Category: Sejarah Islam

  • Kisah Nabi Luth AS dan Kaumnya Sodom yang LGBT

    Kisah Nabi Luth AS dan Kaumnya Sodom yang LGBT

    Nabi Luth merupakan nabi ke-7 dari total 25 nabi dan rasul yang wajib diimani oleh umat Islam. Kisah Nabi Luth yang paling terkenal adalah tentang kaumnya, yaitu Sodom, yang mendapatkan azab dari Allah SWT karena perbuatan menyimpangnya.

    Kisah tersebut juga tercantum dalam Al-Qur’an sehingga bisa menjadi petunjuk bagi umat Islam atas kesalahan kaum terdahulunya. Dengan begitu, umat muslim tidak melakukan kesalahan yang sama sehingga terhindar dari murka Allah SWT.

    Lebih dari pada itu, kisah perjalanan Nabi Luth masih cukup panjang untuk menjadi teladan dan inspirasi bagi siapa pun yang mengimaninya. Untuk itu, mari simak perjalanan Nabi Luth dalam menyampaikan ajaran Allah di kalangan kaum Sodom!

    Kisah Nabi Luth Diutus ke Kota Sodom

    Tidak banyak kisah yang membahas silsilah Nabi Luth a.s. secara terperinci, namun diketahui bahwa Ia merupakan keponakan dari Nabi Ibrahim a.s. Ayahnya bernama Haran bin Thareh merupakan saudara kandung dari Ibrahim.

    Haran bin Thareh sendiri memiliki saudara kembar bernama Nahar. Jika disimpulkan, garis keturunan Nabi Luth adalah Luth bin Haran, bin Azara bin Nahar, bin Suruj bin Ra’u, bin Falij bin ‘Abir bin Syalih bin Arfahsad bin Syam bin Nuh.

    Sementara itu, Nabi Luth memiliki istri bernama Wali’ah dan telah dikaruniai dua orang anak perempuan bernama Raitsa dan Zaghrata. 

    Kisah Nabi Luth sebelum diutus oleh Allah SWT sebagai nabi, sempat ikut bersama pamannya Ibrahim dari Mesir untuk menuju kembali ke Kota Syam. Luth a.s. adalah satu dari sebagian kecil kaum Nabi Ibrahim yang beriman dan bersedia mengikutinya.

    Saat itu, Nabi Ibrahim bersama pengikutnya kembali ke Kota Syam untuk melanjutkan bisnisnya. Sampai akhirnya, Allah SWT mengangkat Luth sebagai nabi dan memerintahkannya untuk tinggal dan menetap di Kota Shadum (Sodom).

    Hal ini juga tercantum dalam Al Qur’an QS. Al-A’raf ayat 80-81:

    وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِۦٓ أَتَأْتُونَ ٱلْفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ ٱلْعَٰلَمِينَ

    Wa lụṭan iż qāla liqaumihī a ta`tụnal-fāḥisyata mā sabaqakum bihā min aḥadim minal-‘ālamīn

    Artinya:

    Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?”

    إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِ ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ

    Innakum lata`tụnar-rijāla syahwatam min dụnin-nisā`, bal antum qaumum musrifụn

    Artinya:

    “Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.”

    Kaum Sodom dikenal sebagai bangsa yang gemar berbuat maksiat, suka meminum khamr, dan menyukai perbuatan zina. Akhlak mereka tergolong parah sehingga sangat sulit untuk dibenahi dan dituntun ke jalan yang lurus.

    Tidak ada adab di tempat ini, bahkan kasus pencurian juga merupakan hal yang biasa terjadi. Salah satu perbuatan zina yang menjadi ciri khas kaum Sodom adalah berhubungan seks dengan sesama jenis atau perilaku homoseksual.

    Perbuatan ini tidak hanya dilakukan oleh satu atau dua orang saja, tetapi hampir seluruh penduduk kota baik pria ataupun wanita. Kota Sodom sendiri berada di pusat perdagangan sehingga banyak pedagang yang dirampok ketika melewatinya.

    Jika para musafir yang hendak berdagang berwajah tampan, maka mereka akan diculik dan dipaksa bersetubuh oleh para laki-laki. Jika dirasa kurang tampan, maka mereka akan dibunuh dan dicuri harta bendanya.

    Sebaliknya, jika musafir tersebut adalah perempuan, maka mereka akan menjadi mangsa dari para wanita kaum sodom. Seperti inilah gambaran perilaku tak bermoral dari para kaum sodom, baik laki-laki maupun perempuan di zaman itu.

    Hal ini menggambarkan betapa buruknya akhlak dari para penduduk kaum Sodom. Bahkan, keburukan akhlak tersebut terjadi di hampir seluruh penduduknya sehingga Allah mengancam akan mengazabnya.

    Baca juga: 13 Manfaat Sholat Hajat agar Dikabulkan Keinginan dan Harapan

    Kisah Nabi Luth dan Azab bagi Kaum Sodom

    Perjalanan dakwah Nabi Luth a.s. di tengah-tengah kaum Sodom bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak pertentangan yang justru Ia dapatkan dari bangsa Sodom. Bahkan, para kaum Sodom akan mengusirnya jika terus berdakwah pada mereka.

    Hal ini seperti disebutkan dalam Al Qur’an, Surat Al-A’raf ayat 82:

    وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِۦٓ إِلَّآ أَن قَالُوٓا۟ أَخْرِجُوهُم مِّن قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ

    Wa mā kāna jawāba qaumihī illā ang qālū akhrijụhum ming qaryatikum, innahum unāsuy yataṭahharụn

    Artinya:

    Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri”.

    Ayat di atas menggambarkan respon dari kaum Sodom atas dakwah yang disampaikan Nabi Luth. Padahal, kewajiban mereka adalah membenarkan status kenabian Luth a.s., mematuhi semua perintahnya, dan juga menjalankan seruannya.

    Kisah Nabi Luth dan pembangkangan kaum Sodom tersebut juga diceritakan dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syu’ara ayat 160-167:

    وَلَمَّا جَاۤءَتْ رُسُلُنَا لُوْطًا سِيْۤءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَّقَالَ هٰذَا يَوْمٌ عَصِيْبٌ وَجَاۤءَهٗ قَوْمُهٗ يُهْرَعُوْنَ اِلَيْهِۗ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ السَّيِّاٰتِۗ قَالَ يٰقَوْمِ هٰٓؤُلَاۤءِ بَنَاتِيْ هُنَّ اَطْهَرُ لَكُمْ فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَلَا تُخْزُوْنِ فِيْ ضَيْفِيْۗ اَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَّشِيْدٌ قَالُوْا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِيْ بَنٰتِكَ مِنْ حَقٍّۚ وَاِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيْدُ قَالَ لَوْ اَنَّ لِيْ بِكُمْ قُوَّةً اَوْ اٰوِيْٓ اِلٰى رُكْنٍ شَدِيْدٍ قَالُوْا يٰلُوْطُ اِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَّصِلُوْٓا اِلَيْكَ فَاَسْرِ بِاَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِّنَ الَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ اَحَدٌ اِلَّا امْرَاَتَكَۗ اِنَّهٗ مُصِيْبُهَا مَآ اَصَابَهُمْ ۗاِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ ۗ اَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيْبٍ

    Każżabat qaumu lụṭinil-mursalīn. Iż qāla lahum akhụhum lụṭun alā tattaqụn. Innī lakum rasụlun amīn. Fattaqullāha wa aṭī’ụn. Wa mā as`alukum ‘alaihi min ajrin in ajriya illā ‘alā rabbil-‘ālamīn. A ta`tụnaż-żukrāna minal-‘ālamīn. Wa tażarụna mā khalaqa lakum rabbukum min azwājikum, bal antum qaumun ‘ādụn. Qālụ la`il lam tantahi yā lụṭu latakụnanna minal-mukhrajīn

    Artinya: 

    Kaum Luth telah mendustakan para rasul – (QS. Asy-Syu’ara ayat 160).

    Ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? – (QS. Asy-Syu’ara ayat 161).

    “Sesungguhnya aku adalah seorang rasul terpercaya (yang diutus) kepadamu” – (QS. Asy-Syu’ara ayat 162).

    “Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku” – (QS. Asy-Syu’ara ayat 163).

    “Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain hanyalah dari tuhan semesta alam” (QS. Asy-Syu’ara ayat 164).

    “Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia (berbuat homoseks)?” – (QS. Asy-Syu’ara ayat 165).

    “Sementara itu, kamu tinggalkan (perempuan) yang diciptakan Tuhan untuk menjadi istri-istrimu? Kamu (memang) kaum yang melampaui batas” – (QS. Asy-Syu’ara ayat 166).

    Mereka menjawab, “Wahai Luth, jika tidak berhenti (melarang kami), niscaya engkau benar-benar akan termasuk orang-orang yang diusir.” – (QS. Asy-Syu’ara ayat 167).

    Seketika itu, Nabi Luth pun berdoa kepada Allah SWT untuk memberi azab kepada kaum Sodom. Hingga akhirnya, Allah mengirimkan tiga malaikat ke bumi untuk memberikan azab kepada kaum Nabi Luth tersebut.

    1. Kedatangan Malaikat kepada Nabi Ibrahim

    Sebelum menemui Luth a.s., ketiga malaikat yang diutus Allah tersebut terlebih dahulu mendatangi Nabi Ibrahim. Mereka hendak memberi kabar gembira akan kelahiran Nabi Ishaq sekaligus mengabarkan bahwa mereka adalah para malaikat utusan Allah.

    Hal ini tercantum dalam Al-Qur’an Surat Az-Zariyat ayat 24-35. Di situ dikisahkan bahwasanya suatu hari Nabi Ibrahim kedatangan tiga orang yang belum pernah Ia kenal sebelumnya. Ketiga orang tersebut tiba-tiba saja datang dan masuk ke rumahnya.

    Usai menjawab salam, Ibrahim pun mempersilakan mereka untuk masuk dan duduk. Nabi Ibrahim yang belum menyadari bahwa mereka adalah malaikat, lantas meminta istrinya untuk menghidangkan daging anak sapi gemuk yang telah dibakar.

    Akan tetapi, ketiga orang tersebut sama sekali tak menghiraukan daging sapi yang telah dihidangkan dan hanya diam. Mendapati hal tersebut, Ibrahim merasa takut lantara para tamu tersebut tak belum dikenalnya dan tak menghiraukan hidangannya.

    Melihat Ibrahim yang ketakutan, ketiga orang tersebut lantas memberitahunya agar jangan takut karena kedatangan mereka adalah sebagai malaikat utusan Allah yang membawa kabar gembira, yaitu kabar kehamilan istrinya atas anak bernama Ishaq.

    Mendengar itu, istri Nabi Ibrahim lantas menepuk mukanya sendiri dan mengatakan bahwa Ia adalah wanita tua yang mandul. Lalu, malaikat menjawab bahwa apa yang mereka sampaikan adalah dari Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.

    Lebih lanjut, Ibrahim pun bertanya tentang apalagi urusan para malaikat tersebut. Malaikat menjawab bahwa mereka juga diutus untuk memberi azab suatu kaum, yaitu kaum Sodom yang telah melampaui batas.

    Ibrahim yang mendengar jawaban tersebut sontak memohon agar mereka menunda penurunan azab bagi kaum Sodom lantaran di sana terdapat keponakannya, yang tidak lain adalah Nabi Luth a.s. 

    Selain itu, Ia juga meminta mereka (para malaikat) untuk memberi kesempatan bilamana ada penduduk kaum Sodom yang bertobat. 

    Akan tetapi, malaikat menolaknya karena merekalah yang lebih tahu siapa yang ada di sana. Mereka juga menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman akan diselamatkan, termasuk Nabi Luth, pengikut, serta keluarganya, kecuali istrinya. 

    Hal itu lantaran istri Nabi Luth termasuk orang yang telah membangkang terhadap suaminya. Sampai akhirnya, pergilah para malaikat tadi ke Kota Sodom untuk menemui Nabi Luth dan menyampaikan maksud kedatangannya.

    2. Kedatangan Malaikat kepada Nabi Luth

    Kisah Nabi Luth pun berlanjut hingga ketiga orang yang merupakan malaikat tadi hampir tiba di Kota Sodom. Di dalam perjalanannya tersebut, mereka bertemu dengan dua gadis cantik yang tidak lain adalah anak-anak dari Nabi Luth.

    Tiga pemuda (malaikat) tersebut lantas bertanya apakah mereka bisa diterima untuk bertamu di rumahnya. Kedua gadis tersebut tak berani untuk memberikan jawaban dan akan merundingkannya terlebih dahulu dengan keluarganya.

    Akhirnya, kedua anak Nabi Luth pun bergegas pulang ke rumah dan memberitahu ayahnya tentang kedatangan para tamu tersebut.

    Mendengar cerita dari kedua anaknya, Nabi Luth memutuskan untuk mau menerima ketiga pemuda tersebut. Ia juga berpesan kepada anak-anaknya agar merahasiakan kedatangan ketiga pemuda tadi dari penduduk di kaumnya.

    Akan tetapi, istri Nabi Luth yang mendengar percakapan tersebut lantas membocorkan kepada warga kaum Sodom. Para lelaki di sana yang buta akan hasrat seksual sesama jenis akhirnya datang ke rumah Luth a.s. untuk memuaskan nafsu mereka.

    Kisah Nabi Luth kembali berlanjut dengan para kaum Sodom yang datang untuk melampiaskan nafsunya terhadap tamu yang datang ke rumah Luth. Tak lama berselang, mereka pun tiba dan mulai menggedor-gedor rumah Nabi Luth.

    Mereka mengatakan kepada Nabi Luth bahwasanya mereka telah bersepakat jika dilarang membawa tamu masuk tanpa seizin penduduk kota. 

    Dalam keadaan terdesak dan demi melindungi tamunya, Nabi Luth pun menawarkan kepada penduduk agar sebaiknya menikahi saja putri-putrinya dan meninggalkan perilaku menyukai sesama jenis. Sayangnya, hal itu ditolak oleh penduduk.

    Sampai akhirnya, ketiga pemuda tadi (para malaikat) meminta Luth agar membuka pintu rumah selebar-lebarnya seraya memberitahu kepada Luth bahwa mereka adalah malaikat yang diutus oleh Allah SWT.

    Ketika orang-orang yang haus akan seks tersebut menginjakkan kakinya masuk, tiba-tiba gelaplah pandangan mereka. Hal itu lantaran malaikat telah membutakan mata mereka sehingga tidak mampu melihat apa pun di sekelilingnya.

    Para penduduk kaum Sodom pun membuat perhitungan kepada Luth dan akan datang kembali keesokan paginya. Lantas, para malaikat meminta Nabi Luth beserta keluarga dan pengikutnya untuk pergi meninggalkan Kota Sodom pada malam hari. 

    Malaikat juga memerintahkan agar tak seorang pun dari mereka ada yang menoleh ke belakang saat pergi meninggalkan kota tersebut. Setelah tiba malam hari, mereka pun bergegas meninggalkan Kota Sodom.

    Rombongan tersebut terdiri dari Nabi Luth dan keluarganya, termasuk istri dan kedua anaknya. Ada juga beberapa pengikut Nabi Luth yang beriman ikut dalam rombongan tersebut. 

    Saat sudah beranjak pergi, istri Nabi Luth justru menoleh dan berbalik ke arah kaumnya karena merasa tidak tega. Sementara rombongan Nabi Luth terus beranjak pergi meninggalkan kota yang penuh kemaksiatan tersebut.

    Seketika itu juga, tanah pun bergetar yang disusul dengan gempa bumi dahsyat. Batu-batu besar juga terus menghujani seluruh Kota Sodom tanpa sisa sehingga banyak mayat berhamburan di sana. Seketika itu juga, hancurlah Kota Sodom beserta isinya.

    Akan tetapi, sisa-sisa kehancuran kota tersebut tetap dijaga oleh Allah SWT sebagai pengingat bagi kaum-kaum setelahnya. Kisah Nabi Luth ini juga diabadikan di dalam Al-Qur’an Surat Al-Hijr ayat 73-76:

    فَاَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِيْنَۙ . فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَاَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِّنْ سِجِّيْلٍ . اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّلْمُتَوَسِّمِيْنَۙ . وَاِنَّهَا لَبِسَبِيْلٍ مُّقِيْمٍ .

    Fa akhażat-humuṣ-ṣaiḥatu musyriqīn. Fa ja’alnā ‘āliyahā sāfilahā wa amṭarnā ‘alaihim ḥijāratam min sijjīl. Inna fī żālika la`āyātil lil-mutawassimīn. Wa innahā labisabīlim muqīm

    Artinya:

    “Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jungkirbalikkan (negeri itu) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sungguh, (negeri) itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia).”

    Itulah akhir dari kisah Nabi Luth beserta para kaumnya yang telah dibinasakan oleh Allah SWT melalui azab yang begitu dahsyat.

    Dari kisah di atas, dapat kita petik kesimpulan bahwasanya segala perbuatan kita di dunia hendaknya tidak melampaui batas. Kita harus senantiasa menjalani perintah Allah SWT dan menjauhi segala apa yang dilarangnya.

    Kisah di atas juga menegaskan bahwasanya kodrat sebagai laki-laki dan juga perempuan sudah jelas dan tidak ada penyimpangan di antaranya. Semoga kisah Nabi Luth di atas bisa mendatangkan manfaat untuk kita dan semua yang mengimaninya.

  • Kisah Nabi Ilyas AS dari Silsilah hingga Mukjizatnya

    Kisah Nabi Ilyas AS dari Silsilah hingga Mukjizatnya

    Masih banyak perdebatan terkait kisah Nabi Ilyas AS yang membuat kita bertanya-tanya mengenai kebenarannya.

    Pasalnya, Nabi Ilyas konon masih hidup sampai saat ini. Namun, keberadaannya disembunyikan oleh Allah, seperti Nabi Khidir.

    Beliau juga dikaruniai mukjizat yang luar biasa. Mari simak kisah lengkapnya.

    Kisah Nabi Ilyas AS dalam Al-Qur’an

    Nabi Ilyas AS termasuk salah satu Nabi utusan Allah SWT. Beliau bernama Ilyas bin Fanshash bin al-‘Izar bin Harun. Dari silsilah tersebut dapat dilihat bahwa beliau merupakan cucu dari Nabi Harun saudara Musa bin Imran.

    Nabi Ilyas AS diutus oleh Allah SWT setelah Nabi Daud dan Nabi Sulaiman, yaitu pada tahun 870 Sebelum Masehi (SM).

