Category: Sejarah Islam

  • Demokrasi dalam Islam: Pandangan hingga Contohnya di Indonesia

    Demokrasi dalam Islam: Pandangan hingga Contohnya di Indonesia

    Demokrasi merupakan konsep yang berasal dari Barat dan memiliki akar pandangan yang berbeda dengan ajaran Islam. Demokrasi dalam Islam bahkan memiliki dasar substansial yang berbeda. 

    Demokrasi berasal dari pemikiran manusia, sedangkan Islam bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.

    Lalu, bagaimana sebenarnya pandangan Islam terhadap konsep demokrasi?

    Pengertian Demokrasi dalam Islam

    Demokrasi pada dasarnya bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan bahasa Yunani. Demokrasi berasal dari kata demos (manusia atau rakyat) dan kratos (hukum atau aturan). Artinya, demokrasi adalah hukum rakyat.

    Demokrasi kerap dipandang sebagai sistem yang bertentangan dengan Islam. Alasannya karena sistem ini meletakkan rakyat sebagai hukum dalam suatu negara. 

    Misalnya, pada Undang-Undang yang rumusannya berasal dari musyawarah rakyat atau perwakilannya.

    Meskipun demikian, di dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang berkaitan dengan prinsip-prinsip demokrasi. Contohnya berikut ini:

    • QS. Ali Imran: 159 dan asy-Syura: 38 (tentang musyawarah)
    • QS al-Maidah: 8 dan asy-Syura: 15 (tentang keadilan)
    • QS al-Hujurat: 13 (tentang persamaan)
    • QS al-Nisa’: 58 (tentang amanah)
    • QS Ali Imran: 104 (tentang kebebasan mengkritik)
    • QS al-Nisa’: 59, 83 dan al-Syuro: 38 (tentang kebebasan berpendapat)

    Sejumlah ayat tentang prinsip-prinsip demokrasi tersebut menunjukkan bahwa tidak ada halangan bagi agama untuk berdampingan dengan demokrasi. Islam mengatur elemen pokok demokrasi yaitu As-syura, Al-musawah, Al-‘adalah, Al-amanah, Al-masuliyyah, dan Al-hurriyyah. 

    Agar lebih memahaminya, sebaiknya kita mengerti arti dari masing-masing pokok tersebut.

    Baca juga: Sejarah Masuknya Islam di Indonesia dan Perkembangannya

    1. Asy-Syura

    Asy-syura berkaitan dengan musyawarah atau yang kita kenal sebagai cara pengambilan keputusan. Sebagaimana disebutkan dalam QS. As-Syura: 38 yaitu:

    وَٱلَّذِينَ ٱسْتَجَابُوا۟ لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

    Wallażīnastajābụ lirabbihim wa aqāmuṣ-ṣalāta wa amruhum syụrā bainahum wa mimmā razaqnāhum yunfiqụn.

    Artinya:

    “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (Asy-Syura: 38).

    Sementara itu, prinsip musyawarah juga disebutkan dalam surah Ali Imran ayat 159 yaitu sebagai berikut:

    فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

    Fa bimā raḥmatim minallāhi linta lahum, walau kunta faẓẓan galīẓal-qalbi lanfaḍḍụ min ḥaulika fa’fu ‘an-hum wastagfir lahum wa syāwir-hum fil-amr, fa iżā ‘azamta fa tawakkal ‘alallāh, innallāha yuḥibbul-mutawakkilīn.

    Artinya:

    “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Ali Imran:159).

    Merujuk pada kedua ayat tersebut, jelas bahwa musyawarah dibutuhkan sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan. Adanya musyawarah menunjukkan bahwa keputusan yang dikeluarkan akan menjadi tanggung jawab bersama.

    2. Al-‘Adalah

    Al-‘adalah berarti keadilan. Pokok demokrasi dalam Islam ini yaitu menegakkan hukum termasuk secara adil dan bijaksana. Dengan kata lain tidak boleh ada kolusi dan nepotisme. 

    Arti penting menegakkan keadilan dijelaskan dalam Al-Qur’an pada surat an-Nahl ayat 90 yaitu:

    إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

    Innallāha ya`muru bil-‘adli wal-iḥsāni wa ītā`i żil-qurbā wa yan-hā ‘anil-faḥsyā`i wal-mungkari wal-bagyi ya’iẓukum la’allakum tażakkarụn.

    Artinya: 

    “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (An-Nahl: 90).

    Ayat tersebut menerangkan bahwa keadilan tetap harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Entah kepada keluarga, kerabat, atau musuh sekalipun tetap harus mengambil keputusan secara adil.

    3. Al-Musawah

    Pokok demokrasi yang ketiga yaitu al-Musawah. Al-Musawah adalah kesejajaran, yang artinya tidak ada pihak yang merasa lebih tinggi dari sehingga dapat memaksakan kehendaknya. 

    Kesejajaran ini penting demi menghindari hegemoni penguasa atas rakyat. 

    Berdasarkan perspektif  Islam, kepercayaan rakyat telah diberikan kepada pemerintah atau institusi dalam bentuk wewenang. Caranya melalui pemilihan yang jujur dan adil serta menegakkan peraturan yang telah dibuat.

    Pemerintah memiliki tanggung jawab kepada rakyat atas kepercayaan yang diberikan tersebut. Selain itu, pemerintah juga memiliki tanggung jawab di hadapan Tuhan. Oleh karenanya, pemerintah harus amanah, jujur, dan adil.

    Baca juga: 8 Doa agar Jualan Laris Bahasa Arab, Latin dan Artinya

    4. Al-Amanah

    Demokrasi dalam Islam pada prinsip al-Amanah dapat diartikan sebagai sikap pemenuhan kepercayaan yang diberikan seseorang kepada orang lain. Itulah sebabnya, amanah harus dijaga dengan baik. 

    Amanah juga terkait dengan prinsip adil. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menegaskan melalui firmannya dalam surat an-Nisa’ ayat 58:

    إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًا

    Innallāha ya`murukum an tu`addul-amānāti ilā ahlihā wa iżā ḥakamtum bainan-nāsi an taḥkumụ bil-‘adl, innallāha ni’immā ya’iẓukum bih, innallāha kāna samī’am baṣīrā.

    Artinya:

    “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (An-Nisa: 58).

    5. Al-Mas’uliyyah

    Al-Mas’uliyyah adalah tanggung jawab. Seorang pemimpin yang telah diberi kepercayaan oleh rakyat harus memiliki rasa tanggung jawab. Tanggung jawab ini juga memiliki dua pengertian, yaitu tanggung jawab kepada rakyat dan kepada Tuhan.

    Sebagaimana sabda Rasul yang artinya: “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin dimintai pertanggung jawabannya.” Lebih lanjut dikatakan oleh Ibn Taimiyyah bahwa penguasa merupakan wakil Tuhan dalam mengurus umat manusia sekaligus wakil umat manusia dalam mengatur dirinya. 

    Dengan kesadaran terhadap prinsip tanggung jawab ini, diharapkan setiap individu berupaya memberikan kontribusi terbaik bagi kepentingan masyarakat secara umum. 

    Dengan begitu, para pemimpin tidak ditempatkan dalam peran sebagai penguasa tertinggi umat (sayyid al-ummah), tetapi sebagai pelayan umat (khadim al-ummah).

    6. Al-Hurriyyah

    Pokok demokrasi yang terakhir yaitu al-Hurriyyah atau kebebasan. Artinya, setiap orang atau setiap warga masyarakat diberi hak dan kebebasan untuk mengekspresikan pendapatnya. 

    Sepanjang pendapat itu disampaikan secara bijak dan memperhatikan al-akhlaq al-karimah. Yang perlu diwaspadai adalah ketika tidak ada yang berani mengkritik terkait ketidakadilan. Itu artinya kondisi kezaliman akan semakin merajalela. 

    Rasulullah SAW bersabda terkait hal ini yang artinya: “Barang siapa yang melihat kemunkaran, maka hendaklah diluruskan dengan tindakan, jika tidak mampu, maka dengan lisan dan jika tidak mampu maka dengan hati, meski yang terakhir ini termasuk selemah-lemah iman”. 

    Demikian enam elemen penting demokrasi dalam Islam. Jika negara konsisten menerapkan prinsip-prinsip tersebut, roda pemerintahan akan berjalan stabil. Sebab, pemerintah telah mendapat legitimasi dari rakyat.

    Contoh Demokrasi di Indonesia

    Sebagai negara demokrasi, sudah cukup banyak ditemui praktik demokrasi di Indonesia. Beberapa contohnya yaitu sebagai berikut.

    1. Melakukan Musyawarah Pemilihan Ketua RT

    Pemilihan pemimpin tingkat rumah tangga (ketua RT) kerap menggunakan sistem musyawarah. Hal ini sejalan dengan prinsip asy-syura yang termasuk pokok demokrasi. 

    Setelah bermusyawarah kemudian akan disepakati bersama terkait ketua RT yang terpilih berdasarkan hasil musyawarah.

    2. Berlaku Adil kepada Seluruh Anggota Keluarga

    Keadilan termasuk salah satu prinsip demokrasi. Contoh nyatanya tercermin dalam keluarga. 

    Sudah semestinya kita memperlakukan keluarga secara adil, baik keluarga inti maupun saudara jauh. Dengan begitu hubungan persaudaraan akan terjalin harmonis.

    3. Menjaga Keamanan dan Ketertiban dalam Masyarakat

    Keamanan dan tatanan dalam masyarakat dipengaruhi oleh warga yang hidup di dalamnya. Apabila terjadi kerusuhan, semua anggota masyarakat memiliki peran dalam bekerja sama untuk menangani situasi tersebut dengan pendekatan kekeluargaan.

    Contoh demokrasi di Indonesia ternyata sederhana dan sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari bukan? Semoga pandangan demokrasi dalam Islam disertai contohnya tersebut dapat menjadikan kita lebih toleran dalam hidup bermasyarakat.

  • Pengertian Islam Menurut Bahasa, Istilah, dan Al-Quran

    Pengertian Islam Menurut Bahasa, Istilah, dan Al-Quran

    Islam adalah salah satu agama dengan pengikut terbanyak di dunia, serta agama yang banyak dianut di Indonesia. Jika ingin mengenal pengertian Islam menurut bahasa dan istilah, simak uraian berikut.

    Kata Islam seringkali orang mengaitkannya dengan kata muslim, padahal keduanya berbeda. Islam adalah agama, sedangkan muslim adalah sebutan bagi orang yang menganut agama Islam itu sendiri.

    Oleh karena itu, penting mengetahui pengertian Islam yang bisa menjadi informasi dan menambah keimanan. Sebab, ada makna yang baik terdapat pada nama Islam. Yuk, simak penjelasan yang lengkapnya di bawah ini.

    Pengertian Islam Menurut Bahasa dan Istilah

    Agama memiliki peran sangat penting dalam kehidupan individu dan masyarakat. Islam adalah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi pedoman seluruh manusia hingga akhir zaman.

    Berikut ini adalah pengertian Islam menurut bahasa dan istilah yang perlu kita ketahui sebagai umat muslim. Beberapa arti dan makna Islam menurut bahasa yang memiliki nilai hidup, yaitu di antaranya:

    1.  Islam Berasal dari Kata ‘salm’ Artinya Damai

    Secara bahasa, Islam memiliki sejumlah arti. Dalam bahasa arab berarti mashdar yang berarti patuh, tunduk, taat, dan berserah diri kepada Allah. Adapun penjelasan arti Islam menurut bahasa adalah sebagai berikut:

    “Jika mereka condong kepada perdamaian, condong kepadaNya dan bertawakal kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. 8 : 61).

    Dari ayat di atas, salm memiliki arti perdamaian dan menjadi ciri Islam. Dengan kata lain, Islam adalah agama yang membawa manusia kepada perdamaian.

    2. Islam Berasal dari Kata ‘aslama’ Artinya Berserah Diri

    “Siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia pun berbuat kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Allah mengambil Ibrahim jadi kesayanganNya.” (QS. 4 : 125).

    Penjelasan ayat ini menunjukkan bahwa pengertian Islam menurut bahasa dan istilah adalah orang yang memeluk Islam merupakan orang ikhlas menyerahkan diri hanya kepada Allah SWT.

    Baca juga: 7 Doa untuk Menenangkan Hati dari Sedih dan Gelisah

    3. Islam Berasal dari Kata ‘istaslama-Mustaslimun’ 

    Kata ‘istaslama-Mustaslimun’ artinya adalah penyerahan diri kepada Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran.

    “Bahkan mereka pada hari itu menyerah.” (QS. 37 : 26).

    Dari ayat ini memiliki makna bahwa sebenarnya seorang muslim atau pemeluk Islam diperintahkan menyerahkan diri, mulai dari seluruh jiwa dan raga serta harta yang kita miliki hanya kepada Allah SWT.

    4. Islam Berasal dari Kata ‘salim’ Artinya Suci dan Bersih

    “(Ingatlah) saat ia datang kepada Tuhan dengan hati yang suci.” (QS. 37 : 84).

    Dalam ayat lain disebutkan bahwa:

    “Kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. 26 : 89).

    Dari kedua ayat di atas menunjukan bahwa Islam adalah agama yang suci dan bersih. Setiap pemeluk memiliki kesucian dan kebersihan jiwa yang membawanya kepada kebahagiaan yang hakiki.

    5. Islam Berasal dari Kata ‘salam’ Artinya Selamat dan Sejahtera

    “Semoga keselamatan terlimpah kepadamu, aku akan meminta ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (QS  19 : 47).

    Makna yang terkandung dari ayat yang diucapkan oleh Ibrahim ini bahwa Islam adalah agama yang membawa keselamatan dan kesejahteraan bagi umat.

    Arti Islam Menurut Istilah

    Arti Islam Menurut Istilah

    Pengertian Islam menurut bahasa dan istilah memiliki makna dan arti yang tidak jauh berbeda. Islam adalah ketundukan dan ketaatan dari hamba kepada Allah SWT. Berikut arti Islam secara istilah, di antaranya:

    1. Islam sebagai Wahyu Allah

    Wahyu merupakan perintah Allah yang disampaikan kepada para nabi dan rasul. Begitu pula dengan Nabi Muhammad SAW yang juga mendapatkan wahyu melalui perantara malaikat Jibril.

    “Tiadalah yang diucapkan itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya tiada lain hanya wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. 53 : 3-4).

    2. Islam sebagai Pedoman Hidup

    Islam adalah pedoman hidup manusia dan Al-Quran menjadi sumber utama ajaran Islam. Bahkan, Al-Qur’an menjadi bacaan wajib sekaligus sebagai panduan bagi muslim menjalani kehidupan di dunia.

    “Al-Quran adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” (QS. 45 : 20).

    Baca juga: 6 Doa Meminta Keturunan yang Dipanjatkan Nabi Zakaria dan Nabi Ibrahim

    3. Membimbing Manusia ke Jalan Lurus

    Agama Islam menurut pendapat Abu Shalih dari sahabat Ibnu Abbas bahwa sebagai jalan petunjuk menuju agama Allah. Selain itu, juga sebagai jalan (menuju) surga sebagaimana pendapat dari Ibnu Abbas. 

    “Bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah; dan janganlah kamu mengikuti jalan (yang lain). Karena jalan itu mencerai beraikan dari jalanNya. Karena itu dianjurkan Allah kepadamu agar bertakwa.” (QS. 6 : 153).

    4. Menuju Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

    Islam adalah agama yang membawa pemeluknya menuju jalan kebahagiaan dunia dan akhirat. Manusia mengerjakan kebaikan sesuai syariat Islam, sehingga hidup menjadi tentram dan begitu pula di akhirat nanti.

