Begitu indahnya Islam sudah mengatur segala hal dalam kehidupan termasuk berpuasa. Ada beberapa golongan tertentu yang tidak diperbolehkannya puasa sebab terdapat kesulitan. Lalu, bagaimana hukum puasa bagi ibu hamil?
Apakah ibu hamil termasuk dalam golongan tertentu tersebut?
Sederhananya, hukum puasa bagi ibu hamil yaitu diperbolehkannya tidak puasa. Akan tetapi, di lain waktu harus mengganti ataupun membayar fidyah.
Bagaimana Hukum Puasa bagi Ibu Hamil?
Melanjutkan dari pertanyaan sebelumnya yaitu hukum puasa bagi ibu hamil.
Kitab-kitab fiqih menyebutkan bahwa ibu hamil disebut dengan “Khouful Hamil wal Murdi al-Darar min al-Shiyam” yang artinya kekhawatiran ibu hamil dan menyusui ketika puasa.
Dengan begitu, ada beberapa pendapat yang berbeda dari para ulama untuk menjelaskan masalah hukum puasa bagi ibu hamil yaitu:
1. Madzhab Syafi’i
Madzhab Syafi’I menjelaskan bahwa hukum puasa bagi ibu hamil atau menyusui yang khawatir terhadap dirinya, anaknya dan keduanya boleh tidak berpuasa. Dan sebagai gantinya ibu hamil tersebut harus mengganti dengan puasa di hari lain.
Penggantian puasa atau qadha tanpa fidyah. Namun, khusus untuk ibu hamil yang khawatir terhadap anaknya saja. Maka, perlu mengganti puasanya dan membayar fidyah.
2. Madzhab Maliki
Selanjutnya madzhab Maliki menyebutkan bahwa hukum puasa bagi ibu hamil yang khawatir sakit atau terjadi sesuatu yang membahayakan dirinya, khawatir pada kandungannya, dan keduanya, maka boleh tidak berpuasa.
Dan untuk gantinya ibu hamil tersebut harus mengqadha puasa tanpa fidyah. Berbeda haknya ibu menyusui, maka harus membayar fidyah juga. Sebab ada kekhawatiran pada anaknya.
Mazhab Hanbali juga menjelaskan bahwa hukum puasa bagi ibu hamil dan menyusui yang khawatir terhadap dirinya, anaknya, dan keduanya, maka ibu hamil tersebut harus mengqadha puasa di hari lain tanpa membayar fidyah.
Namun, berbeda cerita jika ibu hamil atau menyusui tersebut khawatir terhadap anaknya saja. Maka, ibu hamil atau menyusui harus mengganti dengan puasa di hari lain sekaligus membayar fidyah.
4. Mazhab Hanafi
Madzhab Hanafi menerangkan bahwa hukum puasa bagi ibu hamil atau menyusui yaitu boleh tidak berpuasa. Tentunya hal itu dalam kondisi ibu hamil atau menyusui yang khawatir terhadap dirinya, bayi, dan keduanya.
Maka, ibu hamil atau menyusui tersebut wajib mengqadha puasa pada hari lain tanpa harus puasa sambung menyambung. Selain itu, juga tidak perlu membayar fidyah sebagai gantinya.
Sehingga, secara keseluruhan hukum puasa bagi ibu hamil yaitu diperbolehkannya tidak berpuasa. Selama ibu hamil tersebut merasa takut terhadap janin yang berada dalam kandungannya.
Hal itu juga sudah disepakati oleh para ulama yang pengambilannya dari salah satu dalil Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menghilangkan pada musafir separuh shalat. Allah pun menghilangkan puasa pada musafir, wanita hamil, dan ibu menyusui. (HR. Ahmad Syaikh syu’aib Al Arnauth).
Pendapat Ulama tentang Tetap Ada Qadha Puasa Bagi Ibu Hamil
Selain dari paparan di atas, ada banyak pendapat ulama lain yang mengatakan bahwa hukum puasa bagi ibu hamil yaitu diperbolehkan tidak puasa asal tetap mengganti dengan puasa di hari lain.
Asy Syairozi yang merupakan ulama Syafi’i beliau berkata, “Jika wanita hamil dan menyusui khawatir pada diri mereka sendiri, maka mereka boleh tidak puasa dan punya kewajiban qadha tanpa kafarah. Keadaan mereka seperti orang sakit. Jika keduanya khawatir pada anaknya, maka keduanya tetap menunaikan qadha namun dalam hal kafarah ada tiga pendapat.” (Al Majmu, 6:177).
Imam Nawawi juga memberikan pendapatnya yaitu, “Wanita hamil dan menyusui ketika tidak berpuasa karena khawatir pada keadaan dirinya, maka keduanya boleh tidak puasa dan punya kewajiban qadha. Tidak ada fidyah ketika itu seperti halnya orang yang sakit. Permasalahan ini tidak ada perselisihan diantara para ulama. Begitu pula jika khawatir pada kondisi anak saat berpuasa, bukan pada kondisi dirinya, maka boleh tidak puasa, namun tetap ada qadha. Yang ini pun tidak ada khilaf. Namun untuk fidyah diwajibkan menurut Madzhab Syafi’i.”
Dalil-dalil Keringanan Puasa bagi Ibu Hamil
Seperti halnya pada kondisi lain yang termasuk rukhshah, hukum puasa bagi ibu hamil pun juga diberikan keringan untuk boleh tidak menunaikan puasa. Sebab ibu hamil mempunyai uzur sya’ro atau halangan tertentu.
Dengan kata lain, ibu hamil boleh meninggalkan puasanya sebab khawatir terhadap kesehatan diri dan bayinya. Dan itu termasuk dalam keringanan yang Allah SWT beri kepada ibu hamil atau menyusui.
Adapun beberapa dalil yang menjelaskan keringan puasa bagi ibu hamil, tentunya dalil ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Sesungguhnya Allah azza wa jlla menghilangkan pada musafir separuh shalat. Allah pun menghilangkan puasa pada musafir, perempuan hamil, dan perempuan menyusui.” (HR. Ahmad)
Selain itu, dalam Al-Qu’ran pun juga disebutkan yaitu:
Syahru ramadanal lazi unzila fihil qur-anu lin-nasi wa bayyinatim minal huda wal-furqan, faman syahida minkumusy syahra falyasumh wa man kana maridan au ‘ala safari fa ‘iddatum min ayyamin ukha, yuridullahu bikumul ‘usr, wa litukmilul ‘iddata wa litukabbarullaha ala ma hadakum wa la’allakum tasykurun.
Artinya:
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantikannya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah ayat 185).
Dalam surat Al-Baqarah tersebut menunjukkan bahwa kasih sayang yang diberikan kepada Allah SWT sangatlah luas dan berlimpah. Walaupun puasa pada bulan Ramadhan bersifat wajib, akan tetapi Allah SWT tetap memberikan keringanan.
Keringanan-keringanan tersebut terlampir dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat sebelumnya yaitu 184:
Ayyamam ma’dudat, faman kana minkum maridan au ‘ala safari fa’iddatum min ayyamin ukhar, wa ‘alal-lazina yutiqunahu fidyatun ta’amu miskin, faman tatawwa’a khairan fahuwa khairul lah, wa an tasumu khairul lakum in kuntum ta’lamun.
Artinya:
“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa diantara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) member makan orang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
Ketetapan untuk Ketentuan Pengganti Puasa bagi Ibu Hamil
Setelah kita sudah mengetahui bagaimana hukum puasa bagi ibu hamil secara jelas, ada beberapa ketentuan ketentuan yang bisa kita ambil pelajaran. Adapun ketentuan mengqadha dan membayar fidyahnya yaitu:
1. Ketentuan Ketentuan Qadha atau Mengganti Puasa
Seperti yang sudah dijelaskan oleh Abdurrahman al-Juzairi dalam buku kitabnya yaitu al-Fiqh ‘ala Madzahib al-Arba’ah. Terdapat ketentuan qadha puasa bagi ibu hamil atau menyusui menjadi tiga kelompok:
Ibu hamil atau menyusui yang tidak berpuasa dikarenakan khawatir akan kesehatan dirinya, maka ia perlu mengqadha sejumlah hari puasa yang ia tinggalkan pada hari lainnya.
Ibu hamil atau menyusui yang tidak berpuasa dikarenakan khawatir akan kesehatan bayinya, maka ia perlu mengqadha sejumlah puasa pada hari lain di luar bulan Ramadhan.
Ibu hamil atau menyusui yang tidak berpuasa disebabkan khawatir kesehatan diri dan bayinya, maka ia perlu mengganti puasanya di luar bulan Ramadhan sejumlah puasa terutang sekaligus wajib membayar fidyah.
Selain dari ketentuan puasanya, hukum puasa bagi ibu hamil yang diperbolehkan tidak puasa dengan mengganti puasanya itu boleh menunda qadhanya. Artinya ibu hamil tersebut tidak mesti mengganti puasa setelah bulan Ramadhan yaitu Syawal.
Akan tetapi, boleh juga ibu hamil menggantinya pada bulan lain yaitu Dzulhijjah hingga Sya’ban asal sebelum masuk bulan Ramadhan berikutnya. Adapun dalil pendukungnya yaitu:
Aisyah pernah menunda qadha puasa hingga bulan Sya’ban, dari Abu Salamah mendengar Aisyah mengatakan yang artinya, “Aku masih memiliki hutang puasa Ramadhan. Aku tidaklah mampu mengqadhanya kecuali di bulan Sya’ban.”
Walaupun begitu, lebih baiknya jika mengqadha puasa dilakukan dengan segera tanpa menunda-nunda. Seperti halnya firman Allah SWT yang memerintahkan untuk kita segera melakukan kebaikan:
Ula’ika yusari’una fil-khairati wa hum laha sabiqun
Artinya:
“Mereka itu bersegera untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al-Mu’minun ayat 61).
2. Ketentuan Pembayaran Fidyah
Secara umum informasi yang beredar di masyarakat menyebutkan bahwa besaran fidyah yang harus dibayarkan ibu hamil atau menyusui senilai dengan bahan pangan. Nilai bahan pangan yang dimaksud yaitu 0,6 kg atau setara ¾ liter beras.
Jika tidak ada bahan pangan, kita juga bisa menggantinya dengan uang senilai bahan pangan tersebut. Selain itu, pembayaran fidyah juga bisa dalam bentuk makanan pokok dengan adanya tambahan lauk pauk selayaknya.
Sementara itu, tata cara pembayarannya pun bisa dilakukan sekaligus dengan memberikan sejumlah total fidyah dari puasa yang ditinggalkan. Dan kita boleh memberikan fidyah ini kepada satu orang miskin saja.
Ketika ibu hamil tersebut menginginkan membayar fidyah berupa makanan siap santap. Maka, ketentuan pembayaran fidyahnya bisa dilakukan setiap hari sejumlah dengan puasa yang ditinggalkan.
Itulah informasi hukum puasa bagi ibu hamil, diperbolehkan tidak puasa dengan mengganti puasa atau mengganti dengan fidyah. Segeralah untuk mengqadha puasa tanpa menunda-nundanya hingga bertemu bulan Ramadhan berikutnya.
Pada bulan Ramadhan setiap muslim yang memenuhi syarat wajib puasa diwajibkan berpuasa. Akan tetapi, Allah SWT juga memberikan keringan kepada golongan tertentu. Lalu, apakah ibu menyusui boleh puasa?
Ibu menyusui merupakan salah satu golongan dari beberapa golongan yang diberi keringanan untuk boleh tidak menjalankan puasa.
Tetapi, mewajibkan untuk mengqadha puasa pada waktu lain atau bisa juga membayar fidyah.
Apakah Ibu Menyusui Boleh Puasa?
Ibu menyusui termasuk dalam golongan orang yang diperbolehkan tidak menjalankan puasa. Lalu, bagaimana jika ibu menyusui tetap berpuasa?
Dalam kitab-kitab fikih pun sudah disebut bahwa ada istilah kekhawatiran ibu hamil dan menyusui, “Khouful Hamil wal Murdi al-Darar min al-Shiyam”. Sehingga, secara sederhananya ibu hamil dianjurkan untuk tidak berpuasa terlebih dahulu.
Menurut pendapat para ulama mengenai hukum puasa bagi ibu menyusui ini pun juga dijelaskan secara rinci yaitu:
1. Madzhab Maliki
Pertanyaan apakah ibu menyusui boleh berpuasa? Maka, Madzhab Maliki menyatakan bahwa jika orang hamil atau ibu menyusui berpuasa tersebut khawatir sakit atau terjadi hal yang membahayakan pada diri dan anaknya atau keduanya.
Maka, orang hamil dan ibu menyusui boleh untuk tidak berpuasa. Sebagai gantinya ibu hamil wajib mengqadha puasa tanpa fidyah. Sementara, untuk ibu menyusui wajib fidyah.
Sebab ada kekhawatiran yang mengharuskan ia tidak boleh berpuasa. Sehingga, wajib mengganti puasanya dengan qadha pada hari lain sekaligus membayar fidyah bagi orang miskin.
Setelah kita mengetahui, apakah ibu menyusui boleh puasa dari Mazhab Maliki. Selanjutnya pendapat dari Madzhab Hanbali, dimana orang hamil dan menyusui yang khawatir terhadap dirinya, anak atau keduanya.
Maka, mereka baik ibu hamil dan menyusui wajib mengqadha puasa tanpa harus membayar fidyah.
Berbeda cerita, jika dia khawatir terhadap anaknya saja, maka ia wajib mengqadha puasa sekaligus membayar fidyah.
3. Madzhab Hanafi
Menurut Mazhab Hanafi ibu hamil dan menyusui boleh tidak berpuasa., selagi ada kekhawatiran terhadap dirinya sendiri dan anaknya.
Tapi, ibu hamil dan menyusui wajib mengqadha puasa pada hari lain tanpa dilakukan secara terus menerus.
Selain tanpa harus dilakukan sambung menyambung dalam mengganti puasanya, ibu hamil dan menyusui hanya mengqadha tanpa ada kewajiban membayar fidyah bagi orang miskin.
4. Madzhab Syafi’i
Terakhir, guna menjawab pertanyaan ibu menyusui boleh puasa atau tidak? Madzhab Syafi’I juga menyatakan bahwa ibu hamil atau menyusui yang khawatir terhadap dirinya, anaknya, atau keduanya.
Maka, boleh tidak melaksanakan ibadah puasa. Sebagai gantinya, ibu hamil atau ibu menyusui wajib mengqadha puasa tanpa harus membayar fidyah pada orang yang berhak menerima fidyah.
Namun, berbeda kondisi jika khawatir ibu tersebut terhadap anaknya saja. Maka, ibu menyusui dan ibu hamil wajib melaksanakan qadha puasa sekaligus membayar fidyah bagi orang miskin.
