Category: Ekonomi

  • Mengenal RUPS: Pengertian, Jenis, Tujuan, Tugas, dan Contohnya

    Mengenal RUPS: Pengertian, Jenis, Tujuan, Tugas, dan Contohnya

    Bagi Anda yang bekerja bertahun-tahun di dunia bisnis dan saham, istilah RUPS sudah pasti tidak asing lagi di telinga. Secara umum, ia merupakan singkatan dari Rapat Umum Pemegang Saham. Ini merupakan agenda rutin setahun sekali yang harus dihadiri oleh investor saham serta pengusaha.

    Selain itu, Rapat Umum Pemegang Saham ini juga merupakan kegiatan penting yang harus dilakukan demi kemajuan serta keberlangsungan sebuah perusahaan. Oleh karena itu, untuk para investor maupun pengusaha baru, memiliki pemahaman mengenai RUPS merupakan hal yang penting dan wajib.

    Di bawah ini, kami telah menyusun penjelasan mendetail mengenai pengertian RUPS, jenis, tujuan, tugas, hingga contoh-contohnya. Jadi, teruslah membaca!

    Pengertian RUPS

    Menurut Investopedia, Rapat Umum Pemegang Saham atau Annual Gathering Meeting adalah pertemuan tahunan antara pemilik perusahaan dengan pemegang saham. Dalam pertemuan ini, direktur perusahaan akan menampilkan laporan tahunan kepada pemegang saham mengenai kinerja perusahaan.

    Umumnya, mereka yang memegang saham terbanyak memiliki hak suara paling tinggi untuk memberikan pendapat mereka mengenai isu-isu terkini. Isu-isu ini biasanya meliputi penunjukkan dewan direksi perusahaan, pemilihan auditor, kompensasi eksekutif, dan lain-lain.

    Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 mengenai Perseroan Terbatas (PT), RUPS didefinisikan sebagai bagian dari perusahan yang memiliki kewenangan yang tidak dimiliki oleh direksi maupun dewan komisaris sesuai dengan aturan dari Undang-Undang maupun batasan dari anggaran dasar.

    Singkatnya, rapat ini merupakan pemegang kekuasaan tertinggi yang mengatur segala keputusan perusahaan. Dalam rapat tahunan ini,  pemegang saham akan meminta direksi atau dewan komisaris untuk melaporkan informasi kinerja perusahaan yang mencakup manajemen tugas hingga perubahan anggaran dasar.

    Selain itu, seluruh pemegang saham yang memiliki saham di sebuah perusahaan wajib untuk selalu datang ke Rapat Umum Pemegang Saham ini. Dengan menghadiri rapat ini, mereka nantinya dapat mengetahui perkembangan serta kinerja dari perusahaan tersebut secara menyeluruh.

    Jenis-jenis RUPS

    Berdasarkan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007, RUPS terbagi menjadi dua jenis; RUPS tahunan dan RUPS luar biasa. Seperti apa perbedaan antara keduanya? Berikut adalah detail penjelasannya.

    1. Tahunan

    Sesuai dengan namanya, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan ini adalah rapat yang diadakan setahun sekali. Kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan yang wajib bagi perusahaan maupun pemegang sahamnya untuk menghadirinya.

    Selain itu, rapat ini biasanya diadakan pada akhir tahun setelah perusahaan melakukan tutup buku. Dalam rapat tahunan ini, pemimpin perusahaan atau direksi akan menampilkan laporan kepada pemegang saham mengenai keuangan, laba, modal perusahaan, kinerja penjualan, dan berbagai laporan penting lainnya.

    Di akhir rapat tahunan ini, pemegang saham akan memberikan ide, saran, pandangan, maupun masukan mengenai apa saja yang perusahaan perlu dilakukan untuk tahun depan agar semakin maju dan berkembang.

    2. Luar Biasa

    Jika Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan adalah rapat yang diadakan setahun sekali, maka itu berbeda dengan jenis Luar Biasa. RUPS Luar Biasa adalah rapat yang hanya bisa diadakan setidaknya 6 bulan setelah adanya rapat tahunan sebelumnya.

    Selain itu, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa ini umumnya dapat dilakukan kapan saja, terutama jika perusahaan sedang ada dalam kondisi yang genting.

    Apa saja keadaan genting tersebut? Keadaan genting ini misalnya ketika perusahaan sedang mengalami masalah keuangan, adanya penurunan penjualan, ataupun rencana untuk mengambil proyek strategis baru dalam waktu dekat.

    Tidak hanya keadaan genting, namun masih ada beberapa alasan lain yang dapat menjadi dasar pengadaan rapat ini, seperti:

    • Keputusan perusahaan untuk melakukan PHK massal yang nantinya akan berdampak pada kosongnya beberapa posisi di beberapa departemen.
    • Adanya rencana untuk membubarkan perusahaan.
    • Rencana untuk melakukan merger, akuisisi, ataupun pemisahan perusahaan dengan perusahaan lain.
    • Pemilihan dewan direksi maupun komisaris baru.
    • Rencana untuk mengajukan permohonan bangkrut ke pengadilan niaga.

    Tujuan RUPS

    Secara umum, tujuan adanya RUPS adalah untuk menyampaikan informasi mengenai kinerja dan perkembangan perusahaan serta untuk memberikan saran perihal kebijakan perusahaan untuk setahun yang akan datang. Namun, Rapat Umum Pemegang Saham juga memiliki tujuan lain, antara lain:

    • Menyampaikan laporan keuangan perusahaan.
    • Membandingkan keuangan perusahaan pada tahun sebelumnya dengan tahun saat itu.
    • Melaporkan catatan arus kas.
    • Memberikan laporan mengenai kegiatan maupun proyek perusahaan.
    • Menyampaikan rincian masalah yang perusahaan hadapi.
    • Memberikan laporan mengenai kinerja perusahaan secara keseluruhan maupun setiap departemen.
    • Melaporkan performa dari karyawan perusahaan secara keseluruhan.
    • Menjabarkan rencana strategis perusahaan yang akan dilakukan di masa depan.
    • Melaporkan pengeluaran perusahaan untuk gaji dan insentif karyawan.

    Tugas RUPS

    Seperti yang sudah Anda ketahui, RUPS merupakan pemegang kewenangan tertinggi yang ada dalam perusahaan. Dengan itu, seluruh keputusan yang mereka berikan harus segera didiskusikan dengan direksi beserta dewan komisaris melalui pertemuan yang ditentukan.

    Untuk memberikan pemahaman lebih mengenai tugas dan wewenang RUPS, silakan cek poin-poin di bawah ini.

    • Menyetujui pengajuan permohonan pailit dari perusahaan.
    • Mengizinkan adanya perpanjangan waktu berdirinya sebuah perusahaan.
    • Mengubah tatanan dari Anggaran Dasar.
    • Melakukan pengangkatan atau pemberhentian kepada direksi maupun dewan komisaris.
    • Menggabungkan, memisahkan, mengambil alih, dan bahkan membubarkan perusahaan.

    Siapa yang Dapat Mengajukan?

    Dalam aturan RUPS, pihak yang dapat mengajukan adanya Rapat Umum Pemegang Saham adalah orang-orang yang memiliki keterlibatan dalam rapat dan memiliki pengaruh yang signifikan untuk perusahaan. Mereka yang memiliki kuasa tersebut adalah:

    1. Dewan Komisaris

    Pihak yang boleh mengajukan Rapat Umum Pemegang Saham pertama adalah dewan komisaris. Meskipun komisaris bukanlah pemegang kekuasan tertinggi dalam perusahaan, namun mereka boleh mengajukan pengadaan rapat jika memang ada laporan penting yang harus disampaikan.

    2. Pemegang Saham

    Pihak selanjutnya yang boleh dan berhak mengajukan RUPS adalah pemegang saham. Pengajuan dilaksanakannya Rapat Umum Pemegang Saham bisa diajukan oleh salah satu pemegang saham ataupun bersama-sama.

    Setiap pemegang saham memiliki hak mengajukan RUPS yang sama. Hanya saja, pengajuan ini harus mewakili dan memenuhi minimal 10% suara dari semua pemegang saham.

    Selain itu, keputusan akhir dari RUPS akan segera ditetapkan dan disahkan jika mendapatkan persetujuan dari separuh pemegang saham. Sedangkan hasil akhir Rapat Umum Pemegang Saham harus dibagikan dan disampaikan kepada dewan direksi dan komisaris agar perusahaan dapat segera melaksanakan agenda ini.

    Tata Cara RUPS

    Rapat Umum Pemegang Saham merupakan pertemuan penting antara pemegang saham dengan pemimpin perusahaan yang membutuhkan perencanaan dan pelaksanaan baik dan mumpuni. Jika Anda masih kurang paham, berikut kami rangkum tata cara pelaksanaan RUPS yang harus Dewan Direksi perhatikan:

    • Perusahaan wajib dan harus menyampaikan agenda rapat secara jelas kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam periode waktu selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja sebelum pengumuman pelaksanaan kegiatan tahunan ini.
    • Anda harus melapor pada Pengadilan Negeri setempat di daerah Anda agar mendapatkan persetujuan dan ketetapan sebagai dasar pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham.
    • Mengumpulkan para pemegang saham dalam 15 hari dari jadwal yang ditetapkan dengan menggunakan surat ataupun iklan.
    • Apabila kurang dari setengah pihak pemegang saham yang datang ke Rapat Umum Pemegang Saham, maka ketentuan Pengadilan Negeri akan hangus.
    • Jika berhasil terlaksana, perusahaan wajib memberitahu hasil rapat selambat-lambatnya 2 (dua) hari kerja setelah rapat terlaksana kepada OJK, koran, laman resmi Bursa Efek Indonesia, serta Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

    Sebagai tambahan, lokasi pelaksanaan RUPS umunya berada di tempat kedudukan perusahaan yang telah tercatat di Anggaran Dasar. 

    Rapat juga bisa dilaksanakan secara online dengan menggunakan alat telekonferensi, seperti Zoom maupun Google Meet agar semua pihak yang diundang dapat berpartisipasi dengan mudah..

    Contoh RUPS

    Apakah Anda sudah memahami penjelasan mengenai rapat ini? Jika sudah, cari tahu lebih lanjut tentang contoh-contoh surat Rapat Umum Pemegang Saham di bawah untuk menambah wawasan anda mengenai RUPS.

    Contoh 1: 

    Hero

    Contoh 2:

    PT Dafam Property Indonesia TBK

    Contoh 3: 

    PP Properti

    Sudahkah Anda Mengenal RUPS Lebih Dalam?

    Itulah sedikit penjelasan mengenai RUPS, mulai dari pengertiannya, jenis-jenisnya, tujuan, tugas, hingga tata cara melakukannya. Singkatnya, rapat ini merupakan kegiatan setahun sekali yang harus dilaksanakan oleh perusahaan bersama pemegang saham.

    Dengan adanya Rapat Umum Pemegang Saham, Dewan Direksi dapat memberitahukan informasi menyeluruh mengenai kinerja serta perkembangan perusahaan. Di sisi lain, pemegang saham mendapatkan informasi yang diperlukan untuk memutuskan keputusan apa yang harus perusahaan ambil kedepannya.

  • Teori Perdagangan Internasional dan Manfaatnya

    Teori Perdagangan Internasional dan Manfaatnya

    Manusia sebagai makhluk sosial memerlukan kegiatan jual beli untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Tetapi, suatu negara juga masih membutuhkan negara lain untuk memenuhi kebutuhan pokok atau kebutuhan lainnya. Maka dari itu, perekonomian membutuhkan teori perdagangan internasional.

    Perdagangan internasional digunakan untuk menunjang keperluan masyarakat yang belum dapat dipenuhi oleh negaranya. Oleh karena itu, perdagangan internasional membutuhkan kerja sama antar negara agar prosesnya dapat memberikan manfaat untuk kedua negara atau lebih. 

    Pengertian Perdagangan Internasional

    Perdagangan internasional adalah suatu kegiatan jual beli barang ataupun jasa yang melibatkan antara dua negara atau lebih untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Kegiatan ini dilakukan untuk memperoleh keuntungan bagi berbagai pihak atau negara dengan kerja sama yang terkait. Perdagangan internasional ini sering kita sebut sebagai ekspor dan impor. 

    Teori Perdagangan Internasional

    Penjelasan mengenai teori perdagangan internasional sendiri yaitu konsep atau sistem yang digunakan untuk menjabarkan langkah serta pemikiran mengenai pemanfaatan kegiatan perdagangan antar negara. 

    Teori tersebut juga menjelaskan tentang dampak dari perdagangan internasional beserta alasan yang membuat negara terkait melakukan kerja sama dan dampaknya bagi perekonomian global.

    Terdapat beberapa jenis teori perdagangan internasional yang menjelaskan mulai dari pola hingga dampaknya. Berikut jenis-jenisnya:

    1. Teori Keunggulan Mutlak atau Absolut

    Teori ini dikemukakan oleh Adam Smith yang menjelaskan bahwa suatu negara akan mengalami peningkatan kekayaan ekonomi apabila dapat menghasilkan dan memproduksi jasa atau barang yang lebih berlimpah dibandingkan negara lain, serta memiliki biaya yang rendah dalam proses produksinya. 

    Dengan demikian, suatu negara akan memiliki keunggulan mutlak apabila dapat memproduksi sesuatu yang tidak dapat diproduksi oleh negara lainnya. 

    2. Teori Keunggulan Komparatif

    Teori keunggulan komparatif merupakan teori penting dalam perdagangan internasional. Teori ini dikemukakan oleh David Ricardo yang menyatakan bahwa, negara mengutamakan produksi barang atau jasa yang mereka hasilkan dan produksi dengan biaya yang relatif rendah dibandingkan dengan negara lain. 

