Blog

  • Konsep Berpikir Sejarah: Pengertian, Macam, dan Contohnya

    Konsep Berpikir Sejarah: Pengertian, Macam, dan Contohnya

    Bicara soal sejarah, kerap kali membuat orang malas untuk mempelajarinya. Padahal, sebenarnya konsep berpikir sejarah berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari. Sayangnya, masih banyak orang yang belum sadar akan hal ini.

    Adapun dalam sejarahnya sendiri, konsep ini sudah banyak ditemukan oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia. Lantas, sebenarnya apa itu konsep berfikir sejarah dan macam-macamnya?

    Nah, untukmu yang ingin tahu penjelasan selengkapnya tentang hal tersebut, simak informasinya dalam artikel di bawah ini!

    Pengertian dan Macam-Macam Konsep Berpikir Sejarah

    Ilustrasi Buku Sejarah
    Ilustrasi Buku Sejarah | Sumber: Freepik

    Secara umum, konsep berfikir sejarah adalah cara berpikir para sejarawan pada saat membahas peristiwa sejarah yang terjadi di masa lampau. Setidaknya, ada empat konsep yang perlu kamu ketahui tentang cara berpikir yang satu ini. Berikut adalah penjelasan selengkapnya tentang keempat macam-macam cara tersebut:

    1. Konsep Berpikir Kronologis

    Konsep berpikir sejarah yang pertama adalah kronologis. Kamu bisa mengartikannya sebagai sebuah konsep berpikir yang dilakukan oleh sejarawan untuk membahas peristiwa sejarah secara berkesinambungan. Hal inilah yang membuat cakupan jenis kronologis ini cenderung sangat luas.

    Adapun tujuannya sendiri adalah untuk membantu melatih seseorang agar bisa berpikir secara berurutan dari awal hingga akhir peristiwa. Oleh karena itu, hasil dari kerangka berpikir seperti ini akan membuat seseorang mampu berpikir secara lengkap dan kronologis sesuai sebab akibatnya.

    Secara umum, konsep berfikir sejarah secara kronologis ini terbagi ke dalam empat kategori, antara lain:

    • Perkembangan, yakni waktu yang terus berjalan akan mendorong manusia untuk terus berkembang hingga akhirnya membentuk struktur masyarakat baru yang relevan sesuai dengan kondisi zamannya.
    • Pengulangan, di mana dalam sejarah terkenal ungkapan “Sejarah terulang kembali”, yang secara eksplisit menunjukkan bahwa peristiwa ini akan terus berulang dari masa ke masa.
    • Kesinambungan, di mana masyarakat mempunyai kecondongan untuk mengadopsi cara lama, baik dari segi pola maupun esensinya.
    • Perubahan, di mana hal ini dapat terjadi dalam kurun waktu singkat di masyarakat secara besar-besaran.

    Kerangka berpikir seperti ini memang mampu memberikan gambaran waktu yang sifatnya linear, yaitu bergerak dari belakang ke depan atau dari kiri ke kanan. Makanya, gerakan waktu bersifat progresif, sebab memandang perjalanan waktu sebagai proses perkembangan menuju kemajuan.

    Dalam pandangan inilah, pergerakan waktu akan terbagi ke dalam tiga dimensi utama, yakni masa lalu, masa kini, dan masa depan. Nah, di antara dimensi waktu itulah, sejarawan akan mempelajari peristiwa yang terjadi di masa lalu. Akan tetapi, peristiwa masa lalu ini akan memiliki keterkaitan dengan masa kini dan masa depan.

    2. Konsep Berpikir Diakronis

    Dalam bahasa Yunani, kata diakronis berasal dari dua kata, yakni dia yang berarti melintasi atau melewati serta chronos yang berarti perjalanan waktu. Jadi, kamu bisa memahami konsep berpikir sejarah ini sebagai suatu peristiwa yang berkaitan dengan peristiwa sebelumnya, sehingga tidak bisa berdiri sendiri.

    Hal ini tidak terlepas dari kemampuan sejarawan dalam meneliti gejala-gejala yang timbul dalam waktu yang panjang, tetapi dengan ruang yang terbatas. Artinya, berpikir dengan pendekatan diakronis ini bisa menjadi cara dalam menganalisis evolusi atau perubahan dari waktu ke waktu.

    Jadi, nantinya akan memungkinkan para sejarawan untuk menilai bagaimana perubahan tersebut terjadi sepanjang masa. Dalam pendekatan ini, kamu akan menyadari bahwa peristiwa yang terjadi sudah pasti akan mengalami perkembangan dan bergerak sepanjang masa.

    Adapun beberapa ciri utama dari kerangka berpikir ini adalah sebagai berikut:

    • Bersifat vertikal, karena menjelaskan tentang proses terjadinya suatu peristiwa dari awal hingga akhir.
    • Mempunyai cakupan kajian yang jauh lebih luas.
    • Adanya konsep perbandingan, sehingga mempunyai sifat historis atau komparatif.
    • Mengkaji masa yang satu dengan yang lainnya.

    3. Konsep Berpikir Sinkronis

    Dalam bahasa Yunani, sinkronis berasal dari kata syn yang berarti dengan dan chronos yang berarti waktu atau masa. Dengan kata lain, pendekatan ini bisa kamu artikan sebagai sikap untuk mempelajari atau mengkaji struktur suatu peristiwa dalam kurun waktu tertentu atau terbatas oleh waktu.

    Konsep berpikir sejarah ini akan membuat kamu dapat mempelajari peristiwa dari sezaman atau yang bersifat horizontal. Sebab, sinkronis artinya meluas dalam ruang, tetapi justru terbatas dalam waktu.

    Adapun beberapa hal yang perlu kamu pahami tentang pendekatan sinkronis ini adalah sebagai berikut:

    • Kerangka berpikir ini lebih banyak mengamati kehidupan sosial secara meluas dan berdimensi ruang.
    • Memandang kehidupan masyarakat sebagai sistem yang terstruktur dan tentunya saling berkaitan antara satu unit dengan unit lainnya.
    • Menguraikan kehidupan masyarakat secara deskriptif, dengan cara menjelaskan bagian demi bagian.
    • Menjelaskan tentang struktur dan fungsi dari setiap unit dalam kondisi yang statis.
    • Mayoritas digunakan dalam ilmu sosial, seperti sosiologi, geografi, politik, ekonomi, arkeologi, hingga antropologi.

    4. Konsep Berpikir Periodisasi

    Konsep berpikir sejarah yang terakhir adalah periodisasi. Secara umum, kerangka berpikir seperti ini bisa kamu artikan sebagai pembabakan. Maksudnya, sejarah sudah disusun sesuai dengan klasifikasi tertentu dari peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi.

    Adapun tujuan dari pendekatan periodisasi yang penting untuk kamu ketahui adalah sebagai berikut:

    • Menyederhanakan rangkaian terjadinya suatu peristiwa.
    • Memudahkan pembaca dalam memahami peristiwa bersejarah.
    • Membantu untuk mengklasifikasikan peristiwa-peristiwa bersejarah, yang telah terjadi.
    • Memudahkan dalam proses menganalisis perkembangan dan juga perubahan yang terjadi di setiap periode.

    Contoh Konsep Berpikir Sejarah

    Menelisik Sejarah Melalui Peta
    Menelisik Sejarah Melalui Peta | Sumber: Freepik

    Setelah mengetahui pengertian dan macam-macam konsep berfikir sejarah, tentunya kamu tak boleh ketinggalan untuk mengetahui apa saja contoh dari setiap pendekatan tersebut. Hal ini karena pada setiap pendekatan akan memiliki contoh peristiwa yang berbeda-beda. Dengan mengetahui contoh peristiwanya, maka akan lebih mudah bagimu dalam membedakan keempat jenis konsepnya, seperti berikut:

    1. Contoh Kronologis

    Contoh dari pendekatan kronologis yang pernah terjadi di Indonesia adalah ketika peristiwa proklamasi yang pada akhirnya lebih didahulukan dibandingkan peristiwa Rengasdengklok. Hal ini tentu tidak terlepas dari urgensi kondisi masyarakat Indonesia pada saat itu.

    2. Contoh Diakronis

    Adapun contoh pemaparan konsep berpikir sejarah secara diakronis dalam peristiwa bersejarah di Indonesia adalah sebagai berikut:

    a. Penerapan Sistem Demokrasi di Indonesia

    • Demokrasi Parlementer antara tahun 1945-1959
    • Demokrasi Terpimpin antara tahun 1959-1965
    • Demokrasi Pancasila Era Orde baru antara tahun 1965-1998
    • Demokrasi Pancasila Era Reformasi antara tahun 1998 sampai sekarang

    b. Urutan Presiden Indonesia Sejak Awal Kemerdekaan hingga Sekarang

    • Ir. Soekarno
    • Soeharto
    • B.J. Habibie
    • Abdurrahman Wahid
    • Megawati Soekarnoputri
    • Susilo Bambang Yudhoyono
    • Joko Widodo

    3. Contoh Sinkronis

    Ilustrasi Tools Peneliti Sejarah
    Ilustrasi Tools Peneliti Sejarah | Freepik

    Contoh konsep berpikir sejarah sinkronis bisa terlihat dari peristiwa tanam paksa yang terjadi sejak tahun 1830-1870. Tanam paksa dimulai pada tahun 1830 oleh Pemerintah Hindia Belanda, karena kas negara yang hampir kosong setelah terjadinya Perang Diponegoro dan Perang Belgia.

    Kemudian, Belanda juga sempat mengalami masalah di Eropa, karena terlibat dalam banyak perang sejak tahun 1816 sampai 1830. Akhirnya, Raja William 1 mengutus Gubernur Jenderal Belanda, Johannes Van Den Bosch untuk mengatasi masalah tersebut.

    Ia pun mengeluarkan kebijakan tanam paksa kepada masyarakat Hindia Belanda untuk produk pertanian yang dapat diekspor. Pemerintah kolonia mengira bahwa masyarakat bisa melunasi utang pajak tanah dengan sistem tanam paksa. Akan tetapi, yang terjadi justru membuat petani kesulitan mencari makan.

    4. Contoh Periodisasi

    Dalam sejarah Indonesia, periodisasi terbagi ke dalam zaman prasejarah dan zaman sejarah, dengan penjelasan sebagai berikut.

    a. Zaman Prasejarah

    Zaman prasejarah merupakan zaman manusia sebelum mengenal tulisan. Pada zaman ini, sejarawan berhasil menemukan beberapa peninggalan benda purbakala, antara lain:

    • Artefak, yakni benda yang menunjukkan hasil garapan sebagian atau seluruhnya, sebagai bukti pengubahan sumber daya alam oleh tangan manusia.
    • Fiture, yakni artefak yang tidak bisa dipindahkan, tanpa merusak tempatnya.
    • Ekofak, yakni benda dari unsur biotik, seperti fosil makhluk hidup.
    • Situs, yakni sebidang tanah yang mengandung peninggalan purbakala.

    b. Zaman Sejarah

    Zaman ini berawal ketika manusia sudah mulai mengenal tulisan, di mana terbagi ke dalam tiga masa, antara lain:

    • Zaman kuno, yang berawal sejak kerajaan tertua hingga abad ke-14 serta mendapat pengaruh dari agama Hindu dan Buddha.
    • Zaman Indonesia baru pada awal abad ke-15 sampai abad ke-18 dan mendapat pengaruh perkembangan kerajaan Islam.
    • Zaman Indonesia modern yang berawal sejak pemerintahan Hindia Belanda, Indonesia merdeka, hingga sekarang.

    Baca Juga: Mengenal 4 Konsep Waktu dalam Sejarah, Fungsi, dan Contoh

    Sudah Lebih Paham tentang Konsep Berpikir Sejarah?

    Dengan menerapkan kerangka berpikir sejarah, maka nantinya secara tidak langsung, kemampuan menganalisis akan berkembang, karena kamu dapat berpikir secara runtut dan sistematis, sesuai dengan sebab akibat dari peristiwa yang terjadi.

  • Sejarah Pithecanthropus Mojokertensis: Ciri-ciri, Corak Kehidupan, dan Penemu

    Sejarah Pithecanthropus Mojokertensis: Ciri-ciri, Corak Kehidupan, dan Penemu

    Sejarah mencatat, manusia purba yang ditemukan di Indonesia terbagi menjadi 3 bagian yaitu Meganthropus, Paleojavanicus, dan Pithecanthropus. Tentunya masing-masing jenis memiliki sejarah yang berbeda. Salah satu yang perlu dipelajari yaitu sejarah Pithecanthropus Mojokertensis. Apa ciri-ciri fisiknya? Simak di artikel ini!

    Apa itu Pithecanthropus Mojokertensis?

    Di Indonesia, manusia purba dibagi menjadi 4 bagian yaitu Meganthropus, Paleojavanicus, Pithecanthropus, dan Homo. Adapun fosil Pithecanthropus yang berhasil ditemukan ada 3 jenis, yakni Erectus, Mojokertensis, dan Solensis. Riwayat penemuan fosilnya dimulai pada tahun 1890 di Trinil, Solo, Jawa Tengah. 

    Menurut sejarah, Pithecanthropus Mojokertensis adalah suatu jenis manusia purba yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Bahkan, jenis ini termasuk manusia purba tertua dengan perkiraan hidup sekitar 30.000 hingga dua juta tahun yang lalu. 

    Selain itu, Pithecanthropus Mojokertensis memiliki nama lain Pithecanthropus Robustus, berarti manusia kera yang sangat kuat. Ini terlihat dari ciri-cirinya yang memiliki bentuk fisik badan tegap dengan tinggi badan sekitar 160 hingga 180 cm. 

    Penemu dan Lokasi Penemuan Pithecanthropus Mojokertensis

    Penemuan Pithecanthropus
    Penemuan Pithecanthropus | Sumber gambar: idesejarah.net

    Berdasarkan situs kemdikbud.go.id, fosil manusia purba Pithecanthropus Mojokertensis pertama kali ditemukan oleh Gustav Heinrich Ralph Von Koenigswald dan Weidenreich pada tahun 1936. Von Koenigswald menemukan fosil manusia purba ini tepatnya di Desa Perning, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. 

    Ada lagi penemuan jenis Pithecanthropus Mojokertensis lainnya yang ditemukan oleh Tjokrohandjo atau Andojo. Penemu tersebut adalah orang Indonesia yang membantu pekerjaan von Koenigswald dalam penemuan fosil manusia purba. Temuannya berupa beberapa tengkorak usia anak-anak yang di temukan di Kepuhklagen, utara Mojokerto. 

