Tag: Hikayat

  • 6 Struktur Hikayat: Pengertian, Ciri hingga Contohnya

    6 Struktur Hikayat: Pengertian, Ciri hingga Contohnya

    Karya sastra di Indonesia tentu sangat banyak jumlahnya dan terbagi ke dalam berbagai jenis. Salah satunya adalah hikayat atau hikayah. Meskipun jenis karya sastra yang satu ini sudah ada sejak dulu, nyatanya masih banyak orang yang belum mengenal apa itu hikayah.

    Nah, untukmu yang ingin tahu lebih banyak tentang hikayah, mulai dari pengertian, ciri, struktur, hingga contohnya, simak ulasan selengkapnya dalam artikel di bawah ini, ya!

    Pengertian Hikayat

    Bagi sebagian orang, hikayah mungkin saja menjadi istilah yang tidak asing terdengar. Secara harfiahnya, hikayat mempunyai arti yang sama dengan kenang-kenangan. Jadi, maksudnya adalah suatu karya tulis sebagai kenangan atau bisa juga sebagai peninggalan seorang pengarang kepada pembacanya.

    Adapun dalam bahasa Arab, hikayat sendiri berasal dari kata hikayah yang berarti kisah, dongeng, atau cerita. Hikayah menjadi dongeng yang umumnya diceritakan dalam bahasa Melayu. Namun, kebanyakan tema yang ditulis adalah latar zaman dahulu, seperti kisah kerajaan.

    Hal inilah yang kemudian membuat hikayah disebut juga sebagai prosa lama dalam bahasa Melayu yang sekarang ini sudah jarang ditemukan. Layaknya dongeng-dongeng lain, prosa lama tersebut juga berisi tentang keajaiban.

    Kemudian, dilihat dari penuturannya, kisah pada prosa lama ini merupakan hasil dari imajinasi penulis, sehingga hikayah dikategorikan sebagai cerita fiksi yang kisah keseluruhannya hanya sebatas khayalan saja. Dengan kata lain, kemunculan cerita ini hanya bertujuan sebagai penghibur.

    Meskipun kebanyakan hikayah ditemukan dalam bahasa Melayu, namun ada juga beberapa hikayah yang tertulis dalam Bahasa Indonesia. Contohnya seperti hikayah tentang Sahabat Rasul.

    Ciri-Ciri Hikayat

    Berikut ini adalah berbagai ciri-ciri hikayah yang menarik untuk diketahui:

    1. Menggunakan Bahasa Melayu Klasik

    Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bahwa kebanyakan hikayah ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu, khususnya Melayu Klasik. Sebab, cerita di dalamnya memang cenderung menggambarkan kisah-kisah zaman dahulu.

    Hal ini jugalah yang melatarbelakangi kisah dalam hikayah ditulis dengan penggunaan bahasa dan pemilihan diksi dari bahasa klasik. Penggunaan bahasa Melayu Klasik ini  juga membuat hikayah menjadi tampak unik dengan nilai seni yang tinggi.

    2. Tema Kerajaan

    Secara umum, alur dan juga latar belakang pengambilan kisah-kisah dalam hikayah lebih banyak ditemukan dalam tema kerajaan. Dengan gaya bahasa klasik, kisah tersebut semakin menambah nuansa lawas, namun tetap menarik untuk dibaca, karena mempunyai nilai etnik yang berbeda.

    3. Statis

    Hikayat termasuk ke dalam jenis karya sastra yang bersifat statis atau tetap. Jadi, selama penulisan dan penggambaran keseluruhan kisah di dalam hikayah tidak mempunyai banyak perubahan. 

    Makanya, saat kamu membaca hikayah, maka akan menemukan kisah, unsur intrinsik, dan berbagai hal lain dalam hikayah yang memiliki kemiripan satu sama lain.

    4. Tradisional

    Pemilihan tema karya sastra hikayah tidak pernah jauh dari kisah kerajaan. Begitu pula unsur-unsur intrinsik di dalamnya. Jadi, setiap isi dalam hikayah sudah pasti selalu mengusung tradisi dan juga budaya masyarakat pada masanya.

    Seluruh tradisi itu tergambarkan dengan sangat baik pada cerita-cerita yang ditulis sebagai hikayah. 

    Tak hanya itu saja, hikayah juga sarat akan makna serta amanat yang bisa dicontoh oleh para pembacanya. Sebab, konflik yang muncul dalam kisah tersebut kebanyakan menggambarkan kebaikan yang menang melawan keburukan.

    5. Bersifat Edukasi

    Walaupun tema yang diangkat berkaitan dengan kerajaan dan kehidupan masyarakat di masa lampau. Namun, tidak menutup kemungkinan dalam sebuah karya sastra hikayah terdapat amanat baik yang bisa menjadi pembelajaran bagi para pembacanya.

    Hal ini karena sejatinya hikayah juga mempunyai banyak unsur yang mampu mendidik pembaca agar senantiasa melakukan kebajikan. Kemudian, mempunyai sikap tenggang rasa terhadap sesama, saling menghargai antar manusia, mencintai sesama manusia, dan nilai-nilai kehidupan lain yang bisa saja kamu temukan dalam sebuah teks hikayah.

    Kaidah Kebahasaan Teks Hikayat

    Apabila dilihat dari segi bahasa, hikayah memang memiliki ciri khusus, yakni menggunakan bahasa Melayu Klasik dengan banyak tambahan kata penghubung. Berikut adalah tiga kaidah kebahasaan dalam teks hikayah yang perlu dipahami.

