Author: Linda Yulita

  • Sejarah Kerajaan Gowa Talo: Raja, Peninggalan & Peristiwa Penting

    Sejarah Kerajaan Gowa Talo: Raja, Peninggalan & Peristiwa Penting

    Gowa Talo merupakan kerajaan Islam terbesar di Indonesia. Namanya yang terkenal membuat masyarakat tidak pernah melupakan kerajaan ini. Namun, tahukah kamu bahwa sejarah Kerajaan Gowa Talo ternyata menyimpan berbagai cerita menarik yang layak kita bahas?.

    Benar pada artikel ini kita akan membahas lebih lanjut tentang Gowa Talo beserta tentang raja, peninggalan, beserta peristiwa-peristiwa yang terjadi kala itu. Untuk itu mari simak penjelasan berikut.

    Sejarah Kerajaan Gowa Talo

    Kerajaan Gowa Talo | Sumber gambar: Coinone

    Sejarah Kerajaan Gowa Talo dimulai dari keturunan penguasa kerajaan atau kesultanan. Kerajaan ini memiliki nama lain sebagai Kerajaan Makassar. 

    Sebenarnya Gowa Talo merupakan gabungan dari dua kerajaan. Pemimpin masing-masing kerajaan adalah dua orang yang masih bersaudara. Dua kerajaan bersatu ketika pemerintahan Raja Dieng yakni Matanre Karaeng Tumapara’risi Khallona. 

    Kemudian atas segala kesepakatan yang terjadi antara kerajaan serta rakyatnya, membuat dua kerajaan yang semula berjalan masing-masing memiliki satu visi dan misi yang sama.

    Meski demikian sejarah Kerajaan Gowa Talo mencatat, mereka mempunyai dua raja yang sama-sama berkuasa di wilayahnya masing-masing. 

    Pada akhir abad ke-16 Sultan Alauddin merupakan raja pertama yang memilih untuk mempercayai agama Islam di Kerajaan Gowa Talo. Kondisi itu menjadi penanda bahwa Gowa Talo menjadi kesultanan. 

    Seiring berjalannya waktu, agama Islam semakin berkembang pesat. Lalu pada tahun kedua kesultanan, semua rakyat kerajaan akhirnya ikut memeluk agama Islam.

    Selain Islam yang berkembang, kerajaan pun juga ikut maju. Pada masa kepemimpinan yang ke-16, pemimpin yang memegang kendali penuh atas kerajaan adalah Sultan Hasanuddin. 

    Sultan Hasanuddin adalah orang yang masuk ke dalam jajaran Pahlawan Nasional Indonesia. Bahkan, karena kepiawaian dan kepandaiannya ia mendapat julukan “Ayam Jantan dari Timur”. Artinya, seseorang yang tidak mudah terpengaruh oleh orang asing.

    Sultan Hasanudin dengan beraninya menentang keras adanya VOC yang kala itu menguasai sebagian kecil kerajaan di wilayah Sulawesi. 

    Ketika masa kejayaannya inilah, Kerajaaan Gowa Talo juga menjadi salah satu pusat perdagangan terbesar di Indonesia, tepatnya wilayah Timur. Kerjasama antar pedagang muslim juga mempengaruhi kondisi finansial rakyat kerajaan. 

    Saat VOC mulai masuk dan menguasai wilayah Sulawesi, Kerajaan Gowa Talo ikut mendapatkan dampaknya. Kekuasaannya runtuh dan kemakmurannya menghilang.

    Bahkan, dalam catatan sejarah Kerajaan Gowa Talo juga menemukan adanya peperangan antara orang-orang kerajaaan dengan pihak VOC. Peperangan tersebut dipimpin oleh Sultan Hasanuddin. 

    Kekuatan VOC yang kuat membuat Gowa Talo mengalami kesulitan dalam menangani peperangan yang terjadi sehingga membuat kubu kerajaan terdesak. 

    Pada akhirnya tepatnya tahun 1667, Kerajaan Gowa Talo mengakui kekalahannya dan bersedia tanda tangan di Perjanjian Bongaya.

    Raja-Raja Kerajaan Gowa Talo

    Sultan Hasanudin | Sumber gambar: Suara Jogja

    Berdasarkan sejarah Kerajaan Gowa Talo, ada beberapa raja yang pernah menjadi pemimpinnya, yakni sebagai berikut. 

    • Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi Kallonna
    • I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga
    • I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Data Tunibatte.
    • I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bonto langkasa Tunijallo
    • I Tepu Karaeng Daeng Parabbung Tunipasulu
    • Sultan Alauddin,
    • Sultan Malikussaid
    • Sultan Hasanuddin
    • Sultan Amir Hamzah 
    • Sultan Mohammad Ali
    • Sultan Abdul Jalil
    • Sultan Ismail
    • Sultan Najamudin
    • Sultan Sirajudin
    • Sultan Abdul Chair
    • Sultan Abdul Kudus
    • Sultan Maduddin
    • Sultan Zainuddin
    • Sultan Abdul Hadi
    • Sultan Abdul Rauf
    • Sultan Muhammad Zainal Abidin
    • Sultan Abdul Kadir Aididin
    • Sultan Muhammad Idris
    • Sultan Muhammad Husain
    • Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin
    • Sultan Muhammad Abdul Kadir Aiduddin
    • Sultan Alauddin II
    • Andi Kumala Andi Idjo

    5 Peninggalan Kerajaan Gowa Talo

    Benteng Peninggalan Gowa Talo | Sumber gambar: Intronesia

    Kerajaan Gowa Tallo adalah kesultanan Islam yang berada di Sulawesi Selatan. Bahkan peninggalannya masih bisa kita kunjungi hingga sekarang ini. Berikut 5 peninggalan kerajaan yang masih ada, yaitu:

    1. Balla Lompoa

    Balla Lompoa merupakan peninggalan yang memiliki wujud sebagai istana Raja Gowa. Pembangunannya terjadi pada 1936 Masehi. Tepatnya, ketika kerajaan dipimpin langsung oleh Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin. 

    Tempat ini tidak hanya sebagai lokasi kediaman Raja Gowa saja, melainkan juga menjadi pusat pemerintahannya.

    2. Benteng Rotterdam

    Peninggalan berikutnya adalah Benteng Rotterdam yang sampai detik ini masih bisa kita lihat dan kunjungi. 

    Benteng ini dibangun pada tahun 1545 Masehi yakni ketika masa kepemimpinan Raja I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung.

    3. Benteng Somba Opu

    Ketika masa kepemimpinan Daeng Marantre Karaeng, ada satu peninggalannya yang cukup terkenal yaitu Benteng Somba Opu. Benteng ini pembangunannya terjadi pada tahun 1525 Masehi.

    4. Masjid Tua Katangka

    Masjid Tua Katangka tercatat sebagai salah satu Cagar Budaya Nasional. Untuk lokasinya sendiri ada di dekat kompleks Makam Sultan Hasanudin.

    Bangunan tersebut sudah ada sejak tahun 1603 Masehi yakni ketika masa Pemerintahan Sultan Alauddin I. 

    5. Kompleks Pemakaman Raja Gowa dan Tallo

    Jenis peninggalan yang terakhir adalah Kompleks Pemakaman Raja Gowa dan Tallo yang terletak di Jalan Sultan Abdullah Raya, Kecamatan Tallo, Makassar. Kompleks ini juga masuk ke dalam Situs Cagar Budaya yang sudah berdiri sejak abad ke-17 hingga ke-19.

    3 Peristiwa Penting Kerajaan Gowa Talo

    Wisatawan di Peninggalan Kerajaan Gowa | Sumber gambar: Kompas.com

    Setelah membahas tentang sejarah Kerajaan Gowa Talo, kamu perlu tahu juga tentang beberapa peristiwa menarik yang legendaris. Berikut 3 diantaranya, yaitu:

    1. Penyatuan Dua Kerajaan Kembar

    Menyatukan dua kerajaan kembar yakni Gowa dan Talo termasuk peristiwa penting yang bahkan masuk ke dalam empat peristiwa sejarah di Sulawesi Selatan. 

    Masa kejayaan kerajaan tersebut memiliki wilayah kekuasaan yang luar biasa, sehingga memberikan kesan yang baik untuk seluruh masyarakat setempat.

    Sisa-sisa kekuatan inilah yang sampai saat ini masih ada. Namun bukan dalam bentuk fisik ataupun harta melainkan kekuatan dan perlawanan. Maka dari itu, peristiwa ini menjadi kejadian yang sangat penting.

    2. Perjanjian Bongaya

    Gowa yang notabene sangat kuat membuat VOC terhalang untuk menguasai seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Maka dari itu, VOC membuat strategi khusus dengan melakukan serangan politik dan adu domba agar kerajaan bisa pecah terbengkalai.

    Kemudian VOC melakukan kerjasama dengan Arung Palakka yakni seorang Pangeran dari Bugis Kerajaan Bone. 

    Lalu tahun 1660 Arung Palakka membawa 10.000 orang Bugis dari Bone untuk melakukan pemberontakan kepada Gowa. Namun, sayangnya serangan itu tidak berhasil.

    Selanjutnya, masih ada serangan lain dari VOC yang terjadi pada tahun 1660. Akibatnya, memaksa raja Gowa, yakni Sultan Hasanudin, menerima persetujuan perdamaian. Sebab, tak kunjung ada titik tengahnya VOC kembali melakukan serangan.

    Benteng Panakkukang hancur, bahkan Somba Opu juga terancam akan hancur. Di tengah kondisi yang genting itu membuat Sultan Hasanuddin terpaksa menerima Perjanjian Bongaya yang isinya sebagai berikut.

    • Gowa harus melepaskan haknya atas Mandar, Wajo, Bulo-Bulo serta menerima semua perlakuan dari pihak sekutu.
    • Gowa menyetujui untuk melepaskan Bone, Soppeng, dan Luwu.
    • Buton bebas dari Gowa.
    • Ternate bebas yang meliputi Selayar, Pulau Sula, Muna Utara dan lain sebagainya.
    • Mengakui untuk melepaskan Bangkala dan Raja Layu.
    • Semua negeri-negeri dikalahkan sekutu Arung Palakka.

    3. Perlawanan Sultan Hasanudin Kepada VOC

    Peristiwa penting yang terakhir adalah perlawanan Sultan Hasanudin kepada pihak VOC. Seperti yang sudah kita bahas tadi, Gowa Talo memiliki kekuatan yang ekstrim sehingga Hasanuddin mengumpulkan kekuatan bersama kerajaan-kerajaan kecil lainnya.

    Tujuannya adalah melawan dan menentang VOC. Namun, sekutu tidak tinggal diam melainkan juga melakukan kerjasama dengan Kerajaan Gowa. Berbagai peringatan dari VOC tidak mendapat respon yang berlebihan dari Sultan Hasanudin.

    Akibatnya mereka melayangkan tembakan-tembakan dari kapal VOC. Kemudian pihak Gowa juga melakukan serangan yang sama. 

    Namun, pihak kerajaan tidak kuat menahan gempuran sehingga membuat Sultan Hasanuddin terpaksa tanda tangan Perjanjian Bongaya.

    Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 18 November 1667. Dengan adanya perjanjian ini, Sultan Hasanuddin mengakui VOC menang. Selama perlawanan ini ada julukan khusus untuk pemimpin kerajaan Gowa Tallo yakni “Ayam Jantan dari Timur”.

    Apa yang Kamu Pelajari dari Sejarah Kerajaan Gowa Talo?

    Selesai sudah penjelasan kita tentang sejarah Kerajaan Gowa Talo beserta informasi menarik lainnya. Melalui penjelasan ini, kita bisa tahu setiap perjuangan pahlawan yang terjadi pada kala itu sangat menguras tenaga dan membutuhkan keberanian yang tinggi.

    Bukti nyata terkait sejarah masih bisa kita nikmati sampai sekarang. Oleh karena itu, hargai dan hormati segala bentuk peninggalan dari kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia. Selain itu, isilah kemerdekaan dengan kegiatan yang bermanfaat.

  • Sejarah Kerajaan Samudera Pasai, Raja, dan Peninggalannya

    Sejarah Kerajaan Samudera Pasai, Raja, dan Peninggalannya

    Memahami sejarah Kerajaan Samudera Pasai sangat penting untuk mendapatkan informasi tentang perkembangan Islam pertama di Nusantara. Kerajaan tersebut terus berkembang dan bahkan menjadi pusat perdagangan karena lokasinya sangat strategis.

    Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, terjadi berbagai gejolak yang membuat Kerajaan Samudera Pasai mengalami kemunduran dan berakhir. Berikut pembahasan selengkapnya.

    Sejarah Kerajaan Samudera Pasai

    Kerajaan ini pertama kali ditemukan melalui tiga batu nisan. Adapun isi batu nisan tersebut yaitu menggambarkan adanya pemerintahan Islam di sekitar pertengahan abad 13 Masehi atau 7 Hijriyah. Dari sini lah tonggak pertama dari kerajaan tersebut mulai berkembang.

    Samudera Pasai merupakan kerajaan yang sekaligus menjadi benteng pertahanan kuat di Nusantara. Sebuah kerajaan yang berdirinya pun langsung dari pimpinan angkatan perang Mesir. Nama pendiri kerajaan ini yaitu Nasimuddin Al-Kalmil yang semula nama kerajaannya adalah Kerajaan Samudera.

    Kerajaan Samudera juga menjadi kerajaan Islam pertama di Indonesia. Adapun perkembangannya terjadi pada saat kerajaan Sriwijaya mengalami kemerosotan karena harus menghadapi perlawanan Kerajaan Chola.

    Lalu, Kerajaan Samudera Pasai semakin berkembang pesat di masa kekuasaan dari Sultan Malikul Saleh alias Sultan Malik Al-Saleh. Beliau memimpin kerajaan mulai tahun 1285 sampai 1297 dan sekaligus menjadi sultan pertama pasca naik tahta serta diangkat langsung oleh pemimpin sebelumnya yaitu Nazimuddin Al-Kamil.

    Nama Sultan Malik Al-Saleh juga terkenal sebagai sosok yang menyebarkan ajaran Islam di wilayah Asia Tenggara. Salah satu misi beliau yaitu untuk menangkal ajaran Syi’ah yang memang pada waktu itu marak tersebar.

    Kemudian Kerajaan Samudera terus mengalami perluasan hingga mencapai Kerajaan Pasai. Di masa kepemimpinan Sultan Malikul Thahir mulai 1297 sampai 1326, kerajaan tersebut masih terus melakukan perluasan kekuasaan. Hingga pada akhirnya lahirlah sebuah kerajaan dengan nama Samudera Pasai yang juga menjadi tempat persinggahan dari ulama serta para pedagang dari timur.

    Kejayaan dari Samudera Pasai terjadi ketika di bawah pemerintahan dari Sultan Malik At-Tahir II alias Sultan Ahmad. Adanya bukti mengenai catatan Marcopolo yang menjelaskan bahwa perdagangan kerajaan tersebut berkembang sangat pesat. Beliau berkuasa mulai tahun 1326 sampai 1349 M.

