Category: Seni Budaya

  • 33 Jenis Tari Tradisional Lengkap dengan Penjelasannya

    33 Jenis Tari Tradisional Lengkap dengan Penjelasannya

    Tari tradisional di Indonesia cukup banyak dan terbagi berdasarkan daerah. Masing-masing daerah di Indonesia memiliki tarian dengan gerakan yang unik dan kental akan makna. Selain itu, umumnya para penari juga menggunakan baju adat daerah masing-masing ketika menari.

    Sehingga, aktivitas seni ini bisa sekaligus mempromosikan budaya daerah mereka saat ada wisatawan lokal maupun mancanegara yang menonton pertunjukan tari. Tak hanya pakaian atau kostum tari, lagu yang mengiringi tarian pun juga menggunakan bahasa daerah yang mengandung arti tersendiri.

    Bagi kamu yang penasaran dengan beragam jenis tarian di tanah air, yuk kenalan dengan 33 jenis tarian tradisional di Indonesia berikut ini!

    33 Jenis Tari Tradisional di Indonesia yang Lengkap dengan Penjelasannya

    Seperti penjelasan sebelumnya, Indonesia memiliki banyak jenis tarian tradisional yang tersebar di seluruh daerahnya, seperti 33 jenis tarian tradisional berikut ini yang dilengkapi dengan penjelasannya:

    1. Tari Piring

    PASBANA

    Pertama, ada Tari Piring yang berasal dari daerah Sumatera Barat. Dilansir dari buku karya Inoer H bersama Ipunk Kristianto yang berjudul “Yuk, Mengenal Tarian Daerah 34 Provinsi di Indonesia”, Tari Piring menjadi kebudayaan suku Minang yang masih populer dan dilestarikan.

    Dalam budaya suku Minang, Tari Piring tidak hanya merepresentasikan sebuah budaya, tapi juga tentang spiritual yang ditujukan untuk persembahan Dewi Padi. Sederhananya, Tari Piring bisa dijadikan sebagai media untuk memberikan penghormatan saat musim panen.

    Seperti namanya, tarian tradisional masyarakat Minangkabau ini menggunakan piring-piring yang melambangkan pemberian sajian kepada dewi.

    Tari Piring memiliki kurang lebih 20 gerakan. Mulai dari gerakan persembahan, singajuo lalai, gerakan mencangkul, menyiang, gerakan membuang sampah, memagar, menyemai, mencabut benih, menanam, menyabit padi, menumbuk padi, menginjak pecahan piring, dan gotong royong.

    Jumlah penari pada tari tradisional satu ini sekitar tiga hingga tujuh orang. Jumlah penari harus ganjil, baik penari perempuan atau penari laki-laki.

    2. Tari Saman

    Kompas

    Kedua, ada Tari Saman yang berasal dari Aceh Darussalam. Tari dari Tanah Gayo ini menjadi salah satu tari tradisional yang populer dan banyak dipentaskan untuk acara-acara besar, seperti pembukaan Asian Games 2018 lalu.

    Sebelum menjadi tarian tradisional, Tari Saman merupakan permainan rakyat Aceh yang dikenal dengan nama Pok Ane. Di mana permainan ini diciptakan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang berasal dari Gayo, Aceh Tenggara. Karena berasal dari daerah Gayo, syair dalam Tari Saman ini menggunakan bahasa daerah Gayo.

    Jumlah penari dalam tari ini harus lebih dari 10 orang dan berjumlah ganjil. Tari kebanggaan masyarakat Aceh, khususnya daerah Gayo ini menyimbolkan tentang kebersamaan, kekompakan, keagamaan, pendidikan, dan sopan santun.

    Hal yang menarik dari tari ini adalah iringannya menggunakan suara serta bunyi tepuk tangan langsung dari para penarinya. Dalam gerakannya, Tari Saman akan dikombinasikan dengan memukul bagian pangkal paha dan dada. Kemudian, penari akan menghempaskan badan ke berbagai arah.

    3. Tari Tor-Tor

    Bobo.ID

    Tari tradisional Indonesia yang tidak kalah populer adalah Tari Tor-Tor. Tari ini berasal dari Sumatera Utara dan menjadi tarian tradisional suku Batak.

    Tari Tor-Tor diiringi oleh alat musik bernama gondang. Selain itu, suara dari Tari Tor-Tor juga berasal dari hentakan kaki para penarinya saat tampil di papan rumah milik suku Batak.

    Pada zaman Belanda, tari ini digunakan sebagai hiburan para raja yang bersembunyi dari perlawanan tentara Belanda. Seiring berjalan waktu, Tari Tor-Tor jadi tarian tradisional suku Batak.

    Tari asli Sumatera Utara ini terbagi menjadi banyak jenis, mulai dari Sipitu Cawan yang ditampilkan saat pengukuhan raja-raja. Kemudian, ada tari Pangurason yang digunakan untuk pembersihan atau pesta besar suku Batak.

    Ketiga, ada jenis Tunggal Panaluan, yaitu tarian yang digunakan saat sebuah desa sedang mendapatkan musibah. Tarian ini akan digunakan oleh dukun untuk mencari solusi mengatasi masalah tersebut.

    Tari Tor-Tor juga kerap ditampilkan dalam upacara adat perkawinan, yang dikenal dengan “Horja Haroan Batu”. Selain itu, tarian ini juga ditampilkan dalam upacara kematian suku Batak.

    4. Tari Kelindan Sumbay

    Kompas

    Selanjutnya, ada Tari Kelindan Sumbay yang berasal dari Sumatera Selatan (Sumsel). Tari tradisional ini biasanya dimainkan oleh beberapa atau sekelompok orang dengan gerakan tangan sebagai gerakan utama yang mengikuti musik pengiring.

    Irama musik pengiring Tari Kelindan Sumbay berasal dari alat musik tradisional, seperti kendang, bonang, hingga rebab. Karena berasal dari alat tradisional, maka suara musik yang dihasilkan terdengar unik dan berbeda dari yang lain. Inilah yang menjadi ciri khas dari Tari Kelindan Sumbay.

    5. Tari Sigeh Penguten

    Indonesia Kaya

    Kemudian, ada Tari Sigeh Penguten. Tarian ini berasal dari Provinsi Lampung yang cukup populer, karena dijadikan sebagai pembuka acara adat di daerah tersebut. Selain itu, tarian ini juga digunakan tuan rumah untuk ucapan selamat datang serta terima kasih kepada tamu yang sudah hadir.

    Penari Sigeh Penguten ini terdiri dari beberapa orang yang berjumlah ganjil. Nantinya, salah satu penari akan memegang tepak dan posisinya berada di tengah. Tepak yang dipegang oleh penari tersebut biasanya berisi daun sirih yang akan diberikan kepada tamu-tamu penting.

    6. Tari Zapin

    Kumparan

    Masyarakat Kepulauan Riau memiliki tari tradisional bernama Tari Zapin. Sebagai suku Melayu, Tari Zapin sangat merepresentasikan budaya Melayu dan sudah mendapat sedikit pengaruh budaya Arab.

    Selain dijadikan untuk hiburan, tari ini juga sangat edukatif dan kerap ditampilkan untuk acara-acara penting. Tari Zapin juga dijadikan sebagai media untuk dakwah lewat syair lagu yang mengiringi tarian ini.

    Alat musik yang digunakan untuk mengiringi Tari Zapin, yaitu tiga buah marwas, satu gendang berukuran kecil, dan dua buah alat musik petik seperti gambus.

    7. Tari Sekapur Sirih

    Indonesia Kaya

    Daerah Jambi memiliki Tari Sekapur Sirih yang digunakan sebagai tari persembahan untuk menyambut tamu terhormat atau tamu-tamu penting, seperti presiden.

    Seperti namanya, Tari Sekapur Sirih akan diakhiri dengan pemberian daun sirih kepada tamu yang disambut untuk mengunyah daun sirih tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada tuan rumah.

    Tari Sekapur Sirih memang mirip seperti Tari Sigeh Penguten Lampung dan Tari Persembahan Riau. Perbedaannya terletak pada pakaian yang digunakan oleh penarinya.

    Selain itu, irama atau iringan musik dari ketiga tari tradisional tersebut juga tidak sama. Masing-masing menggunakan bahasa daerah pada lagunya.

    8. Tari Andun

    Gramedia

    Tari Andun merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari daerah Bengkulu. Masyarakat Bengkulu menggunakan Tari Andun sebagai tarian rakyat yang ditampilkan saat acara perkawinan. Pada zaman dulu, Tari Andun hanya digunakan sebagai media untuk mencari pasangan, setelah panen padi.

    Karena tujuannya untuk mencari pasangan, penari dalam tari ini harus berpasangan, yaitu gadis dan bujang Bengkulu. Penyelenggaraan Tari Andun biasanya dilakukan di malam hari.

    Menariknya, tari asli Bengkulu Selatan ini berlangsung cukup lama, yaitu 7 hari 7 malam atau selama satu minggu. Durasi ini tentu berbeda dengan pagelaran tari tradisional lainnya yang biasanya menggunakan hitungan jam.

    Hal yang membuat penyelenggaraan Tari Andun adalah persiapan kegiatan dan hal-hal penting lainnya.

    9. Tari Bidadari Teminang Anak

    Sering Jalan

    Selain Tari Andun, daerah Bengkulu juga memiliki tarian tradisional lain yang bernama Tari Bidadari Teminang Anak. Tari ini berasal dari Rejang Lebong, salah satu produsen kopi dan sayuran di daerah Bengkulu Utara.

    Tari Bidadari Teminang Anak memiliki makna cukup dalam, yaitu mencerminkan sifat atau tingkah laku yang luhur. Seperti namanya, tari ini menceritakan tentang seorang bidadari yang turun ke bumi untuk mengangkat atau meminang anak.

