Category: Kesehatan

  • Radang Kelenjar Susu: Penyebab, Gejala & Cara Mengobatinya

    Radang Kelenjar Susu: Penyebab, Gejala & Cara Mengobatinya

    Masa menyusui menjadi momen yang berharga sekaligus menantang bagi setiap ibu. Yang membuatnya menjadi tantangan adalah ketika radang kelenjar susu atau mastitis menyerang. Ini adalah gangguan medis yang ditandai dengan pembengkakan pada bagian payudara, sehingga menimbulkan rasa nyeri dan tidak nyaman. 

    Lantas, apa penyebabnya dan bagaimana cara mengobatinya? Simak penjelasan lengkapnya melalui artikel berikut!

    Apa Itu Radang Kelenjar Susu?

    Radang kelenjar susu, juga dikenal sebagai mastitis, adalah kondisi medis yang umum terjadi pada wanita, terutama pada ibu menyusui. Mastitis terjadi ketika kelenjar susu di payudara mengalami peradangan akibat infeksi bakteri atau sumbatan pada saluran susu. 

    Kondisi ini tentu menyebabkan proses pemberian ASI pada sang buah hati jadi terganggu. Melansir dari Mayo Clinic, ibu yang menderita mastitis bisa mengalami demam, lesu, hingga menggigil, karena disertai dengan infeksi.

    Selain itu, menurut data dari Cleveland Clinic, gangguan medis ini dapat mempengaruhi setidaknya 30% ibu menyusui di seluruh dunia dan paling umum terjadi pada 3 bulan pertama masa menyusui.

    Contohnya bisa kamu lihat pada kasusnya Citra Kirana dan Shireen Sungkar yang pernah sampai dilarikan ke rumah sakit, karena mengalami radang kelenjar susu saat memberikan ASI eksklusif kepada buah hatinya. 

    Seperti yang kamu ketahui, jika ibu menyusui, kerap mengalami masalah dengan posisi dan teknik menyusui. Kondisi inilah yang sering membuat payudara atau kulit di sekitar puting mengalami luka yang pada akhirnya menyebabkan bengkak, kemerahan, dan nyeri. 

    Selain itu, ibu yang jarang mengosongkan ASI sepenuhnya saat menyusui, juga berisiko lebih tinggi terkena mastitis. Itu karena terjadi penumpukan ASI pada payudara. 

    Tak hanya ibu yang baru saja melahirkan dan mulai menyusui, mastitis juga bisa terjadi pada wanita non-laktasi atau yang tidak menyusui, meskipun jarang terjadi. 

    Penyebab Radang Kelenjar Susu

    Sumber: Freepik

    Mastitis laktasi atau radang kelenjar susu yang dialami ibu menyusui biasanya disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya:

    • Posisi menyusui yang salah.
    • Teknik pelekatan (posisi mulut) bayi yang kurang tepat saat memberikan ASI.
    • Produksi ASI terlalu banyak.
    • Frekuensi menyusui yang jarang atau waktu menyusui pendek, sehingga menyebabkan pengosongan payudara jadi tidak sempurna.
    • Terlalu dini menyapih bayi.
    • Penggunaan pompa ASI yang kurang tepat atau kurang steril.
    • Ibu mengalami kelelahan atau stres berlebihan, sehingga menyebabkan kondisi kesehatannya melemah.
    • Kekurangan nutrisi.
    • Terlalu sering mengosongkan payudara (memompa atau menyusui), hal tersebut justru hanya akan menyebabkan produksi ASI jadi lebih banyak dan semakin memperparah peradangan.
    • Terlalu memaksakan anggota tubuh bagian atas untuk melakukan pekerjaan berat.
    • Memiliki riwayat mastitis saat menyusui anak sebelumnya.
    • Penggunaan bra yang terlalu ketat, sehingga menyebabkan sumbatan pada kelenjar susu.
    • Terlalu banyak menyusui hanya dengan satu payudara.
    • Penggunaan krim putting yang berlebihan, yang justru memicu pertumbuhan bakteri pada mulut bayi.
    • Kebiasaan merokok yang dapat membuat kelenjar susu lebih rentan terkena infeksi.

    Sebagaimana yang tadi sudah disinggung, bahwasannya radang kelenjar susu juga bisa dialami oleh ibu yang tidak menyusui. Kondisi medis ini dinamakan mastitis non-laktasi yang bisa terjadi karena:

    • Imunitas tubuh ibu yang rendah, misalnya sedang menjalani prosedur pengobatan atau terapi tertentu.
    • Luka atau lecet pada puting atau sekitar payudara.
    • Terlalu sering mencabut atau mencukur bulu di area puting.
    • Kecapekan atau stres yang berlebihan.
    • Pola makan yang tidak sehat dan kurang dijaga.
    • Memasang implan pada payudara.

    Gejala Radang Kelenjar Susu yang Sering Terjadi

    Sumber: Freepik

    Lantas, bagaimana kita bisa tahu bahwa seorang ibu menyusui terkena mastitis? Berikut ini beberapa gejala yang sering muncul:

    • Payudara terasa keras dan panas ketika disentuh.
    • Sensasi terbakar secara terus menerus, terutama saat bayi menyusu.
    • Payudara terasa nyeri (mastalgia).
    • Payudara tampak memerah.
    • Ibu mengalami gejala yang mirip flu, di antaranya merasa menggigil, badan terasa pegal semua, sakit kepala, dan demam lebih dari 38,5 derajat Celcius.
    • Bengkak pada kelenjar getah bening di sekitar ketiak atau leher.
    • Kadar natrium dalam ASI meningkat, sehingga membuat buah hati menolak untuk menyusu, karena ASI terasa agak asin.
    • Muncul garis-garis kemerahan yang mengarah ke ketiak.

    Jika kamu mengalami gejala-gejala ini, segera hubungi dokter untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.

    Cara Ampuh Mengobati Radang Kelenjar Susu

    Sumber: Freepik

    Radang kelenjar susu tentu membuat masa-masa pemberian ASI eksklusif jadi terganggu, bahkan terhambat. Jika dibiarkan tanpa pengobatan, mastitis dapat menyebabkan komplikasi yang lebih serius, termasuk abses di dalam kelenjar susu yang memerlukan perawatan medis lebih lanjut. Ini 7 cara efektif mengobatinya:

    1. Konsumsi Antibiotik 

    Jika kamu didiagnosis mengalami mastitis, jangan khawatir, karena mastitis bisa diobati dengan langkah-langkah yang sederhana, salah satunya adalah mengonsumsi antibiotik. Dokter biasanya akan meresepkan antibiotik untuk mengatasi infeksi bakteri yang menyebabkan radang serta mengurangi rasa nyeri. 

    Jenis antibiotik yang biasanya disarankan untuk mengobati radang kelenjar susu adalah flukloksasilin atau dikloksasilin. Dosisnya adalah 500 gram dan diminum setiap 6 jam. Akan tetapi, kembali lagi, dosisnya bisa berbeda, tergantung pada jenis antibiotik yang digunakan.

    Pemberian antibiotik ini biasanya berdurasi 10 – 14 hari. Jadi, pastikan untuk mengonsumsi antibiotik sesuai petunjuk dokter dan selesaikan seluruh resepnya, bahkan jika gejalanya sudah mereda. Hindari menghentikan penggunaan antibiotik sebelum waktunya, karena bisa menyebabkan infeksi kembali muncul.

    Sebagaimana hasil penelitian yang menunjukkan bahwa konsumsi antibiotik yang diiringi dengan metode pengosongan payudara yang teratur, ternyata dapat mempercepat penyembuhan radang kelenjar susu. 

    2. Istirahat yang Cukup

    Selain itu, pastikan untuk banyak beristirahat dan berikan waktu istirahat yang cukup untuk tubuh kamu. Jangan ragu untuk meminta bantuan dari anggota keluarga atau teman dalam merawat buah hati, agar kamu bisa lebih fokus pada pemulihan.

    3. Kompres dengan Air Hangat

    Cara lainnya yang juga efektif untuk mengobati radang kelenjar susu yang terlanjur membengkak adalah mengompres payudara dengan air hangat. Kompres air hangat selama sekitar 15 menit, dapat membantu meredakan gejala dan meningkatkan aliran ASI, sehingga membantu dalam proses penyembuhan.

    4. Kenakan Bra dan Pakaian yang Nyaman

    Pastikan juga untuk mengenakan pakaian yang nyaman dan longgar, terutama penggunaan bra. Hindari memakai pakaian yang terlalu ketat atau terlalu mengikat payudara, karena bisa menyebabkan tekanan berlebih pada kelenjar susu.

    5. Pijat Payudara

    Percepat penyembuhan radang kelenjar susu dengan melakukan teknik pemijatan payudara. Pijat payudara dengan gerakan lembut dan memutar. Mulailah dari pangkal payudara dan pijat ke arah puting susu.

    Untuk memudahkan pemijatan, gunakan minyak atsiri yang memiliki sifat anti inflamasi dan antibakteri. Jika tidak punya minyak atsiri, kamu juga bisa gunakan minyak zaitun yang memiliki khasiat untuk melembabkan kulit. 

    Akan tetapi, setelah selesai melakukan pemijatan, pastikan untuk membilas area payudara, supaya tetap aman jika disusu oleh si buah hati.

    6. Perbanyak Asupan Cairan

    Air putih adalah sumber hidrasi yang sangat penting bagi tubuh, termasuk dalam proses menyusui. Memastikan tubuh terhidrasi dengan baik, dapat membantu mengatasi masalah pada kelenjar susu dan mempercepat proses penyembuhan radang kelenjar susu.

    Bagi kamu yang belum  tahu, dehidrasi dapat mempengaruhi produksi ASI dan menyebabkan saluran susu tersumbat, yang merupakan salah satu penyebab mastitis. 

    Jadi, dengan memperbanyak minum air putih, kamu dapat menjaga tubuh tetap terhidrasi, menjaga aliran ASI menjadi lancar, dan mencegah saluran susu tersumbat.

    7. Konsumsi Vitamin C

    Sebagaimana yang kamu tahu, bahwa salah satu penyebab radang kelenjar susu adalah daya tahan tubuh ibu yang lemah. Maka dari itu, memperbanyak asupan vitamin C bagi ibu menyusui sangat penting untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh ibu dan berperan dalam proses penyembuhan mastitis.

    Vitamin C merupakan antioksidan yang kuat, yang membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Dengan imunitas tubuh yang kuat, tubuh lebih mampu melawan infeksi yang menyebabkan mastitis. 

    Selain itu, vitamin C juga membantu tubuh untuk meningkatkan produksi kolagen yang dapat membantu menjaga kesehatan jaringan payudara. 

    Tak heran, jika banyak penelitian yang berhasil membuktikan bahwa mengkonsumsi sayur dan buah kaya vitamin C (seperti tomat, jeruk, dan kiwi) dapat membantu mengobati infeksi mastitis.

    Kini, Kamu Sudah Tahu Mengenai Radang Kelenjar Susu!

    Jadi, radang kelenjar susu merupakan kondisi dimana kelenjar susu kamu meradang akibat aliran ASI yang tersumbat karena cara menyusui yang salah atau adanya infeksi bakteri di sekitar kelenjar susu. Kamu bisa mengatasinya dengan mengonsumsi antibiotik hingga memijat payudara.

    Namun, jika kamu sudah menerapkan cara-cara di atas, tapi tak kunjung membaik juga, alangkah baiknya segera konsultasikan dengan dokter, ya.

  • Fungsi Skrotum bagi Laki-laki dan Gangguan yang Mungkin Terjadi

    Fungsi Skrotum bagi Laki-laki dan Gangguan yang Mungkin Terjadi

    Walaupun fungsi skrotum bagi laki-laki cukup krusial, tapi masih banyak yang acuh akan perawatannya. Padahal, semua laki-laki tahu, terbentur sedikit saja sakitnya bukan main. Lalu, bagaimana jika terjadi gangguan? Agar lebih memahami dan menghargai anggota tubuh ini, mari belajar lewat artikel berikut!

    Apa itu Skrotum?

    Sumber: detik

    Pada dasarnya, skrotum atau buah zakar merupakan kantung kulit yang terletak di bawah penis. Bagi laki-laki, kantong ini berfungsi sebagai pelindung bagi dua testis. Serta merupakan satu dari rangkaian organ reproduksi laki-laki yang harus Anda lindungi. 

    Karena skrotum memiliki fungsi untuk berkontraksi dan longgar, sehingga dapat mengatur suhu testis. Namun, alasan utamanya adalah karena jika terbentur sedikit saja, rasanya pasti sakit bukan ketulungan.

    Kembali ke masalah suhu yang tepat pada testis, sebenarnya hal tersebut sangat penting bagi kaum laki-laki. Karena suhu testis akan menjaga kualitas dan produksi sperma. Ketika suhu di terlalu tinggi, produksi sperma dapat terganggu, bahkan bisa berdampak pada kesuburan atau kualitasnya.

    Apa Fungsi Skrotum?

    Sumber: alodokter

    Pada dasarnya, fungsi skrotum sebagai organ reproduksi laki-laki ini cukup krusial, yakni sebagai berikut:

    1. Regulasi Suhu Testis

    Fungsi utama dari skrotum adalah mengatur suhu di dalam testis. Di mana suhu ini akan mempengaruhi kualitas dari sperma. Ketika suhu tubuh naik, skrotum akan mengendur untuk menjauhkan testis dari tubuh dan mendinginkannya. 

