Category: Akuntansi

  • Apa Itu Aset Tetap? Pengertian, Jenis, Karakteristik, Serta Contohnya

    Apa Itu Aset Tetap? Pengertian, Jenis, Karakteristik, Serta Contohnya

    Bisnis terdiri dari beberapa bagian penting. Tak hanya siapa yang mengendalikan dan mengatur strategi saja, melainkan juga aset-aset yang dimiliki perusahaan itu sendiri. Aset sendiri mengacu pada kekayaan milik perusahaan yang dapat dihitung dan dinilai. Nah, dalam artikel ini Anda akan memahami apa itu aset tetap.

    Dalam menganalisa keuangan, biasanya dibutuhkan nilai-nilai dari aset perusahaan untuk menjadi penentu kelayakan kondisi suatu bisnis. Setiap jenis aset mempunyai karakter, fungsi, dan ciri masing-masing. Sebagai seorang akuntan atau pemilik bisnis, Anda harus memahami salah satu jenis aset ini.

    Pengertian Aset Tetap

    Aset tetap merupakan aset tidak lancar yang tidak memiliki wujud, dimiliki, dan digunakan oleh suatu perusahaan dalam melakukan kegiatan operasionalnya dengan tujuan menghasilkan pendapatan. Karena itu, aset jenis ini mempunyai masa pemanfaatan yang lebih besar dibandingkan aset lancar.

    Umumnya, aset tidak lancar juga tidak bisa digunakan atau diubah menjadi akun kas dalam kurun waktu satu tahun. Mungkin banyak orang yang berpikir bahwa aset yang termasuk aktiva tetap ini berwujud seperti kursi, almari, meja, dan benda-benda di kantor lainnya.

    Namun, jangan salah sangka. Karena aktiva tetap berwujud jangka panjang dan memiliki nilai jual yang tinggi. Misalnya adalah properti, gedung, pabrik, kantor, dan peralatan lainnya yang hampir setiap hari digunakan untuk kegiatan operasional bisnis.

    Singkatnya, aset tidak lancar adalah suatu properti yang termasuk harta milik perusahaan untuk menjadi sumber investasi dalam aktivitas operasional perusahaan jangka panjang. Meski bisa menghasilkan uang ketika dijual, namun aset tersebut tidak akan diperjualbelikan pada kegiatan normal perusahaan.

    Jenis-Jenis Aset Tetap

    Menurut Sofyan Syafri H., aset tidak lancar dapat dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan beberapa sudut pandang. Di antaranya adalah sebagai berikut:

    1. Sudut Disusutkan atau Tidak

    Aset ternyata ada yang bisa menyusut dan ada pula yang tidak. Lalu, apa bedanya? Jika harta benda Anda termasuk bisa mengalami penyusutan, maka suatu saat harganya pasti menurun atau bahkan mengalami kerusakan. Sementara untuk harta yang tidak menyusut adalah yang tidak berkurang nominalnya. 

    Jenisnya ada 2, yakni sebagai berikut:

    • Depreciated Pants Assets

    Depreciated plants assets merupakan aktiva tetap yang bisa menyusut. Contohnya seperti mesin, bangunan, inventaris, jalan, peralatan, dan lain sebagainya

    • Undepreciated Plant Assets 

    Undepreciated plant assets merupakan aset tetap yang tidak mampu disusutkan atau menyusut, contohnya seperti tanah.

    2. Sudut Substansi

    Dalam KBBI substansi merupakan watak sebenarnya dari suatu hal. Aktiva tetap juga bisa dilihat dari sudut substansi. Adapun pembagiannya adalah sebagai berikut:

    • Intangible Assets

    Intangible Assets bisa juga disebut aktiva tidak berwujud. Seperti namanya, tidak berwujud berarti tidak bisa dilihat secara fisik namun bisa dirasakan dan mempunyai nilai yang tinggi bagi perusahaan. Misalnya hak paten, hak cipta, franchise, goodwill, dan lisensi.

    • Tangible Assets atau Aktiva Berwujud

    Tangible Assets atau aktiva berwujud merupakan harta yang memiliki bentuk wujud secara fisik. Misalnya saja mesin, gedung, peralatan, dan kendaraan.

    Karakteristik Aset Tetap

    Salah satu fungsi penting dari aset tidak lancar ialah menjaga perusahaan agar mampu melakukan kegiatan operasionalnya. Baik itu memproduksi barang, menyewakan lahan, dan aktivitas lain dalam perusahaan. Adapun karakteristik yang paling umum pada aset adalah sebagai berikut:

    1. Nilainya Dapat Menyusut

    Aset tidak lancar mempunyai karakteristik yang bisa menyusut nilainya. Tak hanya berupa harga jual, melainkan juga kondisi asetnya. Hal tersebut menunjukkan pemakaian aktiva yang lambat laun akan mengalami masa aus. Kecuali jika harta tersebut berupa lahan ataupun tanah.

    2. Memiliki Masa Pemanfaatan dalam Waktu Kurang dari Setahun

    Karakteristik kedua dari aset tetap adalah mempunyai masa pemanfaatan dalam waktu kurang dari satu tahun. Tahukah Anda bahwa aset tetap merupakan harta yang tercatat di neraca perusahaan? Hal tersebut benar, karena aktiva tergolong harta berharga milik perusahaan.

    Aktiva tetap akan sangat dibutuhkan untuk perusahaan dalam menopang keberlangsungan bisnis. Makna tetap menunjukkan bahwa harta tersebut tidak akan digunakan atau dijual dalam jangka waktu panjang. Jika dijual, berarti ada dua kemungkinan perusahaan pindah atau diakuisisi oleh perusahaan lain.

    3. Mampu Memberi Keuntungan Finansial Jangka Panjang

    Bukan menjadi rahasia lagi jika aset tidak lancar perusahaan mampu memberikan keuntungan finansial jangka panjang. Sebab harta tersebut akan menunjang seluruh kegiatan perusahaan secara keseluruhan. Akan tetapi, karena hal inilah aktiva tetap tidak bisa dijual dengan mudah oleh perusahaan.

    Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa mendapatkan uang dari aset tersebut. Terlebih jika aset tersebut merupakan gedung perusahaan itu sendiri. Tentu saja, aset hanya akan menjadi tujuan investasi jangka panjang perusahaan.

    4. Tidak Likuid

    Salah satu dari tiga laporan fundamental perusahaan adalah aset tidak lancar. Dalam ilmu akuntansi, aset tersebut merupakan kunci financial modeling sehingga sangat sulit untuk mencairkan menjadi uang tunai. Aktiva tetap termasuk aset yang akan selalu tercatat dalam laporan keuangan fundamental.

    Contoh Aset Tetap

    Dalam alurnya, perusahaan memang bisa menjual ataupun membeli aset setiap saat. Ini bukan hal yang sulit jika perusahaan mau. Hanya saja, tidak semua aset bisa mereka miliki, salah satunya adalah aktiva tetap. Berikut beberapa aktiva tetap yang memiliki nilai tinggi, namun tak mudah dimiliki perusahaan:

    1. Software dan Hardware Komputer

    Fungsi dasar bisnis sekarang bisa dijalankan secara otomatis menggunakan komputer dan program software. Perangkat keras (hardware) komputer umumnya mencakup server, tablet, dan laptop. Antara hardware dan software sudah dikapitalisasi sesuai dengan kemampuan perusahaan.

    Misalnya saja biaya ambang kapitalisasi perusahaan sebesar Rp80.000.000,00. Maka, total semua unit komputer seharga Rp40.000.000,00, maka sebanyak Rp40.000.000,00 merupakan aktiva tetap.

    2. Tanah

    Tanah termasuk jenis aset tidak lancar yang tidak mengalami penyusutan. Artinya, harga di setiap tahunnya pasti mengalami kenaikan. Ini karena jumlah populasi orang di bumi semakin banyak, sementara jumlah lahannya tidak bertambah atau tetap.

    Maka dari itu, tanah dinobatkan menjadi aset perusahaan yang sangat berharga untuk investasi jangka panjang. Apalagi jika perusahaan tersebut berniat memiliki cabang di beberapa daerah untuk memperluas sayapnya. Tanah sendiri merupakan contoh aset tanpa bangunan yang tidak mudah terdepresiasi dari waktu ke waktu.

    3. Bangunan

    Contoh aset tetap yang ketiga adalah bangunan. Perusahaan besar pasti memiliki tempat operasi yang tak kalah besar. Sebut saja pabrik, gudang penyimpanan, toko ritel, dan ruang kantor. Semuanya tidak bisa dibangun di lokasi yang sempit dengan biaya yang sedikit.

    Apabila perusahaan mempunyai bangunan sebagai tempat beroperasinya bisnis, maka akan dikapitalisasi menjadi akun aktiva tetap bangunan. Dalam akun, tidak hanya dicatat bangunan saja melainkan beserta tanahnya. Sebab, tak mungkin bukan apabila bangunan berdiri tanpa berpijak di tanah.

    Biasanya pencatatan bangunan ini dilakukan secara terpisah. Mengapa keduanya harus dicatat secara terpisah? Alasannya karena bangunan bisa mengalami depresiasi (penyusutan nilai) sementara tanah tidak. Jadi, harus dipisah agar hasil akhir antara debet dan kredit bisa seimbang.

    4. Mesin

    Mesin akan tercatat sebagai aset tidak lancar di akun peralatan, karena fungsinya adalah membantu karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan mereka. Aset ini mencakup beberapa peralatan seperti printer, peralatan pabrik, peralatan konstruksi, mesin transportasi, dan masih banyak lagi lainnya.

    5. Kendaraan

    Banyak perusahaan yang memiliki kendaraan sebagai bentuk aset penting mereka. Adapun beberapa jenis kendaraan yang terdaftar dalam aset tidak lancar, yakni maskapai penerbangan, agen sewa mobil dan perusahaan transportasi. Perusahaan tersebut memiliki bisnis yang berfokus sebagai alat transportasi.

    Sementara perusahaan yang memiliki produk lain seperti makanan, minuman, kain, dan lain sebagainya juga mempunyai aset kendaraan sendiri yang tercatat dalam aktiva tetap. Seperti mobil, kereta api, motor, dan kapal.

    Kendaraan kantor dapat dikategorikan sebagai aktiva tetap karena memiliki nilai untuk investasi jangka panjang. Namun, kendaraan bisa mengalami penyusutan lebih cepat apabila tidak mendapatkan perawatan terbaik. Terlebih jika operasinya dilakukan selama hampir 24 jam dan memuat barang-barang berat.

    Sudah Memahami Apa itu Aset Tetap dan Contohnya?

    Itulah penjelasan lengkap tentang aktiva tetap perusahaan. Berbagai jenis aktiva tetap tersebut memiliki nilai yang fantastis karena bisa dijadikan ladang investasi jangka panjang untuk perusahaan. Oleh karena itu, semua perusahaan besar pasti sebisa mungkin menjaga jenis aktiva yang satu ini.

  • Pengertian Akuntabilitas: Fungsi, Prinsip & Contohnya

    Pengertian Akuntabilitas: Fungsi, Prinsip & Contohnya

    Akuntabilitas merupakan prinsip yang berkaitan erat dengan pertanggungjawaban, terutama dalam dunia kerja. Setiap individu sudah semestinya bersikap akuntabel, supaya dapat mencapai tujuan bisnis dengan baik. Yuk, cari tahu lebih lanjut mengenai prinsip tersebut dengan membaca artikel ini sampai selesai!

    Pengertian Akuntabilitas

    Akuntabilitas adalah kewajiban individu atau organisasi untuk bertanggung jawab atas tindakan, keputusan, dan pengelolaan sumber daya yang dilakukan. Hal ini mencakup pemenuhan kewajiban, pengungkapan informasi yang relevan, dan menerima konsekuensi atas tindakan tersebut. 

    Dalam konteks ini, individu atau organisasi diharapkan untuk melakukan tugas dan tanggung jawab dengan transparansi kepada pihak yang berkepentingan, seperti pemegang saham, pelanggan, karyawan, dan masyarakat umum.

    Dengan bersikap akuntabel atau dapat dipertanggungjawabkan, maka dapat membantu kamu dalam membangun kepercayaan dan menjaga hubungan baik dengan pihak yang berkepentingan.

    7 Fungsi Akuntabilitas

    Berikut ini 7 fungsi akuntabilitas yang dapat kamu pahami, yaitu:

    1. Membangun Kepercayaan

    Fungsi pertama tentu saja untuk membangun kepercayaan. Dengan memegang prinsip ini, dapat membantu membangun kepercayaan antara individu atau organisasi dengan pihak yang berkepentingan.

    Dalam dunia bisnis, pastinya kepercayaan dari pemegang saham, pelanggan, karyawan, dan masyarakat umum sangat penting. 

    Dengan melaksanakan tugas dan mempertanggungjawabkan hasilnya secara transparan dan jujur, tentu dapat memperkuat kepercayaan dalam hubungan bisnis dan juga sosial.

    2. Meningkatkan Efektivitas Operasional

    Jika seseorang bertanggung jawab terhadap keputusan dan tindakan yang diambil, maka dapat mengetahui serta memahami informasi yang berkaitan dengan tindakan tersebut. Dengan begitu, maka dapat membantu untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dalam proses dan kinerja yang dipilih.

