Category: Sejarah

  • Apa Itu Arkeolog? Tugas, Prospek Kerja dan Cara Menjadi Arkeolog

    Apa Itu Arkeolog? Tugas, Prospek Kerja dan Cara Menjadi Arkeolog

    Arkeolog merupakan salah satu bidang pekerjaan yang memiliki peranan penting untuk kehidupan. Pasalnya, profesi ini sangat membantu dalam mengetahui bagaimana sejarah dan peradaban di masa lalu. Untuk lebih jelasnya, yuk cari tahu dulu apa itu arkeolog, tugas, dan prospek kerja pada artikel ini!

    Apa Itu Arkeolog?

    Peninggalan Sejarah
    Peninggalan Sejarah | Sumber gambar: Pexels.com

    Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arkeologi adalah ilmu yang mengkaji tentang kebudayaan dan kehidupan kuno melalui benda-benda peninggalan masa lalu.

    Oleh karena itu, bidang ilmu ini  juga dikatakan sebagai gabungan dari ilmu sejarah dan geologi. 

    Sedangkan, arkeolog merupakan julukan untuk orang yang ahli di bidang arkeologi. Jadi, seorang arkeolog bisa membantu kita untuk mengidentifikasi potensi dari suatu benda atau artefak yang ditemukan dari hasil suatu penggalian.

    Kemudian hasil dari identifikasi ini bisa menjadi informasi bersama untuk ilmu pengetahuan dan data sejarah. Tanpa bidang ini, tidak akan ada data-data sejarah yang kita pelajari di bangku sekolah saat ini. 

    4 Tugas Arkeolog

    Aktivitas di sekitar Piramida
    Aktivitas di sekitar Piramida | Sumber gambar: Pexels.com

    Untuk lebih lengkapnya mengenai apa itu arkeolog, berikut ini tugas-tugas dari seorang arkeolog.

    1. Menyelidiki Situs Bersejarah

    Tugas pertama dan utama dari seorang arkeolog adalah mempelajari situs bersejarah dan prasejarah. Mereka bertugas untuk menyelidiki sisa-sisa fisik dari masa lalu untuk memahami bagaimana hubungan manusia dengan masa lalunya. 

    Mereka akan berusaha untuk menemukan petunjuk terkait masa lalu dengan menggunakan berbagai macam teknik, salah satunya adalah penggalian. 

    Melalui penggalian ini mereka berharap untuk mendapatkan artefak sebagai bahan penyelidikan sejarah. 

    2. Mengidentifikasi Area Penggalian

    Tidak hanya melakukan penyelidikan, tetapi seorang arkeolog juga harus bisa mengidentifikasi area atau lokasi penggalian yang potensial. 

    Untuk melakukan hal ini, mereka harus bisa menganalisis peta, geografis, foto udara dan catatan demi bisa mengidentifikasi lokasi potensial untuk situs penggalian. 

    Selain itu, dalam melakukan hal ini, seorang arkeolog harus bisa bekerja sama dengan para ilmuwan dan arkeolog lokal. Dengan tujuan agar area penggalian tersebut tepat dan bisa mendapatkan hasil yang maksimal. 

    3. Mengikuti Kegiatan Penggalian

    Seorang arkeolog juga bertugas untuk melakukan kegiatan penggalian. Penggalian sendiri adalah bagian paling penting dalam arkeologi. Arkeolog lapangan melakukan proyek jangka panjang untuk mengangkat dan memindahkan tanah demi mengungkap peninggalan sejarah dan mempelajari peradaban masa lalu. 

    4. Melindungi Barang Bersejarah

    Lulusan arkeologi tidak hanya mempelajari barang bersejarah, tetapi juga bertugas untuk menjaga dan melestarikannya. 

    Untuk itulah, dalam ilmu arkeologi juga menekankan tentang bagaimana seorang arkeolog bisa merasakan koneksi emosional dengan para leluhur dahulu.

    Tujuan hal ini agar arkeolog bisa melindungi barang bersejarah tanpa ada paksaan sama sekali. Benar-benar keinginan kuat dari dalam diri untuk bisa melestarikan barang artefak tersebut berdasarkan koneksi emosionalnya dengan para leluhur. 

    Beberapa bentuk menjaga dan melestarikan barang bersejarah ini yaitu dengan membersihkannya dan memastikan semua prinsip etika arkeologi terimplementasi. 

    Selain itu, mereka juga harus bisa menstabilkan bahan barang agar generasi mendatang dapat mempelajari barang-barang tersebut.

    Cara Kerja Arkeolog

    Tempat Bersejarah
    Tempat Bersejarah | Sumber gambar: Pexels.com

    Pada dasarnya, cara kerja seorang arkeolog hampir sama dengan seorang detektif. Seorang arkeolog berusaha untuk menyusun sebuah cerita utuh tentang budaya dan kehidupan berdasarkan pada bukti-bukti yang telah mereka temukan.

    Proses penyusunan ini akan melalui kegiatan mencari data, menggabungkan data dan menghubungkan satu data dengan data lainnya.

    Jadi, hampir sama dengan detektif. Bedanya, arkeologi akan fokus mempelajari barang-barang bersejarah dari masa lalu.

    5 Prospek Kerja Lulusan Arkeologi

    Berikut ini 5 prospek kerja seorang lulusan arkeologi, yaitu:

    1. Pengelola Museum

    Seorang lulusan arkeologi tentu saja akan mengerti sejarah dan barang-barang bersejarah. Jadi, pengelola museum merupakan pekerjaan yang cocok untuk kamu yang lulusan arkeologi. 

    Seorang pengelola museum memiliki tugas untuk menjaga dan merawat barang bersejarah dengan berbagai cara. 

    Nah, seorang dari jurusan ini biasanya memiliki pengetahuan yang mumpuni terkait bagaimana menjaga barang bersejarah tersebut. 

    2. Arkeolog

    Lulusan arkeologi, tentu saja memiliki prospek kerja sebagai arkeolog. Lalu apa itu tugas arkeolog sebenarnya? 

    Adapun profesi ini adalah orang yang bertugas untuk mencari berbagai peninggalan bersejarah di masa lampau mulai  dari artefak, fosil, bangunan kuno hingga dokumen kuno.

    Selain itu, lulusan ini juga bertugas untuk mendampingi proses pemugaran sebuah situs candi dan bangunan masa lampau. Bagi yang menyukai sejarah dan artefak, ini tentunya akan menjadi pekerjaan yang menyenangkan untuk dilakukan. 

    3. Jurnalis

    Prospek kerja lulusan arkeologi berikutnya yaitu bisa menjadi seorang jurnalis. Dalam hal ini,  arkeolog bisa menulis isu-isu terkait sejarah dan peninggalannya. 

    Mereka tentu bisa memahami semua isu tersebut dengan baik, sehingga bisa menjadi jurnalis terbaik untuk bidang ini.

    Saat  ini pun sudah ada beberapa media khusus yang membahas sejarah seperti Historia.id dan National Geographic. 

    Untuk itulah, walaupun kamu seorang lulusan arkeologi memiliki prospek kerja sebagai seorang jurnalis.

    4. Ahli Sejarah atau Sejarawan

    Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, lulusan arkeologi pasti akan sangat mengerti sejarah. Pasalnya, arkeologi dan sejarah adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan kita. 

    Oleh karena itu, lulusan arkeologi memiliki prospek kerja juga sebagai seorang sejarawan. Adapun tugas  utama seorang sejarawan adalah memberikan setiap jawaban terkait pertanyaan tentang apa saja yang terjadi pada masa lampau.

    5. Pemandu Wisata

    Pemandu wisata adalah prospek kerja selanjutnya untuk seorang lulusan arkeologi. Terutama untuk tempat wisata bersejarah, seperti candi, museum dan makam bersejarah. 

    Arkeolog adalah orang yang paling tepat dan kredibel untuk menjelaskan suatu  tempat bersejarah. Sebab, pemahaman mereka terkait sejarah yang biasanya jauh lebih banyak dari orang pada umumnya. 

    Selain itu, mereka juga tidak hanya mempelajari sejarah dari buku saja, tetapi juga melakukan penelitian secara langsung. Jadi bisa dipastikan, lulusan bidang ini adalah orang terbaik  untuk menjadi pemandu wisata bersejarah.

    4 Cara Menjadi Arkeolog

    Setelah mengetahui apa itu arkeolog dan mungkin kamu tertarik untuk menjadi seorang arkeolog, bisa mengikuti beberapa langkah berikut ini.

    1. Pendidikan Sarjana

    Seorang arkeolog dituntut untuk memiliki pengetahuan yang mumpuni tentang sejarah. Selain itu, orang di profesi ini juga harus memiliki pengalaman dan skill terkait proses penggalian tempat sejarah dan menjaga barang-barang bersejarah. 

    Nah, semua skill dan pengalaman ini bisa kamu dapatkan di bangku perkuliahan jurusan terkait. Beberapa jurusan yang relevan tersebut seperti antropologi, arkeologi, sejarah, atau ilmu budaya. 

    Tidak hanya itu, melalui pendidikan ini juga akan sangat membantu kamu untuk membuat orang percaya dengan keahlianmu dalam bidang arkeologi. 

    Tanpa adanya landasan di bidang arkeologi, orang biasanya akan sulit untuk menerimamu bekerja dalam bidang ini. 

    2. Pengalaman Bekerja

    Untuk menjadi seorang arkeolog, biasanya  pengalaman kerja juga diperlukan. Apalagi untuk sebuah perusahaan arkeologi ternama, maka pengalaman kerja merupakan satu hal yang biasanya menjadi persyaratan untuk pelamar. 

    Dalam hal ini, kamu bisa menambah pengalaman bekerja di lapangan selama kuliah. Selain itu, kamu bisa mencari kesempatan terlibat dalam proyek arkeolog berpengalaman yang ada saat ini. 

    3. Tingkatkan Skills

    Skills yang mumpuni adalah salah satu syarat untuk bekerja, termasuk dalam bidang arkeologi. 

    Sebagian besar skill yang dibutuhkan untuk bekerja dalam bidang ini adalah memiliki keterampilan dalam melakukan penelitian, komunikasi, dan analisis yang sangat baik. 

    Semua kemampuan tersebut sangat dibutuhkan untuk menunjang pekerjaan sehari-hari seorang arkeolog. 

    Selain itu, kamu juga perlu mengetahui cara menulis laporan teknis yang baik dan bisa menggunakan sistem informasi geografis (GIS).

    Jika kamu belum memiliki kemampuannya, bisa coba mulai sekarang untuk mempelajarinya dari berbagai sumber. 

    Sumber yang dimaksud seperti membaca buku, mengikuti kelas online, dan mendapat pelatihan formal atau dengan belajar dari mentor.

    4. Jalin Networking

    Networking sangat penting dalam mendapatkan kerja saat ini, termasuk dalam bekerja dalam bidang arkeologi. Kamu bisa mulai membangun koneksi dengan para ahli sejarah dan mulai mencari tahu terkait peluang kerja di museum, situs bersejarah, atau lembaga pemerintah.

    Sudah Tahu Apa Itu Arkeolog dan Tugasnya?

    Setelah mengetahui apa itu arkeolog, apakah kamu tertarik dengan profesi ini? Arkeolog adalah orang yang bertugas mencari tahu sejarah dan menjaga peninggalan sejarah. Untuk menjadi seorang arkeolog, kamu perlu belajar sejarah dan memiliki skill arkeologi yang mumpuni. 

    Cara  untuk mendapatkan ini semua adalah dengan mengambil jurusan arkeologi di jenjang sarjana, bila perlu sampai profesor. Saat ini sudah banyak kampus ternama yang menawarkan jurusan ini, misalnya Universitas Gadjah Mada. Jurusan ini sangat cocok sekali untuk kamu yang suka sejarah. Jadi, selamat mencoba!

  • Meganthropus Paleojavanicus: Ciri dan Sejarah Penemuannya

    Meganthropus Paleojavanicus: Ciri dan Sejarah Penemuannya

    Meganthropus paleojavanicus merupakan salah satu jenis manusia purba yang berasal dari wilayah Jawa. Ia memiliki ciri khusus yang membedakannya dengan manusia purba lainnya. Jika Anda ingin mengenal lebih jauh, Anda dapat mengetahuinya lewat artikel di bawah ini.

    Apa Itu Meganthropus Paleojavanicus?

    Tengkorak Meganthropus Paleojavanicus
    Tengkorak Meganthropus Paleojavanicus | Sumber: Bola.com

    Nama manusia purba ini terdiri dari kata ‘mega’ yang memiliki arti besar dan ‘anthropus’ yang memiliki arti manusia. Dengan kata lain, meganthropus adalah manusia purba yang berukuran besar.

    Sedangkan nama belakang Paleojavanicus berasal dari kata ‘paleo’ yang memiliki arti tua dan ‘Javanicus’ yang berarti berasal dari Jawa. Artinya, manusia purba ini pertama kali ditemukan di wilayah Jawa.

    Perlu Anda ketahui bahwa pada saat penemuannya, fosil dari manusia purba tidak lengkap. Para ahli hanya menemukan bagian tengkorak, rahang bagian bawah, serta beberapa gigi yang terlepas.

    Seperti namanya, ukuran tubuh Meganthropus memang besar jika dibandingkan dengan manusia purba jenis lain. Sejarawan memiliki perkiraan mengenai keberadaan mereka dari benda yang ditemukan di sekitar lokasi penemuan. Benda tersebut adalah alat rumah tangga dan ukiran.

    Ciri-ciri Meganthropus

    Tengkorak Meganthropus Paleojavanicus
    Tengkorak Meganthropus Paleojavanicus | Sumber: Dasaguru.com

    Berikut adalah ciri-ciri dari Meganthropus paleojavanicus yang akan membantu Anda mengenalnya lebih jauh.

    • Memiliki kening yang bentuknya menonjol dan tulang pipi yang cukup tebal
    • Tonjolan keningnya terlihat mencolok
    • Tengkorak tidak memiliki dagu
    • Memiliki geraham dengan ukuran besar
    • Tegap
    • Memiliki bentuk muka yang masif
    • Memiliki bentuk rahang bawah yang cukup tegap
    • Gigi berbentuk homonim
    • Makanan utamanya adalah tumbuhan-tumbuhan
    • Memiliki otot kuat untuk mengunyah
    • Tengkorak bagian belakang bentuknya juga menonjol
    • Memiliki volume otak sebesar 900cc
    • Memiliki tinggi badan mencapai 2,5 meter

    Selain ciri-ciri dari segi fisik dan bentuk tubuh, Anda juga perlu mengenali ciri-ciri manusia purba tertua di Indonesia ini melalui ciri lainnya sebagai berikut:

    • Manusia purba ini memiliki cara berjalan yang mirip dengan orang utan, yaitu membungkuk dengan tangan menyangga tubuh.
    • Peralatan masak yang mereka gunakan memiliki tekstur cukup kasar karena bahan utamanya adalah batu yang mengalami proses pemecahan secara manual dan sederhana (kapak).
    • Mereka hidup dengan mengandalkan hasil alam saja.
    • Mereka memiliki kebiasaan berpindah tempat apabila persediaan makanan di suatu wilayah sudah menipis.