    Adapun lokasi tempat diutusnya Nabi Ilyas yaitu sebuah kota bernama Ba’labak, terletak di sebelah barat Damaskus (Suriah). Daerah tersebut sekarang masuk wilayah Lebanon.

    Terdapat beberapa ayat Al-Qur’an yang menyebutkan kisah Nabi Ilyas AS. Di antaranya yaitu surat Ash-Shafaat ayat 123-127, yang berbunyi:

    قال الله تعالى :  وَإِنَّ إِلۡيَاسَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ١٢٣ إِذۡ قَالَ لِقَوۡمِهِۦٓ أَلَا تَتَّقُونَ ١٢٤ أَتَدۡعُونَ بَعۡلا وَتَذَرُونَ أَحۡسَنَ ٱلۡخَٰلِقِينَ ١٢٥  ٱللَّهَ رَبَّكُمۡ وَرَبَّ ءَابَآئِكُمُ ٱلۡأَوَّلِينَ ١٢٦ فَكَذَّبُوهُ فَإِنَّهُمۡ لَمُحۡضَرُونَ

    Artinya: “Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul-rasul. (ingatlah) ketika ia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu tidak bertakwa. Patutkah kamu menyembah Ba´i dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta. (yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu? Maka mereka mendustakannya, karena itu mereka akan diseret (ke dalam neraka).”

    Selain itu, nama Nabi Ilyas AS juga disebutkan dalam firman Allah SWT:

     وَزَكَرِيَّا وَيَحۡيَىٰ وَعِيسَىٰ وَإِلۡيَاسَۖ كُلّ مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ  

    Artinya: “Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh”. (al-An’aam/6 : 75).

    Kesyirikan Kaum Nabi Ilyas AS

    Kisah Nabi Ilyas AS tidak banyak disebutkan di Al-Qur’an, sehingga kebanyakan bersumber pada kitab.

    Melansir dari Tafsir Al-Qur’an, nama Nabi Ilyas AS disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 4 kali, yaitu pada surat Al-An’am ayat 85 dan surat Ash-Shaffat ayat 123, 129, dan 130.

    Berdasarkan riwayat Wahab ibn Munabih yang disebutkan dalam kitab tafsir Ibnu Katsir, dikisahkan bahwa Nabi Ilyas diutus kepada kaum Bani Israel. Mereka adalah orang-orang yang menyembah patung berhala yang bernama Ba’al.

    Menurut kepercayaan bangsa Kanaan, Ba’al adalah dewa hujan dan petir. Ia juga dipercaya memiliki pasangan bernama Astoret yang merupakan dewi kesuburan.

    Maka, Nabi Ilyas AS menyerukan pada kaum tersebut untuk meninggalkan berhala dan mentauhidkan Allah. Nabi Ilyas melakukan dakwah dan berkali-kali mengajak kaumnya agar berhenti menyekutukan Allah.

    Namun, seruan Nabi Ilyas tidak pernah dihiraukan. Orang-orang itu tetap berada dalam kesesatan dan tidak ada yang beriman.

    Menyadari hal tersebut, Nabi Ilyas AS berdoa kepada Allah SWT supaya menimpakan azab pada kaumnya yang syirik.

    Sebelumnya, Nabi Ilyas mendatangi Raja Ahab untuk memperingatkan apabila mereka tidak bertaubat, maka Allah akan mendatangkan azab.

    Nabi Ilyas juga mengingatkan bahwa berhala yang mereka sembah tidak akan mampu menyelamatkan penduduk dari azab tersebut. Namun, alih-alih bertaubat, sang raja dan kaumnya justru mengusir Nabi Ilyas.

    Meskipun mendapatkan penolakan keras dan perlakuan kasar, Nabi Ilyas tetap melanjutkan dakwah. Namun, kaumnya yang syirik tidak juga bertaubat. Mereka justru mengusir Nabi Ilyas.

    Kemudian, Nabi Ilyas AS berdoa kepada Allah SWT supaya mendatangkan kesusahan pada kaum syirik itu. Maka, Allah menahan hujan selama tiga tahun sehingga kota Ba’labak dilanda bencana kekeringan panjang.

    Kemarau panjang itu membuat semua tanaman mengering dan hewan-hewan mati kelaparan.

    Baca juga: Hukum Suami Lebih Mementingkan Ibunya Daripada Istrinya

    Nabi Ilyas AS Berdakwah dalam Pelarian

    Dilanda bencana kemarau panjang, kaum Bani Israel pun marah. Mereka menganggap bencana itu terjadi karena kedatangan Nabi Ilyas dan kemarahan dari berhala yang mereka sembah.

    Disebutkan oleh beberapa sumber bahwa raja Israel meminta pemimpin agama mereka untuk berdoa kepada berhala memohon supaya kemarau berhenti.

    Akan tetapi, kemarau terus berlangsung sehingga Bani Israel makin marah dan bertekad memburu Nabi Ilyas.

    Akibatnya, Nabi Ilyas harus terus berpindah tempat untuk menghindari orang-orang yang memburunya. Meskipun demikian, Beliau tetap melanjutkan dakwahnya. Nabi Ilyas juga mendapatkan pertolongan Allah selama bencana melanda. 

    Ketika kotanya mengalami kekeringan panjang, Nabi Ilyas mendapatkan petunjuk dari Allah SWT untuk bersembunyi di Sungai Kerkit.

    Di tempat itu, Nabi Ilyas tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan air minum. Allah juga mengirimkan burung yang membawa makanan untuk Nabi Ilyas tiap pagi dan sore, sehingga beliau tidak mengalami kelaparan selama kekeringan.

    Namun, Nabi Ilyas harus pindah tempat saat Sungai Kerkit mulai mengering. Ditambah lagi, Beliau juga harus menghindari dari pengejaran prajurit Raja Ahab, pemimpin dari kaum yang syirik dan menolak seruan Nabi Ilyas.

    Menurut riwayat, Nabi Ilyas melakukan dakwah sambil terus berpindah tempat. Beliau tinggal di rumah kaumnya atau di gua.

    Beberapa sumber menyebutkan bahwa setiap rumah yang beliau singgahi akan memiliki aroma makanan.

    Pertemuan dengan Nabi Ilyasa

    Di tengah pelarian Nabi Ilyas menemukan rumah yang terletak di gurun pasir. Beliau pun menjadikan tempat itu sebagai persembunyiannya sementara.

    Saat itulah, Nabi Ilyas bertemu dengan seorang ibu dan anak laki-laki yang mengalami sakit parah, yakni Ilyasa. Kemudian Nabi Ilyas mendoakan kesembuhan Ilyasa yang kemudian dikabulkan oleh Allah SWT.

    Ilyasa pun dapat kembali sehat dan mulai mempelajari ilmu-ilmu agama dari Nabi Ilyas. Selanjutnya, dalam kisah Nabi Ilyas AS, Ilyasa menjadi anak angkat beliau dan sering menemani selama berdakwah.

    Kelak Ilyasa juga diangkat sebagai Nabi dan meneruskan perjuangan dakwah dari Nabi Ilyas AS.

    Kala itu, kondisi kekeringan sudah sangat parah sehingga makanan sulit didapat. Kaum Bani Israel yang putus asa akhirnya mencari Nabi Ilyas dan memohon agar kesulitan yang melanda mereka dihilangkan.

    Orang-orang tersebut juga berjanji akan beriman kepada Ilyas dan menyembah Allah apabila hujan kembali diturunkan ke negeri mereka.

    Maka, Nabi Ilyas berdoa kepada Allah SWT memohon agar diturunkan hujan. Doa Beliau dikabulkan, sehingga hujan turun dan kota kembali subur. Orang-orang kembali bisa menikmati hasil panen tanaman dan beternak.

    Namun, setelah kehidupan mereka kembali dipenuhi kenikmatan, mereka tetap menyembah berhala. Bahkan mereka menjadi lebih buruk dari kekufuran yang diperbuat sebelumnya.

    Mukjizat Nabi Ilyas AS

    Kisah Nabi Ilyas AS tidak lengkap tanpa menyebutkan mukjizat yang dikaruniakan Allah. Berikut beberapa mukjizat dari Nabi Ilyas AS:

    1. Doa Mendatangkan Bencana Terkabul

    Telah disebutkan sebelumnya bahwa dakwah Nabi Ilyas mendapatkan penolakan dari kaum Bani Israel, sehingga akhirnya beliau berdoa kepada Allah SWT agar mendatangkan kesusahan pada mereka.

    Allah mengabulkan doa Nabi Ilyas dan membuat negeri itu tidak mengalami hujan selama tiga tahun.  Akibat bencana kemarau panjang, kaum Bani Israel mengalami situasi yang sangat sulit.

    Akhirnya mereka mengatakan kepada Nabi Ilyas bahwa mereka berjanji akan menyembah Allah jika kemarau berhenti. Kemudian Nabi Ilyas berdoa kepada Allah sehingga turun hujan dan kembali makmur.

    Namun, kaum Bani Israel kembali menyembah berhala dan melakukan hal-hal buruk. Melihat hal tersebut, Maka Nabi Ilyas pun memohon kepada Allah supaya kembali menimpakan bencana.

    2. Bertahan dari Kemarau Panjang

    Meskipun negerinya dilanda kekeringan panjang, Nabi Ilyas dapat bertahan hidup dengan baik. Hal ini berkat pertolongan dari Allah SWT yang memberikan petunjuk dan mengirimkan burung untuk membawakan makanan.

    3. Menyembuhkan Orang Sakit

    Dalam kisah Nabi Ilyas disebutkan mengenai pertemuan Beliau dengan Nabi Ilyasa. Saat itu, Ilyasa sakit keras hingga kondisinya tampak memprihatinkan.

    Nabi Ilyas AS berdoa dan memohon kepada Allah SWT untuk kesembuhan Ilyasa. Allah mengabulkan doa Nabi Ilyas dan berkat itulah Ilyasa sembuh dari sakit parah yang diderita.

    Keistimewaan Nabi Ilyas AS

    Sebagai salah satu utusan Allah, Nabi Ilyas memiliki keistimewaan tersendiri, meliputi:

    1. Penyabar

    Nabi Ilyas diberikan keistimewaan oleh Allah berupa kesabaran yang tinggi. Berkat kesabaran itulah Beliau dapat menjalankan tugasnya dan berdakwah meskipun mendapatkan penolakan dari Bani Israel.

    2. Suka Menolong

    Keistimewaan berikutnya dari Nabi Ilyas AS yaitu sifatnya yang suka menolong orang yang kesulitan.

    Nabi Ilyas bahkan bersedia mendoakan agar kekeringan yang melanda Bani Israel segera berakhir meskipun mereka telah memusuhi dan memburu beliau.

    3. Taat Beribadah

    Nabi Ilyas senantiasa mengutamakan ibadahnya. Beliau juga selalu taat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya.

    Berkat keistimewaan ini beliau mendapatkan pertolongan Allah SWT dan dapat bertahan melalui kekeringan panjang yang melanda.

    Wafatnya Nabi Ilyas

    Bagian yang menjadi perdebatan dalam kisah Nabi Ilyas yaitu mengenai keberadaan beliau.

    Pasalnya, dalam Alkitab disebutkan bahwa Nabi Ilyas diangkat ke surga dalam keadaan hidup. Namun, kisah tersebut tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits.

    Ada beberapa hadits yang menyebutkan bahwa Nabi Ilyas masih hidup sampai sekarang, sebagaimana Nabi Khidir diyakini masih hidup. Namun, hadits-hadits tersebut merupakan hadits maudhu yang tidak dapat diterima.

    Sementara, dalam kitab Kisah Para Nabi yang ditulis oleh Ibnu Katsir, disebutkan bahwa Nabi Ilyas telah wafat.

    Hal ini berdasarkan pada firman Allah dalam Al-Qur’an surat Ali ‘Imran ayat 18, sebagai berikut:

    وَاِذْ اَخَذَ اللّٰهُ مِيْثَاقَ النَّبِيّٖنَ لَمَآ اٰتَيْتُكُمْ مِّنْ كِتٰبٍ وَّحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهٖ وَلَتَنْصُرُنَّهٗ ۗ قَالَ ءَاَقْرَرْتُمْ وَاَخَذْتُمْ عَلٰى ذٰلِكُمْ اِصْرِيْ ۗ قَالُوْٓا اَقْرَرْنَا ۗ قَالَ فَاشْهَدُوْا وَاَنَا۠ مَعَكُمْ مِّنَ الشّٰهِدِيْنَ

    Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, “Manakala Aku memberikan kitab dan hikmah kepadamu lalu datang kepada kamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.”

    Allah berfirman, “Apakah kamu setuju dan menerima perjanjian dengan-Ku atas yang demikian itu?” Mereka menjawab, “Kami setuju.” Allah berfirman, “Kalau begitu bersaksilah kamu (para nabi) dan Aku menjadi saksi bersama kamu.””

    Dalam ayat tersebut telah jelas bahwa apabila para nabi lain masih hidup pasti akan mendatangi dan membantu dakwah Nabi Muhammad SAW.

    Hal tersebut diperkuat dengan sabda Rasulullah:

    لَوْ أَنَّ مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

    Artinya: “Seandainya Musa alaihissalam masih hidup maka tidak ada jalan lain selain dia mengikutiku.” (HR. Ahmad no. 14623).

    Sehingga sudah jelas bahwasanya Nabi Ilyas AS telah wafat. Seandainya Nabi Ilyas diangkat ke langit dalam keadaan hidup, maka Beliau menemui ajalnya dan wafat seperti makhluk hidup lainnya.

    Perihal tersebut telah dijelaskan dalam AL-Qur’an, bahwa tidak ada seorang manusia sebelum Nabi Muhammad yang hidup abadi.

    وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَۗ اَفَا۟ىِٕنْ مِّتَّ فَهُمُ الْخٰلِدُوْنَ

    “Dan Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia sebelum engkau (Muhammad); maka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal?” (QS. Al Anbiya’:34).

    Demikianlah kisah Nabi Ilyas AS lengkap dengan mukjizatnya. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah dan keteladanan Nabi Ilyas AS.

  • 5 Contoh Tarian yang Tergolong dalam Seni Islam, Simak!

    5 Contoh Tarian yang Tergolong dalam Seni Islam, Simak!

    Indonesia terkenal dengan keragaman budaya, seni dan juga tradisi yang dipengaruhi  peradaban Islam. Salah satu pengaruh Islam dalam kesenian dapat dilihat dalam wujud seni tari. Contoh tarian yang tergolong dalam seni Islam adalah tarian yang berasal dari Aceh.

    Tentu bukan hal yang mengherankan jika Indonesia memiliki aneka kekayaan budaya yang terpengaruh dengan peradaban Islam. Menilik jumlah penduduk Indonesia yang mayoritasnya beragama Islam dan banyaknya penduduk yang masuk dan melebur di tengah masyarakat Indonesia.

    Alhasil, ada banyak sekali contoh tarian yang tergolong dalam seni Islam yang menarik untuk diketahui. Yuk, simak pembagiannya di bawah ini!

    Daftar Contoh Tarian yang Tergolong dalam Seni Islam

    Berikut ini lima tarian tergolong dalam seni Islam di Nusantara lengkap dengan asal mula dan maknanya:

    1. Tari Rundat (Lombok)

    Contoh tarian yang tergolong dalam seni Islam yang pertama adalah tari Rundat yang berasal dari lombok. Tarian satu ini berasal dari suku sasak yang berada di Lombok. Tarian Rundat ini merupakan warisan nenek moyang dari abad 15 yang dibawa oleh orang Turki yang menganut ajaran Islam.

    Dari segi penampilan, tarian ini dibawakan oleh penari laki-laki berjumah 13 orang yang menggunakan pakaian seperti prajurit dan menggunakan kopiah panjang (torbus). Gerakan dari tarian Rundat menggunakan gerakan pencak silar yang diiringi oleh musik melayu.

    Syair dalam tarian ini memiliki makna yang berisi pujian serta penghormatan kepada Allah SWT. Tari ini biasa ditampilkan di jalanan yang bertujuan untuk mengiringi pengantin saat menuju ke rumah mempelai wanita.

    Selain itu, tarian ini juga dapat ditampilkan pada acara keagamaan maupun saat perayaan hari besar Islam.

    Baca juga: Doa sebelum Berhubungan Suami Istri dan Lengkap dengan Artinya

    2. Tarian Saman (Aceh)

    Aceh memiliki banyak sekali keanekaragamaan tarian yang memiliki unsur Islami di dalamnya, namun kali ini kita akan membahas mengenai tari Saman.

    Tari Saman sebelumnya berawal dari permainan bernama Pok Ane yang dulunya sering dimainkan di tengah masyarakat Gayo. Namun, setelah peradaban Islam mulai masuk, maka permainan tersebut juga di modifikasi menjadi sebuah tarian.

    Syair yang digunakan pada permainan ini memiliki makna pujian yang ditujukan kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Tarian ini sering ditampilkan dalam acara peringatan maupun keagamaan semasa di Kesultanan Aceh.

    Namun kini, tarian ini sering digunakan di berbagai macam jamuan untuk menyambut kedatangan tamu kehormatan dan hingga saat ini, tarian ini masih dijaga kelestariannya oleh masyarakat Aceh.

    Keunikan dan daya tarik dari gerakan yang digunakan pada tarian ini sering kali menjadi salah satu seni Islam yang terkenal hingga mancanegara.

    3. Tari Seudati (Pidie, Aceh)

    Masih di Aceh, di antara beberapa contoh tarian yang tergolong dalam seni Islam berikutnya adalah tari Seudati. Tarian satu ini berasal dari Desa Gigieng Kecamatan Simpang Kabuaten Pidie, Aceh.

    Awalnya tarian Seudati dikenal sebagai tarian pesisir atau ratoh yang menjadi awalan dari prosesi permainan sabung ayam dan juga pembuka musim panen yang mulai tiba, tepatnya saat malam bulan purnama.

    Namun, setelah mulainya penyebara ajaran Islam, tarian ini berubah fungsi menjadi media dakwah para ulama dengan cara syair dan pantun yang ada di dalam tariannya berisi pujian terhadap Allah SWT.

    Nama Seudati sendiri diambil dari kata seurasi yang memiliki arti kompak atau harmonis. Selain itu, seudati juga memiliki makna pengakuan atau kesaksian.

    Penampilannya juga khas tanpa musik sebagai pengiringnya, melainkan iringan didapatkan dari suara lain berupa hentakan kaki, pukulan telapak tangan di bagian dada dan pinggul, serta suara petikan jari dari para penarinya.

