Category: Sejarah

  • Sejarah Sumpah Pemuda serta Tujuan, Makna dan Tokohnya

    Sejarah Sumpah Pemuda serta Tujuan, Makna dan Tokohnya

    Bangsa Indonesia, negara kita tidak luput dari berbagai peristiwa sejarah yang menyebabkan perubahan besar pada bangsa. Salah satu peristiwa sejarah yang cukup penting adalah diikrarkannya sumpah pemuda. Lantas, bagaimana sejarah sumpah pemuda terjadi? Siapa saja tokohnya? Apa tujuannya? Yuk, cari tahu di sini!

    Mengenal Sejarah Sumpah Pemuda di Indonesia

    Peserta Kongres Pemuda Kedua
    Peserta Kongres Pemuda Kedua | Sumber Gambar: Lamongankab

    Sumpah Pemuda adalah peristiwa bersejarah dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta, saat Kongres Pemuda II diadakan. Dalam kongres ini, pemuda-pemuda Indonesia sepakat untuk bersatu dalam semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. 

    Pada saat itulah, mereka bersama-sama mengucapkan Sumpah Pemuda, yang terkenal dengan kata-kata “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa.” Sumpah Pemuda menjadi simbol semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, serta mendukung usaha perjuangan melawan penjajah Belanda. 

    Pada dasarnya, Kongres Pemuda terjadi sebanyak 3 kali dan di tempat yang berbeda-beda pula. Berikut adalah penjelasan masing-masing kongres dalam sejarah Sumpah Pemuda:

    • Rapat Pertama 

    Pertama terjadi di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond di tanggal 27 Oktober 1928, pagi hari. Fokusnya adalah pembahasan hubungan persatuan Indonesia.

    • Rapat Kedua

    Selanjutnya berlokasi di Gedung Oost-Java Bioscoop pada tanggal 28 Oktober 1928. Fokusnya adalah tentang masalah pendidikan.

    • Rapat Ketiga

    Terakhir berlokasi di Gedung Indonesische Clubgebouw pada tanggal 28 Oktober 1928, waktu sore hari. Fokusnya adalah tentang pentingnya nasionalisme dan  demokrasi. Pada rapat ini juga lagu Indonesia Raya diperdengarkan dan ditutup rumusan Sumpah Pemuda.

    Sejak itu, tanggal 28 Oktober diperingati setiap tahun sebagai Hari Sumpah Pemuda. Tujuannya untuk mengenang semangat patriotisme pemuda Indonesia dalam mencapai kemerdekaan. Sejarah Sumpah Pemuda menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan Indonesia menuju kemerdekaan tahun 1945.

    3 Tujuan Sumpah Pemuda Bagi Bangsa Indonesia

    Ilustrasi Zaman Dahulu
    Ilustrasi Zaman Dahulu | Sumber Gambar: BBC

    Setelah memahami dengan baik bagaimana sejarah sumpah pemuda terjadi. Maka, selanjutnya kamu perlu mengetahui apa saja tujuan diikrarkannya sumpah tersebut oleh para pemuda bangsa di tahun 1928. Tujuan utama dari Sumpah Pemuda adalah sebagai berikut:

    1. Persatuan Bangsa 

    Pada tahun 1928, negara Indonesia masih belum merdeka sehingga masih terdapat perpecahan antara suku dan agama yang ada. Hal tersebut mendorong kaum muda untuk melakukan pergerakan khusus guna menyatukan negara Indonesia yang memiliki suku yang amat beragam.

    Adanya sumpah Pemuda mendorong pemuda-pemuda Indonesia untuk bersatu tanpa memandang perbedaan suku, agama, dan budaya. Mereka berkomitmen untuk menjaga persatuan bangsa Indonesia sebagai landasan yang kuat dalam perjuangan kemerdekaan.

    2. Penggunaan Bahasa Indonesia 

    Dalam sejarah Sumpah Pemuda, fokusnya ada pada pentingnya penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional persatuan. Ini berkontribusi dalam menggantikan bahasa Belanda sebagai bahasa resmi. Karena pada saat itu, bahasa Belanda masih banyak digunakan sebagai bahasa keseharian.

    Selain bahasa Belanda, terdapat juga berbagai bahasa daerah sebagai sarana komunikasi. Namun, kadang kala keberagaman bahasa daerah menjadi penghalang komunikasi apabila tidak ada bahasa nasional yang menyatukannya. Karenanya, bahasa Indonesia sangat penting untuk digalakkan penggunaannya. 

    3. Perlawanan Terhadap Penjajah 

    Sumpah Pemuda juga mencerminkan tekad pemuda-pemuda Indonesia untuk melawan penjajah Belanda. Mereka berkomitmen untuk bekerja bersama-sama dalam perjuangan kemerdekaan dan mempertahankan hak-hak mereka sebagai bangsa.

    Sumpah Pemuda menjadi dasar untuk gerakan-gerakan perjuangan selanjutnya. Serta menginspirasi semangat persatuan dalam menghadapi berbagai tantangan sepanjang perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia.

    Menilik Makna Ikrar Sumpah Pemuda

    Tiga ikrar sumpah pemuda adalah kalimat yang sarat akan nilai nasionalisme dan kebangsaan. Makna yang mendalam ini mampu mengubah dan menciptakan pribadi yang loyal dan cinta akan tanah air. Berikut merupakan beberapa makna dari ikrar sumpah pemuda: 

    1. Menyatukan Perjuangan Indonesia

    Sumpah Pemuda menjadi langkah awal perjuangan negara Indonesia untuk mendapatkan kemerdekaan dari penjajah. Para pemuda yang berperan dalam Sumpah Pemuda merelakan segala waktu, tenaga, serta harta untuk menyatukan bangsa. 

    Makna ini mengajarkan bahwa dengan kesatuan, bangsa Indonesia mampu mengatasi rintangan dan membebaskan diri dari penindasan. Lewat persatuan dan kesatuan yang ada, bangsa Indonesia mampu meraih kemerdekaan dan hak bangsa yang selama itu menjadi perjuangan bersama.

    2. Mendorong Semangat Juang

    Sumpah Pemuda meningkatkan rasa bangga menjadi masyarakat bangsa Indonesia. Semangat yang keluar dari sejarah Sumpah Pemuda mengajarkan masyarakat untuk menghargai segala kekayaan alam dan budaya Indonesia. 

    Karena memahami terhadap makna Sumpah Pemuda, generasi muda dapat hidup dengan rasa bangga atas identitas nasional. Kesadaran akan bela negara dan mendorong semangat juang menjadi hal yang sangat penting kala itu, karena bangsa Indonesia belum mencapai kemerdekaan.

    3. Menekankan Kebanggaan Akan Bahasa Indonesia

    Ketika memahami makna Sumpah Pemuda, kita dapat menekankan pentingnya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang dapat menyatukan suku, ras, serta etnis yang berbeda tanpa menghapuskan bahasa daerah masing-masing. 

    Bahasa Indonesia juga selalu mengalami perkembangan melalui penyerapan kosakata dari bahasa daerah yang ada di Indonesia. Selain penyerapan dari bahasa daerah, bahasa Indonesia juga berkembang melalui penyerapan kosa kata Melayu, Belanda, dan Arab.

    Baca Juga: Profil Anggota Panitia Sembilan, Sang Perumus Piagam Jakarta

    Tokoh Penting dalam Sejarah Sumpah Pemuda

    Tokoh Sumpah Pemuda
    Tokoh Sumpah Pemuda | Sumber Gambar: iup-ugm

    Suksesnya ikrar sumpah pemuda tentu tidak terlepas dari peran berbagai tokoh penting di dalamnya. Tokoh perjuangan ini memiliki semangat juang yang sangat tinggi untuk menyatukan dan menjunjung nama baik Indonesia raya. Berikut ini adalah beberapa tokoh tersebut:

    1. Soenario Sastrowardoyo

    Soenario Sastrowardoyo merupakan salah satu pemuda asal madiun yang memiliki jiwa nasionalisme tinggi. Peran besar Soenario adalah sebagai penasihat dalam perumusan naskah sumpah pemuda. 

    2. Sutomo 

    Sutomo, yang dikenal sebagai Bung Tomo adalah seorang pemuda pemberani yang aktif dalam memerangi penjajah Belanda dan menggerakkan semangat perlawanan di Surabaya selama Perang Kemerdekaan. Beliau menjadi ikon perlawanan dan patriotisme.

    Meskipun tidak hadir secara fisik dalam penyelenggaraan sejarah Sumpah Pemuda, Soetomo memiliki peran yang besar dalam menyebarluaskan bahasa Indonesia sebagai bahasa kesatuan. Di mana hal ini termasuk dalam butir Sumpah Pemuda.

    3. Amir Syarifudin Harahap

    Beliau pada saat itu menjadi Bendahara Kongres Pemuda II yang dibentuk pada bulan Juni 1928. Meskipun hanya bertugas untuk mengurus keuangan, Amir memberikan ide-ide brilian selama perumusan Sumpah Pemuda. Selain itu, Amir merupakan tokoh pemuda dari organisasi Jong Batak Bond dan aktivis anti-Jepang.

    4. Mohammad Yamin

    Mohammad Yamin adalah salah satu tokoh penting dalam Sumpah Pemuda. Beliau adalah seorang penyair, politikus, dan pahlawan nasional Indonesia yang memainkan peran kunci dalam perumusan teks naskah Sumpah Pemuda. Mohammad Yamin berperan dalam merumuskan dan menggagas ikrar.

    5. Djoko Marsaid

    Djoko Marsaid adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Sumpah Pemuda. Ia merupakan wakil ketua Kongres Pemuda II yang diadakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928 di Jakarta. Djoko Marsaid mewakili organisasi Jong Java dan turut berperan dalam perumusan teks naskah Sumpah Pemuda. 

    Selain itu, beliau juga memainkan peran penting dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui organisasi-organisasi seperti Jong Java

    6. Soegondo Djojopoespito

    Beliau merupakan ketua Kongres yang diadakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928 di Jakarta. Soegondo Djojopoespito memimpin Kongres Pemuda II yang menghasilkan beberapa keputusan penting, termasuk Sumpah Pemuda.

    Sudah Tahu Bagaimana Sejarah Sumpah Pemuda?

    Ikrar sumpah pemuda memang sudah lama sekali terjadi. Namun, semangatnya harus membara hingga masa kini demi mencapai negara Indonesia yang maju dan gemilang. Karena itu, pemahaman akan sejarah Sumpah Pemuda sangat penting untuk generasi masa kini.

    Sebagai bagian dari generasi muda dan generasi perubahan, hendaknya menerapkan semangat juang Sumpah Pemuda diiringi dengan perkembangan teknologi yang ada. Mari mulai dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menjunjung tinggi toleransi. Semoga bermanfaat!

  • Mengenal 9 Manusia Purba yang Ditemukan di Indonesia

    Mengenal 9 Manusia Purba yang Ditemukan di Indonesia

    Salah satu bukti konkret adanya manusia purba yang ditemukan di Indonesia adalah fosil manusia purba di situs-situs arkeologi dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Beberapa di antaranya bahkan menjadi bukti penting dalam penelitian tentang evolusi manusia di Asia Tenggara. 

    Salah satu penemuan terpenting adalah penemuan fosil manusia purba di Situs Sangiran, Jawa Tengah. Penemuan tersebut memberikan wawasan berharga tentang sejarah manusia di wilayah ini. 

    Meski begitu, masih banyak penemuan lainnya di Indonesia. Mari simak ulasan lengkapnya di artikel ini hingga akhir! Agar Anda bisa lebih memahami perihal jenis-jenis manusia purba di Indonesia.

    9 Manusia Purba yang Ditemukan di Indonesia

    Paling tidak, ada beberapa peninggalan fosil manusia purba yang ditemukan di Indonesia dari yang paling tua hingga yang termuda. Berikut penjelasannya!

    1. Homo Wajakensis (1888)

    Homo Wajakensis
    Homo Wajakensis | Sumber: Cerdika

    Homo Wajakensis jadi manusia purba yang ditemukan di Indonesia pertama. Tepatnya di Desa Wajak pada 1888 oleh Von Rietschoten dan pada 1889 oleh Eugene Dubois. 

    Mereka hidup sekitar 60.000 hingga 25.000 tahun lalu dan merupakan nenek moyang bangsa Aborigin. Klasifikasinya sebagai Homo, yakni berdasarkan pada kesamaan dengan manusia modern, serta volume otak yang lebih berkembang hingga 1.300 cc.

    Penemunya termasuk tulang paha, rahang atas, rahang bawah, tulang kering, dan fragmen tengkorak dengan volume sekitar 1.600 cc. Peneliti menganggapnya sebagai Homo Sapiens pertama di Asia dan sudah membuat alat-alat dari batu dan tahu cara memasak.

    Ciri-ciri fisik Homo Wajakensis meliputi wajah datar dan lebar, hidung lebar dengan bagian mulut menonjol, berat badan antara 30 hingga 150 kilogram, tinggi badan sekitar 130 hingga 210 sentimeter. Kemudian, memiliki otak yang lebih berkembang dan ada persamaan dengan ras Australoid

    2. Homo Sapiens (1889)

    Homo Sapiens
    Homo Sapiens | Sumber: The Mirror

    Merupakan manusia cerdas yang hidup pada zaman holosen. Tubuh mereka sudah mirip dengan manusia saat ini. Pada masa itu, Homo Sapiens telah mengembangkan struktur organisasi dan pembagian tugas.  Penemuan fosilnya, yakni pada tahun 1889. Sedangkan ciri-cirinya meliputi:

    • Volume otak berukuran kira-kira 1.000 cc – 1.200 cc.
    • Ukuran tinggi badan kurang lebih antara 130 – 210 cm.
    • Penyusutan otot tengkuk.
    • Penyusutan alat kunyah dan gigi.
    • Tidak memiliki wajah yang menonjol ke depan.
    • Berdiri dan berjalan tegak.
    • Tidak memiliki dagu dan rahang yang sangat kuat.

    Berdasarkan spesifikasi ini, Homo Sapiens telah menggunakan akalnya. Meskipun dalam hal sederhana, mereka telah menunjukkan karakteristik berburu dan mengumpulkan makanan. Menariknya, Homo Sapiens mencerminkan keberagaman budaya, ras, dan ragam bangsa Indonesia.

    Baca Juga: Pengertian Homo Sapiens: Persebaran & Penemuannya

    3. Pithecanthropus Erectus (1890-1892)

    Pithecanthropus Erectus
    Pithecanthropus Erectus | Sumber: Google Arts and Culture

    Eugene Dubois menemukan kelompok manusia purba ini pada tahun 1890-1892 di Desa Trinil, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur. Menurut perkiraan, mereka hidup sekitar 600.000 hingga 1 juta tahun yang lalu. Berdasarkan penemuan Dubois, kita dapat mengidentifikasi ciri-ciri manusia purba ini, yakni:

    • Tubuh yang kokoh, dengan gigi pengunyah yang kuat.
    • Tinggi badan berkisar antara 165 hingga 170 centimeter, dengan berat sekitar 100 kilogram.
    • Berjalan dengan sikap tegak.
    • Memakan makanan yang masih kasar, dengan sedikit pengolahan.
    • Kemampuan berpikir yang masih terbatas.
    • Volume otak mereka sekitar 900 cc, yang lebih kecil daripada otak manusia modern, yang sudah mencapai lebih dari 1000 cc, dan lebih besar daripada otak kera yang hanya sekitar 600 cc.

    4. Homo Erectus Soloensis (1931-1933)

    Homo Erectus Soloensis
    Homo Erectus Soloensis | Sumber: Kompas.com

    Manusia purba yang ditemukan di Indonesia lainnya adalah Homo Soloensis. Fosilnya terdapat di sepanjang Bengawan Solo, seperti Ngandong, Sambungmacan, dan Sangiran.

