Blog

  • Lupa Niat Puasa Ramadhan, Apakah Puasanya Tetap Sah?

    Lupa Niat Puasa Ramadhan, Apakah Puasanya Tetap Sah?

    Sebagian dari kita mungkin masih ada yang belum mengetahui ketika lupa niat puasa Ramadhan, apakah puasanya masih tetap sah atau tidak? Hal ini penting kita ketahui agar semakin paham tentang ibadah ini.

    Puasa Ramadan adalah puasa yang harus dilakukan oleh umat Muslim yang telah mencapai usia baligh. Ibadah puasa ini harus kita laksanakan selama satu bulan penuh dengan niat puasa sebelum waktu fajar tiba.

    Niat puasa adalah salah satu rukun puasa sebagai penegas dari kewajiban puasa Ramadan. Lalu, bagaimana jika kita lupa niat puasa Ramadan? Apakah puasanya tetap sah? Yuk, cari tahu informasinya di bawah ini!

    Hukum Puasa Ramadhan

    Perintah untuk menjalankan puasa di bulan Ramadan hukumnya adalah fardhu ain bagi seluruh umat Muslim yang sudah baligh. Kewajiban ini ada sebelum dua tahun sejak Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah.

    Adapun dalil puasa Ramadan sebagaimana firman Allah SWT yang tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat 183, yang artinya:

    “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah ayat 183).

    Dari ayat tersebut di atas, setiap umat Muslim wajib menjalankan ibadah puasa sebagaimana orang-orang terdahulu. Hal ini bertujuan agar kita semakin bertakwa kepada Allah SWT.

    Selain itu, dalil kewajiban puasa juga terdapat dalam hadist Nabi Muhammad SAW berdasarkan riwayat Bukhari dan Muslim yang artinya sebagai berikut:

    “Islam dibangun di atas lima dasar, yakni persaksian (syahadat) bahwa tiada Tuhan yang berhak kita sembah kecuali Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa Ramadan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Hukum Lupa Niat Puasa Ramadan

    Niat adalah salah satu rukun puasa Ramadan yang bisa kita lafalkan pada malam hari. Kebanyakan orang membaca niat ini pada waktu sahur. Tapi, ada pula yang membaca niat puasa setelah shalat tarawih.

    Hal ini untuk mengantisipasi lupa niat puasa Ramadhan, maka banyak orang membaca niatnya pada malam hari atau setelah selesai shalat tarawih.

    Berbeda dengan rukun puasa sunnah yang memperbolehkan membaca niatnya pada siang hari sebelum matahari tergelincir. Selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa sunnah tetap sah.

    Lalu, bagaimana dengan hukum puasa jika lupa membaca niat puasa Ramadan pada malam harinya? Apakah sah atau tidak? Daripada penasaran, berikut terdapat hadits tentang niat puasa Ramadan, yang artinya:

    “Siapa saja yang tidak memalamkan (niat) puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i, At-Tirmidzi).

    Jadi, secara tidak langsung hadits tersebut menjelaskan, ketika lupa niat puasa Ramadhan maka puasanya dianggap tidak sah. Sebab, niat harus kita baca pada malam harinya sehingga puasa dianggap sah.

    Meski demikian, ketika kita lupa membaca niat puasa di malam hari bulan Ramadan, maka harus mengqadha puasa tersebut. Seperti penjelasan dari Imam An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, berbunyi:

    “Jika seorang lupa berniat puasa Ramadhan (pada malam hari) hingga terbit fajar (waktu subuh), maka puasanya tidak sah tanpa ikhtilaf ulama menurut kami (mazhab syafi’i) karena niat harus pada malam hari.”

    “Ia juga wajib menahan diri pada siang hari (sebagaimana orang berpuasa). Ia juga wajib mengqadha karena ia tidak berpuasa pada hari tersebut.” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab).

    Baca juga: Hutang Piutang dalam Islam: Pengertian, Rukun, Syarat dan Ketentuannya

    Solusi Lupa Niat Puasa Bulan Ramadhan

    Setelah mengetahui hukum puasa bagi orang lupa niat puasa Ramadhan yang ternyata tidak sah, selanjutnya penting mencari solusi agar tidak lupa baca niat. Sebagaimana rukun puasa yang harus kita penuhi.

    Niat merupakan salah satu rukun puasa, maka wajib membaca setiap harinya. Bahkan ulama Syafi’iyah menyarankan untuk membaca niat puasa di awal bulan untuk satu bulan penuh untuk antisipasi.

    Adapun membaca niat puasa harus pada waktu yang tepat, yaitu sebelum fajar menjelang atau setelah shalat tarawih. Niat harus benar-benar kita ucapkan dengan kesungguhan dan keikhlasan dalam hati.

    Kekhawatiran tidak membaca niat puasa sehingga puasa tidak sah, maka bisa membaca niat di awal bulan untuk satu bulan Ramadan. Dengan begitu, tidak perlu khawatir jika lupa berniat puasa Ramadan.

    Biasanya, pada saat setelah shalat tarawih kita akan dipandu oleh imam shalat untuk membaca niat puasa untuk esok hari. Bahkan ada yang sekaligus baca niat puasa Ramadan untuk satu bulan penuh.

    Bacaan Niat Puasa Ramadhan

    Berikut ini terdapat bacaan niat puasa di bulan Ramadan yang bisa kita lafalkan dalam hati atau bisa baca secara lisan. Adapun bacaannya sebagai berikut:

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى

    Nawaitu shauma ghadin ‘an adai fardhi syahri ramadhana hadzihissanati lillahi ta’ala

    Artinya: 

    “Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan fardhu di bulan Ramadan tahun ini karena Allah ta’ala.”

    Bacaan niat puasa bisa kita lafalkan pada malam harinya atau sebelum menjelang waktu fajar tiba. Tetapi, bagi yang lupa niat puasa tetap berpuasa di siang harinya, serta wajib mengqadha puasanya di hari lain.

    Hukum puasa bulan Ramadan yang sifatnya wajib memang ada perbedaan dengan puasa sunnah, terutama dari waktu niatnya. Puasa sunnah bisa membaca niat di siang hari sebelum posisi matahari tergelincir.

    Demikian penjelasan tentang hukum puasa bagi yang lupa niat puasa Ramadhan yang tidak sah puasanya jika membacanya di siang hari. Tapi, kita tetap bisa mengqadha puasa jika tidak puasa di hari tersebut.

  • Biografi Sunan Kudus: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    Biografi Sunan Kudus: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq adalah salah satu dari sembilan wali yang sangat dihormati dalam tradisi Islam di Indonesia. Beliau dikenal sebagai tokoh sufi dan ulama yang berperan penting dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa.

    Beliau dikenal sebagai seorang yang disegani banyak masyarakat karena latar belakang pendidikan dan keluarganya.

    Selain itu, metode dakwah beliau juga sangat menarik mengingat kuatnya Hindu-Budha pada masa tersebut.

    Silsilah Sunan Kudus

    Berdasarkan sumber buku “Sembilan Wali” karya Susilarini menjelaskan Sunan Kudus merupakan anak dari Sunan Ngudung. Beliau merupakan anak seorang panglima dari Kesultanan Demak Bintoro dengan ibu yang bernama Syarifah.

    Dari silsilah ini juga Sunan Kudus memiliki adik yang bernama Sunan Bonang. Pada masa kecil, beliau memiliki nama Raden Amir Haji. Semasa hidup, beliau juga pernah menjadi panglima perang untuk Kesultanan Demak.

    Bahkan, pada masa pemerintahan Arya Penangsang, beliau diamanahkan untuk menjabat sebagai Penasihat. Berada dengan latar pemerintahan membuat beliau cukup disegani dan mudah untuk melakukan penyiaran agama Islam.

    Jika dilihat dari silsilahnya secara jauh, maka Sunan Kudus memiliki garis keturunan dengan Nabi Muhammad SAW. Adapun garis keturunan beliau yang bisa kita ketahui, seperti dibawah ini:

    1. Nabi Muhammad SAW
    2. Sayyidah Fatimah Az-Zahra
    3. Al-Husain
    4. Ali Zainal Abidin
    5. Muhammad Al-Baqir
    6. Ja’far Shadiq
    7. Ali Al-Uraidhi
    8. Ahmad Al Muhajir
    9. Ubaidillah
    10. Ali Khali’ Qasam
    11. Muhammad Shahib Mirbath
    12. Alwi Ammil Faqih
    13. Abdul Malik Azmatkhan
    14. Abdillah
    15. Ahmad Jalaluddin
    16. Jamaluddin Al-Husain
    17. Ibrahim Zainuddin Al-Akbar
    18. Sayyid Fadhal Ali Murtadha
    19. Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji
    20. Sunan Kudus atau Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan

    Riwayat Sunan Kudus

    Sunan Kudus atau dikenal dengan nama Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan lahir di Palestina pada 9 September 1400 Masehi atau 808 Hijriah. Beliau merupakan keturunan Raden Usman Haji yang seorang panglima perang Kesultanan Demak.

    Sejak usia dini, Sunan Kudus belajar agama Islam dari ayahnya dan juga dari seorang ulama bernama Kyai Telingsing. Namun, peristiwa penting dalam hidupnya terjadi ketika pertemuan dengan Sunan Ampel.

    Jika ditelusuri lebih lanjut, Kyai Telingsing adalah seorang ulama asal China yang sengaja datang ke Jawa bersama Panglima Besar Cheng Hoo. Kedatangan Kyai Telingsing bersama Cheng Hoo membawa ajaran nilai-nilai Islam yang kuat.

    Adanya Kyai Telingsing juga mampu memperkuat persaudaraan dengan para penduduk Jawa. Sembari mendalami ilmu agama, Sunan Kudus mendapatkan kesempatan untuk menjabat dalam berbagai posisi berbeda di Kesultanan Demak.

    Adapun posisi ini mencakup berbagai jabatan dari yang tertinggi hingga sejak awal beliau diamanahkan oleh kesultanan:

    • Sultan Demak (Penasehat Kesultanan)
    • Panglima Perang Depan
    • Qadhi (Hakin Syariat)
    • Mufti (Pemberi Fatwa atau ahli hukum Islam)
    • Imam Besar Masjid Demak dan Masjid Kudus
    • Mursyid tarekat
    • Naqib Nasab Keturunan Azmatkhan
    • Ketua Pasar Islam Walisongo
    • Penanggung Jawab Pencetak Dinar Dirham Islam
    • Ketua Baitul Mal Walisongo

    Baca juga: 13 Manfaat Sholat Hajat agar Dikabulkan Keinginan dan Harapan

    Perjuangan dalam Penyebaran Islam

    Meskipun menjabat sebagai seorang Senopati, Sunan Kudus tetap melakukan penyebaran ajaran Islam di wilayah Kudus dan sekitarnya. Dalam dakwahnya, beliau selalu menjunjung tinggi sikap yang penuh ketenangan dan kelembutan.

    Tujuannya bukan hanya untuk meyakinkan masyarakat menerima ajaran Islam tanpa paksaan, tetapi juga untuk menegaskan toleransi Islam terhadap keyakinan lainnya. Beliau dikenal sebagai seorang ulama yang suka melakukan perjalanan.

    Bahkan, ada laporan yang menyebutkan bahwa beliau pernah sampai ke tanah suci untuk menjalankan ibadah haji. Ketika berada di Kota Mekkah, Sunan Kudus juga dikenal membantu merawat warga yang terkena wabah penyakit.

    Sebagai penghargaan atas jasanya, beliau diberikan sebatang batu yang berasal dari Baitul Maqdis oleh penguasa setempat saat itu. Batu tersebut kemudian dibawa kembali ke Jawa, di mana ia ditempatkan di dalam Imam Masjid Kudus.

    Metode Dakwah

    Sunan Kudus mengadopsi pendekatan berbasis budaya dalam dakwahnya. Pendekatan ini bertujuan untuk lebih mudah diterima oleh masyarakat dan tidak memberikan kesan pemaksaan kepada masyarakat Jawa saat.

    Hal ini tentunya juga sejalan dengan prinsip Islam yang mengajarkan toleransi dan perdamaian sebagai nilai-nilai inti dalam ajaran yang sesungguhnya.

    Berikut adalah gambaran lebih detail tentang metode dakwah yang diterapkan oleh Sunan Kudus:

    1. Toleransi Antar Agama

    Diketahui bahwa masyarakat Hindu sangat teguh pada keyakinan dan kepercayaan mereka. Oleh karena itu, metode dalam penyebaran Islam secara langsung dianggap sulit untuk diterapkan.

    Beliau tidak secara tegas memaksa masyarakat saat itu untuk langsung memeluk Islam. Sebaliknya, beliau mengundang mereka untuk secara bertahap memahami tentang ajaran-ajaran Islam sebagai agama yang baik dan benar.

    Ja’far Shadiq sungguh menerapkan prinsip toleransi yang tinggi dalam ajaran Islam. Beliau memperbolehkan siapa saja untuk belajar tentang Islam, bahkan jika mereka belum memeluk agama Islam.

    Beliau sangat yakin bahwa seiring berjalannya waktu, mereka akan semakin mengenal dan memahami Islam. Karena memeluk Islam seharusnya muncul dari niat ikhlas dan keinginan pribadi masing-masing individu.

    2. Menyelaraskan dengan Budaya

    Salah satu metode dakwah yang sampai saat ini masih berlaku adalah tradisi Selametan atau Mitoni. Awalnya, tradisi ini merupakan bentuk ucapan selamat terhadap bayi yang baru lahir dengan memberikan sesajen bagi agama Budha.