    1. Penggunaan Konjungsi

    Kata hubung atau disebut juga dengan konjungsi akan banyak ditemukan dalam teks hikayah. Penggunaan konjungsi ini umumnya berada di awal kalimat. Secara umum, penggunaan konjungsi pada teks hikayah bertujuan untuk membuat alur cerita menjadi lebih menarik.

    Hal ini terjadi karena pada setiap kalimat ataupun kata akan terhubung dengan baik. Beberapa contoh konjungsi yang banyak digunakan dalam teks hikayah, antara lain serta, maka, dan sebagainya.

    2. Kata Arkais

    Kata arkais adalah jenis kata yang banyak digunakan pada teks-teks zaman dahulu. Akan tetapi, perlu dipahami juga bahwa kata arkais cenderung sulit dimengerti bagi orang-orang zaman sekarang. Hal ini karena kata arkais lebih banyak digunakan untuk awalan sebagai istilah.

    Meski begitu, penggunaan kata arkais dalam teks hikayat tetap banyak dijumpai. Jadi, para pembaca bisa mengetahui berbagai kosakata arkais yang populer digunakan pada zaman dahulu.

    3. Gaya Bahasa

    Gaya bahasa adalah suatu teknik yang digunakan untuk memanfaatkan kekayaan bahasa. Tujuannya sudah pasti adalah untuk memperluas karya sastra. Nah, dalam teks hikayah ini, kamu akan sering menemukan penggunaan gaya bahasa tersebut.

    Hal ini karena dengan adanya gaya bahasa, sebuah teks akan menjadi lebih menarik sekaligus variatif. Pada akhirnya, pembaca pun akan merasa lebih senang dengan adanya berbagai macam gaya bahasa tersebut.

    Struktur Hikayat

    Setidaknya terdapat enam struktur hikayah yang perlu dipahami dengan baik. Berikut ini adalah penjelasan selengkapnya tentang keenam struktur hikayah tersebut:

    1. Abstraksi

    Abstraksi merupakan struktur di dalam teks hikayah yang berisi tentang sebuah inti cerita. Jadi, dari inti cerita tersebut nantinya akan dikembangkan kembali menjadi beberapa jenis peristiwa. Umumnya, bagian abstraksi ini juga kerap disebut dengan gambaran yang ada di dalam cerita.

    Adapun dalam cerita hikayah, proses penyusunan abstraksi diperbolehkan untuk tidak menggunakannya. Akan tetapi, perlu dipahami kembali bahwa abstraksi dapat menjadi suatu permulaan yang sangat penting. Khususnya dalam membangun sebuah cerita hikayah yang menarik.

    2. Orientasi

    Orientasi merupakan bagian struktur yang ada di dalam teks hikayah, di mana berisi tentang keterangan waktu, suasana, dan juga tempat yang ada di dalam cerita tersebut. Dengan adanya orientasi, maka suasana yang terjadi dalam sebuah cerita dapat disusun dengan lebih dramatis.

    Jadi, diharapkan para pembacanya dapat ikut terbawa suasana sekaligus merasakan hal yang sama. Biasanya, cerita hikayah cenderung tidak pernah berubah, walaupun diceritakan secara turun temurun.

    3. Komplikasi

    Struktur dalam teks hikayat yang selanjutnya adalah komplikasi, di mana bagian ini berisi tentang urutan dalam berbagai peristiwa yang kemudian dikaitkan sesuai dengan sebab dan akibatnya.

    Pada bagian komplikasi, terdapat berbagai macam konflik yang dihadirkan oleh pengarang. Konflik inilah yang kemudian akan terjadi secara terus menerus sesuai dengan alur ceritanya. Tak hanya itu, pada bagian komplikasi juga diperoleh karakter tokoh yang memiliki berbagai macam keistimewaan.

    4. Evaluasi

    Bagian evaluasi dalam teks hikayah memuat berbagai macam konflik yang kemudian mulai mendapatkan berbagai resolusi sekaligus penyelesaian yang dilakukan oleh tokoh utama. 

    Keberadaan evaluasi dalam teks hikayah menunjukkan bahwa cerita tersebut sudah mendekati akhir cerita. Oleh karena itulah, bagian evaluasi menjadi salah satu struktur yang penting. Sebab, sering kali bagian ini memuat berbagai macam poin yang berguna untuk kehidupan manusia sekarang ini.

    5. Resolusi

    Resolusi dalam teks hikayah berisi tentang berbagai macam solusi dari suatu masalah yang dialami oleh tokoh atau karakter tertentu dalam cerita, seperti yang sudah dijelaskan pada poin sebelumnya.

    Sering kali bagian resolusi ini akan ditampilkan dari pemikiran pribadi si penulis cerita. Umumnya, bagian ini penulis buat untuk menyampaikan amanah kepada pembacanya.

    6. Koda

    Koda merupakan bagian akhir dalam penulisan teks hikayah dan kerap disebut juga sebagai kesimpulan. Dalam struktur koda, ada banyak nilai dan hikmah yang bisa diperoleh dan tentu saja sangat bermanfaat bagi para pembaca.

    Contoh Teks Hikayat

    Adapun beberapa contoh teks hikayah berjudul “Perkara Si Bungkuk dan Si Panjang” yang bisa kamu baca adalah sebagai berikut:

    Hatta maka berapa lamanya Masyhudulhakk pun besarlah. Kalakian maka bertambah-tambah cerdiknya dan akalnya itu. Maka pada suatu hari adalah dua orang laki-istri berjalan.

    Maka sampailah ia kepada suatu sungai. Maka dicaharinya perahu hendak menyebrang, tiada dapat perahu itu. Maka ditantinya kalau-kalau ada orang lalu berperahu. Itu pun tiada juga ada lalu perahu orang.

    Maka ia pun berhentilah di tebing sungai itu dengan istrinya. Sebermula adapun istri orang itu terlalu baik parasnya.