    Teori ini akan tetap diterapkan apabila negara dengan keunggulan mutlak dapat memanfaatkan keunggulan komparatif demi mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi untuk perekonomian negaranya.

    3. Teori Siklus Hidup Produk

    Teori siklus hidup produk menjelaskan bahwa produk mengalami siklus hidup mulai dari tahap produksi domestik, ekspor, dan impor apabila negara lain ingin memproduksinya dengan lebih efisien. 

    Produk yang diproduksi di negara tertentu akan dikembangkan di negaranya dan diekspor ke negara lain pada tahap awal siklus. Setelah itu, negara lain akan mulai mengembangkan kemampuan produksi mandiri dan memproduksi produk di negaranya sendiri.

    4. Teori Pendukung Faktor

    Teori ini mengacu pada perbedaan sumber daya dan produksi antar negara, sehingga akan mengutamakan manfaat faktor produksi yang relatif melimpah di negara terkait. 

    5. Teori Pertukaran Modal

    Dalam teori ini dijelaskan bahwa suatu negara akan mengekspor produk dengan pemanfaatan modal yang melimpah dan mengimpor produk yang modalnya cenderung kurang tersedia di negaranya. Sehingga, teori ini mengutamakan pentingnya aliran modal internasional dalam pola perdagangan.

    6. Teori Perdagangan Intra-Industri

    Teori perdagangan intra-industri menjabarkan tentang jual beli antar negara dengan bertukar produk sejenis. Teori ini dapat diterapkan ketika kedua negara atau lebih memiliki tingkat minat yang berbeda, seperti pada perbedaan minat konsumen, spesialisasi, skala ekonomi, dan inovasi oleh masing-masing produk.

    Faktor Pendorong Perdagangan Internasional

    Perdagangan internasional dipengaruhi oleh beberapa faktor. Berikut faktor pendorong teori perdagangan internasional bagi suatu negara: 

    1. Perbedaan Sumber Daya Alam

    Kondisi dan sumber daya alam yang berbeda di setiap negara menyebabkan adanya rasa saling membutuhkan antara satu negara dengan negara yang lain. Kebutuhan tersebut dapat diatasi dengan adanya perdagangan internasional. 

    2. Kebutuhan untuk Memperluas Pasar

    Perluasan pasar ke luar negeri membuat produk dikenal lebih luas lagi dalam kancah internasional yang dapat menaikkan keuntungan perusahaan. Hal tersebut juga menguntungkan negara karena dapat menaikkan pendapatan negara dan produk dikenal secara internasional.

    3. Meningkatkan Pendapatan Negara

    Perdagangan internasional diperlukan untuk meningkatkan pendapatan negara. Selain itu, perusahaan juga dapat lebih mudah melakukan perluasan pasar ke luar negeri dan meraup lebih banyak keuntungan. Tak sampai disitu, nantinya pajak dari ekspor impor barang juga akan masuk ke dalam kas negara.

    4. Hubungan Diplomatik antar Negara

    Kesepakatan ekonomi internasional terbentuk karena adanya hubungan diplomatik antar negara yang telah terjalin. Hubungan diplomatik yang baik antar negara menyebabkan perdagangan internasional berjalan dengan lancar. 

    Selain dapat menjalankan kerja sama di bidang ekonomi, hubungan diplomatik juga dapat digunakan untuk kerja sama di bidang lainnya seperti sosial, budaya, dan pariwisata.

    5. Meningkatkan Sumber Daya Manusia

    Meningkatnya sumber daya manusia dalam perdagangan khususnya di perdagangan internasional merupakan suatu hal yang penting. Pasalnya, peningkatan sumber daya dapat mempengaruhi kualitas kerja yang signifikan, apalagi dalam skala yang lebih luas. 

    Oleh karena itu, produk atau jasa yang dihasilkan pun akan dapat bersaing dengan negara lainnya.

    Manfaat Perdagangan Internasional

    Perdagangan internasional memiliki peran penting bagi perekonomian negara. Dampaknya yang memberikan keuntungan besar bagi suatu negara membuat kegiatan perdagangan internasional ini diunggulkan untuk peningkatan ekonomi. Berikut manfaat perdagangan internasional yang perlu Anda ketahui. 

    1. Terjalin Hubungan yang Baik antar Negara

    Perdagangan internasional menjadikan hubungan antar negara membaik karena adanya rasa saling membutuhkan antara satu sama lain. Selain itu, kemungkinan untuk menjalin kerja sama di sektor lain seperti pariwisata, politik, dan budaya akan sangat besar.

    2. Terciptanya Spesialisasi

    Manfaat perdagangan internasional lainnya adalah terdapat produk-produk yang hanya diproduksi pada negara tertentu yang menyebabkan negara lain harus impor barang tersebut. Hal itu menjadikan negara tersebut mempunyai spesialisasi pada produk tertentu.  

    3. Kemajuan Teknologi

    Tidak semua negara memiliki teknologi yang mumpuni untuk memproduksi suatu produk. Oleh karena itu, dibutuhkan teknologi dari negara lain yang dapat membantu proses produksi. Tidak heran jika perdagangan internasional dapat membantu suatu negara menjadi lebih maju di bidang teknologi.

    4. Memperluas Pasar

    Pengusaha dapat memperluas pasar melalui perdagangan internasional. Pasalnya, konsumen tidak hanya di negara sendiri tetapi dapat tersebar di negara-negara lain melalui proses ekspor impor. 

    5. Mendapatkan Barang yang Tidak Diproduksi di Negara Sendiri

    Melalui perdagangan internasional, pengusaha bisa mendapatkan bahan baku dari negara lain. Kelangkaan bahan baku atau naiknya bahan baku dalam negeri dapat diatasi dengan impor sehingga dapat menekan biaya produksi.

    Dari berbagai teori, faktor pendorong, serta manfaat perdagangan internasional yang dijabarkan di atas, dapat kita ketahui apabila kegiatan ini sangat memberi dampak yang signifikan bagi negara yang melakukan kerja sama terkait. 

    Maka dari itu, sedikit banyak kita harus meningkatkan kualitas produksi di bidang tertentu yang masih dianggap kurang, agar dapat menerapkan teori yang lebih efisien dan dapat bermanfaat bagi perekonomian negara sendiri maupun negara lain.

    Kesimpulan

    Perdagangan internasional dapat membantu kemajuan perekonomian suatu negara maupun kedua negara yang melakukan kerja sama. Selain itu juga dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi oleh negaranya sendiri. 

    Maka dari itu, tercipta teori perdagangan internasional adalah untuk mengetahui pola dan dampaknya baik bagi negaranya sendiri dan perekonomian global. 

    Dari berbagai teori yang telah dijelaskan, terdapat berbagai dampak dan manfaat bagi negara yang menerapkannya yakni, dapat menjalin hubungan yang baik antar negara, tercipta spesialisasi produk tertentu, memajukan teknologi, memperluas pasar, serta mendapatkan barang yang tidak dapat diproduksi oleh negara sendiri.

  • Pengertian Ekonomi Maritim, Potensi, dan Strategi Pengembangannya

    Pengertian Ekonomi Maritim, Potensi, dan Strategi Pengembangannya

    Indonesia merupakan salah satu negara maritim dengan kekayaan laut yang melimpah. Keistimewaan ini juga membuat potensi ekonomi maritim Indonesia cukup besar dan menjanjikan. 

    Pada artikel berikut, kita akan bersama menguraikan pengertian, potensi, hingga strategi pengembangan cabang ilmu ekonomi negara ini. Sehingga, Anda bisa semakin memahami bagaimana cara memanfaatkan kekuatan samudera untuk perdagangan dan pembangunan global.

    Pengertian Ekonomi Maritim

    Singkatnya, ekonomi maritim atau ekonomi kelautan adalah semua jenis kegiatan sektor ekonomi yang terdapat pada perairan di beberapa wilayah, baik itu di pesisir, sungai besar, lautan, hingga samudra. 

    Kegiatan ekonomi ini mencakup berbagai aspek, termasuk pada industri galangan kapal, transportasi laut, dan pembangunan pelabuhan. Kemudian, juga meliputi industri perikanan, pariwisata pantai, energi laut, industri kelautan, dan sumber daya mineral lepas pantai.

    Ekonomi kelautan sangat penting untuk bangsa Indonesia karena menjadi salah satu pendapatan negara yang menguntungkan. Bahkan, bisa Anda anggap bahwa tanpa adanya ekonomi dari sektor ini, Indonesia tidak akan bisa berkembang hingga seperti sekarang.

    Potensi Ekonomi Maritim

    Potensi ekonomi maritim sangatlah besar dan mencakup berbagai sektor yang dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Berikut adalah beberapa poin potensinya:

    1. Perikanan

    Potensi ekonomi kelautan Indonesia yang pertama ada pada sektor perikanan. Pasalnya, dalam setahun, Indonesia bisa menghasilkan sekitar 6,4 juta ton tangkapan ikan. 

    Tidak hanya dari aspek perikanan tangkap, tetapi juga bisa dari perikanan budidaya. Bahkan, saat ini sudah muncul berbagai jenis komoditas budidaya perikanan, mulai dari udang hingga kepiting yang mana memiliki nilai ekonomi yang cukup besar. 

    2. Terumbu Karang

    Terumbu karang juga merupakan salah satu potensi ekonomi maritim Indonesia yang bernilai ekonomi tinggi. Sebab, terumbu karang di perairan Indonesia merupakan tempat hidup berbagai jenis ikan yang memiliki potensi ekonomi tinggi, seperti kerapu hingga lobster. 

    Adapun luas terumbu karang Indonesia yaitu sekitar 45,7% dari luas terumbu karang di wilayah segitiga karang dunia. Total luas tersebut cukup besar untuk menyumbang pendapatan negara. Selain itu, karang juga memiliki fungsi lainnya yang sangat menguntungkan untuk masyarakat di sekitarnya, antara lain:

    • Melindungi pesisir dari abrasi.
    • Menjadi sumber obat-obatan.
    • Menjadi objek wisata, sumber pendidikan, dan pembelajaran.

    3. Hutan Mangrove

    Kekayaan alam laut selanjutnya yang memiliki potensi untuk mendatangkan devisa untuk negara yaitu hutan mangrove atau bakau. Pohon bakau terkenal sebagai pencegah abrasi yang memiliki potensi untuk menghasilkan ekonomi untuk negara. Mulai dari kayu hingga ekosistem pohon bakau itu sendiri.

    Batang pohon bakau memiliki nilai jual karena bisa bermanfaat sebagai bahan bangunan, walaupun saat ini penerbangannya sudah dilarang oleh pemerintah. Selain itu, pepohonan bakau juga menjadi tempat perkembangbiakan ikan dan tempat hidup beberapa organisme laut yang memiliki nilai ekonomi. 

    Contohnya kepiting bakau yang memiliki harga jual yang cukup tinggi di pasaran saat ini. Anda bisa menemukan hutan mangrove atau bakau ini di pesisir pantai.

    4. Bioteknologi Kelautan 

    Potensi ekonomi maritim berikutnya yaitu dari segi bioteknologi kelautan. Melalui bioteknologi kelautan, masyarakat sekitar hingga negara dapat menghasilkan sebuah produk baru yang bernilai ekonomi. 

    Untuk lebih jelasnya, berikut ini beberapa hal yang bisa dihasilkan melalui bioteknologi kelautan untuk perekonomian negara:

    • Menghasilkan produk: Biota laut dapat menjadi suatu produk yang bernilai ekonomi, mulai dari makanan, minuman, kosmetik, farmasi, cat, hingga perekat. 
    • Menghasilkan hewan unggul: Bioteknologi kelautan membuat masyarakat sekitar dengan bantuan negara dapat membudidayakan hewan baru yang lebih unggul, sehingga memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi di pasaran. 

    5. Sektor Pariwisata Bahari

    Potensi kelautan yang bisa menghasilkan nilai ekonomi berikutnya yaitu dari sektor pariwisata bahari. Adapun beberapa wisata bahari yang dimaksud mulai dari wisata pantai hingga olahraga air. 

    Nilai ekonomi dari wisata bahari pun tidak tanggung-tanggung. Bahkan nilainya bisa jutaan rupiah, apalagi jika sektor pariwisata bahari sudah terkenal di seluruh dunia. Pariwisata bahari ini tidak hanya menguntungkan bagi pengelola pantai saja, tetapi juga untuk masyarakat sekitarnya. 

    Sebagai contoh, adanya wisatawan yang datang akan meningkatkan pendapatan para pedagang kaki lima di sekitar wilayah tersebut. Semakin tinggi pendapatan masyarakat, maka semakin sejahtera suatu negara. 

    6. Rumput Laut

    Rumput laut merupakan salah satu kekayaan Indonesia sebagai negara maritim. Ada cukup banyak jenis rumput laut yang dibudidayakan oleh masyarakat pesisir. Beberapa diantaranya yaitu Eucheuma cottonii dan Gracilaria

    Dalam hal ekonomi maritim, rumput laut bisa dijadikan sebagai dodol rumput laut hingga makanan ringan lainnya. Kandungan gizi yang cukup tinggi membuat olahan dari rumput laut banyak dipilih.

    Bahkan tidak jarang masyarakat yang menjadikan rumput laut sebagai salah satu bahan baku oleh-oleh khas wilayahnya. Harga produk dari rumput laut pun bervariasi, mulai dari belasan ribu hingga puluhan ribu rupiah. Contohnya dodol rumput laut yang memiliki harga sekitar Rp25.000,00.

    Selain itu, rumput laut juga bisa dijadikan sebagai obat dan bahan kosmetik yang bernilai tinggi. Hal ini tentu saja akan semakin meningkatkan ekonomi masyarakat dan negara kedepannya. 