    Penemuan Meganthropus Paleojavanicus

    Menurut para ahli dan sejarawan, manusia purba Meganthropus merupakan jenis yang paling tua di Indonesia. Penemuan pertamanya ada di Sangiran oleh G.H.R Von Koenigswald dan Weidenreich pada tahun 1936-1941.

    Fosil sejarah yang berhasil terdeteksi terdiri dari susunan tulang yang mencakup tulang rahang bawah dan atas, tengkorak, serta beberapa gigi yang lepas. Dari hasil penelitian lebih lanjut, para ahli menyimpulkan bahwa makanan sehari-hari mereka adalah tumbuhan.

    Pola Hidup Meganthropus

    Ilustrasi kehidupan Meganthropus paleojavanicus
    Ilustrasi kehidupan Meganthropus paleojavanicus | Sumber: Texno.id

    Pola kehidupan Meganthropus paleojavanicus masih berpindah-pindah tempat dengan mencari makan yang mereka dapatkan dari teknik cara berburu dan meramu. Sayangnya, fosil manusia purba yang berhasil ditemukan sangat sedikit.

    Sejarawan kesulitan melakukan identifikasi benda-benda peninggalan manusia purba. Hal tersebut menyebabkan kebudayaan peninggalannya sulit diketahui. Akhirnya, muncul perbedaan pendapat di kalangan para ahli.

    Sebagian ahli menganggap manusia purba ini sebagai Pithecanthropus, sementara sebagian lain menganggapnya sebagai Australopithecus.

    Di sekitar fosil manusia purba juga ditemukan peralatan bertahan hidup yang terbuat dari batu namun masih kasar. Para ahli menduga mereka menggunakan peralatan memasak yang masih sangat sederhana karena proses pembuatannya adalah membenturkan batu dengan permukaan lain yang keras.

    Karena benturan ini tidak beraturan, maka bentuk kapak juga berbeda-beda. Namun, intinya, batu tersebut adalah alat sederhana yang membantu mereka bertahan hidup. 

    Di sekitar tempat penemuan fosil, ahli juga menemukan peralatan yang berbentuk seperti kapak. Diduga bahwa kapak ini adalah peralatan yang manusia purba gunakan untuk mencari makan. Kapak ini menunjukkan bahwa hasil alam adalah makanan utama Meganthropus paleojavanicus.

    Kapak mereka gunakan untuk memotong tumbuh-tumbuhan sekitar, membabat hutan, serta mengumpulkan buah-buahan. Dari bentuk kapak, para ahli bisa melakukan identifikasi yang menghasilkan kesimpulan tersebut.

    Kebiasaan berpindah tempat menjadi kegiatan utama yang menjadi ciri dari manusia purba ini. Apabila sumber makanan di suatu wilayah habis, mereka akan berpindah ke wilayah lain yang sumber makanannya masih melimpah.

    Ini merupakan insting bertahan hidup. Mereka tahu bahwa jika tidak ada makanan, mereka akan lapar dan mengalami penderitaan.

    Jadi, tindakan nomaden sangat wajar ditemukan pada kebiasaan-kebiasaan manusia purba. Mereka akan berpindah dari satu gua ke gua lain. Mereka memilih gua sebagai tempat tinggal karena bisa melindungi dari panas dan hujan.

    Pada masa itu, manusia purba belum memiliki insting untuk membangun tempat tinggal. Hal paling penting yang mereka pikirkan adalah tidak mati.

    Penelitian Meganthropus Paleojavanicus

    Tahun 1942, Von Koenigswald tertangkap oleh penjajah Jepang sehingga tidak dapat melanjutkan penelitian. Temuannya dilanjutkan oleh Franz Weidenreich.

    Franz menemukan bahwa rahang temuannya mirip dengan rahang gorila dengan ukuran yang lebih besar. Hingga akhirnya peneliti lain seperti Sartono, Marks, dan Tyler juga menemukan fosil serupa.

    Setiap fosil memiliki hubungan dengan manusia purba ini, tetapi hubungan tersebut ada yang kuat dan ada yang lemah. Tidak dapat dipastikan apakah memang fosil tersebut masuk ke dalam manusia purba sejenis atau tidak.

    Penemuan yang lain juga masih menjadi perdebatan para ahli karena setiap orang memiliki pendapat berbeda. Perbedaan pendapat ini lahir dari pengalaman dan pengetahuan yang berbeda. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh wilayah penemuan fosil yang karakteristiknya berbeda walau masih mirip.

    Fosil Meganthropus Paleojavanicus

    Terdapat beberapa jenis pada manusia purba ini, penjelasannya adalah sebagai berikut.

    1. Meganthropus A / Sangiran 6

    Meganthropus A memiliki nama lain Sangiran 6. Ia adalah fragmen fosil dengan rahang yang sangat besar. Fragmen rahang besar tersebut pertama kali ditemukan pada 1942 oleh Von Koenigswald.

    2. Meganthropus B / Sangiran 8

    Pada tahun 1953, penemuan fosil berupa potongan tulang rahang lain dideskripsikan oleh Marks. Ciri-cirinya adalah memiliki ukuran dan bentuk hampir sama dengan penemuan rahang bawah besar yang asli (sudah mengalami kerusakan parah).

    Dari fosil tersebut diketahui bahwa penemuan ini berupa tulang rahang dewasa. Ukurannya lebih kecil daripada Homo erectus. Namun, para ahli sempat bingung karena ada beberapa keunikan yang berbeda dengan penemuan awal.

    3. Meganthropus C / Sangiran 33

    Penemuan fosil ketiga adalah potongan tulang rahang pada tahun 1979. Penemuan tersebut memiliki ciri-ciri dan kesamaan umum dengan temuan rahang bawah sebelumnya. Namun, akhirnya, fosil ini memiliki hubungan cukup lemah dengan Meganthropus paleojavanicus.

    4. Meganthropus D

    Penemuan fosil ini berupa tulang ramus dan rahang oleh Sartono pada tahun 1993. Usia fosil tersebut diperkiraan antara sekitar 1,4 hingga 0,9 juta tahun yang lalu. Bagian ramusnya telah mengalami kerusakan yang cukup parah.

    Namun, bagian tulang rahang bawah tidak mengalami kerusakan parah kecuali bagian gigi yang hilang. Fosil ini ukurannya agak lebih kecil tetapi memiliki bentuk sangat mirip dengan Meganthropus A.

    5. Meganthropus I / Sangiran 27

    Spesimen penemuan Tyler ini menggambarkan bentuk tengkorak yang hampir lengkap, tapi hancur. Namun,  tidak memiliki tonjolan ganda yang hampir bertemu di bagian atas tempurung kepala dan punggung nuchal yang tebal.

    6. Meganthropus II / Sangiran 31

    Meganthropus II adalah fragmen fosil tengkorak yang pertama kali Sartono jelaskan pada 1982. Dari penemuan ini, Tyler akhirnya menyimpulkan bahwa ukuran fragmen tersebut lebih besar dari batas normal ukuran Homo erectus.

    Ciri-ciri meganthropus yang jelas adalah memiliki bentuk tengkorak lebih dalam dengan kubah lebih rendah dari spesimen mana pun yang pernah ditemukan.

    7. Meganthropus III

    Penemuan fosil ini hubungannya sedikit lebih lemah dengan Meganthropus Paleojavanicus.  Tyler menggambarkan penemuan sudut oksipital tengkorak kira-kira 120 derajat. Menurut Tyler jarak tersebut adalah rentang ukuran yang Homo erectus miliki. Namun, pendapat tersebut masih diragukan oleh ahli lainnya.

    Baca Juga: Pengertian Homo Sapiens: Persebaran & Penemuannya

    Sudah Tahu Mengenai Meganthropus Paleojavanicus?

    Manusia purba memiliki sisi menariknya masing-masing. Hal tersebut dapat diketahui dengan identifikasi benda-benda peninggalan yang mereka gunakan. Dari situ, kita akan tahu bagaimana pola kehidupan mereka dan cara mereka bertahan hidup. Setiap jenis manusia purba memiliki pola kehidupan yang berbeda satu sama lain.

  • Sejarah Candi Borobudur Lengkap dengan Fungsi dan Legendanya

    Sejarah Candi Borobudur Lengkap dengan Fungsi dan Legendanya

    Indonesia kaya akan peninggalan sejarahnya, salah satunya Candi Borobudur. Seperti yang kamu tahu, Candi Borobudur menjadi pusat keagamaan umat Buddha di seluruh dunia. Namun, sebelum menjadi tempat beribadah, Candi Borobudur memiliki kisah sejarah yang menarik. Lalu, seperti apa sejarah Candi Borobudur?

    Sejarah Candi Borobudur

    Candi Borobudur
    Candi Borobudur | sumber: jateng.solopos.com

    Dilansir dari situs Borobudur Park, Candi Borobudur dibangun oleh Dinasti Syailendra pada tahun 780-840 Masehi. Dinasti Syailendra sendiri menganut aliran Buddha yang memegang Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah bagian selatan. Pembangunan candi ini bertujuan untuk menjadi tempat memuja Buddha dan ziarah.

    Pembangunan Candi Borobudur ini, kemudian selesai pada tahun 900-an Masehi. Pada saat itu adalah masa pemerintahan Ratu Pramudawardhani, seorang anak dari Raja Samaratungga. Selain itu, kesuksesan pembangunan Candi Borobudur tidak lepas dari jasa seorang arsitek bernama Gunadharma.

    Kemudian pembangunan Candi Borobudur terlihat menggunakan gaya Manda yang merefleksikan seluruh alam semesta dalam ajaran Buddha. Lalu, bentuk bangunan candi terlihat kotak dan memiliki empat pintu masuk serta pusat bangunan berbentuk lingkaran. 

    Namun setelah itu, selama berabad-abad candi peninggalan ajaran Buddha ini pernah terkubur oleh tanah dan tertutup abu vulkanik Gunung Merapi sekitar 1006 Masehi. Akan tetapi, candi ini ditemukan kembali pada tahun 1814 oleh Gubernur Jenderal Inggris Sir Thomas Stamford Raffles saat ingin  berkunjung ke Semarang.

    Beliau mendapat informasi bahwa di daerah Kedu ada bebatuan bergambar di bukit yang letaknya di Desa Bumisegoro. Kemudian, Raffles memerintahkan Insinyur Belanda bernama Christian Cornelius bersama 200 masyarakat sekitar untuk memeriksa dan melakukan pembersihan.

    Legenda Candi Borobudur

    Masih membahas tentang sejarah Candi Borobudur, kali ini dalam sudut pandang cerita rakyat atau legenda dari masyarakat. Adapun cerita rakyat mengenai Candi Borobudur yang didukung sebuah penelitian dari geologi Nieuwenkamp.

    Pada zaman dahulu terdapat perkampungan Buddha di bawah pemerintahan Dinasti Syailendra. Saat itu, perkampungan tersebut memiliki tanah yang subur dan berdiri megah serta memiliki Raja bernama Samaratungga. 

    Kemudian saat itu, masyarakat hidup damai, rukun, dan sentosa dengan aktivitas keseharian mereka yaitu bercocok tanam. Selain itu, terdapat acara keagamaan khas Buddha yang sering mereka adakan di sekitaran danau. 

    Namun, pada suatu hari, musim paceklik datang, irigasi mulai mengering dan membuat wilayah kerajaan menjadi mencekam. Kondisi yang berlangsung lama tersebut membuat masyarakat mengalami kehausan dan kelaparan. Kemudian raja pun meminta kepada dewa untuk menurunkan hujan dengan bersemedi.

    Setelah bersemedi, hujan pun turun, namun tidak berlangsung lama. Suatu ketika, bencana alam datang hingga menghancurkan kerajaan dan rumah warga di sekitar Borobudur.

    Lalu, Raja Samaratungga meminta petunjuk kepada dewa. Dewa mengatakan bahwa bencana itu datang karena aktivitas penebangan tidak terkendali di kaki bukit Borobudur. 

    Sehingga, bukit Borobudur ditanami pohon dengan jumlah banyak dan danau yang kering, beliau membangun candi megah bernama Candi Borobudur. Lalu, pada candi terdapat aliran air yang masyarakat dapat gunakan.

    Selain itu, di candi pun mereka bisa melakukan ibadah. Candi Borobudur akhirnya selesai pada masa pemerintahan Ratu Pramudawardhani.

    Fungsi Candi Borobudur

    Setelah pamugaran selesai pada tahun 1983, Presiden Soeharto membuka secara resmi Candi Borobudur untuk masyarakat umum. Selain itu, pada tahun 1991, UNESCO menetapkan Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Pawon sebagai Warisan Budaya Dunia.

    Lalu kawasan Candi Borobudur ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional pada tahun 2008. Adapun fungsi dari Candi Borobudur saat ini antara lain:

    • Sebagai tempat bersejarah dan warisan budaya Indonesia
    • Menjadi tempat wisata keagamaan, khususnya umat Buddha
    • Sebagai tempat penelitian dalam mengembangkan ilmu pengetahuan
    • Sebagai tempat ibadah untuk umat Buddha

    Arsitektur Candi Borobudur

    arsitektur Candi Borobudur
    arsitektur Candi Borobudur | sumber : pixabay.com

    Dalam sejarah Candi Borobudur, pembangunan candi ini menerapkan tiga tingkatan ranah spiritual dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan tersebut, antara lain:

    1. Kamadhatu

    Kamadhatu merupakan bagian kaki Candi Borobudur yang memiliki arti kama atau nafsu rendah. Kemudian terlihat pada bagian tersebut mayoritas tertutup tumpukan batu yang tujuannya untuk memperkuat konstruksi candi. 

    Pada bagian kaki candi ini yang tertutup bebatuan, ada 160 panel cerita Karmawibhangga yang saat ini tersembunyi. Lalu batuan andesit yang menutupi kaki bangunan candi, jika diukur memiliki volume 13.000 m³.

