Category: Sejarah

  • Sejarah Bendera Merah Putih sebagai  Bendera Kebangsaan

    Sejarah Bendera Merah Putih sebagai  Bendera Kebangsaan

    Sejarah bendera merah putih menarik untuk kamu telaah sebagai identitas bangsa Indonesia. Ini merupakan perwujudan fisik dari gagasan anak bangsa untuk merdeka dari segala bentuk jajahan bangsa asing. Apakah kamu ingin tahu bagaimana sejarah bendera negeri kita tercinta? Mari simak di sini!

    Sejarah Bendera Merah Putih

    Sejarah bendera bangsa Indonesia terbagi atas 3 momentum, yaitu masa pra-kemerdekaan, saat kemerdekaan, dan setelah merdeka. Sebelum beranjak ke masa kemerdekaan, ternyata bendera merah putih sudah ada sejak masa kerajaan, lho. Mari simak ulasannya sebagai berikut:

    1. Sejarah Bendera sebelum Kemerdekaan

    Ilustrasi Peperangan
    Ilustrasi Peperangan | Sumber Gambar: Tirto.id

    Sejarah bendera merah putih ternyata sudah ada sejak masa kerajaan di Nusantara sebelum masuk era kemerdekaan. Pada tahun 1929 Masehi, pasukan Raja Jayakatwang menggunakan panji merah putih dalam perang melawan Prabu Kertanegara dari Kerajaan Singasari. 

    Pada abad ke-13 sampai 16, bendera merah putih menjadi lambang  simbolis masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Mpu Prapanca menuliskan dalam Kitab Negarakertagama bahwa simbol warna merah dan putih terlihat setiap upacara kebesaran Prabu Hayam Wuruk sejak tahun 1350 M sampai 1389 M.

    Selain itu, Sisingamangaraja IX dari Tanah Batak juga pernah memakai bendera merah putih sebagai bendera perang. Pada tengah bendera perangnya terdapat gambar pedang kembar berwarna putih. Sedangkan warna merah dan putih menjadi dasarnya.

    Ketika terjadi peperangan di Aceh, pejuang-pejuang menggunakan bendera merah putih sebagai bendera perang berupa umbul-umbul. Pada bagian belakang bendera itu terdapat gambar bulan sabit, pedang, matahari, bintang, dan beberapa ayat suci Al Quran.

    Kerajaan Bugis Bone Sulawesi Selatan juga menggunakan bendera merah putih sebagai simbol kekuasaan dan kejayaan kerajaan. Bendera itu biasa disebut sebagai Woromporang.

    Pada tahun 1825-1830 Masehi, pasukan Pangeran Diponegoro menggunakan bendera merah putih sebagai simbol perlawanan dalam berjuang melawan Belanda. 

    Baca Juga: Silsilah Kerajaan Majapahit, Peninggalan & Masa Kejayaannya

    2. Sejarah Bendera Saat Kemerdekaan

    Pengibaran Bendera Merah Putih Saat Kemerdekaan
    Pengibaran Bendera Merah Putih Saat Kemerdekaan | Sumber Gambar: Kompas.com

    Setelah membahas sejarah bendera Indonesia di masa kerajaan, kini kamu akan mengulik kilas baliknya saat hari kemerdekaan Indonesia. Awal abad ke-20, para pelajar dan kaum nasionalis mampu menghidupkan kembali bendera merah putih guna menumbuhkan rasa nasionalisme.

    Sekitar tahun 1922, perhimpunan Indonesia di Belanda mampu mengibarkan bendera merah putih dengan kepala banteng pada bagian tengahnya. Lalu, pada tahun 1927, Presiden Ir. Soekarno mulai mendirikan (PNI) Partai Nasional Indonesia dengan lambang bendera merah putih dihiasi kepala banteng untuk organisasinya.

    Pada masa penjajahan Jepang, tanggal 7 September 1944, Jepang memperbolehkan Indonesia untuk merdeka. Lalu, pada tanggal 12 September 1944, Dewan Pertimbangan Pusat menggelar sidang tak resmi guna membahas penggunaan bendera dan lagu kebangsaan di pimpin Soekarno.

    Ki Hajar Dewantara sendiri memiliki tugas untuk membentuk panitia meneliti bendera dan lagu kebangsaan. Hasilnya, bendera merah putih harus punya ukuran panjang 3 meter dan lebar 2 meter. Ukuran itu sama dengan ukuran bendera Jepang saat itu.

    Lalu, Ir. Soekarno memerintahkan Chaerul Basri mengambil kain dari gudang penyimpanan. Kemudian Fatmawati, istri Ir. Soekarno, menjahit kain itu membentuk perwujudan fisik dari bendera merah putih. Agar pada 17 Agustus 1945, saat upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia bender bisa dikibarkan.

    Pengibaran bendera merah putih saat itu akhirnya terjadi di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta Pusat oleh Latief Hendraningrat, Suhud, dan SK Trimurti.

    3. Sejarah Bendera setelah Kemerdekaan

    Pengibaran Bendera 17 Agustus 1947
    Pengibaran Bendera 17 Agustus 1947 | Sumber Gambar: Pinterest

    Sejarah bendera merah putih berlanjut pada 4 Januari 1946. Di mana presiden, wakil presiden, dan para menteri sementara pindah ke Yogyakarta dengan membawa bendera pusaka Indonesia sebab alasan keamanan.

    Namun, pada 19 Desember 1948, Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda. Sehingga, Husein Mutahar, ajudan Ir. Soekarno mengungsikan bendera merah putih. Sebelum itu, Husein membagi bendera itu menjadi dua bagian secara terpisah, yaitu warna merah dan putih dalam dua tas berbeda dengan alasan keamanan.

    Pada 6 Juli 1949, bendera dikembalikan kepada Presiden Soekarno yang ada di daerah pengungsian Bangka Belitung. Lalu, bendera merah putih dijahit kembali. Setelah itu, tanggal 17 Agustus 1948, bendera pusaka telah berkibar kembali di Gedung Agung, Yogyakarta.

    Pada tahun 1958, bendera merah putih telah menjadi bendera pusaka kebangsaan Indonesia dan selalu berkibar pada peringatan hari Kemerdekaan Indonesia di Istana Merdeka. Sayangnya, tanggal 17 Agustus 1968 menjadi terakhir kali bendera pusaka asli berkibar. Ini terjadi karena warnanya sudah pudar dan rapuh.

    Sejak saat itu, Indonesia hanya mengibarkan replika bendera merah putih. Bendera asli tersimpan rapi dalam vitrin terbuat dari plexiglass bentuk trapesium di Ruang Bendera Pusaka di Istana Merdeka. Lalu, pada tahun 2007, terjadi pemindahan bendera pusaka ke Monumen Nasional agar aman.

    Makna Bendera Merah Putih

    Bendera merah putih memiliki makna filosofis yang mendalam juga beragam. Di antaranya merah berarti berani dan putih berarti suci. Adapun makna lain, yakni merah dan putih sebagai lambang tubuh dan jiwa manusia. Jadi, kedua warna itu saling melengkapi dan menyempurnakannya sebagai identitas negara.

    Dalam sejarah bendera merah putih, Ir. Soekarno menyatakan bahwa makna merah dan putih berasal dari penciptaan manusia. Artinya, merah merupakan simbol darah wanita, sedangkan putih simbol sperma pria. Selain itu, beliau menyebutkan bahwa merah itu wujud dari tanah nusantara dan putih wujud dari getah tumbuhan.

    Larangan Terhadap Perlakuan Bendera Pusaka

    Setelah mengetahui sejarah bendera merah putih, ternyata ada larangan terhadap perlakuan bendera yang tak boleh kamu lakukan. Hal tersebut tertera dalam Pasal 24 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 dan terdiri atas hal-hal berikut:

    • Setiap warga Indonesia tidak boleh merusak, merobek, menginjak-injak, membakar, serta melakukan perbuatan lain dengan maksud menodai, menghina, dan merendahkan kehormatan bendera negara.
    • Tak boleh memakai bendera negara untuk iklan komersial atau reklame.
    • Sebagai warga Indonesia dalam mengibarkan bendera negara, bendera tidak boleh dalam keadaan robek, rusak, kusut, kusam, dan luntur.
    • Tidak boleh mencetak, menyulam, dan menulis huruf, angka, gambar lain dan memasang lencana atau benda apapun pada bendera merah putih.
    • Tidak boleh memakai bendera negara untuk langit-langit, atap, pembungkus barang, dan tutup barang yang bisa menurunkan kehormatan bendera merah putih.

    Jika melakukan berbagai larangan di atas, maka akan terpidana penjara maksimal sekitar 5 tahun atau denda maksimal Rp500.000.000,00.

    Aturan Pengibaran Bendera Merah Pusaka

    Pengibaran bendera pusaka juga memiliki punya aturan sendiri. Sebagaimana tertera dalam UU Nomor 24 Tahun 2009 mengenai Bendera, Bahasa, lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Aturan himbauan pemasangan bendera pusaka tertera pada pasal 7, yaitu sebagai berikut:

    • Pengibaran bendera pusaka terjadi dari matahari terbit hingga terbenam.
    • Keadaan tertentu pengibaran bendera pusaka, boleh terjadi pada malam hari.
    • Bendera merah putih wajib berkibar saat hari peringatan Kemerdekaan 17 Agustus. Wajib untuk setiap warga negara yang menguasai beberapa hal.

    Meliputi hak pengguna rumah, kantor atau gedung, transportasi umum, pendidikan, transportasi pribadi di seluruh Negara Kesatuan Republik Indonesia dan perwakilan Republik Indonesia di luar negeri.

    • Selain pengibaran peringatan kemerdekaan 17 Agustus. Bendera pusaka boleh berkibar saat peringatan hari besar nasional atau peristiwa lainnya.
    • Dalam rangka pengibaran bendera merah putih di rumah, pemerintah daerah harus memberikan bendera pada setiap warga yang tak mampu.

    Selain itu, terdapat aturan pengibaran bendera setengah tiang sebagai tanda penghormatan terakhir terhadap tokoh pemerintah yang meninggal dunia atau hari peringatan tertentu. Berikut adalah tata caranya sebagaimana tertera pada pasal 14 ayat 2 dan 3 UU Nomor 24 Tahun 2009:

    • Pengibaran bendera setengah tiang, yakni bendera dinaikkan hingga ujung tiang. Lalu, berhenti sejenak dan diturunkan setengah tiang.
    • Penurunan bendera setengah tiang, caranya bendera dinaikkan dahulu hingga ujung tiang. Lalu, berhenti sejenak dan setelah itu diturunkan.

    Baca Juga: Peristiwa Rengasdengklok: Latar Belakang, Tokoh, & Tujuannya

    Kamu Sudah Tahu Bagaimana Sejarah Bendera Merah Putih?

    Nah, itu dia ulasan mengenai sejarah bendera merah putih. Kamu juga sudah memahami bahwa, bendera merah putih memiliki makna sangat mendalam bagi bangsa. Serta tidak bisa kamu perlakukan secara sembarangan.

    Kamu juga harus tahu bahwa ukuran bendera memiliki aturan sendiri tergantung pada penggunaannya. Misalnya untuk bendera di ruangan ukurannya 100×150 cm. Lalu, di lapangan umum adalah 120×180 cm. Jadi, tidak perlu bingung jika menemukan ukuran bendera yang berbeda-beda, ya!

  • Strategi Dakwah Walisongo di Nusantara untuk Menyebarkan Islam

    Strategi Dakwah Walisongo di Nusantara untuk Menyebarkan Islam

    Apakah Anda tahu seperti apa strategi dakwah Walisongo di Nusantara dalam menyebarkan agama Islam? Walisongo atau Wali Songo merupakan 9 wali yang memiliki peran sangat besar dalam perkembangan Islam hingga menjadi agama mayoritas di Indonesia.

    Masing-masing wali mempunyai metode yang berbeda dalam menyebarkan Islam. Itulah yang membuat masyarakat di Nusantara pada waktu itu mau menerima ajaran Islam di tengah superiornya agama Hindu. Lalu, metode apa yang digunakan para wali sembilan tersebut?

    Inilah Strategi Dakwah Walisongo di Nusantara

    Seperti penjelasan sebelumnya, setiap wali mempunyai metode masing-masing di dalam menyebarkan agama Islam. Khususnya Sunan Kalijaga yang menyebarkan Islam melalui cara-cara unik sehingga masyarakat mudah menerima Islam.

    1. Sunan Ampel

    Gambar Sunan Ampel
    Gambar Sunan Ampel | Sumber gambar: kompas.com

    Sunan Ampel atau Raden Muhammad Ali (Raden Rahmat) lahir di Cempaka pada 1401. Campa merupakan kerajaan yang dulu berlokasi di Vietnam. Berdasarkan nasabnya, beliau adalah anak putri dari Raja Campa.

    Beliau juga merupakan keponakan Raja Majapahit serta bibinya merupakan permaisuri Prabu Kertawijaya alias Raden Brawijaya. Menurut sejarah, Raden Brawijaya memimpin mulai dari tahun 1447 hingga 1451.

    Terdapat beberapa strategi dakwah yang Sunan Ampel terapkan dalam menyebarkan Islam. Adapun salah satu yang paling populer yaitu dengan mengajarkan 5 dasar. Ajaran tersebut terkenal dengan istilah “moh limo“.

    Jika menerjemahkannya ke Bahasa Indonesia maka artinya “tidak lima”. Ini merupakan ajaran yang isinya yaitu moh main (tidak main judi), moh maling (tidak mencuri), moh ngombe (tidak mabuk), moh madon (tidak berzina), dan moh madat (tidak makan obat terlarang).

    2. Sunan Bonang

    Sunan Bonang atau Raden Makdum Ibrahim lahir serta tumbuh dalam asuhan keluarga yang termasuk ningrat serta agamis. Beliau lahir pada 1465 M di Surabaya. 

    Dalam menyebarkan Islam, beliau menerapkan pendekatan berupa akulturasi budaya. Sunan Bonang memiliki keterampilan di bidang seni serta sastra. Hal tersebut yang membuat masyarakat menganggap beliau sebagai sosok penting sebagai seniman dalam mengajarkan Islam.

    Sunan Bonang juga menggunakan alat musik sebagai media dakwah. Adapun alat musik tersebut berupa seperangkat gamelan. Menurut beberapa sumber, nama dari Sunan Bonang sendiri berasal dari alat gamelan yang merupakan ciptaan beliau.