    7. Transportasi Laut 

    Anda mungkin sering melihat kapal laut atau perahu. Indonesia yang kaya akan laut dan kepulaun membuat munculnya alat transportasi laut yang bisa menghasilkan devisa untuk negara.

    Tidak hanya bisa menghasilkan devisa untuk negara secara langsung. Tetapi juga bisa membantu dalam meningkatkan  proses konektivitas untuk perekonomian antar pulau. 

    Sebagai contoh, kapal laut bisa digunakan sebagai moda transportasi untuk  pengiriman barang tertentu. Hal ini pun secara tidak langsung akan memperlancar perekonomian di suatu pulau karena kegiatan juga beli akan semakin lancar. 

    Strategi Pengembangan Ekonomi Maritim

    Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengembangkan ekonomi maritim, antara lain:

    1. Menguatkan Pemahaman Wawasan Ekonomi Maritim 

    Wawasan maritim sangat penting untuk mengembangkan ekonomi kelautan. Sebab, wawasan maritim erat kaitannya dengan kesadaran geografis laut yang kaya akan sumber daya alam.

    Melalui pemahaman maritim yang baik, proses pengembangan dan pemanfaatan kelautan di setiap daerah akan semakin baik. Kondisi tersebut tentunya akan sangat bermanfaat dalam proses pengelolaan hasil laut yang baik, sehingga bisa menghasilkan devisa untuk negara. 

    2. Meningkatkan Industri Pelayaran

    Industri pelayaran merupakan salah satu pilihan utama dalam kegiatan ekspor impor antar bangsa. Bahkan faktanya hampir setengah dari angkutan domestik untuk pengiriman barang adalah melalui kapal. 

    Namun, kenyataannya juga lebih banyak kapal berbendera asing yang digunakan untuk proses pengiriman barang dari dan ke Indonesia. Untuk itulah, sangat penting untuk memiliki industri pelayaran yang lebih mandiri sehingga perekonomian semakin meningkat. 

    3. Meningkatkan Pariwisata Bahari 

    Memajukan pariwisata merupakan salah satu langkah awal untuk meningkatkan ekonomi maritim di Indonesia. Tingginya potensi kelautan atau perairan laut Indonesia membuat pariwisata benar-benar perlu diperhatikan. 

    Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan pariwisata bahari Indonesia. Beberapa di antaranya adalah melalui event development, penyiapan masyarakat sebagai pemandu, penyiapan kawasan, hingga CAIT (Cruising Approval for Indonesian Territory) dan CIPQ (Custom, Immigration, Port clearance, and Quarantine).

    4. Penataan Ruang Wilayah Maritim 

    Tata ruang yang baik tentu saja akan menghasilkan pengelolaan wilayah yang baik pula. Semakin baik tata ruang wilayah maritim, maka semakin besar kemungkinan suatu daerah menjadi destinasi wisata yang menjanjikan. 

    Tidak hanya dari segi wisata, namun konsep kelautan juga akan membantu masyarakat untuk lebih baik dalam mengelola kekayaan laut di sekitarnya. Semakin cerdas masyarakat dalam mengelola industri perikanan, maka semakin besar kemungkinan perekonomian maritim akan meningkat. 

    5. Penegakan Sistem Hukum Ekonomi Maritim

    Salah satu hal yang masih menjadi kendala dalam bidang maritim adalah banyaknya upaya perusakan lingkungan oleh masyarakat. Lingkungan laut yang rusak tentunya akan sangat merugikan karena tidak hanya membunuh komoditas penting, tetapi juga merusak pemandangan laut yang memiliki potensi wisata. 

    Untuk itulah, penegakan sistem hukum maritim perlu diperketat sebagai langkah strategi ekonomi maritim. Penegakan ini bisa berupa membuat undang-undang tentang pelarangan perusakan atau membangun tentara maritim yang tegas dan adil. 

    Sudah Tahu Apa Itu Ekonomi Maritim?

    Pada intinya, ekonomi maritim sangat perlu kita kelola bersama dengan baik, terutama bagi negara kepulauan yang memiliki luas laut yang cukup besar. 

    Ada banyak cara yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan perekonomian maritim. Salah satunya adalah menegakkan sistem hukum maritim agar perusakan alam yang berdampak pada ekonomi bisa dikurangi secara signifikan.

  • Pengertian Ekspansi, Jenis, Tujuan, Tahapan, dan Contohnya

    Pengertian Ekspansi, Jenis, Tujuan, Tahapan, dan Contohnya

    Bagi para pelaku bisnis, istilah ekspansi bukan suatu hal yang asing lagi. Umumnya, istilah ini akan berlaku ketika bisnis mulai menunjukkan perkembangan dan pertumbuhan yang positif. Sehingga, mendorong upaya agar bisnis mendapatkan keuntungan yang lebih banyak.

    Dalam kasus ini, perusahaan akan melakukan beberapa kepentingan agar proses pengembangan setidaknya bisa tetap stabil atau mendapatkan kemajuan yang lebih baik lagi. Bagi Anda seorang pemilik bisnis yang sudah berhasil tumbuh, berikut adalah penjelasan lengkap tentang istilah ekspansi.

    Apa Itu Ekspansi?

    Singkatnya, ekspansi adalah segala bentuk aktivitas yang perusahaan lakukan untuk memperbesar ataupun memperluas target pasar. Sedangkan berdasarkan Kamus Bank Indonesia, ekspansi memiliki arti proses pembangunan ekonomi yang mengikuti pola konjungtur.

    Pola konjungtur sendiri merupakan bentuk pertumbuhan ataupun penurunan sistem perekonomian yang terjadi secara berkala. Ada beberapa pertanda yang bisa menjadi acuan untuk mengetahui proses tersebut. 

    Beberapa di antaranya adalah jumlah uang yang beredar, total produksi, kenaikan harga produk, dan peningkatan jumlah konsumsi.

    Jenis-Jenis Ekspansi

    Seperti yang sudah kami jelaskan di awal, upaya ekspansi menjadi salah satu strategi perusahaan untuk memperluas jangkauannya. Maka dari itu, penerapannya pun tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Perusahaan harus menyesuikan keperluan bisnisnya, berikut ini jenis-jenis bentuk perluasan bisnis:

    1. Pertumbuhan Internal

    Jenis strategi perluasan yang pertama adalah pertumbuhan internal. Jenis ini mengharuskan perusahaan untuk bergantung pada sumber daya beserta kemampuan internalnya guna meningkatkan ukuran bisnis. Ada beberapa contoh kegiatan yang umumnya bisa perusahaan lakukan, yakni:

    • Menawarkan varian baru dari produk tertentu ke pasar.
    • Memperluas segmentasi pasar dengan cara menjangkau segmen lain yang masih berhubungan dengan segmentasi perusahaan saat ini. Misalnya saja melakukan ekspor.
    • Melakukan pembelian terhadap mesin-mesin baru atau membangun pabrik baru untuk membantu meningkatkan kapasitas produksi.
    • Membuka gerai atau kantor cabang baru agar mampu menjangkau pasar secara luas.

    2. Merger

    Strategi perluasan dengan cara merger mengacu pada upaya penggabungan antara dua perusahaan atau lebih menjadi satu perusahaan yang utuh. Tujuan dari strategi penggabungan ini ialah memperluas bisnis agar bisa menguasai daerah tertentu. 

    Dalam proses merger, perusahaan yang dianggap memiliki pengaruh besar atau dominan akan tetap menjaga identitas aslinya. Sementara perusahaan yang mana memiliki pengaruh yang tidak terlalu kuat, identitasnya akan menjadi tidak jelas. Merger bisa terbagi menjadi tiga bagian, di antaranya adalah sebagai berikut:

    • Merger horizontal: Upaya perusahaan dalam membeli perusahaan dengan level operasi yang sama. Artinya, perusahaan tersebut masih berada dalam satu industri yang sama.
    • Merger vertikal: Upaya penggabungan perusahaan yang masih dalam satu industri yang sama, namun berbeda level ataupun tingkat operasional.
    • Konglomerasi: Proses penggabungan perusahaan yang tidak memiliki hubungan apa pun terhadap perusahaan yang diakuisisi. Merger konglomerasi bertujuan untuk meningkatkan keuntungan perusahaan dari beberapa sumber ataupun unit bisnis.

    3. Hostile Takeover

    Hostile takeover merupakan proses ekspansi yang suatu perusahaan lakukan dengan cara paksa. Kasus ini biasanya terjadi dalam proses jual beli saham, contohnya saat perusahaan-perusahaan yang sudah berkembang akan mulai menjual sahamnya. 

    Kondisi tersebut berguna dalam memperluas relasi kerja sama dengan perusahaan atau orang lain. Ketika saham yang dimiliki salah satu investor melebihi jumlah saham pemilik perusahaan, maka secara tidak langsung kepemilikan perusahaan akan beralih. 

    Apabila hal tersebut terjadi pada perusahaan Anda, maka perusahaan Anda akan mengalami perubahan manajemen secara keseluruhan.

    4. Akuisisi

    Sederananya, akuisisi juga banyak dikenal sebagai take over. Istilah ini memiliki arti bahwa pengambilalihan kepemilikan saham maupun aset perusahaan dilakukan oleh satu kelompok tertentu maupun investor. Adapun tujuannya adalah untuk menambah pemasukan dan keuntungan yang perusahaan dapatkan nantinya.

    5. Levered Buyout

    Levered buyout merupakan jenis perluasan bisnis yang membutuhkan modal dalam jumlah yang sangat banyak. Sebab, levered buyout mengacu pada upaya memiliki bisnis yang dilakukan dengan cara berhutang untuk melakukan pembelian. 

    Maka dari itu, biasanya jika suatu perusahaan tidak mampu berjalan dengan baik, maka perusahaan tersebut bisa mengalami kebangkrutan.

    Tujuan Ekspansi

    Perusahaan melakukan ekspansi tentu didasari atas tujuan yang pasti. Adapun tujuan umumnya adalah sebagai berikut:

    • Menarik konsumen dengan jumlah yang lebih besar.
    • Mendominasi pasar sehingga mampu menjadi pengendali bagian bisnis tertentu.
    • Mempengaruhi keputusan investor melalui jumlah keuntungan yang perusahaan dapatkan.
    • Menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi dengan cara menjual produk yang lebih banyak.
    • Meningkatkan proses penawaran produk atau layanan bisnis melalui beberapa pihak. Mulai dari pihak konsumen, pemegang saham (stakeholder), pemasok (supplier), dan distributor.
    • Meningkatkan daya saing bisnis dalam sektor industri utamanya.

    Tahapan Ekspansi

    Dalam melakukan ekspansi, perusahaan harus melewati tiga tahapan khusus untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Apa saja tahapan tersebut? Berikut ini penjelasannya.

    1. Membuat Perencanaan

    Perusahaan bisa dikatakan maju apabila mereka sudah mempunyai perkembangan dan perencanaan bisnis yang tergolong baik. Melalui perencanaan ini, perusahaan bisa melakukan kegiatan perluasan bisnisnya. 

    Oleh karena itu, wajib bagi perusahaan membuat daftar pertanyaan berupa:

    • Apa tujuan perusahaan melakukan ekspansi?
    • Apa target yang akan atau harus perusahaan tuju di masa depan?
    • Bagaimana perkembangan bisnis dalam lima hingga delapan tahun ke depan? 
    • Persiapan apa yang harus perusahaan lakukan dan apa yang perlu mendapatkan perbaikan?
    • Bagaimana proses penjualan perusahaan saat ini?

    Melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut, Anda bisa mendapatkan kesimpulan dengan mudah berupa kesiapan perusahaan dalam menjalankan strategi perkembangan bisnisnya. Apabila sudah siap, Anda harus segera menjalankan rencana tersebut.

    2. Menentukan Model Bisnis

    Saat upaya perluasan sudah berlangsung, perusahaan akan membutuhkan berbagai penambahan, misalnya tempat baru, karyawan baru, modal tambahan, tempat produksi baru, dan lain sebagainya. 

    Tentu saja, dalam penerapan ini, Anda harus memahami betul SOP atau Standard Operating Procedures. Selain itu, jangan lupa untuk menentukan model bisnis utama perusahaan. 

    Sebab, seiring berjalannya waktu, akan ada banyak aspek yang pasti berubah, termasuk prosedur penjualan bisnis Anda. Berkat penggunaan model bisnis yang tepat, Anda akan lebih mudah menjalankan aktivitas bisnis, baik dalam jangka waktu pendek maupun jangka panjang.

    3. Mempersiapkan Modal yang Dibutuhkan

    Tahapan terakhir ekspansi adalah mempersiapkan modal yang dibutuhkan. Modal tersebut sangat bermanfaat agar perusahaan dapat menjalankan operasional bisnisnya dengan lancar. 

    Sebut saja kebutuhan membuat atau menyewa gedung baru, membangun toko fisik, mempersiapkan gudang, melakukan promosi, membayar karyawan baru, dan lain sebagainya. Namun, sebenarnya dari mana asal modal untuk bisnis? 

    Anda bisa memperoleh modal dengan mudah melalui pinjaman ataupun memutar uang hasil penjualan (keuntungan) untuk memperluas jangkauan pasar. Apabila Anda memilih melakukan pinjaman, maka sebaiknya pertimbangkan dulu kemampuan perusahaan dalam melunasinya.

    Contoh-Contoh Ekspansi

    Kegiatan perluasan bisnisn sebenarnya tidak asing lagi di sekitar kita. Terutama mereka yang berkecimpung di lingkup industri ataupun memiliki bisnis sendiri. Lantas, bagaimana contoh kegiatan ini pada perusahaan-perusahaan besar di dunia?

    1. Semen Gresik Tbk

    Semen Gresik Tbk mendirikan perusahaan induk untuk merek bisnis Semen Gresik. Kemudian, perusahaan tersebut membuka cabang yang berada di bawahnya. 

