Blog

  • Pengertian Ikhtiar: Dalil, Contoh, Bentuk, serta Dampak Positifnya

    Pengertian Ikhtiar: Dalil, Contoh, Bentuk, serta Dampak Positifnya

    Islam mengenal istilah ikhtiar yang artinya adalah kebebasan dalam memilih dan menentukan sendiri perbuatan yang akan dilakukan. Istilah ini juga bisa diartikan sebagai sebuah usaha untuk memilih. 

    Bagi umat Islam, dalam berusaha tidak hanya bisa mengandalkan diri sendiri saja, melainkan juga harus meminta pertolongan dari Sang Maha Pencipta, yakni Allah. Caranya adalah dengan berdoa. Mari simak untuk memahami istilah yang melambangkan usaha ini lebih dalam! 

    Pengertian Ikhtiar

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ikhtiar merupakan alat maupun syarat untuk bisa mencapai tujuan tertentu. Istilah ini juga bisa dimaknai sebagai daya upaya seseorang dalam mencapai tujuannya.

    Berbeda dengan pengertian secara umum, istilah ini menjelaskan sikap seorang muslim yang mengerahkan segala kemampuannya tanpa putus asa dan mudah menyerah untuk mencapai suatu tujuan. 

    Selain itu, istilah tentang usaha dalam KBBI ini juga merujuk pada pilihan yang bebas. Hal tersebut juga berkaitan dengan pertimbangan, kehendak, pendapat, dan lain sebagainya.

    Arti kata dari istilah usaha ini berasal dari bahasa Arab, yakni ikhtara atau yakhtaru yang artinya adalah memilih. Arti kata dari istilah usaha ini sama dengan kata “khair” yang artinya adalah memilih salah satu yang terbaik di antara pilihan baik yang ada.

    Dalil Ikhtiar

    Perintah untuk tetap ikhtiar tidak hanya berhubungan dengan perkara dunia saja, melainkan juga akhirat ini. Hal ini terdapat dalam surat Ar-Ra’d pada ayat 11. Bunyi dari surat Ar-Ra’d ayat 11 adalah sebagai berikut:

    “Bagi manusia, tentu ada malaikat yang selalu mengikuti secara bergiliran. Baik di depan maupun dibelakangnya. Malaikat ini menjaga manusia atas perintah Allah SWT. Sesungguhnya, Allah pun tidak akan merubah keadaan dari suatu kaum jika orang tersebut tidak mau merubah keadaannya sendiri. Dan apabila Allah SWT menghendaki adanya keburukan pada suatu kaum, maka tidak akan ada yang bisa menolaknya. Dan, sekali pun tidak akan ada perlindungan bagi mereka selain perlindungan dari Allah SWT.”

    Jadi, bersemangatlah dan jangan malas dalam menjalankan sebuah usaha. Namun, sebagai seorang insan, tentunya beriman pada takdir Allah juga perlu dilakukan. Ketika Anda sudah berikhtiar, maka bertawakallah kepada Allah dan bersabar untuk mendapatkan ridha Allah.

    Berikut adalah sabda dari Rasulullah SAW:

    احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

    Artinya adalah:

    “Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah kepada Allah dan jangan kamu bermalas-malasan. Apabila kamu tertimpa sesuatu, jangan kamu mengatakan ‘seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini jadinya’. Namun, katakanlah, ‘Qodarullah wa maa sya’a fa’ala’. Sebab, perkataan ‘seandainya’ akan membuka pintu setan.” (HR. Muslim)

    Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Jumu’ah [62] ayat 10 berbunyi:

    “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi. Dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” 

    Ayat di atas menunjukkan bahwa manusia diperintahkan secara tegas untuk segera berikhtiar mencari rezeki setelah selesai menunaikan shalat. Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia yang bertawakal akan dicintai oleh Allah.

    Sabda Rasulullah SAW lainnya adalah sebagai berikut:

    “Tangan di atas lebih baik daripada tangan dibawah. Jadi, memberi jauh lebih baik daripada menerima.” (HR. Bukhari no. 1429 dan Muslim no. 1033)

    Dampak Positif 

    Melakukan ikhtiar juga dapat membawa banyak dampak positif dalam kehidupan, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

    • Menghilangkan rasa malas.
    • Mendapatkan kepuasan batin.
    • Menumbuhkan harapan baru dalam hidup
    • Meninggikan derajat diri sendiri di hadapan Allah SWT.
    • Meningkatkan keimanan terhadap Allah SWT.
    • Menumbuhkan rasa percaya diri.
    • Memiliki keyakinan bahwa Allah akan menolong setiap hamba yang mau berusaha.

    Contoh Ikhtiar

    Salah satu bentuk dari usaha yang paling umum adalah belajar dan meningkatkan kemampuan yang dimiliki. Manusia sendiri harus bisa memanfaatkan kemampuan yang sudah diberikan oleh Allah SWT untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya. Nah, berikut ini ada beberapa contohnya:

    • Rajin membaca buku untuk menambah wawasan.
    • Mengikuti pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan.
    • Mempelajari bahasa asing untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan untuk mendapatkan kesempatan kerja yang lebih baik.
    • Semangat dalam melakukan berbagai pekerjaan. 
    • Tidak pernah putus asa dalam menghadapi kesulitan.

    Bentuk-Bentuk Ikhtiar

    Berikut ini adalah bentuk-bentuk yang perlu Anda ketahui dan amalkan:

    1. Kerja Keras

    Semangat berusaha dengan sepenuh hati memang harus ditanamkan pada diri sendiri. Tujuannya adalah agar Anda lebih mudah dalam mencapai tujuan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Manusia sendiri memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik dengan potensi fisik dan psikis yang sudah diberikan oleh Allah SWT. 

    Dalam surat Al-Ankabut ayat 6, Allah SWT berfirman:

    “Barangsiapa mau bekerja keras, maka sesungguhnya ia bekerja keras untuk dirinya sendiri. Sungguh Allah itu maha kaya dari segala makhluk.”

    Usaha keras tentunya tidak akan mengkhianati hasil. Jadi, semua usaha yang Anda lakukan dengan maksimal dan sungguh-sungguh tentu agar semua harapan bisa tercapai sesuai yang diinginkan. 

    Allah sendiri sudah berjanji bahwa akan merubah kondisi suatu hamba. Namun, dengan syarat hamba tersebut mau bersungguh-sungguh untuk mengubah kondisinya menjadi lebih baik dengan berusaha.

    2. Tanggung Jawab

    Tanggung jawab merupakan kesadaran manusia akan perbuatan yang dilakukannya. Baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga merupakan perwujudan akan suatu kewajiban.

    Jadi, tanggung jawab merupakan sikap dan perilaku manusia untuk melakukan tugas dan kewajibannya. Baik terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan, negara, maupun Tuhannya.

    3. Pantang Menyerah

    Pantang menyerah adalah sebutan bagi orang yang tidak pernah merasa putus asa atas segala sesuatu yang terjadi padanya. Sebab, setiap kesuksesan pasti selalu didahului dengan kegagalan. 

    Kegagalan ini sendiri pada dasarnya bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan jalan untuk menuju kesuksesan. Selain itu, kegagalan merupakan hal yang wajar terjadi pada setiap manusia. 

    Hal yang menjadi pembedanya adalah bagaimana sikap manusia itu sendiri dalam menyikapi suatu kegagalan. Entah itu berputus asa atau pantang menyerah atau tetap ikhtiar dengan keadaan yang ada.

    Namun, sebenarnya sifat putus asa ini sangat dibenci oleh Allah. Dalam Al-Qur’an surat Yusuf ayat 87 Allah berfirman tentang larangan berputus asa yang berbunyi:

    “Hai anak-anakku, pergilah kamu. Maka, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” 

    4. Bertaqwa

    Menjemput rezeki merupakan wujud jika seorang manusia bertaqwa kepada Tuhannya. Bertaqwa sendiri adalah menjalankan segala perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya.

    5. Bangun Pagi

    Mungkin Anda sudah sering mendengar kata-kata “jangan bangun siang, nanti rezekinya dipatok ayam.” Hal tersebut sebenarnya bertujuan untuk mengingatkan agar Anda bangun pagi dan mencari rezeki. Sebab, bangun kesiangan dalam Islam merupakan perilaku yang buruk.

    6. Tekun dan Rajin Belajar

    Dengan belajar, maka manusia pun bisa membangun peradaban yang berlandaskan pada nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Dalam Islam, belajar merupakan suatu ibadah dan bentuk ikhtiar diri.

    “Menuntut ilmu itu wajib bagi seorang muslim dan muslimah.” (HR. Muslim)

    Jadi, belajar bukanlah sekedar datang ke tempat belajar untuk mendengar dan mencatat apa saja yang disampaikan oleh pengajar. Melainkan, berusaha untuk mengembangkan pengetahuan yang dimiliki. 

    7. Berdoa

    Pernahkah Anda mendengar ungkapan bahwa berdoa tanpa usaha adalah omong kosong? Lalu, usaha tanpa doa adalah kesombongan? Tentu saja, hal ini jelas adanya. Sebab, dalam berusaha, Anda juga harus tetap berdoa dan meminta kepada Allah SWT. 

    Sudahkah Anda Ikhtiar dalam Segala Hal?

    Seperti yang Anda ketahui ada banyak sekali dampak positif yang bisa Anda dapatkan jika selalu ikhtiar dalam melakukan apapun. Karena itu, mari terapkan kebiasaan ini untuk mendapatkan kehidupan lebih baik!

  • Catat! Ini Niat Puasa Tarwiyah serta Keutamaannya

    Catat! Ini Niat Puasa Tarwiyah serta Keutamaannya

    Pada tanggal 10 Dzulhijjah 1444 H atau 28 Juni 2023 nanti, umat Islam di seluruh dunia akan memperingati Hari Raya Idul Adha. Namun, dua hari sebelum itu, ada beberapa amalan sunnah yang bisa dilaksanakan oleh umat Islam, salah satunya puasa tarwiyah pada 8 Dzulhijjah 1444 H atau 26 Juni 2023. Sudah tahukah kamu niat puasa tarwiyah? 

    Jika nantinya kamu berencana untuk menunaikan puasa sunnah ini, ada beberapa hal yang wajib kamu ketahui, mulai dari niat hingga keutamaannya. Untuk tahu lebih lengkapnya, pantengin artikel berikut sampai habis!

    Penamaan Tanggal 8 Dzulhijjah Sebagai Hari Tarwiyah

    Kata “tarwiyah” secara harfiah dalam bahasa Arab berarti “menyediakan air” atau “mengisi bekal air”. Penggunaan kata “tarwiyah” yang lebih umum, ditemukan dalam konteks ibadah haji. 

    Pada tanggal 8 Dzulhijjah, sebelum memasuki tanggal 9 Dzulhijjah yang merupakan hari Arafah, jamaah haji melakukan persiapan untuk perjalanan menuju Mina. Persiapan tersebut meliputi mengisi persediaan air dan bekal makanan. Hari tersebut kemudian dikenal sebagai “hari Tarwiyah” karena aktivitas persiapan ini.

    Singkatnya, tarwiyah dikenal sebagai hari persiapan menjelang ibadah haji di tanah suci Makkah. Puasa sunnah Tarwiyah dilakukan pada tanggal 8 Dzulhijjah sebagai salah satu amalan sunnah yang dianjurkan, terutama bagi umat muslim yang belum mampu menunaikan ibadah haji. 

    Menurut berbagai sumber, tanggal 8 Dzulhijjah ini juga bermakna perenungan. Maksudnya, hari tarwiyah ini merupakan momentum bagi umat muslim untuk merenung dan memperbanyak amalan shaleh. Selain itu, ada tiga pendapat mengenai asal usul penamaan tanggal 8 Dzulhijjah sebagai hari tarwiyah, di antaranya:

    • Hari perenungan Nabi Adam ketika hendak membangun Ka’bah.
    • Sebagai perenungan bagi Nabi Ibrahim setelah bermimpi mendapat perintah untuk menyembelih anaknya sendiri.
    • Sebagai perenungan jemaah haji mengenai doa-doa yang hendak dipanjatkan pada hari Arafah.