    Penamaan Pithecanthropus Mojokertensis diambil dari kata pithecos yang artinya kera dan anthropus yang berarti manusia. Sedangkan kata mojokertensis berasal dari nama kota Mojokerto yang mana menjadi tempat fosil manusia purba tersebut ditemukan. Sehingga, Pithecanthropus Mojokertensis berarti “manusia kera dari Mojokerto”.

    Di berbagai belahan dunia, jenis manusia purba Pithecanthropus memiliki nama yang berbeda-beda. Misalnya di Afrika menyebutnya dengan Homo Ergaster, kemudian di Tiongkok disebut dengan Sinanthropus Pekinensis, sedangkan Eropa menyebutnya dengan nama Neanderthalensis.

    Ciri-Ciri Pithecanthropus Mojokertensis

    Ilustrasi Pithecanthropus Mojokertensis
    Ilustrasi Pithecanthropus Mojokertensis | Sumber gambar: sma13smg.sch.id

    Jenis manusia purba Pithecanthropus Mojokertensis masih termasuk kategori Homo Erectus. Maka, tak heran jika keduanya memiliki ciri-ciri fisik yang hampir sama. Di bawah ini adalah beberapa ciri manusia purba jenis Pithecanthropus Mojokertensis:

    • Mampu berdiri tegak.
    • Memiliki tulang pipi dan alat pengunyah (gigi) berupa gigi dan geraham yang kuat.
    • Otot-otot tengkuk kecil namun sangat kuat. 
    • Bagian tulang kening tebal, terlihat menonjol dan melebar sampai ke pelipis.
    • Tulang kepala belakang terlihat menonjol. 
    • Muka menonjol ke depan.
    • Bentuk hidung yang lebar.
    • Tidak memiliki dagu.
    • Bentuk fisik tubuh atau badan tegap.
    • Memiliki tinggi badan badan sekitar 165-180 cm.
    • Kapasitas volume otak berkisar.650-1.000 cc. 

    Sejarah Pithecanthropus Mojokertensis

    Sejarah Pithecanthropus Mojokertensis
    Sejarah Pithecanthropus Mojokertensis | Sumber gambar: kebudayaan.kemdikbud.go.id

    Manusia purba Pithecanthropus Mojokertensis dahulunya menempati daerah Mojokerto, sebuah kota yang ada di Provinsi Jawa Timur. Maka dari itu, pemberian nama tersebut terdapat kata Mojokertensis yang berarti ditemukan di Mojokerto. 

    Seperti yang dijelaskan di atas, manusia purba jenis Pithecanthropus memiliki perawakan seperti kera. Bentuk fisiknya yang menonjol yaitu pada bentuk hidung dan kuning yang melebar mirip seperti kera. 

    Von Koenigswald adalah seorang paleontolog yang berasal dari Jerman. Bersama dengan dan Andojo, mereka menemukan menemukan fosil tengkorak anak-anak Pithecanthropus Mojokertensis yang diperkirakan berusia balita sekitar 5-6 tahun. Keputusan tersebut mengarah berdasarkan pada taju puting dan sendi rahang bawah. 

    Pada tahun-tahun selanjutnya, Von Koenigswald menemukan fosil manusia purba kembali di wilayah lembah sungai Bengawan Solo. Tentunya, penemuan fosil tersebut semakin banyak dari tahun ke tahun. Oleh karenanya, ia membaginya menjadi tiga lapisan berdasarkan diluvium lembah sungai Bengawan Solo. 

    Ketiga lapisan tersebut memiliki jenis fosil manusia purba tersendiri, sebagai berikut:

    • Lapisan Jetis (Pleistosen bawah)
    • Lapisan Trinil (Pleistosen tengah)
    • Lapisan Ngandong (Pleistosen atas)

    Menurut Von Koenigswald, semua jenis Pithecanthropus termasuk Mojokertensis berada dalam lapisan jetis atau pleistosen bawah karena pada lapisan tersebut memiilki ciri-ciri tubuh yang kuat dan besar. Lapisan bawah ini juga tercatat sebagai lapisan tertua berdasarkan hasil penemuan. 

    Corak Kehidupan Pithecanthropus Mojokertensis

    Untuk lebih memahami bagaimana pola kehidupan Pithecanthropus Mojokertensis, perhatikan penjelasan berikut ini:

    • Tidak memiliki tempat tinggal.
    • Hidup sendiri atau berkelompok.
    • Mengumpulkan makanan dari berburu hewan atau mencari umbi-umbian.
    • Menggunakan kapak genggam untuk berburu hewan.
    • Berlinfung di dalam goa.

    Pada zaman dahulu, manusia purba jenis Pithecanthropus Mojokertensis hidup dengan cara nomaden atau berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah lain. Dengan kata lain, mereka hidup secara tidak menetap dan menggantungkan hidupnya pada kondisi alam.

    Makanan yang mereka dapatkan berasal dari alam yang mereka temui pada saat itu. Apabila mereka kesulitan menemukan makanan, maka mereka akan berburu hewan atau menangkap ikan. Namun pada saat itu, mereka langsung memakan hasil buruan yang masih mentah karena belum mengerti cara memasak. 

    Manusia purba ini biasanya memilih tempat yang terdapat banyak sumber makanan dan dekat dengan sumber air. Tempat tersebut juga biasanya terdapat banyak binatang yang nantinya akan menjadi sumber buruan. 

    Sementara itu, beberapa Pithecanthropus Mojokertensis hidup secara berkelompok. Biasanya, dalam suatu kelompok terdiri dari keluarga kecil dengan pembagian tugas laki-laki melakukan perburuan. Sedangkan yang perempuan bertugas mengumpulkan makanan seperti tumbuh-tumbuhan dan hewan kecil. 

    Hasil Kebudayaan Pithecanthropus Mojokertensis

    Kehidupan Pithecanthropus Mojokertensis yang sering berpindah-pindah membuat mereka memerlukan alat untuk berburu dan mengumpulkan makanan. Alat tersebut kemudian menjadi hasil kebudayaan dari manusia purba. 

    Tentunya alat-alat tersebut masih sederhana karena memanfaatkan apa yang ada di alam. Adapun fungsi dari alat tersebut untuk perburuan dan pengolahan bahan makanan untuk bertahan hidup. Berikut adalah 5 alat hasil kebudayaan dari Pithecanthropus Mojokertensis:

    1. Kapak Perimbas (Chopper)

    Penemuan alat pertama yang digunakan manusia purba untuk berburu makanan pada zaman dahulu yaitu kapak perimbas atau chopper. Alat ini memiliki bentuk cembung namun masif atau kasar dengan sisinya yang tajam. 

    Sama seperti kapak pada umumnya, cara menggunakan kapak perimbas adalah dengan cara menggenggamnya pada bagian ujungnya yang lebih kecil. Para manusia purba menggunakan kapak perimbas untuk memotong daging, menguliti binatang, atau menggali umbi-umbian. 

    2. Pahat Genggam

    Selanjutnya, hasil kebudayaan lainnya adalah pahat genggam yang bentuknya hampir mirip persegi atau bujur sangkar. Pahat genggam memiliki ukuran kecil yang untuk menggemburkan tanah untuk mencari jenis umbi-umbian.  

    3. Alat Serpih 

    Ilmuwan Von Koenigswald menemukan alat serpih ini pada tahun 1934 di Sangiran. Alat serpih ini memiliki ukuran kecil berkisar antara 4 hingga 10 cm yang banyak terdapat di goa-goa. Manusia purba menggunakan alat ini biasanya sebagai pisau, gurdi, penggaruk, dan penusuk.

    4. Alat dari Tulang Binatang 

    Hasil kebudayaan selanjutnya yaitu alat tulang. Alat ini terbuat dari tulang belulang binatang, namun para manusia purba meruncingkannya sehingga lebih tajam. Para ilmuwan banyak menemukan alat tulang ini di Ngandong, Ngawi, Jawa Timur.  

    Bentuknya yang runcing dan tajam membuat perkakas dari tanduk ini berfungsi sebagai pisau, belati, pencukil, atau mata tombak. Tentunya, alat ini sangat penting keberadaannya untuk manusia purba dalam mencari buruan. 

    5. Kapak Penetak

    Salah satu jenis artefak yang hampir menyerupai dengan kapak perimbas yaitu kapak penetak. Perbedaannya terletak pada ukuran yang mana kapak penetak memiliki bentuk lebih besar daripada kapak perimbas. Alat ini terbuat dari segumpal batu dengan tajamannya berbentuk liku-liku. 

    Kapak penetak juga sering dikenal dengan sebutan chopping tool yang banyak dijumpai hampir di setiap penjuru Indonesia. Para manusia zaman dahulu menggunakan kapak penetak untuk membelah bambu, pepohonan, dan kayu. 

    Baca Juga: Pengertian Homo Sapiens: Persebaran & Penemuannya

    Pemahaman Akhir dari Sejarah Pithecanthropus Mojokertensis 

    Pithecanthropus Mojokertensis terkenal dengan sebutan manusia kera tertua di Indonesia. Manusia purba jenis ini memiliki perawakan yang tegak dengan tulang kening tebal dan hidung yang lebar. Mereka hidup secara nomaden dengan mengandalkan sumber makanan dari alam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Demikian pembahasan tentang sejarah Pithecanthropus Mojokertensis untuk menambah wawasan mengenai manusia purba yang ada di Indonesia. Jadi, sudahkah kamu memahaminya dengan benar?

  • Prasasti Blanjong: Sejarah, Isi, Fungsi, dan Lokasi Penemuan

    Prasasti Blanjong: Sejarah, Isi, Fungsi, dan Lokasi Penemuan

    Prasasti Blanjong memiliki bagian penting dari terbentuknya Pulau Bali. Faktanya, peninggalan bersejarah yang terletak di Pulau Bali ini menjadi warisan dalam bentuk tulisan tertua di Pulau Dewata. Lantas, bagaimana sejarah, tulisan, tujuan, dan lokasi penemuan prasasti ini? Simak artikel ini untuk tahu informasi lengkapnya!

    Sejarah Awal Mula Penemuan Prasasti Blanjong

    Willem F. Stutterheim, sebelah kanan orang bertopi
    Willem F. Stutterheim, sebelah kanan orang bertopi | Sumber gambar: Wikipedia

    Raja Sri Kesari Warmadewa adalah orang yang membuat Prasasti Blanjong. Ia membuat prasasti tersebut karena adanya kemenangan dari musuh-musuhnya. 

    Selain itu, kemenangan ini sering terkenal dengan Jaya Stamba atau Jaya Cihna. Peristiwa kemenangan ini berada di Gurun (Nusa Penida) dan Swal (Pantai Ketewel).

    Pada tahun 835 Caka atau 913 Masehi, Raja Sri Kesari Warmadewa membuat sebuah tulisan dengan menggunakan bahan batu padas. Bentuk dari peninggalan bersejarah ini adalah tiang berbahan batu atau berupa bunga teratai. Prasasti ini memiliki ukuran setinggi 177 cm dan terdapat garis tengah sekitar 62 cm.

    Selanjutnya, pada tahun 1930, Willem Frederik Stutterheim, seorang arkeolog dan sejarawab Belanda, menemukan prasasti tersebut di wilayah Sanur, Bali. Sayangnya, kondisi prasasti ketika Willem temukan lumayan rusak serta beberapa bagian tulisan sudah tidak terbaca dengan jelas.

    Tempat Penemuan Prasasti Blanjong

    Menurut Windriati dalam “Buku Siswa Sejarah Indonesia SMA Kelas 10”, Willem Frederik Stutterheim menemukan Prasasti Blanjong untuk pertama kalinya di daerah dekat Banjar Blanjong. Tepatnya di Desa Sanur Kauh, Sanur, Denpasar, Bali. Posisi prasasti ini pertama kali berada di Pura Blanjong yang memiliki ketinggian 9 mdpl.

    Awal mula Willem Frederik Stutterheim menjumpai prasasti tertua di Bali tersebut karena sebuah kapal Belanda yang terdampar di daerah pesisir Sanur. Kemudian, kapal yang terdampar tersebut menjadi tugu kemenangan dari Raja Sri Kesari Warmadewa karena penemuan prasasti di tempat itu. 

    Saat ini, tempat tersebut menjadi tempat suci yang memiliki kisah tersendiri. Salah satunya menjadi tempat ibadah Umat Hindu dengan nama Pura Blanjong. Kemudian, asal usul terbentuknya Pura Blanjong tersebut adalah akibat dari terdamparnya kapal Belanda di pesisir Sanur tersebut.

    Tulisan yang Tertera di Prasasti Tertua di Pulau Bali

    Tulisan Prasasti Blanjong
    Tulisan Prasasti Blanjong | Sumber gambar: kebudayaan.kemdikbud.go.id

    Raja Sri Kesari Warmadewa menggunakan unsur dan bahasa dengan memiliki arti tertentu saat membuat Prasasti Blanjong. Secara garis besar, isi dari prasasti tersebut menggambarkan kearifan lokal pada bidang iptek serta kekuatan atau politik. Selain itu, prasasti ini berisikan dua bahasa (bilingual) dan dua huruf (bescrif).

    Penggunaan bahasa dan huruf tersebut adalah bentuk kekuasaan, keahlian, dan pengetahuan masyarakat pada saat Kerajaan Sri Kesari Warmadewa jaya, tepatnya pada abad ke 10 Masehi. Isi dari prasasti ini menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Kawi dan juga menggunakan huruf Pra Negari dan bahasa Bali Kuno.

    Faktanya, seorang penulis dari prasasti tertua di Bali ini memiliki kemahiran dalam wawasan berbahasa. Tata cara menulis serta cara penggunaannya jelas terlihat pada isi prasasti tersebut. 

