Category: Ekonomi

  • Remunerasi: Pengertian, Jenis, Manfaat, dan Keuntungannya

    Remunerasi: Pengertian, Jenis, Manfaat, dan Keuntungannya

    Bagi sebagian orang, istilah remunerasi mungkin belum begitu familiar. Padahal, ini merupakan salah satu hal yang cukup penting dalam aktivitas pekerjaan, terutama untuk mereka yang bekerja di instansi pemerintah maupun swasta.

    Remunerasi sendiri akan sangat berkaitan dengan hak yang akan pegawai terima karena perusahaan wajib untuk membayarkannya. Oleh sebab itu, ini merupakan hal yang perlu Anda perhatikan sebelum melakukan tanda tangan kontrak kerja tertentu.

    Pengertian Remunerasi

    Secara keseluruhan, remunerasi adalah pemberian penggantian atau penghargaan kepada individu yang telah bekerja dan memberikan kontribusi secara teratur di tempat kerjanya. Bentuk imbalan kerja ini berkaitan dengan sistem gaji pegawai. 

    Seseorang, termasuk Anda, bisa mendapatkan imbalan tersebut dalam bentuk uang ataupun bentuk lainnya yang merupakan bentuk pujian atas pencapaian yang telah pegawai dapatkan. Pada prakteknya, setiap perusahaan akan memberikan remunerasi dengan besaran yang berbeda. 

    Ada beberapa faktor yang membuat perbedaan itu, mulai dari kemampuan finansial perusahaan, durasi dan masa kerja. Kemudian, juga karena kebijakan internal perusahaan, peraturan dan kebijakan pemerintah, serta permintaan dan penawaran dari sisi pegawai.

    Jenis Remunerasi

    Setelah memahami pengertiannya, selanjutnya Anda juga perlu memahami jika dalam penerapannya bentuk imbalan tersebut terdiri dari beberapa jenis, antara lain:

    1. Gaji

    Singkatnya, gaji merupakan jenis imbalan yang akan pegawai terima secara tetap. Pembayaran gaji sendiri akan terbayarkan secara periodik, bisa setiap bulan, minggu, atau bahkan setiap hari.

    Perhitungan dari gaji yang akan setiap pegawai dapatkan juga berbeda-beda, misalnya gaji terhitung per jam atau per hari. Selain itu, besaran gaji tiap pegawai juga akan menyesuaikan dengan gaji pegawai lain di wilayah dan sektor yang sama.

    Besaran gaji juga akan mendapat pengaruh dari beberapa hal lain, misalnya rentang waktu pegawai tersebut bekerja, kemampuan yang pegawai miliki, permintaan dan penawaran, dan beberapa faktor lainnya

    2. Komisi

    Selain gaji, bentuk imbalan lainnya yang juga bisa pegawai peroleh adalah komisi. Jika gaji sifatnya tetap, baik waktu pembayaran dan juga nominalnya, maka hal tersebut berbeda dengan komisi.

    Komisi merupakan bayaran yang pemberi kerja berikan kepada pegawainya setelah selesai mengerjakan tugas tertentu. Oleh karena itu, nilai komisi akan tergantung dari berapa banyak pekerjaan yang bisa pegawai tersebut selesaikan.

    Contoh pemberian komisi adalah ketika sales berhasil menjual satu produk, maka ia akan mendapatkan komisi dari penjualan tersebut. Nilai komisi sendiri biasanya sudah perusahaan tentukan pada kebijakan yang ada.

    3. Bonus

    Jenis remunerasi lainnya yang juga bisa pegawai terima adalah bonus. Bonus sendiri merupakan bentuk imbalan yang jumlahnya tidak tetap dan waktu pemberiannya juga tidak menentu.

    Bonus merupakan bentuk apresiasi setelah pegawai menyelesaikan satu pekerjaan. Contoh bonus yang umum Anda temukan adalah bonus tahunan, yang biasanya terbayarkan satu tahun sekali dengan jumlah yang tidak menentu.

    Perlu Anda ingat bahwa bonus berbeda dari komisi. Jika komisi memiliki perhitungan yang tetap, maka besaran bonus biasanya akan bergantung pada kebijakan perusahaan. Beberapa perusahaan menerapkan pemberian bonus sebagai tambahan gaji.

    4. Insentif

    Jenis lainnya adalah insentif. Sederhananya, insentif merupakan sejumlah uang yang perusahaan berikan kepada pegawainya dengan tujuan untuk mendukung maupun meningkatkan kinerja dari pegawai itu sendiri.

    Pemberian insentif ini mirip dengan tunjangan. Artinya, pegawai berhak mendapatkan uang di luar gaji yang bisa mereka gunakan untuk mendukung tugas dan tanggung jawab pekerjaannya.

    Contoh insentif adalah seperti uang komunikasi, uang kesehatan, dan lainnya. Sistem pemberian dan nominal dari insentif tentu saja akan berbeda pada tiap perusahaan, tergantung kebijakan perusahaan tersebut.

    5. Upah

    Sebenarnya, bentuk imbalan upah mirip dengan gaji, di mana pemberi kerja membayarkan hak dari pegawainya setelah mereka menyelesaikan pekerjaanya. Hanya saja, jika gaji terbayarkan secara periodik, maka pemberian upah terlaksana secara tidak periodik. 

    Hitungan upah biasanya per jam atau per hari dan akan terbayarkan ketika pegawai telah menyelesaikan kewajiban mereka. Contoh dari pembayaran upah adalah freelancer yang akan menerima bayarannya setiap kali mereka menyelesaikan pekerjaanya. 

    Dalam beberapa kasus, pembayaran upah juga bisa menyesuaikan dengan kesepakatan antara pemberi kerja dan penerima kerja. 

    Selain lima jenis yang sudah kami sebutkan di atas, masih ada beberapa jenis remunerasi lainnya. Jenis-jenis ini biasanya bersifat tidak umum dan akan sangat bergantung pada kebijakan perusahaan. 

    Contoh lainnya seperti uang dinas ketika melakukan perjalanan luar kota. Besaran uang tersebut tentunya akan menyesuaikan dengan kebijakan perusahaan tersebut, tanpa akan terpengaruh dengan kebijakan perusahaan lain. 

    Manfaat Remunerasi

    Pada prakteknya, imbalan sendiri memiliki banyak manfaat, diantaranya adalah sebagai berikut:

    1. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia

    Sumber daya manusia atau SDM merupakan aset penting yang perusahaan miliki. Semakin baik kualitas SDM yang perusahaan miliki, maka semakin baik juga imbasnya untuk perusahaan. 

    Pemberian imbalan merupakan salah satu cara yang bisa perusahaan lakukan untuk bisa mendapatkan kualitas SDM yang mereka butuhkan. Semakin banyak imbalan yang bisa mereka berikan, maka semakin banyak pilihan yang bisa perusahaan dapatkan. 

    2. Menjaga Produktivitas

    Hal lainnya yang juga menjadi manfaat dari imbalan adalah bisa menjaga produktivitas. Kondisi tersebut berkaitan dengan pemanfaatan imbalan itu sendiri oleh pegawai yang menerimanya. 

    Salah satu contohnya adalah pemberian tunjangan transportasi yang membuat sales bisa menjangkau banyak klien tanpa harus pusing memikirkan ongkos. 

    3. Menciptakan Persaingan yang Positif

    Beberapa jenis remunerasi akan perusahaan berikan sesuai dengan kinerja dari pegawai tersebut. Artinya, semakin baik kinerjanya, maka semakin banyak juga uang yang mereka dapat. 

    Hal ini sendiri tidak hanya baik untuk perusahaan, namun juga baik untuk pegawai. Mereka bisa memiliki alasan untuk bersaing secara sehat satu sama lain guna menunjukan performa terbaik mereka. Tentu saja hal ini akan sangat baik untuk performa perusahaan secara umum.

    4. Peningkatan Kesejahteraan

    Salah satu tujuan utama dari pemberian imbalan adalah agar bisa meningkatkan kesejahteraan pegawai. Tentu saja masalah kesejahteraan ini juga akan sangat berkaitan dengan peningkatan produktivitas dan kualitas dari pegawai itu sendiri.

    5. Menciptakan Tata Kelola Perusahaan yang Baik

    Pemberian imbalan juga bisa menjadi salah satu hal yang menunjukkan jika perusahaan tersebut memiliki tata kelola keuangan yang baik. Kemudian di lain sisi, pengeluaran untuk imbalan merupakan salah satu bentuk modal untuk bisa mendapatkan pegawai yang kompeten dan berkualitas.

    Keuntungan Remunerasi

    Pada prakteknya, ada juga yang disebut dengan keuntungan remunerasi. Ini merupakan bentuk imbalan, baik secara langsung ataupun tidak, bisa berupa uang maupun bentuk non uang yang perusahaan berikan kepada para pegawainya. Berikut adalah beberapa contoh keuntungan pemberian imbalan:

    1. Tunjangan Hari Raya

    Salah satu keuntungan yang umum diberikan di Indonesia adalah Tunjangan Hari Raya (THR). THR merupakan tunjangan yang perusahaan berikan kepada pegawainya menjelang hari raya, biasanya 14 hari menjelang Hari Raya Idul Fitri. Besar THR ini sendiri umumnya adalah 1 kali gaji.

    2. Lembur

    Uang lembur merupakan bentuk imbalan lain yang juga bisa pegawai terima dari perusahaan. Tunjangan lembur merupakan salah satu contoh keuntungan remunerasi yang perhitungannya perlu dilakukan dengan sangat cermat.

    Perhitungan lembur sendiri diatur menurut Undang-Undang dan memiliki standar dan batasan tertentu. Perusahaan tidak bisa menginstruksikan pegawainya untuk lembur melebihi batas waktu tersebut dan melanggar prosedur yang ada.

    3. Tunjangan Kesehatan

    Bentuk lainnya dari keuntungan imbalan adalah tunjangan kesehatan. Ini merupakan salah satu antisipasi dari pihak perusahaan terhadap risiko kecelakaan atau kesehatan pegawainya selama bekerja.

    4. Cuti Kerja

    Contoh lain dari bentuk imbalan non uang adalah cuti kerja. Ini merupakan hak yang bisa pegawai peroleh dan perusahaan wajib memberikan hak ini. Aturan tentang cuti ini juga sudah diatur oleh Undang-Undang.

    5. Pesangon

    Contoh terakhir dari keuntungan imbalan adalah penerimaan pesangon untuk mereka yang mengakhiri masa kerja atau resign. Besaran dari pemberian pesangon akan tergantung dari kebijakan perusahaan. Sementara itu di sisi pegawai, pemberian pesangon juga akan tergantung dari lama mereka bekerja.

    Sudah Tahu Pentingnya Remunerasi untuk Kualitas Kerja Pegawai?

    Bagi perusahaan, pemberian remunerasi merupakan upaya untuk mendapatkan pegawai dengan kompetensi yang mereka butuhkan. Tentu saja, dengan semakin banyak imbalan yang mereka berikan, semakin banyak juga orang yang ingin menjadi pegawai di perusahaan tersebut.

    Hal ini membuat perusahaan juga bisa memilih pegawai sesuai dengan yang mereka butuhkan. Selain itu, imbalan juga merupakan salah satu upaya untuk menjaga pegawai berkualitas yang sudah perusahaan miliki agar tidak keluar dari perusahaan tersebut.

  • Mengenal Asuransi: Pengertian, Unsur-Unsur, Fungsi, Jenis & Contohnya

    Mengenal Asuransi: Pengertian, Unsur-Unsur, Fungsi, Jenis & Contohnya

    Insurance atau asuransi adalah istilah yang tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Sebab, sudah banyak di antara masyarakat yang memiliki produk pertanggungan yang meng-cover risiko terkait hal-hal yang seharusnya dilindungi.  Apa itu insurance? untuk mengetahuinya, simak penjelasannya lewat artikel di bawah ini!

    Pengertian Asuransi

    Dilansir dari OJK.go.id, asuransi (insurance) atau pertanggungan adalah perjanjian antara perusahaan penyedia pertanggungan dan nasabah/tertanggung. Perjanjian ini menjadi panduan dalam menentukan premi oleh penanggung sebagai balasan untuk memberi jaminan kepada tertanggung karena beberapa hal.

    Hal tersebut meliputi kerusakan, kerugian, kehilangan keuntungan atau tanggung jawab hukum terhadap pihak ke-3 yang mungkin diderita tertanggung karena adanya kejadian yang tidak pasti. Selain itu, bisa juga memberikan pembayaran berdasarkan meninggal atau hidupnya nasabah dengan manfaat yang sudah ditetapkan.

    Unsur-Unsur Insurance

    Di dalam praktik pertanggungan, terdapat unsur-unsur yang harus diketahui. Adapun unsur-unsur tersebut, antara lain:

    • Pihak Penanggung: Pihak yang punya izin formal untuk membuka usaha terkait pengambilalihan risiko pihak lain berdasarkan polis.
    • Pihak Tertanggung: Orang yang membayar biaya atau premi kepada penanggung; pihak pemegang polis.
    • Objek Pertanggungan: Benda, jasa, kesehatan manusia, jiwa dan raga, serta apapun yang bisa rusak atau berkurang nilainya.
    • Polis Pertanggungan: Surat perjanjian atau kontrak yang menjadi bukti pengalihan risiko.
    • Premi: Sejumlah dana atau pembayaran yang ditetapkan sebagai biaya pengalihan risiko.
    • Risiko Pertanggungan: Ketidakpastian mengenai terjadinya peristiwa yang bisa mengakibatkan kerusakan atau kerugian ekonomi.
    • Klaim: Tuntutan dari tertanggung kepada penanggung untuk memenuhi haknya sesuai yang tertera dalam perjanjian

    Fungsi Utama Asuransi

    Adapun fungsi primer atau utama dari pertanggungan adalah sebagai berikut:

    1. Penjamin Keseimbangan dan Perlindungan

    Pertanggungan berfungsi dalam menyeimbangkan kewajiban premi dengan perlindungan yang diberikan penanggung. Oleh sebab itu, tertanggung tidak perlu membayar mahal, supaya bisa merasakan perlindungan yang ditawarkan.

