Blog

  • Memahami Aritmatika Sosial: Pengertian, Jenis, dan Rumusnya

    Memahami Aritmatika Sosial: Pengertian, Jenis, dan Rumusnya

    Penerapan ilmu matematika bisa dimana saja, bahkan di kehidupan sehari-hari. Kita mengenal salah satu ilmu Matematika ini sebagai aritmatika sosial. Seperti apakah materi dari bidang ilmu yang satu ini? Bagaimana penerapan serta manfaatnya? Yuk, pahami lebih dalam dengan membaca artikel di bawah ini!

    Apa itu Aritmatika Sosial?

    Ilmu ini merupakan ilmu perhitungan yang mencari tahu hubungan angka dengan tujuan memecahkan permasalahan sosial dalam kehidupan sehari-hari.

    Selain itu, ilmu yang satu ini banyak berkaitan dengan pemecahan masalah yang berkaitan dengan keuangan, perdagangan, dan juga ritel. Oleh karena itu, ilmu Matematika ini juga termasuk paling banyak orang-orang gunakan.

    Mengenal Jenis-Jenis Aritmatika Sosial beserta Rumusnya

    Ilmu matematika yang satu ini cukup luas cakupannya karena punya beragam jenis. Supaya kamu lebih paham, mari belajar jenis-jenis serta rumus perhitungannya lewat uraian berikut.

    1. Untung dan Rugi

    Perdagangan I Sumber gambar: Freepik

    Jenis ilmu aritmetika bidang sosial yang pertama adalah laba dan rugi. Laba merupakan situasi finansial di mana harga penjualan mempunyai selisih yang lebih besar dari harga pembelian. Sebaliknya, rugi merupakan kondisi dimana nilai dari harga penjualan lebih kecil dari harga pembelian. 

    Sedangkan, harga penjualan adalah harga yang kamu (penjual) berikan ketika menjual produk kepada konsumen. Sementara itu, harga pembelian merupakan harga yang sudah ditentukan dari pabrik sebelum kamu membeli barang tersebut untuk kamu jual kembali.

    a. Rumus Laba

    Perhitungan rumus laba cukup sederhana. Supaya lebih jelas, mari simak deskripsi berikut ini.

    Contoh soal

    Pak Agus hendak menjual kedelai. Dia membeli kedelai 1 ton dengan harga Rp9.150.000,00. Pak Agus juga memerlukan plastik sebagai pembungkus, maka dia membeli plastik seharga Rp67.000,00. Jika dia ingin menjual kedelai tersebut dengan harga Rp9.500,00/kg, berapakah laba yang Pak Agus peroleh?

    Diketahui:

    Harga Pembelian =Harga beli kedelai+Harga beli plastik

    9.150.000+67.000=9.217.000/ton =9.217/kg

    Harga Pembelian=9.217/kg

    Harga Penjualan=9.500/kg

    Jawab:Untung = Harga  Penjualan – Harga Pembelian

    9.500-9.217=283

    Jadi, keuntungan yang Pak Agus peroleh adalah Rp283,00, dengan persentase 3.07%.

    b. Rumus Rugi

    Perhitungan rumus rugi berbanding terbalik dengan laba. Perhatikan penjelasan berikut ini untuk memahami aritmatika sosial dengan rumus rugi ini.

    Contoh soal

    Adi membeli sepeda motor seharga Rp40.000.000,00. 2 tahun kemudian, dia ingin menjual sepeda motornya yang masih bagus dengan harga Rp36.000.000,00. Berapakah kerugian yang didapatkan?

    Diketahui:

    Harga Pembelian=Rp 40.000.000,00

    Harga Penjualan=Rp 36.000.000,00

    Tanya: nilai kerugian

    Jawab:

    Rugi = Harga  Pembelian- Harga Penjualan

    40.000.000-36.000.000 = 4.000.000

    Rugi=4.000.000

    Jadi, Adi mengalami kerugian sebesar Rp4.000.000,00, dengan persentase 10%.

    2. Bruto, Netto, dan Tara

    Jenis aritmatika sosial yang berikutnya adalah bruto, netto, dan tara. Bruto adalah berat keseluruhan dari isi, tempat, dan juga pembungkusnya atau bisa disebut sebagai berat kotor. Sementara itu, netto adalah berat bersih yang berarti berat isi produk saja. Di sisi lain, tara adalah berat pada pembungkus produk.

    Di bawah ini adalah ulasan sejumlah rumus untuk perhitungan bruto, netto, dan tara.

    Contoh Soal 1

    Sebuah karung berisi beras memiliki berat kotor seberat 70 kg. Jika karung itu sendiri memiliki berat 0,5 kg, maka berat netto karung beras itu?

    Netto=Bruto-Tara

    70-0,5=69,5

    Netto=69,5 kg

    3. Diskon atau Rabat

    Diskon barang I Sumber Gambar: Unsplash

    Diskon atau rabat adalah potongan harga dari penjual untuk membeli. Umumnya, kita menjumpai diskon sebagai salah satu metode penjual sebagai strategi pemasaran untuk menarik pembeli. 

    Berikut ini adalah rumus dari rabat atau diskon.

    Contoh Soal 1

    Sebuah toko menjual sebuah skincare dengan harga Rp120.000,00. Jika mereka memberikan diskon 10% pada skincare tersebut, maka berapakah harga setelah skincare setelah diskon?

    Harga sesudah diskon=Harga Awal-(persentase diskon x Harga Awal)

    120.000-(10% x 120.000)

    120.000-12.000=108.000

    Jadi, harga skincare setelah diskon adalah Rp108.000,00.

    4. Bunga

    Bunga juga termasuk salah satu jenis aritmatika sosial. Istilah bunga bisa kamu temui dalam kegiatan simpan-pinjam pada bidang perbankan. Bunga merupakan nilai tambahan ketika menabung atau meminjam dalam periode dan jumlah tertentu.

    Bunga memiliki beragam jenis, misalnya bunga tunggal dan majemuk. Akan tetapi, kita akan mempelajari rumus perhitungan dari bunga yang paling sederhana, yaitu bunga tunggal. Seperti apa caranya? Perhatikan penjelasan di bawah ini.

    Contoh Soal 1

    Rohman menabung uang di bank sebesar Rp5.200.000,00. Jika bank memberikan bunga sebesar 10%, maka berapa jumlah bunga yang Rohman terima selama 2 tahun?

    Diketahui: 

    Jadi, bunga yang Rohman terima selama 2 tahun adalah Rp1.040.000,00.

    5. Pajak

    Perpajakan I Sumber Gambar: Pexels

    Jenis aritmatika sosial yang terakhir adalah pajak. Pajak merupakan sejenis iuran yang wajib kamu bayar sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku. Ada banyak jenis pajak, salah satunya adalah pajak penghasilan (Pph). 

    Pajak ini merupakan jenis iuran yang dibebankan pada pendapatan seseorang atau badan usaha.

    Ada beberapa langkah untuk mencari Pajak Penghasilan (PPh). Untuk itu, perhatikan pembahasannya berikut ini. 

    Contoh Soal 1

    Malik adalah seorang karyawan swasta. Dia memiliki gaji sebesar Rp72.000.000,00/tahun. Karena Malik masih bujangan, PTKP untuk PPh-nya adalah Rp54.000.000,00. Berapakah Pajak Penghasilan untuk Malik?

    Diketahui:

    Gaji bersih: Rp 72.000.000,00/tahun

    PTKP: Rp54.000.000,00

    Tanya: PPh

    Jawab:

    PKP=Penghasilan-PTKP

    72.000.000-54.000.000=18.000.000

    PKP Malik adalah Rp 18.000.000,00. Dengan demikian, PKP Malik kurang dari Rp50.000.000,00. PKP yang kurang dari 50 juta tarif PPh-nya adalah 5%. Maka, perhitungan PPh Malik adalah sebagai berikut.

    Pajak Penghasilan (PPh)=Persentase tarif PPh x PKP

    5% x 18.000.000=900.000

    Jadi, PPh Malik adalah Rp900.000,00. 

    Apa Saja Manfaat dari Aritmatika Sosial?

    Celengan uangI Sumber Gambar: Unsplash

    Bidang aritmatika yang satu ini memiliki banyak manfaat untuk aktivitas sehari-hari. Setidaknya, kamu bisa merasakan tiga manfaat umum dari ilmu tersebut jika diterapkan dengan tepat dalam kehidupan nyata. 

    1. Membantu dalam Kegiatan Perdagangan dan Perniagaan

    Ilmu Matematika memang bermanfaat untuk sesuatu yang berkaitan dengan angka, termasuk juga kegiatan perniagaan. Cabang ilmu Matematik ini memfasilitasi kamu dalam memperhitungkan segala sesuatu untuk meningkatkan bisnis kamu, mulai dari perhitungan modal, untung/rugi, hingga pinjaman.

    2. Aritmatika Sosial Membantumu Mengenal Ekonomi Dasar 

    Manfaat lain mempelajari bidang matematika yang satu ini adalah membuat kamu lebih mengenal ekonomi dasar. Ilmu ekonomi adalah ilmu yang dapat membantu kamu untuk menata keuangan dengan lebih bijak, baik itu dalam berbisnis maupun untuk kebutuhan pribadi. 

    3. Mengurangi Risiko Penipuan atau Kerugian

    Sesuatu yang berhubungan dengan uang rawan sekali akan kecurangan dari oknum tidak bertanggung jawab. Maka dari itu, kamu perlu membekali diri dengan ilmu aritmatika ini supaya tidak terkena jebakan dari para penipu. 

    Pasalnya, ilmu ini membantu kamu mengkalkulasikan perhitungan keuangan secara terperinci dan akurat melalui rumus yang sesuai.

    Sudah Lebih Paham dengan Manfaat Ilmu Aritmatika Sosial?

    Secara sederhana, ilmu aritmatika sosial membantu kamu mengenal ilmu ekonomi dasar yang berkaitan dengan keuangan. 

    Jika kamu pahami jenis dan rumusnya dengan baik dan menerapkannya secara tepat, kamu dapat melatih kemampuan penataan perekenomian yang lebih baik dalam skala kecil sehari-hari, bahkan, dalam skala besar. 

  • Mengenal Fenomena Sosial: Pengertian, Macam, dan Penyebab

    Mengenal Fenomena Sosial: Pengertian, Macam, dan Penyebab

    Dalam kehidupan sehari-hari, kamu pasti akan menjumpai banyak kejadian atau fenomena sosial yang menonjol dan berdampak signifikan. Fenomena ini dapat berupa hal atau peristiwa yang baik maupun buruk.

    Banyak alasan yang menyebabkan terciptanya fenomena ini, hingga kemudian menjadi rumit dan berdampak besar. Lantas, apa sebenarnya arti istilah ini dan seperti apa saja contoh yang bisa kamu temui?

    Pengertian Fenomena Sosial

    Ilustrasi Fenomena Sosial | Sumber Gambar: Freepik

    Istilah Yunani “phainomenon,” yang secara harfiah diterjemahkan menjadi “apa yang kamu lihat,” adalah asal kata “fenomena”. Namun, fenomena dapat berarti sebagai fakta sosial dalam kehidupan masyarakat yang terjadi sebagai akibat dari perubahan sosial yang disebabkan oleh perilaku kolektif masyarakat.

    Beberapa anggota masyarakat akan melakukan tindakan yang mengakibatkan suatu fenomena atau peristiwa yang berkesan. Akibatnya, beberapa dari fenomena ini akan menguntungkan, sementara yang lainnya akan berdampak negatif ketika peristiwa tersebut muncul.

    Jika fenomena ini benar-benar merugikan—seperti halnya fenomena seksual masa kini, kriminalitas, dan fenomena lainnya—maka fenomena ini perlu disikapi secara hati-hati untuk mengurangi dampak negatifnya. Lewat cara ini, kita terhindar dari pergaulan yang salah.

    Kesimpulannya, fenomena sosial adalah segala tanda atau kejadian yang dapat terlihat dalam kehidupan sosial atau ilmu sosial dan dianalisis. Fenomena ini dapat berarti sebagai gejala sosial. Selain itu, penyebab fenomena juga bisa karena perbedaan suku, budaya, ekonomi, agama, dan lain-lain.

    Macam-Macam Fenomena Sosial

    Ilustrasi Fenomena Sosial | Sumber Gambar: Freepik

    Ada banyak hal yang dapat menjadi penyebab fenomena atau masalah sosial. Seperti kondisi ekonomi yang menjadi penyebab meluasnya kemiskinan, faktor biologis yang menyebabkan penyakit menular, dan lain sebagainya. Nah, berikut adalah berbagai macam fenomena yang perlu kamu pahami:

    1. Fenomena Psikologis

    Fenomena psikologis adalah kategori macamnya yang pertama. Secara spesifik, fenomena ini berkembang akibat permasalahan psikologi atau kesehatan mental masyarakat.

    Penyakit mental memiliki kemampuan untuk menyebabkan masalah sosial bagi seseorang. Orang lain mungkin juga terkena penyakit mental akibat kesulitan sosial yang dialami. Pada akhirnya, ini menimbulkan fenomena yang terus terjadi dan menyebar lebih jauh.

    Peristiwa traumatis di masyarakat juga dapat menimbulkan gangguan psikologis sosial. Misalnya, insiden yang berhubungan dengan perang seperti invasi Amerika ke Irak. Konflik di Irak tentu saja akan menimbulkan trauma di kalangan masyarakat.

    2. Fenomena Biologis dan Sosial

    Fenomena sosial yang bersifat biologis dikenal dengan fenomena biologis dan sosial. Sebagai gambaran, perhatikan fenomena penyakit menular, seperti flu babi yang pernah berlangsung di tahun 2009.

    Virus dari Meksiko ini menyebar ke seluruh dunia. Serta menyerang berbagai kalangan, terutama orang dewasa muda dan anak-anak. Sehingga sebagian besar kematian terjadi pada kalangan muda. Karena virus ini, miliaran orang terinfeksi. Serta ratusan ribu orang berakhir meninggal dunia.

    3. Fenomena Ekonomi

    Fenomena ekonomi dan sosial adalah kategori fenomena berikutnya.  Perekonomian sangat penting bagi kehidupan manusia sehari-hari. Jadi, secara khusus, penyebab terjadinya fenomena ini adalah kendala atau permasalahan keuangan.

