Author: Linda Yulita

  • Surat Al-Ashr (1-3) & Artinya, Mengingatkan Manusia Agar?

    Surat Al-Ashr (1-3) & Artinya, Mengingatkan Manusia Agar?

    Surat Al-Ashr adalah salah satu surat dalam Al-Qur’an yang memiliki keutamaan dan pelajaran penting. Meskipun surat ini terdiri dari hanya tiga ayat, terkandung pesan yang sangat berharga.

    Selain itu, surat ini juga memiliki keistimewaan. Sebab, memiliki kandungan yang memperingatkan manusia tentang waktu dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Yuk, dapatkan informasi selengkapnya dengan membaca artikel ini!

    Surat Al-Ashr Ayat 1-3 dan Artinya

    Surat Al Ashr adalah salah satu dari bagian juz amma yang termasuk surat Makkiyah. Sebutan Makkiyah diberikan karena surat tersebut diturunkan di Kota Makkah. Berikut bunyi suratnya dan terjemahannya, yaitu:

    وَٱلْعَصْرِ

    wal-‘aṣr

    Artinya:

    1. Demi masa.

    إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ

    innal-insāna lafī khusr

    Artinya:

    2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

    إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ

    illallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa tawāṣau bil-ḥaqqi wa tawāṣau biṣ-ṣabr

    3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

    7 Keutamaan Surat Al-Ashr

    Berikut ini 7 keutamaan surat Al Ashr yang bisa mengingatkan manusia untuk melakukan kebaikan, yaitu:

    1. Waktu sebagai Karunia Allah

    Surat ini memiliki keutamaan untuk mengingatkan dan mengajarkan kepada manusia tentang pentingnya menghargai waktu. 

    Allah SWT mengutus wahyu-Nya kepada Nabi Muhammad SAW dengan menggunakan kata “Asr”, yang dapat berarti waktu atau masa. Dengan demikian, surat ini menekankan kepada manusia bahwa waktu adalah salah satu karunia Allah yang sangat berharga, sehingga harus dimanfaatkan dengan baik.

    2. Pentingnya Menjaga Keimanan dan Kebaikan

    Surat pendek yang berjumlah 3 ayat ini mengandung pesan tentang pentingnya menjaga keimanan dan berbuat kebajikan. 

    Dalam surat tersebut, Allah SWT menyebutkan manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, berbuat kebajikan, saling menasehati dengan kebenaran, dan saling menasehati dengan kesabaran.

    Oleh karena itu, agar kamu menjadi golongan orang-orang yang tidak merugi, tentu harus menjaga keimanan dan berbuat kebaikan.

    3. Pengingat untuk Tidak Mengabaikan Waktu

    Seringkali manusia terlena dengan waktu. Tanpa disadari, ternyata waktu telah berlalu secara percuma, sedangkan tidak ada hasil atau kebaikan yang dilakukan. Dengan adanya surat ini, maka menjadi pengingat bagi manusia untuk tidak mengabaikan waktu yang ada di dunia ini. 

    Ayat-ayatnya yang singkat dan padat, mengingatkan bahwa setiap detik yang berlalu sangat berharga. Surat ini memperingatkan orang-orang untuk tidak terjebak dalam kegiatan yang tidak bermanfaat dan tidak menghamburkan waktu dengan sia-sia.

    4. Fokus pada Tujuan Akhir (Akhirat)

    Keutamaan surat Al-Ashr berikutnya adalah sebagai pengingat tentang akhirat yang merupakan tujuan akhir kehidupan ini. Allah SWT menyampaikan pesan, jika kesuksesan hakiki yaitu mempertahankan iman dan berbuat kebajikan. 

    Melalui surat ini, manusia diingatkan bahwa hidup ini sementara dan akhirat adalah tempat yang kekal. Oleh karena itu, sebagai manusia, kamu harus berusaha untuk mengamalkan iman dan berbuat kebaikan, agar dapat mencapai kesuksesan di akhirat.

    5. Mengamalkan Ilmu yang Dimiliki dan Diketahui

    Orang yang berilmu setidaknya harus memanfaatkan ilmu tersebut agar berguna bagi dirinya sendiri dan orang di sekitarnya. Oleh karena itu, ilmu tersebut harus diamalkan.

    Mengamalkan artinya, ilmu tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, dengan memberikan nasihat kepada orang lain supaya orang tersebut mengetahui dan juga menerapkan ilmu tersebut dalam kehidupannya.

    6. Sabar dalam Berdakwah

    Dakwah merupakan ajakan atau seruan kepada seseorang untuk melakukan kebaikan dan senantiasa di jalan Allah. Dalam berdakwah, tentu banyak tantangan dan hambatannya, seperti penolakan maupun fitnah.

    Melalui surat ini, Allah SWT menekankan kepada para pendakwah agar sabar. Sebab, di balik kesabaran dan keikhlasan tersebut selalu ada pertolongan dari Allah. Maka dari itu, jangan mudah menyerah dan berputus asa saat menghadapi cobaan.

    7. Orang yang Beramal Sholeh Tidaklah Merugi

    Selain keutamaan di atas, surat ini juga memiliki keutamaan lainnya, yaitu mengatakan manusia bahwa orang yang melakukan kebaikan dan beramal sholeh tidak akan mengalami kerugian.

    Sebab, semua kebaikan yang kamu lakukan pada akhirnya akan kembali pada dirimu sendiri. Sehingga, kamu tidak dirugikan sama sekali.

    7 Manfaat Membaca Surat Al-Ashr

    Berikut 7 manfaat membaca surat Al Ashr yang perlu kamu ketahui, yaitu:

    1. Menumbuhkan Kesadaran tentang Pentingnya Waktu

    Surat ini menyampaikan pesan yang kuat tentang pentingnya menghargai dan memanfaatkan waktu dengan baik. 

    Membaca surat ini secara rutin, dapat membantu menumbuhkan kesadaran tentang waktu yang terbatas dan mendorong kamu untuk menggunakan waktu dengan bijaksana. Sehingga, tidak mudah lalai dengan waktu yang dimiliki.

    2. Menyadarkan tentang Prioritas Hidup 

    Manfaat selanjutnya adalah untuk mengajarkan bahwa keberhasilan sejati terletak pada iman, berbuat kebajikan, saling menasehati dengan kebenaran dan kesabaran.

    Dengan membaca surat ini, dapat membantumu dalam melakukan evaluasi terhadap hidup yang telah dijalani. Sehingga, kamu bisa mengetahui prioritas hidup dan mengarahkan fokus pada hal-hal yang benar-benar penting.

    3. Mengingatkan untuk Berbuat Baik kepada Sesama

    Membaca surat ini dapat mengingatkan kamu untuk saling menasihati dalam kebaikan serta melakukan perbuatan baik. Sebab, surat ini mengandung pesan yang mendalam mengenai pentingnya saling menasehati dengan kebenaran. 

    Seringkali sebagai manusia kita mudah lalai dan luput. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan pengingat agar kita selalu berada di jalan yang benar. Salah satunya dengan membaca Surat Al-Ashr secara rutin.

    4. Memberikan Ketentraman dan Ketenangan

    Dalam menjalani hidup, manusia selalu dihadapkan dengan berbagai macam tantangan dan hambatan. Cobaan tersebut sebagai bentuk ujian agar Allah mengetahui siapa hamba yang paling sabar dan tabah.

    Dengan demikian, tidak bisa dipungkiri kalau kita sering merasa khawatir dan gusar terhadap masalah yang dihadapi. Jika kamu membaca surat ini dengan khusyuk, maka dapat membantumu menemukan ketentram dan ketenangan jiwa.

    5. Memperkuat Hubungan dengan Al-Qur’an

    Surat pendek yang singkat, namun banyak maknanya ini merupakan bagian dari Al-Qur’an. Apabila kamu membacanya, maka dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat hubunganmu dengan Al-Qur’an dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    Sehingga, kamu bisa selalu dalam lindungan-Nya dan terhindar dari perbuatan maksiat yang dilarang oleh Allah SWT.

    6. Senantiasa Beramal Sholeh

    Jika kamu telah memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an dan mendekatkan diri kepada Allah, bukan tidak mungkin kamu akan senantiasa beramal sholeh. Dengan demikian, semakin banyak orang yang terbantu dari kebaikan yang kamu lakukan.

    Maka dari itu, bacalah surat ini kapanpun, agar menjadi pengingat supaya kamu senantiasa berbuat baik dan bermanfaat bagi orang lain.

    7. Meningkatkan Kualitas Hidup

    Seperti yang telah dijelaskan, meski surat ini pendek dan hanya memiliki tiga ayat, tetapi mengandung makna mendalam serta terdapat keutamaan yang luar biasa.

    Dengan memahami dan mengamalkan pesan dalam surat ini, kamu dapat meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. 

    Sebab, kamu sudah berbekal kesadaran tentang nilai waktu, memprioritaskan ibadah, berbuat kebaikan, dan saling menasehati dengan kebenaran akan membawa perubahan positif dalam kehidupan kita.

    Sudah Baca Surat Al-Ashr Hari ini?

    Itulah penjelasan mengenai Surat Al-Ashr ayat 1-3 beserta arti, keutamaan, dan manfaatnya. Dengan membaca surat ini setiap hari secara rutin, semoga kita senantiasa dalam perlindungan Allah dan termasuk golongan orang-orang yang tidak merugi. 

  • Apa Itu Tarekat? Pengertian, Sejarah, Tujuan, serta Alirannya

    Apa Itu Tarekat? Pengertian, Sejarah, Tujuan, serta Alirannya

    Awalnya, istilah tarekat atau tariqa (B.inggris) memiliki berbagai makna, tergantung dilihat dari ilmu apa. Namun, istilah ini berkembang dan seringkali merujuk pada suatu organisasi persaudaraan sufi. Meski begitu, bagaimana sejarahnya? Selain itu, apa saja aliran-alirannya? Untuk mengetahuinya, kamu dapat melihat penjelasan di bawah ini!

    Pengertian Tarekat

    Bila ditinjau secara etimologis, istilah tarekat berasal dari kata thariqah dalam bahasa Arab, yang artinya adalah jalan. Jalan di sini memiliki makna yang selaras dengan jembatan (sirat), syariah, dan sabil. Sedangkan menurut Aboebakar Atjeh, istilah ini adalah jalan/petunjuk dalam melakukan ibadah sesuai ajaran Nabi.

    Ia juga menambahkan bahwa istilah tersebut merupakan ibadah yang dikerjakan secara turun temurun dari tabi’in hingga kepada guru-guru. Dari pengertian di atas, bisa disimpulkan bahwa tariqa merupakan ajaran kerohanian yang dikerjakan oleh orang-orang, karena dipercaya dapat membawa pada pencapaian tujuan tasawuf.

    Tasawuf sendiri merupakan usaha mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan menjauhi hal-hal yang sifatnya duniawi dengan cara mensucikan jiwa, menjernihkan akhlak, serta membangun dhahir dan batin.

    Sejarah Tarekat

    Istilah ini muncul pertama kali pada abad keenam dan ketujuh Hijriah. Pada saat itu, tasawuf merupakan sebuah hal penting dalam kehidupan kaum muslimin dan sebagai falsafah hidup. Pada saat itu, tasawuf memiliki prinsip dan metode khusus. Padahal, sebelumnya tasawuf dilakukan secara sendiri, tanpa adanya ikatan dengan yang lain.

    Seiring berjalannya waktu, tasawuf mengalami perkembangan makna. Dengan jumlah pengikut tasawuf yang semakin bertambah, maka secara perlahan terjadi perubahan tasawuf dari semata menjadi suatu organisasi atau dikenal sebaga tarekat.

    Bisa dibilang, pada tahapan ini, banyaknya pengikut, membuatnya menjadi komunitas. Komunitas tersebut menjadi kekuatan sosial perkumpulan khusus yang setelahnya memunculkan organisasi sufi dengan tujuan melestarikan ajaran syekh nya, seperti qodiriyah, chistiyyah, dan sebagainya.

    Kegiatannya pun tidak terbatas hanya pada dzikir dan wirid atau amalan tertentu saja. Sebab, beberapa di antaranya melibatkan diri dalam aktivitas politik, seperti aliran sanusiyah, tijaniyah, dan safawiyah.

    Tujuan Tarekat

    Di bawah ini adalah beberapa tujuan dari Tariqa, antara lain:

    1. Dari Sisi Pengamalan

    Untuk mengadakan latihan dan melawan hawa nafsu, membasuh diri dari sifat-sifat atau perilaku tercela, serta membekali diri dengan sifat terpuji lewat perbaikan budi dalam segala aspek.

    2. Dari Sisi Tadzakkur

    Mewujudkan rasa ingat kepada Allah Yang Maha Kuasa atas semua hal, dengan cara mengamalkan dzikir dan wirid, sekaligus selalu tafakur. Memunculkan rasa takut kepada Allah SWT yang menciptakan usaha untuk menghindar dari semua hal yang menyangkut keduniawian.