    2. Rupadhatu

    Rupadhatu merupakan empat tingkatan teras yang berbentuk lorong dan pada dindingnya terdapat hiasan relief. Dalam artian lain, Rupadhatu adalah sebuah dunia yang bisa melepaskan dari nafsu, namun masih terikat oleh rupa dan bentuk. Pada tingkatan tersebut menggambarkan alam antara atau alam bawah dan alam atas.

    Lantai pada bagian Rupadhatu tersebut berbentuk persegi. Lebih lanjut, Rupadhatu terdiri dari empat lorong dengan jumlah gambar relief mencapai 1.300, lalu panjang keseluruhan relief mencapai 2,5 km dengan 1.212 panel ukiran.

    Kemudian bagian Rupadhatu terdapat patung-patung Buddha yang terletak di relung dinding yang ada di atas pagar selasar. Jika dihitung, di dalam relung terdapat arca Buddha dengan total 432 buah. Selain itu, pada bagian lankan memiliki perbedaan arsitektur yang menggambarkan peralihan dari bagian Kamadhatu ke Rupadhatu. 

    3. Arupadhatu

    Arupadhatu merupakan dinding bangunan Candi Borobudur dari lantai lima hingga tujuh yang tidak berelief, sehingga berbeda dengan Rupadhatu yang kaya akan reliefnya. 

    Pada tingkatan Arupadhatu menggambar alam atas, artinya manusia yang sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk serta rupa, namun belum mencapai nirwana.

    Jika kamu lihat pada pelatarannya, terdapat 72 stupa kecil yang tersusun menjadi tiga baris dan mengelilingi satu stupa besar. Kemudian untuk stupa kecil yang berbentuk lonceng itu tersusun pada 3 teras lingkaran. Masing-masing teras akan terdapat 32, 24, dan 16 stupa kecil, totalnya menjadi 72 stupa.

    Selain itu, terdapat patung-patung Buddha yang diletakan di dalam stupa berbentuk kurungan. Namun, dari luar kamu masih bisa melihat patung Buddha di dalamnya secara samar-samar. Maksud arsitektur bangunan tersebut menggambarkan peralihan keadaan tanpa wujud, dengan artian Buddha itu ada namun tidak terlihat.

    Susunan Pembagian Relief

    relief Candi Borobudur
    relief Candi Borobudur | sumber: pixabay.com

    Jika sudah mengetahui sejarah Candi Borobudur, maka kamu perlu memahami susunan pembagian relief dari candi tersebut. Pasalnya, setiap relief yang tersebar di dinding-dinding Candi Borobudur memiliki susunan ceritanya sendiri, yaitu:

    1. Karmawibhangga

    Sesuai namanya, relief yang menghiasi dinding batu tersebut memperlihatkan hukum karma. Kemudian, artian Karmawibhangga sendiri merupakan naskah yang menggambarkan tentang karma, yaitu sebab akibat dari tindakan baik atau jahat. 

    2. Lalitawistara

    Relief ini memperlihatkan Sang Buddha turun dari surga Tushita dan akhirnya dengan wejangan pertama yang ada di Taman Rusa, letaknya dekat dengan kota Banaras.

    Jika kamu lihat maka relief ini tersusun dari tangga di sebelah selatan, kemudian melewati susunan relief sebanyak 27 pigura yang posisi awalnya di tangga sisi timur. 

    3. Jataka dan Awadana

    Jataka merupakan sekumpulan cerita mengenai Sang Buddha sebelum terlahir sebagai Pangeran Siddharta. Kemudian isi relief tersebut menunjukkan perilaku baik, seperti suka menolong dan rela berkorban dari Sang Bodhisattwa dari makhluk lainnya. 

    Sedangkan Awadana hampir sama dengan Jataka, namun tokohnya buka Sang Bodhisattwa, melainkan makhluk lain dan ceritanya ada di kitab Awadanasataka (seratus cinta Awadana) dan kitab Diwyawadana. 

    4. Gandawyuha

    Gandawyuha merupakan deretan relief yang menggambarkan cerita Sudhana yang berkelana tanpa lelah untuk mencari Pengetahuan Tertinggi mengenai Kebenaran Sejati. Penggambaran kisahnya tersusun dalam 460 pigura berdasarkan kitab Buddha Mahayana dengan judul Gandawyuha.

    Baca Juga: Sejarah Candi Prambanan: Latar Belakang dan Legendanya

    Sudah Tahu Tentang Sejarah Candi Borobudur?

    Itulah beberapa informasi mengenai sejarah Candi Borobudur hingga gambaran cerita pada reliefnya yang bisa kamu ketahui. Sehingga kamu bisa mendapat gambaran dan wawasan lebih luas lagi. Setelah membaca artikel ini, apakah kamu tertarik untuk pergi ke Candi Borobudur?.

  • Latar Belakang Pertempuran Surabaya 10 November 1945

    Latar Belakang Pertempuran Surabaya 10 November 1945

    Pertempuran Surabaya pada tanggal 10 November 1945 merupakan salah satu peristiwa bersejarah dalam perjalanan revolusi nasional Indonesia. Pasalnya, latar belakang Pertempuran Surabaya 10 November 1945 menjadi tonggak penting dalam perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka dari penjajah. 

    Pertempuran ini juga merupakan bentuk perlawanan dari pasukan Indonesia terhadap pasukan Inggris yang ingin menguasai Surabaya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Dalam artikel ini, kita akan membahas latar belakang Pertempuran Surabaya 10 November 1945 secara singkat namun mendalam.

    Latar Belakang Pertempuran Surabaya 10 November 1945

    Pertempuran Surabaya yang terjadi pada 10 November 1945 timbul dari latar belakang yang rumit. Kedatangan pasukan Jepang, deklarasi kemerdekaan Indonesia, serta kedatangan tentara Inggris dan Belanda adalah elemen kunci yang memicu pertempuran ini. 

    Peristiwa di Hotel Yamato dan kematian Brigadir Jenderal Mallaby menjadi puncak dalam meningkatnya ketegangan antara pasukan Indonesia dan pasukan Inggris. Rangkaian beberapa peristiwa inilah yang kemudian memicu terjadinya konflik bersenjata yang mana melibatkan kedua belah pihak

    Kedatangan Tentara Jepang ke Indonesia

    Kedatangan Tentara Jepang ke Indonesia
    Kedatangan Tentara Jepang ke Indonesia | Sumber Gambar: Hot.grid.id

    Pendudukan tentara Jepang adalah awal dari serangkaian peristiwa yang akhirnya menjadi latar belakang Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Tentara Jepang tiba di wilayah Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda pada tanggal 1 Maret 1942. 

    Pada tanggal 8 Maret 1942, atau hanya tujuh hari setelah kedatangan tentara Jepang, pemerintah kolonial Hindia Belanda menyerah tanpa syarat pada Kekaisaran Jepang. Pemerintah saat itu tidak melakukan perlawanan dan menyerahkan kendali wilayah mereka tanpa syarat berdasarkan Perjanjian Kalijati.

    Akibat dari penyerahan tanpa syarat yang pemerintah kolonial Hindia Belanda lakukan, Pulau Jawa secara resmi menjadi wilayah yang diduduki oleh Jepang. Ini adalah awal dari penjajahan Jepang di Pulau Jawa, yang kemudian mempengaruhi perkembangan sejarah latar belakang Pertempuran Surabaya 10 November 1945.

    Deklarasi Kemerdekaan Indonesia

    Setelah tiga tahun berlalu (merujuk pada masa pendudukan Jepang selama Perang Dunia II), Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu setelah Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Kota Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945 dan di Kota Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945.

    Setelah menyerahnya Jepang, terjadi kekosongan kekuasaan di Indonesia karena Jepang yang sebelumnya mengendalikan wilayah tersebut tidak lagi berkuasa. Dalam situasi ini, Soekarno dan Hatta kemudian memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945

    Soekarno dan Hatta mengambil langkah ini sebagai manifestasi dari semangat perjuangan kemerdekaan Indonesia setelah penjajahan Jepang dan untuk mengambil kendali atas nasib bangsa mereka sendiri.

    Kedatangan Tentara Inggris dan Belanda

    Kedatangan Tentara Inggris dan Belanda
    Kedatangan Tentara Inggris dan Belanda | Sumber Gambar: Pexels.com

    Setelah kekalahan Jepang, tentara Inggris dan Belanda tiba di Indonesia. Tentara Inggris tiba di Jakarta pada tanggal 15 September 1945 dan kemudian mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. 

    Kedatangan tentara Inggris dan Belanda ini bertujuan untuk melucuti senjata tentara Jepang, membebaskan tawanan perang yang ditahan oleh Jepang, serta mengembalikan kekuasaan administrasi pemerintahan Belanda sebagai kolonial Hindia Belanda.

    Namun, tindakan ini menimbulkan protes dan perlawanan dari rakyat Indonesia. Peristiwa inilah yang juga menjadi latar belakang Pertempuran Surabaya 10 November 1945 bisaa terjadi.

    Rakyat dan pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata tentara Jepang, yang mana mengakibatkan terjadinya pertempuran-pertempuran di berbagai daerah. Di Surabaya, pertempuran pecah pada tanggal 27 Oktober 1945 antara pasukan Indonesia dengan pasukan Inggris.

    Insiden di Hotel Yamato, Surabaya

    Salah satu insiden yang juga menjadi latar belakang Pertempuran Surabaya 10 November 1945 adalah ketika sekelompok orang Belanda mengibarkan bendera Belanda di Hotel Yamato pada tanggal 19 September 1945. 

    Aksi ini dianggap oleh rakyat Surabaya sebagai penghinaan terhadap kedaulatan Indonesia karena mereka melakukannya tanpa seizin pemerintah Republik Indonesia. Namun, pemerintah Belanda mengklaim bahwa mereka sedang berjuang untuk mengembalikan kekuasaannya di Indonesia. 

    Sebaliknya, rakyat Surabaya merasa bahwa tindakan ini merendahkan dan tidak menghargai perjuangan mereka dalam mencapai kemerdekaan. Sebagai hasilnya, peristiwa ini memicu kemarahan dan protes dari rakyat Surabaya, yang akhirnya menyebabkan terjadinya konflik dan pertempuran.

    Kematian Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby

    Pada tanggal 30 Oktober 1945, terjadi insiden yang mengakibatkan kematian Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby, yang pada saat itu merupakan komandan pasukan Inggris di Jawa Timur. Kematian Mallaby adalah latar belakang Pertempuran Surabaya 10 November 1945 yang lebih besar.

    Brigadir Mallaby, komandan Brigade 49 Divisi India dengan pasukan kurang lebih 6.000 anggota bagian dari AFNEI, dan pasukan Sekutu yang datang ke Indonesia setelah Perang Dunia II untuk mengembalikan Indonesia di bawah kekuasaan Belanda, tewas dalam insiden di Jembatan Merah. 

    Brigjen Mallaby tewas karena kesalahpahaman yang mengakibatkan pertempuran dengan milisi Indonesia. Kesalahpahaman tersebut menyebabkan adu tembak dan ia tewas oleh tembakan dari seorang pemuda Indonesia. Sementara mobil yang dikendarai juga terbakar dalam ledakan granat sehingga jenazahnya sulit dikenali.

    Setelah kematian Mallaby, Mayor Jenderal Robert Mansergh menggantikan posisinya sebagai komandan pasukan Inggris di Jawa Timur. Kematian Mallaby mengakibatkan kemarahan Mansergh dan membuatnya mengeluarkan ultimatum yang menuntut pihak Indonesia untuk menyerahkan senjata.

    Semboyan Merdeka atau Mati pada Latar Belakang Pertempuran Surabaya 10 November 1945

    Semboyan Merdeka atau Mati
    Semboyan Merdeka atau Mati | Sumber Gambar: Sahabatnesia.com

    Pamflet udara yang mengandung ultimatum dari tentara Inggris memicu kemarahan rakyat Surabaya. Banyak pemuda dan kelompok bersenjata berkumpul di seluruh kota, termasuk yang membawa granat. 

    Mayor Jenderal Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum yang berisi pernyataan bahwa semua orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan menyerahkan senjata tersebut. Hal itu justru menimbulkan kemarahan karena rakyat Indonesia merasa terhina dengan adanya ultimatum tersebut.

    Mereka kemudian mengangkat Mayjen Sungkono sebagai Komandan Pertahanan Kota Surabaya dan Surachman sebagai Komandan Pertempuran. Inilah awal munculnya semboyan “Merdeka atau Mati” dan Sumpah Pejuang Surabaya dalam sejarah latar belakang Pertempuran Surabaya 10 November 1945.

    Ada beberapa tokoh lain yang menjadi pelopor perlawanan rakyat Surabaya pada saat itu. Beberapa tokoh tersebut yakni Bung Tomo, K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Wahab Hasbullah, Moestopo, HR Mohammad Mangoendiprodjo, dan Abdul Wahab Saleh. 

    Mereka adalah tokoh-tokoh penting yang memimpin dan terlibat dalam pertempuran tersebut. Mereka berasal dari berbagai kalangan, seperti pejuang kemerdekaan, militer, dan tokoh agama. Peran pentingnya dalam memimpin rakyat Surabaya berhasil melawan pasukan Sekutu yang ingin merebut kendali atas Indonesia.

    Dampak Pertempuran Surabaya 10 November 1945

    Pertempuran Surabaya berdampak besar pada perkembangan Revolusi Nasional Indonesia. Meskipun pasukan Indonesia akhirnya mengalami kekalahan, semangat perlawanan dan perjuangan rakyat Surabaya memberikan inspirasi bagi seluruh bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan. 

    Selain itu, pertempuran ini mengubah pandangan Inggris dan Belanda terhadap Indonesia. Inggris menjadi lebih netral dalam konflik antara Indonesia dan Belanda. Sementara Belanda mulai mengakui pentingnya perjuangan rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya.

    Korban dari pertempuran ini berkisar antara 6.000 hingga 16.000 pejuang Indonesia dan sekitar 200.000 warga sipil terpaksa harus mengungsi. Sementara korban pasukan Inggris dan India berkisar antara 600 hingga 2.000 tentara. 

    Pertempuran berdarah yang menelan ribuan nyawa di Surabaya telah memicu semangat perlawanan rakyat di seluruh Indonesia. Hingga pada akhirnya Indonesia bisa mendapat kemerdekaannya secara sah.

    Baca Juga: 5 Pertempuran di Indonesia Pasca Kemerdekaan, Apa Saja?

    Sudah Tahu Latar Belakang Pertempuran Surabaya 10 November 1945?