    Sebaliknya, saat suhu tubuh turun, skrotum akan berkontraksi untuk memelihara suhu hangat bagi testis. Kemampuan ini membantu menjaga kondisi lingkungan yang optimal bagi produksi sperma dalam sistem reproduksi laki-laki.

    2. Pelindung Testis

    Sebagai kantung terluar, fungsi skrotum yang lain adalah sebagai pelindung bagi testis. Organ tersebut sangat sensitif dan vital dalam proses reproduksi pria. Kondisi kantung yang sehat akan membantu meredam sedikit benturan, sehingga tak berakibat fatal pada testis. 

    3. Regulasi Ereksi

    Sudah bukan rahasia lagi jika laki-laki akan mengalami ereksi saat libidonya meningkat. Dalam hal tersebut skrotum memiliki fungsi aktif, karena organ ini akan berkontraksi untuk menarik testis lebih dekat ke tubuh. Proses ini membantu penis menjadi tegak dan siap untuk melakukan proses reproduksi.

    4. Produksi Hormon

    Skrotum juga memiliki fungsi cukup besar dalam produksi hormon, terutama hormon testosteron dan berbagai hormon reproduksi lainnya. Menjaga skrotum tetap sehat akan menunjang perkembangan karakteristik fisik, seperti pertumbuhan otot, perubahan suara, pertumbuhan rambut, dan lain sebagainya.

    5. Fungsi Kesuburan

    Selain kualitas dan produksi sperma, fungsi skrotum yang lain adalah berperan dalam menjaga tingkat kesuburan. Kesehatan skrotum pastinya juga berdampak pada kualitas sperma, bahkan mampu meminimalisasi masalah reproduksi.

    Bagaimana Anatomi Skrotum?

    Sumber: sehatq

    Agar dapat lebih memahami fungsi penting skrotum, Anda bisa memahami anatomi dari organ reproduksi satu ini. Berikut penjabarannya:

    1. Kantong Kulit

    Skrotum terdiri dari kantung kulit yang berfungsi sebagai pelindung bagi testis dan struktur lain di dalamnya. Inilah yang membuat kulit skrotum biasanya lebih tebal daripada kulit di area lain tubuh, untuk memberikan perlindungan ekstra.

    2. Testis

    Bagian berikutnya adalah testis yang merupakan organ reproduksi pada laki-laki. Testis berbentuk bulat dan terbungkus oleh selaput tipis di dalam skrotum. 

    3. Epididimis

    Bentuk bagian ini menyerupai tabung yang melingkar rapat. Epididimis menjadi saluran yang membantu fungsi skrotum dalam menyimpan dan membawa sperma menuju saluran reproduksi.

    4. Kordus Spermatikus atau Tali Sperma

    Mengandung saluran-saluran dan pembuluh darah. Tali sperma akan menyambungkan testis dan epididimis ke tubuh pria. 

    5. Saluran Reproduksi

    Dalam kantong skrotum, terdapat saluran-saluran reproduksi. Fungsinya untuk membawa sperma dari epididimis ke dalam tubuh pria saat ejakulasi terjadi.

    6. Dartos dan Cremaster Muscle

    Scrotus juga memiliki rangkaian otot, yakni dartos yang terletak di bawah kulit skrotum. Fungsi bagian skrotum adalah mengatur kontraksi dan relaksasi kulit skrotum. Ada juga cremaster untuk mengangkat dan menurunkan testis untuk mengatur suhu tubuh. Bagian ini terletak di sekitar korda spermatikus.

    7. Plexus Vena Spermatica Interna

    Merupakan jaringan pembuluh darah yang menghubungkan vena-vena dalam skrotum. Fungsi utamanya adalah untuk membantu mendinginkan darah yang keluar dari testis.

    Gangguan yang Mungkin Terjadi

    Jika fungsi skrotum tak berjalan dengan semestinya, sudah dipastikan ada gangguan yang terjadi. Berikut beberapa di antaranya:

    1. Varikokel

    Gejala gangguan pertama yang bisa terjadi pada skrotum adalah kondisi pembuluh darah atau vena pada testis membesar. Ini membuatnya mengalami pembengkakan. Hal tersebut dapat menyebabkan rasa nyeri dan ketidaknyamanan pada skrotum, serta dapat mempengaruhi kualitas sperma.

    2. Torsio Testis

    Kondisi darurat medis berikutnya terjadi ketika testis berputar pada kordus spermatikusnya sendiri, sehingga akan menghambat aliran darah ke testis. Mudahnya, buah zakar terpelintir karena satu dan lain hal, sehingga menyebabkan nyeri yang teramat mengganggu.

    3. Epididimitis

    Karena peradangan pada epididimis, fungsi skrotum tidak bisa berjalan dengan semestinya. Gangguan ini terjadi ketika saluran yang melingkari bagian belakang testis mengalami Infeksi atau peradangan yang bisa membuat gangguan buang air kecil.

    4. Hernia Inguinalis

    Bukan rahasia jika hernia adalah salah satu penyakit pada sistem reproduksi manusia. Sedangkan hernia inguinalis terjadi ketika jaringan dalam perut menonjol melalui area lemah otot perut. Akan muncul tonjolan pada skrotum atau selangkangan yang menyebabkan rasa tidak nyaman.

    5. Orkitis

    Selain epididimitis, ada penyakit peradangan lain pada skrotum yang sering disebutkan orkitis. Ini bisa menyerang satu atau kedua testis. Kondisi ini sering disebabkan oleh infeksi virus maupun bakteri.

    6. Kanker

    Penyakit lain yang merusak fungsi skrotum bahkan mengancam nyawa adalah kanker. Kondisi ini terjadi karena pertumbuhan tumor ganas pada area skrotum yang bisa jadi muncul tanpa ada penanda sebelumnya!.

    7. Hydrocele

    Kondisi ini terjadi ketika cairan menumpuk dalam kantung skrotum dan menyebabkan pembengkakan. Meskipun biasanya tidak berbahaya, hydrocele dapat menyebabkan rasa tidak nyaman dan membuat penampilan skrotum lebih membengkak.

    Cara Merawat Skrotum

    Merawat skrotum dengan baik adalah hal penting untuk menjaga kesehatan fungsi reproduksi. Berikut adalah beberapa perawatan yang bisa Anda lakukan: 

    1. Jaga Kebersihan dan Treatment Rutinnya

    Pastikan untuk membersihkan skrotum secara teratur dengan air hangat dan sabun ringan, baik setiap mandi atau beberapa hari sekali. Bersihkan bagian-bagian lipatan dengan lembut dan selalu keringkan dengan handuk bersih setelah mandi. Jangan biarkan daerah skrotum lembab saat Anda menggunakan celana dalam.

    2. Pakai Celana Sesuai Ukuran

    Hindari memakai celana atau celana dalam yang terlalu ketat, terlalu longgar, atau dari bahan yang tidak menyerap keringat. Pilih pakaian yang longgar dan breathable yang menjaga sirkulasi udara dan memastikan kenyamanan.

    3. Hindari Benturan dengan Risiko Cedera 

    Untuk menjaga fungsi skrotum dengan baik, Anda harus memberikan perlindungan. Baik dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas yang berisiko cedera seperti olahraga, berkendara, maupun kecelakaan. Kenakan alat pelindung jika memang dalam keadaan kronis.

    4. Jaga Berat Badan Ideal 

    Konsumsi makanan sehat yang kaya akan nutrisi dan cukup air setiap hari. Pola makan yang seimbang dan hidrasi yang baik dapat mendukung kesehatan sistem reproduksi. Pastikan berolahraga dengan bijak dan jangan terlalu dipaksakan.

    5. Rutin Periksa Kesehatan

    Lakukan pemeriksaan rutin pada skrotum dan testis untuk mendeteksi dini adanya masalah atau perubahan yang mencurigakan. Jika ada benjolan, nyeri, atau perubahan lain yang terasa aneh, segera konsultasikan dengan dokter spesialis.

    6. Hindari Rokok dan Alkohol Berlebihan

    Walaupun memiliki kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol, pastikan tidak berlebihan karena berdampak negatif pada fungsi alat reproduksi, termasuk skrotum. Anda bisa mengonsumsi makanan sehat terutama yang cocok untuk menjaga kesehatan sistem reproduksi dan kulit.

    7. Cukur atau Trim Rambut Pubis Secara Teratur

    Rambut pubis yang terlalu panjang dapat menyebabkan kelembaban berlebih, bahkan meningkatkan risiko infeksi. Melakukan pencukuran atau trim rambut secara teratur akan menjaga kebersihan dan kesehatan skrotum.

    Sudah Lebih Mengenal Fungsi Skrotum dan Gangguannya?

    Nah, itulah info penting mengenai fungsi skrotum, gangguan, hingga bagaimana cara merawatnya. Karena memiliki fungsi dan peranan yang cukup vital, ada baiknya Anda mulai memperhatikan kesehatan dan kebersihan dari organ tubuh tersebut. 

    Jika mengalami cedera maupun benturan, segera lakukan pertolongan pertama. Anda bisa memberikan kompres dengan kantong es, maupun istirahat sejenak dan memberikan cover up pada area sekitar. Lakukan pemeriksaan lebih lanjut jika mengalami masalah setelah cedera tersebut. Semoga bermanfaat!

  • Surrogate Mother: Pegertian, Proses, & Hukumnya dalam Islam

    Surrogate Mother: Pegertian, Proses, & Hukumnya dalam Islam

    Surrogate mother atau ibu pengganti memang tidak lazim di Indonesia, tetapi tidak ada salahnya menambah pengetahuan tentang hal ini. Di balik kontroversinya, penemuan tentang metode kehamilan melalui ibu pengganti menarik untuk diketahui. Berikut ini adalah ulasan lengkapnya.

    Apa Itu Surrogate Mother?

    Meski hamil dan melahirkan adalah kodrat wanita, tak semua wanita memiliki tingkat kesuburan yang sama. Begitu juga dengan laki-laki. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan terus berkembang untuk mencari solusi bagi orang-orang kurang beruntung yang ingin memiliki anak.

    Penyebab sulit hamil tidak hanya karena salah satu atau kedua pasangan tidak subur. Kondisi kesehatan juga bisa memicu lemahnya kandungan seorang wanita. Ada banyak faktor lain yang memaksa seorang wanita untuk memprioritaskan kesehatannya sehingga kehamilan sulit dilakukan.

    Salah satu metode yang akhirnya tercipta adalah surrogate mother atau ibu pengganti. Seperti namanya, istilah ini merupakan  merujuk pada metode yang memungkinkan seseorang memiliki anak tanpa hamil dan melahirkan dengan cara alami. 

    Metode ini dilakukan dengan meminjam rahim wanita lain untuk membantu pasangan yang ingin memiliki anak. Selain itu, metode ibu pengganti dilakukan dengan cara inseminasi buatan menggunakan sperma pasangan pria.

    Sel telur pasangan wanita dan sel sperma pasangan pria akan mengalami fertilisasi in vitro. Selanjutnya, embrio yang dihasilkan dari proses tersebut diletakkan di dalam rahim ibu pengganti.

    Tren surrogate mother pertama kali muncul di Eropa dan Amerika. Prosedur ini mereka lakukan melalui perjanjian hukum yang jelas. Hukum akan membatasi supaya pasangan suami istri tidak melakukan prosedur tersebut untuk tujuan tertentu yang merugikan orang lain.

    Ada 2 jenis metode ibu pengganti yang lazim digunakan, yaitu gestational surrogacy dan genetic surrogacy. Gestational surrogacy memungkinkan ibu pengganti hanya menyewakan rahimnya saja. Sedangkan genetic surrogacy memungkinkan ibu pengganti menyewakan rahim beserta sel telurnya.

    Mengapa Calon Orang Tua Butuh Surrogate Mother?

    Sumber: Pixabay

    Ada beberapa alasan pasangan suami istri terpaksa harus menggunakan metode surrogate mother untuk mendapatkan anak. Pertama, calon ibu memiliki kelainan rahim atau telah menjalani proses pengangkatan rahim karena kondisi kesehatannya.

    Selain itu, kondisi medis tertentu seperti jantung lemah juga tidak memungkinkan seorang wanita untuk hamil karena akan membahayakan nyawanya. Tak hanya wanita yang belum hamil, ada juga kondisi yang dialami oleh seseorang yang sudah pernah hamil.

    Ada kemungkinan komplikasi dari kehamilan sebelumnya sehingga seseorang tidak mungkin untuk hamil lagi. Keguguran yang intensitasnya terlalu banyak juga menyebabkan seorang wanita sulit hamil. Kondisi ini mengindikasikan bahwa rahimnya kurang kuat untuk mengandung.

    Prosedur Surrogate Mother

    Sumber: Pixabay

    Seperti penjelasan sebelumnya bahwa ada 2 jenis metode surrogate mother yang lazim digunakan, yaitu gestational surrogacy dan genetic surrogacy. Gestational surrogacy memungkinkan ibu pengganti hanya menyewakan rahimnya saja.

    Artinya, seorang wanita memiliki sel telur yang bagus tetapi kondisinya tidak memungkinkan untuk hamil. Biasanya ini berkaitan dengan kondisi kesehatan calon ibu yang lemah.

    Pada metode gestational surrogacy, embrio terbentuk dari proses in vitro sperma dan sel telur pasangan suami istri yang akan menyewa rahim wanita lain. Selanjutnya, embrio akan dipindahkan ke rahim ibu pengganti hingga ia lahir. 

