Blog

  • Memahami Hasil Sidang BPUPKI yang Pertama dan Kedua

    Memahami Hasil Sidang BPUPKI yang Pertama dan Kedua

    Mengetahui hasil sidang BPUPKI yang pertama dan kedua bisa menjadi cara kita memahami suasana khidmat bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan mutlaknya. Rapat BPUPKI memiliki peran penting dalam awal berdirinya fondasi dan undang-undang bangsa Indonesia. 

    Apa Peran BPUPKI untuk Bangsa Indonesia?

    Sebelum membahas tentang hasil sidang BPUPKI yang pertama dan kedua, alangkah baiknya jika kita tahu tentang peran penting BPUPKI.

    George S. Kanahele menjelaskan pembentukan dan peran BPUPKI dalam The Japanese Occupation of Indonesia (1967:184). 

    George menjelaskan, pada 1 Maret 1945, Jenderal Dai Nippon yang mengelola wilayah Jawa, Kumakichi Harada mengumumkan pembentukan organisasi baru yang bernama Dokuritsu Junbi Cosakai atau BPUPKI (Badan Penyelidikan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). 

    BPUPKI sudah ada sejak tanggal 1 Maret 1945 dan juga bertepatan dengan sidang pertamanya. Sidang pertama adalah sidang yang Dr. Radjiman Wediodiningrat pimpin. Sementara itu, sidang pertama BPUPKI berlangsung hingga tanggal 1 Juni 1945. 

    Pada sidang pertama BPUPKI, tiga pembicara memberi usul tentang pembentukan dasar negara, atau apa yang biasa kita sebut Pancasila. 

    Dalam sidang BPUPKI I yang berlangsung tanggal 29 Mei 1945, Mohammad Yamin berbicara tentang Asas dan Dasar Negara Indonesia Merdeka. 

    Selanjutnya, R. Soepomo berbicara tentang Dasar-dasar Negara Indonesia Merdeka. Namun, dia mengutarakan pendapatnya pada sidang BPUPKI yang pada tanggal 31 Mei 1945.

    5 Tugas Utama BPUPKI

    Peta Indonesia
    Peta Indonesia | Sumber Gambar: Pexels.com

    BPUPKI memiliki tugas utama yang sangat penting dalam proses perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Tugas BPUPKI perlu kamu ketahui sebelum kita mempelajari tentang hasil sidang BPUPKI yang pertama dan kedua. Tugas utama BPUPKI adalah sebagai berikut, yaitu:

    1. Merumuskan Dasar Negara

    Salah satu tugas utama BPUPKI adalah merumuskan dasar negara bagi Indonesia yang merdeka. 

    Merumuskan dasar negara mencakup penyusunan prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang akan menjadi dasar konstitusi negara. 

    Tugas ini juga termasuk menyusun falsafah negara, struktur pemerintahan, dan hak asasi manusia.

    2. Menentukan Nama Negara 

    BPUPKI juga bertugas menentukan nama negara. Tugas yang satu ini memiliki keterkaitan erat dengan hasil sidang BPUPKI yang pertama dan kedua. 

    3. Mendorong Proklamasi Kemerdekaan

    BPUPKI memberikan dasar hukum dan legitimasi bagi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang dilakukan pada tanggal 17 Agustus 1945. 

    Pidato Soekarno yang membacakan teks dasar (yang mencakup Pancasila) pada tanggal 1 Juni 1945 adalah langkah awal menuju proklamasi tersebut.

    4. Mengusulkan Pembentukan PPKI

    BPUPKI mengusulkan pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). PPKI adalah lembaga yang mengatur proklamasi kemerdekaan, pembentukan pemerintahan awal, hingga langkah-langkah awal dalam menjalankan negara.

    5. Menjadi Landasan Konstitusi

    Hasil kerja BPUPKI, terutama Pancasila dan Rancangan Undang-Undang Dasar 1945, menjadi landasan konstitusi bagi Indonesia yang merdeka. Undang-Undang Dasar 1945 masih menjadi konstitusi negara Indonesia hingga saat ini.

    Hasil Sidang Pertama BPUPKI

    Sidang BPUPKI
    Sidang BPUPKI | Sumber gambar: Gramedia.net

    Membahas hasil sidang BPUPKI yang pertama dan kedua tentu harus mengetahui hasil sidang BPUPKI yang pertama. Sidang pertama BPUPKI berlangsung pada tanggal 29 Mei 1945 menjadi awal serangkaian pertemuan yang sangat penting dalam sejarah Indonesia. Berikut hasil sidang pertama BPUPKI, yaitu:

    1. Pembentukan Panitia Sembilan

    Hasil sidang pertama dalam BPUPKI adalah pembentukan panitia 9. Dalam pembentukan panitia ini, terdapat beberapa tokoh penting yang berperan penting dalam persiapan kemerdekaan NKRI nantinya. 

    Panitia sembilan juga  berperan dalam pembentukan piagam Jakarta. Berikut adalah anggota dari panitia sembilan, yaitu:

    1. Mr. Achmad Soebardjo
    2. Drs. Moh. Hatta
    3. Mr. Moh. Yamin
    4. Mr. Muhammad Yamin
    5. KH. Wachid Hasyim
    6. Abdul Kahar Muzakir
    7. Abikoesno Tjokrosoejoso
    8. H. Agus Salim
    9. Mr. A.A. Maramis.

    Dengan mengetahui tokoh-tokoh nasional di balik panitia sembilan, kita akan lebih mudah mengetahui dan memahami hasil sidang BPUPKI yang pertama dan kedua.

    2. Perumusan Pancasila

    Konsep awal Pancasila, yang mencakup lima asas dasar, diusulkan dalam sidang pertama ini oleh beberapa anggota. Anggota yang ikut berpartisipasi dalam perumusan dasar negara adalah Moh. Yamin, Mr. Supomo, dan Ir. Soekarno. Berikut adalah asas-asas dari Pancasila yang para tokoh tersebut usulkan:

    1. Mr. Moh. Yamin (29 Mei 1945)

    Moh. Yamin menyampaikan 5 asas dasar dari Pancasila melalui pidatonya, yang berisikan sebagai berikut.

    a) Peri Kebangsaan

    b) Peri Kemanusiaan

    c) Peri Ketuhanan

    d) Peri Kerakyatan

    e) Kesejahteraan Rakyat

    2. Mr. Supomo (31 Mei 1945)

    Sedangkan, Soepomo mengusulkan pendapatnya tentang 5 dasar negara sebagaimana bunyi berikut ini. 

    a) Persatuan

    b) Kekeluargaan

    c) Keseimbangan Lahir dan Batin

    d) Musyawarah,

    e) Keadilan Rakyat

    3. Ir. Soekarno (1 Juni 1945)

    Soekarno juga menyampaikan pendapatnya tentang rumusan dasar negara melalui pidatonya. Pendapat dari Soekarno inilah yang menjadi awal tercetusnya istilah Pancasila, yang memiliki makna “lima dasar”. Berikut adalah 5 dasar negara yang Ir. Soekarno usulkan, yaitu:

    a) Kebangsaan Indonesia

    b) Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan

    c) Mufakat atau Demokrasi

    d) Kesejahteraan Sosial

    e) Ketuhanan Yang Maha Esa.

    4. Piagam Jakarta

    Setelah terdapat beberapa usulan tentang dasar negara dari tokoh-tokoh penting di atas, pada tanggal 22 Juni 1945, panitia sembilan menggelar sebuah pertemuan. Pertemuan tersebut menghasilkan hukum dasar yang kita kenal sebagai Piagam Jakarta atau Jakarta Charter. Berikut adalah isi dari Piagam Jakarta tersebut, yaitu:

    a) Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya

    b) Kemanusiaan yang adil dan beradab

    c) Persatuan Indonesia

    d) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

    e) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

    Hasil Sidang Kedua BPUPKI

    Hasil sidang kedua BPUPKI berakhir pada 16 Juli 1945 setelah beberapa kali melewati pembahasan karena adanya perbedaan pendapat. BPUPKI menyetujui rancangan undang-undang dasar negara berikut ini.

    • Pernyataan Indonesia Merdeka. 
    • Pembukaan yang memuat Pancasila secara lengkap. 
    • Batang Tubuh Undang-Undang Dasar yang kemudian dinamakan Undang-Undang Dasar 1945.

    Sedangkan, batang tubuh dari UUD 1945 yang menjadi hasil sepakat dari sidang BPUPKI kedua meliputi:

    • Wilayah negara Indonesia adalah sama dengan bekas wilayah Hindia-Belanda dahulu. Kemudian ditambah Malaya, Borneo Utara (sekarang wilayah Sabah dan Serawak di Malaysia, serta wilayah Brunei Darussalam), Papua, Timor-Portugis (sekarang Timor Leste), dan pulau-pulau di sekitarnya. 
    • Bentuk negara Indonesia adalah Negara Kesatuan. 
    • Bentuk pemerintahan Indonesia adalah Republik. 
    • Bendera nasional Indonesia adalah Sang Saka Merah Putih. 
    • Bahasa nasional Indonesia adalah Bahasa Indonesia.

    Dengan begitu, pada tanggal 17 Juli 1945, hasil sidang BPUPKI kedua disahkan dan berakhir. Hasil sidang BPUPKI yang pertama dan kedua menjadi pondasi penting dalam keutuhan dan hukum di NKRI nantinya.

    Baca Juga: Susunan Organisasi BPUPKI & Latar Belakang Pembentukannya

    Jadi Paham Hasil Sidang BPUPKI yang Pertama dan Kedua?

    Indonesia Merdeka
    Indonesia Merdeka | Sumber Gambar: Pexels.com

    Setelah mengetahui sejarah dan hasil sidang BPUPKI yang pertama dan kedua, kita bisa menyimpulkan betapa berharganya mengenali sejarah. Dengan mengenali sejarah, kita bisa lebih menghargai dan mencintai negara yang sudah pahlawan kita perjuangkan penuh pengorbanan.

  • Pengertian Orde Lama, Orde Baru & Reformasi dan Ciri-cirinya

    Pengertian Orde Lama, Orde Baru & Reformasi dan Ciri-cirinya

    Memahami pengertian Orde Lama, Orde Baru, & Reformasi merupakan hal yang sangat penting. Ini karena ketiga periode tersebut sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia sampai sekarang.

    Seperti yang kita tahu, Indonesia mengalami beberapa perubahan sistem kekuasaan. Dimulai dari era orde baru hingga masa sekarang yaitu era demokrasi. Masing-masing era mempunyai ciri khasnya masing-masing. Berikut pembahasan selengkapnya.

    Pengertian Orde Lama, Orde Baru, & Reformasi

    Terdapat informasi mengenai masa Orde Lama sampai Era Reformasi beserta perbedaannya yang perlu Anda ketahui. Adapun pengertian Orde Lama, Orde Baru, & Reformasi antara lain:

    1. Orde Lama

    Ir. Soekarno sedang berpidato
    Ir. Soekarno sedang berpidato | Sumber gambar: Wikimedia.org

    Masa Orde Lama berlangsung kurang lebih 22 tahun yaitu pada 1945 hingga 1966. Pada masa tersebut Indonesia dipimpin oleh Sang Proklamator sekaligus Presiden pertama yaitu Ir. Soekarno. Di masa kepemimpinan Bung Karno, Indonesia telah mengalami beberapa pergantian sistem pemerintahan.

    Beberapa di antaranya seperti sistem presidensial, demokrasi liberal, parlementer, sampai demokrasi terpimpin. Orde Lama merupakan masa di mana Indonesia masih baru merdeka. Hal tersebut membuat pemerintahan Indonesia masih belum stabil.

    Bahkan, periode tersebut masih menjadi periode yang sangat sibuk baik bagi pemerintah maupun rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan. Ini karena Belanda masih ingin menjajah kembali Indonesia, padahal Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaannya.

    Selain harus menangani ancaman dari luar, negara Indonesia juga mendapatkan gangguan dari dalam. Adapun gangguan tersebut berkenaan dengan adanya perbedaan ideologi yang hendak ditegakkan di Indonesia.

    Karena perbedaan tersebut menimbulkan banyak pemberontakan pada masa Orde Lama. Salah satu yang terkenal adalah pemberontakan PKI di Madiun dengan pimpinannya Musso pada tahun 1948. Lalu, ada pemberontakan dari NII atau Negara Islam Indonesia dengan pimpinannya bernama Kartosuwiryo di bulan Agustus 1949.

    Selanjutnya ada pemberontakan yang bahkan sampai terkenang dan menjadi peringatan di setiap tanggal 30 September yaitu G30S/PKI pimpinan dari DN Aidit pada tanggal 30 September 1965. Karena permasalahan keamanan maupun dinamika politik yang berlangsung membuat Indonesia belum banyak melakukan pembangunan.

    Namun, masih ada peninggalan di masa Orde Lama yang sangat ikonik hingga sekarang yaitu Stadion Utama GBK atau Gelora Bung Karno yang berada di Senayan, Jakarta. Pembangunan stadion tersebut bertujuan sebagai tempat penyelenggaraan Asian Games IV serta Ganefo atau Games of The News Emerging Forces.

    Peninggalan lain pada masa Orde Lama adalah Masjid Istiqlal, Bendungan Jatiluhur, Monumen Nasional atau Monas, serta Pabrik Krakatau Steel meskipun baru selesai pada masa Orde Baru. Lalu, pemerintahan Bung Karno juga merencanakan untuk melakukan pembangunan nasional dalam waktu 8 tahun.

    Akan tetapi, rencana tersebut ternyata belum terealisasikan karena Indonesia masih harus siap-siap untuk menghadapi Belanda yang berusaha merebut Irian Barat. Belum lagi dengan terjadinya iklim politik yang masih tidak kondusif.