    Hasilnya, individu atau organisasi tersebut memiliki kemampuan untuk mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan. Sehingga, dapat meningkatkan efektivitas operasional dan mencapai tujuan yang ditetapkan.

    3. Mendorong Transparansi

    Fungsi selanjutnya yaitu untuk mendorong transparansi dalam pengelolaan sumber daya dan pengambilan keputusan.

    Apabila individu atau organisasi mengungkapkan informasi yang relevan secara terbuka, maka memungkinkan pihak yang berkepentingan untuk memahami penggunaan sumber daya dan hasil yang dicapai.

    Transparansi ini penting untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, dan tindakan yang tidak etis. Sehingga, kamu dapat menghindari dan meminimalisir kerugian yang mungkin terjadi di masa mendatang.

    4. Memenuhi Kewajiban Hukum dan Regulasi

    Saat menjalankan bisnis atau mengelola organisasi, tentu kamu dihadapkan dengan hukum dan regulasi yang harus dipatuhi. Rasa tanggung jawab yang tinggi dapat membantu individu atau organisasi untuk mematuhi kewajiban hukum yang berlaku. 

    Dengan menjunjung tinggi pertanggungjawaban atas tindakan yang dipilih, kamu dapat memastikan bahwa bisnis atau organisasi beroperasi sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah atau otoritas berwenang.

    5. Membantu Pembelajaran dan Inovasi

    Fungsi berikutnya yaitu untuk membantu pembelajaran dan inovasi. Dengan tanggung jawab yang besar, memungkinkan kamu untuk melacak dan mengevaluasi kinerja setiap pihak yang terlibat. 

    Dengan demikian, kamu dapat mengetahui hal-hal yang membuat berhasil dan hal apa saja yang tidak. Dari informasi tersebut, bisa kamu jadikan sebagai evaluasi serta bahan pertimbangan untuk mengembangkan inovasi baru. 

    6. Sebagai Alat Monitor

    Ketika mengelola bisnis, kamu terlibat dengan banyak orang. Oleh karena itu, kamu perlu mengawasi serta memonitoring proses dan hasil dari pihak yang terlibat. 

    Fungsi ini dapat bekerja salah satunya dengan menyadari bahwa kamu bertanggung jawab secara penuh terhadap pekerjaan pihak-pihak tersebut.

    7. Menghindari Penyalahgunaan Tugas

    Fungsi yang terakhir yaitu sebagai strategi untuk menghindari penyalahgunaan tugas. Penyalahgunaan tugas, seperti korupsi, nepotisme, dan berbagai kecurangan lainnya rentan terjadi dalam sebuah organisasi atau bisnis. 

    Dengan konsep ini, kamu dapat meminimalisir terjadinya penyalahgunaan wewenang tersebut, karena semua pihak yang terlibat diwajibkan untuk membuat laporan yang akurat dan transparan.

    7 Prinsip Akuntabilitas

    Berikut 7 prinsip akuntabilitas yang perlu kamu pahami dengan seksama, yaitu:

    1. Transparansi

    Prinsip pertama yaitu transparansi yang menekankan pentingnya pengungkapan informasi akurat kepada pihak berkepentingan. 

    Individu atau organisasi harus memberikan kemudahan akses terhadap laporan keuangan, keputusan, dan informasi lainnya yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab mereka.

    2. Pertanggungjawaban

    Selanjutnya, prinsip pertanggungjawaban yang melibatkan kemauan individu atau organisasi untuk menerima konsekuensi atas tindakan dan keputusan yang dibuat.

    Dalam konteks bisnis, kamu harus siap untuk mempertanggungjawabkan hasil dari tindakan kepada pihak yang berkepentingan, baik itu pemegang saham, pelanggan, atasan, atau masyarakat umum.

    3. Integritas

    Prinsip berikutnya yaitu integritas. Sebuah prinsip yang menekankan perilaku etis dan jujur dalam melaksanakan tugas dan memenuhi tanggung jawab. 

    Individu atau organisasi penting untuk memiliki integritas tinggi. Integritas tersebut bisa direalisasikan dalam menjalankan tugas dengan memegang prinsip-prinsip moral, menghindari konflik kepentingan, dan praktik-praktik yang merugikan.

    4. Kompetensi

    Selanjutnya, ada prinsip kompetensi. Prinsip ini berkaitan dengan kemampuan individu atau organisasi untuk melaksanakan tugas dan kewajiban secara kompeten.

    Dalam hal ini, kamu harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menjalankan tanggung jawab dengan baik. 

    Jika ada kekurangan dalam kompetensi, kamu perlu berusaha untuk meningkatkannya melalui pelatihan atau mencari bantuan dari pihak yang lebih berkompeten. Dengan demikian, kompetensi yang kamu miliki dapat bertambah.

    5. Kesetaraan

    Tidak hanya kompetensi, tetapi kamu juga perlu memegang teguh prinsip kesetaraan. Prinsip ini menekankan pentingnya perlakuan yang adil dan setara terhadap semua pihak dalam proses akuntabilitas.

    Individu atau organisasi tidak boleh memihak atau membedakan perlakuan berdasarkan ras, agama, gender, atau faktor diskriminasi lainnya.

    Prinsip ini memastikan bahwa semua pihak memiliki akses yang sama terhadap informasi dan berkesempatan untuk memberikan masukan atau pendapat mereka.

    6. Berorientasi pada Pencapaian Tujuan

    Selain di atas, prinsip berikutnya adalah berorientasi pada pencapaian tujuan organisasi atau bisnis yang sedang dikelola. Prinsip ini mengharuskan kamu untuk fokus pada visi, misi, hasil, dan manfaat yang diperoleh organisasi.

    7. Evaluasi Diri

    Prinsip yang terakhir adalah evaluasi diri. Prinsip tersebut menggarisbawahi pentingnya pembelajaran berkelanjutan dan perbaikan.

    Kamu harus selalu terbuka terhadap evaluasi diri, mengidentifikasi kelemahan dan kesalahan, serta menggunakan pengetahuan tersebut untuk mengembangkan tindakan yang lebih baik. 

    Dengan demikian, dapat mendorong pembelajaran dan inovasi dalam rangka meningkatkan kinerja dan mencapai tujuan yang ditetapkan.

    Oleh karena itu, sangat penting bagi kamu untuk memegang prinsip tersebut, supaya tujuan organisasi atau bisnis dapat tercapai.

    Contoh Akuntabilitas

    Contoh akuntabilitas dalam berbagai konteks dan bidang berikut ini mencerminkan tindakan bertanggung jawab, transparan, dan menghasilkan hasil yang diharapkan. Berikut contohnya, yaitu:

    • Sebuah perusahaan harus menyajikan laporan keuangan yang akurat dan jelas. Dengan demikian, dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja keuangan perusahaan dan membuat keputusan berdasarkan informasi tersebut.
    • Pemerintah atau lembaga publik harus bertanggung jawab atas pengelolaan dana publik dengan transparan dan akuntabel. 
    • Setiap anggota tim atau karyawan dalam suatu organisasi harus bertanggung jawab atas tugas yang diberikan. Misalnya, memenuhi jadwal, melaksanakan tugas dengan baik, dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan kepada atasan.
    • Perusahaan atau organisasi harus bertanggung jawab atas dampak sosial dan lingkungan dari kegiatan yang dijalankan. Penting bagi mereka untuk mematuhi peraturan terkait lingkungan dan mengambil langkah-langkah guna meminimalisir dampak negatif pada masyarakat dan ekosistem.

    Siap Terapkan Prinsip Akuntabilitas dalam Hidup?

    Secara sederhana, akuntabilitas bisa diartikan sebagai tanggung jawab. Dengan memahami pengertian, fungsi, prinsip, dan contohnya, semoga dapat membantu kamu untuk menjadi pribadi yang lebih baik. 

    Sehingga, dapat menjunjung tinggi tanggung jawab, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun kepentingan bisnis atau organisasi.

  • Loan to Deposit Ratio: Pengertian, Faktor, Fungsi, Rumus, & Contohnya

    Loan to Deposit Ratio: Pengertian, Faktor, Fungsi, Rumus, & Contohnya

    Apakah Anda pernah mendengar tentang Loan to Deposit Ratio (LDR)? Jika belum, seharusnya Anda mulai khawatir dengan bisnis yang Anda kelola. Karena LDR ini merupakan salah satu rasio yang penting dalam akuntansi. Khususnya untuk memahami likuiditas bank sekaligus alat ukur intermediasi perbankan.

    Lalu, apa fungsi dan manfaatnya? Bagaimana penerapannya? Apakah LDR ini bisa terpengaruh oleh faktor-faktor tertentu? Nah, supaya tidak penasaran, langsung saja simak artikel ini sampai poin terakhir!

    Pengertian Loan to Deposit Ratio

    Secara teori, rasio ini merupakan perbandingan yang bisa Anda gunakan untuk mengukur sejauh mana bisnis menggunakan dana yang diterima nasabah untuk pinjaman pihak lain. Rasio ini berhubungan erat dengan bisnis, terutama dalam hal akses terhadap dana pinjaman dan likuiditas.

    Mudahnya, likuiditas yang dimaksud adalah kemampuan membayar kewajiban membayar utang ketika jatuh tempo. Loan to Deposit Ratio memiliki dampak signifikan pada bisnis, karena berkaitan langsung dengan ketersediaan dana yang dapat digunakan untuk keuangan dalam memberikan pinjaman pada pihak tertentu.

    Rasio ini juga menunjukkan bahwa bisnis memiliki cukup dana yang tersedia untuk memberikan pinjaman kepada pelaku bisnis. Umumnya, jika LDR bisnis rendah, peluang untuk mendapatkan pinjaman akan meningkat begitupun sebaliknya. 

    LDR juga akan berhubungan dengan likuiditas, karena mengetahui likuiditas akan membuat pihak peminjam selektif pada pemberian pinjaman. Serta keseimbangan LDR bisa jadi indikator keuangan bagi bank atau lembaga keuangan.

    Sederhananya, LDR merupakan alat ukur penilaian pihak pemberi pinjaman untuk menilai pihak peminjam layak atau tidak untuk di prioritaskan. Apalagi LDR dinyatakan dalam bentuk presentasi, sehingga penilaiannya akan lebih mudah dan akurat.

    Faktor yang Mempengaruhi Loan to Deposit Ratio 

    Sebenarnya ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi Nilai LDR, terutama beberapa faktor seperti:

    1. Permintaan Pinjaman: 

    Faktor pertama adalah permintaan pinjaman dari pihak lain yang dapat mempengaruhi LDR. Umumnya, jika permintaan pinjaman meningkat, bank mungkin akan memberikan lebih banyak pinjaman. Sebaliknya, jika permintaan pinjaman rendah, LDR cenderung menurun.

    2. Kondisi Ekonomi Masyarakat

    Berikutnya yang juga mempengaruhi permintaan kredit serta jumlah simpanan adalah kondisi ekonomi dari masyarakat atau target peminjam. Umumnya, dana pihak ketiga bisa melambat jika terjadi pengetatan pada LDR. Hal tersebut juga akan mempengaruhi tren penyaluran semakin melambat.

    3. Penerimaan Dana Deposito: 

    Selain itu Loan to Deposit Ratio juga dapat terpengaruh dari jumlah dana yang diterima dari nasabah, khususnya dalam bentuk deposito. Jika bank menerima lebih banyak dana deposito, maka akan lebih banyak sumber dana untuk memberikan pinjaman. Ini juga meningkatkan LDR, begitupun sebaliknya.

    4. Kebijakan Pinjaman Bank

    Secara teori, kebijakan yang diterapkan oleh bank atau pihak peminjam pastinya juga akan mempengaruhi persentase LDR. Kebijakan yang longgar dan memberikan lebih banyak pinjaman, serta akan meningkatkan LDR. Sedangkan jika kebijakan terlalu ketat, pastinya akan lebih membatasi pinjaman dan LDR cenderung menurun.

    5. Capital Adequacy Ratio (CAR)

    Pada dasarnya, CAR adalah rasio yang dapat Anda gunakan untuk mengukur sejauh mana bank atau lembaga keuangan memiliki modal yang cukup untuk menutupi risiko bisnis. Indikator ini penting dalam menilai kesehatan keuangan suatu bank dan kecukupan modal dalam melindungi nasabah dan menjaga stabilitas keuangan.

    6. Tingkat Suku Bunga

    Loan to Deposit Ratio juga dapat dipengaruhi oleh tingkat suku bunga yang memainkan peran penting dalam perubahan LDR. Umumnya, jika suku bunga rendah, orang mungkin lebih cenderung untuk meminjam daripada menyimpan. Sehingga LDR akan meningkat. Hal tersebut juga berlaku untuk kasus sebaliknya.

    7. Regulasi Perbankan

    Peraturan dan regulasi yang diterapkan oleh bank sentral atau otoritas keuangan, pastinya dapat mempengaruhi LDR. Misalnya, bank sentral dapat mengatur batasan LDR maksimum, bank harus memantau dan mengatur LDR mereka sesuai dengan persyaratan regulasi.