    Tari Seudati biasanya ditampilkan oleh delapan orang laki-laki yang menjadi penari utama.

    Baca juga: Contoh Ceramah Singkat tentang Ibu ini Bisa Jadi Referensi

    4. Tari Rabbani Wahed (Bireuen, Aceh)

    Contoh tarian yang tergolong dalam seni Islam yang berikutnya yakni tari Rabbani Wahed. Tarian satu ini berasal dari Aceh, lebih tepatnya di daerah Bireuen. Meski jarang yang mengenal tarian satu ini, namun tarian ini tidak kalah menarik untuk kita ketahui.

    Pada awalnya, tarian ini berasaldari tari Meugrob yang merupakan satu dari bagian tari budaya Aceh yang sudah sejak lama menjadi bagian dari adat istiadat aceh yang begitu melekat.

    Namun, seiring dengan persebaran Islam, gerakan yang ada di dalam tarian Meugrob ini mengalami modifikasi pada tahun 1990-an.

    Modifikasi gerakan tarian tersebut dilakukan oleh T Muhammad Daud Gede. Tidak hanya dari sisi gerakan yang mengalami proses modifikasi, melainkan dari syair yang digunakan saat penampilan juga.

    Selain gerakan, syair lagu dari tarian ini juga berubah menjadi puji-pujian yang diberikan kepada Allah SWT. Hasil dari modifikasi tersebut kemudian semakin populer dan hingga saat ini dikenal dengan nama tari Rabbani Wahed.

    Jika ingin menikmati penampilan dari tarian tersebut, kita bisa melihatnya saat malam takbir idul fitri dan juga saat proses  penyambutan mempelai dari sisi pengantin pria saat acara adat pernikahan.

    Keunikan yang dimiliki dari tari Rabbani Wahed berbeda dengan yang ada pada tari Saman. Keduanya memiliki keindahan tersendiri yang membedakan satu dengan lainnya.

    5. Tari Zapin (Riau)

    Tarian selanjutnya adalah tari Zapin yang berasal dari Kepualauan Riau. Pada Awalnya tarian ini dibawkaan oleh pedagang Arab dari Yaman yang masuk ke wilayah Indonesia tepatnya di sekitar wilayah Kepulauan Riau hingga pesisir Kalimantan.

    Tari Zapin pada awalnya dipertunjukkan sebagai hiburan yang ada di istana. Penampilannya sendiri dibawakan dengan diiringi musik petik gambus, gendang, dan rebana.

    Syair yang dilantunkan dalam tarian juga menggunakan syiar Islam. Untuk saat ini, tari Zapin ditampilkan pada acara tertentu seperti saat pernikahan, khitanan, maupun perayaan hari raya Islam.

    Baca juga: 10+ Hadits tentang Toleransi dalam Islam dan Ayatnya dalam Al Quran

    Upaya Melestarikan Budaya Indonesia Agar Tetap Terjaga

    Era globalisasi dapat menimbulkan berbagai perubahan, termasuk dalam gaya hidup. Akibatnya masyarakat cenderung memilih kebudayaan baru yang dinilai lebih mudah dan praktis jika diterapkan dibanding budaya lokal.

    Salah satu tindakan dan upaya yang bisa kita lakukan yakni mengenal berbagai contoh tarian yang tergolong dalam seni Islam, namun terkadang implementasi dari hanya mengenal tidak memberikan dampak lebih bagi keterjaganya budaya Indonesia.

    Sebab itu, berikut beberapa upaya yang mungkin untuk dilakukan demi terjaganya kekayaan budaya Islam dan lainnya di Indonesia:

    1. Mempelajari Budaya Lokal

    Salah satu cara untuk melestarikan budaya lokal  yakni dengan memahami budaya itu sendiri. Terkait hal tersebut, perlu bagi kita mengetahui informasi mengenai budaya yang akan kita lestarikan.

    Kita bisa mencarinya dari berbagai sumber seperti ensiklopedia, buku atau bahkan surat kabar, apalagi perkembangan teknologi 4.0 yang kini lebih mudah mengupayakan menggali informasi.

    2. Mengikuti Kegiatan Budaya Asal

    Setelah mengetahui berbagai informasi dan karakteristik dari budaya lokal Anda, selanjutnya yaitu mengikuti kegiatan budaya tersebut. Hal ini merupakan salah satu contoh dalam upaya melestarikan budaya Indonesia.

    Kita bisa mengikuti pergelaran budaya atau bahkan terlibat langsung di dalamnya. Sebagai contoh sederhana, kita bisa menjadi peserta atau penonton dalam kegiatan budaya tersebut.

    3. Mengenalkan Produk Budaya ke Kancah Internasional

    Selain itu, kita juga bisa melestarikan budaya dengan cara mengenalkan berbagai kesenian dan budaya melalui jejaring sosial melalui pamflet-pamfllet atau bahkan video-video layaknya content creator yang mengenalkan budaya melalui kreativitasnya.

    Tidak hanya itu saja, kita juga bisa memilih upaya melestarikan budaya Indonesia dengan cara memperkenalkan budaya lokal di kancah internasional. Caranya yaitu mengenakan produk budaya lokal.

    4. Jadikan Budaya Sebagai Identitas

    Menjadikan budaya lokal sebagai identitas menjadi salah satu cara untuk melestarikannya. Sebab, kita memiliki rasa bangga terhadap budaya lokal yang dimiliki di tengah tengah globalisasi.

    Dengan begitu, kita tidak akan mudah terpengaruh atau ikut ikutan terhadap adanya budaya asing yang masuk ke negara Indonesia.

    5. Mengekspor Barang Kesenian

    Bagi sebagain orang yang seorang pebisnis, maka bisa ikut serta mempromosikan kebudayan lokal melalui produk kesenian yang dijual. kita dapat mengembangkan usaha yang sedang digeluti agar sampai ke pasar internasional.

    Jika sudah menembus pasar internasional untuk mengekspor produk kesenian, berarti kita sudah mencoba upaya melestarikan budaya Indonesia.

    Kebudayaan merupakan salah satu identitas bagi suatu masyarakat. Selain itu, budaya bisa mempersatukan, memenuhi kebutuhan, dan lain sebagainya. Sehingga, sangat penting untuk berupaya melestarikan budaya lokal.

    Nah, itulah lima contoh tarian yang tergolong dalam seni Islam dan upaya melestarikan budaya nusantara. Semoga bermanfaat.  

  • Kisah Nabi Harun AS, Nabi yang Hidup Sezaman dengan Nabi Musa AS

    Kisah Nabi Harun AS, Nabi yang Hidup Sezaman dengan Nabi Musa AS

    Kisah Nabi Harun AS selalu bersandingan dengan Nabi Musa AS. Karena pada masa dakwah Nabi Musa, seseorang yang mendampinginya adalah Nabi Harun AS.

    Meskipun tidak sepopuler kisah dari Nabi Musa, tetapi Nabi Harun juga memiliki kisahnya sendiri, loh. Namun, dalam Al-Qur’an sendiri penyebutan Nabiyullah Harun selalu didahului atas nama Musa AS.

    Kenapa demikian? Kira-kira kita semua sudah mengenal sejarah Nabi Harun AS atau belum sih? Menjawab pertanyaan itu semua, kali ini kita akan membahas seputar kisah Nabi Harun AS.

    Kisah Nabi Harun AS Saat Lahir

    Untuk mengenal Nabiyullah lebih dalam lagi, kita perlu tahu kapan waktu lahir dari beliau. Nabi Harun AS sendiri dikisahkan lahir sebelum Nabi Musa AS, meskipun kedua nama ini tidak bisa dipisahkan dalam sejarah.

    Hal ini membuat usia Nabi Harun lebih tua daripada Nabi Musa. Nabi Harun AS memiliki usia hingga 123 tahun dan hidup di tahun 1531 – 1408 sebelum Masehi (SM). Secara biologis, Nabi Harun AS merupakan kakak dari Nabi Musa AS.

    Nama lengkap beliau adalah Harun bin Imran bin Qahats bin Azar bin Lawi bin Ya’qub bin Ishak Ibrahim. Selisih usia dari Nabi Harun dan Nabi Musa AS adalah empat tahun. Sehingga jauh ini tidak terlalu jauh dari silsilah keluarganya.

    Kelahiran Nabi Harun AS tidak serumit pada masa Musa AS, karena pada zaman itu belum ada perintah dari Fir’aun untuk membunuh bayi laki-laki yang lahir. Sehingga, Nabi Harun AS dapat terlahir dengan selamat dan dalam keadaan sehat.

    Kisah ini menjadi berbeda pada kelahiran Nabi Musa AS. Zaman beliau, Fir’aun sudah mendapatkan gambaran bahwa akan ada seorang anak laki-laki yang terlahir untuk menghancurkannya.

    Oleh karena itu, muncullah ultimatum untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang terlahir di masa Nabi Musa AS. Atas kuasa Allah SWT, Nabi Musa AS tetap selamat dan bahkan mendapatkan jaminan pengasuhan di bawah lindungan Fir’aun sendiri.

    Kisah Nabi Harun AS dan Nabi Musa AS ini sebenarnya adalah saudara kandung. Lantaran sejumlah alasan, akhirnya kedua saudara ini terpisah secara pengasuhan.

    Nabi Harun AS tetap bersama keluarganya, sedangkan Nabi Musa diasuh di bawah pengawasan Fir’aun, yaitu istrinya Aisyah. Meskipun begitu, keduanya tetap tumbuh dengan baik dibawah lindungan Allah SWT.

    Baca juga: Jejak Warisan Seni Budaya Islam di Filipina

    Kisah Dakwah Nabi Harun AS dan Nabi Musa AS

    Nabi Musa As dan Nabi Harun As memang lahir di zaman yang sama karena keduanya bersaudara. Sehingga, tugas yang Allah SWT berikan pun berkaitan. Hal inilah yang membuat kedua Nabiyullah ini saling bekerja sama dalam berdakwah.

    Nabi Musa AS terkenal dengan kecerdasannya yang sangat luar biasa. Namun, kakaknya Nabi Harun AS pun juga Allah SWT berikan mukjizat yang sama bermanfaatnya dalam menyebarkan dakwah Islam.

    Kelebihan yang Allah SWT berikan salah satunya adalah kepandaian beliau dalam berbicara. Selain itu, beliau juga memiliki jiwa yang tegas dan berani dalam memimpin, berdakwah, ataupun berargumen.

    Melihat bagaimana kuatnya seorang Nabi Harun AS, membuat Allah SWT memerintahkan beliau untuk mendampingi Nabi Musa AS dalam berdakwah. Tentunya untuk menegakkan ajaran Allah SWT.

    Kelebihan yang Nabi Harun AS miliki sendiri diakui oleh Nabi Musa AS dalam riwayatnya. Bahkan, karena kefasihannya dalam berbicara membuat Nabi Harun mendapatkan julukan sebagai juru bicara.

    Kenapa demikian? Dikisahkan bahwa Nabi Musa AS memiliki keterbatasan kemampuan dalam berbicara akibat waktu kecil disuruh untuk memakan bara api oleh Fir’aun.

    Hal itu membuat lidah dari Nabi Musa AS terbakar dan susah untuk berbicara. Nah, dipilihnya Nabi Harun untuk mendampingi Nabi Musa AS justru membawa berkah karena mampu meringankan beban dakwah dari Nabi Musa AS.

    Dalam beberapa kesempatan Nabi Harun AS justru menggantikan posisi dakwah Nabi Musa saat memimpin umatnya.

    Kerja Sama Nabi Harun dan Nabi Musa dalam Menghadapi Firaun

    Pada suatu ketika, di zaman pemerintahan Firaun banyak terjadi kedzoliman terhadap rakyat. Tidak hanya satu atau dua rakyat saja yang mendapatkan belenggu dan kedzoliman dari Firaun, tetapi hampir seluruh penduduk Bani Israel.

    Melihat kekejaman yang Nabi Firaun lakukan, dalam kisah Nabi Harun AS dan Nabi Musa AS keduanya menghadap Firaun. Kedua saudara ini berdakwah dan juga memberikan peringatan kepada raja Firaun.

    Kedua Nabiyullah ini sudah merasa optimis dan senang serta bersyukur karena sebentar lagi Bani Israel tidak lama lagi akan terbebas dari kekuasaan Firaun.

    Meskipun dikeluarkan dari Mesir pun, kedua Nabi utusan Allah SWT ini merasa senang. Justru dengan keluar dari Mesir ini, rakyat Bani Israel dapat menjalani kehidupan dengan normal dan tanpa pimpinan yang keji.

    Namun, ketika Nabi Harun dan Nabi Musa hendak memberikan peringatan dan arahan terhadap kepemimpinan Firaun, justru mendapat respon kurang enak.

    Firaun mendengar setiap ucapan dari Nabi Harun dan Nabi Musa sangat emosi dan marah besar. Hal ini didasarkan pada perasaan bahwa Nabi Musa AS yang sudah dirawat sejak kecil justru menjadi penentangnya ketika dewasa.

    Ketidakcocokan Firaun terhadap ajaran Musa AS, membuatnya memberikan penegasan kepada setiap rakyatnya bahwa Nabi Musa hanyalah orang gila yang mengaku sebagai rasul Allah.

    Karena kepicikan hatinya dalam menerima Nabiyullah, Firaun selalu menyerang Nabi Musa AS dengan bukti yang dapat membuatnya percaya. Atas wahyu dari Allah SWT, Nabi Musa As menuruti keinginan dari Firaun.

    Dengan tongkat yang dibawanya, Nabi Musa langsung melemparkannya ke lantai. Seketika, tongkat itu berubah menjadi ular. Kedatangan ular raksasa dari tongkat Nabi Musa AS ini membunuh ribuan ular sihir dari para ahli sihir suruhan Firaun.

    Setelah berhasil membuktikan kepada Firaun, Nabi Musa langsung menjulurkan tangannya ke arah ular. Seketika ular tersebut kembali berubah menjadi tongkat. Lantas, Nabi Musa AS memasukkan tangannya ke saku dan muncullah cahaya putih.

    Segala keajaiban yang ditunjukkan oleh Nabi Musa dan Nabi Harun tidak lantas membuat Firaun mengimani begitu saja. Justru, Firaun mengatakan bahwa semua yang dilakukan oleh Nabi Musa dan Nabi Harus adalah tipu sihir.

    Kisah Nabi Harun AS dan Samiri

    Setelah melewati perjalanan panjang dalam menghadapi Firaun, kini Nabi Harun AS dan Musa As bersama rombongannya berhasil keluar dari Mesir. Seluruh rombongan tersebut melanjutkan perjalanan ke Negeri Kan’an.

    Pada saat perjalanan inilah Nabi Musa AS mendapatkan wahyu dari Allah SWT berupa kita Taurat.

    ۞ وَوٰعَدْنَا مُوْسٰى ثَلٰثِيْنَ لَيْلَةً وَّاَتْمَمْنٰهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيْقَاتُ رَبِّهٖٓ اَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً ۚوَقَالَ مُوْسٰى لِاَخِيْهِ هٰرُوْنَ اخْلُفْنِيْ فِيْ قَوْمِيْ وَاَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيْلَ الْمُفْسِدِيْنَ142

    Artinya:

    “Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa (memberikan Taurat) tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan Musa berkata kepada saudaranya (yaitu) Harun, “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah (dirimu dan kaummu), dan janganlah engkau mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan.”

    Kitab Taurat yang diberikan kepada Nabi Musa AS ini diterima selama 40 hari. Pada saat itulah, Nabi Musa meninggalkan kaumnya untuk sementara. Kepemimpinan digantikan oleh Nabi Harun AS.

    Namun, pada masa kepemimpinan Nabi Harun AS justru terdapat permasalahan yang tidak bisa beliau atasi. Seluruh kaum Bani Israil kembali menyembah secara berhala dan membuat patung sapi yang terbuat dari emas.

    Hal ini dapat terjadi karena adanya pengaruh dari Samiri. Melihat penampakan tidak benar seperti itu, Nabi Harun AS sebenarnya sudah berusaha mengingatkan kaumnya. Namun, semua menghiraukan peringatan tersebut.

    Alhasil, kaum Bani Israel tetap membuat patung sapi dari emas dan menyembah secara berhala. Sekembalinya Nabi Musa AS dari penerimaan wahyu, beliau melihat bagaimana kaumnya menyembah berhala.

    Beliau pun sangat marah kepada Harun dan memegangi kepalanya sambil berkata:

    قَالَ يَا هَارُونُ مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَهُمْ ضَلُّوا (92) أَلا تَتَّبِعَنِ أَفَعَصَيْتَ أَمْرِي (93) قَالَ يَا ابْنَ أُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلا بِرَأْسِي إِنِّي خَشِيتُ أَنْ تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِي (94) }

    Artinya:

    Berkata Musa, “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?” Harun menjawab, “Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku, dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku.” (Thahaa : 92-94).

    Melihat bagaimana marahnya Musa AS, Nabi Harun AS pun menjelaskan semua kejadian selama ditinggalkan oleh Musa. Bahkan, Nabi Harun AS sendiri sudah melarang dan memberikan peringatan kepada kaum Bani Israil.

    Namun, mereka tetap memilih sebagai pembangkang dan abai terhadap peringatan Harun AS. Bahkan, seluruh kelompok Bani Israel sampai ingin membunuh Nabi Harun AS.

    Tidak hanya itu, Nabi Harun juga menjelaskan pengaruh dari menyembah berhala ini adalah Samiri. Mendengar penjelasan rinci dari Nabi Harun AS membuat Nabi Musa AS kembali luluh dan perselisihan terselesaikan dengan baik.

    Kisah Wafatnya Nabi Harun AS

    Kisah wafat dari Nabi Harun AS juga tidak terlepas dari perjalanannya dengan Nabi Musa AS. Di mana, ketika mereka pergi dari Kawasan mata air Meriba, Badesh menuju ke sebuah daerah.

    Bertemulah mereka dengan salah satu gunung yang bernama Hor di Kawasan perbatasan Edom. Ketika itu, keduanya sedang mendaki sebuah gunung dengan salah satu putranya yaitu Eleazar.

    Nabi Harun dan Nabi Musa melaksanakan hal ini karena perintah dari Allah SWT. Saat sudah tiba di tempat yang dituju, Nabi Musa AS langsung melepaskan pakaian yang dikenakan oleh Nabi Harun.

    Berikutnya, pakaian itu dikenakan pada putra Nabi Harun yaitu Eleazar. Setelah keduanya berganti pakaian dan seluruh kain yang Nabi Harun gunakan sudah dipakai oleh Eleazar, datanglah malaikat Izrail di puncak gunung Hor.

