Author: Linda Yulita

  • Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Cerpen yang Wajib Anda Ketahui

    Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Cerpen yang Wajib Anda Ketahui

    Siapa yang suka membaca cerpen? Cerita pendek atau cerpen ialah jenis bacaan yang paling banyak tersedia di toko-toko buku, bahkan lebih mudah Anda temukan ketimbang novel. Tahukah Anda bahwa ada beragam unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen yang jarang orang ketahui? Apa sajakah itu? Simak selengkapnya di sini!

    Apa itu Cerpen?

    Sebelum Anda belajar tentang unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen, Anda sebaiknya tahu dulu apa itu cerpen. Secara singkat, cerpen atau cerita pendek adalah suatu karya sastra yang isi dan temanya ringkas dan jelas. Tidak ada bab atau chapter terpisah, juga tidak perlu bersambung.

    Ada pula yang menyatakan bahwa cerpen itu adalah sebuah prosa berjenis fiksi yang isi ceritanya terbilang padat. Cerita pendek dapat Anda baca hingga selesai dalam sekali duduk, sebab bentuk karya sastra ini tak mengandung alur cerita yang panjang lebar, apalagi bercabang.

    Jumlah kata dalam cerpen paling banyak hanya boleh sampai 10.000 kata saja; lebih dari itu, maka karya tersebut termasuk dalam novella. Begitu pula dengan jumlah tokohnya, yang ada kurang lebih 3 orang sampai 10 orang saja.

    Meskipun cerita pendek sangat berbeda dengan novel, tetapi kedua karya literatur ini tetap mengandung macam-macam aspek. Ada unsur cerita yang berada di dalam tulisannya, tetapi ada juga unsur yang bersumber dari luar cerita tersebut, seperti yang akan artikel ini bahas.

    Unsur Intrinsik Cerpen

    Sekarang, kita akan mencoba menelaah unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen secara umum. Kata “intrinsik” boleh Anda pahami sebagai sesuatu yang datang dari dalam. Maka, dalam ranah cerita pendek, unsur atau aspek berikut ini dapat Anda temukan langsung pada tulisan cerpen tersebut.

    1. Tema

    Mari kita mulai dengan unsur intrinsik pertama dalam sebuah cerpen, yaitu tema. Dalam hal ini, tema menentukan genre cerita pendek yang akan Anda sajikan kepada pembaca. Macam-macam contoh tema cerpen ialah persahabatan, cinta remaja, usil-usilan, pengembaraan, dan bahkan mistis.

    Tema bukanlah sesuatu yang penulis cerpen ceritakan secara terang-terangan, tetapi sebuah unsur yang sifatnya tersirat atau tersembunyi. Para pembaca cerita pendek itu perlu membacanya dari awal hingga akhir supaya bisa mengerti tema yang penulis cerpen siratkan.

    2. Karakter

    Unsur intrinsik kedua yang tidak kalah penting untuk sebuah cerpen ialah tokoh atau karakter. Jumlah tokoh yang dapat seorang penulis cerpen masukkan ke dalam cerita pendeknya bisa satu orang saja, atau bisa juga sekelompok orang.

    Siapa saja jenis orang yang cocok untuk menjadi karakter dalam cerpen? Karena sifat cerpen yang cenderung sederhana, Anda cukup saja memilih tokoh-tokoh yang sederhana. Misalnya seperti anak-anak sekolahan, ibu rumah tangga, petani, seniman, dan juga penjaga toko.

    Daripada Anda sibuk memikirkan banyak tokoh, lebih baik Anda batasi saja jumlah tokoh tersebut. Pertama, ada karakter utama dalam cerpen, lalu ada dua tokoh yang berusaha mengganggu tokoh utama. Setelah itu, masukkan dua tokoh lagi sebagai pelerai atau pendamai.

    3. Watak

    Anda tidak cuma harus memikirkan tentang siapa karakter utama dalam cerita pendek. Penokohan atau watak memiliki peran yang penting sekali dalam menyampaikan cerita pendek. Watak sebetulnya memiliki dua peran sebagai unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen yang memegang peran vital.

    Coba Anda bayangkan sebuah cerpen mengenai dua orang yang saling berebut harta warisan. Mungkinkah Anda menulis kedua karakter itu sebagai orang tanpa perasaan dan wataknya masing-masing? Tentu tidak, karena tanpa watak, interaksi di antara kedua tokoh itu menjadi hampa.

    Misalnya tokoh pertama ialah seorang anak yang rajin bekerja namun kurang pandai. Sementara itu, tokoh kedua adalah anak yang sangat cerdas namun pemalas. Adanya watak atau penokohan mampu menghidupkan keduanya, serta memberi makna pada konflik berupa perebutan warisan tersebut.

    4. Alur

    Kemudian ada unsur intrinsik di nomor empat, yaitu alur atau plot cerita pendek. Sama seperti novel, cerpen juga mengandung alur berbentuk orientasi, konfrontasi, klimaks, resolusi, dan penutup. Bedanya adalah cerpen itu bersifat ringan dan sederhana, sehingga alurnya tidak sampai terlalu panjang.

    Hampir semua cerpen memakai alur yang berurutan atau kronologis, menjabarkan ceritanya dari awal sampai akhir tanpa melompat-lompat. Meskipun begitu, ada pula cerpen yang sengaja menggunakan alur yang tidak kronologis demi mengalihkan perhatian pembacanya dari spoilers.

    5. Latar

    Di nomor lima, ada aspek berupa latar yang sifatnya menghiasi cerita pendek. Kebanyakan latar pada cerpen seringkali terilhami oleh tempat dan waktu di dunia nyata. Maka, Anda bisa menggolongkannya sebagai unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen, kendati latar lebih termasuk pada intrinsik.

    Pertama, ada latar tempat sebagai lokasi terjadinya cerita pendek. Anda tidak perlu memikirkan lokasi-lokasi yang jumlahnya banyak; cukup saja dua lokasi utama. Baik itu rumah, sekolah, taman kota, toko swalayan, maupun halte bus, ada banyak lokasi yang bisa Anda jadikan sebagai latar tempat cerpen.

    Kemudian, ada pula latar waktu sebagai penanda momen terjadinya cerita pendek. Contohnya seperti pagi hari, siang hari, atau malam hari. Ada pula latar waktu yang menggunakan hari seperti Hari Senin atau Minggu, atau bahkan hari-hari khusus semisal Hari kemerdekaan atau Hari Lebaran.

    6. Point of View

    Satu lagi unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen yang lebih termasuk kepada intrinsik adalah sudut pandang tokoh atau point-of-view. Sudut pandang ini merupakan titik penempatan diri si penulis cerpen dalam ceritanya, apakah sebagai dirinya sendiri atau menggunakan nama orang lain.

    Jika penulis menggambarkan dirinya sebagai karakter utama tersebut, maka dia akan memilih sudut pandang orang pertama dengan kata ganti “aku”. Namun, jika si penulis lebih suka menempatkan orang lain sebagai perwujudan dirinya, maka dia dapat memilih sudut pandang orang ketiga.

    Tahukah Anda bahwa ada juga sudut pandang orang pertama yang sifatnya ialah karakter sampingan atau pengamat? Ini benar-benar ada. Dalam bentuk sudut pandang ini, tokoh cerpen dengan kata ganti “aku” tersebut berstatus sebagai saksi mata yang menjabarkan plot utama dalam cerpen.

    7. Gaya Bahasa

    Gaya bahasa yang menjadi cara penyampaian cerita pendek ialah unsur intrinsik nomor tujuh. Tergantung dari tema atau genre cerita pendek, ada gaya bahasa yang santai tetapi mendidik, atau tampak sopan tetapi ternyata mencekam.

    Karena rata-rata cerita pendek berkutat dengan masalah sehari-hari, gaya bahasa yang Anda gunakan pun jangan bahasa yang rumit. Tuliskan saja bahasa pergaulan sehari-hari yang umum dipakai oleh masyarakat di sekitar tempat tinggal Anda, baik dalam teks narasinya maupun dialognya.

    Tentu saja, bahasa sehari-hari yang tertera dalam cerita pendek tersebut harus wajar, tidak dibuat-buat, serta bebas dari umpatan-umpatan kasar. Gaya bahasa tersebut juga jangan sampai menyebarkan topik-topik sensitif, seperti ujaran kebencian, berita bohong, apalagi diskriminasi.

    8. Pesan

    Nilai intrinsik yang terakhir dalam sebuah cerpen, yaitu pesan. Isi dari pesan tersebut ialah pendidikan atau peringatan yang ingin penulis cerpen sampaikan kepada pembacanya. Sebagaimana tema cerpen itu pasti tersirat, pesan dalam sebuah cerpen juga sama-sama tersirat.

    Ada cerita pendek yang menyampaikan nilai-nilai luhur seperti agama, susila, dan tradisi masyarakat setempat kepada generasi muda yang membacanya. Selain itu, ada pula cerpen yang menyampaikan pesan berupa edukasi secara umum tanpa dibarengi oleh nilai spiritual atau tradisi setempat.

    Unsur Ekstrinsik Cerpen

    Pembahasan unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen selanjutnya berfokus pada aspek ekstrinsik. Kata “ekstrinsik” mengandung makna sesuatu yang berada atau datang dari luar. Jika dihubungkan dengan topik ini, maka Anda akan mendapati unsur-unsur pembentuk cerpen yang tidak bersumber dari tulisan cerita tersebut.

    1. Latar Belakang Pencerita

    Salah satu unsur ekstrinsik yang lumayan penting pada sebuah cerpen ialah latar belakang si penulis cerita. Latar belakang dalam hal ini bisa mencakup pekerjaan utama si penulis, tempat tinggal asalnya, hingga keluarga dan teman-teman yang memengaruhi pola pikirnya.

    Seorang penulis cerpen dengan latar belakang religius punya kemungkinan besar untuk memasukkan nilai-nilai agama dalam karya sastranya. Sedangkan penulis yang punya latar belakang guru SD akan lebih condong untuk memasukkan nilai-nilai pendidikan dalam cerita pendeknya.

    2. Nilai-Nilai Tradisional

    Sebetulnya aspek nilai tradisi dan kebudayaan yang menjadi dasar cerpen dapat Anda anggap sebagai unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen secara bersamaan. Namun, karena nilai budaya cenderung lebih mudah Anda lihat di kehidupan nyata, maka unsur ini lebih tergolong ke dalam ekstrinsik.

    Misalnya begini, apabila si penulis cerpen tinggal di wilayah masyarakat Sunda, cerita pendeknya pasti akan lebih menonjolkan nilai tradisi Sunda. Cerpen tersebut akan mengandung nilai sopan santun, kekeluargaan, serta pelestarian alam yang sangat kental dalam kebudayaan masyarakat Sunda.

    Sementara itu, jika penulis itu tinggal di Toraja, Sulawesi, maka cerita pendeknya akan lebih menampakkan nilai-nilai budaya asli Toraja. Contoh nilai tradisi Toraja dalam cerpen itu bisa berupa gotong royong, kekeluargaan, serta kepercayaan animisme atau spiritualisme adat setempat.

    3. Pandangan Politik dan Sosial

    Percaya atau tidak, politik ternyata bisa berdampak pada cara seorang penulis cerpen menjabarkan ceritanya. Salah satu contohnya ialah seorang penulis cerpen yang menjunjung tinggi politik demokrasi. Cerita pendek buatan penulis tersebut hampir pasti mengandung nilai-nilai kesatuan dan kesetaraan.

    Selain pandangan politik, pandangan sosial bisa juga memengaruhi cara si penulis menceritakan karyanya. Seorang penulis yang berjiwa individualis tentu akan menulis cerpen dengan tokoh yang egois. Sementara itu, penulis yang berjiwa spiritualis pasti menceritakan cerpen yang tokohnya percaya takhayul.