Sehingga, apakah ibu menyusui boleh puasa? Sebaiknya tidak menunaikan puasa terlebih dahulu. Sebelum kondisinya benar-benar termasuk dalam orang yang memenuhi syarat puasa.
Hal tersebut juga didukung dari sisi medis, dimana kondisi ibu menyusui biasanya kurang mendukung untuk menunaikan puasa. Dan jika dipaksakan berpuasa, maka akan membahayakan ibu dan anaknya.
Oleh sebab itu, sebaiknya tidak menjalankan puasa terlebih dahulu selama ada keraguan dan kondisi khawatir terhadap kesehatan ibu, anak dan keduanya.
Walaupun begitu, ibu menyusui akan tetap mengqadha puasa atau membayar fidyah. Sebagaimana pendapat para ulama yang didukung dari firman Allah SWT melalui QS. Al-Baqarah ayat 184:
Ayyamam ma’dudat, faman kana minkum maridan au ‘ala safari fa ‘iddatum min ayyamin ukhar, wa ‘ala lazina yutiqunahu fidyatun ta’amu miskin, faman tatawwa’a khairan fahuwa khairul lah, wa an tasumu khairul lakum in kuntum ta’alamun.
Artinya:
“Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah bagi berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari lain. Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah yaitu memberi makan orang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
Anjuran dan Manfaat Ibu Menyusui ketika Memilih Berpuasa
Keputusan menunaikan puasa ibadah puasa memang ada ditangan ibu menyusui masing-masing. Sebab yang tahu kondisi diri dan anaknya adalah ibu menyusui itu sendiri.
Oleh sebab itu, jika ibu menyusui memutuskan untuk tetap menunaikan puasa. Ada beberapa anjuran atau tips yang perlu dilakukan, agar kondisi ibu dan anak saat berpuasa tetap terjaga dengan baik.
1. Mengatur Pola Makanan
Pertanyaan apakah ibu menyusui boleh puasa? Ya! Ibu menyusui boleh puasa jika ASI tidak berkurang. Selain itu, juga perlu mengatur pola makanan yang dikonsumsi saat berbuka puasa dan sahur.
ASI tidak berkurang artinya saat ibu menyusui sudah bersih dari nifas sekaligus tidak menimbulkan bahaya pada bayinya. Sementara untuk mengatur pola makan, bisa dengan menu berbuka puasa buah kurma dan segelas kacang.
Kedua makanan tersebut, mengandung gizi yang lengkap. Sehingga, akan membantu ibu menyusui menjaga kondisi tubuhnya saat berpuasa. Apalagi ditambah sahur nasi merah, sayur, daging, dan menu yang menyehatkan lainnya.
Umumnya ibu menyusui membutuhkan zat gizi yang lebih tinggi jika dibandingkan saat hamil. Sebab itu, menyusui memerlukan sekitar 2200 hingga 2600 kalori per hari. Semantara, ibu hamil hanya membutuhkan 2200 hingga 2300 kalori per hari.
Apalagi waktu enam bulan pertama setelah persalinan, membutuhkan zat gizi yang lebih besar. Karena memerlukan energi ekstra agar cepat pulih dan memproduksi ASI untuk anaknya.
Dimana produk ASI ini bisa mencapai 600 hingga 1000 cc per harinya. Oleh sebab itu, jika ibu menyusui tetap memutuskan untuk berpuasa harus mengkonsumsi makanan yang kaya zat gizi.
Selain kaya zat tinggi juga seimbang dan bervariasi. Variasinya bisa terdiri dari karbohidrat dan lemak untuk sumber tenaga, protein untuk zat pembangun, dan vitamin mineral untuk zat pengatur.
3. Mengonsumsi Banyak Cairan
Ibu menyusui yang sedang melakukan puasa harus banyak-banyak mengonsumsi cairan energy. Hal tersebut bertujuan agar jumlah ASI tidak berkurang untuk sang bayi.
Oleh sebab itu, ketika sahur dan berbuka usahakan untuk mengonsumsi banyak cairan. Karena jika ibu menyusui tidak mencukupi asupan cairannya, ada kemungkinan terjadi dehidrasi berat.
Dengan begitu, pasokan ASI untuk sang bayi berkurang dalam waktu sementara tersebut.
Biasanya untuk kondisi dehidrasi sendiri, ada tanda-tandanya yaitu seperti merasa sangat harus, air kencing berwarna gelap, kelelahan, sakit kepala, tubuh terasa lemas, mata, mulut, dan bibir kering.
Jika ibu menyusui merasakan tanda-tanda tersebut, ada baiknya harus segera membatalkan puasa. Guna mencegah terjadinya hal-halnya yang tidak diinginkan di kemudian hari.
4. Menjaga Pikiran agar Tetap Tenang
Selain dari segi makanan yang perlu diperhatikan, ibu menyusui juga harus menjaga pikiran agar tidak stress. Sebab kondisi mental seperti itu, bisa mempengaruhi pada tubuh apalagi saat puasa.
Kasus ASI yang keluar sedikit, biasanya memicu pikiran ibu menyusui tidak stabil yang menimbulkan stress. JIka dalam kondisi ini, cobalah untuk mengonsumsi banyak cairan saat berbuka puasa dan sahur.
Selain anjuran nya, ada manfaat jika ibu menyusui menjalankan ibadah puasa diantaranya sebagai berikut:
Membantu meningkatkan metabolisme tubuh, dengan begitu pembakaran kalori dan lemak akan meningkat yang membuat berat badan tetap ideal.
Membantu mendorong tubuh untuk memanfaatkan lemak sebagai sumber utama energi, sehingga kolesterol akan berkurang dan kesehatan jantung terjaga.
Membantu mengurangi stress dengan cara berpuasa, sebab puasa akan menurunkan kadar hormone yang memicu stress dan merangsang hormon endorfin.
Selain manfaatnya, kita juga perlu tahu jika ada resiko ketika ibu menyusui menjalankan puasa. Walaupun produksi ASI tetap akan berjalan seperti biasanya, tetapi ada perubahan kandungan nutrisi mikro yang diproduksi ASI tersebut.
Dimana semua kadarnya, mulai kadar vitamin dan mineral akan sedikit berkurang selama menjalankan ibadah puasa. Dengan demikian, solusinya pastikan bahwa ibu menyusui mengkonsumsi makanan bergizi saat buka puasa dan sahur.
Dari pemaparan diatas, dapat disimpulkan apakah ibu menyusui boleh puasa? Ibu menyusui boleh berpuasa asalkan tidak ada masalah kondisi kesehatan pada diri dan bayinya.
Apalagi ketika menjalankan ibadah puasa, tiba-tiba ditengah jalan merasa kondisi fisik melemah, gemetar, mual, dan kondisi lainnya. Maka, sebaiknya ibu menyusui segera untuk membatalkan puasanya.
Akan tetapi lebih baiknya ibu menyusui yang masih dalam menyusui ASI eksklusif yaitu 4 hingga 6 bulan, dianjurkan untuk tidak berpuasa terlebih dahulu. Sebab 2 jam sekali ibu menyusui harus memberikan ASI pada anaknya.
Jika ibu berpuasa, otomatis kandungan zat gizi berkurang yang berdampak pada gizi ASI yang berkurang .Jika zat gizi berkurang, kemungkinan besar akan membuat ibu menjadi kurus dan bayi menjadi lemah serta kurus.
Sebab, pada saat itu bayi masih dalam masa pertumbuhan yang membutuhkan gizi yang sempurna melalui ASI.
Itulah penjelasan mengenai apakah ibu menyusui boleh puasa atau tidak. Ibu menyusui boleh tetap berpuasa, walaupun ibu menyusui termasuk dalam rukhshah. Akan tetapi, pastikan untuk mengkonsumsi gizi, mineral, vitamin yang cukup.
Bulan Ramadhan selalu identik dengan kebaikan, tidak hanya bagi orang yang melaksanakan ibadah saja. Tetapi, untuk setiap orang yang meninggal di bulan Ramadhan pun juga mendapatkan kebaikan. Masyaallah sekali, kan?
Ramadhan sendiri merupakan salah satu bulan suci dan Rasulullah SAW mengajarkan kepada setiap muslim untuk melaksanakan ibadah sebaik mungkin. Karena, di bulan ini seluruh amal sholeh akan dilipatgandakan.
Lantas, bagaimana dengan kematian yang terjadi di bulan ini? Penasaran, bukan? Yuk simak pembahasan lengkapnya pada artikel berikut ini.
Masyaallah, Ini Keutamaan Meninggal di Bulan Ramadhan
Dalam salah satu hadits ada yang menyebutkan bahwa seseorang yang meninggal di bulan Ramadhan, maka kematiannya husnul khatimah. Akan tetapi, apakah pernyataan tersebut benar adanya?
Berikut beberapa nilai keutamaan meninggal di bulan Ramadhan yang masyaallah sekali semoga kita termasuk di dalamnya, antara lain:
1. Meninggal dengan Keadaan Suci di Bulan Suci
Keutamaan pertama dari kematian di bulan Ramadhan ini adalah seseorang bisa meninggal dalam keadaan suci. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Sesuai dengan pendapat dari Imam Malik yang membawakan Riwayat dari Yahya Said.
Bahwasanya Abu Darda pernah mengirimkan surat kepada Salman yang berisi permohonan pindah dan tinggal di tanah suci (negeri Syam).
Dalam surat tersebut kemudian Salman memberikan balasan dengan isi: Kemudian Salman membalas surat tersebut dengan mengatakan:
الأَرْضُ الْمُقَدَّسَةُ لا تُقَدِّسُ أَحَدًا ، وَإِنَّمَا يُقَدِّسُ الْمَرْءَ عَمَلُهُ
Artinya:
“Sesungguhnya tanah suci itu tidak mensucikan siapa pun. Yang bisa mensucikan seseorang adalah amalnya.” (al-Muwatha’, Imam Malik, No. 1464).
Berdasarkan surat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwasanya seseorang yang meninggal pada bulan Ramadhan bisa dalam keadaan suci. Hal ini tentunya tetap pada beberapa catatan khusus.
Salah satunya seseorang yang ingin meninggal dalam keadaan suci di bulan Ramadhan, haruslah melaksanakan ibadah dengan baik. Utamanya di 10 malam terakhir bulan Ramadhan.
2. Allah SWT Menjanjikan Taufiq
Dalam salah satu hadits, Allah SWT pernah berfirman bahwasanya beliau akan menjanjikan taufiq kepada setiap umatnya yang menjalankan amal saleh.
Di mana, amal saleh ini merupakan perbuatan manusia sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW dan juga ajaran Al-Qur’an. Salah satunya adalah ibadah puasa yang termasuk ke dalam amal saleh.
Taufiq sendiri merupakan bimbingan dari Allah SWT untuk mengantarkan hambanya kepada kebaikan.
Hadits dalam Riwayat Ahmad dan Tirmidzi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda:
“Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang, maka Allah akan membuatnya beramal.”
Mendengar riwayat itu, para sahabat kemudian bertanya kepada Nabi Muhammad SAW “Bagaimana membuatnya beramal?”
Beliau menjawab: “Allah akan memberikan taufiq padanya untuk melaksanakan amal shalih sebelum dia meninggal.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
3. Mendapatkan Pahala yang Sangat Besar
Berikutnya, keutamaan dari meninggal di bulan Ramadhan yang sama masyaallah sekali seperti poin-poin sebelumnya adalah Allah SWT menjanjikan pahala sangat besar.
Janji pahala besar ini Allah SWT firmankan di dalam Al-Qur’an pada surah An Nahl: 97.
”Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl : 97).
Berdasarkan surat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwasanya seseorang yang beramal saleh akan mendapatkan pahala sangat besar. Puasa menjadi salah satu ibadah tersebut.
Apalagi puasa di bulan Ramadhan akan menjadi ibadah terbaik sebagai metode untuk meningkatkan keimanan seseorang agar bisa melaksanakan amal saleh dengan Ikhlas.
Ketika seseorang meninggal dunia selama pelaksanaan ibadah, maka Allah SWT menjanjikan pahala sangat besar.
Kematian seseorang memang menjadi rahasia Allah SWT, tetapi mempersiapkan kematian dengan baik menjadi sebuah kewajiban. Apalagi jika kita berkesempatan untuk meninggal di bulan suci Ramadhan.
Bulan suci Ramadhan selalu mengajarkan kebaikan, utamanya untuk menahan hawa nafsu dengan berpuasa. Nah, ketika kita meninggal di bulan Ramadhan dalam keadaan berpuasa, maka Allah SWT menjanjikan masuk surga.
Pada salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad Hudzaifah Radhiyallahu Anhu, Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Barangsiapa yang berpuasa suatu hari dengan hanya mengharapkan ridho Allah lalu meninggal dalam keadaan seperti itu maka dia masuk surga.”
5. Bisa Mendapatkan Pengampunan Dosa dari Allah SWT
Masyaallah, banyak sekali jalan Allah SWT mengampuni setiap dosa hambanya. Selain dengan melakukan amal saleh, beristighfar, dan tawadhu kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW juga pernah bersabda pada hadits Bukhari:
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala kepada Allah, maka diampuni dosanya yang telah lampau.” (H.R. Bukhari).
Hadits tersebut menerangkan bahwa ketika seseorang meninggal pada saat berpuasa di bulan Ramadhan dengan keimanan penuh. Maka, Allah SWT sendiri yang akan menjanjikan pengampunan dosa di masa lalu.
6. Berjumpa dengan Allah SWT dalam Keadaan Bahagia
Membuat Allah SWT senang bertemu dengan kita memang menjadi dambaan setiap muslim. Sehingga setiap orang berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan.
Namun, tahukah kalau kita bisa bertemu dengan Allah SWT dalam keadaan bahagia sesuai dengan sabda Rasulullah SAW dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu.
“Barangsiapa senang bertemu dengan Allah, maka Allah senang bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak senang bertemu dengan Allah, maka Allah tidak senang bertemu dengannya.” Para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, kami semua tidak menyukai kematian?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukan itu yang aku maksud, namun seorang yang beriman apabila menghadapi sakaratul maut, maka seorang pemberi kabar gembira utusan Allah datang menghampirinya seraya menunjukkan tempat kembalinya, hingga tidak ada sesuatu yang lebih dia sukai kecuali bertemu dengan Allah. Lalu Allah pun suka bertemu dengannya. Adapun orang yang banyak berbuat dosa, atau orang kafir, apabila telah menghadapi sakaratul maut, maka datang seseorang dengan menunjukkan tempat kembalinya yang buruk, atau apa yang akan dijumpainya berupa keburukan. Maka itu membuatnya tidak suka bertemu Allah, hingga Allah pun tidak suka bertemu dengannya.” (HR. Ahmad).
