Stereotip Adalah: Pengertian, Makna, Proses, dan Contohnya

Stereotip adalah istilah yang mungkin familiar bagi banyak orang, tetapi hanya sedikit yang memahami maknanya. Istilah ini merujuk pada penilaian yang kaku terhadap individu berdasarkan prasangka pribadi. Lalu bagaimana proses terjadinya pandangan subjektif ini? Simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Pengertian Stereotip

Istilah stereotip mungkin familiar bagi banyak orang, tetapi hanya sedikit yang memahami maknanya. Stereotip sendiri merujuk pada penilaian yang kaku terhadap individu berdasarkan prasangka pribadi. 

Menurut KBBI, stereotip adalah pandangan umum mengenai karakteristik sebuah kelompok yang hanya berdasarkan pada prasangka yang tidak akurat. 

Awalnya, penilaian ini hanya berlaku pada beberapa individu. Namun seiring berjalannya waktu, penilaian ini cenderung meluas dan berlaku pada semua individu dari latar belakang atau penampilan yang serupa. 

Meskipun beberapa penilaian tersebut bisa bersifat positif, namun kebanyakan cenderung memberikan kesan negatif. Misalnya, anggapan bahwa semua orang Batak memiliki sifat keras, atau anggapan bahwa orang gemuk cenderung malas dan rakus. 

Mungkin saja kamu pernah bertemu dengan seseorang dari Suku Batak yang memiliki sifat keras atau memiliki teman yang bertubuh gemuk namun tidak malas. Namun, hal ini tidak berarti semua orang dari Suku Batak memiliki sifat yang sama, begitu pula dengan orang yang berpenampilan gemuk. 

Menyamakan semua orang berdasarkan sedikit informasi yang diperoleh dari satu atau dua individu sangat tidak adil. Oleh karena itu, untuk benar-benar memahami karakter dan sifat sebenarnya, stereotip adalah hal yang perlu kamu kritisi dan penting juga untuk mengenal individu tersebut secara personal terlebih dahulu.

Makna Stereotip

Kata “stereotip” berasal dari bahasa Inggris “stereotype” yang merujuk pada penilaian atau asumsi tentang seseorang berdasarkan afiliasi sosialnya. Menurut Dyah Gandasari dan rekannya dalam buku Pengantar Komunikasi Antarmanusia (2022), stereotip adalah salah satu bentuk prasangka terhadap etnis atau ras. 

Seseorang cenderung membuat kategori perilaku orang lain berdasarkan ras, jenis kelamin, kebangsaan, dan kemampuan berkomunikasi baik secara lisan maupun nonverbal. Jadi, makna stereotip adalah asumsi yang hanya didasarkan pada penilaian karakteristik perilaku orang lain. 

Faktor Penyebab Munculnya Stereotip

Stereotip tidak terbentuk secara spontan. Seseorang dapat mengembangkan pandangan tersebut berdasarkan pengalaman pribadi, yang seringkali merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan.

Tetapi, selain dari pengalaman pribadi, pandangan tersebut juga bisa muncul karena beberapa faktor lainnya. Beberapa faktor yang menyebabkan munculnya stereotip adalah sebagai berikut:

1. Keluarga

Keluarga
Keluarga | Sumber: Freepik.com

Keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak tumbuh dan berkembang. Lingkungan keluarga juga menjadi tempat seorang anak belajar dan memulai perjalanan menuju kedewasaan. 

Dalam lingkungan keluarga, orang-orang yang ada di dalamnya tanpa sadar menjadi guru pertama bagi seorang anak. Hal ini karena anak-anak biasanya cenderung meniru perilaku anggota keluarganya. 

Tanpa disadari, anak akan menerima dan memegang teguh ajaran yang mereka terima dari orang tua mereka. Sebagai contoh, ketika seorang ibu menyatakan bahwa anak perempuan harus pandai memasak sedangkan anak laki-laki tidak, maka anak-anak tersebut akan menjadikan pernyataan itu sebagai sebuah stereotip. 

Stereotip adalah pemikiran yang mungkin akan mereka yakini hingga dewasa. Tidak hanya itu, mungkin saja anak-anak tersebut juga akan meneruskan pandangan tersebut kepada anak-anak mereka kelak.

Meskipun mampu memasak adalah hal yang bagus, penting untuk kamu ketahui bahwa kemampuan memasak seharusnya bukan hanya kewajiban perempuan. Pria juga seharusnya memiliki keterampilan memasak. Setidaknya dengan menguasai beberapa resep dasar yang mudah.

2. Teman Bergaul

Teman Bergaul
Teman Bergaul | Sumber: Freepik.com

Kamu mungkin pernah mendengar ungkapan yang menyatakan bahwa bergaul dengan orang baik akan membuat diri kita menjadi lebih baik. Sebaliknya, bergaul dengan orang yang tidak baik akan membuat perilaku kita menjadi negatif. 

Selain keluarga, lingkungan pertemanan juga turut berperan dalam membentuk identitas seseorang pada masa sekarang. Jika seseorang bergaul dengan teman-teman yang memiliki sifat dan moral yang baik, kemungkinan besar orang tersebut akan terdorong untuk menjadi individu yang positif. 

Sebaliknya, jika seseorang bergaul dengan individu yang memiliki perilaku buruk, bisa jadi karakter individu tersebut juga akan terpengaruh dan menjadi kurang baik. Hubungan pertemanan yang erat cenderung membuat seseorang percaya sepenuhnya pada apa yang dikatakan oleh teman mereka, termasuk hal-hal yang hanya sekadar stereotip.