    Beberapa saat kemudian, muncullah berita bahwa Nabi Harun sudah wafat. Mendengar berita tersebut, bangsa Israel langsung menangis dan merasa kehilangan sosok panutan. Bahkan, hingga usia kematiannya mencapai 30 hari.

    Kisah Nabi Harun AS ini memang cukup menyedihkan. Pasalnya, wafatnya Nabi Harun ini tepat 40 tahun bangsa Bani Israel keluar dari kawasan Mesir. Jika ditelisik dalam sejarah Islam, makam Nabi Harun AS ini terletak di Gunung Harun.

    Mukjizat Nabi Harun AS

    Setiap Nabiyullah yang dipilih langsung oleh Allah SWT selalu memiliki keistimewaan masing-masing. Tidak terkecuali pada kisah Nabi Harun AS selama berdakwah bersama Nabi Musa AS.

    Beliau juga memiliki banyak sekali mukjizat yang patut kita jadikan suri tauladan dan bisa dijadikan media pengembangan ilmu menjadi lebih baik lagi, beberapa di antaranya:

    1. Kemampuan dalam Berbicara

    Terkenal sebagai juru bicara dari Nabi Musa As, terdapat latar belakang bahwa Nabi Harun AS memiliki kemampuan seni berbicara yang bagus. Alasan lain kepada dipilih sebagai juru bicara, karena adanya sebuah permasalahan pada Musa AS.

    Tercatat dalam sejarah bahwa Nabi Musa AS pada zaman dahulu diuji oleh FIraun, dan beliau memilih untuk memakan bara api. Pemilihan Harun sebagai juru bicara pun tertuang di dalam Al-Qur’an ayat 29-32.

    وَاجْعَلْ لِّيْ وَزِيْرًا مِّنْ اَهْلِيْ ۙ

    Artinya:

    “dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (QS. Taha: 29)”.

    هٰرُوْنَ اَخِى ۙ

    Artinya:

    “(yaitu) Harun, saudaraku, (QS. Taha: 30)”

    اشْدُدْ بِهٖٓ اَزْرِيْ ۙ

    Artinya:

    “teguhkanlah kekuatanku dengan (adanya) dia, (QS. Taha: 31)”

    وَاَشْرِكْهُ فِيْٓ اَمْرِيْ ۙ

    Artinya:

    “dan jadikanlah dia teman dalam urusanku, (QS. Taha: 32).”

    Karena kelihaian Nabi Harun dalam berkomunikasi, membuat Nabi Musa As lebih mudah dalam menyampaikan dan menegakkan agama Allah SWT.

    2. Memiliki Janggut dengan Dua Warna

    Jika sebelumnya sering kita jumpai seseorang dalam keadaan sepuh memiliki janggut. Maka, kali ini akan berbeda dari janggut pada umumnya. Sebab, Nabi Harun AS memiliki janggut dengan dua warna.

    Warna dari janggut Nabi Harun AS ini adalah hitam dan putih. Namun, tidak seperti mukjizat lainnya, tetapi Nabi Musa mendapatkan keajaiban ini ketika beliau melakukan perjalanan untuk mengambil Kitab Taurat selama 40 hari 40 malam.

    3. Mendapat Tanggung Jawab untuk Melindungi Bani Israel

    Setelah keluar dari negara Mesir, bukan berarti kehidupan berjalan dengan baik-baik saja. Banyak hambatan lain yang dialami oleh Kaum Bani Israel. Utamanya ketika ditinggal Nabi Musa AS untuk mengambil Kitab Taurat.

    Pada saat itu, Nabi Harun AS mendapatkan kepercayaan untuk melindungi Bani Israel. Tetapi sepeninggal Nabi Musa AS, justru seluruh pengikutnya kembali menyembah berhala dan hal itu membuat Musa AS sangat marah besar.

    4. Pohon Bergerak

    Mukjizat lain dari Nabi Harun AS adalah bisa melihat pohon bergerak di atas bukit yang belum pernah ditemukannya di mana pun. Pohon ini Nabi Harun AS dapatkan ketika sedang mendaki gunung atas perintah Allah SWT.

    Ketika melihat pohon tersebut, ia merasa bahwa di bawah pepohonan tersebut adalah sebuah bangunan rumah. Terlebih munculnya beberapa aroma wangi yang muncul. Hal ini membuat Nabi Harun AS ingin sekali tidur di sana.

    Tidak menunggu lama, Nabi Harun AS langsung saja tertidur di dapur. Sesaat setelah itu, Malaikat Izrail langsung kembali begitu saja. Keberkahan nikmat yang diajarkan oleh Rasulullah SAW ini tidak boleh diabaikan begitu saja.

    Nah, itulah beberapa informasi mengenai kisah Nabi Harun AS yang dapat kita jadikan pelajaran dan ambil hikmahnya. Pastikan kita semua mengimani setiap Waliyullah yang dikirimkan untuk memperbaiki akhlak manusia.

  • Kisah Nabi Syuaib AS dan Mukjizat yang Diberikan Allah SWT 

    Kisah Nabi Syuaib AS dan Mukjizat yang Diberikan Allah SWT 

    Sebagai umat muslim, tentunya penting untuk mengetahui kisah para nabi dan rasul. Salah satu kisah nabi yang bisa memberi teladan yang baik bagi kita adalah kisah Nabi Syuaib. Berikut informasi selengkapnya.

    Allah SWT mengutus Nabi Syuaib AS untuk kaum Madyan agar mereka kembali ke jalan yang benar. Namun, perjalanan dakwah Nabi Syuaib untuk menyampaikan kebaikan tak mudah, banyak sekali rintangan.

    Berikut ini adalah penjelasan tentang kisah perjalanan hidup Nabi Syuaib AS dan mukjizat yang diberikan Allah SWT. Yuk, simak informasinya di bawah ini.

    Tentang Nabi Syuaib AS

    Nabi Syuaib AS adalah salah satu nabi yang mengajarkan terkait moral dan etika serta memberikan peringatan kepada umatnya untuk mengikuti ajaran Allah SWT.

    Beliau diutus oleh Allah SWT kepada suatu kaum yang berada di wilayah Madyan. Kemampuan berdakwahnya membuat beliau diberi julukan banyak orang kala itu sebagai juru pidato.

    Nabi yang berasal dari bangsa Arab ini juga memiliki sifat mulia, serta dermawan, dan ramah. Tidak heran, jika beliau sangat dikenal di kalangan kaum Madyan.

    Nabi Syuaib AS berasal dari keturunan Syu’aib bin Maikil bin Yasyjub bin Madyan. Ibunya adalah putri dari Nabi Luth AS. Kemudian, Allah mengutus Syuaib sebagai nabi untuk kalangan penduduk kaum Madyan.

    Dalam kisah Nabi Syuaib pada masa masih kecil, beliau selalu berusaha berbuat baik dan menjaga hatinya agar tidak berbuat buruk. Sifat terpuji ini jarang ada pada anak seusianya dan bisa terbawa hingga dewasa.

    Beliau juga tidak segan untuk membantu orang kesusahan dan selalu menyapa terlebih dahulu orang di sekitarnya. Hal ini yang membuat orang-orang atau kaum Madyan senang dan bahagia dengan Nabi Syuaib AS.

    Allah mengutus Nabi Syuaib juga untuk mengajak kaum Madyan yang kafir agar kembali ke jalan yang benar. Namun, perjalanan dakwahnya penuh rintangan. Apa saja? Yuk, ketahui informasi lengkapnya di bawah ini!

    Kisah Nabi Syuaib AS

    Nabi Syu’aib AS adalah keturunan asli kaum Madyan dan punya sifat serta perilaku yang baik. Hal ini serupa dengan para nabi yang punya banyak sifat terpuji. Nabi Syu’aib AS sendiri diyakini lahir sekitar tahun 1600 SM.

    Jika penasaran dengan kisah hidup Nabi Syuaib AS, maka bisa simak informasi yang akan disampaikan di bawah ini. Hal ini tentunya bisa menjadi pelajaran bagi kita sebagai umat manusia. Yuk, simak hingga akhir!

    1. Kaum Madyan dalam Berdagang

    Kaum Madyan adalah suku bangsa Arab yang terkenal dengan kemampuan dalam berdagang dan mengembala hewan. Kaum ini berada di daerah pinggiran negeri Syam yang saat ini dikenal dengan Suriah.

    Kelebihan Madyan ini memiliki tanah yang subur sehingga aneka tumbuhan bisa tumbuh di daerah ini. Kondisi tersebut membuat perekonomian tercukupi. Namun, kenikmatan ini tidak membuat suku ini lebih baik.

    Berdasarkan dari beberapa sumber tentang kisah Nabi Syuaib, bahwa penduduk Madyan terkenal dengan perilaku buruk dan juga menyembah pohon. Selain itu, mereka juga tidak bersyukur atas nikmat Allah berikan.

    Salah satu perilaku buruknya seperti membuat kecurangan pada timbangan barang dan mengurangi hak orang lain. Hal ini yang membuat kaum Madyan yang miskin semakin miskin, serta yang kaya semakin kaya.

    Kaum Madyan seringkali melakukan manipulasi timbangan pada barang dagangan dengan menempelkan batu pada timbangan. Hal ini agar pembeli percaya berat barang sesuai dengan barang yang mereka beli.

    Allah SWT mengutus Nabi Syu’aib AS untuk mengingatkan para kaumnya tentang kebaikan dan bersyukur atas limpahan rezeki. Selain itu, beliau mengajak mereka beribadah kepada Allah dan melarang berbuat syirik.

    Nabi Syuaib pun menasehati mereka dengan mengatakan bahwa “Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu.”

    Kalimat ini merupakan peringatan untuk bertakwa agar terhindar dari siksa Allah. Caranya yakni dengan melaksanakan semua perintah-Nya sepanjang kemampuan kita, serta menjauhi semua larangan-Nya.

    Baca juga: 15 Arti Mimpi Digigit Ular Menurut Islam, Apa Saja?

    2. Kaum Madyan Membangkang

    Allah SWT mengutus Nabi Syuaib AS untuk mengajak penduduk di negeri Madyan untuk menjauhi dan meninggalkan perbuatan buruk yang merugikan orang lain.

    Selain itu, nabi mengajak mereka untuk tidak menyembah pohon tetapi menyembah Allah SWT. Namun, mereka menolak ajakan Nabi Syuaib AS. Bahkan setiap dakwah dan ajakan nabi, selalu mereka ejek dan hina.

    Tidak hanya itu, mereka pun menganggap nabi sebagai individu yang lemah jika dibandingkan dengan kaum Madyan. Nabi juga sering kali mendapat ancaman dari kaumnya yang membangkang.

    Meski demikian, Nabi Syuaib tetap bersabar dan berusaha untuk berdakwah dan mengajak mereka beribadah kepada Allah SWT. Namun, mereka tetap susah untuk kembali ke jalan yang benar sesuai ajaran nabi.

    “‘Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah kami bertawakkal. Tuhan kami putuskanlah antara kami dan antara kaum kami dengan haq (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.” (QS al-A’raf: 88-89).

    Pada kisah Nabi Syuaib yang mengajak kaum Madyan untuk beribadah kepada Allah tetapi mereka menolak. Kemudian, nabi memberitahukan mereka bahwa akan ada azab dari Allah atas perbuatan buruk mereka.

    Mendengar perkataan Nabi Syuaib AS, kaum Madyan pun merasa tidak takut dan bahkan kembali mengancam nabi. Hingga pada akhirnya nabi berdoa kepada Allah SWT dan azab turun pada kaum Madyan yang kafir.

    Lalu, azab apa yang menimpa kaum Madyan? Bagaimana kisah kehidupan Nabi Syuaib dan pengikutnya setelah azab dari Allah SWT turunkan?

    3. Kisah Azab Kaum Madyan

    Berbagai macam dakwah dan ajakan telah nabi lakukan supaya penduduk Madyan kembali ke jalan yang benar, tetapi mereka tetap ingin menjadi orang kafir.

    Nabi Syuaib AS pun berdoa kepada Allah SWT agar penduduk Madyan diberi azab. Kemudian, Allah mengabulkan doa itu dan menyuruh nabi beserta orang beriman agar keluar dari negeri kaum kafir itu.

    Berdasarkan dari kisah Nabi Syuaib tentang azab bagi kaum Madyan yang kafir, Allah menurunkan cuaca sangat panas dan kekeringan yang membuat tumbuhan mati. Tanah yang subur menjadi kekeringan.

    Selain itu, Allah SWt juga memberikan gempa bumi dan suara petir halilintar yang membuat kaum kafir di daerah Madyan mati. Hal ini seperti bencana yang terjadi saat datangnya hari kiamat pada azab kaum Madyan.

    Dalam Al-Quran menerangkan bahwa penduduk Madyan mati bergelimpangan di rumah mereka, seolah tempat tersebut belum pernah mereka tempati.

    Selain itu, menjelaskan pula bahwa kehancuran kaum Madyan sebagaimana terjadi pada kaum Tsamud. Meski dalam Al-Quran tidak menjelaskan mengenai kehidupan setelahnya yang terjadi pada Nabi Syuaib AS.

    “Ketika keputusan Kami datang, Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat Kami. Sedang orang zalim dibinasakan oleh suara yang mengguntur, sehingga mati bergelimpangan di rumahnya, seolah-olah belum pernah tinggal di tempat itu. Ingatlah, binasa penduduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud (juga) telah binasa.” (QS Hud: 94-95)

    Mukjizat Nabi Syuaib AS

    Nabi Syuaib AS adalah salah satu dari empat nabi yang lahir di bangsa Arab sama dengan Nabi Shaleh AS, Nabi Hud AS, dan Nabi Muhammad SAW.

    Selain memiliki wajah tampan, nabi dari kaum Madyan ini juga memiliki kemampuan dalam berdakwah dan juga memiliki sifat dermawan. Dalam kisah Nabi Syuaib, adapun mukjizatnya adalah sebagai berikut:

    1. Berjuluk Juru Bicara Para Nabi

    Nabi Syuaib diberikan mukjizat oleh Allah SWT berupa kefasihan dalam berbicara atau berpidato. Kemampuannya ini membuat nabi yang diutus untuk kaum Madyan ini disebut sebagai juru bicara di antara para nabi.

    Allah SWT memberi tugas kepada Nabi Syuaib untuk menyebarkan dakwah. Beliau dengan gigih memberi nasihat dan mengajak kaum Madyan untuk tidak menyembah pohon, namun melainkan beribadah kepada Allah.

    Kaum Madyan yang terdiri dari para pedagang ini memang suka berbuat curang dalam penimbangan barang dagangan. Nabi pun mengajak mereka untuk kembali ke jalan yang benar agar tidak terjerumus dalam keburukan.

    2. Rasa Cinta Kepada Allah SWT

    Nabi Syuaib memiliki sifat yang baik dari sejak kecil sehingga ia sangat disukai oleh penduduk Madyan. Beliau pun merupakan sosok yang dermawan dan juga suka membantu penduduk yang sedang dalam kesulitan.

    Selain itu, dalam lubuk hatinya selalu tersemat rasa kasih dan cinta yang begitu sangat besar kepada Allah SWT. Bahkan, ia sering meneteskan air matanya karena kegentaran akan siksaan yang pedih dari Allah SWT.

    Dalam aktivitasnya berdakwah dalam mengajarkan kebaikan, nabi tidak pernah sekalipun melupakan kehadiran Allah SWT. Meski dalam dakwahnya, beliau selalu mendapat ejekan dan hinaan dari kaum Madyan yang kafir.

    3. Selamat dari Azab Allah SWT

    Kaum Madyan yang menolak keras ajaran Nabi Syuaib AS hingga berada dalam kesesatan, kemudian mendapat azab yang pedih dari Allah SWT. Hal ini karena doa dari nabi untuk mereka yang menolak jalan kebenaran.

    Sikap keras dan kuat kaum Madyan yang menolak ajakan nabi, bahkan mengancam akan mengusir nabi dan pengikutnya jika tidak menyembah berhala. Hal ini yang membuat azab datang kepada mereka yang kafir.

    Perilaku mereka yang sudah melewati batas dalam penghinaan terhadap Tuhan, kemudian nabi mengajukan permohonan memberi azab pada mereka. Sementara nabi dan pengikutnya selamat dari azab Allah SWT.

    Itulah beberapa mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi Syuaib yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Hal ini sebagai bukti bahwa azab dari Allah itu nyata sehingga tidak boleh untuk meremehkannya.

    Hikmah dari Kisah Nabi Syuaib

    Dari kisah Nabi Syuaib yang telah diuraikan di atas, kita bisa ambil pelajaran dan hikmahnya. Sebagai umat manusia, senantiasa mengikuti ajaran Allah SWT dengan menjalankan perintahNya, dan menjauhi larangan-Nya.

    Selain itu, kita sebagai umat muslim senantiasa berbuat baik kepada sesama dan hindari keburukan yang bisa mendatangkan kerugian bagi diri sendiri dan orang lain. 

    Berikut ini terdapat beberapa hikmah dan pelajaran yang bisa menjadi pedoman hidup kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik, yaitu antara lain:

    1. Pentingnya Kejujuran

    Kisah dari Nabi Syuaib memberikan pelajaran bahwa sebagai umat manusia harus selalu bersikap jujur dan adil. Hindari hal yang menjerumuskan kepada keburukan dan kerugian bagi diri sendiri dan orang lain.

    Salah satu contoh yang merugikan dari kisah ini adalah mengurangi timbangan dan takaran. Hal ini secara khusus bisa merugikan dan sebagai kejahatan yang pantas menerima azab Allah SWT di dunia dan akhirat.

    2. Sikap Sabar dan Bermoral

    Dari kisah Nabi Syuaib bisa belajar pentingnya sikap bersabar dan memiliki moral yang baik. Beliau selalu teguh dan bersabar dalam menghadapi ancaman dan juga tantangan dalam dakwah ke penduduk suku Madyan.

    Selain itu, beliau juga mengajarkan kita sebagai manusia untuk punya moral dan akhlak baik. Beliau juga suka membantu yang sedang kesusahan dan membutuhkan bantuan bagi yang sedang kondisi kesulitan.

    3. Kegiatan Bermuamalah

    Pada dasarnya, setiap umat manusia dalam kegiatan bermuamalah yang berkaitan dengan harta punya ketentuan hukum syariat. Oleh karena itu, penting mengetahui apa yang boleh dan yang dilarang dalam syariat.