    Selain itu, prasasti ini memiliki dua sisi, yaitu A dan B. Pada bagian sisi A tidak terbaca jelas, begitu pula dengan sisi B yang sebagiannya sudah rusak. Berikut isi transkrip dari prasasti sisi A:

    1. śākabde śara-vahni-mūrti-gaṇite māse tathā phalguṇe (sārā)…
    2. …..(ra)…..(taki) naswa (ksa)…..3) radhayajihitwaro winihatyawairini… …h…. ng(s)…..
    3. …..(hi) (ja) wampurang singhadwala pure (niki) -i….ya….ta….t….
    4. …..// (ca)….. wulan phalguna…. Cri kesari… … 
    5. – – – raḥ di gurun di s(u)val dahumalahaṅ musuḥdho – ṅka – (rana) – – – (tah)di kutarā –
    6. nnata…..(tadbhaja)….kabudhi kabudhi//4)

    Berikut isi transkrip dari prasasti sisi B:

    1. Swa…ratapratapamahi…(ha)…ccodayah/dhwastarati tamasccayo (buga)na
    2. …samarggaranggapriyah/padmobo-5)i…(asa)serawirabudha a…/ nahkrtih walidwiba…
    3. …(bhayebhirowi)…(bhe)ri…na(bhu) pa(ca)(ci) na a(g)atwa…
    4. …………………………… 
    5. ………………………… 
    6. ………………………………… 
    7. …………………………………
    8. …(ca)…(mancangcuta)…
    9. …(cepra) yatandicarssyannantarisr-u…
    10. …//(wija)yarka (ndantarand) anta (pe) kabhajobhrcam//yena-
    11. …nbhidya (sata) langwidyayunggurubhihsarrundhyaca-trunyu (dh)i
    12. Maha…ha(dwa)iparagrewairimahibhuja(ng)srjutarahkamp…
    13. …ndre)th)a-r-(amajasa)pta… ptihsamasmtaamantadhipatih crikesari (warmma(dewa)…

    Dari kedua sisi tersebut, baik A dan B isinya sama, yaitu tentang kemenangan Raja Sri Kesari. Namun, pada sisi B, penyebutan nama Raja lebih lengkap dengan gelarnya, Adhipatih Sri Kesari Warmadewa. Dalam isi tersebut juga menyebutkan hukuman yang Raja Sri Kesari berikan kepada para pelanggar prasasti.

    Selain itu, pada sisi B juga terdapat tulisan bahwa Raja Sri Kesari berhasil menguasai Walidwipa atau Pulau Bali. Akibatnya, Raja Sri Kesari menjadi sosok pembuat Prasasti Blanjong dan kemudian menjadi tugu kemenangan pada masanya.

    Makna di Dalam Prasasti Blanjong

    Prasasti Blanjong menggunakan huruf dan bahasa pada masa Kerajaan Sri Kesari Warmadewa yang belum menggunakan bahasa yang dengan mudah terbaca saat ini. Oleh sebab itu, prasasti tersebut memiliki penafsiran tersendiri sehingga gampang memahaminya.

    Penafsiran dari tulisan yang tertera di prasasti tersebut ada pada dua sisi A dan B. Berikut isi yang terkandung dalam peninggalan bersejarah itu.

    Berdasarkan sisi A menggunakan bahasa Bali Kuno dan huruf Pre Negari:

    “Pada tahun 835 Caka bulan Phalguna, terdapat seorang raja yang memiliki kekuasaan pada seluruh penjuru dunia. Raja beristana di Singasana Singhadwala. Raja tersebut bernama Sri Kesari dan telah menaklukkan musuh-musuhnya di Gurun dan di Swal. Inilah yang wajib diketahui sampai di esok hari.”

    Berdasarkan sisi B menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Kawi:

    Di bagian awal isi prasasti memiliki arti kurang lebih sama dengan bagian sisi A. Kemudian, pada sisi B tertulis gelar nama Raja yang lengkap yaitu “ptihsamasmtaamantadhipatih crikesari (warmma(Dewa).” “telah menaklukkan musuh-musuhnya dan menguasai seluruh Pulau Bali”.

    Dalam kata “ptihsamasmtaamantadhipatihcrikesariwarmma”, terdapat pesan atau pernyataan yang bermakna “kesemestaan tata kelola” di seluruh Bali. Arti makna tersebut adalah seribu seratus tahun silam, Pulau Bali memiliki pemahaman sebagai suatu kesatuan ekosistem dan memiliki pandangan dengan pengelolaan holistik. 

    Fakta Tentang Prasasti Blanjong

    Dalam sejarah, Prasasti Blanjong memiliki beberapa informasi lainnya yang terkandung dalam ceritanya. Sampai saat ini, fakta tersebut menjadi wawasan tentang prasasti tertua di Bali. Fakta-fakta tersebut adalah:

    1. Menggunakan Paham Glocal (Global Local)

    Faktanya, prasasti ini menggunakan dua bahasa, yaitu internasional (Sansekerta) dan lokal (Kawi dan Bali). Akibatnya, pendiri dinasti pada saat itu tergolong memiliki paham “glocal” atau global local yang berarti global dengan kearifan lokal. 

    2. Bagian dari Sanskrit Cosmopolis

    Dengan menggunakan istilah dari Sheldon. I Pollock yang merupakan pakar terahli dalam Sanskrit dan sejarah tentang literasi dunia, pilar Prasasti Blanjong membuktikan Bali di era pergaulan internasional.

    Pada masa itu, Bali pada Dinasti Warmadewa dipimpin oleh Raja Sri Kesari Warmadewa. Dinasti tersebut merupakan perkembangan dari sosiopolitik Asia pada abad ke 9 sampai 10. Dalam waktu yang sama, ada beberapa dinasti di Asia Tenggara yang muncul dan menggunakan nama “warma” pada bagian belakangnya.

    3. Raja Sri Kesari Menjunjung Norma Hukum

    Pada tulisan prasasti tertua di Bali tersebut, terdapat tulisan tentang kutukan yang bernama Sapata. Tulisan yang tertera memiliki tujuan untuk orang-orang yang melakukan pelanggaran terhadap isi prasasti itu. 

    Hal tersebut membuktikan bahwa Raja Sri Kesari Warmadewa memberikan perintah  dengan tegas dan bijak serta mendukung supremasi hukum.

    4. Menjadi Cagar Budaya

    Prasasti Blanjong menjadi Benda Cagar Budaya pertama kali pada 15 April 2019. Walikota Denpasar, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, menetapkan prasasti tersebut sebagai cagar budaya. 

    Keputusan tersebut berdasarkan surat keputusan Nomor 188.45/825/HK/2019 di Banjar Blanjong, Desa Sanur Kauh, Kecamatan Denpasar Selatan, Bali.

    Sebelum melakukan penetapan, prasasti tersebut telah melalui proses pengkajian berdasarkan referensi dari Para Tim Ahli Cagar Budaya Kota Denpasar. 

    5. Menjadi Tempat Wisata

    Saat ini, karena akibat dari peristiwa bersejarah, tempat penemuan prasasti beserta bendanya menjadi tempat wisata yang cukup terkenal. Menurut buku kunjungan, wisatawan yang mengunjungi tempat ini umumnya berasal dari Amerika, Asia, Eropa, dan Afrika Selatan.

    Selain itu, banyak warga di sekitar daerah letak prasasti tersebut melakukan persembahyangan dengan cara menghaturkan canang sari. Tempat tersebut kini menjadi pura yang bernama Pura Blanjong. 

    Pura Blanjong Akibat dari Penemuan Prasasti Blanjong

    Pura Blanjong
    Pura Blanjong | Sumber gambar: kebudayaan.kemdikbud.go.id

    Peninggalan akibat dari penemuan prasasti tertua di Bali yang bernama Prasasti Blanjong adalah terbentuknya Pura Blanjong dan adanya tugu di tempat tersebut. Pura Blanjong merupakan nama tempat penemuan prasasti tertua di Bali saat ini. Tempat ibadah umat Hindu ini terbentuk karena peristiwa kapal Belanda.

    Awal mula nama “Blanjong”, dari kata “belahan” yang memiliki arti “perpecahan” dan “ngenjung” yang memiliki arti kapal nelayan. Pada zaman dahulu, ada pecahan kapal Belanda yang berada di pesisir Sanur. Kemudian, seorang Belanda menemukan prasasti yang bernama Prasasti Blanjong. 

    Sejarah dari prasasti tersebut adalah kemengangan dari Raja Sri Kesari. Akhirnya, untuk memperingati kemenangan tersebut, tempat penemuan prasasti itu memiliki nama Pura Blanjong. 

    Penting Untuk Melestarikan Prasasti Blanjong

    Melestarikan tempat bersejarah sangatlah penting. Seperti peristiwa bersejarah dari terbentuknya nama Bali Dwipa (Pulau Bali) akibat dari penemuan Prasasti Blanjong oleh Raja Sri Kesari Warmadewa. Oleh sebab itu, menjaga dan memelihara tempat penemuan tersebut sama dengan menghargai jasa Sang Raja untuk Pulau Bali.

  • Prasasti Kedukan Bukit: Sejarah, Isi, Makna, dan Lokasi Penemuannya

    Prasasti Kedukan Bukit: Sejarah, Isi, Makna, dan Lokasi Penemuannya

    Prasasti Kedukan Bukit adalah salah satu prasasti terkenal peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang terbilang kecil. Namun, bagaimana prasasti ini muncul pertama kali? Artikel ini akan menjelaskan tentang sejarah, isi, makna yang terkandung serta lokasi penemuan Prasasti Kedukan Bukit. Simak selengkapnya!

    Sejarah Penemuan Prasasti Kedukan Bukit

    Menurut buku “Pasang Surut Runtuhnya Kerajaan Hindu-Buddha” karya Rizem Alzid, menyatakan bahwa Dapunta Hyang Sri Jayanasa adalah pendiri Kerajaan Sriwijaya. Raja Dapunta Hyang merupakan sosok yang kuat dalam pembentukan sebuah kerajaan di wilayah sekitar Palembang.

    Kerajaan Sriwijaya memiliki sekitar 10 buah peninggalan. Salah satu prasasti yang terkenal adalah Prasasti Kedukan Bukit. 

    Raja Dapunta Hyang meninggalkan prasasti yang sudah berusia sekitar 1.300 tahun ini sekaligus penemuannya yang pertama pada 29 November 1920 di Sumatera Selatan. Namun, orang yang menemukan peninggalan ini pertama kali adalah C.J. Batenburg, orang dengan kewarganegaraan Belanda. 

    Lalu, pada tahun 1924, seorang ahli bahasa Melayu terkenal bernama Philippus Samuel van Ronkel menerjemahkan dan mentranskripsikan isi dari prasasti ini sehingga memiliki makna yang lebih mudah.

    Letak Tempat Penemuan

    C.J. Batenburg menemukan Prasasti Kedukan Bukit pertama kali di Sumatera Selatan. Lokasi tepatnya yaitu di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan Tigapuluh Lima Ilir, Kecamatan Ilir Barat Dua Palembang. Prasasti tersebut pertama muncul di tepi sungai Sungai Tatang di aliran air ke Sungai Musi.

    Saat ini, prasasti tersebut berada di ruangan gedung A lantai 1 Museum Nasional Indonesia yang terletak di Jakarta dengan nomor D.164. Sebelumnya, prasasti ini terletak di atas saluran air di Museum Nasional. Namun, karena prasasti tersebut memiliki sejarah dengan Kota Palembang, akhirnya dipindahkan.

    Faktanya, Prasasti Kedukan Bukit tersebut sebelumnya bukan terletak di tempat yang buruk. Namun, karena tempatnya kurang layak, yaitu berada di atas saluran air, akhirnya dipindahkan ke tempat lebih baik dari sebelumnya. Selain itu, letak prasasti ini juga sebelumnya berada di tempat yang sama dengan prasasti lainnya.

    Tulisan yang Terdapat dalam Prasasti Kedukan Bukit

    Prasasti Kedukan Bukit berisikan potret dari Kerajaan Sriwijaya pada masa lampau. Pertumbuhan dari pelayaran di Indonesia saat masa Hindu-Buddha merupakan isi kandungan dari prasasti tersebut.

    Ada dua jenis isi dari prasasti tersebut berdasarkan transkrip asli dan yang sudah memiliki terjemahan dari ahli Bahasa Melayu. Berikut kedua jenis prasasti tersebut:

    1. Berdasarkan Transkrip Asli:

    Transkrip Prasasti Kedukan Bukit
    Transkrip Prasasti Kedukan Bukit | Sumber gambar: buayajalan.com
    1. svasti śrī śakavaŕşātīta 604 ekādaśī śu-
    2. klapakşa vulan vaiśākha ḍapunta hiyaṁ nāyik di
    3. sāmvau maṅalap siddhayātra di saptamī śuklapakşa
    4. vulan jyeşţha ḍapunta hiyaṁ maŕlapas dari Miṉāṅkā
    5. tāmvan mamāva yam vala dua laksa dangan kosa
    6. duaratus cāra di sāmvau daṅan jālan sarivu
    7. tluratus sapulu dua vañakña dātaṃ di mata jap mukha upam
    8. sukhacitta di pañcamī śuklapakşa vula[n]… (āsāḍha ?)
    9. laghu mudita dātaṁ marvuat vanua …
    10.  śrīvijaya siddhayātra subhikşa … (nityakāla ?)

    2. Berdasarkan Terjemahan:

    1. Selamat ! Tahun Saka telah lewat 604, pada hari ke sebelas
    2. paro-terang bulan Waiśakha Dapunta Hiyang naik di
    3. sampan mengambil siddhayātra. pada hari ke tujuh paro-terang
    4. bulan Jyestha Dapunta Hyang marlapas dari Miṉāṅgā
    5. tamwāṉ membawa bala dua laksa dengan perbekalan
    6. dua ratus cara atau peti di sampan dengan berjalan seribu
    7. diikuti sebanyak 1312 orang yang berjalan kaki datang ke hulu Upang
    8. sukacita pada hari ke lima paro-terang bulan….
    9. lega gembira datang membuat benua….
    10. Śrīwijaya jaya, siddhayātra sempurna….

    Secara garis besar, prasasti tersebut berisikan tentang masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Misalnya, mengisahkan tentang kemenangan Perang Minanga. Pada saat itu, Kerajaan Sriwijaya berada pada masa kejayaan militer dengan membuktikan kekuatan dan bagaimana dominasi saat pertempuran.

    Setelah memenangkan Perang Minanga, Kerajaan Sriwijaya mampu merebut kembali pusat pemerintahan. Sekitar 20 ribu prajurit turun dalam perang tersebut dan dapat membuktikan bahwa Kerajaan Sriwijaya memiliki organisasi serta keahlian yang kuat dalam struktur kemiliteran. 

    Selain itu, isi dari Prasasti Kedukan Bukit juga menuliskan bukti kehadiran Raja Dapunta Hyang dalam keberhasilannya memimpin Kerajaan Sriwijaya. Beliau merupakan salah satu raja yang memiliki peran sangat penting pada masa itu. Faktanya, prasasti tersebut secara keseluruhan berisi tentang Kerajaan Sriwijaya.

    Tafsir dari Prasasti Kedukan Bukit

    Terjemahan Prasasti Kedukan Bukit
    Terjemahan Prasasti Kedukan Bukit | Sumber gambar: kibrispdr.org

    Prasasti Kedukan Bukit menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno, sehingga memerlukan terjemahan untuk membuatnya lebih mudah dipahami. Philippus Samuel van Ronkel memiliki peran penting dalam menafsirkan tulisan yang ada pada prasasti tersebut.

