekarno adalah terbentuknya Kabinet Kerja. Tujuannya adalah untuk mengurangi pengaruh kepentingan partai politik. Terbukti dari tidak adanya ketua umum partai politik yang menjabat sebagai menteri dalam kabinet kerja agar bisa memberikan tekanan pada sifat non-partai.

    Dalam konteks ini, Kabinet Kerja di era Soekarno dipandang sebagai alat untuk membangun solidaritas politik. Serta untuk meminimalkan perselisihan antar partai dalam mengambil keputusan politik.

    Pemerintah berusaha untuk mengekang kepentingan sempit partai politik agar tidak menghambat stabilitas politik dan keberlanjutan pemerintahan. Melansir buku Sejarah Indonesia Modern: 1200 – 2004 anggota Kabinet Kerja di era Ir. Soekarno terdiri dari 9 menteri utama dengan tambahan 24 menteri muda.

    Adapun tiga program utama dari kabinet ini adalah memperbaiki kesejahteraan rakyat, meningkatkan keamanan dalam negeri, dan pembebasan Irian Barat.

    Kabinet Kerja ini pertama kali dibentuk pada 10 Juli 1959. Dalam kabinet ini, Soekarno bertindak sebagai Perdana Menteri, Djuanda sebagai Menteri I, serta J. Leimena dan Subandrio sebagai Wakil Menteri I dan II.

    2. Dibentuknya MPPR

    Musyawarah Pembantu Pimpinan Revolusi (MPPR) dibentuk oleh Soekarno berdasarkan Tappres Nomor 4/1962. Lembaga ini memiliki fungsi untuk membantu presiden dalam mengambil kebijakan khusus yang terkait dengan penyelesaian revolusi.

    Pada MPPR, barulah partai politik dapat mengambil sebagian kursi dalam pemerintahan. Sebab, anggota MPPR terdiri dari sebagian anggota MPRS, DPR-GR, dan pemimpin partai politik.

    3. Terbentuknya MPRS

    Pada masa demokrasi terpimpin, Soekarno juga membentuk MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) pada 31 Desember 1959. Fungsi dan tugas lembaga ini hanya menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang diatur berdasarkan ketetapan Presiden No.2 Tahun 1959, bukan berdasarkan UUD 1945.

    MPRS diketuai oleh Chaerul Shaleh. Dalam salah satu ketetapannya, MPRS menetapkan Ir. Soekarno sebagai Pemimpin Besar Revolusi.

    4. Dibentuknya Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS)

    Setelah membubarkan DPA melalui Dekrit Presiden, Soekarno kemudian membentuk DPAS pada 22 Juli 1959 melalui ketetapan Presiden No. 3 Tahun 1959. Tugas utama dari lembaga ini hanya sebatas memberikan pertimbangan terhadap presiden dan mengajukan usul kepada pemerintah.

    Kelemahan Demokrasi Terpimpin

    Demokrasi terkelola dinilai berhasil mengembalikan stabilitas politik di tanah air. Meskipun demikian, sistem demokrasi ini juga memiliki kelemahan dalam penerapannya, antara lain:

    1. Pengurangan Peran Legislatif

    Dalam demokrasi terkelola, peran lembaga legislatif seringkali terbatas. DPR-GR yang menggantikan MPR sebagai lembaga legislatif, menjadi lebih terkendali oleh presiden dan partai politik yang mendukung pemerintah. Hal tersebut mengurangi keberagaman pendapat dan pembahasan yang sehat dalam proses legislasi.

    2. Dominasi Militer

    Salah satu karakteristik demokrasi terpimpin di era Soekarno adalah meningkatnya peran militer dalam politik dan kebijakan negara. Namun ternyata, dominasi militer justru mengurangi kemandirian lembaga sipil dan mengganggu prinsip checks and balances yang penting dalam sistem demokrasi.

    3. Mengaburkan Sistem Kepartaian

    Pada sistem demokrasi ini, peran dan pengaruh partai seringkali ditekan atau dilarang beroperasi. Ini mendorong aktivitas politik bukan lagi untuk mempersiapkan atau mengisi jabatan politik di pemerintahan. Namun, lebih sebagai elemen penopang dari konflik-konflik yang terjadi antara lembaga kepresidenan, TNI Angkatan Darat, dan PKI.

    4. Melemahkan Hak-Hak Dasar Manusia

    Salah satu kekurangan utama demokrasi terpimpin adalah pembatasan kebebasan sipil dan politik. Kebebasan pers, kebebasan berekspresi, dan hak-hak individu seringkali dikurangi atau dibatasi guna menjaga stabilitas politik dan mengendalikan oposisi.

    Presiden bisa dengan mudah menyingkirkan siapapun yang punya keberanian untuk menentangnya atau politiknya tidak sesuai dengan kebijakan presiden. Bahkan, beberapa lawan politik diketahui telah ditetapkan sebagai tahanan negara.

    5. Ketimpangan Ekonomi

    Meskipun demokrasi terkelola memiliki tujuan untuk mewujudkan cita-cita sosialis, dalam praktiknya terdapat ketimpangan ekonomi yang signifikan. Pemerintah Soekarno terlibat dalam nasionalisasi sektor-sektor ekonomi penting. Namun, kebijakan ini tidak selalu berhasil dalam menciptakan distribusi kekayaan yang adil.

    Misalnya saja harga kebutuhan pokok mahal, inflasi mencapai ratusan persen, ekspor dan investasi mengalami penurunan drastis, dan cadangan devisa semakin menipis. Hal tersebut terjadi karena politik dalam demokrasi terpimpin dikedepankan, tapi tidak memperhatikan kondisi ekonomi.

    Dalam mengatasi ketimpangan ekonomi ini, pemerintah telah membentuk Deklarasi Ekonomi (Dekon) pada Maret 1953, namun mengalami kegagalan. Penyebabnya yang pertama adalah tidak terwujudnya IMF atau International Monetary Fund sebesar 400 juta USD.

    Selain itu, pemutusan hubungan politik dengan Malaysia dan Singapura dalam rangka kasi Dwikora juga menyebabkan munculnya masalah ekonomi yang terus-menerus. Kondisi ekonomi kemudian diperparah akibat politik konfrontasi dengan Malaysia dan beberapa negara barat.

    Pemikiran Soekarno tentang Partai Politik

    Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa, selama periode demokrasi terpimpin, Soekarno menekan pengaruh partai politik dalam lingkup pemerintahan. Mengapa bisa demikian? Agar mengetahuinya, perlu dipahami bagaimana pemikiran Soekarno mengenai partai politik di masa pemerintahannya.

    Ketika masih muda, Soekarno termasuk salah satu tokoh revolusi yang menganjurkan perlunya kehadiran parpol sebagai alat mobilisasi massa melawan kolonialisme dan imperialisme Belanda. Ideologi politiknya ini beliau realisasikan dengan membentuk Partai Nasional Indonesia (PNI) di Bandung, tepatnya pada tahun 1927.

    Namun, sistem kepartaian yang diusulkan oleh Soekarno untuk konteks Indonesia seharusnya adalah sistem satu partai. Karena demokrasi menurut Soekarno tidak boleh diterjemahkan sebagai memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk membentuk partai sebanyak-banyaknya.

    Terlebih lagi, kondisi sosial ekonomi bangsa yang baru lahir menjadi alasan mendasar mengapa partai tidak diberi ruang dalam kehidupan politik di Indonesia.

    Sudah Paham dengan Sistem Demokrasi Terpimpin?

    Itulah penjelasan mengenai sistem demokrasi terpimpin pada masa pemerintahan Ir. Soekarno. Dari uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa periode demokrasi di era Soekarno memberikan pelajaran berharga bagi perkembangan politik Indonesia. Semoga membantu!

  • Apa itu Politik Devide et Impera? Pengertian, Dampak, dan Contohnya

    Apa itu Politik Devide et Impera? Pengertian, Dampak, dan Contohnya

    Di dalam sejarah bangsa Indonesia, ada salah satu politik yang cukup terkenal yaitu politik devide et impera. Politik ini dulunya dijalankan oleh para penjajah khususnya VOC untuk mengadu domba bangsa Indonesia. Untuk lebih jelasnya, pada artikel berikut akan dibahas pengertian, dampak, hingga contoh-contohnya. 

    Pengertian Devide et Impera

    Istilah devide et impera pertama kali diperkenalkan oleh Belanda saat menjajah Indonesia. Adapun secara etimologis, politik ini memiliki makna “pecah dan berkuasa”. 

    Dengan kata lain, jenis politik ini adalah sebuah strategi untuk melakukan adu domba kekuasaan. Kekuasaan yang dimaksud bersifat internal sehingga bisa menyebabkan sebuah komunitas terpecah belah dan pelaku pun bisa mendapatkan keuntungan. 

    Dahulu, politik ini diterapkan oleh VOC Belanda selama berada di Indonesia untuk mendapatkan keuntungan dari berbagai kerajaan di Nusantara. Ada banyak sekali dampak dari penerapan politik ini untuk bangsa Indonesia saat itu dan sebagian besar adalah berdampak negatif. 

    Penerapan Politik Devide et Impera

    Ada beberapa cara yang dilakukan dalam penerapan politik ini, antara lain:

    1. Make Friends and Create Common Enemy 

    Dalam penerapan politik ini, salah satu cara yang dilakukan adalah dengan sistem make friend and create common enemy. Caranya yaitu dengan berusaha menjadi bangsa targetnya teman, kemudian menciptakan musuh secara bersamaan. 

    Hal ini memungkinkan karena saat sudah berteman, maka semua proses negosiasi dan diplomasi akan berjalan dengan mudah dan lancar. Karena kemudahannya inilah yang membuat sebuah negara lebih mudah untuk dihancurkan. 

    2. Manajemen Isu Win-win Solution

    Strategi atau upaya yang dilakukan selanjutnya yaitu dengan manajemen isu yang baik. Biasanya pelaku akan menebar kabar desas-desus atau isu tentang targetnya yang bertujuan untuk propaganda sehingga politik devide et impera berhasil.  

    3. Merekrut Pemimpin Lokal 

    Upaya ini umumnya dilakukan dengan merekrut seorang pemimpin lokal menjadi bagian dari rantai manajemen politik ini. Hal ini bertujuan untuk memberikan pengakuan yang mengatasnamakan pelaku terhadap entitas politik di suatu daerah. 

    4. Bermain Dua Sisi

    Cara yang dilakukan selanjutnya dalam penerapan politik ini adalah dengan bermain pada dua sisi. Artinya, para pelaku akan berpihak pada dua kubu yang saling bertentangan, seorang berada pada posisi netral namun sebenarnya sedang melakukan adu domba. 

    5. Mengatur Terjadinya Perang Saudara 

    Dalam menerapkan politik ini, langkah yang dilakukan adalah dengan mengatur perang saudara. Pelaku akan melakukan berbagai cara untuk bisa mengatur terjadi perang saudara dan perpecahan diantara targetnya sehingga bisa menguasainya dan mencapai tujuannya. 

    Dampak Penerapan Politik Devide et Impera

    Dalam penerapannya, politik ini memiliki beberapa dampak negatif antara lain:

    1. Memecahkan Kelompok 

    Politik devide et impera adalah sistem politik yang bertujuan untuk memecah belah suatu kelompok sehingga bisa menguasai kelompok tersebut. Jika kelompok tersebut tidak memiliki sistem pertahanan yang baik, maka tentunya akan lebih mudah untuk dipecahkan. 

    2. Kelompok Mudah Dikuasai

    Adanya perpecahan akibat dari penerapan politik ini tentu saja akan membuat sistem pertahanan pemerintahan akan semakin melemah. Apalagi jika diterapkan di masyarakat yang mudah untuk diadu domba, maka tentu saja pemerintahan tersebut akan mudah untuk dikuasai. 

    Seperti kasus yang dilakukan oleh Belanda kepada Indonesia, yang mana Belanda melakukan strategi politik ini untuk memecah belah bangsa Indonesia hingga tidak berdaya. Kondisi ini pun dimanfaatkan oleh Belanda hingga berhasil menguasai Indonesia pada masa itu. 

    3. Menghancurkan Persatuan Bangsa

    Adanya penerapan politik devide et impera ini pada dasarnya memang untuk menghancurkan persatuan bangsa. Kekuatan yang dimiliki oleh politik ini sangat kuat sehingga bangsa suatu negara dengan persatuan yang tinggi pun bisa ditaklukannya. 

    Belanda yang pada masanya menerapkan sistem ini, berhasil menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Bahkan berhasil menghancurkan keutuhan negara yang dibuktikan dengan keberhasilannya dalam menguasai hampir seluruh daerah di Indonesia. 

    4. Menimbulkan Perang Saudara

    Beberapa kasus perang saudara terjadi pada masa pemerintahan Belanda yang bahkan membuat kerajaan terpecah akibat dari perang saudara. Untuk itulah kekuatan dari politik ini memang tidak bisa diragukan lagi. 

    Akibat dari penerapan politik ini, Belanda pada masanya berhasil menaklukkan  kerajaan-kerajaan besar yang berada di wilayah Nusantara dengan memanfaatkan perang antar saudara tersebut. 

    Bahkan karena politik ini, tidak jarang ada yang meregang nyawa akibat dari saudara yang membunuh saudara lainnya karena perebutan kekuasaan.

    Contoh Politik Devide et Impera di Indonesia 

    Dalam kasusnya di Indonesia, ada beberapa contoh penerapan politik devide et impera yang dilakukan oleh Belanda. Beberapa kasus tersebut antara lain:

    1. Gerakan Daerah Istimewa Sumatera Selatan (GDISS)

    Contoh kasus yang pertama yaitu Gerakan Daerah Istimewa Sumatera Selatan (GDISS) yang dibentuk oleh Belanda untuk mendirikan Negara Sumatera Selatan dengan menggunakan semboyan “Sumatera Selatan untuk Sumatera Selatan”. 

    Pada kasus ini, pemerintah Belanda saat itu, yaitu Van Mook, menyebarkan isu separatis dan menghasut bahwa warga Palembang tidak suka dipimpin orang Jawa, Sumatera Utara, atau Sumatera Tengah. 

    Dia bahkan mengatakan jika penduduk asli tidak akan pernah menempati posisi kepemimpinan jika orang luar Palembang masih ada di sana. 

    Dikarenakan hasutan tersebut, sebagian warga Palembang pun terpancing dan menimbulkan perpecahan antara beberapa golongan masyarakat di Palembang. Keberhasilannya ini tidak luput dari iming-iming yang dijanjikan oleh Van Mook yaitu berupa kekuasaan untuk masyarakat Palembang.

    2. Kesultanan Banten

    Pada masa Kesultanan Banten, tepatnya saat pemerintahan dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa sekitar tahun 1651 sampai 1680, Banten benar-benar maju pesat di berbagai bidang seperti politik, ekonomi, hingga kebudayaan. 

    Melihat hal itu, VOC tentu saja tidak tinggal diam, dan ingin mengambil alih Kesultanan Banten. Saat terjadi sengketa saudara antara dua putra Sultan Ageng Tirtayasa, yaitu Sultan Haji dan Pangeran Purbaya, Belanda mencoba untuk memanfaatkan itu.

    Belanda pun bersekutu dengan Sultan Haji, dan kemudian menerapkan taktik adu domba. Belanda saat itu mencoba untuk mengadu domba Sultan Haji dengan Sultan Ageng Tirtayasa sehingga berhasil membuat kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa lumpuh. 

    Sultan Ageng Tirtayasa pun ditangkap Belanda. Beliau dipenjarakan hingga wafat pada 1692. Sejak saat itulah, kemunduran mulai terjadi di Kesultanan Banten karena adanya pengaruh dari Belanda.

    3. Perang Padri

    Politik devide et impera yang diterapkan oleh Belanda juga berdampak pada kaum Padri di Sumatera Barat. Seperti yang diketahui bahwa Sumatera Barat memiliki dua kubu yaitu kaum Adat (dipimpin oleh Sultan Arifin Muningsyah) dan kaum Padri. 

    Pada masanya, kedua kubu ini berselisih paham, yaitu kaum Padri berusaha memurnikan ajaran Islam dengan mengurangi segala bentuk adat istiadat yang bertentangan dengan Islam. Hal ini pun menimbulkan peperangan di antara keduanya, hingga dimenangkan oleh kaum Padri. 

    Kaum Adat tidak tinggal diam, mereka berusaha meminta bantuan pada Belanda. Belanda tentu saja memanfaatkan hal tersebut dengan menerapkan siasat adu domba agar kaum Adat terus melawan kaum Padri.