    Melalui kegiatan tersebut, perusahaan Semen Gresik kemudian dikenal baik oleh masyarakat secara menyeluruh. Bahkan telah menjadi kepercayaan masyarakat ketika mereka hendak membangun bangunan tertentu. 

    Hingga saat ini, Semen Gresik Tbk menjadi perusahaan raksasa yang menaungi beberapa perusahaan kecil lainnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekspansi yang mereka lakukan berhasil dan membuahkan hasil yang maksimal.

    2. Alibaba Group Holding

    Beralih ke perusahaan raksasa internasional Alibaba Group Holding. Siapa yang tak mengenal perusahaan milik Jack Ma yang satu ini. 

    Alibaba Group Holding bergerak di bidang bisnis digital (e-commerce) yang mana telah melakukan pelebaran sayapnya ke berbagai belahan dunia. Misalnya Eropa dan Amerika yang menjadi target utama untuk mempromosikan produk-produknya. 

    Melalui kegiatan tersebut, Alibaba Group Holding mampu mendirikan anak cabang dalam lingkup internasional pula. Alhasil, perusahaan semakin berkembang pesat sampai ke beberapa negara tertentu.

    Perusahaan Perlu Melakukan Tindakan Ekspansi

    Perusahaan tidak hanya memiliki tugas untuk menjual produk ke pasar saja, melainkan juga melakukan beberapa kegiatan seperti ekspansi. 

    Melalui penjelasan pada artikel ini, Anda bisa memahami bahwa kegiatan tersebut memiliki dampak yang cukup besar untuk menunjang kemajuan dan perkembangan perusahaan di masa depan. Semoga artikel ini bermanfaat, ya.

  • Cari Tahu Yuk Apa Itu Ekonomi Syariah, Karakteristik serta Contohnya!

    Cari Tahu Yuk Apa Itu Ekonomi Syariah, Karakteristik serta Contohnya!

    Apa itu ekonomi syariah? Jika ditelisik menurut para ahli, prinsip ekonomi syariah adalah prinsip dasar yang membentuk struktur dan kerangka ekonomi yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits. 

    Salah satu prinsip ekonomi Islam adalah perdagangan berdasarkan kerjasama dan keadilan. Apa maksudnya? Untuk lebih memahaminya, ada baiknya juga memperhatikan artikel ini sampai selesai. Mari kita simak selengkapnya!

    Apa Itu Ekonomi Syariah? 

    Ekonomi syariah juga dikenal sebagai ekonomi Islam, mengacu pada sistem ekonomi yang sesuai dengan prinsip dan pedoman hukum Islam, yang dikenal sebagai Syariah. Ekonomi syariah berusaha mengintegrasikan kegiatan ekonomi dengan nilai-nilai moral, etika, dan agama yang bersumber dari ajaran Islam.

    Dalam sistem ekonomi syariah, kegiatan ekonomi berpedoman pada prinsip keadilan dan kesejahteraan sosial. Hal ini menekankan pada larangan bunga (riba), eksploitasi, ketidakpastian (gharar), dan praktik bisnis yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.  

    Pengertian Ekonomi Syariah Menurut Para Ahli

    Setelah mengetahui apa itu ekonomi syariah secara umum, berikut adalah definisi ekonomi syariah menurut beberapa ahli:

    1. Dr. Monzer Kahf

    Ekonomi syariah adalah sistem ekonomi yang menganut prinsip keadilan, kesetaraan, dan kesejahteraan sosial yang berasal dari kerangka hukum Islam. Ini menekankan larangan transaksi berbasis bunga, pengaturan pembagian keuntungan dan risiko, serta bertujuan untuk menciptakan lingkungan ekonomi yang inklusif dan bermoral.

    2. Dr. M. Umer Chapra

    Ekonomi syariah adalah sistem ekonomi yang mengintegrasikan prinsip, nilai, dan etika Islam ke dalam kegiatan ekonomi. Sistem ini berusaha untuk memastikan distribusi kekayaan yang adil, meminimalkan eksploitasi, dan mendorong keadilan ekonomi, termasuk larangan adanya riba, gharar, dan aktivitas tidak bermoral lainnya.

    3. Dr.Muhammad Nejatullah Siddiqi

    Ekonomi syariah adalah sistem ekonomi berdasarkan ajaran Islam yang menekankan keadilan sosio-ekonomi, pemerataan sumber daya, dan etika. Dengan menggabungkan prinsip-prinsip seperti pembagian risiko, kerja sama, dan kesejahteraan sosial yang bertujuan untuk menciptakan keseimbangan antara materi dan spiritual.

    4. Veithzal Rivai dan Andi Buchari

    Ekonomi syariah adalah ilmu yang komprehensif dan saling tergantung, yang mencakup tidak hanya ilmu rasional, tetapi juga ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Dengan pengetahuan ini, manusia dapat mengatasi keterbatasan sumber dayanya serta mencapai kebahagiaan.

    5. S. M. Hasanuzzaman

    Ekonomi syariah adalah pengetahuan dan penerapan ajaran dan aturan Islam untuk mencegah penipuan dan pengeluaran sumber daya yang berlebihan. Demi memuaskan keinginan serta untuk memungkinkan pelakunya memenuhi kewajiban kepada Tuhan dan masyarakat.

    Karakteristik

    Setelah mengetahui lebih jauh tentang apa itu ekonomi syariah, selanjutnya mari simak apa saja karakteristiknya yang tentunya memiliki karakteristik tersendiri jika dibandingkan dengan ekonomi konvensional pada umumnya, seperti berikut ini:

    1. Berdasarkan Sistem Bagi Hasil

    Keadilan adalah salah satu prinsip utama ekonomi syariah dalam kaitannya dengan properti. Implikasi dari hal ini adalah keuntungan dari kegiatan ekonomi ini dibagi secara adil antara bank dan nasabahnya.

    2. Menggabungkan Nilai-Nilai Spiritual dan Material

    Tentu saja, dalam menjalankan karakteristik ekonomi syariah, memperoleh keuntungan yang sesuai dengan ajaran Islam adalah hal yang utama. Selain itu, setiap kekayaan dan keuntungan yang diperoleh dari kegiatan ekonomi yang sah harus memiliki bagian yang akan digunakan untuk zakat, sedekah, dan infaq sesuai ajaran Islam.

    3. Memberikan Kebebasan Sesuai dengan Ajaran Islam

    Pelaku ekonomi yang mengamalkan ekonomi syariah tentu bisa menikmati kebebasan bertindak, namun harus memperhatikan hak dan kewajibannya saat melakukan kegiatan ekonomi. Tentunya, kegiatan ini harus bersifat positif dan bertanggung jawab sesuai dengan ajaran Islam yang telah ditetapkan.

    4. Pengakuan Atas Multi-Jenis

    Dalam hal ini, kepemilikan ekonomi yang melakukan kegiatan ekonomi sesuai dengan karakteristik ekonomi syariah harus menyadari sepenuhnya bahwa harta hanya titipan Allah SWT. Oleh karena itu, penting untuk menerapkan ajaran Islam dalam praktik perekonomian.

    5. Pembatasan Agama, Hukum, atau Moral

    Pelaku ekonomi harus berpijak pada akidah, syariat Islam, dan etika, agar kegiatan ekonomi selalu seimbang. Sehingga, pelaku ekonomi syariah tidak melebihi batas yang sudah diterapkan oleh Allah SWT dalam Al Quran dan Hadits.

    6. Menjaga Keseimbangan Spiritual dan Materi

    Saat melakukan aktivitas perekonomian sesuai dengan karakteristik prinsip syariah, tidak hanya ditujukan untuk mencari keuntungan secara materi. Namun, ada juga manfaat spiritual yang didapat dari kegiatan ekonomi tersebut.

    7. Berikan Ruang untuk Negara dan Pemerintah

    Selain menerapkan ajaran syariah, pelaku ekonomi harus memberikan ruang bagi pemerintah atau negara untuk melakukan mediasi atau jalan tengah sebagai perantara ketika muncul permasalahan. Khususnya ketika menjalankan kegiatan perekonomian yang disesuaikan dengan karakteristik ekonomi syariah.

    8. Larangan Riba

    Riba adalah pembayaran tambahan yang dilakukan oleh pihak tertentu yang memiliki hutang. Biasanya, mengacu pada saat janji pembayaran dari peminjam tertunda dari waktu yang telah ditentukan. Dalam ekonomi syariah, tidak boleh ada sistem ini, karena merugikan serta memberatkan pihak peminjam.

    Contoh Ekonomi Syariah

    Tak hanya mengetahui apa itu ekonomi syariah, agar lebih memahaminya, kamu juga perlu tahu contoh-contohnya. Karena penerapan ekonomi syariah dalam kehidupan sehari-hari dapat bervariasi, tergantung pada konteks budaya, sosial, dan hukum suatu negara atau komunitas mayoritas Muslim tertentu, seperti berikut ini:

    1. Perbankan dan Lembaga Keuangan Syariah Non-Bank

    Lembaga keuangan syariah menawarkan layanan perbankan dan keuangan yang mematuhi prinsip-prinsip Islam. Contohnya, menghindari transaksi berbasis bunga (riba) dan terlibat dalam pengaturan bagi hasil, seperti Mudharabah dan Musyarakah. 

    2. Zakat 

    Zakat adalah bentuk amal wajib dalam Islam. Umat Islam yang sudah memenuhi batas jumlah kekayaan tertentu, diharuskan memberikan sebagian hartanya untuk membantu fakir dan miskin kepada Badan Amil Zakat atau organisasi zakat lainnya yang resmi.

    3. Bisnis yang Tidak Melanggar Hukum Islam

    Ekonomi syariah juga mengatur etika dalam kegiatan bisnis. Contohnya, melakukan usaha dengan barang dan jasa yang dilarang di dalam Al Quran dan Hadits, seperti alkohol, perjudian, dan daging babi. 

    4. Asuransi Syariah (Takaful)

    Takaful adalah bentuk asuransi yang beroperasi sesuai dengan prinsip syariah. Dengan melibatkan pengumpulan kontribusi dari peserta untuk memberikan bantuan timbal balik dan perlindungan terhadap risiko tertentu. Perusahaan takaful menawarkan produk asuransi yang sesuai dengan ketentuan syariah.

    5. Program Kesejahteraan Sosial

    Ekonomi syariah menekankan keadilan dan kesejahteraan sosial. Pemerintah dan masyarakat dapat menerapkan program untuk mengatasi kemiskinan, menyediakan layanan kesehatan, pendidikan, dan layanan sosial lainnya. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kesenjangan serta meningkatkan kesejahteraan ekonomi umat.

    6. Investasi Sesuai Hukum Syariah

    Dalam ekonomi syariah, investasi diarahkan pada industri yang bertanggung jawab secara sosial dan selaras dengan ketentuan Syariah. Seperti investasi pada pembangunan tempat ibadah, sekolah, dll.

    Potensi Ekonomi Syariah di Indonesia

    Menurut Kementerian Keuangan, potensi ekonomi syariah di Indonesia sangat besar. Hal ini terlihat dari tren kenaikan Indeks Keuangan Inklusif yang didukung oleh aset keuangan syariah secara keseluruhan. Apalagi kemungkinan ini didukung dengan munculnya KUR Syariah dan munculnya debitur syariah.

    Sebagai jembatan antara pembangunan ekonomi dan keuangan syariah, banyak lembaga keuangan bekerja pada pertumbuhan keuangan sosial. Melalui zakat dan wakaf, tokenisasi sukuk, digitalisasi dan pengembangan teknologi keuangan Islam, regulasi keuangan Islam, dan investasi.

    Bahkan, menurut Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Indonesia saat ini menempati urutan keempat setelah Malaysia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab dalam pembangunan ekonomi dan keuangan syariah.

    Untuk mendukung ekosistem ekonomi dan keuangan syariah, Kementerian Keuangan Republik Indonesia bekerja untuk mengkoordinasikan pembuat kebijakan, mendukung regulasi, dan mengembangkan industri halal. 

    Semua elemen pendukung ekonomi syariah akan terus tumbuh, termasuk insentif pemerintah untuk mendorong potensi ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Menarik, bukan?

    Sudah Tahu Apa Itu Ekonomi Syariah?

    Demikian penjelasan lengkap mengenai apa itu ekonomi syariah, pengertian menurut para ahli, karakteristik, serta contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Semoga penjelasan di atas bermanfaat!

  • 14 Contoh Bank Syariah Indonesia yang Ada Saat Ini

    14 Contoh Bank Syariah Indonesia yang Ada Saat Ini

    Tren ekonomi syariah mulai banyak diminati saat ini. Salah satu indikatornya adalah mulai banyak contoh bank syariah yang muncul di Indonesia belakangan ini. Salah satu alasan memilih bank syariah adalah masalah efisiensi.

    Contoh Bank Syariah di Indonesia

    Secara mudah, bank syariah merupakan bank yang menggunakan tata cara Islam dalam operasionalnya. Pertumbuhan bank syariah pun juga berlangsung cukup pesat. Dengan jumlah penduduk mayoritas beragama Islam, maka pesatnya pertumbuhan bank syariah di Indonesia memang cukup masuk akal. 

    Berikut adalah beberapa contoh bank syariah yang ada di Indonesia.

    1. Bank Syariah Indonesia

    Saat ini, Bank Syariah Indonesia (BSI) merupakan bank syariah terbesar yang ada di Indonesia. Mulai beroperasi sejak 1 Februari 2021, Bank Syariah Indonesia merupakan hasil merger antara Bank BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan Bank BNI Syariah.

    Penggabungan ini sendiri menyatukan semua kelebihan yang ada pada ketiga bank tersebut sehingga bisa memberikan layanan yang lebih lengkap, jangkauan yang lebih luas, dan juga kapasitas modal yang lebih baik.