    Karena begitu pentingnya perekonomian untuk mempertahankan kehidupan, banyak permasalahan atau kejadian sosial yang diakibatkan oleh faktor ini. Semua fenomena yang diberitakan ke masyarakat kebanyakan penyebabnya adalah faktor sosial ekonomi.

    Misalnya fenomena PHK besar-besaran akibat Covid-19, kemiskinan yang semakin parah dari tahun ke tahun, dan masih banyak lagi.

    4. Fenomena Sosial Budaya

    Fenomena budaya ini merupakan macam yang lainnya. Ini adalah fenomena atau masalah sosial yang penyebabnya karena benturan beberapa budaya.

    Intinya, perbedaan pendapat mengenai benda-benda budaya juga dapat menimbulkan fenomena ini. Salah satu contohnya adalah ketidaksepakatan negara Malaysia terhadap pengakuan terhadap beberapa kebudayaan Indonesia. Salah satu contohnya adalah angklung.

    Hal tersebut terjadi di tahun 2010, di mana Malaysia mengakui angklung berasal dari Kota Johor. Akibatnya, masyarakat Indonesia tidak terima dan mengecam Malaysia.

    5. Fenomena Lingkungan Alam

    Fenomena atau permasalahan sosial yang penyebabnya adalah keadaan alam atau peristiwa alam dikenal dengan fenomena lingkungan alam. Karena kejadian alam tidak dapat dihindari, maka sulit untuk menghindari fenomena ini.

    Secara umum, manusia hanya bisa mengurangi dampaknya. Misalnya, terjadi letusan gunung berapi di suatu wilayah di Indonesia. BMKG biasanya memiliki pengetahuan mengenai kemungkinan terjadinya erupsi sehingga dapat memberikan masukan kepada warga untuk melakukan evakuasi.

    Ketika terjadi letusan, hal ini dapat membantu mengurangi jumlah korban jiwa secara drastis. Begitu juga jika untuk bencana seperti tsunami. BMKG juga bisa memprediksi dan menghimbau masyarakat untuk segera mengungsi.

    Hanya saja, bencana alam seperti letusan gunung berapi dan tsunami tidak dapat dihindari. Karena bagaimanapun bentuknya, bencana alam berada di luar kendali manusia.

    Contoh Fenomena Sosial di Indonesia

    Ada banyak contoh fenomena yang mudah dan sering ada di masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Berikut penjelasan beberapa contoh yang mungkin cukup familiar untuk kamu:

    1. Mudik

    Ilustrasi Mudik | Sumber Gambar: Liputan6.com

    Contoh pertama yang sering terjadi adalah pulang kampung atau mudik. Mudik adalah suatu fenomena yang terjadi ketika orang pulang ke rumah setelah pergi jauh atau merantau.

    Pada hakikatnya, mudik adalah menuju udik atau pulang ke kampung. Salah satu fenomena ini cukup sering terjadi di Indonesia. Terutama ketika hari raya seperti Natal dan Idul Fitri.

    2. Kriminalitas Remaja

    Kenakalan atau kriminalitas remaja merupakan salah satu gambaran fenomena sosial berikutnya. Akibat kerugian yang timbul kepada banyak pihak, kenakalan remaja merupakan salah satu contoh fenomena yang buruk.

    Melanggar norma-norma sosial adalah ciri umum dari perilaku buruk remaja. Krisis identitas, pengendalian diri yang buruk, emosi, dan faktor lainnya juga dapat mempengaruhi kejadian ini.

    3. Kemiskinan

    Ilustrasi Kemiskinan | Sumber Gambar: Pexels

    Salah satu masalah sosial yang menjadi tantangan bagi seluruh negara adalah kemiskinan. Kemiskinan sendiri adalah kurangnya daya beli akibat kondisi ekonomi tertentu.

    Pemerintah biasanya menawarkan subsidi sebagai cara untuk mengatasi fenomena ini. Tujuan dari subsidi adalah untuk mendongkrak daya beli masyarakat sehingga dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus mengurangi kesenjangan kapasitas.

    4. Pelanggaran Hukum

    Ini merupakan salah satu contoh fenomena yang masih terjadi dalam masyarakat modern. Pelanggaran lalu lintas, penggunaan narkoba, pencurian, pembunuhan, pelanggaran hukum setempat, kerusakan lingkungan, dan pelanggaran lainnya merupakan contohnya.

    Karena kurangnya informasi hukum dari masyarakat, pelanggaran hukum menjadi masalah yang terus terjadi. Praktik yang terus-menerus dilakukan oleh mereka yang tidak mampu memahami pentingnya mengikuti hukum adalah alasan lain yang mempengaruhinya.

    Konsekuensi dari pelanggaran ini tidak hanya berdampak pada masyarakat dan negara saat ini, namun juga dalam jangka panjang. Alasannya, jika pelaku tidak jera dengan perbuatannya, ia bisa saja mengulanginya bahkan mendorong orang lain untuk melakukan pelanggaran hukum.

    Hakim, polisi, dan jaksa merupakan penegak hukum di Indonesia saat ini dan tugasnya adalah menangani permasalahan hukum. Demi menjaga ketertiban dan rasa aman masyarakat, sanksi kepada pelanggar diharapkan mampu mencegah pelakunya kembali melakukan kejahatan.

    5. Korupsi

    Ilustrasi Korupsi | Sumber Gambar: Liputan6.com

    Contoh lain dari fenomena sosial yang merugikan adalah korupsi. Korupsi tenti berdampak buruk bagi bangsa dan masyarakat secara keseluruhan. Pelaku korupsi biasanya adalah pihak-pihak yang menyalahgunakan kekuasaan.

    Dampak sebenarnya adalah masyarakat merugi karena dana tidak terkelola dengan baik dan digunakan untuk kepentingan pribadi. Sehingga pembangunan infrastruktur tidak mencapai standar.

    Selain itu, akan semakin sulit bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka jika dana yang seharusnya teralokasi sebagai subsidi pemerintah dikorupsi. Di Indonesia sendiri, korupsi merupakan kejadian umum yang sangat merugikan banyak orang.

    6. Kepadatan Penduduk

    Salah satu fenomena yang terjadi di masyarakat adalah kepadatan penduduk. Ketika ada terlalu banyak orang yang tinggal dan menetap di suatu wilayah, maka akan terjadi fenomena ini.

    Peningkatan jumlah penduduk yang besar dari waktu ke waktu merupakan faktor lain yang berkontribusi terhadap kepadatan. Kawasan tersebut kini penuh akibat pertambahan penduduk yang signifikan yang tidak dibarengi dengan perpindahan penduduk.

    Fenomena Sosial Mana yang Sering Kamu Temui?

    Melalui pemahaman yang lebih baik tentang fenomena sosial, kamu dapat berkontribusi dalam memandu perubahan yang positif dan memitigasi dampak negatifnya. Misalnya dengan menanamkan nilai moral, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, melatih pengendalian diri, dan lainnya.

    Kamu juga dapat berperan dalam menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, informasi yang lebih akurat, dan pemahaman yang lebih mendalam tentang tantangan sosial yang harus dihadapi. Lewat kesadaran ini, kamu bisa mengambil langkah-langkah untuk membangun dunia yang lebih baik.

  • Diferensiasi Sosial: Pengertian, Ciri Utama, Jenis, dan Contohnya

    Diferensiasi Sosial: Pengertian, Ciri Utama, Jenis, dan Contohnya

    Manusia yang lahir dan hidup di muka bumi ini tidak ada yang sama persis. Mengapa ada golongan manusia yang terbiasa hidup secara individualis, tetapi ada golongan lainnya yang memilih hidup secara kekeluargaan? Diferensiasi sosial bisa jadi alasan dibalik perbedaan gaya hidup itu.

    Pengertian dan Konsep Diferensiasi Sosial

    (Berjabat tangan | Sumber: Pixabay.com)

    Kata diferensiasi ini berasal dari istilah bahasa Inggris, yaitu “differentiation” atau “to differentiate”. Artinya adalah membagi, memisahkah, atau membedakan umat manusia ke dalam beberapa golongan. Pemisahan golongan ini bersifat horizontal atau antara sesama masyarakat biasa.

    Selain itu, terdapat pendapat yang menyebutkan jika diferensiasi sosial ialah suatu perbedaan pandangan hidup yang terjadi di lingkungan sekitar. Lalu, ada juga yang berpendapat bahwa perbedaan sosial ini adalah sekumpulan upaya atau perbuatan yang suatu golongan lakukan agar tampak menonjol.

    Faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya pembagian golongan masyarakat ini yaitu suku, jenis kelamin, adat istiadat, dan pekerjaan. Selain itu, faktor lainnya yang juga ikut berpengaruh adalah agama, usia, tempat tinggal, pendidikan, bahasa, dan riwayat kesehatan.

    Ciri-Ciri Utama Diferensiasi Sosial

    (Tiga orang menggunakan laptop | Sumber: Pixabay.com)

    Suatu pembagian golongan manusia di lingkungan sekitar kita pasti melibatkan kurang lebih tiga ciri utama sebagai dasar perbedaannya. Ketiga ciri tersebut adalah ciri fisik, ciri sosial, dan ciri budaya atau adat.

    1. Ciri Fisik (Physical)

    Ciri perbedaan antara golongan manusia yang pertama yaitu pada bentuk fisik seorang manusia. Ada orang yang badannya tinggi besar, tetapi ada pula yang pendek dan kecil. Sebagian kelompok manusia memiliki rambut berwarna pirang, sementara sebagian lagi rambutnya berwarna cokelat.

    Anda wajib tahu bahwa ada berbagai macam ras di muka bumi, dan mereka berasal dari tanah kelahiran yang berbeda-beda. Misalnya ras Kaukasian, ras Asia, ras Negroid, Mongoloid, Hispanik, dan Arabik. Mereka semuanya mempunyai ciri-ciri dan karakteristik tubuh yang beraneka macam.

    2. Ciri Sosial (Society)

    Selanjutnya, ada ciri khas kedua pada diferensiasi sosial berupa ciri sosial, yang menentukan siapa dan bekerja dalam bidang apa. Setiap orang bekerja sesuai dengan minat, bakat, dan keterampilannya. Pekerjaan yang mereka lakukan mempunyai fungsi dan tujuan yang berbeda pula.

    Seseorang yang bekerja dalam profesi kerah putih biasanya dianggap lebih terhormat dan lebih makmur daripada orang lain di sekelilingnya. Di sisi lain, orang yang bekerja dalam profesi kerah biru cenderung lebih kreatif dan praktis daripada kaum pekerja kerah putih.

    3. Ciri Budaya (Cultural)

    Kebudayaan yang setiap golongan manusia praktikkan adalah ciri diferensiasi sosial yang ketiga. Hampir setiap kelompok masyarakat di muka bumi ini mempunyai budaya yang unik dan khusus. Terkadang ada perubahan pada budaya tersebut, misalnya seperti akulturasi dan sinkretisme.

    Misalnya, dalam suatu kelompok, orang-orang di kelompok itu terbiasa berbicara keras dan bertindak egois. Lain halnya dengan suatu kaum yang bahasanya lebih sopan dan perilakunya lebih sabar dan tertib. 

    Jenis-Jenis Diferensiasi Sosial

    (Sekumpulan manusia dari berbagai golongan | Sumber: Vocasia.id)

    Selain ketiga ciri-ciri yang disebutkan di bagian sebelumnya, ada pula jenis-jenis pembeda yang banyak masyarakat dunia gunakan. Ada kurang lebih empat jenis diferensiasi sosial yang paling umum Anda temukan di lingkungan sekitar.

    1. Perbedaan Ekonomi

    Jenis pertama, yaitu perbedaan dalam ekonomi. Penduduk di suatu negara dapat kita bedakan menurut kemampuan mereka untuk membeli kebutuhan hidupnya, serta mudah atau tidaknya kesempatan mereka dalam mencari barang.

    Anda bisa melihat jenis perbedaan ini di kota besar dan wilayah perkampungan. Orang yang tinggal di kota cenderung mudah dalam mendapatkan aneka kebutuhan hidup mereka. Sebaliknya, warga yang tinggal di perkampungan seringkali kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

    2. Perbedaan Tradisi

    Jenis diferensiasi sosial yang kedua adalah perbedaan dalam urusan adat istiadat dan tradisi setempat yang masyarakat tersebut anut. Setiap daerah, provinsi, bangsa, dan negara tentu saja memiliki tradisinya sendiri, kendati ada tradisi yang mereka wariskan atau ajarkan kepada kelompok lain.

    Tradisi dan adat istiadat tersebut mungkin saja mengambil wujud seremonial atau ceramah dan ilmu penyuluhan yang sifatnya teoritis. Di lain pihak, ada juga tradisi yang sifat kegiatannya praktis, atau dalam bahasa lain, bekerja dan berbakti secara nyata di lingkungan sekitar.

    3. Perbedaan Fungsional

    Perbedaan fungsional ini lebih sering terjadi di dalam suatu lembaga atau perusahaan. Orang-orang yang terkumpul dalam lembaga tersebut memegang aneka jabatan yang tugasnya beragam. Pembagian kerja dan wewenang ini membuat mereka memiliki tugas yang saling berlainan.

    Dari situ, kita bisa menyimpulkan bahwa seorang pilot pesawat akan menerima hak-hak dan kewajiban yang berbeda daripada seorang pramugari. Begitu pula dengan seorang dokter ahli bedah, yang pekerjaan, pengetahuan, dan pola pikirnya pasti tidak sama dengan seorang dokter gigi.

    4. Perbedaan Kebangsaan

    Jenis diferensiasi sosial berikutnya ialah perbedaan kebangsaan pada suatu golongan manusia di muka bumi. Identitas bangsa yang tertanam dalam jiwa manusia dapat menjadi garis pemisah yang tegas antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.

    Jika Anda lahir dan tumbuh besar di Indonesia, Anda akan menyatakan bahwa Anda adalah seorang warga negara Indonesia. Namun, apabila Anda ialah seorang warga negara Jepang yang menetap di Indonesia, Anda akan mengidentifikasi diri Anda sebagai orang Jepang.