    Sebab, perusahaan yang menyediakan layanan ini akan menghitung setiap risiko yang mungkin terjadi sesuai dengan premi yang dibayarkan. Dengan demikian, risiko yang dialami tertanggung belum tentu mendapat jaminan yang sama, karena premi dan risiko tertanggungnya berbeda.

    2. Penghimpun Dana

    Fungsi utama lainnya dari pertanggungan ini adalah mengumpulkan dana lewat premi yang dibayarkan oleh nasabah. Dana yang terhimpun dari premi yang dibayarkan ini bisa digunakan dan dikembangan oleh perusahaan insurance lewat investasi yang dinilai menguntungkan.

    Hasil dari investasi tersebut bisa berguna sebagai strategi untuk menurunkan premi. Perusahaan menghimpun dana lewat premi setiap bulannya dan dilakukan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan perjanjian yang ada di polis.

    Sederhananya, pembayaran premi mirip seperti tabungan, tetapi dikelola oleh perusahaan penyedia layanan untuk menjamin dan melindungi nasabah.

    3. Pengalihan Risiko

    Fungsi terakhir dan paling utama adalah mengalihkan risiko yang mengancam harta atau jiwa nasabah. Dalam perjanjian, pengalihan risiko tertanggung kepada penanggung akan diimbangi oleh pembayaran iuran atau premi oleh pihak tertanggung.

    Pengalihan risiko dari individu kepada perusahaan penyedia insurance berdasarkan kontrak yang sudah dibuat di antara keduanya. Lebih lanjut, pengalihan risiko ini bertujuan untuk menekan kerugian finansial yang dihasilkan dan sehingga bisa ke tingkat yang lebih rendah.

    Jenis-Jenis Asuransi

    Di bawah ini adalah jenis-jenis dari insurance yang sering ditemui, antara lain

    1. Life Insurance

    Pertanggungan ini merupakan produk yang dapat memberi jaminan berupa uang atau santunan kepada keluarga dari pihak tertanggung yang mengalami beberapa hal. Misalnya, wafat, kecelakaan, cacat permanen, dan faktor lain yang tidak disengaja.

    Manfaat dari pertanggungan ini tidak bisa secara langsung dirasakan oleh pemiliknya. Sebab, manfaatnya akan terasa pada ahli waris, sehingga mereka bisa hidup terjamin ketika ditinggalkan oleh keluarga, terutama yang menjadi tulang punggung.

    Terdapat 4 jenis dari pertanggungan ini, yakni term-life insurance (jangka waktu 1-30 tahun), whole life insurance (seumur hidup), unit link insurance, dan dwiguna.

    2. Kecelakaan Diri

    Pertanggungan ini memberikan jaminan atas risiko kecelakaan yang datangnya secara tiba-tiba, tidak direncanakan, hingga mengandung unsur kekerasan. Pertanggungan ini juga memberikan jaminan, jika nasabah mengalami kematian, cacat tetap sebagian dan keseluruhan, serta perawatan atau pengobatan.

    Pertanggungan ini hanya berlaku bagi nasabah yang telah berusia di atas 17 hingga 60 tahun. Manfaat dari pertanggungan kecelakaan diri adalah mendapatkan rasa tenang karena terlindungi, memiliki dana untuk membayar biaya pengobatan/perawatan ketika kecelakaan, atau peristiwa yang tidak diinginkan terjadi.

    3. Kendaraan Bermotor

    Asuransi ini merupakan jaminan atas kerugian dan kerusakan yang dialami kendaraan bermotor. Selain itu, pertanggungan ini juga meliputi tanggung jawab hukum (TJH) terhadap pihak ketiga. Objek yang bisa diasuransikan, antara lain kendaraan pengangkut penumpang (mini bus, sedan dll) dan barang (truk, pick-up box, dll).

    Risiko yang bisa dijamin, antara lain seperti kecelakaan (tabrakan, benturan, terbalik, dan tergelincir), kebakaran, kerusakan karena ada niat jahat dari orang lain, hingga pencurian (termasuk dengan kekerasan). Manfaat yang bisa dirasakan pertanggungan ini adalah memberi perlindungan, lebih nyaman, dan menghemat dana jika terjadi risiko.

    4. Kesehatan

    Pertanggungan ini merupakan jaminan yang meng-cover biaya medis, bedah, obat-obatan dan sejenisnya untuk tertanggung. Jenis insurance ini dapat meng-cover pengeluaran medis yang diakibatkan terluka atau sakit dan membayar biaya perawatan medis secara langsung.

    Di Indonesia, terdapat beberapa jenis insurance kesehatan yang dibedakan menjadi tiga kategori. Pertama pertanggungan berdasarkan jenis perawatannya, rawat inap atau rawat jalan. 

    Kedua, ada pertanggungan berdasarkan badan penyelenggara, yakni pemerintah atau swasta. Ketiga, berdasarkan tertanggung, yakni personal atau kelompok.

    5. Perjalanan

    Asuransi ini merupakan salah satu jenis insurance yang men-cover kerugian dan memberi perlindungan untuk tertanggung selama berada dalam perjalanan. Bisa dikatakan, pertanggungan ini cocok untuk orang-orang yang senang bepergian atau traveling dengan menggunakan pesawat.

    Manfaat yang akan didapatkan dari pertanggungan ini adalah perlindungan medis, seperti penggantian biaya pengobatan dan santunan tunai harian untuk rawat inap di luar negeri. 

    Selain itu, pertanggungan ini juga memberi bantuan darurat jika tertanggung menghadapi hal tidak terduga saat traveling, seperti evakuasi medis hingga pemulangan jenazah.

    6. Properti

    Pertanggungan ini merupakan jaminan atau perlindungan dari risiko yang mengancam rumah atau properti itu sendiri. Ancaman-ancaman tersebut meliputi kebakaran, kebanjiran, bahkan kejahatan. Manfaat dari pertanggungan ini, antara lain sebagai ganti rugi ketika terjadi kebakaran.

    Selain itu, perusahaan juga akan mengganti rugi jika terjadi kehilangan harta atau benda, sesuai dengan nilai tanggungan. Meski demikian, tertanggung harus memiliki bukti bahwa benda tersebut merupakan milik sendiri. Selain itu, pertanggungan ini akan memberikan penggantian biaya terhadap properti yang rusak karena bencana alam.

    Misalnya, gempa bumi, angin puting beliung, banjir, sampai sambaran petir. Di beberapa perusahaan juga menyediakan tempat sementara untuk melindungi tertanggung saat terjadi bencana alam.

    Contoh Asuransi di Indonesia

    Di bawah ini adalah contoh pertanggunan yang cukup terkenal di Indonesia, antara lain:

    1. Prudential Indonesia

    PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) merupakan assurance service yang paling populer dengan kepemilikan aset terbesar. Terhitung total aset dari Prudential Indonesia di akhir tahun 2022 mencapai Rp67.000.000.000.000,00.

    Adapun produk dari Prudential, antara lain pertanggungan jiwa, kesehatan, dan pendidikan.

    2. Manulife Indonesia.

    Selain Prudential, Manulife Indonesia juga cukup populer, karena produk-produk dan komitmen mereka dalam melindungi para pemegang polis. Terhitung aset mereka per Desember 2022, yakni mencapai Rp58.740.000.000.000,00. Beberapa produk dari Manulife, antara lain pertanggungan kesehatan, jiwa, tabungan, dan investasi.

    Sudah Tahu Apa Itu Asuransi?

    Demikian penjelasan singkat terkait insurance, mulai dari pengertian, unsur, hingga jenis-jenisnya. Bisa dibilang, insurance menyediakan perlindungan akan harta, kesehatan, hingga masa depan dari risiko yang bisa saja datang tanpa diketahui. Dengan ini, para tertanggung akan bisa lebih mudah dan aman dalam menjalani hidup.

  • Pengertian Instrumen Kredit, Fungsi, Bentuk, dan Contohnya

    Pengertian Instrumen Kredit, Fungsi, Bentuk, dan Contohnya

    Seperti yang Anda tahu bahwa perkembangan teknologi di dunia ini terjadi begitu cepat. Sehingga, memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap beberapa aktivitas, salah satunya adalah transaksi. Meski cara konvensional masih sering digunakan, namun transaksi elektrik lebih banyak dipilih, contohnya instrumen kredit.

    Dalam hal ini, transaksi non tunai mampu menjadi solusi yang cukup efektif untuk kegiatan pembelian yang masyarakat luas lakukan. Selain meminimalisir adanya kejahatan, bentuk transaksi dengan kredit mampu meringankan beban pembayaran dengan cara mencicil.

    Apa Itu Instrumen Kredit?

    Instrumen kredit adalah istilah dalam dunia keuangan dan perbankan yang mengacu produk dapat dibeli dengan menggunakan kredit atau mencicil. Instrumen ini umumnya diterbitkan oleh pihak yang berhubungan dengan keuangan seperti bank. 

    Selain itu, instrumen kredit juga merujuk pada berbagai alat atau mekanisme yang berguna dalam dunia keuangan dan perbankan untuk memberikan dana pinjaman kepada individu, perusahaan, atau entitas lain.

    Sebut saja pihak bank yang menerbitkan produk kartu kredit yang bisa pengguna pakai untuk membeli suatu produk di beberapa tempat dengan sistem cicilan. Kemudian, pengguna tersebut akan dibebankan tagihan pinjaman ke bank di akhir bulan yang harus mereka lunasi sebagai akibat dari penggunaan kartu kredit. 

    Jangka waktu penagihan tersebut tidak hanya berpatokan pada rentang waktu per bulan, melainkan juga bisa dalam periode kuartal ataupun periode tertentu yang disepakati.

    Sementara menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), instrumen kredit dapat berarti sebuah jaminan tertulis yang berisikan kesanggupan pengguna dalam membayar atau perintah pembayaran kepada pengguna. 

    Pada prinsipnya, instrumen tersebut merupakan janji debitur dalam melunasi pemberi pinjaman. Hanya saja, pemberian pinjaman tidak akan diterima dalam bentuk uang, melainkan barang atau produk tertentu. 

    Fungsi Instrumen Kredit

    Tentu saja, instrumen kredit mempunyai beberapa fungsi yang bisa pengguna rasakan manfaatnya, baik secaa langsung maupun tidak langsung, di antaranya adalah:

    • Memberikan fasilitas terhadap produksi dan konsumsi.
    • Membuat pengajuan klaim oleh pihak kreditur.
    • Memberikan fasilitas transaksi pertukaran.
    • Mengurangi kemungkinan adanya perselisihan yang terjadi antara pihak-pihak terkait.

    Indonesia saat ini menjadi salah satu negara yang familiar dengan sistem kredit. Oleh sebabnya banyak masyarakat yang juga menggunakan salah satu instrumen untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    Bentuk dan Contoh Instrumen Kredit

    Dalam penerapannya, instrumen kredit terbagi ke dalam beberapa bentuk, yaitu:

    1. Cek

    Singkatnya, cek adalah sebuah perintah tertulis yang tercetak pada formulir untuk membayar uang kepada orang lain ataupun dirinya sendiri. Cek menjadi bentuk instrumen yang paling umum, namun tidak semua orang mampu memilikinya. 

    Hanya mereka dengan wewenang tertentu yang mampu mengajukan cek untuk beberapa kebutuhan, misalnya pengusaha. Instrumen cek tidak hanya berisi nominal pembayaran, melainkan juga nama orang yang memegang cek. 

    Tidak ada bank yang bisa menolak alat transaksi yang satu ini. Sebab, cek bertindak sebagai sebuah perintah yang merujuk pada nasabah kepada bank untuk memberikan uang tunai kepada pemilik cek. 

    Meskipun cek dapat langsung pemilik uangkan di bank, namun proses penguangannya akan tertunda hingga pengumuman tanggal penerbitan.

    2. Kertas Wesel

    Bentuk instrumen kredit yang kedua adalah kertas wesel. Umumnya, rekening penukaran mata uang ini bermanfaat pada sistem perdagangan dari dalam maupun luar negeri. Pasalnya, pembayaran baru terjadi setelah serah terima dengan pihak bersangkutan. 

    Dalam proses transaksi menggunakan kertas wesel, ada beberapa pihak yang terlibat, mulai dari penagih kredit, debitur, dan nama penjual. Penagih kredit merupakan pihak penjual atau kreditur. Sedangkan debitur adalah pembeli dan nama penjual sebagai penerima pembayaran.

    3. Kartu Kredit

    Selanjutnya, kartu kredit merupakan instrumen kredit yang menjadi alat pembayaran resmi dari bank kepada nasabahnya melalui kesepakatan tertentu. Kartu kredit memiliki nilai limit yang mana sudah pihak penerbit atau bank tetapkan dengan jumlah yang sudah menjadi kesepakatan di awal perjanjian.

    Nasabah bisa menggunakannya untuk membali produk atau menarik uang dengan jumlah tertentu. Adapun jumlah maksimal nominal uang yang bisa nasabah tarik akan bergantung ketentuan pihak bank.

