Category: Kuliah

  • Kuesioner Adalah: Tujuan, Jenis, Contoh & Cara Membuatnya

    Kuesioner Adalah: Tujuan, Jenis, Contoh & Cara Membuatnya

    Dalam suatu penelitian tentang quality maupun quantity biasanya membutuhkan teknik pengumpulan data, salah satunya adalah kuesioner. Cara ini banyak digunakan oleh para mahasiswa saat menyelesaikan tugas akhir karena memiliki kualitas yang baik. 

    Tak hanya mereka, para pebisnis pun memakainya untuk mengetahui tingkat kepuasan pelanggan. Artikel ini akan menjelaskan secara lengkap mengenai pengertian, tujuan, hingga cara membuat kuesioner.

    Definisi Kuesioner

    Kuesioner adalah teknik dari pengumpulan informasi yang berisi sejumlah pertanyaan untuk para responden melalui suatu survey atau metode statistik.

    Sedangkan, menurut Anggi dan dkk dalam penelitiannya mengatakan bahwa kuesioner ialah metode mengumpulkan data dengan memberikan beberapa macam pertanyaan yang ada kaitannya dengan masalah dari penelitian. 

    Dari dua pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kuesioner merupakan teknik pengumpulan informasi dengan cara menghimpun data dari beberapa pertanyaan yang diajukan kepada responden.

    Tujuan Kuesioner

    Setelah mengetahui definisinya, lanjut ke tujuan dari kuesioner. Sebenarnya tujuan dari pembuatan kuesioner tergantung pada tujuan si pembuat. Pada dasarnya. fungsinya adalah mendapatkan informasi dari penerima kuesioner. Nah, informasi tersebut akan diolah menjadi data statistik. 

    Apabila yang membuat kuesioner adalah mahasiswa, biasanya mereka menggunakan cara ini untuk penelitian kuliah. Seperti yang dilakukan oleh  Anggi dan dkk, yang menggunakan kuesioner untuk mengetahui minat baca siswa SD terhadap penggunaan media big book

    Namun, jika yang membuat adalah pengusaha atau pebisnis. Artinya, mereka sedang melakukan customer satisfaction survey terhadap kualitas barang atau keadaan toko. Tak hanya itu, Para HRD menggunakan kuesioner sederhana sebagai alat asesmen perekrutan karyawan atau menilai kualitas karyawan.

    Apakah kamu juga pernah mendapatkan kuesioner dari suatu platform media sosial ? Nah, kuesioner semacam itu biasanya digunakan untuk menilai platform tersebut dalam menyampaikan informasi.

    Jenis-Jenis dan Contoh Kuesioner

    Contoh Kuesioner
    Contoh Kuesioner | Image source : Pexels.com

    Dalam pembuatan kuesioner terdapat beberapa macam bentuknya dan banyak sekali contoh kuesioner, pada artikel ini akan kita sebutkan berdasarkan jenis kuesionernya ya!  Ada 7 jenis kuesioner yang perlu kamu ketahui, yaitu : 

    1. Kuesioner Terbuka

    Jenis kuesioner ini menggunakan jawaban bebas. Maksudnya, para responden dapat menjawab pertanyaan yang ada tanpa ada batasan.

    Contoh kuesioner ini adalah kuesioner mengenai suatu jasa/produk yang  dengan pertanyaan sebagai berikut:

    1. Menurut Anda, apakah jasa A dapat membantu menyelesaikan masalah Anda?
    2. Menurut Anda, bagaimana peran jasa A dalam kehidupan Anda?
    3. Apakah jasa A memiliki kekurangan? Jelaskan!

    2. Kuesioner Tertutup

    Kuesioner tertutup adalah kuesioner yang berisi pertanyaan beserta alternatif jawaban. Dengan demikian, para responden hanya perlu memilih jawaban yang tersedia pada angket tersebut. 

    Contoh kuesioner tertutup yaitu kuesioner suatu produk yang jawabannya sudah dapat kamu pilih. Berikut adalah contoh pertanyaannya, yaitu:

    1. Apakah produk A dapat membantu menyelesaikan masalah Anda? Jawab: Ya/ Tidak.
    2. Apakah Anda menemukan kendala dalam menggunakan produk A? Jawab: Ya / Sedikit / Tidak.
    3. Menurut Anda, apakah produk A memiliki kekurangan? Ya/ Tidak.

    3. Kuesioner Terbuka dan Tertutup 

    Kuesioner ini kombinasi antara kuesioner terbuka dan kuesioner tertutup. Jadi, ada sejumlah pertanyaan yang dapat dijawab secara bebas dan ada pula yang terdapat alternatif jawaban untuk dipilih responden. 

    Contoh kuesioner terbuka dan tertutup yaitu kuesioner suatu produk yang jawabannya sudah dapat kalian pilih dan dijawab bebas oleh responden. Berikut adalah contoh pertanyaannya, yaitu:

    1. Apakah produk B dapat membantu Anda dalam mengatasi jerawat ? Jawab: Ya/ Tidak.
    2. Apakah Anda mengalami kendala dalam menggunakan produk B? Jelaskan apa saja kendala yang Anda temui!
    3. Menurut Anda, apakah produk B memiliki kekurangan? Ya/ Tidak

    4. Kuesioner Bersifat Langsung 

    Kuesioner yang sifatnya langsung berisi daftar pertanyaan yang berkaitan dengan pribadi responden sehingga ada relevansi antara pertanyaan dengan tujuan penelitian si pembuat kuesioner.

    Contoh kuesioner ini adalah kuesioner mengenai kedisiplinan pegawai. Sementara itu, yang menjadi responden adalah karyawan itu sendiri.

    5. Kuisioner Secara Tidak Langsung

    Kuesioner ini berisi daftar pertanyaan yang isinya mengenai orang lain. Para responden menjawab pertanyaan tersebut karena tahu jawaban yang tepat dari pertanyaan tersebut.

    Contohnya kuesioner mengenai kualitas suatu guru. Nah, yang mengetahui kebiasaan mereka adalah siswa. Jadi, yang menjawab kuesioner tersebut para siswa bukan gurunya. 

    6. Kuesioner Kuantitatif

    Kuesioner berfungsi untuk menyelesaikan suatu masalah yang berhubungan dan selesai  dengan angka. Contoh kuesioner kuantitatif yaitu menanyakan dengan rata rata dan jumlah misalnya, yaitu:

    1. Berapakah rata -rata anda membeli produk A?
    2. Berapa lama jangka waktu antara anda awal membeli produk A dengan produk B?
    3. Berapa harga produk A dan produk B?

    7. Kuesioner Kualitatif

    Kuesioner ini berkebalikan dengan kuesioner kuantitatif. Jenis kuesioner kuantitatif berfungsi untuk menyelesaikan suatu masalah yang tidak ada kaitannya dengan angka. Biasanya mereka menggunakan cara ini untuk mengetahui kualitas suatu hal tertentu.

    Contoh kuesioner ini yaitu menanyakan kualitas seperti kualitas barang, dengan pertanyaan sebagai berikut: 

    1. Bagaimana kualitas dari produk A setelah Anda pakai?
    2. Apakah kualitas produk A sama dengan produk B?
    3. Bagaimana kualitas produk A jika dicampurkan dengan produk B?

    5 Cara Membuat Kuesioner Sederhana

    Membuat Kuesioner Sederhana
    Membuat Kuesioner Sederhana | Image source : Pexels.com

    Cara membuat kuesioner terbilang cukup mudah. Namun, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan. Berikut adalah 5 cara membuat kuesioner sederhana lengkap beserta langkah-langkahnya, yaitu: 

    1. Menentukan Target Responden

    Pada tahap pertama, kamu harus pastikan kalau target yang akan dituju sesuai dengan tujuan kuesioner. Responden kuesioner ini sangat penting sekali karena jawaban mereka juga penentu hasil dari kuesioner.

    2. Menyusun Rumusan Masalah 

    Rumusan masalah ini berfungsi mempercepat kamu dalam menyusun pertanyaan. Dengan demikian, kamu bisa mengetahui penyelesaian dari masalah tersebut. 

    3. Menentukan Tujuan Penelitian 

    Tujuan penelitian memudahkan kamu dalam menentukan tipe kuesioner yang akan dipakai. Oleh karena itu, pastikan kamu menentukan tujuan penelitian dengan matang.

    4. Menentukan Jenis Kuesioner 

    Seperti yang sudah kamu ketahui sebelumnya, jenis-jenis kuesioner ini banyak sekali. Jadi, kamu dapat memilihnya sesuai dengan kebutuhan penelitian. Sebelum menentukannya, pastikan jenis kuesioner yang dipilih tidak melenceng dari tujuan penelitian.

    5. Memastikan agar Identitas Responden Tetap Rahasia

    Identitas responden sangat penting. Cara ini dapat digunakan apabila responden meminta pembuat kuesioner untuk merahasiakan identitasnya. Oleh karena itu, kamu wajib menjaga kerahasian identitas responden dengan baik.

    Cara Membuat Kuesioner dengan Google Form 

    Penggunaan google form memang sudah populer pada zaman ini. Para mahasiswa menggunakan ini untuk menyelesaikan karya ilmiah, bahkan penyelesaian skripsi pun memakai cara ini. 

    Keuntungan dari Google Form ini adalah kuesioner dapat dibagikan kepada siapa saja dengan mudah dan cepat. Hasilnya pun juga dapat langsung disalurkan ke dalam Google Sheet loh.

    Dengan demikian, data dapat kalian olah menggunakan Microsoft Excel atau SPSS. Langkah-langkah yang harus kamu lakukan adalah sebagai berikut, yaitu:

    1. Masuk ke platform Google Form.
    2. Pilih ikon plus atau blank form.
    3. Masukkan judul kuesioner dengan klik kolom judul.
    contoh survey google form
    contoh survey google form | Image source : Screenshot Pribadi
    1. Isi bagian form description dengan keterangan mengenai kuesioner.
    2. Isi kolom pertanyaan dan pilih tipe jawaban. Ada beberapa jawaban yang dapat dipilih. Jadi kalian bisa sesuaikan dengan jenis kuesioner yang kalian pilih.
    contoh survey google form | Image source : Screenshot Pribadi
    1. Hidupkan “required” agar responden menjawab semua pertanyaan.
    2. Ulangi langkah 5-6 untuk membuat pertanyaan.  
    3. Setelah itu, kamu dapat memilih menu setting untuk mengedit kuesioner.
    4. Klik tombol send di pojok kanan atas halaman.
    5. Bagikan Google Form menggunakan tautan link atau via email. 

    Penggunaan Google Form ini tentunya harus memakai akun Google. Jadi, pastikan kamu memiliki akun terlebih dahulu. Jika tidak, maka buatlah dulu akun Google. 

    Ingin Coba Buat Kuesioner Sendiri? 

    Kuesioner adalah teknik pengumpulan informasi yang mudah dilakukan. Namun, dalam membuat kuesioner pastikan kamu memahami betul target responden, tujuan, hingga jenis kuesioner yang dipilih.

    Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi kamu yang ingin membuat penelitian menggunakan kuesioner. Dengan demikian, kamu sudah paham cara membuat kuesioner beserta jenis-jenisnya. Selamat mencoba!

  • Laporan Teks Percobaan: Pengertian, Tujuan, dan Contohnya

    Laporan Teks Percobaan: Pengertian, Tujuan, dan Contohnya

    Pernahkah Anda melakukan percobaan? Setelah melakukan sebuah percobaan, biasanya Anda akan diminta untuk membuat sebuah laporan. Laporan itu adalah laporan teks percobaan. Apakah pengertian, tujuan, ciri-ciri, dan bagaimanakah cara membuat laporan ini? Simak artikel ini agar Anda dapat mengetahuinya. 

    Pengertian Laporan Teks Percobaan

    Sebelum melakukan sebuah percobaan, ada yang namanya hipotesis atau dugaan sementara. Setelah itu, baru percobaan dilakukan untuk mencari tahu apakah hipotesis tersebut benar atau tidak. Langkah terakhir dalam proses percobaan adalah penulisan laporan teks percobaan. 

    Mengapa demikian? Karena laporan percobaan akan mencatat segala proses percobaan dari awal hingga akhir. Mulai dari tujuan percobaan tersebut dilakukan, apa saja alat dan bahan untuk percobaan tersebut, hipotesis sementara, proses percobaan, hingga hasil akhirnya.

    Jadi, laporan percobaan adalah teks yang mencatat proses percobaan dari awal hingga akhir tanpa meninggalkan hal sekecil apapun. 

    Tujuan Laporan Teks Percobaan

    Mungkin Anda bertanya-tanya apa pentingnya laporan teks percobaan. Selain menjawab rumusan masalah yang ada, teks laporan sangat penting untuk menambahkan wawasan dan pengetahuan baru kepada banyak orang.

    Bayangkan saja, jika sebuah proses percobaan tidak memiliki laporan, hal itu akan menjadi percobaan yang sia-sia dan tidak memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat. Hanya orang yang melakukan percobaan tersebut saja yang dapat mengetahui hasil dari percobaan tersebut.

    Ciri-ciri Laporan Teks Percobaan

    Berikut adalah beberapa ciri-ciri dari laporan teks percobaan:

    • Isi dari laporan tersusun dengan rapi dan sistematis.
    • Berisikan laporan hasil percobaan atau eksperimen.
    • Urutan isinya dimulai dengan tujuan percobaan, bahan dan alat untuk percobaan, proses percobaan, dan terakhir adalah hasil percobaan.
    • Semua yang tertulis harus berdasarkan fakta yang terjadi di lapangan.
    • Penulis harus objektif dan tidak memihak.
    • Penggunaan bahasa baku adalah suatu hal yang mutlak ketika sedang menulis laporan percobaan, tetapi pastikan isi laporan tetap menarik untuk dibaca.
    • Menjawab hipotesis awal dengan hasil dari percobaan sesuai fakta di lapangan.

    Struktur Laporan Teks Percobaan

    Pada dasarnya, struktur dari laporan teks percobaan terbagi menjadi 5 bagian penting. Apa sajakah itu? Berikut adalah penjelasannya.

    1. Pendahuluan

    Sebelum ke inti permasalahan, penulis harus dapat membekali pembaca dengan beberapa informasi utama mengapa percobaan tersebut penting. Ada 3 unsur penting yang perlu pembaca ketahui pada tahap pendahuluan ini. Ketiga unsur tersebut adalah latar belakang, rumusan masalah, dan tujuan percobaan. 

    2. Landasan Teori

    Dengan adanya masalah, tentu harus ada teori yang mendukung penyelesaian masalah yang ada. Pilihlah teori yang relevan dengan permasalahan dan jelaskan agar pembaca dapat memahaminya dengan baik.