    Hadits Tentang Puasa Tarwiyah 

    Anjuran tentang pelaksanaan puasa sunnah Tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah tertuang pada beberapa hadits. Salah satunya adalah pada yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang artinya:

    “Dari Ibnu Abbas diriwayatkan bahwa Nabi SAW pernah bersabda:  Tiada hari-hari di mana amal shaleh lebih disenangi Allah pada hari itu daripada hari-hari ini, maksudnya adalah 10 hari Dzulhijjah. Kemudian, para sahabat bertanya: Bukan pula jihad, wahai Rasulullah? Rasul menjawab: Bukan pula jihad di jalan Allah melainkan seorang lelaki yang keluar membawa diri dan hartanya, kemudian ia pulang tanpa membawa apa-apa lagi.”

    Dalam hadits lain tercantum bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya, “Tidak ada hari lain yang disukai Allah SWT untuk diisi dengan ibadah sebagaimana (kesukaan-Nya pada) sepuluh hari ini.” (Sunan at-Tirmidzi)

    Lafal Niat Puasa Tarwiyah beserta Terjemahannya

    Sebelum menunaikan suatu ibadah, setiap muslim diwajibkan melakukan niat lillahi ta’ala terlebih dahulu, baik itu dilafalkan maupun tidak. Hal ini juga berlaku pada ibadah puasa sunnah tarwiyah yang jatuh pada 8 Dzulhijjah 26 Juni nanti. 

    Bedanya dengan puasa wajib, niat puasa sunnah tidak harus dilafalkan pada malam hari. Kamu bisa membaca niatnya pada siang hari selama belum melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasa kamu, misalnya makan atau minum. 

    Batasnya adalah sampai sebelum tergelincirnya matahari atau masuk waktu dzuhur. Lantas, bagaimana bacaan niat puasa tarwiyah? Berikut ini lafal dan juga terjemahannya:

    Nawaitu shauma tarwiyyata sunnatan lillaahi ta’aalaa

    Artinya: “Saya niat puasa tarwiyah, sunnah karena Allah ta’ala.”

    Atau, kamu juga bisa menggunakan lafal berikut:

    Nawaitu shauma ghadin ‘an aada’I sunnati yaumit tarwiyati lillahi ta’ala

    Artinya: “Saya berniat puasa sunnah tarwiyah esok hari karena Allah ta’ala.”

    Keutamaan Menunaikan Puasa Tarwiyah

    Setelah mengetahui niat puasa tarwiyah, kamu juga perlu tahu apa saja keutamaan atau keistimewaan yang bisa kamu dapatkan dengan melaksanakan ibadah puasa sunnah ini. Keutamaan-keutamaan tersebut di antaranya:

    1. Menghapus Dosa Setahun

    Salah satu keistimewaan utama dari puasa tarwiyah adalah bisa menghapus dosa-dosa yang telah kamu lakukan dalam kurun waktu setahun yang lalu, tentunya dengan izin Allah ta’ala, ya. Keistimewaan ini termuat di dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Syekh Al-Isfahani dan Ibnu Najar. Bunyinya:

    “Puasa hari tarwiyah dapat menghapus dosa setahun. Sedangkan puasa hari arafah mampu menghapus dosa dua tahun.”

    2. Kesempatan Memperoleh Pahala Seperti Nabi Ayyub a.s

    Keutamaan lainnya yang juga tak kalah istimewa jika kamu menunaikan puasa tarwiyah adalah kesempatan untuk mendapatkan pahala seperti yang diperoleh Nabi Ayyub saat mendapat cobaan tertimpa penyakit kusta. Hal ini sesuai dengan yang disebutkan di riwayat dari Abu Hurairah dalam kitab Nuzhah Al-Majalis wa Muntakhab Al-Nafa-is.

    Artinya adalah sebagai berikut:

    “Barangsiapa yang berpuasa pada hari tarwiyah, maka Allah ta’ala akan memberikan pahala seperti pahala kesabaran Nabi Ayyub AS atas musibahnya. Barangsiapa yang berpuasa pada hari arafah, maka Allah ta’ala akan memberikan pahala kepadanya seperti pahala Nabi Isa AS.” 

    Ibadah Lainnya di Bulan Dzulhijjah Selain Puasa Tarwiyah

    Selain puasa Tarwiyah, terdapat beberapa ibadah lain yang dianjurkan dilakukan umat muslim pada bulan Dzulhijjah. Berikut adalah beberapa di antaranya:

    1. Ibadah Haji

    Bulan Dzulhijjah memang dikenal sebagai musim haji. Ibadah haji adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat dianjurkan bagi umat Muslim yang mampu secara fisik, finansial, dan perizinan. Pada tahun 2023 ini, puncaknya jatuh pada tanggal 8–13 Dzulhijjah atau pada 26 Juni–2 Juli 2023 nanti. 

    2. Penyembelihan Hewan Kurban

    Pada tanggal 10 Dzulhijjah, umat Muslim di seluruh dunia merayakan Hari Raya Idul Adha. Salah satu aspek penting dari Idul Adha adalah penyembelihan hewan kurban. 

    Umat Muslim yang mampu secara finansial disunnahkan untuk menyembelih hewan kurban, seperti domba, sapi, atau kambing, sebagai bentuk pengorbanan dan mengikuti jejak Nabi Ibrahim a.s.

    3. Ibadah Sunnah pada 10 Dzulhijjah

    Selain penyembelihan hewan kurban, terdapat pula ibadah-ibadah sunnah yang dianjurkan pada tanggal 10 Dzulhijjah. Misalnya, melaksanakan salat Idul Adha, membaca takbir, dan berzikir. Ini sekaligus menjadi momen penting bagi umat Islam untuk memanjatkan doa-doa, agar amalan dan ibadahnya diterima.

    4. Puasa Arafah

    Sehari setelah puasa tarwiyah, kamu juga bisa sekalian menunaikan ibadah puasa Arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa ini termasuk sunnah muakkad (sunnah yang sangat dijanjutkan), baik bagi orang yang sedang menjalankan ibadah haji maupun yang tidak. 

    Sebab, puasa Arafah memiliki keutamaan yang besar, salah satunya diampuni dosa-dosa tahun yang lalu dan tahun yang akan datang.

    5. Peringatan Hari Tasyriq 

    Hari Tasyriq adalah tiga hari setelah hari raya Idul Adha, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Pada hari-hari ini, umat muslim justru dilarang untuk berpuasa dan dianjurkan untuk menyantap hidangan Idul Adha. 

    Hari tasyriq juga merupakan hari yang disunnahkan untuk memperbanyak zikir, takbir, dan berdoa sebagaimana dalam hadits Syarh Shahih Muslim.

    Kini, Kamu Sudah Tahu Bagaimana Niat Puasa Tarwiyah

    Itulah penjelasan terkait puasa tarwiyah, mulai dari niat hingga keutamaannya yang perlu kamu ketahui sebelum menunaikan ibadah sunnah ini. Semoga membantu!

  • Bacaan Ijab Kabul Bahasa Arab, Latin, serta Artinya

    Bacaan Ijab Kabul Bahasa Arab, Latin, serta Artinya

    Salah satu bagian paling mendebarkan dalam prosesi pernikahan adalah ketika ijab kabul. Ijab kabul sendiri menjadi rukun wajib dalam pernikahan umat Islam. Umumnya, ada orang yang menggunakan bacaan ijab kabul bahasa Arab dan ada juga yang menggunakan bahasa latin. 

    Pengertian Ijab Kabul

    Sebelum membahas mengenai bacaan ijab kabul, Anda harus memahami dulu pengertian dari ijab kabul itu sendiri. Ijab kabul merupakan proses di mana wali mempelai perempuan membacakan ijab kepada calon mempelai laki-laki. Nantinya, tugas dari mempelai laki-laki ini adalah menjawab ijab dengan bacaan kabul. 

    Umumnya, ucapan ijab kabul akan diawali dengan bacaan basmalah dan istighfar. Tujuan dari pengucapan ini diharapkan agar proses ijab kabul bisa berjalan dengan lancar tanpa adanya gangguan, baik dari jin maupun setan. Nah, setelah itu barulah proses ijab kabul dimulai. 

    Proses ini perlu dilakukan dengan hikmat dan disaksikan juga oleh para saksi yang sudah ditunjuk. Bacaan ini sendiri sendiri ada yang menggunakan bahasa Indonesia ada juga yang menggunakan bahasa Arab. Menurut pendapat para ulama, mayoritas orang bisa membaca ijab kabul dalam bahasa Arab. 

    Namun, jika mempelai laki-laki merasa kesulitan dalam melafalkannya, maka ijab kabul boleh menggunakan bahasa yang dikuasai saja. Perihal bahasa yang digunakan ini sama-sama sah hukumnya, jadi tidak ada masalah.

    Rukun Ijab Kabul

    Sebuah pernikahan akan dikatakan sah apabila sudah memenuhi semua rukun dari ijab kabul. Nah, berikut ini adalah rukun ijab kabul yang harus dipenuhi, baik oleh mempelai laki-laki maupun mempelai perempuan:

    1. Mempelai Laki-Laki

    Rukun dari ijab kabul yang pertama adalah mempelai laki-laki harus sudah memenuhi syarat sah menikah. Syarat tersebut adalah beragama Islam dan bukan mahram. 

    2. Mempelai Perempuan

    Rukun sah dari ijab kabul selanjutnya adalah adanya mempelai perempuan. Mempelai perempuan di sini merupakan calon istri yang halal untuk dinikahi. Calon mempelai perempuan juga tidak boleh memiliki hubungan darah, persusuan, dan tidak memiliki hubungan antara mertua dengan menantu. 

    3. Wali

    Ketika akan mengucapkan bacaan ijab kabul bahasa Arab atau bahasa lainnya, tentu perlu ada kehadiran dari wali. Wali sendiri merupakan orang tua dari mempelai perempuan. Orang yang berperan sebagai wali di sini wajib ayah kandung. 

    Namun, jika ayah kandungnya sudah meninggal dunia, maka bisa diwakilkan. Perwaliannya bisa kepada paman dari pihak ayah, kakek, atau pihak lainnya yang berwenang.

    4. Saksi

    Saksi dalam ijab kabul di sini harus minimal berjumlah dua orang. Selain itu, wali juga haruslah orang yang beragama Islam, berakal baligh, dan berjenis kelamin laki-laki.

    5. Ijab Kabul

    Rukun nikah yang terakhir adalah ijab kabul. Ijab kabul atau sighat ini akan diucapkan oleh mempelai laki-laki dan wali dari mempelai perempuan. 

    Syarat Sah Ijab Kabul

    Adapun syarat sah ijab kabul yang perlu Anda ketahui adalah sebagai berikut:

    1. Ijab harus diucapkan oleh wali nikah. Wali nikah ini adalah ayah dari calon mempelai perempuan. Jika tidak ada atau ayahnya meninggal dunia, maka perwalian harus diwakilkan.
    2. Tidak boleh ada persyaratan ketika ijab dilafadzkan. Sementara itu, pengucapan bacaan ijab kabul bahasa Arab atau qabul juga harus sesuai dengan pengucapan ijab sebelumnya.
    3. Harus menggunakan kata yang terbentuk dari kata “inkah” atau nikah atau “tazwij” atau kawin. Pernikahan dikatakan tidak sah apabila ijab kabul tidak menggunakan kedua kata tersebut. 
    4. Lafadz harus jelas dan berurutan. Jadi, pelafalan ijab kabul tidak boleh berselang. 

    Bacaan Ijab Kabul Bahasa Arab

    Berikut ini adalah bacaan ijab kabul yang dibacakan oleh wali perempuan dan pengantin laki-laki yang perlu Anda ketahui:

    1. Lafadz Ijab Wali Mempelai Perempuan

    أنكحتك أو زوجتك مخطوبتك بنتي … على المهر … حالا

    Bahasa latinnya adalah: 

    Ankahtuka wa zawwajtuka makhtubataka binti (nama mempelai perempuan) alal mahri (mas kawin atau mahar) hallan.