    Pertempuran ini merupakan salah satu konflik terbesar dan paling sengit dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia, yang menjadi lambang perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan. Latar belakang Pertempuran Surabaya 10 November 1945 telah mengubah persepsi Inggris dan Belanda terhadap Indonesia. 

    Keberanian rakyat Surabaya memotivasi banyak daerah lain untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah. Setelah pertempuran ini, dukungan masyarakat Indonesia dan komunitas internasional terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia semakin meningkat. 

    Sejak saat itu, setiap tahun pada tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan di Indonesia. Sebagai generasi penerus bangsa, Anda sudah seharusnya untuk selalu mengilhami perjuangan pahlawan-pahlawan yang gugur dengan cara selalu mengingat tanggal peristiwa hingga menyemarakkan acara simbolik.

  • Perang Gerilya Adalah: Pengertian, Strategi, dan Hasilnya

    Perang Gerilya Adalah: Pengertian, Strategi, dan Hasilnya

    Perang gerilya adalah salah satu taktik perang yang dahulu banyak diterapkan oleh tokoh pahlawan di Indonesia. Sama seperti pertempuran pada umumnya, perang ini juga memiliki sejumlah strategi khusus untuk bisa mendapatkan kemenangan.

    Adapun di Indonesia, salah satu tokoh terkenal yang pernah menggunakan taktik pertempuran ini adalah Jenderal Soedirman. Ada banyak strategi yang beliau lakukan selama memimpin pertempuran dengan taktik ini demi mengalahkan musuh.

    Namun, apa itu sebenarnya perang gerilya dan tujuannya? Bagaimana strategi yang harus tokoh pahlawan lakukan agar bisa memenangkan pertempuran tersebut? Nah, jika ingin tahu informasi selengkapnya tentang pertempuran tersebut, mari simak artikel ini sampai akhir!

    Pengertian Perang Gerilya

    Ilustrasi Perang Gerilya
    Ilustrasi Perang Gerilya | Sumber Gambar: Pexels

    Pada dasarnya, istilah pertempuran ini berasal dari bahasa Spanyol, yaitu guerilla yang berarti perang kecil. Jadi, bisa kamu pahami bahwa perang gerilya adalah taktik pertempuran yang dilakukan secara sembunyi-bunyi, tetapi penuh dengan kecepatan oleh kelompok kecil.

    Hal inilah yang membuat banyak orang berpendapat bahwa pertempuran ini akan membuat hasilnya lebih fokus dan juga efektif. Adapun penggunaan taktik pertempuran ini sendiri memang cukup efektif karena mampu mengelabui, menipu, hingga melakukan sabotase terhadap lawan dalam waktu singkat.

    Oleh karena itu, para tokoh pahlawan menyebut taktik pertempuran ini sangat tepat untuk menyerang musuh dalam jumlah besar. Khususnya jika kondisi lawan tidak menguasai medan perangnya. Sebab, taktik ini terjadi secara cara tiba-tiba muncul dan hilang begitu saja. 

    Selain itu, tentara dan rakyat yang terlibat juga akan berkeliling di beberapa wilayah medan perang. Tujuannya adalah agar pihak musuh tidak bisa melihatnya dengan jelas, tetapi mereka tetap bisa merasa akan kapan dan di mana saja pihak lawan menyerang.

    Maka dari itu, dalam pelaksanaannya, para pasukan sangat membutuhkan pangkalan-pangkalan yang sebelumnya telah masyarakat sekitar bangun. Sederhananya, melalui taktik pertempuran ini, masyarakat akat mengikat musuh dengan cara membuat mereka merasa kelelahan.

    Ciri Perang Gerilya

    Adapun di Indonesia, ciri-ciri perang gerilya adalah sebagai berikut:

    • Para pasukan akan menyamar sebagai rakyat biasa.
    • Mempunyai kemampuan untuk menyerang musuh secara tiba-tiba, sehingga musuh tidak memiliki persiapan cukup.
    • Sangat menghindari terjadinya perang terbuka.
    • Bisa menghilang di tengah hutan lebat maupun gelapnya malam. Inilah yang membuat taktik pertempuran gerilya sangat membutuhkan kemampuan memahami topografi medan perang.

    Pelaksanaan taktik pertempuran ini semakin populer pasca terjadinya peristiwa Agresi Militer II pada tahun 1948-1949. Bahkan, setelah Indonesia terlepas dari peristiwa tersebut, Belanda kembali muncul dengan niatan untuk menguasai daerah Kerinci di Sumatera yang kaya akan hasil perkebunannya.

    Strategi Perang Gerilya Jenderal Soedirman

    Ilustrasi Perang Gerilya
    Ilustrasi Perang Gerilya | Sumber Gambar: Pexels

    Sebenarnya setiap tokoh perang ini mempunyai strategi masing-masing. Namun, sudah pasti setiap strategi tersebut mereka lakukan dengan cara sembunyi-sembunyi, seperti nama pertempuran tersebut. Lantas, bagaimana strategi perang gerilya oleh Jenderal Soedirman? Berikut penjelasannya yang bisa kamu simak:

    1. Menyusun Rute Perang Kediri di Kediri

    Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa awal mula perang gerilya adalah ketika munculnya Agresi Militer II. Peristiwa ini merupakan serangan militer dari pihak tentara Belanda kepada bangsa Indonesia di Yogyakarta yang terjadi pada 19 Desember 1948.

    Tujuannya adalah agar status negara Indonesia merdeka hancur dan Belanda dapat kembali menguasai ibukota negara yang kala itu bertempat di Yogyakarta. 

    Situasi saat itu yang begitu kacau membuat Jenderal Soedirman dan seluruh pasukannya memilih untuk meninggalkan Yogyakarta. Meskipun saat itu Belanda sudah menyiapkan pesawat yang membawa bom dan menembaki sejumlah tempat-tempat penting di Yogyakarta.

    Jenderal Soedirman yang sudah kelelahan secara fisik, akhirnya berhasil membawa pasukan sampai di daerah Kretek yang berlokasi sekitar 20 km dari Yogyakarta. Adapun tujuan utama Jenderal Soedirman adalah kota Kediri yang belum diduduki oleh Belanda.

    Sesampainya di kota Kediri, Jenderal Soedirman langsung mengadakan pertemuan dengan beberapa pimpinan tentara yang ada di Jawa Timur. Termasuk Kolonel Sungkono. 

    Namun, situasi semakin runyam pasca kota Kediri tiba-tiba mendapat serbuan dari Belanda. Sehingga, mau tidak mau Jenderal Soedirman bersama pasukannya kembali melarikan diri ke arah Gunung Wilis.

    Rute perang gerilya Jenderal Soedirman ini sangatlah berat. Terutama saat menuju wilayah Kediri ke Dusun Karangnongko yang berada di lereng Gunung Wilis. Bahkan, untuk menempuh perjalanan tersebut, para pasukan harus menghabiskan waktu selama 4,5 jam dengan berjalan kaki dan mendaki.

    Apalagi kala itu Belanda sudah mengetahui keberadaan Jenderal Soedirman bersama pasukannya. Hal inilah yang membuatnya harus berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lain serta bersembunyi di hutan. Selain itu, sebagian pasukan juga bergerak ke arah selatan untuk mengecoh tentara Belanda.

    Pada saat Jenderal Soedirman berada di daerah Goliman, Kediri, ia singgah di rumah seseorang bernama Pak Badai. Di mana beliau menjadi saksi bisu jenderal dalam mengatur siasat untuk menghadapi Belanda.

    2. Strategi dan Taktik Jenderal Soedirman

    Seperti yang telah kamu ketahui bahwa, perang gerilya adalah taktik pertempuran dengan cara sembunyi-sembunyi oleh kelompok kecil. Artinya, untuk bisa mencapai kemenangan, pasukan harus mampu menyamar dengan alam sekaligus memahami topografi medan perang.

    Menurut teorinya, pertempuran ini merupakan strategi yang cerdik karena dapat merebut persenjataan musuh dengan jumlah pasukan yang terbatas. Meski begitu, pasukan yang jumlahnya sedikit ini, perlahan-lahan terus berkembang hingga menjadi tentara reguler.

    Apabila sudah begitu, otomatis jumlahnya bisa seimbang dan lebih siap dalam menghadapi musuh. Karena melakukannya secara diam-diam, sudah pasti Jenderal Soedirman membutuhkan pangkalan untuk menyusun strategi.

    Dalam hal ini, Jenderal Soedirman yang saat itu baru pertama kali datang ke Kediri, membawa pasukannya untuk singgah terlebih dahulu. Tepatnya di rumah bergaya Belanda yang berlokasi di Jalan M.H. Thamrin 54, Kediri.

    Keberhasilan Perang Gerilya di Indonesia

    Ilustrasi Perang Gerilya
    Ilustrasi Perang Gerilya | Sumber Gambar: Pexels

    Selain pertempuran yang Jenderal Soedirman lakukan, masih banyak perang gerilya lainnya yang terjadi sejak zaman penjajahan hingga era ketika bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaannya. Adapun wujud keberhasilan perang gerilya adalah sebagai berikut:

    1. Hasil Serangan Umum 1 Maret

    Wujud keberhasilan pertempuran gerilya yang pertama adalah saat peristiwa Serangan Umum 1 Maret. Pertempuran ini terjadi karena setelah proklamasi kemerdekaan, Belanda masih ingin menguasai kembali wilayah Indonesia. Bahkan Belanda juga melancarkan agresi militer sebanyak dua kali.

    Peristiwa ini tentu saja berkaitan dengan kisah sejarah perang Jenderal Soedirman pimpin. Mengetahui Belanda kembali menduduki Yogyakarta, Jenderal Soedirman akhirnya meninggalkan kota tersebut sebagai taktik bergerilya.

    Strategi ini ia gunakan dengan tujuan untuk memecah konsentrasi militer Belanda. Adapun puncak peristiwanya sendiri terjadi ketika pecahnya Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Serangan inilah yang pada akhirnya berhasil memukul mundur Belanda dan menguasai kota Yogyakarta selama enam jam.

    2. Hasil Perang Diponegoro

    Perang Diponegoro merupakan pertempuran yang terjadi sejak tahun 1825 hingga 1830, di mana kala itu Pangeran Diponegoro berperang melawan Belanda. Dalam pertempuran ini, Pangeran Diponegoro menggunakan strategi perang gerilya.

    Jadi, wujud keberhasilan perang gerilya adalah pasukannya yang berhasil menguasai Keraton Yogyakarta pada bulan Juli 1825. Adapun pergerakan pasukan Pangeran Diponegoro ini semakin meluas ke berbagai daerah lainnya. Seperti Pekalongan, Banyumas, Rembang, Kedu, dan juga Semarang.

    Bukan hanya itu saja, bahkan dalam pertempuran ini, pasukan Pangeran Diponegoro juga sudah mencapai wilayah Jawa Timur. Seperti Magetan, Madiun, Kediri, dan beberapa wilayah lainnya.

    Lewat taktik gerilya ini, tentara militer Belanda akhirnya kewalahan oleh kekuatan pasukan Pangeran Diponegoro. Meski akhirnya Pangeran Diponegoro tetap tertangkap oleh Belanda, tetap pertempuran ini berhasil menguras kas keuangan Belanda. Sehingga hingga pihak musuh mengalami kerugian.

    3. Hasil Perang Aceh

    Pelaksanaan strategi perang gerilya lainnya juga rakyat Aceh terapkan saat Belanda ingin merebut wilayah mereka. Sebenarnya, pertempuran ini sudah berlangsung sejak tahun 1873. Namun, taktik gerilya baru mereka terapkan pada tahun 1881 hingga akhir pertempuran di tahun 1904.

    Berkat taktik pertempuran tersebut, rakyat Aceh berhasil membuat Belanda merasa kesulitan dalam menaklukan wilayah Aceh. Bahkan, akibat pertempuran ini, Belanda memperpanjang masa perang hingga tiga dekade.

    Baca Juga: Sejarah Perang Pattimura: Penyebab, Kronologi, dan Tokohnya

    Sudah Lebih Paham tentang Strategi dan Taktik Perang Gerilya?

    Intinya, perang gerilya adalah strategi yang dahulu banyak digunakan oleh para pahlawan dan rakyat Indonesia semasa memimpin pertempuran dengan penjajah. Peran ini memiliki hasil yang lebih fokus dan efektif karena mampu membuat musuh merasa lengah.

    Hingga saat ini, perang gerilya masih menjadi taktik yang Tentara Nasional Indonesia terapkan. Terutama ketika mereka harus berperang di dalam hutan rimba. Semoga informasi seputar perang gerilya di atas dapat menambah wawasanmu tentang sejarah bangsa Indonesia, ya!

  • 5 Teori Asal usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia, Lengkap!

    5 Teori Asal usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia, Lengkap!

    Ada lima teori asal usul nenek moyang bangsa Indonesia yang mungkin bisa menjawab rasa penasaranmu tentang cara mereka datang ke tanah Nusantara!. Supaya tidak penasaran, mari kupas teori-teori tersebut lewat ulasan dalam artikel ini, yuk!

    Mengenal 5 Teori Asal usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia

    Rupanya, kedatangan nenek moyang orang Indonesia ke tanah ini telah diteliti oleh sejumlah ahli. Dari berbagai penelitian tersebut, ada lima teori sejarah yang memfasilitasi kamu untuk mengenal sejarah asal-usul nenek moyang kita berikut ini. 

    1. Teori Yunan

    Teori asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia yang pertama adalah teori Yunan. Gagasan ini mengusulkan ide bahwa nenek moyang bangsa kita dari daratan Yunan yang merupakan daerah di sebelah barat daya Tiongkok. Daerah ini berbatasan langsung dengan Myanmar, Laos, dan Vietnam.

    Pencetus teori ini adalah seorang sejarawan sekaligus arkeolog asal Austria, Robert Barron Von Heine. Beliau pernah melakukan sebuah kajian sejarah terhadap kebudayaan megalitik di Kawasan Asia Tenggara dan Pasifik.

    Dari hasil kajian tersebut, Beliau menyimpulkan bahwa ada bangsa yang melakukan migrasi dari Asia Utara ke Asia Selatan. Pada masa neolitikum, atau sekitar 2000–200 SM, bangsa tersebut melakukan migrasi dalam beberapa gelombang. 

    Pada akhirnya, mereka mendiami pulau-pulau, mulai dari Pulau Madagaskar di Afrika, sampai Pulau Paskah di Chile. Selain Pulau Madagaskar dan Paskah, bangsa ini juga bermigrasi sampai ke Taiwan dan Selandia Baru. 