    Sudah Tahu Aneka Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Cerpen?

    Itulah penjelasan mengenai macam-macam unsur yang terdapat pada sebuah cerita pendek. Apakah Anda seseorang yang gemar membaca buku-buku cerpen? Cobalah Anda telusuri aneka jenis aspek yang terdapat pada cerita pendek pilihan Anda tersebut.

  • Pahami Adab Berdoa Kepada Allah beserta Tata Caranya

    Pahami Adab Berdoa Kepada Allah beserta Tata Caranya

    Adab berdoa kepada Allah merupakan hal penting yang perlu diketahui oleh seluruh umat islam. Perkara ini berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan Sang Maha Pencipta.

    Oleh karena itu, adab tidak hanya diperlukan ketika seseorang berada dalam lingkungan bermasyarakat tetapi juga saat memanjatkan doa kepada Allah. Lalu, bagaimanakah tata krama yang harus dimiliki oleh seorang umat tersebut? Berikut penjelasannya.

    Adab Berdoa Kepada Allah

    Beberapa tata krama yang perlu Anda terapkan ketika memanjatkan doa, antara lain:

    1. Di Waktu-Waktu Mustajab

    Waktu mustajab merupakan waktu dimana doa tersebut mudah dikabulkan oleh Sang Maha Pencipta. Sebagai seorang umat muslim, pengetahuan mengenai waktu mustajab untuk berdoa menjadi bagian penting dalam kehidupan.

    Dengan mengetahui waktu mustajab itu, seseorang bisa lebih tepat waktu dan teratur dalam menyampaikan keinginannya kepada Allah. Waktu-waktu tersebut antara lain, saat Bulan Ramadhan, Hari Arafah, saat sahur, Hari Jumat, dan waktu sepertiga malam.

    Maka dari itu, penting untuk seluruh umat muslim dalam memperhatikan waktu tersebut. Namun, hal ini bukan berarti di waktu-waktu lain doa seseorang tidak akan terkabul. Hanya saja, waktu mustajab tersebut menjadikan doa seseorang lebih cepat tersampaikan kepada Allah.

    2. Menghadap ke Arah Kiblat

    Untuk melakukan suatu ibadah termasuk berdoa, alangkah lebih baik jika menghadapkan diri ke arah kiblat. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Jabir radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saat berada di Padang Arafah, beliau menghadap kiblat dan terus berdoa sampai matahari terbenam (HR. Muslim).

    Hal ini menunjukkan bahwa menghadap kiblat menjadi salah satu adab berdoa kepada Allah. Dengan begitu, alangkah lebih baiknya untuk berusaha menghadapkan diri ke arah kiblat saat memanjatkan doa apapun.

    3. Melantunkan Doa dengan Suara Lembut

    Saat berdoa, tidak memungkinkan bagi seseorang untuk melantunkan dengan suara yang lantang dan keras. Hendaknya saat meminta sesuatu hal kepada Allah, gunakan penyampaian yang lembut dan halus.

    Tidak hanya itu, suara yang halus dan lembut cenderung membuat seseorang lebih khusyuk dalam meminta apa yang diinginkan. Apalagi ketika Anda memanjatkan doa di masjid yang tentunya terdapat banyak jamaah maka memerlukan suara yang pelan dan lembut untuk menjaga ketenangan beribadah.

    4. Diliputi dengan Rasa Harap dan Rendah Hati

    Adab berdoa kepada Allah berikutnya yang perlu Anda terapkan adalah adanya rasa berharap dan rendah hati yang tulus. Rasa berharap tersebut ditujukkan kepada Allah yang Maha Besar dan Pemurah. 

    Harapan tersebut bermaksud untuk memperoleh izin serta ridho-Nya dalam setiap langkah hidup dan segala hal yang Anda minta. Sedangkan rendah hati dimaksudkan bahwa seseorang dalam meminta suatu hal apalagi kepada Allah tidak perlu menyombongkan diri.

    5. Tidak Tergesa-gesa

    Dalam meminta sesuatu hal, seseorang tidak bisa memintanya dengan tergesa-gesa dan ingin cepat mendapatkan apa yang diinginkan. Sama halnya saat Anda berdoa kepada Sang Pencipta yang memerlukan kesabaran serta sikap yang tidak tergesa-gesa.

    Bahkan, sifat tergesa-gesa itu menandakan bahwa adanya rasa tidak sabar dalam diri manusia dalam memperoleh hal yang diinginkan. Namun, pada hakikatnya seorang manusia hendaklah bersikap sabar dan tidak tergesa-gesa dalam meminta suatu hal kepada Allah.

    Sikap tidak tergesa-gesa ini juga dapat berupa penyampaian pada saat berdoa yang terlalu cepat. Maka dari itu, Anda perlu menerapkan adab berdoa kepada Allah yang berupa perlahan namun dapat tersampaikan seluruhnya.

    6. Yakin kepada Allah

    Keyakinan merupakan hal utama yang diperlukan oleh seluruh umat muslim. Utamanya adalah yakin kepada Allah dan berbaik sangka terhadap apapun yang akan Allah berikan. Seperti yang tercantum dalam Surah Al Baqarah ayat 186, Allah berfirman:

    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

    Dalam surah tersebut, menunjukkan bahwa Allah akan mengabulkan doa atau permohonan dari umat-Nya. Untuk.itu, hendaklah umat muslim untuk mengikuti seluruh perintah Allah dan beriman kepada-Nya supaya selalu berada di jalan yang lurus dan benar.

    7. Mengawali dengan Pujian kepada Allah

    Adab berdoa kepada Allah berikutnya adalah awali dengan bacaan basmalah dan kalimat pujian kepada Sang Maha Kuasa. Bacaan ini menandakan adanya rasa syukur seorang umat kepada Sang Kuasa karena telah diberikan kesempatan untuk kembali kenikmatan dunia.

    Kalimat pujian kepada Allah ini dapat berupa Asmaul Husna. Selain itu, dalam berdoa juga diperlukan kesungguhan tanpa adanya keraguan dalam diri maupun hal lainnya yang menjadikan Anda tidak khusyuk saat beribadah.

    8. Bershalawat kepada Rasulullah

    Bershalawat kepada Rasulullah menjadi bagian penting dalam memanjatkan doa kepada Allah, baik itu di dalam atau di luar shalat. Tentunya hal ini dapat memberikan hal yang baik untuk seluruh umat yakni memperoleh syafaat dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Shalawat kepada Rasul dapat Anda baca setelah melantunkan bacaan basmalah. Shalawat tersebut juga dapat mempermudah doa yang Anda minta untuk lebih cepat tersampaikan kepada Allah dan terkabulkan.

    9. Berdoa dengan Istiqomah

    Dalam berdoa, tidak bisa seorang umat hanya meminta suatu hal dalam 1 kali doa saja. Namun, sejatinya permintaan doa kepada Allah harus Anda sampaikan kapanpun dimanapun.

    Istiqomah merupakan suatu adab berdoa kepada Allah yang perlu dimiliki oleh seluruh umat muslim. Doa yang seringkali diminta memiliki kemungkinan besar untuk lebih cepat dikabulkan.

    Sikap yang istiqomah dalam memanjatkan doa kepada Allah juga menunjukkan bahwa seseorang tersebut sabar menanti keputusan terbaik dari-Nya. Oleh karena itu, ketika Anda meminta sesuatu hal namun masih belum terkabulkan, maka sering-seringlah meminta dan terus bersabar untuk menanti pemberian terbaik Allah.

    10. Taubatan Nasuha

    Dalam meminta suatu hal atau berdoa kepada Allah, seseorang perlu melakukan introspeksi diri terlebih dahulu. Hendaklah seorang muslim melakukan taubatan nasuha terhadap segala perbuatannya di dunia.

    Taubat ini menunjukkan bahwa seseorang menyesal terhadap kesalahan yang dimilikinya termasuk apabila terdapat harta yang haram. Hal ini juga bertujuan supaya doa-doa yang diminta oleh seorang umat lebih mudah tersampaikan dan dikabulkan oleh Allah.

    11. Menjauhkan Diri dari Harta dan Makanan Haram

    Adab berdoa kepada Allah berikutnya yakni menjauhkan diri dari harta dan makanan haram. Hal ini karena sesuatu yang bersifat haram dapat memberikan dampak buruk bagi penggunanya. Salah satunya adalah doa yang sulit untuk tersampaikan kepada Allah hingga akhirnya seseorang tersebut merasa doanya tidak terkabulkan.

    Harta dan makanan haram yang digunakan oleh seseorang dapat menghambat doa kepada Allah karena hal tersebut merupakan sesuatu yang bersifat buruk. Sedangkan Allah merupakan Dzat yang Maha Agung dan Mulia serta menyukai kebaikan. 

    Oleh karena itu, untuk mempercepat tersampainya doa kepada Allah, maka seseorang harus meninggalkan keburukan.

    Sudahkah Anda Memahami Adab Berdoa kepada Allah?

    Dari beberapa penjelasan tersebut, manakah yang sudah Anda terapkan? Hal utama dari adab berdoa kepada Allah adalah menjaga kebersihan diri dan meminta dengan sungguh-sungguh. Oleh karena itu, Anda bisa menerapkannya mulai dari sekarang untuk memperoleh ridha-Nya.

  • Perbedaan Adab dan Akhlak serta Ciri dan Contohnya

    Perbedaan Adab dan Akhlak serta Ciri dan Contohnya

    Adab dan akhlak sering dianggap sama di kalangan masyarakat umum, padahal keduanya berbeda. Hal ini mungkin karena keduanya memiliki hubungan yang cukup erat. Pada artikel berikut akan diuraikan perbedaan adab dan akhlak serta ciri-ciri dan contohnya.

    Perbedaan Adab dan Akhlak

    Adapun perbedaan antara adab dan akhlak adalah sebagai berikut. 

    1. Dari Segi Pengertian

    Dari segi pengertiannya, antara adab dan akhlak memiliki perbedaan. Berikut ini pengertian adab dan akhlak.

    a. Pengertian Adab

    Adab sendiri berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti kebaikan budi pekerti dan kesopanan. Sementara itu, berdasarkan istilah, adab adalah suatu hal yang bisa menjaga seseorang dalam melakukan hal yang salah. 

    Berdasarkan kedua pengertian tersebut, bisa diambil garis besar bahwa adab merupakan hal yang mencerminkan baik dan buruknya seseorang atau terhormat dan tercelanya seseorang. Dengan kata lain, orang yang memiliki adab yang baik dianggap mencerminkan orang yang terhormat.

    b. Pengertian Akhlak

    Akhlak memiliki arti adat yang dengan sengaja diinginkan, atau juga bisa berarti kemauan yang kuat mengenai suatu hal yang dilakukan secara berulang sehingga menghasilkan kebiasaan yang mengarah pada hal baik dan buruk. 

    2. Dari Segi Sumber

    Berdasarkan sumbernya, antara adab dan akhlak memiliki perbedaan. Adapun akhlak berasal dari jiwa dan hati manusia yang dilakukan secara sukarela. Sementara itu, adab berasal dari aturan yang bersifat memaksa. 

    Tidak hanya itu, akhlak juga berasal dari hasil proses ibadah kepada Allah SWT, sedangkan adab lebih bersifat memaksa. Untuk itulah orang yang beradab tidak bisa dipastikan bahwa dia berakhlak. 

    Ciri-ciri Adab dan Akhlak

    Terlepas dari perbedaan adab dan akhlak tersebut, intinya keduanya sama-sama berhubungan dengan akhlak yang baik. Berikut ini beberapa ciri-ciri adab dan akhlak manusia yang baik. 

