Tag: puisi ramadhan

  • 23 Puisi Ramadhan Penuh Hikmah untuk Berbagi Momen Istimewa

    23 Puisi Ramadhan Penuh Hikmah untuk Berbagi Momen Istimewa

    Bulan suci Ramadhan adalah bulan mulia dimana seluruh umat Islam melaksanakan puasa dan memperbanyak ibadah. Bulan ini adalah bulan dimana segala ibadah yang dilakukan akan mendapatkan pahala berlipat-lipat. Nah, untuk menyambut bulan ini, kamu bisa mengirimkan puisi Ramadhan untuk orang tersayang. 

    Puisi Ramadhan merupakan puisi-puisi islami dengan konsep religi khas bulan Ramadhan. Tujuannya agar kamu bisa membagikan rasa suka cita menyambut Ramadhan dengan banyak orang, terlebih pada keluarga, teman, sahabat, dan orang-orang tersayang. Bagaimana isi puisinya? Simak berikut ini!

    Kumpulan Puisi Ramadhan Penuh Hikmah

    Inilah beberapa kumpulan puisi yang bisa kamu gunakan atau bagikan ke orang-orang tersayang, melalui pesan singkat WhatsApp, Instagram, Facebook atau yang lain.

    1. Ramadhan Datang

    Judul puisi: Ramadhan Datang

    karya: Siti Fatimah

    Malam indah penuh bintang

    Menyambut bulan penuh ampunan

    Bulan yang selalu kurindukan

    Untuk mendekat kepada Tuhan

    Marhaban ya Ramadhan

    Hadirmu seperti kerinduan

    Yang berhasil masuk dalam relung jiwa

    Banyak doa dipanjatkan

    Segala harapan mulai dilangitkan

    Segala dosa terhapuskan

    Marhaban ya Ramadhan

    Bulan ampunan yang mulia

    2. Suka Cita Ramadhan

    Judul puisi Ramadhan: Suka Cita Ramadhan

    Karya: Siti Fatimah

    Bahagia terselip pada tawa anak-anak kecil yang sedang berlarian

    Menyambut bulan suci penuh ampunan

    Suka cita merekah pada senyum manisnya

    Menyambut bulan mulia

    Terima kasih Tuhan

    Kau hadirkan kembali Ramadhan dalam hidup

    Kau berikan pahala berlipat-lipat

    dan ampunan yang begitu besar

    Ramadhan-Mu akan kusambut dengan penuh gembira

    Dengan penuh kekhusyukan

    Mengharap Rahmat dan kasih sayang

    Darimu, Rabbi…

    3. Sebulan Penuh Puasa

    Judul puisi: Sebulan penuh puasa

    Karya: Siti Fatimah

    Ramadhan tiba saatnya kita berpuasa

    Puasa satu bulan penuh dengan penuh suka cita

    Menahan lapar dan dahaga

    Hingga amarah yang bersarang dalam dada

    Satu bulan penuh kita berpuasa

    Mengharap ridho dan rahmat-Nya

    Tanpa lelah meminta ampunan-Nya

    Yang melebihi luasnya samudera

    Satu bulan penuh kita berpuasa

    Menahan segala sesuatu yang bisa mengotori hati 

    Mengubah menjadi sesuatu yang suci

    Atas Ridho Illahi

    4. Doa Bulan Ramadhan

    Judul puisi: Doa Bulan Ramadhan

    Karya: Siti Fatimah

    Ya Allah Ya Tuhanku

    Dalam dekapan bulan suci-Mu ini 

    Berikan hamba ampunan dan kesadaran

    akan kasih sayangMu yang begitu besar

    Ya Allah Ya Tuhanku

    Kasih-Mu Maha Luas

    Sayang-Mu tak terbatas

    Berikan pada hamba

    Yang sungguh penuh dosa

    Ya Allah Ya Tuhanku 

    Apapun yang ada dalam lubuk hatiku

    Naungi dengan rahmat-Mu

    Karena sungguh ku tak sanggup apabila berjalan sendiri

    Di dunia yang fana ini

    Ya Allah Ya Tuhanku

    Jadikan kami sebagai hamba yang selalu mengingatMu

    Mengingat ayat-ayat suci-Mu

    Mengingat sabda Nabi-Mu

    Sebagai petunjuk jalan hidup kami 

    Di dunia, maupun akhirat

    5. Menapaki Bulan Suci

    Judul puisi: Menapaki Bulan Suci

    Karya: Ika Dina Syarifa

    Sebelum fajar benar-benar matang

    Sudah banyak doa dipanjatkan

    Semoga dilancarkan

    Semoga diampunkan

    Semoga dikuatkan

    Subuh yang sumringah dari biasanya

    Siang terang-benderang

    Riuh suara adzan berkumandang

    Lantunan ayat suci Al-Qur’an 

    Shaf masjid terisi sampai belakang

    Bulan dengan segala kebaikan

    Manusia berlomba dengan berupa amalan

    Menuju petang, “Mau berbuka apa nanti?”