    Siapapun yang bermuamalah melalui cara yang baik atau buruk, sama kondisinya dengan orang yang menganggap amalan dan bebas tidak terikat aturan syariat, tapi tidak ada bedanya dengan kekafiran dan keimanan.

    4. Selalu Berbuat Kebaikan 

    Ketika kita ingin memberi nasihat kepada orang lain, maka kita harus terlebih dahulu berbuat kebaikan. Hal ini agar sempurna penerimaan manusia terhadap nasihat yang kita berikan tanpa ada keraguan di dalamnya.

    Ketika kita melarang suatu kemungkaran, maka sebaiknya kita menjadi orang yang pertama meninggalkan dan menjauhinya. Artinya, jika kita ingin membuat orang lain menjadi baik, maka perbaiki dulu diri kita sendiri. 

    5. Mengikuti Ajaran Nabi

    Kisah Nabi Syuaib membuka hati kita bahwa para nabi diutus oleh Allah SWT untuk membawa kebaikan dan memperbaiki hal yang buruk. Seluruh kebaikan dan perbaikan dalam agama adalah ajaran para nabi.

    Setiap nabi memiliki tugasnya masing-masing dengan tujuan utamanya adalah untuk kebaikan dan mencegah terjadinya hal yang buruk. Oleh karena itu, apa yang diajarkan nabi harus kita ikuti dan amalkan.

    6. Berusaha dan Tawakal

    Pada dasarnya, setiap manusia yang ingin berbuat kebaikan dan memperbaiki diri harus dengan sungguh-sungguh. Dengan cara berusaha dan tawakal untuk menjadi pribadi yang baik dan bersikap baik terhadap sesama.

    Ketika menemui kesulitan, maka hanyalah memohon kepada Allah SWT. Jangan pernah meminta atau memohon kepada yang lain, hal ini bisa membuat kesyirikan dan kekafiran sebagaimana kisah dari nabi Syuaib ini.

    7. Santun dan Akhlak Baik

    Sebagai manusia, kita harus memiliki sifat santun, akhlak baik dan kesanggupan dalam membalas perkataan atau perbuatan buruk dengan kebaikan. Jangan pernah mencela dan menghina orang yang berbuat buruk.

    Seperti dalam kisah dakwah Nabi Syuaib yang mendapatkan penolakan dan ejekan dari kaum Madyan, namun beliau tetap sabar dan selalu berbuat baik. Meski pada akhirnya, azab Allah SWT datang kepada mereka.

    Pada dasarnya, setiap kisah nabi dan rasul memberikan kita pelajaran serta hikmah yang baik bagi kehidupan di dunia dan di akhirat. Setiap tantangan dan rintangan bisa kita lalui dengan baik atas pertolongan Allah.

    Oleh karena itu, kita sebagai umat muslim sudah sewajibnya berbuat baik kepada sesama dan menjauhi perbuatan buruk yang bisa merugikan orang lain.

    Demikian penjelasan tentang kisah Nabi Syuaib dan mukjizat yang beliau terima untuk menghadapi kaum Madyan. Meskipun perjalanan dakwah beliau berat, namun tetap sabar hingga turun azan bagi mereka yang kafir.

  • 4 Keutamaan Bulan Dzulqa’dah yang Perlu Diketahui

    4 Keutamaan Bulan Dzulqa’dah yang Perlu Diketahui

    Islam datang dengan banyak sekali keberkahan dan amalan, satu di antaranya yakni ada bulan-bulan yang Allah SWT tetapkan sebagai bulan yang istimewa. Mungkin sebagian dari kita pernah mendengar bulan Dzulqa’dah, namun luput untuk mengetahui betapa banyak keutamaan bulan Dzulqa’dah tersebut.

    Yang membuat bulan ini menjadi istimewa adalah dijadikannya masa tiga puluh malam yang dijanjikan oleh Allah kepada Nabi Musa untuk bertemu dengan-Nya.

    Untuk menyambutnya, kita perlu mengenal dan mengetahui beberapa amalan yang dianjurkan dari bulan ini. Maka dari itu, yuk cari tahu apa saja amalan serta keutamaan bulan Dzulqa’dah yang harus kita ketahui.

    Mengenal Bulan Dzulqa’dah

    Sebelum kita membahas mengenai keutamaan bulan Azulqa’dah, penting bagi seorang muslim untuk mengenal bulan Dzulqa’dah itu sendiri.

    Bulan Dzulqa’dah merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab yakni qu’ud yang bermakna duduk. Maksud dari duduk. Dzulqa’dah juga merupakan bulan k-11 dalam kalender Hijriah, bulan ini juga seringkali disebut sebagai dengan Al’Qadag maupun Al-Qidah.

    Dinamakan demikian karena mereka pada zaman dahulu para masyarakat Arab akan diam di tempatnya dengan duduk atau beristirahat, karena haram bagi mereka untuk melakukan bepergian dan juga berperang. 

    Bulan ini juga termasuk bulan al-Asyhur al-Hurum yakni bulan yang dimuliakan atau bisa juga disebut sebagai bulan haram. Dimana bulan ini sekaligus menjadi permulaan dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam, yakni Dzulhijah, Muharam, Rajab dan tentu saja Dzulqa’dah.

    Hal penting lain yang membuat bulan Dzulqa’dah istimewa yakni masa tiga puluh malam yang dijanjikan Allah SWT kepada Nabi Musa untuk bertemu dengan-Nya. Sedangkan sepuluh malam sisanya terjadi pada bulan Dzulhijah.

    Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam QS. A’raf ayat 142 yang berbunyi:

    ‎وَوَاعَدْنَا مُوسَى ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً وَقَالَ مُوسَى لِأَخِيهِ هَارُونَ اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي وَأَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِينَ

    Artinya:  “Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.”

    Masih banyak sekali keutamaan dan keistimewaan dari bulan ini yang perlu diketahui agar dapat ikut serta dalam mengerjakan amalan-amalan yang dianjurkan dengan khusyu dan niat karena Allah Ta’ala.

    Baca juga: Tata Cara Sholat Gerhana Bulan dan Matahari Sesuai Sunnah

    Keutamaan-keutamaan Bulan Dzulqa’dah

    Di antara keutamaan dan keistimewaan bulan Dzulqa’dah adalah sebagai berikut:

    1. Salah satu dari 4 Bulan yang Dimuliakan

    Keutamaan bulan Dzulqa’dah yang pertama ialah salah satu di antara empat bulan yang dimuliakan (asyhurul hurum), bahkan bulan Dzulqa’dah menjadi permulaannya. Tiga bulan lainnya adalah Dzulhijah, Muharram dan Rajab.

    Seperti yang telah disinggung sebelumnya, di bulan ini sebagian besar orang Arab pada masa lalu tidak melakukan perang, sehingga bulan ini dianggap sangat mulia.

    Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an surat At-Taubah (9) ayat 36 yang berbunyi:

    إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ (سورة التوبة: ٣٦)

    Artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, sebagaimana dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan yang diagungkan (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab)” (QS at-Taubah: 36).

    2. Termasuk ke Dalam 3 Bulan Sah Haji

    Selain termasuk ke dalam bulan yang mulia, bulan Dzulqa’dah juga menjadi salah satu di antara tiga bulan haji, yaitu Syawal, Zulkaidah, dan sepuluh hari pertama bulan Zulhijah.

     Tidak sah ihram untuk haji pada selain waktu tersebut. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 197 yang berbunyi:

    اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ (البقرة: ١٩٧)

    Artinya: “Musim haji itu pada bulan-bulan yang telah dimaklumi (ditentukan)” (QS al-Baqarah: 197).

    3. Waktu Nabi Muhammad SAW Melaksanakan Ibadah Umrah

    Rasulullah SAW tidak pernah melakukan umrah kecuali pada bulan Dzulqa’dah.  Sahabat Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadits berikut.

    اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَرْبَعَ عُمَرٍ، كُلَّهُنَّ فِي ذِي القَعْدَةِ، إِلَّا الَّتِي كَانَتْ مَعَ حَجَّتِهِ، عُمْرَةً مِنَ الحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ العَامِ المُقْبِلِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ الجِعْرَانَةِ، حَيْثُ قَسَمَ غَنَائِمَ حُنَيْنٍ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مَعَ حَجَّتِهِ (رواه البخاري)

    Artinya: “Rasulullah saw berumrah sebanyak empat kali, semuanya pada bulan Dzulqa’dah kecuali umrah yang dilaksanakan bersama haji beliau, yaitu satu umrah dari Hudaibiyah, satu umrah pada tahun berikutnya, satu umrah dari Ji’ranah ketika membagikan rampasan perang Hunain dan satu lagi umrah bersama haji” (HR al-Bukhari).

    4. Menjadi 30 Malam yang Disebut Allah SWT

    Keutamaan bulan Zulkaidah yang terakhir, yakni merupakan 30 malam yang disebutkan oleh Allah SWT. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT yang berbunyi:

    وَوَاعَدْنَا مُوسَى ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً، وَقَالَ مُوسَى لِأَخِيهِ هَارُونَ اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي وَأَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِينَ (سورة الأعراف: ١٤٢)

    Artinya: “Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa untuk memberikan kepadanya kitab Taurat setelah berlalu tiga puluh malam (bulan Dzulqa’dah), dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh malam lagi (sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya menjadi empat puluh malam. Dan Musa berkata kepada saudaranya, yaitu Harun, “Gantikanlah aku dalam memimpin kaumku, dan perbaikilah dirimu dan kaummu, dan janganlah engkau mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS al-A’raf: 142).

    Baca juga: Tata Cara Sholat Nisfu Syaban: Niat, Doa, dan Waktu Pelaksanaannya

    Amalan-amalan yang Dianjurkan Pada Bulan Dzulqa’dah

    Ada beberapa amalan yang sayang dilewatkan pada bulan ini, ketika kita sudah mengetahui keutamaan bulan Dzulqa’dah yang istimewa di hadapan Allah SWT. Sebab hal tersebut, mari ketahui amalan-amalan berikut ini sebagai tabungan di akherat kelak.

    1. Berpuasa

    Satu dari amalan yang dianjurkan pada bulan Dzulqa’dah yakni berpuasa. Dijelaskan oleh Abu Bakar Usman ad-Dimiyathy dalam karyanya Ianah at-Thalibin berkata bahwa puasa yang paling utama setelah puasa di bulan Ramadhan adalah puasa pada bulan-bulan haram.

    Hal ini berdasarkan hadis Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda:

    صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ بَعْدَهُ وَصُمْ أَشْهُرَ الْحُرُ

    “Puasalah pada bulan Ramadan, tiga hari setelahnya, dan pada bulan-bulan haram.” (HR Ibnu Majah)

    2. Melaksanakan Ibadah Haji atau Umrah

    Amalan lainnya yakni mengerjakan haji maupun umrah apabila mampu.

    Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa bulan dzulqa’dah menjadi bulan sah ibadah Haji dan menjadi bulan Nabi Muhammad SAW selalu melaksanakan ibadah Umrah.

    3. Bersedekah

    Pada bulan Dzulqadah ini umat Islam dianjurkan banyak bersedekah dan tidak diperbolehkan berbuat zalim baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. 

    Sama seperti makna dari bulan Dzulqa’dah yakni bulan yang diharamkan untuk melakukan pertikaian, pertengkaran dan juga peperangan.

    4. Berdoa dan Zikir

    Amalan terakhir yang bisa dilakukan yakni berdoa dan berdzikir. Meski berdoa atau berdzikir dapat dilakukan kapanpun, namun di bulan Dzulqa’dah kita dapat merasakan banyak sekali keutamaannya.

    Ini karena, Apabila seorang muslim berdoa dan berdzikir pada malam ke-15 dzulqa’dah, maka Allah SWT akan mengabulkan doa orang-orang yang bersujud dan meminta pada malan ini.

    Bagaimana? Apakah informasi ini membantumu untuk mengenal sedikit banyaknya mengenai keutamaan bulan Dzulqa’dah?.Kalau sudah memahaminya, yuk sama-sama kerjakan amalan di bulan ini untuk dapatkan tabungan pahal yang melimpah. Insyaallah.

  • Kisah Nabi Khidir yang Pernah Menjadi Guru Nabi Musa AS

    Kisah Nabi Khidir yang Pernah Menjadi Guru Nabi Musa AS

    Sebagai seorang muslim, memahami dan meneladani kisah para nabi dan rasul adalah hal yang sangat penting. Diantara dari berbagai kisah tersebut yang penting untuk kita ketahui adalah mengenai kisah Nabi Khidir. 

    Apalagi selama ini masih banyak pro kontra dan perbedaan pendapat yang membahas mengenai kisah Nabi Khidir. 

    Salah satunya adalah polemik apakah Nabi Khidir masih hidup atau tidak. Tentu untuk menjawab hal tersebut butuh ilmu yang benar. 

    Lantas, siapa sebenarnya Nabi Khidir itu? Dan bagaimana hubungan guru dan murid antara Nabi Khidir dan Nabi Musa AS? Mari kita bahas kisah Nabi Khidir secara tuntas pada artikel berikut ini. 

    Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa AS: Guru dan Murid

    Perjalanan Nabi Khidir dan Nabi Musa sebagai guru dan murid terbilang panjang. Kisah Nabi Khidir ini dapat kita cermati dari riwayat Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu. 

    Dalam riwayat tersebut beliau menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: 

    “Pada suatu hari Musa pernah berkhutbah di hadapan Bani Isra’il, maka ada diantara mereka yang bertanya: “Siapakah orang yang paling berilmu?”. Kemudian Musa menjawab Saya. Maka Allah SWT menegurnya karena Musa tidak memiliki pengetahuan dalam masalah ini”. 

    Dari kejadian tersebut kemudian Allah SWT menurunkan sebuah wahyu kepada Nabi musa, yang berbunyi: 

    “Sesungguhnya Aku mempunyai seorang hamba di pertemuan antara dua buah lautan dan ia lebih berilmu dari padamu. Musa bertanya: “Wahai Rabbku, bagaimana saya bisa mendatanginya?”. Maka dikatakan kepadanya : “Bawalah bekal ikan di dalam wadah bersamamu, jika kamu kehilangan ikanmu itu, maka disanalah orang itu berada”. 

    Setelah mendengar wahyu tersebut, kemudian Nabi Musa pun berangkat bersama dengan pemuda yang bernama Yusya bin Nun yang merupakan muridnya. Sebagai bekal, mereka berdua tidak lupa membawa ikan. 

    Di perjalanan, mereka akhirnya sampai di sebuah padang pasir dan memutuskan untuk beristirahat sejenak dan menyandarkan kepala mereka. Tanpa sadar, mereka akhirnya tertidur. Ikan yang ada di dalam bekal tersebut hidup dan meloncat keluar. 

    Ikan tersebut terus berjalan menggelepar hingga sampai ke tepi pantai. Bagi Nabi Musa dan Yusya (muridnya), kejadian tersebut sungguh aneh. Keduanya pun terbangun dan akhirnya melanjutkan perjalanan yang masih ada. 

    Ketika pagi tiba, Nabi Musa AS berkata kepada Yusya dan dapat kita lihat pada QS al-Kahfi seperti berikut:

    قال الله تعالى : ءَاتِنَا غَدَآءَنَا لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا – سورة الكهف : 62

    Artinya: 

    “Berkatalah Musa kepada muridnya: “Bawalah kemari makanan kita; Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini“. (al-Kahfi/18: 62). 

    Setelah itu, Nabi Musa pun akhirnya baru sadar bahwa beliau sudah melewati tempat yang diperintahkan oleh Allah SWT. Hal ini dapat kita lihat pada QS al-Kahfi 63 hingga 64. 

    قال الله تعالى :  قَالَ أَرَءَيۡتَ إِذۡ أَوَيۡنَآ إِلَى ٱلصَّخۡرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ ٱلۡحُوتَ –  سورة الكهف  :63 

    Artinya:

    “Muridnya menjawab: “Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, Maka Sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu”. (al-Kahfi/18: 63).

    Dari sinilah Nabi Musa menyadari bahwa lokasi tadi adalah tempat yang mereka cari. Dari sinilah Nabi Musa dan Yusya akhirnya kembali ke tempat semula. 

    قال الله تعالى : قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبۡغِۚ فَٱرۡتَدَّا عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصٗا – سورة الكهف64  

    Artinya: 

    “Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari”. lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula”.  (al-Kahfi/18: 64). 

    Baca juga: Bacaan Doa Nabi Yunus A.S: Manfaat, Waktu dan Keutamaannyaa

    1. Bertemu Nabi Khidir 

    Setelah kejadian tersebut, Nabi Musa dan Yusya pada akhirnya kembali menyusuri jalan agar dapat kembali ke padang pasir semula. Pada saat itulah kemudian keduanya melihat bahwa ada seseorang yang membentangkan kain bajunya.

    Melihatnya, Nabi Musa AS pun memberi salam. Ia bernama Khidir, sesungguhnya saya di negerimu ini menjawab salam, jawabanya. Kemudian Nabi Musa melanjutkan dengan memperkenalkan diri, Saya adalah Musa. 

    Setelah itu Nabi Khidir meyakinkan: “Musa Bani Isra’il?” Ya jawabanya. Kemudian Nabi Musa mengatakan kepada Nabi Khidir bahwa Nabi Musa ingin mendapatkan ilmu dari Nabi Khidir. Hal ini dapat kita lihat dari QS al-Kahfi 66-67, seperti berikut:

    قال الله تعالى :  قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا . قَالَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا – سورة الكهف :  66- 67

    Artinya: 

    “Musa berkata kepada Khidir: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku”. (al-Kahfi/18: 66-67).

    Mendengar hal tersebut, kemudian Nabi Khidir pun berkata:

    “Wahai Musa! Sesungguhnya saya mempunya ilmu dari ilmunya Allah SWT yang telah Dia ajarkan kepadaku dan kamu tidak mengetahuinya. Begitu juga sesungguhnya engkau mempunyai ilmu yang telah Allah SWT berikan, aku juga tidak mengetahuinya.”

    Kemudian Nabi Musa AS kembali mengatakan kepada Nabi Khidir: 

    قال الله تعالى : قَالَ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ صَابِرًا وَّلَآ اَعْصِيْ لَكَ اَمْرًا – سورة الكهف  69  

    Artinya: 

    “Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan apapun”. (al-Kahfi/18:69).

    Pada akhirnya, Nabi Khidir pun akhirnya menyepakati dan berangkat melanjutkan perjalanan bersama dengan Nabi Musa AS. Mereka berjalan menyusuri tepi lautan dan bertemu sebuah kapal yang sedang lewat. 