    Hingga akhirnya kedua kaum tersebut sadar dan mereka memutuskan untuk melawan Belanda pada 1833. Namun ironisnya peperangan berhasil dimenangkan Belanda dan menyebabkan banyak pemimpin kaum Padri maupun kaum Adat yang gugur.

    4. Perang Makassar 

    Saat perang Makassar, pemerintah Belanda juga menerapkan politik devide et impera atau sistem adu domba ini. Pada saat itu, pemerintah Makasar dipimpin oleh Sultan Hasanuddin yang terkenal sangat gagah, berani, dan pandai. Bahkan Kerajaan Makassar pernah mencapai kejayaannya pada masa pemerintahannya. 

    Namun, semasa kepemimpinannya, pemerintah menolak kehadiran VOC untuk melakukan monopoli perdagangan di sana. VOC pun menganggap bahwa Kerajaan Makassar sebagai ancaman dan persaingan dalam pelayaran dan perdagangan di wilayah timur. 

    Hal ini pun membuat pihak Belanda akhirnya melakukan siasat adu domba dengan cara berpura-pura melakukan hubungan yang saling menguntungkan dengan Kerajaan Makassar. 

    Namun akhirnya, politik yang diterapkan ini menciptakan pertempuran antara Sultan Hasanuddin dengan Arung Palakka yang saat itu bersekutu dengan VOC. Hal itu jugalah yang kemudian membuat Sultan Hasanuddin harus menandatangani Perjanjian Bongaya yang memaksanya tunduk pada VOC.

    5. Perang Banjar

    Perang Banjar terjadi akibat politik adu domba yang dilakukan Belanda. Pada masa pemerintahan Antasari, politik devide et impera dilakukan oleh Belanda sehingga menyebabkan lingkungan kerajaan menjadi terpecah belah dan rakyat Banjar saling bermusuhan.

    Menanggapi hal tersebut, Pangeran Antasari pun memutuskan untuk menyerang tambang batu bara di Pengaron yang dikenal dengan Perang Banjar. Hasil dari penyerangan tersebut yaitu Belanda kalah dari Pangeran Antasari di Gunung Jabuk.

    Serangan Pangeran Antasari pun semakin kuat, hingga akhirnya membuat Belanda menyerah dan mengusulkan membuat perjanjian damai. Namun niat tersebut tidak diindahkan oleh Pangeran Antasari mengingat apa yang Belanda telah lakukan dan keteguhan Pangeran Antasari yang tidak ingin berkompromi dengan penjajah manapun, termasuk Belanda.

    6. Perang Jagaraga

    Perang Jagaraga merupakan perang yang terjadi di Buleleng Bali dan menjadi salah satu perang terbesar di sana. Terjadinya perang ini akibat dari politik devide et impera atau adu domba yang dilakukan oleh pemerintah Belanda. 

    Pada masanya, pemerintah Belanda ingin menaklukan Bali, tapi dia dibuat kerepotan saat menghadapi Kerajaan Buleleng yang dipimpin oleh I Gusti Ketut Jelantik. Menanggapi masalah ini, Belanda akhirnya menemukan satu cara untuk menaklukkan Bali yaitu dengan menerapkan taktik politik ini. 

    Saat itu, Belanda menyebarkan kabar bohong di kalangan masyarakat Bali. Hal ini pun membuat masyarakat Bali menjadi terpecah belah sehingga membuat Kerajaan Buleleng lengah. 

    Memanfaatkan situasi tersebut, tepat pada 15 April 1849, saat pagi-pagi buta, Jagaraga diserang dari dua sisi yaitu depan dan belakang. Saat itu pemerintah masih fokus dengan perpecahan masyarakat sehingga belum siap untuk menghadapi situasi tersebut. 

    Hal ini pun membuat Kerajaan Bali kalah dan menyebabkan ribuan warga tewas dan ditawan oleh Belanda. Pemimpin kerajaan saat itu terpaksa memundurkan diri dan melarikan diri ke Gunung Batur. 

    Namun di perjalanan, beliau dikejar oleh pasukan Belanda hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Kematian pemimpin kerajaan ini semakin memperburuk kondisi Kerajaan Buleleng, hingga akhirnya Buleleng sepenuhnya jatuh ke tangan Belanda. 

    7. Konflik Kerajaan Mataram

    Ada cukup banyak sekali cerita Kerajaan Mataram yang pecah akibat dari politik devide et impera atau adu domba oleh pemerintah Belanda. Salah satunya cerita tersebut adalah saat konflik internal antara Kesultanan Mataram Islam. 

    Konflik antara kesultanan Islam ini melibatkan tiga tokoh penting kerajaan, yaitu Susuhunan Pakubuwana II, Pangeran Mangkubumi, dan Raden Mas Said. Saat itu, konflik terjadi karena adanya pengangkatan Pangeran Probosuyoso, anak kedua dari Amangkurat IV. Beliau yang bergelar Pakubuwana II diangkat menjadi raja baru.

    Akan tetapi, Raden Said, anak Pangeran Arya Mangkunegara atau putra sulung Amangkurat IV, meminta haknya sebagai penerus tahta Kesultanan Mataram Islam. Hal inilah yang menjadi awal mula konflik di Kesultanan Mataram Islam. 

    Ini juga semakin diperparah dengan terjadinya konflik yang dipicu oleh adanya keputusan Pakubuwana II yang ingin memindahkan ibukota kerajaan dari Kartasura ke Surakarta pada 17 Februari 1745. Permasalah ini pun semakin pelik terutama saat Raden Mas Said bekerja sama dengan Pangeran Mangkubumi untuk merebut kerajaan. 

    Adanya perebutan dan konflik tersebut berdampak kepada kesehatan Pakubuwana II yang kian melemah hingga akhirnya wafat. Pangeran Mangkubumi saat itu langsung mengambil alih kerajaan dengan langsung mengangkat diri sendiri sebagai raja baru.

    Keadaan pun semakin tidak terkendali setelah Belanda memutuskan mengangkat Raden Mas Soerjadi, yaitu putra dari Pakubuwana II, menjadi raja Mataram Islam dengan gelar Pakubuwana III. 

    Namun, Pangeran Mangkubumi menolak dengan keputusan tersebut. Mereka  memutuskan kembali melakukan serangan terhadap Belanda dan Pakubuwana III.

    VOC tentunya tidak tinggal diam, dia melakukan taktik adu domba, mereka menghasut Pakubuwana III atau Raden Mas Said agar berhati-hati dengan Pangeran Mangkubumi. 

    Raden Mas Said termakan dengan perkataan VOC sehingga taktik adu domba yang dilakukan VOC berhasil dan membuat terjadi perselisihan antara Raden Mas Said dengan Pangeran Mangkubumi pada 1752.

    Tentu saja VOC memanfaatkan situasi tersebut dengan berunding bersama Pangeran Mangkubumi dan menjanjikan setengah wilayah kekuasaan Mataram yang dipegang Pakubuwana III akan diberikan padanya.  

    Hasilnya, disepakatilah Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 yang merupakan kesepakatan antara Pakubuwana III, VOC, dan Pangeran Mangkubumi terkait sistem pembagian wilayah Kerajaan Mataram Islam.

    Adapun salah satu isi pokok dari perjanjian ini yaitu pembagian wilayah Kesultanan Mataram Islam menjadi dua yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Surakarta. Hal ini pun yang menjadi cikal bakal perpecahan Kesultanan Mataram Islam saat itu.

    8. Negara Boneka Papua

    Salah satu bukti nyata hasil dari politik devide et impera yang dilakukan oleh Belanda ini adalah keinginan Papua untuk merdeka sampai saat ini. Keinginan ini adalah salah satu akibat dari praktik adu domba yang dilakukan Belanda beberapa waktu lalu sehingga menyebabkan perpecahan di antara masyarakat Papua.

    Pada tahun 1947 hingga 1948, Belanda sengaja membagi-bagi Indonesia ke dalam beberapa kelompok kecil dengan total jumlahnya ada 6 bagian. Kelompok tersebut terdiri dari Negara Indonesia Timur yang sekarang Papua dan Negara Pasundan. Serta ada juga Negara Sumatra Selatan, Negara Sumatera Timur, Negara Madura, dan Negara Jawa Timur.

    Pembagian ini sebagai salah satu taktik Belanda untuk memecahkan persatuan bangsa Indonesia. Bahkan pada tanggal 19 Oktober 1961, Belanca secara diam-diam mendirikan negara boneka Papua sebagai akibat sampai sekarang ini Papua masih berusaha untuk menarik diri dari Indonesia.

    Contoh Politik Devide et Impera di Luar Negeri

    Tidak hanya di Indonesia, politik ini juga terjadi di beberapa negara lainnya seperti di Swedia hingga Rusia. Berikut uraiannya.

    1. Swedia

    Salah satu peristiwa berkaitan dengan politik ini adalah kasus pembakaran Al-Quran di Swedia. Kasus ini merupakan bukti nyata jika kelompok Paludan yang anti-Islam berusaha untuk memprovokasi umat Islam. 

    Di Swedia, kebebasan berpendapat sangat dijunjung tinggi. Paludan pun memanfaatkan hal ini untuk memprovokasi umat muslim di sana. Mereka membakar Al-Qur’an hingga membuat masyarakat muslim marah dan melakukan unjuk rasa hingga berakhir ricuh. 

    Aksi ini pun menimbulkan perdebatan antara beberapa kaum yang pro dan kontra akan masalah ini hingga menyebabkan perpecahan antara masyarakat di sana. Bahkan, hal ini menyebabkan munculnya masyarakat anti-Islam dan anti-imigran lainnya. 

    2. Rusia

    Negara yang merasakan akibat dari politik devide et impera selanjutnya adalah Rusia. Akibat dari politik ini, Rusia mengalami perpecahan yang tidak biasanya yang di mana presiden dan rakyatnya saling terpecah belah. 

    Presiden Boris Yeltsin diadu domba dengan rakyatnya sendiri melalui pengeboman parlemen Rusia oleh kelompok tertentu. Akibat dari pengeboman ini yaitu kematian ribuan orang sehingga menyebabkan rakyat marah dan tidak percaya lagi dengan presiden. 

    Bahkan tentara pemerintah juga dihasut untuk menembaki demonstran dan menyebabkan 18 orang terbunuh. Namun media saat ini malah menyalahkan presiden, dan menyatakan bahwa presiden telah “membunuh rakyatnya sendiri”. 

    3. Mesir

    Negara Mesir juga tidak luput dari kasus politik devide et impera. Beberapa kelompok di sana melakukan berbagai hal untuk memecahkan masyarakat. Bahkan salah satu kalimat yang di-publish untuk politik ini yaitu “Saudara kita mati untuk Mesir yang lebih baik”. 

    Hal ini tentu saja menyebabkan banyak pro kontra di kalangan masyarakat Mesir sehingga menyebabkan perpecahan di kalangan masyarakat. Akibatnya, pemerintahan menjadi tidak stabil dan melemahnya persatuan di kalangan masyarakat. 

    Sudah Tahu Politik Devide et Impera dan Contohnya?

    Politik adu domba ini termasuk sangat bahaya karena bisa merusak persatuan bangsa, bahkan bisa meruntuhkan suatu negara. Untuk itulah, sangat penting untuk bersama-sama saling menjaga persatuan agar tidak mudah terpecah belah. Semoga bermanfaat!

  • Perkembangan Revolusi Industri 1.0 Sampai 4.0 serta Dampaknya

    Perkembangan Revolusi Industri 1.0 Sampai 4.0 serta Dampaknya

    Perkembangan zaman menyebabkan berbagai perubahan dalam kehidupan. Perubahan tersebut seringkali memiliki identitas tertentu yang mana trennya dapat dipelajari dengan baik. Salah satu jenis perubahan yang sangat berdampak adalah perubahan pada industri atau yang kita kenal dengan revolusi industri. 

    Apa yang Dimaksud dengan Revolusi Industri?

    Revolusi Industri sendiri didefinisikan sebagai sebuah perubahan besar terhadap cara manusia untuk mengelola dan memproduksi sumber daya alam yang ada. Adanya revolusi ini memiliki dampak yang sangat nyata terhadap perkembangan ekonomi, budaya, sosial, hingga politik. 

    Selain itu, adanya industrial revolution ini juga sangat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara global dan menyeluruh. Umumnya, dengan adanya revolusi ini, seluruh sektor perindustrian akan mengalami kemudahan dalam sistem produksi hingga pemasarannya. 

    Karena itu, seluruh pekerjaan dapat menjadi lebih efektif, cepat dan efisien. Penggolongan industrial revolution sendiri adalah berdasarkan angka. Sampai saat ini, setidaknya telah ada 4 kali revolusi mulai dari 1.0 hingga 4.0. Semakin tinggi angkanya berarti menandakan bahwa semakin besar pula revolusi yang terjadi. 

    Mengenal Berbagai Revolusi Industri dari Masa Ke Masa

    Setelah mengetahui pengertian dari industrial revolution, selanjutnya Anda akan mengetahui berbagai macam dan karakteristik revolusi ini dari masa ke masa. Berikut adalah penjelasannya: 

    1. Industri 1.0

    Industrial revolution 1.0 merupakan revolusi yang pertama kali terjadi. Era ini terjadi saat pertengahan abad ke 18. Negara yang pertama kali mengalami revolusi ini adalah Inggris. Ada beberapa alasan mengapa Inggris menjadi negara pertama yang mengalaminya, yaitu: 

    • Kondisi politik negara Inggris cenderung stabil dari masa ke masa karena menganut sistem pemerintahan kerajaan. Sehingga, pengaruh modernisasi dapat dengan cepat masuk tanpa ada prahara politik. 
    • Sumber daya alam yang dimiliki oleh Inggris cenderung melimpah. Bukan hanya dari negaranya sendiri, Inggris yang merupakan negara penjajah memiliki sumber kekayaan alam dari berbagai negara lain.
    • Pemerintah Inggris selalu memberikan dukungan penuh terhadap perkembangan teknologi. Sehingga adanya industri 1.0 ini sangat terfasilitasi dengan baik.
    • Munculnya paham ekonomi liberal yang memfokuskan pada para pengusaha dapat mengelola sumber kekayaannya sendiri. Hal tersebut mendorong banyak pengusaha untuk upgrade seluruh sektor usaha, salah satunya melalui teknologi.
    • Banyak penemuan baru dibidang teknologi terjadi di negara Inggris. Hal tersebut terjadi karena banyak ilmuwan yang lahir dan besar di negara ini. Sehingga, mereka menciptakan teknologi pasti untuk negaranya. 

    Karena beberapa faktor yang menguntungkan tersebut, Inggris menjadi negara nomor satu yang mengalami revolusi industri 1.0. Terdapat banyak sekali kemajuan teknologi di berbagai bidang dan penemuan-penemuan baru yang memudahkan produksi serta industri. Berikut ini adalah beberapa penemuan yang berkaitan: 

    • Penemuan mesin uap oleh James Watt. Mesin uap ini menjadi satu-satunya mesin yang dapat memproduksi panas dalam skala besar. Bahan bakar mesin uap sendiri adalah batu bara yang saat itu sangat melimpah keberadaannya. 

    Lewat adanya mesin uap, penggunaan kayu bakar konvensional tidak lagi berlaku. Mulanya, mesin uap digunakan oleh industri tekstil, namun semakin lama penggunaan mesin uap makin meluas ke berbagai bidang.

    • Penemuan mesin produksi baja dan besi. Sebelum adanya industri 1.0, tenaga manusia digunakan sangat berlebih dalam industri besi dan baja. Hal tersebut menyebabkan sangat banyak jam kerja berlebih dan membuat tidak seimbangnya pola hidup masyarakat. 

    Nah, dengan adanya mesin produksi besi dan baja, proses produksi menjadi lebih efektif dan efisien. Sehingga jam kerja berlebih dapat ditekan.

    • Penemuan kereta uap merupakan revolusi 1.0 dalam bidang transportasi. Penemuan kereta uap ini sangat memudahkan masyarakat yang ingin bepergian serta memudahkan proses distribusi barang dari satu tempat ke tempat lainnya. 

    2. Industri 2.0

    Industrial revolution 2.0 terjadi tidak lama setelah revolusi 1.0. Revolusi ini terjadi pada awal abad ke 19 atau sekitar tahun 1870an. Banyak yang mengenal revolusi 2.0 sebagai revolusi teknologi, karena terdapat penemuan-penemuan yang mampu membawa perubahan besar. 

    Negara yang mengalami revolusi ini pun semakin banyak, seperti Inggris, Amerika, Perancis, Jerman, dan Jepang. Salah satu penemuan terbesar dalam revolusi ini adalah ditemukannya arus listrik AC DC yang membuat link produksi menjadi lebih efektif. 

