Author: Linda Yulita

  • Mehamami Pengertian RNA, Struktur, dan Fungsinya dalam Tubuh

    Mehamami Pengertian RNA, Struktur, dan Fungsinya dalam Tubuh

    Salah satu penyusun sel yang memiliki fungsi penting dalam tubuh makhluk hidup adalah RNA (Ribonucleic Acid atau asam ribonukleat). Secara singkat, asam ribonukleat berperan besar sebagai pembawa informasi genetik makhluk hidup. 

    Untuk mengetahui informasi selengkapnya mengenai Ribonucleic Acid, mulai dari pengertian, struktur, hingga fungsi utamanya, baca artikel ini sampai habis, ya!

    Pengertian RNA

    Istilah RNA merupakan singkatan dari Ribonucleic Acid yang dalam bahasa Indonesia artinya asam ribonukleat. Secara teori, RNA adalah struktur molekul polimer yang memiliki peran dalam mengkode hingga mengekspresikan gen dalam sel. 

    Asam ribonukleat mengandung senyawa basa adenin, guanin, sitosin, dan urasil yang mana sangat penting dalam penentuan sifat makhluk hidup. Gugusan asam ini terbentuk sebagai rantai nukleotida atau seringkali juga dalam bentuk rantai tunggal yang melipat ke dirinya sendiri. 

    Organisme seluler, seperti virus, sering menggunakan materi genetik asam ribonukleat untuk mengkodekan dan menyampaikan informasi genetik mereka lalu mengarahkannya kepada sintesis protein tertentu.

    Ciri-ciri RNA

    Pada dasanya, terdapat beberapa ciri utama dari RNA yang bisa membedakannya dengan penyusun sel lainnya. Di antaranya adalah:

    • Terletak di bagian sitoplasma, khususnya dalam ribosom.
    • Memiliki bentuk rantai tunggal.
    • Memiliki kandungan atau kadar materi genetik yang tidak tetap.
    • Berfungsi penting sebagai sintesis protein.
    • Mengandung senyawa basa nitrogen yang terdiri dari purin dan pirimidin. Purin terdiri atas Adenin (A) dan Guanin (G), sedangkan pirimidin terdiri atas Sitosin (S) dan urasil (U).
    • Menggunakan ribosa sebagai komponen gulanya di mana ribosa terdiri atas lima karbon, satu gugus hidroksil (-OH), dan satu oksigen.

    Struktur RNA

    Utamanya, gugusan Ribonucleic Acid pada makhluk hidup terdiri atas beberapa senyawa basa nitrogen yang terikat pada gula-fosfat, sehingga membentuk satu rantai tunggal berpilin bernama single heliks

    Adapun senyawa basa nitrogen yang terikat pada gula-fosfat RNA meliputi adrenalin, sitosin, guanin, dan urasil. Namun, adanya gugus hidroksil pada asam ribonukleat membuatnya tidak bisa tetap atau rentan terhadap basa, sehingga tidak bisa bertahan lama. 

    Sehingga, saat dibutuhkan, asam ribonukleat akan secara spontan tersintesis dari DNA untuk berbagai kebutuhan dan aktivitas penting dalam tubuh. 

    Fungsi RNA

    Berikut ini beberapa fungsi utama dari asam ribonukleat yang perlu Anda pahami:

    1. Menyimpan Informasi Genetik

    Fungsi pertama dari asam ribonukleat adalah untuk menyimpan informasi genetik. Keberadaan materi kecil ini sangat bermanfaat untuk organisme seluler, seperti virus, dalam memperbanyak diri. 

    Saat virus menyerang sel hidup, maka materi genetik inilah yang akan masuk ke dalam sitoplasma sel inang. Kemudian, akan ditranslasi oleh sel inangnya untuk bisa menghasilkan virus-virus baru. 

    2. Perantara Antara DNA dan Protein

    Fungsi RNA dalam proses ekspresi genetik adalah sebagai perantara antara DNA dan protein. Dalam peran ini, asam ribonukleat saat proses transkripsi akan terbentuk sebagai hasil salinan kode urutan pada basa nitrogen DNA. 

    Adapun kode urutan basa ini tersusun dalam bentuk triplet yang terdiri atas tiga urutan basa nitrogen bernama kodon. Setiap kodon akan terhubung dengan satu asam amino penyusun dari protein. 

    3. Sebagai Enzim

    Fungsi berikutnya dari asam ribonukleat adalah sebagai enzim untuk mengkatalisis formasi dari materi asam itu sendiri atau molekul lainnya. Lebih tepatnya, enzim yang berperan adalah RNA polimerase atau RNAP yang mana merupakan enzim untuk proses pembentukan asam ribonukleat.

    4. Sumber Fosfor

    Selain itu, asam ribonukleat juga berperan penting sebagai sumber fosfor untuk kebutuhan hidup  manusia. Hal ini memungkinkan karena asam ribonukleat mengandung gugus fosfat yang bermanfaat dalam memperkuat gigi dan tulang.

    5. Mengikat Asam Amino

    RNA juga berguna untuk mengikat asam amino yang terdapat pada sitoplasma. Namun sebelum bisa diikat, asam amino akan bereaksi dengan adenosin trifosfat (ATP) terlebih dahulu untuk menghasilkan energi yang cukup.

    Selanjutnya, materi genetik ini akan membawa asam amino yang telah terikat ke ribosom untuk selanjutnya melakukan perubahan informasi genetik. Adapun proses ini disebut dengan transisi yang mana perubahan tersebut dinyatakan dalam urutan basa dari asam ribonukleat duta ke urutan asam amino yang akan terbentuk.

    6. Sintesis Protein

    Fungsi terakhir dari asam ribunukleat, terutama dalam bentuk RNAr, adalah untuk mensintesis protein dengan menggunakan bahan asam amino yang berguna untuk menghasilkan polipeptida. 

    Jenis-jenis RNA

    RNA terdiri dari tiga jenis penyusun yang ada pada setiap tubuh makhluk hidup, yaitu rRNA, tRNA, dan mRNA. Berikut ini penjelasan lengkapnya:

    1. rRNA

    rRNA yang merupakan singkatan dari ribosom RNA adalah penyusun ribosom bersama dengan protein dalam sitoplasma sel. Jumlah rRNA adalah yang paling banyak jika Anda bandingkan dengan jenis lainnya, sekitar 65 sampai 70 persen dari massa ribosom.

    Fungsi dari rRNA yaitu untuk mengatur kegiatan sintesis protein dan menerjemahkan informasi yang dibawa oleh mRNA. Selain itu, rRNA dapat membentuk berbagai macam protein esensial saat berikatan dengan asam amino.  

    2. mRNA

    Jenis mRNA seringkali disebut sebagai pembawa pesan karena fungsi utamanya yang berperan dalam membawa pesan genetik menuju rRNA. Struktur dari mRNA (messenger RNA) relatif pendek dan tidak stabil, sehingga mudah rusak.  

    mRNA menyimpan kode genetik dalam bentuk triplet nukleotida yang nantinya akan berguna untuk proses sintesis protein. Oleh karena itu, jumlah mRNA dalam sel biasanya hanya sedikit, yaitu sekitar 5 persen dari total keseluruhan asam ribonukleat yang ada. 

    Molekul dari mRNA mengandung urutan coding tertentu untuk protein dengan bentuk dan ukuran yang bervariasi. Melalui urutan coding, nantinya mRNA akan lebih mudah dalam mentransfer informasi genetik di antara sel atau di dalam sel.

    3. tRNA

    tRNA atau singkatan dari transfer RNA memiliki struktur yang paling kecil dan paling pendek daripada jenis mRNA maupun rRNA. Materi genetik ini terdiri atas 75 sampai 95 nukleotida yang stabil karena setiap molekulnya terikat oleh ikatan hidrogen.

    Selain itu, tRNA juga diperkirakan memiliki struktur umum berbentuk tersier atau struktur yang terbentuk dari analisis difraksi sinar-X di bagian bawah. 

    Lebih lanjut, analisis  urutan tRNA menunjukkan bahwa struktur sekundernya seperti daun semanggi yang terbentuk oleh daerah basis pairing antara bagian untai RNA dan bagian ini melipat ke dalam suatu struktur tiga dimensi.

    Fungsi tRNA yaitu untuk membaca asam amino yang tubuh butuhkan dengan cara menempelkan dirinya pada mRNA dan kemudian dikirimkan ke dalam ribosom. Tidak hanya itu, fungsi lain dari tRNA adalah untuk membawa sejumlah asam amino ke ribosom untuk disusun menjadi protein tertentu. 

    Sudah Paham Apa Itu RNA dan Fungsinya?

    Berdasarkan penjelasan di atas, Anda telah mengetahui bahwa RNA atau asam ribonukleat memiliki fungsi penting dalam tubuh makhluk hidup, terutama dalam menyampaikan informasi genetik untuk perkembangannya. 

    Oleh sebab itu, penting bagi Anda untuk mulai menjaga kesehatan tubuh sehingga kerja dari materi genetik ini tidak terganggu. 

  • Mengenal Teori Evolusi: Prinsip, Tokoh, dan Penjelasannya

    Mengenal Teori Evolusi: Prinsip, Tokoh, dan Penjelasannya

    Teori evolusi merupakan bagian dari ilmu biologi yang mengemukakan bahwa berbagai jenis makhluk hidup di bumi berasal dari jenis lainnya yang sudah ada sebelumnya.  Misalnya, manusia mengalami evolusi dari bentuk sederhana menjadi bentuk yang lebih kompleks secara bertahap dalam jangka waktu yang lama. 

    Ada banyak pemikiran dari tokoh terkenal seperti Darwin dan Lamarck yang menjelaskan bagaimana makhluk hidup berkembang dan berevolusi dari masa ke masa. Lebih lanjut, Anda bisa memperluas pengetahuan tentang bagaimana makhluk hidup berevolusi menurut beberapa teori dalam ulasan di bawah ini.

    Pengertian Teori Evolusi

    Evolusi dalam ilmu biologi merupakan perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perubahan sifat yang terjadi bisa disebabkan karena kombinasi antara tiga proses utama, yaitu variasi, reproduksi, dan seleksi.

    Gen makhluk hidup yang berevolusi akan membawa sifat-sifat dasar dan mewariskannya untuk keturunannya serta mengembangkan variasi sifat untuk suatu populasi. Ketika suatu organisme melakukan reproduksi, maka keturunannya akan memiliki sifat yang baru.

    Teori evolusi menyatakan bahwa semua jenis makhluk hidup berasal dari makhluk terendah. Hal tersebut sesuai dengan perkembangan zaman dan perubahan geologi astronomi yang berangsur pada makhluk hidup sampai saat ini. 

    Bahkan, manusia digolongkan sebagai hewan dalam pemikiran evolusi. Hewan mengalami perkembangan dan bentuk seperti makhluk terendah sehingga muncul pemikiran tersebut. Ada banyak tokoh yang berpendapat tentang teori ini, seperti Aristoteles, Plato, Lamarck, Darwin, Wallace, dan Weisman.

    Prinsip Evolusi

    Pada dasarnya, evolusi didukung oleh dua mekanisme utama antara lain seleksi alam dan hanyutan genetik. Kemiripan antar organisme sebenarnya menunjukkan bahwa semua spesies bisa berasal dari nenek moyang yang sama melalui proses divergen. Lebih lanjut, berikut ini prinsip evolusi yang bisa Anda pahami:

    1. Spesies baru bukan bentuk dari yang paling sempurna yang langsung hidup. Spesies baru berasal dari bentuk sederhana yang belum terspesialisasi.
    2. Evolusi bisa terjadi lebih cepat daripada yang lain sehingga bentuk baru muncul dan bentuk lama punah.
    3. Evolusi bisa berasal dari perubahan bentuk kompleks menjadi bentuk sederhana.
    4. Laju kecepatan proses evolusi tidak selalu sama di antara organisme yang mengalaminya.
    5. Proses evolusi hanya dapat terjadi pada sebuah populasi, bukan suatu individu. Evolusi ini terjadi melalui banyak proses mulai dari proses mutasi, reproduksi diferensial, maupun seleksi alam.

    Macam-Macam Teori Evolusi

    Berikut adalah beberapa macam dari teori ini yang perlu Anda ketahui:

    1. Evolusi Manusia Purba

    Pertama adalah tentang evolusi yang berasal dari seorang filsuf pra-socrates, Anaximandros yang membahas kemungkinan evolusi manusia berasal dari ikan. Namun, belum ada bukti ilmiah mengenai pendapat ini.

    Pemikiran tentang evolusi manusia kemudian berkembang dan muncul pemikiran jika manusia di bumi berasal dari primata yang telah punah. Primata yang sering berkaitan dengan teori ini adalah primata kera. Anda mungkin sudah tidak heran jika ada informasi yang menyatakan jika manusia berasal dari kera.

    DNA manusia dan primata diketahui mempunyai kemiripan hingga 97 persen. Inilah yang menjadi dasar mengapa hewan primata sering dikaitkan dengan manusia. Meski begitu, bukan berarti manusia benar-benar berasal dari kera. 