    • Ciri Orde Lama

    Sementara itu, beberapa hal yang menjadi ciri khas dari masa pemerintahan Orde Lama antara lain:

    • Presiden serta wakilnya mempunyai peran yang tak dapat diganggu gugat. Dengan kata lain, peran keduanya cenderung dominan
    • Presiden memiliki hak untuk membubarkan DPR
    • Menteri mempunyai tanggung jawab terhadap kebijakan pemerintahan
    • Perdana menteri merupakan seseorang yang diangkat Presiden
    • Terbatasnya partai politik
    • Berkembangnya paham/ideologi komunis
    • Meluaskan peran ABRI atau Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang merupakan unsur sosial politik

    2. Orde Baru

    Presiden Soeharto
    Presiden Soeharto | Sumber: VOI.id

    Masih tentang pengertian Orde Lama, Orde Baru & Reformasi. Awal mula kekuasaan pada masa Orde Baru yaitu ketika Soeharto menjabat sebagai presiden menggantikan Bung Karno. Pemberian nama Orde Baru tersebut bertujuan untuk membandingkan antara masa Bung Karno dengan Soeharto.

    Pada masa Soeharto, sistem pemerintahan Indonesia masih memakai presidensial. Artinya, keputusan eksekutif di tangan presiden dan bentuk pemerintahan Indonesia pada waktu itu adalah republik. Lalu untuk dasar konstitusi di masa Orde Baru yaitu UUD 1945.

    Di masa Soeharto, Indonesia lebih berfokus untuk bagaimana caranya menstabilkan kondisi nasional. Hal ini mencakup bidang politik, ekonomi, sosial, maupun budaya. Pada masa yang sama juga, perkembangan demokrasi semakin maju. Lalu inflasi menurun serta mata uang Indonesia lebih stabil.

    Meskipun begitu, kekuasaan dari semua pemerintahan di waktu itu mutlak berada di tangan presiden. Kondisi tersebut yang menjadi salah satu penyebab runtuhnya masa Orde Baru karena adanya krisis moneter yang terjadi pada 1997.

    Krisis tersebut menyebabkan ekonomi Indonesia semakin parah. Selain Indonesia, ada beberapa negara lain yang mengalami kondisi serupa meskipun mungkin tak separah seperti yang terjadi pada Indonesia.

    Karena krisis yang berkepanjangan menjadikan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) semakin merajalela dan angka kemiskinan semakin lama semakin meningkat. Ketimpangan yang sangat mencolok tersebut mengakibatkan Gerakan demokrasi yang menuntut pemerintah segera melakukan tindakan untuk memperbaiki kondisi ekonomi. 

    Masa Orde Baru berakhir di tahun 1998 lewat pengunduran diri Presiden Soeharto sekaligus menjadi awal kemunculan masa Reformasi.

    • Ciri Pemerintahan di Masa Orde Baru

    Adapun beberapa hal yang menjadi ciri khas Orde Baru antara lain:

    a. Militer Semakin Berpengaruh atau Dwifungsi ABRI

    Ciri yang pertama yaitu kuatnya pengaruh militer serta ABRI. Sebenarnya hal tersebut terlihat sejak masa Orde Lama. Pada kabinet Dwikora isinya banyak dari perwira tinggi AD atau Angkatan Darat. Akan tetapi, Orde Baru kemudian melakukan perubahan.

    Fungsi ABRI di dalam tingkat sipil pun semakin kuat. Kemudian Partai Golkar menjadi mesin politik utama yang isinya banyak dari anggota militer.

    b. Terbatasnya Pilihan Politik

    Ciri kedua yaitu terbatasnya pilihan politik. Terlihat dari pemilu yang berlangsung di tahun 1971 di mana hanya ada 9 partai politik serta satu golongan karya. Berbeda dengan pemilu pada 1977 yang hanya mempunyai 2 partai politik yaitu PPP dan PDI serta 1 golongan karya.

    Tujuan pembatasan pilihan politik tersebut adalah membatasi kemunculan dan berkembangnya ideologi baru. Pemerintah Orde Baru berpendapat bahwa kekacauan yang ada di masa Orde Lama karena banyak berkembangnya ideologi baru. Adanya penyederhanaan tersebut mampu menghadirkan kestabilan di dalam politik pemerintah.

    c. Pembangunan Masif

    Masa pemerintahan Soeharto memang terkenal banyak melakukan pembangunan sehingga Soeharto mendapat julukan sebagai Bapak Pembangunan. Adapun Pembangunan tersebut sebenarnya juga menjadi respons akibat kekacauan ekonomi yang berlangsung di tahun 1965.

    Pemerintah Orde Baru juga membuka peluang investor asing dan dalam negeri untuk usaha di Indonesia. Diharapkan pembangunan tersebut mampu memperlancar perekonomian Indonesia.

    d. Pemerintahan Sentralistik

    Orde Baru juga terkenal karena kepemimpinannya yang bersifat sentralistik. Adanya sistem pemerintahan yang sentralistik tersebut memunculkan kendali pusat akan pemerintahan di daerah. Jadi, segala keputusan harus diambil oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus mematuhinya.

    3. Era Reformasi

    Presiden Joko Widodo dan Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
    Presiden Joko Widodo dan Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono | Sumber gambar: Wikimedia.org

    Masih terkait pengertian Orde Lama, Orde Baru, & Reformasi, kali ini kita akan membahas Era Reformasi. Masa Reformasi merupakan transisi dari Orde Baru dengan tujuan untuk menata kehidupan dan sistem pemerintahan agar lebih berdemokrasi. 

    Reformasi merupakan periode di mana Presiden BJ Habibie menjabat sebagai presiden dan menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri. Reformasi di Indonesia terjadi pada 1998 dan menjadi tanda kejatuhan Orde Baru. 

    Masa Reformasi terjadi karena sudah banyak krisis, baik di bidang ekonomi, politik, sosial, hukum, maupun krisis kepercayaan masyarakat pada pemerintah.

    Era Reformasi juga menjadi awal kemunculan partai politik independen yang tak terpengaruh kekuasaan birokrat militer. Pemilihan, baik untuk presiden serta wakil presiden juga berlangsung. Bukan hanya itu, ada juga pemilihan untuk anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan kepala daerah yang berlangsung di tahun 2004.

    Sebagai tambahan, bahwa selama era Reformasi tersebut sistem demokrasi semakin berkembang. Kesadaran masyarakat pun semakin meningkat bahwa mereka mempunyai peran penting di dalam perpolitikan nasional. Tak heran banyak masyarakat yang antusias untuk mengikuti pemilu secara terbuka.

    Kemudian sejak saat Reformasi hingga sekarang, Indonesia sudah dipimpin setidaknya oleh lima presiden. Kelima presiden tersebut yaitu BJ Habibie, Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid), Megawati Soekarnoputri, SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), serta Jokowi (Joko Widodo).

    • Ciri Masa Reformasi

    Beberapa ciri dari masa Reformasi antara lain:

    • Era Reformasi bermaksud menata struktur pemerintahan serta kenegaraan secara keseluruhan. Di dalamnya juga mencakup konstitusi serta perundang-undangan yang dianggap menyimpang.
    • Banyak perubahan yang lebih bagus, baik di bidang ekonomi, politik, sosial budaya, keamanan, serta pertahanan.
    • Banyak yang berharap adanya era Reformasi mampu menghapus serta menghilangkan beragam kebiasaan serta cara hidup masyarakat yang tak sesuai hukum. Misalnya kekuasaan yang terkesan otoriter, KKN, maupun berbagai penyimpangan yang dilakukan oknum tak bertanggung jawab.

    Sudah Tahu Pengertian Orde Lama, Orde Baru, & Reformasi?

    Sekian pembahasan tentang pengertian Orde Lama, Orde Baru, & Reformasi. Kesimpulannya, setiap era mempunyai cirinya masing-masing berdasarkan kondisi yang dialaminya. Memahami sejarah tersebut sangat penting untuk menambah wawasan Anda bahwa Indonesia telah mengalami beberapa era hingga sekarang.

  • Sejarah Lahirnya Pancasila, Simak Urutan dan Maknanya

    Sejarah Lahirnya Pancasila, Simak Urutan dan Maknanya

    Sebagai dasar negara, penting bagi semua lapisan masyarakat mengetahui sejarah lahirnya Pancasila berikut urutan dan makna di baliknya. Pancasila merupakan landasan utama yang wajib dijadikan pedoman oleh seluruh elemen bangsa di kehidupan sehari-hari mereka.

    Bagaimana Pancasila bisa hadir hingga menjadi akar dari NKRI? Seperti apa urutan isi dari Pancasila berikut makna-maknya yang terkandung di dalamnya? Jangan melewatkan artikel sampai akhir untuk memperoleh penjelasan lengkapnya!

    Sejarah Lahirnya Pancasila sebagai Dasar Negara

    Kelahiran Pancasila sebagai pedoman utama NKRI dimulai pada tahun terakhir pendudukan Jepang di tanah air. Tepatnya pada awal tahun 1945, di mana Jepang telah mengalami guncangan hebat akibat kekalahan perang.

    Namun, kabar tersebut belum sampai ke telinga para aktivis dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Jepang kemudian mengatur siasat dengan menjanjikan kemerdekaan terhadap Indonesia sebagai negara persemakmuran.

    Guna menunjukkan itikad dalam merealisasikan Indonesia sebagai persemakmuran Jepang, pihak penjajah kemudian membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia alias BPUPKI.

    Rumusan Awal Pancasila oleh BPUPKI

    BPUPKI
    BPUPKI I Sumber Gambar: Kompaspedia

    Dalam sidang pertama BPUPKI 24 Mei 1945, Pancasila yang pada saat itu belum tercetus namanya mulai dirumuskan oleh para anggota. Adapun rumusan-rumusan yang diajukan oleh para anggota adalah sebagai berikut:

    1. Rumusan Dasar Negara oleh Muhammad Yamin

    Muhammad Yamin sebagai salah satu tokoh pemuda paling menonjol pada masa itu mengajukan rumusan berisi:

    • Kebangsaan.
    • Kemanusiaan.
    • Kerakyatan.
    • Ketuhanan.
    • Kesejahteraan Rakyat.

    2. Rumusan Dasar Negara oleh Mr. Soepomo

    Sementara itu, aktivis pemuda lainnya, Mr. Soepomo tidak ingin ketinggalan dengan mengajukan konsep dasar negara yang isinya:

    • Rasa nasionalisme.
    • Takut kepada Tuhan.
    • Kerakyatan.
    • Kekeluargaan.
    • Keadilan Rakyat.

    3. Rumusan Dasar Negara oleh Ir. Soekarno

    Rumusan dasar negara yang terakhir dalam sejarah lahirnya Pancasila berasal dari Bapak Proklamator RI, yaitu Ir. Soekarno. Konsep yang diajukan sendiri memiliki isi sebagai berikut:

    • Nasionalisme.
    • Kemanusiaan.
    • Kesepakatan Demokrasi.
    • Kesejahteraan Sosial.
    • Ketuhanan yang Maha Esa.

    Setelah ketiga tokoh tersebut mengajukan rumusan masing-masing, sidang pertama BPUPKI ditutup. Sidang kedua masuk dalam agenda penjadwalan dengan tujuan membuat rumusan final dari dasar negara tersebut.

    Rumusan Akhir Pancasila oleh BPUPKI

    Sidang kedua dari BPUPKI akhirnya terlaksana pada 1 Juni 1945. Pada saat inilah Ir. Soekarno mencetuskan nama Pancasila atau lima prinsip utama untuk menjadi sebutan bagi pedoman negara Indonesia. Tanggal tersebut kemudian menjadi peringatan nasional Hari Lahir Pancasila.

    Pada saat itu pula, terbentuk Panitia Sembilan yang bertugas memutuskan rumusan final Pancasila, dengan anggotanya sebagai berikut:

    1. Ir. Soekarno.
    2. Muhammad Hatta.
    3. Abikoesno Tjokrosoejoso.
    4. Agus Salim.
    5. Wahid Hasjim.
    6. Muhammad Yamin.
    7. Abdul Kahar Muzakir.
    8. Mr. AA Maramis.
    9. Achmad Soebardjo.

    Kelompok inilah yang kemudian mengesahkan Pancasila yang juga disebut sebagai Piagam Jakarta dengan rumusan final sebagai berikut:

    • Ketuhanan yang Maha Esa dengan kewajiban manusia dalam menjalankan ibadah sesuai keyakinan yang dianutnya.
    • Kemanusiaan yang adil dan beradab sebagai cerminan karakter bangsa.
    • Persatuan Indonesia bahwa perbedaan tidak menghalangi masyarakat untuk bersatu.
    • Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan.
    • Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa adanya kesenjangan.

    Meskipun perumusan di atas sudah final, Pancasila baru dapat pengesahan resmi pada 18 Agustus 1945 atau sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan. Hal itu dilakukan tidak lain setelah kehancuran Jepang baru tersebar sehingga dianggap tidak lagi mempunyai hak dan kekuasaan mengintervensi Indonesia.

    Makna Mendalam Tentang Pancasila

    Makna Isi Pancasila
    Makna Isi Pancasila I Sumber Gambar: Kemenko PMK

    Jelas bukan bagaimana sejarah lahirnya Pancasila bukanlah merupakan perjalanan yang singkat? Namun, hal itu sebanding dengan kandungan makna dasar negara yang diperjuangkan tersebut. Di bawah ini merupakan pembahasan mendalam tentang masing-masing makna dari setiap asas dalam Pancasila:

    1. Sila yang Pertama

    Asas pertama, yaitu memberikan pedoman tentang keyakinan bahwa, dasar utama pelaksanaan suatu negara adalah Tuhan Yang Maha Esa. Manusia harus memeluk keyakinan dan menjalankan kewajiban sebagai sosok beragama, yaitu beribadah sesuai tuntunan.