    Makna dari cerita tersebut, yaitu berkah yang turun dari langit untuk kehidupan seluruh umat manusia di bumi. Bisa dikatakan, Tari Bidadari Teminang Anak sebagai salah satu bentuk syukur masyarakat atas berkah dan rezeki yang turun ke bumi.

    10. Tari Cokek

    Seni Budaya Betawi

    Bergeser ke daerah Banten, terdapat Tari Cokek. Uniknya, nama tarian ini diambil dari Tan Sio Kek, seorang tuan tanah Tionghoa. Tari Cokek memiliki daya tarik sendiri, salah satunya adalah gerakan tarian yang mengandalkan tubuh penari, yang bergerak perlahan mengikuti iringan musik.

    Gerakan tarian ini diawali dengan formasi penari yang memanjang dan bersebelahan. Kemudian, kaki penari akan serentak melangkah maju dan mundur dengan posisi tangan yang direntangkan hingga setinggi bahu.

    Tari Cokek identik dengan gerakan yang lembut dan indah dari penarinya. Awalnya, tarian ini digunakan sebagai hiburan saja. Akan tetapi, saat ini tarian ini digunakan untuk acara-acara besar masyarakat Banten, seperti pernikahan.

    11. Tari Ronggeng

    romadecade

    Tari Ronggeng tidak hanya kental dengan budaya Jawa Barat, tapi juga identik dengan cerita magis di dalamnya.

    Menurut sejarah, Tari Ronggeng merupakan peninggalan zaman Kerajaan Pajajaran. Sedangkan, nama Ronggeng diambil dari bahasa Sunda yang artinya ruang, lubang, atau rongga. Sebagian juga mengartikan nama Ronggeng dengan kata Renggana, yaitu bahasa Sanskrit yang artinya perempuan pujaan.

    Terbentuknya tarian ini berawal dari usaha Kerajaan Pajajaran untuk melakukan balas dendam. Dahulu, Dewi Siti Semboja memiliki niat untuk balas dendam atas kematian Raden Anggalarang yang dibunuh oleh perampok dari Kasalamudra.

    Berawal dari kejadian tersebut, Dewi Siti Semboja pun melakukan pelesiran ke setiap daerah bersama dayang-dayang sebagai penari untuk melakukan balas dendam.

    12. Tari Jaipong

    zona ilmu

    Tari Jaipong termasuk salah satu tari tradisional Indonesia yang cukup populer. Tari ini berasal dari Karawang, Provinsi Jawa Barat.

    Menurut informasi yang didapatkan, Tari Jaipong mulai berkembang sejak tahun 1960-an. Di awal perkembangannya, tari ini dikenal dengan nama Tari Banjet, yaitu pertunjukan seni tari yang diiringi alunan musik berupa gamelan.

    Dahulu, masyarakat Karawang menggunakan tarian ini sebagai hiburan. Kini, Tari Jaipong sudah berkembang menjadi tarian daerah yang menjadi kebanggaan masyarakat Karawang.

    Tari Jaipong merupakan inovasi seni tari yang dibuat sekaligus dikembangkan oleh H. Suanda, seorang seniman populer daerah Karawang. Masyarakat Karawang mengenal beliau sebagai seniman yang berbakat dan menguasai berbagai jenis kesenian tradisional.

    13. Tari Gambyong

    theAsianparent

    Kemudian, ada tari Gambyong yang berasal dari Jawa, khususnya daerah Surakarta. Tarian Jawa klasik ini dahulu digunakan sebagai pertunjukan atau untuk menyambut tamu istimewa.

    Tari Gambyong terdiri dari berbagai jenis variasi, mulai dari Gambyong Pareanom hingga Gambyong Pangkur. Meski begitu, Tari Gambyong memiliki dasar gerakan sama, yaitu gerakan tarian ledhek atau tayub.

    Awalnya, Tari Gambyong diciptakan untuk penari tunggal. Akan tetapi, saat ini Tari Gambyong sudah dibawakan oleh beberapa penari yang menambahkan variasi gerakan blocking panggung, yang melibatkan gerak dan garis yang besar.

    Terdapat tiga bagian dari tarian tradisional ini, yaitu awalan, isi, dan akhir. Dalam bahasa Jawa Surakarta, istilah tersebut dikenal dengan maju beksan, beksan, serta mundur beksan.

    Pusat dari tarian ini terletak pada gerakan lengan, kaki, dan kepala. Bahkan, gerakan tangan dan kepala sudah menjadi ciri khas Tari Gambyong. Pandangan penari harus berfokus pada jari-jari tangan.

    14. Tari Jaran Kepang

    Tribunnews

    Masyarakat Ponorogo, Jawa Timur, memiliki tari tradisional yang cukup populer, yaitu Tari Jaran Kepang. Hal yang menarik dari tari ini adalah properti yang digunakan berupa anyaman jaran atau kuda dan makeup penari yang sedikit seram.

    Selain itu, tarian ini juga dianggap mistis, karena bisa membuat penari dan penonton yang menyaksikannya bisa mengalami kesurupan. Bahkan, Jaran Kepang juga menyelipkan sedikit atraksi yang cukup menegangkan dan tidak boleh ditiru oleh orang biasa.

    Di awal kemunculannya, penari Jaran Kepang hanya boleh ditarikan oleh laki-laki. Namun, seiring berjalannya waktu, tarian ini boleh ditarikan oleh perempuan.

    15. Tari Serimpi

    bibi.id

    Berdasarkan sejarahnya, Tari Serimpi hanya boleh ditampilkan di lingkungan Kerajaan Mataram Islam. Jadi, tarian tradisional ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu, yang sudah mengalami perkembangan.

    Ketika Kerajaan Mataram terbagi menjadi dua, yaitu Yogyakarta dan Surakarta, maka tarian ini juga terbagi dua, versi daerah Yogyakarta dan versi daerah Surakarta. Meski begitu, gerakan inti dari Tari Serimpi masih tetap sama, yaitu maju gawang, pokok, dan mundur gawang.

    Jenis Tari Serimpi versi daerah Yogyakarta terbagi atas Serimpi Genjung, Serimpi Babul Layar, dan Serimpi Dhempel. Sedangkan Tari Serimpi versi daerah Surakarta, yaitu Serimpi Sangupati dan Tari Serimpi Anglir Mendhung.

    Gerakan Tari Serimpi mengutamakan kelembutan dan keluwesan tubuh. Tempo gerakannya pun sedikit lambat.

    Meski sudah ada sejak ratusan tahun lalu, Tari Serimpi masih ditampilkan untuk melengkapi acara-acara besar atau sakral di Keraton Yogyakarta, Surakarta, Pakualaman, hingga Mangkunegaran.

    16. Tari Rejang

    Kompas

    Kemudian, ada Tari Rejang yang berasal dari Provinsi Bali. Tari ini biasanya ditampilkan di tempat-tempat sakral, yaitu marajan, pura, dan tempat penyelenggaraan upacara keagamaan lainnya.

    Tari Rejang memiliki gerakan yang sederhana. Para penari hanya perlu berbaris dan melingkar. Dibutuhkan kekompakan antar penarinya, agar tarian ini terlihat indah.

    Tari tradisional ini digunakan sebagai media untuk mengucapkan rasa syukur warga Bali. Di awal perkembangannya, tarian ini hanya dilakukan oleh para perempuan Bali saja. Namun, saat ini Tari Rejang juga sudah mulai ditampilkan oleh penari putra.

    Tari Rejang yang ditampilkan oleh penari putra biasanya menggunakan konsep Rejang Muani. Tari ini terbagi menjadi beberapa jenis, mulai dari Rejang Renteng, Rejang Dewa, Rejang Regong, Rejang Bengkol, Rejang Lilit, dan lainnya.

    Meski memiliki banyak jenis, tari kebanggaan masyarakat Bali ini mengandalkan gerakan lemah gemulai para penarinya. Sama seperti tarian lainnya, Tari Rejang diiringi alat musik tradisional, yaitu gamelan atau gong kebyar yang menghasilkan suara unik dan merdu.

    17. Tari Batunganga

    Tribunnews

    Daerah Nusa Tenggara Barat juga memiliki tarian tradisional bernama Batunganga. Tarian ini bercerita tentang rasa cinta dari rakyat kepada putri raja yang dikisahkan masuk ke dalam batu.

    Lewat tarian ini, rakyat memohon agar putri raja tersebut bisa keluar dari dalam batu tersebut. Dalam tarian ini, rakyat memperlihatkan ekspresi sedihnya. Ketika sang putri berhasil keluar dari batu, ekspresi rakyat berubah menjadi bahagia.

    Penari Batunganga berjumlah empat orang dan satu perempuan yang akan berperan sebagai putri raja. Jadi, jumlah orang yang terlibat dalam tarian ini adalah 5 orang.

    Keempat penari nantinya akan berperan sebagai rakyat. Perempuan atau laki-laki diperbolehkan untuk mengisi posisi ini.

    Tari Batunganga kerap ditampilkan di berbagai acara adat atau acara kebudayaan nasional, agar tarian tradisional ini semakin dikenal. Iringan musik Tari Batunganga berasal dari suara alat musik tradisional masyarakat Nusa Tenggara Barat.

    18. Tari Gareng Lameng

    Tribunnews

    Selain terkenal oleh pariwisatanya yang indah dan banyak, Nusa Tenggara Timur juga kaya akan budaya, salah satunya seni tari bernama Gareng Lameng. Tarian kebanggaan masyarakat Nusa Tenggara Timur ini melambangkan rasa syukur serta panjatan doa kesehatan serta kesuksesan anak yang melakukan khitan.

    Warga setempat begitu menjunjung nilai ketuhanan. Oleh karena itu, tari tradisional ini sangat sakral. Agar lebih menarik, gerakan Tari Gareng Lameng diiringi alat musik bernama Gong Waning. Ini merupakan alat musik tradisional masyarakat Nusa Tenggara Timur, khususnya suku Sikka.

