Blog

  • 3 Rumah Adat Jambi: Nama, Jenis, Ciri Khas, dan Keunikannya

    3 Rumah Adat Jambi: Nama, Jenis, Ciri Khas, dan Keunikannya

    Indonesia memiliki daerah dengan karakter dan keunikan tersendiri. Salah satunya karakteristik tersebut dapat terlihat dari bagaimana gaya arsitektur bangunan atau rumah adat di daerah tersebut. Seperti pada rumah adat Jambi yang memiliki keunikan dan makna tersendiri dari setiap bentuk dan fungsinya. 

    Tidak hanya sebatas sebagai simbol kebudayaan suatu daerah, rumah adat juga memiliki peran sebagai bentuk representasi akan sejarah dan kehidupan masyarakatnya. Fungsi rumah adat  juga beragam, biasanya digunakan sebagai tempat tinggal atau memiliki sifat sakral menjadi tempat ibadah. Yuk, kenali lebih dalam!

    Pengertian Rumah Adat Jambi 

    Jambi merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pesisir timur Pulau Sumatera. Setengah dari penduduk daerah tersebut adalah suku asli Jambi. Sebagian lainnya merupakan penduduk multi etnis yang cukup beragam, meliputi Suku Kerinci dan Melayu Jambi. 

    Ada juga pendatang dari etnis Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Banjar, Tionghoa, Sunda, dan beberapa suku lainnya. Dalam literatur kuno, Jambi menjadi salah satu daerah yang cukup popular, karena terkenal dengan sebutan prasasti dan berita dari Tiongkok. 

    Ini menjadi bukti pernah terjalinnya hubungan antara Jambi dengan bangsa Cina yang dilakukan oleh Kerajaan-kerajaan yang pernah Berjaya di wilayah Jambi. Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi dan adat istiadat di daerah ini mengalami perkembangan dan tidak sedikit juga yang tergerus oleh arus modernisasi. 

    Beberapa identitas budaya asli Jambi juga memiliki ciri khas tersendiri. Apalagi Jambi adalah salah satu daerah yang sarat akan budaya, khususnya mengenai rumah adat Jambi. Dari peninggalan bangunannya, kamu dapat mengamati dan memahami bagaimana cara hidup masyarakat di masa lampau. 

    Di Jambi terdapat tiga rumah adat yang cukup populer, yaitu Kajang Leko, rumah adat Merangin, dan rumah adat Batu Pangeran Wirokusumo. Kamu mungkin sudah tidak asing lagi dengan bentuk rumah adat di kota ini, karena memiliki kemiripan dengan rumah di beberapa daerah lain yang memiliki bentuk bangunan rumah panggung.

    Namun ada perbedaan mencolok dari rumah ini, terlihat dari banyaknya lukisan dan ornamen yang terpajang dengan tema berbeda-beda. Dari beberapa sisi rumah adat ini juga memiliki detail sangat unik. Setiap detailnya dipercaya sebagai bentuk tingginya ilmu dan pengetahuan masyarakat adat asli Jambi di zaman dulu.

    Jenis Rumah Adat Jambi

    Rumah adat menjadi simbol kebudayaan suatu daerah ataupun suku. Keunikannya terkadang diadaptasi dari peninggalan atau kehidupan leluhurnya. Rumah Jambi memiliki gaya arsitektur yang menarik dan penuh dengan filosofi mendalam. Nah, berikut ini adalah jenis beserta penjelasannya:

    1. Rumah Kajang Lako

    Ilustrasi Rumah Adat Kajang Lako
    Ilustrasi Rumah Adat Kajang Lako | Sumber gambar: Wikipedia

    Pertama ada Kajang Lako yang terkenal juga dengan sebutan “rumah lamo” dan “rumah tuo”. Ini adalah rumah adat dari Suku Batin. Suku ini berasal dari Suku Melayu di provinsi Jambi. Kajang Lako dipercaya sudah ada dari peradaban Koto Royo, salah satu pemukiman Melayu pertama yang ada di kepulauan Sumatra. 

    Pada tahun 1970, bangunan ini resmi menjadi ikon budaya Jambi. Jika kamu perhatikan, bentuk bengunananya sama dengan bangunan tradisional di Sumatera pada umumnya yang berbentuk rumah panggung. 

    Hal tersebut memang bukan tanpa alasan, karena ada pertimbangan faktor geografis. Di mana sebagian besar berada di wilayah Pantai. Pilar pagar pada  rumah ini berfungsi sebagai penopang apabila terjadi bencana alam, seperti banjir. 

    2. Rumah Merangin

    Ilustrasi Rumah Adat Merangin
    Ilustrasi Rumah Adat Merangin | Sumber gambar: suara.com

    Rumah Adat yang terletak di Kabupaten Merangin ini terkenal juga dengan sebutan Rumah Tuo Rantau Panjang. Bangunan rumah panggung yang menjadi tempat tinggal Suku Batin. Secara keseluruhan, rumah ini dibangun dengan material kayu tanpa menggunakan paku sama sekali.

    Bangunannya berbentuk memanjang ke samping dengan sanggahan beberapa tiang. Lengkap dengan tangga, pintu masuk, dan beberapa jendela berukuran besar. Atap rumah adat ini dulu terbuat dari ijuk. Namun, karena zaman semakin modern dan sulit untuk menemukan ijuk, atapnya berganti menggunakan seng. 

    Rumah ini memiliki warna yang senada, yaitu coklat terang. Seperti rumah pada umumnya, rumah adat Jambi satu ini terdiri dari beberapa ruangan. Ada ruang pertemuan yang lantainya terbagi menjadi tiga bagian terpisah dengan sekat kayu berukuran 10 cm. 

    Lalu, ada lantai dengan posisi tertinggi, yaitu Balai Melintang untuk para Ninik Mamak dan juga Ulama. Lantai tengah untuk keluarga dan lantai yang berada di Lorong menuju ruang kedua untuk para pekerja. 

    3. Rumah Batu Pangeran Wirokusumo

    Ilustrasi Rumah Adat Batu Pangeran Wirokusumo
    Ilustrasi Rumah Adat Batu Pangeran Wirokusumo | Sumber gambar: Kilas Jambi

    Sedikit berbeda dengan rumah adat yang lain, bangunan ini memiliki sejarah panjang  dan lekat sekali dengan pemerintahan Belanda. Konon katanya, pemerintah Belanda menghadiahkan bangunan dengan material batu ini kepada Pangeran Wirokusumo, yang Bernama asli Ali Idrus Al-Jufri. 

    Ini menjadi bentuk terima kasih Belanda karena Pangeran Wirokusumo memberikan informasi terkait keberadaan Raden Mattaher yang sedang berada dalam pengejaran pihak Belanda. Rumah ini memiliki kombinasi gaya arsitektur antara Melayu, Belanda, dan Tionghoa. 

    Baca Juga : Rumah Adat Aceh: Jenis, Fungsi, Filosofi, dan Ciri Khasnya

    Ciri Khas dan Keunikan Rumah Adat Jambi

    Meskipun ada kemiripan, masing-masing rumah adat juga memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Dari bentuk, pemilihan ornamen, detail pembangunannya, sampai dengan makna setiap sudutnya. Inilah penjelasan keunikan pada tiga rumah tradisional Jambi:

    1. Keunikan Rumah Kajang Lako 

    Pada rumah panggung Kajang Lako ada dua jenis tangga, meliputi tangga utama dan tangga tambahan berbentuk menyerupai perahu, lengkap dengan cabang melengkung yang saling berkaitan. Pada dindingnya juga berhiaskan ukiran dengan motif bertema tertentu yang menggambarkan kehidupan masyarakat. 

    Misalnya, motif yang menceritakan pekerjaan masyarakat yang sebagian berprofesi sebagai nelayan. Ada juga bunga dan dedaunan sebagai simbol hutan yang menjadi sumber pencaharian. Pemaknaan seni pada setiap bangunan juga sangat terlihat dari bagian atap yang berbentuk melengkung dan mirip dengan perahu. 

    Atap ini terkenal dengan nama Gajah Mabuk. Nama ini berasal dari pemilik rumah yang saat itu sedang dimabuk asmara tetapi tak mendapat restu kedua orang tua. Nama lain dari model ini juga terkenal dengan sebutan Lipat Kajang atau Potong Jerambah.

    2. Keunikan Rumah Merangin

    Proses Pembangunan rumah adat Jambi ini tidak menggunakan paku, tetapi bangunannya tetap kokoh dan kuat karena dirancang untuk tahan gempa. Sebab, konstruksinya menggunakan sambungan kayu sendi sebagai bantalan tiang penyangga. Penggunaan getah pohon ipuh juga memengaruhi ketahanan bangunan ini. 

    Rumah Merangin bahkan bisa berdiri hingga ratusan tahun. Karena memiliki pintu dengan tinggi hanya 1 meter, saat memasuki rumah orang harus menunduk. Pintu ini menjadi simbol kesopanan yang masih bertahan di penduduk setempat. Tidak hanya sebagai tempat tinggal, Rumah Tuo Rantau Panjang juga berfungsi sebagai museum. 

    Koleksi di dalamnya bisa berbagai macam benda tradisional atau peninggalan yang ada di daerah Merangin. Bagian dinding dan penyangga rumah juga berhiaskan ukiran. Ada pula beberapa hiasan lain seperti tempat sirih, keramik kuno, kepala kerbau, dan ambung yang berfungsi untuk membuat hasil pertanian. 

    3. Keunikan Rumah Batu Pangeran Wirokusumo

    Dari segi visual, bangunan ini memang sangat unik. Unsur lokal juga tetap terlihat berupa rumah panggung dalam bangunan ini. Selain itu pada atap, gapura, dan ornamen berbentuk naga, bunga, dan arca singa adalah pengaruh dari kebudayaan Cina. 

    Pilar yang berada di bagian dalam memiliki relief yang tertulis menggunakan tulisan Arab. Tiang panggung terdapat huruf Eropa yang terbuat dari bata dan semen yang membentuk pilar berfungsi sebagai penyangga bangunan di atasnya. 

    Pada lantai bawah berlapis ubin terakota, pada lantai kedua terbuat dari papan kayu. Kedua lantai pun terhubung dengan tangga semen, seperti rumah yang bertingkat. Penyebutan rumah batu ini terjadi karena Rumah Adat Batu Pangeran Wirokusumo merupakan bangunan pertama yang terbuat dari material batu di daerah tersebut. 

    Sudah Tahu Apa Saja Rumah Adat Jambi?

    Tidak hanya sekedar hiasan, ornamen dan ukiran pada setiap bangunan rumah adat Jambi memiliki cerita yang lekat sekali akan kehidupan masyarakat setempat. Selain penggunaan material yang unik, nilai-nilai adat dan norma budaya juga masih sangat terjaga.

    Meskipun sebagian material sudah mengalami penyesuaian, rumah adat ini masih dijaga dan masih bisa kamu jumpai. Sehingga tidak hilang atau punah hanya karena arus modernisasi. Apakah kamu tertarik untuk bisa melihat berbagai rumah tradisional Jambi secara langsung?

  • Rumah Adat Aceh: Jenis, Fungsi, Filosofi, dan Ciri Khasnya

    Rumah Adat Aceh: Jenis, Fungsi, Filosofi, dan Ciri Khasnya

    Rumah adat Aceh adalah hasil dari keragaman budaya Indonesia. Masyarakat Aceh seringkali menyebutnya Rumoh Aceh. Tidak hanya sekedar tempat untuk tinggal, tetapi sebagai bentuk manifestasi terhadap Tuhan dan penyesuaian terhadap alam. Sekaligus sebagai identitas daerah gambaran dari kehidupan masyarakat Aceh.

    Melalui Rumoh Aceh, kamu bisa mengenal budaya, pola hidup, dan nilai sakral dari masyarakat Aceh. Rumah adat ini memang memiliki ciri khas yang unik dari segi arsitektur dan filosofinya. Oleh karena itu, artikel ini akan mengulas terkait jenis-jenis Rumoh Aceh, fungsi, filosofi, dan ciri khasnya. Yuk, simak!

    Jenis-Jenis Rumah Adat Aceh

    Rumah tradisional Aceh memiliki ciri khas unik, salah satunya konsep rumah berbentuk panggung. Namun, pada daerah perkotaan konsep rumah semacam ini sudah sulit ditemui, karena masyarakat lebih memilih bangunan modern. Adapun jenis-jenis Rumoh Aceh yang harus kamu lestarikan, meliputi:

    1. Rumah Krong Bade

    Rumah Krong Bade
    Rumah Krong Bade | Sumber Gambar: Archify

    Jenis ini adalah salah satu rumah khas Aceh dengan konsep bangunan layaknya rumah panggung berbentuk persegi panjang. Letaknya memanjang dari timur ke barat. Tinggi bangunan rumah ini kira-kira mencapai 2-3 meter. Sebagian besar material rumah adat ini terbuat dari kayu.

    Pembuatan rumah ini tak memakai paku, melainkan dengan mengikat bahan bangunan memakai tali (taloe meu-ikat) seperti rotan atau ijuk. Bagian atap terbuat dari daun rumbia yang dianyam sedemikian rupa. Masyarakat Aceh memanfaatkan kolong rumah untuk menyimpan persediaan bahan pangan dan lainnya.

    Selain itu, kolongnya juga berfungsi sebagai lahan aktivitas masyarakat, seperti ibu-ibu sedang menenun. Pada bagian depan rumah terdapat tangga yang memiliki anak tangga berjumlah ganjil. Dekorasi dinding tertempel hiasan lukisan guna mempercantik seluruh bagian rumah.

    Jumlah lukisan juga menunjukkan status sosial pemilik rumah adat ini. Semakin banyak lukisan, semakin tinggi pula derajat pemilik rumah, begitupun sebaliknya. Namun, Rumah Krong Bade perlahan semakin sulit ditemui akibat perkembangan zaman yang menyesuaikan gaya hidup modern.

    2. Rumah Santeut

    Rumah Santeut
    Rumah Santeut | Sumber Gambar: broonet

    Santeut (Tampong Limong) adalah salah satu rumah adat Aceh yang digunakan oleh masyarakat berpendapatan rendah. Bentuk rumahnya cukup sederhana dan tak terlalu luas. Biasanya rumah ini memiliki tiang setinggi 1,5 meter.

    Material bangunan Tampong Limong lebih murah ketimbang Rumah Krong Bade. Seperti atap yang tersusun dari daun rumbia dan dinding dari pelepah rumbia. Serta lantai menggunakan belahan bambu yang disusun sejajar namun tak rapat. Ini bertujuan agar sirkulasi udara dari bawah bisa masuk.