    8. Kualitas Aktiva Produktif

    Penilaian kualitas aktiva produktif akan mencerminkan penurunan kualitas aset produktif bank dan berdampak pada penurunan pendapatan.  Hal tersbeut juga menyebabkan penurunan pendapatan yang mengurangi modal bank dan kemampuannya, terutama dalam membiayai aset yang berisiko seperti kredit.

    9. Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional

    Berikutnya ada rasio yang digunakan untuk mengukur efisiensi dan kemampuan bank, terutama dalam menjalankan kegiatan operasionalnya. Karena faktor ini membandingkan biaya operasional dengan pendapatan operasional. Semakin kecil BOPO, semakin efisien biaya yang ditanggung oleh bank.

    Fungsi Loan to Deposit Ratio

    Menghitung rasio ini, ternyata memberikan banyak manfaat. Terutama karena beberapa fungsinya berikut ini:

    1. Akses ke Pendanaan

    Bisnis yang memiliki LDR rendah memiliki peluang yang lebih baik untuk mendapatkan pinjaman yang diperlukan untuk pertumbuhan dan pengembangan bisnisnya. Sehingga persentase LDR Anda jadi pemicu akses ke pendanaan atau salah satu jalan mendapatkan modal.

    2. Likuiditas

    Perhitungan Loan to Deposit Ratio yang sehat juga penting untuk menjaga likuiditas bisnis. Dalam situasi di mana LDR rendah atau seimbang, bisnis cenderung memiliki akses yang lebih baik terhadap likuiditas yang diperlukan. Sekaligus juga akan memastikan kelancaran arus kas dan meminimalkan risiko kekurangan likuiditas.

    3. Evaluasi Keuangan

    LDR dapat Anda gunakan sebagai indikator dalam mengevaluasi kesehatan keuangan suatu lembaga keuangan. Rasio yang tinggi dapat menunjukkan adanya risiko tinggi dalam memberikan pinjaman yang melebihi dana yang tersedia. Sementara LDR yang rendah dapat mengindikasikan likuiditas yang lebih baik.

    4. Pengelolaan Risiko

    Perhitungan LDR juga akan membantu bank dalam mengelola risiko kredit. Dengan memantau rasio ini, bank dapat menentukan sejauh mana bank mengalokasikan dana deposito nasabah untuk memberikan pinjaman. Ini membantu bank dalam menjaga keseimbangan antara risiko dan keuntungan dalam portofolio pinjaman mereka.

    5. Keputusan Strategis

    Perhitungan Loan to Deposit Ratio juga membantu bank dalam membuat keputusan strategis terkait kebijakan pinjaman dan pengelolaan dana deposito. Rasio yang seimbang dapat membantu bank atau pihak peminjam, sehingga mencapai tujuan keuangan jangka panjang.

    6. Pengaturan dan Regulasi

    Regulator dan otoritas perbankan juga melibatkan LDR untuk mengawasi industri perbankan dan memastikan kestabilan sektor keuangan. Hal tersebut bahkan menjadi batasan atau persyaratan minimum nilai LDR, sebagai bagian dari upaya untuk menjaga kesehatan dan stabilitas perbankan.

    7. Pertumbuhan Ekonomi

    LDR juga memiliki dampak pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Umumnya, rasio yang seimbang dapat memastikan ketersediaan dana yang mencukupi untuk pembiayaan usaha dan investasi. Ini mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan mendorong penyaluran kredit tepat waktu dan efisien.

    Rumus Hitung Loan to Deposit Ratio 

    Pada dasarnya, LDR adalah rasio yang digunakan untuk mengukur hubungan antara jumlah pinjaman dengan jumlah deposito yang diterima oleh lembaga tersebut. Untuk menghitung rasio tersebut, Anda bisa gunakan rumus ini sebagai acuan:

    LDR = (Keseluruhan Kredit / keseluruhan Deposit) x 100%

    Dalam rumus tersebut, Total Pinjaman adalah jumlah dana yang telah diberikan sebagai pinjaman oleh lembaga keuangan. Sedangkan Total Deposito adalah jumlah dana yang diterima sebagai deposito oleh lembaga keuangan dari nasabah atau pihak lain.

    Perhitungan ini dilakukan dengan membagi keseluruhan pinjaman dengan keseluruhan deposito. Karena harus dinyatakan dalam bentuk persentase, maka tinggal kalikan saja hasil bagi dengan 100% saja. Hasilnya akan menggambarkan apakah peminjam layak diberikan pinjaman.

    Contoh Kasus Loan to Deposit Ratio 

    Kita misalkan neraca sebuah Bank XYZ dalam periode tahun lalu memiliki keseluruhan biaya pinjaman sebesar Rp800.000.000,00. Namun, dalam data lain menunjukkan keseluruhan deposito dari nasabahnya adalah Rp1.200.000.000,00. Maka, dari kasus tersebut Anda bisa menghitung LDR dengan rumus di atas dengan langkah berikut ini:

    Diketahui:

    • Keseluruhan Kredit: Rp800.000.000,00
    • Keseluruhan Deposito: Rp1.200.000.000,00

    Maka, dengan rumus yang dijelaskan sebelumnya, Anda bisa menghitung LDR dengan cara berikut:

    LDR = (Keseluruhan Kredit / keseluruhan Deposit) x 100%

    = (Rp 800.000.000 : Rp 1.200.000.000) x 100%

    = 0.67 x 100%

    = 67%

    Dari perhitungan tersebut nilai LDR dari Bank XYZ adalah 67%. Ini menunjukkan pihak bank menggunakan sebagian besar dana deposito untuk memberikan pinjaman. Sehingga dalam pengelolaan risiko dan stabilitas likuiditas Bank XYZ dalam keadaan yang baik.

    Sudah Mengenal Apa itu Loan to Deposit Ratio?

    Itulah beberapa pengertian, fungsi, rumus, hingga contoh kasus perhitungan LDR yang bisa Anda pelajari. Dengan memahami dan menggunakan LDR secara efektif, lembaga keuangan dapat menjaga keseimbangan antara pengelolaan risiko, likuiditas yang sehat, dan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Semoga bermanfaat!

  • Pengertian Administrasi: Tujuan, Ciri, Fungsi & Jenisnya

    Pengertian Administrasi: Tujuan, Ciri, Fungsi & Jenisnya

    Administrasi termasuk kegiatan yang penting dalam berbagai bidang. Bisa dikatakan, seseorang yang bekerja sebagai administrator sebuah perusahaan, lembaga, atau organisasi memiliki peran fundamental.

    Artikel ini menyajikan informasi lebih lanjut mengenai pengertian, tujuan, ciri-ciri, fungsi, dan jenis dari kegiatan ini. Yuk, baca sampai selesai supaya pemahaman kamu semakin bertambah!

    Pengertian Administrasi

    Administrasi merujuk pada proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, pelaksanaan, dan pengawasan berbagai kegiatan dalam suatu organisasi. 

    Kegiatan tersebut bertujuan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan sumber daya organisasi guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Melalui berbagai aktivitas tersebut, harapannya organisasi atau lembaga yang berkaitan dapat beroperasi sebagaimana mestinya dengan baik.

    Oleh karena itu, para administrator adalah orang yang memiliki peran penting, terutama dalam kelangsungan keberjalanan organisasi terkait.

    6 Tujuan Administrasi

    Berikut 6 tujuan dari kegiatan administratif yang perlu diketahui, yaitu:

    1. Mencapai Tujuan Organisasi

    Pertama, untuk mencapai tujuan dari suatu organisasi atau lembaga. Sebab, berbagai aktivitas yang bersifat administratif dilakukan untuk mengkoordinasikan segala kebutuhan organisasi.

    Pasalnya, tidak sedikit lembaga atau organisasi yang terhambat dalam mencapai tujuan karena berkas, dokumen, dan persyaratan administratif lainnya yang tidak lengkap serta tidak tertata dengan baik.

    2. Meningkatkan Efisiensi Kerja

    Seringkali, suatu organisasi dihadapkan dengan berbagai kegiatan yang perlu dilakukan secara cepat dan tepat. Nah, adanya kehadiran administrator dapat membantu  untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya organisasi, termasuk tenaga kerja, waktu, dan materi, dengan cara yang paling efisien.

    Dengan demikian, efektivitas dalam bekerja atau mencapai tujuan tertentu dapat diterapkan. Sehingga, tidak banyak membuang waktu secara percuma.

    3. Memperoleh Hasil yang Diharapkan

    Seperti yang dijelaskan di atas, administrator organisasi berupaya untuk memastikan bahwa kegiatan organisasi berjalan sesuai dengan rencana dan menghasilkan hasil yang diharapkan.

    Sebab, tanpa adanya perencanaan, pengelolaan, dan pengorganisasian kegiatan secara tepat, sangat mungkin hasil yang diharapkan tidak tercapai. Maka dari itu, aktivitas yang bersifat administratif tersebut penting.

    4. Meningkatkan Koordinasi

    Dalam mengelola hubungan antara berbagai bagian dan divisi organisasi untuk memastikan kolaborasi yang baik dan pencapaian tujuan bersama, tentu membutuhkan peran administrator.

    Kehadiran administrator inilah yang bertanggung jawab terhadap semua kebutuhan administratif kegiatan, termasuk berkoordinasi dengan semua pihak. Sehingga, dapat meningkatkan koordinasi dalam organisasi yang bermanfaat bagi organisasi tersebut.

    5. Memastikan Keamanan Bagi Kegiatan Usaha

    Tujuan selanjutnya adalah untuk memastikan keamanan kegiatan usaha. Saat menjalankan sebuah kegiatan usaha yang melibatkan banyak pihak dan modal yang tinggi, tentu membutuhkan keamanan ketat.

    Salah satu cara yang bisa dilakukan, yaitu memastikan berbagai urusan yang bersifat administratif aman dan terlindungi. Sehingga, keamanan dapat terjamin serta meminimalisir kerugian di masa mendatang.

    6. Evaluasi Kegiatan Organisasi

    Berikutnya, untuk mengevaluasi kegiatan organisasi. Salah satu cara evaluasi kegiatan yang dilakukan oleh organisasi atau perusahaan biasanya mengacu pada hasil informasi dan data yang telah ditemukan.

    Pastinya, evaluasi ini menjadikan organisasi atau perusahaan menjadi lebih memahami berbagai potensi dan kendala selama melaksanakan program. Sehingga, menjadi bahan pertimbangan untuk menjadi lebih baik kedepannya.

    Ciri-Ciri Administrasi

    Berikut ciri-ciri kegiatan administratif yang perlu kamu pahami secara seksama, yaitu:

    1. Bersifat Universal

    Hal-hal yang berkaitan dengan urusan administratif tentu diperlukan oleh semua jenis organisasi, baik itu bisnis, pemerintah, organisasi non-profit, atau sektor publik.

    Sebab, setiap organisasi membutuhkan proses yang bersifat administratif untuk mengelola sumber daya dan mencapai tujuan yang ditetapkan. Oleh karena itu, kegiatan ini bersifat universal.

    2. Proses Kegiatan Usaha

    Dalam aktivitas seperti perencanaan, pengorganisasi, hingga pengawasan kegiatan organisasi, tentu melibatkan serangkaian langkah dan tindakan yang saling terkait untuk mencapai tujuan.

    Maka, tentu saja kegiatan administratif menjadi bagian dari proses kegiatan usaha yang efektif dan efisien serta sebagai bentuk upaya mencapai hasil yang diharapkan oleh organisasi.

    3. Berorientasi pada Tujuan

    Seorang administrator yang mengurusi banyak hal di organisasi akan mengarahkan sumber daya organisasi, seperti manusia, keuangan, dan fasilitas, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

    Dengan demikian, ciri-ciri kegiatan administratif adalah berorientasi pada tujuan organisasi. Jika sistem administrasi berjalan dengan baik, maka hasil atau tujuan organisasi berpeluang tercapai.

    4. Bersifat Multidisiplin

    Ciri-ciri selanjutnya, yaitu melibatkan penggunaan konsep dan prinsip dari berbagai disiplin ilmu, seperti manajemen, ekonomi, hukum, psikologi, dan lainnya. Dengan memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan dari berbagai bidang, maka dapat membantu untuk mengelola organisasi secara efektif.

    5. Aktivitas yang Terus Menerus

    Ciri terakhir adalah aktivitas yang berlangsung secara terus menerus dalam suatu organisasi. Pasalnya, aktivitas tersebut melibatkan berbagai hal, seperti pemantauan, penyesuaian, dan perubahan sesuai dengan kebutuhan dan adaptasi organisasi terhadap lingkungan.

    5 Fungsi Administrasi

    Berikut 5 fungsi dasar dari aktivitas administratif dalam organisasi atau perusahaan, yaitu:

    1. Perencanaan

    Fungi yang pertama adalah perencanaan. Aktivitas perencanaan tersebut meliputi kegiatan untuk menetapkan tujuan, merumuskan strategi, dan merencanakan tindakan yang diperlukan guna mencapai tujuan organisasi. Dengan perencanaan strategis dan tepat, tujuan organisasi memiliki peluang besar tercapai.

    2. Pengorganisasian

    Selanjutnya, aktivitas yang berkaitan dengan urusan administratif perusahaan atau organisasi memiliki fungsi pengorganisasian. Aktivitas tersebut meliputi kegiatan membentuk struktur organisasi, mengalokasikan tugas dan tanggung jawab, serta membangun hubungan dan saluran komunikasi yang efektif.