    Gamelan adalah alat musik tradisional Suku Jawa dari bahan kuningan serta pemukulnya dari kayu. Gamelan mempunyai bentuk lingkaran dan terdapat tonjolan pada tengahnya. Ketika memainkan gamelan dengan memukulnya, bunyi yang keluar khas dan merdu.

    Ketika memainkan gamelan, banyak masyarakat yang tertarik untuk datang dan mendengarkannya. Apalagi, masyarakat Tuban pada waktu itu terkenal sangat menjunjung budaya Jawa. 

    Selain itu, masyarakat Tuban juga masih menganut ajaran Hindu dan Buddha. Namun, strategi dakwah yang diterapkan Sunan Bonang mampu diterima masyarakat dengan mudah. Bahkan perlahan banyak yang memeluk Islam dan semakin lama semakin berkembang.

    3. Sunan Gresik

    Selanjutnya ada strategi dakwah Walisongo di Nusantara yang dilakukan oleh Sunan Gresik. Beliau mempunyai nama asli Maulana Malik Ibrahim yang juga merupakan salah satu wali paling awal di dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa.

    Bahkan, beberapa sumber menyebutkan jika Sunan Gresik merupakan sosok yang pertama kali menyebarkan Islam di Pulau Jawa. Strategi dakwah beliau lebih berfokus pada pendidikan serta perdagangan.

    Beliau pertama kali menyebarkan Islam lewat perdagangan. Tujuannya agar masyarakat tak kaget dengan ajaran yang memang masih dianggap baru. Bukan itu saja, beliau juga melakukan dakwah dengan bertani sehingga masyarakat mulai tertarik dan perlahan menerima dan memeluk ajaran Islam.

    Saat banyak masyarakat yang sudah menerima ajaran Islam, kemudian Sunan Gresik mulai membangun surau di rumahnya di Desa Sawo. Selain sebagai tempat ibadah, surau tersebut juga berfungsi sebagai pondok pesantren.

    4. Sunan Drajat

    Sunan Drajat atau Raden Qasim merupakan sosok wali yang lahir di Surabaya, tepatnya di Ujung Galuh pada 1470 dan beliau merupakan adik Sunan Bonang.

    Dalam menyebarkan ajaran Islam di Nusantara, khususnya Jawa beliau mempunyai cara tersendiri. Metode dakwah beliau juga mudah dipahami serta diterima masyarakat. Berikut beberapa metode dakwah dari Sunan Drajat.

    • Memangun resep tyasing sasama atau membuat senang orang lain
    • Jroning suka kudu eling lan waspada atau dalam keadaan gembira, sebaiknya tetap ingat pada Tuhan serta selalu waspada
    • Laksitaning subrata tan nyipta marang pringga bayaning lampah atau untuk bisa mencapai cita-cita yang luhur, jangan sampai menghiraukan halangan serta rintangan
    • Meper hardaning pancadriya atau senantiasa untuk berjuang menekan hawa nafsu yang bersifat duniawi
    • Heneng-Hening-Henung atau diam akan tercapai keheningan, dalam hening tercapai jalan kebebasan yang mulia
    • Mulya guna panca waktu atau pencapaian kemuliaan secara lahir batin akan dicapai dengan cara menjalani kewajiban shalat lima waktu
    • Menehono teken marang wong kang wuto. Menehono mangan marang wong kang luwe. Menehono busana marang wong kang muda. Menehono ngiyup marang wong kang kaudanan. Artinya, berikan tongkat ke orang buta, memberi makan pada orang lapar, memberi pakaian pada orang yang tak berpakaian, serta memberikan tempat berteduh pada orang yang kehujanan

    5. Sunan Kalijaga

    Gambar Sunan Kalijaga
    Gambar Sunan Kalijaga | Sumber gambar: jabarekspres.com

    Berikutnya ada strategi dakwah Walisongo di Nusantara oleh Sunan Kalijaga. Beliau mempunyai nama asli Raden Said yang lahir di Tuban pada tahun 1450. Sunan Kalijaga merupakan anak Bupati Tuban pada waktu itu yang bernama Tumenggung Wilatikta.

    Beliau memang terkenal sebagai seorang wali yang menyebarkan Islam dengan cara-cara unik. Sunan Kalijaga menjadikan seni serta budaya sebagai media dalam menyebarkan Islam. Salah satu media dakwah beliau yang terkenal adalah wayang.

    Sunan Kalijaga membuat pertunjukan secara gratis dan siapa saja boleh menonton pertunjukkan tersebut. Melalui pertunjukan inilah beliau menyisipkan nilai-nilai ajaran Islam dan masyarakat pun sangat antusias sehingga semakin tertarik mengenal Islam.

    6. Sunan Kudus

    Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq lahir pada tahun 1400. Beliau berdakwah di kawasan Kudus, Jawa Tengah. Beliau terkenal sebagai sosok yang tegas di dalam menegakkan ajaran Islam. Bahkan beliaulah yang merupakan eksekutor Syaikh Siti Jenar atau Ki Ageng Pengging.

    Metode dakwah Sunan Kudus yaitu dengan cara mendekati apa yang menjadi kebutuhan masyarakat setempat. Beliau juga yang mengajarkan alat-alat pertukangan, bagaimana membuat keris pusaka, membuat kerajinan emas, dan sebagainya.

    7. Sunan Giri

    Gambar Sunan Giri
    Gambar Sunan Giri | Sumber gambar: sindonews.com

    Sunan Giri atau Muhammad Ainul Yakin lahir pada 1442 dan merupakan anak dari Syaikh Maulana Ishaq serta Dewi Sekardadu. Ibu beliau merupakan putri Menak Sembuyu, penguasa di wilayah Belambangan yang berada di ujung dari Kerajaan Majapahit.

    Strategi dakwah Sunan Giri yaitu memanfaatkan perniagaan, kekuasaan, serta pendidikan. Melalui cara tersebut, beliau mampu memberikan pengaruh di tanah Banjar, Pasir, Martapura, Kutai, Maluku, dan Nusa Tenggara.

    8. Sunan Gunung Jati

    Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah lahir di Kairo, Mesir pada tahun 1448. Metode beliau dalam menyebarkan Islam yaitu dengan cara menguatkan kedudukan politik.

    Beliau banyak menjalin hubungan dengan para tokoh di Cirebon, Demak, dan Banten. Melalui hubungan yang terjalin perlahan, Islam menyebar dan berkembang sampai menjadi agama paling banyak dianut hingga sekarang.

    9. Sunan Muria

    Sebagai putra dari Sunan Kalijaga, beliau memiliki nama asli Raden Said atau Umar Said yang lahir pada 1450 serta merupakan sunan termuda di antara kesembilan wali. Sunan Muria menyebarkan Islam dengan cara yang hampir sama seperti ayahnya.

    Sunan Muria melestarikan gamelan serta seni boneka sebagai media dakwah. Bukan hanya itu, beliau juga menciptakan beberapa tembang dan lagu dengan menyelipkan nilai-nilai atau pesan ajaran Islam.

    Baca Juga: 3 Periodisasi Perkembangan Peradaban Islam Secara Lengkap

    Sudah Tahu Strategi Dakwah Walisongo di Nusantara?

    Sekian pembahasan tentang seperti apa strategi dakwah Walisongo di Nusantara. Semua wali tersebut telah berjasa besar dalam mengajarkan dan menyebarkan Islam hingga menjadi agama yang paling banyak dianut di Indonesia.

  • Susunan Organisasi BPUPKI & Latar Belakang Pembentukannya

    Susunan Organisasi BPUPKI & Latar Belakang Pembentukannya

    Susunan organisasi BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) terbentuk untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia atas dalih dari pihak Jepang. Pembentukan BPUPKI ini punya tujuan saling menguntungkan pada kedua belah pihak, baik itu Indonesia maupun Jepang.

    Umpan Jepang atas janji memerdekakan Indonesia, menjadi peluang bangsa Indonesia bangkit dari keterpurukannya. Memang tak mudah, tapi andil dari tokoh BPUPKI patut dihargai atas persiapan kemerdekaan Indonesia. Lalu, siapa saja tokoh yang adalah dalam susunan BPUPKI? Mari simak ulasannya berikut ini!

    Latar Belakang Pembentukan BPUPKI

    Awal mulanya, Jepang punya impian untuk membangun kawasan persemakmuran bersama Asia Timur Raya yang masih dalam kontrol kuasanya. Namun sayangnya, terjadi serangan dadakan dari Pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour pada 7 Desember 1941. 

    Pada tahun 1942, Jepang sigap melakukan ekspansi di berbagai kawasan Asia Tenggara seperti Singapura, Filipina, bahkan Indonesia. Awalnya, kedatangan Jepang sempat menjadi harapan baru bagi Indonesia, namun seketika langsung sirna atas perlakuan mereka yang seenaknya. 

    Setelah itu, Jepang ingin menguasai wilayah Australia, namun mengalami serangan telak dari pertempuran laut karang oleh Amerika pada tahun 1942. Lalu, sekitar tahun 1944, mulai terjadi pengeboman sehingga Jepang kehilangan pangkalan laut sebab krisis kabinet. Sehingga wilayah Saipan jatuh ke pihak sekutu.

    Selain itu, pasukan Jepang berada di wilayah Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan Kepulauan Marshall yang juga kalah telak dengan sekutu. Jadi, seluruh garis pertahanan Jepang di Pasifik telah hancur akibat serangan ekspansi dari pihak sekut. Kekalahan Jepang makin tampak dan membuat mereka getir.

    Serangan udara juga terlihat pada wilayah kota Ambon, Manado, Makassar, dan Surabaya. Bahkan pasukan sekutu mulai mendarat pada daerah penghasil minyak, seperti Balikpapan dan Tarakan. Kedudukan pun Jepang mulai terancam di kawasan Asia Pasifik.

    Sejarah Terbentuknya BPUPKI

    BPUPKI
    BPUPKI | Sumber Gambar: Wikimedia Commons

    Dalam menghadapi krisis tersebut, Jepang berpikir untuk mengumpulkan orang pribumi guna menambah kekuatan dalam kontrol strategi pertahanan diri dari serangan sekutu. Pemerintahan Jepang berusaha memikat hati bangsa Indonesia melalui janji kemerdekaan atas dalih pimpinan Letnan Jenderal Kumakichi Harada.

    Pada tanggal 9 September 1944, bangsa Indonesia boleh menyanyikan lagu kebangsaan dan mengibarkan bendera bersebelahan dengan bendera Jepang. Padahal, sebelumnya larangan tersebut sangat ketat. 

    Lalu, pada 1 Maret 1945, Letnan Jenderal Kumakici Harada mengumumkan atas pembentukan BPUPKI (Dokuritsu Junbi Cosakai). Tujuannya untuk menyelidiki dan mempersiapkan hal penting terkait persiapan pembentukan negara  Indonesia yang merdeka. 

    Pada tanggal 29 April 1945, secara resmi terbentuknya BPUPKI yang berlangsung di gedung Cuo Sangi In, Jakarta, bertepatan dengan hari lahirnya Kaisar Hirohito. Pembentukan itu memuat susunan organisasi BPUPKI yang ikut andil mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. 

    K.RT Radjiman Wedyodiningrat terpilih menjadi ketua dan wakil ketuanya bernama Ichibangase Yosio dan Suroso. Selain itu, R.P Suroso juga terpilih sebagai Kepala Sekretariat, dibantu oleh Toyohito Masuda dan Pringgodigdo.

    Pada dasarnya, pembentukan BPUPKI adalah bentuk simbiosis mutualisme antara pihak Jepang maupun Indonesia. Indonesia menganggap ini sebagai peluang untuk mempersiapkan kemerdekaannya. Sementara bagi Jepang, pembentukan itu hanya untuk memikat hati rakyat dan bisa lebih mengontrol pergerakan kemerdekaan. 

    Susunan Organisasi BPUPKI

    Mulanya susunan organisasi terdiri dari 67 anggota (60 orang Indonesia dan 7 orang Jepang). Lantas, siapa anggota susunan organisasi BPUPKI tersebut? Ini uraiannya:

    1. Susunan Anggota BPUPKI Sidang Pertama 

    Berikut adalah rincian susunan awal anggota BPUPKI, meliputi:

    1. Ir. Soekarno
    2. Mohammah Hatta
    3. Ki Hajar Dewantara
    4. Raden Suleiman Effendi Kusumaatmaja
    5. Samsi Sastrawidagda
    6. Sukiman Wiryosanjoyo
    7. Kanjeng Raden Mas Hario Sosrodiningrat
    8. KH A Ahmad Sanusi
    9. KH Wahid Hasyim
    10. H Agus Salim
    11. Raden Ashar Sutejo Munandar
    12. Abdul Kahar Muzakir
    13. Raden Mas Panji Surahman Cokroadisuryo
    14. Raden Ruseno Suryo Hadikusumo
    15. KH Abdul Halim Majalengka (Muhammad Syatari)
    16. KRMT Ario Wuryaningrat
    17. Ki Bagus Hadikusumo
    18. KH Mas Mansoer
    19. KH Masjkur
    20. Agus Muhsin Dasaad
    21. Liem Koen Hian
    22. Mas Aris Mas
    23. Sutarjo Kartohadikusumo
    24. AA Maramis
    25. Kanjeng Raden Mas Tumenggung Wongsonegoro
    26. Mas Susanto Tirtoprojo
    27. Mohammad Yamin
    28. Raden Ahmad Subarjo
    29. Raden Hendromartono
    30. AR Baswedan
    31. Raden Mas Sartono
    32. Raden Panji Singgih
    33. Raden Syamsudin
    34. Raden Suwandi
    35. Raden Sastro Mulyono
    36. Yohanes Latuharhary
    37. Raden Ayu Maria Ulfah Santoso
    38. Raden Nganten Siti Sukaptinah Sunaryo Mangoenpoespito
    39. Oey Tiang Tjoei
    40. Oey Tjong Hauw
    41. Bandoro Pangeran Hario Purubojo
    42. PF Dahler
    43. Parada Harahap
    44. Soepomo
    45. Pangeran Ario Husein Jayadiningrat
    46. Raden Jenal Asikin Wijaya Kusuma
    47. Raden Abdul Kadir
    48. Raden Abdulrahim Pratalykrama
    49. Raden Abikusno Cokrosuyoso
    50. RAA Purbonegoro Sumitro Kolopaking
    51. Raden Adipati Wiranatakoesoema V
    52. Raden Mas Margono Joyohadikusumo
    53. RMTA Suryo
    54. R Otto Iskandardinataha
    55. Raden Ruslan Wongsokusumo
    56. Raden Sudirman
    57. Raden Sukarjo Wiryopranoto
    58. Raden Buntaran Martoatmodjo
    59. Bendoro Pangeran Hario Bintoro
    60. Tan Eng Hoa
    61. Matuura Mitutoyo
    62. Miyano Syozoo
    63. Tanaka Minoru
    64. Itagaki Masumitsu
    65. Masuda Toyohiko
    66. Ide Teitiroo
    67. Tokonami Tokuzi