    1. Merasa malu jika melakukan hal buruk.
    2. Berusaha tidak cepat marah.
    3. Welas asih kepada sesama makhluk.
    4. Memelihara diri dari perbuatan dosa.
    5. Berusaha meninggalkan maksiat.
    6. Kasih sayang terhadap sesama makhluk.
    7. Tidak sembarangan melaknat sesuatu jika belum jelas masalah dan hukumnya.
    8. Tidak suka mencela orang lain.
    9. Tidak suka mengadu domba orang lain.
    10. Tidak menyakiti perasaan orang lain.
    11. Selalu bersikap baik kepada orang lain.
    12. Selalu berkata jujur.
    13. Tidak banyak bicara.
    14. Banyak berkarya.
    15. Sedikit melakukan kesalahan.
    16. Tidak melakukan hal yang berlebih-lebihan, baik dari segi perkataan maupun perbuatan.
    17. Berbuat kebaikan secara nyata kepada sesama makhluk, khususnya manusia, seperti rajin sedekah, dan sejenisnya.
    18. Menyambung tali silaturahmi.
    19. Tidak melakukan ghibah (mengumpat-umpat) orang lain.
    20. Tidak tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu apapun.
    21. Tidak kikir terhadap harta yang dimiliki.
    22. Suka menolong orang lain yang kesusahan.
    23. Tidak berbuat dengki kepada orang lain.
    24. Tidak berbuat hasad kepada orang lain.
    25. Respect atau menghormati orang lain. Baik pada orang yang masih muda ataupun yang sudah tua usianya.
    26. Selalu bersyukur kepada Allah.
    27. Bersabar menghadapi segala cobaan hidup.
    28. Ridho terhadap apa yang diberikan Allah SWT.

    Contoh Adab dan Akhlak

    Ada cukup banyak contoh penerapan adab dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari, berikut uraiannya.

    1. Terhadap Allah

    Berikut ini beberapa contoh penerapan adab dan akhlak yang baik kepada Allah SWT yang sebaiknya Anda terapkan, yaitu:

    a. Bersyukur atas Apa yang Allah Berikan

    Baik ataupun buruk hal yang didapatkan sebaiknya kita harus tetap bersyukur kepada Allah SWT. Hal ini karena apapun takdir yang Allah SWT berikan pasti memiliki nilai kebaikan di dalamnya. Bahkan untuk hal buruk sekalipun bisa menjadi pengalaman untuk menjadi lebih baik di masa depan. 

    b. Saat Beribadah Menggunakan Pakaian Suci dan Terbaik

    Saat akan menghadap Allah SWT (beribadah), kita dianjurkan untuk menggunakan pakaian yang suci. Bahkan sholat kita bisa dianggap tidak sah jika menggunakan pakaian yang kotor dan najis. 

    c. Tidak Berbuat Maksiat atau Zina

    Adapun contoh dari penerapan adab dan akhlak yang baik kepada Allah SWT adalah dengan tidak berbuat maksiat atau zina. Hal ini karena zina adalah hal yang sangat Allah SWT benci, jadi sebaiknya dihindari. Sebaliknya, perbanyak ibadah kepada Allah SWT mulai dari rajin berpuasa, sholat, hingga mengaji.

    2. Terhadap Kedua Orang Tua

    Adapun contoh adab dan akhlak baik kepada kedua orang tua, yaitu: 

    a. Tidak Durhaka atau Menyakiti Hati Orang Tua

    Seseorang yang memiliki akhlak yang baik biasanya tidak akan durhaka dan menyakiti hati orang tua. Bahkan orang yang durhaka kepada orang tua sering disebut sebagai anak tak beradab dan berakhlak.

    b. Selalu Mendoakan Orang Tua

    Salah satu cara berbakti kepada kedua orang tua adalah mendoakannya, terutama bagi yang orang tuanya sudah meninggal. Anak yang memiliki akhlak yang baik biasanya akan selalu mendoakan hal baik untuk kedua orang tuanya. Ini juga sebagai bentuk rasa cinta kepada kedua orang tua. 

    c. Membantu Orang Tua

    Contoh penerapan adab dan akhlak baik kepada kedua orang tua berikutnya yaitu dengan selalu membantu orang tua. Mulai dari membantu pekerjaan ibu di dapur atau hal sepele seperti mengangkat jemuran ketika akan hujan. 

    d. Santun dalam Berbicara

    Adab yang baik kepada kedua orang tua dalam Islam adalah dengan santun dalam berbicara kepada keduanya. Bahkan meninggikan suara tinggi sedikit saja dan menyakiti hati mereka, Anda bisa mendapatkan dosa besar. 

    3. Terhadap Guru

    Ada beberapa contoh penerapan adab dan akhlak baik kepada guru, antara lain:

    a. Menghormati Guru

    Guru adalah orang yang mengajarkan kita ilmu dan mendidik kita. Untuk itulah, sangat dianjurkan untuk seorang murid menghargai dan menghormati gurunya. 

    b. Tidak Membuat Guru Jengkel dan Marah

    Siswa yang memiliki adab yang baik biasanya tidak akan pernah membuat gurunya jengkel apalagi marah. Dia sadar bahwa itu perbuatan dosa dan Allah SWT tidak menyukainya.

    c. Taatilah Guru

    Terkadang memang menjengkelkan mendapatkan tugas dari guru. Apalagi jika tugasnya sangat sulit. Namun sebagai murid yang beradab dan berakhlak, kita sebaiknya menaati perintah guru seperti mengerjakan tugas tersebut dengan baik. 

    d. Berterima Kasih kepada Guru

    Contoh adab dan akhlak baik kepada guru berikutnya adalah dengan selalu berterima kasih kepada guru yang telah memberikan ilmu dan mendidik kita dengan baik. Cara berterima kasih tersebut bisa secara langsung atau dengan mengamalkan ilmu yang kita dapatkan. 

    4. Terhadap Sesama Manusia

    Berikut ini beberapa contoh adab dan akhlak baik kepada sesama manusia yang sebaiknya Anda terapkan.

    a. Saling Sapa dan Salam ketika Bertemu

    Di zaman ini, sapa dan mengucapkan salam sudah mulai jarang kita temui. Padahal mengucapkan sapa dan salam ketika bertemu merupakan salah satu bentuk orang yang memiliki akhlak baik.

    b. Memberikan Makanan Jika Memiliki Makanan Lebih

    Contoh akhlak baik kepada sesama adalah dengan memberikan makanan kepada sesama. Ini tidak hanya bentuk akhlak baik, tetapi Anda juga akan mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT.

    c. Memberikan Nasihat Baik ketika Diminta

    Memberikan nasihat merupakan salah satu contoh adab dan akhlak yang baik kepada sesama manusia. Namun dalam memberikan nasihat juga tidak bisa sembarang, sebaiknya nasihat yang Anda berikan tidak menyakiti orang lain. 

    d. Menjenguk Orang yang Sakit

    Contoh dari akhlak baik berikutnya adalah dengan menjenguk orang yang sakit. Ini sebagai bentuk kepedulian dan kasih sayang kita kepada sesama. Bersikap jahat dengan tidak peduli dengan keadaan sesama akan membuat Anda tampak seperti orang kurang berakhlak baik.

    Sudah Tahu Perbedaan Adab dan Akhlak?

    Perbedaan adab dan akhlak cukup susah untuk dibedakan karena keduanya hampir mirip. Namun terlepas dari itu, sebagai manusia sebaiknya kita menjunjung tinggi adab dan akhlak baik kepada Allah SWT dan sesama manusia. Semoga bermanfaat!

  • 6 Adab Tidur Sesuai Anjuran yang Disarankan Rasulullah SAW

    6 Adab Tidur Sesuai Anjuran yang Disarankan Rasulullah SAW

    Setiap manusia tentu membutuhkan tidur sebagai waktu istirahat terbaik untuk menjaga kesehatan tubuh. Hal ini karena organ-organ tubuh kita juga membutuhkan waktu untuk beristirahat. Dalam ajaran Islam, terdapat sejumlah adab tidur yang perlu diperhatikan oleh setiap muslim.

    Dengan kata lain, umat muslim dianjurkan untuk mengikuti adab tersebut sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW semasa hidup. Oleh karena itulah, setiap muslim sebaiknya mengikuti amalan baik yang juga selalu dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW pada zaman dahulu kala.

    Lantas, apa saja adab tidur yang sesuai dengan anjuran Nabi Muhammad SAW? Yuk, simak penjelasan selengkapnya tentang adab-adab tidur bagi umat muslim sebelum beristirahat di malam hari dalam artikel ini!

    Adab Tidur Sesuai dengan Anjuran Nabi Muhammad SAW

    Salah satu tujuan Allah SWT menciptakan waktu malam adalah agar manusia bisa beristirahat dengan baik. Apalagi tidur menjadi aktivitas yang dapat mendatangkan pahala dan mendapatkan ridha dari Allah SWT.

    Bahkan, hal ini sudah dijelaskan langsung oleh firman Allah SWT dalam Surat Ar Rum ayat 23 yang berbunyi sebagai berikut:

    وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦ مَنَامُكُم بِٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱبْتِغَآؤُكُم مِّن فَضْلِهِۦٓ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

    Wa min āyātihī manāmukum bil-laili wan-nahāri wabtigā`ukum min faḍlih, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy yasma’ụn.

    Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.”

    Adapun enam adab tidur yang sesuai dengan anjuran Nabi Muhammad SAW dan perlu dicermati oleh setiap muslim, antara lain:

    1. Menutup Pintu dan Mematikan Lampu Kamar

    Sebelum tidur, umat muslim dianjurkan untuk menutup pintu, lalu mematikan lampu kamar. Tak hanya itu saja, umat muslim juga hendaknya melakukan introspeksi diri terhadap segala hal yang sudah dilalui pada hari yang sudah dijalankan tersebut.

    Dalam Islam, menutup pintu dan juga mematikan lampu sebelum tidur merupakan amalan sebelum tidur yang dapat mendatangkan pahala. Hal ini sudah dijelaskan dalam HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi, Abu Daud, dan Malik yang berbunyi, “Apabila kalian hendak tidur, padamkanlah lampu dan kuncilah pintu terlebih dahulu.”

    2. Berwudhu Sebelum Tidur

    Selain menutup pintu dan mematikan lampu, sebelum tidur, setiap muslim juga dianjurkan untuk berwudhu dengan tujuan menyucikan diri. Selain itu, ketika naik ke atas ranjang, umat muslim harus berbaring di atas bagian tubuh sebelah kanan serta meletakkan pipi di atas tangan yang sebelah kanan.

    Nabi Muhammad SAW bersabda dalam HR. Bukhari dan Muslim yang berbunyi sebagai berikut:

    إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ

    Artinya: “Jika kamu mendatangi tempat tidurmu, maka wudhulah seperti wudhu untuk sholat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu.”

    3. Membaca Ayat Al-Quran

    Adab tidur selanjutnya yang dapat dilakukan oleh umat muslim adalah membaca beberapa ayat Al-Quran. Adapun beberapa surat yang dianjurkan untuk dibaca, antara lain Surat Al Ikhlas, Surat Al Falaq, Surat An Nas, dan ayat kursi. Kemudian, bisa juga membaca Surat Al Kafirun dan beberapa dzikir.

    Dalam HR Bukhari, Nabi Muhammad SAW telah bersabda:

    كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

    Artinya, “Nabi SAW ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya, lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan surat Al-Ikhlas, surat Al-Falaq’, dan Surat An-Naas. Kemudian, beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.”