    Artinya adalah:

    Saya nikahkan engkau, dan saya kawinkan engkau dengan pinangmu. Putriku (nama pengantin perempuan) dengan mahar (mas kawin atau mahar) dibayar tunai.

    2. Lafadz Kabul Mempelai Pria

    قَبِلْتُ نِكَاحَهَا وَتَزْوِيْجَهَا عَلَى الْمَهْرِ الْمَذْكُوْرِ وَرَضِيْتُ بِهِ وَاللهُ وَلِيُّ التَّوْفِيْقِ

    Bahasa latinnya adalah:

    Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyyu taufiq.

    Artinya adalah:

    Saya terima nikah dan kawinnya (nama mempelai perempuan) dengan mahar yang telah disebutkan. Dan saya rela dengan hal tersebut. Semoga Allah selalu memberikan anugerah.

    Tata Cara Ijab Kabul

    Sebelum mempelai laki-laki mengucapkan bacaan ijab kabul bahasa Arab, tentunya akan ada tata cara yang harus diperhatikan dan dilakukan dengan benar. Berikut tata caranya:

    1. Mempertemukan Mempelai Laki-laki dengan Wali Nikah

    Langkah pertama dalam proses memulai ijab kabul adalah dengan mempertemukan mempelai laki-laki dengan wali nikah mempelai perempuan. Posisi duduk dari keduanya saling berhadapan. 

    Selain itu, mempelai laki-laki dan wali nikah dari mempelai perempuan ini juga sudah siap untuk didampingi oleh para saksi. Tugas dari para saksi ini adalah untuk menyaksikan proses akad nikah yang berlangsung.

    2. Pembacaan Khutbah Nikah

    Setelah mempelai laki-laki dan wali nikah dari mempelai perempuan dipertemukan, maka pembacaan khutbah nikah pun bisa dilakukan. Biasanya, pembacaan khutbah nikah ini dibawakan oleh penghulu sebelum proses ijab kabul dimulai. 

    3. Mempelai Laki-Laki Melafalkan Beberapa Bacaan 

    Dengan bimbingan dari penghulu, biasanya mempelai laki-laki dianjurkan untuk melafalkan beberapa bacaan doa. Mulai dari istighfar, mengucapkan dua kalimat syahadat, dan terakhir adalah melafalkan bacaan ijab kabul bahasa Arab atau bahasa lainnya.

    4. Membaca Ijab Kabul

    Saat pembacaan ijab kabul dilakukan, baik wali nikah dari mempelai perempuan dan mempelai laki-laki pun akan saling berhadapan. Keduanya akan saling berjabat tangan sebagai tanda akan berlangsungnya proses akad. Pembacaan ijab kabul ini dimulai dari wali nikah mempelai perempuan yang membacakan ijab.

    Kemudian, pembacaan kabul akan dilakukan oleh mempelai laki-laki sebagai tanda terima. Setelah proses ijab kabul selesai, maka para saksi akan memberikan pernyataan sah sebagai bukti bahwa pernikahan tersebut diakui.

    5. Membaca Doa Penutup

    Jika acara bacaan ijab kabul selesai dan dianggap sah oleh para saksi. Maka, tahap selanjutnya yang harus dilakukan adalah membaca doa penutup. Berikut adalah doa penutup setelah ijab kabul dilakukan.

    اًللَّهُمَّ بِأَمَانَتِكَ أَخَذْتُهَا وَبِكَلِمَاتِكَ اِسْتَحْلَلْتُ فَرْجَهَا، فَإِنْ قَضَيْتَ لِي مِنْهَا وَلَدًا فَاجْعَلْهُ مُبَارَكًا سَوِيًّا وَلاَتَجْعَلْ لِلشَّيْطَانِ فِيْهِ شَرِيْكًا وَلاَنَصِيْبًا

    Bahasa latinnya adalah:

    Allahumma biamanatika akhattuhaa, wa bikalimaatika istahlaltu farjahaa, fain qadhayta lii minhaa waladan faj’alhu mubaarakan syawiyya, walaa taj’al lissyaithaani fiihi syariikan walaa nashibaa.

    Artinya adalah:

    Ya Allah, dengan amanatMu, kujadikan dia istriku. Dan dengan kalimat-kalimatMu, dihalalkan bagiku kehormatannya. Jika Engkau tetapkan bagiku memiliki keturunan darinya, jadikanlah keturunanku keberkahan dan kemuliaan. Dan jangan jadikan setan ikut serta dan mengambil bagian di dalamnya.

    6. Kedua Mempelai Menandatangani Buku Nikah

    Tahapan terakhir setelah proses ijab kabul adalah menandatangani buku nikah untuk kedua mempelai. Buku nikah ini menjadi dokumen sah sebagai tanda bagi laki-laki dan perempuan sudah menjadi suami istri. Keabsahan ini juga sudah tercatat secara resmi dalam dokumen negara.

    Sudah Lebih Paham Mengenai Bacaan Ijab Kabul?

    Itulah ulasan mengenai bacaan ijab kabul bahasa Arab maupun bahasa latin yang perlu Anda ketahui dan pelajari. Semoga dengan memahami bacaan tersebut, proses pernikahan yang Anda jalani bisa berjalan dengan lancar tanpa ada halangan suatu apapun.

  • Tawasul: Pengertian, Tata Cara, dan Jenisnya

    Tawasul: Pengertian, Tata Cara, dan Jenisnya

    Tawasul merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT yang biasa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sayangnya banyak orang yang terjerumus dan melakukan ibadah ini dengan mendekati perbuatan syirik.

    Oleh karena itu, kamu perlu memahami pengertian, tata caranya menurut syariat Islam, serta jenis-jenisnya. Baca sampai selesai artikel di bawah ini untuk belajar lebih mendalam mengenai cara beribadah ini dengan tepat!

    Pengertian Tawasul

    Tawasul adalah sarana atau wasilah supaya ibadah atau doa lebih diterima dan dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wa ta’ala. Menurut bahasa, Al-wasilah berarti segala hal yang dapat mendekatkan dan menyampaikan kepada sesuatu. 

    Sedangkan menurut istilah syariat Islam, Al-wasilah yang dibolehkan atau diperintahkan dalam Al-Qur’an adalah segala hal untuk mendekatkan seorang hamba kepada Allah SWT. Dengan berupa amal ketaatan dan ibadah yang disyariatkan sesuai perintahNya.

    Maka dari itu, dalam melakukan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, ada tata cara tertentu yang perlu diperhatikan. Dengan demikian, tidak menyalahi anjuran atau perintah yang telah diserukan.

    Tata Cara Melakukan Tawasul

    Berikut ini tata cara melakukan Al-wasilah yang bisa diterapkan, yaitu:

    1. Niat

    Pertama, sebelum melakukan Al-wasilah, hendaknya kamu menetapkan niat dengan tulus ikhlas. Perbuatan yang akan kamu lakukan tersebut diniatkan semata-mata untuk memohon syafaat kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya.

    Dengan meniatkan diri, semoga Allah SWT menerima langkah baik yang akan kamu lakukan. Sehingga, kamu bisa mendapatkan pengampunan dan pertolongan-Nya.

    2. Bersuci

    Allah SWT selalu mengingatkan hambaNya untuk bersuci, terutama saat akan melakukan ibadah.

    Oleh karena itu, kamu perlu berwudhu atau mandi junub (sesuai keadaan) untuk membersihkan diri secara fisik dan spiritual sebelum melakukan beribadah melalui perantara atau wasilah tersebut.

    Jika kamu melakukannya dalam keadaan suci, semoga Allah senantiasa melindungimu dan menjauhkan kamu dari gangguan syaitan. Dengan demikian, niat perbuatan baik yang kamu ingin lakukan dapat berjalan sebagaimana mestinya.

    3. Membaca Doa

    Sebelum atau selama melakukan tawasul, kamu bisa membaca doa-doa yang dianjurkan, seperti doa penutup majelis, doa istighfar, atau doa yang berkaitan dengan permohonan yang akan diajukan.

    Pada dasarnya, kamu bisa menggunakan doa sebagai alat untuk mencapai apa yang dibutuhkan, baik urusan dunia maupun akhirat. 

    Dalam surat Al Maidah ayat 35, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bertawasul dengan meminta kepada Allah melalui doa. Kamu bisa berdoa dengan penuh tawadhu dan ketulusan, serta penuh harap.

    4. Memohon Syafaat

    Selanjutnya, bertawasul harus dilakukan dengan memohon syafaat kepada Allah Tentunya, harus dengan penuh kerendahan hati dan keikhlasan.

    Secara sederhana, Al-wasilah bisa diartikan sebagai bantuan atau pertolongan yang diberikan oleh seseorang kepada orang yang mengharapkan bantuan atau pertolongannya.

    Dalam Islam, biasanya orang memohon syafaat kepada Nabi Muhammad SAW. Meskipun kamu mengharapkan syafaat dari Nabi Muhammad SAW, tetapi tetap saja hanya Allah SWT yang memiliki kekuasaan memberikannya. Dengan demikian, tidak ada tempat paling tepat, kecuali mengharap keridhaan Allah SWT. 

    5. Berdoa Langsung Kepada Allah

    Setelah bertawasul, kamu juga tetap harus berdoa langsung kepada Allah dengan mengungkapkan kebutuhan, permohonan, atau kesulitan yang ingin dimohonkan syafaatnya.

    Berdoalah dengan penuh kerendahan hati dan mengharapkan pertolongan hanya kepada Allah. Dengan demikian, bisa terlihat kesungguhanmu dalam memohon syafaat.

    6. Berdoa Secara Berulang

    Bertawasul memang dapat dilakukan dalam waktu tertentu atau secara kontinu sesuai kebutuhan. Namun, berdoa secara konsisten dan berulang dapat menunjukkan ketekunan dan keyakinan kamu kepada Allah.

    Oleh karena itu, hendaknya kamu terus memanjatkan doa kepada Allah SWT secara konsisten dengan penuh harap.

    Jenis-Jenis Tawasul

    Berikut ini jenis-jenis Al-wasilah yang perlu kamu pahami, yaitu:

    1. Melalui Asma Allah

    Pertama, bertawasul melalui penyebutan asma atau nama-nama Allah yang indah. Nama-nama indah tersebut biasa dikenal dengan Asmaul Husna yang jumlahnya 99.

    Nah, dalam bertawasul, kamu bisa menyebut asmaul husna. Seperti Ar Rahman (Yang Maha Pengasih), Ar Rahiim (Yang Maha Penyayang), Al Malik (Yang Maha Merajai), Al Quddus (Yang Maha Suci), As Salaam (Yang Maha Memberi Kesejahteraan), dan lain sebagainya.

    Hal ini juga disampaikan oleh Allah SWT dalam Q.S Al-Araf ayat 180, bahwa asmaul husna hanya milik Allah, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asmaul husna.

    Sementara itu, cara bertawasul yang bisa kamu lakukan contohnya, yaitu kamu dapat mengatakan, “Ya Allah As Salaam, Yang Maha Memberi Kesejahteraan, tolonglah kami dalam kesulitan kami”.

    2. Melalui Nama Nabi Muhammad SAW

    Seperti yang sudah disinggung di awal, dalam agama Islam, seringkali orang memohon syafaat dari Nabi Muhammad SAW. Mereka menyebut nama Nabi Muhammad SAW sebagai perantara. 

    Misalnya, kamu dapat berdoa, “Ya Allah, berikanlah kami bantuanMu, karena cinta-Mu kepada Nabi Muhammad SAW”.

    3. Dengan Amal Saleh

    Berikutnya, bertawasul dengan menyebut amal saleh yang telah dilakukan. Ada sebuah riwayat, tiga orang yang terkunci di dalam gua. Mereka melakukan tawasul dengan amal saleh yang pernah dilakukan. 

    Orang pertama bertawasul berupa penegasan hak-hak pekerja. Orang kedua menyebut amal shalehnya, yaitu melayani orang tuanya.

