Blog

  • Obligasi: Pengertian, Jenis, Karakteristik, dan Contohnya

    Obligasi: Pengertian, Jenis, Karakteristik, dan Contohnya

    Salah satu objek investasi populer adalah obligasi, alias surat utang berjangka. Hal tersebut didukung oleh berbagai media yang menawarkan jenis investasi tersebut serta para ahli yang mengklaim keamanannya. Namun, benarkah memang demikian atau tidak lebih dari sekadar stigma? Mari simak lebih dalam di sini!

    Apa Itu Obligasi?

    Istilah ini merujuk pada surat utang jangka menengah hingga jangka panjang yang sengaja diperjualbelikan sebagai objek investasi yang sah. Sertifikat tersebut berisi perjanjian pinjaman yang diterbitkan oleh pengutang (debitur) dan dibeli oleh pemberi utang (kreditur atau investor).

    Peminjam mempunyai kewajiban untuk membayar pokok dan bunga pinjaman dalam kurun waktu yang tercatat dalam surat utang itu. Transaksi biasanya dilakukan di pasar uang (bursa efek) maupun pasar sekunder sesuai dengan hukum yang berlaku.

    Beberapa karakteristik surat utang adalah waktu jatuh tempo beragam, ada kontrak, memiliki coupon rate, nilai utang pokok, dan keuntungan berupa bunga atau kupon.

    Jenis Lengkap Surat Utang Berjangka

    Perjanjian utang dalam bentuk instrumen investasi ini memiliki banyak jenis berbeda, yaitu:

    Berdasarkan Penerbit

    Berdasarkan penerbitnya, surat utang berjangka terbagi dalam beberapa jenis, yaitu:

    1. Pemerintah

    Jenis surat utang berjangka dengan peminat paling besar di bursa saham adalah yang diterbitkan oleh pemerintah. Sebab, perjanjian pinjaman tersebut dilindungi oleh banyak peraturan dalam penerbitannya sehingga risiko gagal bayar pun lebih kecil. 

    2. Korporasi

    Jenis berikutnya, yaitu sertifikat yang diterbitkan perusahaan, baik milik negara (BUMN) dan swasta. Mayoritas jenis obligasi ini memiliki jangka waktu hanya satu tahun, cocok untuk investor jangka menengah. Namun, harus dipahami bahwa risiko investasinya lebih besar dari surat utang pemerintah.

    3. Pemerintah Daerah

    Jika pemerintah pusat memasukkan surat utang ke bursa saham untuk skala nasional, berbeda dengan terbitan pemerintah daerah. Tujuan perjanjian pinjaman itu adalah untuk membantu meningkatkan perekonomian daerah terkait. Sehingga skala investasinya pun terbatas, namun dari segi resiko tergolong rendah.

    Berdasarkan Nominal

    Berikut jenis berdasarkan nominalnya:

    1. Konvensional

    Nominal dari instrumen investasi berupa surat berharga ini bisa mencapai Rp1.000.000.000,00 (satu miliar) per lot. Biasanya yang menerbitkan nominal sebesar ini adalah pihak swasta. 

    2. Ritel

    Pemerintah umumnya memilih jenis surat utang ritel dengan nilai Rp1.000.000,00 (satu juta) per lot. Namun, pihak korporasi pun beberapa juga menerbitkan surat utang berjangka dengan nominal kecil, biasanya dilakukan perusahaan rintisan.

    Berdasarkan Imbal Hasil

    Jenis berdasarkan imbal hasilnya:

    1. Syariah

    Menerapkan prinsip simpan pinjam berbasis Islam di mana riba diharamkan, imbal hasil surat utang berjangka dengan sistem syariah tidak menerapkan bunga. Debitur hanya membayarkan pokok pinjaman dan persentase bagi hasil sesuai kesepakatan dalam periode tertentu.

    2. Konvensional

    Jenis pinjaman ini mewajibkan pengutang untuk membayarkan pokok dan bunga secara rutin sesuai periode yang dipilih kepada kreditur. 

    Berdasarkan Jaminan

    Berikut uraian jenis-jenisnya:

    1. Pinjaman dengan Jaminan (Secured Bonds)

    Obligasi ini menjaminkan suatu aset yang dimiliki oleh pihak peminjam. Di mana macam-macamnya terbagi menjadi tiga, yaitu:

    • Jaminan properti (mortgage bonds).
    • Jaminan surat berharga seperti saham (collateral trust bonds).
    • Jaminan aset seperti pesawat dan truk (equipment trust certificate).

    2. Pinjaman Tanpa Jaminan (Unsecured Bonds)

    Surat utang berjangka ini diterbitkan tanpa adanya jaminan dari debitur. Ada tiga macam kategori unsecured bonds), yaitu:

    • Diterbitkan oleh debitur terpercaya (debentures).
    • Surat utang yang dibayar setelah pinjaman yang lebih dulu diterbitkan selesai (subordinated debentures).
    • Bunga dan pokok pinjaman dibayar setelah debitur menghasilkan laba (income bonds).

    Berdasarkan Hak Penukaran

    Lalu, pembagian jenis berdasarkan hak penukarannya:

    1. Konversi

    Kreditur mempunyai hak untuk mengubah surat utang yang diterbitkan ke dalam bentuk saham dari badan usaha milik debitur. Nilai penukaran disesuaikan dengan rasio yang sudah disepakati bersama.

    2. Tukar

    Konsepnya menyerupai model konversi. Hanya saja, bukan saham perusahaan induk yang ditukar, melainkan afiliasi seperti anak cabang.

    3. Opsi Beli

    Sertifikat pinjaman dibeli kembali oleh debitur setelah periode penjanjian habis, namun sifatnya tidak wajib. Guna mendapatkan kembali surat utangnya, peminjam biasanya harus membayar nominal lebih tinggi dari harga awal transaksi.

    4. Wajib Beli

    Berbeda dengan opsi beli di mana debitur tidak wajib menebus. Di sistem wajib beli alias putable bonds, surat utang wajib dibeli kembali dari investor. 

    Berdasarkan Pembayaran Bunga

    Terakhir, pembagian jenis berdasarkan pembayaran bunga:

    1. Kupon (Standard Coupon Bonds)

    Maksud dari kupon adalah surat utang berkala di mana peminjam wajib membayar pokok utang berikut bunga secara rutin. Pada kupon disertakan besaran nominal cicilan dan tanggal jatuh tempo setoran sesuai yang telah disepakati pada awal jual beli. 

    2. Tanpa Bunga Kupon (Zero Coupon Bonds)

    Tidak ada kewajiban debitur untuk membayar investor secara berkala. Keuntungan dari penanam modal didapatkan saat obligasi tersebut dilelang atau dijual kembali. Selisih harga yang ada dari awal pembelian dan terjual kepada pihak lain itulah yang menjadi keuntungan investor.

    3. Kupon Tetap (Fixed Coupon Bonds)

    Kreditur dan debitur terlibat dalam perjanjian penetapan bagi hasil tetap dari surat utang yang diterbitkan. Jadi, total pengembalian dana (termasuk pokok dan bunga) sudah dihitung sejak awal perjanjian sehingga investor tahu benar jumlah keuntungan yang didapat sejak semula.

    4. Kupon Mengambang (Floating Coupon Bonds)

    Kebalikan dari kupon tetap, model kupon mengambang bergantung pada nilai bursa. Investor bisa mendapatkan nominal penjualan atau lelang dengan harga tertinggi, sedangkan debitur bisa menebus sesuai harga awal pada masa jatuh tempo.

    Keunggulan dan Kelemahan Obligasi sebagai Instrumen Investasi

    Sebelum memutuskan untuk menggeluti sektor tersebut, penting untuk mempertimbangkan dulu dari sisi kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Berikut uraiannya:

    Kelebihan Surat Utang

    • Keuntungan lebih besar dibandingkan investasi model deposito.
    • Surat utang berjangka adalah surat berharga, sehingga bisa dijadikan agunan (pinjaman dengan jaminan) kepada bank.
    • Sistem kupon memberikan keuntungan berjangka (nisbah) lebih tinggi dibandingkan bunga tabungan dari Bank Indonesia.
    • Keuntungan dan resiko dapat diperhitungkan sejak awal investasi.
    • Resiko model investasi surat utang lebih rendah dibandingkan instrumen lain, khususnya yang diterbitkan oleh pemerintah.

    Kekurangan Surat Utang

    • Suku bunga surat utang di bursa efek termasuk fluktuatif, bisa sangat rendah ataupun meningkat tajam dalam waktu relatif singkat.
    • Tidak disarankan menjual sebelum jatuh tempo karena pasti mengalami capital loss sehingga memang tidak cocok untuk investasi jangka pendek atau kebutuhan darurat.
    • Resiko gagal bayar cukup tinggi jika diterbitkan oleh debitur non pemerintah.

    Contoh Obligasi

    Beberapa contoh surat utang berjangka adalah sebagai berikut:

    • Utang Jangka Panjang Berkelanjutan I Bank Mandiri Tahap 1 Seri B. Ini terbit pada tahun 2016.
    • Utang Jangka Panjang Berkelanjutan I KIA Seri A yang terbit tahun 2017.
    • SUN (Surat Utang Negara) untuk mendanai APBN.
    • ORI (Obligasi Ritel), tujuannya sama dengan SUN.

    Tips Investasi Surat Utang Berjangka 

    Berikut adalah beberapa tips jitu untuk meminimalisir potensi kerugian serta menghasilkan keuntungan besar dari surat utang:

    1. Melakukan Riset Tentang Penerbit

    Memahami debitur yang menerbitkan surat utang menjadi hal wajib untuk menghindari kerugian investasi. Cari tahu tentang rekam jejak penerbit dari investor-investor lain yang memiliki pengalaman bertransaksi, terutama prosedur dan ketepatan membayar.

    2. Mengatur Strategi Investasi

    Setelah menemukan debitur sebagai penerbit surat utang yang sesuai dan dirasa aman, pastikan untuk mengatur strategi investasi dengan cermat. Tetapkan jangka waktu, tujuan, serta manajemen resiko sebagai pedoman wajib untuk ditaati.

    3. Coba dari Nominal Terendah

    Bagi investor pemula atau hendak memilih penerbit baru, hindari memilih obligasi dengan nominal besar. Pilih dari nominal terkecil untuk memastikan keamanan dan kemampuan debitur terlebih dahulu. Jika investasi dirasa aman, dapat dilanjutkan dengan nominal yang lebih besar.

    4. Mempertimbangkan Kondisi Pasar

    Jenis investasi apapun, termasuk surat-surat berharga, harus mempertimbangkan kondisi terkini pasar agar tidak sampai merugi. Terlebih mengingat bursa efek sangat bergantung pada sentimen publik. Ada beberapa kondisi kritis yang sebaiknya dihindari saat hendak berinvestasi, yaitu:

    • Pergolakan politik.
    • Pengambilan kebijakan ekonomi nasional.
    • Pengambilan kebijakan keuangan Bank Indonesia.
    • Kondisi pasar internasional memburuk.

    5. Tidak Menggunakan Jasa Perantara

    Banyak yang menawarkan jasa perantara investasi dengan jaminan investor pasti mendapatkan keuntungan tanpa perlu menjalankan prosedur maupun memantau pasar secara langsung. Namun, lebih baik hindari model investasi dengan perantara, terlebih untuk surat-surat berharga karena resiko penyalahgunaan kuasa sangat besar.

    Sudah Memahami Apa itu Surat Utang?

    Instrumen investasi ini memang memiliki risiko relatif rendah dan menawarkan keuntungan menjanjikan. Namun, tetap diperlukan prosedur dan metode yang tepat dalam menjalankannya. Investasi obligasi juga sudah bisa dilakukan secara online di mana prosesnya lebih fleksibel, mudah, dan cepat.

  • BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional): Sejarah, Tugas, Fungsi

    BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional): Sejarah, Tugas, Fungsi

    Tahukah Anda tentang lembaga BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional)? Lembaga ini berdiri di tengah krisis moneter Indonesia pada 1998 silam. Sesuai namanya, BPPN memiliki wewenang untuk mengorganisir hingga merestrukturisasi perbankan dalam upaya untuk mengembalikan uang negara di masa tersebut.

    BPPN merupakan salah satu lembaga pemerintah yang tak berumur lama. Karena setelah berdiri pada tahun 1998, lembaga ini resmi bubar setelah enam tahun terbentuk, yakni pada tahun 2004. Ingin mengetahui sejarah lengkap BPPN? Simak di sini!

    Apa Itu BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional)? 

    BPPN atau Badan Penyehatan Perbankan Nasional adalah lembaga yang didirikan oleh pemerintah Indonesia dengan tujuan untuk mengatasi masalah dan krisis di sektor perbankan pada 1998.

    Pembentukan lembaga ini berdasarkan Keppres (Keputusan Presiden) Nomor 27 tahun 1998 sebagai respons atas krisis keuangan yang melanda Indonesia pada saat itu. Peran utama BPPN adalah menyehatkan sektor perbankan melalui penanganan dan restrukturisasi bank-bank yang mengalami kesulitan keuangan.

    BPPN juga bertanggung jawab dalam menyehatkan bank-bank yang mengalami masalah keuangan. Serta menangani kredit macet, menyelamatkan bank yang masih cukup strategis atau potensial, dan mengawasi serta mengevaluasi kinerja bank-bank yang sedang dalam proses penyehatan.

    BPPN berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait dalam menjalankan tugas. Contohnya antara lain Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Kementerian Keuangan, dan lembaga-lembaga lain yang terlibat dalam penanganan krisis keuangan. 