    BSI sendiri didukung Kementerian BUMN agar bisa bersaing secara global. BSI sendiri merupakan bagian dari rencana pemerintah untuk menciptakan ekosistem industri halal yang ada di Indonesia.

    2. Bank Muamalat

    Contoh bank syariah lainnya yang ada di Indonesia adalah Bank Muamalat. Bisa dibilang, ini merupakan bank yang pertama kali lahir sebagai lembaga keuangan dengan sistem syariah di Indonesia.

    Bank Muamalat sendiri merupakan bank syariah murni, karena tidak memiliki cabang yang berupa bank konvensional. Dengan konsep syariah murni tersebut, Bank Muamalat sendiri mulai beroperasi sejak tahun 1992.

    Bank Muamalat terus berkomitmen untuk menerapkan syariat Islam dalam semua kegiatan operasionalnya hingga saat ini. Sudah banyak juga penghargaan yang diraih Bank Muamalat dari berbagai pihak.

    3. KB Bukopin Syariah

    Dahulu dikenal dengan nama Bank Syariah Bukopin, bank ini sendiri sudah beroperasi sejak tahun 2008. Bank ini sendiri bermula dari Bank Persyarikatan Indonesia.

    Bank Bukopin sendiri berperan dalam asistensi semua kegiatan Bank Persyarikatan Indonesia sejak 2005 sampai 2008. Pada tahun 2008, Bank Bukopin melihat peluang bisnis di perbankan syariah. Hal inilah yang pada akhirnya membuat Bank Bukopin merubah arah bisnis Bank Persyarikatan Indonesia dari bank konvensional menjadi bank syariah.

    4. BCA Syariah

    Bank Central Asia atau BCA merupakan jaringan bank swasta terbesar yang ada di Indonesia. Bank BCA Syariah sendiri mulai beroperasi sejak 2010, setelah sebelumnya BCA mengakuisisi Bank Utama Internasional pada 2009, lalu merubahnya menjadi Bank BCA Syariah.

    Salah satu keunggulan dari menggunakan BCA Syariah sendiri adalah nasabah bisa menggunakan semua jaringan dan juga Bank BCA untuk melakukan transaksi, baik tarik tunai, debit ATM, dan juga penggunaan mesin EDC. Semua layanan tersebut juga bisa dilakukan tanpa biaya.

    5. Bank Danamon Syariah

    PT Bank Danamon Indonesia juga merupakan salah satu pemilik bank syariah yang ada di Indonesia. Hal itu terlaksana lewat Unit Usaha Syariah pada Danamon Syariah.

    Ada beberapa produk yang menjadi unggulan dari Danamon Syariah ini, mulai dari setoran haji, perencanaan tabungan haji atau umrah, qurban, sampai dengan layanan asuransi syariah.

    Danamon Syariah bahkan memiliki layanan asuransi berbasis syariah. Termasuk jika Anda ingin mengajukan Pembiayaan Pemilikan Rumah dengan basis syariah, maka Anda juga bisa mengajukannya lewat bank syariah satu ini.

    6. Bank Permata Syariah

    Selain memilih layanan bank konvensional, Bank Permata juga memiliki layanan syariah dalam Bank Permata Syariah. Produk unggulan dari bank ini sendiri adalah tabungan, tabungan berencana, investasi, dan juga pembiayaan.

    Secara sejarah, Bank Permata sendiri merupakan hasil penggabungan dari Bank Bali, Bank Universal, Bank Prima Express, Bank Artamedia, dan juga Bank Patriot.

    7. Bank DKI Syariah

    Salah satu bank daerah yang juga memiliki unit usaha syariah adalah Bank DKI lewat Bank DKI Syariah. Beroperasi sejak 2004, contoh bank syariah ini sudah melayani banyak nasabah dengan menggunakan prinsip syariah.

    Beberapa layanan yang ada pada bank satu ini mulai dari tabungan, tabungan berjangka untuk haji dan umrah, deposito, gadai emas, pinjaman untuk kepemilikan rumah, dan lainnya.

    Meski demikian, saat ini fokus utama dari Bank DKI Syariah adalah menekuni dan membantu bisnis dengan skala mikro, kecil, dan menengah. Ini merupakan sektor yang terbukti lebih tahan terhadap krisis, tapi di sisi lain sektor ini juga sangat dekat dengan masyarakat.

    8. Bank Mega Syariah

    Bermulai dari Bank Mega Syariah Indonesia yang berdiri pada tahun 2004. Per tahun 2010, Bank Mega Syariah Indonesia berubah menjadi Bank Mega Syariah hingga saat ini.

    Salah satu keunggulan dari contoh bank syariah satu ini adalah sudah mendapatkan izin dari Kementerian Agama sebagai bank penerima setoran biaya penyelenggaraan ibadah haji. Dengan izin tersebut, maka semakin melengkapi layanan yang ada pada Bank Mega Syariah.

    Produk lainnya yang juga ditawarkan oleh Bank Mega Syariah adalah tabungan dan juga pinjaman. Selain itu, bank syariah satu ini juga merupakan bank devisa, artinya bank ini bisa melakukan transaksi devisa dan bisa terlibat dalam perdagangan internasional.

    9. Panin Dubai Syariah Bank

    Contoh bank syariah lainnya adalah Bank Panin Syariah. Awalnya, bank ini bernama Bank Harta. Lalu, pada tahun 2007 Panin Bank mengakuisisi bank tersebut dan merubahnya menjadi Panin Bank Syariah. Bank ini sendiri mulai beroperasi sejak tahun 2009.

    Di tahun 2014, satu terobosan dilakukan bank syariah satu ini yaitu dengan melepas 50 persen kepemilikan sahamnya ke publik dan secara resmi menjadi perusahaan publik. Hal ini juga membuat Panin Bank Syariah sebagai bank syariah pertama yang go public.

    Terobosan lainnya yang juga dibuat oleh manajemen Panin Bank Syariah adalah menggandeng Dubai Islamic Bank, salah satu bank syariah asal Uni Emirat Arab. Sejak tahun 2016, nama bank ini juga kembali berubah menjadi Panin Dubai Syariah Bank.

    10. BTPN Syariah

    Contoh bank syariah kali ini adalah anak usaha dari BTPN yaitu Bank BTPN Syariah. Layanan syariah dari BTPN ini sendiri resmi beroperasi sejak tahun 2014. Di tahun 2018, BTPN Syariah secara resmi melantai di Bursa Efek indonesia.

    Selain fokus pada beberapa layanan syariah, salah satu keunggulan lainnya dari bank yang satu ini adalah fokus pada pengembangan kelompok masyarakat menengah ke bawah, dengan tujuan untuk memajukan keluarga pra sejahtera.

    11. BJB Syariah

    BJB atau Bank Jabar dan Banten awalnya mungkin lebih dikenal sebagai bank daerah. Namun dalam perjalanannya, bank ini sudah memiliki banyak cabang dan bisa ditemukan dengan mudah di beberapa kota di luar Jawa Barat dan Banten.

    Per 2010, BJB juga mulai melebarkan usaha perbankannya dengan membentuk BJB Syariah. Pembentukan BJB Syariah sendiri sejalan dengan program Bank Indonesia yang ingin memperbanyak share perbankan syariah.

    Dalam perkembangannya, salah satu contoh bank syariah ini sudah memiliki 10 kantor cabang, 53 kantor cabang pembantu, dan juga jaringan ATM yang tersebar di seluruh wilayah.

    12. Bank Aladin Syariah

    Tren bank digital juga sudah mulai merambah ke bank dengan konsep syariah. Contoh bank syariah yang menggunakan cara tersebut adalah Bank Aladin Syariah.

    Bank Aladin Syariah sendiri awalnya bernama Bank Net Syariah Indonesia. Bank Aladin Syariah sendiri baru resmi berdiri pada 7 April 2022. Fokus utama dari bank satu ini adalah memprioritaskan keamanan dan juga kenyamanan nasabah.

    Tujuan utamanya adalah bisa melayani semua lapisan masyarakat. Saat ini sendiri, Bank Aladin Syariah sudah memiliki beberapa layanan utama, misalnya produk pendanaan, pembiayaan, dan juga beberapa jasa perbankan lainnya.

    13. Bank Victoria Syariah

    Bank Victoria Syariah awalnya bernama Bank Swaguna. Selanjutnya, bank ini berubah nama menjadi Bank Victoria. Sampai akhirnya, Bank Victoria ini sendiri melakukan perubahan dari bank umum konvensional menjadi bank umum syariah.

    Bank Victoria Syariah sendiri mulai beroperasi sejak 2010. Sampai saat ini, Bank Victoria Syariah terus berkomitmen untuk bisa membangun kepercayaan nasabah dengan memberikan semua pelayanan dan juga penawaran berbagai produk yang sesuai dengan prinsip syariah.

    14. BTN Syariah

    Contoh bank syariah lainya adalah Bank BTN Syariah. Bank yang identik dengan layanan kredit pemilikan rumahnya ini juga memiliki unit usaha syariah yang kini sudah berstatus sebagai bank umum syariah.

    Target utama nasabah dari bank ini adalah mereka yang ingin memiliki rumah namun tidak ingin menggunakan skema KPR konvensional. Bank BTN Syariah menawarkan Pembiayaan Pemilikan Rumah dengan cara yang sesuai dengan syariah.

    Selain itu, beberapa produk unggulan lainnya dari bank satu ini misalnya tabungan pendidikan dan juga perencanaan tabungan untuk haji atau umrah. Bank BTN Syariah juga menawarkan beberapa produk perbankan lain, misalnya tabungan dan juga deposito.

    Tertarik Menggunakan Bank Syariah?

    Ketertarikan akan bank syariah memang semakin hari semakin tinggi. Hal ini juga yang membuat pertumbuhan bank syariah cukup pesat. Bahkan saat ini, beberapa bank digital juga sudah memenangkan pasar syariah sebagai salah satu unit usaha mereka.

    Dengan mayoritas penduduk beragama Islam, hal ini juga menjadi salah satu alasan pertumbuhan bank syariah yang cukup pesat. Keunggulan lainnya dari bank syariah sendiri adalah hanya menawarkan produk yang sudah dijamin halal menurut syariat Islam.

  • 10 Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional, Penjelasan Lengkap

    10 Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional, Penjelasan Lengkap

    Sekilas, bank syariah dan bank konvensional memang terlihat sama. Padahal, keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Namun, tahukah Anda apa saja perbedaan bank syariah dan bank konvensional? Mari simak penjelasannya pada artikel berikut ini!

    Pengertian Bank Syariah dan Bank Konvensional

    Pastinya banyak sekali orang yang merasa bingung ketika membuka rekening tabungan, apakah harus bank syariah atau konvensional. Namun, sebelum Anda mempelajari perbedaan bank syariah dan bank konvensional, simak dulu penjelasan dari pengertian masing-masing jenis perbankan ini:

    1. Bank Syariah

    Bank Syariah merupakan bank yang menjalankan bisnisnya berdasarkan hukum Islam dan diatur dalam Al-Qur’an, hadits, dan fatwa MUI. Pada dasarnya, bank syariah dan bank konvensional memiliki  kegiatan bisnis yang sama. 

    Kegiatan yang dilakukan mulai dari menyediakan rekening tabungan, pinjaman, hingga deposito. Namun, perbedaan yang paling mencolok adalah pada penambahan kata “Syariah” dan logo “iB”.

    Bank syariah selalu mengedepankan prinsip dan hukum Islam melalui fatwa MUI. Hal tersebut juga berlaku pada setiap kegiatan operasional dan pengelolaan dana nasabah. Lalu, untuk penerapan bunga dalam bank syariah hukumnya adalah haram. 

    Jika mengutip dari laman resmi OJK Indonesia, produk tabungan syariah terbagi menjadi dua akad, yakni Mudharabah dan Wadi’ah. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing akad dalam bank syariah.

    1. Akad Mudharabah

    Akad mudharabah merupakan tabungan yang menggunakan perhitungan bagi hasil atas keuntungan yang didapatkan. Nasabah yang membuka tabungan dengan akad mudharabah ini akan mendapatkan keuntungan dan pembagian hasil dari kesepakatan.

    2. Akad Wadi’ah

    Akad Wadiah dalam bank syariah merupakan titipan. Jadi, uang yang disimpan oleh pihak nasabah ini hanyalah titipan. Sehingga, nasabah tidak akan mendapatkan keuntungan dari uang tabungannya tersebut. Tentu saja, hal ini sejalan dengan prinsip wadiah yad dhamanah. 

    Namun, ternyata pihak bank tetap boleh memanfaatkan dana titipan tersebut selama masih dalam prinsip syariah. Serta asalkan pihak bank bisa memberikan bonus kepada nasabah. Dengan catatan, untuk besaran bonusnya tidak mengikat. 

    2. Bank Konvensional

    Bank konvensional merupakan bank yang menjalankan kegiatannya berdasar pada basis suku bunga. Selain itu, bank konvensional berlandaskan pada prosedur dan hukum formal negara.

    Menurut Martono, terdapat dua metode yang berlaku pada bank konvensional, yakni sistem bunga dan biaya. Penerapan sistem bunga akan diberikan berdasarkan pada tingkat bunga tertentu. Hal tersebut berlaku untuk tabungan, deposito, maupun produk pinjaman. 

    Penerapan dari sistem biaya pada bank konvensional ini disebut dengan “fee based”. Fee based merupakan perusahaan yang menerapkan berbagai biaya dalam penggunaan pelayanannya. Namun, dalam pelaksanaannya, bank konvensional tunduk pada aturan hukum yang berlaku di Indonesia. 

    Hal inilah yang membuat jika ada sengketa yang melibatkan pihak bank konvensional dan nasabahnya. Maka, sengketa tersebut bisa diselesaikan dengan jalur hukum melalui pengadilan negeri. 