    Gong Waning adalah alat musik yang menggabungkan gendang, saur, dan gong. Cara mainnya sama seperti gong gamelan dari Jawa, yaitu ditabuh. Selain alat musiknya, Tari Gareng Lameng juga menggunakan pakaian serta properti khas, salah satunya adalah Lesu.

    19. Tari Gantar

    Tribunnews

    Daerah Kalimantan Barat memiliki tari tradisional bernama Tari Gantar. Tarian ini biasanya digunakan masyarakat setempat untuk acara adat dan menyambut tamu-tamu kehormatan.

    Tari Gantar menggambarkan keramahan dan keceriaan suku Dayak kepada tamu-tamu yang datang. Penari akan mengajak para tamu untuk menari bersama mengikuti iringan musik.

    Selain digunakan sebagai media upacara adat, Tari Gantar juga digunakan sebagai media pergaulan antara pemuda-pemudi suku Dayak Tunjung dengan suku Dayak Benuaq yang menjadi suku asli di Kalimantan Timur.

    Penari dalam Tari Gantar berjumlah lima hingga delapan orang remaja. Properti yang digunakan pada tarian ini meliputi tenun asli suku Dayak Benuaq yang dikenal dengan Ulap Doyo, hiasan kepala, bambu, hingga tongkat kayu.

    Gerakan Tari Gantar cukup mudah. Sekilas tarian tradisional ini mirip seperti gerakan sedang menanam padi. Inilah kenapa para penari akan menggunakan tongkat kayu yang dijadikan sebagai penumbuk.

    20. Tari Tandik Balian

    Sering Jalan

    Di daerah Kalimantan Timur, ada salah satu jenis tarian tradisional bernama Tari Tandik Balian. Tari ini merupakan kebanggaan dari suku Dayak Warukin, yaitu suku turunan dari Maanyan yang menempati desa Warukin dan desa Haus.

    Sejak dulu kala, suku Maanyan melakukan upacara Balian Bulat yang kini menjadi tradisi turun temurun yang tetap dilakukan lewat Tari Tandik Balian. Menariknya, pada tarian ini terdapat atraksi kesenian yang akan ditampilkan.

    Atraksi inilah yang menjadi ciri khas dari Tari Tandik Balian, jika dibandingkan dengan tarian tradisional yang berasal dari daerah Kalimantan lainnya.

    21. Tari Giring-Giring

    Kompas

    Bergeser ke Kalimantan Tengah, ada satu jenis tarian tradisional yang menjadi kebanggaan suku Dayak Maanyan, yaitu Tari Giring-Giring.

    Tarian ini berkembang pesat di daerah Barito. Di awal kemunculannya, Tari Giring-Giring digunakan untuk menyambut tamu kehormatan. Namun, saat ini Tari Giring-Giring juga bisa digunakan untuk hiburan sekaligus wadah pergaulan muda-mudi asli Kalimantan.

    Gerakan tarian ini melambangkan warga desa setempat yang bahagia menyambut pejuang suku Dayak yang sudah kembali dari medan perang.

    Baju atau kostum Tari Giring-Giring berwarna hitam atau merah. Namun, saat ini sudah muncul variasi warna baju selain kedua warna tersebut. Meski begitu, motif pada kostum tersebut masih sama, yaitu motif salur warna-warni.

    Selain kostumnya, penari Giring-Giring juga akan memakai atribut kepala yang dihiasi bulu rangkong atau bulu tingang. Bulu tersebut juga akan ditempelkan pada bagian jari penarinya. Kemudian, ada pula selendang yang melengkapi atributnya.

    22. Tari Kancet Papatai

    Kumparan

    Beralih ke Kalimantan Timur, masyarakat suku Dayak Kenyah memiliki tarian tradisional bernama Tari Kancet Papatai. Menariknya, tari tradisional ini mengusung konsep tarian perang. Seperti namanya, gerakan tarian ini seperti hendak berperang yang dilengkapi dengan properti pendukung.

    Tarian ini bercerita tentang pahlawan suku Dayak Kenyah yang sedang melawan musuh menggunakan alat perang tradisional. Makna tersirat dari tarian ini adalah sifat berani pria suku Dayak Kenyah dalam berperang dan tidak pernah menyerah.

    Sebagai warisan budaya daerah Kalimantan Timur, Tari Kancet Papatai masih ditampilkan untuk berbagai acara penting selain upacara adat setempat, seperti acara budaya nasional.

    Tarian ini ditarikan oleh dua kelompok anak muda. Keduanya nanti akan bergerak seolah-olah sedang berperang dengan memakai kelembit atau perisai. Selain itu, penari-penari tersebut juga harus memakai baju perang dan membawa mandau.

    23. Tari Mance

    Tribunnews

    Masyarakat Kalimantan Utara memiliki tarian daerah bernama Tari Mance. Tari tradisional ini juga terkenal sebagai tari silat. Namun, gerakan Tari Mance lebih luwes, ketimbang gerakan silat pada umumnya.

    Warga Kalimantan Utara sering menjadikan Tari Mance sebagai pertunjukan hiburan. Terkadang, tarian ini juga digunakan untuk acara-acara penting yang melibatkan tamu kehormatan atau pertunjukkan kebudayaan.

    Tari bernama lain Bemance ini bisa ditarikan oleh laki-laki dan perempuan. Terdapat aturan khusus untuk penari laki-laki, yaitu dua orang laki-laki yang bertindak sebagai penari harus melakukan duel dalam keadaan bertelanjang dada dan hanya memakai celana saja.

    Sedangkan untuk penari perempuan harus memakai kemben. Untuk gerakannya kurang lebih sama seperti penari laki-laki. Intinya, gerakan dalam tarian ini mengusung konsep bela diri dan mahir menggunakan senjata perang.

    Senjata atau atribut yang harus dibawa oleh penari Mance yaitu perisai bernama Talimpang dan tombak bernama lonjo. Karena senjata tradisional ini sungguhan, maka para penari harus berhati-hati saat menggunakannya, agar tidak melukai diri sendiri atau penari lain.

    24. Tari Bamba Manurung

    Sering Jalan

    Daerah Sulawesi Barat memiliki tarian tradisional bernama Tari Bamba Manurung. Ini adalah tarian tradisional masyarakat Mamuju yang kerap ditampilkan untuk acara-acara besar, seperti pesta.

    Gerakan tarian Bamba Manurung cukup unik dan hanya boleh dibawakan oleh penari perempuan. Selain tariannya, hal yang menarik lainnya dari tari tradisional warga Mamuju ini adalah filosofinya.

    Berbicara tentang filosofi, Tari Bamba Manurung berkaitan dengan kehormatan para perempuan setempat. Salah satu alasan kenapa Tari Bamba Manurung sangat dibanggakan oleh warga Mamuju ialah makna tariannya yang menyangkut harga diri seorang perempuan.

    Lewat tarian ini, perempuan-perempuan di Mamuju ingin menunjukkan bahwa perempuan memiliki harga diri, kehormatan, dan sifat luhur yang harus dijaga dengan baik.

    Penari Bamba Manurung harus memakai Badu, baju adat Sulawesi Barat yang bertaburkan hiasan manik-manik. Kemudian, tatanan rambut para penarinya juga harus sesuai dengan aturan, yaitu disanggul bersama bunga melati atau beru-beru.

    Properti lainnya yang dibawa oleh penari Bamba Manurung adalah kipas. Sekilas, penampilan dari penari Bamba Manurung ini hampir mirip dengan penampilan penari Patuddu.

    25. Tari Dinggu

    Sering Jalan

    Tari Dinggu adalah tarian tradisional kebanggaan masyarakat Sulawesi Tenggara. Tarian ini dikenal sebagai gambaran suasana aktivitas masyarakat setempat saat musim panen tiba.

    Menariknya, tarian ini dikemas dengan inovasi baru, khususnya di lingkungan Kerajaan Mekongga yang berada di Kabupaten Kolaka.

    Gerakan Tari Dinggu sangat energik dan mengusung konsep yang ceria. Tarian ini dijadikan sebagai media untuk mengucap rasa syukur atas keberadaan Dewi Padi yang memberikan berkah dan menjaga kesuburan padi.

    Lewat tari ini, masyarakat sekitar bisa melihat gambaran kehidupan petani suku Tolaki pada zaman dahulu. Selain itu, tarian ini juga mengajarkan arti gotong royong sesungguhnya.

    26. Tari Pakarena

    Detik

    Di daerah Sulawesi Selatan terdapat satu jenis tarian tradisional bernama Tari Pakarena. Tarian ini menjadi ikon budaya Makassar yang merupakan ibukota dari Sulawesi Selatan.

    Masyarakat Gowa sudah mengenal Tari Pakarena sejak era Kerajaan Gantarang. Inilah kenapa Tari Pakarena jadi salah satu tari klasik yang masih dipertahankan hingga sampai saat ini.

    Penari Pakarena berjumlah empat orang. Jumlah ini bermakna tentang kehidupan, pelajaran, dan cara bertahan hidup di bumi, mulai dari mencari makan, bercocok tanam, dan lainnya.

    Cara bertahan hidup tersebut digambarkan lewat gerakan-gerakan para penarinya. Selain itu, gerakan tersebut juga bisa diartikan sebagai ungkapan terima kasih untuk seluruh penghuni langit.

    Jika dahulu tarian ini hanya digunakan sebagai ritual upacara kepada dewi, kini Tari Pakarena sudah bertransformasi menjadi tarian populer yang sifatnya menghibur dan dipentaskan untuk acara-acara besar.

    27. Tari Pontanu

    Sering jalan

    Tari tradisional Pontanu berasal dari Sulawesi Tengah. Tarian ini adalah kebanggaan dari suku Kaili, yaitu suku yang menenun kain sarung dengan motif dan sulaman indah.

    Hasil tenunan tersebut bernama Buya Sabe atau sarung Donggala. Nah, budaya menenun suku Kaili tersebut kemudian dijadikan sebagai tarian dasar Pontanu.