    Contoh Diferensiasi Sosial di Kehidupan Nyata

    (Ilustrasi masyarakat adat di Indonesia | Sumber: Kompas.com)

    Ada banyak sekali contoh diferensiasi sosial yang bisa Anda lihat di dunia nyata. Namun, artikel ini akan membahas tiga contoh saja. Contoh perbedaan tersebut ada yang bersifat lokal, namun ada pula contoh yang bersifat lintas negara.

    1. Warga Adat Sunda vs Bali

    Di tanah air kita, cobalah Anda lihat perbedaan pada warga adat Sunda dan warga adat Bali. Penduduk Tatar Sunda katanya suka bersikap ramah, murah senyum, dan suka bercanda. Masyarakat Sunda juga lebih terbiasa mengenakan pakaian adat yang tampilannya formal dan bersahaja.

    Penduduk lokal Bali juga murah senyum, tetapi mereka terbilang lebih spiritual dan santai dalam hidup. Selain itu, orang-orang Bali juga kabarnya lebih jago dalam bahasa Inggris ketimbang orang Sunda. Pakaian adat Bali juga banyak mengandung ornamen yang besar dan megah.

    Dalam bidang agama, masyarakat di Tatar Sunda tidak memiliki kemiripan dengan penduduk lokal di Pulau Bali. Warga Sunda kebanyakan beragama Islam atau kristen, sementara warga Bali hampir semuanya beragama Hindu.

    2. Warga Negara Indonesia vs Amerika

    Kemudian ada contoh diferensiasi sosial di antara warga negara Amerika dan warga negara Indonesia. Orang-orang di Amerika biasanya bersikap individualis dan jarang memberi sedekah. Tidak hanya itu, orang Amerika sebetulnya banyak yang tidak menganut agama, jika bukan beragama kristen.

    Sebaliknya, warga negara Indonesia lebih mengedepankan nilai-nilai kekeluargaan. Orang-orang di Indonesia juga menjunjung tinggi nilai-nilai religius, terutama pada agama Islam, dan budaya gotong royong. Selain itu, orang Indonesia pun jauh lebih dermawan ketimbang orang Amerika.

    Kedua negara ini juga mempunyai perbedaan yang lumayan besar dalam hal jumlah partai politik. Negeri kita Indonesia mengizinkan keberadaan banyak partai politik, sedangkan di Amerika hanya boleh ada dua partai politik saja.

    3. Penduduk Jakarta vs Nusa Tenggara

    Contoh perbedaan sosial yang ketiga adalah antara penduduk Jakarta dengan penduduk Nusa Tenggara. Orang-orang yang tinggal di Jakarta cenderung makmur dan bergengsi. Karena mereka tinggal dekat dengan pusat perekonomian, orang Jakarta tidak perlu repot membeli barang.

    Sementara itu, penduduk di kepulauan Nusa Tenggara terbilang miskin, tetapi juga lebih hemat. Mereka sangat bergantung kepada sistem perkapalan dan pelayaran demi mendapatkan segala macam sumber daya. Belum lagi masyarakat di Nusa Tenggara jarang memiliki kendaraan sendiri.

    Bahkan akses internet yang tersedia untuk kedua golongan masyarakat Indonesia ini juga sangat berbeda jauh. Warga Jakarta mampu mengakses internet cepat dengan mudah, sedangkan warga Nusa Tenggara nyaris tak tersentuh oleh internet.

    Sudahkah Anda Paham tentang Diferensiasi Sosial?

    Perbedaan sosial yang ada di masyarakat sekitar seharusnya jangan menjadi alasan untuk bersikap sombong atau lebih tinggi terhadap orang lain. Malah, perbedaan itu dapat kita manfaatkan sebagai sarana untuk memajukan dan menyejahterakan seluruh warga negara di tanah air kita.

    Sebagai manusia dan makhluk sosial, perbedaan adalah hal yang harus dimaklumi. Sebab, setiap dari kita berhak mendapat hak yang sama untuk diperlakukan secara adil dan setara.

  • Nilai Sosial Adalah: Pengertian, Ciri, Jenis, dan Sumbernya

    Nilai Sosial Adalah: Pengertian, Ciri, Jenis, dan Sumbernya

    Nilai sosial adalah kegiatan bermasyarakat sekaligus fondasi moral dan etika yang memiliki peranan penting dalam kehidupan dan karakter manusia. Sebab, pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang mana selalu membutuhkan bantuan orang lain. 

    Menurut Anda, kira-kira seberapa pentingkah nilai sosial dalam membentuk cara orang berinteraksi, berperilaku, dan berkontribusi dalam masyarakat? Yuk, simak selengkapnya di ulasan berikut ini!

    Nilai Sosial Adalah…?

    Nilai sosial adalah suatu standar atau aturan moral, norma, dan etika yang membentuk pandangan dan perilaku seseorang dalam interaksi masyarakat. Dengan kata lain, nilai sosial adalah seperangkat pedoman hidup manusia dalam kegiatan bermasyarakat.  

    Pengertian tersebut sesuai dengan arti “nilai” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang berarti suatu harga, kadar, mutu. Kemudian, kata “sosial” yang berkaitan dengan masyarakat dan suka memperhatikan kepentingan umum. 

    Oleh karena itu, nilai sosial selalu berkaitan dengan penilaian masyarakat dalam berkomunikasi, berinteraksi, bersosial, dan pergaulan. Sehingga, bertujuan dalam menata hubungan yang harmonis antar masyarakat serta terwujudnya keteraturan sosial.

    Walaupun begitu, terdapat pandangan lain mengenai arti dari kata nilai. Kata “nilai” dapat dijadikan sebagai tolak ukur masyarakat dalam memahami ukuran sifat, perasaan, dan lainnya dengan kondisi yang baik ataupun buruk.

    Begitu pula dengan sosial, di mana kata “sosial” merupakan suatu bentuk interaksi dengan lingkungan dari latar belakang yang berbeda. Pada dasarnya, suatu interaksi sosial bisa terbentuk dengan interaksi fisik, verbal, maupun sosial dengan bertukar perasaan atau ide antar kedua belah pihak.

    Sehingga, maksud dari nilai sosial adalah suatu bentuk perilaku dalam berinteraksi dengan orang lain sesuai dengan hukum atau norma yang berlaku di masyarakat. Norma tersebut dapat menjaga Anda dalam hidup bermasyarakat agar terciptanya kerukunan antar tetangga.

    Ciri-Ciri Nilai Sosial dalam Bermasyarakat

    Ciri-Ciri Nilai Sosial dalam Bermasyarakat | Sumber gambar: Freepik.com

    Selain berkaitan dengan interaksi sosial, peran nilai sosial adalah sebagai objek mengekspresikan emosi seseorang dalam keadaan sadar. Dalam penerapannya, Anda perlu mengetahui ciri-cirinya sebagai berikut:

    1. Nilai Sosial Bukan Bawaan Lahir

    Ciri-ciri pertama dari nilai sosial adalah nilai yang berasal dari proses interaksi dengan orang lain dan bukan merupakan bawaan lahir. Seseorang bisa menerapkan nilai tersebut atas dasar kendali dari dirinya sendiri.

    Contohnya, Anda sudah bisa menilai kebutuhan hidup untuk meraih impian Anda sendiri. Cara tersebut merupakan fondasi yang telah ditanamkan oleh orang tua masing-masing individu.

    2. Hasil dari Proses Pembelajaran

    Ciri-ciri kedua nilai sosial adalah nilai yang merupakan hasil pembelajaran, baik itu melalui difusi, akulturasi, maupun sosialisasi. Segala hal yang berkaitan dengan sosial merupakan proses pembelajaran. Sebab, Anda bisa mengetahui benar dan salah ketika Anda mempraktikkannya secara langsung.

    3. Adanya Peraturan Sosial

    Demi tercapainya kebutuhan, keamanan, dan kedamaian sosial, maka nilai sosial juga dapat berbentuk sebuah peraturan. Tentunya, aturan tersebut sudah memenuhi tolok ukur kebutuhan sosial sesuai dengan kesepakatan masing-masing.

    Aturan-aturan ini mencakup berbagai aspek kehidupan, termasuk hukum pidana, hukum perdata, regulasi pemerintah, dan kode etik profesi. Contohnya, peraturan lalu lintas mengatur cara berkendara di jalan raya, peraturan ketenagakerjaan melindungi hak-hak pekerja, dan hukum lingkungan mendorong perlindungan alam.

    4. Keberagaman Norma dan Budaya

    Mengingat Indonesia memiliki beragam budaya, maka nilai sosial memberikan peranan penting dalam berkomunikasi dengan latar belakang yang berbeda. Pada kasus ini, Anda akan berlatih sikap toleransi dengan masyarakat.

    5. Berpengaruh Dalam Pengembangan Diri

    Ciri kelima dari nilai sosial adalah dapat memberikan pengaruh perkembangan diri pada masing-masing pribadi dengan tingkatan karakter yang berbeda-beda. Tentunya, pengembangan diri tersebut dapat berupa perilaku yang baik atau buruk, tergantung individu masing-masing.

    6. Bersifat Tidak Statis

    Nilai sosial juga dianggap sebagai karakter yang terus berkembang. Ciri ini berhubungan dengan seseorang dalam mengekspresikan emosinya. Jika Anda sekarang mengucapkan sesuatu yang menyakiti, maka bisa jadi keesokan harinya termasuk ucapan yang positif.

    Sumber Nilai Sosial

    Sebenarnya, bentuk nilai sosial bisa Anda dapatkan melalui tiga sumber, yaitu nilai sosial yang bersumber ketuhanan, masyarakat, dan individu. Sumber-sumber tersebut berfungsi untuk memudahkan Anda menerapkan nilai sosial dalam masyarakat. Yuk, langsung saja baca ulasan berikut ini:

    1. Nilai Sosial Adalah Bersumber pada Ketuhanan

    Urutan pertama dalam sumber aturan penerapan nilai sosial adalah berdasarkan asas ketuhanan. Dalam setiap kitab suci, telah tertuang aturan tingkah laku, cara bersikap, dan bersosialisasi. Nilai yang bersumber pada ketuhanan ini dikenal sebagai nilai theonom.

    Dengan demikian, Tuhan Yang Maha Esa sudah memberikan perintah dan pedoman untuk menerapkan nilai sosial. Contohnya seperti pedoman untuk saling membantu, kasih sayang, saling berempati satu sama lain, dan lain sebagainya.

    2. Nilai Sosial yang Bersumber dari Masyarakat

    Seperti yang ada pada ciri-ciri nilai sosial di atas, menerapkan pola interaksi dengan sebuah aturan merupakan bagian dari sumber nilai-nilai dari masyarakat atau nilai heteronom. Sebab, lingkungan masyarakat memiliki pedomannya masing-masing untuk bisa berperilaku baik maupun buruk.

    Anda bisa menjaga perilaku tersebut berdasarkan kesepakatan yang ada, sebab tidak jarang asumsi perilaku orang lain dengan diri sendiri itu berbeda. Contohnya seperti nilai kesopanan dan kesantunan terhadap masyarakat sosial. 

    3. Nilai Sosial yang Bersumber dari Individu

    Sumber terakhir dalam menerapkan nilai sosial adalah berkaitan dengan pengembangan diri masing-masing individu. Setiap individu memiliki sifat yang baik, luhur, dan penting untuk membentuk diri supaya lebih baik. Contohnya seperti ketika Anda adalah seseorang yang gigih dalam menggapai impian.

    Kemudian, Anda memiliki ambisi untuk mencapai impian tersebut dengan beragam cara yang positif. Langkah yang Anda ambil bisa menjadi pengaruh orang lain untuk gigih dan berambisi dalam menggapai mimpi. 

    Fungsi Nilai Sosial dalam Kehidupan Bermasyarakat

    Terdapat beberapa fungsi yang dapat menunjang nilai sosial seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Lima fungsi nilai sosial dalam kehidupan adalah sebagai berikut:

    • Sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat.
    • Menjadi sistem kontrol sosial dalam setiap individu.
    • Menjaga harmoni dan kedamaian dalam bermasyarakat.
    • Memperkuat hubungan antarindividu dan kelompok dalam masyarakat.
    • Meningkatkan peran sosial dalam kehidupan masyarakat.
    • Menentukan kedudukan dan identitas individu dalam masyarakat.
    • Sebagai panduan problem solving dalam lingkungan masyarakat.
    • Membentuk etika profesional dalam berkarier di sekitar masyarakat.

    Jenis Nilai Sosial

    Sebenarnya, ada beragam jenis nilai sosial dalam definisinya. Keberagaman tersebut terbagi atas sifatnya, tingkat kepentingannya, tingkat keberadaannya, dan ciri-cirinya. 

    Akan tetapi, artikel ini akan menjelaskan jenis nilai sosial berdasarkan tingkat kepentingannya. Anda bisa memahami tiga jenisnya di bawah ini:

    • Nilai material merupakan suatu nilai yang bermanfaat untuk fisik manusia.
    Contoh Pakaian Astronaut untuk Melindungi Badan | Sumber Gambar: Freepik.com
    • Nilai vital, yaitu nilai yang berguna dalam melakukan suatu aktivitas.
    Contoh Nilai Vital Adalah Buku Dan Alat Tulis | Sumber gambar: Freepik.com
    • Nilai kerohanian merupakan nilai yang berkaitan dengan batin atau rohani manusia.
    Menolong Orang Lain Saat Tertimpa Musibah | Sumber gambar: Freepik.com

    Nilai Sosial Adalah Hal Penting dalam Kehidupan Sehari-hari!

    Berdasarkan uraian di atas, Anda bisa mengambil satu di antara motif kehidupan yang sedang dijalani untuk memberikan contoh nilai sosial dalam kehidupan. Contoh nilai sosial adalah menghormati dan mendengarkan para guru di sekolah sebagai tanda hormat.

    Selain itu, contoh nilai sosial dalam lingkungan sekitar adalah menjadi seseorang yang ramah dan mudah tersenyum, memberikan bantuan kepada tetangga yang terkena musibah, dan giat melakukan gotong royong.

