Category: Kesenian

  • 10 Tarian Jawa Tengah: Sejarah, Properti, Makna & Gambar

    10 Tarian Jawa Tengah: Sejarah, Properti, Makna & Gambar

    Jawa Tengah terdiri dari 35 kabupaten serta kota dengan budaya berbeda. Hampir setiap kabupaten memiliki tarian khasnya masing-masing. Tidak heran jika tarian Jawa tengah ada banyak jenisnya. Mari simak penjelasan berikut untuk memahami lebih dalam tentang kesenian dari Jawa Tengah ini.

    Ini 10 Tarian Jawa Tengah dengan Ciri Khas yang Menarik

    Setiap tarian daerah yang berasal dari Jawa Tengah, selain punya gerakan yang khas, juga membawa asal-usul dan filosofi yang menarik untuk Anda pelajari. Berikut ini adalah sepuluh jenis tarian daerah dari salah satu provinsi di pulau Jawa yang kental dengan adatnya. 

    1. Gambyong

    Flickr

    Gambyong merupakan salah satu tarian yang sangat terkenal. Para penari membawakan tarian Gambyong dalam rangka memberikan penghormatan kepada Dewi Sri. Dalam legenda Jawa Tengah, Dewi Sri merupakan istri Batara Wisnu yang mengajarkan manusia bercocok tanam atau bertani.

    Penari yang membawakan tari Gambyong umumnya terdiri dari orang remaja perempuan. Mereka mengenakan kostum berwarna hijau, bawahan kain batik atau jarik, serta selendang kuning panjang di pinggang. Hiasan di bagian kepala juga menjadi bagian dari kostum tari ini. 

    Untuk mengiringi tari Gambyong, ada lantunan musik tradisional Jawa, yaitu gamelan. Sinden atau penyanyi juga turut mengiringi tarian ini dari awal hingga akhir. Salah satu tarian paling terkenal dari Jawa Tengah ini memiliki gerakan yang lincah. Para penarinya berbaris menghadap ke arah penonton.

    2. Bedhaya, Tarian Jawa Tengah yang Religius

    surakarta.go.id

    Selanjutnya ada tari Bedhaya yang juga sangat terkenal. Tarian tersebut memiliki makna religius yang mendalam, baik bagi para penarinya sendiri maupun para penonton yang menyaksikan. Bahkan, tidak sedikit yang menganggap bahwa tarian ini termasuk ke dalam meditasi atau yoga.

    Tari Bedhaya berasal dari Keraton Surakarta yang menceritakan tentang kisah asmara antara raja-raja Mataram dengan Ratu Kidul. Gerakan tangan dan seluruh bagian tubuh penari menggambarkan kisah asmara tersebut dengan begitu baik.

    Sama seperti tari Gambyong, musik tradisional Jawa berupa gamelan juga mengiringi sepanjang tari Bedhaya dipertontonkan. Sementara itu, penarinya mengenakan busana berupa atasan blus beludru, sarung batik, serta selendang khas berwarna keemasan.

    3. Golek

    news.uad.ac.id

    Nama ‘Golek’ pada tarian ini mengacu pada pertunjukan Wayang Golek. Meski Wayang Golek berasal dari Sunda dan tarian ini berasal dari Jawa, keduanya sejajar dalam sejarah.

    Tari Golek sendiri merupakan sebuah tarian dari keraton yang memang disiapkan untuk acara khusus. Tarian ini menggambarkan pertumbuhan seorang gadis muda yang beranjak dewasa dan menjadi wanita seutuhnya. Teknik dasar dan posturnya akan mengingatkan pada tari Serimpi dan Bedhaya.

    Namun, koreografinya lebih menggambarkan kecantikan seorang gadis dalam kisah tarian ini. Cerita dan filosofi tersebut membuat keraton mempersembahkan Tari Golek ini dalam acara pernikahan di masa lampau. 

    4. Bondan

    Balaibahasajateng

    Bondan menjadi jenis tarian Jawa Tengah yang juga berasal dari Keraton Surakarta atau Solo, Jawa Tengah. 

    Tarian ini menceritakan seorang ibu yang melindungi dan menjaga anaknya dengan penuh rasa hati-hati. Oleh karena itu, penari Bondan membawa properti berupa boneka kecil serta sebuah payung yang terbuka. 

    Uniknya, penari Bondan akan menari di atas sebuah kendi yang tidak boleh dipatahkan atau dipecahnya. Mereka harus menari dengan penuh kehati-hatian. Tarian ini memiliki tiga bagian utama, yaitu Cindogo Mariah, dilanjutkan dengan Mariah Mardisiwi, dan diakhiri dengan Marian Pegunungan.

    Penari Bondan mengenakan pakaian yang sederhana, layaknya gadis desa pada zaman dahulu. Mereka juga mengenakan topi, memegang keranjang, serta membawa alat pertanian.

    5. Serimpi, Tarian Jawa Tengah Paling Terkenal

    Pariwisata Indonesia

    Jika dilihat sekilas, mungkin Anda akan sulit membedakan antara Tari Serimpi dan Bedhaya yang telah dibahas sebelumnya. Pasalnya, keduanya memang memiliki banyak kemiripan, mulai dari penari wanita, kostum, hingga teknik gerakan di dalam tariannya.

    Saat perayaan, hari besar atau acara kebudayaan tertentu, Keraton Jawa Tengah akan menampilkan tarian ini. Penari Serimpi melambangkan 4 elemen yaitu api, air, bumi, dan udara. Keempatnya juga mewakili arah mata angin, yaitu selatan, barat, utara, dan timur.

    Para penari juga mengenakan pakaian sampir putih yang merupakan simbol ketulusan serta kesucian hari penari. Serimpi juga merupakan tarian yang melambangkan kelembutan dilihat dari gerakan dan alunan musiknya. 

    Pada dasarnya, tarian ini menceritakan tentang pertarungan antara 4 orang pahlawan wanita menggunakan belati keris, dan masih dianggap sakral dan berbau mistis. Properti pistol yang digunakan para penarinya turut menjadai keunikan tarian tradisional Jawa Tengah yang satu ini. 

    6. Gambir Anom

    Gasbanter Journal

    Masih dari wilayah Surakarta, kali ini ada tarian yang bernama Gambir Anom. Tarian ini merupakan tarian tunggal. Penari yang memperagakannya bisa wanita mapun pria. Meski bisa diperankan semua orang, Gambir Anom sebenarnya menceritakan tentang putra Arjuna, Irawan yang sedang jatuh cinta. 

    Melalui tarian ini, dikisahkan bahwa Irawan  merias dirinya, berbusana rapi, menata rambut, dan bersolek. 

    Di samping itu, untuk menggambarkan kondisi orang yang sedang jatuh cinta, ada banyak gerakan mondar-mandir, seolah sang pujaan hati sedang berada di hadapannya. Sedangkan gerakan bercermin mengilustrasikan keinginan Irawan tampil sempurna di hadapan pujaan hatinya. .

    7. Beksan Wireng

    RomaDecade

    Beksan Wireng adalah salah satu tarian Jawa Tengah yang sudah ada sejak abad ke-12 lalu. Meski usianya sudah terbilang sangat tua, Beksan Wireng sangat cocok untuk mengenalkan budaya Jawa kepada anak muda. 

    Seperti kebanyakan tarian yang sudah dijelaskan sebelumnya, Beksan Wireng juga tumbuh dan berkembang di lingkungan Kasunanan Surakarta. Selain itu, Pura Mangkunegaran juga turut melestarikan tarian yang satu ini. 

    Tarian Beksan Wireng diinisiasi pertama kali saat Amiluhur menjabat sebagai seorang raja. Amiluhur berharap agar tarian yang bembawakan cerita peperangan ini menjadi penyemangat masyarakat untuk mempertahankan kerajaannya.

    Beksan Wireng tetap lestari di wilayah Jawa Tengah hingga saat ini. Tidak sedikit penari yang membawakan tarian ini untuk menghormati Amiluhur serta raja-raja Jawa terdahulu.

    8. Lengger

    Wikimedia Commons

    Mari sejenak tinggalkan Surakarta dan beranjak ke sisi barat Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Wonosobo. Kabupaten ini memiliki sebuah tarian tradisional bernama Lengger. Tarian ini tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat Dieng sejak ratusan tahun lalu.

    Oleh karena itu, Tari Lengger hampir selalu dibawakan dalam setiap acara penting di Dieng Plateau. Banyak orang yang menyebut Lengger Dieng sebagai Tari Topeng karena penarinya memang menggunakan properti penutup wajah. 

    Berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat, Sunan Kalijaga menciptakan dan menggunakan Tari Lengger untuk berdakwah menyebarkan Islam di wilayah Wonosobo hingga Banyumas. Musik yang mengiringi tarian ini antara lain kendang, gong, saron, gambang, serta seperangkat gamelan lainnya.

    Dalam pementasan, Tari Lengger dibawakan oleh sepasang penari perempuan dan laki-laki. Pemeran laki-laki dalam tarian ini mengenakan topeng yang jumlahnya ada 120 buah, mengikuti instruksi pawang atau penimbal. Jumlah tersebut sama dengan tokoh pewayangan yang ada di Jawa.

    9. Dolalak, Tarian Jawa Tengah yang Unik

    Viva

    Dari Purowrejo, kabupaten yang berbatasan langsung dengan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, ada tarian tradisional Dolalak. Sebagian masyarakat juga menyebutnya dengan tarian Angguk.

    Penari wanita yang memperagakan tarian ini mengenakan pakaian yang unik. Tidak seperti tarian Jawa lainnya yang mengenakan jarik serta kebaya, penari Dolalak justru kemeja lengan panjang berpadu dengan celana pendek. Umumnya, kostume penari berwarna cerah dan berhiaskan ornamen emas.

    Penari Dolalak juga mengenakan sampur atau selendang kuning cerah serta mengenakan kacamata hitam saat tampil. 

    Gerakan utama dari Dolalak adalah menunduk atau manggut-manggut. Koreografi ini menggambarkan ajaran masyarakat Jawa untuk selalu menghormati orang lain dengan cara menunduk. Tarian ini juga menunjukkan kesopanan terhadap orang yang lebih tua.

    10. Gambang

    IDN Times

    Nama tarian terakhir dari Jawa Tengah adalah Tari Gambang. Tarian ini juga disebut tari Semarangan karena berasal dari Semarang. Ciri khas dari Gambang, yaitu penarinya yang kerap melontarkan lawakan ringan.

    Tari Gambang merupakan hasil perpaduan dari dua budaya berbeda, yaitu Jawa dan China atau Tionghoa. Perpaduan ini tercermin pada musik yang mengiri tariannya. Alat musik yang mengiringi seperti kecrek, gong suwuk, kempul, bonang, kendang, hingga tehyan atau kongahyan.

    Tarian khas Semarang ini menceritakan tentang kegembiraan 4 orang penari saat mereka berkumpul di malam hari. Mereka digambarkan sedang berdendang dan menari bersama. Itulah kenapa tarian ini juga diselingi dengan candaan ringan karena menggambarkan tentang ‘tongkrongan’.

    Gaya dan gerakan dalam tarian ini terlihat bagaikan gelombang air laut jika Anda benar-benar menghayatinya. Unsur gerakannya juga cenderung dinamis, mengalir, dan lugas, layaknya gerakan tarian pesisir lainnya.

    Apa yang Membuat  Tarian Jawa Tengah Begitu Menarik?

    Jawa Tengah mencakup wilayah yang luas dengan budaya berbeda-beda. Kondisi tersebut membuat tarian Jawa Tengah sangat beragam. 

    Selain kostum, melodi dan irama masing-masing tarian, di dalamnya ada penggambarab kehidupan keraton hingga kegembiraan masyarakat di wilayah pesisir dengan bubuhan filosofi yang menambah unsur seni dan keindahannya. 

  • Tari Cokek: Sejarah, Makna, Tujuan, Keunikan, dan Gerakannya

    Tari Cokek: Sejarah, Makna, Tujuan, Keunikan, dan Gerakannya

    Sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia, tari tradisional telah lama menjadi daya tarik seni bagi masyarakat, salah satunya adalah Tari Cokek dari Betawi. Dengan akar yang dalam pada sejarah dan masyarakat Indonesia, tarian ini bukan hanya sekadar tarian, tetapi juga menceritakan kisah-kisah kehidupan serta tradisi nenek moyang. 

    Pada artikel ini, kita akan membahas asal-usul, gerakan khas, dan keunikan pada tarian ini. Serta bagaimana warisan seni ini terus berlanjut di tengah perubahan zaman saat ini. Untuk lebih lengkapnya, simak terus artikelnya!

    Sejarah Tari Cokek

    Asal mula Tari Cokek bermula sekitar awal abad ke-19, di mana para pedagang Tiongkok memperkenalkannya bersama dengan Tan Sio Kek, yang sering mengadakan pertunjukan di rumahnya.

    Ketika menggelar pesta, Tan Sio Kek mempersembahkan permainan khas Tiongkok menggunakan rebab dua dawai yang berpadu dengan alat musik tradisional Betawi, seperti gong, kendang, dan suling. Dengan berbagai irama musik tersebut, para tamu terlibat dalam tarian mengikuti irama yang tercipta.

    Nah, dari sinilah lahirlah tarian Cokek yang mana penciptanya ialah Tan Sio Kek. Awalnya, tarian ini terkenal sebagai Tari Sipatmo yang pementasannya berguna untuk upacara adat di vihara dan klenteng.

    Pendapat lain mengatakan bahwa tarian ini awalnya berkembang saat tuan tanah keturunan China sebelum Perang Dunia II, dan grup tarian ini masih milik keturunan China. Ada juga interpretasi bahwa “cokek” merujuk pada penyanyi yang juga menari, yang mana sering membawa kesenangan dalam berbagai acara.

    Para penari Cokek tidak hanya memeriahkan pesta dengan nyanyian dan tarian. Tetapi juga membantu para tamu dengan pelayanan seperti menuangkan minuman atau memberi makanan, sambil menampilkan gerakan yang lincah. 