    3. Metode Percobaan

    Di tahap ini, penulis menjelaskan apa saja yang dibutuhkan untuk dapat mengumpulkan data dan informasi demi menguji kebenaran hipotesis. Beberapa hal yang tercatat di tahap ini adalah subjek percobaan, sampel yang digunakan, metode pengumpulan data, alat dan bahan, serta metode analisis.  

    4. Hasil Percobaan

    Hasil percobaan harus tertulis dengan runtun, sistematis, dan objektif berdasarkan fakta percobaan. Apabila data berupa angka, maka penulis dapat membuat grafik, diagram, atau tabel yang sekiranya membantu pembaca untuk lebih mudah menangkap hasil dari percobaan.

    5. Kesimpulan

    Untuk menutup laporan, kesimpulan yang memuat inti dari permasalahan dan jawabannya juga harus ditulis. Pada tahap ini juga, penulis dapat menjawab rumusan masalah yang ada pada pendahuluan. 

    Kaidah Kebahasaan Laporan Teks Percobaan

    Kaidah kebahasaan pada laporan teks percobaan terbagi menjadi 6, antara lain:

    1. Menggunakan Pola Kalimat Aktif

    Ciri kalimat aktif adalah subjek melakukan sesuatu. Contohnya adalah “Awan menghasilkan air hujan”. Awan berperan sebagai subjek atau pelaku, menghasilkan adalah kata kerjanya, dan air hujan adalah objeknya. Penggunaan kalimat aktif ada pada seluruh bagian laporan, mulai dari awal hingga akhir.

    2. Menggunakan Kata Benda

    Dalam teks laporan, kata benda pasti muncul. Namun, kata benda lebih sering muncul dalam tahapan langkah-langkah. Contohnya adalah “Campurkan garam, tanah liat, dan abu gosok.” Di sini, garam, tanah liat, dan abu gosok adalah kata benda.

    3. Menggunakan Kata Kerja

    Kata kerja adalah kata yang menjelaskan apa yang pelaku atau subjek lakukan. Contohnya adalah telur asin memiliki kadar garam yang tinggi. Kata kerja dari kalimat tersebut adalah memiliki.

    4. Menggunakan Kalimat Imperatif

    Apakah itu kalimat imperatif? Kalimat imperatif adalah kalimat perintah yang berakhiran tanda seru. Pada teks laporan, kalimat ini akan muncul pada bagian langkah-langkah. Contohnya adalah “Balurkan campuran bahan tersebut pada kulit telur asin!”

    5. Menggunakan Kata Tugas

    Konjungsi dan preposisi juga perlu dalam laporan percobaan. Kata hubung seperti dan, tetapi, apabila, pasti akan muncul dalam teks laporan. Begitu pula preposisi seperti di, ke, dari, juga akan banyak bermunculan dalam sebuah teks.

    6. Menggunakan Kata Serapan

    Bahasa asing yang melalui proses penyesuaian agar ejaan dan penulisannya cocok dengan Bahasa Indonesia adalah makna dari kata serapan. Banyak kata serapan yang tertulis dalam teks laporan. Contohnya adalah supermarket.

    Cara Membuat Laporan Teks Percobaan

    Apakah Anda masih bertanya-tanya bagaimana cara membuat laporan teks percobaan yang baik dan benar? Jangan khawatir, setelah membaca tahapan ini, Anda akan dapat membuat teks yang baik. Berikut adalah dua tahapan untuk membuat teks percobaan:

    1. Membuat Kerangka Teks Sesuai Struktur

    Hal pertama yang dapat Anda lakukan adalah membuat kerangka sederhana sesuai struktur teks laporan. Tidak perlu membuat secara lengkap, asalkan inti dari apa yang ingin Anda tuliskan sudah termuat dengan baik. 

    Mulailah dari awal pendahuluan, landasan teori, metode percobaan, hasil percobaan, dan kesimpulan dengan lengkap. Hal ini akan memudahkan Anda ketika menulis laporan yang sebenarnya.

    2. Mengubah Kerangka Teks Menjadi Teks yang Sebenarnya

    Jika kerangka teks Anda sudah jadi, maka inilah saatnya mengubah kerangka tersebut menjadi teks laporan. Beberapa hal yang harus Anda perhatikan adalah bahasa dalam teks asli harus baku dan menggunakan istilah ilmiah. 

    Jangan ada kesalahan dalam penulisan kata dan buatlah kalimat yang baku namun menarik agar pembaca tidak merasa bosan ketika membaca teks Anda. Tidak perlu membuat kalimat yang terlalu panjang dan bertele-tele, asal jelas dan tepat sasaran.

    Contoh Laporan Teks Percobaan

    Untuk membantu Anda memahami lebih dalam mengenai laporan teks percobaan, Anda dapat membaca contoh teks percobaan ini.

    Judul: 

    Percobaan Membuat Telur Asin

    Tujuan: 

    Telur asin adalah telur bebek yang melalui proses pengasinan dan memiliki gizi tinggi. Mengonsumsi telur asin dapat membuat tubuh menjadi sehat. Bagaimanakah cara membuat telur asin secara tradisional? Penelitian ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui proses pembuatan telur asin.

    Alat dan Bahan:

    • Telur bebek
    • Garam
    • Tanah liat
    • Abu gosok
    • Amplas

    Langkah-langkah percobaan:

    • Pertama-tama, cuci telur bebek sampai bersih.
    • Amplas kulit telur hingga menjadi tipis.
    • Masukkan tanah liat, garam, dan abu gosok dalam satu wadah, lalu campur hingga merata.
    • Lapisi bagian kulit telur menggunakan campuran tanah liat, garam, dan abu gosok.
    • Biarkan telur dalam baluran tersebut selama 20 hari pada suhu ruang.

    Hasil Percobaan:

    Setelah mendiamkan telur selama 20 hari, ada perubahan yang signifikan. Perubahan tersebut adalah rasa dari telur bebek menjadi asin.

    Kesimpulan:

    Telur bebek yang dibalut dengan campuran tanah liat, garam, dan abu gosok selama 20 hari dapat berubah rasa menjadi asin. Konsumsi telur asin tidak disarankan bagi penderita darah tinggi karena telur asin memiliki kadar garam yang cukup tinggi. Namun bagi yang lain, boleh mengonsumsi telur asin karena gizinya tinggi.

    Sudah Tahu Apa itu Laporan Teks Percobaan dan Cara Pembuatannya?

    Setelah mempelajari lebih dalam mengenai laporan teks percobaan, apakah Anda sudah mengerti pengertian, tujuan, dan cara pembuatannya? Laporan percobaan sangat penting karena banyak orang perlu membuatnya. Bahkan mereka yang bersekolah pun juga harus menulis laporan tersebut jika melakukan eksperimen.

    Tidak sulit untuk membuat laporan percobaan asalkan sudah mengerti struktur dan ciri-cirinya. Ingat bahwa penulisan laporan percobaan harus sistematis, runtun, dengan bahasa formal dan ilmiah. Mudah, bukan? Maka dari itu, Anda dapat menerapkan hal ini dan mulai menulis laporan percobaan Anda sendiri.

  • Apa itu Penelitian Kuantitatif? Pengertian, Tujuan, Ciri dan Contohnya

    Apa itu Penelitian Kuantitatif? Pengertian, Tujuan, Ciri dan Contohnya

    Umumnya terdapat dua metode yang sering digunakan dalam penelitian, yakni kualitatif dan kuantitatif. Keduanya memiliki perbedaan yang terletak pada pendekatannya. Namun, artikel ini akan berfokus untuk menjelajahi lebih dalam terkait penelitian kuantitatif.

    Mari simak dengan seksama ulasan lengkapnya, mulai dari definisi, tujuan, ciri, hingga contoh-contohnya!

    Definisi Penelitian Kuantitatif

    Penelitian kuantitatif adalah salah satu metode penelitian yang berfokus pada penggunaan data berbentuk angka, baik dari tahap pengumpulan hingga interpretasi data.

    Dalam buku Metodologi Penelitian Kuantitatif Pendidikan Jasmani karya Untung Nugroho, kuantitatif adalah jenis penelitian yang terstruktur, terencana, dan sistematis.

    Sementara itu, sebagaimana yang tertulis dalam buku Metode Penelitian Kuantitatif karya Imam Santoso dan Harries Madiistriyatno, kuantitatif merupakan suatu metode atau prosedur untuk mengumpulkan, menganalisis data, dan menafsirkan hasil analisis tersebut.

    Istilah kuantitatif ini merujuk pada pendekatan yang berfokus pada analisis statistik. Data-data yang terkumpul cenderung berupa angka atau data numerik.

    Banyak yang beranggapan bahwa metode kuantitatif merupakan metode konvensional karena telah digunakan dalam penelitian selama periode yang panjang. Maka tak heran jika metode ini telah menjadi bagian dari tradisi dalam dunia penelitian.

    Baca Juga : Apa Itu Metode Penelitian? Pengertian, Tujuan, Jenis, Manfaat & Contoh

    Tujuan Penelitian Kuantitatif

    Penelitian Kuantitatif
    Penelitian Kuantitatif | Image source : Unsplash.com

    Tujuan dari penelitian kuantitatif mencakup beberapa aspek dan bertujuan untuk mengembangkan model matematis. Artinya, metode ini berguna untuk merumuskan hipotesis yang relevan dengan kenyataan yang akan diteliti. Jadi, kuantitatif tidak hanya sekadar mengambil teori dari literatur.

    Metode yang satu ini juga bertujuan untuk melakukan pengukuran. Pengukuran ini penting karena dapat membantu dalam memahami hubungan yang mendasar antara data kuantitatif dengan pengamatan empiris.

    Selain itu, metode penelitian ini juga berguna untuk mengidentifikasi variabel dalam suatu populasi, baik dalam konteks studi deskriptif maupun eksperimental.

    Studi deskriptif merujuk pada situasi di mana peneliti melakukan uji relasi antar variabel hanya sekali. Di sisi lain, studi eksperimental merujuk pada situasi di mana peneliti melakukan pengukuran antar variabel sebelum dan sesudah pelaksanaan penelitian.

    Ciri-ciri Penelitian Kuantitatif

    Merujuk buku Metode Penelitian Kuantitatif karya Adhi Kusumastuti,Ph.D, dkk, ciri-ciri penelitian kuantitatif adalah sebagai berikut:

    • Penelitian ini menggunakan paradigma penelitian ilmiah yang mengadopsi pandangan positivisme.
    • Pendekatan penelitian ini berguna untuk menjelaskan penyebab fenomena sosial dengan menggunakan analisis berbasis angka dan pengukuran yang objektif.
    • Penelitian kuantitatif memiliki sifat behavioristik, mekanistik, serta empiristik.
    • Metode ini memiliki karakteristik yang spesifik, rinci, dan jelas.
    • Teknik penelitian ini mencakup penggunaan survei, kuesioner, eksperimen, observasi, dan wawancara yang terstruktur.
    • Penelitian ini selesai jika semua data yang sesuai telah terkumpul.
    • Pendekatan penelitian ini menggunakan sampel.
    • Analisis data baru dapat dilakukan apabila pengumpulan datanya selesai.
    • Dalam penelitian ini, peneliti dan responden memiliki hubungan yang cenderung berjarak. Biasanya bahkan tanpa melakukan kontak langsung atau hanya berlangsung dalam waktu yang singkat.

    Jenis-Jenis Penelitian Kuantitatif

    Pendekatan penelitian Kuantitatif
    Pendekatan penelitian Kuantitatif | Image source : Unsplash.com

    Ada beberapa jenis penelitian kuantitatif bergantung pada tujuan dan pendekatan yang digunakan. Berikut ini adalah beberapa jenisnya:

    1. Korelasi

    Metode korelasi adalah salah satu metode kuantitatif yang berguna dalam proses evaluasi. Kegunaan utamanya adalah untuk mendeteksi variasi antara satu faktor dengan faktor lainnya yang berlandaskan pada koefisien korelasi.

    2. Deskriptif

    Metode deskriptif adalah metode kuantitatif yang memiliki tujuan untuk menggambarkan situasi sosial yang sedang diteliti secara sistematis dan mendalam. Metode ini digunakan untuk menggambarkan fakta atau karakteristik dari suatu populasi atau bidang tertentu secara faktual dan teliti.

    3. Kausal Komparatif

    Metode penelitian kausal komparatif ini memiliki nama lain ex-post facto. Penggunaan metode kausal komparatif umumnya terkait dengan evaluasi untuk mengidentifikasi kemungkinan hubungan sebab-akibat.

    4. Komparatif

    Metode komparatif berfokus pada perbandingan dua atau lebih perlakuan atau beberapa variabel. Tujuan dari metode komparatif ini adalah untuk menganalisis perbedaan di antara dua atau lebih peristiwa, situasi, atau program.

    Dalam proses perbandingan ini, semua elemen dalam komponen penelitian terhubung satu sama lain. Perhitungan dalam metode ini mencakup persamaan dan perbedaan dalam perencanaan, pelaksanaan, serta faktor yang mendukung hasil penelitian tersebut.

    5. Eksperimen

    Metode eksperimen berguna untuk menguji keefektifan dari variabel eksperimen. Umumnya, penelitian kuantitatif ini digunakan dalam bidang ilmu eksak terlebih pada situasi di mana pengendalian atau manipulasi variabel yang relevan tidak memungkinkan untuk dilakukan.

    6. Survei

    Metode survei berguna untuk mengumpulkan data dan informasi tentang fakta-fakta serta karakteristik dari suatu populasi atau wilayah tertentu secara sistematis, faktual, dan akurat.

    Jenis metode ini umumnya memiliki tujuan untuk mendapatkan data atau informasi tentang populasi yang relatif besar. Jadi, metode ini akan memerlukan penggunaan sampel berukuran besar untuk representatifitasnya.

    7. Inferensial

    Metode inferensial terlibat dalam proses analisis hubungan antara variabel dengan menguji hipotesis. Oleh karena itu, hasil kesimpulan penelitian dalam metode inferensial tidak hanya berhenti pada presentasi data kuantitatif saja.

    Metode penelitian ini juga mendiskusikan sejauh mana probabilitas kesalahan dalam membuat kesimpulan berdasarkan data yang diambil.