    Kemudian, orang ketiga mengatakan amal shaleh yang dilakukan adalah takut kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala. Sehingga, ia ingin mencegah perbuatan keji tersebut. 

    Lalu, atas kehendakNya, Allah Ta’ala membuka pintu gua tersebut, sehingga akhirnya ketiganya selamat.

    4. Melalui Orang Shaleh

    Selanjutnya, bertawasul melalui orang-orang saleh yang masih hidup. Anas bin Malik meriwayatkan sebuah hadits:

    “Dari Anas bin Mâlik ra. sesungguhnya Umar ibn al-Khathâb apabila masyarakat mengalami paceklik meminta hujan dengan (tawasul dengan) al-‘Abbâs ibn ‘Abdil Muthallib dengan mengatakan :

    “Ya Allah, sesungguhnya dahulu ketika berdoa kepada-Mu kami bertawasul dengan Nabi-Mu. Engkaupun menurunkan hujan kepada kami. Dan sekarang kami berdoa kepadamu dengan bertawasul dengan paman Nabi-Mu, maka berilah kami hujan.” Anas mengatakan : “Kemudian mereka diberi hujan.” (HR Bukhari).

    Jika menilik dari hadist di atas, artinya kamu sebaiknya memohon doa tetap kepada Allah SWT, bukan kepada makhluk-Nya, meskipun ia orang yang sangat shaleh. Baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Karena hal tersebut termasuk perbuatan syirik yang sangat dibenci oleh Allah SWT.

    5. Dengan Kemuliaan

    Selain empat di atas, bertawasul yang bisa dilakukan dengan jah (kemuliaan dan kedudukan) seseorang di sisi Allah SWT. Hal ini berdasarkan doa sahabat Dhahir yang artinya:

    “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon dan berdoa kepada-Mu dengan (bertawasul dengan) Nabi-Mu, Muhammad, Nabi yang penuh kasih sayang.

    (Duhai Rasul) sesungguhnya aku telah bertawajjuh kepada Tuhanku dengan (bertawasul dengan) derajatmu agar hajatku ini terkabul. Ya Allah, terimalah syafaat beliau untukku”.

    Menurut para ulama, berdasarkan doa tersebut, bertawasul dengan jah termasuk bagian dari ajaran agama, sehingga diperbolehkan.

    Siap Mendekatkan Diri kepada Allah dengan Tawasul?

    Demikian penjelasan mengenai pengertian, tata cara, dan jenis-jenis tawasul. Semoga pembahasan di atas dapat membantu kamu dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan penuh ketaatan dan keimanan serta terhindar dari perbuatan syirik.

  • Dakwah: Pengertian, Metode, Jenis, Tujuan dan Contohnya

    Dakwah: Pengertian, Metode, Jenis, Tujuan dan Contohnya

    Dakwah berasal dari bahasa Arab, yaitu da’a, yad’u, da’wan, du’a yang berarti mengajak atau menyeru, permohonan, seruan, memanggil, dan permintaan. Dalam agama Islam, kata ini sering digunakan untuk menyebut kegiatan yang menyeru kepada kebaikan sesuai perintah Allah SWT.

    Yuk, belajar lebih mendalam mengenai kegiatan ini, mulai dari pengertian, metode, jenis, tujuan, hingga contohnya berikut ini! Agar kamu bisa mengaplikasikannya dengan benar dan terhindar dari aktivitas keagamaan yang sesat.

    Pengertian Dakwah

    Secara etimologis, sudah dijelaskan bahwa kata dakwah berasal dari bahasa Arab. Sementara itu, ada berbagai pendapat di kalangan ahli yang mendefinisikan pengertiannya, yaitu:

    • A. Hasmy dalam bukunya Dustur Dakwah: Kegiatan mengajak orang lain untuk meyakini serta mengamalkan syariat dan akidah Islam.
    • Syekh Ali Mahfud: Memotivasi manusia supaya melakukan kebaikan sesuai petunjuk, menyeru kepada kebaikan, dan melarang berbuat kemungkaran. Agar mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

    Dari dua pendapat ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa berdakwah adalah kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk mengajak manusia senantiasa di jalan yang benar menurut Allah SWT.

    4 Metode Dakwah

    Berikut 4 metode berdakwah Islam yang berdasarkan pada surah An-Nahl ayat 125, yaitu: 

    1. Metode Hikmah

    Pertama, berdakwah menggunakan metode hikmah. Metode ini mengharuskan kamu untuk menguasai kondisi dan keadaan, serta batas-batasan tertentu yang disampaikan. 

    Pada dasarnya, metode ini mengajarkan kamu untuk bersikap bijaksana dalam berdakwah, yaitu dapat menyesuai diri dengan orang yang didakwahi. Dengan demikian, tidak memberatkan dan menyulitkan orang tersebut.

    2. Metode Maw’izhoh Hasanah

    Metode berdakwah berikutnya adalah dengan maw’izhoh hasanah atau nasihat yang baik. Hal ini karena nasihat yang baik dapat menembus hati nurani manusia. Dengan begitu, seruan atau ajakan yang disampaikan dapat diterima.

    Sebaliknya, berdakwah dengan bentakan dan kekerasan seringkali hanya akan menimbulkan kejahatan baru. 

    3. Metode Yujadilu Billati Hiya Ahsan

    Selanjutnya, berdakwah melalui yujadilu billati hiya ahsan atau berdebat dengan cara yang baik. Berdebat boleh saja, tetapi dengan catatan tanpa berbuat zalim kepada lawan.

    Pasalnya, debat yang dilakukan tidak bertujuan untuk mengalahkan lawan, tetapi menyadarkan dan menyampaikan kebenaran. Oleh karena itu, tidak perlu meremehkan mencela lawan debat tersebut.

    4. Metode Al-Qudwah Al-Hasanah

    Terakhir, kamu bisa menggunakan metode berdakwah Al-Qudwah Al-Hasanah atau dengan keteladanan yang baik. 

    Metode keteladanan adalah cara yang ditempuh para pendakwah dengan tingkah laku atau perbuatan yang patut untuk ditiru. Dengan menunjukkan keteladanan secara langsung, dapat memberikan hasil lebih efektif.

    Jenis-Jenis Dakwah

    Berikut 6 jenis-jenis aktivitas berdakwah, yaitu:

    1. Fardiah

    Jenis yang pertama ini dilakukan oleh seseorang kepada satu orang atau bisa juga banyak orang, tetapi dalam jumlah kecil dan terbatas. Biasanya, berlangsung tanpa kesiapan. namun terlaksana dengan tertib.

    Misalnya, ketika seseorang memberikan nasihat atau teguran kepada orang lain. Contoh lain, misalnya saat mengunjungi orang yang sedang sakit.

    2. Ammah

    Berikutnya, yaitu berdakwah yang dilakukan seseorang secara lisan yang ditujukan untuk orang banyak. Misalnya, dengan berpidato atau berkhotbah. Biasanya, aktivitas berdakwah yang satu ini dilakukan seseorang dalam sebuah lembaga atau organisasi di bidang keagamaan. 

    3. Dakwah bil Lisan

    Jenis ini maksudnya yaitu berdakwah secara lisan, sehingga terjadi interaksi antara pendakwah dan pendengar. Melalui cara lisan ini, seseorang dapat langsung memahami isi dari pesan yang disampaikan. 

    Jika masih belum memahaminya, orang yang didakwahi dapat langsung meminta penjelasan. Sehingga, komunikasi bisa berlangsung dua arah, layaknya diskusi, tidak sekedar menggurui. Contohnya, berdakwah di pengajian.

    4. Dakwah bil Hal

    Selanjutnya, yaitu berdakwah dengan contoh atau perbuatan nyata. Tujuannya supaya orang dapat mengikuti dan mencontoh sikap atau tingkah laku yang dilakukan oleh pendakwah.

    Dengan cara ini, tidak hanya bermaksud membuat pendengarnya memahami makna dakwahnya, tetapi juga menggunakan berbagai tindakan yang menggambarkan kehidupan sehari-hari. Contohnya, saat Nabi Muhammad tiba di Madinah, beliau langsung mendirikan Masjid Quba.

    5. Dakwah bit Tadwin

    Berdakwah juga harus mengikuti perkembangan teknologi, agar bisa menjangkau lebih banyak orang. Nah, pola berdakwah tersebut termasuk jenis ini. Misalnya, berdakwah melalui buku, kitab, majalah, koran, dan berbagai media sosial. 

    6. Dakwah bil Hikmah

    Jenis ini dilakukan dengan cara yang bijak dan hati-hati. Misalnya, dengan pendekatan yang baik tanpa paksaan. Cara ini membantu penerima untuk melaksanakan seruan atau ajakan secara sukarela, tanpa merasa terpaksa ataupun mendapat tekanan. 

    5 Tujuan Penting Berdakwah

    Berikut 5 tujuan penting dalam berdakwah yang perlu kamu pahami dengan baik, yaitu:

    1. Memperkuat Keyakinan Agama

    Tujuan yang pertama adalah untuk menyebarkan prinsip, ajaran, dan perintah agama serta keyakinan kepada orang yang belum mengenalnya atau yang membutuhkan pemahaman lebih baik. Dengan demikian, dapat membantu memperkuat keyakinan dalam diri individu atau masyarakat.

    2. Membimbing Orang Lain kepada Kebaikan

    Pada dasarnya, berdakwah adalah mengajak atau menyeru seseorang kepada kebaikan. Sehingga, tujuan dari berdakwah tentu saja untuk membimbing orang lain dalam menjalani hidup yang baik.

    Dengan berdakwah, tentunya kamu dapat memberikan nasihat, petunjuk, dan panduan tentang menjalani hidup yang sesuai ajaran agama.

    3. Mendorong Perubahan Positif

    Jika terus mengajak seseorang untuk berbuat baik, pasti secara tidak langsung dapat menciptakan perubahan yang positif. Pasalnya, dakwah dapat mendorong individu dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas kehidupan mereka, karena ini merupakan bentuk dari ibadah.

    Selain itu, memberikan motivasi kepada orang lain untuk mengatasi masalah sosial seperti kemiskinan, ketidakadilan, ketidaksetaraan gender, dan lain sebagainya.

    4. Membangun Toleransi

    Tujuan berdakwah yang berikutnya adalah untuk membangun kesadaran tentang adanya perbedaan agama dan mempromosikan toleransi antar agama. 

    Dengan menyampaikan seruan yang baik melalui dialog dan komunikasi berkelanjutan, berdakwah dapat membantu memperkuat hubungan antar agama yang berbeda. Selain itu, bisa menciptakan kerukunan antar umat beragama.

    5. Memperkuat Spiritualitas

    Berdakwah juga dapat membantu seseorang untuk memperkuat dimensi spiritual dalam dirinya. Pasalnya, orang yang selalu mendapat ajakan dan seruan kebaikan dapat mengembangkan hubungan dengan Tuhan dan memperoleh kekuatan spiritual untuk menghadapi tantangan hidup.

    3 Contoh Dakwah

    Berikut 3 contoh berdakwah yang bisa kamu lakukan, yaitu:

    1. Ceramah Agama

    Pertama, kamu dapat berdakwah melalui ceramah agama di masjid, mushola, atau tempat ibadah lainnya. 

    Ceramah ini bertujuan untuk menyampaikan pesan agama, memberikan nasihat, dan membimbing jamaah dalam menjalani kehidupan beragama. Namun, tantangannya adalah kamu harus sudah berbekal ilmu yang cukup.

    2. Penggunaan Media Sosial

    Dalam era digital saat ini, banyak orang menggunakan media sosial sebagai sarana untuk menyampaikan dan mengajak kebaikan. 

    Misalnya, kamu membuat konten video, tulisan, atau podcast tentang topik agama, moralitas, atau kehidupan spiritual. Kemudian, diunggah di platform seperti YouTube, Facebook, Instagram, TikTok, atau Twitter.

    3. Berdakwah di Lingkungan Terdekat

    Jika kamu masih baru dengan berdakwah, cobalah untuk memulai dari lingkungan terdekat. Misalnya, untuk diri sendiri, lingkungan keluarga, dan teman-teman. Kamu bisa memberikan contoh yang baik mulai dari perkataan hingga perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.