    Penari Pontanu minimal berjumlah empat orang perempuan. Jika dulu tarian ini digunakan sebagai hiburan suku Kaili saja, saat ini Tari Pontanu sudah mulai digunakan untuk menyambut tamu kehormatan.

    28. Tari Maengket

    Kumparan

    Di Provinsi Sulawesi Utara memiliki tarian tradisional bernama Tari Maengket. Tarian milik suku Minahasa ini dijadikan sebagai rasa syukur dan ucapan terima kasih kepada Tuhan.

    Dahulu, Tari Maengket hanya ditarikan oleh suku Minahasa ketika sudah selesai musim panen. Namun, saat ini Tari Maengket sudah ditampilkan untuk acara besar lainnya, mulai dari festival, pesta pernikahan, dan lainnya.

    29. Tari Saronde

    InfoPublik

    Tari tradisional lain di daerah Gorontalo adalah Tari Saronde. Tarian ini bermakna sebagai tarian keakraban untuk acara-acara besar.

    Tari Saronde juga dikenal dengan Tarian Malam Pertunangan. Ini dikarenakan kemunculannya berawal dari acara malam pertunangan saat upacara adat pernikahan masyarakat Gorontalo.

    Seperti namanya, tarian ini akan ditampilkan sebelum acara Hui atau akad nikah. Meski begitu, Tari Saronde tetap bisa ditampilkan untuk mengisi acara-acara penting yang melibatkan tamu kehormatan atau kebudayaan.

    30. Tari Cakalele

    Tribunnews

    Tari Cakalele adalah tarian tradisional Maluku yang dikenal dengan tarian perang. Gerakan tari Cakalele menggambarkan semangat patriotisme warga Maluku terhadap tanah kelahiran mereka. Meski termasuk ke dalam jenis tarian perang, nyatanya Tari Cakalele bisa ditarikan oleh perempuan.

    Selain digunakan untuk perang, Tari Cakalele juga berfungsi untuk hiburan masyarakat setempat, penghormatan kepada nenek moyang, dan sebagai upacara adat masyarakat Maluku.

    Tari Cakalele memiliki beberapa keunikan, yaitu didominasi oleh laki-laki, terdapat teriakan unik yang mengiringi gerakan tarian, dan prosesi ritual meminum darah.

    Jumlah penari Cakalele sebanyak 30 orang. Biasanya para penari laki-laki akan memakai pakaian perang. Sedangkan para penari perempuan akan memakai pakaian berwarna putih dan menggenggam lenso atau sapu tangan.

    31. Tari Bambu Gila

    Wartakotalive

    Tarian dari Maluku Utara ini sudah sangat terkenal dan menjadi kebanggaan masyarakat Ternate. Seperti namanya, Tari Bambu Gila menggunakan batang bambu sebagai properti utamanya. Batang bambu yang dipilih harus berukuran 10-15 meter.

    Di awal kemunculannya, tarian ini hanya digunakan untuk memindahkan kapal kayu. Namun, seiring berjalannya waktu, tarian ini dijadikan sebagai hiburan masyarakat setempat di acara-acara besar.

    Sebelum memulai tarian Bambu Gila, seorang pawang akan membakar kemenyan dan membacakan doa. Setelah itu, bambu akan berguncang semakin kencang. Inilah alasan kenapa tarian ini disebut dengan Bambu Gila.

    Jumlah penari yang terlibat cukup banyak. Semakin panjang batang bambu yang digunakan, maka semakin banyak pula jumlah penari yang ikut memegang bambu tersebut.

    32. Tari Sajojo

    Bobo.ID

    Tari Sajojo adalah salah satu jenis tari tradisional dari Papua yang juga sudah sangat terkenal. Ciri khas tarian ini terletak pada hentakan kaki dan tubuh yang bergoyang mengikuti irama lagu.

    Tari Sajojo lebih menarik jika ditarikan bersama-sama. Saat ini, Tari Sajojo jadi pilihan utama warga Papua ketika ada acara besar, seperti acara adat dan penyambutan tamu.

    33. Tari Suanggi

    Sering Jalan

    Terakhir ada Tari Suanggi yang berasal dari daerah Papua Barat. Tarian ini memiliki keunikan serta makna yang cukup dalam. Selain itu, tarian tradisional ini juga menggambarkan kepercayaan masyarakat Papua Barat terhadap hal-hal gaib.

    Manakah Tari Tradisional yang Pernah Kamu Tonton?

    Sebenarnya tarian tradisional Indonesia masih banyak lagi, 33 jenis tarian di atas hanya mewakili dari masing-masing daerah saja yang dapat menambah wawasan kebudayaan kamu. Jadi, apakah kamu pernah menonton salah satu tarian di atas atau pernah menarikannya?

  • Mengenal Tangga Nada: Pengertian, Jenis, dan Contohnya

    Mengenal Tangga Nada: Pengertian, Jenis, dan Contohnya

    Dalam dunia musik, Anda tentu pernah mendengar istilah tala atau tangga nada. Umumnya, tala digunakan untuk menggambarkan suatu bunyi atau irama tertentu, yang dihasilkan dari sebuah chord musik. 

    Namun, tala seringkali terlupakan. Karena umumnya para penikmat musik memang tidak terlalu memikirkan tentang bagaimana suatu instrumen dapat terbentuk. Nah, bagi Anda yang ingin lebih mengenal tentang apa itu tala, artikel ini akan membahasnya secara lengkap. Mari simak sampai habis!

    Apa itu Tangga Nada?

    Tala atau tangga nada adalah susunan berjenjang yang berasal dari kumpulan nada pokok pada sebuah sistem nada. Mulai dari nada paling dasar hingga nada oktaf. Namun, pendapat lain menyebutkan bahwa tala merupakan susunan nada yang dirangkai menggunakan rumus interval khusus dari kumpulan nada tertentu.

    Apa itu interval nada? Singkatnya, interval nada merupakan jarak antara nada satu dengan nada yang lainnya. Kemudian, jaraknya beragam, ada yang berjumlah ½ jarak, ada yang 1, bahkan ada pula yang 2. Jarak tersebutlah yang nantinya akan menentukan sebuah variasi nada serta jenis irama dari instrumen musik.

    Di dalam sebuah musik, tala berfungsi sebagai paduan instrumen yang membuat sebuah lagu dapat terdengar harmonis dan indah. Karena bentuknya yang tersusun dari kumpulan nada, sehingga menghasilkan suatu bunyi atau irama yang saling berkaitan satu sama lain.

    Jenis-Jenis Tangga Nada

    Tahukah Anda? Ternyata terdapat tiga jenis tala yang memiliki bunyi serta karakter tersendiri pada setiap jenisnya. Apa saja jenis-jenis tala tersebut? Simak penjelasan lengkap berikut ini:

    1. Diatonis

    Jenis tala yang pertama yakni nada diatonis. Diatonis merupakan sebuah tala yang mempunyai tujuh nada berbeda dalam satu oktaf. Tujuh nada ini nantinya akan diakhiri oleh satu nada yang berulang.

    Kemudian, jarak antara not dengan nada diatonis, yakni satu dan setengah. Salah satu contoh tala diatonis bisa Anda lihat pada chord C mayor. Di mana nada ini berawalan do dan diteruskan dengan chord A minor yang berawalan nada la.

    Selain itu, diatonis merupakan pengetahuan dasar dari teori musik. Terutama dalam instrumen musik yang berasal dari Barat seperti Eropa. Lalu, tala diatonis juga terbagi lagi dalam dua jenis nada. Pertama yakni nada mayor dan kedua adalah nada minor.

    Diatonis mayor merupakan jenis tala yang sering digunakan pada sebuah instrumen musik. Kemudian, Jarak antara nada dan not pada diatonis mayor berjumlah 1-1-½-1-1-1-½.  Contoh diatonis mayor bisa Anda lihat pada chord C mayor. Lalu, tala mayor sendiri terdiri dari irama nada do, re, mi, fa, so, la, si, do.

    Selain itu, contoh lagu yang memakai tala nada diatonis mayor bisa Anda dengarkan pada beberapa lagu nasional Indonesia. Mulai dari Berkibarlah Benderaku, Bangun Pemudi Pemuda, Maju Tak Gentar, Indonesia Raya, Hari Merdeka, dan lainnya.

    Jika diatonis mayor merupakan jenis tala dengan nuansa ceria, beda halnya dengan diatonis minor. Diatonis minor justru memiliki nuansa irama yang melankolis. Nada ini mempunyai jarak not berjumlah 1-½-1-1-½-1-1. Lalu, contoh chord nya bisa Anda lihat pada kunci A minor. Nadanya sendiri adalah nada la, si, do, re, mi, fa, sol, la.

    Selain itu, contoh lagu yang menggunakan tala nada diatonis minor juga bisa Anda lihat pada lagu nasional dengan nuansa sedih. Mulai dari Tanah Airku, Ibu Pertiwi, Gugur Bunga, Bintang Kejora, Mengheningkan Cipta, Ambilkan Bulan, Bubuy Bulan, Kasih Ibu, dan lain sebagainya.

    2. Pentatonis

    Tangga nada pentatonis atau pentatonic scale adalah tala yang memakai lima nada pokok. Di Indonesia sendiri, nada pentatonis terbagi lagi ke dalam dua jenis, yakni pentatonis pelog dan pentatonik slendro.

    Mengutip dari buku tentang Seni Budaya Musik Kelas X tahun 2020, jenis nada pentatonik sangat identik digunakan dalam lagu-lagu nasional dan juga musik-musik daerah.

    Salah satu contohnya bisa Anda dengar pada musik instrumen tradisional khas Indonesia seperti gamelan Jawa, gamelan Sunda, gambang kromong, calung, gamelan Bali, dan lain sebagainya.