    Indonesia tidak hanya mengakui satu agama, namun banyak agama dengan kebebasan pada masyarakat untuk memeluk keyakinan yang sesuai. Berpegang pada dasar agama merupakan keyakinan perumus Pancasila untuk mewujudkan masyarakat dengan budi pekerti yang baik.

    2. Sila yang Kedua

    Demi terciptanya suatu masyarakat yang harmonis, maka setiap elemennya wajib memiliki jiwa keadilan. Tujuannya agar tidak mengintimidasi, mengintervensi, apalagi mengucilkan sesama. Selain itu, menjadi manusia beradab juga akan membuat masyarakat lebih bijak dalam berpikir dan bertindak.

    3. Sila yang Ketiga

    Dalam sejarah lahirnya Pancasila, telah ada kesadaran bahwa bangsa ini terdiri dari masyarakat majemuk. Maksudnya, memiliki latar belakang suku, ras, dan agama yang berbeda-beda. 

    Namun, meskipun mempunyai perbedaan besar, masyarakat harus saling bahu membahu dalam menjaga persatuan. Unity in diversity alias persatuan dalam keberagaman tanpa adanya sikap membeda-bedakan.

    4. Sila yang Keempat

    Makna sila keempat, yaitu setiap lapisan masyarakat harus mengutamakan musyawarah dalam pengambilan keputusan besar. Khususnya yang memiliki kaitan langsung dengan kemaslahatan banyak orang. Keputusan harus diambil secara bijaksana tanpa keberpihakan apalagi menimbulkan kerugian pada orang lain.

    5. Sila yang Kelima

    Asas terakhir dalam Pancasila ini bermakna setiap warga negara Indonesia memiliki hak yang sama. Baik itu untuk pendidikan, kesehatan, politik, dan sebagainya. Tidak boleh ada keistimewaan khusus dengan merampas hak orang lain.

    Makna Elemen Lambang dari Pancasila

    Garuda Pancasila
    Garuda Pancasila I Sumber Gambar: uici.ac.id

    Setelah membahas tentang makna mendalam dari masing-masing sila, saatnya membahas tentang elemen lambang yang digunakan. Pemilihan setiap elemen ini sendiri juga menjadi bagian dari sejarah lahirnya Pancasila. Berikut penjelasannya:

    • Pancasila menggunakan Burung Garuda berwarna emas sebagai simbol utama. Hal tersebut mencerminkan keagungan. Sedangkan untuk elemen warna merah putih berarti berani dan suci.
    • Elemen lambang berikutnya adalah jumlah bulu yang disesuaikan tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI, yaitu 17 Agustus 1945.
    • Simbol bintang dan perisai kecil bermakna keimanan dan ketakwaan pada Tuhan yang wajib untuk rakyat laksanakan.
    • Rantai kuning emas melambangkan ikatan tidak terputus yang wajib terjalin antar masyarakat melalui sikap saling membantu.
    • Pohon beringin artinya perlindungan dan keteduhan untuk seluruh masyarakat yang berlindung sebagai warga NKRI.
    • Kepala Banteng menggambarkan karakter Banteng yang senang berkumpul. Sehingga, masyarakat diharapkan dapat memiliki kehidupan sosial yang baik dan mengambil keputusan melalui musyawarah.
    • Padi dan Kapas sebagai elemen terakhir memiliki arti kesejahteraan dalam kesederhanaan.

    Fungsi Pokok Pancasila sebagai Dasar Negara

    Topik berikutnya beralih pada fungsi-fungsi pokok dari Pancasila sebagai pedoman utama NKRI. Adapun kegunaan dari penetapan Pancasila sebagai dasar negara adalah sebagai berikut:

    1. Pedoman Filsafat Seluruh Warga Negara

    Dalam menjalankan kehidupan, setiap orang wajib memiliki filosofi yang tepat agar tidak salah dalam berpikir, berucap, dan bertindak. Pancasila melalui kelima asas utamanya dapat menjadi dasar ilmu filsafat terbaik bagi seluruh masyarakat.

    2. Menjadi Jati Diri Bangsa

    Melalui sejarah lahirnya Pancasila, tergambar jelas perjuangan dan keunikan dari seluruh asas yang tertuang. Sila-sila tersebut tentu tidak ada dalam negara-negara lain. Sehingga, penetapan dan pengamalannya membentuk jati diri bangsa yang berbeda.

    3. Menjadi Landasan Hukum Utama

    Pancasila menjunjung tinggi keadilan dan kesetaraan bagi rakyat. Oleh sebab itu, Pancasila juga memiliki fungsi sebagai landasan hukum utama dalam sengketa hukum pidana maupun perdata. Penerapannya menjamin tidak adanya intimidasi dan intervensi dalam setiap proses hukum yang sedang berlangsung pada siapapun.

    Sudah Memahami Sejarah Lahirnya Pancasila?

    Itulah sejarah lahirnya Pancasila hingga makna berikut fungsinya. Pancasila memiliki perjalanan panjang hingga akhirnya berhasil untuk disahkan sebagai landasan negara. Namun, hasilnya tidak mengecewakan karena menjadi pedoman yang baik bagi seluruh lapisan masyarakat. 

    Mari bersama untuk terus mewujudkan kehidupan yang aman, tenteram, damai dan sejahtera dalam keberagaman melalui penegakan pedoman Pancasila. Mari terapkan setiap pesan yang ada dalam Pancasila di kehidupan sehari-hari. Mulai dari menghormati sesama, sungguh-sungguh menjalankan ibadah, dan lainnya.

  • Konferensi Meja Bundar: Sejarah, Dampak, Arti Pentingnya

    Konferensi Meja Bundar: Sejarah, Dampak, Arti Pentingnya

    Istilah Konferensi Meja Bundar (KMB) alias Nederlands-Indonesische rondetafelconferentie cukup familiar di tengah masyarakat. Ini terjadi karena pertemuan penting tersebut masuk dalam materi wajib pembelajaran tentang Kemerdekaan RI.

    Namun, mengapa konferensi ini perlu dilaksanakan? Seperti apa latar belakang yang mendasarinya, isi, berikut dampak dan artinya bagi Indonesia? Teruskan membaca hingga paragraf terakhir agar kamu dapat menemukan jawabannya!

    Latar Belakang Konferensi Meja Bundar

    KMB sejatinya merupakan pertemuan lanjutan untuk memperjuangkan pengakuan kedaulatan sekaligus pelepasan cengkeraman Belanda dari Indonesia sepenuhnya. Sebelum penyelenggaraan pertemuan diplomatik yang dijembatani oleh PBB ini, sudah terjadi banyak perundingan lain, yaitu:

    • Perundingan Linggarjati tahun 1947.
    • Perjanjian Renville tahun 1948.
    • Kesepakatan Roem-Royen tahun 1949.

    Dua perundingan semula menghasilkan jalan buntu karena Belanda terus melakukan pengingkaran bahkan memutuskan agresi militer. Padahal, semula pihak Belanda telah sepakat dengan seluruh klausul dalam perundingan tersebut. Inggris menjadi saksi terjadinya kesepakatan-kesepakatan di atas sebagai perwakilan yang ditunjuk PBB.

    Hingga pada Perjanjian Roem – Royen 1949, tercapai kembali hasil perundingan bahwa Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) sepenuhnya. Pelaksanaan KMB sendiri bertujuan untuk mengesahkan kesepakatan itu dengan saksi yang lebih banyak sehingga dasar hukum dan buktinya lebih kuat. 

    Tujuan Penyelenggaraan KMB

    Alasan utama dari Konferensi Meja Bundar yang berlangsung pada 23 Agustus 1949 ini tidak lain adalah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda. Sesuatu yang terus diperjuangkan oleh para tokoh agar negara dapat berjalan tanpa intimidasi maupun intervensi lagi dari penjajah.

    Namun selain itu, ada tujuan lain dari penyelenggaraan konferensi, yaitu:

    • Pengesahan seluruh wilayah yang sebelumnya masuk dalam kekuasaan Hindia – Belanda sebagai milik Indonesia.
    • Penarikan segera tentara militer Belanda yang telah melakukan agresi ke wilayah teritorial Indonesia sejak melanggar Perjanjian Linggarjati.
    • Pengakuan dan dukungan kancah internasional atas kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia.
    • Mendapatkan hak penuh pengelolaan kekayaan alam untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.

    Para delegasi Indonesia mengharapkan dengan banyaknya kehadiran negara-negara lain, semua klausul di atas dapat tercapai.

    Isi dan Proses Berlangsungnya KMB

    Sesuai dengan tujuan-tujuan di atas, isi dari rancangan Konferensi Meja Bundar yang Indonesia inginkan untuk disepakati adalah sebagai berikut:

    1. Kerajaan Belanda menyerahkan kedaulatan sepenuhnya Indonesia sepenuhnya kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) tanpa syarat dan tidak boleh dicabut. Belanda sepenuhnya mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia.
    2. Republik Indonesia Serikat (RIS) menerima kedaulatan tersebut sesuai dengan dasar ketentuan konstitusi yang telah disepakati oleh Belanda.
    3. Menyerahkan kedaulatan RIS akan berlangsung paling lambat 30 Desember 1949.

    Klausul-klausul di atas masih berupa rancangan, sehingga kedua belah pihak dapat memberikan menambahkan atau gugatan untuk pengubahan salah satu rancangan.

    Tokoh KMB

    Tokoh KMB
    Tokoh KMB I Sumber Gambar: Kompas.com

    Konferensi Meja Bundar sendiri berlangsung di Den Haag, Belanda dengan delegasi Indonesia berjumlah 11 orang dan Mohammad Hatta sebagai ketua. Selain Wakil Presiden pertama RI tersebut, beberapa nama lain yang turut serta adalah sebagai berikut:

    • Mohammad Roem yang terlibat dalam Perundingan Roem – Royen.
    • Ali Sastroamidjojo yang kemudian menjabat sebagai Perdana Menteri RI.
    • TB Simatupang dengan pangkat Letnan Jenderal TNI dan salah satu nama dengan pengaruh besar pada institusi tersebut.
    • Soemitro Djojohadikoesoemo yang merupakan seorang aktivis pemuda tersohor dan dekat dengan orang-orang penting di pemerintahan RI maupun militer.

    Ada sejumlah nama lain yang turut serta dalam perundingan yang memang telah diharapkan sejak lama oleh Indonesia ini. Sayangnya, meskipun telah mengajak banyak anggota untuk mengikuti konferensi, perundingan tetap berjalan dengan alot.

    Rancangan Tambahan Belanda dalam KMB

    Pihak Belanda, sama seperti perundingan-perundingan sebelumnya yang berakhir dengan pembatalan atau jalan buntu kembali bersikukuh menambahkan beberapa klausul. Adapun poin-poin yang Belanda ingin masukkan dalam rancangan Konferensi Meja Bundar adalah sebagai berikut:

    1. Papua Barat tidak termasuk dalam wilayah yang akan diserahkan kedaulatannya terhadap RIS. Sebab, Belanda merasa perbedaan etnis yang terlalu berbeda dan seharusnya Papua Barat menjadi negara persemakmuran sendiri di bawah Belanda.
    2. Membentuk persekutuan Belanda – Indonesia, di mana Kerajaan Belanda menjadi pemimpinnya.
    3. Utang Hindia Belanda menjadi tanggung jawab penuh RIS terkait pengembaliannya.

    Ketiga klausul tambahan inilah yang tidak dapat diterima oleh delegasi Indonesia dan beberapa perwakilan negara lain. Sebab, setiap tambahan tersebut justru merugikan Indonesia dan kembali menempatkan RIS sebagai negara persemakmuran, bukan berdaulat penuh.

    Hasil Akhir Perundingan KMB

    Perundingan Akhir KMB
    Perundingan Akhir KMB I Sumber Gambar: Merdeka.com

    Perundingan yang diharapkan sebagai langkah diplomatik terakhir untuk menghindari perang dengan Belanda ini pada akhirnya berlangsung lama dan berlarut-larut. Konferensi yang sejatinya berawal pada Agustus, baru mencapai kesepakatan akhir pada November di tahun yang sama.

    Apakah lantas Indonesia memenangkan klausul-klausul awal dan berhasil menolak rancangan tambahan dari Belanda? Tidak berhasil. Terkait Papua Barat, tidak ada keputusan apapun dan akan ada perencanaan perundingan satu tahun kemudian untuk penyelesaiannya.

    Terkait dengan persekutuan Belanda – Indonesia, keputusan akhirnya adalah kedudukan kedua negara sama dalam perjanjian kerja sama tersebut. Belanda tidak akan memiliki hak untuk menjadi superior dan mengendalikan Indonesia.

    Terakhir adalah hasil yang cukup merugikan Indonesia karena Indonesia harus membayar semua utang selama Hindia – Belanda berdiri. Belanda justru bebas dari seluruh tanggung jawab dengan imbal balik pada Indonesia berupa penyerahan kedaulatan penuh maksimal pada Desember 1949.

    Dampak Konferensi Meja Bundar Terhadap Indonesia

    Logo Republik Indonesia Serikat
    Logo Republik Indonesia Serikat I Sumber Gambar: The Global Review

    Meskipun delegasi-delegasi Indonesia telah berjuang keras untuk mendapatkan hasil perundingan yang lebih baik, namun akhirnya terpaksa sepakat. Bukan tanpa alasan, sebab bila semakin lama perundingan berlangsung, Indonesia khawatir pasukan Belanda yang masih duduk di Indonesia akan menyerang secara mendadak.

