Category: Sosiologi

  • Asimilasi: Pengertian, Faktor, dan Contohnya, Terlengkap!

    Asimilasi: Pengertian, Faktor, dan Contohnya, Terlengkap!

    Sebagai makhluk sosial, manusia tentu saja harus bersosialisasi dengan individu lainnya dalam sebuah lingkungan masyarakat. Hal inilah yang kemudian menimbulkan adanya percampuran budaya, adat, dan lainnya di dalam masyarakat atau yang dikenal juga dengan istilah asimilasi atau pembauran.

    Meskipun istilah ini tampak tak asing bagi masyarakat Indonesia, nyatanya masih banyak orang yang menganggap jika pembauran hanya berkaitan dengan kebudayaan saja. Padahal, sebenarnya istilah tersebut bisa bersinggungan dengan banyak bidang, lho. Yuk, simak ulasan lengkap tentang istilah pembauran dalam artikel ini!

    Pengertian Asimilasi

    Secara umum, asimilasi merupakan sebuah istilah yang merujuk pada makna pembauran suatu kebudayaan yang kemudian disertai dengan hilangnya ciri khas dari kebudayaan asli yang ada di suatu masyarakat. Sehingga, akan terbentuk suatu kebudayaan yang baru.

    Adapun pembauran akan muncul dengan sendirinya jika terdapat golongan masyarakat yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda dan bergaul secara langsung serta intensif dalam waktu yang lama.

    Kemunculan pembauran sendiri ditandai oleh adanya usaha-usaha untuk mengurangi adanya perbedaan yang terjadi antara orang atau kelompok tertentu. 

    Beberapa tindakan yang dilakukan untuk mengurangi perbedaan tersebut antara lain usaha untuk mempererat kesatuan dari segi sikap, tindakan, dan juga perasaan dengan tetap memperhatikan kepentingan serta tujuan bersama.

    Selain itu, istilah pembauran juga dapat diartikan sebagai perpaduan kelompok atau individu yang mempunyai kebudayaan yang berbeda. Dengan kata lain, pembauran akan terjadi pada saat kelompok atau individu tersebut saling berinteraksi atas dasar keterbukaan dan juga mempunyai sikap yang toleran.

    Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, kata asmiliasi mempunyai arti penyesuaian atau peleburan sifat asli yang dimiliki dengan sifat lingkungan sekitar.

    Tak hanya itu saja, pembauran juga dapat kamu pahami sebagai pembaruan antara dua hukum budaya dan adat istiadat. Didampingi dengan hilangnya ciri khas dari hukum budaya dan adat istiadat yang asli, sehingga akan membentuk hukum budaya dan adat istiadat baru.

    Salah satu hasil dari proses pembauran adalah semakin menipisnya batas perbedaan yang terjadi antar individu dalam suatu kelompok atau bisa juga batas-batas antar kelompok.

    Tak hanya itu saja, individu juga akan melakukan identifikasi diri dengan kepentingan bersama. Artinya, mereka harus menyesuaikan kemauannya dengan kemauan kelompok. Begitu pula pada kelompok yang satu dengan kelompok lain.

    Syarat Terbentuknya Asimilasi

    Menariknya, hanya masyarakat majemuk sajalah yang menjadi tujuan pembauran. Hal ini karena masyarakat majemuk mempunyai latar belakang kehidupan yang berbeda-beda, sehingga membuat proses pembauran dapat mencapai tahap yang berbeda-beda pula.

    Perbedaan inilah yang pada akhirnya menjadikan pembauran tidak bisa dilakukan secara menyeluruh ke dalam seluruh aspek kebudayaan yang berlaku di masyarakat. 

    Proses pembauran yang tidak sempurna tersebut dapat terjadi karena suatu masyarakat mempunyai kebudayaan dan juga identitas yang selalu berusaha untuk mereka pertahankan. Sehingga, tidak memungkinkan budaya baru untuk masuk ke dalamnya.

    Jadi, pembauran hanya bisa terbentuk jika memenuhi tiga persyaratan sebagai berikut:

    • Terdapat sejumlah kelompok di dalam masyarakat yang mempunyai kebudayaan yang berbeda.
    • Terjadi pergaulan di antara individu atau kelompok secara intensif dan juga mendalam dalam waktu yang relatif lama.
    • Kebudayaan pada masing-masing kelompok tersebut dapat saling berubah dan menyesuaikan diri sesuai dengan kebudayaan baru yang masuk ke dalamnya.

    Pengertian Asimilasi dari Para Ahli

    Berikut ini adalah beberapa pengertian asimilasi yang dikemukakan oleh para ahli untuk kamu simak:

    • Budhi Setianto Purwowiyoto: Proses kognitif seseorang yang mengintegrasikan persepsi, konsep, maupun pengalaman baru dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya.
    • Koentjaraningrat: Suatu proses sosial yang terjadi pada berbagai macam golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda-beda pasca mereka bergaul secara intensif. Sehingga, sifat khas dari unsur kebudayaan tersebut akan berubah.
    • Soerjono Soekanto: Proses sosial yang ditandai dengan adanya usaha-usaha untuk mengurangi berbagai perbedaan yang terdapat di antara individu atau kelompok. Meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap, dan juga proses mental dengan tetap memperhatikan tujuan dan kepentingan bersama.
    • Milton Gordon: Suatu proses di mana individu atau kelompok yang berasal dari budaya maupun etnis berbeda secara bertahap mulai menyesuaikan diri dengan kebudayaan baru dan berusaha menyatu ke dalamnya.
    • Robert E. Park: Proses di mana kelompok yang sebelumnya terisolasi di tengah-tengah masyarakat secara bertahap kemudian bergabung dengan masyarakat  yang lebih luas. Lalu, menyesuaikan diri dengan norma serta nilai-nilai yang ada.
    • Everett V. Stonequist: Suatu proses yang melibatkan konflik antara individu atau kelompok dengan sebuah identitas budaya yang berbeda. Kemudian, mendorong mereka untuk berusaha menyesuaikan diri dengan kebudayaan yang lebih dominan dan lebih luas.
    • Emile Durkheim: Suatu proses di mana masyarakat yang berbeda secara bertahap akan menyesuaikan diri dengan nilai-nilai dan juga norma-norma yang ada di dalam masyarakat yang lebih besar. Hingga akhirnya, membentuk sebuah kesatuan sosial yang lebih besar.
    • Gordon Allport: Proses yang secara tidak langsung melibatkan penyesuaian diri individu dengan kebudayaan yang baru hingga membentuk sebuah identitas sosial yang baru dengan menggabungkan unsur-unsur dari kebudayaan yang berbeda.

    Faktor-Faktor Terjadinya Asimilasi

    Bicara soal faktor-faktor terjadinya pembauran, maka terbagi menjadi dua kelompok, yakni:

    1. Faktor Pendorong

    Faktor pendorong ini maksudnya adalah faktor yang mempermudah terjadinya pembauran, seperti faktor toleransi, kepentingan umum, kesamaan, hingga simpati terhadap budaya lain dan amalgamasi.

    Toleransi tersebut akan menghasilkan pembauran, jika kelompok minoritas dapat menghilangkan identitas dan kelompok mayoritas dapat menerima kelompok minoritas tersebut sebagai bagian baru dari kelompok mereka.

    Adapun berbagai faktor pendorong terjadinya pembauran adalah sebagai berikut.

    • Adanya sikap toleransi di tengah-tengah masyarakat.
    • Kesempatan yang seimbang dari segi ekonomi (setiap individu akan mendapatkan kesempatan yang sama untuk bisa mencapai kedudukan tertentu atas dasar kemampuan dan juga jasanya masing-masing).
    • Sikap menghargai orang asing beserta dengan kebudayaannya.
    • Adanya sikap yang saling terbuka dari golongan penguasa yang ada di dalam masyarakat.
    • Terdapat persamaan dalam unsur budaya yang ada di dalam masyarakat.
    • Terjadinya perkawinan campuran atau amalgamasi di masyarakat.
    • Adanya musuh bersama dari luar kelompok masyarakat.

    2. Faktor Penghambat

    Berbagai faktor penghambat asimilasi yang perlu kamu ketahui adalah sebagai berikut:

    • Kelompok masyarakat yang terisolasi atau terasing, di mana umumnya hal ini terjadi pada kelompok minoritas.
    • Adanya perasaan bahwa kebudayaan pada kelompok tertentu memiliki kedudukan atau status yang lebih tinggi dibandingkan dengan kebudayaan pada kelompok lain.
    • Kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap adanya kebudayaan baru yang dihadapi.
    • Munculnya prasangka negatif terhadap pengaruh kebudayaan baru, yang mana prasangka negatif atau kekhawatiran ini sebenarnya bisa diatasi dengan cara meningkatkan fungsi lembaga-lembaga kemasyarakatan.
    • Kebanggaan yang berlebihan terhadap suatu kelompok, sehingga tidak mau mengakui keberadaan budaya milik kelompok lainnya.
    • Terdapat perbedaan ciri-ciri secara fisik, seperti warna kulit, tinggi badan, hingga rambut.
    • Adanya perasaan kuat yang menyatakan bahwa individu terikat pada kelompok kebudayaan yang bersangkutan.
    • Kelompok minoritas mendapatkan gangguan dari kelompok penguasa atau mayoritas. Contohnya seperti perilaku kasar yang dialami orang-orang Jepang yang tinggal di Amerika Serikat pasca pangkalan Angkatan Laut Amerika di Pearl Harbor mendapat serangan mendadak oleh tentara Jepang pada tahun 1941.
    • Terisolasinya kehidupan masyarakat tertentu, seperti yang terjadi pada penduduk asli Amerika (Native Americans) yang bertempat tinggal di negara atau wilayah tertentu (reservation).
    • Adanya perasaan takut terhadap kekuatan dari suatu kebudayaan yang dihadapi di dalam masyarakat.
    • Adanya perbedaan antara kepentingan dengan pertentangan pribadi.
    • Adanya “ingroup feeling” yang kuat, yaitu perasaan bahwa individu terikat pada kelompok dan juga kebudayaan kelompok yang bersangkutan.

    Ciri-Ciri dan Syarat Terjadinya Asimilasi

    Agar lebih memahami konsep pembauran yang muncul dalam kelompok masyarakat, berikut ini adalah berbagai ciri-ciri dan syarat terjadinya pembauran yang perlu kamu ketahui:

    • Berkurangnya perbedaan di masyarakat yang disebabkan oleh adanya usaha-usaha untuk mengurangi dan juga menghilangkan perbedaan antar individu dan juga kelompok.
    • Semakin berkurangnya perbedaan yang ada di dalam masyarakat, karena adanya berbagai usaha untuk mengurangi hingga menghilangkan perbedaan antar individu maupun kelompok.
    • Mempererat kesatuan dari segi tindakan, sikap, dan juga perasaan dengan tetap memperhatikan kepentingan dan tujuan bersama.
    • Semakin eratnya kesatuan tindakan, sikap, dan juga perasaan serta lebih mementingkan kepentingan dan tujuan bersama di dalam masyarakat.
    • Adanya kesadaran dari setiap individu untuk memberi peninjauan terhadap kebudayaan lain, demi terwujudnya kepentingan bersama.
    • Tiap-tiap individu yang ada di dalam masyarakat sebagai kelompok yang melakukan interaksi secara langsung dan juga intensif secara terus-menerus.
    • Tindakan seseorang dalam memberi peninjauan terhadap kebudayaan lain dengan tujuan untuk mewujudkan kepentingan umum. Adapun maksud dari peninjauan tersebut adalah agar pembauran dianggap mampu mengakomodasi keinginan bersama dalam kehidupan bermasyarakat.

    Jenis-Jenis Asimilasi

    Dalam kelompok masyarakat, terdapat berbagai jenis pembauran yang perlu diketahui, sebagai berikut:

    1. Asimilasi Budaya

    Pembauran budaya merupakan jenis pembauran di mana terdapat proses pengadopsian nilai, dogma, kepercayaan, ideologi, bahasa, dan juga simbol dari suatu etnik ataupun dari bagian kelompok tertentu. Kemudian, terbentuk sebuah kandungan nilai, ideologi, dan kepercayaan dogma.

    Selain itu, pembauran budaya juga dapat diartikan sebagai perpaduan budaya yang saling berbeda serta menghasilkan kebudayaan yang baru, namun disertai dengan hilangnya ciri khas dari budaya asli tersebut.

    Proses pembauran budaya atau penyebaran budaya dari luar pun akan terjadi, sehingga akhirnya akan menyatu dalam struktur masyarakat yang menerima budaya tersebut.

    Adapun contoh dari pembauran budaya adalah program transmigrasi yang dibentuk pemerintah pada masa pemerintahan Orde Baru. Program ini bertujuan untuk meratakan jumlah penduduk di berbagai pulau yang ada di Indonesia. 

    Dalam pelaksanaannya, program transmigrasi ini berdampak pada pembauran budaya yang akhirnya menghasilkan budaya baru, karena adanya interaksi antar suku bangsa.

    2. Asimilasi Struktural

    Pembauran struktural merupakan proses pencampuran komponen yang berbeda dalam lembaga sosial dengan cara mempertimbangkan unsur-unsur yang berkaitan dengan kemasyarakatan.

    Dengan kata lain, pada jenis pembauran ini akan terjadi proses sosial dan interaksi sosial. Sehingga, memicu terjadinya sistem sosial pencampuran komponen yang berbeda dengan lembaga sosial lewat adanya pertimbangan unsur-unsur yang berkaitan dengan kemasyarakatan.

    Hal ini menandakan bahwa bentuk pembauran struktural tersebut lebih banyak dicontohkan pada lembaga formal yang dilakukan melalui sistem pemerintahan.

    Salah satu contoh dari jenis pembauran ini bisa dilihat ketika sistem pemerintahan Indonesia yang kini dipimpin oleh seorang presiden. Menurut sejarahnya, Indonesia pada awalnya dipimpin oleh seorang raja dengan pemerintahan absolut.

    Berkat adanya pembauran struktural, maka partisipasi masyarakat jadi sangat diperlukan dalam pemilihan umum untuk menciptakan negara yang adil.

    3. Asimilasi Perkawinan

    Pembauran perkawinan sebenarnya adalah salah satu bentuk penyesuaian masyarakat yang melangsungkan pernikahan secara legal dan juga sah menurut agama dan negara untuk melahirkan keturunan baru.

    Perpaduan kebersamaan yang terjadi antara dua orang yang saling mencintai inilah yang menjadi wujud kolaborasi kasih sayang, ketika memilih untuk hidup bersama.

    Adapun contoh pembauran perkawinan adalah perkawinan campur silang antar suku. Misal, seseorang dari suku Minang menikah dengan seseorang dari suku Papua, karena bertemu dan saling mengenal di suatu tempat.

    Dari kejadian tersebut, pada akhirnya semakin banyak orang-orang antar suku yang menikah hingga memicu terjadinya pembauran perkawinan.

    4. Asimilasi Linguistik

    Pembauran linguistik merupakan proses pencampuran komponen bahasa yang digunakan oleh masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari mereka. Kerja sama ini memiliki fungsi utama untuk beradaptasi dengan peradaban dan juga perkembangan waktu.

    Salah satu contoh dari pembauran linguistik adalah peran kehidupan komunitas yang kemudian bergabung menjadi kelompok sosial. Secara tidak langsung, situasi tersebut dapat menyebabkan munculnya bahasa baru sebagai bentuk prasyarat untuk melakukan interaksi sosial dengan masyarakat.

    Hal inilah yang membuat kita mengenal banyak bahasa daerah, bahasa gaul, dan berbagai jenis tata bahasa lainnya.

    5. Asimilasi Sikap Resepsional

    Pembauran sikap resepsional adalah jenis pembauran yang dilakukan oleh satu kelompok etnik tertentu dengan cara mengurangi sikap diskriminasi atau mengurangi stereotip, label, dan juga stigma terhadap etnik lainnya.

    6. Asimilasi Arsitektur

    Pembauran arsitektur merupakan konstruksi bangunan ataupun area yang dijalankan oleh masyarakat dengan tujuan untuk membantu mereka dalam mencapai kehidupan yang baik. Adapun peran dari jenis pembauran ini adalah untuk mendekati hubungan pada setiap komponen kehidupan, agar mempunyai pola yang berbeda.

    7. Asimilasi Identifikasi

    Pembauran identifikasi merupakan suatu proses identifikasi dari individu-individu di dalam suatu kelompok dengan cara menciptakan identitas personalnya sendiri, agar bisa berpartisipasi atau bahkan menanamkan pengaruhnya ke dalam institusi sosial lainnya.

    8. Asimilasi Kewarganegaraan

    Pembauran kewarganegaraan ini biasanya dilakukan oleh kelompok tertentu dengan cara memasukkan nilai-nilai dasar kebudayaan yang mereka miliki ke dalam arena politik, pemerintahan, hingga ke kehidupan berbangsa dan bernegara.

    9. Asimilasi Agama

    Pembauran agama merupakan suatu kolaborasi yang dilakukan terhadap adanya perbedaan keyakinan. Bentuk perpaduan ini tidak hanya pada ajaran agamanya saja, tetapi juga pada proses penyelenggaraan ritual ibadah yang dilakukan dengan tidak mengurangi salah satu dari inti agama yang dipercayai masyarakat.

    Salah satu contoh dari pembauran agama adalah adanya acara 40 harian pasca seseroang meninggal. Jadi, acara 40 hari tersebut pada mulanya adalah bagian dari tradisi agama Hindu. Kemudian, diadopsi oleh agama lain tanpa mengurangi nilai kedua agama tersebut.

    Contoh pembauran agama lainnya adalah adanya peranan agama Islam di Indonesia dalam menyelenggarakan acara tahlilan 3, 7, dan juga 40 harian sebagai bentuk tasyakuran atau ikut berduka. Khususnya kepada orang yang sudah meninggal, di mana tradisi ini merupakan bagian dari tradisi agama Hindu.

    Bagian dari budaya agama yang diadopsi tersebut tentu saja tidak mengurangi nilai Islam. Hal ini karena setiap masyarakat yang beragama Islam selalu menerapkan kajian dengan cara membacakan doa dan juga tahlil kepada orang yang sudah meninggal dunia.

    10. Asimilasi Gender

    Pembauran gender merupakan proses yang membuat laki-laki dan perempuan mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengakses sumber daya di masyarakat. Tujuannya adalah untuk menciptakan kesetaraan gender sekaligus mengurangi diskriminasi berdasarkan jenis kelamin yang kerap terjadi.

    Salah satu contoh dari pembauran gender bisa dilihat dari program pemerintah yang memberi akses pendidikan serta pelatihan kepada perempuan. Dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilan dan juga kemampuan mereka dalam meningkatkan peluang karier.

    Selain itu, dalam proses pembauran gender juga memberikan perempuan kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan dengan nilai yang setara.

    11. Asimilasi Teknologi

    Pembauran teknologi merupakan proses ketika teknologi baru diadopsi oleh masyarakat dan juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuannya adalah untuk meningkatkan efisiensi dan juga kenyamanan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

    Contoh dari pembauran teknologi adalah penggunaan smartphone dan internet yang semakin masif selama beberapa tahun belakangan ini. Jadi, masyarakat dapat belajar dan juga mengadopsi teknologi baru tersebut untuk meningkatkan produktivitas serta kenyamanan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

    12. Asimilasi Ekonomi

    Pembauran ekonomi merupakan proses ketika sebuah kelompok masyarakat yang berbeda mempunyai kesempatan yang sama untuk mengakses sumber daya ekonomi dan juga mengembangkan potensi ekonomi yang mereka miliki. Dengan begitu, maka hal ini dapat mengurangi ketimpangan ekonomi di masyarakat.

    Perbedaan Asimilasi dan Akulturasi

    Pada praktiknya, masih banyak orang yang kerap menganggap pembauran dan akulturasi adalah dua hal yang sama. Padahal sebenarnya, pembauran dan akulturasi memiliki makna yang berbeda, lho.

    Pembauran dan akulturasi adalah konsep yang berkaitan dengan interaksi serta komunikasi yang terjadi antara individu maupun komunitas lengkap dengan budaya yang berbeda di masyarakat.

    Jadi, sebenarnya kedua istilah ini adalah contoh bentuk adaptasi kebudayaan yang termasuk ke dalam proses sosial. Hal ini karena keduanya berkaitan dengan proses masuk serta bercampurnya beberapa kebudayaan yang berbeda sekaligus. Makanya, tak heran jika banyak orang yang kesulitan untuk membedakannya.

    Namun, istilah akulturasi ini sebenarnya lebih mengarah pada bentuk perubahan budaya. Diakibatkan oleh adanya interaksi antar kelompok yang kemudian menekankan pada penerimaan pola serta unsur budaya baru di dalam masyarakat.

    Artinya, akulturasi adalah sebuah proses masuknya budaya asing ke dalam suatu kebudayaan tertentu di masyarakat. Kebudayaan asing inilah yang kemudian diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menghilangkan unsur-unsur kebudayaan yang asli.

    Sedangkan pembauran dikenal sebagai istilah yang merujuk pada perpaduan antara beberapa budaya untuk menghasilkan kebudayaan baru. Oleh karena itulah, terjadi proses sosial di dalam masyarakat yang fokus untuk mencapai kesatuan dengan cara menghilangkan adanya perbedaan antara kebudayaan-kebudayaan tersebut.

    Contoh Asimilasi dalam Kehidupan Sehari-hari Masyarakat

    Setelah menyimak penjelasan panjang tentang istilah pembauran, berikut ini adalah berbagai contohnya yang kerap kita temui dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

    1. Kemunculan musik dangdut di tengah-tengah masyarakat Indonesia, di mana musik dangdut adalah hasil perpaduan di antara musik tradisional daerah dengan musik asal India.