    Adapun salah satu tujuan utama dari anjuran membaca ayat Al-Quran sebelum tidur adalah agar selama waktu tidur, kita senantiasa dijaga dan dilindungi oleh Allah SWT hingga nanti terjaga. Selain itu, setan pun tidak akan mendekat selama kita tidur hingga pagi hari.

    4. Membaca Doa Tidur

    Membaca doa tidur merupakan bagian dari adab yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim menjelang waktu istirahat di malam hari tiba. Berikut adalah bacaan doa sebelum tidur yang bisa dihafalkan:

    اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَحْيَا وَ أَمُوتُ

    Allahumma bismika ahyaa wa amuut

    Artinya: “Ya Allah! Dalam namaMu aku hidup dan mati.”

    Adapun Nabi Muhammad SAW sendiri juga telah mengajarkan kepada umat muslim untuk membaca doa setelah bangun dari tidur. Hal ini telah dijelaskan dalam HR. Bukhari yang berbunyi sebagai berikut:

    قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ قَالَ ‏”‏ اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَحْيَا وَأَمُوتُ ‏‏‏.‏ وَإِذَا أَصْبَحَ قَالَ ‏”‏ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ ‏

    Artinya: “Ketika Rasulullah SAW pergi tidur, dia biasa mengucapkan, ‘Allahumma bismika ahya wa amut.’ Dan saat bangun di pagi hari dia terbiasa mengatakan, ‘Alhamdulillahi al-ladzi ahyana ba’da ma amatana wailaihi-nushur.’”

    5. Hindari Begadang

    Adab tidur selanjutnya adalah menghindari begadang. Karena, Nabi Muhammad SAW dengan tegas mengatakan bahwa dirinya tidak suka begadang setelah sholat Isya, terkecuali dalam keadaan darurat. Misalnya, ketika sedang mengulang (muraja’ah) ilmu ataupun menemani tamu atau keluarga.

    Terkait dengan larangan untuk begadang ini juga sudah disebutkan dalam hadits dari Abu Abu Barzah ra yang berbunyi, “Bahwasanya Rasulullah SAW membenci tidur malam sebelum (sholat Isya) dan berbincang-bincang (yang tidak bermanfaat) setelahnya.”

    Bukan hanya itu saja, Ibnu Baththol juga menjelaskan bahwasanya Nabi Muhammad SAW tidak suka begadang, karena tidak ingin melewatkan waktu sholat malam dan agar bisa melaksanakan sholat subuh secara berjamaah.

    6. Mengibaskan Tempat Tidur dan Hindari Posisi Tengkurap

    Sebelum tidur, umat muslim juga dianjurkan untuk mengibaskan tempat tidur terlebih dahulu. Tujuannya adalah untuk membersihkan segala kotoran yang ada di permukaan tempat tersebut.

    Hal ini bahkan juga sudah disebutkan pada sabda Nabi Muhammad SAW dalam HR. Bukhari dan Muslim yang berbunyi, “Jika salah seorang di antara kalian akan tidur, hendaklah mengambil potongan kain dan mengibaskan tempat tidurnya dengan kain tersebut sambil mengucapkan bismillah, karena ia tidak tahu apa yang terjadi sepeninggalnya tadi.”

    Bukan cuma itu saja, Nabi Muhammad SAW juga tidak menganjurkan umat muslim untuk tidur dalam posisi tengkurap. 

    Dalam HR. Abu Daud dan Ibnu Majah, disebutkan bahwa, “Ketika itu aku sedang berbaring tengkurap di masjid karena begadang dan itu terjadi di waktu sahur. Lalu, tiba-tiba ada seseorang menggerak-gerakkan ku dengan kakinya. Ia pun berkata, ‘Sesungguhnya ini adalah cara berbaring yang dibenci oleh Allah’. Kemudian, aku pandang orang tersebut, ternyata ia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

    Sudah Paham Adab Tidur Sesuai Anjuran Nabi Muhammad SAW?

    Itu dia ulasan mengenai enam adab tidur yang sesuai dengan anjuran dari Nabi Muhammad SAW. Dengan melaksanakan keenam adab tersebut sebelum kita tidur di malam hari, maka Insyaallah kita akan senantiasa mendapatkan perlindungan dari Allah SWT selama tidur.

    Oleh karena itulah, pastikan kamu juga menerapkan adab tersebut setiap harinya, ya! Semoga kita selalu mendapat rahmat, penjagaan, dan juga perlindungan dari Allah SWT, ya.

  • 8 Adab Berteman Menurut Islam yang Disunnahkan

    8 Adab Berteman Menurut Islam yang Disunnahkan

    Manusia hidup sebagai makhluk sosial yang harus menjaga hubungan baik dengan sesamanya. Salah satu hubungan sosial ini adalah pertemanan. Dalam Islam, hubungan sosial ini harus dilakukan dengan baik sesuai adab berteman yang diajarkan Rasulullah SAW. Berikut ulasan lengkapnya!

    Adab Berteman

    Dalam berteman, Islam mengajarkan adab-adab yang harus dilakukan. Tujuannya adalah agar hubungan sosial tersebut bisa mendatangkan kebaikan. Nah, berikut ini ada beberapa adab berteman yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. 

    1. Berteman karena Allah

    Segala sesuatu hal harus dilakukan karena Allah SWT. Termasuk dengan menjalin hubungan pertemanan. Jadi, apapun yang umat Muslim lakukan akan senantiasa dalam rahmat dan karunia Allah SWT. Rasulullah sendiri pernah bersabda:

    “Barangsiapa yang ingin merasakan lezatnya iman, maka hendaklah dia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah SWT.” (HR. Ahmad).

    2. Memilih Teman yang Baik

    Ketika seseorang memiliki teman yang baik, maka orang tersebut akan mendapatkan dampak positif dari pertemanannya. Sebaliknya, apabila Anda bergaul dengan teman yang memiliki sifat atau sikap buruk, maka teman tersebut akan memberikan pengaruh yang buruk pula kepada Anda.

    Nabi Muhammad SAW sendiri bersabda tentang adab pertemanan yang berbunyi:

    “Seseorang ada di atas agama temannya, maka hendaknya salah seorang kalian meneliti siapa yang harus dijadikan sebagai teman.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

    3.  Menjaga Perkataan

    Adab berteman dalam Islam selanjutnya adalah menjaga perkataan. Jadi, ketika sedang berbicara dengan teman, maka sebaiknya jaga perkataan Anda. Tujuannya adalah agar Anda tidak sampai menyakiti perasaan teman Anda tersebut.

    Jadi, berkatalah dengan perkataan yang baik. Selain itu, bertutur katalah yang lembut dan penuh kasih sayang. Rasulullah SAW sendiri bersabda seperti berikut:

    “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah mukmin yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

    4. Bergaul dengan Mukmin

    Masih serupa dengan adab memilih teman yang baik. Anda dianjurkan untuk bergaul dengan mukmin. Kenapa sebaiknya Anda berteman dekat dengan orang mukmin? Sebab, teman bisa mempengaruhi karakter Anda nantinya. Berteman dengan mukmin bahkan sudah disarankan oleh Rasulullah SAW sejak dulu.

    Abu Sa’id Al Khudri RA menyampaikan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    “Janganlah engkau bergaul kecuali dengan seorang mukmin. Janganlah memakan makananmu melainkan orang bertakwa.” (HR. Abu Daud nomor 4832 dan Tirmidzi nomor 2395).

    Kemudian, Rasulullah pun menjelaskan adab ini sebagai berikut:

    “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk itu ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Dan kalaupun tidak, maka engkau tetap akan mendapatkan bau harum darinya.

    Sementara pandai besi, bisa jadi percikan apinya akan mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap akan mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    5. Mendahului Mengucapkan Salam

    Seorang teman yang tidak merasa malu untuk mendahului mengucapkan salam ketika bertemu adalah teman yang baik adabnya. Sebab, mengucapkan salam bisa mendatangkan rasa sayang antar sesama manusia. Rasulullah SAW sendiri bersabda demikian:

    “Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang bisa membuat kalian saling menyayangi? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim).

    6. Bersikap Lemah Lembut

    Adab berteman dalam Islam selanjutnya adalah bersikap lemah lembut. Allah SWT menjelaskan bahwa sifat Rasulullah dan orang yang bersamanya dalam surat Al Fath ayat 29:

    مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَىٰهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنًا ۖ سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ ٱلسُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِى ٱلْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْـَٔهُۥ فَـَٔازَرَهُۥ فَٱسْتَغْلَظَ فَٱسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعْجِبُ ٱلزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًۢا

    Bahasa latinnya adalah:

    “Muhammadur rasulullah, walladzina ma’ahu asyidda’u ‘alal-kuffari ruhama u bainahum tarahum rukka’an sujjada yabtaguna fadlam minallahi wa ridwanan simahum fi wujuhihim min atsaris-sujud, zalika masaluhum fit-taurati wa masaluhum fil-injil, kazar’in akhraja syat’ahu fa azarahu fastaglaza fastawa ‘ala suqihi yu’jibuz-zurra’a liyagiza bihimul-kuffar, wa’adallahullazina amanu wa ‘amilus-sholihati minhum magfirataw wa ajran ‘azima.”

    Arti dari sabda adab pertemanan ini adalah:

    “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang kafir. Tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujudnya.

    Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka, tunas itu akan menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus diatas pokoknya; 

    tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan orang-orang kafir dengan kekuatan orang-orang mukmin. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh diantara mereka ampunan dan pahala yang besar.”

    7. Berpakaian yang Baik

    Adab pertemanan dalam Islam selanjutnya adalah berpakaian yang baik. Allah SWT sendiri telah mewajibkan umatnya untuk selalu menjaga aurat dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

    يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

    “Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuan dan isteri-isteri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka!’ yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Ahzab / 33:59)

    Jadi, ketika bergaul dengan orang lain, maka sebaiknya Anda juga tetap menjaga pakaian yang Anda gunakan. Pakaian ini harus selalu sopan dan menutup aurat dengan sempurna, terutama jika Anda berada di keramaian. Hal tersebut merupakan salah satu adab pertemanan yang wajib Anda perhatikan.

    Dalam kitab al-Hilyah, Syaikh Bakr Abu Zaid RA berkata:

    “Perhiasan yang tampak menunjukkan kecondongan hati. Orang-orang akan mengklasifikasikan dirimu hanya dengan melihat pakaianmu. Maka, pakailah pakaian yang menghiasimu dan tidak menjelekkanmu. Dan tidak menjadi bahan celana dalam pembicaraan orang atau bahan ejekan orang-orang tukang cemooh.”

    8. Tidak Memotong Pembicaraan

    Memotong perkataan orang lain adalah hal yang tidak sopan, meskipun orang tersebut adalah teman Anda sendiri. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

    “Jika engkau mengatakan ‘diamlah’ kepada orang-orang ketika mereka sedang berbicara, sungguh engkau mencela dirimu sendiri.” (HR. Ahmad)

    Sudahkah Anda Mengamalkan Adab Berteman?

    Itulah beberapa adab berteman yang perlu Anda ketahui dan amalkan dalam kehidupan sosial sehari-hari. Tidak hanya dalam Islam, tata krama dalam bersosialisasi juga mengajarkan hal yang sama. Salah satu hal lain yang perlu Anda lakukan dalam sebuah hubungan pertemanan adalah toleransi dan hormat.

  • Adab Berbicara di Depan Umum yang Sesuai Contoh Rasulullah

    Adab Berbicara di Depan Umum yang Sesuai Contoh Rasulullah

    Pidato atau berbicara di depan umum adalah sebuah kegiatan publik yang sering masyarakat kita hadiri. Seorang juru pidato sebaiknya memperhatikan adab berbicara sebelum tampil di hadapan umum. Hal ini sangat penting agar acara pidatonya dapat berjalan tanpa hambatan.