    Lantas, apa saja dampak positif dan negatif dari hasil KMB tersebut. Berikut adalah beberapa dampak KMB yang sebagian klausulnya merugikan Indonesia:

    Dampak Positif

    • Pengakuan kemerdekaan Indonesia dari Belanda.
    • Penarikan tentara Belanda yang berkedudukan di Indonesia secara menyeluruh sehingga potensi kembali terjadinya agresi sangat kecil.
    • Selesainya konflik militer dengan Belanda.
    • Pengakuan kedaulatan Indonesia secara terbuka (melalui media) dari Belanda.
    • Hak dan bantuan pembangunan Indonesia dari dunia internasional secara masif.
    • Penyerahan kapal perang milik Belanda kepada Indonesia.

    Dampak Negatif

    • Tidak terlaksananya cita-cita pendirian negara demokrasi di Indonesia karena kesepakatan yang tercapai adalah berbentuk Republik Indonesia Serikat.
    • Indonesia berbentuk negara bagian sebagaimana pembagian wilayah di negara barat.
    • Secara teknis, RIS merupakan negara persemakmuran terselubung dari Belanda.
    • Beban utang Belanda akan menjadi tanggungan pemerintah RIS secara penuh.
    • Penundaan penyelesaian masalah Papua Barat yang berlarut.

    Penyelesaian Akhir Sengketa Konferensi Meja Bundar

    Sebagaimana telah kamu baca di atas bahwa, ada beberapa poin perundingan yang sangat merugikan bagi Indonesia. Terlebih, persoalan Papua Barat juga tidak kunjung menemui titik terang perlahan membuat hubungan diplomatik dengan Belanda kembali memanas.

    Padahal, Indonesia telah membayar senilai 4 miliar gulden selama masa pemerintahan Ir. Soekarno sepanjang 1950 – 1956. Setelah sengketa Papua Barat tidak kunjung menemukan titik terang, pihak Indonesia memilih untuk tidak melanjutkan pembayaran utang.

    Pada era pemerintahan Presiden Soeharto, pembayaran utang kembali Indonesia lakukan karena merupakan persyaratan utama pemberian pinjaman krisis ekonomi kala itu. Selain itu, pemerintah Indonesia juga wajib membayar biaya nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda dengan total USD 2,4 miliar.

    Pembayaran utang berlangsung hingga 35 tahun lamanya dan baru berhenti pada tahun 2003 ketika entitas penerima sudah bankrut. Setelah itu, baru pada tahun 2005, Perdana Menteri Belanda mengucapkan permintaan maaf secara langsung terkait penderitaan yang Indonesia alami.

    Sudah Tahu Bagaimana Sejarah Konferensi Meja Bundar?

    Setelah terjadinya Konferensi Meja Bundar, tidak ada lagi upaya diplomatik lain yang Indonesia upayakan untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan dari Indonesia. Khususnya para tokoh pemuda yang merasa langkah tersebut selalu berujung merugikan pihak Indonesia.

    Terlebih, semua pasukan militer, pendatang, hingga keturunan campurannya sudah sepenuhnya meninggalkan Indonesia  setelah konflik yang tak kunjung mereda. Pada tahun 1950, nama Republik Indonesia Serikat (RIS) juga sepenuhnya dibuang. Indonesia secara resmi menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

    Seiring waktu berjalan, hubungan diplomatik Belanda – Indonesia pun membaik karena sama-sama tergabung dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Selain itu, permintaan maaf resmi perwakilan Belanda cukup ampuh mengeratkan hubungan kerja sama antar dua negara.

  • Siapakah Khalifah Harun Ar-Rasyid? Kebijakan dan Jasanya

    Siapakah Khalifah Harun Ar-Rasyid? Kebijakan dan Jasanya

    Apakah Anda tahu siapakah khalifah Harun Ar-Rasyid? Dinasti Abbasiyah mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahannya. Bukan hanya itu, perkembangan ilmu pengetahuan di Baghdad pun semakin berkembang pesat.

    Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti yang kedua di dalam sejarah Islam dan mempunyai kekuasaan yang sangat lama. Kekuasaannya kurang lebih 524 tahun. Keberadaannya menggantikan dinasti sebelumnya yaitu Dinasti Ummayah dan salah satu pemimpin yang sangat terkenal di Dinasti Abbasiyah yaitu Khalid Harun Al-Rasyid.

    Mengenal Siapakah Khalifah Harun Ar-Rasyid

    Khalifah Harun Ar-Rasyid
    Khalifah Harun Ar-Rasyid | Sumber: kompas.com

    Harun Al-Rasyid merupakan khalifah yang kelima pada masa Dinasti Abbasiyah. Ia adalah putra pasangan Muhammad Al-Mahdi yang merupakan khalifah ketiga serta Al-Khayzuran binti Atta. Ibunya merupakan mantan budak dari Yaman yang terkenal akan kepribadiannya yang sangat kuat.

    Harun Al-Rasyid lahir pada 766 M di Iran, tepatnya di Ray. Nama lengkapnya yaitu Abu Ja’far bin Al-Mahdi bin Al-Manshur Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Al-Abbas. 

    Berdasarkan sejarah, Harun serta saudara-saudara mendapatkan pendidikan tentang ilmu Al-Quran, musik, puisi, sejarah Islam, serta praktik hukum pada waktu itu. Harun juga mempunyai guru yaitu Yahya bin Khalid Al-Barmaki.

    Pada 780 hingga 782 M, Harun menjadi pemimpin serta mendapatkan tugas untuk melakukan ekspedisi dengan melawan Kekaisaran Bizantium. Di tahun 782 M, ia berhasil mencapai Bosporus, seberang Konstantinopel.

    Kemudian, ia juga berhasil mencapai kesepakatan damai dengan beberapa persyaratan yang memberikan keuntungan terhadap kaum muslim. Berkat keberhasilannya, ia pun menerima sebuah gelar kehormatan yaitu Ar-Rasyid yang mempunyai arti “petunjuk menuju jalan yang benar”. 

    Pembangunan Pada Masa Harun Al-Rasyid

    Gambaran Baitul Hikmah (Bayt al-Hikmah)
    Gambaran Baitul Hikmah (Bayt al-Hikmah) | Sumber gambar: hidayatullah.com

    Memahami siapakah khalifah Harun Ar-Rasyid tak cukup mengetahui silsilahnya saja. Informasi yang tak kalah penting yaitu mengetahui bagaimana pembangunan ketika Harun menjadi seorang khalifah.

    Sejarah mencatat bahwa Harun merupakan pemimpin yang sangat dicintai rakyat serta ulama. Sang khalifah juga sangat mengagungkan serta memuliakan agama Islam. Ia sangat membenci perdebatan maupun perbuatan omong kosong.

    Selama kepemimpinannya, Khalid Harun Al-Rasyid banyak melakukan kebijakan di bidang pembangunan. Ia membangun banyak perpustakaan di kawasan Abbasiyah. Tujuannya agar minat baca rakyat di Abbasiyah semakin tinggi karena  sudah ada fasilitas yang mendukung.

    Dari berbagai perpustakaan yang telah dibangun di masa pemerintahannya, salah satu yang terkenal yaitu perpustakaan bernama Baitul Hikmah. Nama perpustakaan tersebut jika kita terjemahkan ke Bahasa Indonesia, artinya Rumah Kebijaksanaan.

    Baitul Hikmah adalah perpustakaan sekaligus lembaga pendidikan Islam yang pertama di Baghdad. Fungsi perpustakaan ini bukan sekadar tempat untuk membaca buku. Fungsinya lebih dari pada itu, yaitu sebagai tempat berkumpulnya para cendekiawan dan intelektual dari berbagai kerajaan.

    Selain itu, Baitul Hikmah juga merupakan biro penerjemah. Maka dari itu, perpustakaan ini begitu terkenal dan keberadaannya pun menjadi simbol kehidupan serta peradaban umat Islam, khususnya mereka yang berintelektual tinggi.

    Hal lain yang tak kalah menarik yaitu, Khalid Harun Al-Rasyid menerjemahkan buku pengetahuan ke bahasa Arab. Gerakan penerjemahan tersebut merupakan bentuk asimilasi yang terjadi di antara bangsa Arab terhadap bangsa lainnya. 

    Selain perpustakaan, khalifah Harun juga banyak melakukan pembangunan demi kesejahteraan rakyatnya. Misalnya membangun kota Baghdad di antara Tigris dan Sungai Efrat. Banyak bangunan megah di kota tersebut, termasuk tempat peribadatannya.

    Khalid Harun Al-Rasyid juga membangun sarana pendidikan, kesehatan, kesenian, serta perdagangan. Lalu, ada juga majelis Al-Muzakarah yang merupakan lembaga pengkajian permasalahan terkait keagamaan yang dilangsungkan di masjid, rumah, atau istana pada waktu itu.

    Upaya Khalid Harun Al-Rasyid di Bidang IPTEK

    Agar mengenal siapakah khalifah Harun Ar-Rasyid bisa juga melalui bagaimana usahanya untuk mengembangkan IPTEK. Perlu Anda tahu bahwa sejak awal kepemimpinannya, Harun sudah mendorong para fuqaha untuk berijtihad di dalam menemukan hukum fisik untuk menghadapi berbagai persoalan yang kian kompleks.

    Sang khalifah juga terkenal akan jasanya di bidang IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi). Salah satu yang tercatat sejarah yaitu bagaimana ia memerintahkan para penerjemah untuk menerjemahkan banyak buku ilmiah yang awalnya berbahasa Yunani ke bahasa Arab.

    Salah satu penerjemah yang sangat terkenal yaitu Yuhana Ibn Musawaih (wafat 857 M). Ia juga menjabat sebagai dokter istana yang berhasil menerjemahkan buku-buku kuno seputar kedokteran. 

    Selanjutnya ada Muhammad Ibn Ibrahim Al-Fazari (wafat 806 M). Ia merupakan seorang penerjemah yang berhasil menerjemahkan buku seputar astronomi seperti Sidhanta. Buku tersebut merupakan risalah India yang terkenal pada waktu itu.

    Pada pertengahan abad yang ke-10, muncul 2 penerjemah yang tak kalah penting serta produktif. Kedua penerjemah tersebut yaitu Yahya Ibn Adi (wafat 974 M) serta Abu Ali Isa Ibnu Ishaq Ibn Zera (wafat 1008). 

    Khalid Harun Al-Rasyid bukan sekadar memerintahkan untuk menerjemahkan buku, ia juga tak ragu untuk memberikan penghargaan besar terhadap para ilmuan atau penerjemah tersebut. Adapun penghargaannya yaitu Harun akan menggantinya dengan emas seberat buku yang telah dihasilkan para penerjemah.

    Bentuk penghargaan dari Harun Al-Rasyid dilihat berdasarkan sisi keilmuan serta keimanan. Hal tersebut membuat masyarakat memuliakan para ilmuan serta ulama. 

    Di masa khalifah Harun, 4 mazhab juga tumbuh serta berkembang semakin luas. Negara dalam kekuasaannya memiliki kekayaan yang melimpah, makmur, serta keamanannya terjamin. Akan tetapi, tak bisa dipungkiri bahwa masih ada pemberontakan meskipun sang khalifah berhasil mengatasinya.

    Pemberontakan di Masa Khalid Harun Al-Rasyid

    Ilustrasi Harun Al-Rasyid yang menaiki kuda dan memakai baju perang
    Ilustrasi Harun Al-Rasyid yang menaiki kuda dan memakai baju perang | Sumber gambar: ganaislamika.com 

    Terdapat beberapa pemberontakan yang tercatat selama Harun Al-Rasyid berkuasa. Misalnya pemberontakan pimpinan Walid bin Tahrif (w 794 M) yang merupakan Khawarij. Kemudian ada juga pemberontakan dari pimpinan Musa Al-Kazim (w 799 M) dan Yahya bin Abdullah bin Abi Taglib (w 792 M).

    Meskipun demikian, beberapa pemberontakan berhasil diredam khalifah Harun. Hal ini sekaligus membuat namanya semakin terkenal dan banyak yang segan terhadapnya.

    Wafatnya Khalifah Harun Al-Rasyid

    Pembahasan berikutnya tentang siapakah khalifah Harun Ar-Rasyid yaitu seputar wafatnya sang khalifah. Meskipun pemberontakan yang terjadi berhasil diredam, namun masih terdapat pemberontakan dari Rafi Ibn Al-Laith yang membuat khalifah mengungsi ke Khurasan.

    Hal tersebut sekaligus menjadi yang pertama kali bagi Harun Al-Rasyid meninggalkan ibu kota. Lalu, sang khalifah beserta pasukannya melakukan perburuan terhadap para pemberontak tersebut. Di masa perburuan, sang khalifah mengalami sakit sampai pada akhirnya menghembuskan nafas terakhir di tahun 809 M.

    Ketika meninggal, usia Harun Al-Rasyid bisa terbilang cukup muda, yakni 43 tahun. Thus, Khurasan merupakan tempat ia meninggal dan makamnya berada di Dar Al-Imarah.

    Penyebab Runtuhnya Dinasti Abbasiyah

    Dinasti Abbasiyah adalah kekhalifahan Islam yang masa kepemimpinannya berlangsung sekitar 750 sampai 1258 Masehi. Adapun pendiri Daulah Abbasiyah yaitu Abdul Abbas As-Saffah yang merupakan keturunan paman Nabi Muhammad.