    2. Adanya budaya zina atau hubungan pranikah di masyarakat yang berkedok dengan pacaran. Kebudayaan yang satu ini ternyata bukanlah budaya asli masyarakat Indonesia.

    3. Masyarakat Indonesia yang kerap ikut-ikutan turis asing dengan mengenakan pakaian terbuka, seperti bikini saat pergi ke pantai.

    4. Kebiasaan menggunakan sendok dan garpu saat makan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Di mana awalnya kebiasaan tersebut ditiru oleh kaum elite Indonesia dari masyarakat Eropa yang kala itu menjajah tanah air. Akan tetapi, hingga sekarang ini masih banyak masyarakat Indonesia yang makan dengan menggunakan sendok dan garpu.

    5. Peleburan yang terjadi antara kebudayaan Betawi dan juga China yang kemudian menghasilkan kebudayaan baru, seperti tari Lenong dan tari Cokek.

    6. Kumpulan kosakata dalam bahasa Indonesia yang ternyata merupakan kata serapan dari bahasa asing, seperti kata bisnis yang berasal dari kata business dalam bahasa Inggris. Kemudian, kata karcis yang berasal dari kata kaartjes dalam bahasa Belanda, serta kata kantor yang berasal dari kata kantoor dalam bahasa Belanda.

    7. Penggunaan baju koko yang pada awalnya merupakan pakaian sehari-hari laki-laki dari etnis Tionghoa, tetapi sekarang ini baju koko juga banyak digunakan sebagai baju muslim untuk laki-laki yang beragama Islam.

    8. Meskipun nasi goreng merupakan kuliner asli Indonesia, namun bahan-bahan yang digunakan merupakan wujud dari pembauran, seperti kecap yang berasal dari Belanda dan kari yang berasal dari India.

    9. Perayaan hari besar di Indonesia juga menjadi bentuk pembauran. Contohnya hari besar agama Kristen, yakni Natal, yang kini juga banyak diperingati oleh masyarakat Indonesia lainnya.

    10. Mode fashion hijab sekarang ini yang sudah mendapat pengaruh dari berbagai model dan juga gaya ala fashion Barat.

    Sudah Lebih Paham Tentang Asimilasi di Kehidupan Masyarakat?

    Nah, itu dia penjelasan lengkap mengenai pembauran yang kini sudah banyak terjadi di masyarakat. Mulai dari pengertian, faktor pendorong dan penghambat, ciri-ciri, jenis, hingga contohnya yang menarik untuk kamu ketahui. Semoga informasi lengkap tentang pembauran di atas bermanfaat untukmu, ya.

  • Pengertian Toleransi dan Contohnya dalam Hidup Sehari-hari

    Pengertian Toleransi dan Contohnya dalam Hidup Sehari-hari

    Indonesia merupakan sebuah negara besar yang terdiri atas berbagai macam suku, ras, dan agama. Setiap suku dan golongan yang terdapat di Indonesia tentu memiliki tradisi serta kepercayaannya masing-masing. Oleh karena itu, toleransi ialah alat penting untuk menyatukan semua golongan tersebut.

    Pengertian Nilai Toleransi

    Kamu mungkin sudah sering mendengar nasehat-nasehat dari pemuka masyarakat untuk mengembangkan jiwa yang toleran. Masalahnya adalah, apakah kamu sudah tahu tentang pengertian dasar dan mendalam dari nilai kemanusiaan ini?

    Pengertian dasar istilah toleransi atau sikap toleran adalah membiarkan atau tak mengganggu orang-orang yang berbeda dari kita dalam menjalankan aktivitasnya. Inilah definisi yang paling sering tercantum dalam sebagian besar edisi KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia.

    Sementara itu, definisinya yang lebih mendalam adalah kesediaan seseorang dalam menerima macam-macam hal yang berasal dari luar golongannya. Contoh hal yang berbeda tersebut antara lain seperti pendapat, tradisi, pola pikir, haluan politik, dan kepercayaan.

    Maka daripada itu, kesimpulannya adalah toleransi merupakan perilaku dimana kamu menerima perbedaan di sekeliling kamu dengan sopan dan terbuka. Kamu tidak harus ikut serta dalam tradisi yang berbeda-beda tersebut, cukuplah kamu biarkan mereka melakukan kegiatannya tanpa gangguan.

    Tujuan paling penting dari nilai kemanusiaan ini ialah untuk mengembangkan pola pikir yang kritis tapi terbuka, persatuan bangsa, dan kemampuan teamwork. Ada pula manfaat lain, yaitu lebih mudah untuk mencapai tujuan bersama, mengurangi risiko konflik sosial, dan memperkuat tali persaudaraan.

    Poin-Poin Utama Nilai Toleransi

    Kamu tidak hanya perlu tahu tentang pengertian nilai kemanusiaan ini saja, tetapi juga poin-poin utama yang mendasari nilai ini. Untuk mampu menumbuhkan pribadi yang sanggup menghargai perbedaan di masyarakat, kamu wajib tahu macam-macam poin utama dalam pola pikir toleran.

    1. Mengakui Bahwa Seluruh Umat Manusia adalah Sama

    Mau itu orang kulit putih, orang kulit hitam, orang Asia, orang Aborigin, maupun orang Hispanik, mereka semuanya adalah manusia. Tidak ada satu pun golongan yang lebih baik atau lebih hina ketimbang yang lainnya. Ajaran-ajaran agama pun melarang keras perbuatan diskriminatif terhadap sesama manusia.

    Contohnya saja agama Islam, yang menyatakan dengan jelas bahwa umat manusia itu diciptakan dalam berbagai macam suku dan bangsa. Tujuannya bukan untuk memecah belah umat manusia, tetapi agar mereka saling mengenal dan sanggup mendirikan peradaban yang terlepas dari kebencian.

    2. Memberikan Kesempatan Berpendapat secara Adil

    Salah satu poin yang penting sekali dalam menumbuhkan pola pikir yang toleran ialah kebebasan berpendapat yang adil untuk seluruh elemen masyarakat. Setiap orang pasti mempunyai opini atau kritik yang ingin mereka suarakan, sehingga harus ada kesempatan untuk menyuarakan isi hati mereka.

    Jika kamu seorang manusia yang toleran dan berjiwa demokratis, maka kamu tidak boleh membungkam kebebasan berpendapat dengan alasan apapun. Tentu saja, kebebasan berpendapat itu jangan sampai menebar permusuhan dan perpecahan di antara golongan-golongan rakyat.

    3. Menjunjung Kemerdekaan untuk Semua Orang

    Seorang individu yang mendukung toleransi wajib menjunjung tinggi kemerdekaan dan kebebasan bagi semua orang. Kamu tidak mungkin bisa menghormati perbedaan jika masih ada golongan rakyat yang tertindas dan terkucilkan. Ini penting bagi kaum-kaum minoritas yang sering masyarakat abaikan.

    Bahkan bagian Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dengan tegas mengutuk aksi penjajahan di muka bumi. Semua manusia itu sama di mata Tuhan, sehingga penindasan dalam bentuk apapun harus dihentikan. Jiwa toleran hanya bisa tumbuh apabila individu mampu menghormati kemerdekaan semua orang.

    Contoh Perilaku Toleransi dalam Hidup Sehari-hari

    Karena Indonesia memiliki banyak suku, golongan, dan kepercayaan yang beraneka ragam, kamu seharusnya tidak lagi merasa asing dengan perbedaan. Berikut ini ialah beberapa contoh perilaku toleran yang bisa kamu temukan di lingkungan sekitar pada kehidupan sehari-hari.

    1. Mengizinkan Aktivitas Ibadah untuk Semua Agama

    Negara Indonesia mengakui banyak sekali agama, yaitu Islam, Kristen Katolik dan Protestan, Hindu, Buddha, serta aliran kepercayaan yang tidak menistakan agama. Dalam situasi ini, bangsa Indonesia butuh bimbingan dari pemerintah supaya setiap kelompok agama diperlakukan secara adil.

    Contoh yang dapat kamu lihat di dunia nyata misalnya membiarkan orang-orang yang berbeda agama dalam menjalankan ibadah tanpa halangan. Ada juga contoh seperti aparat pemerintahan yang mengucapkan selamat kepada orang-orang yang sedang merayakan hari besar keagamaan.

    Mencampur adukkan urusan agama kamu dengan agama milik orang lain sudah jelas dilarang. Meskipun demikian, kamu tetap boleh membiarkan umat agama lain untuk beribadah. Hanya saja, kamu jangan ikut serta ibadah mereka agar kegiatannya berjalan lancar.

    2. Tidak Mencela Orang-Orang Penyandang Disabilitas

    Inilah contoh nilai toleransi yang masih kurang dipahami oleh masyarakat Indonesia. Orang-orang di negeri kita, terutama golongan remaja dan anak-anak, suka menjelek-jelekkan siapapun yang menyandang disabilitas. 

    Sekarang bukan lagi zamannya mencela orang-orang dengan keterbatasan. Masyarakat bisa membuat hidup orang-orang yang terbatas ini lebih mudah dengan hal-hal yang tampak sepele. 

    Misalnya yaitu membuat trotoar khusus untuk pengguna kursi roda. Untuk anak-anak autis, sediakan sarana pendidikan seperti Sekolah Luar Biasa dan kursus khusus untuk peserta didik autis.

    Oleh karena itu, janganlah kamu menilai seseorang dari cacat fisik dan keterbatasan lainnya yang mereka alami semasa hidup. Nilailah orang-orang ini dari pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan mereka dalam menjalani hidup meskipun mereka tidak normal seperti halnya kamu.

    3. Memberi Sarana Menyalurkan Aspirasi yang Transparan

    Adapun contoh toleransi yang ketiga yaitu memberi sarana yang bisa masyarakat gunakan untuk menyalurkan aspirasi. Aspirasi atau suara rakyat tersebut bisa dalam ranah politik, bisnis, budaya, pendidikan, dan lingkungan hidup. Hal yang terpenting adalah setiap aspirasi dari rakyat bisa tertampung.

    Caranya adalah seperti melakukan mediasi antara kelompok-kelompok masyarakat yang terlibat perseteruan. Bisa juga dengan membuka forum rakyat untuk tahu apa yang masyarakat butuhkan dari pemerintah. 

    Selain itu, ada pula acara-acara debat untuk menilai kinerja pemerintah selama ini. Namun, sarana menyalurkan aspirasi tersebut haruslah transparan dan mencakup semua kelompok di masyarakat. 

    Jangan sampai kamu hanya mendengarkan suara dari satu golongan saja, sementara golongan lain diabaikan. Hal ini bisa memicu kecemburuan sosial dan gejolak politik.

    4. Bersikap Open-Minded terhadap Budaya Baru

    Bentuk perilaku toleransi yang dapat kamu temukan dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari ialah bersikap open-minded atau membuka pikiran terhadap budaya asing. Dengan mengamati dan mempelajari budaya-budaya baru tersebut, wawasan dan pengetahuan kamu dapat menjadi lebih luas.

    Kamu bisa melihat nilai-nilai ini pada kegiatan pertukaran antar pelajar dengan negara tetangga. Ada pula acara pengenalan budaya yang duta besar untuk negara asing adakan di kantor kedutaan. Selain itu, sekolah-sekolah dapat menerapkan kurikulum bahasa asing demi memperluas wawasan siswa.

    Sebagai catatan, sikap menghargai budaya-budaya asing ini bukan berarti kamu harus menjadi permisif. Itu karena ada beberapa macam budaya yang memang negatif dan tidak patut untuk ditiru. Oleh sebab itu, pandai-pandailah dalam memilih pola pikir dan budaya baru agar kamu aman dari pengaruh negatifnya.

    5. Menjaga Mulut ketika Berkomentar di Media Sosial

    Kemudian ada lagi bentuk sikap toleran yang patut kamu ingat, yaitu menjaga ucapan dan tulisan ketika berkomunikasi di media sosial. Interaksi yang kamu lakukan di medsos itu bukan hanya dengan keluarga dan sahabat saja, tetapi juga dengan orang-orang asing yang belum tentu kamu kenali.

    Contohnya di kehidupan sehari-hari bisa berupa mengucapkan belasungkawa apabila ada bencana alam, bukan menyebarkan hoaks terkait bencana itu. Lalu ada lagi contoh berupa menulis kritik yang konstruktif tentang projek dari pemerintah, bukan mencela dan memfitnah projek tersebut.

    Maka daripada itu, hati-hatilah ketika kamu berpendapat atau menulis komentar di media sosial. Jangan sampai tulisan kamu memancing amarah dan perpecahan di antara orang-orang di dunia nyata. Seperti kata agama Islam, jika kamu tak memiliki ucapan yang baik, maka lebih baik diam.

    Sudah Paham akan Pentingnya Nilai Toleransi?

    Demikianlah penjelasan mengenai sikap toleran serta poin-poin dan alasan pentingnya menghargai perbedaan di lingkungan sekitar. Apakah kamu masih suka berperilaku diskriminatif terhadap orang-orang minoritas? Sekarang saatnya membuka mata dan mengembangkan jiwa toleran!

  • Pengertian Etnosentrisme: Aspek, Penyebab, Dampak, dan Contohnya

    Pengertian Etnosentrisme: Aspek, Penyebab, Dampak, dan Contohnya

    Pada dasarnya, etnosentrisme atau fanatisme suku bangsa merupakan salah satu fenomena yang telah terjadi selama keberlangsungan kehidupan sosial manusia. 

    Peristiwa tersebut telah mempengaruhi hubungan seseorang serta kelompok masyarakat tertentu dalam konteks perkembangan globalisasi dan keragaman budaya, baik secara positif maupun negatif.

    Nah, sebagai generasi yang hidup di zaman modern, kamu harus mampu menyikapi segala bentuk sikap fanatisme suku bangsa di lingkungan sekitar. Yuk, jelajahi konsep dasarnya yang melibatkan psikologi dan persepsi manusia pada artikel berikut ini!

    Apa Itu Etnosentrisme?

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), etnosentrisme adalah sikap, persepsi, atau pandangan yang berasal dari nilai sosial dan kebudayaan masyarakat itu sendiri. Fenomena ini biasanya ditandai dengan sikap dan pandangan seseorang yang merendahkan masyarakat atau kebudayaan lainnya.

    Sehingga, pengertian umum fanatisme suku bangsa merujuk pada kecenderungan seseorang atau suatu kelompok untuk memandang agama, bahasa, kebudayaan, adat istiadat, nilai, dan norma sosialnya sebagai yang terbaik atau paling unggul. 

    Berdasarkan beberapa sumber, sikap yang mempengaruhi sosial dan budaya masyarakat ini terbagi ke dalam dua jenis utama, yaitu:

    1. Etnosentrisme Fleksibel merujuk pada sikap, pola pikir, atau cara seseorang dalam mengontrol persepsi dan egonya untuk memahami dan menghargai keberagaman budaya. Individu atau kelompok dapat menghadapi dunia nyata dengan memiliki kesadaran akan keunikan dan nilai-nilai budaya mereka sendiri. Namun, mereka juga memiliki keterbukaan untuk mempelajari, berinteraksi, dan menghargai budaya-budaya lain.
    2. Etnosentrisme Infleksibel merujuk pada sikap atau persepsi subjektif seseorang yang kaku dan tidak toleran dengan budaya atau kelompok lain. Seseorang atau kelompok akan mengukur perilaku, budaya, dan kepercayaannya terhadap orang lain dengan standar budayanya sendiri. Selain itu, juga melibatkan prasangka, stereotip, dan diskriminasi terhadap kelompok lain yang dianggap “berbeda” atau “kurang baik”.

    Meskipun begitu, penting untuk kamu ingat, bahwa fanatisme suku bangsa yang negatif bukanlah sifat universal yang dimiliki oleh semua individu atau kelompok. Tetapi, lebih merupakan hasil dari faktor-faktor sosial, budaya, dan lingkungan yang mempengaruhi persepsi dan sikap individu terhadap kebudayaan lain. 

    Oleh karena itu, kamu harus bijak dalam menyikapi fenomena fanatisme suku bangsa yang mungkin terjadi di lingkungan sekitar kamu.

    Ciri atau Aspek dalam Etnosentrisme

    Berdasarkan penjelasan di atas, terlihat bahwa fanatisme suku bangsa berkaitan dengan aspek-aspek yang merepresentasikan sikap, pandangan, dan tindakan seseorang atau sekelompok masyarakat kepada budaya lain. Adapun sejumlah aspek atau ciri-ciri utama yang berkaitan dengan fanatisme suku bangsa adalah:

    • Seseorang atau sekelompok masyarakat menggeneralisasi suatu hal dengan tidak akurat atau membuat prasangka yang kurang baik untuk merepresentasikan kelompok lain.
    • Melibatkan perasaan atau keyakinan, bahwa nilai sosial, budaya, dan norma adat istiadat kelompok sendiri adalah yang paling benar dan unggul daripada kelompok lain.
    • Cenderung mengabaikan adanya perbedaan fisik, lingkungan, status sosial, kepercayaan, hingga bahkan norma sosial. Sebab, perbedaan-perbedaan tersebut terlihat aneh, tidak penting, atau bahkan bersifat mengancam.
    • Selalu memiliki sindrom sosial yang mana menggambarkan beberapa ciri kehidupan sosial yang diamati secara konsisten dalam suatu masyarakat atau budaya tertentu.
    • Fungsionalitas sindrom sosial merujuk pada penindasan, diskriminasi, atau tindakan yang tidak adil kepada keberadaan kelompok budaya lainnya, sehingga menyebabkan .persaingan antar kelompok.
    • Fanatisme suku bangsa mengakibatkan terhambatnya proses komunikasi antar kelompok budaya dan hubungan masyarakat yang harmonis. Karena seseorang atau sekelompok masyarakat tersebut hanya berfokus pada kebiasaan dan nilai budayanya sendiri.
    • Seseorang atau sekelompok masyarakat memiliki rasa bangga yang berlebihan terhadap budaya, bahasa, tradisi, dan sejarah nasionalnya sendiri. Kemudian, selalu menuntut kepentingan pribadi dan kepentingan kelompoknya yang dapat menyebabkan kerusuhan.

    Faktor Penyebab Terjadinya Etnosentrisme

    Hingga saat ini, terdapat beberapa faktor yang melatarbelakangi perkembangan fanatisme suku bangsa, diantaranya:

    1. Sejarah dan Nasionalisme

    Faktor penyebab pertama berkaitan dengan sikap individu atau masyarakat yang mana memiliki rasa bangga nasionalisme yang kuat dan merasa memiliki keterkaitan dengan sejarah keluarga di masa lalu. 

    Lantaran kondisi tersebut, individu akan terus mengembangkan identitas (contohnya bahasa dan kebiasaan) dan hanya meyakini kebudayaannya sendiri. Sehingga, individu tersebut akan cenderung bersikap fanatisme suku bangsa ke kelompok budaya lain.

    2. Keberagaman Budaya yang Mendorong Konflik

    Etnosentrisme juga akan terjadi apabila kamu hidup di lingkungan sosial yang memiliki keberagaman kultur atau budaya. Kamu dan individu lainnya berkemungkinan besar untuk menguatkan solidaritas dan identitas kelompok sendiri. 

    Kondisi tersebut terkadang akan menimbulkan persaingan sumber daya dan membandingkan budaya, sehingga menciptakan ketegangan antarbudaya atau bahkan konflik. 

    3. Kekuasaan Politik

    Ketika individu atau masyarakat yang memiliki pengaruh besar dalam lingkup politik ingin mencapai suatu kekuasaan legitimasi, maka mereka cenderung memiliki perasaan fanatisme terhadap identitas yang melekat saat ini. 

    Sebab, banyak individu yang meyakini bahwa politik menjadi salah satu tempat terbaik untuk melaksanakan segala kepentingan pribadi atau kelompok yang mengarah ke sikap fanatisme suku bangsa. Faktor ini juga memicu perkembangan sikap merendahkan dan meremehkan kelompok lain yang “berbeda”.

    4. Pengaruh Budaya dan Loyalitas

    Faktor lain yang juga menyebabkan sikap etnosentrisme adalah pengaruh budaya yang kuat, sehingga mendorong rasa loyalitas dan keharusan untuk berkontribusi dalam kelompok budaya tersebut. 

    Kamu akan memiliki kecenderungan untuk mengikuti norma atau adat istiadat yang berlaku dan mengembangkan hubungan yang lebih erat dengan anggota dalam kelompok yang sama. 

    Nah, dengan alasan loyalitas, budaya kamu dapat mempromosikan keunggulan kelompok kamu, sehingga meremehkan kelompok budaya minoritas lain.

    5. Faktor Pendidikan dan Pengalaman Antarbudaya

    Rendahnya pendidikan dan kurangnya pengalaman antarbudaya dapat memainkan peran penting dalam terbentuknya sikap fanatisme suku bangsa. Pasalnya, faktor-faktor tersebut membuat individu atau kelompok masyarakat hanya diajarkan bahwa budayanya adalah yang terbaik, sedangkan tingkatan budaya lain lebih rendah. 

    Kurangnya pemberian pengalaman antarbudaya secara langsung, sehingga tidak ada kesempatan untuk berinteraksi dengan kelompok budaya lain, menyebabkan kamu hanya akan mengandalkan stereotip atau keyakinan yang memperkuat fanatisme suku bangsa. 

    6. Prasangka Sosial

    Prasangka sosial bisa timbul sebagai hasil dari etnosentrisme, di mana sikap membandingkan atau persepsi negatif terhadap kelompok lain cenderung akan diperkuat dan dipertahankan oleh anggota kelompok budaya. 