    Lewat adanya penemuan listrik, maka seluruh proses produksi di berbagai sektor berfokus pada peningkatan efisiensi produksi. Sehingga, banyak perusahaan yang mulai memproduksi barang dalam skala besar. Namun, karena adanya listrik ini, seluruh mesin yang sebelumnya ada harus digantikan dengan yang baru. 

    Salah satu lini produksi yang sangat terlihat kemajuannya adalah produksi kendaraan pribadi hingga kendaraan perang. Ini berkaitan dengan berjalannya perang dunia kedua kala itu. 

    Sistem produksi kendaraan pun berubah dari yang membutuhkan perakitan banyak orang menjadi satu orang dengan bantuan conveyor belt. 

    3. Industri 3.0

    Revolusi industri 3.0 merupakan revolusi yang paling besar dan terjadi pada awal abad ke 20 atau sekitar tahun 1970an. Pada revolusi ini ditemukan berbagai teknologi mutakhir yang mulai menggantikan peran manusia. 

    Hal tersebut dipicu dari maraknya digitalisasi, internet, software, dan teknologi informasi lainnya. Inilah yang membuat industrial revolution 3.0 memiliki sebutan revolusi digital.

    Penggunaan perangkat lunak dalam komputer mulai banyak menggantikan peran manusia, mulai dari mesin hitung, pengiriman dokumen, pencatatan keuangan, dan lain sebagainya. Ini sangat menguntungkan karena dalam produksi banyak dibutuhkan ketelitian yang seringkali sulit jika hanya mengandalkan manusia.

    Semakin berkembangnya waktu, menyebabkan perkembangan ukuran komputer yang awalnya sangat besar menjadi semakin kecil dan tipis. Sehingga mudah dibawa kemana-mana, contohnya laptop. Selain perkembangan pada industri, perkembangan komunikasi juga sangat berlangsung pesat pada era ini.

    4. Industri 4.0

    Industrial revolution 4.0 merupakan revolusi yang sangat banyak diperbincangkan banyak pihak saat ini. Awal revolusi ini masih belum jelas kapan terjadinya. Namun, berbagai kemajuan teknologi berbasis IT dan komputer merupakan hal utama dalam era ini.

    Revolusi ini berfokus pada perkembangan teknologi lebih lanjut. Contohnya seperti internet berkecepatan tinggi atau yang kita kenal sebagai 5G, microchip, komputerisasi dalam industri, teknologi IoT, kecerdasan buatan, deep learning, dan clouds analytic. Bahkan, banyak muncul kendaraan otonom berteknologi tinggi. 

    Lihat revolusi 4.0 ini, akan ada koneksi antara manusia, mesin, dan data yang erat. Adanya revolusi ini juga menciptakan efisiensi yang luar biasa bagi perusahaan tempat produksi. Misalnya saja pengumpulan data history penggunaan mesin secara otomatis untuk menjadwalkan maintenance.

    Dampak Positif Adanya Revolusi Industri

    Adanya perubahan selalu menimbulkan dampak tersendiri bagi kehidupan, termasuk adanya industrial revolution ini. Industrial revolution tentu saja mampu memberikan banyak dampak baik. Berikut ini adalah beberapa dampak positif dari adanya industrial revolution bagi kehidupan manusia:

    1. Proses Produksi Menjadi Lebih Efektif

    Adanya industrial revolution membuat proses produksi lebih efektif dan efisien. Hal tersebut berkaitan dengan kemajuan teknologi dan otomatisasi yang terjadi. Semakin tinggi industrial revolution, maka semakin banyak penemuan mesin canggih yang dapat membantu pekerjaan manusia dalam produksi.

    Misalnya saja, pada zaman dahulu proses produksi gula masih sangat konvensional dan membutuhkan waktu berhari-hari. Namun, dengan adanya mesin evaporasi dan mesin kristalisasi membuat proses produksi gula hanya memakan waktu satu hari saja yang mana sangat efisien.

    2. Bertambah Majunya Teknologi dan Pengetahuan

    Karena revolusi industri sangat berkaitan dengan teknologi, maka secara langsung perkembangan teknologi juga akan berlangsung pesat dan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan. Baik dalam bidang industri, maupun bidang lain seperti transportasi, komunikasi, dan lain sebagainya.

    Tak hanya itu, karena adanya perkembangan teknologi ini, maka tuntutan untuk memperbarui pengetahuan semakin meningkat. Masyarakat dituntut untuk memiliki pengetahuan yang upgrade akan teknologi, sehingga secara tidak langsung ilmu pengetahuan di kalangan masyarakat akan bertambah.

    3. Akses Informasi Diakses Lebih Cepat

    Dampak industrial revolution yang sangat terasa adalah kecepatan akses informasi. Ini mulai terasa pada era revolusi digital 3.0 karena adanya penemuan internet sebagai sumber untuk mencari informasi serta sumber telekomunikasi. Sebelum adanya revolusi ini, informasi hanya dapat diakses melalui surat kabar. 

    Informasi melalui surat kabar pun tidak dapat menjangkau seluruh informasi yang ada di dunia. Namun, karena adanya internet, masyarakat dapat mendapatkan informasi dengan mudah hanya dengan mengetikkan kata kunci yang diinginkan melalui kolom pencarian. 

    Selain internet, sosial media juga memainkan peran yang sangat penting pada akses informasi yang ada. Sekarang ini, hampir seluruh orang di dunia menggunakan sosial media. Ini menyebabkan fenomena dan informasi dapat tersalurkan dalam hitungan detik saja.

    Dampak Negatif Adanya Revolusi Industri

    Meskipun memiliki banyak sekali dampak positif, nyatanya industrial revolution memiliki sejumlah dampak buruk. Lantas, apa saja pengaruh negatif revolusi ini dalam kehidupan manusia? Berikut beberapa di antaranya:

    1. Kurangnya Kebutuhan Sumber Daya Manusia

    Salah satu dampak negatif dari industrial revolution adalah berkurangnya kebutuhan sumber daya manusia dalam sektor industri. Ini terjadi karena pekerjaan yang membutuhkan peran manusia saat ini telah tergantikan dengan mesin otomatis.

    Sehingga, pekerjaan yang awalnya membutuhkan peran 3 hingga 4 orang, jadi hanya membutuhkan satu operator saja. Tentu saja, hal ini membuat tingkat pengangguran semakin meningkat. Selain itu, tuntutan untuk bersaing antar manusia juga menjadi lebih sengit dan ketat.

    2.  Ketidakstabilan Politik

    Seperti yang kita ketahui sebelumnya bahwa, adanya industrial revolution dapat membuat persebaran informasi dan komunikasi menjadi lebih cepat. Nyatanya, hal ini juga berpengaruh pada kestabilan politik dalam suatu kelompok, organisasi, bahkan negara. 

    Karena munculnya kemudahan persebaran informasi, orang akan cenderung mudah terpengaruh oleh berbagai opini yang berkembang di masyarakat yang didapat melalui sosial media ataupun internet. Oleh karena itu, banyak terdapat demonstrasi dan aksi protes warga terhadap pemerintahan

    Sudah Memahami Apa Itu Revolusi Industri dan Dampaknya?

    Sekian ulasan mengenai pengertian revolusi industri, tahapan atau macam, hingga dampaknya. Perubahan memang selalu terjadi, terlebih lagi perubahan dalam dunia industri. Setiap perubahan pasti memiliki sisi positif dan negatif, tugas kita sebagai insan manusia adalah beradaptasi dan mengambil seluruh sisi positifnya.

  • 5 Perbedaan Kolonialisme dan Imperialisme: Arti, Latar Belakang, Dampak & Contohnya

    5 Perbedaan Kolonialisme dan Imperialisme: Arti, Latar Belakang, Dampak & Contohnya

    Kolonialisme dan imperialisme memiliki hubungan satu sama lain. Namun, arti keduanya memiliki banyak perbedaan. Sayangnya, masih banyak orang yang menganggap jika kolonialisme dan juga imperialisme adalah dua hal yang sama.

    Lantas, sebenarnya apa perbedaan antara keduanya? Yuk, simak penjelasan lengkapnya tentang pengertian hingga contoh dari kedua istilah tersebut dalam artikel di bawah ini!

    Pengertian Kolonialisme dan Imperialisme

    Sebelum melangkah lebih jauh ke pembahasan lainnya, kamu tentu saja harus mengetahui pengertian dari istilah kolonialisme dan imperialisme terlebih dahulu. Dengan begitu, nantinya akan lebih mudah bagimu dalam memahami informasi lainnya. Adapun pengertian keduanya bisa kamu pahami dalam penjelasan berikut ini:

    1. Pengertian Kolonialisme

    Secara umum, kolonialisme adalah istilah yang berasal dari kata koloni. Adapun menurut bahasa Latin, kata koloni sendiri memiliki arti pemukiman. 

    Dengan kata lain, kolonialisme adalah suatu upaya yang dilakukan oleh para negara penguasa yang bertujuan untuk menguasai suatu daerah maupun wilayah tertentu, agar dapat mendapat sumber daya yang diinginkan.

    Kolonialisme cenderung dilakukan oleh negara-negara yang mempunyai kekuatan militer yang sangat kuat. Contohnya Belanda, Portugis, Spanyol, dan juga Inggris. Bisa dilihat bahwa negara-negara tersebut sudah berhasil menguasai banyak negara lain, termasuk juga Indonesia.

    2. Pengertian Imperialisme

    Imperialisme merupakan suatu istilah yang berasal dari kata imperator yang berarti memerintah. Jadi, singkatnya, imperialisme merupakan suatu sistem dalam dunia politik yang mempunyai tujuan untuk menguasai negara lain, ketika mendapatkan kekuasan ataupun keuntungan dari negara yang berhasil dikuasainya.

    Menurut sejarahnya, imperialisme sudah muncul sejak abad ke-19. Mulanya istilah ini dicetuskan oleh Benjamin Disraeli yang merupakan Perdana Menteri Inggris kala itu. Adapun makna imperialisme sendiri bisa dipahami dalam dua pembagian kategori, antara lain:

    a. Berdasarkan Waktunya

    • Imperialisme kuno sudah muncul sebelum masa revolusi industri yang terjadi di Inggris. Kemunculan imperialisme kuno sendiri termotivasi dari 3G, yakni Gold, Glory, dan juga Gospel.
    • Imperialisme modern muncul setelah terjadinya revolusi industri, di mana latar belakang kemunculannya adalah karena faktor ekonomi dan kebutuhan industri.

    b. Berdasarkan Tujuan

    • Imperialisme politik yang bertujuan untuk menguasai seluruh dunia dari kehidupan politik sebuah negara.
    • Imperialisme ekonomi yang bertujuan untuk menguasai dari segi sektor perekonomian dari negara lain.
    • Imperialisme budaya yang bertujuan untuk dapat menguasai nilai-nilai dari sebuah kebudayaan yang ada di suatu negara.
    • Imperialisme militer yang bertujuan untuk menguasai negara lain, karena dianggap mempunyai wilayah yang strategis dan juga kuat, agar dapat memperkuat sebuah pertahanan.

    Latar Belakang Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia

    Kamu pasti tahu bahwa kolonialisme dan imperialisme yang terjadi di Indonesia bukanlah tanpa alasan. Tentu saja ada peristiwa atau momen tertentu yang melatarbelakangi kehadiran dua istilah ini. 

    Apalagi keduanya sudah lama dilakukan oleh negara-negara Eropa sejak abad ke-15 di seluruh dunia. Hingga akhirnya mereka berhasil masuk ke Indonesia.

    Pada saat itu, alasan bangsa Eropa masuk ke Indonesia adalah karena jatuhnya konstantinopel di bagian Laut Tengah oleh kekuasaan Turki Usmani yang terjadi pada tahun 1453. Kemudian, merosotnya kondisi perekonomian perdagangan bangsa Eropa serta terjadinya revolusi industri.

    Revolusi industri memang berhasil membuat bangsa Eropa melakukan penjelajahan samudera di seluruh dunia demi mencari sumber daya di negara bagian lain. Selain itu, penjelajahan ini juga dibarengi dengan semangat Perang Salib. Dalam upaya itulah, bangsa Eropa mulai menyebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. 

    Sedangkan kejatuhan konstantinopel pada tahun 1453 telah membuat akses bangsa Eropa untuk mendapatkan rempah-rempah yang lebih murah di wilayah Laut Tengah menjadi tertutup. Hal inilah yang kemudian membuat harga rempah di Eropa jadi meningkat begitu tajam.

    Sehingga, mereka berinisiatif untuk menyisir area Eropa Timur demi mendapatkan negara yang memiliki rempah-rempah berlimpah. Supaya, kebutuhan rempah di negara asal mereka terpenudi. 

    Kejadian ini tentu saja dibarengi dengan ambisi untuk menguasai berbagai negara, agar bisa merenggut keuntungan ekonomi dan kejayaan politik mereka.

    Terutama di wilayah strategis dengan penghasil rempah-rempah berkualitas, seperti Indonesia. Di mana wilayah Nusantara dikenal sebagai penghasil berbagai rempah-rempah, seperti pala, cengkeh, lada, dan lain sebagainya.

    Rempah-rempah dari Indonesia inilah yang kemudian mendorong bangsa Eropa untuk melakukan penjajahan. Sebab, saat itu rempah-rempah menjadi komoditas yang sangat laris-manis di Eropa.

    Dampak Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia

    Kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia untuk menjajah sudah pasti memberikan banyak sekali perubahan pada tatanan kehidupan masyarakat. Apalagi peninggalan bangsa Eropa di tanah air juga sangat banyak. Termasuk sistem pendidikan di Indonesia.

    Menurut sejarah, perkembangan pendidikan di Indonesia sudah ada sejak bangsa Eropa masuk. Selain pendidikan, sebenarnya masih banyak pengaruh lainnya yang muncul pasca kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia. Berikut ini adalah berbagai dampak penjajahan di berbagai bidang kehidupan yang perlu diketahui:

    1. Bidang Politik

    Kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia pada masa penjajahan adalah untuk memberikan perubahan sistem politik pemerintahan. Hal inilah yang membuat sistem kerajaan di Indonesia perlahan berubah menjadi sistem pemerintahan ala Barat.

    Perubahan tersebut dapat terlihat ketika masa pemerintah Gubernur Jenderal Daendels yang membagi kekuasaan Belanda di Pulau Jawa menjadi 9 provinsi dan 30 kabupaten. Adapun kepala pemerintahan dari tiap provinsi tersebut bernama prefek. 

    Jadi, nantinya seorang bupati yang merupakan orang pribumi akan memimpin setiap kabupaten maupun regentschap. Sedangkan pada pemerintahan kabupaten, bupati akan dibantu oleh seorang patih.

    Nah, setiap wilayah kabupaten ini kemudian dibagi lagi menjadi distrik-distrik yang dipimpin oleh seorang wedana. Sementara asisten wedana atau camat akan memimpin onderdistrik yang merupakan turunan dari distrik tersebut atau yang saat ini kita kenal sebagai kecamatan.

    Setelah masa pemerintah Daendels berakhir, Pulau Jawa selanjutnya dipimpin oleh Jenderal Raffles. Kemudian, ia mengangkat residen dan wakil untuk memimpin 15 karesidenan. 

    2. Bidang Ekonomi

    Selain adanya reformasi di bidang politik pemerintahan, dampak kolonialisme dan imperialisme di Indonesia juga terlihat dari adanya perubahan pada sistem ekonomi tradisional. 

    Tanah yang awalnya milik para raja dialihkan menjadi milik pemerintahan. Hal ini tentu saja sangat sesuai dengan prinsip awal Belanda yang memang ingin mengumpulkan kekayaan.

    Pemerintah lalu menerapkan sistem pajak dan harga dari penjualan hasil bumi dari para petani yang besarannya sudah ditentukan oleh pemerintah kolonial. Dengan adanya sistem perpindahan kepemilikan tanah ini, maka pemerintah bisa dengan bebas melakukan apapun pada tanah tersebut. Termasuk menyewakannya ke pihak swasta.

    Jadi, pemerintah akan mendapatkan pajak tambahan dari hasil sewa tanah pihak swasta tersebut. Dengan begitu, maka arus kas pemerintahan bisa tetap berjalan.

    Kemudian, pada tahun 1928, sistem perbankan juga sudah mulai masuk ke Indonesia. Adapun bank pertama yang berdiri adalah De Javasche Bank yang membuat sistem ekonomi uang di masyarakat juga semakin berkembang.