    Setelah 5 abad berkuasa, Daulah Abbasiyah mulai mengalami kemunduran. Termasuk pasca meninggalnya Harun Al-Rasyid hingga pada akhirnya dinasti tersebut runtuh. Terdapat beberapa hal yang menjadi sebab mengapa Dinasti Abbasiyah runtuh, di antaranya:

    • Perebutan kekuasaan: faktor internal menjadi salah satu kunci mengapa Dinasti Abbasiyah mengalami kemunduran sampai runtuh. Banyak yang menganggap bahwa pemimpin dari Daulah Abbasiyah kurang tegas sehingga membuat tentara budak atau Mamluk serta Bani Buwaih memberontak untuk merebut kekuasaan.
    • Persaingan antar bangsa: persaingan berlangsung di masa Khalifah Abbasiyah berdiri. Orang Persia yang pada waktu itu menjadi sekutu merasa kurang puas dengan pemerintahan Abbasiyah dan ingin membuat dinasti sendiri sehingga terjadi persaingan.
    • Serangan bangsa Mongol: serangan dari bangsa Mongol berhasil meratakan kota Baghdad yang menjadi faktor Dinasti Abbasiyah runtuh. Kekuatan tentara Mongol pada 1958 mencapai 200.000 dan langsung menyerang Baghdad. Khalifah yang terakhir Al-Musta’shim tak berdaya membendung tentara Mongol dan menandakan berakhirnya Dinasti Abbasiyah.

    Sudah Paham Siapakah Khalifah Harun Ar-Rasyid?

    Demikian informasi tentang siapakah Khalifah Harun Ar-Rasyid dan bagaimana sejarah Dinasti Abbasiyah, terutama pada masa kepemimpinannya. Ia berhasil memakmurkan dan memajukan rakyatnya di bidang pengetahuan, pendidikan, keamanan, dan lain-lain.

    Namun, pasca meninggalnya membuat Dinasti Abbasiyah mengalami kemunduran. Pada akhirnya, dinasti tersebut runtuh karena serangan dari bangsa Mongol.

  • Isi Dekret Presiden 5 Juli 1959, Tujuan, dan Dampaknya

    Isi Dekret Presiden 5 Juli 1959, Tujuan, dan Dampaknya

    Dekrit presiden merupakan keputusan yang dikeluarkan oleh kepala negara. Dalam sejarah Republik Indonesia, Dekret Presiden 5 Juli 1959 merupakan dekrit pertama yang berperan penting terhadap sektor politik dan pemerintahan Indonesia. Lantas, apa isi Dekret Presiden 5 Juli 1959 dan dampaknya bagi Indonesia?

    Apa Latar Belakang Dekret Presiden 5 Juli 1959?

    Dekrit Presiden 5 Juli 1959 merupakan dekrit pertama yang dikeluarkan oleh presiden Indonesia. Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi waktu itu. Hal ini karena permasalahan yang terjadi tidak menemukan jalan solusi pemecahannya.

    Latar belakang Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit yaitu kegagalan Badan Konstituante dalam menyusun UUD sebagai pengganti dari Undang-Undang Dasar Sementara atau UUDS 1950. 

    Badan Konstituante saat itu merupakan lembaga dewan perwakilan yang memiliki tugas membentuk konstitusi bagi Indonesia sebagai pengganti UUDS 1950.

    Alasan perlu mengganti UUDS 1950 karena sering terjadi pergantian kabinet. Hal ini menyebabkan ketidakstabilan politik di Indonesia. Keadaan ini menggambarkan ketidakmampuan pelaku politik dalam mengelola pemerintahan negara. Karena sebagian besar terpolarisasi kepentingan kelompok ideologis politik yang kuat.

    Badan Konstituante memulai penyusunan Undang-Undang Dasar (UUD) pada tanggal 10 November 1956 hingga akhir tahun 1958. Akan tetapi, selama 3 tahun pelaksanaan sidang tidak berhasil merumuskan Undang-Undang Dasar dan hanya berisi perdebatan antara anggota sidang.

    Hal yang mendasari sidang Konstituante mengalami jalan buntu dalam merumuskan Undang-Undang Dasar adalah perbedaan prinsip. Di dalam badan Konstituante terdapat 3 kelompok besar yang berbeda prinsip. 

    Golongan Islam menghendaki dasar negara Islam, golongan nasionalis menghendaki dasar negara pancasila, sedangkan golongan komunis menghendaki dasar negara komunis.

    Pada tanggal 22 April 1959, Presiden Soekarno berpidato mengamanatkan untuk kembali menggunakan Undang-Undang Dasar 1945 menggantikan UUDS 1950 di hadapan Konstituante. Presiden Soekarno mendapatkan dukungan untuk memberlakukan kembali Undang-Undang Dasar 1945 melalui dekret presiden.

    Apa isi Dekret Presiden 5 Juli 1959?

    Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit presiden 5 Juli 1959 akibat kegagalan tugas Konstituante merumuskan UUD. Hal ini karena di dalam Konstituante banyak kepentingan kelompok sehingga memicu berbagai gejolak di berapa daerah. Sehingga situasi negara saat itu tidak kondusif dan cukup kacau.

    Atas dasar sebagai hukum keselamatan negara, Presiden Soekarno memutuskan untuk mengumumkan isi dari Dekret Presiden 5 Juli 1959. Presiden mengeluarkan Dekrit berdasarkan hukum staatsnoodrecht atau hukum keadaan bahaya bagi negara.

    1. Isi Dekrit Presiden Secara Ringkas

    isi Dekret Presiden 5 Juli 1959 menyatakan berakhirnya masa demokrasi parlementer di Indonesia. Kemudian berganti dengan demokrasi terpimpin. Dalam buku Sejarah Hukum Indonesia (2021) yang ditulis Sutan Remy Sjahdeini, Isi Dekrit secara ringkas berisi poin-poin berikut:

    • Membubarkan Konstituante
    • Indonesia kembali memberlakukan UUD 1945
    • Dengan berlakunya UUD 1945, maka UUD 1950 sudah tidak berlaku lagi
    • Membentuk Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) dan Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS)

    2. Format Asli Dekret Presiden 5 Juli 1959

    Ringkasan poin dari isi dekret presiden 5 Juli 1959 pada penjelasan sebelumnya yaitu berdasarkan naskah asli yang Presiden Soekarno umumkan. Berikut isinya dalam format asli:

    DEKRIT PRESIDEN

    Dengan rachmat Tuhan Jang Maha Esa,

    KAMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN PERANG

    Dengan ini menjatakan dengan chidmat:

    1. Bahwa andjuran Presiden dan Pemerintah untuk kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945 jang disampaikan kepada segenap rakjat Indonesia dengan amanat Presiden pada tanggal 22 April 1959 tidak memperoleh keputusan dari Konstituante sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang Dasar Sementara;

    2. Bahwa berhubung dengan pernjataan sebagian besar anggota-anggota Sidang Pembuat Undang-Undang Dasar untuk tidak lagi menghadiri sidang. Konstituante tidak mungkin lagi menjelesaikan tugas jang dipertjajakan oleh rakjat kepadanja;

    3. Bahwa hal jang demikian menimbulkan keadaan-keadaan ketatanegaraan jang membahajakan persatuan dan keselamatan Negara, Nusa, dan Bangsa, serta merintangi pembangunan semesta untuk mencapai masjarakat jang adil makmur;

    4. Bahwa dengan dukungan bagian terbesar rakjat Indonesia dan didorong oleh kejakinan kami sendiri, kami terpaksa menempuh satu-satunja djalan untuk menjelamatkan Negara Proklamasi;

    5. Bahwa kami berkejakinan bahwa Piagam Djakarta tertanggal 22 Djuni 1945 mendjiwai Undang-Undang Dasar 1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan Konstitusi tersebut,

    Maka atas dasar-dasar tersebut di atas,

    KAMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN PERANG menetapkan pembubaran Konstituante;

    Menetapkan Undang-Undang Dasar 1945 berlaku lagi bagi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia terhitung mulai hari tanggal penetapan dekret ini dan tidak berlakunja lagi Undang-Undang Dasar Sementara.

    Pembentukan Madjelis Permusjawaratan Rakyat Sementara, jang terdiri atas anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakjat ditambah dengan utusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan serta pembentukan Dewan Pertimbangan Agung Sementara akan diselenggarakan dalam waktu sesingkat-singkatnja.

    Ditetapkan di Djakarta pada tanggal 5 Djuli 1959

    Atas nama Rakjat Indonesia

    Presiden Republik Indonesia/Panglima Tertinggi Angkatan Perang

    S O E K A R N O

    Apa Dampak dan Tujuan Dekrit Presiden 5 Juli 1959?

    isi Dekret Presiden 5 Juli 1959 menandakan bahwa sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menggunakan Demokrasi Terpimpin. Presiden mengeluarkan dekrit ini untuk mengatasi kekacauan politik yang sedang terjadi. 

    Berikut beberapa tujuan dan dampak dekrit presiden yang punya arti penting terhadap kelangsungan hidup Bangsa Indonesia. 

    1. Tujuan dan Alasan Dekrit Presiden

    • Kembali menggunakan UUD 1945 sebagai dasar hukum. Karena kegagalan Konstituante dalam menyusun Undang-Undang Dasar menyebabkan Indonesia tidak memiliki dasar hukum bernegara.
    • Menstabilkan kembali situasi politik yang sedang kacau dan menenangkan kelompok-kelompok di daerah.
    • Banyaknya partai dalam sistem parlementer yang memiliki perbedaan pendapat sehingga tidak sejalan. Hal ini memicu persaingan tidak sehat yang terjadi antar partai agar tujuan partainya dapat tercapai.
    • Mengamankan beberapa pemberontakan yang terjadi di dalam negeri akibat kondisi politik yang kacau sehingga tidak bertambah parah menuju gerakan separatisme.
    • UUDS 1950 dengan sistem pemerintahan demokrasi liberal tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia. Sehingga Presiden mengamanatkan untuk menggunakan kembali UUD 1945. Hal ini akibat gagalnya dari penyusunan Undang-Undang Dasar oleh Konstituante.

    2. Dampak dari Dekrit Presiden 

    isi Dekret Presiden 5 Juli 1959 memiliki kekuatan hukum untuk menyelamatkan negara Indonesia dari ancaman perpecahan yang terjadi. Dalam pidato “Manifesto Politik Republik Indonesia” yang lebih dikenal dengan MANIPOL, dijadikan oleh DPAS dan MPRS sebagai Garis Besar Haluan Negara (GBHN)

    Sebagai tambahan, MPRS adalah Permusyawaratan Rakyat Sementara. Sementara itu, DPAS adalah Dewan Pertimbangan Agung Sementara.

    Inti dari MANIPOL ini terdiri dari Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia. isi Dekret Presiden 5 Juli 1959 ini memiliki pengaruh besar terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya.

    Dalam bidang politik, semua lembaga negara harus berlandaskan unsur Nasakom yaitu Nasionalis, Agama dan Komunis. Dalam bidang ekonomi, pemerintah menerapkan ekonomi terpimpin. Hal ini membuat bidang impor hanya dikuasai oleh orang yang berhubungan dekat dengan pemerintah.

    Dalam bidang sosial budaya, pemerintah melarang masuknya budaya barat yang dianggap sebagai bentuk penjajahan neo kolonialis dan imperialisme. Selain itu, terdapat beberapa dampak positif berlakunya isi Dekret Presiden 5 Juli 1959, yakni sebagai berikut.

    • Menyelamatkan negara dari krisis politik yang terjadi dan menghindari adanya perpecahan.
    • Memberikan pedoman dasar hukum yang jelas bagi kelangsungan negara menggunakan UUD 1945.
    • Merintis pembentukan lembaga tertinggi negara melalui MPRS dan lembaga tinggi negara melalui DPAS. 

    Baca Juga: Simak Urutan 9 Istri Presiden Soekarno dan Kisah Singkatnya

    Sudah Tahu isi Dekret Presiden 5 Juli 1959?

    Anda harus mengetahui isi Dekret Presiden 5 Juli 1959 yang menjadi sejarah dalam mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak stabil. Sehingga, ancaman perpecahan yang terjadi saat itu dapat teratasi. Selain itu, dekrit presiden menandakan berlakunya kembali UUD 1945 sebagai dasar hukum negara.

  • Isi Prasasti Kelurak, Bukti Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

    Isi Prasasti Kelurak, Bukti Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

    Prasasti merupakan bukti tertulis dari sebuah sejarah. Dengan menjadi sumber pembelajaran suatu bahasa, prasasti juga menjadi bukti tervalid dari sebuah memori sejarah. Ada banyak prasasti yang sejarawan teliti dan temukan di Indonesia, salah satunya adalah prasasti Kelurak.

    Kerajaan Mataram Kuno

    Candi Borobudur
    Candi Borobudur | Sumber gambar: Detik.net

    Prasasti Kelurak adalah bukti sejarah peninggalan dari kerajaan Mataram Kuno. Oleh sebab itu, kita juga perlu mengenal tentang salah satu kerajaan terbesar di Indonesia ini. Kerajaan Mataram Kuno adalah kerajaan Hindu dan Budha di Indonesia. 

    Kerajaan Mataram Kuno berkembang dari abad ke-8 hingga ke-11. Letak awal dari kerajaan besar ini adalah di Jawa Tengah dan kemudian pindah ke Jawa Timur. Raja Sanjaya adalah raja yang pertama kali mendirikan kerajaan ini.

    Setelah sang pendiri meninggal, beberapa dinasti Syailendra dan Isyana mengambil alih tahta. Banyak sejarawan yang menggambarkan Kerajaan Mataram Kuno sebagai representasi sosok ibu yang melambangkan kehidupan, alam, dan lingkungan. 