    “Barang siapa yang melakukan amal saleh, baik laki-laki atau perempuan dalam kondisi beriman, maka sesungguhnya akan Kami beri kehidupan yang baik, dan sesungguhnya Kami akan beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. 16 : 97).

    Pengertian Islam Menurut Al-Quran

    Setelah mengetahui pengertian Islam menurut bahasa dan istilah, selanjutnya kita ketahui juga arti Islam berdasarkan Al-Quran sebagai pedoman hidup manusia. Islam dalam Al-Quran di surah Al-Maidah artinya:

    “Pada hari ini sudah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan untukku agamaku, cukupkan kepadamu nikmatKu, dan sudah Ku ridhai Islam jadi agama bagimu.” (QS Al-Maidah ayat 3).

    Selain itu, dalam surah Al-Imran ayat 9 disebutkan:

    “Sesungguhnya agama di sisi Allah hanhalah Islam.”

    Dalam surah Al-Imran ayat 85 juga disebutkan:

    “Dan siapa saja yang menggali agama di samping Islam, maka tidak akan diterima darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.”

    Pengertian Islam Menurut Hadits

    Setelah mengetahui pengertian Islam menurut bahasa dan istilah serta sesuai ayat dalam Al-Quran, ketahui arti Islam menurut hadits. Dalam hadits, Rasulullah pernah menjelaskan arti dan makna Islam.

    Ketika itu, malaikat Jibril datang menghampiri Nabi Muhammad SAW, Kemudian bertanya mengenai Islam dan meminta suatu keterangan dari Rasulullah.

    Sebagaimana Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata:

    “Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah, tiba-tiba hadir sosok laki-laki dengan pakaian paling putih, rambutnya paling hitam, pada dirinya tidak terlihat firasat seorang musafir, 

    Namun, tidak ada seorangpun dari kami mengenalnya. Hingga ia duduk di sekitar Nabi. Dia menempelkan lututnya ke lutut Nabi dan menempatkan telapak tangannya di atas paha Nabi.

    Dia berkata: Wahai Muhammad, sampaikanlah padaku tentang Islam? Rasulullah menjawab: Islam adalah engkau bersyahadat sesungguhnya tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, bayar zakat, puasa Ramadhan, dan menunaikan haji ke Baitullah jika Anda mampu melaksanakannya.” (HR. Muslim).

    Itulah hadist yang menjelaskan Islam, sebagaimana Rasulullah sampaikan kepada malaikat Jibril yang menanyakan mengenai Islam kepadanya.

    Prinsip Dasar Islam yang Wajib Diketahui

    Pengertian Islam menurut bahasa dan istilah dengan hadits dan Al-Quran memang memiliki arti dan makna yang membawa manusia kepada kebaikan. Selain itu, ada sejumlah prinsip dasar Islam yang perlu diketahui.

    Prinsip dasar Islam merupakan hal yang penting umat muslim ketahui. Dengan mengetahui, kita semakin yakin bahwa Islam bisa memberi pertolongan dan menyelesaikan setiap masalah hidup manusia.

    Berikut adalah beberapa prinsip dasar Islam, di antaranya:

    1. Ilmu

    Dalam Islam, ilmu adalah pengetahuan atas segala sesuatu hal yang sesuai dengan syariat Islam dan bersifat yakin lagi pasti. Ilmu dalam Islam di sini adalah mengenal Allah dan Rasulullah serta agama Islam.

    Secara umum, ilmu dalam Islam bersifat umum dan ada juga yang perlu penelitian. Ada pepatah mengatakan bahwa ketika seseorang berilmu, maka seharusnya ia bisa semakin merunduk seperti ibarat padi.

    2. Amal

    Setelah memiliki ilmu atau pengetahuan yang cukup, maka ada konsekuensi untuk mengamalkannya. Ada banyak cara untuk mengamalkan ilmu, salah satunya adalah dengan melakukannya karena Allah SWT.

    Pengamalan ilmu yang benar yakni dengan melakukan ketaatan kepada Allah, melaksanakan segala perintahNya, dan menjauhi semua larangan-Nya. Dengan begitu, amal akan menjadi buah manis dari pada ilmu.

    3. Kesabaran

    Sabar dalam Islam adalah suatu sikap menahan emosi dan juga hawa nafsu dari keinginan. Orang sabar harus mampu bertahan situasi sulit dan tidak mengeluh seperti mencari rezeki, mencari ilmu, dan sebagainya.

    Kesabaran sendiri terbagi menjadi tiga jenis, yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar menjauhi maksiat, dan sabar menerima ketentuan Allah SWT. Sebagai umat muslim harus mengerti akan hal itu.

    4. Akal

    Setiap manusia diberikan akal dan juga pikiran, sehingga harus mampu memisahkan antara yang haq dan bathil. Manusia harus bisa memilih mana yang baik dan yang merugikan bagi dirinya dan orang lain.

    Oleh karena itu, dalam makna Islam menyebutkan bahwa ketika ingin mendapat keselamatan dan kesejahteraan hidup, maka menjaga akal dan pikiran menjadi suatu hal yang penting dalam menjalani kehidupan.

    4. Bersyukur

    Setiap muslim pasti meyakini adanya karunia Allah SWT dalam hidupnya. Oleh karena itu, seorang muslim senantiasa sangat bersyukur kepada Allah yang sudah memberinya petunjuk dan rahmat ke dalam Islam.

    Allah SWT telah menyatakan Islam adalah sebagai karunia-Nya yang terbesar, yang Dia berikan kepada hamba-Nya. Maka dari itu, setiap muslim harus selalu bersyukur atas segala nikmat dan karunia Allah SWT.

    Tingkatan Islam dalam Agama

    Mengenal agama Islam adalah salah satu landasan dasar dari prinsip Islam. Terdapat tiga tingkatan Islam pada agama ini, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan berikut ini.

    1. Islam

    Adapun tingkat pertama adalah Islam, di mana Islam memiliki 5 rukun yang yang dijalankan manusia. Adapun lima rukun Islam adalah sebagai berikut:

    1. Bersyahadat
    2. Menegakan Sholat
    3. Puasa di bulan Ramadhan
    4. Membayar Zakat
    5. Ibadah haji bagi yang mampu

    2. Iman

    Iman adalah mencakup perbuatan dan perkataan yakni meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan perbuatan. Iman akan bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan dosa.

    3. Ihsan

    Ihsan merupakan tingkatan agama yang memiliki satu rukun yakni beribadah kepada Allah maka akan melihat-Nya. Jika tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah SWT melihatmu dalam beribadah kepada-Nya.

    Demikian informasi tentang pengertian Islam menurut bahasa dan istilah, serta pengertiannya sesuai Al-Quran dan Hadits. Hal ini penting diketahui agar senantiasa selalu menjalankan ibadah kepada Allah SWT.

  • Mengenal Buraq, Kendaraan Nabi Muhammad SAW Saat Isra Mi’raj

    Mengenal Buraq, Kendaraan Nabi Muhammad SAW Saat Isra Mi’raj

    Isra Mi’raj adalah peristiwa bersejarah yang sangat penting dalam agama Islam. Salah satu elemen yang memainkan peran penting dalam perjalanan ini adalah kendaraan yang digunakan oleh Rasulullah SAW dalam peristiwa tersebut, yaitu Buraq. 

    Pada saat itu, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan malam yang luar biasa dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem. Kemudian Rasulullah dibawa ke atas langit yang lebih tinggi untuk berjumpa dengan Allah SWT.

    Dalam artikel kali ini, kami akan menjelaskan dengan rinci tentang kendaraan yang ditumpangi oleh Rasulullah dan peran pentingnya dalam Isra Mi’raj. Untuk itu, mari simak bersama ulasan tentang kendaraan tercepat tersebut berikut ini!

    Mengenal Apa itu Buraq?

    Buraq adalah salah satu makhluk surgawi yang digunakan oleh Nabi Muhammad SAW selama peristiwa Isra Mi’raj berlangsung. Kata tersebut berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti “kilat” atau “cahaya”.

    Hal itu sesuai dengan kutipan buku tentang Isra’ Mi’raj dari Ibnu Hajar Al-Asqalani , Jalaluddin As-Suyuti, dan Fedrian Hasmand yang menyatakan bahwa kata “Buraq” merupakan turunan dari “al-barq” yang memiliki arti “kilauan”.

    Buraq sendiri digambarkan sebagai makhluk yang lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari kuda, dengan sayap seperti burung di punggungnya. Makhluk ini memiliki ciri khas bercahaya dan bergerak sangat cepat.

    Karena kecepatannya, peristiwa Isra’ Mi’raj yang memiliki jarak sangat jauh bisa selesai hanya dalam satu malam. Hal itu dimulai dari Masjidil Haram di Mekkah, menuju Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, lalu naik ke lapisan langit tertinggi.

    Sosok makhluk yang sangat cepat ini juga sempat dijelaskan dalam sebuah hadist. Rasulullah SAW bersabda:

    “Dibawakan kepadaku Buraq-sejenis hewan berwarna putih, tubuhnya lebih besar daripada keledai dan lebih kecil daripada bagal (binatang hasil kawin silang antara kuda dengan keledai) yang langkah kakinya sejauh matanya memandang.”

    “Aku pun mengendarainya sampai tiba di Baitul Maqdis. Buraq itu kutambatkan dengan tali yang digunakan oleh para nabi (untuk menambatkan hewan tunggangan mereka). Kemudian aku masuk Masjidil Aqsha dan kudirikan shalat dua rakaat di sana.” 

    “Setelah aku keluar, Malaikat Jibril A.S membawakan ke hadapanku segelas arak dan segelas susu. Aku lantas memilih susu. Jibril pun berkata, “Engkau telah memilih fitrah.” Selanjutnya kami dinaikkan ke langit terdekat (pertama).”

    Dalam hadits lain riwayat Ma’mar dari Qatadah, dari Anas R.A. juga disebutkan bahwa Rasulullah SAW sempat kesulitan saat ingin menaiki kendaraan ini:

    “Pada malam Isra`, Buraq dihadirkan kepada Rasulullah SAW dalam keadaan sudah dilengkapi pelana dan tali kekang. Tapi beliau kesulitan untuk menaikinya. Jibril pun berkata kepada Buraq, ‘Apa yang menyebabkan kamu bertingkah seperti ini?” 

    “Demi Allah! Tidak ada seorang pun yang mengendaraimu yang lebih mulia daripada dia (Nabi Muhammad SAW).’ Ia (Buraq) pun bersimbah keringat.”

    Tirmidzi meriwayatkan hadits di atas dan mengatakan bahwasanya hadist di atas hasan gharib. Sedangkan Ibnu Hibban menilai bahwa hadits tersebut adalah sahih.

    Peran Buraq dalam Isra Mi’raj

    Buraq memainkan peran yang sangat penting dalam peristiwa Isra Mi’raj. Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Masjidil Aqsa setelah melakukan perjalanan dari Mekah dalam sekejap mata, kendaraan itulah yang membawanya ke langit lebih tinggi.

    Hewan tersebut merupakan alat transportasi surgawi yang memungkinkan Nabi Muhammad SAW untuk mencapai tempat-tempat suci dan mendekatkan diri dengan Allah SWT, bahkan hingga ke langit tertinggi sekalipun.

    Selama perjalanan Isra’ Mi’raj melalui berbagai lapisan langit, Nabi Muhammad SAW berhenti di beberapa tempat, bertemu dengan para nabi sebelumnya, dan menerima berbagai wahyu dari Allah SWT. 

    Salah satunya adalah pertemuannya dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya yang juga disebutkan dalam sebuah hadits:

    فَأَتَيْتُ عَلَى عِيسَى وَيَحْيَى، فَقَالاَ: مَرْحَبًا بِكَ مِنْ أَخٍ وَنَبِيٍّ.

    Artinya:

    “Lalu aku bertemu dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya. Maka keduanya berkata, ‘Selamat datang saudara dan Nabi.”

    Kendaraan tersebut juga membawa Nabi Muhammad SAW melalui tujuh langit dan akhirnya sampai ke Sidratul Muntaha, yang merupakan titik akhir dari perjalanan ini. Di sinilah Rasulullah mendapatkan perintah shalat secara langsung dari Allah SWT.

    Baca juga: Hukum Chatting dengan Lawan Jenis Menurut Islam

    Deskripsi Lebih Lanjut tentang Buraq

    Buraq memiliki beberapa ciri-ciri unik yang membuatnya istimewa. Selain cahayanya yang berkilauan, kendaraan ini juga memiliki sayap yang memungkinkannya untuk terbang dengan cepat melintasi langit-langit. 

    Selain itu, Buraq dikatakan memiliki wajah yang sangat tampan dan indah. Kecepatan Buraq juga patut dicatat. Dikatakan bahwa Buraq dapat menempuh jarak yang sangat jauh dalam waktu yang sangat singkat. 

    Hal ini memungkinkan Nabi Muhammad SAW untuk mengunjungi banyak tempat suci dalam perjalanan Isra Mi’raj tanpa harus menghabiskan waktu yang lama. Di dalam surah Al-Ma’arij Allah menyebutkan:

    تَعْرُجُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ إِلَيْهِ فِى يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُۥ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

    Ta’rujul-malā`ikatu war-rụḥu ilaihi fī yauming kāna miqdāruhụ khamsīna alfa sanah

    Artinya:

    “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.”

    Dari penggalan ayat di atas dapat kita ketahui bahwa lapisan langit sangatlah tebal dan membutuhkan waktu hingga puluhan ribu tahun dunia untuk bisa melaluinya. Akan tetapi, kendaraan yang ditunggangi Rasulullah bisa melampauinya dengan cepat.

    Maka, hanya dengan imanlah kita bisa meyakini peristiwa Isra’ Mi’raj ini. Abu Bakar Ash Shiddiq juga telah mencontohkan hal tersebut, di mana ia mengatakan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj adalah semata-mata karena kehendak dari Allah SWT.

    Pasalnya, jika kita mengasosiasikannya dengan ilmu pengetahuan atau sains, maka akal manusia tidak akan bisa membayangkan peristiwa tersebut. Berbagai teori dari para ilmuwan juga akan mengatakan bahwa hal itu adalah mustahil.

    Bahkan, ilmuwan Einstein juga menyatakan bahwa jasad manusia atau benda-benda lainnya mustahil untuk bergerak mendekati atau bahkan menyamai kecepatan cahaya. Kalaupun bisa, maka benda tersebut akan terurai.

    Makna dan Simbolisme Buraq

    Buraq memiliki makna dan simbolisme yang mendalam di dalam ajaran agama Islam. Kendaraan ini melambangkan kecepatan dan kemampuan untuk mencapai tingkatan spiritual yang tinggi. 

    Perjalanan Nabi Muhammad SAW dengannya juga menggambarkan penghubung langsung antara manusia dan Allah SWT. Ini adalah pengalaman luar biasa yang menunjukkan kedekatan Nabi dengan Sang Pencipta.

    Selain itu, hewan ini juga menjadi simbol persatuan antara Mekah dan Yerusalem, dua tempat suci dalam Islam. Perjalanan ini menggarisbawahi pentingnya kedua tempat tersebut dalam agama Islam dan hubungan yang erat antar keduanya.

    Dalam perjalanan Isra Mi’raj, Buraq adalah kendaraan surgawi yang membawa Nabi Muhammad SAW melintasi langit-langit menuju Sidratul Muntaha. 

    Kendaraan ini memiliki ciri-ciri unik dan simbolisme dalam agama Islam, melambangkan kecepatan, kedekatan dengan Allah, dan persatuan antara tempat-tempat suci. 