    Ketika kamu merasa unggul daripada kelompok lain, maka prasangka sosial dapat berkembang sebagai alat untuk membenarkan sikap fanatisme suku bangsa. Sikap ini dapat menghambat proses komunikasi yang efektif antara satu kelompok dengan kelompok lain.

    7. Faktor Ketakutan dan Ketidakpastian akan Kelompok Lain

    Faktor penyebab terakhir yang akan dijelaskan pada artikel ini adalah kondisi ketakutan dan ketidakpastian individu atau kelompok budaya dengan kelompok budaya lainnya. Sebagai gambarannya, anggaplah kamu merasa tidak aman atau tidak yakin dengan kondisi lingkungan saat ini dan bahkan dengan masa depan. 

    Untuk mengatasinya, kamu memutuskan untuk mencari identitas dan keamanan dalam kelompok budaya yang kamu yakini. Secara tidak sadar, upaya tersebut akan menguatkan sikap fanatisme suku bangsa kamu di masyarakat. 

    Oleh karena itu, faktor penyebab terjadinya fanatisme suku bangsa di lingkungan masyarakat tidak hanya berasal dari aspek internal, tetapi juga bisa karena aspek eksternal.

    Dampak dari Etnosentrisme

    Fenomena fanatisme suku bangsa memiliki dampak yang cukup signifikan dalam kehidupan sosial dan antar budaya pada individu atau masyarakat secara umum. Seringkali peristiwa ini mengakibatkan dampak negatif seperti konflik dan mengabaikan perbedaan budaya. 

    Namun, meskipun dalam konteks yang terbatas, sikap fanatisme suku bangsa juga dapat membawa dampak positif pada kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara secara luas. Lantas, apa saja dampak positif dan negatif dari fanatisme suku bangsa?

    1. Dampak Positif Etnosentrisme

    Berikut ini adalah sejumlah dampak positif atau manfaat yang bisa kamu dapatkan dari sikap fanatisme suku bangsa yang tepat:

    a. Menjaga Pertumbuhan dan Keutuhan Identitas Kelompok

    Manfaat yang pertama adalah kamu berkesempatan menjaga dan memperkuat identitas kelompok dan keberlanjutan budaya kamu. Terlebih kamu hidup di Indonesia yang berdiri dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”. 

    Berkat sikap fanatisme suku bangsa yang tepat, kamu dan kelompok budaya kamu akan memiliki sumber kekuatan untuk mencegah maupun menghadapi penindasan atau ancaman budaya yang mungkin terjadi.

    b. Meningkatkan Rasa Cinta dengan Tradisi dan Nilai Budaya

    Etnosentrisme juga dibutuhkan dalam membantu mengenalkan, menjaga, dan meneruskan tradisi, nilai-nilai, dan praktik budaya yang unik. Sehingga, kamu dan kelompok memiliki alasan untuk terus mencintai budaya asli, tanpa membedakan satu sama lain. 

    Sikap terbaik dalam mempertahankan budaya sendiri dapat menjadi investasi pelestarian warisan budaya yang berharga bagi generasi mendatang, walau di tengah zaman globalisasi dan modernisasi seperti sekarang.

    c. Menumbuhkan Jiwa Semangat Patriotisme

    Dampak positif berikutnya adalah kamu mampu menumbuhkan jiwa semangat patriotisme atau keinginan untuk membela identitas dan nilai budaya dari suatu kelompok atau masyarakat. 

    Misalnya, dengan cara berpartisipasi aktif dalam pengabdian masyarakat, meyakini keunikan dan keunggulan budaya lain, mendukung keadilan dan kebebasan, serta menghormati hak individu atau kelompok lain. 

    Akan tetapi, perlu kamu perhatikan, bahwa jagalah keseimbangan antara sikap fanatisme suku bangsa dengan patriotisme kapanpun dan dimanapun.

    d. Mengenal dan Mengakui Keberagaman Budaya Lain

    Pada dasarnya, etnosentrisme merujuk pada sikap individu atau kelompok masyarakat yang hanya memandang positif budayanya sendiri. Namun, dalam beberapa kasus, fenomena ini juga dapat memicu minat seseorang untuk mempelajari dan menghargai keberadaan budaya-budaya lain. 

    Sehingga, individu tersebut dapat merencanakan cara untuk melindungi budayanya dari perubahan dan ancaman integritas budaya di kemudian hari.

    e. Meningkatkan Sikap Gotong Royong dan Tolong Menolong Antar Budaya

    Sikap fanatisme suku bangsa yang sehat dan inklusif dapat memberikan dampak positif dalam meningkatkan sikap gotong royong dan tolong-menolong antarbudaya. 

    Kondisi ini lantaran kamu memiliki rasa saling memiliki, sehingga menciptakan keinginan untuk menolong urusan pribadi, pekerjaan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kemaslahatan kelompok budaya sendiri. 

    Oleh karena itu, penting untuk menjaga keseimbangan dengan sikap terbuka, saling pengertian, dan penghargaan terhadap budaya sendiri dan budaya lain.

    2. Dampak Negatif Etnosentrisme

    Berikut ini adalah sejumlah dampak negatif atau kerugian yang akan kamu dapatkan ketika melakukan sikap fanatisme suku bangsa yang kurang tepat:

    a. Menyebabkan Konflik Antar Kelompok Budaya

    Seringkali fenomena fanatisme suku bangsa yang dipengaruhi oleh tindakan memandang rendah budaya lain dan membanggakan budaya sendiri secara berlebihan dapat memicu konflik dan ketegangan antara kelompok budaya yang berbeda. 

    Sikap terlalu meyakini keunggulan budaya sendiri dapat menyebabkan kamu tidak mampu untuk berkomunikasi, saling memahami, dan mencari solusi bersama atas masalah-masalah antar kelompok budaya. 

    Oleh sebab itu, peristiwa fanatisme suku bangsa dapat mengarah pada konflik sosial, diskriminasi, atau bahkan kekerasan antarbudaya. Terlebih apabila kondisi ini tidak hanya mempengaruhi individu dari satu kelompok budaya, melainkan mempengaruhi seluruh anggota kelompok budaya tertentu.

    b. Menghambat Proses Membangun Interaksi dan Hubungan Antar Kelompok Budaya

    Seperti yang telah kami jelaskan di atas, etnosentrisme dapat menghambat proses asimilasi dan integrasi budaya yang berperan penting dalam membangun hubungan yang sehat dan harmonis antara kelompok budaya. 

    Asimilasi budaya merujuk pada proses interaksi sosial antar kelompok budaya yang dilakukan secara langsung dalam waktu lama. Sedangkan integrasi budaya merupakan proses penyesuaian budaya yang berbeda, sehingga bertujuan untuk mencapai suatu keharmonisan dan kesesuaian sebagaimana mestinya. 

    Apabila kamu tidak mampu melakukan kedua proses tersebut, maka kamu juga tidak akan mampu untuk menghargai perbedaan. Akibatnya, kamu memilih untuk tidak memperlakukan orang lain dengan hormat, yang mana menghambat komunikasi dan kerjasama yang efektif serta pembangunan kerangka kerja yang inklusif.

    c. Menurunkan Pemahaman dan Perspektif yang Bersifat Objektif

    Dampak negatif lain dari fanatisme suku bangsa adalah dapat membatasi atau bahkan menurunkan pemahaman dan perspektif ilmu pengetahuan individu atau kelompok budaya terhadap dunia. Sebab, mereka akan lebih mengutamakan persepsinya yang bersifat subjektif daripada persepsi objektif dalam menilai sesuatu.

    Ketidaktoleranan terhadap budaya lain mencegah individu untuk mendapatkan pembelajaran dari pengalaman dan pengetahuan baru yang ada di sekitarnya. Kondisi ini secara tak langsung dapat menghambat perkembangan pribadi, mengurangi kesempatan untuk berinovasi, dan mempersempit wawasan dunia.

    d. Terbentuknya Kesalahpahaman dan Stereotip Negatif

    Dalam lingkup masyarakat yang memiliki keragaman budaya, sikap etnosentris dapat memicu terbentuknya stereotip negatif dan kesalahpahaman terhadap kelompok budaya lain. 

    Prasangka-prasangka tersebut dapat mendorong terjadinya sikap diskriminatif dan perlakuan yang tidak adil terhadap individu atau kelompok yang menjadi sasaran stereotip tersebut. 

    Tindakan diskriminatif yang kami maksud mencakup pembatas akses atau kesempatan aktivitas oleh kelompok lain, mengabaikan hak-hak mereka, atau bahkan menjalankan tindakan yang merendahkan. Kondisi tersebut akan semakin parah ketika berkaitan dengan aspek yang dianggap suci atau keramat oleh suatu kelompok budaya.

    e. Menghambat Perkembangan Masyarakat yang Lebih Maju

    Terakhir, fanatisme suku bangsa juga dapat menghambat perkembangan masyarakat secara keseluruhan. Terlebih jika anggota masyarakat tersebut hanya berfokus pada mengunggulkan budaya sendiri dan memandang rendah kelompok budaya lain.

    Seseorang yang terjebak dalam keyakinan superioritas budayanya sendiri ini akan mengalami proses eksplorasi, pembelajaran, dan inovasi dari sumber luar yang relatif terhambat. 

    Hal ini membatasi potensi individu dan masyarakat untuk berkembang secara holistik, cenderung menutup diri, dan tidak mudah terbuka dengan datangnya budaya atau ilmu baru.

    Contoh Etnosentrisme dalam Kehidupan Sehari-hari

    Nah, supaya pemahaman kamu tentang fanatisme suku bangsa semakin optimal, berikut ini kami berikan beberapa contoh kasus yang dapat kamu temukan dalam kehidupan sehari-hari:

    1. Aspek Agama

    Dalam lingkup agama, sikap fanatisme suku bangsa dapat kamu temui pada beberapa kejadian, seperti:

    • Tidak menerima keberadaan agama lain, karena individu atau kelompok masyarakat hanya menganggap agama mereka adalah satu-satunya agama yang benar.
    • Membatasi kebebasan beribadah hingga melakukan kekerasan fisik terhadap individu dari agama lain.
    • Menghancurkan rumah ibadah milik kelompok agama minoritas di wilayah anggota kelompok agama mayoritas.

    2. Aspek Politik

    Dalam lingkup politik, sikap etnosentris dapat kamu temui pada beberapa kejadian, seperti:

    • Memilih petinggi negara atau wilayah tertentu dari kelompok budaya yang sama.
    • Membatasi hak dan kewajiban warga sipil dalam hal politik.
    • Memandang warga negara asing sebagai ancaman kedaulatan politik atau kebudayaan.

    3. Aspek Sosial dan Budaya

    Dalam lingkup sosial dan budaya, sikap fanatisme suku bangsa dapat kamu temui pada beberapa kejadian, seperti:

    • Pemberlakuan sistem kasta masyarakat Hindu di Bali, yang mana membagi status sosial individu atau kelompok menjadi beberapa tingkatan.
    • Menghina atau mengabaikan individu atau kelompok masyarakat yang memiliki bahasa, adat istiadat, dan tradisi budaya yang terlihat asing.
    • Berkumpul dengan kelompok, klub, atau komunitas yang memiliki kesamaan budaya.

    4. Aspek Ekonomi

    Dalam lingkup ekonomi, sikap etnosentris dapat kamu temui pada beberapa kejadian, seperti:

    • Mendorong konsumen untuk menggunakan produk lokal, daripada produk impor.
    • Memboikot produk impor yang dapat mengancam industri dan lapangan kerja di dalam negeri.
    • Banyaknya orang Tionghoa yang menguasai ekonomi perdagangan di Indonesia dan mempekerjakan masyarakat pribumi sebagai bawahannya.

    5. Aspek Pendidikan

    Dalam lingkup pendidikan, sikap fanatisme suku bangsa dapat kamu temui pada beberapa kejadian, seperti:

    • Mengabaikan bahasa dan budaya minoritas dalam sistem pendidikan, misalnya penggunaan kurikulum nasional yang memuat informasi-informasi yang hanya relevan untuk siswa di wilayah Pulau Jawa.
    • Mengucilkan siswa yang berasal dari luar wilayah utama.
    • Guru yang memeluk agama Islam harus melepas jilbabnya, jika ingin mengajar di sekolah khusus siswa beragama Kristen atau Katolik.

    Apakah Kamu Siap untuk Menyikapi Etnosentrisme?

    Demikian informasi lengkap yang perlu kamu ketahui tentang fenomena etnosentrisme. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kamu untuk menghadapi berbagai bentuk sikap yang mempengaruhi sosial dan budaya masyarakat di sekitar kamu.

  • Pengertian Ilmu Sosiologi: Pendapat Ahli, Ruang Lingkup, dan Fungsinya

    Pengertian Ilmu Sosiologi: Pendapat Ahli, Ruang Lingkup, dan Fungsinya

    Ilmu sosiologi menjadi salah satu mata pelajaran yang diajarkan pada jenjang sekolah menengah. Khususnya bagi siswa dari rumpun Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Secara umum, materi dalam pelajaran sosiologi berkaitan dengan kehidupan masyarakat beserta objeknya, yakni manusia.

    Lantas, sebenarnya apa yang dimaksud dengan pelajaran sosiologi menurut para ahli? Yuk, simak penjelasan selengkapnya tentang pengertian, ruang lingkup, hingga fungsi pelajaran sosiologi dalam artikel ini!

    Pengertian Ilmu Sosiologi

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, sosiologi merupakan pelajaran tentang sifat, perkembangan, dan tingkah laku masyarakat. Selain itu, kata sosiologi juga dapat diartikan sebagai ilmu tentang struktur sosial, proses sosial, dan perubahannya.

    Sedangkan jika dilihat menurut harfiahnya, sosiologi berasal dari dua kata dalam bahasa Latin dan Yunani, yakni socius yang berarti kawan dan logos yang bermakna ilmu pengetahuan.

    Jadi, kesimpulannya, ilmu ini mendalami tentang tingkah laku individu ketika bersosialisasi. Selain itu, bila ada himpunan baru di masyarakat, ilmu ini jugalah yang meneliti setiap respon atau gerak-gerik dari masyarakat maupun individu terhadap himpunan tersebut. Contohnya seperti keluarga, suku, negara, hingga organisasi politik.

    Pelajaran sosiologi sendiri pertama kali diperkenalkan oleh seorang ilmuwan asal Perancis yang bernama Auguste Comte pada tahun 1838. Ia memperkenalkan istilah sosiologi melalui bukunya yang berjudul ‘Cours De La Philosophie Positive’. 

    Hal inilah yang membuat Auguste Comte memiliki kontribusi yang sangat besar dalam perkembangan pelajaran sosiologi hingga akhirnya mendapatkan gelar ‘The Father of Sociology’.

    Arti Menurut Para Ahli

    Adapun beberapa pengertian ilmu sosiologi yang dikemukakan oleh para ahli adalah sebagai berikut:

    • Auguste Comte: Ilmu yang mempelajari berbagai gejala sosial di dalam masyarakat, sehingga harus berlandaskan pada logika ilmiah dan rasional.
    • Karl Marx: Kepercayaan untuk dapat melawan penindasan dan melahirkan masyarakat tanpa kelas, sehingga setiap individu harus bisa dibebaskan dari sistem kapitalis.
    • Max Weber: Pengetahuan yang meneliti perihal keterkaitan antara beragam dampak sosial dan pengaruh timbal baliknya. Contohnya seperti gejala moral, gejala keluarga, gejala ekonomi, gejala agama, dan lain sebagainya.
    • Emile Durkheim: Ilmu yang mengkaji tentang institusi sosial beserta fakta yang ada di dalam berbagai tatanan masyarakat. Selain itu, Durkheim juga percaya bahwa dari kumpulan fakta yang berkaitan dengan cara bertindak dan berpikir, memiliki kekuatan yang dapat mengendalikan sebuah individu.
    • Soejono Soekanto: Ilmu yang fokus pada segi-segi umum kemasyarakatan dan juga berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum untuk kehidupan masyarakat.
    • Pitirin A. Sorokin: Ilmu yang mempelajari tentang hubungan timbal balik antara macam-macam gejala sosial yang terjadi di masyarakat.
    • Soelaeman Soemardi dan Selo Soemardjan: Ilmu yang mempelajari tentang struktur sosial dan juga proses sosial, termasuk di dalamnya juga terdapat perubahan sosial yang terjadi di dalam sebuah masyarakat. Adapun struktur sosial yang dimaksud adalah seluruh jalinan antar struktur sosial pokok pembentuk, seperti kaidah sosial, lembaga sosial, kelompok sosial, dan juga lapisan sosial.
    • Astrid S. Susanto: Pengetahuan yang mendalami mengenai seluruh hal baru yang tercipta dari dampak-dampak hubungan sosial masyarakat yang terjadi secara berulang-ulang.
    • Anthony Giddens: Studi yang secara spesifik membahas tentang masalah kehidupan, baik sosial manusia, kelompok, maupun masyarakat.
    • Mayor Polak: Bidang ilmu yang secara spesifik mendalami perihal masyarakat sebagai keseluruhan, yaitu relasi antar individu, antar kelompok, atau individu terhadap kelompok. 
    • Roucek dan Warren: Pengetahuan yang meneliti perihal relasi antar manusia pada rumpun sosial.

    Sejarah Ilmu Sosiologi

    Walaupun sering kali disebut sebagai cabang ilmu yang mempelajari tentang masyarakat, namun kemunculan pelajaran sosiologi masih terbilang baru. Bahkan, jika kamu membandingkannya dengan ilmu pengetahuan tentang masyarakat itu sendiri.

    Makanya, tak heran jika sosiologi juga kerap disebut kemunculannya merupakan hasil dari perkembangan ilmu pengetahuan manusia. Buktinya, yakni terbitnya buku yang membahas perihal pembangunan peradaban masyarakat yang damai dan adil oleh Plato dan Aristoteles pada zaman Yunani Kuno.

    Sementara itu, terbit juga tulisan mengenai peradaban manusia dan integrasi sosial di abad 14 oleh Ibnu Khaldun, cendikiawan dari Timur.

    Dalam perkembangannya, ilmu ini menghabiskan waktu puluhan tahun lamanya hanya untuk mencari orientasi yang sesuai pada bidang sosiologi. Namun, satu hal yang menarik dari awal kemunculan sosiologi adalah ada banyak peristiwa bersejarah yang terjadi dalam peradaban manusia.

    Bahkan, dua di antaranya juga memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan ilmu sosiologi. Pertama, revolusi politik yang terjadi pada abad ke-18 hingga abad ke-19 di Perancis. Terjadinya peristiwa ini membuat fokus sosiologi jadi bergeser pada pembuatan ketertiban dan juga perubahan sosial.

    Kemudian, yang kedua ada revolusi industri yang setelahnya menjadi titik kemunculan kapitalisme dan juga sosialisme. Hal ini tentu saja ikut serta mempengaruhi perkembangan pelajaran sosiologi.

    Selama abad ke-18, telah tercatat bahwa setidaknya ada tiga tokoh yang secara spesifik membahas mengenai sosiologi. Pertama ada Herbert Spencer di tahun 1876, kemudian Lester F Ward di tahun 1883, serta Emile Durkheim.

    Setelah itu, muncul lagi dua nama terkenal yang cukup berpengaruh pada sosiologi di abad ke-19, yakni Max Weber dan Karl Marx. 

    Pada awal abad 20, ilmu ini semakin tumbuh dengan cepat dan masyarakat AS sangat meminatinya sebagai ilmu sosial. Pada masa tersebut, sebagian besar ilmuwan yang mendalami ilmu ini, penyebabnya yakni kehadiran industrialisasi serta urbanisasi secara masif pada kawasan perkotaan AS.

    Kemudian, melewati abad ke-21, menjadi awal kemunculan cabang baru dari bidang ilmu ini dengan dampak masing-masing orang saling mengkritik. Contohnya seperti post-strukturalisme, post-modernisme, post-kolonialisme, dan juga post-positivisme.

    Pelopornya adalah George Ritzer yang mendukung pergerakan tersebut dengan rumusannya tentang sosiologi sebagai studi yang memuat paradigma plural. 

    Tak hanya itu, sosiologi juga terus melahirkan subdisiplin baru di bawah naungannya, seperti sosiologi kesehatan, sosiologi hukum, sosiologi gender, sosiologi pemuda, dan lain sebagainya.

    Ruang Lingkup Ilmu Sosiologi

    Dalam penerapannya, ruang lingkup pelajaran sosiologi sangatlah luas. Hal ini karena sosiologi mencakup hampir seluruh bidang kehidupan masyarakat. Termasuk ekonomi, politik, pendidikan, agama, dan juga kebudayaan. Dengan kata lain, setiap bidang kehidupan bisa dilihat dari perspektif sosiologi.

    Sebab, pelajaran sosiologi mencakup interaksi sosial yang terjadi baik antara individu dengan individu, kelompok dengan kelompok, maupun individu dengan kelompok. Namun, pada hakikatnya, ilmu ini juga meneliti struktur sosial pada ruang lingkup utama sebagai berikut:

    1. Ilmu Sosial atau Social Science

    Pada dasarnya, sosiologi bukanlah bagian dari ilmu alam atau ilmu pasti yang berkaitan dengan perbedaan isi. Namun, bidang ilmu ini hanya berpatokan pada kejadian realtime, bukan kejadian masa depan atau masa lalu.

    Oleh karena itulah, sosiologi tidak bisa menentukan kemana arah perkembangan suatu proses kehidupan manusia.

