Tag: puisi chairil anwar

  • 25 Puisi Chairil Anwar yang Populer, Inspiratif dan Bermakna

    25 Puisi Chairil Anwar yang Populer, Inspiratif dan Bermakna

    Semasa hidupnya, Chairil Anwar telah banyak menulis puisi. Karya puisi Chairil Anwar tersebut telah melegenda dan menjadi inspirasi para penyair setelahnya.

    Artikel ini akan menjelaskan 25 puisi karya Chairil Anwar yang populer, inspiratif, dan bermakna. Selain itu, tentu saja dilengkapi dengan penjelasan makna setiap puisinya. Yuk, simak selengkapnya sekarang!

    25 Puisi Chairil Anwar Beserta Penjelasan Maknanya

    Berikut 25 puisi karya Chairil Anwar beserta penjelasan makna atau arti setiap puisinya, yaitu:

    1. Puisi Aku

    Kalau sampai waktuku

    ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu

    Tidak juga kau

    Tak perlu sedu sedan itu

    Aku ini binatang jalang

    Dari kumpulannya terbuang

    Biar peluru menembus kulitku

    Aku tetap meradang menerjang

    Luka dan bisa kubawa berlari

    Berlari

    Hingga hilang pedih peri

    Dan aku akan lebih tidak peduli

    Aku mau hidup seribu tahun lagi.

    Penjelasan:

    Puisi yang berjudul Aku ini adalah salah satu puisi Chairil Anwar yang legendaris dan populer di kalangan masyarakat Indonesia, tidak hanya bagi para penikmat karya sastra.

    Puisi tersebut mengandung tema perjuangan. Si Aku Lirik mengibaratkan dirinya sebagai “binatang jalang”. Binatang jalang dimaknai sebagai orang yang keras serta tidak mudah dikekang apalagi diperintah.

    Selanjutnya, pada larik “dari kumpulannya terbuang” menjelaskan bahwa Si Aku menganggap dirinya berbeda dan terbuang atau tidak diakui kehadirannya. 

    Meski demikian, Si Aku tetap berjuang dan tidak peduli dengan pendapat orang lain mengenai dirinya. Si Aku mengatakan, dia akan terus berjuang walau mengalami penderitaan dalam prosesnya.

    2. Puisi Penghidupan

    Penghidupan

    Lautan maha dalam

    Mukul dentur selama

    Nguji tenaga pematang kita

    Mukul dentur selama

    Hingga hancur remuk redam Kurnia Bahagia

    Kecil setumpuk

    Sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk

    Penjelasan:

    Puisi yang berjudul Penghidupan menggambarkan bahwa kehidupan yang dialami oleh manusia itu lebih dari cukup. Maksudnya, segala sesuatu yang manusia butuhkan sudah tersedia. Hal ini termuat dalam larik “lautan maha dalam”.

    Namun, ternyata kondisi itu tidak lantas membuat manusia bahagia. Selalu muncul “dentur” yang bisa dimaknai sebagai tiruan bunyi letusan kecil. Dalam hal ini, bunyi letusan kecil itu bisa berupa sifat iri, serakah, sombong, dan lain sebagainya.

    Penyakit hati tersebut telah merusak kebahagian yang sebenarnya bisa dirasakan oleh manusia, yaitu bisa dilihat dalam larik “Hingga hancur remuk redam Kurnia Bahagia”.

    Namun rupanya, kesombongan dan keserakahan tersebut hanya membawa malapetaka. Harta, jabatan, dan kekuasaan misalnya, yang manusia lindungi mati-matian ternyata tidak memberikan banyak kebahagiaan. Hanya sia-sia belaka.

    3. Puisi Sia-Sia 

    Penghabisan kali itu kau datang

    Membawaku karangan kembang

    Mawar merah dan melati putih:

    Darah dan suci

    Kau tebarkan depanku

    Serta pandang yang memastikan: Untukmu.

    Sudah itu kita sama termangu

    Saling bertanya: Apakah ini?

    Cinta? Keduanya tak mengerti.

    Sehari itu kita bersama. 

    Tak hampir-menghampiri.

    Ah! Hatiku yang tak mau memberi

    Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

    Penjelasan:

    Selain puisi Chairil Anwar berjudul Aku yang melegenda, larik dalam puisi Sia-Sia juga cukup populer, yaitu “Mampus kau dikoyak-koyak sepi”. Kutipan tersebut sering digunakan untuk mengejek para jomblo yang kesepian.