    Perjalanan ini adalah salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam dan menunjukkan betapa istimewanya Buraq dalam membantu Nabi dalam pencapaiannya.

  • 10 Tokoh Pembaharuan Islam di Indonesia, Yuk Simak

    10 Tokoh Pembaharuan Islam di Indonesia, Yuk Simak

    Sejarah Islam di Indonesia tidak terjadi selama satu malam tapi sangatlah panjang. Islam masuk pertama kali ke tanah air pada abad ke-13. Dalam kurun waktu tersebut, banyak tokoh pembaharuan Islam di Indonesia yang berperan.

    Setiap tokoh memberikan pembaharuan yang berbeda dan melekat di Indonesia.

    Tidak sekedar mengajarkan syariat Islam, para tokoh juga berperan penting dalam kemajuan pendidikan, budaya, politik, kesehatan, dan masalah sosial.

    Apa itu Gerakan Pembaharuan Islam?

    Gerakan pembaharuan Islam adalah ajaran Islam yang tidak bergerak secara statis melainkan dinamis mengikuti zaman. Akan tetapi, ajaran agama yang diberikan tetap berpedoman pada as-Sunnah dan Al-Qur’an.

    Latar belakang utama munculnya pembaharuan Islam tidak lain karena krisis atau kemunduran yang terjadi di berbagai bidang pada abad ke-18 M. Kemunduran yang terjadi mulai dari bidang ekonomi, budaya, politik, ilmiah, hingga sosial.

    Krisis yang terjadi membutuhkan penanganan yang tepat hingga kemudian munculah era pembaharuan Islam yang kemudian melahirkan banyak tokoh pembaharuan.

    Menariknya, tokoh pembaharuan Islam tersebar luas di berbagai negara mulai dari Mesir, Turki, India-Pakistan, hingga Indonesia.

    Bukti dari perkembangan atau era pembaharuan Islam di tanah air bisa kita temukan dari berdirinya Sarekat Islam, Muhammadiyah, serta NU.

    Selain itu, pembaharuan Islam juga semakin maju berkat berdirinya pusat pendidikan Islami. Jumlahnya bukan hanya satu saja tapi banyak dan tersebar luas di seluruh Indonesia.

    Ketahui 10 Tokoh Pembaharuan Islam di Indonesia

    Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah muslim terbanyak di Indonesia. Tidak mengherankan jika pada akhirnya jumlah tokoh pembaharuan Islam di tanah air cukup banyak.

    Mau tahu latar belakang dan pengaruh sepuluh tokoh pembaharuan Islam di Indonesia? Simak selengkapnya berikut ini:

    1. KH. Ahmad Dahlan

    1. KH. Ahmad Dahlan

    KH. Ahmad Dahlan dikenal sebagai pendiri organisasi Islam Muhammadiyah yang berdiri di Yogyakarta sejak 18 November 1912. Muhammadiyah bergerak dalam berbagai bidang mulai dari pendidikan, kesehatan, politik, dan kemasyarakatan.

    Sejak pertama kali hadir dan berkembang, Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi yang melakukan pembaharuan Islam.

    KH. Ahmad Dahlan lahir dari keluarga yang taat beragama. Beliau memperoleh didikan agama dan bahasa Arab secara langsung di pondok pesantren.

    Di usianya yang menginjak 15 tahun, KH. Ahmad Dahlan menetap di Mekah sehingga pemikirannya tentang pembaharuan Islam mulai bermunculan.

    KH. Ahmad Dahlan berpikir untuk melakukan pembaharuan Islam di Yogyakarta, yang mana masih sangat kental dengan formalisme dan sinkretisme.

    Baca juga: Bacaan Bilal Tarawih untuk 8, 11, dan 23 Rakaat dengan Latin dan Artinya

    2. KH. Hasyim Asy’ari

    2. KH. Hasyim Asy’ari

    Tokoh pembaharuan Islam di Indonesia berikutnya adalah KH. Hasyim Asy’ari. KH. Hasyim Asy’ari hadir sebagai pendiri NU salah satu organisasi Islam yang juga sangat populer di tanah air.

    NU hadir untuk mempertahankan tradisi keislaman yang sudah menjadi identitas lama di tanah air. Tradisi yang dimaksud di antaranya adalah ziarah kubur, mazhab fiqih, tasawuf, tarekat, dan sebagainya.

    KH. Hasyim Asy’ari dilahirkan di Jombang, Jatim. Beliau merupakan keturunan langsung dari Sunan Ampel Denta salah satu Wali Songo di Indonesia. Di usia mudanya, KH. Hasyim Asy’ari memperoleh pendidikan langsung dari orangtuanya.

    Namun, menginjak usia 20 tahun beliau berangkat untuk mengenyam pendidikan di Mekah. Sepulangnya ke Indonesia, KH. Hasyim Asy’ari mendirikan ponpes Tebuireng.

    Selain dikenal sebagai tokoh pendidikan, KH. Hasyim Asy’ari juga merupakan penulis yang sangat mahir. Berbagai kitab berhasil ditulisnya termasuk kitab tentang tauhid, hadis, fiqih, tasawuf, akhlak, tafsir, dan juga sejarah Islam.

    3. Syekh Ahmad Surkati

    3. Syekh Ahmad Surkati

    Syekh Ahmad Surkati merupakan salah satu tokoh pembaharuan Islam di Indonesia yang dikenal karena berhasil mendirikan organisasi Islam yakni Al-Irsyad.

    Misi utama Al-Irsyad adalah membantu penyebaran Islam di tanah air yang sesuai dengan ketentuan hadits serta Al-Qur’an. Peran paling besar yang bisa kita rasakan dari Al-Irsyad adalah berdirinya sekolah modern Islami di Indonesia.

    Syekh Ahmad Surkati lahir tahun 1875 di Pulau Arqu, Dunggulah, Sudan. Di Jawa, Syekh Ahmad Surkati sangat dihormati dan menjadi ulama yang sangat besar.

    Beliau merupakan guru besar bagi KH. Mas Mansur, KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahid Hasyim. Semasa hidupnya, beliau banyak mengikuti perdebatan isu keislaman yang membuatnya semakin dikenal oleh publik.

    4. Ahmad Hassan

    4. Ahmad Hassan

    Sebagai umat muslim, kita mungkin mengenal nama ini dengan baik sebagai tokoh Persis. Persis merupakan organisasi Islam yang lahir dan berkembang di Bandung.

    Latar belakang lahirnya Persis tidak lain untuk pembaharuan Islam yang disesuaikan dengan ketentuan hadis dan Al-Qur’an. Persis tidak hanya aktif dalam bidang keislaman tapi juga aktif di bidang pendidikan, budaya, politik, sosial, dan lainnya.

    Sebelum kemerdekaan RI, Persis menjadi salah satu organisasi yang cukup kritis terhadap pemerintahan kolonial Belanda.

    Ahmad Hasan lahir atau dilahirkan dengan nama Hasan Abdullah Baqir, lahir di keluarga dengan ilmu agama yang kental. Sebelum melanjutkan pendidikan ke Mekah, Ahmad Hasan menerima pendidikan langsung dari sang Ayah.

    Ayahnya merupakan ulama besar Baghdad yang hijrah dan menetap di Cirebon. Selama berada di Mekah, Ahmad Hasan banyak belajar tentang ilmu agama bersama para ulama besar.

    Di Indonesia, Ahmad Hasan bergabung dengan Persis pada tahun 1921. Beliau berperan sangat besar terhadap pembaharuan Islam karena tulisannya tentang isu keislaman yang diterbitkan di majalah Persis.

    5. Syekh Abdul Karim Amrullah

    5. Syekh Abdul Karim Amrullah

    Syekh Abdul Karim Amrullah yang juga lebih dikenal dengan julukan Haji Rasul merupakan ulama yang sangat terkenal di Indonesia. Beliau dikenal sebagai pendiri Sumatera Thawalib.

    Apa itu Sumatra Thawalib? Sumatera Thawalib adalah sekolah Islam modern pertama yang bisa kita temukan di tanah air.

    Syekh Abdul Karim Amrullah lahir dari keluarga muslim yang taat. Di tahun 1894, beliau sengaja dikirimkan oleh ayahnya untuk melanjutkan studi ke Mekah.

    Tahun 1925, Syekh Abdul Karim Amrullah kembali ke Indonesia kemudian mendirikan Muhammadiyah cabang Minangkabau. 

    Nama Syekh Abdul Karim Amrullah semakin besar karena Hamka, putranya yang dikenal sebagai ulama besar Indonesia.

    6. Ahmad Maryani Ismail

    6. Ahmad Maryani Ismail

    Ahmad Maryani Ismail merupakan salah satu ulama karismatik asal Banten yang pernah sangat berpengaruh di zamannya. Ahmad Maryani Ismail sangat menentang kolonialisme dan komunis di tanah air.

    Ahmad Maryani Ismail yang disebut juga sebagai Ahmar atau Ustad Maryani lahir dari keluarga terpandang dan taat beragama.

    Usai menikah dan pindah ke Serang, Ahmad Maryani Ismail mendirikan Kampung Persis. Kampung Persis mengamalkan as Sunnah shahih berikut juga Al-Qur’an.

    7. Buya Hamka

    7. Buya Hamka

    Tokoh pembaharuan Islam di Indonesia berikutnya yang sangat populer adalah Buya Hamka. Beliau merupakan ahli agama, sastrawan, filsuf Indonesia.

    Buya Hamka merupakan nama pena dari Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah Datuk Indomo. Buya Hamka merupakan ketua MUI pertama di tanah air yang juga ikut berpartisipasi di organisasi Muhammadiyah.

    Sejarah Buya Hamka sebagai tokoh pembaharuan Islam tanah air sangatlah panjang. Beliau bahkan pernah di penjara karena dituduh melakukan gerakan subversif.

    Seiring dengan kebebasannya pada tahun 1966, Hamka memilih untuk memusatkan perhatian dan waktunya untuk berdakwah di Masjid Agung Al-Azhar. Beliau juga banyak berceramah di TVRI maupun RRI.

    8. Abdul Wahab Rokan

    8. Abdul Wahab Rokan

    Abdul Wahab Rokan merupakan ulama, seorang sufi, ahli fikih, dan juga Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah yang sangat populer di Sumatera Timur. beliau lahir di Riau pada September 1811.

    Syekh Abdul Wahab memperoleh pendidikan agama yang sangat baik, beliau belajar langsung dari ayahnya kemudian pada guru besar seperti Tuanku Muhammad Shaleh Tambusai serta Syeikh Muhammad Yusuf.

    Syekh Abdul Wahab bertolak ke Mekah tahun 1863 untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menambah pengetahuan agamanya. Beliau menghabiskan waktu beberapa tahun belajar dengan para ulama termasyhur dari Mekah.

    Pulang dari Mekah, Syekh Abdul Wahab membangun perkampungan yang kemudian dinamakan sebagai Kampung Masjid. Tidak puas dengan perkampungan ini, beliau kemudian mendirikan Kampung Babussalam.

    9. Abdullah Gymnastiar

    9. Abdullah Gymnastiar

    Abdullah Gymnastiar atau yang lebih populer dengan nama Aa Gym merupakan seorang penulis buku, pendakwah, penyanyi, pengusaha, sekaligus pendiri Ponpes Daarut Tauhiid.

    Aa Gym mulai dikenal di Indonesia sejak berdakwah pada tahun 2000 di TV Nasional. Uniknya, pembahasan utama yang seringkali Aa Gym sampaikan saat berdakwah adalah tentang keluarga dan ibu rumah tangga.

    Kemudian, kondisi tersebut pula yang membuat Aa Gym terkena kontroversi ketika ketahuan telah berpoligami.

    Dibalik kontroversinya, Aa Gym memiliki latar belakang pendidikan yang sangat bagus. Beliau juga telah berhasil mempublikasikan banyak buku termasuk di dalamnya adalah Syarah Al-Hikam, Hidup adalah Surga, dan sebagainya.

    10. Kyai Haji Abdullah Syafi’i

    10. Kyai Haji Abdullah Syafi’i

    Kyai Haji Abdullah Syafi’i merupakan pendiri pertama dari Perguruan as-Syafi’iyah yang berlokasi di Jakarta. Latar belakangnya dalam organisasi sangat beragam termasuk menjadi Ketua I MUI

    KH. Abdullah Syafi’i merupakan anak yang lahir dari keluarga muslim dengan latar belakang pendidikan keislaman. Selain mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat, beliau juga belajar langsung dari para ulama.

    KH. Abdullah Syafi’i atau Kiai Dulloh mendirikan Madrasah Diniyah pertama kali di usia yang ke-17 tahun. Berawal dari madrasah tersebut, kemudian Kiai Dulloh berhasil mengembangkan Islam dari bidang pendidikan.

    Islam mungkin agama mayoritas di tanah air tapi bukan berarti tidak pernah mengalami kemunduran pada masa-masa tertentu. Karena kondisi yang kurang menguntungkan, para tokoh mengambil sikap dengan melakukan pembaharuan.

    Siapa yang tahu jika gerakan pembaharuan hadir sudah sangat lama, tepatnya pada abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19 Masehi. Gerakan pembaharuan tersebut mengalami pertumbuhan dari abad ke abad.

    Tokoh pembaharuan Islam di Indonesia pun mengalami kemajuan karena teknologi yang semakin berkembang. Setiap tokoh hadir dengan pemikiran yang positif untuk memperluas ajaran Islam di Nusantara.

  • Berasal dari Surga, Ini 5 Manfaat Kayu Gaharu Menurut Islam

    Berasal dari Surga, Ini 5 Manfaat Kayu Gaharu Menurut Islam

    Manfaat kayu gaharu menurut Islam sebenarnya sangatlah banyak. Gaharu adalah salah satu tanaman tropis yang memiliki banyak manfaat dan diakui oleh umat Islam. 

    Salah satu manfaat gaharu menurut Islam adalah untuk ramuan dalam pengobatan.

    Mulai dari daun, akar, kulit batang dan buahnya seringkali digunakan sebagai campuran bahan obat tradisional.

    Manfaat Kayu Gaharu Menurut Islam 

    Di Indonesia gaharu saat ini banyak tumbuh di Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Gaharu merupakan salah satu produk perdagangan yang bernilai sangat tinggi.

    Gaharu juga dikenal sebagai jenis kayu yang banyak sekali digunakan dalam wewangian dan obat tradisional. Definisi lain dari kayu gaharu adalah sejenis flake atau serpihan yang memiliki bau khas ketika dibakar. 

    Berikut ini sudah ada manfaat kayu gaharu menurut Islam yang perlu kamu ketahui:

    1. Bermanfaat sebagai Obat

    Manfaat dari kayu gaharu adalah untuk obat. Kayu gaharu saat ini dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit.

    Misalnya saja seperti sakit kepala, perut kembung, demam dan asma. Sebagai obat, gaharu juga saat ini telah digunakan di Asia Timur. Hal ini tentunya untuk bisa mengobati pusing, mual, sakit perut, dan asma. 

    Di Malaysia, gaharu bisa digunakan sebagai obat rematik, sakit kuning dan pegal-pegal. Gaharu ini diresepkan sebagai karminatif, stimulan, takikardia dan sebagai tonikum.

    Baca juga: Bacaan Dzikir Setelah Sholat Fardu Sesuai Sunnah, Arab, Latin, dan Artinya

    2. Bahan untuk Membuat Parfum

    Aroma gaharu yang khas, tentunya akan membuat tanaman ini biasa digunakan oleh masyarakat di Timur Tengah. Hal ini sebagai bahan pengharum tubuh atau ruangan. 