    Kata “Mataram” sendiri berasal dari bahasa Sansekerta  “Matr“, yang memiliki makna sebagai “ibu”. 

    Orang tidak hanya mengenal Kerajaan besar ini dengan nama “Mataram Kuno”, tetapi juga dengan nama “Medang” oleh orang Jawa. Istilah ini berasal dari banyak prasasti di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

    Kata “Medang” tampaknya mengacu pada keraton Medang di wilayah Kerajaan Mataram. Para ahli juga menduga nama “Medang” berasal dari pohon “medang”, yang berasal dari daerah yang orang kenal keras dan kokoh. 

    Kejayaan dan Keruntuhan Kerajaaan Mataram Kuno

    Candi Prambanan
    Candi Prambanan | Sumber gambar: Pexels.com

    Memahami tentang sejarah masa kejayaan Mataram Kuno juga krusial, jika kita ingin mengetahui nilai eksistensi dari prasasti Kelurak, loh! 

    Menurut banyak pengamat sejarah, ekonomi Kerajaan Mataram Kuno sangat bergantung pada pertanian, terutama padi. Kerajaan Mataram Kuno juga mendapat keuntungan dari perdagangan maritim dengan banyak kerajaan dari berbagai negara.

    Beberapa sumber asing dan bukti dari temuan arkeologi menunjukkan, Kerajaan Mataram Kuno memiliki banyak penduduk dan mereka hidup makmur. Kerajaan ini juga berkembang pesat dalam membangun masyarakat yang memiliki kebudayaan dan kepribadian yang berbeda. 

    Kerajaan Mataram Kuno juga mempunyai peradaban yang halus. Oleh karena itu juga, pada akhir dari abad ke-8, kerajaan ini juga membangun fakta akan perkembangan infrastrukturnya yang pesat. 

    Gaya arsitektur dan seni Jawa klasik pada zaman kerajaan ini juga terlihat maju, jika melihat pesatnya pembangunan candi.

    Kerajaan Mataram Kuno berkembang pesat menjadi kerajaan yang berkuasa. Banyak kerajaan yang merasa takut dan segan dengan kerajaan Mataram Kuno karena sumber daya alam dan sumber daya manusia yang mereka miliki melimpah. 

    Kerajaan Mataram Kuno juga melebarkan daerah kekuasaan akan SDA dan SDM nya di Pulau Jawa, Sumatera, Bali. Mataram Kuno juga berkembang di negara-negara lain seperti Thailand, India, Filipina, dan Kamboja. 

    Selain kejayaan, kita juga perlu tahu alasan dari keruntuhan kerajaan Mataram Kuno. Kerajaan Mataram Kuno runtuh sebagian besar karena mereka berperang melawan Kerajaan Sriwijaya yang saat itu tengah berada di era kejayaannya juga. 

    Para ahli menduga, perang antara Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Mataram Kuno menjadi lebih sengit pada akhir abad ke-10. Menurut beberapa ahli, kedua kerajaan ini bermusuhan satu sama lain. Ada banyak alasan mengapa kedua kerajaan besar tersebut saling bermusuhan. 

    Salah satu alasan permusuhan itu adalah cara dan upaya dari Kerajaan Sriwijaya untuk mengambil kembali wilayah Jawa dari kerajaan Syailendra. Selain itu, ada teori bahwa Kerajaan Mataram Kuno menantang kekuasaan Kerajaan Sriwijaya untuk menunjukkan kekuatan mereka.

    Penemuan Prasasti Kelurak

    Prasasti Kelurak
    Prasasti Kelurak | Sumber gambar: kompas.com

    Di sekitar kompleks Candi Prambanan terdapat sebuah prasasti yang menjadi salah satu peninggalan dari kerajaan Mataram Kuno.

    Nama dari prasasti tersebut adalah prasasti kelurak. Batu bertulis Kelurak juga merupakan prasasti berangka yang memiliki eksistensi di tahun 782 M.

    Tepatnya, lokasi penemuan dari batu bertulis Kelurak adalah di sebelah utara Kompleks Percandian Prambanan, Jawa Tengah (dekat dengan candi Lumbung). Prasasti Kelurak juga memiliki sebutan sebagai Prasasti Andesit karena bahan bakunya yang berasal dari batu andesit. 

    Batu bertulis Kelurak memiliki panjang 73 cm, lebar 12 cm, dan tinggi 41 cm. Prasasti ini berbahasa Sanskerta menggunakan aksara Pranagari atau Siddham. 

    Menurut informasi yang ada, kondisi Prasasti Kelurak saat pertama kali para ahli analisis dan temukan sudah dalam keadaan aus. Oleh sebab itu, isi dari batu bertulis ini kurang jelas. 

    Namun, beberapa sumber juga mengatakan sebagian besar isi dari batu bertulis peninggalan kerajaan Mataram Kuno ini adalah tentang pendirian sebuah bangunan suci. 

    Seorang raja bernama Raja Indra yang bergelar Cri Sanggramadhanajaya memerintahkan pembangunan dari bangunan suci ini khusus untuk arca Manjusri. Bangunan suci ini adalah Candi Sewu atau yang biasa kita kenal sebagai Candi Prambanan yang berlokasi di Jawa Tengah.

    Selanjutnya, terdapat informasi juga bahwa nama Raja Indra tersebut tidak terdapat pada batu bertulis Kelurak. Namun, nama Raja Indra terdapat pada peninggalan kerajaan Sriwijaya, Prasasti Ligor dan Nalanda.

    Namun, ahli bahasa hanya mampu menganalisis sangat sedikit tulisan pada prasasti peninggalan Kerajaan Mataram Kuno tersebut.

    Di sisi lain, seorang ahli mengutarakan sebuah pendapat berdasarkan penelitiannya bahwa batu bertulis Kelurak juga memiliki keterkaitan sejarah dengan Candi Sewu. 

    Selain itu, Museum Nasional Jakarta menjadi tempat yang tepat dan aman untuk menyimpan bukti eksistensi dari kerajaan Mataram Kuno ini.

    Apa Isi dari Prasasti Kelurak?

    Di bawah ini adalah hasil penerjemahan dari Inscnptie van Keloerak door karya Dr. F. D. K. Bosch. Namun, penerjemahan dari bahasa Belanda ke Indonesia ini masih memungkinkan adanya kekeliruan dan kurang tepat dalam prosesnya.

    Penghargaan untuk Tiga Permata

    • (1) Prinsip Kebuddhaan Jayalokegwara yang Tidak Bisa Dihancurkan! Prinsip Kebuddhaan Jayabhadregvara yang Tak Terganggu! Prinsip Kebuddhaan dari Jayavigvegvara! Prinsip tak tergoyahkan dari Kebuddhaan Jaya ….. gvara!
    • (2) Sembah Lokega, Tuhan Dunia, megah bersinar di semua titik kompas, Lokegvara, Amita-bha, Penguasa Dunia, berani menyeret dahi
    • (3) (Sebagian besar tidak terbaca). Perlindungan Lokegvara yang disebutkan dalam ayat sebelumnya tampaknya telah dimohonkan terlebih dahulu. takut (bhayabhita) melakukan kesalahan
    • (4) Oleh orang-orang benar, oleh-tetangga-pria-dan-sabar (?), Oleh-penaklukan-atas-dunia-penguasa-kepahlawanan-diperoleh – memiliki, orang-orang baik penghancur kafir, lakukan untuk kepentingan orang lain terus-menerus-penuh kasih-untuk-demi-orang lain …. oleh dia, permata keluarga Cailendra, penuh keagungan, debu yang kaki padma-nya disembah … oleh raja yang bertekad ini bernama Indra ditopang bumi
    • (6) Melalui dia, perhiasan dari …, dipenuhi dengan belas kasih saat melihat dunia, menjadi penyelamat dunia ….
    • (7) Olehnya, yang anggota tubuhnya yang waras telah dibersihkan oleh debu dari kaki padma guru negeri Gaudi…………
    • (8) Manjucri ini dibuat oleh …. guru dari sang pangeran dibesarkan demi dunia.
    • (9) ….. Manjughosa ….. Pilar Kemuliaan.
    • (15) Dia, pembawa Vajra, yang termasyhur, adalah brahma, Visnu dan Maheswara; Dia adalah Tuhan, terdiri dari semua dewa dan dinyanyikan sebagai Manjuvac.
    • (16) (Ini) Manjucrl di sini memberikan perlindungan atas tempat ini (?) Dan atas properti orang lain (?)
    • (17) Pohon harapan muda dari Kali (yuga), yang akarnya adalah pengertian (?), Batang welas asih, cabang-cabangnya. kesabaran, dedaunan.
      kata kerja • • • * dari (semua) keinginan (?),
    • (18) Dia, Tarksya, Manjurava, yang menghilangkan semua ketakutan, (melatih) perlindungan dalam kegelapan.
    • (19) Saya meminta semua penguasa masa depan dengan perilaku penuh kasih dan melalui ini …dari bhrtkumara (Manjucri) dilindungi.
    • (20) Hanya nama Ćri Sanggramadhananjaya.

    Lindungi Prasasti Kelurak Sebagai Warisan Berharga Kita!

    Prasasti Kelurak menjadi salah satu bukti nyata bahwa kerajaan besar pernah ada di Indonesia. Dengan begitu, batu bertulis satu ini menjadi harta berharga yang wajib kita jaga eksistensi dan nilai keasliannya. Kita juga harus menjaga nama Indonesia sebagai negara yang kaya akan warisan budaya leluhur.

  • Pengertian Homo Sapiens: Persebaran & Penemuannya

    Pengertian Homo Sapiens: Persebaran & Penemuannya

    Homo Sapiens adalah spesies manusia purba yang paling dominan dan intelektual di antara spesies lainnya. Sementara pengertian Homo Sapiens mencakup lebih dari sekadar aspek biologis yang mencerminkan kompleksitas sejarah, budaya, dan perkembangan sosial.

    Pada kesempatan kali ini, kami akan memberikan penjelasan dengan lebih mendalam apa yang dimaksud dengan Homo Sapiens dan bagaimana spesies ini hidup serta persebaran dan penemuannya secara lengkap.

    Pengertian Homo Sapiens 

    Homo Sapiens adalah manusia purba yang memiliki kemiripan fisik dan kecerdasan seperti manusia modern saat ini. Mereka muncul setelah mengalami proses evolusi selama ribuan tahun. 

    Species ini muncul antara 40.000 hingga 10.000 tahun yang lalu, yakni dari periode akhir zaman batu kuno hingga zaman batu muda. Mereka tidak hanya mampu menciptakan alat-alat sehari-hari, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir yang sangat cerdas.

    Selain itu, mereka telah mengembangkan teknologi lukisan yang bertahan lama di gua-gua. Untuk ciri fisiknya, Homo Sapiens hampir sama dengan manusia modern yang kita kenal sekarang.

    Ciri-Ciri Homo Sapiens

    Ilustrasi Ciri-Ciri Homo Sapiens
    Ilustrasi Ciri-Ciri Homo Sapiens | Sumber: Freepik 

    Setelah mengetahui pengertian Homo Sapiens, selanjutnya Anda juga perlu bagaimana ciri-ciri mereka. Berikut penjelasannya:

    • Tinggi tubuh berkisar antara 130 hingga 210 cm.
    • Berat tubuh berada dalam rentang antara 30 hingga 150 kilogram.
    • Volume otak berkisar antara 1.000 hingga 2.000 cc.
    • Pengurangan di bagian gigi, rahang, dan otot-otot kunyah, sehingga muncul dagu di rahang bawah.
    • Otot dan tulangnya lebih kecil.
    • Mampu menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan sesama.
    • Tengkoraknya memiliki bagian bawah yang pendek dan cangkang otak yang tinggi.
    • Bagian belakang tengkoraknya melengkung dan menunjukkan pengurangan otot leher.
    • Wajahnya cukup kecil, dengan tulang hidung yang menonjol.
    • Umumnya, tidak terdapat celah (ruang retromolar) di antara gigi geraham terakhir dan tulang rahang.
    • Giginya relatif kecil daripada spesies sebelumnya, terutama gigi seri depan dan gigi taring.
    • Kakinya relatif lebih panjang daripada lengannya.

    Jenis Homo Sapiens

    Ada beberapa jenis Homo Sapiens dan spesimennya dalam kategori-kategori seperti berikut:

    1. Cro-Magnon Man

    Istilah tersebut berfungsi untuk menggambarkan manusia modern yang mendiami Eropa sekitar 40.000 hingga 10.000 tahun yang lalu. Mereka telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan budaya dan seni, dengan meningkatkan seni lukis gua dan perkembangan alat-alat yang lebih canggih.

    2. Archaic Homo Sapiens

    Pengertian Homo Sapiens jenis ini terkadang berfungsi untuk menggambarkan fosil manusia kuno yang berasal dari wilayah Afrika, dengan usia kira-kira antara 300.000 hingga 150.000 tahun yang lalu. 

    Namun, klasifikasi mereka menjadi Archaic Homo Sapiens menjadi sulit, karena mereka memiliki campuran fitur modern dan kuno. Hal tersebut pada akhirnya menciptakan tantangan dalam memahami hubungan evolusi manusia.

    3. Homo Sapiens Sapiens

    Homo Sapiens Sapiens adalah nama yang berfungsi untuk mengidentifikasi spesies manusia modern, yang sering dianggap sebagai subspesies dari kelompok yang lebih besar dari Homo Sapiens. Terdapat beberapa ragam pemakaian nama ini, seperti menggambarkan spesimen dari Herto, Ethiopia sebagai Homo Sapiens Idàltu. 