    Faktor Perkembangan dari Kerajaan Samudera Pasai

    Pembahasan berikutnya tentang sejarah Kerajaan Samudera Pasai yaitu mengenai apa saja faktor yang menjadi sebab kerajaan ini berkembang. Setidaknya terdapat beberapa faktor seperti penjelasan berikut.

    1. Politik Perkawinan

    Faktor pertama yang menyebabkan kerajaan ini berkembang adalah karena politik perkawinan. Perkawinan memang menjadi hal yang biasa di dunia kerajaan untuk menjalin kerja sama serta memperluas wilayah politik.

    Di waktu itu, umumnya pedagang yang berasal dari Hadramaut merupakan laki-laki. Untuk itu, banyak dari mereka yang akhirnya menikah dengan penduduk Nusantara sehingga mampu memberikan pengaruh terhadap penyebaran ajaran Islam di daerah Samudera Pasai.

    2. Politik Perdagangan

    Di masa itu, yang menjadi kunci utama perdagangan yaitu para pedagang Islam. Mereka merupakan orang-orang yang memang memonopoli perdagangan, baik dari Eropa maupun ke Eropa.

    3. Politik Penaklukan

    Faktor berikutnya yang menyebabkan Kerajaan Samudera Pasai berkembang yaitu karena politik penaklukan. Untuk faktor yang ketiga ini berupa peperangan atau penyerangan terhadap wilayah lain sehingga berhasil menaklukkannya.

    Kerajaan Samudera berhasil menaklukkan Kerajaan Pasai. Berkat penaklukan ini, wilayah kekuasaannya sudah tentu semakin berkembang.

    Penyebab Runtuhnya Kerajaan Samudera Pasai

    Pasca Kerajaan Samudera Pasai berkuasa selama beberapa abad, lalu kerajaan tersebut mulai mengalami keruntuhan di abad ke-16. Beberapa faktor yang menyebabkan kerajaan ini runtuh dan masa kepemimpinannya berakhir yaitu:

    1. Serangan Kerajaan Majapahit

    Serangan yang dilakukan Kerajaan Majapahit merupakan faktor penting yang mengakibatkan berakhirnya sejarah Kerajaan Samudera Pasai. Pada waktu itu, kerajaan tersebut menjadi pusat perdagangan di Selat Malaka.

    Kondisi tersebut menjadikan Kerajaan Majapahit memiliki ambisi agar bagaimana bisa menyatukan Nusantara lalu menyerang Samudera Pasai. Selain itu, penyerangan tersebut juga terjadi karena adanya perlakukan yang dianggap tak pantas oleh Sultan Ahmad Malik Az-Zahir pada putri Majapahit.

    Lalu pada 1345 M, Gajah Mada dengan atas perintah dari Raja Hayam Wuruk melakukan penyerangan terhadap Kerajaan Samudera Pasai. Untuk serangan pertama sebenarnya hanya pada perbatasan Perlak. Namun, serangan tersebut gagal karena memang Kerajaan Samudera Pasai memiliki penjagaan yang sangat ketat.

    Kemudian, Gajah Mada memutuskan untuk mundur dan mulai menyusun strategi lain. Akhirnya terdapat dua strategi yang diterapkan yaitu menyerang melalui 2 arah, yakni dari darat serta laut.

    Pada serangan darat ternyata mengalami kegagalan. Meskipun demikian, serangan laut berhasil membawa para pasukan Majapahit hingga sampai ke Istana. Serangan tersebut pada akhirnya menyebabkan Samudera Pasai mengalami kemunduran dan berakhir.

    2. Konflik Keluarga

    Faktor yang kedua mengapa Kerajaan Samudera Pasai runtuh adalah karena terjadinya konflik keluarga. Konflik tersebut terjadi pada akhir abad yang ke-14. Adanya konflik ini karena perang saudara serta perebutan kekuasaan yang terjadi di Istana kerajaan.

    Dalam mengatasi permasalahan tersebut, Sultan Pasai memohon bantuan pada Kerajaan Malaka. Akan tetapi, bantuan dari kerajaan tersebut malah mengakibatkan dampak lain terhadap kerajaan dan semakin mengarah pada keruntuhan.

    3. Berdirinya Kerajaan Malaka

    Berakhirnya sejarah Kerajaan Samudera Pasai juga terjadi karena berdirinya Kerajaan Malaka. Di awal abad yang ke-15, kerajaan tersebut berdiri lalu menjadi sebab kemunculan pusat perdagangan dan politik baru di Malaka.

    Apalagi letak dari Kerajaan Malaka cenderung lebih strategis daripada lokasi Kerajaan Samudera Pasai. Kondisi semacam ini menjadi alasan mengapa seiring berjalannya waktu, Kerajaan Samudera Pasai mulai menunjukkan tanda-tanda kemunduran dan keruntuhan.

    Bahkan, dominasi Kerajaan Malaka pada bidang perdagangan seolah tak terbendung. Berbagai cara sudah dilakukan Kerajaan Samudera Pasai namun ternyata masih menemui jalan buntu sehingga kerajaan tersebut semakin terpinggirkan.

    4. Serangan Portugis

    Keruntuhan Kerajaan Samudera Pasai juga disebabkan oleh serangan Portugis yang terjadi di awal abad 16. Pada waktu itu, Alfonso de Albuquerque yang menjadi pemimpin pasukan Portugis di tahun 1511 menuju Malaka untuk melakukan penyerangan.

    Kemudian, dengan membawa pasukan sebanyak 16.000 orang serta 15 kapal, serangan tersebut membuat Portugis berhasil menguasai beberapa wilayah strategis. Wilayah-wilayah yang menjadi pusat perdagangan berhasil dikuasai Portugis.

    Bahkan, sebagian wilayah milik Kerajaan Samudera Pasai pun juga berada di tangan Portugis. Inilah yang kemudian menandai keruntuhan dari kerajaan tersebut. Lalu wilayah yang sudah berada di tangan Portugis berhasil diambil oleh Kesultanan Aceh.

    Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai

    Pembahasan tentang sejarah Kerajaan Samudera Pasai berikutnya adalah tentang apa saja yang menjadi peninggalan kerajaan pertama Islam di Nusantara tersebut. Tentu kerajaan ini runtuh meninggalkan beberapa peninggalan yang sampai sekarang masih terjaga. Adapun peninggalan penting dari Kerajaan Samudera Pasai antara lain:

    1. Makam Sultan Malik Al-Shaleh

    Makam Sultan Malik Al-Shaleh | Sumber gambar: sadeeda.com

    Peninggalan yang pertama yaitu makam yang memiliki batu nisan dengan bentuk sangat indah. Makam tersebut milik Sultan Malik Al-Shaleh alias Marah Silau. Beliau merupakan pendiri sekaligus menjadi raja pertama dari Kerajaan Samudera Pasai.

    Makam yang tertulis angka 1297 M pada batu nisannya juga sekaligus menjadi batu nisan paling tua yang pernah ditemukan. Melalui batu nisan tersebut juga menjadi bukti bahwa pengaruh Islam yang asalnya dari Gujarat pada Samudera Pasai cukup besar.

    2. Lonceng Cakra Donya

    Lonceng Cakra Donya | Sumber gambar: tribunnews.com

    Lalu ada Lonceng Cakra Donya yang juga menjadi peninggalan dari Kerajaan Samudera Pasai. Menurut sejarah, lonceng tersebut kemungkinan pembuatannya pada tahun 1409 M.

    Lonceng Cakra Donya mempunyai tinggi 125 cm serta lebar 75 cm. Bentuknya berupa mahkota besi yang kabarnya adalah hadiah yang diperoleh dari kekaisaran Cina untuk Sultan Samudera Pasai.

    3. Makam dari Sultanah Nahrasiyah

    Makam dari Sultanah Nahrasiyah | Sumber gambar: kompasiana.com

    Lalu ada makam dari Sultanah Nahrasiyah yang berada di Desa Meunasah Kuta Krueng, Kec. Samudera. Batu nisan pada makam tersebut sangat megah dan kabarnya langsung didatangkan dari Kamboja. Selain itu, ada beberapa makam lain seperti makam Sultan Muhammad Malik Al-Zahir serta putranya Sultan Mahmud Malik Al-Zahir.

    4. Dirham

    Dirham | Sumber gambar: voi.id

    Kerajaan Samudera Pasai adalah kerajaan yang makmur dan sudah mengeluarkan mata uang. Adapun mata uangnya berupa dirham dari emas yang pertama kali berfungsi sebagai alat pembayaran di era pemerintahan Sultan Muhammad Malik Al-Zahir.

    5. Hikayat Raja-raja

    Hikayat raja merupakan karya berbahasa Melayu yang kemungkinan ditulis pada sekitar abad ke-14. Isi dari karya sastra tersebut yaitu kisah Kerajaan Samudera Pasai. Termasuk mimpi dari Marah Silau yang bertemu Nabi Muhammad dan membuatnya masuk Islam.

    Sudah Paham tentang Sejarah Kerajaan Samudera Pasai?

    Sekian informasi mengenai seperti apa sejarah Kerajaan Samudera Pasai mulai dari awal berdiri hingga apa saja yang menjadi peninggalannya. Jadi, kerajaan ini merupakan tonggak akan berkembangnya Islam di Nusantara.

    Kemudian diteruskan oleh beberapa kerajaan Islam lain sehingga agama Islam pun kian menyebar dan pada akhirnya menjadi agama mayoritas di Indonesia.

  • Sejarah Kerajaan Kalingga: Raja, Peninggalan, dan Masa Kejayaan

    Sejarah Kerajaan Kalingga: Raja, Peninggalan, dan Masa Kejayaan

    Pada masa lalu, banyak kerajaan-kerajaan yang berdiri dan berkuasa di Indonesia. Salah satu yang berada di Jawa Tengah adalah Kerajaan Kalingga. Sejarah Kerajaan Kalingga sebagai salah satu yang terkuat pada masa jayanya menjadikan banyak peneliti tertarik untuk teru mengungkapkan berbagai peninggalannya.

    Sejarah Kerajaan Kalingga

    Kerajaan Kalingga juga dikenal sebagai Kerajaan Holing, Kerajaan Keling, dan Kerajaan Heling. Nama tersebut berasal dari bahasa China. Hal itu membuktikan pada masa itu banyak pendeta berasal dari China berada di dataran Nusantara. Berikut periode sejarah Kerajaan Kalingga yang terbagi dalam 3 masa, yaitu:

    1. Masa Awal Kerajaan Kalingga

    Sejarah Kerajaan Kalingga pertama kali lahir pada abad ke 7-8 M sesuai yang tercantum dalam berita Cina. Kalingga pada masa itu lebih dikenal sebagai Kerajaan Holing dan merupakan yang terkuat di Pulau Jawa.

    Pada tahun 647 M, seorang utusan dari China datang ke Pulau Jawa dan mengunjungi Kalingga. Itulah awal mula Kalingga menjadi terkenal hingga negeri bambu. 

    Apalagi, pada saat itu merupakan kepemimpinan Ratu Sima yang terkenal kuat dan bijaksana. Ratu Sima saat itu memimpin Kalingga bersama suaminya, Raja Sailendra.

    Pusat pemerintahaan kerajaan ini terletak di Jawa Tengah. Lokasi tersebut dibuktikan dengan penemuan prasasti dengan huruf Sansekerta di Gunung Merbabu. Prasasti tersebut menyatakan, sebelumnya terdapat sebuah mata air suci.

    2. Masa Kejayaan Kerajaan Kalingga

    Seperti yang disebutkan sebelumnya, kepemimpinan Ratu Sima merupakan puncak kejayaan dalam Kerajaan Kalingga. Pasalnya, Ratu Sima dikenal sebagai Ratu Keadilan dan sangat taat terhadap hukum.

    Pada masa inilah, Kerajaan Kalingga memiliki empat menteri. Keempat menteri tersebut membantu mengatur 28 kerajaan kecil yang berada di bawah kekuasaan Kalingga. Kerajaan-kerajaan tersebut tersebar di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

    Pada masa ini pula, kehidupan perekonomian di wilayah Kalingga sangat makmur. Kerajaan ini fokus pada komoditas culas badak, emas, dan perak sebagai sumber perekonomiannya.

    3. Masa Keruntuhan Kerajaan Kalingga

    Meski mengalami kejayaan dan pengaruh yang besar di wilayah Jawa, kejayaan tersebut ternyata tidak berlangsung lama. Setelah Ratu Sima meninggal, kerajaan ini dipimpin oleh putranya.

    Berbeda dengan ibunya, kepemimpinan putranya ternyata menimbulkan bibit kehancuran. Apalagi, saat itu Kerajaan Sriwijaya mulai melakukan penyerangan. 

    Serangan tersebut mengakibatkan Kerajaan Kalingga kehilangan beberapa daerah kekuasaannya serta jalur perdagangan, yang merupakan pusat perekonomian.

    Kondisi tersebut membuat Kerajaan Kalingga terpecah menjadi dua, yakni Kerajaan Keling di Magelang dan Kerajaan Mataram Kuno di Yogyakarta. 

    Itulah yang menjadi cikal bakal terbentuknya kerajaan-kerajaan besar di Jawa setelah runtuhnya Kalingga.

    Letak Kerajaan Kalingga

    Letak Kerajaan Kalingga I Sumber gambar: Detik.com

    Berdasarkan penemuan berbagai prasasti dan peninggalan-peninggalan kuno, Kerajaan Kalingga diperkirakan terletak di sebelah utara Gunung Muria. Lebih tepatnya berada di Kabupaten Jepara.

    Akan tetapi, letak kerajaan ini secara akurat hingga saat ini masih belum dapat dipastikan. Asumsi-asumsi lainnya menyatakan, Kalingga terletak di sepanjang dataran Blora dan Purwodadi, juga di Salatiga.

    Silsilah Raja yang Memimpin Kerajaan Kalingga

    Ilustrasi Ratu SIma I Sumber gambar: iNews Jatim

    Adapun raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Kalingga adalah sebagai berikut, yaitu: 

    1. Prabu Wasumurti (594-605 M)

    Prabu Wasumurti merupakan pemimpin pertama Kerajaan Kalingga setelah didirikan oleh Dapunta Syailendra pada abad ke 6 M. Wasumurti berkuasa di Kalingga selama 11 tahun.

    2. Prabu Wasugeni (605-632 M)

    Sepeninggalnya Prabu Wasumurti, tahta berlanjut ke putranya, yakni Prabu Wasugeni. Prabu Wasugeni menjabat sebagai pemimpin Kerajaan Kalingga selama 27 tahun. 