    Keharuman yang terpancar pada gaharu ini berasal dari kandungan resin yang dikandungnya. 

    Selain itu, gaharu juga digunakan dan dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk pengobatan (terapeutik) atau wewangian (pengasapan jenazah agar harum). 

    3. Konservatif

    Masyarakat yang ada di Asia Timur telah lama mengetahui manfaat kayu gaharu menurut Islam sebagai bahan pengawet parfum atau kosmetik. Hal ini dikarenakan kayu gaharu mengandung zat antioksidan dan antimikroba.

    Dimana kayu ini sangat aman digunakan sebagai bahan pengawet. Hal inilah yang membuat Masyarakat banyak menggunakan gaharu ini.

    4. Lebih Dekat dengan Allah

    Manfaat gaharu menurut Islam berikutnya adalah sebagai sesuatu yang akan membantu orang lebih dekat dengan Allah. Kayu gaharu seringkali digunakan sebagai bahan baku pembuatan tasbih.

    Gaharu juga berfungsi memberikan wewangian saat melakukan ibadah atau peringatan penting. Hal ini tentunya dapat menambah kekhidmatan agar lebih dekat dengan Allah.

    5. Tenangkan Pikiran

    Kegunaan kayu gaharu juga dapat membantu menenangkan pikiran dan mengurangi kecemasan. Hanya dengan menggunakan gaharu dalam bentuk minyak atau parfum tentunya dapat membantu mengurangi stres.

    Selain itu, juga dapat meningkatkan konsentrasi. Gaharu saat ini dapat mengeluarkan aroma khas yang berasal dari kandungan resinnya. 

    Aroma unik ini sebenarnya diketahui berasal dari zat yang dihasilkan oleh bakteri khusus. Bakteri khusus ini dikenal dengan nama Fusarium sp. Oleh karena itu, tidak jarang kayu gaharu ini dapat diolah dan dijadikan sebagai lilin beraroma.

    Semua bagian pohon gaharu diketahui bisa dimanfaatkan. Jadi tidak hanya getahnya saja, tapi semua bagian pohon gaharu bisa dimanfaatkan.  Mulai dari damar hingga batang, bahkan daunnya.

    Semuanya juga sudah memiliki khasiat dan manfaat masing-masing. Contohnya saja batang gaharu bisa langsung diolah menjadi minyak atsiri. Ada juga daun gaharu yang bisa dibuat menjadi teh herbal berkhasiat.

    Baca juga: Bacaan Doa Kehilangan Barang: Arab Latin dan Artinya Allah Ganti Lebih Baik!

    Manfaat Kayu Gaharu dalam Berbagai Tradisi

    Islam sangat mementingkan zat alami dengan makna spiritual dan manfaat kesehatan. Gaharu tidak terkecuali, berikut manfaatnya dalam berbagai tradisi Islam, antara lain:

    1. Digunakan dalam Ritual Keagamaan

    Manfaat bakar kayu gaharu seringkali digunakan dalam upacara keagamaan dan acara penting, menambah rasa sakral pada acara tersebut. Asap dan wanginya dipercaya sekali akan menambah suasana dan meningkatkan rasa khidmat.

    2. Hubungan dengan Nabi Muhammad (SAW)

    Tradisi Islam juga telah menunjukkan bahwa Nabi Muhammad (SAW) menghargai kemenyan dan keharumannya. Tradisi ini semakin memperkuat manfaat gaharu menurut Islam.

    3. Disebutkan dalam Teks Islam

    Manfaat gaharu bukan hanya legenda rakyat. Kayu ini telah disebutkan dalam berbagai teks Islam, lebih lanjut menekankan nilai dan pentingnya dalam komunitas Muslim.

    Akan tetapi, di dalam Islam memberikan penegasan bahwa gaharu hanya boleh dimanfaatkan untuk wewangian bukan untuk tujuan memanggil setan, praktek ilmu sihir, dan segala hal yang Allah larang.

    Syaikh Ali Hasan Al Halabi Al Atsari di dalam Manhajusy Syar’i Fi itsbatil Massi Wash Shor’i, menyebutkan: 

    “Dan tidak diragukan lagi bahwa penggunaan Gaharu (orang jawa biasa memakai menyan-pent) adalah merupakan perbuatan para dukun dalam rangka untuk menghadirkan jin dan setan, serta memanggil mereka dengan niat ini. Maka yang seperti ini TIDAK BOLEH.

    Adapun penggunaan gaharu untuk wewangian dan memanfaatkan bau segarnya tidak ada keraguan sama sekali akan kebolehannya”. (Manhajusy Syar’i Fi Itsbatil Massi Wash Shor’i : 223). 

    4. Digunakan untuk Tasbih

    Manik-manik yang ada pada gaharu, juga sebenarnya dikenal sebagai misbaha atau tasbih, banyak digunakan oleh umat Islam selama doa dan meditasi. Bahkan digunakan untuk memperdalam pengalaman spiritual umat Islam.

    Adapun ciri-ciri pohon penghasil kayu gaharu kayu dari surga, akan dijelaskan di bawah ini:

    1. Daun menguning dan rontok;
    2. Bagian atas (seluruh/batang) pohon kecil dan tipis;
    3. Banyak cabang yang patah;
    4. Batang atau cabang dengan tonjolan. Kulitnya kering, rapuh, dan mudah pecah saat ditarik.
    5. Pohon Gaharu ini sebenarnya dapat tumbuh setinggi puluhan meter dan berdiameter sekitar 40 hingga 60 sentimeter

    Beberapa penjelasan di atas terkait manfaat kayu gaharu menurut Islam memang harus diketahui. Hal ini dilakukan agar tidak salah memanfaatkan gaharu ini di dalam kehidupan sehari-hari.

  • Kisah Nabi Ishaq: Mukjizat Nabi Ishaq, Sejarah, & Perjalanan Dakwah 

    Kisah Nabi Ishaq: Mukjizat Nabi Ishaq, Sejarah, & Perjalanan Dakwah 

    Artikel ini akan membahas kisah Nabi Ishaq. Nabi Ishaq merupakan anak kedua dari Nabi Ibrahim setelah Nabi Ismail. Ia sekaligus menjadi anak pertama dari Siti Sarah, istri pertama Nabi Ibrahim.

    Cerita sejarah Nabi Ishaq tentu patut kita ketahui karena memiliki beberapa hikmah. Salah satunya adalah kesabaran seperti yang terlihat saat Siti Sarah menunggu agar ia bisa memiliki seorang anak seperti Siti Hajar, istri kedua Nabi Ibrahim.

    Kisah kaum Kan’an juga menjadi pokok pembahasan dan juga terkait dengan Nabi Ishaq. Artikel ini ikut menjelaskan bagaimana perjuangan Nabi Ishaq berhadapan dengan kaum Kan’an yang jauh dari Allah.

    Berikut adalah pembahasan kisah nabi Ishaq singkat dan lengkap. Mari kita bahas bersama.

    Rangkuman Kisah Nabi Ishaq

    Pertama, mari kita pahami kisah Nabi Ishaq. Dengan begitu, kita bisa lebih mengerti bagaimana perjuangan Nabi Ishaq dan apa saja hikmah yang bisa didapat.

    Nabi Ibrahim dan Siti Sarah Belum Dikaruniai Anak

    Siti Sarah merupakan istri pertama dari Nabi Ibrahim. Disebutkan bahwa Sarah merupakan wanita tercantik di muka bumi pada masanya. Bahkan kecantikannya itu bisa menandingi Siti Hawa, istri Nabi Adam.

    Meski demikian, ternyata Nabi Ibrahim dan Siti Sarah sama sekali belum memiliki anak. Padahal, usia mereka sudah sangat tua. Nabi Ibrahim sendiri khawatir ia tidak akan memiliki keturunan untuk meneruskan dakwahnya.

    Menjawab kekhawatiran sang suami, Siti Sarah mengizinkannya untuk menikahi wanita lain, lebih tepatnya Hajar yang masih sangat muda. Setelah pertimbangan berat, Nabi Ibrahim akhirnya menyetujui permintaan sang istri pertamanya itu.

    Setelah Nabi Ibrahim dan Siti Hajar menikah, mereka akhirnya memiliki anak bernama Ismail. Hal ini sempat memicu kecemburuan dari Siti Sarah yang berkata tidak siap untuk tinggal serumah dengan mereka.

    Atas perintah Allah, Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail ke Mekkah yang masih belum berpenghuni dan berupa tanah tandus. Meski demikian, Allah memberikan sebuah mukjizat saat Hajar dan Ismail kehausan.

    Kita tentu sudah mengetahui peristiwa saat Siti Hajar yang berlari berkeliling tujuh kali sebelum mukjizat tiba. Begitu juga dengan perintah Allah SWT untuk Nabi Ibrahim agar menyembelih Ismail. Sekarang, mari kita bahas awal cerita kisah Nabi Ishaq.

    Baca juga: Niat Sholat Maghrib Sendiri, Berjamaah, dan Tata caranya

    Kelahiran Nabi Ishaq Menjadi Kabar Gembira

    Meski sudah memiliki Ismail sebagai anak pertamanya, Nabi Ibrahim masih belum memiliki anak dari hasil pernikahan pertamanya. Padahal, ia sudah menginjak usia 100 tahun, usia yang sangat lanjut.

    Saat itu, Ismail berusia 14 tahun, sementara Siti Sarah menginjak usia kurang lebih 90 tahun. Usia Nabi Ibrahim dan Siti Sarah memang sudah berusia lanjut dan tidak mampu lagi memiliki keturunan.

    Suatu hari, terdapat tiga malaikat yang datang bertamu kepada Nabi Ibrahim. Ketiga malaikat itu menyamar sebagai manusia sebelum bertamu untuk menyampaikan dua kabar.

    Nabi Ibrahim pun menyambut mereka dengan senang hati. Ia mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu sebelum memerintahkan Siti Sarah agar menyiapkan hidangan anak sapi gemuk.

    Akan tetapi, ketiga tamu itu ternyata tidak makan dan minum jamuan itu. Mereka justru mengungkapkan diri sebagai para malaikat yang datang dengan dua kabar.

    Pertama, mereka mengatakan kaum Sodom akan mendapat azab yang sangat pedih akibat menolak ajakan Nabi Luth untuk meninggalkan perbuatan keji dan mungkar. Saat itu, mereka sedang menuju lokasi kaum Sodom sebelum berkunjung.

    Kabar gembiranya adalah Siti Sarah akan melahirkan seorang anak dalam waktu dekat. Padahal Siti Sarah sudah berusia 90 tahun dan mandul. Perkataannya diabadikan dalam ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

    قَالَتْ يٰوَيْلَتٰىٓ ءَاَلِدُ وَاَنَا۠ عَجُوْزٌ وَّهٰذَا بَعْلِيْ شَيْخًا ۗاِنَّ هٰذَا لَشَيْءٌ عَجِيْبٌ

    Artinya:

    “Dia (istrinya) berkata, ‘Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua? Ini benar-benar sesuatu yang ajaib’.” (QS. Hud: 72).

    Nabi Ibrahim juga menyambut kabar itu dengan gembira. Ia sudah menanti-nantikan momen terwujudnya memiliki anak dari pernikahan pertamanya itu. Beberapa bulan kemudian, Siti Sarah akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki. bernama Ishaq.

    Kisah kelahiran nabi ishaq diceritakan dalam Al Quran surah Hud ayat 69-74, surat Adz-Dzariyat ayat 24-30, surat Shad ayat 45-47. Ketiga surat dalam Al-Qur’an tersebut juga membahas kisah kelahiran Nabi Ishaq sebagai kebesaran Allah SWT.

    Kisah Nabi Ishaq saat Dewasa

    Kelahiran Ishaq tentu menjadi kabar gembira bagi Nabi Ibrahim dan Siti Sarah. Usaha untuk selalu berdoa pada Allah SWT akhirnya terbayar. Anak mereka itu tumbuh menjadi sangat soleh dan alim.

    Ishaq memiliki sifat-sifat penting yang menjadi idaman bagi Nabi Ibrahim dan Siti Sarah. Ia punya akhlak sangat tinggi, mengajak manusia untuk mengikuti kebenaran, dan mengingat kehidupan akhirat kelak.

    Kemudian, Ishaq akhirnya diangkat menjadi nabi pada usia 40 tahun agar meneruskan dakwah sang ayah, Nabi Ibrahim. Hal itu juga menjadi bukti dari kisah nabi Ishaq dalam Al Quran sebagai berikut:

    اِنَّآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ كَمَآ اَوْحَيْنَآ اِلٰى نُوْحٍ وَّالنَّبِيّٖنَ مِنْۢ بَعْدِهٖۚ وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَعِيْسٰى وَاَيُّوْبَ وَيُوْنُسَ وَهٰرُوْنَ وَسُلَيْمٰنَ ۚوَاٰتَيْنَا دَاوٗدَ زَبُوْرًاۚ

    Artinya:

    “Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya; Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami telah memberikan Kitab Zabur kepada Daud.” (QS. An-Nisa: 163).

    Nabi Ishaq diutus untuk memimpin kaum Kan’an yang berada di wilayah Palestina. Saat itu, kaum Kan’an sama sekali tidak mengenal Tuhan. Inilah momen terpenting dari kisah Nabi Ishaq lengkap.

    Pernikahan Nabi Ishaq dan Cobaannya

    Kisah nabi Ishaq pun berlanjut saat Nabi Ibrahim, sang ayah, sudah memasuki usia yang sangat tua. Ibunya sudah meninggal terlebih dahulu, sementara Nabi Ishaq sendiri belum menikah.

    Awalnya, nabi Ishaq meminta izin pada ayahnya agar bisa menikahi seorang perempuan dari kaum Kan’an. Akan tetapi, permintaan itu berakhir dengan penolakan karena kaum Kan’an masih tidak beriman.

    Terlebih lagi, Nabi Ibrahim juga sangat khawatir dengan keputusan anaknya itu. Ia takut Nabi Ishaq menikah dengan perempuan yang tidak seiman.

    Oleh karena itu, suatu hari Nabi Ibrahim memiliki solusi. Ia meminta seorang pelayannya untuk pergi ke Harran, Irak. Tujuannya agar mendapat perempuan yang bisa menjadi jodoh bagi Nabi Ishaq.

    Pada akhirnya, pelayan itu menemukan seorang perempuan yang tidak lain kerabat keluarga jauh. Ia adalah Rafiqah binti Batnail bin Nahur. Setelah itu, Nabi Ibrahim menikahkan Nabi Ishaq dengan Rafiqah.

    Tidak jauh berbeda dari Siti Sarah, Rafiqah ternyata mengalami mandul. Ini menjadi momen ujian dalam kisah nabi Ishaq. Tidak menyerah pada nasib, Nabi Ishaq dan sang istri terus berdoa pada Allah SWT agar mereka bisa mendapat keturunan.

    Kelahiran Nabi Yaqub jadi Cikal Bakal Nabi dari Kaum Bani Israil

    Pada akhirnya, doa Nabi Ishaq dan istrinya terkabulkan oleh Allah SWT. Rafiqah pun melahirkan putra kembar, yaitu Al-‘Aish dan Yaqub. Ternyata bukan hanya satu, dua putra kembar sudah menjadi kabar yang sangat menggembirakan.

    Seperti yang kita ketahui, Yaqub kemudian menjadi nabi sama seperti sang ayah. Ia diutus pada kaum Bani Israil demi meneruskan dakwah sang ayah untuk menyebarkan kebenaran.

    Nabi Yaqub juga menjadi awal dari masa depan nabi dari kaum Bani Israil. Pertama, ia mendapat anugerah berupa putra bernama Yusuf. Kemudian, muncullah beberapa nabi lain dari keturunan Bani Israil seperti Ayyub, Musa, Daud, Sulaiman, dan Isa.