    Pada dasarnya, nilai sosial adalah bertujuan untuk menciptakan kerukunan dan kedamaian antar sesama individu demi tercapainya hubungan sosial yang baik. Oleh karena itu, penting untuk Anda menjaga nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.

  • Kesenjangan Sosial Adalah: Ciri, Faktor, Dampak, dan Solusinya

    Kesenjangan Sosial Adalah: Ciri, Faktor, Dampak, dan Solusinya

    Kesenjangan sosial adalah salah satu fenomena yang sering terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Perbedaan yang mencolok dalam masyarakat inilah yang menyebabkan terjadinya kesenjangan sosial atau ketimpangan sosial ini.

    Lantas, apa itu kesenjangan sosial beserta ciri-ciri, faktor, dampak, dan solusinya? Kamu akan mengetahui selengkapnya jika kamu membaca artikel ini hingga tuntas.

    Apa Itu Kesenjangan Sosial?

    Seperti yang sudah kamu ketahui sebelumnya, kesenjangan sosial adalah ketimpangan atau ketidakseimbangan sosial yang terjadi pada masyarakat. Biasanya, ketimpangan sosial ini terjadi karena adanya perbedaan tingkatan ekonomi di masyarakat.

    Kesenjangan sosial adalah hal yang juga dapat kamu artikan sebagai ketidakmerataan dan ketidaksamaan kesempatan untuk mendapatkan berbagai sumber daya alam yang tersedia, pendidikan, peluang pekerjaan, layanan kesehatan, bisnis, politik, ekonomi, dan lain sebagainya.

    Ciri-Ciri Kesenjangan Sosial di Kehidupan Masyarakat

    Ciri-ciri adanya kesenjangan sosial adalah sebagai berikut:

    • Ketimpangan sosial ini dapat dirasakan oleh hampir seluruh masyarakat dan bukan beberapa kelompok saja.
    • Situasinya yang mengganggu norma sosial.
    • Kondisi ini dianggap sebagai isu oleh masyarakat dan mereka berusaha untuk mengatasi masalah tersebut.
    • Diperlukan adanya upaya komprehensif untuk mengatasi masalah ini, mulai dari pengendalian, pencegahan, dan penyelesaian yang dilakukan secara kolaboratif oleh anggota masyarakat.

    Faktor yang Menyebabkan Kesenjangan Sosial di Masyarakat

    (Kemiskinan Daerah | Sumber Gambar: wartapemeriksa.bpk.go.id)

    Penyebab umum terjadinya kesenjangan sosial adalah faktor ekonomi dan sosial. Faktor inilah yang kemudian mengakibatkan ketidakadilan di lingkungan masyarakat, terutama pada masyarakat menengah ke bawah.

    Lantas, apa saja faktor penyebab lainnya yang menyebabkan terjadinya kesenjangan sosial di masyarakat? Berikut pembahasan selengkapnya:

    1. Demografi

    Faktor penyebab yang pertama adalah demografi atau kependudukan. Umumnya, terdapat tiga kondisi demografi yang menyebabkan kesenjangan sosial di masyarakat, yakni:

    • Jumlah penduduk kota yang padat merayap daripada penduduk yang ada di desa. Kepadatan jumlah penduduk inilah yang menimbulkan permasalahan lebih kompleks di kota daripada di desa. 
    • Komposisi penduduk yang dapat dilihat berdasarkan jumlah penduduk yang produktif dan tidak produktif pada suatu wilayah.
    • Persebaran penduduk yang tidak merata di beberapa daerah di Indonesia. Contohnya adalah persebaran penduduk yang tidak merata di pulau Jawa, sehingga hanya akan mendapat banyak peluang pekerjaan bagi warga Indonesia yang merantau ke pulau Jawa.

    2. Pendidikan

    Selain masalah kependudukan, faktor utama lain dari timbulnya kesenjangan sosial adalah pendidikan. Pendidikan dapat meningkatkan kualitas manusia dan status sosialnya. 

    Kita tahu bahwa kualitas sumber daya manusia dapat menjadi faktor pendukung majunya suatu negara. Namun di Indonesia, pendidikan belum mencapai kualitas baik yang merata di beberapa daerah.

    3. Perbedaan Status Sosial

    Faktor selanjutnya adalah perbedaan status sosial. Faktor ini juga dapat menjadi penyebab terjadinya kesenjangan sosial karena adanya kekayaan, kekuasaan, usia, dan profesi. 

    Perbedaan status sosial ini terjadi karena adanya stratifikasi sosial atau penggolongan masyarakat. Contohnya, adanya kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah, hubungan antara atasan atau majikan dengan buruh, pemimpin parpol (partai politik) dan anggota, dan sejenisnya.

    Dari beberapa contoh tersebut dapat kamu simpulkan bahwa semakin tinggi pendidikan yang mereka peroleh akan memengaruhi status sosial mereka di masyarakat.

    4. Kesehatan

    Selain fasilitas pendidikan yang belum merata di beberapa daerah di Indonesia, fasilitas kesehatan yang belum merata juga dapat menyebabkan kesenjangan sosial. 

    Contohnya terkait pemenuhan atas fasilitas kesehatan yang memengaruhi sumber daya manusia di beberapa daerah. Fasilitas kesehatan yang belum merata akan menyebabkan tingkat kesehatan masyarakat yang berbeda pula.

    5. Lapangan Kerja yang Masih Kurang

    (Jumlah Pengangguran yang Tinggi | Sumber Gambar: bisnis.tempo.co)

    Lapangan kerja dapat memengaruhi perekonomian dan pastinya akan menyebabkan kesenjangan sosial. Kurangnya lapangan pekerjaan yang tersedia akan menimbulkan jumlah pengangguran yang tinggi.

    Adanya pengangguran ini diakibatkan oleh rendahnya kualitas sumber daya manusia, angkatan kerja yang semakin tinggi, tidak berani membuat lapangan kerja sendiri, dan kurangnya lapangan kerja yang tersedia.

    6. Kemiskinan

    Seperti yang sudah kamu ketahui sebelumnya, bahwa faktor utama yang paling terlihat dari kesenjangan sosial adalah tingkat perekonomian atau kemiskinan yang terjadi di masyarakat.

    Kemiskinan dapat datang dari mana saja, banyak orang yang beranggapan bahwa kemiskinan terjadi karena seseorang malas untuk mencari pekerjaan atau menciptakan lapangan kerjanya sendiri. Ada juga orang yang beranggapan bahwa kemiskinan adalah takdir.

    Pada intinya, masalah kemiskinan sendiri juga menjadi salah satu masalah yang masih belum teratasi di negara Indonesia.

    Dampak dari Kesenjangan Sosial yang Terjadi di Masyarakat

    Adanya ketimpangan sosial menimbulkan beberapa dampak positif dan juga dampak negatif. Apa saja dampak-dampak tersebut? Beberapa dampak positif dan negatif dari kesenjangan sosial adalah sebagai berikut:

    Dampak Positif Kesenjangan Sosial

    Terdapat lima dampak positif dari adanya kesenjangan sosial, yakni:

    • Ketidaksetaraan sosial mendorong beberapa wilayah untuk maksimal dalam memanfaatkan sumber daya dan meningkatkan produktivitas.
    • Ketidaksetaraan sosial bisa menjadi faktor pendukung bagi individu untuk tetap gigih dan berkontribusi menuju perbaikan.
    • Ketimpangan sosial dapat menginspirasi sejumlah kelompok untuk membantu mencapai kesetaraan dan keadilan melalui rasa empati.
    • Mendidik tentang makna penting keberagaman dalam kehidupan masyarakat.
    • Mendorong manusia untuk selalu bersyukur atas segala situasi yang terjadi.

    Dampak Negatif Kesenjangan Sosial

    Adapun lima dampak negatif yang timbul dari adanya kesenjangan sosial adalah sebagai berikut:

    • Perlakuan yang tidak adil dalam masyarakat atau diskriminasi sosial.
    • Tingginya tingkat kemiskinan.
    • Tingginya tingkat kejahatan.
    • Penurunan minat dalam berwirausaha.
    • Tingginya kecemburuan sosial.
    • Ketidakmerataan kualitas sumber daya manusia.

    Contoh Kesenjangan Sosial yang Terjadi dalam Masyarakat

    (Kesenjangan Kesehatan | Sumber Gambar: kompas.id)

    Beberapa contoh kesenjangan sosial adalah sebagai berikut:

    • Kesulitan akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak di daerah pedesaan sering kali menciptakan ketimpangan sosial yang memengaruhi peluang mereka untuk meraih sukses di dunia akademis dan profesional.
    • Ketidaksetaraan upah antara pekerja dengan kualifikasi dan pengalaman yang sama di sebuah perusahaan adalah contoh nyata ketimpangan sosial dalam lingkungan kerja.
    • Perbedaan akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas di antara berbagai lapisan masyarakat menciptakan kesenjangan dalam harapan hidup dan kualitas kesehatan mereka.
    • Ketimpangan sosial tercermin dalam perumahan, dimana kelompok sosial yang lebih kaya memiliki akses ke perumahan yang lebih baik dan lebih aman dibandingkan dengan kelompok yang kurang beruntung.
    • Anak-anak dari keluarga dengan pendapatan rendah seringkali memiliki akses yang terbatas terhadap program pendidikan tambahan dan peluang ekstrakurikuler yang bisa memperburuk kesenjangan akademis.
    • Ketimpangan sosial tercermin dalam kualitas infrastruktur dasar, seperti jalan, air bersih, dan sanitasi yang dapat berdampak pada kualitas hidup penduduk di beberapa kawasan, khususnya kawasan terpencil.
    • Masalah ketimpangan ekonomi juga dapat dilihat dalam kepemilikan aset, dengan kelompok tertentu memiliki akses lebih besar terhadap suatu aset, seperti tanah dan properti daripada yang lain.
    • Kesulitan akses ke layanan perawatan kesehatan mental menyebabkan ketimpangan sosial dalam penanganan masalah kesehatan jiwa.
    • Terbatasnya peluang pendidikan dan pekerjaan untuk kelompok etnis tertentu dapat menciptakan ketimpangan sosial yang berdampak jangka panjang pada kesetaraan ekonomi dan sosial di masyarakat.

    Bagaimana Solusi untuk Mengatasi Kesenjangan Sosial?

    (Perbaikan Infrastruktur | Sumber Gambar: wartakota.tribunnews.com)

    Mengatasi kesenjangan sosial adalah tantangan yang kompleks, dan solusinya seringkali memerlukan upaya kolaboratif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat sipil, sektor swasta, dan masyarakat itu sendiri. 

    Berikut beberapa solusi yang dapat membantu mengatasi ketimpangan sosial:

    • Pemberdayaan masyarakat: melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi kehidupan dan mendukung pengembangan kapasitas mereka.
    • Konservasi dan lingkungan: mengurangi kesenjangan lingkungan dengan melindungi sumber daya alam dan mempromosikan perilaku berkelanjutan.
    • Menciptakan lapangan kerja: terlebih di Indonesia memiliki jumlah penduduk yang padat, terutama di pulau Jawa. Jika kepadatan penduduk itu tidak diimbangi dengan peluang kerja yang baik, maka akan semakin banyak jumlah penganggurannya.
    • Perbaikan infrastruktur di beberapa wilayah terpencil: perbaikan infrastruktur di desa ini memerlukan upaya dari pemerintah di beberapa wilayah terpencil yang tidak berada di posisi yang menguntungkan secara geografis.

    Kesenjangan Sosial Harus Segera Ditangani!

    Itu dia penjelasan terkait kesenjangan sosial serta ciri-ciri, faktor, dampak positif dan negatif, dan solusi untuk mengatasi permasalahan ketimpangan sosial yang terjadi di masyarakat.

    Upaya untuk mengatasi kesenjangan sosial adalah dengan mengadopsi sebuah pendekatan yang berpusat pada solusi dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. 

    Dengan memahami fenomena ketimpangan sosial dan ciri-cirinya, kita dapat merancang solusi yang berfokus pada faktor-faktor penyebabnya dan dampak-dampaknya.

  • Mobilitas Sosial: Pengertian, Jenis, Faktor dan Dampaknya

    Mobilitas Sosial: Pengertian, Jenis, Faktor dan Dampaknya

    Mobilitas sosial adalah fenomena yang sering melibatkan individu maupun kelompok pada kehidupan sosial. Hasilnya, seseorang mengalami perubahan dari strata sosial satu ke strata sosial lainnya. Lantas, apa saja jenis, bentuk, faktor, dan dampak dari fenomena ini? Yuk, cari tahu penjelasan lengkapnya melalui artikel berikut!

    Pengertian Mobilitas Sosial

    Mobilitas berasal dari bahasa latin “mobilis” yang berarti mudah berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Sedangkan sosial adalah orang yang terlibat dalam kelompok sosial masyarakat. Sehingga, mobilitas sosial merupakan perubahan status sosial individu maupun kelompok dari kedudukan satu ke kedudukan lainnya.

    Pada dasarnya, fenomena semacam ini kerap terjadi pada kehidupan sosial, entah secara sadar maupun tak sadar. Tentu saja, tak bisa dipungkiri bahwa manusia bisa mengalami perubahan dan perkembangan dalam hal apapun, bisa naik, bisa turun, dan bisa juga menetap.

    Hasilnya tentu akan berbeda-beda, sebab perubahan sosial terbagi menjadi berbagai bentuk yang tak terlepas dari faktor yang mempengaruhinya. Selain itu, setiap perubahan yang kamu alami akan menyangkut tiga hal pokok, di antaranya:

    • Perubahan strata sosial, baik ke atas maupun ke bawah.
    • Individu maupun kelompok yang mengalaminya.
    • Bisa mendapatkan strata sosial baru.