    Hal ini tentunya sangat bertentangan dengan ajaran Islam, yang mana seharusnya bentuk ucapan syukur hanya diberikan kepada Allah SWT. Adanya penyimpangan ini menjadi bentuk tanggung jawab Sunan Kudus pada masa tersebut.

    Rekonstruksi Mitoni ini kemudian disesuaikan dengan nilai-nilai ajaran Islam yang sesungguhnya. Hebatnya, beliau tidak menghilangkan begitu  tradisi tersebut  sehingga sampai saat ini tradisi Mitoni masih berlaku di masyarakat Jawa.

    Sejarah Peninggalan

    Selain meninggalkan ajaran Islam yang masih berakar kuat dalam masyarakat Jawa. Sunan Kudus juga mewariskan sejumlah artefak bersejarah hingga masjid yang sampai saat ini tetap dilestarikan dan dijaga oleh masyarakat Jawa.

    Berikut ini beberapa peninggalan bersejarah dari Sunan Kudus yang bisa kita ketahui:

    1. Masjid dan Menara Kudus

    Masjid Al-Aqsa Manarat yang juga dikenal sebagai Masjid Al Manar terletak di Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah. Salah satu ciri khasnya adalah desain bangunan yang menggabungkan elemen arsitektur Islam, Hindu, dan Buddha.

    Masjid Al-Manar mencerminkan jelas adanya akulturasi budaya yang terjadi pada masa Walisongo di Jawa. Hingga saat ini, masjid yang didirikan pada tahun 1549 Masehi ini tetap menjadi tempat ibadah dan tujuan ziarah ke makam Sunan Kudus.

    Pada acara festival Dandangan yang menyambut bulan Ramadhan, masjid ini selalu ramai. Hal ini karena banyak masyarakat dari berbagai penjuru yang ingin melakukan ziarah ke makam Sunan.

    2. Keris Cintoko

    Salah satu warisan sejarah yang masih terjaga dengan baik adalah keris pusaka Cintoko. Setiap tahun, tepatnya setelah Idul Adha akan ada ritual khusus di mana keris pusaka Sunan Kudus ini dibersihkan dan dijaga.

    3. Dua Tombak Sunan Kudus

    Sunan Kudus sebelum wafat juga meninggalkan dua tombak. Setiap tahun, ritual khusus diadakan untuk merawat dan menghormati tombak ini sebagai pengingat nilai-nilai s yang terkandung di dalamnya, seperti kebijaksanaan dan kekuasaan.

    4. Tembang Asmarandana

    Selain bangunan dan pusaka yang bisa kita lihat hingga sampai saat ini, beliau juga meninggalkan seni berupa tembang (lagu) yang liriknya mencerminkan nilai-nilai ajaran Islam.

    Semua peninggalan ini adalah bukti penting dari warisan Sunan Kudus yang berdampak positif dalam mempertahankan sejarah dan budaya Islam di Jawa. Selain itu, kita juga bisa mengetahui dan mempelajari sejarah secara langsung.

    Sunan Kudus adalah seorang ulama yang berperan penting dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa. Dengan metode dakwahnya yang inklusif dan warisannya yang kuat dalam penyebaran Islam tentunya menjadi kisah menarik.

  • Biografi Sunan Giri: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    Biografi Sunan Giri: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    Mungkin kita hanya mengetahui Sunan Giri sebagai ulama dan pendakwah yang giat menyebarkan syiar Islam. Padahal, sebenarnya beliau juga adalah seorang raja dengan gelar Prabu Satmata, lho!

    Sunan yang termasuk bagian dari Wali Songo ini pernah memerintah Kerajaan yang bernama Giri Kedaton. Pemerintahannya berlangsung pada tahun 1487-1506, berkedudukan di Gresik, Jawa Timur. 

    Bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut biografi Sunan yang memiliki banyak nama dan julukan ini, simak informasi lengkapnya pada uraian di bawah!

    Asal Usul Sunan Giri

    Sunan Giri adalah ulama yang lahir pada tahun 1442 Masehi di Desa Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur. Beliau lahir dari seorang ibu bernama Dewi Sekardadu dan ayahnya bernama Maulana Ishaq.

    Maulana Ishaq merupakan seorang mubaligh Islam berasal dari Asia Tengah. Beliau menikahi Dewi Sekardadu, yaitu putri Prabu Menak Sembuyu yang termasuk salah satu penguasa di daerah Blambangan.

    Dari pernikahannya, lahir seorang anak yang memiliki nama asli Raden Paku. Beliau juga memiliki nama lain seperti Joko Samudro, Prabu Satmata, Sultan Abul Faqih, dan Raden Ainul Yaqin.

    Saat Raden Paku belajar di Pesantren Sunan Ampel, kemudian beliau pun diberi nama Maulana Ainul Yaqin. Hal ini karena tidak lepas dari kecerdasan yang Raden Paku miliki dalam menimba ilmu tentang Islam.

    Setelah itu, Raden Paku dan putra Sunan Ampel yang bernama Makdum Ibrahim diutus menuntut ilmu di Pasai. Mereka berguru pada Syekh Maulana Ishaq di Pesai. Setelah 7 tahun, mereka kembali ke Jawa.

    Maulana Ishaq memberi amanat kepada Raden Paku untuk mendirikan pesantren. Kemudian, berdirilah pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Gresik.

    Raden Paku yang tinggal di perbukitan ini, akhirnya nama aslinya berubah menjadi Sunan Giri. Menurut bahasa Jawa, giri adalah bukit. Itulah asal usul nama salah satu ulama Wali Songo yang perlu kita ketahui.

    Baca juga: 13+ Keutamaan Majelis Ilmu dan Adabnya, Umat Muslim Wajib Tahu!

    Silsilah Keturunan Sunan Giri

    Berdasarkan banyak sumber, menyebutkan bahwa Raden Paku adalah keturunan dari Nabi Muhammad SAW. Nasab beliau dari jalur keturunan Husain bin Ali. Lebih jelasnya, berikut silsilah keturunan Raden Paku, yaitu:

    1. Nabi Muhammad SAW
    2. Fatimah Az-Zahra/Ali bin Abi Thalib
    3. Husain bin Ali
    4. Ali Zainal Abidin
    5. Muhammad Al-Baqir
    6. Ja’far Ash-Shadiq
    7. Ali Al-Uraidhi
    8. Muhammad An-Naqib
    9. Isa Ar-Rumi
    10. Ahmad Al-Muhajir
    11. Ubaidillah
    12. Alwi
    13. Muhammad
    14. Alwi
    15. Ali Khali’ Qasam
    16. Muhammad Shahib Mirbath
    17. Alwi Ammil Faqih
    18. Abdul Malik Azmatkhan
    19. Abdullah
    20. Ahmad Jalaluddin
    21. Husain Jamaluddin
    22. Ibrahim Zainuddin As-Samarqandy
    23. Maulana Ishaq
    24. Ainul Yaqin (Sunan Giri)

    Pada saat Sunan Giri sudah menempuh pendidikan, kerajaan bernama Giri Kedaton ini bertahan hingga 200 tahun. Setelah beliau meninggal, singgasana raja digantikan oleh keturunannya, yaitu antara lain bernama:

    1. Sunan Dalem
    2. Sunan Sedomargi
    3. Sunan Giri Prapen
    4. Sunan Kawis Guwo
    5. Panembahan Ageng Giri
    6. Panembahan Mas Witana Sideng Rana
    7. Pangeran Singonegoro
    8. Pangeran Singosari

    Kisah Saat Menyebarkan Agama Islam

    Setelah mengetahui silsilah keturunan Raden Paku, selanjutnya ketahui perjalanan dakwah beliau dalam menyebarkan syiar Islam. Sunan Giri mulai berdakwah saat setelah mendapatkan bukti terkait wilayahnya.

    Dalam upayanya menyebarkan agama Islam, ada beberapa hal yang beliau lakukan. Apa saja? Yuk, kita cari tahu informasi detailnya di bawah ini.

    1. Mendirikan Pondok Pesantren

    Perjalanan dakwah Raden Paku memulainya dengan mendirikan sebuah pondok pesantren yang bernama Giri. Lokasi pesantren Ini berada di perbukitan di Desa Sidomukti, Kebomas Gresik, Jawa Timur.

    Pesantren Giri adalah pesantren pertama yang berada di daerah Gresik pada Saka Nuju, tahun Jawi Sinong milir atau 1403 saka. Pesantren Giri dikenal sebagai pusat penyebaran syiar agama Islam di Jawa.

    Seiring perkembangan, pesantren tersebut banyak memberikan pengaruh yang luar biasa besar terhadap daerah di sekitarnya seperti Lombok, Madura, Sumbawa, Flores, Sulawesi, Maluku, dan Kalimantan.

    2. Berkembang Menjadi Kerajaan

    Meluasnya pengaruh dan pengikut Raden Paku, hal ini membuat pesantren semakin besar hingga menjadi sebuah kerajaan bernama Giri Kedaton. Kemudian berhasil menguasai wilayah Gresik dan sekitarnya.

    Raden Paku memerintah kerajaan Giri Kedaton mulai dari tahun 1487 M hingga 1909 M dengan gelar Prabu Satmata. Beliau ini memiliki pengaruh besar terhadap kerajaan Islam Jawa maupun luar Jawa saat itu.

    Kepemimpinan Prabu Satmata terbilang cepat yakni 200 tahun. Sepeninggalannya, kemudian dilanjutkan oleh keturunannya. Giri Kedaton dipimpin penguasa bergelar Sunan, Panembahan dan Pangeran.

    3. Memadukan Tradisi dan Ajaran Islam

    Selama berdakwah, Sunan Giri atau Raden Paku memakai strategi memadukan tradisi lokal dengan ajaran agama Islam seperti selamatan, acara keramaian, dan upacara lainnya yang ada unsur Islami.

    Strategi dakwah semacam ini berhasil memikat hati masyarakat dan membantunya memperluas pengaruh agama Islam. Selain itu, beliau juga menciptakan karya seni tradisional yang berhasil menarik masyarakat.

    Adapun karya tradisional tersebut yakni seperti permainan anak, lagu atau gending. Namun, suatu masa kerjaannya runtuh akibat dari serangan Kesultanan Demak, yang merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa..

    Metode Dakwah Sunan Giri

    Dari kisah penyebaran Islam yang dilakukan Raden Paku di atas bisa kita ketahui, bahwa pusat penyebarannya ada di kerajaan Giri Kedaton. Kemudian ajaran Islam ini menyebar ke daerah lain di Indonesia.

    Dalam dakwah, Raden Paku atau Sunan Giri menggunakan metode memadukan tradisi lokal dengan ajaran Islam. Beliau menciptakan lagu untuk anak-anak agar lebih mudah menyerap pelajaran agama Islam.

    Adapun lagu atau tembang anak-anak ini seperti Lir-ilir, Cublak-cublak Suweng, dan Padang Bulan. Lagu-lagi ini sangat terkenal di Jawa Timur, mungkin kita pun pernah mendengar lagu-lagu tersebut.

    Selain itu, beliau juga menciptakan permainan yang ada unsur Islam yaitu Jelungan. Permainan ini memiliki tujuan untuk mengajarkan bagaimana menyelamatkan hidup dengan pegang teguh pada ajaran Islam.

    Itulah metode dakwah Raden Paku terapkan untuk memikat hati masyarakat untuk memeluk dan belajar agama Islam. Beliau pun membuat pesantren sebagai wadah bagi masyarakat yang ingin belajar agama Islam.

    Contoh Keteladanan Sunan Giri

    Ada banyak sekali contoh keteladanan Sunan Giri yang bisa kita petik hikmahnya, salah satunya adalah metode beliau dalam menyebarkan ajaran Islam di Indonesia. Metodenya unik dan menarik masyarakat.

    Beliau menciptakan lagu dan permainan yang di dalamnya ada unsur Islam. Dengan cara ini masyarakat pun akan lebih mudah mempelajari tentang Islam, sehingga tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam.

    Contoh keteladanan Raden Paku lainnya melakukan dakwah di dalam dunia politik. Beliau memiliki kemampuan negosiasi dan kemampuan memimpin sehingga bisa bersaing dengan kerajaan pada masa itu.

    Menurut beliau, bahwa menjadi ulama dengan pengetahuan luas itu sangat penting terutama tentang agama Islam. Sebab, ketika memimpin penting memiliki pengetahuan agar keberadaannya diakui pemerintahan.

    Tak heran, jika keberadaan Raden Paku di dalam dunia politik sangat diakui oleh orang-orang di pemerintahan. Dengan begitu, beliau memiliki legalitas sehingga dakwah yang beliau lakukan menjadi lebih mudah.

    Peninggalan Sunan Giri Setelah Wafat

    Sunan Giri wafat pada tahun 1505 M dan dimakamkan di Dusun Kedaton, Desa Giri Gajah, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur. Beliau meninggalkan beberapa peninggalan yang perlu kita ketahui, di antaranya:

    1. Giri Kedaton

    Giri Kedaton adalah pusat pemerintahan atau kerajaan Giri yang dipimpin oleh Raden Paku atau Prabu Satmata, nama lain dari Sunan ini. Lokasi Giri Kedaton ini berada di tempat strategis ada di bukit di Desa Mukti.

    Kerajaan Giri Kedaton pada masanya merupakan kerajaan yang besar hingga mampu bertahan sampai 200 tahun yang dipimpin oleh beberapa generasi.

    2. Museum

    Museum Sunan Giri merupakan salah satu peninggalan beliau yang saat ini masih tersimpan rapi. Namun sayangnya, museum ini kurang terawat karena mungkin letaknya yang berada di posisi pojokan.

    Meski begitu, letak museum ini cukup strategis. Tidak jauh dari alun-alun Kota Gresik dan area terminal bus Maulana Malik Ibrahim di Kota Gresik.

