Tag: contoh puisi himne

  • 10 Contoh Puisi Himne Bahasa Indonesia

    10 Contoh Puisi Himne Bahasa Indonesia

    Apa itu puisi himne? Merupakan karya masih tergolong sebagai puisi baru. Kemunculan puisi tersebut terjadi pada masa kerajaan paling besar yang ada di dunia seperti Romawi dan Yunani. Ini karena pada waktu itu, himne merupakan sesuatu yang dianggap sakral. Agar makin paham, berikut penjelasan seputar pengertian hingga contoh puisi himne.

    Pengertian Puisi Baru

    Puisi baru cenderung lebih bebas dan tidak terikat oleh aturan-aturan seperti pada puisi lama. Misalnya lebih bebas dari segi jumlah baris, jumlah suku kata, serta sajaknya. Puisi baru juga disebut puisi modern serta kemunculannya hampir sama dengan puisi kontemporer. 

    Adapun beberapa ciri puisi baru antara lain:

    • Sudah diketahui nama pengarangnya.
    • Puisi baru mempunyai persajakan lebih bebas.
    • Bisa dalam bentuk lisan maupun tulisan.
    • Setiap baris memiliki gatra atau kesatuan sintaksis.
    • Masing-masing gatra terdapat dua kata, namun juga terkadang bisa mencapai 4 sampai 5 suku kata.
    • Banyak memakai pola sajak syair dan pantun, meskipun ada juga pola lainnya.
    • Kebanyakan puisi empat seuntai.
    • Memakai gaya bahasa atau majas yang dinamis (berubah-ubah).

    Seputar Puisi Himne

    Umumnya, puisi berjenis himne ini isinya tentang pujian terhadap Dewa, Tuhan, pahlawan, maupun cinta tanah air. Untuk kata himne atau hym asalnya dari bahasa Yunani “hymnos”. Kata tersebut mempunyai arti ‘gita puja’ atau ‘lagu pujian’.

    Himne sering dipakai sebagai puisi religius serta doa kepada Tuhan. Biasanya seseorang membuat puisi berjenis himne karena ditujukan kepada seseorang yang memiliki jasa sangat penting, seperti guru.

    Contoh Puisi Himne

    Berikut beberapa contoh puisi himne penuh makna:

    1. Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api

    Berikut merupakan contoh puisi himne dari WS Rendra yang dibacakan pada Hari Kebangkitan Nasional tahun 1990.

    Bagaimana mungkin kita bernegara
    Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya
    Bagaimana mungkin kita berbangsa
    Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup bersama?
    Itulah sebabnya
    Kami tidak ikhlas menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris
    dan pada akhirnya kami musnahkan kota tercinta itu sehingga menjadi lautan api
    Kini batinku kembali mengenang udara panas yang bergetar dan menggelombang,
    bau asap, bau keringat, suara ledakan dipantulkan mega jingga, dan kaki langit berwarna kesumba

    Kami berlaga
    memperjuangkan kelayakan hidup umat manusia.
    Kedaulatan hidup bersama adalah sumber keadilan merata yang bisa dialami dengan nyata.
    Mana mungkin itu bisa terjadi
    di dalam penindasan dan penjajahan
    Manusia mana
    Akan membiarkan keturunannya hidup tanpa jaminan kepastian?

    Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah
    Hidup yang diperkembangkan
    dan hidup yang dipertahankan
    Itulah sebabnya kami melawan penindasan
    Kota Bandung berkobar menyala-nyala tapi kedaulatan bangsa tetap terjaga

    Kini aku sudah tua
    Aku terjaga dari tidurku
    di tengah malam di pegunungan

    Bau apakah yang tercium olehku?

    Apakah bau asam medan laga tempo dulu yang dibawa oleh mimpi kepadaku?
    Ataukah ini bau limbah pencemaran?

