Category: Kesehatan

  • Penyebab Stemi, serta Gejala dan Cara Mengobatinya

    Penyebab Stemi, serta Gejala dan Cara Mengobatinya

    Apa saja penyebab stemi hingga dapat kambuh sewaktu-waktu? Pertanyaan itu mungkin kerap terbesit dalam benak Anda. Namun, sebelum membahas tentang hal tersebut, penting untuk memahami terlebih dahulu penyakit apa sebenarnya stemi tersebut. 

    Apa Itu Stemi?

    Stemi merupakan akronim dari ST-Elevation Myocardial Infarction, yaitu salah satu kondisi serangan jantung paling berbahaya. Serangan jantung sendiri merupakan situasi di mana suplai darah dan oksigen dari darah ke otot jantung mengalami penyumbatan.

    Ketika otot jantung kelaparan terlalu lama akibat suplai oksigen dan darah yang terhenti, organ vital tersebut akan berhenti bekerja. Inilah yang menjadi penyebab stemi yang dikenal serangan jantung dengan tingkat kematian tertinggi.

    Klasifikasi Stemi

    Penyumbatan darah dan oksigen alias skemi dalan terbagi menjadi dua klasifikasi, yaitu:

    1. Stemi Anterior

    Pada kondisi stemi yang satu ini, penyumbatan pembuluh darah terjadi pada bagian arteri anterior kiri. Tugas dari arteri itu sendiri adalah menyebarkan arah ke depan (anterior jantung)

    2. Stemi Inferior

    Klasifikasi berdasarkan penyebab stemi yang selanjutnya adalah stemi inferior. Penyumbatan oksigen dan darah terjadi pada left circumflex yang memiliki tugas pendistribusian darah ke sisi bawah dan samping jantung.

    Ragam Faktor Penyebab Stemi

    Anda tentu bertanya-tanya bagaimana kondisi stemi alias penyumbatan oksigen serta pembuluh darah dapat terjadi, bukan? Hal tersebut sangat wajar, mengingat serangan jantung dapat terjadi secara tiba-tiba dan sulit dicerna faktor pemicunya. Namun, berikut adalah faktor-faktor yang menjadi penyebab stemi dapat terjadi:

    1. Kebiasaan Merokok

    Pemicu pertama tidak lain adalah kebiasaan merokok yang membuat seseorang menghirup karbon dioksida dalam volume cukup tinggi. Penghirupan CO2 mengakibatkan pasokan oksigen berkurang hingga dapat mempengaruhi kinerja pembuluh darah dan berujung penyumbatan.

    2. Riwayat Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi)

    Tekanan darah yang tinggi juga menjadi penyebab stemi. Hal tersebut terjadi karena jantung bekerja terlalu keras hingga menimbulkan tekanan yang melambatkan kinerja otot jantung. Pasokan udara dan darah ke sentral jantung berkurang karenanya hingga berujung pada serangan jantung.

    3. Keturunan (Genetik)

    Penyebab lainnya bisa karena faktor keturunan atau genetik. Jika Anda memiliki orang tua atau kerabat dekat dengan riwayat hipertensi turun temurun, maka bisa jadi diwariskan juga pada Anda.

    4. Kurangnya Aktivitas Fisik

    Stemi juga bisa terjadi karena aktivitas fisik yang sangat minim, khususnya bagi Anda yang tidak rajin berolahraga. Gerakan tubuh sangat efektif membantu kelancaran pembuluh darah dan sirkulasi udara. Jika tubuh lebih banyak diam, maka fungsi-fungsi tersebut mengalami gangguan dan memicu stemi terjadi.

    5. Riwayat Penyakit Diabetes Melitus

    Diabetes mellitus atau dikenal juga sebagai kencing manis termasuk penyebab stemi. Tingginya kadar gula darah mengakibatkan kerusakan pada pembuluh darah. Kondisi tersebut otomatis mempengaruhi kinerja berbagai organ vital, termasuk terjadinya serangan jantung.

    6. Kelebihan Berat Badan (Obesitas)

    Penumpukan lemak atau kolesterol tinggi juga menjadi pemicu stemi terjadi. Kolesterol menyebabkan berat badan berlebih (obesitas) yang memperlambat gerak tubuh dan pendistribusian darah serta oksigen. Tekanan pada jantung otomatis meningkat karena hal tersebut sehingga mengakibatkan stemi.

    Rangkaian Gejala Stemi

    Bagaimana cara mengetahui Anda terkena stemi atau tidak? Selain memperhatikan faktor risiko penyebab stemi di atas, gejala-gejala berikut bisa menjadi penanda:

    1. Rasa Nyeri di Dada Kiri

    Gejala pertama adalah nyeri di bagian dada sebelah kiri yang terasa berdenyut terus menerus selama 20 menit. Rasa nyeri tersebut perlahan menyebar ke bagian tubuh lain seperti punggung hingga rahang.

    2. Sesak Nafas

    Selain nyeri, Anda juga akan merasakan gejala berupa kesulitan bernapas karena dada terasa sangat sesak. Bila Anda tidak memiliki riwayat penyakit asma, namun merasakan sesak napas. Maka, bisa jadi hal itu merupakan gejala stemi.

    3. Keringat Berlebih (Diaphoresis)

    Penyebab stemi juga dapat menimbulkan gejala berupa keringat berlebih, namun tidak disebabkan oleh cuaca panas sekitar. Biasanya berupa keringat dingin dengan volume besar di area dahi dan telapak tangan.

    4. Jantung Berdebar Kencang (Palpitasi)

    Selain keringat berlebih, stemi juga ditunjukkan melalui gejala berupa jantung berdebar kencang atau palpitasi. Debarannya lebih kencang dibandingkan dengan melakukan aktivitas lari maraton ataupun kegiatan fisik lainnya.

    5. Sakit Kepala Berdenyut

    Aliran darah yang tidak lancar serta kurangnya pasokan oksigen juga berpengaruh pada otak. Hal itu memicu sakit kepala berdenyut yang tidak reda meskipun telah mengonsumsi obat.

    Pengobatan Stemi

    Jika seseorang sudah terlanjur mengalami gejala sebagai efek samping penyebab stemi, berikut adalah pengobatan yang akan diterima dari paramedis:

    1. Intervensi Koroner Perkutan (PCI) Jantung

    Sumber: rodnieoro

    Tindakan umum yang media lakukan untuk mengobati stemi adalah PCI jantung, yaitu tindakan pelebaran pembuluh darah yang mengalami penyumbatan. Tekniknya dengan memasukkan kateter ke pembuluh darah. Kemudian, dipompa agar mengembang sehingga area sekitarnya ikut melebar.