    Apalagi pemerintah Belanda membangun pusat-pusat pelabuhan yang berperan penting bagi sistem perdagangan. Tak hanya itu, dari sektor perkebunan juga semakin berkembang, di mana hasil tanam petani sangat melimpah.

    Adapun untuk memudahkan proses pengangkutan hasil tanam, Belanda juga menciptakan jalur kereta api yang sekaligus mengembangkan sistem transportasi dan menghubungkan ke pelabuhan. Makanya, tak heran jika perekonomian Belanda di Indonesia berkembang dengan sangat cepat.

    3. Bidang Sosial-Budaya

    Kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia ternyata juga berpengaruh pada bidang kebudayaan, seperti dari segi arsitektur, cara berpakaian, musik, dan lain sebagainya. Namun, pengaruh bangsa Eropa ini tentu saja tidak diterima dengan begitu mudahnya oleh masyarakat.

    Hal inilah yang membuat budaya yang masuk kembali disesuaikan dengan kultur lokal. Pada akhirnya, muncul kebudayaan baru di masyarakat. 

    Dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, gaya hidup juga semakin bergeser, terutama para pribumi golongan atas. Gaya Barat ini sudah mulai mempengaruhi pola hidup masyarakat. Contohnya seperti gaya berpakaian.

    Terdapat gaya berpakaian yang menunjukkan strata masyarakat. Namun, ada juga perubahan gaya berpakaian yang dilakukan untuk kepentingan pekerjaan. Wanita pribumi mulai mengenal penggunaan dress untuk acara pesta, pakaian berenda, dan juga pakaian tidur.

    Sedangkan para pria mulai terbiasa menggunakan jas untuk acara formal maupun saat bekerja.

    4. Bidang Pendidikan

    Masuknya kolonialisme dan imperialisme ke Indonesia juga berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan di tanah air yang semakin maju. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari adanya politik balas budi atau politik etis yang dilakukan oleh bangsa Eropa. Khususnya di era pemerintahan kolonial Belanda.

    Sistem ini muncul sebagai wujud protes dari kaum liberal Belanda yang ingin mengecam pemerintahan kolonial Belanda yang dianggap sudah menindas para rakyat.

    Semenjak politik etis diterapkan di Indonesia, pendidikan tanah air telah difungsikan untuk menghasilkan tenaga kerja pemerintahan, karena hanya diperuntukkan bagi kalangan warga Belanda dan priyayi. Akan tetapi, pada akhirnya sekolah-sekolah rakyat juga turut mengalami perkembangan.

    Sekolah tersebut, yakni ELS (Europese Lagere School), STOVIA (sekolah khusus ilmu kedokteran), HBS (Hoogere Burgerlijk School), dan lainnya. Sedangkan untuk rakyat biasa, bisa bersekolah di sekolah Kelas Dua (Sekolah Ongko Loro).

    Dengan berkembangnya sistem pendidikan di kalangan pribumi, tanpa disadari juga memunculkan kesadaran nasional untuk bisa menjalankan kemerdekaan negara yang sesungguhnya. Hal inilah yang kemudian memicu munculnya golongan terdidik di kalangan pemuda. Kebanyakan aktivis pemuda tersebut berasal dari STOVIA.

    Meluasnya pendidikan di Indonesia yang dibarengi dengan munculnya golongan pemuda terpelajar, membuat semakin tersebar pula rasa nasionalisme di kalangan para pemuda. Inilah yang kemudian membuat para pemuda mengadakan Kongres Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

    Perbedaan Kolonialisme dan Imperialisme

    Kedua istilah ini memang sering digunakan secara bersamaan. Akan tetapi, sebenarnya kedua istilah tersebut mempunyai beberapa perbedaan.

    Kolonialisme merupakan proses di mana sebuah negara atau entitas mendapatkan kendali atas negara atau wilayah lain dengan cara pengambilalihan secara fisik dan juga penguasaan terhadap sumber daya alamnya. 

    Adapun hal tersebut dilakukan melalui penjajahan, di mana negara kolonial mengirimkan tentara dan warganya untuk menempati wilayah yang dikuasai sekaligus mengatur kehidupan di sana.

    Sedangkan imperialisme merupakan suatu proses ketika suatu negara atau entitas mengembangkan kekuasaan dan pengaruhnya ke wilayah lain. Umumnya, hal tersebut dilakukan melalui perdagangan, investasi, maupun intervensi militer.

    Dengan kata lain, imperialisme tidak selalu berkaitan dengan penjajahan fisik. Akan tetapi, lebih menekankan kepada pengaruh ekonomi dan juga politik suatu negara terhadap wilayah lainnya.

    Singkatnya, perbedaan kolonialisme dan imperialisme dari segi definisinya, yakni kolonialisme lebih menekankan pada penguasaan fisik atas suatu wilayah. Sedangkan imperialisme lebih menekankan pada pengaruh ekonomi dan juga politiknya.

    Adapun lima perbedaan kedua istilah ini yang dapat kamu pahami adalah sebagai berikut.

    • Target: Kolonialisme menargetkan untuk menguasai bidang perdagangan, sedangkan imperialisme lebih mengejar atau menargetkan individunya (penduduk).
    • Definisi Secara Etimologi: Kolonialisme berasal dari bahasa Latin, yakni colonus yang berarti petani. Sedangkan imperialisme bermakna memerintah dari kata imperium dalam bahasa Latin.
    • Kontrol: Kolonialisme mengontrol atas berbagai bidang negara atau wilayah jajahannya, seperti di bidang politik dan ekonomi. Sedangkan imperialisme mengelola pada bidang ekonomi atau politik, baik secara non-formal maupun formal.
    • Tujuan: Kolonialisme tujuan awalnya hendak mengeksploitasi SDM hingga SDA negara jajahannya demi kepentingan negara penjajah. Sedangkan imperialisme bertujuan untuk menciptakan kerajaan atau sistem pemerintah dengan cara memperluas daerah kekuasaannya.
    • Kedaulatan: Meskipun visinya adalah ingin tinggal selamanya dan mengalahkan negara jajahan, namun dalam kolonialisme, negara penjajah senantiasa tetap mengikuti aturan atau perintah dari negara asalnya. Sedangkan imperialisme dilakukan hanya dengan menjalankan kekuasaan atas wilayah yang berhasil dikuasai melalui mekanisme kedaulatan ataupun kontrol secara tidak langsung.

    Contoh Kolonialisme dan Imperialisme

    Setelah menyimak penjelasan di atas, tentu kurang lengkap rasanya jika kamu belum mengetahui contoh keduanya. Sebab, dengan mengetahui berbagai contoh tersebut, akan lebih mudah bagimu dalam memahami perbedaan antara kedua istilah ini. Berikut adalah berbagai contohnya yang bisa disimak.

    1. Contoh Kolonialisme

    • Bangsa Eropa, seperti Portugis, Inggris, dan Belanda yang menjajah Indonesia demi bisa menguasai hasil bumi Nusantara, yakni rempah-rempah, khususnya biji pala.
    • Belgia yang mengambil alih Kongo sejak tahun 1908 hingga 1960 dengan tujuan untuk merebut sumber daya yang mereka miliki, seperti emas, tembaga, berlian, platinum, karet, kromium, dan masih banyak lagi.
    • Penjajahan yang dilakukan oleh negara Spanyol terhadap Filipina dengan cara mengelola keuntungan ekspor hasil bumi berupa kopi dan teh.

    2. Contoh Imperialisme

    • Uni Soviet yang berhasil menguasai Eropa Timur pasca terjadinya perang dunia kedua, di mana negara komunis tersebut menyebarkan pengaruh komunisme di Eropa Timur.
    • Imperialisme Jepang terhadap Indonesia yang tidak hanya bertujuan untuk mengeksploitasi sumber daya alamnya saja. Namun, masyarakat Indonesia juga menjadi sasaran eksploitasi hingga ke tingkat pedesaan.

    Sudah Lebih Paham Tentang Kolonialisme dan Imperialisme?

    Itu dia penjelasan lengkap tentang kolonialisme dan imperialisme yang bisa disimak. Dari penjelasan di atas, semoga kini kamu sudah lebih paham tentang perbedaan dari kedua istilah ini, ya.

  • Pembagian Zaman Pra Aksara: Pengertian dan Penjelasannya

    Pembagian Zaman Pra Aksara: Pengertian dan Penjelasannya

    Ketika berkunjung ke museum sejarah, Anda akan menemukan berbagai penemuan dari zaman prasejarah. Selain menambah wawasan, peninggalan tersebut menjadi bukti nyata dari masa ke masa. Lantas, apa saja pembagian zaman pra aksara? Ini dia penjelasannya!

    Apa Itu Zaman Pra Aksara?

    Zaman ini dikenal sebagai masa sebelum manusia mengenal tulisan. Masa ini memiliki tanda tersendiri, di mana manusia lebih sering memakai batu dan logam sebagai teknologi terbarunya. Zaman prasejarah sendiri dibagi menjadi dua masa, yakni masa batu dan masa logam.

    Berdasarkan perkiraan para sejarawan, manusia yang hidup pada masa prasejarah ini adalah manusia purba. Pada zaman tersebut, manusia purba tidak mengerti sejarah dan kebudayaan tulisan. 

    Dalam catatan sejarah, Anda dapat mengetahui kehidupan manusia purba hanya bersumber dari peninggalan-peninggalan zaman dahulu. Mulai dari fosil, alat kehidupan, fosil tumbuhan hewan, dan lain sebagainya. Di mana pada saat itu, peninggalan tersebut mengalami perkembangan yang sangat pesat.

    Zaman pra aksara di Indonesia memiliki masa yang sangat lama, mulai dari sebelum manusia mengenal tulisan hingga manusia dapat menggunakan tulisan. Kemudian, ketika manusia mulai mengenal tulisan, masa itu disebut sebagai zaman aksara. 

    Menurut sejarah, Indonesia mengalami zaman prasejarah sampai abad ke 3 Masehi. Oleh sebab itu, pada abad ke 4 Masehi, manusia purba Indonesia mulai mengenal dan menggunakan tulisan. Bukti nyata dari sejarah tersebut terlihat dari batu dengan tulisan yang ada di Muara Kaman, Kalimantan Timur. 

    Walaupun prasasti tersebut tidak terurus selama beberapa tahun, namun bahasa dan bentuk hurufnya masih terlihat jelas. Berdasarkan riset yang dilakukan pemerintah, prasasti tersebut diperkirakan kurang lebih berusia 400 tahun Masehi.

    Pembagian Zaman Pra Aksara

    Pada zaman prasejarah, ada dua masa yang berkembang, antara lain zaman batu dan zaman logam. Berikut ini penjelasannya:

    1. Zaman Batu

    Zaman batu merupakan masa ketika manusia mulai membuat berbagai alat kebudayaan dengan batu sebagai bahan utamanya. Masa ini terjadi sebelum logam muncul. Pada masa ini, ada beberapa periode zaman yang terjadi, antara lain sebagai berikut:

    1. Paleolitikum 

    Periode Paleolitikum atau biasa disebut sebagai zaman batu tua adalah masa dengan perkembangan alat-alat batu dalam zaman prasejarah yang paling cepat. Sehingga alat-alat pada masa ini lebih cenderung menggunakan bahan batu.

    Berdasarkan beberapa sumber, zaman Paleolitikum sudah ada sejak 10.000 hingga 50.000 tahun sebelum Masehi. Pada masa ini, Homonim pertama kali menggunakan alat batu pada 3,3 juta tahun. Kemudian, Pleistosen menjadi manusia purba yang terakhir menggunakannya pada 11.650 tahun berlalu.

    Secara umum, zaman ini mengharuskan manusia purba untuk memakai alat-alat dari batu kasar. Kemudian mereka akan menghaluskannya untuk memotong atau berburu. Karena hidupnya lebih sederhana, manusia purba zaman Paleolitikum sangat bergantung dengan alam. 

    Ciri-ciri zaman Paleolitikum secara singkat:

    • Masih menggunakan batu yang kasar.
    • Alat-alat yang digunakan berasal dari batu kasar, mereka menggunakannya untuk bertahan hidup.
    • Berkelompok secara kecil, sehingga hidupnya lebih suka nomaden atau berpindah-pindah.
    • Memiliki ketergantungan kepada alam. Mereka akan berburu untuk mengumpulkan makanan.
    • Gua menjadi tempat tinggal dan berlindung para manusia purba.

    Manusia purba dalam zaman Paleolitikum dibagi menjadi beberapa kelompok, antara lain:

    • Pithecanthropus Erectus, yakni manusia kera yang berjalan secara tegak.
    • Meganthropus Paleojavanicus adalah manusia purba paling tua yang memiliki badan besar. Manusia purba ini berasal dari pulau Jawa.
    • Homo Erectus, jenis manusia purba yang sudah bisa berdiri dengan tegak.
    • Homo Soloensis, Homo Wajakensis, dan Homo Floresiensis.

    2. Mesolitikum 

    Mesolitikum berasal dari bahasa Yunani, yakni mesos (tengah) dan lithos (batu). Periode Mesolitikum berlangsung pada dua zaman batu. Zaman ini juga disebut sebagai masa batu Madya.

    Pada zaman Mesolitikum, manusia purba mengalami perkembangan teknologi setelah Paleolitikum. Masa ini berlangsung sebelum terjadinya zaman batu muda atau Neolitikum. 

    Zaman pra aksara ini diperkirakan berlangsung sekitar 10.000 tahun lalu, lebih tepatnya pada masa Holosen. Kehidupan zaman Mesolitikum tidak jauh berbeda dengan zaman Paleolitikum. 

    Karena pada zaman ini, manusia masih melakukan berburu untuk mengumpulkan makanan. Selain itu, mereka juga masih menetap di gua, tepi sungai, tepi pantai, dan sejenisnya.

    Akan tetapi, perkembangan kebudayaan Mesolitikum lebih cepat daripada Paleolitikum. Hal tersebut terjadi karena adanya beberapa faktor, mulai dari keadaan alam, manusia pendukung, perubahan zaman, dan lain sebagainya.

    Kondisi alam Mesolitikum lebih stabil, sehingga kehidupan manusia purbanya pun lebih tenang. Pada zaman ini, manusia purba yang hidup di Mesolitikum disebut Homo Sapien, di mana manusia jenis ini memiliki kecerdasan yang lebih dibandingkan dengan manusia pendahulunya.

    Meskipun alat-alat yang digunakan hampir mirip dengan zaman Paleolitikum, namun pada zaman Mesolitikum alatnya memiliki bentuk yang lebih halus. Antara lain seperti alat dari tulang, flakes, kapak genggam, dan lain sebagainya. Manusia purba zaman Mesolitikum diperkirakan sudah bisa membuat gerabah dari tanah liat.

    Pada masa ini, manusia memiliki kehidupan secara semi sedenter. Di mana mereka akan tinggal di dalam gua dan tebing pantai. Dalam area tempat tersebut, ada juga penemuan tumpukan sampah dapur.

    Zaman Mesolitikum adalah zaman peralihan antara dua kebudayaan, yakni batu tua dan batu modern. Masa ini memiliki beberapa ciri, antara lain sebagai berikut:

    • Manusia purba sudah mulai menetap, mereka akan tinggal di beberapa area gua, pinggir pantai, dan sungai.
    • Mempunyai keahlian dalam bercocok tanam, namun teknik yang digunakan masih sederhana.
    • Sudah mengerti kerajinan, salah satunya membuat gerabah berbahan tanah liat.
    • Menyambung hidup dengan sistem pengumpulan makanan.
    • Ada penemuan tumpukan sampah dapur, fosil kulit kerang, dan siput dengan tinggi kurang lebih 7 meter membentuk bukit.
    • Peralatan yang digunakan memiliki tekstur yang lebih halus dari alat zaman Paleolitikum.
    • Beberapa alat kebudayaan di zaman Mesolitikum, antara lain batu giling, kapak pendek, kapak genggam, alat serpih, dan bone culture.
    • Ditemukan peninggalan lukisan yang ada pada dinding gua. Lukisan tersebut dipercaya menjadi bagian ritual agama, keperluan ilmu dukun, dan alat untuk memperingati peristiwa penting pada zamannya.

    3. Neolitikum 

    Neolitikum sering disebut sebagai masa jaya batu muda dalam sejarah manusia. Hal tersebut karena pada zaman Neolitikum, manusia sudah mengenal teknologi dan kemajuan kebudayaan yang pesat.

    Inilah mengapa pada masa ini manusia sudah bisa mengolah dan mengasah batu. Bahkan, manusia sudah mulai mengembangkan pertanian dan peternakan. Tentunya masih menggunakan cara sederhana. Pada zaman ini, manusia juga sudah mulai menetap.

