Category: Sejarah Islam

  • 12 Tradisi Islam di Nusantara, Yuk Kenali Apa Saja!

    12 Tradisi Islam di Nusantara, Yuk Kenali Apa Saja!

    Berbicara Islam di Indonesia pastinya tidak luput dari adanya tradisi Islam di Nusantara. Sebab Islam sudah sejak abad ke-7 Masehi datang di Indonesia melalui para pedagang dan pengembara Arab.

    Dan sejak saat itulah masyarakat Indonesia membentuk tradisi yang mencerminkan harmoni ajaran Islam dan kearifan lokal.

    Dimana tradisi Islam di Nusantara ini telah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari tradisi masyarakat Indonesia.

    12 Tradisi Islam di Nusantara

    Seperti yang sudah kita tahu bahwa tradisi merupakan adat istiadat atau kebiasan yang turun temurun dari masyarakat sebelumnya. Sehingga, tidak heran jika ajaran Islam mencoba masuk ke Indonesia melalui budaya.

    Para ulama yang berdakwah menyebarkan Islam tanpa memusnahkan secara total tradisi yang sudah ada di Indonesia. Dengan begitu, akan tercipta harmonisasi yang indah dalam tradisi Islam di Nusantara.

    Adapun tradisi-tradisi Islam di Indonesia yaitu:

    1. Tradisi Halal Bihalal

    Menjelang akhir bulan Ramadhan tradisi halal bihalal umum dilaksanakan oleh masyarakat Islam di Indonesia. Tradisi ini bertujuan untuk bisa saling memanfaat atas kesalahan yang diperbuat baik dengan keluarga, teman, tetangga dan lainnya.

    Awal mula tradisi ini ada sejak tahun 1984, dimana pada saat itu presiden pertama Indonesia yaitu Soekarno memanggil KH. Wahab Chasbullah untuk datang ke Istana Negara.

    Dan kedatangan dari KH. Wahab Chasbullah ini bertujuan untuk dimintai pendapat oleh Soekarno tentang ketegangan yang telah terjadi di Indonesia saat itu.

    Kemudian KH. Wahab Chasbullah memberikan saran agar melaksanakan silaturahmi.

    Sebab saat kedatangannya beliau itu akan masuk hari raya Idul Fitri 1367 H. Saran dari KH. Wahab Chasbullah pun disetujui oleh Soekarno. Baru akhirnya acara tersebut disebut dengan halal bihalal.

    2. Tradisi Sekaten

    Mungkin ada beberapa orang yang kurang familiar akan tradisi Sekaten. Sebab tradisi Islam di Nusantara satu ini dilaksanakan di Keraton Surakarta Jawa Tengah dan Keraton Yogyakarta pada satu tahun sekali.

    Tradisi ini masih ada hingga sekarang, sebab ingin melestarikan dengan wujud mengenang jasa-jasa para Walisongo. Para Walisongo inilah yang telah berhasil menyebarkan Islam di tanah Jawa.

    Tradisi ini dulu merupakan sarana penyebaran agama Islam yang digunakan oleh Sunan Bonang. Biasanya peringatan ini oleh para Wali disebut Maulid Nabi, dan sekarang adalah Sekaten.

    Sekaten sendiri merupakan kata yang berasal dari kata Syahadatain artinya dua kalimat syahadat. Dahulu Sunan Bonang akan menyebarkan Islam dengan membunyikan gamelan yang diselingi oleh lagu berisi ajaran Islam.

    Dan setiap pergantian pukulan gamelannya, Sunan Bonang menyelingi dengan membaca syahadat tersebut. Sehingga, Sekaten ini diadakan dengan tujuan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad Saw dan melestarikan tradisi para wali.

    3. Tradisi Perayaan Hari Besar Islam

    Selanjutnya tradisi Islam di Nusantara yaitu perayaan hari besar Islam. Masyarakat Indonesia merayakan berbagai hari besar Islam di Indonesia. Hari besar seperti Idul Fitri, Maulid Nabi Muhammad SAW, Idul Adha, dan Isra Mi’raj.

    Biasanya perayaan hari besar Islam ini diisi dengan berbagai kegiatan islami yang mendukung hari besar tersebut. Salah satunya seperti shalat berjamaah, membaca Al-Quran, berbagi makanan, dan masih banyak yang lainnya.

    4. Tradisi Ketupat

    Tidak afdol rasanya jika di pulau Jawa setelah seminggu hari raya Idul Fitri tidak melaksanakan tradisi Ketupat. Tradisi yang awalnya hanya di pulau Jawa saja, kini sudah berkembang di daerah lain juga.

    Tradisi membuat ketupat yang biasanya masyarakat laksanakan dengan cara berkumpul pada satu tempat untuk mengadakan selamatan. Bertempat di musholla atau masjid dengan hidangan utama ketupat.

    Ketupat sendiri merupakan sebuah makanan yang terbuat dari nasi dengan bungkus anyaman janur atau daun kelapa yang masih muda. Dan tradisi ini oleh para wali digunakan sebagai sarana mendakwahkan agama Islam.

    Sebagian besar masyarakat menyebut ketupat dari singkatan ngakui lepat atau mengakui kesalahan. Dengan begitu, tradisi ini menjadi simbol untuk saling memaafkan antar umat manusia.

    Baca juga: Bacaan Doa Sujud Syukur Latin, Arab dan Tata Caranya

    5. Tradisi Grebeg Syawal

    Berikutnya ada tradisi Islam di Nusantara yang bernama Grebeg Syawal. Tradisi ini biasanya dilaksanakan setahun 3 kali. Tahun pertama setiap 1 Syawal dengan tujuan menghormati bulan Ramadhan dan Lailatul Qadar.

    Kedua Grebeg Besar yang diadakan pada tanggal 10 Dzulhijjah guna merayakan hari raya kurban. Dan ketiga ada Grebeg Maulud untuk memperingati hari Maulid Nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 Rabiul Awwal.

    Biasanya untuk tradisi Grebeg Syawal pada hari pertama bulan Syawal ini dilaksanakan dengan mengadakan arakan gunungan hasil bumi. Gunungan tersebut akan diarak dari Keraton Yogyakarta menuju Masjid Agung Kauman. 

    Setelah sampai di masjid, gunungan hasil bumi akan diperebutkan oleh masyarakat yang sudah menunggu. Tradisi Grebeg Syawal hadir sebagai salah satu bentuk wujud kedermawanan dari sultan terhadap rakyat di Yogyakarta.

    6. Tradisi Tabuik atau Tabot

    tabuik

    Tradisi ini merupakan sebuah acara upacara masyarakat tradisional Bengkulu untuk mengenang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Muhammad SAW. Cucu Nabi Rasulullah SAW yang bernama Hasan dan Husein bin Ali Abi Thalib.

    Sebab kedua cucu Nabi Muhammad SAW tersebut gugur dalam peperangan di Karbala Irak pada 10 Muharram 61 Hijriah. Syaikh Burhanuddin lah orang pertama yang melaksanakan tradisi Tabuik.

    Upacara yang dilaksanakan dari tanggal 1 hingga 10 Muharram setiap tahunnya ini berasal dari kata Arab yaitu tabut. Tabut yang secara harfiah mempunyai arti kotak kayu atau peti.

    Walaupun tradisi ini dilaksanakan Syaikh Burhanuddin sebagai Imam Senggolo pada tahun 1685. Akan tetapi, belum ada dugaan kuat tradisi ini siapa yang membawa masuk ke Bengkulu.

    7. Tradisi Rabu Kasan

    Tradisi Islam di Nusantara ini pertama kali diselenggarakan di Bangka, hingga akhirnya terus berkembang hingga saat ini dan menyebar di seluruh masyarakat Indonesia seperti tanah Jawa dan Sunda.

    Tradisi Rabu Kasan diadakan setiap hari Rabu pada bulan Safar yaitu bulan kedua dari 12 penanggalan tahun Hijriah. Acaranya berisikan kegiatan doa untuk memohon keberkahan, perlindungan, dan keselamatan antar manusia.

    Dimana biasanya tradisi Rabu Kasan dianjurkan untuk memperbanyak istighfar. Sebab istighfar merupakan satu perbuatan paling ampuh untuk memohon ampunan kepada Allah SWT, dan kemudian dilanjutkan untuk bertaubat kepada Allah SWT.

    8. Tradisi Tahlilan

    Bagi warga Nahdliyin pastinya sudah lazim mendengar kata tahlilan, bukan? Tradisi Islam di Nusantara yang satu ini dilaksanakan apabila terjadi kematian terhadap salah satu kerabat muslim.

    Tradisi yang dilakukan pada hari ke-1 hingga ke-17, hari ke-40, hari ke-100, dan hari ke-1000 dari kematian kerabat tersebut. Setelah itu, puncak acara tahlilan dilaksanakan setiap tahun tepat pada hari meninggalnya.

    Secara singkatnya tradisi ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengenang dan mendoakan seseorang yang telah meninggal dunia. Berharap semua dosa yang dimiliki oleh orang yang meninggal diampuni oleh Allah SWT.

    9. Tradisi Grebeg Besar

    Selain ada tradisi Grebeg Syawal di Yogyakarta, ada pula tradisi Islam di Nusantara yang bernama Grebeg Besar. Acara ini dilaksanakan setiap bulan di Kabupaten Demak Jawa Tengah.

    Biasanya acara akan dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah. Tanggal yang bertepatan dengan datangnya Hari Idul Qurban atau Hari Raya Idul Adha.

    Awal mulanya acara ini terjadi pada tahun 1428 Caka, sekaligus memperingati 40 hari peresmian penyempurnaan Masjid Agung Demak kala itu. Dan sekarang, acaranya terjadi setiap setahun sekali pada 10 Dzulhijjah.

    Masjid Agung Demak ini didirikan oleh Walisongo pada tahun 1399. Dan tahun berdirinya itu tertulis kalimat “Lawang Trus Gunaning Janmo” pada bagian Candrasengkala.

    Dan pada tahun 1428 dalam Caka, Sunan Giri meresmikan masjid tersebut. Sebab pengunjung yang datang sangatlah banyak., maka beliau menggunakan kesempatan tersebut untuk berdakwah Islam.

    10. Tradisi Kerobok Masjid

    Tradisi Kerobok Masjid juga merupakan tradisi Islam di Nusantara. Tradisi yang dilaksanakan di Kutai pada tanggal 12 Rabiul Awwal ini bertujuan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

    Kerobok Maulid sendiri berasal dari bahasa Kutai yang artinya berkerumun atau berkerubun oleh orang banyak. Biasanya tradisi akan dilaksanakan di pusat halaman Masjid Jami’ Hasanuddin Tenggarong.

    Acaranya diawali dengan pembacaan Barzanji, kemudian Keraton Sultan Kutai dan puluhan prajurit Kesultanan akan keluar membawa usung-usungan. Usung-usungan itu berisi kue-kue tradisional, bunga rampai, astagona, dan puluhan bakul Sinto.

    Setelah semua dikeluarkan, maka akan dibawa berkeliling ke Keraton Kedaton Sultan dan berakhir di Masjid Jami’ Hasanuddin tersebut. Barulah semua makanan akan dibagi-bagikan kepada masyarakat yang ada dalam masjid.

    Acara berakhir dengan ditandai penyampaian hikmah maulid Nabi Muhammad SAW oleh seorang ulama.

    11. Tradisi Syawalan

    Tradisi Syawalan yang termasuk dalam tradisi Islam di Nusantara ini merupakan tradisi masyarakat Kota Pekalongan. Acara akan dilaksanakan pada setiap hari kedelapan pada Hari Raya Idul Fitri.

    Syawalan juga diartikan sebagai halal bihalal. Dimana jika jatuh pada 8 Syawal ribuan masyarakat akan berkumpul untuk bersilaturahmi sekaligus berkunjung untuk menikmati segala hidangan yang tersedia.

    Menariknya lagi, hidangan khasnya yaitu Lopis Raksasa yang ukurannya sangat besar. Sebelum Lopis Raksasa dipotong oleh Walikota Pekalongan dan kemudian dibagikan kepada masyarakat, sebelumnya dilakukan doa bersama terlebih dahulu.

    Dengan harapan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Dan pembuatan Lopis Raksasa tersebut bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar anggota masyarakat.

    12. Tradisi Ziarah Kubur

    Tradisi Islam di Nusantara terakhir yang perlu kita tahu yaitu tradisi ziarah kubur. Umumnya tradisi ini banyak dilakukan sebelum bulan Ramadhan dan saat Hari Raya Idul Fitri.

    Tujuan dari tradisi ini pun sangat berlimpah, salah satu untuk mendoakan keluarga yang sudah meninggal. Selain itu, juga bisa mengingatkan kita sebagai manusia dengan kematian dan kehidupan di akhirat.

    Tradisi ini juga juga diharapkan bisa memberikan kita hikmah untuk diampuni dosa oleh Allah SWT, menyadarkan kita sebagai makhluk yang lemah, dan membantu menghindarkan diri dari cinta dunia yang berlebihan.

    Menurut hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari abu Hurairah menyatakan bahwa ziarah kubur hukumnya sunnah. Sebab saat berziarah kubur, secara langsung akan mengingatkan kita akan kematian bisa datang kapan pun.

    Itulah tradisi Islam di Nusantara yang beragam bentuknya. Sebagai negara berbentuk kepulauan yang mempunyai banyak suku, budaya, dan kepercayaan tidak heran jika tradisinya pun sangat beragam.

    Walaupun begitu, mungkin ada beberapa tradisi yang sudah tidak dilaksanakan hingga sekarang. Akan tetapi, masih banyak tradisi Islam yang masih dilestarikan sebagai salah satu bagian dari kebudayaan.

    Oleh sebab itu, untuk tradisi-tradisi Islam di Nusantara yang tidak melanggar berbagai aturan seperti aturan agama, norma, dan hukum di Indonesia perlu dijaga untuk selalu dilestarikan.

    Hal tersebut bertujuan agar tradisi Islam di Nusantara tetap membumi atau tidak mati. Dengan harapan Allah SWT selalu menjaga Indonesia dari hal-hal yang tidak baik, sekaligus menjaga umat manusia di Indonesia agar selalu berada dijalan-Nya.

  • Kisah Nabi Daud AS, Lengkap dengan Hikmah yang Diambil 

    Kisah Nabi Daud AS, Lengkap dengan Hikmah yang Diambil 

    Kisah Nabi Daud bisa memberikan pelajaran bagi kita semua tentang keteguhan iman dan keyakinan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, penting mengetahui kisah selengkapnya pada uraian di bawah ini.

    Nabi Daud AS adalah salah satu nabi yang namanya terkenal oleh umat muslim sebagai nabi sekaligus raja yang cerdas, kuat dan pemberani. Hal ini bisa menjadi panutan dan patut diteladani oleh umat manusia.

    Jika ingin mengetahui tentang Nabi Daud dengan lebih lengkap, maka simak artikel ini hingga akhir agar bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

    Tentang Nabi Daud AS

    Nabi Daud AS adalah seorang nabi yang terkenal gagah berani berjuang untuk umatnya, serta sebagai seorang penyair ulung. Selain itu, beliau juga merupakan sosok yang penyayang, adil dan bijaksana.

    Kisah Nabi Daud yang penuh perjuangan dan ketabahan ini memberikan banyak hikmah dan pelajaran bagi umat manusia. Beliau diutus oleh Allah SWT kepada Bani Israil sebagai nabi dan raja yang cerdas.

    Secara garis keturunan, Nabi Daud AS berasal dari keturunan dari Nabi Ibrahim AS. Beliau merupakan keturunan ke-12 dan termasuk dalam jajaran para nabi yang wajib kita ketahui dan pelajari kehidupannya.

    Dalam kesehariannya, Nabi Daud membagi waktunya menjadi 4 bagian yakni untuk ibadah di mihrab, mengkaji ilmu bersama Bani Israil, melakukan pengadilan, dan berkumpul bersama dengan keluarga tercintanya.

    Kisah Nabi Daud AS

    Nabi Daud lahir di Kota Betlehem, Palestina, pada abad ke-11 SM. Beliau adalah seorang pemuda yang sederhana. Sebelum diangkat jadi nabi dan raja, kegiataan beliau sebagai seorang penggembala domba.

    Suatu ketika, beliau mengajukan diri untuk ikut serta berperang. Perang ini dikenal sebagai perang Thalut dan Jalut. Pada saat itu, ia berhasil memenangkan perang itu. Kemudian, beliau pun diangkat menjadi raja.

    Dalam beberapa riwayat menyebutkan bahwa kisah Nabi Daud memiliki kerajaan paling kuat di dunia dengan 40 ribu pasukan. Selain itu, Nabi Daud diutus oleh Allah SWT menjadi seorang rasul dengan kitab Zabur.

    Berikut adalah perjalanan kisah hidup Nabi Daud AS menjadi seorang raja hingga diangkat menjadi nabi dan rasul yang perlu kita ketahui bersama:

    1. Ikut Perang Thalut dan Jalut

    Setelah Nabi Musa dan Nabi Harun wafat, kemudian Yusya’ bin Nun memimpin Bani Israil. Berkat kepemimpinannya itu, mereka bisa menguasai Palestina.

    Namun, setelah Yusya’ bin Nun meninggal, Bani Israil terpecah belah dan hilangnya kekuatan persatuan mereka hingga akhirnya bisa dikuasai bangsa lain.

    Mereka pun merindukan sosok pemimpin yang gagah berani dan tegas berperang melawan penjajah. Akhirnya diangkatlah Thalut menjadi raja mereka.

    Meski Thalut hanya seorang petani biasa, tetapi punya strategi perang yang handal. Kemudian, ia mengajak orang-orang yang tidak punya ikatan rumah tangga dan berdagang untuk ikut ke medan perang melawan Jalut.

    Dalam kisah Nabi Daud yang berasal dari berbagai sumber. Tentara perang Thalut sendiri tak begitu banyak dibandingkan dengan tentara Jalut. Jalut adalah panglima yang memiliki tubuh besar seperti raksasa.

    Pada perang ini, salah seorang pemuda ikut dalam barisan Thalit yakni bernama Daud. Daud sendiri tidak masuk barisan depan, melainkan berada di garis belakang dan melayani kedua kakaknya saat berperang.

    Singkat cerita, tentara Thalut menyerbu tentara Jalut. Meskipun jumlahnya sedikit, tetapi dengan keberanian kuat hingga akhirnya mampu memporak-porandakan tentara Jalut dan mereka pun lari bercerai berai.

    Ketika hanya tersisa Jalut, tentara Thalut tak berani melawan panglima berbadan raksasa itu. Lalu, Thalut mengumumkan siapa saja yang berani membunuh Jalut, maka ia akan menjadi menantunya.