    Tafsir prasasti tersebut bertepatan pada tanggal 11 Waisaka tahun 604 atau 23 April 682 Masehi, Dapunta Hyang sebagai Raja Sriwijaya naik perahu menuju suatu tempat guna bergabung dengan pasukannya. Pada saat itu, pasukan dari Dapunta Hyang baru saja mengalahkan Minanga atau Binanga. 

    Kemudian, pada tanggal 7 Jesta atau 19 Mei, Dapunta Hyang memimpin pasukannya untuk kembali ke Ibu Kota dari Minanga. Mereka tiba di Muka Upang, bagian timur Palembang pada 5 Asada atau 16 Juni. Sebagai bentuk syukur, Dapunta Hyang memberi perintah kepada pasukannya untuk membangun vihara. 

    Fakta-fakta Mengenai Prasasti Kedukan Bukit

    Dalam sejarah Prasasti Kedukan Bukit sejak pertama kali muncul sampai sekarang, terdapat beberapa informasi lainnya yang penting mengenai prasasti tersebut. Beberapa informasi mengenai peninggalan bersejarah tersebut telah mengalami berbagai macam tafsiran dari para ahli sehingga memiliki makna yang beragam.

    Berikut tafsiran yang menjadi informasi mengenai prasasti berdasarkan para ahli bahasa, seperti:

    1. Unsur Pertanggalan

    Dalam unsur pertanggalan di baris ke-8 prasasti, di bagian akhirnya ada unsur yang telah hilang dan seharusnya berisikan nama bulan. Lalu, J.G. de Casparis (1956: 11–15) dan Boechari (1993: A1-1–4), menuliskan nama bulan Āsāda. Data ini berdasarkan dari fragmen prasasti No. D.161 pada penemuan di Situs Telaga Batu.

    2. Arti dari Siddhayatra

    Siddhayatra memiliki makna semacam “ramuan bertuah” (Pr. potion magique) menurut George Cœdès. Namun, kata ini bisa saja memiliki arti lain. Dalam arti lain, berdasarkan Kamus Jawa Kuna Zoetmulder tahun 1995, ‘Siddhayatra’ berarti sukses dalam perjalanan. 

    Oleh sebab itu, dalam penerjemahan berdasarkan Kamus Jawa Kuna Zoetmulder, kalimatnya dapat berubah menjadi “Sri Baginda naik sampan untuk melakukan perjalanan suci, sukses dalam perjalanannya.”

    3. Asal Usul Minanga

    Isi sejarah dalam Prasasti Kedukan Bukit yaitu bagaimana Dapunta Hyang lepas dari kuasa Minanga Tamwan. Akibatnya, Dapunta Hyang dapat menguasai wilayah tersebut atau lokasi penemuan prasasti tersebut untuk pertama kali yaitu di Sungai Musi, Sumatera Selatan.

    Kemudian, ada yang berpendapat bahwa pelafalan dan bunyi dari Minanga Tamwan sama dengan Minangkabau yang terletak di daerah pegunungan di hulu Batang Hari. Namun, ada pula yang beropini bahwa Minanga berbeda dengan Malayu. 

    Selain itu, menurut Soekmono, Minanga Tamwan memiliki makna bertemunya dua sungai yang berasal karena kata ‘tamwan’ berarti ‘temuan’. Sungai tersebut adalah Kampar Kanan dan Kampar Kiri di Riau atau daerah sekitar Candi Muara Takus. 

    4. Minanga Menjadi Binanga

    Selain memiliki arti pertemuan dan Minangkabau, ada beberapa yang berpendapat bahwa Minanga adalah Binanga yang merupakan sebuah daerah di sehiliran Sungai Barumun. Sekarang menjadi Provinsi Sumatera Utara.

    5. Pasukan Dapunta Hyang Berasal dari Luar Sumatera

    Pendapat lain mengatakan bahwa pasukan atau kelompok militer dari Raja Sri Jayanasa berasal dari Semenanjung Malaya dan bukan dari Sumatera. Namun, beberapa sejarawan mengatakan bahwa Datu Sriwijaya lahir di Sumatera Selatan. 

    Selain itu, sejarawan juga menyampaikan bahwa Minanga terletak di muara Sungai Komering Sumatera Selatan. Begitu pula dengan M. Arlan Ismail yang menyatakan bahwa tempat Minanga berada di muara Sungai Komering purba di Sumatera Selatan.

    Hasil dari Penemuan Prasasti Kedukan Bukit

    Kota Palembang
    Kota Palembang | Sumber gambar: sumsel.voi.id

    Penemuan Prasasti Kedukan Bukit menghasilkan beberapa hal bersejarah untuk Kota Palembang Sumatera Selatan. Faktanya, isi dari peninggalan Kerajaan Sriwijaya tersebut menjadi patokan-patokan penting di Kota Palembang.

    Misalnya, tanggal 16 Juni menjadi hari lahir Kota Palembang. Penyebabnya adalah karena Dapunta Hyang mendirikan pemukiman setelah ia dan pasukannya mengalahkan Minanga. Selain itu, tempat tersebut juga lokasi penemuan Prasasti Kedukan Bukit. 

    Namun, Pemerintah Kota Palembang mengubah tanggalnya menjadi 17 Juni 683 berdasarkan Surat Keputusan (SK) Walikota Kepala Daerah Kotamadya Palembang Nomor 57/UM.WK/1972 tanggal 6 Mei 1972. Alasannya agar sama dengan tanggal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. 

    Menjaga dan Merawat Peninggalan Bersejarah

    Sebagai bentuk peninggalan bersejarah yang memiliki peran penting di masa lampau, Prasasti Kedukan Bukit harus selalu terjaga sampai kapanpun. Melestarikan sejarah sama dengan menghargai jasa para pahlawan yang sudah berjuang untuk kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

    Oleh sebab itu, merawat, menjaga, dan melestarikan adalah hal yang tidak boleh terlupakan sampai kapanpun bahkan sampai anak cucu kita kelak.

  • Pengertian Periodisasi: Tujuan, Jenis & Faktor yang Memengaruhi

    Pengertian Periodisasi: Tujuan, Jenis & Faktor yang Memengaruhi

    Berasal dari kata periode, pengertian periodisasi merujuk pada proses pembabakan masa lalu berdasarkan zaman. Karena menyangkut aktivitas masa lampau, maka periodisasi terbagi dalam beberapa bagian, dengan kurun waktu yang panjang. Melalui periodisasi, waktu dari peristiwa dapat dirumuskan dengan lebih jelas dan sistematis.     

    Menjadi tahapan krusial dalam historiografi, periodisasi tak hanya penting untuk mengungkap ikhtisar sejarah, melainkan juga berguna untuk membantu seseorang mendalami urutan peristiwa sejarah secara utuh. Tanpa adanya periodisasi, kamu akan sulit memahami perjalanan sejarah yang luas.   

    Artikel ini akan mengulas secara menyeluruh mengenai arti dari periodisasi lengkap dengan tujuan, jenis, konsep, dan faktor-faktor yang dapat memengaruhinya. Harapannya, kamu dapat memahami asal-usul berbagai kisah sejarah serta melacak perkembangan peristiwa dari waktu ke waktu. Mari simak hingga akhir!   

    Pengertian Periodisasi 

    Secara harfiah, pengertian periodisasi yaitu tingkat perkembangan masa yang dapat menggambarkan peristiwa sejarah yang telah terjadi. Selain itu, periodisasi juga berarti sebagai pembabakan kisah sejarah dari suatu periode atau masa, yang dirumuskan secara lengkap dan terarah. 

    Adapun, pembabakan sendiri dilakukan karena adanya rentang waktu yang sangat panjang, mulai dari awal manusia ada sampai saat ini. Sebagai bentuk klasifikasi peristiwa, yang mana prosesnya dapat membedakan dan mendistribusikan waktu ke fase yang berbeda, periodisasi lebih berfokus pada pembabakan sejarah manusia. 

    Umumnya, penggunaan periodisasi berfungsi untuk mengetahui proses sejarah dan kausalitas yang mungkin menghubungkan peristiwa tersebut secara runut. Selain memberikan segmentasi waktu yang nyaman, periodisasi akan menghadirkan rangkaian periode dengan karakteristik yang relatif stabil.

    Akan tetapi, penentuan awal dan akhir yang tepat pada setiap periodisasi acap kali bersifat arbitrer. Hal tersebut bukan tanpa alasan, pasalnya perjalanan sejarah membawa perubahan dari satu waktu ke waktu yang lainnya. Dengan kata lain, periodisasi memiliki sifat arbitrer, jika sejarah tidak tergeneralisasi dan berkelanjutan. 

    Tujuan Periodisasi

    Tools dalam Melakukan Periodisasi
    Tools dalam Melakukan Periodisasi | Sumber gambar: Freepik.com

    Pada implementasinya, terdapat beberapa tujuan dari periodisasi, dalam rangka penjelasan terkait suatu kejadian atau peristiwa sejarah, yaitu:

    1. Memahami Gambaran Peristiwa Secara Mudah 

    Tujuan utama penerapan periodisasi tidak lain untuk mempermudah memperoleh gambaran secara menyeluruh dari peristiwa sejarah yang terjadi. Artinya, pengertian periodisasi ini, yaitu melihat sebuah rangkaian kejadian sejarah berdasarkan pembagian waktunya, sehingga akan memudahkan seseorang dalam memahaminya. 

    Biasanya, peristiwa sejarah terdiri dari rangkaian-rangkaian tahun, dengan deretan tanpa ujung dan pangkal. Oleh karena itu, untuk mendapatkan sebuah refleksi atau pandangan, maka deretan tersebut perlu dibagi-bagi lagi melalui proses periodisasi. 

    2. Merunutkan Peristiwa Sejarah

    Pada bagian ini, merunutkan peristiwa sejarah dalam periodisasi harus berdasarkan tingkatan waktu yang logis, supaya tidak memunculkan efek yang terkesan tumpang tindih. Tak hanya itu, penyusunan cerita sejarah secara runut dan kronologis juga menghindari adanya potensi pengulangan kisah yang berkelanjutan.     

    Dengan begitu, pengertian periodisasi tersebut akan memandang sejarah sebagai ilmu pengetahuan yang mempunyai nilai sistematika dan bukan sekedar tinjauan masa lalu yang tidak jelas kebenarannya belaka. 

    3. Menyederhanakan Cerita Sejarah

    Selain terbilang rumit, sejarah merupakan memori kolektif yang kerap terjadi dalam rentang peristiwa yang panjang. Hal tersebut menyebabkan seringkali munculnya titik temu yang tidak menemukan arah dan tujuan yang pasti.  

    Untuk menguraikan kerumitannya, perlu adanya upaya penjabaran setiap detail kisah sejarah, dengan melakukan pembagian dan penggolongan. Di sini, pengertian periodisasi memainkan peran untuk menyederhanakan cerita sejarah menjadi satu tatanan atau orde, yang memudahkan dalam pemahaman definisi yang simple.       

    4. Membantu Analisis Sejarah

    Pada dasarnya, pengertian periodisasi yang mengaitkan peristiwa sejarah, akan banyak berkontribusi dalam proses analisis sejarah yang mendalam. Sebagai contoh, menganalisis bagaimana suatu negara bisa merdeka dan mengetahui kronologis lengkap dari perang dunia kedua. 

    Dengan melakukan analisis kisah sejarah, manusia bisa memperoleh pengalaman yang berharga dan mengambil langkah prediksi yang tepat untuk masa depan. Sehingga, manusia mampu membangun peradaban yang jauh lebih baik lagi kedepannya.   

    5. Memenuhi Syarat Sistematika Ilmu Pengetahuan

    Salah satu syarat vital dari sebuah ilmu pengetahuan, yaitu sifatnya yang terstruktur atau sistematis. Singkatnya, seluruh peristiwa yang terjadi di masa lalu akan melalui tahap pengelompokkan dan terhubung antara satu sama lain. Dengan demikian, syarat sistematika ilmu pengetahuan dapat terpenuhi secara tepat sasaran.  

    3 Jenis Periodisasi

    Piramid yang Mengandung Banyak Nilai Sejarah
    Piramid yang Mengandung Banyak Nilai Sejarah | Sumber gambar: Pexels.com

    Tahukah kamu? Jenis periodisasi akan menyuguhkan bentuk dan corak khasnya masing-masing kepada bahan sejarah yang tidak mempunyai batas. Ada pula beberapa faktor yang menjadi sebuah kriteria dalam penyusunan konsep periodisasi yang juga menyangkut tiga jenis periodisasi, seperti berikut:   

    1. Periodisasi Berlandaskan Waktu Kronologis

    Merupakan cara yang tergolong paling sederhana, pengertian periodisasi ini mengacu pada pembabakan yang berdasarkan pada tahun atau abad kejadian. Adapun, contoh dari jenis periodisasi tersebut, antara lain perang tentara Portugis dengan Spanyol di Indonesia dan sejarah Perancis pada abad ke-9.   

    2. Periodisasi Berdasarkan Ciri yang Terkandung dalam Kejadian

    Tidak menjadikan waktu sebagai pembatas utama, pengertian periodisasi tersebut mengacu pada proses pengelompokan sejarah berdasarkan ciri yang terlihat dalam suatu kejadian. Meski begitu, setiap periodisasi tidak akan pernah terlepas dari sebuah waktu, karena segala macam peristiwa pasti akan terikat dengan waktu.   

    Misalnya, zaman prasejarah sampai permulaan Tarikh Masehi, zaman penyusunan kemerdekaan Indonesia, abad proklamasi kemerdekaan, dan era Kerajaan Sriwijaya Syailendra pada abad ke-7 hingga abad ke-12.      

    3. Periodisasi Menurut Ranting

    Sama halnya dengan cabang ilmu pengetahuan yang lainnya, perkembangan sejarah juga makin bertumbuh meluas, sehingga membutuhkan diferensiasi dalam ranting. Maksudnya, pengertian periodisasi menurut ranting, yaitu proses memusatkan perhatian dan meriwayatkan bagian khusus sejarah secara lebih komprehensif. 

    Tujuannya, untuk memudahkan menguasai keseluruhan fakta yang ada dari masa lampau. Mengingat, fakta-fakta tersebut terdapat berbagai macam rumpun ilmu. Ranting dalam ilmu sejarah terbagi menjadi beberapa bidang, seperti sejarah sosial, sejarah ekonomi, sejarah politik, sejarah pendidikan, dan lain sebagainya.          

    Ranting-ranting ini nantinya akan saling terhubung dalam sejarah sebagai sebuah ilmu bantu yang mempelajari ilmu tersebut dengan cara spesifik. Pada kedudukan yang paling tinggi, semua ranting melebur ke dalam sejarah manusia.     