    3. Masjid

    Bagi yang suka berziarah ke makam Raden Paku ini, mungkin sudah mengetahui adanya masjid yang bersebelahan dengan makam beliau. Masjid ini adalah murni peninggalannya yang bisa kita kunjungi.

    Bangunan masjid ini memiliki arsitektur yang unik karena adanya kombinasi antara budaya Islam dan Hindu. Kita bisa lihat dari bentuk atas atapnya.

    4. Telogo Pegat

    Telogo Pegat adalah salah satu peninggalan Raden Paku atau Sunan yang berjuluk Prabu Satmata ini. Menurut warga, telaga ini tidak pernah mengalami surut meski terjadi musim kemarau yang panjang.

    Telogo Pegat yang letaknya berada di kawasan Giri, Kebomas ini terdapat larangan bahwa kita tidak boleh berenang karena talaga ini cukup angker.

    Itulah beberapa peninggalan Sunan yang masuk dalam ulama Wali Songo yang perlu kita ketahui. Jika ada kesempatan untuk berziarah ke makam beliau, tidak lupa berkunjung ke tempat peninggalannya.

    Demikian informasi tentang Sunan Giri mulai dari asal-usulnya, kisah perjalanan dakwahnya, dan metode dakwah yang beliau terapkan. Semoga bisa jadi referensi dan menambah pengetahuan bagi kita.

  • Bolehkah Puasa di Hari Jumat? Ini Penjelasan Para Ulama!

    Bolehkah Puasa di Hari Jumat? Ini Penjelasan Para Ulama!

    Dalam Islam, puasa menjadi salah satu ibadah yang diajurkan karena termasuk ke dalam rukun Islam. Puasa sendiri ada yang bersifat wajib dan ada pula yang sifatnya sunnah. Dari beberapa puasa sunnah ditentukan harinya. Mengenai hal tersebut, beberapa orang kerap kali mempertanyakan, bolehkah puasa di hari Jumat?

    Pasalnya, ada banyak sekali keterangan yang menjelaskan bahwasannya umat muslim tidak diperbolehkan memulai puasa sunnah seperti daud dari hari Jumat tanpa didahului hari rabu maupun kamis sebelumnya.

    Lantas, bagaimana sebenarnya Islam menerangkan mengenai puasa di hari Jumat ini? Bolehkah puasa di hari Jumat? Yuk simak mengenai hukumnya berikut ini.

    Hukum Berpuasa di Hari Jumat

    Telah dijelaskan sebelumnya bahwa puasa tidak hanya dilakukan pada bulan Ramadhan saja, ada juga puasa lain yang hukumnya sunnah untuk dilakukan namun memiliki banyak sekali keutamaan.

    Sebagaimana dalam hadits Rasulullah SAW:

    مَنْ صَامَ يَوْماً في سَبيل الله بَاعَدَ اللهُ تَعَالضى وَجْهَهُ عَن النار سَبْعينَ خَريفاً

    Artinya: Siapa saja yang berpuasa satu hari di jalan Allah semata karena-Nya maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh musim. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

    Perlu diketahui, bahwa puasa yang diharamkan untuk dilakukan seorang muslim adalah puasa yang dilakukan saat hari raya idul Fitri, idul Adha, hari Tasyriq dan hari-hari yang dijadikan sebagai rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan.

    Pertanyaan mengenai bolehkah puasa di hari Jumat, bisa timbul karena Allah SWT menjadikan hari Jumat sebagai hari yang istimewa bagi umat Islam. Sehingga disimpulkan bahwa puasa di hari Jumat hukumnya makruh, apalagi jika dikhususkan pada hari tersebut.

    Baca juga: Doa Masuk Masjid dan Keluar Masjid: Arab, Latin, dan Artinya

    Makruh adalah salah satu hukum dalam Islam, yakni jika ada suatu perbuatan yang jika meninggalkannya akan lebih baik daripada saat kita mengerjakannya. Secara bahasa sendiri, makruh diartikan sebagai sesuatu yang dibenci.

    Hal itu dijelaskan sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW dalam hadits Abu Hurairah, berikut:

    لا تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ إِلا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ

    “Janganlah khususkan malam Jumat dengan sholat malam tertentu yang tidak dilakukan pada malam-malam lainnya. Janganlah pula khususkan hari Jumat dengan puasa tertentu yang tidak dilakukan pada hari-hari lainnya kecuali jika ada puasa yang dilakukan karena sebab ketika itu.” (HR. Muslim no. 1144)

    Bahkan hal ini turut dijelaskan dalam sebuah hadits bahwa sebab dimakruhkannya ialah lantaran bertepatan dengan hari raya umat muslim. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dijelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

    Ini (Jumat) adalah hari Id yang dijadikan Allah SWT untuk kaum Muslimin.” (HR Al-Thabarani).”

    Namun terdapat perbedaan pendapat dari para ulama, sebagian diantaranya memperbolehkan berpuasa pada hari Jumat dengan syarat telah dikerjakan puasa sebelum hari Jumat dan sesudah hari Jumat.

    Hal ini disebutkan dalam hadits riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

    لا يصومن أحدكم يوم الجمعة إلا أن يصوم قبله أو بعده

    Artinya: “Janganlah kalian puasa hari Jumat melainkan puasa sebelum atau sesudahnya,” (HR Al-Bukhari).

    Selain itu dalam hadis riwayat Imam Bukhari dari Juwairiyah bint Al-Harits;

    Rasulullah SAW pernah menemuinya pada hari Jum’t dan ia dalam keadaan berpuasa, lalu beliau bersabda: ‘Apakah engkau berpuasa kemarin?’ ‘Tidak,’ jawabnya. ‘Apakah engkau ingin berpuasa besok?’ tanya beliau lagi. ‘Tidak,’ jawabnya lagi. ‘Batalkanlah puasamu’ kata Rasulullah SAW.” (HR Bukhari).

    Hal ini juga didukung dengan penjelasan Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Nurul Lum’ah fi Khashaishil  Jum’ah. Dalam kitab ini, Imam An-Nawawi, sebagaimana dikutip As-Suyuthi, menjelaskan:

    “Pendapat yang paling shahih menurut madzhab kami dan ini termasuk pendapat jumhur ulama bahwa puasa hari Jumat makruh kalau tidak puasa sebelum dan sesudahnya.

    Sebagian pendapat mengatakan tidak makruh kecuali bagi orang yang terhalang ibadahnya lantaran puasa dan tubuhnya lemah.”

    Berdasarkan jumhur ulama di atas, dapat disimpulkan bahwa puasa di hari Jumat akan makruh bila mana tidak dibarengi dengan puasa hari Kamis dan hari Sabtu.

    Meski demikian, kemakruhan ini bisa saja gugur karena dua hal, yakni sebagai berikut:

    1.  Puasa Kamis dan Sabtu

    Puasa hari Jumat diperbolehkan dan tidak makruh apabila puasanya didahului puasa dihari Kamis atau disambung dengan puasa di hari Sabtu.

    2. Bertepatan dengan Puasa Sunah Lainnya

    Tidak makruh, jika melakukan puasa di hari Jumat sebab bertepatan dengan puasa sunnah lainnya seperti puasa Arafah, puasa Ayyamul Bidh, puasa Dawud.

    Puasa yang Diharamkan untuk Dilakukan

    Setelah mengetahui jawaban atas pertanyaan,”Bolehkah puasa di hari Jumat?”, kita perlu mengetahui beberapa puasa yang memang diharamkan untuk dilakukan.

    Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, bahwa terdapat beberapa puasa yang diharamkan untuk dilakukan oleh seorang muslim. Adapun puasa yang diharamkan adalah sebagai berikut:

    1. Puasa yang haram dilakukan namun sah puasanya, yaitu puasanya isteri tanpa izin suami dan puasanya budak tanpa izin tuannya.
    2. Puasa yang diharamkan dan juga tidak sah puasanya, yakni:
    3. Puasa pada Hari Raya Idul fitri, yaitu berpuasa pada tanggal 1 Syawwal.
    4. Puasa pada Hari Raya Idul Adha, yaitu berpuasa pada tanggal 10 Dzulhijjah.
    5. Puasa pada hari Tasyriq, yaitu berpuasa pada tanggal 11, 12, dan 13 dari bulan Dzulhijjah.
    6. Puasa separuh yang akhir dari bulan Sya’ban, yaitu berpuasa pada tanggal 16, 17, 18, dan seterusnya hingga akhir bulan Sya’ban.
    7. Puasa pada hari yang meragukan, yaitu berpuasa pada tanggal 30 Sya’ban apabila orang-orang telah membicarakan tentang ru’yatul hilal (melihat bulan sabit di ufuk), atau ketika ada orang yang kesaksiannya melihat hilal tidak bisa diterima, seperti kesaksian seorang anak kecil.

    Itulah dia penjelasan mengenai  pertanyaan, “Bolehkah puasa di hari Jumat?”. Semoga sedikit uraian di atas dapat membantu, dan selalu ingat bahwa Allah lah sebaik-baiknya pemberi Taufik.

  • Hukum Orang Tua Melarang Anaknya Ikut Suami

    Hukum Orang Tua Melarang Anaknya Ikut Suami

    Dewasa ini, banyak sekali orang tua yang merasa masih bertanggung jawab saat anak perempuannya menikah. Kebanyakan dari mereka takut anaknya tidak berkecukupan, sehingga melarang tinggal memisah. Lantas, bagaimana sebenarnya hukum orang tua melarang anaknya ikut suami?

    Ketika menikah istri akan berbakti sepenuhnya kepada suami, namun banyak terjadi saat ini bahwa orang tua turut campur urusan rumah tangga anak yang telah menikah.

    Padahal, alih-alih membantu, keterlibatan ini justru kerap kali memperkeruh masalah. Bahkan, tidak sedikit kasus perceraian yang disebabkan campur tangan orang tua. Penasaran dengan hukum orang tua melarang anaknya ikut suami? Mari simak penjelasannya di bawah ini!

    Hukum Orang Tua Melarang Anaknya Ikut Suami

    Ada banyak sekali pertanyaan yang kerap menjadi perdebatan batin bagi seorang istri yang baru saja menikah. Mereka kerap kali dihadapkan beberapa pilihan, yakni harus ikut suami namun ingin menjaga orantua yang sudah menua.

    Tentu pembahasan terkait hukum orang tua melarang anaknya ikut suami amat penting untuk memberikan pertimbangan dan jalan tengah terkait hal yang disebutkan di atas.

    Pada dasarnya, Islam sendiri mewajibkan seorang istri untuk taat kepada suaminya. Sehingga, setelah menikah ia dianjurkan untuk tinggal satu rumah dengan suaminya.

    Ketentuan ini berlaku jika suami tersebut taat kepada Allah SWT dan menjauhi segala larangan-larangannya. Sebagaimana dijelaskan dalam salah satu hadits riwayat Ahmad, Rasulullah SAW bersabda:

    Apabila seorang wanita sholat  lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.” (HR. Ahmad)

    Selain itu, membahas mengenai hukum orangtua melarang anaknya ikut suami. Mengingat bahwa terdapat beberapa batasan orangtua kepada anak yang sudah menikah, yang paling utama yakni orangtua dilarang melibatkan diri terlalu jauh dalam masalah rumah tangga anaknya.

    Bahkan Rasulullah SAW bersabda, “Hendaknya engkau sibuk dengan privasimu dan jangan terlalu sibuk dengan urusan orang lain.”

    Meski hadits di atas tidak secara spesifik melarang orangtua mencampuri urusan rumahtangga anaknya, namun dapat diketahui bahwa umat muslim dilarang mencampuri urusan orang lain, tidak terkecuali itu anak sendiri. Meski begitu hal ini dengan jelas menerangkan bahwa hukum orang tua Melarang anaknya ikut suami tidak diperbolehkan.

    Baca juga: Jelaskan Perbedaan Rukun dan Wajib Haji? Yuk Simak

    Sebenarnya, dalam ajaran Islam, pasangan yang telah menikah lebih dianjurkan untuk tinggal di rumah sendiri guna menghindari adanya dua kepala keluarga di dalam satu rumah. Hal ini akan menjadi pemicu pertengkaran sebab seringkali satu di antaranya merasa tidak menjadi kepala keluarga yang dapat memutuskan suatu pilihan.

    Selain itu, dengan hidup terpisah dari orang tua, pasangan suami istri bisa terus belajar untuk mandiri dan berjuang bersama dari awal untuk menciptakan rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warahmah.

    Oleh sebab itulah, hukum orang tua melarang anaknya ikut suami adalah tidak diperbolehkan. Sebab seorang anak perempuan yang telah menikah, ia wajib menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri kepada suaminya.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan dan menegaskan kewajiban wanita dalam menunaikan hak suami dalam sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    ”Seandainya aku akan memerintahkan seorang untuk bersujud kepada selain Allah, tentulah aku perintahkan wanita bersujud kepada suaminya. Demi (Allah) Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidaklah seorang wanita menunaikan hak Rabb-nya sampai dia telah menunaikan hak suaminya. Walaupun suaminya meminta dirinya (berhubungan suami istri) di atas pelana onta, ia tidak boleh menolaknya.” (HR. Ibnu Majah dalam kitab as-Sunan No. 1843. Lihat ash-Shahihah No. 1203)

    Syaikh al-Albani dalam Adabuz Zifaf menjelaskan tentang hadits ini dengan menyatakan, ‘Pengertiannya adalah anjuran kepada kaum wanita untuk menaati suaminya, ia tidak boleh menolak (ajakan suami) dalam keadaan seperti itu, lalu bagaimana dalam kondisi yang lainnya? (Tentu ia lebih patut menaati suami).’