    Syahdan maka akan suami perempuan itu sudah tua, lagi bungkuk belakangnya. Maka pada sangka orang tua itu, air sungai itu dalam juga.

    Katanya, “Apa upayaku hendak menyeberang sungai ini?”

    Maka ada pula seorang Bedawi duduk di seberang sana sungai itu. Maka kata orang itu, “Hai tuan hamba, seberangkan apalah kiranya hamba kedua ini, karena hamba tiada dapat berenang; sungai ini tidak hamba tahu dalam dangkalnya.”

    Setelah didengar oleh Bedawi kata orang tua bungkuk itu dan serta dilihatnya perempuan itu baik rupanya, maka orang Bedawi itu pun sukalah, dan berkata di dalam hatinya, “Untunglah sekali ini!”

    Maka Bedawi itu pun turunlah ia ke dalam sungai itu merendahkan dirinya, hingga lehernya juga ia berjalan menuju orang tua yang bungkuk laki-istri itu.

    Maka kata orang tua itu, “Tuan hamba seberangkan apalah hamba kedua ini.”

    Maka kata Bedawi itu, “Sebagaimana hamba hendak bawa tuan hamba kedua ini? Melainkan seorang juga dahulu maka boleh, karena air ini dalam.”

    Maka kata orang tua itu kepada istrinya, ”Pergilah diri dahulu.” Setelah itu, maka turunlah perempuan itu ke dalam sungai dengan orang Bedawi itu.

    Arkian maka kata Bedawi itu, ”Berilah barang-barang bekal-bekal tuan hamba dahulu, hamba seberangkan.” Maka diberi oleh perempuan itu segala bekal-bekal itu.

    Setelah sudah maka dibawanyalah perempuan itu diseberangkan oleh Bedawi itu. Syahdan maka pura-pura diperdalamnya air itu, supaya dikata oleh si Bungkuk air itu dalam.

    Maka sampailah kepada pertengahan sungai itu, maka kata Bedawi itu kepada perempuan itu, ”Akan tuan ini terlalu elok rupanya dengan mudanya. Mengapa maka tuan hamba berlakikan orang tua bungkuk ini? Baik juga tuan hamba buangkan orang bungkuk itu, agar supaya tuan hamba, hamba ambil, hamba jadikan istri hamba.”

    Maka berbagai-bagailah katanya akan perempuan itu.

    Maka kata perempuan itu kepadanya,”Baiklah, hamba turutlah kata tuan hamba itu.” Maka apabila sampailah ia ke seberang sungai itu, maka keduanya pun mandilah, setelah sudah maka makanlah ia keduanya segala perbekalan itu.

    Maka segala kelakuan itu semuanya dilihat oleh orang tua bungkuk itu dan segala hal perempuan itu dengan Bedawi itu. Kalakian maka heranlah orang tua itu. Setelah sudah ia makan, maka ia pun berjalanlah keduanya.

    Setelah dilihat oleh orang tua itu akan Bedawi dengan istrinya berjalan, maka ia pun berkata-kata dalam hatinya, ”Daripada hidup melihat hal yang demikian ini, baiklah aku mati.” Setelah itu maka terjunlah ia ke dalam sungai itu.

    Maka heranlah ia, karena dilihatnya sungai itu airnya tiada dalam, maka mengarunglah ia ke seberang, lalu diikutinya Bedawi itu. Dengan hal yang demikian itu, maka sampailah ia kepada dusun tempat Masyhudulhakk itu. Maka orang tua itu pun datanglah mengadu kepada Masyhudulhakk.

    Setelah itu, maka disuruh oleh Masyhudulhakk panggil Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun datanglah dengan perempuan itu. Maka kata Masyhudulhakk, ”Istri siapa perempuan ini?”

    Maka kata Bedawi itu, ”Istri hamba perempuan ini. Dari kecil lagi ibu hamba pinangkan; sudah besar dinikahkan dengan hamba.” Maka kata orang tua itu, ”Istri hamba, dari kecil nikah dengan hamba.”

    Maka dengan demikian jadi bergaduhlah mereka itu.

    Syahdan maka gemparlah. Maka orang pun berhimpun, datang melihat hal mereka itu ketiga. Maka bertanyalah Masyhudulhakk kepada perempuan itu, ”Berkata benarlah engkau, siapa suamimu antara dua orang laki-laki ini?”

    Maka kata perempuan celaka itu, ”Si Panjang inilah suami hamba.” Maka pikirlah Masyhudulhakk, ”Baik kepada seorang-seorang aku bertanya, supaya berketahuan siapa salah dan siapa benar di dalam tiga orang mereka itu.”

    Maka diperjauhkannyalah laki-laki itu keduanya. Arkian maka diperiksa pula oleh Masyhudulhakk. Maka kata perempuan itu, ”Si Panjang itulah suami hamba.” Maka kata Masyhudulhakk, ”Jika sungguh ia suamimu siapa mentuamu laki-laki dan siapa mentuamu perempuan dan di mana tempat duduknya?”

    Maka tiada terjawab oleh perempuan celaka itu. Maka disuruh oleh Masyhudulhakk perjauhkan.

    Setelah itu, maka dibawa pula si Panjang itu. Maka kata Masyhudulhakk, ”Berkata benarlah engkau ini. Sungguhkan perempuan itu istrimu?”

    Maka kata Bedawi itu, ”Bahwa perempuan itu telah nyatalah istri hamba; lagi pula perempuan itu sendiri sudah berikrar, mengatakan hamba ini tentulah suaminya.”