    2. Ilmu Murni atau Pure Science

    Sosiologi termasuk ke dalam ilmu pengetahuan yang murni. Hal ini karena sosiologi bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan yang di dalamnya menyangkut tentang masyarakat. Jadi, ilmu ini bukan untuk menggunakan pengetahuan tersebut kepada masyarakat.

    Namun, sosiologi bisa digunakan dalam berbagai hal krusial lainnya, seperti diplomasi, administrasi, psikologi, hingga pembuatan undang-undang. Sebab, sosiologi digunakan untuk mendapatkan fakta yang digunakan sebagai jalan keluar dari masalah yang sedang terjadi di masyarakat.

    3. Ilmu Abstrak atau Abstract Science

    Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, sosiologi juga termasuk ke dalam ilmu abstrak atau ilmu yang tidak konkret. Maksudnya adalah ilmu ini memperhatikan bentuk serta pola peristiwa yang terjadi di masyarakat.

    Adapun tujuan lain dari sosiologi adalah dapat digunakan untuk mendapatkan pengertian dan juga pola umum. Kemudian bisa juga kamu gunakan untuk mencari dan meneliti hukum maupun prinsip dari komunikasi antar individu, hakikat, struktur masyarakat, isi, sampai bentuknya.

    Selain ketiga poin di atas, ruang lingkup sosiologi juga mencakup pengetahuan dasar dalam pengkajian masyarakat yang meliputi beberapa hal sebagai berikut:

    • Kedudukan dan juga peran sosial individu dalam keluarga, kelompok sosial, serta masyarakat.
    • Nilai-nilai serta norma-norma sosial yang mendasari atau bahkan mempengaruhi sikap dan juga perilaku anggota masyarakat dalam melakukan hubungan sosial.
    • Masyarakat dan juga kebudayaan daerah sebagai sebuah sub masyarakat serta kebudayaan nasional Indonesia.
    • Perubahan sosial budaya yang berlangsung secara terus-menerus, karena disebabkan oleh berbagai faktor internal maupun eksternal.
    • Masalah-masalah sosial budaya yang ditemui oleh setiap individu dalam kehidupan sehari-hari.

    Jenis-Jenis Sosiologi

    Dari penjelasan mengenai ruang lingkup ilmu sosiologi di atas, berikut ini adalah empat jenis-jenis sosiologi yang perlu diketahui:

    1. Sosiologi Umum

    Sosiologi umum merupakan jenis sosiologi yang nantinya akan meneliti serta mendalami tingkah laku individu saat menjalin relasi terhadap masyarakat luas. Misalnya, seorang wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata. Tentunya ia akan memberikan berbagai respon selama hidup di tengah masyarakat desa tersebut. 

    2. Sosiologi Khusus

    Jadi, sosiologi khusus merupakan bidang yang bertugas untuk mempelajari berbagai sektor dalam kehidupan masyarakat secara khusus. Misalnya, sektor ekonomi, agama, pendidikan, dan lainnya.

    3. Sosiologi sebagai Ilmu Terapan

    Sosiologi sebagai ilmu terapan bertujuan khusus dalam memecahkan masalah praktis masyarakat dengan pengetahuan ilmiah secara tepat. Misalnya, masyarakat di suatu komplek perumahan hendak membangun tempat ibadah, maka sikap bergotong royong akan menonjol di sini.

    4. Sosiologi sebagai Ilmu Murni

    Peran sosiologi sebagai ilmu murni, yakni bertujuan dalam menggambarkan serta membentuk ilmu dengan abstrak. Dengan begitu, maka akan tercipta mutu yang dapat dipertimbangkan.

    Ciri-Ciri Ilmu Sosiologi

    Adapun berbagai ciri-ciri utama pelajaran sosiologi adalah sebagai berikut:

    1. Teoretis

    Ciri pertama dari pelajaran sosiologi adalah teoretis. Maksudnya, ilmu ini selalu berusaha untuk menyusun sebuah abstraksi yang berupa kesimpulan mengenai hubungan sebab-akibat dari berbagai gejala sosial yang diteliti sesuai dengan hasil pengamatan empiris.

    2. Empiris

    Ilmu sosial yang satu ini berasal dari kejadian nyata hubungan antar manusia dalam bersosialisasi. Jadi, ilmu ini muncul bukan hanya sekedar spekulasi yang bersifat subjektif saja.

    3. Non-Etis

    Sebenarnya, tugas utama dari sosiologi bukan untuk menentukan mana yang baik dan buruk dalam permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat. Hal ini karena ilmu tersebut fokus untuk memberikan penjelasan yang logis mengenai latar belakang fenomena tertentu.

    4. Kumulatif

    Ilmu ini berasal dari perpaduan sejumlah teori sosiologi yang sebelumnya telah ada, kemudian ditulis kembali menjadi teori yang lebih lengkap saat membahas peristiwa tertentu. Jadi, ketika penulis menyampaikan opininya, hal tersebut ada sumbernya, tidak hanya omong kosong belaka.

    Teori dalam Ilmu Sosiologi

    Setiap ilmu pengetahuan tentu saja mempunyai teorinya masing-masing. Begitu pula pada ilmu sosiologi yang mempunyai beberapa teori. Adapun teori ini berfungsi untuk menjelaskan berbagai hal yang terjadi di masyarakat.

    Selain itu, setiap teori yang ada juga memiliki tingkat kepastiannya masing-masing. Dalam ilmu sosial, teori yang digunakan cenderung lebih bersifat subjektif, karena tergantung pada cara pandang seseorang dalam melihat suatu fenomena.

    Meskipun begitu, teori pengetahuan sosial cenderung jarang berubah, khususnya bila tidak ada teori baru yang dapat membantah teori sebelumnya.

    Adapun beberapa teori dalam pelajaran sosiologi yang menarik untuk dipelajari lebih dalam adalah sebagai berikut:

    1. Interaksionisme Simbolik

    Interaksionisme simbolik adalah gabungan antara pemikiran George Herbert mead, Max Weber, dan Herbert Blumer yang dilakukan untuk menganalisa masyarakat berdasarkan pada makna subjektif seorang individu dalam interaksi sosial.

    Menariknya lagi, teori ini juga mengasumsikan bahwa tindakan individu cenderung berlandaskan pada hal-hal yang mereka yakini. Jadi, bukan benar yang dimaksudkan secara objektif.

    Keyakinan inilah yang kemudian disebut sebagai produk konstruksi sosial yang direpresentasi. Adapun hasil interpretasi tersebut dikenal dengan istilah situasi.

    Interaksionisme simbolik ini juga menjadi bagian dari teori mikro sosiologi, karena analisisnya dilakukan berdasarkan pada aspek individu. Apalagi konsep teori ini juga cenderung memiliki tendensi dengan urusan identitas seseorang.

    2. Konflik

    Teori konflik berasumsi pada perbedaan yang terjadi dalam kepentingan yang dimiliki oleh kelas-kelas sosial hingga nantinya menghasilkan relasi sosial yang bersifat konfliktual. Adapun teori konflik sendiri dikemukakan oleh Karl Marx.

    Kesenjangan sosial terjadi karena adanya pendistribusian kekayaan yang tidak merata. Kondisi inilah yang kemudian menciptakan kesenjangan yang semakin parah hingga berpotensi menimbulkan konflik yang semakin besar.

    Adapun kelas sosial yang dimaksud oleh karl Marx adalah kelompok proletar dan juga borjuis. Kelompok pertama adalah kelas pekerja atau orang yang tidak mempunyai kontrol atas sumber daya. Sedangkan kelompok kedua menjadi kelompok yang memegang kontrol terhadap sumber daya, karena mempunyai modal yang besar.

    Kehadiran dua kelas inilah yang kemudian bisa terlihat dengan jelas bahwa kepentingan dan juga tujuan dari kedua kelas tersebut sangat berbeda. Kaum proletar ingin agar kekayaan didistribusikan secara merata.

    Sedangkan kaum borjuis justru sebaliknya, yakni ingin adanya penambahan kekuasaan dan juga mempertahankan kekuasaan yang dimilikinya. Pergesekan yang terjadi antara dua kelompok tersebut dapat memicu terjadi revolusi, apabila dibiarkan begitu saja.

    Ditambah lagi, jika terdapat kesadaran kelas yang justru membuat kelompok proletar menyadari bahwa mereka sebenarnya menjadi pihak yang selama ini dieksploitasi.

    3. Fungsionalisme Struktural

    Teori dalam ilmu sosiologi yang terakhir adalah fungsionalisme struktural yang dikemukakan oleh Emile Durkheim. Jadi, Emile Durkheim mempunyai imajinasi bahwa masyarakat adalah organisme yang terdiri dari berbagai macam komponen. 

    Kemudian, komponen tersebut saling mempengaruhi satu sama lain hingga berfungsi secara terus-menerus.

    Singkatnya, teori fungsionalisme struktural lebih menekankan bahwa masyarakat tersusun dari sistem struktural yang mempunyai perannya sendiri. Oleh karena itu, hasil dari keseluruhan sistem yang berjalan tersebut dapat menciptakan stabilitas sosial di masyarakat.

    Selain itu, teori ini juga menyebutkan bahwa lembaga sosial akan tetap bertahan selagi fungsinya bisa berjalan dengan baik. Apabila terjadi malfungsi, maka nantinya secara perlahan lembaga-lembaga tersebut akan menghilang dari masyarakat.

    Tak hanya itu saja, teori ini juga menekankan adanya kerjasama yang baik antara berbagai institusi sosial, termasuk di dalamnya institusi pemerintah, ekonomi, agama, pendidikan, keluarga, media, dan lain sebagainya. Tujuannya sudah pasti agar sistem tersebut bisa tetap terjaga.

    Sifat dan Hakikat Ilmu Sosiologi

    Sebagai salah satu ilmu pengetahuan yang digunakan oleh manusia, sosiologi tentu saja memiliki sifat dan hakikatnya sebagai ilmu. Berikut ini adalah informasi singkat tentang berbagai sifat dan hakikat pelajaran sosiologi yang perlu diketahui:

    • Sosiologi termasuk ke dalam rumpun ilmu-ilmu sosial yang berkaitan erat dengan gejala-gejala kemasyarakatan.
    • Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang kategoris. Hal inilah yang membuat sosiologi membatasi diri dengan apa yang terjadi dan bukan pada apa yang seharusnya terjadi.
    • Sosiologi merupakan ilmu murni, sebab tujuannya demi mengembangkan serta membangun ilmu pengetahuan dengan abstrak. Jadi, sosiologi bukanlah ilmu pengetahuan terapan atau terpakai.
    • Sosiologi merupakan pelajaran yang lebih berfokus pada peristiwa dan pola kejadian dalam lingkungan warga dengan sifatnya yang abstrak.
    • Sosiologi termasuk ke dalam ilmu pengetahuan yang umum dan bukan ilmu pengetahuan yang khusus. Sehingga, cenderung untuk meneliti dampak umum dari masing-masing komunikasi antar individu maupun kelompok secara empiris.
    • Sosiologi bertujuan menciptakan beragam pola dan definisi umum.
    • Sosiologi dimanfaatkan dalam mencari dan penelitian hukum-hukum maupun prinsip-prinsip umum dari komunikasi antar individu dan mengenai isi, struktur, sifat, serta hakikat warga.
    • Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang bersifat rasional, karena berkaitan dengan metode yang dipergunakannya.

    Fungsi Ilmu Sosiologi

    Pelajaran sosiologi sebagai bagian dari ilmu pengetahuan tentu memiliki fungsinya tersendiri yang bermanfaat bagi banyak orang. Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai berbagai fungsi sosiologi yang perlu dipahami:

    1. Penelitian

    Sosiologi juga berfungsi untuk penelitian. Sebab, dengan adanya penelitian tersebut, diharapkan seseorang bisa mendapatkan rencana penyelesaian masalah sosial dengan baik.

    Agar bisa mewujudkan hal tersebut, tentu saja dibutuhkan data-data pendukung mengenai masalah yang sedang terjadi. Oleh sebab itu, diperlukan penelitian dengan metode pengumpulan data atau wawancara yang bertujuan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang kredibel.

    2. Pembangunan

    Selanjutnya, sosiologi juga berfungsi sebagai pembangunan. Maksudnya, ilmu sosiologi akan menyajikan data sesuai kebutuhan saat proses pembangunan, mulai dari perencanaan, tahap proses kegiatan pembangunan, sampai penilaian akhir.

    Tak hanya sampai disitu saja, tentu saja ada berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam setiap tahapan tersebut. Misalnya pada tahap perencanaan, di mana seseorang harus memperhatikan kebutuhan sosial. 

    Kemudian, dalam tahap proses kegiatan pembangunan, berubahnya interaksi sosial dan eratnya sosialisasi antar masyarakat juga wajib kamu perhatikan.

    Jadi, fungsi sosiologi yang satu ini bertujuan untuk membantu agar perubahan yang terjadi di masyarakat bisa berjalan dengan baik. Hal ini perlu dilakukan agar perubahan  yang terjadi tersebut dapat memberikan dampak positif yang jauh lebih besar kepada masyarakat luas.

    3. Perencanaan Sosial

    Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, pelajaran sosiologi juga berfungsi sebagai perencanaan sosial. Adapun maksud dari perencanaan sosial sendiri adalah upaya untuk menyiapkan masa depan sosial di masyarakat secara umum.

    Tujuan lainnya, yakni menyelesaikan beragam permasalahan yang ada di masyarakat pada saat itu. Apalagi perubahan sosial yang muncul di masyarakat tidak semuanya selalu membawa dampak positif.

    Sudah pasti ada beberapa bentuk perubahan sosial yang pada akhirnya justru memberikan dampak negatif bagi masyarakat. Oleh karena itulah, pelajaran sosiologi mencoba berusaha untuk melakukan perencanaan sosial sebagai langkah antisipasi.

    4. Pemecahan Masalah Sosial

    Terakhir, fungsi ilmu ini adalah memecahkan masalah sosial. Manusia sebagai makhluk sosial sudah pasti tidak akan terlepas dari yang namanya permasalahan sosial.

    Adapun pemecahan sosial ini meliputi metode preventif dan juga metode represif. Metode preventif dilakukan dengan cara menyiapkan metode ataupun cara pencegahan sebelum terjadinya suatu masalah.

    Sedangkan metode represif maksudnya adalah tindakan yang dilakukan pasca terjadinya penyimpangan atau masalah sosial yang terjadi di masyarakat.

    Cara Berpikir Sosiologi

    Agar lebih mudah dalam memahami ilmu sosiologi, maka kamu perlu mengetahui seperti apa imajinasi sosiologi. Berikut ini adalah beberapa prinsip cara berpikir sosiologi atau yang disebut juga dengan imajinasi sosiologi:

    1. Prinsip 1: Seeing the Strange in Familiar

    Konsep seeing in the strange in familiar ini maksudnya adalah ketika kamu melihat hal-hal aneh yang terasa sudah familiar atau umum terjadi masyarakat. Contohnya seperti mayoritas orang yang ingin bekerja sebagai PNS agar kehidupannya dapat terjamin.

    Fenomena tersebut tentu saja tidak hanya terjadi di suatu daerah tertentu, melainkan bisa terjadi dalam skala nasional.

    2. Prinsip 2: Seeing The General in Particular

    Jika kamu telah melihat hal-hal aneh yang ternyata umum terjadi, maka kamu bisa melihat adanya pola dari fenomena yang muncul di tengah-tengah masyarakat tersebut. Sebagai contoh, kamu telah mengetahui sebuah pola yang menyatakan bahwa ada banyak generasi muda yang ingin menjadi PNS.

    Fenomena tersebut semakin diperkuat dengan banyaknya lowongan kerja yang disediakan oleh pemerintah bagi para CPNS.

    3. Prinsip 3: Seeing Personal Choices in Social Contexts

    Prinsip yang ketiga sekaligus terakhir adalah seeing personal choices in social contexts. Maksudnya adalah setelah kamu membahas pola yang ditemukan secara individu, maka kamu perlu memahami bahwa pola tersebut belum mengacu pada konteks sosial lainnya.

    Dengan kata lain, fenomena tersebut tidak memiliki alasan atau penjelasan dari lingkup sosial atau masyarakatnya. Jika kamu sudah berada pada prinsip ketiga ini, artinya kamu tahu bahwa orang-orang yang memilih menjadi PNS salah satunya adalah karena faktor dorongan keluarga.

    Selain itu, tak menampik juga bahwa alasan lainnya adalah banyaknya lowongan kerja yang dibutuhkan untuk posisi CPNS tersebut. 

    Meskipun untuk bisa mendapatkan data pasti mengapa suatu fenomena terjadi membutuhkan penelitian mendalam. Namun, jika kamu sudah memiliki imajinasi sosial berdasarkan tiga prinsip tersebut, setidaknya cara berpikirmu sudah sesuai dengan penerapan pelajaran sosiologi.

    Objek Ilmu Sosiologi

    Secara umum, objek dalam pelajaran sosiologi terbagi ke dalam dua kategori, yakni objek material dan objek formal. Berikut ini adalah penjelasan tentang kedua objek pelajaran sosiologi tersebut:

    1. Objek Material

    Objek material dalam pelajaran sosiologi merupakan kehidupan sosial, gejala-gejala, dan juga proses hubungan antar manusia yang kemudian mempengaruhi kesatuan hidup manusia itu sendiri.

    2. Objek Formal

    Objek formal dalam ilmu sosiologi merupakan suatu objek yang ditekankan pada manusia sebagai makhluk sosial maupun masyarakat secara umum. Jadi, objek formal pada ilmu ini, yaitu relasi antar individu serta proses yang muncul dari relasi individu terhadap masyarakat sekitar sebagai makhluk sosial.

    Objek Kajian Sosiologi

    Berikut adalah empat objek kajian sosiologi yang perlu diketahui.

    • Hubungan timbal balik yang dilakukan antara manusia dengan manusia yang lainnya.
    • Hubungan yang terjadi antara individu dengan kelompok.
    • Sifat-sifat dari kelompok-kelompok sosial yang beraneka macam coraknya.
    • Hubungan yang terjadi antara kelompok satu dengan kelompok yang lainnya.

    Sudah Paham Tentang Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan?

    Itu dia penjelasan lengkap tentang ilmu sosiologi, mulai dari pengertian, sejarah, ruang lingkup, jenis, ciri, teori, hingga fungsinya yang menarik untuk kamu ketahui. Semoga ulasan tentang pelajaran sosiologi di atas bermanfaat untukmu, ya!

  • Diskriminasi: Pengertian, Penyebab, Dampak, Jenis dan Contohnya

    Diskriminasi: Pengertian, Penyebab, Dampak, Jenis dan Contohnya

    Hingga saat ini, perlakuan tidak mengenakan kepada suatu golongan tertentu atau diskriminasi masih bisa ditemukan dalam lingkungan masyarakat. Perlakuan ini seringkali terjadi di berbagai negara, apalagi dengan keanekaragaman suku dan agamanya. Bahkan, perlakuan ini bisa menimbulkan kekerasan hingga korban jiwa.

    Pengertian Diskriminasi

    Theodorson & Theodorson berpendapat bahwa diskriminasi merupakan perlakukan yang tidak berimbang kepada individu atau kelompok, berdasarkan sesuatu yang biasanya bersifat kategorikal atau atribut-atribut khas. Ini meliputi ras, suku, agama, atau kelas-kelas yang ada di lingkungan sosial.

    Mereka melanjutkan, istilah ini digunakan untuk melukiskan suatu tindakan dari pihak yang dominan (mayoritas) dalam hubungannya kepada pihak yang lebih lemah (minoritas). Bisa dibilang, perilaku dari pihak mayoritas cenderung bersifat tidak bermoral dan tidak demokratis.

    Sederhananya, diskriminasi adalah perbuatan mayoritas yang memperlakukan pihak lemah atau minoritas secara berbeda, tidak adil berdasarkan karakteristiknya. Dalam bahasa Indonesia, istilah ini disebut juga dengan segregasi, pembedaan, dan pemisahan.

    Umumnya, pembedaan diawali dengan prasangka. Dengan prasangka, seseorang atau kelompok akan membuat pemisahan kepada yang lainnya (biasanya minoritas). Pemisahan ini diakibatkan oleh sifat kita sebagai maklluk sosial yang seringkali ingin berkumpul dengan orang-orang yang punya kemiripan dengan kita.

    Lebih lanjut lagi, prasangka biasanya didasari pada kurangnya pemahaman, rasa tidak peduli pada kelompok lain, atau ketakutan karena sebuah perbedaan. Hal tersebutlah membuat seseorang/kelompok menyamaratakan tentang orang lain dan membuat orang-orang yang berada dalam golongan lain dianggap sama dalam hal apapun.

    Terlebih, prasangka diperparah dengan stigma atau stereotip tentang golongan tertentu. Hal tersebut didasari oleh fakta yang menjurus pada kesamaan pola, sehingga seseorang atau golongan menggeneralisasi seseorang atau golongan lainnya atas dasar kelompok dan klasifikasinya.

    Label buruk yang disematkan ini sulit diubah maupun dihapus, Sebab, label ini dipelajari seseorang dari pengaruh sosial, seperti masyarakat, keluarga, sekolah, sampai media massa. Lebih lanjut, diskriminasi terjadi saat keyakinan atas stigma atau stereotip ini berubah menjadi suatu tindakan.

    Penyebab Diskriminasi

    Di bawah ini adalah beberapa penyebab terjadinya perlakuan diskriminatif yang dirasakan orang-orang yang tidak memiliki kekuatan:

    1. Menjadi Pertahanan Psikologi

    Seseorang tidak jarang memindahkan ciri-ciri dalam diri sendiri yang tidak disukai kepada orang lain, sehingga menghasilkan adanya label kepada korban. Padahal, ciri-ciri orang lain yang tidak disukainya merupakan proyeksi yang timbul atas dirinya sendiri.

