Tag: puisi islami

  • 13 Contoh Puisi Islami Menyejukkan Hati, Sebagai Pengingat Diri

    13 Contoh Puisi Islami Menyejukkan Hati, Sebagai Pengingat Diri

    Puisi merupakan salah satu karya sastra yang mewakili pikiran dan perasaan penulis. Setiap larik dan bait yang ada dalam puisi juga mengandung pesan yang bermanfaat untuk kehidupan. Salah satu bentuk nuansa puisi yang bertemakan keagamaan yaitu puisi islami. Puisi ini merupakan contoh puisi yang mengandung pesan kebaikan.

    Selain pesan kebaikan, puisi ini biasanya juga mengandung pesan untuk selalu mengingat Tuhan Yang Maha Esa. Puisi ini biasanya ditulis agar para umat muslim senantiasa mengingat Allah dan selalu ingat untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

    Berikut adalah beberapa contoh puisi islami dengan tema kebaikan yang menyejukkan hati dan sebagai pengingat diri! Yuk, simak di bawah ini!

    Apa Itu Puisi Islami?

    Puisi islami adalah salah satu karya sastra puisi yang memiliki tema keagamaan khususnya agama Islam. Sajak-sajak dan pilihan diksi yang ada dalam puisi ini juga mengandung pesan keagamaan yang sangat mendalam, seperti pesan untuk selalu mengingat Allah SWT.

    Selain itu, puisi ini juga biasanya mengingatkan para kaum muslim untuk selalu berbuat kebaikan, melaksanakan perintah Allah SWT, dan menjauhi larangan Allah SWT. Tidak hanya pesan kebaikan saja, beberapa puisi ini juga menceritakan tentang kisah-kisah cinta yang bertemakan Islam. 

    Beberapa contoh kisah cinta tersebut, yaitu mencintai Tuhan dan mencintai manusia karena Tuhan. Karena bertemakan ketuhanan atau hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan, puisi ini biasanya memiliki nuansa yang menyejukkan hati dan bisa digunakan sebagai pengingat diri.

    13 Contoh Puisi Islami yang Menyejukkan Hati

    Sebagai salah satu contoh puisi yang bertemakan keagamaan, puisi islami pada umumnya berisikan pesan kebaikan dan pesan untuk selalu mengingat Tuhan. Berikut adalah beberapa contoh puisi yang sarat akan makna dan mengandung berbagai pesan kebaikan:

    1. Puisi Islami “Aku Cinta Karena Allah”

    Ya Allah…

    Jadikan cintaku ini sebagai rasa yang bisa membuat orang lain bahagia

    Tidak tersombongkan dengan hati yang kosong iman

    Jadikan cinta ini yang selalu mengharap ridho-Mu

    Bukan cinta yang hadir untuk merusak ciptaan-Mu

    Ya Allah…

    Jadikanlah apapun yang aku lakukan selalu berdasarkan atas cinta

    Agar tidak tersesat di hutan nafsu celaka

    Tetap lurus dan tidak tergoncangkan oleh angin terlena

    Labuhkan kelak di dermaga sungai-sungai surga

    Ya Allah…

    Anugerahilah aku atas cinta-Mu

    Dan hadirkan orang-orang yang mencintai-Mu

    Kumpulkan bersama untuk mendekatkan diri kepada-Mu

    Bersatu rapatkan barisan itu

    Ya Allah…

    Palingkan raga ini dari kejahatan dunia

    Hindarkan dari fitnah-fitnah yang memburu

    Hanyutkan asa bersama kasih sayangMu

    Harumkan bersama bidadari berupa ayu

    Ya Allah…

    Jika aku jatuh cinta

    Sandarkanlah rasa cintaku itu kepada orang yang mencintai-Mu

    Jangan biarkan cinta ini melebihi cintaku kepada-Mu

    Hingga menggapai puncak berkah-Mu

    2. Kapan Ada Waktu Untuk Ku?

    Semasa kecil kau sibuk bertumbuh

    Bermain kesana kemari

    Melatih kemampuan motorik dan sensorik kata ayah ibumu

    Di waktu sekolah kau sibuk belajar dan mengerjakan tugas

    Bermain dan bersosialisasi dengan teman sebayamu

    Lalu jatuh cinta dengan lawan jenis

    Patah hati karena ia mengecewakanmu

    Waktu pun berlalu

    Kini kau sibuk dengan pekerjaanmu

    Kau bilang demi mencari sesuap nasi

    Untuk bertahan hidup di dunia yang kejam ini

    Mencari nafkah untuk anak istri

    Saat tua nanti

    Mungkin kau juga akan sibuk menyesali hal yang tak sempat kau lakukan

    Mengasihani diri karena penuh kegagalan

    Merindukan anak cucumu yang tak kunjung pulang

    Atau menangisi kepergian pasanganmu

    Hingga kau kelabakan melakukan semuanya sendirian

    Sepi katamu

    Tanpa pasangan dan anak-anakmu kau merasa sepi dan hampa

    Lalu kau mengeluh pada Ku

    Kenapa Ku ambil mereka secepat itu

    Lalu, kembali Ku bertanya padamu

    Kapan kau ada waktu untuk Ku? 

    Kau terdiam

    Dan bingung

    Dimana zikirmu untuk memuja Ku? 

    Dimana tangisan taubatmu setelah sekian lama mengabaikan perintah Ku? 

    Dimana janjimu sebelum Ku tiupkan ruh ke jasadmu?

    Kau masih terdiam

    Bisu seribu bahasa

    Bahkan disaat kau sibuk dengan urusan duniamu

    Yang kau bilang sumber kebahagiaan mu

    Kau tak dapat hidup tanpanya, katamu

    Tapi kau menuntut keadilan Ku

    Untuk memenuhi semua keinginan mu

    Nafsumu

    Tapi kau lupa dengan hak Ku sebagai pencipta mu

    Hak Ku untuk mencabut rahmat Ku padamu

    Hak Ku untuk menegurmu

    Hak Ku untuk memintamu kembali mengingat Ku

    Hak Ku untuk memintamu sebagai pelayan Ku

    Bukankah telah tertulis

    Takkan Ku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada Ku

    Lalu, dimana amal ibadah Mu?

    3. Puisi Islami Berjudul “Menuju Kamu” Karya Nuratiqah Jani

    Saat nama indah Mu disebut-sebut

    Mentari pun meredup

    Rembulan pun menunduk

    Alunan nama Mu umpama ritma

    Dengan bait-bait keindahan

    Seakan-akan ada tangan yang menjemput siapa saja yang mendengarkan

    Terkumat-kamit menyanyi-nyanyi

    Meliuk-lentok menari-nari

    Bertemasya aku dengan nama Mu

    Biar Kau tak kutemukan, namun Kau yang aku rasakan

    Biar Kau tak dipedulikan, namun Kau yang aku bicarakan

    Karena ini barangkali bukti mengerti

    Karena ini barangkali arti memahami

    Masih berbicara tentang Mu

    Semilir angin menyinggahi waktu menyapa bahuku

    Dingin dan nyaman ini umpama ilusi sayangku

    Umpama tetes embun yang jatuh di padang pasir yang membosankan dan menghampakan

    Umpama bintang timur yang berkilau di langit hitam yang hujan dan mengecewakan

    Apa ilusi-ilusi ini hadiahku karena telah bekerja keras menuju Kamu?