    4. Promissory Note (Promes)

    Promes atau Promissory Note menjadi salah satu jenis instrumen yang paling sederhana. Sebab, surat ini termasuk perjanjian tertulis antara pihak pembeli atau peminjam untuk membayar sejumlah nominal kepada pihak kreditur. 

    Promes memiliki nama lain sebagai obligasi yang artinya pengakuan utang atau kewajiban yang berfungsi membayar kembali. Surat ini mempunyai keistimewaan, yakni terdapat tulisan “received value” yang artinya surat tersebut merupakan hasil dari beberapa pinjaman atau pembelian sekaligus.

    Promissory Note juga termasuk dokumen yang bisa nasabah gunakan untuk jenis transaksi apa pun. Tidak peduli apakah itu transaksi yang berkaitan dengan urusan pribadi atau pun bisnis.

    5. Letter of Credit (L/C)

    Jenis instrumen kredit yang terakhir ini cukup terkenal sebagai metode pembayaran internasional. Karena kebanyakan orang-orang yang menggunakannya adalah para eksportir. 

    Lebih tepatnya, Letter of Credit atau L/C merupakan metode pembayaran internasional yang memungkinkan para eksportir memperoleh jumlah pembayaran dari luar negeri. Adapun fungsi surat ini ialah menjadi wadah yang dapat memecahkan masalah ataupun kendala pihak importir dan eksportir. 

    Surat akan diterbitkan secara resmi melalui lembaga keuangan. Sehingga, pengguna membutuhkan beberapa syarat dan waktu untuk memilikinya sebagai alat transaksi yang sah.

    Kelebihan dan Kekurangan Instrumen Kredit

    Seperti yang Anda tahu bahwa setiap produk entah itu berupa fisik maupun jasa pasti memiliki kelemahan dan keunggulan. Begitu pun dengan instrumen kredit yang ternyata memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut:

    1. Kelebihan Instrumen Kredit

    Sebelum membahas kekurangan, alangkah baiknya kita mengetahui kelebihan dari instrumen-instrumen tersebut. Apa sajakah kelebihan tersebut?

    • Mendapatkan poin reward sebagai bentuk apresiasi yang bank berikan terhadap nasabah ketika nasabah tersebut melakukan transaksi pembayaran memakai kartu kredit. Poin tersebut bisa nasabah tukarkan menjadi beberapa layanan, misalnya cashback ataupun diskon.
    • Bisa mendapatkan barang sekarang namun bisa dibayar di kemudian hari. Sehingga, meski tidak mempunyai uang tunai, Anda tetap bisa membeli produk dengan memakai kartu tersebut. Biasanya, pembayaran akan tagih pada akhir periode tertentu.

    Selain kedua kelebihan utama di atas, produk pembayaran kredit juga menyediakan sistem keamanan yang terjamin. Misalnya, ketika nasabah mengalami kehilangan kartu kredit dan ada oknum tertentu yang memakainya, maka perusahaan tidak akan membiarkan begitu saja. 

    Apabila ada transaksi yang mencurigakan, perusahaan akan segera melaporkan hal tersebut. Untuk itu, kartu kredit bisa dikatakan sebagai alat transaksi yang mampu memberikan keamanan tersendiri untuk nasabahnya.

    2. Kekurangan Instrumen Kredit

    Setelah mengetahui kelebihannya, Anda juga wajib memahami kekurangan dari instrumen kredit. Berikut ini beberapa kekurangannya:

    • Tanpa sadar kartu kredit mampu menjadi sumber hutang yang merugikan untuk Anda. Jika Anda sering berbelanja menggunakan kartu ini, tagihan yang menumpuk dapat menjadi beban tersendiri bagi Anda.
    • Adanya biaya tambahan atau bunga yang memiliki nominal tinggi ketimbang saat Anda memakai peminjaman metode lainnya. Belum lagi jika Anda terlambat membayar tagihan, itu akan membuat biaya tambahan semakin meningkat.
    • Skor kredit akan menjadi penilaian tentang kesanggupan Anda dalam melunasi tagihan kartu kredit. Semakin sering Anda telat membayar tagihan, maka akan membuat skor menurun dan menghambat penggunaan kartu karena bisa saja di-blacklist oleh perusahaan.

    Gunakan Salah Satu instrumen kredit Untuk Memudahkan Transaksi

    Pada hakikatnya, instrumen kredit termasuk alat transaksi yang memudahkan para penggunanya. Selain fleksibel, alat ini juga memberikan beberapa keuntungan yang menarik untuk semua nasabah. Jadi Anda bisa memilikinya guna memudahkan transaksi.

  • Real Estate: Pengertian, Jenis, Contoh Investasi, & Keuntungannya

    Real Estate: Pengertian, Jenis, Contoh Investasi, & Keuntungannya

    Real estate atau real estat merupakan salah satu sektor yang memiliki peran penting dalam perekonomian global. Istilah ini sendiri mengacu pada kepemilikan dan pengelolaan properti, seperti tanah, bangunan, dan sumber daya alam yang ada di atasnya. Mari kenali lebih dalam lewat artikel berikut!

    Apa itu Real Estate?

    Real estate (lahan yasan atau real estat) merujuk pada kepemilikan dan atau pengelolaan tanah, bangunan, dan sumber daya alam yang terdapat di atasnya. Istilah ini mencakup berbagai jenis properti, termasuk rumah tinggal, apartemen, perkantoran, toko, lahan pertanian, dan lain sebagainya. 

    Istilah ini sendiri memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian. Sebab, melibatkan transaksi jual beli, penyewaan, dan pengembangan properti yang dapat menghasilkan keuntungan finansial.

    Selain itu, investasi properti juga sering dianggap sebagai salah satu bentuk investasi yang stabil dan menguntungkan dalam jangka panjang. Karena nilai properti cenderung meningkat seiring berjalannya waktu dan pemilik dapat memperoleh pendapatan pasif melalui penyewaan. 

    Seiring dengan perkembangan teknologi, banyak terjadi perubahan dalam dunia investasi properti. Contohnya, internet dan platform daring yang memudahkan akses informasi, memfasilitasi transaksi, dan juga meningkatkan promosi properti. 

    Jenis-Jenis Real Estate

    Istilah ini mencakup berbagai jenis properti yang melibatkan kepemilikan dan juga pengelolaan tanah, bangunan, dan sumber daya alam di atasnya. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut, berikut ini adalah penjelasan detailnya:

    1. Residensial

    Residensial merujuk pada suatu properti yang digunakan sebagai tempat tinggal. Ini mencakup rumah-rumah individu, apartemen, kondominium, dan perumahan. Kemudian, jenis residensial merupakan bagian yang penting dalam industri properti, karena memenuhi kebutuhan perumahan masyarakat. 

    Properti residensial dapat ditemukan di berbagai lokasi, mulai dari perkotaan hingga pedesaan. Masing-masing jenis residensial memiliki karakteristik berbeda tergantung pada kelompok penduduk. 

    Misalnya, apartemen biasanya populer di daerah perkotaan dengan populasi yang padat. Atau, bisa juga sebuah rumah individu yang notabenenya lebih umum atau sering ditemukan di lingkungan pinggiran kota atau pedesaan.

    2. Commercial

    Jenis real estate commercial merujuk pada suatu properti yang digunakan untuk tujuan komersial. Jenis properti ini meliputi gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, toko-toko ritel, hotel, restoran, dan fasilitas-fasilitas lainnya yang digunakan untuk bisnis dan aktivitas ekonomi. 

    Selain itu, properti commercial juga biasanya terletak di lokasi strategis yang dapat memberikan aksesibilitas dan visibilitas yang baik bagi bisnis. Properti komersial memiliki potensi untuk menghasilkan pendapatan yang stabil melalui penyewaan ruang kepada perusahaan dan usaha lainnya. 

    Kondisi pasar dan lokasi properti adalah faktor penting dalam menentukan nilai dan potensi investasi lahan yasan commercial.

    3. Industrial

    Jenis industrial mencakup properti yang digunakan untuk kegiatan industri dan manufaktur. Ini meliputi pabrik, gudang, kompleks industri, fasilitas penyimpanan, dan area pengembangan industri. Properti industrial umumnya dirancang untuk menampung produksi, penyimpanan, distribusi, dan kegiatan logistik. 

    Lokasi properti industrial biasanya dipilih berdasarkan aksesibilitas ke jalan raya, pelabuhan, dan pusat distribusi untuk memfasilitasi transportasi barang. Permintaan untuk jenis industrial terkait dengan kebutuhan bisnis dalam menyediakan infrastruktur dan fasilitas untuk operasi industri mereka.

    4. Tanah

    Real estate jenis tanah mengacu pada properti yang belum dikembangkan atau tidak memiliki struktur bangunan di atasnya. Ini bisa berupa lahan kosong, lahan pertanian, atau lahan yang belum dimanfaatkan. Tanah sering menjadi aset investasi yang bernilai. 

    Terutama, jika berada di lokasi yang potensial untuk pengembangan masa depan. Pembelian tanah untuk pengembangan properti residensial, komersial, atau industri adalah strategi yang umum dalam dunia bisnis dan investasi properti. Nilai tanah akan meningkat seiring dengan waktu, infrastruktur, dan permintaan dari pasar.

    5. Tujuan Khusus

    Terakhir, jenis tujuan khusus merujuk pada properti yang digunakan untuk tujuan tertentu yang tidak termasuk dalam kategori residensial, commercial, atau industrial. Jenis ini mencakup rumah sakit, sekolah, universitas, gereja, taman hiburan, bandara, dan fasilitas-fasilitas publik lainnya. 

    Properti tujuan khusus ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan khusus masyarakat, seperti pendidikan, perawatan kesehatan, dan hiburan. Selain itu, karakteristik dan persyaratan pengembangan untuk jenis properti tujuan khusus juga relatif berbeda tergantung pada jenis dan fungsi properti yang dimaksud.

    Contoh Investasi Real Estate

    Investasi dalam properti merupakan salah satu bentuk investasi yang populer dan menguntungkan. Namun, kira-kira apa saja contoh investasi atau penggunaan properti yang umum dilakukan di Indonesia? Ini dia penjelasannya:

    1. Pembelian Rumah

    Salah satu contoh investasi properti yang paling umum adalah dengan membeli rumah. Banyak orang memilih untuk membeli rumah sebagai investasi jangka panjang. Selain sebagai tempat tinggal, kepemilikan rumah juga dapat memberikan keuntungan finansial. 

    Nilai properti cenderung meningkat seiring berjalannya waktu, sehingga Anda dapat memanfaatkan peningkatan nilai tersebut untuk mendapatkan keuntungan capital gain. Selain itu, Anda juga dapat menyewakan rumah tersebut kepada penyewa, yang akan memberikan pendapatan pasif setiap bulannya.

    2. Investasi Properti Komersial

    Investasi dalam properti komersial juga merupakan pilihan yang menarik. Properti komersial, seperti gedung perkantoran, pusat belanja, atau hotel, bisa menghasilkan pendapatan yang stabil melalui penyewaan kepada perusahaan atau bisnis. 

    Potensi keuntungan dari properti komersial biasanya lebih besar daripada properti residensial. Namun, ini juga membutuhkan modal yang lebih besar untuk memulai investasi dan memahami pasar serta risiko yang terkait.

    3. Investasi REITs

    Real Estate Investment Trusts (REITs) adalah instrumen investasi yang notabenenya dapat memungkinkan individu untuk berinvestasi dalam portofolio properti yang dikelola secara profesional.

    REITs dapat Anda beli dan diperdagangkan di pasar saham seperti saham biasa. Dengan berinvestasi dalam REITs, Anda dapat memiliki kepemilikan dalam berbagai properti. 

    Contohnya seperti gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, hotel, dan apartemen. Keuntungan dari investasi REITs berasal dari pendapatan sewa dan apresiasi nilai properti yang dipegang oleh REITs.

    4. Penyewaan Properti

    Investasi lahan yasan juga dapat dilakukan dengan cara menyewakan properti kepada penyewa. Misalnya, jika Anda memiliki apartemen atau rumah kos, Anda dapat menyewakannya kepada individu atau keluarga yang membutuhkan tempat tinggal. 

    Pendapatan yang diperoleh dari penyewaan properti ini dapat menjadi satu sumber pendapatan pasif yang terbilang stabil. Namun, sebagai pemilik properti, Anda harus memastikan pemeliharaan dan perawatan properti secara teratur serta memiliki perjanjian sewa yang jelas dengan penyewa.

    5. Pengembangan Properti

    Investasi lahan yasan juga dapat dilakukan melalui proses pengembangan properti. Ini melibatkan membeli tanah kosong atau properti yang belum dimanfaatkan dan mengembangkannya menjadi properti yang bernilai lebih tinggi. 

    Misalnya, Anda membeli lahan pertanian dan mengubahnya menjadi perumahan atau pusat komersial. Pengembangan properti membutuhkan pemahaman yang baik tentang pasar, perencanaan yang matang, dan investasi modal yang cukup. Namun, jika sukses, pengembangan properti dapat memberikan keuntungan yang signifikan.

    Keuntungan Investasi Real Estate

    Investasi ini memiliki beberapa keuntungan yang menarik bagi para investor. Berikut adalah beberapa keuntungan utama dari investasi lahan yasan:

    1. Pendapatan Pasif

    Salah satu keuntungan utama dari investasi lahan yasan adalah kemampuannya untuk menghasilkan pendapatan pasif. Misalnya, jika Anda menyewakan properti Anda kepada penyewa, Anda akan menerima pembayaran sewa secara teratur. 