    Kemudian, Tari Cokek juga menjadi tarian pergaulan yang diiringi oleh orkes gambang kromong, di mana para tamu diundang untuk berpasangan dengan penari Cokek. Buku “Batavia 1740 – Menyisir Jejak Betawi” mencatat bahwa penari Cokek belajar dari guru tari asal China, yang membuat tarian ini kental dengan gerakan tarian khas Tiongkok. 

    Pada masa lampau, penari Cokek biasanya terdiri dari perempuan muda yang berstatus sebagai budak. Tarian ini menggabungkan elemen-elemen budaya Betawi dengan pengaruh dari luar, menciptakan bentuk tarian sosial yang unik.

    Kini, Tari Cokek tidak hanya dikuasai oleh keturunan China, tetapi juga oleh masyarakat lokal yang terlibat sebagai pemain dan penonton dalam pertunjukan tarian di berbagai daerah. Termasuk daerah Jakarta, Tangerang, dan Bekasi.

    Makna Tari Cokek

    Tari Cokek
    Tari Cokek | Image Source: Tempo

    Kombinasi mata tajam dan ekspresi kegenitan penari memiliki tujuan untuk memikat tamu pria agar turut berpasangan selama menari di panggung atau halaman rumah. Hal ini menjadikan Tari Cokek memiliki peran sebagai bentuk tarian pergaulan.

    Masyarakat Betawi menyebutnya Tari Ngibing Cokek yang mana selama menari, para penari minum minuman tuak untuk menjaga semangat. Pada tahun 1970-an, kesenian Cokek hanya melayani tamu atau acara yang melibatkan komunitas Tionghoa. 

    Sebelum Perang Dunia II, tarian ini dan musik Gambang Kromong dimiliki oleh kelompok peranakan Tionghoa untuk melayani tuan tanah kaya. Para penari Cokek umumnya memiliki pimpinan yang mengarahkan mereka untuk melayani tamu Tionghoa. 

    Gerakan erotis seperti menggoyangkan pinggul membuat para penari Cokek mendapat julukam sebagai wanita penghibur atau cabo dalam bahasa Betawi. Seiring berjalannya waktu, berbagai pendapat masyarakat tentang tarian ini muncul, dan pandangan ini turut mempengaruhi perkembangannya.

    Tari Cokek mendapatkan dukungan dan kritikan dari masyarakat sekitar. Kritik ini muncul karena gerakan tarian ini tidak memiliki nilai moral yang meragukan. Kritik ini muncul karena gerakan menggoyangkan pinggul dari bawah ke atas oleh penari Cokek. 

    Demi menghibur para tamu dan memperoleh pendapatan, penari Cokek akan menggunakan selendang untuk mengajak tamu-tamu Tionghoa berpartisipasi dalam tarian bersama. Ini memunculkan pandangan bahwa laki-laki yang ditarik oleh penari Cokek tidak akan kembali ke rumah.

    Namun, mengutip dari laman Antara, tarian ini juga memiliki makna positif dalam gerakannya. Salah satunya adalah gerakan tangan ke atas yang mengandung arti memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa.

    Dalam tarian ini, juga terdapat gerakan menunjuk mata yang menggambarkan upaya manusia dalam menjaga pandangannya dari hal-hal yang tidak baik atau negatif. Selain itu, gerakan menunjuk kening memiliki makna bahwa manusia seharusnya menggunakan akalnya untuk memikirkan hal-hal yang positif.

    Tujuan Tari Cokek

    Tarian ini memiliki tujuan yang berbeda seperti upacara adat, pertunjukan seni, dan juga interaksi sosial yang akrab. Berikut ini penjelasannya:

    1. Sebagai Upacara Adat

    Salah satu fungsi utama dari tarian Cokek adalah dalam konteks upacara adat. Tarian ini sering ada dalam rangkaian acara tradisional seperti pernikahan, penyambutan tamu, dan berbagai ritual adat. 

    2. Sebagai Pertunjukan Seni

    Selanjutnya juga berfungsi sebagai bentuk seni pertunjukan yang menarik bagi penonton. Ketika pementasan tari di panggung atau area terbuka, tarian Cokek menjadi bentuk hiburan yang memukau dan menghibur.  

    3. Sebagai Pergaulan

    Tidak hanya sebatas pertunjukan formal, tarian ini juga memiliki peran penting dalam konteks pergaulan sosial. Tari ini menjadi salah satu cara bagi masyarakat untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan cara yang santai dan menyenangkan. 

    Keunikan Tari Cokek

    Keunikan Tari Cokek
    Keunikan Tari Cokek | Image Source: 1001 Indonesia

    Tari Cokek menunjukkan keunikan melalui gerakan perlahan dari tubuh penari, yang memudahkan penonton untuk mengikutinya dengan mudah. Setelah pertunjukan gerakan tarian Cokek, penari akan mengajak penonton untuk turut berpartisipasi dalam menari.

    Penari melakukannya dengan mengalungkan selendang di leher dan menariknya ke depan atau menuju panggung. Biasanya, ajakan ini untuk tokoh-tokoh masyarakat atau individu berpengaruh yang hadir dalam acara tersebut.

    Dalam tarian Cokek, terdapat interaksi dekat antara penari dan penonton, meskipun tanpa kontak fisik langsung. Selain gerakan yang pelan, hal yang mencolok dari tarian ini adalah pakaian khas yang dipakai oleh para penari.

    Umumnya, para penari mengenakan kebaya yang terbuat dari kain sutra dengan warna yang mencolok, seperti hijau, merah, kuning, dan ungu. Warna-warna ini semakin mencolok saat terkena sorotan lampu.

    Properti Tari Cokek

    Terdapat beberapa perlengkapan yang harus penari Cokek gunakan, diantaranya adalah sebagai berikut:

    1. Atribut Pakaian Khas

    Penari Cokek mengenakan atribut khas berupa baju kurung dan celana panjang. Warna tersebut adalah merah, kuning, merah muda, biru dan ungu. Umumnya, celana memiliki dekorasi yang sesuai dengan warna celana tersebut.

    2. Selendang Panjang

    Penari Cokek juga menggunakan selendang panjang yang terikat pada pinggang dan dibiarkan terurai ke bawah. Selendang ini tidak hanya memberikan elemen visual yang menarik, tetapi juga memungkinkan penari untuk menggerakkan selendang dalam tarian.

    3. Hiasan Rambut

    Rambut penari harus rapi, sehingga kebanyakan dari mereka akan mengenakan sanggul yang berukuran cukup besar. Sanggul ini juga memiliki hiasan tusuk konde yang dapat bergerak-gerak, hal itu menambahkan sentuhan artistik pada penampilan penari.

    Gerakan Tari Cokek

    Gerakan Tari Cokek
    Gerakan Tari Cokek | Image Source: Museum Nusantara

    Gerakan dalam Tari Cokek biasanya lembut dan anggun, menggambarkan nuansa elegan dan keanggunan. Berikut adalah urutan gerakan umumnya:

    1. Angkat Tangan ke Atas

    Gerakan mengangkat tangan ke atas melambangkan bahwa manusia hanya mampu memohon dan mengandalkan kehendak Tuhan Yang Maha Esa agar semua harapan dan permohonan dapat terkabul. Gerakan ini menggambarkan upaya manusia untuk berdoa kepada Sang Pencipta, karena hanya pada Tuhan lah manusia dapat berharap.

    2. Tunjuk Kening

    Gerakan menunjuk kening pada Tari Cokek mencerminkan pentingnya agar manusia selalu berpikir dengan bijak dan tidak membentuk prasangka buruk sebelum mengetahui kebenarannya terhadap suatu hal. Jika manusia membentuk prasangka buruk, maka tidak akan ada kebaikan yang datang.

    3. Tutup Mulut dengan Tangan

    Gerakan menutup mulut dengan tangan menggambarkan perlunya manusia untuk selalu berbicara dengan kata-kata yang baik. Jika manusia tidak mampu berbicara dengan baik, maka lebih baik diam.

    4. Tunjuk ke Mata

    Gerakan menunjuk mata melambangkan bahwa manusia harus selalu menjaga penglihatan atau pandangannya dari segala hal yang negatif. Mata adalah anugerah Tuhan, sehingga gerakan ini menekankan bahwa kita harus bersyukur dengan menggunakan mata untuk hal-hal yang positif.

    Tertarik untuk Menarikan Tari Cokek?

    Kesimpulannya, Tari Cokek merupakan warisan budaya yang kaya akan makna dan nilai-nilai tradisional. Dengan gerakannya yang khas, tarian ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat ikatan sosial dan melestarikan identitas budaya suatu daerah. .

    Melalui pemahaman yang lebih dalam tentang sejarah dan makna properti, kita turut berkontribusi dalam melestarikan cagar budaya Indonesia. Mari kita terus mengapresiasi nilai-nilai yang terkandung dalam Tari Cokek serta memastikan bahwa warisan ini tetap lestari! 

  • Mengenal Tari Dayak: Sejarah, Keunikan, Gerakan, Makna, & Properti

    Mengenal Tari Dayak: Sejarah, Keunikan, Gerakan, Makna, & Properti

    Seni tari dayak merupakan salah satu warisan budaya yang sudah terkenal hingga kancah dunia. Selain memiliki keindahan dalam gerakan yang penuh makna, aksesoris tradisionalnya juga jadi daya tarik tersendiri. 

    Walaupun begitu banyak jenis tarian dan gerakannya, sayangnya warga Indonesia sendiri banyak yang lebih tahu dance K-Pop dari pada warisan budaya ini. Nah, agar rasa bangga lebih tertanam, mari pelajari dari artikel berikut ini!

    Mengenal Seni Tari Dayak

    Menjadi salah satu suku etnis tersohor dengan nama yang sudah menyebar ke seluruh dunia, Dayak memiliki berbagai seni tari yang mempesona. Beberapa bahkan pernah menjadi pertunjukan persembahan di PBB. Berikut adalah penjabrannya:

    1. Tari Hudoq

    Tari Hudoq
    Tari Hudoq | Image Source: katadata

    Jenis tarian pertama yang wajib Anda ketahui adalah tari hudoq. Seni tari ini cukup erat hubungannya dengan ritual keagamaan dan wujud rasa syukur warga setempat. Tarian ini berasal dari Dayak Modang dan Bahau yang khas dengan tarian topengnya.

    Menurut beberapa literasi lokal, hudoq sendiri merupakan jelmaan dari roh alam yang warga lokal jadikan dewa. Sehingga penggunaan topeng pada seni tari ini merupakan usaha warga lokal untuk terhubung dengan dewa tersebut agar datang untuk memberikan keberkahan pada waktu tertentu.

    Dulunya, tarian ini hanya terjadi pada sebuah festival yang bertepatan dengan selesainya waktu menanam padi atau musim panen. Sehingga tarian ini sebagai wujud syukur karena warga dapat mendapatkan hasil panen.

    Keunikan dari tari hudoq sendiri adalah penggunaan berbagai topeng,yang cukup beragam. Mulai dari Hudoq Uling (menyerupai manusia) dan juga berbagai jenis Hudoq Urung (berbagai roh dengan wujud hewan seperti siluman pada kepercayaan Jawa).

    2. Tari Adat Ajat Temuai Datai

    Tari Adat Ajat Temuai Datai
    Tari Adat Ajat Temuai Datai | Image Source: wikipedia

    Jenis seni tari Dayak berikutnya adalah persembahan yang umum terjadi untuk memberikan persembahan pada tamu penting yang singgah ke tanah Suku Dayak Iban. Menurut literasi lokal, tarian ini memiliki makna perwujudan rasa syukur kepada YME atas kedatangan tamu penting ke tanah Kalimantan Barat.

    Dulunya, hanya tamu dengan status sosial penting saja yang mendapatkan penyambutan dengan tarian ini. Sehingga pelaksanaannya termasuk acara adat yang cukup sakral, khususnya bagi para pahlawan yang membawa pulang kepala musuh dari medan perang.

    Hal tersebut bukan lagi hal yang tabu, mengingat dulunya daerah dan suku-suku memang sedang bersitegang. Walaupun untuk saat ini pergelaran tarian adat ini cukup umum untuk beberapa pentas seni dan penyambutan tamu penting saja.

    3. Tari Kancet Papatai

    Tari Kancet Papatai
    Tari Kancet Papatai | Image Source: riverspace

    Jika sebelumnya ada tari yang mewujudkan rasa syukur, ada juga bentuk tarian perang dan pertahanan diri. Tarian Kancet Papatai ini merupakan salah satu seni warisan budaya, masih kerap muncul pada acara kebudayaan di Provinsi Kalimantan Timur.

    Tarian ini mengisahkan kepahlawanan suku Dayak Kenyah dalam memerangi musuhnya. Tiap gerakannya mengisyaratkan kejantanan dan keperkasaan, sehingga biasanya penari adalah dari bagian laki-laki warga setempat. Ada makna tersirat peperangan terjadi untuk mempertahankan martabat dan wilayahnya.

    Tarian ini akan membawakan serta musik tradisional dengan lagu khas berjudul Sak Paku. Lengkap dengan iringan alat musik tradisional, yakni Ampe yang akan menjadi ciri khas dari tarian satu ini. 

    4. Tari Giring-Giring

    Tari Giring-Giring
    Tari Giring-Giring | Image Source: wikipedia

    Tarian satu ini memiliki keeratan makna atas rasa suka cita dari Suku Dayak Maanyan Kalimantan Tengah atas kepulangan pahlawan perang. Sama halnya dengan tarian ajat temuai datai, tari Dayak satu ini juga bertujuan untuk menyambut tamu penting.

    Menurut beberapa literatur lokal, sejarah giring-giring berasal dari Suku Dayak Maanyan dan Dayak Lawangan untuk menggambarkan suka cita penyambutan pahlawan perang. Namun, dulunya tarian ini lebih dikenal dengan seni tari nampak.