    Dan semestinya ilusi yang paling menenangkan

    Adalah menemui Kamu lantas terus jatuh cinta hingga cinta yang paling dalam

    Hingga kedalaman muka bumi aku ragukan

    Jatuh cinta yang paling besar

    Hingga besarnya alam ini aku bimbangkan

    Aku yakini yang mencari

    Lantas menemui hingga akhir nanti

    Tetap sahaja dengan nama Mu

    Menyanyi aku

    Menari aku

    Deria-deria kemudian bertumbuh melawan aras mencari cinta yang paling deras 

    Kamu

    Panca indera pantas berkecambah lebih tegak menuju rindu yang paling tebal

    Tetap Kamu

    Penciptaku

    4. Acep Syahril “Surat Cinta Dari Sangkakala” 

    Ya Allah

    Telah kami terima surat cintaMu

    Tertanggal hari ini yang dikirim peniup seruling sejati 

    Di antara kealfaan dan keasyik masyukkan kami 

    Surat cinta yang Engkau tulis dengan tinta biru 

    Sebagai tanda kasih dan maha sayangMu 

    Surat cinta yang begitu panjang menegangkan 

    Yang Engkau tulis tak sampai dalam satu tarikan nafas

    Membuat kami terus menangis terisak tersedu

    Membaca gugusan kata-kata hancur berserak 

    Dengan tubuh dan nyawa terlunta-lunta

    Surat cinta yang bercerita tentang tanah darat laut udara 

    Sebagai ungkapan rinduMu yang membuat kami malu 

    Karena kami tahu inilah surat cintaMu

    Yang sudah Kau janjikan itu dan kami terima

    Dikala perasaan dan mata hati kami pergi jauh fana

    Ya Allah

    Inikah surat cintaMu 

    Dengan segala keputusan yang harus kami terima 

    Selain bencana korupsi yang nyaris membuat kami hilang akal dan putus asa 

    Surat cinta yang kertasnya lembab di tangan 

    Kesedihan tak berkira dengan torehan luka maha dalam

    Surat cinta yang menceritakan tentang panas dan dingin

    Surat cinta yang bercerita tentang air berwajah beringas 

    Dengan semburan lidah api dari laut lepas

    Surat cinta yang bercerita tentang angkasa dan burung-burung meranggas

    Surat cinta yang bercerita tentang pohon-pohon dan akar yang dikelupas

    Surat cinta yang bercerita tentang tanah pasir dan lendir panas

    Surat cinta yang bercerita tentang tanah rumah dan nyawa yang hilang nafas

    Ya Allah

    Inikah surat cintaMu yang penuh cemburu itu

    Yang dikirim peniup seruling sejatiMu

    Disaat kami lupa mengingat dan merayuMu

    Surat cinta yang memang sepatutnya kami terima

    Sebagai bukti bahwa Kau benar-benar Maha Mencintai 

    Sementara kami berpaling dari keMaha Kasih dan SayangMu

    Ya Allah

    Maafkanlah kami yang telah berselingkuh 

    Dari keMaha SetiaanMu 

    Dan berpaling ke cinta yang tak kau restui 

    Dengan menabur fitnah hasut dan dengki

    Saling ingin menguasai tanah sekerabat sedarah 

    Seurat tanah yang kau cipta bentangkan dan tegakkan urat

    Yang kau sebar suburkan serta darah yang kau alir hidupkan 

    Telah kami rusak dengan saling mencacah menumbuk penuh takabur 

    Dengan kekuatan kerakusan dan keserakahan

    Tapi kini yang kami cintai itu 

    Telah engkau ratakan dengan tanah 

    Harta tahta dan dunia berubah menjadi darah daging dan tulang

    Membusuk dimana-mana

    Sekarang kami tak tau dimana 

    bapak dimana ibu dimana 

    anak dimana adik dimana 

    kakak dimana ipar dimana 

    keponakan dimana saudara famili kerabat dan handai taulan

    dimana dimana dimana yatim kan kami titipkan

    Ya Allah

    Hari ini kami baru tersadar akan jalan pulang

    Setelah membaca surat cintamu yang panjang

    Menegangkan surat cinta yang mengingatkan kami

    Untuk bertandang menemu cahya menemu gulita

    Menemu alfa menemu cinta

    Surat cinta yang mengajarkan kami untuk

    Pulang ke bilik latifa ke bilik sadik

    Ke bilik baqa

    Ya Allah

    Ampunilah kami hamba-hambamu yang tak punya malu ini 

    Ampunilah ampunilah ampunilah kami

    Ya Allah

    5. Puisi Islami “Penguasa Palsu” Karya Desyema Depa

    Lihatlah dunia kelabu ini

    Pandanglah lukisan kisah hidup ini

    Dengarlah jeritan hati kami

    Yang merintih menahan diri

    Sentuhlah kesusahan yang lama teralami

    Membelenggu kepiluan tanpa terkasihani

    Kami…

    Rakyat kecil masih menanti

    Sadarnya dirimu atas perbudakan teori

    Omong kosong tanpa ada bukti

    Berteriak sana sini

    Lalu esok kau tinggal pergi

    Dan lusa kau tak lagi peduli

    Kapan kau tak tuli

    Bisa dengar rintihan hati kami

    Kapan kau tak buta hati

    Bisa lihat duka seisi negri

    Yaa Allah Yaa Illahi . . .