    Berdasarkan hadits di atas, maka tidak diperkenankan bagi orangtua untuk menghalangi seorang istri menjalankan kewajibannya.

    Namun disamping pembahasan mengenai hukum orang tua melarang anaknya ikut suami, jika membicarakan mengenai ketaatan, sebenarnya tidak hanya istri yang diwajibkan untuk taat kepada suami, namun suami juga dianjurkan untuk menunjukkan kasih sayangnya kepada istri.

    Hal ini sebagaimana dijelaskan secara tersirat dalam Surat Al-Ahzab ayat 37 yang artinya:

    وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِىٓ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَٱتَّقِ ٱللَّهَ وَتُخْفِى فِى نَفْسِكَ مَا ٱللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى ٱلنَّاسَ وَٱللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَىٰهُ ۖ فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَٰكَهَا لِكَىْ لَا يَكُونَ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِىٓ أَزْوَٰجِ أَدْعِيَآئِهِمْ إِذَا قَضَوْا۟ مِنْهُنَّ وَطَرًا ۚ وَكَانَ أَمْرُ ٱللَّهِ مَفْعُولًا

    Wa iż taqụlu lillażī an’amallāhu ‘alaihi wa an’amta ‘alaihi amsik ‘alaika zaujaka wattaqillāha wa tukhfī fī nafsika mallāhu mubdīhi wa takhsyan-nās, wallāhu aḥaqqu an takhsyāh, fa lammā qaḍā zaidum min-hā waṭarā, zawwajnākahā likai lā yakụna ‘alal-mu`minīna ḥarajun fī azwāji ad’iyā`ihim iżā qaḍau min-hunna waṭarā, wa kāna amrullāhi maf’ụlā

    Artinya: Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.

    Demikian penjelasan mengenai hukum orang tua melarang anaknya ikut suami. Hendaknya orangtua dengan ikhlas melepaskan anaknya yang telah menikah untuk membangun bahtera rumah tangganya sendiri.

    Begitu juga dengan suami, hendaknya memberikan perhatian dan kemudahan kepada istrinya untuk melakukan kebaikan dan baktinya kepada orangtuanya.

  • Rangkuman Kisah Nabi Isa AS dan Mujizatnya Menghidupkan Orang Mati

    Rangkuman Kisah Nabi Isa AS dan Mujizatnya Menghidupkan Orang Mati

    Nabi Isa adalah nabi ke-24 dari 25 nabi dan rasul yang wajib kita imani. Dari banyaknya kisah kenabian, kisah Nabi Isa merupakan salah satu yang sangat terkenal, terlebih karena mukjizat-mukjizatnya. Bahkan, kelahirannya pun merupakan sebuah mukjizat.

    Nabi Isa sendiri merupakan salah satu dari dua orang nabi yang dilahirkan tanpa ayah. Keduanya diciptakan langsung oleh Allah tanpa melalui hubungan suami-istri layaknya manusia-manusia lain dan itu adalah hal yang mudah bagi Allah SWT.

    Di dalam Al-Quran, kisah Nabi Isa termuat di banyak sekali ayat sehingga ada banyak kejadian tentang Nabi Isa yang bisa kita ketahui. Adapun kisah lengkap dari nabi ke-24 ini bisa kita simak dalam pembahasan berikut.

    Kisah Kelahiran Nabi Isa AS

    Nabi Isa lahir di Kota Baitul Lahm, Palestina, pada tahun 622 sebelum Hijriah. Seperti sudah disebutkan sebelumnya, kelahiran Isa AS merupakan suatu mukjizat lantaran dilahirkan tanpa adanya ayah seperti pada manusia-manusia lainnya.

    Ibu Nabi Isa adalah Sayyidah Maryam yang merupakan wanita mulia yang diberi gelar ash-shiddîqah oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an. Maryam merupakan sosok yang taat kepada perintah Allah dan senantiasa menjauhi segala larangan-Nya.

    Ia adalah putri dari seorang laki-laki bernama Imran yang merupakan anak keturunan Bani Israil (Nabi Yakub AS). Keluarga Imran merupakan sebuah keluarga pilihan Allah yang mendapatkan keistimewaan berupa nikmat kenabian.

    Hal ini juga dijelaskan dalam Al Qur’an QS. Ali Imran ayat 33-34:

    إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰٓ ءَادَمَ وَنُوحًا وَءَالَ إِبْرَٰهِيمَ وَءَالَ عِمْرَٰنَ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ

    Innallāhaṣṭafā ādama wa nụḥaw wa āla ibrāhīma wa āla ‘imrāna ‘alal-‘ālamīn.

    Artinya:

    Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing).

    ذُرِّيَّةًۢ بَعْضُهَا مِنۢ بَعْضٍ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

    żurriyyatam ba’ḍuhā mim ba’ḍ, wallāhu samī’un ‘alīm.

    Artinya:

    “(sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

    Dalam Al-Qur’an dan hadis, disebutkan bahwa Maryam berasal dari keluarga yang miskin lantaran ayahnya (Imran) telah meninggal sebelum ia lahir. Karena itulah ia diasuh dan dibesarkan oleh pamannya, Nabi Zakaria.

    Suatu ketika, Maryam mendapatkan kabar gembira dari Malaikat Jibril bahwasanya Ia telah dipilih oleh Allah SWT menjadi satu-satunya wanita di dunia yang terjaga kesuciannya dan terhindar dari segala perbuatan hina.

    Di dalam Surat Ali-Imran ayat 42, Allah SWT berfirman:

    وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ

    Wa iż qālatil-malā`ikatu yā maryamu innallāhaṣṭafāki wa ṭahharaki waṣṭafāki ‘alā nisā`il-‘ālamīn.

    Artinya:

    “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).”

    Ayat di atas dengan jelas menyebutkan bahwa Sayyidah Maryam ‘alaihassalam adalah wanita pilihan Allah SWT (melalui perantara Malaikat Jibril) sebagai satu-satunya wanita di dunia (pada zamannya) yang terjaga kesuciannya.

    Baca juga: Hukuman Mati dalam Islam, Halal atau Haram?

    Malaikat Jibril yang diutus untuk menyampaikan kabar ini menjelma menjadi seorang pemuda dengan paras putih. Maryam yang takut dan mengira bahwa kedatangan Jibril adalah untuk mengganggunya lantas berkata seperti dalam QS. Maryam ayat 18:

    قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَٰنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا

    Qālat innī a’ụżu bir-raḥmāni mingka ing kunta taqiyyā.

    Artinya:

    “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.”

    Mendengar perkataan tersebut, Jibril pun memberitahukan kepada Maryam bahwa Ia bukanlah manusia biasa dan merupakan utusan Allah SWT. Ia ditugaskan untuk memberinya seorang anak laki-laki yang saleh ke dalam rahimnya.

    Maryam lantas menjawab keheranan, “Bagaimana bisa aku mempunyai seorang anak padahal aku tak memiliki suami, aku juga bukanlah seorang wanita pezina.”

    “Sesungguhnya, Allah telah berjanji untuk memberikan anak kepadamu sekalipun engkau tak memiliki suami dan engkau juga bukan wanita pezina” Jawab Malaikat Jibril atas pertanyaan dari Maryam.

    “Hal ini sangat mudah bagi Allah SWT dan akan menjadi bukti atas kesempurnaan dan kuasa-Nya, serta menjadi rahmat bagi seluruh alam untuk semua yang mengikuti, mempercayai, dan taat kepada-Nya” Imbuh Jibril.

    Setelah itu, Malaikat Jibril meniupkan ruh di bagian kerah baju Maryam. Seketika itu, Ia pun mengandung bayi Nabi Isa AS. Selang waktu berjalan, Maryam lantas mengasingkan diri guna menghindari fitnah dari orang-orang.

    Ia takut kehamilannya tersebut menjadi bahan olok-olokan karena kondisi tersebut terjadi tanpa adanya suami. Kisah Nabi Isa dalam kandungan terjadi selama 9 bulan lamanya, sampai tiba masa menjelang kelahirannya.

    Rasa sakit yang Ia alami memaksanya bersandar di sebuah batang pohon. Ketika Nabi Isa telah lahir, Maryam bersedih karena anak tersebut lahir tanpa adanya ayah. Ia berharap bahwa dia lebih baik mati dan menghilang begitu saja.

    Melihat hal itu, Jibril lantas datang dan menghibur Maryam seraya berkata, “Tak perlu bersedih. Allah telah menciptakan sungai untukmu agar airnya bisa diminum. Engkau juga bisa menggoyangkan batang pohon di dekatmu, niscaya akan berjatuhanlah buah kurma yang telah masak. Engkau juga tidak perlu memperdulikan mereka (orang-orang dari kaummu). Jika mereka melihatmu, jaga lidahmu dari mengatakan sesuatu. Karena apa pun yang engkau katakan tidak akan ada gunanya untuk mereka.”

    Untuk sesaat, Maryam pun bergembira atas mukjizat dari Allah tersebut. Selang beberapa waktu, Sayyidah Maryam akhirnya memutuskan untuk kembali ke kota. Akan tetapi, ketakutannya juga kembali tentang apa yang akan Ia katakan ke orang-orang.

    Hingga akhirnya, kisah Nabi Isa berlanjut dengan Sayyidah Maryam yang menggendong dan mendapati orang-orang menuduhnya telah berzina dengan Yusuf An-Najjar (anak Zakaria) maupun Zakaria.

    Dalam keadaan terdesak dan tak lagi bisa menjawab apa-apa, Ia hanya menunjuk ke arah bayinya. Hal ini seperti dikisahkan dalam QS. Maryam ayat 29:

    فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ ۖ قَالُوا۟ كَيْفَ نُكَلِّمُ مَن كَانَ فِى ٱلْمَهْدِ صَبِيًّا

    Fa asyārat ilaīh, qālụ kaifa nukallimu mang kāna fil-mahdi ṣabiyyā.

    Artinya:

    Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka pun berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?.”

    Di sinilah kuasa Allah SWT kembali bekerja sekaligus menjadikan ini sebagai mukjizat Nabi Isa berikutnya. Bayi Nabi Isa yang sedang berada dalam dekapan Maryam sontak mampu berbicara dan berkata:

    قَالَ إِنِّى عَبْدُ ٱللَّهِ ءَاتَىٰنِىَ ٱلْكِتَٰبَ وَجَعَلَنِى نَبِيًّا

    Qāla innī ‘abdullāh, ātāniyal-kitāba wa ja’alanī nabiyyā.

    Artinya:

    Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Alkitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.”

    Kisah Nabi Isa selama Berdakwah

    Tahun demi tahun berlalu, hingga Nabi Isa AS akhirnya semakin tumbuh dewasa. Ia juga telah menghafalkan Kitab Taurat dan mengamalkan syariatnya yang telah dibawa oleh Nabi Musa AS untuk kamu Bani Israil.

    Hingga tiba suatu ketika, Allah SWT menyampaikan wahyu kepadanya. Ia pun berbicara kepada kaum Bani Israil dan menceritakan apa yang telah Allah beritakan. Hal ini seperti tercantum dalam QS. sh-Shaff ayat 6 yang berbunyi:

    وَإِذْ قَالَ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ يَٰبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَىَّ مِنَ ٱلتَّوْرَىٰةِ وَمُبَشِّرًۢا بِرَسُولٍ يَأْتِى مِنۢ بَعْدِى ٱسْمُهُۥٓ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَآءَهُم بِٱلْبَيِّنَٰتِ قَالُوا۟ هَٰذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ

    Wa iż qāla ‘īsabnu maryama yā banī isrā`īla innī rasụlullāhi ilaikum muṣaddiqal limā baina yadayya minat-taurāti wa mubasysyiram birasụliy ya`tī mim ba’dismuhū aḥmad, fa lammā jā`ahum bil-bayyināti qālụ hāżā siḥrum mubīn.

    Artinya:

    Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”

    Kisah Nabi Isa pun berlanjut di usia 30 tahun di mana Ia diangkat oleh Allah SWT sebagai nabi dan rasul, serta diberi kitab suci baru bernama Injil. Kitab tersebut akan menjadi petunjuk bagi mereka yang taat dan bertakwa kepada Allah SWT.

    Nabi Isa AS sendiri memperoleh tugas untuk menyampaikan dakwah kepada kaum Bani Israil, memerintahkan mereka untuk senantiasa menyembah Allah semata, meninggalkan kemaksiatan, dan tidak menyembah selain pada-Nya (berhala). 

    Ia juga mengakui kebenaran kitab suci sebelumnya, yaitu Taurat, yang dibawakan oleh Nabi Musa AS Tak lupa, Ia juga menyampaikan jika akan datang suatu masa di mana seseorang bernama Muhammad akan diutus dan meminta mereka mengikutinya.

    Di dalam perjalanan dakwahnya, kisah Nabi Isa AS tidaklah sendirian. Ia ditemani oleh 12 sahabatnya yang dikenal sebagai Hawariyyun (para pembantu). Mereka ini adalah orang-orang yang percaya terhadap semua risalah dari Nabi Isa. 

    Mereka dengan setia menemani dan membantu Nabi Isa dalam upaya penyebaran Agama Allah. Perjalanan dakwah Nabi Isa sejatinya bukanlah sesuatu yang mudah lantaran banyak dari kaumnya yang justru mendustakannya.

    Banyak pula yang iri kepadanya hingga menudingnya sebagai penyihir. Bahkan, hanya beberapa orang saja yang mau beriman kepadanya. Sementara banyak kaum Bani Israil lain justru menyakiti dan mencoba membunuhnya.