    Jenis-Jenis Mobilitas Sosial

    Pembagian jenis perubahan sosial akan terlihat pada berpengaruh tidaknya hasil perpindahan status sosial yang dialami dengan derajat sosial yang dimiliki. Sehingga, bentuk perubahan sosial dapat terbagi menjadi 4, yakni:

    1. Mobilitas Vertikal

    Mobilitas vertikal merupakan perpindahan status sosial satu dengan status sosial lainnya dalam kedudukan yang tak sederajat. Kedudukan tersebut ibarat kamu berada pada garis vertikal yang bisa naik dan turun. Nah, mobilitas vertikal juga dibedakan menjadi dua, yaitu:

    1. Gerak ke Atas (Social Climbing)

    Ilustrasi Social Climbing | Sumber Gambar: Pexels

    Social climbing berarti perpindahan status sosial seseorang yang memiliki kedudukan rendah ke kedudukan yang lebih tinggi. Mobilitas sosial ini ditandai dengan adanya kenaikan status atas pencapaian dari kinerja yang baik. Tentu saja, kamu perlu menyesuaikan diri terhadap kedudukan baru tersebut.

    Contohnya, kamu sebagai seorang karyawan biasa di suatu perusahaan, berhasil naik jabatan menjadi manajer sebab memiliki kinerja yang sangat baik.

    2. Gerak ke Bawah (Social Sinking)

    Ilustrasi Social Sinking | Sumber Gambar: Pexels

    Social sinking adalah perpindahan status sosial seseorang yang punya kedudukan tinggi ke kedudukan lebih rendah. Ini bisa terjadi atas ulah diri sendiri yang menyebabkan terhambatnya kinerja sebuah perusahaan. Entah terjadi karena kesalahan kerja, penyalahgunaan jabatan, atau lainnya.

    Contohnya, seorang polisi turun dari jabatannya akibat pelanggaran yang  diperbuat. Bisa juga terjadi pada staf pemerintah yang resmi pensiun dari pekerjaannya dan kini menghabiskan waktu untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.

    2. Mobilitas Horizontal

    Salah satu jenis bentuk dari mobilitas sosial adalah mobilitas horizontal. Mobilitas horizontal adalah perpindahan status sosial seseorang atau kelompok dari kedudukan sosial satu ke kedudukan sosial lainnya di dalam posisi sederajat atau sama seperti sebelumnya. 

    Contohnya, seorang TNI berpindah tugas dari wilayah Surabaya ke wilayah Papua. Ini termasuk mobilitas horizontal. Sebab, terjadi perpindahan tempat kerja tanpa mengubah status sosialnya sebagai TNI begitu pula penghasilannya.

    3. Mobilitas Antargenerasi

    Ilustrasi Sarjana | Sumber Gambar: Pexels

    Mobilitas antargenerasi merupakan perpindahan kedudukan sosial seseorang atau kelompok yang melibatkan perbedaan generasi. Ini terjadi karena adanya perkembangan taraf hidup dalam suatu keluarga, baik terjadi secara menurun maupun meningkat.

    Contohnya, seorang pedagang kaki lima hanya lulusan tingkat SMA. Namun, dia berhasil menyekolahkan anaknya lulus menjadi sarjana ekonomi. Anaknya berhasil memperbaiki dan mengubah kedudukan sosial keluarganya. Nah, itu bisa menjadi penyebab mobilitas horizontal terkait perbedaan sosial dari segi jenjang pendidikan. 

    4. Mobilitas Intragenerasi

    Mobilitas intragenerasi adalah perpindahan status sosial seseorang atau kelompok yang terjadi pada satu generasi yang sama. Contohnya, ada seseorang berprofesi sebagai pembuat kue. Karena ketekunan dan keberuntungan, dirinya berhasil menjadi pemilik toko kue yang punya cabang di berbagai daerah. 

    Faktor Penyebab Terjadinya Mobilitas Sosial

    Diskriminasi | Sumber Gambar: Pexels

    Penyebab perubahan sosial terjadi karena ada beberapa faktor yang kompleks. Baik itu faktor pendorong dan faktor penghambat. Nah, berikut ini adalah penjelasannya:

    1. Faktor Pendorong

    Suatu masyarakat tentu mengalami mobilitas sosial yang berbeda-beda. Terkadang cenderung mudah dan cepat, ada pula yang cenderung sulit dalam melaluinya. Mengapa begitu? Sebab terdapat faktor pendorong yang bisa mempengaruhinya. Berikut di antaranya:

    1. Struktural

    Salah satu faktor ini berkaitan dengan peluang seseorang dalam menempati sebuah kedudukan dan kemudahan dalam mendapatkannya. Struktur masyarakat di Indonesia sangatlah terbuka, sehingga kamu bisa berkesempatan untuk menempati berbagai jabatan lebih tinggi. 

    Sayangnya, ketersediaan lapangan pekerjaan dengan jumlah kepadatan penduduk tidak seimbang. Ini bisa menjadi penyebab terjadinya penurunan terhadap perubahan status sosial. 

    2. Individu

    Ada pula faktor yang berkaitan dengan kualitas individu dari segi sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Pasalnya, manusia lahir memiliki sifat dan ciri khas dari gen orang tuanya. Namun, terkadang seseorang merasa tak puas akan status sosial yang diwariskan terhadapnya.

    Jadi, mereka berusaha mencapai status sosial ke level lebih tinggi melalui sikap yang bertata krama, keterampilan unik, dan pengetahuan berwawasan luas yang ditekuni. Tentu saja, mereka bisa menjadi individu yang berkualitas tinggi dalam meningkatkan status sosial di masyarakat.

    3. Ekonomi

    Faktor ekonomi mampu mendorong mobilitas sosial. Apabila kondisi ekonomi terbilang baik, maka dapat membuat masyarakat mudah mendapatkan modal, pendidikan, dan peluang lainnya.

    Namun, ketikan kondisi ekonomi memburuk, maka masyarakat akan punya pendapatan yang rendah atau terbatas. Sehingga sulit untuk mereka memenuhi kebutuhan dan tidak akan bisa terjadi perubahan sosial.

    4. Kependudukan

    Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik), jumlah kepadatan penduduk terus bertambah. Pertambahan penduduk bisa mempersempit lahan pemukiman dan membuat lapangan pekerjaan berkurang. Bahkan, bisa meningkatkan kemiskinan yang semakin merajalela. 

    Problematika tersebut menjadi pemicu perpindahan kedudukan sosial. Sehingga, individu maupun pemerintah berupaya mengarahkan masyarakat bermigrasi ke wilayah lainnya.

    2. Faktor Penghambat

    Selain faktor pendorong, terdapat juga faktor penghambat terjadinya mobilitas sosial, yaitu:

    1. Stereotip Gender

    Membeda-bedakan karakteristik dan kedudukan sosial laki-laki dan perempuan bisa jadi faktor penghambat. Sebagian orang beranggapan bahwa kedudukan laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Anggapan bahwa perempuan tak perlu berpendidikan tinggi termasuk opini dangkal.

    Tentu saja, ini bisa menghalangi prestasi dan peluang seseorang untuk melakukan perpindahan kedudukan status sosial agar menjadi yang lebih baik.

    2. Kemiskinan

    Kemiskinan bisa menghambat masyarakat dalam mencapai mobilitas sosial. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya pendidikan. Jadi, kualitas sumber daya manusia menjadi rendah yang mengakibatkan kemampuan daya saing di dunia kerja semakin terbatas.

    3. Diskriminasi

    Ada pula faktor diskriminasi. Ini merupakan sikap membedakan perlakuan terhadap sesama. Karena ada berbagai perbedaan, meliputi suku, ras, agama, dan golongan. Faktor ini akan berdampak besar dapat mengakibatkan timbulnya konflik dan menghambat terjadinya perpindahan status sosial masyarakat.

    Dampak dari Mobilitas Sosial

    Perpindahan kedudukan status sosial dapat menimbulkan berbagai dampak, baik positif maupun negatif tergantung kondisi dan faktor yang mempengaruhinya. Apa saja dampak tersebut? Berikut di antaranya:

    1. Dampak Positif

    Ini dia dampak positif dari timbulnya perubahan sosial, yakni:

    • Mempercepat Perubahan

    Masyarakat bisa mempercepat perubahan sosial kearah yang lebih baik dan mendorong seseorang untuk maju. Misalnya lewat perbaikan kualitas pendidikan. Sehingga sumber daya manusia yang berkualitas akan semakin banyak.

    • Meningkatkan Integritas

    Perubahan sosial masyarakat mendapatkan respon berbeda-beda. Terkadang ada yang menganggap sebagai sebuah tantangan, maupun sebagai penerimaan yang bisa berpengaruh terhadap integritas masyarakat.

    2. Dampak Negatif

    Selain dampak positif, tentu saja terdapat dampak negatif dari mobilitas sosial, yaitu:

    • Gangguan Psikologis

    Kehilangan atau penurunan jabatan menyebabkan risiko gangguan psikologis. Hingga terjadi kecemasan berlebih, bahkan membahayakan diri sendiri. Jika berkelanjutan, seseorang bisa terkena penyakit psikis dan fisik membuat mereka tak punya tekad berubah ke arah lebih baik.

    • Memicu Terjadinya Konflik

    Selain mengurangi solidaritas kelompok, ini bisa memicu terjadinya konflik jika kondisi masyarakat kurang stabil. Penyebabnya karena adanya persaingan tak sehat dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai kedudukan sosial lebih tinggi.

    Sudah Tahu Apa itu Mobilitas Sosial?

    Setiap manusia kerap kali mengalami mobilitas sosial. Agar dapat memperoleh strata baru, tentu saja kamu harus berupaya memperbaiki kehidupan menjadi yang terbaik dalam berbagai usaha. Sehingga, tak dipandang rendah oleh kelompok strata lainnya. 

    Mari mulai dengan berpikir lebih luas dan terbuka pada berbagai jenis informasi baru. Bagaimana, kamu apakah kamu menyadari perubahan seperti apa yang pernah terjadi dalam kehidupan sosial?

  • Stratifikasi Sosial: Ciri, Bentuk, Fungsi, Faktor Pembentuk

    Stratifikasi Sosial: Ciri, Bentuk, Fungsi, Faktor Pembentuk

    Stratifikasi sosial merupakan salah satu hal yang sudah lumrah di dalam masyarakat. Masyarakat menilai bahwa hal ini merupakan hal yang benar karena bisa memilah masyarakat dari berbagai macam golongan. 

    Namun, apakah hal tersebut efisien dalam implementasinya? Berikut adalah penjelasan secara lengkap tentang strata tersebut agar kamu bisa menyimpulkan. Yuk, simak!

    Apa itu Stratifikasi Sosial?

    Kelas Sosial | Sumber Gambar: forbesindia.com

    Stratifikasi sosial merupakan sebuah penggolongan masyarakat ke dalam berbagai tingkatan kelas. Ini juga dikenal sebagai pembagian lapisan antar masyarakat. Penggolongan ini merujuk pada pengaturan masyarakat dalam tingkatan atau lapisan berdasarkan nilai atau prestige yang diakui oleh masyarakat.

    Prestige di sini memiliki arti bahwa seseorang bisa berada pada tingkatan yang lebih atas jika mereka memiliki sesuatu yang unik dan tidak orang lain miliki. Sehingga, bisa membuat orang lain merasa bahwa seseorang itu berada di tingkat yang lebih tinggi ketimbang dengan mereka.

    Penggolongan masyarakat ini dapat menciptakan berbagai tingkatan sosial. Seperti kelas atas atau upper class, kelas menengah atau middle class, dan kelas rendah atau lower class.

    Menurut penjabaran sosiolog Italia, Gaetano Mosca, kelompok tersebut sangat berkaitan dengan konsep kekuasaan. Di mana satu kelompok dinilai lebih kuat daripada kelompok lain.

    Selain itu, pembagian lapisan masyarakat juga mengacu pada konsep status sosial. Konsep status sosial ini pertama kali diperkenalkan oleh antropolog Amerika, Ralph Linton.

    Konsep status sosial yang diperkenalkan olehnya meliputi status primer (status yang dimiliki seseorang), status yang diperoleh (status achievement) dan status yang diberikan (status assigned). Perbedaan status sosial ini turut membentuk stratifikasi dalam masyarakat.

    Sedangkan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mendefinisikan hal ini sebagai pemisahan masyarakat atau penduduk ke dalam berbagai tingkatan kelas. Berdasar kekuasaan, hak khusus, dan prestige.

    Dari penjelasan di atas dapat kamu simpulkan bahwa, stratifikasi sosial merupakan suatu pengelompokan masyarakat berdasarkan tingkatkan mereka. Tingkatan tersebut bisa mengacu pada status, harta, dan berbagai hal yang menggambarkan kekuasaan dan kekuatan seseorang. 

    Ciri dari Stratifikasi Sosial

    Piramida Kelas Sosial | Sumber Gambar: sketchbubble.com

    Menurut Max Weber, stratifikasi ini memiliki beberapa ciri-ciri. Berikut di antaranya:

    1. Adanya Persamaan Peluang untuk Hidup

    Max Weber menyatakan bahwa kesempatan seseorang untuk hidup dan memiliki nasib yang sama dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi. Karakteristik penggolongan sosial ini mencakup adanya kesamaan kesempatan hidup atau nasib.

    Kesempatan seseorang untuk hidup dan memiliki nasib yang serupa tergantung pada faktor dan tingkatan kepentingan ekonomi setiap individu.

    2. Adanya Konsep Kehormatan

    Penggolan ini bisa berdasarkan ukuran kehormatan pada setiap orang. Hal tersebut dapat kamu lihat dari gaya hidup.

    3. Adanya Kekuasaan

    Ciri-ciri lain dari stratifikasi sosial adalah kepemilikan kekuasaan oleh seseorang dalam suatu masyarakat. Hal tersebut terlihat dari usaha seseorang untuk mewujudkan ambisinya melalui tindakan bersama dalam komunitas.

    4. Adanya Perbedaan Kemampuan

    Dalam penggolongan ini selalu ada perbedaan kemampuan antar individu pada setiap strata. Contohnya, seseorang yang berada di strata atas dari segi kekayaan pasti memiliki kekuatan ekonomi lebih besar dibandingkan dengan individu yang berada di strata bawah.

    5. Perbedaan Gaya Hidup

    Tak hanya berbeda dalam kemampuan, setiap strata juga memiliki perbedaan dalam gaya hidup. Cara hidup masyarakat di strata atas tentunya sangat berbeda dengan cara hidup mereka yang berada di strata bawah.