    Tolong sadarkanlah segera sang penguasa kami…

    Jangan biarkan terus berkorupsi

    Jangan izinkan terus berkolusi

    Wahai rakyat sejati

    Jangan hanya diam menahan diri

    Menahan raga dan sukma yang tersakiti

    Wahai sang penguasa tanah air, yang sejati

    Jika kau benar punya hati

    Berhentilah bersikap tak pasti

    Semoga pikirannya belum mati

    Tertindih keegoisan diri sendiri

    Semoga suara jiwa kami tak terabaikan lagi

    Semoga sang penguasa Negeri wujudkan mimpi pasti

    Beri kebahagiaan seluruh rakyat di sini

    Bukanlah kepalsuan lagi..

    Karena kami butuh bukti…

    Bukan sekedar janji.

    6. Emha Ainun Najib “Doa Sehelai Daun Kering”

    Janganku suaraku, ya ‘Aziz

    Sedangkan firmanMupun diabaikan

    Jangankan ucapanku, ya Qawiy

    Sedangkan ayatMupun disepelekan

    Jangankan cintaku, ya Dzul Quwwah

    Sedangkan kasih sayangMupun dibuang

    Jangankan sapaanku, ya Matin

    Sedangkan solusi tawaranMupun diremehkan

    Betapa naifnya harapanku untuk diterima oleh mereka

    Sedangkan jasa penciptaanMupun dihapus

    Betapa lucunya dambaanku untuk didengarkan oleh mereka

    Sedangkan kitabMu diingkari oleh seribu peradaban

    Betapa tidak wajar untuk ku merasa berhak untuk mereka hormati

    Sedangkan rahman rahimMu diingat hanya sangat sesekali

    Betapa tak masuk akalnya keinginanku untuk tak tersakiti

    Sedangkan kekasihMu Muhammad dilempar batu

    Sedangkan IbrahimMu dibakar

    Sedangkan YunusMu dicampakkan ke laut

    Sedangkan NuhMu dibiarkan kesepian

    Akan tetapi wahai Qadir Muqtadir

    Wahai Jabbar Mutakabbir

    Engkau Maha Agung dan aku kerdil

    Engkau Maha Dahsyat dan aku picisan

    Engkau Maha Kuat dan aku lemah

    Engkau Maha Kaya dan aku papa

    Engkau Maha Suci dan aku kumuh

    Engkau Maha Tinggi dan aku rendah serendah-rendahnya

    Akan tetapi wahai Qahir wahai Qahhar

    Rasul kekasihMu ma’shum dan aku bergelimang hawaí

    Nabi utusanmu terpelihara sedangkan aku terjerembab-jerembab

    Wahai Mannan wahai Karim

    Wahai Fattah wahai Halim

    Aku setitik debu namun bersujud kepadaMu

    Aku sehelai daun kering namun bertasbih kepadaMu

    Aku budak yang kesepian namun percaya pada kasih sayang dan pembelaanMu

    7. Emha Ainun Najib “Ketika Engkau Bersembahyang”

    Ketika engkau bersembahyang

    Oleh takbirmu pintu langit terkuakkan

    Partikel udara dan ruang hampa bergetar

    Bersama-sama mengucapkan allahu akbar

    Bacaan Al-Fatihah dan surah

    Membuat kegelapan terbuka matanya

    Setiap doa dan pernyataan pasrah

    Membentangkan jembatan cahaya

    Tegak tubuh alifmu mengakar ke pusat bumi

    Ruku’ lam badanmu memandangi asal-usul diri

    Kemudian mim sujudmu menangis

    Di dalam cinta Allah hati gerimis

    Sujud adalah satu-satunya hakekat hidup

    Karena perjalanan hanya untuk tua dan redup

    Ilmu dan peradaban takkan sampai

    Kepada asal mula setiap jiwa kembali

    Maka sembahyang adalah kehidupan ini sendiri

    Pergi sejauh-jauhnya agar sampai kembali

    Badan di peras jiwa dipompa tak terkira-kira

    Kalau diri pecah terbelah, sujud mengutuhkannya

    Sembahyang di atas sajadah cahaya

    Melangkah perlahan-lahan ke rumah rahasia

    Rumah yang tak ada ruang dan tak ada waktunya

    Yang tak bisa dikisahkan kepada siapapun

    Oleh-olehmu dari sembahyang adalah sinar wajah

    Pancaran yang tak terumuskan oleh ilmu fisika

    Hatimu sabar mulia, kaki seteguh batu karang