    2. Susunan Anggota BPUPKI Sidang Kedua

    Pembentukan BPUPKI berlangsung selama dua kali sidang. Pada sidang kedua susunan organisasi BPUPKI mengalami perubahan. Berikut adalah 6 anggota dari Indonesia:

    • Abdul Kaffar
    • BKPA Suryohamijoyo
    • KH Abdul Fatah Hasan
    • Raden Asikin Natanegara
    • Pangeran Mohammad Noor
    • Mas Besar Martokusumo

    Hasil Sidang BPUPKI

    Setelah mengetahui susunan organisasi BPUPKI, Anda akan mengetahui hasil sidang yang berlangsung dua kali. Tentu saja, hasil sidang mengalami proses kesepakatan panjang dari beberapa pemikiran para tokoh. Berikut penjelasan hasil sidang pertama dan kedua melalui orasi para tokoh penting:

    1. Sidang Pertama

    Sidang BPUPKI
    Sidang BPUPKI | Sumber Gambar: Kompas

    Sidang pertama berlangsung pada tanggal 29 Mei 1945, membahas mengenai perumusan dasar negara Indonesia. Gagasan pemikiran tiga tokoh penting dari susunan organisasi BPUPKI yang akan tersampaikan melalui orasi terkait rumusan 5 prinsip dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia, antara lain:

    1. Mohammad Yamin

    Pada 29 Mei 1945, sidang berlangsung dari Prof. Mohammad Yamin dalam mengemukakan gagasannya, berupa:

    • Peri Kebangsaan
    • Peri Kemanusiaan
    • Peri Ketuhanan
    • Peri Kerakyatan
    • Kesejahteraan Rakyat

    2. Prof. Dr. Soepomo

    Lalu, berlanjut pada 31 Mei 1945. Atas gagasan pemikiran Prof. Dr. Soepomo mengenai rumusan lima prinsip dasar negara. Ini disebut “Dasar Negara Indonesia Merdeka”, yakni:

    • Persatuan
    • Kekeluargaan
    • Keseimbangan
    • Musyawarah
    • Keadilan Sosial

    3. Ir. Soekarno

    Pada tanggal 1 Juni 1945, masih melanjutkan sidang yang lalu. Di mana Ir. Soekarno menyampaikan pemikiran perihal rumusan lima prinsip dasar negara Indonesia sebut saja “Pancasila”. Ini dia rincian gagasan Soekarno, berupa:

    • Kebangsaan Indonesia
    • Internasionalisme dan Peri Kemanusiaan
    • Mufakat atau Demokrasi
    • Kesejahteraan Sosial
    • Ketuhanan Yang Maha Esa

    Menurut beberapa gagasan pemikiran tersebut, rumusan 5 prinsip dasar negara sepakat menggunakan gagasan milik Ir. Soekarno berupa Pancasila. Ini menjadi pondasi dan ideologi Indonesia.

    2. Sidang Kedua

    Sidang Kedua
    Sidang Kedua | Sumber Gambar: Wikimedia Commons

    Sidang kedua BPUPKI menghasilkan rumusan dasar negara dan rancangan Undang-Undang Dasar. Memulai dengan penambahan 6 anggota baru dalam susunan organisasi BPUPKI sebagai badan penyelidik. 

    Adapun pertemuan tanggal 1 Juni 1945, menghasilkan panitia beranggotakan 8 orang untuk mengidentifikasi usulan BPUPKI, yakni:

    • Ir. Soekarno
    • Moh. Hatta
    • Mr. A. A. Maramis
    • Sutardjo
    • A Wachid Hasyim
    • Ki Bagus Hadikusumo
    • Otto Iskandardinata 
    • Mohammad Yamin

    Namun, terjadi perbedaan pendapat, sehingga tanggal 22 Juni 1945 Soekarno mengadakan pertemuan membentuk panitia sembilan. Tujuannya untuk mengatasi perbedaan tersebut.

    Ini meliputi Soekarno, Wachid Hasyim, Mr. Maramis, Mr. Soebardjo, Moh. Hatta, Moh. Yamin, Kh Abdul Kahar Muzakir, Abikusno Tjoko Soejoso, dan Haji Agus Salim. 

    Sehingga menghasilkan usulan rancangan hukum dasar yang Mohammad Yamin populerkan dengan sebutan Piagam Jakarta. Konsepnya atas dasar kesepakatan dari gagasan alinea keempat. Setelah menyepakati bersama secara resmi BPUPKI dibubarkan.

    Baca Juga: Mengenal Daftar Anggota BPUPKI dan Tugas-tugas Pokoknya

    Sudah Tahu Bagaimana Susunan Organisasi BPUPKI?

    Itulah ulasan mengenai susunan organisasi BPUPKI dan latar belakang pembentukannya, berikut hasil sidang persiapan kemerdekaan Indonesia. Melepas belenggu penjajah tidak mudah, namun para tokoh yang andil dalam sidang BPUPKI telah berperan besar berusaha berjuang mencapai kesepakatan.

    Di mana ini peluang untuk memaksimalkan peluang kemerdekaan Indonesia. Mempelajari sejarah BPUPKI menjadi salah satu upaya agar Anda dapat menghargai dan menghormati jasa para pejuang. Semoga artikel ini bisa menambah wawasan tentang BPUPKI, ya!

  • Sejarah Kerajaan Mataram Kuno dan 9 Bukti Peninggalannya

    Sejarah Kerajaan Mataram Kuno dan 9 Bukti Peninggalannya

    Sejarah Kerajaan Mataram Kuno menjadi salah satu bagian penting dari warisan budaya Indonesia. Kerajaan ini pernah berkuasa di Nusantara dan meninggalkan jejak sejarah yang kaya.

    Artikel ini akan mengajak Anda untuk menelusuri lebih jauh tentang Kerajaan Mataram Kuno, lengkap dengan masa kejayaan hingga bukti-bukti peninggalannya. Yuk, simak dengan saksama!

    Sejarah Kerajaan Mataram Kuno

    Sejarah Kerajaan Mataram Kuno
    Sejarah Kerajaan Mataram Kuno | Sumber gambar: Freepik.com

    Kerajaan Mataram Kuno adalah kerajaan Hindu-Budha yang berdiri pada abad ke-8 di bagian selatan Jawa Tengah. 

    Awalnya, pusat kerajaan ini berada di Bhumi Mataram atau sekarang lebih dikenal sebagai Yogyakarta. Namun, kemudian pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno mengalami beberapa perpindahan hingga akhirnya berada di Jawa Timur. 

    Pendiri dari Kerajaan Mataram Kuno adalah Raja Sanjaya. Dia memerintah antara tahun 732 hingga 760 Masehi. Raja Sanjaya terkenal sebagai seorang pemimpin yang bijaksana, cakap, adil, dan taat dalam agama. 

    Di masa pemerintahannya, wilayah Kerajaan Mataram Kuno terus berkembang dan rakyatnya mengalami kemakmuran.

    Pada pertengahan abad ke-8, Raja Sanjaya meninggal dunia dan Rakai Panangkaran yang menggantikannya. Kerajaan Mataram Kuno terbagi menjadi dua, setelah Rakai Panangkaran wafat.

    Dinasti Sanjaya memerintah Kerajaan Mataram Kuno yang menganut agama Hindu di bagian utara Jawa Tengah. Sementara Dinasti Syailendra, memerintah Kerajaan Mataram Kuno dengan penganut agama Buddha di bagian selatan Jawa Tengah.

    Kedua dinasti ini berhasil menjalankan pemerintahan dengan baik, meskipun memiliki perbedaan keyakinan agama. Sering kali kerajaan ini mengadopsi strategi pemerintahan dimana kedua dinasti saling melengkapi dan memimpin bersama-sama.

    Masa Kejayaan

    Menurut sejarah Kerajaan Mataram Kuno, masa pemerintahan Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra menjadi puncak kejayaan kerajaan ini. Kemajuan terjadi di berbagai aspek, termasuk politik, pengetahuan, budaya, seni, dan sosial.

    Raja pertama dari Dinasti Syailendra di Kerajaan Mataram Kuno adalah Sri Dharmatungga. Di masa pemerintahannya, wilayah kekuasaannya mencakup Semenanjung Malaka.

    Setiap kali terjadi pergantian pemimpin, Kerajaan Mataram Kuno semakin berkembang dan mendapatkan reputasi yang gemilang. Indra atau Syailendra selanjutnya menggantikan Sri Dharmatungga.

    Setelah itu, kepemimpinan Kerajaan Mataram Kuno berpindah kepada Samaratungga. Seni dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan pesat pada periode ini.

    Akhirnya, Kerajaan Mataram Kuno bersatu kembali setelah pernikahan antara Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya dan Pramodhawardhani dari Dinasti Syailendra.

    Kerajaan ini juga mengalami masa kejayaan ketika berada di bawah pemerintahan Raja Balitung. Raja Balitung memerintah dari tahun 898 hingga 911 M. Ia memiliki gelar Sri Maharaja Rakai Wafukura Dyah Balitung Sri Dharmadya Mahasambu.

    Di masa ini terjadi kemajuan yang signifikan dalam berbagai aspek, seperti politik, pemerintahan, ekonomi, agama, dan kebudayaan.

    Salah satu prestasinya adalah pembangunan Candi Prambanan, sebuah candi yang anggun, megah, dan dihiasi oleh relief-relief yang indah. Sayangnya, setelah masa kekuasaannya berakhir, kerajaan ini mengalami kemunduran.

    Letak Wilayah Kerajaan Mataram Kuno

    Letak Wilayah Kerajaan Mataram Kuno
    Letak Wilayah Kerajaan Mataram Kuno | Sumber gambar: Freepik

    Menurut para ahli, lokasi Kerajaan Mataram Kuno teridentifikasi di wilayah Medang dan Poh Pitu. Namun, informasi mengenai letak Poh Pitu masih belum jelas hingga saat ini.

    Dalam beberapa catatan sejarah Kerajaan Mataram Kuno, ada yang menyatakan kerajaan ini berada di sekitar daerah yang dikelilingi oleh gunung, pegunungan, dan sungai-sungai.

    Beberapa ahli menduga, kemungkinan besar pegunungan di sebelah utara Kerajaan Mataram Kuno adalah Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sumbing, dan Sindoro.

    Di sebelah baratnya terdapat Pegunungan Serayu, sedangkan di sebelah timurnya terletak Gunung Lawu. Sementara di sebelah selatan, wilayah kerajaan ini berdekatan dengan Laut Selatan dan Pegunungan Seribu.

    Selain itu, beberapa sungai seperti Sungai Bogowonto, Progo, Opak, dan Bengawan Solo juga dianggap berkaitan dengan wilayah ini. Poh Pitu sendiri kemungkinan berada di sekitar wilayah antara Kedu hingga Prambanan.

    Kemunduran Kerajaan Mataram Kuno

    Setelah Balitung, Raja yang memimpin Mataram Kuno adalah Daksa, Tulodong, dan Wawa. Ada beberapa faktor penyebab kemunduran ini. Termasuk bencana alam dan ancaman dari musuh, yakni Kerajaan Sriwijaya.

    Perpecahan dalam Kerajaan Mataram Kuno kembali muncul tidak lama setelah kematian Samaratungga. Balaputradewa, anak Samaratungga dengan Dewi Tara, menunjukkan sikap yang menentang pewaris tahta, Pikatan.

    Pertentangan ini akhirnya memicu perang perebutan kekuasaan antara Pikatan dan Balaputradewa. Balaputradewa membangun benteng pertahanan di perbukitan di sebelah selatan Prambanan dalam peperangan ini.

    Setelah itu, Balaputradewa yang terdesak kemudian melarikan diri ke Sumatera. Di sana ia menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya.

    Pertentangan antara keluarga Mataram terus berlanjut hingga masa pemerintahan Mpu Sindok pada tahun 929 M. Saat itu, kerajaan Sriwijaya terus menyerang Mataram Kuno.

    Mpu Sindok pada akhirnya memindahkan ibu kota kerajaan dari Medang ke Daha di Jawa Timur. Ia juga mendirikan dinasti baru yang bernama Dinasti Isyanawangsa.

    Konflik akhirnya berhenti pada masa pemerintahan Airlangga. Di tahun 1037 M, Airlangga menyatukan kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh Dharmawangsa, termasuk seluruh Jawa Timur.

    Kemudian Airlangga mengundurkan diri dari tahta kerajaan dan memilih untuk hidup menjadi seorang pertapa dengan nama Resi Gentayu (Djatinindra) di tahun 1042.

    Airlangga memerintahkan Mpu Bharada untuk membagi Kerajaan Mataram Kuno menjadi dua bagian, yaitu Kediri dan Janggala, dengan tujuan mencegah terjadinya perang saudara antara kedua putranya yang lahir dari seorang selir.

    9 Bukti Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

    Bukti Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno
    Bukti Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno | Sumber gambar: dictio.id

    Setelah mengetahui sejarah Kerajaan Mataram Kuno, penting juga untuk mengetahui beberapa bukti peninggalannya. Adapun 9 bukti-bukti peninggalan tersebut adalah sebagai berikut.

    1. Candi Prambanan

    Candi Prambanan adalah sebuah candi Hindu yang luar biasa dengan relief-relief yang menakjubkan. Selain itu, candi ini juga disebut sebagai Candi Rara Jonggrang. Prambanan telah ada sejak abad ke-9.

    Letaknya berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi ini didedikasikan untuk Trimūrti, yang melambangkan sebagai Pencipta, Pemelihara, dan Pengubah.

    2. Candi Borobudur

    Selanjutnya, ada Candi Borobudur yang menjadi candi paling terkenal sebagai salah satu peninggalan bersejarah dari Mataram Kuno. Letak candi ini berada di Magelang, Jawa Tengah.

    3. Candi Ngawen

    Peninggalan berikutnya adalah Candi Ngawen, sebuah candi Buddha yang terletak sekitar 5 km dari candi Mendut jika dari arah Yogyakarta. 

    Lokasinya berada di desa Ngawen, kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Berdasarkan perkiraan, candi ini didirikan oleh dinasti Syailendra pada abad ke-8.