    2. Obat-Obatan

    Sumber: Unsplash

    Selain PCI jantung, dokter pasti akan meresepkan penggunaan obat-obatan yang membantu melancarkan pembuluh darah dan mencegah serangan jantung, seperti:

    • Beta-blocker yang memperlambat detak jantung agar lebih rileks.
    • Statin yang berfungsi menghambat produksi kolesterol dalam liver.
    • Antiplatelet untuk mengurangi penggumpalan darah.
    • Analgesik yang berguna untuk mengurangi rasa nyeri.
    • Nitrogliserin bermanfaat untuk melebarkan pembuluh darah.

    3. Operasi Bypass Jantung

    Sumber: KlikDokter

    Tindakan medis terakhir untuk mengatasi penyebab stemi adalah melakukan operasi bypass jantung. Tujuan dari operasi adalah membuat jalur baru untuk aliran darah jika PCI dan obat-obatan tidak membantu.

    Pencegahan Stemi

    Membayangkan pengobatan-pengobatan di atas tentu cukup membuat Anda bergidik, bukan? Satu-satunya jalan terbaik daripada menjalani pengobatan adalah melakukan tindakan pencegahan stemi sebagai berikut:

    1. Menjaga Berat Badan Ideal

    Berat badan ideal bukan berarti Anda harus kurus, tetapi memiliki bobot yang sesuai dengan tinggi badan. Proporsi tubuh yang pas akan membantu melancarkan peredaran darah dan oksigen sehingga penyebab stemi dapat Anda cegah.

    2. Diet Sehat

    Diet sebenarnya memiliki arti makanan yang Anda konsumsi. Jadi, diet sehat artinya Anda harus mengonsumsi makanan-makanan sehat dengan kandungan gizi dan nutrisi seimbang.

    Konsumsi makanan sehat membantu Anda untuk menghindari potensi penyakit-penyakit seperti diabetes, obesitas, dan hipertensi. Ketiganya termasuk dalam faktor risiko penyebab stemi.

    3. Berolahraga Secara Rutin

    Pastikan tubuh Anda cukup bergerak agar peredaran darah serta sirkulasi udara dalam tubuh bekerja dengan baik. Olahraga rutin selama dua puluh menit setiap hari cukup membantu memenuhi kebutuhan gerak tersebut.

    4. Menerapkan Hidup Sehat

    Selain konsumsi makanan, olahraga, dan menjaga berat badan, Anda juga wajib menerapkan gaya hidup sehat lainnya. Termasuk tidak merokok maupun mengonsumsi alkohol. Asap rokok, kandungan nikotin, serta senyawa alkohol sangat mudah merusak tubuh dan memicu faktor penyebab stemi.

    Komplikasi Stemi

    Apa yang akan terjadi jika tidak menerapkan pencegahan dan mendapatkan pengobatan yang tepat ketika mengalami stemi? Beberapa komplikasi kesehatan ini akan Anda rasakan:

    1. Gangguan Detak Jantung (Aritmia)

    Stemi menyebabkan gangguan detak jantung atau biasa disebut aritmia. Ritme jantung menjadi sangat tidak teratur dan rentan memicu dampak yang lebih fatal.

    2. Gagal Jantung

    Kondisi yang dialami setelah komplikasi dari penyebab stemi yang tidak langsung diatasi adalah gagal jantung. Ini adalah kondisi di mana jantung kehilangan kekuatan untuk memompa dan bisa berlangsung sesaat atau seterusnya.

    3. Henti Jantung

    Komplikasi terakhir yang dapat merenggut nyawa adalah henti jantung. Situasi ini membuat jantung berhenti total dan perlahan menyebar mengakibatkan kerusakan fungsi organ vital lain.

    Sudah Tahu Apa Saja Penyebab Stemi?

    Stemi merupakan suatu kondisi yang dapat dicegah melalui penerapan gaya hidup sehat. Selain itu, penyebab stemi juga masih dapat diatasi dengan persentase kesembuhan yang cukup tinggi. Sayangnya, orang-orang cenderung mengabaikan potensi stemi meskipun sudah mengetahui riwayat penyakit dan faktor risiko pemicu. 

    Di Indonesia sendiri angka kematian karena stemi sangat tinggi dan terus bertambah. Karena itu, kini adalah saatnya Anda mulai peduli. Mulailah dengan hidup sehat dan kenali gejalanya. Pada dasarnya, gejala stemi bisa berbeda pada setiap orang. Namun, jika merasakan beberapa gejala di atas, jangan ragu untuk berkonsultasi ke dokter.

  • Mengenal Apa itu Pandemi? Pengertian, Ciri & Cara Mencegahnya

    Mengenal Apa itu Pandemi? Pengertian, Ciri & Cara Mencegahnya

    Pandemi Covid19 merupakan salah satu jenis wabah yang menggegerkan dunia. Terjadi tepatnya semenjak akhir 2019 hingga awal tahun 2023, kondisi tersebut berawal dari virus yang menyebar dengan cepat hingga memakan banyak korban jiwa di berbagai belahan dunia. Tetapi, apa sih sebenarnya kondisi wabah tersebut?

    Apa Itu Pandemi?

    Istilah tersebut berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata  “pan” yang berarti semua dan “demos” yang berarti orang. Sementara, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), pandemi merupakan wabah yang berjangkit secara serempak di berbagai tempat dan meliputi daerah geografis yang luas. 

    Makna lain dari kata ini adalah epidemi yang terjadi dalam skala besar dan memengaruhi banyak orang dari berbagai kalangan. Sedangkan epidemi sendiri merupakan penyakit menular yang menyebar dengan cepat.

    Meski tersebar secara luas, apabila tidak menular dan memakan banyak korban jiwa maka penyakit atau taun tidak termasuk dalam kategori wabah tersebut. Pada umumnya, istilah tersebut digunakan untuk menunjukkan tingkat penyebaran penyakit yang luas dan cepat.

    Sejarah mencatat pada tahun 2009 terjadi wabah flu babi yang telah memakan banyak korban jiwa. Selanjutnya, pada 2018 lalu wabah Covid19 mulai menyebar dari wilayah Tiongkok dan merambat ke seluruh dunia. Covid19 menjadi persebaran wabah paling cepat dan paling luas di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

    4 Ciri-ciri Pandemi

    Sebuah penyakit dapat dikatakan menjadi sebuah wabah yang merajalela atau taun di suatu wilayah, jika memiliki empat ciri-ciri berikut:

    • penyakit tersebut menyebar secara luas dan memengaruhi banyak orang,
    • kondisi ini terjadi secara serempak dan berkelanjutan,
    • penyebarannya terjadi dalam skala yang besar dan tidak terkendali,
    • merupakan penyakit baru pada populasi.

    Ketahui 6 Cara Mencegah Penyebaran Pandemi!