    9 Adab Berbicara di Depan Umum yang Agama Islam Ajarkan

    Kita tentu memiliki kebebasan dalam berpendapat, namun tetap saja ada beberapa hal yang tidak boleh kita langgar. Baik itu cara mengutarakan pendapat yang tepat maupun norma kesusilaan di masyarakat. Oleh sebab itu, bacalah 9 adab bicara di depan umum di bawah ini supaya kamu mengerti.

    1. Berbicara dengan Jelas, Bukan Sekadar Keras

    Mari kita mulai dari tata cara berbicara di hadapan umum yang pertama, yaitu berkata-kata yang jelas, lancar, dan tegas tanpa terbata-bata. Dalam situasi ini, kamu bisa mengikuti teladan Rasulullah SAW yang suka mengulang poin-poin penting hingga tiga kali supaya audiens mengerti.

    Volume suara yang keras belum tentu dapat membuat audiens lebih tertarik untuk mendengarkan pidato kamu. Maka daripada itu, utamakan pengucapan yang jelas dan lancar serta intonasi suara yang tegas. Hal ini akan memudahkan kamu dalam menyampaikan isi pidato hingga tuntas.

    2. Isi Pidato Sebaiknya Ringkas

    Adab berbicara di depan umum yang kedua adalah menyampaikan pidato secara ringkas, tetapi penuh makna. Pidato yang sifatnya singkat tetapi padat akan mampu membantu audiens dalam memahami inti dari pembicaraan tersebut. Selain itu, pidato yang seperti ini juga dapat menghemat waktu.

    Jika ada seorang juru pidato yang suka bicara panjang lebar, bahkan sampai keluar dari topik pembicaraannya, maka dia hanya membuang-buang waktu saja. Pidato yang panjang lebar akan membuat orang-orang yang mendengarnya merasa bosan dan susah fokus kepada topik.

    3. Tatap Wajah Audiens

    Selanjutnya di nomor tiga, ada adab berbicara yang tergolong penting, yaitu menatap wajah audiens kamu. Biasanya seorang juru pidato akan berusaha untuk menatap mata para pendengarnya. Apabila cara ini sulit untuk kamu lakukan, maka cukuplah kamu tatap wajah mereka.

    Dengan menatap wajah dan mata para audiens, kamu menandakan bahwa kamu sebagai juru pidato sedang berkomunikasi secara langsung kepada mereka. Tidak hanya itu saja, tetapi juga kamu secara tidak langsung telah menghargai kehadiran audiens kamu di acara pidato kamu.

    4. Hindari Debat Kusir

    Debat kusir ialah perilaku bertengkar karena sedang membahas suatu topik tanpa menggunakan akal sehat. Mau itu benar atau salah, mau itu relevan dengan topik utama pidato atau tidak, debat kusir sangat dilarang dalam Islam.

    Allah SWT tidak suka kepada debat kusir dan kepada siapapun yang melakukan debat kusir karena hal ini hanya akan mengundang dosa. Kamu bisa menemukan larangan ini pada Surah Al-Ankabut ayat 46 yang bunyinya di bawah ini:

    وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

    (Janganlah kalian mendebat seorang ahli kitab kecuali dengan cara yang baik)

    Selain itu, ada pula hadits mengenai debat kusir yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah. Isi hadits tersebut kurang lebih seperti di bawah ini:

    Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah kecuali yang suka berdebat, kemudian beliau membaca (ayat): ’Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja.’”

    5. Berpenampilan yang Rapi dan Bersih

    Di nomor lima, ada adab berbicara di depan publik yang sering kita anggap remeh, yaitu mengenakan pakaian yang rapi dan bersih. Ingat, ketika kamu berpidato, kamu sedang dilihat dan dinilai oleh ratusan hingga ribuan orang, sehingga kamu tak boleh berpenampilan yang aneh-aneh.

    Usahakan untuk selalu berpakaian yang formal, bersih, dan sopan setiap kali kamu hendak mengadakan kegiatan pidato di lingkungan masyarakat umum. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa Allah menyukai segala sesuatu yang bersih dan indah.

    6. Jangan Menyebarkan Berita Bohong

    Kegiatan pidato bertujuan untuk membagikan ilmu pengetahuan kepada khalayak luas, bukan berita bohong atau hoaks yang membodohi rakyat. Isi dari pidato kamu wajib memuat hal-hal yang benar adanya serta memiliki bukti, bukan cerita yang dibuat-buat.

    Adab berbicara yang satu ini jangan sampai kamu permainkan hanya demi mendapat ketenaran semata. Bukan hanya reputasi kamu saja yang menjadi taruhannya, tetapi juga risiko mencemari diri dengan dosa. Perhatikan Surah Al-Ahzab ayat 60 berikut ini:

    لَىِٕنْ لَّمْ يَنْتَهِ الْمُنٰفِقُوْنَ وَالَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ وَّالْمُرْجِفُوْنَ فِى الْمَدِيْنَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُوْنَكَ فِيْهَآ اِلَّا قَلِيْلًا

    (Sungguh, jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan engkau (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak lagi menjadi tetanggamu (di Madinah) kecuali sebentar saja).

    7. Terima Kritik dengan Lapang Dada

    Tidak ada satu pun manusia yang seratus persen sempurna, dan itu termasuk juru pidato. Terkadang kita salah mengucapkan suatu istilah, atau kita mendadak terbata-bata saat sedang berbicara  Jika sudah begini, maka audiens akan mengkritik cara kita berpidato.

    Adab berbicara di hadapan umum yang ketujuh yaitu menerima kritik dengan lapang dada, tidak perlu sampai menuduh atau mengumpat. Jadikan saja kritik tersebut sebagai motivasi untuk memperbaiki diri agar kamu dapat berpidato dengan lebih baik di kemudian hari.

    8. Berkata-Kata yang Sesuai dengan Topik Pidato

    Pernahkah kamu mendapati seorang juru pidato yang suka banyak berbicara, sampai kemudian dia keluar dari topiknya? Hal ini sebetulnya tidak disukai oleh Rasulullah SAW karena pembicaraan yang tidak ada gunanya dapat mengundang dosa.

    Adab berbicara yang selanjutnya yaitu menjaga agar pidato kamu tetap lurus pada topik dan tidak melenceng kemana-mana. Menurut hadits riwayat Tabrani, Rasulullah sempat menyampaikan peringatan terkait bahayanya berkata-kata yang panjang lebar seperti berikut ini:

    Siapapun yang banyak bicara, maka dia akan banyak keliru. Orang yang banyak keliru, maka dosanya akan berlimpah. Orang yang dosanya berlimpah, akan masuk neraka.”

    9. Jaga Perdamaian di Antara Audiens

    Tata cara berbicara di hadapan publik yang terakhir ialah menjaga perdamaian dan persatuan di antara para pendengarmu. Acara yang sifatnya terbuka seperti pidato sangat rentan menjadi ajang saling tuduh dan saling fitnah di masyarakat, yang lalu menimbulkan perpecahan.

    Berusahalah sekuat mungkin untuk mencegah aksi fitnah dan ujaran kebencian selama kamu sedang berpidato di hadapan masyarakat. Dengan begini, kamu akan mempunyai reputasi sebagai seorang juru pidato yang cerdas, terpercaya, dan sanggup menjaga perdamaian.

    Siap Menerapkan Adab Berbicara di Depan Umum?

    Demikianlah artikel yang membahas mengenai tata cara melakukan pidato yang sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam. Karena pidato itu bersifat terbuka kepada seluruh masyarakat, kamu dituntut agar selalu memperhatikan norma kesusilaan demi menjaga persatuan umat.

  • Adab Belajar dalam Agama Islam yang Wajib Anda Pahami

    Adab Belajar dalam Agama Islam yang Wajib Anda Pahami

    Menuntut ilmu ialah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seluruh umat manusia, termasuk juga umat muslim. Meskipun begitu, ada sejumlah adab atau tata cara yang sebaiknya Anda perhatikan. Supaya ilmu yang Anda cari memberikan barokah. Mari simak dan ketahui beragam adab belajar di bawah ini!

    10 Adab Belajar yang Sesuai Tuntunan Islam

    Ilmu yang seorang manusia pelajari tanpa tuntunan yang benar tidak akan memberi manfaat apa-apa. Anda tentunya tidak mau jika harus mencari ilmu, namun hanya mendapat rasa lelah. Oleh sebab itu, ada kurang lebih 10 tata cara belajar menurut agama Islam yang patut Anda praktikkan. Berikut uraiannya:

    1. Menyiapkan Diri dengan Niat

    Mulailah kita dengan adab yang paling utama, yaitu menyiapkan diri dengan niat tulus. Berniatlah kepada Allah SWT bahwa, Anda hendak belajar ilmu demi mencerdaskan pikiran dan membuka wawasan. Niat ini adalah langkah pertama Anda dalam menimba pengetahuan.

    Sebisa mungkin hindari niat-niat yang sifatnya duniawi, misalnya seperti ingin cepat kaya atau ingin mendapat promosi di tempat kerja. Pikiran yang penuh akan hasrat duniawi seperti itu akan membuat Anda sulit konsentrasi dan menjadi tidak tulus dalam belajar.

    2. Membaca Doa Sebelum Mulai Belajar

    Doa merupakan bagian penting bagi umat muslim yang harus selalu kita laksanakan setiap kali akan melakukan suatu aktivitas. Baik itu ketika hendak beribadah, bekerja, berpergian, maupun belajar. Semua aktivitas kita sehari-hari sebaiknya kita iringi dengan doa.

    Contohnya saja doa sebelum belajar agar Anda mendapat ilmu yang berguna dan mendatangkan kebaikan dari Allah SWT. Berikut ini ialah contoh doa sebelum belajar yang sederhana:

    رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا، وَارْزُقْنِيْ فَهْمًا وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الصَّالِحِيْنَ

    (Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku dan berilah aku karunia untuk dapat memahaminya, dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang sholeh.)

    3. Tidak Boleh Setengah-Setengah

    Adab belajar yang ketiga adalah mencari ilmu sepenuh hati dan hingga selesai, jangan sampai hanya setengah jalan saja. Orang yang menimba ilmu dari awal hingga akhir tanpa melompat-lompat akan mampu memahami dan mempraktikkan ilmu tersebut di kehidupan sehari-harinya.

    Sebaliknya, orang yang hanya belajar secara setengah-setengah tidak akan mampu menerapkan apa yang telah dirinya pelajari dengan tepat. Janganlah Anda berperilaku seperti ini. Sebab, ilmu atau pendidikan yang tidak Anda pelajari sampai selesai akan membawa mudarat bagi Anda.

    4. Mencari Ilmu yang Bermanfaat

    Adab yang keempat ialah mencari ilmu pengetahuan yang memiliki nilai-nilai positif dan bermanfaat untuk Anda dan orang-orang di sekitar. Misalnya, ilmu akidah dan fiqih yang bisa membantu Anda belajar agama dengan benar tanpa terhalang oleh pandangan-pandangan duniawi.

    Ada pula ilmu berpikir kritis, yang dapat melindungi Anda dan membuat Anda tidak terjebak oleh berita bohong. Selain itu, Anda juga bisa belajar ilmu membaca dan menulis huruf hijaiyah demi memperdalam pemahaman Al-Qur’an. Apapun ilmu yang Anda cari, hal terpenting ilmu itu membawa manfaat besar.

    5. Hindari Sikap Sombong dalam Belajar

    Anda wajib ingat bahwa semua ilmu pengetahuan adalah milik Allah SWT, sedangkan kita hanyalah manusia biasa yang tidak tahu apa-apa. Mungkin Anda lebih cepat menyerap ilmu atau lebih terampil daripada orang lain. Namun, kepandaian Anda itu tidak mungkin muncul dengan sendirinya.