    Jika pengorganisasi berjalan secara efektif, maka kegiatan dalam organisasi atau perusahaan dapat berjalan lancar.

    3. Fungsi Koordinasi

    Fungsi selanjutnya adalah koordinasi. Inti dari koordinasi, yaitu mengimbangi dan menggerakkan tim dengan memberikan tugas yang cocok sesuai kemampuannya.

    Kemudian, menjaga agar tugas tersebut dilaksanakan dengan semestinya. Cara ini termasuk bagian dari upaya untuk mencapai tujuan bersama. Oleh karena itu, koordinasi yang baik sangat dibutuhkan.

    4. Pelaksanaan Kegiatan 

    Tidak hanya perencanaan, tetapi administrasi memiliki fungsi pelaksana kegiatan. Walaupun perencanaan telah dilakukan secara matang dan strategis, hal itu menjadi bukan apa-apa kalau pelaksanaanya buruk. 

    Oleh karena itu, perlu melakukan tindakan yang direncanakan dan mengarahkan sumber daya untuk menjalankan kegiatan organisasi tersebut.

    5. Pengawasan Kegiatan Organisasi

    Fungsi yang terakhir yaitu pengawasan kegiatan organisasi. Sebagai bentuk upaya memperbaiki hal-hal yang kurang dari pelaksanaan kegiatan, tentu saja membutuhkan evaluasi.

    Maka dari, penting untuk memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan. Dengan demikian, dapat memastikan bahwa semua pihak yang terlibat telah melaksanakan tugas sesuai dengan rencana dan standar yang telah ditetapkan.

    Jenis-Jenis Administrasi

    Berikut jenis-jenis kegiatan administratif yang perlu diketahui, yaitu:

    1. Publik

    Jenis pertama adalah kegiatan administratif publik yang melibatkan pengelolaan organisasi pemerintah dan penyediaan layanan publik. Tujuannya dari kegiatan administratif jenis ini, yaitu untuk mencapai tujuan publik dan memenuhi kebutuhan masyarakat.

    2. Bisnis

    Selain dalam urusan pemerintahan, ada pula kegiatan administratif bisnis yang berkaitan dengan pengelolaan organisasi bisnis. Pengelolaan tersebut termasuk dalam kegiatan perencanaan strategis, pengorganisasian, dan pengawasan operasional.

    3. Pendidikan

    Lembaga pendidikan juga membutuhkan tenaga yang mengurusi urusan bersifat administrasi. Dalam bidang pendidikan, hal ini melibatkan pengelolaan institusi pendidikan, termasuk sekolah, perguruan tinggi, atau sistem pendidikan.

    4. Keuangan

    Selanjutnya, kegiatan administratif keuangan, yaitu proses penyelenggaraan, penyediaan, pengurusan, dan penggunaan uang dalam setiap usaha kerjasama. 

    5. Lingkungan

    Terakhir, ada juga yang disebut dengan kegiatan administratif lingkungan. Aktivitas ini berupa rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Biasanya bertujuan untuk mewujudkan wawasan lingkungan tanpa mengesampingkan kualitas manusia dan lingkungan.

    Sudah Paham Tentang Administrasi?

    Demikian penjelasan mengenai kegiatan administratif, mulai dari pengertian, tujuan, ciri, fungsi, hingga jenisnya. Setelah membaca artikel ini, semoga dapat membantu kamu dalam mencapai tujuan bersama dalam organisasi atau perusahaan dengan baik.

  • Biaya Variabel: Pengertian, Ciri, Jenis, Contoh, dan Cara Menghitungnya

    Biaya Variabel: Pengertian, Ciri, Jenis, Contoh, dan Cara Menghitungnya

    Dalam mengelola sebuah bisnis atau perusahaan, ada banyak sekali hal yang perlu diperhitungkan dengan matang. Salah satunya adalah biaya variabel. Dengan melakukan perhitungan biaya ini, maka perusahaan Anda akan berjalan lebih lancar. Ingin lebih memahami pengertian dan cara hitungnya? Simak ulasan berikut ini!

    Apa Itu Biaya Variabel?

    Variable cost sendiri merupakan suatu biaya perusahaan yang di dalamnya memiliki jumlah yang sesuai dengan volume dari seluruh kegiatan operasional yang dilakukan oleh perusahaan itu sendiri. Istilah ini merupakan kebalikan dari biaya tetap, sehingga nama lain dari variable cost adalah biaya tidak tetap. 

    Sesuai dengan namanya, biaya variabel memiliki jumlah atau nilai yang tidak tetap dan seringkali berubah tergantung dengan kondisi yang ada. Perubahan biaya ini juga terjadi karena adanya perbedaan intensitas penggunaan sumber daya baik sumber daya alam dan sumber daya manusia. 

    Jadi, besarnya biaya tidak tetap bergantung pada output atau luaran yang dihasilkan oleh perusahaan. Karena ini merupakan biaya yang perubahannya mengikuti seluruh aktivitas bisnis dari perusahaan. Maka, variable cost bisa mengalami kenaikan dan penurunan yang bergantung pada besarnya operasional perusahaan.

    Biaya tidak tetap sebenarnya dapat dihitung sebagai keseluruhan biaya marginal atau marginal cost dari seluruh lini dan unit produksi. Sehingga, dapat dikatakan bahwa biaya tidak tetap adalah biaya yang sangat erat kaitannya dengan produksi suatu barang atau jasa. 

    Biaya tidak tetap juga seringkali disebut dengan biaya unit-level atau biaya tingkatan level. Penyebutan ini dikarenakan variable cost memiliki banyak sekali variasi dalam jumlah unit yang sedang diproduksi. Hal tersebut bisa menjadi dasar perhitungan dari pengeluaran per unit produksi yang akan dilaporkan. 

    Ciri-Ciri Biaya Variabel

    Setelah mengerti tentang apa itu variable cost yang kerap kali ada pada sebuah lini produksi, selanjutnya Anda akan mengetahui apa saja ciri-ciri dari biaya tidak tetap itu sendiri. 

    Pada dasarnya, variable cost pasti memiliki sebuah ciri khusus yang telah dijelaskan dengan mendalam di akuntansi biaya. Berikut ini adalah beberapa ciri variable cost yang perlu Anda ketahui: 

    • Variable cost per unit relatif memiliki nilai yang konstan, walaupun volume produksi kerap kali berubah pada rentang waktu yang relevan.
    • Biaya tidak tetap bisa dibebankan kepada divisi atau departemen operasi produksi dengan cara yang cukup mudah dan tepat.
    • Dalam variable cost, perubahan jumlah total di proporsi sama saja dengan jumlah perubahan volume produksi.
    • Biaya tidak tetap sendiri dapat dikendalikan oleh seseorang kepada suatu departemen tertentu atau terkait.

    Jenis-Jenis Biaya Variabel

    Setelah mengetahui pengertian hingga ciri-ciri dari variable cost yang ada, maka selanjutnya Anda akan mempelajari tentang jenis-jenis biaya ini. Pada dasarnya, terdapat dua jenis biaya tidak tetap, yaitu engineered variable cost dan discretionary variable cost. Berikut ini adalah penjelasan mengenai keduanya:

    1. Engineered Variable Cost

    Variable cost jenis ini merupakan biaya yang memiliki hubungan atau ikatan secara fisik tertentu dengan ukuran kegiatan tertentu juga. Atau engineered variable cost juga bisa didefinisikan sebagai biaya yang memiliki kaitan erat dengan masukan dan keluarannya.

    Berdasarkan apa yang dikutip dari buku akuntansi biaya, engineered variable cost hampir mencangkup seluruh biaya variabel yang ada pada sebuah lini produksi. Jika biaya masuk mengalami sebuah perubahan, maka perubahan tersebut akan sebanding dengan biaya keluarannya. Hal tersebut juga dapat berlaku sebaliknya. 

    2. Discretionary Variable Cost

    Jenis variable cost satu ini adalah biaya yang jumlah secara keseluruhannya sebanding dengan perubahan volume dari kegiatan. Ini merupakan dampak dari keputusan dari pihak manajemen terkait. 

    Misalnya saja, pihak manajemen menetapkan biaya yang diperlukan untuk memasang iklan, maka hal tersebut akan masuk ke dalam discretionary variable cost. Discretionary variable cost sendiri memiliki suatu pola grafis variabel, tetapi tidak dikarenakan atau disebabkan dengan alasan yang sama.

    Sebagai contoh, pembayaran bahan baku langsung atau pembayaran tenaga kerja langsung. Adapun biaya yang dapat bertambah sendiri mungkin akan lebih berkesinambungan dengan otoritas manajemen dalam perihal belanja. Pada jenis ini, bila biaya masuk berubah belum tentu biaya keluar akan berubah juga. 

    Contoh Biaya Variabel

    Setelah mengetahui beberapa jenis biaya tidak tetap yang ada, maka selanjutnya Anda akan beralih pada berbagai contoh dari variable cost. Contoh biaya ini sendiri umumnya terdapat lima. Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini: 

    1. Biaya Bahan Baku

    Contoh variable cost yang pertama adalah biaya bahan baku. Biaya bahan baku sendiri dikategorikan sebagai variable cost karena berbagai bahan baku dalam lini produksi seringkali mengalami perubahan harga. Nah, perubahan harga ini umumnya disebabkan karena banyak faktor. 

    Faktor pertama yang membuat biaya bahan baku berubah adalah faktor alam dan lingkungan. Misalnya saja, harga cabai yang terus berganti tergantung pada musim. Faktor selanjutnya adalah faktor kebijakan. Misalnya saja, ketika terdapat perubahan penetapan biaya impor, maka biaya bahan baku juga akan berubah. 

    2. Upah Tenaga Kerja 

    Biaya variabel yang kedua adalah upah tenaga kerja. Pada dasarnya, upah tenaga kerja memang sudah ditetapkan dari awal sesuai dengan kesepakatan antara pekerja dan pihak perusahaan. Namun, dalam berjalannya waktu, terdapat banyak perubahan upah yang mungkin terjadi.

    Upah tenaga kerja bisa mengalami penurunan karena adanya sanksi dari perusahaan ke tenaga kerja. Misalnya seperti keterlambatan dan pemotongan biaya cuti. Namun, upah tenaga kerja juga bisa mengalami peningkatan karena adanya jam kerja lembur, reward pekerja, dan lain sebagainya. 

    3. Biaya Distribusi Produk

    Biaya yang menjadi variable cost selanjutnya adalah biaya distribusi produk. Biaya distribusi produk bisa mengalami perubahan karena adanya perubahan biaya bahan bakar kendaraan ataupun perubahan beberapa biaya kebijakan dari pihak yang berwenang. 

    Selain itu, dalam melakukan distribusi produk pasti perusahaan juga menggunakan sumber daya manusia. Misalnya seperti supir, kurir atau kernet. Jam kerja yang juga tidak menentu karena kondisi jalanan yang tidak dapat diprediksikan membuat biaya distribusi juga kerap kali mengalami perubahan. 

    4. Komisi Penjualan

    Biaya komisi penjualan merupakan biaya yang diperlukan agar penjualan produk bisa mencapai suatu target yang ditentukan oleh pihak manajemen perusahaan. Biasanya, komisi penjualan ini akan dibayarkan kepada sales atau toko sebagai reseller apabila dapat menjual produk dalam jumlah yang ditentukan.

    Oleh karena itu, biaya komisi penjualan ini menjadi biaya variabel. Karena, satu sales tidak menentu akan mendapatkan penjualan sebanyak apa. Sehingga, besarnya biaya komisi penjualan bergantung pada seberapa banyak tenaga sales digunakan dan seberapa banyak produk dapat dijual oleh sales

    5. Biaya Overhead

    Jenis variable cost yang terakhir adalah biaya overhead. Biaya overhead sendiri bisa diartikan sebagai salah satu jenis biaya yang tidak dapat dimasukkan ke dalam jenis biaya produksi barang atau jasa. Sederhananya, biaya overhead merupakan biaya pengeluaran tidak terduga yang terdapat pada sebuah perusahaan. 

    Biaya ini kerap kali dikategorikan sebagai biaya yang tidak terlalu penting keberadaannya. Umumnya, biaya overhead juga tidak bisa dimasukkan ke dalam laporan keuangan secara mendetail dan terperinci. Misalnya saja pengeluaran alat tulis, cetak dokumen, konsumsi harian, dan sebagainya. 

    Cara Menghitung dan Rumus Biaya Variabel

    Menghitung variable cost merupakan suatu hal yang harus dipelajari dalam mengelola perusahaan. Dalam menghitung variable cost sendiri, terdapat rumus yang perlu Anda gunakan sebagai berikut: 

    Variable Cost = (Total Biaya – Biaya Tetap) / Kuantitas 

    Contoh perhitungan biaya tidak tetap adalah sebagai berikut: 

    Pada Mei 2022, Dina mengeluarkan biaya produksi permen sebanyak Rp50.000.000,00 dengan tagihan biaya tetap seperti bahan baku sebesar Rp5.000.000,00. Pada bulan tersebut, dina dapat memproduksi sebanyak 2.500 permen. Lantas, berapa variable cost yang akan dikeluarkan?