    Maghrib yang penuh syukur

    Doa yang satu-persatu kabul

    Untuk makanan dan minuman

    Serta kekuatan hingga adzan datang

    Perjalanan masih panjang

    Tiga puluh hari menuju kemenangan

    6. Aku Pulang

    Judul puisi: Aku Pulang

    Karya: Faras Alifia Rahman

    Hingar bingar penuh mungkar dan kelakar

    Giat menggeliat bercumbu dengan malaikat

    Ayo ambil satu gelas lagi!

    Kita terbang sampai pagi!

    Omong kosong lima waktu!

    Toh, aku bisa bersenang-senang setiap waktu

    Persetan dengan puasa!

    Toh, aku bisa berpuas-puas mengecap rasa

    Ayolah!

    You only live once!

    Hidupkan hidupmu selagi hidup!

    Tunggu sebentar..,

    Hidup apa?

    Aku siapa?

    Sejatinya aku adalah calon mayat

    Yang terlalu takabur padahal esok bakal dikubur

    Terlalu jauh aku berkelana dan terlena

    Hingga diriku terbenam dalam kabut kelam

    Sang Maha Penolong membukakan pintu-Nya sekali lagi untukku

    Dengan tertunduk malu, aku tertatih-tatih melangkah mendekati-Nya

    Ya Rabb..

    Hamba pulang

    Izinkan tubuh yang berlumur kerak-kerak nista ini

    Tuk bersimpuh rapuh di hadapan-Mu

    Perbolehkan kening yang selalu mendongak congkak ini

    Tuk tunduk bersujud menyembah nama-Mu

    Dengan segala kefasikan diri

    Dan segenap kekumuhan hati

    Sisakan setitik ampunan untuk pendosa sepertiku, Ya Rabb

    Sebab diri ini terlalu hina untuk memohon Lailatur Qadar-Mu

    Ya Rabb..

    Masih pantaskah pendosa sepertiku menyandang gelar sebagai hamba-Mu

    Ramadhan ini aku pulang

    Menemui Tuhanku yang selalu enggan kutemui

    Rangkul aku dengan rahmat-Mu, Ya Rabb

    Jangan biarkan aku menginjak bibir jurang kedurhakaan itu lagi.

    7. Kemuliaan yang Dirindukan

    Judul puisi Ramadhan: Kemuliaan yang Dirindukan

    Karya Adi Taufika Adi

    Butir-butir tasbih berputar tak terhitung

    Mengiringi alunan zikir di bulan suci

    Menyeru kepada umat muslim seisi bumi

    Melantunkan kalimat-kalimat agung

    Sungguh indahnya suasana di malam hari

    Sejuk mendengar alunan bersenandung

    Melebihi merdunya suara kidung

    Yaitu alunan kalam ilahi

    Sungguh kemuliaan yang layak kita junjung

    Ramadhan penuh kedamaian di hati

    Penuh rahmat Sang Maha Pelindung

    Kemuliaan itu selalu dinanti

    Rindu datangnya tiada terbendung

    Karena datangnya setahun sekali

    8. Pada Bulan yang Suci

    Judul puisi ramadhan: Pada Bulan yang Suci

    Karya: Delfiani Safira

    Kali ini, aku tak lagi menyalahkan angin; 

    Yang tak pernah meniupkan sepoi-sepoi kerinduan

    Melalui hembusnya yang selalu tajam

    Aku ingin berterima kasih;

    Kepada angin dan mereka

    Yang berhasil memberi ketenangan kali ini

    Ketenangan mencipta damai

    Kedamaian mencipta bahagia

    Semua makhluk berbondong bersukacita

    Semua makhluk mendamba tentram dan sentosa

    Aku ingin berterima kasih; 