    Kata giring-giring sendiri kemudian warga lokal pilih, karena memiliki makna beriringan untuk menari bersama. Jadi, walaupun acaranya sakral, namun kesan suka citanya masih dapat semua orang rasakan. 

    5. Tari Gantar

    Tari Gantar
    Tari Gantar | Image Source: riverspace

    Jenis tarian Dayak berikutnya sudah tak asing di kancah dunia, yaitu gantar. Tarian ini erat dengan siklus kehidupan dan cocok tanam Suku Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung dari Kalimantan Timur. Dalam beberapa acara, tarian ini juga berfungsi untuk menyambut tamu kehormatan.

    Walaupun dalam sejarahnya tarian ini hanya muncul pada upacara adat. Seperti pesta tanam padi, pesta perburuan, dan kepulangan pahlawan perang. Ada juga versi lain yang menggunakan mitos masuarakatm untuk permintaan keselamatan dan keberkahan pada para dewa di negeru Nayu (negeri para dewa).

    Uniknya, tarian ini hanya bisa dilakukan oleh para remaja atau para perawan dari suku tersebut dengan 5 hingga 8 orang penari. Selain itu, tarian ini memiliki 3 versi yakni, gatar rayat, kusak, dan juga busai

    Gerakan Tari Dayak

    Setiap tarian tersebut memiliki keunikan tersendiri, seperti halya beberapa dengan dengan aspek gerakannya. Berikut masing-masing gerakan setiap tari:

    1. Tari Hudoq

    Dengan mengenakan kostum khusus dari tumbuhan, penari hudoq akan melakukan beberapa gerakan memutar dengan tangan terangkat setinggi bahu dan menepuk ke paha. Sembari kaki yang menghentak kuat kebawah, membuat suara yang keras dalam tiap langkahnya.

    Para penari akan bergerak berkelompol dalam sebuah lingkaran dengan kepala mengangguk-angguk dalam tiap gerakannya. Gerakan akan bermula dari satu sudut ke sudut lain, hingga penari memperagakan getaran pada tubuh (tanda kerasukan roh) dan kembali ke tengah dan terduduk (roh kembali ke alam).

    2. Tari Adat Ajat Temuai Datai

    Tari dayak pada penyambutan tamu ini memiliki beberapa gerakan umum. Mulai dari ngiring temuai yang memandu tamu ke depan Rumah Panjai dengan gerakan khas. Lalu, berlanjut ke Mancung Buloh dengan menebaskan mandau untuk menebas bambu (simbolis terbebas dari rintangan yang tamu hadapi).

    Seni tari ini kemudian akan beralih ke Nijak batu yang menunjukkan gerakan tumit menyentuh batu dalam air (simbol tekad kuat dan tingginya martabat tamu). Lalu akan diakhirir dengan tama’ bilik, yakni persilahan tamu ke rumah panjang (bermakna untuk mengusiran roh jahat yang ada pada tamu).

    3. Tari Kancet Papatai

    Pada gerakan seni tari ini, para penari akan melakukan beberapa peragakan gerakan lincah dan penuh semangat. Dengan memperagakan peperangan antar kedua panglima perang dari masing-masing suku. 

    Sembari melakukan gerakan berhadapan 1 vs 1, para penari akan melakukan gerakan sinergi khas bela diri setempat. Penari akan sedikit membungkuk, sembari menghentakkan kaki saat melangkah. Pertemuan mandau dan perisai satu sama lain tak terelakkan hingga salah satunya akan menjadi pemenang sembari bersorak.

    4. Tari Giring-Giring

    Gerakan tari Dayak ini melibatkan tolang totai (ruas bambu) dan tongkat kayu yang terisi bijian jagung. Para penari yang membawanya akan memainkan gemericik tolang totai, dengan menghentakkan dan menggoyangkannya dalam tiap gerakannya.

    Awalnya bilah bambu akan dihentakkan ke tanah dengan tangan kiri, sedangkan tolang totai akan digoyangkan sambil menari maju mundur. Dengan ritme yang serentak, gerakan dan goyangan tersebut akan menciptakan alunan suara yang indah dan serasi.

    5. Tari Gantar

    Karena tari satu ini memiliki beberapa versi, jadi ada sedikit perbedaan dari tiap versi. Namun, beberapa versi sperti kusak dan busai mirip dengan gerakan giring-giring. Penari akan maju mundur berirama, sembari memainkan koreo serta peralatan musik buatan yang dibawakannya.

    Sedangkan untuk gerakan rayat para penari akan memutarkan tongkat kayu. Hal tersebut menandakan persembahan pada para dewa yang suku tersebut akui.

    Properti Tari Dayak

    Dari beberapa gerakan tersebut, setiap tarian memiliki properti yang berbeda. Di antaranya sebagai berikut:

    • Hudoq: Topeng dan kostum dari tumbuhan.
    • Adat Ajat Temuai Datai: Mandau, perisai dan kostum adat.
    • Kancet Papatai: Mandau, kelembit (perisai), pakaian adat lengkap dengan beluko (topi khas), lawung (ikat kepala), besunung (rompi adat) dan juga aksesori adat lainnya (kalung, gelang dan sebagainya).
    • Giring-Giring: Tolog totai dan baju adat (dengan seendang dan bulu burung Rrangkok).
    • Gantar: Tongkat atau bilah bambu berisi bijian, pakaian adat, mandau.

    Mana Tari Dayak yang Jadi Favorit Anda?

    Dari penjelasan tersebut kini Anda tahu bahwa suku dayak memiliki ragam kesenian yang memainkan peranan penting dalam warisan budaya Indonesia di kancah dunia. Tentu saja, selain contoh tari di atas, masih ada banyak sekali jenis seni tari lainnya.

    Kebanyakan tarian Dayak akan melambangkan suasana atau memiliki tujuan tertentu. Baik suka cita, wujud syukur, maupun penyambutan. Anda juga bisa ikut mempelajari tari-tariannya sebagai wujud pelestarian. Semoga bermanfaat!

  • Tari Baksa Kembang: Sejarah, Makna, Gerakan, dan Propertinya

    Tari Baksa Kembang: Sejarah, Makna, Gerakan, dan Propertinya

    Sangatlah menarik untuk membahas dan mengulas tarian yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah tari baksa kembang dengan segala keunikannya terlebih bagi yang sedang mendalami tarian tradisional ini. Yuk, kita ulas lebih lanjut tentang sejarah, makna, gerakan, dan properti apa saja yang ada pada tarian ini.

    Sejarah Tari Baksa Kembang

    Tarian ini adalah tari tradisional yang berasal dari Keraton Banjar, Kalimantan Selatan. Asal usul tarian ini telah ada sebelum Kerajaan Banjar kurang lebih abad ke-15. Tari ini merupakan tarian untuk menyambut tamu agung kerajaan atau menghibur keluarga keraton.

    Tarian ini adalah bukti bahwa kekuasaan besar dari Pulau Borneo tepatnya Keraton Banjar benar adanya. Fakta ini menunjukkan berbagai aspek penting dalam tarian yang mengadopsi budaya Borneo secara utuh dan penuh. Hal ini juga muncul pada tariannya yang terkenal dengan kental akan budaya. 

    Sejarah mengungkapkan, bahwa sejarah dari tari baksa kembang dikaitkan dengan kisah seorang putri Kerajaan Uripana yang memberikan satu tangkai bunga teratai merah kepada kekasihnya, yaitu seorang pangeran bernama Surya Wangsa Gangga yang berasal dari Kerajaan Dipa dan Daha.

    Pada saat itu, Pangeran Surya Wangsa memberikan satu bunga teratai merah kepada kekasihnya. Sedangkan kekasihnya memegang bunga teratai berwarna putih yang mana memiliki lambang kesetiaan yang sangat mendalam. 

    Jika melihat komponen sejarah tarian ini, maka ada beberapa versi cerita yang berkembang. Ahli klasik Banjar bernama Yuliarni Johansyah menyebutkan bahwa tarian ini sudah ada sejak zaman Hindu dan sebelum raja pertama Keraton Banjar muncul.

    Namun catatan sejarah juga mengatakan jika tari baksa kembang berasal dari Empu Jakmania yang asalnya dari Kerajaan Majapahit. Setelah tanah kosong, ia kemudian membentuk Kerajaan Dipa. Setelah itu, terciptalah tarian dengan perpaduan budaya Jawa dan budaya setempat. Akhirnya terbentuklah tarian ini.

    Pada awal kemunculannya, penampilan tarian ini memang hanya untuk lingkungan kerajaan saja. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan zaman, tarian ini mulai sering terlihat di hadapan masyarakat. 

    Makna Tari Baksa Kembang

    Tari Baksa Kembang
    Tari Baksa Kembang | Image Source: Pinterest.com

    Tari baksa kembang menceritakan tentang putri keraton yang tengah bermain di taman bunga. Mereka memetik bunga dan merangkainya menjadi rangkaian kembang bogam, yaitu salah satu properti saat menari tarian baksa kembang.

    Sumber sejarah mengatakan bahwa tarian ini terdiri dari satu orang penari atau berkelompok dalam jumlah ganjil. Tarian ini bercerita tentang seorang putri cantik jelita yang sedang bermain di taman bunga. Meskipun dalam perkembangan tarian ini berubah fungsi, namun fokus utamanya tetap pada penyambutan tamu. 

    Hal tersebut terjadi karena tarian ini memiliki makna kelembutan yang melambangkan keramahan dan kesantunan tuan rumah saat menyambut tamu dengan riang gembira. Maka dari itu, suasana yang ada dalam tarian adalah suasana yang bahagia dan sukacita. 

    Kita dapat mengambil nilai-nilai dari tarian ini sebab tarian ini sangatlah luhur karena menghormati serta menghargai tamu adalah suatu kegiatan yang mulia. Hal ini tentu menjadi budaya bangsa Indonesia dan perlu dijunjung tinggi. Nilai moral tersebut harus kita tanamkan karena Indonesia dikenal dengan keramahan penduduknya.

    Gerakan Tari Baksa Kembang

    Gerakan Tari Baksa Kembang
    Gerakan Tari Baksa Kembang | Image Source: Pinterest.com

    Gerakan tarian ini memiliki pola yang unik namun tetap cantik dan menarik. Pola gerakan tari didominasi oleh gerakan-gerakan lembut dan bertempo pelan mengikuti iringan musik. Gerakannya menggambarkan putri-putri yang sedang bermain dan memetik bunga di taman yang sangat indah. 

    Pertunjukan tarian ini merupakan pertunjukan yang menarik karena kita akan merasakan suasana hangat dan ceria yang berasal dari penari dan musik pengiringnya. Gerakan penari sangat teliti dan menggambarkan dengan urut cara memetik bunga oleh putri-putri keraton yang sangat menonjol.

    Gerakan yang urut dan runtut membuat penonton sangat menikmati tarian dan dapat menerima pesan yang disampaikan oleh penari dengan baik. Tentu saja peran penari dalam menguasai gerakan sangat penting untuk menampilkan tarian yang indah.

    Properti yang Digunakan pada Tari Baksa Kembang

    Musik yang dalam tari baksa kembang biasanya berasal dari alunan gamelan dengan irama lagu Ayakan serta lagu-lagu Janklong maupun Kambang Muni. Musik yang mengiringi tarian ini bertempo pelan dan lemah lembut agar penari dapat melakukan gerakan dengan lemah gemulai. 

    Terkait dengan gerakan saat membawakan tarian baksa kembang, menghasilkan keputusan bahwa para penari perlu menggunakan beberapa properti saat menari. 

    1. Mahkota Gajah Gemuling

    Mahkota gajah gemuling merupakan hiasan di kepala penari baksa kembang. Hiasan ini berupa mahkota yang berhiaskan sepasang kembang bogam dan halilipan.

    2. Halilipan

    Halilipan adalah ornamen yang terbuat dari anyaman janur. Nama halilipan berasal dari serangga lipan dalam masyarakat Banjar dan menunjukkan simbol sifat kerendahan hati seseorang seperti lipan yang merayap di tempat rendah. Penari Banjar menggunakan halilipan sebagai hiasan sanggul mereka.

    3. Roncengan Bunga Kantil, Melati dan Kenanga

    Penari baksa kembang memakai properti berupa roncengan bunga pada bagian kepala penari. Roncengan bunga pada tarian ini biasanya memakai bunga kantil, kenanga, dan melati.  

    4. Kembang Bogam

    Kembang bogam adalah bunga persembahan untuk penonton dan ada pada bagian tangan penari. Hiasan ini terbuat dari rangkaian berbagai jenis bunga yang berbau yang harum, hampir sama seperti bunga pada roncengan bunga.

    5. Selendang

    Ada juga properti lain seperti selendang. Selendang merupakan properti wajib pada tari baksa kembang yang terdiri dari dua selendang yang memiliki warna berbeda yang melilit pada pinggang penari. Selendang membuat penari menjadi lebih menarik dalam setiap gerak-geriknya.

    6. Kembang Goyang 

    Kembang goyang sebagai salah satu properti tarian baksa kembang adalah aksesoris yang terbuat dari bahan kuningan berwarna warna emas, dan bentuknya menyerupai tangkai bunga.

    7. Gelang

    Gelang sebagai properti pada tarian baksa kembang, dipakai pada tangan kanan dan kiri penari dan biasanya gelang tersebut berwarna emas dan memiliki motif tumbuhan.

    8. Anting Berumbai

    Ini merupakan anting berumbai di telinga penari yang biasanya terbuat dari emas atau lainnya. Fungsi anting yaitu untuk menambah aksesoris penari agar lebih menarik untuk dilihat.

    9. Mahkota Pancar Matahari

    Mahkota pancar matahari mempunyai ukuran yang lebih besar daripada mahkota gajah gemuling. Properti ini dipakai di atas kepala dan menyeluruh. Mahkota ini terbuat dari bahan logam seperti kuningan dan pernak-pernik lainnya sebagai hiasan.