    6. Adanya Perbedaan Hak

    Salah satu karakteristik dari stratifikasi sosial adalah adanya ketidaksetaraan dalam penerimaan hak dan pendistribusian sumber daya. Individu yang berada di strata atas cenderung memiliki hak yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang berada di lapisan bawah.

    Fungsi Stratifikasi Sosial di Masyarakat

    Harta milik seseorang di strata atas | Sumber: freepik.com

    Sistem ini sangat dipengaruhi oleh strata dan perannya dalam masyarakat. Contohnya adalah direktur atau manajer yang menempati posisi lebih tinggi dalam suatu tim. Berdasarkan fungsinya, penggolongan sosial terbagi menjadi beberapa kategori fungsi. Berikut di antaranya:

    1. Bidang Ekonomi

    Dalam bidang ekonomi, stratifikasi sosial memiliki berbagai fungsi, yaitu

    a. Sebagai Distribusi Hak Istimewa yang Objektif

    Dalam masyarakat, setiap individu memiliki hak tertentu terkait dengan posisinya dengan orang-orang di kelas yang lebih rendah. Keistimewaan ini dapat terlihat dalam bentuk pendapatan, kekuatan, dan sejauh mana kekayaan yang mereka miliki.

    b. Simbol Status dalam Kedudukan

    Dalam sebuah kelompok masyarakat, ada simbol-simbol khusus yang menandakan status dan posisi seseorang. Contoh dari simbol tersebut adalah mobil mewah, jam tangan berharga, gaya berpakaian, dan hobi-hobi tertentu. 

    c. Alat Solidaritas

    Individu dan kelompok yang berada dalam masyarakat bisa berada dalam strata sosial sama. Pembentukan strata ini muncul karena adanya perasaan solidaritas akibat mengalami nasib serupa dan berusaha mencapai tujuan yang sama.

    2. Bidang Politik

    Dalam bidang politik, penggolongan sosial bisa memiliki berbagai fungsi. Berikut adalah fungsinya:

    a. Penentu Peran dan Wewenang

    Konsep kekuasaan merupakan bagian dari strata sosial. Dalam dunia politik orang bisa mendapatkan kekuasaan lebih memiliki hal untuk membuat berbagai kebijakan.

    b. Mobilitas Politik

    Fungsi kedua adalah membuat individu termotivasi dalam menduduki jabatan dalam pemerintahan. Tujuannya adalah mencari kekuasaan yang lebih tinggi agar bisa menyuarakan aspirasi rakyat.

    3. Bidang Pendidikan

    Dalam bidang pendidikan, stratifikasi sosial bisa berfungsi sebagai:

    a. Pengelompokan Peserta Didik

    Dalam dunia pendidikan, para siswa memiliki kelompok sendiri sesuai dengan usia dan kapabilitas mereka. Mulai dari tingkat PAUD, SD, SMP, SMA, hingga ke jenjang perguruan tinggi.

    b. Motivasi untuk Berkembang

    Sistem pendidikan dirancang untuk mendorong siswa meningkatkan prestasi akademiknya guna mencapai tujuannya, yaitu memfasilitasi mobilitas dan persaingan di masyarakat. Agar dapat diterima di universitas atau sekolah terbaik, siswa perlu berkomitmen penuh dalam belajarnya.

    c. Mencari Individu

    Orang dengan pendidikan tinggi seringkali mendapat pandangan yang lebih baik daripada mereka dengan pendidikan lebih rendah. Hal tersebut biasa terjadi di lingkungan di mana tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mengakses jenjang pendidikan lebih tinggi.

    Faktor Pembentuk Stratifikasi Sosial

    Ilustrasi Kekayaan | Sumber Gambar: Pexels

    Penggolongan sosial tidak terbentuk dengan sendirinya, melainkan ada beberapa faktor yang melatarbelakangi terbentuknya hal tersebut di masyarakat. Ada 7 faktor yang mendasari pembentukan ini di masyarakat. Berikut adalah penjabarannya:

    1. Kekayaan

    Kekayaan ini menjadi sebuah dasar dalam pembentukan strata sosial di masyarakat. Hal tersebut terjadi karena adanya perbedaan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. 

    Seseorang dengan harta yang lebih banyak akan berada di strata sosial paling atas. Sebaliknya, jika mereka tidak bisa mencukupi kebutuhan, maka akan berada di strata bawah.

    2. Keturunan

    Stratifikasi ini juga bisa seseorang dapat secara turun-menurun, jelasnya melalui kelahiran dan perkawinan. Stratifikasi ini juga sangat berhubungan dengan status seseorang sejak lahir. Contohnya adalah keturunan kerajaan atau konglomerat.

    3. Kekuasaan

    Kekuasaan menjadi salah satu faktor paling dasar dalam membentuk stratifikasi sosial. Sebab, tidak semua orang bisa menduduki jabatan yang sama. Hal tersebut akhirnya membuat seseorang bisa memiliki kekuasaan tinggi, seperti contohnya presiden, gubernur, dan sebagainya.

    4. Pendidikan

    Pendidikan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan status sosial seseorang. Lewat pendidikan tinggi, seseorang bisa memperoleh penghasilan besar. Sehingga, gaya hidup mereka juga akan lebih tinggi dan taraf hidupnya juga naik.

    5. Status Sosial

    Dalam hal ini, status sosial merupakan hal yang menentukan strata seseorang. Masyarakat akan melihat hak dan kewajiban. Namun, jenis yang satu ini bisa berubah tergantung pada lokasi. Misalnya, status orang di tempat kerja dan di rumah bisa berbeda.

    6. Kehormatan

    Stratifikasi sosial juga berdasarkan kehormatan yang mereka miliki. Mereka memiliki kehormatan jika bisa memimpin, berjiwa kharismatik, atau seseorang yang bertempat tinggal di wilayah tertentu di waktu yang lama seperti pemuka adat.

    7. Gaya Hidup

    Globalisasi membuat sosial media menjadi tempat yang sangat tepat untuk berlomba-lomba menjadi yang paling menarik. Hal tersebut akhirnya membuat gaya hidup akan semakin tinggi dan akan membentuk penggolongan sosial. 

    Sudah Memahami Apa itu Stratifikasi Sosial?

    Stratifikasi sosial dapat berdampak buruk jika tujuan yang mereka ingin capai bukan karena atas kepentingan bersama atau kelompok. Strata di masyarakat terkadang membuat seseorang bisa mendapatkan perlakuan buruk karena mereka tidak berada di strata yang paling atas.

    Oleh karena itu, setiap individu wajib memanfaatkan strata ini dengan baik untuk kepentingan bersama. Kamu bisa menjadi penggolongan ini sebagai motivasi untuk mencapai strata tertentu sesuai standar pribadi. Semoga bermanfaat!

  • Apa itu Masalah Sosial? Pengertian, Penyebab, dan Dampaknya

    Apa itu Masalah Sosial? Pengertian, Penyebab, dan Dampaknya

    Identik dengan proses ketidaksesuaian dari unsur masyarakat atau kebudayaan, masalah sosial merupakan perbedaan antara harapan dan kenyataan yang terjadi di tengah masyarakat. Erat kaitannya dengan perbuatan melawan hukum, permasalahan ini merujuk kepada isu-isu yang memengaruhi masyarakat luas secara tidak ideal.  

    Tak hanya menyebabkan terjadinya hambatan dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat, problematika ini juga dapat mengganggu ketentraman warga negara. Jika terdapat pembiaran yang berkelanjutan, permasalahan tersebut akan memberikan dampak negatif terhadap kemajuan peradaban kedepannya.

    Artikel ini akan mengulas secara mendalam tentang permasalahan sosial, mulai dari pengertian, kriteria, faktor penyebab, hingga dampak nyata yang mengikutinya. Harapannya, kamu mampu menghindari dan memecahkan segala jenis permasalahan yang mungkin terjadi. 

    Apa itu Masalah Sosial?

    Merupakan gejala yang muncul dalam realita kehidupan bermasyarakat, masalah sosial mengacu pada sebuah kondisi yang tidak diinginkan, namun masih tetap terjadi dalam kelompok masyarakat. Permasalahan ini hadir karena ketidakseimbangan antara situasi riil dengan nilai ideal normal, baik pada norma agama, hukum, atau kesusilaan.

    Karena problematika ini tumbuh dengan sangat kompleks, persoalan tersebut juga kerap terbentuk akibat terdapat interaksi sosial antara individu maupun kelompok. Biasanya, jenis interaksi ini berkisar pada nilai adat istiadat dari suatu daerah, ideologi, dan tradisi dengan proses sosial yang disosiatif. 

    Banyak yang menganggap kehadiran problematika sosial ini sebagai persoalan serius, sebab menyangkut tata kelakuan immoral atau perbuatan melawan hukum yang berpotensi merusak keharmonisan kelompok. Sehingga, jenis permasalahan tersebut akan menimbulkan relasi yang tidak baik antara unsur masyarakat dan budaya.     

    Kriteria Masalah Sosial

    Ada lima kriteria yang bisa kamu gunakan untuk menentukan problematika sosial, yaitu:

    1. Gejala 

    Pada praktiknya, masyarakat dapat memiliki masalah sosial yang beragam, tergantung dari jenis nilai yang mereka anut. Maka dari itu, setiap gejala yang ada tidak bisa orang lain sama ratakan karena pasti terdapat perbedaan yang mencolok.    

    2. Sumber  

    Secara umum, sumber masalah sosial berasal dari bencana alam yang tak terduga serta kondisi dan proses sosial di masyarakat.  

    3. Pihak yang Menetapkan 

    Pada implementasinya, jenis problematika ini ditetapkan oleh common sense terhadap suatu gejala yang muncul. Singkatnya, permasalahan umum yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat tidak bisa individu klaim dan akui secara mandiri.   

    4. Sifat

    Problematika sosial mempunyai dua sifat utama, yaitu laten dan nyata. Laten merujuk pada permasalahan yang tidak masyarakat sadari secara direk, akan tetapi tetap memiliki dampak. Sementara itu, sifat nyata adalah jenis persoalan yang benar-benar terlihat langsung oleh masyarakat.  

    5. Perhatian Masyarakat

    Tahukah kamu? Setiap masalah sosial yang terjadi tidak selalu menjadi pusat perhatian dari masyarakat. Sebaliknya, tidak semua perhatian masyarakat juga dapat tergolong ke dalam problematika yang terkait.  

    Faktor Penyebab Masalah Sosial

    Sejatinya, problematika sosial yang terjadi tentu bukan tanpa alasan karena tidak ada persoalan yang muncul hanya atas dasar keisengan belaka. Timbulnya permasalahan yang ada tersebut sebagai bentuk akibat dari penyebab yang memengaruhinya, seperti faktor ekonomi, budaya, biologi, dan psikologi.   

    1. Faktor Ekonomi

    Menjadi salah satu penyumbang masalah sosial terbesar, faktor ini berkaitan dengan kondisi perekonomian masyarakat yang tidak merata dan stabil. Faktor ekonomi juga berarti sebagai ketidakmampuan seseorang atau kelompok dalam mencukupi kebutuhan hidup secara layak, terutama perihal materi.      

    Tidak hanya terjadi di negara miskin maupun berkembang, negara yang tergolong maju sekalipun juga kerap menghadapi persoalan serius yang menyangkut faktor permasalahan ekonomi. Sebagai akibatnya, kehadiran kasus sosial seperti kemiskinan, pengangguran, kesenjangan, dan kriminalitas tinggi tidak dapat terelakkan.   

    Oleh sebab itu, pemerintah harus senantiasa turun tangan untuk menanggulangi serta mengatasi segala macam masalah ekonomi demi kesejahteraan warga negara yang lebih baik dan terjamin.    

    2. Faktor Budaya

    Sering dianggap sebelah mata, faktor budaya ternyata juga dapat menyebabkan terjadinya masalah sosial.  Hal tersebut terbukti dengan faktor budaya yang acap kali menghadirkan ketidaksesuaian antara kepentingan serta pelaksanaan nilai dan norma sosial pada masyarakat multikultural (beragam). 

    Pada dasarnya, kehadiran budaya timbul dari kebiasaan masyarakat setempat yang berkembang seiring dengan pergantian zaman. Misalnya, masyarakat dengan tipikal perilaku yang tidak disiplin, tidak tepat waktu, membuang sampah sembarangan, dan menerobos antrian akan tumbuh menjadi karakter budaya negatif yang kontinu.  

    Jika budaya negatif tersebut semakin dimaklumkan, maka nantinya mengakibatkan perubahan sosial genting yang ditandai dengan disintegrasi. Alhasil, masyarakat akan berjalan sendiri-sendiri tanpa menganut satupun nilai dari persatuan dan kebersamaan.    

    3. Faktor Biologi

    Terjadinya faktor biologis tidak lain karena terdapat diskrepansi antara harapan terwujudnya masyarakat yang sehat dengan realita keadaan yang ternyata mengganggu stabilitas kesehatan masyarakat. Faktor biologi sendiri meliputi wabah penyakit menular dan fasilitas kesehatan yang tidak tersedia secara menyeluruh.

    Sebagai contoh, wabah Covid-19 yang menimbulkan beberapa masalah sosial di masyarakat, seperti ketidakstabilan psikologis, tingginya angka kematian, dan kerugian materi yang juga berpengaruh kepada sektor ekonomi negara.    

    4. Faktor Psikologi

    Sebagai penyebab masalah sosial, faktor psikologi hadir karena munculnya sebuah gangguan pada pola pikir masyarakat maupun pribadi yang terkait dengan tatanan kehidupan warga negara. 

    Selain dapat menimbulkan pemahaman menyimpang, faktor psikologi juga menyebabkan tumbuh suburnya aliran sesat yang sebenarnya tidak masuk akal. Tak hanya itu, faktor psikologi seringkali menghadirkan kegiatan yang menyalahi norma sosial dan agama, seperti LGBT, gerakan separatis, dan interpretasi yang sekuler.  

    Dampak Masalah Sosial

    Berikut ini adalah empat dampak masalah sosial yang umum terjadi di kehidupan bermasyarakat.  