    Sementara itu, Al-‘Aish sering sekali disebut-sebut sebagai cikal bakal dari bangsa Romawi atau lebih tepatnya Bani Ashfar. Ashfar memiliki arti warna kuning karena warna kulit Al-‘Aish.

    Konflik Al-‘Aish dan Yaqub

    Kedua anak Nabi Ishaq yang menjadi cikal bakal kedua bangsa berbeda ternyata terpicu oleh sebuah perseteruan. Konflik tersebut menjadi satu lagi momen terpenting dari kisah Nabi Ishaq. Nabi Ishaq saat itu sudah berusia sangat lanjut.

    Suatu hari, Nabi Ishaq meminta Al-‘Aish untuk memasak makanan kesukaannya dari hasil buruan itu. Pada saat yang sama, Rafiqah meminta Yaqub agar menyajikan makanan kesukaan Nabi Ishaq.

    Tidak tanggung-tanggung, Rafiqah menyuruh Yaqub mengenakan pakaian milik Al-‘Aish. Ia juga memasangkan kulit domba di tangan dan leher anaknya itu.

    Karena Nabi Ishaq sudah sangat tua, penglihatannya pun menurun. Saat itulah menjadi momen dirinya mengira Yaqub adalah Al-‘Aish berdasarkan rabaan tubuh anaknya itu.

    Yaqub pun menyajikan makanan favorit sang ayah itu. Akan tetapi, Nabi Ishaq merasakan ia sedang di dekat Al-‘Aish namun suaranya dari Yaqub.

    Ia pun mengucapkan doa agar putranya itu selalu mendapat ilmu dan rezeki melimpah, kebaikan, serta menjadi panutan bagi saudara sekaligus keturunannya.

    Al-‘Aish pun tiba tidak lama setelah Yaqub pergi dengan hidangan sesuai permintaan sang Ayah. Akan tetapi, ia tercengang bahwa Nabi Ishaq sudah menikmati hidangan buatan Al-‘Aish yang ternyata tak lain adalah Yaqub.

    Tidak terima dengan kenyataan itu, Al-‘Aish menjadi murka dan ingin membunuh saudara kembarnya sendiri. Tidak lama setelah itu, Rafiqah meminta Yaqub agar pergi ke Irak untuk menuju rumah pamannya.

    Konflik Al-‘Aish dan Yaqub yang berdampak pada masa depan umat manusia tentu bukan menjadi akhir dari kisah Nabi Ishaq. Tentunya, kita harus mengetahui bagaimana perjalanan dakwah dan mukjizatnya.

    Perjalanan Dakwah Nabi Ishaq

    Seperti yang kita ketahui sebelumnya, Nabi Ishaq mendapat perintah agar memimpin kaum Kan’an di daerah Palestina. Ia juga menjadi penerus Nabi Ibrahim, sang ayah, dalam menyebarkan kebenaran dan ajaran Allah SWT.

    Ternyata Nabi Ishaq memiliki kecerdasan yang luar biasa dalam menyampaikan ilmu dari Allah SWT. Tidak hanya itu, ia juga terkenal sebagai sosok Nabi yang sangat ramah, menjadikan banyak dari kaum Kan’an sangat menghormatinya.

    Kisah Nabi Ishaq dan kaumnya menjadi bukti bahwa ia sangat cerdas dalam memahami kaumnya. Tidak heran ia menjadi sosok yang terkenal dan penuh hormat.

    Mukjizat Nabi Ishaq

    Sebagai nabi, Ishaq tentu memiliki mukjizat dan keistimewaan sama seperti yang lainnya. Umat manusia belum banyak mengetahui hal tersebut. Ternyata, semuanya berawal dari kabar kelahirannya dari para malaikat pada Nabi Ibrahim dan Siti Sarah.

    Nabi Ishaq juga memiliki kecerdasan yang luar biasa. Tidak hanya itu, ia memiliki akhlak yang sangat tinggi. Kisah Nabi Ishaq dan mukjizatnya tercantum pada ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

    “Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (QS. Shaad: 45-47)

    Terakhir, kedua anaknya, Yaqub dan Al-‘Aish, menjadi cikal bakal dua bangsa yang berbeda, yaitu Bani Israil dan Romawi. Tentunya, keduanya memiliki dua iman yang berlawanan. Hal ini tercantum pada ayat Al Quran sebagai berikut:

    وَبٰرَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلٰٓى اِسْحٰقَۗ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَّظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ مُبِيْنٌ ࣖ

    Artinya:

    “Dan Kami limpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Ishaq. Dan di antara keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” (QS. Ash-Shaffat: 113).

    Hidayatul Insan menafsirkan ayat Al-Qur’an itu sebagai petunjuk bahwa keturunan Nabi Ismail dan Nabi Ishaq mendapat keberkahan. Keberkahan itu berbentuk iman, ilmu, akhlak, dan keturunan para nabi.

    Itulah mengapa Nabi Ibrahim memiliki tiga keturunan yang menjadi cikal bakal kaum masing-masing. Ketiganya adalah bangsa Arab dari keturunan Ismail, bangsa Bani Israil dari Yaqub, dan bangsa Romawi dari Al-‘Aish.

    Meski namanya sering sekali ada di Al-Qur’an, ternyata tidak banyak kisah Nabi Ishaq yang tercantum di sana, terutama perjalanan dakwah. Al-Qur’an hanya mencantumkan kisah kelahiran dan kematiannya.

    Wafatnya Nabi Ishaq

    Menjelang kematian Nabi Ishaq, Al-‘Aish dan Yaqub diceritakan sudah akur kembali. Meski begitu, ia akhirnya meninggal pada usia seratus delapan puluh tahun.

    Yaqub kemudian menjadi penerus sang ayah dalam menyebarkan agama Islam. Ia juga mendapat utusan dari Allah untuk menjadi seorang nabi. Seperti yang kita ketahui, Yaqub juga menjadi cikal bakal Bani Israil.

    Itulah akhir dari kisah Nabi Ishaq lengkap dari lahir sampai wafat.

    Hikmah dari Kisah Nabi Ishaq

    Setelah mengetahui sejarah Nabi Ishaq, kita bisa memetik beberapa hikmahnya. Berikut adalah hikmah penting yang kita patut tiru:

    1. Sayangilah Keluarga dan Saudara

    Kisah Nabi Ishaq telah mengajarkan kita agar selalu sayangi keluarga dan saudara. Hal ini sudah terlihat saat Nabi Ibrahim yang meminta pelayannya untuk mencari calon istri Nabi Ishaq sebagai bukti kasih sayang terbaik.

    Nabi Ishaq juga tetap menyayangi sang istri, Rafiqah, meski mengalami sebuah cobaan. Mereka tetap bersabar dan selalu berdoa penuh harap kepada Allah SWT. Doa dan usaha mereka membuahkan hasil berupa dua anak kembar.

    Kemudian, Nabi Ishaq mengajarkan kedua anaknya tentang akhlak secara penuh kasih. Dari ketiga peristiwa itu, Nabi Ishaq sudah mengajarkan kita agar selalu memberi cinta dan kasih sayang terhadap keluarga dan saudara.

    2. Tidak Dendam

    Dari kisah Nabi Ishaq singkat, kita sudah mengetahui Al-‘Aish memiliki dendam terhadap Yaqub. Padahal keduanya merupakan putra kembar dari Nabi Ishaq.

    Dendam hanyalah memicu masalah baru. Alih-alih menyimpan dendam, kita sepatutnya memaafkan setiap kesalahan keluarga dan saudara. Insya Allah, kehidupan kita akan lebih damai dan tenteram.

    Demikianlah pembahasan kisah Nabi Ishaq beserta mukjizatnya.

  • Kisah Nabi Ayub AS, Teladan Kesabaran terhadap Ujian

    Kisah Nabi Ayub AS, Teladan Kesabaran terhadap Ujian

    Allah SWT melalui Al-Qur’an telah menceritakan beberapa kisah nabi dan rasul sebagai pembelajaran bagi kita. Kisah-kisah ini memberikan inspirasi, meningkatkan iman, dan memberikan petunjuk. Salah satunya kisah Nabi Ayub yang diuji kesabarannya.

    Nabi Ayub terkenal dengan kesabarannya yang luar biasa. Awalnya, Nabi Ayyub a.s. sehat, memiliki harta berlimpah, keluarga, dan banyak keturunan.

    Namun, semua yang dimilikinya diambil satu per satu oleh Allah sebagai bentuk ujian Nabi Ayub.

    Kisah Nabi Ayub, Sabar Menghadapi Ujian yang Luar Biasa

    Allah berkehendak untuk menurunkan ujian kepada hamba-Nya, tidak terkecuali Nabi dan Rasul-Nya. Pada Nabi Ayub, Allah mendatangkan ujian berupa penyakit menular dan kehilangan harta benda serta keluarganya. 

    Bagaimana Nabi Ayub dengan penuh kesabaran menghadapi ujian dari Allah SWT? Berikut kisah ujian yang dihadapi Nabi Ayub a.s.:

    1. Hilangnya Harta Kekayaan

    Ayah Nabi Ayub adalah seorang yang sangat kaya. Dia memiliki berbagai jenis hewan ternak seperti unta, sapi, kambing, kuda, dan keledai. Di wilayah Syam, tidak ada yang bisa menyamai kekayaannya. 

    Setelah ayahnya meninggal, seluruh kekayaannya diwariskan kepada Nabi Ayub. Akhirnya, Nabi Ayub pun merupakan orang yang kaya raya sekaligus dermawan.

    Nabi Ayub dipilih oleh Allah untuk menyampaikan kebenaran kepada umatnya di daerah Hauran dan Tih. Selama misinya, ia menyampaikan berbagai syariat agama dan membangun masjid untuk kaumnya. 

    Di rumahnya, ia juga memiliki beberapa meja makan yang disediakan untuk fakir miskin, tamu, dan orang-orang yang membutuhkan. Ia senang melakukan perbuatan baik seperti membantu anak yatim, para janda, dan memuliakan setiap tamunya.

    Meskipun kekayaannya terus bertambah, Nabi Ayub tetap bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah kepadanya. Dia selalu berzikir dan menyebut nama Allah. 

    Namun, hal itu membuat iblis merasa cemburu dan akhirnya berusaha merusak kebahagiaan Nabi Ayub. Akhirnya iblis naik ke langit ke tujuh dan berkata kepada Allah

    “Tuhanku, sungguh Ayub rajin menyembah-Mu karena Engkau telah memberi keleluasaan hidup dan kesehatan. Kalau sekiranya tidak, tentu dia tidak akan menyembah-Mu.”

    Allah berfirman, “Hai, iblis terkutuk! Kamu pendusta, sesungguhnya Aku lebih mengetahui bahwa Ayub akan tetap menyembah dan bersyukur kepadaKu meskipun dia tidak mempunyai keleluasaan.”

    Mendengar hal tersebut, iblis hendak menggoda Nabi Ayub. Lalu, Allah memberikan izin kepada iblis untuk menguji kesabaran Nabi Ayub. Iblis mengumpulkan pasukan dan merusak rumah serta harta kekayaan Nabi Ayub. Segala kekayaannya tiba-tiba lenyap. 

    Ribuan hewan ternak yang dimilikinya mati secara mendadak. Sementara itu, gudang gandumnya habis terbakar, dan hasil panen dari kebunnya mengering. 

    Akibatnya, Nabi Ayub menjadi sangat miskin dan hidup dalam kesengsaraan. Bahkan, istrinya harus bekerja agar bisa membeli makanan dan merawat Nabi Ayub.

    Baca juga: 10 Dalil Mengenai Hukum Judi dalam Islam, Simak!

    2. Kehilangan Keturunan

    Kisah Nabi Ayub berlanjut saat iblis mulai mengancam nyawa anak-anaknya yang saat itu berada di rumah saudara tertuanya, Hurmula. Pada saat itu, iblis merusak rumah tersebut yang mengakibatkan kematian mereka semua.

    Atas kelakukan tersebut, iblis pun segera mendatangi Nabi Ayub. Lalu iblis berkata, “Hai, Ayyub, lihatlah! Tuhanmu telah merobohkan rumah anakmu hingga anak-anakmu mati. Apakah kamu masih tetap menyembah-Nya?”

    Nabi Ayub pun dengan tegas menjawab, “Hai, iblis terkutuk! Allah yang memberi saya, lalu mengambilnya pula dari saya. Semua harta dan anak adalah ujian bagi manusia. Sekarang Allah telah mengambilnya dari saya sehingga saya bisa bersabar dan tenang untuk beribadah kepada-Nya.”

    Seperti itulah Allah SWT menguji Nabi Ayub dengan ujian berupa kehilangan keturunannya.

    3. Menderita Penyakit Menular

    Dari kedua kisah Nabi Ayub mengenai ujiannya, ternyata iblis masih belum puas. Pada usia 51 tahun, Nabi Ayub diuji kesehatan fisiknya. Ia terserang penyakit kulit yang sangat parah yang menyebabkan keluarnya nanah dari seluruh tubuhnya. 

    Ujian penyakit menular yang diderita Nabi Ayub telah diterangkan dalam Al-Qur’an yaitu sebagai berikut:

    وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

    Wa ayyụba iż nādā rabbahū annī massaniyaḍ-ḍurru wa anta ar-ḥamur-rāḥimīn

    Artinya:

    “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al-Anbiya’: 83).

    Kabar tentang penyakitnya tersebar. Akhirnya Nabi Ayub diasingkan. Cobaan ini berlangsung selama 18 tahun, tetapi Nabi Ayub tidak pernah mengeluh. 

    Ia terus bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah. Bersamaan dengan itu, Nabi Ayub juga terus berusaha dan berobat untuk mencari penyembuhan dari penyakitnya.

    Pada saat menderita penyakit ini, Nabi Ayub hanya tinggal berdua bersama istrinya di pinggiran negeri. Istri Nabi Ayub merupakan contoh istri yang baik. Bahkan ketika suaminya bangkrut dan menderita sakit, ia tetap setia mendampinginya.

    Sang istri berkata kepada Nabi Ayub, “Wahai kekasih Allah, sudah 18 tahun engkau tidak pernah berdakwah lagi. Bagaimana jika engkau meminta kepada Allah untuk menyembuhkan penyakitmu, lalu engkau bisa pergi berdakwah lagi.”

    Mendengar hal tersebut, Nabi Ayub enggan meminta kesembuhan kepada Allah. Nabi Ayub merasa malu lantaran ia mendapat nikmat sehat yang lebih lama daripada saat diberi cobaan sakit selama 18 tahun itu.

    Namun, pada suatu ketika Nabi Ayub akhirnya berdoa memohon kepada Allah SWT agar diberi kesembuhan. Allah menjawab doa Nabi Ayub melalui firman-Nya sebagai berikut.

    ٱرْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَشَرَابٌ

    Urkuḍ birijlik, hāżā mugtasalum bāriduw wa syarāb

    Artinya: 

    “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” (Q.S Shad: 42).

    Allah memancarkan air, Nabi Ayub kemudian mandi dengan air tersebut. Setelah mandi, ia sembuh dan kondisi fisiknya bahkah jauh lebih baik dari sebelumnya. Hal ini dijelaskan juga dalam Al-Qur’an berikut:

    وَوَهَبْنَا لَهُۥٓ أَهْلَهُۥ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنَّا وَذِكْرَىٰ لِأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ

    Wa wahabnā lahū ahlahụ wa miṡlahum ma’ahum raḥmatam minnā wa żikrā li`ulil-albāb

    Artinya: 

    “Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Q.S Shad: 43).

