Blog

  • 11 Syarat Uang yang Harus Dipenuhi Sebelum Uang Beredar

    11 Syarat Uang yang Harus Dipenuhi Sebelum Uang Beredar

    Uang merupakan alat tukar yang kamu perlukan untuk bertransaksi. Baik kamu ingin membeli barang atau menyewa jasa, semuanya membutuhkan uang. Namun, pernahkah kamu bertanya bagaimana syarat uang agar dapat disebut sebagai uang?

    Uang punya sejarah yang panjang dalam peradaban manusia. Hingga sekarang, rasanya semua kebutuhan baru bisa terpenuhi, jika telah melibatkan uang. Saking besarnya pengaruh uang, sampai ada pepatah “tidak ada yang gratis di dunia ini”.

    Sejarah Uang

    Sebelum bicara tentang syarat uang ataupun hal lain terkait uang lebih jauh, kita perlu sedikit mengingat bagaimana cara orang zaman dulu memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebenarnya masyarakat sudah melakukan transaksi bahkan sebelum mengenal konsep uang.

    Masyarakat zaman dulu membutuhkan banyak hal untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Namun, tidak semua kebutuhan yang mereka perlukan bisa diperoleh dari proses produksi. Hal ini menyebabkan terjadinya transaksi yang melibatkan satu barang dengan barang lainnya. 

    Sebagai contoh, kamu adalah peternak yang punya banyak daging hewan dan sedang membutuhkan pakaian. Kamu bisa mendapatkan pakaian dengan cara menukarkan daging yang kamu punya dengan orang yang punya pakaian dan kebetulan membutuhkan daging untuk ia makan.

    Begitulah bagaimana caranya orang zaman dahulu memperoleh barang yang mereka perlukan. Transaksi ini dikenal dengan istilah sistem barter. Namun, sistem barter punya kekurangan, yaitu sulitnya menemukan orang yang memiliki barang yang kita inginkan sekaligus membutuhkan barang yang kita punya.

    Selain itu, kelemahan lain dari sistem barter adalah sulitnya orang zaman dulu dalam menentukan nilai pertukaran yang seimbang. Misalnya, satu potong ayam setara berapa potong baju? Hal ini tidak ada tolak ukur universalnya di zaman dulu.

    Singat cerita, hal inilah yang menjadi pemicu munculnya alat tukar yang bersifat universal yang bisa memecahkan masalah yang ada di sistem barter.  Salah satu contoh alat tukar pertama yang berlaku adalah garam di masyarakat Romawi. 

    Kemudian, alat tukar ini yang kita kenal sebagai uang pertama kali muncul di peradaban Tiongkok dalam bentuk logam emas dan perak. Seiring berjalannya waktu, lahirlah uang kertas. Hingga pada saat ini setiap negara punya mata uangnya masing-masing untuk keperluan transaksi di dalam negeri.

    Munculnya uang sebagai alat tukar yang sah dan universal adalah solusi dari sistem barter yang cenderung tidak efisien dan tidak relevan dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat yang makin kompleks.

    Masalah yang muncul dari sistem barter di zaman dulu melahirkan konsep syarat uang. Konsep ini yang nantinya akan terus berlaku terhadap uang hingga sekarang.

    Fungsi Uang

    Kamu pasti sudah tahu kalau uang berfungsi sebagai alat tukar atau pembayaran yang sah untuk membeli barang atau menyewa jasa yang ada. Namun, fungsi uang tidak sesederhana itu. Fungsi uang terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

    1. Fungsi Asli

    Fungsi asli uang mengacu pada tujuan dari penerbitan uang yang beredar di masyarakat. Beberapa contoh fungsi asli uang ini mencakup:

    • Uang sebagai alat tukar yang sah dan menggantikan sistem barter. Adanya uang dapat memudahkan proses transaksi di masyarakat.
    • Sebagai satuan hitung, uang dapat menunjukkan nilai dari barang atau jasa, sehingga akan mempermudah proses transaksi.
    • Uang sebagai penyimpan nilai, uang dapat berfungsi untuk mengalihkan daya beli di masa sekarang dan masa depan.

    2. Fungsi Turunan

    Selain fungsi asli, uang juga punya fungsi turunan. Fungsi turunan dari uang, antara lain:

    a. Alat Pembayaran yang Sah

    Uang hadir karena proses barter yang prosesnya tidak mudah dan tidak ada nilai universalnya. Kehadiran uang dapat mempermudah proses transaksi masyarakat dan uang sebagai alat pembayaran juga bersifat universal atau bisa diterima oleh semua orang.

    b. Alat Pembayar Hutang

    Selain berfungsi dalam proses transaksi pembelian barang atau penyewaan jasa, uang juga berperan sebagai alat pembayar hutang.

    c. Alat Penimbun Kekayaan

    Uang tidak hanya bisa kamu pakai untuk kebutuhan saat ini saja. Kamu juga bisa menggunakan uang untuk kebutuhanmu di masa depan, baik yang sudah kamu tahu ataupun kebutuhan mendesak.

    Untuk menjaga uang yang kamu punya demi keperluan masa depan, kamu bisa menyimpan uangmu dengan cara menabung atau berinvestasi.

    d. Alat Pemindah Kekayaan

    Parameter kekayaan seseorang tidak hanya terlihat dari jumlah nominal yang ia miliki. Aset lainnya seperti tanah, emas, rumah, kendaraan, dan lain-lain adalah contoh aset yang dapat menunjukkan parameter kekayaan seseorang.

    Namun, aset tersebut bisa diperjualbelikan. Misalnya saja, kendaraan sebagai aset bisa diubah menjadi uang dengan cara dijual. Lalu, uang hasil penjualan kendaraan tersebut bisa digunakan untuk membeli aset lainnya. Inilah fungsi uang sebagai alat pemindah kekayaan.

    Syarat Uang

    Jika kamu perhatikan, ada dua jenis bentuk uang, yaitu uang kertas dan uang logam. Namun, bagaimana kertas dan logam tersebut dapat dianggap sebagai uang? Maka dari itu, kamu harus mengenal syarat uang berikut ini:

    1. Acceptability

    Arti dari kata acceptability ini adalah bahwa uang harus bisa diterima oleh seluruh masyarakat sebagai alat tukar yang sah untuk melakukan transaksi. Dengan kata lain, uang bisa bersifat universal.

    2. Durability

    Durability adalah salah satu dari sebelas syarat uang. Selain bisa diterima oleh seluruh masyarakat, uang yang beredar juga harus tahan lama dan tidak mudah rusak.

    3. Storable dan Portability

    Syarat lainnya, yaitu harus bersifat mudah dibawa kemana-mana sebagai bagian dari alat tukar untuk transaksi. 

    4. Divisibility

    Divisibility artinya uang bisa dipecah atau dibagi dari segi nominal, tanpa mengurangi nilai asli dari uang tersebut.

    5. Uniformity

    Uniformity berarti uang harus punya satu kualitas saja antara satu jenis uang dengan yang lainnya. Sehingga, tidak menimbulkan ketidakpercayaan di masyarakat.

    6. Stability

    Arti stability yaitu uang harus bersifat stabil atau nilainya cenderung tetap dan mudah dalam penyimpanannya.

    7. Scarcity

    Scarcity di sini artinya uang harus punya nilai kelangkaannya tersendiri. Uang yang beredar di masyarakat harusnya terkontrol dan jumlahnya terbatas.

    Selain itu, uang sebagai alat tukar yang sah juga harus tidak mudah dipalsukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

    8. Standard Ability

    Uang yang beredar di masyarakat haruslah memiliki standar yang baku. Standar yang dimaksud di sini adalah harus memiliki standar bentuk dan ukuran, baik itu uang kertas ataupun koin.

    9. Elasticity of Supply

    Elastic of supply adalah salah satu contoh syarat uang. Uang yang beredar haruslah sesuai dengan kebutuhan dan permintaan di masyarakat. Peredaran uang di tengah masyarakat tidak boleh terlalu sedikit atau terlalu banyak.

    10. Terjamin

    Uang sebagai alat tukar yang sah harus memiliki jaminan dari negara, bahwa uang yang beredar terjaga keabsahan nilai dan keasliannya.

    11. Syarat Psikologis

    Syarat uang terakhir, yaitu uang harus bisa memberikan rasa kesenangan atau kepuasan bagi siapapun pemiliknya.

    Jenis-Jenis Uang

    Berikut beberapa jenis uang yang perlu kamu ketahui, yaitu:

    1. Uang Giral

    Maxmanroe

    Jenis uang yang terdiri dari cek, kartu kredit, dan bilyet giro yang dikeluarkan oleh bank umum.

    2. Uang Kartal

    Merdeka

    Jenis uang fisik yang diproduksi oleh bank sentral dan sering kamu temui, yakni uang logam dan kertas.

    3. Uang Tanda

    Jenis uang yang nilai bahan pembuatnya lebih rendah dari nominal yang tertera pada uang tersebut.

    4. Uang Penuh

    Jenis uang yang nilai intrinsiknya sama dengan nominalnya.

    5. Uang Kertas

    Jenis uang yang berbentuk lembaran dan menggunakan bahan dari kertas atau sejenisnya serta terdapat cap dan gambar pada pemukaannya.

    6. Uang Logam

    Jenis uang dengan bentuk bulat serta memakai material perak dan emas dalam pembuatannya. Kemudian, uang logam juga bersifat tahan lama, tidak mudah rusak, dan dapat kamu pecah satuannya tanpa mengurangi nilainya.

    Uang Sebagai Kebutuhan Dasar Umat Manusia

    Keberadaan uang sebagai alat tukar yang sah dan universal tidak pernah lepas dari kebutuhan manusia yang kompleks demi menyambung hidup. Uang hadir sebagai solusi atas permasalahan yang masyarakat hadapi di zaman dahulu saat masih berlaku sistem barter.

    Beberapa jenis uang yang beredar seperti uang kertas dan uang logam tentunya harus memiliki nilai tersendiri sebelum beredar di masyarakat. Adanya pengaturan seperti syarat uang dapat menjaga nilai, keabsahan, dan keaslian uang yang beredar.

  • Teori Pertumbuhan Ekonomi: Jenis, Tokoh serta Teori Pendukungnya

    Teori Pertumbuhan Ekonomi: Jenis, Tokoh serta Teori Pendukungnya

    Berbicara mengenai teori pertumbuhan ekonomi, tentu tidak terlepas dari nama tokoh-tokoh terkenal seperti Adam Smith, David Ricardo, Paul Romers, dan masih banyak lagi. Yuk, pelajari mengenai pengertian pertumbuhan ekonomi dan 4 teorinya menurut para ahli berikut ini!

    Pengertian Pertumbuhan Ekonomi

    Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan sebagai peningkatan ukuran dan kapasitas ekonomi suatu negara atau wilayah. Peningkatan ini diukur berdasarkan output (produk) dalam sektor ekonomi selama periode waktu tertentu. Misalnya, Gross National Product (GNP) dan Produk Domestik Bruto (PDB).

    Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga menunjukkan tingkat kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat secara umum. 

    Ketika ekonomi tumbuh, pendapatan per kapita meningkat, tingkat pengangguran cenderung menurun, dan kemampuan pemerintah untuk menyediakan layanan publik seperti pendidikan meningkat.

    4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Menurut Ahli

    Berikut ini adalah 4 teori pertumbuhan ekonomi menurut beberapa tokoh terkenal beserta teori pendukungnya, yaitu:

    1. Teori Klasik

    Pertama, teori klasik yang merupakan salah satu teori dengan menekankan peran akumulasi modal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara. Teori ini muncul pada abad ke-18 dan ke-19 dan diperkenalkan oleh tokoh-tokoh ekonomi terkenal seperti Adam Smith, David Ricardo, dan Karl Marx.

    a. Adam Smith

    IDX Channel

    Adam Smith merupakan tokoh utama dalam teori pertumbuhan klasik. Smith mengemukakan konsep pasar bebas dan spesialisasi yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tergantung pada tiga faktor utama, yaitu tenaga kerja, modal, dan teknologi. 

    Selain itu, dia menekankan pentingnya akumulasi modal melalui tabungan dan investasi sebagai cara untuk meningkatkan produksi dan pertumbuhan ekonomi.

    b. David Ricardo

    Qwizbowl

    David Ricardo juga merupakan tokoh penting dalam teori pertumbuhan klasik. Ricardo membahas konsep keuntungan komparatif dalam perdagangan internasional. Dia berpendapat bahwa spesialisasi dalam produksi dan perdagangan bebas akan mendorong pertumbuhan ekonomi. 

    Ricardo juga mengemukakan teori nilai kerja. Teori ini menyatakan bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk menghasilkannya. Teori tersebut menjadi salah satu teori pendukung dalam teori klasik.

    Selain teori nilai kerja, ada dua teori pendukung lainnya dalam teori klasik, yaitu teori perdagangan bebas dan teori surplus ekonomi. 

    Teori perdagangan bebas adalah konsep yang mendasari prinsip-prinsip perdagangan internasional yang tidak terhalang oleh hambatan, seperti tarif, kuota impor, atau subsidi.

    Sedangkan teori surplus ekonomi merujuk pada konsep bahwa pertumbuhan ekonomi menghasilkan surplus atau kelebihan nilai di atas biaya produksi.

    2. Teori Neoklasik

    Selanjutnya adalah teori pertumbuhan neoklasik, yaitu sebuah pendekatan dalam ilmu ekonomi yang menekankan peran teknologi dan inovasi sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi.

    Teori ini berkembang pada pertengahan abad ke-20 dan memiliki beberapa tokoh terkenal yang berperan dalam perkembangan teori neo klasik. Berikut adalah tiga tokoh yang memiliki peran penting dalam teori pertumbuhan neoklasik, yaitu:

    a. Robert Solow

    Basa-Basi Ekonomi

    Robert Solow adalah seorang ekonom Amerika Serikat yang dianugerahi Nobel dalam Ilmu Ekonomi pada tahun 1987. Dia dikenal karena mengembangkan teori Model Pertumbuhan Solow yang menjadi teori pendukung dalam teori neoklasik.

    Model Solow menjelaskan bagaimana faktor-faktor produksi, seperti modal dan tenaga kerja, serta kemajuan teknologi mempengaruhi pertumbuhan jangka panjang suatu negara.

    b. Trevor Swan

    Crawford School of Public Policy

    Trevor Swan adalah ekonom Australia yang bekerja sama dengan Robert Solow untuk mengembangkan model pertumbuhan neoklasik yang dikenal sebagai Model Swan-Solow. 

    Model ini menggabungkan faktor-faktor produksi dengan investasi dan pertumbuhan populasinya untuk menjelaskan pertumbuhan ekonomi.

    c. Edward Fulton Denison

    Bureau of Economic Analysis

    Edward Fulton Denison merupakan seorang ahli ekonomi dan statistik yang berkontribusi pada pengembangan teori pertumbuhan neoklasik melalui analisis data. 

    Dia dikenal karena karyanya dalam mengukur kontribusi sektor teknologi, kapital, dan tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan pendekatan indeks Total Factor Productivity (TFP).