    2. Kekecewaan

    Beberapa orang yang kecewa akan melempar kekecewaan mereka kepada seseorang yang dijadikan sebagai kambing hitam. Ini menyebabkan perlakuan diskriminatif, karena memberikan label buruk kepada orang lain yang dijadikan kambing hitam.

    3. Merasa Terancam dan Rendah Diri

    Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mereka yang merasa terancam atau rendah diri adalah dengan merendahkan seseorang atau kelompok lain. Ini membuat mereka tidak perlu merasa rendah, karena menilai orang lainlah yang lebih rendah dari mereka.

    4. Sejarah

    Adanya perlakuan yang tidak adil atau tidak mengenakan pada masa lalu, bisa menjadi penyebab terjadinya diskriminasi. Dalam beberapa kasus, seseorang akan berpikir bahwa tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang diperlakukan buruk. Alhasil, mereka melampiaskannya kepada orang lain.

    5. Persaingan dan Eksploitasi

    Hal ini disebabkan oleh pengaruh globalisasi, sehingga masyarakat menjadi lebih materialistis dan merasa hidup dalam persaingan. Hal tersebut menyebabkan seseorang atau kelompok untuk terus mendapatkan kekuasaan, meski harus melakukan hal yang diskriminatif kepada orang lain atau suatu golongan tertentu.

    6. Corak Sosialisasi

    Perilaku ini merupakan peristiwa yang dipelajari dan sudah turun temurun melalui proses sosialisasi. Alhasil, terbentuklah pandangan stereotip tentang suatu bangsa dengan yang lain dalam hidup bermasyarakat, yakni terkait dengan kelakuan atau cara hidup.

    Melalui pandangan stereotip tersebut, orang-orang yang berusia muda, belajar menghakimi seseorang atau satu ide.

    Dampak Diskriminasi untuk Kesehatan Mental Korban

    Untuk orang-orang yang menjadi korban atas perlakuan diskriminatif, hal ini bisa membuat masalah yang lebih besar dan mempengaruhi kesehatan mentalnya.  Akibatnya, mereka jadi lebih sulit untuk bisa bangit dari keterpurukan dan menghindar dari bantuan, karena takut mengalami stigmatisasi.

    Adapun beberapa dampak dari perlakuan diskriminatif yang bisa mempengaruhi mental adalah sebagai berikut:

    • Merasa malu, putus asa, dan seperti terisolasi.
    • Memiliki keterbatasan akses, karena peluang untuk pekerjaan dan interaksi sosial lebih sedikit dari yang lain.
    • Tidak ingin atau enggan untuk meminta pertolongan atau perawatan.
    • Merasa tidak mampu untuk mencapai apa yang diinginkan dalam hidup.
    • Sulit menemukan tempat tinggal.
    • Memiliki keraguan dalam diri.
    • Yakin bahwa dirinya tidak akan pernah bisa mengatasi kondisi tersebut.
    • Memiliki peluang kerja yang kecil.

    Tipe-Tipe Diskriminasi

    Perlakuan diskriminatif dibedakan menjadi 2 tipe, yakni:

    1. Direct Discrimination (Diskriminasi Langsung)

    Direct discrimination adalah situasi ketika seseorang dirugikan dengan mendapatkan perlakuan kurang mengenakan daripada orang lain. Padahal, situasi yang dirasakan sama dan sebanding. Selain itu, tipe ini juga bisa diartikan sebagai perlakuan tidak adil antar pekerja yang nyata, atas dasar warna kulit, ras, dan gender.

    Berikut ini adalah beberapa contoh dari direct discrimination:

    • Ketika seseorang melamar pekerjaan dan memenuhi kualifikasi dari iklan. Namun, orang tersebut tidak diundang untuk wawancara. Sedangkan orang lain yang memiliki kualifikasi yang sama atau serupa dipanggil untuk wawancara. Perbedaan kedua orang ini adalah dari jenis kelaminnya.
    • Saat seorang berkebangsaan Afrika-Amerika ingin membeli bahan bakar di SPBU terdekat di New York. Namun, ia harus membayar di muka sebelum mengisi kendaraannya. Sedangkan pelanggan lain yang berkulit putih boleh membayar sesudahnya.

    2. Indirect Discrimination (Diskriminasi Tidak Langsung)

    Indirect Discrimination adalah ketika ada aturan atau prosedur yang dibuat dan terlihat menguntungkan semua pihak, tetapi sebenarnya merugikan orang dari ras, agama, dan jenis kelamin tertentu. Aturan tersebut bisa saja menjadi diskriminatif, meskipun beberapa poin yang disebutkan berlaku untuk semua orang.

    Contohnya, ketika persyaratan tinggi badan tertentu yang bisa merugikan perempuan, Atau persyaratan pembuatan SIM yang bisa merugikan penyandang disabilitas. Sekilas aturan tersebut netral, karena sama untuk setiap orang. Tetapi, orang-orang tertentu tidak bisa relevan dengan aturan tersebut, karena suatu keterbatasan.

    Meski demikian, dalam beberapa kondisi, hal tersebut tidak bisa disebut sebagai perlakukan diskriminatif, apabila kriteria di bawah ini terpenuhi, antara lain:

    • Tujuan dari aturan atau prosedur dibenarkan. Maksudnya, sah dan bisa diterima secara objektif.
    • Cara atau aturan yang digunakan tepat dan harus, agar bisa mencapai tujuan. Artinya tidak ada cara alternatif atau aturan lain yang bisa diciptakan agar tujuan tersebut bisa dicapai.

    Jenis-Jenis Diskriminasi

    Di bawah ini adalah jenis-jenis dari pembedaan yang sering terjadi dan bisa ditemukan dalam kehidupan bermasyarakat di setiap negara, antara lain:

    1. Rasisme

    Rasisme adalah sebuah tindakan yang membeda-bedakan orang berdasarkan warna kulit, ras, suku, dan asal-usulnya. Perbedaan dan ketidak setaraan ini diwujudkan berupa tindakan seperti pembatasan hak dan kebebasan seseorang. Selain itu, rasisme bisa diartikan sebagai keyakinan bahwa manusia terbagi menjadi beberapa golongan.

    Golongan ini dipisahkan berdasarkan ciri biologis yang disebut dengan ras. Pendapat ini juga meyakini bahwa adanya relevansi terkait ras dengan kecerdasan, sifat, moralitas, dan perilaku lain yang membuat beberapa ras dianggap lebih unggul dari yang lain secara bawaan.

    Selain itu, rasisme Ini juga memunculkan beberapa dampak buruk, salah satunya bisa berujung kekerasan. Sebab, rasisme memandang mereka yang dianggap berbeda sebagai objek yang bisa diperlakukan seenaknya. Akibatnya, mereka sering mendapatkan perlakuan buruk dan bahkan kekerasan di beberapa daerah.

    2. Seksisme

    Seksisme adalah jenis diskriminasi yang sering ditemukan di internet. Menurut Europea Institute for Gender Equality, seksisme merujuk pada kepercayaan mengenai sifat dasar perempuan dan laki-laki serta peran yang harus mereka mainkan dalam masyarakat.

    Asumsi tentang seksisme diwujudkan melalui label atau stereotip gender, di mana satu gender dianggap lebih tinggi dan unggul jika dibandingkan dengan gender lainnya. Akibatnya, seksisme dimanifestasikan dalam berbagai ranah kehidupan dalam bermasyarakat.

    Seksisme bisa terjadi oleh semua orang, tetapi yang sering merasakan atau menjadi korban adalah para perempuan. Contohnya seperti anggapan bahwa seorang pemimpin harus seorang laki-laki, karena mereka dinilai lebih bisa memimpin dan perempuan tidak kompeten.

    3. Ageisme

    Ageisme merupakan sebuah prasangka dan diskriminatif kepada seseorang berdasarkan umurnya. Sikap diskriminatif ini bisa terjadi di mana saja. Namun, ageisme lebih sering terjadi di tempat kerja. Asumsi ini diwujudkan salah satunya dengan anggapan bahwa usia tertentu sudah tidak produktif.

    Ageisme pertama kali dikenalkan oleh Robert Neil Butler. Ia menyatakan bahwa ageisme memiliki tiga komponen. Komponen ini meliputi prasangka terhadap lansia, praktik diskriminasi lansia, dan stereotip lansia yang dilakukan oleh perusahaan dan kebijakan secara terus menerus.

    Meski demikian, ageisme bisa terjadi kepada anak-anak muda. Sebab, anak muda sering dianggap sebagai sosok yang naïf dan tidak memiliki pengalaman, terutama dalam hal pekerjaan, sehingga cenderung dipandang sebelah mata.

    Dampak dari ageisme adalah kemiskinan, penurunan kognitif, rendahnya harapan hidup, dan kesepian. Bahkan, ageisme bisa membuat korbannya sulit mengembangkan diri, sulit mengakses pekerjaan, sampai beresiko terkena penyakit.

    4. Ableisme

    Ableisme adalah prasangka atau perlakuan yang diskriminatif kepada penyandang disabilitas atau difabel. Jenis diskriminasi ini pertama digunakan secara tertulis oleh Council of the London Borough Haringey pada siaran pers di tahun 1987.

    Secara etimologi, ableisme berasal dari kata “able” yang artinya mampu, bisa, atau sanggup. Jadi, ableisme merupakan keyakinan atau ideologi dimana seseorang menganggap bahwa orang-orang penyandang disabilitas memiliki derajat atau status lebih rendah dibandingkan orang non-disabilitas.

    Ableisme juga memandang penyandang disabilitas tidak sempurna dan mengaitkannya dengan penyakit. Lebih lanjut, ableisme melahirkan stereotip bahwa penyandang disabilitas tidak mampu melakukan hal-hal tertentu, tidak normal, dan cacat. Selain itu, ableisme dapat mengakibatkan marginalisasi, pemiskinan, hingga kekerasan.

    5. Reverse Discrimination

    Sesuai namanya, reverse discrimination merujuk pada keadaan di mana seseorang atau golongan minoritas didiskriminasi berdasarkan faktor yang dilindungi, seperti ras atau jenis kelamin. Misalnya, orang kulit putih yang didiskriminasi demi kepentingan ras minoritas.

    Sederhananya, reverse discriminasion adalah keadaan di mana kelompok mayoritas menganggap dirinya sebagai orang yang mendapatkan perlakuan diskriminatif. Hal ini mereka lakukan karena adanya upaya untuk memperbaiki ketidaksetaraan yang dialami oleh kelompok minoritas yang menjadi korban diskriminatif sebelumnya.

    Reverse Discrimination sering digunakan untuk menggambarkan argumen bahwa tindakan afirmatif atau kebijakan yang dibuat untuk memperbaiki ketidakadilan kelompok minoritas bisa menciptakan diskriminasi lain kepada kelompok mayoritas.

    Namun, istilah ini juga sering digunakan untuk melawan kebijakan yang tujuannya untuk merestorasi keadilan dan memperbaiki kesenjangan antara kelompok mayoritas dan minoritas.

    6. Religious Discrimination

    Diskriminasi agama (religious discrimination) merupakan perlakuan yang membeda-bedakan mengucilkan  atau membatasi orang, karena keyakinan tertentu dalam kehidupan bermasyarakat. Biasanya perlakuan tidak mengenakan ini dilakukan oleh hukum atau dalam pengaturan kelembagaan, seperti di tempat kerja.

    Religious discrimination bisa dialami oleh korban dalam berbagai bentuk, seperti pelecehan verbal atau fisik, penolakan akses ke fasilitas umum/layanan publik, dan dikucilkan. Dalam beberapa kasus, perlakuan diskriminatif ini bisa sampai berujung kekerasan yang dilandaskan oleh perbedaan agama.

    Religious discrimination dinilai perlakuan diskriminatif yang cukup ekstrim, karena orang dieksekusi akibat keyakinan yang dianggap sesat. Terlebih, dalam kehidupan sosial, di mana kebebasan beragama merupakan hak konstitusional, tidak jarang penganut agama minoritas bersuara mengungkapkan perlakuan diskriminatif yang dialaminya.

    7. Diskriminasi Berdasarkan Kasta

    Diskriminasi berdasarkan kasta adalah perlakuan tidak adil yang dialami seseorang, kelompok, atau golongan berdasarkan posisi mereka dalam suatu kasta. Sistem kasta sendiri merupakan sistem sosial yang membagi masyarakat menjadi beberapa kelompok dan membuat sebuah hierarki yang ditentukan oleh keturunan.

    Istilah ini menganggap bahwa seseorang, kelompok, atau golongan tertentu memiliki derajat yang lebih rendah maupun lebih tinggi secara sosial, ekonomi, dan politik. Perlakuan diskriminatif ini diwujudkan dalam beberapa hal, seperti pembatasan hak, sumber daya, dan peluang seperti mendapat pekerjaan.

    Bahkan, perlakuan diskriminatif ini sangat berdampak pada kehidupan korban untuk menjalani hidup, karena sulitnya mendapatkan akses pendidikan, pekerjaan, dan partisipasi dalam bidang politik. Lebih lanjut, perlakuan diskriminatif ini tentu melanggar nilai-nilai kemanusiaan yang melandasi masyarakat adil dan inklusif.

    8. Diskriminasi karena Perbedaan Pandangan Politik

    Ini bisa diartikan sebagai perlakuan yang tidak adil kepada individu atau kelompok, karena pilihan pandangan politik yang diyakini nya. Hal ini terjadi ketika seseorang mendapatkan pembatasan atau ketidakadilan dalam kehidupan bermasyarakat, karena pandangan politik mereka yang berbeda.

    Perlakuan diskriminatif ini cukup sering terjadi di Indonesia, terutama ketika menjelang pemilihan umum Presiden yang diadakan setiap 5 tahun sekali. Misalnya, ketika PEMILU tahun 2019, di mana rakyat Indonesia saling menyerang, karena perbedaan pandangan politik. Akibatnya, isu dan topik politik sensitive pada saat itu.

    Lebih lanjut, perlakuan diskriminatif ini dinilai menyalahi hak asasi manusia, terutama dalam kebebasan berpendapat di bidang politik. Selain itu, hal ini sangat bertentangan dengan prinsip demokrasi dan pluralism yang selalu dijunjung di berbagai negara, termasuk Indonesia.

    Contoh-Contoh Diskriminasi

    Di bawah ini adalah beberapa contoh perlakuan diskriminatif berdasarkan jenisnya, antara lain:

    1. Contoh Rasisme

    Rasisme selalu bisa ditemui di negara manapun. Salah satunya di Amerika Serikat pada 25 Mei 2020 lalu. Seorang pria Afrika-Amerika bernama George Floyd meninggal setelah dua orang petugas polisi kulit putih menangkapnya di Minneapolis, Amerika Serikat.

    Insiden terjadi ketika salah seorang polisi tersebut menekan leher George Floyd dengan lututnya selama kurang lebih 9 menit di muka umum. Akibatnya, terjadi aksi protes besar-besaran di seluruh dunia.

    Ditarik lebih jauh ke belakang, ada peristiwa yang dinamakan Holocaust. Peristiwa ini terjadi ketika Perang Dunia II, di mana Jerman nazi melakukan genosida kepada jutaan orang Yahudi dan Romani, homoseksual, hingga penyandang cacat. Peristiwa ini menjadi kasus rasisme paling ekstrim yang membuat nyawa hilang terbesar di dunia.

    2. Contoh Ageisme

    Berbeda dengan rasisme, berita mengenai kasus ageism jarang ditemukan di media massa lainnya. Meski begitu, ada beberapa contoh ageisme yang bisa ditemukan, terutama dalam lingkungan kerja. Misalnya, karyawan yang berumur lebih muda tidak dilibatkan dalam rapat, karena dianggap belum memahami perusahaan dengan baik.

    Contoh diskriminasi ageisme lainnya adalah seseorang yang berumur lebih tua dianggap sudah tidak kompeten untuk mengerjakan pekerjaan tertentu. Alhasil, orang tersebut bisa diberhentikan secara sepihak, penolakan promosi, dan mengabaikan pelamar kerja yang memiliki umur lebih tua.

    Selain itu, orang yang lebih tua sering dianggap tidak bisa menguasai teknologi, yang mana hal tersebut merendahkan kemampuan seseorang karena faktor usia. Contoh lainnya adalah merencanakan kegiatan yang hanya cocok untuk usia muda saja, sehingga karyawan usia tua tidak diikut sertakan di dalamnya.

    3. Contoh Ableisme

    Tahun 2021 lalu, Menteri Sosial Tri Rismaharini dikritik oleh banyak pengguna internet pada acara Hari Disabilitas Internasional. Sebab, ia ‘memaksa’ seorang anak penyandang disabilitas rungu untuk berbicara. Awalnya, anak tuna rungu tersebut menghadiahi Risma sebuah lukisan pohon sebagai bentuk kritik kerusakan lingkungan.

    Kemudian, Risma memberikan instruksi kepada sang anak untuk menjelaskan secara lisan mengapa ia mengkritik pemerintah. Hal tersebut dilakukan agar sang anak berlatih supaya bisa lancar berbicara. Alhasil, sang anak kesusahan untuk melakukan hal yang diperintahkan sang menteri tersebut.

    Itu bisa dikategorikan sebagai diskriminasi terhadap penyandang disabilitas atau ableisme. Sebab, Mensos beranggapan bahwa disabilitas bisa disembuhkan sepanjang orang tersebut mau berusaha untuk melatih dirinya.

    Apalagi, Risma dinilai bias ableisme, karena membandingkan sang anak dengan  Angkie Yudistia, staf khusus yang tuli.

    4. Contoh Perlakuan Diskriminatif Berdasarkan Agama

    Masyarakat di Indonesia menganut agama yang beragam. Dalam beberapa kasus, penganut agama mayoritas terlibat permasalahan dengan minoritas yang memiliki agama berbeda. Hal ini bisa memunculkan perlakuan diskriminatif antar umat beragama yang berujung pada suatu permasalahan.

    Misalnya, penyegelan gereja yang di Purwakarta pada bulan April 2023. Hal ini dilakukan oleh bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika yang menyegel Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Purwakarta pada 1 April 2023. Ini dilakukannya karena gereja tersebut tidak memiliki izin

    Padahal, perizinan harusnya merupakan urusan administrasi negara yang tidak bisa menjadi sebuah alasan menggugurkan jaminan hak asasi di dalam konstitusi.

    5. Contoh Reverse Discrimination

    Reverse discrimination bisa dirasakan oleh mayoritas di manapun. Misalnya, ketika penerimaan mahasiswa di sebuah perguruan tinggi. Mereka memberlakukan kebijakan untuk memberikan kuota terbatas bagi kelompok mayoritas. Ini dilakukan agar kelompok minoritas agar lebih diuntungkan dalam penerimaan mahasiswa.

    Beberapa contoh reverse discrimination atau diskriminasi terbalik lainnya, antara lain:

    • Perusahaan yang melakukan promosi terhadap kelompok minoritas, terlepas dari pengalaman atau senioritas pelamar mayoritas.
    • Menolak mempekerjakan atau memecat orang yang berusia dibawah 40 tahun, demi mempekerjakan orang yang berusia di atas 40 tahun.
    • Menolak calon siswa mayoritas dan menerima siswa minoritas hanya atas dasar ras.
    • Mempekerjakan atau mempromosikan perempuan hanya didasarkan jenis kelamin mereka, tanpa melihat kompetensi dan kualitasnya.

    6. Perlakuan Diskriminatif Didasarkan Kasta

    Contoh diskriminasi ini terjadi di India. Kasta dalit sering mendapatkan perlakuan tidak mengenakan, seperti mendapatkan pembatasan akses ke tempat-tempat suci. Dalit sendiri adalah kasta terendah di India dan dianggap haram untuk disentuh. Mereka diperlakukan tidak adil, bahkan dihina oleh orang-orang dengan kasta yang lebih tinggi.

    Mereka tidak memiliki akses untuk mendapatkan pekerjaan layak. Oleh sebab itu, banyak diantara mereka yang memiliki pekerjaan yang dianggap kotor. Misalnya, pemulung, bekerja di pembakaran batu bara, di tempat sanitasi, dan pekerjaan lain yang dianggap tidak terhormat bagi kasta lebih tinggi

    Kasta Dalit juga mengalami diskriminasi dalam mendapatkan akses ke pendidikan layak. Mereka seringkali mendapatkan perlakuan tidak adil dalam institusi pendidikan, seperti intimidasi dan pembatasan akses ke fasilitas di area pendidikan.

    Hal ini dirasakan oleh Deepa P. Mohanan, seorang perempuan dari kasta Dalit yang berjuang melawan perlakuan diskriminatif yang ada di lingkungan pendidikan di India.

    7. Contoh Seksisme

    Contoh seksisme yang sering dialami perempuan di kehidupan sehari-hari adalah mendapatkan pelecehan secara lisan atau verbal sampai fisik. Menurut survey yang dilakukan Stop Street Harassment, setidaknya ada 81% perempuan yang menjadi korban pelecehan di dunia nyata dan media sosial.

    Bentuk pelecehan tersebut seperti catcalling, sentuhan tidak diinginkan, ucapan yang mengarah ke hal seksual, dan komentar mengenai bagian tubuh perempuan. Selain itu, ketika pelecehan tersebut, perempuan sering disalahkan atau mendapatkan victim blaming.

    Padahal, laki-laki yang menjadi pelaku utama pelecehan dimaklumi dan dibiarkan saja. Misalnya, ketika perempuan mendapatkan pelecehan, akan ditanya pertanyaan yang menyudutkan.