    Syahdan maka Masyhudulhakk pun tertawa, seraya berkata, ”Jika sungguh istrimu perempuan ini, siapa nama mentuamu laki-laki dan mentuamu perempuan, dan di mana kampung tempat ia duduk?” Maka tiadalah terjawab oleh laki-laki itu.

    Maka disuruh oleh Masyhudulhakk jauhkan laki-laki Bedawi itu. Setelah itu, maka dipanggilnya pula orang tua itu. Maka kata Masyhudulhakk, ”Hai orang tua, sungguhlah perempuan itu istrimu sebenar-benarnya?”

    Maka kata orang tua itu, ”Daripada mula awalnya.” Kemudian maka dikatakannya, siapa mentuanya laki-laki dan perempuan dan di mana tempat duduknya. Maka Masyhudulhakk dengan sekalian orang banyak itu pun tahulah akan salah Bedawi itu dan kebenaran orang tua itu.

    Maka hendaklah disakiti oleh Masyhudulhakk akan Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun mengakulah salahnya. Demikian juga perempuan celaka itu. Lalu, didera oleh Masyhudulhakk akan Bedawi itu serta dengan perempuan celaka itu seratus kali.

    Kemudian, maka disuruhnya tobat Bedawi itu, jangan lagi ia berbuat pekerjaan demikian itu. Maka, bertambah-tambah masyhurlah arif bijaksana Masyhudulhakk itu.

    Yuk, Baca Cerita Hikayat Tempo Dulu yang Lainnya!

    Demikian ulasan lengkap tentang pengertian, ciri-ciri, struktur, hingga contoh teks hikayat yang menarik untuk kamu pelajari. Jadi, karya tulis hikayah ini berisikan cerita-cerita tempo dulu yang sarat akan makna dan sebagian besar menggunakan bahasa Melayu. Semoga informasi tentang teks hikayah tersebut bermanfaat untukmu!

  • Apa itu Hikayat? Pengertian, Ciri, Jenis, dan Bentuk beserta Contohnya

    Apa itu Hikayat? Pengertian, Ciri, Jenis, dan Bentuk beserta Contohnya

    Salah satu cara untuk mengenal kekayaan bangsa lebih dalam adalah dengan mempelajari karya sastra. Ada banyak karya sastra khas Indonesia yang penting untuk kamu ketahui. Karya-karya tersebut antara lain hikayat, novel, cerita pendek, puisi, pantun, fabel, gurindam, roman, legenda, dongeng, dan masih banyak lagi.

    Artikel ini akan membahas karya sastra hikayat secara detail dan lengkap dengan contohnya. Hikayat juga disebut sebagai babad atau cerita yang merupakan jenis karya sastra Melayu klasik yang berkembang sebelum abad 20an. Mulanya, babad merupakan karya sastra lisan karena penyampaiannya dari mulut ke mulut.

    Jika ingin mendapatkan informasi lebih dalam dan lengkap, silakan ikuti pembahasan artikel ini hingga selesai.

    Apa itu Hikayat?

    Apabila mengartikan kata hikayat secara harfiah, maka artinya adalah kenang-kenangan. Makna tersebut juga bisa diartikan sebagai buah pemikiran atau karya dari seorang pengarang atau pujangga yang dibuat untuk orang lain supaya menjadi kenangan. 

    Namun apabila mengartikan kata hikayat dari Bahasa Arab, maka memiliki makna cerita, kisah atau dongeng. Karya sastra ini biasanya menggunakan bahasa Melayu saat menceritakannya. Kisah karya sastra Melayu ini banyak menceritakan tentang keajaiban, mukjizat, atau cerita kepahlawanan.

    Babad yang merupakan prosa Melayu ini juga termasuk dalam kategori karya sastra fiksi karena menceritakan kisah yang tidak nyata. Mengingat karya sastra ini berkembang sebelum abad 20 an, maka lebih banyak mengangkat latar zaman kerajaan.

    Cerita-cerita yang berkembang di masyarakat, hanya sebatas untuk hiburan saja. Meskipun bersifat menghibur, hikayat juga mengandung pesan moral yang dalam terhadap pembacanya. 

    Sebagai karya sastra fiksi, hikayat memiliki unsur pembangun yang sama dengan karya sastra fiksi lainnya. Unsur pembangun sastra yang dimaksud adalah tema, tokoh, alur, latar, sudut pandang, dan amanat.

    Apa Saja Ciri-Ciri Hikayat?

    Guna memudahkan kamu mengenalnya lebih detail, maka bisa simak beberapa ciri-cirinya seperti di bawah ini:

    1. Menggunakan Bahasa Melayu Klasik

    Mengingat babad adalah bagian dari karya sastra klasik, maka penulisannya pun juga menggunakan bahasa klasik. Bahasa klasik yang umum digunakan yaitu Bahasa Melayu. Dengan demikian, pembaca akan banyak menjumpai diksi-diksi yang jarang atau tidak lazim digunakan pada karya sastra modern.

    Penggunaan Bahasa Melayu klasik inilah yang membuat babad mempunyai sentuhan seni yang tinggi. Bahasa Melayu klasik juga menambahkan keunikan tersendiri dan dapat memperkaya pengetahuan berbahasa pembacanya.

    2. Bertema Kerajaan

    Hampir semua kisah cerita yang banyak beredar menggunakan tema kerajaan. Fakta tersebut berdasarkan kemunculan jenis karya yang sudah sangat lama, yaitu sebelum abad 20 an. Abad sebelum itu, hampir di seluruh wilayah di Indonesia memiliki banyak kerjaan.

    Meskipun lebih banyak bertemakan kerajaan, namun setiap cerita mempunyai keunikan tersendiri. Sebab, masing-masing kerajaan memiliki nilai etnis yang beragam.