    Penelitian tentang kemiripan DNA manusia dan primata hanya mampu mendeteksi kemungkinan bahwa manusia dan primata memiliki nenek moyang yang sama. Bukan berarti manusia berasal dari kera.

    2. Teori Charles Darwin

    Teori evolusi yang tidak kalah populer sepanjang zaman evolusi manusia adalah teori menurut Charles Darwin. Charles Darwin mengemukakan bahwa semua makhluk hidup berasal dari nenek moyang yang sama dan berhubungan satu sama lain. 

    Proses mutasi genetik dari nenek moyang yang sama berakibat pada terjadinya proses evolusi yang panjang hingga muncul spesies baru. Teori ini tertuang dalam bukunya yang berjudul The Origin of Species. Darwin menggambarkan evolusi manusia seperti sebuah pohon, di mana akarnya adalah nenek moyang. 

    Sedangkan ranting dan daun merupakan spesies baru dari proses mutasi genetik. Proses mutasi genetik ini bisa terjadi karena seleksi alam dalam jangka waktu yang panjang. Kemudian Darwin membagi proses evolusi ini menjadi dua, yaitu mikroevolusi dan makroevolusi.

    Mikroevolusi menunjukkan perubahan yang terjadi pada spesies dengan cara yang sederhana. Seperti adanya perubahan warna dan ukuran pada populasi dari beberapa generasi. Sedangkan makroevolusi merupakan perubahan yang terjadi karena adanya seleksi alam yang bisa menciptakan spesies baru.

    3. Teori Lamarck

    Lamarck berpendapat bahwa organisme hidup mewakili sebuah kemajuan dengan manusia sebagai bentuk tertingginya. Pemikiran ini kemudian menjadi teori tentang perubahan kehidupan sejak awal abad ke-19. 

    Organisme yang mengalami evolusi selama bertahun-tahun ini berawal dari bentuk yang lebih rendah menuju bentuk yang lebih tinggi. Sementara puncaknya adalah manusia. Perbedaan antar individu bisa terjadi akibat kebiasaan yang dilakukan setiap individu. Sementara karakteristik organisme dapat diwariskan nantinya. 

    Gagasan pertama dari teori Lamarck adalah fenomena jerapah dengan leher yang panjang. Menurut Lamarck, jerapah zaman dahulu berleher pendek, karena keinginannya menggapai dedaunan di pucuk pohon menyebabkan leher jerapah memanjang. 

    Gagasan ini menunjukkan bahwa bagian tubuh yang sering digunakan akan terus berkembang, sedangkan bagian yang tidak digunakan akan tereduksi. Ada pula gagasan kedua yang menyatakan jika modifikasi suatu tubuh individu dapat diwariskan pada keturunan selanjutnya.

    Pada akhirnya, gagasan ini dikenal sebagai lamarckisme yang mungkin tidak sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan tentang evolusi. Meski begitu, teori Lamarck berkontribusi penting dalam tahapan evolusi biologis yang mendukung penelitian lebih lanjut.

    4. Teori Weismann

    Pada awal abad ke-20 muncul teori baru dari August Friedrich Leopold Weismann yang mempelajari ciri-ciri organisme berkembang dan berevolusi dalam berbagai organisme. Mayoritasnya adalah serangga dan hewan air. 

    Weismann mengusulkan teori kontinuitas plasma nutfah dan berpendapat jika hanya perubahan pada sel germinal yang dapat diwariskan dan bukan sel tubuh. Selain itu, Weismann juga mengusulkan mengenai teori seleksi germinal sebagai bentuk pengembangan dari prinsip evolusi melalui seleksi alam.

    Sebagaimana eksperimen yang dilakukan Weismann terhadap tikus. Weismann memotong bagian ekor tikus dan mengawinkannya satu sama lain dengan harapan tikus generasi baru memiliki ekor yang lebih pendek. Sayangnya, sampai percobaan generasi kelima pun ekor tikus tetap panjang seperti generasi sebelumnya.

    Berdasarkan eksperimen tersebut, Weismann membantah teori evolusi Lamarck dan  menyimpulkan bahwa informasi hanya bisa diwariskan melalui sel gamet dan bukan sel somatik.

    5. Teori Wallace

    Pada dasarnya, teori dari Wallace adalah bentuk pengembangan dari teori seleksi alam yang sebelumnya telah dikemukakan oleh Charles Darwin. Pemikiran Wallace berawal dari ditemukannya tentang perbedaan bentuk pada kelompok fauna yang sama di pulau yang berbeda. 

    Wallace kemudian menyimpulkan bahwa, makhluk hidup melewati proses seleksi alam yang panjang, sehingga muncul spesies baru dengan kemiripan sifat. Sebagaimana teori yang dikemukakan oleh Charles Darwin.

    Sudah Paham Berbagai Macam Teori Evolusi?

    Demikian informasi mengenai bagaimana makhluk hidup berkembang dan berevolusi menurut beberapa teori dari tokoh terkemuka. Anda bisa menjadikan ulasan ini sebagai informasi untuk mengenal bagaimana manusia berevolusi dari masa ke masa. Meski demikian, tidak semua teori dapat terbukti secara ilmiah.

  • Hereditas pada Manusia: Pengertian dan Polanya

    Hereditas pada Manusia: Pengertian dan Polanya

    Pernahkah menyadari mengapa warna kulit, bentuk wajah, hingga rambut bisa mirip dengan orang tua kamu? Nah, fenomena itulah yang kita kenal dengan sebutan hereditas pada manusia. 

    Ya, hereditas merupakan suatu proses penurunan sifat dari induk kepada keturunannya melalui genetik. Seperti apa mekanismenya?  Simak penjelasan selengkapnya!

    Apa itu Hereditas?

    Setiap bayi yang terlahir di dunia ini sebelumnya pasti akan melewati tahapan pembuahan antara sperma pria dan sel telur wanita yang terjadi akibat aktivitas seksual sehingga wanita bisa mengandung dan melahirkan.

    Ketika sperma bertemu dengan ovum (sel telur), terjadi perpaduan gen yang pada gilirannya muncul menjadi karakteristik anak yang mirip dengan kedua orang tuanya. Dari sinilah hereditas dimulai.

    Hereditas merupakan pewarisan sifat dari suatu makhluk kepada keturunannya. Sifat-sifat menurun inilah kemudian dikendalikan oleh genetika yang kita kenal dengan istilah DNA yang terdapat dalam gen.

    Sederhananya, hereditas pada manusia mengacu pada pewarisan sifat dari orang tua kepada keturunannya. Meski begitu, terkadang anak-anak terlihat persis seperti salah satu orang tua mereka, atau bahkan sangat mirip dengan saudara kandungnya.

    Mengutip Parents, anak-anak berbagi 50 persen DNA mereka dengan masing-masing orang tua dan saudara mereka.

    Jadi, ada banyak kemungkinan variasi. Jika saudara kandung akhirnya mirip, campuran gen yang mereka warisi tentu saja serupa. Tetapi, setiap anak juga mungkin mendapatkan pewarisan yang berbeda pula.

    Misalnya, anak sulung mungkin memiliki bibir yang mirip dengan ayahnya, sedangkan anak bungsu mungkin mendapatkan bibir yang mirip dari ibunya.

    Hereditas Menurut Hukum Mendel

    Dalam sejarahnya, teori hereditas ini tercetus oleh ilmuwan bernama Gregor Johann Mendel pada 1865 silam. 

    Awalnya Mendel menguji dua kacang ercis yang mempunyai satu perbedaan sifat dengan melakukan persilangan. Dari percobaan itulah menghasilkan gagasan yang kita kenal dengan sebutan Hukum Mendel.

    Hukum Mendel ini terbagi menjadi dua, yakni Hukum Mendel I dan Hukum Mendel II yang akan dijelaskan secara lengkap sebagai berikut: 

    1. Hukum Mendel I

    Hukum Mendel I disebut juga sebagai Hukum Segregasi lantaran menyebutkan bahwa pembentukan gamet akan terjadi pemisahan sepasang gen (alel) secara bebas.

    Pola-pola hereditas dalam Hukum Mendel I berlaku untuk persilangan monohibrid, yang terjadi pada satu sifat yang berbeda. Apa itu monohibrid?

    Jadi, Mendel menyilangkan dua ercis galur mumi (homozigot) dengan karakteristik yang berbeda, yakni  tanaman ercis bunga ungu dan putih.

    Pada mulanya dia memotong serbuk sari dari ercis bunga ungu dan menyisakan putiknya. Sedangkan ercis bunga putih hanya menyisakan putiknya saja. Kemudian keduanya disilangkan dan menghasilkan  parental 1 (P1). 

    Alhasil, persilangan tersebut menghasilkan keturunan pertama atau filial 1 (F1) yang berwarna ungu semua sehingga disebut persilangan monohibrid karena hanya mempunyai satu sifat yag berbeda yaitu pada warnanya.

    2. Hukum Mendel II

    Hukum Mendel II adalah hukum asortasi yang menyatakan bahwa alel tidak akan memengaruhi gen yang lain. Pembuktian Hukum Mendell II dilakukan dengan mencoba menyilangkan dua ercis galur murni, satu ercis bulat berwarna kuning dan satunya lagi berbentuk kisut berwarna hijau.

    Karena terdapat dua sifat yang berbeda pada percobaan Mendel ini, yakni bentuk biji dan warna biji, maka disebut dengan persilangan dihibrid

    Seluruh keturunan F1 menghasilkan biji bulat berwarna kuning. Persilangan sesama F1 menghasilkan keturunan kedua (F2) bulat kuning, bulat hijau, kisut kuning, dan kisut hijau dengan perbandingan 9:3:3:1.

    Hukum Mendel II menyatakan bahwa pada pembentukan gamet, alel dari gen yang berbeda terpisah secara independen alias tidak bergantung satu dengan lainnya. 

    Pola Hereditas pada Manusia

    Kemiripan antara anak dan orang tuanya merupakan buah dari hereditas. Akan tetapi, terdapat juga beberapa faktor genetik yang mempengaruhi pola hereditas pada manusia. 

    1. Golongan Darah

    Golongan darah pada manusia bersifat turun temurun serta terbagi menjadi tiga jenis, yaitu A, B, dan O. Itu sebabnya golongan darah orang tua dan anak akan sama, entah itu dari ayah ataupun ibu. 

    Adapun sistem gen penentu golongan darah ABO adalah Ia, Ib, dan Io. Kemungkinan fenotip dan genotip pada pewarisan golongan darah ABO, adalah: 

    • Golongan Darah A = Ia Ia, Ia Io; 
    • Golongan Darah B = Ib Ib, Ib Io;
    • Golongan Darah AB = Ia Ib; dan 
    • Golongan Darah O = Io Io.

    2. Penyakit Keturunan

    Fenomena penyakit keturunan mungkin tidak asing lagi. Jadi, pola ini merupakan penyakit yang dimiliki oleh orang tua dan dapat menurun kepada anaknya. Hal tersebut terjadi lantaran adanya kelainan pada gen. 

    Umumnya ini dikendalikan oleh gen resesif dan hanya bisa muncul pada orang yang memiliki homozigot.

    Penyebab penyakit keturunan bisa terjadi karena dua faktor, yaitu melalui autosom maupun kromosom seks (genosom). Tanda-tandanya tidak menular, akan tetapi ini sukar untuk disembuhkan lantaran terdapat kelainan dalam substansi hereditas. 

    Adapun berikut macam-macam penyakit keturunan dalam pola hereditas pada manusia, yaitu:

    a. Albino

    Albino adalah kelainan genetika karena adanya pigmentasi pada kulit dan organ tubuh lainnya yang tidak normal, serta penglihatan yang sangat peka terhadap cahaya.

    Tubuh tidak mampu memproduksi enzim yang bertugas untuk merubah tirosin menjadi pigmen melanin, yang mana pigmen melanin ini dikendalikan oleh gen resesif. 

    Pada tubuh manusia normal, ada genotip AA serta dengan carrier Aa. Sementara kondisi semacam ini berbanding terbalik dengan orang yang menderita albino sehingga mereka terlahir dari pasangan yang keduanya adalah carrier.

    b. Fenilketonuria

    Fenilketonuria merupakan kelainan genetik lantaran badan tidak mampu melakukan metabolisme fenilalanin. Biasanya penderita fenilketonuria akan mengalami keterbelakangan mental. Secara fisik, mereka bermata biru, berambut putih, dan kulitnya mirip albino.

    c. Polidaktili

    Polidaktili adalah kelainan genetika yang ditandai banyaknya jari tangan maupun yang melebihi normal, misalnya berjumlah enam buah. Polidaktili dapat terjadi pada kedua jari atau salah satu saja. Polidaktili disebabkan oleh gen dominan P sehingga penderitanya mempunyai genotip PP atau Pp. 

    d. Thalassemia

    Thalassemia adalah kelainan genetika karena rendahnya pembentukan hemoglobin. Akibatnya, kemampuan eritrosit untuk mengikat oksigen rendah. 