    Kepada-Nya

    Yang masih mengizinkan hamba

    Bersua dengan yang suci

    Yang menghadirkannya tenang

    Yang menghadirkannya tentram

    9. Waktu Berbuka Tiba

    Judul puisi Ramadhan: Waktu Berbuka Tiba

    Karya: Siti Fatimah

    Sayup kumandang azan terdengar dari kejauhan

    Aku bergegas pulang sembari membawa jajanan dari pasar

    Berlari kecil-kecilan

    Bersiap menyambut santapan di meja makan

    Ibu sudah menungguku di meja makan

    Bersama bapak dan dua saudara kecilku

    Lapar dan dahaga akan ku akhiri 

    dengan segarnya es kolak buatan Ibu

    Terima kasih atas segala rahmat-Mu 

    dan rezeki yang Engkau berikan

    Pada sepiring nasi yang kumakan

    Pada semangkuk es yang kuteguk

    Tanpa nikmat dan kasih-Mu

    Waktu berbuka puasaku takkan indah

    Terima kasih Ya Allah

    Engkau satu-satunya Tuhan 

    Yang Maha Pengasih

    10. Nyatanya, Ramadhan Akan Terus Kembali

    Judul puisi Ramadhan: Nyatanya, Ramadhan Akan Terus Kembali

    Karya: Ajilni Ilmi N. 

    Menjelma kasih pada bilik yang mulai digarap manusia, hari demi hari. 

    Menyusuri jalan penuh cita bahagia pada jiwa yang seakan tidak bisa digandakan.

    Melewati masa dan ruang, mengantongi kisah yang berujung pada kasih, menyelesaikan kebangkitan batin yang tidak lepas dari sebuah perjuangan hakiki menuju roma Ilahi.

    Semua itu, melekat pada ingatan

    Mungkin dari sekian pinta manusia, mereka memilih untuk dijumpakan lagi dengan bulan penuh keberkahan ini.

    Bulan di mana semua tatap seperti penuh dengan kebaikan dan aroma pekat kemanusiaan. 

    Bulan yang ketika ketetapan hati belum sepenuhnya diperbaiki, namun kesempatan untuk menata diri selalu diberi.

    Lagi-lagi, 

    Ramadhan mulai memeluk jiwa manusia yang belum tentu memeluk kembali kehadirannya.

    Dan lagi-lagi, 

    semua yang tidak dengan baik digenggam oleh manusia mampu diterima hangat oleh-Nya.

    Selamat menyelami Ramadhan Karim

    Sebab di dalam Ramadhan, manusia bisa menemukan kasih Tuhan tanpa sebuah permintaan.

    11. Malam Kemuliaan

    Judul puisi Ramadhan: Malam Kemuliaan

    Karya: Intan Novitasari

    Angkasa kian pekat menghitam, 

    Duduk bergeming seorang diri dalam bising lirih,

    Celotehan insan pertiwi mengembara kesana kemari, 

    Menanti gempita kerinduan yang kian bertamu, 

    Deru haru merasuk sukma, 

    Menggetarkan jiwa-jiwa hilang tak berpenghuni, 

    Tuk Menemukan tempat pulang, 

    Diujung rasa yang kian mati, 

    Mengisahkan diri tanpa tabah, 

    Merebah diri melawan keadaan,

    Menggeluti diri penuh noda, 

    Lantaran kalut masih ku kantongi, 

    Benahi diri dalam laskar iman, 

    Menahan hasrat kian menggoda, 

    Meski ego meraung menggelegar, 

    Mendapati diri masih tergeletak tak berdaya,

    Ingin  menyambutmu dengan menggelora, 

    Memeluk hadirmu kian mengudara, 

    Pada pesona pemilik malam kemuliaan,

    Pantaskah diri ini tuk bertemu kembali? 

    Sekalipun berpulang di penghujung takbir, 

    rindunya bersua lagi bukan kepalang ajar, 

    Oh Ramadhan, 

    Malam kemuliaan para insan berlomba mencari kebajikan diri.

    12. Menanti Ramadhan

    Judul puisi: Menanti Ramadhan

    Karya: M. Barnaba Ridho Illahi

    Isak tangis kian membanjiri

    Perlahan bulan pun berganti menghampiri

    Tanpa sadar bulan suci telah kembali

    Dari Syaban yang terlewati

    Hingga ramadhan yang dinanti

    Siapkan hati siapkan diri

    Bersihkan budi dan banyak berbagi

    Karena hari akan penuh syafaat ilahi

    Namun apabila diingkari tanpa adanya pasti

    Maka jangan segan, jika nestapa mendatangi

    Karena nikmat yang dimiliki, hanya milik hamba yang tekun menjalani.