    Selain itu, beberapa ilmuwan meyakini bahwa manusia modern dan Neanderthal adalah anggota dari spesies yang sama, sehingga memungkinkan berbagai penafsiran terkait hubungan antara manusia modern dan spesies manusia lainnya.

    Persebaran Homo Sapiens

    Ilustrasi Penyebaran Homo Sapiens
    Ilustrasi Penyebaran Homo Sapiens | Sumber: Kompas.com

    Penyebaran Homo Sapiens dimulai dari Afrika dan berkembang ke seluruh dunia, seperti Asia, Eropa, Amerika, Australia, termasuk Indonesia. Mereka juga seperti manusia purba lainnya yang hidup sederhana dengan berburu dan mengumpulkan makanan selama perubahan iklim dramatis sekitar 300.000 tahun yang lalu.

    Asal-usul manusia modern dan perjalanan keluar dari Afrika terkonfirmasi oleh Theory Out of Africa, yang diperkuat oleh bukti genetik, linguistik, dan fosil di Ethiopia. DNA mitokondria menunjukkan 99,9% identitas genetik manusia di seluruh dunia dan tidak ada pencampuran dengan manusia pra modern di satu wilayah.

    Teori lainnya, yakni Model Evolusi Multiregional, mengklaim bahwa manusia modern berasal dari berbagai wilayah, termasuk Eropa dan Asia, dengan perkembangan sesuai ras mereka. Meski berbeda teori, Homo Sapiens mampu mengatasi tantangan lingkungan yang berubah dan menyebarkan diri ke seluruh dunia.

    Pengertian Homo Sapiens sebagai manusia purba cerdas sendiri, karena mereka terkenal sebagai pemburu-pengumpul. Kemudian, mengembangkan peralatan kompleks seperti mata pancing, anak panah, dan pelempar tombak. 

    Seiring waktu, mereka beralih ke pertanian dan pemeliharaan hewan, yang mendorong mereka untuk hidup menetap. Terakhir, ditemukan fosil tertua Homo Sapiens di Maroko, dengan penyebaran ke Tiongkok dan Indonesia pada periode waktu tertentu.

    Pola Kehidupan Homo Sapiens

    Pengertian Homo Sapiens sebagai manusia purba cerdas tidak hanya menciptakan dan memakai perkakas dari batu. Mereka juga menghasilkan alat-alat yang lebih kecil dan rumit, termasuk mata pancing, anak panah, pelempar tombak, dan jarum jahit. 

    Dalam kurun waktu 12.000 tahun terakhir, Homo Sapiens mengalami perubahan menuju produksi makanan sendiri, bukan hanya mengumpulkannya. Mereka mulai memahami bahwa mereka bisa menumbuhkan tanaman dan memelihara hewan. 

    Seiring mereka mengalokasikan lebih banyak waktu untuk memproduksi makanan dan menjinakkan hewan, mereka juga membuat keputusan untuk tinggal menetap serta mengakhiri gaya hidup yang berpindah-pindah atau nomaden.

    Penemuan Homo Sapiens di Indonesia

    Ilustrasi Tengkorak Homo Sapiens
    Ilustrasi Tengkorak Homo Sapiens | Sumber: Australian Museum 

    Setelah mengetahui pengertian Homo Sapiens, perlu juga Anda ketahui, bila beberapa penemuan menunjukkan bahwa Homo Sapiens di Indonesia adalah jenis manusia purba yang paling mirip dengan manusia modern. Penemuan fosilnya dimulai pada 1889, ketika van Rietschoten menemukan tengkorak dan kerangka di Tulungagung, Jawa Timur. Berikut penjelasannya: 

    1. Homo Wajakensis

    Pertama kali ditemukan di Wajak, Tulungagung oleh von Rietschoten pada tahun 1889. Fosil tersebut mencakup tulang paha, rahang atas, rahang bawah, tulang kering, dan fragmen tengkorak dengan volume sekitar 1.600 cc. Rietschoten mengklasifikasikannya sebagai Homo Sapiens pertama di Asia, dan kemudian diteliti oleh Eugene Dubois.

    Fosil ini mengungkapkan bahwa Homo Wajakensis sudah memiliki kemampuan membuat alat dari batu dan tulang. Selain itu, mereka juga memiliki pengetahuan tentang cara memasak. 

    Fisik mereka memiliki ciri-ciri seperti wajah datar dan lebar, hidung lebar dengan mulut menonjol, berat badan berkisar antara 30-150 kilogram, tinggi badan sekitar 130-210 sentimeter, dan otak yang sudah lebih berkembang.

    Tengkorak Homo Wajakensis memiliki persamaan dengan masyarakat asli Aborigin di Australia, sehingga Dubois mengelompokkannya sebagai manusia modern ras Australoid. Fosil ini juga memiliki kesamaan dengan manusia Niah di Sarawak, Malaysia, dan manusia Tabon di Palawan, Filipina.

    Eugene Dubois, seorang dokter asal Belanda, datang ke Indonesia untuk mencari bukti-bukti teori evolusi Charles Darwin. Meskipun awalnya menghadapi polemik akademik, Dubois melakukan penelitian di Jawa dan berhasil menemukan fosil-fosil manusia yang membantu mengisi kekosongan dalam evolusi manusia. 

    Temuannya yang paling terkenal adalah Pithecanthropus Erectus (Homo erectus) di Trinil, Ngawi, Jawa Timur, yang dianggap sebagai “missing link” dalam evolusi manusia. Lalu, Dubois berhasil merekonstruksi bahwa makhluk ini berjalan tegak, meskipun memiliki ciri wajah menyerupai kera.

    2. Homo Soloensis

    Penemuan jenis manusia purba ini pertama kali di lembah Sungai Bengawan Solo, dekat Desa Ngandong oleh von Koenigswald dan Weinrich. Beberapa ahli mengklasifikasikan pengertian Homo Sapiens ini sebagai Homo Neanderthal, yang merupakan jenis Homo Sapiens dari Pleistosen Atas di Asia, Eropa, dan Afrika.

    3. Homo Floresiensis

    Penemuan pertama kali oleh Peter Brown dan Mike J. Morwood pada September 2003, dan mereka menganggapnya sebagai spesies baru yang mereka beri nama berdasarkan lokasi penemuan mereka di Liang Bua, Flores.

    Jenis ini memiliki ciri-ciri unik, yakni ukuran kepala dan badan yang kecil, volume otak sekitar 380 cc, rahang menonjol, berat badan sekitar 25 kilogram, dan tinggi badan sekitar 1,06 meter. 

    Pengelompokannya sebagai manusia modern masih menjadi perdebatan di kalangan ahli, dengan beberapa menduga bahwa mereka merupakan hasil evolusi Pithecanthropus. Sementara yang lain berpendapat bahwa mereka hidup berdampingan atau bahkan pada periode yang sama dengan Homo Sapiens.

    Sudah Lebih Tahu Pengertian Homo Sapiens dan Penemuannya?

    Pengertian Homo Sapiens sebagai spesies manusia purba cerdas memiliki sejarah evolusi yang luar biasa, mulai dari penemuan fosil Homo Wajakensis di Indonesia hingga Homo Floresiensis di Flores. 

    Penemuan-penemuan tersebut tidak hanya memberikan wawasan mendalam tentang kehidupan manusia purba, tetapi juga menghadirkan pertanyaan menarik tentang peran mereka dalam perjalanan panjang evolusi sampai saat ini.

    Sejarah manusia terus berkembang seiring dengan temuan-temuan baru yang bisa membantu kita mengulik sejarah masa lalu dan membantu kita memahami asal-usul dan perjalanan Homo Sapiens dengan lebih baik. Semoga bermanfaat!

  • Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta secara Singkat

    Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta secara Singkat

    Yogyakarta terkenal dengan julukan kota pendidikan, kota pariwisata, dan kota yang kaya akan budaya. Namun, bagaimana kota ini dikenal sekarang tidak terlepas dari tragedi atau peristiwa sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta yang pernah terjadi sebelumnya. 

    Yogyakarta merupakan salah satu provinsi di indonesia yang menyandang otonomi khusus atau keistimewaan, sehingga memiliki status sebagai Daerah Istimewa. Hal tersebut terjadi karena ada sejarah panjang yang melekat pada Yogyakarta karena keterlibatannya dalam proses pendirian negara Indonesia. 

    Terbentuknya Nama Yogyakarta

    Status Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa merupakan urutan dari berdirinya daerah ini yang berjalan beriringan dengan sejarah kemerdekaan Indonesia. Jika membicarakan sejarah Daerah istimewa Yogyakarta, pasti tidak terlepas dari bagaimana terjadinya proses perjanjian Giyanti. 

    Jika melihat dari perjanjian Giyanti, Yogyakarta atau Ngayogyakarta adalah nama yang diberikan oleh Paku Buwono II (Raja mataram pada tahun 1719-1727). Sebenarnya penamaan  ini untuk menggantikan nama Pesanggrahan Garjitawati. 

    Nama Yogyakarta sendiri memiliki maksud Yogya yang makmur atau Yogya yang kerta. Yogya berarti makmur. Sedangkan Ngayogyakarta Hadiningrat memiliki arti Yogya yang makmur dan paling utama. Sedangkan pada sumber lain ada yang mengatakan Yogyakarta berasal dari nama ibu kota Sanskrit Ayodhya dalam epos Ramayana.

    Awal Mula Terbentuknya Yogyakarta

    Tugu Yogyakarta
    Tugu Yogyakarta | Sumber Gambar: Wikipedia

    Jika menarik jauh ke belakang dari sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta, DIY terbentuk adanya perjanjian Giyanti (13 Februari 1755). Sebuah tipu daya VOC dengan tujuan memecah belah Kerajaan Mataram. Ini adalah Perjanjian antara VOC dan Pangeran Mangkubumi, berisi tentang pembagian Kesultanan Mataram menjadi dua bagian. 

    Perjanjian tersebut secara resmi membagi kekuasaan Kesultanan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta yang berada di bawah kepemimpinan Sunan Pakubuwana III. Serta Kesultanan Yogyakarta berada di bawah kepemimpinan Pangeran Mangkubumi yang kemudian memiliki gelar Sultan Hamengku Buwono I. 

    Sedangkan Kadipaten Pakualaman atau Praja Pakualaman berdiri sejak tahun 1813. Pendirinya adalah putra Sultan Hamengku Buwono I, yaitu Pangeran Notokusumo yang memiliki gelar sebagai Kanjeng gusti Pangeran Adipati Paku Alam I. Status kerajaan ini memiliki kemiripan dengan statu Praja Mangkunegaran yang berada di Surakarta. 

    Yogyakarta adalah Kesultanan yang yang termasuk di dalamnya adalah Kadipaten Pakualaman sudah menjalankan tradisi pemerintahan bahkan sebelum kemerdekaan Indonesia. Pemerintahan Hindia Belanda mengakui keberadaan Kasultanan dan Pakualaman sebagai kerajaan yang memiliki hak mengatur pemerintahannya sendiri.

    Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten pakualaman berstatus “kerajaan vasal/negara bagian/dependent state”. Pada zaman penjajahan Hindia Belanda daerah dengan sejarah pemerintahannya sendiri memiliki sebutan, yaitu Zelfbesturende Landschappen. Kata lain untuk daerah swapraja atau daerah kerajaan seperti Kasultanan Yogyakarta. 

    Tidak hanya oleh pemerintahan Hindia belanda, tetapi status ini juga diakui oleh Soekarno. Serta tidak hanya sekedar pengakuan, tapi juga terfasilitasi dengan adanya payung hukum dalam BPUPKI dan PPKI. Statusnya sebagai daerah dan bukan lagi sebagai sebuah negara. 

    Yogyakarta Setelah Proklamasi Kemerdekaan 

    Pura Pakualaman
    Pura Pakualaman | Sumber gambar: Wikipedia

    Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta berlanjut setelah proklamasi. Setelah terlaksananya proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus tahun 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri paduka Paku Alam VIII menerima piagam. 

    Sebuah simbol atas pengangkatannya sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dari presiden Republik Indonesia.

    Setelahnya pada September 1945 keduanya menyatakan bahwa daerah Kesultanan dan daerah Pakualaman merupakan bagian dari wilayah negara Indonesia. Ini sesuai yang tertulis pada pasal 18 UUD 1945. Pada Oktober keluar amanat kedua yang berisi tentang kerja sama dalam mewujudkan kesatuan Daerah Istimewa Yogyakarta. 

    Adanya amanat 30 Oktober 1945 yang berisi tentang penyerahan kekuasaan legislatif kepada BP KNI Daerah istimewa Yogyakarta. Lewat kesepakatan tersebut terbentuklah Badan Pekerja Komite Nasional dan beriringan bergabungnya lagi dua kerajaan yang sudah terpisah sejak lama.

    Selama proses pembentukan UU yang mengatur susunan daerah dengan sifat Istimewa. Maka, Sultan Hamenku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII atas persetujuan Dewan Daerah (NP DPR DIY) mengeluarkan maklumat No. 18 yang mengatur kekuasaan eksekutif dan legislatif. 

    Secara resmi dalam maklumat ini nama Daerah Istimewa Yogyakarta diberlakukan untuk menandai bersatunya dua kerajaan, yaitu Kesultanan dan Pakualaman dalam Daerah Istimewa. Maklumat ini kemudian menjadi acuan pada jalannya pemerintahan daerah di Yogyakarta sampai penetapan UU DIY secara resmi. 