    Lalu Allah SWT meminta Nabi Ayub berjalan keluar sehingga masyarakat melihat bahwa ia sudah sembuh. Esok paginya, masyarakat beramai-ramai membawakannya hadiah. Alhasil, kekayaan Nabi Ayub dikatakan lebih banyak daripada 20 tahun lalu.

    Baca juga: Hukum Menjual Najis, Tinja, Lele yang Makan Tinja, dan Pupuk Kandang

    Hikmah Ujian Nabi Ayub

    Apa saja yang bisa kita petik dari kisah Nabi Ayub tersebut? Setidaknya ada tiga hal penting yaitu sebagai berikut.

    1. Sabar dalam Menghadapi Cobaan

    Nabi Ayub dikatakan merupakan manusia paling sabar dalam menghadapi ujian yang diberikan oleh Allah SWT. Selama 18 tahun ia menderita penyakit menular ditambah kehilangan keluarga serta jatuh miskin. 

    Kesabaran Nabi Ayub bahkan diterangkan dalam Al-Qur’an yaitu sebagai berikut:

    وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَٱضْرِب بِّهِۦ وَلَا تَحْنَثْ ۗ إِنَّا وَجَدْنَٰهُ صَابِرًا ۚ نِّعْمَ ٱلْعَبْدُ ۖ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ

    Wa khuż biyadika ḍigṡan faḍrib bihī wa lā taḥnaṡ, innā wajadnāhu ṣābirā, ni’mal-‘abd, innahū awwāb

    Artinya: 

    “Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).” (Q.S Shad: 44).

    Kesabaran Nabi Ayub ditunjukkan dengan sikap tidak mengeluh, tidak bersedih, dan tidak berputus asa. Bahkan, Nabi Ayub semakin mendekatkan diri dengan terus bermunajat kepada Allah SWT. 

    Dari kisah Nabi Ayub pun kita bisa mengambil pelajaran. Jika sabar menghadapi musibah, Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. 

    2. Ujian Datang sesuai Tingkat Ketakwaan

    Setiap individu akan mendapat ujian sesuai tingkat keimanannya. Semakin tinggi keimanan seseorang, semakin berat pula ujian yang mereka hadapi. Ujian ini adalah cara untuk mengukur dan memahami sejauh mana tingkat keimanan kita.

    Saat menghadapi ujian, ada empat tingkat reaksi manusia. Pertama, yang lemah, mereka cenderung mengeluh kepada orang lain dan tidak mampu menghadapi ujian dengan ketenangan. 

    Kedua, yang bersabar. Mereka menerima ujian dengan ketenangan dan sadar bahwa memang manusia pasti mendapat ujian. Ketiga, yang merasa ridha. Tingkat keimanan lebih tinggi daripada bersabar. Mereka menerima ujian dengan penuh keikhlasan. 

    Terakhir, orang-orang yang bersyukur yaitu mereka yang mampu melihat suatu musibah sebagai anugerah. Mereka bersyukur atas pengalaman dan pelajaran yang mereka dapatkan melalui ujian tersebut.

    Bagi para nabi, ujian yang diberikan Allah SWT memang berat. Namun, yang pasti Allah tidak akan menguji hamba-Nya diluar batas kemampuan kita.

    3. Berdoa kepada Allah SWT dengan Doa yang Baik

    Mendapat ujian tersebut tidak berarti Nabi Ayub menjadi berprasangka buruk. Melainkan sebaliknya, ia tetap berprasangka baik kepada Allah. Ia menyadari bahwa semua milik Allah dan akan diambil kapanpun sesuai kehendak-Nya.

    Sebagaimana dalam Surah Al-Anbiya ayat 83-84 dijelaskan doa Nabi Ayub kepada Allah SWT. Ia tidak henti berdoa untuk kesembuhannya. Meskipun awalnya Nabi Ayub malu lantaran lebih banyak nikmat yang Allah berikan daripada 18 tahun sakitnya.

    Demikian kisah Nabi Ayub. Perjalanan Nabi Ayub menguji kesabarannya yang sangat luar biasa dalam menghadapi ujian dari Allah SWT. Semoga kita dapat mengambil pelajaran berharga dan hikmah yang bisa kita terapkan.

  • Kisah Nabi Saleh AS, Sejarah dan Mukjizatnya dalam Al-Qur’an 

    Kisah Nabi Saleh AS, Sejarah dan Mukjizatnya dalam Al-Qur’an 

    Artikel ini akan membahas kisah nabi Saleh dan kaum Tsamud. Nabi Shaleh sendiri merupakan nabi kelima dari 25 nabi dan rasul. Ia diutus untuk mengajarkan kaum Tsamud yang ternyata masih menyembah berhala.

    Kaum Tsamud sendiri tinggal di kota Hijr, kira-kira antara Suriah dan Arab Saudi saat ini. Mereka memiliki kemajuan dalam teknologi pembangunan rumah megah memiliki kekayaan melimpah.

    Sayangnya, mereka justru menganggap berhala, lebih tepatnya patung buatan sendiri sebagai Tuhan. Tidak heran mereka sangat ingkar kepada Allah SWT. Suatu hari, seekor unta muncul. Nabi Shaleh menyuruh agar tidak membunuh unta itu.

    Jadi apakah munculnya seekor unta menjadi salah satu mukjizat Nabi Shaleh? Apakah kaum Tsamud akan sadar? Mari kita simak kisah Nabi Saleh singkat dan hikmah apa yang bisa dipetik.

    Ringkasan Kisah Nabi Saleh

    Memahami kisah dari Nabi Saleh, bisa membantu kita memahami bagaimana perjuangan serta apa saja hikmah yang bisa diperoleh dari kisahnya. Lebih lengkapnya, bisa cek di sini: 

    Nabi Saleh dan Kaum Tsamud

    Silsilah mengatakan bahwa Nabi Shaleh merupakan keturunan Nabi Nuh. Hal ini karena ayah dari Nabi Shaleh sendiri adalah Ubaid bin Jabir bin Tsamud bin Amr Bin Hisyam bin Sam Bin Nuh Alaihissalam.

    Kita melihat Tsamud dalam nama asli ayah Nabi Saleh, “Ubaid bin Jabir bin Tsamud”, artinya Tsamud memiliki keterkaitan dengan Nabi Nuh. Tsamud sendiri berasal dari keturunan kaum Ad yang beriman, lebih tepatnya kaum Nabi Hud.

    Kita harus ingat bahwa kaum Ad menjadi kaum yang menggantikan kaum Bani Rasib atau kaum Nabi Nuh. Kaum Bani Rasib sendiri binasa akibat banjir besar yang hanya menyisakan sedikit manusia.

    Kaum Ad, yaitu keturunan Sam bin Nuh, justru kembali menyembah berhala dan menjadi angkuh. Mereka menolak ajaran Nabi Hud untuk kembali menyembah Allah. Akhirnya, Allah timpakan azab berupa angin topan sangat dingin pada mereka.

    Nabi Hud dan semua orang beriman selamat karena berlindung di sebuah lembah. Setelah itu, mereka hijrah ke Hadramaut untuk memulai awal yang baru. Sementara orang-orang kafir justru binasa sampai tidak bersisa.

    Menurut penjelasan dari Ibnu Katsir, tempat tinggal kaum Ad yang selamat itu merupakan Al-Hijr. Kaum ini menjadi kaum Tsamud atau kaum Ad yang kedua (Tafsir Ibnu Katsir, 3: 439).

    Tentunya, kaum Tsamud memiliki keterkaitan dengan kisah nabi saleh lengkap dari lahir sampai wafat. Apa yang terjadi pada kaum Tsamud tidak jauh berbeda dari kaum Ad?

    Baca juga: 10 Kata Cinta untuk Suami dalam Islam, Romantis!

    Kaum Tsamud sebagai Kaum Ad yang Kedua

    Pada awal dari kisah Nabi Saleh, kaum Tsamud memiliki beberapa nikmat yang sangat menguntungkan. Mereka pandai mengolah tanah subur dan memiliki kekayaan melimpah dari hasil ternak serta panen.

    Tidak hanya itu, mereka juga maju dalam teknologi pembangunan. Mereka bisa mendirikan banyak bangunan dan rumah sangat megah dari tanah rata. Bangunan-bangunan itu sangat kokoh seperti istana.

    Dari situ, kita bisa lihat kaum Tsamud dalam kisah Nabi Saleh sangat menikmati kehidupan tenteram dan mewah. Mereka juga merasa aman dari segala gangguan alamiah.

    Akan tetapi, kemewahan itu justru menjauhkan mereka dari Allah SWT. Mereka akhirnya kembali menyembah dan memuja berhala. Hal ini tidak jauh dari apa yang kaum Ad lakukan.

    Menyembah berhala bukan satu-satunya hal keji yang mereka lakukan. Perbuatan maksiat lain sangat tidak asing bagi kaum Tsamud. Mereka sering sekali menindas orang miskin di tengah-tengah mereka.

    Kisah Nabi Saleh Mendapat Tugas Mendakwahi Kaum Tsamud

    Nabi Shaleh sendiri merupakan salah satu di antara kaum Tsamud. Ia sangat sedih melihat kaumnya menganggap berhala sebagai Tuhan. Saat ia dewasa, Allah SWT mengangkatnya sebagai nabi dan menyuruh agar mereka kembali beriman.

    Munculnya Nabi Shaleh sebagai utusan Allah SWT juga menjadi pembahasan dalam ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

    وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ

    Artinya:

    “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Saleh berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan pemakmurnya. Karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).’” (QS. Hud: 61).

    Nabi Shaleh juga ingin kaumnya selalu bersyukur karena memiliki berbagai nikmat yang mereka sangat senangi. Perkataannya menjadi abadi sebagai ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

    وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

    Artinya:

    “Dan ingatlah ketika Tuhan menjadikan kamu khalifah-khalifah (yang berkuasa) setelah kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah. Maka, ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” (QS. Al-A’raf: 74).

    Kaum Tsamud Menolak Ajakan Nabi Shaleh

    Seperti yang kita ketahui dari kisah Nabi Saleh dan kaum Tsamud, Nabi Shaleh justru mendapat penolakan dari kaumnya sendiri. Penolakan tersebut tentu tercantum dalam ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

    قَالُوا يَا صَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَٰذَا ۖ أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ

    Artinya:

    “Kaum Tsamud berkata: “Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.” (Q.S Hud: 62).

    Dari ayat Al-Qur’an ini, terlihat kaum Tsamud benar-benar angkuh. Mereka mempertanyakan, menolak, dan mengolok-olok Nabi Shaleh sebagai utusan Allah. Mereka justru tetap bersikukuh untuk menyembah berhala yang mereka buat sendiri.

    Suatu hari, kaum Tsamud menjadi sangat bosan dengan ajakan Nabi Shaleh. Mereka meminta dirinya untuk menunjukkan sebuah bukti kebenaran rasulnya. Ini menjadi awal dari satu lagi momen terpenting dalam cerita kisah nabi Saleh.

    Unta sebagai Bukti Mukjizat Nabi Shaleh

    Menanggapi permintaan kaum Tsamud, Nabi Shaleh berdoa secara khusyuk pada Allah SWT agar mendatangkan sebuah keajaiban. Allah SWT pun mengabulkan permohonannya itu.

    Setelah itu, Nabi Shaleh mengajak kaumnya untuk pergi ke sebuah kaki gunung. Kaum yang kafir itu justru berharap dirinya tidak bisa membuktikan sebuah keajaiban tersebut.

    Sebelumnya, mereka meminta seekor unta tinggi, putih, dan sedang hamil kembar 10 bulan dari sebongkah batu besar sebagai bukti mukjizat dari Nabi Shaleh. Jika benar-benar keluar, mereka akan beriman.

    Permintaan itu justru menjadi kenyataan, mengejutkan kaum Tsamud yang kafir. Seekor unta tinggi, putih, dan sedang hamil keluar dari sebongkah batu besar yang terbelah jadi dua di kaki gunung, persis seperti harapan mereka.

    Momen ini menjadi awal dari kisah Nabi Saleh dan untanya. Semuanya sangat terpana. Ironisnya, sebagian besar justru ingkar janji karena tidak percaya. Sebagian kecil dari kaum itu justru beriman.

    Nabi Shaleh kemudian memberi pesan secara spesifik. Ia meminta kaum Tsamud agar menjaga unta itu baik-baik. Selebihnya, ia juga berharap agar mereka tidak membunuh unta tersebut.

    Terlebih, ia juga mengatakan susu dari unta itu tidak akan habis-habis. Setidaknya, unta tersebut berhak bebas berkeliaran dan meminum air sumur bergantian dengan penduduk.

    Unta itu menjadi bagian dari momen penting kisah Nabi Saleh dan kaumnya. Pasalnya, kaum Tsamud harus tinggal berdampingan dengan unta tersebut sebagai janji pada Nabi Shaleh.

    Kaum Tsamud Membunuh Unta Mukjizat Nabi Shaleh

    Ironisnya, sebagian besar kaum Tsamud justru merasa jengkel dengan kehadiran unta itu. Binatang tersebut justru mengambil minum dari air sumur mereka. Mereka merasa ia merebut bagian dari sumur berisi air minum tersebut.

    Memasuki hari ketiga kemunculannya, unta tersebut akhirnya melahirkan seekor anak. Tetapi hal ini justru semakin membuat murka kaum Tsamud dan memicu sebuah siasat.

    Mereka menyelenggarakan sebuah sayembara untuk melancarkan siasat itu. Siapapun yang berani membunuh unta nabi Shaleh bisa mendapat sebuah hadiah besar. Secara spesifik, hadiah itu merupakan seorang gadis cantik yang akan dinikahi.

    Mushadda bin Muharrij dan Gudar bin Salif menjadi dua pemuda yang berani membunuh unta itu. Unta tersebut akhirnya mati di tangan Mushadda dan Gudar saat ia sedang berjalan menuju sumur. Ini menjadi akhir dari kisah nabi Saleh dan unta.

    Lantas apa yang terjadi dengan anak untanya? Ia kembali masuk ke dalam batu yang pernah mengeluarkan induknya itu.

    Nabi Shaleh sangat murka setelah untanya terbunuh. Kemudian, ia mendatangi kaumnya itu untuk memperingatkan bahwa azab akan datang dalam tiga hari. Sebagaimana yang tercantum pada ayat Al-Qur’an berikut:

    فَعَقَرُوهَا فَقَالَ تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ۖ ذَٰلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوب

    Artinya:

    “Mereka membunuh unta itu, maka berkata Shaleh: ‘Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan’.” (QS. Hud: 65).

    Azab dari Allah SWT untuk Kaum Tsamud

    Kisah Nabi Saleh berlanjut setelah kaum Tsamud mendapat peringatan azab dalam tiga hari setelah membunuh seekor unta. Tiga hari itu menjadi kesempatan bagi mereka agar mereka ingin bertaubat pada Allah dan benar-benar menyesal.

    Sebaliknya, mereka tetap menolak bertaubat. Pada saat yang sama, mereka juga merasa takut dengan perkataan yang terucap Nabi Shaleh. Oleh karena itu, terdapat sekelompok orang kafir yang membuat siasat untuk membunuh Nabi Shaleh.

    Malamnya, mereka tiba rumah Nabi Shaleh untuk membunuhnya. Naas, mereka justru mendapat azab dari Allah berupa hujan batu hingga kepala pecah sebelum niat itu tercapai.

    Akhirnya, tiga hari pun berlalu. Kaum Tsamud yang kafir mendapat azab sesuai janji Nabi Shaleh. Allah memberi mereka siksaan berupa gempa bumi dahsyat dan petir menggelegar. Hanya Nabi Shaleh dan orang-orang beriman yang selamat.

    فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا صَالِحًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَمِنْ خِزْيِ يَوْمِئِذٍ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

    Artinya:

    “Maka, tatkala azab Kami datang, Kami selamatkan Saleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia­lah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Hud: 66).

    Semua orang kafir dari kaum Tsamud akhirnya mati dan binasa. Nabi Shaleh sempat mendatangi mayat-mayat itu. Reaksi perkataannya menjadi abadi dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

    فَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَكِنْ لَا تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ

    Artinya:

    “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.’” (QS. Al-A’raf: 79)

    Inilah menjadi akhir dari kaum Tsamud dari kisah Nabi Saleh.

    Hikmah dari Kisah Nabi Saleh

    Kisah kaum Tsamud yang ingkar pada ajaran Nabi Shaleh tentu mengingatkan kita akan kekuasaan Allah SWT. Terdapat pula beberapa hikmah yang bisa ambil sebagai berikut:

    1. Selalu Bersyukur

    Berdasarkan kisah Nabi Saleh yang telah kita pahami bersama, hikmah pertama memang sudah tidak asing lagi, yaitu selalu bersyukur. Kafirnya kaum Tsamud menjadi pertanda sangat tidak bersyukur dengan kekayaan yang mereka miliki.

    Dari hal ini, kita harus tahu bahwa semua ciptaan di dunia ini adalah ciptaan Allah. Tentunya, seluruh hal yang kita miliki di dunia menjadi tanda kebesaran Allah.

    2. Tidak Sombong

    Penolakan kaum Tsamud terhadap ajaran Nabi Shaleh tentu sudah menjadi pertanda bahwa mereka sombong. Kita bisa lihat mereka juga menantang Nabi Shaleh untuk membuktikan bahwa mukjizat benar-benar nyata.

    Hal ini termasuk menjadi durhaka pada Allah SWT. Kisah Nabi Saleh dan kaumnya mengingatkan agar kita selalu mendengarkan perintah para nabi dan rasul-Nya.

    3. Tidak Ingkar Janji

    Dari cerita singkat kisah Nabi Saleh, bahwa kaum Tsamud mengingkari janji. Lebih tepatnya, sebagian besar dari mereka masih menolak beriman. Bahkan tanpa ragu sekalipun mereka sampai membunuh unta ajaib dari mukjizat Nabi Shaleh.

    Peristiwa terbunuhnya unta itu dan azab pada kaum Tsamud menjadi pengingat bahwa kita harus selalu menepati janji sesuai kesepakatan. Jika tidak, sesuatu yang buruk bisa saja terjadi.

    Demikianlah pembahasan kisah Nabi Saleh dan mukjizatnya.

  • Mengenal Sosok Ibnu Taimiyah, Ulama dan Filsuf Islam yang Inspiratif

    Mengenal Sosok Ibnu Taimiyah, Ulama dan Filsuf Islam yang Inspiratif

    Ibnu Taimiyah merupakan figur yang menarik banyak perhatian. Beliau adalah seorang ulama besar yang terkenal sebagai sosok kontroversial.

    Beliau disebut sebagai ulama paling cerdas pada masanya. Bahkan, belum ada yang menyamai beliau dalam hal hafalan, ilmu, dan amalan. Hasil pemikiran Ibnu Taimiyah menjadi warisan yang sangat berarti bagi umat Islam.

    Mari kita kenali lebih lanjut tentang sosok Ibnu Taimiyah.

    Masa Muda Ibnu Taimiyah

    Ibnu Taimiyah bernama Syaikhul Islam Al Imam Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Muhammad bin Al Khodr bin Muhammad bin Al Khodr bin Ali bin Abdullah bin Taimiyyah Al Haroni Ad Dimasqi.

    Beliau lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 661 H, di Haron. Negeri tersebut terletak di antara negeri Syam dan Iraq.

    Saat berusia 7 tahun, beliau dan ayahnya pindah ke Damaskus untuk melarikan diri dari pasukan Tartar. Pasukan tersebut berasal dari bangsa Mongol yang memerangi kaum muslimin.

    Ibnu Taimiyah tumbuh dalam keluarga yang kaya akan ilmu, fiqih, serta agama. Pasalnya, ayah, saudara, kakek, dan banyak dari paman beliau merupakan ulama terkenal.

    Salah satunya yaitu kakek pertama beliau, Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyyah Majdud Diin yang menuliskan Al Muntaqo min Al Ahadits Al Ahkam dan banyak kitab lainnya.

    Berkat lingkungan tersebut, beliau pun dapat menuntut ilmu sejak dini dari ayahnya. Beliau juga telah hafal Al-Qur’an pada usia sebelum baligh.

    Selain itu, Ibnu Taimiyah juga menuntut ilmu dari ulama-ulama Damaskus. Kecerdasan dan kemampuan hafalannya yang luar biasa juga terlihat sejak usia belia.

    Beliau pun mempelajari hadits, fiqih, tafsir, dan ilmu ushul. Ibnu Taimiyah mendalami berbagai ilmu secara intensif, sehingga telah diakui ulama sejak usia muda. Bahkan Beliau sudah memenuhi syarat memberi fatwa pada usia 17 tahun.

    Pada usia itu pula Ibnu Taimiyah mulai menyusun kitab untuk pertama kalinya. Kemudian pada usia 22 tahun, Beliau mulai mengajar hadits di Damaskus. Setahun setelahnya, beliau juga mengajar tafsir Al-Qur’an di Masjid Umayyah.

    Baca juga: Sholat Tahiyatul Masjid: Niat, Tata Cara dan Waktu Pelaksanaanya

    Karya Ibnu Taimiyah

    Ibnu Taimiyah tidak menikah maupun memiliki wanita. Hal ini bukan karena beliau tidak menyukai pernikahan, melainkan karena kesibukan dalam memperdalam ilmu, berdakwah, mengajar, serta berjihad.

    Seakan tidak pernah puas dengan ilmu, Beliau menghabiskan seluruh waktu untuk membaca, menelaah, dan meneliti.

    Berkat dedikasinya yang tinggi dalam belajar, beliau pun mampu menguasai berbagai macam ilmu, baik ilmu agama, tasawuf, logika, komparasi agama, hingga filsafat.

    Ibnu Taimiyah merupakan penulis yang sangat produktif. Bahkan dikatakan bahwa beliau mampu menghasilkan empat buku tiap harinya. Total jumlah tulisan yang Beliau hasilkan diperkirakan mencapai 500 jilid dengan 4.000 buku tulis atau lebih.

    Dalam sejarah Islam, belum pernah didapati orang yang menulis karya ilmiah sepertinya.

    Salah satu muridnya, al-Hafidh al-Mizzi, juga mengatakan bahwa tidak pernah terlihat ulama yang semisal dengan beliau semenjak empat ratus tahun yang lalu.

    Selama menulis buku-bukunya, beliau senantiasa mengambil dari hafalan. Teknik menulisnya pun sangat mahir dan cepat.

    Sehingga hasil tulisannya sangat sempurna, baik dari penulisan, susunan pembahasan, serta adanya hujjah dan dalil pendukung.

    Berikut beberapa karya dari Ibnu Taimiyah:

    • Dar’u At-Ta’arudh Al-Aql wa An-Naql: Teologi
    • Minhaj al-Sunna: Teologi Syiah
    • Al-Raad ‘ala al-Mantiqiyyin: Filsafat
    • Al-Hisba fi al-Islam: Bidang Ekonomi
    • Al-Siyasa al-Shar’iyya: Politik

    Ibnu Taimiyah menyampaikan pemikiran yang mengkritik pemahaman yang kurang sesuai dalam berbagai bidang keilmuan, seperti teologi, filsafat, dan sufiisme. Beliau juga memberikan kritikan tegas terhadap kaum Syiah dan Kristen.

    Sifat-Sifat Ibnu Taimiyah

    Selain kecerdasan dan luasnya ilmu, Allah SWT mengaruniai Ibnu Taimiyah dengan sifat-sifat terpuji.

    Kehidupan sehari-hari beliau dipenuhi dengan kesungguhan untuk memperdalam ilmu. Sampai-sampai dikatakan bahwa beliau selalu berada di antara tumpukan kitab.

    Karena selalu menyibukkan diri dalam keilmuan, Beliau tidak pernah menghabiskan waktu untuk bersenda gurau, maupun perbuatan tercela seperti menggunjing dan mengadu domba.

    Di samping giat belajar, Beliau sering beribadah dan membaca Al-Qur’an. Ulama jenius ini juga dikenal sebagai pribadi yang dermawan dan suka membantu.

    Beliau adalah sosok yang wara’ dan zuhud, hingga hampir tidak memiliki kesenangan dunia kecuali kebutuhan pokok. Meskipun biasa mendapatkan banyak harta, beliau biasa menginfakkan seluruhnya.

    Selain itu, Beliau dikenal sebagai sosok yang karismatik dan keras dalam membela kebenaran.

    Ibnu Taimiyah sering kali ditawari untuk menjadi pejabat atau pemimpin. Namun, beliau menolaknya sembari berkata, “Carilah orang lain yang lebih cocok.”

    Sementara, ketika berhadapan dengan penguasa, beliau sering kali memberikan nasehat untuk melakukan amal ma’ruf dan menghindari perbuatan mungkar.

    Sejarah mencatat peran besar Beliau dalam menghancurkan keberadaan orang-orang atheis dan Bathiniyah seperti yang terjadi peristiwa Syaqhab dan al-Kasrawan.

    Jihad Ibnu Taimiyah

    Kebanyakan orang mengenal Ibnu Taimiyah sebagai ulama, ahli fatwa, dan penulis melalui karya-karyanya. Padahal, Beliau juga memiliki banyak sikap terpuji lain, bahkan ikut berjihad untuk membela Islam.

    Beliau berjihad dengan pedang maupun keilmuan. Ibnu Taiminyah ikut turun ke medan perang sambil menunggang kuda dan mengangkat pedang untuk membela kaum muslimin.

    Banyak orang yang menyaksikan kelihaian dan keberanian beliau dalam perang penaklukkan kota ‘Ukka.

    Selain itu, beliau menggunakan pemahaman agama dan keilmuannya untuk berjihad melalui pena dan lisan. Terkadang melalui perdebatan langsung, terkadang melalui tulisan.

    Disebutkan bahwa Ibnu Taimiyah berdiri di depan musuh-musuh Islam bak gunung yang kokoh. Adapun musuh Islam yang dimaksud meliputi penganut berbagai agama, isme yang bathil, aliran, dan ahlul bid’ah.

    Beliau telah menghancurkan syubhat (racun pemikiran) dan mengembalikan tipu daya mereka.

    Bantahan dan kitab-kitab beliau merupakan senjata terkuat dalam menghadapi firqoh sesat dan isme yang merusak yang banyak beredar di antara masyarakat.

    Terlebih lagi, Ibnu Taimiyah hidup pada masa yang mana banyak isme batil berkuasa. Bid’ah dan kesesatan pun merebak di mana-mana.

    Ketika itu kaum muslimin juga tenah diperangi oleh pasukan Salib dan pasukan Tartar.

    Beliau telah disakiti, diusir, diperangi, dan dipenjara berkali-kali selama berdakwah. Bahkan Beliau menghadapi ajal ketika berada dalam penjara Al-Qol’ah di Damaskus.

    Wafatnya Ibnu Taimiyah

    Sudah disebutkan sebelumnya, Ibnu Taimiyah meninggal dalam keadaan dipenjara, yaitu pada malam Senin, 20 Dzulqo’dah 728 Hijriah di penjara Al Qol’ah, Damaskus.

    Saat pemakaman Beliau, seluruh penduduk Damaskus dan sekitarnya datang untuk menyolati dan mengiring jenazah. Banyak sumber mencatatkan bahwa jumlah orang yang menghadiri pemakaman beliau sangat besar.

    Hal ini menunjukkan bagaimana orang-orang merasakan kehilangan seorang ahli sunnah. Selain itu, Ibnu Taimiyah yang bersifat terpuji dan suka membantu memang sangat disukai oleh semua kalangan.

    Demikianlah kisah Ibnu Taimiyah, seorang ulama yang disebut-sebut sebagai sosok jenius. Hingga sekarang pun karya-karya beliau masih memberikan banyak manfaat bagi umat Islam.

  • Perjalanan Hidup Sunan Kalijaga, hingga Karomahnya

    Perjalanan Hidup Sunan Kalijaga, hingga Karomahnya

    Penyebaran Islam di Nusantara bukan tanpa sebab. Ada sejumlah tokoh agama yang turut ikut dalam menyebarkan agama Islam di nusantara. Di antaranya yang cukup populer di kalangan masyarakat yakni Sunan Kalijaga.

    Sunan Kalijaga merupakan bagian dari 9 wali yang berdakwah menyebarkan agama Islam di Nusantara. 

    Perjalanan hidupnya secara turun temurun dikisahkan, baik melalui lisan maupun dengan tulisan. Kisah 9 wali yang syarat akan perjuangan dan karomah ini juga menjadi inspirasi dalam berdakwah dan menyebarkan agama Islam.

    Kisah Hidup Sunan Kalijaga

    Sunan Kalijaga adalah seorang wali yang berasal dari Tuban, Jawa Timur. Memiliki nama asli Raden Mas Said. Meski berasal dari Jawa Timur, beliau berdakwah dan menyebarkan agama Islam di wilayah Demak, Jawa Tengah. 

    Sunan Kalijaga cukup tersohor di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Bahkan, namanya tersebar hampir ke seluruh wilayah di Nusantara. Namanya sering ada dalam cerita sejarah penyebaran Islam di Pulau Jawa.

    1. Menurut Buku Atlas Walisongo (2017)

    Misalnya dalam buku Atlas Walisongo (2017) karya Agus Sunyoto. Buku tersebut menceritakan biografi dan perjalanan para Wali salah satunya Sunan Kalijaga yang merupakan putra dari Bupati atau Tumenggung Tuban Arya Wilatikta. 

    Selain dikenal dengan nama Raden Mas Said, Sunan Kalijaga juga dikenal dengan beberapa nama lain, seperti Syaikh Melaya, Raden Abdurrahman, Lokajaya, hingga Ki Dalang Sida Brangti. 

    Kisah Sunan Kalijaga juga ada dalam ebook Sejarah Kebudayaan Islam oleh Yusak Burhanudin dan Ahmad Fida. 

    Tahun kelahiran Sunan Kalijaga masih menjadi teka-teki hingga saat ini.

    Baca juga: Biografi Sunan Drajat dari Silsilah hingga Metode Dakwahnya 

    2. Menurut Buku Sunan Kalijaga 

    Namun, di dalam buku Sunan Kalijaga (Raden Said) karya Yoyok Rahayu. Menyebutkan bahwa Raden Said lahir sekitar tahun 1450 M. 

    Meski menjadi wali saat dewasa, cerita hidup Raden Said kecil justru tidak lazim. Diantara para wali lainnya menghabiskan masa kecil di pesantren, Raden Said kecil justru berjudi, meminum arak, dan mencuri. 

    Akibat Perilakunya tersebut, keluarga Raden Said yang merupakan keluarga terpandang, harus menanggung malu. Alhasil keluarga mengusirnya dari rumah. Kenakalan Raden Said justru semakin menjadi, hingga merampok dan membunuh.

    3. Menurut Serat Walisana Asmarandana Pupuh XIX

    Kisah kelam masa kecil Raden Said ini, termuat dalam Serat Walisana dalam Asmaradana Pupuh XIX. 