    Ya, jika diamati puisi dengan judul Sia-Sia tersebut memiliki tema cinta. Puisi tersebut menggambarkan dua orang yang saling ragu dan tidak yakin atas apa yang dilakukannya. Apakah itu berdasarkan rasa cinta atau perasaan lainnya?

    Pada awal puisi disebutkan bahwa keduanya sedang bersama menghabiskan hari itu. “Kau” membawa banyak hal seperti karangan kembang: mawar merah dan melati putih. Apa yang si Kau bawa tersebut bisa dimaknai sebagai bentuk keutuhan cinta yang diberikan kepada si Aku.

    Namun ternyata, meski keduanya bersama seharian, mereka tetap ragu apakah itu cinta atau bukan. Rupanya, walau bersama tidak ada rasa cinta yang tumbuh. Oleh karena itu, si Kau tidak pernah menemui si Aku lagi. Sehingga, si Aku merasa kesepian seperti yang tertulis pada larik terakhir.

    4. Puisi Di Mesjid

    Kuseru saja Dia

    Sehingga datang juga

    Kami pun bermuka-muka.

    Seterusnya ia bernyala-nyala dalam dada.

    Segala daya memadamkannya

    Bersimbah peluh diri yang tak bisa diperkuda

    Ini ruang

    Gelanggang kami berperang.

    Binasa-membinasa

    Satu menista lain gila

    Penjelasan:

    Puisi yang berjudul Di Mesjid mengandung tema religiusitas. Secara singkat, puisi tersebut menceritakan sebuah upaya untuk beribadah dan berdoa kepada Tuhan, walaupun banyak gangguan dan berbagai halangan yang menghalanginya.

    Kata “Dia” dalam puisi tersebut memiliki arti Tuhan. Si Aku terus berdoa dan menumpahkan segala keluh kesah serta permohonannya. Kemudian, ia merasakan kehadiran Tuhan. Selain itu, Tuhan dengan belas kasih mengabulkan doa-doanya.

    Sehingga, ia yakin bahwa Tuhan memiliki rasa kasih sayang yang tidak terbatas. Di samping itu, ia juga percaya kalau rasa sayang Tuhan itulah yang senantiasa menolongnya.

    5. Puisi Sendiri

    Hidupnya tambah sepi, tambah hampa

    Malam apa lagi

    Ia memekik ngeri

    Dicekik kesunyian kamarnya

    Ia membenci. 

    Dirinya dari segala

    Yang minta perempuan untuk kawannya

    Bahaya dari tiap sudut. 

    Mendekat juga

    Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama

    Terkejut ia terduduk. 

    Siapa memanggil itu?

    Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!

    Penjelasan:

    Puisi Chairil Anwar yang berjudul Sendiri tersebut mengisahkan sosok yang merasa kesepian karena hidup seorang diri. Kondisi tersebut terjadi karena kesalahannya sendiri di masa lalu. 

    Akibatnya, ia menua dengan penuh kesepian. Dalam masa-masa sepi dan kesedihan tersebut, ia merindukan sosok Ibu. Namun, ia hanya bisa membenci dirinya sendiri.

    Nah, dalam kesakitannya ia terus memanggil sosok ibu yang dirindukan tersebut. Tetapi, ibu yang ia rindukan tidak datang.

    6. Puisi Chairil Anwar Tak Sepadan 

    Aku kira,

    Beginilah nanti jadinya

    Kau kawin, beranak dan berbahagia

    Sedang aku mengembara serupa Ahasvéros.

    Dikutuk sumpahi Eros

    Aku merangkaki dinding buta

    Tak satu juga pintu terbuka.

    Jadi baik juga kita padami

    Unggunan api ini

    Karena kau tidak ‘kan apa apa

    Aku terpanggang tinggal rangka.

    Penjelasan:

    Puisi dengan judul Tak Sepadan mengandung tema tentang cinta. Dari judulnya saja, sudah menggambarkan bahwa ada situasi dimana hanya pihak satu yang bahagia. Sedangkan, pihak yang lain merasa tidak seberuntung pihak tersebut.

    Kisah yang diceritakan dalam puisi tersebut sangat mengenaskan. Si Aku terus menderita karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Orang yang dicintai Si Aku tersebut telah menikah dan memiliki anak serta hidup bahagia.