    Contoh Judul Penelitian Kuantitatif

    Pembuatan Penelitian Kuantitatif
    Pembuatan Penelitian Kuantitatif | Image source : Unsplash.com

    Contoh dari penelitian kuantitatif sangatlah banyak. Namun, beberapa gambaran terkait contoh metode penelitian dapat kamu simak di bawah ini:

    1. Penelitian dalam Ilmu Komunikasi

    Berikut contoh judul penelitiannya:

    • Persepsi Masyarakat Desa Ngale tentang Kencono pada Tahun 2013.
    • Pengaruh Kualitas Pelayanan MMC (Muhammadiyah Medical Centre) terhadap Kepuasan Mahasiswa FKI UMS.
    • Pengaruh Menonton Serial Animasi Upin dan Ipin terhadap Nilai-Nilai Moral Siswa Sekolah Dasar.
    • Pandangan Mahasiswa Ilmu Komunikasi mengenai Peran Olga sebagai Pembawa Acara Musik Dahsyat di RCTI.
    • Pengaruh Pemberitaan Kecelakaan Lalu Lintas Bus Sumber Kencono di Media terhadap Citra Bus Sumber.

    2. Penelitian dalam Ilmu Informatika

    Berikut contoh judul penelitiannya:

    • Pembuatan Media Pembelajaran Matematika Berbasis Android untuk Kelas XI SMP.
    • Dampak Pemanfaatan Aplikasi Pembelajaran Android di SMP Negeri 1 Semarang.
    • Membangun Sistem Informasi Presensi Kuliah dengan Teknologi NFC pada Program Studi Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer.
    • Perancangan Aplikasi Human Resource Information System (HRIS) Berbasis Website untuk PT. Super Tata Raya Steel.

    3. Penelitian dalam Ilmu Psikologi

    Berikut contoh judul penelitiannya:

    • Hubungan antara Komunikasi Organisasi dan Produktivitas Karyawan.
    • Keterkaitan Pribadi yang Optimis dengan Kepatuhan Terapi pada Pasien Diabetes Tipe 2.
    • Hubungan antara Harga Diri dan Konformitas pada Remaja Perokok.
    • Pengaruh Gaya Kelekatan Romantis Dewasa terhadap Kecenderungan Kekerasan dalam Hubungan Pacaran.
    • Hubungan antara Pertukaran Kepemimpinan dengan Tingkat Kepercayaan Karyawan pada Manajer.

    Kelebihan dan Kekurangannya

    Adapun uraian terkait kelebihan dan kekurangan dari metode penelitian kuantitatif adalah sebagai berikut:

    1.    Kelebihan Metode Kuantitatif

    Berikut beberapa kelebihannya:

    • Dapat berguna untuk menduga hasil dari penelitian.
    • Jika mengikuti metode ini dengan benar, maka bisa dengan mudah mendapatkan hasil analisis yang akurat.
    • Pengukuran interaksi antara dua atau lebih variabel sangat memungkinkan dalam metode ini.
    • Metode ini dapat menyederhanakan permasalahan yang kompleks.
    • Penelitian dengan metode ini cenderung sistematis.
    • Dalam penerapannya, metode ini mengadopsi teori yang telah ada.
    • Penelitian ini berjalan dengan objektif.
    • Umumnya hasil dari penelitian dengan metode ini sangat jelas, spesifik, dan rinci.
    • Metode ini dapat diimplementasikan untuk penelitian dengan sampel yang besar.

    2.    Kekurangan Metode Kuantitatif

    Berikut beberapa kekurangannya:

    • Metode kuantitatif bergantung pada anggapan atau asumsi.
    • Data dalam penelitian ini harus berdistribusi normal dan hanya untuk penggunaan analisis data populasi dan sampel yang sebanding.
    • Metode ini tidak cocok untuk menganalisis sampel dengan jumlah yang sedikit.
    • Pengumpulan data pada metode ini berfokus pada nilai-nilai yang tertinggi.
    • Sifat penelitian ini kurang subyektif dan lebih terfokus pada jumlah.
    • Metode kuantitatif memiliki keterbatasan dalam hal menggali responden dan kendala pada kualitas alat pengumpulan data.
    • Dalam metode ini keterlibatan peneliti juga terbatas.

    Baca Juga : Mengenal Metode Penelitian Kualitatif: Ciri, Tujuan dan Contohnya

    Sudah Paham Mengenai Metode Penelitian Kuantitatif?

    Itulah pembahasan mengenai metode penelitian kuantitatif termasuk contoh judul studinya. Setelah membaca ulasan di atas, apakah kamu sudah paham mengenai metode penelitian ini secara keseluruhan?

    Pada dasarnya, studi kuantitatif menjadi salah satu metode yang memberikan kontribusi penting dalam dunia penelitian. Metode penelitian tersebut berguna bagi peneliti untuk membantu mengumpulkan data yang akurat, menganalisisnya secara sistematis, dan merumuskan kesimpulan yang objektif. 

    Namun seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, metode ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Pada intinya, keberhasilan dalam penelitian ini juga akan bergantung pada perencanaan, pengumpulan data, serta analisis itu sendiri. 

  • Penelitian Kualitatif: Pengertian, Tujuan, Ciri, Jenis, dan Contohnya

    Penelitian Kualitatif: Pengertian, Tujuan, Ciri, Jenis, dan Contohnya

    Ada dua metode yang bisa kamu gunakan saat meneliti sesuatu, metode kuantitatif dan kualitatif. Keduanya adalah metode berbeda  di mana kuantitatif bentuknya numerik yang nantinya diproses secara statistik. Sementara itu, penelitian kualitatif lebih menekankan analisis atau penjelasan deskriptif.

    Pada artikel kali ini akan membahas lebih dalam apa itu metode kualitatif. Harapannya supaya kamu memahami betul metode ini dan bisa menerapkannya saat mengerjakan karya ilmiah seperti skripsi, makalah, dan lainnya.

    Pengertian Penelitian Kualitatif

    Apa itu Penelitian Kualitatif?
    Apa itu Penelitian Kualitatif? | Image source : istockphoto.com

    Kualitatif adalah sebuah metode penelitian yang bersifat deskriptif. Metode ini menggunakan data deskriptif untuk menganalisis dan menjelaskan suatu fenomena tertentu, baik individu maupun dinamika sosial, tanpa adanya unsur numerik dan alat-alat statistik.

    Saat menggunakan metode ini, peneliti lebih menonjolkan sesuatu yang bersifat perspektif subjek. Mereka juga memanfaatkan landasan teori dari para ahli sebagai pemandu agar hasilnya sesuai dengan fakta di lapangan ketika penelitian berlangsung.

    Tujuannya untuk menjelaskan suatu fenomena dengan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dan sedalam-dalamnya. Metode ini mengutamakan pengamatan suatu peristiwa dan meneliti ke substansi makna dari peristiwa tersebut, sehingga perlu ketajaman analisis yang kuat.

    Biasanya metode kualitatif dimulai dengan mengembangkan asumsi-asumsi dasar. Lalu, peneliti mengaitkannya dengan teori penelitian yang digunakan dan mengambil data dari survei lapangan kemudian diinterpretasikan.

    Beberapa ahli dari berbagai literatur mencoba mendefinisikan pengertian dari penelitian kualitatif, seperti:

    1. Ali dan Yusof (2011)

    Ali dan Yusof mengatakan metode ini tidak menghadirkan alat-alat statistik dalam penelitian. Inilah yang membedakan antara penelitian lainnya, yakni kuantitatif. Sebab kuantitatif sangat bergantung pada perhitungan dan analisis statistika.

    2. Suryono (2010)

    Suryono memaparkan metode ini  untuk menjelaskan suatu peristiwa. Lebih lengkapnya, Suryono mengatakan kualitatif bertugas untuk menyelidiki, menemukan, dan menjelaskan dampak sosial yang tidak bisa dijelaskan oleh pendekatan kuantitatif.

    3. Moleong (2005)

    Sementara itu, menurut pendapat Moleong, pendekatan ini berguna untuk memahami suatu fenomena yang dialami oleh subjek penelitian. Contohnya memahami perilaku, motivasi, tindakan, dan persepsi subjek penelitian.

    Fenomena tersebut diteliti dengan cara mendeskripsikannya dalam bentuk kata-kata analisis dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.

    4. Merriam (2009)

    Menurutnya, metode ini mencoba untuk mengeksplorasi dan memahami suatu fenomena lebih dekat dengan subjek yang berfokus pada proses dan pengalaman.

    Dari sini mungkin kamu bertanya, siapa subjek dari metode penelitian deskriptif ini?

    Subjeknya mencakup manusia dan semua yang dipengaruhi olehnya. Elemen-elemen itu saling berinteraksi dan menciptakan sebuah hubungan sehingga membentuk suatu perilaku, fenomena, atau peristiwa yang menjadi fokus utama pada penelitian ini.

    Tujuan Penelitian Kualitatif

    Tujuan Penelitian Kualitatif
    Tujuan Penelitian Kualitatif | Image source : istockphoto.com

    Sederhananya, metode ini bertujuan untuk menjelaskan suatu fenomena yang terjadi di masyarakat. Di sini, peneliti harus mencari tahu dan menggali informasi sedalam-dalamnya tentang suatu peristiwa untuk dijadikan data.

    Peneliti juga harus mengerti betul masalah yang akan ditelitinya. Kalau peneliti tidak punya pengetahuan memadai tentang masalah tersebut, maka akan berpengaruh pada hasilnya bahkan tidak bisa memenuhi syarat penelitian kualitatif.

    Pemahaman mendalam terkait masalah akan membantu kamu saat meneliti. Semakin memahami masalah, membuat risetmu semakin dalam. Kalau riset sudah dalam, maka data yang diperoleh juga mendalam. Kalau sudah begitu, hasil penelitian juga semakin berkualitas.

    Baca Juga : Mengenal Metode Penelitian Kualitatif: Ciri, Tujuan dan Contohnya

    Ciri-ciri Penelitian Kualitatif

    Untuk bisa membedakannya dengan metode penelitian kuantitatif, ada beberapa ciri yang bisa kamu pahami. Karakteristik itu seperti:

    1. Sumber Datanya dari Lingkungan

    Ciri khas dari penelitian kualitatif adalah sumber datanya dari lingkungan. Karena subjeknya fokus pada manusia dan sekitar, maka sumber penelitiannya berasal dari berbagai fenomena sosial yang terjadi. Jadi, cara menelitinya lewat interaksi langsung menggunakan observasi, pencatatan, dan penggalian ke sumber-sumber secara mendalam.

    Bisa juga dikatakan metode ini menerapkan konsep bahwa peneliti adalah instrumen. Maksudnya, yang jadi instrumen penelitian adalah kamu sendiri sebagai peneliti. Kamu harus terjun langsung untuk menggali informasi, mencari data, merespon jawaban responden, dan menginterpretasinya untuk mendapat hasil penelitian.

    2. Sifatnya Subjektif

    Berbeda dengan kuantitatif, metode penelitian kualitatif cenderung bersifat subjektif. Mengapa bisa begitu? Ini karena metode penggalian data yang digunakan tidak menggunakan angket seperti kuantitatif, tapi lewat wawancara dan pengamatan. 

    Dari sinilah peneliti bisa mengolah data yang didapat dengan memasukkan berbagai perspektif termasuk perspektifnya sendiri.

    3. Pendekatan Induktif

    Peneliti biasanya mengumpulkan data terlebih dahulu, setelah itu baru mengolahnya. Mereka akan menganalisis data yang didapat untuk menjadi konsep atau teori.

    Berbeda dengan metode penelitian kuantitatif yang mendahulukan hipotesis atau teori, kemudian hipotesis tersebut dikumpulkan lalu diuji.

    4. Fokus ke Proses

    Metode ini menuntut kamu untuk fokus ke proses. Artinya, peneliti membutuhkan waktu dalam proses pengerjaan karena bisa saja subjek penelitiannya mengalami suatu perkembangan.

    Saat wawancara misalnya. Tentunya kamu membutuhkan lebih dari satu orang untuk mendapat informasi. Nah,  bisa jadi ketika wawancara ke narasumber A, informasi yang didapatkan perlu mendapat konfirmasi dari narasumber B, atau bisa juga informasinya berbeda dengan kondisi lapangan.

    Oleh karena itulah penelitian ini memerlukan waktu dan fokus ke proses yang membuatmu harus terus berinteraksi dengan subjek yang kamu teliti.

    5. Hasil Data Deskriptif

    Karena ini penelitian deskriptif, hasilnya pun berbentuk deskripsi. Berbeda dengan kuantitatif yang hasilnya berbentuk tabel, diagram, atau angka, kualitatif lebih ke mendeskripsikan hasil yang kamu dapat.

    Jenis-Jenis Penelitian Kualitatif

    Selanjutnya, ketahui apa saja jenis-jenis penelitiannya berikut ini:

    • Fenomenologi: Peneliti memahami satu orang atau lebih yang mengalami suatu peristiwa.
    • Etnografi: Meneliti perilaku alami yang terjadi di suatu kelompok sosial atau budaya tertentu.
    • Studi kasus: Meneliti individu, organisasi, bisnis, atau lembaga secara mendalam untuk mencari penyebab dan menggambarkan kondisi.
    • Verifikasi: Untuk menguji kebenaran ilmu.
    • Deskripsi: Penelitian untuk menjelaskan suatu masalah.
    • Eksplorasi: Untuk menemukan pengetahuan dan masalah baru di bidang pendidikan.
    • Studi dokumen: Penelitian yang menggunakan dokumen tertulis untuk dilakukan analisis dan interpretasi.
    • Observasi alami: Sebuah pengamatan terhadap seluruh objek tertentu tanpa mengubahnya.
    • Historis: Penelitian yang meneliti soal sejarah.
    • Tindakan: Penelitian yang menerjemahkan pengetahuan ke dalam tindakan nyata dan mempelajari cara menanggapi situasi di lapangan

    Prosedur dan Cara Mengolah Datanya

    Mengolah data
    Mengolah data | Image source : istockphoto.com

    Kalau ingin menggunakan metode ini, ada beberapa prosedur yang harus kamu perhatikan, yaitu:

    • Merumuskan masalah;
    • Mengumpulkan data dari lapangan;
    • Analisis data;
    • Merumuskan hasil penelitian; dan
    • Menyusun rekomendasi untuk membuat keputusan.

    Dari prosedur itulah akan kamu ketahui bagaimana cara mengolah data penelitian deskriptif ini. Berikut caranya:

    1. Mengumpulkan Data

    Langkah pertama adalah mengumpulkan data. Untuk bisa mendapatkan data, kamu bisa melakukan berbagai cara, misalnya dari wawancara. Wawancara ini melibatkan interaksi antara dua orang atau lebih untuk mendapatkan informasi.

    Selain itu, kamu juga perlu melakukan wawancara mendalam dengan narasumber. Supaya informasinya lebih mendalam, gunakan kreatifitas untuk menggali informasi penting karena hasil interview akan bergantung pada kemampuan tersebut.