    Berawal dari sinilah kisah Nabi Daud yang nantinya menjadi raja. Daun yang masih berusia remaja tampil ke depan, meminta izin Thalut untuk melawan Jalut. Meski awalnya Thalut ragu dengan keberanian Daud.

    Namun, setelah didesak Daud pun maju ke medan perang dan berhadapan dengan Jalut. Daun hanya bersenjatakan batu dan ketapel saja.

    Pada suatu kesempatan, Daud berhasil membuat Jalut roboh saat batu ketapelnya mengenai kedua mata Jalut. Jalut pun mati setelah dahinya pecah.

    Dengan begitu, pasukan Thalut menang dan mengangkat Daud menjadi menantu Thalut. Ia menjodohkannya dengan anaknya yang bernama Mikyal, kemudian Thalut pun mengangkat Daud menjadi penasehatnya.

    Baca juga: Tata Cara Sholat Jenazah Perempuan dan Laki-laki: Urutan, Niat, Bacaan, dan Doa

    2. Kisah Daud Menjadi Raja

    Dalam kisah Nabi Daud menjadi seorang raja tidak mudah, beliau harus berurusan dengan Thalut yang berulang kali ingin menyingkirkannya. Apa alasannya?

    Ketika Daun menjadi menantu Thalut dan panglima perang, semua orang sangat menghormatinya. Hal ini membuat Thalut iri hati dan berusaha mencelakakan Daud dengan mengirimnya ke medan perang yang sulit.

    Suatu ketika, Daud mendapat tugas melawan musuh yang lebih kuat. Tetapi Daud memenangkan perang dan rakyat menyambutnya dengan kegembiraan. Hal ini membuat Thalut semakin iri hati atas kepopulerannya.

    Thalut terus berusaha menyingkirkan dan membunuh Daud. Akan tetapi, berbagai cara selalu menemui kegagalan karena Daud berada dalam lindungan Allah SWT.

    Selama menjadi panglima perang, Daud melaksanakan tugas dengan baik. Sampai suatu ketika, ada perlawanan musuh yang menyerang kaum Bani Israil. Beliau bisa menanganinya, tetapi Thalut gugur di medan perang.

    Setelah itu, terjadi perpecahan dua kubu yang memilih anak raja Thalut sebagai penggantinya. Tetapi, anak raja ini tidak berlaku adil sehingga terjadi perang dua kubu yang kemudian akhirnya Daud memenangkannya.

    Daud menjadi raja dan memimpin kaum Bani Israil yang baru. Setelah itu, beliau pun menjadi nabi dan rasul Allah. Berikut ini kisah selengkapnya.

    3. Daud Menjadi Nabi dan Rasul

    Setelah Daud menjadi raja yang gagah dan berani, kemudian ia menjadikan Baitul Maqdis (Yerusalem) sebagai ibukota kerajaan. Ketika Daud menginjak usia 40 tahun menjadi nabi dan rasul dengan kitab Zabur.

    Dalam kisah Nabi Daud ini disebutkan ada banyak mukjizat dan keajaiban sehingga patut menjadi teladan bagi umat. Daud dikarunia ketelitian amal, kesempuraan ilmu, dan kebijaksanaan menyelesaikan perselisihan.

    Allah SWT memberikan kitab Zabur kepada Nabi Daud AS untuk menghimpunkan tasbih dan puji-pujian kepada Allah. Mengingat kisah umat terdahulu dan berita nabi-nabi yang akan datang seperti Nabi Muhammad SAW.

    Allah memberikan kecerdasan kepada Nabi Daud AS dalam memahami kitab Zabur dengan baik. Saking cerdasnya, beliau bisa membaca Zabur di atas kuda pelananya seperti Nabi Muhammad SAW ceritakan.

    Kitab Zabur adalah salah satu bentuk iman umat Islam terhadap kitab-kitab yang Allah SWT turunkan kepada rasul. Kitab Zabur Allah berikan kepada Nabi Daud AS.

    Pada saat itu, akhlak Bani Israil yang membutuhkan pedoman hidup agar memiliki budi luhur dan tidak menyekutukan Allah. Kitab Zabur turun kepada Nabi Daud AS setelah kitab Taurat kepada Nabi Musa AS.

    4. Kisah Nabi Daud dan Ulat

    Selain kisah perang melawan Jalut dan menjadi raja Bani Israil, Nabi Daud pun memiliki kisah dengan ulat. Hal ini terjadi ketika beliau sudah menjadi nabi.

    Pada masa itu, Nabi Daud AS sedang duduk di mushola sambil mempelajari dan menelaah kitab Zabur. Lalu, muncul seekor ulat merah melintas di tanah.

    Kemudian Nabi Daud berucap pada dirinya sendiri “Apa yang Allah kehendaki dengan ulat ini?” Atas kehendak Allah, ulat ini berbicara dan berkata:

    “Wahai Nabiyallah, apabila siang datang, Allah mengilhamkan kepadaku untuk membaca Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah wallaahu akbar, sebanyak seribu kali. 

    Dan jika malam datang, Allah mengilhamkan kepadaku untuk membaca Allahumma shalli ‘alaa Muhammad an nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam, sebanyak seribu kali.”

    Mendengar perkataan ulat ini, Nabi Daud terkesan dan merasa merendahkannya. Akhirnya, ia menangis penuh takut dan berserah diri kepada Allah.

    Dengan adanya kejadian tersebut, Nabi Daud pun belajar jika semua makhluk hidup ciptaan Allah SWT memiliki manfaat dan membawa hal yang baik.

    Itulah beberapa kisah perjalanan Nabi Daud AS sampai menjadi nabi dan rasul. Perjalanan hidupnya penuh perjuangan dan tantangan yang tidak mudah, akan tetapi semua bisa terlewati atas pertolongan Allah SWT.

    Mukjizat Nabi Daud AS

    Setelah mengetahui kisah Nabi Daud mulai dari ia ikut perang hingga menjadi nabi dan rasul, selanjutnya ketahui apa mukjizat yang Allah berikan kepadanya. Adapun mukjizat Nabi Daud AS adalah sebagai berikut:

    1. Menang Melawan Jalut

    Pertempurannya melawan Jalut yang bertubuh bagai raksasa ini menjadi kisah paling terkenal. Bagaimana tidak, pasukan Thalut yang hanya berjumlah 300 orang harus melawan pasukan Jalut berjumlah 8000 orang.

    Meski begitu, Thalut dan pasukannya tidak ingin menyerah karena kalah jumlah. Dengan keberaniannya, akhirnya berhasil membuat pasukan Jalut mundur dan lari.

    Hingga menyisakan Jalut yang memiliki tubuh besar dan kuat, hal ini membuat pasukan Thalut tidak berani maju melawannya. Sampai akhirnya, muncul Nabi Daud yang berani melawan Jalut  bersenjatakan ketapel.

    Nabi Daud melemparkan batu dari ketapelnya, kemudian kena di kedua mata Jalut dan keningnya pecah hingga ia mati. Hal ini sebagai bukti akan kuasa Allah SWT yang melindungi hamba yang beriman kepada-Nya.

    2. Memahami Bahasa Hewan

    Nabi Daud AS adalah salah satu nabi yang memiliki kemampuan memahami bahasa hewan. Beliau sangat menyayangi hewan dan hewan-hewan juga patuh terhadap Nabi Daud, serta sangat menyayangi nabinya.

    Kemampuan atau mukjizat ini juga nantinya Allah SWT berikan kepada anak Nabi Daud AS yang bernama Nabi Sulaiman. Nabi yang bisa mengerti dan memahami bahasa hewan, serta patuh kepadanya.

    3. Memiliki Suara Sangat Merdu

    Mukjizat Nabi Daud selanjutnya adalah Allah anugerahi suara yang sangat merdu. Bahkan, suaranya ini memiliki keajaiban bisa membuat orang yang sakit menjadi sembuh dan sehat kembali saat mendengarnya.

    Selain itu, suara nyanyian merdu Nabi Daud juga bisa membuat angin dan air di sekitarnya menjadi damai dan tenang. Termasuk burung-burung dan gunung-gunung turut memuji kebesaran Allah lewat Nabi Daud.

    “Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan, dan ingatlah hamba Kami, Daud, yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan). 

    Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi, dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Mereka semua amat taat kepada Allah.” (QS. Shad: 17-19).

    4. Menciptakan Baju Zirah Perang

    Nabi Daud memiliki kekuasaan dan bisa menjadi raja karena dari perang. Beliau memiliki kemampuan perang yang tangguh dan handal. Selain itu, Nabi Daud pun mampu menciptakan baju besi atau zirah untuk berperang.

    “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Daud, lalu Kami berfirman: “Hai gunung-gunung bacalah tasbih berulang bersama Daud, begitu pula burung-burung, dan besi itu kami jadikan lunak di hadapannya. 

    Buatlah serta tenunkan baju besi, lalu kerjakan amalan yang shaleh, sesungguhnya Aku melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” (QS. Saba: 10-11).

    Berkat kemampuannya ini, tidak heran jika Nabi Daud terkenal sebagai raja yang berani dan cerdik dalam berperang. Hal ini karena tidak lepas dari pasukan perang yang memiliki senjata dan alat perang lengkap.

    Oleh karena itu, beliau bisa bertahan menjadi raja bagi kaum Bani Israil selama 40 tahun karena memiliki pasukan yang kuat dan selalu memenangkan pertempuran.

    Setelah memimpin kerajaan Bani Israil selama 40 tahun, Nabi Daud wafat pada tahun 970 SM. Salomo adalah putra Batsyeba binti Amiel menggantikannya.

    Peninggalan Nabi Daud AS

    Puasa Daud merupakan adalah puasa yang sehari puasa sehari berbuka yang masih mempraktekannya hingga saat ini. Beliau gemar berpuasa kepada Allah SWT. Karenanya Allah menyukai menjalankan puasa Daud.

    Dalam hadits Rasulullah SAW diriwayatkan Abdullah bin Amr:

    ”Puasa yang lebih disukai Allah ialah puasa Daud, dan shalat yang paling disukai Allah, adalah shalat Daud. Beliau tidur seperdua malam, bangun sepertiganya, tidur seperenamnya. Beliau berpuasa satu hari, lalu berbuka satu hari.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Selain itu, peninggalan Nabi Daud yang berada di sekitar Kota Yerusalem seperti Istana Nabi Daud, yang penemunya adalah para arkeolog dari Hebrew University dan Israel Antiquities Authority. 

    Istana Nabi Daud AS adalah berupa dua bangunan kuno yang mengklaimnya sebagai banhunan terbesar di abad ke-10, pada masa Kerajaan Yehuda.

    Para arkeolog berpendapat, bahwa tempat itu pernah Nabi Daud huni, hal ini karena tidak ada sisa babi. Sebab, Nabi Daud dan para pengikutnya tidak memakan babi.

    Peninggalan berikutnya adalah mihrab Nabi Daud AS yang ada di luar masjidil Aqsha. Meski sempat runtuh, tapi mihrab ini kemudian berdiri kembali oleh Sultan Hisamudin sekitar tahun 696 atau 1298 hijriah.

    Sebenarnya masih ada beberapa peninggalan lainnya yang bisa kita ketahui, seperti tambang besi yang menurut penelitian tempat ini dulunya digunakan untuk membuat baju besi atau baju zirah perang saat itu.

    Hikmah dari Kisah Nabi Daud AS

    Kisah Nabi Daud mengandung banyak pelajaran dan hikmah bagi umat manusia. Beliau menjadi tauladan bagi umat manusia karena selalu mengajarkan kebaikan dan keteguhan iman yang bisa mengalahkan kejahatan.

    Meskipun tampak tidak mungkin, tetapi dengan keberanian dan keimanan yang kuat, maka kita bisa menghadapi segala sesuatu dengan mudah.

    Selain itu, pelajaran dari kisah perang melawan Jalut. Beliau adalah sosok nyata yang mengajarkan bahwa kekuatan hati dan jiwa lebih besar dari kekuatan fisik. Semua karena keberanian dan keyakinan.

    Kita harus percaya bahwa Allah SWT selalu menolong hamba yang beriman dan bertakwa kepada-Nya. Setiap halangan dan rintangan tentu bisa terlewati dengan menghadapi penuh kegigihan dan perjuangan.

    Demikian penjelasan tentang kisah Nabi Daud dan mukjizatnya yang bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk beriman kepada Allah SWT. Setiap kesuksesan tentu perlu meraihnya dengan penuh perjuangan dan keyakinan.

  • Kisah Nabi Yunus AS dan Hikmah dari Kisahnya

    Kisah Nabi Yunus AS dan Hikmah dari Kisahnya

    Salah satu kisah nabi yang menarik perhatian dalam perjalanan dakwahnya yaitu Nabi Yunus AS. Apalagi kisah Nabi Yunus AS ketika berada di tengah laut dalam posisi ditelan seekor ikan besar.

    Tidak hanya pembelajaran dari kisah itu saja, akan tetapi saat Nabi Yunus AS wafat pun juga tidak henti-hentinya dalam memberikan pelajaran.

    Oleh sebab itulah, ulasan lengkap beserta hikmahnya kita ambil untuk ambil pelajaran dalam hidup.

    Mengenal Nabi Yunus AS

    Kisah teladan Nabi Yunus AS dimulai ketika beliau lahir. Nabi Yunus AS lahir di Irak, tepatnya di sebuah kampung yang bernama Ninawa. Penduduk kampung Ninawa menyembah atau menuhankan berhala.

    Nabi Yunus AS merupakan nabi yang asalnya dari suku Benyamin. Ayahnya sudah terlebih dahulu wafat tidak lama setelah kelahiran beliau.  Allah SWT telah mengutus Nabi Yunus AS untuk mengajak umatnya bertaubat kepada Allah SWT.

    Nabi Yunus AS adalah nabi yang mulia, dengan nama lengkap Yunus bin Mata. Pernah suatu ketika Nabi Muhammad SAW berkata, “Janganlah kalian membanding-bandingkan aku atas Yunus bin Mata.”

    Selain nama Yunus, Nabi Yunus AS dikenal juga dengan nama Dzun Nun dan Yunan. Beliau yang diutus oleh Allah SWT untuk mengajak kaumnya menuju jalan kebenaran dan kebaikan.

    Beliau juga mengingatkan kepada kaumnya akan kedahsyatan hari kiamat sekaligus menakut-nakuti sadisnya neraka, dan memberikan iming-iming keindahan surga.

    Kisah Nabi Yunus AS Menyerukan Perintah Allah SWT

    Melanjutkan dari kisah sebelumnya, kisah Nabi Yunus AS ini masih panjang untuk kita ketahui bersama. Bahkan kisahnya terdapat dalam Al-Quran Surat Al-Anbiya ayat 87 hingga 88.

    Dari ayat tersebut, cerita kisah Nabi Yunus AS mendapatkan perintah untuk mengajak dan menyerukan kepada kaumnya untuk beriman dan meninggalkan sesembahannya selain Allah SWT.

    Allah SWT menurunkan sebuah wahyu yang berisi perintah Nabi Yunus  AS untuk terus berupa menyerukan perintahnya. Wahyu Allah SWT mengatakan untuk menyerukan pada umat Ninawa agar beriman kepada Allah SWT selama 40 hari.

    Dimana jika waktu ke 40 hari tersebut kaumnya belum juga beriman, maka akan datang siksaan Allah SWT kepada kaum tersebut. Setelah melewati hari ke-37, kaum Nabi Yunus AS tidak menghiraukan seruan tersebut.

    Maka, saat sampai pada hari ke 40 malam harinya, terlihat awan hitam yang bergumpal di tepi langit.

    Baca juga: 7 Syarat Wajib dan Syarat Sah Puasa, Muslim Harus Tahu!

    Perjuangan Dakwah Nabi Yunus AS

    Begitu hebatnya perjuangan dakwah Nabi Yunus AS, sebab perjalanan yang beliau lalui sangatlah panjang. Bahkan, harus melintasi padang pasir yang luas dan gersang dari negeri Syam.

    Hingga akhirnya, Nabi Yunus AS sampai di Ninawa. Akan tetapi, beliau melihat para penduduknya sudah tenggelam dalam ajaran menyembah berhala, ritual ini sudah berlangsung sejak lama.

    Nabi Yunus AS yang merupakan penduduk baru, sehingga dianggap asing oleh penduduk setempat. Saat beliau memulai dakwahnya untuk menyerukan perintah Allah SWT, kaum tersebut malah mengolok-olok Nabi Yunus AS.

    Bahkan, hingga Nabi Yunus AS tidak pernah dianggap oleh kaum Ninawa tersebut. Beliau dianggap telah melakukan penghinaan terhadap agama nenek moyangnya yaitu berhala.

    Walaupun penolakannya sangatlah keras, Nabi Yunus tetap menjalankan semuanya dengan penuh kesabaran. Hingga waktu terus berjalan, kondisi pun tetap tidak berubah. 

    Kini, Nabi Yunus AS sudah berdakwah pada kaum Ninawa selama 33 tahun. Dari dakwahnya 33 tahun itu, hanya ada dua orang penduduk Ninawa yang mengikuti dan mendengarkan beliau. Kedua penduduk itu bernama Tanuh dan Rubil. 

    Akhirnya sampai di titik kesabaran Nabi Yunus AS hilang untuk menghadapi kaum yang keras. Beliau berniat untuk meninggalkan kaumnya setelah memberikan peringatan bahwa azab Allah SWT akan datang. 

    Kemudian, barulah Nabi Yunus AS pergi meninggalkan kaumnya dalam keadaan kecewa, marah dan sedih. Sayangnya, kepergiaan Nabi Yunus AS ini tanpa seizin Allah SWT. 

    Maka dari itu, Allah SWT menggambarkan Nabi Yunus AS dengan kata melarikan diri. Hal ini sebagaimana yang termuat dalam Al-Quran Surat Ash-Shaffat ayat 139 hingga 140.

    وَاِنَّ يُوْنُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۗ (139)

    اِذْ اَبَقَ اِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِۙ (140)

    Wa inna yunusa laminal-mursalin (139)

    Iz abaqa ilal-fulkil-masyhun (140)

    Artinya:

    “Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul (139), ingatlah ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan (140).”

    Walaupun begitu, kisah Nabi Yunus AS tersebut tetap mencerminkan bahwa beliau tetap ridha atas segala ketentuan Allah SWT.

    Beliau menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT. Artinya, seorang hamba sebenarnya tidak boleh marah atau merasa kesal atas kehendak-Nya.

    Hal ini juga yang mendasari Allah SWT melarang Nabi Muhammad SAW menjadi seperti nabi yang pemarah, alias seperti nabi yang pernah ditelan ikan yaitu Nabi Yunus AS.