    Variable Cost = (Rp50.000.000,00 – Rp5.000.000,00) / 2.500 = Rp45.000.000,00 : 2.500 = Rp18.000,00

    Jadi, variable cost yang akan dikeluarkan adalah Rp18.000,00.

    Sudah Memahami Apa Itu Biaya Variabel?

    Sekian ulasan mengenai pengertian hingga contoh perhitungan variable cost yang seringkali ada dalam sebuah sistem perusahaan. Dengan menggunakan perhitungan variable cost ini semoga perusahaan yang Anda jalankan bisa berjalan lebih lancar dan sukses lagi kedepannya, ya!

  • Biaya Implisit: Pengertian, Cara Menghitung, & Contohnya

    Biaya Implisit: Pengertian, Cara Menghitung, & Contohnya

    Biasanya, jenis biaya yang berasal dari aset perusahaan akan sangat berpengaruh pada sumber daya. Baik itu sumber daya internal maupun eksternal perusahaan. Biaya implisit akan dicatat secara terpisah dan tidak muncul dalam laporan keuangan perusahaan. Lantas, bagaimana cara menghitungnya?

    Pengertian Biaya Implisit

    Setiap perusahaan atau organisasi pastinya akan memiliki biaya tak terlihat atau sering dinamakan sebagai biaya implisit. Implicit cost berupa biaya yang tersirat, sehingga kebalikan dari biaya eksplisit.

    Biaya ini bisa berupa pengeluaran tak terduga dan pencatatannya tidak akan terlihat di laporan keuangan. Dengan demikian, biaya ini memiliki sifat yang tidak terduga. Sehingga tidak wajib untuk dicatat dalam laporan kas perusahaan.

    Terjadinya biaya ini disebabkan tidak adanya pengeluaran yang berupa kas. Oleh sebab itu, proses pertukaran uang maupun transaksi lainnya tidak terjadi. 

    Adapun beberapa contoh dari biaya ini. Misalnya seperti harga properti perusahaan yang menyusut, nilai alat dan mesin perusahaan yang menyusut, penghematan pengeluaran yang tidak ada dalam transaksi keuangan, dan lain sebagainya.

    Contoh Penerapan dan Cara Menghitung Biaya Implisit

    Adapun contoh penerapan untuk menghitung biaya ini, antara lain sebagai berikut:

    1. Contoh tentang Perusahaan Manufaktur

    Mari asumsikan bahwa sebuah perusahaan manufaktur memiliki satu gedung yang berfungsi untuk melakukan bisnis. Mulai dari kegiatan operasional, karyawan, produksi, dan lain sebagainya.

    Pada kasus ini, perusahaan tersebut menggunakan gedung untuk mendukung kegiatan operasional perusahaannya. Dengan demikian, perusahaan tidak akan menyewakan gedung kepada pihak lainnya.

    Berdasarkan laporan keuangannya, perusahaan tersebut bisa menghasilkan laba bersih mencapai Rp600.000.000,00 per bulannya. Sementara itu, jika gedung perusahaan disewakan, maka mereka akan mendapatkan peluang biaya mencapai Rp40.000.000,00 per bulan.

    Cara untuk menghitung biaya implisit perusahaan ini sangat mudah. Seperti perkiraan bahwa perusahaan manufaktur akan menghasilkan keuntungan ekonomi aktual sebesar Rp600.000.000,00 per bulan. 

    Setelah itu, kurangi jumlah tersebut dengan Rp40.000.000,00. Dengan demikian, implisit cost dari perusahaan manufaktur ini sekitar Rp560.000.000,00 per bulannya. Perusahaan tidak akan memperoleh pendapatan berupa aset, ini karena mereka lebih memanfaatkan sumber daya dari gedung.

    Selain itu, pendapatan juga tidak akan tercatat sebagai biaya eksplisit. Baik itu untuk penggunaan gedung maupun kebutuhan operasional perusahaan. Oleh sebab itu, perusahaan harus rela kehilangan pendapatannya sebesar Rp40.000.000,00. Itulah mengapa biaya tersebut sering disebut sebagai implisit.

    2. Contoh pada Pebisnis Baru

    Misalnya seorang yang ingin memulai bisnis baru, lalu ia mengeluarkan uang sebesar Rp150.000.000,00. Di mana uang tersebut digunakan untuk mendukung pembukaan bisnisnya.

    Kemudian jumlah uang yang telah dialokasikan akan memiliki peluang untuk memperoleh pendapatan berupa bunga dan deposit sekitar Rp10.000.000,00 per tahun. Itu pun jika pendapatan ditabung menjadi deposit bank. Nah, uang Rp10.000.000,00 tersebut biasa disebut sebagai dana implisit.

    Macam-Macam Biaya Implisit

    Karena catatannya tidak terlapor pada dokumen keuangan, jadi tidak ada transaksi keuangan yang terjadi. Nah, agar lebih mudah untuk memahami, berikut ini macam-macam biaya yang termasuk ke dalam implisit:

    1. Pelatihan Pegawai

    Setiap karyawan harus mendapatkan pengalaman kerja yang bagus. Jika belum sesuai keinginan perusahaan, maka perusahaan harus memberikan pelatihan kepada karyawan. Dengan demikian, karyawan dapat meningkatkan kinerja dan keterampilan dalam bidangnya.

    Secara umum, pelatihan karyawan akan dilakukan pada saat jam kerja. Peraturan ini berlaku untuk membuat jam kerja karyawan menjadi kosong. Sehingga mereka akan lebih fokus pada pelatihan.

    Ini karena biayanya tidak dapat diukur hanya dengan uang saja. Dengan demikian, pelatihan karyawan masuk ke dalam dana implisit. Sehingga tidak tercatat dalam laporan keuangan.

    Pelatihan karyawan akan mengorbankan waktu pekerjaannya, jadi tidak heran jika jam bekerjanya tidak bisa maksimal. Oleh sebab itu, perusahaan harus mengatur waktu yang tepat.

    Pelatihan pegawai ini akan menyebabkan pengeluaran biaya perusahaan lebih fokus pada sumber daya manusia atau SDM. Sehingga sumber daya tersebut tidak bisa diukur dengan uang.

    2. Properti yang digunakan

    Adanya properti yang digunakan juga bisa termasuk contoh biaya implisit. Sebagai contoh, misalnya gedung operasional perusahaan, alat-alat produksi, dan lain sebagainya.

    Gedung berperan sebagai properti utama yang memiliki fungsi untuk melakukan kepentingan perusahaan. Mulai dari pelatihan karyawan, seminar, dan acara penting lainnya. 

    Ketika mengadakan berbagai acara perusahaan, maka dengan memanfaatkan properti perusahaan akan menghemat biaya. Khususnya pada biaya sewa gedung dan ruangan lainnya.

    Penggunaan properti juga dapat mengurangi biaya eksplisit. Akan tetapi, cara ini justru bisa mengurangi pemasukan untuk perusahaan. Hal tersebut terjadi karena perusahaan tidak menyewakan gedung dan ruangannya, sehingga perusahaan tidak akan menerima laba.

    3. Nilai Aset yang Menyusut

    Semua perusahaan yang memulai bisnis harus memiliki aset. Hal tersebut terjadi karena aset berfungsi untuk mendukung terjadinya proses bisnis. Mulai dari produksi, alat-alat, gedung perusahaan, dan lain sebagainya.

    Berbagai aset yang digunakan tersebut akan mengalami penyusutan pada nilainya. Jika nilai aset menyusut, maka nantinya juga akan mempengaruhi proses produksi di dalamnya.

    Akan tetapi, meskipun terjadi penyusutan nilai aset secara besar-besaran. Namun, pada laporan keuangan tidak akan tertulis transaksi penyusutan tersebut. Hal tersebut terjadi karena tidak ada transaksi uang secara langsung.

    Perbedaan Biaya Implisit dan Eksplisit dalam Bisnis 

    Kerap disandingkan bersama, ternyata eksplisit dan implisit memiliki perbedaan yang signifikan. Maka dari itu, mari ulas berbagai perbedaan yang ada pada keduanya berikut ini:

    1. Bentuk

    Perbedaan yang paling signifikan dari keduanya adalah bentuk biaya. Biaya eksplisit berwujud materi dan terlihat dengan jelas. Maka dari itu, biaya ini akan selalu terlihat selama transaksi perusahaan berlangsung. Baik itu pembayaran maupun pengeluaran.

    Sementara itu, dana implisit tidak memiliki bentuk yang berwujud materi, sehingga lebih mengacu pada perkiraan. Dengan demikian, transaksi tidak akan berwujud nyata. Inilah mengapa biaya ini sangat sulit untuk dikalkulasikan ke dalam laporan keuangan.

    2. Kejadian

    Biaya eksplisit memiliki perhitungan secara aktual untuk kejadiannya. Sehingga nantinya ada bukti transaksi atas pembayaran yang telah dilakukan. Biaya ini sangat berbanding terbalik dengan dana implisit.

    Di mana dana implisit hanya akan mengimplikasikan suatu kejadian, bukan dana yang memang telah dikeluarkan oleh perusahaan. Apalagi jika alasannya karena proses pembayaran. Oleh sebab itu, transaksi dana implisit tidak berbentuk nyata.

    3. Catatan Laporan Keuangan

    Biaya eksplisit adalah biaya yang memiliki sifat aktual, sehingga benar-benar dikeluarkan oleh perusahaan. Oleh sebab itu, biaya ini wajib dicatat dalam laporan keuangan perusahaan. Baik itu buku besar maupun laporan laba ruginya. 

    Maka dari itu, nantinya biaya tersebut akan tercatat secara rinci. Ini karena berfungsi dana tersebut sebagai komponen untuk menentukan besar laba dan mengurangi pendapatan perusahaan.

    Sedangkan pada biaya implisit, transaksi tidak akan dicatat dalam laporan keuangan perusahaan. Secara umum, biaya ini dicatat secara terpisah. Hal tersebut terjadi karena tingkat profitabilitas perusahaan tidak akan berdampak tinggi.

    4. Dampak Laba

    Seperti yang diketahui dari penjelasan sebelumnya bahwa, dana eksplisit akan berdampak langsung kepada laba bersih. Nantinya, semua biaya akan mengurangi pendapatan, sehingga dapat membentuk laba akuntansi.

    Sementara itu, dana implisit justru tidak memiliki dampak apapun kepada laba. Akan tetapi, biaya ini tetap akan menunjukkan tingkatan keuntungan ekonominya saja.

    5. Sifat

    Dengan sifatnya yang objektif, maka biaya eksplisit dapat menunjukkan kejelasan nilai yang berdasarkan dari catatan transaksi. Berbeda dengan implisit yang bersifat subjektif, sehingga hanya mampu memperkirakannya. Inilah mengapa cara perhitungan dana implisit lebih sulit dari dana eksplisit.

    6. Fungsi

    Keduanya memiliki fungsi dan manfaat yang berbeda-beda untuk bisnis. Pada biaya eksplisit, fungsi utamanya adalah untuk menghitung dan mengetahui laba bersih akuntansi perusahaan. Dengan demikian, perusahaan dapat mengukur efisiensi manajemen dalam mengatur arus kas keluarnya.

    Lain halnya dengan biaya eksplisit, implisit justru memiliki fungsi utama untuk membantu pebisnis mengetahui nilai untung ekonomi dari bisnisnya. Ini bertujuan untuk dapat melakukan evaluasi strategi bisnis yang tepat. Selain itu, implisit juga dapat memberikan potensi dana yang sebenarnya.

    Sudah Tahu Apa Itu Biaya Implisit?

    Meskipun bentuk transaksinya tidak nyata dan tidak terduga, namun biaya implisit tetap memiliki fungsi bagi bisnis. Setelah mengetahui cara menghitungnya, pastikan untuk memperkirakan dan implisit dengan tepat. Dengan demikian, kesalahan kas pengeluaran bisa diminimalisir.

  • Rasio Rentabilitas: Pengertian, Jenis, dan Cara Mudah Menghitungnya

    Rasio Rentabilitas: Pengertian, Jenis, dan Cara Mudah Menghitungnya

    Dalam dunia bisnis, seberapa besar perolehan keuntungan tidak menjadi satu-satunya indikator untuk menentukan performa bisnis atau perusahaan. Oleh sebab itu, perlu rentabilitas untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan. Ingin memahami tentang rasio rentabilitas lebih dalam? Simak di sini!

    Apa Itu Rasio Rentabilitas? 

    Rasio yang juga bisa Anda sebut sebagai profitability ratio ini berperan sangat penting bagi perusahaan karena berhubungan dengan kelangsungan hidup perusahaan. Rentabilitas merupakan perbandingan keuntungan bersih dengan aktiva atau modal yang dikeluarkan yang akan menjadi sumber keuntungan. 

    Setiap tahun, perusahaan tentu akan berusaha meningkatkan target keuntungan. Namun, keuntungan yang besar bukan indikator bahwa perusahaan tersebut sudah bergerak dengan efisien. Secara sederhana, rasio rentabilitas bisa Anda artikan sebagai kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. 

    Selain itu, dengan adanya rasio tersebut, maka bisa menunjukkan kemampuan aset perusahaan untuk mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan. Hal tersebut menjadi alasan perhitungannya akan mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaan. 