    Pexels

    Seperti yang Anda ketahui, penyebaran pandemi terjadi secara luas dan sulit diprediksi. Meski demikian terdapat beberapa upaya yang dapat Anda lakukan untuk membantu mencegahnya. Pelajari dan praktikan, yuk!

    1. Penggunaan Masker

    Baru-baru ini, Coronavirus atau Covid 19 menjadi pandemi yang meresahkan penduduk di berbagai belahan dunia. Penyebaran yang cepat dan sulit diprediksi membuat banyak orang merasa khawatir. 

    Salah satu cara yang dianjurkan oleh para ahli di bidang kesehatan sebagai upaya pencegahannya adalah menggunakan masker. Masker dapat membantu menghalau virus yang menyebar di udara agar tidak masuk ke tubuh melalui saluran pernapasan.

    2. Menjaga Kebersihan Tangan

    Virus dan penyakit dapat menyebar melalui berbagai interaksi langsung maupun tidak langsung. Salah satu cara yang bisa Anda terapkan untuk mencegah penyebaran virus adalah selalu menjaga kebersihan tangan dengan mencucinya secara rutin, terutama setelah menyentuh hewan, atau benda di fasilitas umum.

    Tangan dapat menjadi media berkumpulnya kuman dan virus karena bersentuhan langsung dengan berbagai benda yang Anda pakai dalam menjalani aktivitas. Cucilah tangan ketika hendak makan dan menyentuh organ pernapasan. Praktik  ini akan membantu mencegah virus masuk ke dalam tubuh.  

    3. Menjaga Jarak dan Menjauhi Kerumunan

    Saat terjadi pandemi, akan lebih baik untuk mengurangi interaksi   dengan orang lain dengan cara menjaga jarak dan menjauh dari kerumunan. Penyakit dan virus bisa menyebar secara cepat pada sekelompok orang, terutama dalam kerumunan. 

    Mengapa demikian? Penyebabnya adalah kerumunan banyak orang akan membuat Anda berbaur dan bersentuhan satu sama lain secara langsung, bahkan mungkin dengan salah satu penderita yang dapat menyebabkan kontaminasi. 

    Saat terjadinya Covid 19 lalu, pemerintah menetapkan kebijakan physical distancing atau menjaga jarak dengan orang lain dengan tujuan menekan kemungkinan tersebut. .

    4. Menjaga Kebersihan

    Lingkungan yang bersih tentu akan menjauhkan diri dari berbagai macam penyakit dan virus. Anda bisa memulai dengan menjaga lingkungan rumah agar tetap bersih secara rutin, sehingga kuman dan virus akan sulit berkembang. 

    Selain itu menyemprotkan desinfektan pada berbagai tempat di rumah juga perlu Anda lakukan. Tidak hanya kebersihan rumah, ponsel juga menjadi salah satu tempat favorit berkembangnya kuman. Meskipun terlihat sepele, membersihkan ponsel dengan desinfektan juga perlu Anda lakukan. 

    5. Masak Makanan Sendiri

    Membeli makanan di luar mungkin terlihat lebih mudah daripada memasak makanan sendiri. Akan tetapi, dengan memasak sendiri makanan yang akan Anda makan akan menjamin bahwa semua bahan yang dipakai lebih bersih dan higienis.

    Saat membeli makanan di luar Anda tidak pernah tahu bahan apa saja yang digunakan, begitu cara pengolahannya. Sedangkan dengan memasak sendiri, selain lebih sehat, Anda juga dapat meminimalisir penyebaran penyakit yang berasal dari luar.

    Di samping itu, membawa alat makan sendiri juga merupakan salah satu upaya yang bisa Anda lakukan untuk menghalau perkembangan berbagai penyakit. Dengan demikian kebersihannya lebih terjamin.

    6. Menjaga Etika saat Bersin

    Salah satu cara untuk mencegah penularan penyakit, khususnya di kala pandemi, adalah dengan menutup mulut dan hidung ketika bersin. Percikan kuman saat bersin bisa membuat orang lain tertular penyakit. Anda tidak pernah tahu virus dan kuman apa saja yang ada saat bersin.

    Menutup mulut dan hidung ketika bersin dapat mencegah penularan penyakit, sehingga penyebarannya pun akan berkurang. 

    Apa saja Dampak Terjadinya Pandemi?

    Pexels

    Wabah yang terjadi pada suatu wilayah atau suatu waktu tentu akan menimbulkan berbagai dampak yang merugikan bagi manusia, contohnya seperti Covid19 yang baru saja terjadi. Berikut ini adalah beberapa aspek kehidupan yang terkena dampak pandemi.

    1. Dampaknya Bagi Pendidikan

    Wabah Covid19 yang menjangkit di seluruh dunia, membuat pemerintah menutup kegiatan sekolah selama masa pandemi berlangsung. Langkah tersebut merupakan  upaya yang pemerintah lakukan untuk mengurangi penyebaran virus.  Bagi para pelajar peristiwa ini tentunya akan mengganggu kegiatan belajar mereka. 

    Meski kegiatan belajar-mengajar tetap dilakukan secara daring (online), tetapi metode ini kurang efektif bagi para siswa dan guru. Para siswa banyak mengeluh bahwa mereka kurang memahami pelajaran. Di samping itu, kondisi tersebut juga dapat  menurunkan kemampuan bersosialisasi mereka.

    2. Perekonomian

    Kemunculan wabah penyakit tentunya juga berdampak bagi perekonomian setiap negara terjangkit, termasuk Indonesia. Badan Pusat Statistik RI mencatat bahwa selama pandemi Covid19, pertumbuhan ekonomi menurun, sehingga Indonesia mengalami kesulitan dalam perekonomian. 

    Banyak pelaku UMKM mengalami kesulitan dalam memasarkan produknya. Dampak penyebaran wabah tersebut juga menyebabkan pengurangan karyawan di berbagai perusahaan karena adanya pembatasan mobilitas yang pemerintah terapkan. 

    Selain itu, bagi sektor pariwisata, keadaan ini merupakan pukulan besar. Penyebaran  wabah yang meluas dan terjadi secara cepat mengakibatkan berbagai objek pariwisata harus ditutup untuk mengurangi kerumunan dan menekan kemungkinan kontaminasi virus.

    3. Dampak pada Aspek Kesehatan

    Pada awal penyebarannya, pemerintah dan tenaga kesehatan belum dapat mendeteksi dan menemukan obat atau vaksin yang dapat mengurangi penyebaran virus dan penyakit Covid19. 

    Bagi dunia kesehatan, tentunya ini merupakan krisis yang sangat buruk karena selama Covid 19 terjadi sudah banyak korban jiwa yang tidak terselamatkan. Bahkan, pasien yang telah sembuh pun dapat berpotensi mengalami gangguan kesehatan lainnya.