    Sebagaimana yang telah termuat dalam Al-Quran Surat Al-Qalam ayat 48  yang berbunyi sebagai berikut:

    فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوْتِۘ اِذْ نَادٰى وَهُوَ مَكْظُوْمٌۗ

    Fasbir lihukmi rabbika wa la takun kasahibil-hut iz nada wa huwa makzum

    Artinya:

    ”Maka bersabarlah kamu hai Muhammad terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam perut ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah kepada kaum-Nya.”

    Baca juga: Penjelasan 5 Rukun Islam Beserta Contoh dan Maknanya

    Kisah Nabi Yunus Melemparkan Diri ke Laut

    Melanjutkan dari kisah Nabi Yunus AS yang meninggalkan kaumnya dengan cara menepi ke laut terlebih dahulu. Kemudian beliau bertemu sekelompok orang yang berada di kapal.

    Karena sekelompok orang tersebut mengenali Nabi Yunus AS, mereka pun memutuskan untuk memberikan tumpangan kepada Nabi Yunus AS. Akan tetapi, kisah Nabi Yunus AS ini masih berlanjut dengan beberapa keanehan.

    Dimana setelah beberapa saat berlayar, kapal yang ditumpangi oleh Nabi Yunus AS beserta rombongannya itu mendadak berhenti dan tidak bisa melanjutkan perjalanannya.

    Anehnya lagi, ketika melihat ke kiri dan kanannya kapal lain tetap berlayar seperti biasanya. Sedangkan kapal yang ditumpangi oleh Nabi Yunus dan rombongannya hanya terombang-ambing di atas laut.

    Ada juga yang mengatakan bahwa kisah Nabi Yunus AS di atas kapal ini diterjang oleh ombak laut menjadi dahsyat. Bahkan, angin menjadi lebih kencang. Sehingga, membuat kapal hilang kendali dan hampir saja tenggelam.

    Itulah alasan yang membuat  Nabi Yunus AS memutuskan untuk mengurangi satu penumpang yang berada dalam kapal. Pengurangan satu orang dengan menggunakan cara undian.

    Sebelum mengambil keputusan tersebut, sebenarnya sudah mengambil cara lain yaitu  untuk membuat barang bawaannya ke dalam laut.

    Tentu saja berharap bebannya berkurang, sehingga kapal akan berjalan stabil kembali. Dan ternyata hasilnya berbeda, yang mengharuskan Nabi Yunus AS beserta rombongannya untuk mengambil keputusan yang pahit.

    Sebelumnya beliau juga menyadari jika diamnya kapal atau terkunjangnya kapal tersebut karena ditumpangi oleh seorang hamba yang lari dari tuhannya. Ini sesuai dengan firman Allah SWT melalui Al-Quran Surat Ash-Shaffat ayat 140.

    اِذْ اَبَقَ اِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِۙ

    Iz abawa ilal-fulkil-masyhun.

    Artinya:

     “(Ingatlah) ketika dia berlari ke kapal yang penuh muatan.”

    Dari sinilah Nabi Yunus AS menawarkan diri untuk dilemparkan ke tengah lautan agar kapal bisa berjalan stabil kembali. Tapi, para penumpang menolak sebab mereka tahu bagaimana kemuliaan Nabi Yunus AS kepada Allah SWT.

    Hingga akhirnya, mengambil jalan penawaran lain melalui undian tersebut. Semua orang diminta untuk menuliskan nama masing-masing, dan barangsiapa yang namanya keluar maka dialah yang terlempar ke laut.

    Proses pengundian pun berlangsung, pengundian pertama pun dimulai. Kisah hidup Nabi Yunus yang namanya terpilihpada undian pertama membuat seluruh penumpang menolak hasil tersebut.

    Akhirnya pengundian kedua dilaksanakan kembali. Tetap saja, yang keluar adalah nama yang sama yaitu Yunus. Dan sampai pada pengundian ketiga, nama Nabi Yunus AS tetaplah yang keluar.

    Walaupun penumpang masih keberatan, akan tetapi Nabi Yunus menerima hasilnya dengan keikhlasan. Sebab sungguh itu merupakan kehendak Allah SWT.

    Kisah Nabi Yunus AS dalam Al-Quran, salah satunya yang mendukung pada Surat  Surat As-Saffat ayat 141 yang berbunyi sebagai berikut:

    فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِيْنَۚ

    Fa sahama fakana minal-mudhadin.

    Artinya:

    “Kemudian dia ikut diundi ternyata dia termasuk orang-orang yang kalah (dalam undian).”

    Nabi Yunus AS  segera menghempaskan diri ke laut. Tetapi, belum juga tubuh beliau menyentuh air laut beliau sudah terlebih dahulu disambar oleh ikan besar.

    Dan para penumpang yang melihat itu pun yakin bahwa Nabi Yunus AS tidak selamat dari kematian, sebab tubuh beliau sudah masuk ke dalam perut ikan paus.

    Kisah Nabi Yunus Ditelan Ikan Paus

    Melanjutkan dari kisah Nabi Yunus AS sebelumnya yang sudah ditelan oleh ikan paus. Sebagaimana yang telah dilansir dalam Al-Quran Surat Ash-Shaffat ayat 141 yang artinya “Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela.”

    Tafsiran dari keadaan tercela tersebut yaitu Nabi Yunus AS meninggalkan kaumnya dalam kondisi yang kesah. Lantaran adzab tak juga datang menimpa kaum Ninawa, yang mengharuskan beliau lari dari kaum tersebut tanpa seizin Allah SWT.

    Dalam beberapa riwayat pun menyebutkan bahwa saat Nabi Yunus AS melemparkan diri ke laut, cuaca kembali cerah dan lautan kembali terang. Sebenarnya ikan besar itu merupakan perintah Allah SWT.

    Ikan tersebut diperintah untuk mendekat dan menelan Nabi Yunus AS tanpa membuat remuk tulang dan dagingnya. Pendapat lain mengatakan jenis ikan yang menelan Nabi Yunus AS yaitu ikan Nun.

    Dasarnya dari rujukan Surat Al-Anbiya ayat 87 yang menggambarkan kisah Nabi Yunus adalah: 

    وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ۚ

    Wa zan-nuni iz-zahaba mugadiban fa zanna allan naqdira ‘alaihi fa nada diz-zulumati alla ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minaz zalimin.

    Artinya: 

    “(Ingatlah pula) Dzun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.”

    Ikan besar itu disebut-sebut masih dalam keadaan hidup hingga saat ini, dan akhirnya akan terus hidup hingga hari kiamat kelak. Pernyataannya diperkuat dengan merujuk pada Surat As-Shaffat ayat 144 yang berbunyi:

    لَلَبِثَ فِيْ بَطْنِهٖٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَۚ

    Lalabisa fi batnihi ila yaumi yub’asun.

    Artinya:

    “Niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari kebangkitan.”

    Kemudian, lanjutkan kisah Nabi Yunus AS ditelan oleh ikan paus yaitu ikan terus menyelam hingga membawa ke dasar lautan yang sangat gelap. Kegelapannya meliputi kegelapan laut, kelegalapan perut ikan dan juga kegelapan malam.

    Penyesalan dan Taubatnya Nabi Yunus AS

    Melanjutkan kisah Nabi Yunus dimakan ikan paus, dalam perut ikan tersebut Nabi Yunus AS mendengarkan tasbih dari kerikil dan juga hewan-hewan laut. Maka, Nabi Yunus pun juga menyeru dan bertasbih kepada Allah SWT.

    Beliau mengakui dan menyesali atas segala kesalahan yang diperbuat. Terdengarlah semua penyesalan itu, maka Allah SWT mengampuninya dan mengabulkan semua permintaannya.

    Permohonan Nabi Yunus AS juga termuat dalam Al-Quran Surat Al-Anbiya ayat 88 yang berbunyi:

    فَاسْتَجَبْنَا لَهٗۙ وَنَجَّيْنٰهُ مِنَ الْغَمِّۗ وَكَذٰلِكَ نُـْۨجِى الْمُؤْمِنِيْنَ

    Fastajabna lahu wa najjainahu minal-gamma, wa kazalika nunjil-mu’minin.

    Artinya:

    “Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kesedihan. Dan demikianlah kami selamatkan orang-orang yang beriman.”

    Diperkuat lagi dalam ayat kisah Nabi Yunus AS pada Surat As-Shaffat 143 dan 144 yang berbunyi:

    فَلَوْلَآ اَنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِيْنَ ۙ (143)

    لَلَبِثَ فِيْ بَطْنِهٖٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَۚ (144)

    Falau la annahu kana minal-musabbihin (143)

    Lalabisa fi batnihi ila yaumi yub’asun (144)

    Artinya:

    “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah (143) niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit (144).”

    Sehingga, kesimpulannya bahwa karena tasbih dan taubatnya Nabi Yunus AS kepada Allah SWT.  Maka, ia sudah hancur dalam perut ikan besar tersebut hingga hanya menunggu hari kebangkitan saja.

    Setelah penyesalan dan taubatnya tersebut, kisah Nabi Yunus AS yang penuh makna ini belum berakhir. 

    Sebab beliau kembali berdoa, dan Allah SWT memerintahkan ikan besar untuk memuntahkannya di tempat yang diperintahkan oleh Allah SWT. Adapun firman Allah SWT dalam Al-Quran Surat Ash-Shaffat ayat 145 yang berbunyi:

     فَنَبَذْنٰهُ بِالْعَرَاۤءِ وَهُوَ سَقِيْمٌ ۚ

    Fa nabaznahu bil-‘ara’I wa huwa saqim.

    Artinya:

    “Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah tandus, sedang ia dalam keadaan sakit.”

    Berbagai sumber menyebutkan bahwa kisah cinta Nabi Yunus AS yang penuh makna ini disebutkan Nabi Yunus dimuntahkan dari perut ikan dalam keadaan lemah, sakit dan beberapa kulitnya mengelupas.

    Lantas hal itulah yang menunjukkan bahwa beliau berada dalam perut ikan dalam waktu yang cukup lama. 

    Selain itu, kulit yang mengelupas disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW akibat gesekan yang Nabi Yunus alami selama berada dalam pencernaan ikan besar tersebut.

    Selanjutnya, kisah Nabi Yunus AS tidak hanya berhenti disitu saja. Nyatanya, Allah SWT yang Maha Baik ini menumbuhkan sebuah pohon seperti pohon labu di tempat Nabi Yunus AS dimuntahkan.

    Hal itu sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surat Ash-Shaffat ayat 146 yang berbunyi:

    وَاَنْۢبَتْنَا عَلَيْهِ شَجَرَةً مِّنْ يَّقْطِيْنٍۚ

    Wa ambatna ‘alaihi syajaratam miy yaqtin.

    Artinya: 

    “Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu.”

    Lantas Nabi Yunus AS berlindung di bawah pohon tersebut, selain berlindung beliau juga memakan buahnya. Akan tetapi, selang waktu berlalu pohon pun kering. Akhirnya beliau Nabi Yunus AS menangis.

    Dan Allah menurunkan wahyu sekaligus teguran kepada Nabi Yunus AS, “Apakah kamu menangis karena pohon itu kering. Tetapi, kamu tidak menangis karena seratus ribu orang atau lebih yang ingin engkau binasakan.”

    Taubatnya Kaum Ninawa dan Kembalinya Nabi Yunus AS

    Selang berjalannya waktu, Nabi Yunus AS pun sehat kembali. Kemudian beliau diperintah Allah SWT untuk pulang kembali menuju kaumnya. Saat sampai di tujuan, Nabi Yunus terkejut melihat kaumnya telah beriman kepada Allah SWT.

    Dan kaum tersebut juga memberitahu kepada Nabi Yunus AS bahwa Allah SWT telah menerima taubat kaum tersebut. Allah SWT berfirman dalam Surat Ash-Shaffat ayat 148 yang berbunyi:

    فَاٰمَنُوْا فَمَتَّعْنٰهُمْ اِلٰى حِيْنٍ

     Fa’amanu famatta’nahun ila hin.

    Artinya: 

    “Lalu, mereka beriman. Karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.”

    Waktu sepeninggalan Nabi Yunus AS yang kecewa pada kaumnya, Allah SWT benar-benar memberikan azab. Azab yang berbagai bentuk mulai dari langit gelap, petir menggelegar, angin kencang yang menyapu semua rumah, ladang dan lainnya.

    Hingga terjadinya gempa besar yang membuat kaum Ninawa sadar bahwa peringatan yang Nabi Yunus AS sampaikan memang benar adanya. Hal itulah yang membuat kaum Ninawa bertaubat dan menyebut nama Allah SWT.

    Hikmah Kisah Nabi Yunus AS

    Seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya bahwa kisah Nabi Yunus AS mempunyai banyak makna dan hikmah. Utamanya terkait mendekatkan diri kepada Allah SWT. Untuk informasi lengkapnya simak ulasanya di bawah ini:

    1. Sabar saat Menyebarkan Kebaikan

    Seperti kisah Nabi Yunus AS yang meninggalkan kaumnya dalam kondisi kecewa dan marah. Perilaku tersebut menunjukkan sifatnya kurang bersabar dalam menyebarkan kebaikan, dan jelas perilaku ini tidak disukai oleh Allah SWT.

    Hal itulah yang membuat Nabi Yunus AS mendapatkan kesulitan yang lebih berat sebagai pembelajaran hidup kita semua. Beliau mendapatkan cobaan dengan terlemparnya diri dan ditelan ikan besar.

    2. Mengingat Allah SWT

    Tidak dapat kita pungkiri bahwa kisah Nabi Yunus AS mengajarkan kita sebagai hamba untuk selalu mengingat Allah SWT. Itulah yang dilakukan oleh Nabi Yunus AS, tidak hanya mengingat pada waktu-waktu sulitnya saja.

    Namun, juga harus mengingat Allah SWT dalam keadaan lapang dan senang. Sebab Allah SWT menjanjikan kemudian di dalam kesulitan jika hamba-nya selalu mengingat Allah SWT.

    3. Berserah Diri pada Allah SWT

    Hikmah dari kisah Nabi Yunus AS selanjutnya yaitu untuk selalu berserah diri pada Allah SWT. Dalam kisah hidupnya, Nabi Yunus AS segera menyadari bahwa ia melakukan kesalahan dan terus memohon ampun kepada Allah SWT.

    Nabi Yunus AS mengucapkan kalimat tauhid, kalimat tasbih dan kemudian dilanjutkan dengan berdoa sekaligus berdzikir untuk mengakui semua kesalahannya sebagai manusia.

    Demikian kisah Nabi Yunus AS yang penuh makna dan hikmah. Terpenting sebagai manusia kita tidak boleh lupa akan kuasa Allah SWT, dan senantiasa mengingat Allah SWT dalam keadaan apapun.

  • Biografi Sunan Kudus: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    Biografi Sunan Kudus: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq adalah salah satu dari sembilan wali yang sangat dihormati dalam tradisi Islam di Indonesia. Beliau dikenal sebagai tokoh sufi dan ulama yang berperan penting dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa.

    Beliau dikenal sebagai seorang yang disegani banyak masyarakat karena latar belakang pendidikan dan keluarganya.

    Selain itu, metode dakwah beliau juga sangat menarik mengingat kuatnya Hindu-Budha pada masa tersebut.

    Silsilah Sunan Kudus

    Berdasarkan sumber buku “Sembilan Wali” karya Susilarini menjelaskan Sunan Kudus merupakan anak dari Sunan Ngudung. Beliau merupakan anak seorang panglima dari Kesultanan Demak Bintoro dengan ibu yang bernama Syarifah.

    Dari silsilah ini juga Sunan Kudus memiliki adik yang bernama Sunan Bonang. Pada masa kecil, beliau memiliki nama Raden Amir Haji. Semasa hidup, beliau juga pernah menjadi panglima perang untuk Kesultanan Demak.

    Bahkan, pada masa pemerintahan Arya Penangsang, beliau diamanahkan untuk menjabat sebagai Penasihat. Berada dengan latar pemerintahan membuat beliau cukup disegani dan mudah untuk melakukan penyiaran agama Islam.

    Jika dilihat dari silsilahnya secara jauh, maka Sunan Kudus memiliki garis keturunan dengan Nabi Muhammad SAW. Adapun garis keturunan beliau yang bisa kita ketahui, seperti dibawah ini:

    1. Nabi Muhammad SAW
    2. Sayyidah Fatimah Az-Zahra
    3. Al-Husain
    4. Ali Zainal Abidin
    5. Muhammad Al-Baqir
    6. Ja’far Shadiq
    7. Ali Al-Uraidhi
    8. Ahmad Al Muhajir
    9. Ubaidillah
    10. Ali Khali’ Qasam
    11. Muhammad Shahib Mirbath
    12. Alwi Ammil Faqih
    13. Abdul Malik Azmatkhan
    14. Abdillah
    15. Ahmad Jalaluddin
    16. Jamaluddin Al-Husain
    17. Ibrahim Zainuddin Al-Akbar
    18. Sayyid Fadhal Ali Murtadha
    19. Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji
    20. Sunan Kudus atau Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan

    Riwayat Sunan Kudus

    Sunan Kudus atau dikenal dengan nama Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan lahir di Palestina pada 9 September 1400 Masehi atau 808 Hijriah. Beliau merupakan keturunan Raden Usman Haji yang seorang panglima perang Kesultanan Demak.

    Sejak usia dini, Sunan Kudus belajar agama Islam dari ayahnya dan juga dari seorang ulama bernama Kyai Telingsing. Namun, peristiwa penting dalam hidupnya terjadi ketika pertemuan dengan Sunan Ampel.

    Jika ditelusuri lebih lanjut, Kyai Telingsing adalah seorang ulama asal China yang sengaja datang ke Jawa bersama Panglima Besar Cheng Hoo. Kedatangan Kyai Telingsing bersama Cheng Hoo membawa ajaran nilai-nilai Islam yang kuat.

    Adanya Kyai Telingsing juga mampu memperkuat persaudaraan dengan para penduduk Jawa. Sembari mendalami ilmu agama, Sunan Kudus mendapatkan kesempatan untuk menjabat dalam berbagai posisi berbeda di Kesultanan Demak.

    Adapun posisi ini mencakup berbagai jabatan dari yang tertinggi hingga sejak awal beliau diamanahkan oleh kesultanan:

    • Sultan Demak (Penasehat Kesultanan)
    • Panglima Perang Depan
    • Qadhi (Hakin Syariat)
    • Mufti (Pemberi Fatwa atau ahli hukum Islam)
    • Imam Besar Masjid Demak dan Masjid Kudus
    • Mursyid tarekat
    • Naqib Nasab Keturunan Azmatkhan
    • Ketua Pasar Islam Walisongo
    • Penanggung Jawab Pencetak Dinar Dirham Islam
    • Ketua Baitul Mal Walisongo

    Baca juga: 13 Manfaat Sholat Hajat agar Dikabulkan Keinginan dan Harapan

    Perjuangan dalam Penyebaran Islam

    Meskipun menjabat sebagai seorang Senopati, Sunan Kudus tetap melakukan penyebaran ajaran Islam di wilayah Kudus dan sekitarnya. Dalam dakwahnya, beliau selalu menjunjung tinggi sikap yang penuh ketenangan dan kelembutan.