    3. Statis

    Ciri ketiga dari babad yakni bersifat statis atau tetap. Kamu bisa mengetahui ciri ini dengan memperhatikan penulisan dari penggambaran cerita karena tidak banyak melakukan perubahan. 

    Unsur intrinsik yang digunakan pada semua babad umumnya sama atau tidak jauh berbeda. Selain itu, kisah yang diangkat juga mempunyai kemiripan dengan satu sama lain.

    4. Tradisional

    Kisah-kisah dalam cerita babad sangat lekat dengan budaya dan tradisi masyarakat pada masa tersebut. Mengingat pada zaman tersebut teknologi canggih masih belum ditemukan, maka pembaca pun dapat mengetahui gambaran kehidupan sehari-hari zaman kerajaan.

    Pembaca juga dapat mengetahui mata pencaharian umum para masyarakat di zaman kerajaan dan kendaraan yang mereka gunakan untuk bepergian. Hal ini lantaran hikayat masih lekat dengan nilai-nilai tradisional.

    Selain itu, konflik dalam cerita babad juga selalu menonjolkan kemenangan kebaikan atas keburukan. Hal inilah yang membuat karya sastra Melayu klasik ini sering dijadikan contoh karena mengandung amanat dan pesan moral yang baik.

    5. Edukatif

    Babad memang merupakan cerita fiksi yang berasal dari imajinasi pengarangnya. Namun demikian, karya sastra ini bersifat edukatif atau mendidik karena amanat dan nilai-nilai yang baik untuk para pembacanya. 

    Karya sastra yang edukatif ini jarang sekali mencantumkan nama pengarangnya. Umumnya, semua pengarang akan membuat cerita yang mengajarkan pembaca supaya senantiasa melakukan kebaikan, saling mencintai dan menyayangi sesama dan lingkungan, toleransi, serta nilai-nilai kehidupan lainnya.

    Apa Saja Jenis-Jenis Hikayat?

    Berdasarkan jenisnya, karya sastra ini dibagi menjadi dua, yaitu jenis hikayat berdasarkan isi dan asalnya. Silakan simak penjabaran lengkapnya di bawah ini:

    1. Historis

    Jika menilik dari segi historisnya, karya sastra ini memang lebih banyak menggunakan Bahasa Melayu. Namun, babad juga menggunakan bahasa lain karena beberapa negara juga mempunyai karya hikayat. Dengan demikian, bahasa, latar belakang, agama dan budaya yang dikisahkan akan mengalami perbedaan.

    Jenis babad berdasarkan segi historis terdiri dari empat poin. Di bawah ini adalah keempat poin tersebut yang bisa kamu lihat untuk memperluas pengetahuan:

    a. Melayu

    Saat belajar Bahasa Indonesia, kamu akan lebih banyak menemukan babad Melayu. Kumpulan cerita dalam babad Melayu sangat lekat dengan unsur keagamaan. Pada zaman tersebut, masyarakat Melayu banyak yang memeluk agama Islam.

    Itulah mengapa karya sastra Melayu klasik ini banyak memuat nilai-nilai agama berdasarkan ajaran Islam. Ada banyak babad Melayu yang termashur seperti Hikayat Si Miskin, Hikayat Indera Bangsawan, Hikayat Hang Tuah, dan Hikayat Malim Deman.

    b. Jawa

    Hikayat Jawa juga mengusung tema kerajaan dan lekat dengan nilai-nilai agama. Jika babad Melayu kental dengan nilai-nilai islami, maka babad Jawa lekat dengan nilai islami dan hindu.

    Jauh sebelum Islam masuk ke tanah Jawa, hampir semua kerajaan menganut agama Hindu. Agama Islam mulai dikenal semenjak kehadiran saudagar Arab dan Persia yang datang ke tanah Jawa. 

    Keberadaan agama Hindu dan Islam pun menghasilkan budaya baru sehingga menambah keberagaman kesusastraan Indonesia. Hasil dari percampuran budaya ini membuat hikayat Jawa memiliki kemiripan pada tema alur cerita, penokohan, dan sifat yang digunakan pada babad Arab dan Hindia.

    Adapun contoh babad Jawa yang terkenal yaitu Hikayat Indera Jaya, cerita tersebut terinspirasi dari kisah Anglingdarma. Hikayat Jawa terkenal lainnya adalah Hikayat Cekel Weneng Pati dan Hikayat Panji Semirang.

    c. India

    Hikayat India tentu lebih sarat akan nilai-nilai agama Hindu lataran Hindu merupakan agama mayoritas penduduk India. Umumnya, kisah hikayat India banyak mengambil dari cerita induk seperti Mattabbroto dan Sri Rama.

    Perkembangan zaman juga membuat cerita tersebut berkembang menjadi Hikayat Pandawa Lima. Kisah Pandawa Lima sering diceritakan dalam pewayangan Jawa. Selain itu, ada pula hikayat dengan nuansa Hindu lainnya yang terkenal seperti Hikayat Perang Pandawa, Hikayat Sri Rama, dan Hikayat Bayan Budiman.

    Isi cerita pada Hikayat Perang Pandawa yaitu mengadaptasi dari cerita Mahabarata, sedangkan kisah pada Hikayat Sri Rama berasal dari cerita Ramayana.

    d. Arab – Persia

    Cerita hikayat Arab dan Persia tentu lebih banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam karena kedua negara tersebut mayoritas menganut agama islam. 

    Contoh hikayat Arab atau Persiap terkenal yang bisa kamu baca antara lain Hikayat Bachtiar, Hikayat Seribu Malam, dan Hikayat Amir Hamzah. Amir Hamzah sendiri merupakan salah satu pahlawan islam.