    Konsep Periodisasi

    Colosseum
    Colosseum | Sumber gambar: Pexels.com

    Pada praktiknya, periodisasi memiliki tiga konsep yang membedakan setiap jangkauan periodenya, yaitu:

    1. Konsep Spasial

    Pengertian periodisasi spasial atau ruang adalah tempat terjadinya berbagai macam peristiwa maupun kejadian sejarah dalam proses perjalanan waktu. Pada bagian ini, penulisan sejarah erat kaitannya dengan tempat berlangsungnya peristiwa sejarah yang pernah terjadi sebelumnya. 

    2. Konsep Temporal

    Karena kejadian sejarah berlangsung dalam batasan waktu tertentu, maka pengertian periodisasi temporal, yaitu cakupan jangka waktu tentang kapan terjadinya berbagai peristiwa yang berjalan secara kontinu. 

    3. Konsep Tematis

    Berhubungan dengan tema atau topik dari peristiwa sejarah, contoh dari konsep periodisasi tematis tersebut meliputi sejarah pemerintahan orde lama maupun baru, dan topik kisah sejarah tentang perjuangan kemerdekaan.    

    Faktor yang Memengaruhi Periodisasi

    Baju Perang
    Baju Perang | Sumber gambar: Freepik.com

    Karena pengertian periodisasi merupakan dasar penyusunan terhadap cerita sejarah, maka pencatatan periodisasi bergantung pada sejarawan atau pakar yang melakukan penelitian itu sendiri. 

    Periodisasi adalah sebuah rangkaian tahapan yang terkadang bersifat subjektif. Oleh sebab itu, pasti terdapat perbedaan pandangan dan pendapat dari para sejarawan yang didasarkan pengamatan serta penafsirannya sendiri. Dalam praktiknya, perbedaan tersebut seringkali memperdebatkan cara penilaian dan berpikir antar sejarawan. 

    Dengan demikian, periodisasi berkaitan pada filsafat, agama, keyakinan, kepercayaan, atau pandangan hidup. Selain perbedaan mengenai hal tersebut, ada pula cakupan lain yang menjadi faktor pembeda, seperti sikap dan kebudayaan. Tak hanya itu, diskrepansi politik pada masanya juga turut mempengaruhi pemikiran sejarawan.   

    Sudah Tahu Tentang Pengertian Periodisasi?

    Pada intinya, pengertian periodisasi merupakan pengelompokan rangkaian peristiwa sejarah yang menonjol dalam sebuah kronologi yang runtut. Adanya kejadian yang kompleks dalam kehidupan manusia pada tiap-tiap masa akan membutuhkan suatu proses pembabakan yang sesuai dengan sifat, unit, dan bentuk peristiwa sejarah. 

    Berbagai deretan kejadian masa lampau lalu diurutkan secara kronologis, sehingga mampu membangun kesatuan waktu yang panjang. Karena melibatkan penafsiran dari para sejarawan, maka periodisasi juga sebagai wujud kerangka sejarah yang meliputi akumulasi, opini, pendapat, dan perspektif ahli sejarah. 

    Meski begitu, kehadiran tahapan peristiwa pada periodisasi harus didasarkan pada suatu kejadian yang memiliki sifat aktual dan terpercaya. Sehingga, periodisasi dapat menjadi batang tubuh cerita sejarah yang mampu memudahkan penguraian peristiwa dan menghindari risiko timbulnya penyelewengan sejarah.   

  • Memahami Tujuan Pembentukan VOC dan Latar Belakangnya

    Memahami Tujuan Pembentukan VOC dan Latar Belakangnya

    VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) adalah kongsi dagang asal Belanda yang memiliki pengaruh besar pada perkembangan ekonomi dan politik negaranya. Tujuan pembentukan VOC menitikberatkan pada perdagangan, namun ambisi VOC semakin berkembang karena adanya persaingan sengit di kancah Internasional

    Berlanjut dengan menguasai dan mendominasi perdagangan di berbagai wilayah penghasil rempah-rempah. VOC juga punya tujuan lain guna memperkokoh eksistensi pemerintahan Belanda. Lantas, apa saja tujuan lainnya itu? Mari simak ulasannya melalui artikel ini. 

    Tujuan Pembentukan VOC 

    Ilustrasi VOC
    Ilustrasi VOC | Sumber Gambar: 31mag

    Tujuan adanya VOC berdasarkan perundingan 15 Januari 1602, yaitu menimbulkan bencana bagi musuh dan guna keamanan tanah air. Mengacu pada bangsa Portugis dan Spanyol yang bersatu mendominasi perdagangan Asia, membuat VOC dapat sambutan baik di Nusantara. Padahal mereka punya tujuan lain, yakni:

    1. Mengurangi Persaingan Sesama Pedagang Belanda

    Terbentuknya VOC punya tujuan lain yakni untuk mengurangi persaingan tidak sehat antar sesama pedagang Belanda dengan melakukan konsolidasi perusahaan. Maksudnya, semua pedagang berada dalam satu naungan perusahaan. Jadi, keuntungan bisa mereka dapat secara maksimal dari setiap pedagang.

    2. Monopoli Rempah-Rempah di Asia

    Salah satu tujuan terbentuknya VOC adalah menguasai dan memonopoli sistem perdagangan rempah-rempah di Asia, terutama Indonesia. Sebab, Indonesia kaya akan sumber daya alam. Mencakup produksi, pengangkutan, dan pemasaran rempah-rempah berupa lada, kayu manis, cengkeh, dan lainnya

    Oleh karena itu, Belanda ingin memenuhi ambisinya dengan memonopoli perdagangan Indonesia. Tentu saja, ini bertujuan agar mereka mendapatkan keuntungan maksimal.

    3. Menandingi Persaingan Dagang Antar Bangsa Eropa Lainnya

    Selain itu, sebagai upaya memperkuat kedudukan Belanda di perdagangan Asia. Maka, terbentuklah VOC untuk menghadapi persaingan dagang dengan bangsa Eropa lainnya, seperti Portugis dan Spanyol. 

    Pada tahun 1602, Belanda mendirikan VOC dan kembali ke Nusantara bersaing dengan Portugis, Spanyol, Inggris, Prancis. Tujuan pembentukan VOC adalah meminimalisir persaingan dengan menyatukan para pedagang Eropa dalam satu naungan perusahaan. 

    4. Membantu Anggaran Pemerintahan Belanda

    Tujuan lainnya, yakni untuk membantu anggaran pemerintah Belanda. Keuangan negara tersebut memang sempat mengalami krisis dan merugi besar saat Spanyol masih menduduki wilayah Belanda. Lalu, terbentuklah VOC yang membawa Belanda bisa bangkit dari keterpurukannya.

    5. Memperkuat Eksistensi Belanda di Kancah Internasional 

    Kokohnya eksistensi Belanda di kancah Internasional, mampu membuat semua pedagang bersatu, bersaing dengan bangsa Eropa, mengekspansi wilayah. Mereka juga semakin kaya. Itu menghasilkan kekuatan daya saing yang tak tertandingi di dunia Internasional, bahkan bisa disegani masyarakat di dunia.

    6. Menduduki Wilayah Strategis di Indonesia

    Tujuan pembentukan VOC selanjutnya adalah menduduki wilayah strategis di Indonesia, seperti pelabuhan. Selain itu, VOC juga mampu menguasai sumber daya alam berupa rempah-rempah.

    7. Menguasai Kerajaan-Kerajaan di Indonesia

    VOC bertujuan untuk menguasai kerajaan-kerajaan di Nusantara demi mengambil alih tentara kerajaan dan berpartisipasi menjadi prajurit perang. 

    Maksudnya, Belanda mengambil sumber daya manusia supaya bisa berpeluang menang dalam peperangan. Apalagi dukungan dari kerajaan akan membuat semua rencana Belanda bisa berjalan lebih lancar.

    Latar Belakang Pembentukan VOC

    Latar Belakang VOC
    Latar Belakang VOC | Sumber Gambar: Kompas.com

    Pembentukan VOC (1602) merupakan ambisi Belanda guna menguasai rempah-rempah supaya bisa bersaing antar pedagang bangsa Eropa lainnya. Sehingga, Belanda mencoba melancarkan ekspedisinya mengeksplor wilayah penghasil rempah-rempah. 

    Lalu, Belanda mulai melancarkan ekspedisinya menggunakan empat kapal dipimpin Cornelis de Houtman. Kapal mereka berlabuh dan tiba di Banten yang merupakan pelabuhan lada utama di Jawa Barat (1596). 

    Adanya perseteruan dan persaingan sengit antara pedagang terkait membuat harga rempah mengalami penurunan., Belanda membentuk kongsi dagang bernama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) dan secara resmi berdiri pada tanggal 20 Maret 1602. Jadi, tujuan pembentukan VOC adalah menjadi solusi problem tersebut.

    Mulanya, Belanda ke Asia hanya berdagang dengan kebijakan kolonial bersama kerajaan-kerajaan di Jawa, Sumatera, dan Maluku. Namun, Belanda di Suriname dan Curacao memang datang bertujuan untuk kolonialisasi. Ini menjadi pemicu terjadinya penjajahan bangsa Indonesia.

    Pada abad ke-16, Portugis telah mendominasi perdagangan rempah-rempah di Lisbon sebagai pelabuhan utama mereka. Pada tahun 1591, Portugis mulai bekerja sama dengan Spanyol, Italia, Jerman, dan pelabuhan Hamburg jadi distribusi barang Asia dalam lalu lintas dagang tanpa melewati Belanda.

    Namun, ini terbukti tak efisien dan tak mampu memenuhi target yang membludak. Seiring berjalannya waktu, adanya penyatuan Portugis dan Spanyol membuat Belanda ketar-ketir. 

    Pada akhirnya, Jan Huyghen Van Linschoten san Cornelis de Houtman berhasil menemukan jalur pelayaran Portugis. Membuat mereka berekspedisi menuju Banten (1595-1597). Ketika tiba, mereka terlibat perseteruan antara Portugis dan penduduk lokal, akibatnya beberapa awak kapal hilang dan rusak parah.

    Pembubaran VOC

    Pada 31 Desember 1600, Inggris mendirikan British East India Company sebuah perusahaan dagang di Asia. Menyusul perusahaan Hindia Timur Perancis (1604). Pada 20 Maret 1602, Belanda juga mendirikan VOC. Seketika terjadi persaingan cukup ketat dam kompetitif antar perdagangan Asia.

    Solusinya, Jaksa Agung Belanda memberikan hak istimewah (hak octrooi) yang  mengizinkan VOC membangun pasukan yang mereka biayai sendiri. Mereka berhak membuat perjanjian antar negara dan bisa menyatakan perang terhadap negara lain atas nama pemerintah Belanda. Ini menjadikan VOC seperti negara dalam negara.

    Namun, itu menjadikan VOC seenaknya terhadap penduduk lokal dalam memperluas pengaruhnya di Indonesia. Seiring berjalannya waktu, tepat 31 Desember 1799, banyak pejabat VOC andil dalam kasus korupsi dan akibatnya utang VOC semakin menumpuk dan bangkrut.

    Gubernur Jenderal VOC bernama Van Overstraten mendeklarasikan pembubaran VOC dan utang serta aset VOC beralih pada Pemerintah Belanda. Ini dia beberapa alasan pembubaran VOC:

    • Mayoritas pegawai VOC terlibat korupsi.
    • Meningkatnya dana pengeluaran dalam anggaran perang, seperti terjadinya pemberontakan Hasanuddin dari Gowa.
    • Saingan dagang bertambah, misalnya Prancis dan Inggris.
    • Pegawai banyak, anggaran semakin meningkat.
    • Adanya keuntungan pembayaran bagi pemegang saham yang memberatkan VOC dan mengurangi pemasukan VOC.
    • Perubahan politik Belanda saat berdirinya Republik Bataaf (1795) yang demokratis dan liberal memicu anjuran perdagangan bebas.

    Hak Istimewa VOC

    Hak Oktroi
    Hak Oktroi | Sumber Gambar: Wikimedia Commons

    Setelah mengetahui tujuan pembentukan VOC, berikut latar belakang dan pembubarannya. Kamu sebaiknya lebih memahami pemberian hak istimewa terhadap VOC untuk solusi persaingan dagang antar bangsa Eropa. Hak tersebut tertera dalam Oktroi (piagam) pada tanggal 20 Maret 1602, meliputi:

    1. Hak Monopoli 

    • Tujuannya untuk melakukan pelayaran di wilayah timur Tanjung Harapan dan wilayah barat Selat Magelhaens.
    • Melakukan perdagangan.
    • Menguasai perdagangan demi keuntungan sendiri.

    2. Hak Kedaulatan

    Hak ini menjadikan anggotanya bertindak seenaknya layaknya pemerintah, meliputi:

    • Hak memelihara angkatan perang.
    • Memperbolehkan perang dan mengadakan perdamaian.
    • Mencetak atau mengedarkan mata uang sendiri
    • Mendirikan benteng.
    • Mengadakan perjanjian dengan raja setempat.
    • Mengekspansi daerah-daerah asing di luar negara Belanda.
    • Memungut pajak.

    Karena salah satu tujuan pembentukan VOC adalah menguasai Indonesia, maka ada pula penerapan hak-hak istimewa VOC di Indonesia. Berikut di antaranya:

    • Pemindahan markas VOC, dari Banten dan Ambon menuju Batavia.
    • Adanya Hak Ekstirpasi, yaitu hak membinasakan tanaman rempah-rempah melebihi batas ketentuan yang berlaku.
    • Pelaksanaan pelayaran Hongi berupa bentuk pelayaran dan pengawasan pemerintah VOC dalam menjaga monopoli rempah-rempah.
    • Adanya tanam paksa tanaman kopi yang disebut sistem Priangan.
    • Terdapat sistem Contingenten berupa kewajiban pembayaran pajak dalam bentuk hasil bumi.
    • Pelaksanaan sistem penyerahan wajib atas rempah-rempah.

    Sudah Tahu Apa Saja Tujuan Pembentukan VOC?

    Demikianlah penjelasan terkait tujuan pembentukan VOC dan latar belakangnya. Karena VOC, rakyat Indonesia pada saat itu semakin menderita dan miskin. Bahkan, terjadi pula perbudakkan hingga pembunuhan. Sehingga pembubarannya juga bisa mengurangi penderitaan tersebut karena monopoli hilang.

    Kini kamu bisa belajar untuk semakin menghargai jasa para pahlawan yang harus menempuh perjalan yang cukup menguras fisik dan mental demi bebasnya Indonesia dari serangan penjajah. Semoga bermanfaat!

