Category: Fisika

  • Pengertian Listrik Statis: Cara Kerja, Contoh, dan Rumusnya

    Pengertian Listrik Statis: Cara Kerja, Contoh, dan Rumusnya

    Listrik menjadi satu bentuk energi yang mungkin sangatlah dekat dengan kehidupan Anda sebagai manusia. Namun, pernahkah Anda mendengar tentang listrik statis? Lalu apa bedanya dengan listrik yang Anda gunakan sehari-hari?

    Sederhananya, listrik statis merupakan listrik dengan muatan yang diam. Dalam hal ini, muatan listrik tersebut merupakan ketidakseimbangan dalam atau di permukaan sebuah benda. Muatan tersebut akan tetap ada sampai nantinya hilang karena terlepas.

    Mengenal Listrik Statis

    Secara umum, listrik statis merupakan suatu kumpulan muatan listrik dalam satuan jumlah yang tetap. Kemudian, beberapa muatan tersebut saling melepaskan satu sama lain ketika benda bermuatan tersebut saling bertemu.

    Contohnya adalah ketika Anda menggosokan penggaris plastik ke rambut. Penggaris memiliki muatan negatif, sementara rambut bermuatan positif. Pada kasus tersebut, listrik akan muncul ketika dua benda dengan muatan listrik akan saling bertaut.

    Muatan listrik pada dua benda tersebut merupakan jenis muatan yang muncul tanpa keterlibatan sumber daya listrik ataupun pembangkit listrik.

    1. Konsep Listrik Statis

    Merujuk pada situs Britannica, listrik statis merupakan sebuah peristiwa  listrik yang muncul akibat partikel bermuatan di transfer dari satu benda ke benda lain. Perpindahan muatan ini terjadi ketika ada dua benda bermuatan saling bergesekan.

    Gesekan tersebut akan menciptakan terjadinya perpindahan elektron. Kedua benda tersebut bisa mengalami kelebihan elektron dan akan menyebabkan bermuatan negatif atau kekurangan elektron sehingga benda akan bermuatan positif. Perbedaan muatan tersebut mengakibatkan kedua benda akan saling tarik menarik.

    Perpindahan muatan hanya terjadi selama dua benda memiliki jumlah muatan yang berbeda. Ketika jumlah muatan dua benda tersebut sudah sama kembali, maka listrik akan berhenti.

    2. Apa Bedanya dengan Listrik Dinamis?

    Perbedaan paling mencolok antara listrik statis dan dinamis adalah pada aliran dari muatan listrik tersebut. Pada listrik statis, alirannya cenderung diam, sementara pada listrik dinamis alirannya bergerak atau mengalir. 

    3. Muatan dalam Listrik Statis

    Hal yang mungkin akan sering Anda dengar saat membahas listrik statis adalah aspek muatan listrik. Dalam hal ini, maka muatan listrik adalah atom yang terdiri dari dua bagian, yaitu inti atom dan kulit atom.

    Inti atom tersusun dari dua partikel, yaitu proton (inti yang bermuatan positif) dan neutron (inti netral atau yang tidak bermuatan). Sedangkan bagian kulit atom terdiri dari bagian bermuatan negatif.

    Fenomena listrik statis sendiri terjadi ketika ada salah satu benda yang kelebihan muatan, baik elektron atau proton. Umumnya, atom bersifat netral, tetapi akan berubah saat ada perpindahan elektron. Muatan atom tersebut akan mengacu pada hal-hal berikut:

    • Atom menjadi netral saat jumlah proton dan elektronnya sama.
    • Unsur atom akan memiliki muatan positif saat jumlah protonnya lebih banyak ketimbang dengan jumlah elektron.
    • Sementara atom akan memiliki muatan negatif saat jumlah protonnya lebih sedikit ketimbang dengan dengan jumlah elektron.

    Cara Kerja Listrik Statis

    Pada dasarnya, listrik statis muncul karena adanya dua benda non logam yang saling bergesekan. Gesekan itulah yang akan menciptakan perpindahan muatan. Berdasarkan cara kerjanya, maka setidaknya ada 3 cara yang bisa Anda lakukan untuk memberikan muatan energi pada listrik. Berikut penjelasannya:

    1. Gesekan

    Cara pertama adalah dengan menggunakan gesekan. Mungkin ini merupakan cara paling populer jika berbicara tentang listrik statis. Sebut saja ketika Anda menggosokkan sebuah penggaris plastik ke rambut bagian atas.

    Pada cara ini, kedua benda bermuatan akan saling bergesekan. Nantinya, gesekan akan menimbulkan pergerakan muatan sehingga membuat salah satu benda akan kekurangan atau kelebihan muatan.

    Perbedaan jumlah muatan inilah yang nantinya akan menghasilkan listrik statis yang mana akan berhenti ketika jumlah muatan antara kedua benda tersebut sudah kembali sama.

    2. Konduksi

    Cara lain untuk bisa menghasilkan listrik statis adalah melakukan konduksi. Singkatnya, konduksi merupakan proses transmisi dari benda bermuatan listrik ke benda yang tidak memiliki muatan melalui sebuah perantara.

    Perantara pada proses konduksi akan Anda kenal dengan nama konduktor. Pada konsep konduktor, benda yang tadinya tidak memiliki muatan listrik menjadi memiliki muatan listrik, di mana akan hilang ketika proses konduksi selesai.

    3. Induksi

    Listrik statis ini juga bisa muncul karena adanya proses induksi atau kondisi di mana munculnya arus listrik karena adanya perubahan medan elektromagnetik.

    Pada proses ini, Anda akan memisahkan muatan listrik pada suatu penghantar karena penghantar tersebut mengenai benda lain yang bermuatan listrik. Proses ini terjadi tanpa ada sentuhan antara kedua benda tersebut.

    Contoh Listrik Statis

    Dalam kehidupan sehari-hari, ada beberapa hal yang bisa Anda temukan dan merupakan salah satu contoh dari terjadinya listrik statis. Beberapa contoh tersebut antara lain:

    • Petir: Proses munculnya petir terjadi karena perpindahan elektron. Dalam hal ini, langit memiliki kelebihan elektron. Agar kelebihan elektron tersebut segera berpindah, maka petir akan mencari tempat yang paling dekat dengan awan. 
    • Menyisir Rambut: Gesekan antara rambut dan sisir akan mengganggu sejumlah muatan di kedua benda. Adanya perbedaan jumlah muatan ini akan menghasilkan listrik.
    • Kain sutra yang di gosokkan pada batang kaca: Prosesnya kurang lebih sama dengan saat Anda menyisir rambut. Gesekan pada keduanya akan membuat adanya lompatan elektron, hingga kedua benda saling tarik menarik.
    • Penggaris plastik di gosokkan pada kain wol: Prosesnya sama dengan kain sutra dan kaca. Dua benda yang bermuatan netral saling di gosokkan akan terganggu, sehingga akan ada lompatan elektron.

    Rumus yang Berkaitan dengan Listrik Statis

    Pemanfaatan lainnya dari listrik ini juga akan Anda temukan pada beberapa rumus berikut:

    1. Potensial Listrik

    Potensial listrik merupakan sebuah usaha dari tiap satuan muatan listrik yang berguna untuk memindahkan satu muatan dari satu titik ke titik lainnya. Besaran potensial listrik itu sendiri bisa Anda hitung dengan cara berikut:

    V = k.Q/R

    Pada rumus tersebut, V merupakan potensial listrik dalam satuan volt (V), Q merupakan muatan sumber dalam satuan coulomb (C), dan r adalah jarak terhadap sumber muatan dengan satuan meter. Sementara, k sendiri merupakan koefisien yang dinyatakan dengan nilai 9×109 Nm2/C2

    2. Energi Potensial Listrik

    Hal lainnya yang juga bisa Anda ukur dengan memanfaatkan listrik statis adalah energi potensial listrik yang bisa muncul. Energi potensial listrik sendiri merupakan energi yang akan Anda butuhkan untuk memindahkan muatan listrik dari satu titik ke titik lainnya. Rumus untuk menghitungnya adalah sebagai berikut:

    Ep = k. (q1.q2/r)

    Pada rumus tersebut, Ep merupakan energi potensial muatan yang diperlukan. Kemudian, q1 dan q2 adalah muatan partikel dengan satuan coulomb dan r adalah jarak sumber muatan dengan satuan meter. Sementara k adalah koefisien yang dinyatakan dengan nilai 9×109 Nm2/C2

    3. Medan Listrik

    Jika ada benda bermuatan listrik, maka daerah di sekitar benda tersebut juga bisa memiliki muatan listrik, itulah medan listrik. Untuk mengukur medan listrik ini sendiri Anda bisa menggunakan listrik statis.

    Apabila bermuatan positif, maka arah medan listrik bergerak keluar dari sumber muatan. Namun, apabila bermuatan negatif, maka arah medan listrik akan bergerak masuk ke arah sumber muatan.

    Nantinya, benda dengan muatan yang menghasilkan medan listrik bernama muatan sumber. Sementara muatan lain yang terletak atau terpengaruh medan listrik adalah muatan uji. Rumus hitung kuat medan listrik adalah:

    E = k. Q/r

    Pada rumus tersebut, E adalah kuat medan listrik, Q adalah besar muatan sumber dan r adalah jarak muatan uji terhadap muatan sumber. Sementara k adalah koefisien yang dinyatakan dengan nilai 9×109 Nm2/C2. Rumus lainnya adalah:

    E = F/q

    Pada rumus tersebut, F adalah gaya coulomb dan q adalah besar muatan uji.

    Adakah Bahaya pada Listrik Statis?

    Selain masalah pemanfaatan, maka hal lainnya yang juga perlu menjadi perhatian adalah masalah bahaya yang bisa muncul. Dalam hal ini, maka listrik statis memang bisa memunculkan bahaya. Sebab pada prosesnya, listrik tersebut bisa menimbulkan percikan api. 

    Contohnya saat mobil berjalan, gejala statis akan muncul saat ban bergesekan dengan jalan dan menimbulkan muatan negatif. Selain itu, logam yang saling berdekatan dengan ban akan memiliki muatan positif. Apabila terjadi induksi, maka api bisa terpercik ketika kedua muatan saling bertemu.

  • Mengenal Sifat Cahaya, Macam dan Penerapannya dalam Kehidupan!

    Mengenal Sifat Cahaya, Macam dan Penerapannya dalam Kehidupan!

    Banyak teknologi yang membantu mempermudah kehidupan manusia dengan memanfaatkan sifat cahaya. Bahkan beberapa teknologi terkini memanfaatkan berbagai macam dan sumber cahaya untuk membantu aktivitasnya. Namun, pernahkah Anda tahu bagaimana sifat, macam, dan penerapannya?

    Sekilas tentang Cahaya

    Secara teori, cahaya merupakan salah satu bentuk energi yang menurut para ahli dan percobaan memiliki gelombang elektromagnetik. Panjang gelombangnya bisa beragam tergantung jenis atau macam cahaya itu sendiri. Umumnya, berkisar antara 380 hinga 750 nm.

    Pada beberapa pembelajaran, mungkin Anda pernah memahami cahaya sebagai sebuah manifestasi energi dari sumber tertentu. Karena hal ini juga para ilmuwan mencoba memahami sifat cahaya yang kini bisa Anda temukan pada berbagai teknologi di sekitar Anda.

    Selain berperan dalam memberikan penerangan dalam kehidupan sehari-hari, cahaya juga bisa Anda manfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Bahkan, jika Anda perhatikan banyak sektor yang sudah memanfaatkannya. Mulai dari sumber energi, teknologi, komunikasi, bisnis, pendidikan, kesehatan, dan masih banyak lagi.

    Apa Saja Sifat Cahaya?

    Sebenarnya ada beberapa sifat cahaya yang bisa Anda amati, seperti halnya:

    1. Memiliki Energi Gelombang Elektromagnetik

    Seperti yang telah Anda pelajari sebelumnya, cahaya ini merupakan bentuk energi yang termanifestasi dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Gelombang ini terdiri dari medan listrik dan medan magnet yang saling berinteraksi dan terus bergerak dengan kecepatan sekitar 299.792 kilometer per detik.

    Menurut beberapa ahli, cahaya memiliki wujud massa, meskipun secara kasat mata tak dapat Anda sentuh. Tak hanya itu, cahaya juga menyimpan energi panas yang membuatnya bermanfaat dalam pembuatan berbagai elektronik bertenaga cahaya (kebanyakan cahaya matahari).

    2. Bergerak Lurus

    Dari sifat cahaya yang Anda pelajari sebelumnya juga terdapat berbagai percobaan, bahwa pergerakan cahaya merambat dalam garis lurus. Perambatan ini berada dalam medium homogen yang artinya berada pada sepanjang lintasan lurus. Kecuali jika terkena penghalang yang bisa menimbulkan reaksi lain.

    Dari reaksi tersebut baik menembus atau terpantulkan, perambatan cahaya akan tetap bergerak lurus. Bedanya pada pembiasan akan ada penyebaran dari satu titik ke banyak titik sekaligus. Contohnya bisa Anda lihat pada lampu senter.

    3. Dapat Terpantulkan

    Pada penjelasan sebelumnya Anda juga menemukan bahwa cahaya dapat menimbulkan reaksi lain, terutama jika terdapat halangan tertentu. Contohnya seperti cahaya dapat dipantulkan ketika mengenai permukaan halus atau reflektif, seperti cermin atau air. 

    Beberapa sumber hukum pemantulan mengatakan bahwa, sudut datang cahaya sama dengan sudut pantulannya terhadap permukaan yang dikenai. Contohnya saat Anda mengarahkan barang reflektif seperti layar ponsel atau cermin ke cahaya matahari, maka akan terpantul ke arah tertentu.

    4. Dapat Terbiaskan

    Tak hanya dipantulkan oleh benda reflektif, sifat cahaya juga dapat terbiaskan karena adanya pembatas yang menghalangi lintasan. Biasanya, pembatas tersebut bersifat sedikit transparan buram yang membuat kecepatan rambat cahaya berubah.

    Hal tersebut akan menimbulkan reaksi penyebaran cahaya atau hanya mengubah jalur lintasnya saja. Dalam beberapa fenomena, pembiasan cahaya dapat memecah warna cahaya seperti yang terjadi pada fenomena pelangi. Kolam yang terlihat dangkal karena airnya jernih juga bisa menjadi contoh.

    5. Mengalami Interferensi 

    Cahaya juga akan mengalami interferensi, di mana dua atau lebih gelombang cahaya bertemu dan saling mempengaruhi. Interaksi tersebut akan menghasilkan pola cahaya yang benar-benar beda, bahkan dapat menghasilkan energi yang lebih kuat. Seperti pada fenomena cakram Newton atau pola cincin pada interferometer.

    6. Dispersi (Dapat Terurai) 

    Ada juga sifat cahaya yang membuatnya mampu terurai secara alami atau buatan, hal ini merujuk pada fenomena pelangi pada pembiasan cahaya sebelumnya. Lebih mudahnya, dari warna putih terang, cahaya bisa terurai menjadi warna pelangi karena air hujan maupun percobaan kaca prisma.

    Jika tak berada pada daerah yang sering muncul pelangi maupun memiliki kaca prisma, lensa kamera ponsel Anda bisa menunjukkan fenomena tersebut. Coba arahkan lensa kamera ke sumber cahaya matahari, lalu akan muncul pelangi pada pantulannya.

    7. Memiliki Polaritas

    Teriknya cahaya juga dapat mengalami polarisasi yang merujuk pada kehilangan arah getar karena adanya pembatasan dalam satu bidang tertentu. Hal tersebut akan membuat cahaya yang memiliki medan listrik bergerak secara konsisten. Sedangkan medan magnet bergetar tegak lurus terhadap propagasi gelombang.

    Banyak fenomena alami maupun buatan yang menjelaskan polarisasi cahaya. Hal tersebut juga yang akhirnya muncul pada penerapan polarisasi cahaya pada bidang fotografi dan menimbulkan efek tertentu pada hasil foto.

    8. Dapat Diabsorpsi

    Sifat cahaya lainnya adalah dapat mengalami absorpsi atau terserap ketika bertemu pada material tertentu. Absorpsi ini akan menimbulkan reaksi energi panas maupun kimia pada materi penyerapnya. Walaupun hanya film, namun pada Iron Man 2 terdapat pemanfaatan absorpsi cahaya untuk membuat arc reactor vibranium.