    Di samping itu, kamu juga bisa berbagi pengalaman keagamaan, menjelaskan konsep agama, atau mengingatkan tentang kewajiban agama kepada orang-orang terdekat.

    Sudah Paham Tentang Dakwah?

    Demikian informasi lengkap mengenai berdakwah, mulai dari pengertian, metode, jenis, tujuan, hingga contohnya. Semoga kita bisa menjadi pendakwah untuk diri sendiri serta senantiasa mengajak dan menyeru kepada orang-orang terdekat, agar berbuat baik dan menjauhi kemungkaran. Kamu sudah siap berdakwah?

  • Penting Diketahui! Hukum Pacaran dalam Islam dan Dalilnya

    Penting Diketahui! Hukum Pacaran dalam Islam dan Dalilnya

    Istilah pacaran mungkin sudah sering sekali terdengar di telinga masyarakat, mulai dari orang dewasa, remaja, hingga anak-anak sekolah. Pacaran ini biasanya dimaknai sebagai hubungan antara laki-laki dan perempuan yang saling jatuh cinta. Namun bagaimanakah hukum pacaran dalam Islam dan dalilnya?

    Banyak yang bertanya-tanya tentang hukum pacaran lengkap dengan menyertakan dalil shahihnya. Banyak juga yang masih bingung apakah pacaran ini sama dengan ta’aruf yang juga banyak dilakukan oleh orang-orang? Untuk bisa dapat jawabannya, simak artikel ini sampai tuntas.

    Pacaran dan Budayanya di Masyarakat

    Istilah pacaran sudah sangat familiar di lingkungan masyarakat. Mulai dari anak-anak sekolah hingga pekerja sangat mengenali istilah ini, bahkan banyak dari mereka melakukannya ketika menginjak usia pubertas dan sudah merasakan getaran-getaran cinta kepada lawan jenis. 

    Secara istilah, pacaran ini dimaknai sebagai proses mengenal satu dengan lainnya dan memahami sifat, karakter, kebiasaan, dan pola pikir pasangan masing-masing sebelum menuju gerbang pernikahan.

    Pacaran juga bisa dimaknai sebagai hubungan pranikah antara perempuan dan laki-laki yang menjadi salah satu bentuk ekspresi perasaan dan kematangan seksual seseorang. 

    Istilah ini berasal dari kata “pacar” yang mempunyai arti teman lawan jenis yang punya hubungan berdasarkan kasih sayang. Pacar ini juga biasa disebut dengan kekasih, dan pacaran adalah kegiatan bercintaan dengan lawan jenis. 

    Pacaran ini biasanya dilakukan dengan cara berkencan dengan kekasih, berboncengan dengan kekasih, makan berdua dengan kekasih, pergi ke tempat-tempat romantis, dan lain-lain. 

    Kencan ini sebuah rekreasi yang dirasakan oleh remaja atau anak muda serta bisa menjadi sumber kebahagiaan. Kencan juga sebagai bagian dari proses sosialisasi yang bisa membentuk relasi bermakna serta unik dengan lawan jenis. 

    Meski kencan dalam pacaran ini adalah proses pendekatan dan pengenalan antara laki-laki dan perempuan, seseorang yang beragama Islam haruslah mematuhi aturan-aturan yang telah ditetapkan syariat supaya tidak kebablasan. 

    Islam sudah mengatur hal-hal dengan relasi perempuan dan laki-laki, termasuk pacaran. Hukum syariat ini penting diketahui agar anak-anak muda tidak terjebak dalam pergaulan bebas yang bisa merugikan kehidupan mereka sendiri. Selain itu, tujuan adanya syariat ini agar orang-orang mengerti batasan-batasan saat membangun relasi dengan lawan jenis.

    Hukum Pacaran dalam Islam dan Dalilnya

    Jika melihat dari pengertian dan tujuannya, yakni sebagai jalan untuk lebih mengenal lawan jenis yang nantinya diharapkan menjadi pasangan hidup, maka hukum pacaran dalam Islam dibolehkan dengan syarat tidak menjurus pada tindakan yang dilarang oleh syariat. 

    Ini sesuai dengan Surah Al-Isra’ ayat 32 yang menjelaskan larangan seseorang mendekati zina:

    وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً

    wa laa taqrobuuz zinaa innahu kaana faahisyatan wa saa’a sabiilaa.

    Artinya: Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.

    Islam sangat melarang seseorang mendekati perbuatan yang menjurus ke dalam zina. Namun masalahnya, saat ini banyak anak-anak muda yang berpacaran dengan cara berdua-duaan dengan kekasih tanpa adanya mahram atau pendamping. 

    Cara seperti inilah kemudian dilarang oleh Islam karena berpotensi mendekati zina. Sesuai dengan sabda Nabi tentang larangan seorang laki-laki berkhalwat (berdua-duaan) dengan perempuan yang bukan mahramnya, yakni:

    عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ وَلاَ تُسَافِرَنَّ امْرَأَةٌ إِلاَّ وَمَعَهَا مَحْرَمٌ

    Ibnu Abbas berkata: Aku mendengar Rasulullah berkhutbah, ia berkata: Jangan sekali-kali seorang laki-laki berkhalwat dengan perempuan kecuali ada mahramnya, dan janganlah perempuan melakukan musafir kecuali ada mahramnya (muttafaq alaihi).

    Jadi dari sini bisa dipahami bahwa hukum pacaran dalam Islam dan dalilnya tersebut tergantung pada tujuan dan caranya. Jika dimaksudkan untuk pergaulan bebas dan mencapai kesenangan masing-masing, maka hukum pacaran dalam Islam seperti ini adalah haram, sesuai dengan ketentuan syariat dan dalilnya. 

    Namun jika dimaksudkan agar saling mengenal untuk menuju pernikahan lewat khitbah, itu boleh.  

    Apakah Pacaran dan Ta’aruf adalah Sama?

    Selain istilah pacaran, masyarakat juga tak asing dengan istilah ta’aruf. Ta’aruf adalah proses mengenal lawan jenis yang sekilas pengertiannya mirip dengan pacaran. Namun apakah keduanya memiliki persamaan? 

    Jawabannya adalah berbeda. Secara umum pacaran dan ta’aruf ini mempunyai makna dan praktik berbeda. Di lingkungan masyarakat, pacaran yang dilakukan anak-anak remaja adalah hubungan laki-laki dan perempuan untuk bersenang-senang belaka yang berpotensi mendekati zina. 

    Hal ini berbeda dengan ta’aruf yang merupakan sebuah proses pengenalan yang dilakukan sebelum masuk ke tahap pernikahan. Orang yang melakukan ta’aruf diperbolehkan melihat dari dekat calon pasangan dengan ketentuan syariat yang masih dalam koridor kesopanan dan penghormatan. 

    Ta’aruf adalah tahap pengenalan dimana seorang laki-laki boleh melihat perempuan (calon pasangan) hanya sebatas tangan dan wajahnya saja. Dalam fiqh, tujuan pengenalan ini untuk mengenal kepribadian, kelebihan, kekurangan, suasana hati, dan keadaan calon pasangan hidup.

    Ini berbeda dengan istilah pacaran yang sering dilakukan oleh remaja-remaja pada umumnya yang berpacaran dengan cara pergi berdua-duaan dengan kekasih tanpa adanya mahram atau tanpa ada tujuan pernikahan jelas, alias bersenang-senang belaka.

    Bolehkah Menyamakan Pacaran dengan Ta’aruf?

    Setelah membaca penjelasan tentang hukum pacaran dalam Islam dan dalilnya, serta perbedaan antara pacaran dengan ta’aruf, mungkin pembaca bertanya-tanya apakah boleh menganalogikan pacaran dengan ta’aruf?

    Jawabannya, penyamaan pacaran dengan ta’aruf hanya boleh jika laki-laki serius meminang perempuan, dimana ia butuh melihat dari dekat siapa calon istrinya untuk bisa lebih mengenal. Dari sini agar bisa melihat apakah ada ketertarikan dan kecocokan di antara keduanya sehingga lanjut ke jenjang pernikahan. 

    Namun kalau pacarannya adalah pacaran untuk bersenang-senang dengan lawan jenis yang berpotensi besar mendekati zina, maka itu tidak boleh dan dilarang oleh Islam sesuai hukum pacaran dalam Islam dan dalilnya yang sudah disebutkan. 

    Meski begitu, mengutip dari penjelasan Ustadz Riyad Ahmad di laman nu.or.id yang mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam sebuah istilah saja. Ini karena yang dihukumi oleh Islam bukan istilahnya, namun praktiknya. Jika melanggar syariat, apapun istilahnya maka hukumnya haram dilakukan.

    Manfaat Mengetahui Hukum Pacaran dalam Islam dan Dalilnya

    Hukum pacaran dan Islam dan dalilnya ini penting diketahui oleh seluruh umat Islam terlebih bagi anak-anak remaja yang rawan terkena pergaulan bebas. Ada banyak manfaat yang bisa didapatkan dari mengetahui dan memahami hukum pacaran dan dalilnya ini, antara lain:

    1. Sebagai Pengingat agar Tidak Mendekati Zina

    Zina merupakan dosa besar yang sangat dilarang oleh Allah dan Nabi Muhammad untuk mendekatinya. Dengan mengetahui hukum pacaran dalam Islam dan dalilnya inilah diharapkan bisa menjadi pengingat supaya menjauhi zina dalam bentuk apapun, termasuk berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram.

    2. Semakin Mendekatkan Diri kepada Allah

    Mengetahui dan memahami hukum pacaran membuat seseorang semakin dekat dengan Allah karena telah memahami betul apa saja yang diperbolehkan dan dilarang oleh Tuhannya. 

    Selain itu, memahami hukumnya juga bisa membuat seseorang menjadi pribadi yang baik karena telah menjalankan sesuatu sesuai dengan apa yang diperintahkan Tuhannya.

    3. Terlindungi dari Pergaulan Bebas

    Pergaulan bebas adalah pergaulan tidak bermoral dan tanpa batas yang rawan dilakukan oleh anak-anak remaja karena mereka mengalami masa pubertas dimana mulai mengenali lawan jenis. Apabila tidak dibekali dengan pengetahuan hukum dan aturan syariat, maka besar kemungkinan terjebak dalam pergaulan bebas.

    Sudah Tahu Hukum Pacaran dalam Islam dan Dalilnya?

    Itulah penjelasan hukum pacaran dalam Islam dan dalilnya dalam Al-Qur’an maupun hadis Nabi. Intinya, pacaran itu dilarang oleh Islam jika dalam praktiknya menyalahi aturan syariat, seperti berkhalwat dengan lawan jenis yang bukan mahramnya tanpa ada pendamping, dan tidak ada tujuan untuk menikah. 

  • Hukum Pacaran di Bulan Ramadhan dalam Islam, Apakah Boleh?

    Hukum Pacaran di Bulan Ramadhan dalam Islam, Apakah Boleh?

    Banyak orang yang bertanya hukum pacaran di bulan Ramadhan. Selama bulan Ramadhan, umat Islam yang menjalankan puasa bukan hanya harus menahan lapar dan dahaga. Hal lain yang tak kalah penting adalah melawan hawa nafsu.

    Kenapa demikian? Karena hawa nafsu menjadi salah satu hal yang bisa mengurangi pahala saat berpuasa, bahkan juga bisa membatalkan puasa itu sendiri. Lalu, bagaimana dengan pacaran? Kita simak penjelasannya pada artikel berikut ini!

    Hukum Pacaran di Bulan Ramadhan 

    Berikut ini beberapa dalil yang menunjukkan hukum pacaran di bulan puasa yang bisa membantu kamu dalam mengerti lebih baik lagi tentang larangan pacaran dalam Islam terutama saat bulan Ramadhan:

    1. Alquran Surat Al-Isra ayat 32

    Pada ayat ini dijelaskan bahwa kita tidak boleh mendekati zina, karena zina merupakan perbuatan yang keji serta perbuatan yang buruk. Zina sendiri merupakan awal dari adanya pacaran. Dari dalil tersebut, sudah jelas bahwa hukum pacaran di bulan puasa adalah haram atau tidak boleh.