    Sementara itu, Si Aku terus mengembara layaknya Ahasveros. Menurut beberapa sumber, Ahasveros adalah seorang Yahudi dalam cerita Injil yang dikutuk oleh Tuhan menjadi pengembara karena menolak Yesus datang ke rumahnya.

    Dengan mengumpamakan dirinya sebagai Ahasveros, Si Aku menganggap dirinya terus berkelana dan mengembara mencari cinta sejatinya. Tetapi, pengembaraan tersebut tidak pernah berakhir. 

    Larik yang berbunyi “Dikutuk sumpahi Eros” menggambarkan bahwa dia layaknya Ahasveros, tetapi bukan dikutuk oleh Tuhan, melainkan Eros yang merupakan dewa cinta. Oleh karena itu, dia tidak kunjung bertemu dengan kekasih sejatinya.

    Setelah sadar situasi yang menimpanya, Si Aku memilih untuk menyudahi rasa cintanya kepada seseorang yang sudah menikah tersebut. Hal ini termuat dalam kutipan “Jadi baik juga kita padami. Unggunan api ini”. Unggunan api bisa dimaknai sebagai cintanya kepada sang gadis yang membara.

    Nah, Si Aku tahu betul bahwa situasi tersebut tidak sepadan. Ia menderita, sedangkan si gadis berbahagia bersama keluarganya.

    7. Puisi Suara Malam

    Dunia badai dan topan

    Manusia mengingatkan “Kebakaran di Hutan”*

    Jadi ke mana

    Untuk damai dan reda?

    Mati.

    Barang kali ini diam kaku saja

    Dengan ketenangan selama bersatu

    Mengatasi suka dan duka

    Kekebalan terhadap debu dan nafsu.

    Berbaring tak sadar

    Seperti kapal pecah di dasar lautan

    Jemu dipukul ombak besar.

    Atau ini.

    Peleburan dalam Tiada

    Dan sekali akan menghadap cahaya.

    Ya Allah! Badanku terbakar – segala samar.

    Aku sudah melewati batas.

    Kembali? Pintu tertutup dengan keras.

    Penjelasan:

    Puisi berjudul Suara Malam menggambarkan seseorang yang ingin kembali ke jalan yang benar, tetapi sudah tidak ada kesempatan. Jalan yang benar maksudnya adalah menaati perintah Tuhan dan meninggalkan segala sesuatu yang dilarangnya.

    Ia baru menyadari perbuatan dosanya karena telah memperoleh akibatnya. Sehingga, ia ingin bertobat, tetapi sudah tidak ada harapan lagi.

    8. Puisi Selamat Tinggal

    Ini muka penuh luka

    Siapa punya?

    Kudengar seru menderu

    Dalam hatiku

    Apa hanya angin lalu?

    Lagi lain pula

    Menggelepar tengah malam buta

    Ah..!!!

    Segala menebal, segala mengental

    Segala tak kukenal..!!!

    Selamat tinggal…!!

    Penjelasan:

    Puisi Chairil Anwar Selamat Tinggal menggambarkan seseorang yang ingin pergi. Sebelum memutuskan pergi, ia sempat menimbang-nimbang segala sesuatu yang dipikirkannya.

    Namun, pertanyaan tersebut tetap menjadi pertanyaan. Ia merasa bahwa segala sesuatu yang ada tidak dikenalnya. Sehingga, ia memutuskan untuk segera pergi.

    9. Puisi Ajakan

    Ida

    Menembus sudah caya

    Udara tebal kabut

    Kaca hitam lumut

    Pecah pencar sekarang

    Di ruang legah lapang

    Mari ria lagi

    Tujuh belas tahun kembali

    Bersepeda sama gandengan

    Kita jalani ini jalan

    Ria bahagia

    Tak acuh apa-apa

    Gembira girang

    Biar hujan datang

    Kita mandi-basahkan diri

    Tahu pasti sebentar kering lagi.

    Penjelasan:

    Puisi di atas menggambarkan seseorang yang ingin mengenang masa-masa romantisnya. Ia mengajak kekasihnya yang bernama Ida untuk kembali ke masa saat mereka berusia 17 tahun yang sedang penuh cinta.