    Selain wawancara, ada observasi yang dilakukan lewat pengamatan dan pencatatan terhadap sesuatu yang kamu teliti. Bisa juga dengan forum group discussion atau lewat dokumentasi (catatan).

    Semua bisa kamu gunakan tergantung topik apa yang ingin diangkat. Jadi, sesuaikan saja dengan masalah pada penelitianmu.

    2. Reduksi dan Klasifikasi Data

    Setelah mengumpulkan data sebanyak-banyaknya, lakukanlah penyaringan. Pilih dan pilah mana data yang relevan dan mendukung penelitian agar memudahkan kamu dalam menganalisis dan mendapatkan hasil terbaik untuk penelitian.

    3. Menyajikan Data

    Selanjutnya kamu perlu menyajikan dan menyusun data secara sistematis. Tujuannya agar hasil penelitian mudah dipahami.

    4. Membuat Kesimpulan

    Terakhir, kamu bisa menarik kesimpulan sebagai hasil akhir penelitian. Isi dari kesimpulan ini harus mencakup semua informasi yang kamu dapatkan. Jangan gunakan bahasa yang berbelit-belit dan hasil penelitian harus jelas.

    Contoh Penelitian Kualitatif

    Agar pemahamanmu lebih matang, ada beberapa contoh judul penelitian kualitatif/deskriptif, seperti:

    • Nilai-Nilai Islam dalam Novel Perempuan Berkalung Sorban karya Abidah El-Khalieqy dan Implementasinya dalam Kehidupan.
    • Analisa tentang Pelaksanaan Kegiatan English Day di SMA Jatinegara 02 Surabaya.
    • Studi Kualitatif Kualitas Komunikasi Interpersonal dalam Mediasi Pembebasan Tanah oleh PT Subur Jaya Abadi.

    Sudah Paham tentang Penelitian Kualitatif?

    Penelitian kualitatif bertujuan untuk mengkaji suatu fenomena menggunakan analisis deskriptif. Berbeda dengan kuantitatif yang lebih mengedepankan statistika dan angka.

    Meski tampak lebih mudah dari kuantitatif, namun sebenarnya metode ini memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya butuh waktu yang lama dan hasilnya cenderung subjektif. Supaya tidak salah metode, pastikan kamu paham betul mengenai apa yang sedang kamu teliti dan pilih metode yang sesuai untuk mendapat hasil maksimal.

  • Mengenal Metode Penelitian Kualitatif: Ciri, Tujuan dan Contohnya

    Mengenal Metode Penelitian Kualitatif: Ciri, Tujuan dan Contohnya

    Metode penelitian kualitatif adalah salah satu dari 2 jenis metode penelitian berdasarkan pendekatannya. Dalam metode ini, data utama adalah tulisan deskriptif, bukan angka seperti dalam metode penelitian kuantitatif.

    Berikut ini adalah penjelasan mengenai penelitian kualitatif yang penting untuk Anda ketahui sebelum melakukan penelitian.

    Apa Itu Penelitian Kualitatif?

    Secara umum, penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang menggunakan data berupa tulisan deskriptif. Peneliti menggunakan metode kualitatif untuk mengkaji fenomena yang terjadi pada manusia, suatu kejadian, peristiwa, persepsi, dinamika sosial, dan lain sebagainya.

    Dalam penelitian kualitatif, pendahuluan akan berisi asumsi dasar peneliti. Selanjutnya peneliti akan mengumpulkan data dan mengkajinya dengan konsep yang sesuai.

    Baca Juga : Apa Itu Metode Penelitian? Pengertian, Tujuan, Jenis, Manfaat & Contoh

    Metode Penelitian Kualitatif Menurut Para Ahli

    Metode Penelitian Kualitatif Menurut Para Ahli
    Metode Penelitian Kualitatif Menurut Para Ahli | Image source : pexels.com

    Berikut ini adalah beberapa pengertian penelitian kualitatif menurut para ahli:

    1. Strauss dan Corbin

    Menurut pendapat mereka, penelitian kualitatif menghasilkan penemuan yang tidak bisa peneliti dapatkan melalui pengolahan data statistik. Peneliti dapat menggunakan pendekatan ini untuk mengkaji sejarah, fenomena sosial, dan lain-lain.

    2. Moloeng

    Moloeng menjelaskan bahwa penelitian kualitatif bertujuan untuk mengungkap fenomena secara menyeluruh. Dalam penelitian kualitatif, peneliti akan menganalisis  data dengan menggunakan metode ilmiah dan berdasarkan teori yang jelas.

    3. Perreault dan McCarthy

    Pendapat ini mengatakan bahwa penelitian kualitatif berusaha mengungkap fenomena secara mendalam melalui apa yang narasumber sampaikan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti akan menggali informasi dari narasumber tanpa arahan tertentu.

    4. Nasution

    Nasution menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah proses pengamatan terhadap individu atau kelompok di dalam lingkungan, interaksi mereka, serta pikiran mereka mengenai topik yang peneliti kaji.

    5. Sugiono

    Sugiono mengatakan bahwa triangulasi sangat penting dalam metode penelitian kualitatif. Pendekatan yang menggunakan filsafat postpositivisme ini mengkaji kondisi objek secara ilmiah dan menempatkan peneliti sebagai instrumen kunci.

    Ciri-ciri Penelitian Kualitatif

    Pendekatan kualitatif memiliki ciri khusus, yakni sebagai berikut:

    1. Bersifat Deskriptif Analisis

    Karena data yang peneliti dapat adalah informasi berbentuk tulisan, penggambaran kondisi, dan hal semacam itu, maka hasil penelitian akan berbentuk deskriptif. Tidak hanya tulisan biasa, hasil penelitian akan berusaha menjelaskan fenomena yang menjadi objek penelitian.

    Selain itu, hasil penelitian juga bisa berbentuk kronologi suatu kejadian atau penyajian berupa cerita.

    2. Sumber Data dari Manusia dan Lingkungannya

    Seperti penjelasan pada bagian sebelumnya, bahwa metode penelitian kualitatif bertujuan mengkaji fenomena sosial manusia beserta lingkungannya. Maka, data yang akan peneliti dapat adalah pikiran manusia dan kondisi di sekitarnya.

    Proses pengumpulan data terdiri dari banyak metode, antara lain interaksi langsung, observasi, penggalian informasi, dan pencatatan.

    3. Bersifat Induktif

    Pengkajian dalam penelitian kualitatif bersifat induktif. Bersifat induktif berarti data terpisah namun tetap relevan dengan asumsi dasar peneliti. Sebelum mengumpulkan data, peneliti akan membuat asumsi dasar yang kemudian ia verifikasi di lapangan.

    Peneliti akan melalui proses mulai dari eksplor temuan, membuat catatan, melakukan kajian, membuat laporan, hingga penelitian selesai.

    4. Makna Adalah yang Utama

    Dalam penelitian kualitatif, peneliti harus fokus pada makna subjek penelitian terhadap objek yang ia kaji. Misalnya, dalam pengkajian fenomena perubahan kebiasaan siswa sekolah. Peneliti harus menggali informasi dari para siswa tanpa memberi tekanan tertentu.

    5. Fokus terhadap Proses

    Data yang peneliti dapatkan sangat bergantung pada bagaimana ia menggali informasi. Misalnya, jika peneliti mendapatkan data dari wawancara, maka pertanyaan peneliti harus kritis dan mendalam sehingga memperoleh data yang lebih spesifik dan lengkap.

    Tujuan Metode Penelitian Kualitatif

    Secara umum, penelitian kualitatif bertujuan untuk mengkaji sebuah fenomena. Peneliti harus bisa menjelaskan fenomena tersebut secara mendalam dan benar-benar menggambarkan pikiran subjek penelitian.

    Penelitian kualitatif berusaha menggali informasi sedalam mungkin sehingga bisa mengungkap apa yang sebenarnya terjadi. Jika peneliti memiliki sifat kritis, maka penelitian bisa menggambarkan kondisi yang tidak hanya di permukaan saja.

    Ada beberapa hal yang harus peneliti perhatikan supaya tujuan penelitian kualitatif bisa tercapai:

    • Tidak fokus pada angka sebagai variabel penelitian
    • Tidak menggunakan pengolahan data secara statistik
    • Memiliki struktur yang jelas
    • Objek penelitian tidak bergantung pada angka
    • Peneliti harus memiliki kemampuan elaborasi

    Prosedur Metode Penelitian Kualitatif

    Ada beberapa tahapan dalam penelitian kualitatif yang perlu Anda pelajari:

    1. Proses Pengumpulan Data

    Proses Pengumpulan Data
    Proses Pengumpulan Data | Image source : pexels.com

    Ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk mendapatkan data, yaitu wawancara, observasi, interpretasi dokumen, hingga FGD (Focus Group Discussion). Proses pengumpulan data mempengaruhi hasil penelitian.

    Karena proses sangat penting dalam penelitian kualitatif, maka kemampuan peneliti dalam mendapatkan data yang mendalam sangat ia butuhkan. Mau tidak mau, peneliti harus terjun ke lapangan jika ingin mendapatkan data yang dalam dan akurat.

    2. Klasifikasi Data dalam Penelitian Kualitatif

    Klasifikasi Data dalam Penelitian Kualitatif
    Klasifikasi Data dalam Penelitian Kualitatif | Image source : wallarm

    Setelah data terkumpul, peneliti harus melakukan klasifikasi terhadap data tersebut. Ada berbagai bentuk data yang akan Anda dapatkan, mulai dari hasil wawancara, hasil observasi, dan foto-foto pendukung.

    Anda sebagai peneliti bisa mereduksi jika ada data yang tidak relevan dengan penelitian. Selain itu, peneliti juga perlu membuat kategori data sehingga proses analisis dalam metode penelitian kualitatif akan lebih mudah.

    Data yang tidak sistematis akan menghambat proses penelitian. Jika tidak bisa mengerjakannya sendiri karena terlalu banyak data, Anda bisa meminta bantuan pada jasa klasifikasi data.

    3. Penyajian Data

    Penyajian Data
    Penyajian Data | Image source : pexels.com

    Jika data sudah terklasifikasi dengan baik berdasarkan kategori yang peneliti buat, kini waktunya data ditampilkan peneliti dalam deskripsi maupun diagram yang mudah dipahami.

    Pemahaman peneliti dan pembaca sangat penting. Untuk mewujudkan pemahaman yang baik, maka penyajian data yang baik juga harus Anda perhatikan.

    4. Analisis dan Penarikan Kesimpulan

    Analisis dan Penarikan Kesimpulan
    Analisis dan Penarikan Kesimpulan | Image source : blog.udemy

    Proses terakhir adalah analisis data dan penarikan kesimpulan. Dalam proses ini peneliti menjelaskan fenomena berdasarkan data yang ia dapatkan. Ia juga perlu mengaitkan dengan asumsi dasar yang telah dibuat.

    Dari analisis dan kesimpulan ini, akan didapatkan konsep yang menjelaskan sebuah fenomena secara mendalam.

    Contoh Metode Penelitian Kualitatif

    Berikut adalah contoh dari penelitian kualitatif, antara lain:

    1. Studi Kasus

    Studi kasus adalah jenis penelitian kualitatif yang fokus pada pengkajian latar belakang dan interaksi yang terjadi di masyarakat. Biasanya, studi kasus peneliti pilih jika ia ingin mengkaji peristiwa atau program di dalam sebuah kelompok masyarakat.

    Jika kelompok yang akan diteliti memiliki tujuan yang sama, kondisi tersebut akan memberi keuntungan untuk peneliti. Namun, jika tujuan para anggotanya saling bersebrangan, maka data yang terkumpul akan sulit untuk peneliti jelaskan.

    2. Fenomenologi

    Seperti namanya, fenomenologi berusaha mengungkap arti dari sebuah fenomena yang terjadi pada individu maupun kelompok. Dengan kata lain, fenomenologi bertujuan untuk mencari tahu pengalaman dari objek penelitian.

    Fenomenologi memaksa peneliti untuk bisa mencari makna dari setiap pengalaman yang dialami oleh objek yang diteliti. Untuk mendapatkan hal tersebut, peneliti mengumpulkan data menggunakan metode wawancara dan observasi.

    3. Etnografi

    Etnografi merupakan metode penelitian kualitatif yang cocok Anda gunakan dalam mengkaji budaya pada masyarakat. Pengumpulan data biasanya membutuhkan waktu yang lama. Hal tersebut karena budaya dalam masyarakat tidak bisa terlihat begitu saja dalam waktu yang singkat.

    Jika pengumpulan data hanya dilakukan dalam waktu singkat, pola budaya masyarakat akan sulit diidentifikasi. Jenis penelitian kualitatif ini jarang peneliti pilih karena mereka harus menghabiskan waktu yang panjang. Jika penelitian biasanya bisa selesai dalam beberapa bulan saja, penelitian etnografi bisa selesai dalam waktu bertahun-tahun.

    Terdapat pengembangan dari metode etnografi yang disebut dengan netnografi. Konsepnya sama dengan etnografi, namun netnografi fokus pada budaya masyarakat di internet.

    4. Metode Teori Dasar

    Metode teori dasar biasa dikenal dengan nama grounded theory. Teori dasar bertujuan untuk menguatkan teori yang sudah ada. Dalam metode teori dasar, peneliti harus memiliki kemampuan untuk memilah mana yang masuk ke dalam fenomena inti dan yang bukan.

    Hampir sama seperti metode lain, pengumpulan data dalam metode teori dasar juga bisa peneliti lakukan dengan wawancara dan observasi.

    5. Metode Histori

    Metode histori bertujuan untuk mengkaji peristiwa yang sudah terjadi di masa lalu. Peneliti mendapatkan sumber data dari peninggalan dan catatan sejarah. Selain itu, peneliti juga bisa melakukan wawancara dengan tokoh terlibat yang masih hidup.

    Kelebihan dari metode ini adalah datanya yang sudah ada. Namun, data yang sudah ada juga akan menimbulkan keterbatasan bagi peneliti. Jadi, peneliti harus mampu melakukan observasi mendalam terhadap data yang terbatas tersebut.

    Metode ini juga sering dikenal dengan studi dokumen atau teks. Interpretasi peneliti terhadap dokumen atau teks sangat berpengaruh pada hasil penelitian.

    Sudah Siap Melakukan Metode Penelitian Kualitatif?

    Kini Anda sudah mendapatkan bekal dasar untuk mulai melakukan penelitian kualitatif. Sebelum mulai, tentukan dahulu fenomena apa yang ingin Anda teliti. Jika sudah memutuskan topiknya, Anda bisa melakukan survey terlebih dahulu untuk melihat kondisi calon objek penelitian.