    3. Teori Ekonomi Baru

    Teori pertumbuhan ekonomi selanjutnya adalah teori ekonomi baru. Jenis teori ini merupakan pendekatan yang menekankan peran inovasi, penelitian, dan pengembangan atau Research and Development (R&D) dalam mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang. 

    Teori ini berkembang pada tahun 1980-an dan 1990-an serta melibatkan beberapa tokoh terkenal. Berikut adalah tiga tokoh dan kontribusi mereka dalam teori ini, yaitu:

    a. Paul Romer

    Satu Harapan

    Paul Romer merupakan seorang ekonom Amerika Serikat yang dikenal sebagai salah satu pendiri teori ini. Pasalnya, dia mengembangkan teori pertumbuhan endogen, yang menyatakan bahwa pengetahuan dan inovasi adalah faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

    Selain itu, Romer menekankan pentingnya investasi dalam penelitian dan pengembangan serta perlindungan hukum terhadap hak kekayaan intelektual untuk merangsang inovasi.

    b. Robert Lucas

    UChicago News

    Robert Lucas adalah seorang ekonom Amerika Serikat yang dianugerahi Nobel dalam Ilmu Ekonomi pada tahun 1995. Dia berkontribusi dalam mengembangkan teori ekonomi melalui pendekatan yang dikenal sebagai hipotesis “ekonomi realistik”. 

    Pendekatan ini menyoroti peran manusia sebagai pembuat keputusan rasional dan mengungkapkan bahwa informasi, pengetahuan, dan inovasi memiliki pengaruh penting terhadap pertumbuhan ekonomi.

    c. Philippe Aghion

    www.gu.se

    Philippe Aghion adalah seorang ekonom Perancis yang telah berkontribusi, terutama dalam konteks inovasi dan pertumbuhan ekonomi. 

    Aghion bersama dengan Peter Howitt mengembangkan model pertumbuhan endogen yang menggabungkan konsep inovasi, persaingan, dan kebijakan publik dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. 

    Selain itu, dia juga menekankan bahwa pembaharuan institusional penting untuk merangsang inovasi dan daya kreativitas.

    4. Teori Historis

    Teori yang cukup terkenal selanjutnya adalah teori historis. Jenis teori ini dalam ilmu ekonomi mengarah pada pendekatan yang menyoroti peran sejarah, institusi, dan konteks sosial dalam mempengaruhi perkembangan ekonomi. 

    Selain itu, pendekatan ini mengakui bahwa faktor-faktor historis memiliki dampak signifikan dalam membentuk struktur ekonomi dan pola pertumbuhan. 

    Berikut adalah tiga tokoh yang memiliki kontribusi dalam pengembangan teori historis, yaitu:

    a. Karl Marx

    Kompas

    Karl Marx, seorang filsuf dan ekonom terkenal, mengembangkan teori historis yang dikenal sebagai Materialisme Historis. Marx berpendapat bahwa faktor-faktor ekonomi, khususnya struktur kelas sosial dan hubungan produksi, mendasari perkembangan masyarakat dan ekonomi.

    Dalam analisisnya tersebut, Marx menyoroti konflik kelas dan peran kapitalisme dalam membentuk kondisi ekonomi dan sosial.

    b. Max Weber

    JPIC-OFM Indonesia

    Max Weber yang merupakan seorang sosiolog dan ekonom Jerman juga ikut berkontribusi dalam teori historis melalui karyanya mengenai “Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme” (The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism).

    Weber mengaitkan pengaruh agama dan nilai-nilai budaya dengan perkembangan kapitalisme. Disamping itu, dia juga menyatakan bahwa keyakinan dan sistem nilai masyarakat dapat mempengaruhi tindakan ekonomi dan pembentukan institusi ekonomi.

    c. Friedrich List

    Famous Economists

    Friedrich List adalah seorang ekonom asal Jerman yang memiliki pengaruh besar dalam pemikiran ekonomi politik dan teori perdagangan internasional.

    List mengembangkan konsep sistem nasional ekonomi yang mengutamakan perlindungan dan pengembangan industri domestik sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi.

    Selain itu, dia menganggap bahwa pertumbuhan ekonomi suatu negara dilihat dari teknik produksi sebagai sumber utama. Sementara itu, tahapannya terdiri dari masa berburu, beternak, bertani, kerajinan, serta industri perdagangan.

    Makin Paham Tentang Teori Pertumbuhan Ekonomi?

    Demikian penjelasan mengenai teori pertumbuhan ekonomi serta kontribusi tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya. Keempat teori tersebut, memiliki pendekatan berbeda dalam memandang kondisi ekonomi suatu negara.

    Meski begitu, masing-masing teori mencoba menjelaskan alasan suatu negara atau wilayah memiliki pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dibanding yang lain, serta mencari strategi dan kebijakan yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. 

    Dengan mempelajarinya, kamu memiliki referensi yang kuat untuk memahami pergerakan dan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah atau negara.

  • Mata Uang Kuno Indonesia dari Tahun 1945 hingga Sekarang

    Mata Uang Kuno Indonesia dari Tahun 1945 hingga Sekarang

    Mata uang kuno yang beredar di Indonesia ternyata juga mengalami perkembangan dari masa ke masa. Uang Rupiah yang kamu gunakan saat ini merupakan hasil perjuangan para pejuang di masa lalu. Lalu, bagaimana perkembangan mata uang versi kuno di Indonesia? Simak ulasan lengkapnya berikut ini!

    Sejarah Perkembangan Mata Uang Kuno di Indonesia

    Setelah peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia, situasi moneter di Indonesia menjadi sangat buruk. Semua jenis mata uang versi kuno saat itu, baik itu mata uang yang diterbitkan oleh Hindia Belanda maupun mata uang terbitan Jepang, banyak beredar dan digunakan dalam transaksi di Indonesia.

    Saat itu, diperkirakan terdapat sekitar empat miliar rupee mata uang Jepang yang beredar dan 1,6 miliar di antaranya beredar di Pulau Jawa. 4 jenis mata uang Jepang yang beredar secara sah waktu itu adalah De Javasche Bank, De Japansche Regeering, Dai Nippon emisi, dan Dai Nippon Teikoku Seibu.

    Berikut ini adalah sejarah perkembangan mata uang kuno di Indonesia mulai dari tahun 1945 hingga saat ini:

    1. Kedatangan NICA

    Ruang Guru

    Kondisi moneter di Indonesia semakin diperparah dengan kedatangan tentara sekutu, yaitu NICA atau Netherlands Indies Civil Administration. Tentara NICA dan sekutu berhasil menduduki kota-kota besar di Indonesia dan mengambil alih bank-bank Jepang di Indonesia. 

    Setelah mengambil alih bank-bank Jepang tersebut, NICA menggunakan uang Rupiah Jepang untuk mendanai operasi militernya. Selain itu, NICA juga menggunakan uang Rupiah Jepang tersebut untuk membayar gaji para staf dan mendapatkan simpati publik dengan mengedarkannya ke seluruh wilayah Indonesia.

    Tidak hanya itu, NICA juga menarik semua jenis mata uang kuno yang beredar di Indonesia dan menggantinya dengan mata uang Hindia Belanda baru, yaitu “Gulden NICA” atau uang NICA. 

    Pada waktu itu, para pejuang di Indonesia menolak mata uang NICA, karena menampilkan potret Ratu Wilhelmina yang merupakan lambang kerajaan dan bahasa Belanda. Bahkan, saat uang NICA masuk ke Pulau Jawa, Bung Karno dengan terang-terangan mendeklarasikan bahwa uang NICA adalah ilegal.

    Hal ini semakin memperburuk kondisi moneter di Indonesia, karena pemerintah Indonesia tidak memiliki hak moneter di Negaranya sendiri. Untuk mengatasi hal tersebut, maka pada 2 Oktober 1945 pemerintah Indonesia mengeluarkan surat keputusan bahwa mata uang NICA sudah tidak berlaku lagi di Indonesia. 

    Selanjutnya, pada tanggal 3 Oktober 1945, pemerintah Indonesia mendeklarasikan bahwa mata uang yang beredar sampai masa pendudukan Jepang diakui sebagai alat pembayaran yang sah di Indonesia. 

    2. Oeang Republik Indonesia (ORI)

    Ruang Guru

    Setelah proklamasi kemerdekaan, Indonesia berusaha untuk membuat mata uang Negaranya sendiri. Namun, kurangnya sumber daya seperti modal dan tenaga ahli, membuat pemerintah Indonesia tidak bisa mencetak mata uangnya sendiri. 

    Akhirnya, setelah melalui perjuangan yang panjang, pemerintah Indonesia berhasil mencetak dan menerbitkan mata uangnya sendiri pada tanggal 3 Oktober 1946. Mata uang terbitan pertama dari pemerintah Indonesia tersebut dikenal sebagai ORI atau Oeang Republik Indonesia. 

    Setelah diterbitkannya mata uang ORI, semua mata uang terbitan Jepang harus ditukarkan dengan mata uang ORI. Pada saat itu, nilai 1 ORI sama dengan 50 Rupiah Hindia Belanda. Pemerintah Indonesia juga menetapkan bahwa 1 ORI setara dengan 0.5 gram emas. 

    Namun, kehadiran mata uang ORI tidak berjalan dengan lancar. Mata uang ORI mulai mengalami permasalahan finansial yang kemudian menjadi penyebab inflasi yang tidak terkendali di Indonesia. 

    Pada Maret 1947, nilai tukar mata uang ORI menurun drastis, dari 5 Gulden NICA menjadi 0.3 Gulden NICA. Penurunan nilai tukar mata uang ORI tersebut disebabkan karena beberapa faktor. 

    Beberapa faktor tersebut, yaitu terjadinya agresi militer Belanda yang mempersempit ruang gerak pemerintah Indonesia di wilayah Negaranya sendiri. Selain itu, pemerintah Belanda juga melakukan aksi pemalsuan mata uang ORI untuk membuat nilai tukarnya menurun karena inflasi.

    Tidak hanya itu, penurunan nilai tukar mata uang ORI juga terjadi karena aksi intimidasi yang dilakukan oleh tentara NICA terhadap masyarakat Indonesia yang menyimpan maupun menggunakan mata uang ORI. 

    Penurunan nilai tukar mata uang ORI tersebut membuat pemerintah Indonesia sulit mengendalikan situasi moneter di Indonesia. 

    Untuk mengatasi masalah tersebut, pada tahun 1947, pemerintah pusat memutuskan untuk memberikan mandat kepada pemerintah daerah dalam menerbitkan mata uang daerah yang dikenal dengan sebutan ORIDA atau ORI Daerah.

    Tujuan pemberian mandat untuk mencetak mata uang ORIDA tersebut, yaitu untuk menghindari beredarnya kembali mata uang NICA di Indonesia.

    3. Oeang Republik Indonesia Daerah (ORIDA)

    Berlakunya mata uang ORIDA tidak berlangsung lama di Indonesia. Kemunculan mata uang ORIDA hanya berlangsung sementara, yaitu tahun 1947 sampai tahun 1950. Pada tahun tersebut, mata uang kuno ORIDA hanya diterbitkan di beberapa daerah provinsi, seperti Sumatera, Tapanuli, Banda Aceh, dan Banten.

    4. Beredarnya ORIDA di Pulau Sumatera

    Ruang Guru

    Kemunculan ORIDA di Pulau Sumatera pertama kali digagas oleh Gubernur Sumatera, yaitu Tengku Mohammad Hasan. Mata uang ORIDA yang beredar di Pulau Sumatera tersebut dikenal dengan sebutan ORIPS atau Oeang Republik Indonesia Sumatera.

    Nilai tukar 1 ORIPS setara dengan 1 ORI. Selain ORIPS, terdapat beberapa mata uang ORIDA lain yang beredar di Pulau Sumatera. Mulai dari ORIPSU – Sumatra Utara, ORIBA – Banda Aceh, ORIN – Kabupaten Nias, ORITA – Tapanuli, dan ORIAB – Kabupaten Labuhan Batu.

    5. Beredarnya ORIDA di Pulau Jawa

    Ruang Guru

    Kemunculan mata uang ORIDA di Pulau Jawa pertama kali terjadi pada tanggal 11 Agustus 1948. Mata uang ORIDA pertama yang diterbitkan di Pulau Jawa beredar di daerah Banten dan dikenal dengan sebutan ORIDAB atau Oeang Republik Indonesia Daerah Banten.

    ORIDAB tersebut ditandatangani oleh seorang ulama dan pahlawan nasionalis, yaitu Achmad Chatib dalam aksara Arab. 

    Sementara itu, provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta juga menerbitkan mata uang lokal ORIDA dalam bentuk surat tanda penerimaan uang. Mata uang ORIDA tersebut ditandatangani oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. 

    Penerbitan dan penggunaan berbagai jenis mata uang ORIDA tersebut telah membantu Indonesia dalam menghadapi masalah moneter dan mencegah beredarnya kembali mata uang NICA di setiap daerah.

    Penggunaan mata uang kuno ORI dan ORIDA kemudian berakhir seiring dengan hasil kesepakatan KMB atau Konferensi Meja Bundar yang menyepakati untuk dilakukannya pembentukan RIS atau Republik Indonesia Serikat. 

    Setelah pembentukan Republik Indonesia Serikat tanggal 1 Mei 1950 tersebut, pemerintah RIS kemudian membuat kebijakan untuk menarik semua mata uang ORI dan ORIDA yang beredar di wilayah Indonesia. Pemerintah RIS juga mengganti mata uang versi kuno tersebut dengan mata uang RIS.  

    6. Uang Republik Indonesia Serikat (RIS)

    Ruang Guru

    Pada tanggal 1 Januari 1950, pemerintah RIS menerbitkan mata uang RIS atau yang dikenal dengan sebutan Uang Federal atau Uang DJB. Mata uang RIS tersebut menampilkan potret Presiden RIS, yaitu Soekarno. Uang RIS tersebut juga ditandatangani oleh Menteri Keuangan, yaitu MR. Sjafruddin Prawiranegara. 

    Setelah penerbitan tersebut, mata uang RIS telah disahkan sebagai alat pembayaran yang berlaku di wilayah Republik Indonesia Serikat. Penerbitan mata uang RIS yang baru tersebut juga bertujuan untuk menghapus keberadaan mata uang lokal sebelumnya yang memiliki nilai tukar yang berbeda-beda.

    Tidak hanya itu, Menteri Keuangan Sjarifuddin juga mencetuskan kebijakan moneter lain, yang dikenal dengan istilah Gunting Sjafruddin. Gunting Sjafruddin merupakan kebijakan moneter untuk menekan inflasi, yang dilakukan dengan menggunting mata uang kuno Hindia Belanda dan uang kertas De Javasche Bank versi lama.

    Dengan beredarnya uang RIS, maka berakhir pula permasalahan moneter sirkulasi uang di Indonesia. Namun, meskipun begitu, pemerintah Indonesia belum bisa mengendalikan sirkulasi uang di Indonesia sepenuhnya, karena otoritas utama masih dipegang oleh DJB atau De Javasche Bank. 

    Pada Agustus 1950, pemerintah Indonesia menyatakan pembubaran RIS dan Indonesia kembali ke bentuk awal, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan pembubaran RIS tersebut, maka berakhir juga masa berlaku mata uang RIS di Indonesia. 