    Analisis rasio tersebut sangat efektif untuk mengendalikan atau bahkan mencegah terjadinya penyimpangan yang mengganggu kinerja perusahaan. Jika tidak terjadi penyimpangan dalam perusahaan, maka akan memaksimalkan efisiensi dalam memperoleh laba atau keuntungan. 

    Selain itu, analisis rasio ini bisa Anda gunakan sebagai tolak ukur untuk mengambil keputusan yang berhubungan dengan keuangan perusahaan. Kemudian, dari hasil analisis tersebut, perusahaan akan lebih mudah untuk memutuskan tentang penggunaan bantuan modal sendiri maupun bantuan modal asing dengan cara kredit.

    Rumus dan Faktor yang Mempengaruhi 

    Secara umum, perhitungan dengan menggunakan rumus rentabilitas ekonomi akan melalui perbandingan antara laba yang diperoleh dengan modal yang dikeluarkan oleh perusahaan. Berikut rumus secara umum untuk mempermudah perhitungan: 

    L / M 

    Keterangan: 

    L: Laba yang dihasilkan perusahaan.

    M: Modal yang dikeluarkan perusahaan untuk menghasilkan target keuntungan.

    Selain itu, terdapat beberapa faktor yang bisa mempengaruhi hasil dari profitability ratio, antara lain: 

    • Volume penjualan dalam perusahaan.
    • Biaya yang dikeluarkan untuk modal.
    • Efisiensi manajemen dalam hal penekanan biaya dan produktivitas tenaga kerja.

    Jenis-Jenis Rasio Rentabilitas

    Setelah mengetahui pengertian dan cara perhitungannya secara umum, sekarang saatnya Anda mengetahui apa saja jenis rentabilitas: 

    1. Rentabilitas Ekonomi 

    Jenis rasio ini umumnya berfungsi sebagai alat untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Baik dari modal pribadi maupun modal asing yang diperoleh dengan cara kredit.

    2. Rentabilitas Modal Sendiri 

    Jenis rentabilitas ini berfungsi sebagai perhitungan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang berasal dari modal milik keuangan pribadi. Jadi, modal tersebut tidak memiliki bantuan atau campur tangan dari pihak luar. 

    Manfaat Rasio Rentabilitas 

    Berdasarkan penjelasan di atas, sekarang saatnya Anda bisa menyimpulkan apa saja manfaat dari perhitungan analisis profitability ratio sebagai berikut: 

    • Mengukur perolehan keuntungan perusahaan dalam periode tertentu.
    • Menilai posisi atau perkembangan laba dari tahun ke tahun.
    • Melakukan evaluasi perkembangan laba.
    • Mengetahui perbandingan laba dari sebelum adanya pajak hingga setelah adanya total aset yang memungkinkan adanya pajak.
    • Mengukur produktivitas dari seluruh dana dalam perusahaan, baik dari modal pinjaman maupun modal keuangan pribadi.

    Cara Menghitung Rasio Rentabilitas 

    Setelah mengetahui pengertian, jenis, dan manfaatnya, sekarang saatnya Anda mempelajari tentang cara perhitungannya. Terdapat beberapa ukuran rasio yang bisa Anda gunakan, antara lain: 

    1. Profit Margin 

    Profit margin merupakan cara perhitungan yang bertujuan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam perolehan keuntungan atau profit pada tingkat penjualan tertentu. Laporan dari profit margin bisa Anda ketahui melalui laporan common size dalam laporan laba rugi pada bagian baris terakhir. 

    Rumus perhitungan profit margin adalah sebagai berikut: 

    Profit Margin = (Total Penjualan – Harga Pokok Penjualan) : Total Penjualan 

    Dari rumus di atas, tentu Anda sudah pasti mengerti data apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum menghitung profit margin. Seperti harga pokok penjualan dan total dari seluruh penjualan oleh perusahaan. 

    2. Gross Profit Margin 

    Selanjutnya, terdapat ukuran rasio bernama gross profit margin atau Anda bisa menyebutnya sebagai margin laba kotor. Gross profit margin ini merupakan perbandingan dari pendapatan keuntungan atau laba kotor perusahaan dalam periode tertentu dengan besarnya tingkat penjualan perusahaan dalam periode yang sama. 

    Perhitungan gross profit margin berfungsi untuk membantu agar Anda bisa mengetahui jumlah laba kotor perusahaan sebelum dikurangi oleh biaya lain. Misalnya seperti biaya produksi dan biaya operasional. Semakin besar kemampuan perusahaan untuk mengontrol rasio, maka semakin besar pula potensi laba yang akan diperoleh. 

    Berikut rumus dari gross profit margin: 

    Gross Profit Margin = Laba Kotor Perusahaan / Pendapatan Penjualan dalam Periode Tertentu 

    Berdasarkan rumus di atas, maka sebaiknya sebelum Anda melakukan perhitungan gross profit margin, hitung terlebih dahulu berapa jumlah laba kotor. Sehingga Anda akan mendapatkan hasil perhitungan harga kotor atau gross profit dan lebih mudah untuk menghitung gross profit margin. 

    3. Net Profit Margin 

    Perhitungan rasio rentabilitas selanjutnya adalah net profit margin atau laba bersih yang merupakan kebalikan dari gross profit margin. 

    Net profit margin merupakan rasio yang berfungsi untuk mengukur jumlah laba bersih yang berhasil diperoleh perusahaan setelah terjadi pengurangan dari biaya lain. Semakin tinggi rasio net profit margin, maka semakin besar pula laba bersih yang bisa diperoleh perusahaan. Ini juga dipengaruhi oleh tinggi rendahnya tingkat penjualan. 

    Rumus perhitungan net profit margin adalah sebagai berikut:

    Net Profit Margin = Laba bersih setelah adanya pajak / Penjualan bersih 

    Berdasarkan rumus perhitungan tersebut, maka sebaiknya sebelum menghitung net profit margin, Anda mempersiapkan hasil perhitungan laba bersih setelah adanya pajak dari aset perusahaan. Serta total penjualan bersih perusahaan dalam periode tertentu. 

    4. Return on Investment (RoI)

    Return on Investment atau RoI merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba sebesar-besarnya agar bisa menutup biaya yang sudah keluar untuk keperluan investasi. Laba yang digunakan pada umumnya adalah laba bersih setelah adanya perhitungan pajak. 

    Rumus perhitungan Return on Investment (RoI) adalah sebagai berikut:

    RoI = (Total Penjualan – Investasi Perusahaan) / Investasi Perusahaan x 100%

    Berdasarkan rumus tersebut, sebelum menghitung RoI, maka persiapkan perhitungan investasi terlebih dahulu. 

    5. Return on Assets (RoA) 

    Return on Assets adalah rasio rentabilitas ekonomis yang berfungsi untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dengan cara menggunakan semua modal atau aktiva yang dimiliki. 

    Laba atau keuntungan yang digunakan untuk menutup aset ini merupakan laba utuh sebelum adanya pajak atau bunga bank yang bernama Earning Before Interest and Taxes (EBIT). 

    Berikut rumus RoA:

    RoA = Laba setelah adanya pajak / Total aset 

    6. Return on Equity (ROE)

    Perhitungan ini sama saja dengan perhitungan untuk menentukan tingkat pengembalian ekuitas dari pemegang saham dengan persentase laba bersih. Analis saham maupun investor akan teliti untuk mengamati setiap hasil ROE perusahaan apakah berpotensi untuk menghasilkan laba terus menerus atau tidak.

    Rasio ROE bisa disebut menguntungkan apabila bisa berguna sebagai alasan untuk membeli saham perusahaan. Karena perusahaan yang memiliki ROE rendah akan kurang bagus untuk Anda jadikan sebagai investasi. 

    7. Margin EBITDA

    Margin ini merupakan laba sebelum adanya pajak, bunga, maupun biaya operasional lain seperti depresiasi dan amortisasi dalam perhitungan rentabilitas. Perhitungan EBITDA bisa berguna sebagai pengganti pendapatan laba bersih serta ukuran kinerja dalam perusahaan sebelum adanya pemotongan keuangan dan akuntansi. 

    Sudah Memahami tentang Rasio Rentabilitas? 

    Itulah penjelasan lengkap seputar rasio rentabilitas mulai dari pengertian, jenis, manfaat, dan cara perhitungannya yang bisa Anda aplikasikan dalam bisnis atau perusahaan. Pastikan untuk bekerja sama dengan ahli jika Anda merasa kesulitan saat melakukan perhitungan. Semoga membantu!

  • Rasio Keuangan: Pengertian, Fungsi, Jenis & Contoh

    Rasio Keuangan: Pengertian, Fungsi, Jenis & Contoh

    Pemahaman yang mendetail tentang rasio keuangan merupakan hal penting yang perlu dilakukan perusahaan untuk membuat keputusan bisnis yang terbaik. Tanpa informasi tentang situasi keuangan, perusahaan berisiko lebih besar, karena bisa mengambil keputusan yang salah dan merugikan.

    Dengan cara ini, perusahaan dapat menentukan langkah-langkah yang harus mereka ambil untuk memberikan dampak positif terhadap kinerja dan posisi keuangan perusahaan. Untuk informasi lebih lanjut, mari simak penjelasan selengkapnya di bawah ini!

    Pengertian 

    Rasio keuangan adalah metode analisis keuangan yang dapat digunakan sebagai ukuran untuk menilai perkembangan suatu perusahaan atau bisnis. Hal ini bisa dihitung dengan mengambil data laporan keuangan untuk periode tertentu. Dengan begitu, kamu bisa mengetahui kinerja keuangan perusahaan yang maksimal.

    Jenis rasio ini sering digunakan oleh pemimpin perusahaan dalam menentukan kebijakan dan keputusan bisnis yang dapat memberikan keuntungan terbaik bagi perusahaan. 

    Misalnya, dipilih untuk menyimpan aset perusahaan. Oleh karena itu, peran rasio ini sangat penting agar manajemen tidak salah langkah dalam mengambil keputusan yang berdampak terhadap perusahaan.

    Fungsi

    Rasio keuangan merupakan analisis yang memiliki fungsi penting dalam perkembangan suatu perusahaan, seperti berikut ini:

    1. Evaluasi Efisiensi Operasional

    Menganalisa keuangan memungkinkan kamu untuk menilai bagaimana kontrol operasional keuangan dan apakah hal itu bisa bekerja secara efisien. Rasio ini menunjukkan bagaimana kinerja departemen berdasarkan data yang dikumpulkan.

    2. Menilai Optimalisasi Keuangan 

    Fungsi kedua untuk menilai apakah pengelolaan keuangan sudah optimal atau belum. Hal ini dapat dilihat sekilas dari hasil perhitungan rasio. Hasil ini memungkinkan staff administrasi untuk melakukan perbaikan dan efisiensi. Perbaikan dapat berupa kebijakan yang bisa sebagai alat untuk menanggapi hasil rasio tersebut.

    3. Mengukur Penggunaan Aset yang Optimal

    Kinerja aset perusahaan digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan. Pengukuran aset perusahaan dapat mengungkapkan apakah kebijakan sudah optimal.

    4. Menyelidiki Situasi Keuangan Perusahaan

    Hal ini sangat penting, karena data berasal dari keuangan perusahaan. Hanya saja, ketika kamu mengukur rasionya, semuanya menjadi jelas. Sebab, bisa menunjukkan apa yang perlu diperbaiki dan langkah selanjutnya yang dapat diputuskan oleh perusahaan.

    5. Prospek Pengembangan Perusahaan

    Bagaimana perusahaan memprediksi perkembangan di masa depan dalam satu atau dua tahun ke depan? Salah satu caranya adalah dengan menggunakan perhitungan rasio keuangan ini.

    Hasil pengukuran persentase sehat atau tidak sehatnya keuangan pada sebuah perusahaan dapat menjadi tolak ukur bagi perusahaan di masa mendatang. Perusahaan dapat mengambil tindakan cepat, ketika perkiraan tersebut tidak sebaik atau seperti yang diharapkan.

    Jenis 

    Berikut ini adalah beberapa jenis rasio keuangan yang biasanya digunakan saat analisis keuangan pada perusahaan:

    1. Rasio Profitabilitas

    Rasio yang mengukur kemampuan bisnis atau perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Jenis rasio ini sangat penting, karena mencerminkan keberlangsungan perusahaan berdasarkan kemampuannya memperoleh laba. Rasio ini juga terbagi lagi atas 5 jenis, seperti berikut:

    a. GPM (Margin Laba Kotor)

    Rasio ini menunjukkan berapa total laba yang dapat dihasilkan perusahaan dari setiap penjualan. Oleh karena itu, laba kotor dihitung dengan membandingkan penjualan perusahaan dan laba kotor untuk periode yang sama. Pada rasio ini, semakin tinggi angka yang diperoleh, maka semakin baik keadaan keuangan perusahaan.

    b. OPM (Marjin Laba Operasional)

    Operating Profit Margin adalah angka laba bersih yang diterima perusahaan sebelum pajak dan bunga atas laba. Rasio ini menunjukkan seberapa besar perusahaan bisa mengelola bermacam-macam biaya operasional untuk mendapatkan profit yang optimal.

    c. NPM (Margin Laba Bersih)

    Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba bersih selama periode waktu tertentu. Hal ini menjadi salah satu acuan untuk melihat bagaimana kinerja perusahaan dalam mencapai labanya setelah kamu kurangi dengan sejumlah biaya, dividen, pajak, dan lainnya.

    d. ROA (Pengembalian Total Aset)

    Rasio ini membantu memastikan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan berdasarkan aset yang dimilikinya. Dengan kata lain, rasio ini merupakan rasio laba yang diperoleh terhadap total aktiva yang dimiliki.

    e. ROE (Pengembalian Ekuitas)

    Pengembalian ekuitas adalah rasio yang sangat penting yang harus dilihat investor, karena menunjukkan bagaimana perusahaan menghasilkan keuntungan berdasarkan modal yang diterimanya dari investor. Oleh karena itu, semakin tinggi return on equity perusahaan, maka semakin baik kinerja perusahaan tersebut.