    Selanjutnya, Anda bisa melakukan persiapan berupa pertanyaan jika akan melakukan wawancara. Selain itu Anda juga bisa menyiapkan catatan jika akan melakukan observasi.

  • Identifikasi: Pengertian, Tujuan, Bentuk, Proses, dan Contohnya

    Identifikasi: Pengertian, Tujuan, Bentuk, Proses, dan Contohnya

    Dalam kegiatan sehari-hari, Anda mungkin tidak pernah terlepas dari kegiatan mengidentifikasi. Proses identifikasi sangatlah penting untuk memungkinkan Anda untuk mengenal entitas serta memilih atau mendapatkan informasi yang tepat. 

    Konsep ini memiliki banyak aplikasi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam teknologi, ilmu pengetahuan, keamanan, dan bahkan dalam interaksi sosial sehari-hari. Untuk mengetahui penjelasan selengkapnya, baca artikel ini yang membahas pengertian, tujuan, bentuk, proses, hingga contohnya. 

    Apa Itu Identifikasi?

    Identifikasi merupakan suatu tindakan yang dilakukan melalui beberapa proses penting, mulai dari mencari, mengenali, menemukan, meneliti, membedakan, hingga mencatat data, objek, entitas, atau informasi tentang sesuatu. 

    Selain itu, mengidentifikasi juga bisa berarti sebagai suatu bentuk interaksi sosial yang mana seseorang memiliki kecenderungan untuk mirip dengan sesuatu yang dia idolakan. Akibat dari proses ini membuat seseorang secara tidak langsung akan melakukan imitasi terhadap suatu hal yang diidolakannya. 

    Secara khusus, beberapa ahli juga berpendapat tentang definisi identifikasi. Berikut ini beberapa penjelasannya:

    • Chaplin: Suatu proses pengenalan lalu menempatkan objek atau individu dalam suatu kelas tertentu sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. 
    • Poerwadarminta: Suatu penentuan atau penetapan identitas seseorang atau benda tertentu. 
    • Sudarsono: Identifikasi memiliki tiga arti, yaitu bukti diri, penentuan seseorang berdasarkan bukti sebagai petunjuknya, dan sebagai proses kejiwaan seseorang karena tidak sadar membayangkan dirinya sendiri menyerupai orang yang ia kagumi. 
    • Arief Budiman: Proses seseorang yang mana cenderung menyamakan dirinya sendiri dengan sifat dari dunia luar.
    • Herdaniwani: Tanda khusus yang nantinya akan seseorang lakukan sebagai salah satu proses pengenalan diri dan pemberian keputusan dalam proses penetapan identitasnya. 

    Tujuan Identifikasi

    Tujuan Identifikasi
    Tujuan Identifikasi | Image source : Freepik.com

    Identifikasi memiliki banyak aplikasi dalam berbagai konteks. Berikut ini beberapa tujuan mengidentifikasi yang biasanya orang lakukan:

    1. Mengenal

    Tujuan pertamanya adalah untuk mengenali lingkungan sekitar. Mulai dari objek manusia, hewan, hingga fenomena alam lainnya. Dalam interaksi sehari-hari, Anda dapat mengidentifikasi itu semua berdasarkan bentuk, suara, atau entitas fisik lainnya.

    2. Komunikasi 

    Proses mengidentifikasi juga bertujuan untuk membantu aktivitas berkomunikasi. Sebab, segala bentuk komunikasi akan melibatkan proses penyampaian pesan tentang suatu objek secara jelas dan efektif. 

    3. Analisis dan Pemecahan Masalah

    Tujuan dari proses identifikasi berikutnya yaitu untuk menyelesaikan masalah. Setiap masalah yang ada bisa diselesaikan melalui proses pengenalan setiap objek yang akan dilakukan pada proses ini. Sehingga, Anda dapat menerapkan solusi yang lebih berkelanjutan dan mencegah masalah serupa terulang di masa depan.

    4. Pengambilan Keputusan

    Kegiatan mengidentifikasi juga bisa membantu Anda dalam proses pengambilan keputusan. Dengan proses ini, Anda bisa mengenali secara pasti suatu masalah kemudian bisa mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. 

    5. Tujuan Pembelajaran dan Pendidikan

    Identifikasi juga bisa membantu kegiatan pembelajaran dan pendidikan, baik itu pendidikan formal maupun non-formal. Tujuan ini berperan penting dalam proses mengamati fakta, prinsip, dan konsep tentang memahami materi pelajaran. 

    6. Manajemen Risiko

    Dalam proses ini, akan ada langkah-langkah untuk mengenali risiko yang akan sangat berguna dalam manajemen risiko. Sebab, faktanya Anda akan mengenali potensi risiko atau ancaman, yang kemudian memungkinkan Anda untuk melakukan tindakan pencegahan atau upaya mitigasi yang sesuai terhadap risiko tersebut.

    7. Pemahaman Diri

    Proses identifikasi juga sangat berguna dalam pemahaman diri. Pemahaman diri yang dimaksud di sini meliputi proses mencari sekaligus menemukan minat, bakat, hingga karakteristik diri sehingga bisa mengetahui potensi dan keunikan diri masing-masing. 

    8. Tujuan Ilmu Pengetahuan dan Penelitian

    Kegiatan mengidentifikasi juga sangat bermanfaat untuk proses penelitian dan ilmu pengetahuan. Terutama dalam hal pengumpulan data penelitian dan analisis hasil dari penelitian tersebut. 

    Bentuk Identifikasi

    Bentuk Identifikasi
    Bentuk Identifikasi | Image source : Freepik.com

    Berikut ini beberapa bentuk identifikasi yang perlu Anda ketahui lengkap dengan penjelasannya:

    1. Kelas

    Bentuk yang pertama ini berfokus pada pengamatan di kelompok sosial tertentu dan melibatkan proses peniruan terhadap objeknya. Sebagai contoh, seorang fans akan meniru tingkah laku dari idola yang ia kagumi, mulai dari gaya baju, gaya bicara, gaya berpakaian, dan lain-lain. 

    2. Perkembangan

    Bentuk identifikasi selanjutnya akan memberikan dampak positif yang mana akan membuat Anda menjadi pribadi yang lebih baik lagi di masa depan. Misalnya, Anda merupakan orang yang boros dan gaji Anda sering habis bahkan sehari setelah gajian. Namun, saat ini Anda menjadi lebih hemat dan bisa menabung. 

    3. Defensif

    Bentuk ini muncul ketika seseorang merasa takut terhadap suatu hal, seperti takut saat mendengar suara sambaran petir atau takut terhadap hantu. Dalam hal ini, Anda mengidentifikasi rasa takut tersebut lalu kemudian berusaha untuk melawannya sebagai bentuk menghadapi rasa takut tersebut.

    4. Etnis

    Sesuai namanya, bentuk identifikasi ini melibatkan suatu ras dan etnis tertentu. Maksudnya adalah Anda akan mengidentifikasi ras atau etnis tertentu dalam hal positif. 

    Sebagai contoh, orang Kalimantan sedang berlibur ke Pulau Jawa yang notabene menggunakan bahasa Jawa. Sehingga, orang Kalimantan tersebut akan berusaha berbicara bahasa Jawa sebagai langkah awal berbaur dan berkomunikasi dengan masyarakat lokal. 

    Proses Identifikasi

    Secara umum, proses identifikasi ditandai dengan adanya aktivitas meniru seseorang yang Anda kagumi. Hal ini timbul akibat dari adanya motivasi dan sugesti dalam diri Anda. 

    Walau begitu, dalam tahapannya, proses mengidentifikasi akan melalui proses imitasi atau peniruan. Ketika Anda mengagumi seseorang tentunya akan membuat Anda berusaha untuk mengidentifikasi orang yang Anda kagumi, mulai dari cara bicara, tingkah laku, hingga fisiknya. 

    Setelah itu, Anda akan berusaha untuk meniru cara bicara dan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itulah, proses mengidentifikasi tidak jauh-jauh dari proses imitasi dalam kehidupan sehari-hari. 

    Walau begitu, tetap saja proses imitasi dan identifikasi merupakan dua hal yang berbeda. Untuk lebih jelasnya berikut ini tahapan lengkap dari proses mengidentifikasi:

    1. Identifikasi: Anda akan dihadapkan pada suatu masalah. Selanjutnya, Anda akan mengidentifikasi masalah tersebut, baik itu secara objektif maupun subjektif. 
    2. Diagnosis: Anda akan melakukan diagnosis sebagai kunci untuk menemukan akar masalah yang terjadi. Apakah masalah tersebut berasal dari faktor biologis, sosial, maupun psikis, tergantung dari permasalahannya. 
    3. Treatment atau penyelesaian masalah: Proses ini mengacu pada data fakta yang ada, sehingga tidak akan terjadi masalah yang sama lagi di kemudian hari. 

    Dengan kata lain, proses mengidentifikasi tidak hanya akan sangat membantu dalam menyelesaikan masalah yang ada. Tetapi juga akan membantu dalam mencegah atau meminimalisir masalah yang sama terulang kembali di masa depan. 

    Contoh Identifikasi

    Contoh Identifikasi
    Contoh Identifikasi | Image source : Freepik.com

    Untuk lebih lebih memahami penjelasan di atas, berikut ini beberapa contoh proses mengidentifikasi:

    • Suci dan Sinta sangat mengidolakan penyanyi IU. Mereka pun kemudian menggunakan baju yang mirip dengan yang IU gunakan. Mereka juga akan mencoba gaya bicara hingga cara menyanyi IU.
    • Budi begitu mengagumi cara berbicara kakak kelasnya, Ahmad. Ia lalu mencoba untuk berbicara seperti Ahmad saat di depan umum hingga bahkan di rumahnya.
    • Hizbul merupakan seorang mahasiswa perguruan tinggi di kota Semarang. Ia sangat mengidolakan tokoh artis Bollywood bernama Shahrukh Khan. Selanjutnya, Hizbul pun melakukan perubahan besar terhadap dirinya, mulai dari penampilan, tarian, dan gaya bicara menyerupai Shahrukh Khan.
    • Negara A mengklaim Tari Pendet sebagai kekayaan negaranya. Mereka bahkan melakukan latihan keras agar bisa melakukan tarian yang sama atau menyerupai Tari Pendet.  
    • Budi memperhatikan meja di depannya, kemudian ia mengidentifikasi sebagai benda datar dengan empat kaki untuk meletakkan barang. 
    • Setelah mengamati lukisan tersebut dalam waktu lama, Siti berhasil mengidentifikasi bahwa lukisan tersebut terdiri atas warna merah, hijau, biru dan ungu. 
    • Andi membaca suatu novel sampai selesai. Setelah itu, dia mengidentifikasi setiap karakter yang ada, mulai dari peran, ciri, hingga sifat masing-masing tokoh yang ada. 

    Sudah Paham dengan Konsep Identifikasi?

    Pada intinya, proses identifikasi sangat penting dalam berbagai bidang, terutama dalam pendidikan dan penelitian. Proses ini bisa membantu penyelesaian masalah yang ada dan menyusun kerangka penyelesaian masalah yang tepat. 

    Identifikasi juga merupakan langkah awal dalam banyak proses, termasuk manajemen risiko, keamanan, dan pengembangan produk atau proyek. Dalam prosesnya, mengidentifikasi suatu hal bukanlah hal yang mudah. 

    Untuk itu, Anda harus teliti atau mampu mencatat detail dengan baik agar bisa mendapatkan hasil identifikasi yang tepat. Dengan memiliki pemahaman yang baik tentang apa yang diidentifikasi, Anda dapat meningkatkan efisiensi, keamanan, dan efektivitas dalam menjalankan tugas atau mencapai tujuan.

  • Pengertian Study Plan, Contoh, dan Cara Mudah Membuatnya

    Pengertian Study Plan, Contoh, dan Cara Mudah Membuatnya

    Jika Anda sedang mencari atau akan mengajukan permohonan beasiswa, biasanya Anda akan diminta untuk menyusun dan merinci rencana studi atau study plan. Sebab, rencana studi adalah persyaratan umum yang harus Anda penuhi jika Anda ingin mendapatkan beasiswa.

    Faktanya, rencana studi memiliki peran yang sangat penting dan dapat mempengaruhi penerimaan permohonan beasiswa. Oleh karena itu, kami sarankan Anda untuk membuatnya dengan teliti dan tidak asal-asalan. Jangan khawatir, Anda bisa membuatnya dengan mudah melalui panduan artikel ini.

    Apa Itu Study Plan?

    Study plan atau rencana studi adalah dokumen yang berisi gambaran besar rencana belajar selama kuliah. Secara spesifik, Anda perlu menjelaskan tujuan akademik di universitas tujuan, rencana studi di perkuliahan, serta rencana pengembangannya.

    Biasanya, dokumen ini juga merupakan persyaratan umum dalam permohonan beasiswa internasional. Sehingga, dalam sebuah rencana studi yang efektif, Anda harus menghubungkan antara tujuan pribadi Anda dan visi serta misi beasiswa yang ingin Anda lamar.

    Namun, tidak semua jenis beasiswa internasional meminta Anda untuk menyertakan dokumen ini. Oleh karena itu, penting untuk mencari informasi sebelumnya.

    Tujuan utama dari adanya rencana studi adalah agar perguruan tinggi atau pemberi beasiswa memahami alasan Anda ingin belajar, terutama jika Anda akan melanjutkan studi di luar negeri dengan beasiswa. Dokumen ini dapat meningkatkan peluang Anda untuk menerima beasiswa tersebut.

    Aspek Penting dalam Study Plan 

    Berdasarkan definisinya, study plan menjadi dokumen penting yang diperlukan dalam berbagai aplikasi beasiswa, baik beasiswa dalam negeri maupun luar negeri. Nah, dalam rencana studi ini, terdapat beberapa poin penting yang harus Anda cantumkan, yakni:

    • Nama lengkap.
    • Riwayat pendidikan terakhir yang telah Anda selesaikan.
    • Prestasi yang telah Anda capai selama ini.
    • Gambaran umum tentang tujuan belajar dan jadwal tugas (jika ada).
    • Hasil yang Anda harapkan dari penelitian atau studi Anda.
    • Tujuan akademik.
    • Cara belajar dan kebiasaan belajar.
    • Kelebihan diri.
    • Kekurangan diri dan bagaimana Anda mengatasinya.