    Ini bukan tanpa alasan, sebab BPPN bekerja untuk menciptakan stabilitas dan memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan. Namun, pemerintah menilai kinerja BPPN kurang memuaskan. Sehingga, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 16 Tahun 2004, lembaga ini resmi bubar.

    Sayangnya, menurut Kemenkeu, pembubaran BPPN ini meninggalkan sejumlah tugas yang belum rampung. Salah satu contohnya adalah masalah aset kredit yang tercatat mencapai Rp61.900.000.000.000,00 (triliun).

    Sejarah BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional)

    Berikut adalah sejarah BPPN yang perlu Anda ketahui:

    1. Awal Mulainya

    BPPN dimulai pada masa krisis moneter yang terjadi pada akhir tahun 1997 hingga awal 1998. Resesi ekonomi dan krisis keuangan yang melanda Indonesia pada saat itu merupakan bagian dari krisis finansial Asia yang lebih luas. 

    Pasar keuangan Indonesia mengalami goncangan hebat yang menyebabkan banyak bank mengalami kesulitan keuangan. Serta meningkatnya kredit macet dan ancaman serius terhadap stabilitas sistem perbankan negara. 

    Sehingga, pada Januari 1998, pemerintah Indonesia membentuk BPPN melalui Keputusan Presiden Nomor 27 Tahun 1998. Tujuan utama berdirinya BPPN untuk melakukan penyehatan perbankan yang mengalami masalah keuangan dalam rangka memulihkan stabilitas sistem keuangan nasional.

    2. Awal Tahun 1998

    Pemerintah memberikan sejumlah wewenang BPPN dalam menjalankan misi. Wewenang ini tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 34 tahun 1998, yaitu “Tugas dan Kewenangan Badan Penyehatan Perbankan Nasional”.

    BPPN fokus pada tiga tugas utama, yang meliputi penyehatan perbankan Indonesia, menyelesaikan aset perbankan yang bermasalah, serta mengembalikan uang negara yang ada di sektor perbankan. 

    Ketika berada di bawah kepemimpinan Glenn Yusuf, BPPN memiliki divisi AMC (Asset Management Credit) dan AMI (Asset Management Investment). Asset Management Credit bertugas untuk menangani kredit bermasalah pada bank-bank yang ditutup pemerintah. 

    Sementara itu, Asset Management Investment bertugas untuk menangani aset atau pemilik bank. Pembentukan kedua divisi tersebut merupakan upaya BPPN untuk menyelesaikan aset bermasalah guna mengembalikan uang negara.

    3. Pertengahan Tahun 1998

    Selama masa operasionalnya, BPPN melakukan berbagai langkah penyehatan perbankan. Termasuk restrukturisasi utang, penjualan aset, penggantian manajemen bank, dan penyelesaian kredit macet. 

    BPPN juga melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kinerja bank-bank yang sedang dalam proses penyehatan untuk memastikan efektivitas tindakan yang diambil.

    Bukan hanya itu saja, BPPN berhasil membuat lima pemilik bank di Indonesia untuk bergabung dalam MSAA (Master Settlement and Acquisition Agreement). Sedangkan empat pemilik bank lainnya menyepakati MRA (Master Refinancing and Notes Issues Agreement). 

    Menurut laporan, total aset yang diserahkan ke BPPN pada saat itu berjumlah hingga Rp111.643.000.000.000,00.

    4. Februari 2004

    Sebagai sebuah lembaga penyehatan perbankan, BPPN berperan penting dalam mengatasi masalah keuangan di sektor perbankan Indonesia dan memulihkan stabilitas sistem perbankan.

    Namun, seiring berjalannya waktu, BPPN mengalami kemunduran kinerja. Ketua BPPN saat itu, Syafruddin A. Temenggung, menyebut pemerintah Indonesia tidak memberikan dukungan maksimal pada pihaknya. Kemudian pada Maret 2003, Syarifuddin mulai mendiskusikan perihal pembubaran BPPN. 

    BPPN resmi bubar pada 27 Februari 2004. Presiden Megawati Soekarnoputri membubarkan lembaga ini dan menunjuk Boediono selaku Menteri Keuangan sebagai ketua pemberesan BPPN. Perintah pembubaran tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 16 tahun 2004.

    Tugas Badan Penyehatan Perbankan Nasional

    BPPN memiliki beberapa tugas utama dalam menjalankan perannya sebagai salah satu lembaga paling penting di era krisis moneter. Beberapa tugas tersebut antara lain:

    1. Penyehatan Bank

    BPPN bertugas menyehatkan bank-bank yang mengalami kesulitan keuangan. Contohnya adalah melakukan pemantauan, evaluasi, dan penanganan masalah yang timbul di bank-bank tersebut. Selain itu, badan ini juga dapat melakukan restrukturisasi, likuidasi, atau penjualan bank yang terkena dampak krisis.

    2. Penanganan Kredit Macet

    Salah satu tugas penting BPPN adalah menangani kredit macet yang ada di bank-bank yang mengalami kesulitan. BPPN melakukan pemulihan kredit dengan berbagai pendekatan, seperti restrukturisasi, penjadwalan ulang pembayaran, atau penjualan piutang kepada pihak ketiga.

    3. Penyelamatan Bank

    Badan Penyehatan Perbankan Nasional dapat melakukan tindakan penyelamatan untuk bank yang strategis dan memiliki potensi untuk pulih. Tindakan ini dapat melibatkan penyertaan modal, pembelian aset, atau penggabungan dengan bank lain. 

    Tujuan utama dari tindakan penyelamatan adalah menjaga stabilitas sistem perbankan dan mencegah dampak negatif yang lebih luas.

    4. Pengawasan dan Evaluasi

    BPPN bertanggung jawab untuk mengawasi bank-bank yang menjadi bagian dari program penyehatan. Beberapa tugasnya antara lain monitoring keuangan, pengelolaan risiko, dan pemantauan kinerja bank-bank tersebut. 

    BPPN melakukan evaluasi secara berkala terhadap bank-bank yang sedang dalam proses penyehatan. Tujuannya untuk memastikan bahwa langkah-langkah yang diambil efektif dan berkelanjutan.

    5. Koordinasi dengan Pihak Terkait

    BPPN juga berperan sebagai koordinator antara berbagai pihak terkait dalam penyehatan perbankan. Misalnya, menjalin kerja sama dengan Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Kementerian Keuangan, dan lembaga-lembaga lain yang terlibat dalam penanganan krisis keuangan. 

    Bukan hanya itu, BPPN juga menjalin hubungan dengan lembaga keuangan internasional untuk mendapatkan dukungan dan saran dalam upaya penyehatan perbankan.

    Fungsi Badan Penyehatan Perbankan Nasional

    Fungsi utama BPPN adalah untuk menciptakan stabilitas dan kepercayaan dalam sektor perbankan. Selain itu, beberapa fungsi penting BPPN lainnya adalah sebagai berikut:

    1. Memulihkan Kepercayaan

    Melalui langkah-langkah penyehatan perbankan, BPPN berusaha memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan. 

    Sebab, dengan menangani masalah keuangan dan memperbaiki kinerja bank-bank yang terkena dampak krisis, BPPN berkontribusi dalam membangun kepercayaan yang penting untuk memulihkan stabilitas sistem keuangan.

    2. Menjaga Stabilitas Sistem Perbankan

    Fungsi berikutnya adalah menjaga stabilitas perbankan. Artinya, dengan menyehatkan bank-bank yang mengalami kesulitan, BPPN berperan dalam menjaga stabilitas sistem perbankan.

    Bank-bank yang mengalami masalah keuangan dapat menjadi sumber ketidakstabilan yang dapat mempengaruhi perekonomian secara keseluruhan. Tindakan penyehatan yang dilakukan oleh BPPN bertujuan untuk mengurangi risiko tersebut.

    3. Mengelola Risiko Keuangan

    Badan Penyehatan Perbankan Nasional memiliki peran penting dalam mengelola risiko keuangan yang terkait dengan bank-bank yang sedang dalam proses penyehatan. 

    Pasalnya, dengan melakukan pemantauan dan evaluasi yang ketat, BPPN dapat mengidentifikasi risiko potensial. Serta mengambil tindakan pencegahan dan mengurangi dampak negatif yang mungkin timbul.

    4. Mengembangkan Kebijakan Penyehatan Perbankan

    Fungsi berikutnya adalah membantu mengembangkan kebijakan dalam penyehatan perbankan. Artinya, BPPN berkontribusi dalam pengembangan kebijakan penyehatan perbankan. 

    Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dalam menangani krisis keuangan, BPPN dapat memberikan masukan yang berharga kepada pemerintah. Khususnya dalam merumuskan kebijakan yang lebih baik dan efektif dalam menghadapi tantangan di sektor perbankan

    Sudah Mengetahui Tugas BPPN dan Sejarahnya?

    Kesimpulannya, BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) adalah lembaga yang didirikan untuk mengatasi masalah dan krisis di sektor perbankan Indonesia pada tahun 1998. 

    BPPN memiliki tugas dan wewenang yang meliputi penyehatan bank, penanganan kredit macet, hingga koordinasi dengan berbagai pihak terkait. Meskipun lembaga BPPN telah bubar, tetapi sejarah dan peranannya tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan perbankan Indonesia. Semoga bermanfaat!

  • Remunerasi: Pengertian, Jenis, Manfaat, dan Keuntungannya

    Remunerasi: Pengertian, Jenis, Manfaat, dan Keuntungannya

    Bagi sebagian orang, istilah remunerasi mungkin belum begitu familiar. Padahal, ini merupakan salah satu hal yang cukup penting dalam aktivitas pekerjaan, terutama untuk mereka yang bekerja di instansi pemerintah maupun swasta.

    Remunerasi sendiri akan sangat berkaitan dengan hak yang akan pegawai terima karena perusahaan wajib untuk membayarkannya. Oleh sebab itu, ini merupakan hal yang perlu Anda perhatikan sebelum melakukan tanda tangan kontrak kerja tertentu.

    Pengertian Remunerasi

    Secara keseluruhan, remunerasi adalah pemberian penggantian atau penghargaan kepada individu yang telah bekerja dan memberikan kontribusi secara teratur di tempat kerjanya. Bentuk imbalan kerja ini berkaitan dengan sistem gaji pegawai. 

    Seseorang, termasuk Anda, bisa mendapatkan imbalan tersebut dalam bentuk uang ataupun bentuk lainnya yang merupakan bentuk pujian atas pencapaian yang telah pegawai dapatkan. Pada prakteknya, setiap perusahaan akan memberikan remunerasi dengan besaran yang berbeda. 

    Ada beberapa faktor yang membuat perbedaan itu, mulai dari kemampuan finansial perusahaan, durasi dan masa kerja. Kemudian, juga karena kebijakan internal perusahaan, peraturan dan kebijakan pemerintah, serta permintaan dan penawaran dari sisi pegawai.

    Jenis Remunerasi

    Setelah memahami pengertiannya, selanjutnya Anda juga perlu memahami jika dalam penerapannya bentuk imbalan tersebut terdiri dari beberapa jenis, antara lain:

    1. Gaji

    Singkatnya, gaji merupakan jenis imbalan yang akan pegawai terima secara tetap. Pembayaran gaji sendiri akan terbayarkan secara periodik, bisa setiap bulan, minggu, atau bahkan setiap hari.

    Perhitungan dari gaji yang akan setiap pegawai dapatkan juga berbeda-beda, misalnya gaji terhitung per jam atau per hari. Selain itu, besaran gaji tiap pegawai juga akan menyesuaikan dengan gaji pegawai lain di wilayah dan sektor yang sama.

    Besaran gaji juga akan mendapat pengaruh dari beberapa hal lain, misalnya rentang waktu pegawai tersebut bekerja, kemampuan yang pegawai miliki, permintaan dan penawaran, dan beberapa faktor lainnya

    2. Komisi

    Selain gaji, bentuk imbalan lainnya yang juga bisa pegawai peroleh adalah komisi. Jika gaji sifatnya tetap, baik waktu pembayaran dan juga nominalnya, maka hal tersebut berbeda dengan komisi.

    Komisi merupakan bayaran yang pemberi kerja berikan kepada pegawainya setelah selesai mengerjakan tugas tertentu. Oleh karena itu, nilai komisi akan tergantung dari berapa banyak pekerjaan yang bisa pegawai tersebut selesaikan.

    Contoh pemberian komisi adalah ketika sales berhasil menjual satu produk, maka ia akan mendapatkan komisi dari penjualan tersebut. Nilai komisi sendiri biasanya sudah perusahaan tentukan pada kebijakan yang ada.

    3. Bonus

    Jenis remunerasi lainnya yang juga bisa pegawai terima adalah bonus. Bonus sendiri merupakan bentuk imbalan yang jumlahnya tidak tetap dan waktu pemberiannya juga tidak menentu.

    Bonus merupakan bentuk apresiasi setelah pegawai menyelesaikan satu pekerjaan. Contoh bonus yang umum Anda temukan adalah bonus tahunan, yang biasanya terbayarkan satu tahun sekali dengan jumlah yang tidak menentu.

    Perlu Anda ingat bahwa bonus berbeda dari komisi. Jika komisi memiliki perhitungan yang tetap, maka besaran bonus biasanya akan bergantung pada kebijakan perusahaan. Beberapa perusahaan menerapkan pemberian bonus sebagai tambahan gaji.

    4. Insentif

    Jenis lainnya adalah insentif. Sederhananya, insentif merupakan sejumlah uang yang perusahaan berikan kepada pegawainya dengan tujuan untuk mendukung maupun meningkatkan kinerja dari pegawai itu sendiri.