    Dadamu mencakrawala, seluas ‘arasy sembilan puluh sembilan

    8. “Zikir” Karya Zamzam Noor

    Aku mengapung

    Ringan

    Meninggi padamu

    Bagai kapas menari-nari

    Dalam angin

    Jumpalitan bagai ikan

    Bagai lidah api

    Bau busuk mulutku, Anne

    Seratus tahun memanggil-manggil

    Namamu

    Inilah zikirku

    Lelehan aspal kealpaaanku 

    Cairan timah kekeliruanku

    Gemuruh mesin keliaranku

    Tumpukan sampah keterpurukanku

    Selokan mampat kesia-siaanku

    Aku tak tidur padahal ngantuk

    Tak makan padahal lapar

    Tak minum padahal haus

    Tak menangis padahal sedih

    Tak berobat padahal luka

    Tak bunuh diri padahal patah hati

    Anne! Anne! Anne!

    Zikirku seribu sepi menombakmu

    Menembus lapisan langit keheninganmu

    Mengerat gumpalan kabut rahasiamu

    Mengiris pusaran angin kesadaranmu

    Menghanguskan jarak ruang dan waktu

    Aku mencair

    Bagai air

    Mengalir padamu

    Bagai hujan

    Tumpah ke bumi

    Menggelinding bagai batu

    Bagai hantu

    Anne! Anne! Anne!

    Inilah rentetan tembakan kerinduanku

    Lemparan granat ketakutanku, dentuman meriam kemabukanku

    Luapan minyak kegairahanku, kobaran tungku kecintaanku

    Semburan asap kepunahanku

    Aku tak mengemis padahal miskin

    Tak merampok padahal banyak utang

    Tak mencuri padahal terdesak

    Tak menipu padahal ada kesempatan

    Tak menuntut padahal punya hak

    Tak meminta padahal putus asa

    Anne! Anne! Anne!

    Zikirku seribu sunyi mengejarmu

    Menggedor barikade pertahananmu

    Menerobos dinding persembunyianmu

    Mengobrak-abrik ruang semadimu

    Menghancurkan singgasana kekhusyukanmu

    Bau busuk mulutku, Anne

    Seratus tahun memanggil-manggil

    Namamu

    9. Puisi Islami “Tahajjud Cintaku” Karya Emha Ainun Najib

    Maha Anggun Tuhan yang menciptakan hanya kebaikan

    Maha Agung ia yang mustahil menganugerahkan keburukan

    Apakah yang menyelubungi kehidupan ini selain cahaya

    Kegelapan hanyalah ketika taburan cahaya tak diterima

    Kecuali kesucian tidaklah Tuhan berikan kepada kita

    Kotoran adalah kesucian yang hakikatnya tak dipelihara

    Katakan kepadaku adakah neraka yang kufur lagi durhaka

    Sedang bagi keadilan hukum ia menyediakan dirinya

    Kemanapun memandang yang tampak ialah kebenaran

    Kebatilan hanyalah kebenaran yang tak diberi ruang

    Maha Anggun Tuhan yang menciptakan hanya kebaikan

    Suapilah makanan agar ia tak kelaparan dan berwajah keburukan

    Tuhan kekasihku tak mengajari apapun kecuali cinta

    Kebencian tak akan ada kecuali cintanya telah engkau lukai hatinya

    10. “Thank You Allah” Pengarang Nurul Rizki Rahmania

    Ya Allah . . ,

    Atas segala nikmatMu, aku bersyukur kepadaMu . . .

    Atas segala rahmatMu, aku berlindung kepadaMu . . .

    Kau ajarkan aku untuk bersabar, atas musibah yang menimpaku . . .

    Kau ajarkan aku untuk selalu bersyukur atas apa yang aku punya . . ,

    Tanpa merasa kekurangan suatu apapun . . .

    Ya Allah . . ,

    Kau berikan nikmat hidup ini kepada kami . . .

    Begitu banyaknya nikmat yang Kau berikan . . ,

    Sehingga, kami tak mampu menghitungnya . . .

    Dan kami mendapatkan rahmat dan karunia

    Yang tak terhingga dari apa yang telah Kau hadiahkan untuk kami . . .

    Ya Allah . . ,

    Dengan otak, kami bisa berfikir

    Dengan mata, kami melihat indahnya dunia . . .

    Dengan hidung, kami menghirup udara segar . . .