    7. Kelahiran Bank Indonesia

    Hari kelahiran Bank Indonesia diperingati pada tanggal 1 Juli 1953. Pada hari tersebut, keberadaan DJB atau De Javasche Bank sebagai bank sentral di Indonesia telah digantikan oleh Bank Indonesia.

    Saat itu, terdapat dua jenis mata uang Rupiah yang berlaku di Indonesia dan digunakan sebagai alat pembayaran yang sah, yaitu mata uang yang diterbitkan oleh pemerintah Republik Indonesia. Tentunya melalui Kementerian Keuangan dan mata uang yang diterbitkan oleh Bank Indonesia.

    Mata uang yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan pada waktu itu adalah uang kertas dan uang logam pecahan di bawah 5 Rupiah. Sementara itu, mata uang yang diterbitkan oleh Bank indonesia pada waktu itu adalah uang kertas dan logam pecahan di atas 5 Rupiah. 

    Namun, setelah adanya peraturan Undang-Undang No.13/1968, Bank Indonesia disahkan sebagai pemegang kekuasaan tunggal yang memiliki hak dan otoritas untuk mengeluarkan uang.  

    Uang Rupiah, baik berupa uang kertas maupun uang logam selalu mengalami perkembangan dari segi tampilan maupun ukuran dari waktu ke waktu. Berikut adalah gambar uang Rupiah yang beredar pada tahun 1990-an:

    Ruang Guru

    Kemudian, berikut adalah gambar uang Rupiah yang beredar pada tahun 2000-an:

    Ruang Guru

    Selanjutnya, berikut adalah gambar uang Rupiah yang beredar pada tahun 2017:

    Ruang Guru

    Terakhir, berikut adalah uang kertas keluaran terbaru yang beredar mulai tahun 2022 yang lalu:

    Ruang Guru

    Sudah Tahu Sejarah Mata Uang Kuno di Indonesia?

    Itulah beberapa ulasan tentang sejarah perkembangan mata uang kuno di Indonesia mulai dari zaman proklamasi kemerdekaan tahun 1945 sampai dengan saat ini. Nyatanya perubahan model uang maupun mata uang Indonesia menyimpan kisah tersendiri di baliknya.

    Selain itu, setiap model uang juga sebagai perwakilan meningkatnya teknologi percetakan uang, demi menghindari pemalsuan. Maka dari itu, sudah sepatutnya kamu jeli saat menerima uang. Agar terhindar dari pemalsuan. 

    Namun, di era digital seperti saat ini, peredaran uang tunai sudah mulai berkurang, akibat transaksi keuangan yang serba digital.

  • Pengertian PPN: Tarif, Objek Pajak, Pemungut serta Cara Perhitungan

    Pengertian PPN: Tarif, Objek Pajak, Pemungut serta Cara Perhitungan

    Pasti banyak orang yang sudah tidak asing dengan istilah PPN. Sebenarnya, apa arti dari istilah ini? PPN atau Pajak Pertambahan Nilai ialah sesuatu yang wajib dibayarkan masyarakat yang melakukan transaksi jual beli.

    Mengapa penting membayar pajak ini? Bagaimanakah cara menghitungnya? Perhatikan artikel ini karena semua tentang pajak ini akan dibahas secara mendetail.

    Apa Pengertian PPN?

    PPN yang memiliki kepanjangan Pajak Pertambahan Nilai berarti suatu pajak yang wajib dibayar oleh konsumen kepada pembeli dalam transaksi jual beli. 

    Tugas penjual hanyalah mencatatkan pungutan wajib tersebut ke nota pembeli, sehingga transaksi pembayaran pajak ini berjalan dengan transparan dan tidak ada kecurangan.

    Apa Barang dan Jasa yang Tidak PPN Kenakan?

    Banyak sekali barang dan jasa yang mengharuskan konsumen membayar pajak. Kira-kira, benda dan jasa apa saja yang tidak memberatkan konsumen dengan wajib pajak ini?

    1. Barang yang Tidak Dikenakan PPN

    Berikut adalah barang-barang yang bisa dibeli tanpa perlu membayar Pajak Pertambahan  Nilai:

    • Kebutuhan pokok yang dibutuhkan semua orang 
    • Uang, emas batangan, surat-surat penting
    • Bahan alam hasil tambang yang berasal dari sumbernya
    • Makanan dan minuman yang disediakan di hotel, warung, rumah makan, dan jasa usaha katering

    2. Jasa yang Tidak Dikenakan PPN

    Setelah mengetahui barang apa saja yang bebas dari pajak wajib, saatnya mencari tahu jasa apa saja yang tidak perlu membayar pajak.

    • Asuransi
    • Kesehatan
    • Keuangan
    • Keagamaan
    • Pendidikan
    • Pelayanan sosial
    • Pengiriman surat menggunakan perangko
    • Kesenian dan hiburan
    • Penyiaran non iklan
    • Angkutan umum di air dan darat
    • Perhotelan
    • Tenaga kerja
    • Kebutuhan pemerintahan
    • Katering
    • Telepon umum yang menggunakan koin
    • Penyediaan lahan parkir
    • Pengiriman uang melalui pos

    Berapakah Tarif PPN?

    Sejak tahun 2022, DPR dengan resmi menaikkan tarif Pajak Pertambahan Nilai yang sebelumnya 10% menjadi 11%. Peraturan ini tertulis dalam Rancangan Undang-Undang HPP No. 7 tahun 2021. 

    Nantinya, DPR akan kembali menaikkan tarifnya menjadi 12%. Namun, kenaikan tarif tersebut akan diberlakukan secara bertahap. Selain itu, ada beberapa pengecualian tarif yang antara lain sebagai berikut. 

    • Pajak Pertambahan Nilai bertarif 0% khusus untuk 3 jenis ekspor, di antaranya adalah ekspor barang kena pajak berwujud, tidak berwujud, dan ekspor jasa kena pajak.
    • Tarif 11% berlaku bagi semua transaksi dalam negeri, termasuk daerah yang berada di Zona Ekonomi Eksklusif.
    • Khusus barang mewah, tarif terendah adalah 11% sedangkan tertinggi 200%.
    • Besar tarif pajak ini dapat berubah menjadi paling rendah 5% dan paling tinggi 20%, sesuai dengan ketentuan dan peraturan dari pemerintah. 

    Objek Pajak PPN

    Adapun objek yang dikenai pajak antara lain sebagai berikut:

    • Terjadinya penyerahan Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak oleh pengusaha di dalam daerah pabean
    • Impor Barang Kena Pajak
    • Jika terjadi pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud di dalam daerah pabean, padahal sebenarnya berada di luar pabean
    • Di dalam daerah pabean terjadi pemanfaatan Jasa Kena Pajak tidak berwujud, yang sebenarnya terjadi di luar pabean
    • Proses ekspor Barang Kena Pajak ataupun Jasa Kena Pajak yang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak

    Pemungut PPN

    Pemungutan pajak telah diatur Undang-Undang dan tidak sembarang orang berhak melakukannya. Menteri keuangan akan menunjuk orang yang harus melaporkan dan memungut iuran tersebut. Lantas, siapakah mereka yang diserahi tanggung jawab tersebut? Berikut penjelasannya.

    1. Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

    Jika ada suatu badan usaha yang lebih dari setengah atau seluruh sahamnya berasal dari pemerintah, maka badan usaha itu adalah BUMN. Terdapat dua jenis BUMN, diantaranya adalah persero dan perum. Perbedaan keduanya terletak di jumlah saham yang dimiliki pemerintah.

    Apabila pemerintah memiliki seluruh saham pada badan usaha tersebut, maka itu adalah perum. Sedangkan untuk persero, pemerintah memiliki saham setidaknya 51% dari total keseluruhan.

    2. Bendaharawan Pemerintah

    Bendaharawan pemerintah adalah mereka yang memiliki tugas untuk membayar segala hal terkait pemerintahan dan memungut pajak, Hal ini berdasarkan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). 

    Ada dua macam bendaharawan pemerintah. Yang satu bertugas di pusat dan yang lainnya bertugas di daerah termasuk kota, kabupaten, dan provinsi. Untuk lebih jelasnya, inilah orang-orang yang termasuk sebagai bendaharawan pemerintahan:

    • 2 macam bendaharawan: pusat dan daerah
    • Pejabat yang ditunjuk menjadi bendahara oleh menteri
    • Direktorat Jenderal Perbendaharaan

    3. Pemegang Izin atau Kontraktor

    Seperti yang sudah diatur dalam pasal 1 PMK-73/PMK.03/2010, kontraktor yang berhak memungut PPN adalah:

    • Kontraktor yang bekerja sama dengan pengusaha minyak dan gas bumi
    • Kontraktor yang bekerja di bidang sumber daya bumi

    Kontraktor yang berhak memungut tarif telah mengantongi izin dari pemerintah untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi gas dan minyak bumi yang ada di Indonesia.

    Selain memungut pajak, para pemungut wajib membuat laporan terkait pajak yang dimaksud dan apa telah mereka pungut. Kalaupun seandainya tidak terjadi pemungutan dalam kurun waktu satu bulan, bendaharawan pemerintah wajib mencantumkan keterangan nilai pada laporannya.

    PPN yang Tidak Dipungut Instansi Pemerintah

    Terkadang, ada beberapa kesempatan dimana Pajak Pertambahan Nilai bukan ditarik oleh bendaharawan pemerintah. Kira-kira, kapan sajakah itu dan bagaimana ketentuannya? Mari kita simak.

    • Apabila pembelian barang tidak mencapai Rp2.000.000,00, maka pajak tidak akan ditarik oleh bendaharawan pemerintah. Melainkan PKP (Pengusaha Kena Pajak) rekanan yang akan menariknya. Hal ini tidak berlaku apabila total pembelanjaan melebihi nominal, akan tetapi transaksinya dipecah menjadi kurang dari jumlah sebenarnya.
    • Pengeluaran menggunakan kartu kredit pemerintah sesuai dengan yang diatur dalam undang-undang yang mengatur tentang kartu kredit pemerintah
    • Pembayaran untuk pengadaan tanah
    • Jika PT. Pertamina mengadakan transaksi untuk membayar bahan bakar minyak dan bahan bakar bukan minyak
    • Ketika membayar tagihan dan jasa dalam bidang telekomunikasi
    • Jasa penerbanganatau angkutan udara
    • Menurut perundang-undangan, tidak ada PPN bagi Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak 
    • Pembelian lain sesuai dengan perundang-undangan mengenai perpajakan

    Cara Perhitungan PPN

    Sebelum mempelajari rumus Pajak Pertambahan Nilai, mari membahas apa itu DPP. DPP atau Dasar Pengenaan Pajak adalah harga dari suatu barang yang dijadikan acuan menghitung pajak terutang. Apakah itu pajak terutang?

    Siklus pemungutan pajak dimulai dari terjadinya transaksi barang atau jasa yang dilakukan PKP Pembeli dan PKP Penjual. PKP Penjual berkewajiban untuk memungut Pajak Pertambahan Nilai dari PKP Pembeli.

    Setelah itu, PKP Penjual harus memberikan bukti bahwa PKP Pembeli telah mematuhi aturan yang berlaku, yaitu membayar pungutan wajib sesuai ketentuan. Bukti dapat berupa nota atau struk pembayaran.

    PPN yang masih berada di tangan PKP Penjual dan belum disetorkan kepada pemerintah disebut sebagai PPN terutang. Lantas, bagaimanakah rumus perhitungannya? Cukup sederhana, Anda hanya perlu menghitung Tarif PPN x (DPP) Dasar Pengenaan Pajak.

    Apa Kegunaan PPN?

    Setelah mempelajari makna dan berapa persen yang dibutuhkan untuk membayar pajak, sekarang saatnya mengetahui apa saja kegunaan dana tersebut. Tentunya pajak ini demi kepentingan negara, tapi mari kita bahas lebih dalam.

    1. Memperhitungan Kekurangan atau Kelebihan Pajak

    Pajak Pertambahan Nilai dapat menjadi patokan jika pembayaran pajak untuk negara mengalami kesalahan seperti lebih atau kurangnya pajak. 

    Jika Pajak Masukan terbukti lebih banyak dibandingkan Pajak Keluaran, ada dua pilihan bagi KPK. Yang pertama adalah menyimpan pajak berlebih untuk masa pajak selanjutnya. Cara lainnya adalah PKP dapat mengajukan kelebihan bayar di masa pajak yang akan datang.

    2. Sebagai Alat Regulasi Pemerintah

    Dengan adanya pungutan ini, pemerintah dapat membatasi proses impor dari luar negeri dan fokus pada perkembangan produk dalam negeri. Pajak Pertambahan Nilai sangat berguna bagi pemerintah terutama di bagian sosial ekonomi.

    3. Untuk Pembiayaan Negara

    Kebutuhan negara seperti pembangunan nasional dan biaya infrastruktur lainnya pun ditanggung oleh pajak ini. Pemerintah dapat memperluas lapangan pekerjaan di Indonesia menggunakan dana pungutan wajib tersebut.

    4. Anggaran Dana Negara

    Salah satu sumber dana negara ialah pajak, termasuk Pajak Pertambahan Nilai. Dana ini akan digunakan untuk kepentingan rakyat dan biaya pembangunan negara.

    5. Stabilitas Penerimaan Negara

    Selama sebuah negara masih memiliki iuran wajib, maka kestabilan negara masih bisa dijamin. Hal ini pun dapat mencegah terjadinya inflasi.

    Sudahkah Anda Memahami Apa itu PPN?

    Sesudah mengetahui pengertiaan, tarif, dan cara perhitungannya, sudahkah Anda memahami lebih lanjut tentang PPN?

    PPN adalah suatu kewajiban yang harus kita bayarkan. Ditambah lagi, PPN memiliki banyak kegunaan yang berpusat pada kesejahteraan negara dan rakyat. Oleh karena itu, mari teruskan membayar pajak dengan rutin. 

  • Pengertian Perencanaan: Tujuan, Proses, Konsep, & Contohnya

    Pengertian Perencanaan: Tujuan, Proses, Konsep, & Contohnya

    Dalam dunia kerja dan organisasi pasti Anda sudah tidak asing dengan kata perencanaan atau planning. Membuat planning menjadi salah satu hal yang cukup menantang, pasalnya akan mempengaruhi kinerja dari perusahaan dan organisasi tersebut. Mari simak untuk memahami pengertian hingga prosesnya!

    Apa Itu Perencanaan?

    Istilah tersebut merujuk pada  sebuah proses untuk membuat rencana demi tercapainya sebuah tujuan yang dikehendaki oleh seorang individu maupun kelompok. 

    Planning umumnya akan meliputi banyak hal. Di antaranya adalah proses identifikasi tujuan yang ingin dicapai, analisis situasi saat ini, hingga proses pengembangan strategi.

    Selain hal tersebut, planning juga meliputi penataan atau pemanfaatan sumber daya. Contohnya seperti sumber daya manusia, waktu, biaya, dan tenaga. Ini serta merta hanya untuk mencapai tujuan yang diinginkan bersama. Sehingga, hasil yang didapatkan nantinya merupakan hasil yang efektif dan efisien.