    10. Gelang Kaki Giring-Giring

    Gelang kaki giring-giring merupakan salah satu properti wajib dalam tarian ini dan menimbulkan suara saat penari bergerak. Tanpa adanya gelang ini, tarian terasa kurang lengkap.

    11. Kida-Kida

    Kida-kida adalah sebuah kain untuk menutupi dada dan punggung penari. Kain ini biasanya juga menggunakan hiasan rumbai-rumbai agar terlihat lebih menarik.

    12. Kelat Bahu

    Kelat bahu adalah sebuah properti yang mirip gelang dan terbuat dari logam. Properti ini ada pada lengan bagian atas penari di tangan kanan dan kiri.

    13. Baju Kudak

    Baju kudak adalah baju khusus yang digunakan pada tari baksa kembang yang berupa kemben mirip seperti kemben yang digunakan pada tarian Jawa tetapi terbuat dari bahan yang berbeda. Warna baju dalam tarian ini adalah emas.

    14. Tapih Air Suci

    Tapih air suci yaitu sebuah kain beludru yang biasa dipakai pada acara pernikahan adat Banjar. Kain ini adalah properti dalam tarian untuk melambangkan budaya setempat.

    15. Ikat Pinggang

    Ikat pinggang adalah properti yang sangat penting karena ikat pinggang memiliki fungsi untuk melilitkan selendang atau sampur pada penari. Selain itu, ikat pinggang juga berfungsi agar baju yang digunakan oleh penari tidak mudah terlepas saat menari.

    Sudah Tahu tentang Tari Baksa Kembang?

    Tari baksa kembang adalah tarian tradisional dari Banjar yang sebenarnya bisa dibawakan secara tunggal maupun kelompok asal penari tetap berjumlah ganjil. Gaya lembut yang dilakukan para penari memiliki perpaduan gerakan yang indah seraya memberikan tamu rangkaian bunga. 

    Gerakan tarian ini diatur sangat mendetail dari tinggi saat mengangkat tangan, rendahnya badan, liukan dan kegemulaian tubuh, hingga kelembutan gerakan harus sesuai dengan bagian tubuh yang ingin ditonjolkan. Saat ini, tarian tersebut masih sering tampil pada acara penyambutan tamu atau acara pernikahan.

  • Tari Golek Menak: Sejarah, Karakter Penari, Properti, Keunikan

    Tari Golek Menak: Sejarah, Karakter Penari, Properti, Keunikan

    Tari Golek Menak merupakan salah satu jenis tari klasik yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Seperti ciri khas daerah ini, tarian ini juga memiliki gerakan yang lemah lembut, namun tetap menonjolkan sifat gagah. Kisah dalam tarian ini juga menarik bagi masyarakat untuk mempelajari sejarah masa lalu.

    Artikel ini akan mengulas seluk beluk tari tradisional ini secara lengkap. Mulai dari sejarah awal terciptanya dan karakter yang ada dalam tarian. Selain itu, properti dan keunikan lainnya juga akan melengkapi pembahasan. Yuk, simak bersama!

    Sejarah

    Sejarah awal mula tarian klasik ini secara umum terbagi dalam dua kurun waktu, yaitu, pertama adalah masa sebelum kemerdekaan Indonesia. Pada masa ini, tarian ini mulai tercipta. Kemudian, yang kedua adalah masa perkembangan setelah kemerdekaan. Berikut penjelasan lengkapnya:

    1. Sebelum Kemerdekaan

    Periode waktu pertama adalah sebelum kemerdekaan tahun 1945. Tarian ini berawal dari ide Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang ingin menuangkan kesenian Wayang Golek ke dalam bentuk tarian.

    Sri Sultan kemudian mengumpulkan para ahli tarian yang termasyhur pada masa itu. Mereka adalah K.R.T. Purbaningrat, Pangeran Suryobrongto, dan K.R.T. Brongtodiningrat. Tak hanya itu, beberapa ahli lain juga terlibat dalam penciptaan Tari Golek Menak ini.

    Mulai dari K.R.T. Mertodipuro, K.R.T. Madukusumo, R.W. Hendramardawa, R.B. Kuswaraga, K.R.T. Wiradipraja, dan R.W. Larassumbaga. Proses awal penciptaan tarian ini berlangsung sekitar tahun 1941. Para ahli ini terlibat dalam menciptakan karakter utama mula-mula hingga para gerakan-gerakan tari.

    2. Setelah Kemerdekaan

    Kemudian, proses ini sempat terhenti pada masa perjuangan kemerdekaan. Penyempurnaan kemudian dimulai setelah melewati beberapa dekade, yaitu pada tahun 1988. Sri Sultan yang saat itu berkuasa, bertitah kepada beberapa lembaga tari untuk terlibat dalam proses penyempurnaan ini.

    Pada proses ini, tarian ini mengalami banyak pembaharuan. Dimana yang paling menonjol adalah jumlah karakter tari yang bertambah menjadi cukup banyak, yaitu dari 3 karakter utama menjadi 14 hingga 16 karakter Penari.

    Proses ini berlangsung cukup lama, yaitu memakan waktu hingga sekitar satu tahun. Dengan kata lain, penyempurnaan baru mencapai final pada sekitar tahun 1989. Sedangkan Sri Sultan saat itu meninggal pada tahun 1988, sehingga belum menyaksikan semua pertunjukkan tari dari beberapa lembaga terkait.

    Karakter Utama Tari Golek Menak

    Karakter Utama Tari Golek Menak
    Karakter Utama Tari Golek Menak | Image Source: Sanggar Surya Kirana

    Berikut ini adalah 3 karakter utama dalam tarian tradisional ini. Ketiga karakter ini sudah ada sejak asal mula tarian ini, yaitu pada penampilan pertamanya tahun 1940 an saat perayaan ulang tahun Sri Sultan.

    1. Karakter Putri

    Yang pertama adalah karakter putri. Karakter lemah gemulai ini bernama  Dewi Sudarawerti dan Dewi Sirtupelaeli. Putri menunjukkan watak wanita Jawa yang anggun dalam tarian. Walau demikian, dalam tarian dikisahkan tentang peperangan antara keduanya.

    2. Karakter Putra

    Sedangkan yang kedua adalah karakter putra bernama Raden Maktal. Karakter ini menggambarkan seorang pria yang lembut, namun juga kuat dan gagah.

    3. Karakter Gagah

    Terakhir adalah karakter yang menggambarkan sosok gagah bernama Prabu Dirgamaruta. Dalam tarian, kisah yang diceritakan adalah bahwa karakter Raden Maktal yang berperang melawan Prabu Dirgamaruta.

    Properti Tari Golek Menak

    Properti Tari Golek Menak
    Properti Tari Golek Menak | Image Source: Pixabay

    Seperti pertunjukan seni pada umumnya, tarian tradisional ini juga melibatkan cukup banyak properti untuk menyempurnakan pertunjukkan. Berikut ini adalah beberapa diantaranya:

    1. Kostum Penari

    Properti yang pertama adalah pakaian dari para penari. Baik karakter pria maupun wanita menggunakan pakaian lengan panjang yang khas pada budaya Jawa. Karakter wanita menggunakan jarik atau kain batik untuk bawahan dengan pelengkap selendang.

    Sedangkan karakter pria menggunakan celana dengan cindhe dari kain batik yang terikat pada bagian pinggang. Pada bagian ini juga umumnya pria Jawa akan mengikatkan senjata seperti keris.

    2. Riasan

    Sedangkan tata rias para Penari adalah menyesuaikan dengan asal muasal tarian, yaitu Wayang Golek. Sebab itu, para karakter wanita akan menggunakan riasan tebal yang menyerupai Wayang Golek. Karakter pria juga menggunakan riasan make up yang sesuai.

    3. Alat Musik

    Alat musik pada pertunjukan Tari Golek Menak juga mengusung nuansa Jawa yang sangat kental, yaitu dengan menggunakan gamelan yang merupakan alat musik tradisional suku Jawa.

    Tambahan alat musik lain sebagai pelengkap adalah laras pelog, gendang, keprak dhodhogan, hingga krecek. Irama dari setiap alat musik ini menjadi pengiring yang sempurna untuk gerakan setiap Penari dalam pertunjukan tari ini.

    Kemudian, ketika menonton pertunjukan tari ini, kamu juga akan mendengarkan sajian dialog dengan bahasa Bagongan atau Jawa yang berisikan salah satunya, yakni 11 kosakata berbeda ketika memanggil orang-orang. Misalnya pakenira, saya, Anda, atau kamu. Tentunya dengan penyesuaian dialog, agar mudah dipahami.

    4. Aksesoris

    Para penari juga mengenakan berbagai macam aksesoris yang menjadi pelengkap penampilan dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Mulai dari anyaman bulu yang membentuk mahkota pada bagian kepala.

    Kemudian juga mengenakan hiasan pada telinga, gelang pada pergelangan tangan, serta kalung berbentuk keris bersusun. Selain itu, ada pula payung dan kipas. Setiap aksesoris ini benar-benar adaptasi dari karakter-karakter yang ada pada Wayang Golek.

    Selain itu, pengenaan aksesoris juga berupaya untuk memperdalam pemaknaan akan budaya Jawa yang dibawakan dalam seni pertunjukan tari.

    Keunikan Tari Golek Menak

    Tari Golek Menak
    Tari Golek Menak | Image Source: dijogja.co

    Selain menikmati seni pertunjukkan, masyarakat juga perlu untuk memahami nilai-nilai unik, yang membuat sebuah pertunjukan tari berbeda satu dengan lainnya. Berikut ini adalah beberapa keunikan jenis tarian klasik yang satu ini:

    1. Asal Muasal Tarian

    Keunikan pertama adalah dari sejarah terciptanya tarian ini. Berawal dari ide Sri Sultan yang ingin mentransformasi pertunjukan Wayang Golek menjadi tarian orang. Pertunjukan tari ini semula tampil dalam perayaan ulang tahun Sri Sultan.

    Namun, dalam perkembangannya, tarian yang telah melalui proses penyempurnaan ini menjadi lebih sering tampil, yaitu pada acara pertunjukan seni maupun sebagai bagian dari berbagai acara formal maupun non formal.

    2. Ada Unsur Pencak Silat

    Keunikan berikutnya adalah adanya unsur pencak silat dalam gerakan tarian tradisional Jawa ini. Padahal, pencak silat merupakan gerakan khas dari daerah Sumatera Barat. Maka, unsur ini menjadi nilai unik yang tiada duanya dan membuat seni ini menjadi semakin kaya.

    Tujuan dari memasukkan unsur ini ke dalam Tari Golek Menak rupanya adalah upaya untuk mengedepankan persatuan Indonesia. Sri Sultan berharap agar persatuan Indonesia tidak terkotak-kotak dan terpisah karena wilayah dan keunikan budaya masing-masing.

    3. Karakter Pria dan Wanita

    Keunikan berikutnya adalah peran karakter pria dan wanita. Seperti pada pertunjukan tari Jawa pada umumnya, yaitu bahwa karakter pria tidak harus diperankan oleh penari pria, demikian juga sebaliknya.

    Walau demikian, setiap penari tetap akan menampilkan karakter yang kuat sesuai dengan peran yang ia mainkan. Sebab ini lah, tak jarang Penari wanita memainkan sosok karakter pria pada pentas seni tarian budaya Jawa.

    4. Pentas Kelompok atau Perorangan

    Keunikan berikutnya adalah bahwa tarian klasik tradisional yang satu ini dapat dipentaskan secara perorangan maupun kelompok. Secara kelompok misalnya adalah melibatkan 8 hingga 16 Penari dalam satu panggung.

    Walau demikian, baik perorangan maupun kelompok, kisah dalam tarian tetap akan lengkap dan sama baiknya.

    5. Kisah dalam Tari Golek Menak

    Pada dasarnya, ada kisah yang diceritakan dalam tarian Jawa. Dengan kata lain, para Penari tidak hanya sekedar bergerak yang menunjukkan keindahan gerakan dengan lantunan alat musik. Tarian klasik tradisional ini menceritakan peperangan antar para karakter hingga kisah cinta segitiga.

    6. Pola Lantai

    Keunikan terakhir adalah gerakan para Penari yang benar-benar terpola, sehingga dapat membentuk pola pada lantai pentas. Walau terikat pada cerita, gerakan gemulai para Penari tetap dapat menunjukkan pola unik yang mudah untuk diingat.

    Mari Meneruskan Warisan Budaya Tari Golek Menak!

    Walaupun tarian ini berasal dari salah satu provinsi, namun akan baik bagi masyarakat dari daerah lain untuk mengetahuinya secara mendalam. Sebab, tarian tidak hanya sebagai hiburan, melainkan juga warisan budaya yang sangat indah.

    Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, mendalami setiap warisan budaya dapat membantu mempertahankan kebudayaan itu sendiri. Salah satunya adalah Tari Golek Menak yang telah melalui berbagai proses sejarah hingga menjadi seperti sekarang ini.

  • 7 Jenis Unsur Unsur Tari serta Gambar & Penjelasannya

    7 Jenis Unsur Unsur Tari serta Gambar & Penjelasannya

    Seni tari mengungkapkan gagasan dan pesan melalui gerakan yang indah, harmonis, serta selaras. Agar semua orang bisa menikmatinya, seorang penari harus memahami dan mempersembahkan seluruh elemen atau unsur-unsur tari. Ada setidaknya tujuh unsur utama tarian menurut para pakar. 

    Mari Mengenal Unsur unsur Tari dan Penjelasannya

    Sebagian pakar budaya berpendapat bahwa elemen tari antara lain wirupa, wiraga, wirasa, dan wirama. Namun, para pakar lainnya mengemukakan bahwa elemen tarian antara lain gerak, iringan, properti, tata rias, tata busana, dan lokasi pertunjukan. Berikut ini penjabaran unsur tari menurut pendapat yang kedua. 

    1. Elemen Ruang

    Elemen Ruang
    Elemen Ruang | Image Source: Unsplash

    Seluruh gerakan serta perpindahan tubuh oleh penari, posisi, hingga ruang gerak penari dalam sebuah tarian merupakan bagian dari elemen ruang. Ruang merupakan salah satu dari unsur-unsur tari yang paling penting. 