    3. Prabu Kiratasingha (632-648 M)

    Prabu Kiratasingha merupakan gelar dari Raja Santanu. Raja Santanu merupakan pemimpin ketiga yang menjabat di Kerajaan Kalingga. Berdasarkan catatan sejarah, Raja Santanu pernah mengirimkan duta besarnya ke China abad 632 M. 

    Selanjutnya, dalam catatan Tiongkok I-Tsing seorang pendeta bernama Hwi-Ning datang dan menetap di Kerajaan Kalingga selama tiga tahun. 

    Hwi-Ning bertugas menerjemahkan kitab suci agama Budha Hinayana dari bahasa Sansekerta ke bahasa Cina.

    4. Prabu Kartikeyasingha (648-674 M)

    Prabu Kartikeyasingha merupakan gelar dari Raja Sailendra yang memimpin Kerajaan Kalingga selama 26 tahun pada abad 648 M. 

    Ia menikah dengan putri Prabu Wasugeni yakni Dewi Wasuwari atau yang lebih dikenal sebagai Ratu Sima. 

    Pada masa kepemimpinannya, ia dua kali mengirimkan seorang utusan ke dataran Cina, yakni pada tahun 648 M dan 666 M. Raja Sailendra wafat pada tahun 674 M

    5. Ratu Shima (674-695 M)

    Ratu Sima naik tahta setelah wafatnya sang suami Raja Sailendra pada tahun 674 M. Prestasinya dalam memimpin Kerajaan Kalingga menjadi yang paling kuat saat itu. Itu sebabnya, ia mendapat gelar Sri Maharani Mahisasuramardini Satyaputikeswara. 

    Kepemimpinan Ratu Sima membuat kejayaan Kerajaan Kalingga semakin meningkat di dataran Jawa. Kepatuhannya terhadap hukum yang diterapkan membuat rakyatnya segan dan taat. Sepeninggalnya Ratu Sima kejayaan Kerajaan Kalingga mulai runtuh dan terbagi menjadi dua kekuasaan. 

    Kehidupan Sosial Masyarakat di Kerajaan Kalingga

    Ilustrasi Aktivitas Masyarakat Kalingga | Sumber gambar: Selasar.com

    Setelah mengetahui sejarah Kerajaan Kalingga dan raja-rajanya, kamu juga perlu memahami kehidupan sosial masyarakatnya. Berikut penjelasan mengenai kehidupan masyarakat Kerajaan Kalingga dari 3 aspek, yaitu: 

    1. Kehidupan Politik

    Kehidupan politik di Kerajaan Kalingga begitu terkenal saat kepemimpinan Ratu Sima. Sikap lugas dan tegas Ratus Sima dalam menegakkan hukum di kerajaan membuat musuh menjadi segan.

    Bahkan, terdapat kisah yang begitu terkenal di mana Ratu Sima menghukum putranya yang menyentuh pundi-pundi emas milik saudagar Arab.

    2. Kehidupan Ekonomi

    Perekonomian rakyat Kalingga ditopang oleh perdagangan. Selain itu, pertanian juga menjadi mata pencaharian utama masyarakatnya, sehingga mampu menopang kebutuhan pokok masyarakatnya. Hal itu didukung oleh kondisi tanah Kalingga yang begitu subur.

    3. Kehidupan Agama

    Masyarakat Kerajaan Kalingga umumnya beragama Buddha. Itu karena pengaruh dari India dan Cina. Pendiri dari Kerajaan Kalingga adalah seseorang yang berasal dari India. 

    Sementara itu, Kerajaan Kalingga dan Dinasti Tang di Cina sering mengirim utusan untuk bertukar pikiran. 

    5 Peninggalan Sejarah Kerajaan Kalingga

    Sebagai kerajaan yang jaya di masa lampau, Kalingga juga meninggalkan berbagai prasasti yang mencatat keberadaannya. Meski informasi yang ditemukan sejauh ini tidak terlalu detail, itu cukup untuk menggambarkan kehidupan masyarakatnya pada masa itu. Berikut 4 peninggalan sejarah Kerajaan Kalingga, yaitu:

    1. Prasasti Tuk Mas

    Prasasti Tuk Mas merupakan peninggalan Kerajaan Kalingga yang terletak di lereng barat Gunung Merapi. Isi dari prasasti ini adalah tentang keberadaan sumber mata air yang suci. 

    Bahkan, memiliki kemiripan dengan sungai Gangga di India. Tidak hanya itu, di dalam Prasasti Tuk Mas juga terdapat beberapa lambang dari agama Hindu, yakni keong, trisula, dan cakra.

    2. Prasasti Sojomerto

    Selanjutnya, adalah prasasti yang berada di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Berbeda dengan Prasasti Tuk Mas, prasasti ini ditulis menggunakan huruf Kawi dan Melayu Kuno. 

    Isi dari Prasasti Sojomerto menceritakan perihal keluarga Dapunta Syailendra, sang pendiri Kalingga. Cerita tentang awal mula dari raja-raja keturunan Syailendra dan istrinya Sampula.

    3. Candi Angin

    Candi Angin I Sumber gambar: KSMTour.com

    Penemuan Candi Angin ada di Kabupaten Jepara. Meski terletak di tempat yang sangat tinggi, bangunannya tetap kokoh. Beberapa peneliti mengatakan, usia dari Candi Angin lebih tua dari Candi Borobudur. 

    Pada candi ini tidak terdapat ornamen Hindu-Budha, sehingga banyak peneliti meyakini candi ini didirikan oleh manusia purba. 

    Pusaran angin yang terdapat di bagian dalam candi menunjukkan, di masa lampau candi ini menjadi tempat penyembahan.

    4. Candi Bubrah

    Tepat 500 meter dari lokasi Candi Angin, terdapat Candi Bubrah yang diduga menjadi gapura utama dari Candi Angin. Candi Bubrah terletak di Desa Tempur, Jepara. Seperti namanya, bentuk dari Candi Bubrah adalah bangunan setengah jadi.

    Beberapa mitos yang masyarakat setempat percaya adalah bahwasanya candi ini merupakan tempat Kitab Mahabarata terbuka pada masa kepemimpinan Ratu Sima.

    5. Situs Puncak Songolikur

    Peninggalan terakhir dari Kerajaan Kalingga adalah ditemukannya situs Puncak Songolikur. 

    Terletak di puncak Gunung Muria atau Rahtawu, pada situs ini terdapat empat arca. Masing-masing arca tersebut bernama Batara Guru, Narada, Togog, dan Wisnu.

    Berada di puncak gunung, sampai saat ini bagaimana keempat arca tersebut bisa berada di sana masih menjadi misteri. Itu karena jalan menuju puncak sangatlah curam.

    Kalingga sebagai Kerajaan Terkuat di Masa Lampau!

    Itulah penjelasan mengenai sejarah Kerajaan Kalingga dan berbagai bentuk peninggalannya yang ditemukan di Jawa Tengah. Meski informasi dalam berbagai penemuan tersebut tidak detail, sudah cukup membuktikan pada masa lampau Kerajaan Kalingga menjadi salah satu yang paling kuat di dataran Jawa.

  • Sejarah Kerajaan Kediri: Masa Kejayaan dan Peninggalannya

    Sejarah Kerajaan Kediri: Masa Kejayaan dan Peninggalannya

    Salah satu Kerajaan yang bercorak Hindu adalah Kerajaan Kediri. Namun, bagaimana sejarah Kerajaan Kediri? Serta apa saja peninggalannya? Seperti yang kamu tahu Indonesia memiliki banyak sekali jejak kerajaan. Banyaknya kerajaan yang berdiri di Indonesia disebabkan oleh banyak hal. 

    Salah satunya karena meningkatnya perdagangan sehingga bermunculan pedagang dari negara lain. Tak hanya dengan tujuan berdagang, pedagang dari negara lain juga membawa ajaran agama kemudian menyebarkannya di nusantara. Nah, jika ingin tahu sejarah lengkap dari salah satu kerajaan Hindu ini, simak sampai habis! 

    Sejarah Kerajaan Kediri

    Kerajaan Kediri disebut juga Panjalu merupakan Kerajaan Mataram Kuno yang berdiri sekitar abad 12 Masehi.  Panjalu yang memiliki corak Hindu ini berlokasi di tepi Sungai Brantas, tepatnya Daha, Kediri, Jawa Timur. 

    Sejarah Kerajaan Kediri bermula ketika Raja Airlangga yang merupakan pendiri Kerajaan Kahuripan membagi wilayah kerajaan menjadi 2 bagian, yaitu Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Kediri. Pembagian wilayah ini dilakukan oleh Empu Bharada pada tahun 1041 M. 

    Latar belakang pembagian kekuasaan tersebut karena kedua putra Raja Airlangga, yaitu Sri Samarawijaya dan Mapanji sama-sama menginginkan kekuasaan hingga berebut dan saling tempur satu sama lain. Demi mendamaikan kedua putranya, maka Kerajaan Kahuripan membagi kerajaan menjadi 2. 

    Sri Samarawijaya memimpin Kerajaan Kediri, sedangkan Mapanji memimpin Kerajaan Jenggala yang berpusat di Kahuripan. Meskipun demikian, sepeninggal Raja Airlangga, keduanya berseteru kembali karena pembagian kekuasaan yang mereka rasa masih belum cukup. 

    Silsilah Kerajaan Kediri

    Total raja yang pernah memimpin Kerajaan Kediri ada 11. Di mana raja pertamanya adalah putra Raja Airlangga. Nah, berikut merupakan daftar raja yang pernah berkuasa sepanjang sejarah Kerajaan Kediri:

    • Sri Samarawijaya, berkuasa pada 1042-1051 M.
    • Sri Jitendrakara, berkuasa pada 1051-1112 M.
    • Sri Bameswara, berkuasa pada 1112-1135 M.
    • Jayabaya, berkuasa pada 1135-1159 M.
    • Sri Sarweswara, berkuasa pada 1159-1169 M.
    • Sri Aryeswara, berkuasa pada 1169-1180 M.
    • Sri Gandra, berkuasa pada 1180-1182 M.
    • Kameswara, berkuasa pada 1182-1194 M.
    • Kertajaya, berkuasa pada 1194-1222 M.

    Antara seluruh raja tersebut, raja yang paling terkenal dan masih dikenali masyarakat hingga kini adalah Jayabaya. Raja Jayabaya juga merupakan pengarang kitab-kitab Jawa, seperti Sutasoma, Arjunawiwaha, Bharatayudha, dan lain sebagainya. 

    Masa Kejayaan dan Keruntuhan Kerajaan Kediri

    Dalam sejarah Kerajaan Kediri, kerajaan ini berkuasa hingga 2 abad lamanya. Selama masa kekuasaan, kerajaan mengalami masa kejayaan saat berada dalam kepemimpinan Raja Jayabaya pada tahun 1135-1159 M. Pada rentang masa kekuasaan itulah kerajaan berhasil memperluas daerah kekuasaannya. 

    Tak hanya itu, Kerajaan Jenggala yang merupakan pecahan Kahuripan yang dulunya terbagi karena putra Raja Airlangga berhasil dikuasai kembali dan bersatu dengan Kerajaan Kediri. Tidak cukup pada wilayah kekuasaan, bidang lain seperti pertanian dan perdagangan juga berkembang sangat pesat. 

    Sedangkan keruntuhan Kediri terjadi saat kekuasaan Kertajaya. Di mana Kertajaya dianggap melanggar agama dan memaksa Brahmana menyembahnya. Sehingga, Brahmana meminta perlindungan Ken Arok. Hingga akhirnya Ken Arok berhasil mengalahkan Kertajaya hingga dimulaikan kekuasaan Kerajaan Singasari.

    Prasasti Peninggalan Kerajaan Kediri

    Dalam sejarah Kerajaan Kediri, ada beberapa prasasti peninggalan yang memuat pesan masing-masing. Berikut merupakan 5 prasasti peninggalan Kerajaan Kediri:

    1. Prasasti Sirah Keting 

    Sirah Keting merupakan prasasti yang lokasi penemuannya berada pada wilayah Ponorogo, Jawa Timur pada tahun 1204 M. Bisa dibilang prasasti ini merupakan penganugerahan yang diberikan oleh Raja Sri Jayawarsa kepada Marjaya, karena kepatuhan dan baktinya kepada kerajaan. 

    2. Prasasti Wurare

    Prasasti peninggalan yang kedua adalah Wurare. Dinamakan Wurare karena merupakan nama tempat di mana penobatan arca Mahaksobhya dilaksanakan. Isi dari prasasti ini memuat sajak dengan 19 baris yang menceritakan kesaktian pendeta Arrya Bharad yang turut membagi Kahuripan menjadi 2 wilayah. 

    3. Prasasti Pucangan

    Prasasti Pucangan | Sumber Gambar: Detik

    Pucangan merupakan prasasti yang berisi mengenai silsilah keluarga raja dalam sejarah Kerajaan Kediri secara urut. Namun, sampai sekarang prasasti ini tidak berada di Indonesia, melainkan berada India. 

    Ini terjadi karena pada masa pemerintahan Inggris di Batavia, Letnan Gubernur saat itu, yaitu Thomas Stamford Raffles menyerahkannya kepada atasannya yang bernama Lord Minto. Lalu, Lord Minto menyimpan prasasti tersebut di museum Kolkata yang berada di India. 

    4. Prasasti Hantang 

    Prasasti keempat yang merupakan peninggalan Kerajaan ini adalah Hantang. Pembuatan prasasti ini bertujuan untuk memperingati pemberian anugerah Raja Jayabaya kepada Desa Hantang dan 12 desa lainnya. Karena ke-13 desa tersebut menunjukkan keloyalitasan dan kepatuhannya dalam melawan Kerajaan Jenggala. 

    Prasasti Hantang ditemukan di Desa Ngantang, Kab. Malang, Jawa Timur pada tahun 1057 M. Hingga saat ini, Prasasti Hantang menjadi salah satu koleksi di Museum Nasional. Jika ingin mencarinya, prasasti ini berada di nomor inventaris D.9. 

    5. Prasasti Kamalagyan

    Prasasti kelima, yaitu Prasasti Kamalagyan yang memiliki panjang 115 cm, lebar 28 cm, dan tinggi 215 cm. Serta berlokasi di dusun Klagen, Kec. Tropodo, Kab. Sidoarjo, Jawa Timur. Isi dari prasasti ini adalah pujian-pujian kepada raja atau penguasa yang menyirami dunia dengan air amerta yang penuh kasih sayang.  

    Candi Peninggalan Kerajaan Kediri

    Tak hanya prasasti, Kerajaan Kediri juga memiliki peninggalan berupa 3 candi yang bahkan namanya masih cukup eksis hingga saat ini. Berikut merupakan 3 candi dalam sejarah Kerajaan Kediri:

    1. Candi Penataran 

    Candi Penataran | Sumber Gambar: Kompas.com

    Pertama, yaitu Candi Penataran yang berlokasi di Desa Penataran, Kec. Nglegok, Kab. Blitar, Jawa Timur. Bangunan bersejarah ini dibangun sekitar abad ke-12 dan dulunya digunakan oleh Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit untuk melakukan peribadatan. 