    Penderitanya terbagi menjadi dua, yakni bergenotip ThTh (thalassemia mayor) dan Thth (thalassemia minor). Penderita mayor kondisinya lebih parah ketimbang yang minor karena bersifat letal (mati).

    e. Dentinogenesis Imperfecta

    Dentinogenesis imperfecta adalah salah satu kelainan pada gigi, yang mana gigi berwarna lebih putih seperti susu. Hal tersebut dapat terjadi karena gen Dt, sedangkan normalnya pada gigi yaitu gen resesif dt.

    f. Buta Warna

    Buta warna merupakan kelainan yang ditandai hilangnya kemampuan mata untuk membedakan warna-warna tertentu. Kelainan ini disebabkan oleh gen resesif yang terpaut pada kromosom-X dan muncul dalam keadaan homozigot.

    Selain itu, kemungkinan fenotip dan genotip pewarisan kelainan ini terjadi oleh beberapa faktor, seperti:

    • Wanita normal  = XX, XXcb;
    • Wanita buta warna = XcbXcb;
    • Pria normal  = XY; dan
    • Pria buta warna = XcbY.

    8. Kebotakan

    Gen penyebab kebotakan dibatasi oleh jenis kelamin sehingga penyakit keturunan ini memungkinan lebih terjadi pada laki-laki.

    Kebotakan ditentukan oleh gen B dan b untuk orang yang berambut normal. Misal, jika ada genotip Bb pada laki-laki, maka dia mengalami kebotakan, namun tidak bagi perempuan. Sebab, perempuan menghasilkan hormon estrogen yang mampu menghalangi genotip Bb sehingga lebih terminimalisir mengalami kebotakan

    Sudah Paham Apa itu Hereditas Pada Manusia?

    Hereditas pada manusia sejatinya proses penurunan sifat dari induk kepada keturunannya melalui genetika.

    Adapun penurunan ini bukan tingkah laku dari induknya, melainkan cenderung pada struktur tubuh atau perwujudannya. Meski begitu, pada proses hereditas terdapat kuga pola-pola yang menyebabkan adanya kelainan, seperti golongan darah dan penyakit keturunan.

  • Mikroskop Cahaya: Pengertian, Fungsi, Cara Kerja, dan Bagiannya

    Mikroskop Cahaya: Pengertian, Fungsi, Cara Kerja, dan Bagiannya

    Salah satu jenis mikroskop yang paling banyak digunakan dalam penelitian adalah mikroskop cahaya. Mikroskop ini sering peneliti pilih karena fungsi dan cara kerjanya yang efisien dalam membantu proses penelitian. 

    Pada artikel berikut, kita akan bersama menguraikan pengertian, fungsi, cara kerja, hingga bagiannya secara lengkap. Sehingga, Anda bisa menggunakannya dengan lebih efektif.

    Pengertian Mikroskop Cahaya

    Mikroskop cahaya atau compound light microscope adalah jenis mikroskop yang menggunakan cahaya lampu sebagai pengganti cahaya matahari untuk mengamati sel-sel atau organisme kecil yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. 

    Pada dasarnya, mikroskop ini menggunakan tiga jenis lensa untuk mendukung kinerjanya dalam mengamati objek tertentu. Ketiga lensa tersebut adalah lensa objektif, lensa okuler, dan lensa kondensor. 

    Lensa okuler merupakan lensa yang paling dekat dengan mata atau sebagai tempat mengintip. Kemudian lensa objektif adalah lensa yang paling dekat dengan objek yang akan Anda amati. Sedangkan lensa kondensor adalah bagian di bawah objek yang berguna untuk menerangi objek dan lensa lainnya pada mikroskop.

    Melalui pengaturan yang tepat dan dengan bantuan ketiga lensa tersebut, Anda bisa mendapatkan daya pisah yang maksimal. Biasanya, jenis mikroskop ini bermanfaat dalam mengamati berbagai objek awetan dan objek segar berukuran kecil, seperti bentuk jaringan. 

    Fungsi Mikroskop Cahaya

    Fungsi dari jenis mikroskop ini hampir sama dengan mikroskop lainnya, yaitu untuk melakukan perbesaran pada objek kecil. Sehingga, Anda bisa melihat detail dari objek, mulai dari jaringan hingga bentuk dari objek tersebut. 

    Biasanya, objek yang diamati dengan mikroskop ini berupa jaringan hewan, tanaman, protozoa, virus, bakteri, dan lain sebaganya. 

    Sejak penemuan mikroskop ini, objek kecil yang tidak bisa terlihat dengan mata telanjang bisa Anda lihat dengan lebih jelas. Bahkan, objek tersebut bisa Anda lihat hingga perbesaran beribu-ribu kali lipat. 

    Cara Kerja Mikroskop Cahaya

    Cara kerja dari mikroskop cahaya hampir sama dengan cara kerja pada mikroskop konvensional. Perbedaannya hanya pada cahaya dan tingkat keakuratan serta kejelasan dari objek yang sedang Anda amati. Adapun cara kerja lengkap dari mikroskop ini adalah sebagai berikut:

    1. Mikroskop Anda letakkan di atas meja kerja dengan aman, kemudian Anda nyalakan mikroskop dan cahaya lampu. Cahaya tersebut akan bersinar di bagian bawah mikroskop.
    2. Sinar dari cahaya lampu tersebut akan bergerak lurus ke atas menuju arah spesimen. Tingkat pencahayaan lampu bisa Anda sesuaikan hingga objek bisa terlihat dengan jelas. 
    3. Setelah cahaya lampu sudah mengarah ke spesimen secara tepat, biasanya spesimen tidak bisa terlihat dengan jelas secara langsung. Sehingga, Anda perlu menggerakkan meja preparat turun atau naik dengan memutar roda ibu jari di bagian sisi mikroskop. 
    4. Selain itu, posisikan juga spesimen hingga benar-benar berada pada posisi lurus dengan lensa objektif dalam mikroskop cahaya. Jika belum tepat, maka Anda bisa menyesuaikan posisi spesimen dengan memindahkannya secara manual. 
    5. Setelah spesimen berada pada posisi yang tepat, cahaya akan merambat dari kaca objek menuju spesimen. Lalu ke kaca penutup dan menuju ke lensa objektif. 
    6. Penyebaran dari sinar lampu akan terus berlanjut hingga spesimen tampak lebih besar saat Anda melihatnya dari lensa okuler. 
    7. Untuk mendapatkan objek yang lebih jelas, Anda bisa mengatur perbesaran dengan memutar roda pada lensa objektif atau dengan memutar roda pada sisi mikroskop. 

    Pada intinya, pahami ketujuh cara kerja atau fungsionalitas dari jenis mikroskop ini. Sehingga, Anda bisa bisa melihat detail dari objek atau spesimen yang Anda amati dengan jelas.

    Bagian-bagian Mikroskop Cahaya dan Penjelasannya

    Berikut ini beberapa bagian utama dari mikroskop cahaya beserta penjelasan fungsinya:

    1. Lensa Okuler

    Bagian pertama ini terletak paling dekat dengan mata Anda saat mengamati objek. Adapun jumlah dari lensa okuler dari setiap mikroskop itu beragam. Namun, umumnya terdapat dua lensa okuler pada mikroskop binokuler dan satu lensa okuler pada mikroskop monokuler. 

    Fungsi dari lensa okuler yaitu untuk membentuk bayangan sesungguhnya yang berasal dari bayangan hasil pencitraan lensa objektif. Selain itu, bagian ini juga berfungsi untuk memperbesar bayangan yang lensa objektif buat hingga sekitar 4 kali hingga 25 kali perbesaran. 

    Selain itu, bagian lensa okuler juga bisa berfungsi untuk melindungi mata Anda saat mengamati mikroskop. Tanpa adanya bagian ini, mungkin Anda akan kesulitan dalam mengamati suatu objek pada mikroskop. 

    2. Lensa Objektif

    Saat Anda menyalakan mikroskop cahaya untuk pertama kalinya, lensa objektif akan membentuk bayangan pertama. Bayangan tersebut akan menentukan struktur dan bentuk renik yang akan terlihat pada bayangan dan memiliki kemampuan dalam memperbesar bayangan objek, sehingga memiliki nilai Apertura. 

    Nilai Apertura merupakan suatu ukuran yang bisa menunjukkan daya pisah lensa objektif dengan daya pisah spesimennya. Melalui nilai Apertura, nantinya Anda bisa melihat bagaimana struktur renik dari dua benda yang terpisah. 

    Adapun jumlah dari lensa ini yaitu 3 sampai 4 lensa dengan perbesaran yang berbeda. Jumlah ini pun tergantung dari jenis mikroskop yang Anda gunakan. 

    3. Lensa Kondensor

    Kemudian, bagian lensa kondensor terletak di bagian bawah dari meja preparat, tepatnya di bagian atas lampu mikroskop. Adapun fungsi dari lensa ini adalah sebagai pendukung terciptanya pencahayaan yang baik kepada objek pengamatan

    Namun, pencahayaan tersebut bisa Anda dapatkan jika melakukan pengaturan yang tepat. Sebab, pengaturan yang asal-asalan bisa membuat objek atau spesimen tidak akan bisa terlihat maksimal. 

    4. Revolver

    Revolver adalah bagian mikroskop cahaya yang merupakan pembuat lensa di bagian atas lensa objektif. Bagian ini umumnya juga disebut sebagai penyangga dari lensa objektif karena posisinya tepat di atas lensa objektif. 

    Fungsi utama dari revolver adalah untuk mempermudah pengaturan nilai pengamatan yang akan Anda gunakan. Apalagi revolver terdiri dari skala tertentu yang bisa mempengaruhi objek terlihat. 

    5. Meja Preparat

    Secara spesifik, meja preparat terletak tepat di atas lensa kondensor, bahkan merupakan tempat melekatnya lensa kondensor. Fungsi utama dari meja preparat adalah untuk meletakkan objek yang akan Anda amati. 

    Meja preparat biasanya dilengkapi dengan penjepit atau capital. Fungsi utama dari kedua bagian tersebut adalah untuk menjaga kaca preparat agar tidak bergeser saat melakukan proses pengamatan. 

    6. Kaki Penyangga Mikroskop Cahaya

    Seperti namanya, bagian ini berfungsi sebagai penyangga dari mikroskop saat proses pengamatan. Kaki penyangga tentu saja terletak di bagian bawah dari mikroskop yang akan sangat membantu mempertahankan posisi mikroskop saat Anda meletakkan mikroskop di tempat yang tidak terlalu datar. 

    7. Diafragma

    Selanjutnya, bagian bernama diafragma terletak di bawah lensa kondensor dan merupakan bagian yang pertama kali mendapatkan cahaya dari lampu. 

    Sehingga, fungsi utama bagian ini adalah mengatur jumlah cahaya yang masuk dan yang akan mengenai lensa kondensor. Selain itu, diafragma juga berfungsi untuk memfokuskan cahaya agar bisa langsung menuju ke objek pengamatan. 

    8. Lengan Mikroskop

    Lengan mikroskop terletak di bagian sisi dari mikroskop yang berfungsi dalam mempermudah penggunaan mikroskop. Bagian dari mikroskop ini juga akan sangat membantu Anda dalam memindahkan mikroskop dari satu tempat ke tempat lainnya karena mikroskop cukup berat. 

    9. Skala Preparat

    Skala preparat merupakan bagian tambahan dari mikroskop cahaya yang terletak di atas meja preparat. Fungsi utama dari skala preparat adalah untuk memudahkan penempatan preparat, sehingga posisi preparat lebih tepat saat proses pengamatan. 

    10. Makrometer dan Mikrometer

    Bagian ini terletak di sisi mikroskop, tepatnya di sebelah kiri atau kanan pengamat. Makrometer biasanya terletak di bagian yang lebih atas dari mikroskop, sedangkan mikrometer terletak di bagian lebih bawah. 

    Fungsi dari dua bagian mikroskop ini adalah untuk memfokuskan lensa pada objek pengamatan, baik secara horizontal maupun vertikal.

    11. Tuas Pengatur Kecerahan

    Bagian dari mikroskop cahaya ini terhubung langsung dengan bola lampu di mikroskop, sehingga biasanya terletak di bagian bawah mikroskop. Adapun fungsi tuas pengatur adalah untuk mengatur tingkat kecerahan lampu saat Anda melakukan pengamatan.

    Sudah Paham Bagian Mikroskop Cahaya dan Cara Kerjanya?

    Dalam kesimpulannya, mikroskop cahaya sangat membantu dalam hal pengamatan objek kecil saat tidak ada cahaya matahari. Namun, jenis mikroskop ini membutuhkan listrik, sehingga Anda sebaiknya menggunakannya di laboratorium. 

    Walaupun begitu, mikroskop cahaya sangat kami rekomendasikan karena penggunaannya yang mudah dan kualitas objek yang dihasilkan juga sangat baik. Semoga artikel ini bermanfaat, ya!

  • Mikroskop Binokuler: Pengertian, Jenis, Bagian, dan Fungsinya

    Mikroskop Binokuler: Pengertian, Jenis, Bagian, dan Fungsinya

    Saat bekerja di laboratorium, mikroskop merupakan alat utama yang membantu melihat benda kecil tak kasat mata. Nah, salah satu jenis mikroskop yang paling sering digunakan adalah mikroskop binokuler. 