    Penemunya adalah C. Ter Haar, Von Koenigswald, serta W.F.F. Oppenoorth antara tahun 1931 hingga 1933. Perkiraannya, Homo Soloensis hidup sekitar 900.000 hingga 200.000 tahun yang lalu. 

    Von Koenigswald melakukan banyak penemuan di wilayah tersebut, termasuk fosil-fosil tengkorak anak-anak, hewan-hewan prasejarah, dan berbagai perkakas. Dia juga mengklasifikasikan lembah Bengawan Solo menjadi tiga lapisan, yaitu:

    • Jetis (Pleistosen Bawah), penemuan Pithecanthropus Robustus, Homo Mojokertensis, dan Meganthropus Paleojavanicus.
    • Trinil (Pleistosen Tengah), penemuan Pithecanthropus Erectus.
    • Ngandong (Pleistosen Atas), penemuan Homo Soloensis dan Homo Wajakensis.

    Von Koenigswald menemukan sebanyak 11 fosil tengkorak. Meskipun sebagian sudah rusak, beberapa masih menjadi  objek penelitian lebih lanjut, meskipun rahang dan gigi sebelas tengkorak itu sudah tidak lengkap.

    Menurut von Koenigswald dan R. Weidenreich, Homo Soloensis ini memiliki tingkat perkembangan yang lebih tinggi daripada Pithecanthropus Erectus. Mereka bahkan dianggap sebagai Homo, yaitu manusia. Perkiraannya, spesies ini merupakan hasil evolusi dari Pithecanthropus Mojokertensis atau Homo Mojokertensis.

    5. Pithecanthropus Mojokertensis (1936)

    Pithecanthropus Mojokertensis
    Pithecanthropus Mojokertensis | Sumber: Pinhome

    Salah satu manusia purba yang ditemukan di Indonesia adalah Pithecanthropus Mojokertensis atau ada juga yang menyebutnya Pithecanthropus Robustus. Penemunya, yakni Tjokrohandoyo atau Andojo yang bekerja dengan Ralph von Koenigswald pada tahun 1936 di Lembah Sungai Brantas. 

    Awalnya, Andojo mengira fosil itu milik orang utan, sehingga ia memberi nama Pithecanthropus, yang berarti manusia kera. Namun, Von Koenigswald mengidentifikasi fosil ini sebagai manusia purba dan menamainya Pithecanthropus Mojokertensis. Jenis ini adalah yang tertua di antara Pithecanthropus lainnya.

    Berdasarkan usia lapisan tanah, perkiraannya Pithecanthropus hidup sekitar 30.000 hingga 2.000.000 tahun yang lalu. Mereka hidup berkelompok-kelompok, mengumpulkan bahan makanan, serta berburu. 

    Pithecanthropus Robustus
    Pithecanthropus Robustus | Sumber: kompas.com

    Pithecanthropus sudah menggunakan alat sederhana, seperti kapak genggam dan alat batu lainnya yang peneliti temukan di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Meskipun menggunakan alat, mereka belum tahu cara mengolah atau memasak makanan. 

    Penemuan ini memicu debat klasifikasi manusia purba, dan nama spesiesnya akhirnya mereka ubah menjadi Homo Mojokertensis. Ciri-cirinya, yakni memiliki postur tubuh tegak, tinggi tubuh 165-180 cm, rahang dan gigi kuat, kening menonjol, hidung lebar, dan otak dengan kapasitas 750-1.300 cc.

    6. Homo Mojokertensis (1936)

    Tengkorak Homo Mojokertensis
    Tengkorak Homo Mojokertensis | Sumber: The Forgotten Motherland

    Manusia purba yang ditemukan di Indonesia berikutnya adalah Homo Mojokertensis. Ralph von Koenigswald menemukannya pada tahun 1936 di Mojokerto. Fosil yang ia temukan adalah tengkorak anak-anak yang berusia di bawah lima tahun. Ia memperkirakan fosil Homo Mojokertensis sebagai fosil dari anak-anak Pithecanthropus.

    Berdasarkan penemuan fosil-fosilnya, Homo Mojokertensis memiliki ciri-ciri fisik yang mirip dengan manusia purba lainnya. Meskipun tidak ada banyak informasi rinci tentang spesies ini, penelitian lebih lanjut mungkin dapat memberikan wawasan lebih mendalam tentang karakteristik fisiknya.

    7. Pithecanthropus Dubuis (1939)

    Tengkorak Pithecanthropus Dubuis
    Tengkorak Pithecanthropus Dubuis | Sumber: Museum Nusantara

    Jenis manusia purba yang satu ini ditemukan pada tahun 1939 meski sedikit meragukan. Hal itu karena, meskipun berasal dari Sangiran, struktur tulang dan tengkoraknya tidak sepenuhnya sesuai dengan ciri-ciri Meganthropus maupun Pithecanthropus. 

    Selain itu sejarah ekspedisi dan penggalian arkeologis di Indonesia seringkali terkait dengan penjajahan. Sehingga, banyak peneliti Belanda yang bekerja sama dengan pemerintahan kolonial berhasil melakukan penggalian arkeologis, termasuk dalam penemuan fosil manusia purba ini. Maka dari itu, penelitiannya cukup diragukan.

    Lebih lanjut, manusia purba ini memiliki karakteristik fisik yang kuat dan gagah. Makanan utamanya adalah tumbuhan. Peneliti menduga bahwa mereka hidup dalam kelompok dan cenderung menetap.

    8. Meganthropus Palaeojavanicus (1941)

    Meganthropus Palaeojavanicus
    Meganthropus Palaeojavanicus | Sumber: Okezone.com

    Peneliti Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald menemukan fosil rahang bawah Meganthropus Palaeojavanicus pada tahun 1941 di dekat Desa Sangiran, Lembah Sungai Bengawan Solo. Fosil ini berasal dari Pleistosen awal (lapisan bawah) dan merupakan manusia purba tertua di Indonesia.

    Salah satu manusia purba yang ditemukan di Indonesia ini memiliki tubuh besar, kening menonjol, dan tulang pipi tebal, dengan rahang dan gigi yang hampir seukuran dengan gorila. Usia fosil ini diperkirakan sekitar 1.000.000–2.000.000 tahun. 

    Meganthropus perkiraannya hidup dengan cara food gathering atau mengumpulkan makanan, terutama tumbuh-tumbuhan. Hal itu karena mereka belum mengenal adanya api. 

    Nama ilmiahnya adalah Meganthropus Paleojavanicus, yang memiliki arti manusia besar tertua dari Jawa. Meski demikian, beberapa ahli mengklasifikasikannya sebagai Homo Erectus Paleojavanicus.

    Baca Juga: Meganthropus Palaeojavanicus: Ciri dan Sejarah Penemuannya

    9. Homo Floresiensis (2003)

    Homo Floresiensis
    Homo Floresiensis | Sumber: Kompas.com

    Manusia purba yang ditemukan di Indonesia terakhir ada Homo Floresiensis, penemunya ialah Peter Brown dan Mike J. Morwood pada bulan September tahun 2003, tepatnya di Liang Bua, Flores. Mereka menganggap manusia purba yang memiliki julukan Manusia Liang Bua ini sebagai spesies baru, lalu memberinya nama sesuai dengan tempat penemuannya.

    Ciri-cirinya, yakni memiliki kepala dan tubuh yang kecil. Selain itu, mereka juga otak berukuran kecil dengan volume sekitar 380 cc, rahang menonjol atau dahi yang sempit, berat badan sekitar 25 kilogram, dan tinggi badan sekitar 1,06 meter.

    Pengelompokan Homo Floresiensis sebagai manusia modern masih menjadi perdebatan. Beberapa ahli berpendapat bahwa spesies ini merupakan hasil evolusi dari Pithecantropus, sementara yang lain menduga bahwa Homo Floresiensis hidup secara bersamaan atau pada periode yang sama dengan Homo Sapiens.

    Manusia purba ini sering mendapatkan julukan sebagai “hobbit” karena kemiripannya dengan karakter hobbit dalam karya J.R.R. Tolkien pada film The Lord of the Rings and The Hobbit. 

    Para ilmuwan menduga bahwa Homo Floresiensis memiliki tubuh mungil, karena adaptasi lingkungan. Keterbatasan ruang di Pulau Flores selama ribuan tahun telah menyebabkan penurunan ukuran tubuh dari generasi ke generasi.

    Sudah Tahu Manusia Purba yang Ditemukan di Indonesia?

    Dalam usaha melihat masa lalu dan meresapi keragaman budaya manusia purba. Telah kita saksikan ragam manusia purba yang ditemukan di Indonesia. Dari penemuan tersebut, kita bisa menyusuri jejak-jejak manusia purba yang menghidupi wilayah ini selama ribuan tahun. 

    Semua penemuan tersebut menjadi bukti nyata akan keragaman sejarah manusia di Indonesia. Dengan melihat masa lalu, kita semakin memahami diri kita sendiri dan menghargai warisan nenek moyang yang telah membentuk wawasan unik kita tentang perkembangan manusia. Semoga bermanfaat!

  • Kesultanan Ternate: Sejarah, Raja, Letak dan Peninggalan

    Kesultanan Ternate: Sejarah, Raja, Letak dan Peninggalan

    Sebagai kerajaan Islam tertua di Indonesia, Kesultanan Ternate memiliki history yang cukup kental untuk persebaran agama Islam. Pasalnya, peranannya dalam persebaran islam cukup besar, serta memiliki andil yang cukup berarti dalam memerangi penjajahan bangsa asing.

    Biar kamu nggak ketinggalan sejarah kesultanan, kepemimpinan, dan seluk beluk peninggalannya. Kamu bisa pelajari artikel ini, yang bakalan kupas tuntas terkait kerajaan Islam satu ini!

    Mengenal Kesultanan Ternate

    Museum Kesultanan Ternate
    Museum Kesultanan Ternate | Sumber: Kompas

    Kesultanan atau Kerajaan Ternate merupakan sebuah kerajaan Islam kuno, yang berlokasi di pulau Ternate, Maluku, Indonesia. Kerajaan ini memiliki sejarah yang panjang dan merupakan salah satu dari empat kesultanan utama di Kepulauan Maluku (termasuk Kesultanan Tidore, Kesultanan Bacan, dan Kesultanan Jailolo).

    Secara struktur sendiri, kerajaan ini melimpahkan kekuasaan tertinggi pada Sultan Agung. Sedangkan dalam kerajaan, terbagi atas beberapa wilayah yang dipimpin oleh seorang raja. Kerajaan ini merupakan salah satu yang paling makmur, bahkan menjadi pusat perdagangan rempah-rempah. 

    Mulai dari cengkeh dan pala, yang merupakan komoditas bernilai tinggi pada kala itu. Para pedagang tak hanya dari lokal saja, bahkan sudah sampai ke tanah Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris). 

    Selama beberapa abad, Kesultanan Ternate sering terlibat dalam konflik dan persaingan dengan Kesultanan Tidore, serta berbagai kekuatan Eropa. Alasannya tidak lain untuk merebutkan kekuasaan wilayah yang kaya akan rempah-rempah di Maluku.

    Sayang, beberapa sekutu seperti Belanda dalam perjuangan melawan musuh-musuh bersama, membuatnya menjadi kerajaan yang rawan identitas. Hal ini membuat kerajaan ini mengalami pembubaran paksa, demi upaya integrasi wilayah-wilayah bekas kolonial pada masa kemerdekaan. 

    Sejarah Kesultanan Ternate

    Ilustrasi Masjid Kerajaan Ternate
    Ilustrasi Masjid Kerajaan Ternate | Sumber: Kompas

    Sebagai kerajaan Islam tertua, ada history panjang dan kompleks yang kesultanan ini alami dari masa ke masa. Walaupun begitu, terdapat peranan besar, yang terangkum dalam sejarah berikut:

    1. Asal-usul

    Kesultanan Ternate memiliki peran penting di kawasan timur Nusantara, bahkan tak lama sejak didirikan pada tahun 1257. Pendiri kesultanan ini merupakan bangsawan lokal, yang merupakan sultan bernama Baab Mashur Malamo dan salah satu rekan sekaligus tokoh besar bernama Nuku (sultan pertama Ternate). 

    Kerajaan ini berkembang sangat pesat, tepatnya menjadi pusat perdagangan antara abad ke-13 hingga abad ke-19. Saat paruh abad ke-16, kesultanan ini mencapai kejayaan berkat perdagangan rempah-rempah serta kekuatan militer yang cukup mumpuni. 

    Ternate juga dikenal sebagai “The Spice Island”, karena menjadi kota penghasil rempah terbaik, terutama pala dan lada. Karena ini juga, kerajaan ini sering terdampak konflik perebutan wilayah kekuasaan, oleh kerajaan tetangga maupun pasukan asing dari Eropa.

    2. Perkembangan Islam di Kesultanan Ternate

    Awalnya, kerajaan ini tak memeluk agama Islam hingga mulai masuknya pedagang dari Arab Saudi, yang bermukim dengan alasan untuk berdagang. Kemudian, sekitar abad ke-14, Islam mulai menyebar, walaupun belum masuk ke dalam struktur kerajaan. 

    Setelah keluarga kerajaan mulai memeluk agama Islam pada abad ke-15, kesultanan ini malah semakin berkembang dan lebih makmur lagi. Pada masa kejayaannya, Kesultanan Ternate juga menjadi base Islamisasi, untuk wilayah Timur Nusantara. 

    Tak hanya di Indonesia, bahkan pengaruhnya sampai ke beberapa negara di Asia. Sayangnya, setelah berpulangnya Sultan Baabullah, kesultanan ini mengalami kemunduran. Apalagi gempuran VOC, juga mulai mengikis kekuasaan darah kesultanan dan menyingkirkannya dari persaingan pasar lokal!

    3. Jatuhnya Kesultanan Ternate

    Walaupun pertumbuhannya cukup pesat, namun sayangnya kesultanan ini sangat rawan terhadap serangan musuh, baik dari kerajaan tetangga maupun militer asing. Konflik dengan Portugis juga terkenal sengit, sehingga membuat Ternate harus bekerjasama dengan pihak Belanda.

    Sayangnya, setelah kemenangan tersebut, Belanda memperluas pengaruhnya di tanah Maluku, serta dengan perjanjian sekutu sebelumnya, membuat kesultanan semakin terpuruk. Belum lagi persaingan dengan kesultanan tetangga, seperti Tidore. 

    Hingga akhirnya, moment wafatnya Sultan Baabullah, yang membuat kemunduran kesultanan semakin jelas. Kemudian, seluruh bentuk kesultanan di Indonesia dihapuskan setelah kemerdekaan, demi menjaga kesatuan dan persatuan dan integrasi wilayah bekas jajahan.

    Peranan Kesultanan Ternate Melawan Penjajahan 

    Sultan Baabullah
    Sultan Baabullah | Sumber: antaranews

    Tak hanya berperan dalam penyebaran Islam, namun dalam sejarh yang tertulis, banyak peranan besar kerajaan ini untuk melawan penjajah. Seperti halnya beberapa upaya berikut ini:

    1. Mengusir Militer Portugis

    Keberhasilan rakyat Ternate di bawah Sultan Baabullah, terbayarkan dalam upaya mengusir Portugis pada tahun 1575. Hal ini menjadi kemenangan pertama pribumi Nusantara atas kekuatan barat, bahkan menjadi pemantik semangat muda-mudi bangsa, sekaligus menunda penjajahan barat selama lebih kurang 100 tahun.

    Dalam upayanya ini, kesultanan bekerjasama dengan Belanda sebagai sekutu satu musuh, dengan fokus untuk mengusir Portugis. Sayangnya, hal ini membuat pengaruh kolonial Belanda semakin menjadi-jadi. 

    2. Membendung Kolonialisme Belanda

    Walaupun bermusuhan, namun karena krisis Kesultanan Ternate bersama dengan Kesultanan Tidore dan Kesultanan Jailolo berperan aktif dalam memerangi kolonial Belanda. Kerajaan-kerajaan tersebut menjadi pilar pertama yang membendung kolonialisme Barat di Indonesia. 