    Kompleks bangunan Candi Penataran sangatlah luas, yaitu mencapai 13.000 meter persegi yang dibagi menjadi 3 bagian yaitu depan, tengah, dan belakang. Setiap bagian tersebut terpisah oleh dua dinding. 

    2. Candi Tondowongso

    Candi Tondowongso | Sumber Gambar: SINDOnews

    Tondowongso merupakan candi yang terbilang baru. Sebab, penemuannya terjadi baru-baru ini, yaitu pada tahun 2007 pada Dusun Tondowongso, Desa Gayam, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Penemuan candi ini berawal dari penemuan beberapa arca oleh pengrajin batu bata daerah setempat. 

    3. Candi Gurah

    Candi Gurah | Sumber Gambar: Radar Tegal – Disway

    Ini merupakan candi turunan dari Candi Tondowongso. Lokasi Candi Gurah hanyalah berjarak 200 meter dari Candi Tondowongso. Candi Turunan memiliki ukuran lebih besar dari induknya, yaitu 9.5 x 9.5 meter. 

    Arca Peninggalan Kerajaan Kediri

    Selain prasasti dan candi, dalam sejarah Kerajaan Kediri juga ada setidak 3 arca peninggalan. berikut di antaranya:

    1. Arca Ganesha 

    Arca Ganesha ditemukan di Desa Krenceng, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Ganesha merupakan putra dari Dewa yang dipercaya dalam agama Hindu. 

    2. Arca Dwarapala

    Kedua adalah Arca Dwarapala yang ditemukan pada tahun 2007 dengan tinggi 180 cm dan lebar 90 cm. Dwarapala ini ditemukan dalam keadaan berdiri tegak di Desa Adan-Adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri pada kedalaman 80 cm. 

    3. Arca Nandiswara 

    Arca ketiga peninggalan Kerajaan Kediri, yaitu Arca Nandiswara. Ini merupakan arca dewa dan dapat kamu temukan di Candi Penataran. 

    Karya Sastra Peninggalan Kerajaan Kediri 

    Tak hanya prasasti, arca, kerajaan ini juga memiliki peninggalan berupa karya sastra. Apalagi mengingat Raja yang pernah berkuasa, yaitu Jayabaya merupakan seorang yang ahli dalam membuat kitab karya sastra. Berikut merupakan 4 karya sastra peninggalan sejarah Kerajaan Kediri:

    1. Sutasoma 

    Karya sastra, pertama yaitu Sutasoma. Sesuai dengan namanya, karya sastra ini berisi perjalanan hidup seorang pangeran bernama Sutasoma yang mengabdikan hidupnya untuk menjadi seorang Buddha. 

    2. Bharatayudha

    Dalam kisah pewayangan, pernah terjadi perang besar antara Pandawa dan Kurawa. Kisah peperangan tersebut terabadikan dalam karya sastra ini di wiracarita Mahabharata. 

    3. Arjunawiwaha

    Karya sastra yang ketiga adalah Arjunawiwaha. Ini berisi tentang kisah cinta Arjuna dengan Dewi Supraba. Sama seperti Bharatayudha, kisah cinta tersebut juga terdapat dalam wiracarita Mahabharata. 

    4. Pararaton

    Karya sastra terakhir adalah pararaton. Ini berisi mengenai asal usul serta silsilah raja-raja yang ada di Jawa. Jadi, tidak hanya berisi raja Kerajaan Kediri. Selain itu, dalam kitab ini juga menceritakan keruntuhan Kediri. Sebab, Kertajaya (raja saat itu) dianggap melanggar agama dan memaksa Brahmana.

    Sudah Tahu Bagaimana Sejarah Kerajaan Kediri? 

    Nah, itu tadi merupakan sejarah Kerajaan Kediri, masa kejayaannya, hingga apa saja peninggalannya. Mempelajari sejarah dapat menambah wawasan kamu mengenai asal usul dan akar budaya.

    Setiap peninggalan juga memiliki ciri khas unik dan tidak sama dengan peninggalan yang lain. Sehingga sangat penting untuk menjaga dan melestarikannya. Jika ingin melihat beberapa peninggalan Kerajaan Kediri, kamu bisa mengunjungi daerah Jawa Timur dan Museum Nasional. Semoga bermanfaat!

  • Sejarah Pembentukan Bumi Zaman Praaksara dan Tahapannya

    Sejarah Pembentukan Bumi Zaman Praaksara dan Tahapannya

    Pernahkah kamu tahu, bagaimana sejarah pembentukan bumi zaman praaksara? Tentunya perkembangan zaman dari dulu hingga sekarang, tidak terjadi secara instan. Ada berbagai tahapan yang dilalui dari zaman ke zaman. Seperti zaman yang akan artikel ini jelaskan. Mari simak hingga akhir!

    Apa Itu Zaman Praaksara?

    Ilustrasi gambar zaman praaksara l Sumber: Freepik

    Secara teori, zaman praaksara merujuk pada kehidupan manusia sebelum mengenal tulisan, atau lebih sering kita kenal dengan zaman prasejarah atau primitif. Menurut beberapa teori, sebelum mengenal tulisan, dunia terbagi dalam beberapa zaman. Mulai dari Arkeozoikum, Paleozoikum, Mesozoikum, dan Neozoikum.

    Setiap zaman sama seperti siklus pertumbuhan, dimana kondisi bumi yang dahulu dan sekarang jauh berbeda. Uniknya setiap prosesnya bisa memakan waktu jutaan hingga milyaran tahun. Mulai dari bumi terbentuk, hingga seiring waktu jadi seperti sekarang ini.

    Sejarah pembentukan bumi zaman praaksara sendiri untuk manusia zaman sekarang lebih akrab disebut sebagai Sejarah Geologi. Para ahli menggunakan perantara fosil, untuk memperkirakan waktu pada sejarah pembentukan bumi. 

    Prinsip kelimpahan fosil tersebut juga membantu mengidentifikasi asal-usul makhluk hidup. Kemudian, teori-teori liar tersebut mulai mendapatkan dukungan sains, hingga mulai berkembang teori uniformitarianisme pada abad ke 18. 

    Dalam teori ini, para ahli mengatakan terjadi sebuah proses spektakuler, yang terjadi dari masa-ke masa. Serta pergerakan lempek tektonik, menyebabkan bumi memiliki bentuk seperti sekarang. Munculnya sungai, lembah, gunung, hingga samudra juga teori ini bahas.

    Zaman Arkaezoikum

    Ilustrasi gambar zaman arkaezoikum l Sumber: Freepik

    Menurut beberapa ahli dan beberapa literasi, sejarah pembentukan bumi zaman praaksara dimulai pada 2,5 miliar tahun yang lalu. Para pengembang teori ini melakukan sejumlah penelitian, bahwa bumi terbentuk dari sebuah bola panas yang memiliki daya tarik yang besar.

    Bola panas tersebut dipercaya muncul dari manifestasi awan, debu, dan gas, yang sifatnya sangat tidak stabil dan tak bisa makhluk hidup gunakan sebagai tempat tinggal. Namun, secara teori, bola panas tersebut masih mengelilingi Matahari sebagai porosnya dan terus bertumbuh hingga saat ini.

    Dari waktu ke waktu bumi muda yang belum stabil, mulai menarik berbagai partikel di sekitarnya. Sehingga, lama kelamaan bola ini mulai berevolusi dan membentuk batuan kerak bumi. Kemudian, dengan proses yang sangat lama, bumi mulai menjadi protokontinen (daratan yang akan menjadi Benua).

    Berikutnya, menurut sejarah geologi, sejarah pembentukan bumi zaman praaksara pada era Arkaekum terjadi dengan secara dramatis. Batuan yang menjadi kerak bumi membungkus bola panas di dalamnya, namun dari waktu ke waktu, kerak bumi mulai membeku. Pembekuan terjadi karena pengaruh suhu dingin dari angkasa.

    Pergeseran tektonik membuat suhu bumi naik, dan mencairkan bekuan kerak bumi dan akhirnya menjadi samudra. Karena suhu yang mulai stabil inilah, mulai muncul kehidupan di perairan dan sebagian daratan, yang menjadi cikal bakal peradaban primitif.

    Selama era ini, bumi juga mulai mengembangkan lempeng tektonik. Hingga akhirnya muncullah daratan yang menjorok ke atas menjadi gunung, lalu ada yang terpecah menjadi beberapa benua. Kemudian, dari waktu ke waktu atmosfer mulai membaik dan menciptakan kondisi yang lebih mendukung makhluk hidup tinggal.

    Zaman Proterozoikum

    Pada zaman proterozoikum yang terjadi pada kisaran 2,5 miliar hinga 538,8 juta tahun yang lalu, sejarah pembentukan bumi zaman praaksara terbagi dalam tiga “eon” atau periode, yakni mulai dari:

    1. Paleoproterozoikum atau Paleozoikum

    Ilustrasi gambar zaman paleozoikum l Sumber: Kompas.com

    Pada tahapan ini, atmosfer bumi mulai membaik, karena muncul transisi atmosfer beroksigen yang jadi sumber kehidupan makhluk hidup. Lalu, terjadi sebuah hipotesis, bahwa snowball earth (bumi yang membeku pada era sebelumnya), mulai mencair dan menimbulkan ekosistem lingkungan yang lebih baik.

    Sementara menurut beberapa ahli, eon proterozoikum jadi siklus metamorfosis bumi paling lama, yang berlangsung dari 541 hingga 251 juta tahun lalu. Kemudian, bumi mulai mengembangkan atmosfer dan hidrosfer yang memicu pertumbuhan mikroorganisme. 

    Era ini terbagi dalam beberapa periode, yakni Kambrium, yang memicu ledakan pertumbuhan makhluk hidup. Lalu, ada Ordovisium dan Silur yang memunculkan berbagai perubahan, seperti perkembangan iklim.

    Pada era ini, mulai muncul perkembangan ikan bertulang dan tumbuhan darat, tepatnya pada periode Devon. Pada momen sejarah pembentukan bumi zaman praaksara inilah, terjadi evolusi besar. Pasalnya, sebagian makhluk air disinyalir adalah makhluk darat yang berevolusi.

    Kemudian, ada periode Karbon, yang memicu munculnya batubara dan munculnya hutan rawa di Bumi. Terakhir, ada Permian, yang jadi titik kepunahan massal populasi Bumi, karena bencana alam.

    2. Mesoproterozoikum atau Mesozoikum

    Ilustrasi gambar zaman mesozoikum l Sumber: Kompas.com

    Kemudian, kita masuk ke periode eon tengah, yakni Mesozoikum, yang menjadi titik awal peradaban setelah terjadi kepunahan massal. Pada zaman ini, suhu bumi kembali menurun dan memungkinkan para makhluk hidup berkemabang biak dalam ekosistem barunya. 

    Untuk penyesuaian lingkungan, banyak muncul binatang amfibi yang dapat hidup di dua alam, yakni darat dan air. Perubahan ini terjadi pada kisaran 252 juta tahun hingga 66 juta tahun yang lalu. Dalam era makhluk hidup berkembang ini, terbagi menjadi tiga sub periode, yakni Trias, Jurasik, dan Kapur.

    Lalu, pada sejarah pembentukan bumi zaman praaksara periode Trias, muncul ledakan kehidupan berupa reptil dan mamalia. Kemudian, selama perkembang biakan, muncul beberapa spesies baru yang kamu kenal sebagai eranya Dinosaurus atau periode Jurasik.

    Sayangnya, pada masa Kapur, tak semua makhluk purba bisa selamat, karena bencana alam atau perubahan iklim ekstrim. Terdapat rumor terjadi hujan meteor, pembekuan lapisan bumi, atau banjir bandang yang membuat sebagian besar dinosaurus tak bisa selamat.

    3. Zaman Neoproterozoikum atau Neozoikum

    Ilustrasi gambar zaman neozoikum l Sumber: Kompas.com

    Untuk zaman terakhir ini, para ahli juga menamainya dengan Kainozoikum, yang terjadi pada kisaran 60 juta tahun yang lalu. Berbeda dari zaman sebelumnya yang didominasi reptil, pada zaman ini mamalia mulai bertumbuh dengan pesat. 

    Untungnya, pertumbuhan ini terdukung dengan memunculkan superkontinen Rodinia, yang jadi habitat hidup banyak makhluk darat pada kala itu. Walaupun seiring waktu daratan tersebut terpecah menjadi beberapa benua yang lebih kecil. 

    Sejarah pembentukan bumi zaman praaksara ini diyakini terjadi pada periode tersier atau awal, serta jadi awal munculnya berbagai jenis apes dan juga manusia purba. Oleh sebab itulah, melalui teori evolusi para pakar seperti Darwis, beliau menyimpulkan bahwa nenek moyang manusia adalah dari golongan kera.

    Kemudian, hingga pada periode quarter, populasi manusia mulai berkembang dan tersebar di berbagai benua melalui gaya hidupnya yang nomaden pada kala itu. Zaman persebaran ini terjadi pada kisaran 2 juta tahun yang lalu dan terbagi lagi jadi Kala Pleistosen (Zaman Es) dan Kala Holosen (Zaman Banjir).

    Ciri Zaman pada Tiap tahapan

    Secara teori, sejarah pembentukan bumi zaman praaksara terbagi dalam beberapa tahapan seperti yang dijelaskan sebelumnya. Untuk mudahnya, ada beberapa ciri yang membedakan tiap tahapan, seperti halnya:

    1. Masa Arkeozoikum

    Ada beberapa ciri atau kejadian pada masa ini, yakni:

    • Bumi muda berasal dari bola gas panas, yang berputar mengelilingi Matahari pada porosnya.
    • Terjadi pembentukan batuan kerak bumi, yang kemudian berkembang pada era protokontinen.
    • Pada kala itu, daratan masih jauh dari stabil dengan suhu yang cukup ekstrim, sehingga tidak ada tanda kehidupan.

    2. Masa Paleozoikum

    Era tertua dari eon protokinten ini memiliki beberapa ciri seperti:

    • Sudah mulai terdapat kehidupan berupa mikroorganisme, yang terjadi setelah era banjir mulai surut.
    • Keadaan bumi masih belum stabil, namun atmosfer sudah mulai muncul oksigen, walaupun Iklim masih berubah-ubah.
    • Terjadi diversifikasi kehidupan yang paling cepat dan luas dalam sejarah bumi (periode Kambrium).
    • Perkembangan reptilia dan amfibia yang muncul pada zaman Devon, serta perkembangan serangga, lebah, dan lipan.
    • Terjadi pembentukan batubara dan terbentuknya hutan rawa pada periode Karbon.
    • Terjadi peristiwa kepunahan massal yang mengakhiri zaman Paleozoikum pada periode Permian.