    Pendapatan pasif ini dapat memberikan stabilitas keuangan dan meningkatkan arus kas Anda. Jika Anda memiliki beberapa properti yang disewakan, pendapatan pasif Anda dapat semakin meningkat.

    2. Keuntungan Capital Gain

    Nilai properti cenderung meningkat seiring berjalannya waktu. Investasi real estate dapat menghasilkan keuntungan capital gain yang signifikan. Ketika Anda membeli properti dengan harga yang rendah dan nilai properti tersebut naik, Anda dapat menjualnya dengan harga yang lebih tinggi dan mendapatkan keuntungan. 

    3. Proteksi dari Inflasi

    Properti fisik, seperti rumah atau bangunan komersial cenderung akan mengalami apresiasi nilai seiring dengan inflasi. Ketika harga barang dan jasa naik, nilai properti Anda juga dapat naik. 

    Ini berarti nilai riil dari investasi Anda tetap terlindungi dari efek negatif inflasi. Dalam jangka panjang, investasi ini dapat berfungsi sebagai satu perlindungan terhadap inflasi dan mempertahankan kekayaan Anda.

    Sudah Paham Apa itu Real Estate dan Keuntungannya?

    Kesimpulannya, real estate merupakan investasi yang luas dan menjanjikan. Investasi ini dapat memberikan keuntungan finansial yang stabil. Selain itu, investasi ini juga memberikan manfaat sosial, yakni menyediakan hunian bagi masyarakat dan membantu memenuhi kebutuhan tempat tinggal.

  • Consumer Price Index: Tujuan, Jenis, Contoh dan Cara Mengukurnya

    Consumer Price Index: Tujuan, Jenis, Contoh dan Cara Mengukurnya

    Consumer Price Index (CPI) adalah indikator penting bagi perekonomian suatu negara. Bank sentral menggunakan CPI sebagai tolok ukur untuk menilai fluktuasi. Inflasi yang diumumkan oleh Bank Sentral pun mengacu pada CPI. Jika kamu ingin memahami ekonomi dengan lebih baik, maka CPI adalah materi penting untukmu.

    Pengertian Consumer Price Index

    CPI adalah indikator untuk mengukur rata-rata perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga dalam suatu periode. CPI umumnya berguna untuk melacak inflasi atau laju kenaikan harga di suatu negara.

    Perhitungan CPI membandingkan harga-harga sekelompok barang dan jasa pada suatu periode dengan periode sebelumnya. Komponen CPI mencakup berbagai kategori, seperti makanan, perumahan, transportasi, kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya.

    Perubahan CPI memberikan gambaran tentang tingkat inflasi atau deflasi di suatu negara. Jika CPI naik, artinya harga barang dan jasa meningkat, yang menunjukkan adanya inflasi. Sebaliknya, jika CPI turun, artinya harga barang dan jasa menurun, yang menunjukkan adanya deflasi.

    CPI memiliki peran penting dalam kebijakan moneter dan ekonomi. Data CPI dipakai oleh pemerintah, bank sentral, dan lembaga keuangan untuk mengukur stabilitas harga, menyesuaikan upah, mengalokasikan anggaran, dan mengambil keputusan kebijakan lainnya.

    Namun, perlu kamu catat bahwa CPI adalah indikator umum yang mewakili rata-rata harga di suatu negara. Harga-harga sebenarnya dapat bervariasi, tergantung pada lokasi geografis, kondisi pasar, dan faktor-faktor lainnya. Oleh karena itu, CPI harus digunakan dengan hati-hati dalam analisis ekonomi.

    4 Tujuan Consumer Price Index

    CPI adalah sebuah indeks yang dianalisis untuk berbagai macam tujuan, di antaranya yaitu:

    1. Mengukur Inflasi

    Salah satu tujuan utama CPI adalah mengukur laju inflasi atau perubahan harga barang dan jasa secara keseluruhan. Dengan melacak perubahan harga dari waktu ke waktu, CPI memberikan gambaran tentang tingkat inflasi di suatu negara.

    2. Menyediakan Dasar Perhitungan Upah

    CPI juga digunakan untuk menghitung penyesuaian upah dan pensiun. Dengan mengetahui laju perubahan harga, pemerintah dan perusahaan dapat menyesuaikan upah dan tunjangan pensiun, agar tetap sejalan dengan tingkat inflasi. Tujuannya untuk membantu menjaga daya beli dan kesejahteraan tenaga kerja.

    3. Mengukur Stabilitas Harga

    CPI membantu mengukur stabilitas harga di pasar. Dengan melihat perubahan harga barang dan jasa secara keseluruhan, pemerintah dan lembaga keuangan dapat menilai apakah ada ketidakstabilan dalam pasar.

    4. Membandingkan Daya Beli

    CPI dapat membandingkan daya beli konsumen dari waktu ke waktu. Dengan melihat perubahan harga secara keseluruhan, kita dapat mengevaluasi apakah daya beli konsumen meningkat atau menurun. Informasi ini memberikan pemahaman tentang bagaimana kondisi ekonomi mempengaruhi daya beli masyarakat.

    2 Jenis Consumer Price Index

    Secara umum, CPI terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

    1. CPI-W

    Consumer Price Index for Urban Wage Earners and Clerical Workers (CPI-W) adalah indeks untuk mengukur perubahan harga barang dan jasa yang paling umum dikonsumsi oleh pekerja kota dan pegawai administrasi.

    CPI-W adalah salah satu variasi dari CPI yang dirancang khusus untuk mencerminkan pengeluaran konsumen dari kelompok pekerja upah kota dan pegawai administrasi yang bekerja di sektor non-agrikultur.

    CPI-W berfungsi sebagai alat untuk melacak perubahan biaya hidup dan inflasi yang dialami oleh pekerja upah kota dan pegawai administrasi. Indeks ini menggambarkan perubahan harga bagi kelompok pekerja ini, seperti makanan, perumahan, transportasi, dan barang-barang konsumsi lainnya.

    2. CPI-U

    Consumer Price Index for All Urban Consumers (CPI-U) adalah indeks untuk mengukur perubahan harga barang dan jasa yang paling umum dikonsumsi oleh semua konsumen di daerah perkotaan.

    CPI-U dirancang untuk mencerminkan pengeluaran konsumen dari berbagai kelompok demografis di perkotaan, termasuk pekerja upah, pekerja profesional, pengusaha, dan individu dengan berbagai tingkat pendapatan.

    CPI-U merupakan indeks yang penting dalam melacak perubahan biaya hidup dan tingkat inflasi yang mempengaruhi konsumen di perkotaan. Indeks ini mencakup berbagai komponen pengeluaran, seperti makanan, perumahan, transportasi, perawatan kesehatan, pendidikan, rekreasi, dan barang-barang konsumsi lainnya.

    Contoh Consumer Price Index

    Bank Indonesia maupun bank sentral negara lain selalu merilis data CPI sebagai acuan bagi para pelaku ekonomi. Berikut ini contoh CPI dari data Bank Indonesia periode 2023:

    • Januari: 5,28%
    • Februari: 5,47%
    • Maret: 4,97%
    • April: 4,33%
    • Mei: 4%
    • Juni: 3,52%

    Kalau kamu ingin melihat data inflasi dengan lebih lengkap, kamu bisa langsung mengunjungi laman statistik resmi Bank Indonesia. Di dalamnya, kamu bisa memantau data inflasi setiap bulan serta mengunduh atau mencetaknya.

    Cara Mengukur Consumer Price Index

    Setiap negara memiliki metode yang berbeda dalam menghitung indeks harga konsumen dan tingkat inflasi. Penyebabnya adalah perbedaan indikator yang digunakan di setiap negara. Data untuk setiap indikator tersebut diperoleh dari berbagai sumber dalam periode waktu tertentu.

    Jika harga terus naik dan bertahan, maka itu menunjukkan adanya inflasi. Indikator yang digunakan oleh pemerintah untuk menghitung inflasi dengan menggunakan CPI, yaitu:

    • Harga Konsumen: Rata-rata harga kebutuhan konsumen.
    • Harga Produsen: Rata-rata harga bahan baku atau material yang digunakan dalam kegiatan produksi.
    • Biaya Hidup: Rata-rata biaya hidup yang diperlukan oleh masyarakat.
    • Harga Komoditas: Perubahan harga pada barang-barang tertentu.
    • Produksi Domestik Bruto (PDB): Perubahan harga dalam produksi total suatu negara.

    Indikator dalam setiap periode dapat mengalami perubahan sesuai dengan kondisi yang terjadi di negara tersebut. Untuk mengukur inflasi, perhitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) dilakukan dengan menghitung selisih antara IHK sebelumnya dengan IHK terbaru.

    Selanjutnya, selisih tersebut dibagi oleh IHK terbaru, kemudian dikalikan dengan 100%. Anggaplah IHK BBM 2010 adalah Rp6.000,00 per liter, sedangkan IHK BBM 2020 adalah Rp8.750,00 per liter. Dari contoh ini, kita dapat menghitung tingkat inflasi sebagai berikut:

    Inflasi = ((Rp 8.750 – Rp 6.000) / Rp 8.750) x 100% = 31,43%

    Jadi, selama sekitar 10 tahun, Indonesia mengalami tingkat inflasi sebesar 31,43% berdasarkan IHK BBM. Selanjutnya, kita dapat menghitung rata-rata inflasi per tahun dengan membagi angka inflasi dengan periode (tahun) perbandingan, yaitu:

    Rata-rata inflasi per tahun = 31,43% / 10 = 3,143%

    Dengan demikian, dapat kita ketahui bahwa rata-rata inflasi BBM di Indonesia selama 10 tahun adalah sebesar 3,143%.

    Pengaruh Perilisan Consumer Price Index

    Begitu Bank Sentral merilis data CPI, maka pengaruhnya dapat kita rasakan pada berbagai bidang ekonomi, yaitu:

    1. Pengaruh pada Keputusan Investasi

    CPI yang lebih tinggi dari perkiraan dapat menunjukkan adanya tekanan inflasi yang lebih besar. Kondisi ini dapat mempengaruhi keputusan investasi, karena inflasi yang tinggi dapat mengurangi daya beli konsumen dan mengurangi profitabilitas perusahaan.

    2. Pengaruh pada Kebijakan Moneter

    CPI digunakan sebagai indikator penting oleh bank sentral untuk menentukan kebijakan moneter. Jika CPI naik di atas target yang ditetapkan, maka bank sentral mungkin akan menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi. Kebijakan ini dapat berdampak pada pasar keuangan, termasuk suku bunga, investasi, dan kurs.

    3. Pengaruh pada Harga Saham dan Obligasi

    Perilisan CPI yang berbeda dari perkiraan dapat mempengaruhi harga saham dan obligasi. Jika CPI lebih tinggi dari yang diharapkan, hal ini dapat menyebabkan penurunan harga saham, karena investor khawatir akan dampak inflasi terhadap profitabilitas perusahaan. 

    Di sisi lain, obligasi dapat mengalami penurunan harga, karena kenaikan suku bunga yang mungkin dilakukan oleh bank sentral.

    4. Pengaruh pada Sektor Ekonomi

    CPI yang tinggi dapat mempengaruhi sektor ekonomi tertentu. Misalnya, sektor yang terkait dengan bahan bakar, makanan, atau transportasi dapat terpengaruh secara signifikan oleh perubahan harga yang tercermin dalam CPI. Efek berantai ini dapat mempengaruhi keputusan konsumen dan mengubah pola pengeluaran mereka.

    5. Pengaruh pada Negosiasi Upah

    CPI juga dapat mempengaruhi negosiasi upah antara pekerja dan pengusaha. Jika CPI tinggi, maka pekerja mungkin menuntut kenaikan upah untuk mengimbangi kenaikan biaya hidup. Keputusan ini dapat mempengaruhi biaya tenaga kerja bagi perusahaan dan dapat memiliki efek domino pada tingkat inflasi secara keseluruhan.

    Sudah Memahami Apa Itu Consumer Price Index?

    Kita sudah membahas tentang pengertian, tujuan, jenis, contoh, cara mengukur, hingga pengaruh CPI ke berbagai bidang. Jika kamu ingin sukses berbisnis dan berinvestasi, maka kamu harus jeli dalam membaca dan menyikapi inflasi. Karena, dengan memahami data Consumer Price Index, kamu akan mampu mengambil keputusan yang tepat di bidang finansial. Misalnya, dengan mengurangi pengeluaran yang tidak penting saat inflasi serta menyiapkan dana darurat.

  • Pengertian Dividen Yield, Rumus, Cara Menghitung, dan Contohnya

    Pengertian Dividen Yield, Rumus, Cara Menghitung, dan Contohnya

    Jika Anda sering bermain saham, mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah dividen yield. Bahkan, sebagian investor profesional menjadikan nilai dividen ini sebagai salah satu cara memilih saham yang akan mereka beli.

    Nah, bagi Anda yang akan membeli saham untuk jangka panjang, ketahuilah bahwa dividen yield memang bisa menunjukan performa dari saham yang Anda beli. Semakin tinggi nilai dividen, maka semakin baik performa dari emiten tersebut.

    Apa Itu Dividen Yield?

    Sebelum masuk ke pembahasan pengertian dividen yield, pahami arti dividen terlebih dahulu. Singkatnya, dividen adalah tingkat pengembalian tunai berdasarkan keuntungan dari emiten kepada pemegang saham berdasarkan jumlah saham yang mereka punya.

    Sementara itu, dividen yield adalah rasio untuk menyatakan berapa keuntungan atau pendapatan dari dividen tersebut. Perhitungan rasio ini akan membandingkan nilai dividen per lembar ketimbang membandingkannya dengan market value.