    Manusia di zaman ini juga sudah menguasai teknik pengolahan tanah liat, tembikar, dan alat penyimpanan lainnya. Memiliki gaya hidup dan aktivitas beragam, membuat perubahan sifat yang sangat signifikan. Dengan demikian, manusia dituntut bekerja sama untuk membentuk sistem sosial.

    Secara umum, Neolitikum didefinisikan sebagai zaman batu terakhir sebelum manusia masuk ke masa perundagian atau perunggu. Memiliki pola dan konsep kehidupan yang berbeda, membuat manusia Neolitikum lebih canggih dibandingkan dengan zaman Paleolitikum dan Mesolitikum.

    Disebut canggih karena manusia purba pada masa ini memiliki tempat tinggal. sistem pertanian, peternakan, dan struktur sosial hirarki yang jelas. Pada zaman Neolitikum, manusia sudah mampu membuat pakaian, perhiasan, dan gerabah.

    Ada beberapa peninggalan kebudayaan manusia purba zaman Neolitikum. Antara lain seperti anyaman, kapak persegi, perhiasan, perkapalan, kepercayaan kuno, pakaian, gerabah, kapak lonjong, mata panah, dan perdagangan.

    Sama seperti zaman sebelumnya, Neolitikum juga memiliki ciri khas tersendiri. Nah, berikut ini penjelasan tentang ciri-ciri zaman Neolitikum:

    • Sudah menemukan tempat tinggal yang permanen.
    • Tidak melakukan meramu dan berburu, namun  mulai memproduksi makanan sendiri.
    • Bercocok tanam dan memelihara ternak untuk dijadikan sebagai sarana produksi makanan.
    • Masih melakukan perburuan hewan liar.
    • Dapat membuat pakaian dengan bahan kulit kayu dan kulit hewan.
    • Ada kasta dan sistem tetua di dalamnya.
    • Terbentuknya sistem kepercayaan animisme dan dinamisme.
    • Peralatan memiliki proses pengolahan yang baik, yakni memiliki tekstur halus dan tajam.
    • Mulai munculnya perhiasan dan kerajinan berbahan batu, tanah, liat, serta sampah kerang.

    4. Megalitikum 

    Secara singkat, Megalitikum merujuk pada zaman batu besar. Hal tersebut mengacu pada berbagai benda yang terbuat dari batu di keseharian. Lewat ukuran yang besar, peninggalan tersebut ada pada zaman pra aksara Megalitikum.

    Zaman ini termasuk bagian dari zaman batu, lebih tepatnya masa terakhir dari era batu. Baru setelah zaman batu berakhir, secara perlahan zaman perunggu mulai mendominasi.

    Dalam proses berkembangnya zaman Megalitikum, manusia mulai menemukan perunggu. Pada saat bersamaan, perunggu digunakan untuk menjadi alat-alat penunjang hidup. Oleh sebab itu, zaman ini diperkirakan menjadi masa pertama kali manusia mempelajari teknik penambangan mineral dari tanah.

    Walaupun kehidupannya lebih canggih, namun manusia di masa itu tidak serta merta meninggalkan peralatan batu. Sehingga manusia masih menggunakan beberapa alat dari batu, kemudian bertransisi ke perunggu.

    Megalitikum terjadi dari 1.000 sampai 3.500 sebelum masehi. Meskipun sudah lama berlangsung, namun jejak masyarakat zaman ini masih bisa ditemukan. Karena ada beberapa benda peninggalannya.

    Ada banyak peninggalan zaman Megalitikum yang sudah tersebar luas di seluruh dunia. Di mana peninggalan tersebut menjadi bukti nyata bagaimana proses manusia dari masa ke masa. Bahkan peninggalan tersebut ada yang menjadi cikal bakal benda modern.

    2. Zaman Logam

    Disebut sebagai zaman perundagian, pada masa ini manusia sudah mulai mengenal teknologi yang lebih canggih. Bahkan mereka sudah bisa membuat alat dari logam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Zaman logam terbagi menjadi 3 periode, antara lain sebagai berikut:

    1. Periode Tembaga

    Masa tembaga menjadi awal periode manusia untuk mengenal logam. Tembaga dipakai untuk menjadi bahan dasar pembuatan alat. Perkiraan tentang zaman ini, Indonesia tidak terpengaruh oleh masa tembaga. Ini karena Indonesia belum ada penemuan yang berkaitan dengan peninggalan sejarah zaman tembaga.

    2. Periode Perunggu

    Kemunculan periode ini ditandai dengan manusia yang mulai menciptakan alat berbahan dasar perunggu. Adapun beberapa peninggalan zaman pra aksara perunggu di Indonesia, antara lain sebagai berikut: 

    • Candrasa adalah senjata yang ditemukan pada wilayah Bandung. Peninggalan ini diperkirakan menjadi salah satu benda untuk melakukan upacara khusus pada zamannya.
    • Kapak Corong atau sering disebut sebagai kapak sepatu, yakni sejenis alat berbentuk corong. Alat ini ditemukan di beberapa wilayah Indonesia, antara lain Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Bali.
    • Nekara adalah genderang besar yang memiliki bentuk dandang terbalik. Alat ini kerap kali dipakai untuk ritual penting, terutama sebagai pengiring ritual kematian, genderang perang, dan upacara meminta hujan. 

    Nekara ditemukan pada beberapa daerah, seperti Jawa, Bali, Sumatera, Pulau Roti, Kepulauan Kei, Selayar, dan Sumbawa. Di Bali, ada nekara terbesar yang memiliki julukan Nekara The Moon of Pejeng.

    • Moko, yakni sejenis nekara, namun memiliki ukuran yang lebih kecil. Moko memiliki fungsi sebagai alat pusaka untuk kepala suku. Benda ini akan diwariskan secara turun temurun kepada anak laki-laki keturunan kepala suku. 

    Selain itu, pada masa perunggu, Moko juga sering menjadi mas kawin. Alat ini dapat ditemukan pada wilayah Pulau Flores dan Pulau Alor.

    • Bejana Perunggu berbentuk periuk dengan badan yang langsing dan datar. Di Indonesia, bejana perunggu sering ditemukan pada daerah Sumatera dan Madura. Bejana Perunggu identik dengan hiasan yang terlihat indah.
    • Arca perunggu yang ditemukan memiliki bentuk manusia dan hewan. Secara umum, ukurannya kecil dan memiliki cincin di bagian atasnya. 

    Cincin tersebut digunakan untuk menggantungkan arca perunggu, sehingga dapat diubah menjadi liontin. Peninggalan arca ini ditemukan pada wilayah Palembang, Limbangan, dan Bangkinang.

    Dari beberapa peninggalan tersebut, salah satu benda yang paling terkenal adalah kapak corong. Bukan hanya alat-alat saja, pada zaman perunggu juga ditemukan perhiasan, contohnya seperti manik-manik, anting, cincin, dan kalung.

    3. Periode Besi

    Setelah periode perunggu berakhir, mulai bermunculan manusia yang mampu membuat peralatan dari bahan besi. Sehingga zaman bertransisi menjadi periode besi.

    Para manusia purba tersebut melakukan peleburan biji besi dan menuangkannya ke dalam cetakan yang tersedia. Hasil peninggalan dari periode ini telah ditemukan. Mulai dari mata sabit, cangkul, mata pisau, mata kapak, mata pedang, dan lain sebagainya.

    Penggunaan mata kapak berfungsi untuk membelah kayu, kemudian alat mata sabit sering dipakai untuk menyambit tumbuhan. Berbagai alat besi itu ditemukan sekitar wilayah Besuki, Punung, Gunung Kidul Yogyakarta, dan Bogor.

    Peninggalan Zaman Pra Aksara di Indonesia

    Ada banyak peninggalan dari zaman prasejarah yang ditemukan di Indonesia. Apa sajakah itu? Berikut ini daftar peninggalan dan penjelasannya:

    1. Menhir

    Menhir adalah sebuah benda prasejarah yang memiliki kaitan dengan kepercayaan kuno yang dianut oleh manusia purba pada zaman dahulu. Peninggalan ini memiliki bentuk tugu atau tiang yang terbuat dari batu, di mana berdiri secara tegak pada atas tanah. 

    Konon katanya, pembuatan Menhir bertujuan sebagai sarana untuk menyembah arwah nenek moyak. Menhir ditemukan pada dataran tinggi. Contohnya seperti pegunungan Palembang, Flores, Bengkulu, Rembang, Gunung Kidul, dan Sungai Talang Koto.

    2. Perhiasan

    Selain prasasti berbentuk perkakas, ada juga peninggalan benda zaman pra aksara yang berbentuk perhiasan. Benda cantik ini sudah dikenal sejak zaman dahulu kala, bahkan sering digunakan oleh manusia purba di Indonesia.

    Terbukti dari banyaknya penemuan jenis perhiasan, contohnya seperti perhiasan berupa kalung dan gelang. Pada zaman prasejarah, perhiasan dibuat dengan menggunakan batu indah, seperti jaspis, agate, dan chalcedony. Penemuan perhiasan banyak muncul di wilayah Sumatera, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Bali.

    3. Kapak Genggam

    Pada masa prasejarah, kapak genggam memiliki bahan dasar batu. Peninggalan ini ditemukan oleh Ralph Von Koenigswald pada tahun 1935 lokasinya di Punung, Pacitan.

    Diperkirakan kapak genggam tersebut adalah prasasti milik manusia zaman Paleolitikum. Mereka menggunakan kapak genggam untuk menjadi alat penetak, yakni metode untuk membelah kayu, memotong daging, menggali umbi, dan lain sebagainya.

    4. Pipisan

    Pipisan merupakan peninggalan zaman pra aksara yang berupa batu-batu penggiling dan landasannya. Jika pada zaman sekarang, pipisan itu sejenis ulekan. Ini karena keduanya sama-sama berguna untuk menghancurkan biji-bijian. Namun, pipisan memiliki bentuk yang lebih datar dan bertekstur halus.

    Selain berfungsi sebagai penggiling makanan, pipisan juga dapat digunakan untuk menghaluskan cat merah. Oleh karena itu, pipisan menjadi salah satu alat yang berkaitan dengan ritual dan kepercayaan. Penemuan pipisan ada di Medan dan Aceh.

    5. Kapak Sumatera

    Kapak Sumatera juga sering dijuluki sebagai pebble. Melihat namanya, alat ini memang banyak ditemukan pada daerah Sumatera. Terutama di wilayah Pantai Timur Pulau Sumatera, yakni Medan dan Langsa.

    Tidak berbeda dari Kapak Genggam, Kapak Sumatera memiliki bahan dasar batu. Namun, yang membedakannya adalah Kapak Sumatera terbuat dari pecahan batu kali, sehingga memiliki bentuk bulat dan permukaannya lebih halus.

    Pebble diperkirakan sebagai hasil peninggalan kebudayaan dari zaman prasejarah Mesolitikum. Ini karena saat itu manusia sudah mulai hidup menetap, meskipun terkadang masih semi nomaden.

    Sudah Paham Tentang Zaman Pra Aksara?

    Lewat penjelasan tentang zaman pra aksara di atas, maka akan membantu Anda dalam mengetahui sejarah manusia zaman dahulu. Semoga pembahasan di atas membuat Anda memiliki wawasan yang lebih luas.

  • Prasasti Yupa: Isi, Fungsi, Makna, dan Lokasi Penemuan

    Prasasti Yupa: Isi, Fungsi, Makna, dan Lokasi Penemuan

    Berakhirnya zaman praaksara adalah ketika masyarakat yang ada pada suatu wilayah sudah mengenal tulisan. Indonesia sendiri telah mengakhiri masa praaksaranya sekitar abad ke-4 hingga abad ke-5 Masehi. Hal tersebut terbukti dengan adanya penemuan Prasasti Yupa. Yuk, kenali lebih dalam!

    Mengenal Prasasti Yupa

    Prasasti Yupa merupakan peninggalan sejarah dari Kerajaan Kutai. Yupa sendiri menjadi sumber sejarah dari keberadaan kerajaan Hindu – Budha tertua Indonesia. Prasasti ini juga merupakan istilah untuk sebutan dari pahatan prasasti dalam tiang yang terbuat dari batu atau tugu.

    Bukti arkeologis sendiri menunjukkan bahwa kerajaan tertua Indonesia berada pada wilayah Kalimantan Timur. Hal tersebut terbukti dari penemuan 7 buah prasasti yang bertujuan untuk menghormati jasa-jasa para raja yang tersohor pada kala itu. 

    Pada tahun 1879, ditemukan 4 buah prasasti ini di Bukit Brubus, Muara Kaman, Kalimantan Timur. Lalu, pada tahun 1940, berhasil ditemukan 3 buah prasasti serupa di situs yang sama. Namun, baru 4 prasasti yang berhasil terbaca dan diterjemahkan. 

    Ketujuh prasasati tersebut menggunakan aksara Pallawa Pranagari yang merupakan huruf bahasa Sansekerta. Prasasti yang tertulis dalam bentuk puisi anustub ini kemungkinan berasal dari Abad ke-5 Masehi.

    Pembuatan prasasti ini oleh kaum Brahmana adalah sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa dari raja Mulawarman pada masa kerajaan Kutai. Ini terbukti dari isi prasasti yang menyebutkan bahwa Sang Aswawarman yang merupakan anak dari Maharaja Kudungga ini layaknya seperti Dewa Matahari. 

    Baca Juga: 7 Prasasti Kerajaan Kutai Lengkap dengan Sejarahnya

    Isi Prasasti Yupa

    Seperti yang kamu tahu, Prasasti Muarakaman ini menceritakan tentang Raja Mulawarman. Di mana beliau memberikan sumbangan kepada para kaum Brahmana. Sumbangan tersebut berupa sapi yang tidak terhitung jumlahnya. 

    Raja Mulawarman sendiri merupakan cucu dari Kudungga dan anak dari Aswawarman. Prasasti Muarakaman juga merupakan bukti nyata peninggalan tertua kerajaan Hindu Indonesia. Nama Kutai sendiri pada umumnya merupakan nama dari kerajaan. 

    Sebab, prasasti ini ditemukan di Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur. Tepatnya di hulu dari Sungai Mahakam. Dalam salah satu yupa yang ada dijelaskan bahwa Raja Mulawarman melakukan sebuah upacara korban emas.

    Sementara untuk kemajuan dari Kerajaan Kutai terlihat dari tanda adanya golongan yang terdidik. Golongan ini terdiri dari ksatria dan brahmana. Selain itu, golongan ini kemungkinan sudah bepergian ke India atau ke pusat penyebaran agama Hindu Asia Tenggara. 

    7 Prasasti Yupa

    Yupa merupakan sebutan untuk tiang atau tugu yang berasal dari batu tempat prasasti tersebut dipahat. Ada 7 prasasti yang berhasil tertulis dalam huruf Pallawa dengan bahasa Sansekerta. Berikut adalah 7 Prasasti Muarakaman yang teridentifikasi:

    1. Prasasti Muarakaman I

    Prasasti Muarakaman I
    Prasasti Muarakaman I | Sumber gambar: kebudayaan.kemdikbud

    Pada prasasti ini terpahat 12 baris tulisan dengan bunyi sebagai berikut:

    Srimatah srinarendrasya

    Kundunggasya mahatmanah

    Putro ‘svavarmmo vikhyatah

    Vansakartta yathangsuman

    Tasya putra mahatmanah

    Trayas traya ivagnayah

    Tesan trayanam pravarah

    Tapo bala damanvitah

    Sri mulavarmma rajendro

    Yastva bahusuvarnnakam

    Tasya yajnasya yupo ‘yam

    Dvijendrais samprakalpitah

    Prasasti ini menceritakan tentang silsilah dari Raja Mulawarman. Jadi, Sri Maharaja Kudungga ini memiliki putra bernama Aswawarman. Lalu, Aswawarman juga memiliki tiga orang anak. Mulawarman terkenal sebagai raja terkemuka yang beradab baik, kuat, dan berkuasa. 

    Selain itu, beliau juga telah mengadakan upacara selamatan yang terkenal dengan sebutan bahusuwarnnakam atau emas yang sangat banyak. Jadi, berdirinya tugu batu atau yupa merupakan tanda peringatan selamatan dari para Brahmana. 

    Prasasti ini tertulis dengan huruf Early Pallawa dengan khas Box Heads dan Bahasa Sansekerta. Kemungkinan besar, aksara Pallawa merupakan aksara Semi Silabik (Aksara Brahmi) yang berasal dari India. Sekarang, Prasasti Muarakaman I berada di lantai 1 gedung baru, Museum Nasional, Jakarta. 