    Tampong Limong memiliki kesamaan dalam hal pembagian ruangan dengan rumah khas Aceh lainnya, yakni ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang. Adapun bagian kolong rumah tersedia untuk mengadakan acara tertentu atau untuk menjamu tamu maupun keluarga besar.

    3. Rumah Rangkang

    Rumah Rangkang
    Rumah Rangkang | Sumber Gambar: steemit

    Rangkang merupakan rumah panggung yang memiliki hanya satu ruangan saja. Rumah ini tak selayaknya seperti rumah hunian, melainkan sebagai rumah singgah masyarakat setempat. Misalnya, tempat singgah masyarakat yang sedang dalam perjalanan jauh atau tempat untuk para petani beristirahat.

    Material bahan bangunannya cukup sederhana dan murah, seperti kayu biasa sebagai kerangka bangunan dan daun rumbia untuk penutup atapnya. Meskipun sederhana, akan tetapi sangat bermanfaat sebagai pelepas penat seusai melakukan aktivitas atau pekerjaan.

    Baca Juga : 3 Rumah Adat Jambi: Nama, Jenis, Ciri Khas, dan Keunikannya

    Fungsi dari Tiap Bagian Rumah Adat Aceh

    Rumah Aceh di tiap daerah memiliki komponen ruangan berbeda-beda. Namun, secara konteks memiliki bangunan inti yang serupa dengan lainnya. Lantas, apa saja komponen inti pada bangunan tersebut? Beberapa bagian rumah Aceh punya fungsinya masing-masing. Begini rincian dan penjelasannya:

    1. Serambi Depan (Seuramoe Keue)

    Serambi depan (seuramoe keue) merupakan ruangan depan dari bangunan rumah Aceh. Hanya tersedia ruangan polos tanpa adanya kamar. Fungsi ruangan ini sebagai ruang tamu laki-laki, tempat tidur tamu laki-laki, serta ruang belajar dan mengaji anak laki-laki. 

    Jika ada acara seperti pernikahan, ruangan depan berfungsi sebagai tempat menjamu tamu undangan. Selain itu, ini juga menjadi tempat berkumpul sanak saudara dan keluarga.

    2. Serambi Tengah (Rumah Inong)

    Serambi tengah merupakan ruangan bagian inti yang bersifat pribadi. Ruangan ini dikenal dengan sebutan rumah inong (rumah induk). Terdapat ruangan yang terdiri dari dua bilik saling berhadapan. 

    Adapun fungsinya sebagai kamar tidur kepala keluarga. Namun, jika ada anak perempuan baru menikah, bisa menempati kamar tersebut lalu orang tua bisa pindah ke Anjong.

    3. Serambi Belakang (Seuramoe Likoot)

    Serambi belakang memiliki bentuk ruangan yang polos dan memiliki luas yang ukurannya sama dengan serambi depan. Adapun fungsinya sebagai ruang tamu perempuan, tempat belajar mengaji untuk perempuan, dan tempat tidur tamu perempuan.

    4. Ajong

    Ajong adalah ruangan rumah adat Aceh yang bersifat khusus. Jadi, hanya untuk kamar perempuan dan tempat meletakan ayunan kain khusus untuk menidurkan bayi.

    5. Rambat 

    Fungsi dari rambat adalah sebagai ruang kosong tempat berlalu lalang. Serta menjadi penghubung antara ruang depan dan ruang belakang dan sebagai tempat berkumpulnya keluarga.

    6. Kolong

    Kolong rumah memiliki fungsi untuk menyimpan kendaraan pemilik rumah, tempat menyimpan barang pertanian, perikanan, maupun bahan pakan. Selain itu, ini juga sebagai media untuk menjemur baju dan menumbuk padi atau kacang.

    Filosofi Rumah Adat Aceh

    Rumoh Aceh dari segi arsitektur memperlihatkan keunikan dan keindahan dekorasi bangunan yang memiliki nilai-nilai filosofi mendalam serta dijunjung tinggi oleh masyarakat sekitar. Adapun  beberapa filosofi dari bangunan rumah adat ini, yaitu:

    • Spiritual dan Keseimbangan

    Dekorasi bangunan mencerminkan keyakinan terhadap kekuatan spiritual. yaitu Tuhan. Ini juga berhubungan dengan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

    • Persatuan dan Kebersamaan

    Pada Rumoh Aceh, seringkali mendapati bangunan terpisah yang saling bertaut atau terhubung. Ini merupakan simbol dari kolaborasi antar keluarga yang memiliki rasa persatuan dan kebersamaan.

    • Kebijaksanaan dan Kearifan

    Bangunan Rumoh Aceh mampu melambangkan keinginan masyarakat untuk menumbuhkan pola hidup secara bijaksana. Serta beradaptasi pada keseimbangan terhadap tradisi dan modernitas yang ada.

    Ciri Khas Rumah Adat Aceh

    Rumah Aceh tentu memiliki ciri khas unik. Nah, berikut ini akan menjelaskan sekilas terkait ciri-ciri khas Rumoh Aceh yang perlu kamu tahu:

    1. Bentuk Rumah Tinggi

    Secara tampilan, ciri khas rumah Aceh terlihat dari struktur bangunan dengan konsep rumah panggung. Bentuk rumahnya tinggi dan memanjang, serta tersedia tangga dengan jumlah ganjil sesuai kepercayaan masyarakat setempat.

    Rumah konsep panggung bisa mengurangi kelembaban, sebagai pelindung dari ancaman hewan buas, dan terhindar dari banjir bandang. 

    2. Ukuran Pintu Rendah

    Ukuran pintu pada Rumoh Aceh memiliki tinggi sekitar 120-150 cm. Tergolong rendah, bukan? Tingginya memang lebih rendah ketimbang orang dewasa. Sehingga, setiap orang masuk selalu menunduk dahulu. Adapun filosofi menunduk cocok sekali dengan kepribadian orang Aceh tak suka menyombongkan diri 

    3. Jumlah Tiang Menunjukan Jumlah Ruangan

    Ciri khas rumah adat Aceh berikutnya adalah jumlah tiang pada bangunan rumah adat. Biasanya jumlah tiang pada Rumoh Aceh menunjukkan banyaknya ruangan dalam bangunan tersebut. Misalnya, rumah Aceh memiliki 16 tiang yang berarti punya 3 ruangan dan lainnya. Jika tiangnya 18 atau lebih biasanya ada 5 ruangan.

    4. Keindahan Ornamen dan Hiasan Ukiran Rumit  

    Seringkali rumah adat Aceh kaya akan ornamen yang unik nan indah, seperti relief, lukisan tradisional, dan hiasan kaca patri. Selain itu, seringkali ada ukiran cukup rumit yang memperlihatkan kecantikan dan keindahan dari segi arsitektural. Terdapat pula motif khas Aceh berupa geometris atau flora dan fauna pada ukiran.

    5. Struktur Rumah Tahan Gempa 

    Ciri khas lainnya, yakni struktur rumah tahan gempa. Ini bisa menyesuaikan dari penggunaan material terhadap struktur bangunan. Seperti halnya bahan alami berasal dari kayu dengan atap daun rumbia yang ringan. Karena tidak menggunakan besi dan paku, maka bebannya tidak berlebihan.

    Kayu dan tiangnya menyatu bersama pasak, serta saling mengunci satu sama lain. Jadi, struktur bangunan rumah adat Aceh lebih kuat. Data valid menyatakan bahwa, ketika terjadi gempa 9,1 SR dan Tsunami 2004, rumah Aceh tak mengalami kerusakan serius.

    Sudah Paham Ragam Rumah Adat Aceh?

    Rumah tradisional memiliki ciri khas unik dan nilai sakral yang mengandung unsur budaya, termasuk rumah adat Aceh. Seiring perkembangan zaman, kini rumah adat semakin sulit ditemui. Selain termakan zaman, masyarakat kini beralih pada bangunan yang lebih modern dan minimalis. 

    Pada dasarnya, pembuatan rumah Aceh memang lebih rumit dengan perawatan yang lebih mahal. Pembangunanya pun membutuhkan musyawarah terlebih dahulu dan tidak bisa sembarangan. Namun, masih banyak juga yang sangat menyukai rumah warisan nenek moyang ini dan memilih untuk melestarikannya. 

  • Latar Belakang dan Definisi Perang Salib – Sejarah Lengkap

    Latar Belakang dan Definisi Perang Salib – Sejarah Lengkap

    Tidak banyak orang di zaman ini yang paham akan latar belakang dan definisi Perang Salib. Padahal, perang tersebut merupakan salah satu perang yang terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama di wilayah yang cukup besar menurut sejarah. 

    Yuk, tambah wawasan sejarah kamu tentang Perang Salib lewat penjelasan kali ini!

    Asal Muasal Kata Perang Salib

    Keberhasilan Tentara Salib merebut Yerusalem
    Keberhasilan Tentara Salib merebut Yerusalem | National Geographic

    Tahukah kamu bagaimana istilah Perang Salib muncul?

    Sebenarnya, terminologi ‘Perang Salib’ belum masyarakat kenal saat Perang Salib pertama kali terjadi. Malahan, saat Perang Salib I berlangsung, umat Kristen menyebutnya dengan istilah ‘lawatan,’ atau dalam bahasa Latin iter

    Ada juga yang menyebut bahwa Perang Salib merupakan ‘ziarah,’ atau dalam bahasa Latin peregrinatio.

    Perang ini baru dikaitkan dengan istilah ‘salib’ saat mendapat restu dari gereja. Istilah salib sendiri datang dari kata crucesignatus  yang berasal dari bahasa Latin pada akhir abad ke-12. Artinya adalah orang yang telah diberi tanda salib.

    Akan tetapi, kalau kamu mengaitkannya dengan bahasa lain, Perang Salib yang memiliki terjemahan crusade dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Prancis croisade. Kata-kata ini berasal dari turunan kata cruiciata atau cruxiata dalam bahasa Latin, yang berarti ‘menyalibkan’ atau ‘menyiksa’. 

    Tetapi, rupanya sejak abad ke-12, cruciata atau cruxiata ini juga dapat berarti ‘membuat tanda salib’. Kamu bisa melihat mengapa perang ini kemudian disebut sebagai Perang Salib dalam poin-poin pembahasan selanjutnya. 

    Makna Perang Salib dari Beberapa Sudut Pandang

    Gambaran Perang Salib
    Gambaran Perang Salib | Fadami Indozone

    Walaupun telah lama berakhir, tetapi latar belakang dan definisi Perang Salib  masih terus dibahas, dan menjadi isu perdebatan hingga saat ini. Bahkan, kini banyak sejarawan yang mengungkapkan sejumlah sudut pandang berbeda dari Perang Salib ini.

    1. Tradisionalis

    Bagi kaum tradisionalis, perang tersebut mengacu pada serangkaian perang yang umat Kristen lakukan di Tanah Suci, sejak tahun 1095 hingga 1291 dengan alasan untuk membantu umat Kristen. 

    Selain itu, kaum tradisionalis juga menganggap bahwa Perang Salib dilakukan masyarakat Kristen dengan tujuan memerdekakan Yerusalem dan membebaskan Makam Suci dari penjajahan.

    2. Pluralis

    Sementara itu, kaum pluralis menganggap bahwa istilah Perang Salib merupakan segala bentuk aksi militer yang Paus restui secara terbuka. Jadi, makna dari Perang Salib mencerminkan pandangan Gereja Katolik Roma, bahwa setiap perang yang Sri Paus restui dapat masyarakat anggap sah.

    Latar belakang dan definisi Perang Salib yang satu ini akhirnya mencakup berbagai aksi penyerangan pula terhadap kaum penyembah berhala dan ahli bid’ah. Contohnya, seperti Perang Salib Albigensian, Perang Salib Husite, dan juga Perang Salib Utara.

    3. Generalis

    Bagi kaum generalis, perang tersebut berarti sebuah perang suci karena merupakan upaya bela agama, dan perang ini berkaitan dengan Gereja Latin.

    4. Popularis

    Terakhir, kaum popularis berpendapat bahwa  Perang Salib ini terjadi karena gerakan khalayak ramai, dan memiliki latar belakang keagamaan. Bagi kaum ini pula, Perang Salib yang memiliki ciri tersebut hanyalah Perang Salib Pertama dan Perang Salib Rakyat.

    Periode Perang Salib

    Perang Salib terjadi selama hampir dua ratus tahun sehingga sejumlah sejarawan menyatakan bahwa ada delapan periode dalam perang ini dengan skala yang berbeda-beda (skala besar, sedang, dan kecil). Kamu bisa melihat periode setiap tahapan perang tersebut di bawah ini.

    • Perang Salib I terjadi tahun 1095 hingga 1099.
    • Periode ke II terjadi pada tahun 1147 hingga 1149.
    • Perang Salib III terjadi di tahun 1187 hingga 1191.
    • Periode ke IV terjadi di tahun 1202 hingga 1204.
    • Perang Salib V terjadi pada tahun 1217 hingga 1221.
    • Periode ke VI terjadi pada tahun 1248 hingga 1254.
    • Perang Salib VII terjadi di tahun 1248 hingga 1254.
    • Periode ke VIII terjadi di tahun 1270.
    • Perang Salib IX terjadi tahun 1271 hingga 1291.

    Meskipun periode berlangsungnya cukup lama, ragam pendapat tentang definisi perang ini menunjukkan bahwa tidak ada yang benar-benar tahu latar belakang dan definisi perang salib yang pasti.

    Periode Menurut Rizem Aizid

    Meskipun terdapat versi yang menyatakan pembagian periode Perang Salib terbagi menjadi delapan, tetapi ada pula sumber yang menyatakan pendapat lain. Misalnya, menurut Rizem Aizid, Perang Salib terbagi menjadi tiga periode, yang terjadi pada 1095 hingga 1291.

    a. Periode I 

    Inilah periode yang sering sejarawan sebut sebagai perang penaklukan. Perang penaklukan ini terjadi sejak Paus Urbanus II mendeklarasikan Perang Suci, pada tahun 1095 sampai tahun 1144.

    b. Periode II

    Sementara itu, periode II terjadi pada tahun 1144 sampai 1192 Masehi. Periode ini dapat kamu sebut sebagai periode reaksi umat Islam. Pada periode ini, umat Islam melawan dan berusaha meraih kemenangan saat Salahuddin al-Ayyubi atau Sultan Saladin memimpin Pasukan Islam.

    c. Periode III

    Terakhir, periode III pada Perang Salib memiliki julukan sebagai periode perpecahan di antara tentara salib sendiri. Perpecahan ini terjadi karena perang saudara di antara sejumlah kerajaan Kristen, dan periode ini terjadi dari tahun 1193 sampai 1291 Masehi.

    Apa Sebenarnya Latar Belakang dan Definisi Perang Salib?