    Hal ini membuat periode kejayaan tiga kesultanan ini sangat kuat, setidaknya selama abad 14 hingga 15. Walaupun pada akhirnya, kedaulatan ketiga kesultanan ini dihapuskan di Indonesia, untuk upaya integrasi wilayah terdampak dari penjajahan.

    3. Membentuk Persekutuan

    Pada masa kepemimpinan Sultan Ternate ke-7, Kolano Cili Aiya atau disebut juga Kolano Sida Arif Malamo (1322-1331) mengundang raja-raja Aibku untuk berdamai dan bermusyawarah membentuk persekutuan. Persekutuan ini merupakan motir Verbond.

    Raja-Raja Kesultanan Ternate

    Sebenarnya ada banyak raja dan sultan dari generasi ke generasi, namun dari beberapa deretan tersebut, ada beberapa tokoh yang cukup ternama, seperti halnya:

    • Kolano Marhum (1465-1486 M): Penguasa Ternate ke-18 dan raja pertama yang memeluk agama Islam, bersama seluruh kerabat dan pejabat istana dalam naungannya.
    • Sultan Zainal Abidin (1486-1500 M): Memimpin Ternate pada rentang waktu 1486-1500, tercatat dalam sejarah sebagai peletak dasar sistem pemerintahan Islam pada abad ke-15. Beliau juga memiliki nama lain, yakni “Raja Bulawa”, yang berarti Raja Cengkih. 

    Zainal juga membawa sejumlah ulama dari Pesantren Giri ke Ternate, untuk membuat perubahan besar dalam konstelasi politik, menjadi basis politik islami.

    • Sultan Bayanullah (1500-1522 M): Merupakan salah satu Sultan Ternate yang menjabat dari 1500 hingga 1522 Masehi.
    • Sultan Hidayatullah (1529-1533 M): Salah satu sultan yang terkenal ternama, yang menjabat pada 1529 sampai 1522 Masehi.
    • Sultan Baabullah Datu Syah (1570-1583 M): Dalam Kesultanan Ternate, nama Baabullah adalah salah satu tokoh paling disegani. Karena membawa kerajaannya ke puncak kejayaan, selama masa pemerintahannya. Prestasi terbesarnya adalah berhasil mengusir Portugis pada 25 Mei 1575.
    • Dan masih banyak lagi.

    Letak Kesultanan Ternate

    Kerajaan ini berada di Pulau Ternate, Provinsi Maluku Utara. Secara geografis, berada pada Kepulauan Halmahera, yang menjadi penghasil rempah, seperti pala, cengkih, dan lada. Termasuk kota tertua, karena sudah berdiri sebelum abad pertengahan, bahkan menjadi pusat peradaban Islam terbesar di Nusantara Timur.

    Peninggalan Bersejarah

    Sebagai kerajaan Islam terbesar, tentunya Kesultanan Ternate meninggalkan berbagai peninggalan sejarah terkenal, seperti halnya:

    1. Makam Sultan Baabulah

    Sebagai sultan agung, yang mengantarkan kejayaan ke tanah Ternate, Sultan Baabullah dikuburkan dengan layak dan terhormat. Kini, makam Sultan Babullah menjadi salah satu tempat wisata sejarah yang populer, yang terletak di Desa Gamalama, Ternate Utara.

    2. Istana Sultan Ternate

    Berikutnya, ada Istana Sultan Ternate, yang terletak di tengah Kota Ternate dan menghadap ke arah laut. Bangunan tersebut mengadopsi gaya arsitektur Tiongkok, yang bercampur dengan ciri khas lokal. Saat ini, istana tersebut berada dalam pengawasan pemerintah dan menjadi cagar budaya.

    3. Masjid Kerajaan Ternate

    Sebagai kerajaan Islam tertua, masjid yang terletak pada daerah perlintasan Sultan Khairun, Kelurahan Soa Siu, Ternate Utara juga menjadi bukti kejayaan Kesultanan Ternate. Masjid ini juga menjadi salah satu tempat wisata sejarah, yang paling banyak peminatnya.

    4. Benteng Tolukko

    Ada juga sebuah benteng bernama Tolukko, yang merupakan salah satu benteng yang erat dengan kisah perjalanan Ternate. Hingga kini, Benteng Tolukko masih berdiri kokoh dan menjadi salah satu tempat wisata sejarah.

    Baca Juga: Sejarah Kerajaan Islam di Sumatera dan Raja-Raja Pertamanya

    Sudah Lebih Mengenal Kesultanan Ternate?

    Dari penjelasan tersebut, kini kamu tahu bahwa Kesultanan Ternate menjadi salah satu kerajaan Islam pertama yang berperan dalam kehidupan bangsa serta persebaran Islam. Dengan daerah yang kaya akan potensi rempah, kerajaan ini sempat menjadi pusat perdagangan dunia pada masa kejayaannya.

    Sayangnya, kenyamanan berada di puncak selalu mendatangkan konflik dan bahaya yang mengintai, entah dari kerajaan tetangga maupun bangsa Eropa. Walaupun begitu, kesultanan ini telah berperan sebagai simbol sejarah dan kebudayaan di Maluku, serta titik awal perkembangan Islam di tanah Maluku. 

  • Kongres Pemuda II: Latar Belakang, Tujuan, Isi, Tokoh, dan Hasil

    Kongres Pemuda II: Latar Belakang, Tujuan, Isi, Tokoh, dan Hasil

    Apakah Anda tahu bahwasanya peringatan Sumpah Pemuda tercipta setelah adanya penyelenggaraan Kongres Pemuda II? Peringatan tanggal 28 Oktober sebagai Hari Sumpah Pemuda erat kaitannya dengan gagasan dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia yang muncul di dalam Kongres Pemuda II.

    Temukan semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang kongres ini dengan terus membaca artikel ini. Jadi, bacalah!

    Latar Belakang Penyelenggaraan Kongres Pemuda II

    Latar Belakang Penyelenggaraan Kongres Pemuda II
    Latar Belakang Penyelenggaraan Kongres Pemuda II | Sumber Gambar: Kompas.com

    Latar belakang perihal penyelenggaraan Kongres Pemuda II ini merupakan akibat atas gagalnya upaya di Kongres Pemuda I di tahun 1926 dalam mewujudkan adanya cita-cita persatuan pemuda Indonesia. Karena kegagalan yang terjadi di Kongres Pemuda I, akhirnya Kongres Pemuda Jilid 2 pun diselenggarakan.

    Lebih dari itu, hal lain yang mendorong adanya kongres ini adalah perkembangan pemikiran politik dari para pemuda Indonesia. Berkembangnya pemikiran-pemikiran politik ini didorong dari berbagai peristiwa yang terjadi selama masa memperjuangkan kemerdekaan.

    Contoh peristiwa-peristiwa ini adalah pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI), adanya pergerakan pemuda dengan sifat kooperatif maupun non kooperatif, kembalinya anggota Perhimpunan Indonesia dari negara Belanda, hingga terbentuknya berbagai partai politik sejak tahun 1927.

    Atas dasar peristiwa inilah yang akhirnya membuat beberapa pemuda dari berbagai organisasi kepemudaan memutuskan untuk mengadakan sebuah pertemuan pada tanggal 27-28 Oktober 1928. Pertemuan inilah yang kemudian dikenal sebagai Kongres Pemuda II dengan Soegondo Djojopoespito sebagai ketuanya.

    Bagaimanapun, tujuan diadakannya kongres ini adalah untuk memperkukuh dan mempererat hubungan setiap pemuda pada zaman itu. Dalam Kongres Pemuda Jilid 2 ini, ada sekitar 700 orang yang berasal dari berbagai organisasi yang hadir untuk mengikuti kongres ini.

    Selain itu, kongres ini terbagi menjadi tiga rapat yang diadakan di tiga lokasi yang berbeda. Tiga hari rapat ini akhirnya menghasilkan rumusan perihal beberapa poin tentang persatuan. Nah, perlu untuk Anda ketahui, rumusan dari poin-poin inilah yang nanti menjadi isi dari teks Sumpah Pemuda.

    Tujuan Adanya Kongres Pemuda II

    Tujuan Adanya Kongres Pemuda II
    Tujuan Adanya Kongres Pemuda II | Sumber Gambar: Times Jabar

    Bukan hal yang umum lagi bahwasanya setiap penyelenggaraan kongres selalu memiliki tujuannya masing-masing, begitupun juga dengan Kongres Pemuda II. Apa tujuan dari diadakannya kongres ini pada tanggal 27-28 Oktober? Berikut adalah tujuan-tujuannya.

    • Melahirkan serta mewujudkan cita-cita dari semua perkumpulan pemuda yang ada di Indonesia
    • Berdiskusi mengenai beberapa masalah pergerakan yang dialami oleh pemuda-pemuda Indonesia
    • Meningkatkan kesadaran pemuda Indonesia tentang kebangsaan serta memperkuat persatuan seluruh rakyat Indonesia

    Di atas merupakan beberapa tujuan dari adanya penyelenggaraan Kongres Pemuda Jilid 2. Selain itu, tujuan-tujuan ini juga yang menuntun adanya deklarasi Sumpah Pemuda.

    Isi Kongres Pemuda II

    Isi Kongres Pemuda II
    Isi Kongres Pemuda II | Sumber Gambar: MerahPutih

    Selanjutnya adalah pembahasan mengenai isi dari Kongres Pemuda II. Sama seperti yang artikel ini sebut di awal, penyelenggaraan Kongres Pemuda Jilid 2 ini diselenggarakan di tiga tempat yang berbeda dalam rentang waktu 27 sampai 28 Oktober. Lalu apa saja isi dari ketiga rapat ini? Berikut penjelasannya.

    a. Pertemuan Pertama

    Pertemuan pertama berlokasi di Gedung Pemuda Katolik yang diadakan pada tanggal 27 Oktober 1928 mulai pukul 19.30 hingga 23.30. Dalam pertemuan ini, para pemuda yang hadir berdiskusi mengenai pentingnya bahasa Melayu sebagai bahasa politik demi menciptakan persatuan dan kesatuan Indonesia.

    Tidak hanya itu, namun pertemuan pertama ini juga menghasilkan satu gagasan untuk menjadi tuan rumah dari gerakan suatu perjuangan. Dalam gagasan ini, disebutkan bahwa gerakan perjuangan yang dimaksud hadir dalam bentuk sebuah organisasi sosial.

    b. Pertemuan Kedua

    Esoknya pada tanggal 28 Oktober 1928, tepatnya pada pukul 08.00 sampai 12.00, pertemuan kedua pun dilaksanakan. Pertemuan ini berlokasi di gedung Oost Java Bioscoop, sekarang adalah Jalan Medan Merdeka Utara. Apa saja pembahasan yang didiskusikan dalam pertemuan kedua ini?

    Dalam pertemuan ini, para peserta yang hadir membahas mengenai pentingnya peran pendidikan untuk memperjuangkan serta mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Saat itu, pembicaranya adalah Ki Hajar Dewantoro, Sarwono, dan Sarmidi Mangoensarkoro yang menekankan pentingnya pendidikan nasional.

    c. Pertemuan Ketiga

    Setelah pertemuan kedua, pada pukul 17,30 sampai 23.30  diadakan kembali pertemuan ketiga. Mengambil tempat di gedung Indonesische Club Bouw, pertemuan ketiga dalam kongres ini diselenggarakan pada tanggal 28 Oktober 1928. 

    Pertemuan ketiga sekaligus yang terakhir untuk kongres ini membahas perihal lima hal. Lima hal ini meliputi arak-arakan pandu, penyampaian dari Ramelan teruntuk kepanduan, penyampaian gagasan dari Pergerakan Pemuda Indonesia, pengambilan keputusan setelah kongres, dan penutupan Kongres Pemuda II.

    Tokoh yang Terlibat dalam Kongres Pemuda II

    Tokoh-Tokoh yang Terlibat dalam Kongres Pemuda II
    Tokoh-Tokoh yang Terlibat dalam Kongres Pemuda II | Sumber Gambar: Epicentrum.co.id

    Sama seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Kongres Pemuda II dihadiri oleh sekitar 700 pemuda. Siapa saja mereka? Berikut adalah beberapa tokoh penting dalam Kongres Pemuda Jilid 2 yang ikut membantu melahirkan adanya ikrar Sumpah Pemuda setelahnya.

    1. Soenario Sastrowardoyo

    Soenario Sastrowardoyo adalah seorang pemuda asal Madiun, Jawa Timur yang memiliki peran penting dalam Kongres Pemuda II. Beliau berperan sebagai penasehat panitia ketika merumuskan isi-isi dari Sumpah Pemuda sekaligus pembicaranya.

    Pada saat Indonesia berhasil mendapatkan kemerdekaannya, Soenario menjadi anggota dari Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat. Selain itu, Soenario Sastrowardoyo juga pernah memiliki jabatan sebagai Menteri Luar Negeri dan Duta Besar Inggris untuk Indonesia.

    2. Amir Syarifuddin Harahap

    Amir Syarifuddin Harahap adalah seorang tokoh pemuda yang berasal dari organisasi Jong Batak Bond. Beliau juga merupakan seorang aktivis Indonesia yang sangat anti Jepang. Dalam kongres ini, Amir berperan sebagai seorang Bendahara dan sering menyampaikan ide-ide hebat saat perumusan Sumpah Pemuda.

    3. Mohammad Yamin

    Selanjutnya adalah Mohammad Yamin. Yamin merupakan seorang pemuda yang berasal dari Minangkabau sekaligus tokoh penting dalam Jong Sumatranen Bond. Selain itu, Mohammad Yamin juga merupakan seorang sastrawan, sejarawan, budayawan, ahli hukum, serta politikus.

    4. Djoko Marsaid

    Djoko Marsaid adalah seorang tokoh pemuda yang berasal dari organisasi Jong Java. Dalam Kongres Pemuda Jilid 2, Djoko Marsaid memiliki peran sebagai wakil ketua yang membantu memuluskan jalannya kongres ini sampai selesai.

    5. Soegondo Djojopoespito

    Soegondo Djojopoespito adalah ketua yang memimpin jalannya Kongres Pemuda Jilid 2 sejak tanggal 27 sampai 28 Oktober 1928. Beliau terpilih menjadi ketua yang mendapat amanat dari Mohammad Hatta karena ia merupakan salah satu anggota dari organisasi Persatuan Pemuda Indonesia (PPI).

    6. Johannes Leimena

    Selanjutnya adalah Johannes Leimena. Johannes merupakan panitia yang ikut membantu jalannya Kongres Pemuda I dan II dengan mulus. Johannes Leimena sendiri merupakan seorang pemuda dari organisasi Jong Ambon yang memiliki profesi sebagai dokter serta politisi.

    Selain keenam tokoh pemuda di atas, masih banyak tokoh-tokoh pemuda lainnya yang berperan penting atas jalannya Kongres Pemuda II. Tokoh-tokoh pemuda ini adalah Wage Rudolf Supratman, Sie Kong Lian, Noni Purnomowulan, Kasman Singodimedjo, Adnan Kapau Gani, Mohammad Roem, dan masih banyak lagi.

    Apa Hasil Kongres Pemuda II?

    Hasil Kongres Pemuda II
    Hasil Kongres Pemuda II | Sumber Gambar: Sekolah Tarsisius Vireta

    Apa hasil dari Kongres Pemuda Jilid 2 setelah selesainya pertemuan ketiga? Tepat pada tanggal 28 Oktober 1928 pada pukul 10.00 WIB, semua para pemuda yang ikut serta dalam kongres ini berkumpul untuk merangkum semua hasil kongres selama dua hari ini.

    Tidak hanya itu, pada tanggal 28 Oktober, ketua dari kongres ini, Soegondo Djojopoespito, membacakan hasil serta keputusan Kongres Pemuda II untuk mendapatkan persetujuan dari para peserta perihal hasil kongres ini. Lalu, hasil keputusan dari kongres ini dikenal sebagai Ikrar Pemuda atau Sumpah Pemuda.