    Sedangkan genetic surrogacy memungkinkan ibu pengganti menyewakan rahim beserta sel telurnya. Ini dilakukan apabila sel telur kurang layak untuk dibuahi oleh sperma. Pada metode genetic surrogacy, ibu pengganti akan menjalani proses inseminasi artifisial menggunakan sperma pria dari pasangan yang tidak subur.

    Metode genetic surrogacy sangat jarang dilakukan karena faktor hukum dan etika. Banyak negara yang melarang dilakukannya genetic surrogacy. Surrogate mother akan hamil melalui proses IVF atau in vitro fertilisasi (bayi tabung). Metode ini sudah ada sejak tahun 1970 dan aman untuk ibu pengganti.

    Proses IVF dimulai dengan pengujian sel telur secara medis untuk mengetahui kualitasnya. Setelah teruji kualitasnya, sel telur diberi obat perangsang produksi. Pada saat yang tepat, sel telur akan dipanen dan disimpan di dalam inkubator untuk menjaga kualitasnya sembari menunggu sperma.

    Apabila sperma sudah ada, tenaga medis akan meletakkannya pada inkubator yang sama hingga terjadi pembuahan. Dalam proses ini, tak hanya ada 1 sel telur yang dibuahi untuk meningkatkan kemungkinan keberhasilan.

    Setelah berhasil melalui proses pembuahan, hasil tersebut disuntikkan ke rahim ibu pengganti. Ibu pengganti selanjutnya diperkenankan untuk istirahat supaya penanaman berhasil. Dalam proses ini, tak semua sel telur yang ditanam akan berhasil tumbuh. Maka, pada proses sebelumnya telah disiapkan beberapa sel telur sebagai cadangan.

    Syarat Menjadi Surrogate Mother

    Tidak sembarang orang bisa menyewakan rahimnya untuk menjalankan metode ibu pengganti. Berikut adalah syaratnya:

    • Ibu pengganti setidaknya harus berusia minimal 21 tahun saat menyewakan rahim.
    • Ibu pengganti setidaknya harus menjalani proses kehamilan dan melahirkan normal sebanyak 1x tanpa komplikasi.
    • Surrogate mother maksimal hanya boleh menyewakan rahim setelah melahirkan normal sebanyak 5x dan sesar sebanyak 2x.
    • Ibu pengganti tidak boleh memiliki riwayat konsumsi alkohol dan obat terlarang.
    • Ibu pengganti harus bebas infeksi menular seksual dan menjalani tes kesehatan fisik dan mental yang lengkap.

    Hukum Surrogate Mother di Indonesia

    Sumber: Pixabay

    Di Indonesia, belum banyak orang tahu tentang tren surrogate mother. Salah satu penyebabnya adalah larangan pemerintah untuk melakukan hal tersebut. UU Kesehatan Pasal 127 ayat (1) Tahun 2009 menyebutkan bahwa upaya kehamilan selain cara alami hanya bisa dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah.

    Di dalam UU tersebut juga menjelaskan hasil pembuahan sel telur dan sperma dari pasangan suami istri yang bersangkutan harus ditanam di rahim istri yang memiliki sel telur tersebut. Prosedurnya juga harus melalui tenaga medis yang memiliki kompetensi dan fasilitas yang sesuai standar.

    Hukum Indonesia memperbolehkan pembuahan sel telur dan sperma dari suami istri yang sah. Dengan catatan, hasil pembuahan tersebut ditanam di rahim istri pemilik sel telur. Metode ini biasa kita kenal dengan istilah bayi tabung.

    Karena telah ada larangan yang jelas, maka siapapun yang melaksanakan metode ini tidak memiliki perlindungan apapun apabila terjadi hal-hal di luar kendali. 

    Hukum Surrogate Mother dalam Islam

    Seorang wanita yang mengandung dan melahirkan bayi berarti adalah ibu kandung dari bayi tersebut. Apabila akhirnya bayi yang ia lahirkan dirawat oleh keluarga lain, maka hukum dalam Islam mengatakan bahwa itu adalah anak angkat keluarga yang merawatnya.

    Anak wajib menghormati dan mengasihi ibu yang melahirkannya, juga kepada ibu yang merawatnya. Pada dasarnya, anak harus mengasihi dan menghormati semua ibunya.

    Saat ini, sedang banyak muncul pertanyaan mengenai surrogate mother. Maksudnya adalah pasangan suami istri yang menitipkan bayinya di rahim wanita lain yang bukan kerabat. Ketika bayi tersebut lahir, ia diasuh oleh pasangan suami istri yang menyewa rahim wanita lain untuk mengandung bayi mereka.

    Dalam Islam, prosedur seperti ini tidak boleh Anda lakukan. Seperti penjelasan sebelumnya, wanita yang mengandung bayi meskipun bukan sel telurnya, status bayi yang lahir ini tetaplah anak kandung. Ini karena wanita tersebut yang mengandung bayinya. Menitipkan sperma di dalam rahim ibu pengganti pun dilarang di dalam Islam. 

    Pasangan suami istri lain sebenarnya boleh mengasuh bayi tersebut sebagai anaknya. Dengan catatan, anak tersebut harus tahu siapa ibu kandungnya dan siapa ibu yang merawatnya.

    Konsep surrogate mother boleh dilakukan dengan pemahaman seperti itu. Apabila anak tidak boleh tahu siapa ibu yang telah melahirkannya, maka metode ibu pengganti akan menjadi masalah karena anak tidak tahu siapa ibu kandungnya. Hubungan darah adalah hal penting di dalam Islam. Perkawinan dan pengakuan anak juga harus jelas.

    Sudah Tahu Hukum Surrogate Mother di Indonesia?

    Demikian pembahasan mengenai ibu pengganti, mulai dari pengertian, proses, syarat hingga pandangan menurut hukum Indonesia dan islam. Surrogate mother memang bisa menjadi solusi bagi orang-orang yang kurang beruntung. Namun, banyak kontroversi terkait prosedurnya yang berhubungan dengan hukum dan etika.

    Meski manusia memiliki hak, namun hak tersebut juga bisa bertentangan dengan hukum alam. Sebab, bayi tabung bisa dikatakan sebagai penciptaan manusia yang tidak sesuai dengan aturan Tuhan.

  • Memahami Perbedaan X Ray dan CT Scan, Ciri, dan Kegunaannya

    Memahami Perbedaan X Ray dan CT Scan, Ciri, dan Kegunaannya

    Dalam dunia medis, X-ray atau sinar-X dan CT scan (Computed Tomography) adalah dua istilah yang mungkin tidak asing lagi. Keduanya sama-sama berguna untuk mengetahui kondisi organ dalam tubuh. Walau begitu, terdapat perbedaan yang signifikan antara X-Ray dan CT Scan

    Keduanya memiliki perbedaan mendasar dalam cara kerja, kegunaan mendiagnosa, serta kelebihan dan kelemahan yang perlu tenaga medis dan pasien pertimbangkan. Dalam artikel ini, kita akan menelusuri perbedaan X Ray dan CT scan untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang kedua metode tersebut.

    Perbedaan X-Ray dan CT Scan

    Apabila Anda lihat sekilas, X-ray dan CT scan adalah dua hal yang hampir sama, namun keduanya berbeda. Adapun perbedaan antara kedua istilah radiologi ini adalah sebagai berikut:

    1. Pengertian

    Sumber: Pexels

    Apabila mengacu pada pengertiannya, X-ray dan CT scan memiliki perbedaan yang cukup jelas. X-ray merupakan prosedur yang tenaga medis gunakan untuk melihat bagian dalam tubuh pasien tanpa harus membedahnya. 

    Dalam prosesnya, X-ray menggunakan sinar-X untuk membuat gambar bagian dalam tubuh manusia yang terlihat pada nuansa putih dan hitam yang berbeda. Sementara itu, CT scan adalah metode pemeriksaan medis yang memadukan teknologi sinar-X dengan sistem komputer khusus. 

    Sehingga, tenaga medis maupun pasien bisa melihat suatu gambar tiga dimensi dari organ tubuh, jaringan lunak, hingga bahkan isi dalam organ. Itulah mengapa banyak yang menganggap bahwa CT scan adalah teknologi yang lebih canggih dan mendalam dalam hal pencitraan medis.

    2. Perbedaan Kegunaan X-Ray dan CT Scan

    Sumber: Pexels

    Kemudian, dari segi kegunaannya, X-ray dan CT scan memang hampir mirip, namun keduanya tetap saja memiliki perbedaan. Apa sajakah itu?

    Umumnya, X-ray berguna untuk memeriksa kesehatan tulang dan sendi serta untuk mendeteksi berbagai jenis kesehatan lainnya terkait jaringan lunak. Lebih khusus, prosedur ini akan tenaga medis gunakan untuk memeriksa berbagai jenis penyakit seperti infeksi paru-paru, kanker payudara, dan masalah pencernaan lainnya. 

    Masalah penyumbatan pembuluh darah, pembesaran jantung, bentuk tulang belakang yang tidak normal, dan masalah menelan juga bisa teridentifikasi oleh alat ini. Selain itu, tujuan utama dari prosedur ini adalah untuk membantu dokter mendiagnosis dan memantau berbagai jenis kondisi tubuh, seperti kerusakan gigi. 

    Sedangkan kegunaan utama dari CT scan adalah untuk mengetahui kondisi organ di kepala, dada, perut, lutut, hingga tulang belakang. Selain itu, hasil dari CT scan juga bisa membantu tenaga medis mendiagnosis berbagai kondisi pasien, mulai dari gangguan otot hingga kanker. 

    Menariknya lagi, CT scan bisa membantu dokter dalam menentukan tingkat keparahan luka dalam atau pendarahan akibat dari kecelakaan. Tidak hanya itu, saat ini CT scan sudah bermanfaat untuk penelitian berbagai jenis kanker untuk kemudian bisa mengatasi penyakit kanker. 

    3. Ciri-ciri

    Dalam beberapa kasus, X-ray dan CT scan bahkan dapat dokter gunakan secara bersamaan untuk memberikan informasi yang lebih komprehensif tentang kondisi kesehatan pasien. Namun, tetap saja ada perbedaan yang jelas dalam hal ciri-ciri dari X-ray dan CT scan. Adapun ciri-ciri dari X-ray adalah:

    • Menggunakan sinar-X.
    • Pemberian dosis radiasi dalam jumlah kecil.
    • Berguna untuk mendiagnosa penyakit tulang, degenerasi, patah tulang, dislokasi, infeksi, hingga tumor. 
    • Hasil foto X-ray menampakkan perbedaan warna dari putih, hitam, hingga abu-abu. 

    Sedangkan ciri-ciri dari CT scan yang bisa Anda ingat untuk membedakannya dengan X-ray adalah:

    • Sangat sensitif dan akurat untuk deteksi penyakit dalam jaringan tubuh lunak.
    • Lebih mempermudah dalam mendiagnosis penyakit jantung, kanker, dan penyakit menular.
    • Bagian yang dapat dokter periksa menggunakan CT scan adalah paru-paru, kepala, jantung, rongga perut, panggul, hingga tulang. 
    • Menggunakan sinar-X yang dikombinasikan dengan analisis komputer. 

    4. Perbedaan Cara Kerja X-Ray dan CT Scan

    Kemudian, dari segi cara kerjanya, kedua jenis alat periksa organ dalam ini memiliki perbedaan. Berikut ini perbedaan cara kerja X-ray dan CT scan.

    a. X-Ray

    X-ray merupakan jenis radiasi yang bisa menembus tubuh. Adapun cara kerja lengkapnya yaitu sinar-X akan terpancar oleh alat dan melewati tubuh. Energi dari sinar-X tersebut akan tubuh serap pada tingkat yang berbeda-beda dan oleh bagian yang berbeda. 

    Selanjutnya, sebuah detektor di sisi tubuh lainnya akan mengambil sinar-X setelah melewatinya untuk kemudian mengubahnya menjadi sebuah gambar. Hasil dari gambar yang berwarna putih, abu-abu, hingga hitam bisa Anda gunakan untuk mengetahui bagaimana kondisi dari tubuh seseorang. 

    Untuk lebih jelasnya mengenai warna yang X-ray hasilkan, berikut ini penjelasan arti dari warna-warna tersebut:

    • Warna hitam sebagai tanda bahwa X-ray mengenai udara.
    • Apabila sinar-X mengenai logam atau area tubuh yang padat seperti tulang, sebagian besar partikel sinar-X akan mengalami hambatan. Sehingga, akan membuat hasil gambar tampak berwarna putih.
    • Jika sinar X-ray berinteraksi dengan otot, lemak, atau cairan di dalam tubuh, gambar yang dihasilkan akan menunjukkan variasi warna abu-abu.

    b. CT Scan

    Adapun perbedaan cara kerja antara X-ray dan CT scan yang sudah kami jelaskan sebelumnya yaitu CT scan bekerja dengan cara penyinaran sinar-X dari berbagai sudut. Lalu, hasil sinar X-ray tersebut akan membentuk representasi tiga dimensi dari bagian tubuh yang sedang diperiksa.

    Selanjutnya, komputer yang terhubung akan mengolah gambar dari sinar-X tersebut untuk bisa menghasilkan citraan tiga dimensi yang bisa menunjukkan kondisi dari organ yang dipindai. 

    Adapun pasien yang akan melakukan CT scan biasanya akan berbaring di meja. Kemudian, mesin akan memindai tubuh orang tersebut agar bisa mendapatkan hasil yang kemudian bisa dokter gunakan untuk mengetahui kondisi pasien. 