    Pengertian Menurut Ahli

    Selain memahami definisinya secara umum, istilah ini juga banyak dijabarkan oleh para ahli terkait pengertian dan maknanya. Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

    1. Edy Suandy

    Menurut Edy Suandy, planning merupakan serangkaian proses dalam menentukan dan mencapai tujuan sebuah organisasi. Di mana di dalamnya terdapat penyusunan strategi, taktik, dan berbagai hal yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang sama.

    2. Barbara Becker

    Menurut Barbara Becker, ini merupakan sebuah cara yang bersifat sangat rasional dan dipergunakan untuk mencapai sebuah masa depan yang lebih baik dan tertata.

    3. Jacqueline Alder

    Menurut Jacqueline Alder, perencanaan merupakan sebuah proses untuk menentukan apa yang ingin dicapai oleh seorang individu maupun kelompok di masa depan. Caranya dengan menetapkan berbagai langkah lanjutan secara bertahap.

    4. John Douglas

    Menurut John Douglas, inoi merupakan sebuah proses yang dilakukan secara kontinyu dalam hal mengkaji, membuat tujuan, serta mengimplementasikan hal tersebut. Termasuk untuk proses evaluasi dan perbaikan kedepannya.

    5. George Steiner

    Menurut George Steiner, ini merupakan sebuah proses untuk memulai pencapaian sebuah tujuan. Di mana di dalamnya terdapat penyusunan dan pembatasan strategi, pembuatan kebijakan, dan membuat rencana mendetail demi tercapainya sebuah tujuan tersebut.

    Tujuan Penting Perencanaan

    Setelah mengetahui pengertiannya baik secara umum maupun oleh para ahli, selanjutnya Anda akan mengetahui beberapa tujuan penting dari adanya sebuah planning. Berikut ini adalah beberapa di antaranya: 

    1. Mengendalikan Diri Maupun Tim 

    Tujuan dan fungsi penting planning yang pertama adalah untuk mengendalikan diri maupun tim. Terkadang, sebagai sebuah individu maupun tim, seseorang mungkin akan memiliki berbagai tujuan yang sangat abstrak. Beberapa orang akan cenderung bersemangat dan berambisi untuk mencapai tujuan tersebut.

    Dengan adanya ambisi tersebut, terkadang langkah mereka menjadi sangat tidak terarah dan cenderung acak. Sehingga, bukannya tercapai, malah tujuan tersebut jauh dari jangkauan. Oleh karena itu, diperlukan sebuah planning yang dapat mengontrol setiap langkah dan mengendalikan ambisi terhadap sebuah tujuan.

    2. Mencegah Dampak Perubahan yang Merugikan 

    Dalam melangkah untuk mencapai sebuah tujuan, pasti ada kalanya Anda harus siap menerima risiko akan sebuah kegagalan. Sebenarnya, dengan menggunakan perencanaan yang detail dan terperinci, kegagalan tersebut dapat dicegah. Atau jika memang terjadi, Anda sudah mempunyai alternatif lain untuk mengatasinya.

    3. Memastikan Suatu Hal 

    Selama berproses untuk mencapai sebuah tujuan, ada banyak sekali hal yang tidak pasti dan abstrak di depan. Oleh karena itu, Anda perlu memastikan berbagai hal abstrak tersebut agar nantinya tidak mengganggu langkah Anda. Melalui planning yang matang akan membuat hal yang abstrak menjadi pasti.

    4. Memprediksi Kejadian Masa Depan

    Kejadian di masa depan memang tidak dapat Anda ketahui. Namun, dengan membuat planning yang baik, setidaknya Anda dapat memprediksi berbagai kejadian di masa depan baik yang negatif maupun yang positif . Dengan demikian, Anda akan selalu siap dan sigap dengan segala risiko yang akan terjadi.

    Proses Perencanaan 

    Dalam melakukan sebuah planning, tentunya ada beberapa tahapan yang perlu Anda lakukan agar rencana tersebut bisa tertata dan dieksekusi dengan baik. Berikut ini adalah beberapa tahapannya:

    1. Menetapkan Tujuan 

    Tahap pertama dalam membuat sebuah rencana adalah menetapkan tujuan. Tujuan akan menjadi dasar seluruh planning nantinya. Selain itu, tujuan juga bisa menjadi indikator kesuksesan planning itu sendiri. Anda bisa menetapkan tujuan secara pribadi maupun bersama dengan tim untuk hasil yang optimal.

    2. Menganalisa Keadaan 

    Setelah tujuan ditetapkan, maka hal selanjutnya yang perlu dilakukan adalah menganalisa keadaan sekitar. Menganalisa keadaan diperlukan untuk menentukan arah langkah selanjutnya. Karena, keadaan sekitar seperti sumber daya, lingkungan, dan biaya akan berpengaruh terhadap setiap langkah yang Anda ambil.

    3. Mengidentifikasi Hambatan

    Setelah mengetahui keadaan sekitar, pasti Anda akan menemukan hambatan dari keadaan tersebut. Hal yang perlu Anda lakukan adalah mengidentifikasi hambatan tersebut. Dengan melakukan identifikasi, maka Anda akan mengerti langkah atau perencanaan seperti apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi hambatan itu.

    4. Membuat Rencana

    Setelah keadaan sudah dianalisa dan hambatan sudah Anda ketahui, maka selanjutnya Anda bisa langsung melangkah untuk membuat planning. Pastikan rencana yang Anda buat adalah planning yang detail dan terarah serta dapat terukur ketercapaiannya. 

    5. Melakukan Evaluasi

    Tahap terakhir dalam membuat planning adalah melakukan evaluasi atas ketercapaian sebuah rencana yang disusun sebelumnya. Apabila ada yang belum tercapai, Anda dapat menganalisa kembali hambatan apa yang terjadi. Serta memberikan solusi atas hal tersebut.

    Konsep Perencanaan

    Planning sendiri memiliki beberapa konsep yang menjadikannya memiliki ciri khas tersendiri. Dengan adanya konsep ini, maka Anda akan dapat memiliki patokan untuk membuat sebuah rencana. Berikut ini adalah penjabarannya:

    1.Terstruktur dan Sistematis

    Planning merupakan sebuah hal yang terstruktur dan sistematis. Rencana harus dibuat mendetail dengan tolak ukur tertentu. Hal tersebut bertujuan untuk memudahkan evaluasi kinerja dari rencana tersebut. Planning yang terstruktur juga akan membantu Anda untuk melangkah dengan pasti.

    2. Persuasif

    Rencana juga memiliki sifat yang persuasif. Hal tersebut terjadi karena dalam menjalankan sebuah rencana Anda tidak mungkin berjalan seorang diri meskipun untuk kepentingan pribadi. Anda perlu mempersuasi orang-orang yang berkaitan dengan rencana Anda untuk mencapai tujuan yang sama.

    3. Memperhatikan Segala Kondisi

    Perencanaan juga bersifat memperhatikan segala kondisi yang mungkin terjadi. Hal tersebut terjadi karena dalam melakukan planning pasti ada kondisi di luar kuasa kita yang bisa menghambat atau melancarkan. Oleh karena itu, kondisi internal maupun eksternal sangat perlu dipikirkan dengan matang.

    4. Sebagai Salah Satu Proses Intelektual

    Planning juga menjadi sebuah wadah dalam berproses secara intelektual. Ini karena dalam membuat rencana Anda pasti akan mempelajari banyak hal. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga, wawasan dalam diri akan semakin bertambah.

    5. Bersifat Fleksibel Terhadap Perkembangan

    Planning juga bersifat fleksibel terhadap perkembangan, baik trend maupun teknologi. Jika sebuah planning tidak diiringi dengan fleksibilitas, maka bisa dipastikan potensi kegagalan akan meningkat. 

    Perubahan rencana bisa saja dilakukan apabila ada perubahan trend atau perkembangan teknologi yang menguntungkan.

    Contoh Perencanaan

    Setelah mengetahui berbagai hal tentang planning, mulai dari pengertian, tujuan hingga proses planning, tak lengkap rasanya jika tidak mengetahui contohnya secara langsung. Karena itu, mari jadikan pengembangan bisnis baju muslim berikut sebagai kasus studi:

    • Tujuan: Mengenalkan Brand A ke Masyarakat Luas serta mendapatkan titik BEP dalam kurun waktu 6 bulan.
    • Keadaan: Baju muslim memiliki pasar yang sangat tinggi, model baju muslim selalu berubah sesuai dengan trend, bisnis ini memiliki banyak kompetitor.
    • Hambatan: Kompetitor yang sangat banyak dan persaingan yang ketat.
    • Strategi: 
    • Menganalisa produk milik kompetitor mana yang paling ramai peminat.
    • Menggunakan konsep amati, tiru, dan modifikasi.
    • Buat satu keunggulan dan kekuatan produk yang tidak dimiliki oleh kompetitor.
    • Melakukan produksi.
    • Melakukan promosi awal dengan cara giveaway atau diskon untuk meningkatkan brand awareness.
    • Melakukan promosi lanjutan dengan menggunakan iklan berbayar atau endorsement dengan tujuan peningkatan profit.

    Sudah Memahami Apa itu Perencanaan? 

    Berikut tadi adalah penjelasan singkat mengenai perencanaan, manfaat, proses hingga contohnya. Membuat rencana merupakan salah satu hal yang penting untuk dilakukan baik secara individu maupun dalam kehidupan berorganisasi. 

    Selain contoh di atas, Anda sebaiknya juga harus memperhatikan beberapa aspek lain ketikan membuat rencana untuk usaha. Meliputi lokasi, investor, anggaran, harga produk, modal, dan sebagainya. Semoga ulasan di atas dapat membantu Anda untuk membuatnya, ya!

  • Contoh Laporan KKN yang Baik dan Benar, Mahasiswa Perlu Tahu!

    Contoh Laporan KKN yang Baik dan Benar, Mahasiswa Perlu Tahu!

    Ketika akan melaksanakan kegiatan KKN, maka dibutuhkan contoh laporan KKN sebagai barang bukti. Dokumen tersebut berfungsi menjadi bukti yang dipertanggungjawabkan oleh mahasiswa. Sehingga mahasiswa dapat melakukan program KKN sesuai pengaturan dari pihak kampus.

    Pengertian Laporan KKN

    KKN atau Kuliah Kerja Nyata merupakan sebuah kegiatan yang mengharuskan mahasiswa untuk mengabdi kepada masyarakat. Biasanya, KKN akan disesuaikan dengan bidang ilmu yang telah mahasiswa pelajari sebelumnya.

    KKN sendiri memiliki tujuan sebagai kegiatan untuk menerapkan ilmu yang diterima oleh mahasiswa selama masa kuliah. Kegiatan kuliah kerja nyata ini juga berfungsi untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan, keterampilan, membuka pola pikir, dan melatih mental mahasiswa.

    Dalam pengajuan KKN, mahasiswa wajib untuk membuat laporan KKN. Ini karena laporan tersebut digunakan sebagai pertanggungjawaban mahasiswa saat melaksanakan program KKN. Laporan harus diserahkan dan disetujui oleh pihak kampus.

    Dengan demikian, laporan KKN bisa dikatakan sejenis dengan LPJ, yakni laporan pertanggungjawaban. Sehingga pihak kampus bisa mengetahui apakah program tersebut berdampak dengan baik atau tidak.

    Secara umum, ada 2 jenis laporan KKN yang sering digunakan, yakni laporan individu dan laporan kelompok. Laporan individu dibuat oleh masing-masing mahasiswa.

    Sementara itu, laporan kelompok akan dikerjakan bersama tim KKN. Setiap laporan akan berisi tentang berbagai program yang sedang dilaksanakan saat KKN. Laporan kelompok cenderung membahas tentang program besar.

    Format Laporan KKN

    Perlu diketahui bahwa setiap kampus memiliki kebijakan laporan KKN yang berbeda-beda. Namun, pada umumnya isi contoh laporan KKN memiliki urutan seperti berikut ini:

    • JUDUL
    • PENGESAHAN
    • KATA PENGANTAR
    • DAFTAR ISI
    • PROGRAM KELOMPOK
    • BAB I PENDAHULUAN

    I.1 Latar Belakang

    I.2. Rumusan Masalah

    I.3 Tujuan

    I.4 Tinjauan Pustaka

    • BAB II PELAKSANAAN PROGRAM

    II.1 Bidang Kegiatan

    II.2 Objek Kegiatan

    II.3 Lokasi Kegiatan

    II.4 Jenis dan Waktu Kegiatan

    II.5 Pendanaan

    • BAB III PEMBAHASAN

    Pada poin ini, mahasiswa dapat membahas tentang pencapaian selama masa KKN sedang berjalan. Mulai dari pencapaian kinerja program, dana, waktu, dan lain sebagainya.

    • BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

    Berikan kesimpulan menyeluruh, namun tetap terlihat sederhana. Selain itu, berikan juga saran perbaikan yang membangun.

    • DAFTAR PUSTAKA

    Tips Penting Sebelum Membuat Laporan KKN

    Bagi mahasiswa yang akan menjalani program KKN, membuat laporan KKN bersifat wajib. Karena laporan tersebut menjadi salah satu indikator penilaian pada programnya. Oleh sebab itu, lakukan tips berikut ini untuk membuat laporan KKN lebih mudah:

    1. Selalu Bekerja Sama

    KKN identik dengan pengerjaan secara kelompok, sehingga membuat laporan KKN harus dilakukan dengan kerja sama. Apalagi laporan KKN memiliki isi yang panjang dan mampu menyita banyak waktu. Jadi, pastikan untuk bekerja sama dalam membuatnya.

    2. Pahami Contohnya

    Setiap kampus pastinya memiliki perpustakaan yang berisi tentang dokumen atau buku dari alumninya. Dengan demikian, pasti juga ada contoh laporan KKN di perpustakaan. Sebelum menyusun laporan KKN, lihat dan pahami contohnya terlebih dahulu.

    3. Lakukan Konsultasi dengan Kating Atau Alumni

    Kating dan alumni kampus yang telah melakukan KKN pastinya mengetahui cara dan tips yang tepat untuk membuat laporan KKN. Jadi, tidak salah untuk meminta konsultasi mereka. Bahkan koneksi juga bisa diperluas dengan mudah.

    4. Format Harus Sesuai Ketentuan

    Pastikan bahwa laporan KKN yang dibuat sudah sesuai format dan ketentuan dari kampus. Namun, setiap kampus pastinya memiliki format yang berbeda-beda. Pada umumnya, contoh laporan KKN menggunakan ukuran A4, font Times New Roman berukuran 12, memiliki jarak paragraf 1.5, dan menggunakan headings normal.

    Selain itu, kampus juga memiliki kebijakan penjilidan. Baik itu hardcover maupun softcover. Bahkan ada juga yang mengharuskan warna cover, pembatas bab, dan lain sebagainya. Jangan lupa untuk memperhatikan format desain judul yang dibuat.

    Bukan hanya itu saja, perhatikan juga ketentuan kampus tentang lampiran dokumentasi KKN, apakah wajib atau tidak. Dokumentasi KKN adalah foto dan video yang dibuat selama KKN berlangsung.

    5. Bersikap Jujur

    Ketika menyusun laporan KKN, pastikan untuk tidak membuatnya terlalu mengada-ngada bahkan sampai membohongi pihak kampus. Ini karena dosen pembimbing pastinya akan dengan mudah mengetahuinya.