    Gemuruh apakah yang aku dengar ini?
    Apakah deru perjuangan masa silam di tanah periangan?
    Ataukah gaduh hidup yang rusuh karena dikhianati dewa keadilan?
    Aku terkesiap. Sukmaku gagap. Apakah aku dibangunkan oleh mimpi?
    Apakah aku tersentak oleh satu isyarat kehidupan?
    Di dalam kesunyian malam
    Aku menyeru-nyeru kamu, putera-puteriku!
    Apakah yang terjadi?

    Darah teman-temanku
    Telah tumpah di Sukakarsa
    Di Dayeuh Kolot
    Di Kiara Condong
    Di setiap jejak medan laga. 

    Kini kami tersentak, terbangun bersama.
    Putera-puteriku, apakah yang terjadi?
    Apakah kamu bisa menjawab pertanyaan kami?

    Wahai teman-teman seperjuanganku yang dulu,
    Apakah kita masih sama-sama setia membela keadilan hidup bersama?

    Manusia dari setiap angkatan bangsa
    Akan mengalami saat tiba-tiba terjaga
    Tersentak dalam kesendirian malam yang sunyi
    Dan menghadapi pertanyaan zaman:
    Apakah yang terjadi?
    Apakah yang telah kamu lakukan?
    Apakah yang sedang kamu lakukan?
    Dan, ya, hidup kita yang fana akan mempunyai makna
    Dari jawaban yang kita berikan.

    2. Adaku Tiada

    Berikut ini contoh puisi himne karya Candra Malik tentang puisi curahan hati hamba kepada Tuhannya.

    Allah, aku kesepian.
    Dalam sendiriku, yang ada Engkau saja,
    Di mana aku, tak perlu lagi ditanya.
    Di mana Engkau, tak usah lagi dijawab

    Sepiku Sendiri-Mu, Sepi-Mu sendiriku.

    Allah, aku sunyi.
    Dalam diamku, tiada ucapan selain Nama-Mu.
    Tak ada yang sentuh heningku, jangkau Sepi-Mu.
    Aku dalam selaput Rahasia Dikau.

    Allah, aku sedih.
    Dalam pedihku, perpisahan kuratapi.
    Dalam perihku, perjumpaan kudambai.
    Duka ini abadi, luka ini semakin jadi.

    Kurindu rindu-Mu, kucinta cinta-Mu.

    Allah, aku binasa.
    Daku tiada ada selain sirna.
    Diriku lenyap, Diri-Mu senyap.
    Musnah sudah segala wajah.

    Maha Agung Engkau Paduka,
    Zat Yang Awal Kekal Ada.

    3. Diponegoro

    Contoh puisi himne berikut ini merupakan karya Chairil Anwar. Puisi ini mengisahkan salah satu pahlawan nasional terkenal di Indonesia yaitu Diponegoro yang tak pernah gentar menghadapi para penjajah.

    Di masa pembangunan ini
    Tuan hidup kembali

    Dan bara kagum menjadi api

    Di depan sekali tuan menanti
    Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
    Pedang di kanan, keris di kiri
    Berselempang semangat yang tak bisa mati

    MAJU

    Ini barisan tak bergenderang-berpalu
    Kepercayaan tanda menyerbu.

    Sekali berarti.
    Sudah itu mati.

    MAJU

    Bagimu Negeri
    Menyediakan api.

    Punah di atas menghamba
    Binasa ditindas ditindak

    Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
    Jika hidup harus merasai

    Maju.
    Serbu.
    Serang.
    Terjang.

    4. Tak Pernah Pergi

    Selanjutnya ada puisi karya Candra Malik dan menjadi salah satu karya terbaik yang penuh makna.

    Hanya namamu kupanggil.
    Cinta dan rindu menggigil.
    Engkau adalah jiwa itu sendiri,
    engkau bagiku badan ruhani.

    Segala yang t’lah kuserahkan,
    menjelma sebagai kesunyian.
    Darimu aku belajar tentang sepi,
    darimu aku belajar menyendiri.