    Hingga pada suatu waktu, Raden Said Mencuri di rumah salah seorang lelaki tua yang ternyata beliau adalah Sunan Bonang. Alih-alih merampok, pertemuannya dengan Sunan Bonang justru membuat Raden Said bertaubat.

    Dari sinilah awal mula, Raden Said belajar tentang agama Islam dan kemudian ikut berdakwah dan menyebarkannya. 

    4. Menurut Buku Mengenal 9 Wali (2018)

    Sebenarnya masa kelam Raden Said sebagai seorang pencuri bukan tanpa sebab. Dalam buku Mengenal 9 Wali (2018) karya Susilarini menyebutkan tindakan Raden Said itu bentuk penolakan terhadap ketimpangan di Tuban.

    Para petani kecil dan rakyat jelata tercekik karena kemarau panjang yang melanda. Sementara pemerintah kadipaten justru menarik pajak yang besar kepada mereka. 

    Raden Said kemudian mencuri harta pungutan pajak tersebut, untuk dibagikan kepada para petani dan rakyat jelata. Perbuatan ini, ia sadari sebagai perbuatan yang salah setelah bertemu dengan Sunan Bonang.

    Raden Said yang memiliki nama lain Sunan Kalijaga, menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Penyebaran agama Islam oleh Sunan Kalijaga sendiri menggunakan media seni dan kebudayaan. 

    Oleh karena itu, penyebaran agama Islam oleh Sunan Kalijaga cukup berhasil dengan menggunakan cara yang halus. Tidak langsung berdakwah mengajak untuk masuk Islam, tapi melalui media kebudayaan.

    Masyarakat saat itu, masih sangat kental dengan seni dan kebudayaan daerah masing-masing. Terlebih pulau Jawa yang memiliki banyak seni dan budaya. Dari sisi inilah Sunan Kalijaga masuk dan berdakwa untuk mengenalkan Islam.

    Baca juga: Biografi Sunan Gresik: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    Asal Julukan Sunan Kalijaga?

    Nama Sunan Kalijaga berasal dari sebuah dusun yang terletak di daerah Cirebon yakni Dusun Kalijaga. Pasalnya Sunan Kalijaga yang juga merupakan sahabat Sunan Gunung Jati pernah tinggal dan menetap di sana.

    Namun, statement ini muncul di kalangan masyarakat yang sering mengaitkan nama seseorang dengan nama daerah. 

    Muncul banyak versi mengenai julukan Sunan Kalijaga sendiri. Ada juga yang menyebutkan julukan Sunan Kalijaga karena ia pernah bertapa di tepi sungai selama bertahun-tahun.

    Gurunya sendiri yakni Sunan Bonang, yang memintanya untuk menjaga tongkat yang ditancapkan di pinggir kali. Oleh karena itu, ia mendapat julukan “Kali Jogo”. Hingga saat ini julukan tersebut melekat.

    Kisah Cinta Sunan Kalijaga

    Banyak kisah yang menyebutkan kalau Sunan Kalijaga pernah menikah dengan Nyi Roro Kidul. Kisah ini bermula saat Sunan Kalijaga melawan Prabu Siliwangi. 

    Prabu Siliwangi terkenal sakti saat melawan pasukan kerajaan Cirebon. Tidak satupun utusan kerajaan cirebon yang dapat menandingi kesaktian Prabu Siliwangi. Bahkan, Pangeran Arya Kemuning dan Dewi Nyimas Gandasari.

    Sunan Kalijaga yang saat itu menjadi murid Sunan Gunung Jati, meminta saran kepada gurunya itu. Kemudian, Sang Guru mendapat petunjuk untuk melawan Prabu Siliwangi, ia harus menggunakan Tombak Karera Reksa.

    Sebuah tombak sakti yang milik Dewi Nawang Wulan atau Nyi Roro Kidul. Tanpa berpikir panjang, Sunan Kalijaga berangkat untuk meminjam Tombak Karera Reksa tersebut.

    Setelah menemui sang Ratu Pantai Selatan, Sunan Kalijaga justru meminta untuk bertemu dengan Raja Panatagama sebutan bagi Raja Cirebon saat itu.

    Pasalnya, sang Dewi Nawang Wulan memiliki rasa terhadap Sunan Kalijaga. Ia pun berkata tidak akan memberikan tombak itu pada siapapun kecuali pada suaminya. 

    Lantaran sang Guru memerintahkan untuk mendapatkan tombak tersebut, Sunan Kalijaga akhirnya menikah dengan Dewi Nawang Wulan. Dengan pusaka tersebut akhirnya Sunan Kalijaga dapat mengalahkan kesaktian Prabu Siliwangi.

    Akhir cerita, Sunan Kalijaga tidak hanya mengalahkan Prabu Siliwangi. Akan tetapi, ia juga yang mengantarkan Prabu Siliwangi untuk memeluk agama Islam.

    Silsilah Sunan Kalijaga

    Mengenai silsilah Sunan Kalijaga ada beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa ia merupakan keturunan arab. Ada juga yang menyebutkan bahwa Sunan Kalijaga keturunan cina, serta ada yang mengatakan keturunan jawa asli.

    Di dalam Babad Tuban, kakek Sunan Kalijaga bernama Aria Teja yang memiliki nama asli Abdurrahman. Kemudian Abdurrahman menikahi putri Adipati Tuban, Aria Dikara. 

    Abdurrahman menggantikan mertuanya sebagai Adipati Tuban dan berganti nama menjadi Aria Teja. Dari pernikahannya, mereka memiliki anak bernama Aria Wilatikta. 

    Di dalam buku Le Hadhramaut et les Colonies Arabies dans l’Archipel Indien” (1886), menyebutkan kalau Sunan Kalijaga merupakan keturunan arab. 

    Garis silsilah tersebut, mengatakan Sunan Kalijaga memiliki keturunan yang berasal dari paman Nabi Muhammad Abbas bin Abdul Muthalib. Hal ini diperkuat oleh H.J., Dee Graaf yang membenarkan Babad Tuban. 

    Kisah Wafatnya Sunan Kalijaga

    Dari berbagai sumber tidak ada yang pasti kapan wafatnya Sunan Kalijaga. Namun, para ahli sejarah mengatakan beliau wafat sekitar tahun 1580 M. Para ahli mengatakan ia wafat karena menderita sakit. 

    Sementara itu, makam Sunan Kalijaga juga masih menjadi perdebatan. Ada yang mengatakan bahwa makam Sunan Kalijaga berada di Demak Jawa Tengah dan ada pendapat lain yang mengatakan makannya berada di Cirebon, Jawa Barat. 

    Namun, meski ada dua pendapat yang berbeda. Umumnya orang yang ingin berziarah, mengunjungi makam Sunan Kalijaga yang berlokasi di Kadilangu, Demak, Jawa Tengah. 

    Media Dakwah Sunan Kalijaga

    Apa saja media dakwah yang pernah digunakan Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam, berikut rangkumannya:

    1. Seni Suara

    Sebagai seorang yang juga menggemari seni. Sunan Kalijaga mahir menyanyikan dan menciptakan tembang. Salah satu tembang ciptaannya yang masih populer hingga saat ini adalah Lir-ilir dan Gundul-gundul Pacul.

    Dalam setiap tembang yang tercipta. Beliau selalu menyelipkan dakwah dan syiar agama. Bahkan beberapa liriknya juga terdapat sholawat yang sangat merdu berpadu dengan nada jawa. 

    Dari caranya yang halus dan nyaman, banyak orang yang tertarik untuk ikut belajar agama Islam. Bahkan mereka berbondong-bondong untuk memeluk agama Islam.

    2. Seni Wayang

    Media berikutnya yang digunakan oleh Sunan Kalijaga dalam berdakwa yakni wayang. Wayang sendiri merupakan kesenian khas jawa, yang terbuat dari kulit kerbau yang keringkan. 

    Kemudian wayang ini berbentuk menyerupai beberapa tokoh atau peran, dalam cerita pewayangan. Kisah pewayangan umumnya berasal dari cerita Hindu atau Buddha.

    Namun, Sunan Kalijaga menyelipkan nilai keIslaman dalam pertunjukan wayangnya. Pertunjukan yang ia gelar juga tanpa memungut biaya, yang tentunya menjadi hiburan gratis dan menarik banyak perhatian masyarakat.

    Dengan banyak menyelipkan sentuhan Islam dalam tokoh maupun cerita, Sunan Kalijaga berhasil membuat masyarakat jawa banyak masuk Islam. Sehingga, saat pertunjukan selesai banyak masyarakat yang mengucap dua kalimat syahadat.

    Baca juga: Biografi Sunan Muria: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    3. Seni Ukir

    Sunan Kalijaga tidak pernah kehabisan ide untuk berdakwah dengan cara-cara yang halus. Ia menggunakan berbagai macam media kesenian, salah satunya adalah seni ukir.

    Sebagai orang jawa yang memiliki bakat seni, ia memanfaatkan bakatnya tersebut untuk menyebarkan agama Islam. Ia mengenalkan seni ukir yang melafadzkan ayat-ayat Al-Quran atau sentuhan indah tentang Islam lainnya. 

    Cara ini berhasil mengenalkan Islam lebih luas. Bahkan, dari seni ukir ini kisah atau perjuangan Sunan Kalijaga bisa terekam dengan jelas hingga saat ini. 

    4. Seni Berpakaian

    Media seni berikutnya yakni seni berpakaian. Orang Jawa jaman dulu tidak mengenal yang namanya aurat. Para wanita biasanya hanya mengenakan kemben. Hadirnya Sunan Kalijaga kemudian memberikan pemahaman yang baik kepada masyarakat.

    Selain mengajarkan tentang pentingnya menutup aurat bagi wanita, Sunan Kalijaga juga mengenalkan pakai batik dan pakaian takwa. Ia bahkan menciptakan motif batiknya sendiri. 

    Pakaian takwa adalah pakaian yang menutupi ketentuan aurat laki-laki. Perpaduan dengan pakaian khas jawa, gaya berpakaian Sunan Kalijaga masih sangat populer hingga saat ini. 

    Karomah Sunan Kalijaga

    Selain terkenal sebagai seorang wali yang melakukan pendekatan Islam dengan penuh toleransi, Sunan Kalijaga juga dikenal seorang wali yang memiliki banyak karomah. Berikut beberapa karomah atau hal mulia yang ia lakukan:

    1. Sholat Jumat di Tempat yang Berbeda

    Salah satu murid kesayangan Sunan Bonang ini, memiliki karomah pernah sholat jumat di tempat yang berbeda dalam satu waktu. Hal seperti ini mungkin terlihat mustahil bagi orang awam, tapi tidak bagi seorang wali seperti Sunan Kalijaga.

    Namun, banyak saksi mata yang mengatakan hal ini benar terjadi. Sunan Kalijaga pernah sholat jumat di lokasi yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Bahkan, konon katanya ia pernah sholat di Jawa dan di Makkah dalam satu waktu.

    2. Tidak Mempan Dibakar

    Kisah Nabi Ibrahim A.S yang berselisih dengan Raja Namrud, sehingga Nabi Ibrahim haru menjalani hukuman dibakar hidup-hidup. Namun, api sama sekali tidak membakar kulit Nabi Allah Ibrahim A.S.

    Hal semacam itu, juga pernah terjadi pada Wali Sunan Kalijaga. Cerita ini bermula pada suatu waktu ketika Sunan Kalijaga perintahkan seorang ratu untuk menjadi imam sholat. Ia justru diam seperti patung.

    Karena tindakannya yang dianggap melecehkan agama. Sunan Kalijaga dihukum dengan dibakar hidup-hidup. Akan tetapi, api tidak bisa membakar Sunan Kalijaga hingga sang ratu tau bahwa orang yang tengah dihukumnya adalah sunan Kalijaga.

    Sang ratu kemudian meminta maaf. Kisah ini merupakan kisah perjalanan Sunan Kalijaga yang menyamar menjadi santri tua bernama Kyai Marbot.

    3. Berjalan di atas Air

    Sunan Kalijaga yang dulunya bernama Raden Mas Said merupakan seorang yang senang bertapa. Ia pernah bertapa di tepi sungai. Saat bertapa, Raden Mas Said menghabiskan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

    Menurut cerita dari mulut ke mulut, banyak masyarakat yang melihat kesaktian dan karomah Raden Mas Said atau Sunan Kalijaga ini. Ia mampu berjalan di atas air tanpa alat bantu apapun.

    4. Mengubah Tanah jadi Emas

    Karomah Sunan Kalijaga yang berikutnya yakni mengubah tanah jadi emas. Kisah ini terjadi saat Sunan Kalijaga melawan Ki Pandan Arang II. Saat itu, Ki Pandan Arang II diangkat menjadi Adipati. 

    Namun, kekuasaan membuatnya lupa diri dan merasa paling hebat. Bahkan, Sunan Kalijaga yang mengingatkan keangkuhannya tak dihiraukan. Hingga, Sunan Kalijaga menunjukkan karomahnya.

    Ia mengubah setiap tanah yang dicangkulnya menjadi sebongkah emas. Hal ini untuk menyadarkan Ki Pandan kalau dunia tidak ada apa-apanya. Akhirnya Ki Pandan tersadar dan langsung bertaubat. Cerita ini berasal dari mulut ke mulut.

    5. Mengubah Pasir jadi Beras

    Ketika terjadi kelaparan di sebuah dusun. Sunan Kalijaga kembali menunjukkan karomahnya. Semua kesaktian dan karomahnya ia gunakan dalam jalan kebaikan. Salah satunya adalah memberantas kelaparan di dusun tersebut.

    Ia sangat sedih melihat banyak rakyat yang kelaparan, sementara itu kepala dusun justru hidup mewah. Saat seorang warga datang untuk meminjam beras untuk makan pada sanga kepala dusun, ia menghina dan memberinya pasir.

    Sunan Kalijaga yang mengetahui hal tersebut, merasa sedih dan geram terhadap tingkah pemimpin itu. Menurut cerita dari mulut ke mulut, Sunan Kalijaga kemudian mengubah sekarung pasir itu menjadi beras.

    Sekali lagi, bagi kaum muslimin hanya menjadikan cerita ini sebagai cerita leluhur saja. Karena sejatinya hanya nabi dan rasul yang bisa kita percayai mempunyai mukjizat.

    6. Bertapa dalam Waktu Lama

    Karomah Sunan Kalijaga yang lainnya dan cukup populer yakni mampu bertapa dalam waktu lama. Ia bertapa dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mencari jawaban atas pertanyaan dalam hatinya. 

    Selain itu, ia bertapa untuk meneguhkan hatinya dalam menyebarkan agama Islam. Sehingga banyak hal yang ia dapatkan dari pertapaan. Sekali bertapa ia bisa menghabiskan waktu bertahun-tahun.

    Di zaman yang sudah serba modern ini, kisah tentang para wali sudah jarang sekali diminati. Banyak anak muda yang lebih menggandrungi artis-artis luar negeri daripada tokoh perjuangan seperti Sunan Kalijaga.  

    Kisah perjalanan hidup serta perjuangan Sunan Kalijaga bisa menjadi teladan. Keteguhan hati dalam menyebarkan agama Islam dan menebarkan kebaikan. Selain itu, sifat-sifat terpuji Sunan Kalijaga juga dapat menjadi contoh.

    Beberapa karomah yang belum bisa dibuktikan secara nyata, cukuplah hanya menjadi sebuah cerita. Bagi kita kaum muslimin, tetap memberikan ruang bahwa bisa jadi cerita-cerita karomah di atas hanya sebatas bahasa “syair” atau “kiasan” untuk menggambarkan kesalehan seorang Sunan Kalijaga. Wallahu a’lam bishawab.