    Nabi Khidir berbicara kepada mereka agar mau membawa mereka. Karena penghuni kapal memang mengenal Nabi Khidir, akhirnya mereka bisa naik kapal tanpa harus membayar biaya sedikitpun. 

    2. Kisah Nabi Khidir: Perjalanan dan Kesabaran 

    Ketika berada di atas kapal, ada seekor burung yang datang kemudian menukik dan mencelupkan paruhnya ke dalam lautan sebanyak dua atau tiga kali. Nabi Khidir kemudian berkata kepada Nabi Musa AS:

    “Wahai Musa! Ibarat sebuah lautan ini, ilmunya Allah SWT dibanding dengan ilmu yang diberikan kepadaku dan padamu tak ubahnya seperti setetes atau dua tetes yang keluar dari paruh burung ini”. 

    Selanjutnya Nabi Khidir secara sengaja membuat lubang pada salah satu sisi kapal yang mereka sedang naiki. Tentu hal ini membuat Nabi Musa menegur Nabi Khidir karena hal tersebut bisa membahayakan dan membuat kapal tenggelam. 

    “Mereka telah membawa kita tanpa meminta bayaran, lantas kamu melubangi kapalnya. Bisa-bisa kita semua tenggelam ke laut”. Kemudian Nabi Khidir pun menjawab Nabi Musa AS dengan tenang:

    قال الله تعالى : قَالَ أَلَمۡ أَقُلۡ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا . قَالَ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ ..– سورة الكهف: 72-73

    Artinya: 

    “Dia (Khidir) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku”. Musa menjawab: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku”.  (al-Kahfi/18: 72-73).

    Pada kejadian pertama ini Nabi Musa lupa dan mempertanyakan apa yang dilakukan oleh Nabi Khidir. Kemudian mereka tetap melanjutkan perjalanan seperti biasa. 

    Akan tetapi, kejadian selanjutnya yang membuat Nabi Musa bertanya-tanya kembali terjadi. Di tengah perjalanan Nabi Khidir menjumpai anak kecil dan kemudian mengambil kepalanya dengan mencabut sehingga anak itu mati. 

    Karena tidak tahan dengan hal tersebut, Nabi Musa pun langsung bertanya kepada Nabi Khidir:

    قال الله تعالى : قَالَ أَقَتَلۡتَ نَفۡسٗا زَكِيَّةَۢ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡ‍ٔٗا نُّكۡرٗا ۞ قَالَ أَلَمۡ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا  – سورة الكهف : 74-75

    Artinya:

    “Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar”. Khidir menjawab: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?”  [al-Kahfi/18: 74-75].

    Setelah kejadian tersebut keduanya tetap melanjutkan perjalanan dan sampai ke suatu negeri. 

    قال الله تعالى : فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَيَآ أَهۡلَ قَرۡيَةٍ ٱسۡتَطۡعَمَآ أَهۡلَهَا فَأَبَوۡاْ أَن يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارٗا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ فَأَقَامَهُۥۖ قَالَ لَوۡ شِئۡتَ لَتَّخَذۡتَ عَلَيۡهِ أَجۡرٗا – سورة الكهف  77

    Artinya: 

    “Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh”. (al-Kahfi/18: 77).

    Nabi Khidir kemudian mengucapkan dengan tangannya, tegaklah, lantas dinding tersebut berdiri tegak. Musa berkata padanya:

    قال الله تعالى : قَالَ لَوۡ شِئۡتَ لَتَّخَذۡتَ عَلَيۡهِ أَجۡرٗا . قَالَ هَٰذَا فِرَاقُ بَيۡنِي وَبَيۡنِكَۚ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأۡوِيلِ مَا لَمۡ تَسۡتَطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرًا – سورة الكهف :78 –77

    Artinya: 

    “Berkata Musa: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”. Khidir berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. (al-Kahfi/18: 77-78).

    Mengapa Nabi Khidir Boleh Tidak Ta’at Kepada Nabi Musa AS?

    Dari rentetan kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa AS yang sudah kita bahas pada bagian sebelumnya, mungkin muncul pertanyaan di benak kita. Mengapa pada saat itu Nabi Khidir boleh untuk tidak mentaati syariat dari Nabi Musa AS? 

    Dalam artian Nabi Khidir membunuh dan melubangi kapal sehingga berbahaya. Dimana jelas pada syariat yang Nabi Musa AS bawa, berbagai hal tersebut memiliki hukum yang jelas haram. 

    Untuk menjawab hal ini, perlu kita pahami dulu bahwa Nabi Khidir mendapatkan wahyu oleh Allah SWT berupa ilmu yang tidak diketahui oleh Nabi Musa AS. Hal ini kembali lagi bisa kita lihat dari QS al-Kahfi ayat 65:

    فَوَجَدَا عَبْداً مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْماً

    Artinya: 

    “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami” (QS. Al Kahfi: 65).

    Kemudian bisa kita lihat juga pada Majmu’ Fatawa, 27/49. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan: 

    إن موسى عليه السلام لم تكن دعوته عامة ولم يكن يجب على الخضر اتباع موسى عليهما السلام، بل قال الخضر لموسى إني على علم من الله علمنيه الله ما لا تعلمه وأنت على علم من الله علمكه الله لا أعلمه

    Artinya: 

    “Dakwah Musa alaihissalam tidak kepada seluruh manusia, dan Nabi Khidir termasuk yang tidak wajib untuk mengikuti syariat Nabi Musa ‘alaihissalam. Bahkan Nabi Khidir berkata kepada Nabi Musa: ‘Aku melakukan sesuatu berdasarkan ilmu yang diajarkan Allah kepadaku, yang engkau tidak tahu. Dan engkau melakukan sesuatu berdasarkan ilmu yang diajarkan Allah kepadamu, yang aku tidak tahu’ ‘ (Majmu’ Fatawa, 27/59).”

    Jadi dari penjelasan ini, bisa kita pahami bahwa syariat yang dibawa oleh Nabi Musa AS pada saat itu, tidak berlaku untuk seluruh manusia. Sangat berbeda dengan syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW yang berlaku untuk seluruh manusia.

    Artinya, Nabi Khidir diperkenankan atau diperbolehkan untuk tidak mengikuti syariat yang dibawa oleh Nabi Musa AS. 

    Apakah Nabi Khidir Masih Hidup? 

    Selama ini banyak sekali orang yang menganggap bahwa Nabi Khidir masih hidup sampai dengan saat ini dan menjadi penjaga di sungai-sungai atau pun lembah dan bisa menolong orang yang tersesat di jalan jika memanggilnya. 

    Untuk menjawab hal ini, perlu kita pahami bahwa menurut para ulama, Nabi Khidir telah wafat atau meninggal dunia sebelum Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW. Pendapat ulama ini berdasarkan firman Allah SWT dalam QS al Anbiya:

    وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ

    Artinya: 

    “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?“. (Al-Anbiya/21: 34).

    Selain itu, ada hadist yang menerangkan bahwa Nabi Khidir memang telah meninggal setelah Nabi Muhammad SAW wafat dengan jarak waktu yang sudah ditentukan. Nabi Muhammad pun bersabda mengenai hal ini:

    “Tidaklah kalian melihat pada malam kalian ini, bahwa sesungguhnya siapa yang umurnya (berkepala) seratus tahun tidak (tersisa) pada hari ini di atas permukaan bumi seorangpun”. [1]

    Jadi kesimpulannya, Nabi Khidir sudah meninggal atau wafat dan tidak bisa mendengar panggilan siapapun yang memanggilnya. Jika ada perkiraan bahwa ia masih hidup sampai sekarang, maka hal tersebut adalah masalah ghaib. 

    Sebagai seorang muslim, tentu hal ini harus kita sikapi seperti permasalahan ghaib yang lainnya. Tidak boleh bagi kita untuk berdoa kepada hal ghaib tersebut baik dalam keadaan senang maupun susah. 

    Nah sahabat Muslim sekalian, itulah penjelasan mengenai kisah Nabi Khidir yang pernah menjadi guru dari Nabi Musa AS. Sebagai muslim sudah sewajarnya kita memahami hal ini sehingga tidak ada kesalahan tafsir terhadap sosok Nabi Khidir. 

    Semoga kita senantiasa menjadi hamba Allah SWT yang tidak lelah menuntut ilmu termasuk memahami kisah Nabi Khidir. Dengan begitu, kita bisa terhindar dari kesalahan penafsiran atau syariat terhadap suatu apapun.

  • Meneladani Kisah Nabi Zakaria AS Melalui Ujian yang Diberikan Allah SWT

    Meneladani Kisah Nabi Zakaria AS Melalui Ujian yang Diberikan Allah SWT

    Dalam al-Qur’an, kisah Nabi Zakaria mengandung petunjuk-petunjuk berharga. Salah satu kisahnya yaitu keinginan Nabi Zakaria untuk memiliki anak. 

    Bukan hanya untuk kebahagiaan pribadinya, tetapi juga memastikan kelangsungan risalah kenabiannya melalui keturunannya. 

    Selain itu, Nabi Zakaria juga merasa prihatin dengan kondisi sosial masyarakatnya yang semakin menjauhi ajaran Allah. Karena alasan-alasan ini, Nabi Zakaria dengan tekun berdoa siang malam agar dikabulkan oleh Allah SWT.

    Nah, kisah ini bisa kita rangkum dalam perjalanan dan pengalaman spiritual Nabi Zakaria dengan berdasar pada ajaran Al-Qur’an.

    Kisah Nabi Zakaria dan Ujiannya

    Nabi Zakaria AS diutus Allah kepada kaum Bani Israil di Palestina. Bani Israil telah terjerumus dalam dosa-dosa besar seperti kezaliman, perbuatan jahat, dan perubahan agama yang dianut ajaran Nabi Musa AS. 

    Inti pesan dakwah Nabi Zakaria AS adalah mengajak Bani Israil untuk bertaubat dan kembali menyembah Allah SWT. Kegiatan dakwahnya berfokus di Bait-al Maqdis. Salah satu ciri khas dakwah Nabi Zakaria adalah sikap lembutnya. 

    Dalam perjalanan dakwahnya tentu saja Nabi Zakaria juga mendapat ujian dari Allah SWT. Hal ini banyak diceritakan dalam Al-Qur’an. Berikut beberapa kisah Zakaria AS serta hikmah yang bisa kita ambil.

    1. Nabi Zakaria Mendambakan Seorang Anak

    Diceritakan dalam Surah Maryam bahwa Nabi Zakaria memiliki keinginan untuk dikaruniakan seorang anak. Dengan penuh kerendahan  hati, Nabi Zakaria berdoa kepada Allah SWT dengan suara yang sangat lembut. 

    Keinginan Nabi Zakaria untuk memiliki seorang putra dipicu oleh keprihatinannya terhadap perilaku dosa yang semakin meluas di kalangan kaumnya. Semakin hari, kaumnya semakin menjauh dari ajaran Taurat. 

    Nabi Zakaria memiliki keinginan untuk memiliki seorang putra laki-laki yang bisa mewarisi pengetahuannya dan menjadi seorang nabi. Ia berharap putranya nanti akan membimbing kaum mereka dengan menyampaikan ajaran Allah SWT kepada.

    Inilah awal dari kisah Nabi Zakaria yang mana terjadi keajaiban yang akan dialami oleh Nabi Zakaria dan istrinya. 

    Nabi Zakaria merupakan seorang yang usianya telah lanjut, rambutnya sudah berubah. Ia merasa bahwa hidupnya mungkin akan berakhir tidak lama lagi. 

    Sementara itu, istrinya yang merupakan bibi Maryam juga wanita yang sudah lanjut usia dan mengalami kemandulan. Akan tetapi, keinginan Zakaria ini tidak disampaikannya kepada sang istri. Tapi, tentu saja Allah mengetahui hal tersebut.

    Saat mengasuh Maryam, Zakaria kerap mendapati buah-buahan di depan Maryam. Lalu, sesuai Surah Ali ‘Imran ayat 37-38, Zakaria berkata:

    “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?.” Maryam menjawab, “Makanan itu dari sisi Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya.” (QS. Ali ‘Imran: 37-38).

    Melalui kejadian tersebut, Zakaria semakin yakin atas kuasa Allah untuk mewujudkan sesuatu yang mustahil sekalipun. Dalam Al-Qur’an diterangkan doa Nabi Zakaria yaitu sebagai berikut.

    ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُۥ زَكَرِيَّآ 32) إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ نِدَآءً خَفِيًّا (2) قَالَ رَبِّ إِنِّى وَهَنَ ٱلْعَظْمُ مِنِّى وَٱشْتَعَلَ ٱلرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيًّا ( 4)وَإِنِّى خِفْتُ ٱلْمَوَٰلِىَ مِن وَرَآءِى وَكَانَتِ ٱمْرَأَتِى عَاقِرًا فَهَبْ لِى مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا (5) يَرِثُنِى وَيَرِثُ مِنْ ءَالِ يَعْقُوبَ ۖ وَٱجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا (6

    Zikru raḥmati rabbika ‘abdahụ zakariyyā. iż nādā rabbahụ nidā`an khafiyyā. qāla rabbi innī wahanal-‘aẓmu minnī wasyta’alar-ra`su syaibaw wa lam akum bidu’ā`ika rabbi syaqiyyā. wa innī khiftul-mawāliya miw warā`ī wa kānatimra`atī ‘āqiran fa hab lī mil ladungka waliyyā. yariṡunī wa yariṡu min āli ya’qụba waj’al-hu rabbi raḍiyyā.

    Artinya:

    “(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engka u, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeningalku, sedang istriku adalah seseorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akmi mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Yakub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorangyang diridahi. ” (QS. Maryam: 2-6).

    Dalam kisah Nabi Zakaria dengan penuh kerendahan hati memohon kepada Sang Pencipta tanpa bersuara dengan keras. Ia Meminta agar diberikan seorang anak laki-laki yang bisa mewarisi kenabian, hikmah, keutamaan, dan ilmu. 

    Zakaria khawatir bahwa setelahnya, kaum Bani Israil akan tersesat karena tidak akan ada seorang pun nabi yang datang setelahnya. Allah SWT dengan kemurahan hati-Nya mengabulkan doa Nabi Zakaria.

    2. Doa Nabi Zakaria Dikabulkan

    Berkat serangkaian doa yang panjang dan tekun, istri Nabi Zakaria pun hamil. Hal ini dijelaskan dalam Surah Maryam ayat selanjutnya.

    يَٰزَكَرِيَّآ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَٰمٍ ٱسْمُهُۥ يَحْيَىٰ لَمْ نَجْعَل لَّهُۥ مِن قَبْلُ سَمِيًّا

    yā zakariyyā innā nubasysyiruka bigulāminismuhụ yaḥyā lam naj’al lahụ ming qablu samiyyā.

    Artinya:

    “Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (memperoleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” (QS. Maryam: 7).

    Nabi Zakaria yang mendengar kabar tersebut pun kaget. Mengingat kondisinya dan sang istri tidak memungkinkan untuk memiliki seorang putra. Dengan gembira sekaligus penuh keheranan, ia bertanya sebagaimana dijelaskan dalam Surah Maryam.

    قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِى غُلَٰمٌ وَكَانَتِ ٱمْرَأَتِى عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ ٱلْكِبَرِ عِتِيًّ (8) قَالَ كَذَٰلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَىَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِن قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْـًٔا

    qāla rabbi annā yakụnu lī gulāmuw wa kānatimra`atī ‘āqiraw wa qad balagtu minal-kibari ‘itiyyā. qāla każālik, qāla rabbuka huwa ‘alayya hayyinuw wa qad khalaqtuka ming qablu wa lam taku syai`ā.

    Artinya:

    “Zakaria berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua.” Tuhan berfirman: “Demikianlah”. Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali.” (QS. Maryam: 8-9).

    Terdapat sebuah hadis yang diceritakan oleh ‘Ikrimâh dan as-Saddi mengenai situasi kebingungan dalam kisah Nabi Zakaria. Pada waktu itu, Nabi Zakaria telah mendengarkan panggilan dari malaikat yang memberikan kabar tersebut. 

    Namun, kemudian setan mendatanginya dengan tujuan untuk meracuni pikirannya sehingga ia menjadi ragu. Setan berseru kepada Zakaria, “Wahai Zakaria!”

    “Sesungguhnya suara yang kamu dengar tidaklah berasal dari Allah. Suara itu berasal dari setan yang berusaha untuk menundukkanmu dan membujukmu. Kalau saja itu benar dari Allah, maka Dia akan mewahyukan secara sembunyi-sembunyi sebagaimana halnya aku memanggilmu sembunyi-sembunyi dan juga sebagaimana kamu diberikan wahyu dalam segala hal.” (Jalal al-Dîn al-Suyûṭî, Dûr al-Manṣûr fî Tafsîr bi al-Ma’ṡûr (Markaz li al-Buhûṡ wa Dirâsat al-‘Arabiyyah: 2003), Jilid 3, Hal. 534.

    Karena pengaruh bujukan setan, Nabi Zakaria mulai meragukan kabar gembira yang telah disampaikan oleh Malaikat Jibril. Kemudian, Allah berfirman sebagai berikut.

    فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَوَهَبْنَا لَهُۥ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُۥ زَوْجَهُۥٓ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا۟ يُسَٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَٰشِعِينَ

    Fastajabnā lahụ wa wahabnā lahụ yaḥyā wa aṣlaḥnā lahụ zaujah, innahum kānụ yusāri’ụna fil-khairāti wa yad’ụnanā ragabaw wa rahabā, wa kānụ lanā khāsyi’īn.

    Artinya:

    “Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya: 90).

    Malaikat memberitahu Nabi Zakaria bahwa ini adalah kehendak Allah SWT. Segala sesuatu yang dikehendaki-Nya pasti terjadi. 

    Tidak ada yang sulit bagi Allah SWT. Semua ciptaan Allah SWT terjadi berdasarkan kehendak-Nya. Sebagaimana dijelaskan dalam Surah Yasin yaitu sebagai berikut.

    إِنَّمَآ أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْـًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ

    Innamā amruhū iżā arāda syai`an ay yaqụla lahụ kun fa yakụn

    Artinya:

    “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah herkata kepadanya: ‘Jadilah!’, maka jadilah ia. ” (QS. Yasin: 82).

    3. Nabi Zakaria Bisu

    Kisah Nabi Zakaria bagian selanjutnya yaitu ketika dirinya bisu. Kejadian saat Nabi Zakaria menjadi bisu dimulai setelah ia mengungkapkan keraguannya terhadap berita dari Allah tentang kehamilan istrinya. 