    Derita dan bahagia adalah kini,
    terasa sama saja di dalam hati.
    Hidup adalah tentang sekarang,
    tentang datang, tentang pulang.

    Engkau t’lah menanam dasar,.
    Biarlah ini yang ku genggam tegar.
    Engkau tak pernah pergi,
    selalu hadir dengan wujud suci.

    Bagiku tiada yang tiba-tiba,
    dan bagiku Dia Maha Seketika.
    Perjalanan adalah pengasuhan,
    dan engkau adalah pengalaman

    5. Do’a

    Selanjutnya ada contoh puisi himne karya Taufiq Ismail. Beliau adalah salah satu sastrawan terkenal yang karya-karyanya masih menggema hingga sekarang.

    Tuhan kami
    Telah nista kami dalam dosa bersama
    Bertahun membangun kultus ini
    Dalam pikiran yang ganda
    Dan menutupi hati nurani
    Ampunilah kami
    Ampunilah
    Amiin

    Tuhan kami
    Telah terlalu mudah kami
    Menggunakan nama-Mu bertahun di negeri ini
    Semoga Kau rela menerima kembali
    Kami dalam barisanMu
    Ampunilah kami
    Ampunilah
    Amiin

    6. Semua Cintaku Hilang

    Berikut contoh puisi himne lainnya.

    Gosok
    Semua cintaku hilang
    Saya pulang ke rumah untuk Anda
    Seperti sebelumnya

    Anda menyalakan lilin
    Nyalakan jendela di malam yang gelap
    Melambai perlahan
    Sabar, selalu setia.

    Kekasihku satu-satunya
    Saya manusia
    Rindu rasa
    Saya rindu

    Di mana kamu
    Ok tidak apa-apa
    Suara lemah
    Hanya kata-kata yang membuat hati

    Kamu cemburu
    Kamu galak
    Dapatkan saya di cakar Anda
    Pertukaran hasil tangkapan gratis

    Ikuti saya tujuan gila
    Sayangnya, berulang-ulang
    Kamu aneh dan menarik
    Gadis serupa di balik tirai

    Cintamu tenang
    Sendiri
    Maka waktu bukan giliranku
    Hari yang mati bukan temanku …

    7. Tuhan

    Berikut contoh puisi himne lainnya.

    Tuhan kami
    Itu merupakan penghinaan bagi dosa-dosa kita bersama
    Selama bertahun-tahun membangun sekte ini
    Dalam pikiran ganda

    Dan tutupi hati nurani Anda
    Maafkan kami
    Untuk memaafkan
    Amin

    Tuhan kami
    Itu terlalu mudah bagi kami.
    Menggunakan nama Anda selama di negara ini
    Saya harap Anda siap menerimanya lagi

    Kami berada di garis Anda
    Maafkan kami
    Untuk memaafkan
    Amin

    7. Sang Maha Pengampun

    Berikut contoh puisi himne lainnya.

    Berkilah lah kami, para manusia lalai.
    Bersahut-sahutan berebut dosa

    Kau hanya diam
    Bergeming
    Berserulah kami, para manusia hina.

    Tak sadar menimbun dosa
    Kau hanya diam

    Bergeming

    Tak ada urat malu yang kami punya,

    Hanya ada urat serakah

    Saling menjegal

    Saling menghina

    Tapi Tuhan, apa yang kau kan perbuat?
    Tak ada
    Kau tetap bergeming
    Menanti
    Pada suara panggilan kasih-Mu

    Terlantun
    Pada pengeras suara
    Allahu Akbar-Allahu Akbar
    Tercenung ku pada nestapa

    Sehina inikah makhluk-Mu
    Yang nyaris selalu lupa
    Ataukah justru sengaja?
    Tapi kau tetap bergeming

    Allahummaghfirli
    Allahummaghfirli
    Dan kau mengampuni kami

    8. Sucikan Jiwamu di 1/3 Malam

    Berikut contoh puisi himne lainnya.