    Pemberian insentif ini mirip dengan tunjangan. Artinya, pegawai berhak mendapatkan uang di luar gaji yang bisa mereka gunakan untuk mendukung tugas dan tanggung jawab pekerjaannya.

    Contoh insentif adalah seperti uang komunikasi, uang kesehatan, dan lainnya. Sistem pemberian dan nominal dari insentif tentu saja akan berbeda pada tiap perusahaan, tergantung kebijakan perusahaan tersebut.

    5. Upah

    Sebenarnya, bentuk imbalan upah mirip dengan gaji, di mana pemberi kerja membayarkan hak dari pegawainya setelah mereka menyelesaikan pekerjaanya. Hanya saja, jika gaji terbayarkan secara periodik, maka pemberian upah terlaksana secara tidak periodik. 

    Hitungan upah biasanya per jam atau per hari dan akan terbayarkan ketika pegawai telah menyelesaikan kewajiban mereka. Contoh dari pembayaran upah adalah freelancer yang akan menerima bayarannya setiap kali mereka menyelesaikan pekerjaanya. 

    Dalam beberapa kasus, pembayaran upah juga bisa menyesuaikan dengan kesepakatan antara pemberi kerja dan penerima kerja. 

    Selain lima jenis yang sudah kami sebutkan di atas, masih ada beberapa jenis remunerasi lainnya. Jenis-jenis ini biasanya bersifat tidak umum dan akan sangat bergantung pada kebijakan perusahaan. 

    Contoh lainnya seperti uang dinas ketika melakukan perjalanan luar kota. Besaran uang tersebut tentunya akan menyesuaikan dengan kebijakan perusahaan tersebut, tanpa akan terpengaruh dengan kebijakan perusahaan lain. 

    Manfaat Remunerasi

    Pada prakteknya, imbalan sendiri memiliki banyak manfaat, diantaranya adalah sebagai berikut:

    1. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia

    Sumber daya manusia atau SDM merupakan aset penting yang perusahaan miliki. Semakin baik kualitas SDM yang perusahaan miliki, maka semakin baik juga imbasnya untuk perusahaan. 

    Pemberian imbalan merupakan salah satu cara yang bisa perusahaan lakukan untuk bisa mendapatkan kualitas SDM yang mereka butuhkan. Semakin banyak imbalan yang bisa mereka berikan, maka semakin banyak pilihan yang bisa perusahaan dapatkan. 

    2. Menjaga Produktivitas

    Hal lainnya yang juga menjadi manfaat dari imbalan adalah bisa menjaga produktivitas. Kondisi tersebut berkaitan dengan pemanfaatan imbalan itu sendiri oleh pegawai yang menerimanya. 

    Salah satu contohnya adalah pemberian tunjangan transportasi yang membuat sales bisa menjangkau banyak klien tanpa harus pusing memikirkan ongkos. 

    3. Menciptakan Persaingan yang Positif

    Beberapa jenis remunerasi akan perusahaan berikan sesuai dengan kinerja dari pegawai tersebut. Artinya, semakin baik kinerjanya, maka semakin banyak juga uang yang mereka dapat. 

    Hal ini sendiri tidak hanya baik untuk perusahaan, namun juga baik untuk pegawai. Mereka bisa memiliki alasan untuk bersaing secara sehat satu sama lain guna menunjukan performa terbaik mereka. Tentu saja hal ini akan sangat baik untuk performa perusahaan secara umum.

    4. Peningkatan Kesejahteraan

    Salah satu tujuan utama dari pemberian imbalan adalah agar bisa meningkatkan kesejahteraan pegawai. Tentu saja masalah kesejahteraan ini juga akan sangat berkaitan dengan peningkatan produktivitas dan kualitas dari pegawai itu sendiri.

    5. Menciptakan Tata Kelola Perusahaan yang Baik

    Pemberian imbalan juga bisa menjadi salah satu hal yang menunjukkan jika perusahaan tersebut memiliki tata kelola keuangan yang baik. Kemudian di lain sisi, pengeluaran untuk imbalan merupakan salah satu bentuk modal untuk bisa mendapatkan pegawai yang kompeten dan berkualitas.

    Keuntungan Remunerasi

    Pada prakteknya, ada juga yang disebut dengan keuntungan remunerasi. Ini merupakan bentuk imbalan, baik secara langsung ataupun tidak, bisa berupa uang maupun bentuk non uang yang perusahaan berikan kepada para pegawainya. Berikut adalah beberapa contoh keuntungan pemberian imbalan:

    1. Tunjangan Hari Raya

    Salah satu keuntungan yang umum diberikan di Indonesia adalah Tunjangan Hari Raya (THR). THR merupakan tunjangan yang perusahaan berikan kepada pegawainya menjelang hari raya, biasanya 14 hari menjelang Hari Raya Idul Fitri. Besar THR ini sendiri umumnya adalah 1 kali gaji.

    2. Lembur

    Uang lembur merupakan bentuk imbalan lain yang juga bisa pegawai terima dari perusahaan. Tunjangan lembur merupakan salah satu contoh keuntungan remunerasi yang perhitungannya perlu dilakukan dengan sangat cermat.

    Perhitungan lembur sendiri diatur menurut Undang-Undang dan memiliki standar dan batasan tertentu. Perusahaan tidak bisa menginstruksikan pegawainya untuk lembur melebihi batas waktu tersebut dan melanggar prosedur yang ada.

    3. Tunjangan Kesehatan

    Bentuk lainnya dari keuntungan imbalan adalah tunjangan kesehatan. Ini merupakan salah satu antisipasi dari pihak perusahaan terhadap risiko kecelakaan atau kesehatan pegawainya selama bekerja.

    4. Cuti Kerja

    Contoh lain dari bentuk imbalan non uang adalah cuti kerja. Ini merupakan hak yang bisa pegawai peroleh dan perusahaan wajib memberikan hak ini. Aturan tentang cuti ini juga sudah diatur oleh Undang-Undang.

    5. Pesangon

    Contoh terakhir dari keuntungan imbalan adalah penerimaan pesangon untuk mereka yang mengakhiri masa kerja atau resign. Besaran dari pemberian pesangon akan tergantung dari kebijakan perusahaan. Sementara itu di sisi pegawai, pemberian pesangon juga akan tergantung dari lama mereka bekerja.

    Sudah Tahu Pentingnya Remunerasi untuk Kualitas Kerja Pegawai?

    Bagi perusahaan, pemberian remunerasi merupakan upaya untuk mendapatkan pegawai dengan kompetensi yang mereka butuhkan. Tentu saja, dengan semakin banyak imbalan yang mereka berikan, semakin banyak juga orang yang ingin menjadi pegawai di perusahaan tersebut.

    Hal ini membuat perusahaan juga bisa memilih pegawai sesuai dengan yang mereka butuhkan. Selain itu, imbalan juga merupakan salah satu upaya untuk menjaga pegawai berkualitas yang sudah perusahaan miliki agar tidak keluar dari perusahaan tersebut.

  • Mengenal Asuransi: Pengertian, Unsur-Unsur, Fungsi, Jenis & Contohnya

    Mengenal Asuransi: Pengertian, Unsur-Unsur, Fungsi, Jenis & Contohnya

    Insurance atau asuransi adalah istilah yang tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Sebab, sudah banyak di antara masyarakat yang memiliki produk pertanggungan yang meng-cover risiko terkait hal-hal yang seharusnya dilindungi.  Apa itu insurance? untuk mengetahuinya, simak penjelasannya lewat artikel di bawah ini!

    Pengertian Asuransi

    Dilansir dari OJK.go.id, asuransi (insurance) atau pertanggungan adalah perjanjian antara perusahaan penyedia pertanggungan dan nasabah/tertanggung. Perjanjian ini menjadi panduan dalam menentukan premi oleh penanggung sebagai balasan untuk memberi jaminan kepada tertanggung karena beberapa hal.

    Hal tersebut meliputi kerusakan, kerugian, kehilangan keuntungan atau tanggung jawab hukum terhadap pihak ke-3 yang mungkin diderita tertanggung karena adanya kejadian yang tidak pasti. Selain itu, bisa juga memberikan pembayaran berdasarkan meninggal atau hidupnya nasabah dengan manfaat yang sudah ditetapkan.

    Unsur-Unsur Insurance

    Di dalam praktik pertanggungan, terdapat unsur-unsur yang harus diketahui. Adapun unsur-unsur tersebut, antara lain:

    • Pihak Penanggung: Pihak yang punya izin formal untuk membuka usaha terkait pengambilalihan risiko pihak lain berdasarkan polis.
    • Pihak Tertanggung: Orang yang membayar biaya atau premi kepada penanggung; pihak pemegang polis.
    • Objek Pertanggungan: Benda, jasa, kesehatan manusia, jiwa dan raga, serta apapun yang bisa rusak atau berkurang nilainya.
    • Polis Pertanggungan: Surat perjanjian atau kontrak yang menjadi bukti pengalihan risiko.
    • Premi: Sejumlah dana atau pembayaran yang ditetapkan sebagai biaya pengalihan risiko.
    • Risiko Pertanggungan: Ketidakpastian mengenai terjadinya peristiwa yang bisa mengakibatkan kerusakan atau kerugian ekonomi.
    • Klaim: Tuntutan dari tertanggung kepada penanggung untuk memenuhi haknya sesuai yang tertera dalam perjanjian

    Fungsi Utama Asuransi

    Adapun fungsi primer atau utama dari pertanggungan adalah sebagai berikut:

    1. Penjamin Keseimbangan dan Perlindungan

    Pertanggungan berfungsi dalam menyeimbangkan kewajiban premi dengan perlindungan yang diberikan penanggung. Oleh sebab itu, tertanggung tidak perlu membayar mahal, supaya bisa merasakan perlindungan yang ditawarkan.

    Sebab, perusahaan yang menyediakan layanan ini akan menghitung setiap risiko yang mungkin terjadi sesuai dengan premi yang dibayarkan. Dengan demikian, risiko yang dialami tertanggung belum tentu mendapat jaminan yang sama, karena premi dan risiko tertanggungnya berbeda.

    2. Penghimpun Dana

    Fungsi utama lainnya dari pertanggungan ini adalah mengumpulkan dana lewat premi yang dibayarkan oleh nasabah. Dana yang terhimpun dari premi yang dibayarkan ini bisa digunakan dan dikembangan oleh perusahaan insurance lewat investasi yang dinilai menguntungkan.

    Hasil dari investasi tersebut bisa berguna sebagai strategi untuk menurunkan premi. Perusahaan menghimpun dana lewat premi setiap bulannya dan dilakukan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan perjanjian yang ada di polis.

    Sederhananya, pembayaran premi mirip seperti tabungan, tetapi dikelola oleh perusahaan penyedia layanan untuk menjamin dan melindungi nasabah.

    3. Pengalihan Risiko

    Fungsi terakhir dan paling utama adalah mengalihkan risiko yang mengancam harta atau jiwa nasabah. Dalam perjanjian, pengalihan risiko tertanggung kepada penanggung akan diimbangi oleh pembayaran iuran atau premi oleh pihak tertanggung.

    Pengalihan risiko dari individu kepada perusahaan penyedia insurance berdasarkan kontrak yang sudah dibuat di antara keduanya. Lebih lanjut, pengalihan risiko ini bertujuan untuk menekan kerugian finansial yang dihasilkan dan sehingga bisa ke tingkat yang lebih rendah.

    Jenis-Jenis Asuransi

    Di bawah ini adalah jenis-jenis dari insurance yang sering ditemui, antara lain

    1. Life Insurance

    Pertanggungan ini merupakan produk yang dapat memberi jaminan berupa uang atau santunan kepada keluarga dari pihak tertanggung yang mengalami beberapa hal. Misalnya, wafat, kecelakaan, cacat permanen, dan faktor lain yang tidak disengaja.

    Manfaat dari pertanggungan ini tidak bisa secara langsung dirasakan oleh pemiliknya. Sebab, manfaatnya akan terasa pada ahli waris, sehingga mereka bisa hidup terjamin ketika ditinggalkan oleh keluarga, terutama yang menjadi tulang punggung.

    Terdapat 4 jenis dari pertanggungan ini, yakni term-life insurance (jangka waktu 1-30 tahun), whole life insurance (seumur hidup), unit link insurance, dan dwiguna.

    2. Kecelakaan Diri

    Pertanggungan ini memberikan jaminan atas risiko kecelakaan yang datangnya secara tiba-tiba, tidak direncanakan, hingga mengandung unsur kekerasan. Pertanggungan ini juga memberikan jaminan, jika nasabah mengalami kematian, cacat tetap sebagian dan keseluruhan, serta perawatan atau pengobatan.

    Pertanggungan ini hanya berlaku bagi nasabah yang telah berusia di atas 17 hingga 60 tahun. Manfaat dari pertanggungan kecelakaan diri adalah mendapatkan rasa tenang karena terlindungi, memiliki dana untuk membayar biaya pengobatan/perawatan ketika kecelakaan, atau peristiwa yang tidak diinginkan terjadi.

    3. Kendaraan Bermotor

    Asuransi ini merupakan jaminan atas kerugian dan kerusakan yang dialami kendaraan bermotor. Selain itu, pertanggungan ini juga meliputi tanggung jawab hukum (TJH) terhadap pihak ketiga. Objek yang bisa diasuransikan, antara lain kendaraan pengangkut penumpang (mini bus, sedan dll) dan barang (truk, pick-up box, dll).

