Hujan terjadi karena air menguap melalui siklusnya dari laut menuju ke langit sampai turun lagi ke permukaan bumi. Saat air hujan menyentuh tanah kering, tercium aroma khas yang disebut petrichor atau petrikor dalam bahasa Indonesia. Fenomena tersebut menyimpan fakta-fakta yang menarik untuk kamu ketahui.
Apa itu Petrichor?

Petrikor adalah fenomena yang terjadi saat air hujan turun ke tanah dan menimbulkan aroma khas. Tanah yang terkena air disini adalah yang masih kering dan belum tersentuh air sebelumnya. Fenomena ini merupakan hasil dari penelitian pada Jurnal Nature, vol. 201, No. 4923 : “Nature of Argillaceous Odour”.
Pada saat proses petrikor terjadi, ada molekul yang terbentuk dari tanah bernama geosmin. Geosmin tersebut berfungsi sebagai bahan yang sudah umum untuk membuat wewangian seperti parfum. Meskipun begitu, petrichor dari hujan yang turun sangat deras tidak baik karena beberapa kandungan molekulnya berbeda.
Bagaimana Petrichor Dapat Terjadi?

Beberapa faktor terlibat dalam proses terbentuknya petrikor. Di antaranya adalah geosmin, ozon, dan minyak pada tumbuhan. Berikut ini adalah penjelasan singkat tentang proses terjadinya petrikor berdasarkan faktor penyebab tersebut.
1. Proses dari Ozon dan Petir
Petir yang menyambar saat hujan turun biasanya menghasilkan oksigen dan nitrogen. Kemudian, kedua zat tersebut menghasilkan nitric oxide (NO) dan ozone (O3). Nah, ozon tersebut bercampur dengan aroma tumbuhan dan terbawa tetesan hujan sehingga membantu proses fenomena pembentukan aroma khas hujan.
2. Geosmin = C12H220
Molekul geosmin berasal dari bakteri yang berasal dari dalam tanah. Molekul tersebut menghasilkan aroma khas dari bakteri aktinomiset. Sama halnya dengan ozon yang berhubungan langsung dengan tetesan air, geosmin juga mengeluarkan aroma karena tetesan tersebut.
Berdasarkan Kepala Mikrobiologi Molekuler di John Innes Centre, Professor Mark Buttner, menyatakan bahwa aroma tanah yang basar dan tercium itu adalah berasal dari molekul yang terproses dari bakteri tertentu.
Pada dasarnya, tanah mengandung banyak sekali bakteri yang dapat mendukung proses terbentuknya petrikor.
3. Minyak dari Tumbuhan
Pada saat musim kemarau atau kering, tumbuhan biasanya menghasilkan senyawa tertentu atau minyak tumbuhan. Senyawa ini biasanya berada pada tanah dan bebatuan sekitarnya. Kemudian, pada proses petrichor, senyawa tersebut keluar ke udara akibat terkena tetesan air hujan.
Minyak tumbuhan tersebut mengandung asam lemak jenuh yang alami dan asam lemak yang mengandung omega 7 atau stearic acid dan palmitic acid.
Asal-usul Istilah Petrichor