  • Teori Brahmana: Latar, Bukti, Tokoh, Kelebihan & Kelemahan

    Teori Brahmana: Latar, Bukti, Tokoh, Kelebihan & Kelemahan

    Para ahli sejarah memiliki beberapa teori yang bisa menjelaskan bagaimana agama Hindu dan Buddha bisa masuk ke Indonesia. Nah, salah satu teori yang paling populer yaitu teori Brahmana. Bagaimana teori ini bisa menjelaskan sejarah masuknya agama Hindu dan Buddha ke Indonesia? Yuk, kita simak bersama!

    Pengertian Teori Brahmana

    Teori Brahmana
    Teori Brahmana | Sumber gambar: sonora.id

    Sebelum kita membahas secara mendalam tentang teori Brahmana, sebenarnya apa itu arti dari kata “Brahmana”?

    Kalau kita mengutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata Brahmana sendiri yaitu sebuah kasta dalam agama Hindu yang menduduki peringkat tertinggi. Golongan kasta Brahmana ini adalah orang-orang yang mampu mempelajari, menyebarkan, dan menjelaskan ajaran agama Hindu ke masyarakat luas.

    Dengan kata lain, contoh orang yang masuk ke dalam kasta Brahmana adalah para pendeta. Orang yang termasuk ke dalam golongan Brahmana ini berasal dari India.

    Nah, apa hubungannya para Brahmana dengan masuknya agama Hindu dan Buddha ke Indonesia?

    Menurut teori Brahmana, masuknya agama Hindu dan Buddha bisa terjadi di Indonesia karena andil besar dari orang-orang yang masuk ke dalam kasta Brahmana. Para pendeta Hindu atau Brahmana ini datang ke Indonesia karena undangan dari para raja yang saat itu berkuasa di Indonesia.

    Brahmana saat itu dianggap yang punya peran paling besar dalam menyebarkan agama Hindu-Buddha di Indonesia yang saat itu masih terkenal dengan nama Nusantara.

    Tidak hanya sebatas menyebar dan mengajarkan agama Hindu ke masyarakat Nusantara saja, para Brahmana juga saat itu memperoleh mandat untuk melakukan upacara penobatan raja di kerajaan Hindu-Buddha. Upacara tersebut juga terkenal dengan istilah abhiseka.

    Teori Brahmana ini tercetus oleh sejarawan yang bernama Jacob Cornelis van Leur. Seorang ahli sejarah berkebansaan Belanda.

    Mengenal J.C. van Leur, Tokoh Pencetus Teori Brahmana

    Jacob Cornelis van Leur adalah tokoh sejarah di balik teori yang menjelaskan bagaimana masuknya pengaruh agama Hindu dan Buddha di Indonesia tersebut.

    Siapa sebenarnya Jacob Cornelis van Leur? Apa dasar yang dia gunakan untuk mencetuskan teori ini?

    Jacob Cornelis van Leur adalah seorang ahli sejarah yang berasal dari Belanda. Beliau merupakan sejarawan yang terkenal dengan puluhan karya tulis yang beliau ciptakan dan telah dicetak ke dalam berbagai media saat itu.

    Sampai saat ini, masih banyak ahli sejarah yang merujuk pada karya tulis J.C. van Leur jika ingin mencari landasan dari sejarah Indonesia, terutama yang menyangkut sejarah perdagangan di Indonesia saat zaman VOC.

    Nah, salah satu karya dari J.C. van Leur yang cukup fenomenal adalah teori Brahmana yang menjelaskan masuknya ajaran agama Hindu dan Buddha di Nusantara.

    J.C. van Leur berhasil mencetuskan teori tersebut berdasarkan sejumlah peninggalan prasasti kerajaan-kerajaan Hindu Buddha yang pernah berdiri. 

    Salah satu fakta menarik tentang J.C. van Leur adalah beliau bisa membaca huruf Pallawa dan mengerti bahasa Sanskerta – huruf dan bahasa yang digunakan dalam catatan prasasti peninggalan kerajaan Hindu Buddha di Indonesia.

    Teori ciptaan J.C. van Leur ini makin kuat karena ada sebuah ajaran di agama Hindu yang mengatakan bahwa satu-satunya yang memiliki hak untuk menyebarluaskan agama Hindu adalah orang yang masuk ke dalam kasta Brahmana.

    Alasannya, karena orang yang termasuk golongan Brahmana mampu mempelajari ajaran agama Hindu yang tertulis dengan huruf Pallawa dan dijelaskan dalam bahasa Sanskerta.

    Nah, sekarang pertanyaannya adalah, bagaimana dahulu para Brahmana bisa ke Indonesia dari India?

    Para Brahmana saat itu datang jauh dari India ke Indonesia karena undangan para raja di Indonesia  dalam rangka menghadiri upacara Vratyastoma.

    Upacara Vratyastoma merupakan upacara yang bertujuan untuk “menghindukan” seseorang.

    Pendukung Teori Brahmana Karya J.C van Leur

    F.D.K. Bosch
    F.D.K. Bosch | Sumber gambar: museumnusantara.com

    Nah, ternyata, teori Brahmana ini tidak hanya didukung oleh J.C. van Leur saja. Teori ini juga dianggap positif oleh seorang ahli sejarah yang sama-sama berasal dari Belanda, Frederik David Kan Bosch.

    Frederik David Kan Bosch menganggap bahwa agama Hindu dan Buddha bisa masuk ke Indonesia karena peran besar dari orang Brahmana yang berasal dari India.

    Ia juga memiliki landasan yang sama dengan J.C. van Leur dalam mendukung teori ini. Frederik David Kan Bosch menganggap kalau kasta Brahmana berperan besar karena mereka memperoleh undangan dan mendapat sambutan baik dari para raja yang berkuasa saat itu.

    Menurut Frederik David Kan Bosch, kasta Brahmana dari India bisa sampai ke wilayah Nusantara melalui jalur laut dengan menggunakan kapal-kapal dagang.

    Kelebihan Teori Brahmana

    Nah, sempat kita singgung di atas bahwa Jacob Cornelis van Leur mencetuskan teori masuknya agama Hindu dan Buddha di Nusantara karena peran besar para Brahmana yang berasal dari India. Landasannya adalah hak istimewa yang kaum Brahmana miliki dan juga prasasti peninggalan kerajaan Hindu Buddha. 

    1. Pengaruh Kaum Kasta Brahmana

    Kasta Brahmana merupakan kasta dengan tingkatan paling tinggi di agama Hindu. Selain menyandang kasta dengan tingkatan tertinggi, kasta Brahmana juga mampu mempelajari, memahami, dan mengamalkan ajaran agama Hindu yang tertulis di kitab suci Weda.

    Selain itu, keberadaan teori Brahmana juga makin kuat karena kaum Brahmana memiliki satu hak istimewa yaitu menjadi golongan atau kaum yang boleh melakukan penyebaran agama Hindu.

    Para kaum Brahmana tidak hanya menyebarkan dan mengajarkan agama Hindu dan Buddha di Nusantara saat itu. Mereka juga dipercaya sebagai penyelenggara upacara Vratyastoma dan juga menduduki posisi penting di kerajaan seperti penasehat raja.

    2. Prasasti Peninggalan

    Keberadaan kaum Brahmana yang datang dari India ke Nusantara di masa lalu juga tercatat dari catatan sejumlah prasasti peninggalan kerajaan Hindu yang pernah berdiri di Nusantara.

    Prasasti tersebut tertulis dengan aksara Pallawa dan isi dari catatan tersebut menggunakan bahasa Sanskerta. Isi atau informasi yang tertulis di prasasti tersebut dapat dipertanggungjawabkan karena prasasti merupakan catatan yang ditulis langsung oleh pihak kerajaan.

    Apalagi, huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta juga terdapat di dalam kitab suci Weda. Dengan begitu, hanya kaum Brahmana yang lebih bisa membaca huruf Pallawa dan memahami bahasa Sanskerta dengan baik.

    Kelemahan Teori Brahmana

    Teori Brahmana yang Jacob Cornelis van Leur cetuskan juga memiliki kelemahan yang menimbulkan keraguan pada teori ini. 

    Memang, ilmu dan hak istimewa yang kaum Brahmana miliki bisa menjadi faktor penguat. Namun, ternyata, kaum Brahmana memiliki satu pantangan atau larangan yang dapat melemahkan keberadaan teori Brahmana.

    Para kaum Brahmana memiliki larangan yaitu menyeberangi lautan. 

    Konsekuensi yang seorang Brahmana akan peroleh jika melanggar aturan ini adalah kehilangan status atau kasta Brahmana yang mereka miliki.

    Seperti yang kita tahu kalau India dan Nusantara terpisah oleh lautan yang luas. Siapapun dari luar yang ingin datang ke Nusantara hanya bisa masuk melalui jalur laut dengan kapal.

    Seorang Brahmana akan setara dengan rakyat biasa jika status kasta Brahmana yang dia miliki hilang, meskipun dia memiliki ilmu tentang agama Hindu. 

    Hilangnya status Brahmana sekaligus akan menghilangkan hak istimewa yang sebelumnya dia miliki, yaitu berhak mengajarkan dan menyebarkan ajaran agama Hindu ke masyarakat luas.

    Jika hak istimewa tersebut hilang, bagaimana mereka bisa menyebarkan ajaran Hindu di Nusantara?

    Inilah pertanyaan yang turut melemahkan teori Brahmana mengenai asal-muasal hadirnya ajaran agama Hindu dan Buddha di Nusantara. 

    Mengenal Teori Masuknya Hindu-Buddha di Nusantara

    Kuatnya pengaruh dan budaya Hindu-Buddha turut mewarnai keberagaman budaya di Indonesia. Tidak heran jika sebagian orang mempertanyakan asal-usul masuknya kedua agama tersebut ke tanah Air. 

    Teori karya J.C. van Leur memiliki kekuatan untuk menjelaskan asal-muasal masuknya pengaruh kedua agama tersebut ke Indonesia. Tetapi, teori tersebut memiliki kelemahan yang logis. 

    Perlu kita ingat bahwa teori Brahmana hanyalah salah satu teori yang mencoba menjelaskan bagaimana ajaran agama Hindu dan Buddha masuk ke Nusantara. Tentu ada teori lain dengan kelebihan dan kekurangannya sendiri yang bisa kamu baca untuk menambah referensimu dalam mempelajari sejarah Hindu dan Buddha di Indonesia.

  • Organisasi Budi Utomo: Latar Belakang, Tujuan, dan Tokohnya

    Organisasi Budi Utomo: Latar Belakang, Tujuan, dan Tokohnya

    Apabila Anda mempelajari sejarah Indonesia, maka Anda mungkin tidak asing lagi dengan organisasi Budi Utomo (Boedi Oetomo). Pasalnya, organisasi satu ini merupakan organisasi pemuda pertama di Indonesia. Bahkan, hari lahir Budi Utomo diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

    Sebagai organisasi pemuda pertama, tentu saja ada banyak hal menarik yang bisa Anda pelajari. Artikel ini akan membahas lengkap mulai dari latar belakang, tujuan, peran, dan program kerja organisasi yang pernah berlangsung.

    Latar Belakang Berdirinya Organisasi Budi Utomo

    Budi Utomo merupakan organisasi pemuda pertama yang dibentuk oleh mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) pada 20 Mei 1908. Wacana pembentukan organisasi ini datang dari Dr. Wahidin Sudirohusodo, seorang dokter asal Surakarta. 

    Sebenarnya, Dr. Wahidin Sudirohusodo sudah sejak lama ingin mendirikan organisasi untuk memajukan pendidikan. Sehingga, harapannya organisasi ini bertujuan untuk membiayai pendidikan anak-anak dengan potensi tinggi namun tidak bisa bersekolah karena keterbatasan biaya. 

    Wacana atau gagasan tersebut kemudian mendapatkan sambutan baik dari pelajar-pelajar STOVIA. Beberapa pelajar yang setuju dengan gagasan Dr. Wahidin Sudirohusodo yaitu Gondwana, Soeradji, dan Soetomo. 

    Setelah berdiskusi panjang, akhirnya berdirilah perhimpunan atau organisasi Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908. Budi Utomo merupakan organisasi yang memiliki peran penting dalam mengawali era pergerakan nasional. 

    Pasalnya, setelah terbentuknya organisasi ini, ada banyak organisasi-organisasi lain yang bermunculan dengan tujuan berbeda-beda. Walaupun terkesan sangat revolusioner, Budi Utomo harus berakhir pada tahun 1935 dan melebur ke dalam Partai Indonesia Raya yang dipimpin oleh Soetomo sebagai ketua Budi Utomo. 

    Tokoh-tokoh Penting Organisasi Budi Utomo

    Tokoh Penting Organisasi Budi Utomo
    Tokoh Penting Organisasi Budi Utomo | Sumber Gambar: Kompas.com

    Setidaknya, ada sembilan tokoh penting yang berperan dalam berdirinya Budi Utomo, yaitu:

    1. Soetomo

    Soetomo lahir pada 30 Juli 1888 di Nganjuk, Jawa Timur. Beliau menjabat sebagai ketua umum organisasi. Selain mendirikan Budi Utomo, Soetomo juga mendirikan organisasi lain seperti ISC (Indonesische Studie Club). 

    2. Mochammad Saleh

    Mochammad Saleh merupakan seorang dokter yang bertugas di rumah sakit umum Probolinggo. Sementara dalam organisasi, beliau menjabat sebagai komisaris.

    3. Goenawan Mangoenkoesoemo

    Goenawan Mangoenkoesoemo merupakan sahabat dekat Soetomo yang sama-sama membangun Budi Utomo. Dalam kepengurusan organisasi, Goenawan menjabat sebagai sekretaris.

    4. Gondo Soewarno

    Sama seperti Goenawan, Gondo Soewarno juga menjabat sebagai sekretaris. Namun, jabatan tersebut bersifat sementara karena kemahiran menulis dan berbicara bahasa Belanda penting untuk organisasi ini.

    5. Mohammad Soelaiman

    Sosok wakil ketua dari Budi Utomo adalah Mohammad Soelaiman. Beliau merupakan lulusan dari ELS (Europeesche Lagere School). Namun, pada tanggal 1 Maret 1903, Soelaiman mantap masuk ke STOVIA.

    6. R. Angka Prodjosoedirdjo

    Angka Prodjosoedirdjo atau Dokter Angka bersekolah di HIS (Holland Indische School) selama tujuh tahun. Lalu, beliau melanjutkan pendidikan ke HBS (Hogere Burger School) selama 5 tahun dan akhirnya ke STOVIA. Posisi jabatan yang beliau emban di organisasi Budi Utomo yaitu bendahara. 