    Risiko yang bisa dijamin, antara lain seperti kecelakaan (tabrakan, benturan, terbalik, dan tergelincir), kebakaran, kerusakan karena ada niat jahat dari orang lain, hingga pencurian (termasuk dengan kekerasan). Manfaat yang bisa dirasakan pertanggungan ini adalah memberi perlindungan, lebih nyaman, dan menghemat dana jika terjadi risiko.

    4. Kesehatan

    Pertanggungan ini merupakan jaminan yang meng-cover biaya medis, bedah, obat-obatan dan sejenisnya untuk tertanggung. Jenis insurance ini dapat meng-cover pengeluaran medis yang diakibatkan terluka atau sakit dan membayar biaya perawatan medis secara langsung.

    Di Indonesia, terdapat beberapa jenis insurance kesehatan yang dibedakan menjadi tiga kategori. Pertama pertanggungan berdasarkan jenis perawatannya, rawat inap atau rawat jalan. 

    Kedua, ada pertanggungan berdasarkan badan penyelenggara, yakni pemerintah atau swasta. Ketiga, berdasarkan tertanggung, yakni personal atau kelompok.

    5. Perjalanan

    Asuransi ini merupakan salah satu jenis insurance yang men-cover kerugian dan memberi perlindungan untuk tertanggung selama berada dalam perjalanan. Bisa dikatakan, pertanggungan ini cocok untuk orang-orang yang senang bepergian atau traveling dengan menggunakan pesawat.

    Manfaat yang akan didapatkan dari pertanggungan ini adalah perlindungan medis, seperti penggantian biaya pengobatan dan santunan tunai harian untuk rawat inap di luar negeri. 

    Selain itu, pertanggungan ini juga memberi bantuan darurat jika tertanggung menghadapi hal tidak terduga saat traveling, seperti evakuasi medis hingga pemulangan jenazah.

    6. Properti

    Pertanggungan ini merupakan jaminan atau perlindungan dari risiko yang mengancam rumah atau properti itu sendiri. Ancaman-ancaman tersebut meliputi kebakaran, kebanjiran, bahkan kejahatan. Manfaat dari pertanggungan ini, antara lain sebagai ganti rugi ketika terjadi kebakaran.

    Selain itu, perusahaan juga akan mengganti rugi jika terjadi kehilangan harta atau benda, sesuai dengan nilai tanggungan. Meski demikian, tertanggung harus memiliki bukti bahwa benda tersebut merupakan milik sendiri. Selain itu, pertanggungan ini akan memberikan penggantian biaya terhadap properti yang rusak karena bencana alam.

    Misalnya, gempa bumi, angin puting beliung, banjir, sampai sambaran petir. Di beberapa perusahaan juga menyediakan tempat sementara untuk melindungi tertanggung saat terjadi bencana alam.

    Contoh Asuransi di Indonesia

    Di bawah ini adalah contoh pertanggunan yang cukup terkenal di Indonesia, antara lain:

    1. Prudential Indonesia

    PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) merupakan assurance service yang paling populer dengan kepemilikan aset terbesar. Terhitung total aset dari Prudential Indonesia di akhir tahun 2022 mencapai Rp67.000.000.000.000,00.

    Adapun produk dari Prudential, antara lain pertanggungan jiwa, kesehatan, dan pendidikan.

    2. Manulife Indonesia.

    Selain Prudential, Manulife Indonesia juga cukup populer, karena produk-produk dan komitmen mereka dalam melindungi para pemegang polis. Terhitung aset mereka per Desember 2022, yakni mencapai Rp58.740.000.000.000,00. Beberapa produk dari Manulife, antara lain pertanggungan kesehatan, jiwa, tabungan, dan investasi.

    Sudah Tahu Apa Itu Asuransi?

    Demikian penjelasan singkat terkait insurance, mulai dari pengertian, unsur, hingga jenis-jenisnya. Bisa dibilang, insurance menyediakan perlindungan akan harta, kesehatan, hingga masa depan dari risiko yang bisa saja datang tanpa diketahui. Dengan ini, para tertanggung akan bisa lebih mudah dan aman dalam menjalani hidup.

  • Pengertian Instrumen Kredit, Fungsi, Bentuk, dan Contohnya

    Pengertian Instrumen Kredit, Fungsi, Bentuk, dan Contohnya

    Seperti yang Anda tahu bahwa perkembangan teknologi di dunia ini terjadi begitu cepat. Sehingga, memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap beberapa aktivitas, salah satunya adalah transaksi. Meski cara konvensional masih sering digunakan, namun transaksi elektrik lebih banyak dipilih, contohnya instrumen kredit.

    Dalam hal ini, transaksi non tunai mampu menjadi solusi yang cukup efektif untuk kegiatan pembelian yang masyarakat luas lakukan. Selain meminimalisir adanya kejahatan, bentuk transaksi dengan kredit mampu meringankan beban pembayaran dengan cara mencicil.

    Apa Itu Instrumen Kredit?

    Instrumen kredit adalah istilah dalam dunia keuangan dan perbankan yang mengacu produk dapat dibeli dengan menggunakan kredit atau mencicil. Instrumen ini umumnya diterbitkan oleh pihak yang berhubungan dengan keuangan seperti bank. 

    Selain itu, instrumen kredit juga merujuk pada berbagai alat atau mekanisme yang berguna dalam dunia keuangan dan perbankan untuk memberikan dana pinjaman kepada individu, perusahaan, atau entitas lain.

    Sebut saja pihak bank yang menerbitkan produk kartu kredit yang bisa pengguna pakai untuk membeli suatu produk di beberapa tempat dengan sistem cicilan. Kemudian, pengguna tersebut akan dibebankan tagihan pinjaman ke bank di akhir bulan yang harus mereka lunasi sebagai akibat dari penggunaan kartu kredit. 

    Jangka waktu penagihan tersebut tidak hanya berpatokan pada rentang waktu per bulan, melainkan juga bisa dalam periode kuartal ataupun periode tertentu yang disepakati.

    Sementara menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), instrumen kredit dapat berarti sebuah jaminan tertulis yang berisikan kesanggupan pengguna dalam membayar atau perintah pembayaran kepada pengguna. 

    Pada prinsipnya, instrumen tersebut merupakan janji debitur dalam melunasi pemberi pinjaman. Hanya saja, pemberian pinjaman tidak akan diterima dalam bentuk uang, melainkan barang atau produk tertentu. 

    Fungsi Instrumen Kredit

    Tentu saja, instrumen kredit mempunyai beberapa fungsi yang bisa pengguna rasakan manfaatnya, baik secaa langsung maupun tidak langsung, di antaranya adalah:

    • Memberikan fasilitas terhadap produksi dan konsumsi.
    • Membuat pengajuan klaim oleh pihak kreditur.
    • Memberikan fasilitas transaksi pertukaran.
    • Mengurangi kemungkinan adanya perselisihan yang terjadi antara pihak-pihak terkait.

    Indonesia saat ini menjadi salah satu negara yang familiar dengan sistem kredit. Oleh sebabnya banyak masyarakat yang juga menggunakan salah satu instrumen untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    Bentuk dan Contoh Instrumen Kredit

    Dalam penerapannya, instrumen kredit terbagi ke dalam beberapa bentuk, yaitu:

    1. Cek

    Singkatnya, cek adalah sebuah perintah tertulis yang tercetak pada formulir untuk membayar uang kepada orang lain ataupun dirinya sendiri. Cek menjadi bentuk instrumen yang paling umum, namun tidak semua orang mampu memilikinya. 

    Hanya mereka dengan wewenang tertentu yang mampu mengajukan cek untuk beberapa kebutuhan, misalnya pengusaha. Instrumen cek tidak hanya berisi nominal pembayaran, melainkan juga nama orang yang memegang cek. 

    Tidak ada bank yang bisa menolak alat transaksi yang satu ini. Sebab, cek bertindak sebagai sebuah perintah yang merujuk pada nasabah kepada bank untuk memberikan uang tunai kepada pemilik cek. 

    Meskipun cek dapat langsung pemilik uangkan di bank, namun proses penguangannya akan tertunda hingga pengumuman tanggal penerbitan.

    2. Kertas Wesel

    Bentuk instrumen kredit yang kedua adalah kertas wesel. Umumnya, rekening penukaran mata uang ini bermanfaat pada sistem perdagangan dari dalam maupun luar negeri. Pasalnya, pembayaran baru terjadi setelah serah terima dengan pihak bersangkutan. 

    Dalam proses transaksi menggunakan kertas wesel, ada beberapa pihak yang terlibat, mulai dari penagih kredit, debitur, dan nama penjual. Penagih kredit merupakan pihak penjual atau kreditur. Sedangkan debitur adalah pembeli dan nama penjual sebagai penerima pembayaran.

    3. Kartu Kredit

    Selanjutnya, kartu kredit merupakan instrumen kredit yang menjadi alat pembayaran resmi dari bank kepada nasabahnya melalui kesepakatan tertentu. Kartu kredit memiliki nilai limit yang mana sudah pihak penerbit atau bank tetapkan dengan jumlah yang sudah menjadi kesepakatan di awal perjanjian.

    Nasabah bisa menggunakannya untuk membali produk atau menarik uang dengan jumlah tertentu. Adapun jumlah maksimal nominal uang yang bisa nasabah tarik akan bergantung ketentuan pihak bank.

    4. Promissory Note (Promes)

    Promes atau Promissory Note menjadi salah satu jenis instrumen yang paling sederhana. Sebab, surat ini termasuk perjanjian tertulis antara pihak pembeli atau peminjam untuk membayar sejumlah nominal kepada pihak kreditur. 

    Promes memiliki nama lain sebagai obligasi yang artinya pengakuan utang atau kewajiban yang berfungsi membayar kembali. Surat ini mempunyai keistimewaan, yakni terdapat tulisan “received value” yang artinya surat tersebut merupakan hasil dari beberapa pinjaman atau pembelian sekaligus.

    Promissory Note juga termasuk dokumen yang bisa nasabah gunakan untuk jenis transaksi apa pun. Tidak peduli apakah itu transaksi yang berkaitan dengan urusan pribadi atau pun bisnis.

    5. Letter of Credit (L/C)

    Jenis instrumen kredit yang terakhir ini cukup terkenal sebagai metode pembayaran internasional. Karena kebanyakan orang-orang yang menggunakannya adalah para eksportir. 

    Lebih tepatnya, Letter of Credit atau L/C merupakan metode pembayaran internasional yang memungkinkan para eksportir memperoleh jumlah pembayaran dari luar negeri. Adapun fungsi surat ini ialah menjadi wadah yang dapat memecahkan masalah ataupun kendala pihak importir dan eksportir. 

    Surat akan diterbitkan secara resmi melalui lembaga keuangan. Sehingga, pengguna membutuhkan beberapa syarat dan waktu untuk memilikinya sebagai alat transaksi yang sah.

    Kelebihan dan Kekurangan Instrumen Kredit

    Seperti yang Anda tahu bahwa setiap produk entah itu berupa fisik maupun jasa pasti memiliki kelemahan dan keunggulan. Begitu pun dengan instrumen kredit yang ternyata memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut:

    1. Kelebihan Instrumen Kredit

    Sebelum membahas kekurangan, alangkah baiknya kita mengetahui kelebihan dari instrumen-instrumen tersebut. Apa sajakah kelebihan tersebut?

    • Mendapatkan poin reward sebagai bentuk apresiasi yang bank berikan terhadap nasabah ketika nasabah tersebut melakukan transaksi pembayaran memakai kartu kredit. Poin tersebut bisa nasabah tukarkan menjadi beberapa layanan, misalnya cashback ataupun diskon.
    • Bisa mendapatkan barang sekarang namun bisa dibayar di kemudian hari. Sehingga, meski tidak mempunyai uang tunai, Anda tetap bisa membeli produk dengan memakai kartu tersebut. Biasanya, pembayaran akan tagih pada akhir periode tertentu.

    Selain kedua kelebihan utama di atas, produk pembayaran kredit juga menyediakan sistem keamanan yang terjamin. Misalnya, ketika nasabah mengalami kehilangan kartu kredit dan ada oknum tertentu yang memakainya, maka perusahaan tidak akan membiarkan begitu saja. 

    Apabila ada transaksi yang mencurigakan, perusahaan akan segera melaporkan hal tersebut. Untuk itu, kartu kredit bisa dikatakan sebagai alat transaksi yang mampu memberikan keamanan tersendiri untuk nasabahnya.

    2. Kekurangan Instrumen Kredit

    Setelah mengetahui kelebihannya, Anda juga wajib memahami kekurangan dari instrumen kredit. Berikut ini beberapa kekurangannya:

    • Tanpa sadar kartu kredit mampu menjadi sumber hutang yang merugikan untuk Anda. Jika Anda sering berbelanja menggunakan kartu ini, tagihan yang menumpuk dapat menjadi beban tersendiri bagi Anda.
    • Adanya biaya tambahan atau bunga yang memiliki nominal tinggi ketimbang saat Anda memakai peminjaman metode lainnya. Belum lagi jika Anda terlambat membayar tagihan, itu akan membuat biaya tambahan semakin meningkat.
    • Skor kredit akan menjadi penilaian tentang kesanggupan Anda dalam melunasi tagihan kartu kredit. Semakin sering Anda telat membayar tagihan, maka akan membuat skor menurun dan menghambat penggunaan kartu karena bisa saja di-blacklist oleh perusahaan.