    2. Isi

    Jenis hikayat juga bisa ditentukan oleh isi cerita didalamnya. Berdasarkan isinya, karya sastra ini terbagi menjadi empat, yakni sebagai berikut:

    a. Sejarah

    Isi dari hikayat sejarah yaitu lebih banyak mengisahkan peristiwa bersejarah atau tokoh pada zaman dahulu kala. Cerita ini tentu saja tidak nyata karena merupakan buah imajinasi dari pujangga yang menulisnya. Penulisan cerita fiksi ini pun biasanya dihubungkan dengan sejarah yang pernah terjadi.

    Latar dari hikayat sejarah juga bisa berupa peristiwa nyata namun dikolaborasikan dengan imajinasi. Misal hikayat yang menceritakan kehidupan kerajaan atau peperangan yang nyata terjadi di masa lalu. Penulis cerita akan menumbuhkan imajinasinya untuk membuat cerita tersebut lebih dramatis dan menarik.

    b. Agama

    Isi hikayat agama lebih banyak bercerita tentang tokoh agama dan peristiwa yang terjadi pada agama tersebut. Selain itu, hikayat agama juga memuat nilai-nilai ajaran dari suatu agama. 

    Agama yang dikisahkan meliputi agama Islam, agama Hindu, kolaborasi antara Islam dan Hindu, atau bahkan agama lainnya. Pembahasan di atas menyebutkan bahwa hikayat adalah cerita fiksi atau khayalan belaka. 

    Namun, pesan-pesan atau nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat memberikan edukasi terhadap pembacanya.

    c. Cerita

    Hikayat umumnya memang banyak menceritakan tentang kehidupan kerajaan atau keagamaan, namun kamu juga bisa menemukan hikayat cerita yang berisi tentang roman percintaan. Latar belakang roman percintaan juga masih mengandung sejarah. 

    Salah satu cerita fiksi percintaan yang terkenal adalah Hikayat Malin Kundang. Malin Kundang merupakan tokoh utama dalam cerita ini yang tidak mengakui ibunya di hadapan istrinya. 

    d. Biografi

    Hikayat tidak selalu berisikan cerita fiksi atau khayalan saja, namun juga bisa berisi biografi. Biografi merupakan kisah perjalanan hidup suatu tokoh hingga meninggal dunia. Hikayat biografi bisa mengambil kisah dari tokoh nyata maupun tokoh fiksi. 

    Contoh hikayat biografi yaitu menceritakan seorang tokoh yang terkenal atau dianggap pahlawan oleh masyarakat. Biografi ini juga akan mengupas konflik hidup yang pernah dialami oleh tokoh tersebut dan peristiwa-peristiwa ajaib yang pernah pula dialaminya.

    e. Peristiwa

    Hikayat peristiwa mempunyai tujuan pembuatan untuk menghibur atau membangkitan semangat pembacanya. Biasanya, hikayat ini akan menceritakan peristiwa besar yang pernah terjadi di kehidupan nyata.

    Supaya lebih menarik dan melibatkan emosi pembaca, maka proses penulisannya akan dipercantik dengan penggambaran peristiwa yang menakjubkan. Cerita akan menjadi lebih seru karena tambahan mukjizat dan keajaiban yang dimiliki oleh tokoh.

    Apa Saja Bentuk Hikayat?

    Selain mempunyai ciri-ciri dan jenis-jenisnya, hikayat juga terdiri dari beberapa bentuk. Fakta yang mendasari adalah adanya percampuran budaya sehingga menghasilkan penggambaran cerita yang berbeda. Berikut merupakan bentuk-bentuknya:

    1. Cerita Rakyat

    Penggambaran kisah pada cerita rakyat biasanya ditulis dengan bahasa yang jenaka. Cerita rakyat banyak mengisahkan asal-usul suatu benda atau suatu tempat. Hikayat Rhang Manyang merupakan salah satu hikayat cerita rakyat yang bisa kamu baca. 

    Latar tempat cerita rakyat Rhang Manyang yaitu di Kabupaten Aceh Besar. Cerita singkatnya yaitu seorang pemuda yang merantau dan berhasil meraih kesuksesannya. Kesuksesan telah membuat pemuda tersebut berubah menjadi sombong dan durhaka kepada orang tua.

    2. Epos

    Epos merupakan bentuk hikayat yang berkisah tentang kepahlawanan. Cerita ini pun bisa diambil dari cerita nyata dan dipadukan dengan imajinasi. Hikayat Prang Kompeuni merupakan salah satu karya epos yang menarik untuk kamu baca.

    Cerita asli Hikayat Prang Kompeuni ini ditulis menggunakan Bahasa Aceh. Inti dari cerita ini yaitu persiapan rakyat Indonesia dalam menghadapi serangan Belanda ke Aceh. Rakyat Aceh kewalahan karena Belanda membawa ribuan pasukan. Cerita ini juga mengisahkan huru-hara yang terjadi selama peperangan.

    3. Roman

    Roman adalah bentuk karya sastra untuk mengisahkan kehidupan rumah tangga atau kehidupan asmara lainnya. Umumnya, roman mempunyai epik yang panjang sehingga membuat pembacanya tertarik dengan cerita lengkapnya. Contoh roman yang menarik untuk kamu baca yaitu Hikayat Putroe Gumbak Meuh.

    Inti cerita dari hikayat tersebut adalah seorang raja yang mempunyai tiga permaisuri. Dari ketiga permaisuri tersebut, hanya permaisuri terakhir yang bisa memberikan keturunan kepada raja. 

    Hal tersebut membuat permaisuri pertama dan kedua merasa iri dan melakukan tindakan membuang bayi yang dilahirkan permaisuri terakhir.