    2. Prasasti Muarakaman II

    Prasasti Muarakaman II
    Prasasti Muarakaman II | Sumber Gambar: Wikipedia

    Muarakaman II terkenal dengan bentuknya yang paling tinggi dari ketujuh prasasti lainnya. Pahatan pada prasasti ini berada pada sisi depan tugu batunya. Berikut adalah 8 baris isi dari Prasasti Muarakaman II:

    Srimato Nrpamukhyasya

    Rajnah sri mulavarmmanah

    Danam punyatame ksetre

    Yad dattam vaprakesvare

    Dvijatibhyo ‘gnikalpebhyah

    Vinsatir ggosahasrikam

    Tasya punyasya yupo ‘yam

    Krto viprair=ihagataih

    Isi dari prasasti ini menjelaskan bahwa Sri Mulawarman sebagai raja mulia dan terkemuka telah memberikan sedekahnya kepada para Brahmana. Sedekah ini berupa 20.000 ekor sapi. 

    Sama halnya dengan Prasasti Muarakaman I, Prasasti Muarakaman II berdiri sebagai tanda kebajikan dari para Brahmana untuk Sang Raja. Hingga saat ini, Prasasti Muarakaman II tersimpan rapi dalam Gedung Baru Museum Nasional, Jakarta. 

    3. Prasasti Muarakaman III

    Pada Prasasti Yupa yang ke-3 ini terlihat ada 8 baris pahatan, sama dengan Prasasti Muarakaman II. Prasasti ini berisi semua kebaikan budi serta kebesaran Raja Mulawarman dengan bukti pemberian sedekah yang berlimpah. Prasasti Muarakaman III berada dalam Gedung Baru, Museum Nasional, Jakarta (lantai 1).

    Berikut alih aksara dari Prasasti Muarakaman III:

    Srimad viraja kirtteh

    Rajnah sri mulavarmmanah punyam

    Srnvantu vipramukyah

    Ye canye sadhavah purusah

    Bahudana jivadanam

    Sakalpavrksam sabhumidanan ca

    Tesam punyagananam

    Yupo yam sthapito vipraih

    4. Prasasti Muarakaman IV

    Muarakaman IV berisi 11 pahatan yang bertuliskan aksara Pallawa. Namun, tulisan tersebut sudah tidak terbaca, sehingga isinya pun tidak diketahui. Hal yang masih terlihat dengan jelas hanyalah bentuk dari pahatannya saja. 

    Pahatan ini berbentuk segiempat kecil dengan bekas “kepala aksara”. J. G. de Casparis (filolog Belanda) sendiri menyebutnya dengan sebutan “box-heads”. Sekarang, prasasti ini berada pada bagian Selatan dari Gerbang bagian belakang dari gedung lama Museum Nasional.

    5. Prasasti Muarakaman V

    Prasasti Muarakaman V
    Prasasti Muarakaman V | Sumber Gambar: Wikipedia

    Pada prasasti ke 5 ini terlihat ada 4 baris pahatan saja. Prasasti ini dibuat sebagai bentuk peringatan atas kebaikan dari Raja Mulawarman. Dalam prasasti tersebut berisikan tentang jenis sedekah yang Raja Mulawarman berikan. 

    Sekarang, prasasti ini berada pada bagian Selatan dari Gerbang bagian belakang dari gedung lama Museum Nasional. Berikut adalah alih aksara dari Prasasti Muarakaman V:

    Sri mulavarmmana rajna

    Yad=dattan=tilaparvvatam

    Sadipa malaya sarddham

    Yupo yam likhitas=tayoh

    6. Prasasti Muarakaman VI

    Pada Prasasti Muarakaman VI ini terpahat 8 baris tulisan pada bagian sisi depan tugu batunya. Sayangnya, Prasasti Yupa ini pecah pada bagian atas dan kirinya, sehingga ada beberapa kata baris tertentu yang hilang. 

    Sekarang, prasasti ini ada di bagian Selatan dari Gerbang bagian belakang gedung lama Museum Nasional. Berikut adalah isi dari Prasasti Muarakaman VI yang masih terbaca:

    Jayaty=atiba[lah]

    Sriman=sri mulavarmma nr[pah]

    Yasya likhitani

    Danay=asmin=mahati [sthale]

    Jaladhenug ghrtadhe[num[

    Kapiladanan=tath=aiva ti[ladanam]

    Vrsabh=aikadasam=api yo

    Datva vipresu rajendra[h]

    Isinya menceritakan seruan selamat bagi Raja Mulawarman yang masyhur. Sebab, Raja Mulawarman sudah memberikan persembahan kepada para Brahmana. Persembahan ini sendiri berupa air, keju (ghrta), minyak wijen, serta 11 ekor sapi jantan. 

    7. Prasasti Muarakaman VII

    Terakhir adalah Muarakaman VII. Terpahat 8 baris tulisan dalam prasasti ini. Namun, ada beberapa baris aksara yang aus, sehingga tidak bisa terbaca seutuhnya. Berikut bunyi isi dari Prasasti Muarakaman VII:

    Sri mulavarmma rajendra[h] sama[re]jitya partthi[van]

    Keradam brpatimsa cakre yatha raja yudhistirah

    Catvarimsat=sahasrani sa dadu caprakesvare

    Ba…….trimsat=saharani punar=ddadau

    …….Sa punar=jivadanam prithagvidham

    Akasadipam dharmmatma partthivedra[h] svake pure

    Yupo yam sth[apito] viprair=nnana…….ih=a[gataih]

    Prasasti ini menceritakan tentang Raja Mulawarman yang terkenal sudah menaklukkan raja-raja lain dan berhasil menguasainya. Salah satu contohnya adalah Raja Yudhistira. Selain itu, ada juga penyelenggaraan upacara lainnya. 

    Sudah Lebih Tau Tentang Prasasti Yupa?

    Intinya, Prasasti Yupa yang terbuat dari batu andesit ini dibuat oleh kaum Brahmana. Serta berfungsi sebagai penghormatan atas kedermawanan Raja Mulawarman. Jika penasaran untuk melihatnya secara langsung, kamu bisa mengunjungi Museum Nasional Jakarta. Apakah kamu tertarik untuk datang?

  • Prasasti Telaga Batu: Isi, Fungsi, Pendiri dan Maknanya

    Prasasti Telaga Batu: Isi, Fungsi, Pendiri dan Maknanya

    Prasasti Telaga Batu merupakan artefak peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang berisi kutukan bagi orang-orang yang tidak patuh terhadap perintah raja. Tulisan yang terukir pada prasasti ini menceritakan secara jelas tentang golongan orang-orang yang akan menerima kutukan tersebut. Simak ulasan lengkapnya berikut ini!

    Apa Itu Prasasti Telaga Batu?

    Prasasti Telaga Batu adalah sebuah artefak peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya. Artefak ini ditemukan di Telaga Batu, Kelurahan 2 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang. 

    Meskipun tanggal penemuan pastinya tidak tertulis secara jelas, namun para ahli memperkirakan bahwa prasasti ini berasal dari abad ke-7, yaitu pada periode yang sama dengan penemuan Prasasti Kedukan Bukit dan Talang Tuo. 

    Isi dari Prasasti Telaga Batu mencakup kutukan bagi siapa saja yang melakukan tindakan kejahatan di wilayah Kedatuan Sriwijaya. Kutukan tersebut berlaku bagi siapa saja yang tidak mematuhi perintah raja. Termasuk para pejabat, pengrajin, tukang cuci, hingga tukang sapu kerajaan.

    Artefak peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini terbuat dari material batu alam, yaitu batu andesit. Ukuran dari prasasti ini juga cukup besar, yaitu memiliki tinggi mencapai 118 cm dan lebar 148 cm. Ciri fisik yang menonjol dari artefak warisan Kerajaan Sriwijaya ini adalah bentuknya yang sangat unik. 

    Prasasti yang satu ini memiliki bentuk batu lempeng yang hampir mirip dengan segi lima. Kemudian pada bagian atasnya terdapat tujuh kepala ular kobra yang datar dengan mahkota berbentuk permata bulat. 

    Kepala-kepala kobra ini terhubung dengan permukaan yang datar di bagian belakangnya. Kemudian, di bagian leher kepala kobra tersebut terdapat kalung yang berfungsi sebagai hiasan. 

    Di bagian bawah Prasasti Telaga Batu, terdapat cerat atau saluran seperti yang ada pada yoni. Yoni merupakan sebuah objek berbentuk persegi empat dengan lubang di bagian tengahnya. Objek yang satu ini juga memiliki satu sisi cerat yang berfungsi untuk untuk mengalirkan air. 

    Saat ini, Prasasti Telaga Batu tersimpan di Museum Nasional Indonesia bersama dengan sejumlah artefak peninggalan Kerajaan Sriwijaya lainnya. 

    Isi Prasasti Telaga Batu

    Prasasti Telaga Batu
    Prasasti Telaga Batu | Sumber: Bobbyrizaldi.com

    Prasasti Telaga Batu menggunakan aksara Pallawa akhir dan bahasa Melayu Kuno sebagai bahasa utamanya. Meski begitu, pada awal penulisan prasasti ini terdapat beberapa kata yang tertulis dalam bahasa Sanskerta. 

    Selain memiliki ukuran fisik yang sangat besar, tulisan yang terukir pada artefak peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini juga memiliki panjang yang cukup signifikan. Prasasti ini memiliki ukuran panjang yang terdiri dari 28 baris. 

    Namun sayangnya, pada beberapa bagian tulisan prasasti tersebut telah mengalami kerusakan sehingga tidak bisa terbaca lagi. Tulisan pada prasasti tersebut berisikan peringatan atau ancaman kepada siapapun, baik pejabat pemerintah maupun warga biasa yang tidak mengikuti perintah dari sang Raja. 

    Berikut ini adalah tulisan yang merupakan isi dari Prasasti Telaga Batu:

    Om! sidham titam hamwan, wari awai kandra, kayet nipaihumpa, an amuha ulu lawan tandrum, luah makamatai tandrun, luah an hakairu, luah kayet nihumpa, unai umentem bhakti ni ulun haraki, unai tunai kamu wanak mamu rajaputra, prostara, bhupati, senopati, nayaka, pratyaya, haji pratyaya, dandanayaka, murddhaka tuha an watak wuruh, addhyaksi nijawarna, vasikarana, kumaramatya, cathabhata, adhikarana, karmma, kayastha, sthapaka, puhawan, waniyaga, pratisara, da kamu marsi haji, hulun haji, wanak mamu uram niwunuh sumpah dari mammam, kamu kadaci kamu tida bhakti, dyaku niwunuh, kamu sumpah tuwi mulam kadasi, kamu drohaka, wanun luwi yam marwuddhi.”

    Terjemahan Isi Prasasti Telaga Batu

    Setelah mengetahui isi Prasasti Telaga Batu, berikut adalah terjemahan dari isi prasasti tersebut:

    Om! Semoga berhasil. Kamu semua berapapun banyaknya, putra raja, bupati, panglima, tokoh lokal terkemuka, bangsawan, bawahan raja, hakim, pemimpin para buruh, pengawas pekerja rendah, ahli senjata, kumaramatya, tentara, pejabat pengelola, karyawan toko, pengrajin, nakhoda, pedagang, pelayan raja dan budak raja. Kamu semua akan mati karena kutukan ini, jika kamu tak setia pada ku, jika kamu berlaku sebagai penghianat, berkomplot dengan orang-orang dalam kejahatan.”

    Berdasarkan isi dan terjemahan dari tulisan prasasti tersebut, G. Cœdès (seorang arkeolog Prancis yang mengkaji arkeologi dan sejarah di Asia Tenggara) menyimpulkan bahwa prasasti ini ditemukan di suatu tempat yang berdekatan dengan pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya pada masa lalu. 

    Prasasti tersebut sengaja dipasang di tempat tersebut agar dapat terlihat secara terus-menerus oleh para pembesar kerajaan yang tinggal di sekitar wilayah tersebut. 

    Pembukaan pada prasasti tersebut juga mengindikasikan bahwa Kerajaan Sriwijaya secara khusus berlandaskan pada ajaran agama Buddha. Hal ini karena salam pembuka yang terdapat dalam teks prasasti tersebut sama dengan salam yang kerap diucapkan oleh para pengikut ajaran agama Buddha.

    Makna Tulisan pada Prasasti Telaga Batu

    Ilustrasi Kerajaan Sriwijaya
    Ilustrasi Kerajaan Sriwijaya | Sumber: idsejarah.net

    Prasasti Telaga Batu merupakan salah satu artefak yang menceritakan tentang sejarah awal berdirinya Kerajaan Sriwijaya. Makna tulisan yang terukir pada prasasti ini sangat rinci dan secara khusus menceritakan tentang sumpah kutukan.

    Kutukan tersebut akan terjadi pada siapa saja yang melakukan tindakan kejahatan di wilayah Kedatuan Sriwijaya dan yang tidak mematuhi perintah raja. 

    Menurut Casparis, orang-orang yang tertulis dalam prasasti ini merupakan orang-orang yang dianggap berbahaya dan dapat mengancam kedaulatan Kedatuan Sriwijaya. Oleh karena itu, orang-orang tersebut perlu mendapat peringatan dalam bentuk kutukan.

    Orang-orang yang tertulis dalam prasasti ini mencakup orang-orang dari berbagai jabatan. Seperti putra mahkota, hakim atau jaksa, kapten kapal, pengrajin, tukang cuci, sampai tukang sapu.

    Meskipun tidak ada penanggalan tahun yang jelas, namun para ahli meyakini artefak peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini berasal dari periode yang sama dengan prasasti Kota Kapur, yaitu berasal dari tahun 608 Saka atau 686 Masehi. Pendapat ini berdasarkan ciri-ciri aksara yang terdapat pada prasasti tersebut.

    Prasasti ini juga terkenal sebagai salah satu prasasti kutukan yang sangat besar. Hal ini karena prasasti tersebut mencantumkan daftar nama-nama pejabat pemerintahan dengan lengkap. 

    Penafsiran Makna Prasasti Telaga Batu

    Candi Muara Takus
    Candi Muara Takus | Sumber: 1001 Indonesia

    Sejumlah sejarawan beranggapan bahwa dengan adanya prasasti ini, mungkin pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya terletak di Palembang. Kemudian, para pejabat yang terancam dengan kutukan tersebut kemungkinan besar tinggal di ibu kota kerajaan. 

    Namun hingga saat ini, kepastian lokasi pusat Kerajaan Sriwijaya sendiri masih menjadi perdebatan. Termasuk dimana tepatnya lokasi ibu kota Kerajaan Sriwijaya berada. 

    Kebingungan ini juga terjadi karena pada tahun 775 Masehi, Prasasti Ligor ditemukan di Provinsi Nakhon Si Thammarat. Dalam prasasti tersebut menyebutkan bahwa gelar “bhupati,” yang saat ini diidentifikasi sebagai “bupati” juga memiliki makna yang sama dengan Prasasti Telaga Batu.

    Pada masa kemerdekaan Indonesia, seorang bupati bukanlah seorang raja atau sultan seperti pada masa lampau. Namun merupakan seorang politikus yang bertindak sebagai kepala daerah di tingkat Kabupaten. 

    Bupati bertanggung jawab atas penyelenggaraan daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD Kabupaten/Kota. Soekmono berpendapat bahwa berdasarkan prasasti tersebut, kemungkinan pusat Kerajaan Sriwijaya tidak berada di Palembang. 

    Hal ini berdasarkan isi prasasti yang menyebutkan adanya ancaman kutukan bagi mereka yang melanggar Kedatuan. Soekmono kemudian juga mengusulkan bahwa pusat Kerajaan Sriwijaya ada di lokasi Minanga. 

    Pernyataan tersebut diungkapkan berdasarkan informasi yang tertulis dalam Prasasti Kedukan Bukit. Soekmono selanjutnya mengidentifikasi bahwa ibu kota Sriwijaya bukan berada di Palembang, melainkan berada di sekitar Candi Muara Takus.

    Baca Juga: 9 Peninggalan Prasasti Kerajaan Sriwijaya & Penjelasannya

    Sudah Tahu Apa Itu Prasasti Telaga Batu?

    Itulah ulasan seputar Prasasti Telaga Batu yang merupakan artefak bersejarah peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini berisi kutukan bagi orang-orang yang tidak patuh terhadap perintah raja. Setelah mengetahui isi dari prasasti di atas, apakah kamu tertarik untuk mempelajari lebih dalam tentang prasasti Kerajaan Sriwijaya lainnya?