    Gunakan Salah Satu instrumen kredit Untuk Memudahkan Transaksi

    Pada hakikatnya, instrumen kredit termasuk alat transaksi yang memudahkan para penggunanya. Selain fleksibel, alat ini juga memberikan beberapa keuntungan yang menarik untuk semua nasabah. Jadi Anda bisa memilikinya guna memudahkan transaksi.

  • Real Estate: Pengertian, Jenis, Contoh Investasi, & Keuntungannya

    Real Estate: Pengertian, Jenis, Contoh Investasi, & Keuntungannya

    Real estate atau real estat merupakan salah satu sektor yang memiliki peran penting dalam perekonomian global. Istilah ini sendiri mengacu pada kepemilikan dan pengelolaan properti, seperti tanah, bangunan, dan sumber daya alam yang ada di atasnya. Mari kenali lebih dalam lewat artikel berikut!

    Apa itu Real Estate?

    Real estate (lahan yasan atau real estat) merujuk pada kepemilikan dan atau pengelolaan tanah, bangunan, dan sumber daya alam yang terdapat di atasnya. Istilah ini mencakup berbagai jenis properti, termasuk rumah tinggal, apartemen, perkantoran, toko, lahan pertanian, dan lain sebagainya. 

    Istilah ini sendiri memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian. Sebab, melibatkan transaksi jual beli, penyewaan, dan pengembangan properti yang dapat menghasilkan keuntungan finansial.

    Selain itu, investasi properti juga sering dianggap sebagai salah satu bentuk investasi yang stabil dan menguntungkan dalam jangka panjang. Karena nilai properti cenderung meningkat seiring berjalannya waktu dan pemilik dapat memperoleh pendapatan pasif melalui penyewaan. 

    Seiring dengan perkembangan teknologi, banyak terjadi perubahan dalam dunia investasi properti. Contohnya, internet dan platform daring yang memudahkan akses informasi, memfasilitasi transaksi, dan juga meningkatkan promosi properti. 

    Jenis-Jenis Real Estate

    Istilah ini mencakup berbagai jenis properti yang melibatkan kepemilikan dan juga pengelolaan tanah, bangunan, dan sumber daya alam di atasnya. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut, berikut ini adalah penjelasan detailnya:

    1. Residensial

    Residensial merujuk pada suatu properti yang digunakan sebagai tempat tinggal. Ini mencakup rumah-rumah individu, apartemen, kondominium, dan perumahan. Kemudian, jenis residensial merupakan bagian yang penting dalam industri properti, karena memenuhi kebutuhan perumahan masyarakat. 

    Properti residensial dapat ditemukan di berbagai lokasi, mulai dari perkotaan hingga pedesaan. Masing-masing jenis residensial memiliki karakteristik berbeda tergantung pada kelompok penduduk. 

    Misalnya, apartemen biasanya populer di daerah perkotaan dengan populasi yang padat. Atau, bisa juga sebuah rumah individu yang notabenenya lebih umum atau sering ditemukan di lingkungan pinggiran kota atau pedesaan.

    2. Commercial

    Jenis real estate commercial merujuk pada suatu properti yang digunakan untuk tujuan komersial. Jenis properti ini meliputi gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, toko-toko ritel, hotel, restoran, dan fasilitas-fasilitas lainnya yang digunakan untuk bisnis dan aktivitas ekonomi. 

    Selain itu, properti commercial juga biasanya terletak di lokasi strategis yang dapat memberikan aksesibilitas dan visibilitas yang baik bagi bisnis. Properti komersial memiliki potensi untuk menghasilkan pendapatan yang stabil melalui penyewaan ruang kepada perusahaan dan usaha lainnya. 

    Kondisi pasar dan lokasi properti adalah faktor penting dalam menentukan nilai dan potensi investasi lahan yasan commercial.

    3. Industrial

    Jenis industrial mencakup properti yang digunakan untuk kegiatan industri dan manufaktur. Ini meliputi pabrik, gudang, kompleks industri, fasilitas penyimpanan, dan area pengembangan industri. Properti industrial umumnya dirancang untuk menampung produksi, penyimpanan, distribusi, dan kegiatan logistik. 

    Lokasi properti industrial biasanya dipilih berdasarkan aksesibilitas ke jalan raya, pelabuhan, dan pusat distribusi untuk memfasilitasi transportasi barang. Permintaan untuk jenis industrial terkait dengan kebutuhan bisnis dalam menyediakan infrastruktur dan fasilitas untuk operasi industri mereka.

    4. Tanah

    Real estate jenis tanah mengacu pada properti yang belum dikembangkan atau tidak memiliki struktur bangunan di atasnya. Ini bisa berupa lahan kosong, lahan pertanian, atau lahan yang belum dimanfaatkan. Tanah sering menjadi aset investasi yang bernilai. 

    Terutama, jika berada di lokasi yang potensial untuk pengembangan masa depan. Pembelian tanah untuk pengembangan properti residensial, komersial, atau industri adalah strategi yang umum dalam dunia bisnis dan investasi properti. Nilai tanah akan meningkat seiring dengan waktu, infrastruktur, dan permintaan dari pasar.

    5. Tujuan Khusus

    Terakhir, jenis tujuan khusus merujuk pada properti yang digunakan untuk tujuan tertentu yang tidak termasuk dalam kategori residensial, commercial, atau industrial. Jenis ini mencakup rumah sakit, sekolah, universitas, gereja, taman hiburan, bandara, dan fasilitas-fasilitas publik lainnya. 

    Properti tujuan khusus ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan khusus masyarakat, seperti pendidikan, perawatan kesehatan, dan hiburan. Selain itu, karakteristik dan persyaratan pengembangan untuk jenis properti tujuan khusus juga relatif berbeda tergantung pada jenis dan fungsi properti yang dimaksud.

    Contoh Investasi Real Estate

    Investasi dalam properti merupakan salah satu bentuk investasi yang populer dan menguntungkan. Namun, kira-kira apa saja contoh investasi atau penggunaan properti yang umum dilakukan di Indonesia? Ini dia penjelasannya:

    1. Pembelian Rumah

    Salah satu contoh investasi properti yang paling umum adalah dengan membeli rumah. Banyak orang memilih untuk membeli rumah sebagai investasi jangka panjang. Selain sebagai tempat tinggal, kepemilikan rumah juga dapat memberikan keuntungan finansial. 

    Nilai properti cenderung meningkat seiring berjalannya waktu, sehingga Anda dapat memanfaatkan peningkatan nilai tersebut untuk mendapatkan keuntungan capital gain. Selain itu, Anda juga dapat menyewakan rumah tersebut kepada penyewa, yang akan memberikan pendapatan pasif setiap bulannya.

    2. Investasi Properti Komersial

    Investasi dalam properti komersial juga merupakan pilihan yang menarik. Properti komersial, seperti gedung perkantoran, pusat belanja, atau hotel, bisa menghasilkan pendapatan yang stabil melalui penyewaan kepada perusahaan atau bisnis. 

    Potensi keuntungan dari properti komersial biasanya lebih besar daripada properti residensial. Namun, ini juga membutuhkan modal yang lebih besar untuk memulai investasi dan memahami pasar serta risiko yang terkait.

    3. Investasi REITs

    Real Estate Investment Trusts (REITs) adalah instrumen investasi yang notabenenya dapat memungkinkan individu untuk berinvestasi dalam portofolio properti yang dikelola secara profesional.

    REITs dapat Anda beli dan diperdagangkan di pasar saham seperti saham biasa. Dengan berinvestasi dalam REITs, Anda dapat memiliki kepemilikan dalam berbagai properti. 

    Contohnya seperti gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, hotel, dan apartemen. Keuntungan dari investasi REITs berasal dari pendapatan sewa dan apresiasi nilai properti yang dipegang oleh REITs.

    4. Penyewaan Properti

    Investasi lahan yasan juga dapat dilakukan dengan cara menyewakan properti kepada penyewa. Misalnya, jika Anda memiliki apartemen atau rumah kos, Anda dapat menyewakannya kepada individu atau keluarga yang membutuhkan tempat tinggal. 

    Pendapatan yang diperoleh dari penyewaan properti ini dapat menjadi satu sumber pendapatan pasif yang terbilang stabil. Namun, sebagai pemilik properti, Anda harus memastikan pemeliharaan dan perawatan properti secara teratur serta memiliki perjanjian sewa yang jelas dengan penyewa.

    5. Pengembangan Properti

    Investasi lahan yasan juga dapat dilakukan melalui proses pengembangan properti. Ini melibatkan membeli tanah kosong atau properti yang belum dimanfaatkan dan mengembangkannya menjadi properti yang bernilai lebih tinggi. 

    Misalnya, Anda membeli lahan pertanian dan mengubahnya menjadi perumahan atau pusat komersial. Pengembangan properti membutuhkan pemahaman yang baik tentang pasar, perencanaan yang matang, dan investasi modal yang cukup. Namun, jika sukses, pengembangan properti dapat memberikan keuntungan yang signifikan.

    Keuntungan Investasi Real Estate

    Investasi ini memiliki beberapa keuntungan yang menarik bagi para investor. Berikut adalah beberapa keuntungan utama dari investasi lahan yasan:

    1. Pendapatan Pasif

    Salah satu keuntungan utama dari investasi lahan yasan adalah kemampuannya untuk menghasilkan pendapatan pasif. Misalnya, jika Anda menyewakan properti Anda kepada penyewa, Anda akan menerima pembayaran sewa secara teratur. 

    Pendapatan pasif ini dapat memberikan stabilitas keuangan dan meningkatkan arus kas Anda. Jika Anda memiliki beberapa properti yang disewakan, pendapatan pasif Anda dapat semakin meningkat.

    2. Keuntungan Capital Gain

    Nilai properti cenderung meningkat seiring berjalannya waktu. Investasi real estate dapat menghasilkan keuntungan capital gain yang signifikan. Ketika Anda membeli properti dengan harga yang rendah dan nilai properti tersebut naik, Anda dapat menjualnya dengan harga yang lebih tinggi dan mendapatkan keuntungan. 

    3. Proteksi dari Inflasi

    Properti fisik, seperti rumah atau bangunan komersial cenderung akan mengalami apresiasi nilai seiring dengan inflasi. Ketika harga barang dan jasa naik, nilai properti Anda juga dapat naik. 

    Ini berarti nilai riil dari investasi Anda tetap terlindungi dari efek negatif inflasi. Dalam jangka panjang, investasi ini dapat berfungsi sebagai satu perlindungan terhadap inflasi dan mempertahankan kekayaan Anda.

    Sudah Paham Apa itu Real Estate dan Keuntungannya?

    Kesimpulannya, real estate merupakan investasi yang luas dan menjanjikan. Investasi ini dapat memberikan keuntungan finansial yang stabil. Selain itu, investasi ini juga memberikan manfaat sosial, yakni menyediakan hunian bagi masyarakat dan membantu memenuhi kebutuhan tempat tinggal.

  • Consumer Price Index: Tujuan, Jenis, Contoh dan Cara Mengukurnya

    Consumer Price Index: Tujuan, Jenis, Contoh dan Cara Mengukurnya

    Consumer Price Index (CPI) adalah indikator penting bagi perekonomian suatu negara. Bank sentral menggunakan CPI sebagai tolok ukur untuk menilai fluktuasi. Inflasi yang diumumkan oleh Bank Sentral pun mengacu pada CPI. Jika kamu ingin memahami ekonomi dengan lebih baik, maka CPI adalah materi penting untukmu.

    Pengertian Consumer Price Index

    CPI adalah indikator untuk mengukur rata-rata perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga dalam suatu periode. CPI umumnya berguna untuk melacak inflasi atau laju kenaikan harga di suatu negara.

    Perhitungan CPI membandingkan harga-harga sekelompok barang dan jasa pada suatu periode dengan periode sebelumnya. Komponen CPI mencakup berbagai kategori, seperti makanan, perumahan, transportasi, kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya.

    Perubahan CPI memberikan gambaran tentang tingkat inflasi atau deflasi di suatu negara. Jika CPI naik, artinya harga barang dan jasa meningkat, yang menunjukkan adanya inflasi. Sebaliknya, jika CPI turun, artinya harga barang dan jasa menurun, yang menunjukkan adanya deflasi.

    CPI memiliki peran penting dalam kebijakan moneter dan ekonomi. Data CPI dipakai oleh pemerintah, bank sentral, dan lembaga keuangan untuk mengukur stabilitas harga, menyesuaikan upah, mengalokasikan anggaran, dan mengambil keputusan kebijakan lainnya.

    Namun, perlu kamu catat bahwa CPI adalah indikator umum yang mewakili rata-rata harga di suatu negara. Harga-harga sebenarnya dapat bervariasi, tergantung pada lokasi geografis, kondisi pasar, dan faktor-faktor lainnya. Oleh karena itu, CPI harus digunakan dengan hati-hati dalam analisis ekonomi.

    4 Tujuan Consumer Price Index

    CPI adalah sebuah indeks yang dianalisis untuk berbagai macam tujuan, di antaranya yaitu:

    1. Mengukur Inflasi

    Salah satu tujuan utama CPI adalah mengukur laju inflasi atau perubahan harga barang dan jasa secara keseluruhan. Dengan melacak perubahan harga dari waktu ke waktu, CPI memberikan gambaran tentang tingkat inflasi di suatu negara.

    2. Menyediakan Dasar Perhitungan Upah

    CPI juga digunakan untuk menghitung penyesuaian upah dan pensiun. Dengan mengetahui laju perubahan harga, pemerintah dan perusahaan dapat menyesuaikan upah dan tunjangan pensiun, agar tetap sejalan dengan tingkat inflasi. Tujuannya untuk membantu menjaga daya beli dan kesejahteraan tenaga kerja.