    6. Jangan Melebihi Deadline

    Laporan KKN pastinya memiliki tenggat waktu untuk pengumpulannya. Pastikan untuk tidak mengumpulkannya secara telat, karena bisa berdampak pada nilai.

    Contoh Laporan KKN

    Ada 2 jenis laporan KKN yang perlu diketahui, yakni laporan individu dan laporan kelompok. Adapun penjelasannya secara singkat di bawah ini:

    1. Laporan KKN Individu

    Dalam laporan jenis ini, mahasiswa harus membuatnya secara individu. Setiap mahasiswa harus membuat laporan KKN individu sebagai bukti atas kinerja yang dilakukannya selama melakukan program tersebut. Dengan demikian, mahasiswa akan memiliki nilai secara individu.

    Dengan melihat banyak contoh laporan KKN individu, mahasiswa dapat mengetahui berbagai format yang sering digunakan. Namun, pastikan untuk melihat format dan ketentuan kampus terlebih dahulu. Dengan demikian, laporan KKN individu dapat dibuat dengan sempurna.

    Anda bisa melihat contoh lengkap laporan dengan mengcopy link di bawah ini:

    • https://sipadu.isi-ska.ac.id/mhsw/laporan/laporan_2261141006125018.pdf 
    • http://repository.ubaya.ac.id/39668/1/Elita_Karya%20Tulis%20Faham%20Hipertensi.pdf

    2. Laporan KKN Kelompok

    Setiap kelompok KKN akan berjumlah lebih dari 5 orang mahasiswa, di mana masing-masing mahasiswa memiliki bidang ilmu yang tidak sama. Ini karena kelompok KKN harus dilakukan secara bersama-sama.

    KKN wajib dilakukan oleh mahasiswa yang ketentuannya sudah dibuat oleh pihak kampus. Namun, ada juga kampus yang memperbolehkan mahasiswa untuk memilih tim, desa, dan temanya sendiri. Copy link di bawah ini untuk melihat contoh laporan secara kelompok yang lengkap:

    • https://sipadu.isi-ska.ac.id/mhsw/laporan/laporan_3460160906115724.pdf
    • http://lppm.unisda.ac.id/wp-content/uploads/2018/08/LAPORAN-KELOMPOK.pdf#

    Fungsi dari KKN

    Setelah mengetahui berbagai contoh laporan KKN, maka mahasiswa wajib untuk memahami fungsi dari KKN itu sendiri. Ini bertujuan sebagai bekal untuk memaksimalkan program tersebut. Ketahui manfaat-manfaatnya berikut ini:

    1. Sebagai Wadah Penerapan Ilmu

    Ketika menjalani program KKN, mahasiswa dapat dengan bebas menerapkan ilmu yang sudah dipelajari di kampus. Dengan demikian, keterampilan mahasiswa dapat diterapkan dalam masyarakat umum. 

    Sebagai contoh, misalnya mahasiswa jurusan psikologi yang mengikuti kegiatan KKN. Maka mereka bisa terjun langsung membantu masyarakat dalam pentingnya kesehatan mental. Mahasiswa dapat melakukan berbagai program yang berkaitan dengan psikologi di puskesmas desa.

    2. Kreativitas

    Mahasiswa yang melakukan KKN pastinya sudah dibekali dengan ilmu yang banyak dari perkuliahan. Dengan kegiatan ini, maka mahasiswa dapat memanfaatkan ilmunya untuk berinovasi dan mengembangkan kreativitas. Selain itu, dapat meningkatkan pemikiran agar lebih kreatif dan terbuka pada sekitar.

    Kreativitas mahasiswa juga harus diimbangi dengan kondisi daerah dan aktivitas masyarakatnya. Selain kreativitas mahasiswa, KKN juga dapat membantu masyarakat untuk mengoptimalkan lingkungan sekitar.

    3. Meningkatkan Kesejahteraan Ekonomi

    Kegiatan KKN dapat menjadi wadah mahasiswa untuk membantu masyarakat dalam berbagai aspek, salah satunya adalah perekonomian. Upaya untuk membantu UMKM juga termasuk ke dalam bentuk pengabdian mahasiswa terhadap masyarakat di bidang ekonomi.

    Sebagai contoh, mahasiswa bisa membuat program kerja yang mengedukasi. Misalnya seperti bagaimana cara untuk meningkatkan penjualan menggunakan aplikasi online. Mahasiswa juga perlu memahami dampak yang sekiranya paling signifikan terhadap penjualan tersebut. 

    Dengan demikian, mahasiswa mampu untuk menaikkan penjualan produk. Sehingga sumber daya manusia dan sumber daya alam di desa dapat dimaksimalkan dengan mudah.

    Sudah Tahu Bagaimana Contoh Laporan KKN?

    Umumnya, KKN akan disetujui jika laporan pengajuan mahasiswa sudah sesuai ketentuan kampus. Oleh sebab itu, melakukan konsultasi dengan pihak kampus sebelum membuat laporan KKN sangat penting. Sehingga, mahasiswa dapat mengetahui apa saja poin yang wajib ada di dalam laporan tersebut.

    Dengan melihat contoh laporan milik kating atau alumni, mahasiswa dapat menentukan format, gaya bahasa, dan isi yang tepat. Perhatikan juga apakah pengumpulan laporan KKN harus memiliki dokumentasi program atau tidak. Sehingga program kerja KKN akan ditulis dalam laporan yang sejujur-jujurnya!

  • Contoh Jurnal Umum Lengkap dengan Cara Pembuatannya, Wajib Tahu!

    Contoh Jurnal Umum Lengkap dengan Cara Pembuatannya, Wajib Tahu!

    Laporan keuangan merupakan laporan yang mencatat semua transaksi keluar masuknya uang dalam suatu bisnis. Dalam pembuatan laporan keuangan, kamu harus menggunakan aturan-aturan yang terdapat pada jurnal umum. Berikut adalah contoh jurnal umum dan bagaimana cara pembuatannya dalam laporan keuangan!

    Apa Itu Jurnal Umum?

    Jurnal umum merupakan jurnal yang biasanya digunakan untuk mencatat transaksi keuangan dalam periode waktu atau periode akuntansi tertentu. 

    Pencatatan yang ada dalam jurnal umum biasanya akan diurutkan berdasarkan tanggal transaksi, nama transaksi, jenis akun, nominal saldo yang tersisa, dan juga kategori transaksi, apakah termasuk transaksi debit atau kredit.

    Secara umum, jurnal jenis ini biasanya digunakan pada siklus akuntansi dalam perusahaan jasa, dimana semua transaksi dalam perusahaan jasa akan dicatat secara kronologis.

    Sementara itu, pada siklus akuntansi perusahaan dagang, pencatatan transaksi biasanya akan dicatat menggunakan jurnal khusus. Hal ini karena perusahaan dagang biasanya membutuhkan pencatatan kuantitas dan nominal transaksi dengan intensitas yang cukup tinggi.

    Proses pembuatan jurnal umum dikenal dengan sebutan penjurnalan. Tujuan pembuatan jurnal umum, yaitu untuk mengidentifikasi, menilai, dan mencatat semua transaksi  yang terjadi dalam suatu perusahaan. Pencatatan tersebut nantinya akan digunakan sebagai dasar untuk menganalisis kondisi ekonomi suatu perusahaan.

    Fungsi Jurnal Umum dalam Periode Akuntansi

    Selain sebagai media pencatatan, contoh jurnal umum juga memiliki fungsi yang lain dalam periode akuntansi perusahaan. Berikut ini adalah beberapa fungsi dari jurnal umum dalam periode akuntansi suatu perusahaan:

    1. Fungsi Historis

    Pencatatan setiap transaksi harus dilakukan berdasarkan urutan tanggal terjadinya transaksi. Sehingga, memudahkan staff accounting ketika mengaudit suatu transaksi di kemudian hari bila diperlukan.

    2. Fungsi Pencatatan

    Jurnal umum mencatat setiap transaksi yang mengakibatkan perubahan aset, kekayaan, biaya, modal, dan pendapatan.

    3. Fungsi Analisis

    Penjurnalan dilakukan dengan cara mengelompokkan masing-masing transaksi berdasarkan urutan tanggal dan jenis transaksi, sehingga lebih mudah untuk dianalisis.

    4. Fungsi Instruksi

    Pencatatan dalam jurnal umum sebenarnya merupakan instruksi untuk melakukan kredit atau debit pada akun. Oleh karena itu, jurnal bisa digunakan sebagai petunjuk dalam proses penulisan laporan di buku besar.

    5. Fungsi Informatif

    Pencatatan dalam jurnal juga memberikan informasi yang jelas dan detail tentang transaksi keuangan yang terjadi dalam suatu perusahaan.

    Cara Pembuatan Jurnal Umum

    Berikut ini adalah tahapan atau tata cara pembuatan jurnal umum yang bisa kamu lakukan:

    1. Pahami Persamaan Akuntansi

    Sebelum mulai membuat jurnal umum, kamu harus mengerti terlebih dahulu tentang persamaan dasar akuntansi. Berikut ini adalah beberapa persamaan dasar akuntansi yang perlu kamu pahami

    Aset = Utang + Modal

    Persamaan tersebut bisa diperluas menjadi:

    Aset = Utang + Modal + (Pendapatan – Beban)

    Pemahaman persamaan dasar akuntansi tersebut berkaitan dengan jenis-jenis akun yang ada di dalamnya. Sebagai contoh, piutang dan persediaan termasuk ke dalam jenis akun aset. 

    Selain itu, kamu juga harus memahami tentang nominal saldo normal untuk masing-masing jenis akun. Tabel berikut adalah daftar lima akun yang perlu kamu tahu nominal saldo normalnya.

    Jurnal.id

    • Ketika nilai aset (harta/aktiva) bertambah, maka catatlah penambahannya pada posisi debit. Sementara itu, jika nilai aset berkurang, maka catatlah pengurangannya pada posisi kredit. Nominal saldo normal untuk akun aset adalah pada posisi debit.
    • Sementara itu, posisi saldo normal untuk utang atau kewajiban berbanding terbalik dengan aset. Jika nilai utang bertambah, maka catatlah penambahannya pada posisi kredit. Namun, jika nilai utang berkurang, maka catatlah pengurangannya pada posisi debit. Nominal saldo normal untuk akun utang adalah pada posisi kredit.
    • Posisi saldo normal untuk akun modal sama dengan akun utang, yaitu posisi kredit. Jika nilai modal bertambah, maka catatlah penambahannya pada posisi kredit. Namun, jika nilai modal berkurang, maka catatlah pengurangannya pada posisi debit.
    • Akun pendapatan juga memiliki posisi yang sama seperti akun utang dan akun modal, yaitu posisi kredit. Jika nilai pendapatan bertambah, maka catatlah penambahannya pada posisi kredit. Sementara itu, jika nilai pendapatan berkurang, maka catatlah pengurangannya di posisi debit.
    • Selanjutnya, untuk akun beban memiliki posisi saldo normal sama dengan akun aset, yaitu di posisi debit. Jika nilai beban bertambah, maka catatlah penambahannya pada posisi debit. Kemudian, jika nilai beban berkurang, maka catatlah pengurangannya pada posisi kredit.

    2. Kumpulkan Bukti Transaksi

    Langkah selanjutnya, yaitu mengumpulkan bukti transaksi. Untuk melakukan pencatatan pada contoh jurnal umum, kamu harus memiliki bukti dari semua transaksi yang akan kamu tulis dalam jurnal. Bukti transaksi merupakan bentuk validasi dan kredibilitas dari sebuah transaksi.

    Bukti transaksi yang bisa kamu kumpulkan dapat berupa beberapa bentuk. Seperti, nota, kwitansi, faktur, invoice, dan masih banyak lagi lainnya.

    3. Identifikasi Transaksi

    Langkah selanjutnya yaitu mengidentifikasi transaksi yang akan kamu catat dalam jurnal. Tidak semua transaksi bisa kamu catat dalam jurnal. Kamu hanya bisa mencatat transaksi yang berdampak pada perubahan posisi keuangan perusahaan dan bisa diukur menggunakan satuan moneter.

    Oleh karena itu, sebelum mencatat transaksi dalam jurnal umum, kamu perlu mengidentifikasi transaksi tersebut terlebih dahulu, agar hasil pencatatan kamu lebih valid dan kredibel.

    Untuk memudahkan proses identifikasi transaksi dan mengetahui posisinya terhadap keuangan perusahaan, kamu bisa menggunakan persamaan dasar akuntansi berikut ini:

    Aset = Utang + Modal

    Perlu diingat, dalam satu transaksi terdapat minimal dua akun yang akan terdampak oleh transaksi tersebut. Dampaknya dapat berupa perubahan, seperti penambahan atau pengurangan terhadap nilai akun tersebut. Berikut adalah contoh dampak perubahannya:

    • Aset [+] dan Ekuitas [+].
    • Aset [+] dan Liabilitas [+].
    • Aset [-] dan Ekuitas [-].
    • Aset [-] dan Liabilitas [-].
    • Aset [+] dan Aset lainya [-].

    Nilai Ekuitas bisa bertambah [+] akibat beberapa aktivitas transaksi berikut ini:

    • Investasi pemilik.
    • Penerimaan pendapatan.
    • Adanya laba lanjutan.

    Sementara itu, nilai Ekuitas juga bisa berkurang [-] akibat beberapa aktivitas transaksi berikut ini:

    • Pengambilan prive.
    • Pengeluaran untuk beban.
    • Adanya rugi penjualan.

    4. Pencatatan Jurnal Umum

    Langkah terakhir, yaitu pencatatan jurnal umum. Aktivitas pencatatan transaksi keuangan ke dalam suatu jurnal disebut dengan penjurnalan. Sistem pencatatan yang biasanya digunakan yaitu double-entry system

    Double-entry system yang dimaksud adalah setiap transaksi yang kamu catat akan berdampak pada dua posisi keuangan dalam perusahaan, yaitu posisi kredit dan debit dalam jumlah yang sama. Terdapat 9 komponen yang biasanya terdapat dalam jurnal umum, yaitu:

    • Tanggal terjadinya transaksi.
    • Kode pembantu untuk mencatat detail transaksi.
    • Uraian keterangan transaksi debit atau kredit.
    • Nomor akun debit.
    • Nama akun debit sesuai nomor akunnya.
    • Nominal transaksi debit.
    • Nomor akun kredit.
    • Nama akun kredit sesuai nomor akunnya.
    • Nominal transaksi kredit.

    Berikut ini adalah format atau bentuk dari pencatatan jurnal umum:

    Jurnal.id

    Contoh Jurnal Umum Perusahaan Dagang

    Berikut ini adalah contoh soal, identifikasi transaksi, dan pencatatan jurnal umum dari perusahaan dagang PT. Jaya Abadi:

    Jurnal.id

    Berikut ada juga contoh jurnal umum perusahaan jasa dari Tika Salon beserta contoh soalnya:

    Berita.99

    Sudah Tahu Bagaimana Contoh Jurnal Umum?