    Apa Saja Macam-Macam Cahaya dan Contohnya?

    Dari penjelasan sifat cahaya, sebenarnya Anda bisa memahami terdapat berbagai macam cahaya yang dapat saling bereaksi satu sama lain. Beberapa macam di antaranya seperti:

    1. Cahaya dari Sumbernya

    Secara sumber pemancarnya, berikut beberapa macamnya:

    • Natural Light atau Cahaya Alami: Berasal dari sumber alam, yang mengeluarkan cahayanya sendiri. Seperti matahari, bintang, dan juga api.
    • Artificial Light atau Cahaya Buatan: Jenis kedua ini ada bantuan tangan manusia dengan sumber pijar seperti pada senter atau lampu. 
    • Cahaya fluoresensi: Dihasilkan melalui proses fluoresensi (proses penyerapan cahaya pada bahan tertentu). Contoh umum seperti pada lampu hemat energi atau layar fluorescent.
    • Cahaya luminesensi: Fenomena luminesensi sama seperti fluoresensi, namun lebih kuat dan tahan lebih lama. Cahaya yang dihasilkan oleh materi yang mengalami luminesensi seperti pada cahaya fosfor yang bersinar dalam kegelapan atau cahaya bioluminesensi pada organisme seperti alga laut.

    2. Cahaya Dari Gelombang Elektromagnetik

    Seperti penjelasan sifat cahaya yang memiliki gelombang elektromagnetik, membuatnya memiliki berbagai macam bentuk, seperti:

    • Cahaya tampak: Merupakan cahaya yang dapat Anda lihat secara kasat mata. Umumnya terdiri dari berbagai warna, mulai dari merah, jingga, kuning, hijau, biru, hingga ungu. Warna-warna ini terkait dengan berbagai panjang gelombang dalam rentang sekitar 400-700 nm, seperti sinar matahari.
    • Sinar Ultraviolet (UV): Cahaya ini memiliki panjang gelombang yang lebih pendek dari sinar tampak, yaitu di bawah 400 nm. Sifatnya tidak dapat terlihat secara kasat mata. Namun memiliki berbagai efek pada benda dan organisme hidup seperti paparan UVA dan UVB dari matahari. 
    • Sinar Inframerah (IR): Berikutnya ada sinar inframerah yang memiliki panjang gelombang lebih panjang dari sinar tampak, yakni di atas 700 nm. Macam Sinar IR tidak terlihat oleh mata manusia, tetapi terasa panas jika terkena kulit. Seperti pada sensor suhu, kamera thermal, dan remote control.
    • Sinar laser: Macam cahaya berikutnya ada laser yang dihasilkan melalui proses stimulasi emisi radiasi terkonsentrasi. Sifatnya memiliki koherensi (gelombang yang sefase), kecerahan tinggi, dan konsentrasi energi. Seperti pengukuran presisi, pemrosesan material, dan komunikasi optik.
    • X-ray atau Sinar-X: Bentuk radiasi elektromagnetik dengan panjang gelombang yang lebih pendek dari sinar UV. Serta memiliki energi tinggi dan mampu menembus materi. Ini digunakan dalam berbagai bidang, termasuk diagnostik medis pada rontgen dan pemeriksaan non-destruktif pada industri.
    • Sinar gamma: Macam terakhir adalah bentuk radiasi elektromagnetik dengan panjang gelombang yang sangat pendek dan energi yang jauh lebih tinggi. Bisa berasal dari aktivitas atau reaksi nuklir, beberapa teknologi dalam bidang kedokteran, industri, dan penelitian.

    Sudah Lebih Mengenal Bagaimana Sifat Cahaya?

    Setelah mempelajari artikel tentang sifat cahaya, kini Anda tahu bahwa peranan cahaya dalam kehidupan cukup besar. Tanpa adanya cahaya, pastinya cukup sulit untuk makhluk hidup, termasuk manusia menjalankan aktivitas dengan normal. 

    Pemanfaatannya bisa Anda lihat mulai dari fotosintesis, pembangkit listrik, foto rontgen, lampu kendaraan, pemanasan ruangan, dan masih banyak lagi. Jadi, penerapan apa yang paling sering Anda gunakan?

  • Catat! Cara Perpindahan Panas secara Radiasi & Penjelasannya

    Catat! Cara Perpindahan Panas secara Radiasi & Penjelasannya

    Pastinya saat duduk di bangku sekolah, kamu sudah tahu bahwa terdapat materi mengenai perpindahan panas. Perpindahan panas ini umumnya terbagi ke dalam tiga jenis yaitu konveksi, konduksi, dan radiasi. Nah, yang akan dibahas berikut ini yaitu mengenai perpindahan panas secara radiasi. 

    Ternyata, jika dicari tahu lebih dalam tentang perpindahan panas secara radiasi, terdapat beberapa informasi yang bermanfaat. Kemudian tanpa disadari perpindahan panas seperti ini saling berkaitan dengan kehidupan sehari-hari seseorang. Maka dari itu, langsung saja ke penjelasannya. 

    Cara Perpindahan Panas Radiasi

    Sebelumnya, kamu perlu tahu dulu cara perpindahan panas secara radiasi sebagai gambaran. Radiasi adalah perpindahan panas atau kalor yang terjadi tanpa adanya perantara dan berbentuk gelombang energi, sehingga bisa dibilang berasal langsung dari sumber panasnya. 

    Faktor-Faktor Perpindahan Panas secara Radiasi 

    Adapun beberapa faktor yang membuat perpindahan panas dengan radiasi ini bisa terjadi, yaitu:

    1. Suhu Benda yang Rendah

    Faktor yang pertama adalah adanya suhu benda yang rendah sehingga dapat dengan mudah menyerap radiasi panas di sekitarnya.

    Ketika suhu suatu benda semakin rendah maka lebih besar dalam menyerap kalor atau panas di sekitarnya. Lalu semakin luas juga benda bersuhu rendah maka semakin besar menyerap panasnya. 

    2. Benda yang Menyerap dan Memancarkan Kalor

    Faktor selanjutnya adalah terdapat benda yang bisa menyerap dan memancarkan kalor atau panas. Biasanya benda-benda dapat menyerap dan memancarkan kalor ke lingkungan di sekitarnya sehingga jika benda tersebut lebih panas dari sekitarnya maka semakin besar energi panas yang akan benda tersebut pancarkan.

    Tidak hanya itu, ketika luas permukaan benda yang bisa menyerap panas lebih luas maka semakin besar energi panas yang dipancarkan.

    3. Warna Benda

    Adapun faktor terakhir terjadinya perpindahan panas secara radiasi bisa karena warna benda. Jadi setiap warna juga menentukan. 

    Misalnya ketika benda yang berwarna gelap semakin panas maka semakin besar pancaran radiasi ke sekitarnya. Sementara itu, jika benda gelap semakin suhunya dingin, maka akan semakin besar panas yang diterima. 

    Contoh Perpindahan Panas secara Radiasi

    Terdapat beberapa perpindahan panas radiasi yang sering terjadi sekitar atau kehidupan sehari-hari, antara lain:

    1. Lampu Inkubator

    Contoh yang pertama adalah pada lampu inkubator. Penggunaan lampu inkubator ini biasanya terdapat di peternakan ayam sebagai penghangat anak ayam dan telur. 

    Bisa dibilang, peran lampu tersebut adalah sebagai menstabilkan suhu ruangan agar hewan ternak di dalamnya tidak stres atau kedinginan. Nantinya cahaya lampu inkubasi yang dinyalakan akan mengeluarkan energi panas dan menyebar ke ruangan sehingga suhunya akan terasa hangat. 

    2. Api Unggun

    Perpindahan panas secara radiasi berikutnya terjadi pada api unggun. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa radiasi panas ini akan terjadi ketika sumber yang memiliki suhu yang tinggi akan menyebarkan ke lingkungannya dalam bentuk gelombang energi panas. 

    Maka dari itu, bisa disimpulkan bahwa api unggun merupakan sumber dengan suhu yang tinggi dan ketika terdapat orang atau benda yang bersuhu rendah, maka akan ikut merasakan panasnya. Kemudian sama dengan lilin, ketika tangan berada di sekitar apinya, maka juga akan merasakan hangat. 

    3. Oven

    Sebagian orang pasti sering menggunakan oven untuk membuat makanan atau menghangatkannya. Perlu diketahui bahwa cara yang digunakan alat tersebut juga dengan memanfaatkan radiasi panas untuk menghangatkan atau memanaskan makanan. 

    Nantinya terdapat komponen oven yang bisa mengubah tenaga listrik menjadi panas. Kemudian komponen yang sudah panas tersebut akan memancarkan energi panas bersama gelombang mikro, sehingga makanan di dalam oven akan naik suhunya.

    4. Dinding Perak pada Termos

    Termos merupakan tempat untuk mempertahankan suhu panas pada air dalam waktu cukup lama. Jadi, air tersebut bisa digunakan sewaktu-waktu tanpa perlu memanaskannya lagi. 

    Dalam hal ini termos lebih ke mencegah perpindahan panas secara radiasi. Pencegahan tersebut bisa terjadi karena terdapat lapisan perak di dalam termos. 

    5. Ruang Sauna

    Ruang sauna juga menerapkan konsep perpindahan panas secara radiasi. Nantinya alat pemanas yang ada di dalam ruangan sauna akan mengumpulkan energi panas dan memancarkannya ke seluruh ruangan dan membuat seseorang bisa merasakan peningkatan suhu di kulitnya. 

    6. Matahari

    Contoh perpindahan panas secara radiasi yang terakhir dan terjadi secara alami adalah pada matahari. Seperti yang diketahui bahwa matahari merupakan sumber panas alami terbesar di bumi. Biasanya, radiasi panas matahari digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dan melakukan aktivitas sehari-hari.

    Contoh kasus pemanfaatan radiasi panas matahari, yaitu menjemur baju saat siang hari. Gelombang panas yang dipancarkan matahari nantinya akan mengenai baju yang basah dan menyebarkan panas keseluruh baju sehingga membuat kandungan airnya hilang (menguap).

    Selain itu terdapat contoh kasus lain yaitu pada panel surya. Nantinya lempengan yang berwarna hitam dan lebar pada permukaan panel surya akan menyerap radiasi panas matahari. Kemudian panas yang diserap tersebut akan diproses dan kemudian diubah menjadi energi listrik.

    Rumus Radiasi Panas

    Jika dipahami lebih lanjut, terdapat rumus perhitungan perpindahan panas secara radiasi, yaitu sebagai berikut.

    W = e.σ.A.T⁴

    Keterangan :

    W = Kalor yang dipancarkan setiap detiknya (J/s)

    e = Emisivitas benda

    σ = Konstanta Stefan Boltzmann (5,67×10(-8 watt) / m²k⁴)

    A = Luas permukaan (m²)

    T⁴ = Suhu permukaan pada benda (K)

    Sebelum itu harus dipahami bahwa nilai Emisivitas (e) pada suatu benda tergantung warna permukaannya. Nantinya jika warna permukaan suatu benda adalah hitam pekat, maka nilai e = 1. Sedangkan permukaan benda berwarna putih akan memiliki nilai e = 0. Sehingga secara umum nilai Emisivitas yaitu 0 < e < 1.

    Agar lebih paham dengan gambaran dari rumus radiasi kalor/panas di atas, berikut adalah contoh soal perpindahan panas secara radiasi:

    Diketahui jari-jari bumi berukuran 149,6 x 10⁶ km dan memiliki emisivitas 0,95. Lalu berapa laju perpindahan panas secara radiasi dari matahari ke bumi saat siang hari?

    Diketahui:

    Jari-jari bumi (r) = 149,6 x 10⁶ km = 149,6 x 10⁹ m.

    Emisivitas bumi = 0,95.

    Luas permukaan bumi (A) = π r ² = (3,14)(149,6 x 10⁹ m)² = 3,14 (2460,16 x 10¹⁸m²) = 7725 x 10¹⁸ m².

    Ditanyakan:

    Laju radiasi panas matahari? (🇶/ t)

    Rumus dari laju panas matahari :

    🇶/ t = (100 Watt/m²) e A Cos ፀ

    Keterangan :

    🇶/ t = laju radiasi panas matahari

    1000 Watt / m² = konstanta matahari 

    e = emisivitas

    A = Luas permukaan pada benda

    θ = sudut yang terbentuk dari permukaan normal bumi dengan sinar matahari

    Untuk matahari yang tepat berada di atas kepala adalah cahaya yang tegak lurus dengan permukaan bumi. Lalu ketika cahaya matahari yang tegak lurus dengan permukaan bumi maka akan membentuk sudut 0° dengan garis tegak lurus permukaan bumi.

    Jawab:

    🇶/t = (1000 Watt/m²) e A cos ፀ

    = (1000 Watt/m²) (0,95) (7725 x 10¹⁸ m² (cos 0°)

    = (1000 Watt/m²) (0,95) (7725 x 10¹⁸ m²(1)

    = 7.338.750 x 10¹⁸

    = 7,34 x 10²⁴ J/s

    Dengan begitu dapat diketahui bahwa perpindahan panas radiasi matahari adalah 7,34 x 10²⁴ J/s.

    Dampak Negatif Perpindahan Panas secara Radiasi

    Perlu dipahami juga, meskipun radiasi panas banyak memberikan manfaat bagi kehidupan manusia, namun ternyata tetap memiliki sisi negatifnya, seperti:

    1. Radiasi Panas Matahari

    Untuk yang pertama adalah dampak negatif dari radiasi panas matahari. Perlu diketahui bahwa radiasi panas matahari yang berguna bagi kehidupan masyarakat ini akan kurang baik jika terkena kulit secara terus menerus. Ada dampak buruk bagi kesehatan tubuh yang ditimbulkan dari paparan radiasi panas matahari.

    Matahari merupakan sumber cahaya dan panas terbesar, meskipun jaraknya jauh dari bumi, panas yang dirasakan sangatlah menyengat. Sehingga tidak jarang muncul masalah kulit karena sering terkena panas matahari. 

    Efek negatif inipun biasanya seperti memicu munculnya kanker kulit, sunburn atau kulit terbakar, penuaan dini pada kulit, dan lainnya. Dengan begitu ketika bepergian keluar rumah harus menggunakan pakaian yang menutupi area kulit agar tidak terkena panas matahari langsung.

    Terkait radiasi matahari, beberapa orang mungkin juga bertanya-tanya kenapa ketika seseorang yang mengenakan pakaian berwarna hitam pada siang hari akan lebih merasakan gerah daripada yang berpakaian warna cerah atau putih.

    Hal ini karena setiap warna memiliki kemampuan yang berbeda untuk menyerap panas. Warna hitam akan menyerap hampir semua energi yang dipancarkan oleh matahari. Sementara itu, warna putih cenderung memantulkan energi panas dari sinar matahari.

    Maka dari itu, pakaian yang berwarna hitam akan mudah menyerap panas dan tentunya memiliki emisivitas hampir 1, sedangkan pakaian berwarna putih memiliki emisivitas hampir 0. Jadi, ketika siang hari sebaiknya memakai pakaian berwarna putih dan saat malam hari bisa mengenakan pakaian berwarna hitam. 

    2. Suhu Panas di Sauna

    Berikutnya adalah dampak negatif radiasi panas pada alat yang mengeluarkan suhu panas yang sering digunakan di tempat sauna. Meskipun memiliki efek yang baik bagi tubuh, namun ternyata tetap memiliki sisi negatifnya.

    Seperti yang diketahui bahwa berada di tempat sauna bisa memberikan kenyamanan karena suhu ruangan yang hangat. Namun jika terpapar suhu udara panas di dalam ruangan tersebut dalam waktu yang melebihi normal, maka bisa menimbulkan dampak negatif. Untuk dampaknya seperti dehidrasi, suhu tubuh meningkat, dan lainnya. 

    Sudah Tahu Mengenai Perpindahan Panas secara Radiasi?

    Itulah beberapa informasi mengenai perpindahan panas secara radiasi yang bisa menambah wawasan. Selain itu, ada dampak negatif dari beberapa kasus perpindahan panas dengan radiasi yang harus dipahami dan dihindari.