    3. Mengukur Stabilitas Harga

    CPI membantu mengukur stabilitas harga di pasar. Dengan melihat perubahan harga barang dan jasa secara keseluruhan, pemerintah dan lembaga keuangan dapat menilai apakah ada ketidakstabilan dalam pasar.

    4. Membandingkan Daya Beli

    CPI dapat membandingkan daya beli konsumen dari waktu ke waktu. Dengan melihat perubahan harga secara keseluruhan, kita dapat mengevaluasi apakah daya beli konsumen meningkat atau menurun. Informasi ini memberikan pemahaman tentang bagaimana kondisi ekonomi mempengaruhi daya beli masyarakat.

    2 Jenis Consumer Price Index

    Secara umum, CPI terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

    1. CPI-W

    Consumer Price Index for Urban Wage Earners and Clerical Workers (CPI-W) adalah indeks untuk mengukur perubahan harga barang dan jasa yang paling umum dikonsumsi oleh pekerja kota dan pegawai administrasi.

    CPI-W adalah salah satu variasi dari CPI yang dirancang khusus untuk mencerminkan pengeluaran konsumen dari kelompok pekerja upah kota dan pegawai administrasi yang bekerja di sektor non-agrikultur.

    CPI-W berfungsi sebagai alat untuk melacak perubahan biaya hidup dan inflasi yang dialami oleh pekerja upah kota dan pegawai administrasi. Indeks ini menggambarkan perubahan harga bagi kelompok pekerja ini, seperti makanan, perumahan, transportasi, dan barang-barang konsumsi lainnya.

    2. CPI-U

    Consumer Price Index for All Urban Consumers (CPI-U) adalah indeks untuk mengukur perubahan harga barang dan jasa yang paling umum dikonsumsi oleh semua konsumen di daerah perkotaan.

    CPI-U dirancang untuk mencerminkan pengeluaran konsumen dari berbagai kelompok demografis di perkotaan, termasuk pekerja upah, pekerja profesional, pengusaha, dan individu dengan berbagai tingkat pendapatan.

    CPI-U merupakan indeks yang penting dalam melacak perubahan biaya hidup dan tingkat inflasi yang mempengaruhi konsumen di perkotaan. Indeks ini mencakup berbagai komponen pengeluaran, seperti makanan, perumahan, transportasi, perawatan kesehatan, pendidikan, rekreasi, dan barang-barang konsumsi lainnya.

    Contoh Consumer Price Index

    Bank Indonesia maupun bank sentral negara lain selalu merilis data CPI sebagai acuan bagi para pelaku ekonomi. Berikut ini contoh CPI dari data Bank Indonesia periode 2023:

    • Januari: 5,28%
    • Februari: 5,47%
    • Maret: 4,97%
    • April: 4,33%
    • Mei: 4%
    • Juni: 3,52%

    Kalau kamu ingin melihat data inflasi dengan lebih lengkap, kamu bisa langsung mengunjungi laman statistik resmi Bank Indonesia. Di dalamnya, kamu bisa memantau data inflasi setiap bulan serta mengunduh atau mencetaknya.

    Cara Mengukur Consumer Price Index

    Setiap negara memiliki metode yang berbeda dalam menghitung indeks harga konsumen dan tingkat inflasi. Penyebabnya adalah perbedaan indikator yang digunakan di setiap negara. Data untuk setiap indikator tersebut diperoleh dari berbagai sumber dalam periode waktu tertentu.

    Jika harga terus naik dan bertahan, maka itu menunjukkan adanya inflasi. Indikator yang digunakan oleh pemerintah untuk menghitung inflasi dengan menggunakan CPI, yaitu:

    • Harga Konsumen: Rata-rata harga kebutuhan konsumen.
    • Harga Produsen: Rata-rata harga bahan baku atau material yang digunakan dalam kegiatan produksi.
    • Biaya Hidup: Rata-rata biaya hidup yang diperlukan oleh masyarakat.
    • Harga Komoditas: Perubahan harga pada barang-barang tertentu.
    • Produksi Domestik Bruto (PDB): Perubahan harga dalam produksi total suatu negara.

    Indikator dalam setiap periode dapat mengalami perubahan sesuai dengan kondisi yang terjadi di negara tersebut. Untuk mengukur inflasi, perhitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) dilakukan dengan menghitung selisih antara IHK sebelumnya dengan IHK terbaru.

    Selanjutnya, selisih tersebut dibagi oleh IHK terbaru, kemudian dikalikan dengan 100%. Anggaplah IHK BBM 2010 adalah Rp6.000,00 per liter, sedangkan IHK BBM 2020 adalah Rp8.750,00 per liter. Dari contoh ini, kita dapat menghitung tingkat inflasi sebagai berikut:

    Inflasi = ((Rp 8.750 – Rp 6.000) / Rp 8.750) x 100% = 31,43%

    Jadi, selama sekitar 10 tahun, Indonesia mengalami tingkat inflasi sebesar 31,43% berdasarkan IHK BBM. Selanjutnya, kita dapat menghitung rata-rata inflasi per tahun dengan membagi angka inflasi dengan periode (tahun) perbandingan, yaitu:

    Rata-rata inflasi per tahun = 31,43% / 10 = 3,143%

    Dengan demikian, dapat kita ketahui bahwa rata-rata inflasi BBM di Indonesia selama 10 tahun adalah sebesar 3,143%.

    Pengaruh Perilisan Consumer Price Index

    Begitu Bank Sentral merilis data CPI, maka pengaruhnya dapat kita rasakan pada berbagai bidang ekonomi, yaitu:

    1. Pengaruh pada Keputusan Investasi

    CPI yang lebih tinggi dari perkiraan dapat menunjukkan adanya tekanan inflasi yang lebih besar. Kondisi ini dapat mempengaruhi keputusan investasi, karena inflasi yang tinggi dapat mengurangi daya beli konsumen dan mengurangi profitabilitas perusahaan.

    2. Pengaruh pada Kebijakan Moneter

    CPI digunakan sebagai indikator penting oleh bank sentral untuk menentukan kebijakan moneter. Jika CPI naik di atas target yang ditetapkan, maka bank sentral mungkin akan menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi. Kebijakan ini dapat berdampak pada pasar keuangan, termasuk suku bunga, investasi, dan kurs.

    3. Pengaruh pada Harga Saham dan Obligasi

    Perilisan CPI yang berbeda dari perkiraan dapat mempengaruhi harga saham dan obligasi. Jika CPI lebih tinggi dari yang diharapkan, hal ini dapat menyebabkan penurunan harga saham, karena investor khawatir akan dampak inflasi terhadap profitabilitas perusahaan. 

    Di sisi lain, obligasi dapat mengalami penurunan harga, karena kenaikan suku bunga yang mungkin dilakukan oleh bank sentral.

    4. Pengaruh pada Sektor Ekonomi

    CPI yang tinggi dapat mempengaruhi sektor ekonomi tertentu. Misalnya, sektor yang terkait dengan bahan bakar, makanan, atau transportasi dapat terpengaruh secara signifikan oleh perubahan harga yang tercermin dalam CPI. Efek berantai ini dapat mempengaruhi keputusan konsumen dan mengubah pola pengeluaran mereka.

    5. Pengaruh pada Negosiasi Upah

    CPI juga dapat mempengaruhi negosiasi upah antara pekerja dan pengusaha. Jika CPI tinggi, maka pekerja mungkin menuntut kenaikan upah untuk mengimbangi kenaikan biaya hidup. Keputusan ini dapat mempengaruhi biaya tenaga kerja bagi perusahaan dan dapat memiliki efek domino pada tingkat inflasi secara keseluruhan.

    Sudah Memahami Apa Itu Consumer Price Index?

    Kita sudah membahas tentang pengertian, tujuan, jenis, contoh, cara mengukur, hingga pengaruh CPI ke berbagai bidang. Jika kamu ingin sukses berbisnis dan berinvestasi, maka kamu harus jeli dalam membaca dan menyikapi inflasi. Karena, dengan memahami data Consumer Price Index, kamu akan mampu mengambil keputusan yang tepat di bidang finansial. Misalnya, dengan mengurangi pengeluaran yang tidak penting saat inflasi serta menyiapkan dana darurat.

  • Pengertian Dividen Yield, Rumus, Cara Menghitung, dan Contohnya

    Pengertian Dividen Yield, Rumus, Cara Menghitung, dan Contohnya

    Jika Anda sering bermain saham, mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah dividen yield. Bahkan, sebagian investor profesional menjadikan nilai dividen ini sebagai salah satu cara memilih saham yang akan mereka beli.

    Nah, bagi Anda yang akan membeli saham untuk jangka panjang, ketahuilah bahwa dividen yield memang bisa menunjukan performa dari saham yang Anda beli. Semakin tinggi nilai dividen, maka semakin baik performa dari emiten tersebut.

    Apa Itu Dividen Yield?

    Sebelum masuk ke pembahasan pengertian dividen yield, pahami arti dividen terlebih dahulu. Singkatnya, dividen adalah tingkat pengembalian tunai berdasarkan keuntungan dari emiten kepada pemegang saham berdasarkan jumlah saham yang mereka punya.

    Sementara itu, dividen yield adalah rasio untuk menyatakan berapa keuntungan atau pendapatan dari dividen tersebut. Perhitungan rasio ini akan membandingkan nilai dividen per lembar ketimbang membandingkannya dengan market value.

    Meskipun sering menjadi patokan, namun sebenarnya nilai dari rasio dividen tidak bisa merujuk secara langsung dengan performa dari emiten tersebut. Anda perlu melihat kinerja perusahaan secara umum dalam kurun waktu setahun. 

    Terlebih dividen sendiri merupakan salah satu hal yang dicari investor ketika mereka membeli saham. Sebagai contoh, perusahaan baru yang sedang tumbuh cepat mungkin akan memberikan rasio dividen lebih rendah daripada dengan perusahaan yang sudah lebih matang.

    Hal tersebut bisa terjadi karena perusahaan baru masih membutuhkan banyak modal untuk operasional mereka. Sehingga, mereka memilih atau memtuskan untuk tidak membagikan keuntungan dalam bentuk dividen.

    Rumus Menghitung Dividen Yield

    Seperti yang sudah kami jelaskan sebelumnya bahwa dividen yield akan membandingkan antara nilai dividen per lembar saham dengan market value dari saham tersebut. Nantinya, nilai tersebut akan dikali dengan 100 persen agar rasio dividen dapat dinyatakan dalam satuan persen.

    Untuk mempermudah pemahaman Anda, berikut adalah rumus dari dividen yield:

    (Nilai dividen per lembar saham : Harga per lembar saham saat itu) x 100%

    Contoh Perhitungan Dividen Yield

    Perhitungan rasio dividen biasanya akan investor gunakan untuk melihat berapa nilai dividen yang emiten berikan. Selain itu, cara ini juga biasa bermanfaat untuk mengukur prospek pendapatan dari dividen yang mungkin mereka dapatkan. Berikut ini beberapa contoh perhitungan yang biasa investor gunakan:

    1. Melihat Rasio Dividen

    Dalam hal ini, investor akan mendapatkan informasi tentang berapa rasio dari dividen yang dibagikan. Perhitungan ini juga biasa berguna untuk membandingkan antara satu emiten dengan emiten lainnya. Contoh perhitungan untuk melihat rasio ini adalah sebagai berikut:

    Pada tahun 2020, PT. Telkom Indonesia (TLKM) membagikan dividen dengan nilai Rp154,00 per lembarnya. Pada saat itu, harga saham dari perusahaan telekomunikasi tersebut berada pada nilai Rp2.980,00 per lembar nya. 

    Dengan data tersebut, maka dividen yield dari PT. Telkom Indonesia adalah:

    (154 : 2.980) x 100% = 5,17℅

    Berdasarkan data tersebut, maka bisa Anda simpulkan jika PT. Telkom Indonesia memiliki rasio dividen sebesar 5,17 persen. Angka inilah yang biasanya akan dibandingkan dengan emiten sejenis atau yang terkait. 

    2. Melihat Nilai Dividen

    Beberapa emiten biasanya hanya mengumumkan nilai rasio dividennya saja, tanpa ada informasi berapa nilai per lembarnya. Hal ini terkadang membuat beberapa orang penasaran, berapa nilai dividen per lembarnya. Jika Anda juga sering penasaran dengan hal tersebut, maka cara hitungnya adalah seperti ini:

    Pada tahun 2020, Bank Mandiri Indonesia (BMRI) memiliki dividen yield sebesar 6,09 persen dengan harga saham Rp5.800,00 per lembar. Pertanyaannya, berapa nilai per lembarnya? Maka cara hitungnya adalah:

    6,09% x Rp5.800,00 = Rp353,00

    Berdasarkan perhitungan di atas, maka nilai dividen yang BMRI bagikan adalah Rp353,00 per lembarnya. 

    3. Melihat Proyeksi

    Fungsi lain dari menghitung dividen yield adalah melihat proyeksi pendapatan dari dividen pada tahun berikutnya. Meskipun angkanya akan berubah, namun perhitungan ini tetap bisa Anda gunakan sebagai perkiraan. Contoh perhitungan rasio dividen untuk melihat proyeksi ini adalah sebagai berikut:

    Pada tahun 2020, Bank BRI (BBRI) memiliki rasio dividen sebesar 5,4 persen. Nah, saat pembagian tersebut, harga saham Bank BRI adalah Rp3.110,00 per lembar. Kemudian, pada tahun 2021, harga per lembar saham tersebut naik menjadi Rp4.000,00. 