    Tujuannya bukan hanya untuk meyakinkan masyarakat menerima ajaran Islam tanpa paksaan, tetapi juga untuk menegaskan toleransi Islam terhadap keyakinan lainnya. Beliau dikenal sebagai seorang ulama yang suka melakukan perjalanan.

    Bahkan, ada laporan yang menyebutkan bahwa beliau pernah sampai ke tanah suci untuk menjalankan ibadah haji. Ketika berada di Kota Mekkah, Sunan Kudus juga dikenal membantu merawat warga yang terkena wabah penyakit.

    Sebagai penghargaan atas jasanya, beliau diberikan sebatang batu yang berasal dari Baitul Maqdis oleh penguasa setempat saat itu. Batu tersebut kemudian dibawa kembali ke Jawa, di mana ia ditempatkan di dalam Imam Masjid Kudus.

    Metode Dakwah

    Sunan Kudus mengadopsi pendekatan berbasis budaya dalam dakwahnya. Pendekatan ini bertujuan untuk lebih mudah diterima oleh masyarakat dan tidak memberikan kesan pemaksaan kepada masyarakat Jawa saat.

    Hal ini tentunya juga sejalan dengan prinsip Islam yang mengajarkan toleransi dan perdamaian sebagai nilai-nilai inti dalam ajaran yang sesungguhnya.

    Berikut adalah gambaran lebih detail tentang metode dakwah yang diterapkan oleh Sunan Kudus:

    1. Toleransi Antar Agama

    Diketahui bahwa masyarakat Hindu sangat teguh pada keyakinan dan kepercayaan mereka. Oleh karena itu, metode dalam penyebaran Islam secara langsung dianggap sulit untuk diterapkan.

    Beliau tidak secara tegas memaksa masyarakat saat itu untuk langsung memeluk Islam. Sebaliknya, beliau mengundang mereka untuk secara bertahap memahami tentang ajaran-ajaran Islam sebagai agama yang baik dan benar.

    Ja’far Shadiq sungguh menerapkan prinsip toleransi yang tinggi dalam ajaran Islam. Beliau memperbolehkan siapa saja untuk belajar tentang Islam, bahkan jika mereka belum memeluk agama Islam.

    Beliau sangat yakin bahwa seiring berjalannya waktu, mereka akan semakin mengenal dan memahami Islam. Karena memeluk Islam seharusnya muncul dari niat ikhlas dan keinginan pribadi masing-masing individu.

    2. Menyelaraskan dengan Budaya

    Salah satu metode dakwah yang sampai saat ini masih berlaku adalah tradisi Selametan atau Mitoni. Awalnya, tradisi ini merupakan bentuk ucapan selamat terhadap bayi yang baru lahir dengan memberikan sesajen bagi agama Budha.

    Hal ini tentunya sangat bertentangan dengan ajaran Islam, yang mana seharusnya bentuk ucapan syukur hanya diberikan kepada Allah SWT. Adanya penyimpangan ini menjadi bentuk tanggung jawab Sunan Kudus pada masa tersebut.

    Rekonstruksi Mitoni ini kemudian disesuaikan dengan nilai-nilai ajaran Islam yang sesungguhnya. Hebatnya, beliau tidak menghilangkan begitu  tradisi tersebut  sehingga sampai saat ini tradisi Mitoni masih berlaku di masyarakat Jawa.

    Sejarah Peninggalan

    Selain meninggalkan ajaran Islam yang masih berakar kuat dalam masyarakat Jawa. Sunan Kudus juga mewariskan sejumlah artefak bersejarah hingga masjid yang sampai saat ini tetap dilestarikan dan dijaga oleh masyarakat Jawa.

    Berikut ini beberapa peninggalan bersejarah dari Sunan Kudus yang bisa kita ketahui:

    1. Masjid dan Menara Kudus

    Masjid Al-Aqsa Manarat yang juga dikenal sebagai Masjid Al Manar terletak di Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah. Salah satu ciri khasnya adalah desain bangunan yang menggabungkan elemen arsitektur Islam, Hindu, dan Buddha.

    Masjid Al-Manar mencerminkan jelas adanya akulturasi budaya yang terjadi pada masa Walisongo di Jawa. Hingga saat ini, masjid yang didirikan pada tahun 1549 Masehi ini tetap menjadi tempat ibadah dan tujuan ziarah ke makam Sunan Kudus.

    Pada acara festival Dandangan yang menyambut bulan Ramadhan, masjid ini selalu ramai. Hal ini karena banyak masyarakat dari berbagai penjuru yang ingin melakukan ziarah ke makam Sunan.

    2. Keris Cintoko

    Salah satu warisan sejarah yang masih terjaga dengan baik adalah keris pusaka Cintoko. Setiap tahun, tepatnya setelah Idul Adha akan ada ritual khusus di mana keris pusaka Sunan Kudus ini dibersihkan dan dijaga.

    3. Dua Tombak Sunan Kudus

    Sunan Kudus sebelum wafat juga meninggalkan dua tombak. Setiap tahun, ritual khusus diadakan untuk merawat dan menghormati tombak ini sebagai pengingat nilai-nilai s yang terkandung di dalamnya, seperti kebijaksanaan dan kekuasaan.

    4. Tembang Asmarandana

    Selain bangunan dan pusaka yang bisa kita lihat hingga sampai saat ini, beliau juga meninggalkan seni berupa tembang (lagu) yang liriknya mencerminkan nilai-nilai ajaran Islam.

    Semua peninggalan ini adalah bukti penting dari warisan Sunan Kudus yang berdampak positif dalam mempertahankan sejarah dan budaya Islam di Jawa. Selain itu, kita juga bisa mengetahui dan mempelajari sejarah secara langsung.

    Sunan Kudus adalah seorang ulama yang berperan penting dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa. Dengan metode dakwahnya yang inklusif dan warisannya yang kuat dalam penyebaran Islam tentunya menjadi kisah menarik.

  • Biografi Sunan Giri: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    Biografi Sunan Giri: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    Mungkin kita hanya mengetahui Sunan Giri sebagai ulama dan pendakwah yang giat menyebarkan syiar Islam. Padahal, sebenarnya beliau juga adalah seorang raja dengan gelar Prabu Satmata, lho!

    Sunan yang termasuk bagian dari Wali Songo ini pernah memerintah Kerajaan yang bernama Giri Kedaton. Pemerintahannya berlangsung pada tahun 1487-1506, berkedudukan di Gresik, Jawa Timur. 

    Bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut biografi Sunan yang memiliki banyak nama dan julukan ini, simak informasi lengkapnya pada uraian di bawah!

    Asal Usul Sunan Giri

    Sunan Giri adalah ulama yang lahir pada tahun 1442 Masehi di Desa Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur. Beliau lahir dari seorang ibu bernama Dewi Sekardadu dan ayahnya bernama Maulana Ishaq.

    Maulana Ishaq merupakan seorang mubaligh Islam berasal dari Asia Tengah. Beliau menikahi Dewi Sekardadu, yaitu putri Prabu Menak Sembuyu yang termasuk salah satu penguasa di daerah Blambangan.

    Dari pernikahannya, lahir seorang anak yang memiliki nama asli Raden Paku. Beliau juga memiliki nama lain seperti Joko Samudro, Prabu Satmata, Sultan Abul Faqih, dan Raden Ainul Yaqin.

    Saat Raden Paku belajar di Pesantren Sunan Ampel, kemudian beliau pun diberi nama Maulana Ainul Yaqin. Hal ini karena tidak lepas dari kecerdasan yang Raden Paku miliki dalam menimba ilmu tentang Islam.

    Setelah itu, Raden Paku dan putra Sunan Ampel yang bernama Makdum Ibrahim diutus menuntut ilmu di Pasai. Mereka berguru pada Syekh Maulana Ishaq di Pesai. Setelah 7 tahun, mereka kembali ke Jawa.

    Maulana Ishaq memberi amanat kepada Raden Paku untuk mendirikan pesantren. Kemudian, berdirilah pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Gresik.

    Raden Paku yang tinggal di perbukitan ini, akhirnya nama aslinya berubah menjadi Sunan Giri. Menurut bahasa Jawa, giri adalah bukit. Itulah asal usul nama salah satu ulama Wali Songo yang perlu kita ketahui.

    Baca juga: 13+ Keutamaan Majelis Ilmu dan Adabnya, Umat Muslim Wajib Tahu!

    Silsilah Keturunan Sunan Giri

    Berdasarkan banyak sumber, menyebutkan bahwa Raden Paku adalah keturunan dari Nabi Muhammad SAW. Nasab beliau dari jalur keturunan Husain bin Ali. Lebih jelasnya, berikut silsilah keturunan Raden Paku, yaitu:

    1. Nabi Muhammad SAW
    2. Fatimah Az-Zahra/Ali bin Abi Thalib
    3. Husain bin Ali
    4. Ali Zainal Abidin
    5. Muhammad Al-Baqir
    6. Ja’far Ash-Shadiq
    7. Ali Al-Uraidhi
    8. Muhammad An-Naqib
    9. Isa Ar-Rumi
    10. Ahmad Al-Muhajir
    11. Ubaidillah
    12. Alwi
    13. Muhammad
    14. Alwi
    15. Ali Khali’ Qasam
    16. Muhammad Shahib Mirbath
    17. Alwi Ammil Faqih
    18. Abdul Malik Azmatkhan
    19. Abdullah
    20. Ahmad Jalaluddin
    21. Husain Jamaluddin
    22. Ibrahim Zainuddin As-Samarqandy
    23. Maulana Ishaq
    24. Ainul Yaqin (Sunan Giri)

    Pada saat Sunan Giri sudah menempuh pendidikan, kerajaan bernama Giri Kedaton ini bertahan hingga 200 tahun. Setelah beliau meninggal, singgasana raja digantikan oleh keturunannya, yaitu antara lain bernama:

    1. Sunan Dalem
    2. Sunan Sedomargi
    3. Sunan Giri Prapen
    4. Sunan Kawis Guwo
    5. Panembahan Ageng Giri
    6. Panembahan Mas Witana Sideng Rana
    7. Pangeran Singonegoro
    8. Pangeran Singosari

    Kisah Saat Menyebarkan Agama Islam

    Setelah mengetahui silsilah keturunan Raden Paku, selanjutnya ketahui perjalanan dakwah beliau dalam menyebarkan syiar Islam. Sunan Giri mulai berdakwah saat setelah mendapatkan bukti terkait wilayahnya.

    Dalam upayanya menyebarkan agama Islam, ada beberapa hal yang beliau lakukan. Apa saja? Yuk, kita cari tahu informasi detailnya di bawah ini.

    1. Mendirikan Pondok Pesantren

    Perjalanan dakwah Raden Paku memulainya dengan mendirikan sebuah pondok pesantren yang bernama Giri. Lokasi pesantren Ini berada di perbukitan di Desa Sidomukti, Kebomas Gresik, Jawa Timur.

    Pesantren Giri adalah pesantren pertama yang berada di daerah Gresik pada Saka Nuju, tahun Jawi Sinong milir atau 1403 saka. Pesantren Giri dikenal sebagai pusat penyebaran syiar agama Islam di Jawa.

    Seiring perkembangan, pesantren tersebut banyak memberikan pengaruh yang luar biasa besar terhadap daerah di sekitarnya seperti Lombok, Madura, Sumbawa, Flores, Sulawesi, Maluku, dan Kalimantan.

    2. Berkembang Menjadi Kerajaan

    Meluasnya pengaruh dan pengikut Raden Paku, hal ini membuat pesantren semakin besar hingga menjadi sebuah kerajaan bernama Giri Kedaton. Kemudian berhasil menguasai wilayah Gresik dan sekitarnya.

    Raden Paku memerintah kerajaan Giri Kedaton mulai dari tahun 1487 M hingga 1909 M dengan gelar Prabu Satmata. Beliau ini memiliki pengaruh besar terhadap kerajaan Islam Jawa maupun luar Jawa saat itu.

    Kepemimpinan Prabu Satmata terbilang cepat yakni 200 tahun. Sepeninggalannya, kemudian dilanjutkan oleh keturunannya. Giri Kedaton dipimpin penguasa bergelar Sunan, Panembahan dan Pangeran.

    3. Memadukan Tradisi dan Ajaran Islam

    Selama berdakwah, Sunan Giri atau Raden Paku memakai strategi memadukan tradisi lokal dengan ajaran agama Islam seperti selamatan, acara keramaian, dan upacara lainnya yang ada unsur Islami.

    Strategi dakwah semacam ini berhasil memikat hati masyarakat dan membantunya memperluas pengaruh agama Islam. Selain itu, beliau juga menciptakan karya seni tradisional yang berhasil menarik masyarakat.

    Adapun karya tradisional tersebut yakni seperti permainan anak, lagu atau gending. Namun, suatu masa kerjaannya runtuh akibat dari serangan Kesultanan Demak, yang merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa..

    Metode Dakwah Sunan Giri

    Dari kisah penyebaran Islam yang dilakukan Raden Paku di atas bisa kita ketahui, bahwa pusat penyebarannya ada di kerajaan Giri Kedaton. Kemudian ajaran Islam ini menyebar ke daerah lain di Indonesia.

    Dalam dakwah, Raden Paku atau Sunan Giri menggunakan metode memadukan tradisi lokal dengan ajaran Islam. Beliau menciptakan lagu untuk anak-anak agar lebih mudah menyerap pelajaran agama Islam.

    Adapun lagu atau tembang anak-anak ini seperti Lir-ilir, Cublak-cublak Suweng, dan Padang Bulan. Lagu-lagi ini sangat terkenal di Jawa Timur, mungkin kita pun pernah mendengar lagu-lagu tersebut.

    Selain itu, beliau juga menciptakan permainan yang ada unsur Islam yaitu Jelungan. Permainan ini memiliki tujuan untuk mengajarkan bagaimana menyelamatkan hidup dengan pegang teguh pada ajaran Islam.

    Itulah metode dakwah Raden Paku terapkan untuk memikat hati masyarakat untuk memeluk dan belajar agama Islam. Beliau pun membuat pesantren sebagai wadah bagi masyarakat yang ingin belajar agama Islam.

    Contoh Keteladanan Sunan Giri

    Ada banyak sekali contoh keteladanan Sunan Giri yang bisa kita petik hikmahnya, salah satunya adalah metode beliau dalam menyebarkan ajaran Islam di Indonesia. Metodenya unik dan menarik masyarakat.

    Beliau menciptakan lagu dan permainan yang di dalamnya ada unsur Islam. Dengan cara ini masyarakat pun akan lebih mudah mempelajari tentang Islam, sehingga tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam.

    Contoh keteladanan Raden Paku lainnya melakukan dakwah di dalam dunia politik. Beliau memiliki kemampuan negosiasi dan kemampuan memimpin sehingga bisa bersaing dengan kerajaan pada masa itu.

    Menurut beliau, bahwa menjadi ulama dengan pengetahuan luas itu sangat penting terutama tentang agama Islam. Sebab, ketika memimpin penting memiliki pengetahuan agar keberadaannya diakui pemerintahan.

    Tak heran, jika keberadaan Raden Paku di dalam dunia politik sangat diakui oleh orang-orang di pemerintahan. Dengan begitu, beliau memiliki legalitas sehingga dakwah yang beliau lakukan menjadi lebih mudah.

    Peninggalan Sunan Giri Setelah Wafat

    Sunan Giri wafat pada tahun 1505 M dan dimakamkan di Dusun Kedaton, Desa Giri Gajah, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur. Beliau meninggalkan beberapa peninggalan yang perlu kita ketahui, di antaranya:

    1. Giri Kedaton

    Giri Kedaton adalah pusat pemerintahan atau kerajaan Giri yang dipimpin oleh Raden Paku atau Prabu Satmata, nama lain dari Sunan ini. Lokasi Giri Kedaton ini berada di tempat strategis ada di bukit di Desa Mukti.

    Kerajaan Giri Kedaton pada masanya merupakan kerajaan yang besar hingga mampu bertahan sampai 200 tahun yang dipimpin oleh beberapa generasi.

    2. Museum

    Museum Sunan Giri merupakan salah satu peninggalan beliau yang saat ini masih tersimpan rapi. Namun sayangnya, museum ini kurang terawat karena mungkin letaknya yang berada di posisi pojokan.

    Meski begitu, letak museum ini cukup strategis. Tidak jauh dari alun-alun Kota Gresik dan area terminal bus Maulana Malik Ibrahim di Kota Gresik.

    3. Masjid

    Bagi yang suka berziarah ke makam Raden Paku ini, mungkin sudah mengetahui adanya masjid yang bersebelahan dengan makam beliau. Masjid ini adalah murni peninggalannya yang bisa kita kunjungi.

    Bangunan masjid ini memiliki arsitektur yang unik karena adanya kombinasi antara budaya Islam dan Hindu. Kita bisa lihat dari bentuk atas atapnya.

    4. Telogo Pegat

    Telogo Pegat adalah salah satu peninggalan Raden Paku atau Sunan yang berjuluk Prabu Satmata ini. Menurut warga, telaga ini tidak pernah mengalami surut meski terjadi musim kemarau yang panjang.

    Telogo Pegat yang letaknya berada di kawasan Giri, Kebomas ini terdapat larangan bahwa kita tidak boleh berenang karena talaga ini cukup angker.

    Itulah beberapa peninggalan Sunan yang masuk dalam ulama Wali Songo yang perlu kita ketahui. Jika ada kesempatan untuk berziarah ke makam beliau, tidak lupa berkunjung ke tempat peninggalannya.

    Demikian informasi tentang Sunan Giri mulai dari asal-usulnya, kisah perjalanan dakwahnya, dan metode dakwah yang beliau terapkan. Semoga bisa jadi referensi dan menambah pengetahuan bagi kita.

  • Rangkuman Kisah Nabi Isa AS dan Mujizatnya Menghidupkan Orang Mati

    Rangkuman Kisah Nabi Isa AS dan Mujizatnya Menghidupkan Orang Mati

    Nabi Isa adalah nabi ke-24 dari 25 nabi dan rasul yang wajib kita imani. Dari banyaknya kisah kenabian, kisah Nabi Isa merupakan salah satu yang sangat terkenal, terlebih karena mukjizat-mukjizatnya. Bahkan, kelahirannya pun merupakan sebuah mukjizat.

    Nabi Isa sendiri merupakan salah satu dari dua orang nabi yang dilahirkan tanpa ayah. Keduanya diciptakan langsung oleh Allah tanpa melalui hubungan suami-istri layaknya manusia-manusia lain dan itu adalah hal yang mudah bagi Allah SWT.