    Para ahli sepakat untuk membagi unsur ruang tari ke dalam dua jenis, yaitu lokasi pentas serta ruang yang tercipta oleh penari itu sendiri.Lokasi pentas merupakan tempat para penari memperagakan seluruh gerakannya. Di lokasi pentas, penari bergerak dan berpindah sesuai urutan gerakan. 

    Seorang penari yang memperagakan gerakan tari juga akan menciptakan ruangnya sendiri, yang tentunya menyesuaikan dengan volume pergerakan badan. Gerak kecil akan membutuhkan ruang yang kecil, begitupun yang terjadi sebaliknya.

    Contoh unsur ruang adalah ketika penari memperagakan semut berjalan. Dalam kondisi tersebut, penari akan menciptakan ruang yang kecil. Lain halnya dengan gerakan burung terbang yang akan menciptakan sebuah ruang tari lebih besar atau luas.

    2. Unsur Unsur Tari Berupa Tenaga

    Unsur Tari Berupa Tenaga
    Unsur Tari Berupa Tenaga | Image Source: Unsplash

    Tenaga dalam tarian merupakan salah satu unsur utama dengan peranan terpenting. Untuk mewujudkan suatu gerakan, tentu penari mengeluarkan tenaga. Besar kecilnya tenaga atau energi juga akan membedakan karakter dalam tarian. Tarian gagah, ladak, maupun halus tercipta dengan porsi tenaga berbeda-beda. 

    Elemen energi menjadi salah satu faktor yang paling menentukan keberhasilan penari saat menampilkan diridan tarian di atas panggung. Ketika seseorang mampu mempersembahkan tarian dengan tenaga proporsional dan sesuai dengan kebutuhan tarian dan karakternya, artinya dia telah berhasil mementaskan tarian dengan baik. 

    Memahami elemen tenaga akan membantu mengoptimalkan setiap gerakan penari. Tentunya, dengan demikian penari akan lebih mudah untuk menentukan gerakan mana yang membutuhkan tenaga lembut maupun kuat.

    3. Komponen Gerak

    Komponen Gerak
    Komponen Gerak | Image Source: Unsplash

    Gerak yang penari hasilkan juga merupakan bagian dari unsur-unsur tari yang vitla. Untuk menghasilkan gerakan yang indah, koreografer atau pencipta tari harus mengerjakan atau menggarapnya dalam proses yang panjang.

    Melalui proses panjang tersebut, penonton atau penikmat tarian bisa menyaksikan keindahan keseluruhan gerak tari. Ilmu seni tari membagi gerakan menjadi dua jenis, antara lain:

    i.  Gerak tari murni

    Memiliki tujuan untuk sekadar memperindah atau menambahkan nilai estetika dalam tarian. Penari memperagakan gerakan murni seperti menggulung selendang atau menghentakkan kaki tanpa maksud tertentu. 

    ii. Gerak maknawi

    Berbeda dengan gerak murni, gerak ini justru sarat akan arti. Gerak tari tersebut lebih menitikberatkan pada lambang atau maksud tertentu untuk disampaikan kepada penonton.

    Gerak maknawi berfungsi layaknya lirik dalam sebuah lagu. Contohnya adalah gerakan bertolak pinggang, yang artinya memiliki kekuasaan atau menunjukkan rasa angkuh.

    4. Penggunaan Waktu

    Penggunaan Waktu
    Penggunaan Waktu | Image Source: Unsplash

    Seorang penari melakukan setiap gerakan berdasarkan waktu, baik untuk gerakan murni maupun maknawi. Elemen utama tari ini berkaitan dengan cepat atau lambatnya tempo suatu gerakan. 

    Tempo merupakan salah satu dari unsur-unsur tari yang berkaitan dengan cepat atau lambatnya gerakan penari. Fungsinya adalah menciptakan kesan dinamis dalam tarian secara keseluruhan. Tarian dengan tempo lambat akan menampilkan kesan yang sedih, anggun atau romantis. 

    Sedangkan tarian yang bertempo cepat biasanya, menggambarkan ekspresi ceria atau semangat. Tari perang termasuk salah satu contohnya.

    Penari tentu butuh waktu untuk melakukan masing-masing gerakan, misalnya saat berjalan dari arah belakang ke bagian depan pentas.

    Ketika jarak antara titik A ke B dekat, penari membutuhkan waktu lebih sedikit. Sebaliknya, penari akan memerlukan durasi lebih lama untuk bergerak jika jarak antar titiknya jauh. Jika hanya punya waktu terbatas dan penari harus menempuh jarak jauh, maka tempo geraknya harus dipercepat.

    5. Tema dalam Seni Tari

    Tema dalam Seni Tari
    Tema dalam Seni Tari | Image Source: Unsplash

    Salah satu unsur pendukung tari adalah tema. Penari tidak hanya membawakan koreografi yang tidak beraturan, melainkan berdasarkan tema tertentu. Setiap gerak dan lekuk tubuh akan melambangkan tema atau cerita di balik kesenian tersebut.

    Tema memiliki peranan yang sangat penting dalam tarian, meskipun hanya termasuk ke dalam elemen pendukung tari. Unsur ini memengaruhi seluruh konsep dalam pertunjukan seni tari.

    Sebagai contoh, jika sebuah pagelaran tari mengusung tema kisah cinta Rama dan Shinta, maka eluruh elemen utama maupun pendukung akan membantu menyampaikan kisah percintaan dua tokoh pewayangan tersebut dengan baik. Dengan demikian, tanpa harus menceritakan secara lisan, penonton akan memahami jalan cerita pagelaran tari tersebut.

    Sal Murgiyanto mengemukakan bahwa elemen tema dalam tari mengandung ungkapan koreografi sesuai konsep perancangnya. Berdasarkan unsur tema,  komposisi tari dibedakan ke dalam dua jenis berikut ini.

    i. Komposisi Tari Literer

    Komposisi tari menyampaikan pesan, cerita, pengalaman, maupun sejarah cerita rakyat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), literer artinya memiliki hubungan dengan tradisi tertulis.

    ii. Arensemen Tari Non Literer

    Bermakna kontras dengan sebelumnya, aransemen tari non literer tidak berdasarkan pada cerita atau sejarah. Komposisi dalam tarian non literer didapatkan dari penjelajahan ruang, waktu, dan tenaga. Proses membuatnya melalui eksplorasi gerak, interpretasi musik, hingga penjelajahan permainan suara.

    Jika melihat dari sifatnya, tema di dalam kesenian tari bisa dikategorikan menjadi dua, yaitu tematik dan non tematik. Tarian tematik mengacu pada alur cerita sehingga penonton bisa memahami dari awal hingga akhir. Sementara, non tematik hanya mengedepankan penguasaan teknik, kondisi fisik, dan musikalitas dibandingkan cerita.

    Kebanyakan tari modern yang ada saat ini termasuk ke dalam kategori non tematik. Berbeda dengan tari klasik yang sebagian besar masuk kategori tematik, terkadang mengusung topik kebaikan dan keburukan, kesedihan, kegembiraan, hingga pengkhianatan.

    6. Iringan Tari

    Iringan Tari
    Iringan Tari | Image Source: Unsplash

    Selain tema, ternyata pengiring pun termasuk dalam ragam unsur-unsur tari yang dibutuhkan. Umumnya, iringan dari pertunjukan tari berasal dari alat musik, baik tradisional maupun modern. Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan jika pertunjukan tari diiringi bunyi-bunyian seperti tepuk tangan atau siulan.

    Tarian bisa saja ditampilkan tanpa ada iringan musik atau bunyi-bunyian. Namun, penonton akan menikmatinya dengan terbatas. Oleh sebab itu, iringan berperan dalam menciptakan suasana atau ambience sehingga penonton dapat menikmati pertunjukan secara maksimal.

    Tidak hanya membangun suasana, iringan juga membantu penari untuk mengatur geraknya. Perpindahan gerak penari biasanya akan mengikuti irama musik atau bunyi-bunyian sehingga lebih harmonis. Cerita atau makna tarian bisa diterima penonton jika didukung oleh musik dan bunyi-bunyian yang tepat.

    7. Elemen Ekspresi

    Elemen Ekspresi
    Elemen Ekspresi | Image Source: Unsplash

    Seperti halnya gerakan, mimik wajah atau ekspresi penari merupakan unsur-unsur tari yang menjadi alat komunikasi penari dengan para penonton. 

    Jika dibandingkan dengan ekspresi di dalam kehidupan sehari-hari, mimik wajah dalam tarian memang lebih terbatas. Penari hanya bisa menyampaikan perasaan melalui air muka atau tatapan mata, yang tentunya berbeda dengan ekspresi dalam kehidupan sehari-hari. 

    Misalnya, dalam kehidupan nyata, ketika marah, Anda bisa membentak atau memaki. Akan tetapi, hal tersebut tentu saja tidak bisa dilakukan oleh penari ketika berada di atas panggung. Komunikasi dalam tarian tidak terjalin melalui kalimat atau kata-kata penarinya.

    Untuk mengungkapkan perasaan marah dalam tarian, penari akan mengubah gerakannya. Di samping itu,  penari harus benar-benar menghayati gerak jiwanya agar dapat menyampaikan ekspresi yang tepat.

    Jadi, Bagaimanakah Pentingnya Unsur-Unsur Tari?

    Setiap elemen atau unsur-unsur tari saling mendukung terciptanya sebuah tarian yang indah dan menarik untuk dinikmati penonton. Seluruh unsur tersebut tidak hanya melengkapi tarian, tetapi menjadi tonggak pembangun sebuah tarian dalam penyajiannya. 

    Melalui keberadaan unsur tari yang harmonis, Anda bisa menikmati keindahan gerakan dari pertunjukan tersebut hingga mendapatkan pesan yang tersirat dari gerak atau ekspresi penarinya.

  • Tari Serampang Dua Belas: Sejarah, Makna, Gerakan, Lagu, dan Properti

    Tari Serampang Dua Belas: Sejarah, Makna, Gerakan, Lagu, dan Properti

    Indonesia kaya akan seni dan budaya karena mempunyai ratusan suku yang tersebar di seluruh nusantara. Salah satu karya seni yang menarik untuk kamu ulik adalah tari Serampang Dua Belas yang merupakan tarian khas Sumatera. Tak hanya sebagai hiburan, tarian ini juga sarat dengan makna dan nilai-nilai historis.

    Dapatkan informasi menyeluruh tentang tarian khas dari Sumatera ini dengan membca artikel di bawah ini hingga tuntas.

    Sejarah Tari Serampang Dua Belas

    Tarian khas Sumatera ini merupakan buah karya seni seniman yang bernama Sauti. Asal mula nama tarian khas Sumatera ini yaitu Tari Pulau Sari yang muncul pada tahun 1940. Nama Pulau Sari ini berasal dari alunan musik yang mengiringi ketika tampil dalam pertunjukan.

    Gerakan Tari Pulau Sari yang indah dan gemulai mampu menggaet hati masyarakat. Tak hanya itu, setiap gerakan tarian ini mengandung arti menarik pula. Pesona gerakan Tari Pulau Sari ini juga mendapatkan sambutan baik dari pemerintah setempat. 

    Sauti yang merupakan pencipta seni tari tersebut mendapatkan penghargaan dari pemerintah Sumatera Utara sebagai bentuk apresiasi atas buah karyanya. Berkat karyanya yang fenomenal, pemerintah memberikan tugas kehormatan pada Sauti.

    Pemerintah mendapuk Sauti sebagai jawatan kebudayaan Medan, Sumatera Utara. Tugas ini pun membuat Sauti lebih giat dan gencar mengenalkan Tari Pulau Sari, sehingga tak hanya masyarakat saja yang mengenalnya, tetapi juga instansi kebudayaan dan pendidikan.

    Memasuki tahun 1950 sampai 1960, nama Tari Pulau Sari diubah menjadi Tari Serampang Dua Belas. Nama tersebut mengalami perubahan karena dinilai tidak sesuai lagi. Tak hanya namanya yang berubah, namun gerakan dan juga penarinya mengalami perubahan. 

    Mulanya, hanya penari laki-laki saja yang membawakan tarian ini. Akan tetapi, sekarang menjadi berpasangan laki-laki dan wanita dengan gerakan yang juga mengalami perubahan. Walaupun begitu, tarian ini masih melekat di hati masyarakat dan sering tampil untuk memeriahkan berbagai kesempatan.

    Makna Tari Serampang Dua Belas

    Gerakan-gerakan pada tarian khas Sumatera ini menggambarkan perjalanan percintaan antara dua sejoli. Penggambaran tahap hubungan tersebut sangat detail karena mulai dari proses awal, yaitu pertemuan hingga memasuki jenjang pernikahan. 

    Melalui tarian ini, penciptanya ingin menyampaikan pesan kuat tentang proses mencari pasangan hidup. Tarian ini sering tampil untuk hiburan atau pertunjukan adat karena masuk ke dalam kategori tari pertunjukan.

    Pemerintah dan pecinta seni tari terus melestarikan tarian ini kepada penerus bangsa karena mempunyai pesan budaya dan moral yang bagus.

    Jenis Gerakan Tari Serampang Dua Belas

    Tarian khas Melayu ini mempunyai 12 macam gerakan utama yang mana setiap gerakannya mengandung makna tersendiri. Kenali kedua belas gerakan tersebut beserta dengan artinya dengan membaca tulisannya di bawah ini:

    1. Permulaan

    Gerakan Permulaan
    Gerakan Permulaan | Image Source: Ririe Syefriani

    Tari Serampang mempunyai gerakan permulaan atau pembukaan mumutar dan lompatan kecil. Makna gerakan tersebut yaitu awal mula dua sejoli yang jatuh cinta sejak pandangan pertama.

    Penari laki-laki akan melakukan gerakan lebih aktif yang menggambarkan rasa penasaran. Sedangkan penari wanita akan terus menari dengan ekspresi tersipu dan malu-malu.