    13. Ramadhan yang Dinanti

    Judul puisi Ramadhan: Ramadhan yang Dinanti

    Karya: Nur Rohmah

    Hilal telah tampak bulan sabit pun tersenyum

    Tanda awal hijriah ditetapkan ramadhan yang di nanti

    Wahai orang yang beriman berpuasalah

    Perbanyak ibadah tadarus tarawih bersedekah

    Allah tuhan sebaik-baik ampunan

    Masa penuh kebahagiaan serta kedamaian

    Sungguh janji Allah itu benar

    Ramadhan…

    Tanda cinta Allah pada hambaNya

    Bulan penuh keberkahan penuh ampunanNya

    Lailatul qadar turunnya Al Qur’an yang mulia 

    Sang petunjuk kebenaran obat segala jiwa

    Dilipatgandakan segala amal ibadahnya

    Malaikat pun tak tahu seberapa nilai puasa manusia

    Hanya Allah yang tahu tanpa perantara

    Ramadhan…

    Sebaik-baik perjumpaan

    Sebaik-baik perbekalan

    Mari sambut dengan penuh suka cita

    Sebulan penuh puasa menahan nafsu lapar dahaga

    Perisai pelindung seorang hamba dari siksa neraka

    Sujud tunduk bentengkan jiwa dengan do’a

    Wahai Allah tuhan semesta alam

    Pertemukanlah kami dengan ramadhan

    14. Menyambut Bulan Mulia

    Judul: Menyambut Bulan Mulia

    Karya Intan Novitasari

    Kerlipan bintang memukau pelita

    Di tengah langit kian pekat menghitam

    Deru ombak kian riuh

    Bagai raungan harimau mencari mangsa

    Ku duduk bergeming seorang diri

    Di tengah celotehan insan pertiwi mengembara kesana kemari

    Ku beralun lirih ikuti ritme irama berlagu

    Menanti gempita bulan ramadhan kian bertamu

    Meski kabut kelabu merajai relung kalbu,

    Tak payah pudar tuk menemui kerahmatan Ilahi

    Menepis kalut yang kukantongi

    Tuk menantikan malam yang penuh keberkahan

    Menjamu tamu dengan suka cita

    Benahi diri dalam laskar iman

    Menahan hasrat yang kian menggerogoti jiwa

    Menjelma diri bak kupu-kupu keluar dari kepompong

    Kedamaian kalbu penuh fitrah

    Berlomba-lomba dalam kebajikan

    Tuk merangkul kerinduan pada bulan kemuliaan

    Dan kusambut hadirmu dengan menggelora

    15. Ramadhan

    Judul puisi: Ramadhan

    Karya: Tina Andarina Bolo

    Suara langkah kaki, berbondong-bondong

    Berjalan menuju masjid

    Diiringi tawa dan suara anak kecil yang berlarian kesana kemari

    Lantunan ayat suci Al-Qur’an tiada henti

    Untuk menyambut bulan yang suci ini

    Marhaban Ya Ramadhan

    Seruan doa membumbung ke langit

    Tak henti mengucap syukur pada Ilahi 

    Pecah tangis dan tawa untuk menyambut bulan suci ini

    Rasa haru dan rindu bercampur menjadi satu

    Dikala jiwa masih dipertemukan dengan bulan yang mulia ini 

    Bulan dimana para malaikat turun dari Arsy-Nya

    Yang setiap jengkal dari bumi ini bertebaran oleh Rahmat dan ampunan-Nya

    Bulan yang dimana jutaan jiwa

    Menginginkan belas kasih-Nya

    Untuk mencapai kesucian jiwa

    16. Dua Piring untuk Berbuka

    Judul puisi: Dua Piring untuk Berbuka

    Karya: Siti Fatimah

    Senja sore telah nampak di ufuk barat

    Sayup kumandang azan maghrib mulai bersahut-sahutan

    Saatnya aku mengakhiri puasa hari ini

    Dengan segelas air dan sepiring nasi yang baru kubeli

    Ku sambut waktu berbuka dengan senang hati

    Sembari melahap sesuap demi sesuap nasi

    Tak henti-henti kuucap syukur atas nikmat Sang Ilahi

    Atas kenikmatan rezeki sore ini

    Di tengah lahap makanku

    Kulihat di seberang ada bocah kecil sedang mengintip lemas

    Air matanya berlinang seperti menahan lapar

    Kusuguhkan sepiring nasi untuknya agar perutnya tak lagi kosong

    Agar ia bisa mengakhiri puasanya dengan riang

    Agar ia bisa menyambut  ramadhan dengan tenang

    Dua piring nasi kali ini Tuhan

    Adalah bentuk kasih sayang-Mu

    Adalah bentuk kemurahan-Mu