    4. Prasasti Sojomerto (Abad ke-7)

    Prasasti Sojomerto menggunakan bahasa Melayu Kuno dan ditemukan di desa Sojomerto, kabupaten Pekalongan. Dalam prasasti ini mengungkapkan, Syailendra adalah penganut agama Budha.

    5. Prasasti Canggal (732 M)

    Tidak hanya prasasti Sojomerto, ada juga prasasti Canggal. Prasasti ini memiliki bentuk Candrasangkala dan ditemukan di Gunung Wukir, Desa Canggal. Di dalamnya terdapat peringatan tentang pembangunan Lingga di Desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya.

    6. Prasasti Kalasan (778 M)

    Prasasti Kalasan menggunakan aksara pranagari yang berasal dari India Utara dan berbahasa Sansekerta. Penemuan prasasti ini adalah di desa Kalasan, Yogyakarta.

    Di dalam prasasti tersebut, ada catatan tentang Raja Syailendra yang meyakinkan Rakai Panangkaran untuk mendirikan bangunan yang didedikasikan untuk Dewi Tara sebagai vihara untuk pendeta Buddha.

    7. Prasasti Kelurak (782 M)

    Penemuan prasasti Kelurak terjadi di desa Prambanan. Tulisan dalam prasasti ini menggunakan huruf Pranagari dan bahasa Sansekerta. 

    Prasasti ini berisikan tentang  pembangunan arca Manjusri sebagai representasi sang Budha, Dewa Wisnu, dan Sanggha.

    Selain itu, prasasti Kelurak juga mengisahkan tentang Raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadananjaya sebagai pemimpin di masa itu.

    8. Prasasti Ratu Boko (856 M)

    Peninggalan berikutnya, ada prasasti Ratu Boko. Prasasti tersebut mengisahkan tentang kemenangan Rakai Pikatan atau Pramodhawardani atas Balaputradewa dalam pertempuran merebut kekuasaan di Kerajaan Mataram Kuno.

    9. Prasasti Mantyasih (907 M)

    Penemuan prasasti Mantyasih ditemukan di Mantyasih, Kedu, Jawa Tengah. Di dalamnya memuat tentang silsilah raja-raja Mataram yang mendahului Baliti.

    Silsilah tersebut termasuk Raja Sanjaya, Rakai Panangkaran, Rakai Warak, Rakai Panunggalan, Rakai Garung, Rakai Watuhmalang, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi, dan Rakai Watukara Dyah Balitung.

    Baca Juga: Sejarah Kerajaan Mataram Islam, Raja-raja, dan Masa Kejayaan

    Apakah Sudah Paham Sejarah Kerajaan Mataram Kuno?

    Itulah pembahasan lengkap mengenai sejarah Kerajaan Mataram Kuno. Dengan sejarah yang kaya, Kerajaan Mataram Kuno meninggalkan warisan budaya berupa candi megah seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan, serta prasasti-prasasti bersejarah yang memberikan kita tambahan wawasan.

    Warisan budaya dan sejarah di balik Kerajaan Mataram Kuno terus menjadi bagian integral dari identitas budaya Indonesia. Selain itu, situs-situs bersejarahnya akan tetap menjadi daya tarik wisata yang menarik bagi pengunjung dari seluruh dunia. Semoga artikel ini bermanfaat, ya!

  • 10 Kerajaan Tertua di Indonesia Lengkap dengan Sejarahnya

    10 Kerajaan Tertua di Indonesia Lengkap dengan Sejarahnya

    Sebelum menganut sistem demokrasi, Indonesia memiliki sejumlah kerajaan yang cukup besar dan berpengaruh. Maka dari itu, tak heran jika masih ada cerita menarik tentang kerajaan tertua di Indonesia hingga peninggalannya.

    Berdasarkan temuan sejarahnya, kerajaan-kerajaan tertua di tanah air sudah mendapatkan pengaruh oleh agama Hindu dan Budha. Kemudian terjadilah akulturasi budaya asli yang bercampur dengan ajaran baru. Penasaran dengan kisah menarik tentang kerajaan? Simak penjelasannya di artikel ini.

    10 Kerajaan Tertua di Indonesia yang Paling Bersejarah

    Sampai sekarang, rasanya cerita tentang kerajaan tidak ada habisnya. Sebab ada fakta dan ajaran menarik yang bisa kita contoh serta jadikan tauladan. Berikut 10 kerajaan tertua di Indonesia beserta kisah sejarahnya, yaitu:

    1. Kerajaan Kutai

    Kerajaan Kutai
    Kerajaan Kutai | Sumber gambar: Good News From Indonesia

    Menurut perkiraan sejarawan, Kerajaan Kutai sudah ada sejak abad ke 5 masehi. Kerajaan ini terletak di tepi sungai Mahakam, Kalimantan Timur yang konon katanya kehidupan masyarakat sosialnya mengalami perpecahan.

    Selain itu, Kerajaan Kutai juga mendapat pengaruh dari Agama Hindu. Fakta ini dibuktikan dengan Raja Mulawarman dan Brahmana yang membangun tempat-tempat pemujaan untuk menghormati para dewa di agama Hindu.

    Kemudian peninggalan sejarahnya berupa tujuh batu bertulis (Yupa) yang menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa. Kutai juga dikenal sebagai Kerajaan Hindu tertua di Indonesia.

    2. Kerajaan Tarumanegara

    Kerajaan Tarumanegara
    Kerajaan Tarumanegara | Sumber gambar: Sampoerna Academy

    Selanjutnya, Kerajaan Tarumanegara yang memiliki pusat pemerintahan di wilayah Bogor, Jawa Barat. 

    Menurut sejarah, Tarumanegara adalah kerajaan yang dipengaruhi oleh budaya Hindu India. Kerajaan ini mengalami perkembangan yang sangat pesat pada tahun 400 hingga 600 masehi.

    Sementara peninggalannya, tersebar di seluruh wilayah Kabupaten dan jumlahnya ada 7 prasasti yang isinya sebagai berikut.

    1. Prasasti Ciaruteun

    Prasasti Ciaruteun adalah prasasti pertama dari Kerajaan Tarumanegara. Penemuannya ada di Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Pada prasasti ini juga ditemukan pahatan laba-laba, cak telapak kaki Raja Purnawarman dan sajak.

    1. Prasasti Pasir Awi (Prasasti Pasir Muara)

    Prasasti ini ditemukan di desa Pasir Awi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Isinya terdapat tentang telapak kaki dan tulisan Pallawa. Namun, isinya tidak bisa disimpulkan.

    1. Prasasti Cidanghiang

    Cidanghiang ditemukan di tepi Sungai Cidanghiang, Kecamatan Muncul, Kabupaten Pandeglang, Banten. Prasasti ini ditulis menggunakan teknik pahat berisikan pujian-pujian kepada Raja Purnawarman.

    1. Prasasti Muara Cianten

    Prasasti ini ditemukan di Desa Cianten Bogor, Jawa Barat. Terdapat gambar telapak kaki dan pahatan tulisan ikal di dalamnya. Meski demikian isinya masih belum ditafsirkan dengan jelas oleh para ahli.

    1. Prasasti Jambu

    Penemuan ini ditemukan di desa Jambu, Bogor, Jawa Barat. Prasasti ini mencatat perayaan agama Buddha dan pemberian tanah untuk kepentingan agama tersebut.

    1. Prasasti Kebon Kopi

    Prasasti Kebon Kopi juga ditemukan di daerah Ciaruteun Ilir, Kabupaten Bogor dan mencatat aktivitas agama Hindu dan Buddha pada masa itu. Selain itu, dalam Prasasti Kebon Kopi juga ada gambar telapak kaki gajah. Konon katanya hewan tersebut adalah tunggangan Raja Purnawarman.

    1. Prasasti Tugu

    Terdapat beberapa prasasti yang ditemukan di wilayah Tugu, Jakarta Barat. Prasasti-prasasti ini mencerminkan aktivitas agama Hindu pada masa itu dan tentang penggalian Sungai Candrabaga dan Sungai Gomati yang penulisannya menggunakan huruf Pallawa dan Bahasa Sansekerta.

    3. Kerajaan Ho-LING

    Kerajaan Kalingga
    Kerajaan Kalingga | Sumber gambar: Sampoerna Academy

    Kerajaan tertua di Indonesia yang ketiga adalah Hong-Ling atau Kalingga yang berada di Jawa Tengah. 

    Keberadaan kerajaan ini pertama kali diketahui oleh seorang pendeta dari Agama Budha yang bernama I Tsing. Pendeta tersebut menyatakan, Hwining pernah berkunjung ke Holing pada tahun 664 M.

    Kemudian I Tsing juga menerjemahkan kitab suci Budha dari Bahasa Sansekerta ke dalam Bahasa Cina.

    Dulunya kerajaan Ho-Ling dipimpin oleh seorang ratu yang bernama Sima. Meski perempuan, Ratu Sima memiliki kepribadian yang adil dan bijaksana.

    4. Kerajaan Sriwijaya

    Kerajaan Sriwijaya
    Kerajaan Sriwijaya | Sumber gambar: Pikiranrakyat.com

    Siapa yang tidak tahu tentang Kerajaan Sriwijaya? Pasti hampir semua pernah mendengar namanya, mengingat kerajaan ini cukup terkenal.

    Pada mulanya, Sriwijaya ditemukan berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit. Tepatnya pada 686 M, TelaGA Batu 683 M, Karang Berahi, Kota Kapur, dan Siddhayatra.

    Kerajaan Sriwijaya berdiri sekitar abad ke-7 sampai abad ke-15. Dulunya Sriwijaya menguasai perdagangan di wilayah Laut Cina Selatan dan Selat Malaka. Raja yang membuat Sriwijaya berkembang dengan pesat adalah Balaputradewa.

    Kemudian pemerintahan di bawah naungan Raja Balaputradewa memperluas jalur perdagangannya. Bahkan ia juga menjalin hubungan diplomatik dengan pemerintahan Cola di India dan Pemerintah Cina di Utara. 

    Lebih menariknya, Sriwijaya juga menjadi pusat pendidikan Agama Budha di Asia Tenggara.

    5. Kerajaan Mataram Kuno

    Candi Borobudur
    Candi Borobudur | Sumber gambar: Freepik.com

    Mataram Kuno adalah kerajaan tertua di Indonesia yang berdiri pada abad ke-8 sampai abad ke-11 Masehi. Awalnya, kerajaan ini berada di Jawa Tengah kemudian pindah ke wilayah Jawa Timur.

    Mataram Kuno memiliki beberapa prasasti peninggalan. Seperti Canggal, Klurak, Balitung, dan Canggal. Pada zaman dahulu, Mataram Kuno diperintah oleh dua dinasti langsung yakni Sanjaya yang menganut agama Hindu dan Syailendra agama Buddha. 

    Dinasti Sanjaya berkuasa di wilayah Jawa Tengah bagian Utara. Sedangkan Syailendra, menguasai bagian Jawa Tengah wilayah Selatan.

    6. Kerajaan Kediri

    Kerajaan Kediri
    Kerajaan Kediri | Sumber gambar: Gramedia

    Di Kerajaan Kediri, Raja Jayabaya memegang kekuasaan penuh dalam memimpin perkembangannya. Bahkan, Jayabaya berhasil menyatukan dua kerajaan sekaligus yakni Jenggala dan Kediri. 

    Untuk kehidupan masyarakatnya, kerajaan inipun terbilang makmur. Bagaimana tidak, mayoritas masyarakatnya memiliki pekerjaan sebagai pedagang emas, pinang, cendana, dan perak. 

    Namun masa kejayaannya tidak berlangsung lama. Pada tahun 1222 Masehi, Kerajaan Kediri mulai runtuh karena kalah perang dengan Ken Arok.

    7. Kerajaan Wangsa Isyana

    Kerajaan Wangsa Isyana
    Kerajaan Wangsa Isyana | Sumber gambar: KabarApik.com

    Kerajaan tertua di Indonesia yang berikutnya adalah Wangsa Isyana yang berdiri pada tahun 929 Masehi, dipimpin langsung oleh Mpu Sindok. Wangsa Isyana berada di Jawa Timur dengan Dinasti Syailendra sebagai pemimpinnya.

    Banyak para ahli berpendapat, Wangsa Isyana termasuk kerajaan yang meninggalkan begitu banyak bukti tentang kehidupan dan keberadaannya, tertuang dalam Prasasti Pucangan. Hingga sekarang prasasti tersebut masih tersimpan rapi di Museum.

    Menurut sejarahnya, istilah Isyana berasal dari nama Sri Isyana Wikramadharmottunggadewa yakni Mpu Sindok. Silsilah kerajaan ini tertulis dalam Prasasti Pucangan tahun 1041 M yang keluar atas nama Airlangga. 

    Melalui prasasti inilah yang kemudian melahirkan pendapat tentang munculnya dinasti baru sebagai kelanjutan dari Wangsa Sanjaya. Adapun beberapa nama sebagai raja Wangsa Isyana adalah sebagai berikut:

    • Dyah Sindok atau Mpu Sindok
    • Sri Isyana Tunggawijaya
    • Makuta Wangsa Wardhana
    • Dharmawangsa Teguh
    • Airlangga
    • Penerus garis keturunan Dinasti Isyana yang lainnya

    8. Kerajaan Majapahit

    Kerajaan Majapahit
    Kerajaan Majapahit | Sumber gambar: Kitacerdas.com

    Selain tujuh kerajaan Indonesia di atas, ada satu nama yang tak kalah populer. Majapahit, kerajaan Hindu pertama dan paling tua di Indonesia yang kisahnya sangat fenomena. 

    Selain itu, Majapahit juga mampu menjadi pemimpin masyarakat yang baik. Bahkan kesejahteraannya ini terjadi hingga 193 tahun lamanya. 

    Majapahit sendiri berdiri pada tahun 1292 Masehi. Kala itu. Gajah Mada selaku pengabdi kerajaan melakukan penumpasan terhadap pemberontakan Sadeng. Karena keberhasilannya inilah yang membuat Gajah Mada diangkat menjadi Patih Mangkubumi.

    Setelah pelantikannya, Gajah Mada bersumpah untuk menyatukan Nusantara di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Sumpah ini bernama Sumpah Palapa.

    Di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dengan Patih Gajah Mada, Majapahit mengalami perkembangan yang begitu pesat. Bahkan mereka berada di puncak kejayaannya. 

    Akan tetapi, muncul berbagai permasalahan politik di dalam kerajaan sehingga membuat Majapahit runtuh dan hancur berantakan.