    Penelusuran tersebut yang mencetuskan teori bahwa kemungkinan nenek moyang kita juga berasal dari daratan Yunan. 

    Teori ini juga mendapatkan dukungan dari bukti arkeologis, berupa temuan kapak zaman praaksara berbentuk lonjong dan persegi di daratan Nusantara. Kapak-kapak ini memiliki kemiripan dengan kapak yang terdapat di wilayah Asia Tengah.

    Kapak berbentuk persegi banyak ditemui di daratan Indonesia bagian barat. Di sisi lain, temuan kapak lonjong terdapat banyak di daerah Indonesia bagian timur.

    Selain itu, Seorang sejarawan lain, yang bernama J. H. C. Kern, mengemukakan bahwa bahasa Indonesia memiliki kemiripan dengan beberapa bahasa yang berakar dari bahasa Austronesia (Melanesia, Mikronesia dan Polinesia). 

    Bahasa Melayu atau Austronesia memiliki kemiripan dengan bahasa Champa, Vietnam, dan Kamboja. Jadi, kondisi tersebut memberikan kemungkinan tentang hubungan nenek moyang kita dengan Yunan.

    Dalam pembahasan teori asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia, teori Yunan menjelaskan bahwa ada sejumlah gelombang migrasi ke daratan nusantara. Gelombang tersebut adalah Proto-Melayu dan Deutro-Melayu. Supaya kamu lebih paham, perhatikan penjelasan berikut.

    Persebaran Proto-Melayu dan Deutro-Melayu
    Persebaran Proto-Melayu dan Deutro-Melayu | Image Source: archysig.wordpress.com

    a. Gelombang Migrasi Proto-Melayu atau Melayu Tua  

    Dalam rumpun Austronesia, bangsa Negrito dipercaya merupakan ras pertama yang datang ke tanah Nusantara. Mereka juga yang menjadi cikal bakal terbentuknya rumpun Austronesia termasuk rumpun Proto-Melayu dan Deutro-Melayu.

    Proto-Melayu adalah bagian dari rumpun Austronesia yang tersebar ke seluruh wilayah Indonesia. Awalnya, rumpun Austronesia berasal dari China dan melakukan migrasi. Pada akhirnya, mereka berlayar sampai ke kepulauan Indonesia sampai ke timur Melanesia dan Polinesia.

    Bangsa Proto-Melayu datang ke tanah Indonesia melalui dua jalur, yaitu jalur barat dan timur.

    • Jalur Barat: Bangsa Austronesia bermigrasi melewati Indochina lalu, ke Semenajung Malaya. Kemudian, mereka berlayar masuk ke Pulau Sumatera dan Jawa, lalu ke daerah timur.
    • Jalur Timur: Bangsa ini bermigrasi dari Yunan menuju Formosa (Taiwan). Kemudian, mereka berlayar menuju Filipina dan akhirnya, masuk ke Pulau Sulawesi dan Papua.

    Bangsa Proto-Melayu berhasil mendiami wilayah kepulauan Indonesia dan Pasifik atau dikenal sebagai Melayu-Polinesia. Maka, Proto-Melayu dianggap sebagai nenek moyang bagi semua kelompok Melayu-Polinesia, mulai dari Pulau Madagaskar hingga pulau di timur Pasifik. 

    Kedatangan bangsa Proto-Melayu membawa kemunculan era neolitikum atau zaman batu muda. Temuan kerajinan dan gerabah di Nusantara memiliki kesamaan dengan yang ada di China. Kelompok yang termasuk Proto-Melayu antara lain Suku Batak (Sumatera), Suku Dayak (Borneo), dan Suku Alfur (Sulawesi dan Maluku).

    Akan tetapi, setelah kedatangan Proto-Melayu sekitar 3.000 SM, gelombang migrasi berikutnya muncul. Peristiwa itu mengakibatkan penduduk Proto-Melayu terdesak ke daerah pedalaman dan pelosok.

    b. Gelombang Migrasi Deutro-Melayu atau Melayu Muda

    Nekara khas Kebudayaan Dongson
    Nekara khas Kebudayaan Dongson | Image Source: kebudayaan.kemdikbud.go.id

    Teori asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia ini juga menjelaskan migrasi Deutro-Melayu. Gelombang kedua migrasi ini terjadi pada sekitar tahun 300–200 SM. Bangsa ini datang ke Indonesia melalui jalur darat, yaitu dari Yunan ke wilayah Indochina. 

    Kemudian, mereka mencapai Semenanjung Malaya dan Kepulauan Indonesia.

    Saat kedatangan Bangsa Deutro-Melayu, kelompok Proto-Melayu terdesak untuk masuk ke kawasan pedalaman dan mengakibatkan persebaran Deutro-Melayu menjadi merata. Selain itu, kedatangan Deutro-Melayu membawa kebudayaan baru terhadap peradaban Nusantara.

    Bangsa Deutro-Melayu sudah bisa menghasilkan benda-benda yang terbuat dari logam dan perunggu. Contoh benda buatan bangsa ini adalah kapak corong dan juga nekara, serta menhir, dolmen, dan punden berundak. 

    Uniknya, kebudayaan perunggu di Indonesia memiliki memiliki kemiripan dengan kebudayaan di Dongson, Vietnam. Maka, tidak heran jika muncul spekulasi bahwa kebudayaan logam dan besi Indonesia berasal dari Dongson pula.

    2. Teori Out of Taiwan

    Teori asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia yang berikutnya adalah teori Out of Taiwan. Hipotesis ini menunjukkan bahwa nenek moyang kita berasal dari Kepulauan Formosa atau Taiwan. Gagasan utama dari teori ini adalah bahwa bangsa Austronesia berasal dari daerah Taiwan.

    Pasalnya, tidak ada bukti genetika yang menunjukan kesamaan kromosom antara bangsa Indonesia dengan bangsa Tiongkok. Sebaliknya, pendekatan genetika menunjukan bahwa genetik bangsa Indonesia punya kemiripan dengan bangsa Taiwan.

    Persamaan kosakata “mata” di kawasan Austronesia
    Persamaan kosakata “mata” di kawasan Austronesia | Image Source: pinterest.com

    Selain itu, pendekatan teori ini juga berlandaskan pada aspek bahasa dan linguistik. Bahasa di Nusantara memiliki kemiripan kosakata dengan yang digunakan di Kepulauan Formosa dan daerah penutur Austronesia lainnya, seperti Filipina.

    Pergerakan migrasi penduduk Taiwan diawali dengan migrasi ke Utara Filipina sekitar 4500—3000 SM. Kemudian, mereka berlayar menuju Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku Utara pada 3500—2000 SM. Lalu, mereka terus menyebar dari Nusa Tenggara, Jawa, Sumatra, Papua Barat, Oseania, hingga ke Melanesia di Pasifik. 

    3. Teori Out of Africa

    Persebaran Penduduk Afrika
    Persebaran Penduduk Afrika | Image Source: wikipedia.org

    Teori asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia yang satu ini sedikit berbeda dari teori-teori sebelumnya. Konsep ini mengemukakan bahwa nenek moyang kita berasal dari tanah Afrika. Bukan hanya penduduk Indonesia, tetapi hampir semua manusia modern saat ini dipercaya berasal dari Afrika menurut teori ini.

    Hipotesis dari teori ini menyatakan bahwa homo sapiens dari Afrika pada 200.000 tahun yang lalu melakukan perjalanan ke berbagai penjuru dunia. Perjalanan migrasi mereka berlangsung mulai dari 200.000 SM hingga 60.000 SM.

    Masyarakat Afrika melakukan migrasi dengan melewati Sungai Nil, Semenanjung Sinai, Arab Levant hingga mencapai Kawasan Asia Barat. Beberapa juga ada yang menyeberangi Laut Merah sebagai opsi lain.

    Setelah menetap di Asia Barat, sebagian bangsa Afrika melakukan migrasi lagi dengan mengikuti garis pantai Arab hingga ke India. Tidak hanya India, mereka juga sampai hingga kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Mereka juga melintasi Indonesia sebelum akhirnya bermigrasi ke Australia.

    4. Teori Nusantara

    Fosil Homo Wajakensis
    Fosil Homo Wajakensis | Image Source: kompas.com

    Teori Nusantara menolak gagasan dari beragam  teori asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia sebelumnya. Teori ini menggagas bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Indonesia sendiri, tidak melalui migrasi atau apapun.

    Landasan teori ini berdasarkan lima argumen di bawah ini. 

    • Persamaan bahasa seperti bahasa Champa dengan bahasa Nusantara, dianggap hanya kebetulan.
    • Temuan fosil di kawasan Nusantara memiliki ciri khas yang menunjukkan keunikan peradaban di Nusantara.
    • Homo Soloensis dan Homo Wajakensis kemungkinan merupakan nenek moyang dari orang-orang Melayu.
    • Bangsa Melayu merupakan bangsa yang memiliki tingkat peradaban yang tinggi. Peradaban yang tinggi ini tidak mungkin terjadi apabila tidak terdapat pengembangan dari budaya sebelumnya.
    • Ada perbedaan antara bahasa Austronesia di Nusantara dengan bahasa yang ada di Indo-Eropa yang berkembang di kawasan Asia Tenggara.

    5. Teori dari Para Ahli

    Selain teori asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia di atas, para ahli juga memiliki pendapat mereka mengenai asal-usul nenek moyang kita. Seperti apa pendapat mereka?

    1. Drs. Moh. Ali

    Drs. Moh. Ali merupakan tokoh yang mendukung teori Yunan. Beliau berpendapat bahwa nenek moyang kita berasal dari daerah Mongol, yaitu di sekitar hulu-hulu sungai besar yang berada di daratan Asia.

    2. Von Heine-Geldern

    Tokoh ini berpendapat bahwa leluhur orang Indonesia memiliki hubungan dengan bangsa Champa, Cochin China, dan Kamboja. Kesamaan artefak di Nusantara dengan di tempat-tempat tersebut juga mendukung pendapat Beliau.

    3. Prof. Dr. H. Kern

    Ilmuwan ini berargumen bahwa Bangsa Indonesia memiliki nenek moyang yang berasal dari Asia. Konsep tersebut beliau temukan melalui kesamaan bahasa antara bahasa Nusantara, Melanesia, Polinesia,  dan Mikronesia. Semua bahasa tersebut memiliki satu rumpun yang sama yaitu rumpun Austronesia.

    4. Prof. Moh. Yamin

    Prof. Moh. Yamin merupakan tokoh yang mendukung teori Nusantara. Beliau berargumen kalau nenek moyang Nusantara berasal dari Nusantara itu sendiri. Buktinya adalah fosil Homo Wajakensis dan Homo Soloensis yang hanya ada di Nusantara dan tidak di kawasan Asia lain.

    5. Dr. Brandes

    Dr. Brandes, melalui pendekatan kebahasaan, menyimpulkan bahwa bahasa Nusantara memiliki kemiripan dengan penutur Austronesia lain, seperti Taiwan, Jawa, Bali, hingga daerah tepi Madagaskar dan Amerika. Jadi, ada kemungkinan nenek moyang kita memiliki keterkaitan dengan penutur lain bahasa Austronesia.

    Baca Juga: 10 Kerajaan Tertua di Indonesia Lengkap dengan Sejarahnya

    Jadi, Darimana Asal usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia?

    Jika kamu mencermati kelima teori asal usul nenek moyang bangsa Indonesia di atas, belum ada kesimpulan paling kuat yang menunjukkan asal-muasal nenek moyang bangsa Indonesia.

    Sebaliknya, teori-teori tersebut membuktikan bahwa peradaban nenek moyang kita sangat kompleks dan bangsa ini sudah memiliki berbagai keragaman suku, bangsa, dan kebudayaan sejak dulu.

  • Sejarah Program KB (Keluarga Berencana) di Dunia & Indonesia

    Sejarah Program KB (Keluarga Berencana) di Dunia & Indonesia

    Sampai saat ini, program keluarga berencana telah berhasil menurunkan angka kelahiran secara signifikan. Namun, sampai saat ini pula, banyak orang yang belum mengetahui sejarah program KB. Untuk itulah, pada artikel ini akan diuraikan sejarah lengkap dari program keluarga berencana di dunia dan di Indonesia.

    Apa Itu Keluarga Berencana (KB)?

    Orang tua dan kedua anaknya sedang duduk di sofa
    Orang tua dan kedua anaknya sedang duduk di sofa | Sumber: Pexels.com

    Sebelum membahas sejarah program KB, sebaiknya ketahui dulu pengertiannya. Adapun program keluarga berencana merupakan salah satu upaya pemerintah dalam mengendalikan laju pertumbuhan penduduk, yang sering sekali meningkat drastis akibat dari kelahiran yang tinggi. 

    Caranya, yaitu dengan membentuk keluarga yang berkualitas melalui program ini. Secara tidak langsung, program KB bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat melalui pembatasan kelahiran. 

    Adapun di Indonesia, pengelola program ini adalah Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan telah berhasil menghasilkan keluarga yang berkualitas. Walau begitu, tetap saja masih banyak masyarakat yang menyalah artikan program ini sebagai program menolak kehadiran anak. 

    Untuk itulah, BKKBN selaku badan pengelola program ini terus berusaha sebaik mungkin untuk meyakinkan masyarakat mengenai tujuan utama pembuatan program. Adapun dalam pengaplikasiannya, program ini menggunakan alat kontrasepsi sebagai alat menunda kehamilan hingga saat yang tepat.

    Saat ini, ada beberapa jenis alat kontrasepsi yang masyarakat gunakan untuk program ini. Alat tersebut, antara lain kondom, pil KB, vasektomi, suntik KB, implant, IUD, dan tubektomi.

    Sejarah Program KB di Dunia

    Ibu dan kedua anaknya sedang duduk di sofa
    Ibu dan kedua anaknya sedang duduk di sofa | Sumber: pexels.com

    Berdasarkan catatan sejarah, program KB dipelopori oleh beberapa tokoh dari dalam maupun luar negeri. Namun, kemunculannya bermula dari awal abad ke 19 di Inggris. 