    2. Berjalan

    Gerakan Berjalan
    Gerakan Berjalan | Image Source: Ririe Syefriani

    Setelah gerakan pembukaan, maka akan beralih ke gerakan berjalan dengan langkah  kecil. Kedua penari melakukan gerakan tersebut sembari memutar dan membalik badan. Gerakan berjalan menggambarkan bahwa keduanya mulai tumbuh benih-benih cinta. Akan tetapi, dua sejoli masih menyimpan perasaannya.

    3. Pusing

    Gerakan Pusing
    Gerakan Pusing | Image Source: Ririe Syefriani

    Gerakan pusing pada tari Serampang Dua Belas merupakan bentuk ekspresi kasmaran. Penari laki-laki dan wanita sama-sama membawakan gerakan yang menggambarkan perasaan yang membuncah dan membuatnya gunda gulana.

    4. Gila

    Gerakan Gila
    Gerakan Gila | Image Source: Ririe Syefriani

    Gerakan gila menggambarkan tahap hubungan percintaan yang semakin mabuk kepayang. Untuk menyampaikan makan tersebut, kedua penari akan menari dengan terhuyung-huyung dan berlenggak lenggok. Dalam kehidupan nyata, biasanya benih-benih cinta dua sejoli semakin berkembang dan menggebu-gebu.

    5. Berjalan Bersipat

    Gerakan Berjalan Bersipat
    Gerakan Berjalan Bersipat | Image Source: Ririe Syefriani

    Gerakan berjalan bersipat menjadi proses perjalanan percintaan yang kelima. Penari melakukan gerakan berjalan secara berlenggak-lenggok. Keduanya saling bermain mata untuk memberikan isyarat jatuh cinta. Penari wanita pun mengimbangi gerakan penari pria sebagai tanda bahwa wanita tersebut mempunyai perasaan yang sama.

    6. Goncat-Gancet

    Gerakan Goncat-Gancet
    Gerakan Goncat-Gancet | Image Source: Ririe Syefriani

    Setelah dua sejoli saling mengungkapkan perasaan dan mereka mempunyai rasa yang sama, maka lanjut dengan gerakan goncat-gancet. Kedua penari akan berjalan dengan langkah yang sama sebagai isyarat mulai saling mengenal satu sama lain.

    7. Sebelah Kaki

    Gerakan Sebelah Kaki
    Gerakan Sebelah Kaki | Image Source: Ririe Syefriani

    Tari Serampang Dua Belas juga mempunyai gerakan sebelah kaki yang maknanya adalah proses mencari kepastian. Mengingat keduanya baru menjalin hubungan, lantas tidak serta merta merasa yakin dengan perasaannya. Gerakan ini juga mengisyaratkan bahwa keduanya akan lebih siap ke tahap selanjutnya.

    8. Langkah Tiga

    Gerakan Langkah Tiga
    Gerakan Langkah Tiga | Image Source: Ririe Syefriani

    Maksud dari gerakan langkah tiga adalah kedua penari akan melompat ke depan dan ke belakang sebanyak tiga kali. Gerakan melompat tiga kali tersebut mengisyaratkan bahwa kedua sejoli siap memasuki tahap hubungan yang lebih serius.

    Selain itu, makna gerakan melompat tiga kali yaitu gambaran muda-mudi tersebut berusaha meyakinkan diri masing-masing. Pasalnya, kedua orang tua masing-masing sudah mengetahui jalinan asmara antara dua sejoli.

    9. Melonjak

    Gerakan Melonjak
    Gerakan Melonjak | Image Source: Ririe Syefriani

    Perasaan dua sejoli semakin berdebar-debar dalam menunggu jawaban restu dari orang tua masing-masing. Perasaan bahagia dan tegang ini mereka ekspresikan dengan gerakan tari Serampang Dua Belas yang melompat-lompat. 

    10. Datang Mendatangi

    Gerakan Datang Mendatangi
    Gerakan Datang Mendatangi | Image Source: Ririe Syefriani

    Setelah kedua penari melakukan gerakan melompat-lompat, penari laki-laki akan mendatangi penari wanita. Maksud dari gerakan datang mendatangi adalah niatan laki-laki untuk meminang wanitanya. Tahap ini semakin mendekatkan keduanya ke arah mengikat janji suci pernikahan.

    11. Rupa-rupa

    Gerakan Rupa-rupa
    Gerakan Rupa-rupa | Image Source: Ririe Syefriani

    Gerakan rupa-rupa menjadi simbol bahwa kedua sejoli menjadi pengantin dan berjalan ke pelaminan. Itulah mengapa, penari lain akan saling mendekat dan mengiring dua sejoli sebagai gerakan mengantar pengantin. 

    Laki-laki akan melangsungkan pernikahan langsung setelah wanitanya menerima lamaran tersebut.

    12. Sapu Tangan

    Gerakan Sapu Tangan
    Gerakan Sapu Tangan | Image Source: Ririe Syefriani

    Gerakan akhir sekaligus penutup yaitu kedua penari akan menyilangkan sapu tangan. Menyilangkan sapu tangan artinya menautkan dua hati menjadi satu, sehingga tidak ada yang memisahkan jalinan  cinta keduanya.

    Musik Tari Serampang Dua Belas

    Musik yang mengiringi tari serampang adalah jenis musik yang juga digunakan untuk mengiringi ronggeng Melayu. Adapun sejumlah instrumen musik untuk mengiringi tari serampang antara lain biola, rebana, gong, accordion, gendang ronggeng, dan kecapi.

    Alunan biola dan kecapi ini menghasilkan bunyi yang unik mendayu-dayu. Sedangkan suara gong dan rebana menghasilkan bunyi yang dapat membangkitkan semangat penontonnya. Tak hanya alunan musik melayu saja yang mengiringi tari serampang, namun lagu Pulau Sari turut mengiringinya.

    Properti Tari Serampang Dua Belas

    Bagi kamu yang ingin membawakan tari serampang, maka perlu mengetahui properti apa saja yang harus kamu siapkan. Dapatkan informasinya di bawah ini!

    1. Pakaian Adat Melayu

    Penari laki-laki dan wanita menggunakan kostum adat Melayu atau sebutan lainnya adalah baju kurung. Ciri khas baju kurung yaitu mempunyai ukuran longgar pada badan dan lengan. Panjang baju biasanya menjuntai sedikit di atas lutut dan tidak menggunakan kancing.

    Baju kurung juga mempunyai tampilan khas renda pada bagian ujung lengan dan ujung baju. Untuk bawahan wanita yaitu rok longgar, sedangkan bawahan laki-laki yaitu celana longgar dan balutan sarung hingga lutut.

    2. Hiasan Kepala

    Umumnya, hiasan kepala penari laki-laki lebih sederhana karena bisa menggunakan kopiah hitam atau penutup kepala yang bentuknya meruncing ke atas. Sedangkan hiasan Perempuan yang tidak menggunakan hijab yaitu konde dan aksesoris rambut.

    Jika penari wanita memakai hijab, maka bisa menambahkan aksesori hijab agar membuatnya tampak lebih menarik.

    3. Kain Pinggang

    Mengingat model potongan baju kurung sangat sederhana, biasanya masyarakat Melayu akan menambahkan kain pinggang. Kamu bisa mengikatkan kain pinggang tersebut untuk memberikan siluet pinggang dan menambahkan sentuhan lebih manis.

    4. Hiasan Penutup Dada

    Supaya penampilan lebih semarak, biasanya penari akan melengkapi penampilan mereka dengan hiasan penutup dada. Hiasan tersebut bisa berupa kalung dengan desain lebar atau aksesoris lainnya yang mendukung.

    5. Sapu Tangan

    Properti yang tidak boleh kamu lewatkan adalah sapu tangan. Penari pria dan wanita akan menggunakan sapu tangan sebagai penutup tarian dan menjadi simbol yang penuh makna.

    Sudah Tahu Serba Serbi Tari Serampang Dua Belas?

    Tari Serampang Dua Belas merupakan tarian khas Sumatera yang tepatnya berasal dari Serdang Bedagai. Arti dua belas pada nama tarian adalah jumlah gerakannya yang mana masing-masing gerakan menggambarkan tahap percintaan muda-mudi. 

    Pecinta seni tari dan permerinta terus melestarikan tarian khas Serdang Bedagai karena sarat akan pesan moral bagi penerus bangsa.

  • Tari Indang: Sejarah, Makna, Jenis, Gerakan, dan Properti Tarian

    Tari Indang: Sejarah, Makna, Jenis, Gerakan, dan Properti Tarian

    Indonesia kaya akan seni dan budaya, terutama dari segi tarian daerah. Nah, salah satu tarian khas daerah di Indonesia yang perlu Anda ketahui adalah Tari Indang. Berikut informasi lengkap mengenai Tari Indang mulai dari jenis tarian, sejarah, makna, gerakan, hingga properti yang harus penari lakukan. 

    Apa Itu Tari Indang?

    Tari Indang merupakan salah satu tarian tradisional Indonesia yang berasal dari wilayah Minangkabau, Sumatera Barat. Menariknya, tarian ini memiliki arti penting untuk perkembangan agama islam di sana. 

    Tarian ini biasanya dilakukan secara berkelompok dengan jumlah penari ganjil dan bertujuan untuk acara kebudayaan dan penyambutan tamu. Tarian ini bukan hanya sekadar gerakan-gerakan yang indah, tetapi juga mengandung nilai-nilai budaya dan sejarah yang dalam.

    Sejarah Tari Indang

    Tari Indang pertama kali muncul pada abad ke 14 yang diperkenalkan oleh Syekh Burhanuddin. Kemunculan tarian ini menjadi salah satu cara Syekh Burhanuddin untuk mensyiarkan agama Islam di seluruh wilayah Sumatera Barat, terutama masyarakat wilayah Minangkabau.

    Namun, ada juga yang mengungkapkan bahwa tarian ini berasal dari para pedagang Arab yang sedang berlabuh di Minangkabau dan mereka memiliki tujuan untuk menyebarkan agama Islam melalui tarian ini. 

    Lebih lanjut, Rapa’i yang merupakan pengikut Syekh Burhanuddin memperkenalkan tarian ini pada salah satu festival perayaan Tabuik di Pariaman. Tabuik sendiri merupakan festival untuk memperingati wafatnya Imam Husein bin Ali yang merupakan cucu dari Rasulullah SAW. 

    Akibatnya, sejak saat itu, tarian Indang selalu ada dalam setiap pertunjukan perayaan Tabuik. Bahkan, tarian ini sudah memiliki nilai sakral dan kekuatan gaibnya tersendiri untuk orang-orang yang mempercayainya. 

    Makna Tari Indang

    Tari Indang
    Tari Indang | Image Source: Kompas

    Saat pertama kali diperkenalkan, tarian ini berfungsi untuk menyebarkan agama Islam. Namun seiring dengan berjalannya waktu, fungsi dari tarian ini adalah untuk hiburan juga. 

    Adapun makna yang terkandung dalam tarian ini yaitu menggambarkan bagaimana agama Islam masuk ke wilayah Sumatera Barat. Hal ini bisa Anda lihat dari syair lagu dan gerakan yang ada pada Tari Indang. 

    Lebih lengkapnya, makna dari tarian ini bisa Anda lihat pada setiap tahapan gerakannya. Tahapan gerakan yang dimaksud yaitu gerak pasambahan, gerak inti, dan gerak penutup. 

    Gerak pasambahan memiliki arti sebagai pengingat dan bentuk rasa hormat terhadap orang-orang yang memiliki peranan penting dalam penyebaran agama Islam. Kemudian, gerak inti merupakan gerakan yang menunjukan usaha seseorang untuk mencapai tujuan dan menggambarkan kegembiraan. 

    Terakhir, ada gerakan penutup yang merupakan gerakan untuk mengajarkan adab permohonan maaf bahwa semua tindakan dan ucapan tentunya tidak akan luput dari kesalahan. Untuk itu, gerakan pada tarian ini akan mencerminkan niat penari untuk memohon maaf jika melakukan kesalahan. 

    Jenis Pola Tari Indang

    Secara umum, pola tarian ini terbagi menjadi dua macam, yaitu pola lantai garis lurus dan garis lengkung yang unik. Namun biasanya, pola lantai lurus ditujukan untuk tarian dengan penari tunggal. Walau ada juga yang menggunakannya untuk tarian model kelompok. 

    Lebih lanjut, pola lantai garis lurus terbagi menjadi tiga jenis, yaitu pola lantai vertikal, horizontal, dan garis miring. Adapun tarian yang paling sering orang gunakan dalam Tari Indang adalah pola lantai horizontal dengan bentuk berbanjar sejajar dari sisi kiri ke sisi kanan, lalu sebaliknya. 

    Gerakan Tari Indang

    Gerakan Tari Indang
    Gerakan Tari Indang | Image Source: Gurusiana

    Ciri khas dari tarian ini adalah memiliki gerakan yang berpusat pada tangan, gerakan kepala, dan badan. Hal ini karena tarian ini dilakukan dengan posisi penari yang duduk. 

    Pada dasarnya, penari Tari Indang sendiri terdiri atas tukang dzikir, anak indang, tukang alih, dan tuo indang. Setiap bagian dari penari memiliki tugasnya masing-masing, seperti tuang dzikir yang bertugas untuk menyampaikan syair-syair tentang ajaran agama Islam dan bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. 

    Anak Indang terdiri atas semua penari yang duduk bersila dalam satu barisan. Adapun posisi bagian kaki serta pahanya saling berhimpitan dan berdekatan satu sama lain. Sedangkan tukah alih bertugas dalam memimpin tarian, sehingga berada di barisan anak indang. 

    Di samping itu, tukang alih juga memiliki tanggung jawab dalam mengatur kecepatan gerakan dan memberikan kode untuk melakukan perubahan gerakan dalam tarian. Terakhir ada tuo indang yang dalam tarian bertugas sebagai penanggung jawab seluruh pertunjukan, terutama berkaitan dengan keamanan selama pertunjukan. 