    Hal tersebut dilakukan agar seseorang tidak melupakan Allah, karena dibutakan segala macam pengaruh duniawi.

    3. Mencapai Ma’rifat

    Hal ini, jika semua amalnya didasarkan pada keikhlasan dan ketaatan kepada Sang Pencipta. Hasilnya, seseorang akan bisa tahu segala rahasia dibalik tabir cahaya Allah dan Rasulullah secara jelas. Tujuan ini bisa dicapai oleh orang yang mengamalkan tariqa.

    Amalan tersebut mulai dari mengerjakan syari’at Allah dan Rasulnya dengan cara yang mengantarkan tercapainya tujuan hati yang sebenarnya sesuai dengan syariat itu sendiri.

    Hukum Tarekat

    Masuk ke dalam aliran atau kelompok thariqah dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari tentu ada hukumnya. Berikut hukumnya menurut para ulama thariqah pada Keputusan Muktamar Ke I Jam’iyyah Ahlith Thariqah Mu’tabarah di kawasan Tegalrejo, Magelang Tanggal 18 Rabiul Awal 1377 H/12 Oktober 1957 M:

    • Sunnah: Apabila tujuannya adalah untuk belajar wirid dan dzikir saja.
    • Fardhu ‘ain: Jika untuk menghiasi hati dengan semua sifat terpuji (tahalli) serta membersihkan hati segala sifat rendah (takhalli).
    • Wajib: Bila bertujuan untuk mengamalkan wirid sesudah baiat (talqin).

    4 Aliran-Aliran Tarekat Utama

    Dalam website khazanah.republika, terdapat empat aliran utama dari thariqah, antara lain:

    1. Aliran Chistiyyah

    Aliran ini dibentuk oleh Syaikh Khwaja Abu Ishaq Shami Chishti dan cukup dikenal masyarakat ketika dipimpin oleh Syaikh Mu’inuddin Chisti. Selain itu, aliran ini berakar pada tradisi Sunni dan menganut mazhab Hanafi.

    Sama seperti yang lainnya, aliran chistiyyah memegang prinsip dasar yaitu menahan diri dari sesuatu yang bertentangan dengan ketetapan dari Al-Quran dan praktik Rasulullah SAW. Aliran ini juga mengajarkan wirid dan dzikir tertentu.

    Ciri yang dimiliki aliran ini adalah menghindari berhubungan langsung dengan lembaga, perseroan, atau perusahaan dari orang-orang berkuasa/berada. Jadi, lebih sering berinteraksi dengan orang miskin untuk menghindari noda korupsi dan duniawi. Jika tidak, maka dianggap bertentangan dengan apa yang dinamakan dengan tawakal.

    2. Tarekat Suhrawardiyah

    Penamaan aliran Suhrawardiyah dinisbatkan kepada Syaikh Syihab al-Din Abu Hafsh Umar bin Abdillah bin Muhammad al-Taimi al-Sufi al-Syafi’i al-Suhrawardi. Namun, ia juga banyak mengambil pelajaran tasawuf dari pamannya sendiri, yakni  Syaikh Dhiyauddin Abu Najib bin Muhammad al-Taimi al-Suhrawardi (wafat tahun 1167).

    Ajaran aliran ini tercatat dalam kitab ‘Awârif al-Ma’ârif (133-134), diantaranya seperti berpedoman pada ajaran tauhid dan melaksanakan dengan bersungguh-sungguh.

    Selain itu, menjalankan syariat dengan baik dan benar, merasa selalu membutuhkan (faqr) Allah SWT dan zuhud, serta menjaga perilaku/adab. Terakhir adalah menyucikan waktu dari segala macam kekejian, dengan jalan mensucikan hati dari segala macam kotoran jiwa.

    Dalam aliran suhrawardiyah, tugas seorang syeikh (mursyid) yakni untuk membersihkan hati para salik (seseorang yang sedang dalam proses pencarian Tuhan). 

    Hal ini bertujuan agar cahaya tauhid/keesaan, keagungan ilahi, dan kesempurnaan keabadian tergambar dalam hati mereka. Salik dibuat agar memiliki kecintaan ilahi dalam hatinya.

    3. Tarekat Qodiriyah

    Nama Qodiriyah dari aliran ini diambil dari pembuatnya, yakni Syeikh Abdul Qodir Jaelani (wafat 561 H/1166M). Aliran qadiriyah ini dikenal luwes, karena ketika seorang murid mencapai syeikh, maka ia tidak harus mengikuti tariqa gurunya. Alhasil, cukup banyak cabang dari aliran qadiriyah di dunia islam, seperti Kamaliyah (1584 M).

    Tujuan dari aliran ini sama dengan yang lain, yakni mendekat dan mendapat ridho Allah SWT. Salah satu ciri dari aliran ini adalah ketika selesai melaksanakan shalat 5 waktu, maka diwajibkan membaca istigfar sebanyak 3x, lalu membaca sholawat 3x, dan La Ilaha illa Allah 165x. Selain itu, dzikir semampunya di luar sholat.

    Untuk mengamalkannya, murid akan melalui tahapan perjalanan yang membutuhkan proses panjang dan bertahun-tahun. Dalam perjalanannya, ia akan menerima hakikat pengajaran, berbakti, dan menjunjung segala perintah gurunya. Murid tersebut juga harus menjauhi larangan dan melawan hawa nafsu.

    4. Tarekat Naqsyabandiyah

    Aliran ini bisa dibilang memiliki banyak pengikut di Indonesia. Aliran Naqsyabandiyah pertama muncul pada abad 14 masehi di Turkistan. Pendiri aliran ini bernama Muhammad bin Muhammad Bahauddin al-Bukhari. Ia kemudian mendapatkan gelar Syah Naqsyaband dan hidup antara tahun 1317-1389 M (meninggal tahun 719 H).

    Lebih lanjut lagi, aliran ini memiliki keyakinan bahwa pendiri dari naqsyabandiyah adalah Abu Bakr as-Shiddiq. Selain itu, mereka percaya bahwa seseorang yang tidak mengikuti aliran naqsyabandiyah, sedang berada dalam malapetaka agamanya. Meski begitu, ajaran ini ada di setiap firqah untuk mengikat pengikutnya.

    Selain itu, para pengikut naqsyabandi menyikapi para tokohnya yang telah wafat selayaknya orang hidup. Jadi, mereka istighatsah di kuburan tokohnya hingga meminta keputusan ke tokohnya. Mereka juga memakai media seperti foto para tokoh atau membayangkan muka tokohnya saat berdzikir kepada Allah.

    Hal ini dilakukan agar bisa berhubungan dengan Allah lewat mendekatkan diri kepada tokohnya.

    Sudah Mengerti Apa Itu Tarekat?

    Dari pembahasan di atas, istilah ini merujuk pada jalan, cara, atau metode yang dilakukan agar dekat dengan Allah SWT.  Istilah ini juga terdiri dari beberapa aliran dengan ajaran dan praktik berbeda yang menjadi ciri khasnya masing-masing. Semoga bermanfaat!

  • Idzhar Halqi: Hukum Bacaan, Huruf, Contoh, dan Cara Bacanya

    Idzhar Halqi: Hukum Bacaan, Huruf, Contoh, dan Cara Bacanya

    Dalam membaca Al-quran, Anda tidak hanya harus memahami tanda-tanda yang tercantum. Melainkan juga harus mengerti ilmu tajwid. Ilmu ini mengajarkan kita tentang bagaimana tata cara yang benar untuk membaca Al-Qur’an. Ada beberapa bentuk yang bisa Anda pelajari dan salah satunya ialah idzhar halqi.

    Ini merupakan hukum bacaan dan bagian yang cukup penting dalam Al-Quran. Menerapkannya membutuhkan perhatian khusus juga ketelitian dalam pelafalannya. Hal tersebut bertujuan untuk meminimalisirkan kesalahan dalam memahami makna dan memperindah bacaan agar lebih merdu.

    Hukum Bacaan Idzhar Halqi

    Secara harfiah, idzhar halqi berasal dari dua kata. Pertama idzhar yang artinya jelas. Lali, halqi yang bermakna tenggorokkan. Jadi, pengertiannya adalah hukum bacaan yang apabila terdapat nun sukun atau tanwin bertemu dengan salah satu hurufnya, maka harus dibaca dengan jelas dan pendek sesuai makhraj dan sifatnya.

    Makhraj dari huruf-huruf tajwid ini keluarnya harus dari tenggorokkan. Cara pembacaannya pun harus jelas dan tidka boleh mendengung. Dalam kitab Hidayatush Shibyan juga dijelaskan, ketika terdapat satu nazham (struktur bahasa) bertemu dengan salah satu huruf idzhar, maka nun mati atau tanwin dibaca jelas.

    Jelas ini dimaksudkan agar tidak ada tekanan atau sentakan baik dalam satu kalimat maupun kalimat lainnya. Hanya sekedar jelas saja dan hal ini juga berlaku kepada jenis idzhar syafawi yang mana mengatur bacaan mim matinya.

    Selain itu, hukum bacaan ini memiliki 6 huruf yang harus Anda ketahui, yakni Hamzah (ء) Ha (ح) Kha (خ) Ain (ع) Ghain (غ) Ha (ه‍). Sesuai dengan aturannya apabila ada tanda nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu dari huruf yang disebutkan, maka terjadilah hukum bacaan idzhar atau jelas.

    Contoh Idzhar Halqi

    Sebagai umat muslim, penting bagi Anda mempelajari dan menghayati Al-Quran beserta isinya. Karena itu, memahami bagaimana contoh hukum bacaan ini sangat dibutuhkan. Berikut ini adalah beberapa contohnya.

    1. Contoh Huruf Hamzah

    Dalam surah Al-Baqarah ayat 10 terdapat huruf hamzah yang bertemu dengan dhammah tanwin. Dengan begitu muncullah hukum bacaan yang pembacaannya haruslah jelas, tanpa dikurangi ataupun ditambah.

    2. Contoh Huruf Ha

    Contoh berikutnya ada di surah Al-Lahab ayat 2. Di mana pada ayat tersebut terdapat salah satu huruf hijaiyah yakni Ha yang bertemu dengan nun sukun. Karena itu, pembacaannya juga harus jelas dan tidak samar ataupun mendengung.

    3. Contoh Huruf Ain

    Ayat idzhar halqi juga dapat ditemukan di surah At-Takatsur ayat 8. Dalam ayat tersebut terdapat huruf ain yang bertemu dengan kasrah tanwin. Karena itu, cara pembacaannya haruslah jelas tanpa adanya dengungan atau samar.

    4. Contoh Huruf Kha

    Hukum bacaan ini yang keempat dapat Anda temukan di Surah An-Naba ayat 36. Dapat dilihat dari surah tersebut muncul huruf kha yang bertemu dengan fathah tanwin, jadi wajib dibaca secara jelas.

    5. Contoh Huruf Ghain

    Surah At Tin ayat 6 juga memiliki salah satu ayat yang mengandung hukum bacaan ini. Dalam ayatnya mempertemukan huruf ghain dengan dhammah tanwin yang haruslah dibaca secara jelas. 

    6. Contoh Huruf Kho

    Contoh yang terakhir terdapat di Al-Quraisy ayat ke-4. Ayat tersebut memunculkan huruf kho bertemu dengan nun sukun. Dengan begitu, hukumnya harus dibaca secara jelas

    Cara Baca Idzhar Halqi

    Sesuai dengan pengertiannya, cara membaca hukum bacaan ini haruslah jelas tanpa mendengung sedikitpun. Meskipun di ayat Al-Quran nanti ada huruf-huruf idzhar yang bertemu nun mati atau tanwin, tetap saja pelafalannya harus tampak dan tidak boleh dibaca samar atau dengung. Begini contoh pelafalannya:

    1. Nun Mati Bertemu Huruf Ha

    inews.id

    Cara bacanya: Fashalli lirabbika wan khar.

    Artinya: Dirikanlah sholat karena Rabbmu dan berkurbanlah.

    Ayat diatas merupakan surat Al-Kautsar ayat 2, di mana ada pertemuan antara nun mati dengan kha. Maka dari itu, cara membacanya harus jelas, yakni wankhar.

    2. Nun Mati Bertemu Huruf Kho

    inews.id

    Cara bacanya: Waamanhum minkhouf.

    Artinya: Maka mengamankan mereka semua dari ketakutan.

    Surat ini diambil dari QS-Quraisy ayat 4 yang mana terdapat salah satu huruf idzhar, yakni kho bertemu dengan nun mati. Jadi, cara membacanya menjadi jelas, yakni min khouf.

    3. Tanwin Bertemu dengan Huruf Ghain

    inews.id

    Cara bacanya: Illaladzina aamanuwaamilusholikhati lahumaajrughoirumamnun.

    Artinya: Bagi orang-orang yang beriman dan memiliki amal shaleh, bagi mereka akan mendapatkan pahala yang tidak ada putus-putusnya.