    Di dalam Al-Quran, kisah Nabi Isa termuat di banyak sekali ayat sehingga ada banyak kejadian tentang Nabi Isa yang bisa kita ketahui. Adapun kisah lengkap dari nabi ke-24 ini bisa kita simak dalam pembahasan berikut.

    Kisah Kelahiran Nabi Isa AS

    Nabi Isa lahir di Kota Baitul Lahm, Palestina, pada tahun 622 sebelum Hijriah. Seperti sudah disebutkan sebelumnya, kelahiran Isa AS merupakan suatu mukjizat lantaran dilahirkan tanpa adanya ayah seperti pada manusia-manusia lainnya.

    Ibu Nabi Isa adalah Sayyidah Maryam yang merupakan wanita mulia yang diberi gelar ash-shiddîqah oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an. Maryam merupakan sosok yang taat kepada perintah Allah dan senantiasa menjauhi segala larangan-Nya.

    Ia adalah putri dari seorang laki-laki bernama Imran yang merupakan anak keturunan Bani Israil (Nabi Yakub AS). Keluarga Imran merupakan sebuah keluarga pilihan Allah yang mendapatkan keistimewaan berupa nikmat kenabian.

    Hal ini juga dijelaskan dalam Al Qur’an QS. Ali Imran ayat 33-34:

    إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰٓ ءَادَمَ وَنُوحًا وَءَالَ إِبْرَٰهِيمَ وَءَالَ عِمْرَٰنَ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ

    Innallāhaṣṭafā ādama wa nụḥaw wa āla ibrāhīma wa āla ‘imrāna ‘alal-‘ālamīn.

    Artinya:

    Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing).

    ذُرِّيَّةًۢ بَعْضُهَا مِنۢ بَعْضٍ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

    żurriyyatam ba’ḍuhā mim ba’ḍ, wallāhu samī’un ‘alīm.

    Artinya:

    “(sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

    Dalam Al-Qur’an dan hadis, disebutkan bahwa Maryam berasal dari keluarga yang miskin lantaran ayahnya (Imran) telah meninggal sebelum ia lahir. Karena itulah ia diasuh dan dibesarkan oleh pamannya, Nabi Zakaria.

    Suatu ketika, Maryam mendapatkan kabar gembira dari Malaikat Jibril bahwasanya Ia telah dipilih oleh Allah SWT menjadi satu-satunya wanita di dunia yang terjaga kesuciannya dan terhindar dari segala perbuatan hina.

    Di dalam Surat Ali-Imran ayat 42, Allah SWT berfirman:

    وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ

    Wa iż qālatil-malā`ikatu yā maryamu innallāhaṣṭafāki wa ṭahharaki waṣṭafāki ‘alā nisā`il-‘ālamīn.

    Artinya:

    “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).”

    Ayat di atas dengan jelas menyebutkan bahwa Sayyidah Maryam ‘alaihassalam adalah wanita pilihan Allah SWT (melalui perantara Malaikat Jibril) sebagai satu-satunya wanita di dunia (pada zamannya) yang terjaga kesuciannya.

    Baca juga: Hukuman Mati dalam Islam, Halal atau Haram?

    Malaikat Jibril yang diutus untuk menyampaikan kabar ini menjelma menjadi seorang pemuda dengan paras putih. Maryam yang takut dan mengira bahwa kedatangan Jibril adalah untuk mengganggunya lantas berkata seperti dalam QS. Maryam ayat 18:

    قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَٰنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا

    Qālat innī a’ụżu bir-raḥmāni mingka ing kunta taqiyyā.

    Artinya:

    “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.”

    Mendengar perkataan tersebut, Jibril pun memberitahukan kepada Maryam bahwa Ia bukanlah manusia biasa dan merupakan utusan Allah SWT. Ia ditugaskan untuk memberinya seorang anak laki-laki yang saleh ke dalam rahimnya.

    Maryam lantas menjawab keheranan, “Bagaimana bisa aku mempunyai seorang anak padahal aku tak memiliki suami, aku juga bukanlah seorang wanita pezina.”

    “Sesungguhnya, Allah telah berjanji untuk memberikan anak kepadamu sekalipun engkau tak memiliki suami dan engkau juga bukan wanita pezina” Jawab Malaikat Jibril atas pertanyaan dari Maryam.

    “Hal ini sangat mudah bagi Allah SWT dan akan menjadi bukti atas kesempurnaan dan kuasa-Nya, serta menjadi rahmat bagi seluruh alam untuk semua yang mengikuti, mempercayai, dan taat kepada-Nya” Imbuh Jibril.

    Setelah itu, Malaikat Jibril meniupkan ruh di bagian kerah baju Maryam. Seketika itu, Ia pun mengandung bayi Nabi Isa AS. Selang waktu berjalan, Maryam lantas mengasingkan diri guna menghindari fitnah dari orang-orang.

    Ia takut kehamilannya tersebut menjadi bahan olok-olokan karena kondisi tersebut terjadi tanpa adanya suami. Kisah Nabi Isa dalam kandungan terjadi selama 9 bulan lamanya, sampai tiba masa menjelang kelahirannya.

    Rasa sakit yang Ia alami memaksanya bersandar di sebuah batang pohon. Ketika Nabi Isa telah lahir, Maryam bersedih karena anak tersebut lahir tanpa adanya ayah. Ia berharap bahwa dia lebih baik mati dan menghilang begitu saja.

    Melihat hal itu, Jibril lantas datang dan menghibur Maryam seraya berkata, “Tak perlu bersedih. Allah telah menciptakan sungai untukmu agar airnya bisa diminum. Engkau juga bisa menggoyangkan batang pohon di dekatmu, niscaya akan berjatuhanlah buah kurma yang telah masak. Engkau juga tidak perlu memperdulikan mereka (orang-orang dari kaummu). Jika mereka melihatmu, jaga lidahmu dari mengatakan sesuatu. Karena apa pun yang engkau katakan tidak akan ada gunanya untuk mereka.”

    Untuk sesaat, Maryam pun bergembira atas mukjizat dari Allah tersebut. Selang beberapa waktu, Sayyidah Maryam akhirnya memutuskan untuk kembali ke kota. Akan tetapi, ketakutannya juga kembali tentang apa yang akan Ia katakan ke orang-orang.

    Hingga akhirnya, kisah Nabi Isa berlanjut dengan Sayyidah Maryam yang menggendong dan mendapati orang-orang menuduhnya telah berzina dengan Yusuf An-Najjar (anak Zakaria) maupun Zakaria.

    Dalam keadaan terdesak dan tak lagi bisa menjawab apa-apa, Ia hanya menunjuk ke arah bayinya. Hal ini seperti dikisahkan dalam QS. Maryam ayat 29:

    فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ ۖ قَالُوا۟ كَيْفَ نُكَلِّمُ مَن كَانَ فِى ٱلْمَهْدِ صَبِيًّا

    Fa asyārat ilaīh, qālụ kaifa nukallimu mang kāna fil-mahdi ṣabiyyā.

    Artinya:

    Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka pun berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?.”

    Di sinilah kuasa Allah SWT kembali bekerja sekaligus menjadikan ini sebagai mukjizat Nabi Isa berikutnya. Bayi Nabi Isa yang sedang berada dalam dekapan Maryam sontak mampu berbicara dan berkata:

    قَالَ إِنِّى عَبْدُ ٱللَّهِ ءَاتَىٰنِىَ ٱلْكِتَٰبَ وَجَعَلَنِى نَبِيًّا

    Qāla innī ‘abdullāh, ātāniyal-kitāba wa ja’alanī nabiyyā.

    Artinya:

    Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Alkitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.”

    Kisah Nabi Isa selama Berdakwah

    Tahun demi tahun berlalu, hingga Nabi Isa AS akhirnya semakin tumbuh dewasa. Ia juga telah menghafalkan Kitab Taurat dan mengamalkan syariatnya yang telah dibawa oleh Nabi Musa AS untuk kamu Bani Israil.

    Hingga tiba suatu ketika, Allah SWT menyampaikan wahyu kepadanya. Ia pun berbicara kepada kaum Bani Israil dan menceritakan apa yang telah Allah beritakan. Hal ini seperti tercantum dalam QS. sh-Shaff ayat 6 yang berbunyi:

    وَإِذْ قَالَ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ يَٰبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَىَّ مِنَ ٱلتَّوْرَىٰةِ وَمُبَشِّرًۢا بِرَسُولٍ يَأْتِى مِنۢ بَعْدِى ٱسْمُهُۥٓ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَآءَهُم بِٱلْبَيِّنَٰتِ قَالُوا۟ هَٰذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ

    Wa iż qāla ‘īsabnu maryama yā banī isrā`īla innī rasụlullāhi ilaikum muṣaddiqal limā baina yadayya minat-taurāti wa mubasysyiram birasụliy ya`tī mim ba’dismuhū aḥmad, fa lammā jā`ahum bil-bayyināti qālụ hāżā siḥrum mubīn.

    Artinya:

    Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”

    Kisah Nabi Isa pun berlanjut di usia 30 tahun di mana Ia diangkat oleh Allah SWT sebagai nabi dan rasul, serta diberi kitab suci baru bernama Injil. Kitab tersebut akan menjadi petunjuk bagi mereka yang taat dan bertakwa kepada Allah SWT.

    Nabi Isa AS sendiri memperoleh tugas untuk menyampaikan dakwah kepada kaum Bani Israil, memerintahkan mereka untuk senantiasa menyembah Allah semata, meninggalkan kemaksiatan, dan tidak menyembah selain pada-Nya (berhala). 

    Ia juga mengakui kebenaran kitab suci sebelumnya, yaitu Taurat, yang dibawakan oleh Nabi Musa AS Tak lupa, Ia juga menyampaikan jika akan datang suatu masa di mana seseorang bernama Muhammad akan diutus dan meminta mereka mengikutinya.

    Di dalam perjalanan dakwahnya, kisah Nabi Isa AS tidaklah sendirian. Ia ditemani oleh 12 sahabatnya yang dikenal sebagai Hawariyyun (para pembantu). Mereka ini adalah orang-orang yang percaya terhadap semua risalah dari Nabi Isa. 

    Mereka dengan setia menemani dan membantu Nabi Isa dalam upaya penyebaran Agama Allah. Perjalanan dakwah Nabi Isa sejatinya bukanlah sesuatu yang mudah lantaran banyak dari kaumnya yang justru mendustakannya.

    Banyak pula yang iri kepadanya hingga menudingnya sebagai penyihir. Bahkan, hanya beberapa orang saja yang mau beriman kepadanya. Sementara banyak kaum Bani Israil lain justru menyakiti dan mencoba membunuhnya.

    Mereka iri terhadap segala mukjizat-mukjizat yang dimilikinya. Kelahirannya yang tanpa ayah juga selalu diragukan sehingga Nabi Isa dianggap sebagai anak haram. 

    Kisah Nabi Isa Menghidupkan Orang Mati

    Selain lahir tanpa ayah dan mampu berbicara saat masih bayi, salah satu mukjizat Nabi Isa yang juga sangat terkenal adalah kemampuannya menghidupkan orang mati. Peristiwa ini dikisahkan oleh Ibnu Abbas dalam Tafsir ath-Thabari.

    Suatu hari, orang-orang Hawariyyun (para pengikut Nabi Isa) berkata pada Isa AS, “Dapatkah engkau membangkitkan satu orang saja yang pernah menyaksikan peristiwa banjir dan bahtera Nabi Nuh, tentu Ia bisa menceritakannya kepada kami.”

    Mendengar perkataan itu, Isa AS pun pergi bersama para Hawariyyun ke sebuah tempat di mana terdapat gundukan tanah. Nabi Isa lantas mengambil satu genggam tanah tersebut menggunakan tangannya.

    Kemudian Isa AS berkata, “Apakah kalian tahu tanah apakah ini?”

    “Tentu saja Allah dan rasulnya lebih mengetahuinya” Jawab para Hawariyyun. 

    Nabi Isa AS kemudian menjelaskan, “Ini adalah Ka‘ab Ham bin Nuh.” Kemudian ia memukul gundukan tanah tersebut dengan tongkatnya, seraya berkata “Bangkitlah engkau atas izin Allah SWT.”

    Tak lama kemudian, Ham bin Nuh pun bangkit sambil mengusap tanah di bagian atas kepalanya yang beruban.

    “Apakah seperti itu keadaanmu ketika meninggal?” Tanya Nabi Isa kepada Ham bin Nuh.

    Ia pun menjawab, “Tidak. Aku meninggal saat masih muda, tetapi aku mengira bahwa kini sudah tiba waktunya hari kiamat. Hal itu membuatku ketakutan sehingga rambutku beruban.”

    Kisah Nabi Isa yang dapat membangkitkan orang mati pun berlanjut dengan meminta Ham bin Nuh untuk bercerita tentang bahtera Nabi Nuh.

    Ham bin Nuh lantas bercerita bahwa bahtera tersebut memiliki panjang 1200 hasta dan lebar 600 hasta. Di dalamnya terdiri dari 3 lantai, yang mana lantai 1 berisi hewan peliharaan dan hewan liar, lantai 2 berisi manusia, dan lantai tiga berisi burung.

    Ia melanjutkan ceritanya saat bahtera sudah penuh dengan kotoran dari hewan-hewan ternak. Pada saat itu, Allah mengilhami Nuh untuk menggelitik ekor gajah hingga keluar dari gajah tersebut seekor babi jantan dan babi betina.

    Kedua babi tersebutlah yang akhirnya membersihkan kapal dari kotoran hewan peliharaan yang menumpuk. 

    Kemudian, Nabi Isa kembali bertanya tentang bagaimana cara Nabi Nuh tahu wilayah mana saja yang masih terendam banjir dan mana yang sudah kering.

    Ham bin Nuh kembali menjawab bahwasanya Nabi Nuh mengutus burung gagak untuk memberi kabar kepadanya. Sayangnya, burung gagak tersebut justru berhenti tatkala melihat bangkai binatang dan justru asyik memakannya.

    Lantas, Nabi Nuh pun berdoa agar gagak tersebut diliputi ketakutan. Benar saja, gagak tersebut akhirnya merasa takut sehingga membuatnya tidak senang memiliki sarang. Nabi Nuh lalu memberi tugas yang sama kepada merpati.

    Berbeda dengan gagak, merpati menjalankan tugas tersebut dengan baik dan kembali kepada Nabi Nuh dengan daun zaitun di paruhnya dan tanah liat di kakinya. Kedua benda itulah yang membuat Nabi Nuh tahu kondisi suatu wilayah.

    Lebih lanjut, kisah Nabi Isa yang dapat membangkitkan orang mati ini adalah bentuk mukjizat yang diberikan Allah kepadanya. Peristiwa ini juga menggambarkan peristiwa kebangkitan kelak di hari kiamat.

    Kisah Nabi Isa Diangkat ke Langit

    Permusuhan antara kaum kafir Yahudi dengan Nabi Isa semakin menjadi hingga mereka bermusyawarah untuk menangkap dan berusaha membunuhnya. Saat itu, kamu kafir Yahudi dipimpin oleh seseorang bernama Yahuza.

    Yahuza sendiri merupakan salah satu sahabat Nabi Isa AS yang berkhianat. Di sisi lain, raja yang saat itu berkuasa adalah Raja Herodes. Ia dikenal sebagai raja yang kejam, zalim, dan memusuhi semua seruan yang disampaikan oleh Nabi Isa AS.

    Suatu ketika, Raja Herodes memerintahkan pasukannya untuk mencari Nabi Isa dan membunuhnya. Akan tetapi, atas izin Allah SWT, tempat persembunyian Nabi Isa AS tidak mampu ditemukan oleh pasukan Raja Herodes.

    Sampai akhirnya, Yahuza dapat mencium tempat persembunyian tersebut dan memberitahukannya kepada Raja. Raja lantas meminta Yahuza untuk menyerbu tempat tersebut ditemani oleh para pasukannya.

    Pada saat hendak ditangkap oleh Yahuza dan pasukan raja di dalam persembunyiannya, Allah lantas mengangkat Nabi Isa AS ke langit dan seketika mengubah wajah hingga tubuh Yahuza menyerupai Isa AS.

    Kisah Nabi Isa berlanjut ketika para pasukan raja mengira bahwa yang keluar dari persembunyiannya tersebut adalah benar Nabi Isa sehingga bergegas menangkap dan membawanya kepada raja. 

    Sekalipun Yahuza mengelak bahwa Ia bukanlah Nabi Isa seperti yang mereka cari, tetapi semua pasukan tak mengindahkannya. Pasalnya, Allah telah mengubah fisik dan wajahnya serupa Nabi Isa AS.

    Raja Herodes kemudian memberi perintah untuk membunuh Nabi Isa yang tak lain adalah Yahuza atau juga dikenal sebagai Yudas Iskariot. Peristiwa inilah yang menurut kepercayaan nasrani sebagai peristiwa penyaliban Nabi Isa.

    Keraguan ini dijelaskan secara langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an QS. An-Nisa ayat 157 – 159:

    Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah” Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa (QS. An-Nisa 157).

    Namun, (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. An-Nisa 158).

    Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka (QS. An-Nisa 159).

    Islam meyakini bahwasanya sampai saat ini Nabi Isa AS masih hidup dan berada di langit. Kelak menjelang kiamat, Ia akan diturunkan kembali ke bumi untuk menjalankan sejumlah tugas, termasuk mendampingi Imam Mahdi dalam memerangi Dajjal.

    Ketika kelak Nabi Isa turun, dunia akan diisi oleh orang-orang yang beriman, menjadi tempat yang adil serta makmur.

    Dari hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW pernah bersabda:

    وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ

    Artinya:

    “Demi Allah, sungguh hampir tiba saatnya putra Maryam itu turun di tengah-tengah kalian sebagai seorang hakim yang adil. Maka ia akan memecahkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah/upeti. Dan (saat itu) harta benda berhamburan sampai-sampai tidak ada seorang pun yang bersedia menerimanya (harta pemberian).” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Itulah rangkuman kisah perjalanan Nabi Isa sedari jaman ibunya, Sayyidah Maryam, sampai dengan peristiwa pengangkatannya ke langit. Kisah ini juga dituliskan dalam beberapa ayat Al-Qur’an dan menjadi teladan bagi siapa saja yang meyakininya.

    Rangkaian mukjizat yang dialami oleh Nabi Isa AS sekaligus menunjukkan kebesaran dan kuasa Allah SWT atas nabi dan rasulnya. Semoga rangkuman kisah Nabi Isa di atas bisa memberi manfaat dan teladan untuk kita semua.

  • Sejarah Singkat Kisah Nabi Sulaiman Berikut Mujizatnya

    Sejarah Singkat Kisah Nabi Sulaiman Berikut Mujizatnya

    Kisah Nabi Sulaiman AS termasuk salah satu kisah yang menarik untuk kita kaji. Pasalnya, kita bisa menemukan berbagai nilai keluhuran akhlak, kecerdasan, dan keimanan kepada Allah SWT.