    9. Kerajaan Kanjuruhan

    Kerajaan Kanjuruhan
    Kerajaan Kanjuruhan | Sumber gambar: Kumparan

    Mendengar nama Kanjuruhan pasti Anda langsung teringat dengan kota Malang. Benar, Kerajaan Kanjuruhan memang berdiri di wilayah Jawa Timur yang berpusat di Kota Malang. Kerajaan tertua di Indonesia ini memiliki corak Hindu dan penemuannya berdasarkan dari Prasasti Dinoyo.

    Dalam prasasti tersebut, tertulis tentang Kerajaan Kanjuruhan beserta pemimpin-pemimpinnya. Salah satu raja yang terkenal adalah Raja Gajayana. Selama masa kepemimpinannya, Gajayana membuat Candi Badudu dan Candi Wurung.

    Menurut prasasti yang ada di sekitar Malang, ada beberapa nama desa yang berada di wilayah kekuasaannya, yakni sebagai berikut,

    • Balingawan (Sekarang terkenal dengan nama Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis)
    • Turryan (Desa Turen, Kecamatan Turen)
    • Tugaran
    • Kebalon
    • Panawijyan (Kelurahan Palowijen, Kecamatan Blimbing).
    • Banulrejo
    • Daerah-daerah Malang Barat

    10. Kerajaan Sunda

    Kerajaan Sunda
    Kerajaan Sunda | Sumber gambar: Sindonews.net

    Kerajaan tertua yang terakhir adalah Sunda. Berdasarkan Naskah Wangsakerta, Kerajaan Sunda telah berdiri sejak tahun 591 Caka Sunda atau 669 M untuk menggantikan Kerajaan Tarumanegara. 

    Adapun beberapa wilayah di Kerajaan Sunda yang paling terkenal adalah Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, dan lain-lain.

    Berdasarkan catatan sejarahnya, candi yang berhasil ditemukan hanya berjumlah 3 buah saja. Kondisinya juga tidak bisa direkonstruksi karena usianya yang sangat tua dan telah terbengkalai selama ribuan tahun yang lalu. 

    Sementara itu, ibukota Kerajaan Sunda juga lebih banyak berpindah-pindah tempat. Diantaranya berada di wilayah Pakuan Bogor hingga Kawali–Ciamis. Catatan peninggalan penulis Portugis mengungkap, ada nama dan 7 peran dari pelabuhan tersebut.

    Pada faktanya, Kerajaan Sunda berdiri guna meneruskan Kerajaan Tarumanegara yang kala itu sudah tenggelam. Berkat kehebatan pemimpinnya, Kerajaan Sunda mengalami kemajuan dan perkembangan yang pesat.

    Baca Juga: 8 Sejarah Agama Tertua di Dunia, Ada Sejak Sebelum Masehi

    Tertarik untuk Mempelajari Kerajaan Tertua di Indonesia?

    Berdasarkan penjelasan di atas, apa fakta menarik yang Anda dapatkan dari 10 kerajaan tertua di Indonesia? Seperti yang kita ketahui, setiap kerajaan pasti memiliki peninggalan kuno. Saat ini, peninggalan-peninggalan tersebut bisa menjadi pembelajaran tersendiri untuk kita.

    Terlebih, masuknya fenomena budaya asing di Indonesia membuat seluruh masyarakat harus tetap berusaha untuk melestarikan kebudayaan asli. Tak terkecuali dengan menghormati peninggalan sejarah dari zaman kerajaan kuno.

  • Sejarah Polri serta Fungsi dan Tugasnya bagi NKRI Lengkap!

    Sejarah Polri serta Fungsi dan Tugasnya bagi NKRI Lengkap!

    Kepolisian Republik Indonesia, siapa yang tidak mengenal instansi satu ini? Kamu pasti sudah sangat familiar, apa lagi banyak urusan administratif yang melibatkan Polri. Polri sendiri sudah ada sejak lama bahkan sebelum Indonesia merdeka. Kamu ingin tahu bagaimana sejarah Polri? Yuk, simak artikel berikut sampai habis!

    Pengertian Polri 

    Kapolri bersama Bhayangkari
    Kapolri bersama Bhayangkari | Sumber Gambar: Times Indonesia

    Polri, kependekan dari Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan lembaga penegak dan kepolisian yang berada di Indonesia. Instansi ini memiliki tugas yang meliputi menjaga keamanan, melayani masyarakat, dan menegakkan hukum.  

    Tugas  tersebut selaras dengan motto yang Polri, yaitu Rastra Sewakotama yang berarti abdi utama nusa dan bangsa. Tugas Polri sendiri terdapat dalam Undang-Undang Kepolisian Republik Indonesia pada Pasal 14. 

    Dalam sejarah Polri, lembaga penegak keadilan ini awalnya berada dalam naungan kekaisaran Jepang. Hingga akhirnya resmi terlepas pada 21 Agustus 1945. Lalu, berubah nama menjadi Angkatan Kepolisian Republik Indonesia (AKRI), 1 tahun setelahnya, yaitu pada 1 Juli 1946. 

    Sejarah Polri 

    Polisi Bersenjata
    Polisi Bersenjata | Sumber Gambar: SMA N 1 Nalumsari

    Lahirnya Polri memiliki sejarah yang cukup panjang bagi negara ini. Nah, berikut adalah sejarahnya wajib untuk kamu ketahui: 

    1.  Zaman Kerajaan 

    Sejarah Polri bermula sejak pada zaman kerajaan, tepatnya saat Kerajaan Majapahit yang sangat terkenal dengan patihnya, yaitu Gajah Mada. Kerajaan ini memiliki pasukan pengamanan elit yang memiliki tugas melindungi ratu, permaisuri, dan seluruh ekosistem kerajaan dengan nama Bhayangkara. 

    Bhayangkara kini sangat berkaitan erat dengan Polri, bahkan nama klub sepak bola Polri pun bernama Bhayangkara Presisi Indonesia. Kata bhayangkara sendiri berasal dari bahasa Sansekerta dan artinya adalah pasukan yang melindungi kerajaan. Hal tersebut selaras dengan sejarah pasukan elit bhayangkara. 

    2. Zaman Kolonial Belanda

    Sejarah Polri selanjutnya, yaitu pada zaman kolonial Belanda. Di mana ini adalah cikal bakal Polri di Indonesia. Pada zaman kolonial Belanda, terdapat pasukan keamanan dengan tujuan menjaga kekayaan dan aset yang dimiliki orang Eropa di Semarang. Pasukan keamanan tersebut diambil dari orang-orang pribumi.

    Pada zaman tersebut pula, Polri sudah memiliki beragam bentuk yang kala itu diberi nama menggunakan bahasa Belanda. Ragam bentuk Polri tersebut meliputi veld politie atau polisi lapangan, cultur politie atau polisi pertanian, stands politie atau polisi kota, dan sebagainya. 

    Pembentukan bentuk-bentuk Polri tersebut didasarkan pada letak aset yang dimiliki orang Eropa. Salah satunya yaitu pada sektor pertanian. Seperti yang kita ketahui, pada zaman pendudukan Belanda, hasil pertanian sangatlah melimpah dan dikuasai oleh orang Eropa. 

    3. Zaman Pendudukan Jepang 

    Di zaman Jepang, Polri telah memiliki kantor pusat. Pada saat itu, kantor wilayah kepolisian terbagi menjadi 3. Di mana Kepolisian Madura dan Jawa memiliki kantor pusat di Jakarta, Kepolisian Indonesia Timur memiliki kantor pusat di Makassar, dan Kepolisian Kalimantan memiliki kantor pusat di Banjarmasin.

    Setiap kantor pusat dipimpin oleh pejabat Polri, namun masih didampingi oleh pejabat Jepang. Apalagi mengingat Indonesia saat itu masih dalam pendudukan Jepang. Jadi, meski mendampingi, pendamping dari Jepang tersebut lebih berkuasa dibandingkan dengan pimpinannya karena masih terjajah.

    4. Awal Kemerdekaan Indonesia Periode 1945-1950

    Pada masa inilah akhirnya kepolisian Indonesia resmi menjadi lembaga yang merdeka. Ketika pasukan pembela tanah air atau yang biasa kamu kenal dengan pemuda PETA dibubarkan, kepolisian tetaplah bertugas. 

    4 hari setelah Indonesia merdeka, Pasukan Polisi Republik Indonesia terbentuk dengan tujuan untuk membersihkan dan melakukan pelucutan senjata terhadap tentara Jepang. Selain itu, ini bertujuan untuk meningkatkan semangat rakyat Indonesia setelah terjadi penjajahan selama bertahun-tahun lamanya. 

    Sebelum pendeklarasian tersebut, negara Indonesia melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) membentuk Badan Kepolisian Negara (BKN). Setelah terbentuk, terpilihlah pimpinan BKN pertama, yaitu R.S. Soekanto Tjokrodiatmodjo. 

    Kemudian, pada tanggal 1 Juli 1946, kepolisian ditetapkan berada dalam naungan Pemerintah Dalam Negeri atau yang kala itu disebut Djawatan Kepolisian Negara. Pada tanggal inilah kemudian diperingati sebagai Hari Bhayangkara hingga saat ini. 

    5. Awal Kemerdekaan Indonesia Periode 1950-1959

    Sejarah Polri kemudian berlanjut hingga awal kemerdekaan. Pada masa ini, tepatnya pada tahun 1950 Indonesia memberlakukan negara kesatuan dengan sistem parlementer. Sehingga, kepala Kepolisian bertanggung jawab kepada perdana menteri atau presiden.

    Pada masa ini juga berdiri kantor Polri yang beralamatkan di Jalan Trunojoyo No 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Nama kantor tersebut adalah Markas Besar Djawatan Kepolisian Negara dan hingga kini masih menjadi markas besar Polri. Organisasi istri polisi juga terbentuk pada masa ini dengan nama Bhayangkari.

    6. Masa Orde Lama

    Setelah gagalnya negara kesatuan yang terbentuk pada 17 Agustus 1950, Indonesia kemudian memberlakukan kembali Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Namun, masih dengan beberapa ketentuan yang belum sesuai dengan UUD. Di antaranya, yaitu kepala negara masih Perdana Menteri dan Polri berada di bawahnya. 

    Hingga keluarnya Keppres yang menyatakan Kepala Kepolisian mempunyai kedudukan sebagai Menteri Negara. Di mana saat itu merupakan Menteri Muda Kepolisian. 

    Setelah terbentuknya Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), Polri menjadi salah satu unsur yang di dalamnya. Sama seperti TNI Angkatan Udara (AU), Angkatan Darat (AD), dan Angkatan Laut (AL). Sekolah AKABRI yang ada di Magelang mempunyai kesamaan bagi Polri dan Angkatan Perang lainnya. 

    Unsur dalam ABRI tersebut memiliki pimpinan yang dengan nama Menteri KaPolri untuk Polri, Menteri KASAD untuk AD, Menteri KSAU untuk AU, Menteri KSAL untuk AL. 

    7. Masa Orde Baru 

    Sejarah Polri terakhir, yaitu pada masa orde baru. Pada masa ini jabatan Menteri Pertahanan Indonesia jatuh kepada Jenderal Soeharto. Tahun 1967 terbentuk tugas pokok dan prosedur bidang pertahanan dan keamanan. 

    Dalam tugas pokok tersebut, menyatakan masing-masing angkatan bersenjata yang ada, yaitu Polri, AD, AU, dan AL memiliki pimpinan bernama Panglima Angkatan. Di mana pimpinan tersebut bertanggung jawab kepada Menteri Pertahanan. 

    Setelah Soeharto terpilih menjadi presiden, jabatan Menteri Pertahanan berpindah kepada Jenderal M. Panggabean. Beliau juga mengeluarkan kebijakan integrasi yang ternyata justru menyulitkan perkembangan Polri

    Pada kepemimpinan Jenderal Panggabean keluar UU yang menyatakan pergantian singkatan Kepala Kepolisian Negara (KKN) menjadi KaPolri yang telah resmi pada 1 Juli 1969. 

    Fungsi, Tugas Pokok, dan Peran Polri 

    Polisi Upacara
    Polisi Upacara | Sumber Gambar: BeritaSatu.com

    Setelah membahas sejarah Polri, berikut merupakan fungsi, tugas pokok, dan fungsi yang perlu kamu ketahui. Semua aspek tersebut juga telah tertuang dalam Undang-Undang Kepolisian Negara Republik Indonesia, yaitu Undang-Undang No.2 Tahun 2002. Berikut penjabarannya:

    1. Fungsi Polri  

    Fungsi Polri terdapat dalam Pasal 2 dan 3. Polri berfungsi sebagai pemelihara keamanan, penegak hukum, perlindungan, pelayanan, pengayoman, dan pelayanan masyarakat. Dalam menjalankan fungsinya, kepolisian tidak sendiri, melainkan dengan Kepolisian Khusus, Pegawai Negeri Sipil, dan bentuk pengamanan lainnya. 

    2. Tugas Pokok Polri

    Sedangkan tugas pokok Polri terdapat dalam Pasal 13. Di mana mereka harus memelihara ketertiban dan keamanan masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pelayanan, dan pengayoman kepada masyarakat.

    3. Peran Polri 

    Polri memiliki peran strategis dalam keberadaannya di tengah-tengah masyarakat. Meliputi perlindungan hukum, penegakan hukum, pembinaan keamanan dan ketertiban masyarakat, serta pencegahan terjadinya pelanggaran hukum. 

    Baca Juga: Menelisik Sejarah TNI dan Tugasnya Lengkap!

    Sudah Tahu Bagaimana Sejarah Polri? 

    Itulah ulasan mengenai sejarah Polri serta fungsi, tugas, dan perannya. Kini kamu sudah memahami bahwa, berbagai upaya perbaikan dari masa ke masa telah dilakukan untuk mewujudkan perbaikan instansi kepolisian. Mulai dari era zaman kerajaan hingga saat ini. 

    Karena tugasnya yang mulia, Polri seharusnya bisa menjadi lembaga tempat masyarakat perlindungan. Polri juga bisa berjalan maksimal asalkan moral penegakan hukum masih dijunjung tinggi. Keterampilan Polri untuk melakukan penyidikan dan sistem yang lengkap juga akan menjadi penunjang perannya.

  • Pengertian Teks Cerita Sejarah: Ciri, Struktur & Kaidah Kebahasaan

    Pengertian Teks Cerita Sejarah: Ciri, Struktur & Kaidah Kebahasaan

    Apakah Anda adalah pecinta sejarah? Sejarah menjadi satu bagian penting yang negara miliki dan harus tetap membudaya pada kalangan manapun. Baik itu anak-anak sampai orang tua, semuanya wajib memahami sejarah. Bagaimana caranya? Salah satunya dengan memahami pengertian teks cerita sejarah.