    Bacaan di atas diambil dari QS Al- Insyiqad ayat ke-25. Dalam ayat tersebut tertulis huruf hijaiyah ghoin bertemu dengan tanwin. Karena itu, cara membacanya harus idzhar halqi, yakni ajrunghoirumamnun.

    4. Nun Mati Bertemu Ain

    inews.id

    Cara bacanya: Kholakolinsana minalaq.

    Artinya: Dia yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

    Surat di atas merupakan QS Al-Alaq ayat 2. Terdapat nun mati bertemu dengan huruf hijaiyah ain, sehingga cara membacanya jelas dan terang, yakni minalaq bukan mingalaq.

    5. Kasroh Tanwin Bertemu Huruf Alif

    inews.id

    Cara bacanya:

    Wamingsyarri ghosiqiiniidzhawakobb

    Ayat di atas merupakan bagian dari QS Al-Falaq ayat ke-3, yakni mempertemukan tanwin dengan huruf alif (hamzah). Dengan begitu, cara membacanya terang atau jelas ghoo siqin idzha.

    Ciri-Ciri Idzhar Halqi

    Setelah mengenal informasi tentang pengertian, cara membaca, huruf, dan contohnya mungkin Anda masih harus mengetahui tentang ciri-ciri dari hukum bacaan ini. Agar dapat membantu mensukseskan proses pembelajaran, berikut uraian cirinya:

    1. Nun Sukun atau Nun Mati Bertemu Salah Satu Hurufnya

    Ilmu tajwid hukum bacaan ini akan terjadi ketika dalam ayat Al-Quran muncul nun sukun atau nun mati bertemu dengan salah satu hurufnya. Seperti alif, gain, ha’, kha, ha, ain, hamzah. Sepanjang apapun ayatnya, maka harus dibaca dengan jelas sesuai dengan aturan ilmu tajwid yang berlaku.

    2. Tanwin bertemu dengan Salah Satu Hurufnya

    Selain itu, hukum bacaan ini juga akan terjadi ketika tanwin bertemu dengan salah satu hurufnya. Seperti alif, gain, ha’, kha, ha, ain, hamzah dalam ayat Al-Quran. Setelah itu, dilanjutkan dengan membaca ayat sesuai dengan makhrajnya.

    Penerapan Idzhar Halqi pada Surat Al-Quran

    Penerapan hukum bacaan ini mungkin sudah Anda ketahui pada beberapa surat. Karena itu, Anda perlu mengetahui contoh-contoh ayat yang mengandung bacaan ilmu tajwid yang satu ini. Berikut uaraiannya:

    1. Juz Amma (Al-Fajr dan Al-Fiil)

    Sebagian besar isi surat dalam juz amma berasal dari Al-Quran. Dalam contoh ini akan mengangkat surat Al-Fajr dan Al-Fiil, yaitu:

    • Surat Al Fiil ayat 3 أَبَابِيلَ طَيْرًا  (tanwin bertemu alif).
    • Surat Fajr Ayat 2 عَشْرٍ  وَلَيَالٍ (tanwin bertemu dengan ain).

    2. Surat An-Naba

    Surat An-Naba memiliki beberapa bagian ayat yang mengandung hukum bacaan ini, yaitu:

    • Ayat 36 : حِسَابًا ءً عَطَآ رَّبِّكَ آءً مِّنۡ جَزَاۤءً ( tanwin bertemu dengan kha).
    • Ayat 16 : أَلْفَافًا وَجَنَّاتٍ (tanwin bertemu dengan alif).
    • Ayat 29 : كِتَٰبًا أَحْصَيْنَٰهُ شَىْءٍ وَكُلَّ ( tanwin bertemu dengan hamzah).

    3. Surat Al-Fatihah Ayat 7

    Dalam surat Al-Fatihah juga bisa Anda temukan beberapa ilmu tajwid yang salah satunya Halqi. Bacaan tajwid ini berada di ayat ke-7 yakni أَنْعَمْتَ. Ayat ini dibaca jelas karena nun mati bertemu dengan ain. Cara baca nun adalah n tidak boleh dengung nnn.

    Pahami Idzhar Halqi Sebagai Pelengkap Membaca Al-Quran!

    Demikianlah penjelasan dari idzhar halqi secara lengkap dan keseluruhan. Lewat informasi ini, Anda bisa belajar tentang ilmu tajwid dengan baik dan benar. Sebaiknya, terapkan ini di setiap pembahasan pada proses mengaji Anda. Karena selain menyempurnakan bacaan, ilmu tajwid juga akan memperindah bunyinya.

  • Idzhar Syafawi: Pengertian, Macam Huruf, Cara Baca, dan Contohnya

    Idzhar Syafawi: Pengertian, Macam Huruf, Cara Baca, dan Contohnya

    Dalam pembacaan Al-Quran yang benar, seorang muslim haruslah mempelajari ilmu Tajwid atau aturan membaca Al-Quran yang sesuai dengan syariat Islam. Salah satu aturan penting dalam ilmu Tajwid yang perlu kamu pahami adalah idzhar syafawi atau izhar syafawi.

    Apabila kamu memperhatikan aturan ini, maka kamu dapat mengucapkan huruf-huruf hijaiyah dengan jelas dan menghindari kesalahan pengucapan yang dapat mengubah makna ayat. 

    Ilmu Tajwid izhar syafawi juga membantu kamu melafalkan ayat-ayat Al-Quran dengan indah dan harmonis, yang secara keseluruhan dapat meningkatkan kualitas bacaan kamu. Pelajari aturan bacaan izhar syafawi dengan lebih mendalam melalui artikel berikut ini!

    Apa Itu Idzhar Syafawi?

    Secara teori, izhar syafawi atau idzhar syafawi adalah hukum bacaan ayat Al-Quran ketika huruf mim mati (مْ) bertemu dengan huruf hijaiyah selain ba (ب) dan mim (م). Karakteristik izhar syafawi pada mim mati (مْ) dapat dikenali dengan melihat adanya tanda sukun di atas mim mati (مْ) tersebut.

    Dalam buku “Dasar Ilmu Tajwid” milik Sun Choirol Ummah, S.Ag, M.SI dan Dr. Marzuki, M.Ag, secara bahasa, idzhar artinya jelas atau nampak dan syafawi artinya bibir. Hukum bacaan ini merujuk pada pengucapan huruf-huruf hijaiyah selain ba (ب) dan mim (م) dengan jelas tanpa berdengung (ghunnah) atau penutupan suara (iqlab).

    Selain itu, kamu juga harus ingat bahwa ketika mengucapkan izhar syafawi, tidak boleh ada pantulan suara, namun suara harus tetap jelas. Hal ini karena mim mati (مْ) bukan bagian dari huruf Qolqolah. Oleh karena itu, penting untuk berhati-hati dan teliti dalam membaca Tajwid izhar syafawi. 

    Macam-Macam Huruf Idzhar Syafawi

    Berdasarkan pengertian di atas, huruf-huruf izhar syafawi mengacu pada huruf-huruf hijaiyah selain ba (ب) dan mim (م). Sehingga, huruf-huruf izhar syafawi adalah:

    • Alif a (ا)
    • Ta (ت)
    • Tsa (ث)
    • Jim (ج)
    • Ha (ح)
    • Kha (خ)
    • Dal (د)
    • Dzal (ذ)
    • Ra (ر)
    • Za (ز)
    • Sin (س)
    • Syin (ش)
    • Shad ( ص)
    • Dhad (ض)
    • Tha (ط)
    • Zha (ظ)
    • ‘Ain (ع)
    • Ghain (غ)
    • Fa (ف)
    • Qaf (ق)
    • Kaf (ك)
    • Lam (ل)
    • Nun (ن)
    • Wawu (و)
    • Ha (ها)
    • Hamzah (ء)
    • Ya (ي)

    Hukum dan Cara Baca Idzhar Syafawi

    Seperti yang telah kami sebutkan di atas, idzhar artinya jelas dan syafawi artinya bibir. Sehingga, izhar syafawi memiliki hukum bacaan yang harus kamu lafalkan dengan jelas, tanpa ada dengungan (ghunnah) atau penutupan suara (iqlab). 

    Serta posisi bibir kamu yang mengatup atau dirapatkan ketika membaca mim mati (مْ) yang bertemu dengan huruf hijaiyah selain ba (ب) dan mim (م).

    Setelah melafalkan mim mati (مْ), lanjutkan dengan mengucapkan huruf-huruf hijaiyah selain ba (ب) dan mim (م) secara jelas dan terpisah. Kemudian, ketika kamu membaca huruf mim mati (مْ), pastikan untuk menghentikan bacaan kamu sejenak tanpa adanya pendengungan atau ghunnah. 

    Cara ini akan membantu kamu dalam menandai bahwa mim mati (مْ) tersebut harus kamu ucapkan secara terpisah dengan huruf-huruf hijaiyah selain ba (ب) dan mim (م) yang mengikutinya.

    Contoh Bacaan Idzhar Syafawi dalam Al-Quran

    Supaya pemahaman kamu tentang Tajwid izhar syafawi semakin jelas, berikut ini adalah beberapa contoh bacaannya yang dapat kamu temukan dalam Al-Quran:

    1. Surah Al-Fatihah Ayat 1 dan 6

    Dalam surah Al-Fatihah, bacaan izhar syafawi bisa kamu temukan pada ayat 1 dan 6 yang mana berbunyi:

    الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (1)

    صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (6)

    Pada ayat pertama, huruf mim mati (مْ) bertemu dengan huruf dal (د). Sedangkan pada ayat keenam, huruf mim mati (مْ) bertemu dengan huruf ta (ت), ghain (غ), dan wawu (و).

    2. Surah Al-Baqarah Ayat 3, 4, dan 5

    Selain surah Al-Fatihah, tentu saja bacaan izhar syafawi juga bisa kamu temukan pada surah Al-Baqarah ayat 3, 4, dan 5 yang berbunyi:

    (3) ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ 

    (4) وَٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِٱلْءَاخِرَةِ هُمْ يُوقِنُون

     أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ (5)

    Pada ayat ketiga dan keempat, huruf mim mati (مْ) bertemu dengan huruf ya (ي). Sedangkan pada ayat kelima, huruf mim mati (مْ) bertemu dengan huruf wawu (و).

    3. Surah Al-Lahab Ayat 4

    Contoh bacaan idzhar syafawi lainnya ada pada surah Al-Lahab, tepatnya pada ayat 4 yang berbunyi:

     وَٱمْرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلْحَطَبِ (4)

    Pada ayat tersebut, huruf mim mati (مْ) bertemu dengan huruf ra (ر) yang termasuk dalam huruf izhar syafawi. Sehingga, mim mati (مْ) harus diucapkan dengan jelas berdengung, dan huruf ra (ر) diucapkan dengan jelas terpisah dari mim mati (مْ).

    4. Surah Al-Kafirun Ayat 3 dan 6

    Dalam surah Al-Kafirun, bacaan izhar syafawi bisa kamu temukan pada ayat 3 dan 6, yang mana berbunyi:

    وَلَآ أَنتُمْ عَٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ (3)

    لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ (6)

    Pada ayat ketiga, huruf mim mati (مْ) bertemu dengan huruf ‘ain (ع). Sedangkan pada ayat keenam, huruf mim mati (مْ) bertemu dengan huruf dal (د) dan wawu (و).

    5. Surah Al-Waqi’ah Ayat 7, 17, 23, 30, dan 33

    Contoh bacaan idzhar syafawi yang akan kita bahas terakhir ada pada surah Al-Waqi’ah, tepatnya pada ayat 7, 17, 23, 30, dan 33 yang berbunyi:

     وَكُنتُمْ أَزْوَٰجًا ثَلَٰثَةً (7)

    يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَٰنٌ مُّخَلَّدُونَ (17)

    كَأَمْثَٰلِ ٱللُّؤْلُؤِ ٱلْمَكْنُونِ (23)

    وَظِلٍّ مَّمْدُودٍ (30)

    لَّا مَقْطُوعَةٍ وَلَا مَمْنُوعَةٍ (33)

    Pada ayat ketujuh, huruf mim mati (مْ) bertemu dengan huruf alif a (ا). Lalu, pada ayat ketujuh belas, huruf mim mati (مْ) bertemu dengan huruf wawu (و). Dalam ayat kedua puluh tiga, huruf mim mati (مْ) bertemu dengan huruf tsa (ث). 

    Kemudian, pada ayat ketiga puluh, huruf mim mati (مْ) bertemu dengan huruf dal (د). Serta, pada ayat ketiga puluh tiga, huruf mim mati (مْ) bertemu dengan huruf dzal (ذ). 

    Perbedaan Idzhar Syafawi dan Ikhfa Syafawi

    Selama mempelajari ilmu Tajwid izhar syafawi, kamu juga harus bisa membedakannya dengan ikhfa syafawi. Sebab, walaupun penamaannya hampir sama, keduanya memiliki sejumlah perbedaan yang signifikan.