    Secara umum, pasien yang melakukan CT scan harus disuntik dengan cairan kontrak terlebih dahulu dan berpuasa selama beberapa jam. Hal ini bertujuan agar hasil CT scan lebih akurat. 

    5. Efek Samping

    Sumber: Pexels

    Berikut ini perbedaan efek samping dari X-ray dan CT scan

    a. X Ray

    Pemeriksaan dengan X-ray menggunakan sinar-X yang mana bisa membahayakan untuk tubuh. Walau begitu, jumlah dan tingkat paparan radiasi yang alat ini hasilkan tidak banyak, sehingga relatif lebih aman untuk orang dewasa. 

    Namun demikian, terlalu sering menjalani pemeriksaan sinar-X akan membahayakan organ dalam tubuh. Hal ini karena sinar-X bisa merusak DNA dalam tubuh. Dengan adanya DNA yang rusak, tentu saja akan meningkatkan resiko kanker di kemudian hari. 

    Selain itu, resiko kanker ini bisa meningkat pada orang-orang dengan kondisi sebagai berikut:

    • Orang yang sering melakukan pencitraan medis dengan tingkat radiasi yang cukup tinggi.
    • Pasien anak-anak atau berusia muda.
    • Pasien berjenis kelamin wanita.
    • Ibu hamil yang mana terlalu banyak radiasi bisa merusak janin.
    • Pasien dengan kondisi genetik tertentu, misalnya kondisi genetik yang membuat sel-sel tubuhnya lebih rentan untuk kerusakan jika terpapar radiasi.

    b. CT Scan

    Efek samping dari CT scan tidak berbeda nyata dengan X-ray. Walau begitu, CT scan termasuk prosedur yang cukup untuk Anda lakukan selama sesuai dengan panduan dokter dan beberapa tenaga medis profesional. 

    Meski demikian, orang yang menjalani CT scan tetap beresiko menyebabkan penyakit jika terpapar terlalu banyak radiasi. Terpapar terlalu banyak radiasi bisa menyebabkan kanker atau gangguan ringan lainnya. 

    Beberapa gangguan ringan tersebut antara lain ruam kulit, gatal-gatal, hingga reaksi alergi serius lainnya. Tidak hanya itu, CT scan juga bisa menimbulkan beberapa gangguan psikologi seperti stres dan kecemasan. Hal ini biasanya terjadi ketika seseorang merasa tertekan dengan peralatan sempit dan mesin yang keras. 

    Selain itu, CT scan juga memiliki potensi bisa menghambat perkembangan janin dan kandungan pada ibu hamil. Untuk itulah, sebaiknya ibu hamil menghindari prosedur ini. 

    Sudah Tahu Apa Perbedaan X Ray dan CT Scan?

    Dalam dunia medis yang terus maju, perbedaan antara X-ray dan CT scan memainkan peran penting dalam memberikan pandangan mendalam tentang tubuh manusia. Meskipun keduanya membantu diagnosis dan pengobatan penyakit, perbedaan mendasar membuat keduanya memiliki keunggulan masing-masing. 

    Pemilihan antara sinar-X dan CT scan haruslah dilakukan dengan cermat oleh para profesional medis, tergantung pada jenis penyakit, tingkat detail yang diperlukan, serta faktor-faktor risiko dan keuntungan lainnya. 

    Dengan memahami perbedaan ini, para dokter dan tenaga medis dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk memberikan perawatan terbaik kepada pasien. Menjadikan pencitraan medis sebagai salah satu pilar utama dalam upaya memelihara kesehatan dan kualitas hidup manusia.

  • Apa Itu Ureum: Pengertian, Fungsi, Kadar Normal, dan Kelainannya

    Apa Itu Ureum: Pengertian, Fungsi, Kadar Normal, dan Kelainannya

    Tubuh manusia adalah struktur biologis yang kompleks, dengan setiap bagian memiliki peran krusial dalam menjaga keseimbangan dan kinerja yang optimal. Salah satu komponen penting yang sering kali menjadi fokus perhatian dalam dunia medis adalah ureum. 

    Meskipun mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, ureum memiliki peran penting dalam detoksifikasi amonia. Maka dari itu, kita akan memperluas pemahaman tentang ureum, fungsinya, batasan normalnya dalam darah, serta penyakit-penyakit yang dapat timbul akibat ketidakseimbangan ureum. 

    Apa Itu Ureum?

    Ureum adalah senyawa kimia yang terbentuk sebagai produk akhir dari metabolisme protein dalam tubuh manusia. Dalam proses pemecahan protein yang terjadi dalam tubuh saat mencerna makanan yang mengandung protein, terbentuklah asam amino. 

    Selanjutnya, asam amino ini berubah menjadi amonia di dalam hati. Amonia, yang sebenarnya bersifat toksik bagi tubuh, kemudian berubah menjadi ureum melalui proses yang disebut siklus ornitin.

    Senyawa kimia ini kemudian dikirimkan melalui aliran darah ke ginjal. Sementara ginjal adalah organ yang berfungsi untuk menyaring ureum dari darah dan mengeluarkannya dalam bentuk urin. 

    Proses tersebut penting bagi tubuh manusia untuk menghilangkan kelebihan nitrogen, yang berasal dari asam amino. Karena nitrogen tidak mungkin disimpan dalam tubuh dalam jumlah yang besar. 

    Oleh karena itu, ureum berfungsi sebagai “pelopor” yang mengangkut kelebihan nitrogen keluar dari tubuh melalui proses pembentukan urin. Menakjubkan, bukan?

    Fungsi Ureum dalam Tubuh

    Berdasarkan sedikit penjabaran di atas, kita menjadi paham bahwa ureum adalah senyawa kimia yang memiliki fungsi substansial untuk tubuh. Berikut ini penjelasan fungsi lengkapnya:

    1. Pengatur Keseimbangan Cairan dan Elektrolit

    Salah satu fungsi utama ureum adalah membantu mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Senyawa kimia ini berperan dalam proses reabsorpsi air di dalam tubulus ginjal, yang memungkinkan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan air yang tepat.

    2. Detoksifikasi Amoniak

    Proses utama ureum adalah mengubah amonia menjadi bentuk yang lebih aman dan tidak beracun bagi tubuh. Amonia, yang merupakan produk sampingan dari metabolisme protein, dapat merusak sel-sel tubuh jika dibiarkan menumpuk dalam darah. 

    Dengan mengubah amonia menjadi ureum, tubuh dapat dengan aman mengeluarkannya melalui urin. Kesehatan dan metabolisme tubuh pun akan tetap terjaga.

    3. Pendukung Fungsi Seluler 

    Selain itu, senyawa kimia ini juga berkontribusi pada menjaga keseimbangan pH dalam cairan tubuh yang sangatlah penting bagi fungsi seluler. Dengan begitu, ureum membantu menjaga lingkungan yang sesuai bagi sel-sel tubuh untuk berfungsi dengan baik.

    4. Pembuangan Kelebihan Nitrogen

    Fungsi paling utama dari ureum adalah menghilangkan kelebihan nitrogen dalam tubuh. Kelebihan nitrogen ini berasal dari asam amino dalam makanan yang kita konsumsi. Karena tubuh tidak dapat menyimpan nitrogen dalam jumlah besar, maka ureum berperan dalam mengangkutnya keluar dari tubuh melalui urin.

    5. Pemeliharaan Keseimbangan Metabolisme

    Berdasarkan keempat fungsi di atas, kita memahami bahwa ureum berperan penting dalam metabolisme asam amino dan nitrogen. Karena metabolisme protein dan asam amino sangat penting bagi banyak proses tubuh, maka ureum membantu memastikan bahwa proses-proses ini berkontribusi pada kesehatan keseluruhan.

    Batasan Normal Ureum dalam Darah

    Sumber: Freepik

    Kadar ureum dalam darah diukur dalam satuan miligram per desiliter (mg/dL). Jumlah kadar yang ada dapat bervariasi tergantung pada berbagai faktor seperti diet, usia, dan kondisi kesehatan seseorang. Namun, rentang batasan normal untuk ureum biasanya adalah: 

    • Pria dewasa: 8 sampai 24 mg/dL.
    • Wanita dewasa: 6 sampai 21 mg/dL.
    • Anak usia 1 hingga 17 tahun: 7 sampai 20 mg/dL.

    Uremia, Penyakit Karena Ketidakseimbangan Ureum

    Ketidakseimbangan kadar ureum menyebabkan penyakit yang bernama uremia. Jadi, kadar ureum yang berlebihan maupun kurang dapat menjadi tanda adanya masalah kesehatan atau bahkan dapat berkontribusi pada perkembangan penyakit tertentu. 

    Salah satu komplikasi utama akibat ketidaksimbangan ureum adalah gagal ginjal. Pada kasus ini, gagal ginjal terjadi akibat penumpukan ureum yang tinggi dalam darah (hiperuremia). Lalu, ginjal yang tidak berfungsi dengan baik tidak dapat mengeluarkan ureum dan produk sampingan lainnya dari tubuh. 

    Sementara hiperuremia yang parah dapat menyebabkan keracunan uremik, yang dapat memengaruhi berbagai organ dan menyebabkan gejala. Mulai dari mual, muntah, kebingungan, hingga bahkan koma.

    Gejala Uremia

    Ketika seseorang terdiagnosa mengidap uremia, biasanya mereka akan mengalami beberapa gejala, seperti:

    • Sakit kepala.
    • Kelelahan,
    • Keram dan nyeri pada bagian ginjal.
    • Muntal atau mual.
    • Masalah kognitif.
    • Berat badan turun drastis.
    • Sesak nafas.

    Penyebab Ketidakseimbangan Ureum

    Sumber: Freepik

    Setelah mengetahui penyakit uremia dan komplikasinya, mungkin Anda akan bertanya-tanya, apa saja penyebab ketidakseimbangan ureum dalam darah? Jika Anda penasaran, berikut ini adalah penjelasan beberapa penyebab kadar ureum yang tidak seimbang:

    1. Dehidrasi

    Dehidrasi atau kekurangan cairan dalam tubuh dapat menyebabkan peningkatan kadar ureum dalam darah. Penyebabnya adalah karena kurangnya cairan membuat ginjal sulit mengeluarkan ureum melalui urin. Sehingga, peningkatan kadar ureum akibat dehidrasi dapat mempengaruhi fungsi ginjal.

    2. Malnutrisi

    Selain itu, diet yang tinggi protein atau kurang asupan cairan dapat menyebabkan peningkatan kadar ureum dalam darah. Kekurangan nutrisi atau malnutrisi dapat mempengaruhi kemampuan tubuh dalam memproses dan menghilangkan ureum dengan efektif.

    3. Obstruksi Saluran Kemih

    Lalu, ketidakmampuan untuk mengeluarkan urin dengan baik dari tubuh, seperti pada kasus obstruksi saluran kemih, dapat menyebabkan peningkatan kadar ureum dalam darah. Kondisi uremia dapat menjadi potensi serius dan memerlukan perhatian medis segera untuk mencegah dampak lebih lanjut pada kesehatan.

    4. Penyakit Ginjal Polikistik

    Ginjal polikistik adalah kondisi yang dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Akibatnya adalah kadar ureum dalam darah akan meningkat.

    5. Penyakit Hati

    Gangguan fungsi hati, seperti sirosis, dapat memengaruhi produksi ureum. Pada kondisi seperti ini, hati tidak dapat mengubah amonia menjadi ureum dengan efektif, sehingga amonia dan ureum dapat menumpuk dalam darah.

    6. Infeksi Berat atau Sepsis

    Sementara infeksi berat atau sepsis dapat memicu respons inflamasi yang mengganggu keseimbangan nitrogen dalam tubuh. Lalu, selanjutnya dapat menyebabkan peningkatan produksi ureum dan penumpukan dalam darah.

    7. Kerusakan Jaringan

    Kerusakan jaringan yang signifikan, seperti cedera berat atau luka bakar, dapat menyebabkan pelepasan protein dari sel-sel yang rusak. Pemecahan protein ini dapat meningkatkan kadar ureum dalam darah.

    Metode Pemeriksaan Kadar Ureum

    Biasanya, pemeriksaan kadar ureum adalah satu langkah penting untuk mengidentifikasi kondisi kesehatan seseorang, terutama yang berkaitan dengan fungsi ginjal dan metabolisme protein. Berikut ini beberapa metode pemeriksaan umum untuk mengukur kadar ureum dalam darah:

    1. Tes Darah 

    Tes darah adalah metode pemeriksaan utama untuk mengukur kadar ureum dalam darah. Pada metode ini, sampel darah diambil dari vena di lengan. 

    Kemudian, sampel tersebut dianalisis di laboratorium medis untuk mengukur jumlah ureum dalam darah. Jadi, tes darah dapat memberikan informasi tentang seberapa efektif ginjal dalam menghilangkan ureum dari darah.

    2. Tes Urin 

    Selain tes darah, tes urin juga dapat berguna untuk mengukur kadar ureum. Pada tes ini, sampel urin dikumpulkan selama periode waktu tertentu. Tes urin dapat memberikan informasi tentang seberapa baik ginjal dalam menghilangkan ureum dari tubuh.

    3. Uji Fungsi Ginjal

    Sementara uji fungsi ginjal memberikan informasi komprehensif tentang bagaimana ginjal bekerja dalam memproses dan menghilangkan produk-produk sampingan, termasuk ureum.

    Bagaimana Cara Menurunkan Kadar Ureum?