    Pada awal abad ke 19 di Inggris, upaya program keluarga berencana muncul akibat dari sekelompok orang yang menaruh perhatian terhadap masalah kesehatan ibu, hingga akhirnya pemerintah sepakat untuk membentuk program ini. Lebih lengkapnya, berikut ini pelopor pembentukannya di berbagai negara:

    • Pada tahun 1880 sampai 1950, Maria Stopes menganjurkan untuk membuat aturan kehamilan di kalangan kaum buruh Inggris. 
    • Di Amerika Serikat, Margareth Sanger pada tahun 1883 sampai 1996 mengajukan program Birth Control-nya yang merupakan pelopor kelompok Keluarga Berencana modern. 
    • Pada 1917, kelompok tersebut membentuk National Birth Control League untuk mengontrol kelahiran di Amerika. 
    • November 1921, di Amerika Serikat, beberapa orang dengan ketuanya Margaret Sanger mengadakan Konferensi Nasional Amerika tentang pengontrolan kehamilan. 
    • Pada tahun 1925, Margaret Sanger juga mengorganisasikan Konferensi Internasional di New York dan menghasilkan pembentukan International Federation of Birth Control League. 
    • Lebih lanjut, pada 1927 Margaret Sanger mengadakan konferensi populasi dunia di Jenewa, yang melahirkan International Women for Scientific Study on Population serta International Medical Group for the Investigation of Contraception. 
    • Pada 1948 Margareth Sanger ikut serta dalam pembentukan komite internasional keluarga berencana.
    • Hingga pada akhirnya, di New Delhi pada 1952, International Planned Parenthood Federation (IPPF) didirikan sebagai pelopor Keluarga Berencana dunia. Adapun ketuanya adalah Margaret Sanger dan Rama Ran dari India sebagai pimpinannya. 

    Sejarah Program KB (Keluarga Berencana) di Indonesia

    Dua pasangan duduk di sofa sambil tersenyum
    Dua pasangan duduk di sofa sambil tersenyum | Sumber: Pexels.com

    Secara umum, proses pembentukan keluarga berencana di Indonesia berawal dari pendirian Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Nah, di Jakarta sendiri, proses perintisannya berawal dari Bidang Kebidanan dan Kandungan di  FKUI/RSUP, yang sekarang adalah Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo.

    Berdasarkan catatan sejarah, program KB dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Dr. Hanafi Wiknjosastro, Dr. Koen S. Martiono, Profesor Sarwono Prawirohardjo, Dr. M. Joedono, Dr. R. Soeharto, dan Dr. Hurustiati Subandrio. Menariknya, program ini pada awalnya mereka lakukan secara diam-diam di Poliklinik Kebidanan FKUI/RSUP.

    Ini karena munculnya penolakan dari beberapa kalangan masyarakat. Bahkan,  saat itu muncul peraturan KUHP nomor 283, yang mana melarang adanya penyebarluasan gagasan tentang keluarga berencana. 

    Padahal, tujuan utama dari program ini adalah untuk mencegah angka kematian ibu dan bayi yang tinggi pada saat itu. Hingga akhirnya, program ini mendapatkan dukungan dari para pelopor keluarga berencana setempat. 

    Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) pun akhirnya resmi berdiri pada 23 Desember 1957 dengan Dr. R. Soeharto sebagai ketua. Selanjutnya, pada tahun 1967, akhirnya persatuan ini oleh Departemen Kehakiman diakui secara resmi sebagai badan hukum saat itu. 

    Berikut sejarah program KB di Indonesia secara lebih detailnya:

    1. Kongres Nasional I

    Setelah mendapatkan dukungan, diadakanlah Kongres Nasional I PKBI  di Jakarta pada 1967. Adapun hasil dari kongres tersebut, yaitu keputusan untuk melakukan usaha pengembangan dan memperluas program Keluarga Berencana. Bahkan, mereka berencana untuk melakukan kerja sama dengan instansi pemerintah. 

    Akibatnya, pada tahun yang sama, Presiden Soeharto yang menjabat saat itu meresmikan Deklarasi Kependudukan Dunia. Adapun isinya yaitu tentang kesadaran pentingnya merencanakan jumlah anak dan menjarangkan kelahiran sebagai salah satu bagian dari hak asasi manusia.

    Walaupun begitu, program ini mulai benar-benar terealisasikan pada tahun 1970-an dan partisipasi masyarakat saat itu masih sangat rendah. Selain itu, pemerintah juga terkesan memaksa masyarakat untuk melakukan KB. Hingga tahun 1980-an, pemaksaan pun mulai dikurangi dan program safari KB dimulai.

    Selanjutnya, pada 1988, terjadi perkembangan kebijakan dari pemerintah, yang mana masyarakat mulai membayar sendiri untuk kontrasepsinya dan bebas memilih untuk KB, asalkan sudah terdaftar di Departemen Kesehatan. Program KB pun terus berkembang dan mulai mendapat respon baik dari masyarakat.

    2. Pembentukan BKKBN

    Setelah berhasil mengadakan kerjasama dengan pemerintah, selanjutnya dilakukan pertemuan dengan para menteri dan tokoh masyarakat yang terlibat dalam usaha Keluarga Berencana. Hasil dari pertemuan ini adalah pembentukan Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN).

    Pembentukannya pada tanggal 17 Oktober 1968, dengan status sebagai Lembaga Semi Pemerintah. Selanjutnya, pada tahun 1970, penetapan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pun terjadi, dengan dr. Suwardjo Suryaningrat sebagai ketuanya. 

    Hingga akhirnya tahun 1972, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional resmi menjadi Lembaga Pemerintah Non-departemen, yang mana kedudukannya  langsung di bawah Presiden. Ini tentunya merupakan keberhasilan besar bagi pembentukan program ini. 

    3. Kejayaan di Masa Orde Baru

    Dalam sejarah program KB, di era Orde Baru program ini sangat berjaya. Walaupun memang awal pembentukannya program ini mendapatkan banyak penolakan dari berbagai pihak. 

    Namun, berkat tekad kuat dan semangat besar serta niat baik dari para  pelopornya, pada masa Orde Baru, program ini mendapatkan banyak dukungan. Yang paling utama, program ini mendapatkan dukungan langsung dari Presiden Soeharto yang menjabat saat itu. 

    Bahkan, saat itu seluruh jajaran Departemen/Kementerian hingga Gubernur, Bupati/Walikota, Camat dan Lurah, bahkan TNI sangat berkomitmen dalam melaksanakan program keluarga berencana. Tidak hanya itu, program ini juga mendapatkan dukungan besar dari luar negeri. 

    Saat itu, program ini mendapatkan dukungan dana dari luar negeri dan Bank Dunia dalam jumlah besar. Hebatnya lagi, selama masa orde baru, program KB berhasil menarik minat seluruh masyarakat hingga ke pelosok-pelosok Indonesia.

    Program KB di era Orde Baru ini juga telah berhasil mencapai target nasional yang sudah ditetapkan saat itu. Bahkan, keberhasilannya telah dunia internasional akui dan mendapatkan penghargaan United Nation (UN) Population Award oleh UNFPA pada tahun 1989.

    Sudah Tahu Sejarah Program KB?

    Dalam sejarah program KB di Indonesia, tentunya memiliki hambatan dan bahkan penolakan pada awalnya. Namun, berkat kegigihan para pelopor, program ini pun masih berdiri hingga saat ini. Bahkan, program ini sudah diterima secara luas oleh masyarakat Indonesia. Ini ditandai dengan sudah banyaknya masyarakat yang menggunakan KB. 

    Pelajaran pentingnya, yaitu sebagai masyarakat Indonesia memang sudah sepatutnya kita mendukung program pemerintah, karena biasanya memiliki kebaikan untuk kita semua. Semoga bermanfaat!

  • Konsep Berpikir Sejarah: Pengertian, Macam, dan Contohnya

    Konsep Berpikir Sejarah: Pengertian, Macam, dan Contohnya

    Bicara soal sejarah, kerap kali membuat orang malas untuk mempelajarinya. Padahal, sebenarnya konsep berpikir sejarah berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari. Sayangnya, masih banyak orang yang belum sadar akan hal ini.

    Adapun dalam sejarahnya sendiri, konsep ini sudah banyak ditemukan oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia. Lantas, sebenarnya apa itu konsep berfikir sejarah dan macam-macamnya?

    Nah, untukmu yang ingin tahu penjelasan selengkapnya tentang hal tersebut, simak informasinya dalam artikel di bawah ini!

    Pengertian dan Macam-Macam Konsep Berpikir Sejarah

    Ilustrasi Buku Sejarah
    Ilustrasi Buku Sejarah | Sumber: Freepik

    Secara umum, konsep berfikir sejarah adalah cara berpikir para sejarawan pada saat membahas peristiwa sejarah yang terjadi di masa lampau. Setidaknya, ada empat konsep yang perlu kamu ketahui tentang cara berpikir yang satu ini. Berikut adalah penjelasan selengkapnya tentang keempat macam-macam cara tersebut:

    1. Konsep Berpikir Kronologis

    Konsep berpikir sejarah yang pertama adalah kronologis. Kamu bisa mengartikannya sebagai sebuah konsep berpikir yang dilakukan oleh sejarawan untuk membahas peristiwa sejarah secara berkesinambungan. Hal inilah yang membuat cakupan jenis kronologis ini cenderung sangat luas.

    Adapun tujuannya sendiri adalah untuk membantu melatih seseorang agar bisa berpikir secara berurutan dari awal hingga akhir peristiwa. Oleh karena itu, hasil dari kerangka berpikir seperti ini akan membuat seseorang mampu berpikir secara lengkap dan kronologis sesuai sebab akibatnya.

    Secara umum, konsep berfikir sejarah secara kronologis ini terbagi ke dalam empat kategori, antara lain:

    • Perkembangan, yakni waktu yang terus berjalan akan mendorong manusia untuk terus berkembang hingga akhirnya membentuk struktur masyarakat baru yang relevan sesuai dengan kondisi zamannya.
    • Pengulangan, di mana dalam sejarah terkenal ungkapan “Sejarah terulang kembali”, yang secara eksplisit menunjukkan bahwa peristiwa ini akan terus berulang dari masa ke masa.
    • Kesinambungan, di mana masyarakat mempunyai kecondongan untuk mengadopsi cara lama, baik dari segi pola maupun esensinya.
    • Perubahan, di mana hal ini dapat terjadi dalam kurun waktu singkat di masyarakat secara besar-besaran.

    Kerangka berpikir seperti ini memang mampu memberikan gambaran waktu yang sifatnya linear, yaitu bergerak dari belakang ke depan atau dari kiri ke kanan. Makanya, gerakan waktu bersifat progresif, sebab memandang perjalanan waktu sebagai proses perkembangan menuju kemajuan.

    Dalam pandangan inilah, pergerakan waktu akan terbagi ke dalam tiga dimensi utama, yakni masa lalu, masa kini, dan masa depan. Nah, di antara dimensi waktu itulah, sejarawan akan mempelajari peristiwa yang terjadi di masa lalu. Akan tetapi, peristiwa masa lalu ini akan memiliki keterkaitan dengan masa kini dan masa depan.

    2. Konsep Berpikir Diakronis

    Dalam bahasa Yunani, kata diakronis berasal dari dua kata, yakni dia yang berarti melintasi atau melewati serta chronos yang berarti perjalanan waktu. Jadi, kamu bisa memahami konsep berpikir sejarah ini sebagai suatu peristiwa yang berkaitan dengan peristiwa sebelumnya, sehingga tidak bisa berdiri sendiri.

    Hal ini tidak terlepas dari kemampuan sejarawan dalam meneliti gejala-gejala yang timbul dalam waktu yang panjang, tetapi dengan ruang yang terbatas. Artinya, berpikir dengan pendekatan diakronis ini bisa menjadi cara dalam menganalisis evolusi atau perubahan dari waktu ke waktu.

    Jadi, nantinya akan memungkinkan para sejarawan untuk menilai bagaimana perubahan tersebut terjadi sepanjang masa. Dalam pendekatan ini, kamu akan menyadari bahwa peristiwa yang terjadi sudah pasti akan mengalami perkembangan dan bergerak sepanjang masa.

    Adapun beberapa ciri utama dari kerangka berpikir ini adalah sebagai berikut:

    • Bersifat vertikal, karena menjelaskan tentang proses terjadinya suatu peristiwa dari awal hingga akhir.
    • Mempunyai cakupan kajian yang jauh lebih luas.
    • Adanya konsep perbandingan, sehingga mempunyai sifat historis atau komparatif.
    • Mengkaji masa yang satu dengan yang lainnya.

    3. Konsep Berpikir Sinkronis

    Dalam bahasa Yunani, sinkronis berasal dari kata syn yang berarti dengan dan chronos yang berarti waktu atau masa. Dengan kata lain, pendekatan ini bisa kamu artikan sebagai sikap untuk mempelajari atau mengkaji struktur suatu peristiwa dalam kurun waktu tertentu atau terbatas oleh waktu.

    Konsep berpikir sejarah ini akan membuat kamu dapat mempelajari peristiwa dari sezaman atau yang bersifat horizontal. Sebab, sinkronis artinya meluas dalam ruang, tetapi justru terbatas dalam waktu.

    Adapun beberapa hal yang perlu kamu pahami tentang pendekatan sinkronis ini adalah sebagai berikut:

    • Kerangka berpikir ini lebih banyak mengamati kehidupan sosial secara meluas dan berdimensi ruang.
    • Memandang kehidupan masyarakat sebagai sistem yang terstruktur dan tentunya saling berkaitan antara satu unit dengan unit lainnya.
    • Menguraikan kehidupan masyarakat secara deskriptif, dengan cara menjelaskan bagian demi bagian.
    • Menjelaskan tentang struktur dan fungsi dari setiap unit dalam kondisi yang statis.
    • Mayoritas digunakan dalam ilmu sosial, seperti sosiologi, geografi, politik, ekonomi, arkeologi, hingga antropologi.

    4. Konsep Berpikir Periodisasi

    Konsep berpikir sejarah yang terakhir adalah periodisasi. Secara umum, kerangka berpikir seperti ini bisa kamu artikan sebagai pembabakan. Maksudnya, sejarah sudah disusun sesuai dengan klasifikasi tertentu dari peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi.

    Adapun tujuan dari pendekatan periodisasi yang penting untuk kamu ketahui adalah sebagai berikut:

    • Menyederhanakan rangkaian terjadinya suatu peristiwa.
    • Memudahkan pembaca dalam memahami peristiwa bersejarah.
    • Membantu untuk mengklasifikasikan peristiwa-peristiwa bersejarah, yang telah terjadi.
    • Memudahkan dalam proses menganalisis perkembangan dan juga perubahan yang terjadi di setiap periode.