    Selain itu, Nabi Sulaiman AS memiliki beberapa kelebihan dan mukjizat yang luar biasa. Sayangnya, berbagai kebaikan yang dimilikinya belum diketahui oleh para muslim. 

    Mari langsung saja kita simak kisahnya. Kita sebagai muslim harus mengetahui kisah para nabi untuk mempertebal keimanan. 

    Kisah Nabi Sulaiman AS, Putra Nabi Daud AS

    Memiliki nama asli Sulaiman bin Daud bin Aisya bin Awid. Beliau merupakan bungsu dari sebelas bersaudara putra Nabi Daud AS.

    Sementara, ibu Nabi Sulaiman bernama Tasyayu’ bin Sura, seorang perempuan yang saleh dan takwa. Sang ibu senantiasa mendorong Nabi Sulaiman untuk beribadah dengan tekun.

    Nabi Sulaiman AS adalah nabi ke delapan belas. Beliau diangkat menjadi nabi dan rasul Allah sekitar tahun 970 Masehi.

    Sejak usia belia, Nabi Sulaiman telah menunjukkan tanda-tanda kenabian. Selain dikenal sebagai anak yang saleh dan taat beribadah, beliau memiliki kecerdasan dan kematangan pola pikir sejak kecil.

    Dalam keluarganya, Nabi Sulaiman dianggap sebagai karunia Allah. Ketakwaan Beliau bahkan disebutkan dalam firman Allah:

    وَوَهَبْنَا لِدَاوٗدَ سُلَيْمٰنَۗ نِعْمَ الْعَبْدُ ۗاِنَّهٗٓ اَوَّابٌۗ ٣٠

    Artinya: 

    “Dan kepada Daud Kami karuniakan (anak bernama) Sulaiman; dia adalah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).” ((QS. Shad [38]: 30).

    Kesalehan dan ketakwaan Nabi Sulaiman AS terlihat jelas dalam kebiasaannya melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. Dikisahkan bahwa beliau menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermunajat kepada Allah SWT.

    Dikisahkan bahwa Nabi Daud AS telah lama menantikan seorang penerus yang sesuai untuk memerintah kerajaannya. Akan tetapi, beliau tidak kunjung menemukan penerus yang diharapkan.

    Nabi Daud AS terus berdoa kepada Allah SWT supaya diberikan keturunan yang mulia. Kemudian, Allah mengabulkan doa-doa beliau dengan mengaruniai anak bernama Sulaiman.

    Baca juga: Pengertian Khotbah dan Bedanya dengan Ceramah Beserta Syarat-syaratnya

    Kebijaksanaan Nabi Sulaiman AS

    Allah SWT menganugerahkan banyak keistimewaan pada Nabi Sulaiman AS. Di antaranya adalah kecerdasan dan kebijaksanaan yang sudah terbukti sejak kecil.

    Salah satunya terlihat dalam kisah Nabi Sulaiman AS ketika mengatasi sengketa antara pemilik kebun dan kambing. Kisah ini disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al Anbiya ayat 78-79:

    وَدَاوٗدَ وَسُلَيْمٰنَ اِذْ يَحْكُمٰنِ فِى الْحَرْثِ اِذْ نَفَشَتْ فِيْهِ غَنَمُ الْقَوْمِۚ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شٰهِدِيْنَۖ ۝٧٨

    فَفَهَّمْنٰهَا سُلَيْمٰنَۚ وَكُلًّا اٰتَيْنَا حُكْمًا وَّعِلْمًاۖ وَّسَخَّرْنَا مَعَ دَاوٗدَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَۗ وَكُنَّا فٰعِلِيْنَ ۝٧٩

    Artinya: 

    “Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, ketika keduanya memberikan keputusan mengenai ladang, karena (ladang itu) dirusak oleh kambing-kambing milik kaumnya. Dan Kami menyaksikan keputusan (yang diberikan) oleh mereka itu. Dan Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat); dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya.”

    Sebagaimana tercantum dalam ayat tersebut, saat itu ada dua orang laki-laki yang mengadukan permasalahan mereka kepada Nabi Daud AS. Mereka adalah seorang pemilik kebun dan seorang pemilik kambing.

    Si pemilik ladang mengatakan bahwa ladangnya telah dimasuki kambing sehingga merusak tanaman yang sebentar lagi akan panen.

    Maka, setelah menimbang perkara yang disampaikan, Nabi Daud mengambil keputusan supaya si pemilik kambing menyerahkan seluruh kambingnya pada pemilik kebun sebagai ganti rugi.

    Namun, keputusan tersebut membuat si pemilik kambing merasa sedih karena kehilangan kambingnya.

    Saat berjalan pulang, si pemilik kambing berpapasan dengan Nabi Sulaiman. Kemudian ia menyampaikan masalah yang membuatnya bersedih.

    Setelah mendengarnya, Nabi Sulaiman juga merasa bahwa keputusan ayahnya kurang tepat. Maka, beliau menghadap ayahnya, Nabi Daud AS dan mengusulkan cara penyelesaian yang berbeda.

    “Serahkan kambing itu kepada pemilik ladang, supaya ia bisa memanfaatkan susu, anak, dan bulunya. Sementara itu, ladang diserahkan kepada pemilik kambing supaya dia merawatnya hingga kembali seperti sedia kala.”

    Kemudian Nabi Sulaiman melanjutkan usulannya, “Setelah itu, masing-masing diperbolehkan mengambil hak mereka kembali.”

    Nabi Daud AS menyetujui usulan Nabi Sulaiman AS. Pasalnya, cara tersebut tidak akan membuat salah satu pihak merasa terlalu dirugikan maupun diuntungkan.

    Selain Nabi Daud, pendapat Nabi Sulaiman mendapatkan sambutan baik dari kedua pihak yang bersengketa dan para hadirin.

    Mukjizat Nabi Sulaiman AS

    Salah satu hal paling menarik dari kisah Nabi Sulaiman AS adalah mukjizatnya. Beberapa mukjizat beliau yang paling mashyur yaitu kemampuan berbicara dengan hewan, memerintah jin, dan menundukkan angin.

    Salah satu yang paling terkenal yaitu kisah Nabi Sulaiman dan burung hud-hud. Burung ini banyak membantu perjuangan Nabi Sulaiman dalam berdakwah maupun memerintah Kerajaan.

    Kisah tersebut tertuang dalam Al-Qur’an surat An Naml ayat 27-28, yang berbunyi:

    ۞ قَالَ سَنَنْظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

    اذْهَبْ بِكِتَابِي هَٰذَا فَأَلْقِهْ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ

    Artinya: 

    “Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.”

    Ayat tersebut mengisahkan ketika burung hud-hud diperintah oleh Nabi Sulaiman untuk mengirimkan surat kepada ratu Balqis.

    Sementara, mukjizat Nabi Sulaiman yang mampu menggunakan angin untuk bepergian disebutkan dalam Al-Qur’an surat Shad ayat 36.

    فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيحَ تَجْرِي بِأَمْرِهِ رُخَاءً حَيْثُ أَصَابَ

    Artinya: 

    “Kemudian kami tundukkan padanya angin yang berhembus dengan baik menurut kemana saja yang dikehendakinya.” (QS. Shad 38:36).

    Berbagai mukjizat Nabi Sulaiman juga disebutkan dalam surat Saba ayat 12, meliputi kemampuan mengalirkan cairan tembaga di perut bumi dan memerintah jin untuk berkerja.

    وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ ۖ وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ ۖ وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ ۖ وَمَنْ يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ

    Artinya: 

    “Dan Kami tundukkan angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (dibawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.” (QS. Saba 34:12).

    Kisah Nabi Sulaiman AS Membangun Istana Megah

    Allah SWT memberikan anugerah pada Nabi Sulaiman AS berupa kenikmatan yang melimpah. Bahkan beliau merupakan raja dan nabi yang paling kaya.

    Setelah Nabi Daud AS wafat, Nabi Sulaiman AS mewarisi kekayaan serta meneruskan tahta sang ayah. Beliau pun diangkat sebagai raja yang memerintah Bani Israil di Palestina setelah cukup umur.

    Dikisahkan bahwa Nabi Sulaiman tinggal di istana yang luar biasa megah yang dibangun oleh manusia, jin, dan hewan.

    Konon, istana Nabi Sulaiman memiliki keindahan yang tidak tertandingi. Dengan dinding yang terbuat dari batu pualam, pintu dan tiang dari emas, serta atap dari perak.

    Sementara itu, hiasan dan ukiran pada istana tersebut terbuat dari mutiara, intan, dan berlian.

    Selain istana yang megah, Nabi Sulaiman memerintah kerajaan dengan bijak, sehingga penduduknya makmur dari segi ekonomi serta memiliki spiritual tinggi dan bertakwa kepada Allah SWT.

    Memimpin kerajaan yang demikian memang salah satu impian dari Nabi Sulaiman AS. Beliau juga menyampaikan mengenai impian tersebut dalam doanya.

    قَالَ رَبِّ ٱغْفِرْ لِى وَهَبْ لِى مُلْكًا لَّا يَنۢبَغِى لِأَحَدٍ مِّنۢ بَعْدِىٓ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

    Artinya: 

    “Allah berfirman Dia berkata “Ya Tuhanku ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapapun setelahku. Sungguh, engkau Allah yang Maha Pemberi.” (QS. Shaad: 35).

    Maka, Nabi Sulaiman AS dapat memiliki kerajaan yang sangat kuat dan tangguh karena Allah SWT mengabulkan doanya.

    Selain kemakmuran, hal menakjubkan lainnya dari kisah Nabi Sulaiman yaitu kerajaannya yang diperkuat oleh pasukan jin dan hewan. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

    وَحُشِرَ لِسُلَيْمَٰنَ جُنُودُهُۥ مِنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ وَٱلطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ

    Artinya: 

    “Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).” (QS. An Naml ayat 17).

    Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis

    Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Nabi Sulaiman diberikan mukjizat berupa kemampuan berkomunikasi dengan binatang.

    Atas ijin Allah, Nabi Sulaiman juga mampu memberikan perintah pada hewan. Salah satunya yaitu burung hud-hud.

    Adapun tugas burung hud-hud adalah sebagai peninjau, yang mana ia akan mencari tahu apakah suatu kawasan memiliki sumber air. Berkat bantuan burung hud-hud ini pasukan tentara Nabi Sulaiman dapat mengatasi masalah ketika kekurangan air.

    Suatu ketika, Nabi Sulaiman mengalami kekurangan air di daerah Yaman, sehingga beliau memerintahkan burung hud-hud untuk mencari sumber air.

    Akan tetapi, burung hud-hud tidak kunjung kembali hingga Nabi Sulaiman marah dan berencana hendak menghukumnya.

    Tidak lama kemudian, burung hud-hud kembali sambil membawa berita mengenai negeri bernama Saba yang rakyatnya menyembah matahari. Burung hud-hud juga menceritakan bahwa negeri tersebut diperintah oleh seorang ratu bernama Balqis.

    Kisah ini tertuang dalam Al-Qur’an:

    فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطْتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ

    Artinya: 

    “Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.” (An-Naml: 22).

    Setelah mendengarkan hal tersebut, Nabi Sulaiman memerintahkan burung hud-hud untuk mengantarkan surat pada ratu Balqis. Isi surat itu adalah seruan supaya Ratu Balqis menyembah Allah SWT.

    Sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an.

    إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ(31)

    أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ(32)

    Artinya: 

    “Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”(An-Naml: 31-32).

    Ratu Balqis menyampaikan mengenai surat tersebut pada rapat dengan para petinggi negerinya. Para petinggi tersebut menyatakan siap untuk berperang apabila sang ratu memberikan perintah.

    Namun, ratu Balqis memilih mencoba jalan damai terlebih dahulu. Maka, ia pun mengirimkan surat balasan yang memberitahukan bahwa ia hendak mengirim utusan kepada Nabi Sulaiman.

    Setelah membaca surat balasan, Nabi Sulaiman memerintahkan para jin untuk mempersiapkan istana yang indah tanpa tandingan.

    Saking indahnya istana Nabi Sulaiman, utusan dari Ratu Balqis sampai keheranan mengaguminya. Utusan tersebut menghadap Nabi Sulaiman dengan membawa hadiah.

    Namun, Nabi Sulaiman menolak hadiah itu dan mengatakan bahwa beliau hanya menginginkan satu hal, yaitu supaya Ratu Balqis dan rakyatnya menyembah Allah.

    Beliau juga mengancam akan mendatangi negeri Saba dengan bala tentara apabila tidak menuruti perintahnya.

    Utusan kembali ke negerinya dan menyampaikan semua hal yang dialami kepada ratu Balqis. Akhirnya, sang ratu memutuskan untuk menghadap Nabi Sulaiman.

    Sebelum ratu Balqis sampai ke istana Nabi Sulaiman, beliau memerintahkan para pembesarnya untuk membawakan singgasana ratu Balqis ke hadapannya.

    Maka, jin Ifrit menyanggupi perintah tersebut dan memindahkan singgasana ratu Balqis dalam sekejap.

    Sesampainya di istana Nabi Sulaiman, ratu Balqis dibuat terkejut melihat singgasana yang sama persis dengan miliknya.

    Nabi Sulaiman pun menjawab bahwa itu memang singgasana ratu Balqis yang telah dibawa ke sana dengan mudah atas ijin Allah SWT.

    Terkesima melihat singgasananya sendiri serta tercengang melihat istana megah milik Nabi Sulaiman, ratu Balqis pun akhirnya beriman kepada Allah dan mengakui bahwa Nabi Sulaiman adalah utusan-Nya.

    Hal tersebut dikisahkan dalam firman Allah.

    فَلَمَّا جَاءَتْ قِيلَ أَهَكَذَا عَرْشُكِ قَالَتْ كَأَنَّهُ هُوَ وَأُوتِينَا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهَا وَكُنَّا مُسْلِمِينَ

    Artinya: 

    “Dan ketika Balqis datang di tanyakanlah kepadanya ‘Serupa Inikah Singgasanamu?’ Dia menjawab ‘Seakan-akan Singgasana ini Singgasanaku. Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (QS. Naml: 42).

    Dari ayat tersebut ditunjukkan bahwa ratu Balqis sudah mengetahui bahwa Nabi Sulaiman adalah nabi. Akan tetapi, ia merasa enggan untuk langsung mengakuinya.

    Setelah melihat mukjizat Nabi Sulaiman, barulah ratu Balqis menyatakan diri masuk agama Islam. Sebagaimana disebutkan dalam ayat Al-Qur’an berikut:

    رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

    Artinya: 

    “Ya Tuhanku, sungguh aku telah menganiaya diriku sendiri. Aku berserah diri kepada- Mu bersama Sulaiman pada Allah Tuhan seluruh alam semesta.” (QS. An Naml: 44).

    Wafatnya Nabi Sulaiman AS

    Bagian berikutnya dari kisah Nabi Sulaiman AS adalah wafatnya beliau.

    Nabi Sulaiman AS menemui ajal tanpa diketahui oleh para pengikutnya. Dikisahkan bahwa suatu ketika Nabi Sulaiman pergi untuk mengawasi kerja kawanan jin yang beliau perintah. Para jin tidak berani menoleh ke arah Nabi Sulaiman.

    Sementara, pada saat itu juga malaikat Izrail datang untuk mencabut nyawa beliau. Nabi Sulaiman pun wafat dalam keadaan berdiri sambil disangga oleh tongkatnya.

    Para jin sama sekali tidak menyadari hal tersebut. Hingga kemudian Allah SWT memerintahkan sekelompok rayap untuk menggerogoti tongkat Nabi Sulaiman.

    Setelah tongkat tersebut rusak, maka tubuh Nabi Sulaiman AS tersungkur ke tanah. Barulah saat itu para jin mengetahui bahwa Nabi Sulaiman telah wafat.

    Wafatnya Nabi Sulaiman juga dikisahkan dalam ayat Al-Qur’an:

    فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَىٰ مَوْتِهِ إِلَّا دَابَّةُ الْأَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ ۖ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ 

    Artinya: 

    “Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.” (QS. Saba 34:14).

    Demikianlah kisah Nabi Sulaiman AS serta mukjizatnya. Selain yang telah kita simak, masih terdapat sejumlah kisah beliau, seperti kisah tentang Nabi Sulaiman dan pasukan semut serta kisah beliau dengan malaikat Izrail.

  • Biografi Sunan Drajat dari Silsilah hingga Metode Dakwahnya 

    Biografi Sunan Drajat dari Silsilah hingga Metode Dakwahnya 

    Salah satu sunan dari Wali Songo adalah Sunan Drajat. Beliau memiliki nama kecil Raden Hasyim, lalu memperoleh gelar Raden Syarifudin. 

    Diperkirakan beliau lahir pada tahun 1470 Masehi. Beliau ini merupakan putra dari Sunan Ampel yang begitu terkenal lantaran kecerdasannya. Beliau juga merupakan saudara dari Sunan Bonang. 

    Setelah Sunan Drajat belajar Islam, ia menyebar agama Islam khususnya di Desa Drajat yang menjadi tanah perdikan.

    Di sana, beliau mendirikan pesantren yang diberi nama Dalem Duwur. Tempat ini ia dapatkan sebagai pemberian dari Kerajaan Demak. 

    Dari sanalah, akhirnya beliau diberi gelar Sunan Mayang Madu pada tahun 1442/1520 Masehi oleh Raden Patah. Ingin tahu lebih lengkap mengenai Sunan Drajat? Yuk, baca lebih selengkapnya di bawah ini. 

    Sejarah Singkat Sunan Drajat

    Beliau memiliki nama kecil Raden Syarifuddin atau Raden Qosim. Setelah beliau menguasai ajaran Islam, akhirnya dipilihlah tempat yang ada di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Tepatnya di Desa Drajat. 

    Lamongan, telah menjadi pusat kegiatan dakwahnya di sekitar abad ke-XV sampai XVI Masehi. 

    Beliau kemudian memegang kendali kerajaan pada wilayah perdikan ini sebagai otonom dari kerajaan Demak. Kurang lebih beliau memegang kendali selama 36 tahun. 

    Raden Qosim amat terkenal karena jiwa sosialnya. Nasib kaum miskin selalu menjadi fokus dalam penyebaran dan kegiatan dakwahnya. 

    Di awal, beliau mengusahakan lebih dulu kesejahteraan sosial untuk selanjutnya memberi pemahaman mengenai ajaran-ajaran Islam. 

    Motivasi yang beliau berikan, lebih pada etos kerja keras, kedermawanan agar bisa mengentaskan dari kemiskinan, serta menciptakan kemakmuran. 