    Meskipun sering menjadi patokan, namun sebenarnya nilai dari rasio dividen tidak bisa merujuk secara langsung dengan performa dari emiten tersebut. Anda perlu melihat kinerja perusahaan secara umum dalam kurun waktu setahun. 

    Terlebih dividen sendiri merupakan salah satu hal yang dicari investor ketika mereka membeli saham. Sebagai contoh, perusahaan baru yang sedang tumbuh cepat mungkin akan memberikan rasio dividen lebih rendah daripada dengan perusahaan yang sudah lebih matang.

    Hal tersebut bisa terjadi karena perusahaan baru masih membutuhkan banyak modal untuk operasional mereka. Sehingga, mereka memilih atau memtuskan untuk tidak membagikan keuntungan dalam bentuk dividen.

    Rumus Menghitung Dividen Yield

    Seperti yang sudah kami jelaskan sebelumnya bahwa dividen yield akan membandingkan antara nilai dividen per lembar saham dengan market value dari saham tersebut. Nantinya, nilai tersebut akan dikali dengan 100 persen agar rasio dividen dapat dinyatakan dalam satuan persen.

    Untuk mempermudah pemahaman Anda, berikut adalah rumus dari dividen yield:

    (Nilai dividen per lembar saham : Harga per lembar saham saat itu) x 100%

    Contoh Perhitungan Dividen Yield

    Perhitungan rasio dividen biasanya akan investor gunakan untuk melihat berapa nilai dividen yang emiten berikan. Selain itu, cara ini juga biasa bermanfaat untuk mengukur prospek pendapatan dari dividen yang mungkin mereka dapatkan. Berikut ini beberapa contoh perhitungan yang biasa investor gunakan:

    1. Melihat Rasio Dividen

    Dalam hal ini, investor akan mendapatkan informasi tentang berapa rasio dari dividen yang dibagikan. Perhitungan ini juga biasa berguna untuk membandingkan antara satu emiten dengan emiten lainnya. Contoh perhitungan untuk melihat rasio ini adalah sebagai berikut:

    Pada tahun 2020, PT. Telkom Indonesia (TLKM) membagikan dividen dengan nilai Rp154,00 per lembarnya. Pada saat itu, harga saham dari perusahaan telekomunikasi tersebut berada pada nilai Rp2.980,00 per lembar nya. 

    Dengan data tersebut, maka dividen yield dari PT. Telkom Indonesia adalah:

    (154 : 2.980) x 100% = 5,17℅

    Berdasarkan data tersebut, maka bisa Anda simpulkan jika PT. Telkom Indonesia memiliki rasio dividen sebesar 5,17 persen. Angka inilah yang biasanya akan dibandingkan dengan emiten sejenis atau yang terkait. 

    2. Melihat Nilai Dividen

    Beberapa emiten biasanya hanya mengumumkan nilai rasio dividennya saja, tanpa ada informasi berapa nilai per lembarnya. Hal ini terkadang membuat beberapa orang penasaran, berapa nilai dividen per lembarnya. Jika Anda juga sering penasaran dengan hal tersebut, maka cara hitungnya adalah seperti ini:

    Pada tahun 2020, Bank Mandiri Indonesia (BMRI) memiliki dividen yield sebesar 6,09 persen dengan harga saham Rp5.800,00 per lembar. Pertanyaannya, berapa nilai per lembarnya? Maka cara hitungnya adalah:

    6,09% x Rp5.800,00 = Rp353,00

    Berdasarkan perhitungan di atas, maka nilai dividen yang BMRI bagikan adalah Rp353,00 per lembarnya. 

    3. Melihat Proyeksi

    Fungsi lain dari menghitung dividen yield adalah melihat proyeksi pendapatan dari dividen pada tahun berikutnya. Meskipun angkanya akan berubah, namun perhitungan ini tetap bisa Anda gunakan sebagai perkiraan. Contoh perhitungan rasio dividen untuk melihat proyeksi ini adalah sebagai berikut:

    Pada tahun 2020, Bank BRI (BBRI) memiliki rasio dividen sebesar 5,4 persen. Nah, saat pembagian tersebut, harga saham Bank BRI adalah Rp3.110,00 per lembar. Kemudian, pada tahun 2021, harga per lembar saham tersebut naik menjadi Rp4.000,00. 

    Mengacu pada asumsi nilai rasio dividen yang tidak berubah, maka besaran dividen yang akan diterima bisa dihitung dengan cara berikut:

    5,4℅ x Rp4.000,00 = Rp216,00

    Berdasarkan perhitungan tersebut, maka tiap pemegang saham akan mendapatkan Rp216,00 per lembar saham yang mereka punya.

    Apakah Dividen Yield Bisa Berubah?

    Nilai pembagian dividen bukanlah nilai yang tetap dari waktu ke waktu. Pembagian dari dividen akan bergantung pada kebijakan perusahaan.. Selain itu, satu hal yang perlu Anda ingat juga adalah nilai saham pasti akan selalu berubah.

    Lantaran semua faktor tersebut bukanlah nilai yang tetap, maka hal tersebut juga berpengaruh dengan rasio dividen yang bisa berubah tiap waktu. Hal yang perlu Anda ingat adalah naik dan turunya dividen yield tidak berkaitan langsung dengan performa emiten.

    Dalam hal ini, emiten yang memiliki rasio dividen kecil tidak selalu sama karena performa yang buruk. Mungkin saja mereka tidak membagikan semua keuntungan karena membutuhkan modal tambahan.

    Apa Pentingnya Dividen Yield untuk Perusahaan?

    Selain bagi investor, angka rasio dividen ini juga cukup berpengaruh untuk emiten atau perusahaan. Sebab, ada kecenderungan jika pemegang saham akan menginvestasikan kembali hasil yang mereka dapatkan dari pembagian dividen dengan harapan bisa mendapatkan hasil lebih banyak di periode selanjutnya.

    Analoginya seperti ini, seorang investor memiliki saham emiten A senilai Rp50.000.000,00 dengan dividen yield sebesar 4 persen. Saham tersebut memiliki harga pasar Rp5.000,00 per lembarnya. 

    Berdasarkan data tersebut, maka emiten A akan membagikan dividen dengan nilai Rp200,00 per lembarnya. Lalu, investor tersebut memiliki 10.000 lembar saham, sehingga ia akan mendapatkan Rp2.000.000,00 dari pembagian dividen periode tersebut.

    Jika investor tersebut langsung membelikan semua hasil keuntungan tersebut ke saham emiten A, maka ia akan mendapatkan 400 lembar saham tambahan. Menggunakan asumsi bahwa harga saham belum berubah, investor tersebut akan memiliki total 10.400 lembar saham.

    Apakah Dividen Yield Berpengaruh dengan Volatilitas Harga Saham?

    Satu pertanyaan menarik adalah apakah ada pengaruh antara nilai dividen yield dengan volatilitas harga saham yang terbentuk? 

    Dalam teori signaling, terdapat asimetri informasi antara perusahaan dan pemegang saham. Dalam hal ini, manajemen suatu perusahaan bisa menggunakan pembagian dividen sebagai sinyal untuk menyampaikan informasi atas kondisi perusahaan. 

    Selanjutnya, informasi ini akan para pemegang saham respons yang nantinya akan membuat harga saham menjadi berubah. Sehingga, tingkat perubahan harga saham juga dipengaruhi oleh tingkat pengembalian yang investor dapatkan dalam bentuk rasio dividen ini. 

    Reaksi dari investor atas nilai pembagian tersebut akan membentuk nilai harga baru di pasar. Menariknya, jika nilai rasio dividennya makin besar, maka biasanya hal tersebut akan membuat tingkat volatilitas yang semakin kecil pada emiten tersebut. 

    Hal ini jelas berbeda jika nilai rasio dividennya kecil, maka akan membuat tingkat volatilitasnya makin tinggi. 

    Sudah Paham dengan Dividen Yield?

    Meskipun tidak berpengaruh langsung dengan performa dari emiten tersebut, namun sebagai investor juga menggunakan dividen yield sebagai salah satu cara mereka untuk memilih aset. Semakin besar angka rasio dividen, maka pembagian dividennya pun juga akan cukup besar. Apalagi jika market value dari saham tersebut juga sudah cukup tinggi. Hal ini biasanya menjadi salah satu pertimbangan ketika investo memilih emiten yang sudah cukup besar yang nilai pertumbuhannya relatif stabil.

  • Bursa Efek Indonesia: Pengertian, Sejarah, Jenis, dan Tugasnya

    Bursa Efek Indonesia: Pengertian, Sejarah, Jenis, dan Tugasnya

    Saat ini, masyarakat lebih banyak mencari uang tambahan dari kegiatan-kegiatan seperti investasi. Selain karena keuntungannya yang besar, investasi juga bisa menjadi ladang penghasilan untuk masa depan. Nah, salah satu tempat yang menyediakan kegiatan ini adalah Bursa Efek Indonesia atau BEI.

    Meski pada dasarnya investasi bisa Anda lakukan dimana saja, namun sejatinya Anda harus memilih tempat yang terpercaya. Mengingat uang yang akan Anda keluarkan tidak sedikit, sehingga jangan sampai melakukan kesalahan dengan berinvestasi di tempat para oknum tidak bertanggung jawab.

    Apa Itu Bursa Efek Indonesia?

    Singkatnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah tempat atau lembaga pasar yang bergerak di bidang penjualan dan pembelian saham di Indonesia dengan menyediakan sarana serta sistem untuk menciptakan suatu perdagangan terjadi.

    Sedangkan mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bursa efek merupakan lokasi perdagangan utama terkait surat-surat berharga dari perusahaan-perusahaan umum. Sehingga, tempat ini menjadi “sarang” untuk proses jual beli surat berharga. 

    Melalui bursa efek, semua pelaku pasar yang terdiri dari pihak penjual ataupun pembeli bisa melakukan transaksi saham ataupun instrumen-instrumen investasi yang lainnya. Bursa Efek Indonesia sudah memiliki badan hukum, yang artinya semua kegiatan bersifat legal dan bisa dipertanggungjawabkan.

    Selain mempelopori adanya kegiatan pedagangan, BEI juga memiliki tugas lain, yakni mengatur jalannya perdagangan saha, yang ada di pasar modal. BEI juga berperan besar dalam perekonomian makro dan mikro. Tidak heran apabila keberadannya bisa mempengaruhi sistem perekonomian dalam suatu negara.

    Setiap negara pasti memiliki bursa efeknya masing-masing. Untuk saat ini lokasi, bursa efek yang paling besar ada di Amerika Serikat dengan nama New York Exchange. Sedangkan Indonesia memilikinya dengan naman Bursa Efek Indonesia yang tugas-tugasnya tidak jauh berbeda dengan tempat lainnya.

    Sejarah Bursa Efek Indonesia

    Pada dasarnya, kemunculan BEI tidak akan begitu saja tanpa adanya cerita yang melatarbelakanginya. Dalam cerita sejarahnya, Bursa Efek Indonesia sudah muncul sejak pemerintahan kolonial Belanda yang terjadi sekitar abad ke-19, di mana kala itu Indonesia masih menyandang nama Hindia Belanda.

    Tepatnya pada tahun 1892, tercatat transaksi saham pertama di Indonesia. Lantaran ada banyak orang yang mulai tertarik dengan saham, pemerintah mendirikan pasar modal pertama di Hindia Belanda yang berlokasi di Batavia (kini Jakarta). 

    Pasar modal tersebut berdiri pada tanggal 14 Desember 1912 dengan nama Vereniging Voor De Effectenhandel, yang sekarang kita kenal sebagai Bursa Efek. Saat itu, saham yang diperjualbelikan adalah obligasi perusahaan Belanda yang sedang melangsungkan operasinya di Indonesia. 

    Perkembangan bursa efek terbukti sangat pesat sehingga tidak sedikit orang yang tertarik untuk ikut tergabung di dalam transaksi perdagangannya. Sehingga, pada tahun 1912 tujuan pembuatan Bursa Efek Indonesia oleh Belanda memiliki maksud lain yakni mencetuskan kebijakan politik etis.

    Pemerintah Belanda begitu yakin dan antusias terhadap kebijakan tersebut karena pada mulanya mampu menarik perhatian investor dari Eropa. Sebagai hasil, penghasilan yang mereka peroleh jauh di atas rata-rata. Namun, kondisi tersebut hanya berlangsung sebentar.

    Akibat adanya Perang Dunia I dan II, pasar modal terpaksa ditutup dan vakum dalam kurun beberapa tahun. Setelah Indonesia meraih kemerdekaannya, pasar modal kembali didirikan. Presiden yang ikut andil dalam prosesnya adalah Soeharto dan memberi nama Bursa Efek Jakarta.

    Pada tahun 2007, BEI melakukan pengembangan wilayah kekuasannya dengan merger Bursa Efek Surabaya. Berdasarkan hasil tersebut, para petinggi sepakat untuk memberi nama Bursa Efek Indonesia yang berlangsung hingga detik ini.

    Jenis-Jenis Pelaku Bursa Efek Indonesia

    Orang-orang yang terlibat dalam BEI dapat terbagi menjadi beberapa jenis. Berikut adalah penjelasannya:

    1. Transaksi Bagi Diri Sendiri

    BEI memiliki pelaku yang melakukan transaksi untuk dirinya sendiri. Dalam kegiatan ini, tentu mereka bertransaksi atas kebutuhan yang dimilikinya, yakni keinginan untuk mencoba berinvestasi. Contohnya investor reksadana dan retail.