    Mereka iri terhadap segala mukjizat-mukjizat yang dimilikinya. Kelahirannya yang tanpa ayah juga selalu diragukan sehingga Nabi Isa dianggap sebagai anak haram. 

    Kisah Nabi Isa Menghidupkan Orang Mati

    Selain lahir tanpa ayah dan mampu berbicara saat masih bayi, salah satu mukjizat Nabi Isa yang juga sangat terkenal adalah kemampuannya menghidupkan orang mati. Peristiwa ini dikisahkan oleh Ibnu Abbas dalam Tafsir ath-Thabari.

    Suatu hari, orang-orang Hawariyyun (para pengikut Nabi Isa) berkata pada Isa AS, “Dapatkah engkau membangkitkan satu orang saja yang pernah menyaksikan peristiwa banjir dan bahtera Nabi Nuh, tentu Ia bisa menceritakannya kepada kami.”

    Mendengar perkataan itu, Isa AS pun pergi bersama para Hawariyyun ke sebuah tempat di mana terdapat gundukan tanah. Nabi Isa lantas mengambil satu genggam tanah tersebut menggunakan tangannya.

    Kemudian Isa AS berkata, “Apakah kalian tahu tanah apakah ini?”

    “Tentu saja Allah dan rasulnya lebih mengetahuinya” Jawab para Hawariyyun. 

    Nabi Isa AS kemudian menjelaskan, “Ini adalah Ka‘ab Ham bin Nuh.” Kemudian ia memukul gundukan tanah tersebut dengan tongkatnya, seraya berkata “Bangkitlah engkau atas izin Allah SWT.”

    Tak lama kemudian, Ham bin Nuh pun bangkit sambil mengusap tanah di bagian atas kepalanya yang beruban.

    “Apakah seperti itu keadaanmu ketika meninggal?” Tanya Nabi Isa kepada Ham bin Nuh.

    Ia pun menjawab, “Tidak. Aku meninggal saat masih muda, tetapi aku mengira bahwa kini sudah tiba waktunya hari kiamat. Hal itu membuatku ketakutan sehingga rambutku beruban.”

    Kisah Nabi Isa yang dapat membangkitkan orang mati pun berlanjut dengan meminta Ham bin Nuh untuk bercerita tentang bahtera Nabi Nuh.

    Ham bin Nuh lantas bercerita bahwa bahtera tersebut memiliki panjang 1200 hasta dan lebar 600 hasta. Di dalamnya terdiri dari 3 lantai, yang mana lantai 1 berisi hewan peliharaan dan hewan liar, lantai 2 berisi manusia, dan lantai tiga berisi burung.

    Ia melanjutkan ceritanya saat bahtera sudah penuh dengan kotoran dari hewan-hewan ternak. Pada saat itu, Allah mengilhami Nuh untuk menggelitik ekor gajah hingga keluar dari gajah tersebut seekor babi jantan dan babi betina.

    Kedua babi tersebutlah yang akhirnya membersihkan kapal dari kotoran hewan peliharaan yang menumpuk. 

    Kemudian, Nabi Isa kembali bertanya tentang bagaimana cara Nabi Nuh tahu wilayah mana saja yang masih terendam banjir dan mana yang sudah kering.

    Ham bin Nuh kembali menjawab bahwasanya Nabi Nuh mengutus burung gagak untuk memberi kabar kepadanya. Sayangnya, burung gagak tersebut justru berhenti tatkala melihat bangkai binatang dan justru asyik memakannya.

    Lantas, Nabi Nuh pun berdoa agar gagak tersebut diliputi ketakutan. Benar saja, gagak tersebut akhirnya merasa takut sehingga membuatnya tidak senang memiliki sarang. Nabi Nuh lalu memberi tugas yang sama kepada merpati.

    Berbeda dengan gagak, merpati menjalankan tugas tersebut dengan baik dan kembali kepada Nabi Nuh dengan daun zaitun di paruhnya dan tanah liat di kakinya. Kedua benda itulah yang membuat Nabi Nuh tahu kondisi suatu wilayah.

    Lebih lanjut, kisah Nabi Isa yang dapat membangkitkan orang mati ini adalah bentuk mukjizat yang diberikan Allah kepadanya. Peristiwa ini juga menggambarkan peristiwa kebangkitan kelak di hari kiamat.

    Kisah Nabi Isa Diangkat ke Langit

    Permusuhan antara kaum kafir Yahudi dengan Nabi Isa semakin menjadi hingga mereka bermusyawarah untuk menangkap dan berusaha membunuhnya. Saat itu, kamu kafir Yahudi dipimpin oleh seseorang bernama Yahuza.

    Yahuza sendiri merupakan salah satu sahabat Nabi Isa AS yang berkhianat. Di sisi lain, raja yang saat itu berkuasa adalah Raja Herodes. Ia dikenal sebagai raja yang kejam, zalim, dan memusuhi semua seruan yang disampaikan oleh Nabi Isa AS.

    Suatu ketika, Raja Herodes memerintahkan pasukannya untuk mencari Nabi Isa dan membunuhnya. Akan tetapi, atas izin Allah SWT, tempat persembunyian Nabi Isa AS tidak mampu ditemukan oleh pasukan Raja Herodes.

    Sampai akhirnya, Yahuza dapat mencium tempat persembunyian tersebut dan memberitahukannya kepada Raja. Raja lantas meminta Yahuza untuk menyerbu tempat tersebut ditemani oleh para pasukannya.

    Pada saat hendak ditangkap oleh Yahuza dan pasukan raja di dalam persembunyiannya, Allah lantas mengangkat Nabi Isa AS ke langit dan seketika mengubah wajah hingga tubuh Yahuza menyerupai Isa AS.

    Kisah Nabi Isa berlanjut ketika para pasukan raja mengira bahwa yang keluar dari persembunyiannya tersebut adalah benar Nabi Isa sehingga bergegas menangkap dan membawanya kepada raja. 

    Sekalipun Yahuza mengelak bahwa Ia bukanlah Nabi Isa seperti yang mereka cari, tetapi semua pasukan tak mengindahkannya. Pasalnya, Allah telah mengubah fisik dan wajahnya serupa Nabi Isa AS.

    Raja Herodes kemudian memberi perintah untuk membunuh Nabi Isa yang tak lain adalah Yahuza atau juga dikenal sebagai Yudas Iskariot. Peristiwa inilah yang menurut kepercayaan nasrani sebagai peristiwa penyaliban Nabi Isa.

    Keraguan ini dijelaskan secara langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an QS. An-Nisa ayat 157 – 159:

    Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah” Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa (QS. An-Nisa 157).

    Namun, (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. An-Nisa 158).

    Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka (QS. An-Nisa 159).

    Islam meyakini bahwasanya sampai saat ini Nabi Isa AS masih hidup dan berada di langit. Kelak menjelang kiamat, Ia akan diturunkan kembali ke bumi untuk menjalankan sejumlah tugas, termasuk mendampingi Imam Mahdi dalam memerangi Dajjal.

    Ketika kelak Nabi Isa turun, dunia akan diisi oleh orang-orang yang beriman, menjadi tempat yang adil serta makmur.

    Dari hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW pernah bersabda:

    وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ

    Artinya:

    “Demi Allah, sungguh hampir tiba saatnya putra Maryam itu turun di tengah-tengah kalian sebagai seorang hakim yang adil. Maka ia akan memecahkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah/upeti. Dan (saat itu) harta benda berhamburan sampai-sampai tidak ada seorang pun yang bersedia menerimanya (harta pemberian).” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Itulah rangkuman kisah perjalanan Nabi Isa sedari jaman ibunya, Sayyidah Maryam, sampai dengan peristiwa pengangkatannya ke langit. Kisah ini juga dituliskan dalam beberapa ayat Al-Qur’an dan menjadi teladan bagi siapa saja yang meyakininya.

    Rangkaian mukjizat yang dialami oleh Nabi Isa AS sekaligus menunjukkan kebesaran dan kuasa Allah SWT atas nabi dan rasulnya. Semoga rangkuman kisah Nabi Isa di atas bisa memberi manfaat dan teladan untuk kita semua.

  • Arti Nama Nafisah dalam Islam dan Ide Rangkaian Namanya

    Arti Nama Nafisah dalam Islam dan Ide Rangkaian Namanya

    Ketika mencari nama untuk buah hati, kita sering menginginkan nama yang terdapat unsur Islami. Misalnya seperti nama Nafisah. Arti nama Nafisah dalam Islam yaitu berharga, permata yang sangat berharga, dan berkedudukan tinggi.

    Menentukan nama untuk buah hati bisa menjadi tugas menantang karena berdampak jangka panjang sebagai identitas sepanjang hidup anak.

    Jika sudah memiliki pilihan nama, sebaiknya melakukan pengecekan lebih lanjut terkait arti nama tersebut. 

    Pentingnya Memberikan Nama Terbaik untuk Anak

    Menentukan nama untuk bayi perempuan yang akan lahir perlu teliti. Tujuannya untuk memastikan kesesuaian arti nama agar memiliki makna yang indah dan istimewa. 

    Dalam Islam, terdapat ayat dan hadits yang menyatakan untuk memberi nama yang baik bagi anak. Sebagaimana tertulis dalam Surah Maryam yaitu:

    يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا

    Artinya:

    “Hai Zakariyya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang serupa dengannya.” (Q.S. Maryam: 7).

    Selain itu, penafsiran yang sama tercantum dalam hadits Imam Abu Daud dari Abu Darda r.a.

    إنكم تُدعون يوم القيامة بأسمائكم وأسماء آبائكم فأحسنوا أسماءكم

    Artinya:

    “Sesungguhnya kamu sekalian akan diseru/dipanggil pada hari Kiamat dengan nama-nama kamu dan nama-nama bapa kamu.Oleh demikian, elokkanlah nama-nama kamu.” (H.R. Imam Abu Daud dari Abu Darda r.a.).

    Pastinya, kita berharap agar makna dari nama anak sesuai dengan ajaran Islam. Jika teman dan sahabat menyebutkan nama tersebut dengan arti yang baik, hal ini dapat diibaratkan sebagai doa yang baik untuk anak tersebut. 

    Oleh karena itu, sebagai orang tua, sangat dianjurkan untuk memberi nama anak bayi sesuai dengan pedoman dalam Al-Quran dan hadits.

    Baca juga: Biografi Sunan Muria: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    Arti Nama Nafisah dalam Islam

    Nafisah dalam Islam berarti berharga, permata yang berharga, dan berkedudukan tinggi. Adapun dalam variasi penulisannya bisa Nafisyah, Nafeeza, Nafeza, Nafiisah, Nafiza, Nafisha, dan Nafsha.

    Berdasarkan arti nama tersebut, doa yang terkandung di dalamnya yaitu anak menjadi perempuan yang mulia dan dihormati banyak orang. Sungguh arti nama yang istimewa dan doa yang baik bukan?

    Rangkaian Nama Nafisah

    Nama Nafisah bisa dikombinasikan sebagai nama depan, nama tengah, atau nama belakang. Berikut inspirasi rangkaian nama Nafisah.

    • Nafisah Saferina Fazia artinya perempuan yang berharga dan sabar dalam meraih menjalani proses menuju kesuksesan hidup.

    Nafisah: (1) Berharga (2) Permata yang berharga (3) Berkedudukan tinggi

    Saferina: Kesabaran

    Fazia: (1) Sukses (2) Kemenangan

    • Nafisah Ifra Xaviere berarti perempuan berwajah cerah yang berharga dan mampu memberi kebahagiaan bagi keluarganya.

    Nafisah: (1) Berharga (2) Permata yang berharga (3) Berkedudukan tinggi

    Ifra: Memberi kebahagiaan

    Xaviere: Terang

    • Nafisah Humaira merupakan perempuan yang sangat berharga yang pipinya kemerah-merahan.

    Nafisah: (1) Berharga (2) Permata yang berharga (3) Berkedudukan tinggi

    Humaira: kemerahan

    • Giani Nafisa Yumna artinya perempuan yang berharga, diberkahi, dan mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

    Giani: Berkah

    Nafisah: (1) Berharga (2) Permata yang berharga (3) Berkedudukan tinggi

    Yumnaa: (1) Beruntung (2) Diberkahi (3) Sebelah kanan

    • Shahizam Nafisah Arwa berarti perempuan yang cantik seindah bulan dan sangat berharga dan bermanfaat bagi orang lain.

    Shahizam: Bulan yang langka

    Nafisah: (1) Berharga (2) Permata yang berharga (3) Berkedudukan tinggi

    Arwa: Memberi Minum Sampai Puas

    • Ma`azzah Skii Nafisah merupakan perempuan yang berharga dan senantiasa memberi pertolongan kepada orang lain dengan penuh kemuliaan.

    Ma`azzah: Tempat yang dimuliakan

    Skii: (1) Pemberi (2) Penderma air

    Nafisah: (1) Berharga (2) Permata yang berharga (3) Berkedudukan tinggi

    • Inayah Kalya Nafisya yang berarti perempuan yang berharga dan senang memberi pertolongan kepada orang lain.

    Inayah: perhatian, pertolongan

    Kalya: pujian

    Nafisah: (1) Berharga (2) Permata yang berharga (3) Berkedudukan tinggi

    Selain mengetahui arti nama nafisah dalam Islam, kita bisa memilih beberapa rangkaian nama dari kata Nafisah dengan arti yang penuh makna.

    Panduan Memberi Nama Menurut Islam

    Sebagai orang tua, sudah semestinya kita memberikan makna yang mulia pada anak. Bahkan, lebih baik mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Terdapat beberapa panduan tentang cara memberikan nama kepada anak menurut Islam yaitu sebagai berikut:

    1. Waktu yang Tepat untuk Memberi Nama Anak

    Rasulullah mengajarkan umatnya untuk memberi nama pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Lalu pada hari ketujuh itu juga untuk mencukur rambut bayi dan melaksanakan aqiqah. 