3. Sekolah

Sekolah
Sekolah | Sumber: Freepik.com

Sekolah merupakan lingkungan kedua tempat anak menghabiskan sebagian besar waktunya dalam sehari. Di sana, anak tidak hanya bertemu dengan teman sebaya tetapi juga berinteraksi dengan guru-guru yang memiliki pengaruh dalam membentuk karakter seorang anak. 

Pengajaran yang mereka sampaikan akan tetap terkenang dalam memori anak. Hal ini erat kaitannya dengan konsep stereotip. 

Di lingkungan sekolah, beberapa guru mungkin menyatakan bahwa anak yang duduk di barisan depan cenderung lebih cerdas daripada anak yang duduk di barisan belakang. Stereotip adalah prasangka yang belum tentu benar, karena anak yang duduk di depan atau belakang tidak menandakan tingkat kecerdasannya.

Selain itu, stereotip lainnya adalah anggapan bahwa anak dengan nilai yang pas-pasan atau buruk di sekolah tidak akan mencapai kesuksesan di masa depan. Meskipun nilai akademis berperan dalam kelulusan dan seringkali menjadi faktor pertimbangan dalam seleksi wawancara kerja, namun nilai bukanlah segalanya.

4. Media

Media
Media | Sumber: Freepik.com

Media merupakan salah satu faktor pemicu dalam pembentukan stereotip. Apa yang seseorang tonton, dengar, dan baca bisa memengaruhi cara berpikir mereka. 

Media juga memiliki peran dalam membentuk pandangan seseorang terhadap orang lain atau suatu peristiwa. 

Contohnya, pemberitaan di beberapa negara seringkali hanya menyoroti sisi negatif dari Islam. Akibat terbiasa dengan pemberitaan negatif tentang Islam, secara bertahap sebagian besar masyarakat kemudian membentuk stereotip bahwa Islam adalah agama yang buruk dan semua umat muslim dianggap jahat.

Banyak orang juga percaya pada informasi yang disampaikan oleh media tanpa mengecek benar atau tidaknya. Mereka jarang atau bahkan tidak pernah berdiskusi dengan seorang muslim untuk memahami ajaran Islam.

Ketika stereotip adalah prasangka buruk yang terus menerus berkembang, timbullah perlakuan negatif, semisal fenomena islamophobia (rasa takut yang berlebihan terhadap agama Islam dan pengikutnya).

Hal ini tidak hanya mengakibatkan perlakuan kasar terhadap umat muslim, tetapi seringkali juga menjadi penyebab terjadinya beberapa kasus pembantaian terhadap umat muslim di beberapa negara.

Perlu kamu ingat bahwa perbuatan buruk seseorang tidak mewakili ajaran agamanya. Meskipun ajaran agama pada dasarnya mengajarkan kebaikan, tetapi bagaimana individu menjalankan ajaran tersebut merupakan pilihan pribadi mereka. 

Baca Juga : Perilaku Menyimpang: Penyebab, Bentuk, dan Contohnya

Proses Munculnya Stereotip

Stereotip adalah hal yang bisa memengaruhi informasi yang berkaitan dengan individu dan bagaimana cara orang lain memahami informasi tersebut. Meskipun orang-orang memiliki pandangan yang berbeda terhadap seorang individu, namun pandangan tersebut tetap bisa memengaruhi persepsi orang lain dengan cara yang sama.

Pandangan tersebut seringkali timbul dalam proses kognitif, yaitu ketika seseorang dinilai hanya berdasarkan asosiasi dengan kelompoknya, dan bukan dari informasi yang spesifik mengenai individu itu sendiri.

Dalam buku Kompetensi Interpersonal dalam Organisasi oleh Kaswan, menyatakan bahwa orang-orang sering menggunakan stereotip karena alasan kognitif. Hal ini karena stereotip adalah cara yang mudah dan sederhana untuk memahami seseorang.

Melalui stereotip, seseorang bisa mencoba memperoleh informasi tentang individu yang baru mereka kenal melalui kelompok dari individu tersebut. Stereotip juga bisa mempercepat proses penerimaan informasi, meski terkadang pandangan tersebut juga dapat menciptakan dampak negatif.

Kemunculan stereotip adalah buah pemikiran yang sangat bergantung pada penilaian dari kelompok terhadap individu. Oleh karena itu, tidak heran jika pandangan subjektif itu seringkali mengabaikan karakter dan perilaku sebenarnya dari individu tersebut.

Contoh Stereotip di Lingkungan Sekitar

Beberapa contoh stereotip adalah sebagai berikut:

  • Orang Jawa dari Solo sering dikaitkan dengan sifat lemah lembut.
  • Orang dari etnis Tionghoa sering dianggap pelit, kaya, dan memiliki kekayaan berlimpah.
  • Pria sering dianggap sebagai individu yang kuat dan maskulin, gagah, serta penuh keberanian.
  • Perempuan sering dianggap sebagai individu yang lemah dan memerlukan perlindungan.
  • Orang Indonesia terkenal dengan keramahannya.
  • Banyak orang menganggap guru sebagai figur yang bijaksana dan bisa menjadi teladan bagi murid-muridnya.

Baca Juga : Kontravensi Adalah: Pengertian, Penyebab, dan 4 Contohnya

Sudah Tahu Apa Itu Stereotip?

Stereotip adalah prasangka yang sebaiknya tidak kita terima begitu saja, tetapi perlu ada pengecekan lebih lanjut untuk membuktikan kebenarannya. Proses memahami apa itu stereotip akan mengajarkan kita untuk jangan pernah menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya saja. Kenali seseorang dengan baik, agar terhindar dari prasangka dan penilaian yang tidak benar. 

Share:

Leave a Comment

You cannot copy content of this page