    Seperti, apa yang mereka pakai, apakah ia menikmati atau senang dengan perlakuan tersebut, dan seperti apa tingkah lakunya, sehingga kaum adam tergoda melakukan pelecehan.

    Sudah Tahu Apa Itu Diskriminasi?

    Perlakuan diskriminatif memang menjadi momok menakutkan bagi golongan minoritas yang tidak memiliki kekuatan dan cenderung lemah. Untuk itu, perlu adanya kesadaran diri dari masyarakat, agar bisa terus menjunjung tinggi toleransi dan menghargai hak asasi manusia semua orang, tanpa memandang ras, agama, maupun jenis kelaminnya.

  • Pengertian Teori Kebutuhan Maslow: Konsep Serta Pembagiannya

    Pengertian Teori Kebutuhan Maslow: Konsep Serta Pembagiannya

    Setiap manusia pasti memiliki kebutuhan. Adanya kebutuhan inilah yang membuat setiap individu harus mempunyai motivasi agar dapat memenuhinya. Nah, dari motivasi inilah muncul teori kebutuhan Maslow yang mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kamu.

    Pertama kali teori ini dicetuskan oleh seorang psikolog dan teoritikus yang bersanama Abraham Maslow. Dari sini kamu pasti langsung berpikir nama teori tersebut muncul dari penemunya. Kamu benar dan untuk memperjelasnya, ayo kita bahas melalui artikel ini.

    Pengertian Teori Kebutuhan Maslow

    Mashlow Hierarchy of Needs
    Mashlow Hierarchy of Needs | Sumber gambar: Kompasiana.com

    Teori kebutuhan Maslow merupakan sebuah teori psikologi yang berfungsi untuk memicu motivasi pada setiap individu ketika hendak memenuhi kebutuhan mereka. 

    Teori ini muncul pada tahun 1943 melalui acara Psychological Review “ A Theory of Human Motivation”

    Sang penemu, Abraham Maslow berpendapat, ketika seseorang hendak memenuhi kebutuhan tingkat atasnya, mereka harus terlebih dahulu memenuhi kebutuhan tingkat bawahnya. 

    Dengan begitu, hal tersebut bisa memotiviasi mereka agar lebih semangat dalam memperjuangkan kebutuhannya.

    Dengan kata lain, manusia tidak akan pernah bisa mendapatkan kebutuhan tertinggi mereka tanpa menyelesaikan kebutuhan yang paling rendah terlebih dahulu. Misalnya saja, kebutuhan sandang dan pangan.

    Melalui teori kebutuhan Maslow inilah yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang mengapa sebagian besar masyarakat masih bekerja di tengah pandemi. Hanya satu alasannya, masyarakat sadar mereka harus tetap mendapatkan uang untuk bertahan hidup.

    Konsep Teori  Kebutuhan Maslow

    Dalam menentukan konsepnya, Abraham Maslow melakukan pengamatan terhadap perilaku monyet. Ada satu kesimpulan yang didapatkannya, yakni ada sejumlah kebutuhan yang akan diutamakan oleh individu daripada kebutuhan lainnya.

    Singkatnya, daripada makanan, asupan minuman atau cairan akan menjadi kebutuhan utama manusia. Tercatat bahwa manusia mampu bertahan hidup dengan adanya cairan dalam tubuhnya, daripada kebutuhan pangan.

    Dari contoh sederhana ini, kamu bisa menyimpulkan air adalah kebutuhan yang sangat penting guna menopang kehidupan manusia. Melalui inilah Abraham Maslow menyusun teori kebutuhan maslow.

    Selain itu, ada pendapat lain yang Maslow kemukakan. Ketika seseorang ingin mendapatkan kebutuhan dengan tingkatan lain, dalam artian lebih tinggi, seseorang akan menggunakan kuasa motivasi untuk mendorong keinginan tersebut.

    Ada dua jenis motivasi yang biasanya digunakan manusia, yakni:

    1. Motivation Growth (Motivasi Perkembangan): Artinya, dorongan tersebut akan muncul secara alamiah dari dalam diri manusia dan bisa membantu mereka untuk menjadi lebih semangat dalam meraih tujuan. 
    2. Deficiency Growth (Motivasi kekurangan): Artinya, usaha dari setiap individu dalam proses memenuhi kekurangan mereka.

    Pembagian Teori Kebutuhan Maslow

    Abraham Maslow merupakan seseorang yang cukup teliti dalam mengembangkan teori kebutuhan ini. Bahkan, ia juga mencatat adanya tingkatan kebutuhan dari setiap individu. Dalam teori ini ada 5 pembagian dasar yang harus kamu ketahui. Berikut penjelasan lengkapnya.

    1. Kebutuhan Dasar

    Piramida Teori Hierarchy
    Piramida Teori Hierarchy | Sumber gambar: Anteroaceh.com

    Kebutuhan tingkat pertama ini mempunyai hubungan tentang keperluan individu, baik secara fisik maupun biologis. Untuk keperluan fisiologis berupa oksigen, tidur, seksual, makanan, air, dan lain sebagainya.

    Karena sangat penting, kebutuhan ini harus dipenuhi terlebih dahulu agar manusia bisa tetap bertahan hidup.

    Apabila salah satu kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, secara tidak langsung akan menganggu pencapaian manusia dalam memenuhi kebutuhan yang lainnya.

    Perlu kamu tahu, seorang individu tidak mungkin melompat untuk memenuhi kebutuhan tingkat yang lebih tinggi tanpa terpenuhnya kebutuhan dasar terlebih dahulu. 

    Namun, masalah yang disebutkan tadi tidak akan terjadi pada orang-orang yang terlahir kaya. Sebab, mereka bisa dengan mudah mendapatkan makanan, tempat tinggal, pakaian, serta berbagai keperluan lainnya. 

    2. Kebutuhan Rasa Aman

    Keluarga Bahagia
    Keluarga Bahagia | Sumber gambar: Pexels.com

    Pembagian teori kebutuhan Maslow yang kedua adalah kebutuhan rasa aman. Kebutuhan ini meliputi fisik maupun emosional.

    Kadar keperluan ini lebih banyak terjadi untuk anak-anak. Sebab, mereka masih mempunyai tingkat kewaspadaan yang sangat rendah.

    Alhasil, pendampingan orang tua sangat penting untuk anak-anak. Jangan sampai anak-anak mendapatkan kejahatan yang memberikan dampak buruk untuk mereka di masa dewasanya.

    Sementara itu, untuk contoh kebutuhan ini seperti rasa aman dari ancaman penyakit, perlindungan tindak kriminalitas, bahaya bencana alam, dan lain sebagainya.

    3. Kebutuhan Sosial

    Keperluan tingkat ketiga mengarah pada aspek sosial yang ada di tengah masyarakat. Misalnya saja, kasih sayang, cinta, perasaan, hingga hak kepemilikan terhadap suatu hal tertentu. 

    Dalam tingkatan ini, memiliki latar belakang seperti kesendirian, stress, kecemasan berlebihan, dan depresi. Menurut Abraham Maslow, rasa cinta dari setiap individu terdiri dari dua jenis.

    Pertama, D-Love atau Deficiency. Artinya, seseorang yang kekurangan rasa cinta dari orang lain. Sehingga mereka akan mencintai diri sendiri karena itulah titik fokusnya.

    Kedua, B-Love atau Being. Maknanya, penilaian seseorang terhadap orang yang mereka cintai tanpa adanya niatan untuk memanfaatkan.

    Cinta itu ibarat perasaan yang muncul dari dalam hati manusia. Tidak menuntut untuk memiliki dan hanya mendukung orang yang mereka cintai untuk menjadi lebih baik.

    Pada satu sisinya, cinta bisa memberikan dampak positif untuk kamu dan juga pasangan. Akan tetapi, ada pula dampak negatif yang kemungkinan besar bisa terjadi, apabila kamu tidak bisa menahan diri untuk melakukan tindakan yang melanggar.

    Selain yang berhubungan dengan pasangan, cinta juga berada di lingkup pertemanan dengan individu lain, bersosialisasi, beradaptasi dengan lingkungan serta berada di tengah kehidupan masyarakat.

    Sama seperti kebutuhan pada teori kebutuhan Maslow lainnya, kebutuhan tingkat ketiga ini tidak bisa kamu capai tanpa memenuhi kebutuhan yang lainnya.

    4. Kebutuhan Memperoleh Penghargaan

    Dosen Mengajar di Kelas
    Dosen Mengajar di Kelas | Sumber gambar: Pexels.com

    Pembagian yang keempat adalah kebutuhan mendapatkan penghargaan. Jangan salah paham, sebab penghargaan yang dimaksudkan tidak hanya mencakup piala ataupun hadiah lainnya.

    Maksudnya, harga diri setiap individu. Harga diri tidak hanya berasal dari dalam diri kamu sendiri, melainkan juga orang lain. 

    Jika kebutuhan ini terpenuhi, akan membuat individu bisa merasakan kehormatan, rasa kepercayaan dari orang lain, dan menstabilkan diri sendiri.

    Maka dari itu, harga diri juga bisa berupa gelar, profesi, hingga pangkat yang kamu miliki. Contoh sederhananya, kamu adalah seorang dosen. Dengan profesi ini sudah bisa dipastikan, rasa kepercayaan diri kamu akan semakin meningkat.

    Sebab, orang akan menghormati kamu sebagai sosok yang berpangkat dan berpendidikan. Dengan begitu, peran kamu di mata masyarakat pun pasti berbeda dari orang lainnya.

    Begitupun sebaliknya, jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, bisa membawa dampak untuk kondisi mental individu.

    Bahkan, memungkinkan muncul masalah serius, seperti kecemasan, stress, tidak percaya diri, merasa tidak berguna, minder, dan lain sebagainya.

    Oleh karena itu, orang-orang akan sangat ambisius untuk mendapatkan gelar, pangkat, dan hal lainnya yang menunjang penghargaan.

    5. Kebutuhan dalam Mengaktualisasikan Diri

    Dalam teori kebutuhan maslow ada kebutuhan tingkat akhir yang perlu kita kupas juga. Mengakutalisasikan diri adalah keperluan dan biasanya hanya bisa kamu penuhi setelah keempatnya berhasil tercapai.

    Aktualisasi diri merupakan bentuk yang mencerminkan harapan serta keinginan dari setiap individu terhadap dirinya sendiri. 

    Abraham Maslow menjelaskan, aktualisasi ini sangat penting dalam menunjang kebutuhan semua orang dalam memutuskan keinginan mereka.

    Misalnya, kamu memiliki profesi sebagai guru. Maka, yang harus kamu lakukan adalah mengajar. Begitupun, ketika kamu bekerja sebagai pelukis. Maka, kamu harus menggambar demi menunjang pekerjaan tersebut.

    Untuk memenuhi kebutuhan ini, bukan perkara yang mudah. Tidak hanya skill, tetapi kamu juga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak yang bersangkutan. Contohnya, orang tua, keluarga, teman, ataupun orang lainnya.

    Lantas, apa yang terjadi jika kebutuhan mengaktualisasikan diri tidak tercapai? Menurut Maslow, hal tersebut akan memicu perasaan kegelisahaan, kekecewaan, tegang, minder, tidak nyaman, sedih dan lain sebagainya.

    Abraham Maslow memberikan sedikit gambaran untuk kebutuhan ini, yakni Acceptance and Realism, Problem Centering, Spontaneity, Autonomy and Solitude, Continued Freshness of Appreciation, dan Peak Experiences.

    Baca Juga : Teori Modernisasi: Pengertian, Syarat, Jenis, dan Contohnya

    Jadi Makin Paham dengan Teori Kebutuhan Maslow?

    Teori kebutuhan Maslow merupakan aspek yang mendukung munculnya motivasi dalam diri manusia agar tetap kuat dalam mencukupi kebutuhannya. Dari kebutuhan dasar hingga puncak tertinggi memiliki keterkaitan yang erat. 

    Apabila ada salah satu yang tidak tercapai, bisa mempengaruhi kualitas hidup manusia. Namun, dalam memenuhi kebutuhan tersebut kamu tidak perlu tergesa-gesa. Jangan sampai, ambisimu justru membawa kepada keterpurukan.

  • Apa yang Dimaksud dengan Kesetaraan Gender dan Ketidakadilan Gender?

    Apa yang Dimaksud dengan Kesetaraan Gender dan Ketidakadilan Gender?

    Tahukah Anda apa yang dimaksud dengan kesetaraan gender dan ketidakadilan gender? Permasalahan gender ini masih menjadi permasalahan yang membutuhkan perhatian dari berbagai kalangan. Pasalnya, ada banyak ketimpangan antara laki-laki dan perempuan terutama di dunia kerja.

    Pembahasan tentang gender, kesetaraan, dan ketidakadilan gender ini tidak hanya tentang jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Melainkan lebih luas mengenai hak, tanggung jawab, dan kesempatan di kehidupan sosial. Lebih lanjut, Anda bisa menyimak informasi yang lebih lengkap dalam artikel berikut ini!

    Pengertian Kesetaraan Gender dan Ketidakadilan Gender

    Anda mungkin masih bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan kesetaraan gender dan ketidakadilan gender. Dua hal ini seringkali mempunyai keterkaitan satu sama lain. Secara sederhana, kesetaraan gender merupakan hak asasi manusia di mana setiap orang dari semua jenis kelamin mempunyai hak dan tanggung jawab sama. 

    Kesetaraan gender juga membantu setiap orang untuk mencegah terjadinya kekerasan terutama terhadap perempuan maupun anak perempuan. Orang-orang yang lebih memahami kesetaraan gender tentu bisa hidup lebih aman dan sehat. Sementara pada praktiknya, justru lebih banyak orang yang belum memahaminya.

    Pemahaman tentang kesetaraan gender yang rendah bisa memicu adanya ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender. Ketidakadilan gender merupakan suatu perbedaan peran dan fungsi dari laki-laki dan perempuan yang terjadi di masyarakat. 

    Ketidaksetaraan ini dapat mempengaruhi semua orang dari segala usia dan latar belakang. Patokan sederhana yang bisa Anda gunakan untuk mengukur perbedaan gender apakah menimbulkan ketidakadilan atau tidak adalah bentuk permasalahan yang menyebabkan diskriminasi atau tidak.

    Penyebab Ketidakadilan Gender

    Setelah memahami apa yang dimaksud dengan kesetaraan gender dan ketidakadilan gender, lantas apa penyebabnya? Perbedaan gender adalah sesuatu hal yang normal apabila tidak menyebabkan adanya diskriminasi maupun ketidakadilan. Namun, ada beberapa hal yang menjadi penyebab ketidakadilan gender di kehidupan sosial, yaitu:

    1. Kurangnya Pengetahuan

    Salah satu penyebab utama ketidakadilan gender adalah kurangnya pengetahuan di kalangan masyarakat mengenai hak-hak perempuan. Hal tersebut terjadi karena norma budaya dan sosial yang mendikte perempuan untuk selalu tunduk pada laki-laki. Oleh sebab itu, perempuan tidak memahami bagaimana mencapai kesetaraan gender.

    Beberapa keluarga juga beranggapan bahwa perempuan tidak perlu mendapatkan pendidikan dan lebih memprioritaskan laki-laki. Hal tersebut membuat perempuan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan diri dan kemampuannya.

    2. Adanya Sistem Patriarki yang Melekat

    Sistem patriarki di tengah masyarakat masih sangat melekat sehingga berkontribusi untuk terjadinya ketidakadilan gender. Perempuan dianggap sebagai bagian dari rumah tangga dan tidak perlu berbicara dalam hal apapun yang berkaitan dengan perkembangan diri. Kesempatan berbicara hanya diberikan kepada laki-laki saja.

    3. Kesadaran Diri yang Rendah

    Penyebab lainnya, yaitu kurangnya kesadaran diri di kalangan perempuan mengenai haknya dan kemampuannya untuk mencapai kesetaraan gender. Para perempuan seharusnya menyadari bahwa dirinya juga mempunyai peranan penting dan mendapat kesempatan yang sama dengan laki-laki di dalam kehidupan sosial.

    Dampak Ketidakadilan Gender

    Setelah Anda mengetahui apa yang dimaksud dengan kesetaraan gender dan ketidakadilan gender dan penyebabnya, Anda juga perlu mengetahui apa saja dampaknya. Secara garis besar, dampak ketidakadilan gender dapat terbagi menjadi empat, berikut penjelasannya:

    1. Marginalisasi

    Marginalisasi gender merupakan bentuk diskriminasi terhadap perempuan atau laki-laki yang menyebabkan kemiskinan. Seseorang biasanya memarginalkan orang lain dengan asumsi terhadap jenis kelamin. 

    Misalnya, seorang perempuan berperan sebagai pencari nafkah tambahan apabila bekerja di luar rumah sehingga gajinya lebih rendah. Selain itu, pekerja perempuan di pabrik juga rentan terkena PHK karena alasan-alasan gender dan reproduksi seperti menstruasi, hamil, dan melahirkan. 

    Sistem ini membuat perempuan tidak mempunyai peluang yang sama besarnya dengan laki-laki di tempat kerja. Akhirnya, hal ini menyebabkan seseorang menjadi miskin karena alasan gender.

    2. Subordinasi

    Subordinasi gender merupakan bentuk penilaian yang mengacu pada peran dari salah satu jenis kelamin yang dianggap lebih rendah dari jenis kelamin lainnya. Anda mungkin telah mengetahui jika nilai-nilai yang berlaku di masyarakat seringkali memisahkan peran gender baik laki-laki maupun perempuan.

    Perempuan biasanya hanya berperan dan bertanggung jawab untuk urusan domestik atau rumah tangga. Sedangkan laki-laki memiliki peran untuk wilayah publik yang lebih luas seperti pekerjaan. Sementara itu, peran perempuan dalam urusan domestik ini terkadang tidak mendapatkan penghargaan yang sama dengan peran publik.

    Dengan demikian, perbedaan peran ini menyebabkan adanya ketidakadilan gender. Di mana seorang laki-laki dipandang lebih superior daripada peran perempuan.

    3. Kekerasan

    Apa yang dimaksud dengan kesetaraan gender dan ketidakadilan gender JUGA meliputi tindak kekerasan. Kekerasan merupakan tindak yang dilakukan oleh salah satu jenis kelamin terhadap jenis kelamin lainnya. Baik secara fisik maupun non fisik. Peran gender saat ini membedakan karakter berdasarkan jenis kelamin. 

    Misalnya, perempuan dianggap feminism yang berkarakter lembut, lemah, dan penurut. Sedangkan laki-laki dianggap maskulin dengan karakter yang gagah, berani, dan kuat. Perbedaan karakter berdasarkan gender ini akhirnya menimbulkan tindakan kekerasan.

    Contoh tindak kekerasan yang sering terjadi antara lain kekerasan fisik atau non fisik yang dilakukan seorang suami kepada istrinya. Hal tersebut meliputi pemukulan, penyiksaan, pemerkosaan atau pelecehan seksual, eksploitasi seks terhadap perempuan, serta pornografi.

    4. Beban Ganda

    Beban ganda merupakan kondisi di mana salah satu jenis kelamin mendapatkan beban pekerjaan atau tanggung jawab yang lebih besar daripada jenis kelamin lainnya. Sebagai contoh, peran perempuan sebagai ibu rumah tangga dianggap permanen. 

    Beberapa perempuan juga bekerja di wilayah publik, tetapi tetap harus bertanggung jawab dengan urusan domestiknya. Kondisi ini akhirnya membuat perempuan pekerja untuk mensubstitusikan pekerjaannya kepada perempuan lainnya. 

    Meski demikian, tanggung jawab sepenuhnya masih ada di masing-masing perempuan sehingga bebannya berlipat ganda antara urusan publik dan domestik.

    Cara Mewujudkan Kesetaraan Gender

    Adanya anggapan jika perempuan harus bertanggung jawab untuk mengurus semua pekerjaan domestik masih terjadi saat ini. Kondisi ini menimbulkan ketidaksetaraan gender di semua aspek kehidupan. Namun, ada banyak cara yang bisa Anda lakukan untuk mewujudkan kesetaraan gender dan mengikis ketidakadilan gender, yaitu:

    1. Membangun Kesadaran Diri

    Langkah pertama yang bisa Anda lakukan untuk mewujudkan kesetaraan gender adalah membangun kesadaran diri. Apabila Anda telah memahami apa yang dimaksud dengan kesetaraan gender dan ketidakadilan gender, maka Anda perlu menanamkan dalam diri untuk menciptakan kesetaraan gender di dalam masyarakat.

    Anda bisa memulai perubahan dengan mengikuti aktivitas kampanye tentang kesetaraan gender. Aktivitas ini tentu harus melibatkan semua jenis kelamin, di mana perempuan akan berlatih untuk berani mengambil keputusan. Sedangkan laki-laki bisa berlatih untuk menghargai kemampuan perempuan agar bisa maju.

    Selain itu, Anda juga perlu menerapkan kesadaran tentang kesetaraan gender dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pada anak perempuan dan laki-laki Anda. Setiap orang harus berani berbicara dan mengungkapkan apabila terjadi tekanan atau diskriminasi di suatu tempat atau situasi tertentu.

    2. Melibatkan Perempuan dalam Pengambilan Keputusan

    Ketidaksetaraan gender seringkali membuat perempuan tidak boleh terlibat dalam urusan kepemimpinan dan pengambilan keputusan. Padahal, perempuan juga mempunyai kapasitas yang sama dengan laki-laki dalam mengambil keputusan. 