    Dalam kata lain, hasil dari Kongres Pemuda Jilid 2 adalah Sumpah Pemuda. Sebagai bentuk apresiasi, penghargaan, dan pengingat atas perjuangan dari para pemuda dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, pemerintah Indonesia pun menetapkan tanggal 28 Oktober sebagai Hari Sumpah Pemuda.

    Sudah Paham Mengenai Kongres Pemuda II?

    Demikian sedikit penjelasan mengenai Kongres Pemuda II, mulai dari asal usulnya, tujuannya, isinya, tokoh-tokoh yang terlibat, hingga hasil dari kongres ini. Sebagai kesimpulan, penyelenggaraan Kongres Pemuda Jilid 2 memiliki peran yang penting sebagai pelopor akan tercetusnya Sumpah Pemuda dan Hari Sumpah Pemuda.

  • Latar Belakang Perang Aceh Tahun 1873-1903 hingga Akhir Perangnya

    Latar Belakang Perang Aceh Tahun 1873-1903 hingga Akhir Perangnya

    Perang Aceh terjadi antara kesultanan Aceh melawan Belanda. Latar belakang perang Aceh tahun 1873-1903 ini awalnya karena Belanda ingin menguasai daerah Aceh. Konon katanya, perang ini adalah perang terlama sepanjang sejarah Indonesia. 

    Seperti apa atar belakang perang Aceh tahun 1873-1903, kisah, dan bagaimana strategi yang digunakan oleh rakyat Aceh dalam memerangi Belanda? Baca sampai habis artikel ini untuk memahami alurnya hingga akhir perang!

    Latar Belakang Perang Aceh Tahun 1873-1903

    Pertempuran melawan Belanda
    Pertempuran melawan Belanda | Sumber: freedomsiana.id

    Aceh yang berada di sisi paling barat Sumatera saat itu menjadi tempat strategis untuk berdagang. Provinsi ini menjadi akses utama jalur lalu lintas perdagangan dan kebudayaan sehingga menarik perhatian warga asing untuk berniaga. 

    Provinsi Aceh kala itu juga dikenal memiliki kerajaan dominan. Dulunya wilayah ini kaya akan komoditi rempah-rempah terlebih lada dan pinang yang menjadi andalan. 

    Tidak hanya itu, di wilayah Meulaboh dan Daya bagian timur sangat terkenal sebagai pusat pertambangan emas, kayu, dan bijih logam. Kondisi inilah yang membuat banyak orang asing datang. 

    Kedatangan mereka ini dengan maksud beragam, ada yang berdagang, berdiplomasi, penyebaran agama, hingga ada juga pendatang yang berniat melakukan penjajahan di kawasan Aceh. 

    Salah satu bangsa asing yang sudah mengincar wilayah ini adalah Belanda. Awal mulanya, tahun 1824 dibentuklah sebuah perjanjian antara Belanda dengan negara berdaulat di Nusantara. Isi perjanjiannya adalah Belanda harus mengakui dan menghormati kedaulatan Aceh, begitupun sebaliknya. 

    Namun, sekitar tahun 1871, Belanda berkhianat dengan mengeluarkan perjanjian Traktat Sumatera yang ditandatangani bersama Inggris. Dalam perjanjian tersebut, Belanda melanggar perjanjian sebelumnya dengan mendapatkan kebebasan untuk memperluas wilayahnya di Sumatera. 

    Belanda tidak lagi ada kewajiban untuk menghormati hak dan kedaulatan Aceh seperti isi perjanjian London. Pengkhianatan inilah yang membuat kesultanan Aceh geram dan mengambil langkah diplomatik dengan beberapa pihak. 

    Belanda merespons langkah ini dengan menjadikannya alasan untuk melayangkan serangan pada Aceh tahun 1873. Pertempuran keduanya pun tak dapat dihindari dan inilah latar belakang perang Aceh tahun 1873-1903.

    Strategi Perang Aceh Akibat Pengkhianatan Belanda

    Pasukan Aceh
    Pasukan Aceh | Sumber: intisari.grid.id

    Pengkhianatan dan keluarnya Traktat Sumatera menjadi cikal bakal terjadinya pertempuran. Selain itu, sebenarnya ada sebab lain yang juga jadi latar belakang perang Aceh tahun 1873-1903.

    Salah satunya, saat itu Belanda menuntut rakyat Aceh untuk tunduk padanya. Namun, tuntutan ini ditolak oleh Sultan Mahmud Syah dan penolakan ini dijawab oleh Belanda dengan deklarasi perang terhadap Aceh 1873.

    Dari sinilah perang tidak bisa dihindari lagi. Kegeraman kesultanan Aceh pada apa yang sudah Belanda lakukan juga memancing amarah dari rakyat Aceh pada saat itu. 

    Belanda menyerang Aceh dengan mengerahkan pimpinan bernama Mayjen J.H.R Köhler. Köhler membawa pasukan lebih dari 3000 orang lengkap dengan pasukan angkatan laut untuk menyerang Aceh. Pertempuran itu terjadi di beberapa titik, seperti Pantai Cermin Ulee Lheue dan Masjid Raya. 

    1. Periode Perang Pertama

    Latar belakang perang Aceh tahun 1873-1903 memicu pertempuran yang termasuk perang terlama sepanjang sejarah yang memakan waktu selama empat periode. Pada periode pertama (1873-1874) ini berlangsung selama sekitar 18 hari dan Sultan Mahmud Syah menjadi pemimpin pasukan Aceh. 

    Singkat cerita, periode pertama pasukan Aceh berhasil menghancurkan pasukan Belanda. Mereka mengalahkan pasukan Belanda dan membunuh banyak pasukan Belanda sehingga membuat sisa pasukan lainnya berlarian pontang-panting ke kapal-kapalnya. 

    Menariknya, pada pertempuran pertama ini tidak hanya pasukan-pasukannya saja yang gugur. Namun pemimpin Belanda, Köhler, juga tewas akibat serangan dari pasukan Aceh. Dengan ini, pasukan Aceh memenangkan pertempuran pertama dan berhasil mengalahkan musuh. 

    2. Periode Perang Kedua

    Setelah gagal pada pertempuran pertama, Belanda tidak menyerah. Akibat latar belakang perang Aceh tahun 1873-1903 yang mereka lakukan, pertempuran dan keinginan untuk menguasai wilayah Aceh terus berlangsung. 

    Kali ini pemimpin Belanda adalah Jan Van Swieten. Sementara itu, pasukan Aceh dipimpin oleh Tuanku Muhammad Dawood. Pertempuran kedua Belanda berhasil menguasai istana kesultanan Aceh karena saat itu pasukan Aceh meninggalkan keraton dan bergerilya. 

    Namun nasib mereka tetaplah sama. Belanda tetap kewalahan melawan pasukan Aceh. Perang pertama dan kedua ini termasuk perang total saat kekuasaan politik Aceh masih utuh meskipun pusat pemerintahannya berpindah-pindah. Karena itulah pasukan Aceh selalu berhasil membuat Belanda kewalahan. 

    3. Periode Perang Ketiga

    Perang Aceh ini disebut juga dengan perang Sabil. Mereka menjulukinya perang Sabil karena setara dengan jihad fi sabilillah melawan orang-orang kafir. 

    Masuk periode ketiga (1881-1896) dan geram dengan latar belakang perang Aceh tahun 1873-1903 di mana Belanda tidak menghormati kedaulatan daerahnya, pasukan Aceh makin semangat untuk melakukan jihad ini dibawah pimpinan bernama Teuku Umar. 

    Mereka bertempur melawan Belanda bersama tokoh pejuang lain seperti Cik Ditiro, Panglima Polim, dan Cut Nyak Dien. Tokoh-tokoh tersebut berhasil menggerakkan rakyat Aceh untuk berperang gerilya melawan Belanda. Karena semangat juang ini, lagi-lagi Belanda merasa kewalahan menghadapi taktik pasukan Aceh. 

    Menariknya, dalam periode ini muncullah tokoh Belanda bernama Snouck Hurgronje. Ia adalah seorang orientalis berkebangsaan Belanda yang sangat paham tentang Islam. Ia diutus oleh Belanda untuk memenangkan pertempuran dengan cara membangun hubungan harmonis dengan warga Aceh. 

    Belanda mengambil jalan dari dalam dengan memberikan tugas kepada Snouck agar mereka tahu apa rahasia kekuatan pasukan Aceh. 

    Singkat cerita, setelah menjalin hubungan dan menyamar, Snouck menemukan rahasianya. Rahasia kekuatan rakyat Aceh ada pada ulama dan kekuatan agamanya. 

    Ia mengusulkan pada Belanda untuk menghadapi ulama dengan kekuatan senjata. Selain itu, Belanda juga harus memecah belah kekuatan yang ada di dalam masyarakat Aceh. Pihak Belanda pun setuju menggunakan strategi tersebut, dan tugas Snouck membawa hasil bagi Belanda. 

    4. Periode Perang Keempat

    Mengingat latar belakang perang Aceh tahun 1873-1903 untuk menguasai Aceh ini, Belanda semakin gencar melakukan perlawanan. Setelah strateginya mengutus Snouck untuk mendekati ulama berhasil, Belanda mulai bangkit. 

    Kebangkitan ini membuat semangat pasukan Aceh semakin membara. Kini pemimpin mereka adalah Cut Nyak Dien, istri Teuku Umar. Teuku Umar sempat tidak bergabung lagi dengan pasukan Aceh karena kabarnya sempat menjalankan strategi yakni pura-pura menyerah pada Belanda. 

    Rakyat Aceh terus melawan Belanda bersama pemimpinnya dan pejuang perempuan lainnya. Mereka terus berjuang hingga akhirnya Teuku Umar kembali bergabung bersama pasukan Aceh. Namun sayang, tahun 1899 Teuku Umar gugur dalam pertempuran. 

    Sepeninggal Teuku Umar dan tokoh lainnya, kondisi rakyat Aceh mulai melemah. Terlebih strategi Belanda yang mengambil jalan dari dalam tadi semakin mulus dan semakin memperlemah jalan pasukan Aceh. Kemudian, tahun 1905 istri Teuku Umar ditangkap dan wafat tahun 1910.

    Akhir Kisah Perang Aceh Tahun 1873-1903

    Rakyat Aceh
    Rakyat Aceh | Sumber: lintasnasional.com

    Perjalanan melawan Belanda ini membawa akhir yang tidak diharapkan. Strategi yang Belanda jalankan untuk terus menyerang Aceh dengan menyuruh Snouck selalu berjalan mulus dan semakin melemahkan pertahanan rakyat.

    Latar belakang perang Aceh tahun 1873-1903 yang terjadi karena Belanda ingin menguasai Aceh ini akhirnya selesai dengan menyerahnya Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah dan Panglima Polem setelah mendapatkan tekanan luar biasa secara bertubi-tubi. 

    Keduanya menyerah dengan menandatangani perjanjian tanda menyerah bernama Traktat Pendek. Setelah menandatangani surat tersebut, Belanda pun berhasil menguasai seluruh wilayah Aceh dan membubarkan Kesultanan Aceh. 

    Meski begitu, sebenarnya Belanda tidak benar-benar menguasai seluruh wilayahnya. Sebab rakyat Aceh yang tidak terima terus melakukan perlawanan demi perlawanan untuk merebut kembali wilayah yang mereka miliki. 

    Baca Juga: Perang Gerilya Adalah: Pengertian, Strategi, dan Hasilnya

    Itulah Latar Belakang Perang Aceh Tahun 1873-1903!

    Perang Aceh adalah perang terlama sepanjang sejarah antara rakyat Aceh melawan Belanda. Dari kisah ini, kita bisa mengetahui apa latar belakang perang Aceh tahun 1873-1903 dan mengapa Belanda berkhianat pada Kesultanan Aceh sehingga melahirkan pertempuran. 

    Meski Belanda akhirnya berhasil menguasai Aceh, namun semangat pasukan Aceh untuk mempertahankan wilayahnya sangatlah kuat. Oleh karena itu, sikap ini harus kita contoh sebagai pelajaran bahwa kita tidak boleh menyerah untuk melawan kezaliman yang terjadi. 

  • Mengenal 17 Sosok Pahlawan Wanita Indonesia serta Asal dan Perjuangannya

    Mengenal 17 Sosok Pahlawan Wanita Indonesia serta Asal dan Perjuangannya

    Tahukah kamu, bahwasanya kemerdekaan Indonesia merupakan buah hasil perjuangan dari para pahlawan bangsa, tak terkecuali para pahlawan wanita Indonesia. Maka, salah satu bentuk untuk menghargai jasa para pahlawan adalah dengan mengenal sejarah perjuangannya berikut ini. Yuk, simak! 

    Sosok Pahlawan Wanita Indonesia, Berikut adalah Daftarnya! 

    Menurut catatan sejarah, ada beberapa pahlawan wanita yang telah memberi sumbangsih besar bagi kemerdekaan dan hak-hak rakyat Indonesia pada masa itu. Maka, sebagai bangsa yang besar, kamu harus mengenal nama-nama pahlawan wanita beserta kisah perjuangannya. Ada siapa saja? 

    1. Nyi Ageng Serang

    Nyi Ageng Serang
    Nyi Ageng Serang | Sumber gambar: Kompas.com

    Berbicara tentang pahlawan wanita Indonesia, nama Nyi Ageng Serang dari Jawa Tengah pasti tercantum di dalam sejarah. Wanita yang lahir di Purwodadi, Jawa Tengah, ini merupakan putri dari Pangeran Natapraja. 

    Awal mula Nyi Ageng Serang terlibat dalam perjuangan melawan penjajah adalah karena dipicu insiden kematian ayahnya, kakaknya, dan suaminya di medan perang. 

    Walaupun begitu, Nyi Ageng Serang pantang menyerah dan melanjutkan perjuangan dengan strategi perorangan yang andal. Bahkan, hingga di usianya yang ke-73, beliau masih mampu memimpin barisan prajurit untuk berperang dalam Perang Diponegoro. 

    2. Maria Walanda Maramis 

    Maria Walanda Maramis
    Maria Walanda Maramis | Sumber gambar: Tribunnews.com

    Pahlawan wanita Indonesia asal Sulawesi Utara ini berkontribusi dalam memajukan hak-hak wanita Indonesia pada awal abad ke-20. Semasa hidupnya, Maria Walanda Maramis berperan penting dalam memperjuangkan emansipasi wanita, khususnya di bidang politik dan pendidikan. 

    Perjuangan Maria dimulai sejak ia menulis opini pribadinya yang menyuarakan tentang peran ibu dalam pendidikan dasar keluarga yang terbit di surat kabar lokal. Kemudian, pada tahun 1917, beliau bersama teman-teman lainnya mendirikan sebuah organisasi bernama Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT). 

    Tujuannya adalah untuk memberikan akses pendidikan bagi para wanita yang sudah tamat Sekolah Dasar (SD). Bahkan, beliau juga getol dalam memperjuangkan hak pilih wanita di Minahasa.  

    3. Cut Nyak Meutia 

    Cut Nyak Meutia
    Cut Nyak Meutia | Sumber gambar: Kompas.com

    Nama besar Cut Meutia sebagai salah satu pahlawan wanita Indonesia seharusnya sudah tidak asing di kalangan generasi muda bangsa ini. Pasalnya, Cut Meutia termasuk salah satu pahlawan wanita yang sering dibahas dalam pelajaran sejarah di sekolah. 

    Terlepas dari itu, Cut Meutia memang layak mendapatkan gelar pahlawan atas jasa dan perjuangannya dalam melawan penjajah Belanda. Pahlawan wanita yang berasal dari Aceh ini sempat berkali-kali ditangkap oleh penjajah, tetapi enggan untuk menyerah. 

    Berkat kegigihannya, beliau berhasil masuk menjadi salah satu bagian dari pasukan Teuku Muda Gantoe dan memimpin beberapa pasukan untuk menyerang Belanda. Sayangnya, beliau harus gugur dalam pertempuran di tahun 1910 silam. 