    Perang Salib Pertama untuk merebut kekuasaan Yerusalem
    Perang Salib Pertama untuk merebut kekuasaan Yerusalem | National Geographic

    Pada dasarnya, Perang Salib yang merupakan konflik antara bangsa Eropa dan bangsa Asia Barat. Sementara, ahli sejarah masih memperdebatkan faktor pemicu utamanya. Beberapa sumber hanya dapat menyimpulkan sejumlah faktor yang mungkin menjadi pemicunya seperti diterangkan penjelasan singkat berikut ini. 

    1. Umat beragama Kristen yang sulit berziarah ke Yerusalem sejak wilayah tersebut masuk dalam kekuasaan Dinasti Seljuk yang berisi orang-orang Islam dari Turki.

    2. Kalahnya Kekaisaran Romawi melawan Dinasti Seljuk. Romawi akhirnya meminta bantuan pada Paus Urbanus II, pemimpin Gereja Katolik Roma yang berpusat di Vatikan saat itu.

    3. Adanya motivasi dari Paus Urbanus II agar masyarakat Kristen mampu bersatu melawan orang-orang Islam, serta

    4. Penguasaan orang-orang Islam atas jalur perdagangan di Laut Tengah, sehingga menimbulkan kegiatan dagang orang Kristen dari Eropa   

    Alasan paling terkenal, dan hingga saat ini orang-orang percaya sebagai latar belakang terjadinya Perang Salib, adalah karena adanya iming-iming pahala rohani. Jadi, masyarakat Eropa percaya bahwa mereka bisa menghapuskan dosa-dosanya dengan ikut serta dalam peperangan melawan masyarakat Muslim dari Asia Barat.

    3 Aspek Pemicu Perang Salib

    Para ahli sejarah juga membagi latar belakang dan faktor pemicu perang tersebut dari aspek politik, sosial dan ekonomi seperti dalam uraian berikut ini. 

    1. Politik

    Jika merujuk pada tulisan Moch Iqbal Ibnu Zena (2017), terjadinya Perang Salib dipengaruhi oleh sistem pemerintahan Eropa yang berbentuk feodal. Sistem pemerintahan ini berarti kedudukan seseorang dalam suatu pemerintahan dan masyarakat terpengaruh oleh luas tanah yang mereka miliki.

    Nah, saat Perang Salib telah terjadi, para tentara dan bangsawan pun jadi melihat peluang untuk mendapatkan lebih banyak tanah. Fenomena ini membuat para bangsawan dan tentara tersebut menyambut seruan Paus Urbanus II untuk ikut serta dalam perang, agar mereka mampu mendirikan kekuasaan di wilayah Timur.

    2. Sosial

    Faktor sosial yang membentuk latar belakang dan definisi Perang Salib hampir sama dengan faktor politik dalam poin sebelumnya. Jadi, saat itu masyarakat terbagi menjadi tiga kaum, yaitu kaum bangsawan, kaum gereja, dan rakyat biasa. Rakyat biasa ini berjumlah banyak, dan hidupnya amat menderita.

    Kenyataan tersebut membuat rakyat biasa harus tunduk kepada tuan tanah. Akan tetapi, Paus berjanji bahwa rakyat biasa akan mampu bebas dari kewajiban mereka terhadap tuan tanah, apabila mereka ikut serta dalam peperangan.

    Iming-iming inilah yang membuat rakyat jelata menjadi antusias dalam berpartisipasi dalam Perang Salib.

    3. Ekonomi

    Sementara itu, faktor ekonomi yang mungkin melatarbelakangi terjadinya Perang Salib berkenaan dengan keinginan bangsa Barat menguasai perdagangan di kawasan Laut Tengah. Bangsa Barat ingin menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat perdagangan Barat di wilayah Timur.

    Terlebih, pada akhir abad ke-11 diketahui bahwa kondisi ekonomi Eropa berada pada titik terendah. Perancis mengalami bencana kelaparan di sebagian besar wilayahnya sebelum Perang Salib pertama terjadi. Nah, masyarakat berpikir bahwa tujuan Perang Salib tersebut dapat menghentikan kemiskinan.

    Baca Juga: Latar Belakang Bangsa Eropa Melakukan Penjelajahan Samudera

    Sudah Paham dengan Latar Belakang dan Definisi Perang Salib?

    Melihat dari latar belakang dan definisi Perang Salib diatas, manakah yang kira-kira menurutmu paling tepat? Memang, alasan terkuat terjadinya Perang Salib yang sejarawan yakini hingga saat ini adalah karena keyakinan masyarakat Eropa mendapatkan ampunan dosa apabila ikut serta dalam peperangan tersebut.

    Meskipun begitu, perang panjang tersebut sesungguhnya justru banyak membawa dampak negatif dari sisi moral dan materil, termasuk perpecahan di dalam kalangan umat Kristen sendiri. 

  • Sejarah Pramuka di Indonesia dan Perkembangannya, Lengkap!

    Sejarah Pramuka di Indonesia dan Perkembangannya, Lengkap!

    Dari sekian banyak ekstrakurikuler yang ada di sekolah, pasti kamu sudah tidak asing lagi dengan ekstrakurikler pramuka. Yap, kegiatan-kegiatan pramuka sangat berkaitan erat dengan kedisiplinan dan kekompakan. Selain itu, sejarah pramuka di Indonesia merupakan perjalanan panjang yang menarik untuk kamu ketahui.

    Penasaran bagaimana sejarah pramuka di Indonesia dan perkembangannya hingga pada akhirnya tanggal 14 Agustus diperingati sebagai Hari Pramuka oleh pemuda-pemudi Indonesia? Yuk, ketahui selengkapnya dengan menyimak artikel di bawah ini!

    Asal-Usul Pramuka

    Robert Baden Powell
    Robert Baden Powell | Sumber gambar: Wikimedia.com

    Pramuka yang merupakan singkatan dari Praja Muda Karana adalah organisasi kepanduan yang dikembangkan oleh Robert Baden Powell, seorang pensiunan letnan jenderal Angkatan Darat Inggris. Pada awalnya, gerakan ini ditujukan sebagai bentuk pembinaan pemuda di Inggris yang terlibat kekerasan dan kejahatan.

    Jauh sebelum sejarah pramuka di Indonesia dimulai, Baden Powell menerapkan kepanduan secara intensif kepada 21 pemuda yang berkemah di Pulau Brownsea selama 8 hari pada tahun 1907. Pengalaman sukses di Brownsea itulah yang membuat beliau menulis kisahnya pada sebuah buku berjudul “Scouting for Boy“. 

    Isi dari buku tersebut adalah pedoman untuk melatih keterampilan dan ketangkasan, kelangsungan hidup, dan pengembangan moral. Buku tersebut kemudian menjadi buku panduan yang digunakan di seluruh dunia dan gerakan pramuka semakin berkembang termasuk di Indonesia.

    Perjalanan Sejarah Pramuka di Indonesia

    Sejarah Pramuka di Indonesia
    Sejarah Pramuka di Indonesia | Sumber gambar: cnnindonesia.com

    Dalam perjalanannya, sejarah pramuka di Indonesia terbagi ke dalam beberapa era yang menjadikan gerakan pramuka Indonesia masih tetap ada sampai saat ini. Berikut ini penjelasan sejarahnya:

    1. Era Hinda Belanda

    Organisasi kepanduan pramuka di Indonesia pertama kali muncul pada masa kolonial Belanda pada tahun 1912. Saat itu, organisasi ini memiliki nama Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO). 

    Pada tahun 1916, NPO berganti nama menjadi Nederlands Indische Padvinders Vereniging (NIPV) atau Gerakan Pramuka Hindia Belanda. Masih di tahun yang sama, Mangkunegara VII turut membentuk organisasi kepanduan pertama di Indonesia, yaitu Javaansche Padvinders Organisatie (JPO). 

    JPO yang dibentuk oleh Mangkunegara VII memunculkan gerakan nasional lain untuk membentuk organisasi yang sama. Mulai dari kepanduan Hizbul Wathon (1918), Jong Java Padvinderij (1923), Nationale Padvinders, Pandoe Pamoeda Sumatra (PPS), dan Nationale Indonesische Padvinderij (NATIPIJ).

    Setelah lahirnya banyak gerakan kepramukaan di Indonesia, pemerintah memutuskan untuk menggabungkan semua organisasi tersebut pada tahun 1926. Penggabungan organisasi dipelopori dengan lahirnya Indonesische Padvinderij Organisatie (INPO) yang merupakan perpaduan organisasi NPO dan JPO. 

    Karena banyak organisasi milik Indonesia lahir, Belanda juga melarang organisasi di luar Belanda menggunakan nama Padvinder. Maka setelah itu, KH Agus Salim memperkenalkan istilah “Pramuka” sebagai ciri khas organisasi kepanduan Indonesia.

    Setelah memiliki nama sendiri, sejarah pramuka di Indonesia tidaklah berhenti. Muncul Persaudaraan Antara Pandu Indonesia (PAPI) pada 23 Mei 1928. PAPI memiliki anggota yang terbagi menjadi INPO, NATIPIJ, SIAP, dan PPS. Namun, federasi ini tidak bertahan lama.

    Selanjutnya pada tahun 1930, berdirilah Nation Scouts Indonesia yang dipelopori oleh tokoh-tokoh dari Jong Java Padvinders atau Pandu Kebangsaan (JJP/PK), INPO, dan PPS.

    Satu dekade kemudian, PAPI mengalami peleburan dan kemudian berkembang menjadi Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI) pada bulan April 1938. Sehingga, pada tahun 1928 hingga 1935, terlihat ada banyak gerakan kepanduan muncul di Indonesia, baik nasionalis maupun religius.

    Sebagai upaya menyatukan persatuan dan kesatuan gerakan pramuka, BPPKI merencanakan kegiatan jambore se-Indonesia (All Indonesian Jamboree). Rencana ini mengalami perubahan nama menjadi Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem (PERKINO) yang terlaksana pada 19 hingga 23 Juli 1941 di Yogyakarta.

    2. Era Penjajahan Jepang (Dai Nippon)

    Dai Nippon adalah penyebutan istilah untuk negara Jepang pada saat itu. Saat Perang Dunia II, tentara Jepang melakukan penyerangan dan Belanda meninggalkan Indonesia. Seluruh partai dan organisasi rakyat Indonesia, termasuk organisasi kepanduan, tidak boleh berdiri tanpa seizin pemerintah Jepang. 

    Namun, berdasarkan sejarah pramuka di Indonesia yang ada,  penyelenggaraan PERKINO II masih tetap diupayakan. Tidak hanya itu, bahkan semangat kepramukan para anggotanya pun masih tetap membara. Hebat sekali, bukan?

    3. Era Republik Indonesia

    Satu bulan setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, beberapa tokoh kepramukaan berkumpul di Yogyakarta. Para tokoh-tokoh ini bersepakat untuk membentuk Panitia Kesatuan Kepandungan Indonesia sebagai panitia kerja untuk mengadakan Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia.

    Kongres kemudian terlaksana pada 27 sampai 29 Desember 1945 di Surakarta dengan hasil terbentuknya Pandu Rakyat Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, perjalanan organisasi Pandu Rakyat Indonesia tidaklah mudah karena masih adanya serbuan tentara penjajah Belanda. 

    Selain itu, terjadi larangan berdirinya Pandu Rakyat Indonesia di daerah yang menjadi tempat singgah Belanda. Keadaan ini mendorong berdirinya organisasi lain seperti Pandu Puteri Indonesia (PPI), Kepanduan Putera Indonesia (KPI), dan Kepanduan Indonesia Muda (KIM).

    Kemudian, pada tanggal 16 September 1951, berdirilah organisasi lain yaitu Ikatan Pandu Indonesia (IPINDO). IPINDO merupakan federasi bagi kepramukaan putra, sedangkan bagi putri terdapat dua federasi, yaitu Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia (PKPI) dan Persatuan Organisasi Pandu Puteri Indonesia (POPPINDO).

    4. Era Lahirnya Gerakan Pramuka

    Sejarah pramuka di Indonesia selanjutnya adalah masa menjelang lahirnya gerakan pramuka. Berdasarkan perjalanan sejarah panjang di atas, perkumpulan kepramukaan di Indonesia sebelum tahun 1960 sangatlah banyak. 

    Lantaran hal tersebut, Soekarno menyatakan bahwa semua organisasi kepanduan harus melakukan pembaharuan dan peleburan menjadi satu. Atas saran Sri Sultan Hamengkubuwana IX, peleburan gerakan kepanduan Indonesia menjadi satu dengan nama Pramuka yang mulai berlaku pada 14 Agustus 1961. 

    Sejak saat itu, tanggal 14 Agustus selalu menjadi tanggal peringatan Hari Pramuka oleh masyarakat Indonesia. Apakah kamu pernah mengikuti acara simbolik ini saat masih di bangku sekolah?

    Apa Arti Tunas Kelapa pada Lambang Pramuka?

    Lambang Gerakan Pramuka
    Lambang Gerakan Pramuka | Sumber gambar: Wikimedia.com

    Setelah membahas sejarah pramuka di Indonesia, sepertinya kurang lengkap jika kita tidak mengetahui arti dari lambang pramuka. Simbol gerakan pramuka sangatlah identik, yaitu tunas kelapa yang terlihat seperti bayangan. Tunas kelapa memiliki makna yang dalam, meliputi:

    1. Nama Lain dari Tunas Kelapa yaitu Cikal

    Ketika buah kelapa sedang tumbuh, buah ini memiliki nama lain yaitu cikal bakal kelapa. Dalam bahasa Indonesia, cikal memiliki arti sebagai pribumi pertama dan mewariskan generasi baru. 

    Oleh karena itu, gerakan pramuka memilih tunas kelapa sebagai simbolnya karena gerakan Pramuka akan selalu memiliki generasi baru yang akan melanjutkan tujuan dan cita-cita Pramuka.

    2. Memiliki Daya Tahan yang Kuat

    Kelapa terbukti memiliki daya tahan yang kuat karena bisa hidup lebih lama dalam kondisi apa pun. Makna dari kuat menjelaskan bahwa anggota pramuka adalah seseorang yang kuat jasmani dan rohani, ulet, serta memiliki tekad yang besar untuk menghadapi berbagai tantangan dan ujian.

    3. Bisa Tumbuh Dimana Saja

    Karena daya tahan kelapa begitu kuat, kelapa bisa tumbuh di mana saja. Dari sifat kuat inilah yang pada akhirnya menjadi harapan bahwa pemuda pramuka dapat melanjutkan hidup di mana pun ia berada.

    4. Bisa Tumbuh Tinggi dan Kuat

    Penentuan tunas kelapa sebagai lambang pramuka memiliki makna yang mendalam bahwa anggota pramuka wajib memiliki cita-cita yang lurus dan tinggi berdasarkan hal-hal yang baik, benar, kuat dan nyata. Sama halnya dengan ciri-ciri pohon kelapa yang dapat tumbuh kuat dan menjulang tinggi ke atas langit.