    Anda bisa mulai mewujudkan kesetaraan gender dengan turut melibatkan perempuan untuk memimpin atau mengambil keputusan tertentu di tempat kerja ataupun organisasi lainnya. 

    3. Memberikan Gaji dan Jenjang Karir yang Sama

    Laki-laki sering mendapat tuntutan sebagai tulang punggung keluarga, namun bukan berarti hal ini membuat perempuan mendapatkan gaji yang lebih rendah di tempat kerja. Tidak hanya laki-laki, ada banyak perempuan yang berperan sebagai tulang punggung keluarga sehingga perusahaan seharusnya memberikan gaji yang setara.

    Selain itu, perempuan juga berhak mendapatkan jenjang karir yang sama dengan laki-laki. Perusahaan tidak boleh memberikan batasan jenjang karir hanya karena perempuan harus menanggung urusan domestik. 

    Setiap orang berhak mendapatkan posisi sesuai dengan kemampuannya. Bahkan beberapa profesi tingkat atas justru membutuhkan peran seorang perempuan sebagai pemimpin.

    4. Melindungi Perempuan dari Pelecehan

    Perempuan seringkali menjadi sasaran pelecehan seksual di berbagai tempat karena dianggap sebagai sosok yang lemah. Pelecehan ini bahkan sering terjadi di lingkungan kerja yang melibatkan seseorang yang memiliki jabatan tinggi dan pegawainya. Situasi ini menunjukkan bahwa di dalam perusahaan tersebut terdapat ketidaksetaraan gender.

    Ketika Anda sudah memahami apa yang dimaksud kesetaraan gender dan ketidakadilan gender. Tentu, Anda mengerti jika setiap orang baik perempuan maupun laki-laki berkah untuk bekerja atau beraktivitas dengan aman dan nyaman tanpa takut adanya pelecehan seksual.

    5. Stop Stereotip Gender

    Anda mungkin sering mendengar kalimat seperti “Maklum, perempuan memang tidak paham teknologi.” atau “Perempuan biasanya kalau berkendara suka seenaknya.”. Kalimat seperti itu adalah bagian dari stereotip gender. Anda perlu menahan diri dan melakukan perubahan agar tidak disepelekan seperti itu.

    Pelabelan sifat-sifat tertentu seperti perempuan harus mengurus urusan domestik dan laki-laki harus bekerja keras juga perlu Anda hentikan mulai dari sekarang. Perempuan dan laki-laki tidak perlu dilabeli dengan hal-hal mendasar, karena keduanya mempunyai kemampuan yang sama untuk mendapatkan pekerjaan dan kebebasan finansial.

    6. Mendukung Hak Atas Pendidikan Perempuan

    Beberapa orang masih menganggap jika seorang perempuan tidak perlu mendapatkan pendidikan sampai ke jenjang yang lebih tinggi dari laki-laki. Oleh sebab itu, banyak perempuan yang tidak mendapatkan kesempatan untuk memperoleh kebebasan finansial dan hal penting lainnya.

    Perempuan dan anak perempuan harus mendapatkan pendidikan yang layak agar bisa melepaskan diri dari ketidakadilan gender yang ada di lingkungan masyarakat. Setiap perempuan berhak untuk berkembang dan maju seperti para laki-laki. Sehingga, mereka bisa mendapatkan peluang kerja dan pendapatan yang layak di masa depan.

    7. Dukungan dari Sesama Perempuan

    Perempuan sering menjadi sasaran utama dari ketidakadilan gender. Oleh karena itu, sudah seharusnya perempuan saling mendukung dan tidak menjatuhkan perempuan lainnya untuk melawan ketidaksetaraan gender. Anda bisa memulainya dengan tidak membandingkan fisik seseorang dengan perempuan lain.

    sesama perempuan harus berjuang bersama untuk mendapatkan kesetaraan gender. Apabila mengetahui rekan kerja mendapatkan pelecehan di tempat kerja, maka Anda wajib untuk menyuarakan dan menyelamatkan perempuan tersebut. Dengan demikian, para perempuan tidak bisa dipandang sebelah mata oleh laki-laki.

    Sudah Tahu Apa Maksud Kesetaraan dan Ketidakadilan Gender?

    Itulah ulasan mengenai apa yang dimaksud kesetaraan gender dan ketidakadilan gender. Kesetaraan gender dapat dimaknai sebagai bentuk pemberdayaan potensi yang dimiliki perempuan untuk menjadi pemimpin atau mendapatkan posisi yang setara dengan laki-laki. 

    Selain itu, kesetaraan gender bisa mencegah kekerasan terhadap perempuan mengingat ketidakadilan gender seringkali menyepelekan keberadaan perempuan. Mari perjuangkan kesetaraan gender yang adil untuk semua jenis kelamin!

  • Teori Motivasi: Sejarah, Macam, & Cara Membangun dalam Diri

    Teori Motivasi: Sejarah, Macam, & Cara Membangun dalam Diri

    Tahukah kamu? Motivasi sangat penting bagi manusia agar mampu membangun kesuksesannya. Semakin banyak motivasi yang individu miliki, semakin berkualitas pula perilaku dan pola pikir yang dirinya punya. Dalam ilmu psikologi, terdapat berbagai teori motivasi yang mengalami perkembangan dari zaman ke zaman. 

    Nah, untuk memahami berbagai teori motivasi, mari ketahui pengertian, sejarah, jenis, hingga cara membangunnya dalam diri lewat ulasan berikut!

    Apa itu Teori Motivasi?

    Motivasi menjadi aspek psikologis yang mendasari dan mendorong tindakan dan perilaku seseorang. Secara umum, motivasi menjadi kekuatan secara internal atau eksternal yang memengaruhi keputusan, tujuan, dan upaya seseorang. Teori motivasi sendiri jadi salah satu konsep psikologi yang aplikatif dalam keseharian.

    Penting untuk kita memahami bahwa motivasi bervariasi dari individu ke individu. Selain itu, faktor yang memotivasi seseorang untuk menjalani hidupnya juga dapat berbeda-beda. Dorongan ini terbagi menjadi dua, yakni motivasi intrinsik dan ekstrinsik.

    Motivasi intrinsik merupakan dorongan yang berasal dari dalam diri seseorang tanpa pengaruh luar. Seringkali muncul ketika seseorang melakukan sesuatu karena ia menemukan kepuasan, rasa pencapaian, atau kesenangan dalam tindakan tersebut. Contohnya, seseorang senang melukis karena menikmati prosesnya.

    Lalu, ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari faktor-faktor di luar diri seseorang. Seperti hadiah, pengakuan, pujian dari orang lain, hingga tekanan sosial. Maka dari itu, motivasi jenis ini biasanya tergantung pada respon orang lain atau lingkungan tempat tinggalnya. Contohnya karyawan yang bekerja keras untuk promosi.

    Dampaknya yang cukup besar bagi kehidupan manusia membuat teori ini dianggap berperan penting dalam mencapai tujuan. Sebab, ketika seseorang memiliki motivasi yang kuat, mereka cenderung bekerja lebih keras dan lebih fokus dalam upaya mencapai tujuan tersebut. 

    Motivasi juga dapat membantu dalam mengatasi rintangan dan kesulitan yang kemungkinan muncul dalam perjalanan menuju pencapaian tujuan. Bahkan, saat seseorang melakukan pengembangan keterampilan, motivasi berperan penting agar individu tersebut tetap konsisten. 

    Sejarah Teori Motivasi

    Teori ini mengalami perkembangan dari waktu ke waktu dan semakin banyak. Namun, semuanya merujuk pada hubungan antara kebutuhan dan motivasi. Sejarah teori motivasi melibatkan perkembangan pemahaman ahli tentang apa yang mendorong perilaku. Serta bagaimana motivasi memengaruhi tindakan individu. 

    Pada tahun 1950, para ahli tengah berlomba-lomba untuk mengembangkan berbagai konsep yang menjadi pembangin teori ini. Namun, ada tiga teori terkenal yang mengalami perkembangan paling baik pada masa itu, yakni Teori Kebutuhan, Teori X dan Y, dan Teori Dua Faktor.

    Teori-teori tersebut dikenal sebagai teori kuno dan menjadi landasan terciptanya teori motivasi baru yang diterapkan pada masa kini. Maka dari itu, tidak heran jika teori-teori motivasi terbaru sangat aplikatif dalam kehidupan sehari-hari manusia.

    Macam-Macam Teori Motivasi

    Berikut adalah beberapa macam teori menurut para ahli yang terkenal di kalangan masyarakat:

    1. Hierarki Kebutuhan Manusia (Abraham Maslow)

    Abraham Maslow
    Abraham Maslow | Sumber Gambar: Kompas

    Hierarki kebutuhan merupakan teori yang terkenal karena menjadi dasar terbentuknya teori motivasi lain. Seorang psikolog bernama Abraham Maslow adalah pencetus teori ini. Maslow menjabarkan pandangan yang mendalam tentang pendorong perilaku manusia berdasarkan pandangan hierarki kebutuhan berjenjang.

    Tingkat piramida ada lima dengan paling bawah adalah kebutuhan dasar. Sedangkan kebutuhan yang lebih tinggi ada di atas. Pencapaian tingkatan inilah yang menjadi motivasi manusia. Berikut penjelasannya:

    a) Fisiologis

    Fisiologis menjadi kebutuhan paling mendasar untuk bertahan hidup. Dalam tingkatan ini, kamu perlu memenuhi kebutuhan fisiologis sebagai manusia. Misalnya, istirahat dengan cukup, minum air putih untuk kebutuhan cairan tubuh, menghirup udara segar, dan makan-makanan yang bernutrisi.

    b) Keamanan 

    Rasa aman berkaitan dengan fisik dan emosional manusia. Maka dari itu, kebutuhan akan terciptanya rasa aman menjadi salah satu motivasi manusia. Kebutuhan ini melibatkan keamanan dari segi finansial, tempat tinggal tanpa ancaman, pekerjaan yang stabil, perlindungan dari bahaya, dan perasaan kenyamanan. 

    c) Sosial dan Cinta

    Kebutuhan ketiga dalam teori motivasi ini adalah sosial dan cinta. Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia adalah makhluk sosial, sehingga kebutuhan ini sangat penting. Misalnya, kebutuhan akan rasa kasih sayang dan saling menolong. Terpenuhinya hal ini akan menghindarkan dari rasa sepi, stres, maupun depresi.

    d) Penghargaan

    Penghargaan mencakup rasa harga diri dan penghargaan pribadi. Seseorang pasti ingin merasa dihargai dan diakui. Kebutuhan ini terkait dengan rasa kompetensi dan penilaian positif dari orang lain.

    e) Aktualisasi Diri 

    Aktualisasi diri menjadi puncak dari piramida ini. Kebutuhan aktualisasi diri adalah dorongan untuk mencapai potensi pribadi yang maksimal dan terbaik. Kebutuhan ini mencakup pencarian makna hidup, pemahaman diri, kreativitas, dan prestasi.

    2. X dan Y (Douglas McGregor)

    Douglas McGregor
    Douglas McGregor | Sumber Gambar: Dictio Community

    Douglas McGregor adalah tokoh yang mengemukakan teori ini. Ini dikenal sebagai teori yang digunakan sebagai pembagi mengenai pandangan sifat alami yang manusia miliki. Contohnya saat teori ini membahas dua pandangan dasar dalam konteks manajemen untuk memahami dan mengelola karyawan di lingkungan kerja.

    Pertama, teori X yang menggambarkan pandangan tradisional tentang manajemen dan dasa yang melatarbelakangi perilaku karyawan. Menurut teori X, manajer cenderung percaya bahwa karyawan membutuhkan pengawasan yang ketat, lebih suka diarahkan, atau benci pekerjaan mereka. Maka dari itu, pendekatannya otoriter.

    Kedua, teori Y yang menggambarkan pandangan yang lebih progresif dan optimis tentang sifat manusia dan karyawan. Menurut teori Y, manajer cenderung percaya bahwa setiap orang menginginkan pekerjaan, karyawan memiliki kreativitas dan potensi. Pengaruhnya cenderung positif dan tidak terlalu mengikat.

    3. Kebutuhan (McClelland)

    McClelland
    McClelland | Sumber Gambar: Practicalpie

    Teori motivasi akan kebutuhan dari McClelland menggambarkan tentang dua motivasi manusia, yakni motif primer dan motif sekunder. Motif primer merupakan motif yang tidak dipelajari, sehingga timbul secara alamiah pada manusia secara biologis. Misalnya seperti seperti makan, minum, seks, dan lainnya.

    Sedangkan motif sekunder atau motif sosial merupakan motif yang dipelajari melalui pengalaman serta interaksi dengan orang lain. Dorongan ini berasal dari luar akibat interaksi dengan orang lain atau interaksi sosial. Selain itu, teori ini juga menjelaskan ada tiga kebutuhan yang dipelajari seseorang dari lingkungannya, yakni:

    a) Need for achievement

    Sebagai manusia, kita memiliki naluri kebutuhan untuk mengerjakan atau melakukan kegiatannya lebih baik dari sebelumnya. Serta kecenderungan agar ingin lebih baik dari orang lain. Kebutuhan akan prestasi ini timbul secara spontan dan membuat seseorang menjadi aktif.

    b) Need for affiliation

    Need for affiliation merupakan gambaran ketertarikan pada orang lain yang bertujuan untuk meyakinkan perasaannya bahwa dirinya dapat diterima oleh lingkungan sekitar. Kebutuhan ini dimanifestasikan dengan keinginan bersahabat atau berada bersama orang lain.

    c) Need of power

    Kekuatan menjadi kebutuhan untuk mengendalikan lingkungan, memengaruhi perilaku orang lain, dan mengambil tanggung jawab atas mereka. Seseorang dengan kebutuhan akan kekuasaan yang tinggi akan sangat peka dengan pengaruh antar pribadi dan kelompok, serta profesional.

    4. Dua Faktor (Herzberg)

    Herzberg
    Herzberg | Sumber Gambar: Toolshero

    Frederick Herzberg menggambarkan dua faktor yang bermanfaat untuk menjaga kestabilan motivasi dalam sebuah kelompok, yakni faktor motivator dan hygiene. Teori motivasi ini dikembangkan dalam konteks lingkungan kerja. Berikut adalah penjelasannya:

    a) Faktor Hygiene (Pencegahan)

    Faktor hygiene dikenal sebagai faktor pencegahan atau faktor pemeliharaan. Ini berkaitan dengan lingkungan kerja dan kondisi pekerjaan. Jika faktor ini tidak terpenuhi, maka dapat menyebabkan ketidakpuasan. Herzberg menyebutnya sebagai hygiene karena mirip dengan prinsip dasar kebersihan dan kesehatan.

    b) Faktor motivator

    Faktor motivator dipercaya menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan kerja yang memicu motivasi intrinsik, yang pada gilirannya mendorong kinerja dan kepuasan kerja yang tinggi. Misalnya seperti prestasi, pengakuan atas kinerja, tanggung jawab, hingga gairah dalam pekerjaan.

    Cara Membangun Motivasi dalam Diri 

    Setelah mengetahui berbagai macam teori motivasi, lantas bagaimana cara sederhana untuk meningkatkan motivasi dalam diri? Berikut adalah bebercara untuk membangun motivasi:

    • Menetapkan tujuan hidup yang jelas dan spesifik, bisa melalui catatan pengingat. Sehingga hidup akan lebih terarah.
    • Miliki support system untuk mendukung kamu. Misalnya adalah kekasih, keluarga, atau teman.
    • Optimis dan melakukan berbagai kegiatan positif. Ini juga akan memperluas koneksi dan pandangan hidup.
    • Beri penghargaan untuk diri sendiri. Ini menjadi bentuk apresiasi agar kamu bisa lebih bersyukur.

    Baca Juga : 4 Teori Terbentuknya Negara: Pengertian Ahli hingga Bentuknya

    Sudah Lebih Memahami Teori Motivasi?

    Teori motivasi penting untuk dipelajari, sebab dengan memiliki motivasi kita dapat meningkatkan produktivitas, mengatasi berbagai rintangan, hingga melakukan pengembangan diri. Lewat pemahaman ini pula individu dapat meraih kesuksesan karena mampu mengenali diri hingga mencapai potensi pribadi yang lebih besar. 

    Ingat hidup tanpa motivasi bisa membuatmu menjadi seseorang yang pesimis dan sulit mengendalikan emosi. Tak perlu muluk-muluk dengan memiliki target tinggi. Mulai saja dengan hal-hal kecil, seperti bangun pagi, jalan-jalan untuk mencari inspirasi, dan mencoba keluar dari zona nyaman. Semoga bermanfaat!

  • 10 Contoh Pelanggaran Norma Kesusilaan serta Sanksinya

    10 Contoh Pelanggaran Norma Kesusilaan serta Sanksinya

    Dalam hidup bermasyarakat tentu ada norma atau aturan sosial yang berlaku di lingkungan sekitar sehingga mau tidak mau harus mematuhinya sesuai norma yang ada. Seringkali orang-orang tidak memperdulikannya dan melakukan contoh pelanggaran norma kesusilaan hingga mereka mendapatkan sanksinya.

    Nah, berikut ini akan membahas pengertian hingga contoh pelanggaran norma kesusilaan dan seperti apa sanksinya.

    Apa Itu Norma Kesusilaan?

    Pada dasarnya terdapat berbagai macam jenis norma yang berlaku di masyarakat, salah satunya norma kesusilaan. Namun, sebelum ke penjelasan mengenai contoh pelanggaran norma kesusilaan, kamu perlu mengetahui pengertian dari salah satu norma ini. 

    Norma kesusilaan adalah suatu hal yang seseorang jalani dan rasakan setiap hari, serta keharusan untuk melakukan tindakan baik dan menjauhi tindakan buruk.

    Kemudian pengertian norma kesusilaan secara umum adalah sikap dan perilaku manusia yang berdasarkan hati nurani mereka. Lalu norma kesusilaan ini pada dasarnya tidak ada aturan tertulisnya karena hanya menurut budi pekerti orang tersebut.

    Jenis Norma Kesusilaan

    Ada beberapa jenis norma kesusilaan yang berlaku di masyarakat. Untuk jenisnya, antara lain:

    1. Norma Kesusilaan Formal

    Untuk jenis norma kesusilaan pertama adalah formal, dimana seseorang hidup dalam aturan yang telah dibuat oleh pemerintah atau lembaga tertentu. Jadi, hubungan masyarakat atau siapa saja akan terikat dengan pemerintah atau lembaga yang membuat aturan itu. 

    Kemudian norma kesusilaan formal ini juga berdasarkan dalam pandangan Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila. Terdapat pernyataan bahwa negara Indonesia ini merupakan negara yang majemuk. Dengan begitu, hubungan antar masyarakat harus harmonis dengan menjaga perasaan orang lain.

    Bagi siapa saja yang melanggar norma kesusilaan formal ini, maka akan mendapatkan sanksi berdasarkan hukum yang berlaku atau aturan dalam masyarakat itu.

    2. Norma Kesusilaan Non Formal

    Selanjutnya norma kesusilaan non formal yang biasa dijumpai di kehidupan sehari-hari. Dengan adanya aturan atau norma yang berlaku di masyarakat tersebut, maka harus tetap dipatuhi meskipun wujudnya tidak tertulis. 

    Bahkan, norma ini juga bisa ditemukan dalam keluarga dengan aturan yang berbeda berdasarkan kebiasaan mereka sehari-hari. 

    Maka dari itu, ketika kamu sedang menempati wilayah baru, maka harus mentaati norma kesusilaan non formal yang berlaku disitu. Dengan begitu, kamu dapat membentuk komunikasi dan hubungan yang baik kepada masyarakat sekitar. 

    Contoh penerapan norma ini misalnya menggunakan nada yang sopan ketika berbicara kepada orang tua dan saling menyapa kepada orang sekitar. 

    Fungsi Norma Kesusilaan

    Selain itu terdapat beberapa fungsi dari adanya norma kesusilaan, antara lain:

    • Untuk menciptakan masyarakat yang patuh dengan nilai-nilai yang ada.
    • Memberikan kehidupan masyarakat yang aman dan nyaman serta terhindar dari konflik.
    • Menciptakan masyarakat yang saling membantu.
    • Membangun keharmonisan dalam bermasyarakat.

    Contoh Pelanggaran Norma Kesusilaan

    Untuk penjelasan berikut ini merupakan contoh pelanggaran norma kesusilaan yang sering terjadi di masyarakat, yaitu:

    1. Berbohong

    Pelanggaran norma kesusilaan yang pertama adalah berbohong. Meskipun terdengar bukan suatu hal yang besar, namun dalam aturan masyarakat bisa menjadi sebuah tindakan kurang baik. 

    Seperti yang diketahui bahwa berbohong merupakan perilaku manusia dimana tidak memberikan pernyataan apa adanya. Nah, jika dalam masyarakat terdapat kebohongan, maka pelakunya tidak bisa dipercaya dan semua omongannya dianggap bukan fakta. 

    Orang-orang yang sering berbohong seperti itu dianggap bahwa hati nuraninya telah hilang dan sering menimbulkan kebohongan-kebohongan baru. 

    2. Tidak Ingin Membantu Orang Lain

    Contoh pelanggaran norma kesusilaan berikutnya adalah tidak ada rasa keinginan untuk membantu orang lain. Sebagai makhluk sosial pastinya harus saling membantu sesama dalam bermasyarakat. Orang-orang yang memiliki perilaku seperti itu biasanya dianggap bahwa hati nuraninya sudah tidak ada. 

    Kemudian bagi orang yang tidak ingin membantu orang lain maka akan sulit untuk mendapatkan bantuan dari orang lain. Suatu hal seperti itu memang sering terjadi karena tidak pernah menjalin hubungan baik dengan saling membantu. 