  • Prasasti Sojomerto: Isi, Fungsi, Penemu dan Gambarnya

    Prasasti Sojomerto: Isi, Fungsi, Penemu dan Gambarnya

    Prasasti Sojomerto merupakan salah satu peninggalan bersejarah dari Kerajaan Kalingga. Peninggalan ini berbentuk batu yang bertuliskan peninggalan Wangsa Sailendra.

    Prasasti yang muncul di awal abad ke-8 M ini memiliki isi yang menarik untuk disimak. Supaya tidak penasaran, simak rangkuman artikel berikut ini!

    Sekilas Tentang Prasasti Sojomerto

    Batu Prasasti Sojomerto
    Batu Prasasti Sojomerto | Sumber Foto: Kompasiana

    Berdasarkan analisis paleografi, benda peninggalan Kerajaan Kalingga ini muncul pada akhir abad ke-7 atau awal abad ke-8. Seperti namanya, lokasi penemuan benda bersejarah ini berada di salah satu desa yang bernama Sojomerto. Lokasinya berada di Kecamatan Reban, Provinsi Jawa Tengah.

    Prasasti Sojomerto terbuat dari batu jenis andesit yang memiliki panjang mencapai 45 cm dan tinggi sekitar 80 cm. Ketebalan dari batu ini mencapai 30 cm.

    Di dalam prasasti ini terdapat 11 baris kalimat yang menggunakan aksara Kawi dan bahasa Melayu kuno. Prasasti ini berisikan tentang Dapunta Syailendra. Menurut Kepala Lembaga Arkeologi FSUI, Dapunta Syailendra merupakan pembuka raja-raja yang memimpin Kerajaan Mataram Kuno dari keturunan Wangsa Syailendra.

    Hubungan pemimpin Kerajaan Kalingga dengan Kerajaan Mataram Kuno tidak lepas dari pengaruh nenek moyang yang sama-sama keturunan dari Wangsa Syailendra. Diketahui ayah dari Dapunta Syailendra bernama Santanu. Sedangkan ibunya bernama Badrawati. Lalu, Dapunta Syailendra memiliki istri bernama Sampula.

    Isi Prasasti dan Maknanya

    Ada 11 baris dalam Prasasti Sojomerto, tapi tidak semuanya terbaca dengan jelas karena faktor usia. Adapun isi dari 11 baris tersebut, antara lain:

    … – ryayon çrî sata …

    … _ â kotî

    … namah ççîvaya

    bhatâra parameçva

    ra sarvva daiva ku samvah hiya

    – mih inan –is-ânda dapû

    nta selendra namah santanû

    namânda bâpanda bhadravati

    namanda ayanda sampûla

    namanda vininda selendra namah

    mamãe apesar lempel ângih

    Makna dari isi prasasti yang menggunakan aksara Kawi dan bahasa Melayu kuno adalah sebagai berikut:

    Sembah kepada Siwa Bhatara Paramecwara dan semua dewa-dewa

    … dari yang mulia Dapunta Syailendra

    Santanu adalah nama bapaknya, Bhadrawati adalah nama ibunya, Sampula adalah nama istrinya dari yang mulia Syailendra.

    Secara keseluruhan, isi dari Prasasti Sojomerto ini bercerita tentang seseorang yang menganut agama Siwa bernama Dapunta Syailendra. Alasan Dapunta Syailendra menggunakan bahasa Melayu Kuno tidak lepas dari asal-usul pendahulunya, yaitu Akhandalapura yang berasal dari Kerajaan Sriwijaya.

    Fungsi Prasasti Sojomerto

    Di Indonesia, kemunculan prasasti sudah ada sejak awal abad ke-8 hingga abad ke-14. Kebanyakan prasasti yang ditemukan menggunakan aksara Sansekerta, Jawa Kuno, Pallawa, Sunda Kuno, dan Melayu Kuno seperti prasasti peninggalan Kerajaan Kalingga.

    Prasasti tidak hanya membuktikan keberadaan kerajaan-kerajaan di Indonesia. Dahulu, prasasti memiliki fungsi utama sebagai penghormatan, perayaan, atau peresmian tertentu.

    Selain itu, prasasti juga memiliki fungsi lain, yaitu media untuk informasi seputar penetapan atau keputusan dari sebuah kerajaan maupun wilayah. Maka dai itu, prasasti tidak hanya berisikan tentang informasi, akan tetapi juga berisi sumpah hingga kutukan.

    Jika melihat isi dari Prasasti Sojomerto, fungsi utama pembuatan prasasti ini adalah sebagai informasi tentang silsilah Dapunta Syailendra. Mengenal silsilah berperan penting untuk mencegah putusnya garis keturunan.

    Terbentuk dan Berakhirnya Kerajaan Kalingga di Jawa

    Prasasti Sojomerto tidak hanya menjelaskan silsilah dari Dapunta Syailendra, tapi juga menjadi bukti keberadaan Kerajaan Kalingga serta para pemimpinnya. Berikut ulasannya:

    1. Pendiri Kerajaan Kalingga

    Ilustrasi Ratu Shima
    Ilustrasi Ratu Shima | Sumber: IDN Times Jateng

    Dapunta Syailendra merupakan pendiri dari Kerajaan Kalingga. Kerajaan ini memiliki nama lain Kerajaan Keling, Kerajaan Holing, dan Kerajaan Heling. Pemilihan nama kerajaan ini juga menunjukkan kedekatan antara Kerajaan Kalingga dengan India dan China.

    Kerajaan Kalingga merupakan pionir kerajaan besar yang berkuasa di Pulau Jawa di era selanjutnya. Berdasarkan sejarah, Kerajaan Kalingga menjadi pusat agama Buddha yang memiliki pendeta bernama Hwining. Pusat pemerintahan kerajaan ini berada di dua tempat, yaitu Pekalongan dan Jepara.

    Tahun berdirinya Kerajaan Kalingga diperkirakan pada abad ke-6 M. Setelah mendirikan kerajaan, Dapunta Syailendra menunjuk Prabu Wasumurti sebagai raja pertama, lalu berkuasa selama 11 tahun.

    Setelah Prabu Wasumurti wafat, putranya yang bernama Prabu Wasugeni pun naik tahta dan memimpin selama 27 tahun. Setelah itu, Prabu Wasudewa menjadi raja ketiga, setelah ayahnya, Prabu Wasugeni, wafat.

    Pertukaran pemimpin di Kerajaan Kalingga masih terus berlangsung. Raja keempat yang berhasil memimpin Kalingga adalah Prabu Kirathasinga. Kemudian, diganti oleh Prabu Wasukawi sebagai raja kelima.

    Tidak berlangsung lama, Prabu Kartikeyasingha menjadi pemimpin baru sebagai raja keenam Kalingga. Prabu Kartikeyasingha merupakan suami dari Ratu Shima, anak dari Prabu Wasugeni. Prabu Kartikeyasingha memimpin Kalingga cukup lama, yaitu selama 26 tahun.

    Wafatnya Prabu Kartikeyasingha membuat posisi pemimpin di Kalingga kosong. Kemudian, posisi tersebut diisi oleh Ratu Shima. Meski terlahir sebagai perempuan, di era kepemimpinan Ratu Shima Kerajaan Kalingga semakin berjaya.

    Ratu Shima merupakan pemimpin yang tegas, berwibawa, bijak, dan adil. Semua rakyat Kalingga merasakan hidup yang berkecukupan, nyaman, dan aman. Salah satu bukti kemajuan Kerajaan Kalingga di era kepemimpinan Ratu Shima, yaitu meningkatnya sektor pertanian, perdagangan, ekonomi, agama, dan militer.

    Bahkan, Kerajaan Kalingga memiliki hubungan yang cukup baik dengan China pada sektor perdagangan. Salah satu buktinya adalah keberadaan pelabuhan berukuran besar di daerah Pekalongan.

    2. Runtuhnya Kerajaan Kalingga

    Candi Bubrah peninggalan Kerajaan Kalingga
    Candi Bubrah peninggalan Kerajaan Kalingga | Sumber: CNN Indonesia

    Pemimpin Kerajaan Kalingga terakhir adalah Ratu Shima. Setelah Ratu Shima wafat, Kerajaan Kalingga mulai kehilangan kejayaannya dan runtuh seitar 752 M. Lebih tepatnya kerajaan ini runtuh karena serangan dari Kerajaan Sriwijaya.

    Kerajaan Kalingga kemudian terbagi menjadi dua, yaitu Kerajaan Keling yang berlokasi di Magelang dan Kerajaan Mataram Kuno atau Medang di daerah Yogyakarta.

    Terpecahnya Kerajaan Kalingga merupakan awal mula dari terbentuknya kerajaan-kerajaan besar di Jawa.

    Seperti kerajaan pada umumnya, Kalingga juga meninggalkan beberapa benda bersejarah. Benda bersejarah di era dinasti Syailendra tersebut tidak hanya Prasasti Sojomerto, akan tetapi juga ada prasasti Tukmas, Candi Bubrah, dan Candi Angin.

    Alasan Dapunta Syailendra Membuat Prasasti

    Jika kebanyakan prasasti dibuat oleh prabu yang ditujukan untuk rajanya, maka lain hal dengan pembuatan Prasasti Sojomerto. Prasasti ini dibuat langsung oleh Dapunta Syailendra yang isinya membahas tentang silsilah keluarganya. Mulai dari ayah, ibu, dan istrinya.

    Menurut sejarah, Dapunta Syailendra bukan berasal dari Jawa dan bukan menjadi pewaris tahta. Inilah alasan utama mengapa Dapunta Syailendra membuat prasasti sendiri, karena dia tidak memiliki hak atas tahta, sehingga harus menjelaskan siapa dirinya dan keluarganya.

    Dapunta Syailendra bukanlah satu-satunya orang yang membuat prasasti sendiri. Beberapa raja di Jawa juga pernah melakukan hal yang sama, yaitu Raja Airlangga, Raja Balitung, dan Raden Wijaya.

    Raja-raja tersebut juga menulis silsilah keluarganya melalui prasasti, agar diketahui oleh banyak orang.

    Meski tidak memiliki hak dan tahta, pemimpin Kerajaan Kalingga merupakan keturunan dari Dapunta Syailendra. Jadi, secara keseluruhan Dapunta Syailendra memiliki peran cukup besar atas terbentuknya dinasti Syailendra dan kerajaan-kerajaan besar di pulau Jawa.

    Hingga sampai saat ini, belum ada informasi pasti tentang siapa penemu Prasasti Sojomerto. Beberapa sumber hanya menuliskan lokasi penemuan prasasti tanpa mencatutkan nama penemunya.

    Baca Juga: Prasasti Adalah: Pengertian, Sejarah, Fungsi, dan Contohnya

    Prasasti Sojomerto Menjadi Awal Terbentuknya Dinasti Syailendra

    Meski bukan berasal dari Jawa, Dapunta Syailendra berhasil mendirikan Kerajaan Kalingga yang merupakan awal dari dinasti Syailendra dan kerajaan-kerajaan besar di Jawa.

    Kemudian, karena tidak memiliki hak dan tahta, Dapunta Syailendra menyebutkan silsilah keluarganya dalam Prasasti Sojomerto. Selain menjadi media informasi mengenai keluarga Syailendra, prasasti ini juga menjadi salah satu bukti keberadaan Kerajaan Kalingga di Jawa.

  • Memahami Pembagian Zaman Praaksara Berdasarkan Arkeologi

    Memahami Pembagian Zaman Praaksara Berdasarkan Arkeologi

    Zaman praaksara berdasarkan arkeologi terbagi menjadi dua, yaitu zaman batu dan zaman logam. Arkeologi sendiri adalah ilmu yang mempelajari budaya di masa lampau, seperti benda peninggalan dari kebudayaan itu sendiri.

    Sementara masa praaksara artinya masa manusia belum mengenal tulisan. Oleh karena itu, cara tepat untuk mempelajari kebudayaan masa lampau ini adalah melalui benda peninggalan seperti fosil dan artefak. Mari simak ulasannya!

    Pembagian Zaman Praaksara Berdasarkan Arkeologi

    Manusia Praaksara
    Manusia Praaksara | Sumber gambar: Sonora.id

    Seperti penjelasan sebelumnya, praaksara berdasarkan arkeologi terbagi menjadi dua zaman, yaitu zaman batu dan zaman logam. Kedua zaman ini terbagi lagi menjadi beberapa masa.

    Umumnya, manusia praaksara memiliki corak kehidupan berburu untuk mengumpulkan makanan, bercocok tanam, beternak, hingga masa perundagian atau kemahiran teknik. Corak kehidupan manusia praaksara tersebut mulai dari paling sederhana hingga membuat alat-alat yang terbuat dari logam. 

    Selain itu, kehidupan manusia di zaman praaksara berdasarkan arkeologi awalnya sering berpindah-pindah, lalu memutuskan untuk menetap dengan mendirikan rumah sebagai tempat tinggal.

    Karena, kehidupan nomaden dilakukan untuk mencari dan mendapatkan makanan. Sebab, pada zaman tersebut manusia masih sangat bergantung dengan alam sekitar.

    Manusia Praaksara Zaman Batu

    Manusia Praaksara Zaman Batu
    Manusia Praaksara Zaman Batu | Sumber gambar: IDN Times

    Di era zaman batu memiliki 4 masa, yaitu Paleolitikum, Mesolitikum, Neolitikum, dan Megalitikum. Pada zaman ini, alat-alat berburu hingga alat makan manusia praaksara masih terbuat dari batu. Namun, setiap masa pada zaman ini memiliki budaya dan peninggalan yang berbeda. Berikut rangkumannya:

    1. Paleolitikum (Zaman Batu Tua)

    Pertama, ada masa zaman batu tua atau paleolitikum. Pada zaman ini, kehidupan manusia masih berburu atau meramu. Paleolitikum adalah masa di mana manusia masih sangat bergantung dengan alam, sehingga harus berpindah-pindah untuk mencari makan.

    Tempat tinggal manusia di masa paleolitikum umumnya dekat dengan sumber air dan berelief datar. Bentuk alat makan yang digunakan pun masih sangat sederhana dan terbuat dari batu atau tulang-tulang.

    Di masa ini, manusia belum mengenal bercocok tanam atau memasak, akan tetapi sudah mengenal api. Menurut sejarah, zaman praaksara berdasarkan arkeologi di masa paleolitikum terdapat penemuan beberapa fosil, antara lain:

    • Pithecanthropus Erectus
    • Meganthropus Palaeojavanicus
    • Homo Erectus, Soloensis, Wajakensis, dan Floresiensis

    2. Zaman Mesolitikum (Batu Tengah)

    Zaman Mesolitikum
    Zaman Mesolitikum | Sumber gambar: Vokalonline

    Setelah batu tua, berikutnya masuk era mesolitikum atau batu tengah. Ini merupakan lanjutan dari manusia zaman praaksara berdasarkan arkeologi yang meningkatkan cara berburu serta meramu.

    Di era zaman batu tua, manusia masih hidup berpindah-pindah untuk mencari makanan. Terkadang mereka hidup di dalam gua, agar terhindar dari serangan hewan buas.

    Peralatan yang digunakan saat berburu pun masih terbuat dari batu dan tulang. Namun, bentuk dari peralatan tersebut jauh lebih baik dari era paleolitikum

    Nah, salah satu peninggalan dari era mesolitikum adalah kjokkenmoddinger, yaitu sampah dapur berupa tumpukan kulit kerang di sepanjang Pantai Sumatera.

    3. Neolitikum (Zaman Batu Baru)

    Zaman praaksara berdasarkan arkeologi setelah era mesolitikum berakhir adalah era neolitikum atau zaman batu baru. Di era ini, manusia sudah mulai bercocok tanam dengan cara membuka ladang.

    Kehidupan manusia di era neolitikum juga mengalami perubahan. Karena mereka akan menetap di area ladang, lalu akan pindah jika kesuburan ladang berkurang atau sudah berkali-kali panen. Kemudian, mereka akan membabat hutan untuk membuka ladang baru yang tanahnya masih subur.

    Selain bercocok tanam, di era ini manusia juga sudah mulai beternak. Mereka juga hidup berkelompok dan mengenal kepemimpinan. Bentuk peralatan manusia di era neolitikum sudah semakin baik, karena melalui proses pengasahan hingga halus.

    Beberapa peninggalan manusia di era neolitikum, yaitu berbagai jenis kapak, tembikar, hingga pakaian terbuat dari kulit kayu.

    4. Zaman Praaksara Berdasarkan Arkeologi di Era Megalitikum

    Megalitikum menjadi era zaman batu terakhir yang tercatat dalam ilmu arkeologi. Zaman megalitikum atau batu besar ini muncul setelah berakhirnya era neolitikum hingga kemunculan zaman perunggu.