    2. QS Nur ayat 2

    Pada ayat ini menjelaskan bahwa adanya hukuman yang harus diberikan kepada mereka yang melakukan perbuatan zina. Seperti berdua-duaan atau pacaran dengan hukuman seratus kali deraan atau hukuman cambuk serta diperlihatkan pada seluruh masyarakat.

    3. HR Al-Bukhari dan Muslim

    Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim menunjukkan Rasulullah mengatakan sesuatu saat berkhutbah, yakni tidak boleh seorang pria berdua-duaan dengan seorang wanita. Kecuali wanita tersebut bersama dengan mahramnya serta tidak boleh juga seorang wanita melakukan perjalanan sendirian.

    Dari dalil tersebut, dapat kita ambil kesimpulan bahwa seorang wanita dan pria haram untuk melakukan perbuatan yang berujung pada zina, yakni berdua-duaan atau pacaran.

    4. HR Ahmad

    Sedangkan menurut Ahmad, Rasulullah juga pernah bersabda bahwa siapapun yang percaya akan adanya hari akhir, tidak boleh melakukan perbuatan zina, seperti berdua-duaan. Karena pihak ketiganya merupakan setan yang menjerumuskan mereka berdua ke dalam lembah dosa.

    Apakah Pacaran Membatalkan Puasa?

    Dari beberapa dalil yang sudah kami sebutkan, kami bisa simpulkan bahwa hukum pacaran di bulan Ramadhan itu haram. Sehingga, jauh lebih baik sebagai umat muslim yang sedang melakukan ibadah puasa untuk menjauhi perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT, agar ibadah puasa tidak sia-sia.

    Dampak Negatif Pacaran dalam Islam

    Setelah mengetahui bagaimana hukum pacaran di bulan puasa berdasarkan beberapa dalil. Kita perlu menyimak juga apa saja kerugian yang bisa ditimbulkan akibat pacaran, agar bisa menjadi tindakan preventif. Berikut dampak negatifnya:

    1. Produktivitas Menurun

    Saat pacaran lebih utama daripada menjalankan tugas, belajar, memulai bisnis, atau membantu orang tua. Maka, kegiatan pacaran akan mengurangi fokus serta bisa juga membagi fokus menjadi dua bagian, sehingga produktivitas menjadi lebih rendah, terutama dalam hal baik, seperti yang sudah kami sebutkan di atas.

    2. Rawan Zina

    Beberapa umat muslim sering menyangkal dan mengklaim bahwa mereka berpacaran dengan cara Islami yang sehat. Namun, tidak ada pacaran yang sah dan sehat, kecuali adanya pernikahan. Lagi pula, pacaran tidak ada dalam Islam dan hal itu merupakan tindakan berdosa yang mengarah pada perzinahan.

    3. Hidup Menjadi Lebih Boros

    Orang yang pacaran pasti akan berkorban untuk pacar mereka, sehingga uang yang harusnya di hemat pun akhirnya digunakan untuk kesenangan sementara. Seperti membeli hadiah untuk pacar, pergi ke bioskop, atau makan di restoran dan kafe. Secara tidak sadar, hal itu merupakan pemborosan.

    4. Menjadikan Diri Sebagai Pribadi yang Munafik

    Pacaran bisa membuat kita munafik. Mengapa? Karena kita berbohong hanya untuk membahagiakan pacar kita. Terkadang kita malah saling mengkritik satu sama lain di belakang, namun selalu berusaha menunjukkan sisi terbaik kita di depan pacar.

    5. Terjerumus pada Pergaulan Bebas

    Di zaman modern ini, pacaran tidak menutup kemungkinan untuk mengarah ke pergaulan bebas. Semuanya berawal dari kedekatan dan lama kelamaan menimbulkan hal-hal negatif, seperti seks bebas yang membawa kita pada dosa. Sudah jelas kenapa hukum pacaran di bulan Ramadhan itu haram. Hal itu untuk kebaikan kita sendiri.

    6. Penyebab Kejahatan

    Ada banyak berita di televisi dan internet tentang pemuda yang dibunuh karena pacaran dan karena masalah sepele. Kita manusia dirasionalisasi oleh Pencipta kita Yang Maha Kuasa, tapi mari kita pertimbangkan tindakan mana yang salah dan tindakan mana yang benar. 

    Tidak ada artinya ketika membunuh orang untuk hal-hal sepele, tetapi sebaliknya kita akan menjadi penghuni neraka tempat tinggal iblis dan membawa dosa.

    7. Dapat Menyebabkan Masalah dan Stres

    Pacaran sebenarnya tidak sebahagia kelihatannya. Masalah seperti rasa cemburu yang berlebihan juga bisa muncul saat berpacaran. Jika kamu bisa menyelesaikannya dengan tenang, mungkin baik-baik saja.

    Tetapi, jika kamu dan pasangan tidak bisa menyelesaikannya dengan baik, maka menyebabkan terlalu banyak berpikir serta dapat menyebabkan stres dan akhirnya merugikan diri kamu sendiri.

    8. Lebih Sedikit Kebebasan

    Kebebasan adalah hak setiap orang. Namun, apa jadinya bila kamu memiliki pasangan yang terlalu membatasi kamu saat pacaran? Akibatnya, kamu akan merasa kebebasan yang seharusnya kamu miliki berkurang dan produktivitas kamu akan sangat terbatas.

    Tips Menghindari Pacaran Menurut Islam

    Setelah mengetahui apa saja dalil yang menunjukkan hukum pacaran di bulan Ramadhan serta dampak negatifnya. Berikut ini kami juga akan membagikan tips menghindari pacaran menurut Islam: 

    1. Melakukan Kegiatan Produktif

    Kegiatan produktif merupakan salah satu hal yang dapat menjauhkan kita dari kegiatan yang negatif, seperti pacaran. Dengan menjadi produktif, kita akan mendapatkan lebih banyak manfaat dan kecil kemungkinan terjebak dalam pikiran yang penuh hawa nafsu.

    2. Berteman dengan Orang Shalih

    Salah satu cara agar kita terhindar dari pergaulan yang buruk adalah dengan menjalin hubungan dengan orang-orang shalih. Bergaul dengan orang-orang shalih akan menjauhkan kita dari hal-hal negatif, pergaulan bebas, dan hubungan dengan lawan jenis.

    3. Memperdalam Ilmu Agama

    Ilmu agama adalah ilmu kehidupan yang sangat mendasar. Untuk itu, pendalaman ilmu agama menjadi pondasi hidup kita. Remaja dan anak muda tidak akan pacaran, jika mereka benar-benar memperdalam Ilmu agama mereka. 

    Oleh karena itu, ilmu agama yang benar dan benar akan mengantarkan seseorang untuk fokus memperbaiki diri, terutama dalam urusan agama, bukan dalam urusan lainnya.

    4. Mempelajari Hal Baru

    Prioritas dan rasa ingin tahu yang tinggi sangat diharapkan selama masa pubertas dan remaja. Jadi, menghindari pacaran dapat membantu kamu mempelajari banyak hal baru. Mempelajari hal-hal baru membuat kita tetap fokus pada pengetahuan dan tujuan kita. Jadi, lebih baik mempelajari hal-hal baru daripada pacaran, bukan?

    Sudah Tahu Bagaimana Hukum Pacaran di Bulan Ramadhan?

    Demikian penjelasan secara detail mengenai dalil yang menunjukkan hukum pacaran di bulan puasa, dampak negatif pacaran, serta tips untuk menghindari adanya kegiatan pacaran. Agar dalam menjalankan ibadah puasa serta ibadah lainnya menjadi semakin maksimal. Semoga bermanfaat!

  • Bacaan Doa Tahiyat Awal dan Akhir Sesuai Sunnah Lengkap

    Bacaan Doa Tahiyat Awal dan Akhir Sesuai Sunnah Lengkap

    Saat melakukan salat, seseorang biasanya melakukan gerakan duduk tahiyat awal dan akhir agar salatnya menjadi sempurna. Nah apa itu tahiyat dan bagaimana bacaan doa tahiyat awal dan akhir? Simak penjelasannya berikut ini!

    Arti Tahiyat Awal dan Akhir dan Hukumnya

    Tahiyat adalah salah satu gerakan salat yang tidak boleh ditinggalkan. Tahiyat ini terbagi menjadi dua macam, yakni awal dan akhir. Keduanya mempunyai hukum berbeda-beda serta ada doa tahiyat awal dan akhir yang juga berbeda.

    Tahiyat awal ini biasanya dilakukan saat rakaat kedua dengan cara duduk iftirasy, yakni duduk dengan posisi kaki kanan ditegakkan dan kaki kiri diletakkan menempel lantai lalu menduduki kaki kiri tersebut. 

    Sementara tahiyat akhir adalah gerakan salat yang dilakukan pada rakaat terakhir sebelum salam. Posisi duduknya adalah duduk tawarruk, yakni posisi kaki kiri tidak diduduki seperti duduk iftirasy, namun diletakkan di bawah kaki kanan, dan posisi pantat menempel ke lantai.

    Selain posisi duduk yang cukup berbeda, hukum pelaksanaannya juga berbeda. Tahiyat awal termasuk gerakan salat yang dihukumi sunnah ab’ad, yaitu sunnah yang ibaratnya seperti anggota tubuh vital, dimana jika tidak ada keberadaannya tidak menyebabkan kematian, namun bisa membuat cacat. 

    Artinya, tahiyat awal ini jika tidak dilakukan tidak dosa, namun lebih baik dilakukan supaya salat menjadi sempurna. Berbeda dengan tahiyat akhir yang termasuk rukun salat, dimana jika tidak dilakukan maka salatnya tidak sah. 

    Bagaimana Doa Tahiyat Awal dan Akhir?

    Setelah tahu penjelasan makna tahiyat awal dan akhir lengkap dengan posisi duduk dan hukumnya, sekarang bagaimana bacaan doa tahiyat awal dan akhir? 

    1. Doa Tahiyat Awal

    Ada beberapa riwayat yang menjelaskan tentang bacaan tahiyat awal. Dari beberapa riwayat tersebut ada dua riwayat yang lebih sering dipakai, yakni dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

    التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ (HR. Muslim)  

    Attahiyaatul mubaarakaatus shalawaatut thayyibaatulillah assalaamu’alaika ayyuhaannabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuhu. Assalamu ‘alainaa wa ‘ala ‘ibadillahis sholihiin. Asyhadu al-laillahaillahu wa asyhadu anna muhammadar rasulullahi.

    Artinya: Segala ucapan selamat, keberkahan, sholawat, dan kebaikan adalah bagi-Mu. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi Muhammad beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan seluruh hamba-Nya yang salih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

    Ada juga bacaan doa tahiyat awal dari Abdullah bin Mas’ud yang tercantum dalam Shahih Bukhari, berbunyi:

    التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

    Attahiyyatu lillah, wash shalatu wat thoyyibat. Assalaamu’alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wa barokatuh. Assalamu’alaina wa ‘ala ‘ibadillahish shaalihin. Asyhadu alla ilaha wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuluh.

    Artinya: Segala ucapan selamat bagi Allah, sholawat, dan kebaikan. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Rasulullah beserta rahmat dan barakah-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula pada kamu dan kepada seluruh hamba-Nya yang salih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

    2. Doa Tahiyat Akhir

    Jika diperhatikan dengan seksama, bacaan doa tahiyat awal memang lebih pendek dari tahiyat akhir. Alasannya karena pada tahiyat akhir ada tiga unsur bacaan yakni bacaan tahiyat, bacaan sholawat untuk Rasul dan keluarganya, sholawat kamilah, dan bacaan doa untuk dunia akhirat.

    Berikut bacaan tahiyat akhir yang dianjurkan oleh Nabi dalam sunnahnya:

    التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ  أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، وبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ  الَّلهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

    Attahiyyatul mubarokatush sholawatut toyyibatu lillah. Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barokatuh. Assalaamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahish sholihin.

    Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuluh. Allahumma sholli ‘ala muhammadin wa ‘ala ali muhammadin kama shollaita ‘ala ibrohima wa ‘ala ali Ibrohim, wa barik ‘ala muhammadin wa ‘ala ali muhammadin kama barokta ‘ala ibrohima wa ‘ala ali ibrohim innaka hamidum majid.

    Allahumma inni a’udzu bika min ‘adzabi jahannama, wa min ‘adzabin nar, wa min  fitnatil mahya wal mamat, wa min syarri fitnatil masihid dajjal. Allahummagh firli ma qoddamtu wa ma akh-khortu, wa ma asrortu wa ma a’lantu, wa maa asyroftu wa ma anta a’lamu bihi minni, antal muqoddimu wa antal mu’akh-khiru, la ilaha illa anta.

    Atau biasanya bacaan tahiyat akhir yang banyak digunakan adalah:

    التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ  أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، وبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ .

    Attahiyyatul mubarokatush sholawatut toyyibatu lillah. Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barokatuh. Assalaamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahish sholihin.

    Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuluh. Allahumma sholli ‘ala muhammadin wa ‘ala ali muhammadin kama shollaita ‘ala ibrohima wa ‘ala ali Ibrohim, wa barik ‘ala muhammadin wa ‘ala ali muhammadin kama barokta ‘ala ibrohima wa ‘ala ali ibrohim innaka hamidum majid.

    Artinya: Ya Allah semoga sholawat tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW dan keluarganya. Seperti rahmat yang tercurah pada Nabi Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Dan limpahkanlah berkah atas Rasulullah beserta keluarganya seperti berkah yang Kau berikan kepada Ibrahim serta keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia di seluruh semesta alam. 

    Bagaimana Jika Lupa Mengerjakan Tahiyat Awal?

    Saat mengerjakan salat, tak jarang kita melakukan kesalahan atau lupa tidak mengerjakan salah satu gerakan salat. Nah, setelah mengetahui hukum dan doa tahiyat awal dan akhir, bagaimana jika kita lupa mengerjakan tahiyat awal dan apa yang harus kita lakukan saat lupa tidak mengerjakannya?

    Melansir dari Nu Online yang mengutip riwayat Mughirah bin Syu’bah, jika kita lupa tahiyat awal tapi langsung berdiri, maka yang harus dilakukan adalah tidak boleh kembali duduk. 

    Dalam kitabnya Safinatus Shalah, Sayyid Abdullah Umar bin Yahya menjelaskan kalau kita kembali duduk ketika terlanjur berdiri maka akan membatalkan salat. Ini berlaku untuk salat sendiri maupun jadi imam. 

    Bagaimana jika salat berjamaah dan kita menjadi makmum? Kalau jadi makmum dan lupa tahiyat awal sementara imam melakukannya, maka makmum harus ikut gerakan imam, yakni kembali duduk sembari membaca tahiyat awal. 

    Masalahnya, kalau imamnya terlanjur berdiri kemudian kembali duduk karena tidak tahu bahwa itu tidak boleh dilakukan, maka makmum harus tetap berdiri dalam salatnya.   

    Sudah Tahu Doa Tahiyat Awal dan Akhir Secara Lengkapnya?

    Itulah bacaan doa tahiyat awal dan akhir yang bisa dipraktikkan dalam salat, lengkap dengan penjelasan hukum serta masalahnya. Doa tahiyat ini haruslah dihafalkan dan dipahami maknanya agar salat menjadi sempurna dan diterima. 

  • Niat Mandi Wajib bagi Pria maupun Wanita & Tata Caranya, Simak!

    Niat Mandi Wajib bagi Pria maupun Wanita & Tata Caranya, Simak!

    Seperti apa niat mandi wajib bagi pria dan pelaksanaannya? Mandi besar merupakan cara bersuci yang telah ditetapkan dalam agama Islam karena sebab tertentu. Mandi wajib tidak sama dengan mandi biasa, meskipun dalam pelaksanaannya ada beberapa kesamaan yaitu sama-sama membasuh badan.

    Perbedaannya terletak pada niat bahwa Anda akan melaksanakan mandi wajib. Selain itu, terdapat beberapa kesunnahan lain yang menjadi anjuran untuk Anda laksanakan. Berikut pembahasan selengkapnya seputar mandi wajib.

    Pengertian Mandi Wajib

    Cara untuk menjaga seseorang dalam keadaan suci yaitu dengan berwudhu dan mandi besar. Mandi wajib merupakan aturan bagi umat Islam yang mengharuskannya untuk melaksanakan mandi karena sebab tertentu.

    Sementara itu, dalam bahasa Arab, kata mandi asalnya dari al-ghuslu yaitu mengalirkan air pada sesuatu. Secara istilah, al-ghuslu maknanya mengalirkan air pada seluruh badan beserta niat serta tata cara yang secara khusus untuk bersuci dari hadas besar.

    Niat Mandi Wajib bagi Pria

    Perlu dipahami, seseorang diwajibkan untuk mandi besar atau mandi wajib karena salah satu hal berikut ini:

    • Keluarnya mani baik karena mempermainkannya, mimpi basah, maupun gairah yang diakibatkan oleh pikiran atau penglihatan.
    • Berhubungan seksual atau jimak, meskipun tidak sampai mengeluarkan mani.

    Seseorang yang dalam kondisi junub haram untuk melaksanakan shalat. Selain itu, diharamkan bagi mereka untuk duduk di masjid, membaca al-Quran, dan lain-lain. Mereka harus melaksanakan mandi besar atau mandi wajib terlebih dahulu sebelum melakukan hal-hal tersebut.

    Untuk bacaan niat mandi wajib bagi pria dan wanita tidak jauh berbeda, yaitu: 

    Nawaitu Ghusla Lifrafil Hadatsil Akbari Fardhan Lillahi Ta’aala.”

    Artinya: Aku niat mandi wajib untuk menghilangkan hadas besar karena Allah Ta’ala.

    Tata Cara Mandi Wajib

    Sama halnya dengan niat mandi wajib bagi pria dan wanita, tata caranya pun juga sama. Untuk cara melaksanakan mandi wajib juga sangat mudah. Secara umum, ada dua hal penting dan ini sudah cukup membuat mandi besar Anda sah.

    Pertama adalah niat dan kedua meratakan air ke seluruh anggota tubuh. Dengan melakukan dua hal tersebut, maka mandi wajib Anda sudah sah. Akan tetapi, tentu seseorang ingin melaksanakan mandi besar tersebut lengkap dengan sunnah-sunnah yang ada.

    Bagi yang ingin melaksanakan mandi wajib tanpa kehilangan sunnah-sunnahnya, berikut tata caranya:

    • Masuk kamar mandi lalu ambil air dan basuh tangan dulu. Lakukan hingga tiga kali.
    • Membersihkan segala najis dan kotoran yang menempel di badan.
    • Berwudhu seperti halnya ketika Anda hendak melaksanakan shalat. Tata cara dan niat wudhunya juga sama dan akhiri dengan membasuh kaki.
    • Selanjutnya, mulailah melakukan mandi besar dengan cara mengguyur kepala terlebih dahulu hingga tiga kali. Bersamaan dengan itu, Anda juga harus berniat menghilangkan hadas besar.
    • Guyur anggota badan sebelah kanan sampai tiga kali. Lalu lanjutkan dengan mengguyur anggota badan sebelah kiri sebanyak tiga kali.
    • Jangan lupa menyela rambut serta jenggot (jika punya).
    • Pastikan bahwa air juga mengalir ke lipatan kulit serta pangkal rambut.
    • Sebaiknya hindarkan tangan Anda dari menyentuh kemaluan. Jika sampai tersentuh, Anda harus berwudhu kembali ketika selesai mandi wajib.

    Sebagai tambahan, pastikan Anda sudah mengguyur air ke semua bagian tubuh. Jangan menggunakan sabun atau bahkan sampo jika Anda belum yakin semua bagian tubuh Anda sudah terguyur air. Setelah Anda yakin, baru Anda bisa membersihkan diri dengan sabun maupun sampo.

    Sebab Seseorang Harus Mandi Wajib

    Tentunya seseorang harus melaksanakan mandi wajib dengan sebab tertentu. Berikut informasi selengkapnya.

    1. Keluar Mani

    “Hai untuk kalian orang-orang yang beriman, janganlah untuk kamu shalat dalam keadaan mabuk, hingga kamu mengerti apa yang telah kamu ucapkan, dan jangan datangi masjid sedangkan kamu dalam keadaan yang junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi”.

    Menurut keterangan pada QS: An-Nisa ayat 43 di atas, bahwa setelah berhubungan intim atau berjunub, maka baik laki-laki dan perempuan wajib mandi besar. Jika tidak, maka mereka haram untuk melaksanakan shalat dan masuk masjid. Melalaikannya pun akan berdosa.

    Selain itu, Rasulullah juga menjelaskan melalui hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim:

    “Ummu Sulaim berkata, ’Wahai Rasulullah sesungguhnya Allah tidak malu terhadap masalah kebenaran, apakah seorang wanita wajib untuk mandi ketika dia bermimpi? Nabi SAW menjawab, ’Ya, jika dia melihat air.”

    2. Bersentuhnya Alat Kelamin Meskipun Tidak Keluar Mani

    Rasulullah bersabda seperti yang diriwayatkan Abu Hurairah “Jika seseorang duduk di antara bagian tubuh perempuan yang empat, di antara dua tangan serta dua kakinya lalu menyetubuhinya, maka wajib untuk mandi, meskipun mani keluar atau tidak.” (HR. Muslim).

    Berdasarkan keterangan hadis di atas, bahwa ketika suami-istri melakukan hubungan badan dan telah bertemunya kemaluan, maka harus melakukan mandi wajib. Bahkan ketika keduanya tidak mengeluarkan mani, harus tetap mandi wajib.

    3. Haid dan Nifas

    Darah yang keluar karena haid dan nifas maka status darah tersebut menjadi darah kotor, najis, serta menjadikan wanita tidak suci. Dengan begitu, ketika seorang wanita sudah melewati masa haid maupun nifas, wajib baginya untuk bersuci dengan melaksanakan mandi wajib. 

    Jika tidak, maka wanita tersebut haram untuk melaksanakan ibadah seperti shalat, memegang mushaf Al-Quran, dan lain-lain.

    Hal ini sesuai dengan perkataan Rasulullah yaitu “Tinggalkan shalatmu selama saat engkau mendapatkan haid, lalu mandilah serta shalatlah.” (Muttafaq Alaih).

    4. Karena Kematian

    Sebab lain yang mengharuskan seseorang untuk mandi besar adalah karena kematian. Hal ini seperti hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, bahwa Rasulullah pernah berkata dalam keadaan berihram pada seseorang yang telah meninggal karena terhempas oleh untanya, “mandikanlah ia dengan air juga daun bidara.”

    Berdasarkan penjelasan hadis tersebut, seseorang yang meninggal dunia wajib dimandikan meskipun orang tersebut dimandikan orang lain. Setelah selesai mandi wajib, maka orang tersebut akan dishalatkan terlebih dahulu setelah itu baru dimakamkan.

    Apakah Setelah Berhubungan Harus Langsung Mandi Wajib?

    Pertanyaan yang kerap muncul, apakah setelah berhubungan suami-istri maka harus langsung mandi wajib? Jawabannya tentu tidak harus.

    Seseorang yang selesai berhubungan suami-istri, maka baginya tidak dianjurkan untuk langsung mandi wajib. Misalnya ketika selesai berhubungan di malam hari dan sudah melaksanakan shalat isya, maka orang tersebut tidak perlu langsung mandi wajib.

    Bagaimana ketika ingin minum atau menyantap makanan? Sebaiknya berwudhu terlebih dahulu meskipun belum mandi wajib. Untuk cara wudhunya sama seperti ketika Anda wudhu saat akan melaksanakan shalat.

    Akan tetapi, ketika berhubungan badan setelah ibadah ashar dan ternyata sudah memasuki waktu maghrib, maka Anda harus mandi wajib. Jangan menundanya karena Anda harus melaksanakan shalat maghrib.