    3. Tidak Merespons Sapaan dari Orang

    Adapun pelanggaran norma kesusilaan lainnya adalah dengan tidak merespons sapaan dari orang. Perlu diketahui bahwa memberikan senyuman dan bersikap ramah merupakan penerapan norma kesusilaan. Namun jika tidak memberikan respons kepada orang menyapa, maka bisa masuk pelanggaran norma.

    Biasanya orang-orang yang tidak memberikan respons sapaan memiliki hati nurani yang kurang baik. Mereka sebagai pelaku biasanya suka dendam dengan orang lain dan tidak peduli kepada lingkungan.

    4. Tidak Mengucapkan Terima Kasih

    Contoh pelanggaran norma kesusilaan selanjutnya adalah tidak mengucapkan terima kasih. Seorang yang memiliki hati nurani dan pikiran baik, setelah dibantu atau diberi oleh orang lain seharusnya mengucapkan terima kasih. 

    Ini karena ucapan terima kasih bisa menjadi penanda bahwa pelakunya patuh terhadap norma kesusilaan.

    5. Tidak Mengucapkan Maaf

    Sebagai makhluk sosial yang baik, ketika sedang melakukan kesalahan seharusnya mengucapkan kata maaf. Dengan tindakan seperti itu tentunya memperlihatkan sikap yang baik karena mengakui kesalahan yang telah dibuat. Misalnya ketika menabrak pejalan kaki, walaupun tidak sengaja haruslah meminta maaf. 

    6. Memotong Pembicaraan Orang Lain

    Pelanggaran yang sering terjadi lainnya adalah memotong pembicaraan orang lain. Ketika orang lain berbicara lalu ada yang menyela atau memotong pembicaraan, maka hal tersebut merupakan tindakan yang buruk. Seharusnya saat ada orang lain berbicara, tunggu sampai dia selesai baru bisa memberikan tanggapan. 

    7. Memfitnah Orang Lain

    Adapun contoh pelanggaran norma kesusilaan yang kerap terjadi adalah memfitnah orang lain. Fitnah sendiri bisa diartikan sebagai perlakuan membicarakan orang lain yang bukan berdasarkan kebenarannya dan bertujuan menjelek-jelekannya. Jadi, berbicara itu harus tahu faktanya dan tidak membuat cerita karangan. 

    8. Menggosip

    Untuk pelanggaran norma kesusilaan berikutnya adalah menggosip. Menggosip sendiri bisa diartikan sedang membicarakan seseorang di belakangnya kepada orang lain. Tentunya perilaku seperti itu mencerminkan tidak baiknya hati penggosip tersebut dan selalu iri melihat kebahagiaan orang lain. 

    Dalam menggosip ini pun biasanya membicarakan hal-hal negatif sesuai dengan apa yang dilihatnya namun bisa juga bersifat memfitnah seseorang. Jadi, jenis pelanggaran norma kesusilaan kali ini bisa berlapis-lapis.

    9. Bersikap Tidak Adil

    Lalu ada juga contoh pelanggaran norma kesusilaan yang mungkin sering kamu temui, yakni bersikap tidak adil. Biasanya pelanggaran seperti ini terjadi pada lingkungan keluarga. Ketika di dalam keluarga, tentunya memberikan sesuatu harus bisa menyesuaikan porsi anggota keluarga.

    Adil dalam keluarga bukan berarti harus memberikan hal yang sama kepada semua anggota keluarga, melainkan bisa memenuhi setiap kebutuhannya. Contoh sikap tak adil ini adalah orang tua yang memiliki dua anak, tetapi hanya memberikan apa yang dibutuhkan oleh satu anak saja. 

    10. Mengganggu Orang Lain

    Contoh pelanggaran norma kesusilaan yang terakhir adalah mengganggu orang lain. Keadaan seperti ini tentunya sangat membuat orang lain kesal. Jadi, ketika membuat orang lain merasa terganggu dalam keadaan apapun, maka itu bisa disebut pelanggaran norma kesusilaan. 

    Misalnya saja ketika ada seseorang yang sedang fokus melakukan aktivitas belajar lalu orang lain di dekatnya mengobrol dengan suara keras. Tentunya hal tersebut akan mengganggu orang yang sedang belajar. Orang yang “mengganggu” tersebut bisa dikatakan sebagai pelanggar norma kesusilaan.

    Sanksi Pelanggaran Norma Kesusilaan

    Mengenai sanksi pelanggaran norma kesusilaan ini pastinya akan berbeda dengan norma hukum secara tertulis. Kemudian terjadinya pelanggaran norma kesusilaan ini biasanya karena ketidaksesuaian dengan hati nuraninya. 

    Lalu sanksi yang diberikan pada pelanggar norma ini biasanya akan dikucilkan, diusir, dan dijauhi orang-orang. Selain itu, para pelaku biasanya akan merasakan ketidak tenangan dalam hatinya atau gelisah dan memiliki rasa penyesalan di hatinya.

    Sudah Tahu Mengenai Norma Kesusilaan?

    Itulah beberapa penjelasan mengenai norma kesusilaan dari pengertiannya dan contoh pelanggarannya. Kemudian perlu diresapi bahwa melanggar norma kesusilaan seperti itu akan mendapatkan sanksi berupa fisik dan psikis sehingga siapapun perlu berhati-hati dalam bermasyarakat.

  • Mengenal Komunitas: Pengertian, Ciri, Manfaat Lengkap dengan Contohnya

    Mengenal Komunitas: Pengertian, Ciri, Manfaat Lengkap dengan Contohnya

    Punya passion pada suatu bidang, tapi bingung cara menyalurkannya? Jangan khawatir, ada banyak komunitas yang bisa kamu ikuti sesuai dengan isu yang menjadi perhatianmu selama ini.

    Seperti apa komunitas itu? Kemudian, bagaimana ciri, manfaat, dan contohnya? Daripada penasaran, simak pembahasan selengkapnya!

    Pengertian

    Barangkali kamu pernah mendengar istilah “komunitas” yang kerap terlontar dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sebenarnya apa maksud dari komunitas itu sendiri?

    Sederhananya, komunitas adalah suatu kelompok sosial dalam masyarakat yang saling berinteraksi. Biasanya mereka mempunyai suatu kesamaan yang menjadi cikal bakal terbentuknya kelompok tersebut. Lantas, apa kesamaan yang mereka miliki?

    Menurut John Dewey dalam bukunya yang berjudul Democracy and Education (1916) mendeskripsikan bahwa komunitas itu terbangun atas ‘ikatan-ikatan’ yang secara rumit saling berhubungan melalui komunikasi.

    Ikatan-ikatan tersebut bisa dalam bentuk tujuan, kepercayaan, dan pengetahuan yang merupakan sebuah keharusan bagi terbentuknya perkumpulan tersebut dan terbangun melalui komunikasi. 

    Lebih lanjut menurutnya, kualitas komunikasi begitu krusial bagi pembentukan suatu perkumpulan tersebut karena dapat menyatukan suatu kelompok tertentu. Dengan demikian, istilah ‘ikatan-ikatan’ dalam penjelasan Dewey itulah yang membentuk kesamaan. 

    Unsur Kesamaan di Dalamnya

    Biasanya kesamaan yang ada pada komunitas itu bisa berbagai macam. Misalnya seperti kesamaan asal daerah, hobi, hingga suatu isu sosial yang penjelasannya sebagai berikut.

    1. Minat

    Jenis ini tercipta karena adanya minat atau ketertarikan para anggotanya yang serupa. Biasanya terbentuk karena adanya minat dari anggotanya yang begitu besar dan sama-sama mendukung minat atau hobi yang mereka tekuni.

    2. Lokasi

    Jenis ini terbentuk karena adanya kesamaan lokasi atau daerah asal secara geografis. Biasanya terbentuk dengan adanya keinginan untuk saling mengenal agar tercipta interaksi yang dapat membantu perkembangan lingkungan mereka.

    3. Komuni

    Jenis komunitas ini terbentuk karena adanya keinginan bersama atau terbentuk atas dasar kepentingan dalam organisasi sosial dalam masyarakat di suatu lokasi tersebut.

    Ciri-Ciri 

    Komunitas adalah sekelompok individu yang berbagi ruang, kepercayaan, dan serangkaian praktik yang sama. Mereka terjalin dalam hubungan yang menumbuhkan kesamaan. Adapun berikut ciri-cirinya yakni:

    1. Sekelompok Orang

    Komunitas terdiri dari berbagai individu yang berinteraksi secara langsung. Dalam hal ini, mereka merupakan sekelompok orang yang berhubungan langsung satu sama lainnya.

    Adanya orang-orang ini memiliki pengaruh terhadap variasi interaksi yang mereka lakukan. Struktur sosial cukup kompak untuk mereka miliki dan kendalikan. Misal, rasa kekeluargaan dan saling tolong-menolong.

    2. Bersifat Teritorial

    Suatu kelompok yang sifatnya teritorial menandakan bahwa komunitas tersebut teridentifikasi berdasarkan tempat asal anggotanya.

    Ketika orang tinggal pada wilayah tertentu, mereka akan membentuk kelompok tertentu. Apalagi bagi perantau yang mungkin berpindah tempat tinggal dari waktu ke waktu sehingga dengan terbentuknya komunitas, mereka dapat memperoleh ikatan persaudaraan yang kuat dari tempat tinggal yang disinggahi.

    3. Nyata 

    Kelompok sosial ini bersifat nyata lantaran mengacu pada sekelompok orang yang tinggal di suatu daerah tertentu. Itu sebabnya, komunitas harus dapat kamu kenali dan ketahui baik secara formal maupun informal.

    4. Terorganisir

    Sebuah komunitas merupakan suatu organisasi sosial yang lengkap. Hal ini mengandung arti bahwa kelompok tersebut menggabungkan semua elemen masyarakat. Akibatnya, sebuah komunitas adalah miniatur masyarakat. 

    5. Hubungan Timbal Balik 

    Hubungan timbal balik menjadi suatu keharusan dalam kelompok/organisasi tersebut. Adanya hubungan ini karena berawal dari hasrat serta kemauan yang tinggi dari anggota dalam organisasi tersebut.

    6. Kesamaan

    Dalam beberapa hal, anggota sebuah komunitas memiliki kesamaan. Baik kesamaan dalam bahasa, budaya, tradisi, dan adat istiadat yang terlihat dari para anggotanya. Misalnya, adanya rasa senasib, kepentingan, serta pandangan politik yang serupa. 

    7. Tidak Harus Berbadan Hukum

    Komunitas bukanlah badan hukum karena bukanlah orang. Di mata hukum, komunitas tidak memiliki hak dan tanggung jawab karena kelompok atau organisasi tersebut tidak diciptakan oleh undang-undang apa pun.

    Manfaat

    Ketika bergabung dalam sebuah komunitas, tentu terdapat manfaat tersendiri bagi para anggotanya. Kamu bakal terhubung dengan orang-orang dan ide-ide yang akan berdampak positif pada perspektif kamu selama ini.

    Adapun berikut manfaat ikut komunitas, yaitu:

    1. Dukungan Rasa Aman

    Salah satu alasan utama pentingnya bergabung dalam kelompok tersebut adalah membantu melawan perasaan putus asa sekaligus memberi kepastian rasa aman ketika dikelilingi oleh orang-orang yang sefrekuensi. 

    Karena sefrekuensi atau punya ketertarikan pada bidang yang sama, maka setiap anggota bisa saling memberikan dukungan karena organisasi ini merupakan wadah yang terdiri dari orang-orang yang berpikiran dan memiliki perjalanan yang sama.

    Meskipun tahapan perjalanan setiap anggota berbeda-beda, mereka akan memahami apa yang sedang kamu alami dan dapat memberikan dukungan yang kamu butuhkan untuk terus maju.

    2. Membangun Koneksi

    Dengan kamu bergabung komunitas, berarti kamu memiliki kesempatan besar untuk membangun koneksi.

    Menurut Porter Gale dalam bukunya yang berjudul Your Network is Your Net Worth (2013), menjelaskan bahwa bagaimana mengembangkan relasi dalam meningkatkan peluang melalui koneksi yang kamu bangun. 

    Hal ini bisa saja peluang untuk memajukan karier atau bertemu dengan seseorang yang dapat memberikan bantuan yang kamu butuhkan. Tidak ada yang tahu siapa yang akan kamu temui ketika bergabung dengan sebuah komunitas dan bagaimana mereka dapat membantu kamu, serta sebaliknya.

    Menemukan orang lain yang memiliki nilai, minat, dan pandangan yang sama tentu membuat seseorang menyadari dia tidaklah sendirian karena pada hakikatnya manusia merupakan makhluk sosial. Dengan adanya komunitas, maka mereka dapat menjalin koneksi yang lebih baik satu sama lainnya.

    3. Sumber Inspirasi

    Salah satu manfaat terbesar ketika kamu bergabung dalam suatu peguyuban tersebut yaitu kesempatan belajar untuk memperoleh inspirasi yang bisa menjadi pengetahuan baru bagi anggotanya.

    Bergabung dengan kelompok yang sefrekuensi, berarti kamu mempunyai peluang lebih besar untuk bertemu dengan orang-orang yang dapat menjadi mentor kamu. Misalnya, dalam komunitas wirausaha, terdapat mentor berpengalaman yang dapat membimbing kamu tatkala membangun suatu bisnis.

    Dengan berada dalam komunitas, kesempatan untuk belajar akan terbuka lebar karena terdapat orang-orang yang memiliki pandangan, pengalaman, atau keyakinan yang berbeda sehingga membantu kamu untuk mencapai wawasan yang mungkin tidak pernah kamu alami sebelumnya.

    4. Belajar untuk Menerima

    Ketika berada dalam suatu komunitas, tidak menutup kemungkinan kamu akan menghadapi berbagai karakter orang dan juga pandangan mereka yang menjadi tantangan tersendiri.

    Meski begitu, situasi itu justru akan melatih sikap kamu dalam menghargai satu dengan lainnya. Kebersamaan dalam komunitas membantu kamu untuk menerima bahwa terkadang manusia bisa saja dalam posisi kuat dan bisa juga dalam posisi rentan sehingga membutuhkan dukungan orang lain untuk menghindari pergulatan emosional mereka.

    5. Keberagaman

    Manfaat lain ketika bergabung suatu komunitas adalah keberagaman lantaran penuh dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda-beda dengan berbagai pengalaman hidup mereka. 

    Jadi, ketimbang melakukan suatu kegiatan yang individualistis, ada baiknya kamu bertemu dan bersosialisasi dengan sekelompok orang yang bisa menambah pengalaman secara keseluruhan.

    Contoh

    Terdapat beberapa contoh komunitas yang umum dalam masyarakat dan perlu kamu ketahui, yaitu:

    1. Bisnis

    Komunitas bisnis adalah kumpulan individu yang memiliki kepentingan yang sama pada dunia bisnis. Ini termasuk pemilik bisnis, karyawan, pelanggan, dan pemasok.

    Terkadang kita juga menyebutnya sebagai komunitas pengusaha. Biasanya mereka berkumpul untuk mempromosikan kepentingan bisnis, atau mengadvokasi kebijakan tertentu. Mereka juga dapat menyediakan sumber daya dan dukungan kepada pengusaha yang sedang berkembang.

    2. Kasta

    Komunitas kasta adalah sekelompok orang yang memiliki status sosial yang sama. Dalam beberapa budaya, kasta secara historis telah teridentifikasi dengan sangat jelas dari generasi ke generasi. 

    Biasanya anggota dalam kelompok ini akan menikah, mencari pekerjaan, dan bersosialisasi sesuai kasta mereka.

    Saat ini, kasta tidak lagi lazim, meskipun solidaritas kelas sosial masih ada, dan orang-orang dari latar belakang kelas pekerja sering berkumpul untuk membentuk serikat pekerja untuk mengadvokasi kepentingan mereka.

    3. Kota

    Terkadang suatu kota juga dapat menjadi sebuah kelompok khusus karena semua orang di dalam kota tersebut bersatu dalam kepentingan bersama untuk meningkatkan atau mempertahankan budaya dan kelayakan huni kota mereka.

    Suatu kota sering kali dikelola oleh kelompok politik yang terorganisir seperti dewan kota yang bertindak sebagai pusat pengambilan keputusan bagi masyarakat. Demikian pula, perpustakaan, sekolah, dan kelompok olahraga yang bertindak sebagai titik pertemuan bagi anggota masyarakat kota.

    4. Etnis

    Komunitas etnis adalah kumpulan individu yang mempunyai warisan budaya yang sejenis. Ini termasuk tradisi, bahasa, dan nilai-nilai luhur mereka.

    Kelompok etnis yang merupakan ekspatriat dari tanah air etnis mereka akan sering menyatu dalam lingkungan tertentu di dalam kota. 

    Contoh, lingkungan Pecinan yang muncul pada kota-kota besar dunia. Pecinaan adalah tempat para imigran Tionghoa untuk memulai kehidupan baru mereka agar dapat berkomunikasi dengan ekspatriat lain yang dapat membantu mereka untuk menyesuaikan diri.

    5. Petani 

    Komunitas petani adalah sekelompok orang yang memiliki minat yang sama untuk bekerja di bidang pertanian. 

    Kota-kota kecil yang sebagian besar ekonominya bergantung pada hasil pertanian umumnya disebut sebagai komunitas/kelompok petani. Mereka biasanya sangat mendukung satu sama lain dan saling membantu, tetapi juga sering kali skeptis terhadap peraturan dan campur tangan pemerintah.

    6. Fundamentalis

    Komunitas fundamentalis adalah sekelompok orang yang memiliki interpretasi kaku dan literal yang sama terhadap ideologi yang mereka pilih dan sering kali hidup dalam ekonomi tradisional yang terisolasi.

    Salah satu contoh komunitas fundamentalis adalah komunitas Amish, yang didasarkan pada penafsiran Alkitab secara harfiah. Suku Amish menolak banyak teknologi dan cara hidup modern, serta memilih untuk tetap berpegang teguh pada tradisi mereka yang telah berusia berabad-abad. Mereka sering menutup diri dari dunia luar dan mandiri.

    7. Global

    Istilah “komunitas global” telah ada sejak meningkatnya globalisasi di abad ke-20. Istilah ini menyoroti fakta bahwa setiap orang di dunia saling terhubung dalam era globalisasi dan memiliki kepentingan serta kebutuhan untuk bekerja sama.

    Kebutuhan akan kerja sama di antara anggota komunitas global tidak pernah lebih besar, karena tantangan seperti perubahan iklim, kemiskinan, dan terorisme mengancam stabilitas dunia.

    Komunitas internasional telah menanggapi tantangan-tantangan ini dengan mengembangkan lembaga-lembaga seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Bank Dunia.

    8. Hobi

    Komunitas hobi adalah sekelompok individu yang mempunyai minat pada hobi tertentu. Biasanya mereka kerap berkumpul untuk menikmati aktivitas kegemaran yang sama.

    Orang yang sangat menyukai hobi mereka sering kali memiliki rasa kebersamaan dan persahabatan yang baik dengan orang lain. Contoh komunitas hobi antara lain klub buku, klub merajut, dan klub catur.

    9. Linguistik

    Komunitas linguistik adalah sekelompok orang yang memiliki bahasa yang sama dan sering kali memiliki dialek berbeda dari bahasa yang mereka gunakan bersama. 

    Dialek ini dapat berfungsi sebagai penanda identitas bagi setiap anggota. Misalnya, kelompok penutur bahasa Prancis di Kanada memiliki dialek bahasa Prancis yang berbeda, yang dikenal sebagai bahasa Prancis Quebec. Dialek ini membedakan mereka dari penutur bahasa Prancis di negara asalnya.

    10. Multikultural

    Komunitas multikultural adalah sekelompok orang dari berbagai budaya yang tinggal dan berinteraksi satu sama lain di wilayah yang sama.

    Multikulturalisme adalah filosofi bahwa berbagai budaya dapat hidup berdampingan secara damai dan harmonis dalam masyarakat yang sama. Kelompok multikultural sering kali memiliki permadani yang kaya akan tradisi, adat istiadat, dan kepercayaan.

    11. Politik

    Komunitas politik adalah sekelompok orang yang memiliki keyakinan atau ideologi politik yang sama dan bersatu untuk meningkatkan kekuatan mereka dalam jumlah.

    Kelompok politik dapat berskala lokal, nasional, atau internasional. Misalnya, dalam sebuah negara, komunitas politik dapat membentuk partai politik seperti Partai Demokrat dan Partai Republik.

    Secara internasional, komunitas politik dapat berbentuk blok negara seperti blok Soviet, Uni Eropa, atau Liga Arab.

    12. Agama

    Komunitas agama adalah sekelompok orang yang memiliki agama yang sama. Anggota kelompok agama sering kali memiliki keyakinan dan nilai yang kuat dan mengikat. Mereka mungkin juga memiliki budaya dan sejarah yang sama.

    Kelompok keagamaan ini bisa terdiri dari lingkup lokal, nasional, atau internasional. Sebagai contoh, Gereja Katolik adalah kelompok keagamaan global dengan anggota hampir setiap negara di dunia. 

    Sudah Paham Sekarang?

    Pada intinya, komunitas adalah sekelompok orang yang memiliki rasa memiliki dan identitas yang sama sehingga mereka dapat bersatu untuk menjalin hubungan yang menumbuhkan rasa persaudaraan.

    Dengan demikian, suatu kelompok dengan ketertarikan yang sama dapat tercipta lantaran adanya keinginan dari para anggotanya demi mencapai tujuan yang telah mereka sepakati bersama.