    3. Masa Mesozoikum

    Dalam masa ini, sejarah pembentukan bumi zaman praaksara mulai menimbulkan beberapa ciri kehidupan, seperti:

    • Terjadi diversifikasi reptil dan munculnya mamalia pada periode Trias.
    • Perkembangan dinosaurus mulai pesat dan ada tumbuhan berbunga pada periode Jurasik.
    • Kepunahan massal yang mengakhiri zaman Mesozoikum pada periode Kapur.

    4. Masa Neoproterozoikum

    Sedangkan untuk masa terakhir, ada beberapa hal yang jadi ciri khas, seperti halnya:

    • Pertumbuhan mamalia dan munculnya ras apes dan manusia mulai berkembang.
    • Terbentuknya super kontinen Rondonia, yang akhirnya terpecah menjadi berbagai wilayah benua yang lebih kecil.
    • Terjadi kepunahan kecil pada kala Pleistosen (Zaman Es) dan Kala Holosen (Zaman Banjir).

    Sudah Paham Sejarah Pembentukan Bumi Zaman Praaksara?

    Pada pembahasan kali ini, kini kamu paham ada 4 zaman yang terjadi pada pembentukan bumi, yakni Arkeozoikum, Paleozoikum, Mesozoikum, dan Neoproterozoikum. Setiap proses memiliki beberapa poin yang serupa, yakni munculnya masa es, masa banjir, kepunahan, dan kelahiran kembali. 

    Namun setiap masa setidak nya butuh jutaan tahun, untuk menghabiskan sebuah fase. Jadi, apakah kamu sekarang sudah lebih paham?

  • Asal Usul Persebaran Nenek Moyang di Indonesia dan Buktinya

    Asal Usul Persebaran Nenek Moyang di Indonesia dan Buktinya

    Mungkin kamu tidak asing dengan kalimat bahwa nenek moyang kita adalah seorang pelaut. Namun, ternyata tidak sampai disitu saja, ada banyak teori yang memaparkan tentang asal usul nenek moyang. Pada artikel ini, akan diuraikan asal usul persebaran nenek moyang di Indonesia lengkap dengan buktinya! Yuk, simak!

    5 Teori Asal Usul Nenek Moyang Indonesia

    Berikut ini 5 jenis teori yang membahas tentang asal usul persebaran nenek moyang di Indonesia: 

    1. Teori Nusantara

    Perahu dengan bendera Indonesia | Sumber: Pexels.com

    Teori yang pertama ini menyatakan bahwa asal usul persebaran nenek moyang di Indonesia berasal dari bangsa Indonesia itu sendiri. Atau dengan kata lain, teori ini menyebutkan bahwa bangsa Indonesia tidak berasal dari proses migrasi dari daerah manapun. 

    Adapun teori ini didukung oleh Gorys Keraf, J. Crawford, Sutan Takdir Alisjahbana, dan Muhammad Yamin. Dasar utama dari teori ini, yaitu berdasarkan pada bangsa Melayu yang merupakan bangsa dengan peradaban cukup tinggi.

    Untuk itulah, beberapa ahli menganggap bahwa bangsa Melayu itu sendiri lah yang telah melewati proses perkembangan budaya sebelumnya di wilayahnya. Selain itu, ada bukti lainnya yang mendukung teori ini, yaitu temuan jejak Homo Soloensis dan Wajakensis di Pulau Jawa. 

    Nah, karena adanya penemuan ini, membuat teori ini semakin kuat. Seperti yang kita ketahui sendiri, bahwa Homo Soloensis dan Homo Wajakensis merupakan salah satu spesies dalam sejarah perkembangan manusia. 

    2. Teori Yunan

    Beberapa wanita sedang naik perahu | Sumber: Pexels.com

    Teori selanjutnya ini sangat berbeda dengan teori Nusantara. Hal ini karena pada teori ini, menganggap bahwa asal usul persebaran nenek moyang di Indonesia  berasal dari daerah Yunan, yang ada di sekitar hulu Sungai Mekong dan Salwen atau wilayah bagian selatan Tibet. 

    Namun, kekurangan dari teori ini yaitu alasan dari orang yang meninggalkan daerah tersebut. Ini karena daerah tersebut terkenal sebagai daerah subur, jadi belum diketahui pasti penyebabnya. 

    Akan tetapi, salah satu hipotesis menyatakan bahwa orang Yunan meninggalkan daerahnya karena adanya serangan dari bangsa lain. Ada juga yang mengatakan bahwa perpindahan ini karena adanya faktor bencana alam. 

    Pendapat ini pun pada akhirnya diperkuat dengan pernyataan seorang ahli, yaitu Drs Mohammad Ali yang menyatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan, Cina. Moh. Ali menguatkan pernyataannya dengan pendapat dari Mens, yang mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Mongol.

    Perpindahan ke negara lain ini terpaksa mereka lakukan untuk menghindari desakan dari bangsa lain. Lebih lanjut, beliau juga menyebutkan bahwa leluhur bangsa Indonesia dulunya mendiami daerah hulu sungai besar di daratan Asia, yang kemudian terus bergerak ke selatan dan sampai di Indonesia. 

    Ada beberapa bukti dari catatan sejarah yang menguatkan teori ini. Salah satunya yaitu adanya temuan alat transportasi yang konon katanya, leluhur bangsa Indonesia gunakan. Alat transportasi tersebut berupa perahu bercadik, yang merupakan ciri khas dari kapal tradisional daerah tersebut. 

    Akibatnya, dalam teori ini juga mengungkapkan bahwa pelayaran nenek moyang bangsa Indonesia ini secara berkelompok hingga mereka menemukan suatu pulau dan mulai menempati pulau-pulau tersebut di Indonesia. 

    Adapun dalam catatan sejarahnya, gelombang pertama  terjadi kira-kira sejak 3.000 hingga 1.500 SM. Sedangkan untuk gelombang keduanya, yaitu sejak 1.500 sampai 500 SM. Nah, pada gelombang pertama adalah bermula dari bangsa dari Proto Melayu, sedangkan gelombang kedua dari deutro Melayu. 

    3. Teori Afrika 

    Beberapa orang sedang berjalan di rumput | Sumber: Pexels.com

    Teori asal usul persebaran nenek moyang di Indonesia berikutnya ini mengungkapkan bahwa manusia purba dari Benua Afrika menyebar ke berbagai benua lainnya, termasuk Indonesia. Namun, konon katanya persebarannya cukup lambat, sehingga di Benua Asia terjadi mulai tahun 60.000 SM.

    Mulai dari tahun ini, manusia dari Benua Afrika berjalan menuju wilayah Timur Tengah, Asia Selatan, Tenggara, sampai ke wilayah Australia. Nah, dari sinilah teori ini muncul dan menganggap bahwa nenek moyang berasal dari wilayah Afrika. 

    Bukti otentik dari teori ini, yaitu adanya fosil laki-laki di daerah Mungo, yang membuktikan bahwa pernah ada bangsa Afrika yang bermigrasi ke Asia. Namun, tetap saja, teori ini termasuk lemah, karena bukti-bukti yang kurang mendukung tersebut. 

    4. Teori Out of Taiwan

    Beberapa orang Taiwan berjalan dengan baju hijau | Sumber: Pexels.com

    Dalam teori asal usul persebaran nenek moyang di Indonesia ini, mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia berasal dari wilayah Taiwan, bukan dari wilayah China. Teori ini berdasarkan pada pendapat beberapa ahli dan teori linguistik. 

    Dalam teori tersebut, mengungkapkan bahwa dari keseluruhan bahasa yang masyarakat Nusantara gunakan hampir sama dengan rumpun Austronesia. Rumpun ini juga terkenal sebagai rumpun Taiwan. 

    Bukti lainnya, yaitu menurut riset, bahwa genetika antara masyarakat Indonesia asli tidak memiliki kecocokan persis dengan pola genetika wilayah China. Untuk itulah, teori ini muncul, yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari wilayah Taiwan. 

    5. Teori Ahli

    Beberapa orang terlihat berdiskusi | Sumber: Pexels.com

    Ada juga 6 teori ahli yang menjelaskan tentang asal usul persebaran nenek moyang di Indonesia, antara lain:

    1. Prof. H. Kroom

    Berdasarkan pendapat dari Prof. H. Kroom, bahwa asal usul nenek moyang Indonesia adalah dari daerah China Tengah. Pendapat ini berdasarkan pada pendapat bahwa nenek moyang berasal dari daerah dengan sungai besar dan di daerah China Tengah terdapat sumber sungai besar tersebut.

    Krom juga menyebutkan bahwa bangsa China Tengah masuk pada sekitar tahun 2000 SM. Selanjutnya, terus menyebar hingga tahun 1500 SM. 

    2. Drs. Moh Ali

    Pendapat selanjutnya dari Drs Moh Ali, yang menyebutkan bahwa bangsa Indonesia berasal dari Mongol dan mereka datang akibat dari desakan bangsa yang lebih kuat di sana. 

    Adapun gelombang pertama migrasi terjadi dari tahun 3000-1500 SM dengan bercirikan kebudayaan Neolitikum, yaitu menggunakan perahu bercadik satu.

    Selanjutnya, gelombang kedua terjadi pada tahun 1500 hingga 500 SM, dengan menggunakan perahu bercadik dua. Selain itu, pendapat ini juga berlandaskan pada penemuan kapak tua di wilayah Nusantara, yang mirip dengan kapak tua di Asia Tengah. 

    3. Prof. Moh. Yamin

    Berdasarkan pendapat dari Moh. Yamin, bahwa asal usul persebaran nenek moyang di Indonesia berasal dari Indonesia itu sendiri atau bukan dari luar. Dasar dari teori ini, yaitu penemuan fosil dan artefak yang lebih banyak di wilayah Indonesia daripada Asia. 

    4. Von Heine-Geldern

    Berdasarkan teori Von Heine-Geldern, bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Campa, Cochin China, dan Kamboja. Dasar teori ini, yaitu adanya temuan artefak-artefak di Indonesia yang memiliki banyak kesamaan dengan artefak yang ada di daratan Asia.

    5. Dr. Brandes

    Adapun teori selanjutnya ini menyatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Taiwan. Hal ini berdasarkan pada adanya kesamaan antara suku yang mendiami kepulauan di Indonesia, dengan orang yang tinggal di daerah sebelah utara Pulau Formosa (Taiwan), dan juga sebelah timur sampai ke tepi barat Amerika.

    6. Hogen

    Ahli terakhir yang menyatakan pendapatnya tentang nenek moyang Indonesia adalah Hogen. Yang mana menurutnya, bangsa Indonesia berasal dari bangsa yang menempati daerah pesisir Melayu dan berasal dari Sumatera. 

    Bangsa tersebut kemudian bercampur dengan bangsa Melayu yang disebut dengan Proto-Melayu dan Deutro Melayu. Untuk kemudian, dua bangsa tersebut menyebar di seluruh Indonesia dan membentuk populasi sampai saat ini.

    Sudah Tahu Teori Asal Usul Persebaran Nenek Moyang di Indonesia?

    Ada 4 teori utama dan 6 teori dari ahli yang menjelaskan tentang asal usul persebaran nenek moyang di Indonesia. Mulai dari Teori Nusantara hingga Teori Ahli dari Hogen. Nah, kamu tinggal tentukan sendiri untuk mempercayai teori mana yang sebenarnya merupakan asal usul asli nenek moyang kita. 

    Namun, apapun itu, sebagai generasi penerus bangsa Indonesia, kita harus selalu menghargai jerih payah nenek moyang kita dahulu. Salah satunya yaitu dengan menanamkan kecintaan kepada tanah air dan mulai saling bekerja sama untuk pembangunan Indonesia menjadi lebih baik lagi. 

  • Sejarah Kerajaan Inggris, Silsilah Kerajaan & Sisi Kelamnya

    Sejarah Kerajaan Inggris, Silsilah Kerajaan & Sisi Kelamnya

    Di bali gemerlap dan kekuasaan yang berlangsung selama berabad-abad, sejarah Kerajaan Inggris merupakan bagian penting dari warisan budaya dunia. Melalui silsilah kerajaan yang panjang dan kompleks, Inggris telah melahirkan beberapa penguasa legendaris dan peristiwa bersejarah yang mengguncang dunia. 

    Namun, dalam kegemilangan tersebut, juga tersimpan sisi kelam yang sering terlupakan. Artikel berikut ini akan membahas bagian-bagian tersembunyi dari Kerajaan Inggris, melacak silsilah kerajaan, serta mengungkap sisi kelam yang pernah menghiasi kerajaan ini. Berikut penjelasannya!

    Sejarah Kerajaan Inggris

    Ilustrasi Raja dan Ratu Kerajaan Inggris | Sumber Gambar: Freepik

    Berikut sejarah lengkap terbentuknya Kerajaan Inggris sampai sekarang:

    1. Anglo-Saxon

    Menurut catatan sejarah, Kerajaan Inggris muncul melalui penggabungan bertahap kerajaan Anglo-Saxon yang terkenal sebagai Heptarki pada abad pertengahan. Termasuk Anglia Timur, Mercia, Northumbria, Kent, Essex, Sussex, dan Wessex. 

    Namun, invasi Viking pada abad ke-9 mengganggu keseimbangan kekuasaan antara kerajaan Inggris. Seiring waktu, Raja Athelstan berhasil menyatukan tanah Inggris pada tahun 927.

    2. Heptarchy

    Pada era ini, raja yang paling kuat sering diakui sebagai Bretwalda, yaitu raja tertinggi di atas yang lain. Wessex, di bawah Raja Egbert, menjadi lebih kuat dengan menyerap kerajaan Kent dan Sussex pada tahun 825. Egbert kemudian menjadi raja pertama yang memerintah seluruh Inggris pada tahun 827 setelah Northumbria tunduk.

    Pada tahun 886, Raja Alfred yang Agung merebut kembali London, dianggap sebagai titik balik sejarah Inggris. Alfred memulihkan kota London, membangun dermaga di Sungai Thames, dan merencanakan jalan-jalan kota baru. 

    Kemudian, Northumbria berpindah tangan antara raja-raja Inggris dan penjajah Norwegia. Sebelum akhirnya menjadi bagian dari Inggris pada tahun 954, menyelesaikan penyatuan Inggris. 

    Selama masa pemerintahan elræd yang tidak tegas (978–1016), Inggris mengalami serangkaian invasi Denmark. Ini berujung pada penaklukan Denmark pada tahun 1013. 

    Namun, setelah kesepakatan pada tahun 1016 antara Cnut the Great dan Edmund Ironside untuk membagi. Maka, Inggris dipersatukan di bawah pemerintahan Denmark hingga kematian Harthacnut pada tahun 1042. Pada saat itu, Edward the Confessor menjadi raja dan Inggris merdeka sekali lagi.

    3. Penaklukan Norman

    Ilustrasi Istana Kerajaan Inggris | Sumber Gambar: Freepik

    Sejarah Kerajaan Inggris berlanjut ke penaklukan Norman. Perdamaian berlangsung sampai kematian Edward tanpa keturunan pada Januari 1066. William Sang Penakluk, Adipati Normandia, segera mengklaim tahta Inggris setelah kematian Edward. 