    Dengan mulut, aku bisa berbicara saat ini . . .

    Dengan telinga, kami mendengar suara nan merdu . . .

    Dengan tangan, kami melakukan banyak hal . . .

    Dengan kaki, kami berjalan dan melangkah . . .

    Ya Allah . . ,

    Sungguh berkali lipat nikmat yang telah Kau berikan pada kami

    Terutama, nikmat terbesar yang sejak dahulu ada

    Yaitu nikmat Iman dan Islam

    Yang dimiliki kaum muslim dan muslimat

    Thank You, Allah . . .

    11. “Candu Rindu Kepada Mu” Pengarang Siti Nur Kholifah

    Hati bergetar mendengar seruan keagungan-Mu

    Kaki bersorak melangkah menuju hadapan-Mu

    Menjamah air suci untuk membersihkan diri

    Menuju ke persimpuhan nan suci

    Seraya melantunkan bacaan-bacaan yang mengagungkan-Mu

    Syukur tak hentinya menjalar sanubari

    Hati bergejolak rasa rindu

    Rasa rindu tak terbendung untuk ingin segera menghadap-Mu

    Rasa rindu seorang hamba yang haus akan kasih sayang dan rahmat-Mu

    Apakah ini candu rindu kepada-Mu

    Perasaan takut menyelimuti hati ini

    Manakala tiada bertemu dengan-Mu

    Seakan takut akan kehilangan-Mu

    Hingga tak henti-hentinya ku bersimpuh di hadapan-Mu

    Ya Robbi… Ya Rohman…

    Jangan engkau hapuskan candu rindu ini

    Candu rindu akan diri-Mu

    Yang selalu menyelimuti hatiku

    12. Puisi Islami Berjudul “Taubat Nasuha”

    Ketika niat hati terasa mustahil ditepati

    Hari-hari pun dilalui kosong tanpa arti

    Dunia berbondong-bondong memasuki ruas hati

    Memonopoli sukma yang tak berdaya seakan mati

    Iya…

    Aku telah mati sebelum malaikat maut bertamu

    Sebelum napas yang dititipkan kembali bagai debu

    Bahkan sebelum cakrawala runtuh di jantung sendu

    Dan mentari tak lagi bersinar khidmat di garis ufuk

    Menikam kalbu

    Entah bekal apa yang kelak akan ditimbang di Yaumul Mizan

    Jikalau ibadah yang diwajibkan enggan terlaksanakan

    Bahkan panggilannya lima kali sehari pun terabaikan

    Hingga ukhrawi tempatku dikembalikan terlalaikan

    Taaba-yatuubu taubah

    Taubat kuazamkan bukti hujah

    Sari’a-yasro’u sur’ah

    Segera menuju Sang Pemurah

    Rasa takutku begitu dahsyat terhadap neraka

    Tapi aku tak pantas menantikan nirwana

    Semoga hatiku sigap jujur dalam niatnya

    Untuk berubah menggapai taubat nasuha

    13. “Wanita Shaleha” Karya Andi Darfawati dan Andi Umrah

    Senyumnya..

    Bagaikan tanda kelembutan tutur katanya

    Dihiasi dengan wajah yang berseri

    Bagaikan bukti ketaatan ibadahnya

    Rambut yang terbalut indah oleh hijabnya

    Tangan yang cantik karena pacarnya

    Berjalan dengan tertunduk….

    Bagaikan wanita yang menjaga martabatnya

    Kitab….

    Tergenggam erat di tangannya

    Bukti wanita cerdas

    Yang mampu memilih keputusan

    Dengan baik disertai senyum

    Indah…

    Kata yang pantas untuknya

    Bukti kebaikan pribadinya

    Wanita yang baik akhlaknya

    Kelembutan yang membuatnya mempunyai banyak teman

    Akhlak yang membuatnya merasa tentram

    Hijab yang membuatnya merasa terjaga

    Agama yang membuatnya dicintai

    Dialah wanita saleha

    Sudah Tahu Apa Saja Contoh Puisi Islami?

    Beberapa contoh puisi islami tersebut merupakan salah satu contoh karya sastra dengan tema keagamaan yang menyejukkan hati dan sebagai pengingat diri. Puisi-puisi tersebut juga mengandung pesan untuk selalu mengingat Tuhan, menjalankan perintah-Nya, dan senantiasa menjauhi larangan-Nya.