    Cara Membuat Study Plan

    Membuat Study Plan
    Membuat Study Plan | Image source : Freepik.com

    Membuat rencana studi yang efektif adalah langkah kunci untuk mengorganisir waktu dan usaha Anda saat belajar. Berikut adalah langkah-langkah dan cara menyusun study plan yang baik dan benar:

    1. Menjelaskan Tujuan Utama Pendidikan

    Langkah pertama yang perlu Anda cantumkan dalam rencana studi adalah menjelaskan tujuan utama Anda dalam mengajukan beasiswa dengan sejelas-jelasnya. Anda dapat memulainya dengan menguraikan bidang studi atau jurusan yang Anda inginkan. 

    Sebagai contoh, jika Anda bermaksud untuk mengejar pendidikan Business di Inggris, maka Anda harus merinci tujuan utama Anda. Selanjutnya, Anda bisa membahas permasalahan bisnis di Indonesia dan Inggris, serta rencana Anda dalam mengatasi tantangan tersebut. 

    Dengan cara ini, Anda memiliki kesempatan untuk meyakinkan serta menjelaskan bagaimana tujuan pendidikan Anda memiliki korelasi dengan jurusan yang Anda pilih dan tempat studi yang Anda rencanakan.

    2. Menjelaskan Alasan Memilih Perguruan Tinggi Tujuan

    Anda juga perlu menjelaskan alasan mengapa Anda memilih perguruan tinggi yang Anda tuju. Banyak jenis beasiswa yang meminta Anda untuk mencantumkan perguruan tinggi tujuan. Oleh karena itu, Anda harus menjelaskan secara rinci mengapa Anda memilih perguruan tinggi tersebut.

    Contohnya, jika Anda ingin untuk melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Amerika Serikat, maka Anda harus menguraikan penjelasan mengapa Anda memilih jurusan tersebut untuk Anda tempuh di perguruan tinggi tersebut. 

    Anda perlu menjelaskan relevansi pilihan dengan tujuan dan capaian yang ingin Anda raih, serta bagaimana perguruan tinggi tersebut memiliki korelasi dengan jurusan dan rencana selanjutnya dalam study plan.

    3. Melakukan Riset Terlebih Dahulu

    Melakukan Riset
    Melakukan Riset | Image source : Freepik.com

    Sebelum Anda menentukan perguruan tinggi dan negara tempat Anda akan mengejar pendidikan, langkah yang harus Anda lakukan adalah melakukan riset terlebih dahulu. Tahapan ini sangatlah penting agar Anda membuat pilihan yang tepat dan memastikan bahwa usaha Anda tidak sia-sia. 

    Sebagai contoh, pelajari kualifikasi untuk persyaratan masuk yang Anda perlukan untuk masuk ke perguruan tinggi impian. Selain itu, Anda perlu mengetahui program studi yang ditawarkan oleh perguruan tinggi tersebut. 

    Termasuk sejauh mana program tersebut sesuai dengan tujuan pendidikan Anda dan apakah program tersebut memiliki reputasi yang baik serta memiliki akreditasi dari lembaga resmi atau tidak.

    Melakukan riset akan membantu Anda menghindari kesalahan dalam memilih jurusan, perguruan tinggi, bahkan negara tempat Anda berencana untuk mengejar pendidikan. Langkah ini akan memastikan bahwa Anda membuat pilihan yang cerdas dan sesuai dengan tujuan pendidikan.

    4. Perdalam Riset Sebelum Membuat Study Plan 

    Tidak cukup hanya melakukan riset secara umum. Anda perlu memperdalam riset agar dapat mengidentifikasi pilihan terbaik. Entah itu dalam hal jurusan, perguruan tinggi, aau negara tempat Anda ingin mengejar pendidikan.

    Anda harus mempersempit pilihan Anda berdasarkan minat dan kemampuan. Selain itu, Anda juga bisa meminta rekomendasi dari ahli atau dosen yang dapat memberikan wawasan mengenai peluang dan potensi dalam mengejar pendidikan.

    5. Ceritakan Manfaat Pendidikan Anda

    Tahap terakhir adalah jelaskan mengapa tujuan pendidikan Anda, termasuk pilihan jurusan dan hal lainnya, dapat memberikan manfaat yang signifikan. Anda perlu menceritakan bagaimana pendidikan Anda akan berkontribusi dalam menyelesaikan masalah atau tantangan yang ada, baik di Indonesia maupun di tingkat global. 

    Anda juga dapat menjelaskan bagaimana niat belajar Anda bertujuan untuk memberikan dampak positif kepada banyak orang atau komunitas, dan sejenisnya. Dengan cara ini, Anda akan memiliki kepercayaan diri yang lebih kuat, dan study plan Anda menjadi lebih terstruktur dan sistematis.

    Contoh Study Plan untuk Beasiswa Master

    Berikut ini kami berikan satu contoh study plan untuk beasiswa LPDP atau Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan sebagai referensi:

    Contoh Study Plan
    Contoh Study Plan | Image source : Muenster University 

    Study Plan

    [Nama Penerima Beasiswa Calon LPDP]

    A. Pendahuluan 

    Penyusunan study plan ini sebagai panduan untuk mengejar gelar Master of Economics in Sharia Economics. Tujuan utama saya adalah untuk memahami lebih dalam konsep dan aplikasi prinsip ekonomi syariah serta menyelidiki dampaknya dalam konteks ekonomi global. 

    Program ini dirancang untuk memberikan landasan yang kuat dalam ekonomi syariah. Sehingga, memungkinkan saya berkontribusi dalam pengembangan ekonomi berkelanjutan.

    B. Latar Belakang dan Motivasi

    Saya memiliki latar belakang dalam bidang ekonomi konvensional dan telah bekerja dalam berbagai peran di sektor keuangan. Namun, saya semakin menyadari pentingnya integrasi nilai-nilai ekonomi syariah dalam praktik ekonomi modern. 

    Melalui study plan ini, motivasi saya untuk mengejar gelar ini adalah untuk memahami lebih dalam tentang ekonomi syariah dan menggabungkannya dalam lingkup kerja saya. Saya ingin menjadi seorang profesional yang kompeten dalam ekonomi syariah dan memberikan kontribusi positif pada masyarakat dan dunia usaha.

    C. Program Studi

    Program yang saya ajukan adalah Master of Economics in Sharia Economics di Durham University. Pilihan program studi ini akan memberikan pemahaman mendalam tentang prinsip-prinsip ekonomi syariah, serta menggabungkannya dengan konsep ekonomi konvensional. 

    Saya akan belajar tentang aspek-aspek seperti sistem perbankan syariah, investasi syariah, ekonomi mikro dan makro syariah, serta masalah etika dalam ekonomi syariah. Program ini juga mencakup penelitian independen dan proyek akhir yang memungkinkan saya untuk menggali topik khusus dalam ekonomi syariah.

    D. Durasi Rencana Studi

    Dalam study plan ini, saya berencana menyelesaikan program studi ini dalam waktu satu tahun penuh. Terhitung mulai dari bulan September 2023 hingga selesai pada bulan Agustus 2024.

    E. Rencana Anggaran Biaya

    Untuk menyelesaikan studi dalam program Master of Economics in Sharia Economics, saya telah menyusun perkiraan anggaran biaya sebagai berikut:

    (Isi dengan anggaran biaya yang Anda perlukan)

    Anggaran biaya ini disusun sebagai perkiraan umum yang dapat berubah berdasarkan faktor-faktor seperti lokasi studi, biaya hidup di daerah tersebut, dan perubahan dalam biaya pendidikan. Saya akan mencari sumber-sumber pendanaan tambahan, seperti beasiswa dan bantuan keuangan, untuk mendukung studi saya.

    F. Rencana Pasca Studi

    Setelah menyelesaikan studi ini, saya berharap dapat mengaplikasikan pengetahuan yang saya peroleh dalam praktik ekonomi syariah. Cita-cita saya meliputi:

    • Menjadi seorang ahli di bidang ekonomi syariah dan berkontribusi dalam pengembangan solusi ekonomi yang berkelanjutan dan beretika.
    • Menerapkan prinsip-prinsip ekonomi syariah dalam dunia usaha dan keuangan untuk menciptakan produk dan layanan yang sesuai dengan nilai-nilai syariah.
    • Berperan aktif dalam penelitian dan kontribusi ilmiah di bidang ekonomi syariah melalui penulisan artikel, makalah, dan partisipasi dalam konferensi terkait.

    Sudah Paham Cara Membuat Study Plan?

    Dengan memahami langkah-langkah membuat study plan, Anda kini memiliki dasar yang kuat untuk merencanakan pendidikan Anda dengan lebih baik. Sehingga, Anda dapat membuka pintu menuju kesuksesan akademik dan mencapai impian pendidikan Anda dengan lebih yakin dan terorganisir.Ingatlah bahwa rencana studi adalah roadmap yang akan membimbing Anda menuju pencapaian impian akademik dan profesional Anda. Oleh sebab itu, Anda harus disiplin dan komitmen untuk mengikuti rencana Anda agar bisa mencapai segala prestasi yang Anda inginkan dengan mudah.

  • Pengertian Penelitian Deskriptif: Ciri, Karakter, Metode, & Contohnya

    Pengertian Penelitian Deskriptif: Ciri, Karakter, Metode, & Contohnya

    Penelitian deskriptif adalah pendalaman yang mendeskripsikan gejala dan peristiwa. Secara umum, peristiwanya sedang terjadi dan bersifat aktual. Lantas, apa saja karakter yang membedakannya dengan penelitian lainnya? Simak penjelasannya di bawah!

    Apa itu Penelitian Deskriptif?

    Apa Itu Penelitian Deskriptif
    Apa Itu Penelitian Deskriptif | Image source : Freepik.com

    Penelitian deskriptif adalah metode penyelidikan untuk menggambarkan karakteristik fenomena yang sedang terjadi. Oleh sebab itu, metode penelitian ini berfokus pada penjelasan objek penelitian yang mendalam. Dengan demikian, penelitian akan memiliki jawaban paling tepat atas fenomena tersebut.

    Metode deskriptif juga terkenal berbeda dibandingkan dengan penelitian lainnya. Ini karena penelitian deskriptif fokus terhadap isi pembahasannya. Melalui metode ini, Anda akan mencari tahu alasan fenomena tersebut dapat terjadi.

    Maksud dari fenomena adalah objek penelitian yang sedang diselidiki menggunakan metode deskriptif. Tidak heran jika nantinya hasil penelitian akan menggambarkan objek secara detail. 

    Ciri-Ciri Penelitian Deskriptif

    Ciri-ciri Penelitian Deskriptif
    Ciri-ciri Penelitian Deskriptif | Image source : Freepik.com

    Melihat tujuan utamanya untuk menjelaskan peristiwa yang lebih detail, tentu ada beberapa ciri khasnya tersendiri. Adapun ciri-ciri penelitian deskriptif adalah sebagai berikut: 

    1. Hasil Sesuai Data

    Proses dari penelitian ini akan menyajikan hasil yang sesuai fakta. Dengan demikian, dikatakan bahwa penelitian deskriptif memiliki data yang murni. Ini karena prosesnya berlangsung di lapangan. Setelah itu, peneliti akan mengembangkannya supaya hasil penelitian lebih jelas.

    2. Lokasi Fleksibel

    Ketika menulis penelitian deskriptif, Anda harus menentukan lokasi penelitian dahulu. Pastikan Anda memiliki wilayah yang bersifat fleksibel untuk penelitian. 

    Sebagai saran, Anda bisa membatasi ruang lingkup penelitian lebih kecil. Misalnya seperti satu desa, satu kecamatan, satu kabupaten, dan lain sebagainya. Jika ingin lebih luas, Anda juga bisa menerapkan penelitian pada satu negara.

    3. Deskripsi Secara Variabel

    Ciri lainnya dari penelitian deskriptif adalah variabel menjadi bahan utama untuk mendeskripsikan hasil penelitian secara rinci. Dengan metode deskriptif, peneliti bisa menggambarkan jenis kelamin, umur, pendidikan, pekerjaan, dan variabel utama lainnya.

    4. Periode Pengumpulan Data

    Lebih menarik, penelitian ini bisa memilih waktu tertentu dalam pengamatannya. Ini karena data deskriptif biasanya terkumpul dalam periode tertentu. Hal tersebut tidak jauh dari kemudahan dalam mengamati fenomena, yakni periode tertentu dapat menghasilkan data akurat.

    5. Ada Sebab Akibat

    Dalam prosesnya, metode penelitian memiliki sebab akibat. Dengan demikian, peneliti akan menyajikannya lebih detail melalui penyelidikannya. Setelah berbagai proses terjadi, maka hasil penelitian bisa disajikan.

    Karakter dari Penelitian Deskriptif

    Karakter dari Penelitian Deskriptif
    Karakter dari Penelitian Deskriptif | Image source : freepik.com

    Penelitian deskriptif adalah menjelaskan peristiwa yang sesuai data. Sehingga dibutuhkan karakter, yakni kualitas tertentu sebagai ciri khasnya. Nah, berikut ini beberapa karakteristik dari penelitian deskriptif: 

    1. Variabel Tidak Terkendali

    Pada metode deskriptif, peneliti tidak bisa mengontrol penggunaan variabel. Dengan kata lain, variabelnya tidak akan terkendali. Inilah mengapa penelitian deskriptif sangat berbeda dengan penelitian bersifat eksperimental.

    2. Kuantitatif

    Metode ini akan memakai penelitian kuantitatif untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan perhitungan. Mulai dari analisis statistik hingga populasi dalam kelompok tertentu.

    3. Dasar Penelitian Lebih Lanjut

    Hasil dari metode deskriptif dapat Anda analisis menggunakan metode lainnya. Bersifat fleksibel, hasil metode ini akan memberikan informasi tentang metode selanjutnya. 

    Selain itu, informasinya juga berkaitan dasar masalah objek pengkajian dan akan menciptakan pertanyaan lain. Sebagai contoh, mengapa bisa hasil yang didapatkan seperti itu dan sejenisnya.

    4.  Kualitatif 

    Selain kuantitatif, deskriptif juga bisa dilakukan dengan metode kualitatif. Khususnya dalam menjelaskan masalah pengkajian yang tepat. Hal tersebut terjadi karena kualitatif memiliki sifat penjelasan yang baik daripada eksperimental dan eksploratif.

    Metode-metode Dalam Penelitian Deskriptif

    Metode-metode Dalam Penelitian Deskriptif
    Metode-metode Dalam Penelitian Deskriptif | Image source : Freepik

    Ada banyak metode dalam penggunaan deskriptif, di antaranya yang paling umum adalah berikut ini:

    1. Kesinambungan

    Seperti namanya, metode ini akan dilakukan secara bersambung dengan riset sebelumnya. Dengan harapan untuk menghasilkan deskripsi yang lebih dalam tentang fenomenanya. Secara umum, metode ini akan meneliti tentang masalah sosial.