    2. Transaksi Bagi Pelaku Lainnya

    Klien atau investor yang berkepentingan di Bursa Efek Indonesia tidak terbatas. Siapa pun berhak melakukannya dengan catatan mampu memenuhi semua syarat dan ketentuan yang berlaku. Untuk itu, ada beberapa orang yang melakukan transaksi untuk orang lain.

    Pelaku ini disebut sebagai trader. Nantinya, pihak pialang akan mendapatkan permintaan dari trader tersebut untuk diteruskan kepada pelaku lainnya. Sebab, cara kerja pialang memang menjalankan kegiatan investasi untuk kepentingan para trader, ali-alih klien.

    3. Transaksi Bagi Klien

    Pelaku bursa efek yang terakhir adalah transaksi bagi klien. Biasanya, pelaku ini disebut sebagai pialang saham dan akan menyediakan layanan berupa perantara dalam menghubungkan pihak investor dan emiten. 

    Umumnya, investor yang memilih perantara ialah mereka yang tidak memiliki banyak waktu dan kemampuan. Sedangkan Anda tahu sendiri bahwa investasi tidak hanya khusus mereka yang memiliki finansial cukup, melainkan juga yang memiliki skill

    Jadi, lebih baik diserahkan kepada orang-orang yang sudah berpengalaman. Pembayaran pialang akan terjadi setelah klien mendapatkan keuntungan dari transaksi.

    Tugas Bursa Efek Indonesia

    Menurut buku Bank dan Lembaga Keuangan (2020:185), BEI mempunyai dua tugas utama, yakni sebagai fasilitator dan pengawas. Berikut ini penjelasannya:

    1. Sebagai Fasilitator

    Fasilitator termasuk pihak yang menyediakan saham ataupun instrumen investasi yang lainnya. Berdasarkan penjelasan sebelumnya, Anda sudah pasti tahu bahwa BEI juga menjadi tempat yang memfasilitasi investor untuk melakukan investasi. Berikut tugas-tugasnya.

    • Menciptakan instrumen ataupun layanan-layanan baru.
    • Membuat likuiditas terhadap instrumen sehingga bisa mengalirkan dana secara cepat terhadap efek yang sudah terjual.
    • Menjadi penyedia sarana perdagangan efek.
    • Membuat dan menyebarluaskan informasi bursa kepada seluruh kalangan masyarakat.
    • Mempromosikan pasa modal agar bisa diakuisisi oleh calon investor maupun perusahaan baru yang sudah berhasil go public.

    2. Sebagai Pengawas atau SRO

    Selain menjadi fasilitator, Bursa Efek Indonesia juga memiliki peran dalam menjadi SRO atau pengawas. Adapun berikut adalah tugas-tugasnya:

    • Membuat peraturan yang relevan dengan kegiatan jual beli atau pertukaran.
    • Menetapkan aturan yang berhubungan dengan kegiatan pertukaran.
    • Meminimalisir adanya praktik transaksi yang mengikat bagi pelaksana pasar modal.

    Cara Kerja Bursa Efek Indonesia

    Sering mendengar istilah Bursa Efek Indonesia atau BEI namun bagaimana dengan cara kerjanya? Apa yang harus kita lakukan untuk bisa berinvestasi di sana? Simak penjelasan berikut.

    1. Time Priority and Price

    Time priority and price termasuk cara kerja bursa efek untuk menjalankan kegiatan perdagangan surat-surat berharga atau obligasi. Peninjauan keduanya akan terlihat dari segi penawaran dan permintaan. Antara harga dan waktu sama-sama penting karena menunjang aktivitas perdagangan.

    Untuk prioritas waktu atau time priority sendiri berhubungan dengan penawaran pembelian dan penjualan dengan harga yang sama. Nantinya, bursa efek yang akan memberikan priortas kepada emiten ataupun investor agar bisa mengajukan permintaan pembelian ataupun penawaran.

    2. Sistem Beli Saham

    Cara kerja Bursa Efek Indonesia yang berikutnya ialah sistem beli saham. Sistem ini menggunakan satuan perdagangan yang sudah diakui oleh negara, yaitu lot (round lot). Dalam perhitungannya, satu lot saham setara dengan 100 lembar saham.

    3. Menyelesaikan Transaksi

    Banyak yang bertanya terkait waktu transaksi pada investor dalam membeli saham di BEI. Secara umum, investor harus menyelesaikan transaksi, baik dalam penjualan ataupun pembelian saham T+3 hari perdagangan. T sendiri berarti proses berlangsungnya transaksi.

    4. Jam Operasional

    Sebelum memilih investasi di BEI, Anda perlu mengetahui terlebih dahulu regulasi waktunya. Indonesia menetapkan jam bursa sama dengan hari kerja, yakni Senin hingga Jumat. 

    Sedangkan waktu perdagangan hanya terbagi menjadi dua sesi saja. Sesi pertama terjadi pada pukul 09.00 – 12.00 WIB dan sesi kedua pada pukul 14.00 – 16.00 WIB. 

    5. Kontrol dan Pengawasan Perdagangan

    Bursa Efek Indonesia tidak hanya akan lepas tangan terhadap kegiatan-kegiatan para investor. Proses pengawasan ini meliputi jaminan keamanan terhadap semua jenis informasi yang ada di perusahaan, real time, tindak lanjut atas transaksi yang tidak wajar, dan hal-hal lainnya.

    Bursa Efek Indonesia Memiliki Peran Penting Dalam Menunjang Investasi

    Itulah informasi singkat yang perlu Anda ketahui dari Bursa Efek Indonesia. Lantaran ada banyak tempat investasi bodong, Anda harus selalu waspada agar tidak ikut terjebak dalam kegiatan merugikan tersebut. Oleh karena itu, Bursa Efek Indonesia hadir untuk membantu masyarakat dalam memberikan wadah investasi resmi, aman, dan terpercaya.

  • Mengenal Apa itu Bea Cukai? Sejarah, Pengertian, Tugas, dan Kebijakannya

    Mengenal Apa itu Bea Cukai? Sejarah, Pengertian, Tugas, dan Kebijakannya

    Bea Cukai menjadi istilah cukup familiar terkait lembaga yang berkecimpung di dunia ekspor-impor. Bahkan bagi masyarakat secara umum, istilah ini penting untuk dipahami karena muncul di pemberitaan media. Lalu apa maksud dari istilah ini? Berikut pembahasan selengkapnya.

    Pengertian

    Secara sederhana, Bea Cukai dapat diartikan sebagai pungutan yang dilakukan pemerintah pada barang impor, ekspor, serta barang yang mempunyai karakteristik khusus. Adapun lembaga yang berwenang untuk mengatur masalah bea dan cukai ini yaitu kepabeanan.

    Fungsi lembaga kepabeanan yaitu melakukan pengawasan terhadap lalu lintas barang masuk dan keluar. Lembaga tersebut juga berwenang untuk melakukan pungutan bea.

    Setiap negara memiliki lembaga kepabeanannya masing-masing. Namun negara-negara di dunia juga memiliki istilah yang berbeda. Meskipun begitu, tugas dari lembaga kepabeanan di setiap negara hampir sama.

    Berikut definisi lain berdasarkan beberapa pendapat:

    1. Menurut KBBI

    Menurut KBBI, Bea dan Cukai diartikan secara terpisah. Bea berarti biaya, pajak, dan ongkos. Sementara itu, cukai yaitu sesuatu yang berkaitan dengan pajak. Berdasarkan penjelasan tersebut, bisa disimpulkan jika Bea Cukai adalah biaya maupun ongkos yang berkaitan dengan pajak.

    2. Menurut Ditjen Bea dan Cukai

    Menurut Ditjen Bea Cukai, istilah tersebut sudah ada bahkan sejak era kolonial Belanda. Orang-orang Belanda mengistilahkannya dengan douane. Kemudian pada masa Kerajaan Majapahit, istilah tersebut kerap digunakan para pedagang karena banyak barang yang datang dari luar daerah.

    Lalu di era modern, istilah Bea Cukai lebih terkenal dengan sebutan custom. Terkait objek cukai juga sangat variatif, misalnya minuman keras, cerutu, dan sebagainya dan masing-masing mempunyai aturannya sendiri.

    Tujuan pemberlakuan biaya tinggi terhadap objek cukai adalah agar barang-barang tersebut tidak mudah masuk ke Indonesia. Selain itu, masyarakat juga tidak mudah membeli secara sembarangan. 

    Meskipun begitu, ada saja oknum yang berusaha menyelundupkan barang secara ilegal tanpa memperhatikan dampak buruknya. Untuk itu, Bea Cukai mempunyai peran sangat penting untuk mengontrol peredaran barang-barang yang menjadi objek cukai.

    3. Menurut UU No. 17 Tahun 2006

    Bea adalah pungutan negara yang dibebankan pada setiap barang ekspor dan impor. Sementara itu, cukai merupakan pungutan negara yang dibebankan pada barang yang mempunyai sifat atau ciri yang telah ditetapkan lewat perundang-undangan.

    4. Menurut Kemenkeu

    Bea Cukai merupakan pungutan negara dengan membayar sesuai kebutuhan transaksi. Pungutan tersebut akan menjadi pajak atau pemasukan negara dan manfaatnya pun akan kembali kepada masyarakat karena biasanya digunakan untuk membangun infrastruktur serta kesejahteraan masyarakat.

    Sejarah

    Hampir seluruh negara mempunyai Bea Cukai dan bahkan ketika negara berdiri pun sudah langsung membuat lembaga tersebut. Ini merupakan lembaga yang menjadi perangkat negara “konvensional”, sama halnya dengan pengadilan, kepolisian, maupun angkatan bersenjata.

    Di Indonesia, lembaga kepabeanan sudah ada bahkan sejak zaman kerajaan atau sebelum zaman kolonial Belanda. Akan tetapi, pada zaman tersebut memang belum ada yang mendokumentasikannya sehingga tidak dapat menjadi bukti konkret akan kehadiran lembaga tersebut.

    Semenjak masuknya Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC, dokumentasi mulai dilakukan secara jelas terkait lembaga kepabeanan tersebut. 

    Di masa itu, lembaga yang bertugas mengawasi serta memungut bea impor, ekspor, maupun bea barang belum dinamakan Bea Cukai. Namun Hindia Belanda memberikan istilah De Dienst der Invoer en Uitvoerrechten en Accijnzen. Kemudian orang yang bekerja di lembaga tersebut dinamakan douane

    Pasca VOC diganti Jepang, lembaga tersebut mengalami perubahan tugas. Saat itu, tugasnya hanya sekadar melakukan pungutan cukainya saja. Lalu untuk bea impor dan ekspor, pemerintah di zaman tersebut tidak memberlakukan pungutan.

    Ketika sudah berhasil memperoleh kemerdekaannya, Bea Cukai dibentuk kembali tepatnya pada Oktober 1946 dengan nama Pejabatan Bea dan Cukai. Kemudian tugasnya kembali seperti semula yaitu melakukan pungutan terhadap bea dan cukai.

    Selanjutnya, lembaga kepabeanan tersebut mengalami dua perubahan. Di tahun 1948 dinamakan Jawatan Bea dan Cukai. Lalu setelah 1956 dan sampai sekarang disebut Direktorat Jenderal Bea dan Cukai atau Ditjen Bea Cukai.

    Karakteristik Barang yang Kena Cukai

    Menurut peraturan perundang-undangan, terdapat beberapa ciri khas barang yang terkena cukai, antara lain:

    • Barang yang peredarannya memerlukan pengawasan.
    • Barang yang pemakaiannya mengakibatkan dampak negatif terhadap masyarakat dan lingkungan hidup.
    • Konsumsinya memerlukan pengawasan serta pengendalian.
    • Dalam rangka untuk mewujudkan keseimbangan dan keadilan, maka pemakaian barang tersebut perlu dikenakan pungutan.

    Jenis Barang yang Kena Cukai

    Berdasarkan ciri barang yang terkena cukai seperti di atas, ternyata tidak semua barang akan dikenakan pungutan. Setidaknya barang-barang yang kena cukai yaitu:

    • Etanol atau etil alkohol yang tidak memperhatikan komposisi bahan serta proses pembuatannya.
    • Minuman yang memiliki kandungan etil alkohol dengan kadar berapa saja yang tidak memperhatikan komposisi bahan serta proses pembuatannya. Berlaku juga pada konsentrat dengan kandungan etil alkohol.
    • Hasil tembakau seperti daun tembakau iris, cerutu, sigaret, rokok, serta hasil olahan tembakau lain dengan tidak mengindahkan himbauan pemerintah terkait proses pembuatannya.

    Kebijakan Bea Cukai

    Setidaknya terdapat dua kebijakan yang ditetapkan oleh lembaga kepabeanan, yaitu:

    1. Bidang Ekspor

    Kebijakan pembayaran cukai pada aktivitas ekspor tercantum pada beberapa peraturan berikut ini:

    • UU No. 17 Tahun 2006, perubahan UU No. 16 Tahun 1995 seputar Kepabeanan.
    • Peraturan Pemerintah RI yang ditetapkan pada No. 55 Tahun 2008 mengenai dikenakan Bea Keluar Pada Barang Ekspor.
    • Peraturan Menteri Keuangan, No. 145/PMK.04/2007 jo. PMK No. 148/PMK.04/2011 jo. PMK No. 145/PMK.04/2014 mengenai Ketentuan Kepabeanan pada Bidang Ekspor.
    • Peraturan Menteri Keuangan No. 214/PMK.04/2008 jo. PMK Nomor 146/PMK.04/2014 jo. PMK Nomor 86/PMK.04/2016 mengenai Pemungutan Bea Keluar.
    • Peraturan Menteri Keuangan No. 224/PMK.04/2015 mengenai Pengawasan barang Impor maupun Ekspor, barang Larangan dan/atau Pembatasan.
    • Peraturan Menteri Keuangan No. 14/PMK.010/2017 mengenai Penetapan pada Barang Ekspor yang terkena Bea Keluar serta Tarif Bea Keluar.
    • Peraturan Ditjen Bea Cukai No. PER-32/BC/2014 jo. PER-29/BC/2016 mengenai Tata Laksana Kepabeanan pada Bidang Ekspor.
    • Peraturan Ditjen Bea Cukai No. P-41/BC/2008 jo. P-07/BC/2009 jo. PER-18/BC/2012 jo. PER-34/BC/2016 mengenai Pemberitahuan Pabean Ekspor.