    Mengacu pada asumsi nilai rasio dividen yang tidak berubah, maka besaran dividen yang akan diterima bisa dihitung dengan cara berikut:

    5,4℅ x Rp4.000,00 = Rp216,00

    Berdasarkan perhitungan tersebut, maka tiap pemegang saham akan mendapatkan Rp216,00 per lembar saham yang mereka punya.

    Apakah Dividen Yield Bisa Berubah?

    Nilai pembagian dividen bukanlah nilai yang tetap dari waktu ke waktu. Pembagian dari dividen akan bergantung pada kebijakan perusahaan.. Selain itu, satu hal yang perlu Anda ingat juga adalah nilai saham pasti akan selalu berubah.

    Lantaran semua faktor tersebut bukanlah nilai yang tetap, maka hal tersebut juga berpengaruh dengan rasio dividen yang bisa berubah tiap waktu. Hal yang perlu Anda ingat adalah naik dan turunya dividen yield tidak berkaitan langsung dengan performa emiten.

    Dalam hal ini, emiten yang memiliki rasio dividen kecil tidak selalu sama karena performa yang buruk. Mungkin saja mereka tidak membagikan semua keuntungan karena membutuhkan modal tambahan.

    Apa Pentingnya Dividen Yield untuk Perusahaan?

    Selain bagi investor, angka rasio dividen ini juga cukup berpengaruh untuk emiten atau perusahaan. Sebab, ada kecenderungan jika pemegang saham akan menginvestasikan kembali hasil yang mereka dapatkan dari pembagian dividen dengan harapan bisa mendapatkan hasil lebih banyak di periode selanjutnya.

    Analoginya seperti ini, seorang investor memiliki saham emiten A senilai Rp50.000.000,00 dengan dividen yield sebesar 4 persen. Saham tersebut memiliki harga pasar Rp5.000,00 per lembarnya. 

    Berdasarkan data tersebut, maka emiten A akan membagikan dividen dengan nilai Rp200,00 per lembarnya. Lalu, investor tersebut memiliki 10.000 lembar saham, sehingga ia akan mendapatkan Rp2.000.000,00 dari pembagian dividen periode tersebut.

    Jika investor tersebut langsung membelikan semua hasil keuntungan tersebut ke saham emiten A, maka ia akan mendapatkan 400 lembar saham tambahan. Menggunakan asumsi bahwa harga saham belum berubah, investor tersebut akan memiliki total 10.400 lembar saham.

    Apakah Dividen Yield Berpengaruh dengan Volatilitas Harga Saham?

    Satu pertanyaan menarik adalah apakah ada pengaruh antara nilai dividen yield dengan volatilitas harga saham yang terbentuk? 

    Dalam teori signaling, terdapat asimetri informasi antara perusahaan dan pemegang saham. Dalam hal ini, manajemen suatu perusahaan bisa menggunakan pembagian dividen sebagai sinyal untuk menyampaikan informasi atas kondisi perusahaan. 

    Selanjutnya, informasi ini akan para pemegang saham respons yang nantinya akan membuat harga saham menjadi berubah. Sehingga, tingkat perubahan harga saham juga dipengaruhi oleh tingkat pengembalian yang investor dapatkan dalam bentuk rasio dividen ini. 

    Reaksi dari investor atas nilai pembagian tersebut akan membentuk nilai harga baru di pasar. Menariknya, jika nilai rasio dividennya makin besar, maka biasanya hal tersebut akan membuat tingkat volatilitas yang semakin kecil pada emiten tersebut. 

    Hal ini jelas berbeda jika nilai rasio dividennya kecil, maka akan membuat tingkat volatilitasnya makin tinggi. 

    Sudah Paham dengan Dividen Yield?

    Meskipun tidak berpengaruh langsung dengan performa dari emiten tersebut, namun sebagai investor juga menggunakan dividen yield sebagai salah satu cara mereka untuk memilih aset. Semakin besar angka rasio dividen, maka pembagian dividennya pun juga akan cukup besar. Apalagi jika market value dari saham tersebut juga sudah cukup tinggi. Hal ini biasanya menjadi salah satu pertimbangan ketika investo memilih emiten yang sudah cukup besar yang nilai pertumbuhannya relatif stabil.

  • Bursa Efek Indonesia: Pengertian, Sejarah, Jenis, dan Tugasnya

    Bursa Efek Indonesia: Pengertian, Sejarah, Jenis, dan Tugasnya

    Saat ini, masyarakat lebih banyak mencari uang tambahan dari kegiatan-kegiatan seperti investasi. Selain karena keuntungannya yang besar, investasi juga bisa menjadi ladang penghasilan untuk masa depan. Nah, salah satu tempat yang menyediakan kegiatan ini adalah Bursa Efek Indonesia atau BEI.

    Meski pada dasarnya investasi bisa Anda lakukan dimana saja, namun sejatinya Anda harus memilih tempat yang terpercaya. Mengingat uang yang akan Anda keluarkan tidak sedikit, sehingga jangan sampai melakukan kesalahan dengan berinvestasi di tempat para oknum tidak bertanggung jawab.

    Apa Itu Bursa Efek Indonesia?

    Singkatnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah tempat atau lembaga pasar yang bergerak di bidang penjualan dan pembelian saham di Indonesia dengan menyediakan sarana serta sistem untuk menciptakan suatu perdagangan terjadi.

    Sedangkan mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bursa efek merupakan lokasi perdagangan utama terkait surat-surat berharga dari perusahaan-perusahaan umum. Sehingga, tempat ini menjadi “sarang” untuk proses jual beli surat berharga. 

    Melalui bursa efek, semua pelaku pasar yang terdiri dari pihak penjual ataupun pembeli bisa melakukan transaksi saham ataupun instrumen-instrumen investasi yang lainnya. Bursa Efek Indonesia sudah memiliki badan hukum, yang artinya semua kegiatan bersifat legal dan bisa dipertanggungjawabkan.

    Selain mempelopori adanya kegiatan pedagangan, BEI juga memiliki tugas lain, yakni mengatur jalannya perdagangan saha, yang ada di pasar modal. BEI juga berperan besar dalam perekonomian makro dan mikro. Tidak heran apabila keberadannya bisa mempengaruhi sistem perekonomian dalam suatu negara.

    Setiap negara pasti memiliki bursa efeknya masing-masing. Untuk saat ini lokasi, bursa efek yang paling besar ada di Amerika Serikat dengan nama New York Exchange. Sedangkan Indonesia memilikinya dengan naman Bursa Efek Indonesia yang tugas-tugasnya tidak jauh berbeda dengan tempat lainnya.

    Sejarah Bursa Efek Indonesia

    Pada dasarnya, kemunculan BEI tidak akan begitu saja tanpa adanya cerita yang melatarbelakanginya. Dalam cerita sejarahnya, Bursa Efek Indonesia sudah muncul sejak pemerintahan kolonial Belanda yang terjadi sekitar abad ke-19, di mana kala itu Indonesia masih menyandang nama Hindia Belanda.

    Tepatnya pada tahun 1892, tercatat transaksi saham pertama di Indonesia. Lantaran ada banyak orang yang mulai tertarik dengan saham, pemerintah mendirikan pasar modal pertama di Hindia Belanda yang berlokasi di Batavia (kini Jakarta). 

    Pasar modal tersebut berdiri pada tanggal 14 Desember 1912 dengan nama Vereniging Voor De Effectenhandel, yang sekarang kita kenal sebagai Bursa Efek. Saat itu, saham yang diperjualbelikan adalah obligasi perusahaan Belanda yang sedang melangsungkan operasinya di Indonesia. 

    Perkembangan bursa efek terbukti sangat pesat sehingga tidak sedikit orang yang tertarik untuk ikut tergabung di dalam transaksi perdagangannya. Sehingga, pada tahun 1912 tujuan pembuatan Bursa Efek Indonesia oleh Belanda memiliki maksud lain yakni mencetuskan kebijakan politik etis.

    Pemerintah Belanda begitu yakin dan antusias terhadap kebijakan tersebut karena pada mulanya mampu menarik perhatian investor dari Eropa. Sebagai hasil, penghasilan yang mereka peroleh jauh di atas rata-rata. Namun, kondisi tersebut hanya berlangsung sebentar.

    Akibat adanya Perang Dunia I dan II, pasar modal terpaksa ditutup dan vakum dalam kurun beberapa tahun. Setelah Indonesia meraih kemerdekaannya, pasar modal kembali didirikan. Presiden yang ikut andil dalam prosesnya adalah Soeharto dan memberi nama Bursa Efek Jakarta.

    Pada tahun 2007, BEI melakukan pengembangan wilayah kekuasannya dengan merger Bursa Efek Surabaya. Berdasarkan hasil tersebut, para petinggi sepakat untuk memberi nama Bursa Efek Indonesia yang berlangsung hingga detik ini.

    Jenis-Jenis Pelaku Bursa Efek Indonesia

    Orang-orang yang terlibat dalam BEI dapat terbagi menjadi beberapa jenis. Berikut adalah penjelasannya:

    1. Transaksi Bagi Diri Sendiri

    BEI memiliki pelaku yang melakukan transaksi untuk dirinya sendiri. Dalam kegiatan ini, tentu mereka bertransaksi atas kebutuhan yang dimilikinya, yakni keinginan untuk mencoba berinvestasi. Contohnya investor reksadana dan retail.

    2. Transaksi Bagi Pelaku Lainnya

    Klien atau investor yang berkepentingan di Bursa Efek Indonesia tidak terbatas. Siapa pun berhak melakukannya dengan catatan mampu memenuhi semua syarat dan ketentuan yang berlaku. Untuk itu, ada beberapa orang yang melakukan transaksi untuk orang lain.

    Pelaku ini disebut sebagai trader. Nantinya, pihak pialang akan mendapatkan permintaan dari trader tersebut untuk diteruskan kepada pelaku lainnya. Sebab, cara kerja pialang memang menjalankan kegiatan investasi untuk kepentingan para trader, ali-alih klien.

    3. Transaksi Bagi Klien

    Pelaku bursa efek yang terakhir adalah transaksi bagi klien. Biasanya, pelaku ini disebut sebagai pialang saham dan akan menyediakan layanan berupa perantara dalam menghubungkan pihak investor dan emiten. 

    Umumnya, investor yang memilih perantara ialah mereka yang tidak memiliki banyak waktu dan kemampuan. Sedangkan Anda tahu sendiri bahwa investasi tidak hanya khusus mereka yang memiliki finansial cukup, melainkan juga yang memiliki skill

    Jadi, lebih baik diserahkan kepada orang-orang yang sudah berpengalaman. Pembayaran pialang akan terjadi setelah klien mendapatkan keuntungan dari transaksi.

    Tugas Bursa Efek Indonesia

    Menurut buku Bank dan Lembaga Keuangan (2020:185), BEI mempunyai dua tugas utama, yakni sebagai fasilitator dan pengawas. Berikut ini penjelasannya:

    1. Sebagai Fasilitator

    Fasilitator termasuk pihak yang menyediakan saham ataupun instrumen investasi yang lainnya. Berdasarkan penjelasan sebelumnya, Anda sudah pasti tahu bahwa BEI juga menjadi tempat yang memfasilitasi investor untuk melakukan investasi. Berikut tugas-tugasnya.

    • Menciptakan instrumen ataupun layanan-layanan baru.
    • Membuat likuiditas terhadap instrumen sehingga bisa mengalirkan dana secara cepat terhadap efek yang sudah terjual.
    • Menjadi penyedia sarana perdagangan efek.
    • Membuat dan menyebarluaskan informasi bursa kepada seluruh kalangan masyarakat.
    • Mempromosikan pasa modal agar bisa diakuisisi oleh calon investor maupun perusahaan baru yang sudah berhasil go public.

    2. Sebagai Pengawas atau SRO

    Selain menjadi fasilitator, Bursa Efek Indonesia juga memiliki peran dalam menjadi SRO atau pengawas. Adapun berikut adalah tugas-tugasnya:

    • Membuat peraturan yang relevan dengan kegiatan jual beli atau pertukaran.
    • Menetapkan aturan yang berhubungan dengan kegiatan pertukaran.
    • Meminimalisir adanya praktik transaksi yang mengikat bagi pelaksana pasar modal.

    Cara Kerja Bursa Efek Indonesia

    Sering mendengar istilah Bursa Efek Indonesia atau BEI namun bagaimana dengan cara kerjanya? Apa yang harus kita lakukan untuk bisa berinvestasi di sana? Simak penjelasan berikut.

    1. Time Priority and Price

    Time priority and price termasuk cara kerja bursa efek untuk menjalankan kegiatan perdagangan surat-surat berharga atau obligasi. Peninjauan keduanya akan terlihat dari segi penawaran dan permintaan. Antara harga dan waktu sama-sama penting karena menunjang aktivitas perdagangan.

    Untuk prioritas waktu atau time priority sendiri berhubungan dengan penawaran pembelian dan penjualan dengan harga yang sama. Nantinya, bursa efek yang akan memberikan priortas kepada emiten ataupun investor agar bisa mengajukan permintaan pembelian ataupun penawaran.

    2. Sistem Beli Saham

    Cara kerja Bursa Efek Indonesia yang berikutnya ialah sistem beli saham. Sistem ini menggunakan satuan perdagangan yang sudah diakui oleh negara, yaitu lot (round lot). Dalam perhitungannya, satu lot saham setara dengan 100 lembar saham.