    Sumber: Freepik

    Jika kadar ureum di dalam tubuh terlalu banyak, maka diperlukan usaha untuk menurunkannya. Berikut ini langkah-langkah yang dapat membantu:

    • Minum cairan yang cukup membantu mengurangi peningkatan kadar ureum dengan memastikan ginjal memiliki cukup cairan untuk ekskresi yang efektif.
    • Jika diet tinggi protein berkontribusi pada peningkatan kadar ureum, maka pengaturan diet dengan membatasi asupan protein dapat membantu mengurangi produksi ureum.
    • Jika penyakit kesehatan yang mendasari seperti gagal ginjal atau penyakit hati menjadi penyebab peningkatan kadar ureum, maka pengobatan yang tepat untuk kondisi tersebut dapat membantu mengurangi kadar ureum.

    Sudah Memahami Fungsi dan Kadar Normal Ureum dalam Tubuh? 

    Meskipun mungkin sering terabaikan, tetapi ternyata ureum adalah senyawa kimia yang memiliki fungsi-fungsi vital. Mulai dari menjaga keseimbangan cairan, detoksifikasi, dan pendukung fungsi selular.

    Ketidakseimbangan kadar ureum dapat mengindikasikan adanya masalah kesehatan yang serius atau dapat berkontribusi pada komplikasi kesehatan yang lebih lanjut. 

    Oleh karena itu, penting bagi individu untuk memahami pentingnya pemantauan kadar ureum dalam darah dan melakukan pemeriksaan rutin untuk mengidentifikasi masalah potensial sejak dini. Menjaga kadar ureum dalam rentang normal sangatlah penting untuk menjaga metabolisme. 

    Jika Anda merasa ada yang tidak beres pada ginjal atau pada urin Anda, segera berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui adanya keterkaitan dengan kadar ureum. Dengan begitu, Anda bisa mendapat evaluasi medis yang tepat.

  • Apa itu Ritme Sirkadian? Pengertian, Cara Kerja, serta Gangguannya

    Apa itu Ritme Sirkadian? Pengertian, Cara Kerja, serta Gangguannya

    Ritme sirkadian atau irama sirkadian adalah konsep yang mungkin pernah kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Memahami konsep ini, kita bisa membuat dampak yang besar pada kesehatan dan kualitas hidup kita. Mari kita membahas lebih mendalam serta bagaimana cara kerjanya dan apa saja gangguan yang bisa terjadi.

    Apakah Ritme Sirkadian Itu?

    Kata sirkadian berasal dari gabungan 2 kata Bahasa Latin, yakni circa yang berarti sekitar dan diem yang artinya hari. Singkatnya, ritme sirkadian adalah bagian dari jam diri. Sebuah pola biologis internal yang mengatur berbagai fungsi tubuh, meliputi tidur, bangun tidur, suhu tubuh, hingga pelepasan hormon selama 24 jam.

    Sebagai contoh, hal yang paling sering kita temui adalah pola bangun dan tidur. Ketika ritme sirkadian bekerja dengan baik, tubuh manusia cenderung merasa segar bugar di pagi hingga sore hari dan sudah bersiap untuk tidur di malam hari. Ini adalah hasil dari adaptasi manusia selama ribuan tahun terhadap cahaya matahari. 

    Pola waktu ini adalah hasil dari evolusi yang panjang. Tak hanya ada di manusia, terdapat juga pada makhluk lain yang sangat berguna untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan seiring perjalanan waktu.

    Sejarah Penelitian Ritme Sirkadian

    Pengamatan awal tentang topik ini sudah berawal dari ribuan tahun yang lalu. Namun, catatan tentang penelitian yang konkret mulai berkembang pada abad ke-18 dan ke-19. 

    Pexels

    Salah satunya adalah penelitian oleh ilmuwan Prancis Jean-Jacques d’Ortous de Mairan yang melakukan serangkaian eksperimen pada tanaman mimosa pada tahun 1729. 

    Pada penelitian tersebut, tanaman mimosa membuka dan menutup daunnya secara teratur bahkan dalam keadaan kegelapan total. Penelitian inilah yang mengindikasikan adanya jam biologis internal.

    Pada tahun 1970-an, terdapat terobosan baru. Peneliti menemukan struktur kecil yang terletak di dalam hipotalamus yang berperan untuk mengatur ritme sirkadian pada manusia. Penelitian ini membantu mengungkapkan bagaimana mekanismenya dalam tingkat sel.

    Pada tahun 1980-an hingga 1990-an, terdapat penelitian ritme sirkadian secara genetik. Ilmuwan menemukan sejumlah gen yang terlibat dalam pengaturan jam biologis internal, salah satu gen yang paling terkenal adalah gen “Clock”. Gen inilah yang berperan penting dalam pengaturan jam biologis internal.

    Pemahaman saat ini telah berkait dengan kesehatan manusia. Gangguannya melingkupi gangguan tidur, gangguan mood, obesitas, hingga penyakit yang tergolong kronis. 

    Bagaimana Cara Kerjanya?

    Pusat kontrolnya berada di bagian hipotalamus otak, tepatnya di bagian nukleus suprakiasmatis (suprachiasmatic nucleus) atau singkatnya SCN. 

    SCN sangat sensitif terhadap rangsangan cahaya. Maka dari itu, banyak sekali sinyal dari SCN ke seluruh tubuh yang menyangkut perubahan cahaya. Misalnya, pada saat matahari bersinar, otak mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh berupa hormon kortisol yang membuat tubuh kita tetap terjaga dan aktif. 

    Pada malam hari, dengan berkurangnya rangsangan cahaya, tubuh mulai memproduksi melatonin, yakni hormon yang menaikkan rasa kantuk. Berdasarkan paparan cahaya, otak dan tubuh bekerjasama menciptakan ritme pemulihan tenaga.

    Hal yang Memengaruhi Ritme Sirkadian

    Tentu saja, tak hanya rangsangan cahaya yang dapat memengaruhi irama sirkadian, terdapat beberapa faktor yang dapat mengubah persepsi jam diri. Berikut contohnya:

    • Pergantian shift/waktu kerja
    • Jet lag (perjalanan melintasi zona waktu)
    • Penundaan dan pemajuan waktu tidur
    • Kebutaan
    • Obat-obatan
    • Buruknya kebiasaan sebelum tidur yang berdampak pada kualitas tidur
    • Usia
    • Cacat otak

    Gangguannya terhadap Kesehatan

    Ritme sirkadian yang terganggu dan tak seimbang dapat berdampak negatif pada kesehatan. Berikut adalah dampak buruk gangguan jam diri yang dapat terjadi

    1. Gangguan Siklus Tidur

    Salah satu contoh yang paling umum adalah gangguan siklus tidur seperti insomnia dan sleep apnea. Sleep apnea adalah gangguan tidur berupa terbangun berulang kali akibat kurangnya tingkat oksigen dalam tubuh. 

    2. Gangguan Kesehatan Mental

    Penelitian telah mengungkapkan bahwa bisa juga hingga mengganggu kesehatan mental atau jiwa. Contohnya adalah penyakit jiwa seperti depresi dan bipolar. Hal ini terjadi akibat terganggunya keseimbangan hormonal yang dapat memengaruhi suasana hati dan kesejahteraan emosional.

    3. Gangguan Metabolisme Tubuh

    Penelitian juga membuktikan adanya kaitan dengan metabolisme tubuh dan berat badan. Penelitian ini dilakukan melalui regulasi kadar gula darah dan kolesterol dalam tubuh.

    4. Sistem Kekebalan tubuh

    Terdapat indikasi bahwa ritme sirkadian juga memengaruhi sistem imun tubuh. Contohnya proses pemulihan DNA yang terlibat dalam pencegahan kanker. Beberapa penelitian juga telah mempertimbangkan efektifitas obat kanker berdasarkan waktu.

    Cara Mempertahankan Ritme Sirkadian yang Baik

    Ada beberapa cara untuk memperbaiki dan menjaga persepsi jam diri, antara lain

    1. Jadwal Tidur yang Konsisten

    Cobalah untuk tidur dan bangun pada waktu yang konsisten setiap hari, bahkan di akhir pekan. Bisa juga gunakan bantuan alarm sebagai penanda sebelum tidur dan penggugah. 

    2. Batasi Paparan Cahaya di Malam Hari

    Cahaya di malam hari, baik dari perangkat elektronik seperti smartphone dan komputer dapat mengganggu produksi melatonin. Oleh sebab itu, cobalah untuk menghindari cahaya biru yang intens setidaknya beberapa jam sebelum tidur.

    3.  Berolahraga Secara Teratur

    Olahraga dapat membantu memulihkan ritme sirkadian dan meningkatkan kualitas tidur. Namun, hindari berolahraga yang terlalu intens menjelang waktu tidur, karena dapat membuat Anda tetap terjaga.

    4. Perhatikan Diet

    Diet atau pola makan juga dapat berpengaruh. Cobalah untuk makan makanan yang sehat dan seimbang, serta hindari makan berlebihan di malam hari.

    5. Pertimbangan Suplemen Melatonin

    Jika terdapat masalah kesulitan tidur, cobalah untuk mempertimbangkan suplemen melatonin. Namun, jangan lupa untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum mengkonsumsinya.

    6. Terpapar Sinar Matahari

    Pada pagi hari, usahakan untuk terkena paparan sinar matahari, karena cahaya natural di pagi hari adalah cara terbaik untuk memicu ritme sirkadian.

    7. Hindari Kafein

    Zat stimulan seperti kafein dapat membuat diri tetap terjaga. Tentu saja nantinya berakibat pada hilangnya keseimbangan antara tidur dan terjaga. Apabila terdapat kesulitan tidur di malam hari, sebaiknya hindari mengonsumsi kafein mulai siang hari.

    8. Tidur Siang Secukupnya

    Tidur siang memang perlu, tapi batasi durasinya, karena tidur siang yang terlalu lama juga bisa memundurkan waktu tidur di malam hari yang berakibat pada kualitas tidur yang berkurang.

    9. Buatlah Suasana Tidur yang Nyaman

    Suasana tempat tidur juga bisa memengaruhi kebiasaan dan kualitas tidur. Sebaiknya, gunakan kasur yang nyaman dan usahakan untuk tetap bersih.

    Jam Biologis Internal pada Organ Manusia

    Sejatinya, pada setiap organ tubuh manusia memiliki jam internalnya masing-masing. SCN dapat dianggap sebagai jam utamanya. Namun, terdapat organ lain yang memiliki jam biologis internalnya sendiri, antara lain

    • Pankreas–mengatur pelepasan insulin
    • Hati–mengatur metabolisme tubuh
    • Sistem kekebalan tubuh
    • Kelenjar pineal–produksi melatonin
    • Kelenjar adrenal–produksi kortisol
    • Jaringan otot dan sel-sel dalam tubuh

    Tubuh manusia adalah sistem yang kompleks dan banyak bagian tubuh yang memiliki jam biologis internal mereka sendiri untuk mengikuti ritme sirkadian. Ini adalah cara tubuh dalam beradaptasi dengan perubahan lingkungan sepanjang hari. 

    Pola tidur yang buruk atau bahkan kurang tidur dapat berdampak signifikan pada berbagai fungsi penting sehari-hari. Kegiatan internal tubuh seperti konsolidasi memori, regulasi metabolisme, dan penyembuhan tubuh terjadi selama siklus tidur. 

    Siklus tidur juga berpengaruh pada kebiasaan makan, pencernaan, pelepasan hormon, suhu tubuh, dan fungsi internal tubuh lainnya. Berbagai penyakit kronis pun bisa timbul akibat gangguan tidur yang tak teratur.

    Mari Memulai Ritme Sirkadian yang Baik!

    Menjaga ritme sirkadian yang baik dapat kita mulai dari melakukan pola tidur yang teratur. Dengan begitu, seluruh organ yang memiliki jam biologis internalnya masing-masign dapat melakukan tugasnya secara optimal. Alhasil, tubuh akan terhindar dari penyakit fisik maupun mental.

  • Imunisasi: Jenis, Manfaat, Prosedur, & Efek Sampingnya

    Imunisasi: Jenis, Manfaat, Prosedur, & Efek Sampingnya

    Imunisasi atau yang biasa disebut dengan vaksinasi ini merupakan vaksin yang diberikan untuk membangun sistem kekebalan tubuh pada anak. Biasanya, vaksinasi ini diberikan dalam rentang usia tertentu, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi anak. 

    Apa Itu Imunisasi?

    Sumber: Unsplash

    Imunisasi merupakan proses yang dilakukan untuk membuat tubuh seseorang kebal terhadap suatu penyakit. Proses ini terjadi melalui pemberian vaksin yang berupa suntikan. Pemberian vaksinasi bisa pada bayi yang baru lahir, anak-anak, hingga orang dewasa, dan lansia.

    Vaksinasi rutin dan lengkap merupakan salah satu cara yang efektif untuk mencegah penyebaran virus dan penyakit. Di Indonesia sendiri, vaksinasi lengkap terdiri dari vaksinasi dasar dan lanjutan.

    Jadi, setelah vaksinasi yang diwajibkan, IDAI juga mengizinkan untuk pemberian vaksin COVID-19 untuk anak-anak dengan rentang usia 6 tahun hingga 11 tahun.

    Vaksin sendiri merupakan jenis bakteri atau virus yang sebelumnya sudah dilemahkan. Tujuannya adalah untuk merangsang sistem imun dalam tubuh dengan cara membentuk zat antibodi dalam tubuh.

    Jadi, bisa Anda katakan katakan bahwa ini merupakan proses pembentukan zat antibodi secara aktif maupun buatan. Tujuannya adalah merangsang sistem kekebalan tubuh untuk membentuk antibodi (kebal akan penyakit tertentu).