    3 Pandemi yang Pernah Terjadi

    Antara News

    Sebelum wabah Covid 19, sebelumnya telah terjadi berbagai pandemi yang sempat mengguncang dunia kesehatan. Adapun beberapa penyakit tersebut adalah sebagai berikut::

    1. Pandemi Flu Spanyol

    Flu Spanyol merupakan wabah yang terjadi akibat adanya virus influenza baru yang menyerang dunia. Virus ini menyebar pada tahun 1918-1919 dan telah memakan korban lebih dari 500 juta jiwa. Korban meninggal akibat virus ini saat itu lebih dari 50 juta orang. 

    Penyebab utamanya adalah karena pada saat itu virus influenza ini masih sangat baru sehingga kekebalan terhadap penyakit ini sangat rendah, terutama bagi balita dan lansia.

    2. Pandemi Flu Babi

    Flu babi merupakan penyakit yang terjadi akibat adanya virus H1N1 yang ditularkan oleh binatang. Virus ini pertama kali terdeteksi di Meksiko pada 2009 dan menyebar ke seluruh dunia hingga memakan hampir setengah juta korban. 

    3. Pandemi Covid 19

    Covid 19 merupakan penyakit yang terjadi akibat adanya coronavirus. Penyakit ini pertama kali terjadi pada akhir 2019 di Cina. Gejalanya yang mirip dengan influenza menjadikan penyakit ini sulit terdeteksi pada awal mula kemunculannya. Hal ini mengakibatkan coronavirus menyebar secara cepat.

    Penularan virus ini juga tidak terkendali sehingga memakan banyak korban jiwa. Pemerintah dan berbagai ahli telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah penyebaran dan pertumbuhan dari virus ini. Hingga saat ini vaksin terhadap coronavirus terus dikembangkan meski status pandemi telah turun menjadi endemi.

    Pentingnya Menjaga Pola Hidup Sehat

    Nah, dari pembahasan di atas terkarkait pandemi, Anda dapat mengetahui bahwasanya terdapat wabah yang menyebar dengan cepat. Bahkan, keberadaanya sulit untuk diidentifikasi pada awal mula kemunculannya sehingga sulit untuk mengendalikan persebaran wabah.

    Menjaga pola hidup sehat dengan menjaga kebersihan dapat Anda terapkan mulai saat ini untuk mencegah pertumbuhan penyakit dan virus. Selain itu, mengatur pola makan dan rajin melakukan olahraga akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh sehingga tidak mudah terjangkit penyakit. 

  • Siklus Menstruasi beserta Gangguannya yang Perlu Anda Tahu

    Siklus Menstruasi beserta Gangguannya yang Perlu Anda Tahu

    Siklus menstruasi menjadi hal penting yang perlu Anda pahami. Siklus ini berhubungan dengan sistem reproduksi wanita yang mulai menjalankan fungsinya.

    Sejatinya, menstruasi merupakan proses peluruhan dinding rahim yang tidak dibuahi melalui vagina. Siklus ini umumnya berlangsung secara rutin setiap 21 hingga 35 hari atau setiap 28 hari.

    Namun, jangan heran apabila selama kurun waktu tersebut Anda tidak mengalami menstruasi atau seringkali terjadi gangguan pada siklus tersebut. Apa sajakah gangguan itu? Lalu, bagaimana tahapan siklus menstruasi? Ikuti penjelasan berikut.

    Tahapan Siklus Menstruasi pada Wanita

    Adapun beberapa tahapan yang terjadi pada masa menstruasi wanita adalah sebagai berikut:

    1. Tahap I 

    Tahapan pertama adalah fase menstruasi yang biasanya terjadi mulai dari 3 hingga 7 hari. Meskipun demikian, pada kondisi tertentu dan untuk beberapa wanita, masa menstruasi bisa berlangsung hingga 15 hari. Hal ini tentunya bergantung pada kondisi tubuh dari masing-masing wanita. 

    Tahap ini menunjukkan bahwa lapisan dinding rahim serta sel telur meluruh menjadi darah menstruasi. Biasanya volume darah akan lebih banyak pada saat awal menstruasi, yakni pada hari pertama hingga ketiga.

    Di waktu siklus menstruasi ini, biasanya terdapat beberapa bagian tubuh yang terasa nyeri mulai dari perut, punggung, dan panggul. Kondisi ini terjadi karena meningkatnya kadar hormon prostaglandin.

    Hal tersebut mengakibatkan terjadinya kontraksi pada rahim yang berfungsi untuk meluruhkan dinding rahim. Gejala lain yang biasanya terjadi pada wanita saat masa menstruasi adalah pusing, perubahan mood, dan nafsu makan.

    2. Tahap II

    Setelah masa menstruasi selesai, maka sampailah pada siklus menstruasi berikutnya, yakni masa pra ovulasi dan ovulasi. Tahap kedua ini menandakan bahwa terjadi proses penebalan dinding rahim lagi setelah proses peluruhan.

    Kondisi ini terjadi dengan tujuan untuk mempersiapkan rahim yang menjadi tempat untuk sel telur yang berhasil mengalami fertilisasi atau pembuahan oleh sperma. Tahap ini terjadi sewaktu masa ovulasi atau waktu subur wanita.

    Waktu subur ini dapat terjadi selama 14 hari setelah hari pertama menstruasi berakhir. Namun, waktu subur setiap wanita berbeda-beda bergantung pada waktu menstruasi dan jadwal keteraturannya.

    Setelah masa pra ovulasi, siklus menstruasi berlanjut pada masa ovulasi. Tahap ini menandakan pecahnya folikel sehingga sel telur berhasil keluar dan bergerak menuju rahim melewati tuba falopi. 

    Proses fertilisasi dapat terjadi setelah sel telur keluar dalam waktu 24 jam. Sedangkan, sel sperma memiliki masa hidup dalam rahim sekitar 3 hingga 5 hari dalam rahim. 

    Oleh karena itu, pada masa ovulasi ini menjadi waktu yang tepat untuk terjadinya proses pembuahan hingga memberikan peluang yang cukup besar untuk terjadinya kehamilan.

    3. Tahap III

    Tahap ketiga pada siklus menstruasi yakni premenstrual yang menunjukkan bahwa terjadinya penebalan dinding rahim lagi. Penebalan ini terjadi karena pecahnya folikel yang membuat sel telur keluar hingga terbentuk jaringan korpus luteum. Jaringan tersebut ada di ovarium dan menghasilkan hormon progesteron. Hormon inilah yang nantinya juga memiliki peranan dalam proses penebalan dinding rahim.