  • Rumus Sifat Koligatif Larutan: 4 Jenisnya Beserta Contoh Soal

    Rumus Sifat Koligatif Larutan: 4 Jenisnya Beserta Contoh Soal

    Kita sering mendengar istilah sifat koligatif larutan ketika ada di dalam kelas kimia. Sifat koligatif larutan berkaitan dengan perubahan fisik pada larutan. Namun, apa sih pengertian lengkap dan bagaimana rumus-rumus sifat koligatif larutan? Selain itu, apa saja jenisnya?

    Maka dari itu, yuk, simak artikel ini supaya paham konsep ini dengan lebih baik! Ada contoh soalnya juga!

    Definisi dan Konsep Sifat koligatif Larutan

    Supaya nanti lebih mudah mempelajari rumus sifat koligatif larutan, mari kita pahami teori dasarnya terlebih dahulu.

    Sifat koligatif larutan adalah sifat-sifat yang terkait dengan perubahan fisik larutan, yang tidak tergantung pada jenis partikel terlarut dalam larutan, tetapi hanya pada jumlahnya. Contohnya, seperti penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku, dan tekanan osmotik.

    Konsep dasar sifat koligatif mengacu pada hukum Raoult. Raoult menyatakan bahwa tekanan uap komponen dalam larutan adalah fungsi dari fraksi mol komponen tersebut dalam larutan. Dengan kata lain, makin banyak partikel terlarut dalam larutan, makin besar efek sifat koligatifnya. 

    Penjelasan di atas turut menerangkan alasan mengapa jenis partikel tidak ada hubungannya dengan sifat koligatif larutan. 

    Sifat koligatif pada Larutan Elektrolit dan Non-Elektrolit

    Tahukah kamu bahwa sifat-sifat koligatif larutan dapat berbeda antara larutan elektrolit dan non-elektrolit? Mengapa demikian? Pasalnya, larutan elektrolit mengandung partikel yang dapat menghasilkan ion, misalnya, ion-ion dalam larutan garam). 

    Sedangkan larutan non-elektrolit tidak mengandung partikel yang menghasilkan ion (misalnya, gula).

    Lantaran jumlah partikel yang mengion pada larutan elektrolit lebih banyak daripada non-elektrolit, maka efek sifat koligatifnya lebih kuat pada larutan elektrolit. Oleh karena itu, perubahan tekanan uap, titik didih, titik beku, dan tekanan osmotik lebih signifikan dalam larutan elektrolit.

    Rumus Konsentrasi Larutan dalam Kaitannya dengan Sifat Koligatif Larutan

    Sebelum kita membahas berbagai rumus berbagai jenis sifat koligatif larutan, perlu kamu ingat dan pahami kembali beberapa jenis konsentrasi larutan yang berperan dalam konsep ini. Ada tiga (3) jenis konsentrasi larutan yang penting yang dibahas dalam penjelasan di bawah ini. 

    1. Molaritas (M)

    Pertama, terdapat Molaritas (M), yaitu jumlah mol zat terlarut dalam satu liter larutan. Rumusnya adalah:

    M = n (mol) /V (L) ​

    Selain rumus dasarnya, terdapat rumus pengganti, yaitu;

    M = (m zat terlarut (g)/ Mr zat terlarut (g/mol)) x (1/ V (L))​

    Namun, jika yang kamu ketahui adalah massa jenis dan molalitas pelarutnya, maka rumus yang dapat kamu gunakan adalah:

    M = (m (mol/g) x ρ (g/mL))/massa molar zat terlarut (g/mol)

    Di mana (n) adalah jumlah mol zat terlarut, (V) adalah volume larutan, dan (m) adalah molalitas, sedangkan (ρ) adalah massa jenis. 

    2. Molalitas (m)

    Sedangkan molalitas (m) adalah jumlah mol zat terlarut dalam satu kilogram pelarut. Begini rumus dasarnya:

    m = n (mol)/ massa pelarut (kg) ​

    Namun, selain rumus dasar tersebut, ada rumus lain yang harus kamu pahami jika kita mengetahui nilai molaritasnya, maka rumusnya yaitu:

    m = (M x  ρ (g/mL))/Mr zat terlarut (g/mol)

    3. Fraksi Mol

    Jenis konsentrasi berikutnya yaitu fraksi mol. Fraksi mol adalah perbandingan jumlah mol zat terlarut dengan jumlah total mol dalam larutan. Bagaimana rumus dasarnya?

     Fraksi Mol Zat Terlarut = n Zat Terlarut (mol)/ n Total dalam Larutan (mol)

    Selain rumus dasar di atas, kamu juga bisa menyatakan fraksi mol dengan rumus di bawah ini jika yang kamu ketahui adalah nilai molaritas dan molalitasnya.

    Fraksi Mol= M / (1000 x m)

    Pada rumus di atas, (M) adalah molaritas dan (m) adalah molalitas.

    Jika yang kamu ketahui adalah persen massa atau persen volume, maka kamu bisa menggunakan dua rumus di bawah ini:

    Fraksi Mol = %m/m / 100

    atau

    Fraksi Mol = %V/V / 100

    Lalu, Apa saja Rumus Sifat Koligatif Larutan?

    Sifat-sifat koligatif larutan dapat dikelompokkan menjadi empat klasifikasi utama. Apa saja dan bagaimana rumus untuk masing-masing klasifikasi tersebut? Yuk, simak penjelasannya.

    1. Penurunan Tekanan Uap (∆P)

    QS Study

    Penurunan tekanan uap adalah fenomena di mana tekanan uap suatu larutan lebih rendah daripada tekanan uap pelarut murni pada suhu yang sama. Rumus sederhananya adalah:

    ΔP = P pelarut murni – P larutan

    Akan tetapi, jika kamu belum mengetahui nilai tekanan pelarut murni dan larutan, maka kamu harus memakai rumus lainnya. Caranya adalah dengan menghubungkan penurunan tekanan uap larutan (∆P) dengan molalitas, melalui rumus berikut:

    ΔP =m x Kv

    Dalam rumus ini, (Kv​) adalah tetapan volume molekuler.

    2. Kenaikan Titik Didih (∆Tb)

    Selanjutnya, terdapat rumus sifat koligatif larutan kenaikan titik didih (∆Tb), yaitu peningkatan suhu titik didih larutan dibandingkan dengan titik didih pelarut murni pada tekanan yang sama. Jika kamu sudah mengetahui titik didih (Tb) pelarut murni dan titik didih (Tb) larutan, maka kamu bisa memakai rumus sederhana berikut:

    ΔTb = Tb larutan – Tb pelarut murni

    Sedangkan rumus di bawah ini bisa kamu pakai jika nilai Tb pelarut murni dan larutan belum diketahui:

    ΔTb = i x Kb​ x Fraksi Mol

    atau 

    ΔTb = (1000​/ρ) x Kb

    Dalam rumus ini, (i) merupakan faktor van’t Hoff yang menyatakan jumlah partikel setelah ionisasi (untuk larutan elektrolit), (Kb) adalah tetapan ebullioskopik, dan (ρ) adalah persen massa zat terlarut dalam 1000 mL larutan.

    3. Penurunan Titik Beku (∆Tf)

    Ada pula rumus penurunan titik beku (ΔTf). Sesuai namanya, penurunan titik beku adalah penurunan suhu titik beku larutan dibandingkan dengan titik beku pelarut murni pada tekanan yang sama. Rumusnya adalah:

    ΔTf = Tf pelarut murni ​– Tf larutan​.

    dengan (Tf) yang mewakili titik beku.

    Jika belum mengetahui nilai titik beku dari pelarut murni atau titik beku larutannya, maka kamu juga bisa menggunakan rumus di bawah ini:

    ΔTf = Kf ​x m

    Dalam rumus ini, (Kf) adalah tetapan kriometrik dan (m) adalah molalitas larutan.

    4. Tekanan Osmotik (π)

    LibreText Chemistry

    Kemudian, rumus sifat koligatif larutan yang terakhir yaitu tekanan osmotik. Tekanan osmotik (π) adalah tekanan yang diperlukan untuk mencegah aliran pelarut murni ke dalam larutan melalui membran semipermeabel. Rumusnya adalah:

    π = i x M x R x T

    Dalam rumus ini, (i) adalah faktor van’t Hoff, (M) adalah molaritas larutan, ® adalah konstanta gas, sedangkan (T) adalah suhu dalam satuan kelvin.

    Namun, jika dari soal yang diketahui adalah (%m/m) atau persen massa zat terlarutnya, maka gunakanlah rumus berikut:

    π = (ρ/100)​ x R x T

    Berdasarkan rumus di atas, (ρ) merupakan persen massa zat terlarut dalam 100 gram larutan. Sementara, (R) adalah konstanta gas, dan (T) mewakili suhu dalam satuan Kelvin.

    Contoh Soal Rumus Sifat koligatif Larutan dan Pembahasannya

    Mari simak contoh soal yang tersedia di bawah ini untuk dapat memahami aplikasi rumus-rumus yang telah diberikan di atas. 

    Contoh Soal 1: Penurunan Tekanan Uap (∆P)

    Sebuah larutan mengandung 0,2 mol gula (C12H22O11) dalam 500 mL air pada suhu 25°C. Hitung penurunan tekanan uap larutan dibandingkan dengan tekanan uap air murni pada suhu yang sama.

    Pembahasan

    a. Langkah 1: Hitung molalitas larutan gula.

    m = n zat terlarut (mol)/massa pelarut (kg)

    m = 0,2 mol/0,5 kg =0,4 mol/kg

    b. Langkah 2: Hitung penurunan tekanan uap.

    ΔP=mK

    K = 0,512 K kg/mol K=0,512K kg/mol (konstanta kenaikan titik didih air pada 25°C)

    ΔP = 0,4 mol/kg x 0,512 K kg/mol = 0,205 K Pa

    Jadi, penurunan tekanan uap larutan adalah 0,205 K Pa.

    Contoh Soal 2: Penurunan Titik Beku (∆Tf)

    Sebuah larutan etilen glikol (C2H6O2) mengandung 0,3 mol etilen glikol dalam 100 g air pada suhu 0°C. Hitung penurunan titik beku larutan dibandingkan dengan titik beku air murni pada tekanan yang sama.

    Pembahasan:

    a. Langkah 1: Hitung molalitas larutan etilen glikol.

    m = n zat terlarut/massa pelarut (kg) ​

    m = 0,3 mol/0,1 kg =3 mol/kg

    b. Langkah 2: Hitung penurunan titik beku.

    ΔTf=Kf x m

    Kf = 1,86 K kg/mol (konstanta penurunan titik beku air)

    ΔTf= 3 mol/kg x 1,86 K kg/mol = 5,58 K

    Jadi, penurunan titik beku larutan adalah 5,58 K.

    Ingat Terus Rumus Keempat Jenis Sifat koligatif Larutan, Ya!

    Kesimpulannya, sifat-sifat koligatif larutan membuat kita memahami bagaimana larutan dapat memengaruhi perubahan fisik suatu zat. Nah, setelah membaca artikel ini, kita telah mengetahui rumus untuk 4 jenis sifat koligatif larutan. 

    Melalui contoh soal dan pembahasan di atas, tentunya kamu akan lebih memahami rumus sifat koligatif larutan. Kamu dapat menghubungkan berbagai rumus sifat koligatif larutan dengan rumus konsentrasi larutan sesuai dengan kebutuhan perhitungan.

  • Mikrometer Sekrup: Bagian, Jenis, Prinsip Kerja & Cara Menggunakan

    Mikrometer Sekrup: Bagian, Jenis, Prinsip Kerja & Cara Menggunakan

    Dalam dunia pengukuran presisi, mikrometer sekrup adalah alat yang sangat penting. Alat ini digunakan untuk mengukur benda-benda dengan akurasi tinggi, terutama dalam bidang teknik, manufaktur, dan metrologi. 

    Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi secara mendalam, mulai dari pengertiannya, bagian-bagiannya, jenis-jenis, prinsip kerjanya, dan cara penggunaannya yang tepat.

    Apa Itu Mikrometer Sekrup?

    Mikrometer ini adalah alat pengukur yang digunakan untuk mengukur ketebalan, diameter, atau panjang suatu objek dengan tingkat presisi yang tinggi. 

    Ketepatan alat ini bahkan mencapai 0,01 mm atau 0,1 cm. Jika kamu bandingkan dengan alat ukur lain, seperti penggaris dan jangka sorong, alat ini memiliki tingkat ketelitian yang lebih tinggi. Presisi tersebut dikarenakan mikrometer sekrup memiliki dua skala.

    Oleh karena itu, alat ini umumnya digunakan untuk mengukur suatu benda yang biasanya berbentuk piring dan memiliki panjang serta ketebalan yang sangat tipis.

    Dengan menggunakan prinsip dasar mekanika, alat ukur jenis ini mampu memberikan hasil pengukuran yang sangat akurat dalam satuan ukuran yang sangat kecil, biasanya dalam ukuran sub-milimeter.

    Sejarah Penemuan

    Mikrometer merupakan gabungan dari dua kata dalam bahasa Yunani. Kata-kata ini adalah micros yang berarti “kecil” dan metron yang berarti “ukuran”. Mikrometer dalam bahasa Inggris diadopsi dari bahasa Perancis, dimulai dari tahun 1670 berdasarkan The Merriam Webster Collegiate Dictionary.

    Pada abad ke-17, seorang astronom bernama William Gascoigne menemukan mikrometer jenis mikrometer sekrup pertama kalinya sebagai peningkatan dari alat ukur sebelumnya, yaitu jangka sorong atau dikenal juga dengan caliper vernier. Saat itu, mereka memerlukan alat yang lebih baik dan lebih presisi daripadaa jangka sorong.

    Penemuan baru oleh Gascoigne digunakan untuk mengukur jarak sudut antara bintang-bintang dan ukuran benda-benda di langit dalam teleskop.

    Prinsip Kerja

    Prinsip kerja mikrometer sekrup didasarkan pada konsep dasar mekanika ulir. Saat pemutar (thimble) kamu putar, gerakan rotasinya dikonversi menjadi gerakan linier yang lebih kecil, sehingga memungkinkan pengukuran dalam ukuran yang sangat kecil. 

    Ketika pemutar mencapai permukaan objek yang akan kamu ukur, skala pada laras mikrometer memberikan pembacaan yang akurat dari jarak yang ditempuh oleh pemutar, sehingga memberikan hasil pengukuran yang presisi.

    Bagian-Bagian dari Mikrometer Sekrup.

    omesin

    Mikrometer ini terdiri dari beberapa bagian penting yang bekerja bersama-sama untuk menghasilkan pengukuran yang akurat. Bagian-bagian utama tersebut meliputi:

    1. Poros Tetap (Anvil)

    Bagian poros ini tidak bergerak. Poros tetap menjadi tempat objek yang akan kamu ukur dan kamu tempatkan dengan bagian poros geser, kemudian poros geser akan kamu dekatkan untuk menjepit objek tersebut.

    2. Poros Geser (Spindle)

    Poros bergerak dapat bergerak dan berbentuk komponen silindris yang bisa kamu gerakkan menggunakan pemutar (thimble) untuk menahan objek yang akan kamu ukur.

    3. Pengunci (Lock Nut)

    Bagian ini berguna untuk mengunci pergerakan poros geser pada posisi yang kamu inginkan. Sehingga, memastikan bahwa hasil pengukuran tetap stabil dan tidak berubah.

    4. Skala (Sleeve)

    Bagian ini bersifat statis serta terdapat tulisan skala dan bentuknya berupa lingkaran. Bagian ini berperan sebagai tempat pembacaan hasil pengukuran. 

    Skala terbagi menjadi dua, yaitu skala utama dan skala nonius. Skala ini seringkali memiliki pembagian dalam satuan milimeter dan fraksi milimeter yang memungkinkan pengukuran yang sangat detail dan akurat.

    5. Pemutar (Thimble)

    Bagian yang dapat kamu bisa gerakkan saat proses pengukuran.