    Perhatikan hadits berikut yang telah diriwayatkan oleh Bukhari dari Imam Mujahid, supaya Anda mengerti bahayanya bersikap sombong dalam belajar:

    لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْىٍ وَلاَ مُسْتَكْبِرٌ

    (Dua orang yang tidak mendapat ilmu adalah orang pemalu dan orang yang sombong)

    6. Muliakan Guru yang Mendidik Kita

    Seorang guru itu pastilah mulia, patut untuk digugu dan ditiru oleh siswa-siswinya. Jika orang tersebut tidak patut untuk Anda ikuti ajarannya, maka dia bukanlah seorang guru. Maka daripada itu, ada adab belajar yang wajib siswa-siswi sekolah ketahui, yaitu memuliakan guru.

    Tidak semua orang sanggup dan tahu bagaimana caranya menjadi seorang guru yang baik. Oleh karena itu, jangan sia-siakan jerih payah kaum guru yang telah mendidik dan mengajari segala macam ilmu kepada kita. Mengapa? Sebab guru ialah orang tua kita yang kedua.

    7. Jangan Takut untuk Bertanya

    Belum tentu setiap orang dapat menyerap ilmu dengan cepat dan langsung paham. Anda mungkin saja merasa kesulitan dalam memahami suatu materi, sehingga Anda pun bertanya kepada orang yang lebih tahu. Dengan bertanya, ilmu yang sebelumnya sulit Anda pahami akan menjadi terang.

    Apakah Anda ingat dengan pepatah yang berbunyi “malu bertanya, sesat di jalan”? Pepatah ini benar adanya, karena diam itu tidak selalu berarti sudah paham. Abaikan saja orang lain yang memanggil Anda bodoh, lebih baik Anda mendapat jawaban sekarang daripada menunggu jawaban esok hari.

    8. Mempraktekkan Ilmu supaya Tidak Cepat Lupa

    Kebanyakan orang seringkali menganggap bahwa orang yang sudah hafal sesuatu berarti dia sudah pintar. Pandangan ini sebetulnya salah, sebab orang pintar itu adalah orang yang bisa mempraktikkan apa yang telah dia dapatkan. Ilmu hafalan itu tidak ada artinya jika tidak dibarengi dengan praktik.

    Anda bisa melihat contoh adab ini pada bacaan-bacaan dalam sholat, baik sholat fardhu maupun sunnah. Sekadar tahu dan hafal bacaan doa dalam sholat saja belum tentu cukup untuk Anda. Pengetahuan tentang bacaan sholat itu wajib Anda praktekkan sampai benar-benar sudah mengerti.

    9. Hati-Hati Terhadap Ilmu yang Menyesarkan

    Inilah fitnah yang sangat sering timbul di sekitar kita pada masa kini. Kemajuan ilmu pengetahuan seharusnya menjadi sarana untuk mencerdaskan sebanyak mungkin umat manusia. Ternyata, hal ini malah disalahgunakan oleh segelintir orang sehingga muncul perpecahan dan kebencian di masyarakat.

    Dalam adab belajar yang satu ini, Anda harus bisa membedakan antara ilmu yang memberi manfaat dan ilmu yang menyesatkan. Kewajiban ini dapat Anda lihat pada Surah Al Hujurat ayat 6 seperti di bawah ini:

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

    (Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.)

    10. Teruskan Ilmu kepada orang Lain

    Setelah selesai belajar, apakah ilmu itu Anda simpan untuk Anda gunakan sendiri? Janganlah begitu, karena ilmu pengetahuan itu bukan untuk manusia secara pribadi, tetapi untuk semua orang. Membagikan ilmu pengetahuan bisa menjadi amal jariyah yang pahalanya mengalir terus.

    Salah satu bentuk penyebaran ilmu ini adalah dakwah ajaran Islam secara publik. Aktivitas dakwah ini bertujuan membagikan ilmu agama Islam dengan khalayak luas. Bukan hanya itu saja, tetapi juga dapat meluruskan pemahaman agama apabila melenceng dari sunnah Rasulullah SAW.

    Siap untuk Mengamalkan Adab Belajar di Atas?

    Demikianlah artikel kali ini yang membahas tentang adab belajar atau tata cara menuntut ilmu yang sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam. Apapun topik dan bidang ilmu yang ingin Anda kuasai, jangan lupa untuk menerapkan adab-adab ini supaya nanti ilmu tersebut memberikan manfaat yang besar.

  • 16 Adab Istri Terhadap Suami dalam Al-Qur’an dan Keutamaannya

    16 Adab Istri Terhadap Suami dalam Al-Qur’an dan Keutamaannya

    Suami dan istri merupakan dua individu yang saling mengikatkan diri melalui janji pernikahan. Saat keduanya memutuskan untuk bersama mengarungi bahtera rumah tangga, terdapat hak dan kewajiban bagi masih-masih pihak, termasuk yang berkaitan dengan adab. Dan artikel kali ini akan membahas apa saja adab istri terhadap suami.

    Apa Saja Adab Istri Terhadap Suami?

    Adab dalam agama Islam merujuk pada etika, tata krama, norma, dan perilaku yang sesuai dengan syariat dan ajaran agama. Etika ini juga berlaku dalam kehidupan rumah tangga, supaya peran antara istri dan suami berjalan dengan semestinya. 

    Saking pentingnya, Al-Quran dan Hadis bahkan menegaskan pentingnya adab istri kepada suami sebagai bagian dari ketaatan kepada Allah. Setiap perempuan muslim yang telah menikah dianjurkan untuk mengetahui perihal adab-adab ini. Berikut ini penjelasan tentang poin-poin adab istri pada suami menurut Imam Al-Ghazali:

    1. Senantiasa Merasa Malu

    Sebagian besar pasangan pengantin yang sudah lama menikah umumnya menganggap bahwa rasa malu terhadap pasangan bukan hal yang penting lagi. Rasa malu tersebut mungkin hanya bertahan saat menjadi pengantin baru saja.

    Padahal, mempertahankan rasa malu terhadap suami bagi istri sangat penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Rasa malu yang dimaksud di sini tentu bukan dalam arti yang negatif. Seperti malu saat berpenampilan tidak menarik di depan suami, malu saat tubuhnya kotor dan bau, atau malu menampakkan sifat atau perilaku buruk.

    2. Tidak Banyak Mendebat Suami

    Tidak ada pernikahan yang harmonis selamanya, karena pasti ada masanya kehidupan rumah tangga dihadapkan pada masalah atau konflik. Entah itu karena ekonomi, karir, atau perkara sepele seperti berbeda pendapat dengan pasangan. Lantas, bagaimana adab istri terhadap suami jika menghadapi masalah?

    Hindari untuk selalu mendebat suami, karena hanya akan membuat konflik semakin panas atau bahkan menimbulkan masalah baru. Alih-alih mendebat, cobalah untuk menekan emosi, berdiskusi, dan saling bertukar gagasan untuk mencari solusi terbaik. Bukan semata-mata untuk memenangkan argumen atau memperkuat ego pribadi.

    3. Taat pada Perintah Suami

    Adab seorang istri terhadap suami yang tak kalah penting adalah senantiasa menaati perintah suami. Namun, ketaatan di sini juga memiliki batasan, yaitu tidak melanggar prinsip-prinsip agama. 

    Sebagai seorang istri, kamu juga berhak menolak dengan cara halus atau meminta alternatif lain dari perintah suami. Namun, hal ini hanya berlaku jika suami memberikan perintah yang bertentangan dengan ajaran Islam atau melanggar hak-hak kamu sebagai istri.

    4. Mendengarkan Saat Suami Sedang Berbicara

    Jika selama ini kamu sering menginterupsi saat suamimu sedang berbicara, maka hentikanlah atau setidaknya kurangi kebiasaan tersebut. Sebab, hal tersebut akan membuat suami merasa kurang dihargai, yang pada gilirannya akan memperlemah kedekatan antara suami istri.

    Jika ingin memotong pembicaraan suami, hendaknya kamu meminta persetujuannya terlebih dahulu. Barulah jika suamimu mengizinkan, kamu bisa giliran berbicara.

    5. Menjaga Kehormatan Saat Suami Tidak Berada di Rumah

    Entah itu suami sedang berada di rumah atau sedang pergi, hendaknya seorang istri menjaga perilaku dan martabatnya, agar kepercayaan suami juga selalu terjaga. Saat suami sedang pergi, istri diharapkan menjaga penampilannya, agar tetap pantas dan sopan ketika keluar rumah, serta menjaga etika dalam berinteraksi dengan orang lain. 

    Sebagai seorang istri, kamu juga diharapkan menjaga batas dalam hubungan dengan lawan jenis dan menghindari situasi yang dapat menimbulkan fitnah. Hindari memanfaatkan ketidakhadiran suami di rumah untuk kebebasan dan kesenangan pribadi.

    6. Menjaga Harta Suami dengan Amanah

    Adab istri terhadap suami yang selanjutnya adalah senantiasa dapat dipercaya dalam menjaga harta suami. Hindari pemborosan atau pengeluaran yang tidak perlu, lebih-lebih lagi jika tanpa sepengetahuan suami.

    7. Menjaga Badan agar Selalu Wangi

    Agar suami senantiasa merasa nyaman dan betah berada di dekat istri, hendaknya istri menjaga agar badannya selalu wangi. Wangi yang dimaksud di sini bukan melulu harus memakai parfum setiap saat, tapi lebih kepada menjaga kebersihan dan kesegaran tubuh.

    Jika badan istri bersih, rapi, dan wangi, maka akan tercipta suasana yang lebih menyenangkan dan interaksi antara suami dan istri jadi lebih nyaman.

    8. Menghindari Bau Mulut dan Selalu Berpakaian Bersih

    Selain badan, sebaiknya seorang istri juga senantiasa kebersihan gigi dan mulut, agar tidak menimbulkan bau mulut yang pada gilirannya nanti bisa mengganggu kenyamanan saat berbincang dengan suami. Pakaian yang dikenakan istri sebaiknya juga bersih dan rapi, sehingga lebih enak dipandang, meskipun hanya di dalam rumah.

    9. Senantiasa Memperlihatkan Sikap Qana’ah

    Qana’ah mengacu pada sikap atau sifat puas dengan apa yang telah diberikan oleh Allah SWT dan tidak terlalu tamak dalam mengejar kekayaan duniawi. Hal ini juga berlaku sebagai adab istri terhadap suami. 

    Sebagai seorang istri, sebaiknya kamu hindari untuk terus menerus menuntut materi kepada suami, apalagi jika itu di luar kemampuannya.

    Pahamilah bahwa kebahagiaan dan kepuasan sejati tidak terletak pada materi semata, suami yang loyal dan setia serta anak-anak yang sehat dan cerdas juga termasuk kebahagiaan. 

    Alih-alih menuntut, seorang istri dianjurkan untuk menyemangati suami dalam berikhtiar mencari nafkah dan mendoakannya agar diberikan rezeki yang barokah.

    10. Adab Istri Senantiasa Bersikap Lembut Kepada Suami

    Seorang istri hendaknya juga bersikap lembut, sabar, dan penuh kasih sayang kepada suami dengan menghargai segala jerih payahnya untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak. 

    Sebisa mungkin, hindarilah menyakiti perasaan suami dengan melayangkan kata-kata yang mengandung hinaan atau merendahkan suami, bagaimanapun kondisinya. 

    Jika seorang istri memiliki uneg-uneg kepada suami, hendaknya disampaikan dengan cara yang baik, seperti memberi nasihat dengan sopan, memberikan ruang bagi suami untuk bercerita, dan sebagainya. Sebab, suami istri sejatinya adalah partner hidup. 