    Apabila tidak terjadi proses pembuahan, maka Anda akan mengalami gejala PMS atau premenstrual yang berupa terjadinya nyeri pada payudara, pusing, hingga emosi yang tidak stabil.

    Saat kondisi ini, korpus luteum juga akan berhenti memproduksi hormon progesteron sehingga kadarnya menurun bersamaan dengan hormon estrogen. Selain itu, jaringan ini juga akan mengalami masa degenerasi serta luruhnya dinding rahim.

    Beberapa Gangguan Terkait Siklus Menstruasi

    Umumnya, masa haid terjadi secara teratur setiap bulan. Namun, terdapat beberapa gangguan yang terjadi pada beberapa wanita. Gangguan tersebut seperti:

    1. Amenorrhea

    Jenis gangguan pada siklus menstruasi yang pertama adalah amenorrhea atau tidak mengalami menstruasi. Gangguan ini terbagi menjadi dua, yaitu amenorrhea primer dan sekunder yang seringkali terjadi pada beberapa wanita. 

    Amenorrhea primer terjadi pada anak yang hingga usia 16 tahun yang masih belum mengalami masa menstruasi. Sedangkan amenorrhea sekunder yakni masa haid yang terhenti selama 3 bulan atau lebih pada wanita dengan usia subur yang sebelumnya telah mengalami menstruasi.

    2. Dismenore

    Gangguan ini berupa timbulnya rasa nyeri di perut bagian bawah saat awal menstruasi. Biasanya rasa nyeri ini terjadi pada hari pertama hingga ketiga. Bahkan, rasa sakit tersebut dapat menjalar hingga ke bagian paha.

    Hal lain yang sering terjadi yakni adanya gejala penyerta seperti rasa mual, muntah, dan nyeri pada kepala. Namun, nyeri ketika menstruasi ini juga dapat disebabkan oleh adanya penyakit tertentu seperti miom rahim, kista, endometriosis, radang panggul, atau penyakit lainnya.

    Meskipun demikian, terdapat perbedaan pada rasa nyeri menstruasi karena adanya penyakit lain atau tidak. Saat Anda mengalami nyeri menstruasi normal, maka rasa sakit tersebut akan timbul saat awal masa haid saja.

    Kondisi ini juga semakin berkurang seiring bertambahnya usia seseorang. Namun, jika rasa nyeri menstruasi yang Anda alami karena adanya penyakit lain, maka nyeri tersebut bersifat berkepanjangan.

    Artinya, selama masa menstruasi itu, rasa nyeri tersebut semakin parah. Bahkan, kondisi ini akan semakin terasa sakit seiring dengan bertambahnya usia.

    3. Menorrhagia

    Gangguan pada siklus menstruasi berikutnya adalah kondisi pengeluaran darah haid yang berlebihan. Gangguan ini yang seringkali mengganggu aktivitas harian seseorang. Bahkan, keluarnya darah secara berlebihan ini berlangsung lebih dari masa haid normal, yaitu lebih dari 5 atau 7 hari. 

    Menorrhagia dapat terjadi karena terdapat masalah pada produksi hormon, perubahan pola makan, melakukan aktivitas fisik berlebih, atau hal lainnya.

    4. Oligomenorea

    Keadaan ini menunjukkan adanya gangguan berupa terjadinya waktu haid yang jarang pada wanita. Bahkan pada kondisi ini, seseorang hanya memperoleh masa haidnya lebih dari 35 atau 90 hari atau mengalami 8 hingga 9 kali haid saja dalam satu tahun.

    Oligomenorea seringkali terjadi pada anak usia remaja yang baru saja mengalami masa pubertas dan wanita yang mendekati masa menopause. Hal ini terjadi karena adanya ketidakstabilan hormon dalam tubuh.

    5. Premenstrual Dysphoric Disorder

    PMDD merupakan gejala dari PMS yang masuk dalam kategori parah. Gangguan pada siklus menstruasi ini memberikan gejala berupa mood yang berubah-ubah, kram atau nyeri perut, pusing, mual, diare, gelisah, mudah marah, dan cemas.

    Gejala lain dari PMDD ini dapat berupa susah untuk tidur, nafsu makan yang berlebih, hingga merasakan depresi. Bahkan, seorang wanita yang merasakan gangguan ini akan kesulitan untuk berkonsentrasi, tidak memiliki energi, dan lemas.

    Bagaimanakah Siklus Menstruasi yang Anda Alami?

    Dari penjelasan tersebut, pernahkah Anda mengalami salah satu gangguan pada saat haid? Atau bahkan Anda pernah merasakan beberapa gangguan itu? Tentunya, setiap wanita memiliki perbedaan pada siklus menstruasi setiap bulannya.

    Namun, Anda perlu memperluas wawasan mengenai siklus dan gangguan yang mungkin saja terjadi saat haid. Oleh karena itu, segera lakukan pemeriksaan apabila terdapat gejala yang mengganggu siklus menstruasi Anda.

  • Penyakit OCD: Definisi, Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

    Penyakit OCD: Definisi, Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

    Pernahkan kamu mendengar sebuah gangguan kesehatan yang bernama penyakit OCD? Ini merupakan salah satu gangguan kejiwaan yang cukup banyak diderita oleh orang-orang di seluruh dunia. Bacalah artikel ini supaya kamu mengerti seperti apa gejala dan penyebab timbulnya penyakit ini.

    Apa Itu Penyakit OCD?

    Rata-rata gangguan otak dan kejiwaan dapat membuat penderitanya merasa susah dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Namun, ada pula gangguan jiwa yang membuat pengidapnya melakukan sesuatu dengan sangat rinci dan berulang-ulang. Itulah yang kita kenali dengan nama perilaku obsesif-kompulsif atau OCD.

    Secara singkat, penyakit OCD adalah suatu gangguan medis dimana penderitanya mengalami tingkah laku kompulsif atau terpaksa. Perilaku paksaan ini kemudian merangsang pasien untuk menjadi terobsesi dengan suatu kegiatan.

    Salah satu ciri yang membedakan gangguan jiwa ini dengan penyakit lain yang sejenis ialah pasien menyadari apa yang sedang mereka lakukan. Hanya saja, pasien sering merasa jika mereka tidak dapat menghentikan kebiasaan kompulsif itu, yang lalu membuat mereka cemas dan lelah.

    Macam-Macam Penyebabnya

    Suatu penyakit atau gangguan medis tidak mungkin datang tanpa adanya penyebab yang menimbulkan penyakit itu. Penyakit OCD memiliki kurang lebih tiga penyebab umum yang bisa datang kepada penderitanya dalam berbagai bentuk.

    1. Warisan Genetik

    Ada beberapa gangguan kejiwaan yang dapat diwariskan dari orang tua ke anak, dan penyakit OCD ialah salah satu contohnya. Seorang anak bisa mengidap gangguan kepribadian kompulsif ini apabila salah satu orang tuanya juga menderita OCD.