    Kesimpulan

    Sekian pembahasan tentang niat mandi wajib bagi pria maupun wanita dan tata cara melaksanakannya. Sekarang Anda sudah memahami bahwa ada beberapa penyebab seseorang harus melakukan mandi wajib.

    Untuk tata caranya juga sangat mudah dan untuk kesempurnaan, Anda juga bisa mandi wajib dengan melaksanakan sunnah-sunnahnya. Semoga bermanfaat.

  • Amanah – Pengertian, Dalil, Ciri, Hikmah, & Contohnya

    Amanah – Pengertian, Dalil, Ciri, Hikmah, & Contohnya

    Islam selalu mengajarkan penganutnya untuk memiliki akhlak terpuji. Salah satu akhlak yang dianjurkan adalah amanah. Orang yang senantiasa mampu menjaga sikap ini akan mudah mendapatkan kepercayaan. Mengingat zaman sekarang menaruh kepercayaan itu bukan hal yang mudah.

    Jadi, belajar tentang bagaimana memiliki sikap baik ini perlu Anda pelajari. Ketika Anda memperoleh tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan terhadap persoalan tertentu, maka Anda wajib menjaganya agar tidak mengecewakan orang. Lantas, bagaimana ciri-ciri dan dalilnya? Simak di sini!

    Pengertian Amanah

    Secara harfiah, ini merupakan salah satu akhlak yang wajib dimiliki oleh setiap orang muslim. Istilah ini muncul dari kata al-amaanah atau al-amnu yang maknanya ialah suatu ketenangan jiwa yang terbebas dari segala hal yang menakutkan. Sebab, ketika seseorang memilikinya, pasti terhindar dari masalah.

    Sementara itu, menurut bahasa, istilah ini adalah suatu perkara yang sudah dipercayakan. Misalnya saja orang tua yang memiliki anak. Kalimat ini mengandung makna bahwa, anak merupakan kepercayaan dari Tuhan untuk para orang tua bimbing dan ajarkan apa yang dilarang Allah SWT dan diperintahkan.

    Pengertian Menurut Ahli

    Selain secara umum, ada beberapa ahli yang turut serta mengemukakan terkait pengertian istilah ini. Adapun ahli tersebut ialah:

    1. Quraish Shihab

    Menurut Quraish Shihab, amanah adalah kepercayaan dari seseorang agar bisa dijalankan dan dipelihara. Dalam prosesnya, orang-orang yang memperolehnya harus berusaha menghindari segala kemungkinan yang dapat merusak atau menghancurkannya, baik secara sengaja maupun tidak.

    2. Abdurrahman As-Sa’idi

    Abdurrahman As-Sa’idi mengemukakan bahwa, istilah ini adalah semua hal yang sudah dipercayakan seseorang agar orang yang dipercayakan itu mampu menunaikannya dengan baik.

    Dalil Amanah

    Allah SWT memberikan perintah kepada semua hambanya agar mampu mengemban kepercayaan dengan sempurna dan patuh. Tidak dikurangi, ditunda, dan dicurangi sedikitpun. Adapun berikut ini adalah beberapa dalil mengenai sikap baik ini yang bisa Anda pelajari:

    1. QS. Al-Ahzab: 72-73

    gramedia.com

    Artinya: Sesungguhnya kami telah mengemukakan sebuah kepercayaan kepada langit, bumi, serta gunung-gunung. Akan tetapi mereka semua menolak dan merasa khawatir tidak mampu mengembannya dan akan menghianatinya. Kemudian dipikulkanlah kepercayaan tersebut kepada manusia.

    Sesungguhnya manusia sangatlah zalim dan memiliki sifat bodo amat. Sehingga, Allah SWT pasti akan memberikan azab kepada orang-orang yang memiliki sifat munafik. Baik laki-laki maupun perempuan dan mereka yang musyrik. Namun, ketika mereka bertaubat, maka Allah SWT akan tetap menerimanya.

    Sungguh Allah SWT adalah Tuhan yang maha pengampun lagi maha penyayang. Dalam firman Allah SWT tersebut, Tuhan sudah memberikan penawaran titipan kepada makhluk-makhluk yang lebih besar yakni bumi, langit dan gunung secara sukarela atau tanpa paksaan.

    Namun, makhluk-makhluk tersebut menolak untuk memikul kepercayaan sebesar itu. Sebab ada kekhawatiran karena tidak mampu melaksanakan kepercayaan dari Tuhan. Mereka bukan menolak karena membangkang ataupun tidak menginginkan pahala, namun murni karena ketidaksanggupannya.

    Kemudian Allah SWT menawarkan titipan tersebut kepada hamba yang lebih kecil, yakni manusia dengan syarat dan ketentuan seperti yang dijelaskan langit, bumi, dan gunung. Dengan tegas manusia menyanggupi kepercayaan tersebut, meskipun kebanyakan dari mereka bodoh dan zalim.

    Manusia sendiri memiliki bentuk tubuh yang lebih kecil dibandingkan dengan ketiga makhluk Allah yang lainnya. Namun, manusia mau menerima kepercayaan karena memiliki potensi. Tetap karena manusia memiliki ambisi dan syahwat yang luar biasa, ini membuat mereka terkelabui dan menutup pandangan mata hatinya.

    2. HR. Abu Dawud: 3535

    gramedia.com

    Hadist HR. Abu Dawud: 3655 merupakan hadist yang menjelaskan tentang kewajiban bagi seorang muslim agar tidak berkhianat dan menjaga kepercayaan yang diberikan. Adapun bunyi hadist tersebut ialah:

    Artinya: Kerjakan amanah kepada orang-orang yang sudah memberikan kepercayaannya untukmu dan janganlah dirimu berkhianat kepada orang-orang yang sudah menghianatimu.

    3. HR. Bukhari: 59

    gramedia.com

    Dalam hadist HR. Bukhari: 59 menjelaskan bahwa titipan yang diangkat menjadi salah satu ciri-ciri kiamat. Berikut bunyi hadistnya.

    Artinya: pada suatu hari Nabi Muhammad SAW tengah berada di majelis dan menceritakan kepada suatu kaum. Kemudian datang seorang dari golongan Arab Badui yang melontarkan pertanyaan “Kapan hari kiamat terjadi?” Rasul tidak menjawab dan melanjutkan pembahasan.

    Hal tersebut membuat sebagian kamu merasa bahwa beliau memang mendengarkan apa yang ditanyakan, akan tetapi tidak terlalu menyukai pertanyaannya. Kemudian ada sebagian pula yang mengatakan bahwa beliau memang tidak mendengarkan pertanyaannya.

    Hingga Nabi SAW menyelesaikan pembahasan yang tengah diperbincangkan dan berkata “Mana orang yang menanyakan tentang hari kiamat tadi?”, “Saya, Rasul.” jawab orang tersebut. 

    Maka beliau kemudian bersabda “Jika sudah hilang amanah maka tunggulah, kiamat akan terjadi. “Bagaimana kepercayaan bisa hilang?” kata orang tersebut lagi. Rasul menjawab “Ketika urusan dipasrahkan dan diserahkan kepada orang-orang yang bukan ahlinya, maka tunggu kaiamat tersebut terjadi”.

    4. Q.S Al-Baqarah: 238

    gramedia.com

    Artinya: Jika kamu ada di perjalanan dan bermua’malah secara tidak tunai, sedangkan kamu tidak mendapatkan penulis, maka hendakklah barang tanggungan yang dipegang oleh seseorang yang mempunyai hutang.

    Namun, jika ada sebagian dari dirimu yang mempercayai bahwa ada sebagian dari lainnya. Maka, hendaknya orang yang mendapatkan kepercayaan menunaikan segala amanah (hutang) dan hendak bertakwalah kepada Allah SWT selaku Tuhannya dan silahkan jaga dirimu (para saksi).

    Barangsiapa yang menyembunyikan kesaksiannya maka sesungguhnya ia masuk ke dalam golongan orang-orang berdosa hatinya. Sungguh Allah maha mengetahui apa yang sedang kamu kerjakan.

    Ciri-Ciri Amanah

    Meski menjadi akhlak yang diwajibkan oleh Allah SWT, namun tidak semua orang mampu memiliki sikap ini. Adapun ciri-ciri orang yang dapat dipercaya adalah sebagai berikut:

    1. Jujur

    Ciri pertamanya adalah jujur. Sikap ini menjadi salah satu pertanda bahwa orang tersebut dapat dipercaya. Orang yang memiliki akhlak ini pasti mampu menyampaikan informasi sesuai dengan aslinya. Tidak ada perkara yang ditambahkan atau dikurangi dengan tujuan tertentu.

    2. Bertanggung Jawab

    Tak hanya itu, orang yang amanah sudah bisa dipastikan bertanggung jawab. Sebab, kepercayaan yang diberikan kepada mereka dianggap sebagai titipan dan harus dijaga. Tak peduli seberat dan sebanyak apapun halangannya, tanggung jawab akan tetap dijaga dengan kemampuan terbaiknya.

    3. Menepati Janji

    Berikutnya adalah orang tersebut mampu menepati janji. Dengan sikap ini, orang tersebut dapat memikul kepercayaan yang diberikan seseorang kepada dirinya. Terlepas bahwa janji tersebut berasal dari dirinya sendiri maupun orang lain.

    Hikmah Amanah

    Sesuatu yang baik pasti akan memberikan dampak baik untuk diri sendiri. Begitupun dengan diterapkannya sikap ini yang tentu saja mampu memberikan hikmah tersendiri untuk kehidupan. Adapun hikmah tersebut ialah:

    • Bisa menjalankan setiap tanggung jawab yang diberikan dengan baik dan sesuai porsinya.
    • Mudah mendapatkan kepercayaan dari orang lain sehingga menjamin hubungan baik antar sesama muslim.
    • Hidupnya akan dimudahkan oleh Allah SWT dan diberikan jalan kesuksesan.
    • Memperoleh simpati dan rasa hormat dari semua pihak.

    Contoh

    Setelah membahas tentang pengertian, ciri-ciri, hadist, dan hikmahnya, kini saatnya Anda melihat beberapa contoh yang umum ada di sekitar Anda. Berikut adalah penjelasannya:

    1. Menjalankan Tugas dan Tanggung Jawab

    Tugas dan tanggung jawab adalah dua hal yang bisa menjadi patokan apakah orang tersebut dapat dipercaya atau sebaliknya. Orang yang mampu melakukannya berarti bisa diberikan kepercayaan. Mereka tidak peduli dengan tantangan, risiko, kesulitan, bahwa tawaran menggiurkan. Pastinya tetap akan melakukannya secara maksimal.

    3. Menyampaikan Titipan Sesuai dengan Porsi Aslinya

    Sekilas, menyampaikan titipan sesuai dengan porsi aslinya adalah perkara yang mudah untuk dijalankan. Hanya saja, apakah semua orang mampu melakukannya dengan baik? Tidak tergiurkah untuk mencicipi sedikit isinya? Hanya orang-orang yang memiliki amanah yang mampu menyampaikan titipan sesuai aslinya.

    Terlepas perilaku tersebut sebenarnya tidak memberikan keuntungan untuk penyampai pesan. Namun, karena sikap dapat dipercayanya sudah terbiasa dilakukan, jadi kegiatan tersebut sangatlah mudah.

    3. Menjaga Informasi yang Bersifat Rahasia

    Ada pepatah yang bilang bahwa, mulut manusia terkadang berbisa. Memang faktanya demikian, karena pesan rahasia pun bisa menjadi informasi umum jika tidak diamanahkan kepada orang yang tepat. Gunanya orang yang bisa dipercaya ialah mampu menjaga rahasia sekalipun itu bukan hal yang besar.

    Sudahkah Anda Memiliki Sikap Ini?

    Setelah membaca ulasan seputar amanah, Anda sebagai umat muslim haruslah bisa membuat diri menjadi orang yang dapat dipercaya. Kepercayaan itu ibarat kaca. Jika sudah pecah, maka ke depannya tidak akan bisa kembali seperti semula. Jadi, selagi masih dipercaya, jangan pernah berkhianat.