    Jika idzhar artinya jelas, maka ikhfa memiliki arti samar-samar. Berdasarkan arti istilah tersebut, dapat kamu simpulkan bahwa ikhfa syafawi adalah hukum bacaan ayat Al-Quran ketika huruf mim mati (مْ) bertemu dengan huruf hijaiyah ba (ب).

    Bacaan ikhfa syafawi memiliki hukum dasar di mana huruf hijaiyah ba (ب) dibaca secara samar-samar dan sedikit didengungkan. Umumnya, kamu memposisikan bibir kamu untuk tidak tertutup terlalu rapat, sehingga dapat melafalkan bacaan dengan sedikit dengungan.

    Contoh bacaan ikhfa syafawi yang bisa kamu temukan dalam Al-Quran adalah pada surah Al-Fiil ayat 4, Al-A’raf ayat 7, dan surah Al-Baqarah ayat 8. Berikut ini bacaannya:

    تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ مِّنْ سِجِّيْلٍۙ (QS. Al-Fiil ayat 4)

    Cara baca: tarmihim bihijaaratin min sijjil.

    فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِم بِعِلْمٍ ۖ وَمَا كُنَّا غَآئِبِينَ (QS. Al-A’raf ayat 7)

    Cara baca: fa lanaqussanna ‘alaihim bi’ilmiw wa maa kunnaa gaa`ibiin.

    وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَۘ (QS. Al-Baqarah ayat 8)

    Cara baca: wa maa hummng bi mu’miniin.

    Sudah Paham Penerapan Idzhar Syafawi dalam Membaca Al-Quran?

    Baik, itu dia penjelasan lengkap yang perlu kamu pelajari dari hukum bacaan izhar syafawi. Pada intinya, menguasai izhar syafawi dalam ilmu Tajwid adalah langkah penting dalam meningkatkan kualitas bacaan Al-Quran kamu. Pelajari dengan seksama huruf-huruf hijaiyah yang memiliki sifat idgham bighunnah, khususnya mim mati (مْ), dan praktekkan bacaan izhar syafawi dalam membaca ayat-ayat Al-Quran secara keseluruhan. Semoga artikel ini bermanfaat, ya!

  • Idgham Mutajanisain: Hukum, Huruf, Cara Membaca, dan Contohnya

    Idgham Mutajanisain: Hukum, Huruf, Cara Membaca, dan Contohnya

    Apakah Anda tertarik untuk mempelajari ilmu tajwid dan memperbaiki bacaan Al-Quran Anda? Salah satu aspek penting dalam tajwid adalah idgham mutajanisain, sebuah aturan yang menyangkut penggabungan dua huruf dengan makhraj yang sama tetapi sifatnya berbeda. 

    Dalam artikel ini, kami akan menjelaskan secara mendalam tentang idgham mutajanisain, termasuk pengertian, hukum, huruf-huruf yang terlibat, contoh-contoh, dan cara membacanya dengan tepat. Mari kita baca penjelasan dalam artikel ini hingga selesai untuk memahami keindahan bacaan Al-Quran.

    Pengertian Idgham Mutajanisain

    Idgham mutajanisain adalah istilah dalam ilmu tajwid yang mengacu pada penggabungan dua huruf dengan makhraj (tempat keluarnya suara) yang sama, tetapi memiliki sifat (bacaan) yang berbeda. 

    Istilah “idgham” berarti pengucapan dua huruf seperti ditasydidkan. Sedangkan istilah “mutajanisain” dalam Bahasa Arab berarti “sama makhrajnya tetapi berbeda sifatnya.” 

    Dalam konteks hukum bacaan tajwid yang satu ini, aturan ini terjadi ketika huruf pertama adalah huruf sukun (tanpa harakat) dan bertemu dengan huruf kedua yang berharakat.

    Hukum bacaan ini merupakan salah satu kaidah tajwid yang memberikan keindahan dan kelancaran dalam bacaan Al-Quran. Dengan menggabungkan dua huruf yang memiliki makhraj yang sama, bacaan tersebut menjadi lebih lembut dan terdengar menyatu. 

    Namun, penting untuk memahami bahwa kaidah ini tidak berlaku untuk semua huruf, melainkan hanya berlaku pada beberapa pasangan huruf tertentu. Bagian selanjutnya dari artikel akan membahas huruf-huruf yang terlibat dalam hukum bacaan ini.

    Huruf-hurufnya 

    Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, idgham mutajanisain melibatkan huruf-huruf yang memiliki makhraj yang sama tetapi berbeda sifatnya. Dalam hukum bacaan ini, terdapat pertemuan antara huruf sukun (huruf tanpa harakat) dengan huruf berikutnya yang memiliki harakat.

    Lalu, apa saja huruf-huruf yang diberlakukan hukum bacaan ini? Ada tujuh (7) pertemuan huruf-huruf yang masuk ke dalam aturan ini, yaitu:

    1. Ta’ (ت) sukun bertemu Tha’ (ط)
    2. Tha’ (ط) sukun bertemu Ta (ت)
    3. Ta’ (ت) sukun bertemu Dal (د)
    4. Dal (د) sukun bertemu Ta (ت)
    5. Tsa’ (ث) sukun bertemu Dzal (ذ)
    6. Dzal (ذ) sukun bertemu Zha’ (ظ)
    7. Ba’ (ب) sukun bertemu Mim (م)

    Selanjutnya, mari kita bahas lebih lanjut mengenai hukum, cara membaca, dan contoh-contoh penerapannya dalam bacaan Al-Quran. 

    Hukum Bacaan

    Hukum bacaan dari aturan tajwid yang satu ini adalah wajib dibaca dengan cara diidghamkan dengan suara dengung atau ghunnah. Ghunnah merupakan suara berdengung yang dihasilkan saat menggabungkan kedua huruf dari ketujuh aturan pertemuan huruf seperti yang sudah dijabarkan di atas. 

    Aturan ini hanya berlaku untuk beberapa pasangan huruf tertentu yang memiliki makhraj dan sifat yang sesuai. Maka penting untuk diingat bahwa ketika terjadi pertemuan huruf-huruf yang terlibat dalam idgham mutajanisain, Anda harus membacanya dengan dengung atau menahan sampai satu alif atau dua harakat. 

    Sebagai contoh, saat huruf “ba’” sukun bertemu dengan huruf “mim”. Huruf “ba’” akan dileburkan ke huruf “mim” dan ditahan sekitar dua harakat. 

    Selain itu, misalnya lagi, ketika huruf “ta’” sukun bertemu dengan huruf “tha”. Huruf “ta’” akan dileburkan ke huruf “tha” dengan ditahan sekitar satu alif atau dua harakat, sehingga tercipta penggabungan suara yang halus.

    Cara Membaca

    Setelah mengetahui pengertian dan huruf-huruf, dan hukum bacaannya, selanjutnya kita akan membahas bagaimana melafalkan hukum bacaan idgham mutajanisain. Untuk membaca hukum bacaan ini dengan benar, ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan:

    1. Identifikasi Huruf-huruf yang Terlibat

    Pastikan Anda mengenali huruf pertama yang berupa huruf sukun dan huruf kedua yang berharakat. Maka dari itu, Anda harus hafal ketujuh pasangan huruf-huruf dari hukum bacaan ini untuk dapat mengenalinya.

    2. Pahami Makhraj dan Sifat Huruf 

    Pelajari dengan baik makhraj (tempat keluarnya suara) dan sifat (bacaan) dari kedua huruf yang terlibat dalam idgham mutajanisain. Setiap huruf memiliki makhrajnya sendiri. Usahakan untuk mempertahankan makhraj dengan baik agar pengucapan huruf tetap benar saat dilakukan penggabungan.

    Makhraj yang diberlakukan pada hukum bacaan ini terutama adalah untuk huruf kedua yang berharakat.

    3. Posisikan Mulut dan Lidah

    Setelah mengidentifikasi huruf-huruf yang terlibat, pastikan posisi mulut dan lidah Anda siap untuk melakukan penggabungan antara huruf-huruf tersebut.

    4. Meleburkan Huruf Sukun

    Bacaan huruf sukun harus dileburkan ke huruf berikutnya tanpa disela. Anda dapat membayangkan pengucapan seperti membaca tasydid dimana kedua huruf digabungkan dengan kelancaran.

    5. Perhatikan Penggunaan Suara Dengung (Ghunnah)

    Dalam hukum bacaan ini, penting untuk menggunakan suara dengung (ghunnah) saat menggabungkan huruf sukun ke huruf berikutnya. Ghunnah memberikan kelembutan dan keindahan dalam bacaan.

    6. Latihan dan Kesempurnaan

    Seperti halnya dalam mempelajari ilmu tajwid, latihan konsisten sangat penting untuk menguasai cara membaca hukum bacaan ini dengan baik. Teruslah berlatih dan perbaiki pengucapan Anda hingga menghasilkan bacaan yang jelas, lembut, dan sesuai dengan aturan tajwid.

    Hindari membaca dengan terburu-buru yang dapat menyebabkan tidak terdengarnya dengungan dalam bacaan ini. Karena saat membaca idgham mutajanisain, bacaan tersebut harus diucapkan dengan suara mendengung sekitar satu alif atau 2 harakat.

    Dengan memperhatikan langkah-langkah di atas dan memperdalam pemahaman Anda tentang hukum bacaan ini, Anda akan mampu membaca Al-Quran dengan lebih lancar, indah, dan menghormati keindahan tajwid.

    Contoh-contoh Bacaan

    Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut ini adalah contoh-contoh penggunaan dalam membaca Al-Qur’an.

    1. Contoh 1: QS. Ali Imran Ayat 69

    وَدَّتْ طَّاۤىِٕفَةٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَوْ يُضِلُّوْنَكُمْۗ

    Ayat di atas yaitu “Waddat thaaifatun min ahlil kitaabi lau yudhilluunakum.” Pada ayat tersebut, terdapat huruf Ta’ (ت) sukun yang bertemu dengan huruf Tha’ (ط) yang berharakat.

    Cara membaca ayat tersebut yaitu, huruf Ta’ dileburkan ke dalam huruf Tha’ dan ditasydidkan dengan menggunakan ghunnah atau dengung, sehingga dibaca “waddaththaaaifatun”. 

    2. Contoh 2: QS. yunus Ayat 89

    أُجِيْبَتْ دَّعْوَتُكُمَا 

    Dalam contoh kedua ini, terdapat ayat yang awalnya jika dituliskan yaitu “Ujiibatda’wa tukumaa”. Pada ayat tersebut, terdapat huruf Ta’ (ت) sukun yang bertemu dengan huruf  (د) yang berharakat.

    Cara membaca ayat tersebut yaitu, huruf Ta’ dileburkan ke dalam huruf Dal dan ditasydidkan dengan menggunakan ghunnah atau dengung, sehingga dibaca “Ujiibadda’wa tukumaa”. 

    3. Contoh 3: QS. Al Baqarah Ayat 256

    قَدْ تَّـبَيَّنَ الرُّشْدُ

    Selanjutnya, di sini terdapat ayat yang mula-mula penulisannya yaitu “Qod tabayyanarrushdu”. Pada ayat tersebut, terdapat  huruf (د) sukun yang bertemu dengan huruf Ta’ (ت) yang berharakat.

    Cara membacanya adalah dengan meleburkan huruf Dal ke dalam huruf Ta’ dan ditasydidkan dengan menggunakan ghunnah atau dengung, sehingga dibaca “Qottabayyanarrushdu”. 

    4. Contoh 4: QS. Al Maidah Ayat 28

    لَئِن بَسَطْتَّ

    Terakhir, pada contoh ini terdapat ayat dengan penulisan “Laimmbasath ta”. Pada contoh terakhir ini, terdapat huruf Tha’ (ط) sukun yang bertemu dengan huruf Ta’ (ت) yang berharakat.

    Cara membacanya yaitu, huruf Tha’ dileburkan ke dalam huruf Ta’ dan ditasydidkan dengan menggunakan ghunnah atau dengung, sehingga dibaca “Laimmbasatta”.

    Sudah Paham Hukum Idgham Mutajanisain dalam Tajwid?

    Demikianlah penjelasan lengkap tentang idgham mutajanisain, termasuk huruf-huruf yang terlibat, hukum, cara membaca, dan contoh-contohnya. Dengan memahami pengertian, hukum, huruf-huruf yang terlibat, contoh-contoh, dan cara membacanya dengan tepat, Anda dapat meningkatkan kualitas bacaan Al-Quran Anda. 

    Jangan ragu untuk berlatih dan memperdalam pengetahuan Anda tentang tajwid. Ingatlah bahwa membaca Al-Quran adalah ibadah, dan setiap usaha yang Anda lakukan untuk memperbaiki bacaan adalah langkah yang mendekatkan Anda kepada Allah dan penghayatan yang lebih dalam terhadap firman-Nya.