    Cara terbaik untuk mengetahui apakah seseorang menderita OCD atau tidak ialah dengan mengecek riwayat tumbuh kembangnya. Apabila kamu punya kebiasaan kompulsif semenjak kecil, artinya kamu mengidap OCD warisan.

    2. Gangguan Saraf Otak

    Bagian depan otak manusia, atau korteks frontal, berfungsi mengelola kemampuan kita dalam membuat rencana dan keputusan. Jika bagian otak ini terganggu, maka kita akan kesulitan dalam menentukan apa yang perlu dan tak perlu kita lakukan.

    Dalam beberapa kasus, penyalahgunaan obat dan zat narkotika bisa mengganggu keseimbangan zat serotonin di korteks frontal ini. Akibatnya, si penderita menjadi sulit untuk mengingat apakah dia sudah melakukan sesuatu atau belum.

    3. Pola Hidup Negatif

    Bahkan andaikata kamu tergolong bebas dari bawaan genetik, kamu tetap saja berisiko terkena penyakit OCD. Ini bisa timbul dari pola hidup yang negatif, misalnya kepribadian perfeksionis yang menghendaki kesempurnaan pada segala hal.

    Adapun bentuk pola hidup negatif yang dapat memicu timbulnya OCD yaitu kebiasaan pamer kepada orang lain. Orang yang suka pamer akan berusaha membuat dirinya benar-benar tanpa cacat, sehingga dia sibuk mengatur-atur lingkungan sekitarnya.

    Gejala-Gejala pada Penyakit OCD

    Sebetulnya ada banyak sekali gejala yang ditimbulkan oleh gangguan kepribadian kompulsif ini, baik yang terlihat maupun tidak. Meskipun begitu, ada sekitar empat gejala yang hampir pasti dialami oleh semua orang yang mengidapnya.

    1. Perilaku yang Berulang-Ulang

    Gejala gangguan obsesif-kompulsif yang pertama dan paling banyak muncul ialah tingkah laku mengulang-ulang suatu tindakan. Pasien biasanya percaya bahwa, apabila mereka tidak mengerjakan sesuatu hingga sempurna, maka mereka akan mendapat masalah di kemudian hari.

    Contohnya seperti menyapu rumah sampai tiga kali padahal rumah sudah bersih dan tak ada debu yang tersisa di lantai. Ada pula contoh perilaku berupa berkeliling rumah berkali-kali demi memeriksa apabila ada barang yang lupa dia letakkan kembali di tempatnya.

    Bukan hanya gaya hidupnya saja yang berulang-ulang, tetapi juga cara si penderita berbicara. Orang yang mengidap OCD akan mengulang-ulang kata, kalimat, atau irama sehingga pendengarnya menjadi bosan. Hal ini bisa jadi karena orang tersebut khawatir jika dia tidak berbicara dengan jelas.

    2. Takut Terhadap Kuman

    Gejala kedua yang dapat ditunjukkan oleh para pengidap penyakit OCD yaitu takut terhadap kuman yang berlebihan. Pasien akan merasa yakin bahwa di sekeliling mereka ada virus dan bakteri yang berkeliaran. Oleh karena itu, mereka mendadak jadi suka bersih-bersih di rumahnya.

    Sekadar rajin bersih-bersih saja bukan tanda seseorang mengidap gangguan obsesif-kompulsif. Kebiasaan bersih-bersih tersebut haruslah yang bersifat tidak wajar dan amat sangat teliti. Saking telitinya, si penderita bahkan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membersihkan diri dan rumah.

    Dalam kasus yang sudah parah, penderita OCD akan menolak untuk melakukan jabat tangan. Bukan hanya dengan orang asing saja, tetapi juga dengan teman dan anggota keluarganya sendiri. Gejala ini pun akan mengakibatkan si pasien menjadi takut untuk pergi keluar rumah.

    3. Menata Barang secara Simetris

    Adapun gejala yang umum terdapat pada penderita penyakit OCD yaitu kebiasaan menata barang-barang di sekitarnya dengan sangat teliti. Barang yang pasien atur cenderung berada dalam posisi yang simetris, rapi, dan tidak pernah berubah tempat atau susunannya.

    Misalnya seperti ini; seorang pengidap OCD sedang menata rak sepatu. Susunan rak sepatu di bagian atas terdiri dari sepatu olahraga, lalu di tengah ada sepatu formal, dan di bawahnya sandal kasual. Tata rak sepatu tersebut akan pasien atur agar selalu seperti ini dan tak boleh berubah.

    Inilah gejala yang acap kali pasien OCD keluhkan, sebab perilaku menata barang dengan simetris ini dapat menguras tenaga dan waktu mereka. Gejala ini bisa jadi akan lebih melelahkan jika pasien juga mengidap ketakutan terhadap kuman dan virus seperti pada bagian sebelumnya.

    4. Selalu Meragukan Banyak Hal

    Satu lagi gejala yang cukup banyak dialami oleh pasien pengidap gangguan obsesif-kompulsif ialah selalu merasa ragu akan perbuatan mereka. Penderita OCD sering memikirkan apakah kegiatan yang telah mereka lakukan sudah cukup atau masih kurang, sehingga harus mereka ulangi lagi.

    Apakah semua lampu di rumah sudah saya matikan? Sudahkah saya cuci tangan pakai sabun pagi ini? Bagaimana jika saya lupa membereskan kamar tidur? Kumpulan pertanyaan yang tampak sepele di mata orang lain tersebut dapat membuyarkan konsentrasi orang pengidap OCD.

    Pasien lalu akan menghabiskan banyak waktu demi memeriksa atau mengulangi apa yang sekiranya belum mereka kerjakan dengan benar. Apabila mereka terhalang dari melakukan kebiasaan kompulsif tersebut, maka pasien akan mengalami perasaan cemas, panik, atau bahkan marah.

    Cara Mengobati Penyakit OCD

    Karena sifatnya yang berupa penyakit kejiwaan, gangguan obsesif-kompulsif tidak bisa begitu saja diobati dengan minum obat. Ada beberapa metode pengobatan yang dapat pasien jalani tergantung dari tingkat keparahan gejalanya.

    1. Terapi Kognitif

    Metode pengobatan penyakit OCD yang pertama ialah terapi perilaku kognitif atau CBT. Terapi ini membutuhkan suatu simulasi khusus yang bertujuan menghilangkan kebiasaan obsesif-kompulsif. Dokter akan berperan sebagai pemberi instruksi yang mengarahkan pasien untuk melakukan suatu hal.