    Dua piring nasi kali ini Tuhan

    Adalah rezeki yang harus aku syukuri

    Aku bisa mengisi perutku

    Sembari mengukir kebahagiaan pada hati orang lain

    Dua piring nasi kali ini Tuhan

    Mungkin terlihat sederhana

    Namun sangat bermakna

    Terimakasih Tuhan

    17. Suasana Tadarus

    Judul puisi Ramadhan: Suasana Tadarus

    Karya: Siti Fatimah

    Riuh suara langkah kaki anak kecil berlari-lari 

    Meramaikan masjid di bulan ramadhan ini

    Senyum manis mereka merekah kemana-mana

    Menghadirkan keceriaan di bulan mulia

    Lantunan ayat-ayat suci mulai terdengar

    Saling bersahut-sahutan

    dari masjid satu ke masjid yang lain

    Setiap orang dengan gembiranya membaca Al-Quran

    Sambil berharap mendapat pahala-Nya

    Langit yang tenang menyambut dengan indahnya

    Setiap kekhusyukan yang tercipta

    Pada bibir yang tak berhenti membaca firman-Nya

    Pada hati yang tak berhenti mengucapkan kalimat-kalimat indah-Nya

    Ramadhan adalah bulan mulia penuh suka cita

    Mari hidupkan bulan mulia dengan membaca ayat-ayatNya

    Bertadarus

    Berdzikir

    Bermunajat

    Untuk mengingat-Nya, bersama

    18. Ramadhan yang Kurindu

    Judul puisi: Ramadhan yang Kurindu

    Karya: Siti Fatimah

    Bulan penuh ampunan bagi hamba penuh dosa

    Dengan segala rahmat dan kasih sayang Tuhan

    Kusambut Ramadhan penuh suka cita

    Ramadhan,

    Bolehkah aku sedikit berbincang denganmu tentang keinginanku

    tentang kerinduanku

    pada malammu

    saat masa kecilku

    Kala itu,

    tawaku masih leluasa bertebaran dimana mana

    Kala itu,

    langkah kakiku melaju cepat saking riangnya

    Bersama teman-teman

    saling berlarian

    saling melempar tawa

    di dekat masjid desa

    Ramadhan

    bolehkah aku sedikit berbisik denganmu

    aku rindu bagaimana susana masa kecilku

    saat menyambutmu

    dengan petasan-petasan 

    yang mengundang kekhawatiran para ibu

    Ramadhan,

    kini aku sudah dewasa 

    kini tak ada lagi petasan

    kini tak ada lagi teman-teman

    yang mengajakku tertawa riang

    menyambutmu

    seperti dulu

    Ramadhan,

    Kau masih kusambut dengan hangat, namun kerinduan suasana masa kecilku tak bisa lagi kuucap

    Yang bisa kulakukan hanyalah memanjatkan doa

    Semoga teman teman yang jauh disana selalu diberi keselamatan dan pahala yang berlipat ganda

    ibadah yang diterima

    dan hati yang bergembira

    Ramadhan,

    maaf kali ini aku hanya rindu

    19. Sekali Saja

    Judul puisi: Sekali saja

    Karya: Arfan Eka Wijaya

    Kedatangannya seperti kilat

    Hanya hitungan hari

    Yang lalai, rugi

    Pergi dengan banyaknya kebaikan

    Izinkan untuk kembali menyapa

    Sekali saja

    Menikmati sebiji kurma

    Dan selalu berderma

    Dimana kebaikan berlipat ganda

    Ingin masa ini selalu ada

    Sekali saja

    Bertemu kembali

    Dengan senyum dan semangat baru

    Sekali saja

    20. Waktu yang Didambakan

    Judul puisi: Waktu yang Didambakan

    Karya: Arfan Eka Wijaya

    Keberadaannya, diharapkan

    Keberadaannya, diabaikan

    Keberadaannya, dilupakan

    Namanya hanya dielukan tempo hari

    Begitulah manusia

    Menyambut layaknya sebuah momentum

    Berbondong-bondong menebar bahagia

    Tapi hanya sebuah sambutan

    Yang lewat termakan godaan

    Begitulah manusia

    Ia adalah bulan suci yang diagungkan

    Ayat-ayat digaungkan

    Menambah kebaikan

    Itulah masa yang diharapkan

    21. Kepada Ibu

    Judul puisi Ramadhan: Kepada Ibu

    Karya: Febrian Kisworo Aji

    Pagi buta terdengar ingar bingar

    bunyi itu kian bising menelusup ke dalam telingaku

    sendok, garpu, kompor, gelas, ceret, dan piring saling beradu.