    Pencatatan jurnal umum dalam suatu bisnis merupakan hal yang penting untuk mengetahui posisi keuangan suatu bisnis. Jika kamu mencatat secara benar dan tepat, maka di akhir periode kamu akan mengetahui nominal modal, keuntungan atau kerugian, total hutang, hingga kas bisnis.Dengan data tersebut, kamu akan lebih mudah untuk mengatur strategi bisnis di masa depan. Agar lebih mempermudah dalam pencatatan, kamu juga bisa menggunakan sistem akuntansi yang bisa melakukan pencatatan otomatis setiap adanya transaksi, sehingga meminimalisir potensi human error.

  • 7 Contoh Jurnal Penyesuaian dan Cara Membuatnya, Lengkap!

    7 Contoh Jurnal Penyesuaian dan Cara Membuatnya, Lengkap!

    Jurnal penyesuaian sangatlah penting dalam proses akuntansi perusahaan dapat mencatat dan merekonsiliasi transaksi atau perubahan yang terjadi selama periode akuntansi. Maka, dalam artikel ini, kami akan memberikan berbagai contoh jurnal penyesuaian dan menjabarkan bagaimana cara membuatnya. 

    Melalui pemahaman yang baik tentang laporan penyesuaian, perusahaan dapat memastikan bagaimana kondisi keuangan yang sebenarnya dan mematuhi prinsip akuntansi yang berlaku. Mari kita simak pembahasan lengkapnya di sini!

    Pengertian Jurnal Penyesuaian 

    Sebelum membahas contoh jurnal penyesuaian, mari ketahui pengertiannya. Singkatnya, jurnal penyesuaian adalah entri jurnal yang dibuat untuk mengoreksi kesalahan atau memperhitungkan transaksi yang belum tercatat dalam periode akuntansi tertentu. 

    Maka artinya, transaksi yang mempengaruhi keuangan perusahaan, namun tidak terdokumentasikan dalam jurnal umum atau jurnal khusus lainnya perlu dicatat dalam jurnal ini. Jenis transaksi tersebut dapat berupa pendapatan, biaya, aset, dan kewajiban. 

    Penjurnalan ini biasanya perusahaan lakukan pada akhir periode akuntansi untuk memperhitungkan transaksi atau perubahan yang terjadi selama periode tersebut. Tetapi belum terekam dalam catatan keuangan perusahaan. 

    Melalui jurnal penyesuaian, perusahaan dapat memastikan bahwa laporan keuangan yang mereka hasilkan akurat dan mencerminkan kondisi keuangan yang sebenarnya.

    Mengapa Jurnal Penyesuaian Penting?

    Setiap contoh bentuk jurnal penyesuaian memiliki peran penting dalam akuntansi, beberapa alasannya adalah sebagai berikut:

    1. Memperbaiki Ketepatan Laporan Keuangan 

    Pertama, jurnal penyesuaian memungkinkan perusahaan untuk memperbaiki ketidakakuratan atau ketidaktepatan yang mungkin terjadi dalam pencatatan keuangan. 

    2. Mengakui Pendapatan dan Biaya yang Belum Terekam

    Beberapa transaksi pendapatan atau biaya mungkin terjadi selama periode akuntansi, namun ada beberapa jenis transaksi yang belum tercatat dalam jurnal umum. 

    Maka dari itu, jurnal penyesuaian memungkinkan perusahaan untuk mengenali dan mencatat pendapatan dan biaya tersebut agar dapat direfleksikan dalam laporan keuangan.

    3. Mengikuti Prinsip Pengakuan Pendapatan dan Biaya

    Selain itu, jurnal penyesuaian juga memastikan bahwa pendapatan dan biaya yang terkait dengan periode akuntansi yang bersangkutan diakui secara tepat waktu.

    Bagaimana Cara Membuat Jurnal Penyesuaian?

    Apabila Anda ingin membuat sejumlah contoh jurnal penyesuaian, ada baiknya pelajari caranya terlebih dahulu. Berikut adalah langkah-langkah umum membuat jurnal penyesuaian yang dapat Anda ikuti:

    1. Identifikasi Kebutuhan Penyesuaian

    Pertama, tinjau catatan keuangan perusahaan untuk mengidentifikasi transaksi atau perubahan yang perlu Anda sesuaikan. Misalnya, transaksi pendapatan atau biaya yang belum tercatat, penyusutan aset, atau kewajiban yang belum tercatat.

    2. Tentukan Jenis Jurnal Penyesuaian

    ,Kemudian, tentukan jenis jurnal penyesuaian yang sesuai berdasarkan identifikasi di awal. Contohnya, jurnal penyesuaian untuk pendapatan yang belum tercatat dapat menggunakan jurnal penyesuaian pendapatan. Sementara jurnal penyesuaian untuk penyusutan aset dapat menggunakan jurnal penyesuaian penyusutan.

    3. Tentukan Tanggal Penyesuaian

    Lalu, tetapkan tanggal penyesuaian pada akhir periode akuntansi yang relevan. Biasanya, tanggal penyesuaian tersebut merupakan tanggal terakhir periode akuntansi, seperti akhir bulan atau akhir tahun.

    4. Hitung dan Catat Nilai Penyesuaian

    Selanjutnya, lakukan perhitungan untuk menentukan nilai penyesuaian yang akan Anda catat dalam jurnal penyesuaian. Misalnya, untuk pendapatan yang belum tercatat, hitunglah jumlah pendapatan yang seharusnya diakui selama periode tersebut.

    5. Buat Entri Jurnal Penyesuaian

    Gunakan format jurnal yang sesuai untuk mencatat entri jurnal penyesuaian. Cantumkan tanggal penyesuaian, akun yang terkena dampak, deskripsi penyesuaian, dan jumlah yang dicatat. Pastikan untuk mencatat debit dan kredit dengan benar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku.

    6. Posting Jurnal Penyesuaian ke Buku Besar

    Terakhir, setelah entri jurnal penyesuaian dibuat, lakukan posting ke buku besar untuk memperbarui saldo akun yang terkait. 

    7 Contoh Jurnal Penyesuaian

    Simak 7 contohnya di bawah in untuk semakin memahami konsep jurnal penyesuaian!

    1. Contoh Jurnal Penyesuaian Amortisasi Beban Prepaid Expense

    TanggalAkunDebit (Rp)Kredit (Rp)
    31/12/2022Beban Operasional15.000.000,00
    Utang Jangka Panjang15.000.000,00
    31/12/2022Beban Prepaid Expense5.000.000,00
    Aset Prepaid Expense5.000.000,00

    Penjelasan: 

    Pada contoh ini, perusahaan melakukan penyesuaian amortisasi beban prepaid expense sebesar Rp15.000.000,00. Nilai debit ditujukan ke akun Beban Operasional dan Utang Jangka Panjang untuk mencatat beban yang belum tercatat dan mengurangi utang jangka panjang yang telah jatuh tempo. 

    Sementara itu, nilai kredit ditujukan ke akun Beban Prepaid Expense dan Aset Prepaid Expense untuk mencatat amortisasi beban dan mengurangi nilai aset prepaid expense.

    2. Contoh Jurnal Penyesuaian Pendapatan yang Belum Terakumulasi

    TanggalAkunDebit (Rp)Kredit (Rp)
    31/12/2022Pendapatan10.000.000,00
    Pendapatan yang belum Terakumulasi10.000.000,00

    Penjelasan: 

    Sementara pada contoh ini, perusahaan ABC menyesuaikan pendapatan yang belum terakumulasi sebesar Rp10.000.000,00 dengan mencatatnya dalam jurnal penyesuaian. 

    Nilai debit ditujukan ke akun Pendapatan yang Belum Terakumulasi untuk mengakui pendapatan yang belum tercatat sebelumnya. Sedangkan nilai kredit ditujukan ke akun Pendapatan untuk merekam pendapatan tersebut.

    3. Contoh Jurnal Penyesuaian Persediaan yang Rusak

    TanggalAkunDebit (Rp)Kredit (Rp)
    31/12/2022Beban Persediaan Rusak3.000.000,00
    Persediaan3.000.000,00

    Penjelasan: 

    Pada contoh ini, perusahaan ABC menemukan persediaan yang rusak atau tidak dapat digunakan pada akhir periode akuntansi. 

    Maka, untuk mencatat kerugian yang terkait dengan persediaan yang rusak, perusahaan melakukan jurnal penyesuaian dengan mendebit akun Beban Persediaan Rusak dan mengkredit akun Persediaan sebesar Rp3.000.000,00.

    4. Contoh Jurnal PenyesuaianPenyusutan Aset Tetap

    TanggalAkunDebit (Rp)Kredit (Rp)
    31/12/2022Beban Penyusutan20.000.000,00
    Akumulasi Penyusutan20.000.000,00

    Penjelasan: 

    Lalu pada contoh ini, perusahaan XYZ menyesuaikan penyusutan aset tetap sebesar Rp20.000.000,00. Nilai debit ditujukan ke akun Beban Penyusutan untuk mencatat biaya penyusutan. Sedangkan nilai kredit ditujukan ke akun Akumulasi Penyusutan untuk mengurangi nilai akumulasi penyusutan.

    5. Contoh Jurnal Penyesuaian Pendapatan yang Belum Diterima

    TanggalAkunDebit (Rp)Kredit (Rp)
    31/12/2022Utang Usaha8.000.000,00
    Pendapatan yang Belum Diterima8.000.000,00

    Penjelasan: 

    Sedangkan dalam contoh ini, perusahaan ABC telah memberikan layanan kepada klien tetapi belum menerima pembayaran pada akhir periode akuntansi. 

    Untuk mencatat pendapatan yang belum diterima, perusahaan melakukan jurnal penyesuaian dengan mendebit akun Utang Usaha dan mengkredit akun Pendapatan yang Belum Diterima sebesar Rp 8.000.000,00.

    6. Contoh Jurnal Penyesuaian Beban Bunga yang Belum Dibayar

    TanggalAkunDebit (Rp)Kredit (Rp)
    31/12/2022Utang Bunga2.500.000,00
    Beban Bunga yang Belum Dibayar2.500.000,00

    Penjelasan: 

    Kemudian, pada contoh ini, perusahaan XYZ memiliki utang bunga yang belum dibayar pada akhir periode akuntansi. 

    Maka, untuk mencatat beban bunga yang belum dibayar, perusahaan melakukan jurnal penyesuaian dengan mendebit akun Utang Bunga dan mengkredit akun Beban Bunga yang Belum Dibayar sebesar Rp2.500.000,00.

    7. Contoh Jurnal Penyesuaian Pendapatan yang Diterima di Muka

    TanggalAkunDebit (Rp)Kredit (Rp)
    31/12/2022Pendapatan yang Diterima di Muka5.000.000,00
    Pendapatan5.000.000,00

    Penjelasan: 

    Terakhir, dalam contoh ini, perusahaan XYZ telah menerima pembayaran di muka dari pelanggan sebagai pembayaran untuk layanan yang akan diberikan di masa depan. Jadi, pembayaran ini dianggap sebagai pendapatan yang diterima di muka dan harus disesuaikan pada akhir periode akuntansi. 

    Oleh karena itu, perusahaan melakukan jurnal penyesuaian dengan mengkredit akun Pendapatan yang Diterima di Muka sebesar Rp5.000.000,00 dan mendebit akun Pendapatan sebesar jumlah yang sama.

    Sudah Tahu Bagaimana Contoh Jurnal Penyesuaian yang Tepat dan Cara Membuatnya? 

    Itulah pembahasan lengkap mengenai contoh jurnal penyesuaian termasuk langkah-langkah pembuatannya. Melalui upaya menguasai konsep dan praktiknya, perusahaan dapat memastikan bahwa laporan keuangan mereka akurat dan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku. 

    Anda bisa membuat jurnal keuangan ini dengan bantuan software dasar seperti Microsoft Excel atau Spreadsheet. Selain itu, Anda juga dapat memanfaatkan aplikasi pihak ketiga yang menyediakan format laporan keuangan dasar.

  • Mengenal Orientasi: Pengertian, Jenis, Tujuan serta Tahapannya

    Mengenal Orientasi: Pengertian, Jenis, Tujuan serta Tahapannya

    Istilah orientasi seringkali kita dengar pada masa pengenalan sekolah atau perusahaan. Biasanya, istilah ini memiliki tujuan, yakni menyampaikan informasi penting dan mengenalkan siswa atau karyawan baru pada lingkungan sekolah atau kantor. Agar lebih jelas, kamu bisa menyimaknya lewat artikel di bawah ini!

    Pengertian Orientasi

    Menurut Ardana dkk (2012), istilah orientasi adalah kegiatan yang dilaksanakan dengan tujuan memperkenalkan tenaga kerja baru kepada manajemen secara keseluruhan sesuai dengan hirarki perusahaan. Sementara itu, menurut KBBI, istilah ini memiliki makna peninjauan untuk menentukan sikap yang tepat dan benar

    Istilah ini disebut juga dengan penyesuaian, adaptasi, dan pembiasaan. Sederhananya, istilah ini merupakan kegiatan yang memiliki tujuan untuk memperkenalkan seseorang atau kelompok pada lingkungan dan situasi yang baru. Ini dilakukan agar mereka memahami aturan, prosedur, dan tugas di lingkungan tersebut.

    Pasalnya, saat individu berada di lingkungan baru, mereka perlu adaptasi, agar bisa menyesuaikan diri dengan situasi yang ada di dalamnya. Untuk itu, kegiatan ini sangat membantu mereka dalam memberi gambaran terkait penyesuaian yang harus dilakukan.

    Kegiatan ini dapat terjadi dalam berbagai konteks, seperti di sekolah atau di tempat kerja. Meskipun begitu, di dalam konteks tersebut, kegiatan ini dinilai dapat membuat individu dan kelompok merasa lebih nyaman untuk menyesuaikan dengan lingkungan baru.

    Tujuan Orientasi

    Seperti yang disebutkan di atas, tujuan dari kegiatan ini adalah mengenalkan kelompok atau individu pada lingkungan baru. Tapi, bila dilihat  lebih jauh, terdapat 3 tujuan dari kegiatan ini, yakni sebagai ruang belajar, kolaborasi, dan relasional individu atau kelompok. Selain itu, tujuan kegiatan ini juga dibagi 2 berdasarkan konteksnya

    1. Ruang Belajar

    Orientasi dapat menjadi ruang yang penting untuk setiap individu atau kelompok, seperti calon karyawan baru untuk belajar tentang institusi/organisasi barunya. Mereka akan mempelajari hal-hal terkait lingkungan barunya, seperti  struktur organisasi, fasilitas, serta sumber daya yang tersedia.

    Selain itu, dalam kegiatan ini, biasanya akan disampaikan aturan, prosedur, dan kebijakan yang berlaku dalam organisasi atau institusi. Dengan begitu, mereka akan memahami batasan dan tanggung jawab yang harus mereka emban ketika berada di dalam lingkungan tersebut.

    Tidak hanya itu, kegiatan ini juga berusaha mengenalkan bagian-bagian bangunan atau ruang yang ada di lingkungan baru mereka. Misalnya, calon kandidat akan diperlihatkan dimana ruang rapat, ruang penyimpanan, dan kantin.

    2. Ruang Kolaborasi

    Saat orientasi berlangsung, baik dalam konteks kerja dan pendidikan, umumnya setiap individu akan masuk dalam kelompok-kelompok yang diberikan berbagai tugas dalam kegiatannya. Hal ini bertujuan agar membangun kolaborasi antar individu, sehingga menciptakan ikatan yang baik.