    6. Rachet

    Dalam menggerakkan poros geser dengan pergerakan yang lebih pelan daripada pergerakan thimble, maka bagian rachet inilah yang tepat untuk kamu gunakan. Ketika benda hampir terjepit oleh poros geser dan poros tetap, rachet akan memerankan fungsinya.

    7. Rangka (Frame)

    Bagian ini berbentuk C, dimana menyatukan poros tetap, poros geser, dan bagian-bagian lain pada mikrometer sekrup. Rangka mikrometer bentuknya tebal, supaya kuat dan bisa menjaga objek pengukuran kamu tidak bergerak, berubah bentuk, maupun bergeser.

    Kerangka ini biasanya terbuat dari logam yang kuat, seperti baja atau aluminium, untuk memberikan kestabilan dan perlindungan yang diperlukan.

    Cara Menggunakan Mikrometer Sekrup

    Dari bagian-bagian mikrometer ini yang telah kamu pahami sebelumnya, hal selanjutnya yang harus kamu lakukan adalah mengetahui cara menggunakannya, yaitu:

    • Pastikan alat dalam keadaan bersih dan bebas dari debu atau kotoran yang bisa merusak hasil pengukuran.
    • Buka poros geser dengan memutar bagian pemutar (thimble) hingga kedudukan terendah. Letakkan objek yang akan kamu ukur di antara poros tetap dan poros geser.
    • Mengatur pemutar (thimble) dengan hati-hati sampai ujung poros gerak menekan permukaan objek dengan ringan. 
    • Pastikan objek kamu jepit dengan cukup kuat untuk memberikan pengukuran yang akurat, tetapi hindari memberikan tekanan berlebihan yang dapat merusak objek atau mikrometer.
    • Baca hasil pengukuran pada skala utama yang sejajar dengan garis referensi skala nonius pada kerangka mikrometer ini. Catat pembacaan ini sebagai hasil pengukuran.
    • Setelah selesai mengukur, kunci roket penguncian untuk menjaga hasil pengukuran tetap stabil.

    Cara Membaca Mikrometer Sekrup

    Itieffe

    Langkah terakhir yang tidak kalah penting untuk kamu pahami adalah cara membaca mikrometer ini. Pembacaan nilai pengukuran harus kamu lakukan pada dua bagian skala, yaitu skala utama dan skala nonius. Skala utama terletak pada bagian sleeve dan skala nonius pada bagian thimble

    Cara membacanya, yaitu:

    • Bagian pertama, pada skala utama bagian atas yang terlihat pada gambar bahwa posisi thimble telah melewati angka 10 dan terdapat 2 strip tambahan. Sehingga, nilai terbaca yaitu 12.
    • Skala utama pada bagian bawah telah melewati 1 strip. Dimana 1 strip mewakili 0,5 mm.
    • Berbeda halnya dengan skala nonius, cara membacanya adalah jika garis horizontal utama sudah menyentuh atau bertepatan dengan angka 31, maka kamu tambahkan 0,31 mm untuk membacanya.
    • Langkah terakhir untuk membaca sekrup mikrometer adalah menjumlahkan dua angka dari proses di atas. Dalam hal ini, contohnya adalah angka 12 + 0,5 + 0,31 = 12,81 mm untuk hasil dan tingkat akurasinya adalah 0,01 mm.

    Jenis-Jenis Mikrometer Sekrup

    Mikrometer jenis ini terbagi lagi atas 3 varian berdasarkan pada kebutuhan penggunaan dan skala pengukuran yang pengguna inginkan, seperti berikut:

    1. Mikrometer Sekrup Luar

    The Belle Brigade

    Mikrometer luar berguna untuk mengukur diameter luar benda, seperti kabel, tabung, dan poros. Mereka juga terdiri dari bingkai berbentuk U, poros utama, dan poros geser. 

    Selanjutnya, poros utama diam, sementara spindel bergerak untuk melakukan kontak dengan objek yang kamu ukur. Akhirnya, dapat terbaca pengukuran dari skala.

    2. Mikrometer Sekrup Dalam

    Bhinneka

    Penggunaan mikrometer dalam adalah untuk mengukur diameter bagian dalam benda, seperti pipa dan lubang. Mereka terdiri dari rangka berbentuk T, poros utama, dan poros geser. 

    Selain itu, poros utama dapat kamu sesuaikan dan bergerak menuju spindel untuk melakukan kontak dengan objek yang ingin kamu ukur. Setelah melakukan kontak, kemudian kamu dapat membaca pengukuran di bagian skala.

    3. Mikrometer Sekrup Kedalaman

    Bhinneka

    Jenis lain adalah mikrometer kedalaman, yang dapat kamu gunakan untuk mengukur kedalaman objek, seperti lubang dan slot. Mereka terdiri dari alas, batang, dan kepala pengukur. 

    Kepala pengukur berisi spindel dan poros utama, dan dapat kamu sesuaikan untuk mencapai bagian bawah lubang atau slot. Sehingga, dapat kamu lakukan pengukuran.

    Perawatan Mikrometer 

    Perlu adanya perawatan guna menjaga kualitas alat, berikut cara-caranya:

    • Berhati-hatilah dan pastikan mikrometer tidak terkena benturan atau jatuh terlalu keras, karena hal ini dapat merusak mikrometer.
    • Bersihkan permukaan mikrometer dari kotoran dan debu, sebelum dan sesudah kamu gunakan, untuk memastikan hasil pengukuran yang akurat.
    • Jika kamu ingin menggerakkan spindel bolak-balik, alih-alih menggunakan spindel untuk memutar, gunakan bidal untuk memutar spindel.
    • Simpan mikrometer dalam kotak penyimpanan, pastikan bebas dari debu dan kotoran serta jauhkan dari sinar matahari langsung, kelembaban tinggi, getaran, dan perubahan suhu yang berlebihan.

    Pengaruh temperatur pada mikrometer tidak begitu terasa pada saat interval pengukuran mikrometer hanya 30 mm. Namun, untuk pengukuran dengan interval pengukuran hingga 300 mm, perubahan temperatur hingga 10 °C sudah mengakibatkan perubahan dengan panjang 0,012 mm.  

    Sudah Lebih Mengenal Mikrometer Sekrup?

    Mikrometer ini adalah alat yang sangat penting dalam pengukuran presisi. Dengan memahami mikrometer ini, kamu dapat memanfaatkan potensi penuh untuk mendapatkan hasil pengukuran yang akurat dan presisi tinggi. 

    Dalam dunia industri dan metrologi, penggunaan mikrometer ini menjadi kunci dalam memastikan standar kualitas yang tinggi dan ketepatan ukuran yang kamu butuhkan. Namun, jangan lupa untuk membeli alat ini di toko terpercaya, agar alat bisa kamu gunakan dalam jangka waktu yang cukup lama.

  • Pengertian Jarak: Konsep, Rumus, Satuan, Alat Ukur & Contohnya

    Pengertian Jarak: Konsep, Rumus, Satuan, Alat Ukur & Contohnya

    Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali berhubungan dengan konsep jarak atau displacement. Baik itu saat kita melakukan perjalanan, mengukur panjang suatu ruangan, atau bahkan dalam pemahaman tentang ruang dan waktu dalam fisika. 

    Displacement adalah salah satu konsep yang penting dan memiliki peranan signifikan dalam berbagai konteks. Artikel ini akan menjelaskan pengertiannya, rumus yang terkait, satuan-satuan yang digunakan, alat ukur yang biasa digunakan, serta memberikan beberapa contoh yang relevan. Yuk, simak!

    Penjelasan dan Konsep

    Jarak secara umum dapat diartikan sebagai ruang atau tempat antara dua titik atau objek. Namun, dalam konteks yang lebih spesifik, pengertiannya dapat memiliki variasi tergantung pada bidang atau disiplin ilmu yang digunakan. Maka, simak penjelasan di bawah ini untuk menemukan berbagai pengertiannya!

    1. Pengertian Secara Fisik

    Dalam fisika, displacement seringkali mengacu pada perbedaan posisi antara dua titik dalam ruang atau juga panjang lintasan. Terdapat beberapa metode pengukuran displacement secara fisik, misalnya:

    a. Manhattan

    Juga dikenal sebagai jarak kota, mengacu pada perbedaan posisi antara dua titik dalam sistem koordinat persegi (grid) dengan hanya menggunakan pergerakan horizontal dan vertikal. 

    Misalnya, ketika kita bergerak di kota dengan jalan yang membentuk grid, kita akan mengukur perbedaan posisi antara dua titik dengan jumlah langkah horizontal dan vertikal yang diperlukan untuk mencapai tujuan.

    b. Papan Catur 

    Sedangkan metode ini adalah metode pengukuran yang mengacu pada jumlah langkah yang diperlukan oleh bidak catur untuk bergerak dari satu kotak ke kotak lainnya di atas papan catur. Konsep yang digunakan meliputi langkah diagonal dan langkah lurus.

    2. Pengertian Secara Teoritis

    Selain secara fisik, dalam konteks teoritis, maknanya lebih abstrak. Pengertian ini digunakan dalam berbagai bidang, seperti matematika, komputer, ilmu data, dan teori informasi, dengan aplikasi dan relevansi yang berbeda sesuai dengan konteks dan disiplin ilmu yang digunakan.

    Dalam matematika, konsep ini dapat digunakan untuk menggambarkan perbedaan atau kesamaan antara dua objek atau konsep. Berikut adalah contoh-contohnya:

    a. Euclidean

    Euclidean mengacu pada jarak antara dua titik dalam ruang multidimensi. Diperlukan rumus pythagoras untuk menghitung displacement antara titik-titik tersebut, dengan memperhatikan perbedaan koordinat dalam setiap dimensi.

    2. Minkowski

    Konsep ini digunakan dalam fisika relativistik dan teori relativitas untuk mengukur perbedaan posisi dua titik dalam ruang-waktu empat dimensi, yaitu tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu.

    3. Hamming

    Sedangkan konsep ini digunakan dalam teori informasi dan komputasi untuk mengukur perbedaan posisi antara dua rangkaian bit dengan menghitung jumlah posisi yang berbeda pada rangkaian tersebut.

    Jarak (Displacement) vs Perpindahan (Distance)

    Gramedia

    Meskipun kedua istilah ini sering kali digunakan secara bergantian, tetapi keduanya perlu untuk dibedakan. 

    Displacement mengacu pada panjang lintasan yang ditempuh antara dua titik. Maka, di sini, yang dihitung adalah total panjang atau ruang yang dilalui oleh objek dari titik awal ke titik akhir, tanpa memperhatikan arah atau jalur yang dilalui. 

    Selain itu, perhitungannya dapat dengan menggunakan rumus kecepatan dikalikan dengan waktu. Misalnya, jika sebuah mobil bergerak dengan kecepatan 60 km/jam selama 2 jam, maka panjang lintasan yang ditempuh mobil tersebut adalah 120 kilometer.

    Sementara itu, perpindahan menggambarkan perbedaan antara posisi awal dan posisi akhir suatu objek. Perpindahan adalah vektor yang berarti memiliki arah dan besar. Maka, perpindahan mengindikasikan perpindahan neto dari suatu objek dari posisi awal ke posisi akhir. 

    Dalam konteks fisika, perpindahan dapat dihitung dengan menggunakan rumus perbedaan posisi antara dua titik. Misalnya, jika sebuah mobil bergerak dari posisi awal (x₁, y₁) ke posisi akhir (x₂, y₂), maka perpindahan mobil tersebut adalah vektor (x₂ – x₁, y₂ – y₁).

    Jika ditarik kesimpulan ringkasnya, maka perpindahan merupakan vektor, yang memiliki arah dan besar, sedangkan jarak hanya menggambarkan besaran panjang.

    Rumus Jarak dalam Fisika

    Dalam fisika, rumus displacement atau panjang lintasan dapat bervariasi, tergantung pada situasi dan konteks yang diberikan, seperti berikut:

    1. Rumus Dasar pada Gerak Lurus Beraturan (GLB)

    Namun, secara umum, rumus displacement dapat dinyatakan dengan rumus dasar berikut:

    Jarak (s) = Kecepatan (v) × Waktu (t)

    Rumus ini mengasumsikan bahwa kecepatan objek adalah konstan, selama periode waktu yang diberikan. 

    Kemudian, dari rumus dasar di atas, dapat diturunkan menjadi beberapa rumus menghitung panjang lintasan berdasarkan variabel-variabel yang terlibat dalam pergerakan suatu objek. Penjelasannya dapat kamu lihat dari poin selanjutnya.

    2. Rumus pada Pergerakan Lurus Berubah Beraturan (GLBB) 

    Sementara dalam pergerakan lurus berubah beraturan, objek bergerak dengan percepatan konstan. Rumus pada GLBB adalah:

    s = Kecepatan Awal (v₀) × Waktu (t) + 1/2 × Percepatan (a) × Waktu (t)²

    3. Rumus pada Gerak Parabola 

    Lalu, pada gerak parabola, objek dilempar ke udara dengan sudut tertentu. Rumusnya adalah:

    s = Kecepatan Awal (v₀) × Waktu (t) × cos(θ)

    4. Rumus pada Gerak Vertikal (Jatuh Bebas) 

    Dalam gerak vertikal atau jatuh bebas, objek jatuh ke bawah akibat pengaruh gravitasi. Rumusnya adalah:

    s = 1/2 × Percepatan Gravitasi (g) × Waktu (t)²

    Satuan Jarak

    Panjang atau displacement memiliki berbagai satuan yang digunakan, tergantung pada skala pengukuran yang digunakan. Penting untuk mengenal dan menggunakan satuan yang sesuai dengan konteks pengukuran, agar hasil pengukuran dapat dipahami dan digunakan dengan benar dalam analisis atau aplikasi yang bersangkutan, seperti berikut:

    1. Satuan Tidak Baku

    Beberapa contoh satuan tidak baku jarak termasuk gantang, depa, mil laut, atau kaki kuda. Namun, penggunaan satuan tidak baku dapat menyebabkan kebingungan dan ketidak konsistenan dalam komunikasi, terutama di tingkat internasional.

    2. Satuan Baku

    Di samping itu, dua sistem pengukuran yang umum menggunakan satuan baku displacement adalah:

    a. Satuan dalam SI

    Meter adalah satuan internasional SI dalam sistem metrik untuk mengukur panjang. Satuan ini didefinisikan sebagai panjang yang ditempuh oleh cahaya dalam ruang hampa, dalam interval waktu 1/299.792.458 detik. Meter sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam konteks ilmiah.

    Sementara itu, terdapat satuan lain dalam sistem metrik, yaitu kilometer, centimeter, dan lainnya. Lihat bagan di bawah ini untuk mengkonversi satuan meter ke satuan-satuan yang lain:

    SIMPKB

    b. Satuan dalam US Customary System

    Selain satuan-satuan tersebut, terdapat juga satuan lainnya, seperti mil, yard, foot, dan inch yang digunakan dalam sistem imperial atau US customary system

    Berbagai Alat Ukur yang Dapat Digunakan

    Ketika mengukur jarak, terdapat berbagai macam alat yang digunakan untuk mendapatkan hasil yang akurat dan konsisten. Beberapa alat ukur yang umum digunakan adalah sebagai berikut:

    1. Penggaris atau Mistar

    Kredit Pintar

    Alat ukur ini memiliki skala yang jelas dan terukur dalam satuan panjang, seperti meter atau fraksi dari meter. Penggaris atau mistar dapat digunakan untuk mengukur secara langsung dengan meletakkan salah satu ujungnya pada titik awal dan memindahkan ujung lainnya ke titik akhir.

    2. Rol Meter atau Meteran 

    My-best

    Penggunaannya yaitu untuk mengukur jarak yang lebih panjang daripada penggaris atau mistar. Cara mengukurnya adalah dengan mengeluarkan pita pengukur dari rol dan menempatkannya dari titik awal ke titik akhir.

    3. Jangka Sorong

    Tokopedia

    Jika mencari alat ukur presisi untuk mengukur ketebalan, diameter, dan panjang objek dengan tingkat ketelitian yang tinggi, maka dapat menggunakan jangka sorong atau vernier caliper. Skala pada jangka sorong biasanya terukur dalam satuan sentimeter dan milimeter.