    Selain itu, pentatonis juga umumnya sering digunakan untuk musik khas tradisional negeri China dan Jepang, musik bergenre rock and roll, dan musik blues. Bahkan, tak jarang instrumen nada ini bisa Anda nikmati pada irama lagu pop.

    Berikut adalah perbedaan dua jenis tala pada nada pentatonis, yaitu:

    Pentatonik Pelog

    Umumnya, jenis nada ini memiliki susunan ketukan yang terdiri dari 1-3-4-5-7-1′. Jika dibuat nada, maka berbunyi do-mi-fa-sol-si-do’ atau dalam bentuk chord adalah C-E-F-G-B-C’. Selain itu, ciri-ciri tala nada pentatonik pelog ini umumnya bersifat tenang, damai, syahdu, dan sakral.

    Contoh lagu daerah yang menggunakan jenis tala nada pentatonik pelog bisa Anda dengarkan pada beberapa lagu tradisional khas Jawa. 

    Mulai dari Gundul-Gundul Pacul asal (Jawa Tengah), Pitik Tukung asal (Jawa Tengah), Suwe Ora Jamu asal (Jawa Tengah), Jamuran asal (Jawa Tengah), dan masih banyak lagi. 

    Pentatonik Slendro

    Jenis ini umumnya memiliki susunan ketukan yang terdiri dari 1-2-3-5-6-1′. Jika dibuat nada, maka berbunyi do-re-mi-sol-la-do’ atau dalam bentuk chord nya adalah C-D-E-G-A-C’. Kemudian, ciri-ciri tala nada pentatonik pelog ini umumnya bersifat gembira, lincah, atraktif, dan penuh semangat.

    Contoh lagu daerah yang memakai jenis tala nada pentatonik slendro antara lain dapat Anda dengarkan pada beberapa lagu tradisional khas Jawa Barat, dan Jawa Tengah. 

    Mulai dari lagu Cublak-Cublak Suweng asal (Jawa Tengah), lagu Cing Cangkeling asal (Jawa Barat), dan juga Lir Ilir asal (Jawa Tengah).

    3. Kromatis

    Jenis tala terakhir, yakni kromatis. Tala nada kromatis terdiri dari susunan 12 nada yang terbentuk melalui interval ketukan setengah nada dalam setiap notnya. 

    Sebenarnya, tala nada kromatis merupakan turunan dari jenis tala nada diatonik mayor. Di mana, pada bagian nada yang lain dalam tala diatonik mayor terpecah menjadi ½ bagian mayor dan ½ di tala kromatis.

    Tala nada kromatis memang sudah cukup banyak digunakan dalam berbagai jenis lagu atau irama musik. Seperti musik jazz, pop, rock, dan beberapa lagu rohani. Contoh lagu yang memakai tala nada kromatis, yakni Bungong Jeumpa asal Aceh dan juga Indonesia Pusaka karya pencipta lagu ternama, Ismail Marzuki.

    Selain itu, tala nada kromatis ini menggunakan 12 macam nada dengan jarak per ketukan adalah 1/2. Kemudian, tala nada kromatis juga merupakan kumpulan dari berbagai nada yang terdapat dalam satu irama musik dan akan berulang oktafnya.

    Namun, meski terdapat 12 nada berbeda dalam satu oktaf, hanya ada 7 oktaf pertama saja dari abjad yang akan digunakan. Nada tersebut adalah chord A, B, C, D, E, F, G. Lalu, lima nada lainnya akan diberi nama melalui simbol penempatan tanda kres (♯) atau bisa juga tanda mol (♭).

    Tanda kres atau sharp (♯) ini berguna untuk menaikkan jumlah ketukan sebanyak setengah nada. Sebagai contoh, nada C yang mendapat tanda kres maka naik setengah ketukan menjadi nada Cis. 

    Sedangkan untuk simbol mol atau flat (♭), simbol ini berfungsi untuk menurunkan jumlah ketukan sebanyak setengah nada. Contohnya, nada C yang akan diberi tanda mol, maka akan berubah ketukan nadanya menjadi nada Ces.

    Urutan Tangga Nada

    Setelah membahas tentang apa itu tala beserta jenisnya, kali ini Anda perlu mengetahui juga tentang urutan nada dalam skala irama. Berikut penjelasannya:

    1. Tala Nada Modal

    Tala nada modal atau yang sering disebut nada skala modal adalah jumlah urutan nada yang paling awal. Skala modal ini terdiri atas 7 nada. Nada tersebut adalah  Ionian, dorian, lydian, mixolydian, phrygian,  aeolian, dan locrian.

    2. Tala Nada Penuh

    Tala nada penuh atau yang sering disebut dengan nada skala penuh adalah jumlah skala nada yang mempunyai jarak nada, yakni sekitar satu not penuh. Sehingga yang masuk di dalam tala nada ini adalah seluruhnya dari jumlah total nada. 

    Sudah Paham Jenis dan Urutan Tangga Nada?

    Nah, itu dia penjelasan lengkap tentang apa itu tangga nada, serta jenis-jenis dan urutannya. Intinya, tala nada merupakan kumpulan nada yang tersusun melalui gabungan dari beberapa ketukan nada. Sehingga, akan menghasilkan satu irama atau bunyi dengan ciri khas tersendiri. Semoga bermanfaat!

  • Apa Itu Tempo? Definisi, Jenis, Ciri-Ciri dan Karakteristiknya

    Apa Itu Tempo? Definisi, Jenis, Ciri-Ciri dan Karakteristiknya

    Hal yang paling utama saat belajar musik adalah memahami baca not balok dan tempo. Kedua elemen ini sangat penting, meskipun kamu hanya ingin belajar cara bermain musik pop.

    Menghafal chord dan mendalami teknik permainan instrumen memang sangat penting. Namun, itu semua akan percuma jika kamu buta irama musik atau ketukan. Dampaknya, permainan musik kamu akan terdengar tidak beraturan dan tidak mampu mengikuti iringan musik di dalam band maupun orchestra.

    Pengertian Tempo

    Tempo, bisa berarti kecepatan atau irama musik yang memiliki peran penting di dalam sebuah kelompok musik dan pertunjukan. Artinya, irama musik adalah jantung dari musik.

    Di zaman middle age, musik masih belum menggunakan irama musik dan masih mengandalkan denyut nadi sebagai acuan ketukan utama di dalam musik. Setelah masuk abad ke 17 atau era Renaissance, musik Baroque dan Klasik sudah mulai menggunakan irama musik.

    Setelah masuk di tahun 1815, Johann Maelzel menemukan sebuah alat yang membantu para musisi untuk bermain musik dengan ketukan yang tepat. Nama alat tersebut adalah metronome.

    Sejak saat itu, pemain musik menggunakan dua metode untuk menentukan kecepatan permainan musiknya, melalui instruksi verbal atau menggunakan metronome.

    Instruksi Tempo di Musik

    Di dalam sebuah grup musik seperti orkestra, ketentuan kecepatan sebuah lagu biasanya sudah tertera di dalam music sheet, berupa istilah-istilah dari Bahasa Italia atau Bahasa Inggris.

    Setelah membaca istilah irama musik itu, pemain mulai berlatih memainkan lagu dengan menggunakan metronome, supaya setiap ketukan birama lagu sesuai dengan irama musik lagu. Untuk lebih jelasnya, mari simak penggunaan irama musik saat bermain musik berikut ini:

    1. Verbal

    Instruksi irama musik secara verbal bisa melalui suara aba-aba dari konduktor atau melalui tulisan dalam Bahasa Italia di dalam music sheets. Contoh penyebutan irama musik dalam Bahasa Italia adalah Allegro, Andante, sampai Presto.

    Biasanya, penulisan irama musik ini berada di bagian bawah judul di sebelah kiri dan di atas not balok. Berikut adalah contoh penulisan irama musik dari lagu Arabesque No. 1 in E Major dari Debussy:

    Musescores

    Penulisan irama musik ini tidak selalu dalam Bahasa Italia, bahasa lain seperti Jerman dan Prancis juga digunakan oleh sebagian komposer.

    2. Metronome

    Unsplash

    Metronom adalah sebuah alat yang mengeluarkan bunyi ketukan per menit. Penemu yang menemukan alat ini bernama Dietrich Nikolaus Winkel di tahun 1812 yang kemudian disempurnakan oleh Johann Nepomuk Maelzel di tahun 1815-1816. 

    Setelah alat ini diciptakan, komposer Ludwig van Beethoven langsung menggunakannya sebagai acuan irama musik dari lagu tertentu. Cara kerja metronom ini menggunakan jarum jam yang memiliki pendulum yang dapat berbunyi nyaring saat bergerak ke kanan-kiri. Kurang lebih seperti jam tua.

    Dari alat ini, pemain dapat mengatur kecepatan irama pada waktu tertentu, mulai dari kecepatan 40 (lambat) sampai 208 (sangat cepat). Hingga sekarang, musisi dunia masih mengandalkan alat ini, terutama para murid yang baru belajar instrumen musik untuk pertama kali.

    Penggunaan Tempo di Dalam Lagu

    Tanpa ada irama ketukan, setiap pemain akan hidup di dunianya masing-masing. Suara pukulan drum tidak beraturan, melodi piano tidak sama dengan drum, gitaris bisa asik sendiri dengan melodi yang dia mainkan. Bisa kamu bayangkan betapa riwehnya penampilan mereka? 

    Musik tidak hanya terpaku dengan nada, melodi, harmoni, dan dinamika saja. Seorang pemain instrumen mungkin bisa menguasai semua itu, tapi tidak semua mampu menahan emosi untuk memainkan lagu sesuai dengan ketukan irama.

    Maka dari itu,  ketukan birama dibuat sebagai panduan untuk para musisi saat bermain musik. Selain melodi lagu, ketentuan irama ketukan juga harus tercantum  di dalam music sheet sebelum diajukan ke HAKI (Hak Kekayaan Intelektual).