    Dalam kitab al-Adzkar karya An-Nawawi yang merujuk pada hadits dari riwayat Amr bin Syu’aib dari ayah dan kakeknya disebutkan sebagai berikut:

    أن النبي صل الله عليه و سلم أمر بتسمية المولود يوم سابعه، و وضع الاذى عنه، و العقّ. 

    Artinya: 

    “Bahwa sesungguhnya Nabi memerintahkan untuk memberikan nama pada hari ketujuh, menghilangkan kesengsaraan dari padanya, dan aqiqah.” (Muhyiddin Dhib,  Lawami’ al-Anwar; Syarh Kitab al-Adzkar, Bairut, Dar Ibn Kathir, 2014, juz 2,  halaman: 143).

    Sebenarnya, hadits tersebut tidak mengikat atau mewajibkan seseorang untuk memberikan nama pada hari ketujuh setelah kelahiran. Jika ada orang tua yang memilih memberi nama pada hari pertama kelahiran, hal itu juga diperbolehkan.

    2. Memberikan Nama Merupakan Hak Ayah

    Seorang ayah memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan nama baik bagi anak-anaknya. Hal ini telah sesuai dengan hadits yang artinya sebagai berikut.

    “Anak-anak memiliki tiga hak atas ayah mereka. Yang pertama adalah mereka diberi nama baik. Yang kedua, mereka diberikan pendidikan yang baik; dan yang terakhir, mereka membantu mereka memilih pasangan yang baik,” (Ibnu Najjar).

    3. Nasab Seorang Anak dari Ayahnya

    Nasab atau garis keturunan anak berasal dari sang ayah. Maksudnya adalah ketika di akhirat, Allah akan memanggil nama-nama hamba-Nya diikuti dengan nama ayahnya. 

    Itulah sebabnya penyebutan nama seringkali menambahkan bin (untuk anak laki-laki) dan binti (untuk anak perempuan).

    Memberikan nama yang baik juga termasuk cara menyelamatkan nasab anak. Oleh karena itu, sebaiknya orang tua memberikan nama Islami, mengikuti Nabi, atau menggunakan Asmaul Husna.

    4. Tidak Memilih Nama yang Dibenci Allah

    Contohnya nama yang dibenci Allah antara lain nama-nama terkait dewa, matahari, berhala, atau nama yang mengandung unsur pemujaan terhadap sesuatu. 

    Selain itu, kita juga tidak boleh memberikan nama anak yang dapat menimbulkan perselisihan di antara saudara-saudaranya. 

    Artinya, nama tersebut berpotensi menjadi sumber ejekan atau olok-olokan bagi anak di masa depan. Hal ini juga dianggap makruh secara hukum. 

    Sejalan dengan ayat Al-Qur’an, Surah Al-A’raf yaitu:

    وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا۟ ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ أَسْمَٰٓئِهِۦ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

    Artinya: 

    “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 80).

    5. Nama yang Baik untuk Anak

    Nama yang paling baik digunakan untuk anak adalah nama Nabi/Rasul dan nama dari sifat Allah SWT atau asmaul husna. 

    Namun, jangan sampai memberikan nama jika sifat itu hanya milik Allah. Contohnya seperti Al-Khalik (Maha Pencipta), Ar-Rabb (Maha Pemelihara), Ar-Rahman (Maha Pengasih), dan yang serupa dengannya.

    Sebaliknya, jika anak diberi nama yang terinspirasi dari sosok Nabi/Rasul, diharapkan anak tersebut akan mengikuti jejak dan kepribadiannya. 

    Oleh karena itu, nama-nama seperti Muhammad, Ibrahim, Musa, hingga Ismail yang berasal dari nama Nabi, umumnya banyak digunakan sebagai nama untuk bayi.

    Selain itu, tentu saja kita bisa memilih nama-nama dengan unsur Islami seperti Nafisah. Lagi pula, arti nama nafisah dalam islam pun termasuk nama yang baik karena maknanya adalah perempuan yang berharga dan berkedudukan tinggi.

    Demikian, kita tidak hanya tahu arti nama Nafisah dalam Islam. Akan tetapi, juga lebih paham bagaimana memberi nama yang baik kepada anak. Semoga keturunan kita menjadi anak yang mulia dan bermanfaat bagi sesama.

  • Arti Nama Haikal dalam Islam dan Ide Rangkaian Namanya

    Arti Nama Haikal dalam Islam dan Ide Rangkaian Namanya

    Haikal merupakan salah satu nama terbaik yang bisa orang tua berikan untuk bayi laki-laki. Lalu, apa arti nama Haikal dalam Islam? Berikut penjelasannya.

    Ketika bayi terlahir ke dunia tentu harus memiliki nama sebagai identitas dan tanda pengenal. Selain itu, nama tersebut tidak hanya sekedar mudah diingat tetapi harus memiliki makna yang bagus dan mengandung doa.

    Pemberian nama Haikal bisa menjadi pertimbangan bagi orang tua ketika bingung memberikan nama bayi yang pas. Nama ini pada hakikatnya mengandung unsur Islami yang memiliki arti yang bagus dan indah.

    Apa Arti Nama Haikal dalam Islam?

    Nama Haikal adalah nama Islami yang berasal dari bahasa Arab dengan makna dan arti baik. Tak heran, apabila banyak orang tua memberikan nama Haikal ini untuk bayi laki-lakinya dengan harapan membawa kebaikan.

    Adapun arti nama Haikal dalam Islam memiliki makna sebagai dasar yang besar, subur, dan yang tinggi. Dengan arti ini, nama Haikal menjadi doa bagi anak ketika dewasa bisa berguna bagi orang-orang di sekelilingnya.

    Dalam Islam, pemberian nama tidak hanya sebatas identitas diri. Namun, pemberian nama anak hendaklah yang memiliki makna yang indah karena akan menjadi tanda pengenal dari sejak lahir hingga akhir hayatnya.

    Sebagaimana tertulis dalam Al-Quran Surat Maryam Ayat 7 yang artinya berbunyi:

    “Hai Zakariyya, sesungguhnya Kami memberikan kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang bernama Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengannya.” (QS. Maryam: 7).

    Selain itu, dalam Islam juga ada anjuran untuk memberikan nama terbaik bagi anak tercantum dalam sebuah hadits riwayat Abu Daud dari Abu Dardak r.a yang artinya:

    “Sesungguhnya kamu sekalian akan diseru/dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu dan nama-nama bapak kamu. Maka demikian, elokkanlah nama-nama kamu.” (HR. Imam Abu Daud dari Abu Dardak r.a).

    Oleh karena itu, ketika memberikan nama bayi maka pilih nama yang baik, ibaratnya nama tersebut akan menjadi doa. Jadi, kita sebagai orang tua bisa memberikan nama bayi sesuai pedoman ln Al-Quran dan hadits.

    Baca juga: Niat dan Tata Cara Mandi Wajib Sesuai Tuntunan Nabi Muhammad SAW

    Inspirasi Rangkaian Nama Haikal

    Setelah kita mengetahui arti nama Haikal dalam Islam yang memiliki makna baik, selanjutnya ketahui rangkaian nama Haikal yang banyak digunakan.

    Pada dasarnya, nama Haikal memiliki pelafalan atau ejaan yang mudah diucapkan oleh orang Indonesia meski nama ini berasal dari bahasa Arab. Oleh karena itu, tidak mengapa jika kita ingin memakainya untuk anak kita.

    Jika nama anak ingin memiliki makna lebih bagus lagi, maka kita bisa kombinasikan dengan nama lainnya. Tentunya pilih nama yang memiliki arti indah dalam Islam dan mudah untuk mengingatnya dan mengucapkannya.

    Misalkan, kita bisa sematkan nama depan Haikal, nama tengah Haikal, atau nama belakang Haikal. Berikut inspirasi rangkaian nama Haikal selengkapnya:

    1. Rangkaian Nama Depan Haikal

    Berikut ide nama depan Haikal untuk bayi laki-laki dengan makna yang bagus:

    • Haikal Syahin Ifwat, artinya bayi laki-laki yang berasal dari dasar yang besar dan memiliki impian yang terbaik dalam kehidupannya.
    • Haikal Mu’tashim Ashad, artinya bayi laki-laki yang punya kedudukan tinggi dan semangat menghindari perbuatan yang maksiat.
    • Haikal Muhanaa Kaseam, artinya bayi laki-laki kedudukan tinggi dan mampu menciptakan sebuah kedamaian hidup yang terbaik.

    2. Rangkaian Nama Tengah Haikal

    Adapun ide nama tengah Haikal yang bisa kita gunakan untuk bayi laki-laki, yaitu:

    • Taufiq Haikal Alaudin, artinya bayi laki-laki berkedudukan yang tinggi dan selalu memuliakan agama dari Allah Yang Maha Pengasih.
    • Usni Haikal Amrit, artinya bayi laki-laki dengan dasar yang besar dan mulia serta selalu ingin berbuat kebaikan dan perilaku yang terpuji.
    • Adzani Haikal Harun, artinya bayi laki-laki yang memiliki kedudukan tinggi dan selalu berkata jujur serta memenuhi panggilan shalat.

    3. Rangkaian Nama Belakang Haikal

    Sementara bagi yang ingin memakai Haikal di bagian belakang, berikut inspirasinya:

    • Sheris Nuwair Haikal, artinya bayi laki-laki manis berasal dari dasar yang besar dan mulia serta selalu mendapat cahaya kebaikan.
    • Mahmoud Athilasyah Haikal, artinya bayi laki-laki berasal dari dasar mulia dan menjadi karunia Allah yang banyak dipuji karena sifatnya.
    • Aslam Anis Haikal, artinya bayi laki-laki yang memiliki kedudukan tinggi yang selalu bersikap ramah dan menjadi muslim yang taat.

    4. Rangkaian Nama Haikal yang Unik

    Selain menyematkan nama Haikal di depan, belakang ataupun tengah, berikut ini beberapa inspirasi nama Haikal yang unik dan populer. Kita bisa memberikannya kepada anak ketika lahir. Berikut ide namanya:

    • Haikal Ahmad, artinya anak laki-laki yang berkedudukan tinggi dan memiliki sifat yang terpuji terhadap sesama.
    • Haikal Akbar, artinya anak laki-laki yang lahir atas karunia dan kebesaran Allah yang memiliki kedudukan tinggi.
    • Haikal Alfarizi, artinya anak laki-laki yang berasal dari dasar yang besar dan mulia selalu semangat bekerja.
    • Haikal Azka, artinya anak laki-laki yang lahir dengan suci dan memiliki berkedudukan tinggi dan akhlak mulia.
    • Haikal Fathan Ghazawan, artinya anak laki-laki berasal dari dasar yang besar dan mulai dan seorang pejuang.

    Sebenarnya masih ada banyak inspirasi nama Haikal untuk anak yang memiliki makna dan arti baik dalam Islam. Kita juga bisa kombinasikan dengan nama Islam lainnya sehingga makna dan artinya lebih beragam.

    Demikian penjelasan tentang arti nama Haikal dalam Islam dan inspirasi rangkaian namanya yang memiliki makna yang baik dan indah. Ketika memberikan nama anak bisa cari inspirasinya dari Al-Qur’an dan Hadist.

  • Sejarah Singkat Kisah Nabi Sulaiman Berikut Mujizatnya

    Sejarah Singkat Kisah Nabi Sulaiman Berikut Mujizatnya

    Kisah Nabi Sulaiman AS termasuk salah satu kisah yang menarik untuk kita kaji. Pasalnya, kita bisa menemukan berbagai nilai keluhuran akhlak, kecerdasan, dan keimanan kepada Allah SWT.

    Selain itu, Nabi Sulaiman AS memiliki beberapa kelebihan dan mukjizat yang luar biasa. Sayangnya, berbagai kebaikan yang dimilikinya belum diketahui oleh para muslim. 

    Mari langsung saja kita simak kisahnya. Kita sebagai muslim harus mengetahui kisah para nabi untuk mempertebal keimanan. 

    Kisah Nabi Sulaiman AS, Putra Nabi Daud AS

    Memiliki nama asli Sulaiman bin Daud bin Aisya bin Awid. Beliau merupakan bungsu dari sebelas bersaudara putra Nabi Daud AS.

    Sementara, ibu Nabi Sulaiman bernama Tasyayu’ bin Sura, seorang perempuan yang saleh dan takwa. Sang ibu senantiasa mendorong Nabi Sulaiman untuk beribadah dengan tekun.

    Nabi Sulaiman AS adalah nabi ke delapan belas. Beliau diangkat menjadi nabi dan rasul Allah sekitar tahun 970 Masehi.

    Sejak usia belia, Nabi Sulaiman telah menunjukkan tanda-tanda kenabian. Selain dikenal sebagai anak yang saleh dan taat beribadah, beliau memiliki kecerdasan dan kematangan pola pikir sejak kecil.

    Dalam keluarganya, Nabi Sulaiman dianggap sebagai karunia Allah. Ketakwaan Beliau bahkan disebutkan dalam firman Allah:

    وَوَهَبْنَا لِدَاوٗدَ سُلَيْمٰنَۗ نِعْمَ الْعَبْدُ ۗاِنَّهٗٓ اَوَّابٌۗ ٣٠

    Artinya: 

    “Dan kepada Daud Kami karuniakan (anak bernama) Sulaiman; dia adalah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).” ((QS. Shad [38]: 30).

    Kesalehan dan ketakwaan Nabi Sulaiman AS terlihat jelas dalam kebiasaannya melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. Dikisahkan bahwa beliau menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermunajat kepada Allah SWT.