    10. Puisi yang Terampas dan yang Terputus

    Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,

    Menggigil juga ruang di mana dia yang kuingin,

    Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

    Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

    Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang

    Dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;

    Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

    Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

    Penjelasan:

    Puisi di atas mengandung tema cinta. Si Aku merasa kesepian tanpa kehadiran kekasihnya. Kemudian dia memilih untuk menunggunya di kamar, barangkali kekasihnya kembali. Sebab, banyak hal yang ingin ia ceritakan.

    Tetapi, dia tetap kesepian dan semua yang hal yang ingin disampaikan kepada kekasihnya berlalu begitu saja.

    11. Puisi Chairil Anwar Lagu Biasa 

    Di teras rumah makan kami kini berhadapan

    Baru berkenalan. Cuma berpandangan

    Sungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam

    Masih saja berpandangan

    Dalam lakon pertama

    Orkes meningkah dengan “Carmen” pula.

    Ia mengerling. Ia ketawa

    Dan rumput kering terus menyala

    Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi

    Darahku terhenti berlari

    Ketika orkes memulai “Ave Maria”

    Kuseret ia ke sana.

    Penjelasan:

    Puisi Chairil Anwar berjudul Lagu Biasa menggambarkan kisahnya saat berkenalan dengan seseorang. Berdasarkan situasi yang dilukiskan di atas, seperti berhadapan, berpandangan, dan tertawa. Seolah keduanya saling tertarik satu sama lain.

    12. Puisi Dendam

    Berdiri tersentak

    Dari mimpi aku bengis dielak

    Aku tegak

    Bulan bersinar sedikit tak nampak

    Tangan meraba ke bawah bantalku

    Keris berkarat kugenggam di hulu

    Bulan bersinar sedikit tak nampak

    Aku mencari

    Mendadak mati ku hendak berbekas di jari

    Aku mencari

    Diri tercerai dari hati

    Bulan bersinar sedikit tak tampak.

    Penjelasan:

    Puisi di atas menggambarkan pembalasan dendam Si Aku. Ia menggunakan keris berkarat sebagai bentuk waspada. Situasi yang dilukiskan adalah suasana yang suram, seperti termuat dalam larik “Bulan bersinar sedikit tak tampak”.

    13. Puisi Taman 

    Taman punya kita berdua

    Tak lebar luas, kecil saja

    Satu tak kehilangan lain dalamnya.

    Bagi kau dan aku cukuplah

    Taman kembangnya tak berpuluh warna

    Padang rumputnya tak berbanding permadani

    Halus lembut dipijak kaki.

    Bagi kita bukan halangan.

    Karena

    Dalam taman punya berdua

    Kau kembang, aku kumbang

    Aku kumbang, kau kembang.

    Kecil, penuh surya taman kita

    Tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia.

    Penjelasan:

    Puisi Chairil Anwar di atas mengandung tema cinta. Pasangan tersebut tidak masalah dengan taman yang sempit, karena mereka bisa bersama. Sehingga, taman yang berukuran kecil tersebut seperti penuh “surya” dalam artian kebahagiaan.

    14. Puisi Sajak Putih

    Bersandar pada tari warna pelangi

    Kau depanku bertudung sutra senja

    Di hitam matamu kembang mawar dan melati

    Harum rambutmu mengalun bergelut senda

    Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba

    Meriak muka air kolam jiwa

    Dan dalam dadaku memerdu lagu

    Menarik menari seluruh aku

    Hidup dari hidupku, pintu terbuka

    Selama matamu bagiku menengadah

    Selama kau darah mengalir dari luka

    Antara kita Mati datang tidak membelah.

    Penjelasan:

    Puisi di atas menggambarkan cinta yang suci. Bahkan, puisi tersebut menyebutkan tidak ada yang bisa memisahkan keduanya kecuali maut. Sehingga, sudah jelas bahwa puisi berjudul Sajak Putih tersebut mengandung tema cinta.

    15. Puisi Doa

    Kepada pemeluk teguh

    Tuhanku

    Dalam termangu

    Aku masih menyebut nama-Mu

    Biar susah sungguh

    Mengingat Kau penuh seluruh

    Caya-Mu panas suci

    Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi

    Tuhanku

    Aku hilang bentuk

    Remuk

    Tuhanku

    Aku mengembara di negeri asing

    Tuhanku

    Di Pintu-Mu aku mengetuk

    Aku tidak bisa berpaling.