    Manfaat Imunisasi

    Sumber: Unsplash

    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah menetapkan beberapa jenis vaksinasi wajib bagi anak. Pemberian vaksinasi ini dilakukan beberapa kali dengan harapan untuk bisa mendapatkan manfaatnya sebagai berikut:

    • Melindungi tubuh dari resiko penyakit, hingga kematian anak.
    • Sangat efektif untuk mencegah penyakit.
    • Memberikan perlindungan untuk orang lain dengan adanya herd immunity. 

    Jadi, imunisasi ini tidak hanya akan melindungi orang yang mendapatkannya saja. Melainkan untuk anak lain yang tidak mendapatkan vaksin. 

    Ketika banyak anak yang sudah divaksinasi, maka anak-anak tersebut akan melindungi sebagian anak yang sistem imun tubuhnya kurang. Tujuannya adalah untuk mengurangi penyebaran penyakit.

    Semakin banyak anak yang mendapatkan vaksin, maka penyebaran penyakit pun akan semakin menurun. Dengan begitu, anak-anak yang tidak mendapatkan vaksinasi pun tetap akan terlindungi.

    Prosedur Imunisasi

    Perlu Anda ketahui bahwa, vaksinasi akan diberikan kepada anak sesuai dengan ketentuan dan kebutuhannya. Namun, kegiatan ini harus berdasar pada rentang usia yang memang direkomendasikan.

    Pemberian imunisasi ini bisa terjadi secara injeksi maupun oral. Nantinya, sebelum pemberian vaksinasi dokter akan menanyakan perihal riwayat kesehatan anak kepada orang tua.

    Hal tersebut mencakup obat yang selama ini anak konsumsi, kondisi kesehatan yang sedang anak alami, hingga alergi yang anak miliki. Dengan begitu, dokter pun akan mengarahkan apa yang aman anak konsumsi berdasarkan riwayat kesehatannya.

    Jenis dan Efek Samping dari Imunisasi

    Ada beberapa jenis vaksin yang diwajibkan dalam program imunisasi. Setiap jenis vaksin ini tentu akan menimbulkan efek samping yang beragam. Ini terjadi akibat reaksi alami dari imun tubuh. Contoh reaksinya adalah nyeri ringan, demam, hingga timbul alergi berat. Berikut penjelasan dari jenis vaksinasi beserta efek sampingnya:

    1. BCG

    Vaksin BCG diberikan dengan tujuan melindungi tubuh dari penyakit tuberkulosis atau TBC. Namun, ada beberapa efek samping yang perlu Anda ketahui pasca pemberian vaksinasi tersebut, seperti:

    • Ruam merah pada area bekas suntikan.
    • Demam.
    • Merasa sakit ketika buang air kecil.
    • Sakit perut.
    • Muntah.

    2. Campak

    Vaksin imunisasi berupa campak ini diklaim sangat aman dan efektif dalam mencegah campak. Namun, ada efek samping yang perlu Anda ketahui pasca pemberian vaksin campak. Berikut di antaranya:

    • Nyeri hingga bengkak pada area lengan yang sudah disuntik.
    • Ruam kemerahan.
    • Nyeri pada persendian.
    • Demam.

    3. Influenza

    Jenis influenza ini diberikan dengan tujuan untuk mencegah flu. Vaksin ini umumnya dokter berikan pada bayi berusia 6 bulan dan akan diulangi setiap tahun. Namun, vaksin ini pun bisa menimbulkan reaksi pada tubuh. Berikut beberapa di antaranya:

    • Demam.
    • Batuk.
    • Sakit pada area tenggorokan.
    • Nyeri pada otot.
    • Sakit kepala.
    • Telinga terasa sakit.
    • Dada terasa sesak.

    4. Hepatitis A

    Vaksin imunisasi jenis ini berguna untuk mencegah penularan penyakit hepatitis A yang terjadi karena virus hepatitis A. Pemberian vaksin ini dilakukan pada bayi berusia 12 bulan dan akan diulang sebanyak 2 kali dengan kurun waktu 6-36 bulan. Lalu, efek sampingnya sendiri cukup beragam, berikut beberapa di antaranya:

    • Demam.
    • Mual-mual.
    • Hilangnya nafsu makan.
    • Sakit kepala.
    • Sesak nafas.
    • Mengalami pembengkakan pada area wajah, bibir, maupun lidah.
    • Area suntikan terlihat ruam kemerahan.

    5. Dengue

    Vaksinasi dengue ini dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi resiko terpapar demam berdarah. Selain itu, vaksin ini juga berguna untuk mencegah gejala DBD semakin parah. Namun, ternyata vaksin ini juga bisa memberikan efek samping. Berikut beberapa di antaranya:

    • Sakit kepala.
    • Nyeri pada otot.
    • Demam.
    • Ruam pada kulit.

    6. COVID-19

    Meskipun bukan termasuk dalam daftar imunisasi untuk anak. Namun, vaksin COVID-19 sangat direkomendasikan untuk anak usia 6-11 tahun. Hanya saja, pemberian vaksin ini bisa menimbulkan beberapa reaksi pada tubuh seperti berikut ini:

    • Demam.
    • Mudah lelah.
    • Nyeri pada area suntikan.
    • Sakit kepala.
    • Diare.
    • Nyeri sendi.

    7. Polio

    Vaksinasi polio berguna untuk mencegah penyakit polio. Namun, pemberian vaksin ini bisa menyebabkan beberapa reaksi, seperti:

    • Demam.
    • Mudah merasa lelah.
    • Ruam kemerahan pada kulit.
    • Kehilangan nafsu makan.

    8. DPT

    Vaksinasi DPT merupakan imunisasi gabungan. Tujuannya adalah untuk mencegah penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Namun, pemberian vaksin ini juga bisa memberikan efek samping. Berikut beberapa di antaranya:

    • Lelah.
    • Demam.
    • Kehilangan nafsu makan.
    • Muntah-muntah.
    • Nyeri pada area suntikan.

    9. PCV

    Jenis PCV ini diberikan dengan tujuan mencegah pneumonia, septikemia, dan meningitis. Penyakit ini terjadi karena bakteri streptococcus pneumoniae. Perlu Anda ketahui bahwa, ada beberapa efek samping yang akan terjadi ketika anak mendapatkan vaksin PCV. Berikut beberapa di antaranya:

    • Kemerahan dan bengkak pada area suntikan.
    • Demam.

    10. Tifus

    Imunisasi tifus diberikan dengan tujuan untuk mencegah penyakit tifus. Tifus sendiri merupakan infeksi yang terjadi karena bakteri salmonella typhi. Namun, pemberian vaksin ini akan menimbulkan beberapa reaksi sebagai berikut:

    • Gatal-gatal.
    • Demam.
    • Pembengkakan pada area wajah, bibir, dan lidah.
    • Nyeri lengan pada area suntikan.
    • Sakit kepala.

    Langkah Tepat Pasca Imunisasi

    Sumber: Pexels

    Pasca pemberian imunisasi, biasanya anak akan mengalami beberapa efek samping seperti yang sudah Anda baca sebelumnya. Nah, untuk mengantisipasi hal tersebut, berikut ada beberapa langkah tepat yang bisa Anda lakukan pasca vaksinasi:

    • Jika anak demam, maka Anda bisa konsultasi dengan dokter perihal obat penurun demam apa yang direkomendasikan.
    • Apabila mengalami pembengkakan, ruam kemerahan, hingga sakit pada area tertentu. Maka, Anda bisa segera mendiskusikannya dengan dokter. Selain itu, anak dibawah 18 tahun sangat dilarang untuk mengkonsumsi aspirin. Sebab, aspirin bisa meningkatkan resiko penyakit sindrom reye. 
    • Jika anak mengalami reaksi alergi parah, maka biasanya pihak medis akan meminta Anda dan anak untuk tetap tinggal guna memantau efek alergi tersebut. Dengan begitu, tim medis pun bisa segera memberikan penanganan yang tepat. 

    Sudah Paham Apa Itu Imunisasi dan Jenis-Jenisnya?

    Itulah penjelasan mengenai apa itu imunisasi, manfaat, prosedur pemberian, jenis-jenis, efek samping, hingga langkah tepat pasca pemberian vaksinasi. Sebagai orang tua, Anda bisa lebih aware dengan kesehatan anak. Salah satunya adalah dengan rutin melakukan vaksinasi yang sudah dianjurkan secara lengkap.

    Sebagai informasi tambahan, jika anak mengalami demam pada saat akan mendapat vaksin, maka pastikan untuk memberitahukannya kepada dokter. Tujuannya agar dokter bisa memastikan apakah anak tersebut masih bisa mendapatkan vaksinasi atau harus reschedule. 

  • Angin Duduk: Pengertian, Penyebab, Gejala & Pengobatan

    Angin Duduk: Pengertian, Penyebab, Gejala & Pengobatan

    Jika kamu pernah merasa nyeri dada sebelah kiri secara tiba-tiba, sebaiknya jangan menganggap remeh masalah ini. Rasa nyeri tersebut bisa menjadi tanda bahwa kamu mengalami angin duduk atau secara medis dikenal dengan sebutan angina pectoris. 

    Angina pectoris juga bisa mengarah pada serangan jantung dan berakibat fatal. Pasalnya, angina pectoris bisa menyerang kapan saja tanpa bisa diprediksi. Kamu bisa mendapatkan informasi menyeluruh tentang angina pectoris dengan mengikuti ulasan di bawah ini.

    Apa Itu Angin Duduk?

    Sumber: Freepik

    Angina pectoris merupakan penyakit yang berhubungan dengan organ jantung. Pada kasus ini, otot jantung mengalami gangguan dalam menerima pasokan aliran darah dan juga oksigen. Kekurangan aliran darah dan oksigen tersebut akan menimbulkan rasa nyeri yang sangat mengganggu.

    Bahkan, rasa nyeri yang dirasakan bisa menyebabkan seseorang tidak bisa melakukan aktivitas normal. Pasokan aliran darah dan oksigen yang tidak lancar biasanya diakibatkan oleh penyumbatan atau penyempitan pembuluh darah. 

    Angina pectoris rentan menyerang orang dewasa yang berusia 30 tahun ke atas. Riwayat penyakit degeneratif juga menjadi salah satu faktor yang bisa memungkinkan seseorang mengalami  angin duduk.

    Adapun faktor lain yang membuat orang bisa mengalami serangan angina pectoris adalah gaya hidup yang tidak sehat. Kebiasaan merokok dan jarang berolahraga kerap menjadi pemicu umum penyakit ini.

    3 Penyebab Angin Duduk

    Sumber: Freepik

    Jantung adalah salah satu organ vital karena fungsinya memompa darah keseluruh tubuh. Supaya bisa berfungsi dengan optimal, maka pembuluh koroner harus mendapatkan pasokan oksigen dan darah yang lancar. 

    Apabila pembuluh koroner mengalami penyempitan akibat plak atau bahkan tersumbat, tentu tidak bisa mengalirkan darah secara normal. Pembuluh darah koroner yang tidak mendapatkan pasokan oksigen ini akan menyebabkan serangan jantung atau angina pectoris.

    Dalam dunia media, penyebab penyakit angin duduk terdiri dari tiga jenis. Kamu bisa mengetahui jenis-jenisnya sebagai berikut, yaitu:

    1. Angina Stabil

    Ciri seseorang yang mengalami angina stabil adalah sering meresakan nyeri yang berkembang. Biasanya, rasa nyeri tersebut mempunyai pola sehingga dinamakan angina stabil. Contohnya yaitu rasa nyeri akan timbul ketika sedang stress atau berjalan menaiki tangga.

    Rasa nyeri tersebut terjadi dalam waktu yang singkat dan tergolong tidak membahayakan nyawa. Untuk meredakan rasa nyeri tersebut bisa dengan mengonsumsi obat golongan nitrat dan beristirahat. Kamu bisa mengetahui gejala angina stabil dengan memperhatikan ciri-ciri sebagai berikut.

    • Rasa nyeri berlangsung sekitar 5 menit, jarang ada kasus yang terjadi hingga 15 menit atau lebih.
    • Dada terasa sakit seperti terbakar.
    • Rasa nyeri di dada biasanya menjalar kebagian lain seperti rahang, leher, punggung, dan lengan.
    • Biasa dipicu oleh suhu ekstrim panas atau dingin, aktivitas fisik, makanan berat, dan stress.

    2. Angina Tidak Stabil

    Penyebab penyakit  angin duduk berikutnya adalah angina tidak stabil yang ditandai dengan munculnya rasa nyeri secara berkembang. Rasa nyeri tersebut muncul secara tiba-tiba meskipun tidak sedang melakukan aktivitas fisik. Durasi rasa nyeri di dada juga lebih lebih lama.

    Selain itu, mengonsumsi obat golongan nitrat juga tidak efektif meredakan nyeri tersebut. Orang yang sering merasakan gejala angina stabil juga bisa mengalami angina tidak stabil. Jika seseorang tiba-tiba mengalami angina tidak stabil, maka perlu segera mendapatkan tindakan medis.

    Kondisi ini dapat membahayakan nyawa karena jantung bisa tidak berfungsi lagi. Untuk mengetahui gejala pada angin duduk tidak stabil, silakan cek beberapa poin di bawah ini, yaitu:

    • Dada terasa nyeri Ketika sedang istirahat.
    • Bisa terjadi secara tiba-tiba tanpa ada keluhan nyeri dada sebelumnya.
    • Rasa nyeri dan tidak nyaman di dada bisa berlangsung hingga 20 menit atau lebih.
    • Dari waktu ke waktu gejala terus memburuk.