7. Masuk ke Golongan Orang Cerdik
Meninggal di bulan Ramadhan ternyata memiliki banyak keutamaan yang masyaallah banyak sekali. Salah satu diantaranya adalah masuk ke dalam golongan orang-orang yang cerdik.
Dari Ibnu Umar, dia berkata: Aku bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang laki-laki Anshar datang kepada Beliau, kemudian mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia bertanya:
“Wahai, Rasulullah. Manakah di antara kaum mukminin yang paling utama?” Beliau menjawab,”Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” Dia bertanya lagi: “Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdik?” Beliau menjawab,”Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling bagus persiapannya setelah kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdik.” [HR Ibnu Majah.
8. Pahala Puasa akan Tercatat hingga Kiamat
Setiap keutamaan dari seseorang yang meninggal di bulan Ramadhan ini diambil dari beberapa hadits shahih.
Sebagaimana dijelaskan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
“Barangsiapa keluar dalam melaksanakan haji lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang haji hingga hari kiamat. Barangsiapa keluar dalam melaksanakan umrah lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang yang melaksanakan umrah sampai hari kiamat, dan barangsiapa keluar dalam berperang dijalan Allah lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang yang berperang dijalan Allah sampai hari kiamat.”
9. Masuk Golongan Orang Mati Syahid
Kita pastinya tahu bahwa seseorang yang meninggal syahid, Allah SWT janjikan surga kepadanya.
Pada zaman Rasulullah SAW dulu ketika seseorang berperang di jalan Allah (perang pada orang kafir) dan meninggal pada saat itu, maka Allah SWT menjanjikannya surga.
Namun, di era sekarang meninggal di jalan Allah SWT tidak hanya berperang melawan orang-orang kafir. Ketika kita melaksanakan ibadah di jalan Allah SWT dengan khusyu’ dan penuh keyakinan, maka termasuk ke dalamnya.
Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Orang yang mati syahid itu ada lima; orang yang meninggal karena penyakit tha’un, sakit perut, tenggelam, orang yang kejatuhan (bangunan atau tebing) dan meninggal di jalan Allah.” (HR. Bukhari).
Melaksanakan puasa di bulan Ramadhan termasuk ke dalam seseorang yang berjuang di jalan Allah SWT. Sebab, kita berperang dengan hawa nafsu untuk melaksanakan rukun Islam.
Oleh karena itu, seseorang yang meninggal di bulan Ramadhan termasuk mati syahid.
10. Allah SWT Bebaskan dari Laknat-Nya
Allah SWT sudah menjelaskan bahwa orang yang meninggal dalam keadaan kafir akan mendapatkan laknatNya. Hal ini bisa kita lihat dari surat Al Baqarah ayat 161.
“Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para Malaikat dan manusia seluruhnya” (Q. S. Al Baqarah: 161).
Bersumber dari surat Al-Baqarah:161 ini dapat kita ketahui bahwa apabila seseorang meninggal di bulan Ramadhan dan masih memeluk agama Islam, maka dapat terhindar dari laknat Allah SWT.
Itulah beberapa keutamaan meninggal di bulan Ramadhan yang masyaallah banyak sekali. Semoga kita semua termasuk ke dalam orang-orang yang dicintai oleh Allah SWT.
Sehingga kita semua mendapatkan kesempatan meninggal di bulan Ramadhan dan bisa memperoleh keutamaan seperti penjelasan di atas.
Sahur menjadi salah satu aktivitas sunnah yang kita lakukan selama bulan puasa ataupun puasa sunnah lainnya. Adanya sahur ini mampu membuat kita menjadi lebih kuat dalam berpuasa seharian penuh. Namun, kapan waktu sahur terbaik?
Mengetahui waktu sahur terbaik merupakan hal yang penting bagi yang akan melaksanakan ibadah puasa.
Dengan demikian, kita tetap bisa memiliki stamina yang cukup untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari selama menjalankan puasa.
Pentingnya Sahur dalam Berpuasa
Sebelum kita membahas waktu sahur terbaik, mari kita pahami makna dan pentingnya sahur dalam Islam.
Sahur adalah makanan dan minuman yang dikonsumsi sebelum terbit fajar atau sebelum memulai puasa hingga terbenamnya matahari.
Dalam Al-Qur’an juga sudah dijelaskan bahwa sahur menjadikan puasa kita lebih sempurna. Hal ini sebagaimana Allah SWT terangkan dalam firman-Nya:
Uḥilla lakum lailataṣ-ṣiyāmir-rafaṡu ilā nisā`ikum, hunna libāsul lakum wa antum libāsul lahunn, ‘alimallāhu annakum kuntum takhtānụna anfusakum fa tāba ‘alaikum wa ‘afā ‘angkum, fal-āna bāsyirụhunna wabtagụ mā kataballāhu lakum, wa kulụ wasyrabụ ḥattā yatabayyana lakumul-khaiṭul-abyaḍu minal-khaiṭil-aswadi minal-fajr, ṡumma atimmuṣ-ṣiyāma ilal-laīl, wa lā tubāsyirụhunna wa antum ‘ākifụna fil-masājid, tilka ḥudụdullāhi fa lā taqrabụhā, każālika yubayyinullāhu āyātihī lin-nāsi la’allahum yattaqụn
Artinya:
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 187).
Sahur merupakan praktik sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan merupakan bagian integral dari ibadah puasa. Sahur memiliki banyak keutamaan, seperti mendapatkan berkekuatan fisik dan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Selain itu, terdapat keutamaan lainnya yang bisa kita dapatkan ketika melakukan sahur seperti:
1. Meneguhkan Iman dan Kesabaran
Sahur adalah tindakan yang menunjukkan keseriusan seseorang dalam menjalankan ibadah puasa.
Dengan bangun pada waktu dini hari untuk makan sahur, seseorang menunjukkan iman yang kuat dan kesabaran dalam menjalani kewajiban agama.
Cara ini adalah bentuk pengorbanan diri untuk Allah SWT yang memperkuat hubungan spiritual seseorang dengan Sang Pencipta.
2. Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW
Salah satu keutamaan sahur yang paling kuat adalah bahwa praktik ini adalah bagian dari sunnah (tradisi) Rasulullah SAW. Rasulullah secara konsisten melakukan sahur sebelum menjalani puasa dan beliau menganjurkannya:
“Yang membedakan antara puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” (HR. Riwayat Muslim).
3. Mendapatkan Berkah
Dalam banyak hadits, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa sahur adalah sumber berkah. Allah SWT dan para malaikat-Nya bershalawat atas orang yang makan sahur:
“Allah dan para malaikat bershalawat atas orang-orang yang bersahur.” (HR. Ibnu Umar).
Keberkahan ini dapat membawa banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk keberkahan dalam rezeki, kesehatan, dan kesuksesan dalam segala hal yang kita lakukan.
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً
Artinya:
“Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Sahur memberikan energi dan kekuatan fisik yang dibutuhkan untuk menjalani puasa dengan baik. Dengan makan sahur, tubuh mendapatkan asupan nutrisi yang cukup untuk menjalankan aktivitas sepanjang hari.
Hal ini juga tentunya membuat badan kita tanpa merasa lemah atau kekurangan energi. Kegiatan sahur ini akan membantu kita untuk tetap produktif dalam beribadah hingga menjalankan kegiatan sehari-hari.
Waktu Sahur Terbaik Menurut Nabi Muhammad SAW
Melakukan sahur adalah bentuk keringanan dan sunnah bagi yang akan berpuasa. Meskipun waktu sahur berbeda-beda bagi setiap individu, kadang-kadang menentukan waktu yang tepat untuk sahur bisa menjadi sulit.
Namun, untuk menentukan waktu yang paling baik untuk sahur, maka kita bisa mengikuti contoh dari Rasulullah SAW. Salah satu hadis menyatakan bahwa waktu sahur terbaik sebaiknya dilakukan pada saat sepertiga malam terakhir.
Nabi Muhammad SAW sering bangun di tengah malam untuk melaksanakan sholat malam dan kemungkinan besar, beliau melaksanakan sahur setelah sholat tersebut, yakni tepat menjelang subuh.
Ada juga kesaksian dari sahabat Nabi, yakni: Hudzaifah dan Zaid bin Tsabit yang menyatakan bahwa mereka melaksanakan sahur bersama Nabi Muhammad SAW pada saat menjelang subuh.
Adanya waktu sahur terbaik ini akan membantu kita dalam menentukan jam terbaik untuk melakukan sunnah tersebut. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan tentunya sangat baik untuk kita contoh.
Umat muslim dianjurkan untuk melaksanakan sholat tarawih di bulan Ramadhan karena memiliki banyak keutamaan sholat tarawih.
Seperti yang kita tahu, bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Ibadah yang kita kerjakan selama bulan puasa akan mendapatkan pahala 2x lipat dari biasanya. Maka tidak heran jika selama bulan puasa banyak orang yang berlomba-lomba mendapat keberkahan dari Allah SWT.
Selain berpuasa dan tilawah Al-Qur’an, ada ibadah lain yang dapat dikerjakaan selama bulan Ramadhan yaitu sholat tarawih.
Penasaran apa saja keutamaan sholat tarawih di bulan Ramadhan? Yuk, cek jawabannya di bawah ini sampai habis ya!
Pengertian Sholat Tarawih
Sholat tarawih adalah salah satu sholat Sunnah yang sering dikerjakan selama bulan Ramadhan. Meskipun ibadah Sunnah, namun ternyata sholat tarawih mempunyai banyak keutamaan dan ganjaran yang besar bagi yang menjalankannya.
Sholat tarawih biasanya dilaksanakan sesudah sholat isya. Akan tetapi, sholat tarawih sebenarnya bisa dilakukan kapan saja sebelum memasuki waktu sahur.
Selain itu, sholat tarawih juga bisa dilakukan sendiri di rumah, meskipun memang dianjurkan untuk dikerjakan secara berjamaah di masjid atau mushola terdekat.
Sholat tarawih hukumnya adalah Sunnah muakad atau sangat dianjurkan, namun jika tidak dilaksanakan tidak masalah.
Meskipun begitu, Nabi Muhammad SAW., sangat menganjurkan menunaikan ibadah sholat tarawih secara rutin selama bulan puasa.
Berikut hadis yang berisikan anjuran untuk melaksanakan sholat tarawih:
Artinya: “Dari ‘Aisyah Ummil Mu’minin ra: sesungguhnya Rasulullah SAW pada suatu malam hari sholat dimasjid, lalu banyak orang sholat mengikuti beliau, beliau sholat dan pengikut bertambah ramai (banyak) pada hari ke-Tiga dan ke-empat orang-orang banyak berkumpul menunggu beliau Nabi, tetapi Nabi tidak keluar (tidak datang) kemasjid lagi. Ketika pagi-pagi, Nabi bersabda: “sesungguhnya aku lihat apa yang kalian perbuat tadi malam. Tapi aku tidak datang kemasjid karena aku takut sekali kalau sholat ini diwajibkan pada kalian”. Siti ‘Aisyah berkata: “hal itu terjadi pada bulan Ramadlan”. (HR. Bukhari dan Muslim).
10 Keutamaan Sholat Tarawih
Berikut adalah beberapa 10 keutamaan Sholat Terawih di Bulan Ramadhan yang wajib diketahui.
1. Mendapatkan rezeki yang berlimpah
Siapa yang ingin mendapatkan rezeki yang berlimpah oleh Allah SWT? Semua orang pasti menginginkannya! Untuk itu jangan lupa rutin melaksanakan ibadah sholat tarawih saat bulan puasa.
Hal tersebut dikarenakan biasanya sholat tarawih dilakukan secara berjamaah di masjid atau mushola. Nah, saat melaksanakan sholat berjamaah kamu akan bertemu dengan sesama umat muslim dan dari situ terjalinnya silatuhrahmi.
Diketahui bahwa silaturahmi yang terjaga dengan baik dapat melapangkan
“Seorang yang menyambung silaturahmi bukanlah seorang yang membalas kebaikan seseorang dengan kebaikan semisal. Akan tetapi seorang yang menyambung silaturahmi adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahmi setelah sebelumnya diputuskan oleh pihak lain.” (HR. Bukhari).
Keutamaan sholat tarawih yang kedua adalah akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu. Hal tersebut dikarenakan bulan Ramadhan adalah bulan di mana semua pintu pengampunan akan dibuka.
Makanya, semua ibadah yang dilakukan saat bulan puasa bisa menjadi ajang pengampunan dosa. Termasuk ibadah sholat Sunnah tarawih, sebagaimana yang tercantum di dalam hadis berikut ini:
Artinya: “Barangsiapa melakukan ibadah puasa Ramadan karena iman dan mencari pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Imam Bukhari dan Muslim).
3. Mendapatkan pahala sholat semalaman penuh
Bayangkan sholat yang dikerjakan sebanyak 23 rakaat atau sekitar 2 jam, mendapatkan ganjaran pahala sholat semalaman penuh? Itulah salah satu keutamaan sholat tarawih.
Keutamaan ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW., yang menyatakan bahwa sholat tarawih akan mendapatkan pahala sholat semalaman dan pahala yang berlipat ganda.
Artinya: “Barang siapa qiyamul lail bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya (pahala) qiyam satu malam (penuh).” (HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah, Nasa’i).
5. Menjadi ajang silatuhrahmi
Sholat tarawih biasanya dilaksanakan secara berjamaah di masjid atau mushola. Tidak menutup kemungkinan bahwa kamu akan bertemu dengan saudara sesama umat muslim atau tetangga.
pertemuan tersebut bisa menjadi meningkatkan silatuhrahmi kamu dengan orang-orang tersebut.
Silatuhrahmi juga dapat mendatangkan banyak syafaat. Salah satunya adalah melapangkan rezeki.
Terlebih jika kamu lakukan di bulan Ramadhan di mana ibadah yang kita lakukan akan mendapatkan 2x pahala.
6. Memakmurkan masjid
Keutamaan sholat tarawih yang selanjutnya adalah memakmurkan masjid. Sholat tarawih menjadi salah satu alasan untuk mengunjungi masjid, apalagi jika secara rutin.
Seperti yang kita tahu bahwa masjid merupakan rumah Allah SWT., di mana jika terus didatangi, maka akan mendapatkan ketenangan hati dan kemakmuran.
7. Dapat menambah ilmu
Biasanya, di pertengahan sholat tarawih di masjid akan diselingi dengan tausyiah atau ceramah dari ustadz.
Ceramah tersebut bisa menambahkan pengetahuan kita tentang agama.
Ceramah atau tausyiah di dalam sholat juga cukup singkat. Karena singkat, ilmu yang diberikan akan lebih mudah diingat dan terserap.