    4. Mikrometer Sekrup

    Gramedia

    Terakhir, terdapat mikrometer sekrup atau micrometer screw gauge untuk mengukur ketebalan atau diameter objek dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Sebagai alat ukur presisi, maka alat ini memiliki skala yang terukur dalam satuan meter, sentimeter, milimeter, dan bahkan dalam mikrometer (µm). 

    Oleh karena itu, alat ini sangat berguna dalam pengukuran yang membutuhkan presisi tinggi, seperti dalam industri manufaktur dan laboratorium.

    Berbagai Contoh Fenomenanya 

    Contoh penerapan jarak dapat ditemui dalam berbagai situasi. Misalnya:

    • Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengukur panjang antara dua kota yang ingin kita kunjungi dengan menggunakan satuan kilometer atau mil.
    • Selain itu, dalam bidang olahraga, digunakan dalam lomba lari, lompat jauh, atau lempar lembing. 
    • Kemudian, dalam konstruksi, pengukuran ini diperlukan dalam merencanakan dan membangun struktur bangunan.

    Contoh Soal

    Jika kamu ingin lebih memahami materi dan rumus jarak di atas, di bawah ini kami sediakan contoh soal untuk kamu pelajari lebih lanjut.

    Seorang pelari berlari dengan kecepatan 5 m/s selama 20 detik. Berapakah panjang lintasan yang ditempuh oleh pelari tersebut?

    Rumus: S = Kecepatan (v) × Waktu (t)

    Penghitungan: s = 5 m/s × 20 s = 100 meter

    Jadi, panjang lintasan yang ditempuh oleh pelari tersebut adalah 100 meter.

    Sudah Paham Materi Mengenai Jarak? 

    Jarak merupakan konsep yang penting dalam berbagai aspek kehidupan kita. Baik dalam fisika, matematika, maupun dalam aktivitas sehari-hari, pemahaman tentang materi ini dan penerapan rumus-rumus yang berkaitan dengannya sangatlah relevan. 

    Dengan memahami konsepnya, rumus-rumus yang terkait, serta satuan dan alat ukur yang digunakan, kita dapat mengaplikasikannya dalam situasi nyata dan meningkatkan pemahaman kita tentang ruang dan pergerakan.

  • 20 Contoh Soal Jangka Sorong dan Penjelasan Jawabanya, Terlengkap!

    20 Contoh Soal Jangka Sorong dan Penjelasan Jawabanya, Terlengkap!

    Kemampuan jangka sorong untuk mengukur ketebalan dan diameter dengan presisi tinggi membuatnya menjadi alat yang sangat penting dalam berbagai industri, seperti manufaktur, rekayasa, dan perbaikan. Namun, untuk memahami cara membaca alat ukur ini, Anda perlu latihan mengerjakan contoh soal jangka sorong.

    Oleh karena itu, dalam artikel ini, kami akan menyajikan 20 contoh soal jangka sorong dan penjelasan jawabannya yang lengkap. Dengan mempelajari contoh soal ini, Anda akan dapat meningkatkan pemahaman Anda tentang penggunaan jangka sorong dan meningkatkan keterampilan pengukuran Anda. 

    Bagaimana Cara Menggunakan Jangka Sorong?

    Sebelum kita melangkah ke contoh soal jangka sorong, penting untuk memahami cara menggunakan alat ini dengan benar. Berikut adalah langkah-langkah umum untuk mengukur suatu entitas dengan jangka sorong:

    1. Pastikan jangka sorong dalam keadaan bersih dan bebas dari debu atau kotoran yang dapat memengaruhi akurasi pengukuran.
    2. Pegang jangka sorong dengan nyaman menggunakan jari telunjuk dan jari tengah Anda. Sementara ibu jari Anda mengendalikan pergerakan rahang bawah.
    3. Geser rahang bawah jangka sorong ke arah benda yang akan Anda ukur.
    4. Sesuaikan posisi benda sehingga terjepit di antara rahang atas dan rahang bawah jangka sorong.
    5. Perhatikan dengan cermat skala pada jangka sorong. Bacaan terakhir pada skala tetap adalah bagian desimal dari pengukuran, sedangkan bacaan pada skala nonius atau vernier memberikan bagian pecahan.
    6. Untuk mendapatkan pengukuran yang akurat, pastikan untuk menghindari getaran atau gerakan yang dapat memengaruhi kestabilan jangka sorong.

    Cara Membaca Hasil Pengukuran Jangka Sorong

    Studio Belajar

    Pada dasarnya, hanya perlu tiga langkah pembacaan untuk melihat hasil pengukuran menggunakan jangka sorong. Berikut ini penjelasannya:

    1. Baca Skala Utama

    Pada gambar di atas, angka pada skala utama yang paling dekat dengan garis nol skala vernier di sebelah kanan adalah 2,1 cm (garis merah). Oleh karena itu, nilai yang terbaca pada skala utama adalah 2,1 cm atau 21 mm

    2. Baca Skala Vernier

    Lagi, pada gambar di atas, ada satu garis pada skala utama yang tepat bertemu membentuk garis lurus dengan satu garis skala vernier. Pada gambar di atas, garis lurus tersebut mewakili angka 3 pada skala vernier. Oleh karena itu, nilai yang terbaca pada skala vernier adalah 0,3 mm atau 0,03 cm.

    3. Jumlahkan Hasil dari Dua Langkah Sebelumnya

    Jadi hasil akhirnya adalah dengan menjumlahkan kedua nilai pengukuran di atas, yaitu 21 mm + 0,3 mm = 21,3 mm atau 2,13 cm.

    20 Contoh Soal Jangka Sorong dan Jawabannya

    Setelah memahami bagaimana pengukuran jangka sorong dan cara membaca hasilnya, maka tak perlu berlama-lama lagi. Inilah 20 contoh soal Jangka sorong beserta penjelasan jawaban untuk masing-masing soalnya.

    A. Contoh Soal Jangka Sorong 1-5

    1. Contoh Soal 1

    Rumus Pintar

    Satuan skala utama yang digunakan adalah cm, jadi baca angka pada skala utama di posisi 2,1 cm. Satuan pada skala nonius adalah 0,01 cm (atau 0,1 mm). Lalu untuk menentukan angka pada skala nonius yang tepat, baca garis skala yang sejajar dengan garis skala utama. 

    Pada gambar di atas, skala nonius yang sejajar dengan skala utama adalah garis ke-3, sehingga angka pada skala nonius adalah 0,3 mm atau 0,03 cm. Oleh karena itu, ukuran yang jangka sorong tunjukkan adalah 2,1 cm + 0,03 cm = 2,13 cm.

    2. Contoh Soal 2

    Mamikos

    Satuan skala utama yang digunakan adalah cm, jadi baca angka pada skala utama di posisi 2,2 cm. Satuan pada skala nonius adalah 0,01 cm (atau 0,1 mm). Lalu untuk menentukan angka pada skala nonius yang tepat, baca garis skala yang sejajar dengan garis skala utama. 

    Pada gambar di atas, skala nonius yang sejajar dengan skala utama adalah yang ke-3, sehingga angka pada skala nonius adalah 0,3 mm atau 0,03 cm. Oleh karena itu, ukuran yang jangka sorong tunjukkan adalah 2,23 cm.

    3.  Contoh Soal 3

    Rumus Pintar

    Satuan skala utama yang digunakan adalah cm, jadi baca angka pada skala utama di posisi 8,1 cm. Satuan pada skala nonius adalah 0,01 cm (atau 0,1 mm). Lalu untuk menentukan angka pada skala nonius yang tepat, baca garis skala yang sejajar dengan garis skala utama. 

    Pada gambar di atas, skala nonius yang sejajar dengan skala utama adalah di antara angka 6 dan 7, yaitu 6,5, sehingga angka pada skala nonius adalah 0,65 mm atau 0,065 cm. Oleh karena itu, ukuran yang jangka sorong tunjukkan adalah 8,165 cm.

    4. Contoh Soal 4

    Belajarsam

    Satuan skala utama yang digunakan adalah cm, jadi baca angka pada skala utama di posisi 3,1 cm. Satuan pada skala nonius adalah 0,01 cm (atau 0,1 mm). Lalu untuk menentukan angka pada skala nonius yang tepat, baca garis skala yang sejajar dengan garis skala utama. 

    Pada gambar di atas, skala nonius yang sejajar dengan skala utama adalah pada garis ke-10, sehingga angka pada skala nonius adalah 1 mm atau 0,1 cm. Oleh karena itu, ukuran yang jangka sorong tunjukkan adalah 3,1 cm + 0,1 cm = 3,2 cm.

    5. Contoh Soal 5

    Soal Fismat

    Satuan skala utama yang digunakan adalah cm, jadi baca angka pada skala utama di posisi 6,8 cm. Satuan pada skala nonius adalah 0,01 cm (atau 0,1 mm). Lalu untuk menentukan angka pada skala nonius yang tepat, baca garis skala yang sejajar dengan garis skala utama. 

    Pada gambar di atas, skala nonius yang sejajar dengan skala utama adalah yang ke-6, sehingga angka pada skala nonius adalah 0,6 mm atau 0,06 cm. Oleh karena itu, ukuran yang jangka sorong tunjukkan adalah 6,86 cm.

    B. Contoh Soal Jangka Sorong 6-10

    6. Contoh Soal 6

    Belajarsam

    Satuan skala utama yang digunakan adalah cm, jadi baca angka pada skala utama di posisi 2,2 cm. Satuan pada skala nonius adalah 0,01 cm (atau 0,1 mm). Lalu untuk menentukan angka pada skala nonius yang tepat, baca garis skala yang sejajar dengan garis skala utama. 

    Pada gambar di atas, skala nonius yang sejajar dengan skala utama adalah pada garis ke-7, sehingga angka pada skala nonius adalah 0,7 mm atau 0,07 cm. Oleh karena itu, ukuran yang jangka sorong tunjukkan adalah 2,2 cm + 0,07 cm = 2,27 cm.

    7. Contoh Soal 7

    Soal Fismat

    Satuan skala utama yang digunakan adalah cm, jadi baca angka pada skala utama di posisi 6,1 cm. Satuan pada skala nonius adalah 0,01 cm (atau 0,1 mm). Lalu untuk menentukan angka pada skala nonius yang tepat, baca garis skala yang sejajar dengan garis skala utama. 

    Pada gambar di atas, skala nonius yang sejajar dengan skala utama adalah pada angka 7, sehingga angka pada skala nonius adalah 0,7 mm atau 0,07 cm. Oleh karena itu, ukuran yang jangka sorong tunjukkan adalah 6,1 cm + 0,07 cm = 6,17 cm.

    8. Contoh Soal 8

    Soal Fismat

    Satuan skala utama yang digunakan adalah cm, jadi baca angka pada skala utama di posisi 3,1 cm. Satuan pada skala nonius adalah 0,01 cm (atau 0,1 mm). Lalu untuk menentukan angka pada skala nonius yang tepat, baca garis skala yang sejajar dengan garis skala utama. 

    Pada gambar di atas, skala nonius yang sejajar dengan skala utama adalah pada angka 7, sehingga angka pada skala nonius adalah 0,7 mm atau 0,07 cm. Oleh karena itu, ukuran yang jangka sorong tunjukkan adalah 3,1 cm + 0,07 cm = 3,17 cm.

    9. Contoh Soal 9

    Belajarsam

    Satuan skala utama yang digunakan adalah cm, jadi baca angka pada skala utama di posisi 2,7 cm. Satuan pada skala nonius adalah 0,01 cm (atau 0,1 mm). Lalu untuk menentukan angka pada skala nonius yang tepat, baca garis skala yang sejajar dengan garis skala utama. 

    Pada gambar di atas, skala nonius yang sejajar dengan skala utama adalah pada garis ke-6, sehingga angka pada skala nonius adalah 0,6 mm atau 0,06 cm. Oleh karena itu, ukuran yang jangka sorong tunjukkan adalah 2,76 cm.

    10. Contoh Soal 10

    Mamikos

    Satuan skala utama yang digunakan adalah cm, jadi baca angka pada skala utama di posisi 1,1 cm. Satuan pada skala nonius adalah 0,01 cm (atau 0,1 mm). Lalu untuk menentukan angka pada skala nonius yang tepat, baca garis skala yang sejajar dengan garis skala utama.  

    Pada gambar di atas, skala nonius yang sejajar dengan skala utama adalah di antara 6 dan 7 atau 6,5, sehingga angka pada skala nonius adalah 0,65 mm atau 0,065 cm. Oleh karena itu, ukuran yang jangka sorong tunjukkan adalah 1,165 cm.

    C. Contoh Soal Jangka Sorong 11-15

    11. Contoh Soal 11

    Hotelier

    Satuan skala utamanya yaitu cm, pada soal ini skala utama pada posisi angka 10 cm. Satuan pada skala nonius adalah 0,01 cm (atau 0,1 mm). Lalu untuk menentukan angka pada skala nonius yang tepat, baca garis skala yang sejajar dengan garis skala utama. 

    Pada gambar di atas, skala nonius yang sejajar dengan skala utama adalah pada garis 2, sehingga angka pada skala nonius adalah 0,2 mm atau 0,02 cm. Oleh karena itu, ukuran yang jangka sorong tunjukkan adalah 10,02 cm. 

    12. Contoh Soal 12

    Hotelier

    Satuan skala utamanya yaitu cm, pada soal ini skala utama pada posisi angka 12 cm. Satuan pada skala nonius adalah 0,01 cm (atau 0,1 mm). Lalu untuk menentukan angka pada skala nonius yang tepat, baca garis skala yang sejajar dengan garis skala utama. 

    Pada gambar di atas, skala nonius yang sejajar dengan skala utama adalah pada garis angka 2, sehingga angka pada skala nonius adalah 0,2 mm atau 0,02 cm. Oleh karena itu, ukuran yang jangka sorong tunjukkan adalah 12 cm + 0,02 cm = 12,02 cm.

    13. Contoh Soal 13

    Belajarsam

    Satuan skala utama yang digunakan adalah cm, jadi baca angka pada skala utama di posisi 3,8 cm. Satuan pada skala nonius adalah 0,01 cm (atau 0,1 mm). Lalu untuk menentukan angka pada skala nonius yang tepat, baca garis skala yang sejajar dengan garis skala utama. 

    Pada gambar di atas, skala nonius yang sejajar dengan skala utama adalah pada garis ke-3, sehingga angka pada skala nonius adalah 0,3 mm atau 0,03 cm. Oleh karena itu, ukuran yang jangka sorong tunjukkan adalah 3,8 cm + 0,03 cm = 3,83 cm.

    14. Contoh Soal 14

    Belajarsam

    Satuan skala utama yang digunakan adalah cm, jadi baca angka pada skala utama di posisi 5,7 cm. Satuan pada skala nonius adalah 0,01 cm (atau 0,1 mm). Lalu untuk menentukan angka pada skala nonius yang tepat, baca garis skala yang sejajar dengan garis skala utama. 

    Pada gambar di atas, skala nonius yang sejajar dengan skala utama adalah pada angka 5, sehingga angka pada skala nonius adalah 0,5 mm atau 0,05 cm. Oleh karena itu, ukuran yang jangka sorong tunjukkan adalah 5,7 cm + 0,05 cm = 5,75 cm.

    15. Contoh Soal 15

    Rumus Pintar

    Satuan skala utama yang digunakan adalah cm, jadi baca angka pada skala utama di posisi 5,2 cm. Satuan pada skala nonius adalah 0,01 cm (atau 0,1 mm). Lalu untuk menentukan angka pada skala nonius yang tepat, baca garis skala yang sejajar dengan garis skala utama. 

    Pada gambar di atas, skala nonius yang sejajar dengan skala utama adalah pada angka 5, sehingga angka pada skala nonius adalah 0,5 mm atau 0,05 cm. Oleh karena itu, ukuran yang jangka sorong tunjukkan adalah 5,25 cm.

    D. Contoh Soal Jangka Sorong 16-20

    16. Contoh Soal 16

    Mini Physics

    Satuan skala utama yang digunakan adalah cm, jadi baca angka pada skala utama di posisi 8,6 cm. Satuan pada skala nonius adalah 0,01 cm (atau 0,1 mm). Lalu untuk menentukan angka pada skala nonius yang tepat, baca garis skala yang sejajar dengan garis skala utama. 