    7. M. Soewarno

    M. Soewarno masuk ke STOVIA pada tanggal 6 Februari 1901 dan lulus pada 10 September 1910. Selama menempuh pendidikan, Soewarno merupakan siswa yang aktif. Tidak heran jika akhirnya beliau bergabung dengan Budi Utomo sebagai komisaris bersama Mochammad Saleh.

    8. Soeradji Tirtonegoro

    Sama seperti M. Soewarno dan Mochammad Saleh, Soeradji Tirtonegoro adalah komisaris dari Budi Utomo. Soeradji menjadi tokoh negara yang mengusulkan nama Budi Utomo sebagai nama organisasinya.

    9. Mas Goembrek

    Tokoh penting terakhir di Budi Utomo adalah Mas Goembrek. Beliau bergabung sebagai komisaris karena merasakan adanya sistem yang tidak sesuai dengan harapannya. Beliau berperan penting dalam melakukan pendekatan ke para bupati agar sistem pemerintahannya bisa lebih baik lagi.

    Tujuan Berdirinya Organisasi Budi Utomo

    Tujuan Berdirinya Organisasi Budi Utomo
    Tujuan Berdirinya Organisasi Budi Utomo | Sumber Gambar: Kibrispdr.org

    Ada beberapa tujuan penting mengapa Budi Utomo berdiri, berikut ini di antaranya:

    1. Menyadarkan Kedudukan Masyarakat

    Salah satu tujuan utama berdirinya Budi Utomo yaitu menyadarkan kedudukan masyarakat Jawa, Sunda, dan Madura. Masyarakat yang berasal dari Sunda, Jawa, dan Madura harus paham tempat mereka di dalam masyarakat.

    Organisasi ini memberi pemahaman pada masyarakat secara langsung. Jadi, masyarakat bisa sadar mengenai identitas, peran, serta kedudukannya dalam kerangka lebih luas. Kesadaran masyarakat terhadap kedudukannya sangat penting untuk membantu memajukan bangsa.

    2. Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat

    Kualitas hidup berhubungan dengan kesejahteraan masyarakat. Jika kualitas hidup meningkat, maka kesejahteraan masyarakat juga meningkat. Nah, berdirinya organisasi Budi Utomo bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup melalui peningkatan mata pencaharian.

    Budi Utomo berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan perekonomian seluruh bangsa Indonesia. Harapannya, standar hidup masyarakat menjadi lebih baik sehingga lebih sejahtera. 

    3. Menjadi Bangsa yang Terhormat

    Budi Utomo memiliki tujuan yang sangat mulia. Salah satunya yaitu memastikan bangsa Indonesia hidup dengan bangga dan terhormat. 

    Caranya yaitu meningkatkan pendidikan, pengajaran, dan pengembangan kebudayaan. Pasalnya, pendidikan merupakan kunci untuk menjadi bangsa yang cerdas dan terhormat.

    4. Mengembangkan Kesenian dan Kebudayaan

    Indonesia merupakan bangsa yang penuh dengan keberagaman. Organisasi Budi Utomo sadar bahwa seni dan budaya di Indonesia bisa memperkuat identitas bangsa.

    Oleh sebab itu, organisasi mendorong pengembangan seni dan budaya. Keberhasilannya bisa membantu memperkaya warisan budaya dan mendukung perjuangan nasional.

    5. Mengatasi Perbedaan Sosial

    Tujuan yang terakhir yaitu mengatasi adanya perbedaan sosial di tengah masyarakat. Budi Utomo selalu mengusung semangat persatuan dan kesatuan. 

    Organisasi ini mencapai kemajuan untuk seluruh penduduk. Tidak ada perbedaan sosial seperti agama, jenis kelamin, suku, hingga keturunan. Fokusnya yaitu kesetaraan dan persatuan seluruh rakyat Hindia. 

    Program Kerja Organisasi Budi Utomo

    Program Kerja Organisasi Budi Utomo
    Program Kerja Organisasi Budi Utomo | Sumber Gambar: Intisari.id

    Setiap organisasi pasti memiliki program kerja untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Berikut ini beberapa program atau kegiatan Budi Utomo:

    1. Kongres Organisasi Budi Utomo

    Kongres Budi Utomo I berlangsung sejak tanggal 3 Oktober 1908 sampai dengan 5 Oktober 1908 di Yogyakarta. Hasil dari kongres yang pertama yaitu susunan pengurus terpilih. Selain itu, kongres tersebut juga membahas mengenai pendidikan bagi rakyat dan para priyayi. 

    Setelah itu, Kongres Budi Utomo II berlangsung pada tanggal 10-11 Oktober 1090 di Yogyakarta juga. Para anggota memiliki gagasan untuk merekrut anggota di luar kalangan priyayi. Gagasan tersebut muncul lantaran banyak pihak yang menganggap Budi Utomo tidak memberikan dampak langsung pada masyarakat. 

    2. Penerbitan Majalah Organisasi Budi Utomo

    Program penerbitan majalah bertujuan agar gagasan-gagasan organisasi Budi Utomo bisa sampai ke masyarakat. Berikut ini beberapa media yang diterbitkan:

    a. Majalah Boedi Oetomo

    Majalah Boedi Oetomo merupakan majalah bulanan yang pertama kali terbit pada tanggal 1 Juli 1910. Ada tiga pimpinan redaksi dari majalah Boedi Oetomo, yaitu Sosrosoegondo, Dwidjosewojo, dan Boediardjo. 

    Jumlah salinan majalah atau oplah yang berhasil terjual pada saat itu mencapai angka 1.600 eksemplar. Terbilang cukup sukses untuk majalan bulanan yang ingin memberikan informasi bermanfaat pada masyarakat.

    b. Majalah Goeroe Desa

    Selain majalah Boedi Oetomo, ada juga majalah Goeroe Desa yang terbit pada bulan September 1910. Informasi yang ada di dalam majalah mencakup cara menggarap lahan, memelihara ternak, mengelola perdagangan, tata krama, dan edukasi-edukasi penting lainnya.

    Majalah Goeroe Desa yang merupakan majalah tengah bulan semakin berkembang hingga Maret 1916. Bahkan, majalah ini berhasil terbit sebanyak 4.100 eksemplar, di mana sebanyak 3.166 eksemplar dari total tersebut dibiayai oleh pemerintah.  

    c. Surat Kabar Darmo Kondo

    Program penerbitan Budi Utomo yang terakhir berupa surat kabar bernama Darmo Kondo. Surat kabar ini terbit setelah majalah Boedi Oetomo berhenti sementara waktu. Adapun jangka waktu penerbitannya yaitu mulai dari November 1913 sampai November 1915.

    3. Kegiatan Politik Organisasi Budi Utomo

    Organisasi Budi Utomo memulai kegiatan di bidang politik ketika Perang Dunia I. Pengumuman perang antara negara-negara Eropa dan Rusia membuat Budi Utomo bergerak di bidang politik. Adapun kegiatan yang dilakukan seperti:

    • Menyebarkan isu politik bahwa mempertahankan diri lebih penting daripada menyerang bangsa lain.
    • Memperbolehkan anggota mengikuti Volksraad (Dewan Rakyat).
    • Mendukung gagasan wajib militer untuk bangsa pribumi.
    • Membentuk Komite Nasional untuk pemilihan anggota Volksraad.
    • Mengirim delegasi Komite Indie Weerbaar ke Belanda agar pertahanan Hindia Belanda lebih kuat. 

    Sudah Lebih Kenal dengan Organisasi Budi Utomo?

    Dalam kesimpulannya, organisasi Budi Utomo merupakan salah satu organisasi Indonesia yang sangat penting. Oleh sebab itu, Anda perlu mempelajari semua sejarahnya mulai dari latar belakang, tujuan, hingga program-program yang pernah dilaksanakan.

    Berdirinya Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 sangat berpengaruh pada perkembangan masyarakat Indonesia, terutama dunia pendidikan rakyat pribumi. Anda pasti juga sadar bahwa pendidikan merupakan kunci kemajuan sebuah bangsa.Sebagai generasi muda, kita bisa melanjutkan perjuangan para pahlawan dengan menjadi generasi penerus yang kompeten. Semoga informasi mengenai organisasi Budi Utomo di atas bisa memberi motivasi untuk kita semua agar lebih tekun dalam belajar.

  • Teori Sudra: Sejarah, Bukti, Tokoh, Kelebihan & Kelemahan

    Teori Sudra: Sejarah, Bukti, Tokoh, Kelebihan & Kelemahan

    Kehadiran agama Hindu di Indonesia memiliki sejarah yang cukup panjang. Agama Hindu adalah agama tertua yang berasal dari India dan menyebar ke Indonesia melalui jalur perdagangan. Tapi ada banyak teori yang menjelaskan detail penyebaran kedua agama ini, salah satunya adalah Teori Sudra. 

    Seperti apa sejarah teori ini dan siapa saja yang menjadi tokoh-tokohnya? Artikel ini akan menjelaskannya secara lengkap.

    Sejarah Teori Sudra

    Sebelum bicara tentang Teori Sudra, perlu kamu ketahui terlebih dahulu tentang pembagian kelas atau kasta di India yang atau erat dengan istilah Catur Varna. 

    Sesuai dengan namanya, Catur Varna berarti empat pembagian kasta berdasarkan tugas, pekerjaan, dan tanggung jawabnya. 

    Catur Varna terdiri dari 4 klasifikasi atau kelas, yaitu: 

    • Brahmana: Kaum yang berperan sebagai pemuka agama dalam kepercayaan Hindu. 
    • Ksatria: Kaum yang mengatur pemerintahan biasanya terdiri dari keturunan raja-raja dan kaum bangsawan. 
    • Waisya: Kaum yang bekerja sebagai petani, pedagang, dan tukang. 
    • Sudra: Kaum pekerja yang membantu pekerjaan tiga kasta sebelumnya. 

    Konsep Catur Varna ini pun diadopsi juga oleh masyarakat Hindu di Bali. Hanya saja, masyarakat Bali tidak mengenal Kasta Sudra, mereka lebih akrab dengan istilah “Jaba” untuk menggambarkan orang-orang biasa tanpa kasta tertentu. 

    Berdasarkan pengertian Catur Varna, hadirlah Teori Sudra yang menjelaskan masuknya agama Hindu ke Indonesia melalui kalangan budak, buruh pekerja, atau kelas bawah yang dikenal sebagai Kasta Sudra di India. 

    Perpindahan kaum ini ke Indonesia diduga karena mereka ingin mencari kehidupan yang lebih baik di luar India. 

    Tokoh Pencetus

    Museum Mpu Tantular Didirikan Van Faber
    Museum Mpu Tantular Didirikan Van Faber | Sumber gambar: Kumparan.com

    Pencetus teori ini adalah Godfried Hariowald Von Faber atau dikenal juga dengan Van Faber yang merupakan seorang keturunan Jerman-Belanda. Pria ini lahir di Surabaya pada 1 Desember 1899. 

    Van Faber adalah seorang tokoh sejarawan yang sangat mencintai budaya Indonesia dan juga senang akan sejarah-sejarah yang bernuansa budaya. Tidak heran, pada tahun 1933 ia pun membentuk sebuah perkumpulan sejarah kota. 

    Ia juga menulis buku-buku tentang Surabaya zaman dahulu yaitu Oud Soerabaia dan Nieuw Soerabaia yang menggambarkan dengan detail bagaimana kehidupan masyarakat Surabaya pada masa itu.

    Berdasarkan sepak terjangnya, ia pun berhasil meraih jabatan sebagai direktur di Museum Oost Java yang berdiri di daerah Jawa Timur. Ia juga dikenal sebagai tokoh pendiri Museum Mpu Tantular. 

    Selain menulis buku tentang sejarah Surabaya, ia juga meneliti tentang bagaimana masuknya agama Hindu dan Budha ke Nusantara. 

    Teori ini pun masih sering dibahas hingga saat ini dan kerap menjadi kontroversi karena banyak yang membantah teori tersebut. 

    Bukti Teori Sudra

    Sebenarnya, masih banyak kontroversi terkait teori satu ini. Pasalnya, kaum Sudra  tidak memiliki kemampuan untuk menyebarkan agama Hindu. Berbeda dengan tiga kasta lainnya, yang sedikit banyak memperoleh pendidikan dan pengetahuan tentang agama Hindu. 

    Pada zaman dahulu, ketika peradaban masih belum sempurna, pendidikan pun menjadi salah satu barang mahal. Oleh karena itu, kasta Sudra tidak memperoleh akses pendidikan tentang agama Hindu atau pendidikan apapun. 

    Tapi, yang menjadi pedoman Van Faber hingga saat ini adalah banyaknya keturunan India yang berasal dari Kasta Sudra dan akhirnya menetap di Indonesia. 

    Teori ini menyebutkan, kaum Sudra melakukan penyebaran agama Hindu melalui perkawinan di mana ketika ia kawin dengan orang dari Nusantara. Maka pasangannya akan memeluk agama Hindu juga serta mengikuti adat dan ritual menurut kepercayaan Hindu yang ia bawa. 

    Meski tidak banyak bukti, teori ini masih terus dipercayai mengingat bagaimana masyarakat India sangat bergantung pada kasta dan kurang memperlakukan kasta bawah dengan baik.  

    Penyebab Kehadiran Teori Sudra

    Ritual Hindu di India
    Ritual Hindu di India | Sumber gambar: Freepik.com

    Menurut teori ini, para kasta Sudra di India memiliki kasta paling rendah ini pun pergi ke Indonesia menyebarkan agama Hindu sekaligus mencari kehidupan lebih baik dan lebih layak. 

    Masyarakat India sangat berpegang teguh pada pembagian kelas sebagai bagian dari agama dan budaya mereka. Namun, budaya satu ini justru melahirkan sebuah kesenjangan sosial yang cukup tinggi. 

    Orang-orang India berkasta Sudra ini mendapat perlakuan kurang baik di India karena kastanya yang rendah, sehingga keputusan pergi meninggalkan India pun menjadi pilihan terbaik baik mereka. 

    Bahkan hingga saat ini, pembagian kelas berdasarkan kasta ini masih terus terjadi. Namun, lebih parah lagi, di masa kini, di bawah Kasta Sudra masih ada kasta-kasta lainnya yang punya kedudukan lebih rendah. 

    Tidak ada pendiskreditan atas budaya orang lain. Namun, hal ini benar-benar terjadi di India dan sudah menjadi cara pandang ataupun pedoman hidup masyarakat di sana.

    Dalam Teori Sudra, Van Faber mengemukakan para Kasta Sudra bermaksud menyebarkan agama Hindu dengan tujuan ingin mengubah nasib mereka. Datang ke Indonesia menjadi salah satu cara untuk mencapai kehidupan yang lebih baik bagi mereka. 