    Pemerintah Daerah Kota Yogyakarta 

    Kesultanan Yogyakarta
    Kesultanan Yogyakarta | Sumber gambar: Wikipedia

    Lahirnya Undang-undang Nomor 17 tahun 1947 yang berisi tentang pembentukan Haminte Kota Yogyakarta berasal dari usulan Dewan Kota Yogyakarta. Menandakan sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta yang terdiri dari daerah Kesultanan dan Pakualaman telah menjadi kota otonomi atau kota praja. 

    Pada undang-undang ini dalam pasal I menuliskan bahwa Kota Yogyakarta yang meliputi daerah kesultanan dan Pakualaman. Serta beberapa daerah di Kabupaten Bantul yang sekarang menjadi kecamatan Umbulharjo dan Kotagede adalah daerah yang memiliki hak untuk mengatur dan menata pemerintahannya sendiri.

    Ini terlihat sebagai sesuatu yang wajar, karena sejak 5 Januari 1946 Yogyakarta telah menjadi ibu kota Negara Indonesia. Pada UU tersebut, Yogyakarta memiliki hubungan langsung dengan pemerintah dan keluar dari Daerah istimewa Yogyakarta.

    Kembali pada acuan UUD 1945, sesuai dengan UU Nomor 18 Tahun 1965 tentang pokok-pokok pemerintahan daerah. Menyatakan tugas DPRD dan kepala daerah akan dipisahkan dan dibentuk oleh wakil kepala daerah dan badan pemerintahan harian. Selain itu, sebutan Kota Praja berganti dengan Kotamadya Yogyakarta. 

    Pokok-pokok pemerintahan di daerah juga diatur pada undang-undang Nomor 5 tahun 1974. Atas dasar Undang-undang tersebut, Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan provinsi dan juga daerah tingkat I dengan kepala daerah Gubernur dan Wakil gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Jabatannya tidak terikat oleh syarat, ketentuan masa jabatan, dan cara pengangkatan. Khususnya bagi Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri paduka Paku Alam VIII.  Sedangkan Kotamadya Yogyakarta adalah daerah tingkat II dengan pimpinan Walikotamadya yang terikat jabatan, syarat, dan cara pengangkatan.

    Sekarang ini, kepemimpinan Kraton Yogyakarta oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Di mana peran beliau adalah menentukan bagaimana berjalannya pemerintahan dan pembentukan sistem yang lebih baik. Selain itu, ini juga terkait bagaimana melestarikan nilai-nilai budaya dan mempertahankan peninggalan sejarah yang ada. 

    Sudah Tahu Bagaimana Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta?

    Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta ternyata sangat erat hubungannya dengan proses kemerdekaan Indonesia. Tidak hanya sekedar nama, tersematnya status sebagai Daerah Istimewa ternyata juga tidak terlepas dari perannya saat awal kemerdekaan. 

    Selain terkenal sebagai kota dengan pelestarian budaya yang tinggi, Yogyakarta memiliki berbagai macam museum untuk napak tilas perjalanan kemerdekaan sampai sejarah Yogyakarta sendiri. Selain itu, kamu bisa menjumpai banyak situs sejarah yang dapat kamu pelajari di Jogja. 

    Agar dapat mengetahui lebih jauh tentang sejarah Kota Yogyakarta, kamu bisa mengunjungi berbagai museum yang ada di kota ini. Seperti Museum Benteng Vredeburg, Museum Monumen Yogya Kembali, Museum Sandi, Museum Bahari, atau Museum TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala. Semoga bermanfaat!

  • Waisak adalah: Sejarah, Tujuan, Makna dan Kegiatan

    Waisak adalah: Sejarah, Tujuan, Makna dan Kegiatan

    Kita semua pasti sudah tidak asing dengan Hari Raya Suci Waisak karena selalu ditetapkan sebagai libur nasional. Waisak adalah hari raya suci yang masih dirayakan oleh umat Buddha hingga kini. 

    Meski sering mendengar hari raya ini, tapi, tahukah Anda seperti apa sejarah hari raya ini sampai bisa terus berkembang hingga sekarang? Yuk, simak penjelasan tentang hari raya umat Budha termasuk tujuan, makna, dan kegiatan perayaannya! 

    Sejarah Hari Raya Waisak

    Patung Buddha di Vihara
    Patung Buddha di Vihara | Sumber gambar: Freepik.com

    Waisak adalah sebuah hari raya yang dirayakan di berbagai dunia mengingat, tingginya pemeluk agama Buddha dan tersebar di belahan dunia. 

    Tidak heran, perayaan hari Waisak punya berbagai versi nama dan perayaan. Beberapa nama hari perayaan Waisak di berbagai negara seperti Vesak di Malaysia, Singapura, dan Sri Lanka, Visakha Bucha di Thailand, Saga Dawa di Tibet, dan Buddha Purnima di India. 

    Sementara di Indonesia, Hari Raya Waisak juga dikenal dengan Hari Tri Suci Waisak. 

    Menariknya, penanggalan Hari Raya Waisak berbeda-beda setiap tahunnya karena mengikuti penanggalan kalender Buddha atau Buddhist Era. Tapi, Hari Raya Waisak selalu jatuh pada bulan Mei setiap tahunnya dan dirayakan saat bulan purnama. 

    Tingginya pemeluk agama Buddha, khususnya di Asia Tenggara membuat Hari Raya Waisak pun menjadi hari libur nasional, seperti halnya di Indonesia.  

    Tapi, seperti apakah kisah dibalik Hari Raya Waisak dan kapankah masyarakat dunia mulai merayakan hari besar ini? Mengutip dari Media Indonesia, hari Waisak sudah mulai dilakukan dan berlangsung sebelum abad ke-19.

    Pada awalnya, penduduk beragama Buddha meminta agar Hari Suci Waisak bisa tetap diakui secara resmi layaknya hari-hari besar keagamaan lainnya guna memperingati tiga peristiwa penting dalam hidup sosok Buddha Gautama. 

    Bagi umat Buddha, Buddha Gautama telah mengajarkan kepada banyak orang tentang jalan menuju kebebasan dari segala ketidaktahuan, keluar dari semua nafsu dan keinginan, serta bereinkarnasi setelah penderitaan. 

    Mulianya perjalanan Buddha inilah yang menginspirasi lahirnya perayaan Hari Tri Suci Waisak. Negara Sri Lanka mengadakan sebuah konferensi pertama bagi World Fellowship of Buddhists atau Persekutuan Buddhists Sedunia untuk menetapkan perayaan Waisak sebagai hari lahir Buddha untuk berbagai negara. 

    Berdasarkan kesepakatan ini, Perayaan Hari Tri Suci Waisak dilakukan setiap Bulan Purnama Pertama di Bulan Mei. Pemilihan tanggal ini pun berdasarkan pada penanggalan India Kuno. 

    Tujuan Hari Tri Suci Waisak 

    Waisak adalah sebuah hari yang menandai tiga peristiwa penting yang dialami oleh Guru Agung Umat Buddha, Siddharta Gautama. 

    Adapun tiga peristiwa yang dimaksud adalah kelahiran Buddha, perjalanan Buddha menuju pencerahan sempurna, dan keberangkatan sang Buddha.

    Tiga peristiwa inilah yang kemudian dikenal dengan Hari Tri Suci Waisak atau yang kita kenal dengan Hari Raya Waisak yang mulai dirayakan sekitar pada abad ke-5 Sebelum Masehi. 

    Tentunya sejarah kelahiran Hari Raya Waisak tidak bisa lepas dari sejarah perjalanan Buddhha Gautama itu sendiri yang dilahirkan sebagai guru. Ia lahir sebagai seorang anak Raja yang memiliki kemewahan serta kekayaan. 

    Tapi, ia memiliki pemikiran yaitu kemewahan dan kekayaan tersebut tidak dapat menjamin kebahagiaan seseorang. 

    Siddharta Gautama saat itu memperoleh pencerahan di bawah sebuah pohon bernama Bodhi yang berada di daerah bernama Bodh Gaya, yang berlokasi di India. 

    Tempat itu pun kini menjadi tempat bersejarah sekaligus disucikan oleh umat Buddha. Mulai dari tempat tersebut, seorang Buddha Gautama memulai kisahnya berkeliling sebagai tunawisma dan belajar bermeditasi selama kurang lebih enam tahun. 

    Dalam perjalanannya itu, ia belajar dan senantiasa mempraktekkan kehidupan asketisme, kehidupan yang tidak ada kenikmatan duniawi guna memperoleh keuntungan spiritual. Perjalanannya tersebut yang menghantarkan Buddha pada sebuah pencerahan sempurna. 

    Sementara itu, Perayaan Waisak ditujukan untuk merenungkan dan menghormati sifat Buddha. 

    Pada renungan ini, seluruh umat Buddha juga turut merenungkan perbuatan mereka selama setahun belakangan dan berharap mereka tidak mengulangi hal-hal buruk yang sudah mereka lakukan. 

    Selain itu, perayaan ini juga bertujuan untuk menghormati para leluhur termasuk juga sosok Buddha Gautama yang telah menyebarkan kepercayaan tersebut. 

    Hari Raya Waisak pun bisa menjadi contoh baik bagi semua orang. Beberapa ajaran Buddha yang layak diteladani adalah memberikan cinta kasih kepada semua makhluk yang ada di bumi. 

    Cara yang bisa dilakukan untuk mengasihi sesama makhluk yang ada di bumi menurut agama Buddha adalah dengan membantu mereka yang membutuhkan.

    Selain itu, bisa juga dengan menjaga lingkungan sekitar, hidup sederhana tidak serakah, melakukan donor darah, dan masih banyak lagi yang lainnya. 

    Inti dari perayaan Waisak adalah mengajak manusia untuk merenungi perbuatannya dan senantiasa hidup dalam cinta kasih dan tidak menyakiti sesama makhluk hidup. Ajaran ini yang juga menjadi pedoman hidup bagi masyarakat yang memeluk agama Buddha. 

    Makna Hari Suci Waisak Bagi Umat Buddha

    Waisak Mengajarkan Cinta Kasih
    Waisak Mengajarkan Cinta Kasih | Sumber gambar: Freepik.com 

    Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Waisak adalah hari yang memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha yaitu kelahiran Sang Buddha Gautama beserta pencerahan dan pencapaiannya menuju nirwana. Adapun penjelasan lengkapnya bisa dilihat pada penjelasan berikut. 

    1. Kelahiran Buddha Gautama 

    Buddha Gautama lahir sebagai seorang pangeran dari anak raja yaitu Raja Suddhodana dan Ratu Mahamaya. Ia lahir di Taman Lumbini pada 623 SM dan diberi nama Siddharta Gautama. 

    Diceritakan, Siddharta Gautama lahir dalam kondisi sangat bersih tanpa satupun noda di tubuhnya bahkan ia bisa berdiri tegak, dan langsung bisa berjalan. Hal ini tentu sangat berbeda dari bayi baru lahir pada umumnya. 

    Situasi yang cukup aneh, namun menakjubkan ini pun menjadi penanda sang pangeran yang baru lahir tersebut adalah calon Buddha yang akan mencapai kebahagiaan tertinggi. 

    2. Siddharta Gautama Mendapat Penerangan Agung 

    Makna yang kedua dari Hari Raya Waisak adalah peristiwa Siddharta Gautama memperoleh penerangan agung. 

    Pimpinan Asita Kaladewala meramalkan pada kelahiran Siddharta Gautama bahwa bayi tersebut akan menjadi seorang Maharaja Dunia atau Chakravartin di masa mendatang. 

    Pada usia ke-35, Siddharta Gautama pun mendapat Penerangan Agung dan dirinya pun menjadi Buddha di Bodhgaya pada bulan Waisak. 

    Setelah mendapat Penerangan Agung, Buddha Gautama pun pergi selama 45 tahun untuk berkelana dan menyebarkan dharma (kebaikan). 

    3. Parinibbana

    Ketiga, makna dari perayaan hari Waisak yaitu Parinibbana yang merupakan kematian sang Buddha Gautama. Peristiwa ini terjadi pada 543 SM, saat Buddha menginjak usia 80 tahun. 

    Atas kepergian sang Buddha, seluruh pengikutnya pun melakukan suud sebagai penghormatan terakhir untuk sosok Buddha. 

    Ketiga makna inilah yang kemudian menjadi landasan perayaan Hari Tri Suci Waisak di seluruh dunia. 

    Kegiatan Perayaan Hari Suci Waisak

    Ritual Mandi Budhha
    Ritual Mandi Budhha | Sumber gambar: Freepik.com 

    Kegiatan pada Hari Suci Waisak tentunya berbeda-beda di setiap negara, bahkan di setiap daerah di Indonesia. Namun, ada beberapa perayaan umum dilakukan saat perayaan Hari Suci Waisak adalah sebagai berikut. 

    1. Menyalakan Lampu Minyak dan Lilin Berbentuk Lotus
    2. Mengunjungi Tempat Kelahiran Buddha di Nepal 
    3. Mengibarkan Bendera Buddha di Rumah-Rumah Umat Buddha
    4. Menghias Tempat Ibadah atau Vihara 
    5. Melakukan Ritual Mandi sang Buddha di Vihara

    Baca Juga: 12 Peninggalan Kerajaan Buddha yang Ada di Nusantara

    Sudah Paham Tentang Waisak? 

    Itulah penjelasan tentang hari raya yang dirayakan oleh umat Buddha ini. Meski Anda tidak merayakan, Hari Waisak adalah hari yang sangat suci bagi umatnya. Maka dari itu, Anda pun patut menghormati untuk menjaga kerukunan antar umat beragama, khususnya di Indonesia.

    Dengan menghormati setiap perayaan umat agama lain, Anda telah menerapkan toleransi secara bijak. Hikmahnya, kesatuan dan persatuan di Indonesia mampu terjaga dengan baik.