    Untuk lebih jelasnya, berikut ini penjelasan tentang gerakan Tari Indang yang lincah, santai namun ceria:

    1. Dua kelompok penari akan masuk ke panggung atau tempat pementasan melalui sisi yang berbeda, yaitu pada bagian kiri dan kanan panggung. 
    2. Mereka akan mengambil posisi sesuai dengan yang ditentukan, yaitu membentuk dua baris berbanjar. 
    3. Selanjutnya, penari akan menyilangkan kakinya dengan posisi duduk dan meletakkan rebana di depan mereka, terutama bagi yang menggunakan alat rebana. 
    4. Setiap penari kemudian akan bergandengan tangan dan meletakkannya di depan dada mereka.
    5. Jika sudah, mereka pun akan mulai melakukan gerakan inti dari Tari Indang dengan berbagai posisi. Mulai dari kepala, tangan, dan badan sambil memegang rebana dan membunyikannya dengan alunan serta ritme yang indah. 
    6. Ada juga gerakan melambai dan meliuk-liuk mulai dari depan, belakang, hingga samping kiri dan kanan. 
    7. Selain itu, akan ada gerakan melipat tangan, mengangkat satu tangan secara horizontal dari siku ke atas dan saling bergantian dari tangan kiri serta ke tangan kanan.

    Properti Tari Indang

    Tarian ini sangat sederhana, sehingga para penarinya akan menggunakan properti yang sederhana. Adapun properti yang dimaksud yaitu rebana dengan ukuran kecil yang biasanya dipegang dan dimainkan oleh para penarinya. 

    Namun, kini para penari lebih sering meletakkan rebana di hadapan mereka dan mengganti gerakannya dengan tepuk tangan dan tepuk lantai pada lirik tertentu. Semua itu terpengaruh dari perkembangan budaya setempat dari masa ke masa.

    Busana dan Tata Rias Penari Indang

    Busana dan Tata Rias Penari Indang
    Busana dan Tata Rias Penari Indang | Image Source: Mapelweb

    Secara umum, busana dan tata rias yang penari gunakan dalam Tari Indang akan berbeda-beda, tergantung dari mana tarian tersebut berasal. Akan tetapi, biasanya para penari wanita akan menggunakan busana khas Minangkabau atau Melayu dengan berbagai aksesoris unik. 

    Aksesoris tersebut antara lain hiasan kepala, baju yang sedikit longgar, dan celana longgar hitam dengan balutan sarung khas Minang. Warna busana atau atasan yang mereka gunakan pun bebas, bisa warna merah, hitam, maupun warna emas. Karena yang terpenting adalah para penari wanita harus menggunakan jilbab. 

    Hal ini penting agar penari tidak menghilangkan citra awal Tari Indang tersebut yang mana merupakan media dakwah para ulama untuk menyebarkan agama Islam. Sedangkan tukang dzikirnya akan menggunakan baju koko untuk menambah unsur keislaman dari gerakan tarian ini. 

    Selanjutnya, mengenai tata rias, tidak ada aturan yang pasti, baik bagi penari perempuan maupun laki-laki. Selama riasan yang mereka gunakan tidak berlebihan atau ala kadarnya, maka itu tetap boleh. 

    Menggunakan riasan yang tipis atau tidak terlalu menor sebagai salah satu langkah untuk menampakkan keanggunan dan keceriaan seorang penari. Tidak hanya itu, tarian ini juga dilakukan oleh anak muda sehingga tidak membutuhkan riasan yang berlebihan. 

    Pementasan dan Musik Iringan Tari Indang

    Pada pementasan tarian ini, ada beberapa aturan yang harus para penari penuhi, mulai dari tema hingga tata panggung. Adapun panggung biasanya memiliki ukuran 8 x 6 meter. Tidak terlalu besar atau kecil, namun cukup untuk menampung seluruh penari.

    Tidak hanya itu, saat proses pementasan, penari juga harus memperhatikan posisinya. Hindari melakukan kesalahan pada posisi penari karena hal ini bisa mempengaruhi jalannya tarian.  Selain itu, hal ini juga erat kaitannya dengan fungsi dan peran dari setiap penari tersebut. 

    Sebagai contoh, tukang dzikir yang memiliki tugas sebagai pembawa lirik atau penyanyi tunggal akan berada di belakang panggung dari penari. Karena meletakkan tukang dzikir di depan penari malah akan mengganggu keabsahan tarian.

    Adapun iringan musik yang orang gunakan dalam Tari Indang lebih banyak menggunakan lagu berjudul “Dinding Bandingin” oleh penyanyi Elly Kasim dan Tiar Ramon yang merupakan dua musisi legendaris daerah Minang. Selain itu, tiap bait juga menyesuaikan dengan gerakan yang ada pada tariannya.

    Yuk, Lestarikan Tari Indang ke Generasi Mendatang!

    Pada intinya, Tari Indang merupakan salah satu kekayaan seni dan budaya Indonesia yang wajib kita lestarikan. Sebab, tarian ini tidak hanya mencerminkan sebuah seni, tetapi juga melambangkan nilai agama karena berisi pesan-pesan moral agama Islam. 

    Dalam menjaga keberadaan tarian ini, Anda bisa mulai dengan mempelajari tariannya. Setelah itu, Anda bisa mengajarkannya pada orang lain atau sekadar mendukung para penari dengan datang setiap pementasannya jika tarian ini ada di sekitar Anda.

  • Tari Zapin: Sejarah, Makna, Busana, Properti, dan Keunikannya

    Tari Zapin: Sejarah, Makna, Busana, Properti, dan Keunikannya

    Beberapa dari kamu mungkin sudah familiar dengan lagu Zapin Melayu yang dibawakan oleh pedangdut Lesti Kejora. Tapi apakah kamu tahu bahwa Zapin juga dikenal sebagai tarian daerah khas Melayu? Tari Zapin merupakan tarian dari Riau yang memiliki ciri khas tersendiri dan kental akan nilai budaya serta keluhurannya.

    Tarian ini sebenarnya merupakan produk akulturasi budaya antara Melayu dan Arab. Bagaimana bisa itu terjadi? Apa properti dan busana yang dikenakan dalam tarian ini? Selengkapnya, simak artikel berikut sampai habis!

    Sejarah Tari Zapin di Indonesia

    Tari Zapin
    Tari Zapin | Image Source: kebudayaan.kemendikbud.go.id

    Tari Zapin adalah tarian berpasangan yang biasa dimainkan saat ada acara hiburan rakyat. Tarian ini sangat populer di kalangan masyarakat Melayu Riau dan sampai saat ini masih diwariskan secara turun temurun kepada generasi berikutnya.

    Tarian tradisional ini sebenarnya tidak saja populer di kalangan Melayu Riau, namun juga tersebar sampai ke suku Melayu di pulau lainnya hingga seluruh dunia. 

    Mulanya, tarian ini adalah tarian khusus untuk Kalangan Istana Kesultanan Yaman Timur Tengah. Dari namanya saja sudah terlihat, bahwa Zapin berasal dari bahasa Arab “zafn” yang artinya gerak cepat.  

    Lalu, bagaimana bisa tarian ini sampai ke Indonesia? Jawabannya pedagang Arablah yang membawa tarian ini dan mengenalkannya pada masyarakat Indonesia.

    Pada awal abad 16, para pedagang Arab yang datang ke Indonesia untuk berdagang di kawasan Selat Malaka membawa tarian ini. Seiring berjalannya waktu, tarian ini mengalami akulturasi dengan budaya lokal Melayu Indonesia, sehingga melahirkan budaya baru.

    Seperti tujuan kedatangan orang asing ke Indonesia zaman dulu, orang-orang Arab mengenalkan tari ini sebagai media untuk menyebarkan agama kepada masyarakat di Kepulauan Riau.

    Tujuan utama mereka mengenalkan tarian ini sebagai media dakwah dan pengajaran nilai pendidikan Islam. Ini bisa terlihat pada syair-syair lagu pengiring tarian Zapin. Syair tersebut mengandung nilai-nilai pendidikan agama Islam yang kuat.

    Dalam setiap gerakannya juga memiliki nilai-nilai filosofis yang berkaitan erat dengan pola kehidupan masyarakat Riau sebagai hasil dari akulturasi yang sudah terjadi.

    Perkembangan Tari Zapin di Indonesia

    Dulu sekitar tahun 1960-an, tarian Melayu ini hanya bisa dimainkan oleh penari laki-laki. Namun lambat laun, tarian ini juga bisa dimainkan oleh penari perempuan. Bahkan saat ini, tari ini bisa dimainkan oleh penari campuran (laki-laki dan perempuan) dalam pementasan yang sama.

    Kepopuleran tarian ini semakin meluas hingga menyebar sampai ke wilayah lainnya. Tarian Melayu ini berkembang hingga melahirkan berbagai macam jenis dan variasi tarian sesuai wilayah masing-masing.

    Tari ini sudah banyak tersebar di berbagai wilayah Indonesia, seperti Kalimantan, Jambi, Bengkulu,  Lampung, Jawa, Maluku, dan Aceh. Bahkan tarian ini juga bisa kamu jumpai di Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

    Gerakan Tari Zapin

    Gerakan Tari Zapin
    Gerakan Tari Zapin | Image Source: centroriau.id

    Sama halnya dengan budaya tari tradisional lain, tari khas Melayu ini memiliki gerakan-gerakan filosofis, seperti:

    1. Tahto 1

    Gerakan tahto 1 merupakan gerakan permulaan yang ada pada setiap tarian. Para penari menampilkan gerakan ini pada awal dan akhir tarian menggunakan hitungan sampai delapan dalam setiap bagian tariannya.

    Makna dari gerakan ini adalah pentingnya bersikap rendah hati dan saling menghargai sesama manusia.

    2. Tahto 2

    Setelah menampilkan tahto 1, penari menampilkan gerakan tahto 2. Di sini tahto 2 sebagai gerakan representasi dari sikap rendah hati yang ada pada gerakan tahto 1. Cara melakukannya pun sama, yakni setiap bagiannya dihitung sampai delapan pada awal dan akhir tarian.

    3. Tahto 3

    Tahto 3 juga tidak ada bedanya dengan kedua gerakan sebelumnya. Hanya saja pelaksanaannya setelah gerakan tahto 2.

    4. Gerak Bebas

    Penari Zapin melakukan gerakan ini di tengah-tengah  gerakan lainnya. Pelaksanaannya pun boleh di mana saja, dan bisa juga dilakukan lebih dari satu kali. Meski begitu, tetap saja penari harus menggunakan pola tari Zapin yang sama, yakni delapan hitungan setiap bagiannya.

    5. Gerak Shut

    Setelah melakukan gerak bebas, penari melakukan gerak shut. Gerak ini terbagi menjadi dua, yaitu shut maju dan mundur. Berbeda dengan sebelumnya, gerakan ini berisi ketukan 16 hitungan dan dilakukan sebanyak dua kali. Makna dari gerakan ini adalah penggambaran sikap adil, sabar, dan keseimbangan hidup.

    6. Gerak Siku Keluang

    Selanjutnya ada gerak siku keluang. Penari harus melakukan gerakan ini sebanyak dua kali dengan 16 hitungan dalam tiap bagiannya. Maknanya, gerakan ini sebagai gambaran bahwa hidup manusia itu dinamis.

    7. Gerakan Mata Angin

    Gerakan ini cukup mudah, yakni penari hanya melakukannya sekali dengan ketukan 16 hitungan dalam tariannya.

    8. Gerak Titik Batang

    Setelah gerakan mata angin, penari melakukan gerak titik batang sebanyak 2 kali. Bentuk gerakan ini yaitu gerakan dua kali maju mundur secara bergantian.

    Apakah setiap gerakannya menggunakan hitungan? Tentu saja. Ada 16 hitungan yang harus dilakukan oleh penari. Antara dua bagiannya, penari harus menyisipkan dengan gerak bebas satu kali.

    Makna dan Filosofi Tari Zapin

    Seperti penjelasan sebelumnya, tarian ini mengandung nilai-nilai filosofis yang kental dengan masyarakat Melayu. Tarian ini menceritakan tentang kehidupan masyarakat Melayu dan kehidupan sosial setempat.

    Setiap gerakannya memiliki makna filosofis di mana tidak hanya menjadi hiburan saja. Namun juga sarat akan makna dan nilai-nilai keteladanan dan pendidikan bagi masyarakat Melayu.

    Karena sudah semakin berkembang, tari ini akhirnya menjadi ikon bagi masyarakat Riau. Tarian ini semakin terkenal dan sering ditampilkan karena selain untuk hiburan juga ada unsur pendidikan dan keagamaan yang mengajarkan kebaikan lewat syair-syair yang mengiringi tarian tersebut.

    Busana dan Properti Tari Zapin

    Busana dan Properti Tari Zapin
    Busana dan Properti Tari Zapin | Image Source: rimbakita.com

    Setiap tarian daerah pasti memiliki busana dan properti beragam. Begitu juga dengan tarian Melayu satu ini. Properti dan busana tersebut bukan hanya sebagai pelengkap agar tarian menjadi indah untuk dilihat, namun juga sebagai ciri khas yang membedakan dengan tarian daerah lainnya.

    Apa saja busana dan pernak pernik properti tari Melayu ini?

    1. Selendang

    Selendang adalah salah satu properti dan busana yang harus ada pada tarian Zapin. Setiap daerah yang memiliki tarian Melayu ini penarinya wajib memakai selendang namun penggunaannya bisa berbeda-beda.

    Biasanya, selendang digunakan untuk penutup rambut penari perempuan bersama dengan aksesoris lainnya. Tetapi di daerah lainnya selendang justru digunakan sebagai properti yang mengiringi gerakan.

    2. Kipas

    Properti kipas pada tarian ini biasanya dibawa oleh penari perempuan. Penggunaan kipas bisa melengkapi keindahan tarian karena penarinya bisa lebih luwes saat menari dan bisa melengkapi harmoni yang ada pada tarian.