    4. Tambeh

    Bentuk hikayat tambeh adalah cerita yang sarat akan amanat atau pedoman kehidupan. Jika kamu ingin mendapatkan pedoman kehidupan, maka coba baca karya sastra Hikayat Tambeh Tujoh Blah.

    Tambeh Tujoh Blah berasal dari Aceh, sehingga penulisannya juga menggunakan Bahasa Aceh. Pada zaman dulu, masyarakat Aceh sudah sibuk menuntut ilmu agama dan ilmu lainnya yang bermanfaat dalam kehidupan.

    5. Chara

    Bentuk hikayat yang terakhir adalah chara yang mana mirip dengan biografi. Sebab, chara mengisahkan kehidupan seorang tokoh yang dianggap terpuji. Dengan demikian, pembaca bisa mendapatkan informasi lengkap mengenai kehidupan tokoh tersebut.

    Hikayat Hiyaken Tujoh merupakan salah satu contoh chara yang layak kamu pertimbangkan untuk dibaca.

    Contoh-contoh Hikayat

    Bagi kamu yang belum pernah membaca karya hikayat, maka silakan lihat beberapa contoh di bawah ini agar dapat memperkaya pengetahuan kesusastraan Indonesia:

    1. Hang Tuah

    Hang Tuah merupakan seorang anak laki-laki dari Hang Mahmud yang tinggal di Sungai Duyun. Pada suatu hari, masyarakat Sungai Duyun mendengar bahwa ada seorang Raja Bintan yang sangat ramah dan baik kepada semua rakyat.

    Mendengar berita tersebut, Hang Mahmud mengajak istrinya Dang Dayu untuk pergi ke Bintan agar lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Setelah melakukan percakapan dengan isterinya, Hang Mahmud tertidur lalu bermimpi.

    Dalam mimpinya, Hang Mahmud melihat rembulan turun dari langit dan cahayanya menerangi kepala Hang Tuah. Kemudian Hang Mahmud terbangun dari mimpinya dan segera mencium putranya, Hang Tuah. Saat ia mencium putranya, tubuh Hang Tuah mengeluarkan aroma yang sangat harum.

    Keesokan harinya Hang Mahmud menceritakan mimpi tersebut kepada Dang Dayu. Setelah mendengar cerita suaminya, Dang Dayu memandikan Hang Tuah dan meluluri tubuh anaknya. Selesai mandi, Hang Tuah dipakaikan pakaian serba putih dan diberi makan nasi kunyit dan telur ayam.

    Hang Tuah melakukan pekerjaannya seperti biasa, yaitu membelah kayu dengan kapak. Pada saat itu, ada seorang pemberontak yang masuk ke kampung dan membuat rusuh. Orang-orang kampung berlarian menyelamatkan diri, begitu pula dengan Hang Tuah. 

    Namun dalam perjalanan menyelamatkan diri, pemberontak tersebut hendak menghunuskan keris ke arah Hang Tua. Sontak Hang Tuah mengayunkan kapaknya dan mengenai kepala pemberontak itu. Warga yang menyaksikan hal tersebut menceritakannya kepada pegawai kerajaan.

    Lantas, hal tersebut membuat Raja Bintan ingin bertemu Hang Tuah dan menjadikannya pegawai kerajaan. Menteri-menteri di kerajaan ini iri dan tidak suka dengan kehadiran Hang Tuah, sehingga berusaha menyingkirkan Hang Tuah dari kerajaan. Mereka melakukan fitnah hingga raja marah dan murka kepada Hang Tua.

    Hang Tuah pun berhasil disingkirkan dari istana. Menurut kabar yang beredar, Hang Tuah tinggal di Sungai Perak. Ia menjadi seorang raja orang hutan dan segala Batak. Ia pun tidak ingin beristri lagi.

    2. Bunga Kemuning

    Hikayat Bunga Kemuning mengisahkan seorang raja yang mempunyai 10 orang putri. Raja tersebut menamai semua putrinya dengan nama-nama warna. Istri raja meninggal usai melahirkan Putri Kuning yang merupakan putri bungsu mereka.

    Raja yang sangat sibuk dengan urusan kerajan tidak bisa merawat semua putrinya sendiri sehingga inang pengasuh yang merawatnya. Suatu hari, raja berpamitan kepada semua putri karena akan melakukan perjalan jauh. Raja menanyakan oleh-oleh apa yang diinginkan oleh masing-masing putrinya tersebut.

    Semua kakak dari Putri Kuning meminta hadiah mahal seperti kain sutera, perhiasan, dan berbagai hadiah mahal lainnya. Namun, Putri Kuning tidak menginginkan hadiah apapun kecuali kehadiran ayahanda kembali dengan selamat. Semua kakak-kakaknya pun tertawa mengejek Putri Kuning.

    Ketika sang raja tidak berada di istana, semua kakak Putri Kuning bertingkah semena-mena terhadap inang pengasuh dan pelayan. Pelayan yang sibuk menuruti keinginan saudaranya tersebut sampai tidak sempat membersihkan taman, tempat favorit Putri Kuning.

    Putri Kuning berinisiatif membersihkan taman tersebut namun pelayan melarangnya. Walaupun begitu, Putri Kuning tetap ingin membantu pelayan untuk membersihkan taman tersebut. Melihat Putri Kuning menyapu taman, semua saudaranya mengejek dan meneriaki Putri Kuning.

    Saat raja pulang dari perjalanan, semua putri langsung menyambut dengan gembira dan langsung menanyakan oleh-oleh yang diminta. Tidak ada satupun yang menanyakan kondisi sang raja setelah lama meninggalkan istana. Raja merasa bangga melihat Putri Kuning yang sibuk merangkai bunga, lalu menghampirinya.