    Namun, banyak ahli lain yang menjelaskan teori ini sebenarnya kurang relevan. Sebab, ada teori lain yang menjelaskan pengetahuan tentang agama Hindu yang dimiliki oleh masyarakat dengan kasta Sudra ini masih sangat minim. 

    Minimnya pengetahuan agama ini juga mengakibatkan pengaruh agama Hindu yang terbawa oleh kasta Sudra tidak terlalu signifikan. 

    Apalagi, dalam beberapa ritual dan kepercayaan agama, orang-orang berkasta sudra ini tidak banyak dilibatkan sehingga mereka merasa tersisih dan hidup hanya sebagai budak untuk membantu kasta lain. 

    Kelemahan dan Kelebihan Teori Sudra

    Perkawinan Hindu India
    Perkawinan Hindu India | Sumber gambar: Freepik.com

    Meskipun masih digunakan sampai sekarang, teori ini masih banyak perdebatan karena memiliki kekurangan dan kelebihan. Berikut penjelasan mengenai kelemahan dan kelebihan teori Sudra, yaitu:

    1. Kelemahan

    Teori ini memiliki kelemahan dibanding teori-teori lainnya. Ada 4 poin yang melemahkan teori ini, yaitu:

    1. Kasta Terendah 

    Kaum Brahmana atau mereka yang memegang kasta tertinggi dalam Hindu punya pengetahuan lebih tentang agama dan dapat menafsirkan kitab. 

    Kondisi ini pun sudah sesuai dengan pembagian tugas menurut Catur Varna, meskipun pada akhirnya adanya sistem kasta ini justru membuat masyarakat menjadi terkotak-kotak. 

    Namun, fakta kasta satu ini merupakan kasta terendah menjadi salah satu hal yang membantah teori tentang kaum Sudra yang menyebarkan agama di Nusantara. 

    2. Tidak Punya Pengetahuan Mendalam Agama Hindu 

    Banyak orang yang membantah kaum Sudra tidak punya pemahaman mendalam tentang Agama Hindu, sehingga mereka tidak punya kemampuan untuk menyebarkan agama tersebut. 

    Mereka juga tidak punya pengetahuan lebih tentang bahasa Sansekerta atau tulisan Pallawa dalam kitab suci agama Hindu, yaitu kitab Weda. Kondisi ini yang melemahkan teori ini. 

    3. Tidak Memiliki Latar Belakang Pendidikan Memadai

    Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, kebanyakan Kasta Sudra menjadi budak, pekerja kasar, atau bahkan tidak sedikit yang menjadi pengemis. Mereka tidak memperoleh pendidikan yang layak seperti kasta-kasta lainnya. 

    Hal tersebut pun membuat kaum Sudra tidak punya pengetahuan lebih tentang agama Hindu apalagi menyebarkan agama Hindu. 

    4. Tujuan Utama Bukan Menyebarkan Agama

    Teori Sudra dilemahkan juga oleh fakta golongan Sudra datang ke Indonesia dengan tujuan utama memperbaiki kehidupan. Kondisi ini berbeda dengan kasta Brahmana yang memang punya misi khusus menyebarkan agama Hindu. 

    Sementara, golongan Sudra sebelumnya di India mendapat perlakuan kurang baik dan kurang kayak oleh majikan. 

    Oleh karena itu, tujuan utama mereka tentunya mengubah nasib dan menyebarkan agama Hindu bukanlah tujuan utama mereka datang ke Nusantara. 

    2. Kelebihan

    Adanya keinginan kuat orang-orang dari kaum Sudra untuk memperbaiki kehidupannya, justru menjadi salah satu kelebihan dari teori Sudra. 

    Berbeda dengan kasta lainnya yang sudah memiliki kehidupan baik di negara asalnya, tidak sedikit dari mereka menyebarkan agama di Nusantara kemudian kembali ke asalnya. 

    Sementara, orang-orang dengan Kasta Sudra kebanyakan menetap di Nusantara dan bahkan menikah dan memiliki keturunan yang memeluk agama Hindu juga. 

    Apakah Kamu Percaya dengan Teori Sudra? 

    Itulah penjelasan tentang teori Sudra, sejarah, tokoh, kelemahan dan kelebihan dari teori ini yang harus kamu ketahui. Bicara tentang sejarah, tentu punya banyak versi seperti halnya teori masuknya agama Hindu dan Budha di Indonesia. Sekarang semua kembali pada kamu, apakah kamu percaya pada teori ini atau tidak.

  • Strategi Pergerakan Radikal dan Taktik Perjuangan Nasional

    Strategi Pergerakan Radikal dan Taktik Perjuangan Nasional

    Strategi pergerakan nasional dimulai dari berdirinya organisasi pertama di Indonesia, yakni Budi Utomo. Budi Utomo mulai beroperasi pada tanggal 20 Mei 1908. Melalui organisasi inilah strategi pergerakan radikal dan taktik perjuangan organisasi nasional mulai berjalan. Berikut adalah penjelasan mengenai pergerakan ini.

    Mengenal Strategi Pergerakan Radikal dan Taktik Perjuangan Organisasi Nasional 

    Budi Utomo & PNI
    Budi Utomo & PNI | Sumber: kesbangpol.kulonprogokab.go.id

    Strategi pergerakan seringkali menjadi fokus perhatian dalam konteks sosial yang menyangkut keamanan global. Sejak berdirinya Budi Utomo, perjuangan yang sebelumnya menggunakan senjata fisik, perlahan berubah menjadi perjuangan terorganisasi oleh kaum intelektual dan cendekiawan.

    Sejatinya, terdapat 2 taktik perjuangan organisasi nasional yang pernah terjadi di Indonesia, yakni strategi pergerakan radikal non-kooperatif dan strategi pergerakan nasional moderat kooperatif. Berikut adalah pembahasan mengenai pengertian serta faktor penyebabnya.

    1. Strategi Pergerakan Radikal Non-kooperatif

    Strategi pergerakan radikal adalah perjuangan dengan cara yang keras untuk menentang kebijakan demi tujuan yang ekstrim. Non-kooperatif sendiri bermakna tidak mau melakukan kerja sama sedikitpun dengan pihak manapun (termasuk pemerintah) dan tanpa campur tangan atau bantuan pihak lain.

    Pada masa kolonial Belanda, strategi pergerakan radikal non-kooperatif bertumpu pada gagasan bahwa kemerdekaan harus melalui usaha bangsa Indonesia sendiri. Periode radikal bangsa Indonesia berada di antara tahun 1925 hingga 1936.

    Kala itu, terdapat organisasi-organisasi yang bergerak dengan tujuan perjuangan untuk menggapai berbagai hal ekstrim dengan upaya yang cukup agresif menurut perspektif pemerintahan kolonial. Beberapa contoh pergerakan tersebut antara lain:

    • Melawan langsung pemerintahan Belanda,
    • Melancarkan gagasan yang berpotensi mengganggu status quo, atau
    • Setidaknya melontarkan kritikan tajam kepada pemerintah

    Latar Belakang Berdirinya Pergerakan Radikal

    Periode radikal adalah reaksi kekecewaan dan ketidakpuasan rakyat Indonesia terhadap pemerintah kolonial Belanda karena seiring berjalannya waktu, kebijakan pemerintahan semakin otoriter dan eksploitatif. Adapun latar belakang yang mendasari pergerakan ini adalah: 

    1. Pendidikan

    Pendidikan modern yang diberikan Belanda juga berkontribusi pada munculnya pergerakan radikal. Lahirlah generasi muda yang terpelajar, kritis, dan nasionalis. Mereka menyadari bahwa Indonesia adalah bangsa yang berdaulat dan berhak merdeka. Maka, muncullah gagasan strategi pergerakan radikal.

    Ditambah dengan adanya gerakan serupa di negara lain. Negara seperti Turki, Cina, dan Jepang berhasil memperjuangkan kemerdekaannya dari kuasa asing. Contoh tersebut adalah sebuah inspirasi dan motivasi untuk rakyat Indonesia.

    2. Krisis Ekonomi 

    Krisis ekonomi pada tahun 1921 berkontribusi pada kehancuran perekonomian dunia, khususnya negara-negara Eropa. Kondisi ini berdampak langsung pada Indonesia yang masih berada di bawah kolonialisme Belanda. 

    Perang Dunia menyebabkan daerah pemasaran hancur. Jadi, daya beli masyarakat menjadi rendah yang menyebabkan tumpukan bahan dan maraknya pengangguran. Krisis tersebut bagaikan batu loncatan oleh organisasi-organisasi pergerakan untuk melancarkan aksi politik sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah. 

    3. Pergantian Kekuasaan

    Pada tahun 1921, terdapat pergantian Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Van Limburg Stirum digantikan Dirk Fock. Jenderal pengganti ini memiliki sifat yang reaksioner, terlihat pada kebijakan buatannya yang merugikan rakyat. 

    Termasuk diantaranya mempersulit hak berserikat, menerapkan pasal penyebaran kebencian, memperkuat dinas intelijen Hindia Belanda, serta melakukan penghematan besar-besaran sehingga menyebabkan banyaknya PHK.

    Contoh Strategi Pergerakan Radikal

    Demi melawan pemerintah kolonial Belanda, organisasi-organisasi yang bersifat radikal melakukan strategi pergerakan radikal, seperti:

    1. Melalui Media Massa

    Perkembangan media massa kala itu sangat berguna. Media massa seperti surat kabar, radio, majalah, dan film adalah sarana penyebaran informasi dan propaganda bagi organisasi pergerakan nasional. Sekaligus menjadi wadah kritikan pada kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang merugikan rakyat.

    Surat Kabar Daulat Ra’jat
    Surat Kabar Daulat Ra’jat | khastara.perpusnas.go.id

    Contohnya surat kabar “Hindia Poetra” terbitan PI, surat kabar “Daulat Ra’jat” oleh PKI, “Fikiran Ra’jat” oleh PNI, dan surat kabar “Pemandangan” oleh PSII.

    2. Mengadakan Rapat

    Kongres Pemuda
    Kongres Pemuda | Sumber: kompas.com

    Rapat umum, berbagai kongres, dan sejumlah demonstrasi sangat diperlukan untuk menyuarakan aspirasi rakyat Indonesia. Melalui sejumlah pertemuan ini, rakyat Indonesia memiliki akses langsung kejelasan mengenai progres keadaan di Indonesia. Beberapa contoh pertemuan kala itu adalah:

    • Kongres Pemuda II tahun 1928 yang kala itu menghasilkan Sumpah Pemuda,
    • Kongres Perempuan Indonesia I tahun 1928 yang menghasilkan Resolusi Perempuan Indonesia,
    • Kongres Rakyat Indonesia I tahun 1939 yang menghasilkan Piagam Jakarta,
    • Demonstrasi pada tanggal 17 Oktober 1932 yang menuntut pembebasan Soekarno.

    3. Angkat Senjata

    Salah satu strategi pergerakan radikal untuk melawan pemerintah kolonial Belanda juga melibatkan perjuangan angkat senjata. Contoh perlawanan bersenjata kala itu antara lain.

    • Pemberontakan PKI di Banten, Jawa Barat, dan Sumatera Barat pada tahun 1926 hingga 1927
    • Pemberontakan Sarekat Islam di Tegal tahun 1927
    • Pemberontakan Menteng 31 di Jakarta pada 1933
    • Pemberontakan Gerindo di Blitar yang berlangsung tahun 1940

    Adapun organisasi yang bersifat radikal antara lain:

    • Indische Partij (IP) 1911-1913
    • Partai Komunis Indonesia (PKI) 1924
    • Perhimpunan Indonesia (PI) 1925
    • Partai Nasional Indonesia (PNI) 1927
    • Partai Indonesia (PARTINDO) 1931
    • Pendidikan Nasional Indonesia – Baru (PNI–B) 1931

    2. Strategi Pergerakan Moderat Kooperatif

    Strategi pergerakan ini memiliki sifat yang berbanding terbalik dengan strategi pergerakan radikal. Dalam penerapannya, strategi pergerakan moderat kooperatif adalah segala perjuangan yang bersifat menghindari tindakan kekerasan atau perilaku keras dan ekstrem serta mengutamakan kerja sama. 

    Pada masa kolonialisme Belanda, organisasi pergerakan ini beranggapan bahwa kemerdekaan ekonomi harus tercapai lebih dulu. Sedangkan dalam bidang politik, organisasi masih bisa bersikap kooperatif pada pemerintah untuk sementara waktu. Tujuan strategi ini untuk memajukan dan memberdayakan rakyat terlebih dahulu.

    Latar Belakang Berdirinya Pergerakan Moderat Kooperatif

    Organisasi yang berhaluan moderat kooperatif beranggapan bahwa harus ada sikap hati-hati dalam melawan pemerintahan kolonial Belanda. Terutama setelah pemerintah kolonial memberikan sikap tegas pada tokoh yang menganut strategi pergerakan radikal. 

    Sejak pergerakan radikal, pemerintah sering menangkap dan mengasingkan tokoh pergerakan yang menolak kebijakan pemerintah. Seraya berhati-hati dengan langkahnya di bidang politik, organisasi moderat lebih memilih melakukan pergerakan di luar bidang politik seperti sosial dan ekonomi. 

    Krisis ekonomi dunia, Krisis Malaise yang terjadi pasca Perang Dunia I tahun 1929 juga menjadi latar belakang berdirinya organisasi yang menganut paham ini. Meski berdasarkan peristiwa yang sama, strategi moderat kooperatif bertujuan memerdekakan Indonesia melalui perspektif yang berbeda.

    Contoh Pergerakan Moderat Kooperatif

    Organisasi berhaluan moderat kooperatif menggunakan cara berikut untuk mencapai kemerdekaan. 

    • Mengirimkan wakilnya ke dewan rakyat (saat itu volksraad) dengan tujuan memperjuangkan kepentingan rakyat.
    • Mengusahakan kesejahteraan rakyat di bidang ekonomi dan sosial. Contohnya melalui bank dan koperasi. 

    Adapun organisasi pergerakan yang menggunakan strategi moderat kooperatif antara lain: 

    • Budi Utomo
    • Partai Nasional Indonesia (PNI)
    • Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI)
    • Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII),
    • Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo).

    Mari Kita Jaga Bersama Kedaulatan Indonesia!

    Baik strategi pergerakan radikal dan strategi moderat kooperatif memiliki fokus dan cara kerjanya tersendiri. Keduanya sama sama berusaha memerdekakan Indonesia melalui perspektif dan jalur yang berbeda. Namun sejatinya, kemerdekaan Indonesia adalah hal yang menyatukan keduanya.