    1. Kemiskinan 

    Ilustrasi gambaran kemiskinan suatu negara | Sumber gambar: Kompas.com

    Wujud masalah sosial yang nyata dan terus menjadi pusat perhatian dari pemangku kebijakan adalah kemiskinan. Lebih lanjut, kemiskinan juga dapat diartikan sebagai kondisi masyarakat yang tidak dapat memenuhi keperluan hidup yang sesuai dengan standar kelayakan lingkungan masyarakat setempat. 

    Adapun, standar yang menjadi tolak ukur kelaikan kehidupan tersebut berdasarkan kemampuan pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu, seperti sandang, pangan, dan papan. Bahkan, pada kemiskinan ekstrem terdapat kasus memilukan di mana ada masyarakat yang kehilangan nyawa karena kelaparan. 

    Tak jarang, perseorangan atau sekelompok masyarakat dengan tingkat kemampuan pendapatan yang rendah juga seringkali menemui kesulitan dalam memperoleh pelayanan kesehatan dan pendidikan yang mumpuni.    

    2. Kesenjangan Sosial

    Gedung, tembok dan rumah di tepi sungai sebagai gambaran kesenjangan sosial | Sumber gambar: validnews.id

    Melebarnya ketimpangan antara masyarakat kelas atas dan kelas bawah terjadi karena faktor perbedaan yang menonjol pada kemampuan finansial serta status ekonomi masyarakat di lingkungan tertentu. 

    Kesenjangan tersebut dapat menjadi ancaman serius yang bisa menyebabkan aksi kecemburuan akut pada satu belah pihak, yang nantinya dapat meledak sewaktu-waktu. Bahkan ini bisa sampai berubah menjadi konflik. 

    Selain berakibat munculnya konflik terbuka, masalah sosial ini juga membawa dampak negatif yang lebih luas terhadap keretakan hubungan, seperti ketidakpuasan, iri hati, bahkan permusuhan antar kelompok. 

    3. Pengangguran

    Ilustrasi orang butuh kerja | Sumber gambar: prasetya.ub.ac.id

    Sebutan bagi kelompok yang tidak memiliki pekerjaan, pengangguran merupakan masalah sosial yang timbul karena negara tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan jumlah angkatan tenaga kerja.   

    Tingginya tingkat pengangguran membawa pengaruh negatif bagi individu, kelompok, masyarakat, dan negara sekaligus. Dampak pengangguran meliputi penurunan pendapatan nasional, peningkatan kemiskinan, kenaikan kriminalitas, hambatan pendidikan, dan gangguan kesehatan mental.     

    4. Kriminalitas

    Garis polisi | Sumber gambar: aftermath.com

    Jika masalah sosial tidak segera menemukan solusi yang tepat, maka memicu munculnya kejahatan atau kriminalitas yang berbahaya. Tak hanya merugikan masyarakat, kriminalitas yang bertentangan dari norma hukum pidana ini juga membuat hilangnya rasa aman dan nyaman pada lingkungan masyarakat.

    Umumnya, kejahatan terjadi karena faktor perubahan sosial atau ekonomi. Misalnya, kesulitan keuangan, masalah kependudukan, sistem pemerintahan yang bobrok, pola asuh yang keliru, pemutusan hubungan kerja, dan KKN (korupsi, kolusi, nepotisme). 

    Seiring berkembangnya teknologi, tingkat kriminalitas pun semakin meningkat dengan kualitas perbuatan yang makin menjadi-jadi dan merajalela. Terlebih lagi, era modern yang kerap menganggap tindak kriminal sebagai sesuatu yang sudah menjadi rahasia umum dan membudaya.    

    Sudah Tahu Apa itu Masalah Sosial? 

    Sebagai akibat dari adanya perbedaan mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada, masalah sosial menjadi persoalan yang cukup kompleks dan tidak dapat dihindari oleh siapapun. Meski selalu terjadi dalam kehidupan manusia, individu memandang permasalahan ini sebagai sesuatu yang tidak pernah menjadi harapan.  

    Hal tersebut bukanlah tanpa alasan, pasalnya problematika sosial membawa pengaruh negatif yang dapat menimbulkan konflik, ketidakadilan, kesenjangan, kemiskinan, dan penodaan moral dalam masyarakat. Untuk menghindarinya, sebaiknya kamu senantiasa menjaga pikiran tetap positif dan mengelola emosi dengan sangat bijak.  

  • Pengertian Interaksi Sosial: Ciri, Faktor, Syarat dan Contoh

    Pengertian Interaksi Sosial: Ciri, Faktor, Syarat dan Contoh

    Dalam kehidupan bermasyarakat, tidak mungkin Anda hidup sendiri tanpa berkomunikasi dengan manusia lainnya. Karena sejatinya manusia adalah makhluk sosial yang perlu berhubungan dengan sesamanya. Maka dari itu, Anda perlu melakukan interaksi sosial, baik antara individu maupun kelompok. 

    Interaksi adalah hubungan timbal balik yang terjalin antara dua individu atau lebih. Secara sadar atau tidak, Anda sudah banyak menjalin hubungan timbal balik bersama orang lain. Misalnya, ketika belanja di pasar, diskusi, curhat ke teman, dan banyak kegiatan lainnya. Nah, simak pembahasan berikut untuk tahu detailnya. 

    Apa Itu Interaksi Sosial?

    Interaksi adalah tindakan hubungan timbal balik antara dua orang atau lebih. Sementara arti sosial mencakup manusia yang tinggal di lingkungan masyarakat.  Jika digabungkan, interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara individu atau kelompok melalui kontak langsung atau tidak langsung dalam kehidupan masyarakat

    Pelaku individu atau kelompok yang terlibat dalam aktivitas sosial bersama dan melakukan interaksi, maka akan saling mempengaruhi satu sama lain. Hubungan timbal balik ini bisa terwujud apabila terdapat kontak dan komunikasi. Tanpa kedua hal itu, maka proses interaksi tidak bisa terlaksana. 

    Contoh sederhana dari interaksi adalah ketika Anda berbicara bersama teman secara tatap muka. Saat berbicara itulah Anda melakukan kontak dan komunikasi langsung bersama teman Anda. Keduanya akan saling mempengaruhi satu sama lain sepanjang proses interaksi. 

    Ciri-Ciri Interaksi Sosial

    Ilustrasi orang-orang sedang diskusi | Sumber gambar: Freepik

    Agar Anda bisa dengan mudah mengidentifikasi hubungan timbal balik yang termasuk ke interaksi, maka bisa menyimak ciri-cirinya. Menurut Charles P. Loomis setidaknya ada 4 karakteristik yang menandakan bahwa kegiatan yang sedang Anda lakukan termasuk interaksi sosial. Simak pemaparan karakteristiknya berikut ini.

    1. Jumlah Pelaku Minimal Dua Orang atau Lebih

    Berbicara sendiri tidak bisa dikategorikan sebagai proses interaksi. Dalam rangka menciptakan hubungan timbal balik, maka pelaku yang terlibat minimal harus berjumlah dua orang. Baru setelah jumlah minimum peserta interaksi tercukupi, proses hubungan timbal balik bisa tercipta. 

    Jika pelakunya dua orang berarti yang berinteraksi antara individu dan individu. Jika jumlahnya lebih dari dua orang berarti yang berinteraksi individu dan kelompok. 

    2. Menggunakan Simbol atau Lambang dalam Komunikasi

    Komunikasi termasuk salah satu syarat wajib agar interaksi sosial bisa terwujud. Nah, dalam komunikasi Anda bisa menggunakan berbagai simbol atau lambang. Misalnya melalui bahasa verbal, non-verbal, hingga tulisan. 

    Contoh komunikasi yang tidak hanya melibatkan lisan atau verbal adalah dengan memanfaatkan gestur tubuh atau menggunakan bahasa isyarat. 

    3. Terdapat Dimensi Waktu

    Apa itu dimensi waktu? Dimensi waktu terbagi menjadi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Itu artinya interaksi melibatkan dimensi waktu yang berfungsi menentukan kapan suatu aksi berlangsung. 

    Contohnya, interaksi pernah terjadi di masa lampau, sedang terjadi di masa kini, dan akan terjadi di masa mendatang. 

    4. Memiliki Tujuan

    Anda tidak melakukan komunikasi dengan individu atau kelompok lain tanpa tujuan. Setiap interaksi sosial memiliki goals yang ingin masing-masing pelaku capai. Sifat tujuan itu sendiri bisa pribadi maupun sosial. 

    Pada saat di pasar misalnya, pembeli melakukan interaksi dengan penjual lantaran ingin membeli suatu barang. Sementara itu, penjual berkomunikasi untuk menawarkan barang supaya terjual ke pembeli. 

    Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

    Ilustrasi interaksi tidak langsung lewat telepon | Sumber gambar: Freepik

    Bagaimana proses terjadinya interaksi? Interaksi sosial dapat terjadi apabila pelaku yang berinteraksi melakukan kontak sosial dan komunikasi. Kedua komponen tersebut sangat penting dan menjadi syarat yang harus dipenuhi supaya hubungan timbal balik bisa muncul. 

    1. Kontak Sosial

    Kontak sosial menggambarkan bagaimana hubungan antara satu pihak dengan pihak lainnya. Caranya bisa melalui kontak secara langsung (primer) maupun tidak langsung (sekunder). Contoh kontak sosial primer adalah hubungan timbal balik yang terjadi secara fisik oleh individu maupun kelompok. 

    Anda berjabat tangan atau berbicara secara tatap muka termasuk jenis kontak sosial primer. Sementara itu, kontak sosial sekunder adalah hubungan timbal balik melalui media perantara. Media yang digunakan bisa dalam bentuk pesan, telepon, dan lain sebagainya. Misalnya, Anda bertukar pesan dengan teman melalui sosial media. 

    Tindakan seseorang tidak hanya menentukan kontak sosial, tetapi juga respon atau tanggapan pihak lain atas tindakan tersebut. Misal, jika Anda melambaikan tangan, maka respon pihak lain apakah membalas dengan lambaian juga atau tidak. 

    2. Komunikasi

    Syarat kedua terjadinya interaksi sosial yang harus Anda penuhi adalah komunikasi. Pengertian komunikasi sendiri adalah upaya penyampaian ide atau gagasan antara satu pihak ke pihak lain dengan tujuan menginformasikan sesuatu atau saling mempengaruhi. 

    Komponen penting dalam komunikasi adalah komunikator yang berperan sebagai pengirim pesan dan komunikan yang berperan sebagai penerima pesan. Lalu, untuk jenisnya terbagi menjadi dua, yakni verbal dan non verbal. 

    Pada komunikasi verbal berarti dilakukan secara lisan. Sementara non verbal, proses komunikasi menggunakan simbol atau gestur tubuh. Contohnya adalah melambaikan tangan untuk menyapa. 

    Jenis-Jenis Interaksi Sosial

    Ilustrasi interaksi antara individu dan individu | Sumber gambar: Freepik

    Masyarakat merupakan sekumpulan manusia yang heterogen. Itulah kenapa ketika berinteraksi akan memunculkan pola-pola tertentu. Pola-pola interaksi melibatkan individu dan individu, individu dan kelompok, serta kelompok dan kelompok. Ketahui penjelasannya masing-masing pada pembahasan berikut. 

    1. Interaksi antara Individu dan Individu

    Seperti namanya, jenis interaksi satu ini melibatkan dua individu sebagai pihak yang berinteraksi. Umumnya, jenis interaksi ini bersifat intim dan pribadi. Contoh hubungan timbal balik antara individu dan individu adalah seorang murid yang sedang bertanya kepada guru les privatnya. 

    2. Interaksi antara Individu dan Kelompok

    Berikutnya adalah interaksi sosial yang melibatkan individu dan kelompok. Berarti interaksi ini terjadi lebih dari dua orang dengan satu pihak sebagai individu dan pihak lainnya berjumlah lebih dari satu orang sebagai kelompok. Contoh jenis interaksi ini adalah seorang narasumber yang memberikan materi kepada anggota seminar. 

    3. Interaksi antara Kelompok dan Kelompok

    Lalu yang terakhir adalah interaksi antara kelompok dan kelompok. Jenis interaksi ini melibatkan jumlah peserta yang banyak. Selain itu, tujuan komunikasi yang dilakukan biasanya atas nama kepentingan bersama dan bukan pribadi. Contoh jenis interaksi ini adalah para pemuda karang taruna dengan ibu-ibu kompleks. 

    Faktor-Faktor yang Mendorong Interaksi Sosial

    Ilustrasi bersimpati dengan teman sekantor | Sumber gambar: Freepik

    Faktor internal dan eksternal mampu mempengaruhi manusia agar saling menjalin interaksi dengan manusia lainnya. Berikut beberapa faktor pemicu munculnya hubungan timbal balik.  

    1. Simpati

    Rasa simpati muncul ketika seseorang tertarik pada orang lain. Ketertarikan ini bisa dari penampilan atau perilakunya. Selain itu, simpati juga bisa membuat Anda ikut merasakan perasaan orang lain. Misalnya adalah merasa kasihan kepada teman yang gagal lolos seleksi olimpiade. 

    2. Empati

    Konsep simpati dan empati seringkali orang-orang samakan. Padahal, keduanya cukup berbeda. Anda bisa bersimpati terhadap suatu hal meskipun belum pernah mengalaminya, sedangkan empati adalah ketika Anda mampu memahami dan merasakan secara mendalam perasaan orang lain. 

    3. Sugesti

    Sugesti merupakan proses mempengaruhi pandangan atau sikap orang lain agar sama dengan kehendak pemberi sugesti. Biasanya, orang-orang yang berwibawa dan memiliki karismatik lah yang bisa memberikan sugesti ke orang lain untuk menerima suatu pandangan tertentu. 

    4. Imitasi

    Faktor yang mempengaruhi interaksi sosial berikutnya adalah imitasi atau tindakan meniru. Imitasi bisa menjadi positif jika meniru kebiasaan baik dan sebaliknya menjadi negatif jika meniru kebiasaan buruk. 

    5. Motivasi

    Motivasi adalah tindakan untuk memberikan dorongan kepada seseorang untuk melakukan suatu hal. Misalnya, Ibu memotivasi Putri untuk dapat juara kelas agar bisa mendapatkan sepeda baru. 