    Selain itu, kegiatan ini juga membuat setiap individu yang telah dikelompokan agar bisa berkenalan dan membangun hubungan tim yang solid. Lebih jauh, dengan interaksi yang terjadi, maka individu akan saling membangun kepercayaan, saling mengerti, dan lebih enak untuk bekerja sama.

    Tujuan ini memiliki manfaat yang berkelanjutan. Sebab, nantinya mereka yang ikut dalam kegiatan ini akan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama dalam ranah dunia kerja maupun pendidikan.

    3. Ruang Relasional

    Tujuan berikutnya dari orientasi adalah bisa menjadi ruang relasional bagi para individu, sehingga mereka dapat membangun hubungan dengan orang-orang baru. Ruang relasional ini terdiri dari aspek personal, seperti nilai, self-confidence, dan identitas. Selain itu, ruang relasional terdiri dari aspek sosial, seperti norma/etika dan budaya.

    Lewat interaksi yang terjadi, setiap individu dapat mengenal satu sama lain, sehingga memperkuat hubungan dalam kegiatan ini. Selain itu, setiap individu bisa memahami peran dan kontribusi mereka dalam hubungan tersebut, seperti preferensi dan gaya kerja. Ini dapat memperkuat kualitas hubungan interpersonal antar individu.

    Relasi ini, terutama dalam dunia kerja, sangat penting bagi mereka. Pasalnya, saat relasi ini dikembangkan, maka bisa memberi dampak pada pengembangan individu dan keperluan lainnya yang lebih menguntungkan.

    4. Tujuan Berdasarkan Konteksnya

    Secara spesifik, kegiatan orientasi memiliki tujuan yang dipisahkan berdasarkan konteksnya. Konteks ini meliputi konteks pendidikan (siswa di sekolah) dan konteks dunia kerja (karyawan di kantor). Adapun tujuannya masing-masing. yakni sebagai berikut:

    a. Tujuan dalam konteks pendidikan

    • Bisa beradaptasi pada kegiatan yang diadakan di lingkungan sekolah.
    • Memahami dan mematuhi peraturan yang berlaku di lingkungan sekolah.
    • Memudahkan adaptasi di lingkungan sekolah.
    • Mengembangkan diri secara optimal.
    • Peserta didik bisa memahami dan mengenali sekolah sebagai lingkungan mereka yang baru.
    • Peserta didik dapat mempersiapkan mental, fisik, dan emosional untuk nantinya berada di lingkungan baru.
    • Siswa bisa mengenal lebih dekat dengan peserta didik lainnya.

    b. Tujuan dalam konteks dunia kerja

    • Mengenalkan lingkungan kerja kepada calon karyawan.
    • Mencegah munculnya gangguan emosional dan psikologi ketika berada di tempat kerja baru.
    • Mempersingkat proses sosialisasi, agar karyawan baru dan lama dapat segera bekerja sama.
    • Mempersiapkan kondisi mental karyawan.
    • Memberi tahu peraturan, kebijakan, dan tanggung jawab yang telah ditetapkan perusahaan kepada calon karyawan.
    • Membangun rasa percaya diri karyawan baru.
    • Memastikan agar nantinya produktivitas dan interaksi antar karyawan tercipta secara efisien.
    • Memberi pelajaran bagi karyawan baru terkait pentingnya peran mereka dalam suatu perusahaan.
    • Meminimalisir kesalahan yang mungkin saja terjadi saat karyawan baru menerima tanggung jawabnya untuk yang pertama kali.

    Jenis-Jenis Orientasi

    Dalam konteks pendidikan dan dunia kerja, istilah ini memiliki bermacam-macam jenis. Kegiatan penyesuaian ini dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, jika dalam instansi pendidikan, maka dilakukan penyesuaian formal dan serial. Selain itu, jika perusahaan hanya merekrut 1-2 karyawan baru, maka dilakukan penyesuaian individual

    Agar lebih jelas, di bawah ini adalah beberapa jenis dari kegiatan penyesuaian atau pembiasaan, antara lain:

    1. Orientasi Formal

    Kegiatan ini biasanya dilaksanakan secara tepat dan terencana sebelum karyawan baru datang ke kantor untuk berkenalan dengan lingkungan kerjanya yang baru. Biasanya, kegiatan ini dilaksanakan jika jumlah individu yang baru cukup banyak.

    Dalam kegiatan ini, ada beberapa aspek yang akan diberitahukan kepada para individu atau kelompok. Pertama, masalah organisasional, yang meliputi sejarah dan perkembangan, struktur, pengenalan fasilitas, dan kebijakan/aturan organisasi. Kedua, ada perkenalan, seperti atasan, pelatih atau pendamping, dan rekan sejawat.

    Ketiga, mengenai sistem pengupahan, seperti gaji, intensif, dan tunjangan. Keempat, individu akan diberikan pemahaman mengenai tugas dan tanggung jawab mereka di dalam organisasi. Tugas dan tanggung jawab ini dideskripsikan secara rinci, agar meminimalisir kesalahan.

    2. Orientasi Informal

    Kegiatan pengenalan ini dilakukan apabila jumlah individu yang masuk sedikit, yakni sekitar 1 atau 2 orang saja. Dalam prakteknya, kegiatan ini memungkinkan individu yang baru untuk langsung bergabung ke dalam lingkungan tersebut. Dalam konteks dunia kerja, hal ini dilakukan setelah pengarahan tentang pekerjaannya.

    Nantinya, individu atau kelompok akan dibiarkan sendiri untuk mengenal lingkungan kerja dan tim. Dengan kata lain, individu akan belajar mengenai budaya, norma, dan etika dalam organisasi lewat interaksi yang terjadi dengan atasan, anggota tim, dan rekan kerja. Ini terjadi secara natural dan tidak diatur dalam program formal organisasi.

    Namun, dalam beberapa perusahaan, kegiatan ini dilaksanakan dengan cara senior mengajak individu berkeliling lokasi pekerjaan. Setelah itu, individu masuk pada proses pembimbingan melalui konsep pendampingan, agar mereka lebih paham terkait apa saja yang ada dalam organisasi.

    3. Orientasi Individu

    Program ini merupakan kegiatan yang dilakukan secara terencana pada sejumlah kecil individu dengan tujuan mengarahkan tugas secara personal. Umumnya, perusahaan kecil lebih suka mengadakan program kegiatan ini untuk satu orang secara individu, karena tidak mempekerjakan secara massal.

    Umumnya, program ini melibatkan serangkaian langkah atau strategi yang diambil oleh individu untuk mempelajari lebih jauh terkait aturan, tanggung jawab, tugas, dan norma yang ada di lingkungan baru. Jadi, biasanya kegiatan ini cenderung mempertahankan perspektif individu itu sendiri.

    Intinya, meski tugas diarahkan secara personal, tetapi individu lah yang bertanggung jawab mengatasi perubahan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Misalnya, berinteraksi dengan orang-orang di dalam lingkungan tersebut, agar lebih terbiasa.

    Jenis kegiatan ini biasanya digunakan untuk eksekutif atau anggota dewan yang baru bergabung dengan organisasi atau perusahaan.

    4. Orientasi Kelompok

    Kegiatan ini merupakan serangkaian program, dimana sekelompok individu baru yang berada di dalam lingkungan yang baru juga melakukan interaksi untuk membantu mereka menyesuaikan diri. Program ini juga dapat membantu para individu mendapatkan pemahaman yang baik tentang kelompok kerja atau suatu organisasi.

    Berbeda dengan penyesuaian individu, kegiatan ini biasa dilakukan organisasi besar yang melakukan perekrutan secara massal. Ini merupakan rangkaian dan prosedur dalam kegiatan untuk seluruh pekerja yang dipekerjakan dalam rentang waktu tertentu. Kegiatan ini juga disebut juga dengan kegiatan kolektif.

    5. Orientasi Serial

    Kegiatan ini merupakan program yang dilakukan dengan cara mengimplementasikan norma dan kriteria kepada individu yang punya pengalaman lebih banyak. Biasanya, hal ini dilakukan dalam konteks pendidikan, dimana ada peserta didik yang telah menjadi bagian dari sekolah dan melakukan orientasi di masa sebelumnya.

    Siswa tersebut akan memberikan orientasi kepada siswa baru berupa simultan dan dilakukan secara terus menerus. Alhasil, siswa yang telah menjalani kegiatan ini akan memberikan program penyesuaian lain di masa yang akan datang. Lebih lanjut, dalam ranah yang lebih umum, kegiatan ini menggunakan sistem mentor dan mentee.

    Anggota organisasi lama akan bertindak sebagai mentor. Sementara itu, anggota baru akan menjadi mentee. Mentor ini akan menjadi role model yang harus diikuti oleh mentee. Kegiatan jenis ini bertujuan untuk menjaga tradisi dan budaya yang sudah ada dalam suatu organisasi. Anggota baru diharapkan bisa melanjutkan budaya tersebut.

    6. Orientasi Disjungtif

    Penyesuaian ini seringkali dilakukan dengan cara yang personal, yakni dalam bentuk refleksi dan penyesuaian diri terhadap orang lain yang dianggap memiliki perilaku melenceng. Jenis penyesuaian ini dilakukan saat melihat individu yang dianggap tidak pantas untuk dijadikan role model atau panutan.

    Dalam konteks dunia kerja, program ini tidak membebankan anggota-anggota barunya untuk mengikuti budaya dan tradisi organisasi. Hal tersebut membuat program ini berkebalikan dengan penyesuaian serial. Alhasil, anggota baru ini dapat lebih kreatif dalam bersikap dan berperilaku di dalam suatu organisasi.

    Hanya saja, penyesuaian disjungtif bisa menjadi berbahaya, jika anggota baru ini menyesuaikan diri dengan anggota lama yang tidak sepantasnya menjadi panutan atau memiliki perilaku tidak baik. Tapi, penyesuaian ini juga membuat anggota baru menemukan nilai kontras yang bisa direnungkan dan diterapkan di dalam dirinya

    Elemen dalam Proses Orientasi

    Terdapat beberapa elemen yang ada di dalam program penyesuaian untuk individu/kelompok baru, terutama dalam konteks dunia kerja, antara lain:

    1. Perkenalan Perusahaan dan Regulasi Pemerintah

    Elemen orientasi ini akan menjelaskan tentang unit kerja yang bersangkutan hingga dengan unit kerja besar dan yang terkait dalam lingkungan yang baru, dalam hal ini perusahaan. Selain itu, penjelasan akan diberikan mengenai struktur organisasi dan orang-orang yang menjabat dalam perusahaan.

    Selain itu, saat bekerja di sebuah perusahaan, berarti karyawan baru tersebut patuh dalam aturan dari pemerintahan. Di Indonesia, ada beberapa pedoman yang mengatur ketenagakerjaan. Beberapa diantaranya ditulis dalam UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan UU No. 11 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja.

    Nantinya, perusahaan akan menjelaskan kepada karyawan apa saja kewajiban dan hak yang berlaku di dalamnya, agar sesuai dengan arahan pemerintah yang tertulis dalam Undang-Undang.

    2. Menjelaskan Visi Misi, Core Value, dan Budaya Perusahaan

    Bisa dibilang, dalam rangka memberikan penyesuaian yang efektif kepada karyawan baru, perusahaan perlu menjelaskan dan mengkomunikasikan secara jelas mengenai visi, misi, core value, dan budaya perusahan. Sebab, hal ini penting untuk mendorong karyawan baru, supaya bisa memiliki nilai dan misi yang sejalan.

    Selain itu, hal ini membantu karyawan memiliki pegangan yang kuat tentang nilai dan tujuan perusahaan, sehingga mereka bisa berkontribusi secara efektif dan memberikan kinerja maksimal. Alhasil, goals yang ditetapkan dalam pekerjaan bisa tercapai dengan lebih efektif.

    3. Sosialisasi Kebijakan

    Dalam dunia kerja, terkadang ada yang namanya conflict of interest, company policy, dan sebagainya. Saat orientasi, perusahaan perlu memberi pengertian tentang aturan yang akan menjaga keberlangsungan kinerja mereka. Tidak hanya itu, perusahaan juga harus memastikan bahwa karyawan memahami aturan atau kebijakan yang berlaku.

    Umumnya, beberapa kebijakan yang berlaku di suatu perusahaan antara lain:

    • Asuransi kesehatan.
    • Cuti keluarga dan medis.
    • Keamanan dan keselamatan kerja.
    • Kesempatan kerja yang setara.
    • Ketentuan lembur.
    • Tidak ada pelecehan.

    Perusahaan juga harus menerangkan pada kegiatan ini mengenai prosedur pelaporan ketika melihat adanya hal yang menyalahi kebijakan. Misalnya, langkah-langkah melaporkan dugaan pelanggaran berupa pelecehan atau aturan keselamatan. Ini harus tertulis dalam perjanjian, supaya individu di dalamnya mematuhi kebijakan yang berlaku.

    4. Memberitahu Manfaat

    Dalam kegiatan orientasi, terkadang individu yang menjadi calon karyawan akan mendapatkan informasi tentang apa manfaat dan tunjangan yang akan mereka dapatkan sesuai dengan posisi ataupun statusnya.

    Misalnya, jika kamu bergabung dengan suatu perusahaan dengan status kontrak, tentu manfaat yang akan didapatkan tidak akan sama dengan karyawan lain yang statusnya tetap/permanen. Hal tersebut harus dikomunikasikan dengan jelas, agar individu tidak merasa dirugikan oleh organisasi atau perusahan.

    5. Pengenalan pada Karyawan Lain dan Fasilitas

    Secara praktikal, perusahaan wajib memperkenalkan karyawan baru pada pegawai yang bersangkutan pada proses kegiatan penyesuaian. Karyawan baru harus mengetahui peran dan kontribusi yang dimiliki oleh rekan kerja. Selain itu, ini dapat memicu interaksi antara satu sama lain sampai membentuk hubungan kerja yang baik.

    Selain itu, calon karyawan pun akan diperkenalkan dengan fasilitas-fasilitas yang ada di lingkungan baru mereka. Bahkan, mereka akan diberikan peralatan yang mendukung untuk bekerja atau disebut juga dengan employee kit. Beberapa peralatan atau fasilitas yang didapatkan karyawan baru biasanya, yaitu seragam, buku catatan, hingga laptop.

    6. Tugas Karyawan

    Elemen berikutnya yang ada dalam proses kegiatan orientasi adalah adanya penjelasan mengenai tugas dari karyawan baru secara menyeluruh. Penjelasan ini terdiri dari informasi tentang metric untuk keberhasilan maupun kegagalan dalam pekerjaan.

    Selain itu, dijelaskan juga bagaimana, kapan, dan siapa yang akan menilai pekerjaan karyawan tersebut. Perusahaan juga wajib memberi tahu apa saja sumber daya yang disediakan untuk membantu karyawan belajar sampai berhasil dalam mengerjakan tugas dan kewajiban mereka.

    7. Monitoring dan Dokumentasi

    Demi melihat bagaimana karyawan baru mengeluarkan kemampuannya, maka perusahaan harus melakukan monitoring. Selain itu, karyawan baru ini harus mendapatkan arahan terkait target yang harus dicapai bersama.