    2. Tinjauan Pustaka

    Kepustakaan dalam penelitian deskriptif adalah kajian yang berkaitan dengan permasalahan objek. Setelah itu, akan dikaitkan dengan tulisan yang sesuai permasalahannya.

    3. Tindakan

    Pada metode tindakan, proses penelitian akan bertindak menyesuaikan tujuan utamanya. Dengan demikian, metode ini bisa memberikan solusi. Bukan itu saja, tindakan juga berfungsi meningkatkan kemampuan dan mutu dari hasil penelitian.

    4. Studi Kasus

    Dalam studi kasus, fokus utamanya pada objek. Ini bertujuan untuk mempelajari kasus yang masih berkaitan erat. Sehingga dapat memberikan gambaran rinci tentang latar belakang, sifat, dan karakter kasus tersebut.

    Setelah itu, kasus akan dikaitkan dengan hal-hal umum yang terjadi. Adapun subjek dalam metode ini, mulai dari individu, kelompok, lembaga, hingga ruang lingkup  masyarakat.

    5. Analisis Pekerjaan dan Aktivitas

    Metode ini bertujuan untuk memberikan penemuan inovasi dalam bidang yang diinginkan. Terutama untuk kebutuhan masa mendatang, sehingga manfaatnya akan terasa nyata.

    Secara umum, metode deskriptif adalah penelitian yang berfungsi untuk menyelidiki pekerjaan dan aktivitas manusia lebih detail. Dengan demikian, hasil kajiannya akan berguna sebagai rekomendasi bagi manusia yang membutuhkan sesuatu untuk masa mendatangnya.

    6. Survei

    Melalui metode survei, Anda bisa mengumpulkan informasi tentang objek kajian. Caranya dengan memakai kuesioner atau survei yang sering digunakan dalam pengumpulan data.

    Agar survei memiliki jawaban yang  baik, maka Anda perlu menentukan pertanyaan yang juga baik. Dengan  begitu, hasil jawaban pun akan mencakup banyak informasi yang relevan.

    7. Komparatif

    Metode komparatif akan membandingkan satu hal dengan hal yang lain. Biasanya, komparatif sering ada pada penelitian kuantitatif, yakni eksperimen dan korelasi. Tujuan dari metode ini adalah untuk menganalisis berbagai faktor penyebab suatu fenomena bisa terjadi.

    Contoh Penelitian Deskriptif

    Judul: 

    Preferensi Penggunaan Tote Bag di Kalangan Mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta.

    Tujuan: 

    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan preferensi Penggunaan Tote Bag di Kalangan Mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta.

    Metode: 

    Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif survei sebagai alat untuk mengumpulkan data. Sampel penelitian terdiri dari 300 mahasiswa UNS yang rata-rata berusia 19-22 tahun. Data akan dipilih acak dari berbagai program studi di UNS.

    Pertanyaan:

    • Apa preferensi penggunaan utama tote bag dalam kalangan mahasiswa UNS?
    • Apakah preferensi warna tote bag berdasarkan jenis kelamin mahasiswa?
    • Bagaimana distribusi penggunaan tote bag berdasarkan kelompok usia mahasiswa (19-20 tahun vs. 21-22 tahun)?
    • Di mana para mahasiswa biasanya membeli produk tote bag? Toko konvensional atau online?
    • Kapan waktu paling umum mahasiswa untuk membeli tote bag? Apakah akhir pekan atau hari kerja?

    Prosedur:

    • Pengumpulan Data: Peneliti akan mengembangkan kuesioner yang berkaitan dengan isi pertanyaan tentang penggunaan tote bag, jenis kelamin, usia, lokasi pembelian, dan waktu pembeliannya.
    • Survei: Kuesioner tertuju pada mahasiswa UNS yang terpilih. Nantinya, responden harus mengisi kuesioner sesuai pengalaman dan preferensi mereka.
    • Analisis Data: Analisis data akan dilakukan secara deskriptif, yakni menggunakan metode statistik. Mulai dari persentase, grafik, dan frekuensi.

    Harapan Hasil: 

    Harapan dari penelitian ini adalah dapat menghasilkan gambaran jelas atas preferensi penggunaan tote bag pada ruang lingkup mahasiswa UNS. 

    Sehingga bisa memahami berbagai perbedaan preferensi, yakni berdasarkan jenis kelamin dan usia. Selain itu, penelitian ini diharapkan memberikan wawasan tentang  pola dan waktu pembelian tote bag di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

    Langkah-langkah Menulis Penelitian Deskriptif 

    Menulis Penelitian Deskriptif
    Menulis Penelitian Deskriptif | Image source : Freepik.com

    Secara umum, penelitian deskriptif adalah kajian prosedurnya hampir sama seperti yang lainnya. Namun, ada juga beberapa perbedaan di dalamnya, terutama saat memakai analisis yang berbeda. Contohnya seperti landasan penelitian kuantitatif dan kualitatif.

    Menurut Sukardi (2014), ia menyebutkan bahwa ada langkah-langkah dalam proses metode ini. Di antaranya:

    • Identifikasi tentang permasalahan nyata yang cara pemecahannya memang menggunakan deskriptif.
    • Ada batasan dan rumusan yang jelas dalam permasalahan.
    • Menentukan tujuan dan manfaat kajian.
    • Mewujudkan studi pustaka yang memiliki hubungan atas objek permasalahan.
    • Memberikan kerangka pikiran dan pertanyaan yang akan digunakan dalam hipotesis penelitian.
    • Membuat desain metode penelitian yang akan digunakan. Sebagai contoh, sampel, populasi, instrumen data, teknik sampling, dan analisis data.
    • Mengumpulkan dan mengorganisasi data yang sudah dianalisis. Biasanya memakai teknik statistik agar relevan.
    • Membuat laporan kajian.

    Sudah Memahami Pengertian Penelitian Deskriptif?

    Dapat disimpulkan bahwa, penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan peristiwa secara detail. Sehingga pembaca akan lebih paham dan tidak terjadi miskomunikasi. Umumnya, penelitian ini banyak berguna dalam bidang edukasi, ilmu sosial, hingga nutrisi.

    Penelitian ini menjadi metode analisis yang bisa Anda gunakan dengan mudah. Ini terbukti dari jenis sampel yang mudah ditemukan, namun tergantung bagaimana Anda mengaksesnya. Anda juga harus memahami bahwa penelitian ini riskan opini subjektif hingga hasilnya bisa lebih bias. Semoga bermanfaat!

  • Pengertian Jurnal: Jenis, Fungsi, dan Pedoman Penulisannya

    Pengertian Jurnal: Jenis, Fungsi, dan Pedoman Penulisannya

    Dalam dunia akademik dan pekerjaan, seringkali Anda akan menemui istilah jurnal sebagai bahan referensi dan juga sebagai laporan. Lalu, apa sebenarnya maksud dari istilah tersebut? Bagaimana cara penulisannya? Mari simak ulasan menarik dan lengkapnya di bawah ini!

    Apa itu Jurnal?

    Menulis Jurnal
    Menulis Jurnal | Image source : pexels.com

     

    Jurnal merupakan sebuah karya dalam bentuk tulisan yang diterbitkan oleh sebuah instansi atau lembaga resmi terkait, tulisan ini berisikan tentang serangkaian laporan kegiatan, peristiwa, maupun observasi yang tertulis secara sistematis dan rinci.

    Anda mungkin melihat istilah tersebut paling banyak adalah dalam bidang akademik. Dalam bidang akademik sendiri, tulisan ini memuat hasil penelitian seseorang ataupun sekelompok peneliti. Biasanya, penerbitan tulisan ini dilakukan secara berkala guna menyebarluaskan hasil penelitian yang telah ada.

    Selain pada bidang akademik, terdapat juga jenis lain yang lebih umum, seperti journal keuangan, bisnis, hingga pribadi. Penulisannya cenderung lebih sederhana daripada jenis akademik atau ilmiah. Sehingga, lebih mudah bagi orang lain untuk mengerti dan memahaminya.

    5 Jenis Jurnal dalam Bidang Akademik

    Dosen Mengajar
    Dosen Mengajar | Image source : Pexels.com

    Seperti yang telah Anda ketahui sebelumnya bahwa terdapat tulisan yang diterbitkan oleh para akademisi dan keseharian. Nah, kali ini Anda akan mengenal beberapa jenis tulisan yang ada dalam bidang akademik. Berikut di antaranya:

    1. Ilmiah

    Jenis ini adalah publikasi yang memuat artikel-artikel ilmiah yang ditulis oleh para peneliti atau akademisi. Serta akan terpublikasi secara berkala oleh institusi akademik atau organisasi profesi. Artikel-artikel tersebut berisi tentang hasil penelitian atau kajian ilmiah yang para ilmuwan atau peneliti lakukan. 

    Jenis tulisan ini mempunyai manfaat yang cukup penting dan banyak bagi berbagai pihak, baik itu para researcher, praktisi, mahasiswa, institusi pendidikan, hingga masyarakat luas. Ini akan menjadi wadah para peneliti untuk mempublikasikan dan menyimpan informasi. 

    2. Non-Ilmiah

    Jenis non-ilmiah sebenarnya adalah tulisan yang menyerupai jenis tulisan ilmiah. Namun, tulisan non-ilmiah masih belum memenuhi beberapa persyaratan untuk memenuhi penulisan ilmiah. Biasanya, tulisan ini ditolak penerbitannya sebagai tulisan ilmiah oleh reviewer.

    Meskipun demikian, jenis tulisan ini juga tetap terbukti secara ilmiah melalui hasil penelitian yang telah dilakukan secara sistematis. Sehingga, tak jarang jenis ini juga masih menjadi referensi dari beberapa penulisan.

    3. Internasional

    Jurnal internasional adalah tulisan ilmiah yang tertulis dan terpublikasi dalam skala internasional. Jenis ini memuat artikel-artikel ilmiah terkini dalam berbagai bidang dan memiliki manfaat yang sangat penting. Terutama bagi para peneliti, praktisi, mahasiswa, institusi pendidikan, maupun masyarakat luas. 

    Artikel-artikel dalam tulisan internasional harus memenuhi standar keilmuan yang ketat dan tertulis menggunakan bahasa resmi PBB (Inggris, Perancis, Arab, Rusia, dan Tiongkok). Tulisan internasional dapat Anda akses melalui situs-situs international journal, baik secara gratis atau melalui langganan.

    4. Nasional

    Tulisan nasional adalah jenis tulisan yang institusi atau organisasi di dalam negeri terbitkan dan memuat artikel-artikel ilmiah yang berkaitan dengan bidang-bidang tertentu. Jenis ini dapat terakreditasi oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) dan Kepala LIPI. 

    Tulisan nasional terakreditasi memiliki standar keilmuan yang ketat dan memenuhi kriteria tertentu agar dapat diakui sebagai tulisan yang berkualitas. Artikel yang terakreditasi dapat menjadi referensi oleh para peneliti, praktisi, mahasiswa, institusi pendidikan, maupun masyarakat luas.

    5. Terakreditasi

    Tulisan terakreditasi telah melewati proses penilaian oleh lembaga akreditasi tertentu dan memenuhi kriteria sehingga diakui sebagai tulisan berkualitas. Jenis ini dapat berupa tulisan nasional terakreditasi atau internasional terakreditasi. 

    Tulisan terakreditasi memiliki manfaat yang sangat penting bagi para peneliti, praktisi, mahasiswa, institusi pendidikan, maupun masyarakat luas. Sebab, artikel-artikel dalam tulisan terakreditasi telah melalui proses seleksi ketat dan memenuhi standar keilmuan yang tinggi. 

    3 Jenis Jurnal dalam Bidang Umum

    Jurnal dalam Bidang Umum
    Jurnal dalam Bidang Umum | Image source : pexels.com

    Selain dalam bidang penulisan ilmiah, Anda juga telah mengetahui ada beberapa jenis tulisan dalam bidang umum ataupun bisnis. Nah, untuk memahaminya lebih dalam, berikut adalah beberapa contohnya:

    1. Pembelian

    Tulisan pembelian merupakan salah satu jenis jurnal akuntansi yang mencatat seluruh transaksi pembelian barang atau jasa oleh perusahaan. Jenis ini akan juga kan mencatat tanggal transaksi, vendor, jumlah yang dibayar, dan rincian lain yang terkait dengan pembelian tersebut.

    2. Penjualan

    Ini juga masuk dalam tulisan akuntansi dan berguna untuk mencatat semua transaksi penjualan yang perusahaan lakukan. Setiap kali perusahaan menjual barang atau jasa, transaksi penjualan harus tercatat di dalam catatan penjualan.

    3. Perjalanan Bisnis

    Tulisan perjalanan bisnis berguna untuk mencatat kegiatan perjalanan dinas yang karyawan atau pegawai suatu perusahaan atau organisasi lakukan dalam rangka kepentingan bisnis. Jenis ini akan mencatat setiap transaksi yang terkait dengan perjalanan dinas.

    Fungsi Jurnal 

    Telah Anda ketahui bahwa terdapat banyak sekali jenis journal. Lalu, apa saja fungsinya dalam kehidupan sehari-hari? Berikut ini adalah penjelasan mengenai fungsinya:

    1. Sumber Referensi

    Tulisan ini merupakan sumber informasi yang terpercaya karena setiap tulisan yang terbit telah melewati proses revisi yang ketat oleh para editor dan reviewer. Ini akan memastikan bahwa setiap tulisan yang terbit merupakan hasil penelitian yang bermutu tinggi dan terpercaya.

    2. Media Publikasi Ilmiah

    Fungsi utama adanya sebuah jurnal adalah media untuk melakukan publikasi secara ilmiah. Ada banyak sekali jenis atau wadah publikasi yang sesuai dengan bidang masing-masing. Sehingga ilmu baru juga dapat berkembang. 

    3. Alat Evaluasi

    Dalam setiap penelitian pasti akan terdapat kelemahan ataupun penelitian lanjutan yang butuh evaluasi. Oleh karena itu, adanya penulisan dalam bentuk journal akan memudahkan peneliti selanjutnya melakukan evaluasi dan mengambil tindakan yang tepat atas permasalahan tersebut.

    4. Media Komunikasi 

    Setiap tulisan ini biasanya memiliki struktur yang sama. Meliputi judul, abstrak, pendahuluan, metode, hasil,, kesimpulan, dan sebagainya. Nah, struktur ini akan memudahkan para ilmuwan dalam mencari informasi yang mereka butuhkan.