    4. Nyai Ahmad Dahlan 

    Nyai Ahmad Dahlan
    Nyai Ahmad Dahlan | Sumber gambar: OPOP Jatim

    Siti Walidah, atau kerap dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan merupakan salah satu pahlawan wanita yang berasal dari Yogyakarta. Selama hidupnya, beliau tidak pernah mengenyam bangku pendidikan formal. 

    Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan semangatnya untuk turut andil dalam memperjuangkan pendidikan bagi kaum wanita di sekitarnya. Kemudian, terbentuklah organisasi Aisyah yang dipimpin oleh Nyai Ahmad Dahlan pasca pelimpahan kepengurusan dari suaminya, Kyai Ahmad Dahlan.  

    Di dalam pelaksanaannya, organisasi Aisyah berfokus memberikan pendidikan agama, semangat kebangsaan, dan kemasyarakatan khusus wanita. Akhirnya, perjuangan Nyai Ahmad Dahlan harus terhenti pada tahun 1946 karena beliau meninggal dunia. 

    5. Pahlawan Wanita Indonesia: Raden Ajeng Kartini

    Raden Ajeng Kartini
    Raden Ajeng Kartini | Sumber gambar: Medcom.id

    Nama pahlawan wanita yang satu ini pasti sudah terdengar akrab di telinga kamu,  ‘kan? Sejatinya, nama Raden Ajeng Kartini memang sering muncul dalam cerita-cerita sejarah, sehingga dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. 

    Saking tersohornya, tanggal lahirnya pun selalu diperingati sebagai Hari Kartini hingga sekarang. Seremonial ini sekaligus menjadi peringatan atas sejarah perjuangan emansipasi wanita di tanah air. 

    6. Rasuna Said

    Rasuna Said
    Rasuna Said | Sumber gambar: Media Pemberitaan Online

    Salah satu pahlawan wanita Indonesia yang juga merupakan pahlawan pejuang kemerdekaan ini bernama lengkap Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Beliau aktif terlibat menyuarakan hak-hak pendidikan dan politik bagi perempuan. 

    Selain itu, beliau juga sempat mendirikan sekolah khusus perempuan ketika pindah ke daerah Padang. Kemudian, turut serta mendirikan Permi (Persatuan Muslim Indonesia) pada tahun 1933 untuk memfasilitasi para aktivis muda dalam memperjuangkan hak-hak wanita. 

    Setelah peristiwa kemerdekaan Indonesia, Rasuna Said juga aktif berpartisipasi di bidang politik dengan menjadi anggota Dewan Perwakilan Sumatera. Menjelang akhir hayatnya, beliau sempat menjabat sebagai anggota dari Dewan Pertimbangan Agung. 

    7. Pahlawan Wanita Indonesia: Cut Nyak Dien

    Cut Nyak Dien
    Cut Nyak Dien | Sumber gambar: Gramedia.com

    Latar belakang keluarga bangsawan yang memberinya hidup nyaman tidak membuat Cut Nyak Dien abai terhadap nasib rakyat kecil. Realita tersebut justru memicu tekadnya untuk berjuang membebaskan masyarakat Aceh dari penjajahan Belanda. 

    Di dalam perlawanannya, Cut Nyak Dien bekerja sama dengan sang suami, Teuku Umar, untuk memimpin rakyat di Tanah Rencong dalam menumpas penjajahan. Berkat tekadnya yang kuat, beliau kerap turun ke dalam medan peperangan. 

    Setelah enam puluh tahun bergerilya dalam peperangan, Cut nyak Dien pun tertangkap oleh Belanda. Lalu, beliau dibuang ke daerah Sumedang, Jawa Barat, dan meninggal dunia pada tahun 1908 silam. 

    8. Raden Dewi Sartika

    Raden Dewi Sartika
    Raden Dewi Sartika | Sumber gambar: Beautynesia

    Selanjutnya ada Raden Dewi Sartika yang telah menyandang gelar pahlawan wanita Indonesia atas jasa-jasanya dalam memperjuangkan pendidikan untuk kaum hawa di sekitarnya. 

    Walaupun beliau hanya mengenyam pendidikan hingga bangku Sekolah Dasar (SD), tetapi beliau berhasil mendirikan sekolah untuk para wanita di tahun 1904 silam. Sekolah itu kemudian dinamakan sebagai Sekolah Istri, lalu berganti nama menjadi Sekolah Keutamaan Istri pada tahun 1910. 

    Hingga akhir hayatnya, Dewi Sartika telah membangun sebanyak sembilan sekolah khusus wanita yang tersebar di berbagai daerah di Jawa Barat. Berkat kontribusinya dalam dunia pendidikan bagi kaum hawa di Indonesia, beliau diberi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1966. 

    9. Martha Christina Tiahahu

    Martha Christina Tiahahu
    Martha Christina Tiahahu | Sumber gambar: Radar Mukomuko

    Daerah Indonesia Timur juga memiliki pahlawan wanita Indonesia bernama Martha Christina Tiahahu. Wanita asal Maluku ini telah terlibat dalam perjuangan melawan penjajah sejak usia muda.  

    Beliau kerap terlibat dalam menyusun strategi dan mengumpulkan pasukan perang. Sayangnya, Martha Christina Tiahahu tertangkap oleh pasukan Belanda saat beliau dan 39 pasukannya bergerilya di dalam hutan. Semenjak saat itu, kondisinya kian melemah dan membuatnya gugur di tahun 1818. 

    10. Safiatuddin 

    Safiatuddin
    Safiatuddin | Sumber gambar: 

    Paduka Sri Sultanah Tajul-Alam Safiatuddin Syah Johan Berdaulat Zhillullahi fil-Alam atau akrab dipanggil Safiatuddin merupakan anak sulung dari Sultan Iskandar Muda. Walaupun berasal dari latar belakang keluarga terpandang, Safiatuddin peduli terhadap perkembangan sastra, pendidikan, dan perekonomian. 

    Saking cintanya dengan dunia sastra, beliau mendirikan perpustakaan pribadi berisi koleksi-koleksi buku literatur Islam, sastra, dan pendidikan. Sosoknya yang cerdas dan bijak telah memajukan ekonomi dan sektor perdagangan Aceh. 

    11. Pahlawan Wanita Indonesia: Laksamana Malahayati 

    Laksamana Malahayati
    Laksamana Malahayati | Sumber gambar: Kompas.com

    Keumalahayati atau kerap dikenal dengan panggilan Laksamana Malahayati adalah seorang pahlawan wanita asal Aceh yang berkontribusi dalam peperangan melawan kapal-kapal Belanda. 

    Salah satu prestasinya selama ikut berperang adalah berhasil membunuh Cornelis de Houtman di tahun 1599. Oleh sebab itu, beliau menerima gelar Laksamana atas perannya dalam menumpas penjajah. Sayangnya, aksi Hayati harus terhenti ketika gugur dalam peperangan melawan Alfonso de Castro dari Portugis. 

    12. Siti Manggopoh 

    Siti Manggopoh
    Siti Manggopoh | Sumber gambar: Beautynesia

    Menurut sejarah, Perang Belasting dipimpin oleh pahlawan wanita Indonesia bernama Siti Manggopoh. Sosoknya yang gigih dan berani telah mengantarkan rombongan pasukannya dalam perlawanan terhadap Belanda. 

    Di dalam perang tersebut, Siti Manggopoh berhasil mengalahkan pasukan Belanda karena strateginya yang cerdik. Melalui aksi heroiknya dalam melawan penjajah, Siti Manggopoh mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional. 

    13. Pahlawan Wanita Indonesia: Opu Daeng Risadju  

    Opu Daeng Risadju
    Opu Daeng Risadju | Sumber gambar: Akalmu.com

    Famajjah alias Opu Daeng Risadju merupakan salah satu pahlawan wanita yang berasal dari Sulawesi Selatan. Beliau berasal dari latar belakang keluarga bangsawan, sehingga bisa mengakses pendidikan non formal, seperti mengaji Al-Qur’an. 

    Namun, perjuangan Opu Daeng Risadju bermula ketika menikah dengan Haji Muhammad Daud. Lantas, beliau bergabung dalam organisasi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dan memimpin cabangnya yang ada di Palopo pada tahun 1930. 

    14. Andi Depu Maraddia 

    Andi Depu Maraddia
    Andi Depu Maraddia | Sumber gambar:

    Di masa penjajahan Belanda, Andi Depu Maraddia mampu mempertahankan wilayahnya dari upaya penaklukkan kolonial. Semangat dan keberaniannya pun tidak padam hingga masa penjajahan Jepang. 

    Bahkan, dengan keberaniannya Andi Depu Maraddia berhasil mengibarkan bendera merah putih saat prajurit Jepang tiba di Mandar pada tahun 1942 silam. Oleh sebab itu, beliau menerima lencana Bintang Mahaputra Tingkat IV dan gelar Pahlawan Nasional. 

    15. Rohana Kuddus  

    Rohana Kuddus
    Rohana Kuddus | Sumber gambar: Media Pijar

    Di Sumatera Barat, ada salah satu pahlawan wanita Indonesia bernama Rohana Kuddus yang merupakan kerabat dekat dari penyair terkenal, Chairil Anwar. 

    Meskipun tidak pernah menempuh pendidikan secara formal, tetapi Rohana termasuk wanita yang cerdas. Bahkan, beliau telah mendirikan sekolah artisan di daerah Gadang pada tahun 1905. 

    Kegiatannya dalam memperjuangkan pendidikan bagi kaum hawa tidak hanya sebatas itu. Di tahun 1911, beliau juga telah mendirikan organisasi khusus perempuan, bernama Kerajinan Amai Setia. 

    16. Fatmawati Soekarno

    Fatmawati Soekarno
    Fatmawati Soekarno | Sumber gambar: Tribunnews.com

    Sosok pahlawan wanita Indonesia yang satu ini erat hubungannya dengan Sang Proklamator, Ir. Soekarno. Bagaimana tidak, Fatmawati merupakan salah satu istri Bung Karno yang dipersunting pada tahun 1943. 

    Salah satu kontribusi Fatmawati yang paling ikonik menjelang proklamasi adalah ketika beliau menjahit bendera merah putih yang digunakan untuk upacara proklamasi kemerdekaan Indonesia. Atas jasanya, Fatmawati diberikan gelar sebagai Pahlawan Nasional di tahun 2000. 

    17. Fatimah Siti Hartinah 

    Fatimah Siti Hartinah (Tien Soeharto)
    Fatimah Siti Hartinah (Tien Soeharto) | Sumber gambar: Detiknews.com

    Bukan hanya istri Bung Karno yang dianugerahi gelar sebagai pahlawan wanita Indonesia. Faktanya, Tien Soeharto, alias Fatimah Siti Hartinah, istri dari Presiden RI terdahulu, Bapak Soeharto, juga telah mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 1996. 

    Semasa hidup, Tien Soeharto sering terlibat aktif mendukung proyek-proyek pembangunan nasional. Semasa hidup, beliau juga setia mendampingi karier suaminya yang menjabat sebagai kepala negara Indonesia menggantikan Soekarno. 

    Walaupun telah tutup usia sejak tahun 1996 silam, tetapi warisan gagasan Tien Soeharto terhadap pembangunan nasional tetap bisa kamu rasakan hingga sekarang. Salah satu bukti gagasannya yang terealisasi adalah pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). 

    Baca Juga: 100+ Daftar Pahlawan Nasional Indonesia: Populer hingga Tidak

    Mengapa Kamu Harus Mengenal Para Pahlawan Wanita Indonesia? Ini Alasannya! 

    Semasa hidupnya, para pahlawan telah mengabdikan dirinya pada bangsa dan tanah air Indonesia. Gagasan dan sumbangsih mereka terhadap kemerdekaan dan kemajuan nasional berdampak besar bagi generasi sekarang. 

    Maka dari itu, kamu perlu mengenal para pahlawan wanita Indonesia agar dapat melihat kiprah mereka dalam perjuangan menuju dan pasca kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian, kamu bisa menemukan teladan yang mendorong kamu berkontribusi dalam melawan penjajahan di era sekarang, lo, misalnya memberantas kemiskinan, kebodohan, dan perkembangan ideologi liberal di Indonesia. 

  • 9 Peninggalan Prasasti Kerajaan Sriwijaya & Penjelasannya 

    9 Peninggalan Prasasti Kerajaan Sriwijaya & Penjelasannya 

    Prasasti merupakan peninggalan bersejarah yang istimewa dan memberikan kita pengetahuan tentang pencapaian suatu kerajaan. Tak terkecuali Prasasti Kerajaan Sriwijaya, sebuah kerajaan yang berpusat di wilayah yang kini menjadi bagian dari Sumatera, Indonesia.

    Pada artikel ini, kita akan menjelajahi jejak-jejak sejarah yang terungkap dalam prasasti tersebut serta mengungkap peran penting kerajaan ini dalam perdagangan maritim, juga menyoroti kekayaan budaya yang tercermin dalam teks-teks tersebut. Mari simak artikel ini hingga akhir, agar kamu dapat lebih mengenal peninggalan Kerajaan Sriwijaya!

    9 Prasasti Kerajaan Sriwijaya

    Berikut sejumlah Prasasti Kerajaan Sriwijaya yang perlu Anda ketahui menurut tanggal penemuannya:

    1. Prasasti Kedukan

    Prasasti Kedukan
    Prasasti Kedukan | Sumber: Kompas.com

    Pada tanggal 29 November 1920, C.J. Batenburg menemukan Prasasti Kedukan Bukit. Itu merupakan Prasasti Kerajaan Sriwijaya bersejarah yang terdapat di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang, Sumatera Selatan. 

    Penemuannya berada di tepi Sungai Tatang, yang mengalir ke Sungai Musi. Prasasti Kedukan Bukit berbentuk batu kecil dengan ukuran 45 × 80 cm dan tertulis dalam aksara Pallawa dengan menggunakan bahasa Melayu Kuno.

    Saat ini, Prasasti Kedukan Bukit terjaga dengan baik di Museum Nasional Indonesia dengan nomor D.146. Artefak ini adalah saksi bisu dari masa lalu yang mengungkapkan informasi berharga tentang peradaban dan budaya yang pernah ada di Sumatera Selatan.

    2. Prasasti Kerajaan Sriwijaya Kota Kapur

    Prasasti Kota Kapur
    Prasasti Kota Kapur | Sumber: Dictio Community

    Kemudian, Prasasti Kota Kapur adalah artefak bersejarah berbentuk tiang batu bertulis dan penemuan awalnya berada di pesisir barat Pulau Bangka, tepatnya di Desa Kota Kapur, Mendo Barat, Kabupaten Bangka.

    Tulisan pada Prasasti Kerajaan Sriwijaya ini menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno, yang menjadikannya salah satu dokumen tertulis tertua yang menggunakan bahasa Melayu. J.K. van der Meulen melaporkan penemuan Prasasti Kota Kapur pada bulan Desember 1892. 

    Menariknya, prasasti ini merupakan salah satu dari kelima prasasti batu yang Dapunta Hyang ukir. Ia merupakan seorang penguasa yang berasal dari Kadātuan Śrīwijaya.

    Isinya mencakup peringatan dan ancaman bagi warga yang tinggal di daerah Kota Kapur, serta merinci ekspedisi pasukan Sriwijaya yang bertujuan untuk memperluas kekuasaan mereka di Pulau Jawa, dengan menaklukkan Tarumanagara.

    3. Prasasti Telaga Batu

    Prasasti Telaga Batu
    Prasasti Telaga Batu | Sumber: Satujam

    Berikutnya, Prasasti Telaga Batu merupakan salah satu Prasasti Kerajaan Sriwijaya yang penemuannya berada di sekitar Telaga Biru, dekat Sabokingking, Kelurahan 3 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada tahun 1935. 

    Pengukiran Prasasti Telaga Batu ini terdapat pada sebuah batu andesit yang terbentuk sedemikian rupa, dengan tinggi 118 cm dan lebar 148 cm. 