    3. Angina Varian

    Penyebab angina terakhir yaitu angina varian atau angina duduk prinzmetal. Kondisi ini biasanya terjadi karena arteri jantung menyempit atau dinding pembuluh darah mengalami kekakuan. Angina varian bisa terjadi meskipun sedang istirahat atau melakukan aktivitas fisik.

    Nyeri dada akibat pembuluh darah yang menyempit sementara ini membuat otot jantung tidak mendapatkan cukup pasokan oksigen. Penanganan tanggap pada kasus angina varian adalah dengan mengonsumsi obat-obatan

    Gejala Angin Duduk

    Sumber: Freepik

    Supaya kamu lebih tanggap lagi jika terasa nyeri di dada, maka penting untuk mengetahui gejala umum penyakit angina. Di bawah ini adalah beberapa gejala lainnya yang bisa dirasakan oleh penderita angina yaitu:

    • Dada atas terasa nyeri atau seperti ditimpa dengan beban berat. Selain itu, nyeri dada juga disertai dengan sesasi panas dan terbakar. 
    • Nyeri dada akan menjalar ke beberapa bagian tubuh lainnya seperti leher, rahang, punggung, dan lengan kiri.
    • Terasa mual dan kepala pusing.
    • Sesak nafas.
    • Tubuh akan terasa mudah lelah sebelum terjadi serangan.
    • Keringat dingin.
    • Pingsan.

    3 Pengobatan Angin Duduk

    Melakukan pengobatan secara rutin dapat menurunkan frekuensi rasa nyeri atau serangan angina. Selain itu, pengobatan juga dapat menurunkan risiko kematian. Adapun sejumlah pengobatan angina yang bisa kamu pertimbangkan, yakni sebagai berikut:

    1. Mengubah Gaya Hidup

    Mengubah gaya hidup yang lebih sehat sangat efektif dalam mengobati  angin duduk. Gaya hidup tidak hanya sebatas mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang, namun juga pola tidur teratur. Adapun gaya hidup yang bisa kamu terapkan antara lain:

    • Berhenti merokok hindari kontak langsung dengan asap rokok. Asap rokok mengandung banyak radikal bebas yang dapat membahayakan kesehatan jantung dan lainnya. 
    • Menjaga berat badan dan olahraga adalah bagian dari gaya hidup sehat karena orang yang obesitas dan jarang olahraga sangat tinggi risiko mengalam angin duduk. Olahraga sederhana yang bisa kamu lakukan adalah melakukan kegiatan fisik selama 30 menit setiap hari.
    • Ubah pola makan dengan memperbanyak asupan serat seperti buah dan sayu. Selain itu, kamu juga bisa mengonsumsi biji-bijian yang juga tinggi nutrisi. Hindari atau kurangi mengonsumsi makanan berlemak, berminyak, terlalu banyak garam, dan makanan manis.
    • Jika kamu bisa mengonsumsi alkohol, sebaiknya mulai menurunkan konsumsi minuman tersebut. Akan lebih baik lagi jika berhenti mengonsumsinya.
    • Mulai belajar mengelola stress supaya tidak berlarut-larut. Stress dapat mengacaukan jam tidur sehingga berakibat buruk pada Kesehatan jantung.

    2. Menggunakan Obat-Obatan

    Selain mengubah polah hidup sehat, pengobatan angin duduk juga bisa menggunakan obat-obatan. Adapun beberapa jenis obat-obatan yang efektif meredakan nyeri pada penderita angina, yakni sebagai berikut:

    a. Aspirin

    Mengonsumsi aspirin akan membuat darah lebih mudah mengalir melalui pembuluh darah yang menyempit. Sebab, aspirin dapat mencegah darah mengalami pembekuan. Alhasil, risiko serangan jantung pun bisa diminimalisir.

    b. Nitrat

    Jenis obat lainnya yang dapat meredakan nyeri dada akibat angina adalah golongan nitrat. Cara kerja obat golongan nitrat adalah dengan menenangkan pembuluh darah sehingga bisa melebar kembali. 

    Jika pembuluh darah berangsur-angsur melebar, maka darah pun bisa mengalir dengan lancar lagi.

    Untuk mengonsumsi obat golongan nitrat harus melalui resep dokter. Biasanya, dokter akan meresepkan jenis obat nitrogliserin pada penderita angin duduk.

    c. Obat Pengencer Darah

    Supaya darah tidak kental tidak menggumpal, maka penderita angina biasanya juga akan diresepkan obat pengencer darah. Beberapa obat pengencer darah tersebut antara lain clopidogrel, ticagrelor, dan prasugrel.

    3. Operasi

    Jika semua upaya di atas tidak memberikan hasil signifikan, maka perlu dilakukan Tindakan operasi. Ada dua macam tindakan operasi yang bisa dilakukan pada penderita angin duduk antara lain, yaitu:

    a. Angioplasty

    Tindakan ini dilakukan untuk memasang stent pada pembuluh darah koroner yang tersumbat. Cara memasukkan stent tersebut yaitu melalui pembuluh darah terbesar yang berada di pangkal paha.

    b. Bypass

    Jika pembuluh darah tidak memungkinkan untuk dipasang stent, maka tindakan yang diambil yaitu bypass. Proses operasi ini lebih rumit jika dibandingkan dengan angioplasty

    Pasalnya, tim medis akan mengambil pembuluh darah dari bagian tubuh lain dan menyambungkannya dengan pembuluh darah jantung yang tidak tersumbat.

    Sudah Paham Tentang Angin Duduk?

    Angin duduk adalah penyakit yang menyerang jantung dan bisa menyebabkan kematian. Mengingat penyakit ini bisa terjadi secara tiba-tiba, maka kamu pun perlu mengetahui gejalanya agar bisa memberikan penanganan yang cepat dan benar.

    Mulailah menerapkan gaya hidup sehat agar terhindar dari angina dan masalah Kesehatan lainnya.

  • Apa itu Doping? Pengertian, Sejarah, Jenis, dan Efek Sampingnya

    Apa itu Doping? Pengertian, Sejarah, Jenis, dan Efek Sampingnya

    Doping atau ​​Performance Enhancing Drugs (PED) adalah istilah yang kerap menjadi sorotan utama dalam dunia olahraga. Praktik ini mencakup penggunaan zat terlarang untuk meningkatkan performa atlet, meskipun melanggar etika dan aturan olahraga. 

    Dampak dari zat ini sangat merugikan, bukan hanya bagi integritas olahraga, tetapi juga bagi kesehatan para atlet. Lantas, apa sebetulnya PED? Apa dampaknya bagi atlet? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari simak artikel ini sampai habis!

    Apa itu Doping?

    Apa itu Doping Pengertian, Sejarah, Jenis, dan Efek Sampingnya
    Sumber: mediakom.kemkes.go.id

    Doping adalah suatu praktik atau penggunaan zat terlarang dan metode tertentu guna meningkatkan performa serta tenaga atlet di kompetisi olahraga. Tujuan utama dari praktik ini adalah untuk meningkatkan daya tahan, kekuatan, kecepatan, dan atau pemulihan atlet sehingga mencapai hasil yang maksimal di pertandingan. 

    Namun, praktik ini merupakan pelanggaran etika olahraga dan bertentangan dengan prinsip kejujuran dan fair play. Zat terlarang yang sering digunakan dalam praktik ini meliputi steroid anabolik, hormon pertumbuhan, stimulan, dan diuretik. Penggunaan zat-zat ini dapat memberikan keuntungan yang bersifat sementara bagi atlet. 

    Akan tetapi, zat-zat tersebut juga memiliki dampak negatif yang serius terutama bagi kesehatan mereka. Bahkan, dampak tersebut termasuk masalah jantung, gangguan hormonal, dan gangguan mental.

    Organisasi olahraga internasional secara ketat melarang doping dan melakukan tes rutin untuk mengidentifikasi atlet yang terlibat pada praktik tersebut. Bahkan, sanksi berat diberlakukan kepada atlet yang terbukti menggunakannya. Sanksi tersebut termasuk diskualifikasi, pencabutan gelar, dan larangan bermain di kompetisi.

    Sejarah Doping

    Sumber: kompas

    Sejarah praktik ini dapat ditelusuri kembali ke zaman kuno. Di mana para atlet menggunakan berbagai jenis bahan alami untuk meningkatkan performa mereka dalam pertandingan olahraga. Pada abad ke-19, praktik ini mulai menjadi isu yang lebih serius dengan munculnya penggunaan stimulan seperti kokain oleh para atlet. 

    Namun, baru pada awal abad ke-20, praktik ini menjadi sorotan. Ketika seorang peserta Olimpiade meninggal dunia akibat mengonsumsi campuran dari obat dan alkohol sebelum pertandingan. Sejak saat itu, berbagai organisasi olahraga dan badan anti-doping yang berusaha keras untuk mengatasi masalah ini. 

    Pada tahun 1967, diadopsi uji doping pertama pada olimpiade dan kemudian berkembang menjadi program anti-doping yang lebih luas. Organisasi seperti World Anti-Doping Agency (WADA) didirikan untuk mengkoordinasikan upaya internasional dalam memerangi doping dalam olahraga.

    Meskipun langkah-langkah pencegahan telah diambil, praktik terlarang ini tetap saja menjadi masalah yang serius dan menantang di dunia olahraga modern. Upaya terus dilakukan untuk menjaga integritas olahraga dan menjamin persaingan yang adil bagi semua atlet.

    Jenis-Jenis Doping yang Terlarang 

    Doping telah menjadi isu yang kontroversial di dunia olahraga. Hal tersebut terjadi karena praktiknya yang melibatkan penggunaan zat-zat terlarang atau metode tertentu untuk meningkatkan performa atlet. Berikut adalah beberapa jenis zat-zat yang penggunaannya terlarang untuk atlet dan dunia olahraga:

    1. Eritropoietin (EPO)

    Eritropoetin atau yang biasa disebut EPO adalah hormon yang bertanggung jawab untuk merangsang produksi sel darah merah dalam tubuh. Penggunaan zat EPO meningkatkan jumlah sel darah merah, sehingga meningkatkan kemampuan tubuh untuk membawa oksigen ke otot. 

    Hal tersebut dapat meningkatkan daya tahan atlet, terutama dalam olahraga endurance seperti lari jarak jauh dan bersepeda. Namun, penggunaan dari zat EPO dapat menyebabkan efek samping yang serius. 

    Tingkat konsentrasi yang tinggi dari sel darah merah dapat menyebabkan viskositas darah yang berlebihan. Bahkan, doping ini juga dapat meningkatkan risiko pembekuan darah, tekanan darah tinggi, dan gagal jantung. 

    Selain itu, EPO juga dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh, yang dapat berdampak pada kesehatan keseluruhan atlet.

    2. Steroid Anabolik

    Steroid anabolik adalah zat sintetis yang meniru efek hormon testosteron dalam tubuh. Doping ini digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan otot dan kekuatan, sehingga membuat atlet lebih kuat dan bertenaga. Penggunaan steroid anabolik umumnya ditemukan pada olahraga kekuatan seperti angkat besi dan binaraga.

    Meskipun zat steroid anabolik dapat meningkatkan performa sementara bagi tubuh, penggunaan secara berlebihan bisa menyebabkan efek samping yang serius. Beberapa efek sampingnya termasuk kanker hati, gangguan hormonal, jerawat, dan masalah kardiovaskular

    Selain itu, penggunaan jangka panjang dari zat ini juga dapat menyebabkan efek kecanduan. Bahkan, efek candu ini dapat mengakibatkan terganggunya sistem keseimbangan hormonal yang bisa menyebabkan masalah kesehatan lainnya.

    3. Stimulan

    Stimulan adalah jenis zat yang berguna untuk meningkatkan fokus, kejelian, dan energi atlet. Umumnya, doping ini dapat membantu atlet tetap terjaga dan waspada selama pertandingan. Sehingga dapat meningkatkan performa atlet secara keseluruhan.

    Namun, penggunaan zat stimulan ternyata dapat menyebabkan efek samping yang cukup serius. Penggunaan jangka panjang dari zat ini menyebabkan kecanduan dan dosis tinggi, di mana tubuh atlet menjadi kurang responsif terhadap zat tersebut. 

    Bahkan penggunaan zat ini juga memiliki bahaya yang cukup signifikan terhadap kesehatan tubuh atlet. Penggunaan stimulan secara berlebihan dapat menyebabkan jantung berdebar, tekanan darah tinggi, gangguan tidur, dan rasa kelelahan yang berlebihan setelah efeknya mereda dari tubuh.

    4. Hormon Pertumbuhan

    Jenis doping berikutnya adalah hormon pertumbuhan. Hormon pertumbuhan adalah zat yang berperan bagi pertumbuhan dan juga perkembangan tubuh. Penggunaan hormon pertumbuhan ini dapat meningkatkan ukuran otot dan mengurangi lemak tubuh, sehingga meningkatkan kekuatan tubuh dan kecepatan atlet.

    Namun, penggunaan hormon pertumbuhan tanpa resep medis dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan yang cukup serius. Penggunaan yang tidak terkontrol bisa menyebabkan pertumbuhan organ internal yang tidak normal, gangguan pada hormon, dan bahkan risiko terkena penyakit kanker. 