    Pada artikel berikut, kita akan bersama-sama menguraikan pengertian, jenis, bagian, hingga fungsi dari mikroskop ini. Simak sampai selesai, ya!

    Pengertian Mikroskop Binokuler

    Mikroskop binokuler merupakan salah satu jenis mikroskop cahaya yang dalam penggunaannya memakai cahaya lampu untuk melihat dan meneliti benda yang sangat kecil dan tidak bisa manusia lihat dengan mata telanjang. 

    Lensa yang dihasilkan oleh mikroskop ini memiliki efek tiga dimensi pada benda yang diteliti, sehingga akan merefleksikan bentuk sebenarnya dari objek yang diteliti. Selain itu, mikroskop ini memanfaatkan lensa objektif yang memiliki dimensi yang besar karena adanya sistem lensa tambahan yang terletak di bagian atasnya. 

    Fungsi Mikroskop Binokuler

    Pada dasarnya, fungsi utama dari mikroskop binokuler adalah untuk mengamati benda-benda berukuran kecil seperti bakteri, jamur, jaringan tumbuhan, hingga virus. Pasalnya, mikroskop ini telah dilengkapi dengan skala yang bisa menunjukkan ukuran, panjang, lebar, dan tinggi dari objek penelitian. 

    Apalagi mikroskop ini juga bisa Anda pasangkan kamera yang tentunya akan sangat membantu untuk merekam objek pengamatan. Secara tidak langsung, mikroskop akan sangat membantu dalam mempresentasikan objek dengan baik.

    Jenis Mikroskop Binokuler

    Mikroskop ini memiliki beberapa jenis yang digolongkan berdasarkan aspek tertentu. Berikut ini jenis-jenis mikroskop binokuler yang didasarkan atas sumber cahaya, pembesaran dan aplikasinya: 

    1. Berdasarkan Sumber Cahaya

    Jika berdasarkan pada sumber cahayanya, mikroskop ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

    a. Mikroskop Cahaya (Optical Microscope)

    Utamanya, mikroskop cahaya menggunakan sistem pencahayaan yang berasal dari lampu ataupun cahaya matahari langsung. Namun, biasanya penggunaan lampu lebih disukai karena kualitasnya yang jauh lebih baik untuk mengamati suatu objek.  

    b. Mikroskop Elektron

    Berbeda dengan mikroskop cahaya, mikroskop elektron menggunakan sumber cahaya dari elektro statistik dan magnet. Serta menggunakan lensa dan cermin dari medan listrik dan medan magnet. 

    Oleh sebab itu, jenis mikroskop ini paling disukai lantaran dapat menghasilkan tingkat keakuratannya yang tinggi, bahkan bisa melakukan perbesaran hingga 2 juta kali. 

    2. Berdasarkan Pembesaran

    Kemudian, apabila didasarkan pada aspek pembesarannya, jenis mikroskop binokuler terbagi menjadi dua, yaitu:

    a. Mikroskop Stereo 

    Mikroskop stereo memiliki perbesaran yang rendah, yaitu hanya 5 hingga 45 kali. Namun, mikroskop ini bisa menghasilkan tampilan stereoskopik atau tampilan tiga dimensi (3D) pada sampel yang diamati. 

    b. Mikroskop Compound 

    Sejatinya jenis mikroskop compound bisa menghasilkan perbesaran hingga 1000 kali. Hanya saja, tampilan objek yang dihasilkan masih berupa tampilan dua dimensi (2D). 

    Oleh karena itu, mikroskop ini digunakan hanya untuk melihat jaringan tertentu pada suatu objek yang tidak terlalu memperhatikan dimensinya. 

    3. Berdasarkan Aplikasinya

    Sedangkan jika berdasarkan pada aspek aplikasinya, mikroskop binokuler terbagi menjadi empat jenis, yaitu:

    • Mikroskop Biological: Biasanya digunakan di bidang biologi untuk pengamatan bakteri, virus, sel, dan lain sebagainya. Ciri utamanya yaitu memiliki lampu tembus. 
    • Mikroskop Metalurgi: Jenis mikroskop ini berguna untuk mengetahui struktur sebuah logam atau benda tidak tembus cahaya. Misalnya untuk mengamati struktur ferit pada logam dan sejenisnya. 
    • Mikroskop Polarisasi: Mikroskop ini memiliki stage berbentuk seperti lingkaran yang bisa diputar. Kemudian, juga memiliki nikol yang bersilang untuk mengamati sebuah mineral dengan sayatan tipis.
    • Mikroskop Inverted: Susunan dari mikroskop ini berkebalikan dengan mikroskop compound standar. Sebab, bagian lensa berada di bawah sampel dan bagian kondensor berada di atas sampel.

    Bagian Mikroskop Binokuler

    Adapun bagian-bagian dari mikroskop binokuler beserta fungsinya bisa Anda ketahui pada penjelasan berikut ini:

    1. Lensa Okuler

    Umumnya, lensa okuler terletak di bagian ujung atas mikroskop sehingga posisinya paling dekat dengan mata pengamat. Lensa ini berfungsi untuk memperbesar bayangan suatu objek sebesar 10, 40, dan 100 kali lipat dari perbesaran lensa objektif.

    2. Tubus (Tabung Mikroskop)

    Tabung mikroskop merupakan bagian penghubung antara lensa objektif dengan lensa okuler. Sehingga, tabung ini biasanya terletak di antara kedua lensa tersebut. Sesuai namanya, tabung mikroskop berbentuk silinder dengan diameter sekitar 5 sampai 7 cm. 

    3. Kaca Preparat

    Tempat yang berguna untuk meletakkan objek pengamatan disebut dengan kaca preparat. Kaca ini biasanya memiliki penutup yang berfungsi untuk menutup objek, sehingga objek tersebut tidak mudah bergerak selama pengamatan. 

    Kaca preparat yang sudah berisi sampel objek pengamatan akan diletakkan di meja preparat. Namun, perlu Anda ingat bahwa bagian mikroskop binokuler ini terjual terpisah dengan bagian utama mikroskop.

    4. Meja Preparat

    Meja preparat terletak di tengah-tengah mikroskop yang merupakan tempat utama meletakkan kaca preparat. Biasanya, meja preparat juga dilengkapi dengan penjepit untuk menjaga objek pengamatan tidak mudah berpindah tempat selama pengamatan. 

    5. Kondensor

    Anda bisa menemukan bagian kondensor di bawah meja preparat. Kondensor berfungsi untuk memfokuskan cahaya dari sumber lampu menuju objek pengamatan. 

    6. Diafragma

    Selanjutnya, bagian diafragma terletak tepat di bawah kondensor. Bagian mikroskop binokuler ini berfungsi untuk mengontrol intensitas cahaya yang masuk selama proses pengamatan. 

    7. Pengatur Meja Preparat

    Pengatur meja preparat biasanya terletak di sebelah kiri mikroskop dengan bentuk silinder dan mengarah ke dasar mikroskop. Fungsi dari bagian ini yaitu untuk menggerakkan mikroskop ke bagian belakang atau depan dan bagian ke kanan atau ke kiri. 

    8. Pengunci

    Dari namanya saja, Anda sudah bisa menebak fungsi dari bagian ini. Pengunci berfungsi untuk mengunci kedudukan lensa okuler beserta tabung mikroskop. Biasanya, pengunci ini memiliki bentuk silinder dengan warna silver dan berukuran kecil.

    9. Revolver

    Bagian revolver yang berbentuk lingkaran merupakan tempat melekatnya lensa objektif. Fungsi lainnya dari bagian ini adalah untuk memutar lensa objektif dengan perbesaran tertentu. 

    10. Lengan Mikroskop

    Tak hanya pengatur meja preparat, bagian ini juga terletak di samping mikroskop yang mana menghubungkan kaki mikroskop dengan lensa objektif dan okuler. Fungsi utama dari bagian mikroskop binokuler ini adalah untuk  memegang mikroskop ketika akan memindahkannya. 

    11. Lensa Objektif

    Lensa objektif merupakan bagian terpenting dari mikroskop yang mana terletak tepat di bagian tengah atas meja preparat. Fungsi lensa ini adalah untuk mengamati objek pengamatan yang sudah dilengkapi dengan perbesaran mulai dari 10, 40, 125, dan 1.000 kali.   

    12. Kaki Mikroskop

    Sehubungan dengan sebagai kaki mikroskop, bagian ini tentunya akan terletak di bagian paling bawah mikroskop. Fungsi utama bagian ini yaitu menopang badan mikroskop agar tetap tegak selama aktivitas pengamatan.

    13. Reflektor (Sumber Cahaya)

    Bagian mikroskop binokuler ini biasanya berbentuk lingkaran dengan bahan kaca. Letaknya berada di bagian bawah mikroskop dan di atas kaki mikroskop. Fungsi dari reflektor ini adalah memantulkan cahaya dari lampu langsung ke objek pengamatan. Sehingga, objek pengamatan bisa terlihat maksimal. 

    14. Sekrup Pengatur Jarak

    Selain pengatur meja preparat, sekrup pengatur jarak juga terletak di bagian kiri lengan mikroskop. Ada dua jenis sekrup pada mikroskop, yaitu makrometer dan mikrometer. 

    Sekrup makrometer merupakan pengatur kasar yang berfungsi untuk mengatur besar kecilnya objek pengatan dengan cara menggerakkan tabung mikroskop. Sedangkan sekrup mikrometer adalah pengatur halus yang berfungsi untuk mengatur bayangan objek agar bisa terlihat lebih jelas.

    Tanpa adanya kedua bagian ini, Anda tidak bisa bekerja menggunakan mikroskop tersebut. Hal ini mengingat objek benda tidak selamanya berada lurus di antara lensa objektif.

    15. Lack Listrik

    Lack listrik merupakan bagian penting dari mikroskop ini yang berfungsi sebagai penghubung mikroskop dengan sumber arus listrik. Tanpa adanya bagian ini, cahaya lampu tidak bisa dihasilkan dan proses pengamatan pun tidak bisa Anda lakukan.

    Umumnya, lack listrik akar terletak di bagian belakang kaki mikroskop. Untuk itulah, jika mikroskop tidak bisa menyala, maka Anda juga bisa mengecek bagian ini. 

    16. Saklar On/Off

    Bagian terakhir dari mikroskop adalah saklar on/off yang biasanya terletak di bagian sebelah kiri kaki mikroskop. Tentu saja, fungsi saklar ini yaitu untuk menyalakan atau mematikan mikroskop saat akan atau setelah Anda gunakan. 

    Sudah Tahu Apa Itu Mikroskop Binokuler?

    Dalam kesimpulannya, mikroskop binokuler memiliki banyak manfaat untuk kegiatan penelitian, terutama dalam mengamati objek berukuran sangat kecil. 

    Ada cukup banyak jenis dari mikroskop ini, namun yang paling banyak dan mudah Anda temukan di laboratorium adalah mikroskop cahaya. Karena memang penggunaan mikroskop cahaya lebih mudah dan harganya yang relatif lebih terjangkau. 

  • Mikroskop: Prinsip, Jenis, Fungsi, Bagian, & Cara Memeliharanya

    Mikroskop: Prinsip, Jenis, Fungsi, Bagian, & Cara Memeliharanya

    Sebagai alat yang sering digunakan dalam laboratorium, mikroskop dapat berfungsi untuk membantu melihat objek yang sangat kecil. Oleh sebab itu, pahami apa saja bagian-bagiannya lewat artikel berikut ini!

    Apa Itu Mikroskop?

    Mikroskop atau microscope adalah salah satu alat optik yang akan bekerja menggunakan prinsip cahaya. Secara umum, microscope biasa dimanfaatkan dalam proses laboratorium untuk mengamati objek yang memiliki ukuran sangat kecil.

    Fungsi tersebut dikaitkan dengan istilah sendiri, sehingga dapat merujuk pada alat optik. Semakin berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahun, alat ini memiliki berbagai jenis dengan versi yang lebih canggih.

    Benda ini telah mengalami sejarah panjang, khususnya untuk menjadi alat yang membantu manusia mengamati suatu objek. Secara umum, alat ini berguna untuk melihat dan mengamati benda yang memiliki ukuran kecil.

    Biasanya benda yang diamati dengan alat ini tidak bisa dilihat menggunakan mata telanjang. Merujuk pada pengertian ini, maka alat ini didefinisikan sebagai alat yang dapat melihat sesuatu sangat kecil seperti ukuran mikro.

    Selain itu, alat ini juga bisa digunakan untuk memperbesar bayangan objek bendanya. Dengan demikian, manusia bisa mengamati dengan lebih besar dari ukuran sebenarnya.

    Bahkan alat ini akan memperbesar bayangan besar mencapai 40, 100, hingga 1.000 kali. Itu tergantung pada lensa yang digunakan. Skala perbesaran akan dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, sehingga inovasi baru akan terus tercipta, khususnya dalam bidang sains.

    Prinsip Kerja Mikroskop

    Berdasarkan prinsip kerjanya, alat ini memiliki dua lensa. Keduanya disebut sebagai lensa objek dan lensa okuler. Pada lensa objektif, lensa ini akan terletak di bagian tengah dekat objek yang sedang diamati.