8. Mendapatkan keberkahan di bulan suci Ramadhan
Selama bulan Ramadhan berlangsung, setiap umat muslim pasti akan berlomba-lomba untuk mendapatkan keberkahan oleh Allah SWT.
Maka dari itu, setiap ibadah yang dilaksanakan saat bulan puasa akan mendapatkan berkah dari Allah SWT. Termasuk sholat tarawih.
9. Memeriahkan bulan Ramadhan
Bagi sebagian orang, bulan Ramadhan adalah bulan yang spesial dan banyak orang yang menantikan bulan puasa datang.
Sebab, saat bulan Ramadhan berlangsung banyak kegiatan ibadah yang bisa kita lakukan, seperti berpuasa, sholat tarawih maupun tilawah Qur’an untuk memeriahkan bulan Ramadhan.
Tak hanya memeriahkan saja, melaksanakan sholat tarawih berjamaah di bulan Ramadhan juga dapat menambahkan suasana bahagia, mendapatkan pahala yang lebih besar dan mempererat tali silatuhrahmi.
10. Menutupi kekurangan ibadah
Keutamaan sholat tarawih yang terakhir adalah dapat menyempurnakan ibadah yang telah dilakukan. Sholat tarawih akan menolong umat-Nya dari kecacatan ibadah wajibnya yang tidak sengaja dilalaikan.
Hal ini sebagaimana yang telah diriwayatkan di dalam hadis at-Tirmidzi dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW., bersabda:
Artinya: “Sesungguhnya amal seorang hamba yang pertama kali dihisab adalah sholatnya. Jika sholatnya bagus maka dia beruntung dan selamat. Namun jika sholatnya buruk maka dia sengsara dan merugi. Jika ada kekurangan dari sholat fardhunya mempunyai pahala sholat sunnah untuk melengkapi kekurangan sholat fardhu? Kemudian seluruh amalnya seperti itu”.
Mengetahui keutamaan sholat terawih di bulan Ramadhan memang dapat menjadikan kita termotivasi untuk meraih amal sebanyak banyaknya. Namun, perlu diingat, bahwa puasa Ramadhan tentu lebih utama dari sholat terawih ini.
Suntik KB adalah salah satu metode mencegah kehamilan yang menjadi pilihan para ibu. Pada saat bulan puasa Ramadan, mungkin banyak yang berpikir apakah suntik KB membatalkan puasa? Berikut informasinya.
Puasa adalah salah satu ibadah wajib bagi umat muslim di bulan suci Ramadan. Oleh karena itu, penting mengetahui hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Apakah suntik KB termasuk salah satunya?
Yuk, cari tahu tentang suntik KB saat puasa Ramadan bisa batal atau tidak! Pahami juga pengertian suntik KB dan cara kerjanya sehingga nanti kita dapat mengetahui kaitannya dengan batal puasa atau tidak.
Sekilas tentang Suntik KB
Suntik KB merupakan salah satu alat kontrasepsi yang berfungsi untuk membantu ibu menunda kehamilan. Ada 2 jenis suntik KB yang biasa bidan atau dokter layani, yaitu suntik KB 1 bulan dan suntik KB 3 bulan.
Suntik KB 1 bulan adalah pemberian zat yang mencegah adanya kehamilan untuk satu bulan. Sementara itu, suntik KB 3 bulan adalah cara yang sama tetapi dengan suntikan ulang setiap tiga bulan sekali.
Zat yang bidan ataupun dokter gunakan untuk suntik KB adalah hormon progestin. Hormon ini untuk mencegah ovulasi sehingga tidak terjadi kehamilan. Efektivitas suntik KB ini bisa mencapai 99 persen.
Efektivitas KB akan maksimal bekerja setelah 7 hari dari suntikan pertama. Jika sebelum 7 hari ibu belum suntik KB dan tidak ingin hamil, maka jangan berhubungan intim atau memakai alat kontrasepsi kondom.
Lalu, seperti apa cara kerja suntik KB? Apa saja efek samping suntik KB? Apakah efek samping suntik KB bisa membatalkan puasa? Berikut penjelasannya.
Sebelum membahas tentang apakah KB suntik membatalkan puasa atau tidak? Sebaiknya ketahui terlebih dahulu cara kerja suntik KB yang mengandung hormon progestin sehingga dapat mencegah kehamilan.
Cara kerja suntik KB yaitu dengan membuat lendir serviks lebih kental sehingga sel sperma dan sel telur tidak akan bersatu. Hal ini akan membuat kehamilan pun tidak dapat terjadi selama ada suntik KB.
Para ibu banyak yang menggunakan metode suntik KB karena terbilang praktis dan efektif. Dengan begitu, saat berhubungan intim tidak perlu memakai alat kontrasepsi selama periode suntik KB berlangsung.
Namun beberapa kondisi, jadwal suntik KB yang dilakukan rutin bersamaan dengan bulan puasa Ramadan. Hal ini membuat sebagian ibu ragu melakukan suntik KB karena khawatir dapat membatalkan puasa.
Oleh karena itu, pentingnya mendapatkan pengetahuan tentang suntik KB apakah dapat membatalkan puasa? Sebelum beranjak membahas soal itu, mari ketahui terlebih dahulu efek samping dari suntikan KB.
Apa Efek Samping Suntik KB?
Suntik KB yang berisikan hormon progestin dalam dosis tinggi akan membuat tubuh mengalami gejala tertentu. Terlebih bagi yang baru pertama kali menggunakan metode pencegah hamil dengan suntikan ini.
Salah satu efek sampingnya, yaitu muncul bercak darah, siklus menstruasi tidak teratur, dan pendarahan tak terduga selama tahun pertama penggunaan.
Dari efek samping ini, apakah KB suntik membatalkan puasa? Hal ini perlu kita cari tahu bersama terkait batalnya puasa karena efek samping tersebut, terutama yang melakukan suntik pada saat puasa Ramadan.
Berikut adalah beberapa efek samping lainnya yang bisa terjadi pada ibu dengan suntik KB. Efek samping ini yang umum terjadi, yaitu di antaranya:
Sakit kepala
Sakit perut
Gejala flu atau pilek
Penambahan berat badan
Payudara terasa nyeri
Rambut rontok
Penurunan gairah seks
Kegugupan
Muncul jerawat
Ibu yang menggunakan suntikan KB mungkin bingung, saat KB bertepatan dengan bulan puasa. Tidak hanya dari suntikannya saja, tetapi efek sampingnya juga apakah bisa membatalkan puasa atau tidak.
Perlu kita ketahui, proses suntik KB yang memasukkan hormon progestin ke dalam pembuluh darah atau otot. Menurut jumhur ulama berpendapat bahwa suntikan jenis ini tidak membatalkan puasa.
Hal ini karena pemberian hormon tidak masuk melalui mulut atau lubang terbuka, melainkan melalui jarum suntik yang masuk ke dalam tubuh. Suntik ini juga tidak muncul rasa haus dan lapar saat berpuasa.
Senada dengan keterangan ini, ulama kontemporer berpendapat bahwa suntik KB tak membatalkan puasa selama suntikan tidak mengandung asupan makanan. Proses suntikan juga tidak lewat jalur tenggorokan.
Jadi, jika ada yang bertanya, apakah KB suntik membatalkan puasa atau tidak? Jawabannya adalah suntik hormon progestin untuk mencegah kehamilan pada seorang wanita ini tidak akan membatalkan puasa.
Lalu, bagaimana dengan efek samping suntik KB yakni berupa pendarahan? Apakah kondisi ini bisa membatalkan puasa? Hal ini karena adanya darah yang keluar dari vagina seperti halnya kondisi menstruasi.
Jika adanya darah yang keluar atau terjadi pendarahan efek dari suntikan KB, maka kondisi ini dapat membatalkan puasa. Hal ini karena kondisinya sama seperti menstruasi yang memungkinkan wanita tidak berpuasa.
Oleh karena itu, penting selalu konsultasi dengan dokter untuk menghindari atau mencegah pendarahan setelah suntik KB saat berpuasa. Perdarahan tidak teratur adalah efek samping yang umum dari suntik KB.
Hal-Hal yang Dapat Membatalkan Puasa
Selain pendarahan dari efek samping suntik KB, ada beberapa hal yang dapat membatalkan puasa. Salah satunya adalah haid, kondisi yang dialami wanita sehingga diperbolehkan tidak puasa atau batal puasa.
Pada dasarnya, puasa adalah ibadah yang mengharuskan kita untuk menahan hawa nafsu, mulai dari sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Berikut ini hal-hal yang dapat membatalkan puasa, di antaranya:
Makan dan minum secara sengaja
Minum obat atau minum pil KB
Muntah yang dengan sengaja
Hubungan intim dengan sengaja
Keluar darah haid atau nifas
Mengalami gangguan jiwa atau stres
Murtad atau keluar dari agama Islam
Mengeluarkan mani saat bersentuhan
Itulah beberapa hal yang bisa membatalkan puasa yang perlu kita ketahui bersama. Jika suntik KB tidak membatalkan puasa, apakah boleh melakukan suntik KB saat berpuasa? Berikut ini jawabannya.
Bolehkah Suntik KB saat Puasa?
Dari penjelasan mengenai apakah suntik KB bisa membatalkan puasa di atas, kita bisa simpulkan bawah boleh seseorang suntik KB di bulan puasa Ramadan.
Menurut Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), ada beberapa alat kontrasepsi tidak membatalkan puasa seperti implan, IUD, dan suntik KB.
Hal ini alasannya karena suntik KB tidak melalui rongga mulut dan zat progestin bukan zat yang mengandung makanan. Satu hal yang dapat membatalkan puasa adalah pendarahan akibat efek samping KB.
Selain itu, satu-satunya alat kontrasepsi yang bisa membatalkan puasa adalah pil KB. Cara penggunaan pil KB yakni dengan cara meminumnya dan pil masuk lewat tenggorokan sehingga dapat membatalkan puasa.
Demikian penjelasan apakah suntik KB membatalkan puasa? Jawabannya adalah tidak membatalkan puasa karena proses memasukan zat progestin melalui suntikan ke area pembuluh darah dan otot tubuh.
Sedekah merupakan salah satu bentuk amalan yang sangat disukai oleh Allah SWT. Terlebih lagi jika kita melakukan amalan ini di bulan Ramadhan, tentunya amal pahala berlipat-lipat ganda. Selain itu, keutamaan sedekah juga sangat beragam.
Kita sebagai umat muslim yang taat sudah seharusnya membantu orang lain sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Cara terbaik yang bisa kita lakukan adalah dengan cara bersedekah.
Pentingnya Sedekah di Bulan Ramadhan
Selama bulan puasa, ada begitu banyak amalan kebaikan di bulan Ramadhan yang bisa kita lakukan demi mendapatkan ganjaran pahala yang besar. Sedekah menjadi salah satunya amalan yang sangat disukai oleh Allah SWT.
Hal ini tentunya sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW yang berbunyi:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Memberi, Ia mencintai kedermawanan serta akhlak yang mulia, Ia membenci akhlak yang buruk.” (HR Al Baihaqi).
Selain itu, terdapat juga sabda lainnya yang menjelaskan bahwa sedekah dibulan Ramadhan memiliki nilai yang sangat utama, sebagaimana sahabat Anas RA bertanya kepada Rasulullah SAW:
“Dari Anas dikatakan: Wahai Rasulullah, sedekah apa yang nilainya paling utama? Rasul menjawab: Sedekah di bulan Ramadhan.” (HR At-Tirmidzi).
Bahkan beberapa sahabat juga menjadi saksi atas kedermawanan dan kemuliaan Rasulullah SAW saat bulan Ramadhan menjadi semakin dermawan. Hal ini juga dijelaskan dalam dalil yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
“Rasulullah SAW adalah orang paling dermawan di antara manusia lainnya, dan ia semakin dermawan saat berada di bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim).
Hal ini tentunya tidak lepas dari banyaknya keutamaan sedekah yang bisa kita dapatkan selama di bulan Ramadhan. Rasulullah SAW menjadi contoh yang sangat baik untuk kita semakin meningkatkan ibadah sedekah kepada sesama.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berjanji akan memuliakan orang-orang yang bersedekah. Banyak keutamaan dan balasan yang menakjubkan bagi kita yang gemar bersedekah.
Hal ini juga didukung dengan banyaknya dalil yang menceritakan keberuntungan, keutamaan hingga dari kemuliaan orang-orang yang melakukan ibadah sedekah. Lantas, apa-apa saja keutamaan dari bersedekah yang bisa kita ketahui.
Berikut ini beberapa keutamaan dari bersedekah yang bisa kita ketahui, antara lain:
1. Sedekah Menghapus Dosa
Keutamaan sedekah yang pertama adalah bisa menghapus dosa atas perbuatan yang kita lakukan. Hal ini juga dijelaskan dalam dalil yang diriwayatkan oleh Tirmidzi sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:
“Sedekah itu menghapus kesalahan seperti air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi).
Diampuninya dosa dengan sebab sedekah diiringi dengan sikap taubat dan menyesal atas dosa yang telah dilakukan. Hal ini tentunya tidak berlaku bagi kita yang sengat berubat maksiat, lantas bersedekah agar impas atau tidak ada dosa.
Hal ini tentunya tidak dibenarkan karena merasa aman dari makar Allah SWT. Selain itu, perbuatan ini juga menjadi dosa besar. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an yang berbunyi:
“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf: 99).
2. Mendapatkan Naungan di Hari Akhir
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita kepada para sahabat mengenai 7 jenis atau golongan manusia yang mendapat naungan di hari akhir. Hari dimana tidak adanya naungan lain selain dari Allah SWT.
Salah satu jenis atau golongan manusia yang mendapatkan naungan di hari akhir, yakni antara lain:
“Dan seseorang yang bersedekah dengan suatu sedekah lalu dia merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari).
3. Harta yang Berkah
Harta yang berkah tentunya menjadi keutamaan bagi kita agar Allah SWT tidak murka.
Salah satu cara agar harta halal yang kita miliki menjadi berkah adalah dengan cara bersedekah. Selain itu, cara ini juga tidak akan membuat harta kita berkurang.
“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim No. 2588).
4. Pintu Surga Bagi Orang yang Bersedekah
Keutamaan sedekah lainnya bagi kita yang gemar bersedekah karena Allah SWT, yakni akan mendapatkan panggilan dari arah pintu khusus ketika di surge. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW.