    2. Bidang Cukai

    Berikut kebijakannya:

    • UU RI No. 11 Tahun 1995 mengenai Cukai yang sudah diubah menjadi UU RI No. 39 Tahun 2007 terkait perubahan tersebut.
    • PMK (Peraturan Menteri Keuangan) No. 62/PMK.011/2010 mengenai Tarif Cukai untuk Produk Alkohol, Minuman dengan Kandungan Etil Alkohol, serta konsentrat yang memiliki kandungan alkohol.
    • PMK No. 181/PMK.011/2009 mengenai Tarif Cukai dari Hasil Barang Tembakau.
    • Peraturan Ditjen Bea Cukai No. P-43/BC/2009 seputar Tata Cara Penetapan untuk Tarif Cukai dari Hasil Barang Tembakau.
    • Peraturan Ditjen Bea Cukai No. P-22/BC/2010 mengenai Tata Cara Pungutan Cukai dengan kandungan Etil Alkohol, Konsentrat dengan kandungan Etil Alkohol, dan Minuman dengan Etil Alkohol.

    Tugas serta Fungsi Bea Cukai

    Dengan kebijakan yang dimilikinya, maka lembaga kepabeanan mempunyai tugas yaitu menyelenggarakan perumusan serta pelaksanaan kebijakan pada bidang pengawasan, pelayanan, penegakan hukum, serta optimalisasi terkait penerimaan peraturan perundang-undangan.

    Maka dari itu, tugas atau fungsi utama Bea Cukai antara lain:

    • Membuat pertumbuhan industri dalam negeri meningkat lewat penyediaan fasilitas kepabeanan serta cukai tepat sasaran.
    • Mewujudkan iklim usaha serta investasi yang kondusif. Caranya yaitu memperlancar logistik ekspor dan impor lewat penyederhanaan prosedur kepabeanan dan cukai. Selain itu, bisa juga dengan menerapkan sistem manajemen risiko secara dapat diandalkan.
    • Melindungi industri dalam negeri, kepentingan nasional, serta masyarakat lewat pengawasan dan/atau pencegahan terhadap keluarnya barang ekspor serta masuknya barang impor yang berpotensi mengakibatkan dampak negatif. Caranya dengan membatasi maupun melarang lewat regulasi.
    • Menjalankan pengawasan terhadap aktivitas impor, ekspor, maupun aktivitas terkait kepabeanan dan cukai yang lain secara efektif dan efisien. Caranya dengan menerapkan sistem manajemen risiko secara andal, penyidikan yang kuat, intelijen, melakukan tindakan tegas, maupun mengaudit kepabeanan dan cukai secara tepat.
    • Memberikan batasan, pengawasan, dan/atau pengendalian produksi, distribusi, serta konsumsi barang tertentu yang memiliki sifat maupun ciri khas yang berpotensi memberikan dampak buruk terhadap kesehatan, keamanan, dan lingkungan. Caranya dengan membuat instrumen cukai yang menunjukkan adanya aspek keadilan serta keseimbangan.
    • Mengoptimalkan penerimaan negara terkait bea dan cukai yang masuk-keluar sehingga mampu menunjang pembangunan nasional.

    Kesimpulan

    Jadi, Bea Cukai memang ada di setiap negara. Kehadirannya sangat dibutuhkan karena menjadi pemasukan negara sehingga mampu menambah cadangan devisa. Semoga bermanfaat.

  • Equity: Pengertian, Jenis, Unsur, serta Cara Menghitungnya

    Equity: Pengertian, Jenis, Unsur, serta Cara Menghitungnya

    Equity (ekuitas) tentunya menjadi istilah yang tak asing bagi Anda yang berkecimpung di dunia bisnis dan finance. Ekuitas sendiri menjadi bahan pertimbangan utama sebelum investor berinvestasi. Bukan hanya itu saja, ekuitas juga menjadi salah satu faktor penentu kelangsungan suatu bisnis.

    Apa Itu Equity?

    Equity atau ekuitas adalah nilai kepemilikan terhadap suatu entitas, seperti bisnis, inventaris, atau saham dari suatu perusahaan. Artinya, ekuitas mencerminkan seberapa besar kepentingan pemilik atas aset perusahaan tersebut.

    Secara sederhana, ekuitas dapat Anda artikan sebagai selisih antara total aktiva perusahaan dengan kewajiban. Ini berart,i jika semua kewajiban perusahaan telah lunas, maka sisa nilai aset tersebut akan menjadi ekuitas. 

    Jumlah ekuitas dalam sebuah perusahaan berasal dari investasi pemilik perusahaan dan hasil operasional bisnis. Pemilik perusahaan dapat menyumbangkan modal atau menginvestasikan dana dalam bentuk lain untuk memulai atau mengembangkan bisnis mereka. 

    Selain itu, laba yang dari kegiatan operasional juga dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekuitas perusahaan. Dengan adanya ekuitas, pemilik perusahaan memiliki klaim atas aset perusahaan setelah semua kewajiban kepada pihak lain terselesaikan. 

    Ekuitas juga memungkinkan pemilik untuk mendapatkan keuntungan dari investasi mereka dalam bentuk dividen atau melalui peningkatan nilai saham perusahaan.

    Sementara itu, ekuitas juga menjadi indikator penting dalam mengukur kesehatan keuangan perusahaan. Nilai ekuitas yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan memiliki aset yang cukup untuk menutupi kewajiban dan memberikan keuntungan kepada pemilik atau pemegang saham.

    Hal tersebut juga menjadi faktor penting dalam penilaian dan analisis keuangan, serta menentukan nilai perusahaan dalam proses pengambilan keputusan investasi.

    Manfaat Equity

    Ekuitas yang sehat dan meningkat dapat memainkan peran kunci dalam menjaga stabilitas dan meningkatkan potensi kesuksesan bisnis. Berikut ini adalah sejumlah manfaat ekuitas:

    1. Pembiayaan

    Ekuitas dapat menjadi sumber pembiayaan untuk perusahaan. Pemilik atau pemegang saham dapat menyumbangkan modal ke perusahaan dalam bentuk ekuitas yang berguna untuk membiayai operasional, pertumbuhan, dan investasi dalam bisnis.

    2. Kepercayaan Investor

    Equity yang kuat dan meningkat dapat menarik minat investor dan meningkatkan kepercayaan mereka terhadap perusahaan. Investor cenderung lebih tertarik untuk berinvestasi dalam perusahaan yang memiliki struktur modal sehat dan ekuitas yang memadai. 

    3. Pertumbuhan dan Pengembangan

    Ekuitas yang cukup memberikan perusahaan kemampuan untuk merencanakan dan melaksanakan pertumbuhan serta pengembangan bisnis. Dengan modal yang ada, perusahaan dapat memperluas operasional, membeli aset baru, melakukan riset dan pengembangan, atau bahkan mengakuisisi perusahaan lain.

    4. Pengelolaan risiko

    Ekuitas juga dapat berperan dalam pengelolaan risiko perusahaan. Ketika perusahaan memiliki ekuitas yang memadai, perusahaan dapat menghadapi kemungkinan kerugian atau krisis dengan lebih baik.

    Book Value dan Market Value

    Secara umum terdapat dua jenis equity yang penting untuk Anda pahami. Kedua jenis tersebut adalah nilai buku keuangan (book value) dan nilai pasar (market value).

    Book value dapat Anda hitung dengan mengurangi total aset dengan beban yang terkait dengan utang piutang. Selain itu, book value juga bisa Anda hitung dengan menjumlahkan pendapatan dengan modal yang telah tersimpan.

    Sedangkan untuk jenis kedua, yaitu market value, dapat Anda hitung dengan menjumlahkan harga saham dengan jumlah saham yang telah beredar. 

    Jenis Equity

    Penting untuk Anda ketahui bahwa, tidak semua ekuitas selalu terkait dengan investasi perusahaan. Nah, selain book value dan market value, berikut adalah beberapa jenis ekuitas lainnya:

    1. Ekuitas Pemilik Bisnis

    Ekuitas pemilik juga sering dikenal sebagai modal pemilik, investasi pemilik, atau kepentingan pemilik. Jenis ekuitas ini mengacu pada klaim atas aset yang dimiliki oleh pemilik suatu bisnis. Artinya, ekuitas ini mencerminkan jumlah yang tersisa setelah mengurangi kewajiban atau utang bisnis dari total aset. 

    Ekuitas ini bisa Anda dapatkan melalui beberapa cara. Seperti melalui jumlah modal yang disetor, pendapatan keuntungan bisnis, serta penambahan atau pengurangan modal.

    Ekuitas pemilik juga sangat bergantung oleh sejumlah faktor. Misalnya, kerugian bisnis, pembagian keuntungan kepada pemilik, serta perubahan nilai aset atau kewajiban dalam perusahaan.

    2. Ekuitas Rumah

    Secara sederhana, ekuitas rumah adalah selisih antara nilai pasar rumah dengan hipotek (surat pernyataan utang). Sehingga, ekuitas rumah dapat Anda peroleh dengan mengurangi jumlah utang yang ada pada nilai pasar rumah. 

    Jenis ekuitas ini memiliki nilai penting bagi pemilik rumah karena berguna sebagai jaminan untuk pinjaman lain. Seperti pinjaman rumah kedua, pembiayaan renovasi rumah, atau pinjaman berbasis ekuitas. 

    Namun, perlu Anda ketahui bahwa nilai ekuitas rumah dapat berubah seiring waktu, tergantung pada fluktuasi harga pasar rumah dan pembayaran utang.

    3. Ekuitas Pemegang Saham

    Ekuitas pemegang saham (Shareholders’ Equity) merujuk pada bagian kepemilikan pemegang saham dalam suatu perusahaan. Jenis ekuitas ini mencerminkan klaim atau nilai bersih dari aset perusahaan setelah mengurangi kewajiban perusahaan.

    Ekuitas pemegang saham dapat Anda dapatkan dengan mengurangi total kewajiban perusahaan dari total aset perusahaan. Dalam laporan keuangan, ekuitas pemegang saham biasanya terdiri dari beberapa komponen. Antara lain modal saham, tambahan modal, laba ditahan, serta laba rugi komprehensif lain. 

    Ekuitas pemegang saham adalah indikator penting dari nilai bersih perusahaan dan merupakan klaim terhadap aset perusahaan setelah mempertimbangkan kewajiban. Pemegang saham dapat memperoleh keuntungan melalui pertumbuhan nilai ekuitas pemegang saham dan pembagian dividen.

    4. Ekuitas Pembiayaan

    Ekuitas pembiayaan adalah istilah untuk menggambarkan jenis ekuitas yang terkait dengan pembiayaan atau pendanaan perusahaan. Jenis ekuitas ini akan muncul ketika perusahaan dapat beroperasi tetapi tidak menghasilkan keuntungan.

    Dalam situasi tersebut, perusahaan akan menjual kepada investor. Hasil penjualan tersebut akan menjadi modal untuk mengembangkan perusahaan di masa mendatang.

    Jadi, secara sederhana, ekuitas pembiayaan merupakan jumlah uang yang diinvestasikan oleh investor saat membeli saham. Kemudian, menjadi modal mengembangkan usaha perusahaan.

    Unsur Equity

    Guna memastikan kualitas dan keberlanjutan bisnis yang sukses, penting untuk menjaga nilai modal perusahaan. Oleh karena itu, Anda perlu mempelajari setiap aspek dari ekuitas, termasuk unsur-unsur yang membentuknya. Unsur ekuitas terdiri dari:

    1. Modal Saham

    Merupakan jumlah uang atau aset yang ditanamkan oleh pemegang saham saat membeli saham perusahaan. Modal saham mencerminkan kepemilikan pemegang saham dalam perusahaan.

    2. Tambahan Modal Disetor 

    Merupakan tambahan modal dari pemegang saham di atas nilai nominal saham saat membeli saham perusahaan. Hal tersebut dapat terjadi saat penawaran umum perdana (IPO) atau saat pemegang saham membeli saham tambahan di pasar sekunder.

    3. Laba Ditahan 

    Merupakan akumulasi keuntungan perusahaan dari tahun ke tahun dan tidak dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen. Laba ditahan adalah bagian dari equity yang perusahaan gunakan untuk reinvestasi atau pembayaran dividen di masa depan.

    4. Modal Hasil Penilaian Kembali

    Merupakan modal yang perusahaan dapatkan ketika terjadi penilaian kembali dan menghasilkan peningkatan nilai aset pada saat ini dengan nilai sebelumnya.

    Unsur ini mencerminkan peningkatan nilai aset perusahaan dan meningkatkan ekuitas. Modal dari hasil penilaian kembali dapat meningkatkan daya beli perusahaan, memperkuat struktur modal, atau memberikan fleksibilitas keuangan dalam investasi.