  • Idgham Syamsiyah: Arti, Hukum Bacaan, Huruf, Cara Membaca & Contohnya

    Idgham Syamsiyah: Arti, Hukum Bacaan, Huruf, Cara Membaca & Contohnya

    Dalam membaca Al-Qur’an, penting untuk menerapkan tajwid yang benar. Secara sederhana, tajwid adalah ilmu yang menerangkan tentang hukum dan kaidah dalam membaca Al-Qur’an. Ada banyak sekali tajwid, salah satunya Idgham Syamsiyah. 

    Secara singkat, hukum bacaan tajwid ini adalah ketika huruf Alif Lam bertemu dengan huruf syamsiyah yang berjumlah 14. Sehingga, membuat membuat huruf Alif Lam pembacaannya melebur ke huruf syamsiyah. Yuk, kenalan lebih lanjut dengan bacaan tajwid yang satu ini!

    Pengertian & Hukum Bacaan Idgham Syamsiyah

    Idgham syamsiyah  atau biasa juga disebut Al Syamsiyah adalah bacaan tajwid yang terjadi saat Al ta’rif ( اَلْ ) bertemu dengan salah satu huruf syamsiyah. 

    Menurut bahasa, Idgham artinya memasukkan. Sementara Syamsiah berarti matahari. Sedangkan, alif lam diumpamakan sebagai bintang. Karena bintang bertemu matahari, maka bintang tersebut menjadi tidak terlalu terlihat.

    Sehingga, hukum bacaannya kamu tidak perlu membunyikan suara alif lam, tetapi dengan  meleburkan huruf lam sukun ke huruf syamsiyah. 

    14 Huruf Syamsiyah

    Untuk bisa menerapkan hukum bacaan Al Syamsiyah atau Alif Lam Syamsiyah, kamu perlu menghafal huruf-huruf Syamsiyah. Sebab, tidak semua huruf yang bertemu alif lam kemudian dileburkan ke huruf di depannya. Nah, perlu kamu ketahui bahwa huruf syamsiyah jumlahnya ada 14, yaitu:

    1. Ta (ت) 

    2. Tsa (ث)

    3. Dal (د)

    5. Ra (ر)

    6. Zai (ز)

    7. Sin (س)

    8. Syin (ش)

    9. Shad (ص)

    10. Dhad (ض)

    11. Tha (ط)

    12. Dho (ظ)

    13. Lam (ل)

    14. Nun (ن)

    Dengan jumlah huruf yang cukup banyak tersebut, kamu perlu menghafalnya agar tidak keliru ketika membaca Al-Qur’an.

    Supaya kamu semakin paham mengenai bacaan tajwid satu ini, perhatikan contoh bacaan yang didalamnya terdapat huruf alif lam bertemu salah satu huruf syamsiyah.

    Contoh:

    • وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ = Alif lam bertemu dengan ت
    • مِنَ الثَّمَرَاتِ = Alif lam bertemu dengan ث
    • يَوْمِ الدِّينِ = Alif lam bertemu dengan د
    • وَالذَّاكِرِينَ = Alif lam bertemu dengan ذ
    • الرَّحْمَنِ = Alif lam bertemu dengan ر
    • وَالزَّيْتُوْنِ = Alif lam bertemu dengan ز
    • هُمُ السُّفَهَاءُ = Alif lam bertemu dengan س
    • هَذِهِ الشَّجَرَةَ = Alif lam bertemu dengan ش
    • وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ = Alif lam bertemu dengan ص
    • وَلَا الضَّالِّينَ = Alif lam bertemu dengan ض
    • فَوْقَكُمُ الطُّورَ = Alif lam bertemu dengan ط 
    • مِنَ الظَّالِمِينَ = Alif lam bertemu dengan ظ
    • وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ = Alif lam bertemu dengan ل
    • أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ = Alif lam bertemu dengan ن

    Tentunya, untuk membaca contoh bacaan di atas, ada aturannya tersendiri. Jika kamu masih bingung bagaimana cara membaca Alif Lam Syamsiyah, tidak perlu takut dan khawatir. Kamu bisa mempelajari cara membaca yang benar sesuai hukum bacaannya pada pembahasan di bawah ini.

    Cara Membaca Idgham Syamsiyah

    Berikut 4 cara membaca Idgham Syamsiyah yang perlu diperhatikan, yaitu:

    1. Alif Lam Terletak di Awal

    Jika huruf alif lam terletak di awal kalimat, huruf alif berharakat fathah dibaca a. Sedangkan, huruf lam tidak dibaca. Sebab, sudah melebur dengan huruf syamsiyah di depannya. 

    Selain itu, cara membaca yang semacam ini tetap berlaku, walaupun tidak ada tanda tasydid di atas huruf syamsiyah. Perhatikan contoh di bawah ini dengan baik-baik.

    الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ

    Cara membacanya yaitu Arrahmaanirrahiim bukan al rahmaanil rahimi.

    2. Alif Lam Terletak di Tengah

    Selanjutnya, apabila huruf alif lam terletak di tengah kalimat, maka huruf tersebut tidak dibaca atau dianggap tidak ada. 

    Sehingga, cara membacanya mengikuti tanda baca pada huruf hijaiyah sebelumnya, kemudian disambungkan dengan huruf sesudahnya. Agar pemahamanmu semakin bertambah, simak contoh bacaan berikut ini:

    مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ

    Cara membacanya yaitu maaliki yaumiddiin, bukan maaliki yaumildiini

    3. Mewashalkan Ayat Al Qur’an

    Apabila kamu ingin mewashalkan ayat Al-Qur’an, yaitu menyambungkan satu ayat dengan ayat selanjutnya. Maka, huruf alif dan lam tidak perlu dibaca atau ditiadakan dan langsung melebur ke huruf syamsiyah yang ada di depannya.

    Untuk lebih jelasnya, simak contoh bacaan berikut ini beserta cara membacanya yang benar.

    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

    Cara membacanya yaitu al-ḥamdu lillāhi rabbil ‘ālamīr raḥmānir raḥīm.

    4. Alif Lam Terletak di Akhir

    Bila huruf Alif dan Lam muncul di akhir ayat dan bertemu dengan Tanwin (bisa Kasratain, Fathatain, dan Dhammatain), cara membacanya sama dengan hukum Alif Lam Qamariyah. Tanda Tanwin diganti dengan harakat biasa. Jika fathatain, cara membacanya diubah menjadi harakat fathah. 

    Bila kasratain, maka harus diubah jadi harakat kasrah. Begitu juga dengan dhammatain, maka diubah menjadi harakat dhammah. Sedangkan, Hamzah Washal mengganti huruf Nun dengan huruf dengan harakat Kasrah yang dibaca Ni.

    Simak dengan seksama contoh bacaan di bawah ini beserta cara membacanya.

    فَكَيۡفَ تَتَّقُوۡنَ اِنۡ كَفَرۡتُمۡ يَوۡمًا يَّجۡعَلُ الۡوِلۡدَانَ شِيۡبَا اۨلسَّمَآءُ مُنۡفَطِرٌ ۢ بِهٖ‌ؕ كَانَ وَعۡدُهٗ مَفۡعُوۡلًا

    Cara membacanya yaitu fakaifa tattaquuna ingkafartum yauman yaj’alul wildaana syaibaanissamaau munfatiruum bihii kaana wa’dahuu maf’uula.

    25+ Contoh Bacaan Idgham Syamsiyah

    Berikut 25+ contoh bacaan Idgham Syamsiyah yang bisa kamu pelajari, yaitu:

    NoBacaanCara MembacaAlasan Menjadi Bacaan Al Syamsiyah
    1الشِّتَٓاءِAsyyitaaHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf ش
    2وَالصَّيْفِWasshoifiiHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf ص
    3التَّكَاثُرُAttakaatsurHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf ت
    4وَالرُّوْحُWarruukhuHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf  ر 
    5النَّعِيْمِAnna’iimiiHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf ن
    6النَّاسِAnnaasiHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf ن
    7الرُّجْعٰٓىArruj’aaHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf ر
    8بِالدِّيْنِBiddainiHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf د
    9الصَّالِحَاتِAssholikhaatiHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf ص
    10بِالصَّبْرِBisshobriHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf ص
    11النَّفٰثٰتِAnnafaatsaatiHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf ن
    12الصَّلَاةَAsshoolaatanHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf ص
    13الزَّكَاةَAzzaakaatanHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf ز
    14عَنِ النَّبَاِ الْعَظِيْمِۙ‘Anin nabail ‘adhiimHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf ن
    15وَالضُّحٰىۙWadhuhaHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf ض
    16وَلَا الضَّاۤلِّيْنَWalaadhdhaalliinHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf ض
    17وَالطَّارِقِۙWathaariqHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf ط
    18قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًاQumillaila illaa qaliilaaHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf ل
    19وَالسَّمَاۤءِ وَالطَّارِقِۙWassamaa i watthaariqHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf س dan ط
    20اَلصَّيْفِAsh ShaifHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf ص
    21اَلدِّيْنِAd DinHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf د
    22اَلضُّحٰىAdh DhuhaHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf ض
    23لذِّكْرٰىAdz DzikraaHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf ذ
    24اَلنَّاسْAnnaasHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf ن
    25اَلسّۤائِلَAssaaaailaHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf س
    26اَلزَّيْتُوْنَAzzaituunHuruf Alif Lam ( ا ل ) bertemu huruf ز

    Sudah Bisa Membaca Idgham Syamsiyah dengan Tepat?

    Demikian penjelasan penting mengenai bacaan tajwid Idgham Syamsiyah. Setelah kamu mempelajarinya secara mendalam dan lengkap, mulai dari pengertian, hukum bacaan, huruf, cara membaca serta contohnya, semoga kamu tidak bingung lagi ketika membaca Al-Qur’an. Sehingga, dapat menerapkan bacaan dengan tepat.

  • Idgham Mutamatsilain: Arti, Hukum, Cara Membaca, dan Contohnya

    Idgham Mutamatsilain: Arti, Hukum, Cara Membaca, dan Contohnya

    Tajwid adalah ilmu yang mengatur cara membaca Al-Quran dengan baik dan benar, sehingga memastikan bacaan yang tepat dan indah. Salah satu aturan penting dalam tajwid adalah idgham mutamatsilain. Hukum bacaan ini melibatkan penggabungan dua huruf yang sama makhrajnya namun berbeda sifatnya. 

    Mari kita telusuri lebih dalam pengertian, hukum bacaan, cara membaca, dan contoh-contoh penerapannya dalam Al-Quran untuk meningkatkan pemahaman kita tentang tajwid dan memperindah bacaan Al-Quran kita.

    Pengertian Idgham Mutamatsilain

    Idgham mutamatsilain adalah istilah dalam ilmu tajwid yang mengacu pada penggabungan dua huruf yang sama makhraj (tempat keluarnya suara) dan sifat bacaannya. 

    Hukum bacaan ini terdiri dari dua kata, yaitu “idgham” dan “mutamatsilain”. Idgham berarti memasukkan, sedangkan mutamatsilain merujuk pada dua huruf yang sama. Dalam beberapa kitab, istilah ini juga dikenal sebagai idgham mutamatsil atau idgham mitslain, yang memiliki arti yang serupa.

    Dari pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa hukum bacaan ini terjadi ketika dua huruf yang sama bertemu, dimana huruf pertama dalam keadaan sukun dengan tanpa harakat dan huruf kedua memiliki harakat atau hidup.

    Contohnya adalah ketika huruf “ba” (ب) bertemu dengan huruf “ba” (ب), “ta” (ت) bertemu dengan “ta” (ت), “dal” (د) bertemu dengan “dal” (د), dan seterusnya. Hukum bacaan ini dilakukan saat kedua huruf tersebut memiliki makhraj (tempat keluarnya suara) dan sifat yang sama.

    Idgham mutamatsilain juga mencakup Idgham Mimi, dimana terdapat huruf “mim” (م) sukun bertemu dengan huruf “mim” (م) yang memiliki harakat. Idgham mimi juga dikenal sebagai idgham mitsli.

    Selanjutnya, mari kita bahas lebih lanjut mengenai hukum, cara membaca, dan contoh-contoh penerapannya dalam bacaan Al-Quran. 

    Hukum Bacaan

    Idgham mutamatsilain merupakan salah satu aturan penting dalam tajwid yang melibatkan penggabungan dua huruf yang memiliki makhraj yang sama namun berbeda sifatnya. Ketika kedua huruf tersebut bertemu, cara membacanya harus memperhatikan sifat dari huruf-huruf tersebut.

    Hukum bacaan dari aturan tajwid yang satu ini adalah wajib dibaca dengan cara diidghamkan dengan suara dengung atau ghunnah. 

    Pada hukum bacaan ini, jika kedua huruf pada dasarnya memiliki sifat ghunnah seperti huruf mim dengan mim atau nun dengan nun, maka bacaannya harus dilakukan dengan ghunnah atau mendengung selama dua harakat. Ghunnah adalah suara berdengung yang dihasilkan dengan menggerakkan suara di tenggorokan.