    Sebab, irama musik memiliki pengaruh untuk mengatur suasana atau tema dari sebuah lagu. Jika lagu yang kamu buat dimainkan orang lain dengan irama musik yang mereka sukai, suasana lagu kamu menjadi berbeda.

    Di dalam musik, hitungan irama musik biasa disebut dengan beat per minute yang berarti kecepatan ketukan musik dalam satu menit.

    Misalnya, dalam 1 irama musik dinyatakan sebagai 60 BPM. Ini berarti 1 ketukan berbunyi sekali per detiknya. Sedangkan untuk irama musik 120 BPM memiliki ketukan yang lebih cepat, yakni dua ketukan per detik.

    Selain irama musik, di dalam music scores terdapat tanda notation sebagai tanda cara bermain dari sebuah lagu. Notation ini terdiri dari:

    1. Notasi Dasar

    Notasi dasar atau biasa kita sebut dengan not balok ditulis di atas lima baris yang bernama paranada. Not balok ini biasanya akan diikuti dengan tanda-tanda sharp (#) dan flat (♭), untuk memberi tahu pemain bahwa terdapat perubahan nada dasar.

    Pageheadnotation

    Nada dasar di dalam musik adalah C, D, E, F, G, A, B atau Do, Re, Mi, Fa, Sol, La, Si. Jika di dalam music sheet terdapat tanda sharp (#), maka nada tersebut akan naik setengah menjadi C#, D#, E#, F#, G#, A#, B#, atau menjadi Di, Ri, Mi, Fi, Si, Li. Jika terdapat tanda flat (♭), maka nada itu akan turun setengah menjadi Sa, Le, Se, Me, Ra.

    2. Key Signature

    Tanda sharp dan flat tidak selalu muncul di sebelum tanda not balok. Kamu juga bisa menemukan tanda-tanda ini setelah kunci paranada (G, C, F). Tanda sharp dan flat ini berfungsi sebagai penanda chord di dalam sebuah lagu.

    Pageheadnotation

    3. Time Signature

    Time signature biasanya berbentuk fraksi (4/4, 3/4, 6/8, dll) yang ditampilkan di awal birama musik. Fungsi angka-angka ini untuk memberitahu kepada pemain berapa banyak ketukan di dalam setiap birama. 

    Contoh 4/4, angka 4 yang berada di atas berarti berapa ketukan dalam satu bar atau birama. Sedangkan angka 4 yang berada di bawah menunjukkan nilai ritme di setiap ketukan. Untuk lagu pop, tanda birama yang paling umum adalah 4/4 yang menandakan bahwa setiap bar memiliki 4 ketukan.

    Jenis-Jenis Tempo

    Berikut adalah istilah irama musik dalam Bahasa Italia yang akan selalu muncul di dalam music sheet, terutama untuk lagu klasik:

    IstilahArti dan Tempo
    GraveSangat pelan (25-45 bpm)
    LargoBroadly (40-60 bpm)
    LentoPelan (45-60 bpm)
    AdagioPelan dengan ekspresi (66-76 bpm)
    AndanteBerjalan dalam kecepatan (76-108 bpm)
    ModerateKecepatan moderator (98-112 bpm)
    AllegroCepat dan jelas (120-156 bpm)
    VivaceHidup dan cepat (156-176 bpm)
    PrestoSangat sangat cepat (168-2000 bpm)

    Tips Melatih Tempo Musik

    Buat kamu yang baru pertama kali belajar bermain instrumen (apapun itu) dan ingin melatih ketepatan permainan musik di dalam irama musik, berikut beberapa tips yang bisa kamu terapkan di rumah:

    • Gunakan metronom dengan kecepatan 40 atau Lento.
    • Lalu, latihan fingering tangga nada. Terlihat remeh dan membosankan, tapi ini efektif. Jika tidak suka, berlatihlah dengan menggunakan variasi tangga nada diatonis, pentatonis, dan kromatis. Latih setiap nada pada not ¼ (1 ketuk), ⅛ (½ ketuk), 2 ketuk, dan not penuh.

    Sudah Paham Apa Itu Tempo?

    Jangan pernah sepelekan irama kecepatan saat bermain musik. Sebab, sebagai pendengar, kamu pasti juga merasa risih dan tidak nyaman saat mendengar grup musik bermain secara tidak kompak, bukan? Maka dari itu, motivasi diri sendiri dan anggaplah kamu seorang musisi yang ingin tampil, supaya tidak bosan berlatih tempo.

  • Melodi: Pengertian, Jenis, Tujuan, dan Cara Membuatnya

    Melodi: Pengertian, Jenis, Tujuan, dan Cara Membuatnya

    Musik adalah karya seni yang dapat dinikmati dengan indera pendengaran. Setiap orang memiliki selera musiknya masing-masing. Bahkan, beberapa dari mereka berusaha untuk menciptakan musik sendiri untuk memenuhi selera mereka. Jadi, mari kita mulai dengan melodi, bagian dari musik yang paling sering kita dengar.

    Pengertian Melodi

    Secara garis besar, melodi adalah pergantian dari beberapa nada yang berirama. Agar lebih mudah dicerna, mari kita anggap musik sebagai sebuah bahasa. Sama seperti bahasa, musik diaplikasikan lewat bunyi dan diterima menggunakan indera pendengaran, selain itu, musik juga dapat ditulis dan dibaca.

    Unsur pembangun tulisan bermula dari huruf dalam musik setara dengan nada. Setelah itu, gabungan dari beberapa huruf adalah kata, dalam musik disebut motif. 

    Selanjutnya, gabungan dari beberapa kata menjadi frasa atau kalimat dalam pemahaman musik juga disebut kalimat. Kalimat inilah yang nantinya dapat dikategorikan sebagai melodi.

    Terdapat sedikit perbedaan dari segi penulisan antara sastra dan musik. Perbedaan ini berkaitan dengan tujuan dan fungsi dari masing-masing format. 

    Jika tulisan sastra berusaha untuk menyampaikan ide, gagasan, atau buah pikir subjeknya. Maka sementara penulisan musik berusaha untuk membuat pemusik lain mendengarkan musik lewat tulisan. 

    a. Unsur Melodi: Nada

    Nada berasal dari bunyi atau suara. Sebenarnya bunyi dan suara itu sama. Hanya saja, suara adalah hasil dari getaran pita suara manusia, sementara bunyi berasal dari getaran alat musik.

    Setelah memahami bunyi dan suara, nada adalah ukuran dari getaran tersebut. Ukuran ini sama dengan simbol frekuensi, yaitu bersatuan Hertz (Hz). Berikut adalah daftar frekuensi getaran beserta nada yang dihasilkan:

    Frekuensi Nada
    Frekuensi Nada | Sumber Gambar : Medium

    Melalui gambar tersebut, telah tertulis tebal bahwa frekuensi 440.0 Hz bernama nada A4. Sistem penamaan ini cukup sederhana, A4 berarti nada A di oktaf keempat. 

    Semakin tinggi angka di belakang nama nada, semakin tinggi pula nadanya. Oktaf terdiri dari 12 nada kromatis yang diantaranya adalah 7 nada diatonis yang biasa kita kenal sebagai do, re, mi, fa, sol, la, si.

    b, Tangga Nada Diatonis

    Tangga nada diatonis terbagi menjadi 2 tangga nada, yakni mayor dan minor. Keduanya memiliki perbedaan yang signifikan dalam menyampaikan rasa. Dalam tangga nada mayor, sering kali terpancarkan rasa senang, sementara minor menimbulkan rasa sedih.

    1. Tangga Nada Mayor

    Secara harfiah, kita dapat memahami sebagian dari tangga nada hanya dari namanya saja. Seperti tangga, nada di dalamnya tersusun dalam rangkaian nada naik dan turun. Terdapat 7 nada yang setiap nadanya memiliki jarak tertentu. Untuk tangga nada mayor, jarak setiap nadanya adalah 1-1-½-1-1-1-½.

    Jarak antar nada atau interval tersebut jika kita terapkan pada nada dasar C Mayor, maka tangga nadanya adalah C-D-E-F-G-A-B-C. Pada alat musik piano, setiap nada C Mayor bertepatan dengan tuts putih. Setelah mengetahui setiap nada dalam C Mayor, para musisi akan memainkan melodi menggunakan nada-nada tersebut.

    Perlu dipahami bahwa tangga nada adalah interval setiap nada tersebut. Apabila lagu yang dimainkan tidak berada di nada dasar C Mayor, maka isi nadanya juga berubah. Sebagai contoh, ada nada G Mayor yang berisi G-A-B-C-D-E-F#-G. Demi mengikuti interval setiap nada, nada F naik setengah langkah menjadi F#. 

    2. Tangga Nada Minor

    Tangga nada minor memiliki urutan langkah yang berbeda dengan tangga nada mayor. Intervalnya adalah 1-½-1-1-½-1-1. Mengikuti cara penerapan sebelumnya, nada dasar minor pada piano yang semua tutsnya putih adalah A minor.

    Apabila diurutkan, tangga nada A minor adalah A-B-C-D-E-F-G-A. Sedangkan tangga nada dengan nada dasar C minor berisi C-D-Eb-F-G-Ab-Bb-C. Penambahan tanda (b) atau mol berarti nada tersebut turun setengah langkah dari tuts putih. 

    c. Tangga Nada Kromatis

    Tangga nada ini populer di kalangan pemain musik Jazz, R&B, atau Soul. Walaupun terkadang juga bisa didengar dalam genre lain, tiga genre tersebut sangat menoleransi penggunaan tangga nada ini. 

    Berbeda dengan mayor dan minor yang berisi 7 langkah dalam tangga nadanya, kromatis memiliki 12 nada. Setiap nada berjarak ½ langkah dan tidak ada sistem nada dasar dalam kromatis. Semua nada bisa menjadi awal dan akhir tergantung akor iringan melodinya.