    Jadi, fokus awal bukan langsung pada mengajarkan ajaran-ajaran Islam. Melainkan membuat masyarakat yang ada di Desa Drajat sejahtera secara ekonomi dan sosial lebih dahulu. 

    Sebagai penghargaan atas seluruh keberhasilannya dalam menyebar agama Islam dan menanggulangi tingkat kemiskinan, serta memakmurkan warga, beliau menerima gelar Sunan Mayang Madu secara langsung dari Raden Patah. 

    Waktu beliau mendapatkan gelar, Raden Patah adalah sosok yang menjadi Sultan Demak tepat pada tahun saka 1442 atau sekitar 1520 Masehi. 

    Raden Qasim ini adalah saudara Sunan Bonang yang masih merupakan keturunan dari Rasulullah SAW. 

    Silsilah Sunan Drajat

    Raden Qosim juga merupakan keturunan dari Nabi Muhammad SAW. Adapun silsilahnya yakni: 

    • Nabi Muhammad SAW
    • Fatimah az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib
    • Imam Husain
    • Ali Zainal Abidin
    • Muhammad al-Baqir
    • Ja’far ash-Shadiq
    • Ali al-Uraidhi
    • Muhammad al-Naqib
    • Isa ar-Rumi
    • Ahmad al-Muhajir
    • Ubaidillah
    • Muhammad Sahibus Saumiah
    • Alwi ats-Tsani
    • Ali Khali’ Qasam
    • Muhammad Shahib Mirbath
    • Alwi Ammi al-Faqih
    • Abdul Malik Azmatkhan
    • Abdullah Khan
    • Ahmad Syah Jalal
    • Jamaludin Akbar al-Husaini atau Syekh Jumadil Qubro
    • Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik
    • Raden Rahmat atau Sayyid Ahmad Rahmatillah atau Sunan Ampel dan Dewi Condrowati
    • Raden Qasim atau Sunan Drajat

    Metode Dakwah Sunan Drajat

    Sunan Drajat memiliki metode dakwah dengan cara memanfaatkan media seni, termasuk juga dengan suluk dan juga tembang pangkur. 

    Tidak hanya itu, beliau juga memiliki ajaran Catur Piwulang yang seluruh isinya adalah berbuat baik terhadap sesama.

    Selanjutnya dalam berdakwah, beliau juga sangat memperhatikan nasib para orang-orang miskin, yatim-piatu, hingga orang terlantar. 

    Beliau pun mengajak para bangsawan di masa itu untuk sedekah, infaq, dan juga zakat yang sesuai dengan agama Islam. 

    Baca juga: 14 Dosa Orang Tua Terhadap Anak yang Dibenci Allah SWT

    Filosofi Sunan Drajat

    Setiap sunan yang termasuk dalam Wali Songo, memiliki filosofi masing-masing yang menjadi dasar perilaku dan apa saja yang mereka lakukan. Termasuk juga Sunan Drajat. 

    Filosofi milik beliau untuk mengentaskan kemiskinan, saat ini abadi dalam sap tangga ketujuh dari seluruh tataran komplek di Makam Sunan Drajat. 

    Lebih lengkapnya, filosofi  tujuh saf tangga ini yakni: 

    1. Memangun Resep Tyasing Sasoma

    Filosofi ini memiliki arti ‘kita selalu membuat senang hati dari orang lain’. Filosofi satu ini mengajarkan bahwa kita, harus selalu berupaya untuk menyenangkan hati dari orang-orang yang ada di sekitar kita. 

    2. Jroning Suka Kudu Eling lan Waspada

    Makna dari filosofi ini cukup mendalam. Bahkan dalam suasana riang, bahagia, dan gembira, kita harus tetap ingat dan juga waspada. Filosofi satu ini, mengajarkan bagi kita untuk tidak berlebihan ketika dalam keadaan senang. 

    Tentu saja, tujuan dari filosofi ini adalah agar kita lebih ingat juga waspada demi keselamatan, di dunia sampai akhirat kelak. 

    3. Laksmitaning Subrata tan Nyipta Marang Pringgabayaning Lampah

    Selanjutnya, filosofi Sunan Drajat ini memang cukup panjang. Maknanya sangat mendalam. 

    Artinya adalah dalam perjalanan menggapai impian dan cita-cita luhur, kita tak perlu peduli dengan semua bentuk rintangan yang mungkin menghadang. 

    Intinya, kita harus terus berupaya semaksimal mungkin untuk mencapai cita-cita luhur yang di awal sudah kita tetapkan. 

    4. Meper Hardaning Pancadriya

    Menekan nafsu, adalah inti dari filosofi yang dimiliki oleh Raden Qasim ini. Makna sebenarnya adalah ‘kita harus tetap dan selalu menekan gelora dari nafsu’ yang ada dalam diri. 

    5. Heneng – Hening – Henung

    Ini adalah salah satu filosofi yang cukup terkenal dan masih digunakan oleh banyak orang sebagai filosofi pribadinya sendiri. 

    Artinya juga cukup mendalam yakni, “dalam keadaan diam, kita dapat memperoleh keheningan. Dan dalam keadaan hening itulah kita bisa mencapai cita-cita yang luhur.”

    6. Mulya Guna Panca Waktu

    Filosofi ini tak hanya berlaku untuk di masa itu dan hanya untuk kalangan tertentu saja. Melainkan juga masih berlaku untuk kehidupan saat ini dan di masa depan. 

    Filosofi satu ini ada berdasarkan perintah agama. Artinya adalah ‘suatu kebahagiaan secara lahir dan batin, hanya dapat kita capai/peroleh dengan shalat lima waktu.’

    7. Menehana Teken Marang Wong Kang Wuta…

    Filosofi yang kami tuliskan di atas hanya sekadar kutipan saja. Sebenarnya, filosofi ini cukup panjang. Bunyinya begini. 

    Menehana teken marang wong kang wuta, Menehana mangan marang wong kang luwe, Menehana busana marang wong kang wuda, Menehana ngiyup marang wong kang kodanan.’

    Artinya adalah ‘berikanlah tongkat pada orang buta, berikanlah makan pada orang yang lapar, berilah pakaian kepada orang yang telanjang, dan berilah tempat berteduh pada orang yang sedang kehujanan.’

    Hal ini pun masih memiliki makna. Menurut sumber yang kami telusuri, filosofi Sunan Drajat ini masih memiliki arti lain. Adapun arti lainnya adalah: 

    “Berilah ilmu agar orang-orang menjadi pandai, sejahterakanlah kehidupan masyarakat yang miskin, ajarilah kesusilaan terhadap orang yang tidak punya malu, juga berikan perlindungan untuk orang yang menderita.”

    Penghargaan terhadap Sunan Drajat

    Di dalam sejarahnya, Raden Qasim atau Sunan Drajat merupakan seorang Wali yang membuat tembang Mocopat, tepatnya Pangkur. 

    Sisa-sisa gamelan Singo mengkok yang digunakannya, saat ini sudah tersimpan di Museum Daerah Lamongan. 

    Guna menghormati jasa-jasanya sebagai seorang Wali yang menyebarkan agama Islam, banyak benda-benda bersejarah yang menjadi peninggalannya. 

    Pemerintah Kabupaten Lamongan pun mendirikan Museum Daerah Sunan Drajat tepat di sebelah timur makan. Museum ini telah diresmikan pada tanggal 1 Maret 1992. 

    Kisah Sunan Drajat yang Jarang Diketahui

    Tidak hanya terkenal dengan warisan filosofi dan usaha keras beliau untuk menyebarkan agama Islam, ada berbagai kisah menarik yang jarang diketahui. Ingin tahu lengkapnya? Ini dia kisahnya: 

    1. Sudah Pandai Baca-Tulis Al-Qur’an Sejak Kecil

    Raden Qosim terkenal sudah sangat pandai membaca juga menulis Al-Qur’an sejak usia beliau masih enam tahun. 

    Setelah selesai belajar agama di Ampel, Raden Qosim menunaikan ibadah haji sembari mendalami ilmu agama lebih lanjut di sana. 

    Sepuluh tahun setelahnya, Raden Qosim kembali ke Jawa untuk mendakwahkan Islam sebagaimana pesan yang disampaikan oleh ayahnya, Sunan Ampel. 

    2. Selamat dari Kecelakaan di Laut

    Pada suatu hari, Raden Qosim akan meneruskan dakwah ke daerah tertentu. Kemudian, ia menumpang perahu nelayan yang tengah mencari ikan tepatnya di perairan Surabaya – Tuban. 

    Nahasnya, perahu yang beliau tumpangi mengalami kecelakaan. Penyebabnya adalah kapal tersebut menabrak batu karang di lautan. 

    Tidak hanya membuat kapalnya hancur. Kecelakaan ini juga membuat penumpang yang ada di kapal jatuh ke laut. Namun, ada juga yang menjelaskan bahwa perahunya hancur karena ada badai dahsyat. 

    Hingga akhirnya, ada ikan yang muncul. Ada yang menyebutnya ikan hiu dan ada pula versi lain yang menyebut bahwa ikan yang muncul adalah ikan cucut dan ikan talang. 

    Apapun ikan yang menolongnya, intinya beliau diselamatkan oleh ikan yang datang atas pertolongan Allah SWT. 

    3. Metode Memakmurkan, Dakwah Kemudian

    Ini adalah hal yang jarang diketahui. Beliau adalah sosok yang terkenal sebagai orang yang amat memperhatikan keadaan sosial yang terjadi di sekitarnya. 

    Masyarakat miskin, nasibnya selalu diperhatikan. Tak hanya melihat, beliau pun selalu mengupayakan agar mereka bisa meningkatkan kesejahteraannya. 

    Sunan Drajat mengajarkan ke masyarakat Jawa banyak hal. Tak hanya berdakwah, beliau pun mengajarkan bertanam, berdagang, sampai keterampilan lain untuk meningkatkan ekonomi dari masyarakat sekitar. 

    Setelah ekonomi masyarakat sudah masuk dalam kategori mampu, barulah beliau menyebarkan Islam kepada masyarakat secara perlahan. 

    Dengan ini, masyarakat setempat akhirnya mengikuti apa yang beliau ajarkan. Beliau pun lebih mengutamakan ajaran Islam untuk etos kerja keras, kedermawanan, tenggang rasa, juga solidaritas. 

    Bahkan juga sampai dengan membantu menjauhkan orang-orang di lingkungan sekitar dari kemiskinan. Bukan hanya secara verbal beliau berdakwah, melainkan dengan upaya keras untuk mensejahterakan masyarakat sekitarnya. 

    Itulah sedikit yang bisa kami tuliskan mengenai Sunan Drajat. Banyak hal yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari beliau yang dulu telah berupaya menyebarkan agama Islam di tanah Jawa ini.

  • Biografi Sunan Gresik: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    Biografi Sunan Gresik: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    Penyebaran agama Islam di Indonesia, khususnya di pulau Jawa  tidak lepas dari perjuangan Wali songo. Salah satu Sunan yang ada di dalam Wali Songo adalah Maulana Malik Ibrahim atau dikenal Sunan Gresik.

    Maulana Malik Ibrahim menyebarkan ajaran agama Islam lewat dakwah. Pada tahun 1404 Masehi, beliau mendirikan majelis dakwah yang bertujuan untuk melakukan perubahan penduduk Jawa ke arah lebih baik.

    Jika ingin mengetahui lebih jauh tentang biografi, asal usul, dan metode dakwah Sunan Gresik, berikut uraian informasi selengkapnya. Yuk, simak di bawah ini sekarang!

    Biografi Sunan Gresik

    Maulana Malik Ibrahim atau yang terkenal dengan sebutan Sunan Gresik adalah salah satu Sunan dari sembilan wali atau Wali Songo. Beliau merupakan putra dari Jamaluddin Akbar Al Husaini yang lahir pada abad ke 14.

    Sementara nama ibu dari Sunan ini belum diketahui. Namun, istrinya yang bernama Siti Fatimah adalah keturunan dari Raja Champa Dinasti Azmatkhan 1.

    Menurut cerita leluhur, Maulana Malik Ibrahim memiliki karomah atau kemuliaan yang Allah berikan berupa kemampuan menurunkan hujan. Selain itu, beliau juga memberikan pelajaran pada muridnya dalam mencegah perampok.

    Tidak hanya itu, dalam bidang pendidikan beliau mendirikan pondok pesantren yang berada di daerah Leran, Kota Gresik. Beliau juga memiliki karya kesenian berupa lagu gundul-gundul pacul dan tembang suluk.

    Maulana Malik Ibrahim juga giat dalam menyebarkan Islam di Pulau Jawa. Hal ini yang kemudian menciptakan persepsi sendiri mengenai asal usulnya.

    Asal Usul Sunan Gresik

    Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang asal usul nama Sunan Gresik dan perjalanan beliau dalam menyebarkan ajaran Islam di Indonesia, khususnya pulau Jawa. Berikut info detailnya untuk menambah pengetahuan.

    1. Persepsi Nama Asli

    Masyarakat menganggap Maulana Malik Ibrahim bukan merupakan keturunan asli Jawa. Persepsi inipun diperkuat dari nama panggilan beliau yakni Syekh Maghribi yang masyarakat berikan kepada beliau.

    Masyarakat memiliki persepsi bahwa Sunan ini berasal dari Arab Maghrib yang berada di wilayah sekitar Afrika Barat. Bahkan, ada juga masyarakat yang percaya bahwa beliau berasal dari daerah Maroko.

    Meski begitu, Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad SAW melalui jalur Husain bin Ali. Beliau juga memiliki ikatan saudara dengan Maulana Ishaq yakni ayah dari Sunan Giri.

    Baca juga: Pengertian Toleransi dalam Islam dan Batasan-Batasannya

    2. Tempat Kelahiran

    Menurut tulisan yang ada di dalam naskah babad Tanah Jawi oleh J.J Meinsma, Maulana Malik Ibrahim yang juga memiliki nama Makhdum Ibrahim As-Samarqandi atau Syekh Ibrahim Asmarakandi.

    Berdasarkan nama itu, Maulana Malik Ibrahim diperkirakan lahir di daerah Samarkand pada awal abad ke 14 Masehi. Kemudian, setelah beranjak dewasa pernah tinggal di Canpa atau kini lebih dikenal Kamboja.

    Di daerah Campa, beliau menikah dengan putri raja dan memiliki dua orang putra. Adapun dua orang putra dari Maulana Malik Ibrahim yaitu Raden Rahmat atau dikenal Sunan Ampel dan Sayid Ali Murtadha.

    3. Wali Songo Pertama

    Maulana Malik Ibrahim merupakan Wali Songo pertama yang datang ke tanah Jawa dalam menyebarkan agama Islam. Beliau pertama kali datang ke Desa Sembalo yang berada di wilayah kerajaan Majapahit.

    Desa Sambalo saat ini merupakan bagian dari daerah Leran, Kecamatan Manyar, Kota Gresik. Hal yang pertama kali beliau lakukan adalah berdagang berbagai macam kebutuhan pokok dengan harga murah.

    Selain itu, beliau juga mendirikan masjid di Desa Pasucinan, Kecamatan Manyak, Kota Gresik. Hal ini sebagai wadah atau tempat beliau menyebarkan agama Islam kepada masyarakat di sekitar kala itu.

    Silsilah Keturunan Sunan Gresik

    Menurut informasi yang diperoleh, Nasab Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim sampai kepada Nabi Muhammad SAW melalui jalur Husain bin Ali. Berikut nasab dan silsilah keturunan Maulana Malik ibrahim:

    1. Nabi Muhammad SAW
    2. Fatimah Az-Zahra/Ali bin Abi Thalib
    3. Al-Husain bin
    4. Ali Zainal Abidin bin
    5. Muhammad Al-Baqir bin
    6. Ja’far Shadiq bin
    7. Ali Al-Uraidhi bin
    8. Muhammad An-Naqib bin
    9. Isa Ar-Rumi bin
    10. Ahmad Al-Muhajir bin
    11. Ubaidillah bin
    12. Alwy bin
    13. Muhammad bin
    14. Alwy bin
    15. Ali Khali’ Qasam bin
    16. Muhammad Shahib Mirbath bin
    17. Alwi Ammil Faqih bin
    18. Abdul Malik Azmatkhan bin
    19. Abdullah bin
    20. Ahmad Jalaluddin bin
    21. Husain Jamaluddin bin
    22. barakat Zainal Alam
    23. Maulana Malik Ibrahim

    Kisah Perjuangan Saat Menyebarkan Islam

    Maulana Malik Ibrahim yang dikenal juga sebagai Kakek Banyak oleh masyarakat setempat, beliau melakukan kegiatan dakwah dengan cara yang bijaksana dan lemah lembut sesuai dengan ajaran Al-Quran.

    Beliau berjuang melakukan syiar Islam kepada masyarakat dari mulai datang pertama kali ke pulau Jawa hingga beliau wafat pada tahun 1419 Masehi. Berikut perjuangan Sunan Gresik dalam berdakwah:

    1. Mendirikan Masjid Pertama

    Maulana Malik Ibrahim merupakan salah satu Wali Songo yang pertama kali menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Oleh karena itu, beliau dianggap sebagai wali senior di antara para Wali Songo lainnya.

    Pada tahun 801 Hijriyah atau 1392 Masehi, beliau pertama kali diunggah di daerah Leran. Kemudian, beliau menyebarkan syiar Islam di Jawa Timur dengan mendirikan masjid pertama di Desa Pasucinan, Manyar.

    Selain itu, Sunan Gresik juga mulai berdagang di Desa Roomo. Roomo adalah desa yang terletak sekitar 4 km dari timur Desa Leran. Daerah ini dianggap cocok untuk dagang karena dekat dengan pelabuhan Gresik.

    2. Belajar Bahasa Setempat

    Sambil berdagang, Sunan Gresik ternyata punya tujuan untuk mempelajari bahasa daerah masyarakat setempat. Hal ini beliau lakukan untuk mempermudah komunikasi saat berdakwah atau syiar agama Islam.

    Selain itu, beliau juga sering kali membantu masyarakat yang membutuhkan pengobatan. Beliau juga sering menolong fakir miskin. Beliau terkenal di kalangan masyarakat sebagai pribadi ramah dan baik hati.

    Nama Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik pun terkenal sampai di kalangan bangsawan Kerajaan Majapahit. Hingga suatu ketika, beliau ingin berkunjung dan bertemu dengan Raja Majapahit bernama Prabu Brawijaya.

    3. Berdakwah di Majapahit

    Setelah Raja Majapahit menerima kedatangan Maulana Malik Ibrahim, raja sangat terkesan dengan sopan santun dan budi pekerti Sunan Gresik ini. Hanya saja, sang saja belum bersedia memeluk agama Islam.

    Perlu kita ketahui, Raja dan masyarakat di Majapahit menganut agama Hindu dan Buddha. Meski sudah ada juga sebagian yang beragama Islam. Namun, Maulana Malik Ibrahim tetap meminta izin dakwah di Majapahit.