    Setiap teks yang mengandung cerita masa lampau, khususnya yang ada kaitannya dengan sejarah bangsa Indonesia bisa dianggap atau termasuk dalam jenis teks satu ini. Artikel ini akan membahas teks cerita sejarah secara lengkap.

    Pengertian Teks Cerita Sejarah

    Peninggalan Zaman Kerajaan di Indonesia
    Peninggalan Zaman Kerajaan di Indonesia | Sumber gambar: Freepik.com

    Secara sederhana, pengertian teks cerita sejarah dapat Anda pahami sebagai teks yang di dalamnya memuat penjelasan atau cerita-cerita sejarah itu sendiri. 

    Tujuan pencariannya untuk mengetahui seperti apa kisah masa lampau yang terjadi, sementara tujuan penulisannya untuk mengabadikan sejarah.

    Memiliki latar belakang sejarah membuat teks satu ini mengandung unsur-unsur fakta. Berbeda seperti karangan fiksi yang terdapat unsur imajinatif. 

    Penyusunan dan penulisan teks sejarah harus membuat berbagai fakta maupun data sehingga pembaca bisa mengetahui kerjadian sebenarnya.

    Jenis Teks Cerita Sejarah

    Perlu Anda ketahui, teks cerita sejarah tidak hanya berbentuk flat atau karangan membosankan. Ada banyak jenis teks sejarah yang pengemasannya menarik dan tidak kaku. Berikut jenis teks cerita sejarah beserta pengertiannya, yaitu:

    1. Fiksi

    Tadi katanya tidak boleh menggunakan unsur imajinatif saat menulis teks sejarah? Eits, tenang dulu. 

    Sebenarnya yang dimaksud fiksi adalah bentuk penyajiannya, yakni menyerupai novel. Anda pasti sudah pernah membaca seperti apa gaya bahasa yang tersajikan dalam novel.

    Biasanya penulis akan menggunakan gaya bahasa yang sastrawi, sehingga pembaca dapat menikmati setiap untaian cerita secara gamblang.

    Inilah yang bisa pengertian teks cerita sejarah adaptasi, sehingga bukan berarti ceritanya menjadi imajinatif, tetapi pengemasannya saja yang dibuat lebih luwes.

    2. Nonfiksi

    Sudah tentu, bentuk mendasar dari cerita sejarah adalah karangan nonfiksi. Bentuk ini menjadi yang paling mudah Anda temukan karena kebanyakan penulis memang menyusun teks sejarah menggunakan bentuk ini. Penekanannya bukan dari sisi ceritanya, melainkan fakta peristiwanya.

    Beberapa contoh teks cerita sejarah yang berbentuk nonfiksi bisa Anda lihat pada biografi, autobiografi, memoar, atau catatan perjalanan lainnya. Pasalnya tak dapat dipungkiri, banyak tokoh-tokoh bangsa yang telah membukukan kisah hidupnya.

    Ciri-Ciri Teks Cerita Sejarah

    Ciri-Ciri Teks Cerita Sejarah
    Ciri-Ciri Teks Cerita Sejarah | Sumber gambar: Freepik.com

    Setelah memahami seperti apa pengertian teks cerita sejarah, Anda perlu mengetahui ciri-cirinya. 

    Lewat pengetahuan mengenai ciri-ciri ini, Anda bisa membedakan mana yang termasuk dalam teks sejarah dan mana yang bukan. Ciri-ciri ini akan terfokus pada fiksi sejarah dan nonfiksi sejarah.

    • Pada jenis cerita sejarah nonfiksi, judul akan disajikan secara eksplisit. Sementara pada karya fiksi sejarah, judul akan tampak lebih implisit.
    • Bagian orientasi pada cerita sejarah terdiri atas pengantar, pendahuluan dan tujuan. Sedangkan, pada fiksi sejarah memuat pengenalan tokoh serta alur ceritanya.
    • Pada cerita fiksi sejarah, sifat penyajian tulisan adalah hierarkis. Sedangkan komplikasi yang ada pada nonfiksi sejarah sifatnya gradual.
    • Jika pada fiksi sejarah ending cerita berupa penyelesaian dari konflik cerita, maka pada non fiksi sejarah berisi kesimpulan yang padat.
    • Pada fiksi sejarah terdapat koda sementara non fiksi sejarah tidak.
    • Teks cerita sejarah harus mengandung fakta dan data, bukan rekaan semata.

    Struktur Teks Cerita Sejarah

    Apabila Anda sudah selesai memiliki pemahaman mengenai pengertian teks cerita sejarah, jenis, sampai cirinya, saatnya mendalami struktur penulisannya. Setidaknya, terdapat 3 bagian struktur yang perlu Anda ketahui. Berikut ini penjelasannya, yaitu:

    1. Orientasi

    Orientasi juga kerap disebut sebagai pengenalan awal. Ciri penyajiannya menggunakan gaya bahasa deskriptif. 

    Pasalnya, untuk mengawali teks sejarah pembaca perlu memahami secara detail mengenai sosok atau peristiwa yang ingin diceritakan. Itulah mengapa penyajian deskriptif menjadi opsi terbaik.

    Misalnya, Anda ingin menjelaskan mengenai sejarah mata uang Indonesia. Maka, perlu Anda jelaskan terlebih dahulu secara mendetail mengenai pengertian, wujud, ciri-ciri, sampai fungsinya.

    2. Urutan Peristiwa

    Setelah menentukan orientasi, selanjutnya ada urutan peristiwa. Tentunya saat Anda bicara soal sejarah, cerita yang tersajikan haruslah urut atau secara kronologis. 

    Dengan begitu, pembaca bisa menelaah satu persatu peristiwa yang terjadi tanpa harus merasa tumpang tindih dengan ceritanya.

    Misalnya, ketika Anda ingin menceritakan sejarah kehidupan Bung Karno, maka bisa dimulai dari masa kecil, sekolah, sampai kiprah beliau sebagai presiden.

    Lewat urutan tersebut pembaca bisa tahu secara urut mengenai masa kecil sampai pertumbuhan karir sang tokoh.

    3. Reorientasi

    Struktur teks cerita sejarah yang terakhir ada reorientasi. Sebenarnya, sifat struktur ini adalah opsional alias bisa digunakan ataupun tidak. Isinya berupa peninjauan kembali yang penulis lakukan sebagai pandangannya terhadap cerita yang tersaji.

    Sederhananya, bagian ini bisa Anda sebut sebagai tanggapan penulis atas cerita yang ada. Entah itu kritik, saran, argumen, atau sejenisnya, semuanya bisa Anda gunakan disesuaikan berdasarkan jenis teks sejarah.

    Kaidah Kebahasaan Teks Cerita Sejarah

    Kebahasaan Cerita Sejarah
    Kebahasaan Cerita Sejarah | Sumber gambar: Freepik.com

    Memahami seluruh bagian dalam penulisan teks cerita sejarah tidak akan lengkap, apabila Anda belum mengetahui kaidah kebahasaannya. Berikut ini adalah kaidah kebahasaan yang perlu Anda pahami, yaitu:

    1. Kata Ganti Orang Ketiga

    Umumnya, gaya penceritaan dalam teks sejarah menggunakan sudut pandang orang ketiga, sehingga kata gantinya bukan lagi saya, melainkan ia, dia, atau mereka. 

    Penulis memposisikan diri sebagai sosok yang menceritakan peristiwa tersebut secara gamblang.

    Bahkan, apabila penulis tersebut memiliki skill yang bagus, ia bisa menulis seolah-olah melihat langsung peristiwa yang ada di sana. 

    Keuntungan menggunakan sudut pandang ini adalah pembaca bisa memperoleh cerita secara detail tanpa fokus ke satu tokoh saja.

    2. Keterangan Waktu

    Teks cerita sejarah tentu tidak akan pernah lepas dari yang namanya keterangan waktu. Pasalnya, fakta sejarah harus tersampaikan berdasarkan urutan waktu yang benar.

    Namun, ada ciri yang melekat pada keterangan waktu teks cerita sejarah, yakni menggunakan keterangan masa lampau. 

    Oleh karena itu, tak heran apabila penggunaan katanya seperti, “pada zaman dahulu, pada tahun sebelumnya, jauh sebelum tahun,” dan sebagainya.

    3. Konjungsi Temporal

    Konjungsi temporal bisa Anda maknai sebagai kata hubung soal waktu. Kata hubung tersebut akan menunjukkan waktu-waktu kejadian sebuah peristiwa. 

    Berikut ini terdapat beberapa pembagian penggunaan konjungsi temporal yang berdasar pada letaknya, yaitu:

    • Intrakalimat yaitu konjungsi yang terletak dalam satu kalimat. Biasanya akan menggunakan konjungsi semacam kata setelah, lalu, kemudian, dan seterusnya.
    • Antarkalimat yaitu konjungsi yang menghubungkan antar dua kalimat. Contoh praktisnya seperti kata selanjutnya, sebelumnya, dan lain sebagainya.

    4. Konjungsi Kausalitas

    Memahami pengertian teks cerita sejarah saja tidak cukup. Nah, kaidah kebahasaan selanjutnya adalah hukum sebab akibat. 

    Setiap peristiwa sejarah yang terjadi pasti dilatarbelakangi atas hal tertentu dan mengakibatkan kondisi tertentu. Misalnya, seperti demo di masa reformasi yang menyebabkan orde baru lahir.

    Sama seperti konjungsi temporal, kausalitas juga hadir dalam dua penyajian, yakni intrakalimat dan antarkalimat. 

    Pada intrakalimat contoh kata yang bisa Anda gunakan adalah sebab, karena, dan sebagainya. Sementara pada antarkalimat, bisa menggunakan oleh sebab itu, oleh karena itu, maka dari itu, dan lainnya.

    5. Nomina

    Teks cerita sejarah juga banyak yang menggunakan nomina, sehingga memperjelas konteks sosok yang dimaksud. Biasanya, nomina ini akan berupa nama orang, hewan, benda, ataupun nama sebuah ide.

    6. Verba

    Kaidah kebahasaan yang terakhir adalah verba. Verba merupakan kelas kata yang bisa Anda pakai untuk menyatakan suatu tindakan atau pengalaman tertentu. Verba ditandai dengan imbuhan di-, me-, ber-, me-kan, di-kan, dan sebagainya.

    Baca Juga: Mite Adalah Mitos: Pengertian, Ciri, Fungsi, Jenis, & Contohnya

    Apakah Anda Sudah Paham Pengertian Teks Cerita Sejarah?

    Memahami pengertian teks cerita sejarah sendiri tidaklah sulit. Anda hanya perlu berfokus pada teks-teks yang memuat peristiwa masa lampau atau kejadian sebelum hingga setelah Indonesia merdeka. Contoh paling mudah, bisa Anda temukan pada buku teks pelajaran sejarah saat duduk di bangku SMP atau SMA.

    Lewat rutin membaca atau menuliskan teks cerita sejarah, wawasan Anda mengenai kejadian masa lampau Indonesia akan sangat kaya. Dengan cara tersebut, Anda akan menjadi seseorang yang paham sejarah dan bisa mengambil nilai-nilai penting dari sana.

  • Pendiri Kerajaan Cirebon: Sejarah, Peninggalan, Raja & Kemundurannya

    Pendiri Kerajaan Cirebon: Sejarah, Peninggalan, Raja & Kemundurannya

    Pendiri Kerajaan Cirebon merupakan tokoh penting dalam sejarah. Kerajaan Cirebon sendiri adalah salah satu kerajaan tertua yang terletak di pulau Jawa. Latar belakang sejarahnya sangatlah kaya dan kompleks.

    Itulah mengapa Kerajaan Cirebon menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Artikel ini akan membahas sejarah kerajaan ini, peninggalan budaya, beberapa raja, dan faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran Kerajaan Cirebon. Yuk, simak dengan saksama!

    Sejarah Kerajaan Cirebon

    Sejarah Kerajaan Cirebon
    Sejarah Kerajaan Cirebon | Sumber gambar: sadeeda.com

    Kerajaan Cirebon merupakan kerajaan yang menganut ajaran-ajaran Islam. Letak pusat kekuasaan kerajaan ini adalah di pesisir utara Pulau Jawa, perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat.

    Kerajaan ini menjadi titik pertemuan antara dua kebudayaan, yakni Sunda dan Jawa karena letak geografis tersebut. 

    Meskipun demikian, Kerajaan Cirebon tidak memiliki dominasi dari budaya tertentu. Kerajaan Cirebon justru memiliki ciri khas budaya tersendiri. Penguasa di kerajaan ini adalah seorang sultan. 

    Untuk menelisik terkait sejarah awal Kerajaan Cirebon, membaca naskah-naskah sejarah seperti Babad Tanah Sunda dan Atja, serta naskah Carita Purwaka Caruban Nagari adalah pilihan yang tepat.

    Kerajaan Cirebon berawal dari sebuah dukuh kecil yang terkenal dengan nama Caruban. Kata tersebut berasal dari bahasa sunda yang berarti campuran. Ki Gedeng Tapa merupakan pendiri dari dukuh ini.

    Nama Caruban sendiri representasi dari kondisi sosial di wilayah tersebut. Wilayah ini menjadi tempat pertemuan berbagai suku, agama, adat istiadat, agama, dan latar belakang yang berbeda.

    Para pendatang di Caruban memiliki tujuan yang berbeda-beda. Ada yang ingin menetap dalam waktu yang lama. Namun, ada juga yang datang hanya untuk sekedar berdagang di waktu tertentu.

    Cirebon terletak di wilayah pesisir yang aktif sebagai Pelabuhan. Oleh karenanya, membuatnya menjadi wilayah yang berkembang sekaligus menjadi pusat peradaban dengan populasi penghuni yang signifikan. Seiring waktu berjalan, Cirebon menjadi kota besar dengan penduduk yang padat.

    Banyak di antara penduduk Caruban yang beralih mata pencahariannya menjadi nelayan seiring dengan berjalannya waktu. Mata pencaharian seperti penangkapan ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang Pantai pun berkembang pesat.

    Tidak hanya itu saja, mata pencaharian lainnya seperti pembuatan petis dan produksi garam juga mulai berkembang. Produksi terasi di wilayah ini kian terkenal. Sehingga, ini menjadi asal muasal dari nama Cirebon.

    Kata Cirebon sendiri berasal dari kata “Cai” yang merujuk pada air dan “Rebon“, yang mengacu pada udang rebon.