    Cara Membaca

    Setelah mengetahui pengertian dan hukum bacaannya, selanjutnya kita akan membahas bagaimana melafalkan atau cara membaca hukum bacaan ini. Untuk dapat membacanya dengan tepat, kita perlu memperhatikan langkah-langkah berikut:

    1. Perhatikan Dua Huruf yang Bertemu

    Perhatikan dengan seksama kedua huruf yang bertemu. Pastikan huruf pertama dalam keadaan sukun, artinya tanpa adanya harakat atau tanda bacaan vokal seperti fathah, kasrah, atau dhommah. 

    Sementara itu, huruf kedua harus memiliki harakat atau tanda bacaan vokal yang menghidupkan huruf tersebut.

    2. Meleburkan Huruf Pertama ke Huruf Kedua

    Selanjutnya, gabungkan atau leburkan huruf pertama ke dalam huruf kedua. Dalam hal ini, huruf pertama harus dipasukkan ke dalam huruf kedua sehingga menjadi satu huruf yang bertasydid. 

    Tasydid adalah tanda bacaan ganda yang menunjukkan bahwa kedua huruf tersebut disatukan dan diucapkan dengan suara yang tergabung.

    3. Dibaca dengan Adanya Ghunnah atau Dengung

    Jika kedua huruf yang bertemu memiliki sifat ghunnah, seperti pada huruf “mim” (م) dengan “mim” (م) atau huruf “nun” (ن) dengan “nun” (ن), maka bacaan harus dilakukan dengan mendengung atau ghunnah selama dua harakat. Ghunnah adalah suara berdengung yang dihasilkan dengan menggerakkan suara di tenggorokan. 

    Dalam hal ini, perlu diperhatikan bahwa ghunnah harus dipertahankan selama dua harakat yang sesuai dengan durasi bacaan.

    Hindari membaca dengan terburu-buru yang dapat menyebabkan tidak adanya dengungan dalam bacaan ini. Karena saat membaca idgham mutamatsilain, bacaan tersebut harus diucapkan dengan suara mendengung sekitar satu alif atau 2 karakat. 

    4. Aturan Khusus untuk Huruf Qalqalah

    Namun, jika kedua huruf yang bertemu memiliki sifat qalqalah, maka tidak perlu memantulkan bunyi atau menghasilkan suara bergetar saat membacanya. Sifat qalqalah terjadi ketika huruf yang memiliki sifat bergetar bertemu dengan huruf sukun. 

    Jika kedua huruf memiliki sifat qalqalah, maka bacaan dilakukan secara normal tanpa adanya pantulan bunyi atau getaran.

    Dengan memperhatikan langkah-langkah di atas, kita dapat membaca idgham mutamatsilain dengan benar sesuai dengan tajwid. 

    Pengecualian

    Namun, terdapat pengecualian untuk hukum bacaan ini. Simak penjelasan di bawah ini yang sudah dirangkum dalam poin-poin untuk memudahkan Anda dalam mencerna informasinya.

    1. Huruf wawu (و) dan ya (ي) dikecualikan dari aturan hukum tajwid ini. Meskipun syarat-syarat idgham mutamatsilain terpenuhi, kedua huruf tersebut harus tetap dibaca secara terpisah atau jelas, bukan dengan meleburkannya.

    2. Perhatikan contoh di bawah ini:

    – Huruf wawu (و) bertemu wawu (و) dalam QS Al-Kahfi [18] ayat 107, آمَنُوْا وَعَمِلُوْا

    – Huruf ya (ي) bertemu ya (ي) dalam QS As-Sajdah [32] ayat 5, فِيْ يَوْمٍ

    Dalam contoh-contoh yang diberikan, meskipun ada dua huruf wawu (و) bertemu atau dua huruf ya (ي) bertemu yang seharusnya memenuhi syarat idgham mutamatsilain, namun bacaannya harus tetap atau jelas mad-nya.

    3. Menurut para ulama, hal ini dilakukan agar bacaan mad tidak hilang. Jika dilakukan idgham mutamatsilain pada kasus tersebut, bacaan mad akan hilang. Oleh karena itu, syarat tambahan untuk huruf wawu (و) dan ya (ي) adalah bahwa huruf tersebut bukan merupakan huruf mad.

    4. Namun, jika sebelum huruf wawu (و) dan ya (ي) terdapat huruf dengan harakat fathah, maka dapat dilakukan pelafalan seperti hukum bacaan ini. Contoh ini dapat ditemukan dalam QS Al-Maidah [05] ayat 93, ثُمَّ اتَّقَوْا وَأَحْسَنُو. 

    5. Kemudian, terdapat satu kasus pengecualian tambahan yang terjadi dalam QS Al-Haqqah (69) ayat 28-29.

    Pada ayat tersebut, terdapat kata “مَالِيَهْ هَلَكَ”. Secara teori, seharusnya terjadi Idgham Mutamatsilain karena huruf ha (ه) bertemu dengan huruf ha (ه). Namun, dalam beberapa penafsiran, huruf ha (ه) dalam kata tersebut dianggap sebagai huruf saktah. 

    Oleh karena itu, dalam kasus ini tidak dapat dilakukan pelafalan dengan aturan tajwid ini.

    Contoh-contoh Bacaan

    Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut ini adalah contoh-contoh penggunaan dalam membaca Al-Qur’an.

    1. Contoh 1: QS. Al Baqarah Ayat 60

    فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاك

    Pada contoh yang pertama ini terdapat huruf qolqolah ba (ب) sukun yang bertemu dengan huruf ba (ب)  yang berharakat kasroh. Pembacaannya menjadi “Faqulnadhrib bi’ashooka”.

    Pada contoh ini, meskipun huruf ba (ب) adalah termasuk salah satu huruf qolqolah, tetapi pada ayat ini qolqolahnya menjadi hilang karena hukum bacaan ini. Maka huruf ba (ب) pada contoh ini dibaca tanpa dipantulkan.

    2. Contoh 2: QS. Al Baqarah Ayat 10

    فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ

    Kedua, terdapat ayat dimana terdapat huruf mim (م) sukun bertemu dengan huruf  mim (م) yang berharakat fathah. Cara membaca ayat tersebut yaitu, “Fii quluubihim marodhun fazaadahumullohu marodhoo”. 

    Contoh yang satu ini termasuk contoh idghom mutamatsilain yang juga adalah idghoom mimi atau idghom mitsli.

    3. Contoh 3: QS. Al Maidah Ayat 61

    وَاِذَا جَاۤءُوْكُمْ قَالُوْٓا اٰمَنَّا وَقَدْ دَّخَلُوْا بِالْكُفْرِ

    Selanjutnya, pada contoh ini terdapat ayat yang mengandung huruf qolqolah dal (د) sukun bertemu dal (د) berharakat fathah. Cara membaca ayat tersebut yaitu “Wa idzaa jaa-uukum qooluu aamannaa wa qod-dakholuu bilkufri”.

    Perlu diingat bahwa meskipun dal (د) adalah huruf qolqolah, tetapi karena adanya hukum bacaan ini, maka qolqolahnya menjadi hilang. Jadi, huruf dal (د) pada contoh ini tidak dibaca dengan memantul.

    Sudah Paham Hukum Idgham Mutamatsilain dalam Tajwid?

    Demikianlah penjelasan lengkap tentang idgham mutamatsilain. Dengan menguasai pengertian, hukum bacaan, cara membaca, dan contoh-contohnya dalam Al Quran, kita dapat melafalkan Al-Quran dengan keindahan dan keakuratan yang diinginkan. 

    Mari terus belajar dan berlatih dalam mempelajari tajwid sehingga kita dapat meningkatkan hubungan spiritual kita dengan Al-Quran. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda dalam mengeksplorasi dan memperdalam pengetahuan tentang hukum bacaan ini dalam tajwid.

  • Idgham Bilaghunnah: Pengertian, Hukum, Cara Membaca & Contohnya

    Idgham Bilaghunnah: Pengertian, Hukum, Cara Membaca & Contohnya

    Dalam ilmu tajwid, terdapat banyak aturan membaca Al-Quran agar bacaan baik dan benar. Salah satu hukum yang penting untuk dipahami adalah idgham bilaghunnah. Idgham bilaghunnah merupakan salah satu cara pelafalan yang memiliki ciri khas penggabungan suara yang halus antara dua huruf yang berbeda. 

    Dalam artikel ini, kita akan membahas secara lengkap pengertian, huruf-huruf yang terkait, hukum, cara membaca, serta memberikan contoh-contoh idgham bilaghunnah dalam membaca Al-Quran. Mari kita selami detail penjelasannya!

    Pengertian Idgham Bilaghunnah

    Secara bahasa, “idgham” berarti memasukkan atau mentasydidkan. Sedangkan arti dari “bilaghunnah” sendiri adalah tidak dengan dengung. Jadi, pengertiannya secara istilah adalah memasukkan atau mentasydidkan huruf dan membacanya tanpa menggunakan dengung.

    Definisi lain dari aturan bacaan ini adalah ilmu tajwid yang melebur tanpa dengung. Maksudnya adalah memasukkan huruf nun mati atau tanwin ke dalam huruf sesudahnya tanpa disertai suara yang mendengung. Huruf yang termasuk dalam idgham bilaghunnah adalah huruf ر (ra’) dan ل (lam).

    Selanjutnya, mari kita bahas lebih lanjut mengenai hukum, cara membaca, dan contoh-contoh penerapan hukum bacaan ini dalam membaca Al-Quran. 

    Huruf-hurufnya 

    Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, idgham bilaghunnah melibatkan dua huruf yang memiliki sifat tanpa ghunnah atau tanpa dengungan. Huruf-huruf tersebut adalah ر (ra’) dan ل (lam). 

    Jika terdapat nun sukun (نْ) atau tanwin ( ـَــًـ , ـِــٍـ  ـُــٌـ ) bertemu dengan salah satu huruf tersebut, maka dilakukan penggabungan bunyi nun sukun atau tanwin ke dalam dua huruf tersebut tanpa bunyi ghunnah yang panjang. 

    Hukum Bacaan

    Selanjutnya, sampailah kita pada bagian hukum bacaan idgham bilaghunnah.  Secara hukum, aturan bacaan ini termasuk dalam kategori hukum wajib atau hukum jazm. Artinya, saat kita menemui huruf nun mati atau tanwin yang diikuti oleh huruf ر (ra’) atau ل (lam), kita wajib melakukan idgham bilaghunnah. 

    Dalam idgham bilaghunnah, suara nun mati atau tanwin tidak diucapkan secara terpisah, melainkan langsung dileburkan ke dalam huruf berikutnya. Untuk melakukan hukum bacaan ini dengan benar, kita perlu menggabungkan suara huruf nun mati atau tanwin dengan huruf ر (ra’) atau ل (lam) yang mengikutinya. 

    Penting untuk menghindari penggunaan dengungan saat membacanya. Membaca hukum bacaan ini dengan menggunakan dengungan dianggap tidak benar menurut tajwid. 

    Jika hukum ini tidak dilakukan dengan baik, maka bacaan tersebut tidak akan memenuhi standar tajwid yang tepat.

    Cara Membaca

    Setelah mengetahui pengertian dan huruf-huruf serta hukum bacaannya, selanjutnya kita akan membahas bagaimana cara membaca dan melafalkan hukum bacaan ini. 

    Untuk dapat melafalkan idgham bilaghunnah dengan benar, ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan. Berikut ini adalah langkah-langkah yang harus diikuti saat membacanya:

    1. Mengidentifikasi Huruf Nun Mati atau Tanwin

    Pertama-tama, kita perlu mengidentifikasi keberadaan huruf nun mati atau tanwin dalam bacaan. Huruf nun mati atau tanwin ditandai oleh tanda harakat kasrah (ـٍ), tanda harakat dhommah (ـٌ), atau tanda harakat fathah (ـً) yang terletak di atas huruf ن (nun).

    2. Mengenali Huruf yang Mengikuti

    Setelah mengidentifikasi huruf nun mati atau tanwin, perhatikan huruf yang mengikuti nun mati atau tanwin tersebut. Pada hukum bacaan ini, huruf-huruf yang mengikuti nun mati atau tanwin adalah ر (ra’) dan ل (lam).

    3. Menggabungkan Suara

    Ketika melafalkan hukum bacaan ini, kita perlu menggabungkan suara nun mati atau tanwin dengan suara huruf berikutnya tanpa ada dengungan di antara keduanya. Artinya, suara nun mati atau tanwin tidak diucapkan secara terpisah, melainkan langsung dileburkan ke dalam huruf berikutnya.

    4. Tanpa Jeda atau Hentian

    Saat melakukan hukum tajwid ini, pastikan tidak ada jeda atau hentian antara kedua huruf yang digabungkan. Keduanya harus disambung secara lancar dan harmonis.

    5. Menghindari Penggunaan Dengungan

    Penting untuk diingat bahwa hukum bacaan ini tidak melibatkan penggunaan dengungan (ghunnah) saat melafalkan. Dengungan hanya digunakan pada idgham bighunnah, yang merupakan hukum lain dalam tajwid. Jadi, pastikan untuk membacanya tanpa menggunakan dengungan.