    Contoh Konsep Berpikir Sejarah

    Menelisik Sejarah Melalui Peta
    Menelisik Sejarah Melalui Peta | Sumber: Freepik

    Setelah mengetahui pengertian dan macam-macam konsep berfikir sejarah, tentunya kamu tak boleh ketinggalan untuk mengetahui apa saja contoh dari setiap pendekatan tersebut. Hal ini karena pada setiap pendekatan akan memiliki contoh peristiwa yang berbeda-beda. Dengan mengetahui contoh peristiwanya, maka akan lebih mudah bagimu dalam membedakan keempat jenis konsepnya, seperti berikut:

    1. Contoh Kronologis

    Contoh dari pendekatan kronologis yang pernah terjadi di Indonesia adalah ketika peristiwa proklamasi yang pada akhirnya lebih didahulukan dibandingkan peristiwa Rengasdengklok. Hal ini tentu tidak terlepas dari urgensi kondisi masyarakat Indonesia pada saat itu.

    2. Contoh Diakronis

    Adapun contoh pemaparan konsep berpikir sejarah secara diakronis dalam peristiwa bersejarah di Indonesia adalah sebagai berikut:

    a. Penerapan Sistem Demokrasi di Indonesia

    • Demokrasi Parlementer antara tahun 1945-1959
    • Demokrasi Terpimpin antara tahun 1959-1965
    • Demokrasi Pancasila Era Orde baru antara tahun 1965-1998
    • Demokrasi Pancasila Era Reformasi antara tahun 1998 sampai sekarang

    b. Urutan Presiden Indonesia Sejak Awal Kemerdekaan hingga Sekarang

    • Ir. Soekarno
    • Soeharto
    • B.J. Habibie
    • Abdurrahman Wahid
    • Megawati Soekarnoputri
    • Susilo Bambang Yudhoyono
    • Joko Widodo

    3. Contoh Sinkronis

    Ilustrasi Tools Peneliti Sejarah
    Ilustrasi Tools Peneliti Sejarah | Freepik

    Contoh konsep berpikir sejarah sinkronis bisa terlihat dari peristiwa tanam paksa yang terjadi sejak tahun 1830-1870. Tanam paksa dimulai pada tahun 1830 oleh Pemerintah Hindia Belanda, karena kas negara yang hampir kosong setelah terjadinya Perang Diponegoro dan Perang Belgia.

    Kemudian, Belanda juga sempat mengalami masalah di Eropa, karena terlibat dalam banyak perang sejak tahun 1816 sampai 1830. Akhirnya, Raja William 1 mengutus Gubernur Jenderal Belanda, Johannes Van Den Bosch untuk mengatasi masalah tersebut.

    Ia pun mengeluarkan kebijakan tanam paksa kepada masyarakat Hindia Belanda untuk produk pertanian yang dapat diekspor. Pemerintah kolonia mengira bahwa masyarakat bisa melunasi utang pajak tanah dengan sistem tanam paksa. Akan tetapi, yang terjadi justru membuat petani kesulitan mencari makan.

    4. Contoh Periodisasi

    Dalam sejarah Indonesia, periodisasi terbagi ke dalam zaman prasejarah dan zaman sejarah, dengan penjelasan sebagai berikut.

    a. Zaman Prasejarah

    Zaman prasejarah merupakan zaman manusia sebelum mengenal tulisan. Pada zaman ini, sejarawan berhasil menemukan beberapa peninggalan benda purbakala, antara lain:

    • Artefak, yakni benda yang menunjukkan hasil garapan sebagian atau seluruhnya, sebagai bukti pengubahan sumber daya alam oleh tangan manusia.
    • Fiture, yakni artefak yang tidak bisa dipindahkan, tanpa merusak tempatnya.
    • Ekofak, yakni benda dari unsur biotik, seperti fosil makhluk hidup.
    • Situs, yakni sebidang tanah yang mengandung peninggalan purbakala.

    b. Zaman Sejarah

    Zaman ini berawal ketika manusia sudah mulai mengenal tulisan, di mana terbagi ke dalam tiga masa, antara lain:

    • Zaman kuno, yang berawal sejak kerajaan tertua hingga abad ke-14 serta mendapat pengaruh dari agama Hindu dan Buddha.
    • Zaman Indonesia baru pada awal abad ke-15 sampai abad ke-18 dan mendapat pengaruh perkembangan kerajaan Islam.
    • Zaman Indonesia modern yang berawal sejak pemerintahan Hindia Belanda, Indonesia merdeka, hingga sekarang.

    Baca Juga: Mengenal 4 Konsep Waktu dalam Sejarah, Fungsi, dan Contoh

    Sudah Lebih Paham tentang Konsep Berpikir Sejarah?

    Dengan menerapkan kerangka berpikir sejarah, maka nantinya secara tidak langsung, kemampuan menganalisis akan berkembang, karena kamu dapat berpikir secara runtut dan sistematis, sesuai dengan sebab akibat dari peristiwa yang terjadi.

  • Isi Prasasti Karang Berahi, Lokasi, dan Sejarahnya

    Isi Prasasti Karang Berahi, Lokasi, dan Sejarahnya

    Pasca masa kerajaan di Indonesia berakhir, ada banyak sekali peninggalan zaman kerajaan yang ditemukan di berbagai wilayah Nusantara. Salah satu yang paling terkenal adalah Prasasti Karang Berahi.

    Peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini merupakan salah satu peninggalan yang masih ada hingga sekarang. Jika kamu tertarik ingin tahu sejarah peninggalan Kerajaan Hindu tersebut, simak artikel ini sampai akhir, ya!

    Isi Prasasti Karang Berahi

    Prasasti Karang Berahi
    Prasasti Karang Berahi | Sumber: Wikimedia.org

    Secara umum, Prasasti Karang Berahi berisi tentang kutukan maupun ancaman bagi siapa saja yang akan menentang atau bahkan tidak mau berbakti kepada raja. Benda bersejarah ini memiliki ukuran tinggi 130 cm dengan lebar 80 cm dan ketebalan 48 cm.

    Setidaknya, terdapat 16 pahatan baris isi dalam benda peninggalan tersebut yang sekarang ini kondisinya sudah agak aus. Sayangnya, di dalam isi benda tersebut, tak disebut siapa nama raja atau gelarnya. Jadi, isinya hanya menggunakan kata ‘saya’ saja.

    Hal inilah yang membuat para sejarawan tidak tahu siapakah raja yang dimaksud dalam tulisan tersebut. Meski begitu, tahun pembuatan dari benda bersejarah ini sudah bisa para sejarawan perkirakan berdasarkan pada jejak sejarah yang ada.

    Berikut adalah isi dari Prasasti Karang Berahi dalam bahasa Pallawa dan juga artinya secara umum.

    1. Isi dalam Bahasa Pallawa dan Terjemahannya

    Dalam bahasa Pallawa, isi benda peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini terbagi ke dalam 16 baris, yang berbunyi sebagai berikut:

    • || siddha || titam hamvan vari avai kandra kayet ni.
    • paihumpaan namuha ulu lavan tandrun lua makamatai ta 
    • ndrun luah vinunu paihumpaan hakairu muah kayet nihumpa u 
    • nai tuai umente bhakti niulun haraki unai tunai || kita savanakta de 
    • vata matahar[d]dhika sannidhana mamraksa yam kadatuan srivijaya kita tuvi tandrun 
    • luah vanakta devata mulana yam parsumpahan paravis kadaci yam uram 
    • didalamna bhumi [ajnana kadatuan ini] paravis drohaka haun samavuddhi la 
    • van drohaka manujari drohaka niujari drohaka tahu dim drohaka tida 
    • ya marpadah tida ya bhakti tida ya tatvarjjava diyaku dnan di iyam nigalarku sanyasa datua dhava vuatna uram inan nivunuh 
    • ya sumpah nisuruh tapik ya mulam parvvandan datu srivijaya talu mua ya dnan 
    • gotrasantanana tathapi savanaknaa yam vuatna jahat makalanit uram makasa 
    • kit makagila mantra gada visaprayoga upuh tuva tamval saramvat kasa 
    • han vasikarana ityevamadi janan muah ya siddha pulam ka iya muah yam dosa 
    • na vuatna jahat inan tathapi nivunuh ya sumpah tuvi mulam yam manuruh marjjahati yam marjjahati yam vatu nipratistha ini tuvi nivunuh ya sumpah talu muah ya mulam sarambhana uram drohaka tida bhakti tida tatvarjjava diy aku dhava vuatna nivunuh ya sumpah ini gran kadaci iya bhakti tatvarjjava diy aku dnan di yam ni 
    • galarku sanyasa datua santi kavuatana dnan gotrasantanana samrddha 
    • svastha niroga nirupadrava subhiksa muah yam vanuana paravis || sakavarsatita 608 dim pratipada suklapaksa vulan vaisakha tatkalana  yam mammam sumpah ini nipahat di velana yam vala srivijaya kalivat manapik yam bhumi java tida bhakti ka srivijaya.

    2. Terjemahan

    Berikut terjemahan dari isi Prasasti Karang Berahi:

    • Keberhasilan! [disusul mantra kutukan yang tak dapat diartikan].
    • Wahai sekalian dewata yang berkuasa, yang sedang berkumpul dan yang melindungi provinsi [kedatuan] srivijaya [ini]; juga kau Tandrun luah [?] dan semua dewata yang mengawali setiap mantra kutukan! 
    • Bilamana di pedalaman semua daerah (bhumi) [yang berada di bawah provinsi (kadatuan) ini] akan ada orang yang memberontak […]
    • yang bersekongkol dengan pemberontak, yang berbicara dengan pemberontak, yang mendengarkan kata pemberontak, yang mengenal pemberontak, yang tidak berperilaku hormat, yang tidak takluk, yang tidak setia pada saya dan pada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu
    • biar orang-orang yang menjadi pelaku perbuatan-perbuatan tersebut mati kena kutuk; biar sebuah ekspedisi [untuk melawannya] seketika dikirim di bawah pimpinan datu [atau beberapa datu] srivijaya, dan biar mereka dihukum bersama marga dan keluarganya
    • Lagi pula biar semua perbuatannya yang jahat, [seperti] mengganggu ketenteraman jiwa orang, membuat orang sakit, membuat orang gila, menggunakan mantra, racun, memakai racun upas dan tuba, ganja, saramvat, pekasih, memaksakan kehendaknya pada orang lain dan sebagainya
    • [semoga perbuatan-perbuatan itu] tidak berhasil dan menghantam mereka yang bersalah melakukan perbuatan jahat itu, biar pula mereka mati kena kutuk. 
    • Tambahan pula biar mereka yang menghasut orang supaya merusak, yang merusak batu yang diletakkan di tempat ini, mati juga kena kutuk dan dihukum langsung.
    • Biar para pembunuh, pemberontak, mereka yang tak berbakti, yang tak setia pada saya, biar pelaku pelaku perbuatan tersebut mati kena kutuk.
    • Akan tetapi jika orang takluk, setia kepada saya dan kepada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu, maka moga-moga usaha mereka diberkahi, juga marga dan keluarganya: dengan keberhasilan, kesentosaan, kesehatan, kebebasan dari bencana, kelimpahan segalanya untuk semua negeri mereka! 
    • Tahun saka 608, hari pertama paruh terang bulan waisakha, pada saat itulah kutukan ini diucapkan; pemahatannya berlangsung ketika bala tantara srivijaya baru berangkat untuk menyerang tanah (bhumi) Jawa yang tidak takluk kepada srivijaya.

    3. Makna dalam Bahasa Indonesia

    Dalam bahasa Indonesia, kamu bisa memahami Prasasti Karang Berahi sebagai bukti penaklukan Kerajaan Sriwijaya di Jambi. Oleh karena itulah, benda peninggalan ini disebut sebagai prasasti persumpahan yang berisi tentang penentangan kedaulatan raja.

    Hal ini terjadi pada masa kepemimpinan Kerajaan Sriwijaya, ketika menghadapi orang jahat dan ia mengutuk siapa saja yang memilih berpihak dan patuh pada kubu lawan. Benda peninggalan ini juga berisi tentang sanksi bagi orang-orang yang berani menentang raja.

    Sedangkan bagi orang-orang yang taat dan setia kepada raja akan mendapatkan hal kesehatan. Tak hanya itu, mereka juga akan mendapat kesejahteraan dan keamanan oleh kerajaan, dalam bentuk pembebasan dari bencana dan segala ancaman dari seluruh penjuru negeri.

    Adapun objek sumpah dan kutukan ini adalah untuk orang yang bermusuhan dengan tanah air. Berdasarkan pada cerita masyarakat setempat, pemekaran Kerajaan Sriwijaya hanya bertahan hingga wilayah Merangin.

    Sebab, saat anggota Kerajaan Sriwijaya ingin melakukan ekspansi hingga ke wilayah Kerinci, mereka mengalami kegagalan, karena kalah sebelum berhasil melawan orang-orang di sana. Akibatnya, semua jadi merasa kewalahan, saat melawan hewan liar yang ada di sekitaran kawasan Hutan Kerinci.

    Lokasi Prasasti Karang Berahi

    Lokasi Prasasti Karang Berahi
    Lokasi Prasasti Karang Berahi | Sumber: Youtube adaide Do

    Jika kamu tertarik untuk melihat langsung benda peninggalan bersejarah dari Kerajaan Sriwijaya ini, maka bisa langsung datang ke lokasinya. Sebab, hingga kini batu tersebut masih ada di tempat pertama kali ia ditemukan.

    Prasasti yang menggunakan aksara Pallawa dengan gaya bahasa Melayu Kuno ini berlokasi di Dusun Batu Bersurat, Desa Karang Berahi, Kecamatan Pamenang, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi.

    Berdasarkan letak astronomisnya, benda peninggalan ini berada pada titik koordinat 02º03’16.22” LS dan 102º28’09.73” BT. 

    Selain itu, di sekitaran benda peninggalan tersebut, terdapat temuan struktur bata di lahan bekas persawahan penduduk, yang setidaknya berjarak sekitar 200 m di barat desa, dari Sungai Merangin.

    Struktur bata ini memiliki denah empat persegi panjang, yang masing-masingnya memiliki ukuran 5,26 x 1,96 m. Kemudian, di bagian bawah bangunannya terdapat empat buah tempayan.

    Tempayan tersebut berisi butiran emas dan juga manik-manik kaca. Adanya penemuan ini tentu menjadi bukti nyata mengenai pernah adanya aktivitas kehidupan di masa lalu, yang berkaitan dengan keberadaan benda peninggalan Kerajaan Sriwijaya tersebut.

    Sejarah Prasasti Karang Berahi

    Lokasi Prasasti Karang Berahi
    Lokasi Prasasti Karang Berahi | kebudayaan.kemdikbud.go.id

    Prasasti Karang Berahi pertama kali ditemukan oleh L. Berkhout pada tahun 1904 di suatu daerah bernama Bangko, Provinsi Jambi. Menurut penjelasan O.L. Helfrich yang merupakan mantan Residen Jambi, penemuan benda peninggalan ini pertama kali ada di anak tangga masjid yang digunakan sebagai ubin membasuh kaki.