    “Sahur-sahur”

    suara ibu yang masih samar

    pengiba paling tabah,

    menjelang subuh sebelum melaksanakan ritual ibadah

    merupa puisi paling rahasia.

    Mengembun sebagai kata-kata

    yang menempel di dedaunan diksi indah

    menguap menuju Tuhan

    lalu dihisap oleh mentari

    sebagai jelmaan kuasaNya.

    Kepada Ibu aku belajar tabah

    yang menumbuhkanku, menyiramiku, dan menyayangiku

    ‘tuk menambah energi berserah

    melantunkan doa-doa puisi

    dengan puasa sebagai perantara

    yang kupersembahkan kepadaNya.

    22. Lagi Tersungkur

    Judul puisi : Lagi Tersungkur

    Karya: Febrian Kisworo Aji

    Mataku tidak tahan lama lagi

    menatap redup nyala laptop

    ketika malam tiba

    samar-samar terangnya

    sejenak melamun, ada musik yang tekun mengiringi tidur;

    lagu-lagu syukur, lagi-lagi tersungkur

    masih tersisa secangkir kopi

    yang belum habis diseduh

    untuk memadamkan api rokok

    yang kelewatan mengumbar nafsu

    Menjelang subuh tiba

    dengkur dibangunkan oleh sahur

    sambil malas-malasan, memaksa diri ini;

    makan memakan makanan

    yang dimakan oleh puasa

    selamat menunaikan ibadah puisi

    22. Selamat Bulan Ramadhan

    Judul puisi Ramadhan: Selamat Bulan Ramadhan

    Karya: Masayu Sechmaida

    Mati bulan pada lini

    Hilal bersimpul, tersenyum mentari

    Terbuka pintu pahala suci

    Cahaya mulia menyambangi hari

    Langkah pertama menjejak hati

    Ikhlas menjalani perintah Ilahi

    Berpuasa sepenuh bulat bulan

    Dengan cobaan menuju kemenangan

    Menumpas nafsu nan meraja

    Menahan lapar dan dahaga yang mendera

    Seluas samudra kesabaran teruji

    Lisan terjaga dari perkataan keji

    Jiwa raga pancarkan kasih nurani

    Pijarkan putih cahaya ruhani

    Membaur sinar kemuliaan bulan pahala

    Menyentuh hangat insan beriman

    Titian bulan pahala terbentang kemuliaan 

    Semangatlah menapaki dengan ketakwaan

    Hingga final menggapai kemenangan

    Selamat menjalani ibadah Ramadhan

    23. Ketika Ramadhan Menghampiri

    Judul puisi: Ketika Ramadhan Menghampiri

    Karya: Noviyanti

    Sya’ban akan berganti

    Ramadhan kini dinanti

    Bulan suci dambaan hati

    Bagi setiap insan yang menanti

    Selalu kudapati wajahmu

    Dalam lelap tidurku menjelang Ramadhan tiba

    Engkau datang

    Walau sekilas dan hanya tersenyum padaku

    Kali ini

    Kulihat bayangmu

    Seperti biasa

    Menjelang Ramadhan tiba

    Tapi kali ini

    Kau tersenyum padaku tak seperti biasanya

    Kali ini

    Senyummu begitu indah

    Dengan cahaya yang memancar di wajahmu

    Kau tersenyum padaku juga padanya

    Yang sebenarnya baru aku temui beberapa waktu ini

    Menjelang Ramadhan

    Engkau hadir walau hanya dalam mimpi

    Menghapus rinduku

    Yang sebenarnya nanti akan tumbuh kembali

    Ibu semoga doa-doaku bisa melapangkan barzahmu

    Itulah Kumpulan Puisi Ramadhan Penuh Hikmah

    Mari rayakan bulan suci penuh hikmah ini dengan kumpulan puisi Ramadhan menyentuh hati. Kamu bisa menggunakan puisi-puisi tersebut untuk dikirimkan ke orang-orang tercinta melalui pesan singkat ataupun lewat surat.