    Pada gambar di atas, skala nonius yang sejajar dengan skala utama adalah pada garis angka 2, sehingga angka pada skala nonius adalah 0,2 mm atau 0,02 cm. Oleh karena itu, ukuran yang jangka sorong tunjukkan adalah 8,62 cm.

    17. Contoh Soal 17

    Mini Physics

    Satuan skala utama yang digunakan adalah cm, jadi baca angka pada skala utama di posisi 5,2 cm. Satuan pada skala nonius adalah 0,01 cm (atau 0,1 mm). Lalu untuk menentukan angka pada skala nonius yang tepat, baca garis skala yang sejajar dengan garis skala utama. 

    Pada gambar di atas, skala nonius yang sejajar dengan skala utama adalah pada angka 5, sehingga angka pada skala nonius adalah 0,5 mm atau 0,05 cm. Oleh karena itu, ukuran yang jangka sorong tunjukkan adalah 5,25 cm.

    18. Contoh Soal 18

    Mini Physics

    Satuan skala utama yang digunakan adalah cm, jadi baca angka pada skala utama di posisi 4,2 cm. Satuan pada skala nonius adalah 0,01 cm (atau 0,1 mm). Lalu untuk menentukan angka pada skala nonius yang tepat, baca garis skala yang sejajar dengan garis skala utama. 

    Pada gambar di atas, skala nonius yang sejajar dengan skala utama adalah pada angka 7, sehingga angka pada skala nonius adalah 0,7 mm atau 0,07 cm. Oleh karena itu, ukuran yang jangka sorong tunjukkan adalah 4,27 cm.

    19. Contoh Soal 19

    Rumus Pintar

    Satuan skala utama yang digunakan adalah cm, jadi baca angka pada skala utama di posisi 7,4 cm. Satuan pada skala nonius adalah 0,01 cm (atau 0,1 mm). Lalu untuk menentukan angka pada skala nonius yang tepat, baca garis skala yang sejajar dengan garis skala utama. 

    Pada gambar di atas, skala nonius yang sejajar dengan skala utama adalah pada angka 12, sehingga angka pada skala nonius adalah 1,2 mm atau 0,12 cm. Oleh karena itu, ukuran yang jangka sorong tunjukkan adalah 7,4 cm + 0,12 cm = 7,52 cm.

    20. Contoh Soal 20

    Mini Physics

    Satuan skala utama yang digunakan adalah cm, jadi baca angka pada skala utama di posisi 1 cm. Satuan pada skala nonius adalah 0,01 cm (atau 0,1 mm). Lalu untuk menentukan angka pada skala nonius yang tepat, baca garis skala yang sejajar dengan garis skala utama. 

    Pada gambar di atas, skala nonius yang sejajar dengan skala utama adalah pada angka 6, sehingga angka pada skala nonius adalah 0,6 mm atau 0,06 cm. Oleh karena itu, ukuran yang jangka sorong tunjukkan adalah 1 cm + 0,06 cm = 1,06 cm.

    Sudah Paham Tiap Contoh Soal Jangka Sorong di Atas?

    Dalam dunia teknik, jangka sorong adalah alat yang sangat penting untuk mengukur dengan presisi yang tinggi. 

    Dengan menguasai penggunaan jangka sorong dan memahami contoh soal jangka sorong yang telah kami sajikan dalam artikel ini. Anda dapat meningkatkan keterampilan pengukuran Anda dan memastikan keakuratan dalam pekerjaan Anda. 

    Jangan lupa untuk selalu melatih diri Anda dalam menggunakan alat ini dan menguasai teknik pengukuran yang tepat. Semoga artikel ini bermanfaat dan membantu Anda dalam mempelajari lebih lanjut tentang jangka sorong!

  • Melintasi Inti Kecil dari Dunia yang Besar: Perkembangan Model Atom

    Melintasi Inti Kecil dari Dunia yang Besar: Perkembangan Model Atom

    Pemahaman tentang struktur atom adalah salah satu tonggak penting dalam perkembangan ilmu kimia dan fisika modern. Selama berabad-abad, para ilmuwan telah mengajukan berbagai perkembangan model atom untuk menjelaskan bagaimana atom terbentuk dan berinteraksi. 

    Model-model ini telah mengalami perkembangan yang signifikan, seiring berjalannya waktu, dan telah melibatkan kontribusi para tokoh terkemuka dalam sejarah sains. Artikel ini akan membahas model atom dari para tokoh serta melihat kelebihan dan kekurangan dari masing-masing model tersebut.

    Apa Itu Atom?

    Atom adalah unit terkecil dari materi yang membentuk unsur kimia. Atom terbuat dari partikel fundamental yang disebut proton, neutron, dan elektron. 

    Proton dan neutron mengumpul bersama untuk membentuk inti pusat. Sedangkan di daerah seperti awan di sekitar nukleus, terdapat elektron yang bergerak. Mereka memiliki muatan listrik positif atau negatif dan bertanggung jawab untuk banyak reaksi kimia.

    Pertama Kali Model Atom Itu Ada

    Perkembangan model atom sebenarnya telah dikenalkan oleh seorang filsuf yang berasal dari Yunani bernama Democritus pada awal abad ke-4 sebelum masehi. Dia menyatakan bahwa semua materi terbuat dari sesuatu yang tak terpisahkan. Fakta tersebut berasal dari kata “atomos”, yang secara harfiah berarti tak terpisahkan  

    Democritus mengemukakan bahwa atom terdiri dari empat elemen yang berbeda, yaitu bumi, udara, api, dan air. Prinsip ini, menyebutkan atom berupa bola dengan ukuran yang berbeda. 

    Bola-bola atom bergerak di ruang angkasa, dan ketika tabrakan antar bola terjadi, maka atom dapat saling menempel, dan terjadi perubahan material.

    Teori atom Yunani ini tidak didasarkan pada pengamatan alam, pengukuran, tes, atau eksperimen. Orang-orang Yunani hanya menggunakan matematika dan akal. Adanya pengaruh Aristoteles saat itu yang tidak setuju dengan Democritus, teori ini diabaikan hampir 2000 tahun.

    Dari teori yang sudah ada, kemudian dikembangkan dari waktu ke waktu. Perkembangan model atom terdapat lima model, yaitu model atom Dalton, model atom Thomson, model atom Rutherford, model atom Bohr, dan model atom Schrodinger yang masing-masing terikat pada pemahaman atom pada saat itu.

    5 Teori Perkembangan Model Atom

    Nagwa

    Berikut ulasan mengenai 5 jenis teori perkembangan pada model atom berdasarkan pemaparan dari tokohnya:

    1. Model Atom Dalton (Model Bola Padat)

    Embibe
    Wikimedia

    John Dalton adalah seorang ilmuwan Inggris yang mengubah filsafat atom Yunani, kemudian mengusulkan model atom modern pertama dan paling sederhana pada tahun 1803.

    Postulat utama dari teori perkembangan model atom Dalton ini adalah:

    • Semua materi terdiri dari sejumlah besar partikel sangat kecil yang disebut atom.
    • Atom tidak dapat dibagi dan tidak dapat dihancurkan dalam reaksi kimia.
    • Atom tidak dapat diciptakan atau dihancurkan, tetapi dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
    • Semua atom dari unsur-unsur tertentu adalah sama, yaitu identik dalam massa, ukuran, dan setiap aspek lainnya, namun berbeda dari atom-atom dari unsur-unsur yang lain.
    • Atom terdiri dari unsur yang berbeda dan memiliki sifat, ukuran, dan massa yang berbeda dapat bergabung membentuk senyawa.

    Model ini memiliki kelebihan dalam menjelaskan hukum-hukum dasar kimia, seperti hukum perbandingan tetap dan hukum perbandingan berganda. Namun, kekurangannya terletak pada ketidaktepatan dalam menjelaskan struktur internal atom dan fenomena atomik yang lebih kompleks.

    2. Model Atom Thomson (Model Puding Plum)

    Embibe
    Wikimedia

    J.J. Thomson adalah tokoh yang memperkenalkan model atom “kue kismis” atau model atom “puding plum” pada tahun 1897. Menurut model ini, atom terdiri dari bola positif dengan elektron tersebar di dalamnya, seperti kismis dalam kue. 

    Pemahaman lain, yaitu elektron bermuatan negatif pada awan bermuatan positif seperti biji dalam semangka atau seperti plum pada puding. 

    Perkembangan model atom Thomson menjelaskan keberadaan muatan positif dan negatif, bahkan menjelaskan netralitas listrik materi dengan mengasumsikan muatan total elektron yang bermuatan negatif sama dengan total proton yang bermuatan positif.

    Kelebihan dari model ini adalah menjelaskan fenomena penemuan elektron oleh Thomson dalam eksperimen tabung sinar katode. Selain itu, model ini secara inheren stabil. Maksudnya adalah jika elektron dipindahkan, mereka akan berusaha untuk kembali ke posisi semula.

    Namun, kekurangan model ini adalah tidak menjelaskan bagaimana elektron dan partikel lainnya memiliki susunan yang teratur di dalam atom, dan tidak bisa memberikan dukungan eksperimental untuk model atomnya.

    3. Model Atom Rutherford (Model Nuklir)

    Wikipedia
    Nkfu.com

    Ernest Rutherford melakukan eksperimen hamburan partikel alfa dan mengusulkan model atom yang mencerminkan hasil eksperimennya pada tahun 1911. Menurut perkembangan model atom ini, atom yang memiliki inti kecil terkonsentrasi di pusat dan elektron akan mengorbit di sekitarnya. 

    Percobaan Rutherford dengan cara memancarkan partikel-partikel alfa ini pertama kali melewati celah halus dan kemudian dibuat untuk menuju bagian kertas emas. Akibatnya, partikel-partikel ini tersebar dan menghasilkan kilatan terang pada layar melingkar yang dilapisi dengan zat yang disebut seng sulfida.

    Eksperimen dilakukan pada foil tipis logam emas berat. Cara ini dilakukan dengan memancarkan dari unsur radioaktif yang tertutup dalam kotak timah.

    Scienceabc

    Hasil pengamatan dari eksperimen Rutherford:

    • Sebagian besar partikel alfa mampu melewati kertas emas tanpa dibelokkan.
    • Beberapa partikel alfa dibelokkan oleh sudut kecil.
    • Sangat sedikit (satu dari sekitar 20000) partikel alfa mengalami defleksi besar dan bahkan kembali ke arah yang sama (180⁰).

    Kelebihan perkembangan model atom ini adalah menjelaskan fenomena hamburan partikel alfa dan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang struktur atom. Namun, kekurangannya adalah tidak menjelaskan mengapa elektron tidak runtuh ke inti karena adanya gaya elektromagnetik, dan tidak bisa menjelaskan stabilitas atom.

    4. Model Atom Bohr (Model Planet)

    Embibe
    Wikimedia

    Niels Bohr memperkenalkan perkembangan model atom Bohr pada tahun 1913 yang membangun di atas model Rutherford. Menurut model ini, elektron hanya dapat mengorbit di sekitar inti atom dalam orbit diskrit dengan tingkat energi yang terdefinisi. 

    Neil Bohr menjelaskan stabilitas atom berdasarkan pengamatan eksperimennya. Menurutnya:

    • Sebuah atom terdiri dari inti pusat yang sangat kecil, yang disebut nukleus. Nukleus membawa semua muatan positif dan sebagian besar massa atom.
    • Elektron berputar di sekitar inti dalam jalur melingkar. Jalur melingkar ini disebut orbit. Gaya sentripetal yang diperlukan untuk gerakan melingkar disediakan oleh gaya tarik elektrostatik antara elektron dan inti.
    • Elektron hanya dapat berputar dalam orbit tertentu yang diizinkan, yang disebut kulit atau tingkat energi, yang masing-masing dikaitkan dengan jumlah energi yang tetap.
    • Sementara elektron berputar di orbit, ia tidak mendapatkan atau kehilangan energi. Oleh karena itu, orbit ini disebut keadaan stasioner atau tingkat energi.
    • Sebuah elektron dapat melompat dari orbit energi yang lebih tinggi ke energi yang lebih rendah, sehingga memancarkan energi.

    Untuk kenyamanan, tingkat energi ini diberi label K, L, M, N, dan sebagainya. Orbit yang paling dekat dengan nukleus adalah K kulit dan memiliki jumlah energi paling sedikit, dan elektron yang ada di dalamnya adalah K elektron, dan seterusnya dengan kulit berturut-turut dan elektronnya.

    Embibe

    Model ini berhasil menjelaskan spektrum atom hidrogen dan memperkenalkan konsep kuantisasi energi. Kelebihan model ini adalah memberikan pemahaman yang lebih baik tentang stabilitas atom, tetapi kekurangannya adalah tidak dapat menjelaskan struktur atom yang lebih besar dan kompleks.

    5. Model Atom Schrodinger (Model Kuantum)

    Wikimedia

    Perkembangan model atom kuantum merupakan perkembangan lebih lanjut dari model atom Bohr yang diperkenalkan oleh sejumlah ilmuwan fisikawan Austria pada tahun 1926, yaitu Erwin Schrodinger. 

    Model ini didasarkan pada prinsip kuantum dan menjelaskan sifat partikel dan gelombang elektron secara simultan. Schrodinger mengusulkan bahwa, daripada elektron bergerak dalam orbit tetap atau kulit, elektron berperilaku sebagai gelombang.

    Modelnya menunjukkan inti yang dikelilingi oleh awan kerapatan elektron. Awan ini adalah awan probabilitas. Meskipun kita tidak tahu persis di mana elektron berada, kita tahu mereka mungkin ditemukan di daerah ruang tertentu. Daerah ruang ini disebut sebagai orbital elektron.

    Lebih singkatnya, model mekanika kuantum dijelaskan sebagai berikut:

    • Elektron tidak bergerak di sekitar inti dalam orbit.
    • Elektron ada di tingkat energi tertentu sebagai awan.
    • Awan elektron adalah wilayah muatan negatif, yang mengelilingi nukleus.
    • Orbital adalah wilayah dengan probabilitas tinggi mengandung elektron.

    Model atom kuantum dapat memberikan gambaran yang akurat tentang struktur atom, energi elektron, dan hubungan dengan spektrum atom. Namun, kekurangannya adalah kompleksitas matematis yang terkait dengan pemecahan persamaan Schrodinger.

    Bagaimana Pemahaman Kamu tentang Perkembangan Model Atom?

    Dalam perkembangan model atom, perlu dicatat bahwa setiap model menggambarkan kemajuan ilmiah pada zamannya, sehingga memberikan kontribusi berharga dalam memahami struktur atom. 

    Masing-masing model memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Melalui proses yang berkesinambungan, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang atom dan fenomena atomik yang terkait. 

    Seiring berjalannya waktu, penelitian dan eksperimen lebih lanjut terus dilakukan untuk memperbaiki dan memperluas pemahaman kita tentang struktur atom. Para ilmuwan juga terus mengembangkan model atom yang lebih akurat dan komprehensif.

  • Sifat Bayangan Lensa Cembung serta Jenis dan Manfaatnya

    Sifat Bayangan Lensa Cembung serta Jenis dan Manfaatnya

    Lensa cembung banyak dimanfaatkan pada alat pembesar seperti kacamata, teropong, kamera, dan sebagainya. Prinsip lensa cembung adalah memperbesar bayangan suatu benda. Untuk memahami kegunaan dan manfaat lensa cembung, kita harus mengetahui sifat bayangan lensa cembung. 

    Pengertian Lensa Cembung

    Lensa adalah sebuah kaca bening yang berfungsi untuk mengumpulkan atau menyebarkan cahaya saat dilewati dan melakukan pembiasan. Lensa memiliki ketebalan berbeda pada bagian tengah dan tepinya. 

    Lensa cembung adalah lensa yang memiliki bagian tengah yang agak tebal dan tipis di bagian tepinya. Secara umum, lensa cembung biasa disebut dengan lensa konvergen atau lensa positif karena dapat memfokuskan cahaya. 

    Dalam lensa cembung, berkas pembiasan berkumpul di satu titik di belakang lensa yang disebut titik fokus sejati. Titik fokus adalah titik pertemuan cahaya yang dibiaskan oleh lensa.