    Sementara itu, lensa okuler adalah bagian alat ini yang memanfaatkan mata untuk melihat objeknya. Lensa objektif akan membentuk bayangan, kemudian lensa okuler akan membuat titik fokus pada bayangan tersebut.

    Jenis-Jenis Mikroskop

    Berdasarkan sumber energinya, secara umum alat ini terdiri dari dua jenis, yakni cahaya dan elektron. Berikut penjelasannya:

    1. Cahaya

    Jenis ini akan membutuhkan cahaya sebagai media pengirim gambar kepada mata. Dengan demikian, pengamatan terhadap bagian-bagian mikroskopis akan jadi lebih transparan. Adapun sumber cahaya bisa didapat dari matahari maupun penerang lainnya.

    Alat ini membutuhkan lensa untuk menangkap dan memfokuskan cahaya pada objek pengamatan. Jenis ini terdiri dari beberapa lensa objektif dengan perbesaran yang berbeda-beda, yakni lemah (10 kali), sedang (40 kali), dan kuat (100 kali).

    Sementara itu, ada juga lensa okuler dengan perbesaran 10 kali. Jenis ini cenderung memiliki perbesaran minimum sekitar 40 hingga 100 kali. Namun, maksimumnya bisa mencapai 1.000 kali.

    Berdasarkan lensa okulernya, jenis ini dibagi menjadi beberapa bentuk, yakni monokuler, binokuler, dan trinokuler. Sedangkan pada penggunaannya, terdiri dari medan terang, fluorescence, fase kontras, dan inverted.

    2. Elektron

    Pada jenis mikroskop ini, daya pembesarannya memiliki volume yang sangat tinggi, bahkan bisa mencapai 100.000 kali. Jenis ini memiliki sumber cahaya yang berasal dari berbagai berkas elektron suatu lampu.

    Alat ini berfungsi untuk membantu mengamati mikroorganisme yang berukuran sangat kecil. Sebagai contoh, misalnya seperti virus dan bakteri. Alat ini memiliki dua komponen, yakni Transmission Electron Microscope (TEM) dan Scanning Electron Microscope (SEM).

    SEM dan TEM dilengkapi komponen utama yang sama, yakni sumber elektron, elektrostatik, dan berbagai perangkat lensa elektromagnetik. Komponen tersebut digunakan untuk mengatur bentuk dan lintasan dari berkas elektron, khususnya pada elektron aperture

    Bagian-bagian Mikroskop dan Fungsinya

    Seseorang yang bekerja dalam ruang lingkup laboratorium, harus bisa memahami bagian microscope dengan maksimal. Agar tidak bingung, berikut ini bagian-bagian dan fungsinya yang perlu dipahami:

    1. Lensa Objektif

    Lensa objektif akan berada di dekat objek penelitian. Bagian ini akan membentuk bayangan pertama yang bersifat nyata, terbalik, dan dapat diperbesar. Melalui lensa objektif, maka objek dapat memiliki besaran hingga mencapai 100 kali lebih besar. Bukan hanya itu saja, lensa ini juga memiliki nilai aperture.

    Maksud dari nilai aperture adalah ukuran kemampuan dalam menangkap cahaya dan menyelesaikan detail spesimen halus pada objeknya. Jika nilai aperture semakin tinggi, maka cahaya akan semakin miring saat masuk ke lensa objektif.

    2. Lensa Okuler 

    Lensa okuler adalah lensa letaknya berada di dekat dengan orang yang meneliti, lebih tepatnya mata dari si pengamat. Lensa okuler memiliki fungsi untuk memperbesar bayangan objek penelitian. Bayangan yang dihasilkan akan memiliki sifat tegak, maya, dan bisa diperbesar.

    Dengan sifat bayangan yang dihasilkannya, kemungkinan bayangan dapat dilihat secara langsung oleh pengamatnya. Secara umum, hasil bayangan lensa okuler dapat dibentuk menjadi perbesaran 6, 10, hingga 12 kali.

    3. Tabung

    Tabung mikroskop juga bisa disebut sebagai tubus, yakni salah satu bagian non optik dari alat ini. Dengan menggunakan tabung, maka fokus objek dapat diatur secara maksimal. Hal tersebut karena tabung berfungsi menjadi penghubung antara lensa objektif dan lensa okuler.

    4. Mikrometer

    Mikrometer adalah pemutar halu yang berukuran kecil dan berfungsi untuk menaikkan atau menurunkan tabung. Volume yang digunakan oleh mikrometer cenderung memiliki tempo lambat.

    5. Makrometer

    Berbeda dengan mikrometer, makrometer adalah pemutar kasar yang berukuran besar. Makrometer terletak di bagian lengan microscope dan fungsinya untuk menaikkan atau menurunkan tabung dengan tempo cepat.

    6. Revolver

    Revolver sejenis pemutar lensa yang memiliki fungsi untuk mengatur besaran lensa objektif. Bagian ini bertujuan agar nilai pengamatan dapat diatur dengan  mudah. Selain itu, revolver juga berfungsi sebagai tuas penyangga.

    7. Reflektor

    Reflektor mikroskop digunakan sebagai cermin pengatur, hal ini karena berfungsi untuk memantulkan cahaya. Adapun dua jenis cermin dalam reflektor, yakni cermin datang dan cermin cekung.

    8. Diafragma

    Diafragma dimanfaatkan untuk mengatur cahaya, bagian ini terletak di sekitar meja preparat. Sebagai pengatur jumlah cahaya yang masuk, pengamat dapat fokus dalam menentukan jumlah cahayanya.

    9. Kondensor

    Cara menggunakan kondensor pada microscope sangat mudah, pengamat cukup memutarnya ke kanan, kiri, naik, dan turun. Fungsi dari kondensor adalah untuk mengumpulkan cahaya yang memantul dari cermin, lalu cahaya tersebut akan difokuskan.

    10. Meja

    Meja microscope juga disebut sebagai meja kerja, karena fungsinya untuk menjadi tempat meletakkan objek penelitian. Meja ini dilengkapi dengan penjepit objek, sehingga objek tidak mudah goyah.

    11. Penjepit Kaca

    Sebenarnya, meja kerja mikroskop juga sudah ada penjepitnya, namun penjepit kaca tidak kalah penting dalam proses pengamatan. Penjepit kaca memiliki fungsi utama sebagai pelapis objek pengamatan, sehingga preparat tidak akan mudah bergeser.

    12. Lengan

    Bagian ini menjadi pegangan saat microscope akan dibawa atau dipindahkan. Inilah mengapa alat ini cenderung memiliki engsel pada kaki dan lengannya. Bagian lengan dapat diatur sesuai yang diinginkan, baik itu rebah maupun tegak.

    13. Kaki

    Kaki microscope berfungsi untuk menjadi penopang pada alat ini, sehingga alat tersebut dapat berdiri dengan tegak. Meskipun berada di bidang yang tidak datar sekalipun, benda ini akan tetap berdiri stabil. Kakinya sederhana dan melekat di lengang, karena sudah dilengkapi dengan perangkat semacam engsel di dalamnya.

    14. Sendi Inklinasi

    Sendi inklinasi adalah bagian terakhir pada microscope, fungsinya sangat penting karena menjadi pengatur sudut dalam pengamatan. Seperti namanya, bagian ini berfungsi untuk mengatur derajat kemiringan dan sudut tegak yang dibutuhkan oleh pengamat saat sedang meneliti objek.

    Cara Memelihara Mikroskop Agar Tetap Terawat

    Sebagai peralatan biologi yang sangat penting, maka alat ini harus dipelihara dengan baik. Oleh sebab itu, alat-alat laboratorium harus melalui pemeliharaan yang maksimal. Nah, berikut ini cara memelihara alat ini dengan baik:

    • Simpan alat ini di tempat yang sejuk, kering, dan bebas dari kotoran. Baik itu debu, uap asam, maupun basa. Tempat yang ideal untuk digunakan adalah kotak khusus yang telah dilengkapi silica gel.
    • Pada bagian non optik, sebaiknya dibersihkan menggunakan kain flanel saja. Jika ada debu yang terselip, bisa menggunakan kuas kecil.
    • Lensa-lensa bisa dibersihkan menggunakan tisu lensa, namun tisu harus diberikan alkohol 70% terlebih dahulu. Jangan membersihkannya dengan sapu tangan maupun lap kain.
    • Lensa objektif yang terdapat sisa minyak imersi bisa dibersihkan menggunakan xylol. Penggunaannya harus hati-hati agar tidak terkena bagian non optik, karena bisa merusak warna.
    • Sebelum menyimpan, microscope harus selalu dibersihkan secara menyeluruh. Selain itu, atur juga meja kerja dan lensa objektif agar menjauh dari preparat. Lalu, turunkan juga kondensor dan lampu harus dikecilkan intensitasnya.

    Sudah Tahu Apa itu Mikroskop?

    Dalam bidang laboratorium, microscope sangatlah penting untuk mengamati objek penelitian. Oleh sebab itu, alat ini harus dibersihkan dan disimpan sebaik mungkin agar fungsinya bisa bekerja secara optimal!

  • Pembelahan Sel: Fungsi, Jenis, dan Contohnya dalam Tubuh

    Pembelahan Sel: Fungsi, Jenis, dan Contohnya dalam Tubuh

    Tahukah Anda bahwa sel-sel dalam tubuh memiliki kemampuan membelah diri untuk memperbanyak dirinya? Kemampuan inilah yang dinamakan pembelahan sel, di mana sel induk akan membelah dirinya menjadi dua atau lebih dengan tujuan untuk menambah jenis sel dan membentuk sel-sel baru yang lain. 

    Lalu, bagaimana caranya sel-sel tersebut membelah diri? Simak penjelasan lengkapnya di artikel ini!

    Pembelahan Sel dalam Tubuh

    Dalam ilmu biologi, sel merupakan struktur terkecil dan paling sederhana yang bisa hidup serta termasuk unit yang tugasnya menyusun semua makhluk hidup.

    Secara struktural sel adalah satuan paling kecil makhluk hidup yang bisa melaksanakan kehidupan. Jika dilihat secara fungsional, adanya sel berguna untuk menjalankan fungsi kehidupan, kemudian terbentuklah suatu organisme.  

    Sebagian besar makhluk hidup seperti amoeba dan bakteri itu tersusun dari sel tunggal sehingga disebut organisme uniseluler. Sementara makhluk hidup lain seperti manusia, hewan, dan tumbuhan adalah organisme multiseluler yang tersusun dari banyak jenis sel yang tergabung menurut fungsinya masing-masing. 

    Meski begitu, sebenarnya seluruh tubuh organisme ini berasal dari satu sel induk yang mengalami pembelahan sel. Contohnya tubuh tikus itu terbentuk dari pembelahan sel telur induknya yang telah dibuahi tikus jantan. 

    Sesuai dengan namanya, pembelahan sel adalah aktivitas membelah diri yang dilakukan sel induk dalam tubuh untuk menambah jenis sel lain atau membentuk sel-sel baru. Biasanya sel-sel ini bertambah jumlahnya menjadi dua atau lebih dengan tujuan yang beragam, misalnya:

    • Pertumbuhan: Makhluk hidup mengalami pertumbuhan dari kecil hingga besar, pendek menjadi tinggi.
    • Reproduksi: Perkembangbiakan yang dilakukan oleh makhluk hidup untuk memperbanyak keturunan.
    • Perbaikan:  Perbaikan jaringan yang rusak karena tubuh mengalami luka, maka sel akan membelah diri untuk menutup luka tersebut.

    Tubuh manusia sendiri terdiri dari sekitar 40 triliun sel dan ada sekitar 200 jenis sel berbeda. Dari jenis-jenis sel berbeda itulah nantinya akan membentuk bagian tubuh berbeda juga, seperti jantung, paru-paru, hati, dan seluruh organ dalam badan manusia terbentuk dari sekumpulan sel-sel. 

    Dari sinilah bisa dikatakan juga bahwa pembelahan sel adalah proses reproduksi yang dilakukan oleh sel-sel tubuh untuk memperbanyak jumlahnya. Caranya, sel-sel tubuh akan membelah diri dengan menduplikasi seluruh isi sel untuk membentuk anak-anak sel baru. 

    Jenis-Jenis Pembelahan Sel Makhluk Hidup 

    Teori bahwa sel berasal dari satu sel induk kemudian mengalami perkembangbiakan melalui cara membelah diri pertama kali dikemukakan oleh dokter Rudolf Virchow tahun 1855. 

    Dokter asal Jerman ini mengemukakan omnis cellula e cellula, yang artinya semua sel hidup itu berasal dari sel yang sudah ada kemudian mengalami pembelahan untuk memperbanyak jumlahnya. Pembelahan ini terdiri dari tiga jenis, yakni:

    1. Amitosis

    Reproduksi sel ini terbagi menjadi dua cara, yakni langsung dan tidak langsung. Amitosis adalah pembelahan yang termasuk kategori langsung, di mana pembelahannya langsung menjadi dua sel anak. 