    11. Berhias di Depan Suami

    Adab istri terhadap suami ini mencerminkan kepedulian istri dalam hal berpenampilan. Seorang istri, sebaiknya merawat penampilannya, berpakaian yang bersih, dan tidak berwajah masam. Bukan cuma ketika keluar rumah saja, melainkan juga saat berada di rumah.

    Tujuannya adalah supaya tidak nampak kusam dan memperlihatkan versi diri yang terbaik di hadapan suami. Hal ini sebagai bentuk perhatian dan upaya istri dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.

    12. Memuliakan Kerabat dan Keluarga Suami

    Umumnya, seorang suami memiliki kedekatan secara emosional dengan keluarga dan kerabatnya. Oleh sebab itu, seorang istri sudah sepatutnya memperlakukan kerabat dan keluarga suami secara baik, dengan tidak memfitnah, mengejek, apalagi mengumbar-umbar keburukan mereka kepada orang lain.

    Sebaliknya, seorang istri sebaiknya memperlakukan keluarga suami layaknya keluarga sendiri, dengarkan nasihatnya, menjaga silaturahmi, dan berupaya mendekatkan hubungan keluarga suami dengan keluarga sendiri.

    13. Bersyukur Atas Hasil Kerja Suami yang Diberikan Kepada Istri

    Berapapun besarnya, alangkah baiknya jika seorang istri selalu mensyukuri penghasilan suami. Hal ini tetap berkaitan dengan sifat qana’ah yang telah disinggung sebelumnya.

    14. Melihat Suami Sebagai Suatu Keistimewaan

    Ini berarti seorang istri hendaknya menganggap suami sebagai sosok yang istimewa dan berharga dalam kehidupannya. Bagaimanapun baik atau buruknya seorang suami, tetap dialah seseorang yang menerima istri apa adanya dan bersedia menjalani sisa umurnya bersama dengan istrinya.

    15. Memperlihatkan Rasa Cinta

    Memperlihatkan senyum, memeluk, dan memberikan pujian menjadi contoh-contoh kecil dari perwujudan rasa cinta seorang istri kepada suami. Adab ini harus senantiasa dibiasakan oleh istri untuk membentuk keluarga yang penuh dengan kasih dan sayang.

    16. Menampakkan Rasa Gembira

    Ada baiknya seorang istri menunjukkan rasa gembira dan ceria kapan pun dan di mana pun ia bertemu dengan suaminya. Seorang istri yang bahagia tentu akan berpengaruh besar terhadap mood suami, sehingga lebih bersemangat dalam menjalani hari.

    Keutamaan Istri Menjalankan Adab Terhadap Suami

    Berdasarkan Q.S An-Nisaa ayat 34 dan beberapa hadits, terdapat beberapa keutamaan yang diperoleh istri, jika menjalankan adab terhadap suami, di antaranya:

    • Dijamin masuk surga.
    • Memperoleh ridho Allah SWT.
    • Dosa-dosanya diampuni.
    • Melipatgandakan pahala shalat.
    • Terhindar dari perceraian yang dibenci Allah.

    Yuk, Biasakan Menerapkan Adab Istri Terhadap Suami!

    Itulah beberapa adab istri terhadap suami yang sepatutnya dibiasakan dalam kehidupan berumah tangga, agar tercipta keluarga yang harmonis dan langgeng. Semoga bermanfaat!

  • Adab-Adab Bertetangga dan Penjelasannya Menurut Hadits

    Adab-Adab Bertetangga dan Penjelasannya Menurut Hadits

    Manusia merupakan makhluk sosial yang pasti bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain, termasuk tetangganya. Dalam bertetangga, terdapat etika atau adab yang harus kamu lakukan, agar hubungan dengan tetangga tetap baik dan rukun. Berikut ini adalah beberapa adab bertetangga menurut hadits!

    Adab Bertetangga Menurut Hadits

    Dalam bertetangga, terdapat adab atau etika yang harus dilakukan untuk menjaga hubungan dengan tetangga agar tetap terjalin dengan baik dan rukun. Berikut ini adalah beberapa adab terhadap tetangga dan penjelasannya menurut hadits:

    1. Saling Berbagi dengan Tetangga

    يا نِساءَ المُسْلِماتِ، لا تَحْقِرَنَّ جارَةٌ لِجارَتِها، ولو فِرْسِنَ شاةٍ

    Artinya: “Wahai para istri kaum Muslimin, jangan sampai seorang tetangga meremehkan (pemberian) tetangganya, meski hanya berupa kaki kambing.” (HR Bukhari & Muslim)

    Adab bertetangga yang pertama menurut hadist di atas, yaitu saling berbagi dengan tetangga. Berbagi dalam hal ini bisa dimaknai berbagai macam hal, seperti berbagi makanan, rezeki, kabar baik, dan berbagi hal-hal bermanfaat lainnya tanpa meremehkan pemberiannya.

    Dengan saling berbagi bersama tetangga, maka akan memperbaiki hubungan dan meningkatkan kerukunan dengan tetangga. 

    2. Menjaga Lisan dan Tindakan

    مَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ واليَومِ الآخِرِ فلا يُؤْذِ جارَهُ

    Artinya: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, janganlah menyakiti tetangganya.” (HR Bukhari & Muslim)

    Berdasarkan hadits tersebut, menjaga hubungan baik dengan tetangga juga bisa kamu lakukan dengan cara menjaga lisan dan tindakan terhadap tetangga. Janganlah mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati tetangga, seperti mengejek, membicarakan hal-hal buruk tentang tetangga, dan lain sebagainya.

    Selain itu, menjaga hubungan baik dengan tetangga juga bisa kamu lakukan dengan menjaga tindakan kamu terhadap tetangga. Janganlah melakukan sesuatu yang bisa menyakiti hati tetangga, seperti mengacuhkan tetangga, tidak mau menolong tetangga saat kesusahan, dan lain sebagainya.

    3. Saling Menghormati dan Menghargai

    Dalam kehidupan bertetangga juga harus saling menghormati dan menghargai. Dengan saling menghormati hak dan kewajiban tetangga, maka kehidupan bertetangga akan lebih rukun dan damai.

    Saling menghormati dan menghargai tetangga bisa dilakukan dengan banyak hal. Misalnya tidak membunyikan musik terlalu keras, tidak berbicara terlalu keras, dan tidak membuang sampah di lingkungan yang bisa mengganggu tetangga.

    4. Saling Bertegur Sapa saat Bertemu

    Adab bertetangga selanjutnya yang bisa kamu lakukan untuk menjaga hubungan baik dengan tetangga yaitu saling bertegur sapa saat bertemu. Jangan mengacuhkan tetangga ketika sedang berpapasan. Kamu bisa menyapa tetangga dengan mengucapkan salam atau sekedar menanyakan kabar tetangga.

    Menyapa tetangga juga bisa kamu lakukan dengan menundukkan kepala kepada orang yang lebih tua saat lewat di depannya. Dengan saling bertegur sapa dengan tetangga, maka akan memperbaiki suasana bertetangga. Kamu juga akan dikenal sebagai orang yang peduli dan ramah dengan tetangga. 

    5. Tidak Mengganggu Tetangga

    Tidak mengganggu tetangga juga berarti saling menghargai hak-hak yang dimiliki oleh tetangga. Tetangga juga orang yang memiliki hak dan kewajiban sama dengan kita. Untuk menjaga hubungan baik dengan tetangga, maka sebaiknya kita tidak mengganggu tetangga.

    Mengganggu tetangga bisa meliputi banyak hal. Sebagai contoh, ketika kamu hendak mengadakan sebuah acara, maka sebaiknya kamu minta izin kepada tetangga, jika akan menggunakan lahan atau jalan di depan rumah tetangga tersebut.

    Begitu juga ketika kamu sedang mengadakan sebuah acara, maka mintalah pengertian kepada tetangga, jika mungkin musik atau audio yang kamu bunyikan akan terlalu keras. Jadi mintalah pengertian dan maklum dari para tetangga yang merasa terganggu.

    6. Menjaga Kerukunan dengan Tetangga

    Menjaga kerukunan dengan tetangga merupakan salah satu tujuan dari penerapan etika bertetangga. Kerukunan antar sesama tetangga sangat penting, karena tetangga adalah orang terdekat dengan kamu. Tetangga juga merupakan orang pertama yang mengetahui kondisi kamu saat sedang sakit atau kesusahan.

    Dalam kehidupan bertetangga, hendaklah kamu menjaga kerukunan dengan tetangga. Hal ini karena tetangga adalah orang yang akan kamu mintai tolong ketika kamu berada dalam kesusahan atau kedukaan.

    7. Menghindari Ghibah dan Obrolan yang Tidak Penting

    Untuk menghindari perselisihan dengan tetangga dan menjaga hubungan baik dengan tetangga, maka sudah seharusnya kamu menjaga lisan dan tindakan terhadap tetangga. Salah satu hal yang bisa kamu lakukan untuk menjaga lisan dan perbuatan dengan tetangga, yaitu tidak membicarakan keburukan tetangga.

    Ghibah atau membicarakan keburukan tetangga merupakan kegiatan yang bisa menyakiti hati tetangga dan menimbulkan perselisihan antar tetangga. Seorang tetangga yang percaya kepada kamu akan merasa sakit hati, saat tahu kamu membicarakan keburukannya dengan orang lain.

    8. Saling Memaafkan Kesalahan

    Setiap manusia pasti tidak luput dari kesalahan dan dosa, termasuk dalam kehidupan bertetangga. Salah satu hal yang bisa kamu lakukan jika melakukan kesalahan kepada tetangga, yaitu saling memaafkan kesalahan antar sesama tetangga.

    Jika kamu merasa bersalah kepada tetangga, maka hendaklah kamu meminta maaf kepada tetangga atas kesalahan yang kamu lakukan. Sebaliknya, jika tetangga memiliki kesalahan kepada kamu dan telah meminta maaf kepada kamu, maka kamu sebaiknya memaafkan kesalahan tetangga tersebut dan berdamai dengannya.

    9. Saling Menolong Tetangga

    Sebagai makhluk sosial, salah satu hal yang bisa kamu lakukan dalam etika bersosialisasi dengan tetangga adalah saling menolong. Ketika tetangga sedang kesusahan atau butuh bantuan, maka hendaklah kamu mengulurkan tangan untuk menolong tetangga.

    Seperti contoh, ketika tetangga sedang sakit dan tidak memiliki kendaraan untuk pergi ke rumah sakit, maka kamu bisa menawarkan bantuan dengan mengantarkannya pergi ke rumah sakit. Begitu juga ketika tetangga membutuhkan barang, maka kamu bisa menolongnya dengan meminjamkan barang kamu.

    10. Peduli pada Tetangga yang Sakit

    Saling peduli kepada tetangga juga merupakan adab bertetangga yang baik. Salah satu hal yang bisa kamu lakukan untuk menunjukkan rasa kepedulian kamu kepada tetangga, yaitu menjenguk tetangga yang sedang sakit.

    Kamu juga bisa mengajak tetangga yang lain untuk menjenguk tetangga yang sakit, agar kehidupan bertetangga bisa lebih rukun. Saat menjenguk tetangga, kamu juga bisa membawa makanan yang dibutuhkan oleh tetangga untuk menghargai tetangga yang sedang sakit.

    11. Menghindari Perasaan Iri dan Dengki

    Menghindari perasaan iri dan dengki kepada tetangga juga merupakan salah satu etika bertetangga yang baik. Jika tetangga sedang bahagia, maka kamu juga harus ikut bahagia atas pencapaian tetangga kamu. Janganlah memiliki sifat iri dan dengki atas keberhasilan yang dicapai oleh tetangga.