    2. Rasio Likuiditas

    Rasio ini menunjukkan seberapa baik perusahaan dapat melunasi berbagai utang dan kewajiban yang harus dipenuhinya dalam waktu dekat dan membantu menilai tingkat likuiditas perusahaan. Semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk mencapai kapasitas, semakin tinggi likuiditas perusahaan. Rasio likuiditas terbagi lagi atas 2 jenis, yakni:

    a. Current Ratio

    Current ratio adalah rasio yang menyatakan likuiditas suatu perusahaan dengan membandingkan aktiva lancar yang dimilikinya dengan kewajiban lancar yang harus dipenuhinya.

    b. Quick Ratio

    Rasio yang mewakili kewajiban lancar perusahaan atau kemampuannya untuk membayar kewajiban lancarnya dengan aset lancar dan menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar berbagai kewajiban jangka pendeknya. 

    3. Rasio Solvabilitas

    Rasio keuangan ini yang digunakan untuk menunjukkan bagaimana kemampuan perusahaan dalam mengelola sumber dananya. Oleh karena itu, rasio ini dapat merepresentasikan seberapa baik suatu perusahaan akan mampu membayar hutang jangka panjang dan jangka pendeknya dalam likuidasi. 

    Rasio solvabilitas umumnya memiliki 2 jenis, yaitu:

    a. Rasio Jumlah Kewajiban Terhadap Jumlah Ekuitas

    Total debt-to-equity ratio menunjukkan kemampuan perusahaan untuk melunasi utangnya dengan ekuitas yang dimilikinya. Idealnya, hutang perusahaan tidak melebihi ekuitasnya. Jadi, semakin sedikit hutangnya dibandingkan dengan ekuitasnya, semakin baik.

    b. Rasio Jumlah Liabilitas Terhadap Jumlah Aset

    Rasio ini juga dikenal sebagai rasio total hutang terhadap aset. Rasio ini membantu menunjukkan seberapa besar total aset perusahaan dapat menutupi kewajibannya. Angka rasio yang lebih rendah, lebih baik dan disukai oleh kreditur dan investor.

    4. Rasio Aktivitas

    Rasio aktivitas adalah salah satu bagian terpenting untuk dilihat, karena menggambarkan kinerja perusahaan dalam berbagai aktivitas, seperti penjualan dan pembelian. Jenis rasio ini juga terbagi atas 2 jenis, seperti berikut:

    a. Rasio Kapitalisasi Pasar

    Rasio ini merupakan rasio yang mengukur harga pasar terhadap nilai perusahaan. Jenis rasio ini terdiri dari beberapa faktor, yaitu PER (Price Earnings Ratio), Dividend Yield, Payout Ratio, dan PBV (Price Book Value Ratio).

    b. Rasio Perputaran 

    Rasio ini menunjukkan seberapa mampu perusahaan dalam mengelola aset yang dimiliki untuk menghasilkan arus kas. Jenis rasio ini terdiri dari perputaran persediaan, perputaran aset tetap, dan perputaran total aset.

    Contoh Analisis Rasio Keuangan PT Astra Agro Lestari TBK

    idx.co.id

    Gambar di atas merupakan contoh rasio keuangan perusahaan PT Astra Agro Lestari Tbk yang diambil dari Laporan Ringkasan Kinerja Perusahaan Tercatat Bursa Efek Indonesia. 

    Pada menu Ratios, kamu akan menemukan sejumlah rasio finansial yang tersedia, mulai dari current ratio (%) hingga yield (%). Jadi, bagaimana kita menjelaskan atau menganalisis rasio finansial ini?

    Teknik analisis yang dapat digunakan dengan mengacu pada data rasio di atas adalah analisis trend berdasarkan data historis. Contoh rasio finansial PT Astra Agro Lestari Tbk menggunakan data empat tahun terakhir, yaitu dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2017. 

    Selama empat tahun terakhir, return on assets perusahaan cenderung menurun, artinya kemampuan PT Astra Agro Lestari Tbk dalam menggunakan asetnya untuk menghasilkan return cenderung kurang optimal. 

    Bahkan, pada tahun 2015, pengembalian aset perusahaan mencapai rekor terendah sebesar 3,2%. Apalagi, pengembalian aset tertinggi perusahaan selama empat tahun terakhir adalah 14,12% pada 2013.

    Sudah Paham Perihal Rasio Keuangan?

    Demikian penjelasan lengkap mengenai apa itu rasio keuangan, fungsinya bagi perusahaan, jenis yang digunakan dalam analisis keuangan, serta contohnya pada laporan perusahaan terbuka atau TBK. Semoga penjelasan di atas bermanfaat!

  • Pengertian Rasio Solvabilitas, Jenis, Rumus, dan Contoh Soal

    Pengertian Rasio Solvabilitas, Jenis, Rumus, dan Contoh Soal

    Setiap perusahaan memiliki standar perhitungan keuangan masing-masing. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah kondisi keuangan perusahaan stabil, mengalami kenaikan, atau bahkan penurunan. Dari sekian banyak perhitungan ada, salah satu jenis yang umum digunakan adalah rasio solvabilitas.

    Selain bermanfaat untuk perusahaan, rasio ini juga dapat digunakan oleh investor atau entitas yang berkeinginan untuk berinvestasi di suatu perusahaan. Sebab, laporan keuangan tersebut bisa menggambarkan dengan jelas bagaimana keadaan perusahaan yang sesungguhnya.

    Pengertian Rasio Solvabilitas

    Rasio solvabilitas atau leverage ratio merupakan rasio yang berfungsi untuk melakukan pengukuran terhadap kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban hutang jangka pendek maupun jangka panjang yang dimilikinya. 

    Leverage ratio berisikan tentang jumlah aset perusahaan yang dimiliki pemegang saham bukan kreditor. Sebenarnya, ada beberapa penafsiran terkait solvabilitas. Apabila jumlah aset perusahaan lebih banyak dimiliki pemilik saham, maka kemungkinan besar perusahaan tersebut akan lebih sedikit mengalami leverage

    Namun, jika aset perusahaan lebih banyak dimiliki oleh pemberi utang atau kreditur, maka tingkat leverage perusahaan biasanya lebih tinggi. Leverage ratio sendiri juga menjadi bentuk penilaian akan kemampuan perusahaan dalam melunasi utang memakai aset penjamin hutang.

    Kemampuan ini nantinya bisa mempengaruhi laporan keuangan perusahaan. Oleh karena itu, biasanya para investor akan menganalisa beberapa tahun laporan keuangan untuk mendapatkan kesimpulan terkait kondisi perusahaan.

    Jenis-Jenis Rasio Solvabilitas

    Dalam ilmu ekonomi dan keuangan, jenis leverage ratio dibagi menjadi 3, yakni debt to equity ratio, times interest earned ratio, dan debt ratio. Ketiganya tentu mempunyai perbedaan tersendiri. Berikut penjelasan lebih lengkapnya:

    1. Debt to Equity Ratio

    Jenis leverage ratio pertama adalah debt to equity ratio (rasio utang terhadap ekuitas). Rasio ini akan menjelaskan tentang jumlah porsi relative antara ekuitas dan hutang yang digunakan untuk membiayai aset perusahaan. Selain itu, rasio ini juga bisa membandingkan jumlah total ekuitas secara keseluruhan.

    Jumlah utang perusahaan tidak boleh lebih besar dari jumlah modal. Tujuannya agar beban yang dimiliki perusahaan tidak terus mengalami penambahan. Tingkat debt to equity ratio yang rendah menunjukkan bahwa keadaan perusahaan cukup baik. Karena jumlah utang dapat disimpulkan lebih sedikit dan mengecil.

    Selain itu, melalui rasio ini perusahaan bisa mengetahui dana pinjaman apa yang mendekati jatuh tempo. Perusahaan juga menggunakan debt to quality ratio untuk mengetahui jumlah kebutuhan modal, jenis modal, dan modal yang menjadi jaminan hutang lancar.

    2. Times Interest Earned Ratio

    Times interest earned ratio menjadi jenis rasio solvabilitas yang kedua. Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar beban bunga hutang di masa depan. Tak hanya itu, namun perusahaan juga dapat membandingkan antara bunga dan biaya bunga sesuai dengan prinsip akuntansi.

    3. Debt Ratio

    Debt ratio sering disebut sebagai rasio utang. Fungsinya ialah membandingkan jumlah keseluruhan total utang (liabilities) dengan jumlah keseluruhan aset yang dimiliki perusahaan. Perlu diketahui bahwa aset dan ekuitas merupakan dua hal yang berbeda.

    Aset perusahaan merupakan sumber daya yang berasal dari kegiatan atau transaksi lain sehingga menjadi milik resmi perusahaan. Sementara ekuitas adalah hak residual atas jumlah keseluruhan aset perusahaan setelah dikurangi dari seluruh liabilitas yang sesuai dengan hakikat dasar akuntansi.

    Debt ratio juga dapat mengetahui kemampuan perusahaan untuk mendapatkan utang dengan jaminan aktiva tetap milik perusahaan untuk menambah modal. Singkatnya, apabila jumlah rasio ini besar, maka jaminan dari kreditur untuk kebutuhan perusahaan jangka panjang juga semakin terjamin.

    Sebab, angka-angka tersebut dapat menjadi bukti bahwa solvabilitas perusahaan memiliki tingkat kualitas baik. Perusahaan besar tidak menjamin kreditur bisa mempercayainya. Maka dari itu, penilaian-penilaian tentang rasio perusahaan akan menjadi pembanding yang tepat.

    Rumus Rasio Solvabilitas Beserta Contoh Soalnya

    Setiap jenis leverage ratio memiliki rumus masing-masing. Agar dapat memperkuat pemahaman Anda terkait materi ini, silakan baca penjelasan lengkap berikut ini:

    1. Debt to Asset Ratio

    Pada dasarnya rumus leverage ratio cukup sederhana, termasuk debt to asset ratio yang bisa Anda hitung menggunakan rumus berikut ini:

    Debt Ratio = Total Utang Perusahaan / Total Aset Perusahaan

    Catatan: Jika nilai D (Debt) dibagi A (Assets) lebih dari 1.0, maka kesimpulannya solvabilitas perusahaan tengah berada dalam masalah.

    Contoh soal: 

    Perusahaan A berencana ingin menambah ruangan yang lokasinya di belakang gedung dengan tujuan untuk menyimpan stok yang lebih banyak. Perusahaan pun melakukan konfirmasi di bagian akuntan tentang kemungkinan mengambil utang baru.

    Pihak akuntan menyetujuinya dan mengajukan ke bank. Kemudian, pihak bank meminta informasi mengenai saldo perusahaan sebagai bahan pertimbangan dan evaluasi tingkat utang secara keseluruhan. 

    Ternyata, pihak bank mendapati fakta bahwa perusahaan A memiliki total keseluruhan aset senilai Rp1.000.000.000,00. Dengan total kewajiban sebesar Rp250.000.000,00. Lalu, berapa kisaran Debt Ratio perusahaan A?

    Jawab: 

    Debt Ratio = Rp250.000.000,00 / Rp1.000.000,00 = 0,25 atau 25%.

    Sebagaimana dari hasil perhitungan, perusahaan A hanya mempunyai Debt Ratio sebesar 0,25. Maknanya, perusahaan mempunyai aset 4 kali lebih banyak dan besar daripada kewajibannya. Hal tersebut memperlihatkan bahwa, perusahaan tetap mampu melunasi utangnya karena rasio bernilai di bawah 50%.

    2. Debt to Equity Ratio

    Dalam debt to equity ratio, semakin rendah nilai DER berarti perusahaan memiliki rasio solvabilitas yang baik. Adapun rumusnya adalah sebagai berikut:

    DER = Total utang perusahaan / Ekuitas Perusahaan

    Contoh soal: 

    Perusahaan sepatu pada tahun 2021 memiliki jumlah total utang (liabilitas) sebanyak Rp1.200.000,00 dengan ekuitas perusahaan senilai Rp4.000.000,00. Berapakah jumlah rasio debt to equity ratio perusahaan Sepatu?

    Jawab: 

    Debt to Equity (DER) = Total utang / ekuitas x 100%

    DER = Rp1.200.000,00 / Rp4.000.000,00 x 100%

    DER = 0,3 X 100%

    DER = 30%

    Melalui hasil perhitungan di atas, maka jumlah debt to equity ratio di perusahaan sepatu pada tahun 2021 adalah 30%. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa kondisi perusahaan termasuk sehat karena ada di bawah 100%.