    Amitosis disebut juga dengan pembelahan biner yang dilakukan oleh organisme uniseluler, misalnya amoeba, bakteri, sianobakteri, dan mikroalga. Setiap kali terjadi pembelahan, sel induk akan terbelah menjadi dua sel identik kemudian diikuti pembelahan sitoplasma yang menjadikan sel terbelah menjadi dua sel anakan. 

    Pembelahan ini terjadi secara spontan pada organisme uniseluler karena mereka tidak mempunyai membran inti yang ikut terbelah. Jadi prosesnya tanpa melalui tahap pembelahan seperti makhluk hidup lainnya. 

    Proses membelah diri yang dilakukan bakteri, amoeba, dan organisme uniseluler lain ini seperti:

    • Pertama, kromosom dari bakteri tersebut akan menempel pada membran plasma.
    • Kedua, setelah menempel pada membran plasma, kromosom akan melakukan duplikasi atau penggandaan.
    • Ketiga, sel pada bakteri akan memanjang dan bagian tengahnya melekuk ke dalam membentuk cincin.
    • Keempat, kromosom terbagi menjadi dua bagian membentuk calon sel baru.
    • Kelima, sel akan terpisah menjadi sel anak yang sifatnya sama dengan sel induk.

    2. Mitosis

    Kalau tadi pembelahan sel langsung yang terjadi pada organisme uniseluler, sekarang mitosis adalah pembelahan tak langsung di mana proses terbelahnya harus melalui pembelahan inti sel terlebih dahulu. 

    Mitosis merupakan pembelahan yang terjadi di mana sel anak sama dengan kromosom induknya. Proses ini biasanya terjadi pada sel somatik di mana sel somatik ini melingkupi semua sel yang membangun tubuh, seperti sel tubuh, sel otot, sel saraf, dan lainnya kecuali pada kelamin.

    Mitosis ini hanya terjadi pada sel eukariotik, bukan pada sel prokariotik. Sebab sel prokariotik tidak mempunyai inti sel, membran inti sel, dan mitokondria sehingga tidak bisa melakukannya. 

    Secara umum, mitosis ini fungsinya untuk pertumbuhan makhluk hidup. Namun jika dijabarkan secara lengkap, mitosis itu mempunyai fungsi untuk:

    • Membentuk sel-sel baru supaya makhluk hidup tersebut bisa tumbuh.
    • Bisa mengganti sel-sel yang rusak pada makhluk hidup.

    Nah supaya bisa membentuk sel baru, sel-sel tersebut haruslah punya jumlah kromosom yang sama agar mampu melanjutkan fungsi dari sel induknya. Ada beberapa fase penting dalam proses pembelahan secara mitosis ini, antara lain:

    • Profase: membran inti rusak menjadi bagian-bagian kecil, membentuk benang kromatin, lalu memadat membentuk kromosom yang akan bergerak ke arah tengah sel.
    • Metafase: kromosom berkumpul di ekuator nukleus lalu nukleus pecah jadi butiran.
    • Anafase: tertariknya sel pada dua badan kutub oleh sentriol.
    • Telofase: sel mulai memisah lalu terjadilah pembelahan pada sitoplasma.

    3. Meiosis

    Pembelahan meiosis ini berguna untuk fungsi reproduksi dan pemeliharaan. Karena fungsinya untuk reproduksi, maka meiosis ini hanya terjadi pada sel kelamin yang nantinya membentuk sel reproduksi gamet berupa sperma dan ovum. 

    Dari meiosis ini akan dihasilkan sel anak yang memiliki kromosom setengah dari kromosomnya sel induk. Nantinya pembelahan yang terjadi akan menghasilkan empat sel anak yang masing-masing selnya punya separuh jumlah kromosom sel induk. 

    Meiosis ini disebut juga dengan pembelahan reduksi, di mana akan melalui dua tahapan yakni meiosis I dan II. Pada meiosis I terjadi beberapa fase, yaitu:

    • Profase I: rusaknya membran inti menjadi fragmen (bagian-bagian kecil), sementara kromosom sudah memadat dan mengganda.
    • Metafase I: kromosom mulai berjajar pada bidang.
    • Anafase I: kromosom menuju kutub-kutub berlawanan.
    • Telofase I: kromosom memisah dan bergerak ke arah berlawanan, dan membran inti terbentuk kembali.

    Sedangkan fase pada meiosis II adalah:

    • Profase II: rusaknya membran inti menjadi fragmen dan kromatid bergerak ke bidang pembelahan.
    • Metafase II: kromosom sejajar di bidang pembelahan.
    • Anafase II: kromosom bergerak ke kutub berlawanan.
    • Telofase II: terbentuknya kembali membran dan terbentuk juga empat sel anakan bersifat haploid.

    Lalu, apa bedanya dengan mitosis? Perbedaan keduanya terletak pada jumlah sel anak yang dihasilkan. Jumlah kromosom atau DNAnya juga berbeda, di mana meiosis mengalami pengurangan. 

    Fungsi Pembelahan Sel pada Tubuh

    Ada beberapa fungsi dari reproduksi sel yang terjadi pada tubuh ini, misalnya seperti:

    • Membantu proses pertumbuhan.
    • Memperbanyak sel.
    • Regenerasi sel yang sudah mati.
    • Sel membelah agar makhluk hidup bisa berkembang biak dan mendapatkan keturunan.
    • Membantu keberlangsungan hidup organisme atau makhluk hidup.

    Contoh Pembelahan Sel 

    Seperti yang sudah disebutkan bahwa semua organisme yang memiliki susunan sel-sel pada tubuh, seperti manusia, tumbuhan, dan hewan pasti mengalami proses ini. 

    Contohnya pada mitosis adalah pembelahan pada sel saraf, sel hati, hingga sel kulit manusia. Sementara pada tumbuhan, seperti yang terjadi pada sel akar, sel batang, sel daun, dan lain sebagainya. 

    Sedangkan meiosis contohnya adalah proses pembentukan sel sperma dan sel telur pada betina. Selain manusia, meiosis ini bisa terjadi juga pada hewan dan tumbuhan. 

    Sudah Tahu tentang Pembelahan Sel pada Tubuh?

    Itulah informasi tentang pembelahan sel yang terjadi pada tubuh organisme termasuk pada organisme uniseluler, hewan, tumbuhan, dan manusia. Dari sini bisa disimpulkan bahwa reproduksi sel sangat diperlukan untuk kelangsungan makhluk hidup itu sendiri, terutama untuk pertumbuhan dan perkembangannya.

  • Sistem Rangka Manusia: Pengertian, Jenis, Fungsi dan Gangguannya

    Sistem Rangka Manusia: Pengertian, Jenis, Fungsi dan Gangguannya

    Saat manusia lahir, terdapat kurang lebih 300 tulang pembentuk rangka manusia dan perlahan jumlahnya berkurang. Tulang-tulang penyusun rangka manusia tersebut masih dibagi menjadi 2 bagian yaitu rangka apendikular yang berjumlah 126 tulang serta kerangka aksial yang jumlahnya 80 tulang. Setiap tulang tersebut akan saling bekerja sama sehingga membentuk sistem rangka manusia. Berikut pembahasan selengkapnya.

    Pengertian Sistem Rangka Manusia

    Sistem rangka manusia merupakan rangkaian tulang serta sendi sebagai dasar dalam membentuk tubuh manusia. Adanya sistem tersebut memungkinkan manusia mampu bergerak dengan fleksibel. Selain itu, sistem rangka pada manusia juga mampu melindungi berbagai organ penting dalam tubuh.

    Setidaknya manusia mempunyai 300 tulang. Akan tetapi, seiring bertambahnya usia, beberapa jaringan tulang dapat menyatu. Kemudian jaringan tersebut akan membentuk kurang lebih 206 tulang dalam tubuh.

    Masing-masing tulang juga mempunyai peran tersendiri sehingga mekanisme tubuh dapat berfungsi secara baik. Selain itu, umumnya rangka manusia terdiri dari tiga kelompok, yaitu:

    1. Rangka Badan

    Rangka tengkorak adalah rangka penyusun badan yang terdiri dari tulang rusuk, tulang dada, tulang belakang, tulang gelang panggul, dan tulang gelang bahu.

    2. Rangka Anggota Gerak

    Fungsinya untuk berjalan, memegang benda, berlari, dan sebagainya. Rangka anggota gerak mempunyai dua bagian yaitu rangka bagian atas dan bawah.

    Rangka bagian atas terdiri dari lengan atas, tulang pengumpil, pergelangan tangan, tulang hasta, telapak tangan, serta ruas jari tangan. Sementara anggota gerak bawah terdiri dari tempurung lutut, tulang paha, pergelangan kaki, betis, tulang kering, telapak kaki, serta ruas kaki.

    3. Rangka Kepala

    Rangka yang tersusun dari berbagai tulang seperti tulang ubun-ubun, tulang dahi, tulang tengkorak, tulang pelipis, tulang air mata, tulang baji, tulang hidung, tulang pipi, rahang bawah, rahang atas, serta tulang lidah.

    Fungsi Sistem Rangka Manusia

    Rangka manusia merupakan hasil dari kerja sama antara rangka dengan otot. Otot menjadi bagian tubuh yang dapat berkontraksi. Sementara rangka tidak dibekali kemampuan seperti itu. Jadi, rangka juga dinamakan alat gerak pasif. 

    Adapun beberapa fungsi rangka manusia yaitu:

    1. Memberikan Bentuk dan Menegakkan Tubuh

    Fungsi yang pertama, rangka manusia berperan untuk memberikan bentuk tubuh dan menegakkan tubuh seseorang. Mengenai tinggi maupun rendahnya postur tubuh seseorang tergantung rangkanya. Tulang juga berperan menopang tubuh manusia sehingga mampu dengan leluasa berdiri tegak maupun duduk.

    2. Menunjang Pergerakan Tubuh

    Tulang bersama otot, sendi, dan ligamen memiliki peran penting untuk mendukung pergerakan tubuh. Dengan begitu, manusia mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari. Misalnya menulis, berjalan, berlari, makan, dan sebagainya. Lewat sistem rangka tersebut, manusia mampu bergerak dengan nyaman.

    3. Memproduksi Sel Darah

    Sumsum tulang menjadi bagian yang berperan menghasilkan sel darah. Misalnya sel darah merah, trombosit, dan sel darah putih. Adapun sumsum tulang tersebut memiliki tekstur lunak. Anda bisa menemukan pada beberapa rongga tulang seperti tulang paha dan panggul.

    4. Menyimpan Mineral

    Sistem rangka manusia memiliki dua mineral penting yaitu fosfor dan kalsium. Kedua nutrisi tersebut dibutuhkan sel sehingga mampu bergerak secara fleksibel, khususnya untuk sel saraf serta otot.

    Saat kadar fosfor dan kalsium pada tubuh berkurang mengakibatkan hormon paratiroid akan mengambil kekurangan tersebut dari tulang. Kondisi ini berpotensi mengakibatkan kadar fosfor serta kalsium dalam tulang menipis yang mengakibatkan seseorang rentan terkena osteoporosis serta patah tulang.

    Struktur serta Jenis Tulang pada Sistem Rangka Manusia

    Tulang adalah komponen utama dalam penyusunan rangka manusia. Karena perannya sebagai penyusun rangka, maka tulang mempunyai beberapa lapisan yaitu tulang kompak, periosteum, endosteum, tulang spons, serta sumsum tulang.

    Periosteum merupakan lapisan paling luar yang di dalamnya terdiri atas jaringan ikat fibrosa. Sementara tulang kompak adalah tulang dengan tekstur halus, padat, sedikit berongga, serta kuat.

    Kemudian ada tulang spons yaitu lapisan berongga dan di dalamnya berisi sumsum merah. Selanjutnya, endosteum adalah lapisan yang memiliki jaringan areolar vaskuler dan berfungsi melapisi sumsum. Sumsum tulang adalah bagian tulang terdalam dan teksturnya seperti jeli. Fungsinya yaitu tempat terbentuknya sel-sel darah. 

    Adapun beberapa jenis tulang antara lain:

    1. Tulang Panjang

    Jenis tulang yang pertama yaitu tulang panjang. Tulang ini mempunyai rongga serta bertanggung jawab sebagai penopang kerangka tubuh manusia. 

    Adapun contoh tulang panjang yaitu tulang betis (fibula), tulang paha (femur), tulang telapak tangan (metacarpal), tulang telapak kaki (metatarsal), jari-jari (phalanx). Selain itu, ada juga tulang pembentuk lengan. Misalnya ulna, humerus, dan radius.

    2. Tulang Sesamoid

    Tulang ini tertanam di tendon maupun jaringan ikat. Sesamoid berperan menghubungkan jaringan otot dan tulang. Tulang ini berbentuk bulat serta berukuran kecil. Anda bisa menemukannya di tendon tangan, kaki, maupun lutut.

    Fungsi tulang sesamoid yaitu melindungi tendon terhadap tekanan sendi serta mampu meningkatkan efisiensi sendi. Contoh tulang sesamoid yaitu tempurung lutut atau patella.

    3. Tulang Pipih

    Jenis tulang yang ketiga pada sistem rangka manusia yaitu tulang pipih. Tulang tersebut mempunyai ukuran sangat tipis meskipun bentuk serta ukurannya cenderung bervariasi. 