Istilah petrichor pertama kali tercetus pada tahun 1964 setelah penelitian oleh dua orang yang bernama Richard G. Thomas dan Isabel ‘Joy’ Bear. Kedua ahli ini pernah berada pada penelitian Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO).
Richard dan Isabel pertama kali menerbitkan Journal of Nature pada 7 Maret 1964 dengan judul “Nature of Argillaceous Odor”. Kata petrichor berasal dari bahasa Yunani “petros” yang memiliki arti “batu” sedangkan “ichor” berarti “cairan yang berasal dari pembuluh darah dewa-dewa”.
Pada penelitian tersebut, kedua ilmuwan tadi menempatkan batu di luar ruangan yang kondisinya panas dan kering. Setelah itu, mereka melakukan penyulingan dengan uap sehingga menimbulkan minyak berwarna kuning pada batu dan tanah.
Minyak kuning dan tanah tersebut terurai karena terkena uap air. Kemudian, minyak keluar sebagai hasil reaksi tadi menjadi asal munculnya istilah petrikor.
5 Fakta Tentang Petrichor
Berdasarkan penelitian para ahli terhadap fenomena aroma khas tanah ketika hujan tersebut mengungkap beberapa fakta yang menarik berikut ini.
1. Aroma Berasal dari Aerosol
Jika ada yang mengatakan bahwa aroma hujan yang kita hirup adalah aerosol, maka hal tersebut merupakan fakta. Alasannya, rintik air hujan yang turun akan menimbulkan percikan pada partikel tertentu pada tanah saat terkena air. Partikel tersebut bernama aerosol.
Aerosol akan mengeluarkan bau khas karena faktor geosmin. Saat fenomena petrikor terjadi, aerosol terbawa angin dan terhirup oleh indera penciuman manusia.
2. Aroma Menghilang Saat Hujan Reda
Faktanya, ketika hujan sudah reda, maka petrichor pun ikut hilang. Penyebabnya adalah aktivitas bakteri actinobacteria yang mulai melambat. Mikroorganisme ini menjadi tidak aktif sehingga tidak mampu menghasilkan geosmin.
3. Actinobacteria
Bakteri actinobacteria adalah faktor utama dalam proses terjadinya petrichor. Salah satu ahli bernama Cullen Buie, dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) menyatakan hal tersebut. Bakteri itu sendiri terdapat di tanah-tanah baik di wilayah perkotaan, pedesaan bahkan, di sekitar daerah laut.
4. Kelembaban Udara
Kelembaban udara ternyata juga berperan penting dalam proses munculnya petrikor. Musim kemarau adalah penyebab utama kekeringan yang terjadi pada tanah dan udara. Dalam kondisi tanah dan udara yang kering, aktivitas penguraian actinobacteria melambat.
Sebaliknya, ketika turun hujan, maka udara akan menjadi lembab sehingga membantu percepatan proses bakteri-bakteri yang menimbulkan geosmin untuk menghasilkan aroma khas.
5. Peran Tumbuhan
Tumbuhan dapat menghasilkan minyak tertentu yang membantu proses pembentukan petrichor. Saat musim kemarau, tumbuhan dapat memproduksi minyak. Hasilnya akan terlepas ke udara saat hujan tiba. Oleh karena itu, terjadilah proses penghasilan aroma khas tersebut saat hujan tiba.
Pluviophile: Sebutan Si Pecinta Hujan
Apa itu pluviophile? Hal itu merupakan sebutan untuk orang yang menyukai hujan. Banyak orang yang menantikan musim hujan tiba karena dapat mencium aroma khas atau petrichor. Para pluviophile akan merasa sangat senang ketika hujan turun. Salah satu alasannya adalah karena aroma tersebut menenangkan pikiran mereka.
Berikut ini beberapa ciri pluviophile.
1. Kehujanan Bukan Masalah Besar
Berdasarkan Thought Catalog, para pecinta hujan tidak masalah apabila mereka harus kehujanan. Bahkan, jika kondisi tersebut membuat mereka sakit sekalipun. Pasalnya, mereka suka dengan udara yang dingin dan sensari tetesan air hujan yang jatuh ke kulit.
2. Suka Aroma Hujan
Para pluviophile tentunya sangat menyukai fenomena petrichor. Saat hujan turun, aroma khasnya akan menimbulkan rasa nyaman dan segar. Tidak hanya itu, beberapa diantara mereka bahkan membeli parfum yang memiliki aroma hujan.
3. Suara Hujan adalah Favorit Pluviophile
Seperti halnya musik yang menangkan, bagi si pecinta hujan, suara air yang turun membasahi bumi juga menenangkan. Baik hujan deras maupun gerimis, keduanya memberikan kenyamanan tersendiri bagi mereka.
Apakah Kamu Suka Petrichor?
Meskipun beberapa molekul petrikor tidak berbahaya bagi manusia, namun ada pula orang yang tidak menyukainya. Namun, orang menyukai petrikor karena memiliki aroma unik, terlebih lagi setelah masa kering atau kemarau yang panjang. Tidak heran jika banyak ilmuwan dan ahli parfum membuat parfum dari aroma petrikor.Jadi, apakah menurutmu, kamu juga seorang pluviophile yang selalu menantikan petrichor saat hujan turun tiba? Lantas, apakah kamu juga ikut merasakan ketenangan dan kenyamanan ketika tetesan air itu mulai jatuh ke permukaan tanah? Tentu bagi setiap orang, ada makna masing-masing dari turunnya hujan.