“Barangsiapa yang menginfakkan sepasang barang di jalan Allah, di surga dia akan dipanggil, ‘Wahai hamba Allah, (pintu) ini adalah lebih baik.’ Maka barangsiapa dari kalangan pengamal shalat, akan dipanggil dari pintu shalat. Dan siapa dari kalangan praktisi jihad, akan dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa dari ahli sedekah, akan dipanggil dari pintu sedekah. Barangsiapa dari kalangan pengamal puasa, akan dipanggil dari pintu ar-Raiyan.” Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq bertanya, ‘Wahai Rasulullah, Tidak adakah orang yang dipanggil dari banyak pintu-pintu penting (tersebut). Maka apakah ada seseorang yang dipanggil dari semua pintu-pintu ini?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya ada, dan aku harap engkau termasuk dari mereka.” (HR. Muslim).
5. Pahala yang Berlipat Ganda
Pahala sedekah di bulan Ramadhan lebih besar dibandingkan dengan sedekah di bulan-bulan lainnya. Guru dari Abu Bakr bin Maryam dalam bukunya “Lathaif Al-Ma’arif juga menjelaskan:
“Jika tiba bulan Ramadhan, bersemangatlah untuk bersedekah. Karena bersedekah di bulan tersebut lebih berlipat pahalanya seperti seseorang sedekah di jalan Allah (fisabilillah). Pahala bacaaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) lebih afdhal dari seribu bacaan tasbih di bulan lainnya.” (Lathaif Al-Ma’arif, Hal. 270).
Selain itu, Allah SWT juga telah berfirman kepada Al-Qur’an sebagaimana bunyi terkait dengan pahala yang berlipat ganda ketika bersedekah:
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS. Al Hadid: 18).
6. Sebagai Bukti Keimanan
Selain melakukan perintah dan menjalankan kewajiban-Nya, kita sebagai umat yang taat juga bisa bersedekah untuk menunjukan bukti atas kebenaran iman. Oleh karena itu, sedekah dalam Islam berasal dari makna Shidqu Imanihi (kebenaran imannya).
Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda sebagaimana sabdanya yang berbunyi: “Sedekah adalah bukti iman yang nyata…” (HR. Muslim No. 223).
7. Sedekah Memadamkan Siksa Kubur
Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa amalan sedekah bisa membantu kita dalam menghindari atau memadamkan siksaan kubur.
“Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.” (HR. Thabrani, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib, No. 873).
8. Sedekah Menghindari Kita sebagai Pedagang untuk Berbuat Curang
Sebagai pedagang tentunya khilaf atas perbuatan maksiat sering kita alami. Perbuatan-perbuatan ini bisa seperti mengurangi timbangan dan lain sebagainya. Cara terbaik untuk mencegah perbuatan ini adalah dengan bersedekah.
Rasulullah SAW pernah bersabda yang berbunyi: “Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa keduanya hadir dalam jual-beli. Maka hiasilah jual-beli kalian dengan sedekah.” (HR. Tirmidzi).
9. Menjadikan Dada Lapang
Rasulullah SAW memberikan permisalan yang bagus terkait sebagaimana orang yang dermawan dan orang yang pelit:
“Perumpamaan orang yang pelit dengan orang yang bersedekah seperti dua orang yang memiliki baju besi, yang bila dipakai menutupi dada hingga selangkangannya. Orang yang bersedekah, dikarenakan sedekahnya ia merasa bajunya lapang dan longgar di kulitnya. Sampai-sampai ujung jarinya tidak terlihat dan baju besinya tidak meninggalkan bekas pada kulitnya. Sedangkan orang yang pelit, dikarenakan pelitnya ia merasakan setiap lingkar baju besinya melekat erat di kulitnya. Ia berusaha melonggarkannya namun tidak bisa.” (HR. Bukhari No. 1443)
10. Pahala yang Mengalir
Keutamaan sedekah lainnya yang bisa kita dapatkan, yakni amalan pahala yang terus mengalir dan berkembang hingga menjadi besar. Rasulullah SAW bersabda sebagaimana bunyinya:
“Sesungguhnya Allah menerima amalan sedekah dan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Lalu Allah mengembangkan pahalanya untuk salah seorang dari kalian, sebagaimana kalian mengembangkan seekor anak kuda. Sampai-sampai sedekah yang hanya sebiji bisa berkembang hingga sebesar gunung Uhud.” (HR. Tirmidzi).
11. Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW
Rasulullah Muhammad SAW dikenal sebagai orang yang sangat dermawan, terutama selama bulan Ramadhan.
Memberikan sedekah adalah cara untuk mengikuti teladan beliau dan mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang diajarkan dalam Islam.
12. Menjauhkan dari Api Neraka
Meskipun sedikit, amalan sedekah yang kita lakukan tentunya akan memiliki andil dalam diri kita ketika berada di akhirat. Semakin banyak kita bersedekah, tentunya semakin jauh dari api neraka.
اتَّقوا النَّارَ ولو بشقِّ تمرةٍ ، فمن لم يجِدْ فبكلمةٍ طيِّبةٍ
Artinya:
“Jauhilah api neraka, walau hanya dengan bersedekah sebiji kurma. Jika kamu tidak punya, maka bisa dengan kalimah thayyibah.” (HR. Al Bukhari).
Selain itu, keutamaan sedekah diatas tentunya terdapat keutamaan lainnya yang bisa kita dapatkan. Hal ini karena banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan dari melakukan amalan tersebut.
Bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa dalam agama Islam. Selama bulan ini, umat Muslim melaksanakan ibadah puasa sebagai salah satu rukun Islam. Namun, sering muncul pertanyaan tentang bagaimana hukum ziarah saat puasa?
Hal ini tentunya menjadi polemik bagi kita sebagai masyarakat yang memiliki kebiasaan atau tradisi dalam melakukan ziarah kubur.
Ulasan artikel ini akan membantu dalam menjawab persoalan tersebut.
Pengertian Ziarah Kubur dalam Islam
Sebelum membahas hukum ziarah saat puasa, tentunya kita perlu tahu terlebih dahulu pengertian dari ziarah. Arti dari ziarah kubur atau ziyarah qubur adalah praktek yang mengacu pada kunjungan ke makam orang yang telah meninggal.
Ziarah kubur sering dilakukan untuk mengenang orang yang telah meninggal, berdoa untuk mereka dan merenungkan kematian sebagai pengingat akan adanya akhirat atau alam setelah di dunia.
Terkait dengan praktik ini tentunya semua dilakukan berdasarkan niat dari dalam diri. Apabila kita melakukan ziarah untuk melakukan kebaikan, maka akan Allah SWT balas dengan kebaikan.
Selain itu, Rasulullah SAW juga memerintahkan kita untuk ziarah kubur sebagaimana bunyinya:
“Aku pernah melarang kalian untuk ziarah kubur, sekarang ziarahilah kubur karena ziarah kubur dapat melembutkan hati, meneteskan air mata, mengingatkan negeri Akhirat dan janganlah kalian mengucapkan kata-kata kotor (di dalamnya).” (HR. Al-Hakim).
Saat ini mungkin kita sering mendengar terdapat penyimpangan terkait ziarah kubur yang dilakukan. Hal ini tentunya melanggar syariat sehingga Rasulullah SAW sendiri pernah melarang perbuatan untuk ziarah kubur.
Terdapat 3 jenis atau macam ziarah kubur yang mungkin kita temukan, yakni:
1. Ziarah yang Sesuai Syari’at
Ziarah kubur ini memiliki tujuan untuk mengingat mati, adanya akhirat ataupun memberikan salam. Selain itu, kita juga bisa mendoakan mereka atau memohonkan ampun untuk mereka.
Ziarah yang bid’ah atau tidak sesuai dengan kesempurnaan tauhid. Jenis ziarah ini merupakan salah satu sarana perbuatan syirik. Di antaranya adalah ziarah ke kuburan dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah di sisi kuburan.
Bahkan ziarah ini bertujuan untuk mendapatkan berkah, menghadiahkan pahala kepada ahli kubur ataupun membuat bangunan di atas kuburan dan memberinya lampu penerang sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk menembok kuburan, duduk-duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya (atau ditambah tanahnya) (atau ditulis atasnya- ditulis nama atas nisannya). (HR. Muslim).
3. Ziarah yang Syirik
Ziarah kubur yang syirik merupakan jenis ziarah yang sangat bertentangan dengan tauhid. Contohnya mempersembahkan suatu macam ibadah kepada ahli kubur, seperti berdoa kepadanya layaknya kepada Allah SWT.
Seorang Mukmin tidak boleh memalingkan ibadah selain kepada Allah SWT. Apabila perbuatan ini terjadi, maka disebut syirkun akbar dan bisa mengeluarkan seseorang dari Islam bila sudah terpenuhi syaratnya.
Di Indonesia sendiri, ziarah kubur memang menjadi tradisi yang turun menurun dan biasanya dilakukan menjelang puasa ataupun ketika hari pertama lebaran. Lantas, bagaimana hukum ziarah saat puasa?
Rasulullah SAW sendiri memang memerintahkan kita untuk melakukan ziarah kubur agar kita sebagai hamba yang masih berkesempatan untuk hidup bisa mengingat kematian dan akhirat. Sebagaimana sabda beliau terkait hal tersebut:
“Hendaklah kalian ziarah kubur, karena ziarah kubur bisa membuat kalian mengingat akhirat.” (HR Ibnu Majah).
Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa tujuan dari ziarah kubur adalah sebagai pengingat akan datangnya kematian dan akhirat untuk kehidupan selanjutnya. Dalam hadits lain Rasulullah SAW juga mengajarkan do’a ketika ingin ziarah kubur:
“Semoga keselamatan bagi kalian wahai kaum Mukminin dan kaum Muslimin, penghuni kuburan. Sesungguhnya kami pasti akan menyusul kalian insya Allah. Aku memohon keselamatan buat kami dan buat kalian.” (HR Muslim).
Tidak ada riwayat ataupun dalil dari Rasulullah SAW terkait penentuan hari untuk berziarah kubur. Hal ini menjelaskan bahwa hukum ziarah saat puasa tidak dilarang ataupun melanggar syariat Islam.
Selagi niat untuk ziarah hanya sebatas mendoakan ataupun melakukan perbuatan lainnya yang sesuai syariat. Mengutip keterangan Nahdlatul Ulama dari website resminya, “Ziarah bisa dilakukan kapan saja dan tidak ada larangannya.”
Manfaat Ziarah Kubur
Terdapat beberapa manfaat dari kita melakukan ziarah kubur, selain yang disebutkan dalam riwayat Al-Hakim. Beberapa manfaat ini tentunya akan membuat kita semakin mawas diri akan kehidupan dunia dan mendekatkan diri kepada Allah.
Berikut ini beberapa manfaat dari ziarah kubur dalam Islam yang bisa kita ketahui:
1. Pengingat Kematian
Ziarah kubur adalah pengingat yang sangat kuat akan kematian. Saat seseorang mengunjungi makam dan melihat tanda-tanda kefanaan fisik, tentu akan mengingatkan mereka bahwa hidup di dunia ini adalah sementara.
Karena pada hakikatnya, setiap orang akan menghadapi kematian suatu hari nanti. Tentunya dengan ziarah ini membantu kita untuk merenungkan tujuan hidup dan mempersiapkan diri dalam bekal akhirat.
2. Mengambil Hikmah
Ziarah kubur juga memberikan pelajaran dari kehidupan orang-orang yang telah meninggal. Saat melihat makam orang-orang yang telah pergi, kita dapat merenungkan prestasi, kesalahan ataupun pelajaran dari kehidupan mereka.
Hal ini tentunya dapat menjadi sumber inspirasi kita untuk memperbaiki diri, menghindari dosa dan mengejar kebaikan sesuai dengan ajaran Islam.
3. Lebih Dekat Kepada Allah SWT
Ziarah kubur juga adalah pengalaman spiritual yang dapat membantu seseorang merasa lebih dekat dengan Allah. Selain itu, perbuatan ini juga menjadi pembelajaran sekaligus tamparan bahwa isi dunia tidak akan dibawa ke alam kubur.
Tata Cara Ziarah Kubur yang Sesuai dalam Islam
Rasulullah SAW bersabda bahwa ziarah yang sesuai dengan ajaran adalah ziarah yang bertujuan untuk mendoakan mayit dan memohon kasih sayang serta ampunan untuk mereka hanya kepada Allah SWT.
Namun, sebelum melakukan ziarah tersebut kita bisa menyiapkan diri untuk menyesuaikannya dengan adab dan tidak melanggar syariat agar niat untuk mendoakan mayit diterima oleh Allah SWT.
Berikut ini beberapa adab atau tata cara yang bisa kita lakukan ketika ingin berziarah kubur:
1. Berwudhu
Hendaknya, ketika kita ingin melakukan ziarah kubur adalah berwudhu terlebih dahulu. Hal ini karena tidak ada larangan ataupun melanggar syariat ketika berada dalam kondisi suci dan melakukan ziarah kubur.
2. Mengucapkan Salam
Tata cara selanjutnya adalah mengucapkan salam ketika kita berada atau ingin memasuki area pemakaman. Adapun salam ini juga diajarkan oleh Rasulullah SAW sebagaimana bunyinya:
Doa ini bertujuan untuk meminta kesejahteraan untuk penghuni kubur atas izin Allah SWT. Insyaallah kita sebagai makhluk yang masih hidup akan menyusul serta memohon keselamatan bagi diri dan penghuni kubur kepada Allah SWT.
3. Membaca Doa bagi Mayit
Setelah membaca salam sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Kita selanjutnya dapat membaca doa untuk mayit. Adapun doa yang dibaca bisa berupa tasbih, tahmid, zikir hingga Al-Fatihah sebagai penutup.
4. Tidak Duduk atau Menginjak Kuburan
Adab atau tata cara lainnya yang bisa kita lakukan adalah tidak menginjak atau menduduki atas kuburan. Hal ini juga Rasulullah SAW jelaskan dalam sabdanya yang berbunyi:
“Janganlah kalian shalat (berdoa) kepada kuburan, dan janganlah kalian duduk di atasnya.” (HR. Muslim).
Hukum ziarah saat puasa tentunya bisa kita lakukan tanpa terkecuali. Hal ini karena tidak ada larangan melakukan ziarah kapanpun, selagi tidak melanggar syariat. Niatkan ziarah ini dengan baik dan mendekatkan diri kepada Allah.
Menu berkuah untuk buka puasa adalah alternatif terbaik karena memberikan rasa hangat setelah berpuasa sepanjang hari. Deretan menu berbuka puasa berikut juga memiliki asupan nutrisi yang cukup untuk kebutuhan gizi harian.
Pilihan hidangan berkuah bisa menggantikan cairan tubuh yang hilang setelah berpuasa. Terlebih lagi, kuah yang umumnya dibuat dari kaldu daging juga mengandung nutrisi yang diperlukan tubuh seperti vitamin dan mineral.
Makanan berkuah yang hangat juga dapat membantu proses detoksifikasi. Detoksifikasi yang berjalan lancar ini juga membantu menjaga pencernaan tetap lancar dan menghindari masalah sembelit selama berpuasa.