    Raja mengeluarkan perhiasan permata berwarna hijau sebagai hadiah untuk Putri Kuning. Sang ayah meminta maaf karena tidak bisa menemukan permata berwarna kuning seperti warna kesayangan Putri Kuning. Namun demikian, Putri Kuning menerimanya dengan gembira.

    Putri Hijau, kakak Putri Kuning yang melihat hadiah tersebut merasa iri dan ingin merebutnya. Putri Kuning tidak mau memberikan hadiah tersebut, lalu Putri Hijau memukul kepala Putri Kuning hingga meninggal dunia. Takut dengan kelakuannya, Putri Hijau pun membuat cerita bohong kepada saudara-saudaranya.

    Kesembilan kakak Putri Kuning secara diam-diam menguburkan Putri Kuning di taman istana. Karena beberapa hari tidak melihat Putri Kuning, raja mengutus prajurit untuk mencari putri kesayangannya tersebut.

    Raja pun dirundung kesedihan dengan menghilangnya Putri Kuning karena prajurit kerajaan tidak ada yang bisa menemukan keberadaan Putri Kuning. Untuk mengobati kerinduannya pada Putri Kuning, raja pergi ke taman duduk menyendiri.

    Perhatian raja tertarik pada tanaman yang berbunga kekuningan dan mengeluarkan aroma wangi. Tanaman tersebut tumbuh di atas kuburan Putri Kuning. Untuk mengenang putri kesayangannya, raja menamai tanaman tersebut bunga Kemuning.

    Taman bunga kemuning tersebut mempunyai banyak manfaat, mulai dari bunga, daun, hingga batangnya. Tumbuhnya bunga kemuning mengisyaratkan Putri Kuning tetap memberikan kebaikan sekalipun sudah meninggal.

    3. Sri Rama Mencari Sita Dewi

    Sri Rama merupakan seorang raja dan mempunyai istri cantik bernama Sita Dewi. Secara tiba-tiba, Sita Dewi menghilang dan tidak ada yang tahu kemana perginya. Sebagai seorang suami, Sri Rama pun berusaha mencari istrinya yang hilang seacara misterius.

    Bersama dengan seorang pengawal, Sri Rama mencari istrinya ke dalam hutan. Saat menyusuri hutan, Sri Rama bertemu dengan seekor burung jantan. Sri Rama pun bertanya kepada burung tersebut apakah mengetahui keberadaan isterinya.

    Burung tersebut menjawab dengan sombong bawah dia yang mempunyai istri empat bisa menjaganya dengan baik, sedangkan Sri Rama yang hanya mempunyai satu istri tidak becus menjaga istrinya. Perkataan tersebut tentu saja sangat menyinggung perasaan Sri Rama.

    Sakit hati dengan perkataan tersebut kemudian Sri Rama berdoa kepada Dewata supaya supaya burung jantan yang sombong tersebut buta dan tidak bisa melihat isterinya. Dewata pun mengabulkan doa Sri Rama dan mata burung tersebut menjadi buta.

    Ia kembali melanjutkan perjalanan bersama dengan pengawalnya lalu berjumpa dengan seekor bangau. Melihat bangau yang sedang minum, Sri Rama pun bertanya apakah burung bangau melihat Sita Dewi, istrinya.

    Sri Rama mendapatkan petunjuk dari burung bangau tersebut bahwa seorang raksasa bernama Rahwana membawa terbang seorang wanita. 

    Sebagai ungkapan terima kasih, Sri Rama berdoa kepada Dewata agar memperpanjang leher burung bangau tersebut supaya lebih mudah ketika minimum. Dewata kembali mengabulkan doa Sri Rama.

    Lama berjalan mencari Sita Dewi, Sri Rama mulai merasa kehausan lalu melepaskan anak panah untuk mencari sumber air. Pengawal mengikuti arah anak panah tersebut dan membawakan air untuk Sri Rama. Sayangnya, air tersebut berbau busuk karena terdapat burung yang sangat besar sedang sekarat.

    Burung tersebut bernama Jentayu dan menceritakan kejadian yang dia alami, Jentayu bertarung dengan Rahwana dan berhasil mendapatkan cincin Sita Dewi. Jentayu yang hampir mati menyampaikan keinginan terakhirnya kepada Sri Rama agar menguburkannya di tempat yang tidak tinggali oleh manusia.

    Setelah mengutarakan permintaan terakhirnya, Jentayu pun mati dan Sri Rama tidak menemukan tempat sesuai dengan permintaan burung besar tersebut. Alhasil, Sri Rama membakar jasad burung tersebut.

    Ketika Sri Rama mulai membakar jasad tersebut kemudian api menyala sangat besar. Kobaran api yang sangat besar tersebut sama sekali tidak melukai Sri Rama karena mempunyai kesaktian tinggi.

    Sri Rama menunggu hingga api yang membakar jasad Jentayu padam sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Setelah api tersebut padam, Sri Rama dan pengawalnya pun segera bergegas mencari keberadaan istrinya, Sita Dewi.

    Sudah Bisa Memahami Apa yang Dimaksud dengan Hikayat?

    Itulah pembahasan lengkap tentang hikayat yang merupakan salah satu dari karya sastra klasik. Hikayat adalah cerita fiksi atau buah karangan imajinasi pengarang tentang suatu peristiwa yang berhubungan dengan sejarah masa lalu. Cerita tersebut bisa terinspirasi dari kejadian nyata atau karangan belaka.

    Tujuan utama membuat hikayat adalah untuk menghibur rakyat dengan cerita yang disajikan. Lebih dari itu, pembaca bisa mengambil amanat dan nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya. Jadi, siapkah kamu membaca hikayat dan mengambil nilai baiknya?