    Penjelasan:

    Puisi Chairil Anwar dengan judul Doa tersebut jelas memiliki tema ketuhanan. Si Aku berdoa dan terus mengingat perintahNya saat berada di negeri asing. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak bisa berpaling terhadap kebaikan dan kasih sayang Tuhan kepadanya.

    16. Puisi Cintaku Jauh di Pulau 

    Cintaku jauh di pulau,

    Gadis manis, sekarang iseng sendiri

    Perahu melancar, bulan memancar,

    Di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.

    Angin membantu, laut tenang, tapi terasa

    Aku tidak akan sampai padanya.

    Di air yang tenang, di angin mendayu,

    Di perasaan penghabisan segala melaju

    Ajal bertakhta, sambil berkata:

    “Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”

    Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!

    Perahu yang bersama kan merapuh!

    Mengapa ajal memanggil dulu

    Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

    Manisku jauh di pulau,

    Kalau kumati, dia mati iseng sendiri.

    Penjelasan:

    Sudah jelas puisi di atas mengandung tema cinta yang menggambarkan kekasihnya berada di seberang pulau. Dalam bahasa gaul, kita sering menyebutnya sebagai LDR. Namun sayangnya, penantiannya tersebut sia-sia, karena kekasihnya meninggal lebih dulu.

    17. Puisi Kesabaran

    Aku tak bisa tidur

    Orang ngomong, anjing nggonggong

    Dunia jauh mengabur

    Kelam mendinding batu

    Dihantam suara bertalu-talu

    Di sebelahnya api dan abu

    Aku hendak berbicara

    Suaraku hilang, tenaga terbang

    Sudah! Tidak jadi apa-apa!

    Ini dunia enggan disapa, ambil peduli

    Keras membeku air kali

    Dan hidup bukan hidup lagi

    Kuulangi yang dulu kembali

    Sambil bertutup telinga, berpicing mata

    Menunggu reda yang mesti tiba

    Penjelasan:

    Puisi Chairil Anwar di atas menggambarkan bahwa kehidupan memang harus dihadapi dengan sabar. Setiap saat selalu ada orang yang menyebalkan. Oleh karena itu, dia memilih “sambil bertutup telinga” dan “menunggu reda yang mesti tiba”, yang maksudnya adalah menunggu dengan penuh kesabaran.

    18. Puisi Nisan 

    Untuk nenekanda,

    Bukan kematian benar menusuk kalbu

    Keridhaanmu menerima segala tiba

    Tak kutahu setinggi itu atas debu

    Dan duka maha tuan bertahta.

    Penjelasan:

    Puisi Nisan mengandung tema kesedihan. Si Aku kehilangan sosok nenek yang dicintainya. Sebenarnya, bukan kematian yang membuatnya teramat sedih, tetapi keridhoan dan keikhlasan sang nenek menerima hidupnya itulah yang membuatnya berduka, sebab ia merasa kagum.

    19. Puisi Chairil Anwar Kawanku dan Aku 

    Kepada L.K. Bohang,

    Kami jalan sama. Sudah larut

    Menembus kabut.

    Hujan mengucur badan.

    Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan.

    Darahku mengental-pekat. Aku tumpat-pedat.

    Siapa berkata?

    Kawanku hanya rangka saja

    Karena dera mengelucak tenaga.

    Dia bertanya jam berapa!

    Sudah larut sekali

    Hingga hilang segala makna

    Dan gerak tak punya arti.

    Penjelasan:

    Puisi di atas mengisahkan persahabatan yang saling membantu satu sama lain. Amanat yang ingin disampaikan dalam puisi tersebut adalah carilah teman sebanyak-banyaknya.

    20. Puisi Hukum

    Saban sore ia lalu depan rumahku

    Dalam baju tebal abu-abu

    Seorang jerih memikul.

    Banyak menangkis pukul.

    Bungkuk jalannya – Lesu

    Pucat mukanya – Lesu

    Orang menyebut satu nama jaya

    Mengingat kerjanya dan jasa

    Melecut supaya terus ini padanya

    Tapi mereka memaling. Ia begitu kurang tenaga

    Pekik di angkasa: Perwira muda

    Pagi ini menyinar lain masa

    Nanti, kau dinanti-dimengerti!

    Penjelasan:

    Bisa dibilang puisi Hukum di atas memiliki tema kritik sosial. Pasalnya, penyair menggambarkan hukum sebagai petugas yang memaksakan prosedur dan norma-norma. 