    Jadi, ketika nasabah menabung di bank konvensional, maka mereka bisa mengelola berbagai bisnis yang menguntungkan. Namun, hal ini berlaku selama pengelolaan dana nasabah tidak menyalahi hukum dan aturan yang berlaku di Indonesia. 

    Informasi mengenai bank konvensional ini menjelaskan bahwa pihak nasabah bisa menarik dana kapan saja dan di mana saja. Hal tersebut berlaku baik pengambilan melalui teller maupun menggunakan mesin ATM. Namun, setiap bulannya pihak nasabah akan dikenakan biaya administrasi atas tabungan yang disimpan. 

    10 Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional

    Secara definisi, bank konvensional merupakan bank yang menjalankan kegiatannya secara konvensional berdasar suku bunga. Sementara untuk bank syariah merupakan bank yang menjalankan aktivitasnya berdasarkan prinsip syariah. Lantas, apa perbedaan kedua jenis perbankan Indonesia tersebut? Simak di sini:

    1. Tujuan Pendirian

    Perbedaan bank syariah dan konvensional yang pertama adalah dari tujuan perbankan tersebut didirikan. Di mana bank konvensional memiliki prinsip yang dimiliki oleh masyarakat secara umum dan berorientasi pada keuntungan.

    Sementara tujuan pendirian dari bank syariah sendiri tidak hanya berorientasi pada profit, melainkan penerapan nilai syariah. Di mana aktivitas perbankan syariah tidak hanya memperhatikan aspek dunianya saja, melainkan juga akhiratnya. 

    2. Pengawas

    Pengawasan dalam kegiatan perbankan sudah diatur dalam Undang-Undang nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan. Untuk aktivitas yang dilakukan oleh bank konvensional sendiri langsung diawasi oleh Dewan Komisaris.

    Sementara aktivitas dari bank syariah diawasi oleh berbagai lembaga. Mulai dari Dewan Syariah Nasional, Dewan Pengawas Syariah, hingga Dewan Komisaris Bank.

    3.  Sistem Operasional

    Perbedaan bank syariah dan bank konvensional selanjutnya bisa Anda lihat dari sistem operasionalnya. Sistem operasional pada bank konvensional memberlakukan penerapan suku bunga. Selain itu, hal ini juga terjadi atas dasar perjanjian umum yang didasarkan pada aturan nasional.

    Untuk akad yang terjadi antara pihak bank dan nasabah dilakukan berdasarkan pada kesepakatan jumlah suku bunganya. Sementara untuk bank syariah sendiri tidak menerapkan bunga.

    Menurut syariat Islam, bunga termasuk dalam kategori riba. Jadi, sistem operasional yang digunakan adalah akad nisbah atau bagi hasil. Di mana kesepakatan yang terjadi didasarkan pada pembagian keuntungan dan kegiatan jual beli.

    4. Prinsip Pelaksanaan

    Perbedaan jenis perbankan yang ada di Indonesia selanjutnya adalah pada prinsip pelaksanaannya. Untuk bank konvensional, prinsip pelaksanaannya berpacu pada peraturan nasional dan internasional. Hal tersebut dilakukan dengan landasan hukum yang berlaku.

    Sementara untuk prinsip pelaksanaan bank syariah sendiri berdasarkan pada hukum Islam yang mengacu pada Al-Qur’an dan hadits. Tentu saja, hal ini sudah diatur oleh Fatwa Ulama. 

    5. Hubungan Antara Nasabah dan Lembaga Perbankan

    Perbedaan syariah dan konvensional berikutnya adalah dari hubungan antara nasabah dengan lembaga perbankannya. Dalam bank konvensional, terdapat dua pembagian peran, yakni kreditur (nasabah) dan debitur (pihak bank konvensional).

    Sementara dalam bank syariah, hubungan antara pihak bank dan nasabah ini terbagi menjadi empat jenis. Mulai dari penjual dan pembeli, kemitraan, pemberi sewa, dan penyewa.

    Dalam akad murabahah, istishna, dan salam, pihak nasabah berperan sebagai pembeli, dan pihak bank berperan sebagai penjual. Sementara dalam akad musyarakah dan mudharabah, digunakan hubungan kemitraan. 

    Terakhir, untuk akad ijarah memposisikan pihak bank sebagai pemberi sewa dan pihak nasabah sebagai penyewanya. 

    6. Sistem Bunga

    Perbedaan bank syariah dan bank konvensional selanjutnya adalah dari sistem bunganya. Bunga sendiri merupakan sistem yang digunakan oleh bank konvensional untuk mendapatkan keuntungan. Namun, seperti yang sudah disinggung sebelumnya, untuk bank syariah tidak menggunakan sistem bunga.

    Sebab, bank syariah menggunakan sistem bagi hasil untuk mendapatkan keuntungan. Perbedaan inilah yang paling signifikan antara perbankan konvensional dan syariah. 

    7. Kesepakatan Formal

    Proses transaksi yang terjadi dalam lembaga perbankan harus memiliki kesepakatan formal. Hal tersebut terlihat dari bank konvensional yang melakukan perjanjian secara hukum nasional. Sementara bank syariah melakukan akad dengan berlandaskan pada hukum Islam.

    Ada beragam jenis akad dalam transaksi bank syariah. Mulai dari mencari keuntungan, hingga layanan jasa sosial yang diberikan. Selain itu, dalam melaksanakan perjanjian tersebut, tentu ada beberapa rukun dan syarat sah yang harus dipenuhi.

    8. Kredit

    Lembaga perbankan tentunya memiliki tugas untuk memberikan bantuan kredit kepada masyarakat. Namun, baik bank syariah dan konvensional memiliki perbedaan dalam penyaluran kredit yang diberikan.

    Pada bank konvensional, pemberian kredit dilakukan kepada masyarakat umum. Namun, hal ini dilakukan selama calon nasabah memenuhi persyaratan sebagai peminjam.

    Sementara pada bank syariah, kredit hanya diberikan kepada pelaku usaha. Khususnya calon nasabah yang tidak menyimpang dari syariat Islam. Hal inilah yang membuat pihak bank syariah akan memeriksa latar belakang usaha calon nasabahnya. 

    9. Biaya Denda

    Perbedaan bank syariah dan bank konvensional selanjutnya adalah biaya dendanya. Bank syariah tidak membebankan biaya denda kepada pihak nasabah. Baik yang terlambat membayar atau tidak bisa membayar. Bahkan, bagi pihak nasabah yang hanya melakukan kesepakatan bersama saja. 

    Hal tersebut jelas berbeda dengan bank konvensional yang membebankan denda kepada pihak nasabahnya. Terlebih jika kredit macet serta besaran bunganya meningkat.

    10. Proses Pengelolaan Dana

    Pada bank konvensional, pengelolaan dana bisa dilakukan dalam semua lini bisnis. Tentu saja, hal ini terjadi di bawah naungan dari Undang-Undang. Sementara untuk bank syariah harus menggunakan dananya sesuai dengan aturan Islam. Di mana bank syariah harus bisa mengelola dana sesuai aturan Islam. 

    Sudah Apa Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional?

    Itulah beberapa perbedaan bank syariah dan bank konvensional yang perlu Anda ketahui. Dengan mengetahui perbedaan dari kedua jenis perbankan ini, tentu saja akan membuat Anda lebih mantap dalam memilih akan membuka tabungan di bank syariah atau konvensional. Semoga membantu!

  • Perbedaan Kurva Permintaan dan Penawaran serta Contohnya

    Perbedaan Kurva Permintaan dan Penawaran serta Contohnya

    Dalam ilmu ekonomi, permintaan dan penawaran menjadi dua hal yang saling berkaitan satu sama lain. Oleh karena itulah, dikenal kurva permintaan dan penawaran. Meski terdengar familiar, namun masih banyak orang yang belum tahu perbedaan kurva permintaan dan penawaran.

    Hal ini karena kedua kurva tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berbeda. Oleh karena itulah, jika ingin memahami keduanya, maka harus mengetahui faktor-faktor tersebut.

    Nah, untukmu yang ingin tahu lebih banyak tentang perbedaan kedua kurva ini, simak ulasan lengkapnya dalam artikel di bawah ini, ya!

    Perbedaan Kurva Permintaan dan Penawaran

    Berikut perbedaan antara kurva penawaran dan permintaan berdasarkan pengertian dan ciri-cirinya, yaitu:

    1. Kurva Penawaran

    Detikcom

    Apabila dilihat dari keterkaitan harga dengan jumlah barang yang tersedia, kurva penawaran cenderung bersifat positif. Dengan kata lain, jika harga barang naik, maka jumlah barang yang ditawarkan akan meningkat dengan syarat ceteris paribus.

    Sedangkan untuk kurva penawaran sendiri terbagi ke dalam dua jenis yang berbeda, yakni kurva penawaran pasar dan kurva penawaran individu. Kurva penawaran pasar berhubungan dengan jumlah penjual dari satu produk dan/atau jasa yang dijual.

    Sementara itu, kurva penawaran individu berkaitan erat dengan gambaran naik turunnya grafik yang berdasarkan pada jumlah dan harga barang yang ditawarkan oleh pihak penjual.

    Jadi, semakin tinggi harga jual barang, maka produksi jumlah barang akan semakin banyak. Kondisi ini dapat terjadi karena pihak penjual ingin mendapatkan untung sebanyak-banyaknya.

    Kemudian, perlu diketahui juga bahwa kurva penawaran bisa bergerak dan bergeser, karena disebabkan oleh adanya perubahan barang yang ditawarkan ataupun karena faktor lain. Seperti jumlah produsen, biaya produksi, ekspektasi produsen, teknologi produksi, harga barang atau jasa, hingga subsidi dan pajak.

    Adapun ciri-ciri dari kurva penawaran yang perlu dikenali adalah sebagai berikut:

    • Bentuk dari kurva penawaran adalah garis lurus.
    • Garis pada kurva penawaran bergerak dari kiri bawah ke kanan atas. Apabila kurva bergerak dari kanan atas, artinya penawaran terhadap barang mengalami peningkatan.
    • Dalam kurva penawaran, harga dan jumlah barang yang ditawarkan berbanding lurus. Pada saat harga barang naik, maka akan terjadi peningkatan jumlah barang yang ditawarkan. Sebaliknya, jika harga barang turun, maka terjadi penurunan jumlah barang yang ditawarkan.
    • Bentuk fungsi kurva penawaran adalah Q = a+bP (‘Q’ adalah jumlah barang yang ditawarkan, ‘a’ adalah konstanta, ‘b’ adalah kemiringan, dan ‘p’ adalah harga barang).

    2. Kurva Permintaan

    fortuneidn.com

    Berbanding terbalik dengan kurva penawaran, kurva permintaan justru bersifat negatif. Kurva permintaan ini digambarkan dari kiri atas ke bawah untuk menunjukkan adanya hubungan terbalik antara harga dengan jumlah permintaan barang.

    Artinya, jika harga barang mengalami kenaikan, maka jumlah permintaan konsumen terhadap produk tersebut akan mengalami penurunan. Kurva permintaan ini umumnya digunakan sebagai alat untuk menetapkan harga jual yang tepat. Dengan begitu, penjual bisa mendapat keuntungan sekaligus menjaga permintaan konsumen.

    Berikut adalah beberapa ciri kurva permintaan yang perlu diketahui:

    • Bentuk dari kurva permintaan berbentuk garis lurus.
    • Pergerakan kurva permintaan dipengaruhi oleh jumlah permintaan barang. Apabila pendapatan masyarakat meningkat, maka kurva akan bergeser ke kanan. Begitu juga sebaliknya, apabila pendapatan masyarakat menurun, maka kurva akan bergeser ke kiri.
    • Harga dengan jumlah permintaan barang pada kurva permintaan berbanding terbalik. Saat harga barang mengalami kenaikan, permintaan justru akan menurun. Begitu juga sebaliknya.
    • Bentuk fungsi kurva permintaan adalah Q = a-bP (‘Q’ adalah jumlah barang yang ditawarkan, ‘a’ adalah konstanta, ‘b’ adalah kemiringan, dan ‘p’ adalah harga barang).

    Faktor yang Mempengaruhi Permintaan dan Penawaran

    Setelah mengetahui perbedaan kurva permintaan dan penawaran, tentunya kamu juga harus memahami apa saja faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya permintaan dan penawaran. Baru dengan begitu, akan lebih mudah bagimu untuk membedakan bentuk kurva di antara keduanya. Berikut adalah penjelasan lengkapnya:

    1. Faktor yang Mempengaruhi Permintaan

    Setidaknya terdapat enam faktor yang mempengaruhi terjadinya permintaan di pasaran, antara lain:

    a. Harga Barang

    Harga barang sangat berpengaruh terhadap permintaan. Jika harga barang naik, maka permintaan akan mengalami penurunan. Begitu pula sebaliknya, ketika harga barang murah, maka konsumen akan mencari barang tersebut, sehingga menyebabkan permintaan jadi naik.

    b. Kualitas Barang

    Sebagai pengguna, sudah pasti konsumen menginginkan barang yang berkualitas tinggi. Artinya, semakin bagus kualitas suatu barang, sudah pasti permintaan akan mengalami peningkatan.

    c. Besarnya Pendapatan yang Diperoleh Konsumen

    Faktor yang satu ini berkaitan dengan harga yang berlaku. Apabila pendapatan konsumen naik, maka permintaan terhadap suatu barang juga akan mengalami kenaikan. Begitu juga sebaliknya, apabila pendapatan konsumen turun, sudah pasti permintaan suatu barang akan mengalami penurunan.

    d. Harga Barang Lainnya

    Faktor ini berkaitan dengan adanya barang pengganti atau alternatif. Artinya, saat harga barang merek A mengalami kenaikan, maka konsumen dapat membeli barang merek B yang harganya tetap stabil atau tidak mengalami kenaikan.