    5. Tanaman Serbaguna

    Seperti yang kamu ketahui bahwa dari bagian akar hingga buahnya, pohon kelapa sangat berguna untuk kehidupan manusia. Sehubungan dengan filosofi tersebut, diharapkan bahwa setiap anggota pramuka menjadi manusia yang berguna dan handal, mampu membuktikan diri untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. 

    Baca Juga: Sandi Angka Pramuka: Pengertian, Manfaat & Cara Membacanya

    Sudah Tahu Bagaimana Sejarah Pramuka di Indonesia?

    Pada intinya, sejarah pramuka di Indonesia telah mengalami perubahan dan perkembangan yang signifikan selama bertahun-tahun. Dari awalnya yang merupakan bagian dari gerakan pramuka dunia hingga menjadi gerakan pramuka nasional yang mendukung pembentukan karakter pemuda-pemudi Indonesia.

    Sejarah gerakan pramuka di Indonesia yang panjang merupakan cerminan semangat nasionalisme untuk menjunjung tinggi nilai-nilai integritas pada generasi pemuda. Melalui pendidikan karakter, kepemimpinan, dan keterlibatannya dengan sosial, pramuka akan terus menjadi organisasi penting bagi masyarakat Indonesia.

  • Sandi Angka Pramuka: Pengertian, Manfaat & Cara Membacanya

    Sandi Angka Pramuka: Pengertian, Manfaat & Cara Membacanya

    Pramuka adalah gerakan yang telah menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan pemuda Indonesia. Pramuka bukan hanya tentang berkemah dan kegiatan luar ruangan tapi juga memiliki hal-hal yang perlu dipelajari lebih dalam, salah satunya adalah sandi angka Pramuka. 

    Artikel ini akan menjelaskan tentang apa itu sandi angka Pramuka, manfaat, dan cara membacanya. Untuk itu, simak pembahasannya berikut ini!

    Pengertian dan Sejarah Sandi Pramuka

    Kata “sandi” berasal dari bahasa Sanskerta, yang memiliki makna menyembunyikan atau menjaga rahasia. Sandi adalah metode untuk mengirim pesan rahasia di mana hanya pengirim dan penerima yang mengetahui isinya. 

    Karena pesan dikirim melalui sandi yang dirahasiakan, maka sandi tidak memiliki format standar. Hal yang paling penting dalam penggunaan sandi adalah kesepakatan antara pengirim dan penerima. 

    Dalam gerakan Pramuka, sandi digunakan sebagai alat dalam proses pembelajaran dan dianggap bermanfaat, baik untuk Pramuka Siaga, Penggalang, Penegak, maupun Pandega. Hal ini disebabkan karena sandi Pramuka dianggap dapat melatih kecermatan, kecerdasan, daya ingat, dan konsentrasi. 

    Jika kita melihat dari perspektif sejarah, pahlawan-pahlawan masa lalu telah mengaplikasikan sistem nomaden yang memunculkan penggunaan sandi. Sandi digunakan oleh para pahlawan sebagai alat komunikasi yang bersifat rahasia, sehingga memastikan bahwa pesan-pesan mereka tidak bisa dimengerti oleh pihak lawan.

    Kegiatan pramuka
    Kegiatan pramuka | sumber: gunungkidul.pramukadiy.or.id

    Dalam kutipan buku Panduan Pramuka Penggalang oleh Agus & Anwari (2015), diungkapkan bahwa sekitar tahun 3000 sebelum masehi, ditemukan jenis tulisan kuno bernama “cuneiform” di Kerajaan Babilonia. Jenis tulisan ini memiliki bentuk yang menyerupai paku dan umumnya ditulis di atas permukaan tanah.

    Selain itu, Julius Caesar, seorang jenius politik dan jenderal di akhir republik Romawi,  juga terkenal menggunakan sandi dalam pengiriman pesan rahasia. Caranya adalah dengan menulis setiap huruf abjad pada satu baris, dan memasukkan angka yang bersifat rahasia. 

    Jadi, melalui sejarah, kita dapat melihat bagaimana penggunaan sandi telah menjadi bagian penting dalam komunikasi rahasia dan taktik militer selama berabad-abad.

    Pengertian Sandi Angka Pramuka

    Sandi angka pramuka adalah sistem pengodean angka yang digunakan oleh anggota Pramuka untuk berkomunikasi dalam bahasa rahasia. Dengan kata lain, ini adalah cara bagi anggota Pramuka untuk mengirim pesan yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang memahami sandi ini. 

    Sandi ini terdiri dari angka yang mewakili huruf dalam abjad. Pramuka memiliki sandi angka sebab ini adalah salah satu alat yang sangat berguna untuk menjaga kerahasiaan pesan dalam situasi-situasi genting tertentu. 

    Misalnya, ketika anggota pramuka berada di tengah hutan atau dalam keadaan berbahaya dan perlu mengirim pesan yang tidak boleh diketahui orang lain, sandi angka bisa menjadi penolongnya. 

    Cara Membaca Sandi Angka Pramuka

    Selanjutnya, kita akan membahas bagaimana membaca sandi angka Pramuka. Sandi ini menggunakan aturan sederhana antara huruf-huruf abjad dan angka. Di bawah ini adalah tabel konversi huruf ke angka dalam sandi angka Pramuka:

    Sandi angka Pramuka
    Sandi angka Pramuka | Sumber: goodnewsfromindonesia.id

    Cara membaca sandi angka dalam tabel di atas adalah dengan mewakilkan huruf abjad yang ingin digunakan dengan angka. Misalnya, A= 1, B= 2, C= 3, dan seterusnya sampai akhir abjad.

    Selain konversi huruf ke angka, sandi ini juga menggunakan tanda baca garis sambung (-) di antara angka-angka yang digunakan.

    Contoh Kata dalam Sandi Angka Pramuka 

    Berikut adalah contoh penggunaan sandi angka dalam beberapa kata:

    1. “SEMANGAT”

    S: 19

    E: 5

    M: 13

    A: 1

    N: 14

    G: 7

    A: 1

    T: 20

    Jadi, “SEMANGAT” dalam sandi angka adalah “5-19-13-1-14-7-1-20.”

    2. “BERSAHAJA”

    B: 2

    E: 5

    R: 18

    S: 19

    A: 1

    H: 8

    A: 1

    J: 10

    A: 1

    Jadi, “BERSAHAJA” dalam sandi angka Pramuka adalah “2-5-18-19-1-8-1-10-1.”

    3. “PEDULI”

    P: 16

    E: 5

    D: 4

    U: 21

    L: 12

    I: 9

    Jadi, “PEDULI” dalam sandi angka adalah “16-5-4-21-12-9.”

    Manfaat Sandi Angka Pramuka

    Kegiatan kepramukaan
    Kegiatan kepramukaan | sumber: inspirasiguru.com

    Selanjutnya, kita akan belajar tentang manfaat penggunaan sandi angka Pramuka. Sandi angka adalah salah satu bentuk kode rahasia yang sering ada dalam kegiatan kepramukaan. Hal ini disebabkan karena sandi ini memiliki beberapa kegunaan dan manfaat penting, antara lain:

    1. Sebagai Alat Komunikasi Rahasia Antar Anggota Regu

    Dalam berbagai kegiatan Pramuka, kelompok regu sering dibentuk. Sandi angka dapat berguna sebagai sarana komunikasi yang bersifat rahasia di antara anggota regu/kelompok tersebut. Hal ini bertujuan agar taktik atau informasi dari masing-masing regu tetap terjaga kerahasiaannya dan regu lainnya tidak dapat mengetahui.

    2. Meningkatkan Kemampuan Daya Ingat

    Berikutnya, seperti yang telah dijelaskan, sandi angka melibatkan penggunaan angka untuk menggantikan huruf atau kata. Untuk mengomunikasikan pesan dalam bentuk sandi angka, anggota Pramuka perlu mengingat konversi antara huruf dan angka. 

    Dengan sering berlatih menggunakan sandi ini, kemampuan daya ingat anggota Pramuka dapat meningkat. Ini tidak hanya berdampak pada penggunaan sandi, tetapi juga dapat bermanfaat dalam mengingat informasi penting lainnya.

    3. Sarana untuk Belajar Memecahkan Masalah

    Selanjutnya, setiap anggota diharapkan mampu memecahkan sandi angka Pramuka guna mengungkap pesan yang tersembunyi di dalamnya. Proses ini melibatkan kemampuan analisis, pemecahan masalah, dan evaluasi. 

    Jadi, kemampuan ini akan sangat bermanfaat dalam menyelesaikan masalah dan tantangan yang ada dalam kehidupan sehari-hari.

    4. Meningkatkan Kecerdasan

    Untuk menciptakan sandi angka yang efektif, seseorang harus memahami konsep konversi huruf menjadi angka dan sebaliknya. Proses ini mendorong anggota Pramuka untuk berpikir secara logis dan matematis. Dengan demikian, penggunaan sandi ini dapat membantu meningkatkan kecerdasan mereka.

    5. Permainan Kepramukaan yang Seru

    Terakhir, sandi angka Pramuka bisa menjadi elemen permainan dalam kegiatan kepramukaan. Umumnya, sandi ini digunakan sebagai tambahan dalam permainan di luar ruangan (outbound). Para anggota bisa diberi tantangan dengan sandi Pramuka sebagai petunjuk untuk menyelesaikan tugas atau teka-teki tertentu.

    Jenis Sandi Pramuka Lainnya

    Selain sandi angka, ada beberapa jenis sandi lainnya yang ada dalam Pramuka. Berikut adalah beberapa jenis sandi yang ada dalam Gerakan Pramuka:

    1. Sandi Morse Pramuka: sandi ini berguna dalam Pramuka sebagai alternatif untuk berkomunikasi. Sandi ini melibatkan penggunaan tanda-tanda titik dan garis untuk mewakili huruf dan angka.
    2. Sandi Bendera Pramuka: melibatkan penggunaan warna dan posisi bendera dalam komunikasi rahasia. Jenis ini adalah bentuk sandi visual yang berguna dalam situasi di lapangan.
    3. Sandi Semaphore: Ini adalah sandi yang menggunakan tangan dan dua bendera untuk mengirimkan pesan. Berdasarkan posisi dan arah bendera, anggota Pramuka dapat mengartikan pesan dari si pengirim.
    4. Sandi Bunyi Pramuka: Sandi ini melibatkan penggunaan bunyi-bunyian seperti peluit atau bahkan bunyi alam untuk berkomunikasi, terutama di lingkungan alam terbuka.
    5. Sandi Ular Pramuka: Sandi ini menggunakan bentuk-bentuk lengkungan seperti ular dalam penyusunan pesan, kemudian pesan diubah menjadi pola-pola yang menyerupai jejak ular. Hal ini sering ada dalam permainan dan aktivitas Pramuka yang melibatkan petunjuk dan jejak.
    6. Sandi Rumput Pramuka: Sandi ini mengandalkan pola-pola yang terbentuk dengan menekan rumput atau dedaunan untuk mengomunikasikan pesan. Jenis sandi ini berguna dalam situasi di alam terbuka atau sebagai sarana komunikasi alternatif.
    7. Sandi Kotak Pramuka: Sandi ini menggunakan susunan kotak atau segi empat dengan berbagai simbol, warna, atau penanda untuk menyampaikan pesan secara visual. Jenis sandi ini sering menjadi bahan dalam permainan atau petunjuk yang memerlukan identifikasi objek atau instruksi tertentu.
    8. Sandi Kurung Pramuka: Sandi ini melibatkan penggunaan tanda kurung atau simbol lain untuk mengapit kata atau pesan tertentu. Pesan dalam tanda kurung seringkali memiliki makna khusus atau petunjuk dalam aktivitas Pramuka.

    Baca Juga: Sejarah Pramuka di Indonesia dan Perkembangannya, Lengkap!

    Mudah, bukan Cara Menggunakan Sandi Angka Pramuka?

    Sandi angka Pramuka adalah salah satu hal menarik dalam Gerakan Pramuka yang tidak hanya melatih keterampilan komunikasi alternatif, tetapi juga memperkuat ikatan kebersamaan di antara anggota. 

    Dengan menggunakan angka dan tanda-tanda khusus, anggota Pramuka dapat berkomunikasi dengan aman dan menyampaikan pesan-pesan penting dalam situasi apapun. 

    Selain itu, sandi ini juga merupakan contoh bagaimana sebuah organisasi seperti Pramuka dapat menggabungkan kreativitas dan pemikiran kritis dalam kegiatan sehari-hari mereka. Seiring berjalannya waktu, sandi ini tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan kepramukaan.

  • 5 Prasasti Kerajaan Singasari dan Sejarahnya, Kamu Harus Tahu!

    5 Prasasti Kerajaan Singasari dan Sejarahnya, Kamu Harus Tahu!

    Apakah kamu tahu bahwa ada lima prasasti Kerajaan Singasari yang menjadi bukti sejarah kerajaan tersebut? Kalau kamu ingat lagi, Kerajaan Singasari merupakan salah satu kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang memiliki pusat pemerintahan di Malang, Jawa Timur. 

    Prasasti dan berbagai peninggalan sejarah lainnya dari Singasari menjadi pencerita kisah kejayaan kerajaan satu ini. Yuk, pelajari lebih dalam tentang prasasti tersebut!

    Sejarah Kerajaan Singasari

    Salah satu kerajaan besar dengan corak Hindu-Buddha yang banyak diketahui orang adalah Kerajaan Singasari. Memiliki pusat pemerintahan di sekitar Malang, Jawa Timur, Kerajaan Singasari mampu memperluas wilayah kekuasaannya hingga di luar wilayah Indonesia.

    1. Lahirnya Kerajaan Singasari

    Dalam berbagai sumber sejarah yang ada, seperti halnya prasasti Kerajaan Singasari, diceritakan jika kerajaan tersebut lahir karena ambisi Ken Arok untuk memperistri Ken Dedes, yang saat itu masih berstatus sebagai istri Tunggul Ametung, seorang Akuwu (pimpinan wilayah di bawah raja) Tumapel.

    Termotivasi oleh ambisinya terhadap Ken Dedes, Ken Arok pun melenyapkan Tunggul Ametung dan mengambil wilayah kekuasaan beserta istrinya. Bekerjasama dengan para Brahmana yang memiliki ketegangan hubungan dengan Raja Daha, Ken Arok menyerang kerajaan Daha dan berhasil menguasai wilayahnya.