    5. Modal dari Sumbangan atau Hibah

    Merupakan modal yang perusahaan dapatkan ketika pemilik atau pihak lain memberikan dana atau aset kepada perusahaan untuk mendukung kegiatan operasional.

    Modal dari sumbangan dapat berasal dari berbagai sumber. Misalnya dari pemegang saham, investor eksternal, mitra bisnis, atau pendiri perusahaan. Modal ini merupakan bentuk investasi jangka panjang dan menjadi bagian dari ekuitas perusahaan.

    Cara Menghitung Equity

    Dalam menghitung ekuitas perusahaan, Anda dapat menggunakan rumus dasar berikut ini:

    Ekuitas = Aset – Utang

    Dalam rumus di atas, aset merupakan total nilai semua aset yang perusahaan miliki. Termasuk aset lancar (contohnya kas, piutang, persediaan) dan aset tetap (contohnya tanah, bangunan, peralatan). 

    Sementara itu, utang mencakup total kewajiban keuangan perusahaan, seperti utang kepada pemasok, pinjaman bank, dan kewajiban lainnya. Penting untuk Anda catat bahwa menghitung ekuitas perusahaan memerlukan data keuangan yang terperinci dan akurat dari laporan keuangan perusahaan, seperti neraca. 

    Anda dapat merujuk pada laporan keuangan perusahaan atau mendiskusikannya dengan ahli keuangan untuk memperoleh informasi yang lebih spesifik dan akurat mengenai ekuitas perusahaan.

    Sudah Paham Apa itu Equity dan Cara Menghitungnya?

    Kesimpulannya, ekuitas adalah nilai kepemilikan atas aset perusahaan yang dimiliki oleh pemilik atau pemegang saham. Ekuitas juga memainkan peran penting sebagai aset berharga dan identitas merek.

  • Produksi: Pengertian, Jenis, Faktor, Proses, & Contohnya

    Produksi: Pengertian, Jenis, Faktor, Proses, & Contohnya

    Saat ini, proses pembuatan sebuah produk hampir mendominasi sektor perekonomian di Indonesia. Banyaknya permintaan pasar terkait barang tertentu menjadi salah satu alasannya. Lalu, apa itu produksi sebenarnya? Apa saja contoh serta jenisnya? Simak ulasan selengkapnya di bawah ini!

    Apa Itu Produksi?

    Produksi sendiri merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan suatu barang jadi dari benda mentah yang belum mengalami proses pengolahan. Sehingga, proses pembuatan produk ini memungkinkan untuk munculnya sebuah inovasi benda baru sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

    Proses pembuatan produk sendiri juga diartikan sebagai sebuah kegiatan untuk menambah nilai dari suatu benda. Lewat adanya pengolahan dan tahapan tertentu, maka benda yang awalnya memiliki permasalahan dapat teratasi dengan penambahan nilai tersebut.

    Barang atau produk hasil dari proses ini bisa digunakan secara langsung maupun tidak. Barang yang tidak digunakan langsung umumnya adalah benda pertengahan yang bisa diolah menjadi benda baru lagi nantinya. Sedangkan benda siap pakai memang diperuntukkan langsung untuk konsumen.

    Jenis-Jenis Proses Produksi

    Setelah Anda mengetahui pengertian dari proses pembuatan barang. Ternyata, proses sendiri terbagi menjadi beberapa jenis sesuai dengan caranya ataupun banyaknya produk yang dihasilkan. Berikut ini merupakan beberapa jenis proses pembuatan produk yang perlu Anda ketahui: 

    1. Massal

    Pembuatan produk massal merupakan jenis yang dilakukan secara besar-besaran menggunakan banyak mesin dan peralatan canggih. Jenis pembuatan produk ini nantinya akan terbagi lagi menjadi batch dan continues. Pada pembuatan barang massal aktivitas dilakukan terus-menerus bahkan selama 24 jam.

    Pembuatan barang secara terus-menerus dilakukan karena permintaan pasar yang tinggi. Selain itu, hal ini dilakukan juga untuk menghemat energi listrik yang digunakan untuk menyalakan mesin. 

    2. Batch

    Produksi sistem batch merupakan jenis pembuatan di mana pada setiap perpindahan proses pengolahan terdapat jeda sejenak untuk menyesuaikan alur proses pembuatan. Biasanya, hal ini dilakukan untuk memindahkan bahan dari mesin satu ke mesin lainnya menggunakan tenaga manusia.

    Karena terdapat jeda antara proses, membuat sistem batch tidak mampu memproduksi barang dengan skala yang sangat besar. Sistem pembuatan produk ini biasanya dilakukan pada skala usaha mikro kecil menengah atau UMKM yang belum menggunakan mesin-mesin canggih. 

    3. Continues 

    Continues merupakan jenis pembuatan massal yang mampu memproduksi barang dengan skala sangat besar. Pada jenis pembuatan produk ini, tidak ada jeda antara satu proses ke proses lainnya. Sehingga efektivitas pembuatan barang sangat tinggi. Tenaga manusia yang digunakan juga sangat minim.

    Jenis continues umumnya dilakukan pada skala pabrik besar dan menggunakan berbagai peralatan canggih. Misalnya saja pada proses pembuatan es krim. Mesin pengadukan akan langsung menyambung dengan mesin pencetakan. Sehingga kontaminasi dari lingkungan luar pun juga sangat minim terjadi.

    4. Lean 

    Proses produksi lean atau lean production adalah salah satu jenis yang sangat meminimalkan adanya bahan buangan serta menggunakan efesiensi waktu yang tinggi. Jenis pembuatan produk ini seringkali juga diaplikasikan bersamaan dengan proses pembuatan continous.

    Pengurangan limbah atau bahan buangan tersebut contohnya penggunaan uap panas hasil pemasakan sebagai bahan pemanas tangki selanjutnya. Ataupun penggunaan kopra kelapa sebagai bahan bakar utama pada proses pembuatan santan kelapa.

    5. MTO (Make To Order)

    Berbeda dengan proses pembuatan lainnya yang mengutamakan produk dalam jumlah banyak, jenis MTO atau make to order tidak mengacu pada target harian. Proses ini hanya dilakukan ketika ada pesanan dari pihak konsumen sendiri.

    Sehingga, dalam pemasarannya, produk tidak langsung dibawa, melainkan hanya ada display atau hanya berupa contoh produk. Jenis ini umumnya ada untuk pembuatan barang dengan ketelitian tinggi. Misalnya pembuatan mesin, pembuatan mobil, dan lain sebagainya.

    2 Faktor Utama yang Mempengaruhi Produksi 

    Melihat kerumitan proses pembuatan produk, tentunya ada banyak faktor yang mempengaruhi lancar atau tidaknya proses ini berlangsung. Berikut ini adalah beberapa faktor utama yang mempengaruhi proses pembuatan barang:

    1. Sumber Daya Manusia (SDM)

    Faktor pertama adalah sumber daya manusia. Adanya pembuatan produk, tentu tak lepas dari peran karyawan atau teknisi dalam menjalankannya. Oleh karena itu, kualitas karyawan yang baik sangat berpengaruh pada produk pembuatan barang. Sebaiknya, karyawan yang direkrut adalah yang memang ahli di bidangnya saja.

    Misalnya, untuk teknisi mesin gunakan karyawan dengan latar belakang pendidikan teknik mesin. Sedangkan untuk formulator produk, gunakan karyawan dengan latar pendidikan teknik kimia.

    2. Sumber Daya Alam (SDA)

    Produksi pada dasarnya adalah proses mengubah sesuatu yang berasal dari alam sehingga memiliki nilai yang lebih tinggi. Oleh karena itu, sumber daya alam yang ada sangat berpengaruh pada pembuatan suatu produk. 

    Tak hanya sebagai bahan baku, sumber daya alam juga berperan sebagai bahan pendukung. Misalnya air untuk mencuci. Oleh karena itu, Anda perlu memilih sumber daya alam dengan kualitas dan spesifikasi yang sesuai kebutuhan. 

    Umumnya, pada faktor sumber daya alam akan ada sistem bernama quality control atau quality assurance. Tujuan utama dari sistem ini adalah untuk memastikan kualitas dari hasil pembuatan produk.

    Beberapa Tahapan Proses Produksi 

    Setelah mengetahui pengertian, jenis, hingga faktor yang mempengaruhi proses pembuatan produk. Maka, selanjutnya Anda akan mengetahui beberapa tahapan pembuatan produk yang umumnya dilakukan. Berikut adalah beberapa di antaranya:

    1. Perencanaan

    Tahap pertama adalah perencanaan. Pada tahap ini, Anda akan merencanakan seluruh proses pembuatan produk dari hulu ke hilir. Adapun beberapa hal yang perlu perencanaan matang antara lain sebagai berikut:

    • Perencanaan finansial yang meliputi perhitungan modal awal, perhitungan keuntungan, titik balik modal, pemotongan pajak, dan lain sebagainya.
    • Perencanaan lokasi pembuatan produk. Sebaiknya, seluruh proses ini dilakukan pada area yang jauh dari pemukiman penduduk.
    • Perencanaan layout. Sebisa mungkin gunakan bentuk layout hulu ke hilir. Di mana bahan baku datang dekat dengan pintu masuk dan produk jadi dekat dengan pintu keluar.
    • Perencanaan sumber daya manusia. Anda perlu merencanakan penempatan sesuai dengan kebutuhan SDM pada berbagai titik pengolahan.

    2. Pengolahan

    Ketika semua tahap perencanaan telah terlaksana, maka Anda dapat melakukan proses pengolahan. Namun, sebelum melakukan pengolahan secara massal, berikut ini adalah rekomendasi beberapa tahapan pengolahan yang baik:

    • Trial pilot plant. Ini merupakan uji coba pengolahan produk menggunakan miniatur mesin ataupun mesin dengan kapasitas yang lebih kecil dari mesin sewajarnya
    • Trial skala besar. Ketika trial pilot plant telah berhasil dan tidak ada masalah, maka dapat berlanjut dengan melakukan uji coba produk dengan mesin asli. Namun, dalam satu kali proses saja
    • Final production merupakan tahap produksi yang dilakukan ketika seluruh uji coba telah berhasil dan tidak ditemukan masalah yang berarti. Pada tahap ini, bisa dilakukan pengulangan proses atau dengan sistem continous.

    3. Pengendalian dan Perawatan

    Dalam melakukan proses pembuatan produk yang menggunakan banyak alat dan mesin. Tentu saja, peralatan tersebut berpotensi mengalami kerusakan dan menyebabkan terhambatnya proses pembuatan produk. Oleh karena itu, perlu adanya pengendalian dan perawatan mesin secara berkala.

    Perawatan mesin tersebut meliputi pembersihan mesin secara berkala menggunakan desinfektan. Serta pengecekan ornamen mesin, khususnya pada bagian lekukan atau bagian yang disambung dengan baut. Terakhir, melakukan kalibrasi pada mesin-mesin tertentu.

    Contoh Proses Produksi

    Setelah mengetahui banyak tentang proses pembuatan produk, selanjutnya Anda akan mengetahui langsung beberapa contoh proses pembuatan dari sebuah produk seperti berikut:

    1. Proses Pembuatan Santan

    Santan merupakan hasil perasan daging kelapa yang digunakan sebagai bahan dasar memasak berbagai makanan. Belakangan ini banyak tersedia santan dalam kemasan. Nah, berikut adalah tahapan produksinya:

    • Pertama adalah pemilihan buah kelapa yang berkualitas. Kira-kira berusia 8 hingga 12 bulan, karena menghasilkan santan yang gurih dan melimpah.
    • Pengupasan sabut dan batok kelapa menggunakan mesin pemecah, proses ini kerap dinamakan disheilling.
    • Pencucian daging kelapa dengan desinfektan H2O2 menggunakan washing machine.
    • Lalu, proses pemarutan daging kelapa menggunakan alat parut listrik otomatis.
    • Pemerasan parutan kelapa dengan menambahkan air, proses ini dilakukan dengan bantuan mesin pemeras kelapa.
    • Pemanasan santan kelapa dengan menggunakan mesin ultra high temperature dengan suhu 120’C selama 5 detik.
    • Penambahan bahan tambahan pangan pengental dan sebagainya.
    • Pengemasan menggunakan teknik aseptis dengan kemasan tetrapack.

    2. Proses Pembuatan Sosis

    Sosis merupakan makanan olahan daging baik daging ayam maupun daging sapi yang banyak digemari. Berikut ini adalah beberapa tahapan untuk melakukan proses produksi sosis:

    • Pertama pemilihan daging ayam/sapi berkualitas dengan memperhatikan standar kualitas dari peraturan yang berlaku seperti BPOM atau SNI.
    • Pencucian daging menggunakan mesin washer otomatis.
    • Lalu, proses penggilingan daging menggunakan mesin grinder.
    • Pencampuran daging giling menggunakan bahan tambahan. Seperti bumbu, tepung, dan lain sebagainya menggunakan mixer.
    • Menyiapkan selongsong selulosa untuk wadah adonan sosis.
    • Pengisian adonan ke dalam selongsong menggunakan mesin filler.
    • Selanjutnya, memasak dengan metode panggang, penguapan, atau pengukusan.
    • Pendinginan sosis yang telah matang menggunakan blower.
    • Pengemasan sosis ke dalam pengemas plastik.
    • Terakhir, proses pembekuan sosis matang menggunakan blast freezer.

    Sudah Memahami Apa Itu Produksi dan Contohnya?

    Berikut tadi adalah ulasan mengenai pengertian proses pembuatan produk, jenis, tahapan, hingga contohnya. Semoga dengan penjelasan di atas dapat memperdalam wawasan Anda dalam bidang pengolahan, ya!