    Menggunakan beberapa tangga nada yang telah kita bahas sebelumnya pada mayor dan minor, apabila kromatis dimulai dari nada C maka tangga nadanya adalah: C-C#-D-D#-E-F-F#-G-G#-A-A#-B. Penggunaan tangga nada ini di luar 3 genre di atas dapat menimbulkan kesan fals atau salah nada.

    Seorang musisi yang telah handal serta memahami akor dan harmoni bisa saja menyisipkan beberapa kromatis dalam melodinya. Umumnya, pengguna nada kromatis dalam melodi menggunakan kromatis untuk mengantarkan akor satu ke akor lainnya. 

    d. Tangga Nada Pentatonik

    Pentatonik bisa kita pisah menjadi 2 kata, yaitu penta dan tonik. Penta berarti lima, dan tonik atau tonal berarti nada. Jadi, tangga nada pentatonik hanya berisi 5 nada.

    Di Indonesia sendiri terdapat dua tangga pentatonik yang sangat sering digunakan, yaitu tangga nada pelog dan slendro. Keduanya sering digunakan dalam musik daerah atau musik gamelan.

    Interval tangga nada pelog adalah 2-½-1-2-½, apabila menggunakan nada dasar C tangga nadanya adalah C-E-F-G-B-C, atau do-mi-fa-sol-si-do dalam bentuk solmisasi. Meski begitu, nada re dan la masih dipakai walaupun sangat jarang.

    Tangga nada slendro memiliki interval 1-1-1½-1-1½, atau do-re-mi-sol-la, atau C-D-E-G-A-C dalam nada dasar C. Menggunakan kedua tangga nada ini dalam melodi akan menimbulkan rasa “Jawa” dalam musik.

    Dalam pemahaman musik internasional, tangga nada pelog disebut sebagai tangga nada pentatonik minor. Sedangkan slendro adalah pentatonik mayor. Selain kedua pentatonik di atas, masih ada beberapa bentuk tangga nada pentatonik lain.

    Beberapa contoh tangga nada pentatonik lain adalah blues pentatonic scales, Egyptian pentatonic scales, Mongolian pentatonic scales, dan Indian raga scales

    Masih banyak lagi tangga nada pentatonik dari bagian dunia lain dengan nama yang berbeda, mengingat setiap pentatonik hanya perlu 5 nada dari 12 nada yang tersedia.

    e. Unsur Melodi: Ritme

    Ritme atau rhythm adalah panjang pendeknya suatu nada dalam rangkaian melodi. Dalam sistem penulisan notasi musik, nada dan ritme menjadi satu kesatuan. Sementara letak not balok menandakan nada yang dimainkan, bentuk not menandakan ritme atau durasi nada tersebut dimainkan.

    Nama dan Bentuk Not Balok
    Nama dan Bentuk Not Balok | Sumber Gambar : Voli Maniak

    Tabel di atas menunjukkan bentuk not balok, nama, harga, dan nilainya. Not yang paling umum dipelajari pertama adalah not seperempat (nomor 3), dalam penulisannya, not ini berbunyi selama satu ketuk saja dan berhenti pada ketukan setelahnya.

    Penamaan not balok berasal dari durasinya dalam suatu birama. Satu birama umumnya berisi 4 ketuk. Maka dari itu, not seperempat berharga ¼ dan bernilai 1 ketuk.  

    Not di atas menunjukkan durasi nada yang berbunyi, tetapi tak jarang pula kita mendengar kehampaan dalam suatu melodi. Contoh yang paling sering kita dengar adalah ketika seorang penyanyi berhenti bernyanyi entah karena lirik yang sudah tersampaikan atau ketika menarik napas.  

    Sama dengan not balok, not diam juga disertai dengan bentuk dan durasinya masing-masing.

    Tanda Diam
    Tanda Diam | Sumber Gambar : Voli Maniak

    Sebuah melodi biasanya sepanjang 8 hingga 16 birama (bar). Mengingat pembahasan sebelumnya tentang persamaan antara musik dan bahasa, 8 bar awal biasanya disebut kalimat tanya, setelah itu 8 bar untuk kalimat jawabnya.

    Jenis Melodi

    Jenis istilah ini bisa kita artikan sebagai variasi melodi. Terdapat banyak variasi yang bisa kita pahami dari berbagai situs. Namun, sebelum kita bervariasi dalam melodi, sebaiknya kita memahami arti istilah itu sendiri.

    a. Melodi Utama

    Salah satu jenis melodi adalah melodi utama. Sebuah rangkaian nada yang sengaja dibuat dengan unsur ear-catching. Dengan begitu, pendengar akan lebih mudah untuk mengasosiasikan rangkaian nada tersebut dengan lagunya.

    Musik populer biasanya menimpali melodi utama ini dengan lirik. Menurut struktur lagu, terdapat beberapa bagian dimana melodi utama ini biasanya berulang. Pada intro lagu, alat musik melodis biasa mengisinya dengan menyentuh beberapa bar melodi utama untuk mengenalkannya.

    Lalu, penyanyi akan mengenalkan melodi lain dalam bagian verse atau bait. Selanjutnya, melodi utama akan semakin terpancar pada bagian chorus lagu, kali ini lirik akan menyertainya. 

    Tak jarang juga jenis utama ini dimainkan pada bagian solo melodi, umumnya musisi hanya menggunakannya sebagai dasar melodi yang pasti akan diimprovisasi.

    b. Variasi Melodi

    Salah seorang peneliti musik pernah berkata bahwa salah satu karakteristik musik adalah repetisi atau pengulangan. Namun, sebagai penikmat musik, jarang sekali timbul rasa bosan pada saat pertengahan lagu.

    Hal ini terjadi akibat hasil dari variasi di berbagai aspek pembangunnya. Secara sederhana, terdapat 3 unsur pembangun musik zaman sekarang, yaitu: akor, melodi, dan lirik. Dalam perkembangannya, musik klasik tidak memiliki lirik. Maka dari itu, variasi yang diterapkan hanya pada akor dan melodi. 

    Dengan batasan “melodi utama”, terdapat banyak sekali variasi yang dapat menyegarkan melodi utama. Berikut adalah beberapa macamnya

    1. Artikulasi

    Sama seperti pengucapan bahasa, artikulasi musik juga merujuk pada kejelasan bunyinya. Tetap menggunakan nada dan ritme yang sama, memanipulasi artikulasi melodi dapat memberikan kesan yang berbeda.

    Salah satu contoh yang mudah dipahami adalah perubahan volume. Seberapa keras atau halus pembawaan melodi sudah bisa menciptakan suasana baru. Selain itu, menyisipkan jeda di antara nada atau memperhalus perubahan nada juga bagian dari variasi artikulasi.

    Dalam musik berlirik, variasi ini lebih mudah diciptakan. Meskipun masih menggunakan nada dan ritme yang sama, perubahan lirik pastinya akan menciptakan sisi baru dalam sebuah pengulangan.

    Baca Juga : Artikulasi: Pengertian, Jenis, dan Cara Melatihnya

    2. Ritme

    Variasi ritme, penerapan variasi ritme dapat digabungkan dengan variasi artikulasi. Mengubah ritme berarti menambahkan atau mengurangi nada dalam sebuah melodi. Salah satu contoh dapat kita lihat pada lirik lagu “Badai Telah Berlalu” oleh Diskoria, laleilmanino, dan BCL.

    Melodi utama dalam lagu ini terdapat pada bagian chorus. Chorus dalam lagu ini berulang sebanyak 4 kali yang membuat nada ini sangat melekat sebagai identitas lagu. Berikut adalah kutipan lirik chorus “Badai Telah Berlalu”.

    “Dan kini ternyata ujung cerita bak kurnia dewata

    Hatiku berseri senyum mentari datang kembali

    Pilu yang dulu hilang, kini berganti merdu

    Badai telah berlalu”

    Struktur tersebut berulang untuk chorus 1 dan 2. Pada chorus 3 terdapat pengurangan bagian, sementara pada chorus 4 terdapat pergantian lirik yang pastinya mengubah ritme. Berikut adalah chorus 3 dan 4.

    “Dan kini ternyata ujung cerita bak kurnia dewata

    Hatiku berseri, senyum mentari datang kembali

    Pilu yang dulu hilang kini oh berganti merdu

    Khayalku menyata ujung cerita kita bak kurnia dewata

    Hatiku berseri matahari yang kunanti telah kembali

    Pilu yang dulu hilang kini berganti merdu

    Pilu yang dulu hilang

    Badai telah berlalu”

    Pada bagian lirik “Pilu yang dulu hilang” di chorus 3 memiliki melodi yang sama dengan chorus 1 dan 2. Perbedaannya terletak pada waktu menyanyikan lirik tersebut. 

    Di chorus 1 dan 2, suku kata “Li” pada “Senyum mentari datang kembali” bernilai 2 ketuk, sementara di chorus 3 hanya 1 ketuk. Pengurangan ini membuat lirik “pilu yang dulu hilang kini berganti merdu” membutuhkan suku kata tambahan “Oh”. Selanjutnya, kalimat “Badai telah berlalu” sepenuhnya dihilangkan pada chorus 3.

    Pada chorus 4, terdapat variasi lirik. Masih mempertahankan makna yang sama, pergantian lirik ini menimbulkan jumlah suku kata atau silabel yang berbeda juga.

    Baris pertama “Dan kini ternyata ujung cerita bak kurnia dewata” memiliki 18 silabel. Tetapi, “Khayalku menyata ujung cerita kita bak kurnia dewata” memiliki 20 silabel. Perbedaan melodi inilah yang kita sebut variasi ritme. 

    3. Variasi Melodi

    Variasi ini erat kaitannya dengan tangga nada. Penjelasan singkatnya adalah mengganti beberapa nada dari melodi utama yang sudah biasa didengar dengan nada lain demi menyegarkan rasa. 