    Jika kondisi ini terjadi, maka permintaan barang merek B akan mengalami kenaikan, sedangkan barang A mengalami penurunan.

    e. Jumlah Penduduk

    Faktor jumlah penduduk berhubungan erat dengan kuantitas permintaan. Jadi, sudah pasti semakin banyak orang di suatu daerah, maka permintaan bisa mengalami kenaikan.

    Hal ini memang menjadi salah satu keunggulan Indonesia dibandingkan dengan negara lainnya. Dimana jumlah penduduk di Indonesia yang cukup besar, sehingga potensi pasar bagi produsen juga besar.

    f. Selera Konsumen

    Apabila selera masyarakat terhadap adanya suatu barang meningkat, maka sudah pasti permintaan terhadap barang tersebut juga akan meningkat.

    g. Prediksi Masa Depan

    Faktor ini berkaitan dengan tren dan juga psikologi pasar. Apabila ada prediksi harga akan mengalami kenaikan bulan depan, masyarakat cenderung akan mulai meningkatkan permintaan. Tujuannya adalah untuk menghindari harga yang mahal.

    2. Faktor yang Mempengaruhi Penawaran

    Setelah menyimak faktor yang mempengaruhi permintaan, berikut ini adalah berbagai perbedaan kurva permintaan dan penawaran berdasarkan faktor yang dapat mempengaruhi penawaran menurut ilmu ekonomi:

    a. Harga

    Sebagai produsen, sudah pasti ketika harga barang mengalami kenaikan, maka barang yang ditawarkan juga akan mengalami kenaikan. Hal ini juga berlaku sebaliknya.

    b. Biaya Produksi

    Biaya produksi merupakan biaya yang dikeluarkan dengan tujuan untuk menciptakan atau membuat suatu produk. Jadi, apabila biaya produksi mengalami kenaikan, maka kemampuan suatu perusahaan dalam menciptakan barang dan/atau jasa akan menurun. Hal ini akan membuat penawaran perusahaan juga mengalami penurunan.

    c. Teknologi

    Tingkat teknologi yang digunakan oleh produsen ternyata juga dapat berpengaruh terhadap penurunan biaya produksi. Akibatnya, jumlah yang ditawarkan pun jadi bertambah. Secara umum, hal ini berkaitan dengan kemampuan teknologi dalam mengefisiensikan barang yang diproduksi oleh produsen.

    d. Prediksi Produsen di Masa Depan

    Jika produsen memprediksi akan adanya kenaikan harga barang di bulan depan, maka biasanya produsen akan mengurangi stok penjualan barang tersebut. Dengan adanya pembatasan stok barang ini, maka produsen berharap bisa mendapatkan keuntungan penjualan yang lebih ketika harga naik.

    e. Faktor Non-Ekonomi

    Faktor non-ekonomi merupakan faktor yang dapat memengaruhi penawaran di luar faktor ekonomi itu sendiri. Contohnya seperti bencana alam. 

    Misalnya, terjadi banjir bandang di suatu daerah yang menyebabkan gagal panen. Akibat dari kejadian itu, penawaran beras pun akan mengalami penurunan, karena stoknya di pasaran yang terbatas.

    Contoh Kurva Permintaan dan Penawaran

    Bicara soal perbedaan kurva permintaan dan penawaran, belum lengkap rasanya jika tidak membahas tentang contohnya. Sebab, dengan contoh tersebut, kamu bisa lebih mudah memahami kedua jenis kurva dalam ilmu ekonomi ini. Berikut adalah contoh dari kurva permintaan dan penawaran:

    1. Contoh Kurva Permintaan

    Apabila harga sosis siap makan adalah Rp2.000,00, maka konsumen akan membeli 200 sosis per hari. Sedangkan apabila harga sosis naik menjadi Rp5.000,00, maka konsumen hanya akan membeli 100 sosis per hari.

    Lalu, jika harga sosis adalah Rp7.000,00, maka konsumen hanya akan membeli 50 sosis per hari. Begitu seterusnya jika harga sosis terus mengalami kenaikan.

    2. Contoh Kurva Penawaran

    Salah satu contoh kurva penawaran bisa dilihat dari adanya kenaikan harga cabai rawit yang pada akhirnya mendorong petani untuk lebih memilih menanam tomat dalam jumlah kecil dan memperbanyak tanaman cabai rawit.

    Jadi, ketika panen, jumlah cabai rawit di pasaran akan meningkat, di mana kuantitas yang muncul terhadap cabai ini akan disebut dengan elastisitas penawaran. 

    Sudah Paham dengan Perbedaan Kurva Permintaan dan Penawaran?

    Jadi, perbedaan kurva permintaan dan penawaran terletak pada harga suatu produk. Apabila harga produk naik, maka kurva permintaan akan bergerak turun dan kurva penawaran akan bergerak naik. Begitupun sebaliknya.

    Pada, pada suatu waktu, bisa juga terjadi sebaliknya, apabila produk yang mengalami kenaikan harga adalah barang pokok, maka permintaan dan penawaran pasti akan tetap tinggi. Karena masyarakat membutuhkannya untuk kelangsungan hidup.

  • Pengertian Ekonomi Produktif, Manfaat, Analisis Biaya & Contohnya

    Pengertian Ekonomi Produktif, Manfaat, Analisis Biaya & Contohnya

    Usaha ekonomi produktif (UEP) sangat penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat. Bentuk usahanya juga dapat bermacam-macam. Dimana, umumnya menyesuaikan dengan daerah kelompok masyarakat yang menjadi sasaran.

    Program ini juga penting untuk dipahami oleh masyarakat secara umum. Sebab, mungkin ada masyarakat yang membutuhkan, namun belum terlibat. Selain itu, masyarakat juga dapat mendukung suksesnya setiap usaha dalam program ini.

    Artikel ini mengupas hal ini secara lengkap. Mulai dari pengertian, manfaatnya bagi masyarakat, gambaran analisis biaya, hingga contoh-contohnya. Harapannya, artikel ini dapat menjadi rujukan yang menambah wawasan kamu.

    Pengertian

    Usaha ekonomi produktif adalah program kerja dari pemerintah pusat dan daerah yang berbentuk segala upaya untuk membuat kelompok masyarakat bergeliat secara ekonomi. Sasaran atau target kelompok ini adalah mereka yang termasuk kelompok rentan dan miskin.

    Dalam program ini, pemerintah melakukan langkah-langkah praktis untuk mendorong masyarakat dalam berbisnis. Dengan demikian, masyarakat akan memiliki daya secara ekonomi untuk mempertahankan hidup yang layak.

    Langkah-langkah ini, antara lain adalah bantuan modal, penyuluhan, hingga pendampingan. Dengan demikian, usaha milik masyarakat dapat berjalan dengan baik dan mendatangkan keuntungan.

    Manfaat Ekonomi Produktif

    Berikut ini adalah beberapa manfaat dari program UEP yang dapat masyarakat rasakan secara umum:

    1. Bantuan Modal

    Manfaat pertama adalah adanya bantuan modal. Modal usaha seringkali menjadi hambatan bagi masyarakat untuk memulai usaha. Melalui program ini, hambatan utama ini dapat teratasi.

    Masyarakat kemudian cukup fokus untuk menjalankan usaha dengan baik. Sehingga, usaha tersebut dapat memberikan imbal hasil yang optimal. Besaran modal ini bergantung pada ketentuan tiap dinas yang terlibat pada setiap daerah.

    Namun, rata-rata adalah Rp2.500.000,00 sampai Rp7.500.000,00. Jenis usaha juga kemungkinan mempengaruhi besaran bantuan modal dari pemerintah.

    2. Kemandirian Ekonomi

    Manfaat kedua adalah pencapaian kemandirian ekonomi. Pemerintah menargetkan bahwa program UEP dapat mendorong masyarakat kelompok ekonomi rentan untuk tidak bergantung pada subsidi dari pemerintah.

    Hal ini bukan berfokus untuk meringankan beban pemerintah dalam memelihara kehidupan warganya. Namun, untuk menuntun warganya agar dapat mencapai dan menjalani kehidupan yang lebih layak dan berkualitas.

    Kemandirian ekonomi tentu dapat membuat masyarakat dapat mengakses berbagai fasilitas. Mulai dari pangan, pendidikan, dan kesehatan yang lebih baik.

    3. Penyerapan Tenaga Kerja

    Manfaat ekonomi produktif berikutnya adalah penyerapan tenaga kerja. Jenis-jenis usaha tertentu dengan sistem padat karya tidak hanya akan memperbaiki ekonomi pemilik usaha. Namun, juga masyarakat sekitar yang terlibat.

    Misalnya adalah usaha home industri berupa pembuatan kerajinan, catering, pertanian, peternakan, dan sebagainya. Dengan demikian, berjalannya program ini akan meningkatkan kualitas kehidupan kelompok masyarakat lebih besar.

    4. Identitas Daerah

    Pembentukan identitas daerah juga dapat terwujud melalui program ini. Hal ini terjadi misalnya, jika jenis usaha tertentu kemudian menjadi ikon daerah tersebut. Sehingga, nama daerah juga semakin terangkat dan populer.

    Sebagai contoh adalah Jepara yang populer sebagai kota ukir. Sebab, banyak masyarakat yang menekuni usaha tersebut. Contoh lain adalah Kota Yogyakarta yang populer sebagai sentra kerajinan wayang.

    Terangkatnya usaha menjadi identitas daerah, tentu juga memberikan keuntungan bagi usaha itu sendiri. Khususnya, dalam hal branding yang adalah bagian dari strategi marketing.

    Komponen Analisis Biaya

    Selanjutnya adalah bagaimana melakukan analisis biaya, agar program usaha ekonomi produktif dapat berjalan dan mencapai target untuk mensejahterakan masyarakat. Berikut ini adalah penjelasan dari komponen analisis biayanya:

    1. Biaya Modal Alat

    Pertama adalah biaya modal alat kerja. Jenis usaha tertentu mungkin akan membutuhkan alat kerja yang wajib untuk terpenuhi sejak awal usaha. Pengadaan alat kerja ini sebisa mungkin berasal dari modal bantuan pemerintah.

    Dengan demikian, masyarakat pelaku usaha tidak perlu mencari tambahan modal untuk mengadakan alat. Sebagai contoh adalah usaha peternakan, maka modal alat dapat berupa kandang dengan ukuran yang sesuai dengan kebutuhan.

    Sedangkan pada usaha katering, modal alat dapat berupa alat masak dan peralatan makan untuk penyajian.

    2. Biaya Modal Bahan

    Komponen yang kedua adalah modal bahan. Biaya modal bahan perlu diperhitungkan hingga sebuah usaha dapat memberikan keuntungan untuk biaya operasional. Secara ideal, biaya bahan adalah untuk 3 hingga 6 bulan pertama.

    Bahan-bahan tersebut adalah yang akan melalui proses hingga sebuah usaha memiliki produk jadi untuk menghasilkan keuntungan. Contohnya, dalam usaha peternakan, modal bahan adalah binatang ternak dan pakan.

    Sedangkan pada usaha ekonomi produktif perdagangan, modal bahan adalah biaya untuk modal awal pembelian produk. Perhitungan hingga 3 atau 6 bulan bertujuan agar usaha tidak terhenti, karena kekurangan modal saat usaha dalam proses perintisan.

    3. Biaya Modal Operasional

    Selanjutnya adalah modal operasional. Ini adalah biaya-biaya rutin yang tidak habis pakai, seperti pada modal bahan. Yang termasuk dalam biaya modal operasional, antara lain listrik, air, gaji karyawan, dan sewa tempat jika ada.

    Biaya modal operasional juga perlu diperhitungkan hingga 3 atau 6 bulan. Tujuannya juga sama, yaitu mencegah agar usaha tidak terhenti ketika sedang dalam proses perintisan awal.

    4. Pendapatan

    Komponen selanjutnya adalah pendapatan. Pencatatan dana masuk perlu sangat rinci, agar tidak terjadi kesalahan yang dapat merugikan. Dana yang tercatat dalam pendapatan akan menjadi penyeimbang neraca dalam analisis keuangan.

    Pendapatan adalah laba yang perhitungannya dari keseluruhan dana masuk setelah faktor pengurang. Yang termasuk faktor pengurang adalah modal bahan dan operasional, serta jika ada cicilan untuk modal alat.

    Mengukur Produktivitas Usaha Ekonomi Produktif

    Sebuah program UEP tergolong sukses atau produktif melalui beberapa indikator. Berikut ini adalah penjelasan lengkapnya:

    1. Kesehatan Neraca Keuangan

    Analisis keuangan tidak hanya dilakukan saat akan merencanakan usaha. Hal ini justru perlu pengusaha lakukan secara konsisten tiap bulan dalam bentuk neraca keuangan. Neraca ini akan menjadi penanda sebuah usaha merugi atau untung.

    Neraca yang sehat adalah apabila kolom pendapatan menunjukkan keuntungan atau laba. Sedangkan neraca yang tidak sehat adalah apabila kondisinya minus.

    Pada awal jalannya usaha, neraca keuangan mungkin akan mengalami minus. Inilah pentingnya untuk mengadakan modal bahan dan operasional hingga 3 atau 6 bulan. Sehingga, usaha dapat terus berjalan, meskipun neraca belum sehat.

    2. Perkembangan Skala Usaha

    Pengukuran produktivitas usaha berikutnya adalah melalui perkembangan skala usaha. Semakin besar skala usaha, artinya usaha tersebut semakin produktif, yaitu bahwa usaha tersebut semakin menghasilkan laba yang menguntungkan.

    Terdapat beberapa indikator perkembangan skala usaha ekonomi produktif, antara lain adalah apakah omset usaha tersebut semakin besar. Selain itu, apakah usaha tersebut telah membuka cabang baru atau mengeluarkan kategori produk baru.