    3. Times Interest-Earned Ratio (TIE)

    Leverage ratio times interest-earned ratio (TIE) memiliki standar ukuran, yakni semakin besar nilai rasionya, maka perusahaan bisa dipastikan mampu membayar bunga atas utang. Begitupun sebaliknya dan berikut ini adalah rumusnya:

    TIE = Laba sebelum pajak dan bunga dibayar / beban bunga x 100%

    Contoh soal: 

    Perusahaan C mempunyai laba sebelum pajak dan bunga senilai Rp250.000.000,00 dengan jumlah beban bunga Rp50.000.000,00. Lantas, berapa jumlah laba sebelum pajak dan bunga yang dimiliki perusahaan A?

    Times Interset Earned Ratio = Rp200.000.000,00 / Rp50.000.000,00 = 5 kali

    Dari hasil perhitungan di atas, TIE dari perusahaan C adalah 5 kali. Kesimpulannya, jumlah pendapatan dan laba 5 kali lipat dari beban biaya bunga tahunan. Sehingga perusahaan C mempunyai kemampuan untuk membayar biaya bunga tambahan. 

    Perusahaan C tidak begitu mempunyai risiko yang berpotensi memberikan kerugian untuk pihak kreditur. Maka dari itu, sudah seharusnya bank bisa memberikan utang untuk perusahaan C dengan berbagai tujuan sesuai dengan keperluan yang mereka butuhkan. Tentu tanpa takut perusahaan tidak mampu membayar utangnya.

    Sudah Memahami Apa itu Rasio Solvabilitas?

    Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa, rasio solvabilitas termasuk aspek penting untuk perusahaan. Terutama dalam menggambarkan performa suatu perusahaan. Melalui laporan ini, pihak investor dan kreditur bisa melakukan evaluasi terhadap kondisi keuangan perusahaan dan tingkat kesanggupan mereka.

  • Apa itu Rasio Likuiditas? Pengertian, Rumus, serta Contoh Soalnya

    Apa itu Rasio Likuiditas? Pengertian, Rumus, serta Contoh Soalnya

    Dalam dunia investasi, menerapkan penilaian secara objektif merupakan hal yang sangat penting bagi investor. Salah satu instrumen investasi yang diterapkan yaitu likuiditas karena Anda bisa tahu kualitas atau performa perusahaan tersebut. Perusahaan yang sehat yaitu perusahaan dengan rasio likuiditas baik dan begitu pula sebaliknya. Berikut pembahasan selengkapnya.

    Pengertian Rasio Likuiditas

    Rasio likuiditas merupakan komparasi antara aktiva lancar dan kewajiban atau utang. Selain itu, rasio tersebut bisa menjadi informasi atau alat yang bisa membantu perusahaan dalam meningkatkan manajemennya.

    Rasio ini juga menjadi indikator untuk mengetahui performa perusahaan serta kondisi keuangannya. Jadi, Anda dapat mengetahui seperti apa kemampuan perusahaan dalam membayar utang atau kewajiban yang dimilikinya.

    Perusahaan disebut likuid saat mampu melunasi utang-utang yang menjadi tanggungannya. Jika ternyata tidak likuid, itu artinya perusahaan belum mampu membayar apa yang menjadi tanggung jawabnya.

    Konsep pengukuran rasio liquidity tersebut bisa melalui perbandingan antara aktiva lancar serta total pasiva lancar alias utang jangka pendek. Adapun aktiva lancar di dalam perusahaan dapat berupa:

    • Piutang dagang,
    • Piutang pendapatan,
    • Uang kas,
    • Piutang wesel,
    • Surat berharga seperti obligasi maupun kepemilikan saham,
    • Beban yang dibayar sebagai DP,
    • Persediaan barang dagang serta inventaris,
    • dan sebagainya.

    Lalu pasiva lancar perusahaan bisa dalam bentuk:

    • Uang wesel,
    • Uang dagang,
    • Pendapatan yang diperoleh di muka,
    • Utang jangka panjang yang jatuh tempo,
    • Uang dividen,
    • dan sebagainya.

    Tidak kalah penting, rasio liquidity perusahaan akan dikatakan baik ketika berada di atas angka 1.0. Akan tetapi, ketika nominalnya malah di bawah 1.0 seperti 0.5, 0.8, dan lain-lain menunjukkan perusahaan mengalami kendala likuiditas sehingga berpotensi kesulitan dalam memenuhi kewajibannya.

    Manfaat Rasio Likuiditas

    Manfaat menghitung liquidity ratio yaitu:

    1. Bagi Perusahaan

    Berikut manfaatnya bagi perusahaan:

    • Mengukur tingkat efisiensi pengeluaran terkait kegiatan operasional.
    • Membandingkan posisi strategis perusahaan dengan pesaingnya dari segi bisnis.
    • Mendapatkan informasi tentang kondisi finansial perusahaan terkait kemampuannya untuk membayar utang jangka pendek.

    2. Bagi Investor

    Berikut manfaatnya bagi investor:

    • Memungkinkan investor ketika ingin tracking serta menganalisis performa dari aset perusahaan yang dipakai sebagai instrumen investasi.
    • Mengetahui apakah perusahaan tersebut mempunyai aset yang memang layak untuk diinvestasikan.
    • Mengetahui seperti apa kemampuan perusahaan di dalam membayar utang jangka pendek pada periode yang telah ditetapkan.

    Jenis Rasio Likuiditas

    Terdapat beberapa macam rasio liquidity, di antaranya:

    1. Rasio Cepat

    Rasio cepat alias Acid Test Ratio atau Quick Ratio merupakan rasio yang dipakai ketika ingin mengetahui likuiditas perusahaan secara akurat. Caranya dengan membandingkan antara kewajiban utang jangka pendek terhadap aktiva lancar.

    Di dalam perumusan rasio cepat tersebut, Anda perlu memperhatikan beberapa hal. Misalnya utang dagang, pinjaman jangka pendek, utang kartu kredit, utang pajak penghasilan, maupun biaya yang masih perlu untuk dibayar. Selanjutnya memperhatikan aset lancar yang dapat dihitung seperti investasi yang likuid, uang tunai, serta piutang. 

    Di dalam rasio cepat, inventaris tidak dimasukkan sebagai aset. Ini karena dianggap sulit saat ingin mengonversinya ke uang tunai.

    Rumus untuk menghitung rasio cepat yaitu:

    Quick Ratio = {(Aktiva Lancar – Persediaan) : Hutang Lancar} x 100%

    2. Rasio Kas

    Berikutnya ialah rasio kas yang membandingkan antara cashflow terhadap tagihan yang menjadi tanggungan untuk dibayar. Rasio tersebut bermanfaat untuk mengukur seperti apa kemampuan perusahaan di dalam melunasi pasiva lancar terhadap total aktiva lancar paling likuid.

    Perbandingan tersebut dilakukan tanpa perlu mempertimbangkan persediaan. Mengapa tidak perlu dihitung? Karena secara umum hal tersebut memerlukan waktu pencarian cukup lama daripada aset-aset perusahaan yang lain dan lebih likuid.

    Kemudian untuk rumus menghitung jenis rasio likuiditas yang satu ini yaitu:

    Cash Ratio = (Kas + Surat Berharga / Hutang Lancar) x 100%

    3. Rasio Saat Ini atau Rasio Lancar

    Rasio saat ini alias Current Ratio atau rasio lancar merupakan jenis rasio untuk mengetahui kemampuan perusahaan di dalam melunasi pasiva lancarnya. Pasiva lancar tersebut bisa berupa utang maupun kewajiban yang perlu diselesaikan dalam waktu kurang dari setahun dengan melihat total dari aktiva lancar milik perusahaan tersebut.

    Adapun yang termasuk aktiva lancar yaitu piutang, kas, surat berharga, dan lain-lain. Jika perbandingan antara aktiva dengan utang lancar semakin tinggi, itu menunjukkan kemampuan perusahaan di dalam melunasi kewajibannya semakin lancar.

    Lalu untuk rumus yang diterapkan yaitu:

    Rasio Lancar = (Aktiva Lancar : Kewajiban Lancar) x 100%

    4. Margin Laba Bersih

    Berikutnya ada Net Profit Margin atau margin laba bersih, sebuah persentase dari sisa pendapatan pasca dikurangi beberapa komponen seperti:

    • Bunga
    • Biaya produksi
    • Pajak

    Tidak sedikit investor yang memberikan penilaian terhadap perusahaan berdasarkan rasio net profit margin-nya. Alasannya karena margin laba bersih bisa memberikan gambaran terkait kemampuan perusahaan dalam hal manajemen pengeluaran. Termasuk bagaimana perusahaan tersebut mengonversi sisa pengeluaran menjadi keuntungan. 

    Kemudian rumus yang diterapkan dalam menghitung margin laba bersih yaitu:

    Margin Laba Bersih = {(Pendapatan – (Harga Pokok Penjualan + Biaya Operasional + Pajak + Bunga + Biaya Lain) : Pendapatan) x 100}

    5. Rasio Cakupan Bunga

    Jenis rasio likuiditas yang kelima yaitu rasio cakupan bunga. Rasio tersebut membandingkan antara pendapatan perusahaan yang sekarang tersedia dengan beban bunga yang harus dibayarkan di masa depan.

    Biasanya rasio tersebut dimanfaatkan sebagai rasio solvabilitas sehingga mampu melakukan identifikasi ketersediaan dana secara jangka panjang terhadap bunga berkelanjutan. Lalu rumus yang diterapkan yaitu:

    Laba sebelum terkena pajak dan beban bunga : bunga

    6. DSO atau Days Sales Outstanding Ratio

    Rasio DSO atau Days Sales Outstanding merupakan jenis rasio untuk mengetahui total waktu yang diperlukan perusahaan di dalam menerima pembayaran pasca penjualannya selesai.

    Saat perhitungan DSOnya ternyata tinggi, menunjukkan perusahaan memerlukan waktu lebih lama dalam menerima pembayaran. Akan tetapi, saat perhitungan Days Sales Outstanding-nya rendah, artinya perusahaan memerlukan waktu relatif cepat untuk menerima pembayaran.

    Rumus yang diterapkan dalam menghitung rasio DSO yaitu:

    Rata-rata piutang : Pendapatan yang diperoleh per hari

    7. Rasio Perputaran Persediaan

    Inventory turnover ratio alias rasio perputaran persediaan mengindikasikan seberapa cepat atau efektif persediaan yang bisa dikelola perusahaan. Caranya dengan membandingkan HPP atau Harga Pokok Penjualan di dalam persediaan rata-rata pada satu periode.

    Semakin tinggi rasio perputaran persediaan tersebut, menunjukkan semakin cepat perusahaan dalam menjual barang persediaan yang dimilikinya sehingga semakin cepat memperoleh pendapatan. 

    Adapun rumus yang diterapkan dalam mengetahui Inventory Turnover Ratio yaitu:

    Inventory Turnover Ratio = Penjualan / Persediaan rata-rata

    Contoh Soal tentang Rasio Likuiditas

    Berikut beberapa contoh soal dalam menghitung rasio likuiditas berdasarkan jenis-jenis rasio tersebut.

    1. Rasio Lancar

    PT Indo Jaya mempunyai aktiva lancar Rp10.000.000,00 serta memiliki kewajiban alias utang lancar sebesar Rp5.000.000,00. Cara menghitung rasio lancarnya yaitu:

    (Rp10.000.000,00 : Rp5.000.000.00) x 100% = 2.0

    Artinya, PT Indo Jaya mempunyai rasio lancar yaitu 2.0. Dengan kata lain, kondisi keuangannya stabil.

    2. Rasio Cepat

    PT Jaya Laksana mempunyai aktiva lancar sebesar Rp20.000.000,00. Perusahaan tersebut juga mempunyai persediaan Rp12.000.000,00 serta mempunyai kewajiban lancar Rp16.000.000,00. Cara menghitungnya yaitu:

    {(Rp20.000.000,00 – Rp12.000.000,00) / Rp16.000.000,00} x 100% = 0.5

    Berdasarkan kalkulasi di atas, dapat disimpulkan jika quick ratio PT Jaya Laksana yaitu 0.5. Artinya kondisi keuangan dari perusahaan tersebut tidak sehat.

    3. Rasio Kas

    PT Jaya Abadi mempunyai kas sebesar Rp5.000.000,00. Perusahaan tersebut juga mempunyai surat berharga senilai Rp3.000.000,00 serta kewajiban lancar sebesar Rp5.000.000,00. Adapun cara menghitung rasio kasnya yaitu:

    (Rp5.000.000,00 + Rp3.000.000,00 / Rp5.000.000,00) x 100% = 1,6

    Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, menunjukkan kondisi keuangan dari PT Jaya Abadi masih sehat dan stabil.

    Sudah Paham tentang Rasio Likuiditas dan Cara Menghitungnya?

    Sekian penjelasan seputar liquidity ratio lengkap dengan rumus dan cara menghitungnya. Dengan memahami rasio perusahaan tersebut, Anda bisa mengetahui seperti apa performa perusahaan dalam membayar kewajibannya.

    Semakin rasionya tinggi, perusahaan tersebut dinyatakan semakin baik dalam memenuhi kewajiban atau utangnya. Sebaliknya, semakin rendah rasionya, kemungkinan perusahaan kesulitan membayar kewajibannya.