    Di bagian atasnya, terdapat hiasan tujuh kepala ular kobra (Ludai), sementara di tengah bagian bawah terdapat cerat atau tempat aliran air untuk mandi. Tulisan pada prasasti ini terdiri dari 28 baris, menggunakan aksara Pallawa Melayu, dan bahasa Melayu Kuno.

    4. Prasasti Karang Berahi

    Prasasti Karang Berahi
    Prasasti Karang Berahi | Sumber: Wisato.id

    Selanjutnya, yaitu Prasasti Karang Berahi, penemuannya pada tahun 1904 oleh Kontrolir L.M. Berkhout, di tepian Batang Merangin. Lokasinya berada di Desa Karang Berahi, Kecamatan Pamenang, Kabupaten Merangin, Jambi. Prasasti ini terbuat dari batu andesit dengan dimensi 90x90x10 cm.

    Tulisan pada Prasasti Karang Berahi ini memakai bahasa Melayu Kuno dan dalam aksara Pallawa. Hal tersebut mengindikasikan tahun pembuatannya, yakni sekitar abad ke-7 Masehi, sekitar tahun 680-an. 

    Isinya mengandung kutukan terhadap individu yang tidak setia kepada raja dan orang-orang yang melakukan tindakan jahat. Kutukan yang terdapat dalam prasasti ini mirip dengan yang terlihat pada Prasasti Kota Kapur dan Prasasti Telaga Batu, yang juga terdapat di Bangka dan Palembang.

    Sebagai tambahan, penaklukan Jambi oleh Sriwijaya telah tercatat dalam pernyataan I-tsing pada tahun 685 Masehi, saat ia pulang dari India. Hal ini menjadikannya sebuah bukti bahwa Jambi (Kerajaan Melayu) telah menjadi bagian dari Sriwijaya.

    5. Prasasti Kerajaan Sriwijaya Palas Pasemah

    Prasasti Palas Pasemah
    Prasasti Palas Pasemah | Sumber: Perpustakaan Digital Budaya Indonesia

    Selanjutnya, Prasasti Palas Pasemah adalah Prasasti Kerajaan Sriwijaya yang penemuannya di Palas Pasemah, tepatnya di tepi Way (Sungai) Pisang di Lampung. Prasasti ini menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno, dengan total 13 baris. 

    Meskipun tidak mencantumkan tahun tertentu, dari jenis aksara yang mereka gunakan, perkiraannya prasasti ini berasal dari akhir abad ke-7 Masehi. Isi prasastinya membahas kutukan bagi mereka yang tidak tunduk kepada Sriwijaya.

    Penemuan artefak ini terjadi saat warga desa menemukan batu tersebut pada tanggal 5 April 1956 di anak Sungai Way Sekampung, di Desa Palas Pasemah, Kabupaten Lampung Selatan.

    Temuan ini kemudian mereka laporkan kepada pihak berwenang setempat. Akhirnya, pemerintah pusat mengetahuinya pada tahun 1979, ketika Prof. Dr. Buchari, seorang ahli benda-benda bersejarah melakukan penelitian lebih lanjut.

    Isi prasasti ini mirip dengan prasasti lain, seperti Prasasti Karang Brahi (Jambi) dan Prasasti Kota Kapur (Bangka). Namun, yang membedakannya adalah tidak adanya angka tahun dalam penulisan prasasti tersebut.

    6. Prasasti Talang Tuo

    Prasasti Talang Tuo
    Prasasti Talang Tuo | Sumber: Wikipedia

    Penemu Prasasti Talang Tuo ialah Louis Constant Westenenk, pada tanggal 17 November 1920, di daerah sekitar Bukit Siguntang. Prasasti ini merupakan salah satu peninggalan penting dari Kerajaan Sriwijaya.

    Fisik prasasti ini masih dalam kondisi baik, dengan permukaan datar berukuran 50 cm × 80 cm. Prasasti ini memiliki tanggal tahun 606 Saka (23 Maret 684 Masehi), tertulis dalam aksara Pallawa, menggunakan bahasa Melayu Kuno, dan terdiri dari 14 baris. 

    Ilmuwan pertama yang berhasil membaca dan menerjemahkan prasasti ini bernama van Ronkel dan Bosch. Hasilnya, kemudian termuat dalam Acta Orientalia. Sejak tahun 1920, prasasti ini telah tersimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta, dengan nomor inventaris D.145.

    7. Prasasti Hujung Langit

    Prasasti Hujung Langit
    Prasasti Hujung Langit | Sumber: Lampung.co

    Tim dari Dinas Topografi berhasil menemukan Prasasti Hujung Langit saat mereka melakukan pemetaan di wilayah Harakuning pada tahun 1912. Selanjutnya, artefak ini melewati pemeriksaan lebih lanjut oleh para ahli, termasuk JG de Casparis, NJ Krom, Buchari, dan Louis Charles Damais.

    Prasasti Hujung Langit terbuat dari batu andesit, dengan bentuk menyerupai kerucut. Prasasti ini memiliki dimensi yang cukup besar, dengan tinggi mencapai 162 sentimeter dan lebar bagian bawah sekitar 60 sentimeter.

    Di permukaan prasasti, terdapat 18 baris tulisan yang tertulis menggunakan huruf Jawa Kuno dan bahasa Melayu Kuno. Namun, kondisi tulisan tersebut sudah sangat aus.

    Berdasarkan penelitian para ahli, Prasasti Hujung Langit memiliki angka tahun 919 Saka (997 Masehi), sehingga bisa dikaitkan dengan Kerajaan Sriwijaya pada masa tersebut.

    8. Prasasti Kerajaan Sriwijaya Ligor

    Prasasti Ligor
    Prasasti Ligor | Sumber: Kompas.com

    Kemudian, Prasasti Ligor adalah Prasasti Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di Ligor, yang sekarang disebut Nakhon Si Thammarat, di selatan Thailand, di Semenanjung Malaya. Prasasti ini saat ini tersimpan di Kuil Wat Sema Mueang. 

    Prasasti ini terdiri dari pahatan yang tertulis pada kedua sisi batu prasasti. Bagian depannya terkenal sebagai Prasasti Ligor A atau Viang Sa. Sedangkan bagian belakangnya disebut Prasasti Ligor B. Prasasti ini tertulis dalam aksara Kawi dan mencantumkan tahun 775.

    Mahārāja Dyāḥ Pañcapaṇa Kariyāna Paṇaṃkaraṇa, yang merupakan raja dari Wangsa Sailendra adalah Pembuat prasasti ini. Meski begitu, perlu Anda perhatikan bahwa Prasasti Ligor B adalah prasasti yang penulisannya tidak selesai.

    9. Prasasti Leiden

    Prasasti Leiden
    Prasasti Leiden | Sumber: Sinergi Papers

    Berikutnya, Prasasti Leiden adalah salah satu Prasasti Kerajaan Sriwijaya. Naskahnya terukir pada lempengan tembaga tahun 1005 dalam bahasa Sanskerta dan Tamil. Prasasti ini dinamai berdasarkan tempat penemuannya di KITLV Leiden, Belanda.

    Lebih lanjut, prasasti ini mencerminkan hubungan antara Kerajaan Chola dengan Sriwijaya, di mana Raja Rajendra Chola dari Kerajaan Chola memerintahkan pembangunan kuil untuk menghormati dewa yang dipuja oleh Raja Sriwijaya.

    Prasasti Leiden juga memberikan informasi mengenai wilayah-wilayah Sriwijaya yang berhasil kuasai saat itu. Wilayahnya termasuk Kadaram (Kedah), Pannai (Palembang), Melayu, dan Champa (Vietnam). 

    Hal ini mencerminkan kekuasaan besar dan cakupan wilayah Kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim yang dominan di Asia Tenggara pada periode sejarah tersebut.

    Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Lainnya, Candi Muara Takus

    Candi Muara Takus
    Candi Muara Takus | Sumber: Pinhome

    Peninggalan Kerajaan Sriwijaya lainnya, yakni ada Candi Muara Takus yang merupakan kompleks candi peninggalan agama Buddha. Hal tersebut karena terdapat bukti keberadaan agama Budha berupa stupa, yang merupakan ciri khas candi-candi Buddha. 

    Namun, ada juga pandangan yang menyebutkan bahwa candi yang menjadi kebanggaan Riau ini adalah hasil perpaduan budaya Hindu-Buddha. Hal itu terlihat dari adanya bagian candi yang menyerupai mahligai, seperti lingga (kelamin laki-laki) dan yoni (kelamin perempuan).

    Kompleks candi ini memiliki dua bangunan utama, yang pertama adalah Candi Tuo. Candi terbesar ini memiliki dimensi 32,8 meter kali 21,8 meter dan dibangun dengan menggunakan campuran batu, pasir, dan batu bata yang dicetak. 

    Bangunan kedua dalam kompleks candi ini disebut Candi Mahligai, yang berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 10,44 meter kali 10,6 meter. Di tengahnya terdapat sebuah menara yang menyerupai yoni, dengan tinggi mencapai 14,3 meter.

    Baca Juga: Sejarah Kerajaan Islam di Sumatera dan Raja-Raja Pertamanya

    Sudah Lebih Tahu Peninggalan Prasasti Kerajaan Sriwijaya?

    Sebagai penutup, peninggalan Kerajaan Sriwijaya memberikan kita pandangan yang mendalam tentang kejayaan peradaban ini. Mulai dari Prasasti Kedukan hingga Prasasi Leiden serta Candi Muara Takus, mereka adalah jendela berharga ke masa lalu serta saksi bisu dari kebesaran dan pencapaian Kerajaan Sriwijaya. 

    Selain itu, Prasasti Kerajaan Sriwijaya adalah harta karun tak ternilai yang mengingatkan kita akan kekayaan warisan nenek moyang kita dan peran penting Sriwijaya dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Semoga kesadaran ini menginspirasi kita untuk menjaga warisan ini demi generasi yang akan datang.

  • 5 Negara yang Pertama Kali Mengakui Kemerdekaan Indonesia

    5 Negara yang Pertama Kali Mengakui Kemerdekaan Indonesia

    Kemerdekaan Indonesia merupakan sebuah hadiah terbesar dan pencapaian terindah bagi bangsa Indonesia. Pencapaian tersebut patut mendapat pengakuan atas perjuangan para pribumi selama perang demi mencapai kemerdekaan. Selain itu, ada beberapa negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia. 

    Artikel ini akan membahas lengkap tentang profil 5 negara yang mengakui kemerdekaan Indonesia beserta alasan negara tersebut. Simak sekarang! 

    Jenis Pengakuan Kemerdekaan Indonesia

    Dalam misi menjadi negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia, terdapat dua jenis dari pengakuan tersebut. Di bawah ini merupakan jenis-jenis dari pengakuan kemerdekaan yang diberikan kepada suatu negara.

    1. Pengakuan De Facto

    De Facto merupakan sebuah istilah yang berasal dari bahasa Latin yang berarti sebuah kenyataan yang telah terjadi dan bersifat asli pada prakteknya. Dalam bidang hukum, De Facto merupakan sebuah pengakuan terhadap suatu kondisi dan situasi yang sudah terjadi namun belum mendapat pengakuan secara hukum.

    Pengakuan jenis ini memiliki konsep yang bertolak belakang dengan jenis lainnya, yaitu De Jure. Sifat De Facto yang lebih berfokus pada sebuah kejadian yang terjadi dan belum resmi tercatat secara hukum yang berjalan berlawanan arah dengan De Jure dengan sifat lebih resmi.

    Penggunaan istilah dari De Facto berdasarkan beberapa ketentuan yang termasuk di dalamnya adalah kondisi tertentu yang sudah mapan, relevan, dan publik dapat menerima kondisi tersebut. Oleh sebab itu, pengakuan De Facto tidak harus secara resmi terikat dengan hukum selama faktor-faktor tersebut terpenuhi.

    Sifat De Facto

    Pengakuan jenis De Facto terbagi menjadi beberapa jenis lainnya lagi berdasarkan sifatnya. Beberapa negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia menggunakan aturan De Facto. Di bawah ini adalah jenis lain dari De Facto.

    1. De Facto Bersifat Sementara

    Pengakuan sementara terjadi terhadap sebuah negara yang sedang mengalami sebuah masa tertentu. De Facto sementara ini bersifat tidak permanen dan negara-negara yang telah memberikan pengakuan dapat menariknya kembali. Tetapi, penarikan pengakuan harus berdasarkan alasan yang sesuai peraturan.

    Seperti contohnya, jika sebuah negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia telah memberikan pengakuan namun Indonesia masih terlibat perang, maka negara lain dapat menarik pengakuannya.

    2. De Facto Bersifat Tetap

    Sesuai dengan sebutannya, De Facto ini merupakan pengakuan yang bersifat permanen atau tetap. Pengakuan secara tidak resmi namun tetap ini merupakan suatu kehormatan besar bagi negara yang mendapatkan pengakuan. 

    Dengan adanya pengakuan secara tetap, kedua negara yang telah sepakat untuk memberikan pengakuan dapat melakukan sebuah perjanjian. Sistem perjanjian tersebut menjadi sebuah peluang besar bagi negara yang sudah mendapat pengakuan karena mampu bekerja sama dalam berbagai bidang.

    Kerja sama bagi negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia dapat terjadi pada bidang seperti perdagangan dan ekonomi. Dengan begitu, negara dapat menggunakan peluang untuk mengembangkan negara yang telah diakui oleh beberapa negara terkait atau bahkan dunia. 

    2. Pengakuan De Jure

    Kebalikan dari pengakuan jenis De Facto yang hanya berlandaskan sebuah kenyataan yang terlihat oleh mata, De Jure memiliki sifat yang lebih resmi secara hukum dan sesuai dengan peraturan yang ada. 

    Pelaksanaan pengakuan secara De Jure selalu berdasarkan prinsip hukum yang ada. Walaupun kondisi atau situasi tertentu belum pernah terjadi namun jika ingin mengakui nya maka dapat secara De Jure yang berjalan sesuai aturan.

    Sifat De Jure

    Sama halnya dengan De Facto, pengakuan secara resmi ini juga memiliki sifat tertentu. Berikut ini adalah gambaran sifat dari De Jure.

    1. De Jure Bersifat Penuh

    Pengakuan yang bersifat penuh membawa dampak sangat positif bagi negara yang telah mendapat pengakuan De Jure. Sifat penuh tersebut memunculkan sebuah relasi antar negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia dan Indonesia sendiri dalam beberapa aspek.

    Hubungan baik tersebut dapat terjadi dalam banyak bidang dan negara yang terakui oleh negara lain dapat terus mengembangkan potensi yang. Dengan begitu, sebuah negara dapat berkembang pada beberapa sektor seperti perdagangan internasional, ekonomi negara, hingga hubungan diplomatik antar negara.

    Tetapi, terdapat syarat utama untuk kedua belah pihak yang telah saling mengakui satu sama lain yaitu adanya kedutaan besar. Bagi negara yang memberikan pengakuan harus mengirimkan perwakilan sebagai duta besar kepada negara yang mereka beri pengakuan. 

    Oleh sebab itu, negara lain harus memiliki sistem kedutaan di negara mereka sebagai tempat untuk seorang perwakilan duta besar negara lain. Seperti contohnya kedutaan besar Korea Selatan di Indonesia dan sebaliknya. 

    2. De Jure Bersifat Tetap

    Pemberian pengakuan yang bersifat tetap dan sesuai prinsip hukum pada sebuah negara adalah sebuah kehormatan tersendiri. Bagi negara yang mendapatkan pengakuan secara permanen maka negara tersebut telah mendapatkan pengakuan bahwa sistem pemerintahan sudah stabil.

    Dengan kondisi pemerintahan yang cukup kuat, maka negara lain telah menaruh kepercayaan pada negara yang mereka beri pengakuan. Oleh sebab itu, negara yang telah memberikan pengakuan abadi tidak dapat menarik kembali persetujuan pengakuan tersebut.