    Dikisahkan bahwa Nabi Daud AS telah lama menantikan seorang penerus yang sesuai untuk memerintah kerajaannya. Akan tetapi, beliau tidak kunjung menemukan penerus yang diharapkan.

    Nabi Daud AS terus berdoa kepada Allah SWT supaya diberikan keturunan yang mulia. Kemudian, Allah mengabulkan doa-doa beliau dengan mengaruniai anak bernama Sulaiman.

    Baca juga: Pengertian Khotbah dan Bedanya dengan Ceramah Beserta Syarat-syaratnya

    Kebijaksanaan Nabi Sulaiman AS

    Allah SWT menganugerahkan banyak keistimewaan pada Nabi Sulaiman AS. Di antaranya adalah kecerdasan dan kebijaksanaan yang sudah terbukti sejak kecil.

    Salah satunya terlihat dalam kisah Nabi Sulaiman AS ketika mengatasi sengketa antara pemilik kebun dan kambing. Kisah ini disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al Anbiya ayat 78-79:

    وَدَاوٗدَ وَسُلَيْمٰنَ اِذْ يَحْكُمٰنِ فِى الْحَرْثِ اِذْ نَفَشَتْ فِيْهِ غَنَمُ الْقَوْمِۚ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شٰهِدِيْنَۖ ۝٧٨

    فَفَهَّمْنٰهَا سُلَيْمٰنَۚ وَكُلًّا اٰتَيْنَا حُكْمًا وَّعِلْمًاۖ وَّسَخَّرْنَا مَعَ دَاوٗدَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَۗ وَكُنَّا فٰعِلِيْنَ ۝٧٩

    Artinya: 

    “Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, ketika keduanya memberikan keputusan mengenai ladang, karena (ladang itu) dirusak oleh kambing-kambing milik kaumnya. Dan Kami menyaksikan keputusan (yang diberikan) oleh mereka itu. Dan Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat); dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya.”

    Sebagaimana tercantum dalam ayat tersebut, saat itu ada dua orang laki-laki yang mengadukan permasalahan mereka kepada Nabi Daud AS. Mereka adalah seorang pemilik kebun dan seorang pemilik kambing.

    Si pemilik ladang mengatakan bahwa ladangnya telah dimasuki kambing sehingga merusak tanaman yang sebentar lagi akan panen.

    Maka, setelah menimbang perkara yang disampaikan, Nabi Daud mengambil keputusan supaya si pemilik kambing menyerahkan seluruh kambingnya pada pemilik kebun sebagai ganti rugi.

    Namun, keputusan tersebut membuat si pemilik kambing merasa sedih karena kehilangan kambingnya.

    Saat berjalan pulang, si pemilik kambing berpapasan dengan Nabi Sulaiman. Kemudian ia menyampaikan masalah yang membuatnya bersedih.

    Setelah mendengarnya, Nabi Sulaiman juga merasa bahwa keputusan ayahnya kurang tepat. Maka, beliau menghadap ayahnya, Nabi Daud AS dan mengusulkan cara penyelesaian yang berbeda.

    “Serahkan kambing itu kepada pemilik ladang, supaya ia bisa memanfaatkan susu, anak, dan bulunya. Sementara itu, ladang diserahkan kepada pemilik kambing supaya dia merawatnya hingga kembali seperti sedia kala.”

    Kemudian Nabi Sulaiman melanjutkan usulannya, “Setelah itu, masing-masing diperbolehkan mengambil hak mereka kembali.”

    Nabi Daud AS menyetujui usulan Nabi Sulaiman AS. Pasalnya, cara tersebut tidak akan membuat salah satu pihak merasa terlalu dirugikan maupun diuntungkan.

    Selain Nabi Daud, pendapat Nabi Sulaiman mendapatkan sambutan baik dari kedua pihak yang bersengketa dan para hadirin.

    Mukjizat Nabi Sulaiman AS

    Salah satu hal paling menarik dari kisah Nabi Sulaiman AS adalah mukjizatnya. Beberapa mukjizat beliau yang paling mashyur yaitu kemampuan berbicara dengan hewan, memerintah jin, dan menundukkan angin.

    Salah satu yang paling terkenal yaitu kisah Nabi Sulaiman dan burung hud-hud. Burung ini banyak membantu perjuangan Nabi Sulaiman dalam berdakwah maupun memerintah Kerajaan.

    Kisah tersebut tertuang dalam Al-Qur’an surat An Naml ayat 27-28, yang berbunyi:

    ۞ قَالَ سَنَنْظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

    اذْهَبْ بِكِتَابِي هَٰذَا فَأَلْقِهْ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ

    Artinya: 

    “Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.”

    Ayat tersebut mengisahkan ketika burung hud-hud diperintah oleh Nabi Sulaiman untuk mengirimkan surat kepada ratu Balqis.

    Sementara, mukjizat Nabi Sulaiman yang mampu menggunakan angin untuk bepergian disebutkan dalam Al-Qur’an surat Shad ayat 36.

    فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيحَ تَجْرِي بِأَمْرِهِ رُخَاءً حَيْثُ أَصَابَ

    Artinya: 

    “Kemudian kami tundukkan padanya angin yang berhembus dengan baik menurut kemana saja yang dikehendakinya.” (QS. Shad 38:36).

    Berbagai mukjizat Nabi Sulaiman juga disebutkan dalam surat Saba ayat 12, meliputi kemampuan mengalirkan cairan tembaga di perut bumi dan memerintah jin untuk berkerja.

    وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ ۖ وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ ۖ وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ ۖ وَمَنْ يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ

    Artinya: 

    “Dan Kami tundukkan angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (dibawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.” (QS. Saba 34:12).

    Kisah Nabi Sulaiman AS Membangun Istana Megah

    Allah SWT memberikan anugerah pada Nabi Sulaiman AS berupa kenikmatan yang melimpah. Bahkan beliau merupakan raja dan nabi yang paling kaya.

    Setelah Nabi Daud AS wafat, Nabi Sulaiman AS mewarisi kekayaan serta meneruskan tahta sang ayah. Beliau pun diangkat sebagai raja yang memerintah Bani Israil di Palestina setelah cukup umur.

    Dikisahkan bahwa Nabi Sulaiman tinggal di istana yang luar biasa megah yang dibangun oleh manusia, jin, dan hewan.

    Konon, istana Nabi Sulaiman memiliki keindahan yang tidak tertandingi. Dengan dinding yang terbuat dari batu pualam, pintu dan tiang dari emas, serta atap dari perak.

    Sementara itu, hiasan dan ukiran pada istana tersebut terbuat dari mutiara, intan, dan berlian.

    Selain istana yang megah, Nabi Sulaiman memerintah kerajaan dengan bijak, sehingga penduduknya makmur dari segi ekonomi serta memiliki spiritual tinggi dan bertakwa kepada Allah SWT.

    Memimpin kerajaan yang demikian memang salah satu impian dari Nabi Sulaiman AS. Beliau juga menyampaikan mengenai impian tersebut dalam doanya.

    قَالَ رَبِّ ٱغْفِرْ لِى وَهَبْ لِى مُلْكًا لَّا يَنۢبَغِى لِأَحَدٍ مِّنۢ بَعْدِىٓ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

    Artinya: 

    “Allah berfirman Dia berkata “Ya Tuhanku ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapapun setelahku. Sungguh, engkau Allah yang Maha Pemberi.” (QS. Shaad: 35).

    Maka, Nabi Sulaiman AS dapat memiliki kerajaan yang sangat kuat dan tangguh karena Allah SWT mengabulkan doanya.

    Selain kemakmuran, hal menakjubkan lainnya dari kisah Nabi Sulaiman yaitu kerajaannya yang diperkuat oleh pasukan jin dan hewan. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

    وَحُشِرَ لِسُلَيْمَٰنَ جُنُودُهُۥ مِنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ وَٱلطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ

    Artinya: 

    “Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).” (QS. An Naml ayat 17).

    Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis

    Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Nabi Sulaiman diberikan mukjizat berupa kemampuan berkomunikasi dengan binatang.

    Atas ijin Allah, Nabi Sulaiman juga mampu memberikan perintah pada hewan. Salah satunya yaitu burung hud-hud.

    Adapun tugas burung hud-hud adalah sebagai peninjau, yang mana ia akan mencari tahu apakah suatu kawasan memiliki sumber air. Berkat bantuan burung hud-hud ini pasukan tentara Nabi Sulaiman dapat mengatasi masalah ketika kekurangan air.

    Suatu ketika, Nabi Sulaiman mengalami kekurangan air di daerah Yaman, sehingga beliau memerintahkan burung hud-hud untuk mencari sumber air.

    Akan tetapi, burung hud-hud tidak kunjung kembali hingga Nabi Sulaiman marah dan berencana hendak menghukumnya.

    Tidak lama kemudian, burung hud-hud kembali sambil membawa berita mengenai negeri bernama Saba yang rakyatnya menyembah matahari. Burung hud-hud juga menceritakan bahwa negeri tersebut diperintah oleh seorang ratu bernama Balqis.

    Kisah ini tertuang dalam Al-Qur’an:

    فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطْتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ

    Artinya: 

    “Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.” (An-Naml: 22).

    Setelah mendengarkan hal tersebut, Nabi Sulaiman memerintahkan burung hud-hud untuk mengantarkan surat pada ratu Balqis. Isi surat itu adalah seruan supaya Ratu Balqis menyembah Allah SWT.

    Sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an.

    إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ(31)

    أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ(32)

    Artinya: 

    “Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”(An-Naml: 31-32).

    Ratu Balqis menyampaikan mengenai surat tersebut pada rapat dengan para petinggi negerinya. Para petinggi tersebut menyatakan siap untuk berperang apabila sang ratu memberikan perintah.

    Namun, ratu Balqis memilih mencoba jalan damai terlebih dahulu. Maka, ia pun mengirimkan surat balasan yang memberitahukan bahwa ia hendak mengirim utusan kepada Nabi Sulaiman.

    Setelah membaca surat balasan, Nabi Sulaiman memerintahkan para jin untuk mempersiapkan istana yang indah tanpa tandingan.

    Saking indahnya istana Nabi Sulaiman, utusan dari Ratu Balqis sampai keheranan mengaguminya. Utusan tersebut menghadap Nabi Sulaiman dengan membawa hadiah.

    Namun, Nabi Sulaiman menolak hadiah itu dan mengatakan bahwa beliau hanya menginginkan satu hal, yaitu supaya Ratu Balqis dan rakyatnya menyembah Allah.

    Beliau juga mengancam akan mendatangi negeri Saba dengan bala tentara apabila tidak menuruti perintahnya.

    Utusan kembali ke negerinya dan menyampaikan semua hal yang dialami kepada ratu Balqis. Akhirnya, sang ratu memutuskan untuk menghadap Nabi Sulaiman.

    Sebelum ratu Balqis sampai ke istana Nabi Sulaiman, beliau memerintahkan para pembesarnya untuk membawakan singgasana ratu Balqis ke hadapannya.

    Maka, jin Ifrit menyanggupi perintah tersebut dan memindahkan singgasana ratu Balqis dalam sekejap.

    Sesampainya di istana Nabi Sulaiman, ratu Balqis dibuat terkejut melihat singgasana yang sama persis dengan miliknya.

    Nabi Sulaiman pun menjawab bahwa itu memang singgasana ratu Balqis yang telah dibawa ke sana dengan mudah atas ijin Allah SWT.

    Terkesima melihat singgasananya sendiri serta tercengang melihat istana megah milik Nabi Sulaiman, ratu Balqis pun akhirnya beriman kepada Allah dan mengakui bahwa Nabi Sulaiman adalah utusan-Nya.

    Hal tersebut dikisahkan dalam firman Allah.

    فَلَمَّا جَاءَتْ قِيلَ أَهَكَذَا عَرْشُكِ قَالَتْ كَأَنَّهُ هُوَ وَأُوتِينَا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهَا وَكُنَّا مُسْلِمِينَ

    Artinya: 

    “Dan ketika Balqis datang di tanyakanlah kepadanya ‘Serupa Inikah Singgasanamu?’ Dia menjawab ‘Seakan-akan Singgasana ini Singgasanaku. Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (QS. Naml: 42).

    Dari ayat tersebut ditunjukkan bahwa ratu Balqis sudah mengetahui bahwa Nabi Sulaiman adalah nabi. Akan tetapi, ia merasa enggan untuk langsung mengakuinya.

    Setelah melihat mukjizat Nabi Sulaiman, barulah ratu Balqis menyatakan diri masuk agama Islam. Sebagaimana disebutkan dalam ayat Al-Qur’an berikut:

    رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

    Artinya: 

    “Ya Tuhanku, sungguh aku telah menganiaya diriku sendiri. Aku berserah diri kepada- Mu bersama Sulaiman pada Allah Tuhan seluruh alam semesta.” (QS. An Naml: 44).

    Wafatnya Nabi Sulaiman AS

    Bagian berikutnya dari kisah Nabi Sulaiman AS adalah wafatnya beliau.

    Nabi Sulaiman AS menemui ajal tanpa diketahui oleh para pengikutnya. Dikisahkan bahwa suatu ketika Nabi Sulaiman pergi untuk mengawasi kerja kawanan jin yang beliau perintah. Para jin tidak berani menoleh ke arah Nabi Sulaiman.

    Sementara, pada saat itu juga malaikat Izrail datang untuk mencabut nyawa beliau. Nabi Sulaiman pun wafat dalam keadaan berdiri sambil disangga oleh tongkatnya.