    William mendarat di Sussex pada 28 September 1066, memicu pertempuran melawan Raja Harold di Pertempuran Hastings pada 14 Oktober 1066. Di pertempuran ini, tentara Inggris dikalahkan dan Harold tewas.

    William akhirnya dimahkotai sebagai Raja Inggris pada 25 Desember 1066, memulai era penaklukan Norman atas Inggris. Meskipun dia tetap berutang kesetiaan kepada Philip I dari Perancis sebagai Adipati Normandia, William dapat memerintah tanpa campur tangan di Inggris yang merdeka.

    4. Abad Pertengahan Tinggi 

    William II memimpin invasi ke Strathclyde pada tahun 1092. Sekarang merupakan bagian barat daya Skotlandia dan Cumbria, sehingga menganeksasi county Cumbria ke Inggris. 

    Pada tahun 1124, Henry I menyerahkan Lothian, wilayah Skotlandia Tenggara kepada Kerajaan Skotlandia sebagai imbalan atas kesetiaan Raja Skotlandia. Perjanjian ini menetapkan perbatasan tradisional Inggris yang telah berlaku sejak itu.

    Kadipaten Aquitaine bergabung dengan Kerajaan Inggris secara pribadi setelah Henry II menikahi Eleanor, Adipati Wanita Aquitaine. Persatuan pribadi antara Kerajaan Inggris dan Kadipaten Normandia berlangsung sampai John Lackland kehilangan kepemilikan Kadipaten Normandia ke Philip II dari Perancis pada tahun 1204.

    Silsilah Keluarga Kerajaan Inggris

    Silsilah Keluarga Kerajaan Inggris | Sumber Gambar: Ruangguru

    Setelah mengetahui sejarah Kerajaan Inggris. Selanjutnya, pelajari juga silsilah keluarga Kerajaan Inggris dari awal berdiri hingga saat ini. Berikut uraiannya:

    1. Ratu Anne Stuart

    Silsilah kerajaan Inggris dimulai dengan Ratu Anne Stuart pada 8 Maret 1702. Pada saat itu, Ratu Anne menjadi pemimpin kerajaan Inggris. Kemudian, pada 1 Mei 1707, dia juga menjadi penguasa kerajaan Skotlandia dan Irlandia. 

    Penyatuan tiga kerajaan ini bertahan hingga saat ini. Ratu Anne menikah dengan Pangeran George dari Denmark dan tidak meneruskan tahta kepada marga Stuart. Kekuasaan kemudian beralih ke marga Hanover.

    2. Wangsa Hanover

    Setelah kematian Ratu Anne Stuart, Kerajaan Inggris diperintah oleh Dinasti Hanover dari tahun 1714 hingga 1901. Penerus tahta dari Wangsa Hanover berdasarkan UU Pewarisan 1701 yang mendapat pengesahan oleh Parlemen Inggris. 

    Raja dan ratu yang memerintah saat itu adalah George I, George II, George III, George IV, William IV, dan Victoria.

    3. Wangsa Saxe-Coburg and Gotha (1901–1917)

    Meskipun merupakan keturunan Ratu Victoria, Edward VII mengambil nama ayahnya yang berketurunan Jerman. Ia adalah satu-satunya penguasa Britania Raya dari Wangsa Saxe-Coburg and Gotha.

    4. Raja Edward VIII dan George VI

    Setelah masa pemerintahan marga Hanover, silsilah sejarah kerajaan Inggris berlanjut dengan marga Saxe-Coburg and Gotha. Raja Edward VIII, anak Ratu Victoria, membawa garis keturunan dari ayahnya dan mengakhiri masa dinasti Hanover. 

    Meskipun masa pemerintahan Edward VIII singkat, ia berhasil memimpin Britania Raya melalui masa-masa sulit selama peperangan Eropa. Setelah Edward VIII, tahta diteruskan oleh adiknya, George VI. Ia merupakan ayah Ratu Elizabeth II.

    5. Wangsa Windsor

    Pada masa Perang Dunia I, sebagai tanggapan atas sentimen anti-Jerman, nama Wangsa Saxe Coburg dan Gotha berganti menjadi Wangsa Windsor. Ini terjadi pada tahun 1917 oleh George V. 

    Hal tersebut menandai perubahan penting dalam sejarah keluarga kerajaan. Pemimpin-pemimpin Britania Raya yang kemudian mengikuti adalah George V, Edward VIII, George VI, Elizabeth II, dan sekarang Raja Charles III.

    Sisi Kelam Kerajaan Inggris

    Ilustrasi Mahkota Kerajaan Inggris | Sumber Gambar: Freepik

    Sisi kelam dalam sejarah Kerajaan Inggris mengungkap berbagai aspek. Meliputi intrik politik, konflik berdarah, perlakuan terhadap rakyat, dan peristiwa-peristiwa tragis. Berikut penjelasannya:

    1. Perang Saudara Berdarah

    Sejarah Inggris diwarnai oleh konflik berdarah. Termasuk Perang Wars of the Roses (Perang Bunga Mawar) antara Wangsa York dan Wangsa Lancaster yang berlangsung antara tahun 1455 hingga 1487. Perang ini menelan banyak korban jiwa dan melukai negara dalam konflik berkepanjangan.

    2. Perlakuan Terhadap Rakyat Biasa

    Selama berabad-abad, rakyat biasa sering menderita akibat perlakuan yang tidak adil dari penguasa. Contohnya pajak yang berat, hukuman yang kejam, dan ketidaksetaraan sosial. Contoh nyata adalah Pembantaian Peterloo pada tahun 1819 di mana pasukan militer membubarkan demonstrasi damai dengan kekerasan.

    3. Era Kekuasaan Monarki

    Sejarah Kerajaan Inggris mencatat periode monarki absolut, di mana raja atau ratu memiliki kendali yang kuat atas negara. Beberapa monarki, seperti Raja Henry VIII dikenal karena tindakan represif. Termasuk pemisahan dari Gereja Katolik Roma dan berbagai tindakan represif terhadap lawan-lawan politik.

    4. Perburuan Penyihir dan Penindasan

    Abad ke-17 menjadi sanksi perburuan penyihir yang mengerikan. Hal tersebut menyebabkan ribuan orang, terutama perempuan mendapat tuduhan sebagai penyihir dan mendapat hukuman mati. Selain itu, beberapa tindakan represif terhadap kelompok agama minoritas, seperti Quaker dan Katolik juga terjadi.

    5. Keterlibatan dalam Perbudakan dan Kolonialisme

    Sejarah Kerajaan Inggris kelam lainnya ialah Inggris berperan penting dalam perdagangan budak dan penjajahan di seluruh dunia. Hal tersebut melibatkan penderitaan dan eksploitasi massal terhadap populasi asli di berbagai wilayah kolonial.

    6. Keterlibatan Kerajaan Inggris dalam Berbagai Perang

    Inggris terlibat dalam konflik berdarah selama berabad-abad, termasuk Perang Seratus Tahun, Perang Saudara, dan Perang Dunia Pertama dan Kedua. Perang-perang tersebut yang menelan korban jiwa dalam jumlah besar dan meninggalkan bekas luka mendalam dalam sejarah negara.

    Sudah Lebih Tahu Bagaimana Sejarah Kerajaan Inggris?

    Melihat sekilas sejarah Kerajaan Inggris yang kompleks, kita bisa mengetahui begitu banyak aspek menarik yang membentuknya. Dari monarki yang kuat hingga perang berdarah. Serta dari penjajahan hingga reformasi sosial, sejarah Inggris adalah cermin yang menunjukkan perjalanan panjang sebuah bangsa. 

    Namun, sejarah ini juga mengajarkan kita banyak pelajaran yang tak terlupakan. Sehingga, penting bagi kita untuk memahami dan menghormati akar sejarah ini, baik yang bersinar maupun yang kelam. Sebab, hal ini adalah cerita yang membentuk negara Inggris yang kita kenal saat ini.

  • Sejarah Kerajaan Singasari: Latar Belakang dan Peninggalan

    Sejarah Kerajaan Singasari: Latar Belakang dan Peninggalan

    Singasari merupakan salah satu kerajaan yang berdiri di Jawa Timur pada abad ke-13. Di balik kekuasaan Ken Arok ada latar belakang sejarah Kerajaan Singasari yang panjang, ada beberapa peristiwa penting yang terjadi sampai akhirnya kerajaan ini bisa menjadi salah satu yang terbesar pada masanya. 

    Kerajaan bercorak Hindu Budha ini terkenal juga karena memiliki historis kemaritiman di Indonesia. Namun, membicarakan berdirinya Singasari tidak akan terlepas dari peristiwa runtuhnya Kerajaan Kediri. Berawal dari kisah asmara yang melahirkan pergantian kekuasaan. Ingin mengetahuinya lebih dalam? Simak di sini! 

    Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Singasari 

    Singasari yang memiliki nama lain Kerajaan Tumapel dulu adalah sebuah daerah yang berada di bawah Kerajaan Kediri yang memiliki akuwu (setara dengan camat) bernamA Tunggul Ametung. Namun, hidupnya berakhir di tangan pengawalnya sendiri, yaitu Ken Arok.

    Ken Arok membunuh Tunggul Ametung dengan menjalankan tipu muslihat demi mendapatkan istrinya, yaitu Ken Dedes. Peristiwa tragis ini menjadikan Ken Arok menduduki posisi sebagai akuwu dan mempersunting Ken Dedes yang sedang mengandung. Putra Ken Dedes dan Tunggul Ametung akhirnya diberi nama Anusapati.

    Setelah menikahi Ken Dedes, Ken Arok juga menikahi perempuan bernama Ken Umang yang nantinya melahirkan seorang putra yang diberi nama Tohjaya. Kedua anak Ken Arok nantinya mengambil peran sebagai Raja dan menjalankan kepemimpinan di kerajaan Singasari di masanya masing-masing.

    Dalam sejarah Kerajaan Singasari, ketika menduduki tahta, Ken Arok berniat untuk memisahkan Tumapel dari Kerajaan Kediri. Akhirnya terjadi perseteruan pada tahun 1221 antara Raja Kerajaan Kediri, Kertajaya dan kaum Brahmana. Ken Arok juga melakukan penyerangan kepada Daha atas seizin para Brahmana. 

    Perang melawan Kediri ini dimenangkan oleh Tumapel di Desa Ganter pada tahun 1222. Pada Negarakertagama juga tertulis tahun yang sama untuk berdirinya Tumapel. Kejadian ini juga menandakan naiknya tahta Ken Arok sebagai raja pertama Kerajaan Tumapel dengan gelar Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi.

    Semasa Ken Arok menjadi Raja juga melahirkan sebuah wangsa baru, yaitu Rajasa (Rajasawangsa) atau Girindira (Girindrawangsa). Setelahnya, wangsa tersebut juga menurun kepada raja-raja Singasari dan Majapahit yang memiliki kekuasaan di Pulau Jawa. 

    Pada tahun 1253, Wisnuwardhana mengangkat putranya yang bernama Kertanegara untuk menjadi putra mahkota (yuwaraja). Selain itu, terjadi pergantian nama ibu kota kerajaan menjadi Singasari. Berawal dari sebuah nama ibu kota, lahirlah sebuah nama kerajaan. Karena nama Singasari ternyata lebih terkenal daripada nama Tumapel.

    Raja-Raja Kerajaan Singasari

    Ilustrasi Ken Arok | Sumber gambar: Kompasiana.com

    Kerajaan yang berlokasi di sebelah timur Gunung Kawi, hulu Sungai Brantas ini pernah mengalami masa kejayaannya pada tahun 1272 sampai dengan 1292 M. Berdasarkan sejarah Kerajaan Singasari, ada beberapa raja yang pernah memimpinnya hingga mencapai kejayaan. Berikut ini lima raja yang pernah memimpin Kerajaan Singasari:

    1. Ken Arok (1222-1227 M)

    Raja pertama di kerajaan Tumapel terkenal juga dengan nama Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra. Ken Arok menduduki posisi sebagai raja hanya sampai lima tahun. Pemerintahannya hanya berjalan sebentar karena ia dibunuh oleh orang suruhan Anusapati pada tahun 1227. 

    Ini merupakan peristiwa pembalasan dendam seorang anak atas kematian ayahnya, Tunggul Ametung. Anusapati membunuh Ken Arok dengan senjata yang sama, yang dulu digunakan Ken Arok untuk membunuh ayahnya, yaitu keris Mpu Gandring.  

    2. Anusapati (1227-1249 M)

    Setelah melaksanakan dendamnya kepada Ken Arok, Anusapati naik tahta sebagai raja Singasari pada tahun 1227. Dalam pemerintahannya selama 21 tahun, tidak banyak yang tahu bagaimana kondisi dan kehidupan di Kerajaan Singasari. 

    Berakhirnya pemerintahan Anusapati karena ia dibunuh oleh putra Ken Arok dengan Ken Umang, yaitu Tohjaya. Sebuah tragedi serupa, pembalasan dendam atas kematian sang ayah dengan senjata keris Mpu Gandring. 

    3. Tohjaya (1249-1250 M)

    Setelah meninggalnya Anusapati, berdasarkan sejarah Kerajaan Singasari, Tohjaya menggantikan posisinya sebagai raja. Namun, masa pemerintahannya berlangsung sangat singkat. Tahtanya digulingkan oleh pasukan khusus dari Ranggawuni. 

    Ini merupakan tragedi dari lingkaran yang sama. Ranggawuni yang memilki panggilan lain Wisnuwardhana sendiri merupakan anak dari Anusapati yang meneruskan dendam pada tahta Singasari. 

    4. Wisnuwardhana (1250-1272 M)

    Ranggawuni menaiki tahta sebagai raja keempat di Kerajaan Singasari dengan gelar Sri Haya Wisnuwardhana. Dalam pemerintahannya, ia memiliki pendamping bernama Mahisa Cempaka. Selama di bawah pimpinan Wisnuwardhana kerajaan Singasari juga berkembang cukup stabil. Mereka menjalankan pemerintahan selama 20 tahun.

    5. Kertanegara (1272-1292 M)

    Kertanegara merupakan putra dari Wisnuwardhana, ia berhasil membawa Kerajaan Singasari berada di puncak kejayaan. Pada saat pemerintahannya, kekuasaan Singasari meliputi keseluruhan pulau Jawa, Madura, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, Nusa Tenggara, Melayu, dan Semenanjung Melayu. 

    Kertanegara terkenal sebagai raja yang memiliki visi dan gagasan untuk menyatukan seluruh kerajaan yang ada di nusantara di bawah payung kekuasaan Kerajaan Singasari. Pengharapan ini kemudian mendapat sebutan sebagai Wawasan Nusantara I. 