    3. Menyelesaikan Transaksi

    Banyak yang bertanya terkait waktu transaksi pada investor dalam membeli saham di BEI. Secara umum, investor harus menyelesaikan transaksi, baik dalam penjualan ataupun pembelian saham T+3 hari perdagangan. T sendiri berarti proses berlangsungnya transaksi.

    4. Jam Operasional

    Sebelum memilih investasi di BEI, Anda perlu mengetahui terlebih dahulu regulasi waktunya. Indonesia menetapkan jam bursa sama dengan hari kerja, yakni Senin hingga Jumat. 

    Sedangkan waktu perdagangan hanya terbagi menjadi dua sesi saja. Sesi pertama terjadi pada pukul 09.00 – 12.00 WIB dan sesi kedua pada pukul 14.00 – 16.00 WIB. 

    5. Kontrol dan Pengawasan Perdagangan

    Bursa Efek Indonesia tidak hanya akan lepas tangan terhadap kegiatan-kegiatan para investor. Proses pengawasan ini meliputi jaminan keamanan terhadap semua jenis informasi yang ada di perusahaan, real time, tindak lanjut atas transaksi yang tidak wajar, dan hal-hal lainnya.

    Bursa Efek Indonesia Memiliki Peran Penting Dalam Menunjang Investasi

    Itulah informasi singkat yang perlu Anda ketahui dari Bursa Efek Indonesia. Lantaran ada banyak tempat investasi bodong, Anda harus selalu waspada agar tidak ikut terjebak dalam kegiatan merugikan tersebut. Oleh karena itu, Bursa Efek Indonesia hadir untuk membantu masyarakat dalam memberikan wadah investasi resmi, aman, dan terpercaya.

  • Mengenal Apa itu Bea Cukai? Sejarah, Pengertian, Tugas, dan Kebijakannya

    Mengenal Apa itu Bea Cukai? Sejarah, Pengertian, Tugas, dan Kebijakannya

    Bea Cukai menjadi istilah cukup familiar terkait lembaga yang berkecimpung di dunia ekspor-impor. Bahkan bagi masyarakat secara umum, istilah ini penting untuk dipahami karena muncul di pemberitaan media. Lalu apa maksud dari istilah ini? Berikut pembahasan selengkapnya.

    Pengertian

    Secara sederhana, Bea Cukai dapat diartikan sebagai pungutan yang dilakukan pemerintah pada barang impor, ekspor, serta barang yang mempunyai karakteristik khusus. Adapun lembaga yang berwenang untuk mengatur masalah bea dan cukai ini yaitu kepabeanan.

    Fungsi lembaga kepabeanan yaitu melakukan pengawasan terhadap lalu lintas barang masuk dan keluar. Lembaga tersebut juga berwenang untuk melakukan pungutan bea.

    Setiap negara memiliki lembaga kepabeanannya masing-masing. Namun negara-negara di dunia juga memiliki istilah yang berbeda. Meskipun begitu, tugas dari lembaga kepabeanan di setiap negara hampir sama.

    Berikut definisi lain berdasarkan beberapa pendapat:

    1. Menurut KBBI

    Menurut KBBI, Bea dan Cukai diartikan secara terpisah. Bea berarti biaya, pajak, dan ongkos. Sementara itu, cukai yaitu sesuatu yang berkaitan dengan pajak. Berdasarkan penjelasan tersebut, bisa disimpulkan jika Bea Cukai adalah biaya maupun ongkos yang berkaitan dengan pajak.

    2. Menurut Ditjen Bea dan Cukai

    Menurut Ditjen Bea Cukai, istilah tersebut sudah ada bahkan sejak era kolonial Belanda. Orang-orang Belanda mengistilahkannya dengan douane. Kemudian pada masa Kerajaan Majapahit, istilah tersebut kerap digunakan para pedagang karena banyak barang yang datang dari luar daerah.

    Lalu di era modern, istilah Bea Cukai lebih terkenal dengan sebutan custom. Terkait objek cukai juga sangat variatif, misalnya minuman keras, cerutu, dan sebagainya dan masing-masing mempunyai aturannya sendiri.

    Tujuan pemberlakuan biaya tinggi terhadap objek cukai adalah agar barang-barang tersebut tidak mudah masuk ke Indonesia. Selain itu, masyarakat juga tidak mudah membeli secara sembarangan. 

    Meskipun begitu, ada saja oknum yang berusaha menyelundupkan barang secara ilegal tanpa memperhatikan dampak buruknya. Untuk itu, Bea Cukai mempunyai peran sangat penting untuk mengontrol peredaran barang-barang yang menjadi objek cukai.

    3. Menurut UU No. 17 Tahun 2006

    Bea adalah pungutan negara yang dibebankan pada setiap barang ekspor dan impor. Sementara itu, cukai merupakan pungutan negara yang dibebankan pada barang yang mempunyai sifat atau ciri yang telah ditetapkan lewat perundang-undangan.

    4. Menurut Kemenkeu

    Bea Cukai merupakan pungutan negara dengan membayar sesuai kebutuhan transaksi. Pungutan tersebut akan menjadi pajak atau pemasukan negara dan manfaatnya pun akan kembali kepada masyarakat karena biasanya digunakan untuk membangun infrastruktur serta kesejahteraan masyarakat.

    Sejarah

    Hampir seluruh negara mempunyai Bea Cukai dan bahkan ketika negara berdiri pun sudah langsung membuat lembaga tersebut. Ini merupakan lembaga yang menjadi perangkat negara “konvensional”, sama halnya dengan pengadilan, kepolisian, maupun angkatan bersenjata.

    Di Indonesia, lembaga kepabeanan sudah ada bahkan sejak zaman kerajaan atau sebelum zaman kolonial Belanda. Akan tetapi, pada zaman tersebut memang belum ada yang mendokumentasikannya sehingga tidak dapat menjadi bukti konkret akan kehadiran lembaga tersebut.

    Semenjak masuknya Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC, dokumentasi mulai dilakukan secara jelas terkait lembaga kepabeanan tersebut. 

    Di masa itu, lembaga yang bertugas mengawasi serta memungut bea impor, ekspor, maupun bea barang belum dinamakan Bea Cukai. Namun Hindia Belanda memberikan istilah De Dienst der Invoer en Uitvoerrechten en Accijnzen. Kemudian orang yang bekerja di lembaga tersebut dinamakan douane

    Pasca VOC diganti Jepang, lembaga tersebut mengalami perubahan tugas. Saat itu, tugasnya hanya sekadar melakukan pungutan cukainya saja. Lalu untuk bea impor dan ekspor, pemerintah di zaman tersebut tidak memberlakukan pungutan.

    Ketika sudah berhasil memperoleh kemerdekaannya, Bea Cukai dibentuk kembali tepatnya pada Oktober 1946 dengan nama Pejabatan Bea dan Cukai. Kemudian tugasnya kembali seperti semula yaitu melakukan pungutan terhadap bea dan cukai.

    Selanjutnya, lembaga kepabeanan tersebut mengalami dua perubahan. Di tahun 1948 dinamakan Jawatan Bea dan Cukai. Lalu setelah 1956 dan sampai sekarang disebut Direktorat Jenderal Bea dan Cukai atau Ditjen Bea Cukai.

    Karakteristik Barang yang Kena Cukai

    Menurut peraturan perundang-undangan, terdapat beberapa ciri khas barang yang terkena cukai, antara lain:

    • Barang yang peredarannya memerlukan pengawasan.
    • Barang yang pemakaiannya mengakibatkan dampak negatif terhadap masyarakat dan lingkungan hidup.
    • Konsumsinya memerlukan pengawasan serta pengendalian.
    • Dalam rangka untuk mewujudkan keseimbangan dan keadilan, maka pemakaian barang tersebut perlu dikenakan pungutan.

    Jenis Barang yang Kena Cukai

    Berdasarkan ciri barang yang terkena cukai seperti di atas, ternyata tidak semua barang akan dikenakan pungutan. Setidaknya barang-barang yang kena cukai yaitu:

    • Etanol atau etil alkohol yang tidak memperhatikan komposisi bahan serta proses pembuatannya.
    • Minuman yang memiliki kandungan etil alkohol dengan kadar berapa saja yang tidak memperhatikan komposisi bahan serta proses pembuatannya. Berlaku juga pada konsentrat dengan kandungan etil alkohol.
    • Hasil tembakau seperti daun tembakau iris, cerutu, sigaret, rokok, serta hasil olahan tembakau lain dengan tidak mengindahkan himbauan pemerintah terkait proses pembuatannya.

    Kebijakan Bea Cukai

    Setidaknya terdapat dua kebijakan yang ditetapkan oleh lembaga kepabeanan, yaitu:

    1. Bidang Ekspor

    Kebijakan pembayaran cukai pada aktivitas ekspor tercantum pada beberapa peraturan berikut ini:

    • UU No. 17 Tahun 2006, perubahan UU No. 16 Tahun 1995 seputar Kepabeanan.
    • Peraturan Pemerintah RI yang ditetapkan pada No. 55 Tahun 2008 mengenai dikenakan Bea Keluar Pada Barang Ekspor.
    • Peraturan Menteri Keuangan, No. 145/PMK.04/2007 jo. PMK No. 148/PMK.04/2011 jo. PMK No. 145/PMK.04/2014 mengenai Ketentuan Kepabeanan pada Bidang Ekspor.
    • Peraturan Menteri Keuangan No. 214/PMK.04/2008 jo. PMK Nomor 146/PMK.04/2014 jo. PMK Nomor 86/PMK.04/2016 mengenai Pemungutan Bea Keluar.
    • Peraturan Menteri Keuangan No. 224/PMK.04/2015 mengenai Pengawasan barang Impor maupun Ekspor, barang Larangan dan/atau Pembatasan.
    • Peraturan Menteri Keuangan No. 14/PMK.010/2017 mengenai Penetapan pada Barang Ekspor yang terkena Bea Keluar serta Tarif Bea Keluar.
    • Peraturan Ditjen Bea Cukai No. PER-32/BC/2014 jo. PER-29/BC/2016 mengenai Tata Laksana Kepabeanan pada Bidang Ekspor.
    • Peraturan Ditjen Bea Cukai No. P-41/BC/2008 jo. P-07/BC/2009 jo. PER-18/BC/2012 jo. PER-34/BC/2016 mengenai Pemberitahuan Pabean Ekspor.

    2. Bidang Cukai

    Berikut kebijakannya:

    • UU RI No. 11 Tahun 1995 mengenai Cukai yang sudah diubah menjadi UU RI No. 39 Tahun 2007 terkait perubahan tersebut.
    • PMK (Peraturan Menteri Keuangan) No. 62/PMK.011/2010 mengenai Tarif Cukai untuk Produk Alkohol, Minuman dengan Kandungan Etil Alkohol, serta konsentrat yang memiliki kandungan alkohol.
    • PMK No. 181/PMK.011/2009 mengenai Tarif Cukai dari Hasil Barang Tembakau.
    • Peraturan Ditjen Bea Cukai No. P-43/BC/2009 seputar Tata Cara Penetapan untuk Tarif Cukai dari Hasil Barang Tembakau.
    • Peraturan Ditjen Bea Cukai No. P-22/BC/2010 mengenai Tata Cara Pungutan Cukai dengan kandungan Etil Alkohol, Konsentrat dengan kandungan Etil Alkohol, dan Minuman dengan Etil Alkohol.

    Tugas serta Fungsi Bea Cukai

    Dengan kebijakan yang dimilikinya, maka lembaga kepabeanan mempunyai tugas yaitu menyelenggarakan perumusan serta pelaksanaan kebijakan pada bidang pengawasan, pelayanan, penegakan hukum, serta optimalisasi terkait penerimaan peraturan perundang-undangan.

    Maka dari itu, tugas atau fungsi utama Bea Cukai antara lain:

    • Membuat pertumbuhan industri dalam negeri meningkat lewat penyediaan fasilitas kepabeanan serta cukai tepat sasaran.
    • Mewujudkan iklim usaha serta investasi yang kondusif. Caranya yaitu memperlancar logistik ekspor dan impor lewat penyederhanaan prosedur kepabeanan dan cukai. Selain itu, bisa juga dengan menerapkan sistem manajemen risiko secara dapat diandalkan.
    • Melindungi industri dalam negeri, kepentingan nasional, serta masyarakat lewat pengawasan dan/atau pencegahan terhadap keluarnya barang ekspor serta masuknya barang impor yang berpotensi mengakibatkan dampak negatif. Caranya dengan membatasi maupun melarang lewat regulasi.
    • Menjalankan pengawasan terhadap aktivitas impor, ekspor, maupun aktivitas terkait kepabeanan dan cukai yang lain secara efektif dan efisien. Caranya dengan menerapkan sistem manajemen risiko secara andal, penyidikan yang kuat, intelijen, melakukan tindakan tegas, maupun mengaudit kepabeanan dan cukai secara tepat.
    • Memberikan batasan, pengawasan, dan/atau pengendalian produksi, distribusi, serta konsumsi barang tertentu yang memiliki sifat maupun ciri khas yang berpotensi memberikan dampak buruk terhadap kesehatan, keamanan, dan lingkungan. Caranya dengan membuat instrumen cukai yang menunjukkan adanya aspek keadilan serta keseimbangan.
    • Mengoptimalkan penerimaan negara terkait bea dan cukai yang masuk-keluar sehingga mampu menunjang pembangunan nasional.

    Kesimpulan

    Jadi, Bea Cukai memang ada di setiap negara. Kehadirannya sangat dibutuhkan karena menjadi pemasukan negara sehingga mampu menambah cadangan devisa. Semoga bermanfaat.