    Selain itu, penggunaan hormon pertumbuhan juga dapat menyebabkan masalah tulang dan juga persendian. Karena tubuh yang berkembang dan tumbuh terlalu cepat, badan manusia jadi tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik. Akibatnya, sendi-sendi serta tulang dapat mengalami kerusakan serius.

    5. Diuretik

    Diuretik adalah zat yang digunakan untuk meningkatkan produksi urine dalam tubuh. Penggunaan doping ini dapat membantu atlet mengurangi berat badan secara cepat dan meningkatkan kecepatan pemulihan tubuh setelah pertandingan.

    Namun, zat diuretik dapat menyebabkan efek samping bagi tubuh atlet. Penggunaan diuretik dapat menyebabkan dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit yang terjadi di dalam tubuh. 

    Hal tersebut akan berdampak pada masalah kesehatan yang serius seperti tekanan darah rendah, kelemahan otot, dan bahkan kebingungan. Selain itu, penggunaan diuretik secara berlebihan juga dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal serta masalah ginjal lainnya jangka panjang.

    Sanksi bagi Atlet yang Terbukti Menggunakan Doping

    Sumber: nytimes

    Sanksi bagi atlet yang terbukti menggunakan doping sangatlah berat dan memiliki dampak serius terhadap karir mereka dalam dunia olahraga. Organisasi olahraga internasional, seperti World Anti-Doping Agency (WADA) dan Komite Olimpiade Internasional (IOC) punya aturan dan pengujian ketat untuk mengatasi masalah ini. 

    Jika atlet positif mengonsumsi zat terlarang, mereka akan mendapat sanksi yang sesuai dengan tingkat pelanggaran. Sanksi yang umumnya berlaku meliputi:

    • Diskualifikasi dari kompetisi.
    • Larangan berpartisipasi dalam kompetisi olahraga.
    • Pembatalan kontrak sponsor.
    • Penghentian karir olahraga. 

    Sanksi ini bertujuan untuk memberikan efek jera kepada para atlet dan mencegah praktik berbahaya ini dalam dunia olahraga. Dengan memberlakukan sanksi tegas, diharapkan para atlet lebih berpikir sebelum menggunakan zat ini dan memilih untuk berkompetisi secara fair dan sehat

    Sudah Paham Apa itu Doping dalam Dunia OIahraga?

    Doping adalah praktik yang tidak hanya melanggar aturan olahraga saja, tetapi juga mengancam kesehatan atlet. Berbagai jenis zat-zat seperti EPO, steroid anabolik, stimulan, hormon pertumbuhan, dan diuretik memiliki dampak serius. 

    Tidak hanya itu, penggunaan zat ini juga dapat merusak moral. Karena atlet akan berkompetisi dalam kondisi yang tidak adil untuk memperoleh keuntungan sepihak. Melatih mental dan fisik, menjaga asupan nutrisi, menerapkan diet sehat bisa menjadi pilihan untuk menjaga performa alih-alih melakukan praktik terlarang.

  • Apa Itu Epilepsi: Pengertian, Etiologi, Gejala, dan Pengobatannya

    Apa Itu Epilepsi: Pengertian, Etiologi, Gejala, dan Pengobatannya

    Pernahkah Anda melihat seseorang yang tiba-tiba mengalami kejang pada sekujur tubuhnya atau bahkan Anda sendiri pernah mengalaminya? Hal itu merupakan pertanda bahwa orang tersebut menderita penyakit kronis epilepsi atau ayan, di mana penyakit tersebut akan menjadi pembahasan kita kali ini.

    Berbicara tentang ayan, penyakit ini bisa menyerang semua golongan usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua sekalipun. Maka dari itu, Anda wajib waspada dan mengantisipasinya dengan memahami pengertian, etiologi, gejala, dan pengobatan dari penyakit ini.

    Apa Itu Epilepsi?

    Epilepsi atau ayan merupakan salah satu penyakit kronis yang mempunyai gejala awal kejang-kejang. Kondisi ini terjadi karena terdapat gangguan pada saraf pusat manusia, sehingga memunculkan reaksi kejang pada tubuh hingga kehilangan kesadaran. 

    Biasanya, penderita tidak akan sadar apa penyebabnya. Tiba-tiba tubuhnya langsung ambruk dan tidak sadar. Perlu Anda ketahui bahwa kejang pada penyakit ayan akan terjadi secara berkala dengan jangka waktu yang lebih lama, lebih dari sekali, dan berulang. Bahkan, ada yang menyerang ketika penderita tertidur.

    Secara medis, penyebab ayan belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa dugaan yang mengarah pada kegiatan listrik di otak manusia. Misalnya saja pernah mengalami cedera kepala, kecelakaan, meningitis, dan lain sebagainya.

    Selain itu, kemunculan ayan juga bisa disebabkan karena faktor genetik seperti pernah ada salah satu keluarga yang menderitanya. Jadi, apabila ada keturunan yang memiliki riwayat penyakit ini, maka Anda wajib berhati-hati dan selalu perhatikan kondisi kesehatan.

    Etiologi atau Penyebab Epilepsi

    Sumber: Freepik

    Penyebab epilepsi bisa terbagi menjadi 6 jenis, di mana setiap jenisnya mempunyai penjelasan masing-masing yang harus Anda pahami. Berikut adalah penjelasannya:

    1. Infeksi

    Infeksi menjadi penyebab yang paling banyak diketahui memicu kemunculan ayan. Kejang menjadi gejala utamanya adalah kejang dengan durasi waktu yang cukup lama. Sedangkan infeksi yang menyebabkannya seperti HIV, infeksi Kongenitel, cerebral toxoplasmosis, neurosistiserkosis toxoplasmosis, dan lain sebagainya.

    2. Imunitas

    Imunitas seseorang yang mengalami reaksi berlebihan juga akan memunculkan penyakit kejang karena terdapat inflamasi pada sistem di saraf pusat. Contoh dengan kondisi ini adalah ensefalitis autoimun. Sedangkan gejalanya seperti gangguan gerak, kebingungan, psikiatrik, hingga kehilangan kesadaran.

    3. Metabolik

    Epilepsi metabolik bisa terjadi sebagai bentuk menifestasi abnormalitas biokimia atau defek metabolik  tubuh. Contohnya uremia, kejang, porfiria, dan aminoasidopati.

    4. Struktural

    Etiologi struktural merupakan abnormalitas struktur yang ada di wilayah otak dan diketahui melalui pencitraan. Kelainan ini terbagi menjadi dua yakni kelainan yang diperoleh melalui trauma, stroke, hingga infeksi dan kelainan struktural genetik yang menjadi penyebab utama adanya malformasi korteks.

    5. Genetik

    Penyebab epilepsi yang berikutnya adalah genetik. Penyebab jenis ini bisa Anda amati secara jelas pada beberapa kasus, terutama jika ada pihak keluarga Anda yang mempunyai kelainan autosomal dominan. Mutasi faktor genetik bisa memunculkan gejala ringan hingga berat.

    Sebenarnya, ada sebuah fakta menarik tentang penyebab genetik ini. Faktor ini tidak menjadi satu-satunya penentu terjadinya ayan, melainkan masih ada peran lain dari beberapa aspek. Mulai dari kurang tidur, stres, hingga lingkungan sekitar yang tidak baik.

    6. Tidak Terdeteksi

    Penyebab yang terakhir ini tidak diketahui apa penyebabnya. Maksudnya, medis tidak mampu mendeteksi faktor apa yang mendorong seseorang bisa sampai terkena penyakit kronis ayan. Dengan begitu, diagnosa hanya bisa dilakukan hingga titik tertentu tanpa melakukan pengembangan yang lebih lanjut.

    Gejala Penyakit Epilepsi

    Sumber: Hello Sehat

    Ketika orang menderita epilepsi, maka ia akan mengalami beberapa gejala yang salah satunya adalah kejang. Hanya saja, karakteristik kejang pada penyakit ini bisa terjadi secara variasi dan bergantung pada bagian otak mana saja yang terkena gangguannya. Berikut ini penjelasan lebih lanjut:

    1. Kejang Umum

    Kejang umum atau yang sering disebut sebagai kejang menyeluruh memiliki gejala yang cukup serius karena kejang akan terjadi pada seluruh sekujur tubuh. Hal ini tentu saja akan berdampak langsung ke seluruh bagian otak. Adapun kejang umum memiliki beberapa gejala sebagai berikut:

    • Sering mengompol.
    • Mata yang terbuka.
    • Otot tiba-tiba menjadi rileks sehingga pengidap bisa jatuh tanpa mampu mengendalikan tubuhnya.
    • Tubuh kaku dalam waktu beberapa detik kemudian muncul gerakan ritmis pada lengan ataupun kaki. Umumnya ditandai dengan otot lengan, punggung dan kaki berkedut.
    • Penderita bisa mengeluarkan suara-suara atau berteriak ketika mengalami kejang.
    • Pengidap bisa tidak sadarkan diri dan ketika kembali sadar mereka bisa merasa bingung selama beberapa menit atau jam.

    2. Kejang Parsial

    Gejala epilepsi yang kedua adalah kejang parsial, di mana yang mengalami gangguan hanya sebagian otak saja. Kejang jenis ini terbagi menjadi dua kategori, yakni:

    • Kejang parsial kompleks: Merupakan gejala yang membuat penderitanya akan merasakan bingung atau setengah sadar selama beberapa saat. Adapun ciri-cirinya adalah pandangan kosong, menggosok-gosokkan tangan, menelan, hingga mengunyah.
    • Kejang parsial simpel: Merupakan kejang yang penderitanya tidak akan kehilangan kesadaran. Ciri-cirinya hanya beberapa anggota tubuh yang menyentak tiba-tiba atau muncul sensasi kilatan cahaya, kesemutan, hingga pusing. 

    Khusus kejang parsial, biasanya akan disesuaikan dengan bagian otak yang mengalami gangguan saja. Misalnya ayan menganggu jaringan yang ada di kaki kanan, maka anggota tubuh itu saja yang akan mengalami kejang. 

    Hanya saja, kejang parsial ini mampu membuat penderitanya akan mengalami perubahan suasana hati yang berlebihan dan tiba-tiba seperti merasa takut dan gembira.

    Pengobatan dan Pencegahan Penyakit Epilepsi

    Sumber: Freepik

    Mungkin ayan tidak bisa Anda hindari jika memang sudah terjadi. Namun, bukan berarti penyakit tersebut tidak bisa disembuhkan atau dicegah. Untuk mengetahui ulasannya, silahkan simak penjelasan di bawah ini:

    1. Pencegahan Epilepsi

    Mencegah penyakit epilepsi bisa Anda lakukan dengan beberapa cara yakni:

    • Tidak mengonsumsi minuman yang mengandung alkohol.
    • Menghindari diet ekstrim.
    • Olahraga secara teratur.
    • Menerapkan pola hidup sehat.
    • Menghindari stress berlebihan.
    • Tidak merokok.

    2. Pengobatan Epilepsi

    Sesuai dengan judulnya, epilepsi bisa Anda cegah dan obati. Untuk perihal pengobatannya ini, para penderita disarankan untuk berkonsultasi langsung dengan dokter. 

    Sebab, gejala epilepsi bisa datang kapan saja dan di mana saja. Maka dari itu, untuk menghindari segala kemungkinan terburuknya, silahkan berobat ke dokter spesialis saraf.

    Biasanya, dokter akan memberikan resep obat yang harus penderita konsumsi secara rutin. Dengan begitu, penderita bisa melakukan kegiatannya secara normal. 

    Sementara itu, hal yang paling dihindari oleh penyakit ini adalah gejala kejangnya. Takutnya jika tidak mendapatkan perawatan, maka bisa berimbas buruk.

    Meski bisa diobati, namun epilepsi tidak bisa sembuh secara maksimal. Dokter hanya akan meringankan gejala saja dan memperkecil risiko kambuhnya. Penderita bisa menerapkan pola hidup sehat dan meninggalkan aktivitas-aktivitas yang memicu kemunculan gejala.

    Diagnosa Epilepsi

    Dalam beberapa pemeriksaan, dokter akan melakukan beberapa hal terkait kegiatan dari penderita. Sebab, dengan mata telanjang penderita akan tampak normal jika tidak dalam kondisi kambuh. 

    Biasanya, penderita pun akan diminta untuk melakukan sejumlah tes kemampuan berpikir, kepekaan otot, cara berjalan, dan tingkat kepekaan. Jika kondisi pasien dinyatakan mengidap epilepsi, maka dokter akan menyarankan untuk melakukan beberapa tes berikut ini:

    • Tes darah yang berfungsi mengetahui masalah pada kesehatan dan infeksi.
    • EEG atau elektroensefalogram yang bermanfaat untuk mengetahui aktivitas listrik yang ada di otak manusia. Sebab, penyakit ini berhubungan langsung dengan saraf listrik otak. Jadi, untuk menentukan tingkat keparahannya, penderita harus menjalani tes ini.

    Sudah Paham dengan Penyebab dan Gejala Epilepsi?

    Melalui penjelasan di atas, penyakit epilepsi mampu memberikan efek yang tidak baik untuk kesehatan manusia. Bahkan bisa memunculkan ancaman kematian apabila gejala-gejala yang muncul secara mengejutkan terjadi. Takutnya penderita bisa mengalami kecelakaan lain jika kambuh di tempat yang tak terduga.

    Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang epilepsi dan upaya-upaya terus-menerus dalam penelitian serta perawatan, harapannya adalah Anda dapat terus meningkatkan kualitas hidup individu yang mengidapnya. Semoga artikel ini bermanfaat, ya!