    Beberapa upaya untuk mewujudkan Wawasan Nusantara I juga telah dilakukan oleh Kertanegara. Seperti memperluas daerah dan membangun hubungan dengan luar negeri dan melakukan pengiriman ekspedisi ke daerah Sumatera. Ekspektasi ini terkenal dengan nama ekspedisi pamalayu (1275 M). 

    Selain itu, Kertanegara menetapkan struktur pemerintahan Singasari. Namun, saat tentara Singasari berangkat keluar daerah untuk menjalankan misi perluasan wilayah, Jayakatwang melakukan serangan kepada Kertanegara. Karena peristiwa tersebut, Kertajaya akhirnya meninggal dan kerajaan Singasari berakhir runtuh. 

    Peninggalan Kerajaan Singasari 

    Keberadaan sejarah Kerajaan Singasari dibuktikan dengan adanya beberapa peninggalan yang masih ada sampai sekarang. Bentuknya juga bermacam-macam, bisa dalam bentuk candi, arca, monumen, prasasti, dan lain sebagainya. Inilah beberapa peninggalan Kerajaan Singasari yang merekam peristiwa sejarahnya:

    1. Candi Singasari

    Candi Singasari | Sumber gambar: Wikipedia

    Candi Singasari yang dibangun di era Hindu Budha pada tahun 1300 Masehi ini merupakan wujud penghormatan kepada Raja Kertanegara. Meskipun tidak diketahui pasti berapa lama pembangunan candi ini berlangsung, tapi kemungkinan dibangun setelah wafatnya raja Kertanegara pada tahun 1292. 

    Setelah meninggal, Kertanegara memang didharmakan atau mendapat penghargaan sebagai Syiwa Budha di Candi Jawi, yaitu Bhairawa di Candi Singasari. Penghargaan ini juga dipersembahkan untuk permaisurinya Bajradewi sebagai Jina (Wairocana) di Sagala. 

    2. Candi Kangenan

    Sebagian orang percaya bahwa candi merupakan tempat persemayaman raja. Nah, Kangenan sendiri adalah sebuah candi yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir Ken Arok setelah terbunuh oleh Anusapati.

    3. Candi Kidal 

    Candi Kidal | Sumber Gambar: Wikipedia

    Salah satu candi peninggalan sejarah Kerajaan Singasari ini berada di Malang, Jawa Timur. Candi ini didirikan sebagai penghormatan atas jasa besar raja kedua Kerajaan Singasari yaitu, Anusapati. Para sejarawan menyebut Candi Kidal adalah candi pemujaan yang memiliki usia paling tua di Jawa Timur. 

    4. Arca Amoghapasa

    Salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Singasari yang ditulis menggunakan aksara jawa kuno berbahasa campuran antara bahasa Sansakerta dan Melayu Kuno. Isinya sendiri menceritakan tentang arca amoghapasa yang berasal dari Pulau Jawa dan penempatannya di Dharmasraya. 

    Arca ini adalah persembahan dari raja Kertanegara kepada Sri Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa yang memiliki kekuasaan di kerajaan Dharmmasraya, Melayu. Arca ini masih ada sampai sekarang dan tersimpan di Museum Nasional Jakarta. 

    5. Prasasti Singasari 

    Prasasti Singasari | Sumber gambar: Wikipedia

    Prasasti Singasari merupakan tulisan yang terbuat sekitar tahun 1352 untuk mengenang pembangunan candi yang berada di bawah pimpinan Gajah Mada. Jadi, prasasti ini juga terkenal dengan nama Prasasti Gajah Mada. Penemuannya tepat di sebelah utara Candi Singosari, Malang, Jawa Timur. 

    Penemuan prasasti dengan ukiran aksara Jawa kuno menggunakan batu ini adalah pada tahun 1904. Di awal, tulisannya menyebutkan tahun 1214 saka bulan jyestha wafatnya Raja Kertanegara (kamoktan). Serta mendapat julukan Paduka Bhatara sang Lumah ring Siwa Budha.

    Tahun 1214 Saka ini bersamaan dengan tahun 1292 M. Momen ini juga bertepatan di mana raja terakhir Singasari wafat dalam serangan Jayakatwang. 

    Sudah Tahu Bagaimana Sejarah Kerajaan Singasari?

    Sejarah kerajaan Singasari memang cukup panjang dengan beberapa peristiwa penting di dalamnya. Di mana dalam sejarahnya memperlihatkan bagaimana ketertarikan Ken Arok kepada seorang perempuan bernama Ken Dedes malah melahirkan lingkaran dendam berkelanjutan terhadap anak-anaknya. 

    Jika ingin mencari tahu dan mengulik lebih dalam kisah-kisah tentang Kerajaan Singasari, kamu bisa mengunjungi peninggalannya langsung. Beberapa situs sejarah Singasari saat ini menjadi cagar budaya yang dapat kamu kunjungi, salah satunya seperti candi Singasari yang berada di Malang, Jawa Timur. 

  • Sejarah Kerajaan Demak: Raja, Peninggalan dan Peristiwa Penting

    Sejarah Kerajaan Demak: Raja, Peninggalan dan Peristiwa Penting

    Sudah pernah belajar tentang sejarah Kerajaan Demak? Setelah masuknya agama Islam ke tanah Nusantara, kerajaan-kerajaan bercorak Islam pun perlahan bermunculan dan mengalami perkembangan pesat. Salah satu dari kerajaan itu adalah Kerajaan Demak,. 

    Yuk, perdalam wawasan kamu tentang kerajaan bercorak Islam terbesar pada masa tersebut lewat penjelasan berikut ini!

    Latar Belakang Sejarah Kerajaan Demak

    Kerajaan Demak atau Kesultanan Demak merupakan pelopor berkembangnya kerajaan-kerajaan bercorak Islam di Pulau Jawa. 

    Kerajaan Islam terbesar di Indonesia pada masanya ini berawal dari sebuah wilayah bernama Bintoro atau Glagahwangi yang pada saat itu masih berupa sebuah kadipaten di bawah Kerajaan Majapahit.

    Ketika Kerajaan Majapahit runtuh pada tahun 1478 Masehi (M), tak lama berselang, tepatnya pada tahun 1500 M, Raden Patah mendirikan Kesultanan Demak  dan menjadi raja pertamanya. Dalam upaya pendirian Kerajaan Demak, Raden Patah banyak memperoleh bantuan dari Wali Songo.

    Buku berjudul Hukum Pidana Islam Kerajaan Demak Abad 15 oleh Naili Anafah (2018) menjelasakan sekilas tentang peristiwa tersebut.  

    Bahwa, pada mulanya Sunan Ampel memberikan pemerintah kepada Raden Patah untuk membuka suatu wilayah di Hutan Bintoro yang di kemudian hari akan dikenal dengan Desa Glagahwangi.

    Melihat peningkatan jumlah pemukim Desa Glagahwangi, Raja Kerajaan Majapahit mengubah status Desa Glagahwangi menjadi sebuah kabupaten di bawah Majapahit. Selain itu, wilayah Glagahwangi juga turut diberi hak otonomi yang memberi kebebasan penduduknya untuk menjalankan ibadah Agama Islam.

    Menyadari kondisi Kerajaan Majapahit yang makin melemah, Raden Patah pun mengumpulkan pengikutnya untuk kemudian mengalahkan Kerajaan Majapahit. Akhir abad ke-15, ketika pasukan Raden Patah berhasil memenangkan pertempuran melawan Kerajaan Majapahit, menjadi awal kisah kerajaan Demak yang lebih kuat.

    Siapa saja Raja-raja dalam Sejarah Kerajaan Demak?

    Sepanjang sejarahnya, Kerajaan Demak yang berumur kurang lebih satu abad memiliki 5 orang raja yang memimpin kerajaan selama itu. Setiap raja memiliki kisah dan kepemimpinan yang berbeda seperti yang bisa kamu simak dalam uraian di bawah ini. 

    1. Raden Patah, Raja Pertama Dalam Sejarah Kerajaan Demak

    Raden Patah merupakan pendiri dan raja pertama Kerajaan Demak. Beliau lahir pada tahun 1448 M di Palembang. Beliau berkuasa sejak tahun 1475 M dan wafat pada tahun 1518 M. Raden Patah berhasil memajukan Kerajaan Demak dengan membuat banyak pedagang Muslim berdatangan dan menetap di wilayahnya.

    2. Adipati Unus

    Pati Unus atau juga dikenal dengan Adipati Unus terkenal sebagai seorang panglima perang yang andal dan berani. Beliau mendapat julukkan Pangeran Sabrang Lor sebagai bentuk apresiasi atas perjuangannya menghadapi tentara Portugis di Semenanjung Malaka.

    Dalam catatan sejarah, Pati Unus dua kali memimpin pasukan Demak melawan tentara Portugis, yaitu pada tahun 1512 M dan 1521 M. Meskipun kedua serangan yang beliau pimpin tersebut tidak berhasil, tetapi cukup membuktikan kehebatan dan kualitas pasukan Kerajaan Demak di medan pertempuran.

    3. Sultan Trenggono

    Pangeran Trenggono naik tahta menggantikan kakaknya yang wafat pada tahun 1521 M dan menjadi Sultan Trenggono. Beliau menjabat sebagai raja Kerajaan Demak dari tahun 1521 hingga 1546 M. Berkat kepemimpinan beliau, Kerajaan Demak mencapai masa kejayaan sepanjang sejarahnya.

    Masa kejayaan tersebut ditandai dengan adanya ekspansi wilayah strategis secara masif. Salah satunya adalah terlaksananya ekspedisi Sunda Kelapa saat Sultan Trenggono mengirimkan Raden Fatahillah, salah seorang menantunya, untuk menguasai pelabuhan Sunda Kelapa dan Banten yang merupakan jalur dagang strategis.

    4. Sunan Prawoto

    Pangeran Prawoto atau yang lebih banyak dikenal sebagai Sunan Prawoto merupakan putra sulung Sultan Trenggono yang mewarisi kepemimpinan Kerajaan Demak. Pada masa kekuasaannya, pusat Kerajaan Demak berpindah dari Bintoro ke Pati.

    Pergolakkan internal yang berasal dari ambisi perebutan kekuasaan juga terjadi pada masa kepempimpinan Sunan Prawoto. Peristiwa tersebut membuat masa kepemimpinan Sunan Prawoto tidak berlangsung lama, yaitu hanya 3 tahun saja (1546 – 1549 M).

    5. Arya Penangsang, Raja Terakhir Dalam Sejarah Kerajaan Demak

    Setelah pembunuhan Sunan Prawoto, tahta Kerajaan Demak akhirnya jatuh ke Arya Penangsang yang memperoleh dukungan dari Sunan Kudus. 

    Perebutan tahta oleh Arya Penangsang terjadi karena Penangsang merasa bahwa beliau berhak atas tahta tersebut. Selain itu, beliau juga bertekad membalas dendam atas pembunuhan ayahnya oleh Sunan Prawoto.

    Di kemudian hari, terjadilah pertempuran legendaris satu lawan satu antara Arya Penangsang dan Danang Sutawijaya. Pertempuran tersebut berakhir dengan tewasnya Arya Penangsang. Kematian Arya Penangsang menjadi tanda berakhirnya riwayat Kerajaan Demak dan menjadikannya raja terakhir kerajaan tersebut.

    Peninggalan Sejarah Kerajaan Demak

    Sepanjang masa kekuasaannya, Kerajaan Demak meninggalkan sejumlah peninggalan bersejarah yang banyak. Lima di antara peninggalan tersebut masih lestari hingga sekarang. 

    1. Masjid Agung Demak

    Masjid Agung Demak di Masa Kini I Sumber: Wikipedia

    Rumah peribadatan umat Muslim ini merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Demak merupakan salah satu ikon pariwisata Kabupaten Demak. Masjid Demak dibangun pada tahun 1479 M di Desa Kauman. 

    Masyarakat Demak juga masih aktif menggunakan masjid ini untuk beribadah dan beragam kegiatan masyarakat hingga saat ini.

    2. Lawang Bledeg, Peninggalan Sejarah Kerajaan Demak

    Lawang Bledeg I Sumber: Good News From Indonesia

    Lawang Bledeg (Pintu Petir) dibuat ketika Raden Patah memerintahkan Ki Ageng Selo menggambarkan petir yang sedang menyambar sesuai dengan imajinya. Tetapi, belum sampai selesai dibuat, petir tersebut sudah menghilang hingga hasil akhir karya tersebut menjadi Lawang Bledeg yang dapat kamu lihat saat ini.

    3. Dampar Kencana

    Dampar Kencana Dalam Kotak Kaca I Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Demak

    Dampar Kencana atau tempat duduk raja merupakan salah satu bukti sejarah Kerajaan Demak yang juga sebuah hadiah dari Kerajaan Majapahit. Kamu masih bisa melihat peninggalan ini di Masjid Agung Demak. Kini, Dampar Kencana masyarakat gunakan sebagai mimbar khotbah di Masjid Demak. 

    Kondisinya masih terawat dan kokoh hingga sekarang.

    4. Soko Guru

    Keempat Tiang Soko Guru I Sumber: Good News From Indonesia

    Soko Guru merupakan empat tiang penyangga utama di Masjid Agung Demak. Keempat tiang tersebut menyangga rangka atap masjid. Selain itu, Soko Guru juga melambangkan empat penjuru angin yang mewakili keempat Wali Songo, yakni: 

    • Sunan Bonang (barat laut), 
    • Sunan Gunung Jati (barat daya), 
    • Sunan Ampel (tenggara), dan
    • Sunan Kalijaga (timur laut).

    5. Situs Kolam Wudhu

    Situs Kolam Wudhu I Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Demak

    Kolam wudhu merupakan situs tempat para Wali Songo berwudhu saat dahulu kala. Situs tersebut juga merupakan lokasi sayembara untuk menentukan raja ke-4 Kerajaan Demak. Saat ini, situs kolam wudhu sudah tidak dipergunakan lagi, tapi kondisinya masih tetap lestari.

    Peristiwa Penting Dalam Sejarah Kerajaan Demak

    Meskipun berusia kurang dari seabad, tapi Kerajaan Demak merupakan sebuah kerajaan yang memiliki riwayat histori yang cukup panjang. Melansir dari gemari.com, ada empat peristiwa penting yang terjadi sepanjang kekuasaan Kerajaan Demak. 

    1. Perluasan Dakwah Islam

    Kerajaan Demak yang bercorak Islam tentunya memiliki keterkaitan dengan perkembangan dakwah Islam di pulau Jawa. Dulu, penduduk Jawa mayoritas beragama Hindu dan Buddha. Saat Kerajaan Majapahit berhasil dikuasai, dan  Raja Giri Wardhana berhasil ditaklukan oleh Raden Patah, Kerajaan Demak pun berdiri.

    Seiring berdirinya Kerajaan Demak, Raden Patah pun ikut serta dalam misi penyebaran agama Islam ke penjuru Pulau Jawa bersama dengan Wali Songo. Berbagai upaya dakwah pun telah dilaksanakan untuk mewujudkan misi tersebut. 