    Penguasaan wilayah kerajaan Daha ini menjadi suatu momentum lahirnya sebuah kerajaan baru bernama Kerajaan Singasari. Ken Arok pun naik tahta sebagai raja pertama Kerajaan Singasari dengan gelar Sri Rangga Rajasa Sang Amurwabhumi.

    Selanjutnya, sebuah wangsa baru pun lahir dari garis keturunan Ken Arok yang bernama Wangsa Rajasa (Rajasawangsa) atau Girindra (Girindrawangsa). Wangsa ini akan melahirkan raja-raja Kerajaan Singasari berikutnya dan menjadi cikal Kerajaan Majapahit yang menguasai wilayah Jawa.

    2. Raja-raja Kerajaan Singasari

    Riwayat kepemimpinan Kerajaan Singasari sebagian besar diwarnai pertumpahan darah saat pergantian raja dan pewarisan tahta, seperti perang saudara, pembunuhan, dan pemberontakkan bermotif balas dendam.

    Menurut sumber sejarah Kitab Pararaton (kitab yang menceritakan riwayat Kerajaan Singasari secara lengkap), berikut merupakan daftar raja-raja Kerajaan Singasari dari masa awal hingga masa keruntuhannya.

    • Ken Arok                (1222 – 1227 M),
    • Anusapati              (1227 – 1248 M),
    • Panji Tohjaya        (1248 M),
    • Wisnuwardhana   (1248 – 1272 M), dan
    • Kertanegara          (1272 – 1292 M).

    3. Masa Kejayaan Kerajaan Singasari

    Masa kejayaan Kerajaan Singasari berlangsung saat masa kepemimpinan raja terakhir kerajaan tersebut, yakni Kertanegara. Raja Kertanegara dikisahkan merupakan seorang sosok yang cerdas, terutama dalam bidang politik, ketatanegaraan, ilmu bahasa, kemaritiman dan keagamaan.

    Salah satu gagasan cemerlang Kertanegara adalah Cakrawala Mandala Dwipantara. Gagasan tersebut bertujuan menyatukan pulau-pulau di luar Jawa dalam satu pemerintahan, yaitu Kerajaan Singasari. Gagasan ini membuahkan ekspansi wilayah yang masif dan juga terjalinnya kerjasama diplomatik.

    Sebuah contoh kerjasama diplomatik di era Kertanegara adalah kerjasama antara Kerajaan Singasari dengan Kerajaan Melayu dan Kerajaan Campa (Vietnam). Kerjasama diplomatik tersebut memiliki tujuan untuk menghalau serangan Bangsa Mongol yang ingin menginvasi wilayah Asia Tenggara.

    4. Runtuhnya Kerajaan Singasari Dalam Kisah Prasasti Kerajaan Singasari

    Masa pemerintahan Kertanegara bukan hanya masa kejayaan Kerajaan Singasari, tetapi juga akhir dari eksistensi kerajaan tersebut. Pasalnya, akibat serangan pasukan Jayakatwang pada tahun 1292, Kertanegara pun gugur dan menjadi penanda berakhirnya kerajaan ini.

    Menurut berbagai sumber sejarah, selepas kematian Kertanegara, beberapa wilayah kekuasaan Kerajaan Singasari perlahan mulai melepaskan diri. Namun, pencapaian Kertanegara dan prinsipnya telah menginspirasi generasi penerusnya.

    Sebagai contoh, Raden Wijaya, menantu Kertanegara, yang mengadopsi gagasan Cakrawala Mandala Dwipantara untuk diteruskan melalui Kerajaan Majapahit yang nantinya ia dirikan di wilayah Tarik, Mojokerto.

    3 Fungsi Utama Prasasti bagi Sejarah Indonesia dan Kerajaan Singasari

    Prasasti tentunya memiliki fungsi yang berkaitan dengan peranan utamanya sebagai media pencatatan kejadian bersejarah di suatu masa. Secara umum, ada tiga fungsi umum peninggalan kuno bagi 

    1. Prasasti Kerajaan Singasari Berfungsi untuk Merekonstruksi Sejarah Kuno

    Fungsi prasasti di masa lalu dan sekarang tentunya memiliki perbedaan yang signifikan. Prasasti memuat informasi seperti gambaran kehidupan politik, sosial, ekonomi, budaya, birokrasi, hukum, sistem pembagian kerja, sengketa tanah, pembuatan bendungan, keagamaan, atau bahkan perjudian.

    2. Peringatan Akan Sebuah Kejadian yang Penting atau Sakral

    Bagi masyarakat kuno, prasasti bukan menjadi sebuah medium untuk mengungkapkan kehidupan sosial di masa lalu. Akan tetapi, pembuatan prasasti pada masa itu bertujuan memberikan peringatan akan suatu peristiwa penting atau pengumuman penetapan tanah sima (bebas pajak).

    3. Menunjukkan Kekuasaan Raja yang Berkuasa    

    Selain sebagai pengingat dan media pengumuman, prasasti juga dapat menjadi simbol kekuasaan raja di masa lalu. Pembuatan prasasti dapat bertujuan sebagai representasi kehadiran raja di tempat prasasti itu berada. Seringkali, prasasti juga diperlakukan sebagai benda sakral dan terdapat ritual pemujaan atasnya.

    Berkaitan dengan Kerajaan Singasari, prasasti-prasasti yang berkaitan dengan kerajaan tersebut umumnya berisi catatan penting mengenai suatu peristiwa. 

    Di antaranya adalah sebagai bentuk pemberian wilayah tertentu kepada penguasa lain atau mengenai pemberian hadiah tertentu kepada penguasa asing dalam upaya kerjasama diplomatik.

    Pentingnya Prasasti Kerajaan Singasari Bagi Sejarah Indonesia

    Kerajan besar, seperti Kerajaan Singasari, tentunya meninggalkan sejumlah artefak yang dapat menjadi rujukan sumber sejarah untuk meneliti riwayat dan dinamikanya. Salah satu sumber sejarah yang sering menjadi rujukan sumber sejarah para peneliti kerajaan tersebut adalah prasastinya.

    Prasasti merupakan sebuah piagam atau bentuk lain dari sebuah dokumen yang penulisannya menggunakan media batu atau bahan solid lainnya yang awet. Prasasti umum ditemukan di situs-situs arkeologi. Umumnya, prasasti memuat kronologis atau catatan sejarah mengenai suatu kejadian di masa lampau.

    Selain itu, prasasti juga berisi pencatatan suatu peristiwa penting, puji-pujian, atau pencapaian lain dari penguasa suatu masa. Namun, ada juga beberapa prasasti yang berisikan kutukan atau sumpah serapah atas suatu kejadian malang yang menimpa suatu wilayah atau kerajaan.

    5 Prasasti Kerajaan Singasari Beserta Sejarahnya

    Kerajaan Singasari juga meninggalkan prasasti yang mencatatkan berbagai kejadian penting. Pembuatan prasasti-prasasti tersebut kebanyakan dilakukan saat masa kejayaannya kala pemerintahan Kertanegara. Berikut adalah 5 prasasti Kerajaan Singasari beserta sejarah singkat di baliknya.

    1. Prasasti Singasari, Salah Satu Prasasti Kerajaan Singasari

    Prasasti Singasari
    Prasasti Singasari I Sumber: Poskata.com

    Prasasti Singasari merupakan salah satu prasasti Kerajaan Singasari yang dibuat sekitar 1352 M oleh wangsa Majapahit. Isi dari prasasti tersebut untuk mengenang pembangunan candi pemakaman yang dipimpin oleh Patih Gajah Mada. Penemuan prasasti tersebut berlokasi di sekitar kawasan Singasari, Malang, Jawa Timur.

    2. Penghormatan Kepada Raja, Isi Prasasti Wurare

    Prasasti Wurare
    Prasasti Wurare I Sumber: Dictio.id

    Berisi pujian dan penghormatan kepada Raja Kertanegara, Prasasti Wurare merupakan prasasti yang penulisannya menggunakan Bahasa Sansekerta. Prasasti tersebut dibuat atas permintaan keturunan Kertanegara yang menganggapnya telah mencapai derajat Buddha Agung.

    3. Prasasti Kerajaan Singasari Manjusri

    Prasasti Manjusri
    Prasasti Manjusri I Sumber: Kompas.com

    Manjusri merupakan prasasti yang penemuannya berlokasi di desa Manjusri. Prasasti tersebut merupakan manuskrip yang didapatkan di belakang Arca Manjusri yang kini merupakan bagian dari koleksi Museum Nasional Indonesia, Jakarta.

    Artefak ini bertarikh tahun 1343 dan terdiri atas 8 bagian (4 baris tulisan di muka dan 8 baris tulisan di belakang). Prasasti Manjusri menerangkan pembangunan candi baru di kompleks Candi Jago oleh Adityawarman, raja Kerajaan Majapahit.

    4. Kisah Penganugerahan Tanah, Isi Prasasti Mula Malurung

    Prasasti Mula Malurung
    Prasasti Mula Malurung I Sumber: Alphamandiri.com

    Prasasti Mula Malurung merupakan salah satu prasasti yang penting dari Kerajaan Singasari. Prasasti tersebut dibuat pada masa Raja Kertanegara pada tahun 1255 Masehi.


    Sejatinya, prasasti tersebut merupakan sebuah piagam pengesahan penganugerahan desa Mula dan desa Malurung kepada Pranaraja atas perintah Wisnuwardhana.

    Penemuan prasasti ini berlokasi di dekat wilayah Kediri dalam bentuk lempengan-lempengan batu. Totalnya ada 13 lempeng, tetapi penemuan sepuluh lempeng pertama terjadi pada tahun 1975. 

    Sementara itu, 3 lempeng sisanya di tahun 2001. Saat ini, keseluruhan lempeng tersebut ada di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.

    5. Padang Roco, Prasasti Kerajaan Singasari

    Prasasti Padang Roco
    Prasasti Padang Roco I Sumber: Abad.id

    Pada tahun 1911, peneliti menemukan prasasti Padang Roco di kompleks candi Padang Roco, di hulu sungai Batanghari, Sumatera Barat. Memiliki bentuk lapik (alas) yang mengelilingi keempat sisi arca Amoghapasa. Arca Amoghapasa sendiri dikirimkan Kertanegara kepada raja Melayu, Tribhuwanaraja di Dharmasraya.

    Prasasti tersebut memuat tanggal pengiriman patung yakni pada tanggal 22 Agustus 1286 M. Tulisan tersebut menggunakan aksara Kawi dan menggunakan dua bahasa yaitu Melayu Kuno dan Sansekerta. Kini, prasasti tersebut berada di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.

    Baca Juga: Sejarah Kerajaan Singasari, Peninggalan, dan Masa Kejayaan

    Prasasti Kerajaan Singasari dan Suatu Kisah Masa Lampau

    Prasasti Kerajaan Singasari merupakan sebuah pengingat akan keberadaan masyarakat yang ada jauh sebelum zaman modern. Masyarakat tersebut memiliki sistem, kehidupan, dan masa kejayaan tersendiri yang menjadi perlambang akan kecemerlangan budi dan pemikiran manusia pada masanya.

    Pelestarian peninggalan bersejarah, contohnya prasasti, harusnya menjadi satu fokus tersendiri bagi Pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia. Keberadaan benda peninggalan sejarah tersebut bukan hanya sebagai benda koleksi kuno, tetapi juga sebagai bahan refleksi atas kondisi tanah air di masa lalu. 

  • Mengenal Prasasti Ligor: Sejarah, Isi dan Fungsinya, Lengkap

    Mengenal Prasasti Ligor: Sejarah, Isi dan Fungsinya, Lengkap

    Sebagai negara dengan rangkaian kisah sejarah yang sangat panjang dan beraneka ragam, Indonesia mempunyai sejumlah peninggalan kerajaan yang tersebar di seluruh Nusantara. Prasasti Ligor merupakan salah satu warisan dari masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya yang menjadi bentuk sejarah penting tentang peradaban Indonesia kuno. 

    Tak hanya menggambarkan jangkauan kekuasaan Kerajaan Sriwijaya yang meluas sampai ke negeri seberang, prasasti ini menyimpan banyak informasi mengenai kepemimpinan raja masa lampau. Selain itu, prasasti yang bernama lain Vieng Sa tersebut juga menjadi tanda petilasan Buddha yang terbuat khusus di wilayah Sriwijaya.

    Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang prasasti tersebut, mulai dari sejarah, isi, dan fungsi yang terabadikan dari prasasti Vieng Sa. Harapannya, kamu dapat turut melestarikan prasasti tersebut melalui pengenalan dan pembelajaran terhadap peninggalan bersejarah yang detail. Yuk, simak artikel selengkapnya!       

    Bagaimana Sejarah Penemuan Prasasti Ligor?

    Peninggalan Kerajaan Sriwijaya
    Peninggalan Kerajaan Sriwijaya | Sumber gambar: GNFI

    Seperti yang sudah banyak orang ketahui, Sriwijaya adalah kerajaan bahari yang sempat menguasai seluruh wilayah Sumatra. Petunjuk keberadaan kerajaan ini termaktub dalam catatan I Tsing, seorang pengembara dari Cina pada masa Dinasti Tang. 

    Dalam tulisannya, I Tsing menyatakan bahwa ia sudah pernah berkunjung ke Kerajaan Sriwijaya selama kurang lebih enam tahun, yakni mulai dari tahun 671 Masehi. Selain berita asing dan candi-candi, ada beberapa prasasti yang juga berguna sebagai bukti nyata adanya Kerajaan Sriwijaya. Salah satunya yaitu prasasti Ligor atau Vieng Sa. 

    Berdasarkan kisah histori yang ada, prasasti Vieng Sa adalah sebuah batu tertulis berbentuk persegi panjang yang ujungnya mempunyai tonjolan di bagian tengah  

    Prasasti ini memuat informasi lengkap yang berhubungan dengan Kerajaan Sriwijaya dan menjadi bukti sahih atas sumber sejarah beserta kemenangan kekuasaannya yang ternyata tidak hanya berlaku pada wilayah Sumatra saja, melainkan juga untuk kawasan mancanegara sekalipun. 

    Prasasti Ligor sendiri memiliki keterlibatan khusus dengan Kerajaan Sriwijaya lantaran berperan sebagai petunjuk atas kekuasaan sang pemimpin pada yang era terkait. Berbeda dari peninggalan kerajaan Nusantara pada umumnya, prasasti ini justru pertama kali ditemukan pada kawasan mancanegara yang dulunya bernama Ligor.        

    Sementara itu, wilayah tersebut telah berganti nama menjadi Nakhon Si Thammarat dan bertempat di Thailand bagian Selatan. Dengan kata lain, prasasti ini kedapatan berada di Negeri Gajah Putih.