    Ungkapan Nabi Zakaria tersebut bukanlah bentuk keraguan, tetapi lebih kepada ekspresi keheranannya terhadap berita yang luar biasa itu. 

    Sekaligus juga menunjukkan kegembiraan dan keinginannya untuk mendengar berita tersebut dikonfirmasi lebih lanjut. 

    Pada saat itu, Nabi Zakaria memohon kepada Tuhan agar memberikan tanda (ayat) sebagai bukti jika istrinya benar-benar sedang hamil.

    قَالَ رَبِّ ٱجْعَل لِّىٓ ءَايَةً ۚ قَالَ ءَايَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ ٱلنَّاسَ ثَلَٰثَ لَيَالٍ سَوِيًّا (10) فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ مِنَ ٱلْمِحْرَابِ فَأَوْحَىٰٓ إِلَيْهِمْ أَن سَبِّحُوا۟ بُكْرَةً وَعَشِيًّا (11)

    Qāla rabbij’al lī āyah, qāla āyatuka allā tukalliman-nāsa ṡalāṡa layālin sawiyyā. Fa kharaja ‘alā qaumihī minal-miḥrābi fa auḥā ilaihim an sabbiḥụ bukrataw wa ‘asyiyyā.

    Artinya:

    “Zakaria berkata, “Ya Tuhanku, berilah suatu tanda.” Tuhan berfirman: ‘Tanda bagimu adalah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat.” Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.” (QS. Maryam: 10-11).

    Dalam Surah Ali Imran ayat 41 juga disebutkan hal yang sama, yaitu diterangkan sebagai berikut.

    قَالَ رَبِّ ٱجْعَل لِّىٓ ءَايَةً ۖ قَالَ ءَايَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ ٱلنَّاسَ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمْزًا ۗ وَٱذْكُر رَّبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِٱلْعَشِىِّ وَٱلْإِبْكَٰرِ

    Qāla rabbij’al lī āyah, qāla āyatuka allā tukalliman-nāsa ṡalāṡata ayyāmin illā ramzā, ważkur rabbaka kaṡīraw wa sabbiḥ bil-‘asyiyyi wal-ibkār.

    Artinya:

    Berkata Zakariya: “Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung)”. Allah berfirman: “Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari”. (QS. Ali ‘Imran: 41).

    Berdasarkan ayat tersebut, kisah Nabi Zakaria diberitahu oleh bahwa ia dalam tiga hari tiga malam tidak mampu bicara, padahal ia dalam kondisi sehat. 

    Jika hal tersebut terjadi, hendaklah Zakaria yakin bahwa kehamilan istrinya merupakan mukjizat Allah SWT.

    Dalam waktu tersebut, hendaklah Zakaria berbicara kepada manusia melalui isyarat. Semestinya ia pun banyak bertasbih kepada Allah SWT pada waktu pagi dan sore hari.

    Pada suatu hari, Zakaria keluar dan merasa penuh rasa syukur dalam hatinya. Ia berharap untuk berbicara dengan orang-orang, tetapi menyadari bahwa ia tidak mampu mengeluarkan suara. 

    Dari hal itu Zakaria menyadari bahwa mukjizat dari Allah SWT telah terjadi.

    Dengan isyarat, ia mengajak kaumnya untuk bersujud dan bertasbih kepada Allah SWT pada waktu pagi dan sore. Di dalam hatinya, Zakaria terus bersyukur kepada Allah SWT, tanda rasa kebahagiaan yang mendalam menyelimuti dirinya.

    Malaikat kemudian memberitahu Zakaria tentang kelahiran seorang anak laki-laki yang Allah SWT akan beri nama Yahya. Ini adalah kali pertama orangtua tidak memberikan nama kepada anak mereka. 

    Nama tersebut bukanlah pilihan orang tuanya, melainkan Allah SWT sendiri yang menentukan nama tersebut. 

    Dengan pemberian nama yang sangat mulia ini, Allah SWT memberikan berita gembira kepada Zakaria. 

    Beritanya adalah bahwa anaknya, Yahya, akan menjadi seorang nabi yang membenarkan firman Allah SWT. Tidak hanya sebatas nabi, akan tetapi Allah menjaga Yahya dari perbuatan-perbuatan yang tercela.

    Mendengar hal tersebut, Zakaria gemetar. Air matanya mulai berlinangan karena saking gembiranya perasaan Zakaria saat itu. Lalu ia sholat kepada Allah SWT sebagai bentuk rasa syukur atas pengabulan doanya.

    Hikmah Kisah Nabi Zakaria

    Dalam sebuah keluarga, anak dianggap sebagai anugerah terindah yang diberikan oleh Allah kepada orangtua. Anak menjadi aset yang sangat berharga. Melalui anak, orangtua dapat mencapai puncak kebahagiaan sekaligus menghadapi ujian. 

    Sebagai contoh, jika seorang anak tumbuh menjadi anak saleh, ketika orangtuanya meninggal dunia, mereka terus menerima pahala atas doa-doa anaknya. 

    Sebaliknya, jika anak tersebut menjadi durhaka, orangtua hanya akan menerima akibat buruk dari anaknya sendiri. 

    Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa anak dapat dilihat sebagai perhiasan (zînah) sekaligus ujian (fitnah). Akan tetapi dalam konteks ini, terdapat pahala besar yang tersimpan bagi hamba-hamba Allah.

    Nabi Zakaria sangat menyadari pentingnya memiliki seorang anak. Itulah sebabnya, ia tanpa henti berdoa kepada Allah. Berdoa merupakan salah satu cara yang diperlihatkan dalam kisah Nabi Zakaria untuk berkomunikasi dengan Tuhannya. 

    Ketika Allah mengirimkan pesan kepada nabi-Nya, ia memiliki kebebasan untuk meresponsnya sesuai dengan kehendaknya sendiri. Tetapi, seringkali manusia cenderung berharap mendapatkan respon positif ketika mereka berdoa. 

    Akhirnya bisa ada rasa putus asa jika mereka mendapatkan respon negatif. Sebagai akibatnya, Allah bisa menunda atau bahkan tidak mengabulkan doa mereka. 

    Hamba yang selalu taat dan khusyuk beribadah seperti Nabi Zakaria, harus menunggu bertahun-tahun sebelum doanya dikabulkan. 

    Hal Ini adalah ujian yang Allah berikan kepada hamba-Nya untuk menguji kesabarannya. Apakah ia akan tetap sabar atau justru putus asa. 

    Nabi Zakaria menghadapi ujian ini dengan sikap yang optimis, berpikiran positif, pasrah, dan sabar. Sikap pasrahnya tercermin dalam kalimat “wa anta khair al-wâritsîn,” yang berarti “dan Engkaulah ahli waris yang baik.” 

    Nabi Zakaria sepenuhnya menyerahkan semua hal kepada Allah dan meyakini bahwa segala yang dialaminya adalah bagian dari kehendak Allah.

    Itulah hikmah dari serangkaian kisah Zakaria yang sangat sabar dan berserah diri dengan ketetapan dari Allah SWT. 

    Sudah semestinya kita turut meneladani perilaku tersebut, yaitu tidak putus asa dalam berdoa meskipun untuk sesuatu yang terlihat mustahil.

    Memahami kisah Nabi Zakaria dapat membuka wawasan dan pengetahuan kita tentang peristiwa dan perjuangan nabi dalam misi untuk menyampaikan ajaran-Nya. Merenungkan kisah tersebut, semakin memperkuat keyakinan kepada Allah. 

    Berbagai peristiwa luar biasa yang terjadi pada zaman nabi dan rasul terdahulu merupakan tanda-tanda kebesaran Allah. 

    Kepercayaan kepada nabi dan rasul juga merupakan salah satu dari rukun iman keempat. Oleh karena itu, sudah semestinya kita belajar dan mengambil hikmah dari kisah nabi.

  • Kisah Nabi Ismail AS dan Ketaatannya pada Allah SWT

    Kisah Nabi Ismail AS dan Ketaatannya pada Allah SWT

    Salah satu cerita nabi yang cukup familiar bagi umat Muslim di seluruh dunia adalah kisah Nabi Ismail. Hal ini tidak lepas dari turunnya perintah berkurban hingga menunaikan ibadah haji bagi umat muslim yang mampu.

    Perjalanan hidup Nabi Ismail yang penuh pelajaran, tentunya menjadi acuan kita untuk lebih bertaqwa kepada Allah SWT.

    Selain itu, kita juga harus mengimani dan mempercayai segala hal yang Allah berikan kepada Nabi sebagai bentuk perantara.

    Kisah Nabi Ismail

    Nabi Ismail menjadi tonggak utama dalam sejarah peradaban manusia yang ada di Mekkah. Semula tempat ini hanya pasir tandus dan tidak berpenghuni, sementara sekarang menjadi tempat yang diinginkan dan dirindukan oleh seluruh umat Islam.

    Perjalanan Nabi Ismail AS sewaktu kecil hingga dewasa tentunya dipenuhi dengan berbagai ujian dari Allah SWT. Akan tetapi, beliau tetap yakin dan teguh akan kuasa Allah sehingga dakwah beliau sampai hari ini tetap kita jalankan.

    Pelajaran berharga ini tentunya harus kita imani dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, penting bagi seluruh umat Islam mengetahui kisah Nabi Ismail dalam memulai peradaban hingga terbentuknya Ka’bah di Mekkah.

    Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang berbunyi:

    وَٱذْكُرْ فِى ٱلْكِتَٰبِ إِسْمَٰعِيلَ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ صَادِقَ ٱلْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَّبِيًّا

    Artinya:

    “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya dan dia adalah seorang rasul dan nabi.” (QS. Maryam: 54).

    Berikut ini kisah lengkap dari perjalanan Nabi Ismail mulai kecil hingga wafat yang harus kita ketahui.

    1. Nabi Ismail Semasa Lahir

    Nabi Ismail AS adalah salah satu nabi yang dihormati dalam Islam dan merupakan putra dari Nabi Ibrahim dari istri kedua, yakni Siti Hajar. Kisahnya yang penuh kepatuhan dan kepercayaan kepada Allah SWT tergambar sejak masa kecilnya.

    Nabi Ismail AS memiliki tempat lahir di tanah Kanaan sekitar tahun 1800 Sebelum Masehi (SM). Sebelumnya, Nabi Ibrahim memiliki istri bernama Siti Sarah, Akan tetapi dari pernikahan ini Ibrahim belum mendapatkan keturunan.

    Melihat umur Nabi Ibrahim yang semakin beranjak tua dan belum mendapatkan keturunan, maka Siti Sarah mengizinkan Ibrahim untuk menikahi seorang hamba sahaya bernama Siti Hajar.

    Setelah menikah dengan Siti Hajar, Nabi Ibrahim dianugerahi bayi laki-laki dan diberi nama Ismail. Alasan pemberian nama ini menurut bahasa Ibrani memiliki arti dan makna yang sangat mendalam.

    Baca juga: Hukum Pernikahan Syighar, Pengertian dan Dalil yang Melarangnya!

    2. Makna Nama dari Nabi Ismail

    Memiliki penulisan asli إِسْمَاعِيْل, sapaan ini tentunya sangat populer di kalangan kaum Muslim karena merupakan salah satu nabi dalam Islam. 

    Meski, nama ini memiliki artian dari bahasa Arab, Akan tetapi sejatinya nama Ismail merupakan asal dari bahasa Ibrani.

    Kata “Ismail” (إسماعيل) berasal dari akar kata “Sama’a” (سمع), yang berarti “Mendengar,” dan “Ilah” (إله), yang berarti “Allah.” Oleh karena itu, nama Ismail bisa diartikan sebagai “Allah telah mendengar” atau “Allah adalah yang mendengar.”

    Makna ini menggambarkan bagaimana Allah SWT mengabulkan doa Nabi Ibrahim dan Siti Hajar untuk mendapatkan seorang anak. 

    Selain itu, Nabi Ibrahim juga percaya bahwa Allah adalah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa hambanya.

    Melihat kehadiran putranya ini dari pasangan Siti Hajar, membuat Nabi Ibrahim sangat bergembira. Hal ini juga yang membuat Nabi Ibrahim tidak henti-hentinya berterima kasih kepada Allah SWT karena sudah menjawab doanya.

    3. Melakukan Hijrah ke Mekkah

    Kisah Nabi Ismail ini dimulai dari Nabi Ibrahim yang mendapatkan mimpi dari Allah SWT. Beliau mengajak Siti Hajar dan anaknya Ismail yang masih kecil untuk ikut dalam perjalanan atau hijrah menuju tempat yang tandus.

    Tempat yang tandus ini sekarang dikenal dengan kota Mekkah sebagai pusat utama dari kiblat umat Muslim di seluruh dunia. 

    Awalnya, Nabi Ibrahim tidak memberitahukan mimpi tersebut kepada Siti Hajar sebelum melakukan perjalanan menggunakan unta.

    Namun, Siti Hajar yang penasaran akhirnya bertanya kepada Nabi Ibrahim terkait kemana kita akan pergi. Sedangkan tempat yang dituju berupa lembah pasir yang tidak berpenghuni. Siti Hajar terus mengulang pertanyaan tersebut hingga akhirnya.

    Siti Hajar bertanya lagi, “Apakah Allah yang memerintahmu?”, Nabi Ibrahim akhirnya mengiyakan pertanyaan tersebut. Kemudian, Siti Hajar menjawab penuh keyakinan bahwa Allah SWT tidak akan menelantarkan mereka.

    4. Tiba di Mekkah

    Setelah melakukan perjalanan dengan menempuh medan yang cukup sulit, akhirnya mereka sampai di Mekkah. Pada area yang tandus ini mereka mencari tempat yang teduh dan menemukan pohon Dauhah sebagai tempat berlindung.

    Kemudian, Nabi Ibrahim meninggalkan mereka berdua di tempat sunyi tersebut. Sembari berkata:

    “Tetaplah bertakwa kepada Allah yang telah menentukan kehendak-Nya. Percayalah kepada kekuasaan dan rahmat-Nya. Dialah yang memberikan perintah untuk membawa kalian berdua ke tempat yang tandus atau sekarang disebut Mekkah.

    Allah SWT tentu akan memberikan perlindungan di tempat yang sunyi ini tanpa perlu kalian takuti. Seandainya, bukan karena perintah dan wahyu dari Allah SWT, saya tidak akan tega meninggalkan kalian berdua, wahai istri dan anakku.

    Setelah mendengarkan pesan dari Nabi Ibrahim, Siti Hajar merasa tenang di tempat sunyi. Hanya berbekal air minum dan beberapa biji kurma, hati Siti Hajar mulai berdoa kepada Allah SWT agar selalu senantiasa memberikan perlindungan.

    5. Munculnya Air Zam-Zam

    Mukjizat pertama yang Allah SWT berikan kepada Nabi Ismail, yakni munculnya air Zam-zam yang sampai saat ini masih mengalir deras di kota Mekkah.

    Hal ini tentunya menjadi salah satu bentuk atau tanda dari kehebatan dan kekuasaan Allah SWT.

    Setelah sekian lama, bekal yang dibawa oleh Siti Hajar akhirnya habis. Kisah Nabi Ismail yang saat itu masih tergolong bayi terus menangis karena kehausan. Melihat bekal yang sudah habis, lantas Hajar berlari menuju suatu bukit ke bukit lainnya.

    Peristiwa berlarinya Siti Hajar dalam mencari air dari bukit Safa ke bukit Marwa sebanyak 7 kali, juga diceritakan dalam Al-Qur’an. Sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi:

    إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ ٱللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ ٱلْبَيْتَ أَوِ ٱعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ ٱللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

    Innaṣ-ṣafā wal-marwata min sya’ā`irillāh, fa man ḥajjal-baita awi’tamara fa lā junāḥa ‘alaihi ay yaṭṭawwafa bihimā, wa man taṭawwa’a khairan fa innallāha syākirun ‘alīm.

    Artinya:

    “Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 158).

    Ketika berada di puncak bukit Marwah, Siti Hajar mendengar seperti ada yang memanggilnya dan berkata bahwa mereka akan ditolong oleh seseorang. Lantas, Allah SWT menurunkan Jibril untuk menolong Siti Hajar dan Ismail.

    Allah SWT memerintahkan Jibril untuk menolong dengan membuat mata air yang berasal dari hentakan kaki Ismail. Mata air ini tentunya terus mengalir hingga tanah yang awalnya tandus, sekarang sudah memiliki mata air yang tidak pernah berhenti.

    6. Tanah Mekkah yang Mulai Ramai

    Adanya sumber mata air yang berasal dari hentakan kaki Nabi Ismail, membuat Siti Hajar sangat bahagia sembari berkata “Zam zam zam”. Arti dari kata ini, yaitu berkumpul dan sebutan untuk air ini masih diterapkan hingga sampai sekarang.

    Kisah Nabi Ismail terkait air Zam-zam ini tentunya memberikan banyak. Selain itu, manfaat air yang berlimpah ini juga mulai dirasakan oleh beberapa musafir yang melakukan perjalanan dan melewati Mekkah.

    Kemudian, golongan suku Jurhum yang juga merasakan kesulitan air, akhirnya merasakan kenikmatan dari mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi Ismail AS. 

    Seiring berjalannya waktu, Mekkah mulai ramai karena adanya sumber air Zam-zam.

    Tempat yang dulunya tandus dan sepi, kini menjadi ramai sehingga Siti Hajar dan Nabi Ismail tidak merasakan kesepian. Kehidupan mereka berdua juga semakin baik dan sejahtera.

    7. Nabi Ismail yang Beranjak Remaja

    Kisah Nabi Ismail yang mulai beranjak remaja sering membantu ibunya dalam menggembala kambing dan biri-biri. Adapun tempat mereka bergembala kambing, yakni di padang Arafah.

    Pada Arafah menjadi salah satu tempat yang digunakan oleh umat Muslim untuk melakukan wukuf sebagai rangkaian ibadah haji. 

    Selain itu, pada Arafah juga menjadi salah satu tempat bertemunya kembali Nabi Adam dan Hawa setelah turun ke bumi.

    Selama menggembala kambing dan biri-biri, Ismail melakukan kegiatan tersebut dengan penuh keyakinan dan kesabaran. Selain itu, Ismail juga bersama masyarakat Mekkah menjaga kesucian air Zam-zam untuk keberlangsungan hidup.

    8. Terbentuknya Ka’bah

    Terbentuknya Ka’bah merupakan salah satu perintah Allah SWT atas Nabi Ibrahim dan Ismail. Bangunan ini juga Allah SWT jelaskan di Al-Qur’an sebagaimana perintahnya untuk membangun rumah suci sebagai arah yang dituju oleh manusia.