    Lensa cembung memiliki dua titik fokus, yaitu titik fokus di depan lensa atau disebut titik fokus maya dan titik fokus sejati yang berada di belakang lensa. Lensa cembung disebut lensa positif karena titik perpotongan cahaya selalu ada di belakang lensa, sehingga titik fokus di belakang lensa merupakan fokus sejati. 

    Jenis-Jenis Lensa Cembung

    Lensa cembung dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan bentuknya, yaitu: 

    1. Lensa Cembung Bikonveks

    Lensa ini memiliki bentuk yang cembung di kedua sisi atau biasa disebut dengan lensa cembung ganda. Panjang fokus pada lensa ini lebih pendek dibandingkan dengan lensa plan konveks dengan diameter dan radius yang sama.

    Sebagian besar alat optik membutuhkan jarak fokus yang lebih besar, sehingga lensa ini sering digunakan. Lensa cembung bikonveks biasa digunakan pada kamera, teropong, teleskop, dan lain-lain. Lensa ini akan menghasilkan bayangan yang maya untuk mata manusia dan bayangan nyata untuk hasil fotografi.

    2. Lensa Cembung Plan Konveks

    Lensa cembung plan konveks berbentuk cembung di salah satu sisi dan datar pada sisi lainnya. Lensa ini didesain untuk digunakan di bidang farmasi, robotika, dan lain-lain.

    3. Lensa Cembung Konkaf-Konveks

    Lensa cembung konkaf-konveks memiliki bentuk yang cembung pada satu sisi dan cekung pada sisi lainnya. Lensa ini dapat digunakan untuk menghilangkan aberasi kromatik yang dihasilkan oleh lensa lain dan biasanya dimanfaatkan untuk mengontrol sinar laser.

    Sinar Istimewa Lensa Cembung

    Sinar istimewa pada lensa cembung memudahkan untuk meramalkan sifat bayangan yang dibiaskan oleh lensa. Adapun sinar istimewa pada lensa cembung terdiri dari 3 bentuk yakni:

    • Sinar datang sejajar sumbu utama kemudian dibiaskan melalui titik fokus yang berada di belakang lensa.
    • Sinar datang menuju titik fokus di depan lensa dibiaskan sejajar sumbu utama.
    • Sinar datang menuju titik utama lensa tidak dibiaskan, tetapi diteruskan.

    Sifat Bayangan Lensa Cembung

    Bayangan yang dibiaskan oleh lensa cembung mempunyai 2 jenis sifat bayangan yaitu nyata atau maya. Sifat bayangan juga ditentukan oleh letak benda dan datangnya sinar sebelum sinar diteruskan dan dibiaskan oleh lensa. Berikut ini adalah beberapa sifat bayangan lensa cembung berdasarkan letak benda. 

    1. Benda Berada di antara Titik O dan F₁

    Benda yang berada di antara titik O atau pusat lensa dan titik fokus F₁ akan memiliki sifat bayangan yang maya, tegak dan diperbesar.

    Fisika.co.id

    2. Benda Berada di antara Titik 2F₁ dan F₁

    Benda diletakkan di antara titik fokus lensa F₁ dan 2F₁ akan membentuk bayangan yang memiliki sifat nyata, terbalik, diperbesar.

    Fisika.co.id

    3. Benda Berada di antara Titik 2F₁ dan Titik Tak Hingga

    Benda yang berada lebih jauh dari titik 2F₁ akan memiliki bayangan yang nyata, terbalik, diperkecil. Bayangan benda terletak di antara 2F2 dan F2 di belakang lensa.

    Fisika.co.id

    4. Benda Berada di Titik F₁

    Jika benda berada di titik fokus F₁ di depan lensa cembung maka tidak akan membentuk bayangan. Hal ini karena bayangan yang dihasilkan bersifat maya, diperbesar dan tak hingga yang terbentuk melampaui batas nyata lensa. Bayangan tak hingga  akan semakin redup seiring jaraknya yang semakin jauh dengan lensa. 

    Fisika.co.id

    5. Benda Berada di Titik 2F₁

    Benda yang berada di titik 2F₁ akan menghasilkan bayangan yang bersifat nyata, terbalik, sama besar yang terletak tepat pada  2F2 di belakang lensa.

    Fisika.co.id

    Secara umum, bayangan lensa cembung memiliki sifat diperkecil yang disebabkan oleh kecembungan lensa. Hal ini membuat sinar yang melalui lensa menjadi divergen dan bayangan diperkecil dari aslinya. Bayangan juga bersifat nyata atau maya tergantung jatuhnya bayangan terhadap lensa.

    Bayangan yang dihasilkan oleh lensa cembung akan terbalik, kecuali benda berada di antara titik fokus dan titik fokus lensa yang menghasilkan bayangan tegak. Lensa cembung sering kali menghasilkan bayangan yang terdistorsi atau tidak akurat.

    Manfaat Lensa Cembung dalam Kehidupan Sehari-Hari

    Lensa cembung memiliki fungsi untuk memberikan fokus pada cahaya yang datang, sehingga cahaya dapat dibiaskan pada satu titik menggunakan belakang lensa cembung. Dalam kehidupan sehari-hari, lensa cembung memiliki banyak manfaat bagi banyak macam peralatan serta teknologi. Berikut adalah manfaatnya:

    1. Lup atau Kaca Pembesar

    Lup atau kaca pembesar adalah alat optik yang berfungsi untuk melihat benda dengan ukuran yang kecil, sehingga manusia dapat melihat benda kecil dalam ukuran yang besar. 

    2. Mikroskop 

    Dikarenakan sifat lensa cembung yang dapat membuat bayangan menjadi lebih besar, maka lensa cembung dapat dimanfaatkan pada mikroskop. Terdapat dua lensa cembung yang digunakan pada mikroskop, yaitu lensa yang berhadapan dengan mata okuler dan lensa yang berhadapan dengan benda.

    Fungsi lensa cembung yang berdekatan dengan mata atau lensa okuler yakni untuk membentuk bayangan tegak, maya, dan diperbesar. Sementara itu, fungsi lensa cembung yang berhadapan pada benda yakni untuk membentuk bayangan benda secara nyata dan terbalik.

    3. Kamera

    Lensa cembung yang digunakan dalam kamera dapat bermanfaat untuk membentuk suatu bayangan. Adapun bayangan yang dihasilkan yaitu bersifat nyata, terbalik dan diperkecil. Pada foto, bayangan harus berada pada jarak lebih dari 2 kali fokus dari lensa. 

    4. Teropong

    Fungsi teropong yakni sebagai alat yang digunakan untuk melihat benda dengan jarak yang sangat jauh agar lebih terlihat lebih jelas. Alat ini menggunakan dua lensa cembung yang diletakkan berhadapan seperti pada mikroskop. 

    Kedua lensa cembung yang menghadap pada mata berfungsi untuk memperbesar bayangan, sedangkan kedua lensa cembung lainnya yang berhadapan dengan objek benda yang akan diamati berfungsi untuk mengumpulkan sinar yang datang.

    5. Kacamata

    Pada penderita rabun dekat atau hipermetropi, kacamata berlensa cembung dapat digunakan untuk memperjelas penglihatan mereka. Dikarenakan, penderita rabun dekat tidak dapat melihat benda dengan jelas sebab bayangan benda yang jatuh ke belakang retina. 

    Salah satu cara mengatasinya yakni dengan menggunakan lensa cembung yang berfungsi untuk mengatur bayangan benda agar dapat jatuh pada retina, sehingga penderita rabun dekat dapat melihat dengan jelas pada jarak dekat.

    6. Keratometer

    Keratometer merupakan alat yang digunakan untuk memeriksa mata dengan menggunakan cermin cembung. Alat ini dapat mengukur kelengkungan kornea mata dengan cara menganggap kornea mata seperti cermin cembung, agar dapat diketahui panjang fokus kornea dan juga agar sesuai dengan lensa kontak.

    7. Kaca Pengawas

    Kaca pengawas dalam kehidupan sehari-hari dapat digunakan dalam kaca pengawas toko, pusat perbelanjaan, dan juga banyak lainnya yakni menggunakan lensa cembung. Lensa cembung digunakan untuk kaca pengawas karena pantulan bayangannya yang luas sehingga area yang dijangkau juga luas. 

    8. Penerangan Jalan

    Lampu penerang jalan menggunakan prinsip refleksi spekular yang berupa cermin cembung, sehingga dapat menghasilkan cahaya yang dapat menjangkau lebih luas serta tidak dapat menyilaukan mata pengguna jalan dan dapat menghemat lebih banyak daya.

    Sudah Paham tentang Sifat Bayangan Lensa Cembung?

    Salah satu fungsi lensa cembung adalah untuk memperbesar bayangan suatu benda. Lensa cembung banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari seperti kaca pembesar, kaca mata, lensa kamera dan sebagainya. Terdapat beberapa jenis lensa cembung sesuai dengan bentuk dan kegunaannya.

    Lensa cembung akan menghasilkan bayangan tergantung dari letak benda terhadap lensa. Bayangan akan bersifat nyata dan terbalik jika jatuh di belakang lensa, sedangkan bayangan akan bersifat maya dan tegak jika jatuh di depan lensa.

  • Apa Itu Suhu? Arti, Alat Ukur, Faktor, Akibat, Rumus, Skala & Contoh

    Apa Itu Suhu? Arti, Alat Ukur, Faktor, Akibat, Rumus, Skala & Contoh

    Belakangan ini suhu atau temperatur permukaan bumi terus mengalami peningkatan. Bahkan, di beberapa negara seperti Thailand dan India mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

    Meskipun berita tentang perubahan temperatur ini sangatlah viral, namun tidak sedikit orang yang belum tahu apa yang dimaksud dengan temperatur. 

    Suhu atau bisa disebut juga dengan temperatur merupakan derajat panas dari suatu benda. Tidak hanya sekedar itu, temperatur ini juga memiliki arti yang jauh lebih luas, lho! Pada artikel ini kami akan membahas tentang arti, skala, alat ukur, faktor penyebab, hingga contoh perhitungan rumusnya. Yuk, simak selengkapnya di sini! 

    Pengertian Suhu 

    Jika melihat dari kamus besar Bahasa Indonesia, suhu atau disebut juga temperatur dapat kita artikan sebagai sebuah ukuran kuantitatif terhadap temperatur panas ataupun dingin dari suatu benda. Pengukuran ini pun lakukan dengan menggunakan termometer. 

    Temperatur juga dapat diartikan sebagai sebuah besaran yang digunakan untuk menyatakan ukuran derajat panas maupun dinginnya suatu benda. Temperatur juga dipakai sebagai ukuran panas ataupun dingin suatu daerah. 

    Biasanya, daerah tropis seperti Indonesia mempunyai temperatur udara tertinggi di bumi, sementara area kutub memiliki temperatur udara terendah. Maka, semakin dekat dengan kutub, temperatur juga semakin rendah. 

    Skala yang Digunakan dalam Suhu 

    Ada beberapa macam skala yang dipakai dalam mengukur temperatur, yaitu Reamur, Fahrenheit, Celcius, dan Kelvin. Masing-masing skala ini punya karakteristiknya masing-masing. Ini dia penjelasannya. 

    1. Skala Fahrenheit 

    Pada tahun 1709, seorang fisikawan asal Jerman, Daniel Gabriel Fahrenheit menemukan termometer alkohol. Kemudian, di tahun 1714, ia menemukan termometer air raksa. 

    Mulanya, skala Fahrenheit ini memiliki tiga titik referensi, kemudian ia juga punya temperatur campuran antara garam (amonium klorida), air, dan es sebagai titik 0 derajat. 

    Temperatur air es tanpa garam adalah 30 derajat, kemudian standar temperatur tubuh manusia adalah 96 derajat. Angka ini sebenarnya kurang akurat, karena temperatur tubuh manusia harusnya 98,6 derajat. 

    Dari sinilah ia kemudian mengukur temperatur air saat mendidih atau sebagai titik tetap atas, yaitu ada di angka 212 derajat Fahrenheit, sehingga temperatur satu ini punya selang sekitar 180 derajat. 

    2. Skala Reamur 

    Setelah skala Fahrenheit ini ditemukan, René Antoine Ferchault de Réaumur mengusulkan untuk membuat skala yang lain. Ia pun membuat termometer dengan alkohol dan membuat ketetapan titik didih air sebesar 80 derajat R dan titik beku air adalah 0 derajat R. 

    Mengapa angka tersebut dipilih oleh Reamur? Menurutnya, angka tersebut mudah dibagi menjadi 2. Jika dibandingkan dengan angka 100 yang hanya bisa dibagi dua sebanyak dua kali. 

    Skala satu ini pun sempat ngetren di Eropa, khususnya di Jerman dan Prancis. Skala ini masih digunakan hingga saat ini. Namun, yang banyak menggunakannya hanya sebatas industri keju dan permen saja. 

    3. Skala Celcius

    Skala ini pastinya sangat familiar di telinga kamu. Ditemukan oleh Anders Celcius yang merupakan seorang astronom dari Swedia. Kalibrasi skala dari satuan ukur suhu ini cukup sederhana. Anders Celcius memilih untuk membuat titik beku air serta titik didih air sebagai referensinya. 

    Ia pun membuat selang skala temperatur ini menjadi 0 derajat Celcius sebagai titik beku air dan 100 derajat Celcius sebagai titik didih air. Hingga saat ini, skala Celcius seringkali digunakan termasuk juga dalam berbagai penelitian ilmiah. 

    Negara-negara selain Amerika Serikat banyak menggunakan skala ini, termasuk Indonesia. Jika bicara soal temperatur, maka patokan yang langsung dipakai adalah skala Celcius. 

    4. Skala Kelvin 

    Skala satu ini dibuat oleh orang Eropa, tepatnya dari Skotlandia, yaitu Lord William Kelvin. Tidak seperti skala lainnya, skala Kelvin memakai konsep nol mutlak sebagai batas bawahnya. 

    Temperatur paling rendah di alam ini secara teori adalah temperatur yang bisa membuat semua gerakan molekul menjadi berhenti. Terhentinya molekul ini membuat kita tidak bisa lagi mendeteksi adanya energi lainnya. 

    Oleh karena itu, dia menggunakan hal ini, sehingga titik nol-nya jika diukur dengan Celcius, maka suhunya adalah -273.15 Kelvin. Oleh karena itu, bisa ditetapkan bahwa titik beku air atau titik tetap bawah dari skala ini adalah 273,15 K. Sementara, titik didihnya adalah 373,15 K. 

    Satuan Kelvin ini sendiri masuk ke dalam standar pengukuran ilmiah yang dikenal dengan SI (Standar Internasional). Hal ini dikarenakan secara teoritis tidak ada temperatur yang lebih rendah dari suhu nol mutlak. Oleh karena itulah, pada Kelvin kamu tidak akan menemukan temperatur minus. 

    Selain itu, pada temperatur Kelvin, kamu tidak perlu menulis derajat. Tinggal menulis satuannya langsung, yaitu Kelvin (K).

    Sebenarnya, masih ada banyak lagi satuan temperatur. Namun, pada artikel ini kami hanya akan membahas apa yang sering digunakan. 

    5 Jenis Termometer untuk Ukur Suhu

    Alat ukur temperatur adalah termometer. Namun, termometer sendiri ada banyak jenisnya. Beberapa dari kamu sebaiknya perlu memahami yang dimaksud dengan 5 jenis termometer berikut ini: 

    1. Termometer Digital 

    Termometer digital ini adalah alat pengukur temperatur yang bisa memberikan hasil tercepat dan akurat. Biasanya, alat ukur temperatur satu ini bisa kamu temukan di toko obat, apotek, maupun toko yang membuat peralatan kesehatan. 

    Biasanya, ia memiliki bentuk serta ukuran yang berbeda-beda. Namun, yang jadi kesamaannya, yaitu terdapat sensor pada ujungnya dan bisa membaca temperatur tubuh ketika menyentuh tubuh selama beberapa detik. 

    2. Termometer Air Raksa 

    Termometer air raksa merupakan pengukur temperatur tubuh manual menggunakan merkuri atau air raksa. Alat ini sendiri berbentuk tabung serta berisi cairan raksa di dalamnya. Biasanya, jika ingin menggunakan alat ini, kamu bisa meletakkannya di bawah lidah untuk mengukur temperatur dalam tubuh kamu. 