    Pendiri Kerajaan Cirebon

    Cirebon tidak terlantar begitu saja setelah meninggalnya Ki Gedeng Tapa. Sang cucu, Walangsungsang mengambil alih dan mendirikan pemerintahan yang lebih terstruktur di Cirebon.

    Walangsungsang memiliki gelar sebagai Pangeran Cakrabuana. Ia juga dianggap sebagai pendiri Kerajaan Cirebon. Selain itu, ia juga mendirikan istana Pakungwati saat mendirikan pusat pemerintahan.

    Garis keturunan Walangsungsang adalah dari Kerajaan Pajajaran. Pasalnya, ia adalah putra pertama dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dan istri pertamanya, Subanglarang.

    Subang Larang merupakan putri Ki Gedeng Tapa. Walangsungsang memiliki dua saudara kandung, yaitu Nyai Rara Santang dan Raden Kian Santang. Keduanya adalah tokoh penting dalam Kerajaan Pajajaran.

    Sebagai putra mahkota, sebenarnya Walangsungsang berhak mewarisi tahta Kerajaan Pajajaran. Namun, hal itu tidak dapat terjadi karena ia menganut agama islam, seperti ibunya. Sementara mayoritas dari Kerajaan Pajajaran menganut agama Sunda Wiwitan, Hindu, dan Budha.

    Berdasarkan naskah Mertasinga, Walangsungsang meninggalkan istana karena kekecewaannya terhadap perlakuan Prabu Siliwangi terhadap ibunya. Ia dan Rara Santang memutuskan untuk pergi dan mendirikan Kerajaan Cirebon.

    Kemudian, Pangeran Walangsungsang menikahi dua wanita. Ia memiliki 10 anak, termasuk Nyimas Indang Geulis, yang nantinya akan menikah dengan Sunan Gunung Jati.

    Walangsungsang merupakan raja pertama Kesultanan Cirebon yang memeluk agama Islam. Ia akhirnya menjalankan ibadah haji ke Mekah. Anjuran ini datang dari Syekh Datuk Kahfi.

    Walangsungsang dan Rara Santang berlayar ke Mekah. Mereka mengambil nama Arab, Haji Abdullah Iman dan Syarifah Mudaim. 

    Di sana, Rara Santang menikah dengan seorang bangsawan bernama Syarif Abdullah. Kemudian, ia melahirkan Syarif Hidayatullah yang kelak memegang peran penting dalam Kerajaan Cirebon.

    Setelah menyelesaikan ibadah haji, mereka kembali ke tanah air. Walangsungsang aktif dalam menyebarkan Islam di Kerajaan Cirebon. Pada tahun 1529, Walangsungsang wafat.

    5 Peninggalan Kerajaan Cirebon

    Peninggalan Kerajaan Cirebon
    Peninggalan Kerajaan Cirebon | Sumber gambar: sadeeda.com

    Setelah mengetahui pendiri Kerajaan Cirebon, berikutnya perlu memahami peninggalannya. Adapun peninggalan-peninggalan bersejarah dari Kerajaan Cirebon adalah sebagai berikut.

    1. Keraton Kasepuhan

    Keraton Kasepuhan terletak di Kelurahan Kasepuhan, Lemahwungkuk, Cirebon. Awalnya terkenal dengan nama Keraton Pakungwati. Tempat ini merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Cirebon.

    Di masa ini, Keraton Kasepuhan berfungsi sebagai museum yang menyimpan koleksi benda-benda bersejarah dan lukisan milik kerajaan. Kereta Singa Barong merupakan kereta kencana milik Sunan Gunung Jati yang menjadi salah satu koleksi terpopulernya.

    2. Keraton Kanoman

    Keraton Kanoman berdiri sejak tahun 1678 M. Pangeran Mohammad Badrudin atau Pangeran Kertawijaya merupakan pendirinya. Keraton ini adalah rumah bagi banyak peninggalan bersejarah, termasuk dua kereta, yaitu Paksi Naga Liman dan Jempana.

    Dinding di keraton ini terhiasi dengan piring-piring porselen asli Tiongkok. Keraton Kanoman terletak di belakang Pasar Kanoman dengan luas sekitar 6 hektar.

    3. Keraton Kacirebonan

    Keraton Kacirebonan berdiri sejak tahun 1800 M. Letaknya ada di Kelurahan Pulasaren, Kecamatan Pekalipan, sekitar 1 km sebelah barat daya dari Keraton Kasepuhan dan sekitar 500 meter sebelah selatan Keraton Kanoman.

    Banyak benda bersejarah seperti keris, wayang, alat-alat perang, gamelan, dan banyak lagi tersimpan di dalam keraton ini. Pelaksanaan upacara adat, termasuk Upacara Pajang Jimat dan lainnya sering kali ada di sini.

    4. Masjid Agung Cirebon

    Masjid Agung Cirebon terletak di kompleks Keraton Kasepuhan. Masjid bersejarah ini berdiri sejak tahun 1498. Pendirinya adalah Wali Songo atas prakarsa Sunan Gunung Jati.

    Konon, pembangunan masjid ini hanya membutuhkan waktu semalam. Masjid ini  digunakan untuk shalat Shubuh keesokan harinya.

    5. Makam Sunan Gunung Jati

    Makam Sunan Gunung Jati terletak di Jalan Alun-Alun Ciledug No. 53, Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Jarak makam ini dengan pusat kota Cirebon sekitar 6 kilometer.

    Arsitektur bangunan makam ini terdiri dari campuran Jawa, Cina, dan Arab. Sunan Gunung Jati adalah raja Kesultanan Cirebon yang terkenal karena membawa Cirebon mencapai puncak kejayaan. Ia juga yang menyebarkan agama Islam di Jawa Barat.

    Silsilah Raja-Raja

    Kerajaan Cirebon telah melahirkan berbagai raja yang memiliki peran penting dalam sejarah dan perkembangan wilayahnya. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui raja-raja yang pernah memimpin Cirebon.

    Berikut ini adalah silsilah raja-raja tersebut, yaitu:

    • Pangeran Walangsungsang (… – 1479 M)
    • Sunan Gunung Jati (1479 – 1568 M)
    • Fatahillah (1568-1570 M)
    • Panembahan Ratu (1570-1649 M)
    • Panembahan Ratu II (1649-1677 M)

    Alasan Kemunduran Kerajaan Cirebon

    Awal Kemunduran Kerajaan Cirebon
    Awal Kemunduran Kerajaan Cirebon | Sumber gambar: thesmartlocal.id

    Awal kemunduran Kerajaan Cirebon adalah ketika Panembahan Ratu II memerintah pada tahun 1666 Masehi. Kekuasaan Kerajaan Cirebon perlahan mulai melemah di wilayah kekuasaanya.

    Penyebab utama keruntuhan Kerajaan Cirebon ini adalah tuduhan fitnah dari Sultan Amangkurat I. Ia mengatakan, Panembahan Ratu II telah bekerja sama dengan Kerajaan Banten untuk menggulingkan kekuasaannya di Mataram.

    Sebagai dampaknya, Panembahan Ratu II pun diasingkan. Ia akhirnya wafat pada tahun 1667 di Surakarta. 

    Sultan Amangkurat I memanfaatkan kekosongan kekuasaan ini untuk mengambil alih wilayah-wilayah sisa Kerajaan Cirebon setelah keruntuhannya.

    Peristiwa ini memicu kemarahan Sultan Ageng Tirtayasa, yang memerintah di Kerajaan Banten. 

    Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya turun tangan untuk menyelesaikan perselisihan terkait wilayah sisa Kerajaan Cirebon. Ia juga menyelamatkan putra Panembahan Ratu II yang juga diasingkan.

    Kerajaan Cirebon akhirnya terbagi menjadi tiga bagian yang masing-masing dipimpin oleh sultannya sendiri dan mewarisi tahta berikutnya.

    Selain itu, kemunduran Kerajaan Cirebon juga terjadi sebab ulah VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). VOC menggunakan taktik politik adu domba untuk menciptakan konflik di kerajaan-kerajaan Nusantara.

    Baca Juga: Sejarah Kerajaan Mataram Islam, Raja-raja, dan Masa Kejayaan

    Sudah Tahu Pendiri dan Sejarah Kerajaan Cirebon?

    Demikian pembahasan pendiri Kerajaan Cirebon lengkap dengan sejarah hingga alasan kemunduran di baliknya. Kerajaan Cirebon memiliki sejarah dan peninggalan budaya yang penting. Meski telah mengalami kemunduran, warisan budaya dan sejarahnya tetap hidup dalam budaya dan tradisi masyarakat Cirebon.

    Dengan pemahaman mendalam tentang sejarah dan budaya ini, kita dapat lebih menghargai warisan yang tak ternilai dari Kerajaan Cirebon. Semoga artikel ini bermanfaat, ya!

  • Menelisik Sejarah TNI dan Tugasnya Lengkap!

    Menelisik Sejarah TNI dan Tugasnya Lengkap!

    Tentara Nasional Indonesia (TNI) merupakan salah satu institusi yang bertugas untuk mengamankan dan menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Lantas,  bagaimana sepak terjang dan sejarah TNI dalam mempertahankan kedaulatan negara?

    Sejarah TNI

    TNI
    TNI | Sumber Gambar: Twitter X @MilitaryObs_ID 

    Siapa yang tidak mengenal institusi yang satu ini? Ya, TNI adalah perkembangan organisasi yang berawal dari Badan Keamanan Rakyat (BKR). Dalam pembahasan kali ini, sejarah TNI terbagi menjadi 3 fase, yaitu pasca proklamasi, Orde Baru, dan reformasi. Simak pembahasan selengkapnya!

    1. Pasca Proklamasi

    Seperti yang kita singgung sebelumnya, cikal bakal lahirnya TNI bermula dengan terbentuknya BKR pasca proklamasi demi mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan Belanda.

    Kemudian, pada 5 Oktober 1945 berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan untuk memperbaiki susunan yang sesuai dengan dasar militer international, maka berubah lagi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI). 

    Seiring berjalannya waktu, banyak rakyat Indonesia yang membentuk sejumlah laskar perjuangan sendiri sehingga demi menyatukan dua kekuatan, pemerintah akhirnya secara resmi membentuk Tentara Nasional Indonesia pada 3 Juni 1947.

    Pada periode kritis selama perang kemerdekaan (1945-1949), TNI berhasil mewujudkan sebagai tentara rakyat, tentara revolusi, dan juga tentara nasional. 

    2. Orde Baru

    Kemudian, masuk pada sejarah TNI pada era Orde Baru. Memasuki era 1970-an, TNI memiliki andil yang cukup besar dalam pemerintahan Indonesia. Tidak hanya bertugas melindungi keamanan dan integritas nasional, namun TNI juga memiliki peran aktif dalam menjaga stabilitas politik Indonesia.

    Terbentuknya Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang merupakan gabungan dari TNI dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) diharapkan mampu menciptakan efektifitas dan efisiensi dalam melaksanakan perannya, serta tidak mudah terpengaruh oleh kepentingan kelompok politik tertentu.

    Akan tetapi, kebijakan dwifungsi ABRI oleh pemerintah Orde Baru dianggap menjadi penghambat terciptanya iklim demokrasi yang sehat bagi bangsa. Tidak sedikit pengamat yang menilai bahwa peran ABRI perlu dikembalikan pada posisi asalnya, yakni sebagai lembaga pertahanan dan keamanan.

    Meski begitu, pemerintah kerap menggunakan ABRI sebagai alat untuk menindak sejumlah kelompok yang menjadi ancaman terhadap keamanan negara. Hal itu terlihat dari banyaknya aksi militer di berbagai wilayah Indonesia, terutama sejumlah wilayah strategis yang berpotensi memicu konflik ketegangan.

    3. Era Reformasi

    Pada 1 April 1999, TNI dan POLRI resmi berpisah, dan nama ABRI kembali menjadi TNI. Lengsernya Presiden Soeharto pada 1998 menjadi momentum gerakan demokratis dan sipil tumbuh mengganti peran militer dalam keterlibatan politik di Indonesia.

    Sebagai hasilnya, TNI telah mengalami reformasi tertentu, seperti penghapusan Dwifungsi ABRI. TNI telah menjadi institusi yang mengalami banyak perubahan dan transformasi. 

    Tidak hanya bertugas melindungi keamanan dan integritas nasional, tetapi juga harus dapat menghadapi berbagai ancaman dan tantangan yang muncul, seperti aksi terorisme, kejahatan cyber, hingga perdagangan ilegal.

    Angkatan TNI

    TNI terdiri dari 3 angkatan bersenjata, yaitu angkatan darat, laut, dan udara. Semuanya bertugas untuk melaksanakan tugas pokok pertahanan NKRI. Berikut penjelasannya:

    1. Angkatan Darat

    Angkatan Darat (AD) merupakan angkatan bersenjata TNI yang bertugas melaksanakan pertahanan negara di darat.  Sejarah TNI Angkatan Darat bermula pada 1945, tepatnya setelah Indonesia merdeka.

    Awal mulanya terdiri dari organisasi militer yang dipimpin oleh sejumlah pahlawan nasional yang tergabung dalam Tentara Republik Indonesia (TRI) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Kemudian organisasi militer tersebut bergabung menjadi satu angkatan yang kita kenal sebagai Angkatan Darat.

    Pada masa Orde Baru, Angkatan Darat mempunyai andil yang cukup besar dalam pemerintahan. Tetapi, setelah terjadinya perubahan politik pada 1998, Angkatan Darat kemudian mulai mengalami transformasi dan perubahan struktural.

    Angkatan Darat juga memiliki peran dalam pemeliharaan ketertiban umum, penanggulangan bencana, dan penyelenggaraan keamanan di sejumlah wilayah strategis Indonesia.

    2. Angkatan Laut

    Angkatan Laut
    Angkatan Laut | Sumber Gambar: Twitter X @_TNIAL_

    Angkatan Laut (AL) merupakan angkatan bersenjata TNI yang bertugas melaksanakan pertahanan negara di laut. Sama dengan AD, awal mula sejarah TNI Angkatan Laut juga terbentuk setelah Indonesia merdeka dan merupakan gabungan dari Tentara Pelopor (TP) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

    Angkatan Laut mempunyai peran untuk melaksanakan pertahanan negara di wilayah lautan Indonesia, termasuk mengamankan wilayah perairan, pengawasan aktivitas maritim, dan menanggulangi kegiatan illegal fishing.