    6. Identifikasi

    Lalu, yang terakhir adalah identifikasi. Identifikasi merupakan dorongan dalam diri untuk menjadi identik atau sama dengan idolanya. Meskipun mirip dengan imitasi, pada identifikasi dorongannya lebih kuat. Pasalnya, yang ditiru bukan hanya penampilan luar saja, melainkan juga kepribadiannya. 

    Sudah Pernah Melakukan Interaksi Sosial?

    Setelah menyimak pembahasan di atas, Anda pasti menyadari bahwa dalam kehidupan sehari-hari selalu melakukan interaksi sosial dengan pihak lain. Baik itu interaksi sederhana maupun kompleks yang melibatkan banyak orang. Nah, selama berinteraksi Anda bisa menghasilkan bentuk interaksi positif maupun negatif. 

    Bentuk interaksi positif atau asosiatif antara lain kerja sama, asimilasi, dan akulturasi. Sementara bentuk negatifnya adalah kontravensi, persaingan, dan pertentangan (konflik). Dengan mempelajari bentuk-bentuk interaksi, Anda bisa mudah mengidentifikasi proses sosial yang terjadi di dalam masyarakat. 

  • Sejarah Kerajaan Pajang: Raja, Peninggalan, dan Masa Kejayaan

    Sejarah Kerajaan Pajang: Raja, Peninggalan, dan Masa Kejayaan

    Berdiri sekitar abad ke 16, Kerajaan Pajang menjadi salah satu kerajaan Islam di Jawa. Berdasarkan sejarah Kerajaan Pajang, kepimpinan kerajaan ini adalah lanjutan dari Kesultanan Demak. Artikel ini akan membahas berbagai aspek dari Kerajaan Pajang, mulai dari sejarah, peninggalan, hingga masa kejayaannya.

    Sejarah Kerajaan Pajang

    Berdiri pada tahun 1568, Kerajaan Pajang diperkirakan berada pada Desa Pajang, Surakarta. 

    Namun, ada juga yang menyebutkan kerajaan ini terletak di Desa Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo. Pendiri kesultanan ini adalah Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir.

    Masa kepemimpinan Sultan Hadiwijaya mampu membawa Kerajaan Pajang berjaya. Terletak di daerah pedalaman, membuat mata pencaharian utama masyarakatnya adalah sektor pertanian. 

    Lalu setelah 21 tahun memimpin, Kerajaan Pajang mengalami keruntuhan pada tahun 1587.

    Berdasarkan pernyataan Babad Banten, keturunan sultan Pajang berasal dari Pengging yakni sebuah kerajaan kuno yang ada di daerah Boyolali, yang mana pemimpinnya adalah Andayaningrat.

    Menurut perkiraan, Andayaningrat memiliki julukan Jaka Sanagara atau Jaka Bodo. Ia adalah kerabat dekat raja Majapahit. Banyak cerita yang mengisahkan Ki Ageng Pengging terbunuh oleh Sunan Kudus.

    Mas Karebet adalah seorang putra yang ditinggal oleh Ki Ageng Pengging dan akhirnya diangkat anak oleh Nyi Ageng Tingkir. Nah, Mas Karebet ini lebih dikenal sebagai Jaka Tingkir. Ia kemudian memutuskan untuk mengabdi ke Kesultanan Demak.

    Singkat cerita, Jaka Tingkir diminta untuk mendirikan Kerajaan Pajang oleh Kesultanan Demak. Oleh karena itu, ia pun menjadi raja pertama dan memiliki gelar Sultan Hadiwijaya. 

    Ketika Kesultanan Demak mengalami kemunduran akibat pemberontakan dari Arya Penangsang, Sultan Hadiwijaya melakukan penumpasan.

    Ia pun membunuh Arya Penangsang, sehingga menjadikannya pewaris tunggal dari tahta Kesultanan Demak. 

    Seiring berjalannya waktu, Sultan Hadiwijaya memindahkan ibu kota Demak ke Pajang. Dengan demikian, pada 1568 M Kerajaan Pajang resmi dibangun.

    Menurut banyak perkiraan, Kerajaan Pajang berada di wilayah pedalaman Jawa, yakni Kartasura. Dengan demikian, wilayahnya tidak terlalu luas, sebab hanya meliputi wilayah Jawa Tengah saja. 

    Selain itu, banyaknya konflik internal dan eksternal mengakibatkan beberapa wilayah melepaskan diri.

    Raja-Raja yang Memimpin Kerajaan Pajang

    Dalam sejarah Kerajaan Pajang, terdapat beberapa raja yang berkuasa. Setiap raja memiliki peraturan kerajaan tersendiri. Namun, sama-sama bertujuan untuk memajukan Kerajaan Pajang. Adapun beberapa nama raja Kerajaan Pajang, di antaranya yaitu:

    1. Sultan Hadiwijaya

    Era baru Jawa merupakan masa awal pemerintahan Sultan Hadiwijaya. Pada masa pemerintahannya, ia berfokus pada pengubahan pemerintah di Jawa Tengah. Terutama mata pencaharian yang awalnya maritim menjadi agraris.

    Tidak sama dari pendahulu, Kerajaan Pajang berlokasi di pedalaman Jawa Tengah. Menurut sejarah, Pajang sudah ada sejak masa Kerajaan Majapahit. Bahkan daerah ini disebut sebagai daerah dengan pertanian subur.

    Dari kondisi tersebut, membuat Pajang memiliki basis ekonomi yang bukan lagi perdagangan. 

    Selain itu, masa Sultan Hadiwijaya juga mengalihkan pusat kerajaan Demak ke Pajang. Inilah yang mengakibatkan adanya transformasi sosial budaya dari pesisir ke pedalaman.

    Jika masyarakat Pajang memilih hidup homogen, maka Demak justru lebih heterogen dan terbuka. 

    Sejak perintisan kesusastraan dan kesenian Islam era Demak, Sultan Hadiwijaya pun mulai membawanya untuk penduduk pedalaman Jawa Tengah agar masyarakat dapat menyerapnya.

    Pada tahun 1581, Sultan Hadiwijaya mendapatkan pengakuan sebagai raja dari para pemuka Islam dan penguasa lain. 

    Adapun puncaknya restu dari Sunan Prapen Giri yang disaksikan oleh para penguasa lainnya. Mulai dari Mojokerto, Pasuruan, Lasem, Pati, Wirasaba, Surabaya, Madiun, Tuban, dan Kediri. 

    Setelah perang pembangkangan Mataram Islam, Sultan Hadiwijaya jatuh sakit dan meninggal dunia. Ada yang menyebutkan bahwa ia meninggal dunia sekitar tahun 1582 – 1587.

    2. Arya Pangiri

    Usai wafatnya Sultan Hadiwijaya, terjadi guncangan di Kerajaan Pajang tentang perebutan kekuasaannya. Pada konflik ini, yang terlibat adalah Pangeran Benawa (putra Hadiwijaya) dan Arya Pangiri (menantu Hadiwijaya dari Demak).

    Arya Pangiri adalah putra Sultan Prawoto, ia juga diasuh oleh Ratu Kalinyamat. Hasil akhir sengketa tersebut, Arya Pangiri menjadi pemenang dan naik tahta tahun 1583. Pangeran Benawa bernasib buruk, karena ia dikucilkan ke daerah Kadipaten Jipang.

    Masa pemerintahan di tangan Arya Pangiri penuh dengan gejolak, khususnya sosial pusat. Hal ini karena adanya pengaruh dari pendatang baru. 

    Arya Pangiri juga membangun militer dan melibatkan pasukan bayaran dari daerah lain. Seperti Bugis, Makassar, blasteran Cina, dan Demak.

    Ketika orang-orang tersebut ada di Pajang, polemik dan konflik sosial semakin menjadi-jadi, Mulai dari kepemilikan rumah, jabatan, hingga hak atas tanah. 

    Adanya konflik penduduk lokal dan pendatang membuat kemunduran Arya Pangiri. Sehingga ia gagal bersaing dengan Kerajaan Mataram Islam.

    3. Pangeran Benawa

    Seperti yang disebutkan bahwa Pangeran Benawa putra dari Sultan Hadiwijaya. Ia merupakan ahli waris pertama, sehingga memiliki hak berkuasa di Pajang. Sayangnya ia hanya menjadi Bupati Jipang, karena instruksi Sunan Kudus lebih mendukung Arya Pangiri sebagai raja.

    Atas rasa kecewa, Pangeran pun menorehkan sejarah Kerajaan Pajang yang saling berseteru. Ia memilih bersekutu dengan Mataram Islam dan melawan Arya Pangiri. 

    Pada tahun 1588 terjadi pertempuran dan membuat Arya Pangiri lengser dari tahtanya. Selain itu, Arya Pangiri juga dipaksa kembali ke Demak.

    Usai mengalahkan Arya Pangiri, Pangeran Benawa justru menyepi dan tidak berkuasa di Pajang. 

    Ia lebih memilih mendalami dunia spiritual, letak spesifiknya daerah Parakan atau Kendal. Masyarakat Parakan menyebutnya sebagai Susuhunan Parakan.

    Akan tetapi, ada juga sumber lain yang menyebutkan Pangeran Benawa sempat menduduki tahta Kerajaan Pajang. Namun, ia hanya menduduki tahta selama setahun saja. Hal ini karena setelahnya ia meninggal dunia.

    4. Raden Tompe

    Setelah Pangeran Benawa turun tahta, Raden Tompe pun berkuasa. Ia dikenal sebagai bupati Pajang dan adik Panembahan Senapati. Masa kepemimpinannya terdapat banyak pengaruh dari Mataram Islam. 

    Raden Tompe memiliki gelar yang tidak merujuk raja, yaitu Tumenggung Gagak Baning in Pajang atau Pangeran Gagak Pranolo. 

    Ia hanya berkuasa di Kerajaan Pajang tiga tahun. Setelah memerintah Panjang dari 1588 hingga 1591, ia meninggal dunia. 

    5. Raden Sidawini

    Setelah Raden Tompe meninggal dunia, kursi tahta Pajang diduduki putra Pangeran Benawa, yakni Raden Sidawini yang masih berusia 13 tahun. Ia juga memiliki julukan Pangeran Benawa II.

    Menurut sejarah, masa Sida Wini sudah masuk bagian kekuasaan Mataram Islam. Ia berkuasa selama 1591 hingga 1617 di Kerajaan Pajang. Sehingga menjadikannya sebagai raja terakhir Pajang. Hal ini karena Kerajaan Pajang runtuh akibat serangan Mataram Islam. 

    4 Peninggalan Kerajaan Pajang

    Berdasarkan sejarah Kerajaan Pajang, banyak peninggalannya yang hingga kini masih ada. Sebagian besar peninggalan masih digunakan dan dijaga oleh masyarakat sekitar. Empat diantaranya adalah sebagai berikut.

    1. Masjid Laweyan

    Masjid Laweyan | Sumber gambar: IDN Times

    Masjid Laweyan terletak di Jalan Liris No.1, Dusun Belukan, Pajang, Surakarta. Peninggalan ini dibangun oleh Jaka Tingkir sejak tahun 1546. Masyarakat Solo lebih mengenalnya dengan sebutan Masjid Ki Ageng Henis.

    Dengan berbagai unsur, tempat ini memiliki ciri khas yang berbentuk Kelenteng Jawa. Namun dinding masjidnya menggunakan elemen batu bata dan kayu. 

    Ada tiga bagian dalam masjid ini, yakni ruang induk, serambi kanan, dan serambi kiri. Selain itu, samping masjid juga ada makam-makam kesultanan seperti Ki Ageng Henis.

    2. Pasar Laweyan

    Pasar Laweyan | Sumber gambar: Solopos.com

    Pada zaman Kerajaan Pajang, Pasar Laweyan menjadi pusat perdagangan. Hingga kini pasar ini masih ada, bahkan menjadi pusat perdagangan batik wilayah Bandar Kabanaran, Surakarta. 

    Zaman Kerajaan Pajang berjaya, Pasar Laweyan dijadikan sebagai pusat perdagangan dan ekonomi bagi warganya.

    3. Kampung Batik Laweyan

    Kampung Batik Laweyan | Sumber gambar: solopos.com

    Kampung Batik Laweyan merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Pajang yang masih sangat populer. Bahkan menjadi pusat batik Kota Solo dan ikon Laweyan. 

    Wilayahnya memiliki luas tanah mencapai 24 hektar. Sudah ada sejak 1546, kini Kampung Batik Laweyan berkembang dengan konsep integrasi yang maju.

    4. Makam Sultan Hadiwijaya

    Makam Sultan Hadiwijaya | Sumber gambar: Nativeindonesia.com

    Makam Sultan Hadiwijaya terletak di Desa Butuh, Dusun II, Kota Sragen. Tidak seperti raja-raja Solo lainnya, makam beliau terlihat sederhana. Akan tetapi, makamnya juga masih dijadikan sebagai wisata religis bagi warga sekitar.

    Masa Kejayaan dan Keruntuhan

    Catatan sejarah Kerajaan Pajang menuliskan, masa pemerintahan SUltan Hadiwijaya adalah masa kejayaan mutlak. Hal ini karena pada masa itu, Kerajaan Pajang meluas ke wilayah Kediri, Madiun, dan Blora. 

    Pada masa kepemimpinan Pangeran Benawa II, Kerajaan Pajang mengalami keruntuhan akibat serangan Mataram Islam. Sultan Agung memerintahkan pasukannya untuk menyerang Pajang, karena Pajang dianggap memberontak. 

    Serangan tersebut juga memberikan dampak buruk pada rakyat Pajang. Mereka dipaksa bekerja membangun keraton baru untuk Mataram. Dengan demikian, pusat Kerajaan Pajang menjadi kosong dan hutan.

    Sudahkah Kamu Memahami Sejarah Kerajaan Pajang?

    Melihat sejarah Kerajaan Pajang, dapat disimpulkan bahwa kerajaan tersebut cukup berjaya pada zamannya. Jadi tidak heran, jika kamu masih bisa menemukan peninggalannya. 

    Apakah kamu tertarik berkunjung ke Surakarta dan memahami Kerajaan Pajang lebih dalam lagi? Yuk, belajar sejarah untuk meningkatkan critical thinking!