    5 Negara yang Pertama Kali Mengakui Kemerdekaan Indonesia dan Alasannya

    Setelah mendapatkan hak atas kemerdekaan, bangsa Indonesia perlahan mengantongi pengakuan dari negara-negara lain. Pengakuan tersebut menjadi syarat penting bagi sebuah negara untuk menjadi merdeka secara utuh. Berikut ini adalah daftar negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia.

    1. Mesir

    Bendera Mesir
    Bendera Mesir | Sumber Gambar: Freepik.com

    Mesir masuk dalam daftar negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia tidak lama setelah proklamasi dibacakan. Negara Mesir secara De Facto memberikan pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia pada tanggal 22 Maret 1946. 

    Pengakuan De Facto menjadi tanda bahwa Indonesia telah lepas dari Belanda.  Kemudian, pada tahun selanjutnya, lebih tepatnya 10 Juni 1947, Mesir menyatakan pengakuan De Jure kepada Indonesia. 

    Pemberian update pada pengakuan Mesir terhadap Indonesia menandakan bahwa secara resmi Mesir mengakui kemerdekaan Indonesia.

    Liga Arab merupakan salah satu alasan terpenting bagi Mesir dan Indonesia untuk saling memberikan dukungan satu sama lain. Melalui liga besar Arab itu, Mesir secara resmi menjadi negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia. 

    2. India

    Bendera India
    Bendera India | Sumber Gambar: Freepik.com

    Selanjutnya ada India yang telah memberikan pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia pada tanggal 2 September 1946. Persahabatan baik dari Hatta dan Perdana Menteri Jawaharlal Nehru yang merupakan pemimpin Partai Kongres Nasional India memberikan kesempatan emas bagi Indonesia untuk diakui. 

    India yang saat itu mengalami krisis akibat jajahan dari kolonial Inggris mendapatkan bantuan besar dari Indonesia berupa 500 ton besar. Berawal dari bantuan tersebut menjadikan India termotivasi untuk turut menentang agresi militer yang Belanda lakukan terhadap Indonesia.

    3. Suriah

    Bendera Suriah
    Bendera Suriah | Sumber Gambar: Freepik.com

    Indonesia dan Suriah telah menjalin hubungan bilateral yang cukup erat sejak secara De Jure Suriah mengakui kemerdekaan Indonesia pada 2 Juli 1947. Pengakuan yang Suriah berikan untuk Indonesia berawal dari rasa simpati sesama negara yang sedang mengalami agresi militer Belanda.

    Suriah yang menjadi salah satu anggota Liga Arab mengikuti jejak Mesir untuk turut mendukung pembebasan agresi militer yang dilakukan Belanda terhadap Indonesia. Dukungan tersebut diberikan oleh Suriah melalui sidang PBB yang menghasilkan sebuah dukungan besar untuk keluar dari lingkar jajahan Belanda.

    4. Vatikan

    Bendera Vatikan
    Bendera Vatikan | Sumber Gambar: Freepik.com

    Vatikan merupakan negara dengan dampak besar bagi masyarakat wilayah Eropa dan Amerika. Negara Vatikan telah menjadi negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia pada tanggal 6 Juli 1947. Pengakuan dari Vatikan untuk Indonesia bersifat De Jure.

    Alasan Vatikan mengakui kemerdekaan Indonesia adalah adanya kesamaan prinsip antara kedua negara tersebut. Prinsip yang mana sama-sama menentang adanya agama atheis, mendukung perdamaian dunia, hingga kesamaan cita-cita untuk keadilan manusia.

    5. Lebanon

    Bendera Lebanon
    Bendera Lebanon | Sumber Gambar: Freepik.com

    Kemudian, Lebanon yang mengikuti jejak Mesir untuk menjadi negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia. Sebagai salah satu negara yang mengikuti Liga Arab, Lebanon mengakui merdekanya Indonesia secara De Facto pada tanggal 29 Juli 1947. 

    Lebanon memberikan pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia karena dasar rasa empati sebagai negara yang mayoritas masyarakat memeluk agama Islam. Kesamaan tersebut membuat Lebanon dan Indonesia terlibat dalam hubungan bilateral yang baik.

    Mengapa Pengakuan terhadap Kemerdekaan Indonesia Penting? 

    Pengakuan dari negara-negara di seluruh dunia merupakan salah satu hadiah terbesar bagi suatu negara termasuk Indonesia. Setelah melewati banyak cerita perjuangan melawan kolonial Belanda bahkan Jepang, bangsa Indonesia akhirnya dapat mengibarkan bendera merah putih dan mendeklarasikan proklamasi.

    Tidak jauh setelah kemenangan tersebut, ada beberapa negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia memberikan dukungan penuh. Dukungan dari negara lain berguna untuk mengikat Indonesia dengan negara saudara dan mendapatkan kesempatan untuk berkembang dalam berbagai aspek.

  • Sejarah Adalah: Pengertian Menurut Ahli, Ciri-Ciri, dan Unsurnya

    Sejarah Adalah: Pengertian Menurut Ahli, Ciri-Ciri, dan Unsurnya

    Membahas soal sejarah adalah hal yang membuat kita membicarakan peristiwa masa lalu. Ya, ini adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari peristiwa masa lalu yang dialami manusia. Karena membahas masa lalu, maka ilmu ini tidak bisa terlepas dari hidup manusia yang dinamis dan terus berkembang.

    Peristiwa masa lalu membuat manusia bisa mendapatkan pelajaran berharga untuk hidup sekarang dan akan datang. Lalu,  bagaimana definisi sejarah menurut para ahli ini? Apa saja ciri-ciri dan unsurnya? Simak di artikel ini sampai selesai!

    Pengertian Sejarah secara Bahasa

    Buku Lama
    Buku Lama | Sumber: thewriters.id

    Secara bahasa, sejarah adalah kata yang diambil dari bahasa Arab yakni “syajaratun” yang artinya ‘pohon’. Dalam konteks ilmu ini, kata syajaratun  melambangkan asal-usul yang mana pohon memiliki akar, batang, ranting, dan daun yang terus bertumbuh seiring berjalannya waktu.

    Syajaratun juga sebuah pohon kehidupan yang melambangkan asal-usul dalam silsilah keluarga. Jika kita melihat skema silsilah keluarga, pasti mendapati asal-usul nama dan kerabat yang bentuknya menyerupai pohon.

    Kata pohon ini juga menggambarkan kehidupan manusia secara turun-temurun. Syajaratun juga menggambarkan bahwa sejarah adalah jalinan kompleks dari peristiwa, tokoh-tokoh, dan budaya yang saling terhubung satu sama lain.

    Selain bahasa Arab, kata sejarah juga disebut history dalam bahasa Inggris. History itu berasal dari bahasa Yunani “istoria” yang artinya orang pandai. Dalam perkembangannya, kata istoria ini bukan hanya berarti orang pandai tapi pembelajaran yang menyangkut manusia secara kronologis  (berdasarkan urutan waktu).

    Selanjutnya, kata sejarah dalam bahasa Belanda lebih dikenal dengan sebutan historie. Kata ini memiliki arti kejadian yang dibuat oleh manusia. Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata sejarah adalah kejadian yang benar-benar terjadi pada masa lampau. KBBI juga mengartikan kata tersebut sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari peristiwa masa lampau. 

    Kesimpulannya, sejarah adalah ilmu yang mempelajari rentetan peristiwa masa lampau yang sudah manusia lalui sebagai pembelajaran bagi hidup sekarang dan akan datang.

    Makna Sejarah bagi Para Ahli

    Peta dan kompas
    Peta dan kompas | Sumber: Idsejarah.net

    Beberapa ahli menjelaskan pengertiannya masing-masing, seperti:

    1. Arnold J. Toynbee

    Arnold J. Toynbee adalah ahli sejarawan Inggris dan penulis buku A Study of History. Baginya, sejarah adalah ilmu yang mempelajari perjalanan manusia serta peradabannya. Ilmu ini membantu untuk memahami perubahan yang terjadi, baik dalam konteks politik, kebudayaan, ekonomi, hingga agama.

    Ia percaya manusia bisa belajar dan mengambil hikmah dari kesalahan masa lalunya. Dengan kata lain, ilmu ini bisa mengajak manusia untuk memperbaiki diri dan belajar demi masa depan.

    2. W.J.S Poerwadarminta

    W.J.S Poerwadarminta adalah tokoh sastra Indonesia sekaligus penulis kamus-kamus Bahasa Indonesia. Sebagai tokoh sastra, beliau mengartikan sejarah adalah seluruh kesusastraan lama, silsilah, dan asal-usul.

    Beliau juga mengatakan sejarah itu berkaitan dengan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Peristiwa itu kemudian jadi kajian ilmu pengetahuan yang berguna sebagai cerita pembelajaran.

    3. Moh. Yamin

    Moh. Yamin mengartikan sejarah sebagai ilmu pengetahuan yang tersusun atas hasil penyelidikan dari beberapa peristiwa yang dibuktikan dengan fakta.

    4. Sir Charles Firth

    Sejarawan Inggris, Sir Charles Firth, mengatakan bahwa sejarah merekam kehidupan manusia, merekam perubahan-perubahan yang terjadi, merekam kondisi, serta merekam ide-ide yang membantu atau merintangi perkembangannya.

    5. Henry Steele Commager

    Ia menyebut sejarah adalah sebuah rekaman keseluruhan masa lalu, kesusastraan, bangunan, hukum, agama, pranata sosial, dan filsafat.

    Fungsi dari Sejarah

    Ilmu ini penting kita pelajari untuk mengetahui asal usul suatu masyarakat. Dengan mempelajari sejarah, kita jadi memahami berbagai nilai, norma, dan organisasi yang sudah ada sejak era nenek moyang.

    Masyarakat juga jadi memahami semangat nenek moyangnya untuk mengembangkan hidup sesuai nilai dan norma yang mereka anut secara turun temurun. Dengan kata lain, ilmu ini juga mengajarkan kita bagaimana melestarikan sekaligus mewariskan ajaran masa lampau dari nenek moyang.

    Tidak hanya itu, melalui sejarah, kita bisa belajar dari apa yang sudah terjadi di masa lalu. Ilmu ini bisa jadi bahan refleksi manusia apakah yang kita lakukan sekarang itu tepat atau tidak. Ilmu ini juga menjadi panduan bagi manusia untuk menjalani kehidupan saat ini dan masa mendatang agar menjadi pribadi lebih baik.

    Ciri-Ciri Sejarah berdasarkan Ruang Lingkupnya

    Sejarah adalah ilmu yang memiliki beberapa ruang lingkup dalam kajiannya. Apa saja ruang lingkup tersebut dan ciri-cirinya?

    1. Sebagai Ilmu

    Ruang lingkup pertama adalah sebagai ilmu. Sejarah tidak hanya sekadar kejadian masa lalu, namun juga dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang harus kita pelajari. Karena ia berperan sebagai ilmu, maka segala yang sudah terjadi haruslah bisa dibuktikan dengan metode ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan.

    Ilmu ini nantinya sangat berperan penting bagi kehidupan manusia. Terlebih untuk menambah wawasan bagi mereka yang mempelajarinya. Ciri-ciri sejarah sebagai ilmu, antara lain:

    • Bersifat empiris (dari pengalaman).
    • Memiliki objek.
    • Memiliki teori yang jelas.
    • Penelitiannya menggunakan metode ilmiah.

    Contohnya seperti fosil, artefak, dan penemuan-penemuan lainya.

    2. Sebagai Peristiwa

    Peristiwa itu aktivitas nyata yang pernah terjadi pada masa lampau. Dalam lingkup sejarah, peristiwa inilah yang akan kita pelajari mulai dari sebab sampai akibat dari kejadian tersebut.

    Menariknya, tidak semua peristiwa itu termasuk sejarah. Ini karena tidak semua sejarawan melakukan studi tentang peristiwa tersebut. Hal yang mereka kaji adalah peristiwa yang berkaitan dengan hubungan manusia dan perkembangan sosialnya. Ciri-ciri sejarah sebagai peristiwa, antara lain:

    • Bersifat abadi.
    • Kejadian tersebut hanya terjadi sekali.
    • Bisa memberikan pengaruh dan mendapat pengakuan dari banyak orang.
    • Memiliki arti penting.

    Contohnya seperti peristiwa kemerdekaan Indonesia, berdirinya PBB, peristiwa penjajahan asing pada bangsa Indonesia, dan lain-lain.

    3. Sebagai Kisah

    Sejarah bisa menjadi kisah apabila berperan dalam perkembangan sosial yang menjadi sebuah cerita dan dipercaya oleh masyarakat. Cerita masa lampau ini bisa diceritakan melalui lisan maupun tulisan.

    Kalau lisan biasanya melalui ceramah atau pidato (atau bisa juga dari penuturan saksi mata). Sementara tulisan biasanya berupa buku. Nah, karena sebagai cerita, maka bisa jadi bersifat subjektif alias tergantung kesan dan interpretasi seseorang.

    Ciri-ciri sejarah sebagai kisah yaitu harus berdasarkan fakta dan penuturnya harus bertanggung jawab pada apa yang telah ia sampaikan. Maksudnya, pencerita harus menuturkan sesuai fakta meskipun ia memberikan penafsiran dan interpretasi subjektif.

    4. Sebagai Seni

    Sebagai sebuah seni, sejarah adalah ilmu yang lebih berfokus pada proses perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Ruang lingkup sejarah ini membutuhkan imajinasi untuk memudahkan proses pembelajaran apabila menggunakan pemahaman tentang metode penelitian.

    Sejarah bisa menjadi seni karena tidak selalu berdasarkan fakta mentah, tapi juga ekspresi dan interpretasi dari penulisnya. Ini hampir sama dengan ruang lingkup sebelumnya, yakni sejarah sebagai sebuah cerita atau sejarah yang diceritakan kembali.

    Namun, cara pembawaan cerita bagian ini menggunakan unsur esensi seni. Cara penyampaian dan tata bahasanya sudah mengandung unsur seni dari penulisnya. Misalnya cara menceritakannya menggunakan drama, puisi, lukisan, hingga musik yang bernilai seni dan orang banyak bisa menikmatinya.

    Unsur-Unsur Sejarah

    Waktu sejarah
    Waktu sejarah | Sumber: kompas.com

    Ada juga unsur-unsur sejarah yang tidak kalah penting dengan ruang lingkupnya. Unsur-unsur tersebut antara lain:

    1. Manusia

    Manusia adalah unsur terpenting yang menentukan suatu peristiwa. Dalam kajian ini, manusia jugalah yang menjadi objek karena manusia yang bisa menciptakan sejarah dari kejadian yang sudah mereka lalui.

    2. Waktu

    Waktu juga jadi unsur penting dalam sejarah, karena kajian ini memberikan ulasan kegiatan manusia dalam kurun waktu tertentu.

    3. Ruang

    Ruang ini merujuk pada tempat kejadian suatu peristiwa. Maksudnya, apapun yang terjadi pada manusia pasti berada pada suatu ruangan tertentu. Karena itulah unsur ruang ini juga penting.

    4. Kausalitas

    Unsur ini menghubungkan sebab dan akibat dari suatu peristiwa. Unsur ini mempertanyakan fakta mengenai siapa, kapan, di mana, apa, dan bagaimana suatu peristiwa itu terjadi. Tujuannya supaya kita bisa memahami cerita tersebut dengan jelas dan baik.

    Baca Juga: 10 Manfaat Belajar Sejarah bagi Kehidupan Sehari-Hari

    Sudah Paham Apa Maksud dari Sejarah?

    Sejarah adalah peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Dalam kajiannya, ia berperan sebagai ilmu, sebagai peristiwa, sebagai kisah, dan sebagai seni yang masing-masing menarik untuk kita pelajari.