    Terdapat area pada permukaan tulang yang fungsinya melindungi otot di tulang tersebut. Sementara itu, beberapa contoh tulang pipih yaitu tulang tengkorak (cranial), tulang rusuk (rib), tulang belikat (scapula), dan tulang dada (sternum).

    4. Tulang Pendek

    Tulang pendek merupakan jenis tulang yang memiliki ukuran kecil. Bentuknya pun hampir sama seperti dadu atau berbentuk bundar. Tulang tersebut mempunyai tugas pokok yaitu menggerakkan tubuh.

    Adapun contoh tulang yang termasuk tulang pendek yaitu tulang yang membentuk pergelangan tangan (carpal). Selain itu, ada juga tulang yang membentuk pergelangan kaki (tarsal).

    5. Tulang Tak Beraturan

    Berikutnya ada tulang yang bentuknya tidak beraturan karena memang bentuknya tidak sesuai tulang pendek, panjang, maupun tulang pipi. Contoh yang tergolong tulang tak beraturan yaitu tulang sacrum, tulang rawan (vertebrae), tulang ekor (coccygeal). 

    Tulang tak beraturan juga terdapat pada tulang pembentuk wajah seperti tulang pipi (zygomatic), tulang baji (sphenoid), serta tulang ethmoid

    Gangguan pada Sistem Rangka Manusia

    Berikut beberapa gangguan atau kelainan yang menyerang sistem rangka pada manusia.

    1. Fraktur

    Fraktur adalah kondisi saat sendi maupun tulang pada tubuh rusak. Kondisi tersebut terjadi karena retak maupun patah. Alhasil, sistem rangka pada manusia tak dapat difungsikan secara baik.

    2. Osteomielitis

    Osteomielitis merupakan peradangan yang terjadi pada jaringan tulang maupun sekitarnya. Kondisi ini terjadi karena adanya infeksi bakteri. Adanya infeksi tersebut karena luka terbuka di tulang seperti karena cedera.

    Selain itu, bisa juga disebabkan infeksi pada bagian tubuh lainnya lalu menyebar ke tulang. Bisa juga terjadi karena adanya komplikasi dari operasi.

    3. Osteoporosis

    Gangguan atau masalah pada sistem rangka manusia yang ketiga ini mungkin Anda sudah sering mendengarnya. Osteoporosis atau pengeroposan tulang merupakan kondisi karena kepadatan tulang berkurang maupun hilangnya kekuatan tulang.

    Umumnya, wanita lebih banyak mengalami masalah osteoporosis dibanding pria. Alasannya karena jumlah sel tulang pada wanita cenderung lebih sedikit. Selain itu, menopause juga mampu meningkatkan risiko wanita mengalami osteoporosis.

    4. Rakitis

    Rakitis adalah pertumbuhan tidak normal pada anak karena kekurangan vitamin D. Gangguan ini mengakibatkan tulang anak menjadi lunak dan rapuh. Tulang tersebut juga lebih mudah patah.

    5. Akromegali

    Akromegali merupakan kondisi yang disebabkan jumlah hormon pertumbuhan yang berlebih dalam tubuh. Para penderitanya akan mengalami masalah pertumbuhan berlebihan di jaringan tulang, khususnya di lengan, wajah, serta kaki.

    6. Kanker Tulang

    Kanker tulang dapat berkembang pada jaringan tulang maupun sel yang diproduksi tulang. Terbentuknya kanker yaitu di jaringan utama meskipun kondisi ini cukup langka.  Akan tetapi, untuk kanker yang diproduksi tulang seperti myeloma dan limfoma cenderung lebih sering terjadi.

    Tips Menjaga Kesehatan Sistem Rangka Manusia

    Seiring bertambahnya usia, kekuatan tulang akan semakin menurun. Maka dari itu, Anda harus menjaga kesehatan dan kekuatan tulang dengan beberapa cara berikut:

    • Mengonsumsi makanan yang mengandung tinggi kalsium seperti keju, susu, ikan salmon, yoghurt, brokoli, bayam, dan tahu.
    • Memenuhi kebutuhan tubuh akan vitamin D baik lewat paparan matahari, mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin D, atau suplemen.
    • Memakai alat pelindung diri ketika berkendara serta berolahraga.
    • Berolahraga rutin seperti berenang, latihan beban, atau berjalan kaki.
    • Tidak merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol.

    Sudah Paham tentang Sistem Rangka Manusia?

    Jadi, sistem rangka pada manusia perannya sangat penting untuk menunjang berbagai aktivitas. Terdapat beberapa masalah atau gangguan terkait sistem rangka manusia yang harus Anda hindari dan pastikan kebutuhan vitamin D untuk tulang Anda terpenuhi. Semoga bermanfaat.

  • Proses Metabolisme Serta Pengertian, Faktor, dan Fungsinya

    Proses Metabolisme Serta Pengertian, Faktor, dan Fungsinya

    Tubuh merupakan hal yang sangat penting untuk dijaga setiap orang. Dalam tubuh ini terjadi berbagai aktivitas biologis dan kimiawi. Berbagai aktivitas tersebut dikenal dengan proses metabolisme. Mari mempelajari proses pengolahan ini agar Anda dapat memahami dan menjaga tubuh dengan lebih baik!

    Apa Itu Metabolisme?

    Metabolisme merupakan serangkaian proses dalam tubuh yang berguna untuk mengubah makanan yang dikonsumsi menjadi energi yang digunakan untuk beraktivitas. Sedangkan, sisa dari proses ini akan menjadi zat yang perlu diekskresikan oleh tubuh. 

    Ini tergolong dalam proses yang terus berlanjut. Karena kebutuhan energi tubuh untuk hidup, beraktivitas, bergerak, dan mengaktifkan kerja organ akan selalu ada selama seorang manusia masih hidup. 

    Adapun metabolisme ini dikatalisasi atau dipercepat dengan bantuan berbagai enzim di dalam tubuh. Mulai dari enzim pemecah karbohidrat, pemecah protein, hingga pemecah lemak. 

    Apabila asupan makanan Anda terlalu berlebih, tubuh akan melakukan metabolisme secukupnya dan seperlunya saja. Sedangkan sisa makanan berlebih akan tersimpan dalam tubuh sebagai cadangan makanan atau cadangan energi. Ini juga merupakan proses yang dinamis. 

    Selain itu, apabila salah satu komponen dalam proses ini mengalami kelainan atau kerusakan. Maka, bisa dipastikan tubuh akan mengalami beberapa gangguan tertentu yang menyebabkan gangguan kesehatan. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk menjaga metabolisme tetap baik demi kesehatan.

    Jenis Proses Metabolisme

    Setelah mengetahui apa itu metabolisme, selanjutnya Anda akan mengetahui beberapa jenis metabolisme yang ada dalam tubuh. Pada dasarnya, sistem metabolisme terbagi menjadi dua, yaitu anabolisme dan katabolisme. Berikut ini merupakan penjelasan mengenai keduanya:

    1. Katabolisme

    Jenis metabolisme yang pertama adalah katabolisme. Katabolisme sendiri merupakan serangkaian proses biologis dan kimiawi untuk memecah asupan makanan kompleks menjadi zat yang lebih sederhana dan memiliki produk akhir berupa energi ATP. 

    Setelah terbentuk menjadi energi sederhana, selanjutnya ATP yang ada akan digunakan untuk menjalankan serangkaian fungsi organ yang ada di dalam tubuh. Seperti pernafasan, berpikir, pencernaan, peredaran darah sistem ekskresi, alat gerak, dan masih banyak lagi. 

    Peran katabolisme sangat penting bagi tubuh, mengingat hasil akhirnya berupa energi yang digunakan untuk menggerakkan dan menjalankan fungsi semua organ. Apabila katabolisme tidak berjalan dengan baik, maka seseorang dapat mengalami lemah, letih, lesu dan berbagai gangguan pada tubuh lainnya.

    2. Anabolisme

    Jenis proses metabolisme kedua adalah anabolisme. Anabolisme merupakan proses lanjutan dari katabolisme. Anabolisme sendiri merupakan serangkaian proses biologis dan kimiawi yang terjadi dalam tubuh dan berguna untuk mengganti dan memperbaiki berbagai sel yang rusak dalam tubuh. 

    Sebagai makhluk hidup, kerusakan sel menjadi sebuah hal yang pasti terjadi karena faktor usia, lingkungan dan lainnya. Sel yang rusak tersebut harus digantikan dan diperbaiki guna kelangsungan hidup tubuh. Dengan adanya proses anabolisme ini, maka kerusakan sel dapat ditangani dengan baik.

    Selain memperbaiki kerusakan sel, anabolisme juga berperan dalam pembentukan berbagai hormon. Hormon sendiri merupakan zat yang berfungsi untuk mengatur jalannya fungsi organ. Hormon tidak menjadi zat tetap yang selalu ada seperti organ, namun harus selalu diproduksi dan dilepaskan melalui proses anabolisme.

    Proses Metabolisme yang Terjadi Pada Tubuh

    Sebenarnya, metabolisme merupakan rangkaian yang sangat panjang dan kompleks apabila dipelajari. Namun, berikut ini adalah sedikit rangkuman singkat mengenai tahapan metabolisme yang terjadi dalam tubuh: 

    • Pertama, makanan akan masuk ke dalam tubuh sebagai sumber energi utama untuk kelangsungan hidup.
    • Dalam mulut, makanan yang berbentuk besar, secara fisik akan dihancurkan oleh gigi menjadi bentuk yang lebih kecil dan mudah dicerna oleh tubuh.
    • Dalam mulut juga terdapat enzim yang berguna untuk memecah karbohidrat menjadi gula sederhana, yaitu enzim ptialin.
    • Setelah dari mulut, makanan akan masuk ke dalam kerongkongan. Dalam kerongkongan ini, makanan akan didorong masuk ke lambung. 
    • Ketika berada di lambung, akan terjadi berbagai proses kimiawi, di mana akan terdapat enzim pemecah zat komplek menjadi sederhana. Selain itu, zat asam dalam lambung mampu menguraikan makanan. 
    • Setelah dari lambung, zat makanan yang telah terurai akan menuju ke usus halus. Dalam usus halus, zat paling sederhana yang terurai akan memasuki pori-pori usus untuk disalurkan ke sel-sel tubuh. 
    • Dalam sel tubuh tersebut, terjadi proses perombakan zat gula dan lemak sederhana menjadi energi dalam bentuk ATP.
    • Zat sisa makanan yang berada pada usus akan turun menuju usus besar untuk diserap airnya. Sisa dari proses pencernaan dan metabolisme ini akan diekskresikan dalam bentuk feses dan keringat.

    Faktor yang Mempengaruhi Metabolisme

    Semua manusia tentu akan mengalami proses metabolisme, namun kecepatannya akan berbeda pada setiap orang. Nah, berikut beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya:

    • Usia: Semakin bertambahnya usia, massa otot dan akan menurun dan lemak bertambah. Sehingga dapat memperlambat metabolisme.
    • Genetik: Beberapa orang memiliki genetik yang membuatnya bisa membakar banyak kalori dan sebaliknya.
    • Hormon: Terganggunya produksi hormon tiroid bisa meningkatkan atau menurunkan metabolisme.
    • Jenis Kelamin: Secara umum, laki-laki mempunyai massa otot lebih besar ketimbang wanita. Jadi, proses metabolismenya lebih cepat. 

    Fungsi Metabolisme Pada Tubuh

    Setelah mempelajari jenis hingga faktor metabolisme tubuh, lantas apa sebenarnya fungsi dari metabolisme itu sendiri? Berikut ini merupakan penjabaran singkat mengenai beberapa fungsi metabolisme yang ada dalam tubuh:

    1. Mengubah Makanan Menjadi Energi

    Fungsi pertama dan utama dari proses ini adalah mengubah makanan menjadi energi. Sejatinya, setiap manusia akan makan untuk menghasilkan energi dan bertahan hidup. Namun, bahan makanan yang dimakan oleh manusia masih dalam bentuk molekul besar dan kompleks yang tidak dapat dicerna oleh tubuh. 

    Dengan adanya serangkaian proses pencernaan dan metabolisme ini, maka zat makanan yang ada dalam tubuh akan berubah menjadi energi dan berguna untuk menjalankan fungsi organ. Khususnya karbohidrat, lemak, dan protein.

    2. Mengalirkan Nutrisi ke Seluruh Tubuh

    Fungsi proses metabolisme lainnya adalah mengalirkan nutrisi ke seluruh tubuh. Selain senyawa makronutrien kompleks seperti karbohidrat, lemak dan protein, ada berbagai senyawa mikronutrien yang ada dalam makanan yang dikonsumsi. 

    Senyawa tersebut meliputi mineral, vitamin, zat besi, garam dan sebagainya. Tentunya senyawa tersebut memiliki peran yang sangat penting bagi tubuh. 

    Namun, kebanyakan senyawa mikronutrien akan terikat dalam makanan. Sehingga membutuhkan proses penguraian guna membuatnya terlepas dan berfungsi sebagaimana mestinya. Disinilah peran metabolisme dibutuhkan oleh tubuh untuk menyalurkan senyawa nutrisi.