25 Daftar Menu Berbuka Puasa
Ada banyak pilihan menu berbuka puasa berkuah yang bisa menjadi inspirasi kalian. Jika ingin membuat sendiri, berikut kami sajikan resep lengkapnya:
1. Sup Jagung Pakcoy
Sayuran berkuah merupakan pilihan tepat untuk berbuka puasa. Pakcoy memiliki kandungan mineral yang mampu menjaga imun tubuh. Apalagi jika berpuasa sebulan penuh, kita membutuhkan makanan untuk mempertahankan imunitas agar tetap sehat.
Sup jagung pakcoy bisa kalian buat sendiri dari rumah. Berikut resep yang bisa diikuti:
Bahan-bahan:
2 siung bawang putih
2 sdm minyak goreng
300 ml air
100 ml susu cair
Bumbu nasi goreng
75 gr pakcoy
50 gr jagung pipil
100 gr cumi
2 btr telur
Tepung bumbu putih
Cara membuat:
Haluskan bawang putih lalu tumis sampai harum.
Masukkan air, susu, dan bumbu nasi goreng, aduk hingga rata.
Masukkan jagung, pakcoy, cumi, dan kocokan telur, aduk rata. Koreksi rasa sesuai selera.
Tambahkan tepung bumbu putih untuk mengentalkan, aduk hingga rata.
Nah itu dia cara membuat sup jagung pakcoy. Sebaiknya kamu mengestimasi waktu masak sehingga menu berbuka puasa ini bisa disajikan saat masih hangat!
Sup tahu jamur juga nikmat dijadikan menu buka puasa. Lembutnya tahu dilengkapi jamur membuat isian sup lebih istimewa. Cara membuatnya cukup mudah seperti berikut:
Bahan:
Jamur kancing/tiram yang telah diiris
Tahu (dipotong dadu)
½ buah bawang bombay iris
2 siung bawang putih dicincang kasar
½ buah tomat
1 batang daun bawang
½ sdt saus tiram
Cara Membuat:
Tumis bawang putih dan 1 sdm minyak hingga harum. Kemudian tambahkan daun bawang, tomat, bawang bombay, dan saus tiram.
Tambahkan sekitar 200 ml air hangat dan didihkan.
Masukkan irisan jamur, tambahkan lada halus dan garam sesuai selera. Lalu tambahkan tahu dan masak hingga sayuran menjadi layu.
Sop tahu jamur siap menjadi hidangan buka puasa yang mengenyangkan.
Demikian deretan menu berbuka puasa lengkap dengan resepnya. Semoga bisa menjadi inspirasi bermanfaat untuk menemani momen buka puasa kalian.
3. Sup Daging Bening
Sup daging berkuah bening adalah pilihan yang cocok sebagai hidangan berbuka puasa. Menu buka puasa ini kaya akan protein, mineral, dan vitamin yang penting bagi tubuh.
Sup daging mengandung asam amino yang memiliki sifat antivirus, anti-pembengkakan, dan antioksidan. Menu ini juga membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan selama berpuasa.
Berikut adalah bahan-bahan dan cara membuat sup daging berkuah bening.
Bahan-bahan:
200 gram daging sapi
1 buah kentang
2 buah wortel
1/4 potong kubis
1 buah tomat segar
1 batang daun bawang
1 batang seledri
1 liter air
Bumbu Halus:
6 siung bawang merah
4 siung bawang putih
1 sendok teh lada bubuk
1 sendok teh garam
1 sendok teh gula pasir
Cara membuat:
Cuci bersih daging sapi dan potong menjadi irisan yang tidak terlalu tebal agar mudah dimasak. Sisihkan potongan daging.
Potong kentang, wortel, kubis, tomat, daun bawang, dan seledri sesuai selera.
Rebus potongan daging sapi selama sekitar 20-30 menit.
Sambil menunggu daging direbus, haluskan semua bumbu halus. Kalian dapat menggunakan ulekan atau blender.
Panaskan minyak dalam wajan dan tumis bumbu halus hingga tercium aroma harum.
Setelah itu, tambahkan bumbu yang telah ditumis ke dalam rebusan daging sapi dan aduk hingga merata.
Ketika daging sapi sudah lunak, tambahkan kentang dan biarkan hingga kentang terlihat setengah matang.
Kemudian, tambahkan wortel, kubis, tomat, daun bawang, dan seledri. Aduk rata dan koreksi rasa.
Masak selama sekitar 15 menit hingga semua bahan mendidih dan daging sapi empuk.
Matikan api, tuangkan sup daging sapi bening ke dalam mangkuk, dan sajikan dengan sepiring nasi hangat.
Sup daging siap menemani buka puasa kalian. Tidak ada salahnya sekali-kali membuat olahan daging yang nikmat untuk buka puasa bukan?
4. Sup Kepiting Asparagus
Menu berbuka puasa ini merupakan kombinasi antara sup krim asparagus, putih telur, dan daging kepiting. Rasanya yang kental, gurih, dan sedikit manis sangat cocok untuk dinikmati saat berbuka puasa.
Selain kelezatannya, menu ini juga kaya gizi. Kepiting dan putih telur kaya protein. Asparagus mengandung antioksidan, vitamin A, B, dan K yang melindungi kulit dari dampak sinar matahari, menjaga kesehatan mata, serta memperkuat tulang.
Bahan-bahan:
5 siung bawang putih
2 sdm kecap asin
1 sdm kecap ikan
1 sdt minyak wijen
1 kaleng asparagus
250 gram daging kepiting segar
1,5 buah jagung manis (potong serut)
2 butir telur
Garam, gula, merica secukupnya
3 sendok makan tepung maizena + air untuk mengentalkan
Cara membuat:
Pertama, tumis bawang putih hingga harum, tambahkan air.
Masukkan daging kepiting dan jagung ke dalam wajan. Tambahkan kecap asin, kecap ikan, garam, gula, dan merica sesuai selera.
Setelah jagung matang, masukkan asparagus. Selanjutnya, tambahkan telur sambil diaduk agar telur membentuk serabut-serabut. Koreksi rasa.
Kemudian tambahkan minyak wijen dan campuran tepung maizena sampai mencapai kekentalan yang diinginkan.
Berbuka puasa dengan sup kepiting asparagus akan memberikan kesan berbeda. Tertarik mencoba resepnya?
5. Sop Buntut
Menu berbuka puasa berkuah yang mengandung buntut sapi ini memiliki aroma harum rempah dan dapat memberikan rasa hangat pada perut. Cocok untuk momen berbuka.
Sup buntut umumnya disiapkan dengan memasak buntut sapi bersama dengan berbagai bahan dan rempah-rempah pilihan. Hidangan ini juga memiliki manfaat kesehatan.
Buntut sapi sebagai bahan utama mengandung protein, karbohidrat, lemak, kalsium, fosfor, dan zat besi. Kandungan gizinya lengkap saat berbuka.
Bahan:
2 batang daun bawang
2 batang seledri
Irisan bawang bombai
Irisan daun bawang
2 sdt garam
1 sdt merica bubuk
1 biji pala
1 kilogram buntut sapi
2 liter air
2 buah wortel
2 buah kentang
2 buah tomat
Cara membuat:
Iris daging buntut sapi menjadi lapisan setebal kurang lebih 1 cm, lalu rebus.
Tambahkan biji pala yang sudah dimemarkan dan daun bawang.
Setelah daging buntut sapi menjadi empuk, angkat, dan pisahkan dari kaldu.
Panaskan margarin dan tumis irisan bawang bombay hingga harum. Kemudian masukkan campuran ini ke dalam kaldu, tambahkan garam dan merica bubuk, lalu didihkan.
Masukkan potongan wortel, kentang, dan tomat. Masak hingga sayuran matang, lalu angkat.
Siapkan mangkuk saji. Tuangkan kuah dan isiannya, lalu taburi dengan potongan daun bawang.
Sajikan sup buntut selagi masih hangat.
Resep sop buntut tersebut sangat mudah kamu tiru di rumah bukan? Cobalah membuatnya untuk menu buka puasa yang istimewa.
6. Sup Kambing
Sup kambing adalah menu berbuka puasa yang terbuat dari bahan daging kambing. Kuahnya bisa berlemak bisa juga bening. Kalian bisa menyesuaikan dengan selera. Berikut resep sup kambing.
Bahan:
Potongan 1 kilogram daging kambing
2 1/2 liter air
1 biji pala
8 butir cengkeh
5 cm kayu manis
6 lembar daun jeruk
10 buah jahe
3 buah tomat segar
1 sdt garam
1 sdt merica bubuk
2 sdm minyak goreng
Irisan 10 siung bawang merah
Bahan pelengkap:
Irisan daun bawang
Irisan seledri
Bawang goreng
Kecap manis
Sambal rebus (8 buah cabai merah besar, 10 buah cabai rawit merah, dan 1 sdt garam)
Cara membuat:
Rebus potongan daging kambing bersama pala, cengkih, kayu manis, daun jeruk, jahe, dan lengkuas.
Panaskan minyak, tumis irisan bawang merah hingga harum, lalu masukkan ke dalam kaldu. Tambahkan garam dan merica bubuk, kemudian didihkan lagi. Setelah itu, angkat.
Untuk membuat sambal rebus, rebus cabai merah besar dan cabai rawit merah, lalu haluskan dengan menambahkan garam. Angkat.
Siapkan mangkuk saji, letakkan potongan tomat, tuangkan sup kambing, dan taburi dengan irisan daun bawang, irisan seledri, serta emping goreng. Lengkapi juga dengan sambal rebus dan kecap manis.
Sajikan sup kambing dengan kuah bening selagi masih panas.
Sup kambing siap disantap saat berbuka puasa. Selamat mencoba resepnya!
Rawon merupakan sup dengan kuah berwarna hitam yang disajikan dengan daging sapi. Daging sapi ini umumnya dipotong kecil-kecil atau disuwir. Berikut ini resep mudah membuat rawon iga.
Bahan-bahan:
10 bawang merah
5 bawang putih
7 cabai rawit
1 ruas kunyit, lengkuas, kencur
1 sdt ketumbar
1 daun jeruk
1 kg iga
Daun salam
Sereh
Iris daun bawang
Air asam jawa
Penyedap rasa, garam
Topping:
Telur asin
Tempe
Kerupuk
Sambal (rebus bawang putih, cabai rawit. uleg dan beri sedikit terasi)
Cara membuat:
Rebus iga dalam presto selama 1 jam.
Haluskan bumbu (bawang merah, bawang putih, cabai rawit, kunir, lengkuas, kencur, ketumbar) dan tumis hingga matang. Kemudian, masukkan minyak goreng, penyedap rasa, dan garam.
Setelah bumbu matang, tambahkan air dan masukkan iga yang sudah direbus dalam presto. Juga tambahkan bahan lain seperti daun salam, sereh, daun bawang, air asam jawa, dan daun jeruk.
Tes rasa sesuai selera kalian. Tambahkan topingnya.
Selamat menikmati hidangan menu berbuka puasa dari iga yang lezat ini!
8. Ayam Kuah Pedas
Menu ini cukup simpel, apalagi kalian bisa membuatnya dari rumah. Bahan dasarnya daging ayam. Berikut ini resepnya.
Bahan-bahan:
3 siung bawang putih
10 siung bawang merah
1 sdt jintan
1 sdt adas manis
½ sdt merica
1 sdm ketumbar
10 buah cabai merah
1 ruas kunyit
1 ruas jahe
1 sdt garam
1 sdt kaldu ayam bubuk
10 potong ayam
5 pasang ati ampela
Bahan bumbu tambahan
2 batang daun kari
1 lembar daun pandan
Cara membuat:
Cuci bersih potongan ayam dan jeroan. Beri air jeruk nipis dan garam, lalu diamkan selama 15 menit. Setelah itu, cuci bersih kembali.
Selanjutnya, haluskan bumbu-bumbu (kecuali bawang merah) menggunakan blender.
Panaskan minyak, kemudian tumis irisan bawang merah hingga harum. Tambahkan daun kari dan daun pandan, lalu masak hingga harum. Masukkan bumbu yang telah dihaluskan dan aduk hingga merata.
Setelah bumbu mulai mengering, tambahkan potongan ayam dan jeroan. Lalu aduk.
Tambahkan air, aduk. Tutup wajan rapat-rapat dan masak hingga air mulai mengurang sambil sesekali diaduk.
Masak hingga ayam dan jeroan menjadi empuk, dan uji rasa.
Setelah matang, hidangan ayam kuah pedas siap disajikan. Selamat menikmati!
9. Bakmi Kuah Bakso
Bagaimana kalau membuat menu berbuka puasa dari bahan bakso dan mie? Dengan konsep berkuah, campuran keduanya bisa menjadi hidangan lezat dan bergizi. Berikut resep lengkap membuat bakmi kuah bakso.
Bahan-bahan:
1 sdm bawang putih
1 sdm minyak bawang
1 batang seledri
1 batang daun bawang
1 buah tomat merah
2 keping mie telur
600 ml air putih
7 butir bakso
1 butir telur
2 sdm kecap ikan
2 sdm kecap asin
1 sdm kecap manis
1 sdm gulpas
¼ sdt lada bubuk
1 sdt kaldu sapi bubuk
Cara membuat:
Tumis baceman bawang putih dan minyak bawang hingga harum, lalu tambahkan telur dan orak-arik.
Masukkan bakso, sayuran (seledri, daun bawang), garam, kecap ikan, gula pasir, lada bubuk, dan kaldu sapi bubuk. Aduk rata.
Selanjutnya, tambahkan mie yang telah direbus setengah matang dan air. Masak hingga matang sambil koreksi rasa.
Mudah bukan? Sekarang kalian bisa mencoba bakmi kuah bakso sebagai menu berbuka puasa agar lebih bervariasi.
10. Kwetiau Kuah
Kuliner ini memang enak dan pas untuk dinikmati pada waktu makan malam. Kuahnya yang gurih membuatnya lebih lezat dan mengenyangkan. Kalian bisa menambahkan bahan lain seperti daging, telur, dan jamur sesuai dengan selera.
Kwetiau juga sering disajikan dengan berbagai jenis sayuran seperti caisim, pakcoy, dan sayuran hijau lainnya. Semuanya tergantung selera.
Bahan-bahan:
1 sdm garam
½ sdt merica
½ sdt kaldu jamur
1 siung bawang merah
1 siung bawang putih
Daun bawang
100 ml kaldu ayam
1 bungkus kwetiau beras
1 butir telur ayam
100 gram tauge
6 pcs bakso ikan
3 sdm ayam cincang giling
400 ml air
2 sdm kecap asin
1 sdt saus raja rasa
1 sdm minyak wijen
Cara membuat:
Cuci bersih kwetiau, lalu siram dengan air panas. Tiriskan.