    Titik lokasi penemuan prasasti Vieng Sa sangat jauh dari pusat Kerajaan Sriwijaya, yakni Palembang, lebih tepatnya dekat sungai Musi. Hingga kini, prasasti tersebut tersimpan rapi di Kuil Wat Sema Mueang, Thailand. 

    Apa Saja Isi yang Terkandung pada Prasasti Ligor?

    Prasasti ligor
    Prasasti ligor | Sumber gambar: kompas.com

    Alasan utama penamaan prasasti Ligor yaitu karena lokasi penemuannya di Ligor (sekarang Nakhon Si Thammarat, Thailand Selatan, Semenanjung Malaka). Secara spesifik, prasasti Vieng Sa terdiri atas beberapa patung tertulis. 

    Patung tersebut terbagi menjadi dua sisi yang memuat isi berbeda dengan waktu pembuatan yang tidak bersamaan. Bagian depan yaitu tulisan Lior A atau naskah Viang Sa. Sementara itu, bagian belakang bernama Ligor B dan memiliki aksara Kawi. 

    1. Prasasti Vieng Sa Bagian A 

    Memuat angka tahun 697 Saka atau 775 Masehi, bagian depan prasasti Ligor juga disebut sebagai sisi A. Pada bagian ini, terdapat tulisan sebanyak 29 baris yang berisikan berita mengenai pemimpin Sriwijaya, raja dari segala raja di dunia. Akan tetapi, sisi A tidak bisa menyebut secara rinci siapa nama dari raja yang sesungguhnya. 

    Bahkan, bagian A pada prasasti ini menyebutkan kata penghormatan kepada penguasa negeri Sriwijaya hingga tiga kali. Penghormatan tersebut antara lain sriwijayendraraja (baris 14), sriwijayeswarabhupati (baris 16), dan sriwijayanrpati (baris 28). 

    Kabarnya, raja tersebut sengaja membangun bangunan suci Buddha, Trisamaya Caitya, yang bertujuan sebagai wujud persembahan kepada tiga dewa Buddha dan sekaligus tanda persahabatan antara raja Sriwijaya dengan penguasa Ligor pada zaman tersebut.

    2. Prasasti Vieng Sa Bagian B 

    Menurut ahli sejarah, sisi B adalah bagian belakang dari prasasti Ligor yang merupakan lanjutan dari bagian A yang tidak lengkap dan hanya berisi empat baris teks saja. 

    Lebih lanjut, keseluruhan teks pada bagian B ini memuat informasi dan pujian tentang raja Wisnu yang bergelar Sri Maharaja Dyah Pancapana Kariyana Panamkarana dari Wangsa Syailendra. 

    Beliau dipuji sebagai Sesavvarimadavimathana yang berarti pembunuh bagi musuh-musuh bersifat sombong yang tidak bertahan dengan tanpa meninggalkan sisa satupun. Julukan tersebut diketahui memiliki makna yang serupa dengan gelar Wairiwarawiramardana pada prasasti Kelurak.

    Boechari pernah mengungkapkan dugaan bahwa raja dengan nama Wisnu tersebut adalah Balaputradewa. Berdasarkan informasinya, Balaputradewa sendiri merupakan raja Sriwijaya yang mengaku sebagai keturunan penguasa Jawa dari dinasti Syailendra. Beliau adalah sosok yang menduduki tahta Sriwijaya pada pertengahan abad ke-9. 

    Berdasarkan perkiraan, Balaputradewa memerintahkan penulisan prasasti Ligor B sekitar 75 tahun setelah bagian A, yaitu tepat pada tahun 850 Masehi. 

    Kemungkinan sisi B prasasti tersebut dikeluarkan dengan tujuan untuk mengenang pembangunan Trisamaya oleh kakek Balaputradewa dari pihak ibu, yang tidak lain adalah Dharmasetu, raja Sriwijaya yang berkuasa pada paruh kedua abad ke-8. 

    Fungsi Prasasti Ligor

    Ilustrasi Tempat Pemujaan Agama Buddha
    Ilustrasi Tempat Pemujaan Agama Buddha | Sumber gambar: Amazingthailand.com

    Banyak orang yang kerap menafsirkan temuan prasasti Sriwijaya di luar Indonesia sebagai bukti penaklukan wilayah oleh kerajaan tersebut. Padahal, prasasti Ligor justru mengisahkan sebaliknya. Usut punya usut, prasasti ini menceritakan tentang persahabatan antar bangsa yang terjalin dengan sangat baik sejak tahun 775 Masehi.

    Konon, raja dari Kerajaan Sriwijaya mendirikan bangunan suci yang bernama Trisamaya Caitya dalam rangka persembahan kepada Padmapani, Sakyamuni, dan Wajrapani. Adapun, pendirian Trisamaya Caitya sendiri tidak lain sebagai bentuk pertemanan dengan penguasa Ligor saat itu. 

    Tak lekang oleh waktu, kedua kerajaan tersebut berhasil menciptakan hubungan persahabatan yang terjaga hingga menjadi lebih kuat dan awet selama 75 tahun lamanya. Bahkan, Balaputradewa, raja pengganti Sriwijaya yang juga merupakan cucu dari raja pertama datang ke Ligor untuk memperingati persahabatan agar solid.

    Beliau kemudian menuliskan silsilah persis di belakang prasasti kakeknya Balaputradewa, yang seakan berharap persahabatan yang telah terbina terus berlanjut dan terkenang oleh kedua belah pihak sampai keturunan-keturunannya kelak. 

    Jadi, prasasti Ligor menjadi catatan sejarah yang mampu membuktikan adanya hubungan diplomatik antar bangsa di masa lampau melalui upaya persahabatan dan perdagangan. Terbukti dengan pendirian sebuah pangkalan khusus di daerah ligor untuk mengawasi pelayaran perdagangan di selat Malaka.  

    Tak hanya itu, prasasti tersebut juga menunjukkan rasa kecintaan yang mendalam dari raja Sriwijaya terhadap agama Buddha. Hal tersebut bukanlah tanpa dasar, pasalnya kehadiran persembahan bangunan suci Trisamaya Caitya yang juga menjadi bukti tak terbantahkan yang didedikasikan spesial untuk tiga dewa Buddha.

    Baca Juga: 9 Peninggalan Prasasti Kerajaan Sriwijaya & Penjelasannya

    Sudah Tahu Tentang Prasasti Ligor?

    Sama halnya dengan kerajaan yang lain, Sriwijaya tentu memiliki peninggalan sejarah  berupa prasasti. Peninggalan tersebut berguna sebagai sumber tertulis yang berasal dari masa lampau dan menjadi dokumen resmi pemerintah pada masanya. 

    Maka tak heran, prasasti Ligor atau Vieng Sa berhasil mengungkapkan jejak sejarah kuno dari Kerajaan Sriwijaya. Tak hanya mampu membuktikan keberadaan Sriwijaya beserta kisah para penguasanya, prasasti Vieng Sa juga dapat menunjukkan hubungan diplomatik yang berlandaskan persahabatan erat antara dua bangsa sekaligus. 

    Selain itu, prasasti Vieng Sa secara tidak langsung mengungkapkan bahwa Sriwijaya membawa pengaruh yang besar terhadap agama Buddha dengan turut mendirikan tempat pemujaan agama yang bernama Trisamaya Caitya. 

    Meski tersimpan rapi pada salah satu museum di Thailand, namun prasasti ini tetap terkenang dengan baik dalam catatan sejarah Indonesia. Untuk melestarikannya, pemerintah Indonesia telah menetapkan prasasti Vieng Sa sebagai cagar budaya yang tak ternilai harganya.  

  • 7 Prasasti Kerajaan Kutai Lengkap dengan Sejarahnya

    7 Prasasti Kerajaan Kutai Lengkap dengan Sejarahnya

    Prasasti kerajaan Kutai menjadi bukti bahwa kerajaan hindu tertua di Indonesia ini memiliki sejarah panjang yang menarik untuk disimak. Selain menjadi tanda keberadaan Kerajaan Kutai, prasasti tersebut juga menunjukkan nama-nama raja atau pemimpin Kerajaan Kutai.

    Berdasarkan Prasasti Yupa, pendiri Kerajaan Kutai bernama Raja Kudungga. Menurut penafsiran dari ahli sejarah, nama tersebut merupakan asli dari Indonesia yang belum terpengaruh oleh bahasa India. Berikut rangkuman lengkap tentang sejarah dari masing-masing prasasti peninggalan kerajaan Kutai!

    7 Prasasti Kerajaan Kutai Beserta Sejarahnya

    Sebagai kerajaan paling tua dan terkenal di Indonesia, Kerajaan Kutai tentu memiliki banyak peninggalan bersejarah yang masih tersimpan hingga sampai saat ini. Di antara banyaknya peninggalan tersebut, ada Prasasti Yupa yang terbagi menjadi 7. Ketujuh prasasti tersebut, antara lain:

    1. Prasasti Muarakaman I

    Muarakaman I
    Muarakaman I | Sumber Foto: Kompas

    Pertama adalah Prasasti Muarakaman I yang memiliki pahatan sepanjang 12 baris hanya di salah satu sisinya. Prasasti Yupa Muarakaman I ini memiliki isi, yaitu:

    Srimatah srinarendrasya kundunggasya mahatmanah putro ‘svavarmmo vikhyatah vansakartta yathangsuman tasya putra mahatmanah trayas traya ivagnayah tesan trayanam pravarah tapo bala damanvitah sri mulavarmma rajendro yastva bahusuvarnnakam tasya yajñasya yupo ‘yam dvijendrais samprakalpitah.

    Isi prasasti tersebut menjelaskan silsilah Raja Mulawarman. Sri Maharaja Kundungga berputrakan Aswawarman yang memiliki tiga orang anak. Di antara ketiga anak tersebut, Mulawarman menjadi raja paling terkenal, karena baik, kuat, dan bijak saat berkuasa.

    Prasasti pertama ini juga menceritakan bagaimana Raja Mulawarman mengadakan Bauswarnakam, yaitu upacara keselamatan yang memiliki arti “Emas Amat Banyak”. Ini ditandai oleh pendirian tugu batu Yupa yang dilakukan oleh para Brahmana.

    Sebagai peninggalan kerajaan kuno yang bersejarah, pemerintah menjaga dan menyimpan Prasasti Yupa Muarakaman I di Museum Nasional, tepatnya di lantai 1 gedung baru.

    2. Prasasti Muarakaman II

    Muarakaman II
    Muarakaman II | Sumber Foto: Kompas

    Prasasti Kerajaan Kutai berikutnya adalah Muarakaman II (D.2b). Di antara tujuh Yupa peninggalan kerajaan Kutai, Prasasti Muarakaman II memiliki bentuk paling tinggi.

    Muarakaman II memiliki pahatan sebanyak 8 baris di sisi bagian depan tugu batu. Pahatan tersebut berisi:

    Srimato nrpamukhyasya rajñah sri mulavarmmanah danam punyatame ksetre yad dattam vaprakesvare dvijatibhyo ‘gnikalpebhyah vinsatir ggosahasrikam tasya punyasya yupo ‘yam krto viprair=bhagath.

    Isi di atas menjelaskan tentang Raja Mulawarman yang memberikan persembahan kepada para Brahmana. Artinya, Raja Mulawarman merupakan pemimpin yang terkemuka dan mulia.

    Dalam isi prasasti tersebut menyebutkan juga bahwa Raja Mulawarman memberikan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana. Sama seperti Prasasti Muarakaman sebelumnya, Prasasti Yupa kedua ini juga dibuat oleh para Brahmana sebagai simbol kebijakan Raja.

    Keberadaan Prasasti Yupa Muarakaman II saat ini tersimpan dan terjaga dengan baik di Museum Nasional Jakarta, tepatnya berada di lantai 2 gedung baru. Selain untuk menjaga peninggalan bersejarah, masyarakat juga bisa melihat prasasti di era Kerajaan Kutai lebih dekat.

    3. Prasasti Kerajaan Kutai Muarakaman III

    Muarakaman III
    Muarakaman III | Sumber Foto: Kompas

    Berikutnya, ada Muarakaman III yang memiliki 8 tulisan di atasnya. Adapun isi dari Prasasti Muarakaman III, yaitu:

    Srimad viraja kirtteh rajñah sri mulavarmmanah punyam srnvantu vipramukhyah ye canye sadhavah purusah bahudana jivadanam sakalpavrksam sabhumidanañ ca tesam punyagananam yupo yam sthapito vipraih.

    Arti dari isi prasasti di atas adalah menceritakan kebaikan dari Raja Mulawarman. Selain itu, di dalam prasasti ini juga menceritakan kemuliaan sang Raja ketika memimpin.

    Karena sudah banyak memberikan bantuan serta sedekah, para Brahmana mendirikan Prasasti Yupa ini sebagai bukti bagaimana Raja Mulawarman ketika menjadi pemimpin Kerajaan Kutai.

    Masyarakat saat ini juga bisa menyaksikan lebih dekat prasasti ketiga ini di Museum Nasional, lebih tepatnya di lantai satu.

    4. Prasasti Muarakaman IV

    Muarakaman IV
    Muarakaman IV | Sumber Foto: Kompas

    Prasasti Kerajaan Kutai keempat adalah Muarakaman IV. Berbeda dari prasasti sebelumnya, Muarakaman IV berisikan 11 baris yang tertulis di atas tugu batu.

    Sayangnya, isi dari prasasti tersebut tidak bisa terbaca, karena sudah aus. Meski begitu, keberadaan prasasti ini juga hampir sama seperti Muarakaman sebelumnya yang menceritakan kebaikan serta kemuliaan Raja Mulawarman saat memimpin.

    Para Brahmana mendirikan Prasasti Yupa tidak hanya sebagai bentuk ucapan terima kasih atas kebaikan Raja Mulawarman, tapi juga sebagai tanda kerajaan Kutai yang makmur serta sejahtera, berkat kepemimpinan Raja Mulawarman.

    Peninggalan bersejarah Kerajaan Kutai ini tersimpan dengan baik di Museum Nasional, tepatnya di sebelah selatan gerbang menuju ruang prasejarah yang letaknya di bagian belakang gedung lama.

    5. Prasasti Muarakaman V

    Muarakaman V
    Muarakaman V | Sumber Foto: Kompas

    Prasasti Kerajaan Kutai kelima ada Muarakaman V. Di dalam prasasti ini terdapat 4 pahatan berupa tulisan. Pahatan tersebut terletak di bagian depan tugu batu yang masih bisa terbaca dengan jelas, yakni:

    Sri mulavarmmana rajña yad=dattan=tilaparvvatam sadipa malaya sarddham yupo yam likhitas=tayoh.

    Arti dari isi Muarakaman V adalah Raja Mulawarman memberikan minyak kental yang melimpah dan lampu malai (kelopak) bunga.