    Para jin sama sekali tidak menyadari hal tersebut. Hingga kemudian Allah SWT memerintahkan sekelompok rayap untuk menggerogoti tongkat Nabi Sulaiman.

    Setelah tongkat tersebut rusak, maka tubuh Nabi Sulaiman AS tersungkur ke tanah. Barulah saat itu para jin mengetahui bahwa Nabi Sulaiman telah wafat.

    Wafatnya Nabi Sulaiman juga dikisahkan dalam ayat Al-Qur’an:

    فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَىٰ مَوْتِهِ إِلَّا دَابَّةُ الْأَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ ۖ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ 

    Artinya: 

    “Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.” (QS. Saba 34:14).

    Demikianlah kisah Nabi Sulaiman AS serta mukjizatnya. Selain yang telah kita simak, masih terdapat sejumlah kisah beliau, seperti kisah tentang Nabi Sulaiman dan pasukan semut serta kisah beliau dengan malaikat Izrail.

  • 10 Manfaat Membaca Al-Quran, Muslim Yuk Amalkan

    10 Manfaat Membaca Al-Quran, Muslim Yuk Amalkan

    Allah SWT memberikan pedoman dalam berperilaku dan berkehidupan pada umat muslim dengan menurunkan Al-Qur’an yang berisikan firman-Nya. Bagi kaum muslim, membaca Al-Qur’an merupakan salah satu ibadah wajib, sebab ada banyak sekali manfaat membaca Al-Quran.

    Namun faktanya, sebagian muslim malas membaca Al-Quran meski di dalamnya terdapat petunjuk untuk hidup di dunia. Dan sebagian lainnya merasa belum pantas membacanya karena kesulitan dan terbata-bata.

    Padahal Allah SWT sendiri yang telah menjanjikan pahala bagi siapa saja yang membaca Al-Qur’an meskipun tidak sempurna, lho. Untuk keutamaan lainnya, yuk simak artikel ini hingga akhir!

    Manfaat Membaca Al-Qur’an dan Mempelajarinya

    Seperti yang kita ketahui, Al-Qur’an merupakan firman Allah yang diturunkan kepada umat manusia sebagai pedoman dalam berkehidupan. Al-Qur’an tentunya tidak hanya membahas mengenai mahluk yang hidup saja, namun segala sesuatu yang Allah ciptakan di dunia.

    Al-Qur’an juga bukan merupakan peninggalan leluhur terdahulu yang mungkin saja isinya dapat diubah seirizing zaman, namun Al-Qur’an merupakan sebuah kitab yang apabila kita membacanya, niscaya kita akan mendapatkan pahala.

    Membaca Al-Qur’an juga dianjurkan menyempurnakannya dengan kaidah tajwid, yang tujuan dasarnya yakni memperindah bacaan.

    Lantas, bagaimana jika kita belum fasih dalam membaca Al-Qur’an, apakah dilarang untuk membacanya? Jangan khawatir, sepanjang kita masih ada keinginan untuk terus belajar membaca Al-Qur’an dengan baik, maka Insyaallah kita akan tetap memperoleh pahala dari Allah.

    Hal ini turut dijelaskan dalam hadis riwayat Muslim, sayidah Aisyah radiyallahu anha:

    Seseorang yang lancar membaca Al-Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan selalu senantiasa taat kepada Allah. Adapun yang membaca Al-Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut, maka baginya dua pahala.” (HR Muslim)

    Lalu, apa saja keutamaan membaca Al-Qur’an sendiri?

    1. Memberi Syafaat di Hari Kiamat

    Saat hari kiamat, akan dibangunkan seluruh umat muslim lalu dikumpulkan ke padang masyar sebagai hari pertimbangan amal perbuatan manusia di hadapan Allah, serta takdir ditentukan, apakah ia akan menjadi penghuni surga maupun neraka.

    Salah satu amalan yang membantu kita memperoleh syafaat dari Allah adalah membaca Al-Qur’an.  Sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Muslim berikut ini:

    عن أَبي أُمامَةَ رضي اللَّه عنهُ قال : سمِعتُ رسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقولُ : « اقْرَؤُا القُرْآنَ فإِنَّهُ يَأْتي يَوْم القيامةِ شَفِيعاً لأصْحابِهِ » رواه مسلم

    Dari Abu Amamah ra, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan menjadi syafaat bagi para pembacanya di hari kiamat.” (HR. Muslim).

    Baca juga: Sejarah Masuknya Islam di Indonesia dan Perkembangannya

    2. Memperoleh Ketenangan Hati

    Memperoleh Ketenangan Hati

    Keutamaan membaca Al-Qur’an selanjutnya yakni akan diberikan ketenangan hati, rahmat dan memuji suatu kaum yang melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, serta malaikat akan melingkarinya.

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله : « وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ » رَوَاهُ مُسْلِمُ.

    Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: “Rasulullah SAW. bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid), untuk membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya, kecuali akan diturunkan kepada mereka ketenangan, dan mereka dilingkupi rahmat Allah, para malaikat akan mengelilingi mereka dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk-Nya yang berada didekat-Nya (para malaikat).” (HR. Muslim)

    3. Memperoleh Kedudukan yang Tinggi di Surga

    Apabila seorang muslim membaca Al-Qur’an dengan niat karena Allah Ta’ala, maka atas izin Allah akan memperoleh kedudukan yang tinggi di surga-Nya.

    Hal ini dijelaskan dalam hadis riwayat Muslim berikut ini:

    عن عمرَ بن الخطابِ رضي اللَّه عنهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إِنَّ اللَّه يرفَعُ بِهذَا الكتاب أَقواماً ويضَعُ بِهِ آخَرين » رَوَاهُ مُسْلِمُ

    Dari Umar bin Khatab ra. Rasulullah saw. bersabda,: “Sesungguhnya Allah SWT. akan mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an), dengan dengannya pula Allah akan merendahkan kaum yang lain.” (HR. Muslim);

    4. Dikabulkan Permintaannya Oleh Allah

    Keutamaan selanjutnya yakni apabila seorang muslim rajin membaca Al-Qur’an dalam hidupnya, atas izin-Nya maka akan dikabulkan permintaannya oleh Allah SWT.

    Mengingat salah satu wasilah atau perantara agar doa kita diberikan balasan yang baik adalah dengan menyibukkan diri membaca Al-Qur’an.

    Hal ini turut dijelaskan dalam salah satu hadis qudsi, Allah berfirman:

    “Siapa saja yang disibukkan oleh membaca Al-Quran, hingga tak sempat zikir yang lain kepadaKu dan meminta kepadaKu, maka Aku akan memberinya balasan terbaik orang-orang yang meminta. Ingatlah, keutamaan Al-Quran atas kalimat-kalimat yang lain seperti keutamaan Allah atas makhlukNya,” (HR. Al-Baihaqi). 

    Makna dari hadis di atas bahwa membaca Al-Qur’an memiliki keutamaan di atas zikir-zikir lainnya.

    Baca juga: Ini Hukum Pacaran dalam Islam, Penjelasan Lengkap

    5. Akan Terhitung Pahala Meski Terbata-bata

    Apabila seorang muslim membaca Al-Qur’an dengan istiqomah meskipun ia terbata-bata sekalipun, dengan niat hati karena Allah Ta’ala, maka akan terhitung baginya pahala seperti bersedekah. Seperti yang dijelaskan pada salah satu hadis yang berbunyi:

    وَاٌلَذِي يَقُراٌ القُرانَ وَيَتَتَعتَعُ فِيه وَهُوَ عَلَيهِ شَاقٌ لَه اَجَران » متفقٌ عليه

    Rasulullah bersabda, “Dan orang yang membaca Al-Qur’an, sedang ia masih terbata-bata lagi berat dalam membacanya, maka ia akan mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhari Muslim);

    Oleh sebab itu, tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk tidak membaca Al-Qur’an semasa hidupnya.

    6. Mendapat Kebaikan di Setiap Hurufnya

    Setiap huruf Al-Quran yang kita baca bernilai satu kebaikan bagi yangg mebacanya. Pahala keutamaan membaca Al-Quran tidak didasarkan pada banyaknya halaman yang kita baca, namun didasarkan pada setiap huruf yang kita lafalkan.

    Ini selaras dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmizi dari sahabat Abdullah ibn Masud radiyallahu anhu, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    “Siapa saja membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Quran), maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dilipatkan kepada sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.”(HR Imam At-Tirmidzi)

    Oleh sebab itu, akan banyak sekali pahala yang kita dapatkan apabila dengan konsisten membaca Al-Qur’an.

    Tentu Allah tidak memiliki batasan dalam melipatgandakan pahala yang akan diberikan kepada hamba-Nya yang selalu melakukan amalan kebaikan.

    Manfaat Rutin Membaca Al-Qur’an

    Apabila seorang muslim tidak pernah membaca Al-Qur’an, sama saja ia hidup  dengan tubuh yang tidak pernah berbusana. Padahal ia tahu betapa banyak keutamaan membaca Al-Qur’an serta manfaatnya. Sungguh memalukan dan tidak perlu ditiru karena Allah SWT tidak menyukainya.

    Berikut beberapa manfaat membaca Al-Qur’an bagi seorang muslim:

    1. Mendapatkan Pahala dan Kebaikan

    Manfaat yang pertama saat membaca Al-Qur’an adalah mendapatkan pahala yang berlipatganda dan kebaikan dari Allah SWT sebagai manusia yang sholeh dan sholehah.

    Sepert yang dijelaskan dalam hadits riwayat dari yirmidzi bahwa :

    “Barang siapa yang membaca satu huruf saja dari kitabullah maka seseorang akan mendapatkan kebaikan satu kali. tetapi setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kalinya.”

    2. Memperoleh Rahmat dan Lindungan Oleh Malaikat

    Membaca Al-Qur’an dengan hati yang tenang dan niat yang baik akan mendatangkan rahmat dari Allah SWT serta perlindungan dari para malaikat dari kejahatan dunia baik yang terlihat maupun tidak terlihat.

    Seperti yang dijelaskan dalam salah satu hadis berikut ini:

    ” Ketika para kaum muslim berkumpul dimasjid masjid allah dan mereka membaca Alquran dan memnpelajarinya, maka akan datang kepada mereka ketentraman , rahmat allah dan dilindungi malaikat malaikat dan allah menyebut mereka dihadapan makhluk yang ada didekatnya.”

    3. Dapat Memberikan Derajat dan Wibawa Lebih Baik

     Manfaat lainnya ketika membaca Al-Qur’an, Allah akan membuat wajah umat-Nya menjadi bersinar dan juga nampak berwibawa.

    Kondisi ini dapat membuat seseorang menjadi lebih disayangi, dihormati dan dihargai  banyak orang.

    Hal ini turut dijelaskan dalam salah satu hadis riwayat Bukhari yakni:

    “Orang orang yang hebat dalam membaca alquran akan selalu ditemani para malaikat pencatat yang paling dimuliakan da taat pada Allah SWT  dan orang orang yang terbata bata membaca Alquran lalu bersusah payah mempelajarinya maka dia akan mendapatkan dua kali pahala,” (HR. Bukhari)”

    4. Menjadikan Seseorang Berperilaku Mulia

    Ketika membaca Al-Qur’an dengan hati yang tenang, sabar dan bahagia, dapat merubah seorang uslim yang berperilaku tidak baik menjadi lebih baik.

    Baginda Rasullulah SAW pernah bersabda :

    “Sebaik baiknya manusia adalah yang membaca dan mempelajari Alquran serta mengajarkannya pada orang lain.” (HR.Bukhari)”

    5. Menjauhkan Dari Segala Penyakit

    Mungkin sebagian orang tidak percaya bahwa dengan membaca Al-Qur’an, atas izin Allah akan dijauhkan dari segala macam penyakit.

     Hal ini tentu memiliki dasar, dijelaskan dalam beberapa hadis bahwa membaca Al-Qur’an merupakan salah satu ikhtiar yang bisa dilakukan seorang muslim agar selalu sehat.

    ” Hendaknya kamu menggunakan jenis obat obatan seperti madu dan membaca alquran (HR. Ma’ud)

    “Dan makanlah oleh kamu bermacam macam buah serta tempuhlah jalan jalan yang telah ditetapkan  pada tubuhmu dengan lancar .Ada madu yang bermacam macam jenisnya dijadikan sebagai obat untuk manusia. Di alam semesta terdapat banyak tanda tanda kekuasaan Allah bagi orang orang yang memikirkan  hal itu.” (QS.An-naah 16 : 69)

    6. Memberikan Kenikmatan Pada Kedua Orangtua dihari Kiamat

    Manfaat yang terakhir yakni apabila seorang anak yang membiasakan diri membaca Al-Qur’an semata-mata karena kecintaannya terhadap Allah SWT dan kedua orangtuanya maka Allah SWT akan melindungi kedua orangtuanya dan memberinya kenikmatan termasuk mahkota pada kepala mereka sebagai tanda keberkahan.

    Seperti Rasullulah pernah bersabda :

    “Barang siapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya semata-mata karena Allah SWT maka Allah akan memberikan mahkota dikepala kedua orangtuanya dan kenikmatan pada hari kiamat dan akan terlihat lebih terang daripada sinar matahari sehingga kamu tidak akan menduganya bahwa ganjaran  itu dikarenakan amalan-amalan sipembaca Al-Qur’an itu.” (HR. Abu daud.)

    Setelah mengetahui keutamaan membaca Al-Qur’an serta manfaatnya, kita tahu bahwa akan merugi sekali jika tidak pernah membacaAl-Qur’an semasa hidup kita.

    Jadi, jangan sampai melewatkan untuk membaca Al-Qur’an setiap hari ya! Semoga artikel ini bermanfaat, terimakasih banyak sudah berkunjung.