    Properti ini juga  sebagai simbol bahwa perempuan Melayu itu sangat menjaga kehormatan dan sangat pemalu.

    3. Kopiah

    Masyarakat Melayu laki-laki beragama Islam pasti sangat familiar dengan kopiah. Kopiah ini adalah properti yang biasanya digunakan laki-laki untuk beribadah. Nah saat menari Zapin, penari laki-laki wajib memakai kopiah agar menambah ketampanan dan menampilkan ciri khas busana Melayu kepada penonton.

    4. Cekak Musang

    Ada lagi cekak musang yang menjadi pakaian khas Melayu Sumatera Barat. Penari pria wajib menggunakan pakaian ini saat menari karena untuk menonjolkan kesan agamis sesuai dengan tema tari Zapin.

    5. Songket

    Songket juga busana wajib pada tarian ini. Di beberapa daerah, songket digunakan untuk penari wanita, namun ada juga songket untuk penari laki-laki. Semua tergantung pada ciri khas masing-masing daerah.

    6. Bros

    Penggunaan bros ini bertujuan untuk menghiasi kopiah atau pakaian penari pria agar menimbulkan kesan gagah dan menarik. Meskipun sifatnya tidak wajib, namun jika tidak ada bros maka terasa ada yang kurang pada penampilan penari pria.

    7. Kalung

    Penggunaan kalung pada tarian ini sebagai simbol keanggunan dan kemewahan bagi penari perempuan. Meski memberi kesan mewah, namun menggunakan aksesoris ini tidak meninggalkan kesan islami yang ada pada tarian.

    8. Hiasan Kembang Goyang

    Kembang goyang adalah hiasan penari perempuan yang bentuknya seperti mahkota. Hiasan ini menjadi pelengkap bagi penari perempuan agar tampil memukau.

    Keunikan dari Tari Zapin

    Nah karena tarian Melayu ini menyebar di berbagai penjuru wilayah Nusantara dan berbagai negara Melayu, maka gerakannya pun berbeda-beda.  Meskipun secara umum gerakan dasarnya sama, namun tetap saja ada perbedaan gerakan di setiap daerah.

    Saat menari tarian ini, para penari diiringi oleh dua alat musik utama, yakni petik gambus dan tiga alat musik tabuh gendang kecil, namanya marwas. Dari sini bisa terlihat keunikannya, yakni perpaduan dua budaya antara Arab dan Melayu yang menyatu menjadi tarian yang indah.

    Sudah Tahu Sejarah Tari Zapin dan Keunikannya?

    Setiap tarian daerah yang ada di Nusantara memiliki ciri khas dan keunikannya masing-masing, tak terkecuali tari Zapin.

    Meskipun tari ini berasal dari budaya Arab, namun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangat menyatu dengan budaya Melayu, khususnya Melayu Indonesia. Karena itulah tarian ini bisa populer dan menjadi ikon bagi masyarakat Riau.

  • Tari Seudati: Sejarah, Makna, Ciri, Tujuan, Keunikan, & Properti

    Tari Seudati: Sejarah, Makna, Ciri, Tujuan, Keunikan, & Properti

    Masyarakat awam mungkin cukup asing dengan tari seudati dibandingkan dengan tari saman yang berasal dari daerah sama, yaitu Aceh. Seperti apa sebenarnya sejarah di balik tarian yang satu ini, termasuk detail lainnya mencakup makna hingga keunikannya? Ini dia penjabaran lengkapnya!

    Sejarah Tari Seudati

    Tari Seudati
    Tari Seudati | Image Source: regional.kompas

    Suatu seni, termasuk tarian, pasti memiliki sejarah khusus di baliknya. Begitu pula dengan tarian satu ini. Sebagaimana penjabaran di atas, seni tari tersebut berasal dari Negeri Serambi Mekkah.

    Sebelum Islam masuk dan menyebar di Aceh, tari ratih hadir terlebih dahulu sebagai kesenian tradisional khas daerah tersebut. Pertunjukan tari hanya terlaksana pada momen-momen khusus, yaitu:

    • Pembukaan acara sabung ayam.
    • Menyambut musim panen.
    • Doa bersama terhindar dari musibah setiap bulan purnama.

    Namun, tradisi tersebut mengalami perubahan ketika Islam hadir di bumi Aceh. Budaya yang sudah terlanjur mengakar kuat tidak bisa hilang begitu saja.

    Namun, aturan dan tarian ratih mengalami modifikasi pada beberapa aspek. Sehingga, tercipta nama seudati untuk versi penyempurnanya. Pemrakarsa tarian itu adalah Syeh Tam dari Desa Gigieng, Pidie.

    Tari tradisional satu ini kemudian tidak lagi menjadi pertunjukan pada momentum tertentu sebagaimana Tari Ratih. Melainkan menjadi bagian cagar budaya dan pertunjukannya pada saat acara-acara kebudayaan dan kebangsaan berlangsung.

    Makna Nama Tari Seudati

    Lantas, apa makna dari seudati hingga nama itu yang terpilih untuk seni tradisional tersebut? Ada beberapa versi berbeda terkait arti dari nama seudati, yaitu:

    1. Kesaksian Terhadap Allah SWT

    Seudati merupakan tarian pembaharuan tarian Ratih setelah Islam masuk dan menyebarkan pengaruhnya di Aceh. Sebagian masyarakat meyakini bahwa, seudati berasal dari kata ‘syahadat’ dalam Bahasa Arab. Di mana artinya adalah kesaksian terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW.

    2. Kompak dan Harmonis

    Versi lain menyebutkan nama tersebut berasal dari Bahasa Aceh sendiri sebagai daerah asal seni tari ini. Asal kata yang digunakan adalah ‘seurasi’ yang artinya harmonis dan juga kompak. Penamaan berdasarkan pada gerakan para penari yang indah dan serempak.

    3. Penghargaan pada Tetua

    Makna tari seudati dari versi yang terakhir, yaitu berasal dari Bahasa Tarekat dari salah satu komunitas muslim tertua di Aceh. Asal kata seudati dalam Tarekat, yaitu ‘ya sadati’ yang artinya ‘wahai Tuan Guru’ atau penghargaan kepada sosok tetua.

    Tujuan Pertunjukan

    Secara keseluruhan, ketiga versi makna seudati memiliki makna yang sama baiknya. Sehingga tidak perlu menjadi perdebatan mana yang benar dan salah. Sedangkan untuk tujuan dari penciptaan tarian, yaitu:

    • Media dakwah: Seni tari merupakan salah satu media paling mudah untuk mendekati dan mendapat penerimaan oleh masyarakat. Melalui seudati, para ulama Islam Aceh dapat berdakwah menyebarkan ajaran Islam.
    • Identitas dan cagar budaya: Tarian tradisional juga dapat menjadi identitas suatu daerah hingga warisan budaya, begitu pula seudati.

    Karakteristik Tari Seudati

    Bagaimana cara untuk mengenali dan membedakan tarian seudati dari seni tarian khas Aceh lainnya? Ini ciri-ciri khususnya:

    1. Jumlah Penari

    Penari dari tarian seudati wajib berjumlah delapan orang dengan pembagian peran sebagai berikut:

    • Pemimpin (syekh) 1 orang.
    • Pembantu pemimpin di sebelah kiri (apeet wie) 2 orang.
    • Pembantu pemimpin di sebelah belakang (apeet bak) 1 orang.
    • Penari pendukung biasa 1 orang.
    • Penyanyi (aneuk syahi) 2 orang.

    2. Tempo dan Irama

    Seudati dilakukan tanpa iringan alat musik dan hanya mengandalkan tempo serta irama dari para penari sendiri. Gerakan tepukan dada, pinggul, jentikan jari, serta hentakan kaki menjadi tempo dari tari tradisional ini.

    Irama tarian asalnya dari syair yang dilantunkan para aneuk syahi. Pola gerakan serta tempo otomatis akan menyesuaikan dengan irama dan syair. Hal tersebut tidak akan Anda temukan pada tari tradisional lain di Indonesia.

    Keunikan Tari Seudati

    Tidak hanya karakteristik dari seudati yang dapat Anda gunakan untuk mengidentifikasi tarian tradisional itu. Ada beberapa keunikan dari seudati yang memudahkan masyarakat awam mengenalinya, yaitu:

    1. Peran Penari Variatif

    Jika pada seni tari tradisional daerah lain, Anda pasti mendapati para penari hanya fokus terhadap gerakan yang dikerjakan. Berbeda dengan tarian dari tanah Rencong ini, karena para penyanyi memiliki tugas-tugas lain, yaitu sebagai penyanyi dan pengganti alat musik.

    2. Tidak Menggunakan Alat Musik dan Lagu

    Pada seni tari daerah lain, bahkan Tari Saman yang sama-sama berasal dari Aceh, lagu dan alat musik menjadi instrumen resmi. Namun, tari seudati tidak menggunakan keduanya. Teri ini sepenuhnya mengandalkan para penari untuk menciptakan harmonisasi gerakan, tempo, dan irama.

    3. Pola Gerakan Agresif dan Kompak

    Setiap gerakan dari seudati merupakan simbolisasi karakter manusia yang agresif, namun kompak. Agresif atau semangat juang tinggi dalam mewujudkan mimpi, namun tetap harmonis dalam kehidupan sosial – khususnya berbuat kebaikan.

    Properti Tari Seudati

    Selain ciri khas yang tidak boleh kurang apalagi berubah, properti dari tarian seudati juga bersifat wajib. Properti merupakan bagian dari identitas dan karakter seni tari tersebut agar berbeda dari yang lain, serta mudah dikenali dan diingat oleh masyarakat awam. Properti dari cagar budaya yang telah terdaftar di UNESCO ini antara lain:

    1. Kostum

    Berikut adalah beberapa properti kostum seudati:

    1. Penutup Kepala (Tangkolok)

    Penari seudati wajib mengenakan penutup kepala khas Aceh yang bernama Tangkulok. Bentuknya mirip lidah dengan bagian bagian tengah menjulang. Bahan Tangkulok berasal dari kain dan karton.

    2. Pakaian (Baje)

    Properti pakaian penari seudati adalah baje, yaitu setelan kaos lengan pendek dan celana panjang warna putih. Kaos yang berfungsi sebagai atasan harus pas badan, sedangkan celananya cukup lebar agar gerakan ketika menari menjadi mudah dan fleksibel.

    3. Rencong dan Songket

    Tari seudati menggunakan properti berupa rencong atau senjata tajam tradisional Aceh. Rencong disangkutkan di kain songket yang dikenakan oleh para penari. Songket sendiri merupakan kain khas sekaligus kebanggaan masyarakat Tanah Sumatera.

    4. Ikat Pinggang Merah dan Kuning

    Supaya rencong dapat tersangkut sempurna pada songket, maka butuh ikat pinggang untuk menguatkannya. Ikat pinggang berasal dari kain katun dengan corak warna merah dan kuning. Tidak boleh warna lain karena merah bermakna pemberani, sedangkan kuning adalah simbol kebanggaan dari Raja.

    2. Syair

    Properti terakhir seudati adalah syair yang dilantunkan aneuk syahi. Gubahan syair tersebut sarat akan makna yang menggambarkan perjuangan, kekuatan tekad, serta sifat patriotisme. Selain unik, syair pengiring dari tarian seudati juga wajib dihafalkan dan dilantunkan di atas panggung tanpa teks.

    Persamaan dan Perbedaan Tari Seudati dengan Tari Saman

    Perbedaan Tari Seudati dengan Tari Saman
    Perbedaan Tari Seudati dengan Tari Saman | Image Source: duniaedukasi

    Tidak dapat dimungkiri bahwa saman lebih populer secara nasional sebagai seni tarian khas Aceh dibandingkan dengan seudati. Masyarakat awam cenderung akan menganggap semua seni tari dari Serambi Mekah merupakan sari saman. 

    Padahal, kedua tarian tradisional ini sama-sama indah dan unik. Bila Anda tengok dari sisi persamaan, hanya ada satu poin yang serupa, yaitu asal daerah. Selebihnya, banyak perbedaan yang sekaligus menjadi nilai unik masing-masing tarian. Berikut rangkuman perbedaannya:

    PoinTari SeudatiTari Saman
    Jumlah dan Gender Penari8 orang, semua lelaki.Minimal tujuh orang dan boleh hingga ratusan penari asal berjumlah ganjil.
    Irisan Musik dan LaguTidak menggunakan iringan alat musik maupun lagu, hanya melalui syair dan gerakan badan.Memakai lagu dan alat musik pengiring yang khas dengan nuansa Aceh.
    Kostum Setelan kaos dan celana panjang putih dilengkapi songket, ikat pinggang, dan penutup kepala. Baju kerawang, hiasan kepala (sunting kelpies), dan ikat pinggang
    Gerakan Seudati dilakukan dengan posisi berdiri.Saman dilakukan dengan posisi duduk.

    Sudah jelas bukan bahwa, baik seudati maupun saman memiliki perbedaan yang sangat mencolok? Namun, tentu keduanya tetap menarik dinikmati serta wajib kita lestarikan.

    Sudah Memahami Apa itu Tari Seudati?

    Kesimpulan dari penjabaran tentang seudati di atas adalah bahwa tarian ini merupakan identitas sekaligus warisan budaya dari Aceh. Karakteristik dan keunikan seni tradisional tersebut tidak ada pada tarian daerah lainnya.

    Masyarakat akan lebih mudah mengidentifikasi tentang tarian seudati melalui unsur-unsur berbeda yang menjadi bagian di dalamnya. Tidak hanya warga domestik, namun seudati mempunyai potensi untuk go internasional.

    Satu poin yang kurang dari tarian asli bumi Serambi Mekah ini, yaitu sosialisasi dan publisitas, baik dalam maupun luar negeri. Namun, hal itu bisa dengan mudah teratasi bila para pegiat seni lebih giat dalam mempromosikannya di berbagai pertunjukan.