    Sejarah adalah rangkaian peristiwa masa lalu yang memegang peran penting bagi hidup manusia. Sebab dari sanalah manusia bisa belajar dan berkembang untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

  • 100+ Daftar Pahlawan Nasional Indonesia: Populer hingga Tidak

    100+ Daftar Pahlawan Nasional Indonesia: Populer hingga Tidak

    Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada orang yang sangat berjasa bagi bangsa dan negara. Daftar pahlawan nasional Indonesia sangatlah banyak mengingat lamanya perjuangan bangsa Indonesia dari zaman kolonial sampai zaman kemerdekaan. 

    Berikut adalah daftar pahlawan nasional Indonesia dari yang populer sampai yang jarang didengar oleh banyak orang.

    Pahlawan yang Terlibat dalam Proklamasi Kemerdekaan 

    Berbicara mengenai pahlawan ternama biasanya tidak jauh-jauh dari peristiwa proklamasi kemerdekaan. Namun, semua pahlawan nasional lainnya tetap memiliki peran dalam memperjuangkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan berbagai cara. 

    Berikut beberapa daftar pahlawan nasional Indonesia dalam upaya proklamasi kemerdekaan: 

    1. Ir. Soekarno

    Daftar pahlawan nasional Indonesia paling terkenal yaitu Ir. Soekarno atau Bung Karno. Beliau yaitu tokoh pahlawan yang sangat berjasa di bidang politik dan peristiwa kemerdekaan 17 Agustus 1945. Bung Karno juga merupakan sosok proklamator kemerdekaan bangsa sekaligus menjadi presiden pertama Republik Indonesia.

    Tokoh yang lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya ini, sejak kecil sudah mempelajari dunia politik dan banyak melatih diri dalam berpidato karena beliau sempat tinggal di rumah HOS Cokroaminoto (pendiri serikat Islam) yang merupakan sahabat ayahnya. Semenjak saat itulah beliau mulai mengenal dunia perjuangan.

    Pada usia 14 tahun, Bung Karno mengenyam pendidikan di Hogere Burger School (HBS) Surabaya dan bergabung dalam organisasi pemuda Jawa (Jong Java). HBS telah memberi banyak pengalaman penting bagi Bung Karno. Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikannya di Technische Hooge School (sekarang kampus ITB).

    Bung Karno memiliki peran yang sangat penting dalam upaya proklamasi kemerdekaan Indonesia, mulai dari partisipasinya dalam organisasi PPKI, BPUPKI, peristiwa Rengasdengklok, sampai menjadi salah satu penggagas dasar negara kita (Pancasila) dan menjadi bapak proklamator bersama Bung Hatta.

    Ir. Soekarno meninggal di usia 69 pada 21 Juni 1970. Makamnya berada di Blitar, Jawa Timur. 

    2. Drs. Mohammad Hatta

    Daftar nama pahlawan nasional berikutnya adalah Mohammad Hatta (Bung Hatta), yang merupakan tokoh pendamping Ir. Soekarno pada saat membaca proklamasi kemerdekaan Indonesia. Beliau adalah wakil presiden pertama negara Indonesia. 

    Tokoh yang lahir pada 12 Agustus 1902 ini, merupakan aktivis yang membangkitkan semangat pemuda Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Beliau menorehkan gagasan dan pemikiran-pemikiran hebatnya dalam tulisannya yang diterbitkan melalui surat-surat kabar atau majalah. 

    Pemerintah kolonial Belanda sempat mengasingkan beliau ke wilayah pembuangan Boven Digul di daerah Irian Jaya (sekarang Papua) akibat dari kritikan tajamnya. Contoh tulisan besar beliau adalah tentang demokrasi Indonesia (1928-1960).

    Selain hebat dalam menyampaikan gagasan melalui tulisan, Drs. Mohammad Hatta juga mendapatkan julukan sebagai bapak koperasi Indonesia, karena beliaulah yang pertama mencetuskan pemikiran tentang hal tersebut. 

    Setelah perjuangannya selesai, beliau meninggal pada Maret 1980 dan makamnya ada di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta bersama daftar pahlawan nasional Indonesia lainnya.

    3. Achmad Soebardjo

    Achmad Soebardjo adalah salah seorang politisi dan aktivis dalam bidang pergerakan nasional Indonesia. Beliau tergabung dalam Perhimpunan Indonesia, sebuah organisasi yang aktif dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari pemerintahan kolonial Belanda.

    Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, beliau menjadi Menteri Luar Negeri Indonesia pertama. Beliau juga aktif menyuarakan kedaulatan kemerdekaan Indonesia untuk memperoleh dukungan dari negara-negara lain.

    4. Sayuti Melik

    Pada peristiwa proklamasi kemerdekaan, Sayuti Melik memiliki peran sebagai pengetik naskah proklamasi yang sebelumnya telah ditulis oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Beliau menjadi saksi dan memiliki keterlibatan dalam penyusunan teks proklamasi.

    Beliau juga salah satu pemuda yang mengusulkan agar yang menandatangani naskah tersebut adalah Bung Karno dan Bung Hatta. Selain itu, karena profesi beliau adalah seorang jurnalis, maka beliau berperan penting dalam menyebarluaskan berita proklamasi kemerdekaan Indonesia.

    5. Fatmawati

    Ibu Fatmawati adalah istri pertama dari Ir. Soekarno sekaligus menjadi ibu negara pertama Indonesia. Beliau mengusulkan bahwa bendera merah putih harus dikibarkan saat peristiwa proklamasi. Rasa cinta tanah airnya yang mendalam, membuat beliau sangat mendukung perjuangan Bung Karno.

    Peran penting yang beliau tunjukkan dalam upaya kemerdekaan Indonesia adalah menjahit bendera merah putih dengan tangannya sendiri. Pada saat itu beliau hamil besar sehingga dokter tidak memperbolehkan beliau untuk menjahit menggunakan mesin.

    6. Latief Hendraningrat, Suhud Sastro, dan SK Trimurti

    Beberapa daftar pahlawan nasional Indonesia yang terkenal dalam peristiwa proklamasi adalah 3 tokoh pengibar sang saka merah putih. 

    Tokoh yang pertama adalah Latief Hendraningrat. Beliau adalah seorang prajurit PETA (Pembela Tanah Air) dan aktif dalam upaya perlawanan terhadap penjajahan Jepang. Beliau memiliki peran mengerek bendera.

    Tokoh selanjutnya adalah Suhud Sastro yang merupakan salah satu barisan pengawal rumah Ir. Soekarno dan mempersiapkan tiang bambu untuk upacara proklamasi. Tugas spesifiknya adalah mengambil bendera merah putih dari baki kemudian mengaitkan pada tali yang akan dikerek oleh Latief.

    Lalu yang terakhir adalah Surastri Karma Trimurti. Beliau merupakan sosok perempuan inspiratif yang menentang budaya diskriminatif pada kaum wanita. Di samping perannya dalam membawa baki bendera, beliau adalah seorang guru dan membuat dua buku di bidang perjuangan kemerdekaan nasional.

    7. Soekarni Kartodiwirjo

    Soekarni adalah salah satu golongan muda yang menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Tujuannya agar Soekarno-Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Para pemuda mendesak golongan tua agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

    8. Laksamana Muda Maeda

    Meskipun beliau bukan merupakan orang Indonesia, Laksamana Maeda mempunyai peran penting dalam peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia. Simpatinya yang tinggi terhadap perjuangan bangsa Indonesia, membuatnya memperbolehkan para pejuang menggunakan rumah beliau dalam penyusunan naskah proklamasi.

    Daftar Pahlawan Nasional Indonesia di Berbagai Daerah

    Selain pahlawan pada peristiwa proklamasi, berikut adalah daftar pahlawan nasional Indonesia dari berbagai daerah mulai dari Aceh hingga Papua:

    1. Daftar Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh, Riau, & Sumatera

    Terdiri dari:

    • Cut Nyak Dien (Aceh) 1850-1908
    • Tuanku Imam Bonjol (Sumatera Barat) 1772-1864
    • Cut Nyak Meutia (Aceh) 1870-1910
    • Sultan Iskandar Muda (Aceh) 1593-1636
    • Dr. Moh Natsir (Sumatera Barat) 1908-1993
    • Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka (Sumatera Barat) 1908-1981
    • Prof. Dr. Hazairin (Bengkulu) 1906-1975
    • Syarif Kasim II (Riau) 1893-1968
    • Bagindo Azizchan (Sumatera Barat) 1910-1947
    • Letjen TNI Djamin Ginting (Sumatera Utara) 1921-1974
    • Dr. Abdul Harris Nasution (Sumatera Utara) 1918-2000
    • Ilyas Ya’kub (Sumatera Barat) 1903-1958
    • dr. Ferdinand Lumbantobing (Sumatera Utara) 1899-1962
    • Kiras Bangun (Sumatera Utara) 1852-1942
    • Sisingamangaraja XII (Sumatera Utara) 1845-1907
    • Teuku Umar (Aceh) 1854-1889
    • Tuanku Tambusai (Riau) 1784-1882
    • Teuku Tjik Ditiro (Aceh) 1836-1891
    • Adam Malik (Sumatera Utara) 1917-1984
    • T.B. Simatupang (Sumatera Utara) 1920-1990

    2. Daftar Pahlawan Nasional Indonesia dari Jawa

    Berikut daftar nama pahlawan nasional Indonesia di wilayah Jawa:

    • KH. Abdul Wahab Hasbullah (Jawa Timur) 1888-1971
    • Albertus Soegijapranata (Jawa Tengah) 1896-1963
    • KH. Ahmad Dahlan (Yogyakarta) 1868-1923
    • KH. Hasyim Asy’ari (Jawa Timur) 1875-1947
    • Muhammad Jazuli atau Fakhruddin (Yogyakarta) 1890-1929
    • KH. Mas Mansur (Jawa Timur) 1896-1946
    • Marsda Adisucipto (Yogyakarta) 1916-1947
    • KH. Noer Ali (Jawa Barat) 1914-1992
    • Nyai Ahmad Dahlan atau Siti Walidah (Yogyakarta) 1872-1946
    • KH. Wahid Hasyim (Jawa Timur) 1914-1953
    • Prof. dr. Abdulrahman Saleh (Yogyakarta) 1909-1947
    • Marsda. Halim Perdanakusuma (Jawa Timur) 1922-1947
    • Marsma R. Iswahyudi (Jawa Timur) 1918-1947
    • Mas Isman (Jawa Timur) 1924-1982
    • Ki Bagus Hadikusumo (Yogyakarta) 1890-1954
    • Moehammad Jasin (Jawa Timur) 1920-2012
    • H.R. Moh Mangoendiprodjo (Jawa Tengah) 1905-1988
    • Soepeno (Jawa Tengah) 1916-1949
    • R.M. Tumenggung Ario Soerjo (Jawa Timur) 1895-1948
    • Brigjen Slamet Riyadi (Jawa Tengah) 1927-1950
    • Mayor Jenderal Soetomo atau Bung Tomo (Jawa Timur) 1920-1981
    • Radjiman Wedyodiningrat (Yogyakarta) 1879-1952
    • Kapten Pierre Tendean (DKI Jakarta) 1939-1965
    • Brigjen Katamso (Yogyakarta) 1923-1965
    • Moh. Yamin (DKI Jakarta) 1914-1958
    • Oto Iskandar Dinata (Jawa Barat) 1879-1945
    • Jenderal Basuki Rahmat (Jawa Timur) 1921-1969
    • Jenderal Gatot Subroto (Jawa Tengah) 1907-1962
    • Jenderal Djatikusumo (Jawa Tengah) 1917-1992
    • Kopral KKO Harun Thohir (Jawa Timur) 1947-1968
    • Mayjen Prof. Dr. Moestopo (Jawa Timur) 1913-1986
    • R.E Martadinata (Jawa Barat) 1921-1966
    • Jenderal Besar Raden Soedirman (Jawa Tengah) 1916-1950
    • Supriyadi (Jawa Timur) 1923-1945
    • Siti Hartinah Soeharto (Jawa Tengah) 1923-1996
    • Dewi Sartika (Jawa Barat) 1884-1947
    • Ki Hadjar Dewantara (Yogyakarta) 1889-1959
    • Ki Mangunsarkoro (Jawa Tengah) 1904-1957
    • R.A. Kartini (Jawa Tengah) 1879-1904
    • Dr. Soetomo (Jawa Timur) 1888-1938
    • dr. Wahidin Sudirohusodo (Yogyakarta) 1852-1917
    • W.R. Supratman (Jawa Timur) 1903-1938 
    • Sultan Ageng Tirtayasa (Banten) 1631-1692
    • Pangeran Diponegoro (Yogyakarta) 1785-1855
    • Nyi Ageng Serang (Jawa Tengah) 1752-1828
    • dr. Tjipto Mangoenkoesoemo (Jawa Tengah) 1886-1943
    • Douwes Dekker (Jawa Timur) 1879-1950
    • Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto (Jawa Timur) 1882-1934
    • Sri Sultan Hamengkubuwono IX (Yogyakarta) 1912-1988
    • Ir. Juanda Kartawijaya (Jawa Tengah) 1911-1963
    • M.H. Thamrin (DKI Jakarta) 1894-1941

    3. Daftar Pahlawan Nasional Indonesia dari Bali, NTT, Kalimantan

    Terdiri dari:

    • Brigjen I Gusti Ngurah Rai (Bali) 1917-1946
    • Brigjen Hasan Basry (Kalimantan Selatan) 1923-1984
    • W.Z. Johannes (NTT) 1895-1952
    • Pangeran Antasari (Kalimantan Selatan) 1809-1892
    • Herman Johannes (NTT) 1912-1992
    • I Gusti Ketut Pudja (Bali) 1908-1977
    • KH. Idham Chalid (Kalimantan Selatan) 1921-2010
    • Izaak Huru Doko (NTT) 1913-1971
    • I Gusti Ngurah Made Agung (Bali) 1876-1906

    Baca Juga: 7 Pahlawan Nasional Asal Kalimantan dan Perjuangannya

    4. Daftar Pahlawan Nasional Indonesia dari Sulawesi, Maluku, Papua

    Terdiri dari:

    • Andi Djemma (Sulawesi Selatan) 1901-1965
    • Yusuf Al Makasari (Sulawesi Selatan) 1626-11699
    • Bernard Wilhelm Lapian (Sulawesi Utara) 1892-1977
    • Pajonga Daeng Ngalie (Sulawesi Selatan) 1901-1958
    • Dr. Sam Ratulangi (Sulawesi Utara) 1980-1949
    • Wolter Monginsidi (Sulawesi Utara) 1925-1949
    • Bau Massepe (Sulawesi Selatan) 1918-1947
    • Silas Papare (Papua) 1918-1973
    • Laksda John Lie (Sulawesi Utara) 1911-1988
    • Marthen Indey (Papua) 1912-1986
    • Maria Walanda Maramis (Sulawesi Utara) 1872-1924
    • Sultan Hasanuddin (Sulawesi Selatan) 1631-1670
    • Martha Christina Tiahahu (Maluku) 1800-1818
    • Kapitan Pattimura atau Thomas Matulessy (Maluku) 1783-1817
    • Ranggong Daeng Romo (Sulawesi Selatan) 1915-1947
    • Arie Frederik Lasut (Sulawesi Utara) 1918-1949 
    • dr. Johanes Leimena (Maluku) 1905-1977
    • L.N. Palar (Sulawesi Utara) 1900-1981
    • Nani Wartabone (Gorontalo) 1907-1986
    • Frans Kaisiepo (Papua) 1921-1979

    Sudah Kenal dengan Daftar Pahlawan Nasional Indonesia di Atas?

    Tak bisa dipungkiri bahwa hingga saat ini masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengenal daftar pahlawan nasional Indonesia yang namanya jarang disebut dalam kisah sejarah. Meski namanya tidak sepopuler dengan beberapa pahlawan lainnya, tetap saja mereka adalah tokoh yang telah berjuang atas nama negara hingga layak disebut sebagai seorang pahlawan.