    3. Bernapas 

    Bernapas merupakan salah satu aktivitas kehidupan yang sangat penting, sekaligus sebagai pertanda bahwa manusia masih hidup. Dalam melakukan pernapasan ini, manusia membutuhkan adanya energi, termasuk energi expenditure atau energi yang dikeluarkan secara tidak sadar oleh manusia. 

    Energi yang dibutuhkan untuk bernapas berasal dari sumber makanan. Sumber makanan ini akan mengalami serangkaian metabolisme yang dapat mengubah makanan menjadi energi dalam bentuk ATP atau adenosin triphosphate. ATP inilah yang digunakan paru-paru atau sistem pernapasan untuk bekerja.

    4. Memperbaiki Sel Tubuh

    Seperti yang Anda ketahui sebelumnya, bahwa metabolisme jenis anabolisme berguna untuk memperbaiki sel tubuh yang rusak. Ini menjadi salah satu fungsi utama adanya metabolisme dalam tubuh. Karena, sel yang rusak harus selalu diperbaiki dan diperbaharui guna kelangsungan hidup seseorang. 

    Kerusakan sel ini dapat ditanggulangi dengan konsumsi protein yang baik. Protein yang dikonsumsi selanjutnya akan dicerna dan melewati rangkaian metabolisme untuk dapat membantu memperbaiki sel yang rusak.

    Sudah Memahami Bagaimana Proses Metabolisme Tubuh? 

    Itu tadi adalah penjelasan mengenai serangkaian proses metabolisme yang terjadi pada tubuh. Adanya metabolisme ini menandakan bahwa sel tubuh tetap aktif dan sehat. Jadi, sudahkah Anda menjaga tingkat metabolisme tubuh dengan baik?

  • Katabolisme: Pengertian, Fungsi, Proses, dan Cara Kerjanya

    Katabolisme: Pengertian, Fungsi, Proses, dan Cara Kerjanya

    Berbagai proses biokimia akan terjadi dalam tubuh manusia. Dalam dunia medis, proses ini disebut sebagai metabolisme. Nah, reaksi metabolisme umumnya terbagi ke dalam dua jenis utama, yakni anabolisme dan katabolisme.  

    Berbicara tentang katabolisme, mungkin Anda sudah pernah mendengar istilahnya, namun tidak terlalu memahami konsep dasarnya secara lengkap. Untungnya, Anda datang ke tempat yang tepat karena artikel ini akan membahasnya secara lengkap, mulai dari pengertian, fungsi, hingga prosesnya. Baca sampai habis, ya!

    Pengertian Katabolisme

    Secara singkat, katabolisme merujuk pada proses ketika tubuh manusia mencerna makanan untuk kemudian tubuh olah menjadi molekul-molekul yang lebih sederhana dan berguna sebagai energi penunjang aktivitas manusia. 

    Katabolisme dapat juga diartikan sebagai serangkaian reaksi metabolisme yang terjadi untuk menghasilkan energi dari karbohidrat dan lemak yang terdapat dalam makanan. 

    Sederhananya, ketika Anda mengonsumsi makanan, tubuh tidak akan langsung mencerna makanan itu sebagai sesuatu yang utuh. Akan tetapi, makanan tersebut akan tubuh proses menjadi kandungan-kandungan yang lebih ringan, yaitu energi. 

    Reaksi metabolisme ini bermula dari pengelolaan makanan di mulut, lebih tepatnya ketika enzim ptialin pada air liur memecah karbohidrat menjadi zat glukosa. Berikutnya, glukosa akan tubuh serap melalui usus halus untuk nantinya masuk ke dalam aliran darah. 

    Maka dari itu, ketika Anda selesai makan, kadar gula darah Anda akan mengalami kenaikan. Glukosa itulah yang bisa menjadi energi penunjang manusia untuk beraktivitas sehari-hari.

    Fungsi Katabolisme

    Fungsi utama katabolisme ialah memecah jaringan tubuh beserta cadangan energi dengan tujuan memperoleh lebih banyak energi agar fungsi tubuh dapat berjalan sesuai semestinya. Proses pemecahan energi sendiri terdiri dari 3 tahapan, yaitu:

    1. Pencernaan

    Tahapan pertama adalah pencernaan. Seperti namanya, sistem pencernaan akan bekerja ketika manusia mengkonsumsi makanan. 

    Tahap pencernaan akan membuat molekul organik yang berukuran besar seperti protein, polisakarida dan lipid berubah menjadi molekul yang lebih kecil. Tahapan ini terjadi pada zat-zat yang tidak bisa terserap secara langsung oleh sel tubuh seperti selulosa, protein, dan zat pati.

    2. Pelepasan

    Setelah molekul berhasil terpecah menjadi beberapa bagian, nantinya molekul tersebut akan diambil oleh sel-sel dalam tubuh dan diubah kembali menjadi molekul yang lebih kecil. Fungsi ini biasanya dilakukan oleh asetil koenzim A yang tugasnya melepaskan sejumlah energi.

    3. Energi Tersimpan

    Kemudian, kemana arah energi tersebut? Apakah terbuang atau tersalurkan ke organ tubuh yang lainnya?

    Jawabannya adalah energi tersebut akan tubuh simpan dengan cara mereduksi koenzim nikotinamida adenine dinukleotida (NAD+) menjadi komponen nikotinamida adenina dinukleotida (NADH).

    Cara Kerja Tubuh Menghasilkan Energi

    Katabolisme memiliki cara kerja yang mudah Anda pahami sebagai orang awam. Bermula ketika makanan dan minuman yang Anda konsumsi dan masuk ke dalam tubuh akan mengalami beberapa proses. 

    Salah satunya adalah proses pemecahan oleh enzim-enzim yang terdapat dalam sistem pencernaan. Melalui reaksi katabolisme, protein akan terpecah menjadi zat asam amino untuk nantinya dapat tubuh ubah menjadi sumber energi. 

    Selain protein, zat lain yang bisa dipecah adalah zat glikogen menjadi glukosa. Senyawa karbohidrat tersebut akan tubuh proses melalui oksidasi yang juga disebut sebagai glikolisis.

    Melalui reaksi metabolisme, tubuh juga akan mendapatkan energi. Sementara lemak akan tubuh pecah melalui proses hidrolisis. Zat yang dihasilkan ialah asam lemak dan gliserol yang kemudian tubuh ubah lagi melalui reaksi glikosis dan biokimia, sehingga terbentuk energi.

    Ada beberapa kegiatan yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan katabolisme, misalnya olahraga berenang, berlari, hingga bersepeda. Sebab, saat melakukan beberapa aktivitas fisik, tubuh akan memproses banyak hal seperti tekanan jantung, pernapasan, dan detak jantung.

    Proses Katabolisme Pada Tubuh Manusia

    Dalam proses katabolisme, ada beberapa siklus yang terjadi, antara lain:

    1. Glikolisis

    Glikolisis merupakan proses di mana zat glukosa akan tubuh pecah menjadi piruvat. Bersamaan dengan proses tersebut, produksi adenosin trifosfat (ATP) dan NADH juga terjadi. 

    Melalui penggunaan beberapa enzim seperti mutase, dehydrogenase, liaise, kinase, dan isomerase, molekul gula bisa tepecah menjadi dua molekul, yakni piruvat dan 2- NADH.

    2. Asam Sitrat

    Siklus asam sitrat juga dikenal dengan siklus Krebs. Dalam proses ini, enzim memiliki peranan yang sangat penting dalam melakukan manipulasi terhadap molekul piruvat. 

    Sehingga, nantinya tubuh akan mengikat enzim dengan molekul lainnya guna melepaskan energi dengan langkah yang efektif dan terkontrol.

    3. Deaminasi Oksidatif

    Proses katabolisme yang ketiga ialah deaminasi oksidatif. Proses ini terjadi ketika enzim melakukan pemecahan terhadap protein dan asam amino guna mengakses energi di dalamnya. 

    Biasanya, tubuh akan memecah senyawa protein menjadi beberapa bagian dan menggunakannya sebagai subtrat untuk mengembangkan molekul. Namun, terkadang tubuh akan mengalami beberapa hal, sehingga tubuh akan kekurangan karbohidrat. 

    Tapi tenang saja, hambatan tersebut tidak akan membuat proses katabolisme berhenti begitu saja. Secara otomatis tubuh akan kembali memecah protein menjadi kandungan asam amino. Kegiatan ini disebut dengan proteolysis.

    Ammonia menjadi produk sampingan dari proses deaminasi oksidatif. Jika tubuh memiliki ammonia dalam jumlah besar, maka tubuh akan mengalami keracunan. Namun, apabila kadar ammonia relatif rendah, maka tidak akan berimbas apapun pada tubuh. 

    Sebab, tubuh akan melakukan perlawanan dengan cara mengubah ammonia menjadi urea. Zat tersebut kemudian akan tersimpan dalam hati di mana hati juga akan menyalurkannya ke organ ginjal, lalu dikeluarkan dalam urin. 

    4. Lipolisis

    Lipolisis adalah proses terkait katabolisme yang mana tubuh akan memecah lemak. Lebih tepatnya, proses ini akan melakukan tugasnya dengan memecah cadangan lemak trigliserida yang tersimpan dalam jaringan adiposa. Proses ini bisa menjadi salah satu cara untuk menghasilkan energi dalam tubuh.

    Trigliserida sendiri merupakan lemak yang terdiri dari tiga bagian, meliputi tulang punggung glikol, tiga ikatan ester, dan tiga ekor asam lemak. 

    Selama prosesnya, tiga ikatan ester tersebut harus diputus dengan tujuan melepaskan energi. Kemudian, dalam tiga langkah terpisah, masing-masing dari ikatan ini akan mengalami kerusakan.

    Setelah asam lemak hilang, produk akhir seperti molekul gliserol dan dua asam lemak akan tubuh bebaskan. Adapun beberapa hormon yang akan merangsang proses ini adalah kortisol, insulin, adrenalin, dan glukagon.

    5. Pemecahan Jaringan Otot

    Proses pemecahan jaringan otot terjadi setelah latihan atau olahraga di pagi hari. Biasanya, aktivitas tersebut terjadi setelah periode panjang yang manusia lakukan tanpa asupan nutrisi. 

    Meskipun kelihatannya berlawanan dengan intuisi, namun transformasi pemecahan jaringan otot bisa menyediakan energi yang cukup baik.

    Hormon-Hormon yang Terjadi Pada Katabolisme

    Seseorang yang berolahraga umumnya memiliki tujuan untuk meningkatkan kadar energi dalam tubuhnya. Olahraga akan menopang proses katabolisme yang terjadi dalam tubuh. Adapun hormon-hormon yang berperan dalam proses ini ialah:

    • Adrenaline: Merupakan hormon yang berperan untuk meningkatkan detak jantung manusia. Hormon ini juga bisa meningkatkan aliran darah ke otot dan menguatkan kontraksi jantung.
    • Kortisol: Merupakan hormon yang mampu mengatur metabolisme pada beberapa zat, seperti zat protein, karbohidrat, dan lemak. Hormon ini juga dikenal sebagai hormon stres karena mampu memicu reaksi berlebihan di tubuh.
    • Glukagon: Merupakan hormon yang dihasilkan oleh pankreas dan insulin. Glukagon memiliki fungsi untuk menjaga kadar gula atau insulin dalam darah.
    • Sitokin : Merupakan zat yang mampu mengatur interaksi antara sel. Zat ini juga berperan aktif dalam menjaga sistem kekebalan tubuh.

    Penyebab Katabolisme Berjalan Lebih Lambat

    Meski terjadi secara alamiah, katabolisme juga berkemungkinan dapat berjalan dengan lambat. Adapun penyebab masalah tersebut terjadi ialah:

    1. Stres

    Pemicu yang pertama adalah stres. Ketika seseorang mengalami stres, produksi hormon kortisol akan semakin bertambah. Kondisi tersebut akan memicu nafsu makan. Sehingga, jika stres terus terjadi, maka akan membuat tubuh mengalami kenaikan berat badan dan proses metabolisme dalam tubuh akan menurun.

    2. Kurang Tidur

    Selain meningkatkan risiko masuknya penyakit ke dalam tubuh, kurang tidur dapat membuat metabolisme dalam tubuh terjadi secara lambat. Pada akibatnya, kadar gula darah akan meningkat karena tubuh tidak bisa memecahnya menjadi glukosa.

    3. Tidak Banyak Beraktivitas

    Penyebab terakhir ialah tidak banyak beraktivitas. Ketika Anda rajin beraktivitas, tubuh akan mengalami reaksi yang cukup baik terhadap metabolisme, terutama menghasilkan energi. Sebaliknya, apabila Anda malas beraktivitas, maka reaksi metabolisme akan melambat seiring waktu.

    Tubuh Memiliki Proses Katabolisme yang Mampu Memproduksi Energi

    Dari penjelasan di atas bisa Anda simpulkan bahwa katabolisme menjadi salah satu proses yang terjadi berulang dalam tubuh manusia. Proses tersebut akan terjadi berulang untuk menghasilkan energi yang dapat manusia gunakan untuk melakukan kegiatan sehari-hari.