    Di era ini, manusia sudah bisa membuat bangunan dari batu-batu besar untuk tempat tinggal. Selain itu, ada juga bangunan untuk kepentingan lain, seperti upacara keagamaan dan tempat mengubur jenazah.

    Manusia yang mendominasi era megalitikum adalah Homo Sapiens. Sedangkan peninggalan di era megalitikum, antara lain menhir, arca statis, punden berundak, waruga, peti kubur dari batu, sarkofagus, dan dolmen.

    Zaman Logam

    Zaman Logam
    Zaman Logam | Sumber gambar: Kumparan

    Setelah zaman batu berakhir, kehidupan manusia praaksara berlanjut hingga ke zaman logam atau perundagian. Di zaman ini, manusia sudah mulai mengenal pekerjaan tangan dan teknologi, sehingga bisa membuat peralatan sesuai kebutuhan. Selain itu, zaman logam terbagi menjadi tiga masa, yaitu:

    1. Zaman Tembaga

    Pada zaman tembaga ini, manusia sudah mengenal logam sebagai bahan utama membuat peralatan untuk berburu, makan, memasak, hingga bertahan hidup.

    Namun, berdasarkan temuan sejarah, Indonesia tidak terpengaruh oleh zaman tembaga, karena tidak ada benda peninggalan berupa tembaga yang ditemukan.

    Meski begitu, dalam ilmu arkeologi, zaman tembaga termasuk salah satu era yang menandakan adanya peningkatan pengetahuan manusia purba, selain bercocok tanam dan berburu.

    2. Perunggu

    Kemunculan zaman perunggu menjadi tanda berakhirnya era tembaga. Berbeda dari era tembaga, Indonesia ternyata mendapat pengaruh dari zaman perunggu. Ini dibuktikan oleh beberapa peninggalan zaman praaksara berdasarkan arkeologi yang ditemukan, antara lain:

    a. Nekara

    Nekara, yaitu tambur berukuran besar yang bentuknya mirip seperti dandang terbalik. Manusia purba menggunakan nekara untuk mengiringi upacara kematian, memanggil hujan, hingga sebagai alat perang.

    Lokasi penemuan nekara cukup beragam, mulai dari di Pulau Sumatera, Bali, Jawa, Sumbawa, hingga Pulau Roti dan Selayar. Salah satu nekara yang paling populer adalah “The Moon of Pejeng”, yaitu nekara terbesar yang ada di Bali.

    b. Candrasa

    Selanjutnya, ada candrasa, yaitu senjata yang digunakan oleh manusia zaman logam untuk keperluan upacara adat. Benda ini ditemukan di daerah Bandung, Jawa Barat.

    c. Moko

    Manusia di zaman logam sudah hidup berkelompok dalam jumlah besar, sehingga mereka sedikit tahu tentang kepemimpinan. Salah satu bukti yang menandakan adanya pemimpin di antara mereka adalah keberadaan moko, yaitu benda pusaka milik kepala suku. Benda tersebut akan diwariskan kepada anak laki-laki keturunan kepala suku. 

    Nah, Pulau Alor dan Flores menjadi lokasi yang paling banyak ditemukan moko peninggalan manusia zaman perunggu.

    3. Zaman Besi

    Zaman Besi
    Zaman Besi | Sumber gambar: Copperleluhur

    Terakhir adalah zaman besi. Kehidupan manusia praaksara pada zaman ini jauh lebih beragam, karena mengalami banyak perubahan, mulai dari sosial, ekonomi, dan religi. Adapun ciri-ciri manusia yang hidup di era besi, antara lain:

    • Adanya kelompok sosial dan terdapat pemimpin di dalamnya.
    • Manusia praaksara sudah hidup menetap dan bermasyarakat.
    • Meningkatnya pengetahuan seputar teknik pembuatan peralatan, mulai dari batu, kayu, hingga logam.
    • Manusia sudah bisa mengolah besi secara mandiri.
    • Mampu mengembangkan pertanian hingga bisa memproduksi pangan untuk kebutuhan hidup.

    Indonesia juga terpengaruh oleh zaman besi. Sebab, ada beberapa peninggalan kuno yang mengindikasikan adanya keberadaan manusia purba zaman besi di Indonesia. Peninggalan-peninggalan tersebut, antara lain, cangkul, pedang, mata sabit, mata panah, hingga perhiasan.

    Selain itu, pada zaman logam, terdapat dua teknik pembuatan peralatan. Pertama, ada teknik bivalve, yaitu cetakan batu. Teknik kedua bernama a cire perdue, yaitu cetakan lilin dan tanah liat.

    Hal yang menarik dari zaman praaksara berdasarkan arkeologi di era logam adalah pembagian status manusia harus berdasarkan jumlah kekayaannya. Mereka yang memiliki jumlah kekayaan banyak, berpeluang untuk menjadi pemimpin dari suatu kelompok.

    Sudah Lebih Tahu Pembagian Zaman Praaksara Menurut Arkeologi?

    Zaman praaksara merupakan era di mana manusia belum mengenal tulisan. Di zaman ini manusia purba memiliki budaya hidup yang mengalami perubahan setiap masanya.

    Dalam ilmu arkeologi, zaman praaksara terbagi menjadi dua era, yaitu era batu dan era logam. Kedua era tersebut terbagi lagi menjadi beberapa masa. Zaman batu memiliki 4 era, yaitu paleolitikum, mesolitikum, neolitikum, dan megalitikum. Sedangkan era logam terbagi menjadi tiga, yaitu tembaga, perunggu, dan besi.

  • Corak Hidup Manusia Zaman Praaksara dan Budayanya

    Corak Hidup Manusia Zaman Praaksara dan Budayanya

    Zaman praaksara, suatu periode dalam sejarah manusia yang terjadi jauh sebelum adanya catatan tertulis, adalah sebuah babak penting dalam evolusi manusia. Walaupun tidak ada catatan tertulis, kita dapat menelusuri jejak corak hidup manusia zaman praaksara melalui bukti-bukti arkeologis dan antropologis yang ditemukan selama bertahun-tahun. 

    Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi corak hidup manusia zaman praaksara, serta memahami bagaimana manusia praaksara bertahan hidup, mengembangkan budaya, dan membentuk masyarakat mereka.

    Perkembangan Awal Manusia Zaman Praaksara  

    Secara keseluruhan, perkembangan awal masa praaksara di Indonesia dapat diidentifikasi melalui dua pendekatan utama, yaitu:

    1. Dalam konteks perkembangan kebudayaan, masa praaksara dapat dikelompokkan menjadi dua periode, yakni zaman batu dan zaman logam.
    2. Dalam konteks kemampuannya, masa praaksara dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu masa berburu dan pengumpulan makanan, bercocok tanam, dan perundagian.

    Corak Hidup Manusia Zaman Praaksara dalam Konteks Kebudayaan

    Ilustrasi manusia purba
    Ilustrasi manusia purba | Sumber gambar: aktual.com

    Berikut ini masa dan corak hidup manusia zaman praaksara dalam konteks perkembangan kebudayaannya:

    1. Zaman Batu

    Corak kehidupan masyarakat praaksara pada zaman batu adalah menggunakan batu sebagai perkakas.

    Masa batu sendiri terbagi menjadi empat periode berikut ini:

    • Paleolitikum (Zaman Batu Tua): Ini adalah era ketika manusia hanya menggunakan batu alam sebagai alat, seperti kapak genggam, chopper, atau belati.
    • Mesolitikum (Zaman Batu Madya): Pada masa ini, manusia mengolah batu dengan cara sederhana menjadi alat-alat untuk pertanian dan gua digunakan sebagai tempat tinggal.
    • Neolitikum (Zaman Batu Baru/Batu Muda): Pada masa ini, manusia memecah dan mengasah batu, sehingga menghasilkan alat atau kapak yang lebih tajam.
    • Megalitikum (Zaman Batu Besar): Era ini bermulai dengan keberadaan benda-benda besar atau bangunan yang terbuat dari batu, seperti punden berundak, arca, dolmen, dan lainnya.

    2. Zaman Logam

    Zaman logam adalah periode di mana kehidupan masyarakat memasuki masa perundagian dan menjadi lebih maju. Istilah “perundagian” berasal dari kata “undagi” yang merujuk pada seseorang yang ahli dalam pekerjaan tertentu.

    Pada masa ini, masyarakat telah mengembangkan keterampilan dalam pembuatan alat-alat dari bahan perunggu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    Corak Hidup Manusia Zaman Praaksara dalam Konteks Kemampuan

    Ilustrasi Orang Purba
    Ilustrasi Orang Purba | Sumber gambar: hipwee.com

    Berikut ini corak hidup manusia zaman praaksara dalam konteks perkembangan kemampuannya:

    1. Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan

    Salah satu aspek paling penting dalam hidup manusia zaman praaksara adalah makanan. Manusia praaksara adalah pemburu-pengumpul, yang berarti mereka memburu hewan dan mengumpulkan tumbuhan liar untuk mendapatkan makanan. Aktivitas ini merupakan bagian penting dari kehidupan mereka sehari-hari.

    Pada masa ini, manusia praaksara tinggal secara nomaden, yaitu tinggal berpindah-pindah. Saat pergi berburu, mereka biasanya menggunakan alat-alat sederhana, seperti kapak perimbas, kapak genggam, dan  pahat genggam.

    Manusia purba juga mengumpulkan tumbuhan liar, seperti buah-buahan, daun-daunan, dan biji-bijian. Kehidupan sehari-hari mereka sangat tergantung pada kemampuan mereka untuk menemukan sumber makanan.

    2. Masa Bercocok Tanam

    Corak hidup manusia zaman praaksara pada era ini telah aktif dalam produksi sumber daya mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mereka secara sistematis membuka lahan hutan untuk digunakan sebagai lahan pertanian, dengan fokus pada penanaman umbi-umbian sebagai salah satu hasil utama.

    Selain menggeluti kegiatan pertanian, sumber ekonomi mereka juga terkait dengan peternakan, yang melibatkan pemeliharaan berbagai jenis hewan seperti ayam, kerbau, babi hutan, dan lainnya. 

    Pada masa itu, penduduk melakukan bentuk perdagangan sederhana, yang terkenal dengan istilah barter. Dalam sistem barter ini, mereka menukar hasil-hasil pertanian, hasil tangkapan laut, serta produk-produk kerajinan tangan seperti gerabah dan beliung.

    Hasil pertanian berupa umbi-umbian menjadi kebutuhan utama bagi penduduk di pesisir pantai, sementara mereka yang tinggal di pedalaman sangat membutuhkan hasil laut kering, seperti ikan kering. 

    Sebagai hasilnya, sistem barter menjadi cara efektif bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda di lingkungan mereka yang beragam.

    3. Masa Perundagian

    Selama berabad-abad, manusia praaksara mulai mengembangkan alat-alat dan teknologi sederhana untuk membantu mereka dalam mencari makanan dan bertahan hidup. 

    Di Indonesia, zaman perundagian terbagi menjadi dua, yaitu zaman perunggu dan zaman besi. 

    1. Zaman Perunggu

    Zaman perunggu juga memiliki sebutan sebagai masa kebudayaan Dongson-Tonkin Cina. Pada periode ini, manusia sudah memiliki kemampuan untuk menggabungkan tembaga dan timah, serta menghasilkan logam yang lebih keras. Artefak-artefak zaman perunggu yang telah ditemukan meliputi:

    • Nekara perunggu (moko), merupakan jenis dandang untuk mas kawin yang berasal dari sejumlah wilayah seperti Sumatera, Jawa-Bali, Sumbawa, Kepulauan Rote, Selayar, dan Leti.
    • Kapak Corong (juga terkenal sebagai kapak perunggu), berasal dari berbagai lokasi seperti Sumatera Selatan, Jawa-Bali, Sulawesi, Kepulauan Selayar, dan Papua.
    • Bejana perunggu, yang berasal dari Madura dan Sumatera.
    • Arca perunggu, yang berasal dari berbagai lokasi seperti Bang-kinang (Riau), Lumajang (Jawa Timur), dan Bogor (Jawa Barat).

    2. Zaman Besi

    Zaman besi merupakan fase yang lebih maju dan ditandai oleh corak hidup manusia zaman praaksara dalam hal kemampuannya meleburkan bijih besi menjadi alat-alat yang diperlukan. Proses peleburan besi lebih sulit daripada peleburan tembaga atau perunggu karena memerlukan suhu yang sangat tinggi, yakni sekitar 3500°C. 

    Beberapa alat besi yang dihasilkan mencakup:

    • Mata pisau;
    • Mata kapak dengan pegangan kayu;
    • Mata sabit;
    • Mata pedang;
    • Cangkul.

    Sebagai catatan, Indonesia tidak mengalami periode zaman tembaga, melainkan langsung memasuki zaman perunggu dan besi secara bersamaan. Kebanyakan peninggalan kebudayaan zaman praaksara adalah alat-alat dari perunggu, sehingga zaman logam ini juga disebut sebagai zaman perunggu.

    Kepercayaan Manusia Zaman Praaksara

    Keagamaan juga merupakan bagian penting dalam corak hidup manusia zaman praaksara. Manusia praaksara memiliki kepercayaan-kepercayaan dan mitos yang mengatur cara mereka berinteraksi dengan alam, hewan, dan dunia spiritual. 

    Seiring dengan perkembangan kemampuan berpikir, manusia mulai menjelajahi beragam kekuatan di luar dirinya. Akibatnya, muncul berbagai sistem kepercayaan yang dianut oleh manusia zaman praaksara, seperti animisme, dinamisme, dan totemisme.

    1. Animisme

    Animisme merujuk pada sistem kepercayaan yang menghormati dan memuja roh nenek moyang atau makhluk halus. Manusia praaksara yang memeluk animisme cenderung selalu memohon perlindungan dan berdoa kepada roh nenek moyang. 

    Mereka berharap untuk mendapatkan berbagai kebaikan, seperti kesehatan dan keselamatan, melalui interaksi dengan entitas spiritual ini.

    2. Dinamisme

    Sementara itu, dinamisme merupakan keyakinan atas kekuatan supranatural yang ada pada benda-benda tertentu seperti pohon dan batu besar. Aspek dinamisme muncul sebagai akibat dari ketergantungan manusia pada kekuatan-kekuatan luar dirinya. 

    Karena manusia praaksara memiliki keterbatasan, mereka percaya bahwa benda-benda ini memiliki kemampuan untuk memberikan keselamatan atau pertolongan dalam situasi tertentu.

    3. Totemisme

    Totemisme adalah sistem kepercayaan yang mengatribusikan kekuatan supranatural kepada binatang atau tumbuhan tertentu. Manusia praaksara yang menganut totemisme cenderung menganggap bahwa binatang atau tumbuhan ini memiliki kekuatan yang bisa memberikan keberuntungan atau membawa malapetaka. 

    Akibatnya, mereka merasa harus menjaga dan menghormati totem mereka, yang mengakibatkan larangan mengonsumsi binatang atau tumbuhan tersebut.

    Ilustrasi orang purba
    Ilustrasi Orang Purba | Sumber gambar: kompas.com

    Dari pemahaman tentang corak hidup manusia zaman praaksara ini, kita dapat melihat bahwa manusia praaksara secara bertahap mulai berpikir secara lebih kompleks dan rasional dalam merespons dunia di sekitar mereka. 

    Sistem kepercayaan ini menjadi latar belakang budaya mereka dan telah memberikan kontribusi besar dalam membentuk kebiasaan dan keyakinan yang masih kita temui hingga saat ini.

    Sudah Paham dengan Corak Hidup Manusia Zaman Praaksara?

    Zaman praaksara adalah periode sejarah yang memegang peran penting dalam evolusi manusia. Corak hidup manusia zaman praaksara telah menjadi dasar bagi perkembangan masyarakat, budaya, dan peradaban yang kita kenal saat ini. 

    Dari pemburu-pengumpul yang sederhana hingga masyarakat pertanian yang lebih maju, manusia praaksara telah mengalami transformasi yang luar biasa.

    Meskipun catatan tertulis yang dapat kita pelajari tentang zaman praaksara terbatas, bukti-bukti peninggalan sejarah telah memberikan wawasan berharga tentang cara manusia praaksara bertahan hidup, berkembang, dan membentuk dunia mereka. 

    Setelah paham dengan corak hidup manusia zaman praaksara, kita harus menghormati jejak-jejak mereka dan menghargai perannya dalam membentuk kisah panjang perjalanan manusia di Bumi.