    Sementara itu, pasien dalam terapi via simulasi ini wajib melakukan segala cara untuk menghilangkan kebiasaan kompulsifnya yang terangsang. Pada akhir terapi kognitif ini, pasien sudah harus bisa mencegah dirinya dari melakukan perbuatan kompulsif tanpa arahan dari dokter.

    2. Terapi Relaksasi

    Relaksasi dalam ranah ini bukan berarti bersantai tanpa kerjaan, melainkan terapi mental untuk meredakan rasa cemas berlebih pada pasien OCD. Contoh kegiatan pada terapi relaksasi ini misalnya yoga, senam, meditasi, dan juga pijat di sekitar area kepala pasien.

    Aneka kegiatan relaksasi tersebut mampu menghadirkan perasaan tenang dan fokus kepada pikiran orang yang menderita penyakit OCD. Dengan begini, pasien mampu menjaga pola hidup yang sehat, wajar, dan tidak tergantung dengan obat-obatan anti depresi yang harganya seringkali mahal.

    3. Neuromodulasi

    Alat neuromodulasi yang lumayan canggih ini bisa menjadi sarana pengobatan untuk gangguan obsesif-kompulsif. Perangkat ini mampu menghasilkan energi yang bisa mengatur energi listrik di sekitar otak pasien. Sel-sel saraf yang menerima rangsangan energi pun diharapkan bisa melenyapkan gejala OCD.

    Perlu kamu ketahui bahwa dokter hanya akan menyarankan terapi dengan alat neuromodulasi ini pada kasus-kasus yang tergolong parah. Maksudnya adalah jika pasien OCD tidak kunjung belum sembuh padahal sudah menjalani beragam terapi dan pengobatan lainnya.

    Sudah Paham tentang Penyakit OCD?

    Gangguan jiwa obsesif-kompulsif bisa berdampak buruk kepada kemampuan pasien yang mengidapnya dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Makanya, daripada gangguan OCD ini dibiarkan tanpa terapi, ada baiknya jika pasien atau keluarganya mencari layanan kesehatan yang mumpuni.

  • Eksibisionisme: Pengertian, Dampak, Penyebab, & Cara Mengatasinya

    Eksibisionisme: Pengertian, Dampak, Penyebab, & Cara Mengatasinya

    Pernah mendengar istilah eksibisionisme? Eksibisionisme adalah kelainan seksual yang mungkin jarang mendapatkan perhatian, namun memberikan dampak yang signifikan terhadap penderita dan korbannya. Kelainan tersebut membuat penderitanya melakukan penyimpangan orientasi seksual yang bisa merugikan orang lain.

    Bahkan ada rasa kepuasan tersendiri saat penderita berhasil menuruti hasrat penyimpangannya tersebut. Nah, untuk memahami secara detail tentang istilah tersebut, mari simak pembahasannya berikut ini!

    Pengertian Eksibisionisme

    Eksibisionis atau eksibisionisme adalah jenis penyimpangan seksual yang menjadikan seseorang cenderung suka memamerkan organ vitalnya pada orang lain. Orang tersebut menunjukkan organ vitalnya secara sembarangan tanpa persetujuan orang lain atau orang yang dipamerkan organ vitalnya tersebut.

    Tujuan seseorang melakukan tindakan adalah untuk memperoleh kesenangan, sekaligus kepuasan ketika berhasil melakukannya. Bahkan, orang tersebut cenderung akan lebih bergairah lagi ketika orang yang ditunjukkannya merasa takut atau bahkan jijik.

    Selain itu, eksibisionisme adalah penyimpangan seksual parafilia. Maksudnya, penyimpangan yang mengindikasikan seseorang mempunyai gairah, fantasi, maupun hasrat seksual tinggi pada benda atau tindakan yang sifatnya tak lumrah.

    Penyimpangan seksual ini berkembang saat seseorang memasuki usia dewasa muda. Penyebab permasalahan atau gangguan kepribadian tersebut sebenarnya masih belum bisa diketahui secara pasti. Akan tetapi, beberapa faktor umum yang kerap menjadi tanda kemunculan penyimpangan seksual ini adalah sebagai berikut:

    • Kecanduan alkohol.
    • Gangguan kepribadian anti sosial.
    • Pedofilia.

    Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa ada korelasi antara pelecehan seksual dan tindakan eksibisionisme di masa kanak-anak maupun hiper seksualitas. Hal-hal tersebut merupakan faktor yang mengindikasikan seseorang mengalami gangguan tersebut, namun belum ada data valid yang bisa membuktikannya.

    Penyebab Eksibisionisme

    Sebenarnya, penyebab dari gangguan seksual ini bisa Anda bedakan dalam 2 jenis, di antaranya:

    1. Murni

    Eksibisionisme murni adalah seseorang yang cenderung menunjukkan organ vitalnya pada orang lain dari jarak jauh. Pelaku berpandangan bahwa respons kaget yang dirasakan korban dianggap sebagai minat seksual. 

    Bahkan pelaku merasa senang, sebab mereka merasa sedang menggoda korbannya dan berhasil. Kemunculan gangguan ini umumnya terjadi di masa remaja akhir maupun awal masa dewasa. 

    Lalu, untuk kondisinya hampir sama seperti preferensi seksual yang lain. Maksudnya, jenis murni bisa terjadi karena pelaku merasa minat seksnya tak dapat disalurkan. 

    Akan tetapi, perilaku tersebut cenderung akan berkurang atau menurun seiring dengan bertambahnya usia. Tindakan menyimpang ini memang tak membahayakan korban dari segi fisik, namun tak sedikit yang bahkan sampai melakukan pemerkosaan.

    2. Eksklusif

    Jenis eksibisionisme eksklusif adalah perlakukan menyimpang karena keinginan pelaku yang berusaha mempunyai hubungan romantis. Gangguan ini yang kedua ini juga masih tidak umum.

    Selain itu, para pelakunya tergolong mereka yang tak dapat menjalankan aktivitas hubungan seksual dengan normal. Hal tersebut membuat mereka lebih suka memamerkan organ vitalnya untuk memperoleh kepuasan seksual. 

    Tingkatan Eksibisionisme 

    Eksibisionisme adalah penyimpangan yang mempunyai tingkatan berbeda-beda. Di antaranya adalah sebagai berikut:

    1. Ringan

    Kondisi eksibisionisme ringan adalah hal yang umum terjadi saat seseorang mengalami fantasi dengan membiarkan orang lain memperhatikan tubuhnya. Umumnya, pelaku tidak mempunyai keberanian melakukan tindakan lebih jauh. Jadi, mereka hanya sekadar berfantasi.

    2. Sedang

    Selanjutnya ada tingkatan sedang. Di tahap ini, pelaku pernah menunjukkan bagian tubuhnya pada orang lain. Pada tingkatan ini, kemungkinan pelakunya cenderung kesulitan untuk mengontrol hasrat atau keinginan untuk tak menunjukkan organ vitalnya.