    Salah satu cara variasi melodi adalah dengan modulasi. Modulasi adalah perpindahan nada dasar. Meskipun interval setiap nada dalam melodi itu masih sama, perpindahan nada dasar sudah menghasilkan nuansa baru.

    Variasi melodi juga bisa berdasarkan akor yang dimainkan. Akor adalah 2-3 nada atau lebih yang dimainkan bersamaan. Dengan memahami akor, solis memiliki pilihan, nada mana yang akan ia mainkan tanpa menyebabkan fals. Seorang solis juga bisa menjelajah tangga nada berdasarkan nada dasar lagu tersebut. 

    Kalimat tanya (8 bar awal) dalam permainan solo biasanya akan diakhiri dengan nada fa atau sol. Untuk kalimat jawabnya dapat diawali sesuai selera dan sebaiknya diakhiri dengan nada do atau nada lain sebagai pengantar akor selanjutnya.

    4. Counter Melody

    Teknik ini biasanya dimainkan berdua. Sebuah harmoni tanya-jawab antara dua musisi. Pada saat seorang pemain musik memainkan bagian melodi utama, seorang pemain alat musik melodis lain akan mengisi jeda yang ditinggalkan pemain sebelumnya. Tentunya tetap berada di dalam nada dasar yang sama. 

    Selain dengan mengisi pada jeda. Pemain musik kedua bisa mengiringi melodi utama dengan menggunakan suara duanya. 

    Suara dua biasanya dinyanyikan oleh backing vocal selama nyanyian itu bernada, alat musik melodis lain juga bisa menyamai nada tersebut. Mengingat banyaknya variasi yang bisa dilakukan, sebuah musik jarang sekali terasa membosankan.

    5. Gerak Melodi

    Gerak melodi merujuk pada keilmuan musik. Sebuah nada dapat bergerak naik, turun, atau ditahan relatif dengan akor yang dimainkan. 

    Memahami pergerakan melodi adalah hal penting bagi musisi. Baik pemain solo maupun pengiring lagu. Kemampuan untuk mendengarkan nada apa yang akan dimainkan selanjutnya adalah skill yang perlu diasah dengan waktu dan pengalaman.

    Solis biasanya memainkan alat musik bernada tinggi seperti saxophone, violin, flute, hingga harmonika. Meski begitu, kemampuan ini tetap diperlukan bagi pemain alat musik bernada rendah. 

    Zaman sekarang, saat memikirkan alat musik bernada rendah, pasti akan terpikirkan alat musik bass. Pun, pemain bass juga perlu untuk memahami gerak melodi karena tak jarang juga pemain bass mendapatkan bagian solo.

    Pada zaman klasik, alat musik bernada rendah semakin banyak lagi. Alat musik melodis bernada rendah juga bagian dari sebuah orkestra. Dari setiap bagian orkestra, akan ada alat musik yang bisa mencapai nada rendah.

    Pada string section, terdapat alat musik seperti cello dan double bass yang mengambil nada rendah. Pada alat musik tiup, terbagi menjadi dua bagian, yaitu brass section dan woodwind section.

    Brass section memiliki alat musik seperti trombone, french horn, baritone, tuba, hingga sausaphone untuk nada rendahnya. Sementara pada woodwind section, ada bass clarinet, bassoon, hingga tenor atau baritone saxophone bila diperlukan.

    Tujuan Melodi

    Secara garis besar, tujuan melodi adalah sebagai sarana penyampai pesan. Sebuah karya musik bersifat personal. Kita dapat mendengar ide yang dipersembahkan musik tersebut salah satunya melalui melodi lagunya. Berikut adalah beberapa tujuannya:

    1. Sebagai Penyeragam Persepsi

    Sedari awal perkembangan musik di Afrika, melodi bertujuan untuk menyeragamkan persepsi semua orang tentang sebuah karya musik. Ia juga memiliki peran sebagai penanda setiap bagian musik.

    Iringan musik tanpa melodi akan sangat membosankan. Bahkan, bagi pemusik yang memainkannya akan timbul rasa kebingungan apabila tanpa melodi. Namun, melodi dapat berdiri sendiri. 

    Awal mula lahirnya musik berasal dari Afrika, berupa nyanyian-nyanyian ritual. Sebagai masa lahirnya musik, tentunya alat musik masih belum tercipta. Nyanyian-nyanyian itu terdiri dari alunan musik dan lirik saja. Pada zaman sekarang, format seperti ini disebut acapella

    2. Sebagai Identitas Karya Musik

    Dari sisi penciptaan, melodi adalah identitas dari sebuah karya musik. Bahkan di Indonesia Raya, telah ditetapkan hukum perundangan yang melindungi karya musik dari plagiarisme atau penjiplakan. Pelanggarnya akan dihukum pidana atau bertanggung jawab untuk membagi hasil materi dari karya tersebut.

    Sebuah karya musik dianggap menjiplak atau plagiat apabila beberapa bagian atau keseluruhan dari musik yang sudah ada diakuisisi oleh pihak lain. Beberapa bagian sekecil-kecilnya 4 bar apabila ditiru oleh orang lain dapat diproses dalam persidangan.

    Namun, ada batasan untuk hukum ini. Secara internasional, sebuah karya musik bisa dianggap public domain atau milik publik apabila penciptanya atau pemilik haknya telah meninggal selama 70 tahun.

    Jadi, bagi para musisi yang ingin mendapatkan inspirasi melodi secara singkat, karya-karya dari zaman klasik hingga renaisans bisa secara teknik bisa diakuisisi. Namun, musisi yang mengambil karya orang lain adalah citra yang buruk.

    Maka dari itu, belakangan ini telah muncul teknik yang disebut sampling. Teknik ini benar-benar mengambil sebagian dari lagu lain, lalu memberikan sentuhan kreatif di dalamnya. Teknik ini populer dalam genre hip-hop, boom bap, rap, house, trap, pop, dan lain-lain. 

    3. Sebagai Inti Perasaan Lagu

    Musik sebagai bahasa rasa dapat kita nikmati pada musik era klasik hingga renaisans. Banyak sekali pesan, perasaan, dan pengalaman yang dibagikan oleh pencipta musik di era tersebut berasal dari nada.

    Pergerakan nada, kombinasi nada atau akor, hingga tempo yang bervariasi dapat menyentuh hati manusia tanpa sepatah kata pun. Seorang penikmat musik orkestra bisa merasakan sedih, marah, takut, hingga senang hanya melalui lantunan nada.

    Namun pada zaman sekarang, melodi ini bisa tergantikan dengan lirik. Walaupun melodi yang digunakan tidak begitu kaya, lirik yang dianggap relatable lebih banyak peminatnya.

    Cara Membuat Melodi

    Hal pertama yang perlu diperhatikan dalam membuat melodi adalah interval. Terdapat 8 istilah untuk interval yaitu: 

    • Prime – nada C ke C lagi
    • Sekon – nada C ke D
    • Terts – nada C ke E
    • Kuart – nada C ke F
    • Kwint – nada C ke G
    • Sekt – nada C ke A
    • Seprim – nada C ke B, dan
    • Oktaf – nada C ke C yang lebih tinggi

    Masing-masing diantaranya menandakan seberapa besar jarak yang ditempuh suatu nada hingga ke nada berikutnya. 

    Hal selanjutnya yang perlu dipikirkan adalah makna dari pemilihan interval tersebut. Secara tiddak langsung, perasaan manusia bisa mengasosiasikan pemilihan interval. 

    Penggunaan sekon bisa berarti permulaan yang pelan atau perjalanan yang baru saja dimulai, interval sekon yang dilanjutkan dengan terts dan seterusnya dapat terasa seperti adanya proses yang sedang dijalani. 

    Sama halnya dengan loncatan nada seperti oktaf yang bisa menandakan grandiose atau kemegahan apabila dikemas dengan akor yang sesuai.

    Melodi yang baik tidak selalu sama dengan melodi yang rumit. Beberapa melodi yang dikenal sepanjang masa biasanya melodi yang sederhana. Contohnya adalah melodi lagu selamat ulang tahun. Semua keputusan itu tergantung dari karakter penciptanya.

    Selanjutnya adalah menentukan motif. Motif bisa juga dianggap sebagai frasa dalam bahasa. Biasanya motif hanya mencakup beberapa not, relatif sedikit dan berulang. Pengulangan motif inilah yang membuat sebuah lagu bisa melekat di hati dan pikiran pendengarnya.

    Setelah memperhatikan beberapa tips di atas, nyanyikanlah sebuah melodi. Melodi yang datang akan menggambarkan sisi personal yang sedang dialami. Terdapat perasaan, sebab, dan keilmuan dalam melodi yang muncul secara spontan.

    Salah satu keunggulan karya seni adalah karya seni dapat berresonansi dengan orang lain. Jadi, alunan musik yang Anda rasakan kala itu pasti juga pernah atau akan dirasakan oleh orang lain.

    Sebagai contoh, musik latar pada film pahlawan super yang megah bisa membuat penontonnya merasa gagah juga. Sebaliknya terjadi pada film horror, kekurangan musik justru malah menimbulkan rasa takut. Penulis musik yang andal dapat memancarkan perasaan ini lewat karyanya. 

    Baca Juga : Apa itu Akor? Pengertian, Jenis, Tingkatan, & Contoh, Terlengkap!

    Apakah Sudah Siap Membuat Melodi?

    Melodi bisa datang dari mana saja bahkan dari gumaman. Para penyanyi Jazz malah memberikan nama untuk teknik ini, yaitu scatting. Seorang penyanyi pop dari Korea dengan nama SOLE juga merilis lagu berjudul “Mm Mm” yang sebagian dari lagunya berisi gumaman bernada. Melodi juga dapat dimainkan menggunakan alat musik. Setiap alat musik dalam sebuah orkestra sebenarnya sedang memainkan melodinya masing-masing. Ketika melodi tersebut dimainkan bersama, terciptalah sebuah harmoni melodi. Jadi, siapkah kamu membuat melodi milikmu sendiri?