    Saat terdapat kekurangan, perlu disampaikan hal yang bisa diterapkan untuk memperbaiki kekurangan ini.

    Selain itu, mendokumentasikan proses penyesuaian yang dilaksanakan perusahaan sangat penting. Sebab, ini menjadi bukti kepatuhan organisasi terhadap Undang-Undang dan untuk melindungi kepentingan perusahaan dalam segala jenis hukum. Ini meliputi klaim pengangguran, tunjangan kompensasi pekerja, dan sebagainya.

    Tahapan Orientasi di Dunia Kerja

    Umumnya, proses kegiatan penyesuaian karyawan baru dilaksanakan ketika seseorang pertama kali bergabung dalam sebuah perusahaan. Karyawan ini akan bertemu dengan anggota-anggota seperti atasan, anggota tim, atau rekan kerja untuk mempelajari apapun terkait lingkungan barunya.

    Berikut adalah beberapa tahap program penyesuaian yang dilakukan perusahaan terhadap karyawan baru mereka, antara lain:

    1. Pre-arrival

    Pre-arrival merupakan orientasi berupa serangkaian persiapan yang dilakukan sebelum kedatangan seseorang ke lingkungan yang baru, dalam hal ini perusahaan. Nantinya, tahapan ini memungkinkan individu yang akan mengalami perubahan dan penyesuaian lingkungan diperkenalkan dengan informasi yang relevan terkait perusahaan.

    Ini dilakukan sebelum mereka bergabung di sebuah perusahaan. Tahapan ini bertujuan untuk membantu individu atau kelompok dalam menyiapkan diri secara fisik, mental, dan emosional sebelum berkontribusi dalam lingkungan baru. Melalui persiapan yang baik, individu dapat mengatasi tantangan yang bisa muncul di lingkungan baru.

    Selain itu, tahapan ini bisa berupa proses seleksi yang digunakan perusahaan untuk mempekerjakan orang yang bisa melakukan pekerjaan dengan benar. Tujuan lainnya adalah untuk mencari orang-orang yang cocok dengan budaya perusahaan.

    Adapun kegiatan yang dilakukan adalah mengkomunikasikan info penting seperti lokasi, kebijakan, hingga prosedur yang berlaku. Kemudian, pengenalan lingkungan seperti budaya, kebiasaan, dan norma sosial di lingkungan perusahaan.

    2. Encounter

    Tahapan encounter merupakan tahapan orientasi, dimana karyawan baru memperoleh pemahaman yang lebih detail mengenai perusahaan. Karyawan baru akan dihadapkan pada situasi bahwa realita yang ada dalam benak mereka bisa jadi berbeda saat masuk dan merasakan lingkungan kerjanya tersebut.

    Sederhananya, tahapan ini membuat individu atau karyawan secara aktif terlibat dalam pengalaman langsung di perusahaannya yang baru. Dalam tahapan ini, akan digunakan metode sosialisasi untuk memandu karyawan baru ke budaya yang ada dan membantu mereka memahaminya. Metode sosialisasi meliputi cerita, ritual, dan bahasa.

    Lebih lanjut, tahap ini biasanya terjadi setelah karyawan tiba di tempat tujuan. Kemudian, mereka melakukan interaksi, menyesuaikan diri, dan eksplorasi lebih lanjut. Ini dilakukan dengan orang-orang, lingkungan, dan tugasnya.

    Tahapan ini juga memungkinkan karyawan untuk mempraktekan keterampilannya yang ia dapatkan selama pre-arrival. Bahkan, pengaplikasian ini dilakukan untuk memperdalam pemahaman mereka tentang lingkungan atau perusahaan yang baru.

    3. Metamorphosis

    Tahapan orientasi terakhir adalah metamorphosis atau penyesuaian. Tahapan ini menuntut karyawan baru belajar mengatasi berbagai inkonsistensi yang didapatkan di perusahaan. Hal tersebut membuat karyawan tersebut semakin terlatih dalam perusahaan yang baru.

    Alhasil, pada tahap ini, karyawan baru sudah dibekali kemampuan yang mumpuni dalam tugas dan tanggung jawab mereka. Mereka juga menunjukkan kinerja efektif dan dapat beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan nilai dan norma rekan kerjanya.

    Selain itu, tahapan ini merupakan hasil dari tahapan sebelumnya yang membuat karyawan merasa terintegrasi dalam situasi atau peran yang mereka hadapi dalam perusahaan. Hal-hal tersebutlah yang membuat tahapan ini dinamakan metamorphosis (perubahan), karena karyawan berhasil menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

    Output nya, karyawan menjadi lebih percaya diri dan nyaman dalam peran, budaya, dan tanggung jawab yang mereka hadapi. Dengan keberhasilannya beradaptasi, mereka dapat berkontribusi secara optimal dan mencapai potensi maksimal mereka.

    Sudah Tahu Apa Itu Orientasi?

    Itulah pembahasan mengenai kegiatan penyesuaian, mulai dari pengertian dan jenisnya. Secara umum, kegiatan ini juga berperan dalam memudahkan individu dalam beradaptasi di lingkungannya yang baru. Sedangkan dalam dunia kerja kegiatan ini menjadi bagian penting perusahaan untuk mengoptimalkan perkembangan bisnis.

    Namun, penting untuk kamu perhatikan bila terjadi hal yang menyimpang saat orientasi atau kekerasan, maka sebaiknya kamu laporkan ke pihak berwenang. Apalagi jika kegiatan tersebut dapat membahayakan nyawa seseorang.

  • NFT: Pengertian, Fungsi, Cara Kerja, dan Contoh Penerapan

    NFT: Pengertian, Fungsi, Cara Kerja, dan Contoh Penerapan

    Di era digital ini, banyak hal yang sudah menjadi bentuk digital, termasuk aset bernama Non-Fungible Token atau NFT. Secara umum, Anda dapat memahami Non-Fungible Token sebagai aset digital yang berkaitan dengan penggunaan blockchain. Ingin memahami lebih dalam tentang Non-Fungible Token? Simak selengkapnya di sini! 

    Apa Itu NFT? 

    Seiring dengan meningkatnya popularitas industri game dan karya seni digital, tercipta banyak inovasi baru yang memanfaatkan teknologi. Hal tersebut didukung oleh penggunaan internet yang semakin banyak diminati atau bahkan sudah menjadi hal wajib dalam kehidupan sehari-hari. 

    Kemajuan inovasi teknologi ini menyebabkan tidak terkendalinya penyebaran data sehingga menciptakan transaksi aset digital. Ketika masuk ke dalam dunia maya, mungkin masih banyak orang yang tidak bisa membedakan mana karya asli dan mana karya hasil dari duplikasi atau penggandaan. 

    Meskipun banyak orang yang bisa melakukan duplikasi hasil karya dari internet, namun karya dalam bentuk aset digital lebih terlindungi karena bersifat kekayaan intelektual. Nah, untuk mengatasi hal tersebut, Non-Fungible Token menjadi aset kripto atau token digital yang berasal dari teknologi blockchain

    Non-Fungible Token sendiri berasal dari dua kata, yaitu fungible dan token. Fungible merupakan pertukaran aset serupa dengan nilai yang sama. Misalnya uang kertas senilai Rp100.000,00 Anda tukar dengan lima lembar Rp50.000,00. Uang kertas tersebut meskipun berbeda nominal, namun tetap memiliki nilai yang sama. 

    Sedangkan token bisa Anda artikan sebagai aset untuk mewakili layanan, barang, dan benda lain yang memiliki nilai sama. Secara sederhana, NFT bisa Anda artikan sebagai sertifikat eksklusif dalam dunia maya dan berbentuk aset digital. 

    Pada aset digital tersebut mencantumkan informasi lengkap seperti nama pemilik awal, pemilik akhir, dan penerbit aset digital atau token tersebut. 

    Aset ini berbeda bentuknya jika Anda bandingkan dengan aset kripto lain. Ini karena Non-Fungible Token bersifat unik dan memiliki nilai berbeda tergantung pada pembeli. Keunikan lain dari aset Non-Fungible Token, yaitu tidak bisa Anda tukar dengan jenis mata uang kripto lainnya. 

    Non-Fungible Token memiliki potensi besar untuk masa depan seiring dengan canggihnya teknologi dengan tujuan, bentuk, dan cara kerja yang berbeda dari aset lain. Jika Anda ingin mendaftarkan Non-Fungible Token, bisa memanfaatkan produk seperti musik, gambar, game, video, dan e-book

    Fungsi Non-Fungible Token 

    Setelah mengetahui pengertian secara lengkap, saatnya Anda juga memahami tentang fungsi NFT. Berikut uraiannya: 

    1. Menjual Buku Digital Bekas 

    Fungsi pertama dari Non-Fungible Token adalah bisa Anda manfaatkan untuk menjual buku bekas. Contohnya adalah buku pelajaran yang sudah pasti tidak akan Anda gunakan secara terus menerus dan kemungkinan Anda berniat untuk menjualnya. Hal tersebut juga menjadi alasan buku fisik masih dibutuhkan sampai sekarang. 

    Dengan adanya Non-Fungible Token, buku-buku tersebut bisa Anda konversi menjadi buku dalam bentuk aset digital dengan informasi kepemilikan yang lebih lengkap. Dengan begitu, Anda sebagai pihak penjual pertama akan mendapatkan royalti dari hasil penjualan selanjutnya. 

    2. Mengabadikan Karya Jurnalistik 

    Fungsi selanjutnya, yaitu penggunaan teknologi dari blockchain ini bersifat permanen sehingga seluruh data didalamnya akan tetap tersimpan. Tentu saja, hal ini bermanfaat bagi para jurnalis untuk mengabadikan karya jurnalistiknya dan bisa tersimpan dalam waktu puluhan tahun. 

    3. Lapisan Keamanan dan Autentikasi Produk Fisik 

    NFT tidak sepenuhnya berupa produk digital yang bisa menggantikan produk fisik. Namun, juga bisa berperan sebagai digital twin produk fisik untuk memberikan lapisan keamanan maupun autentikasi produk fisik tersebut. 

    Produk fisik tersebut bisa apa saja, contohnya adalah prangko yang bermanfaat dalam industri penerbitan. Prangko dalam bentuk kripto adalah prangko fisik dalam bentuk replika digital yang tersimpan pada teknologi blockchain. Sehingga data pemiliknya tercatat dengan baik dan lebih aman dengan adanya kode QR yang unik. 

    4. Blockchain Meminimalisir Berita Hoax 

    Selain memiliki sifat permanen, blockchain juga berfungsi saat Anda membutuhkan transparansi data. Pada industri media, teknologi dengan aset digital dapat meminimalisir atau mengatasi permasalahan adanya berita hoax

    Hal tersebut terjadi karena pemanfaatan teknologi AI untuk membaca artikel sekaligus menunjukkan kredibilitasnya hanya dalam waktu beberapa detik saja. 

    Konten artikel yang sudah lolos bisa Anda publikasikan dengan menyertakan informasi lengkap. Misalnya seperti waktu pembuatan artikel, penulis, dan revisi apa saja untuk menjaga keaslian dan akuntabilitasnya. 

    Cara Kerja NFT 

    Pada dasarnya, Non-Fungible Token merupakan bagian dari teknologi blockchain. Oleh sebab itu, pembeli aset digital bisa melakukan verifikasi sebagai pemilik tunggal dari aset yang dibeli tersebut. Setelah membayar, maka tidak ada yang bisa membatalkan hak atas kepemilikan aset yang sudah menjadi milik pembeli. 

    Non-Fungible Token juga merupakan aset digital yang tidak bisa produksi secara berulang, dengan kata lain bersifat unik. Hal tersebut juga terbukti melalui mata uang kripto pada blockchain sebagai bukti pembeliannya. 

    Dalam dunia aset digital ini, terdapat istilah minting NFT yang artinya proses perubahan file digital menjadi sebuah koleksi kripto dalam aset teknologi blockchain. Proses perubahan tersebut memerlukan pihak ketiga sebagai marketplace. Seperti OpenSea, Mintable, Theta Drop, MakersPlace, dan lain sebagainya. 

    Contoh Penerapan NFT

    Setelah mengetahui pengertian, fungsi, dan cara kerjanya. Maka, agar Anda bisa memahaminya lebih dalam, perhatikan contoh penerapannya berikut ini : 

    1. Dalam Sektor Pertanian 

    Non-Fungible Token merupakan teknologi kripto yang terkenal dengan popularitasnya dalam dunia kesenian. Ini karena keunikan dan karakter seninya yang dikemas dalam bentuk digital dan memiliki banyak peminat. Karya seni tersebut bisa Anda publikasikan secara online berupa konten menarik. 

    Keuntungan menyebarkan konten seni digital dalam bentuk aset Non-Fungible Token adalah mendapatkan jaminan atas kepemilikan karya. Hal tersebut juga berfungsi untuk meminimalisir terjadinya bahaya plagiarisme maupun pencurian digital. 

    Pada Non-Fungible Token juga terdapat sistem smart contract yang berfungsi agar pembuat karya seni bisa memantau dan mencatat persentase royalti yang didapatkan dari aset digital. 

    2. Dalam Sektor Bisnis 

    Contoh penerapan selanjutnya, yaitu pada industri bisnis. Dalam hal ini, NFT berperan sebagai penghubung aset fisik seperti properti maupun bukti kepemilikan tanah. Bukti tersebut akan lebih aman jika Anda simpan ke dalam blockchain melalui proses verifikasi yang cukup praktis. 

    Selain itu, pembeli tidak perlu khawatir akan kehilangan barang berharga seperti sertifikat akibat tindakan pencurian. Ini karena data dalam teknologi blockchain sudah tercatat dengan lengkap dan aman. 

    3. Dalam Sektor Hiburan 

    Contoh penerapan lain, yaitu pada sektor hiburan seperti barang koleksi, olahraga, gim, dan lain sebagainya. Non-Fungible Token membuka semacam pasar yang berfungsi sebagai tempat barang koleksi dan memiliki nilai yang cukup besar. 

    Beberapa contoh barang koleksi yang sudah populer seperti cuplikan pertandingan NBA Top Shot, kucing virtual, serta avatar unik dari cryptopunks. Contoh barang koleksi tersebut bisa mencapai angka jutaan dolar. 

    Kemudian dalam dunia blockchain, terdapat pasar gaming yang juga menjanjikan dalam dunia kripto. Contoh yang cukup terkenal adalah Axie Infinity dan CryptoKitties.

    CrytoKitties merupakan tempat untuk memelihara, mengumpulkan, dan merawat kucing berbasis digital. Sedangkan Axie Infinity akan membuat pemain mengumpulkan hewan peliharaan untuk melawan pemain lainnya.

    Sudah Mengerti tentang Non-Fungible Token (NFT)? 

    Jika Anda berminat untuk memiliki aset digital NFT, maka pastikan mempelajari terlebih dahulu tentang peraturan dan produk apa saja yang bisa Anda jual menjadi aset digital. Sebab, pasarnya masih baru dan berisiko. Salah satu marketplace tempat Anda bisa melakukan transaksi jual beli aset digital ini adalah OpenSea.