    Sifat iri dan dengki juga akan membuat hubungan dengan tetangga menjadi tidak akur dan tidak rukun. Oleh karena itu, buang jauh-jauh perasaan iri dan dengki terhadap tetangga.

    12. Tidak Mendirikan Bangunan yang Menghalangi Tetangga

    Bentuk etika bertetangga yang lain, yaitu tidak mendirikan bangunan yang bisa menghalangi tetangga. Sebagai contoh, janganlah mendirikan tembok atau pagar yang bisa menghalangi tetangga. Jika mendirikan bangunan, pikirkanlah perasaan dari sisi tetangga.

    Jangan menghalangi pandangan tetangga dan sinar matahari yang masuk ke rumah tetangga. Selain itu, janganlah menghalangi akses ke luar masuk ke rumah tetangga saat mendirikan bangunan.

    13. Berbela Sungkawa kepada Tetangga yang Berduka

    Adab bertetangga selanjutnya, yaitu ikut berbela sungkawa kepada tetangga yang sedang berduka. Hal ini sebagai bentuk rasa kepedulian kepada tetangga. Lakukan takziah ke rumah tetangga yang sedang berduka dan hiburlah keluarganya yang sedang merasa berduka dan kehilangan.

    Selain itu, ikutlah dalam kegiatan mengurus jenazah sebagai bentuk kewajiban sesama orang Islam yang hukumnya fardhu kifayah. Setelah itu, kamu juga bisa ikut rangkaian acara setelah takziyah, seperti memperingati 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 harinya almarhum atau almarhumah.

    14. Ikut Senang terhadap Kebahagiaan Tetangga

    Ketika tetangga mendapatkan kebahagiaan seperti berhasil membeli sesuatu atau mendapatkan kabar gembira, maka hendaklah kamu ikut senang atas kebahagiaan yang didapatkan oleh tetangga tersebut.

    Yuk, Terapkan Adab Bertetangga Mulai Sekarang!

    Itulah beberapa ulasan tentang etika atau adab bertetangga yang baik. Sebagai seorang makhluk sosial, hendaklah menjaga hubungan baik dengan orang lain, termasuk tetangga, agar kehidupan bertetangga menjadi lebih rukun dan damai. Oleh karena itu, yuk terapkan adab terhadap tetangga mulai sekarang!

  • 9 Adab Berpakaian bagi Laki-Laki dan Perempuan dalam Islam

    9 Adab Berpakaian bagi Laki-Laki dan Perempuan dalam Islam

    Semua manusia pasti membutuhkan pakaian untuk menutupi tubuh mereka. Pakaian tersebut haruslah yang layak dan memenuhi macam-macam fungsi dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, mari kita pelajari adab berpakaian berikut ini yang sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.

    9 Adab Berpakaian Menurut Agama Islam

    Seseorang yang pakaiannya tidak senonoh berisiko menjadi sasaran kejahatan dari orang-orang yang memiliki niat jelek. Maka dari itu, ada macam-macam adab berpakaian yang wajib seorang muslim perhatikan. Di bawah ini ada kurang lebih 9 dari adab tersebut.

    1. Jangan Meniru Pendeta Nasrani atau Yahudi

    Adab pertama yang harus kamu ikuti tanpa kecuali ialah tidak mengenakan pakaian yang menyerupai bajunya pendeta Nasrani atau Yahudi. Contoh ciri-ciri pakaian kaum Nasrani dan Yahudi yang harus kamu hindari ialah kalung salib, topi tinggi runcing, dan jubah putih.

    Menurut hadits yang periwayatnya Abu Daud, Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa siapa yang meniru-niru suatu kaum maka dia adalah pengikut mereka. Artinya, jika kamu berpakaian seperti pendeta Nasrani atau Yahudi, maka kamu telah menjadi pengikut kepercayaan mereka.

    Apabila baju itu buatan orang-orang non-muslim, tetapi bukan pakaian keagamaan mereka, maka kamu masih boleh menggunakannya untuk kegiatan sehari-hari. Hal yang penting adalah pakaian tersebut tidak mengandung simbol-simbol kaum kafir seperti tanda salib Nasrani atau bintang segi enam Yahudi.

    2. Ucapkan Basmalah ketika Mengenakan Baju

    Hampir semua orang muslim melupakan adab berpakaian yang satu ini karena tampak sepele. Padahal ucapan basmalah yang sederhana ini bisa mendatangkan berkah dari Allah dan menjauhkan musibah dari kita. Maka, ingatlah untuk membaca “Bismillahir rahmanir rahim” ketika berpakaian.

    Anak-anak juga sebaiknya diajarkan untuk mengucapkan kalimat basmalah setiap kali mereka mengenakan pakaian, baik itu seragam sekolah atau baju bermain. Ini ialah langkah yang bagus untuk menanamkan nilai-nilai Islam kepada anak-anak supaya terus melekat hingga mereka tumbuh besar.

    Selain basmalah, berikut adalah doa berpakaian lainnya.

    اللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَ خَيْرِ مَا هُوَ لَهُ، وَ أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهِ وَ شَرِّ مَا هُوَ لَهُ

    (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan baju ini dan kebaikan apapun untuknya. Dan aku berlindung dari keburukan baju ini serta keburukan apapun untuknya.)

    3. Tutupi Aurat dengan Sempurna

    Adab berpakaian ketiga yang tidak boleh luntur meskipun zaman terus berganti adalah menutupi aurat dengan sempurna. Kamu boleh berpakaian yang bagus-bagus, tetapi kamu wajib mengikuti syari’at Islam yang mengharamkan pakaian yang menunjukkan aurat.

    Bagi kaum laki-laki, aurat yang wajib mereka tutupi adalah kemaluan dan lubang pusar mereka, tetapi usahakan agar dada dan punggung juga tertutupi. Oleh karena itu, jangan gunakan pakaian yang berbahan sutera atau bahan apapun yang tembus pandang atau menerawang.

    Sementara itu, aurat bagi kaum wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Maka, pakaian untuk mereka harus menutupi hampir seluruh anggota tubuh kecuali yang dua itu. Tidak boleh pakai legging, rok mini, atau baju apapun yang menunjukkan lekukan tubuh.

    4. Tidak Boleh Memakai Baju Lawan Jenis

    Inilah dia perilaku kaum LGBT yang harus selalu kamu hindari, sebab pelakunya akan mendapat laknat dari Allah SWT. Sang Maha Pencipta telah menciptakan manusia ke dalam dua golongan, yaitu laki-laki dan perempuan, dan menyediakan kepada mereka pakaian untuk masing-masing golongan.

    Dua orang periwayat hadits, Bukhari dan Abu Dawud, menyebutkan sebuah sabda dari Rasulullah Muhammad SAW. Beliau menyatakan bahwa “Allah melaknat para laki-laki yang menyerupai perempuan dan para perempuan yang menyerupai laki-laki.”

    Periwayat hadits Bukhari juga telah menyampaikan sebuah hadits yang serupa. Isi hadits tersebut ada kurang lebih seperti di bawah ini:

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang kebanci-bancian dan para wanita yang kelaki-lakian”. Dan Nabi juga bersabda: “keluarkanlah mereka dari rumah-rumah kalian!

    5. Mengenakan Baju dari Sebelah Kanan

    Banyak orang yang suka melupakan adab berpakaian ini, padahal ini adalah tanda yang memisahkan orang muslim dari orang kafir. Kenakanlah pakaian kamu mulai dari anggota tubuh di sebelah kanan, baik itu jaket, kemeja, celana, hingga sepatu dalam segala kesempatan.

    Ketahuilah bahwa orang kafir itu mengenakan baju dan sepatu mereka mulai dari bagian tubuh mereka yang sebelah kiri. Makanya, supaya kita tidak mengikuti pola hidup mereka, kenakan pakaian kamu dari sebelah kanan dan selalu ucapkan kalimat basmalah.

    6. Pakaian Harus Bersih dari Najis

    Najis adalah segala sesuatu yang dapat mengotori pakaian kamu, sehingga tidak layak untuk kamu kenakan. Najis tersebut bisa berupa lumpur, tanah, bekas air mani, hingga darah baik dalam jumlah sedikit maupun banyak. Terutama untuk baju sholat, tidak boleh sampai kotor walau sedikitpun.

    Ada suatu perilaku jelek bernama isbal, atau kebiasaan menjulurkan pakaian sampai ujungnya terseret di tanah dan menjadi kotor. Rasulullah SAW sangat tidak suka dengan perilaku ini, sebab ini bukan hanya mengotori pakaian, tetapi juga tandanya orang yang tidak tahu diri.

    Sebuah hadits riwayat Bukhari menceritakan seseorang yang datang kepada Umar Bin Khattab sambil berisbal. Beliau pun menegur orang tersebut dengan kata-kata berikut:

    Angkatlah pakaianmu! Sesungguhnya (tidak isbal) itu lebih bersih bagi pakaianmu dan lebih dekat kepada ketakwaan kepada Rabbmu.”

    7. Laki-Laki Dilarang Mengenakan Sutera

    Sutera merupakan bahan busana yang lebih umum digunakan untuk memproduksi pakaian wanita. Kaum pria secara khusus menerima larangan dalam mengenakan busana yang bahannya dari sutera. Adab berpakaian ini tercantum dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Hibban:

    Barangsiapa yang memakai pakaian dari sutera di dunia, dia tidak akan memakainya di akhirat. Walaupun ia masuk surga dan penduduk surga yang lain memakainya, namun ia tidak memakainya.”

    Salah satu alasannya yaitu bahan sutera tergolong tipis, sehingga cenderung tembus pandang dan kurang layak untuk laki-laki kenakan. Adapun alasan lainnya adalah sutera lebik cocok untuk pakaian perempuan, dan laki-laki dilarang keras memakai pakaian untuk kaum perempuan.

    8. Hindari Perhiasan yang Berlebihan

    Kaum wanita wajib waspada terhadap kebiasaan mereka yang suka memakai gelang, cincin, dan kalung yang dapat mengundang syahwat. Adab berpakaian berikutnya adalah mengenakan busana dan aksesoris secara wajar, jangan berlebihan sehingga memancing perhatian orang jahat.

    Sebetulnya kaum pria juga boleh saja mengenakan aksesoris seperti jam tangan dan kacamata, asal bukan aksesoris untuk kaum wanita. Jumlahnya juga lebih baik sedikit saja, jangan sampai kemudian menjadi target pencurian oleh orang jahat.

    Perhatikan Surah Al-A’raf ayat 31 di bawah ini:

    يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ 

    (Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.)

    9. Panjang Baju Jangan Sampai Menyentuh Tanah

    Adab berpakaian lain yang sebaiknya diperhatikan oleh kaum wanita adalah tidak mengenakan baju yang panjang dan menjuntai hingga menyeret tanah. Dalam agama Islam, orang yang mengenakan pakaian yang panjang sampai-sampai bahannya menjuntai di tanah atau lantai ialah tandanya orang sombong.

    Kaum laki-laki juga ikut menerima peringatan ini dari Rasulullah, bukan hanya kaum perempuan. Bagi mereka yang mengenakan celana panjang dan sarung, angkatlah celana atau sarung tersebut. Jangan sampai kamu di hari pembalasan kelak tidak dipandang oleh Allah karena menyeretkan pakaian.

    Sudah Paham dengan Adab Berpakaian dalam Islam?

    Demikianlah artikel kali ini yang membahas tentang aturan berpakaian yang benar bagi kaum laki-laki dan perempuan menurut syari’at Islam. Jagalah penampilan kamu di hadapan umum supaya tidak mengundang syahwat dan niat buruk dari orang-orang di sekitar.