    وَاِذۡ يَرۡفَعُ اِبۡرٰهٖمُ الۡقَوَاعِدَ مِنَ الۡبَيۡتِ وَاِسۡمٰعِيۡلُؕ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّا​ؕ اِنَّكَ اَنۡتَ السَّمِيۡعُ الۡعَلِيۡمُ‏ ١٢٧ رَبَّنَا وَاجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَيۡنِ لَـكَ وَ مِنۡ ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسۡلِمَةً لَّكَ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبۡ عَلَيۡنَا ۚ اِنَّكَ اَنۡتَ التَّوَّابُ الرَّحِيۡمُ‏  ١٢٨

    Artinya:

    “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan (ibadah) haji kami, dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 127-128).

    Nabi Ibrahim kemudian mengajak Ismail untuk menjalankan perintah tersebut. 

    Mereka mengambil batu-batu besar yang digunakan sebagai pondasi untuk membangun Ka’bah. Selain itu, Ibrahim juga mengajarkan Ismail untuk bertaqwa kepada Allah.

    Ketika mereka membangun Ka’bah, Nabi Ibrahim dan Ismail berdoa agar tempat itu menjadi sumber berkah dan pusat ibadah bagi semua manusia di seluruh dunia untuk menghormati Allah SWT.

    Setelah selesai, mereka mengelilingi Ka’bah sebagai tanda terima kasih dan penghormatan kepada Allah SWT. Kisah Nabi Ismail dan Ibrahim ini dalam membangun Ka’bah memiliki makna penting untuk umat Islam.

    Setiap tahun, umat Islam dari berbagai penjuru dunia datang ke Mekah untuk menjalankan ibadah haji dan melakukan Tawaf di sekitar Ka’bah. 

    Hal ini sebagai tanda penghormatan kepada Ibrahim dan Ismail serta sebagai bentuk ibadah kepada Allah.

    Sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi:

    ثُمَّ لْيَقْضُوا۟ تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا۟ نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا۟ بِٱلْبَيْتِ ٱلْعَتِيقِ

    Ummalyaqḍụ tafaṡahum walyụfụ nużụrahum walyaṭṭawwafụ bil-baitil-‘atīq.

    Artinya:

    “Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS. Al-Hajj: 29).

    9. Nabi Ibrahim Menyembelih Ismail

    Sebagai ujian kesetiaannya kepada Allah, Nabi Ibrahim diberi perintah untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS. Meskipun hatinya penuh dengan kesedihan, Nabi Ibrahim AS bersiap dan tetap menjalankan perintah Allah SWT.

    Selama perjalanan menuju tempat penyembelihan, Nabi Ismail AS bertanya kepada ayahnya tentang tujuan perjalanan dan Nabi Ibrahim AS dengan jujur menjelaskan situasi yang mereka hadapi.

    فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

    Artinya:

    “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. As-Shaffat: 102).

    Nabi Ismail dengan ketenangan dan kesetiaan yang luar biasa kepada Allah, menerima takdirnya dan bahkan meminta ayahnya untuk menutup matanya saat proses penyembelihan berlangsung di Jabal Qurban.

    Namun, pada saat penyembelihan yang mendekati akhir, Allah SWT mengganti Nabi Ismail AS dengan seekor domba sebagai korban yang diterima-Nya. 

    Penggantian ini atas kesetiaan dan iman tulus yang ditunjukkan oleh Nabi Ismail AS dan Nabi Ibrahim.

    Hal ini sebagaimana firman Allah SWT terkait perintah tersebut dan menggantinya dengan seekor domba yang berukuran besar.

    وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

    Wa fadaināhu biżib-ḥin ‘aẓīm.

    Artinya:

    Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (QS. As-Shaffat: 107).

    Selain itu, peristiwa ini menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah agama Islam. Sampai saat ini peristiwa kurban dalam kisah Nabi Ismail dan Ibrahim tetap dilakukan umat Muslim di seluruh dunia saat Idul Adha.

    10. Kisah Nabi Ismail ketika Diangkat sebagai Nabi

    Setelah berlalu waktu yang cukup lama, Nabi Ismail AS bersama ayahnya melakukan misi dakwah. Akhirnya, dia ditunjuk Allah SWT untuk diangkat sebagai seorang nabi dan rasul.

    Pemilihan Nabi Ismail AS sebagai nabi karena memiliki sifat-sifat yang sangat luhur. Beliau sangat patuh kepada Allah SWT, penuh kasih sayang dan penghormatan terhadap orangtuanya.

    Selain itu, Nabi Ismail juga memiliki akhlak yang baik serta selalu memenuhi janji dan bijaksana dalam tindakan hingga perkataannya. Allah SWT juga berfirman sebagaimana ayat dalam Al-Qur’an yang berbunyi:

    وَٱذْكُرْ فِى ٱلْكِتَٰبِ إِسْمَٰعِيلَ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ صَادِقَ ٱلْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَّبِيًّا

    Ważkur fil-kitābi ismā’īla innahụ kāna ṣādiqal-wa’di wa kāna rasụlan nabiyyā.

    Artinya:

    “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya dan dia adalah seorang rasul dan nabi.” (QS. Maryam: 54).

    11. Nabi Ismail AS Wafat

    Menurut catatan dalam sejarah Islam, Nabi Ismail AS menghembuskan napas terakhirnya pada tahun 1779 SM di Makkah, Arab Saudi.  Ketika usianya telah mencapai sekitar 137 tahun.

    Setelah meninggal, Nabi Ismail AS dikebumikan di dekat makam ibunda, Siti Hajar di lokasi Hijir Ismail. Setelah kepulangannya, tugas dakwah untuk patuh dan tunduk kepada Allah SWT dilanjutkan oleh penerusnya.

    Kisah Nabi Ismail dari waktu lahir hingga wafat ini tentunya memiliki arti dan makna yang dalam. Sebagai umat Islam yang mengimani nabi dan rasul sebagai utusan Allah, tentunya meyakini bahwa semua yang dijalankan merupakan perintah-Nya.

  • Kisah Nabi Idris AS dari Lahir hingga Wafat yang Wajib Diketahui

    Kisah Nabi Idris AS dari Lahir hingga Wafat yang Wajib Diketahui

    Kisah para nabi banyak digunakan oleh orang tua dalam memberikan cerita berunsur Islami kepada anaknya. Salah satunya adalah kisah Nabi Idris yang terkenal sebagai manusia pertama dapat menulis menggunakan pena.

    Berdasarkan beberapa riwayat baik hadist, di dalam Al-Qur’an, dan cerita anak pada umumnya, Nabi Idris digambarkan sebagai sosok yang pandai. Sehingga, beliau ini cerdas dalam menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan.

    Kita bisa tahu banyak sekali deretan ilmu pengetahuan dalam konteks sains. Nabi Idris mampu menguasai ilmu di bidang matematika, cara beternak, berkebun, hingga perbintangan yang terkenal pada masa itu.

    Selain itu, beliau juga bisa membuat, merancang, dan menggunting kain menjadi sebuah baju yang indah. Hal ini membuat kedudukan beliau sangat tinggi di sisi Allah SWT. Selain, kecerdasannya, Nabi Idris juga memiliki hati lapang.

    Kisah Nabi Idris AS saat Dilahirkan

    Kita pasti penasaran dengan banyak kisah para nabi yang memiliki pekerti luhur lagi bijaksana. Nabi Idris AS salah satunya, beliau merupakan seorang putra dari Yarid bin Mihla’iel (Mahlain) bin Qinan Anusy bin Syith (Syits) bin Adam AS.

    Jika diruntutkan, maka Nabi Idris merupakan keturunan dari nabi Adam AS. Kelahiran Nabi Idris berada di Mesir pada tahun 45133 hingga 4188. 

    Namun, menurut beberapa sumber ada yang menyatakan bahwa beliau lahir di Babilonia dan kemudian hijrah ke Mesir.

    Beliau memiliki sifat ramah, pekerja keras, dan sangat rajin belajar. Hal itulah yang membuat Nabi Idris memiliki pengetahuan sangat luas. Jika pada zaman dahulu orang terbiasa menguliti hewan untuk dijadikan pelindung tubuh.

    Maka, berbeda dengan Nabi Idris yang sudah berpengetahuan sehingga bisa membuat dan merancang kain sendiri sebagai pelindung tubuhnya. Nabi Idris AS merupakan nabi yang sangat taat kepada Allah SWT.

    Meskipun pada masa itu, banyak sekali manusia lalai kepada-Nya. Tidak heran jika Allah SWT memberikan kemarau panjang dan membuat kota menjadi sangat kering dan kekurangan air.

    Perjalanan Dakwah Nabi Idris AS

    Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Nabi Idris masih mendapati masa Nabi Adam 308 tahun. Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah, 1:234.

    Tentang Nabi Idris disebutkan dalam ayat dalam surah Maryam:

    وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا

    Artinya:

    “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS. Maryam: 56-57).

    Berdasarkan surat Maryam tersebut, kita dapat mengimani bahwa Nabi Idris AS memang seorang Nabi yang Allah SWT pilih secara langsung. Nabi Idris sendiri mulai berdakwah setelah pengangkatannya sebagai Nabi Allah SWT.

    Mulai dari menyebarkan ilmu tauhid untuk mengajarkan setiap orang bahwa hanya Allah SWT satu-satunya tuhan di bumi. Selain itu, beliau juga mengajarkan bagaimana cara untuk menyembah Allah.

    Tidak hanya itu saya, beliau juga memberikan pemahaman bagaimana Allah SWT bisa dijadikan sebagai patokan seorang hamba dalam bertingkah laku di dunia. 

    Konsep mengenai surga dan neraka juga beliau dakwahkan guna mengajak setiap umat untuk menaati perintah Allah SWT yang telah ia sampaikan.

    Baca juga: 10 Nama Nama Malaikat dan Tugasnya yang Wajib Diketahui

    Kisah Wafat Nabi Idris AS

    Melihat bagaimana kisah Nabi Idris AS dalam memperjuangkan dakwahnya untuk Allah SWT. Beliau mendapatkan kemuliaan sebagai manusia pilihan Allah SWT yang diangkat ke langit.

    Beliau terkenal sebagai nabi yang sabar dan pemberani. Hal itu membuat beliau mendapatkan julukan sebagai ‘Asadul Usud’ yang memiliki arti ‘Singa dari segala Singa.’

    Pada salah satu riwayat, Nabi Idris AS dijelaskan wafat pada usia 308 tahun. Jika dibandingkan dengan usia para nabi-nabi sebelumnya, beliau terbilang cukup muda. Contohnya seperti Nabi Nuh yang memiliki usia 950 tahunan.

    Kisah wafat dari Nabi Idris AS hingga saat ini masih dipercaya sebagai suatu keajaiban. 

    Di mana, hal tersebut menjadi bukti bahwa Allah SWT sangat menyayangi-Nya. Sebab, diriwayatkan, beliau meninggal di langit ke empat Allah SWT.

    Diriwayatkan dari Hilal bin Yasaf, ia berkata, “Ibnu ‘Abbas bertanya kepada Ka’ab sementara aku ada di sana. Ibnu ‘Abbas bertanya padanya, “Apa maksud firman Allah kepada Idris ‘Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.’ Ka’ab menjawab, “Adapun Idris, Allah berfirman mewahyukan kepadanya sesungguhnya setiap hari Aku mengangkat untukmu seperti amalan seluruh anak Adam.”

    Idris terus menambah amal, sampai malaikat mendatanginya. Idris berkata pada malaikat tersebut:

    “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku demikian dan demikian. Bicaralah pada malaikat maut agar menunda kematianku hingga aku bisa terus menambah amal.”

    Kemudian malaikat tersebut membawa Nabi Idris ke langit keempat lalu bertemu malaikat maut. Lalu dinyatakan bahwa waktu hidup Nabi Idris sebentar lagi. Malaikat maut pun mencabut ruh idris di langit keempat.

    Keistimewaan dan Mukjizat dari Nabi Idris AS

    Nabi Idris AS sangat terkenal dengan kepintarannya. Bahkan, beliau juga dikenal sebagai sosok pionir dalam ilmu arsitektur karena kecerdasannya yang luar biasa.

    Untuk mengamalkan dan mencintai kisah para nabi, berikut beberapa keistimewaan dan mukjizat dari Nabi Idris AS yang wajib kita ketahui:

    1. Nabi Pertama yang Bisa Membaca dan Menulis

    Orang pertama di bumi ini yang Allah berikan kelebihan untuk bisa membaca dan menulis adalah Nabi Idris AS. Kelebihan ini menjadi salah satu mukjizat yang diterima oleh Nabi Idris sebagai modal untuk berdakwah..

    Pada masa dakwah beliau pun, Nabi Idris selalu membantu Masyarakat untuk bisa membaca dan mengenal tulis menulis. Kenapa bisa ada banyak kisah mengenai para nabi?

    Karena hal ini bermula dari tulisan-tulisan yang beliau buat dengan tujuan membantu pengamat sejarah mencari tahu kehidupan pada masa kenabian. Sangat cerdas sekali, bukan?

    Beliau bisa memprediksi apa yang akan dibutuhkan oleh manusia di masa depan. Sehingga beliau mengumpulkan berbagai macam tulisan.

    Dengan banyak kisah sejarah untuk memudahkan manusia di masa mendatang memahami kehidupan di masa lampau seperti apa.

    Begitupun dengan perjalanan para Nabi dalam mencapai dakwah masing-masing. Meskipun telah dijelaskan juga pada ayat Al-Qur’an.

    2. Manusia Pertama yang Paham Ilmu Astrologi dan Arsitektur

    Nabi Idris tidak hanya cerdas dalam membaca dan menulis saja. Beliau juga di karomahi kelebihan mengenai ilmu perbintangan (astrologi) yang sangat terkenal pada masa itu.

    Selain itu, beliau juga secara signifikan terus mengkaji mengenai fenomena alam sebagai bentuk rasa syukur terhadap bentuk dan tanda kebesaran Allah SWT.

    Sehingga, beliau memiliki banyak ilmu pengetahuan dibalik rasa penasarannya terhadap kuasa yang Allah SWT miliki.

    Sosok Nabi Idris AS yang terkenal dengan kepandaiannya ini memiliki beragam ilmu pengetahuan. Paham dan mengenal berbagai macam fenomena alam, beliau juga menjadi manusia pertama yang mengerti dunia arsitektur.

    Rencana Pembangunan kota dan membawa umat mulai masuk ke era kehidupan normal diawali dari kecerdasan Nabi Idris. 

    Hal itulah yang membuat Islam bisa semakin besar dengan perencanaan Pembangunan terstruktur serta peradaban ilmu politik.

    3. Menerima 30 Shahifah

    Kisah Nabi Idris AS sebagai utusan Allah SWT diawali dengan diturunkannya 30 shahifah kepadanya dengan isi petunjuk untuk disampaikan kepada umat. 

    Di mana, umat dari Nabi Idris AS ini merupakan keturunan Qabil yang sangat durhaka pada masa itu.

    Dikisahkan pengangkatan Nabi Idris AS sebagai utusan Allah SWT karena untuk menjalankan misi yang cukup besar. 

    Dengan kerendahan hati, kecerdasan, dan perilaku yang lembut Nabi Idris dipercaya Allah SWT untuk memerangi kemungkaran dan kefakiran.

    Kemudian, Allah SWT mengutus Nabi Idris untuk mengajak kaum durhaka tersebut untuk keluar dari lingkaran hitam dan menyembah Allah SWT sebagai Tuhan yang Esa.

    Meskipun tugas ini terbilang sangat besar, tetapi beliau menerimanya dengan keteguhan hati dan terus berbuat baik untuk mengajak banyak kaumnya menuju jalan kebenaran.

    4. Nabi Idris AS Memiliki Derajat Sangat Tinggi di Sisi Allah SWT

    Kita pastinya sudah tahu dari penjelasan di atas sebelumnya, bahwasanya Nabi Idris AS menjadi salah satu utusan yang spesial dihadapan Allah SWT. Tidak heran jika kedudukannya sangat tinggi di sisi Allah SWT.

    Kisah yang menjelaskan tentang Nabi Idris AS pun tertulis di dalam surat Maryam. Pada QS. Maryam ayat 56-57, dijelaskan bahwa Nabi Idris menjadi salah satu Nabi yang memiliki martabat sangat tinggi.

    Beliau menjadi Nabi dengan derajat dan kemuliaan tinggi sebagai salah satu utusan Allah SWT yang sholeh. Sehingga Allah SWT menempatkan beliau dalam golongan orang-orang yang mulia di sisi-Nya.

    5. Bisa Melihat Surga dan Neraka

    Kita pastinya tahu tidak semua orang bisa melihat surga dan neraka yang telah Allah SWT buat sebagai balasan amal manusia selama di bumi. 

    Bahkan, dari banyaknya Nabi (utusan Allah SWT) pun tidak semuanya memiliki kesempatan untuk melihat itu.

    Namun, dalam kisah Nabi Idris AS ini, beliau pernah membuat sebuah permohonan kepada Malaikat Izrail bahwa ia ingin merasakan yang namanya sakaratul maut. Atas izin Allah SWT, permintaan Nabi Idris pun diperkenankan.

    Setelah beliau wafat, Nabi Idris berdoa kembali kepada Allah SWT untuk dihidupkan kembali. Atas kisah ini, Nabi Idris pernah menghadapi betapa sakitnya sakaratul maut tersebut.

    Namun, permintaan lain Nabi Idris lontarkan kepada malaikat Izrail. Beliau ingin melihat surga dan neraka. Allah SWT mengizinkannya kembali, dalam hal ini beliau mampu melihat api neraka yang berkobar sangat dahsyat.

    Kemudian, beliau kembali dibawa untuk melihat surga. Kehidupan di sana sangat damai dan menyenangkan. Setelah mendapatkan apa yang beliau inginkan, Nabi Idris kembali ke dunia untuk melanjutkan dakwahnya.

    Nah, itulah kisah Nabi Idris AS yang dapat kita jadikan Pelajaran dan sudah sepatutnya untuk diimani sebagaimana kita percaya Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai nabi-Nya.

    Melalui kisah Nabi Idris, banyak sekali pelajaran baik yang dapat kita ambil. Mulai dari perjalanan hidup beliau, proses dakwah, perjalanan spiritual, dan bagaimana keteguhan Nabi Idris dalam membawa kaumnya ke jalan kebenaran.