    Penyebaran agama Islam oleh Maulana Malik Ibrahim dengan menggunakan strategi dan cara yang bijaksana. Beliau selalu bersabar dan berusaha meluruskan pemikiran orang yang selalu berbuat musyrik.

    4. Dakwah Sesuai Ajaran Nabi

    Dalam perjalanan dakwahnya, beliau tidak hanya berhadapan dengan masyarakat beragama Hindu. Namun, beliau juga harus menghadapi orang yang tidak memiliki agama dan membukti aliran sesat.

    Cara Sunan Gresik menghadapi orang tersebut adalah dengan tidak secara langsung menentang kepercayaannya. Tapi beliau melakukan dengan cara pendekatan yang ramah dan bisa diterima masyarakat.

    Beliau dalam menyebarkan dakwahnya selalu menunjukkan cara yang bijaksana. Setiap dakwah selalu menunjukan keindahan dan akhlak Islami sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW dan Al-Quran.

    Metode Dakwah Sunan Gresik

    Salah satu hal yang membuat masyarakat mengikuti ajaran yang disampaikan oleh Maulana Malik Ibrahim adalah pribadi yang halus dan baik hati. Masyarakat bisa tersentuh untuk memeluk agama Islam.

    Metode dakwah seperti ini Sunan Gresik terapkan agar warga atau masyarakat sukarela masuk Islam tanpa paksaan. Beliau menjelaskan tentang Islam dengan bahasa yang mudah mereka pahami.

    Selain itu, metode pendekatan beliau kepada orang-orang yang berkasta rendah dalam agama Hindu. Seperti kita ketahui, di agama hindu ada empat kasta yaitu, brahmana, ksatria, waisya, dan sudra.

    Banyak dari kasta waisya dan sudra tertarik dengan penjelasan Maulana Malik Ibrahim tentang kedudukan seseorang di dalam agama Islam adalah sama atau sederajat, serta tidak ada yang berbeda.

    Sunan Gresik setiap menjelaskan tentang agama Islam dengan cara halus, sehingga masyarakat tergerak hatinya untuk masuk Islam. Banyak masyarakat berbondong-bondong masuk Islam tanpa paksaan.

    Setelah beliau memiliki pengikut yang banyak, kemudian beliau mendirikan masjid untuk tempat beribadah bersama. Dalam pembuatan masjid, beliau mendapatkan banyak bantuan dari Raja Carmain.

    Raja Carmain adalah pemimpin dari sebuah kerajaan bernama Kerajaan Champa. Beliau senantiasa selalu membantu Maulana Malik Ibrahim dalam melakukan kegiatan syiar Islam di zaman Kerajaan Majapahit.

    Contoh Keteladanan Sunan Gresik

    Dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, Maulana Malik Ibrahim tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam. Beliau mendekati masyarakat melalui pergaulan dan berdagang.

    Sunan Gresik tidak menentang kepercayaan dan agama warga asli yang mereka peluk. Justru, beliau memperlihatkan suatu keindahan dan kebaikan yang ada dalam agama Islam dengan cara yang halus.

    Berkat keramah-tamahan dan sopan santun, akhirnya banyak orang tertarik masuk ke dalam agama Islam. Kemudian, beliau mendirikan tempat ibadah bagi umat Islam untuk ibadah sholat dan mengaji.

    Dari perjalanan dakwah beliau, kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah bahwa untuk membuat seseorang berbuat baik tidak perlu paksaan. Cukup dengan pendekatan yang halus dan bisa mereka mengerti.

    Bukan dengan kekerasan, apalagi harus dengan melakukan hal yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Sebab, agama Islam sendiri mengajarkan kita untuk berbuat baik karena pada dasarnya kita sama.

    Peninggalan Sunan Gresik Setelah Wafat

    Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim wafat pada tahun 1419 Masehi. Lokasi makamnya ada di wilayah Gapura Wetan, Gresik. Adapun peninggalan beliau yang masih ada hingga saat ini, di antaranya:

    1. Masjid Pesucinan

    Masjid Pesucinan atau Masjid Malik Ibrahim merupakan salah satu peninggalan dari Maulana Malik Ibrahim yang masih berdiri kokoh hingga saat ini.

    Masjid ini tergolong sebagai masjid tertua di Desa Leran, Kota Gresik. Masjid ini berdiri pada saat zaman Kerajaan Majapahit berkuasa. Tidak heran, jika masjid ini menjadi salah satu masjid tertua di Indonesia.

    Masjid Pesucinan adalah salah satu bukti sejarah bahwa adanya perjuangan seorang wali dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia. Dalam hal ini, wali tersebut bernama Maulana Malik Ibrahim.

    2. Air Sumur

    Peninggalan air sumur Sunan yang pertama kali menyebarkan agama Islam di tanah Jawa ini adalah air sumur yang lokasinya ada di dalam Masjid Pesucinan.

    Banyak orang percaya bahwa air sumur ini memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit. Hal ini karena air sumur ini memang rasanya tawar yang berbeda dengan mayoritas air sumur di sekitarnya.

    Meskipun demikian, setiap penyakit ada yang menyembuhkan yaitu dari Allah SWT. Hanya saja, jalan untuk kesembuhannya bisa berbeda-beda yaitu bisa melalui minum obat, dokter, dan lain sebagainya.

    Itulah beberapa peninggalan yang masih ada hingga saat ini dan sudah sepatutnya kita jaga dan rawat. Dengan begitu, sejarah tentang Sunan Wali Songo bernama Maulana Malik ibrahim tetap terjaga baik.

    Demikian penjelasan tentang Sunan Gresik atau yang memiliki nama asli Maulana Malik Ibrahim mulai dari biografi hingga asal usul dan perjalanan dakwahnya. Semoga bisa menjadi referensi dan pengetahuan bagi kita.

  • Kisah Nabi Nuh AS, Berdakwah Lebih dari 900 Tahun

    Kisah Nabi Nuh AS, Berdakwah Lebih dari 900 Tahun

    Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari kisah Nabi Nuh AS. Apalagi Beliau termasuk salah satu nabi yang memiliki gelar ulul azmi, yakni nabi dengan tingkat kesabaran, ketabahan, serta keteguhan hati yang luar biasa.

    Selain itu, ada lagi yang membuat takjub yaitu kesulitan yang dihadapi dan lama masa dakwah dari Nabi Nuh. Bahkan, beberapa riwayat menyebutkan bahwa Nabi Nuh merupakan nabi dengan umur paling panjang.

    Penasaran? Mari simak kisah lengkapnya.

    Kisah Nabi Nuh AS yang Berdakwah dengan Penuh Kesabaran

    Termasuk dalam 25 nabi dan rasul yang wajib kita imani, Nabi Nuh merupakan cucu dari Nabi Idris AS. Beliau memiliki nama asli Abdul Ghaffar atau Yasykur, putra dari Lamik bin Matta bin Idris AS.

    Kisah Nabi Nuh disebutkan dalam banyak ayat Al-Qur’an. Melansir dari laman Risalah, Nabi Nuh AS disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 43 kali.

    Selain itu, kisah Beliau juga disebutkan dalam sejumlah hadits. Salah satunya yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab shahihnya, disebutkan:

    أن رجلا قال : يا رسول الله أنبي كان آدم . قال : نعم مكلم . قال : فكم كان بينه وبين نوح . قال :  عشرة قرون . رواه أحمد وابن ماجه

    Artinya: 

    “Ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasul apakah Adam seorang nabi? Beliau menjawab, “Benar, dan yang diajak bicara langsung oleh Allah. Berapa lama jarak antara Nabi Adam dan Nuh, tanya sahabat tadi. Beliau menjawab, “Sepuluh masa.” (HR. Ahmad 5/265-266).

    Perjuangan dakwah Nabi Nuh AS berlangsung selama 950 tahun, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Ankabut ayat 14:

    وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ

    Artinya: 

    “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.”

    Pada masyarakat kala itu telah tersebar kesyirikan, sehingga orang-orang menyembah patung (berhala) karena tipu daya dari setan.

    Hingga kemudian Allah SWT memilih Nuh ‘alaihissalam sebagai nabi dan rasul-Nya untuk mengajak kaumnya kembali ke jalan yang benar dengan menyembah Allah.

    Maka, Nabi Nuh pun mulai berdakwah dan mengajak orang-orang meninggalkan sesembahan selain Allah SWT.

    Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-A’raaf ayat 59 yang berbunyi:

    لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِۦ فَقَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥٓ إِنِّىٓ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

    Artinya: 

    “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).”

    Setelah itu, di antara orang-orang pada masa itu ada sebagian yang mengikuti ajakan Nabi Nuh AS. Mereka terdiri dari kaum dhuafa dan fakir .

    Sedangkan orang-orang yang kuat dan kaya menolak dakwah Nabi Nuh. Bahkan istri dan salah satu anak Beliau juga termasuk golongan yang menolak. Selain menolak, mereka juga mencemooh Nabi Nuh.

    فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ

    Artinya: 

    “Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.” (QS. Huud: 27).

    Baca juga: Bacaan Doa Selamat Dunia Akhirat Pendek, Panjang, Arab & Latin

    Kaum yang Mendustakan Nabi Nuh

    Kisah Nabi Nuh dipenuhi dengan perjuangan dakwah yang sangat berat. Pasalnya, kaumnya kala itu adalah orang-orang yang sangat zalim, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

    وَقَوْمَ نُوحٍ مِنْ قَبْلُ ۖ إِنَّهُمْ كَانُوا هُمْ أَظْلَمَ وَأَطْغَىٰ

    Artinya: “Dan kaum Nuh sebelum itu, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zalim dan paling durhaka.” (An-Najm, 53: 52).

    Banyak yang mencemooh dan menolak dakwahnya. Meski begitu, Nabi Nuh AS tidak lantas berputus asa. Beliau terus mengajak mereka untuk meninggalkan berhala dan menyembah Allah SWT.

    Kisah Nabi Nuh AS juga mencakup bagaimana Beliau menyampaikan dakwah terus menerus secara langsung dan secara sembunyi-sembunyi.

    Akan tetapi, usaha Nabi Nuh tidak kunjung membuahkan hasil. Bahkan setelah Beliau berdakwah dalam waktu yang cukup lama, mereka yang menolak terus menghina dan menyakitinya.

    Penolakan terang-terangan terhadap dakwah Nabi Nuh juga diceritakan dalam AL-Qur’an:

    فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا

    Artinya: 

    “Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan Sesungguhnya setiap kali Aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.” (QS. Nuh, 71: 6 – 7).

    Bahkan, orang-orang yang menolak itu pernah meminta Nabi Nuh untuk mengusir orang-orang fakir supaya orang-orang kaya bersedia duduk bersamanya sehingga mulai beriman padanya.

    Hal tersebut langsung mendapatkan penolakan dari Nabi Nuh, sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 29-30, yang artinya:

    “Wahai kaumku! Aku tidak meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu sebagai suatu kaum yang tidak mengetahui–Dan (Nuh berkata), “Wahai kaumku! Siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mengusir mereka. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?”

    Seolah belum cukup, para orang kaya itu pun marah dan menuduh Nabi Nuh sebagai orang sesat.

    قَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

    Artinya: 

    “Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.” QS. Al A’raaf: 60).

    Dikisahkan dalam surat Al A’raaf: 61-62 bahwa Nabi Nuh mengelak tuduhan tersebut sembari kembali memberitahukan bahwa Beliau adalah utusan Allah.

    قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي ضَلَالَةٌ وَلَٰكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

    Artinya: 

    “Wahai kaumku! Tidak ada padaku kesesatan sedikit pun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam.”

    أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنْصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

    Artinya: 

    “Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku, aku memberi nasehat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.”

    Kesulitan yang mewarnai perjuangan dakwah dalam kisah Nabi Nuh terus berlanjut. Kaum kafir yang menolak ajakan Nabi Nuh bahkan mengancam hendak membunuh Beliau.

    قَالُوا لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ يَا نُوحُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمَرْجُومِينَ

    Artinya: 

    “Mereka berkata: ‘Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti Hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.” (QS. Asy Syu’ara, 26: 116).

    Nabi Nuh AS Mengadu Kepada Allah SWT

    Menghadapi penolakan yang demikian keras, Nabi Nuh tetap bersabar dan terus berdakwah. Hari demi hari, hingga bulan berganti tahun.

    Namun, setelah bertahun-tahun berlalu pun, hanya sedikit yang mengikuti seruan Beliau. Riwayat menyebutkan bahwa pengikut Nabi Nuh hanya sebanyak 70-80 orang.

    Walaupun demikian, Beliau tetap teguh dan melanjutkan dakwahnya dengan sabar. Bahkan lama dakwah Nabi Nuh mencapai 950 tahun, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al ‘Ankabut ayat 14.

    Namun, kaum kafir tidak juga mendengarkan ajakan Nabi Nuh. Justru sebaliknya, mereka terus mengajak manusia untuk menyekutukan Allah SWT.

    Selain penolakan terang-terangan pada dakwah Nabi Nuh, orang-orang kafir itu bahkan menantang Nabi Nuh untuk mendatangkan azab dan membuktikan bahwa ajarannya benar.

    قَالُوۡا يٰـنُوۡحُ قَدۡ جَادَلۡتَـنَا فَاَكۡثَرۡتَ جِدَالـنَا فَاۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَاۤ اِنۡ كُنۡتَ مِنَ الصّٰدِقِيۡنَ‏ ٣٢

    Artinya: 

    “Wahai Nuh! Sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap Kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada Kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Hud: 32).

    Maka Nabi Nuh pun menjawab, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.

    قَالَ اِنَّمَا يَاۡتِيۡكُمۡ بِهِ اللّٰهُ اِنۡ شَآءَ وَمَاۤ اَنۡتُمۡ بِمُعۡجِزِيۡنَ‏  ٣٣

    Artinya: 

    “Dia (Nuh) menjawab, “Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri.” (QS. Hud: 33-34).

    Nabi Nuh merasa sedih melihat perbuatan kaumnya yang menyekutukan Allah dan melakukan perbuatan buruk. Hingga Beliau pun mengadu kepada Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.

    وَ قَالَ نُوۡحٌ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى الۡاَرۡضِ مِنَ الۡكٰفِرِيۡنَ دَيَّارًا‏ ٢٦

    اِنَّكَ اِنۡ تَذَرۡهُمۡ يُضِلُّوۡا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوۡۤا اِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا‏ ٢٧

    Artinya: 

    “Nabi Nuh berkata, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (QS. Nuh: 26-27).

    Nabi Nuh AS Membuat Bahtera

    Bagian dari kisah Nabi Nuh AS yang paling terkenal yaitu bahtera yang menyelamatkan Nabi Nuh dan pengikutnya.

    Bahtera atau kapal yang berukuran besar tersebut dibuat oleh Nabi Nuh atas perintah Allah SWT. Nabi Nuh juga mendapatkan petunjuk dari Allah mengenai cara membuatnya dengan baik.

    Sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an Surat Huud 36-37:

    وَاُوۡحِىَ اِلٰى نُوۡحٍ اَنَّهٗ لَنۡ يُّؤۡمِنَ مِنۡ قَوۡمِكَ اِلَّا مَنۡ قَدۡ اٰمَنَ فَلَا تَبۡتَٮِٕسۡ بِمَا كَانُوۡا يَفۡعَلُوۡنَ​ ۖ ​ ۚ‏ ٣٦

    Artinya: 

    “Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.”

    وَاصۡنَعِ الۡفُلۡكَ بِاَعۡيُنِنَا وَوَحۡيِنَا وَلَا تُخَاطِبۡنِىۡ فِى الَّذِيۡنَ ظَلَمُوۡا​ ۚ اِنَّهُمۡ مُّغۡرَقُوۡنَ‏ ٣٧

    Artinya: 

    “Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.”

    Pembuatan kapal besar oleh Nabi Nuh dan pengikutnya memakan waktu puluhan tahun. Selama itu pula, orang-orang kafir terus mengejeknya karena membuat kapal besar di gurun sahara.

    Nabi Nuh bersabar menerima cemoohan mereka dan terus menunaikan perintah Allah.

    Datangnya Azab

    Kisah Nabi Nuh membuat kapal besar tidak lain karena Beliau mendapatkan perintah Allah SWT. Nabi Nuh juga diberitahukan mengenai kedatangan banjir besar yang akan menenggelamkan kaumnya yang kafir.

    Maka, setelah kapal selesai dibuat, Nabi Nuh mengajak setiap mukmin untuk menaikinya. Beliau juga mengangkut setiap binatang dalam jumlah sepasang.

    Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 40-41.

    حَتّٰۤى اِذَا جَآءَ اَمۡرُنَا وَفَارَ التَّنُّوۡرُۙ قُلۡنَا احۡمِلۡ فِيۡهَا مِنۡ كُلٍّ زَوۡجَيۡنِ اثۡنَيۡنِ وَاَهۡلَكَ اِلَّا مَنۡ سَبَقَ عَلَيۡهِ الۡقَوۡلُ وَمَنۡ اٰمَنَ​ؕ وَمَاۤ اٰمَنَ مَعَهٗۤ اِلَّا قَلِيۡلٌ‏ ٤٠

    Artinya: 

    “Hingga apabila perintah kami datang dan dapur telah memancarkan air, kami berfirman: ‘Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.’, dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.”

    ۞ وَقَالَ ارۡكَبُوۡا فِيۡهَا بِسۡمِ اللّٰهِ مَجْرٖٮٰھَا وَمُرۡسٰٮهَا ​ؕ اِنَّ رَبِّىۡ لَـغَفُوۡرٌ رَّحِيۡمٌ ‏ ٤١

    Artinya: 

    “Dan Nuh berkata: ‘Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Saat itu juga, banjir besar datang. Langit mengucurkan hujan dengan deras dan mata air di bumi memancar dengan kuat. Kapal Nabi Nuh berlayar di antara ombak sebesar gunung.

    Nabi Nuh melihat anaknya yang kafir, lalu memanggilnya dan mengajaknya naik ke bahtera dan memohon perlindungan Allah SWT. Akan tetapi, anaknya menolak sehingga ia ikut binasa bersama kaum kafir lainnya.

    Setelah semua kaum kafir tenggelam, Allah memerintahkan pada langit dan bumi sehingga banjir surut.

    Kapal Nabi Nuh kemudian berlabuh di atas bukit Judi. Setelah turun dari kapal, Nabi Nuh dan pengikutnya melepaskan hewan-hewan yang diangkut kemudian menjalani hidup baru.

    Itulah kisah Nabi Nuh AS dan perjuangan dakwahnya yang panjang dan berat. Dapat kita lihat dari kisah tersebut bahwa kesabaran dan keteguhan Beliau dalam berdakwah merupakan teladan baik bagi seluruh umat muslim.