    Saat ini, Muarakaman V tersimpan di dalam Museum Nasional, tepatnya di bagian belakang gedung lama atau sama seperti lokasi Prasasti Yupa Muarakaman IV.

    6. Prasasti Muarakaman VI

    Muarakaman VI
    Muarakaman VI | Sumber Foto: Kompas

    Seperti namanya, Muarakaman VI merupakan prasasti Kerajaan Kutai yang keenam. Di dalam Muarakaman VI terdapat 8 baris pahatan di bagian depan tugu batu. Pahatan tersebut berisikan:

    Jayaty=atiba[lah] sriman=sri mulavarmma nr[pah] yasya likhitani danany=asmin=mahati [sthale] jaladhenung ghrtadhe[num] kapiladanan=tath=aiva ti[ladanam] vrsabh=aikadasam=api yo datva vipresu rajendra[h].

    Meski sudah cukup lama, isi dari prasasti tersebut masih bisa terbaca. Muarakaman VI menceritakan tentang ajakan untuk memberikan selamat kepada Raja Mulawarman yang sudah memberikan persembahan kepada para Brahmana. Persembahan tersebut mulai dari air, minyak wijen, 11 ekor sapi, hingga keju atau ghrta.

    Keberadaan Muarakaman VI juga tersimpan dengan baik di Museum Nasional. Lokasi bangunannya sama seperti Muarakaman IV dan V, yaitu di gedung lama paling belakang.

    7. Prasasti Muarakaman VII

    Muarakaman VII
    Muarakaman VII | Sumber Foto: Kompas

    Terakhir, ada Muarakaman VII. Prasasti Yupa terakhir ini memiliki 8 baris pahatan di  bagian depan dan paling pendek bentuknya.

    Sayangnya, tidak semua 8 baris pahatan tersebut bisa terbaca dengan jelas. Ada beberapa bagian yang mengalami aus, sehingga membuat isi prasasti ini menjadi tidak sempurna. Meski begitu, ada beberapa bagian tulisan yang masih bisa terbaca, yaitu:

    Sri mulavarmma rajendra[h] sama[re]jitya partthi[van] karadam nrpatimsa cakre yatha raja yudhistirah catvarimsat=sahasrani sa dadu vaprakesvare ba….…..trimsat=saharani punar=ddadau ….……sa punar=jivadanam prithagvidham akasadipam dharmmatma partthivendra[h] svake pure ….. ….. ….. .….. ….. ….. ….. mahatmana yupo yam sth[apito] viprair=nnann.….ih=a[gataih].

    Isi dari prasasti Kerajaan Kutai terakhir tersebut kurang lebih menceritakan bagaimana Raja Mulawarman berhasil menaklukkan pemimpin lain, seperti Raja Yudhistira.

    Tidak hanya itu, dalam prasasti terakhir ini juga berisikan adanya upacara yang selalu diselenggarakan oleh Raja Mulawarman serta persembahan untuk kesempurnaan jiwa atau jivadana.

    Peran Penting Prasasti Yupa dalam Sejarah

    Penemuan prasasti Kerajaan Kutai yang terbagi menjadi 7 bagian ini memiliki peran penting dalam sejarah kerajaan di Indonesia. Prasasti ini menjadi bukti serta tambahan informasi tentang Kerajaan Kutai, salah satu kerajaan populer di Indonesia.

    Lokasi penemuan Prasasti Yupa berada di Kalimantan Timur, lebih tepatnya di bagian hulu Sungai Mahakam yang terletak di Kabupaten Kutai.

    Seluruh prasasti tersebut terbuat dari batu andesit yang bertuliskan aksara pallawa dan sansekerta. Huruf pallawa merupakan bahasa paling banyak digunakan oleh masyarakat India Selatan.

    Ketujuh prasasti yang bernama Muarakaman ini dibuat khusus oleh para Brahmana untuk mengenang kebaikan serta kemuliaan Raja Mulawarman. Jadi, tidak heran jika ketujuh Muarakaman ini memiliki isi yang hampir sama, yaitu kebaikan Maharaja Mulawarman.

    Baca Juga: 7 Prasasti Kerajaan Tarumanegara yang Masih Utuh Hingga Kini

    Sudah Lebih Paham Tentang Prasasti Kerajaan Kutai?

    Menjadi salah satu kerajaan paling populer dan tertua di Indonesia, Kerajaan Kutai memiliki banyak peninggalan sejarah, salah satunya Prasasti Yupa yang terbagi menjadi 7 bagian, yaitu Muarakaman I hingga Muarakaman VII.

    Ketujuh prasasti tersebut merupakan kenang-kenangan dari para Brahmana kepada Raja Mulawarman atas kebaikan dan kemuliaannya saat memimpin Kerajaan Kutai. Selain itu, prasasti ini juga menceritakan silsilah Mulawarman, yang merupakan cucu dari Kundungga. Kini, seluruh prasasti tersimpan di Museum Nasional, Jakarta.

  • Isi Prasasti Kota Kapur: Fungsi dan Pendirinya

    Isi Prasasti Kota Kapur: Fungsi dan Pendirinya

    Prasasti Kota Kapur merupakan salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang konon katanya mengandung sebuah kutukan. Berikut adalah penjelasan lengkap tentang isi dan pendirinya. Apakah benar mengandung kutukan?

    Asal-Usul Prasasti Kota Kapur

    Prasasti Kota Kapur
    Prasasti Kota Kapur | Sumber Gambar: okezone.com

    Prasasti Kota Kapur berasal dari pesisir barat Pulau Bangka, di Desa Kota Kapur, Mendo Barat, Kabupaten Bangka. Peninggalan sejarah ini tertulis dengan menggunakan aksara Pallawa dan menggunakan bahasa Melayu Kuno. Serta merupakan sebuah dokumen tertua yang menggunakan bahasa Melayu Kuno.

    Pertama kalinya prasasti ini ditemukan oleh seseorang bernama J.K van der Meulen pada bulan Desember 1892, bersama dengan reruntuhan bangunan candi dan arca-arca wisnu. Prasasti ini juga merupakan prasasti pertama yang membahas mengenai Kerajaan Sriwijaya dan tertulis pada tahun 686 Masehi.

    Kota Kapur berbentuk tugu yang bersegi-segi. Serta memiliki ukuran tinggi 177 cm, lebar 32 cm pada bagian bawah, dan 19 cm pada bagian atas. Tulisan di atasnya terdapat 10 baris. Di mana tulisannya hanya bisa terbaca dari kiri ke kanan jika prasasti dalam posisi rebah. Lalu, bagian puncak berada di sisi kiri dan sebaliknya. 

    H. Kern, seorang berkebangsaan Belanda yang merupakan ahli epigrafi dan bekerja pada Bataviaasch Genootschap di Batavia yang pertama kali menganalisis Prasasti Kota Kapur. Dalam analisisnya pertama kali, ia berpendapat bahwa Sriwijaya merupakan nama seorang raja.

    Namun, George Coedes, sejarawan berkebangsaan Prancis mengungkap bahwa, Sriwijaya adalah sebuah nama kerajaan yang terletak di Sumatera pada abad ke-7 Masehi. Coedes juga mengemukakan bahwa Palembang merupakan ibu kota Sriwijaya pada saat masa pemerintahannya dulu.

    Ia menambahkan bahwa kerajaan ini merupakan kerajaan kuat dan pernah menguasai bagian barat Nusantara, Semenanjung Malaya, sampai Thailand bagian Selatan. Selain itu, Coedes mengira bahwa batu dari prasasti ini berasal dari luar karena karakteristiknya yang berbeda dengan jenis batu yang ada di Pulau Bangka.

    Sampai pada tahun 2012, prasasti ini masih berada di Rijksmuseum atau museum kerajaan yang bertempat di Amsterdam, Belanda. Meskipun begitu, statusnya adalah Museum Nasional Indonesia pinjamkan, yang berarti masih menjadi kepemilikan Indonesia.

    Isi Prasasti Kota Kapur

    Prasasti Kota Kapur
    Prasasti Kota Kapur | Sumber Gambar: kebudayaan.kemdikbud.go.id

    Prasasti Kota Kapur merupakan salah satu dari lima prasasti kutukan yang dibuat oleh Dapunta Hiyan yang merupakan seorang penguasa Kerajaan Sriwijaya sekaligus pendiri Kerajaan. Tanggal penulisannya adalah hari pertama paruh terang bulan Waisaka pada tahun Saka 608 atau 28 Februari 686.

    Prasasti ini berisi pasumpahan dan kutukan Datu Sriwijaya kepada semua orang yang berbuat jahat. Ini termasuk pemberontakan, persekongkolan dengan pemberontak, tidak menunjukkan rasa hormat dan kesetiaan kepada Datu Sriwijaya atau kepada pemimpin yang ia angkat, dan masih banyak lagi.

    Kutukan tersebut terbentuk agar semua orang yang telah melanggar akan mati kena kutuk atau dikirim ke pimpinan Datu Sriwijaya. Serta akan mendapat hukuman bersama marga dan seluruh keluarganya.

    Apalagi, orang yang berperilaku jahat. Seperti membuat seseorang sakit dan gila, menggunakan mantra, racun, dan berbagai jenis ramuan untuk menyengsarakan orang lain akan merasakan kutukan dari batu ini. Orang yang ingin menghancurkan batu ini juga akan terkena imbasnya.

    Selain itu, semua orang yang patuh dan setia kepada Datu Sriwijaya akan mendapatkan doa dan berkah dari batu ini. Keturunan dan keluarganya akan mendapat keberhasilan, kesehatan, terbebas dari bencana, dan akan mendapatkan keberuntungan untuk negeri mereka. 

    Selain itu, baris terakhir dalam prasasti ini berbunyi bahwa mereka akan menyerang Pulau Jawa. Prasasti ini juga menjelaskan tentang keberangkatan pasukan Sriwijaya untuk memperluas daerah kekuasan mereka di Pulau Jawa dengan menaklukkan Tarumanegara.

    Naskah Asli dan Terjemahan Prasasti Kota Kapur

    Terjemahan Prasasti Kota Kapur
    Terjemahan Prasasti Kota Kapur | Sumber Gambar: kompas.com

    Prasasti ini merupakan salah satu kutukan untuk semua orang yang tidak patuh kepada Raja. Berikut adalah naskah asli dan terjemahannya:

    1. Alih Aksara

    Adapun alih aksara prasasti ini adalah sebagai berikut:

    1. Siddha titam hamba nvari i avai kandra kayet ni paihumpaan namuha ulu lavan tandrun luah makamatai tandrun luah vinunu paihumpaan hakairum muah kayet ni humpa unai tunai.
    2. Umentern bhakti ni ulun haraki. unai tunai kita savanakta devata mahardika sannidhana. manraksa yan kadatuan çrivijaya. kita tuvi tandrun luah vanakta devata mulana yan parsumpahan.
    3. paravis. kadadhi yan uran didalanna bhami paravis hanun. Samavuddhi lavan drohaka, manujari drohaka, niujari drohaka talu din drohaka. tida ya.
    4. Marppadah tida ya bhakti. tida yan tatvarjjawa diy aku. dngan diiyan nigalarku sanyasa datua. dhava vuathana uran inan nivunuh ya sumpah nisuruh tapik ya mulan parvvanda datu çriwi-
    5. jaya. Talu muah ya dnan gotrasantanana. tathapi savankna yan vuatna jahat. makalanit uran. makasuit. makagila. mantra gada visaprayoga. udu tuwa. tamval.
    6. Sarambat. kasihan. vacikarana.ityevamadi. janan muah ya sidha. pulan ka iya muah yan dosana vuatna jahat inan tathapi nivunuh yan sumpah talu muah ya mulam yam manu-
    7. ruh marjjahati. yan vatu nipratishta ini tuvi nivunuh ya sumpah talu, muah ya mulan. saranbhana uran drohaka tida bhakti tatvarjjava diy aku, dhava vua-
    8. tna niwunuh ya sumpah ini gran kadachi iya bhakti tatvjjava diy aku. dngan di yam nigalarku sanyasa dattua. çanti muah kavuatana. dngan gotrasantanana.
    9. Samrddha svasthi niroga nirupadrava subhiksa muah vanuana paravis chakravarsatita 608 din pratipada çuklapaksa vulan vaichaka. tatkalana
    10. Yan manman sumpah ini. nipahat di velana yan vala çrivijaya kalivat manapik yan bhumi java tida bhakti ka çrivijaya.

    2. Terjemahan

    Berikut adalah terjemahan dari alih aksara di atas:

    1. Keberhasilan! (disertai mantra persumpahan yang tidak dipahami artinya)
    2. Wahai sekalian dewata yang berkuasa, yang sedang berkumpul dan melindungi Kadātuan Śrīwijaya ini; kamu sekalian dewa-dewa yang mengawali permulaan segala sumpah !
    3. Bilamana di pedalaman semua daerah yang berada di bawah Kadātuan ini akan ada orang yang memberon­tak yang bersekongkol dengan para pemberontak, yang berbicara dengan pemberontak, yang mendengarkan kata pemberontak;
    4. yang mengenal pemberontak, yang tidak berperilaku hormat, yang tidak takluk, yang tidak setia pada saya dan pada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu; biar orang-orang yang menjadi pelaku perbuatan-perbuatan tersebut mati kena kutuk biar sebuah ekspedisi untuk melawannya seketika di bawah pimpinan datu atau beberapa datu Śrīwijaya, dan biar mereka
    5. dihukum bersama marga dan keluarganya. Lagipula biar semua perbuatannya yang jahat; seperti meng­ganggu:ketenteraman jiwa orang, membuat orang sakit, membuat orang gila, menggunakan mantra, racun, memakai racun upas dan tuba, ganja,
    6. saramwat, pekasih, memaksakan kehendaknya pada orang lain dan sebagainya, semoga perbuatan-perbuatan itu tidak berhasil dan menghantam mereka yang bersalah melakukan perbuatan jahat itu; biar pula mereka mati kena kutuk. Tambahan pula biar mereka yang menghasut orang
    7. supaya merusak, yang merusak batu yang diletakkan di tempat ini, mati juga kena kutuk; dan dihukum langsung. Biar para pembunuh, pemberontak, mereka yang tak berbakti, yang tak setia pada saya, biar pelaku perbuatan tersebut
    8. mati kena kutuk. Akan tetapi jika orang takluk setia kepada saya dan kepada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu, maka moga-moga usaha mereka diberkahi, juga marga dan keluarganya
    9. dengan keberhasilan, kesentosaan, kesehatan, kebebas­an dari bencana, kelimpahan segala­nya untuk semua negeri mereka ! Tahun Śaka 608, hari pertama paruh terang bulan Waisakha [editor: setara dengan 28 Februari 686 Masehi], pada saat itulah
    10. kutukan ini diucapkan; pemahatannya berlangsung ketika bala tentara Śrīwijaya baru berangkat untuk menyerang bhūmi jāwa yang tidak takluk kepada Śrīwijaya.