    2. Perlawanan Terhadap Bangsa Portugis

    Bangsa Portugis merupakan bangsa pendatang yang menjadi musuh Kerajaan Demak akibat upaya monopoli dagangnya. Pada tahun 1521 Masehi, Raden Patah beserta putranya, Pati Unus, melakukan penyerangan ke kapal dagang Portugis di Semenanjung Malaka.

    Meskipun serangan tersebut gagal dan Raden Patah wafat, Pati Unus berupaya melanjutkan perjuangan melalui serangan yang kedua. Sekalipun upaya kedua tersebut kembali gagal, tetapi Pati Unus tidak menyerah dan terus melakukan upaya penyerangan sampai akhir.

    3. Perluasan Wilayah di Berbagai Penjuru Pulau Jawa

    Perluasan wilayah merupakan tindakan yang wajar dalam sebuah kerajaan. Aktivitas  ini terjadi pada masa kekuasaan Sultan Trenggono, setelah wafatnya Pati Unus. Hasilnya, Sultan Trenggono mampu membuat Kerajaan Demak mencapai masa keemasan dengan upaya perluasan wilayah yang masif.

    Sultan Trenggono menaklukan wilayah tanah Pasundan dan beberapa wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. 

    Seiring makin luasnya daerah kekuasaan Kerajaan Demak, Sultan Trenggono berhasil menghalau Portugis yang ingin menjajah wilayah Kerajaan Demak dan beberapa wilayah di bawah kekuasaannya yang lain.

    4. Kemunduran Kerajaan Demak dan Lahirnya Kerajaan Pajang

    Ambisi raja terakhir Kerajaan Demak, Arya Penangsang, membuatnya menemui akhir dari kisahnya dan Kerajaan Demak. Selepas membunuh Adipati Jepara, Pangeran Hadiri, pemberontakan internal pun terjadi. Salah satu tokoh penting dalam peristiwa tersebut adalah Adipati Pajang, Hadiwijaya (Jaka Tingkir).

    Adipati Hadiwijaya (Jaka Tingkir) dan sejumlah adipati lain melakukan penyerangan dan berhasil membunuh Arya Penangsang dalam konflik internal Kerajaan Demak. 

    Tewasnya Arya Penangsang membuat Hadiwijaya memindahkan pusat Kerajaan Demak ke wilayah Pajang dan mendirikan kerajaan baru bernama Kesultanan Pajang di sana.

    Bagaimana Peran Sejarah Kerajaan Demak pada Penyebaran Islam di Jawa?

    Meskipun sejarah Kerajaan Demak berakhir akibat pertikaian internal, tetapi pada masanya, kerajaan tersebut memiliki pengaruh positif dalam persebaran Islam di tanah Jawa. 

    Pasalnya, luasanya wilayah kekuasaan Kerajaan Demak mengizinkan kerajaan untuk memiliki kiprah besar dalam pembangunan kehidupan masyarakat di sisi agraris maupun maritim. 

    Oleh sebab itu pula, misi persebaran tersebut tidak hanya bisa dilakukan melalui jalur kekuasaan dan politik, tetapi juga lewat media seni dan budaya.

  • Sejarah Kerajaan Sriwijaya: Raja, Kejayaan, dan Peninggalannya

    Sejarah Kerajaan Sriwijaya: Raja, Kejayaan, dan Peninggalannya

    Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan Buddha terbesar di Nusantara. Oleh sebab itu, kita perlu untuk mempelajari sejarah Kerajaan Sriwijaya mulai dari letak, raja, masa kejayaan, dan peninggalannya. Pengaruh kerajaan ini bisa dibandingkan dengan Kerajaan Majapahit. Ingin tahu lebih lanjut? Simak penjelasannya di bawah ini!

    Sejarah Kerajaan Sriwijaya

    (Ilustrasi Sejarah Kerajaan Sriwijaya | Sumber gambar: Mojaveexperiment.com)

    Seorang peneliti bernama George Coedes yang berasal dari Perancis pertama kali meneliti tentang pendirian dan sejarah Kerajaan Sriwijaya pada tahun 1920. Kemudian, ia mempublikasikan hasil penelitiannya melalui surat kabar yang tersedia dalam bahasa Indonesia dan Belanda.

    Berdasarkan informasi dari catatan biksu I Tsing dan Prasasti Kota Kapur, awal berkembangnya kerajaan ini pada abad ke-7 Masehi yang memiliki pendiri bernama Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Pada masa itu, berbagai musafir dari Cina dan India ramai mengunjungi kepulauan Nusantara.

    Sriwijaya merupakan kerajaan maritim yang memiliki pengaruh yang cukup di Nusantara. Pada masa kejayaannya, kerajaan ini mengontrol daerah-daerah jalur utama perdagangan. Daerah-daerah tersebut meliputi Thailand Selatan, Kamboja, Selat Malaka, Semenanjung Malaya, dan sebagian wilayah Jawa.

    Letak Kerajaan Sriwijaya

    Letak persis dari Kerajaan Sriwijaya hingga kini masih menjadi perdebatan. Meskipun begitu, ada sebuah pendapat yang berasal dari peneliti George Coedes pada tahun 1918 mengenai bagian dari sejarah Kerajaan Sriwijaya ini. Ia menyatakan bahwa Palembang merupakan pusat dari Kerajaan Sriwijaya.

    Hingga kini, daerah Palembang dan Pulau Sumatra secara keseluruhan masih orang-orang anggap sebagai pusat pemerintahan kerajaan bercorak Buddha ini. Beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa kerajaan maritim seperti Sriwijaya terbiasa memiliki pusat kekuasaan yang berpindah-pindah.

    Sejumlah ahli ini menarik kesimpulan bahwa wilayah Kedah, Muara Takus, dan Jambi merupakan pusat kekuasaan Kerajaan Sriwijaya. Tetapi, penelitian yang Universitas Indonesia lakukan pada tahun 2013 menemukan beberapa situs candi bercorak Buddha di wilayah Muaro Jambi.

    Spekulasinya, reruntuhan candi tersebut merupakan tempat tinggal para cendekiawan Buddha yang berada di Kerajaan Sriwijaya pada saat itu.

    Raja-raja Kerajaan Sriwijaya

    (Ilustrasi Raja Balaputradewa | Sumber gambar: SinergiJakarta)

    Kerajaan Sriwijaya berkuasa hingga abad ke-13 Masehi dan termasuk salah satu kerajaan terkuat dan terbesar yang wilayahnya luas saat itu. Oleh sebab itu, banyak raja-raja yang silih berganti memerintah dalam kurun waktu kekuasaan tersebut.

    Untuk mengetahui sejarah Kerajaan Sriwijaya lebih dalam, berikut ini terdapat enam raja yang cukup terkenal dari kerajaan bercorak Buddha ini.

    1. Dapunta Hyang Sri Jayanasa (671-702 Masehi)

    Prasasti Kedukan Bukit dan Talang Tuo merupakan peninggalan bersejarah Kerajaan Sriwijaya yang banyak menyebut Raja Dapunta Hyang. Pada abad ke-7 Masehi, Dapunta Hyang melaksanakan berbagai usaha demi memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.

    Beberapa wilayah kekuasaan yang berhasil Dapunta Hyang taklukkan saat masa pemerintahannya yaitu Lampung, Jambi, Pulau Bangka, Kerajaan Kalingga, Kedah, Kerajaan Mataram Kuno, dan Tanah Gentung Kra.

    Selain itu, di dalam Prasasti Talang Tuwo menyebutkan bahwa Dapunta Hyang membangun taman yang ia beri nama Taman Sriksetra. Penulisan prasasti ini menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno. Selanjutnya, prasasti ini berisi tentang Taman Sriksetra yang memiliki kanal dan kolam.

    Raja Dapunta Hyang juga meminta untuk menanam beberapa jenis pohon yang buahnya dapat dimakan di taman tersebut. Pohon-pohon tersebut, antara lain pinang, sagu, kelapa, wuluh, dan enau.

    2. Balaputradewa (856 Masehi)

    Raja Balaputradewa berhasil membuat Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaannya. Berdasarkan Prasasti Nalanda, Balaputradewa merupakan keturunan dari Wangsa Syailendra. Raja Kerajaan Sriwijaya ini juga memiliki nama lain, yaitu Raja Suwarnadwipa yang merupakan nama kuno untuk Pulau Sumatra.

    Pada masa pemerintahannya, agama Buddha berkembang dengan pesat. Selain itu, raja Sriwijaya ini juga memiliki hubungan yang erat dengan Kerajaan Benggala yang saat itu dipimpin oleh Raja Dewapaladewa.

    Bahkan, raja Benggala ini memberikan sebidang tanah kepada Balaputradewa dengan tujuan untuk mendirikan asrama bagi para pelajar yang sedang belajar di Nalanda. Pembangunan asrama ini memperlihatkan bahwa Raja Balaputradewa peduli tentang ilmu pengetahuan untuk para generasi muda di Kerajaan Sriwijaya.

    3. Sri Sudamaniwarmadewa (988 Masehi)

    Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Sriwijaya mendapatkan serangan dari Raja Dharmawangsa dari Jawa Timur. Walaupun begitu, serangan ini berhasil Raja Sri Sudamaniwarmadewa gagalkan dengan bantuan para tentara kerajaan. 

    Raja Sri Sudamaniwarmadewa memiliki hubungan yang erat dengan Dinasti Chola dari India. Raja ini juga pernah membangun sebuah candi sebagai bentuk dedikasinya kepada kaisar Tiongkok pada tahun 1003.

    Selain itu, sebuah vihara di bagian di India Selatan juga ikut mengabadikan nama raja ini menurut Prasasti Leiden. Nama vihara tersebut adalah Vihara Culamani Farma.

    4. Sri Marawijayatunggawarman (1008 Masehi)

    Sri Marawijayatunggawarman berhasil menjalin hubungan dengan Raja Rajaraya I dari Kerajaan Colamandala pada masa pemerintahannya. Selain itu, raja Kerajaan Sriwijaya ini berhasil memimpin perang dengan menaklukan Kerajaan Medang dari Jawa Timur.

    5. Sri Sanggrama Wijayatunggawarman (1025 Masehi)

    Sayangnya, kerajaan Sriwijaya mulai mengalami masa kemunduran pada masa pemerintahan Raja Sri Sanggrama Wijayatunggawarman. Menurut tulisan Prasasti Tanjore pada tahun 1030, kemunduran ini terjadi karena serangan Kerajaan Colamandala. 

    Pemimpin Kerajaan Colamandala pada saat itu bernama Raja Rajendra Chola dan ia berhasil membuat Kerajaan Sriwijaya melemah. Raja Sanggrama tidak dapat menangkis serangan tersebut pun akhirnya ditahan dan ditangkap oleh musuh. Tapi, sang raja dibebaskan saat Raja Kulotungga I memimpin Kerajaan Chola. 

    Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

    (Ilustrasi Masa Kejayaan Sriwijaya | Sumber gambar: Rumah Berita)

    Seperti penjelasan yang ada di atas, Kerajaan Sriwijaya masuk dalam masa kejayaannya ketika Balaputradewa memimpin. Pada masa itu, kerajaan ini berhasil menguasai beberapa kerajaan lain dan banyak jalur perdagangan yang strategis.

    Pengaruh dan kekuasaan Kerajaan Sriwijaya mencapai wilayah Kamboja dan Thailand. Kekuasaan kerajaan ini terhadap kedua wilayah tersebut tampak pada arsitektur Pagoda Borom di Chaiya, Thailand yang memiliki ciri khas Kerajaan Sriwijaya.

    Dengan memiliki letak kekuasaan yang berada di jalur perdagangan, penjualan hasil alam, seperti cengkih, kayu gaharu, kapur barus, kayu cendana, dan kapulaga menjadi lebih mudah. Puncak kejayaan Kerajaan Sriwijaya berlangsung pada abad ke-8 Masehi hingga abad ke-9 Masehi.

    Selat Malaka yang merupakan jalur utama perdagangan antara Cina dan India berhasil Kerajaan Sriwijaya kuasai pada masa pemerintahan Raja Balaputradewa hingga Raja Sri Marawijayatunggawarman. Untuk menjaga wilayah kekuasaan yang luas, kerajaan ini membangun armada laut yang cukup kuat.

    Selain itu, kapal asing yang ingin berdagang di kerajaan merasa lebih aman dan terhindar dari gangguan perompak karena adanya armada laut tersebut. Dengan demikian, Kerajaan Sriwijaya dapat berkembang menjadi kerajaan maritim yang kuat.

    Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

    (Candi Muaro Jambi | Sumber gambar: Wikipedia)

    Bagian selanjutnya dari sejarah Kerajaan Sriwijaya adalah berbagai peninggalan bersejarahnya. Peninggalan-peninggalan tersebut, antara lain:

    1. Prasasti Kota Kapur

    Tempat penemuan Prasasti Kota Kapur berada di situs Kota Kapur pada tahun 1892. Prasasti berbentuk tugu ini berisi tentang kutukan bagi orang-orang yang ingin memberontak atau tidak takluk kepada Sriwijaya.

    Penulisan prasasti ini berlangsung pada tahun 686 Masehi saat akan menyerang Jawa yang tidak takluk kepada Sriwijaya.

    2. Prasasti Kedukan Bukit

    Penulisan Prasasti Kedukan Bukit berlangsung pada tahun 682 Masehi yang isinya mengenai Dapunta Hyang yang menaiki perahu dan kemenangan Kerajaan Sriwijaya. Tulisan pada prasasti ini menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta.

    3. Candi Muara Takus

    Selain prasasti, Kerajaan Sriwijaya juga memiliki peninggalan bersejarah dalam bentuk candi. Candi Muara Takus berlokasi di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Candi ini mempunyai corak Buddha yang khas yang terdapat pada susunan stupa di bagian atasnya.

    Selain itu, candi ini juga memiliki beberapa candi kecil, seperti Candi Sulung, Candi Bungsu, Stupa Mahligai, dan Stupa Palangka di bagian halamannya.

    4. Candi Muaro Jambi

    Candi Muaro Jambi berada di Kecamatan Maro Sebo, Muaro Jambi. Menurut arkeolog, pendirian candi ini berkisar antara abad ke-7 Masehi hingga abad ke-12 Masehi. Kompleks candi ini merupakan yang terbesar di Asia Tenggara dengan luas 3.981 hektar.

    Sudah Mengerti Tentang Sejarah Kerajaan Sriwijaya?

    Sekarang, kita telah mengetahui lebih lanjut tentang berbagai aspek sejarah Kerajaan Sriwijaya. Kita perlu mempelajari sejarah untuk menjadi warga negara yang berwawasan. Mengapa? Agar apa yang sesungguhnya milik bangsa kita tidak dengan mudah diklaim menjadi milik bangsa lain.