    Merkuri atau air raksa yang ada didalam tabung gelas akan naik ke ruang kosong yang ada di dalam tabung, jika ujung termometer ini diletakan di bawah lidah. Pada tabung tersebut, terdapat titik angka penanda temperatur. 

    Nantinya, air raksa ini pun akan naik serta berhenti di angka yang menunjukkan temperatur tubuh kamu. Namun, untuk menghindari bahaya merkuri atau air raksa masuk ke dalam tubuh, sehingga penggunaan termometer ini sudah dilarang penggunaannya . 

    Termometer raksa ini juga dilarang untuk dibuang sembarangan. Jika kamu memiliki termometer ini, ia harus dibuang di tempat sampah khusus limbah medis. Kamu bisa konsultasi dengan perawat atau dokter, jika ingin membuang sampah medis satu ini. 

    3. Termometer Khusus Bayi

    Termometer satu ini memang dirancang khusus untuk bayi atau balita. Ia memiliki bentuk yang mirip seperti empeng atau dot. Biasanya, alat ini digunakan dengan cara memasukannya ke dalam mulut bayi selama beberapa saat, seperti layaknya empeng. 

    Pemakaian alat ini sebenarnya cukup sulit serta hasilnya tidak akurat, karena bayi suka bergerak dan tidak bisa diam untuk beberapa saat. 

    4. Termometer Telinga

    Seperti namanya, termometer satu ini dimasukkan ke dalam telinga untuk untuk mengukur temperatur bayi. Pada termometer ini, terdapat sinar inframerah yang bisa membaca panas di dalam telinga. ‘

    Untuk mengukur temperatur dengan termometer ini, pastikan kamu memasukan alatnya ke dalam telinga dengan benar serta jangan menekannya terlalu jauh ke dalam. Sensor inframerah harus berada tepat di permukaan lubang telinga untuk melihat hasil pengukuran alat temperatur ini. 

    5. Termometer Gun 

    Termometer ini biasanya ditempatkan di depan jidat atau kening. Pada masa pandemi, banyak orang menggunakan ini untuk mengukur temperatur tubuh melalui sinar inframerah. 

    Caranya sangat mudah, cukup memposisikan sensor inframerahnya ke depan jidat atau kening. Setelah itu, kamu akan bisa melihat hasilnya di layar. 

    Faktor Penyebab Perubahan Suhu Udara

    Seperti yang kita tahu, udara belakangan ini sangatlah panas. Bahkan, di beberapa negara seperti India dan Thailand, temperatur udara bisa mencapai 50 derajat Celsius. Kabarnya, temperatur ini pun cukup untuk melelehkan aspal. Sebenarnya, kenapa temperatur udara bisa berubah? Berikut beberapa faktor penyebabnya: 

    1. Lamanya Penyinaran Matahari 

    Salah satu elemen penting penyebab perubahan temperatur udara adalah matahari. Rupanya, lama waktu penyinaran matahari menjadi salah satu faktor yang menyebabkan temperatur udara di tempat itu semakin tinggi. 

    Contohnya, di daerah tropis, seperti Indonesia, penyinaran matahari sangatlah lama, bisa lebih dari 12 jam. Tidak heran, temperatur udara di Indonesia bisa terasa sangat panas. Hal ini tentunya berbeda dengan belahan bumi bagian selatan atau utara yang lama penyinaran mataharinya tidak sebanyak di Indonesia. 

    Biasanya, penyinaran matahari menjadi lama atau intens pada musim panas tiba, sehingga temperatur udara meningkat. Sementara ketika tidak sedang musim panas, lama penyinaran matahari menjadi sedikit dan temperatur udara menjadi dingin. Bahkan, bisa menghasilkan es atau salju. 

    2. Arah Datang Matahari 

    Arah datang matahari juga menjadi salah satu faktor yang membuat temperatur udara menjadi berubah. Biasanya, hal ini terjadi pada saat pagi atau sore hari. Pada saat ini, sinar matahari yang terpancar menjadi tidak terlalu panas. 

    Makin panas suatu temperatur udara, maka sudut datang matahari tersebut pun juga makin besar. Sudut datang yang dimaksud adalah bentuk sudut yang dihasilkan dari sinar matahari terhadap bidang permukaan bumi. 

    Ketika matahari membentuk sudut tegak lurus dengan permukaan bumi, maka akan menghasilkan sinar matahari yang sangat banyak, lalu kamu pun bisa merasakan temperatur paling panas. 

    3. Adanya Awan di Langit 

    Awan juga ternyata sangat berpengaruh untuk temperatur udara. Ketika sebuah awan melintas, maka sinar matahari akan terhalang oleh pergerakan awan tersebut, sehingga temperatur udara pun kian menurun. 

    Kamu bisa rasakan perubahan temperatur ini ketika terjadi hujan sepanjang hari. Bukankah temperatur udara menjadi semakin dingin? Inilah mengapa awan juga memegang faktor penting terhadap perubahan temperatur udara. 

    4. Ketinggian Suatu Tempat 

    Semakin rendah sebuah tempat, maka temperatur udaranya akan semakin tinggi alias semakin panas. Jika suatu tempat semakin tinggi, maka temperatur udaranya juga semakin rendah atau semakin dingin. 

    Kamu bisa bandingkan dengan wilayah Dieng yang lebih dingin dibandingkan wilayah di sekitarnya. Perbedaan temperatur tersebut karena adanya perbedaan ketinggian permukaan tanah yang dikenal dengan amplitudo. 

    5. Perbedaan Garis Lintang di Suatu Wilayah 

    Garis lintang ini membagi bumi menjadi empat wilayah dengan iklim yang berbeda, yaitu iklim tropis, sub tropis, sedang, dan dingin. Daerah yang berada di wilayah garis khatulistiwa atau wilayah tropis akan memiliki udara yang sangat panas. 

    Sementara di wilayah lain, akan terasa lebih dingin atau daerah kutub yang mengalami suhu udara dingin, bahkan ekstrim. Hal ini dikarenakan sinar matahari biasanya berfokus pada wilayah khatulistiwa atau wilayah dengan iklim tropis ini. 

    6. Pergerakan Arus Laut dan Angin 

    Arus laut serta angin juga turut mempengaruhi temperatur udara. Misalnya, ketika terjadi musim dingin di Australia, angin dan arus lautnya pun mengarah ke Indonesia, sehingga udara di Indonesia akan mengalami temperatur udara yang dingin. 

    Sebaliknya, ketika ada angin dan arus laut yang berasal dari daerah bertemperatur panas, maka temperatur udara juga akan mengalami peningkatan. 

    7. Kondisi Geografis Suatu Wilayah 

    Indonesia sendiri merupakan daerah yang dikelilingi oleh berbagai pulau dan perairan. Nyatanya, perairan itu memiliki proses penyerapan panas sinar matahari yang lama, namun juga lama dalam melepas panas tersebut. Sehingga, area yang tidak memiliki perairan biasanya memiliki perbedaan suhu yang ekstrim. 

    Misalnya, di Gurun Sahara terjadi perbedaan temperatur yang sangat ekstrim. Di mana di siang hari, suhu menjadi sangat tinggi, sementara di malam hari suhu menjadi sangat dingin, bahkan mencapai 0 derajat Celcius. 

    Jika ingin mengukur temperatur udara, kita membutuhkan alat ukur yang dikenal dengan termometer dan termograf. 

    Akibat dari Perubahan Suhu 

    Perubahan temperatur ini memiliki banyak sekali dampak atau akibat. Beberapa dampak atau akibat tersebut adalah sebagai berikut:

    • Perubahan kimia, seperti pemanasan kayu akan membuatnya berubah menjadi arang. 
    • Perubahan volume benda, biasanya benda yang mengalami pemanasan akan mengalami pertambahan volume. Sementara benda yang mengalami pendinginan akan mengalami penyusutan atau pengurangan volume. 
    • Perubahan wujud, misalnya benda yang didinginkan akan membeku, sementara benda yang dipanaskan akan melebur. Misalnya, air. Ketika didinginkan akan menjadi es, sementara es dipanaskan akan kembali menjadi air. 
    • Perubahan warna, benda yang mengalami pemanasan terus menerus akan berubah warna. Misalnya, besi yang dipanaskan akan menghasilkan pijaran merah atau akan menjadi putih pijar. 
    • Perubahan daya hantar listrik, ketika suatu benda mengalami pemanasan terus menerus, maka daya hantar listriknya akan berkurang.

    Rumus Perhitungan Suhu 

    Perhitungan temperatur sendiri sebenarnya cukup rumit. Namun, kamu bisa dengan mudah melakukannya jika sudah memahaminya. Simak dulu rumus-rumus temperatur berikut ini:

    • Rumus dari skala Celcius ke skala Fahrenheit => T (derajat C) = 9/5 T derajat Celsius + 32
    • Rumus dari skala Celcius ke skala Reamur => T (derajat R) = 4/5 T derajat R
    • Rumus dari skala Celcius ke Kelvin => T (K) = T derajat C + 273
    • Rumus dari skala Fahrenheit ke skala Celcius => T (derajat C) = 5/9 T derajat F – 32
    • Rumus dari skala Fahrenheit ke skala Reamur  => T (derajat R) = 4/9 T derajat F – 32
    • Rumus dari skala Fahrenheit ke Kelvin => T (K) = 5/9 ( T derajat F – 32) + 273
    • Rumus dari skala Reamur ke Celcius => T (derajat C) = 5/4 T derajat R
    • Rumus dari skala Reamur ke Fahrenheit => T (derajat F) = 9/4 T derajat F + 32
    • Rumus dari skala Reamur ke Kelvin => T (K) = 5/4 T derajat R + 273
    • Rumus dari skala Kelvin ke skala Celcius => T (derajat C) = TK – 273
    • Rumus dari skala Kelvin ke skala Fahrenheit => T (derajat F) = 9/5 (TK-273) + 32
    • Rumus dari skala Kelvin ke skala Reamur => T (derajat R) = 4/5 TK – 273

    Contoh Rumus Perhitungan Suhu
    Jika kamu masih bingung dengan perhitungan temperatur, kamu bisa cek beberapa contoh di bawah ini. Sangat mudah!

    1. Contoh Soal Konversi °C ke °F

    Apabila pada sebuah termometer Celcius, titik didih air adalah 100°C, maka berapa titik didih air pada termometer Fahrenheit?

    Jawaban:

    T (°F) = 9/5 T (°C) + 32= 9/5 x 100 + 32= 9 x 20 + 32= 212°F

    2. Contoh Soal Konversi °C ke K

    Jika terdapat sebuah benda dengan temperatur tertulis 75°C, maka berapa temperatur tersebut jika harus ditulis dalam satuan Kelvin (K)?

    Jawaban:

    T (K) = T (°C) + 273= 75 + 273= 348 K

    Untuk satuan suhu Kelvin tidak menggunakan derajat (°) melainkan hanya ditulis K.

    3. Contoh Soal Konversi K ke °R

    Berapakah suhu gas dalam ruangan dalam satuan skala temperatur Reamur (°R), apabila tertulis 305 K?

    Jawaban:

    T (°R) = 4/5 (K – 273)= 4/5 (305 – 273)= 4/5 (32)= 125 : 5= 25,6 °R

    4. Contoh Soal Konversi °C ke °R

    Andi sedang sakit, dan ketika diukur menggunakan termometer Celcius (°C) angka yang diperlihatkan menunjukkan 40°C. Berapakah temperatur badan Andi ketika harus di konversi ke temperatur Reamur (°R)?

    Jawaban:

    T (°R) = 4/5 x T (°C)= 4/5 x 40= 160 : 5= 32 °R

    6. Contoh Soal Konversi °F ke °C

    Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), temperatur tertinggi di Pangkalan Esperanza yang berada di ujung utara Semenanjung Antartika adalah 64,94 °F (Fahrenheit). Jika harus ditulis dalam satuan Celcius (°C), berapa temperatur tersebut?

    Jawaban:

    tF = 64,94 °F

    tC : ( tF − 32 ) = 5 : 9

    tC = 5/9 × ( tF − 32 )= 5/9 × ( 64,94 − 32 )= 5/9 × 32 ,94= 18,3°C

    Aktivitas Sehari-hari Akibat Suhu

    Jika kamu masih bingung dengan konsep dari perubahan temperatur, di sini kami akan memberikan berbagai penerapan dari konsep perubahan temperatur dalam kehidupan sehari-hari. Apa saja? Yuk, cek di bawah ini!

    1. Pemasangan Kaca Jendela

    Biasanya, para tukang yang membuat rumah akan merancang ukuran bingkai jendela sedikit lebih besar dari ukuran sebenarnya. Hal ini bertujuan untuk menghindari pemuaian, di mana ketika terjadi pemuaian, kaca akan membesar dan bingkai jendela jadi sempit dan akhirnya kaca pun menjadi pecah atau retak. 

    Saat malam hari, kaca ini pun akan mengalami penyusutan kembali. Tidak heran kalau kamu lihat kaca-kaca pada jendela itu akan terasa longgar. 

    2. Ban Sepeda, Motor, dan Mobil

    Biasanya, para montir tidak akan mengisi udara terlalu banyak ke dalam ban, karena akan mengeras dan tidak nyaman dipakai.

    Sebab, udara di dalam ban bisa memuai karena panas, sehingga sewaktu-waktu bisa meletus dan membahayakan pengemudi. Oleh karena itu, biasanya pengisian ban dilakukan secara tidak terlalu full

    3. Kawat Listrik dan Kabel Telepon

    Cobalah perhatikan kawat listrik dan kabel telepon yang ada di jalanan. Kawat dan kabel ini pasti dipasang secara mengendur dan tidak tegang, supaya kabel tidak putus ketika terjadi penyusutan kabel di malam hari. Hal ini juga dilakukan supaya kabel tidak putus jika ada pohon tumbang. 

    4. Pemuaian pada Gelas Kaca

    Pernahkah kamu ketika sedang membuat kopi, kamu menuangkan air panas ke dalam gelas, gelas tersebut malahan pecah atau retak? Gelas kaca ini tentunya bisa pecah jika kamu tiba-tiba menuang air panas. 

    Hal ini dikarenakan adanya pemuaian yang tidak merata dalam gelas. Hal inilah yang menyebabkan gelas menjadi pecah tiba-tiba. Oleh karena itu, pastikan gelas sedang dalam kondisi tidak basah ataupun dingin, supaya temperaturnya lebih merata. 

    5. Pemuaian pada Sambungan Rel Kereta Api

    Hal ini mungkin banyak tidak terpikirkan oleh kamu, yaitu pada sambungan rel kereta api. Sambungan pada rel kereta api biasanya dibuat celah. Celah ini berada di antara dua batang dan rel untuk memberikan ruang muai bagi rel ketika terkena panas.

    Harapannya, supaya rel tidak melengkung. Rel yang melengkung ini pun tentu dapat membahayakan gerbong kereta yang melewatinya. Sehingga, dapat meminimalisir risiko kecelakaan kereta api.

    6. Penggunaan Termometer

    Ini adalah salah satu aktivitas sehari-hari yang paling erat kaitannya dengan temperatur. Tujuan dari alat ini adalah untuk mengukur temperatur atau panas tubuh. Namun, beberapa saat kemudian, cairan tersebut akan naik disebabkan adanya pemuaian pasca terkena panas dari tubuh. 

    Cairan ini pun bisa berhenti, jika ada angka tertentu yang sesuai dengan temperatur tubuh kamu. Apabila termometer sudah tidak dipakai lagi, maka cairan ini pun akan turun kembali, karena mengalami penyusutan. 

    Termometer ini tentunya sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari, terutama saat memastikan kondisi kesehatan fisik seseorang. 

    Sudah Paham Tentang Suhu? 

    Itulah pengertian dari suhu, alat ukurnya, satuannya, faktor yang menjadi perubahan temperatur, akibat dari perubahan temperatur, contoh rumus, cara konversi hingga penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. 

    Setelah membaca penjelasan ini, kamu diharapkan agar bisa memahami sepenuhnya tentang apa itu temperatur serta bagaimana cara menerapkan beragam rumus-rumusnya.