    Lalu, pada Februari 1906, seorang Residen Palembang, Van Rijn Van Alkemade, memutuskan untuk membuat cetakan kertas mengenai isi dari benda peninggalan bersejarah tersebut.

    Hasil cetakan kertas ini kemudian ia kirimkan kepada Kern. Sayangnya, Kern menyatakan bahwa prasasti tersebut tidak bisa terbaca. Menurutnya, aksara yang tertulis pada benda tersebut mirip seperti Prasasti Canggal.

    Selain itu, benda peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini juga diperkirakan sezaman dengan prasasti Kota Kapur yang menggunakan bahasa Melayu Kuno.

    Adapun laporan penemuan benda bersejarah ini kemudian diserahkan oleh Rouffaer ke Bataviaasch Genootschap pada 1909. Sayangnya, keberadaan peninggalan Kerajaan Sriwijaya tersebut sempat terlupakan.

    Padahal, sebelumnya kabar tentang benda peninggalan ini sudah tercatat dalam dokumen Pemerintahan Hindia Belanda. Kemudian, pada akhir tahun 1920, Krom menyebut benda peninggalan ini dalam salah satu penulisannya.

    Ia pun kembali menganalisis Prasasti Karang Berahi dalam karangan De Sumatraanse der Javaansche Geschiedenis yang berhasil terbit pada tahun 1919 serta buku Hindoe Javaansche Geschiedenis pada tahun 1926.

    Benda bersejarah ini diperkirakan dibuat pada tahun 686 M atau 608 M dan berisi tentang kutukan. Sayangnya, benda bersejarah tersebut tidak menyebutkan siapa nama raja atau gelar yang mereka maksud. Sebab, hanya ada kata ‘saya’ sebagai sudut pandang orang pertama antropomorfik.

    Tertarik untuk Melihat Langsung Prasasti Karang Berahi?

    Hingga kini, tampilan batu bersejarah tersebut masih tetap terawat, sehingga kamu bisa melihatnya langsung, jika singgah ke lokasi yang menjadi tempat keberadaan benda tersebut.

    Hal ini karena benda milik Kerajaan Sriwijaya tersebut saat ini masih tersimpan di sebuah cungkup di halaman Masjid Desa Karang Berahi. Jadi, wisatawan yang datang ke sana, memiliki kesempatan untuk melihat situs bersejarah ini secara langsung. Sangat menarik, bukan?

  • Sejarah Pithecanthropus Mojokertensis: Ciri-ciri, Corak Kehidupan, dan Penemu

    Sejarah Pithecanthropus Mojokertensis: Ciri-ciri, Corak Kehidupan, dan Penemu

    Sejarah mencatat, manusia purba yang ditemukan di Indonesia terbagi menjadi 3 bagian yaitu Meganthropus, Paleojavanicus, dan Pithecanthropus. Tentunya masing-masing jenis memiliki sejarah yang berbeda. Salah satu yang perlu dipelajari yaitu sejarah Pithecanthropus Mojokertensis. Apa ciri-ciri fisiknya? Simak di artikel ini!

    Apa itu Pithecanthropus Mojokertensis?

    Di Indonesia, manusia purba dibagi menjadi 4 bagian yaitu Meganthropus, Paleojavanicus, Pithecanthropus, dan Homo. Adapun fosil Pithecanthropus yang berhasil ditemukan ada 3 jenis, yakni Erectus, Mojokertensis, dan Solensis. Riwayat penemuan fosilnya dimulai pada tahun 1890 di Trinil, Solo, Jawa Tengah. 

    Menurut sejarah, Pithecanthropus Mojokertensis adalah suatu jenis manusia purba yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Bahkan, jenis ini termasuk manusia purba tertua dengan perkiraan hidup sekitar 30.000 hingga dua juta tahun yang lalu. 

    Selain itu, Pithecanthropus Mojokertensis memiliki nama lain Pithecanthropus Robustus, berarti manusia kera yang sangat kuat. Ini terlihat dari ciri-cirinya yang memiliki bentuk fisik badan tegap dengan tinggi badan sekitar 160 hingga 180 cm. 

    Penemu dan Lokasi Penemuan Pithecanthropus Mojokertensis

    Penemuan Pithecanthropus
    Penemuan Pithecanthropus | Sumber gambar: idesejarah.net

    Berdasarkan situs kemdikbud.go.id, fosil manusia purba Pithecanthropus Mojokertensis pertama kali ditemukan oleh Gustav Heinrich Ralph Von Koenigswald dan Weidenreich pada tahun 1936. Von Koenigswald menemukan fosil manusia purba ini tepatnya di Desa Perning, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. 

    Ada lagi penemuan jenis Pithecanthropus Mojokertensis lainnya yang ditemukan oleh Tjokrohandjo atau Andojo. Penemu tersebut adalah orang Indonesia yang membantu pekerjaan von Koenigswald dalam penemuan fosil manusia purba. Temuannya berupa beberapa tengkorak usia anak-anak yang di temukan di Kepuhklagen, utara Mojokerto. 

    Penamaan Pithecanthropus Mojokertensis diambil dari kata pithecos yang artinya kera dan anthropus yang berarti manusia. Sedangkan kata mojokertensis berasal dari nama kota Mojokerto yang mana menjadi tempat fosil manusia purba tersebut ditemukan. Sehingga, Pithecanthropus Mojokertensis berarti “manusia kera dari Mojokerto”.

    Di berbagai belahan dunia, jenis manusia purba Pithecanthropus memiliki nama yang berbeda-beda. Misalnya di Afrika menyebutnya dengan Homo Ergaster, kemudian di Tiongkok disebut dengan Sinanthropus Pekinensis, sedangkan Eropa menyebutnya dengan nama Neanderthalensis.

    Ciri-Ciri Pithecanthropus Mojokertensis

    Ilustrasi Pithecanthropus Mojokertensis
    Ilustrasi Pithecanthropus Mojokertensis | Sumber gambar: sma13smg.sch.id

    Jenis manusia purba Pithecanthropus Mojokertensis masih termasuk kategori Homo Erectus. Maka, tak heran jika keduanya memiliki ciri-ciri fisik yang hampir sama. Di bawah ini adalah beberapa ciri manusia purba jenis Pithecanthropus Mojokertensis:

    • Mampu berdiri tegak.
    • Memiliki tulang pipi dan alat pengunyah (gigi) berupa gigi dan geraham yang kuat.
    • Otot-otot tengkuk kecil namun sangat kuat. 
    • Bagian tulang kening tebal, terlihat menonjol dan melebar sampai ke pelipis.
    • Tulang kepala belakang terlihat menonjol. 
    • Muka menonjol ke depan.
    • Bentuk hidung yang lebar.
    • Tidak memiliki dagu.
    • Bentuk fisik tubuh atau badan tegap.
    • Memiliki tinggi badan badan sekitar 165-180 cm.
    • Kapasitas volume otak berkisar.650-1.000 cc. 

    Sejarah Pithecanthropus Mojokertensis

    Sejarah Pithecanthropus Mojokertensis
    Sejarah Pithecanthropus Mojokertensis | Sumber gambar: kebudayaan.kemdikbud.go.id

    Manusia purba Pithecanthropus Mojokertensis dahulunya menempati daerah Mojokerto, sebuah kota yang ada di Provinsi Jawa Timur. Maka dari itu, pemberian nama tersebut terdapat kata Mojokertensis yang berarti ditemukan di Mojokerto. 

    Seperti yang dijelaskan di atas, manusia purba jenis Pithecanthropus memiliki perawakan seperti kera. Bentuk fisiknya yang menonjol yaitu pada bentuk hidung dan kuning yang melebar mirip seperti kera. 

    Von Koenigswald adalah seorang paleontolog yang berasal dari Jerman. Bersama dengan dan Andojo, mereka menemukan menemukan fosil tengkorak anak-anak Pithecanthropus Mojokertensis yang diperkirakan berusia balita sekitar 5-6 tahun. Keputusan tersebut mengarah berdasarkan pada taju puting dan sendi rahang bawah. 

    Pada tahun-tahun selanjutnya, Von Koenigswald menemukan fosil manusia purba kembali di wilayah lembah sungai Bengawan Solo. Tentunya, penemuan fosil tersebut semakin banyak dari tahun ke tahun. Oleh karenanya, ia membaginya menjadi tiga lapisan berdasarkan diluvium lembah sungai Bengawan Solo. 

    Ketiga lapisan tersebut memiliki jenis fosil manusia purba tersendiri, sebagai berikut:

    • Lapisan Jetis (Pleistosen bawah)
    • Lapisan Trinil (Pleistosen tengah)
    • Lapisan Ngandong (Pleistosen atas)

    Menurut Von Koenigswald, semua jenis Pithecanthropus termasuk Mojokertensis berada dalam lapisan jetis atau pleistosen bawah karena pada lapisan tersebut memiilki ciri-ciri tubuh yang kuat dan besar. Lapisan bawah ini juga tercatat sebagai lapisan tertua berdasarkan hasil penemuan. 

    Corak Kehidupan Pithecanthropus Mojokertensis

    Untuk lebih memahami bagaimana pola kehidupan Pithecanthropus Mojokertensis, perhatikan penjelasan berikut ini:

    • Tidak memiliki tempat tinggal.
    • Hidup sendiri atau berkelompok.
    • Mengumpulkan makanan dari berburu hewan atau mencari umbi-umbian.
    • Menggunakan kapak genggam untuk berburu hewan.
    • Berlinfung di dalam goa.

    Pada zaman dahulu, manusia purba jenis Pithecanthropus Mojokertensis hidup dengan cara nomaden atau berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah lain. Dengan kata lain, mereka hidup secara tidak menetap dan menggantungkan hidupnya pada kondisi alam.

    Makanan yang mereka dapatkan berasal dari alam yang mereka temui pada saat itu. Apabila mereka kesulitan menemukan makanan, maka mereka akan berburu hewan atau menangkap ikan. Namun pada saat itu, mereka langsung memakan hasil buruan yang masih mentah karena belum mengerti cara memasak. 

    Manusia purba ini biasanya memilih tempat yang terdapat banyak sumber makanan dan dekat dengan sumber air. Tempat tersebut juga biasanya terdapat banyak binatang yang nantinya akan menjadi sumber buruan. 

    Sementara itu, beberapa Pithecanthropus Mojokertensis hidup secara berkelompok. Biasanya, dalam suatu kelompok terdiri dari keluarga kecil dengan pembagian tugas laki-laki melakukan perburuan. Sedangkan yang perempuan bertugas mengumpulkan makanan seperti tumbuh-tumbuhan dan hewan kecil. 

    Hasil Kebudayaan Pithecanthropus Mojokertensis

    Kehidupan Pithecanthropus Mojokertensis yang sering berpindah-pindah membuat mereka memerlukan alat untuk berburu dan mengumpulkan makanan. Alat tersebut kemudian menjadi hasil kebudayaan dari manusia purba. 

    Tentunya alat-alat tersebut masih sederhana karena memanfaatkan apa yang ada di alam. Adapun fungsi dari alat tersebut untuk perburuan dan pengolahan bahan makanan untuk bertahan hidup. Berikut adalah 5 alat hasil kebudayaan dari Pithecanthropus Mojokertensis:

    1. Kapak Perimbas (Chopper)

    Penemuan alat pertama yang digunakan manusia purba untuk berburu makanan pada zaman dahulu yaitu kapak perimbas atau chopper. Alat ini memiliki bentuk cembung namun masif atau kasar dengan sisinya yang tajam. 

    Sama seperti kapak pada umumnya, cara menggunakan kapak perimbas adalah dengan cara menggenggamnya pada bagian ujungnya yang lebih kecil. Para manusia purba menggunakan kapak perimbas untuk memotong daging, menguliti binatang, atau menggali umbi-umbian. 

    2. Pahat Genggam

    Selanjutnya, hasil kebudayaan lainnya adalah pahat genggam yang bentuknya hampir mirip persegi atau bujur sangkar. Pahat genggam memiliki ukuran kecil yang untuk menggemburkan tanah untuk mencari jenis umbi-umbian.  

    3. Alat Serpih 

    Ilmuwan Von Koenigswald menemukan alat serpih ini pada tahun 1934 di Sangiran. Alat serpih ini memiliki ukuran kecil berkisar antara 4 hingga 10 cm yang banyak terdapat di goa-goa. Manusia purba menggunakan alat ini biasanya sebagai pisau, gurdi, penggaruk, dan penusuk.

    4. Alat dari Tulang Binatang 

    Hasil kebudayaan selanjutnya yaitu alat tulang. Alat ini terbuat dari tulang belulang binatang, namun para manusia purba meruncingkannya sehingga lebih tajam. Para ilmuwan banyak menemukan alat tulang ini di Ngandong, Ngawi, Jawa Timur.  

    Bentuknya yang runcing dan tajam membuat perkakas dari tanduk ini berfungsi sebagai pisau, belati, pencukil, atau mata tombak. Tentunya, alat ini sangat penting keberadaannya untuk manusia purba dalam mencari buruan. 

    5. Kapak Penetak

    Salah satu jenis artefak yang hampir menyerupai dengan kapak perimbas yaitu kapak penetak. Perbedaannya terletak pada ukuran yang mana kapak penetak memiliki bentuk lebih besar daripada kapak perimbas. Alat ini terbuat dari segumpal batu dengan tajamannya berbentuk liku-liku. 

    Kapak penetak juga sering dikenal dengan sebutan chopping tool yang banyak dijumpai hampir di setiap penjuru Indonesia. Para manusia zaman dahulu menggunakan kapak penetak untuk membelah bambu, pepohonan, dan kayu. 

    Baca Juga: Pengertian Homo Sapiens: Persebaran & Penemuannya

    Pemahaman Akhir dari Sejarah Pithecanthropus Mojokertensis 

    Pithecanthropus Mojokertensis terkenal dengan sebutan manusia kera tertua di Indonesia. Manusia purba jenis ini memiliki perawakan yang tegak dengan tulang kening tebal dan hidung yang lebar. Mereka hidup secara nomaden dengan mengandalkan sumber makanan dari alam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Demikian pembahasan tentang sejarah Pithecanthropus Mojokertensis untuk menambah wawasan mengenai manusia purba yang ada di Indonesia. Jadi, sudahkah kamu memahaminya dengan benar?