    6. Perhatikan Makhraj Huruf

    Selain itu, perhatikan juga makhraj (tempat keluarnya suara) dari huruf-huruf idgham bilaghunnah yang terlibat. Setiap huruf memiliki makhrajnya sendiri. Usahakan untuk mempertahankan makhraj dengan baik agar pengucapan huruf tetap benar saat dilakukan penggabungan.

    Mungkin, pelafalan idgham bilaghunnah tidak sesulit idgham jenis yang satunya, yaitu idgham bighunnah. Dengung atau ghunnah pada bacaan idgham bighunnah membuatnya lebih susah untuk dilafalkan.

    Meski begitu, tetaplah berlatih untuk pelafalan Anda dengan teliti dan teruslah perhatikan setiap penggabungannya.

    Contoh-contoh Bacaan

    Setelah membaca penjelasan lengkap dari hukum bacaan ini mulai dari pengertian, huruf-huruf, hingga cara pelafalannya, Anda pastinya sudah memiliki gambaran yang jelas. 

    Namun, untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut ini adalah contoh penggunaan idgham bilaghunnah dalam membaca Al-Qur’an.

    1. Contoh 1

    وَلَلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ ٱلْأُولَىٰ

    Dalam contoh ini, terdapat tanwin dhummah bertemu  ل (lam) seperti yang digaris bawah, sehingga kalimat “wa lal-ākhiratu khairun laka minal-ụlā berubah pelafalannya menjadi “wa lal-ākhiratu khairul laka minal-ụlā”

    2. Contoh 2

    وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

    Pada contoh kedua ini, terdapat nun sukun (نْ) bertemu dengan ل (lam) seperti yang digaris bawah. Kemudian, kalimat tersebut yang awalnya adalah “Walam yakun lahụ kufuwan aḥad”, namun dibacanya menjadi “Walam yakul lahụ kufuwan aḥad”.

    3. Contoh 3

    عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍ

    Selanjutnya, di sini terdapat tanwin kasroh bertemu ro, sehingga dalam contoh tersebut, kalimat “‘iisyatin roodhiah” dibaca menjadi “‘iisyatir roodhiah”.

    4. Contoh 4

    وَلٰكِنْ لَّا يَشْعُرُوْنَ

    Lalu, pada contoh ini kalimat “walaa kin laa yash’uruun” dibaca menjadi “walaa kil laa yash’uruun” karena terdapat nun sukun (نْ) bertemu ل (lam).

    5. Contoh 5

    مِّنْ لَّدُنْهُ 

    Kemudian, di sini terdapat nun sukun (نْ) bertemu huruf lam (ل). Jadi, kalimat ini yang awalnya dibawa “min ladunhu” kemudian dibaca menjadi “mil ladunhu”.

    6. Contoh 6

    ظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ 

    Pada contoh yang keenam ini, terdapat tanwin dhummah bertemu huruf lam (ل) sehingga pelafalannya berubah dari “Dholaamun linafsuhii” menjadi “Dholaamul linafsuhii” karena lam (ل) termasuk huruf idgham bilaghunnah.

    7. Contoh 7

    ثَلٰثَةٌ رَّابِعُهُمْ

    Sementara itu, pada contoh ketujuh ini, terdapat nun sukun (نْ) bertemu ra (ر) sehingga bunyi nun sukun dileburkan ke dalam ra. Dengan begitu, kalimat ini pelafalannya berubah dari “tsalaatsatun roobi’atuhum”  “tsalaatsatur roobi’atuhum”.

    8. Contoh 8

    لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا 

    Terakhir, pelafalan kalimat dari contoh ini berubah dari “limustaqorrin lahaa” menjadi “limustaqorril lahaa” karena terdapat tanwin kasroh bertemu lam (ل).

    Sudah Paham Mengenai Idgham Bilaghunnah dalam Tajwid?

    Demikianlah penjelasan lengkap tentang idgham bilaghunnah sebagai salah satu aturan yang ada di dalam ilmu Tajwid. Hukum bacaan ini adalah salah satu hukum penting dalam tajwid yang berkaitan dengan penggabungan suara nun mati atau tanwin dengan huruf yang mengikutinya tanpa disertai dengungan. 

    Dengan memahami pengertian, huruf-huruf terkait, hukum, cara membaca, dan melihat contoh idgham bilaghunnah, kita dapat meningkatkan kualitas bacaan Al-Quran kita dan menghormati aturan tajwid yang telah ditetapkan. Semoga artikel ini bermanfaat dalam mempelajari tajwid dan membaca Al-Quran dengan baik.

  • Idgham Bighunnah: Huruf, Hukum, Cara Membaca, dan Contohnya

    Idgham Bighunnah: Huruf, Hukum, Cara Membaca, dan Contohnya

    Dalam ilmu Tajwid, Idgham Bighunnah merupakan salah satu aturan penting yang berkaitan dengan penggabungan dua huruf yang berbeda dengan bunyi ghunnah atau dengung yang panjang. 

    Dalam artikel ini, kami akan memberikan penjelasan lengkap mengenai Idgham Bighunnah, termasuk huruf-huruf yang terlibat, hukum, cara membacanya, dan contoh-contohnya. Dengan demikian, Anda dapat memperbaiki bacaan Al-Quran Anda dan menghadirkan keindahan melodi dalam pembacaan Anda.

    Mari kita selami detail penjelasannya!

    Pengertian Idgham Bighunnah

    Idgham Bighunnah adalah salah satu aturan dalam Tajwid yang mengacu pada penggabungan dua huruf yang berbeda dengan menggunakan bunyi ghunnah yang panjang. 

    Apabila dilihat dari segi bahasa, kata “bi” memiliki arti “dengan”. Sementara itu, kata “ghunnah” memiliki arti “dengung”, dan “idgham” berarti menggabungkan suatu huruf yang berada di depan dengan huruf yang berada setelahnya. Dalam Bahasa Arab, hal ini disebut dengan istilah “ditasydidkan”.

    Dalam aturan tajwid satu ini, terdapat empat huruf yang memiliki sifat ghunnah panjang, yaitu م (mim), ن (nun), و (wawu), dan ي (ya). Ketika salah satu dari huruf-huruf ini diawali dengan huruf nun mati atau tanwin (نْ), maka dilakukan penggabungan dengan menggunakan bunyi ghunnah yang panjang.

    Idgham Bighunnah merupakan salah satu aturan Tajwid yang penting untuk dikuasai oleh setiap pembaca Al-Quran. Dengan mengikuti aturan ini, bacaan Al-Quran akan terdengar lebih indah, harmonis, dan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan. 

    Pemahaman yang baik mengenai pengertian Idgham Bighunnah akan membantu Anda dalam membaca Al-Quran dengan benar dan memancarkan keindahan melodi yang terkandung dalam setiap ayat.

    Selanjutnya, mari kita bahas lebih lanjut mengenai hukum, cara membaca, dan contoh-contoh penerapan Idgham Bighunnah dalam bacaan Al-Quran. 

    Huruf-hurufnya 

    Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, Idgham Bighunnah melibatkan empat huruf yang memiliki sifat ghunnah panjang. Huruf-huruf tersebut adalah م (mim), ن (nun), و (wawu), dan ي (ya). 

    Jika terdapat nun sukun (نْ) atau tanwin ( ـَــًـ , ـِــٍـ  ـُــٌـ ) bertemu dengan salah satu huruf tersebut, maka dilakukan penggabungan dengan bunyi ghunnah yang panjang. Namun, terdapat syarat bahwa kedua huruf hijaiyah tersebut berada dalam dua kata yang terpisah.

    Terdapat pengecualian jika nun sukun (نْ) atau tanwin ( ـَــًـ , ـِــٍـ , ـُــٌـ ) bertemu dengan salah satu huruf tersebut dalam satu kata bersambung, hukum bacaannya berubah menjadi idzhar. Dengan begitu, nun sukun (نْ) atau tanwin ( ـَــًـ , ـِــٍـ  ـُــٌـ )  tersebut dibaca dengan jelas. 

    Tajwid untuk pengecualian dari Idgham Bighunnah ini disebut dengan  idzhar mutlaq.

    Hukum Bacaan

    Selanjutnya, sampailah kita pada bagian hukum bacaan idgham jenis ini. 

    Hukum Idgham Bighunnah adalah wajib dilakukan saat terjadi pertemuan antara nun sukun (نْ) atau tanwin ( ـَــًـ , ـِــٍـ , ـُــٌـ ) dengan huruf-huruf yang termasuk dalam Idgham Bighunnah. Jadi, ketika terjadi pertemuan tersebut, maka dilakukan penggabungan dengan menggunakan bunyi ghunnah atau dengung yang panjang.

    Selain itu, dalam membacanya. penggunaan suara berdengung dilakukan selama satu alif hingga satu setengah alif, atau sekitar dua hingga tiga harakat.

    Penting untuk diingat bahwa hukum bacaan ini berlaku ketika huruf-huruf yang terlibat bertemu langsung tanpa adanya huruf vokal atau hentian di antara keduanya. Jika hukum ini tidak dilakukan dengan baik, maka bacaan tersebut tidak akan memenuhi standar Tajwid yang tepat.

    Cara Membaca

    Setelah mengetahui pengertian dan huruf-huruf, dan hukum bacaannya, selanjutnya kita akan membahas bagaimana melafalkan hukum bacaan Idgham Bighunnah. Terdapat beberapa pedoman dan contoh yang perlu ditekankan, yaitu sebagai berikut:

    Idgham Bighunnah adalah penggabungan atau peleburan dua huruf yang berbeda dengan menggunakan bunyi ghunnah yang panjang. Untuk membaca hukum bacaan ini dengan benar, berikut adalah langkah-langkah yang perlu diperhatikan:

    1. Identifikasi Huruf-huruf 

    Pertama, kenali huruf-huruf yang terlibat dalam Idgham Bighunnah. Ketika salah satu dari huruf-huruf ini didahului dengan huruf nun mati atau tanwin, maka nun mati atau tanwin dileburkan ke dalam huruf-hurufnya tersebut, yaitu (mim), ن (nun), و (wawu), dan ي (ya). 

    Peleburan tersebut dilakukan dengan menggunakan bunyi ghunnah yang panjang atau dengan memberikan tanda tasydid pada keempat huruf tersebut. 

    2. Tanpa Jeda atau Hentian

    Saat melakukan Idgham Bighunnah, pastikan tidak ada jeda atau hentian antara kedua huruf yang digabungkan. Keduanya harus disambung secara lancar dan harmonis.

    3. Bunyi Ghunnah yang Panjang

    Saat melakukan penggabungan, perpanjang bunyi ghunnah dengan baik. Ghunnah adalah bunyi yang dihasilkan dengan memperpanjang suara saat penggabungan atau peleburan nun mati atau tanwin. Pastikan bunyi ghunnah terdengar jelas dan dijaga dengan kepanjangan yang sesuai.

    4. Perhatikan Makhraj Huruf

    Selain itu, perhatikan juga makhraj (tempat keluarnya suara) dari huruf-huruf yang terlibat. Setiap huruf memiliki makhrajnya sendiri. Usahakan untuk mempertahankan makhraj dengan baik agar pengucapan huruf tetap benar saat dilakukan penggabungan.

    Latihlah pembacaan Anda dengan teliti, perhatikan setiap penggabungan, dan usahakan agar bunyi ghunnah terdengar dengan benar. Teruslah berlatih, hingga Anda mampu melakukannya dengan lancar dan alami.

    Hal yang perlu diketahui dan dipahami adalah pentingnya memahami perbedaan antara tasydid hukum dan tasydid ashli saat menggunakan hukum Idgham Bighunnah. Ketika membaca Al-Quran, sangatlah penting untuk tetap berhati-hati dan memperhatikan dengan baik. 

    Hindari membaca dengan terburu-buru yang dapat menyebabkan tidak terdengarnya dengungan dalam bacaan ini. Jangan sampai hanya terdengar menggunakan tasydid saja. Karena seharusnya, saat membaca Idgham Bighunnah, bacaan tersebut harus diucapkan dengan suara mendengung yang panjang.

    Contoh-contoh Bacaan

    Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut ini adalah contoh penggunaan Idgham Bighunnah dalam membaca Al-Qur’an.

    1. Contoh 1

    مِنْ وَرَائِهِمْ

    Dalam contoh ini, terdapat nun sukun (نْ) bertemu و (wawu) sehingga kalimat “min waraa ihim”, namun dalam pelafalannya menjadi “miwwaraa ihim”.

    2. Contoh 2

    لَكَفُوْرٌمُبِيْنٌ

    Dalam contoh kedua ini, terdapat tanwin dhommah bertemu dengan mim. Kemudian, kalimat tersebut yang awalnya adalah “lakafuurun mubiinun”, namun dibacanya menjadi “ lakafuurummubiinun”.