    Baca Juga: 9 Peninggalan Prasasti Kerajaan Sriwijaya & Penjelasannya

    Sudah Tahu Bagaimana Isi Prasasti Kota Kapur?

    Dalam prasasti tersebut terdapat kutukan bagi semua orang yang mengkhianati kerajaan. Namun, beberapa ahli mengemukakan bahwa kutukan tersebut merupakan upaya kerajaan untuk meminimalisir pemberontakan agar mereka bisa meluaskan daerah kekuasaan mereka. 

    Jadi, secara sederhana fungsi prasasti ini adalah untuk membuat penduduk pada saat itu mematuhi dan menghormati Datu Sriwijaya. Serta tidak melakukan rencana pemberontakan. Sedangkan, untuk saat ini Kota Kapur menjadi pengungkap sejarah Kerajaan Sriwijaya. Semoga bermanfaat!

  • 10 Daftar Pahlawan dari Sulawesi dan Perjuangannya

    10 Daftar Pahlawan dari Sulawesi dan Perjuangannya

    Siapa saja tokoh pahlawan perjuangan kemerdekaan Indonesia dari pulau Sulawesi? Kamu bisa berkenalan dengan profil mereka melalui daftar pahlawan dari Sulawesi berikut ini!

    Daftar Pahlawan dari Sulawesi: 10 Sosok yang Patut Kamu Kenal!

    Pulau Celebes ini mungkin tidak seluas pulau Jawa, tetapi  perjuangan dan jasa para pahlawan dari Celebes tidak kalah besar dari pahlawan yang berasal dari penjuru Indonesia lainnya. Simak pembahasan profil singkat mereka berikut ini!

    1. Sultan Hasanuddin

    Sultan Hasanuddin
    Sultan Hasanuddin | Sumber Gambar: Suara.com

    Pahlawan yang sering kamu kenal dengan sebutan Ayam Jantan dari Timur ini merupakan salah satu pahlawan berjasa dari Sulawesi. Beliau berasal dari Kerajaan Gowa, dan merupakan Raja Gowa ke-16. 

    Sultan Hasanuddin terkenal akan pemahaman ilmu berpolitik dan ilmu pemerintahannya yang luas. Selain itu, beliau juga piawai dalam berperang, sehingga wajar jika beliau menjabat sebagai bagian pertahanan di Kerajaan Gowa. 

    Melalui peran tersebut, Sultan Hasanuddin berkontribusi merancang strategi untuk melawan serangan Belanda.

    Memang, meskipun Sultan Hasanuddin telah menyusun strategi sedemikian rupa, peperangan masih sulit untuk beliau taklukkan, sebab Belanda juga memiliki armada yang kuat. Belanda juga menemukan bahwa daerah kekuasaan Kerajaan Gowa mudah untuk mereka hasut dan pecah belah.

    Sultan Hasanuddin pun kesulitan karena beliau harus memerangi rakyatnya sendiri yang telah memberontak. Sayangnya, Sultan Hasanuddin berakhir tak dapat memenangi perang tersebut di tahun 1669, sehingga beliau memutuskan untuk mundur dari jabatannya.

    Walaupun begitu, beliau bertekad kuat tidak tunduk pada Belanda hingga akhir hayat dan akhirnya meninggal pada tanggal 12 Juni 1670.

    2. Dr. G.S.S.J. Ratulangi

    Sam Ratulangi
    Sam Ratulangi | Sumber Gambar: manadonesia.com

    Pahlawan yang juga kerap masyarakat panggil sebagai Sam Ratulangi ini lahir pada tanggal 5 November 1890 di Sulawesi Utara. Salah satu sosok dalam daftar pahlawan dari Sulawesi ini merupakan seorang yang berpendidikan tinggi. 

    Beliau sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar Belanda yang ada di Tondano, Sulawesi.

    Sam Ratulangi kerap berhubungan dengan sejumlah tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia, seperti Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, dan Cipto Mangunkusumo. 

    Relasi dengan rekan sesama pejuang tersebut membuat beliau tak pernah sekalipun menutup mata atas tindakan diskriminasi yang Belanda lakukan, walaupun beliau belajar di sekolah Belanda.

    Berbekal sikap nasionalisme yang tinggi, Sam Ratulangi pun memutuskan untuk kemudian terjun ke dunia politik. Beliau mengawali perjuangannya dengan menjabat sebagai sekretaris di Dewan Minahasa. Sam Ratulangi juga berhasil membuat Belanda menghentikan sistem kerja rodi yang terjadi di Minahasa.

    Perjuangannya tidak pernah berhenti, meskipun ia sempat menjadi tahanan Belanda. Akan tetapi, kisahnya melawan Belanda harus berakhir karena beliau tutup usia pada tanggal 30 Januari 1949. Sam Ratulangi pun dikebumikan di Tondano, Sulawesi Utara.

    3. Robert Wolter Monginsidi

    Robert Wolter Monginsidi
    Robert Wolter Monginsidi | Sumber Gambar: Kompas.com

    Daftar pahlawan di Sulawesi takkan lengkap tanpa adanya sosok Robert Wolter Monginsidi. Pahlawan yang lahir pada tanggal 14 Februari 1925 ini selalu memiliki motto bahwa semua orang wajib berlaku kasih kepada sesama anggota keluarga dan orang lain, terlepas dari suku, ras, atau agama tertentu.

    Perjuangannya sungguh berat tetapi penuh dengan makna dan teladan yang bisa kamu ambil. Pasalnya, Monginsidi-lah yang dapat masyarakat percaya untuk memimpin pertempuran melawan Belanda. Monginsidi juga berperan sebagai ketua Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) pada tahun 1946.

    Meskipun Monginsidi pernah tertangkap oleh tentara Belanda di tahun 1947, beliau berhasil melarikan diri bersama Abdullah Hadade, HM Yosep, dan juga Lewang Daeng Matari. Akan tetapi, beliau tertangkap kembali, dan saat itu Belanda mengancamnya dengan vonis hukuman mati.

    Perjuangannya yang berat itu tidak menggoyahkan keinginan beliau untuk memperjuangkan kemerdekaan. Pada tanggal 5 September 1949, beliau meninggal di hadapan regu tembak, dengan Alkitab bertuliskan “Setia Sampai Akhir Dalam Keyakinan” yang terus beliau pegang.

    4. Bernard Wilhelm Lapian

    Bernard Wilhelm Lapian
    Bernard Wilhelm Lapian | Sumber Gambar: Kompas.com

    Salah satu individu berjasa yang termasuk dalam daftar pahlawan dari Sulawesi, Bernard Wilhelm Lapian, juga menjunjung kemerdekaan dengan perannya sebagai penulis surat kabar. Bernard lahir pada tanggal 30 Juni tahun 1892 di Minahasa, Sulawesi Utara, dan menyelesaikan pendidikan di ELS Amurang.

    Saat Bernard bekerja di Batavia, beliau menulis berbagai surat kabar di Pangkal Kemadjoean untuk membebaskan warga Indonesia dari kolonialisme. Bernard juga terus berjuang mendapatkan kemerdekaan dengan berperan sebagai sekretaris gereja nasionalis pertama, Kerapatan Gereja Protestan Minahasa di tahun 1930.

    Bernard yang selalu aktif di bidang kepenulisan dan agama, rupanya juga terus aktif di bidang politik pula. Keaktifan di bidang politik ini Bernard tunjukkan melalui keanggotaannya di Volksraad yang tergabung di Fraksi Nasional. Bernard tidak menyerah walaupun ia pernah dipenjara dari 1946 hingga 1949 oleh NICA.

    Pemerintah Republik Indonesia menghormatinya dengan memberikan gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No.116/TK/2015 pada tanggal 4 November 2015 berkat perjuangannya. 

    5. Pierre Tendean

    Pierre Tendean
    Pierre Tendean | Sumber Gambar: Kompas.com

    Seorang pahlawan revolusi, Pierre Tandean, merupakan salah satu daftar pahlawan dari Sulawesi yang pada 21 Februari tahun 1939 di Jakarta. Beliau terkenal dengan sebutan Kapten Tendean.

    Pahlawan yang memiliki keturunan darah Perancis ini adalah seorang ajudan dari Jenderal TNI Abdul Haris Nasution. Pierre Tendean wafat pada tanggal 1 Oktober 1965 dini hari, saat terjadi sebuah kegaduhan di kediaman Jenderal Nasution yang berasal dari sejumlah pasukan Cakrabirawa.

    Pierre yang mengaku sebagai Jenderal Nasution kepada pasukan tersebut malah berakhir ditangkap dan terbunuh. Pasukan Cakrabirawa memasukkan jasad Pierre ke dalam sumur tua yang masyarakat kenal sebagai Lubang Buaya, Jakarta Timur. 

    Berkat keberaniannya itulah, setelah jasadnya ditemukan tiga hari kemudian, Pierre dipindah ke Taman Makam Pahlawan Kalibata. Pierre juga mendapat kehormatan kenaikan pangkat satu menjadi kapten, dan memiliki gelar sebagai Pahlawan Revolusi Indonesia.

    6. Andi Djemma

    Andi Djemma
    Andi Djemma | Sumber Gambar: Kompas.com

    Pahlawan yang bernama Andi Djemma ini menunjukkan sikap nasionalismenya dengan memimpin Gerakan Soekarno Muda dan Perlawanan Semesta Rakyat Luwu pada tanggal 23 Januari tahun 1946. Perjuangan Andi  tercetak dalam sejarah, sebab perlawanan rakyat Luwu yang beliau pimpin merupakan perlawanan terbesar.

    Selain memimpin rakyat Luwu berperang dengan tentara sekutu, Andi juga sempat mengultimatum pihak Sekutu untuk melucuti tentara dan kembali ke tangsinya yang berada di Palopo. Akan tetapi, Gubernur Jendral Belanda, Van Mook, membalasnya dengan mengasingkan Andi Djemma ke Ternate.

    Sampai akhir hayatnya pada 23 Februari 1965, Andi Djemma tetap mempertahankan sikap nasionalismenya. Atas dasar jasa perjuangan beliau, nama Andi Djemma yang merupakan salah satu tokoh dalam daftar pahlawan dari Sulawesi ini dijadikan sebagai nama jalan di kota Makassar untuk mengenang beliau. 

    7. Pajonga Daeng Ngalle

    Pajonga Daeng Ngalle
    Pajonga Daeng Ngalle | Sumber Gambar: Kompas.com

    Salah satu pahlawan dari Sulawesi, Pajonga Daeng Ngalle, termasuk sosok yang berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beliau membentuk Laskar Gerakan Muda Bajoang dan menjabat sebagai ketua agar dapat berjuang bersama pasukan bersenjata.

    Pajonga juga beraksi membentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) ketika Van Mook memutuskan untuk membentuk negara boneka Indonesia Timur (NIT). Perjuangannya yang mengandung nilai-nilai persatuan berskala nasional ini membuatnya mendapatkan gelar pahlawan nasional.

    8. Andi Mappanyukki

    Andi Mappanyukki
    Andi Mappanyukki | Sumber Gambar: terasinfo.com

    Sejak menginjak usia ke-20, Andi Mappanyukki yang juga termasuk sosok dalam daftar pahlawan dari Sulawesi ini berjuang keras untuk mengusir penjajah dari Indonesia. Beliau betul-betul menolak bekerja sama dengan Belanda, dan bahkan pernah mengutarakan pendapatnya tersebut melalui surat kabar “Kebenaran”.

    Beliau berkata:

    “Aku tidak buta dengan mentega, dan mulutku tak dapat tertutup dengan roti, apalagi menjadi licin karena susu.” Ucapan berani itu pun menyebabkan surat kabar tersebut hanya bisa terbit sekali, sebab Belanda yang marah dengan sigap menutupnya.

    Andi juga pernah diasingkan selama 3,5 tahun di Rantepao, Tanah Toraja. Beliau menghembuskan napas terakhirnya pada tahun 1967 masih dengan semangat dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari kuasa penjajah saat itu. 

    9. La Maddukelleng

    La Madukelleng
    La Madukelleng | Sumber Gambar: Kompas.com

    La Maddukelleng merupakan profil dalam daftar pahlawan dari Sulawesi yang  berasal dari latar belakang bangsawan. Beliau berhasil membebaskan Wajo dan Sulawesi Selatan dari cengkeraman Belanda. 

    Berkat kiprah besarnya dalam pembebasan tersebut, pemerintah Indonesia pun memberikan gelar Pahlawan Nasional kepadanya pada tahun 1998.

    10. Andi Abdullah Bau Massepe

    Datu Suppa
    Datu Suppa | Sumber Gambar: Kompas.com

    Pahlawan asal Sulawesi yang memiliki julukan Datu Suppa, dengan nama asli Andi Abdullah Bau Massepe, lahir pada tahun 1918. Pria yang merupakan keturunan bangsawan ini merupakan pejuang heroik yang pernah menjabat sebagai panglima pertama Tentara Republik Indonesia (TRI) Divisi Hasanuddin.

    Putra dari sosok pejuang Andi Mappanyukki ini melanjutkan perjuangan ayahnya membela Indonesia lewat perannya sebagai Ketua Bunken Kanrekan Pare-Pare. 

    Beliau juga pernah menjabat sebagai Ketua Pusat Keselamatan Rakyat Penasehat Pemuda, dan  Ketua Umum BPRI (Badan Penunjang Republik Indonesia).

    Sayangnya, beliau kemudian tewas karena ditembak oleh pasukan Mayor Raymond Westerling pada 2 Februari 1947 setelah ditahan selama 160 hari. Makamnya dapat kamu temukan di Taman Makam Pahlawan Pare-Pare, 110 km dari utara Kota Makassar.

    Baca Juga: 100+ Daftar Pahlawan Nasional Indonesia: Populer hingga Tidak

    Apakah yang Para Pahlawan dari Sulawesi Perjuangkan?

    Berdasarkan penjelasan singkat dari daftar pahlawan dari Sulawesi, kamu bisa menyimpulkan bahwa perjuangan para tokoh berjasa tersebut tidak berakhir ketika proklamasi kemerdekaan terjadi. Sebaliknya, mereka turut berjuang secara habis-habisan tanpa putus asa dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah proklamasi. 

    Pasalnya, di masa itulah pihak penjajah sangat ingin merebut dan menguasai Indonesia kembali. 

    Tidak sedikit dari tokoh pejuang tersebut yang berasal dari keluarga kaya dan ditawari kerja sama oleh penjajah, tetapi menolak dan menentang pengkhianatan tanpa keraguan demi mempertahankan Indonesia dan rakyat dari penjajah.