    3. Parah

    Eksibisionisme parah adalah kondisi yang terjadi pada orang-orang yang kelainan seksualnya sudah berada di tingkatan sangat parah atau sudah ada di puncaknya. 

    Seseorang yang menderita kondisi ini bukan sekadar mengalami kesulitan untuk mengontrol dirinya. Para penderitanya juga bisa memperoleh kepuasan saat berhasil melakukan tindakan penyimpangan tersebut. Meskipun jarang, namun penderita penyimpangan tingkat ini cenderung sulit untuk diobati.

    Jika memang tetap ingin mengobatinya, maka waktu yang dibutuhkan relatif lama. Selain itu, harus ada usaha yang maksimal dari penderita dan orang yang mengobatinya agar pengobatan tersebut berlangsung efektif. Sehingga, penyakit atau kelainan ini dapat sembuh.

    Gejala Eksibisionisme

    Adapun gejala paling umum yang ditunjukkan penderita eksibisionisme adalah keinginan seksual yang kuat dan sering. Kemudian, penderita tersebut ingin mewujudkan hasratnya dengan cara menunjukkan organ vitalnya pada orang lain yang tak dikenal.

    Kondisi yang tak normal ini pastinya akan memberikan rasa gelisah bagi penderitanya jika tak berhasil mewujudkan keinginannya tersebut. Bahkan, banyak kasus di mana keinginan eksibisionis ini membuat aktivitas penderitanya baik di tempat kerja maupun lingkungan sosial menjadi terganggu.

    Selain itu, penderita juga memiliki dorongan seksual untuk menunjukkan organ vital maupun aktivitas seksualnya dilakukan secara tak konsensual. Jadi, tanpa mendapat persetujuan dari orang yang bersangkutan. 

    Dampak Eksibisionisme Pada Korban

    Tindakan eksibisionisme bisa memberikan atau menimbulkan efek trauma cukup signifikan terhadap para korbannya. Penyimpangan yang penderita lakukan pada korban berpotensi menyebabkan mereka mengalami stres dan merasa menjadi korban kekerasan.

    Korban juga bisa menderita dampak psikis berupa kecemasan atau anxiety, depresi, trauma, serta histeria. Apalagi ketika para korban cenderung memilih diam karena takut mendapatkan stigma masyarakat yang menganggap mereka rendah dan kotor.

    Perlu Anda ingat bahwa yang menjadi kunci kepuasan dari pelaku eksibisionisme adalah reaksi korban seperti teriak, kaget, jijik, sampai menangis. Sementara itu, masyarakat terkadang kurang memahami perilaku penyimpangan ini dan bahayanya. Ini membuat reaksi masyarakat pada penyimpoangan ini justru yang pelaku inginkan. 

    Cara Mengatasi Masalah Eksibisionisme

    Seseorang yang menderita gangguan ini masih bisa sembuh. Beberapa tindakan perawatan atau terapi yang dapat penderita eksibisionisme adalah sebagai berikut:

    1. Psikoterapi

    Sumber: psychologytoday

    Cara pertama untuk menyembuhkan eksibisionisme adalah melalui metode psikoterapi. Psikolog akan memberikan pengobatan dengan jenis CBT atau cognitive behavioral therapy. Tujuannya untuk dapat menghindari masalah yang menjadi sebab seseorang melakukan penyimpangan seksual tersebut.

    Terapi CBT ini akan memecahkan masalah berdasarkan 5 aspek utama, yaitu:

    • Pelatihan relaksasi.
    • Pelatihan empati.
    • Restrukturisasi kognitif atau melakukan identifikasi serta mengubah pikiran agar tidak melakukan tindakan eksibisionisme.
    • Strategi coping, tujuannya untuk mengendalikan atau mengatasi situasi maupun masalah.

    2. Mengonsumsi Obat

    Sumber: media.istockphoto

    Cara lain untuk mengatasi gangguan eksibisionisme adalah memberikan obat-obatan tertentu. Biasanya, psikiater akan menyarankan untuk mengonsumsi obat antidepresan berjenis SSRI atau selective serotonin reuptake inhibitor.

    Berdasarkan penelitian, obat tersebut efektif menurunkan libido serta menunda orgasme. Tingkat efektivitas dari obat SSRI pun bisa mencapai 60 sampai 70 persen.

    Kemudian, psikiater juga akan memberikan resep obat medroxyprogesterone acetate maupun leuprolide. Obat ini secara efektif mampu menurunkan kadar hormon testosteron yang memang berperan penting untuk mengendalikan hasrat seksual.

    Akan tetapi, perlu dipahami bahwa untuk mengonsumsi obat tersebut harus benar-benar memperoleh persetujuan dokter. Selain itu, dokter pun juga melakukan tes darah terhadap penderita.

    Tujuannya untuk mengecek seperti apa efek obat yang dikonsumsinya terhadap fungsi hati. Kemungkinan, dokter juga akan memberikan penanganan atau pengobatan lainnya sesuai dengan kondisi pasien.

    3. Support Group

    Sumber: Unsplash

    Cara terakhir untuk mengatasi eksibisionisme adalah memberikan konseling kelompok atau support group. Biasanya, di dalam kelompok ini terdiri atas 5 sampai 10 penderita. Mereka akan melakukan pertemuan selama beberapa jam per minggu. 

    Kelompok tersebut akan saling memberikan dukungan sehingga mampu mengontrol perilaku seksualnya. Komunitas tersebut juga membantu para penderita untuk mempunyai sudut pandang baru. Dengan begitu, mereka akan lebih mudah mengontrol perasaan atau tindakan seksualnya yang menyimpang tersebut.

    Pengobatan ini sangat dibutuhkan karena para penderita akan saling membantu agar bisa sembuh dari kelainan tersebut. Dengan begitu, mereka bisa kembali di lingkungan masyarakat serta mampu menjalani kehidupan yang normal seperti orang-orang pada umumnya.

    Sudah Memahami Apa itu Eksibisionisme?

    Kesimpulannya, eksibisionisme adalah penyimpangan seksual yang tak boleh dianggap remeh karena bukan hanya merugikan penderita melainkan orang lain. Sangat penting untuk menyadari gejala kelainan eksibisionis tersebut sejak dini. Sehingga, penanganan atau pengobatan bisa segera dilakukan. 

    Selain itu, pelaku harus mempunyai keinginan kuat untuk sembuh sehingga proses penyembuhannya berjalan efektif. Sebagai informasi, sebanyak 2 sampai 4 persen tindakan eksibisionis berasal dari laki-laki. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan ada perempuan yang juga menderita penyimpangan seksual ini.