    3. Contoh 3

    لِقَوْمٍ يُوْقِنُوْنَ

    Selanjutnya, di sini terdapat tanwin kasroh bertemu ya, sehingga dalam contoh tersebut adalah kalimat “liqoumin yuuqinuuna” dibaca menjadi “liqoumiyyuuqinuuna”.

    4. Contoh 4

    دَرَجاَةٍ مَنْ نَشَاءَ

    Terakhir, pada contoh ini kalimat “darajaatin man nasyaa a” dibaca menjadi “darajaatimmannasyaa a” karena terdapat sukun (نْ) bertemu nun.

    Sudah Memahami Idgham Bighunnah dalam Ilmu Tajwid?

    Demikianlah penjelasan lengkap tentang Idgham Bighunnah, termasuk huruf-huruf yang terlibat, hukum, cara membaca, dan contoh-contohnya. Dengan pemahaman yang baik tentang aturan bacaan ini, Anda dapat meningkatkan dan kualitas dan memperindah melodi bacaan Al-Quran Anda. 

    Selalu ingatlah untuk mempelajari aturan Tajwid dengan teliti dan melatihnya secara konsisten agar Anda dapat menguasainya dengan baik. Semoga artikel ini memberikan manfaat dan membantu Anda dalam memperbaiki kualitas bacaan Al-Quran Anda. 

    Teruslah berlatih dan jadikan bacaan Al-Quran sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.

  • Apa Itu Iqlab? Pengertian, Contoh dan Cara Membacanya

    Apa Itu Iqlab? Pengertian, Contoh dan Cara Membacanya

    Memahami hukum tajwid saat membaca Al Quran menjadi sebuah hal yang harus dilakukan setiap muslim. Apalagi ada banyak sekali tajwid yang perlu dikenali. Salah satunya adalah iqlab.

    Adapun hukum tajwid ini sendiri merupakan bagian dari hukum nun mati dan tanwin. Lantas, bagaimana cara membaca dan contoh ayatnya yang ada di dalam Al Quran? Yuk, simak informasi selengkapnya tentang hukum tajwid tersebut dalam artikel ini!

    Pengertian Iqlab 

    Dalam ilmu tajwid pada hukum nun sukun dan tanwin, iqlab merupakan huruf yang berjumlah satu pada semua rangkaian huruf hijaiyah, yakni huruf ba. Jadi, ketika kamu sedang membaca Al Quran dan menemukan nun sukun atau tanwin bertemu dengan huruf ba, maka akan terjadi perubahan bacaan.

    Hukum bacaan ini bisa terjadi apabila terdapat nun sukun atau tanwin yang bertemu dengan huruf ba. Jadi, cara membacanya adalah dengan menyuarakan nun sukun atau tanwin dengan huruf ba tersebut.

    Salah satu ciri-ciri dari hukum tajwid ini bisa terlihat dalam Al Quran yang ditandai dengan huruf kecil berbentuk mim kecil yang ada di antara dua huruf mim dan juga huruf ba.

    Nah, agar kamu bisa lebih jelas dalam memahami hukum bacaan tersebut, berikut adalah pengertiannya secara terminologi dan istilahnya:

    • Dalam bahasa Arab: Mengganti atau menukar.
    • Menurut terminologi: Sebagai salah satu hukum bacaan yang diucapkan dengan cara menggantikan bunyi huruf nun sukun atau tanwin dengan bunyi huruf mim sukun yang kemudian disertai dengan dengung dan tersembunyi.

    Penyebab Terjadinya Hukum Tajwid Iqlab

    Sama seperti hukum tajwid lainnya, pada hukum tajwid ini juga terdapat latar belakang atau penyebab terjadinya perubahan bunyi saat membaca ayat Al Quran. Setidaknya terdapat tiga alasan yang termasuk ke dalam penyebab terjadinya hukum tajwid ini, antara lain:

    • Karena huruf nun dan tanwin mengandung bacaan ghunnah. Sedangkan untuk mengucapkan huruf ba, bibir harus tertutup. Hal inilah yang menjadi penyebab terhalangnya bacaan ghunnah, apabila dibaca dengan hukum tajwid idzhar.
    • Di antara huruf nun dan tanwin terdapat huruf ba yang memiliki makhraj berbeda dengan sifatnya. Akibatnya, ia tidak memenuhi syarat, jika dibaca dengan menggunakan hukum tajwid idgham.
    • Apabila dibaca dengan hukum ikhfa, maka bacaan hukum tajwid ini dinilai tidak mungkin, karena masih berada di antara hukum idzhar dan idgham.

    Dari ketiga alasan tersebut, maka cara yang paling benar adalah dengan menukar huruf nun dan tanwin dengan mim. Hal ini karena huruf mim mempunyai sifat yang sama dengan huruf nun, yakni ghunnah. 

    Tak hanya itu saja, makhrajnya juga sama seperti ba, sehingga pelafalan atau pengucapannya bisa menjadi lebih mudah serta sifat dari ghunnah dalam bacaan tersebut tidak hilang.

    Cara Membaca Iqlab yang Benar

    Adapun panduan untuk membaca bacaan hukum tajwid ini yang benar adalah dengan menukarkan bunyi dari huruf nun sukun atau tanwin menjadi bunyi huruf mim yang kemudian disertai dengan bunyi dengung.

    Jadi, caranya adalah dengan memposisikan bibir atas dan juga bibir bawah pada posisi tertutup. Kemudian, diiringi dengan suara dengung selama kurang lebih sepanjang 2 harakat atau sepanjang satu alif.

    Contoh Bacaan Iqlab dalam Al Quran

    Berikut ini adalah berbagai contoh bacaan hukum tajwid ini pada penggalan ayat dalam Al Quran yang dapat kamu simak:

    1. Surah An-Anfal Ayat 5

     كَمَآ أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنْ بَيْتِكَ بِٱلْحَقِّ 

    Keterangan: Pada potongan surah tersebut, nun mati (نْ) bertemu dengan huruf ba (ب). Maka, cara membacanya ialah Kamā akhrajaka rabbuka mim baitika bil-ḥaqqi.

    2. Surah At-Takwir Ayat 9

     بِاَيِّذَنْۢبٍقُتِلَتْۚ 

    Bi-ayyi dzammbinn qutilat. 

    Keterangan: Nun sukun bertemu dengan huruf ba’.

    3. Surah Luqman Ayat 28

     مَّا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ إِلَّا  كَنَفْسٍ وَٰحِدَةٍ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌۢ بَصِيرٌ 

    Keterangan: Pada potongan surat tersebut terdapat hukum iqlab pada lafal samī’um baṣīr. Ayat di atas dibaca menjadi Mā khalqukum wa lā ba’ṡukum illā kanafsiw wāḥidah, innallāha samī’um baṣīr.

    4. Surah Hasyr Ayat 10 

    وَالَّذِيْنَجَاۤءُوْمِنْۢبَعْدِهِمْيَقُوْلُوْنَرَبَّنَااغْفِرْلَنَاوَلِاِخْوَانِنَاالَّذِيْنَسَبَقُوْنَابِالْاِيْمَانِوَلَاتَجْعَلْفِيْقُلُوْبِنَاغِلًّالِّلَّذِيْنَاٰمَنُوْارَبَّنَآاِنَّكَرَءُوْفٌرَّحِيْمٌࣖ 

    Waal-ladziina jaa-uu mim ba’dihim yaquuluuna rabbanaaaghfir lanaa wala-ikhwaaninaal-ladziina sabaquunaa bil-iimaani walaa taj’al fii quluubinaa ghilaa lil-ladziina aamanuu rabbanaa innaka rauufun rahiimun. 

    Keterangan: Nun sukun bertemu dengan huruf ba’.

    5. Surah Al-Mulk Ayat 13

     وَاَسِرُّوْاقَوْلَكُمْاَوِاجْهَرُوْابِهٖۗاِنَّهٗعَلِيْمٌۢبِذَاتِالصُّدُوْرِ 

    Wa-asirruu qaulakum awiijharuu bihi innahu ‘aliimum bidzaatish-shuduur(i). 

    Keterangan: Tanwin bertemu dengan huruf ba’.

    6. Surah Al-Humazah Ayat 4

      كَلَّا‌ لَيُنۡۢبَذَنَّ فِى الۡحُطَمَة 

    Keterangan: Terdapat nun sukun bertemu dengan huruf ba, sehingga potongan lafaz tersebut dibaca menjadi kalla layum ba dzanna fil hutamah.

    7. Surah Al-Fajr Ayat 23

     وَجِايْۤءَيَوْمَىِٕذٍۢبِجَهَنَّمَۙيَوْمَىِٕذٍيَّتَذَكَّرُالْاِنْسَانُوَاَنّٰىلَهُالذِّكْرٰىۗ 

    Wajii-a yauma-idzim bijahannama yauma-idzin yatadzakkaru-insaanu wa-anna lahudz-dzikr(a). 

    Keterangan: Tanwin bertemu dengan huruf ba’.

    8. Surah Yunus Ayat 27

     جَزَآءُ سَيِّئَةٍۭ بِمِثْلِهَا 

    Keterangan: Dalam potongan surah Yunus di atas, kasrohtain ( ـِــٍـ) bertemu dengan huruf ba (ب). Maka, cara membacanya yaitu Jazā`u sayyi`atim bimiṡlihā.

    9. Surah Al-Maidah Ayat 39

     فَمَن تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِهِ 

    Keterangan: Pada potongan surah tersebut merupakan bacaan iqlab, karena nun mati (نْ) bertemu dengan huruf ba (ب). Maka cara membacanya adalah Fa man tāba mim ba’di ẓulmihī.

    10. Surah Al-Lail Ayat 8 

    .وَاَمَّا مَنۡۢ بَخِلَ وَاسۡتَغۡنٰىۙ 

    Keterangan: Terdapat nun sukun yang bertemu dengan ba’, sehingga potongan ayat tersebut dibaca menjadi wa ammaa mam bakhila wastaghnaa

    11. Surah Al-Isra Ayat 17

     وَكَمْاَهْلَكْنَامِنَالْقُرُوْنِمِنْۢبَعْدِنُوْحٍۗوَكَفٰىبِرَبِّكَبِذُنُوْبِعِبَادِهٖخَبِيْرًاۢبَصِيْرًا 

    Wakam ahlaknaa minal quruuni mim ba’di nuuhin wakafa birabbika bidzunuubi ‘ibaadihi khabiiram bashiiran. 

    Keterangan: Nun sukun bertemu dengan huruf ba’. Dan tanwin bertemu dengan huruf ba’.

    12. Surah Yasin Ayat 52

     قَالُوْايٰوَيْلَنَامَنْۢبَعَثَنَامِنْمَّرْقَدِنَاۜهٰذَامَاوَعَدَالرَّحْمٰنُوَصَدَقَالْمُرْسَلُوْنَ 

    Qālụ yā wailanā mam ba’aṡanā mim marqadinā hāżā mā wa’adar-raḥmānu wa ṣadaqal-mursalụn. 

    Keterangan: Nun sukun bertemu dengan huruf ba’.

    13. Surah Al-Mulk Ayat 11

     فَاعْتَرَفُوْابِذَنْۢبِهِمْۚفَسُحْقًالِّاَصْحٰبِالسَّعِيْرِ 

    Fa’tarafụ biżambihim, fa suḥqal li`aṣ-ḥābis-sa’īr. 

    Keterangan: Nun sukun bertemu huruf ba’.

    14. Surah Al-Baqarah Ayat 18

     .صُمٌّۢ بُكْمٌ   

    Keterangan: Terdapat tanwin bertemu dengan huruf ba’, sehingga penggalan lafaz dibaca menjadi shummum bukmun.

    15. Surah Al-Baqarah Ayat 68

     .عَوَانٌۢ بَيْنَ ذٰلِكَ ۗ فَافْعَلُوْا مَا تُؤْمَرُوْنَ 

    Keterangan: Pada ayat tersebut dhommahtain yang bertemu dengan huruf hijaiyah ba’. 

    16. Surah Al-Baqarah Ayat 19

     وَٱللَّهُ مُحِيطٌۢ بِٱلْكَٰفِرِينَ 

    Keterangan: Dalam potongan ayat di atas, dhommatain (ـُــٌـ) bertemu dengan huruf ba (ب). Maka, cara membacanya yaitu Wallāhu muḥīṭum bil-kāfirīn.

    17. Surah Al-An’am Ayat 54

     مَنْ عَمِلَ مِنكُمْ سُوٓءًۢا بِجَهَٰلَةٍ 

    Keterangan: Pada potongan surah di atas fathatain (ـَــًـ) bertemu dengan huruf ba (ب). Maka, cara membacanya yaitu Man ‘amila mingkum sū`am bijahālatin.

    Sudah Lebih Paham tentang Hukum Tajwid Iqlab?

    Demikian penjelasan singkat mengenai pengertian iqlab, penyebab, cara membaca, hingga contoh ayatnya yang ada dalam Al Quran. Semoga bisa menambah pengetahuan kamu dan bisa langsung mengaplikasikannya saat sedang membaca Al Quran.