    Oleh karena itu, karena hukum yang diposisikan sebagai subjek tersebut, kemudian memunculkan kekerasan dan berbagai kepentingan politik yang mengatasnamakan hukum.

    21. Puisi Cerita 

    Kepada Darmawidjaja,

    Di pasar baru mereka

    Lalu mengada-menggaya.

    Mengikat sudah kesal

    Tak tahu apa dibuat

    Jiwa satu teman lucu

    Dalam hidup, dalam tuju.

    Gundul diselimuti tebal

    Sama segala berbuat-buat.

    Tapi kadang pula dapat

    Ini renggang terus terapat.

    Penjelasan:

    Puisi di atas melukiskan seseorang yang sedang bercerita kepada Darmawidjaja. Dia menceritakan kejadian yang baru saja dilihatnya di pasar tersebut. Ia merasa kesal dengan yang dilihatnya, karena seseorang yang banyak gaya.

    22. Puisi Rumahku 

    Rumahku dari unggun-timbun sajak

    Kaca jernih dari luar segala nampak

    Kulari dari gedong lebar halaman

    Aku tersesat tak dapat jalan

    Kemah kudirikan ketika senjakala

    Di pagi terbang entah ke mana

    Rumahku dari unggun-timbun sajak

    Di sini aku berbini dan beranak

    Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang

    Aku tidak lagi meraih petang

    Biar berleleran kata manis madu

    Jika menagih yang satu.

    Penjelasan:

    Puisi Chairil Anwar yang berjudul Rumahku tersebut menggambarkan dirinya yang ingin mencoba keluar dari kebiasaan, yaitu menulis puisi, tetapi tidak bisa. Rumah yang dimaksud dalam puisi di atas adalah sajak-sajak yang telah ia tulis.

    23. Puisi Merdeka

    Aku mau bebas dari segala

    Merdeka

    Juga dari Ida

    Pernah

    Aku percaya pada sumpah dan cinta

    Menjadi sumsum dan darah

    Seharian kukunyah kumamah

    Sedang meradang

    Segala kurenggut

    Ikut bayang

    Tapi kini

    Hidupku terlalu tenang

    Selama tidak antara badai

    Kalah menang

    Ah! Jiwa yang menggapai-gapai

    Mengapa kalau beranjak dari sini

    Kucoba dalam mati.

    Penjelasan:

    Puisi di atas menggambarkan sosok Chairil yang ingin merdeka. Arti merdeka dalam puisi tersebut bukan sekadar bebas dari penjajahan, tetapi juga mandiri serta tidak tergantung dengan orang lain.

    24. Puisi Pelarian

    Pelarian

    I

    Tak tertahan lagi

    Remang miang sengketa di sini

    Dalam lari

    Dihempaskannya pintu keras tak berhingga.

    Hancur-luluh sepi seketika

    Dan paduan dua jiwa.

    II

    Dari kelam ke malam

    Tertawa-meringis malam menerimanya

    Ini batu baru tercampung dalam gelita

    “Mau apa? Rayu dan pelupa,

    Aku ada! Pilih saja!

    Bujuk dibeli?

    Atau sungai sunyi?

    Mari! Mari!

    Turut saja!”

    Tak kuasa …terengkam

    Ia dicengkam malam.

    Penjelasan:

    Seperti judulnya, puisi Chairil Anwar di atas menggambarkan seseorang yang ingin lari dari situasi yang sedang dialaminya. Namun, kemudian ia mencoba menerimanya, meski tak kuasa dan merasa terdesak di cengkam malam.

    25. Puisi Prajurit Jaga Malam

    Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu?

    Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,

    Bermata tajam

    Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya

    Kepastian

    Ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

    Aku suka pada mereka yang berani hidup

    Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

    Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu…

    Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!

    Penjelasan:

    Puisi di atas menggambarkan sosok prajurit yang selalu bertugas menjalankan kewajibannya. Amanat puisi di atas adalah kita harus senantiasa rela berkorban demi menjaga keutuhan bangsa dan negara.

    Mana Puisi Karya Chairil Anwar Favoritmu?

    Itulah 25 puisi karya Chairil Anwar yang populer, inspiratif, dan bermakna disertai dengan penjelasannya. Dari puisi-puisi tersebut, mana nih yang menjadi favoritmu? Atau kamu tertarik untuk menulis puisi sendiri dan menjadi penyair terkenal seperti Chairil Anwar?