Tumis bawang merah dan bawang putih hingga harum. Masukkan telur, lalu orak-arik hingga setengah matang. Selanjutnya, tambahkan ayam cincang dan aduk hingga berubah warna. Terakhir, masukkan bakso ikan.
Tuangkan kaldu ayam dan air ke dalam tumisan bumbu. Masak hingga mendidih.
Tambahkan bumbu seperti kecap asin, saus raja rasa, garam, kaldu jamur, dan merica. Koreksi rasa sesuai selera.
Tata kwetiau di mangkuk, tambahkan tauge, dan siram dengan kuah panas. Taburi hidangan dengan daun bawang.
Sekarang kwetiau kuah ini siap untuk disajikan. Selamat menikmati!
11. Ikan Pindang Kuah Santan
Biasanya, ikan pindang dimasak dengan cara digoreng. Namun, ikan pindang juga bisa disajikan dalam bentuk kuah santan atau dengan saus sambal pedas.
Ikan pindang kuah santan ini bisa menjadi pilihan menu berbuka puasa yang siap memenuhi nutrisi harian sekaligus mengenyangkan. Berikut ini resepnya.
Bahan-bahan:
3 buah cabai merah keriting
3 buah cabai rawit merah
3 buah bawang merah
2 siung bawang putih
1 lembar daun salam
2 lembar daun jeruk
1 ruas lengkuas
300 ml santan
6 ekor ikan pindang
1 sdt kaldu bubuk
Garam
1 sdt gula pasir
2 sdm Minyak goreng
Cara membuat:
Mulai dengan menggoreng ikan pindang hingga matang/
Iris cabai, bawang merah, bawang putih, dan persiapkan bahan-bahan lainnya.
Tumis bawang, cabai iris, daun salam, daun jeruk, dan lengkuas dalam sedikit minyak goreng.
Tuangkan santan setelah bumbu-bumbu tercampur rata dan mulai mendidih.
Setelah santan mendidih, masukkan ikan pindang yang telah digoreng, lalu tambahkan garam, kaldu bubuk, dan gula pasir sesuai selera.
Aduk rata dan biarkan ikan dan bumbu meresap.
Sajikan ikan pindang bersama dengan kuah santan yang gurih.
Itu dia resep menu buka puasa dengan bahan dasar ikan pindang.
12. Cumi Kuah Hitam
Cumi hitam terbuat dari daging cumi dengan kuah gurih berwarna hitam yang khas. Meskipun kuahnya hitam pekat, hidangan cumi hitam ini tetap sangat lezat.
Bahan utamanya adalah daging cumi-cumi segar yang memiliki tekstur yang kenyal. Warna hitam dalam hidangan cumi hitam berasal dari tinta cumi-cumi. Berikut resep cumi kuah hitam kalau kalian ingin membuatnya sendiri.
Bahan-bahan:
4 siung bawang putih
2 buah cabai hijau
1 buah cabai merah besar
1 buah tomat
2 lembar daun salam
2 lembar daun jeruk
1 batang sereh
1 sdt lengkuas halus
1 sdt jahe bubuk
500 gr cumi
1 buah jeruk nipis
5 siung bawang merah
Garam dan gula secukupnya
2 sdm minyak goreng
100–150 ml air
Cara membuat:
Mulai dengan membersihkan cumi. Pastikan untuk menyimpan dan menjaga kantong tinta cumi agar tidak pecah. Buang gigi dan tulang cumi.
Potong bagian badan cumi sesuai selera. Kemudian, campurkan dengan air jeruk nipis yang sudah dicampur dengan sedikit jahe bubuk (sekitar ¼ sdt) dan garam. Diamkan sejenak.
Iris tipis bawang merah, bawang putih, cabai hijau, dan tomat. Geprek batang sereh dan buang tulang dari daun jeruk.
Panaskan minyak goreng. Tumis bawang merah dan bawang putih hingga harum. Setelah itu, masukkan cabai merah, cabai hijau, dan tomat, aduk rata.
Tambahkan daun salam, daun jeruk, sereh, lengkuas, dan bubuk jahe. Lalu aduk.
Selanjutnya, masukkan cumi ke dalam tumisan. Tambahkan air sesuai selera. Lalu koreksi rasa.
Masak hingga kuah mendidih dan cumi matang.
Selamat menikmati hidangan cumi yang lezat ini!
13. Udang Cumi Kuah Pedas
Siapa penggemar makanan laut alias seafood? Nah, kalian bisa mencoba menu ini untuk berbuka puasa. Udang dan cumi memiliki kandungan protein, vitamin, mineral, dan lainnya sehingga mampu memenuhi kebutuhan nutrisi harian.
Bahan-bahan:
400 gr Udang Segar. Cuci Bersih dan buang yang tidak diperlukan.
400 gr Cumi-Cumi Segar. Cuci bersih. Potong sesuai selera.
Haluskan bumbu halus, kecuali tomat, bisa dengan cara diulek atau diblender.
Rebus tomat dengan air mendidih selama 1–2 menit hingga kulitnya mengelupas. Angkat tomat dan ulek kasar bersama bumbu yang sudah dihaluskan.
Panaskan minyak goreng dalam panci. Tumis bumbu halus sampai harum. Selanjutnya, tambahkan saus tiram, saus sambal, dan air. Aduk rata dan tunggu hingga mendidih.
Masukkan udang dan cumi ke dalam bumbu. Biarkan bumbu meresap dan air berkurang setengahnya. Masak hingga udang dan cumi matang sambil koreksi rasa sesuai selera.
Bagaimana, tertarik mencoba menu berbuka puasa yang satu ini?
14. Soto Ayam Lamongan
Soto Lamongan adalah salah satu menu berkuah yang lezat dan cocok untuk hidangan berbuka puasa. Selain memiliki kuah bening yang gurih berbahan dasar kaldu ayam kampung, soto ini juga terkenal dengan penyajian serbuk kerupuk udang atau koya.
Soto Lamongan memiliki beragam isian. Ada suwiran daging ayam, irisan kol, tomat, daun bawang, bihun, kentang, dan irisan telur ayam. Karena itulah yang menjadikannya sebagai hidangan berkuah yang kaya nutrisi.
Rebus ayam dengan serai, daun jeruk, lengkuas, dan salam. Setelah itu, haluskan bumbu dan tumis dengan sedikit minyak hingga harum.
Tambahkan setengah bagian daun bawang, masak hingga layu sambil diaduk.
Masukkan bumbu tumis ke dalam air rebusan ayam, tambahkan garam, gula, kaldu bubuk, dan lada. Tambahkan sisa daun bawang dan tes rasa. Masak hingga matang.
Sajikan soto dengan lontong atau nasi di dalam mangkuk, lalu tambahkan irisan kol, sohun, suwiran ayam, dan irisan telur.
Tuangkan kuah beserta ayamnya, beri taburan seledri dan bawang goreng, dan sajikan dengan kerupuk udang atau keripik kentang.
Menu berbuka puasa ini menjadi menu spesial yang menemani waktu berbuka puasa bersama keluarga. Praktikkan resepnya dari rumah!
15. Tongseng Ayam
Tongseng adalah hidangan berkuah yang mirip dengan gulai tetapi dengan campuran rempah yang lebih kaya sehingga rasanya lebih kuat. Menu ini memiliki cita rasa manis dan gurih yang kuat, berkat campuran rempah-rempahnya.
Daging ayam yang empuk, kol yang renyah, dan sentuhan pedas dari irisan cabe rawit melengkapi hidangan ini. Berikut resep lengkap agar kalian bisa membuatnya sendiri.
Bahan:
2 lembar daun salam
2 lembar daun jeruk
1 serai, geprek
Seruas lengkuas, geprek 1/2 ekor ayam
Kol secukupnya
3 tomat hijau, potong menjadi 4 bagian
Cabai rawit
Kecap secukupnya
Garam secukupnya
Air untuk kuah secukupnya
Bumbu halus:
6 siung bawang merah
4 siung bawang putih
Seruas kunyit
4 butir kemiri
Cara membuat:
Cuci ayam dengan bersih, lalu potong kecil. Selanjutnya, rebus sebentar dan tiriskan.
Tumis bumbu yang dihaluskan, daun salam, daun jeruk, serai, dan lengkuas hingga matang. Aduk rata.
Masukkan potongan ayam dan air, masak hingga ayam menjadi empuk. Kemudian, tambahkan kecap, garam, dan penyedap sesuai selera. Aduk rata.
Tambahkan sawi, tomat, dan cabai rawit.
Masak hingga matang, lalu angkat dan sajikan.
Nah, itu dia resep tongseng ayam. Cocok untuk menu berbuka puasa berkuah yang menyehatkan.
16. Pangsit Ayam
Pangsit adalah makanan yang dibuat dengan membungkus daging dalam selembar adonan yang terbuat dari tepung. Bahannya tidak perlu banyak, cara membuatnya pun praktis seperti berikut ini.
Bahan:
2 siung bawang putih, haluskan
300 gr daging ayam giling
1 sdm putih telur
1/2 sdm tepung tapioka
Saus tiram
Garam
Kaldu bubuk atau lada sesuai selera
Cara membuat:
Campurkan semua bahan, siapkan kulit pangsit beri isian dan bentuk sesuai selera.
Tumis bawang putih yang sudah dicincang halus, tambahkan daging ayam lalu aduk.
Tambahkan air atau kaldu ayam secukupnya, tambahkan potongan sayuran, garam, lada atau kaldu bubuk sesuai selera. Aduk rata.
Rebus pangsit dan kemudian tiriskan. Masukkan ke dalam kuah. Taburkan daun bawang, bawang goreng, atau sesuai selera.
Cara membuat pangsit ayam cukup mudah bukan? Menu berbuka puasa ini bisa menjadi pilihan hemat karena kalian bisa memasak dari rumah.
17. Sapo Tahu Seafood Jamur
Seperti namanya, menu ini menggabungkan berbagai bahan makanan antara lain tahu, seafood, dan jamur. Hidangan ini sering kali disajikan dalam wajan atau panci khusus yang disebut “sapo” atau “hot pot”.
Berikut resep lengkap sapo tahu seafood jamur bagi kalian yang ingin membuatnya sendiri.
Bahan:
1 batang daun bawang, ambil bagian putih nya
1/2 buah bombay, potong besar
4 siung bawang putih, cincang
600 ml air
2 pack tahu jepang, goreng berkulit
125 gr udang, ambil dagingnya
125 gr cumi, bersihkan potong agak kecil
1 pack jamur shimeji
1 sawi putih atau pakcoy
1/2 wortel
1/2 buah paprika hijau
1/2 buah paprika merah
1 sdm saus tiram
1 sdm kecap asin
1 sdm kecap ikan
1 sdm kecap manis
Garam, gula, kaldu bubuk, dan lada
Tepung maizena secukupnya larutkan air
Cara membuat:
Panaskan minyak, masukkan udang dan tumis hingga setengah matang.
Tambahkan bawang putih, bawang bombay, daun bawang, dan wortel. Tumis hingga harum.
Masukkan jamur, beri sedikit garam, dan tumis hingga harum. Aduk rata.
Tuangkan air, semua saus dan bumbu, serta sisa sayuran. Aduk rata.
Cek rasa. Kemudian, tambahkan cumi dan tahu Jepang yang telah digoreng, dan masak sebentar.
Daging dengan telur puyuh memang terasa nikmat untuk buka puasa. Kombinasi keduanya juga bergizi, cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh setelah seharian berpuasa. Berikut cara membuatnya.
Bahan:
300 gr daging cincang
1 butir telur ayam
2 buah tomat masak, potong dadu
6 buah bawang merah, iris tipis
3 buah bawang putih, iris tipis
2 sdm saus tomat
Telur puyuh, rebus lalu kupas
6 sdm penuh margarin untuk menumis
Bahan bumbu:
Garam atau penyedap, dan gula pasir
Kecap manis
Lada atau merica halus
Pala
2 buah kentang, potong kotak sedang
600 ml air
Cara membuat:
Campurkan daging cincang, gula, garam, merica, pala, kecap, dan telur. Aduk hingga merata.
Panaskan margarin, kemudian goreng bola-bola daging hingga berwarna kecoklatan. Tiriskan.
Tumis bawang merah dan bawang putih dengan sisa margarin hingga harum.
Tuangkan air hingga mendidih, lalu masukkan bola-bola daging yang telah digoreng.
Tambahkan kecap, gula, garam, pala, merica, saus tomat, potongan tomat, dan kentang. Aduk rata.
Masak hingga bumbu meresap. Angkat dan sajikan.
Semur bola-bola daging isi telur puluh siap dinikmati sebagai menu berbuka puasa.
19. Sayur Asem
Sayur asam memiliki karakter khas karena memakai bumbu spesifik sesuai namanya, yaitu asam jawa. Rasanya pun khas, paduan rasa asam, gurih, dan segar.
Sayur asem biasa disajikan dengan berbagai lauk tambahan seperti tempe goreng, tahu goreng, dan ikan asin.
Kalian pun bisa menjadikan menu ini sebagai menu buka puasa, tapi tingkat keasamannya bisa disesuaikan agar tidak menimbulkan masalah lambung ya!
Bahan:
1250 ml kaldu
100 gram nangka muda,kupas, cuci, potong kecil
2 buah jagung muda, kupas, potong melintang
10 buah asam muda, cuci
100 gram kacang tanah
2 lembar daun salam
200 gram daun melinjo, cuci
1 buah terong ungu, kupas, cuci, potong kecil
6 buah kacang panjang, cuci, potong-potong
10 buah belimbing wuluh, cuci
1 sachet bumbu racik sayur asem
Cara membuat:
Gabungkan bumbu racik dengan kaldu dan masak hingga mendidih.
Tambahkan nangka, jagung, asam muda, dan kacang tanah. Masak hingga setengah matang.
Selanjutnya, tambahkan daun salam, daun melinjo, terung, kacang panjang, dan belimbing wuluh.
Masak semua bahan hingga matang.
Resep sayur asem untuk berbuka ternyata sangat mudah bukan? Mungkin beberapa dari kalian juga sudah sering memasaknya di rumah. Selamat mencoba!
20. Sayur Lodeh
Sayur lodeh juga menjadi menu berbuka puasa yang cukup familiar sehari-hari. Berikut resep sayur lodeh untuk berbuka.
Bahan:
8 siung bawang merah
3 siung bawang putih
3 cm lengkuas geprek
2 butir kemiri sangrai
2 buah cabai hijau, iris serong
2 buah cabai merah, iris serong
2 sdm gula merah sisir
2 lembar daun salam
Labu siam potong kotak
Terong belah dua, iris
Kol
Buncis
Putren
Kacang panjang
1 liter air
1 sachet santan segitiga
½ sdt ketumbar
Garam secukupnya
Cara membuat sayur lodeh:
Rebus air dengan bumbu halus, daun salam, dan lengkuas hingga mendidih.