    Cara dan Pedoman Penulisan Jurnal

    Sebagai sebuah tulisan yang sangat penting dan menjadi referensi bagi kegiatan selanjutnya. Maka, penulisan tulisan ini khususnya dalam bidang akademik atau ilmiah harus memenuhi beberapa kaidah dan runtutan tertentu. Berikut ini adalah pedoman penulisannya yang baik:

    1. Pembuatan Struktur

    Struktur penulisan merupakan hal yang paling utama dalam karya ilmiah. Anda harus menuliskannya secara runtut mulai dari abstrak, pendahuluan, tinjauan pustaka, metode penelitian, hasil pembahasan, hingga kesimpulan. Tuliskan secara rinci dan sistematis.

    2. Penulisan Abstrak

    Abstrak merupakan gambaran dari keseluruhan isi journal. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk menyusun abstrak sedetail mungkin. Namun, umumnya jumlah paragraf pada abstrak terbatas, yaitu hanya satu paragraf. Serta terdiri dari 6 hingga 8 kalimat saja.

    Baca Juga : Apa Itu Abstrak, Ciri, dan Contohnya dalam Karya Tulis Ilmiah

    3. Kesimpulan

    Ini adalah hasil atau keseluruhan rangkuman dari penelitian yang Anda lakukan. Di bagian ini Anda bisa membuktikan hasil hipotesis. Lebih tepatnya, Anda harus mampu menjelaskan keterkaitan hipotesis atau masalah dengan hasil pembahasan.

    4. Penulisan Daftar Pustaka

    Daftar pustaka merupakan keseluruhan sumber referensi yang peneliti butuhkan selama proses penulisan jurnal tersebut berlangsung. Agar dapat memudahkan Anda, ada beberapa aplikasi penulisan daftar pustaka. Seperti Mendeley dan Endnote yang bisa Anda pelajari di internet.

    5. Penggunaan Bahasa

    Penggunaan bahasa pada penulisan tulisan ilmiah harus menggunakan bahasa yang baik dan baku sesuai kaidah KBBI. Jika Anda menggunakan bahasa Inggris, maka pastikan seluruh ejaan dan grammar yang tertulis sudah benar dan sesuai.

    6. Penulisan Kutipan

    Dalam penulisannya, pasti Anda membutuhkan beberapa referensi dari penelitian terdahulu. Ketika Anda mengutip hasil penelitian terdahulu, Anda harus menambahkan keterangan penulis. Hal inilah yang disebut dengan istilah catatan kaki. 

    Baca Juga : Studi Pustaka: Pengertian, Jenis, Metode, Fungsi dan Tekniknya

    Sudah Memahami Apa Itu Jurnal?

    Berikut tadi adalah penjelasan lengkap mengenai pengertian journal, fungsi hingga pedoman penulisannya. Journal memang menjadi sebuah tulisan yang sangat sistematis dan kompleks, sehingga memerlukan banyak waktu untuk mempelajari dan memahaminya.

    Jika Anda ingin mendapatkan pemahaman lebih, sebaiknya Anda langsung mempraktikkan pembuatan atau penulisannya. Jika ada kendala di tengah penulisan, maka Anda dapat melakukan konsultasi dengan orang lain. Seperti dosen jika Anda adalah mahasiswa.Selain itu, ketika selesai menulis, pastikan Anda melakukan pengecekan plagiasi. Biasanya, dalam konteks akademik, tool pengecekan yang akan terpakai adalah Turnitin. Sudahkah Anda pernah membuat journal?

  • Identifikasi Masalah: Pengertian, Bagian, dan Prosedur Membuatnya 

    Identifikasi Masalah: Pengertian, Bagian, dan Prosedur Membuatnya 

    Identifikasi masalah merupakan salah satu langkah yang dapat Anda gunakan untuk mendeteksi adanya permasalahan. Hal ini dapat Anda aplikasikan untuk kepentingan penelitian, pemecahan suatu masalah tertentu, dan beberapa hal lainnya.

    Lalu, sebenarnya apakah definisi dari identifikasi masalah? Adakah bagian-bagian penting yang perlu Anda pelajari? Bagaimana cara untuk mengaplikasikan hal ini dalam mendeteksi problematika? Artikel ini akan menyajikan jawabannya secara lengkap.

    Definisi Identifikasi Masalah

    Proses identifikasi masalah merupakan suatu tahapan dalam mengartikan suatu masalah yang terjadi di lingkungan sekitar. Proses ini dapat Anda terapkan untuk ilmu sosial maupun saintis.

    Langkah tersebut juga menjadi langkah awal dalam menentukan sesuatu hal yang akan Anda teliti atau memperdalam topik penelitian. Melalui langkah ini, seorang peneliti dapat lebih mudah untuk menyusun konsep penelitian hingga memperoleh suatu metode untuk menyelesaikan permasalahan.

    Baca Juga : Identifikasi: Pengertian, Tujuan, Bentuk, Proses, dan Contohnya

    Mengapa Memerlukan Identifikasi Masalah?

    Mengindentifikasi Masalah
    Mengindentifikasi Masalah | Image source : Pexels.com

    Terdapat beberapa alasan, mengapa beberapa peneliti memerlukan proses pengidentifikasian masalah terutama untuk penelitian, antara lain:

    1. Menggali Inti dari Topik Bahasan

    Hal pertama yang menjadi alasan dari pentingnya melakukan identifikasi masalah yakni memperdalam topik yang menjadi pokok bahasan Anda. Dalam sebuah penelitian tentunya Anda tidak serta merta memilih sebuah topik.

    Terdapat beberapa hal yang melatarbelakangi pemilihan topik tersebut. Latar belakang dari sebuah topik itulah yang menjadi pemicu awal atau sebagai masalah.

    Maka dari itu, untuk memperdalam pokok bahasan, Anda perlu melakukan pengidentifikasian terhadap suatu. Dengan kata lain, Anda melakukan pendefinisian terhadap suatu kondisi baik itu dari ruang lingkup alam maupun sosial.

    2. Mencari Penyelesaian Masalah

    Poin berikutnya yang membuat Anda perlu melakukan identifikasi masalah adalah memperoleh solusi dari suatu problematika yang Anda angkat menjadi topik penelitian. Karena umumnya, jika terdapat suatu masalah maka Anda memerlukan solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut.

    3. Mempermudah Proses Penelitian

    Identifikasi masalah juga berperan penting bagi peneliti untuk mempercepat proses penelitian. Dengan adanya proses pendefinisian masalah, maka dapat lebih mudah untuk menentukan langkah apa yang selanjutnya akan Anda ambil. 

    Proses ini tentunya memerlukan waktu yang lama, apabila tidak Anda sertai dengan manajemen waktu yang baik. Maka dari itu, proses pendefinisian masalah dapat membantu peneliti untuk lebih fokus pada suatu inti topik bahasan hingga akhirnya memperoleh garis besar penelitian.

    Baca Juga : Apa Itu Metode Penelitian? Pengertian, Tujuan, Jenis, Manfaat & Contoh

    Bagian-bagian dari Identifikasi Masalah

    Contoh diskusi identifikasi masalah
    Contoh diskusi identifikasi masalah | Image source : Pexels.com

    Umumnya, bagian dari identifikasi masalah yaitu penyebab dari suatu permasalahan dan pengembangan dari suatu pernyataan. Kedua hal ini yang menjadi poin utama yang mampu membantu penulis dalam menyelesaikan penelitiannya. Namun, terdapat beberapa komponen penting yang ada dalam proses ini, antara lain:

    1. Individu atau Komunitas

    Adanya individu atau komunitas tertentu dapat memberikan pengaruh terhadap topik penelitian yang Anda ambil. Pengaruh dua komponen tersebut dapat menjadi hal yang penting atau bahkan memberikan dampak negatif pada suatu permasalahan.

    Seperti pada masalah pendidikan, ada tidaknya guru pada suatu instansi pendidikan di daerah tertentu memberikan pengaruh terhadap kualitas pendidikan yang diberikan kepada murid. Maka dari itu , kehadiran guru pada sekolah tertentu menjadi hal penting bagi para pelajar.

    Apabila posisi guru kosong dan murid hanya memperoleh pengetahuan dari buku bacaan saja, kondisi ini dianggap kurang efektif dalam proses pembelajaran. Pasalnya, tidak ada kehadiran seseorang yang dapat menjelaskan materi.

    Kondisi seperti inilah yang menunjukkan pengaruh ada atau tidaknya individu atau komunitas dalam suatu lingkungan penelitian. Hal ini tentunya dapat terjawab saat seorang peneliti berhasil menarik kesimpulan dari inti permasalahan suatu topik penelitian.

    2. Tujuan

    Adanya pengidentifikasian masalah mengartikan bahwa seseorang memiliki tujuan tertentu untuk mencapai sesuatu hal yang berhubungan dengan masalah tersebut. Oleh karena itu, komponen penting dalam suatu penelitian adalah tujuan.

    Dengan demikian, sebelum melakukan proses identifikasi alangkah lebih baiknya seorang peneliti juga menentukan tujuan tertentu. Penentuan tujuan bermaksud untuk memfokuskan topik penelitian yang Anda ambil.

    Sebagai contoh, ketika Anda mengambil topik penelitian yang berhubungan dengan pendidikan. Maka, secara umum tujuan yang ada yakni meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Tujuan tersebut nantinya berhubungan dengan masalah pendidikan di Indonesia yang saat ini sedang terjadi.

    Namun, tujuan tersebut lebih spesifik lagi seperti meningkatkan kualitas pendidikan tertentu di Indonesia bagian timur. Tujuan yang spesifik dapat membantu Anda dalam menemukan inti dari permasalahan yang sedang terjadi.

    3. Alternatif

    Dalam suatu penelitian, juga memerlukan komponen alternatif untuk mencapai tujuan tertentu. Komponen alternatif berfungsi untuk meminimalkan adanya kegagalan yang mungkin saja terjadi.

    Karena pada dasarnya, terdapat beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Hal ini dapat Anda rancang ketika melakukan identifikasi masalah, sehingga dapat menyelaraskan antara masalah yang terjadi, tujuan, dan tindakan yang akan Anda lakukan.

    4. Lingkungan

    Lingkungan juga menjadi komponen yang memberikan pengaruh terhadap permasalahan yang Anda ambil. Saat melakukan identifikasi masalah, maka lingkungan inilah yang nantinya menjadi komponen pendukung bagi Anda atau sebaliknya.

    Sebagai contoh, ketika Anda melakukan identifikasi terkait dengan isu pendidikan maka lingkungan sekitar mulai dari instansi pendidikan, lingkungan sekitar, dan hal lainnya dapat mempermudah atau bahkan mempersulit Anda.

    Apabila akses dari lingkungan tersebut mudah, mulai dari mobilitas hingga sistem komunikasi yang berjalan dengan baik, tentu dapat menjadi komponen pendukung. Terutama dalam mengidentifikasi permasalahan yang ada.

    5 Prosedur dalam Melakukan Identifikasi Masalah

    Mencari referensi buku untuk indentifikasi masalah
    Mencari referensi buku untuk indentifikasi masalah | Image source : Pexels.com

    Terdapat beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk melakukan identifikasi suatu masalah antara lain, yaitu:

    1. Melakukan Deduksi dari Sebuah Teori

    Melakukan deduksi dari sebuah teori berkaitan dengan adanya penghubungan antara perilaku manusia atau individu atau komunitas tertentu dengan topik penelitian. Pada tahap ini, peneliti perlu membandingkan antara suatu hal yang terjadi pada individu atau komunitas yang berhubungan dengan masalah penelitian.

    Misalnya, seperti sikap atau tanggapan dari orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anak dengan tujuan mencerdaskan anak bangsa. 

    Hal ini dapat disesuaikan dengan topik penelitian, sehingga Anda dapat menyimpulkan permasalahan pokok yang terjadi pada individu atau komunitas tertentu yang berkaitan dengan pendidikan anak.

    2. Pendekatan secara Interdisipliner

    Langkah selanjutnya yang perlu Anda lakukan dalam proses identifikasi masalah yakni peninjauan literatur. Tinjauan ini berlandaskan pada disiplin ilmu yang berkaitan dengan penelitian.

    Tujuan dari pendekatan ini untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif dan lebih luas terhadap suatu permasalahan. Sehingga, seorang peneliti dapat dengan cermat mengetahui seluk beluk dari permasalahan yang sedang diidentifikasi.

    3. Wawancara terhadap Praktisi

    Selanjutnya, sebagai seorang peneliti Anda dapat melakukan prosedur wawancara terhadap praktisi yang ahli pada topik penelitian yang Anda miliki. Artinya, praktisi tersebut telah berinteraksi dalam suatu hal yang berhubungan dengan permasalahan dalam penelitian.

    Prosedur wawancara ini bertujuan untuk menggali secara kompleks inti permasalahan yang ada. Dengan artian, Anda mencari informasi sedetail mungkin terkait dengan penyebab dari suatu masalah sebanyak mungkin.

    Langkah ini dapat membantu Anda untuk lebih mudah dan cepat memperoleh data tertentu. Informasi yang Anda peroleh pun juga bergantung pada pengetahuan praktisi terkait dengan masalah yang sedang Anda gali.

    4. Adanya Pengalaman Pribadi

    Langkah berikutnya yang bisa Anda lakukan dalam melakukan identifikasi masalah yakni dengan adanya pengalaman pribadi. Hal ini tentunya berkaitan dengan sejauh mana pengalaman Anda dalam mengetahui dan menguasai topik penelitian yang Anda ambil. 

    Oleh karena itu, tidak heran apabila banyak peneliti yang memberikan kefokusannya pada suatu bidang disiplin ilmu tertentu. Karena hal tersebut tidak hanya berhubungan dengan minat dan bakat tetapi juga pengalaman yang dimilikinya.

    5. Tinjauan Literatur

    Tinjauan literatur ini dimaksudkan untuk memperkuat adanya hasil wawancara, pengalaman, tahap perbandingan, atau studi interdisipliner dengan teori yang ada. Dengan begitu, analisis permasalahan yang Anda lakukan semakin kuat dan meyakinkan karena telah didukung oleh teori terkait dengan bidang ilmu tertentu.

    Sudahkah Anda Memahami Pentingnya Identifikasi Masalah?

    Dari penjelasan tersebut, sudahkah Anda memahami seluk beluk identifikasi masalah hingga prosedur membuatnya? Nah, pada dasarnya, identifikasi permasalahan dalam penelitian sangat penting untuk dilakukan.

    Dengan demikian, Anda dapat mengetahui secara detail topik penelitian yang Anda ambil. Di samping itu, pastikan Anda mengidentifikasi masalah penelitian sedalam mungkin untuk memperoleh hasil yang spesifik.