    Malam yang dingin tidak menghentikan waktu
    Bagi pencari surga jiwa-jiwa manusia yang berkarat
    Tidak akan cukup dicuci dengan ibadah bumi

    Raihlah ibadah langitmu
    Ketuklah pintunya di saat-saat itu
    Di saat orang orang menghamparkan mimpinya
    Di saat insan sedang lupa pada janjinya

    Sucikan jiwamu di sepertiga malam
    Rasakan Jibril yang mencatat amal itu
    Ceritalah-ceritalah tumpahkan semua

    Bersihkan semua luka-luka itu
    Kesombongan itu wahai Jibril
    Lihatlah aku, aku rindu padamu
    Aku ingin engkau menyapaku Jibril

    9. Padamu Jua

    Contoh puisi himne berikut ini merupakan karya Amir Hamzah di tahun 1927. Puisi tersebut bertujuan untuk menggambarkan hubungan di antara hamba dengan Tuhannya.

    Habis kikis
    Segala cintaku hilang terbang
    Pulang kembali aku padamu
    Seperti dahulu

    Kaulah kandil gemerlap
    Pelita jendela di malam gelap
    Melambai pulang perlahan
    Sabar, setia, selalu

    Satu kasihku
    Aku manusia
    Rindu rasa
    Rindu rupa

    Di mana engkau
    Rupa tiada
    Suara sayup
    Hanya kata merangkai hati

    Engkau cemburu
    Engkau ganas
    Mangsa aku dalam cakarmu
    Bertukar tangkap dengan lepas

    Nanar aku, gila sasar
    Sayang berulang padamu jua
    Engkau pelik menarik ingin
    Serupa darah dibalik tirai

    Kasihku sunyi
    Menunggu seorang diri
    Lalu waktu—bukan giliranku
    Mati hari—bukan kawanku

    10. Ketika Engkau Bersembahyang

    Berikutnya ada puisi karangan Cak Nun atau Emha Ainun Najib. Puisi ini menggambarkan saat-saat seorang muslim sedang menjalankan ibadah shalat.

    Ketika engkau bersembahyang
    Oleh takbirmu pintu langit terkuakkan
    Partikel udara dan ruang hampa bergetar
    Bersama-sama mengucapkan allahu akbar

    Bacaan Al-Fatihah dan surah
    Membuat kegelapan terbuka matanya
    Setiap doa dan pernyataan pasrah
    Membentangkan jembatan cahaya

    Tegak tubuh alifmu mengakar ke pusat bumi
    Ruku’ lam badanmu memandangi asal-usul diri
    Kemudian mim sujudmu menangis
    Di dalam cinta Allah hati gerimis

    Sujud adalah satu-satunya hakekat hidup
    Karena perjalanan hanya untuk tua dan redup
    Ilmu dan peradaban takkan sampai
    Kepada asal mula setiap jiwa kembali

    Maka sembahyang adalah kehidupan ini sendiri
    Pergi sejauh-jauhnya agar sampai kembali
    Badan di peras jiwa dipompa tak terkira-kira
    Kalau diri pecah terbelah, sujud mengutuhkannya

    Sembahyang di atas sajadah cahaya
    Melangkah perlahan-lahan ke rumah rahasia
    Rumah yang tak memiliki ruang serta tak ada waktunya
    Yang tak bisa dikisahkan kepada siapa pun

    Oleh-olehmu dari sembahyang adalah sinar wajah
    Pancaran yang tak terumuskan oleh ilmu fisika
    Hatimu sabar mulia, kaki seteguh batu karang
    Dadamu mencakrawala, seluas ‘arasy sembilan puluh sembilan

    Sudah Tahu Contoh Puisi Himne?

    Sekian pembahasan seputar contoh puisi himne. Kesimpulannya, ini merupakan puisi modern yang isinya tentang hal-hal sakral seperti agama, orang-orang berjasa, dan sebagainya. Semoga bermanfaat.