Tambahkan gula merah dan garam, lalu cek rasa.
Masukkan semua jenis sayuran yang ada.
Masak hingga semua sayuran matang.
Terakhir, tambahkan santan, masak selama 2 menit, lalu angkat.
Sajikan dengan taburan bawang goreng.
Demikianlah cara membuat sayur lodeh yang lezat untuk hidangan berbuka puasa.
21. Fuyunghai
Fuyunghai atau egg fu young adalah hidangan yang terdiri dari campuran telur, potongan daging ayam, dan tepung terigu. Rasanya familiar di lidah orang karena bentuknya mencampur elemen omelet dan bakwan.
Proses pembuatannya melibatkan penggunaan tepung terigu dan telur. Berikut resep lengkap menu berbuka puasa berkuah ini.
Bahan:
100 gram fillet ayam, potong dadu
100 gram udang kupas, potong-potong
6 butir telur 2-3 tangkai daun bawang, dirajang
2 lembar kubis, iris tipis
1 sdm kecap ikan
1/2 sdt lada halus
1/4 sdt baking soda
1,5 sdm tepung terigu
1,5 sdm tepung tapioka
100 gram wortel (serut memanjang)
Garam secukupnya
Minyak secukupnya
Bahan saus:
½ buah bawang bombay, iris memanjang
3 siung bawang putih, digeprak
3 cm jahe, digeprak
3 sdm gula pasir
1 genggam kacang polong segar/ frozen
5 sdm saus tomat
1 sdm kecap ikan
1/2 sdm kecap inggris
400 cc air
Maizena
Garam dan lada secukupnya
Cara memasak:
Kocok telur, tepung terigu, tepung tapioka, baking soda, kecap ikan, lada, dan garam. Campurkan semua bahan lainnya dan aduk rata.
Masak setengah dari campuran adonan fuyunghai. Angkat dan tiriskan. Kemudian, masak sisanya hingga setengah matang.
Tumis bawang putih, bawang bombay, dan jahe. Tuangkan air.
Tambahkan saus tomat, kecap ikan, kecap Inggris, lada, garam, dan gula pasir secara bertahap.
Masukkan kacang polong dan kecambah dengan maizena untuk mengentalkan saus.
Tuangkan saus ini di atas fuyunghai.
Itu dia cara membuat Fuyunghai. Perhatikan setiap langkahnya agar rasa masakan kalian pas dan nikmat untuk berbuka puasa ya!
22. Cah Kangkung Bakso
Bahan kangkung dan bakso mungkin menjadi bahan makanan yang paling sering kita temui. Keduanya bisa menjadi olahan lezat dan bergizi untuk buka puasa. Ini dia resep cah kangkung bakso.
Bahan-bahan:
1 ikat kangkung
200 gr kecambah
10 bakso
100 ml air
1 sdm saus tiram
2 sdt kecap asin
½ sdm gula pasir
½ sdt kaldu bubuk
2 sdm minyak goreng
4 butir bawang merah
3 siung bawang putih
8 cabai merah keriting
10 cabai rawit
Cara membuat:
Bersihkan kangkung dan kecambah. Potong bakso menjadi dua bagian. Lalu iris cabai, bawang merah, dan bawang putih.
Panaskan minyak goreng, kemudian tumis bawang merah dan bawang putih hingga harum.
Masukkan bakso dan kecambah, dan tumis hingga layu.
Selanjutnya, tambahkan kangkung, 2 cabai, air, dan bumbui dengan saus tiram, kecap asin, gula pasir, serta kaldu bubuk.
Masak hingga semuanya matang dan koreksi rasa sesuai selera Anda.
Mudah bukan? Hanya dengan dua bahan utama, kalian sudah bisa membuat menu berbuka puasa yang nikmat dan bergizi.
23. Capcay
Kalian tentu sudah tidak asing dengan makanan ini. Capcay merupakan menu yang terbuat dari berbagai jenis sayuran. Tiga jenis sayuran saja sudah cukup untuk disebut capcay. Membuatnya cukup mudah dan praktis untuk berbuka puasa.
Bahan:
3 siung bawang putih, cincang halus
Garam gula penyedap, lada bubuk secukupnya
1 batang wortel iris serong
Kembang kol secukupnya
Brokoli secukupnya
1 buah tomat (belah 8)
5 buah jagung putren, potong-potong
200 gram udang, kupas kulitnya
1 sdm sagu (larutkan dengan air matang)
1 butir telur, kocok lepas
1 sdm saus tiram
Air matang secukupnya
Cara memasak:
Tumis bawang putih, kemudian tambahkan udang dan tumis sebentar.
Setelah itu, masukkan wortel, kembang kol, dan brokoli. Tumis hingga sayuran layu. Tambahkan jagung dan tumis sebentar lagi. Tuangkan air secukupnya.
Tambahkan garam, gula, saus tiram, penyedap, dan lada bubuk. Masak hingga mendidih. Masukkan kocokan telur sambil diaduk secara perlahan dengan garpu.
Setelah itu, tambahkan larutan sagu sambil terus diaduk. Ketika sudah mendidih, masukkan potongan tomat.
Mudah bukan? Tak hanya sebagai menu buka puasa, capcay juga bisa menjadi menu andalan untuk sehari-hari.
24. Tekwan
Tekwan mirip seperti sop dengan isian bakso dan berbagai toping seperti bihun, jamur, atau bisa kalian sesuaikan dengan selera. Menu berbuka puasa ini bergizi dan mengenyangkan, sekaligus bisa dibuat dari rumah.
Bahan:
500 gram ikan tenggiri (haluskan)
2 putih telur ayam
400 gram sagu tani
350 ml air
1 sdm gula pasir
11/2 sdm garam
Bahan kuah :
7 siung bawang putih, cincang
1/2 sdt lada halus
2 bungkus kecil sedap malam
2 bungkus kecil jamur kuping, rendam air, potong2
3 batang daun bawang, iris tipis
3 batang seledri, iris tipis
250 gram udang kupas
1 bengkuang
Garam secukupnya
Gula pasir secukupnya
3 sdm minyak untuk menumis
1 bungkus soun, seduh dengan air panas, tiriskan
2,5 liter air/kaldu udang
Cara memasak bakso:
Campur ikan dengan air dan uleni hingga merata.
Tambahkan garam, gula pasir, dan putih telur. Aduk hingga adonan menjadi kental.
Masukkan sagu tani dan aduk perlahan. Bentuk adonan menjadi bola-bola.
Didihkan air, lalu masukkan adonan bakso sedikit demi sedikit.
Rebus hingga bakso mengapung, kemudian angkat dan tiriskan.
Cara memasak kuah:
Tumis bawang putih, lalu tambahkan udang. Aduk hingga udang berubah warna.
Rebus kulit dan kepala udang, lalu saring. Rebus lagi udang dengan air untuk membuat kaldu udang. Masukkan bumbu tumis, lada, saus malam, jamur kuping, dan bakso.
Masukkan daun bawang dan seledri. Kemudian, angkat.
Sajikan dengan menata soun di mangkuk, lalu tuangkan kuah dan taburi dengan bawang goreng.
Itu dia resep tekwan yang cocok untuk berbuka puasa. Berikan hidangan terbaik agar nutrisi ketika puasa tetap terpenuhi.
25. Ramen
Ramen adalah makanan dari Jepang yang terbuat dari mie gandum. Disajikan dalam kuah kaldu daging sapi atau ikan yang diberi rasa dengan kecap. Menu ini menjadi pilihan yang cocok untuk menghangatkan perut setelah berpuasa.
Tersedia beberapa jenis ramen berdasarkan jenis kuahnya. Misalnya shoyu dengan kuah bening asin, shio dengan kuah kuning asin, miso yang memiliki rasa manis, serta kare yang berkuah bercita rasa kari.
Biasanya, ramen disajikan dengan beragam tambahan seperti daging panggang, telur, daun bawang, tauge, rebung, rumput laut, serta sayuran seperti wortel atau bayam. Kamu bisa membuatnya sendiri dari rumah dengan resep berikut.
Bahan:
Mie telur
Suwiran daging sapi
Bakso ikan
2 buah wortel iris korek api
Daun bawang (iris)
Rumput laut
Telur rebus
Pokcoy
Bahan kuah:
2 siung bawang putih
1/2 buah bawang bombay
2 sdm kecap asin
1 sdm saus tiram
1 sdm Kecap ikan
Merica
Garam
Cara membuat:
Untuk membuat kuah, tumis bawang putih dan bawang bombay. Kemudian, tambahkan kaldu dari rebusan daging sapi.
Tambahkan bumbu pelengkap seperti kecap asin, saus tiram, kecap ikan, lada, dan garam. Aduk rata dan angkat setelah kuah mendidih.
Rebus mie dan pakcoy hingga matang, lalu tiriskan.
Sajikan mie dan pakcoy dalam mangkuk. Siram dengan kuah yang telah disiapkan. Tambahkan daging suwir, wortel iris, lembaran rumput laut, telur rebus, dan bakso ikan sebagai topping.
Mudah bukan? Bahan-bahannya juga bisa kalian dapatkan dari pasar atau supermarket. Selamat mencoba!
Demikian tadi menu berbuka puasa yang bisa menjadi inspirasi kalian. Banyaknya pilihan menu tersebut bisa menjadikan hidangan berbuka lebih bervariasi.
Sebagai muslim, mempersiapkan menu berbuka juga termasuk pahala. Itulah sebabnya kita perlu memberikan makanan terbaik yang lezat dan bergizi untuk orang yang berpuasa.
Itikaf merupakan salah satu ibadah yang banyak dilakukan umat Islam selama bulan Ramadhan. Di mana, pada bulan ini sendiri seluruh pahala dilipatgandakan oleh Allah SWT, sehingga tiap orang akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya.
Itikaf sendiri sering dilakukan oleh umat muslim pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Pada 10 hari terakhir ini, terdapat satu malam yaitu Lailatur Qadar yang mana pada malam ini semua malaikat akan turun ke bumi.
Cara untuk melakukannya sendiri bisa dikatakan mudah dan susah. Sebab, kegiatan ini hanya berdiam diri di masjid dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah SWT saja. Waktu pelaksanaanya sendiri dari malam hari hingga menjelang pagi.
Ketika kita melaksanakan kegiatan ini di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, maka kita sedang menjalankan amanah dari Rasulullah SAW:
Sebelum melaksanakan I’tikaf, maka kita harus berniat terlebih dahulu. Hal ini sama seperti kita akan menjalankan ibadah lainnya, semuanya didahului dengan niat terlebih dahulu.
Untuk niat melaksanakannya, bisa kita baca di dalam hati seperti berikut ini:
“I’tikaf memiliki dua syarat, maksudnya dua rukun. Yang dimaksud syarat adalah sesuatu yang harus ada. Bahkan i’tikaf itu memiliki empat rukun sebagaimana kau akan mengenalnya,” (As-Syarbini Al-Khatib, Al-Iqna fi Halli Alfazhi Abi Syuja, [Beirut, Darul Fikr: 1995 M/1415 H], halaman 247).
Beberapa rukun yang dimaksud dalam kegiatan ini antara lain:
1. Niat
Ketika seseorang ingin beri’tikaf, maka harus berniat sebagai kewajiban sebelum melaksanakannya. Hal ini sangat penting untuk kita lakukan sebagai bentuk pembeda dengan sunnah.
2. Berdiam Diri
Berdiam diri merupakan kegiatan I’tikaf, tetapi kita wajib untuk tuma’ninah dalam pelaksanaannya.
Namun, seseorang yang mondar-mandir di masjid dengan durasi waktu I’tikaf juga tergolong di dalamnya.
3. Berada di Masjid
Mazhab Syafi’i menerangkan bahwasanya I’tikaf haruslah dilaksanakan di masjid. Di mana, dasar pengambilan tempat ini berdasarkan pada hadits riwayat Muslim, Bukhari, Ijma, dan Surat Al-Baqarah ayat 187.
4. Orang Beritikaf
Islam mengatur setiap ibadah dengan detail. Salah satunya seseorang yang hendak melaksanakan I’tikaf di masjid. Maka, orang tersebut haruslah berakal, muslim, dan suci dari hadats besar.
Berdasarkan batasan ini, maka seseorang yang memiliki gangguan kejiwaan, kafir, dan masih memiliki hadas besar tidak diperbolehkan untuk melakukannya.
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah.” [At-Taubah/9: 18].
2. Mumayyiz
Anak kecil tidak diperbolehkan melakukan I’tikaf karena dianggap tidak sah. Namun, beberapa ulama berselisih pendapat mengenai batasan usia mumayyiz ini. Meskipun begitu, seseorang yang paling shahih tidak memiliki batas usia tertentu.
Hal ini dilihat berdasarkan perbedaan masing-masing kondisi seseorang. Apabila seseorang paham mengenai maksud dari ketaatan yang masuk ke dalam golongan usia mumayyiz, maka rentang usianya antara 7 sampai 9 tahun.
3. Niat
Sebelum melaksanakan ibadah apapun, kita wajib berniat terlebih dahulu karena termasuk ke dalam sebuah amalan berdasarkan sabda dari Rasulullah SAW menurut hadits shahih yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim:
“Sesungguhnya setiap amalan itu berdasarkan niat dan setiap amalan seseorang itu tergantung dengan apa yang ia niatkan.”
4. Memiliki Akal
Pemberlakukan syarat ini dikarenakan seseorang yang tidak berakal tentu tidak akan terbebani dengan hukum syariat.
5. Suci
Apabila seseorang akan melaksanakan Itikaf, maka wajib untuk suci. Oleh karena itu, jika seseorang dalam keadaan junub, haid ataupun nifas, melaksanakan I’tikaf menjadi tidak sah.
Ibadah yang Wajib Dijalankan Ketika I’tikaf
Menjalani I’tikaf, berarti seseorang harus melaksanakan ibadah dengan baik seperti berikut ini:
Membaca Al-Qur’an.
Membaca Shalawat.
Melaksanakan shalat berjamaah.
Membaca buku yang memiliki hubungan dengan ilmu Islam.
Banyak berdoa dan berdzikir kepada Allah SWT.
Melaksanakan shalat sunnah di dalam masjid.
Bicara dan memiliki pikiran yang baik dan benar.
Nah, itulah beberapa pembahasan mengenai niat, rukun, syarat, hingga ibadah yang wajib kita lakukan apabila melaksanakan Itikaf. Semoga informasi di atas dapat memberi gambaran seperti apa kegiatan I’tikaf dengan baik.