    Beberapa indikator tersebut menjadi tanda bahwa program UEP telah berhasil. Walau demikian, perhitungan perkembangan ini sebaiknya dibuat secara rinci dan tertulis. Sehingga, dapat mengetahui pasti skala perkembangannya.

    3. Kesejahteraan Masyarakat

    Indikator berikutnya adalah perbaikan kesejahteraan masyarakat yang terlibat dalam program UEP. Semakin produktif sebuah usaha, maka semestinya semakin membawa kesejahteraan bagi masyarakat sekitarnya.

    Pengukuran kesejahteraan setidaknya dapat melibatkan 2 aspek. Aspek pertama adalah masyarakat yang terlibat langsung. Misalnya adalah sebagai karyawan, yaitu apakah masyarakat memperoleh penghasilan yang mensejahterakan?

    Sedangkan aspek kedua adalah masyarakat yang terlibat sebagai konsumen, yaitu apakah hasil usaha membuat masyarakat memperoleh akses lebih mudah pada kesejahteraan?

    Misalnya, UEP berupa peternakan ayam petelur. Apakah masyarakat dapat memperoleh hasil produksi telur dengan lebih mudah dan harga yang terjangkau?

    Contoh Peluang Usaha Ekonomi Produktif

    Berikut ini adalah beberapa contoh peluang untuk program UEP beserta penjelasan singkatnya:

    1. Usaha Pertanian

    Pontianak Post

    Contoh pertama adalah usaha pertanian. Bidang ini dapat melibatkan perkumpulan Dasa Wisma atau Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Langkah praktisnya adalah mengisi tanah pekarangan dengan tanaman yang memiliki nilai jual. Misalnya adalah cabai.

    2. Usaha Peternakan

    Majalah Infovet

    Contoh kedua adalah usaha peternakan yang dapat melibatkan pemuda Karang Taruna. Misalnya, dengan membuat peternakan ayam petelur skala rumahan. Selain bertujuan untuk kemandirian pangan, hasil telur juga memiliki nilai jual.

    3. Usaha Dagang

    UMKM Kompas

    Contoh ketiga adalah usaha dagang. Misalnya adalah toko sembako, toko bahan pangan ternak, penjualan sayuran, dan sebagainya.

    Memahami Pentingnya Program UEP

    Program usaha ekonomi produktif adalah bentuk nyata bagaimana pemerintah berupaya untuk memberdayakan masyarakat. Tidak hanya melalui subsidi, namun mendorong masyarakat untuk lebih produktif. 

    Mulai dari memanfaatkan lahan pekarangan untuk bertani, berternak, hingga memanfaatkan ruang di depan rumah sebagai kios kecil. Supaya masyarakat tergerak untuk selalu produktif dan tidak selalu bergantung pada subsidi pemerintah. Sehingga, tercipta kondisi perekonomian negara dan masyarakat yang baik.

  • Pengertian Akad Kredit, Jenis, Biaya, dan Prosesnya

    Pengertian Akad Kredit, Jenis, Biaya, dan Prosesnya

    Dalam pengajuan KPR atau Kredit Kepemilikan Rumah biasanya terdapat proses yang disebut akad kredit. Proses ini merupakan kesepakatan antara pihak pemberi pinjaman dan pihak yang mengajukan pinjaman.

    Jika Anda berencana untuk mengajukan kredit, sebaiknya Anda memahami pembahasan seputar akad kredit, proses pengajuan, serta biaya apa saja yang harus Anda bayarkan.

    Pengertian

    Menurut KBBI, akad merupakan perjanjian, janji, dan kontrak. Dalam dunia properti, akad kredit artinya mempertemukan pihak debitur dan kreditur saat keduanya sepakat untuk melakukan Kredit Kepemilikan Rumah atau KPR. Maka dari itu, perjanjian kredit ini merupakan serangkaian proses KPR antara bank dengan debitur. 

    Dalam proses ini, bank biasanya menjelaskan ke calon debitur seputar perjanjian dan dokumen yang perlu untuk ditandatangani. Dengan begitu, pihak debitur paham tentang isi dokumen perjanjian tersebut sehingga terjadi kesepakatan antara kedua pihak. 

    Akad ini menjadi proses yang sangat penting di dalam KPR karena merupakan puncak dari pengajuan KPR itu sendiri.

    Unsur-unsur pada Akad Kredit

    Perjanjian kredit mempunyai beberapa unsur, di antaranya:

    1. Kreditur

    Kreditur merupakan pihak yang berperan memberikan kredit atau pinjaman pada pihak yang memerlukan pinjaman. Umumnya, kreditur merupakan badan usaha, seperti lembaga peminjaman atau perbankan.

    2. Debitur

    Debitur merupakan pihak yang membutuhkan dana. Pihak debitur yang akan melakukan pengajuan terkait pinjaman dana pada kreditur.

    3. Kepercayaan

    Unsur ini berupa keyakinan bahwa kredit yang diberikan dalam bentuk barang, uang, maupun jasa benar-benar akan dikembalikan pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati.

    4. Kesepakatan

    Unsur dalam akad kredit yang keempat yaitu kesepakatan. Terkait hal ini, kedua pihak harus benar-benar sepakat untuk mematuhi segala ketentuan terkait peminjaman dana seperti total dana yang dipinjam, biaya cicilan, dan lain-lain.

    5. Jangka Waktu

    Setiap pengajuan kredit sudah tentu mempunyai jangka waktunya masing-masing. Ada pengajuan kredit untuk jangka waktu pendek, menengah, dan panjang. Penentuan jangka waktu tersebut berdasarkan kesepakatan bersama.

    6. Risiko

    Risiko bisa saja terjadi saat debitur atau nasabah tidak ingin membayar kreditnya. Padahal nasabah tersebut mempunyai dana alias mampu untuk membayar cicilan atau bahkan melunasinya.

    Namun ada juga nasabah yang memang tidak mampu untuk membayar dikarenakan faktor tertentu. Misalnya bencana alam, kematian, dan lain-lain. Dalam kredit, semakin lama jangka waktu pembayaran maka risikonya akan semakin besar.

    7. Bunga Pinjaman atau Balas Jasa

    Unsur yang terakhir yaitu bunga pinjaman. Ini merupakan keuntungan yang diperoleh pihak kreditur. Besaran bunga pinjaman atau balas jasa berbeda, tergantung kebijakan pihak kreditur.

    Jenis

    Setelah memahami pengertiannya, informasi berikut yaitu tentang beberapa jenis kredit. Berikut pembahasannya.

    1. Berdasarkan Tujuan Penggunaan

    Jenis kredit yang dapat diakadkan berdasarkan tujuan penggunaannya, antara lain:

    • Kredit produktif: pemberian kredit pada usaha-usaha dengan produk berupa barang.
    • Kredit konsumtif: jenis yang diberikan pada seseorang yang memanfaatkan dana kredit tersebut untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

    2. Berdasarkan Jangka Waktu

    Jenis kredit yang dapat diakadkan berdasarkan jangka waktunya, antara lain:

    • Kredit jangka pendek: kredit yang diberikan ke seseorang maupun kelompok dengan tenor atau jangka waktu tidak melebihi 1 tahun.
    • Kredit jangka menengah: kredit yang diberikan ke seseorang maupun kelompok dengan jangka waktu antara 1 tahun sampai 3 tahun.
    • Kredit jangka panjang: kredit yang diberikan ke seseorang maupun kelompok dengan jangka waktu melebihi 3 tahun.

    Proses Akad Kredit

    Lalu bagaimana proses perjanjian kredit tersebut berlangsung? Berikut informasinya.

    1. Sebelum Melakukan Akad Kredit

    Untuk debitur, sebelum mulai melakukan kredit maka penting memperhatikan beberapa hal seperti di bawah ini:

    • Bank akan mengirimkan surat persetujuan kredit.
    • Penentuan waktu untuk perjanjian kredit.
    • Kewajiban untuk membayar biaya KPR.
    • Mulai mempersiapkan dokumen yang diperlukan.

    Adapun dokumen-dokumen yang harus Anda siapkan antara lain:

    • KTP (Kartu Tanda Penduduk) suami dan istri, jika sudah menikah;
    • Kartu Keluarga;
    • Surat Nikah;
    • NPWP.

    Kemudian pihak penjual perlu menyediakan beberapa dokumen, di antaranya:

    • Sertifikat tanah;
    • IMB (Izin Mendirikan Bangunan);
    • Bukti pembayaran PBB (Pajak Bumi dan Bangunan);
    • Beberapa dokumen pendukung lainnya.

    2. Pelaksanaan Akad Kredit

    Ketika semua dokumen telah Anda siapkan, maka proses pelaksanaan kredit sudah bisa diproses. Untuk pelaksanaannya, pihak bank maupun debitur sama-sama harus melakukan penandatanganan terkait perjanjian yang sudah disepakati.

    Adapun isi perjanjian tersebut mengenai berapa jumlah kredit yang harus dibayarkan, cicilan per bulan, dan sebagainya. Kemudian, penjual juga harus memberikan bukti dokumen jika rumah maupun bangunan yang akan dijual tersebut asli serta tidak mengalami masalah.

    Dengan bukti yang valid, maka transaksi jual-beli yang dilakukan tidak akan mengalami masalah terkait legalitas di kemudian hari. Perlu digaris bawahi, proses pembuatan dokumen kepemilikan harus didampingi notaris.

    3. Pasca Akad Kredit

    Ketika perjanjian kredit sudah dilakukan, menandakan bahwa rumah telah mengalami pemindahan kepemilikan. Maka dari itu, debitur atau pembeli yang melakukan pengajuan kredit KPR dapat menempati rumah tersebut langsung.

    Meskipun demikian, pembeli berkewajiban untuk membayar biaya cicilan sebelum batas waktu yang sudah disepakati. Saat KPR telah dibayar lunas, pihak bank alias pemberi kredit memberikan SPH atau Surat Pelunasan Hutang beserta sertifikat asli terkait kepemilikan rumah.

    Lalu bagaimana dengan penjual? Penjual sudah pasti memperoleh bayaran pembelian berdasarkan harga yang telah disepakati.

    Biaya Akad Kredit Rumah

    Sebelum tanda tangan di depan notaris, biasanya pihak bank menghubungi Anda dan menginformasikan agar Anda melunasi beberapa biaya akad kredit, di antaranya:

    1. Biaya Uang Muka

    Untuk biaya pertama yang Anda bayarkan ketika menerapkan akad ini yaitu uang muka atau DP (down payment). Biaya uang muka tersebut kira-kira 10% sampai 20% dari total harga properti.

    Selain itu, Anda juga perlu membayar biaya booking fee atau uang tanda jadi. Fungsinya sebagai penanda bahwa Anda memang serius untuk melakukan pembelian properti. Contohnya, Anda ingin membeli rumah seharga Rp400.000.000,00. Nanti uang muka yang Anda bayar sekitar Rp40.000.000,00.

    2. Biaya Provisi

    Selanjutnya ada biaya provisi yang merupakan biaya tambahan sebagai balas jasa. Biaya tersebut Anda bayarkan sebagai “balas jasa” bahwa pengajuan Anda telah disetujui bank. 

    Untuk besaran biaya provisi tersebut menyesuaikan bank masing-masing. Akan tetapi, umumnya berkisar 1% dari seluruh total plafon. Contohnya, Anda membeli rumah seharga Rp600.000.000,00, maka iaya provisinya yaitu Rp6.000.000,00.

    3. Asuransi Jiwa Kredit

    Biaya akad kredit berikutnya adalah terkait asuransi jiwa. Mengapa ini perlu? Tujuannya untuk memberikan proteksi terhadap keluarga kreditur ketika mengalami kecelakaan sampai meninggal dunia. 

    Mengenai besaran biayanya menyesuaikan ketentuan bank masing-masing. Bahkan ada bank yang malah tidak mewajibkan kreditur untuk melakukan pembayaran asuransi jiwa KPR. 

    Akan tetapi, jika bank tersebut memiliki kebijakan ini, Anda dapat meminta diskon ke pihak bank. Selain membayar biaya asuransi jiwa, kemungkinan Anda juga perlu membayar asuransi kebakaran.

    4. Biaya APHT Jaminan

    APHT atau Akta Pemberian Hak Tanggungan merupakan jaminan pelunasan hutang di antara debitur dan kreditur. Adapun biaya APHT cenderung bervariasi. Namun umumnya berada di angka 0,25% dari nilai kredit 125%.

    5. Sertifikat Balik Nama dan AJB

    Selanjutnya ada biaya untuk sertifikat balik nama dan Akta Jual Beli atau AJB. Sebenarnya biaya ini sudah termasuk biaya notaris-PPAT ketika proses jual-beli berlangsung. Untuk biaya AJB tidak boleh melebihi 1% dari seluruh biaya transaksi.

    Selain itu, biasanya pertanggungannya menyesuaikan kesepakatan masing-masing pihak. Sementara untuk biaya balik nama yang Anda siapkan menyesuaikan lokasi tanah serta nilai jual-beli tanah tersebut. Perlu dipahami, selama balik nama berlangsung, maka biayanya ditanggung pembeli.

    6. Biaya Notaris Terkait Perjanjian Kredit

    Biasanya, rincian biaya notaris tidak jadi satu dengan biaya balik nama serta pajak pembelian dan penjualan. Dalam perjanjian kredit lewat notaris, dana dibebankan berdasarkan rate kerja sama di antara bank dengan notaris.

    Kesimpulan

    Sekian pembahasan tentang akad kredit dan bagaimana prosesnya. Semua informasi tersebut perlu Anda pelajari dan pahami sebelum benar-benar memutuskan untuk mengajukan kredit. Semoga bermanfaat.