    3. Angkatan Udara (AU)

    Angkatan Udara
    Angkatan Udara | Sumber Gambar: Twitter X @_TNIAU

    Angkatan Udara (AU) merupakan angkatan bersenjata TNI yang bertugas melaksanakan pertahanan negara di udara. Cikal bakal atau sejarah TNI Angkatan Udara juga merupakan gabungan dari Tentara Pelopor (TP) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

    Angkatan Udara mempunyai peran dalam melaksanakan pertahanan negara di wilayah udara Indonesia, termasuk menjaga perbatasan udara hingga menanggulangi kegiatan illegal flying.

    Tugas TNI

    Setelah mengetahui sejarah TNI, mari kita bahas apa saja tugasnya. Pada hakikatnya, tugas pokok TNI adalah menjaga keamanan, ketertiban, dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI.  

    Memberi perlindungan kepada bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, serta melaksanakan sejumlah tugas operasi militer sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 

    Baik Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara bertanggung jawab dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan kedaulatan negara, serta melaksanakan sejumlah tugas lain yang diberikan oleh pemerintah sesuai dengan kewenangannya.

    Oleh sebab itu, TNI sebagai alat pertahanan negara berfungsi sebagai penangkal setiap bentuk ancaman, baik dari luar maupun dalam negeri. Berdasarkan Undang-undang atau UU Nomor 34 Tahun 2004 mengenai Tentara Nasional Indonesia pasal 7. Berikut penjabaran tugas pokok dari TNI: 

    • Menegakkan kedaulatan negara.
    • Mempertahankan keutuhan wilayah NKRI berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia tahun 1945.
    • Memberi perlindungan segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terkait keutuhan bangsa dan negara. 

    Adapun tugas pokok itu mereka lakukan dengan dua cara, yakni operasi militer untuk perang dan operasi militer selain perang.

    1. Operasi Militer untuk perang
    2. Operasi militer selain perang, yang mencakup:
    • Mengatasi gerakan separatisme bersenjata
    • Mengatasi pemberontakan bersenjata
    • Mengatasi aksi terorisme 
    • Mengamankan wilayah perbatasan
    • Mengamankan objek vital nasional yang bersifat strategis
    • Melangsungkan tugas perdamaian dunia sesuai dengan kebijakan politik luar negeri
    • Mengamankan Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarganya
    • Memantapkan wilayah pertahanan dan kekuatan pendukungnya sesuai dengan sistem pertahanan semesta
    • Membantu tugas pemerintahan daerah
    • Membantu Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat yang sesuai dalam Undang-Undang
    • Mengamankan tamu negara setingkat kepala dan perwakilan pemerintah asing yang sedang dalam kunjungan ke Indonesia
    • Membereskan masalah bencana alam, pengungsian, dan pemberian bantuan kemanusiaan
    • Membantu melakukan pencarian dan pertolongan dalam kecelakaan
    • Membantu dalam pengamanan pelayaran dan penerbangan terhadap pembajakan, perompakan, dan penyelundupan

    Fungsi dan Peran TNI

    Setelah mengetahui sejarah TNI, kurang lengkap jika tidak membahas fungsi dan peran mereka. Fungsi dan peran TNI diatur dalam UU nomor 34 tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia. Berdasarkan pasal 5, 6, dan 7 dari UU tersebut, berikut adalah tugas dan fungsi TNI yang perlu kamu ketahui. 

    1. Fungsi

    (1) TNI sebagai alat pertahanan negara, memiliki fungsi antara lain:

    • Penyanggah terhadap setiap bentuk ancaman militer dan ancaman bersenjata dari luar dan dalam negeri terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa.
    • Penindak terhadap setiap bentuk ancaman sebagaimana yang ada pada ayat (1) huruf a.
    • Pemulih terhadap keadaan keamanan negara yang terganggu akibat kekacauan.

    (2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana yang ada pada ayat (1), TNI adalah komponen utama sistem pertahanan negara.

    (3) Ketentuan sebagaimana yang ada pada ayat (2) berlangsung berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara.

    2. Peran

    TNI berperan sebagai alat negara dalam bidang pertahanan yang ketika menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara.

    Baca Juga: Sejarah Polri serta Fungsi dan Tugasnya bagi NKRI Lengkap!

    Tahu Sejarah TNI dan Tertarik jadi Bagian dari Mereka?

    Itulah penjelasan mengenai sejarah TNI, mulai dari masa penjajahan hingga sekarang ini. Sejak dahulu, TNI telah menjadi garda terdepan dalam pertahanan negara dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia.

    Berbagai ancaman, gangguan, dan tantangan yang terkait dengan kedaulatan keutuhan, dan keselamatan bangsa telah berhasil mereka atasi dengan baik selama ini.

    Agar bisa menjadi prajurit TNI, tidak hanya persiapan secara fisik, tetapi juga persiapan secara intelektual sehingga melalui kerja keras, kesungguhan, serta konsisten dalam berlatih dan belajar niscaya dapat terlaksana. Dengan melihat sepak terjang dan eksistensinya, apakah kamu tertarik untuk menjadi TNI?

  • Mengenal Penemu Permainan Bola Basket dan Persebarannya

    Mengenal Penemu Permainan Bola Basket dan Persebarannya

    Banyak orang yang menyukai basket tetapi mungkin tidak banyak yang tahu siapa sebenarnya penemu permainan bola basket. Nah, kalau kamu sendiri apakah kamu tahu siapa penemunya? Daripada penasaran, yuk kita bahas penemu salah satu permainan bolah paling populer sejagat ini!

    James Naismith, Guru Olahraga, Penemu Permainan Bola Basket

    James Naismith
    James Naismith | Sumber gambar: canadaswalkoffame.com

    Permainan bola basket pertama kali ditemukan oleh seorang guru olahraga kelahiran Kanada, bernama James Naismith.

    James Naismith lahir pada 6 November 1861, dan merupakan seorang guru olahraga yang bertugas di YMCA International Training School di Massachusetts, Amerika Serikat.

    James Naismith terlahir sebagai seorang yang cinta dengan olahraga. Kecintaannya tersebut membuat ia mempunyai banyak ide segar dalam mengajarkan metode olahraga pada siswa-siswa didikannya. 

    Menurut Naismith, jika pelajaran olahraga tersampaikan dengan konsep yang segar dan menyenangkan, maka siswa akan merasa antusias dan bersemangat dalam mengikuti pelajaran – pada kasus ini, pelajaran olahraga.

    Sepak terjang sang penemu permainan bola basket sebagai pecinta olahraga sudah beliau mulai jauh sebelum menjadi guru di YMCA International Training School. Sebelum menjadi guru olahraga, beliau juga pernah menjadi seorang instruktur pendidikan olahraga di Montreal, Kanada, tepatnya di Universitas McGill.

    Awal Mula Terciptanya Permainan Bola Basket

    Saat beralih menjadi seorang guru olahraga, James Naismith memiliki satu kendala dalam metode pengajarannya.

    Naismith merasa bahwa kebugaran tim atletik sekolah tempat beliau mengajar terbilang rentan mengalami penurunan pada musim dingin. Pasalnya, para siswa tidak bisa latihan di luar ruangan. 

    Seperti yang kita tahu, saat musim dingin, suhu di luar ruangan sangatlah dingin dan tidak memungkinkan siapapun untuk beraktivitas terlalu lama di luar ruangan.

    Namun, kepala pendidikan di tempat Naismith mengajar ingin agar kebugaran tim atletiknya tetap dalam kondisi prima. Kepala pendidikan pun mengarahkan Naismith  agar melatih para atletnya secara indoor atau di dalam ruangan.

    Naismith, yang saat itu belum menjadi penemu permainan bola basket, mendengar permintaan tersebut. Akhirnya, beliau berpikir bagaimana bisa melatih kebugaran fisik para atlet di dalam ruangan? Di sisi lain, siswa tetap merasa antusias dan senang dengan metode latihan yang beliau berikan.

    Naismith pun mencari metode seperti apa yang sekiranya menyenangkan bagi siswa untuk latihan fisik, dan memungkinkan dilakukan indoor atau di dalam ruangan.

    Beliau mendapatkan ide untuk menerapkan metode latihan pada para atlet melalui sebuah game atau permainan. Tujuan utama dari permainan ini adalah agar stamina dan kondisi fisik para atlet tetap terjaga dan prima.

    Naismith pun sebisa mungkin mengurangi unsur keras pada permainannya agar tim atletik bisa terhindar dari risiko cedera dan para atlet bisa siap saat pertandingan untuk mendukung tujuan utama tadi. 

    Selain mengutamakan kondisi para atlet tim atletik, Naismith pun berusaha memasukkan unsur kerja sama di dalam permainan yang ia ciptakan. Pasalnya, beliau ingin agar tim atletik yang beliau latih dapat berpikir dan berkolaborasi dalam tim saat melakukan permainannya.

    Di dalam permainan ciptaannya, beliau pun juga ingin memanfaatkan bola sebagai instrumen permainan.

    Setelah mempertimbangkan semua aspek tersebut, Naismith pun mencari beberapa referensi olahraga tim yang sebelumnya sudah ada saat itu, seperti American football, rugbi, dan sepak bola.

    Kemudian, Naismith akhirnya berhasil menciptakan cikal bakal pertama olahraga bola basket. Proses tersebutlah yang menjadikan beliau sebagai penemu permainan bola basket pertama di dunia.

    Bagaimana Permainan Bola Basket Pertama Berlangsung?

    Pada saat itu, pola permainan bola basket belum seperti yang kita kenal dan tonton sekarang. 

    Saat pertama kali dimainkan, permainan bola basket ini menggunakan bola yang biasa digunakan di olahraga sepak bola.

    Selain itu, James Naismith sangat menjaga kondisi tim atletiknya agar tidak mengalami cedera, sehingga beliau meletakkan gawang di atas permukaan lantai (ketinggian), bukan tepat di permukaan lantai. 

    Alasannya adalah agar tidak ada yang perlu menjaga gawang tersebut. Jika tidak ada penjaga gawang, maka kemungkinan adanya benturan saat bermain juga bisa berkurang, sehingga menurunkan risiko cedera pada tim atlet.

    Ternyata, tim atlet menyukai permainan ciptaan James Naismith ini. Walaupun demikian, permainan ini memiliki satu kekurangan. Apa itu?

    Kekurangan tersebut adalah saat bola sudah masuk ke dalam gawang, bola tidak bisa keluar dengan sendirinya. Akibatnya, bola harus dipungut kembali dari gawang agar permainan bisa berlanjut. Bahkan, James Naismith pun ikut membantu mengeluarkan bola agar permainan tidak banyak terganggu.

    Kekurangan tersebut mendorong James Naismith kembali memutar otak untuk menutupi kekurangan tersebut. Beliau membuat gawang pada permainannya berbahan jaring dengan lubang di bawahnya agar bola bisa langsung keluar melalui bagian bawah jaring jika masuk ke gawang.

    Tentu saja, gagasan tersebut mempermudah James Naismith atau pun tim atlet dalam melakukan permainan bola ini. 

    Jaring yang digunakan sebagai gawang pada permainan tersebut disebut dengan istilah ‘basket’ oleh salah satu tim atletnya. Kata ‘basket’ memiliki padanan “keranjang” dalam Bahasa Indonesia.

    Awalnya, sempat ada usulan untuk menamai permainan ini sebagai “bola Naismith”. Namun, James Naismith menolaknya.

    Nah, sejak saat itu, permainan yang James Naismith ciptakan ini memiliki sebutan basketball atau bola basket.

    Naismith pun didaulat sebagai Presiden Kehormatan Federasi Bola Basket Internasional karena berhasil menemukan permainan tersebut.   Pendaulatan ini terjadi saat sosok penemu permainan bola basket tersebut datang ke pentas Olimpiade pada tahun 1936. 

    Saat itu, pagelaran olahraga terakbar tersebut berlangsung di Berlin, Jerman.

    Persebaran Olahraga Bola Basket

    Persebaran Olahraga Bola Basket
    Persebaran Olahraga Bola Basket | Sumber gambar: sportingnews.com

    Di awal permainan bola basket tercipta, permainan ini memanfaatkan bola yang digunakan untuk sepak bola sebagai bolanya dan hanya terjadi operan dari satu pemain ke pemain lainnya saja.

    Seiring waktu, permainan bola basket mengalami perubahan dan perkembangan positif. Misalnya saja, bola khusus untuk basket sudah tercipta dan mulai muncul teknik memantulkan bola ke lantai.

    Pertandingan resmi bola basket terjadi pada 20 Januari 1892, berlangsung di YMCA International Training School di Massachusetts, Amerika Serikat – tempat di mana James Naismith, penemu permainan bola basket, mengajar.

    Setelah berlangsungnya pertandingan basket beberapa kali, popularitas bola basket makin menyebar. Pertandingan bola basket mulai diselenggarakan di kota-kota besar di berbagai negara bagian Amerika Serikat. Saat itu, pemain harus mematuhi 13 aturan dasar yang James Naismith ciptakan.

    Popularitas bola basket pun terus mengalami peningkatan, hingga terselenggaranya turnamen bola basket tingkat perguruan tinggi pada tahun 1939. Turnamen ini nantinya menjadi turnamen basket pertama di Amerika Serikat dengan nama NCAA College Basketball Championship Tournament.

    Popularitas permainan bola basket terus menanjak tidak hanya sebatas di seantero Amerika Serikat saja, tetapi sudah mulai menyebar ke negara-negara lain. 

    Lalu, pada tanggal 18 Juni 1932, terbentuklah sebuah federasi yang menaungi olahraga bola basket di dunia. Federasi tersebut bernama Federation Internationale de Basketball Amateur (FIBA) yang berkantor pusat di Jenewa, Swiss.

    Sejak saat itu, makin banyak orang yang mengenal dan menggemari permainan bola basket. Jumlah turnamen bola basket yang terselenggara di seluruh dunia pun turut mengalami peningkatan yang signifikan. 

    Baca Juga: Konsep Berpikir Sejarah: Pengertian, Macam, dan Contohnya

    Apa Aspek Paling Menarik dari Penemuan Olahraga Bola Basket?

    Sebelum kita mengenal bola basket dengan industrinya seperti sekarang, faktanya permainan bola basket berasal dari sebuah sekolah olahraga dan dimainkan oleh sekelompok kecil atlet.

    Peran James Naismith sebagai penemu permainan bola basket berasal dari kecintaannya pada olahraga.

    Keinginan beliau untuk membuat pendidikan olahraga tetap menyenangkan di situasi yang sepertinya sulit saat itu (musim dingin), serta dorongan kepala pendidikan juga berpengaruh pada proses terbentuknya olahraga yang populer ini.